2004

http://www.kalbe.co.id/cdk

ISSN : 0125-913X

144. THT

2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

144. THT
Daftar isi :
2. Editorial 4. English Summary

Artikel
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir 8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia 11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni 13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah 16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R. Susworo 20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati 24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi Arifiani 29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W. Roestam 35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi 41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo 47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe 52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah 55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk 57. Produk Baru 58. Kapsul 59. Informatika Kedokteran 60. Kegiatan Ilmiah 62. Abstrak 64. RPPIK

Keterangan Gambar Sampul : Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13

EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi pendengaran khususnya. Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis maupun keluarga pasien. Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami nantikan

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

id/cdk . Erik Tapan .Prof. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio.Prof. sebutkan semua. Jakarta 10510. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Letjen. Dr. Soebianto PENCETAK PT. Cermin Dunia Kedokt. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . (021) 4208171. Box 3117 JKT. Jl. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 DEWAN REDAKSI PENERBIT Grup PT.Prof. Siti Wuryan A Prayitno. . Sjahbanar Zahir MSc. Swartz MN.co.913X KETUA PENGARAH Prof. Hal 174-9.id/cdk PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Sodeman WA. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis. Budi Riyanto W. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya.D . Boenjamin Setiawan Ph. Dr. hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar.Dodi Sumarna . hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. 4. . Dr. Pathogenetic properties of invading microorganisms.kalbe. akan diberitahu secara tertulis.Djuni Pristiyanto ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran.kalbe. 1984. Cempaka Putih. 64: 7-10. Tlp.Prof. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. bila menggunakan bahasa Indonesia. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. 4. Baltimore. Jakarta Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta TATA USAHA . Jakarta 10510 P. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. .4208171 E-mail : cdk@kalbe. Box 3117 JKT. DR. Drg.DR. Temprint http://www.co. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran. Letjen Suprapto Kav. Sri Oemijati. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. Contoh : 1. DR. Kalbe Farma Tbk. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya. Bagian Periodontologi. kedokteran dan farmasi. Drg. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. 3.O. Hendro Kusnoto.2004 International Standard Serial Number: 0125 . bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah.Prof. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah. 1990. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. . Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. bila tujuh atau lebih. London: William and Wilkins. Tlp. E-mail : cdk@kalbe. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Oen L. eds. SKM.co. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup.Medical Rehabilitation. Bila terpisah dalam lembar lain. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk.id Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan. Gedung Enseval. Bila tidak ada.457-72.H. Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta . PELAKSANA Sriwidodo WS. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. PhD. 1974. Suprapto Kav. hendaknya diberi keterangan mengenai nama. 021 .co. R Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang KETUA PENYUNTING Dr. Philadelphia: WB Saunders. Cempaka Putih. satu muka. Basmajian JV. Laboratorium Ortodonti MScD. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran. SpOrt. Bila pengarang enam orang atau kurang. Weinstein L. Dalam: Sodeman WA Jr. 1st ed.Dr.id http: //www. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. P. Gedung Enseval Jl. 2. 90 : 95-9). Kirby RL.10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word. MSc REDAKSI KEHORMATAN PEMIMPIN UMUM Dr.O.

144.2004. Firmansyah Dept. Jakarta. Papillomata have a characteristic wart-like appearance. Partial airway obstruction may manifest as stridor or chest retractions. North Sumatra. This is a report of a 50 yearold female with vertigo.fih Vertigo is a common complaint. 13-15 dmr.lys bso. Cipto Mangunkusumo General Hospital. Medan. 8-10 Rhinoscleroma is an endemic disease. Lia Amalia Dept of Child Health. and retinoic acid are still debatable. acyclovir. 144. can be due to vestibular system disorder. Cermin Dunia Kedokt. Conventional treatment is still not satisfactory. Indonesia Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in children. North Sumatera and Bali. particularly at the anterior commissure. referred to dizziness or a sense of imbalance. chronic cough. Adam Malik General Hospital.2004: 144. in Indonesia it is found in North Sulawesi. 2004 . ribavirin. Diagnosis can be confirmed using a flexible fiberoptic laryngoscope to visualize the larynx. University of Indonesia. Cermin Dunia Kedokt. Indonesia ACUPUNCTURE FOR VERTIGO Prasti Pirawati. Cermin Dunia Kedokt. treated with acupuncture and showed good improvement. The mainstay of treatment is surgical ablation.English Summary LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN Bambang Supriyatno. recurrent respiratory infections also may occur. Indonesia RHINOSCLEROMA Delfitri Munir. laa Fate is distinghished but an expensive tutor (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No. It is caused by strains of human papilloma virus (HPV) family. paroxysms of chocking. of Acupuncture Dr. 144. and tend to be concentrated on the free margins of true vocal folds. The role of medications such as alphainterferon. There is still no accurate and successful management method for this problem . of ENT.raa. L.2004. Jakarta. 47-51 ppi. Rizalina A Asnir. The symptoms may cause anxiety and disturb the patient’s social life. Practically all patients with laryngeal papilloma present with hoarseness or a weak voice. Yvonne Siboe Dept. Faculty of Medicine.

7.7.8 dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria.1-5. Cocobacillus foetidus ozaena 2) Defisiensi Fe1-4.12.12.7.17 Cermin Dunia Kedokteran No. 7.7. mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering.16.11-14 dan di negara sedang berkembang. PENDAHULUAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik.11-15 terutama pada usia pubertas.1-5.Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinitis Atrofi Rizalina Arwinati Asnir Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran.4. Bacillus mucosus.11-15 terutama pada usia pubertas. beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. dilakukan operasi .1-5.9. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.9 Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria.9. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas.1-5.5.12.7 7) Teori mekanik dari Zaufal4.9.5 8) Ketidakseimbangan otonom 4.11 6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4.2. Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun.13 Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3.20 Tetapi dari segi umur. rinitis fetida.5. vitamin A1. 4 wanita dan 2 pria.1-5. lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang. sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk.5.11.12.18 5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5.2.11. Kata kunci : rinitis atrofi.7.11.1. 2004 5 .12.10.12.14-16 Oleh karena etiologinya belum pasti. Diphteroid bacilli.7. yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta. Kuman lain adalah Stafilokokus.17 Terutama kuman Klebsiella ozaena.1-11 Secara klinis.7. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia.11 3) Sinusitis kronik1.17 Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong.13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria.11-14 dan di negara sedang berkembang.14.7. Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H. 144. Adam Malik. maka pengobatannya belum ada yang baku.14-16 Beberapa teori yang dikemukakan antara lain : 1) Infeksi kronik spesifik 1-4.2.1-9 Penyakit ini lebih sering mengenai wanita. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa.10.7.1-4.11.7.16 Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.7. sosial ekonomi rendah. Medan ABSTRAK Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah.11-15 SINONIM : Ozaena.20 KEKERAPAN Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita. sehingga pengobatannya belum ada yang baku. umur berkisar dari 10-37 tahun.20 Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk1-3.8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9. Kokobasilus. rinitis krustosa.16 Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi.

Larutan garam dapur d.3.11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal.2.15. midline granuloma. Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A. terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3. Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat21 : a.9.4. rongga hidung tampak lebar sekali.5.1. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul).5.12.10. c. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia.1. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis.11 Dapat berupa: perforasi septum. lepra.3. pemeriksaan darah rutin. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi.4 g NaCl 56.17 11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5.11 Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang.1-5. rontgen foto sinus paranasal. 2004 . PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala. b. PATOLOGI DAN PATOGENESIS Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik. rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:3.3. Campuran : NaCl NH4Cl NaHCO3 aaa 9 Aqua ad 300 c 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat c.13 .2 Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman.12.16 12) Golongan darah. sinusitis.7.3. untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika. krusta banyak. hidung pelana.4 g Na diborat 28.21 KOMPLIKASI4. sekret purulen dan berwarna hijau. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung.1. terdapat anosmia yang jelas.7 g dicampur 280 ml air hangat Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel.10-12 Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi.11 Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun. kadang-kadang kuning atau hitam. yang bertambah jelek dengan terapi estrogen. 144.9. miasis hidung. dilakukan dua kali sehari. Mantoux test. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau b.11 Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc.4. keluhan anosmia belum jelas. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui4. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia.21 Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik.2 Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu. air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. atrofi konka. mukosa tampak kemerahan dan berlendir. Antara lain : a.11. Sebagian besar kasus merupakan tipe I. epistaksis dan hidung terasa kering.10.4. sakit kepala.4 Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat.oleh karena itu secara patologi. terlihat rongga hidung sangat lapang. dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif.16. rinitis kronik lepra.10 dan rinitis atrofi sekunder. mukosa hidung tipis dan kering. pemeriksaan Fe serum. jika krusta diangkat. gangguan penciuman (anosmi). Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. ingus kental berwarna hijau. Campuran : Na bikarbonat 28. Selain faktor-faktor di atas.8.17 10) Herediter5. rinoskleroma dan tbc.3 2) Obat cuci hidung.19 dan fibrosis dari tunika propria. 6 Cermin Dunia Kedokteran No. adanya krusta (kerak) berwarna hijau.9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)4. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. dapat ditemukan krusta di nasofaring. warna makin pudar. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis.4. mukosa makin kering. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa. krusta sedikit. Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler. faringitis. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis.7 GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis.

Edisi ke 3. 18. 114 : 254-9. Hartley C. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers. Lobo CJ.5. 193-411. Baser B. 1992. 1-4. Laryngoscope 1996. 22. 12 : 325-33. Soetjipto D. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka. KEPUSTAKAAN 1.000 U selama 2 minggu 5) Preparat Fe 6) Selain itu bila ada sinusitis. Penyakit Telinga . Pitfalls. Montgomery WW. 3. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. 264-7. Disease of the Nose. Maran AGD. maka pengobatannya belum ada yang baku. Maqbool M. Naumann HH. A Short Practice of Otolaryngology. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. Disease of the Nose. 1996.Hidung. Jilid 1. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93. 90-2. Throat and Ear and Head and Neck. 10-5. 4/8/26-7. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. 106 : 652-7. 381-2. oestradiol dalam minyak Arachis 10. Sherief SG. 4th Bristol:Wright. Fundamental of Ear. 7. Alih Bahasa : Wijaya. Rinitis Atrofi. 8. Samsudin. 19. Kader MA.Atrophic Rhinitis-Pathology. cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari.22 PROGNOSIS Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. 349-51. Naumann HH. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. 173-82. Colman BH. Ujung Pandang. 1997.106: 702-3. 14th ed Singapore : ELBS. Farrington WT. Vol.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. Sydney. J Laryngol Otol 1998. 499. Sreeramamoorthy B. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar. 1996. Grewal DS. Ujung Pandang: 1986. Jiang R. 20. Sayed RH. 1994. Wood DG. C. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok . Elhamd KA. 218-21. Kumar S. Weir N. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Tenggorok . Elloy P. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. 218-9. New York : Georg Thieme Verlag. Groves J. Jakarta: EGC. 13. Oxford : Butterworth .Gray RF. 1986. yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta. Technique. 9. Doyen A. 144. diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa.5 KESIMPULAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. 6th ed. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif.Heinemann. 1992. 40-1. Pfaltz CR.3) Obat tetes hidung . Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis. 1994. 11. 104 : 404-7. 1993. Mangunkusumo E. kemudian dipindahkan ke lubang hidung. 5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung. mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. Am J Rhinol 1998 . bahan sintetis seperti Teflon. Buku Ajar Penyakit THT. New York : Georg Thieme Publishers. 1403-6. 202-5. 1997. 17. Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. 112 : 543-6. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Textbook of Ear.Neck Surgery. 12. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita. 113-4. 229. Kepala dan Leher. Head and Neck Surgery.1. Madras : All India Publisher. Singapore : PG Publishing. Nose and Throat Diseases. natrium bikarbonat. Calcutta : The New Book Stall. Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap.10-14. 1996. Cermin Dunia Kedokteran No. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins.Hsu C.3% perbaikan pada periode waktu yang sama.A Synopsis of Otolaryngology. Bertrand B. Indication. Hilger PA. Mangunkusumo E. Edisi 13. Throat and Ear. 1993. 23. 221-2. 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid. setelah krusta diangkat. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali. Sutomo. 576-80. campuran Triosite dan Fibrin Glue. tulang.J Laryngol Otol 1992 .21 OPERASI Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang. J Laryngol Otol 2000. diobati sampai tuntas1-5. Massegur H. Hagrass. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan. Jakarta : FKUI. 2004 7 . 21. 549-55. 16.000 U / ml. THT FKUI. 1980. Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery.4.Nose & Throat Diseases and Head . Hidung . Infective Rhinitis and Sinusitis. Dalam : Boies (ed).Chen C. dermofit. 91-3. Mewengkang N. Nose and Throat Diseases. 10. Ramalingam KK. 14.Edisi 6. 492. Surgery of the Upper Respiratory System. J Laryngol Otol 1990 . 6. 4. Etiology and Management. Oleh karena etiologinya belum pasti. diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. Dalam : ScottBrown's Otolaryngology. A Pocket Reference. 1987. 1997.11-14 Sinha.3 Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu. 2. Becker W. 1985. 15. Hiranandani NL. 26-7. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. Jakarta : Bina Rupa Aksara.23 Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. 4) Vitamin A 3 x 10. Ballenger JJ. 5. Ear. Gamea AM. 2nd ed. Samiadi D. Jakarta : FKUI.

kelainan imunologis. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 . Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi. obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. Lia Amalia Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti. infeksi saluran nafas kronik.4. trakea dan paru. Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur trakeobronkial. hidung. tetapi lokasi tersering adalah laring. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas. dan pemeriksaan laringoskopi langsung.5 Terdapat dua jenis papiloma laring. Pada laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol. dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu. Cipto Mangunkusumo. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta suara tangisan yang abnormal. Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Papiloma Laring pada Anak Bambang Supriyatno. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea dan bahkan sampai ke paru-paru. Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui. Papiloma laring pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan nafas serta penyebaran ke paru-paru. Jakarta ABSTRAK Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di saluran nafas anak. walaupun tidak ganas.2. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”. rapuh. Kata kunci : papiloma laring. diduga berhubungan dengan infeksi human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif. pada anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi. dan pertumbuhannya eksofilik. Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17. higiene yang buruk. Beberapa keadaan diduga berperan sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah. rekurensi PENDAHULUAN Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas anak. pemeriksaan fisis.1 Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. berwarna kemerahan. anak.3 Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat. mudah berdarah. 144.

Cermin Dunia Kedokteran No. Medikamentosa Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. dan pasien tampak mulai gelisah. Terapi fotodinamik Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana papilomatosis laring rekuren.8.10 Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk. nodul pita suara atau kista laring kongenital. ETIOLOGI Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti. pemeriksaan fisis. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi. mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas. serta pertumbuhannya eksofilik. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm). Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring. mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps. carbondioxide laser surgery. dan stridor inspirasi. yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru.INSIDENS Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak. mikrolaringoskopi dengan diatermi. Biasanya terdapat stridor inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol.17 Diagnosis banding Diagnosis sulit terutama pada fase awal.6 Agung7 melaporkan 7 kasus antara 1970-1976. Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring.18-20 c.10 MANIFESTASI KLINIS Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak. Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut : a. terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2.7. tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. Jackson I ditandai dengan sesak. tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya. maka perlu dicurigai suatu papiloma laring. tanpa sianosis. asma bronkial. Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah. 80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun. 144. semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi.17. epigastrium. tetapi tidak untuk lesi parenkim. Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis. infeksi saluran napas kronik. 10 Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau parakeratotik. Basheda dkk. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula. rapuh. Obat yang digunakan antara lain antivirus. hormon (dietilstilbestrol). retraksi suprasternal. mikrokauter. dan kelainan imunologis.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti.3. Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan.15 PENATALAKSANAAN Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker.9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial. kriosurgeri. stridor inspirasi ringan. 6 di antaranya di bawah 12 tahun. dan podofilin topikal. Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat. tetapi ada faktor lain yang berperan. sianosis ringan. sedangkan Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang. Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan.18 d. laringofissure. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal. 2004 9 . dan mudah berdarah. Imunologis Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon.18 Pada kasus papiloma laring yang berulang. Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger. Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara 1993-1997 dengan usia antara 2. kemerahan. steroid. sesak. seperti kembang kol. mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas. 14-16 Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson.11-13 HISTOPATOLOGI Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik. Bedah Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring. Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk.5-18 tahun. mikrolaringoskopi langsung. dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak. DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut. paralisis pita suara. b. dan terkadang gagal napas.. laringomalasea. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi. dan sianosis lebih jelas. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas.

