Anda di halaman 1dari 16

c c

c   


 
Trauma Okuli adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan perlukaan
mata atau cedera yang terjadi pada mata yang dapat mengakibatkan kerusakan pada bola
mata,kelopak mata,saraf mata dan rongga orbita,kerusakan ini akan memberikan penyulit
sehingga mengganggu fungsi mata sebagai indra penglihat.Trauma mata merupakan kasus
gawat darurat mata, dan dapat juga sebagai kasus polisi. Perlukaan yang ditimbulkan dapat
ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata.(6)


 
Trauma okular adalah penyebab kebutaan yang cukup signifikan, terutama pada golongan
sosioekonomi rendah dan di negara-negara berkembang. Kejadian trauma okular dialami oleh
pria 3 sampai 5 kali lebih banyak daripada wanita. Dari data WHO tahun 1998 trauma okular
berakibat kebutaan unilateral sebanyak 19 juta orang, 2,3 juta mengalami penurunan visus
bilateral, dan 1,6 juta mengalami kebutaan bilateral akibat cedera mata. Menurut United
States Eye Injury Registry (USEIR), frekuensi di Amerika Serikat mencapai 16 % dan
meningkat di lokasi kerja dibandingkan dengan di rumah. Lebih banyak pada laki-laki (93 %)
dengan umur rata-rata 31 tahun.(7)
( 
 

 (USEIR) merupakan sumber informasi epidemiologi yang
digunakan secara umum di AS. Menurut data dari USEIR, rata-rata umur orang yang terkena
trauma okuli perforans adalah 29 tahun, dan laki-laki lebih sering terkena disbanding dengan
perempuan. Menurut studi epidemiologi international, kebanyakan orang yang terkana
trauma okuli perforans adalah laki-laki umur 25 sampai 30 tahun, sering mnegkonsumsi
alcohol, trauma terjadi di rumah. Selain itu cedera akibat olah raga dan kekerasan merupakan
keadaan yang paling sering menyebabkan trauma. Pada studi yang lain, di simpulkan
bahwa olahraga dihubungkan dengan trauma pada pemakai kacamata umumnya terjadi pada
usia di bawah 18 tahun dan jatuh dihubungkan dengan trauma pada pemakai kaca mata
umumnya terjadi pada usia 65 tahun atau lebih. Meskipun kacamata dihubungkan dengan
trauma yang terjadi, resep kacamata dan non resep kacamata hitam telah ditemukan untuk
memberikan perlingdungan yang menghasilkan insidens yang rendah pada trauma serius
mata bagi penggunannya.(6,8)



Terdapat empat mekanisme yang menyebabkan terjadi trauma okuli yaitu  
            adalah kekuatan yang disebabkan
langsung oleh trauma.    merupakan gelombang getaran yang diberikan oleh cuop,
dan diteruskan melalui okuler dan struktur orbuta. Akibat dari trauma ini, bagian equator dari
bola mata cenderung mengambang dan merupah arsitektur dari okuli normal. Pada akhirnya,
bola mata akan kembali ke bentuk normalnya, akan tetapi hal ini tidak selalu seprti yang
diharapkan.(7)



Trauma pada mata dapat digolongkan atas : (2,9,10)
1. Trauma tumpul, yang terdiri atas :
y Konkusio, yaitu trauma tumpul pada mata yang masih reversibel, dapat sembuh dan
normal kembali.
y Kontusio, yaitu trauma tumpul yang biasanya menyebabkan kelainan vaskuler dan
kelainan jaringan/ robekan.
Berdasarkan letak traumanya dapat menyebabkan :

