Anda di halaman 1dari 3

Mengenal Bahan Peledak Low Explosive

Oleh Idam Wasiadi *


Indikasi bahwa terorisme peledakan bom sudah sangat berbahaya ditandai peledakan bom di
Bali yang begitu dahsyat. Akibatnya, lebih dari 184 orang tewas dan lebih dari 300 orang
menderita luka-luka serius. Dari berbagai kasus peledakan bom beberapa tahun terakhir ini,
bahan peledak yang digunakan dapat berupa high explosive ataupun low explosive.
Ternyata, di antara berbagai peledakan bom yang terjadi selama ini, bahan peledak low
explosive menjadi primadona pilihan sebagai bahan pembuat bomnya meskipun bahan peledak
tersebut mempunyai daya ledak yang kurang dahsyat dibandingkan dengan bahan peledak high
explosive. Terdapat beberapa alasan mengapa banyak bahan peledak dipilih sebagai bahan
pembuat bom selama ini.
Alasan yang masuk akal ialah bahan peledak tersebut murah dan mudah didapat di pasar bebas.
Sebagai contoh, potasium klorat, salah satu bahan untuk membuat korek api, petasan, dan
kembang api ini, sangat mudah didapat dan dibeli di toko-toko bahan kimia.
Dalam jumlah yang besar dan dicampur dengan bahan-bahan lain, seperti belerang, serbuk
alumunium (bronze), dan charcoal, bahan-bahan tersebut dapat berubah menjadi bom yang
dahsyat. Komposisi bahan peledak ini merupakan bahan untuk membuat petasan yang
kadangkala disebut pula black powder.
Pada dasarnya, mengidentifikasi jenis bahan peledak dari bom yang meledak bukan pekerjaan
mudah. Pekerjaaan tersebut kadang memerlukan waktu yang cukup lama, selain sangat
diperlukan orang yang ahli di bidangnya dan didukung peralatan analisis laboratorium canggih.
Misalnya, gas kromatografi, ion kromatografi, kromatografi lapis tipis, plasma kromatografi, high-
performance liquid chromatography, ion scan, supercritical fluid chromatography, dan scanning
electron microscope.
Sulitnya mengidentifikasi jenis bahan peledak yang telah meledak itu disebabkan bahan peledak
terdekomposisi menjadi senyawa penyusunnya berupa residu bahan peledak. Dengan demikian,
untuk mengidentifikasi jenis bahan peledak, diperlukan waktu lama. Sebagai contoh, untuk
mengidentifikasi jenis bahan peledak amonium nitrat yang meledakkan gedung Murrah City
Building di Oklahoma City, Amerika, beberapa tahun lalu, dengan terpidana mati McVeigh,
ternyata diperlukan waktu lama.
Bahan peledak kimia adalah suatu rakitan yang terdiri atas bahan-bahan berbentuk padat atau
cair atau campuran keduanya yang apabila terkena aksi -misalnya benturan, panas, dan
gesekan-dapat bereaksi dengan kecepatan tinggi disertai terbentuknya gas-gas dan
menimbulkan efek panas serta tekanan yang sangat tinggi. Bahan peledak kimia dibedakan
menjadi dua macam, yaitu low explosive dan high explosive.
Bahan peledak low explosive adalah bahan peledak berdaya ledak rendah yang mempunyai
kecepatan detonasi (velocity of detonation) antara 400-800 meter per detik. Bandingkan dengan
bahan peledak high explosive yang mempunyai kecepatan detonasi antara 1.000-8.500 meter
per detik. Bahan peledak low explosive ini sering disebut propelan (pendorong). Sebab, jenis
bahan peledak tersebut banyak digunakan sebagai propelan peluru dan roket.
Jenis bahan peledak low explosive yang dikenal adalah black powder (gun powder) dan
smokeless powder. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, black powder tersebut banyak
digunakan sebagai pembuat petasan di kalangan masyarakat Pasuruan dan sekitarnya. Bahan
peledak ini digunakan sebagai bahan pembuatan mercon banting serta bom ikan.
Black powder adalah jenis bahan peledak tertua, yang ditemukan oleh bangsa China pada abad
ke-9, sebagai bahan pembuatan petasan dan kembang api. Black powder saat ini banyak
digunakan sebagai propelan peluru dan roket, roket signal, petasan, sumbu ledak, dan sumbu
ledak tunggu.
Beberapa komposisi pembuatan black powder yang dikenal, antara lain, (a) campuran antara
potasium nitrat (KNO3), charcoal, dan belerang; (b) campuran antara sodium nitrat (NaNO3),
charcoal, dan belerang; (c) campuran antara potasium nitrat dan charcoal (tanpa belerang); dan
(d) pyrodex, merupakan campuran antara potasium nitrat, potasium perklorat (KClO4), charcoal,
belerang, cyanoguanidin, sodium benzoat, dan dekstrin.
Kadang komposisi pembuatan black powder itu dimodifikasi untuk mengurangi kecepatan
pembakaran dan peledakannya dengan menambah serbuk silikat dan grafit, resin, atau
mencampurkan black powder dengan nitroselulosa dalam suatu pelarut.
Kandungan utama bahan peledak smokeless powder adalah nitroselulosa, dan banyak
dimanfaatkan sebagai propelan. Bahan peledak ini dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu
single-base powder, double-base powder, dan triple-base powder. Single-base powder adalah
propelan yang terdiri atas hanya dari plasticized nitroselulosa sebagai sumber energinya.
Contohnya adalah campuran antara nitroselulosa, diphenylamin, dan potasium sulfat.
Double-base powder adalah propelan yang berisi bahan plasticized cair, seperti nitrogliserin.
Contohnya adalah campuran antara nitroselulosa, nitrogliserin, potasium nitrat, ethyl centralite,
dan grafit. Triple-base powder adalah propelan berbentuk bahan kristalin, seperti nitroguanidin.
Contohnya adalah campuran antara nitroselulosa, nitrogliserin, nitroguanidin, ethyl centralite, dan
sodium alumunium fluoride. Double dan triple-base nitroselulosa ini banyak digunakan sebagai
propelan roket dan peluru.
Bahan peledak low explosive ini kurang sensitif terhadap shock dan gesekan dibandingkan
dengan bahan peledak high explosive. Toh, tidak berarti bahan peledak low explosive kurang
berbahaya. Bahan peledak low explosive ini dapat dimanfaatkan untuk membuat bom dahsyat
yang dapat membahayakan orang lain bila jumlahnya sangat banyak. Belum lagi bila bom
dengan bahan peledak low explosive tersebut disertai benda-benda padat, seperti pecahan kaca,
mur-baut, paku gotri, atau pecahan logam.
Bila bomnya diledakkan, benda-benda padat di dalamnya akan terhambur ke segala arah dan
membahayakan apa saja di sekitarnya, termasuk manusia. Contohnya, bom malam Natal 2000 di
Mojokerto yang pembuatannya disertai benda-benda padat, seperti gotri dan paku, sehingga
korbannya terkena terjangan benda padat yang terhambur saat bom meledak.
* AKP Drs Idam Wasiadi, SKom MT, alumnus UGM dan ITS, pernah belajar ilmu forensik di
Forensic Science Unit of The University of Strathclyde, Glasgow, Skotlandia