Bashida SG. Ultrasonic treatment of laryngeal papillomata. Derkay CS. Dere H. Harley C. et al. Losin. 107:327-32 Green GE. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. Darrow DH. Werkheven JA. 33:187-207. A preliminary study. Myers EN. Elo J. Endobronchial and parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of photodynamic therapy. 122:942-4. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM. 119:554-7. Clinical effect of alpha interferon dose variation on laryngeal papillomas. Bajtai A. Laryngoscope 1992. Mulloly VM. Recurrent respiratory papillomatosis. Laryngol and Otol 1994. Agung IB. Yasin AR. Laryngoscope 1998. 9.669-75. Current Diagnosis and Treatment. 107:915-47. Cantell K. Laryngoscope 1997. 5. Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang. diduga akibat tindakan trakeostomi. Pou AM. 19. Rimell EM. Hamilton. Pathogenesis and treatment of juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis. PROGNOSIS Prognosis papiloma laring umumnya baik. Abramson AL. Mehta AC. Papova viruses and recurrent laryngeal papillomata. Steinberg BM. 98:1324-9. Schneider PS. 10. Comparison of pulsed and continuous wave light in photodynamic therapy of papillomas: An experimental study. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1993. Winkler B. Kohlmoos HW. Smith RJH.249-60. Topp WC. 97:678-85. Late recurrences of laryngeal papillomatosis. 33:1-12. Haliwell M. Papilloma of the larynx in children. Leventhal B. dan paru. Shikowitz MJ. Steinberg BM. Prognostic role of viral typing and cofactors. h. Shoemaker DL. Task force on recurrent respiratory papillomas. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993. 16. Orlowski JP. 101:1162-6. 100:1458-64. Laryngeal papillomavirus infection during clinical remission. Derkay CS. bronkus. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. Gray SD. 108:226-9. Abramson AL. Fagan JJ. Haglund S. Skripsi. Hidvigi J. Mounts P. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996. radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas. 121:1386-91. 12. Human papillomavirus infection in papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. 2004 . Otolaryngol Clin N Am 2000. ekstirpasi yang tidak sempurna. Erisen L. Laryngeal papillomatosis: clinical histopathologic and molecular studies. Birzgalis AR. Sites of predilection in recurrent respiratory papillomatosis. Kashima H. 20. 7. de Boer G. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995. Arch Otolaryngol 1995. 144.13 Meskipun jarang. Steinberg BM. 3. 1982. 8. tetapi dapat meluas ke trakea.h. 13. 11:242-52. Recurrent respiratory papillomatosis of the larynx. Pignatari SSN.KOMPLIKASI Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas. Arch Otolaryngol 1981. Smith EM. Laryngoscope 1987. 2. 14. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. Lundwuist P. Ossof RH. Bauman NM. 11. N Engl J Med 1983. Otolaryngol Clin N Am 2000. 17. Pediatric respiratory papillomatosis. 4. Arch Otolaryngol 1995. 15. Chest 1991. 1977. KEPUSTAKAAN 1. 115:322-5. Laryngoscope 1991. White A. THT FKUI. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma. Fairman DH. Soft tissue complication of laser surgery for reccurent papillomatosis. Interferon therapy in juvenile laryngeal papillomatosis. 308:1261-4. The Manchester experience 1974-1992. Bristol General Hospital.16 Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru. 102:580-3. 102:300-10. 6. . 18.

4.tirohioid : 60.000 pasien anak. dekade ke tiga 13.12 Predileksi umur terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%. 144.14 Ada penulis yang menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus. lokasinya terdapat di: Cermin Dunia Kedokteran No.13 KEKERAPAN Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher.1.4-10.9% Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus.12 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya. dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid.1% .suprasternal : 12. Kista ini lebih sering terjadi pada anak.5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34.11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari + 86.5.5 Kista ini biasanya terletak di garis median leher. seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.9% . sehingga mengalami degenerasi kistik.5 Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31. yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kista Duktus Tiroglosus Hafni Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H. Kata kunci : Kista duktus tiroglosus.5.5 : .13. maka epitel duktus juga ikut meradang.10. kekambuhan PENDAHULUAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. sehingga terbentuklah kista.9.3 Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun.4.4. bagian tengah korpus hiod.1% . umur sampai 5 tahun terdapat 38%.14 walaupun dapat ditemukan di semua usia. sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid.3.11 PATOGENESIS Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus : 1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus.10. Adam Malik.1-11 Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. 2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista.1. merupakan 40% dari tumor primer di leher. Medan ABSTRAK Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher. pada dekade ke dua 20. 2004 11 .12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang.10. rata-rata pada usia 5.6%. jika sering terjadi peradangan.6 Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak.3.4.1 LOKASI Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher.5%.4%.5 tahun. yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea.9.suprahioid : 24. Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher.11 Lokasi yang sering adalah1.1.5 Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.intra lingual : 2.

fasia yang lebih dalam digenggam dengan klem. 1986. Tenggorok. 122: 1094-6. Branchial cleft anomalies. 10.11 4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya. O’Hanlon DM. Sobol M. warna sama dengan kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. 183. 1987. 2nd ed. Otot sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya. Suparjadi S. Ransom ER. J. 88.11 Diagnosis Banding 1. 2. Konsistensi massa teraba kistik. 755.5. Johnson JT.Heinemann.suprasternal : 3 Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral. berbatas tegas. Philadelphia : WB Saunders Co. Dalam Boies.1. 14. 1996. Hidung. Jilid 1. Ballenger JJ. Vol. 6/30/8-12. mudah digerakkan.2. Buku Ajar Penyakit THT. Saleh H. dapat di atas atau di bawah tulang hioid. posisi terlentang.6. Kepala dan Leher. 1994. 7. 12.11 Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi. Aberrant thyroglossal cyst. Surgery of the Upper Respiratory System. 5.. dipasang drain dan irisan kulit ditutup kembali. Thawley S. A Handbook for Students and Practitioners. Kista brankial Lipoma1. Waddell A. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah. 6th ed. 120 (5): 757-9. J. Bila ada fistula. Cohen JI.suprahioid : 18 . kepala dan leher hiperekstensi. 6. 2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang empat sentimeter. Congenital Neck Masses and Cysts. 2nd ed. 13. 3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia. Oxford: Butterworth – Heinemann. benjolan akan terasa nyeri.6. 1996. Bailey JB. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. Scheetz MD (eds. 5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum. Oxford : Butterworth . Jakarta : Bina Rupa Aksara. 1987. Benign Tumors. Panje WR (eds. 8. Kohut RI et al. Greinwald JH. Massa Jinak Leher. 12 Cermin Dunia Kedokteran No. Philadelphia : Lea & Febiger. Pincu RL. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. Leichtman LG. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid.transhioid : 2 . Dalam : Comprehensive Management of Head and Neck Tumors. Developmental Anomalies of the Neck. Throat and Ear and Head and Neck.11 KOMPLIKASI Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder akibat trauma. Stool SE.11 Cara Sistrunk : 1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik. Karmody CS.). Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. Alih Bahasa : Wijaya C. Kista dermoid 3. 4. Kejadian fistel ini antara 15-34%.10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm. KEPUSTAKAAN 1. 381-2. Corry J et al. yang harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher. otot lidah yang longgar dijahit. 1313-14. dibuat irisan memanjang di garis media. THT FKUI. Robertson N et al. 4. kadangkadang lebih besar. bulat. eksisi sederhana. Ellis PDM. 1997. 2004 .5 KESIMPULAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. 19. 1. Urben SL. Otol. irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula. 114: 128-9. 295-6.8 GEJALA KLINIK Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher. 5/16/14. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%.dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%. 144.). Jakarta : EGC. yaitu kista beserta duktusnya. tidak nyeri. Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %. Thyroglossal duct remnants. walaupun dapat ditemukan pada semua usia. Lingual tiroid 2. Otol. Edisi 13. 11. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. Laryngol. 1990. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. 3. Hereditary Thyroglossal Duct Cyst. Benign diseases of the neck. 760-7. Head and Neck Surg. Ujung Pandang.1985. Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya. Vol. Philadelphia : WB Saunders Co. Fusion of the thyroid interval in a patient with a thyroglossal duct cyst.submental : 2 . 108 : 1105-7.5. II. 1983 .7. 9.infrahioid : 43 . sampai tulang hioid. Dalam: Pediatric Otolaryngology. Philadelphia : JB Lippincott Co. Walsh N. thyroglossal cysts and fistulae. Samsudin. korpus hioid. Colman BH. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag. 6th ed. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya. Laryngol. Dalam : Kumpulan Naskah Konas VI Perhati. reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik. infeksi atau operasi yang tidak adekuat. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak. 14th ed. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. aspirasi perkutan. Edisi 6. Foramen sekum dijahit. antara lain insisi dan drainase. Untuk fistula. Dalam : Head and Neck Surgery . 2. 415-21. Montgomery WW. 1362-69. Korpus hioid dipotong satu sentimeter. 1989. diagnosis dapat ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan dilakukan foto Rontgen.9 Bila terinfeksi. 2000. Vol. 1997. Otolaryngol. Maran AGD. Penyakit Telinga.Otolaryngology. Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. Simko MEJ. Bluestone CD. Damijanti T. 1994. Singapore : ELBS. Duktus beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. Disease of Nose.

mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung. PENDAHULUAN Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika Serikat dan Inggris.2-4.1.5 % terdapat pada golongan pekerja kasar seperti petani. Sumatera Utara dan Bali.9 Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut.8.8-10 Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870). 2004 13 .8. Rusia. Adam Malik. orofaring. Kolumbia.8 Pengobatan meliputi medikamentosa.1. tetapi sering pada dewasa muda.2. Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring. Eropa dan Afrika.11.7. Sumatera Utara dan Bali. Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis). Ukraina.10 Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma. Medan ABSTRAK Rinoskleroma merupakan penyakit endemik. Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini sampai sekarang.5.8 Fisher menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan. Firmansyah Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H. radiasi dan pembedahan.2.9. Rumania. Uganda.7 INSIDEN Rinoskleroma dapat mengenai semua usia. dan dalam beberapa tahun akan mengisi dan menyumbat hidung. tapi endemik di beberapa negara di Asia.7 HISTOPATOLOGI Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo- Cermin Dunia Kedokteran No. rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum perang dunia ke dua.1. India.1.9. Nigeria. Salvador.1-7 Di Indonesia. Cekoslovakia. meluas secara bertahap menjadi nodul padat yang tidak sensitif. Rizalina A Asnir.1. Kasus pertama ditemukan oleh Snigders dan Stoll (1918) di Sumatera Utara. Philipina dan Indonesia.2 Dilaporkan banyak terdapat di Sulawesi Utara.2.13-16 Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara. trakea dan bronkus.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T.8 Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif. namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang memberikan hasil memuaskan. 144.8. subglotis.9 Kebanyakan penderita ditemukan pada dekade dua dan tiga. Sumatera Utara dan Bali. Guatemala. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah. di Indonesia terutama di Sulawesi Utara. Amerika.11 Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinoskleroma Delfitri Munir. Mesir.8 ETIOLOGI Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis yang merupakan basil Gram negatif. lingkungan hidup yang tidak sehat dan gizi yang jelek.6. Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini.2 Belinoff melaporkan 94. Bila tidak diterapi akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me- nimbulkan deformitas yang luas.

Stadium kataral/ atropik Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi. Pada stadium I. perluasan dan lamanya penyakit.15 Diagnosis Banding2.1. Toppozada mengemukakan bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat pada penyakit ini. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian dikenal sebagai basil dari Von Frisch. kemerahan. Blastomikosis.13. Sel-sel ini menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan diagnosis penyakit rinoskleroma. kemudian diikuti cairan mukopurulen berbau busuk. Lepra b. Dimulai dengan cairan hidung encer.12 1. yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2. Pada stadium ini biasanya penyakit mudah dikenali.11 14 Cermin Dunia Kedokteran No. Wegener granulomatosis PENATALAKSANAAN Meliputi : medikamentosa. tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik.810.Stadium II (Granulomatous.11.9. Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan. di samping keluhan hidung tersumbat juga sering terjadi perdarahan dari hidung. Sporotrikosis. dapat terjadi gangguan penciuman. Siprofloksasin. tetapi hasilnya belum memuaskan.Stadium I (Kataralis.8 Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan. Eksudasi) Ditemukan pada usia sekolah. Dari pemeriksaan.1 Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1. kemerahan.14.2. radiasi dan tindakan bedah. yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk. Parasit : Leismaniasis mukokutaneus 2. GEJALA KLINIS Gejala tergantung pada area.3. Stadium granulomatosa Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik. 144. Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya.8-11.Rifampisin 450 mg/ hari . serologi (test komplemen fiksasi. Koksidioidomikosis c. Sarkoidosis 3. Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler yang sangat besar.14: . konsistensi padat. Proses infeksi granulomatosa a.13-15 Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif.1. Lebih lanjut rongga hidung mulai dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan. jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada sitoplasma. dapat ke arah posterior (nasofaring) maupun ke depan (nares anterior). kavum nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah.9 Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia. Klofazimin1.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis. tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan.9 Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa. hiperplasi pseudo epiteliomatosa.Streptomisin : 0.8.6. bakteriologi. Gambaran penyakit pada stadium ini tidak khas. Stenosis. Bakteri : Tuberkulosis.Stadium III (Skleromatous. Atrofi. Jamur : Histoplasmosis. kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut dan penyempitan jalan nafas. pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior.Tetrasiklin : 1-2 g/ hari . mudah berdarah. hanya pilek yang tidak mau sembuh dengan pengobatan biasa. Pada stadium II. 3. . Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung.15 1. 2. Pada stadium ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius bagian bawah. Kemudian terjadi invasi.2.patologis yang khas. Infiltratif. Stadium sklerotik Fibrosis yang luas. histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel).7. Noduler) Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis. Medikamentosa Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif. permukaan licin tanpa ulkus.7. berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel permukaan. Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz. laring.Khloramphenikol. test aglutinasi) dan imunokimia. sumbatan hidung yang berkepanjangan. Radiasi Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod. faring.8. Proses yang sama dapat terjadi pada mulut. Antibiotik yang dapat digunakan antara lain: . limfosit dan histiosit. .8 1. sering seperti rinitis biasa.710.10 2. histopatologi. Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras. sakit kepala. namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan. 2004 . Russel body. trakea dan bronkus. ditambah dengan pemeriksaan penunjang seperti radiologi. laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi.6. Di samping itu terdapat pula sebukan sel-sel plasma. Sifilis.2. Sikatrik) Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak.5-1 g/ hari .

h 224556. nose and throat diseases.1. Desasouza S.9. Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial. 12.afip. Ed II. Maran AGD. p. Jakarta. Hilger PA. 5. htm Colman BH. hidung. 3. 1851-52. 8. Rinoskleroma di RS. http//www.162. 3. Masna PW. Fried MP. p.Palatum mole. kepala dan leher. Throat and Ear. 1997. In: Diseases of the nose. 206-7. throat and ear and head and neck. Ed VI. Ramalingam KK. Balenger JJ. 2089.atlases. Sydney: March. Wein N. Shapiro J.103.Telinga bagian tengah (otoskleroma) .32/micro/v17n04. Nauman HH. 40. p. 1997.htm. 144. orofaring 2. Yigla M. 1993. Sreemamoorthy B. Pembedahan Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung. Vol 1. 15.7. Dalam: Penyakit telinga. Dalam Boies (ed). 6. 1980. 603-7. Penyakit hidung. Jakarta. Butterworth-Heinemann. 7.14.4. 1990. Monduzzi. 1991. Diseases of the nasal cavity. Ed III. komplikasi dapat juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa) dan berdegenerasi maligna. h 368-70. sehingga pengangkatan dapat dikerjakan dengan mudah secara intranasal. Laring. 2. Acute and chronic laryngeal infections. Ahmad M. Vol 17. Infective rhinitis and sinusitis. USA: WB Saunders Co.1. tenggorok. 1993.Saluran lakrimal (dakrioskleroma) . Beberapa aspek penyakit rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar. Vol III.Orbita : proptosis. Granuloma kronis pada muka. Juli. Montgomery WW. Wilson WR. http//www. Becker W. January. faring dan telinga. New York: Thieme medical publishers inc.org/departements/endocrine/case/dec00/december2 htm. 4. Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI. June 2000.Sinus paranasal . Jika terjadi sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus dilakukan trakeostomi. Ear. Chitale A. Pfaltz CR. 1983. In A Short Practice of Otolaryngology. Dr. Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII PERHATI. In: Otolaringology. Agustus. p.Dilatasi Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total. 1994. Scleroma. Kariadi Semarang. Ben-izhak O.16 KOMPLIKASI Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke : 1.thedoctorsdoctor.1 KEPUSTAKAAN 1. h 4/8/34-35 Rhinoscleroma http//www. Longman Singapore Publ. Oren I et al.ce/atl-en/sect-sect-58/html. Medan. atelektasis paru. Buku Ajar penyakit THT. In XVI World Congress of Otorhinolaringology head and neck surgery. Suardana W.muni. Surabaya. 10. Infections of the nose. Cermin Dunia Kedokteran No. h 210. 14. h 128-34. 13.9 4. h 457-66. Benign Tumours and Granulomas in Nose. Intrakranial Di samping akibat perluasan penyakit. Binarupa Aksara. uvula. Pranowo S. Organ sekitar hidung : . Laryngotracheobronchial involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma. Ed X. Jilid I.13. p. 1991. Wiratno dkk. 2004 15 . 61. 3. Groves C. Tjekeg M dkk. Great Britain: 1997. In Otolaryngology. EGC. PG Publishing. hidung. USA: WB Saunders Co. Vol IV. Infectious disease of the paranasal sinuses. ed I India: All India Publishers. Department of pathology. Ed VI. 4. Chest. 1990. http//www. p. 9.10. kebutaan . Ed III.129. 1998. In Scott-Brown’s Otolaryngology. ed IV. sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas. asfiksia dan kematian. ed 13. 11. No 4. Vol III.com/diseases/rhinoscleroma. 16.