- Perdarahan palpebra
- Emfisema palpebra
- Luka laserasi palpebra
- Hiperemis konjungtiva dan perdarahan subkonjungtiva
- Edema kornea
- Hifema ( perdarahan dalam bilik mata depan )
- Iridoplegia dan iridodialisa
- Kelainan lensa,berupa : Subluksasi,luksasi maupun katarak traumatik.
- Perdarahan badan kaca.
- Kelainan retina,berupa: Edema retina,ruptur retina,( dapat menyebabkan ablasio
retina traumatik),maupun perdarahan retina.
- Robekan/laserasi sklera
- Glaukoma sekunder
- Kelainan gerakan bola mata
2. Trauma tembus ( luka akibat benda tajam ), dimana strutur okular mengalami kerusakan
akibat benda asing yang menembus lapisan okular, yang terdiri atas :
y Von perforasi.
y Dengan perforasi, meliputi :
i. Perforasi tanpa benda asing intra okuler
ii. Perforasi dengan benda asing intra okuler,yang menurut sifat benda asingnya
terbagi atas :
a. Berdaraskan sifat fisisnya,terdiri atas :
- Benda logam.
E.g. Emas,perak,platina,timah,seng,tembaga,besi,dll
- Benda non logam
E.g. Kaca,bahan tumbuh-tumbuhan,bahan pakaian,dll
b. Berdasarkan keaktifan ( potensi menyebabkan reaksi inflamasi ) terdiri atas :
- Benda inert,merupakan bahan-bahan yang tidak menimbulkan reaksi jaringan
mata,kalaupun terjadi hanya reaksi ringan saja dan tidak mengganggu fungsi
mata,seperti : Emas,perak,platina,bath,kaca,porselin,dll.
- Benda reaktif yang merupakan bahan-bahan yang dapat menimbulkan reaksi
jaringan sehingga mengganggu fungsi mata,seperti : seng,timah
hitam,nikel,alumunium,besi,kuningan,tumbuh-tumbuhan,bulu ulat.

Luka akibat benda tajam dapat menyebabkan :


- Luka pada palpebra (laserasi palpebra)
- Laserasi konjungtiva
- Abrasi,perforasi,laserasi kornea
- Laserasi sklera
-Robeknya pembuluh darah,otot-otot okular,maupun serabut saraf okular.
3. Trauma fisis, yang dapat disebabkan oleh :
a.Sinar dan tenaga listrik, yang meliputi sinar ultraviolet,sinar inframerah,sinar
rontgen dan radioaktif,dan tenaga listrik.
b.Luka bakar
c.Luka akibat bahan kimia,baik yang bersifat asam maupun basa,dimana luka akibat bahan
kimia basa lebih berbahaya dibanding bahan kimia asam.


  

 t
l ii
t 
:
  t
l
l

t  t  t
l i    t    l  i    i  
  tt

    l
 t j ti  l   l  
tt ti  l   ti  
    
l
 
 
li  
l t  t t ji t    l   l   t
 l i i  
  t ji   t 
l
 t  i it ji    l  
i
l  
t t  t
  t
ll :


 li  l 
     :ij    !l :
"l # itMt$i i# t %t:&'"
 !i l il l  
ti( l(i i!
t i  l  i
t

lttl l  i)


 
t 
 
t
l  l  
y à  !i l i l  t ji

t  ( l (i     
it   l t  
y ?    jiit
t  i ( l(i  i l  
i 
t
t l  i l  
t j t ji
 t  it
 i   it  li  

( l(i  
 i  M
 # i 
 *t    l
lit 
   l  i l     i    
 ii   
 ii i 
+it
  l 
( lti l   l ti*  ji*  
  t  ji l i i
i)    ji  t *     ii 
 
  i  tili tt tt
Bil tili t ji
it
 t
i i t jil*    

y '  '    . Bila seluruh zonula zinn di sekitar ekuator putus akibat trauma
maka lensa dapat masuk ke dalam bilik mata depan. Akibat lensa terletak dalam bilik mata
depan ini maka akan terjadi gangguan pengaliran keluar cairan bilik mata sehingga akan
timbul glaucoma kongestif akut dengan gejala-gejalanya. Pasien akan mengeluh penglihatan
menurun mendadak, disertai rasa sakit yang sangat, muntah, mata merah dengan
blefarospasme. Terdapat injeksi siliar yang berat, edema korne, lensa di dalam bilik mata
depan. Iris terdorong ke belakang dengan pupil yang lebar. Tekanan bola mata sangat tinggi.

