FOCUS GROUP DISCUSSION
Adalah wawancara yang sistimatik pada beberapa
individu secara bersama-sama.
Dapat dilakukan dengan cara terstruktur, semi
terstruktur atau tidak terstruktur.
Tujuannya adalah untuk mendapatkan sudut pandang
yang lebih luas tentang suatu topic tertentu, seperti
pengalaman, pengetahuan dan persepsi, hingga norma
dalam suatu masyarakat. Fokus group digunakan untuk
mendapatkan opini kelompok mengenai suatu topic.
Biasa digunakan dalam bidang marketing, politik, dan
sosial. Biasanya merupakan metode pengumpulan data
kualitatif, tetapi pewawancara akan mengarahkan
kelompok sesuai dengan tujuan wawancara.
Data yang diperoleh dapat digunakan untuk tujuan
complementary atau validasi atas data yang telah
diperoleh melalui survey (kuantitatif).
Contoh penggunaan FGD:
• Riset pasar (mengetahui imej suatu rpoduk, trend
pasar, kualitas produk, dsb.)
• Need Assessment untuk pengembangan program,
aktivitas, dsb.
• Rekruitmen (untuk melihat kemampuan verbal,
leadership, team work, dsb. dari kandidat yang
melamar pekerjaan).
• Evaluasi dan Analisis Kerja
• Pengumpulan Data yang terkait dengan riset sosial,
misalnya tentang norma-norma setempat, keyakinan
dan nilai masyaratakat.
FGD tidak tepat jika digunakan untuk mencari data yang:
- sifatnya pribadi (tentang pengalaman seksualitas,
misalnya), sehingga dibutuhkan adanya kerahasiaan
(konfidensialitas).
- sifatnya emosional (pengalaman batin menjadi
korban bencana, misalnya), sehingga pewawancara
harus benar-benar focus dan berempati pada
orang ybs, tidak dapat membagi perhatian kepada
peserta lain,
FGD dengan peserta sedikit (small group) baik untuk
memperoleh data yang bersifat mendalam akan suatu
fenomena atau topic tertentu. Pesertanya adalah mereka
yang memiliki pengetahuan mendalam atau sangat
berpegalam akan topic yang ingin kita gali/pelajari.
FGD dengan peserta banyak (large group) baik untuk
memperoleh data yang bervariasi atau eksplorasi gagasan.
Kualifikasi pewawancara yang memandu FGD sebaiknya:
Seperti pewawancara individual : fleksibel,
objektif, empirik, persuasif, pendengar yang baik dsb
Mampu mencegah satu orang atau sekelompok
kecil orang mendominasi kelompok.
Mampu mendorong responden yang “pendiam”
untuk berpartisipasi.
Mempunyai ketrampilan untuk mendapatkan
respon dari semua anggota kelompok untuk menjamin
ketuntasan informasi mengenai topik yang didiskusikan.
Mampu menyeimbangkan peran sebagai
pewawancara direktif dan moderator, hal mana
membutuhkan pengelolaan dinamika kelompok yang
sedang diwawancara.
Mampu secara bersamaan memfokuskan
perhatian pada alur petanyaan dan peka terhadap pola
interaksi yang terjadi dalam kelompok.
Mempersiapkan FGD:
- Menentukan responden dan menyebarkan undangan
untuk mereka
- Menyiapkan guide interview FGD
- Menyiapkan tempat pertemuan
- Menunjuk note taker/notulen
Proses jalannya FGD:
a. Introduksi
Pemandu menyampaikan welcome speech, memperkenalkan
diri dan tujuan FGD, memperkenalkan peserta,
menegakkan aturan main dalam diskusi (ground rules).
b. Penggalian topic awal
Pemandu menyampaikan problem yang terkait dengan
topic diskusi, lalu menyambung dengan pertanyaan-
pertanyaan umum seputar topik tersebut.
c. Penggalian topic kunci
Pemandu menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kunci yang
menjadi focus utama diskusi.
d. Klarifikasi dan Penutupan
Pemandu mengklarifikasi keseluruhan hasil diskusi dan
meminta validasi peserta, memastikan ada tidaknya
tambahan atau ralat tentang topic yang didiskusikan.