Dijumpai 16 Cermin Dunia Kedokteran No. Susworo Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.000 penduduk1. di samping Mediteranian. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap. diasin). Sel akan tumbuh tidak normal dan berlebihan. dan beberapa ras di Afrika bagian utara. faktor eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif. bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih. Sebagian lagi bersifat diturunkan Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu. seperti perokok berat. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini. Cipto Mangunkusumo. misalnya kelainan pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium). Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi. kulit hitam dan Hispanics. . pola hidup. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan. 2004 lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia. Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi. kanker payudara dan kanker kulit. Sebaliknya. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran tersebut. terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan.3 Sekalipun termasuk ras Mongoloid. dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per 100. Bermula dari terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme pertumbuhan sel. maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol.000. Catatan dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan ke empat setelah kanker leher rahim. 144. bangsa Korea. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya KNF.2 Bandingkan dengan negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka kejadian 1 per 100.000 penduduk per tahun. Antara lain disebutkan faktor makanan. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah. putusnya kromosom (chromosome breaks) dan delesi pada sel sel somatik. tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh.7 kasus baru per tahun per 100. sedangkan angka rata rata di Cina bagian selatan berkisar antara 20 per 100. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. pajanan pada bahan kimia atau oleh virus.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir R. yakni 4. atau gen HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. Perubahan genetik ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak terkontrol. KANKER NASOFARING (KNF) Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari langit langit lunak. Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini. Berbagai kekacauan struktur ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar. seperti konsumsi lemak yang terlalu tinggi.000 penduduk. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal. tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring. Jakarta PENDAHULUAN Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang disebut sebagai mekanisme karsinogenesis. Yang disebut KNF adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini.

GEJALA KLINIS KNF Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada penderita KNF.000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0. Keluhan telinga dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar. Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga menyulitkan tindakan radioterapi.5 Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti udang asin. 144. Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan nasofaring. Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. Berbeda halnya dengan kanker leher rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik Papanicolaou dan mamografi. Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan otak saja. Selain gangguan motorik. padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis di organ-organ tersebut. Saraf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). sampai saat ini belum ada metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF. seperti foto paru. Epstein dan Barr pada limfoma Burkitt pada 1960). selain gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding nasofaring dengan alat endoskopi. pendengaran sedikit menurun serta mendesing. Pemberian pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama. Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid. CT scan atau MRI nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura. Manakala pasien merasa bahwa kelenjar leher menjadi makin besar. terlebih pada stadium dini. Pada 1966. kadang kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga. (yang dinamai sesuai dengan penemunya. debu kayu serta asap kayu bakar.000 penduduk). banyak kasus yang terlambat didiagnosis. USG hati. KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein Barr. maka dapat dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. Pembesaran kelenjar leher merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan.5 per 100. Sedangkan pemeriksaan lain. akibatnya terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang juling. Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya. Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain. Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. Pada keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau keduanya. 2004 17 . Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV.Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. PENGOBATAN Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi radiasi. Di samping itu pemberian khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker Cermin Dunia Kedokteran No. keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah. predisposisi genetik dan pola makan tertentu. disusul oleh keturunan Melayu (6. Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18. infeksi EBV dan penggunaan CHB6. Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa. Di beberapa bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih. Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali menyerang saraf pusat yang keluar dari otak.000).5 per 100. Lendir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus menerus. Yang selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya muncul salah satu gejala akibat KNF.5 per 100. Untuk menegakkan diagnosis. Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF. Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai konskuensi terhadap tujuan pengobatan. Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style salted fish). 4 Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV). telur asin. Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (Chinese herbal medicine= CHB). capsid antigen dan early antigen.

Azis MF. Hildesheim A et al. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. p. 2004 . KEPUSTAKAAN 1. France : IARC Scient. 144. 4. 1996. ed. Yu MC. pasien akan selalu diawasi oleh dokter. No. In : Tjokronagoro A. Yusuf A. 1992. Young J. Syafril A. 143. 2. memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar. 7. Henderson BE. 1990. 603 –18. Pengobatan radiasi. NPC in Chinese – Salted fish or inhaled smoke? Prev Med. Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna. Susworo. Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan. and risk of nasopharyngeal carcinoma. 10: 15-24. Nasopharyngeal cancer. bahkan setelah selesai terapi. bawah serta klavikula. terutama pada kasus dini. 471–86. Bila saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa sisa makanan ini berkurang. Djakaria M. York: Oxford University Press. dapat menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator linier (Linear Accelerator atau Linac). PENUTUP Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang spesifik. 1981. Parkin DM. Epstein Barr virus. IARC Press. Ross RK. karies gigi akan lebih mudah terjadi. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah memilikinya. Yu MC. Ferlay J. Lyon. Berkonsultasi ke dokter keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan tindakan yang tepat. Cancer Incidence in Five Continents. Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi. In: Schottenfeld D and Fraumeni JF (eds). Ho JHC. Publ. N. 1997. Vol. (Lihat lampiran/ halaman 19). 3. Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan. 6. Pisani P. 80: 827–41. Cipto Mangunkusumo General Hospital. Himawan S. Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. Soetjipto D. Whelan SL.yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi. (Eds). dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala seperti yang diutarakan di atas. Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada mukosa dasar tengkorak. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. 2nd. The flame of glory is the torch of the mind 18 Cermin Dunia Kedokteran No. 52: 3048 –51. Herbal medicine use. YKI. 5. Cancer epidemiology and prevention. Int J Cancer. Cancer in Asia and Pacfic. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar. Fachrudin D. Metode brakhiterapi. p. Raymond L. Nasopharyngeal carcinoma in Dr. Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas. Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. yakni dengan memasukkan sumber radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di sekitarnya. pada umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang memuaskan. mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). Estimates of the world-wide incidence of 25 major cancers in 1990. Ferlay J. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa negara maju. EFEK SAMPING PENGOBATAN Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. Henderson BE. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula. Jakarta Indonesia 1988. Cancer Res. Parkin DM.

Cermin Dunia Kedokteran No. Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang ternyata merupakan metastasis dari KNF Gambar 2. 2004 19 . Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator) Gambar 3. 144. Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala.LAMPIRAN : Gambar 1. Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi.

Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam. usia 5-15 tahun 29. Branhamella catarrhalis 22.11%.3 %. terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah.catarrhalis PENDAHULUAN Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%.9 %.2%. dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat”.5 % dan dewasa 23. Streptococcus sp. 87.82%.HASIL PENELITIAN Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat Retno Gitawati. Metoda penelitian cross-sectional. salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam. Streptococcus βhemolyticus 6. Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut adalah 73.8 %. 40% dan 80%. Lima spesies terbanyak adalah: Streptococcus viridans 54. baik infeksi saluran per20 Cermin Dunia Kedokteran No. Branhamella catarrhalis. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. terutama infeksi pernapasan akut (ISPA). Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh bakteri (kuman). Jakarta ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans. Streptococcus β-hemolyticus. 2004 napasan atas maupun bagian bawah. Ani Isnawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. B.1 %.52%.04%. Streptococcus pneumoniae 3. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 20%. 144.5%. yakni sebesar 68.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47. Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies. dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai bulan Nopember 1999. termasuk Indonesia. 53. Kata kunci : Tonsilo-faringitis. Betalaktam. serta lebih dari 50% penyebabnya . Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. Departemen Kesehatan RI.

Untuk kuman S.53) 2 (1.93% dan 5. yang memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 1999. 9.05%). khususnya terhadap kuman penyebab ISPA. Antimikroba golongan betalaktam. sedangkan terhadap Penisilin-G dan amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah. Branhamella catarrhalis (22. viridans sebanyak 54.76) 1 (0. dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam. Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari usap tenggorok antara lain Streptococcus. terhadap antimikroba golongan betalaktam. 1. Jenis (spesies) kuman Streptococcus viridans Branhamella catarrhalis Streptococcus β-haemolyticus Streptococcus pneumoniae Streptococcus non-haemolyticus Klebsiella pneumoniae Acinobacter spp. (R = resistensi) Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3).adalah virus(1). 2.05) 2 (1. dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya. Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S.76) 132 (100) usap Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000). Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap antimikroba betalaktam. termasuk jenis antimikroba yang diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas. Escherichia.82%) dan Klebsiella pneumoniae (3. Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut. Klebsiella. yakni dengan mengukur zona hambatan.2%). tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda detritus. 4. yakni golongan penisilin dan sefalosporin. sifat hemolisis agar darah.53) 2 (1.43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas. yakni sebesar 68. Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen tenggorok No. Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA. fermentasi karbohidrat. kadang-kadang disertai folikel bereksudat. dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama sakit. (Tabel 1). dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun. batuk. Jumlah subyek sebanyak 83 penderita. dengan sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat.11) 5 (3.9) 8 (6.4 % .53) 1 (0. kecuali terhadap Cefradin.2 %. DISKUSI Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif. berturut-turut 9.11%).82%). sakit menelan. Isolat-isolat kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya terhadap antimikroba betalaktam.46 %. Streptococcus β-haemolyticus (6.35%. dan uji-uji khusus lainnya. 144. HASIL Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis. Semua subyek telah menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent. Staphylococcus.2) 30 (22. makrolida. terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam. Tabel 1. Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin. hampir sama dengan yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4. 3. 12. Streptococcus pneumoniae (3. hiperemis. Kuman ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab endokarditis. Streptococcus non-haemolyticus (3. dan memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C. dan kotrimoksazol(4). dan memerlukan terapi antimikroba. Kuman hasil isolasi diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada media Mueller-Hinton.76) 1 (0. BAHAN DAN CARA Desain uji adalah studi kasus cross sectional. 10. Proteus. dengan cara atau rumus sebagai berikut: % R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman “Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 + (% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Z”)/100. 2004 21 . tetapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 % dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat pada suhu 370C selama 24 jam.82) 5 (3. B hemolyticus diperoleh 6. dan Haemophillus(2). Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus viridans (54. 5.82) 4 (3.9%).71 %. berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut 31.04%. 11. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni. Branhamella. Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. Cermin Dunia Kedokteran No. Pseudomonas. 8. 6. Yeast (ragi) Staphylococcus aureus Alkaligenes dispar Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus epidermidis Jumlah Jumlah (%) 71 (54. dan hasilnya menunjukkan profil resistensi (Tabel 2). 7.

Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Penisilin G adalah 70%. MKI 4 (2/3): 56-60. 4. Dirjen Binkesmas.11 3. Penulisan resep oleh dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin spektrum luas sebanyak 53.04 %. Dwiprahasta I. penisilin spektrum sedang dan sempit 13.33 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefep 0 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefrad 73. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik. sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat minimum (MIC) kuman dan kesembuhan. viridans B. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga mungkin sudah banyak terjadi resistensi.33 0 0 0 0 20. Sulb = Sulbenislin. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi bakteri yang sensitif. Berkala Ilmu Kedokteran 1997 . 2. 9. aureus 0 %. 12. sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0.05 1.87 5. Antimikroba Cefradin Penisilin-G Ceftriakson Cefotaksim Amoksisilin Cefotiam Cefpirome Sulbenisilin Cefepime kuman usap tenggorok terhadap % total resistensi 68. Branhamella catarrhalis 22. MKI 1987. Cefep = Cefepime. aureus Alkaligenes spp. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. aeruginosa S. KESIMPULAN Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies.33 3. Fachrudin D. Streptococcus pneumoniae 3. Josodiwondo S. . pneumoniae Acinobacter spp. KEPUSTAKAAN 1. 5.82 30. 46(9): 467-76.7 % dan 96.82 0 0 0 0 0 0 100 50 100 100 0 Sulb 0 0 0 0 0 0 0 100 0 100 0 0 Cefpi 0 3. Departemen Kesehatan R I.53 1. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba Saat Ini.0 100 0 100 0 100 100 0 Keterangan: PeG= Penisilin-G. 1996. Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan. Yeast (ragi) S. Cefrad = Cefradin.82%. Ceftri = Ceftriakson.82 3.Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian berlebihan akan mempercepat resistensi.9 6. diikuti oleh Penicillin G dan Ceftriakson. 7.93 6. sefalosporin 7. amoksisilin dan ampisilin(2). .7 %. lima kuman terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54.04 9.0 20.41 4. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute respiratory infections for the under five children among general practitioners. pneumoniae S.76 0. 144. 2004 menghasilkan enzim betalaktamase.0 %. selain itu dapat terjadi resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan. 2 (1): 6-12.8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986) sebesar 3. akan tetapi 9 % penderita meninggal dunia. yakni sebesar 68. Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi bakteri gram positif. .23 4. Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12 miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan di rumah sakit berturut .5%. karena mampu 22 Cermin Dunia Kedokteran No. Total resistensi isolat antimikroba betalaktam No.52 87.viridans dan S. 26.82 3.53 Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah terhadap Cefradin sebesar 68.76 0. 6. epidermidis PeG 2. namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%.0 0 0 0 0 20 0 0 50 0 100 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 Isolat kuman S. Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob di Bidang THT.53 1. tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin bahkan juga terhadap golongan sefalosporin. 4. makrolid 15 %. Abdoerachman H. Cefoti = Cefotiam.48%.viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2. catarrhalis S. aureus terhadap Penisilin G dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3.Tabel 2. 2. bahkan sefalosporin sudah berkurang kemampuannya.0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Amx 2. 60% dan 20%. MKI 1996. P. Makrolid dan Fluorokuinolon.turut adalah Golongan B Laktam. Cefota = Cefotaksim.04%.12).11%. 1. Cefpi = Cefpirome. kecuali sefalosporin generasi ke tiga (11.2 22.35 3. 3. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut– turut adalah 46. Streptococcus β-hemolyticus 6. non-haemolyticus K. β-haemolyticus S.2%. Trihendrokesowo dkk. Resistensi kuman S.33 53.67%. Amx = Amoksisilin.05 )(10).57 5.0 80.5 40.7 %. Untuk mengatasi bakteri gram negatif tampaknya penisilin. Di Indonesia untuk infeksi pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan ke empat setelah eritromisin. 3.29 1. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam % Isolat kuman 54.9 %. Tabel 3.76 % resistensi antimikroba Cefoti Ceftri Cefota 1.05 2. tidak jauh berbeda dengan resistensi kuman S.2 %. 8.2 % dan 66.82 %.52 2.53 0. 5.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3..23 0 3.

id Bali International Convention Center Telp. Fax : 0778-421352 E-mail : pitika2@idai. distribution of phenotypes related to beta lactamase production.org KPP Bioteknologi ITB. 11.1988.idai.id Hotel Sahid Jaya. 6685070.id Bali. Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia.net. Kariadi Semarang.: 021-79184052 Website: http://www. Fax : 022-2035042 E-mail : pitpogi14@obgyn-bandung. How is the Benefit for Family Doctors The First Indonesian Symposium on Interventional Pediatric Cardiology Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak IDAI PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas " Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular III & KARIMUN III Konker PGI-PEGI-PPHI PIT IX Ilmu Penyakit Dalam 6-8 11-13 Agustus 13-15 28 Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes 11th International Symposium on Shock and Critical Care : New Insight in Diagnosis. Slombe B. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI . Saulnier P.pluit-hospital.idki. Fax : 022-2511612 E-mail : roga@scientist. 2004 23 . Jones A. 1988. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI. Jakarta. : 021-31934636. 5.or. Fax : 0274-565639 E-mail: pututby@email.International Symposium on Infection Control Informasi terkini. Fax : 021-3914830 Website : www.com Web-site : www. : 021-3919653. Med Progr January 2003. Idajadi A.kalbe. Bag Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP.or. Sugito. Meeting on Respiratory Care Ind. : 0274-37430 Website: http://telmed.com/index. Bandung Telp.or. Sirot S. Gedung AR Fachruddin. Bali Telp.com. Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin.itb.obgyn-bandung. Rai IB. 12. Faks. Bandung Telp.or.com Website : www.fkumy. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr.com Hotel Sahid Jaya. Padang Telp.php Hotel Bumi Minang. detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www. Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah.com. Fax : (021)-3913982 Website : www. Nukman R. : 022-2039086 / 2035042. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut. 6-17. 8. Management and Therapy in Critical Care Medicine Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3 dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan Produktivitas Kerja The 6th Int. Ringroad Selatan Yogyakarta Telp.3907703. Tangerang Telp. Jakarta Telp. Beta Lactamase. : 021-4786 4646. Telp.id Jakarta. Suprihati. Fax : 021-3161467 Hotel Sheraton Mustika.id Jakarta Convention Centre Telp.internafkunand. Fax : 021-3928659 E-mail : endocrin@rad. KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004 Bulan Tanggal 10 Kegiatan Telemedicine Network in Indonesia. : 021-5684085 ext.id/calendar>>Complete Cermin Dunia Kedokteran No. rs.id Hotel Grand Hyatt. Laporan penelitian 1998. Amsterdam : Excerpta Medica 1980. : 0274-587555.id Website : www. (eds). Batam Telp. Fax : 021-56961530 E-mail: iqbalicu@idola. : 0274-37430. 1994.6.net Hotel Planet Holiday. : 022-2534115. Batam Telp.or. Antibiotik Beta Laktam. : 0778-7024522. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae. Wibisono MY. : (021)-3148610.net. 14:193-9.ac.co. Occurrence and Classsification. roga@biotech. Fax : 0751-37771 Email: pibipd@yahoo. J Internat Med Res 1986. Jakarta Telp. 10. Telp. : 021-330956. 1242. 144. Fax : 021-3919653 Email: iisic2@pharma-pro. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic Therapy. Surakarta .co. 7. Fax : 021-4786 6543 Email : info@respina.respina. Hartono TE.interna.id Karawaci.com 10-11 12-14 Juli 13-15 16 16-18 31-1/8 17-18 25-26 September 30-3/10 2nd Indonesia .id Hotel Planet Holiday. Surakarta.org website : www. : 021-3928658. Sirot J.pluit@rad. 9.id Hotel Horison. Watson A. (Respina V) 5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit Dalam (PIB V IPD) FK Unand Recent Advances and Challenges in Endoscopic Surgery in Asia Pacific 26-29 Tempat dan Sekretariat Lt. 6685006 Fax : 021-4535833. Herman MJ. Pola bakteriologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa. 6684878 Email : elsabali2004@globalmedicaonline. : 0751-37771. : 021-4532202. Tarigan HMM.net. Yogyakarta Telp. In : Rolinson GN.