y ' '    . Pada trauma tumpul yang keras pada mata dapat terjadi luksasi
lensa posterior akibat putusnya zonula zinn di seluruh lingkaran ekuator lensa sehingga lensa
jatuh ke dalam badan kaca dan tenggelam di dataran bawah polus posterior fundus okuli.
Pasien akan mengeluh adanya skotoma pada lapang pandangannya akibat lensa mengganggu
kampus. Mata ini akan menunjukkan gejala mata tanpa lensa atau afakia. Pasien akan melihat
normal dengan lensa +12.0 dioptri untuk jauh, bilik mata depan dalam dan iris tremulans.
Lensa yang terlalu lama berada dalam polus posterior dapat menimbulkan penyulit akibat
degenerasi lensa, berupa glaucoma fakolitik ataupun uveitis fakotoksik.

y h  . Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior ataupun
posterior. Kontusio lensa menimbulkan katarak seperti bintang, dan dapat pula dalam bentuk
katarak tercetak yang disebut cincin Vossius. Cincin Vossius merupakan cincin berpigmen
yang terletak tepat di belakang pupil yang dapat terjadi segera setelah trauma, yang
merupakan deposit pigmen iris pada dataran depan lensa sesudah suatu trauma, seperti suatu
stempel jari.
c) Trauma tumpul kornea.
Abrasi Kornea adalah keadaan dimana epitel dari kornea terlepas yang bisa
diakibatkan oleh trauma tumpul, trauma tajam dan trauma kimia dan juga benda asing
subtarsal. Abrasi kornea bisa berulang dan menyebabkan rasa sakit yang hebat, dimana abrasi
kornea merupakan suatu kegawatdaruratan pada mata yang bisa menyebabkan ulserasi dan
oedema kornea yang akan menganggu visus. Diagnosis bisa ditunjang dengan uji flourosensi
dimana akan terlihat warna hijau bila terjadi kerusakan pada epitel kornea. Penatalaksanaan
yang dapat dilakukan adalah pemberian antibiotik topikal dan midriatikum untuk merelaksasi
iris dan mengurangi rasa sakit. Pastikan juga tidak terdapat benda asing yang dapat
menganggu proses penyembuhan. Masa penyembuhan tergantung pada luasnya kerusakan,
dan juga adakah infeksi, benda asing dan mata kering yang bisa menyebabkan kegagalan
terapi. Mata kemudian di tutup dengan penutup yang membuat pasien merasa lebih nyaman.


    *li
   t
l    i t 
t it   li  
  ti 
i  
ti#   t ji
t 
   ti 
  ti 
l i  ti  
  ti  
ti %i ij
i
 it    t  t
l 

   tj 
lit    ti 
t i  i   
 i  * t
      i t j  i  
t i
i     li   i   
ti l l t!i  i  i 
lit t  t l *   t
lt  ti 
 *
 ,it   t   it    

i 
ti 
 &   i
i   tl  
ii  t l ii i 
il 
%i ti t lit  til tt t  l i i  j  t ji 
 
,it   #   ,it   t    i l  -t   
 i  t  i 
i
l 
 t     ,i t i ! 
   ti       - 

ti   
t ilit i j i       
   ti 
  i iitil 
t  ti  
  
 t
t     *l   
 jlli i it:
   
   
 


#  i
l

  

  :ij    !l :
"l # itMt$i i# t %t:&'"
 #
     t
l
 ji    i.i   
ji   it
l
 l  #   
t jl   i  li  i  j 
t
      t   li  i l   t  * t t jl  
 l      tl  

 |    
 $ i 
l
 t  i
      
it i i  
 il ji  
l
 l li i  j  t
i i i  it i  i l     l     t  it   
  i  t i  . i    lili  it  i   i l i 

i*   
t ili   
 i i  ili it i i i iti
i 
*     


 )l  ii
l

  