Setelah itu pemandu mengakhiri diskusi, menyampaikan
terimakasih kepada seluruh peserta.
Dalam FGD, seorang pemandu/pewawancara dapat dibantu
oleh seorang notetaker atau notulen, guna mencatat
proses FGD dan observasinya. Pemandu memfokuskan
pada pembicaraan inti dan pengendalian dinamika
kelompok.
Kekuatan dan kelemahan FGD dibanding wawancara
individual
Kekuatan (+):
Tidak mahal, fleksibel
Kaya akan data, lebih kumulatif dan elaboratif
Merangsang responden untuk banyak bicara, karena
suasana yang tidak sendirian memungkinkan orang lebih
merasa “ramai”.
Hasil wawancara merupakan representasi “pikiran
kelompok”
Kelemahan (-):
Kekuatan di atas tidak akan muncul jika
wawancara tidak didasarkan pada suatu masalah.
Budaya kelompok yang muncul dapat
mempengaruhi ekspresi individu
Kelompok dapat didominasi oleh satu orang
Kelemahan ini menyebabkan persyaratan ketrampilan
pewawancara menjadi lebih tinggi lagi untuk menguasai
dinamika kelompok.
Hal-hal yang harus dipertimbangkan tentang RESPONDEN
FGD:
homogenitas peserta semakain heterogen peserta,
akan semakin sulit dipandu karena dinamika kelompok
yang beragam. Sebaiknya pesertanya homogen dari segi
latar belakang pendidikan, profesi, usia, sosek, dsb.
well defined criteria peserta teridentifikasi dengan
jelas kriterianya, terkait dengan topic diskusi yang
akan dibahas.
Pilihan small group atau large group semakin besar
jumlah peserta, semakin sulit dinamika kelompok yang
muncul. Penentuan jumlah peserta disesuaiakn dengan
kapasitas pemandu dalam mengelola dinamika kelompok
ini.
PERSIAPAN WAWANCARA
A. Menentukan tujuan wawancara
Mendefinisikan apa yang hendak dicapai dengan
wawancara: penjelasan, pemahaman
Penting untuk mengarahkan wawancara è data yang
diperoleh akan relevan dengan tujuan, selanjutnya
kesimpulan akan menjawab tujuan wawancara
Contoh:
“Mengetahui kemampuan klien mengatasi masalah, kita
dapat memberikan kepada klien pelatihan keterampilan
memecahkan masalah”.
B. Memilih topik
Topik yang akan diwawancarakan perlu ditentukan
sebelumnya è mengarah pada jawaban atas tujuan
wawancara
Memberi kerangka berpikir untuk membuat pedoman
wawancara
Contoh:
Masalah yang dihadapi dalam kehidupan klien
Bagaimana cara klien mengatasi atau “menjalani”
masalah selama ini: apa yang dilakukan, apa akibat
dari yang dilakukan, hambatan apa yang
mempengaruhi perilakunya, bantuan siapa dan
dalam bentuk apa yang dapat diperolehnya,
bagaimana cara memperoleh bantuan, dll.
C. Memilih Responden
Interviewee dipilih karena diduga ia dapat
memberikan informasi yang kaya tentang apa yang
hendak digali è Tujuan dari melakukan wawancara
dapat tercapai.
Dalam proses konseling interviewee adalah klien,
namun tidak menutup kemungkinan orang lain yang
kenal dengan klien yang menjadi subjek wawancara.
D. Merencanakan pertemuan
Buat perjanjian kapan dan dimana wawancara akan
dilakukan.
Biarkan informan kita yang menentukan dimana dan
waktu yang terbaik untuk melakukan wawancara.