Di telinga tengah ini. dan dalam. Secara definisi. sangat luas. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising di tempat kerja. suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. cara mendeteksi gangguan pendengaran akibat kebisingan. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu. Pembahasan pada tulisan ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap kesehatan terutama kemampuan pendengaran. Jakarta PENDAHULUAN Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang disenangi. penurunan kemampuan kerja. Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin. gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan. tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising terhadap kesehatan tenaga kerja. 2004 mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. Untuk itu. dan lain sebagainya. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan. Anatomi Telinga Secara anatomi. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini. Misalnya. serta tatalaksana gangguan pendengaran akibat kebisingan. melakukan deteksi dini dan pengendalian bising di tempat kerja. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi). telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar. biasanya di atas 120 dB. cara yang digunakan untuk . sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar. namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi. alat-alat transportasi berat.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja Novi Arifiani Subdepartemen Kedokteran Okupasi. Hal ini perlu diketahui. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi pendengaran. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang berasal dari jalur ini. Telinga luar berfungsi 24 Cermin Dunia Kedokteran No. Konduksi Tulang Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah. bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan. adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga.Bising yang di dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh. 144. tengah. Respon auditorik Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis. Secara umum tekanan suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini.

Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata. yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)). Pemahaman percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat. Masking Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara adalah masking. pengeras suara. dengan kata lain. Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut.mendengar suara tersebut ( melalui earphone. diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan. atau kerusakan langsung organ Corti. maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap. Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen. Untuk menghindari kelelahan auditorik. GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran. maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat. kerusakan tulang-tulang pendengaran. Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik. Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara tersebut. Lokalisasi Sumber Bunyi Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi. 2004 25 . makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga manusia. 3). Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. nilai ambang di atasnya. Kemampuan telinga untuk membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara yang vertikal. Kekuatan suara Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga sebagai kuat atau lemahnya suara. Sensitivitas Pendengaran Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea. namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. Trauma Akustik Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal. Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga. dan durasi. perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift). 144. dan waktu yang didengar untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut. Noise-Induced Temporary Threshold Shift Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Kemampuan ini penting untuk memilih suara yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak ingin didengarkan. yaitu trauma akustik. Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan adanya suara lain. Pada trauma akustik. di udara terbuka. Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara masking tersebut. karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara. amplitudo. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz. maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. Makin tinggi tekanan udara. dsb). Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam. Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh masing-masing telinga. 2). atau suatu alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik berdasarkan frekuensi. pendengaran orang tersebut berkurang. dsb). Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar. Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok.

Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi. serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising. meningkatnya tekanan darah. 144. serta faktor-faktor lain seperti usia. 4000. refleks pernapasan berupa takipneu. untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini 26 Cermin Dunia Kedokteran No. . Pemeriksaan telinga. tes rekruitmen. Secara sederhana. status kesehatan. hari ataupun lebih lama. berbicara dengan suara menggumam. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini. dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara. Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry. dan 6000 Hz. dan sering timbul tinitus. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat gangguan saraf otonom. Weber. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising. 3000. serta aktivasi hormon kelenjar adrenal seperti hipertensi. untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. alat transmisi ke telinga. obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen). biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas. jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara. Efek jangka panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang berulang. Untuk menilai ambang pendengaran. serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya faktor risiko. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. frekuensi yang diuji. 1000. dan sebagainya. 2004 merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan. Bila sudah terjadi kerusakan. disritmia jantung. spektrum suara. faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne. dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif. dilakukan pemeriksaan audiometri. bahwa keadaan bising di lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya. untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500.setelah pajanan suara. Pada skala frekuensi. respon gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas sampai timbulnya keluhan dispepsia. 2000. kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan. tidak jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis. bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik. berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan (Gambar 1). hidung. EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang. sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain. spektrum bising. dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. serta dapat terjadi pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang paling rentan adalah paru-paru). Memeriksa pendengaran Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. Namun perlu diingat. dan sebagainya. jenis kelamin. dan sebagainya. dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia. Pada pemeriksaan fisik. durasi total pajanan. Noise-Induced Permanent Threshold Shift Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia. sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek. getaran. Efek jangka pendek Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot. dan pola pajanan temporal. Namun dapat pula terjadi respon pupil mata berupa miosis. pengukuran impedance. gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. durasi pajanan. Efek jangka panjang Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh hormonal. Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit setelah pajanan terjadi. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). sedangkan efek jangka panjang terjadi sampai beberapa jam. pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik. trauma telinga karena agen fisik lainnya. seperti faktor fisika lain berupa panas. Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi. tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan. tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini. Dari data observasi di lingkungan industri. tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga.

keluhan utama. pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan di lingkungan kerja. Hearing conservation program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan ini. perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir. penderita tuli akibat bising ini juga sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume. interupsi suara berulang. Jika dipergunakan alat bantu dengar. Dan gangguan pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di tempat kerja yang berlebihan. dan permasalahan hukum harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. gangguan pendengaran yang saat ini terjadi. 2004 27 Iskemaia Jantung Infark Miokard Stroke Gambar 1. Koroner Oklusi Arteri Lainnya terjadi. Pada awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang timbul akibat bising. riwayat pekerjaan. Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara dini. Penggunaan alat pelindung telinga. tinggi rendah dan irama percakapan. riwayat keluarga. Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar. terutama pada lingkungan industri. kondisi medis. KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA AKIBAT BISING Faktor akustik. 144. Survei kebisingan di tempat kerja harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang . Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari. Namun tetap perlu hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang kemampuan atau performa kerja. PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. Pelaksanaan program pemeliharaan pendengaran (hearing program conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan di tempat kerja. Jika pendengaran sudah sedemikian buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat menerima keadaannya. jenis pekerjaan yang dilakukan (beserta tanggal atau waktu bekerja). riwayat penyakit dahulu. Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan bising di tempat kerja adalah 1). Namun penelitian efek kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan dengan seksama. Pemeriksaan ini bersifat subyektif. Selain itu. untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap pemeriksaan tersebut. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. namun pada pemeriksaan efisiensi kerja terlihat pengaruh yang cukup bermakna.Bising Reaksi Stres Umum akibat Kenaikan Adrenalin dan Noradrenalin Kenaikan Tekanan Darah Respon Vegetatif Peningkatan Kebutuhan Oksigen Peningkatan Agregasi Trombosit Kerusakan Dinding Arteri Trombosis Arteriosklerotik Oklusi A. durasi masing-masing pekerjaan. Pemeriksaan audiometri pra kerja merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal kondisi pendengaran tenaga kerja. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. Suara yang asing. kondisi geografis dan lokasi fisik pekerjaan. Benar telah terjadi kehilangan atau gangguan pendengaran dan 2). suara di atas 95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja. riwayat pelatihan militer. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. barang atau jasa yang dihasilkan. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan menanyakan nama pekerjaan. Cermin Dunia Kedokteran No. Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan). Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. tanggal bekerja dan umur saat itu. pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya deteksi dini pula.

Harris CM (ed). Handbook of Noise Control.htm. 28 Cermin Dunia Kedokteran No. (chief ed). Pemeriksaan refleks kedua mata 4. Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai perhitungan kompensasi. sumber suara atau kebisingan yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini). KESIMPULAN Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas tenaga kerja.gov.uk/ environment/noise/health/page05. Occupational Hearing Loss. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini cukup besar.penggunaan alat pelindung diri. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Bila terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja. Zenz C. St. Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan secara teliti. Nilland J. http://www. 144. 3. adakah tanda-tanda abnormalitas 3. Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa hantaran udara dan hantaran tulang 7.defra. New York : 1979. Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi suara 8. Occupational Medicine. 2nd ed. Horvarth EP. McGraw-Hill Book Comp. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual. Menilai ada atau tidaknya nistagmus 5. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. dan Hearing Conservation. Noise and Nuisance Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and Feasibility Study September 1998. Louis : 1994 Soepardi ES. Tes rekrutmen Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain. KEPUSTAKAAN 1. 2. harus dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja tersebut. February 6th. cermat. Dickerson OB. Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan adalah: 1. 2. Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga. Jakarta : 2001 Department for Environment. Food and Rural Affair. 4. Mosby. Iskandar N. dan hati-hati untuk menghindari kesalahan prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja. 3rd ed. Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi. Noise. In : Zenz C. Edisi 5. Pemeriksaan dengan garpu tala 6. Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berbeda di masing-masing negara. In . 2004 . 2004.

bising merupakan masalah utama kesehatan kerja. diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising melebihi 90dB di tempat kerjanya. suara katup gas.28% dari 350 pengemudi bajaj yang diperiksa.5 detik berturut-turut.16 %.105 dB (Sundari. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas 85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja. Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter. 2. Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran seperti susah tidur.96 dB). suara katup mesin gas. dsb. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon. tembakan. 1000 atau 4000 Hz). Pada kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27.1 – 108. Di Indonesia. Di Quebec-Canada. melainkan ada periode relatif tenang. Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL 27. dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. gangguan pendengaran saja 17. Cermin Dunia Kedokteran No.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja Ambar W. prevalensi NIHL 31.81% dengan paparan kebisingan 86. rerata akselerasi getar 4. Di perusahaan plywood di Tangerang. dari jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana. Menurut WHO (1995). Ini diperkuat dengan penelitian Yenni Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas. Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara. Apa yang disebut kebisingan Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara. kebisingan di lapangan terbang dll 4. 3. yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus.43%.55% pada tingkat paparan kebisingan 85 . meriam dll. Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss) atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0. Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara industri. 144.1997).14% dan gangguan keseimbangan saja 27. Bising impulsif Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. Roestam Subbagian Kedokteran Kerja. Pada pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91 dB (64 dB .71%. 1997) mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB dengan 50% NIHL. jumlah seluruh gangguan mencapai 72. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas. misalnya suara gergaji sirkuler. Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000. suara dapur pijar. Bising terputus-putus Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise. Penerapan program konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising. 2004 29 . gergaji sirkuler. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Nada kebisingan dengan demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada. mudah emosi.2 dB (Lusianawaty). kipas angin. di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31.2m/dt2. Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi : 1.

sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain. daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali. Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari.5 0. gangguan komunikasi dan ketulian. Organisasi Pekerja Internasional /ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan ketentuan jam kerja yang diperkenankan. stres. sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam. 5. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg). kurang konsentrasi. Gangguan fisiologis Pada umumnya. yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. namun bila terus menerus bekerja di tempat bising. 3.patologis . karena suara impulsif dengan intensitas tinggi. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam. seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE. d. 4. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis.menetap PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. 144. • Tuli karena Trauma akustik Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba. c.25 atau kurang 5.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja. Efek pada pendengaran Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara. seperti gangguan fisiologis. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. susah tidur. yang dikaitkan dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut (Tabel 1).non-patologis . Batasan waktu dan Pajanan kebisingan Intensitas suara (dB) OSHA Indonesia 90 85 92 95 88 100 91 105 94 110 97 115 100 Jam kerja terpapar 8 6 4 2 1 0. tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja. Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb: • Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS .Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif. gangguan psikologis. keselamatan tenaga kerja. serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari pengaruh buruk kebisingan. dan lain-lain. terutama yang memilikis pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising. cepat marah.reversible/bisa kembali normal Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat. Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten. bising bernada tinggi sangat mengganggu. Gangguan keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang. Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural. ledakan dan Di Indonesia. Tabel 1. kelelahan. intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari. daya dengarnya akan pulih sempurna. peningkatan nadi. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup. b. Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman. seperti letusan. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki. Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. • Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap . gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan 30 Cermin Dunia Kedokteran No. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan. PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN TENAGA KERJA Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising. apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. 2. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. 1. Ketulian bersifat progresif. 2004 . Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut : a. Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah bising yang bersifat kontinu.waktu pemulihan bervariasi .bersifat sementara . dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap.

mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding. angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah. proaktif bukan reaktif. Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja. Bagi karyawan Mencegah ketulian. Program selengkapnya adalah sebagai berikut : 4. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur : a. Problem komunikasi di tempat kerja b. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. mengurangi angka kecelakaan. Problem mencari arah/asal suara d. ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit). Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising. Integrated dengan program K3 4. Handicap Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya. seperti respons terhadap alarm atau pesan lisan f. Berupa policy statement 3. Tuli ini biasanya bersifat akut. menutup sumber kebisingan dengan barrier. 2. ruang isolasi. 144. PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI PENDENGARAN Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH. Bagi pengusaha Taat hukum. AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS SEBAGAI TENAGA KERJA Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja dibedakan atas : 1. tergantung fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan. 5. 7. 5. Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut : a. Serta bisa mengurangi stres. oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini perlu diprioritaskan. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam mengikuti pembicaraan) b. bersifat menetap (irreversible). 1994). Kontrol engineering dan administrasi 3. Occupational handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam bekerja dan memilih karir) d. mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan. namun merupakan pedoman. Hearing Impairment Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS) 2. Utamakan pencegahan bukan pengobatan. hubungan baik dengan karyawan. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat. Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan dalam melakukan aktivitas normal harian. rotasi kerja. Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program. Hearing Disability Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat hearing impairment. 3.lainnya. jadwal kerja . antara lain: 1. biaya kesehatan yang membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan. langit-langit dan lantai. misalnya : a. Dukungan manajemen 2. 3. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis. Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting. Evaluasi audiometer Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE) Pendidikan dan Motivasi Evaluasi Program Audit Program Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja. Economic self-sufficiency handicap e. 2004 31 . Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal. terutama bila sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas 6. dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana. Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. cepat sembuh secara parsial atau komplit. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik. Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri) c. 6. 1996): 1. c. Cermin Dunia Kedokteran No. tinitus. Problem dalam mendengarkan musik c. Monitoring paparan bising 2. kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya. kesejahteraan bukan santunan. dan lain-lain). meningkatkan produktivitas. Problem membedakan suara Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment terhadap disability berbeda pada setiap individu. mengurangi angka kesakitan. b. Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan) Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja. 6. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. menunjukkan itikad baik. 2. 1. Program pencegahan ini dikenal dengan istilah Program Konservasi Pendengaran. menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses). 5. Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI. 4. Dilaksanakan oleh semua jajaran.

periksa dokter . Prinsip monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut : 1.. berdasarkan lokasi tempat kerja. b. PENGGUNAAN APD Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga : 1. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran 5. Monitoring pendahuluan Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran. Penempatan ke tempat bising 3. 2004 . Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD. 3.komunikasikan dengan karyawan tersebut . Kecocokan. Mengatur jadual produksi 2. . Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk bekerja. maka disebut + (positif) Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah : . Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di setiap lokasi.periksa tempat kerja . dan lain-lain. adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja.periksa data kalibrasi alat . beri petunjuk ulang . Mengikuti peraturan III. EVALUASI AUDIOMETRI Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada : 1. atau menggunakan APD 2. Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi 32 Cermin Dunia Kedokteran No. Penjadualan pengoperasian mesin 4.bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz). Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis). Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai berpegas. catat lamanya terpapar (sekarang digunakan audiometer). Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). Saat pensiun/purna tugas Tipe audiogram : 1. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap : a. 5. 5. Rotasi tenaga kerja 3. lakukan tahap selanjutnya c. Base line atau data dasar : .engineering dan administratif Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising.paling lama dalam waktu 2 minggu . 144. 3. mengencangkan bagian mesin yang longgar. Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat kerja.jika karena penyakit. contohnya : 1. 4. bertujuan untuk : 1. ukur maximun dan minimumnya. Evaluasi : .untuk baseline 14 jam bebas bising. 2.dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA) . Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku. konsulkan ke dokter THT . Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification.untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam Ada 2 macam monitoring paparan bising : 1.setiap tahun dibandingkan dengan base-line .periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun Bila STS (+) karena pekerjaannya : . Pre-employment 2. SOP pengukuran harus ada dan jelas.Bila belum menggunakan APD. Pre-employment/preplacement/Baseline 2. MONITORING PAPARAN BISING Tujuan monitoring paparan bising. Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara periodik. memberi pelumas secara teratur. 4. Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA 3. Setiap tahun. Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran dan tindakan lebih lanjut (skala b). yang sering juga disebut survei bising.Bila perlu. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara. 2. Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi. Pengendalian administratif dilakukan dengan cara : 1. 2. bila STS persisten atau membaik IV. pengukuran dengan peta. konsul THT Lakukan revisi baseline. Exit Policy mengenai audiogram : 1. 6. ukur tempat dan ruang kerja. kecepatan putaran atau isolasi. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai. dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. bila lebih dari 85 dB. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti.I. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara. Monitoring bising terperinci Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan. Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan.Bila sudah memakai. 2. KONTROL . Annual monitoring 3. Saat pindah tugas keluar dari tempat bising 5. 7.Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis . alat pelindung telinga tidak akan memberikan II. menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja. diharuskan memakai . tenaga mesin. Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) . bila bising > 85 dB 4. Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang.

144. tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai. terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut. V. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40. Juga melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga. sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya. 2. formable type b. EVALUASI PROGRAM Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi. Penyuluhan khusus. kemudahan membersihkan dan kenyamanan Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut : TWA/dBA < 85 85 – 89 90 – 94 95 – 99 > 100 Pemakaian APD Tidak wajib/perlu Optional Wajib Wajib Wajib Pemilihan APD Bebas memilih Bebas memilih Bebas memilih Pilihan terbatas Pilihan sangat terbatas APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya. 3. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA 2. keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. 3. Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka. Earmuff bila di atas 100 dBA 3. premolded type Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan. dengan sasaran : 1. PENUTUP Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi pendengaran. biaya. Kontrol engineering dan administratif. Hasil pengukuran kebisingan. misalnya pelatihan dan penyuluhan. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani. VII. VI. 5. perusahaan harus menyediakan APD ini. Tidak saja untuk melindungi pekerja. dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. Cermin Dunia Kedokteran No. Kemudahan pemakaian. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal. 2004 33 .50 dB frekuensi 100 – 8000 Hz. perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi.perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat. custom-molded type c. 2. terus menerus untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi tinggi Pemilihan alat pelindung telinga : 1. 3. 2. 4. APD yang digunakan. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja. kesertaan supervisor dalam program. bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program. dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran. Audit Eksternal. Jenis-jenis alat pelindung telinga : 1. Beberapa tipe sumbat telinga : a. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara. PROGRAM AUDIT 1. Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya. Nyaman dipakai. 2.

144.fkumy.Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : Telemedicine Network in Indonesia di Yogyakarta. 2004 .net Redaksi CDK 34 Cermin Dunia Kedokteran No. 10 Juli 2004 Website : http://telmed.

yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif(4). sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea.PRAKTIS Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi HR Krisnabudhi ] Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. Selama di rumah penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea. akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea. Berdasarkan permasalahan tersebut. PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT TRAKEOSTOMI Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita tidak dapat berbicara. cara membersihkan kanul dalam. Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian atas. Jawa Barat PENDAHULUAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalulintas udara pernapasan. terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan penyempitan di daerah glotis. mengurangi efektifitas refleks batuk. perawatan luka operasi di stoma. mengganti kanul trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi. bukan dari saluran napas bagian atas. Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi(1). Cermin Dunia Kedokteran No. tidak ada korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas dengan bakteri dan flora trakea penderita. Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang diperlukan(2). Bogor. Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan laring pada waktu menelan. Keadaan ini menyebabkan penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi ludah ke dalam laring dan trakea. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. Selanjutnya dikatakan. serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah. 144. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff. Hal ini sangat penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat terbatas. pemeriksaan periodik kanul dalam. humidifikasi buatan. Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon. petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada penderita. Definisi yang tepat untuk trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea. bakteri dan flora di dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain. Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge. Trakeostomi meniadakan mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior. 2004 35 . karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara. Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea. akan diuraikan cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3). sering saling tertukar. Pada discharge trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai koloni bakteri. tekanan balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. TRAKEOSTOMI Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen trakea. yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dengan kanul trakea masih terpasang. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas. dan mengganggu gerakan penutupan glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah. trakeostomi juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus. Trakeostomi mengurangi ruang mati (dead space) anatomik sampai 100 ml. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental.

jangan diberi tekanan negatif. sehingga perlu dilakukan pengisapan. Krusta diangkat dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol. Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi. penjepit. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. mungkin telah terdapat krusta atau mukus di dalam kanul. pada saat dilakukan pengisapan atau pada saat penggantian kanul. campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui kotak plastik yang dilubangi. b). Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat. Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. Jika udara rumah kering. dan hati-hati membersihkan kulit di sekitar kanul. Alat ini relatif lebih efisien. Sebelum mengangkat kanul. Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. Akan timbul gangguan saat menelan. Condensor humidifier. siapkan alat-alat untuk resusitasi. laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). b). lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut. Pastikan tidak ada air memasuki stoma. Jika tergantung pada seseorang saat melakukan hal itu. Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan kelembaban relatif udara inspirasi. Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. 2004 . panci bergagang. Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat. Beberapa jam pertama pasca bedah. Peralatan hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul. Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. d). Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan penderita saat dari rumah sakit. begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. c). c). Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap. Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril. Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a). Alat ini dipasang pada kanul trakea. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang. saringan. Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. Pada waktu ekspirasi. setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. Dengan adanya trakeostomi. teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. Sebelum melakukan pengisapan. uap air mengembun pada lempeng-lempeng metal dari kondensor. Discharge ini akan keluar bila penderita batuk. sebagai berikut: 1). dan cairan penggosok perak. Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan menjadi berbunyi. Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. Buatlah larutan sabun di dalam botol. Angkatlah kanul dalam dan bersihkan. Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti sesering mungkin. Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara inspirasi. dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit.PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda asing akan merangsang pengeluaran discharge. Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering terbentuk di dalam kanul. Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul. kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi(5). Membersihkan kanul dalam Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil. karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. Alat ini harus diganti setiap 3 jam. Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a). d). trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. menggunakan lap atau kasa perban. Kekurangan alat ini ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut fungsinya akan berkurang. kasa perban. mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer). Bila didapatkan sekret yang kental. tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. paling baik membersihkannya dengan memakai kasa basah di atas kanul. mungkin akan bermasalah. Petunjuk umum Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas tanggung jawab sendiri. Angkat kanul dalam dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul 36 Cermin Dunia Kedokteran No. Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air sabun. 144. Cara membersihkan kanul dalam. Bila penderita bernafas spontan. 2).

144. 8). Pembersihan kanul dalam Merebus kanul dalam Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1).2a). Cuci kanul dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa menit di dalam cairan sabun. 4). 2004 37 . 6). Tempatkan kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada panci bergagang (Gb. Gambar 2. tuangkan air dari panci. Masukkan kanul dalam ke tempatnya dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya. Salep dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi untuk mempermudah memasukkannya. Setelah air mendidih. dan siap untuk dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. 2b). cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. oleh karena itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah. Bersihkan bagian dalam kanul dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada suatu tempat (Gb. Gunakan penjepit untuk membantu menarik kasa melalui kanul. 3). Kanul harus bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang. kemudian bersihkan dan cuci. Biasanya. kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior. Goyangkan kanul dalam untuk mengangkat tetesan air. kanul dalam dan luar dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain. 4). krusta dapat diangkat dengan merendamnya. Adanya lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan dengan trakea. Cara sterilisasi kanul dalam Logam bahan pada kanul perak sangat lunak.dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. dan tempatkan kembali saringan dalam panci. Setelah kanul dalam bersih. 1). rendam di dalam cairan pembersih perak untuk beberapa menit. 3). Cara mengganti kanul trakeostomi Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. Cermin Dunia Kedokteran No. Angkat saringan dari panci bergagang. bahkan kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain. 2). Kanul plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang sama seperti halnya kanul perak. 2). Gambar 1. Pita trakeostomi yang digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. didihkan kanul dalam selama 5 menit. Untuk mengangkat kanul trakeostomi. 3). 5). ke depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai bagian dalam kanul dalam bersih. oleh karena itu tidak boleh dicoba untuk digores. menyebabkan kanul trakeostomi dapat dimasukkan dengan mudah. 7). Biarkan kanul dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam kanul luar (Gb. Jika kanul dari perak telah memudar. Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk membersihkan kanul dalam. Tarik kanul dalam ke belakang. pita trakeostomi dibuka lebih dahulu. 5). Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah dibersihkan. pelindung atau permukaan lempeng kanul trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk. Isi panci dengan air secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb.

Cara menghisap Banyaknya discharge mukus bervariasi. Pegang kateter dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan tangan yang lain. jika udara dalam rumah kering. Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita trakeostomi diikat. Lepaskan balon karet. Penghisapan mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus. Cara penggantian kanul trakeostomi Pada saat memasukkan kanul trakeostomi. 5). 4). 3). 2). Lipat 4 inci kasa pada tiap sisi. 3). semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau apotik bisa digunakan sebagai penghisap. penderita melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk. atau jika kanul teriritasi. Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci. Tekan balon karet sebelum kateter dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi. mukus akan terhisap ke dalam kateter dan semprit. untuk mengeluarkan udara di dalamnya. Kanul trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah dalam secara halus. kecuali jika ada instruksi khusus untuk melakukannya dari dokter. Gambar 4. 144. Siapkan alat-alat.4). Kateter karet tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul trakeostomi. 2004 . hal yang penting ialah bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat pada kanul dibersihkan. 4” X 4 “ gauze pad Gambar 3. 5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan menggunakan alas di dada. Potong satu lembar kasa membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci. 4). Gb.Cara melakukan : 1). Cara penghisapan discharge Cara membuat kain alas di dada Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di bawah kanul trakeostomi. Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang 38 Cermin Dunia Kedokteran No. Jika mesin penghisap tidak didapat. Lipat 1 inci pada tepi atas dan bawah. khususnya bila terdapat drainase sekitar kanul. Alas dada dari kasa trakeostomi steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit. Bersihkan alat-alat dengan air sabun. 2). Peralatan tersebut sering dididihkan untuk memelihara kebersihannya (Gb. Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul trakeostomi ialah sebagai berikut : 1). Di samping itu. Mukus ini akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin. Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. tempatkan kasa di atas kanul.

4).dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita pada tempatnya. In :Boies's Fundamentals of Otolaryngology. 6). 1978 . Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan. 2). Tokyo : Igaku Shoin Ltd. Maran AGD. Pakaikan kasa trakeostomi alas dada. Cermin Dunia Kedokteran No. Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan untuk tiap alas dada. A Textbook of ear. throat and ear. Pastikan tali pengikat pada permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman (Gb. cara membersihkan kanul trakea. Me Kailum JR. 5th ed.5). 705-17. Petunjuk ini tergantung pada keadaan penderita saat pulang dari rumah sakit. masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. panjangnya 6 inci.. In : Logan Turner's Diseases of the nose. Me Klay K. Perawatan trakeostomi mandiri meliputi petunjuk umum. 6). dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi. menghisap discharge. kasa 4 x 4 inci. Paparella MM. Dokter atau paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal perawatan kanul trakea. mengganti kanul. Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas. Me Dowall GD. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi. Gambar 6. Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul trakeostomi Gambar 5. 5). Kasa 2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. RINGKASAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan lalulintas udara pernafasan. 2004 39 . 3). nose and throat diseases. Selama di rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. Bristol : John Wright and Sons Ltd. Kasa 2x2 inci telah disetik pada tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi kanul trakeostomi. Satu tiap tepi dari kasa terbuka 4x 4 inci. Tracheostomy. 1977 . Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita trakeostomi dan lipat kasa ke atas. 5th ed. Boies LR. kasa 4 x 4 inci yang tidak terlipat. merebus kanul dalam. Cara membuat alas trakeostomi Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih mudah tetapi sedikit lebih mahal. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. 144. 1). Adams GL. 2. 5). Jika kasa tidak terlipat. kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan melipat kasa dua kali. Bireell JF. 1567-73. Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di atas pita trakeostomi. KEPUSTAKAAN 1. Tracheostomy.

Paparella MM. diaphragma and esophagus. 4th ed. Complications and postoperative care after tracheostomy. (ed). In : Ballantyne. Siregar Z. Wright D. Scott-Brown's diseases of the ear. Montgomery WW. Basic sciences. Silicone tracheal canula. Tracheostomy and laryngotomy. Fundamental international techniques. Krikotirotomi. Ann Otol 1980. Fujita S. 87 : 99-108. Vol I. London : Butterworths. 16. London : Butterworths. 10. 89 (suppl 73): 1-7. Montgomery WW. 1979 . Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. 1973 . Tood GB. 91: 355-61. Davies J. Natvig K. Feldman SA. Lore JM. Martin WM. 1976 . (eds). Laryngoscope 1981. Vol. 688-708. 1. Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea. 14. Putney FJ. Olving JH. Comparison of five type of tracheostomy tubes in the intubated trachea. Evans CC. Co. Batsakis JC. 1973.org Redaksi CDK 40 Cermin Dunia Kedokteran No. 3rd ed. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree. 8. Bandung. 19 September 1981. 18. 13 – 15 Juli 2004 Website : http://www.obgyn-bandung. 6. A preparation guide. An experimental study. Operative Surgery. The Otolaryngology board. 88 : 589-97. 15. Embriology and anatomy of the larynx. Arch Otolaryngol. 433-75. 62 : 272-6. Ann Otol 1980. Shumrick DA. Long custom made plastic tracheostomy tube in severe tracheomalacia. 19. Galood HD. (eds). Conway WA. 13. J Laryngol Otol 1981. In: Ballantyne J. Shumrick (eds). J Laryngol Otol 1974 . Shapiro RS. Magilligon DJ. Inc. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy. 107 : 114-6. 20. Philadelphia : WB Saunders Co. London : Edward Arnold Ltd. 89 : 521-8.. 1955. 7. Philadelphia: WB Saunders. Arch Otolaryng 1981 . Grooves. respiratory apparatus. Victor LD. 1973. Lulenski GC. Otolaryngology. Toledo PS. Basic sciences and related disciplines. 12. Ann Otol 1975 . Tracheostomy and artificial ventilation in the treatment of respiratory failure. Vol II. Zorick FJ. nose and throat. Crawley BE. 11. Tracheal incision as a contributing factor to tracheal stenosis. JAMA 1981. 95: 61-8. 2nd ed. Otolaryngology. Basic sciences and related disciplines. 2nd ed. Philadelphia : WB Saunders Co. 4. In: Paparella.3. 5. 1971 : 31-61. 17. 144. Evans JNG. 84 : 781-6. vol I. Skripsi di Bagian THT/RSCM. Lulenski GC. 2004 . Ann Otol 1978 . Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : PIT XIV POGI “Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas”. Tracheal changes in relation to different tracheostomy technique (An experimental study on rabbits). 242-8. Laryngo-tracheoplasty. New York : Medical Examination Publ. Lee KJ. 246 : 34750. 1973 : 170-96. An atlas of head and neck surgery. Roth T. 9. Steel PM. Nose and throat.

selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. Bogor. sehingga lebih memerlukan informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan. Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang.1) . 144. selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh. yang sering digambarkan sebagai rasa berputar. terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian. Indonesia PENDAHULUAN Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek. SISTIM KESEIMBANGAN Manusia.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Vertigo: Aspek Neurologi Budi Riyanto Wreksoatmodjo Rumah Sakit Marzuki Mahdi. umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan. tak stabil (giddiness. relatif kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki. unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness). Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor. 2004 41 . Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb. karena berjalan dengan kedua tungkainya. Gambar 1. rasa oleng. deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi. Bagan Sistim Keseimbangan Manusia Cermin Dunia Kedokteran No. serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya.