  :ij    !l :
"l # itMt$i i# t %t:&'"
   t
l 
t
l i l  ll  i

l
 Bil l i i
 t   i ti         t
l j     ijit t
i   i l
l    tt
   
lt     t il Bil       
ijit
 h    
.  l
 t t 
t t
   
  ltl     
t
i  l
  /""
.  l
 t t 
t    
  
t i     i 
i    t
 

l
#t i 
tjt jiitl
 
l ,t
l



 #t i 
  

  :ij    !l :
"l # itMt$i i# t %t:&'"

. #t t
l
tjt lit   l t 
 
i itt    itt.tt tl
!
tt jil  :
.
 t
li i ) ,t
l
 """
. # 
t i l    
l

 p       


i
 i j ti, 
   j ti,
  

  :ij    !l :
"l # itMt$i i# t %t:&'"
 O  
à    
 l i i i     t    i t l 
 -t t ji  t 
   i  i  l    i  t   ji  l  li )i
t .li
t  i i
  il  ilt    l  li  l  ,i       ji i li
ilt    l li
       0


#  il ili t
  i 
  

  :ij    !l :
"l # itMt$i i# t %t:&'"
 i  l t 
l   l  ili 
  l t *  *li
 t i #   ili t 
  it 
  i i 
  it  
li 
i  ij
i   t  #   ili 
  l t i i t t    l i

l  *


  *ili    i   *il i
l  ii   

 
    i      i 
 lli t l -  
l jt   l *l  i   i  i lli
  ii 0
   
 !i   ii
l i it t    t tt i t 

il
"i
l i i i
t t ji t
  .  i  
t j
   t  t   

 t
li ittt  t!l -tit tt   il
i Ê    


1iiili i 
  

  :ij    !l :
"l # itMt$i i# t %t:&'"
 M 
    
  ii  i 

il   
i i l t 


i  i t 


t-  l
 li 


ilt t
ij
 ii t 
t
iiili #
i  tl  
it 
t-  


il j

t
tiiili   
  l    
j   
 !
t  li  ilii  ti   ilt 
t
 
i l    * i  il 
i   lt  i  t  ti
  ii 
 t i t
 h          
 $  ti i  i 
l  t i t lti
i 

l.l ti il
i i  Bilt jii l,i   tl  tt    
t  tli 
l   
 !
t ti l il t    
* 
l  B t

  t  t  i lli  i  Bil t 


t i l
i   t  t

i l   il l t l i  l t
 i  *    t  t  

  i 
   ti 
  ti 
 i
   t i i  t   
*   i i  - !  
t
l     l    * #  it
 lt 
t  .   it il
  
lit l  
  l  *
t t
ijl * i ,i  t  
 V   


2R   l 
  

  :ij    !l :
"l # itMt$i i# t %t:&'"
 l     *il it    iit  i      ijit #
       l i i il  l  i li  t i   tl i
i
tiR  i ii  t l tii t 
 |  
 Bi  i  
  tl   li
tl i t* .
*   !   i tit i t
t ti
  i 
  li j i i
l i Bil  tl   i ti
l  i   3  4  ti   i 
t i,  tt iti i t    i  ,   
 |  
 !i     

lt     l il til
l ti  t it i li tl  tit lit l   i
t 
t  #
i     
i  i  t lit ti  
ti  
   ,i    t   l i i i    
   tl 
t i i  it i 
 t i t  i   ii ' t t 
i
l ttl t 