serebelum) atau rasa melayang. vestibulum dan proprioseptik. berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda). Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor). menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu. (Skema) Oleh karena itu. Skema teori Neural Mismatch Sentral Vertigo Patologik BPPH Perifer Meniere Infeksi Trauma Iskemi Fisiologik Ketinggian. TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit tersendiri. 144. Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis Keterangan : SYM : Sympathic Nervous System. 5. mual dan muntah. Skema Klasifikasi Vertigo 6.PATOFISIOLOGI Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat. Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1. muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis. belajar dan daya ingat. berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis. yang berkembang menjadi gejala mual. teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No. melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda. Normal Motion Sickness Adapted PAR PAR SYM SYM SYM PAR Gambar 3. Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus. gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan. nistagmus. 2004 . Berbeda dengan teori rangsang berlebihan.(Gb. letak lesi dan penyebabnya. sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan. PAR : Parasympathic Nervous System Teori sinap Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. timbul reaksi dari susunan saraf otonom. Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata). Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi. Mabuk Udara 4. ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler. pada setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan bentuk vertigo. Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu. atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. 2. Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik. 3. peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik.2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala. 3). akibatnya akan timbul vertigo. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat. teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab. Neural Store Sensory input (Rangsangan gerakan) pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo. sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb. Comparator Unit Psikogenik Mismatch Signal Sindrom Fobia Gambar 2.

paroksimal. otologik atau neurologik – vestibuler atau serebeler. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. Cermin Dunia Kedokteran No. keletihan.ANAMNESIS Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang. Dalam menghadapi kasus vertigo. Uji Unterberger. Uji Romberg PEMERIKSAAN FISIK Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit Gambar 5. hipotensi. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin. vestibularis. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. kanamisin. hipoglikemi. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1. kongestif. hipertensi. pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya. Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab. c. penyakit jantung. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. Fungsi vestibuler/serebeler a. anemi. baik kelainan sistemik. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik (Gambar 4)(6. rasa naik perahu dan sebagainya. hilang timbul. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan. Gambar 4. dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh.batang otak. penyakit paru juga perlu ditanyakan. kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. kronik. goyang. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. hipertensi. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik. gagal jantung b. ketegangan. antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti anemi. gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum. tekanan darah diukur dalam posisi berbaring. selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. hipotensi.duduk dan berdiri. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan. tujuh keliling. kepala dan badan berputar ke arah lesi. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung. salisilat. Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. 5) : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. progresif atau membaik. berputar. Juga kemungkinan trauma akustik. Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh. agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik. lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya. 144. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. 7). serebelum. bising karotis. Uji Romberg (Gb. 2004 43 . Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang. apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks serebri.

Uji Tunjuk Barany e. Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike (Gb. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi. Uji Babinsky Weil Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8. jika ada gangguan vestibuler unilateral. Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang) Gambar 7. a. 9) Perhatikan adanya nistagmus. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb. 2004 . 144. kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. 8) Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas. lakukan uji ini ke kanan dan kiri Gambar 6. Uji Unterberger Kepala putar ke samping d. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 8.9) Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. Uji Babinsky-Weil (Gb. Gambar 9. 7) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan.1. pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang. Uji Dix-Hallpike 44 Cermin Dunia Kedokteran No.

gangguan cara berjalan). sensorik wajah. bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue). Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus. Bestalin Stugeron Sibelium Buscopan Hyscopan Merislon 6 mg Betaserc 8 mg Lama Kerja (jam) 4-6 4-6 4-6 12-24 4-6 72 4-6 4–6 Dosisi Dewasa Tingkat Sedasi + ++ ++ + ++ + + ++ 0 + + 0 0 0 Rute Lain im im. leher. penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat. Pada tuli konduktif tes Rinne negatif. otot wajah. akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan.fungsi sensorik (hipestesi. Tone Decay. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain. kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. selain kausal (jika ditemukan penyebabnya). Fungsi Pendengaran Tes garpu tala Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif. Magnetic Resonance Imaging (MRI). Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit. Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG). 2004 45 . dengan tes-tes Rinne. Foto Rontgen tengkorak. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus.Dari posisi duduk di atas tempat tidur.5 mg 3 dd 25-100 mg 3 dd 25 mg 4 dd 25-50 mg 3 dd 5 mg 2 dd 10-20 mg 3-4 dd 6-12 mg 3 dd 8-16 mg 3 dd im. lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh. Weber lateralisasi ke sisi yang tuli. bawah.iv. Antivert Phenergan. okulomotor. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). berupa gerakan mata melirik ke atas. sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga.rec Nama Generik Cyclizine Dimenhydrinate Diphenhydramine Meclizine Promethazine Scopolamine 50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 12. 3. Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular. a. TERAPI Tujuan pengobatan vertigo. Avopreg Transderm Scop Holopon Iterax. pendengaran. 144. Weber dan Schwabach. kemudian duduk tegak kembali. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus. b.5-25 mg 2-3 dd 25 mg 4 dd 0. tahan selama 30 detik. dan Schwabach memendek. Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi.Elektromiografi (EMG). VIII. Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º. 2. c.rec Hydroxyzine Ephedrine Cinnarizine Flunarizine Hyoscine Betahistin sc. parestesi) dan serebeler (tremor.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga. Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler) Nama Dagang Marezine Dramamine Benadryl Bonine. Tabel 3. Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas). Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP). Pencitraan: CT Scan. b. ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi saraf. iv im im - Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9). Stenvers (pada neurinoma akustik).5 mg 1 dd 0. sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif. (Tabel 3). Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin. SISI.iv. 2. Audiometri Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test. Gambar 9. sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral. sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal. umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik. Pemeriksaan Penunjang 1. Sentral: tidak ada periode laten. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. kampus visus. dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. tahan selama 30 detik. dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. kiri dan kanan me Cermin Dunia Kedokteran No. 4. iv im. Bekesy Audiometry. Arteriografi. dan fungsi menelan. kemudian duduk tegak kembali. Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung. baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin. Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit.

144. 2002. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral. Diagnosis dan Terapi. KEPUSTAKAAN 1. Neuritis vestibularis Merupakan penyakit yang self limiting. Sedjawidada R. Perdossi. Dalam: Simposium Tinitus dan Vertigo. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat. derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. hal. sedangkan kanamisin. Duphar. Joesoef AA. Dalam: Joesoef AA. tanpa tahun. diuretik loop. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya. umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6 minggu. umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan. kemudian diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup. selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati. Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil. Vertigo ditinjau dari segi neurologik. yang makin lama makin cepat. antiinflamasi nonsteroid. diuretik ringan bersama diet rendah garam.vestibularis. Obat penyekat alfa adrenergik.). Neurootologi klinis:Vertigo. tetapi 60-80 % akan remisi spontan. terapi profilaktik juga belum memuaskan. dapat dilakukan labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal). Vertigo. Dapat dicoba pengggunaan vasodilator. Harahap TP. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer. Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik. 24 Juli 2001 Mengenal Pusing dalam Praktek Umum. Di awal sakit.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid. biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran. Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. membatasi asupan garam. Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia cabang DKI Jakarta. koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler. 6. vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo. RINGKASAN Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek. Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid. 7. 4. pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur. penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer. metronidaziol dan minosiklin. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala. Kelompok Studi Vertigo. asam nalidiksat. 2004 . bisa alat dan saraf vestibuler. jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis.(eds. 3. Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan. Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa.ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat. Monograf. diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik. Every true genius must be natural or it is none (Schiller) 46 Cermin Dunia Kedokteran No. berhenti merokok.xiii-xxviii. terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil. Belum ada pengobatan yang terbukti efektif. Seri edukasi. Vertigo akibat obat Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran. demikian juga gentamisin. 2. 14 Desember 1991. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n. Penyakit Meniere Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di telinga dalam. Tinjauan umum mengenai vertigo. Syeban ZS. Andradi S. tanpa tahun. Kusumastuti K. tanpa tahun. Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein.. Monograf. 5. amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik. Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan. diduga disebabkan oleh infeksi virus. Kelompok Studi Vertigo Perdossi. Aspek Neurologi dari Vertigo.1999. Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain: Benign paroxysmal positional vertigo Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo. Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik. selain vertigo. Patofisiologi. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo.

DEFINISI Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). diterapi dengan akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan. unstable).Vertigo posisional paroksismal laten. Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere. tergolong sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja. melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus. 50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) . Yang tanpa disertai keluhan telinga. Cipto Mangunkusumo. kelainan gigi/ odontogen. rasa mengambang. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. Migren ekuivalen. Sindrom Lermoyes. pusing. berlangsung beberapa menit atau hari. tujuh keliling. dapat disertai gejala lain. tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun. Arakhnoiditis pontoserebelaris. Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance). keluhannya konstan tanpa Cermin Dunia Kedokteran No. Jakarta ABSTRAK Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi. L. Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. termasuk di sini adalah : . Di antara serangan. terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh (2). termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. sempoyongan. Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap. 2. Epilepsi. bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun. rasa melayang (1). dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Labirin picu (trigger labyrinth). kemudian menghilang sempurna. penderita sama sekali bebas keluhan. pening. otonomik (pucat. Gejalanya menyebabkan pasien takut dan cemas. Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : 1. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi. Vertigo paroksismal 2. 3.PRESENTASI KASUS Terapi Akupunktur untuk Vertigo Prasti Pirawati. Pengobatan vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil. kemudian berangsur-angsur mengurang.Vertigo posisional paroksismal benigna. . 2004 47 . PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1) Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng. tumor fossa cranii posterior. mual. muntah) dan pusing (2). 144. 3. Sindrom Cogan. Yvonne Siboe Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. KLASIFIKASI Berdasarkan gejala klinisnya. Vertigo kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut. kepala terasa enteng. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2): 1. peluh dingin. mumet.

EMG. anemia. vertigo postural. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. 2. Telinga bagian luar : serumen.Audiometri dan BAEP . Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika. pelagra. sklerosis multipel. arteriosklerosis. sklerosis multipleks. kelainan okuler. hematobulbi. neurosa cemas. tumor.EEG. ensefalitis. susunan vestibuloretikularis. kelainan psikis.Psikiatrik 4.serangan akut. intoksikasi obat. kolesteatoma. hipotensi ortostatik. fibrilasi atrium paroksismal. sklerosis multipleks. dan proprioseptik. III. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. ETIOLOGI 1. fobia. cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis. Kelainan mata: kelainan proprioseptik. hipoglikemi. 2. trauma. alergi. perdarahan. hipertensi kardiovaskular. 3. Kelainan endokrin: hipotiroid.Pemeriksaan mata . IV dan VI. d. 2. unsteadiness. Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) : 1. otitis media purulenta akuta. ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. 5. Hipoksia – Iskemia otak. abses.Pemeriksaan fisik umum.Vertigo servikalis.ENG . otitis media dengan efusi. hipoparatiroid.Hipotensi ortostatik . Penyakit SSP : a. b. tumor. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer : a. Intoksikasi. : Hipertensi kronis. TERAPI Terdiri dari : 1. : infeksi. Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri. 144. b. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik. benda asing. lues. informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. akan diproses lebih lanjut. kelainan kardiovaskuler. Inti Vestibularis: infeksi. Anamnesis. Trauma kepala/ labirin. Terapi kausal . siringobulbi. jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar. Pemeriksaan khusus : . sumbatan arteria serebeli inferior posterior. ensefalitis vestibularis. Vertigo yang serangannya mendadak/akut. 3. Tumor. dan vestibulospinalis. lesi labirin akibat bahan ototoksik. trauma.Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh .Pemeriksaan neurologik . Vertigo yang dipengaruhi posisi : . Migren. 2.VIII. neuritis n. 48 Cermin Dunia Kedokteran No. PATOFISIOLOGI Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. maka proses pengolahan informasi akan terganggu.Pemeriksaan otologik .Laboratorium . herpes zoster otikus. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin. blok jantung. di samping itu. Pemeriksaan fisik : . dan EKG. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar. stenosis dan insufisiensi aorta.(2). meningitis Tb. sindrom arteria vestibularis anterior. hidrops labirin (morbus Meniere ). dibedakan menjadi: 1. f. trombosis arteria serebeli posterior inferior. labirintitis kronis. labirintitis akuta. yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. Kelainan psikiatrik: depresi. rudapaksa dengan perdarahan. serangan vaskular. keadaan menstruasi-hamilmenopause. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. vertigo epidemika. perdarahan labirin. c. tumor medula adrenal. atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. e. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis. trauma. hipoglikemi.Radiologik dan Imaging . e. visual. Lues serebri. sindrom hiperventilasi. sinkop. Epilepsi. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual. dibedakan menjadi : 1. sindrom sinus karotis. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. berangsurangsur mereda. 3. sindrom pasca komosio. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler. labirintitis. mabuk gerakan. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani. tumor serebelopontin. DIAGNOSIS 1. 6. 2004 4. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika. kelainan endokrin. Infeksi : meningitis. 2. ensefalitis pontis. Dalam kondisi fisiologis/normal. Nervus VIII. Pemeriksaan tambahan : . c. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. d.

2. 3.

Terapi simtomatik Terapi rehabilitatif

TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya Qi ke telinga (4). Gejala Klinis(4,5 ) Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus. Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis, nadi senar dan seperti benang. Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 ) 1. Hiperaktifitas Yang Hati Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan defisiensi Yin Hati.. 2. Defisiensi Qi dan darah Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan penglihatan kabur. 3. Defisiensi Cing Ginjal. Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung, sehingga timbul gejala vertigo. 4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah. Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo. Terapi (4,5,6 ) 1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya : Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati, menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati, melancarkan Qi Hati. Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20), Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3). 2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya : Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan Limpa dikuatkan. Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen (HT 7). 3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya : Menguatkan Ginjal

Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu ( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ). 4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya : Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung. Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ), Fenglong ( ST 40 ). KASUS I. Identitas penderita Nama Umur Jenis kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Berobat tanggal

: : : : : : :

Ny. YR 50 th perempuan Islam menikah PNS (Fisioterapis) 4 September 2003

II. Anamnesis Keluhan utama : kepala terasa muter sejak 1 bulan Keluhan tambahan : mual . Perjalanan penyakit : - Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan. Setelah berobat ke fisioterapi, membaik. - Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan mual. Muntah tidak ada. - Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada penyempitan di C 4-5. - Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®. - Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta dirujuk ke bagian Akupunktur. - Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. - Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar, tidak disertai pusing atau gejala lain. - Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-). - Riwayat infeksi telinga (-). III. Status Presens Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris. Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal. IV. Pemeriksaan penunjang Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan kiri, Intervertebra C 6-7 kanan. Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200 mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49

V. Pemeriksaan Akupunktur 1. Pengamatan ( Wang ) : a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar mata: bersinar; kesadaran : baik. b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah : bersinar segar. c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh : t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata, telinga, hidung : t.a.k. d. Pemeriksaan Lidah : - otot lidah : merah muda, kebasahan sedang, pergerakan normal. - selaput lidah : putih, tipis, bersih. 2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) : a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas: normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar. b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat: tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa 3. Anamnesis (Wun) : Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama seperti di atas. Pertanyaan khusus : a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin b. Keadaan berkeringat : normal c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada keluhan d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik, kesukaan akan rasa: tak spesifik f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual, perih terutama kalau terlambat makan g. Pendengaran: tak ada keluhan h. Rasa haus: tak ada . i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi tetap sadar, Ro kepala t.a.k. j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid 1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya, dismenorrhea (-), leukorrhea (-). 4. Perabaan (Cie) : a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan otot. b. Suhu tubuh: normal c. Pemeriksaan nadi : kiri kanan dangkal dalam dangkal dalam cun 5 5 5 5 kuan 5 4 5 5 ce 5 5 5 5 5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu : a. Lambung : jika perut kosong perih, mual. b. Limpa : nafsu makan menurun, perut kembung, bertahak c. Hati : kepala muter, gangguan haid. d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

VI. Resume Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur. Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro kepala t.a.k. Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan : 1. Wang : - Sen : baik - Se : normal, bersinar - Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot, takut menengok. - Lidah : normal. 2. Wen : tak ada kelainan 3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit. 4. Cie: kuan kiri dalam Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ Lambung, Limpa, Hati. VII. Diagnosis Kerja Kedokteran Umum : Vertigo Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu akibat Si Hati. VIII. Pengobatan 1. Alat : jarum 2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya : a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang. d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual 3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali. 4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit. IX. Prognosis Dubia ad bonam

XI. Anjuran 1. Berobat akupunktur rutin 2. Pemeriksaan : CT, MRI 3. Konsul THT, Mata. XII. Follow up Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum obat dari bag. Saraf Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan. Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan. Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-). Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh. DISKUSI Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar (akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan perut kembung, sering bertahak. Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.

Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati, menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual, pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan. Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 1996. Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI. Jakarta; 1999. Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi FKUI/RSCM. Jakarta. Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed. Beijing: New World Press. 2000. O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press. 1981. Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ). Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5. Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia., 1978. Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51

PENDAHULUAN Transisi nutrisi yang terjadi saat ini. Teh hitam Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi. Juga karena bahannya mudah didapat.5. yaitu : Teh Hijau Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teh [Camellia sinensis O. kariostatik serta hipokolesterolemik. daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim. Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C.49%. var. tanaman teh Camellia sinensis O. adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang. 144. terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus.3 Menurut Graham HN (1984). irrawadiensis. Departeman Kesahatan RI. dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung.5. dengan harga obat-obatan yang mahal. 52 Cermin Dunia Kedokteran No. assamica. Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit. Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989). aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5.6 MACAM-MACAM TEH Berdasarkan penanganan pasca panen. anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali ke obat tradisional) adalah tepat. assamica dan irrawadiensis.K. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia. Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat.4 KLASIFIKASI Di zaman dahulu. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi. kanker. Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik.2 Di masa sekarang. genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis.K. murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat) dan dapat dibuat oleh semua orang. 2004 . sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia. teh dibagi menjadi 3 (tiga) macam(3).1 Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus. Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas.6): Divisi Sub divisi Kelas Sub Kelas Ordo (bangsa) Familia (suku) Genus (marga) Spesies (jenis) Varietas : : : : : : : : : Spermatophyta (tumbuhan biji) Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Dialypetalae Guttiferales (Clusiales) Camelliaceae (Theaceae) Camellia Camellia sinensis Assamica3.7 2. Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber 1.Var. Jakarta ABSTRAK Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat. Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas. Keuntungan dengan cara pemberian uap panas.3 Selain itu di negara-negara Barat. yaitu sinensis. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis. lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan Sulistyowati Tuminah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

2. 30. Penelitian ini tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif jangka panjang terhadap status antioksidan. 14. berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4. 1. melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri. 120. Komponen Kafein (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Flavonol Theanin Asam glutamat Asam aspartat Arginin Asam amino lain Gula Bhn yg dpt mengendapkan alkohol Kalium (potassium) % Berat kering 7. kemudian diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat makan siang.5 g daun teh ke dalam 25 ml air mendidih.69 0. 5 wanita.7 3. 29. Komposisi teh hijau(3) No. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%. kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak.7 KOMPONEN THE (3) Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (tabel 1 dan 2) : Tabel 1. 180 menit pemberian teh adalah rata-rata 434. 23.79 4. Rata-rata aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8.50 0. 11. epigalo katekin 3. 12. epikatekin daya antioksidannya sebesar 2. usia rata-rata 21.23 4. berbeda dengan hasil penelitian mengenai pengaruh flavonoid anggur merah.7 Tabel 2. 17. katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin. dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550 µmol/l.29 2.17 1. selanjutnya digulung dan dikeringkan. indeks massa tubuh: 24.86 1. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap aktivitas antioksidan serum. Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5 laki-laki. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu.16 4. Komponen Kafein Theobromin Theofilin (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Glikosida flavonol Bisflavanol Asam Theaflavat Theaflavin Thearubigen Asam gallat Asam klorogenat Gula Pektin Polisakarida Asam oksalat Asam malonat Asam suksinat Asam malat Asam akonitat Asam sitrat Lipid Kalium (potassium) Mineral lain Peptida Theanin Asam amino lain Aroma % Berat kering 7. 4.02 0. 144.275-12.enzim. 18. Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4. 22. kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim. Daya antioksidan komponen katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin C ataupun β-karoten. epigalo katekin galat sebesar 4. 7. 9. 27.50 dan untuk katekin daya antioksidannya sebesar 2.03 0.62 35. Daun teh dilayukan lebih dahulu.74 6.01 0.50 0. 20. Pada proses ini. sebuah kanula intravena dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati. yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme.3. yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus. 25. Teh oolong Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus.98 5.74 0. 9. dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%. 26. 1.21 6. 6.0).85 0. 19. 21.40. setelah 60.477 µmol/l (kisaran 4. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal KHASIAT TEH Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh. 5. Komposisi teh hitam(3) No. kemudian diaduk selama 3 menit.110 µmol/l). 3. 11.68 12. 10.4 Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda.56 0. 14. 2.70 0. Apabila proses fermentasi telah selesai. 8.99 3. 6.96 percobaan 430 µmol/l. 5. 28.9. 13.8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C).25 1. biasanya dilakukan selama 2-4 jam.09 0. 13.93.42 20.15 0.75. 2004 53 .31 0.11 Selain itu diet fluorin yang Cermin Dunia Kedokteran No. 8. 10.43 1. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir.1 tahun.21 3.83 4.13 3.84 4. 4. 16.10 Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek. 447 dan 439 µmol/l (tidak ada perubahan yang berarti/signifikan). 7.63 Trace Trace Trace 2.82. tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC). 12.09 4.70 5.90 1. Setelah 4 jam berpuasa.50 0.01 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer secara komersial dengan memasukkan 0.57 3. 3. 24. 15.20 8.

Van Steenis CGGJ. tetapi manusia masih bisa mendapatkan besi heme dari daging merah. Blot WJ. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia. 21. 1-24. Astuti M. terutama yang berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker. Oxidants. Chen L. flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH•. KEPUSTAKAAN 1. Hong CP. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O.54 g /200 g. 1997. Letters in Applied Microbiology. Lee MJ.14-18 Diperkirakan.12 Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit. Jakarta. Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam. and Disease Prevention. 1997. hal ini dapat dijelaskan. Kono S. Jakarta. Zheng W. Ternyata sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0. Cermin Dunia Kedokt. Maxwell S. McClendon JF. 23. Thorpe G. konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi non-heme. In Liss AR. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. Goldbohm RA. Shinchi K. 1987 . Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. Kushi LH. cet ke-1. Teh juga telah diuji teratogenik. tetapi berjenis nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar. tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu. 1-495. 1994. Okubo S. Nakachi K. Weststrate JA. Bag. 9. Consumption. Chow WH. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. 4. FMIPA UI. Prog Clin Biol Rev. kolesterol LDL. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage. 54 Cermin Dunia Kedokteran No. 1996. 88 (2) : 93-100. hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik. Nakayama M. blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. Nutr Rev. J Nat’l Cancer Inst. 2004 . 1997. Nature 1954. Kono S. 1-477.3 Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh teh. 1990. Preventive Medicine. 20. 1999. flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL. Graham HN. et al. melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri. Ferraro T. bahwa besi yang diabsorbsi manusia terdiri dari dua jenis.24 PENUTUP Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh. O2•− . dan radikal peroksil. Tuminah S. 1999 : 11-2. Nutrition News. 2. Doyle TJ. Folsom AR. Yogyakarta. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. 55(2) : 31-43. Substansi seperti tanin (dari teh). Baraas F. sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia dan lebih mudah diserap. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis. Cancer Research 1992. 313 : 229. 5. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia. Shinchi K. 128: 49-51. 144 (2) : 175-82. FMIPA UI. Van-Popel-G. Jakarta. Fluorine in Tea and Caries in Rats. 13. Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea. J Epidemiol. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. 21 : 526-31. Jufri M. 18.22 Sutarmaji (1994) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. Van-den Brandt – PA. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). 1994. Langseth L. 7. Imanishi K. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry. and Health Effects. Am J Epidemiol. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. Yang GY. 2000. Popkin BM. et al. Gershon-Cohen J. Tumbuh-tumbuhan diketahui sebagai sumber besi yang baik. Yanai F.terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar. 11. Suga K. Van Het Hof KH. 1997 : 82-3. BMJ (27 July) [Medline] 1996. cet ke-4. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan. Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. Japan. Imai K. baik teh hitam maupun teh hijau. Hyderabad. Prima Kardia Pers. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT. et al. Shimamura T. 12. Baraas F. 24. Van den Berg H. Zhi YW. termasuk pada wanita post menopause. 3 Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi. 20 (2) : 1-6. 2001 : 1-15. Hertog MG. 17.13 Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia. trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P < 0. Toda M. 52 : 389-95. Antioxidants. Brussel: 1995 . Yang CS. Environ Health Perspect. 144. Crit Rev Food Sci Nutr. Preventive Medicine 1992. 6 (3) : 128-33. UGM Press. 52 : 1162-70. Selain itu. Wakabayashi K. Potensi Antioksidan pada Teh. yaitu besi heme (yang terikat pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak terikat pada molekul hemoglobin). cet ke-1. 15. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study. Prima Kardia Pers. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake. teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis. 14. 1998. Ikeda N. McLaughin JK. Mou TH.05).21 Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. 1984 : 29-74.20. Jufri M. ILSI European Monograph Series. Sellers TA. Antioksidan dan Penyakit Jantung. 19. 8. Biokimia FKUI. 173 : 304-312. 1996. 11 : 3840. 10. Jakarta. menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. 1996. 16.19 Selain itu pada wanita post menopause. Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1.35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan. Pradnya Paramita. National Institute of Nutrition. Sutarmaji A. Dirghantara E. body weight. cet ke-2. Jakarta. makanan berserat dan mengandung fitat menghambat penyerapan besi non-heme. Tjitrosoepomo G. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity. Drewnowski A.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total. Eur J Clin Nutr. 6. Nair MK. Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. Brants HA. Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76. Jakarta. 37 (8) : 739-60. 22. 26 (6) : 769-75. 1989 . 3.23Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik.

Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian. Diana Hutauruk Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2001) . 144. Departemen Kesehatan RI. Kriteria inklusi : penderita berumur minimal 15 tahun. Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor.April 2001. demam akut 2-7 hari.32%) lainnya tidak dapat diambil sampel darah konvalesennya karena : (a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan sudah banyak diambil darahnya (b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas karena sudah terlanjur pulang.871 kasus dan 1. tahun 1998 15422 kasus dengan 133 kematian. dirawat di rumah sakit. Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI. Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun terbanyak di bawah 30 tahun (82. dan mengisi informed consent. Jakarta PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta dan Surabaya.68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49. Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen Dengue-2.faktor yang diduga dapat mempengaruhi peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2): (a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali (c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah endemis (d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi.89%) dengan rata-rata umur penderita 25 tahun. Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran No. Tujuan khususnya ialah: (a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD berdasarkan umur dan jenis kelamin (b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut (c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasil uji HI (d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasiI uji HI berdasarkan golongan usia (e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif METODOLOGI Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit selama periode Januari . Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati) Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9. Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes. HASIL DAN DISKUSI Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369 orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang (50. sejak itu penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya yang makin meluas. Sri Susilowati. (Tabel 1). 2004 55 . dan tahun 1999 3751 kasus dengan 42 kematian(3).pada penelitian ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji HI. Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO. Faktor.HASIL PENELITIAN Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta tahun 2001 Enny Muchlastriningsih.414 kematian(1).

Cassals J. Data Kasus DBD 1999.53 0. 2000.3% positif dan 48. penderita berada pada derajat I dan II. J. Golongan umur (th) 1520253035404550556065Total Kriteria hasil uji HI positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif 8 18 2 4 17 5 5 12 2 1 8 1 0 3 0 1 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 21 64 11 Total 28 26 19 10 3 3 4 0 1 0 2 96 Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1.7% negatif. Techniques for Haemagglutinatuon and Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses. Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) . tidak didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0. Med. KESIMPULAN Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat diperiksa uji HI karena berbagai kendala. dan tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji I-II yang positif.24%(5). Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998.07 1.1:1). Hyg. KEPUSTAKAAN l. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Umur (tahun) 1520253035404550556065Jumlah Laki-laki (N) 25 30 18 11 6 4 2 0 0 1 1 98 Perempuan (N) 25 29 9 8 6 3 4 1 1 1 2 89 Total 50 59 27 19 12 7 6 1 1 2 3 187 % 26. PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. 4.21 0. Trop. infeksi sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun. Profil Kesehatan Indonesia 1999. 5. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue. Pimpinan dan Staf RS Pasar Rebo. tahun 1995: 50.53 1. Keadaan tersebut mungkin disebabkan: (a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD (b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa pengobatan yang dianjurkan (c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara. Tabel 3. 7: 561. dan untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55 tahun.7% dan derajat II sebanyak 44. Clarke DH. 1958.74 31. tetapi adanya penderita dengan infeksi primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi virus.Tabel 1.3%.82%. Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD Hasil Uji HI Positif Negatif Total Jumlah (N) 96 91 187 % 51.19%. UCAPAN TERIMA KASIH Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan Litbangkes. Sub. tahun 1996: 32. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI positif Kriteria Uji HI Positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif Total Jumlah (N) 21 64 11 96 % 21. 56 Cermin Dunia Kedokteran No. Tabel 4. dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini.Dit.7 100.5% . Pimpinan dan Staf RS Persahabatan.55 1. ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah bergeser ke umur yang lebih tua. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara 30% . Direktorat Jenderal PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. Berita Epidemiologi. 144. yaitu: tahun 1994: 34. 2001. hasil uji HI positif sebesar 51.Jen.3 48. Desember 1999. tahun 1998: 36. Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding.4 100.21%. 2004 .6849).0 Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I sebanyak 55. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD berdasarkan Umur. tahun 1997: 34. Muchlastriningsih E et al.00 Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi.3% dengan kriteria positif sekunder yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada penderita lanjut usia. Am.61 100.16 6. Surveilans Dit. 3.74 3.7 11. karena jumlah responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita laki-laki lebih besar. ini mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD yang banyak dianut.50%. 2. waktu maupun penyimpanannya (d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.0 Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya yaitu 51.42 3.9 66. Jakarta. Departernen Kesehatan RI 2000.44 10.

Fase Koreksi: Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu. pruritus dan urtikaria. : (021) 428 73680 Website : http://www. Gedung Enseval.00-15. edema. KALBE FARMA Tbk. Jakarta – Indonesia Tlp. Jl. KEMASAN Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL. Letjend.30) Cermin Dunia Kedokteran No. 1998.id Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123. meskipun dapat dihentikan setiap saat. sakit kepala. diare. Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang. mual. • Hipersensitif terhadap human albumin. sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis semula). Senin – Jumat (07. Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual. Fax. DOSIS dan CARA PEMBERIAN Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik: Larutan dapat diberikan secara IV atau SC. 3000 IU/mL dan 1000 IU/mL.000 IU in 1 mL KOMPOSISI Setiap mL larutan berisi: Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU.000 IU.kalbe. Jangan dibekukan dan dikocok. Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4 minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat. 3000 IU dan 10. PENYIMPANAN Simpan dalam lemari es. KONTRA INDIKASI • Hipertensi berat yang tidak terkontrol. 10. dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/ kg/minggu. INDIKASI Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis. artralgia. Fase Pemberian: Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%. Clinical Trial III Report of rhEPOInjection Marketing Office PT. suhu 2-8°C. seperti: FeSO4. Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0. INTERAKSI Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan. • Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia.: (021) 428 73888-89. Reference: Bei Jing XieHe Hospital. EFEK SAMPING • Hipertensi • Peningkatan jumlah platelet • Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash. tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen hematinik. Jakarta 10510 PO Box 3105 JAK. terlindung dari cahaya. Suprapto. muntah ataupun reaksi di tempat injeksi.5%/minggu). fatigue.Produk Baru Hemapo® Erythropoietin Syringe 2000 IU. 144. Dosis untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian. 2004 57 . 3000 IU.co.

/hearing/hrexam.apsul Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA. 1990). Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal.html 58 Cermin Dunia Kedokteran No. 144.net. 2004 . Sumber: http://ivertigo. Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral.

computer in medicine. kedokteran nuklir. 5. seperti: tanya jawab. teleradiologi. atau artificial intelligence. Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast). Jika mengikuti perkembangan bidang informatika. misalnya menginformasikan jam praktek dokter. Sebaliknya. dan informatics. Secara rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada ulasan di bawah ini: Berawal pada tahun 1970-an Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah bahasa Perancis informatique médicale. Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat. dll. seperti: computer science. artikel kesehatan. computational linguistics. 4. Demikian pula jika kita ingin membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran. radiologi. Dua definisi Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika Kedokteran. medical information science. (Dr. health informatics. dan informatika terapan. dll. (2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan praktis dari proses informasi dan komunikasi. Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti: medical computer science. dll. Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan. information processing. 144. merawat data. dan tele-tele yang lain Medical Imaging Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound. proses kontrol. aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis.INFORMATIKA KEDOKTERAN PENGANTAR Medical informatics is located at the intersection of information technology and the different disciplines of medicine and healthcare. Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. dan beberapa istilah yang spesifik seperti nursing informatics. dr HM Goh. 3. 2004 59 . informatika yang berorientasi pada aplikasi. dll. 2. pengambilan keputusan dan analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran. Biaya dan keuntungan sistem informasi. Dalam praktek sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti: 1. dan beberapa area yang lebih spesifik. dental informatics. dll Sistem Informasi Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1) yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada keperawatan Web dan internet Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. penulis melihat ada pendapat dua pakar informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang. Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. dll. Akhir-akhir ini. melihat rekam medik dll. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah). Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data. telekardiologi. Mereka mendefinisikan sebagai berikut: (1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan management. Aspek-aspek lain yang berperan Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah: Interaksi manusia dan komputer. Telekomunikasi Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation. yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. maka secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer yang fundamental. disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’ sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. contohnya: computational physics. seperti: proses pendaftaran pasien. aspek keamanan dan legalitas. Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi Informatik (Information Technology). berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran dan kesehatan. sifat website pun sudah mulai berubah. Dalam perbincangan penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia. Proses pengolahan data Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya.