  c
  c c  !
Luka akibat benda tajam dapat mengakibatkan : (9)
1. Luka pada palpebra
Kalau Kalau pinggiran palpebra luka dan tak dapat diperbaiki, dapat menimbulkan
koloboma palpebra akuisita. Bila besar dapat mengakibatkan kerusakan kornea oleh karena
mata tak dapat menutup dengan sempurna.
2. Luka pada orbita
Luka tajam yang mengenai orbita dapat merusak bola mata, merusak saraf optik,
menyebabkan kebutaan atau merobek otot luar mata sehingga timbul paralise dari otot dan
diplopia. Mudah terkena infeksi, menimbulkan selulitis orbita (orbital phlegmon), karena
adanya benda asing atau adanya hubungan terbuka dengan rongga-rongga di sekitar orbita.
3. Luka mengenai bola mata
Harus dihentikan : - luka dengan atau tanpa perforasi
- luka dengan atau tanpa benda asing
Kalau ada perforasi di bagian depan (kornea) : bilik mata depan dangkal, kadang-
kadang iris melekat atau menonjol pada luka perforasi di kornea, tensi intra okuler merendah,
tes fistel positif. Bila perforasinya mengenai bagian posterior (sklera) : bilik mata depan
dalam, perdarahan di dalam sklera, koroid, retina, mungkin ada ablasi retina, tensi intra
okuler rendah.
a) Luka mengenai konjungtiva (9)
Bila kecil dapat sembuh dengan spontan, biloa besar perlu dijahit,disamping
pemberian antibiotik lokal dan sistemik untuk mencegah infeksi sekunder.
b) Luka di kornea (9)
Bila tanpa perforasi : erosi atau benda asing tersangkut di kornea. Tes fluoresin (+).
Jaga jangan sampai terkena infeksi, sehingga dapat timbul ulkus serpens akut atau herpes
kornea, dengan pemberian antibiotika atau kemoterapeutika yang berspektrum luas, lokal dan
sistemik. Benda asing di kornea di angkat, setelah diberi anastesi lokal dengan pantokain 1
%. Kalau mulai ada neovaskularisasi dari limbus, berikanlah kortison lokal atau
subkonjungtiva. Tetapi jangan diberikan kortison pada luka yang baru atau bila ada herpes
kornea.
Bila ada perforasi : bila luka kecil, lepaskan konjungtiva di limbus yang berdekatan,
kemudian di tarik supaya menutupi luka kornea tersebut (flap konjungtiva). Bila luka di
kornea luas, maka luka itu harus dijahit. Kemudian ditutup dengan flap konjungtiva. Jika luka
di kornea itu disertai dengan prolaps iris, iris yang keluar harus dipotong dan sisanya di
reposisi, robekan di kornea dijahit dan ditutup denganh flap konjungtiva. Kalau luka telah
berlangsung beberapa jam, sebaiknya bilik mata depan dibilas terlebih dahulu dengan larutan
penisilin 10.000 U/cc, sebelum kornea dijahit. Sesudah selesai seluruhnya, berikan antibiotika
dengan spektrum luas lokal dan sistemik, juga subkonjungtiva. (9)
c) Luka di sklera (9)
Luka yang mengenai sklera berbahaya karena dapat mengakibatkan perdarahan badan
kaca, keluarnya isi bola mata, infeksi dari bagian dalam bola mata, ablasi retina. Luka kecil,
tanpa infeksi sekunder pada waktu terkena trauma, dibersihkan, tutup dengan konjungtiva,
beri antibiotik lokal dan sistemik, mata ditutup. Luka dapat sembuh. Luka yang besar, sering
disertai dengan perdarahan badan kaca, prolaps badan kaca, koroid atau badan siliar,
mungkin terdapat di dalam luka tersebut. Bila masih ada kemungkinan, bahwa mata itu masih
dapat melihat, maka luka dibersihkan, jaringan yang keluar dipotong, luka sklera dijahit,
konjungtiva dijahit, beri atropin, kedua mata ditutup. Sekitar luka didiatermi. Bila luka cukup
besar dan diragukan bahwa mata tersebut masih dapat melihat, maka sebaiknya di enukleasi,
untuk menghindarkan timbulnya optalmia simpatika pada mata yang sehat.
d)Luka pada corpus siliar (9)
Luka disini mempunyai prognosis yang buruk, karena kemungkinan besar dapat
menimbulkan endoftalmitis, panoftalmitis yang dapat berakhir dengan ptisis bulbi pada mata
yang terkena trauma, sedang pada mata yang sehat dapat timbul oftalmia simpatika. Karena
itu bila lukanya besar, disertai prolaps dari isi bola mata, sehingga mata mungkin tak dapat
melihat lagi, sebaiknya di enukleasi bulbi, supaya mata yang sehat tetap baik.
Bila trauma disebabkan benda tajam atau benda asing masuk ke dalam bola mata ,
maka akan terlihat tanda-tanda bola mata tembus, seperti ;
- Mata merah, nyeri, fotofobia, blepharospasme dan lakrimasi
- Tajam penglihatan yang menurun akibat tedapatnya kekeruhan media refrakta secara
langsung atau tidak langsung akibat ruma tembus tersebut
- Tekanan bola mata rendah akibat keluarnya cairan bola mata
- Bilik mata dangkal akibat perforasi kornea
- Bentuk dan letak pupil berubah.
- Terlihatnya rupture pada kornea atau sclera
- Adanya hifema pada bilik mata depan
- Terdapat jaringan yang di prolaps seperti cairan mata, irirs lensa, badan kaca atau
retina.
 
Î"#
Lokasi-lokasi cedera pada mata.
Ket: A) Tampak dari depan.
B) Tampak dari samping
Sumber: Wijana V. 1993. Trauma. Dalam: Ilmu Penyakit Mata, Edisi Pertama.
Jakarta: FKUI


$
 
Diagnosis trauma okuli dapat di tegakkan berdasarkan anamnesis, pemerksaan fisis
dan pemeriksaan penunjang jika tersedia. Pada anamnesis informasi yang di peroleh dapat
berupa mekanisme dan onset terjadinya trauma., bahan penyebab truma dan pekrjaan untuk
mengetahui objek penyebabnya. Anamnesis harus mencakup perkiraan ketajaman
penglihatan sebelum dan segera sesudah cedera. Harus di catat apakah gangguan penglihatan
bersifat prograsif lambat atau berawitan mendadak. Harus dicurigai adanya benda asing
intraokuler apabila terdapat riwayat me-malu, mengasah atau kedakan. Cedera pada anak
dengan riwayat yang tidak sesuai dengan cedera yang diderita, harus di curigai akan adanya
penganiayaan anak. Riwayat kejadian harus diarah secara khusus pada detail terjadinya
trauma, riwayat pembedahan okuler sebelumnya, riwayat penyakit, pengobatan sebelumnnya
dan elergi.(3)
Pada anamnesis perlu diketahui apakah terjadi penurunan visus setelah cedera atau
saat cedera terjadi. Onset dari penurunan visus apakah terjadi secara progresif atau terjadi
secara tiba-tiba. Harus dicurigai adanya benda asing apabila ada riwayat pemakaian palu,
pahat, ataupun ledakan, dan harus dipertimbangkan untuk melakukan pencitraan. Pemakaian
palu dan pahat dapat melepaskan serpihan-serpihan logam yang akan menembus bola mata,
dan hanya meninggalkan petunjuk perdarahan subkonjungtiva yang mengindikasikan adanya
penetrasi sklera dan benda asing yang tertingal. Vyeri, lakrimasi, dan pandangan kabur
merupakan gambaran umum trauma, namun gejala ringan dapat menyamarkan benda asing
(4)
intraokular yang berpotensi membutakan.
Pemeriksaan struktur eksternal mata termasuk didalamnya palpasi, inspeksi dengan
penlight, pemeriksaan kelopak mata, pewarnaan dengan fluoresensi, dan anestesi topikal.
Palpasi rima orbita harus dilakukan bila dicurigai terjadi cedera tumpul atau fraktur. Penlight
digunakan untuk memeriksa mata akan adanya tanda-tanda perforasi, seperti dangkalnya
kamera anterior atau prolaps uvea. Hifema dapat timbul tanpa perforasi dan, pada
kenyataanya, sering ada pada trauma tumpul. Pemeriksaan kelopak mata (retraksi dan eversi
kelopak mata atas dan bawah) akan membantu inspeksi benda asing atau luka bakar kimiawi.
Apabila pasien merasakan adanya benda asing atau bila ada riwayat trauma tumpul dan
trauma tajam, dapat dilakukan pemeriksaan dengan fluoresensi, dengan memberi pewarnaan
pada kornea untuk mengidentifikasi adanya defek epitel kornea.(4)
Bagian anterior mata harus diperiksa dengan memakai lup atau slit lamp yang
bertujuan untuk mengetahui lokasi luka atau celah tembus. Pemeriksaan oftalmoskopi direk
dan indirek juga dapat dilakukan. Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan tonometri
untuk mengatahui tekanan intraokular, dimana trauma yang menyebabkan rupture bola mata
(10)
dapat menyebabkan tekanan intraokular yang menurun.
Pemeriksaan fisik dilakukan secara hati-hati dan manipulasi sedapat mungkin
diminimalisir. Pemeriksaan fisik dimulai dengan pengukuran dan pencatatan ketajaman
penglihatan. Apabila gangguan penglihatannya parah, maka periksa proyeksi cahaya,
diskriminasi dua titik, dan adanya defek pupil eferan. Periksa motilitas mata dan sensasi kulit
perorbita dan lakukan palpasi untuk mencari defek pada bagian tepi tulang orbita. Pada
pemeriksaan kornea dan konjungtiva bila luka tidak menyebabkan rupture bola mata, maka
dilakukan eversi kelopak mata untuk mengetahui lokasi benda tersebut sejelas-jelasnya.
Kedalaman dan kejernihan kamera anterior dicatat. Ukuran bentuk dan reaksi terhadap
cahaya dari pupil harus dibandingkan dengan mata yang lain untuk memastikan apakah
terdapat defek pupil di mata yang cedera. Bila dalam inspeksi terlihat rupture bola mata atau
adanya kecenderungan rupture bola mata, maka tidak dilakukan pemeriksaan lagi. Mata
dilindungi dengan pelindung tanpa bebat, kemudian dirujuk ke spesialis mata. Dokumentasi
foto bermanfaat untuk tujuan-tujuan medikolegal pada semua kasus trauma eksternal.(4,8)
Pemeriksaan slit lamp juga dapat dilakukan untuk melihat kedalam cedera di segmen
anterior bola mata. Tes fluoresisn dapat digunakan untuk mewarnai kornea, sehingga cedera
kelihatan dengan jelas. Pemeriksaan tonometri perlu dilakukan untuk mnegetahui tekanan
bola mata. Pemeriksaan fundus yang di dilatasikan dengan oftalmoskop indirek penting untuk
dilakukan untuk mengetahui adanya benda asing intraokuler. Bila benda asing yang masuk
cukup dalam, dapat dilakukan tes seidel untuk mengetahui adanya cairan yang keluar dari
mata. Tes ini dilakukan dengan cara memberi anestesi pada mata yang akan di periksa,
kemusian diuji pada strip fluorescein steril. Penguji menggunakan slit lamp dengan filter
kobalt biru, sehingga akan terlihat perubahan warna strip akibat perubahan pH bila ada
pengeluaran cairan mata.(4)
CT-Scan merupakan pemeriksaan pilihan untuk mengetahui benda asing intraokular.
X-Ray dapat dilakukan apabila CT-Scan tidak memungkinkan. MRI tidak direkomendasikan
untuk pemeriksaan benda asing jenis metal, karena medan magnet yang diproduksi saat
pemeriksaan dilakukan dapat menyebabkan benda asing menjadi proyektil berkecepatan
tinggi dan menyebabkan kerusakan okular. Ultrasound biomikroskop juga bermanfaat dalam
menentukan lokasi dari benda asing intraokular. Electroretinography (ERG) berguna untuk
mengetahui ada tidaknya degenarasi pada retina dan sering digunakan pada pasien yang tidak
berkomunikasi dengan pemeriksa.(4,8)


%  
Penatalaksanaan pada trauma mata bergantung pada berat ringannya trauma ataupun
jenis trauma itu sendiri.
 
2.6.1 Penatalaksanaan Segera Trauma Mata
Apabila jelas tampak ruptur bola mata,maka manipulasi lebih lanjut lebih lanjut untuk
dihindari sampai pasien tersebut mendapat anastesia umum.Sebelum pembedahan jangan
diberi obat sikloplegik atau antibiotika topikal karena kemungkinan toksisitas pada jaringan
intraokuler yang terpajan.Berikan antibiotika parenteral spektrum luas dan pakaian pelindung
Fox ( atau sepertiga bagian bawah corong kertas ) pada mata.Analgetik,antiemetik,dan
antitoksin tetanus diberikan sesuai kebutuhan,dengan restriksi makan dan minum.Induksi
anestesi umum jangan menggunakan obat-obatan penghambat depolarisasi
neomuskular,karena dapat meningkatkan secara transien di dalam bola mata sehingga
meningkatkan kecenderungan herniasi isi intra okuler.Anak juga lebih baik diperiksa awal
dengan bantuan anestetik umum yang bekerja singkat.
2.6.2 Pengobatan Trauma Tembus Bola Mata
Trauma dapat mengakibatkan robekan pada konjungtiva saja.Bila robekan pada
konjungtiva ini tidak melebihi 1 cm,maka tidak perlu dilakukan penjahitan.Bila robekan
konjungtiva lebih dari 1 cm diperlukan tindakan penjahitan untuk mencegah terjadinya
granuloma.Pada setiap robekan konjungtiva perlu diperhatikan terdapatnya robekan sclera
bersama-sama dengan robekan konjungtiva tersebut.
Pada pasien dengan luka tembus bola mata maka kepadanya diberikan antibiotika sistemik
atau intravena dan pasien dipuasakan untuk tindakan pembedahan.Pasien juga diberi
antitetanus profilaksis,analgetik,dan kalau perlu penenang.Sebelum dirujuk,mata tidak boleh
diberi salep,karena salep dapat masuk ke dalam mata.Pasien tidak boleh diberikan steroid
local,dan beban yang diberikan pada mata tidak menekan bola mata.Pada penutupan luka
segmen anterior,harus digunakan teknik-teknik bedah mikro.Laserasi kornea diperbaiki
dengan jahitan nilon10-0 untuk menghasilkan penutupan yang kedap air.Iris atau korpus
siliaris yang mengalami inkarserasi dan terpajan <24 jam dapat dimasukkan ke dalam bola
mata dengan viskoelastik atau dengan memasukkan suatu spatula sikiodialisis melalui insisi
tusuk di limbus dan menyapu jaringan keluar dari luka. Apabila hal ini tidak dapat
dilakukan,apabila jaringan telah terpajanlebih dari 24 jam,atau apabila jaringan tersebut
mengalami iskemia dan kerusakan berat,maka jaringan yang prolaps harus dieksisi setinggi
bibir luka.Setiap jaringan yang dipotong harus dikirim ke laboratorium patologik untuk
diperiksa.Dilakukan pembiakan untuk memeriksa kemungkinan infeksi bakteri atau
jamur.Sisa-sisa lensa dan darah dikeluarkan dengan aspirasi dan irigasi mekanis atau
virektomi atau peralatan virektomi.Reformasi kamera anterior selama tindakan perbaikan
dapat dicapai dengan cairan intraokuler fisiologis,udara atau viskoelastik.
Luka sclera ditutup dengan jahitan 8-0 atau 9-0 interupted yang tidak dapat diserap.Otot-otot
rektus dapat secara sementara dilepaskan dan insersinya agar tindakan lebih mudah
dilakukan.Luka keluar di bagian posterior sclera, pada cidera tembus ganda dapat sembuh
sendiri,dan biasanya tidak dilakukan usaha penetupan.Bedah vitreoretinal,bila ada luka
kornea yang besar,dapat dilakukan melalui keratoprostesis Landers Foulks temporer sebelum
melakukan penanaman kornea.Enukleasi dan Eviserasi primer hanya boleh dipikirkan bila
bola mata mengalami kerusakan total.