(tampak dalam foto dr. bisa diakses di http://www. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi.PD-KGH. dan bisa langsung diakses pada homepage Kalbe Farma Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah.kalbe. melainkan 60 Cermin Dunia Kedokteran No. Kuala Lumpur. mentri menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan. Laporan lengkap dari simposium. sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang. Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya. 6 . dan sebagainya. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. dokter spesialis anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut. membuka acara eHealth Asia 2004. Tele-education kesehatan via satellite. 144. Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah".8 April 2004 Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur. Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk. di samping hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus.id/seminar. menghisap rokok.000 kali per hari. 6 April 2004. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. RS Mitra International. Sp. Demikian terungkap dalam Seminar Awam "Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue. eHealth Asia 2004. Untuk itu kita jangan sampai lengah. APAMI Board Meeting. mewakili Mentri Kesehatan Malaysia Tan Sri Datu Dr.co. Erik Tapan.Jakarta. 25 Maret 2004 Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata bukan hanya merupakan masalah yang sederhana. hal ini jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia. hari ini Dato' Dr Abdul Gani Che Din. Sp. narasumber simposium berkenan menyumbangkan suara emasnya) juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. Hotel Acasia. Sabtu 20 Maret 2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta. 2004 . seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. Demikian dikatakan dr. yang di klik rata-rata 2. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS Pertamina Jaya Jakarta. Kuala Lumpur. menghisap rokok.PD-KGH. 6 April 2004 Pada malam hari. J. SpPD-KGH. batu ginjal. mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di Indonesia. Hotel Acasia. Demikian dikatakan dr.Pudji Rahardjo. dan Portal Kedokteran www. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi.kalbe. dan infeksi.co.id. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di sekelilingnya.Pudji Rahardjo. berarti peserta simposium bisa memperoleh berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di Stand Kalbe Farma. Pudji Rahardjo. Dalam sambutan tertulisnya. 20 Maret 2004 Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004. Pada topik yang diberi tanda Breaking News. dan sebagainya.043 orang. J. Acara tersebut menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani. Wakil dari Indonesia. diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari Asia Pasific Association of Medical Informatics. batu ginjal. di DKI terdapat penderita DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2.Kegiatan Ilmiah Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". Mohammad Taha bin Arif. RSIA HERMINA Daan Mogot . setelah menyelesaikan acara ilmiah. Studio mini Jakarta Eye Center. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. dan infeksi. ternyata bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja.Hj.

kasus tuntutan di rumah sakit umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh ketidakpuasan pasien.16 % (WKNPG : 2. Arifin Limoa. Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I. Cermin Dunia Kedokteran No. H. Dr.PD. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan saraf”. 29 Mei 2004 Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi. SpS(K). termasuk dari Kalbe Group. mahasiswa baik kedokteran maupun keperawatan. Seminar Integrated Hospital Marketing. Slamet Suyono. Prof. Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan. dr. dr. karena dapat mencegah atrofi villi usus. SPS(K). 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) 2004. KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International Convention Center beberapa waktu lalu.5th Jakarta Antimicrobial Update 2004. Menurut Budi Sampurna. Hotel Shangri La Jakarta. Prabowo Soemarto dalam Seminar IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta. Jakarta. lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa Republika tersebut. Bagian/UP Neurologi FK UNHAS/RS Dr.26 Mei 2004 Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan Riset Marketing dalam menjalankan usahanya. sehingga diharapkan terapi akan lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas hidup pasien yang meningkat. Sp. seharusnya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses bisnis"nya. Ed. Jakarta. tetap menjaga kelangsungan fungsi usus. Oleh karena itu obesitas menjadi masalah epidemik yang global. 25 . Amiruddin Aliah. K. radiasi dan operasi. Sebabnya.(foto diambil saat Session Mari Tanya Ahli. Zubairi Djorban. Demikian dikatakan dr. di Jakarta selama 2 hari. SpS(K). dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu penyakit dalam atau perawatan intensif National Obesity Symposium III. 24 Mei 2004 Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa lagi saat ini. Demikian salah satu yang ditekankan Prof. 2004 61 . membuktikan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat. 6-9 Mei 2004 Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung koroner (CHD/Coronary Heart Disease). dari kiri ke kanan: dr. Spesifik yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan perkembangan khusus sel kanker. karena proses bisnis layananan kesehatan termasuk hal yang kompleks. Dibandingkan dengan data WKNPG tahun 1998. 8-9 Mei 2004 Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna. Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI.02 % (WKNPG : 5.26 Mei 2004. 15-16 Mei 2004 Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di Jakarta.28 April 2004 Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan.5 %) dan wanita 11. Demikian dijelaskan Handi Irawan. Minggu 23 Mei 2004 diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical Industry Congres I.Jakarta. SpS(K)). Hotel Mandarin Oriental . Oleh karena itu penyakit DM saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan guideline terbaru DM. ASEAN Pharmaceutical Industry Congress. Demikian dikatakan Prof. menjadi terapi yang bersifat spesifik. tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia. 27 . mengingat sangat beragamnya latar belakang profesi yang menjalankannya. Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar. 24 Mei 2004. MM dan Prof. Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri. Jakarta. 23 . SpPD. Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar dimulai pukul 09. Bali International Convention Center. Sie. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf. angka kejadian penyakit ini pada pria melonjak hingga mencapai 9.9 %). Seminar IT PERMAPKIN.00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang peserta. dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul "Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN). Jakarta. enterosit dan kolonosit. 25 . Danial Abadi. KHOM dalam sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta. 144. Nutrisi enteral lebih unggul dibandingkan parenteral dalam mempertahankan fungsi gastrointestinal. Dr. Hotel Borobudur Jakarta. dr.25 Mei 2004 Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta. 18 Januari 2004 Pada tanggal 18 Januari 2004.

Ternyata penggunaan UVGI dikaitkan dengan penurunan gejala berkait dengan pekerjaan secara umum (OD 0. metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam setelah pemberian IVIg pertama. 0. 362: 1699-707 brw 0. Penurunan keluhan mukosal terutama di kalangan pekerja atopik (0. siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali. 117 62 Cermin Dunia Kedokteran No.363:197-202 brw brw ALAS TIDUR KERAS UNTUK NYERI PINGGANG BAWAH Kebanyakan dokter menganjurkan tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah. penelitian ini dilakukan atas 14 824 pria dan wanita 42-82 tahun di Norfolk. mereka yang tidur di alas medium juga lebih sedikit merasa nyeri di siang hari (p=0.0001) tidak tergantung usia. 144.36.93) maupun saat bangkit (1. Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband ultrasound attenuation) kalkaneus di kisaran 10% terendah.44 kali (95%CI: 2.5 – 0. 116 di antaranya juga diberi 500 mg. Lancet 2003.064) dan nyeri saat bangkit dari tempat tidur (p=0.7 tahun. kebiasaan merokok ataupun riwayat fraktur sebelumnya. nyeri saat berbaring (p=0.9) dan keluhan muskuloskeletal (0. Sejumlah 233 pasien mendapat 0.4-0. risiko frakturnya 4. 0. temporal dan parietal merupakan korteks asosiasi heteromodal yang berkaitan dengan fungsi perhatian (attention) dan inhibisi tingkah laku (behavioral inhibition).10.6. 2004 . 0. 65% di akhir percobaan) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras (54% dan 59%).52. sistem ventilasi ruang kerja mereka disinari dengan UVGI (ultraviolet germicidal irradiation) selama 4 minggu. 95%CI 0. Lancet 2003. Pengoperasian UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim ventilasi sampai 99% (95%CI 67 – 100).9 ± 0.059). mereka di amati selama rata-rata 1. 1.13 – 4.6) lebih banyak yang berkurang rasa nyerinya.50 – 2.2 – 0.6. berat badan.97 – 3.3 – 0.8). Lancet 2004.7. kemudian dimatikan selama 12 minggu.6. Pengurangan 1 SD dari BUA (20 db/MHz) dihubungkan dengan risiko fraktur relatif 1.95 (95%CI: 1.89.9) dan keluhan mukosal (0. Lancet 2003. Sekelompok peneliti di Montreal.9) di kalangan bukan perokok. 0.5 – 0. p<0.5.bb/hari selama 5 hari. selama 48 minggu. juga di korteks temporal anterior bilateral.0001) dibandingkan dengan populasi yang di kisaran 30% tertinggi.99) juga terhadap keluhan respirasi (0.8) dan bukan perokok (0. 0. Para peneliti di Spanyol menilai 313 dewasa dengan nyeri pinggang bawah kronis nonspesifik. tinggi badan.93.24 – 8.0 (paling keras) sampai 10. Peningkatan nyata substansia grisea sebaliknya didapatkan di sebagian besar korteks temporal superior dan parietal inferior bilateral. 0. Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat meramalkan risiko fraktur baik di kalangan pria maupun wanita. Sayangnya dalam studi ini posisi tidur tidak ikut diperhitungkan. sex.8. p<0.7.0 (paling empuk).5 – METILPRDENISOLON UNTUK SINDROM GUILLAIN BARRE Dutch GBS study group mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk menilai manfaat penambahan metilprednisolon terhadap pengobatan imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre. ternyata mereka yang tidur di alas medium (5.4 g IVIg/kg. Selama periode studi. Kanada mencoba menyelidikinya pada 771 pekerja kantor.3.7 – 0. karena ternyata mereka yang tidur di alas medium lebih banyak yang mengambil posisi fetal (56% di awal percobaan. sepanjang tahun 1997-2000. skala kekerasan kasur berkisar dari 1. 158 diminta tidur di alas dengan derajat kekerasan 5.4. 362: 1785-91 PENGUKURAN ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO FRAKTUR Risiko fraktur dicoba dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi terhadap tulang kalkaneus.24 – 3.9). Setelah 90 hari mereka dievaluasi. baik di tempat tidur (odds ratio 2.56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras. 0. selain itu didapatkan ukuran yang lebih kecil di daerah inferior dan korteks prefrontal dorsal bilateral. 95%CI: 1. 362: 1599-604 brw SICK BUILDING SYNDROME Sick building syndrome (sindrom gedung sakit) merupakan masalah yang belum sepenuhnya dipahami.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras. Penggunaan UVGI juga menurunkan keluhan respirasi (0. 31 di antaranya fraktur femur. Daerah frontal. Selama masa itu terjadi 121 fraktur.86) dan lebih rendah disabilitasnya (2. menunjukkan bahwa morfologi abnormal ditemukan di korteks frontal.ABSTRAK KELAINAN KORTEKS PADA ADHD Penelitian menggunakan MRI dan teknik komputasi terhadap korteks serebri 27 anak dan remaja penderita ADHD dibandingkan dengan 46 kontrol. sedangkan 155 lainnya tidur di alas dengan derajat kekerasan 2.

N Engl J Med 2004.18 – 0. data diolah dari 207 (53%) peserta. Sejumlah 390 penderita asma pengguna kortikosteroid inhalasi yang berisiko eksaserbasi dipantau gejala asma dan morning peak flownya selama sampai 12 bulan. Kematian.03). dan pasien menolak punksi lumbal. keesokan harinya gerakan involunter berkurang dan hilang sama sekali setelah 4 hari. setelah 4 hari pengobatan pasien tersebut mengalami gerakan involunter di kepala dan keempat ekstremitasnya. OR=1. Efek samping perdarahan tidak berbeda bermakna (RR 1.011).65. seftriakson iv dua kali sehari untuk infeksi Nocardia.62. 144. 95%CI 0.003).15 – 1. (OR 1.92. 48 dan 60 bulan kemudian.06). Pemantauan dilakukan setelah 12.72. p=0. Saat gejalanya mulai memburuk. aerobik dan kalistenik yang bervariasi di antara percobaan-percobaan tersebut. Setelah penyesuaian data terhadap usia dan tingkat penyakit saat masuk. 406 sebagai kontrol. p=0. logrank x2 5. berupa mioklonus multifokal dan asterixis bilateral.015) Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan latihan (0. trombosis vena atau kematian akibat kardiovaskuler (RR 0.40. 192 menggandakan dosisnya. p=0. 110 di kelompok studi dan 97 di kelompok plasebo.350:114-24 brw Program latihan yang dijalani berupa bersepeda.93.363:271-5 brw Cermin Dunia Kedokteran No. Efek samping tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok tersebut.15.56-0.07-3. Analisis atas data dari 225 pasien menunjukkan bahwa skor disabilitas membaik satu tingkat atau lebih pada 68% (76 dari 112) pasien kelompok metilprednisolon dan pada 56% (63 dari 113) pasien kontrol.27-9.22 (11%) dari kelompok studi dan 24 (12%) dari kelompok plasebo membutuhkan prednisolon tambahan untuk mengatasi gejala asmanya. Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil pengobatan sindrom Guiilain/Barre. p=0. Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0.68. 2004 63 .bb sulfametoksazol iv dan 2 g. 24.363:192-6 brw EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL Telah dilaporkan satu kasus wanita 63 tahun yang mendapat 20 mg/kg.71).46 – 0. ternyata 46 menggunakan prednisolon tambahan . emboli paru.95 (95%CI 0.89 (95%CI: 1.41.4.64.350:88-9 brw ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA VERA Aspirin ternyata juga bermanafat untuk mencegah komplikasi trombosis di kalangan pasien polisitemia vera. demikian juga risiko infark miokard non fatal. Pemeriksaan MRI hasilnya tidak spesifik. p=0. stroke non fatal atau kematian akibat kardiovaskuler lebih rendah di kelompok aspirin (RR 0. 0. BMJ 2004. Lancet 2004. risiko infark miokard non fatal. Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan. baik keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna. jalan kaki. N Engl J Med 2004. 95%CI: 0. 6. 95%CI 0.35.55-1. p=0. sedangkan 198 lainnya tidak (kedua kelompok menggunakan inhaler yang serupa) Setelah 12 bulan.9. 36. Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari tercatat 88 (22%) kematian di kelompok latihan dan 105 (16%) di kelompok kontrol. MENCEGAH EKSASERBASI ASMA Suatu studi dilakukan untuk menilai manfaat penggandaan dosis inhalasi kortikosteroid dalam upaya mencegah peningkatan dosis prednisolon oral. Kejadian ini sebelumnya pernah dilaporkan pada 1 kasus anak.bb trimetoprim. Di akhir percobaan. p=0.97-2. Para peneliti di Italia memberikan 100 mg aspirin/hari pada 253 pasien polisitemia vera.91. stroke non fatal.328:189-92 brw EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan yang seluruhnya melibatkan 801 pasien – 395 menjalani latihan.8) Para peneliti berkesimpulan bahwa menggandakan dosis inhalasi tidak mencegah perburukan gajala asma (yang diukur dari kebutuhan prednisolon oral) Lancet 2004. dibandingkan dengan 265 pasien yang diberi plasebo.09). Risk ratio penggunaan prednisolon 0.88. 95%CI 0.ABSTRAK sisanya mendapat plasebo. 95%CI 0. 100 mg/kg.

2004 . D D 2. B B 5. 8. Klebsiella Pseudomonas Staphylococcus 2. 6. 4. E A 3. Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan: a) Mongoloid b) Kaukasian c) Negroid d) Hispanik e) India Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas suara di atas: a) 20 dB b) 40 dB c) 60 dB d) 80 dB e) 100 dB Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi . a) 100 dB b) 120 dB c) 140 dB d) 160 dB e) 180 dB 8. a) Gangguan peredaran darah otak b) Trauma vestibuler c) Penyakit Meniere d) Vertigo posisional benigna e) Neuronitis vestibularis 6. 9. a) Tumor jinak b) Tidak pernah mematikan c) Berhubungan dengan HIV d) Gejalanya awalnya sesak e) Sering rekuren Rinoskleroma dikaitkan dengan : a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) d) e) 7. 144. E A 64 Cermin Dunia Kedokteran No. 7. E C 4.Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. 3. JAWABAN RPPIK : 1. 10. 10. 5. Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi : a) Defisiensi vitamin B b) Defisiensi vitamin C c) Defisiensi vitamin D d) Defisiensi Zn e) Defisiensi Fe Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di a) Submental b) Intralingual c) Suprahioid d) Transhioid e) Infrahioid Yang tidak benar mengenai papiloma laring. Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo . 9.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful