2004

http://www.kalbe.co.id/cdk

ISSN : 0125-913X

144. THT

2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

144. THT
Daftar isi :
2. Editorial 4. English Summary

Artikel
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir 8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia 11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni 13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah 16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R. Susworo 20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati 24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi Arifiani 29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W. Roestam 35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi 41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo 47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe 52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah 55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk 57. Produk Baru 58. Kapsul 59. Informatika Kedokteran 60. Kegiatan Ilmiah 62. Abstrak 64. RPPIK

Keterangan Gambar Sampul : Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13

EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi pendengaran khususnya. Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis maupun keluarga pasien. Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami nantikan

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

Kirby RL.Prof.co. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979. Jakarta 10510. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. 1st ed.H.Dr.D . 64: 7-10.co.O. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Philadelphia: WB Saunders. DR. Gedung Enseval.4208171 E-mail : cdk@kalbe. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Dr.Prof. Dr.id Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan.Prof. Contoh : 1. Gedung Enseval Jl. Jakarta 10510 P. Siti Wuryan A Prayitno.457-72. 3. Budi Riyanto W. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut.Prof. bila tujuh atau lebih. Box 3117 JKT. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis. bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran.kalbe. Sjahbanar Zahir MSc. PhD.Medical Rehabilitation.Prof. eds. SKM. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. hendaknya diberi keterangan mengenai nama. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. 1984. E-mail : cdk@kalbe. Bagian Periodontologi. Suprapto Kav. Oen L. Erik Tapan . Letjen Suprapto Kav. Bila pengarang enam orang atau kurang.id/cdk .id http: //www. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. akan diberitahu secara tertulis. Cempaka Putih. (021) 4208171. Sri Oemijati. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. . sebutkan semua. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 DEWAN REDAKSI PENERBIT Grup PT.co. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. 1990. DR. 90 : 95-9). 2. . Drg. satu muka. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya. Drg. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . SpOrt. Box 3117 JKT. Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta . Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran. Soebianto PENCETAK PT. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Letjen. Swartz MN. .Djuni Pristiyanto ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran. Boenjamin Setiawan Ph. Hal 174-9. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut.913X KETUA PENGARAH Prof.10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word. MSc REDAKSI KEHORMATAN PEMIMPIN UMUM Dr.co. Sodeman WA.kalbe. Dalam: Sodeman WA Jr.DR. Cempaka Putih. Basmajian JV. Pathogenetic properties of invading microorganisms. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah.Dodi Sumarna . Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. R Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang KETUA PENYUNTING Dr. Bila tidak ada. Hendro Kusnoto. Laboratorium Ortodonti MScD. 021 . kedokteran dan farmasi. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio. Tlp. Cermin Dunia Kedokt. P. Jakarta Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta TATA USAHA .2004 International Standard Serial Number: 0125 . hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. 4. Dr. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia.O. Jl. . bila menggunakan bahasa Indonesia. Temprint http://www. Tlp. Kalbe Farma Tbk. Weinstein L. 4. Bila terpisah dalam lembar lain. Baltimore.id/cdk PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. 1974. London: William and Wilkins. PELAKSANA Sriwidodo WS.

Cipto Mangunkusumo General Hospital. particularly at the anterior commissure. Faculty of Medicine. Diagnosis can be confirmed using a flexible fiberoptic laryngoscope to visualize the larynx. 2004 .2004. Lia Amalia Dept of Child Health. laa Fate is distinghished but an expensive tutor (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No. acyclovir. Cermin Dunia Kedokt. Indonesia Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in children. Partial airway obstruction may manifest as stridor or chest retractions. 8-10 Rhinoscleroma is an endemic disease. Cermin Dunia Kedokt. Papillomata have a characteristic wart-like appearance. chronic cough. and retinoic acid are still debatable. Jakarta.2004: 144. Practically all patients with laryngeal papilloma present with hoarseness or a weak voice. Jakarta. 144. North Sumatra. North Sumatera and Bali. Firmansyah Dept. Adam Malik General Hospital. treated with acupuncture and showed good improvement. Indonesia RHINOSCLEROMA Delfitri Munir. L. The symptoms may cause anxiety and disturb the patient’s social life.lys bso. It is caused by strains of human papilloma virus (HPV) family. of Acupuncture Dr.raa. recurrent respiratory infections also may occur. The mainstay of treatment is surgical ablation. 144. Indonesia ACUPUNCTURE FOR VERTIGO Prasti Pirawati. and tend to be concentrated on the free margins of true vocal folds. referred to dizziness or a sense of imbalance. Cermin Dunia Kedokt. Yvonne Siboe Dept.2004. of ENT. 47-51 ppi. Medan.fih Vertigo is a common complaint. Conventional treatment is still not satisfactory. ribavirin. University of Indonesia.English Summary LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN Bambang Supriyatno. There is still no accurate and successful management method for this problem . in Indonesia it is found in North Sulawesi. 13-15 dmr. Rizalina A Asnir. 144. The role of medications such as alphainterferon. This is a report of a 50 yearold female with vertigo. can be due to vestibular system disorder. paroxysms of chocking.

sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk.11.9 Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria.13 Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3.11-14 dan di negara sedang berkembang. Kata kunci : rinitis atrofi.10.20 Tetapi dari segi umur.9.2.1-5.11-15 SINONIM : Ozaena.5.2. beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda.7.5.11-15 terutama pada usia pubertas.14-16 Oleh karena etiologinya belum pasti.1-5.14. rinitis krustosa. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala.17 Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong. Kuman lain adalah Stafilokokus.8 dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria.12. Diphteroid bacilli.12.1-11 Secara klinis.9.1-5.7 7) Teori mekanik dari Zaufal4. Cocobacillus foetidus ozaena 2) Defisiensi Fe1-4. dilakukan operasi . Medan ABSTRAK Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah. 4 wanita dan 2 pria.Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinitis Atrofi Rizalina Arwinati Asnir Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran. 7.7.7.7.7.1-5.16 Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. 2004 5 . sehingga pengobatannya belum ada yang baku.12.12. rinitis fetida.7.7.5. Bacillus mucosus.17 Terutama kuman Klebsiella ozaena.11-15 terutama pada usia pubertas.11-14 dan di negara sedang berkembang.9. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun. 144.16 Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi.20 Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk1-3. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia.16. Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun.18 5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5.1-9 Penyakit ini lebih sering mengenai wanita.7.11.10.7.11 3) Sinusitis kronik1.2. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. sosial ekonomi rendah.7.1. yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta. Adam Malik. PENDAHULUAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik.5 8) Ketidakseimbangan otonom 4. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas.4.11 6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4. mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering. vitamin A1. lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang.7. Kokobasilus.17 Cermin Dunia Kedokteran No.12.20 KEKERAPAN Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita.13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria.8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9. umur berkisar dari 10-37 tahun.11.12. Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H.11. maka pengobatannya belum ada yang baku.1-4.14-16 Beberapa teori yang dikemukakan antara lain : 1) Infeksi kronik spesifik 1-4.1-5.

21 KOMPLIKASI4.1-5.3.4.oleh karena itu secara patologi. gangguan penciuman (anosmi). air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. 144.10.3. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen. untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau. rinoskleroma dan tbc. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia. dapat ditemukan krusta di nasofaring.7 GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat.11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal.13 .5. Campuran : NaCl NH4Cl NaHCO3 aaa 9 Aqua ad 300 c 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat c.2. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis. sinusitis. PATOLOGI DAN PATOGENESIS Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik. terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3. faringitis. Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat21 : a.11 Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang. Larutan garam dapur d. terlihat rongga hidung sangat lapang. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi. rongga hidung tampak lebar sekali. Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A.8. warna makin pudar.9. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas.4 g Na diborat 28.5. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi. lepra. dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang.4 g NaCl 56. adanya krusta (kerak) berwarna hijau. sekret purulen dan berwarna hijau. hidung pelana. sakit kepala. Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau b. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia. krusta banyak. epistaksis dan hidung terasa kering. kadang-kadang kuning atau hitam. Selain faktor-faktor di atas.1. rontgen foto sinus paranasal. b. 2004 .2 Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman. Campuran : Na bikarbonat 28.19 dan fibrosis dari tunika propria. Mantoux test.1.3.11.3 2) Obat cuci hidung. miasis hidung.17 11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5. rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:3. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif.15.4. yang bertambah jelek dengan terapi estrogen.11 Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui4.7 g dicampur 280 ml air hangat Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat.16. pemeriksaan Fe serum. c.10.17 10) Herediter5.16 12) Golongan darah.10 dan rinitis atrofi sekunder. Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis. krusta sedikit.4.7. dilakukan dua kali sehari.9. ingus kental berwarna hijau. pemeriksaan darah rutin.3. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung. keluhan anosmia belum jelas.4 Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel. mukosa hidung tipis dan kering.4. midline granuloma.12. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul). PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala.9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)4. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa. mukosa makin kering. terdapat anosmia yang jelas. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis.10-12 Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau.11 Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc. atrofi konka. jika krusta diangkat. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis. 6 Cermin Dunia Kedokteran No.11 Dapat berupa: perforasi septum. mukosa tampak kemerahan dan berlendir. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika.2 Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu. rinitis kronik lepra.1.21 Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik. Antara lain : a. Sebagian besar kasus merupakan tipe I.12.

Throat and Ear and Head and Neck. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.22 PROGNOSIS Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. 1992. 113-4. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. 23. 1994. Surgery of the Upper Respiratory System. 5. Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. Elloy P. Disease of the Nose. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. Laryngoscope 1996. Kumar S. Oxford : Butterworth . 114 : 254-9. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Penyakit Telinga . Oleh karena etiologinya belum pasti. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis. Samsudin. Doyen A. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers. 381-2.Nose & Throat Diseases and Head .3% perbaikan pada periode waktu yang sama. Sydney.1. 218-9.Edisi 6. Weir N. THT FKUI. 15. Baser B. 1993. 13. 218-21. Cermin Dunia Kedokteran No. Buku Ajar Penyakit THT. Sreeramamoorthy B. A Pocket Reference. 1403-6. Montgomery WW. Ear. Disease of the Nose. J Laryngol Otol 1998. 12. 17. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok . Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. Hilger PA. Sherief SG. Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 4. Groves J.Atrophic Rhinitis-Pathology. Farrington WT. kemudian dipindahkan ke lubang hidung. 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat. setelah krusta diangkat. Massegur H. Elhamd KA. Tenggorok . 90-2. 40-1. 4) Vitamin A 3 x 10. Jakarta : FKUI. 9. diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. 202-5. 14. 2004 7 . 1994. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka. 576-80. 499. 1986.4. Maran AGD. Head and Neck Surgery. 112 : 543-6. Pitfalls. 19. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis. 221-2. 20.106: 702-3. Jakarta : FKUI. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. New York : Georg Thieme Verlag. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93. Jiang R. 16. 12 : 325-33.Chen C.23 Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. 1997. Throat and Ear. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. 104 : 404-7. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins. Naumann HH. Mewengkang N.Hsu C. Alih Bahasa : Wijaya. 1987. Hagrass. Vol. campuran Triosite dan Fibrin Glue. Ramalingam KK. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. 1996.Gray RF. 2nd ed. Dalam : ScottBrown's Otolaryngology. Kepala dan Leher. 10. Wood DG. 193-411. Nose and Throat Diseases. 1993. cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari. oestradiol dalam minyak Arachis 10. maka pengobatannya belum ada yang baku. 91-3. Naumann HH.11-14 Sinha. 1997. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan. 22.21 OPERASI Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif. Etiology and Management. 8. Soetjipto D. Maqbool M. Ujung Pandang: 1986. 264-7. 229. Madras : All India Publisher. Bertrand B. Jilid 1. New York : Georg Thieme Publishers. J Laryngol Otol 2000. bahan sintetis seperti Teflon. Nose and Throat Diseases. 1997. Fundamental of Ear. 11. Mangunkusumo E. Sutomo. 14th ed Singapore : ELBS. Samiadi D.5. Ballenger JJ. Dalam : Boies (ed). 1980.000 U / ml.Neck Surgery. Mangunkusumo E. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita. 549-55. 1996. 4/8/26-7. 349-51. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml.3 Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu. A Short Practice of Otolaryngology.J Laryngol Otol 1992 .000 U selama 2 minggu 5) Preparat Fe 6) Selain itu bila ada sinusitis. Hiranandani NL. 21. 2. Am J Rhinol 1998 .5 KESIMPULAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. 144. Infective Rhinitis and Sinusitis. Edisi ke 3. Technique. Indication. 492. 3. 1992. Colman BH. 7. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun. 106 : 652-7. Jakarta: EGC. 18.A Synopsis of Otolaryngology. 173-82. mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi.Hidung. Lobo CJ. 1985. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. Pfaltz CR. 1996. Becker W. C. 26-7. Hidung . dermofit. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. KEPUSTAKAAN 1.Heinemann. 4th Bristol:Wright. Textbook of Ear.3) Obat tetes hidung . Grewal DS. diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa. 6th ed. diobati sampai tuntas1-5. Kader MA. 5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung. Ujung Pandang. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Gamea AM. Singapore : PG Publishing. tulang. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali. 6. yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta. Hartley C. natrium bikarbonat. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. Sayed RH. Rinitis Atrofi. Edisi 13. Calcutta : The New Book Stall. J Laryngol Otol 1990 . 10-5. 1-4.10-14.

walaupun tidak ganas. diduga berhubungan dengan infeksi human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. infeksi saluran nafas kronik. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut. trakea dan paru. obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui.3 Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat. salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Papiloma Laring pada Anak Bambang Supriyatno. Pada laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol. dan pertumbuhannya eksofilik.5 Terdapat dua jenis papiloma laring. dan pemeriksaan laringoskopi langsung. Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring. anak. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur trakeobronkial. hidung. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas. pemeriksaan fisis. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta suara tangisan yang abnormal. kelainan imunologis. Cipto Mangunkusumo. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea dan bahkan sampai ke paru-paru. Lia Amalia Bagian Ilmu Kesehatan Anak. 144. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti. pada anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi.4. tetapi lokasi tersering adalah laring. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan nafas serta penyebaran ke paru-paru. Beberapa keadaan diduga berperan sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah. Papiloma laring pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas. 2004 . Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik.1 Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. higiene yang buruk. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”.2. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. rekurensi PENDAHULUAN Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas anak. dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu. Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17. rapuh. berwarna kemerahan. Jakarta ABSTRAK Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di saluran nafas anak. mudah berdarah. Kata kunci : papiloma laring.

rapuh. ETIOLOGI Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti. asma bronkial.3..8. stridor inspirasi ringan. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal. Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis. dan mudah berdarah.10 MANIFESTASI KLINIS Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak. berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah. pemeriksaan fisis. Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger.5-18 tahun.11-13 HISTOPATOLOGI Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis. 10 Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau parakeratotik. tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. dan sianosis lebih jelas. Bedah Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring. kemerahan. 2004 9 . melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial.17. sianosis ringan. 14-16 Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson. mikrokauter. dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis. Medikamentosa Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2. dan stridor inspirasi. mikrolaringoskopi langsung. dan podofilin topikal.18 d.10 Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk. sesak. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh. Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut : a. 6 di antaranya di bawah 12 tahun. serta pertumbuhannya eksofilik.INSIDENS Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak. Obat yang digunakan antara lain antivirus. kriosurgeri.18-20 c. laringofissure. dan terkadang gagal napas. tetapi ada faktor lain yang berperan. mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi. tanpa sianosis. Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara 1993-1997 dengan usia antara 2. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi. Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan. Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring.6 Agung7 melaporkan 7 kasus antara 1970-1976. yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru. paralisis pita suara. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm).15 PENATALAKSANAAN Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring. dan pasien tampak mulai gelisah.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti.9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital. seperti kembang kol. retraksi suprasternal. b. Cermin Dunia Kedokteran No. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas. 80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun. hormon (dietilstilbestrol). tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya. infeksi saluran napas kronik. nodul pita suara atau kista laring kongenital. Jackson I ditandai dengan sesak.17 Diagnosis banding Diagnosis sulit terutama pada fase awal. semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi. Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan. Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring. mikrolaringoskopi dengan diatermi. sedangkan Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang.18 Pada kasus papiloma laring yang berulang. carbondioxide laser surgery. Basheda dkk.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. epigastrium. maka perlu dicurigai suatu papiloma laring. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas. Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi.7. mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas. Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat. DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula. Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. Biasanya terdapat stridor inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol. mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps. tetapi tidak untuk lesi parenkim. laringomalasea. Terapi fotodinamik Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana papilomatosis laring rekuren. Imunologis Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon. steroid. dan kelainan imunologis. 144.

Pathogenesis and treatment of juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis. 115:322-5. Pou AM. 101:1162-6. Erisen L. Late recurrences of laryngeal papillomatosis. Papova viruses and recurrent laryngeal papillomata. Soft tissue complication of laser surgery for reccurent papillomatosis. Mulloly VM. 18. de Boer G. 144. Dere H. 2004 . Recurrent respiratory papillomatosis of the larynx. 33:187-207. 11:242-52. 11. Harley C. Interferon therapy in juvenile laryngeal papillomatosis. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. 121:1386-91. Pediatric respiratory papillomatosis. Laryngoscope 1997. Pignatari SSN. 107:915-47. 9.13 Meskipun jarang. Mounts P. Myers EN. ekstirpasi yang tidak sempurna. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. . 2. Task force on recurrent respiratory papillomas. Steinberg BM. A preliminary study. Haliwell M. Laryngoscope 1992. 20. Yasin AR. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995. Elo J. Bristol General Hospital. White A. 33:1-12. Otolaryngol Clin N Am 2000. Ultrasonic treatment of laryngeal papillomata. Winkler B. Ossof RH. 5. 119:554-7.KOMPLIKASI Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas. Current Diagnosis and Treatment. Haglund S. Derkay CS. 8. 10. Prognostic role of viral typing and cofactors. Recurrent respiratory papillomatosis. Fagan JJ. Shikowitz MJ. Smith RJH. Lundwuist P. Otolaryngol Clin N Am 2000. et al. Sites of predilection in recurrent respiratory papillomatosis. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1993. 7. Laryngeal papillomatosis: clinical histopathologic and molecular studies. 16. 97:678-85. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma. Derkay CS. 19. Abramson AL. Smith EM. Bashida SG.249-60. Arch Otolaryngol 1981. 1977. Kashima H. 1982.16 Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. Arch Otolaryngol 1995. Endobronchial and parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of photodynamic therapy. 6. bronkus. Cantell K. Hamilton. N Engl J Med 1983. 102:580-3. Orlowski JP. dan paru. Laryngol and Otol 1994. 15. Steinberg BM. h. Rimell EM. diduga akibat tindakan trakeostomi. THT FKUI. PROGNOSIS Prognosis papiloma laring umumnya baik. Comparison of pulsed and continuous wave light in photodynamic therapy of papillomas: An experimental study. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996. Darrow DH. Papilloma of the larynx in children. 108:226-9. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM. The Manchester experience 1974-1992. Bauman NM. Arch Otolaryngol 1995. Abramson AL. Bajtai A. Gray SD.669-75. Losin. Laryngeal papillomavirus infection during clinical remission. Clinical effect of alpha interferon dose variation on laryngeal papillomas. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. Hidvigi J. Laryngoscope 1987.h. 3. Agung IB. KEPUSTAKAAN 1. Human papillomavirus infection in papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. Kohlmoos HW. 17. Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang. 100:1458-64. Werkheven JA. 98:1324-9. 4. tetapi dapat meluas ke trakea. 122:942-4. Chest 1991. Laryngoscope 1998. 107:327-32 Green GE. Shoemaker DL. Mehta AC. Topp WC. Fairman DH. 308:1261-4. 12. Steinberg BM. Birzgalis AR. 102:300-10. Schneider PS. 14. radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas. Skripsi. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993. 13. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru. Leventhal B. Laryngoscope 1991.

2004 11 . sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid.5 Kista ini biasanya terletak di garis median leher. merupakan 40% dari tumor primer di leher. Kata kunci : Kista duktus tiroglosus.5 Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31. sehingga mengalami degenerasi kistik.4.10.1.4.11 PATOGENESIS Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus : 1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus. jika sering terjadi peradangan.1. pada dekade ke dua 20.12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang.12 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya. maka epitel duktus juga ikut meradang.4%.11 Lokasi yang sering adalah1.14 walaupun dapat ditemukan di semua usia. 2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista.5 : . umur sampai 5 tahun terdapat 38%.5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34.5.1 LOKASI Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher. Medan ABSTRAK Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher. Kista ini lebih sering terjadi pada anak.1-11 Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher.3 Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun.3.11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari + 86. 144.5%.000 pasien anak.9% Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus.tirohioid : 60. kekambuhan PENDAHULUAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. rata-rata pada usia 5. dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid. lokasinya terdapat di: Cermin Dunia Kedokteran No.10.12 Predileksi umur terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%.14 Ada penulis yang menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus.13.suprahioid : 24.4.1% .5 tahun. seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920.5 Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.9% . bagian tengah korpus hiod.3.10.1.9.1% . sehingga terbentuklah kista. Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher. Adam Malik.6 Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak.13 KEKERAPAN Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher.4-10.5. dekade ke tiga 13.intra lingual : 2.6%. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.4.9.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kista Duktus Tiroglosus Hafni Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.suprasternal : 12. yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea.

.10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm. korpus hioid. Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %.suprasternal : 3 Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral. Philadelphia : WB Saunders Co.7.Otolaryngology. Robertson N et al. 7. Stool SE. 2. 5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum. Duktus beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. Corry J et al. dibuat irisan memanjang di garis media. 2nd ed. Laryngol. Kepala dan Leher. Cohen JI. 4. Johnson JT. Vol. Hidung. Disease of Nose. 183.infrahioid : 43 . 3. kadangkadang lebih besar. 1997. 1986. Benign diseases of the neck. 6/30/8-12. Bila ada fistula.submental : 2 . Benign Tumors.11 KOMPLIKASI Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder akibat trauma. Ellis PDM. Congenital Neck Masses and Cysts. kepala dan leher hiperekstensi. 88. 122: 1094-6. J. KEPUSTAKAAN 1. 1994.11 Cara Sistrunk : 1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang.transhioid : 2 . 5/16/14. 144.dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%. eksisi sederhana. Surgery of the Upper Respiratory System.5 KESIMPULAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. 1987. 14th ed. Konsistensi massa teraba kistik. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 4.5. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. 14. 381-2. reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik. 2nd ed.11 4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya. Damijanti T. 5. 6. fasia yang lebih dalam digenggam dengan klem. 1990. yaitu kista beserta duktusnya. Philadelphia : WB Saunders Co. 1313-14. 1. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. 6th ed. berbatas tegas. 2. 1987. Korpus hioid dipotong satu sentimeter. walaupun dapat ditemukan pada semua usia. thyroglossal cysts and fistulae.6. 755. bulat. A Handbook for Students and Practitioners. Philadelphia : JB Lippincott Co. 1996. Pincu RL. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%. Kista brankial Lipoma1.5. Leichtman LG. 2004 .1985. Vol. sampai tulang hioid. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya. antara lain insisi dan drainase. diagnosis dapat ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan dilakukan foto Rontgen. 108 : 1105-7. 120 (5): 757-9. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag. Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya. Dalam : Kumpulan Naskah Konas VI Perhati. II.1. 10. 2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang empat sentimeter. dapat di atas atau di bawah tulang hioid. 1994.). Greinwald JH. Untuk fistula. Ballenger JJ.suprahioid : 18 . 1362-69. tidak nyeri. Scheetz MD (eds. 13. Karmody CS. Lingual tiroid 2.9 Bila terinfeksi. Oxford : Butterworth . Urben SL.Heinemann. Dalam : Comprehensive Management of Head and Neck Tumors. 8. Kista dermoid 3. Singapore : ELBS. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. THT FKUI. 760-7. Thyroglossal duct remnants. Maran AGD. posisi terlentang. 19. Suparjadi S. Throat and Ear and Head and Neck. Panje WR (eds.11 Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi. mudah digerakkan. yang harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher.6. dipasang drain dan irisan kulit ditutup kembali. 9. Ujung Pandang. Montgomery WW. Ransom ER. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. Colman BH. Kejadian fistel ini antara 15-34%. 415-21. Otolaryngol. 1989. Sobol M. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik. O’Hanlon DM. Bluestone CD. 12 Cermin Dunia Kedokteran No. Tenggorok. warna sama dengan kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. 2000. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid.11 Diagnosis Banding 1. infeksi atau operasi yang tidak adekuat.2. 1996. Developmental Anomalies of the Neck. 1983 . otot lidah yang longgar dijahit. benjolan akan terasa nyeri. Bailey JB.8 GEJALA KLINIK Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher. Oxford: Butterworth – Heinemann. 295-6. Aberrant thyroglossal cyst.). 6th ed. Branchial cleft anomalies. Edisi 13. Jilid 1. 11. Samsudin. 114: 128-9. Kohut RI et al. Edisi 6. Otol. Hereditary Thyroglossal Duct Cyst. Philadelphia : Lea & Febiger. Saleh H. Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. Alih Bahasa : Wijaya C. Dalam : Head and Neck Surgery . Vol. aspirasi perkutan. Dalam: Pediatric Otolaryngology. Simko MEJ. 3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia. Massa Jinak Leher. irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula. Buku Ajar Penyakit THT. Fusion of the thyroid interval in a patient with a thyroglossal duct cyst. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak. Otol. Head and Neck Surg. Penyakit Telinga. Jakarta : EGC. Waddell A. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. Dalam Boies. Walsh N. Foramen sekum dijahit. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah. Jakarta : Bina Rupa Aksara. 12. J. Thawley S. Otot sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya. Laryngol. 1997.

Cekoslovakia. Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini sampai sekarang. namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang memberikan hasil memuaskan.1. Rusia.1. Salvador. orofaring.7 INSIDEN Rinoskleroma dapat mengenai semua usia.9 Kebanyakan penderita ditemukan pada dekade dua dan tiga.2 Dilaporkan banyak terdapat di Sulawesi Utara. radiasi dan pembedahan.1-7 Di Indonesia. Sumatera Utara dan Bali.8 Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif.8 Pengobatan meliputi medikamentosa. Sumatera Utara dan Bali.9.11 Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T.9. Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring. meluas secara bertahap menjadi nodul padat yang tidak sensitif. Uganda.8.13-16 Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara.8.2. subglotis.9 Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut. Bila tidak diterapi akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me- nimbulkan deformitas yang luas.2. dan dalam beberapa tahun akan mengisi dan menyumbat hidung. India. Eropa dan Afrika.8. PENDAHULUAN Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika Serikat dan Inggris. rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum perang dunia ke dua.2 Belinoff melaporkan 94. mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung.7 HISTOPATOLOGI Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo- Cermin Dunia Kedokteran No. 144. lingkungan hidup yang tidak sehat dan gizi yang jelek. Rumania.8 ETIOLOGI Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis yang merupakan basil Gram negatif. Kolumbia. Mesir. tapi endemik di beberapa negara di Asia. Philipina dan Indonesia.8 Fisher menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan. Sumatera Utara dan Bali. di Indonesia terutama di Sulawesi Utara. Nigeria. Firmansyah Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.10 Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma.5. 2004 13 .8-10 Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870).1. Guatemala. Rizalina A Asnir. Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini. trakea dan bronkus.2.2-4.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinoskleroma Delfitri Munir. Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis). Kasus pertama ditemukan oleh Snigders dan Stoll (1918) di Sumatera Utara.5 % terdapat pada golongan pekerja kasar seperti petani.7. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah.1. Adam Malik. tetapi sering pada dewasa muda. Medan ABSTRAK Rinoskleroma merupakan penyakit endemik. Ukraina.1. Amerika.11.6.

Toppozada mengemukakan bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat pada penyakit ini. laring.710. serologi (test komplemen fiksasi. 3. histopatologi. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian dikenal sebagai basil dari Von Frisch. Lebih lanjut rongga hidung mulai dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan.2.9 Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa. Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya. Kemudian terjadi invasi.15 1.8. mudah berdarah. Di samping itu terdapat pula sebukan sel-sel plasma. Stadium granulomatosa Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik. radiasi dan tindakan bedah. Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras. permukaan licin tanpa ulkus. tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik. jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada sitoplasma.6. 2. di samping keluhan hidung tersumbat juga sering terjadi perdarahan dari hidung. Russel body. Antibiotik yang dapat digunakan antara lain: . histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel).11. Stenosis. yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk. Sikatrik) Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak. namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan.3.7.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis. Eksudasi) Ditemukan pada usia sekolah.Stadium III (Skleromatous. Sel-sel ini menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan diagnosis penyakit rinoskleroma.Stadium II (Granulomatous. dapat ke arah posterior (nasofaring) maupun ke depan (nares anterior). Medikamentosa Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif. Dari pemeriksaan. pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior.13-15 Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif. GEJALA KLINIS Gejala tergantung pada area. Sifilis. tetapi hasilnya belum memuaskan.8-11. kemerahan. trakea dan bronkus.Tetrasiklin : 1-2 g/ hari .810. Koksidioidomikosis c.8 1. ditambah dengan pemeriksaan penunjang seperti radiologi. 2004 . Jamur : Histoplasmosis.7.11 14 Cermin Dunia Kedokteran No.8. Lepra b. Dimulai dengan cairan hidung encer. Stadium kataral/ atropik Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi. Atrofi. Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler yang sangat besar. Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan. . hiperplasi pseudo epiteliomatosa. kavum nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah. bakteriologi. Siprofloksasin.15 Diagnosis Banding2.1. Blastomikosis.14. sering seperti rinitis biasa. Proses yang sama dapat terjadi pada mulut.Stadium I (Kataralis. Pada stadium II. perluasan dan lamanya penyakit.14: . Pada stadium I. kemerahan. Pada stadium ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius bagian bawah. dapat terjadi gangguan penciuman.9.Rifampisin 450 mg/ hari .2. Wegener granulomatosis PENATALAKSANAAN Meliputi : medikamentosa. Stadium sklerotik Fibrosis yang luas. berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel permukaan.9 Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia. limfosit dan histiosit.12 1. Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz.patologis yang khas. Sporotrikosis. Gambaran penyakit pada stadium ini tidak khas. laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi.2. konsistensi padat. faring. hanya pilek yang tidak mau sembuh dengan pengobatan biasa. tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan.Khloramphenikol. sakit kepala. Proses infeksi granulomatosa a. Pada stadium ini biasanya penyakit mudah dikenali. Sarkoidosis 3.8 Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan. Bakteri : Tuberkulosis.1. 144. kemudian diikuti cairan mukopurulen berbau busuk. Klofazimin1. kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut dan penyempitan jalan nafas. sumbatan hidung yang berkepanjangan. Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung.1 Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1.5-1 g/ hari . yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2.6. Noduler) Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis. Infiltratif. Radiasi Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod.13. test aglutinasi) dan imunokimia. . Parasit : Leismaniasis mukokutaneus 2.Streptomisin : 0.10 2.

3. 1997.com/diseases/rhinoscleroma. Ed III. Balenger JJ. Jika terjadi sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus dilakukan trakeostomi.32/micro/v17n04. 12. Buku Ajar penyakit THT. http//www. 15. Infections of the nose. Ed VI.9. Ear. 1990. 14. 11. Laring. Yigla M. 1993.Orbita : proptosis.103. h 368-70. USA: WB Saunders Co. Ramalingam KK. Ed X. Great Britain: 1997. faring dan telinga. 1851-52. 1994. h 224556. June 2000. 1991. Tjekeg M dkk. h 457-66. Hilger PA. Rinoskleroma di RS. uvula. Laryngotracheobronchial involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma. Vol IV.Telinga bagian tengah (otoskleroma) . Cermin Dunia Kedokteran No. 1997. 5. Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI. 4. No 4. Dr. Binarupa Aksara. Benign Tumours and Granulomas in Nose.org/departements/endocrine/case/dec00/december2 htm.muni. In Scott-Brown’s Otolaryngology.7. EGC. h 4/8/34-35 Rhinoscleroma http//www. Department of pathology.9 4. p. komplikasi dapat juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa) dan berdegenerasi maligna. Desasouza S. Chitale A. Vol III. In: Otolaringology. Wiratno dkk. Pembedahan Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung. In Otolaryngology. 1990. Vol III. 3. Masna PW. 61. Pranowo S. Throat and Ear. p. Granuloma kronis pada muka. Dalam Boies (ed). Ben-izhak O. 7. Pfaltz CR. 10.1 KEPUSTAKAAN 1. Jakarta. 16. New York: Thieme medical publishers inc. Shapiro J. p. htm Colman BH.129.162. 1998. asfiksia dan kematian.Palatum mole. January. 2089. 1983. h 210. p. Sydney: March.htm. 8. http//www. Monduzzi.1. Butterworth-Heinemann. Groves C. atelektasis paru. In: Diseases of the nose. Jilid I. orofaring 2. ed IV.atlases. 144. throat and ear and head and neck. ed 13. h 128-34. Infectious disease of the paranasal sinuses. http//www. Intrakranial Di samping akibat perluasan penyakit. Sreemamoorthy B. Jakarta.Sinus paranasal . Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial. p. Suardana W. Agustus. Diseases of the nasal cavity. Oren I et al.4. kepala dan leher.16 KOMPLIKASI Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke : 1. Infective rhinitis and sinusitis. In A Short Practice of Otolaryngology. 2. 206-7. 9. Surabaya. 3. hidung. nose and throat diseases. Medan. tenggorok.13. p. Wilson WR. Fried MP. 6.ce/atl-en/sect-sect-58/html. Kariadi Semarang.14. ed I India: All India Publishers. In XVI World Congress of Otorhinolaringology head and neck surgery. 40.1. Maran AGD. Vol 1. Acute and chronic laryngeal infections. hidung. Chest. Dalam: Penyakit telinga. PG Publishing. Juli.afip. Scleroma. 1991. 4. Penyakit hidung. 2004 15 .10. Longman Singapore Publ.thedoctorsdoctor. Becker W. kebutaan . Beberapa aspek penyakit rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar. Nauman HH. sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas. Ed III. sehingga pengangkatan dapat dikerjakan dengan mudah secara intranasal. Montgomery WW. Ed VI. Vol 17. Wein N. 1980. Organ sekitar hidung : .Dilatasi Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total.Saluran lakrimal (dakrioskleroma) . Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII PERHATI. USA: WB Saunders Co. Ahmad M. 1993. 13. 603-7. Ed II.

Dijumpai 16 Cermin Dunia Kedokteran No. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan.000 penduduk per tahun. Yang disebut KNF adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini. pola hidup. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia. atau gen HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. putusnya kromosom (chromosome breaks) dan delesi pada sel sel somatik. Sebaliknya. sedangkan angka rata rata di Cina bagian selatan berkisar antara 20 per 100. faktor eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal.000 penduduk. kanker payudara dan kanker kulit. Sebagian lagi bersifat diturunkan Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu. Jakarta PENDAHULUAN Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang disebut sebagai mekanisme karsinogenesis. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. Sel akan tumbuh tidak normal dan berlebihan. di samping Mediteranian. Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini.7 kasus baru per tahun per 100. tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring. maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol. diasin). Cipto Mangunkusumo. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan.3 Sekalipun termasuk ras Mongoloid. 2004 lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita. pajanan pada bahan kimia atau oleh virus. Berbagai kekacauan struktur ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar. Catatan dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan ke empat setelah kanker leher rahim. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). yakni 4. Perubahan genetik ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak terkontrol. Susworo Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir R. Antara lain disebutkan faktor makanan. apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran tersebut. dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. 144. seperti perokok berat.000 penduduk1. bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih. Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi.000. Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per 100. kulit hitam dan Hispanics. bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya KNF. dan beberapa ras di Afrika bagian utara. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi.2 Bandingkan dengan negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka kejadian 1 per 100. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini. misalnya kelainan pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium). . bangsa Korea. KANKER NASOFARING (KNF) Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari langit langit lunak. Bermula dari terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme pertumbuhan sel. seperti konsumsi lemak yang terlalu tinggi. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini.

akibatnya terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang juling. capsid antigen dan early antigen. Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF. (yang dinamai sesuai dengan penemunya. Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. seperti foto paru.000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0. Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai konskuensi terhadap tujuan pengobatan. Sedangkan pemeriksaan lain. Di beberapa bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih. Epstein dan Barr pada limfoma Burkitt pada 1960). Pemberian pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama. 144. debu kayu serta asap kayu bakar. Selain gangguan motorik. Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan nasofaring. Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid. Saraf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata. keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah. Keluhan telinga dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar. Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan otak saja.5 per 100. Pada 1966. telur asin. GEJALA KLINIS KNF Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada penderita KNF. Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain. Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18. PENGOBATAN Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi radiasi.000 penduduk). Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura. infeksi EBV dan penggunaan CHB6.5 per 100. 2004 17 . Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style salted fish). Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (Chinese herbal medicine= CHB). pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis di organ-organ tersebut. Untuk menegakkan diagnosis. seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV. Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus menerus. pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). kadang kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga. Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. CT scan atau MRI nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. 4 Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV). Di samping itu pemberian khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker Cermin Dunia Kedokteran No.000). sampai saat ini belum ada metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF. Yang selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya muncul salah satu gejala akibat KNF. Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya. Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga menyulitkan tindakan radioterapi. disusul oleh keturunan Melayu (6. Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa. terlebih pada stadium dini. Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. pendengaran sedikit menurun serta mendesing.5 per 100. Berbeda halnya dengan kanker leher rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik Papanicolaou dan mamografi.Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan. KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein Barr. maka dapat dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut. Pembesaran kelenjar leher merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. banyak kasus yang terlambat didiagnosis. selain gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding nasofaring dengan alat endoskopi.5 Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti udang asin. Manakala pasien merasa bahwa kelenjar leher menjadi makin besar. Pada keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau keduanya. Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali menyerang saraf pusat yang keluar dari otak. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. predisposisi genetik dan pola makan tertentu. Lendir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. USG hati.

Pengobatan radiasi. 1997. Cancer in Asia and Pacfic. Yu MC. terutama pada kasus dini. 2nd. Jakarta Indonesia 1988. The flame of glory is the torch of the mind 18 Cermin Dunia Kedokteran No. Vol. Ferlay J. Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi. 603 –18. Soetjipto D. 1996. bahkan setelah selesai terapi. Ho JHC. 143. Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala seperti yang diutarakan di atas. Hildesheim A et al. Henderson BE. 80: 827–41. Raymond L. Henderson BE. In: Schottenfeld D and Fraumeni JF (eds). 4. Syafril A. 3. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar. 7. Estimates of the world-wide incidence of 25 major cancers in 1990. 2. Yusuf A. KEPUSTAKAAN 1. (Eds). 1990. France : IARC Scient. Ross RK. NPC in Chinese – Salted fish or inhaled smoke? Prev Med. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. and risk of nasopharyngeal carcinoma. memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar. Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan. N. Ferlay J. Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. Int J Cancer. 6. PENUTUP Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang spesifik. Cancer epidemiology and prevention. (Lihat lampiran/ halaman 19). Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. 1992. p. Susworo. YKI. 1981. yakni dengan memasukkan sumber radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di sekitarnya. York: Oxford University Press. Lyon. Pisani P. pada umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang memuaskan.yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi. Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna. Nasopharyngeal cancer. Yu MC. In : Tjokronagoro A. 2004 . Epstein Barr virus. Whelan SL. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula. Metode brakhiterapi. pasien akan selalu diawasi oleh dokter. Publ. dapat menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator linier (Linear Accelerator atau Linac). Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. Himawan S. 52: 3048 –51. Parkin DM. ed. Bila saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa sisa makanan ini berkurang. Berkonsultasi ke dokter keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan tindakan yang tepat. Nasopharyngeal carcinoma in Dr. Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas. Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada mukosa dasar tengkorak. Djakaria M. Young J. IARC Press. mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). Herbal medicine use. Cancer Incidence in Five Continents. bawah serta klavikula. Cipto Mangunkusumo General Hospital. Azis MF. 471–86. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah memilikinya. 144. No. p. Cancer Res. 10: 15-24. 5. karies gigi akan lebih mudah terjadi. EFEK SAMPING PENGOBATAN Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan. Fachrudin D. Parkin DM. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa negara maju.

Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang ternyata merupakan metastasis dari KNF Gambar 2. Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 19 . Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala. 144.LAMPIRAN : Gambar 1. Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi. Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator) Gambar 3.

catarrhalis PENDAHULUAN Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. Ani Isnawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 53. Streptococcus βhemolyticus 6. Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh bakteri (kuman). Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut adalah 73.HASIL PENELITIAN Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat Retno Gitawati. terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah. dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat”. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans. Branhamella catarrhalis. salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam.9 %. Kata kunci : Tonsilo-faringitis.8 %.3 %. termasuk Indonesia.11%.52%. baik infeksi saluran per20 Cermin Dunia Kedokteran No.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. B. Metoda penelitian cross-sectional. Streptococcus β-hemolyticus.82%. yakni sebesar 68. Betalaktam. 40% dan 80%. Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam. Streptococcus pneumoniae 3. serta lebih dari 50% penyebabnya . Streptococcus sp. Branhamella catarrhalis 22. 2004 napasan atas maupun bagian bawah. 144. terutama infeksi pernapasan akut (ISPA).2%. usia 5-15 tahun 29. dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai bulan Nopember 1999.1 %.04%. Lima spesies terbanyak adalah: Streptococcus viridans 54. Departemen Kesehatan RI. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47. 87.5 % dan dewasa 23. Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%.5%. Jakarta ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 20%.

tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda detritus. sedangkan terhadap Penisilin-G dan amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah. Semua subyek telah menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent.9%). (Tabel 1).9) 8 (6. dan Haemophillus(2). yang memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 1999. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni. dan kotrimoksazol(4). dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam. dengan cara atau rumus sebagai berikut: % R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman “Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 + (% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Z”)/100. berturut-turut 9. Yeast (ragi) Staphylococcus aureus Alkaligenes dispar Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus epidermidis Jumlah Jumlah (%) 71 (54.46 %. Cermin Dunia Kedokteran No. Tabel 1. dan memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C. 2004 21 . Staphylococcus.82%) dan Klebsiella pneumoniae (3. kecuali terhadap Cefradin. Branhamella.43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas. Untuk kuman S. yakni sebesar 68.05%). Streptococcus β-haemolyticus (6. Proteus.53) 1 (0. Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut. Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen tenggorok No.71 %. Streptococcus non-haemolyticus (3. batuk.04%. 1. Isolat-isolat kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya terhadap antimikroba betalaktam. berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut 31. terhadap antimikroba golongan betalaktam. Klebsiella. 144. Pseudomonas.11) 5 (3. kadang-kadang disertai folikel bereksudat. Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin. Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI.82) 5 (3. Kuman ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab endokarditis. hiperemis.93% dan 5. 8. dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya. hampir sama dengan yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4.adalah virus(1).4 % .35%.82) 4 (3. 9. 2. (R = resistensi) Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3). dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun. 3. yakni golongan penisilin dan sefalosporin. dengan sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat. Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus viridans (54.11%).76) 1 (0. Escherichia. makrolida.2) 30 (22.05) 2 (1. sifat hemolisis agar darah. 12. B hemolyticus diperoleh 6. Jenis (spesies) kuman Streptococcus viridans Branhamella catarrhalis Streptococcus β-haemolyticus Streptococcus pneumoniae Streptococcus non-haemolyticus Klebsiella pneumoniae Acinobacter spp. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat pada suhu 370C selama 24 jam. BAHAN DAN CARA Desain uji adalah studi kasus cross sectional. yakni dengan mengukur zona hambatan. 6. sakit menelan. Streptococcus pneumoniae (3. Branhamella catarrhalis (22. 11. dan hasilnya menunjukkan profil resistensi (Tabel 2).53) 2 (1. Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA.53) 2 (1. tetapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 % dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25. khususnya terhadap kuman penyebab ISPA. DISKUSI Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif.82%). fermentasi karbohidrat. Antimikroba golongan betalaktam. Kuman hasil isolasi diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada media Mueller-Hinton. Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S. 4.2 %.76) 132 (100) usap Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000). terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam. Jumlah subyek sebanyak 83 penderita. 7. Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari usap tenggorok antara lain Streptococcus. 10.2%).76) 1 (0. HASIL Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis. Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap antimikroba betalaktam. viridans sebanyak 54. 5. termasuk jenis antimikroba yang diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas. dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama sakit. dan memerlukan terapi antimikroba. dan uji-uji khusus lainnya.

33 3. Streptococcus β-hemolyticus 6. Antimikroba Cefradin Penisilin-G Ceftriakson Cefotaksim Amoksisilin Cefotiam Cefpirome Sulbenisilin Cefepime kuman usap tenggorok terhadap % total resistensi 68. akan tetapi 9 % penderita meninggal dunia.9 6. 144.04 9. 8. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi bakteri yang sensitif. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. Dwiprahasta I.23 4. KEPUSTAKAAN 1.11%. aeruginosa S. β-haemolyticus S. Cefota = Cefotaksim.82 %. 5.05 1. 3. 4.0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Amx 2.turut adalah Golongan B Laktam.2 %.2%.53 1.33 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefep 0 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefrad 73.05 2.9 %.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. P.52 2. Penulisan resep oleh dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin spektrum luas sebanyak 53. non-haemolyticus K. Resistensi kuman S. Sulb = Sulbenislin.82%. 5.67%. 2.82 0 0 0 0 0 0 100 50 100 100 0 Sulb 0 0 0 0 0 0 0 100 0 100 0 0 Cefpi 0 3.82 3.76 % resistensi antimikroba Cefoti Ceftri Cefota 1. diikuti oleh Penicillin G dan Ceftriakson. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga mungkin sudah banyak terjadi resistensi. epidermidis PeG 2.93 6. KESIMPULAN Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies. pneumoniae Acinobacter spp.04 %. Yeast (ragi) S. penisilin spektrum sedang dan sempit 13.0 80. Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob di Bidang THT. Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi bakteri gram positif. Abdoerachman H. bahkan sefalosporin sudah berkurang kemampuannya.52 87.5%. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%. 12. makrolid 15 %. Streptococcus pneumoniae 3. Ceftri = Ceftriakson.2 % dan 66. 60% dan 20%.82 3.0 %. 1996.. lima kuman terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54.Tabel 2. Makrolid dan Fluorokuinolon.53 0. sefalosporin 7.35 3. Departemen Kesehatan R I.04%. Fachrudin D. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam % Isolat kuman 54. 46(9): 467-76. 3. MKI 1987.8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986) sebesar 3.viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2. Tabel 3.48%. Cefrad = Cefradin.5 40. 7. aureus 0 %. selain itu dapat terjadi resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan. 9. kecuali sefalosporin generasi ke tiga (11. Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12 miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan di rumah sakit berturut .0 100 0 100 0 100 100 0 Keterangan: PeG= Penisilin-G. Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan.7 % dan 96. 4. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala. sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0. 2. Josodiwondo S. Cefep = Cefepime.53 Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah terhadap Cefradin sebesar 68.29 1. sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat minimum (MIC) kuman dan kesembuhan. aureus Alkaligenes spp. Dirjen Binkesmas. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik.0 0 0 0 0 20 0 0 50 0 100 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 Isolat kuman S. MKI 1996. Branhamella catarrhalis 22. . Amx = Amoksisilin.41 4. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Penisilin G adalah 70%. Berkala Ilmu Kedokteran 1997 . Total resistensi isolat antimikroba betalaktam No.87 5.viridans dan S. catarrhalis S. . MKI 4 (2/3): 56-60.11 3.2 22. tidak jauh berbeda dengan resistensi kuman S.82 30. Untuk mengatasi bakteri gram negatif tampaknya penisilin. Cefoti = Cefotiam. Di Indonesia untuk infeksi pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan ke empat setelah eritromisin. namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S.57 5. amoksisilin dan ampisilin(2).7 %. Trihendrokesowo dkk. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut– turut adalah 46. pneumoniae S. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute respiratory infections for the under five children among general practitioners. 26.0 20. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba Saat Ini.76 0. aureus terhadap Penisilin G dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3.33 53. karena mampu 22 Cermin Dunia Kedokteran No. . viridans B.12). 6.53 1. 1. 2004 menghasilkan enzim betalaktamase. tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin bahkan juga terhadap golongan sefalosporin. Cefpi = Cefpirome.33 0 0 0 0 20.Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian berlebihan akan mempercepat resistensi.05 )(10). 2 (1): 6-12.76 0. yakni sebesar 68.7 %.23 0 3.

: 0778-7024522. : 021-3928658. distribution of phenotypes related to beta lactamase production. Jakarta. (Respina V) 5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit Dalam (PIB V IPD) FK Unand Recent Advances and Challenges in Endoscopic Surgery in Asia Pacific 26-29 Tempat dan Sekretariat Lt.id Hotel Sahid Jaya.or. Fax : (021)-3913982 Website : www. Jakarta Telp. Sugito. Sirot J. 6684878 Email : elsabali2004@globalmedicaonline. Management and Therapy in Critical Care Medicine Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3 dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan Produktivitas Kerja The 6th Int. Batam Telp.com 10-11 12-14 Juli 13-15 16 16-18 31-1/8 17-18 25-26 September 30-3/10 2nd Indonesia . : 0274-587555. How is the Benefit for Family Doctors The First Indonesian Symposium on Interventional Pediatric Cardiology Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak IDAI PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas " Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular III & KARIMUN III Konker PGI-PEGI-PPHI PIT IX Ilmu Penyakit Dalam 6-8 11-13 Agustus 13-15 28 Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes 11th International Symposium on Shock and Critical Care : New Insight in Diagnosis. 9.id Jakarta Convention Centre Telp. Bandung Telp. Jones A. In : Rolinson GN.or. rs.or. 6685006 Fax : 021-4535833. Wibisono MY. Hartono TE.com/index. Watson A.id/calendar>>Complete Cermin Dunia Kedokteran No.co. 6685070. : 022-2534115. : 021-4532202. Batam Telp. Saulnier P. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic Therapy.itb. Fax : 021-3914830 Website : www. Bali Telp.kalbe. 2004 23 . : 021-3919653. Sirot S. Kariadi Semarang. : 0274-37430. Bandung Telp. Fax : 021-3919653 Email: iisic2@pharma-pro. Nukman R.or.internafkunand. : 0751-37771. 11. 10. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae.obgyn-bandung. Ringroad Selatan Yogyakarta Telp. Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia.International Symposium on Infection Control Informasi terkini. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI.pluit@rad.com Web-site : www. Faks. Laporan penelitian 1998. : 022-2039086 / 2035042.pluit-hospital. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI .fkumy. 1242.id Karawaci.ac.interna. KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004 Bulan Tanggal 10 Kegiatan Telemedicine Network in Indonesia.php Hotel Bumi Minang. roga@biotech. Rai IB. Yogyakarta Telp. Gedung AR Fachruddin. Fax : 0274-565639 E-mail: pututby@email. Beta Lactamase. 12. 8. Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah. J Internat Med Res 1986.: 021-79184052 Website: http://www. Amsterdam : Excerpta Medica 1980. Antibiotik Beta Laktam.idai. Telp.co.org KPP Bioteknologi ITB. Surakarta. Jakarta Telp. Med Progr January 2003.net.id Jakarta.net. 6-17. 7.id Bali. Telp.id Hotel Planet Holiday. : 021-5684085 ext. Fax : 021-56961530 E-mail: iqbalicu@idola. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Herman MJ.1988. Tarigan HMM.id Bali International Convention Center Telp.or.net Hotel Planet Holiday. Surakarta . 144. Suprihati. : 021-4786 4646.id Website : www. Tangerang Telp. (eds). Bag Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP.com Hotel Sahid Jaya. Fax : 021-3928659 E-mail : endocrin@rad.com. 1988. Slombe B.net. Fax : 0778-421352 E-mail : pitika2@idai.id Hotel Horison. 14:193-9.com. : 021-330956. 5.id Hotel Grand Hyatt. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr. Occurrence and Classsification. : 0274-37430 Website: http://telmed.3907703.idki.6. Fax : 022-2035042 E-mail : pitpogi14@obgyn-bandung. Pola bakteriologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa.respina. Idajadi A. : (021)-3148610. Meeting on Respiratory Care Ind.com Website : www.org website : www. detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www. : 021-31934636. 1994. Fax : 021-4786 6543 Email : info@respina. Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin. Padang Telp. Fax : 021-3161467 Hotel Sheraton Mustika. Fax : 0751-37771 Email: pibipd@yahoo. Fax : 022-2511612 E-mail : roga@scientist.

Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar. Secara definisi. Hal ini perlu diketahui. 144. suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. Secara umum tekanan suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. Di telinga tengah ini. Jakarta PENDAHULUAN Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang disenangi. 2004 mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising terhadap kesehatan tenaga kerja. gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis. penurunan kemampuan kerja. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja Novi Arifiani Subdepartemen Kedokteran Okupasi. sangat luas. melakukan deteksi dini dan pengendalian bising di tempat kerja. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini. bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan. namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu. sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi pendengaran. cara mendeteksi gangguan pendengaran akibat kebisingan. tengah. alat-alat transportasi berat. serta tatalaksana gangguan pendengaran akibat kebisingan. Misalnya. gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan. maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang berasal dari jalur ini. namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi. Pembahasan pada tulisan ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap kesehatan terutama kemampuan pendengaran. Respon auditorik Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna. cara yang digunakan untuk . Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi). Telinga luar berfungsi 24 Cermin Dunia Kedokteran No. telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar. biasanya di atas 120 dB. dan lain sebagainya. Anatomi Telinga Secara anatomi. dan dalam. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. Konduksi Tulang Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah. bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia.Bising yang di dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising di tempat kerja. Untuk itu. Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin.

maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. Untuk menghindari kelelahan auditorik. Pemahaman percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu. Lokalisasi Sumber Bunyi Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga. dsb). namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. dan durasi. nilai ambang di atasnya. Masking Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara adalah masking. Kemampuan ini penting untuk memilih suara yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak ingin didengarkan. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea. Sensitivitas Pendengaran Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. Kemampuan telinga untuk membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara yang vertikal. atau kerusakan langsung organ Corti. dsb). Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. Kekuatan suara Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan. 2). serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga. Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga sebagai kuat atau lemahnya suara. pendengaran orang tersebut berkurang. Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara masking tersebut. dengan kata lain. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz. Noise-Induced Temporary Threshold Shift Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal. Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh masing-masing telinga. GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran. dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. atau suatu alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik berdasarkan frekuensi. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap. Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar. Trauma Akustik Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. di udara terbuka. maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat. Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata. Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara. makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga manusia. dan waktu yang didengar untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut. karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. kerusakan tulang-tulang pendengaran. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat. maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. 2004 25 . yaitu trauma akustik. Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara tersebut. pengeras suara. Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam. Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan adanya suara lain. 144. Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut. 3). Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band. amplitudo. Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen. dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga. yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)). Pada trauma akustik. perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift).mendengar suara tersebut ( melalui earphone. Makin tinggi tekanan udara.

untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara. bahwa keadaan bising di lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya. tidak jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis. Efek jangka pendek Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot. sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain. kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan. spektrum suara. untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini 26 Cermin Dunia Kedokteran No. Memeriksa pendengaran Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. Weber. jenis kelamin. dan sebagainya. Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi. dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini. serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. 2004 merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan. Namun perlu diingat. meningkatnya tekanan darah. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne. berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan (Gambar 1). berbicara dengan suara menggumam. dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif.setelah pajanan suara. gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. dan 6000 Hz. getaran. obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen). Namun dapat pula terjadi respon pupil mata berupa miosis. dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia. serta aktivasi hormon kelenjar adrenal seperti hipertensi. Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry. seperti faktor fisika lain berupa panas. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat gangguan saraf otonom. dan sebagainya. Bila sudah terjadi kerusakan. faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara. mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya faktor risiko. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising. Efek jangka panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang berulang. 3000. 4000. trauma telinga karena agen fisik lainnya. untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. serta faktor-faktor lain seperti usia. dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga. dan pola pajanan temporal. Secara sederhana. hidung. dilakukan pemeriksaan audiometri. serta dapat terjadi pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang paling rentan adalah paru-paru). respon gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas sampai timbulnya keluhan dispepsia. frekuensi yang diuji. sedangkan efek jangka panjang terjadi sampai beberapa jam. durasi pajanan. 1000. 2000. Efek jangka panjang Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh hormonal. hari ataupun lebih lama. EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang. Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit setelah pajanan terjadi. dan sering timbul tinitus. refleks pernapasan berupa takipneu. Pada pemeriksaan fisik. dan sebagainya. alat transmisi ke telinga. tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. spektrum bising. 144. Noise-Induced Permanent Threshold Shift Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia. serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising. tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini. durasi total pajanan. sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek. bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik. pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik. Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi. . pengukuran impedance. Dari data observasi di lingkungan industri. status kesehatan. tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan. jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara. Pemeriksaan telinga. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan. Untuk menilai ambang pendengaran. Pada skala frekuensi. disritmia jantung. tes rekruitmen. biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal).

Namun penelitian efek kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan dengan seksama. Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari. pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya deteksi dini pula. Survei kebisingan di tempat kerja harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang . Selain itu. Pemeriksaan audiometri pra kerja merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal kondisi pendengaran tenaga kerja. KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA AKIBAT BISING Faktor akustik. riwayat pelatihan militer. namun pada pemeriksaan efisiensi kerja terlihat pengaruh yang cukup bermakna. keluhan utama. kondisi geografis dan lokasi fisik pekerjaan. Jika dipergunakan alat bantu dengar. PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. 2004 27 Iskemaia Jantung Infark Miokard Stroke Gambar 1. kondisi medis. dan permasalahan hukum harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. riwayat keluarga. Benar telah terjadi kehilangan atau gangguan pendengaran dan 2). riwayat pekerjaan. durasi masing-masing pekerjaan. Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara dini. Hearing conservation program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan ini. pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan di lingkungan kerja. Suara yang asing. Cermin Dunia Kedokteran No. Dan gangguan pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di tempat kerja yang berlebihan. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan). penderita tuli akibat bising ini juga sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume. tinggi rendah dan irama percakapan. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. interupsi suara berulang. barang atau jasa yang dihasilkan.Bising Reaksi Stres Umum akibat Kenaikan Adrenalin dan Noradrenalin Kenaikan Tekanan Darah Respon Vegetatif Peningkatan Kebutuhan Oksigen Peningkatan Agregasi Trombosit Kerusakan Dinding Arteri Trombosis Arteriosklerotik Oklusi A. Namun tetap perlu hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang kemampuan atau performa kerja. jenis pekerjaan yang dilakukan (beserta tanggal atau waktu bekerja). perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir. terutama pada lingkungan industri. Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan bising di tempat kerja adalah 1). Penggunaan alat pelindung telinga. Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. Koroner Oklusi Arteri Lainnya terjadi. gangguan pendengaran yang saat ini terjadi. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap pemeriksaan tersebut. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. suara di atas 95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja. Pada awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang timbul akibat bising. tanggal bekerja dan umur saat itu. 144. Pelaksanaan program pemeliharaan pendengaran (hearing program conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan di tempat kerja. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan menanyakan nama pekerjaan. Pemeriksaan ini bersifat subyektif. riwayat penyakit dahulu. Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar. Jika pendengaran sudah sedemikian buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat menerima keadaannya. Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea.

McGraw-Hill Book Comp. Menilai ada atau tidaknya nistagmus 5. St. Jakarta : 2001 Department for Environment. 2. Noise. Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi.penggunaan alat pelindung diri. 144. Mosby.htm. Occupational Hearing Loss. 2004 . Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga. adakah tanda-tanda abnormalitas 3. Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan adalah: 1. Iskandar N. 2004. (chief ed). 4. http://www. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. In . Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berbeda di masing-masing negara. Handbook of Noise Control. dan hati-hati untuk menghindari kesalahan prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja. Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan secara teliti. sumber suara atau kebisingan yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini). harus dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja tersebut. Zenz C. Harris CM (ed). Pemeriksaan dengan garpu tala 6. Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa hantaran udara dan hantaran tulang 7. Louis : 1994 Soepardi ES. Edisi 5. dan Hearing Conservation. 2. KESIMPULAN Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas tenaga kerja. 2nd ed.gov. 3rd ed. Noise and Nuisance Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and Feasibility Study September 1998. New York : 1979. Nilland J. In : Zenz C.uk/ environment/noise/health/page05. Tes rekrutmen Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain.defra. Occupational Medicine. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Food and Rural Affair. KEPUSTAKAAN 1. February 6th. 28 Cermin Dunia Kedokteran No. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini cukup besar. Pemeriksaan refleks kedua mata 4. Bila terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja. Dickerson OB. cermat. Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai perhitungan kompensasi. 3. Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi suara 8. Horvarth EP.

Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter. gergaji sirkuler. Bising impulsif Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. Menurut WHO (1995). suara katup gas. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0. Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB. 3. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000. Ini diperkuat dengan penelitian Yenni Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas. kipas angin. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas 85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon. di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31. yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja Ambar W. Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL 27. Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss) atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%. tembakan. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih. Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran seperti susah tidur. dsb.105 dB (Sundari. Nada kebisingan dengan demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada.1 – 108. Bising terputus-putus Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise.5 detik berturut-turut. 1000 atau 4000 Hz). kebisingan di lapangan terbang dll 4. meriam dll. Pada kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27. Di Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran No. Pada pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91 dB (64 dB .55% pada tingkat paparan kebisingan 85 . dari jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana. 144. diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising melebihi 90dB di tempat kerjanya.96 dB).71%. Di perusahaan plywood di Tangerang. mudah emosi. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas.1997).2m/dt2.14% dan gangguan keseimbangan saja 27. misalnya suara gergaji sirkuler. Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi : 1. 2. jumlah seluruh gangguan mencapai 72. Di Quebec-Canada. melainkan ada periode relatif tenang.16 %. rerata akselerasi getar 4. Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara industri.2 dB (Lusianawaty). prevalensi NIHL 31. suara dapur pijar.28% dari 350 pengemudi bajaj yang diperiksa. Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja. 2004 29 . Apa yang disebut kebisingan Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara. suara katup mesin gas. gangguan pendengaran saja 17.43%. 1997) mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB dengan 50% NIHL. bising merupakan masalah utama kesehatan kerja. Penerapan program konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising.81% dengan paparan kebisingan 86. Roestam Subbagian Kedokteran Kerja.

gangguan komunikasi dan ketulian. 2004 .bersifat sementara . konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki. cepat marah. Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. Gangguan fisiologis Pada umumnya. tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja. Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb: • Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS . daya dengarnya akan pulih sempurna. yang dikaitkan dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut (Tabel 1). Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak.waktu pemulihan bervariasi .menetap PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. kurang konsentrasi. Ketulian bersifat progresif. b. peningkatan nadi. Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural.25 atau kurang 5. tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain. dan lain-lain. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula. susah tidur. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam. bising bernada tinggi sangat mengganggu.5 0. 1.patologis . Batasan waktu dan Pajanan kebisingan Intensitas suara (dB) OSHA Indonesia 90 85 92 95 88 100 91 105 94 110 97 115 100 Jam kerja terpapar 8 6 4 2 1 0. apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. 5. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg). Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah bising yang bersifat kontinu. sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. • Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap . karena suara impulsif dengan intensitas tinggi. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising. c. terutama yang memilikis pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi. 4. tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa. keselamatan tenaga kerja. Organisasi Pekerja Internasional /ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan ketentuan jam kerja yang diperkenankan. gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan 30 Cermin Dunia Kedokteran No. Tabel 1. PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN TENAGA KERJA Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja. gangguan psikologis. sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. Efek pada pendengaran Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian. daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali. seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara. Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut : a. dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap. yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan. Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis. 144.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja. Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari. namun bila terus menerus bekerja di tempat bising. seperti letusan. serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. • Tuli karena Trauma akustik Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba. 2.Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif.non-patologis . 3. intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising. Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari pengaruh buruk kebisingan. Gangguan keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang. kelelahan. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam.reversible/bisa kembali normal Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat. d. stres. seperti gangguan fisiologis. ledakan dan Di Indonesia.

Utamakan pencegahan bukan pengobatan. Problem dalam mendengarkan musik c. kesejahteraan bukan santunan. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat. antara lain: 1. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik. Berupa policy statement 3. 1994). menunjukkan itikad baik. dan lain-lain). Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI. Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. 3. 2. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting. Problem komunikasi di tempat kerja b. 3. menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses). Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan) Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja. 2. 6. jadwal kerja . Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur : a. 144. Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal. Occupational handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam bekerja dan memilih karir) d. Problem membedakan suara Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment terhadap disability berbeda pada setiap individu. Tuli ini biasanya bersifat akut.lainnya. Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan dalam melakukan aktivitas normal harian. Hearing Disability Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat hearing impairment. Cermin Dunia Kedokteran No. cepat sembuh secara parsial atau komplit. tinitus. Monitoring paparan bising 2. proaktif bukan reaktif. ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit). mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan. AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS SEBAGAI TENAGA KERJA Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja dibedakan atas : 1. Dukungan manajemen 2. misalnya : a. 1996): 1. biaya kesehatan yang membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan. Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut : a. c. Integrated dengan program K3 4. Kontrol engineering dan administrasi 3. dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana. Hearing Impairment Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS) 2. Program pencegahan ini dikenal dengan istilah Program Konservasi Pendengaran. Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja. 2004 31 . 1. 6. 5. Handicap Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya. terutama bila sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun. oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini perlu diprioritaskan. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis. Economic self-sufficiency handicap e. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising. langit-langit dan lantai. mengurangi angka kecelakaan. Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri) c. angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah. Problem mencari arah/asal suara d. namun merupakan pedoman. Bagi karyawan Mencegah ketulian. ruang isolasi. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri. Serta bisa mengurangi stres. tergantung fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan. Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program. Bagi pengusaha Taat hukum. mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding. 5. meningkatkan produktivitas. seperti respons terhadap alarm atau pesan lisan f. b. 7. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas 6. 5. PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI PENDENGARAN Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH. Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik. 4. mengurangi angka kesakitan. kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam mengikuti pembicaraan) b. rotasi kerja. Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. bersifat menetap (irreversible). Evaluasi audiometer Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE) Pendidikan dan Motivasi Evaluasi Program Audit Program Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja. menutup sumber kebisingan dengan barrier. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. Program selengkapnya adalah sebagai berikut : 4. hubungan baik dengan karyawan. Dilaksanakan oleh semua jajaran.

atau menggunakan APD 2. Penjadualan pengoperasian mesin 4. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di setiap lokasi. 2. memberi pelumas secara teratur. 3. . Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan. Annual monitoring 3. 3. pengukuran dengan peta. Evaluasi : . Mengikuti peraturan III.Bila perlu. konsul THT Lakukan revisi baseline.periksa dokter . yang sering juga disebut survei bising. 4. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti. EVALUASI AUDIOMETRI Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada : 1.bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz). Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai berpegas. ukur tempat dan ruang kerja. 6. Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). Monitoring bising terperinci Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan. Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA 3. catat lamanya terpapar (sekarang digunakan audiometer).untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam Ada 2 macam monitoring paparan bising : 1. berdasarkan lokasi tempat kerja. Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification. kecepatan putaran atau isolasi. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku. 7. Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). bila bising > 85 dB 4. alat pelindung telinga tidak akan memberikan II. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis). bila STS persisten atau membaik IV. SOP pengukuran harus ada dan jelas. 2004 . menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja. Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi 32 Cermin Dunia Kedokteran No. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai.periksa tempat kerja . sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran dan tindakan lebih lanjut (skala b). Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) . tenaga mesin.Bila belum menggunakan APD. dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran 5. Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat kerja. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara.untuk baseline 14 jam bebas bising. Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD.paling lama dalam waktu 2 minggu .periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun Bila STS (+) karena pekerjaannya : . Saat pindah tugas keluar dari tempat bising 5. 2. 144. lakukan tahap selanjutnya c. PENGGUNAAN APD Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga : 1. Pengendalian administratif dilakukan dengan cara : 1. Monitoring pendahuluan Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran.Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis . Mengatur jadual produksi 2. Saat pensiun/purna tugas Tipe audiogram : 1. bertujuan untuk : 1.jika karena penyakit. beri petunjuk ulang . b. diharuskan memakai .I. ukur maximun dan minimumnya. Exit Policy mengenai audiogram : 1. Base line atau data dasar : .dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA) . Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara periodik. contohnya : 1.setiap tahun dibandingkan dengan base-line . MONITORING PAPARAN BISING Tujuan monitoring paparan bising. Penempatan ke tempat bising 3. 4.engineering dan administratif Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap : a. Rotasi tenaga kerja 3. konsulkan ke dokter THT . Kecocokan. Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi. KONTROL . 5. 2. bila lebih dari 85 dB. Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk bekerja. dan lain-lain. Pre-employment/preplacement/Baseline 2. Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang. Pre-employment 2. Setiap tahun.periksa data kalibrasi alat . adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja. mengencangkan bagian mesin yang longgar. 2. 5. Prinsip monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut : 1.Bila sudah memakai..komunikasikan dengan karyawan tersebut . maka disebut + (positif) Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah : .

QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal. 3. Juga melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40. Cermin Dunia Kedokteran No. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. dengan sasaran : 1. pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan. Jenis-jenis alat pelindung telinga : 1. PROGRAM AUDIT 1. Kontrol engineering dan administratif. Hasil pengukuran kebisingan. 5. Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA 2. perusahaan harus menyediakan APD ini. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja. formable type b. misalnya pelatihan dan penyuluhan. dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. 2. EVALUASI PROGRAM Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi. bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program. sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri.perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat. APD yang digunakan. Kemudahan pemakaian. terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut. PENUTUP Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi pendengaran. identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut. Audit Eksternal. terus menerus untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran. 3. dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran. 2. kesertaan supervisor dalam program. Beberapa tipe sumbat telinga : a.50 dB frekuensi 100 – 8000 Hz. V. premolded type Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani. Nyaman dipakai. VII. 2. 2004 33 . Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka. Penyuluhan khusus. 2. Tidak saja untuk melindungi pekerja. 144. keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat. biaya. 4. Earmuff bila di atas 100 dBA 3. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi tinggi Pemilihan alat pelindung telinga : 1. custom-molded type c. 3. kemudahan membersihkan dan kenyamanan Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut : TWA/dBA < 85 85 – 89 90 – 94 95 – 99 > 100 Pemakaian APD Tidak wajib/perlu Optional Wajib Wajib Wajib Pemilihan APD Bebas memilih Bebas memilih Bebas memilih Pilihan terbatas Pilihan sangat terbatas APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya. perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. VI. tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai.

144.fkumy. 10 Juli 2004 Website : http://telmed.Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : Telemedicine Network in Indonesia di Yogyakarta.net Redaksi CDK 34 Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 .

pemeriksaan periodik kanul dalam. mengurangi efektifitas refleks batuk. trakeostomi juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea. Selanjutnya dikatakan. bukan dari saluran napas bagian atas. Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi(1). 144. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas. Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang diperlukan(2). Cermin Dunia Kedokteran No.PRAKTIS Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi HR Krisnabudhi ] Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus. akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea. yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif(4). pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff. Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan laring pada waktu menelan. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental. tidak ada korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas dengan bakteri dan flora trakea penderita. TRAKEOSTOMI Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen trakea. serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. humidifikasi buatan. perawatan luka operasi di stoma. akan diuraikan cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3). tekanan balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. Trakeostomi meniadakan mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior. bakteri dan flora di dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain. yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi. Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian atas. dan mengganggu gerakan penutupan glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah. Jawa Barat PENDAHULUAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalulintas udara pernapasan. Berdasarkan permasalahan tersebut. Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge. sering saling tertukar. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. mengganti kanul trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi. sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea. cara membersihkan kanul dalam. Selama di rumah penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea. Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon. Hal ini sangat penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat terbatas. Trakeostomi mengurangi ruang mati (dead space) anatomik sampai 100 ml. PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT TRAKEOSTOMI Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita tidak dapat berbicara. petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada penderita. Definisi yang tepat untuk trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea. karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara. Pada discharge trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai koloni bakteri. Keadaan ini menyebabkan penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi ludah ke dalam laring dan trakea. Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dengan kanul trakea masih terpasang. terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan penyempitan di daerah glotis. Bogor. 2004 35 . Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah.

teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. mungkin telah terdapat krusta atau mukus di dalam kanul. Jika udara rumah kering. Alat ini harus diganti setiap 3 jam. kasa perban. kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi. Discharge ini akan keluar bila penderita batuk. jangan diberi tekanan negatif. Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum. c).PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda asing akan merangsang pengeluaran discharge. b). Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering terbentuk di dalam kanul. Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti sesering mungkin. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. d). Pastikan tidak ada air memasuki stoma. c). Beberapa jam pertama pasca bedah. Membersihkan kanul dalam Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil. Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. paling baik membersihkannya dengan memakai kasa basah di atas kanul. pada saat dilakukan pengisapan atau pada saat penggantian kanul. Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. Petunjuk umum Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas tanggung jawab sendiri. Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril. Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. 2). Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan menjadi berbunyi. Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a). panci bergagang. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air sabun. Jika tergantung pada seseorang saat melakukan hal itu. dan cairan penggosok perak. uap air mengembun pada lempeng-lempeng metal dari kondensor. Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. b). Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. Cara membersihkan kanul dalam. penjepit. tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. Pada waktu ekspirasi. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan kelembaban relatif udara inspirasi. sebagai berikut: 1). Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi(5). kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang. Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. 144. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. Buatlah larutan sabun di dalam botol. Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul. Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a). lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut. Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan penderita saat dari rumah sakit. sehingga perlu dilakukan pengisapan. Condensor humidifier. campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui kotak plastik yang dilubangi. d). Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara inspirasi. Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan. siapkan alat-alat untuk resusitasi. Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. Krusta diangkat dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol. Akan timbul gangguan saat menelan. setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali. Angkatlah kanul dalam dan bersihkan. saringan. Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. Bila didapatkan sekret yang kental. Sebelum mengangkat kanul. laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. menggunakan lap atau kasa perban. Dengan adanya trakeostomi. Peralatan hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul. dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit. mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer). Alat ini dipasang pada kanul trakea. Angkat kanul dalam dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul 36 Cermin Dunia Kedokteran No. Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. Alat ini relatif lebih efisien. Sebelum melakukan pengisapan. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap. 2004 . dan hati-hati membersihkan kulit di sekitar kanul. Bila penderita bernafas spontan. dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat. karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. mungkin akan bermasalah. Kekurangan alat ini ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut fungsinya akan berkurang.

Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah dibersihkan. 3). cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. Gambar 2. Gunakan penjepit untuk membantu menarik kasa melalui kanul. Gambar 1. Setelah air mendidih. didihkan kanul dalam selama 5 menit. pelindung atau permukaan lempeng kanul trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk. kemudian bersihkan dan cuci. pita trakeostomi dibuka lebih dahulu. oleh karena itu tidak boleh dicoba untuk digores. 2b). ke depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai bagian dalam kanul dalam bersih. Biarkan kanul dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam kanul luar (Gb. Cara sterilisasi kanul dalam Logam bahan pada kanul perak sangat lunak. 2). 3). 1). Kanul harus bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang. Tarik kanul dalam ke belakang.dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. Goyangkan kanul dalam untuk mengangkat tetesan air. 7). Pembersihan kanul dalam Merebus kanul dalam Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1). rendam di dalam cairan pembersih perak untuk beberapa menit. 4). Masukkan kanul dalam ke tempatnya dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya. tuangkan air dari panci. Cuci kanul dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa menit di dalam cairan sabun. Angkat saringan dari panci bergagang. Cara mengganti kanul trakeostomi Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. krusta dapat diangkat dengan merendamnya. Tempatkan kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada panci bergagang (Gb. Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk membersihkan kanul dalam. 4). Untuk mengangkat kanul trakeostomi. 144. oleh karena itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah. 5). bahkan kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain.2a). Cermin Dunia Kedokteran No. Kanul plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang sama seperti halnya kanul perak. Adanya lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan dengan trakea. 6). 3). Setelah kanul dalam bersih. 2). Salep dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi untuk mempermudah memasukkannya. Bersihkan bagian dalam kanul dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada suatu tempat (Gb. dan siap untuk dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. menyebabkan kanul trakeostomi dapat dimasukkan dengan mudah. kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior. Jika kanul dari perak telah memudar. Pita trakeostomi yang digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. 5). kanul dalam dan luar dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain. Isi panci dengan air secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb. dan tempatkan kembali saringan dalam panci. 8). Biasanya. 2004 37 .

4” X 4 “ gauze pad Gambar 3. Lepaskan balon karet. Gb. Bersihkan alat-alat dengan air sabun. 144. Alas dada dari kasa trakeostomi steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit. Siapkan alat-alat. Mukus ini akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin. 3). Cara penggantian kanul trakeostomi Pada saat memasukkan kanul trakeostomi. atau jika kanul teriritasi. Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci.4). Pegang kateter dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan tangan yang lain. Potong satu lembar kasa membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci.Cara melakukan : 1). 4). hal yang penting ialah bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat pada kanul dibersihkan. Kateter karet tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul trakeostomi. semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau apotik bisa digunakan sebagai penghisap. 5). Gambar 4. Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. tempatkan kasa di atas kanul. khususnya bila terdapat drainase sekitar kanul. Tekan balon karet sebelum kateter dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi. Cara menghisap Banyaknya discharge mukus bervariasi. Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang 38 Cermin Dunia Kedokteran No. 2). mukus akan terhisap ke dalam kateter dan semprit. 4). untuk mengeluarkan udara di dalamnya. jika udara dalam rumah kering. kecuali jika ada instruksi khusus untuk melakukannya dari dokter. Penghisapan mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus. Jika mesin penghisap tidak didapat. penderita melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk. Cara penghisapan discharge Cara membuat kain alas di dada Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di bawah kanul trakeostomi. Di samping itu. Lipat 4 inci kasa pada tiap sisi. Lipat 1 inci pada tepi atas dan bawah. 2). 2004 . Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita trakeostomi diikat. Kanul trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah dalam secara halus. Peralatan tersebut sering dididihkan untuk memelihara kebersihannya (Gb. 5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan menggunakan alas di dada. Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul trakeostomi ialah sebagai berikut : 1). 3).

2). Adams GL. panjangnya 6 inci. 1). Perawatan trakeostomi mandiri meliputi petunjuk umum. 6).. Jika kasa tidak terlipat. In :Boies's Fundamentals of Otolaryngology. Tokyo : Igaku Shoin Ltd. 5th ed. kasa 4 x 4 inci. merebus kanul dalam. KEPUSTAKAAN 1. A Textbook of ear. RINGKASAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan lalulintas udara pernafasan. throat and ear. Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan. 1978 . Boies LR. Kasa 2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan untuk tiap alas dada. Dokter atau paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal perawatan kanul trakea. Pakaikan kasa trakeostomi alas dada. Pastikan tali pengikat pada permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman (Gb.5). Tracheostomy. Kasa 2x2 inci telah disetik pada tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi kanul trakeostomi. 1977 . Me Dowall GD. kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan melipat kasa dua kali. 2. Maran AGD. Me Klay K. 5). dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi. 3). Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di atas pita trakeostomi. Selama di rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. 6). Bireell JF. 5). mengganti kanul. nose and throat diseases. 4). 2004 39 . Me Kailum JR. Bristol : John Wright and Sons Ltd. Gambar 6. kasa 4 x 4 inci yang tidak terlipat. cara membersihkan kanul trakea. In : Logan Turner's Diseases of the nose. Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita trakeostomi dan lipat kasa ke atas. Satu tiap tepi dari kasa terbuka 4x 4 inci. Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul trakeostomi Gambar 5. Cara membuat alas trakeostomi Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih mudah tetapi sedikit lebih mahal. 5th ed. 144. menghisap discharge.dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita pada tempatnya. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi. 705-17. Tracheostomy. Paparella MM. masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. 1567-73. Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas. Petunjuk ini tergantung pada keadaan penderita saat pulang dari rumah sakit. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. Cermin Dunia Kedokteran No.

Inc. In: Ballantyne J. Putney FJ. Galood HD. Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea. Ann Otol 1975 . 91: 355-61. Davies J. 62 : 272-6. respiratory apparatus. Ann Otol 1978 . 688-708. 95: 61-8. 17. Otolaryngology. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree.3. Arch Otolaryngol. 5. An atlas of head and neck surgery. In : Ballantyne.obgyn-bandung. 11. 18. Victor LD. 89 : 521-8. Wright D. Long custom made plastic tracheostomy tube in severe tracheomalacia. Krikotirotomi. Lore JM. Laryngo-tracheoplasty. Complications and postoperative care after tracheostomy. Nose and throat. Steel PM. 88 : 589-97. J Laryngol Otol 1981. JAMA 1981. 1. Magilligon DJ. Batsakis JC. 15. 13. Ann Otol 1980. Grooves. Zorick FJ. Conway WA. Basic sciences and related disciplines. 1973. Skripsi di Bagian THT/RSCM. Martin WM. 19. Fujita S. 3rd ed. (ed). Roth T. Crawley BE. 8. 2nd ed. Ann Otol 1980. Tracheostomy and laryngotomy. Feldman SA. 4. Tracheal changes in relation to different tracheostomy technique (An experimental study on rabbits). nose and throat. 4th ed. Lulenski GC. Vol I. 13 – 15 Juli 2004 Website : http://www. 16. Toledo PS. 10. Embriology and anatomy of the larynx. 19 September 1981. The Otolaryngology board. Vol II. Paparella MM. 1973. Tood GB. 14. Tracheostomy and artificial ventilation in the treatment of respiratory failure. 107 : 114-6. Basic sciences and related disciplines. Shumrick DA. (eds). Bandung. Basic sciences. Olving JH. 12. 1979 . Lee KJ. Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : PIT XIV POGI “Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas”. Shumrick (eds). Siregar Z. 6. Evans JNG. London : Edward Arnold Ltd. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy. diaphragma and esophagus. Philadelphia : WB Saunders Co. Operative Surgery. Tracheal incision as a contributing factor to tracheal stenosis. Natvig K. J Laryngol Otol 1974 . 2nd ed. 1955. (eds). 1971 : 31-61. London : Butterworths. Co. 144. Philadelphia: WB Saunders. 84 : 781-6. 89 (suppl 73): 1-7. 1973 . 9.. 433-75. London : Butterworths.org Redaksi CDK 40 Cermin Dunia Kedokteran No. Scott-Brown's diseases of the ear. Vol. vol I. In: Paparella. Lulenski GC. 2004 . 1973 : 170-96. 1976 . Montgomery WW. Shapiro RS. Fundamental international techniques. Montgomery WW. 7. 246 : 34750. Evans CC. Comparison of five type of tracheostomy tubes in the intubated trachea. Otolaryngology. A preparation guide. Laryngoscope 1981. Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. New York : Medical Examination Publ. Silicone tracheal canula. 242-8. 87 : 99-108. Arch Otolaryng 1981 . An experimental study. 20. Philadelphia : WB Saunders Co.

2004 41 . Bagan Sistim Keseimbangan Manusia Cermin Dunia Kedokteran No. serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya. Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang. umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan. yang sering digambarkan sebagai rasa berputar. relatif kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki. Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Vertigo: Aspek Neurologi Budi Riyanto Wreksoatmodjo Rumah Sakit Marzuki Mahdi. 144. Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb. sehingga lebih memerlukan informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan. Indonesia PENDAHULUAN Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek. Gambar 1. karena berjalan dengan kedua tungkainya.1) . deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi. selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh. selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. Bogor. unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness). terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian. rasa oleng. SISTIM KESEIMBANGAN Manusia. tak stabil (giddiness.

ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler. 3. Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata). sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan. Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis Keterangan : SYM : Sympathic Nervous System. Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus. gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan. berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis. 144. serebelum) atau rasa melayang. muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis. Neural Store Sensory input (Rangsangan gerakan) pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo. teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab. 3). Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor). 2. letak lesi dan penyebabnya. teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No. mual dan muntah. berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. Mabuk Udara 4. Normal Motion Sickness Adapted PAR PAR SYM SYM SYM PAR Gambar 3. (Skema) Oleh karena itu. Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda). 5.2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala. sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb. akibatnya akan timbul vertigo.(Gb. Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik. menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu. vestibulum dan proprioseptik. Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi. nistagmus. Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu. belajar dan daya ingat. yang berkembang menjadi gejala mual. Skema teori Neural Mismatch Sentral Vertigo Patologik BPPH Perifer Meniere Infeksi Trauma Iskemi Fisiologik Ketinggian. Skema Klasifikasi Vertigo 6. PAR : Parasympathic Nervous System Teori sinap Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. pada setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan bentuk vertigo. 2004 . timbul reaksi dari susunan saraf otonom.PATOFISIOLOGI Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat. Berbeda dengan teori rangsang berlebihan. Comparator Unit Psikogenik Mismatch Signal Sindrom Fobia Gambar 2. TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit tersendiri. atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat. melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda. Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1.

bising karotis. Uji Unterberger. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab. hipertensi. penyakit paru juga perlu ditanyakan. Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik (Gambar 4)(6. gagal jantung b. paroksimal. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1. irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. keletihan. tekanan darah diukur dalam posisi berbaring. dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh.duduk dan berdiri. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik. gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang. Uji Romberg PEMERIKSAAN FISIK Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab. Uji Romberg (Gb. 144. hilang timbul. apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks serebri. Dalam menghadapi kasus vertigo. Cermin Dunia Kedokteran No.ANAMNESIS Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. salisilat. 7). hipotensi. vestibularis. atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik. progresif atau membaik. goyang. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. 2004 43 . Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Gambar 4. otologik atau neurologik – vestibuler atau serebeler. antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti anemi. kronik. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin. agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. kongestif. tujuh keliling. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. anemi. c. ketegangan. selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. rasa naik perahu dan sebagainya. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit Gambar 5. hipertensi. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. 5) : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. penyakit jantung.batang otak. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. Fungsi vestibuler/serebeler a. hipotensi. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung. hipoglikemi. berputar. kanamisin. serebelum. baik kelainan sistemik. Juga kemungkinan trauma akustik. Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya. kepala dan badan berputar ke arah lesi. dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan.

jika ada gangguan vestibuler unilateral. pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang. Uji Babinsky-Weil (Gb. 7) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan. lakukan uji ini ke kanan dan kiri Gambar 6. 2004 . Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang) Gambar 7. Uji Dix-Hallpike 44 Cermin Dunia Kedokteran No. 9) Perhatikan adanya nistagmus. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi.9) Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb. 144. Uji Babinsky Weil Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8. Uji Unterberger Kepala putar ke samping d. Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 8. Gambar 9.1. Uji Tunjuk Barany e. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas. kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike (Gb. a. 8) Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup.

fungsi sensorik (hipestesi. kemudian duduk tegak kembali. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). iv im im - Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9).rec Nama Generik Cyclizine Dimenhydrinate Diphenhydramine Meclizine Promethazine Scopolamine 50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 12. Audiometri Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test. Weber lateralisasi ke sisi yang tuli. bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue). dan fungsi menelan.Elektromiografi (EMG). 4. sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal. parestesi) dan serebeler (tremor. kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. Magnetic Resonance Imaging (MRI). sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif. Sentral: tidak ada periode laten. 2. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus. Bekesy Audiometry. berupa gerakan mata melirik ke atas. b. dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. Gambar 9.iv. dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus. Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. kemudian duduk tegak kembali. sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral. Pencitraan: CT Scan. Antivert Phenergan. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. Pada tuli konduktif tes Rinne negatif. penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat. kampus visus. Fungsi Pendengaran Tes garpu tala Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif. TERAPI Tujuan pengobatan vertigo. Weber dan Schwabach. tahan selama 30 detik.5 mg 3 dd 25-100 mg 3 dd 25 mg 4 dd 25-50 mg 3 dd 5 mg 2 dd 10-20 mg 3-4 dd 6-12 mg 3 dd 8-16 mg 3 dd im. SISI. kiri dan kanan me Cermin Dunia Kedokteran No. Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit. sensorik wajah. Avopreg Transderm Scop Holopon Iterax. baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin. 2. gangguan cara berjalan). Bestalin Stugeron Sibelium Buscopan Hyscopan Merislon 6 mg Betaserc 8 mg Lama Kerja (jam) 4-6 4-6 4-6 12-24 4-6 72 4-6 4–6 Dosisi Dewasa Tingkat Sedasi + ++ ++ + ++ + + ++ 0 + + 0 0 0 Rute Lain im im. Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi. Foto Rontgen tengkorak. a. selain kausal (jika ditemukan penyebabnya). pendengaran. akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). iv im.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga. (Tabel 3). Stenvers (pada neurinoma akustik). nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit. b. VIII. 2004 45 . sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga. dengan tes-tes Rinne. Tone Decay. Pemeriksaan Penunjang 1. 144.Dari posisi duduk di atas tempat tidur.rec Hydroxyzine Ephedrine Cinnarizine Flunarizine Hyoscine Betahistin sc. c. Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas). ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi saraf. Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan. lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh. Arteriografi. dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG). Tabel 3.5 mg 1 dd 0. umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik. tahan selama 30 detik. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain. 3. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin. Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung. Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler) Nama Dagang Marezine Dramamine Benadryl Bonine. dan Schwabach memendek. okulomotor. Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus. bawah. leher. Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º. Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular. Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP).iv.5-25 mg 2-3 dd 25 mg 4 dd 0. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. otot wajah.

Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik. Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik. umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan. diuretik loop. Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil. Belum ada pengobatan yang terbukti efektif. Penyakit Meniere Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di telinga dalam. 144. Neurootologi klinis:Vertigo. Joesoef AA. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n. Duphar. Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid. asam nalidiksat. selain vertigo. terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil.). demikian juga gentamisin. 4. 3. antiinflamasi nonsteroid. diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik. terapi profilaktik juga belum memuaskan. hal. derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6 minggu. tanpa tahun. biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran. Every true genius must be natural or it is none (Schiller) 46 Cermin Dunia Kedokteran No. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala. 24 Juli 2001 Mengenal Pusing dalam Praktek Umum.(eds. Patofisiologi. Obat penyekat alfa adrenergik. kemudian diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup. koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler. bisa alat dan saraf vestibuler. 2004 .. Seri edukasi. Dapat dicoba pengggunaan vasodilator. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer. pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur. Aspek Neurologi dari Vertigo. Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein.ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat. tanpa tahun. jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis. 2002. selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati. Di awal sakit.xiii-xxviii.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid. Monograf. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral. Dalam: Joesoef AA. Tinjauan umum mengenai vertigo. RINGKASAN Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya. Kelompok Studi Vertigo Perdossi. metronidaziol dan minosiklin. Perdossi. Neuritis vestibularis Merupakan penyakit yang self limiting. Kelompok Studi Vertigo. berhenti merokok. amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik. Monograf. membatasi asupan garam. Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain: Benign paroxysmal positional vertigo Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo. KEPUSTAKAAN 1. 2. 6. diduga disebabkan oleh infeksi virus. Dalam: Simposium Tinitus dan Vertigo. Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. Kusumastuti K. Andradi S. Vertigo. tanpa tahun. dapat dilakukan labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal). 14 Desember 1991. tetapi 60-80 % akan remisi spontan. 5. Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan. Vertigo ditinjau dari segi neurologik. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat. Diagnosis dan Terapi. Harahap TP. 7. vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo. Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia cabang DKI Jakarta.1999. Sedjawidada R. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo. Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan.vestibularis. sedangkan kanamisin. Syeban ZS. diuretik ringan bersama diet rendah garam. penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer. Vertigo akibat obat Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran. yang makin lama makin cepat. Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa.

kepala terasa enteng. Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance). 144. termasuk di sini adalah : . vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2): 1. bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi. kelainan gigi/ odontogen. Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun. tujuh keliling. melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus. mual. tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Vertigo paroksismal 2. Labirin picu (trigger labyrinth). tergolong sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. Sindrom Lermoyes. dapat disertai gejala lain. pening. Di antara serangan. Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. Arakhnoiditis pontoserebelaris. peluh dingin. Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja. mumet. berlangsung beberapa menit atau hari. Yvonne Siboe Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo. unstable). Gejalanya menyebabkan pasien takut dan cemas.Vertigo posisional paroksismal benigna. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Jakarta ABSTRAK Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi. PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1) Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng. penderita sama sekali bebas keluhan. Epilepsi. sempoyongan. Yang tanpa disertai keluhan telinga. Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap. otonomik (pucat.PRESENTASI KASUS Terapi Akupunktur untuk Vertigo Prasti Pirawati. diterapi dengan akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan.Vertigo posisional paroksismal laten. 3. Vertigo kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut. terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh (2). tumor fossa cranii posterior. . 3. 50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) . 2004 47 . pusing. muntah) dan pusing (2). KLASIFIKASI Berdasarkan gejala klinisnya. kemudian berangsur-angsur mengurang. Migren ekuivalen. Pengobatan vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil. 2. rasa melayang (1). keluhannya konstan tanpa Cermin Dunia Kedokteran No. L. Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere. DEFINISI Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). kemudian menghilang sempurna. Sindrom Cogan. rasa mengambang. termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : 1.

hipoparatiroid. Penyakit SSP : a. Inti Vestibularis: infeksi. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika. sindrom sinus karotis. di samping itu. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik. 2. rudapaksa dengan perdarahan. mabuk gerakan. dan vestibulospinalis. Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika. 5. kelainan endokrin.Hipotensi ortostatik . Hipoksia – Iskemia otak. Trauma kepala/ labirin. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis.Pemeriksaan fisik umum. tumor serebelopontin. hipoglikemi. keadaan menstruasi-hamilmenopause. 144. 3. 2. 2004 4. hidrops labirin (morbus Meniere ). Tumor. 3. hipoglikemi. ensefalitis pontis. ensefalitis vestibularis. Dalam kondisi fisiologis/normal. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler.ENG . tumor. lesi labirin akibat bahan ototoksik. intoksikasi obat. dan EKG.Pemeriksaan neurologik . c. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan. susunan vestibuloretikularis. kelainan kardiovaskuler. Pemeriksaan fisik : .Psikiatrik 4. sindrom hiperventilasi. PATOFISIOLOGI Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. stenosis dan insufisiensi aorta. trauma. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin. 2. Anamnesis. dibedakan menjadi : 1. visual. tumor medula adrenal. anemia. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer : a. Epilepsi. III.serangan akut. Migren. f. herpes zoster otikus. EMG.Laboratorium . Terapi kausal . sklerosis multipleks. 6. Infeksi : meningitis. 2. labirintitis kronis. benda asing.Pemeriksaan otologik .Pemeriksaan mata . maka proses pengolahan informasi akan terganggu. Vertigo yang dipengaruhi posisi : . b. trombosis arteria serebeli posterior inferior. akan diproses lebih lanjut. vertigo postural. siringobulbi. kelainan psikis. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. perdarahan. Nervus VIII. kolesteatoma. yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. pelagra. kelainan okuler. sklerosis multipel. 2. 3. berangsurangsur mereda. abses. d. ensefalitis. Telinga bagian luar : serumen. Vertigo yang serangannya mendadak/akut. trauma. DIAGNOSIS 1. arteriosklerosis. Pemeriksaan khusus : . ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. Intoksikasi. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar. jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar.VIII. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. neurosa cemas. hipotensi ortostatik. fobia. sindrom pasca komosio. Pemeriksaan tambahan : . Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri. blok jantung. vertigo epidemika. Lues serebri. ETIOLOGI 1.(2).Audiometri dan BAEP . cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis. IV dan VI. trauma. labirintitis akuta. sklerosis multipleks.EEG. informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. neuritis n. unsteadiness. lues. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani. c. sinkop. alergi. e. meningitis Tb.Vertigo servikalis. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. TERAPI Terdiri dari : 1. : Hipertensi kronis. otitis media dengan efusi. atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual. jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. otitis media purulenta akuta. hematobulbi. serangan vaskular. hipertensi kardiovaskular.Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh . d. Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) : 1.Radiologik dan Imaging . Kelainan mata: kelainan proprioseptik. sindrom arteria vestibularis anterior. 48 Cermin Dunia Kedokteran No. b. e. sumbatan arteria serebeli inferior posterior. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus. tumor. labirintitis. Kelainan endokrin: hipotiroid. dan proprioseptik. fibrilasi atrium paroksismal. : infeksi. Kelainan psikiatrik: depresi. perdarahan labirin. dibedakan menjadi: 1.

2. 3.

Terapi simtomatik Terapi rehabilitatif

TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya Qi ke telinga (4). Gejala Klinis(4,5 ) Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus. Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis, nadi senar dan seperti benang. Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 ) 1. Hiperaktifitas Yang Hati Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan defisiensi Yin Hati.. 2. Defisiensi Qi dan darah Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan penglihatan kabur. 3. Defisiensi Cing Ginjal. Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung, sehingga timbul gejala vertigo. 4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah. Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo. Terapi (4,5,6 ) 1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya : Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati, menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati, melancarkan Qi Hati. Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20), Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3). 2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya : Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan Limpa dikuatkan. Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen (HT 7). 3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya : Menguatkan Ginjal

Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu ( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ). 4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya : Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung. Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ), Fenglong ( ST 40 ). KASUS I. Identitas penderita Nama Umur Jenis kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Berobat tanggal

: : : : : : :

Ny. YR 50 th perempuan Islam menikah PNS (Fisioterapis) 4 September 2003

II. Anamnesis Keluhan utama : kepala terasa muter sejak 1 bulan Keluhan tambahan : mual . Perjalanan penyakit : - Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan. Setelah berobat ke fisioterapi, membaik. - Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan mual. Muntah tidak ada. - Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada penyempitan di C 4-5. - Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®. - Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta dirujuk ke bagian Akupunktur. - Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. - Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar, tidak disertai pusing atau gejala lain. - Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-). - Riwayat infeksi telinga (-). III. Status Presens Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris. Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal. IV. Pemeriksaan penunjang Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan kiri, Intervertebra C 6-7 kanan. Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200 mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49

V. Pemeriksaan Akupunktur 1. Pengamatan ( Wang ) : a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar mata: bersinar; kesadaran : baik. b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah : bersinar segar. c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh : t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata, telinga, hidung : t.a.k. d. Pemeriksaan Lidah : - otot lidah : merah muda, kebasahan sedang, pergerakan normal. - selaput lidah : putih, tipis, bersih. 2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) : a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas: normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar. b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat: tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa 3. Anamnesis (Wun) : Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama seperti di atas. Pertanyaan khusus : a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin b. Keadaan berkeringat : normal c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada keluhan d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik, kesukaan akan rasa: tak spesifik f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual, perih terutama kalau terlambat makan g. Pendengaran: tak ada keluhan h. Rasa haus: tak ada . i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi tetap sadar, Ro kepala t.a.k. j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid 1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya, dismenorrhea (-), leukorrhea (-). 4. Perabaan (Cie) : a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan otot. b. Suhu tubuh: normal c. Pemeriksaan nadi : kiri kanan dangkal dalam dangkal dalam cun 5 5 5 5 kuan 5 4 5 5 ce 5 5 5 5 5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu : a. Lambung : jika perut kosong perih, mual. b. Limpa : nafsu makan menurun, perut kembung, bertahak c. Hati : kepala muter, gangguan haid. d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

VI. Resume Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur. Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro kepala t.a.k. Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan : 1. Wang : - Sen : baik - Se : normal, bersinar - Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot, takut menengok. - Lidah : normal. 2. Wen : tak ada kelainan 3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit. 4. Cie: kuan kiri dalam Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ Lambung, Limpa, Hati. VII. Diagnosis Kerja Kedokteran Umum : Vertigo Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu akibat Si Hati. VIII. Pengobatan 1. Alat : jarum 2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya : a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang. d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual 3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali. 4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit. IX. Prognosis Dubia ad bonam

XI. Anjuran 1. Berobat akupunktur rutin 2. Pemeriksaan : CT, MRI 3. Konsul THT, Mata. XII. Follow up Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum obat dari bag. Saraf Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan. Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan. Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-). Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh. DISKUSI Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar (akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan perut kembung, sering bertahak. Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.

Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati, menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual, pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan. Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 1996. Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI. Jakarta; 1999. Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi FKUI/RSCM. Jakarta. Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed. Beijing: New World Press. 2000. O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press. 1981. Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ). Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5. Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia., 1978. Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51

genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis. 144.49%. Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas. murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat) dan dapat dibuat oleh semua orang.Var.3 Selain itu di negara-negara Barat. tanaman teh Camellia sinensis O. terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus. 52 Cermin Dunia Kedokteran No. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia.K. assamica. Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989). Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber 1. Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik. kariostatik serta hipokolesterolemik.7 2. adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang.2 Di masa sekarang. dengan harga obat-obatan yang mahal.4 KLASIFIKASI Di zaman dahulu.3 Menurut Graham HN (1984).K. lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam.6 MACAM-MACAM TEH Berdasarkan penanganan pasca panen. daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim. sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia. aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5. dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi. Keuntungan dengan cara pemberian uap panas. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis. Jakarta ABSTRAK Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat. anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali ke obat tradisional) adalah tepat.1 Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke. Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus. var. teh dibagi menjadi 3 (tiga) macam(3).6): Divisi Sub divisi Kelas Sub Kelas Ordo (bangsa) Familia (suku) Genus (marga) Spesies (jenis) Varietas : : : : : : : : : Spermatophyta (tumbuhan biji) Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Dialypetalae Guttiferales (Clusiales) Camelliaceae (Theaceae) Camellia Camellia sinensis Assamica3. PENDAHULUAN Transisi nutrisi yang terjadi saat ini. yaitu sinensis. dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung. 2004 . assamica dan irrawadiensis. irrawadiensis. Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit. Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C.5.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3. yaitu : Teh Hijau Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi. Departeman Kesahatan RI.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teh [Camellia sinensis O. kanker. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan Sulistyowati Tuminah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Juga karena bahannya mudah didapat.5. Teh hitam Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi.

56 0.79 4. 2. Komponen Kafein (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Flavonol Theanin Asam glutamat Asam aspartat Arginin Asam amino lain Gula Bhn yg dpt mengendapkan alkohol Kalium (potassium) % Berat kering 7.74 0. 4.50 0. 23. 28.40. 17. 10.50 0.96 percobaan 430 µmol/l. 8. melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri. kemudian diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat makan siang.7 Tabel 2.8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C). 120. sebuah kanula intravena dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati. 9. epigalo katekin 3. 25. 3. Penelitian ini tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif jangka panjang terhadap status antioksidan. Rata-rata aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8. kemudian diaduk selama 3 menit. usia rata-rata 21. dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%.0).25 1. 5 wanita. 1. 2.98 5. epigalo katekin galat sebesar 4.20 8.4 Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal KHASIAT TEH Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh. 6.50 dan untuk katekin daya antioksidannya sebesar 2.31 0.93. yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus. selanjutnya digulung dan dikeringkan. 5. katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin.29 2. 447 dan 439 µmol/l (tidak ada perubahan yang berarti/signifikan). Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir. 1. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap aktivitas antioksidan serum. 14. 3. setelah 60. epikatekin daya antioksidannya sebesar 2.83 4. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%. 180 menit pemberian teh adalah rata-rata 434.43 1. Daya antioksidan komponen katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin C ataupun β-karoten.23 4. kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak.01 0.5 g daun teh ke dalam 25 ml air mendidih.15 0. 22. 144. 26. 5.110 µmol/l).10 Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek. tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC). 7. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu.13 3. 19.3. yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme. 4. 27.09 4.21 3. Daun teh dilayukan lebih dahulu.enzim.03 0.84 4.17 1.16 4. berbeda dengan hasil penelitian mengenai pengaruh flavonoid anggur merah. 13. 2004 53 . 18. 8.50 0. 13. kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim.90 1. 12. 9. Setelah 4 jam berpuasa.01 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer secara komersial dengan memasukkan 0. Pada proses ini. Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4.62 35. biasanya dilakukan selama 2-4 jam.70 5.09 0.57 3.63 Trace Trace Trace 2.75.1 tahun.82. Apabila proses fermentasi telah selesai.7 KOMPONEN THE (3) Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (tabel 1 dan 2) : Tabel 1. 6. 29. dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550 µmol/l.70 0. 11. 20.68 12.86 1. berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4.275-12. 14.9.477 µmol/l (kisaran 4. Teh oolong Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus.42 20. Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5 laki-laki. 16. 7.7 3. 11.74 6. 15. 12. indeks massa tubuh: 24. Komponen Kafein Theobromin Theofilin (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Glikosida flavonol Bisflavanol Asam Theaflavat Theaflavin Thearubigen Asam gallat Asam klorogenat Gula Pektin Polisakarida Asam oksalat Asam malonat Asam suksinat Asam malat Asam akonitat Asam sitrat Lipid Kalium (potassium) Mineral lain Peptida Theanin Asam amino lain Aroma % Berat kering 7.69 0. Komposisi teh hijau(3) No.02 0.11 Selain itu diet fluorin yang Cermin Dunia Kedokteran No.99 3. 21. Komposisi teh hitam(3) No.21 6. 30. 24. 10.85 0.

8. National Institute of Nutrition.20. Ferraro T. 128: 49-51. 11. Ikeda N. Dirghantara E. McClendon JF. KEPUSTAKAAN 1. makanan berserat dan mengandung fitat menghambat penyerapan besi non-heme. Shimamura T. 20. 11 : 3840. body weight. 2000. Wakabayashi K. Kushi LH. 22. Van-den Brandt – PA. 15. ILSI European Monograph Series. 4. Van den Berg H. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar. Imai K. Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. Prog Clin Biol Rev.23Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik. 6 (3) : 128-33. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Jakarta. teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis. Jakarta. tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH•. Pradnya Paramita. Nakachi K. Nutr Rev. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. 20 (2) : 1-6. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. Crit Rev Food Sci Nutr. trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P < 0. Prima Kardia Pers. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76. Substansi seperti tanin (dari teh). termasuk pada wanita post menopause.21 Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. 19. Tuminah S. Baraas F. kolesterol LDL. Cancer Research 1992. 1-477. Nakayama M. Selain itu. Van-Popel-G. 7. Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1. Baraas F.12 Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit. Environ Health Perspect. Chen L. 55(2) : 31-43. FMIPA UI. Preventive Medicine 1992. 1994. Jakarta. Maxwell S. sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia dan lebih mudah diserap. UGM Press. 1-495. dan radikal peroksil. Yogyakarta. BMJ (27 July) [Medline] 1996. Oxidants. Imanishi K. 16. 17. J Epidemiol. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O.13 Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia. J Nat’l Cancer Inst. Zheng W. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia. Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. baik teh hitam maupun teh hijau. Kono S. Drewnowski A. cet ke-2. 1997. 1-24. 52 : 389-95. 1996. Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. et al. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. 18. Lee MJ. Nature 1954. 14. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage. Thorpe G. 2004 . 144. Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population. 173 : 304-312. 313 : 229. 2.14-18 Diperkirakan. Nutrition News. Jakarta. Folsom AR. Potensi Antioksidan pada Teh. Japan. hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik. 144 (2) : 175-82. 12. Shinchi K. Hyderabad. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity. 21 : 526-31. Hertog MG. 23. Kono S. 1994. Sellers TA. 1984 : 29-74. FMIPA UI. konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi non-heme. Hong CP. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis. Biokimia FKUI. 6. cet ke-4. Antioksidan dan Penyakit Jantung. Yang GY. Consumption. Goldbohm RA. In Liss AR. 1989 . Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. et al. Gershon-Cohen J.22 Sutarmaji (1994) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. Popkin BM.05). Tumbuh-tumbuhan diketahui sebagai sumber besi yang baik. Cermin Dunia Kedokt. 88 (2) : 93-100.19 Selain itu pada wanita post menopause. terutama yang berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker. Jufri M. Blot WJ. Letters in Applied Microbiology. flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL. Toda M. Ternyata sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0. Brants HA. Bag. 10. 1997. Sutarmaji A. Okubo S. 2001 : 1-15. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia. tetapi manusia masih bisa mendapatkan besi heme dari daging merah. and Disease Prevention. Doyle TJ. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT. 1996. Zhi YW.terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar. 1999. 1997 : 82-3. Am J Epidemiol. 3 Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi. Chow WH.54 g /200 g. 1997. Van Steenis CGGJ. Antioxidants. yaitu besi heme (yang terikat pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak terikat pada molekul hemoglobin). cet ke-1. tetapi berjenis nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit. Yang CS. Nair MK. bahwa besi yang diabsorbsi manusia terdiri dari dua jenis. Teh juga telah diuji teratogenik. 9. Suga K. 54 Cermin Dunia Kedokteran No. Jakarta. cet ke-1. Prima Kardia Pers. Fluorine in Tea and Caries in Rats. Weststrate JA. 1987 .24 PENUTUP Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh. et al. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry. 1999 : 11-2. blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. Astuti M. 1990. 24. Van Het Hof KH. melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri. Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. Eur J Clin Nutr. O2•− . 52 : 1162-70.3 Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh teh. 13. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. hal ini dapat dijelaskan.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total. Jakarta. 1996. 1998. 3. 37 (8) : 739-60.35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan. Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam. and Health Effects. 26 (6) : 769-75. Graham HN. Jufri M. menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. Yanai F. Langseth L. McLaughin JK. 5. Tjitrosoepomo G. Mou TH. 21. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake. Preventive Medicine. Brussel: 1995 . Shinchi K. Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea.

68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49.April 2001. Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen Dengue-2.HASIL PENELITIAN Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta tahun 2001 Enny Muchlastriningsih. dirawat di rumah sakit. Departemen Kesehatan RI.pada penelitian ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji HI. Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes. 144. Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati) Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9. Tujuan khususnya ialah: (a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD berdasarkan umur dan jenis kelamin (b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut (c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasil uji HI (d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasiI uji HI berdasarkan golongan usia (e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif METODOLOGI Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit selama periode Januari . HASIL DAN DISKUSI Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369 orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang (50. dan mengisi informed consent.faktor yang diduga dapat mempengaruhi peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2): (a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali (c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah endemis (d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi. Cermin Dunia Kedokteran No. tahun 1998 15422 kasus dengan 133 kematian.414 kematian(1). dan tahun 1999 3751 kasus dengan 42 kematian(3). Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian. (Tabel 1). sejak itu penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya yang makin meluas. 2004 55 .32%) lainnya tidak dapat diambil sampel darah konvalesennya karena : (a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan sudah banyak diambil darahnya (b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas karena sudah terlanjur pulang. demam akut 2-7 hari. Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO.89%) dengan rata-rata umur penderita 25 tahun. Jakarta PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta dan Surabaya. Diana Hutauruk Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Kriteria inklusi : penderita berumur minimal 15 tahun. 2001) . Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor. Faktor. Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia.871 kasus dan 1. Sri Susilowati. Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun terbanyak di bawah 30 tahun (82. Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI.

Techniques for Haemagglutinatuon and Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses.5% .74 31. 2004 .16 6.3%. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara 30% . KESIMPULAN Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat diperiksa uji HI karena berbagai kendala. tahun 1997: 34. 7: 561.19%. Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding.Dit. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD berdasarkan Umur.0 Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya yaitu 51. infeksi sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun.1:1).7 11.00 Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi. Sub.53 1.3 48. Keadaan tersebut mungkin disebabkan: (a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD (b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa pengobatan yang dianjurkan (c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara.44 10. 3. Pimpinan dan Staf RS Pasar Rebo.4 100. 5. dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. yaitu: tahun 1994: 34.3% dengan kriteria positif sekunder yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada penderita lanjut usia. hasil uji HI positif sebesar 51. Desember 1999. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Umur (tahun) 1520253035404550556065Jumlah Laki-laki (N) 25 30 18 11 6 4 2 0 0 1 1 98 Perempuan (N) 25 29 9 8 6 3 4 1 1 1 2 89 Total 50 59 27 19 12 7 6 1 1 2 3 187 % 26. penderita berada pada derajat I dan II. Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD Hasil Uji HI Positif Negatif Total Jumlah (N) 96 91 187 % 51. tahun 1995: 50. Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) .21%. ini mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD yang banyak dianut. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998.7% negatif.7 100.07 1. Trop. tidak didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0. Hyg.Jen. KEPUSTAKAAN l. tahun 1998: 36. Tabel 3. Clarke DH.50%. 56 Cermin Dunia Kedokteran No. Cassals J. ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah bergeser ke umur yang lebih tua. 2000.3% positif dan 48.82%. 2001.74 3. Med.42 3. J. Data Kasus DBD 1999.53 0. 4. Jakarta.9 66. Muchlastriningsih E et al. Surveilans Dit.61 100.24%(5). Direktorat Jenderal PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. Departernen Kesehatan RI 2000. 144.Tabel 1. Am. 1958.55 1.0 Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I sebanyak 55.7% dan derajat II sebanyak 44. PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. 2. tetapi adanya penderita dengan infeksi primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi virus. Tabel 4. karena jumlah responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita laki-laki lebih besar. Tabel 2. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI positif Kriteria Uji HI Positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif Total Jumlah (N) 21 64 11 96 % 21. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue. Berita Epidemiologi. dan untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55 tahun. dan tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji I-II yang positif. Profil Kesehatan Indonesia 1999. tahun 1996: 32. Golongan umur (th) 1520253035404550556065Total Kriteria hasil uji HI positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif 8 18 2 4 17 5 5 12 2 1 8 1 0 3 0 1 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 21 64 11 Total 28 26 19 10 3 3 4 0 1 0 2 96 Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1.21 0. waktu maupun penyimpanannya (d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Pimpinan dan Staf RS Persahabatan. UCAPAN TERIMA KASIH Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan Litbangkes.6849).

3000 IU dan 10. Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0.30) Cermin Dunia Kedokteran No. fatigue. KALBE FARMA Tbk. PENYIMPANAN Simpan dalam lemari es. Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual. Fase Pemberian: Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%. edema. sakit kepala.000 IU. Jl. Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4 minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat. 2004 57 . 3000 IU. Letjend. pruritus dan urtikaria. • Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia.kalbe. 10. Gedung Enseval. tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu. seperti: FeSO4.Produk Baru Hemapo® Erythropoietin Syringe 2000 IU.id Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123. Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang. mual. tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen hematinik. • Hipersensitif terhadap human albumin. INTERAKSI Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan.00-15. Jakarta 10510 PO Box 3105 JAK. Fax. 3000 IU/mL dan 1000 IU/mL. KEMASAN Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL. Fase Koreksi: Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. Suprapto. Jakarta – Indonesia Tlp. 144. artralgia. INDIKASI Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis. Dosis untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian.5%/minggu). Senin – Jumat (07. EFEK SAMPING • Hipertensi • Peningkatan jumlah platelet • Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash. : (021) 428 73680 Website : http://www.000 IU in 1 mL KOMPOSISI Setiap mL larutan berisi: Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU. diare. terlindung dari cahaya. Jangan dibekukan dan dikocok. meskipun dapat dihentikan setiap saat. KONTRA INDIKASI • Hipertensi berat yang tidak terkontrol. 1998. suhu 2-8°C. Clinical Trial III Report of rhEPOInjection Marketing Office PT. muntah ataupun reaksi di tempat injeksi.co. Reference: Bei Jing XieHe Hospital. dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/ kg/minggu.: (021) 428 73888-89. DOSIS dan CARA PEMBERIAN Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik: Larutan dapat diberikan secara IV atau SC. sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis semula).

Sumber: http://ivertigo./hearing/hrexam. 1990).html 58 Cermin Dunia Kedokteran No. 144.apsul Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA. 2004 . Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal. Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral.net.

contohnya: computational physics. Telekomunikasi Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation. Demikian pula jika kita ingin membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran.INFORMATIKA KEDOKTERAN PENGANTAR Medical informatics is located at the intersection of information technology and the different disciplines of medicine and healthcare. Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan. 5. telekardiologi. seperti: proses pendaftaran pasien. dan informatics. dll. seperti: tanya jawab. proses kontrol. maka secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer yang fundamental. atau artificial intelligence. dan tele-tele yang lain Medical Imaging Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound. kedokteran nuklir. aspek keamanan dan legalitas. Akhir-akhir ini. seperti: computer science. dan beberapa area yang lebih spesifik. dll. Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti: medical computer science. dll. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data. dan informatika terapan. Aspek-aspek lain yang berperan Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah: Interaksi manusia dan komputer. sifat website pun sudah mulai berubah. (Dr. 4. computational linguistics. computer in medicine. (2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan praktis dari proses informasi dan komunikasi. teleradiologi. medical information science. dll. radiologi. information processing. yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. 2. Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast). 144. Sebaliknya. dan beberapa istilah yang spesifik seperti nursing informatics. penulis melihat ada pendapat dua pakar informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang. 2004 59 . Dalam praktek sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti: 1. dll. Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi Informatik (Information Technology). berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran dan kesehatan. dll Sistem Informasi Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1) yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada keperawatan Web dan internet Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. 3. Biaya dan keuntungan sistem informasi. Dua definisi Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika Kedokteran. Dalam perbincangan penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia. informatika yang berorientasi pada aplikasi. dr HM Goh. Jika mengikuti perkembangan bidang informatika. Proses pengolahan data Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya. Secara rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada ulasan di bawah ini: Berawal pada tahun 1970-an Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah bahasa Perancis informatique médicale. misalnya menginformasikan jam praktek dokter. Mereka mendefinisikan sebagai berikut: (1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan management. merawat data. Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat. aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis. artikel kesehatan. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah). dental informatics. Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. melihat rekam medik dll. pengambilan keputusan dan analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran. disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’ sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. health informatics.

Sabtu 20 Maret 2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta. batu ginjal. melainkan 60 Cermin Dunia Kedokteran No. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern.000 kali per hari. 6 April 2004.kalbe. membuka acara eHealth Asia 2004.co. dan Portal Kedokteran www. setelah menyelesaikan acara ilmiah. dan infeksi. Dalam sambutan tertulisnya. hal ini jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia.PD-KGH. RSIA HERMINA Daan Mogot . Pada topik yang diberi tanda Breaking News. dan bisa langsung diakses pada homepage Kalbe Farma Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah. mentri menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan. Acara tersebut menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani.8 April 2004 Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur. RS Mitra International. Tele-education kesehatan via satellite. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. bisa diakses di http://www. menghisap rokok. Hotel Acasia. hari ini Dato' Dr Abdul Gani Che Din.kalbe. Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di sekelilingnya. 144. Sp. Laporan lengkap dari simposium. J.PD-KGH.id. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di Indonesia. Studio mini Jakarta Eye Center. sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang. menghisap rokok. 20 Maret 2004 Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004. Wakil dari Indonesia. 6 April 2004 Pada malam hari. Demikian terungkap dalam Seminar Awam "Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue.043 orang.Jakarta.id/seminar.Pudji Rahardjo. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. Erik Tapan. mewakili Mentri Kesehatan Malaysia Tan Sri Datu Dr. berarti peserta simposium bisa memperoleh berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di Stand Kalbe Farma. batu ginjal. Demikian dikatakan dr. 25 Maret 2004 Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata bukan hanya merupakan masalah yang sederhana. Sp. Pudji Rahardjo. 6 .Pudji Rahardjo. SpPD-KGH. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. 2004 . Kuala Lumpur. dokter spesialis anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut. narasumber simposium berkenan menyumbangkan suara emasnya) juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. ternyata bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja.Kegiatan Ilmiah Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". Demikian dikatakan dr. eHealth Asia 2004. Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk. Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". yang di klik rata-rata 2. (tampak dalam foto dr. Hotel Acasia. APAMI Board Meeting. Mohammad Taha bin Arif. J. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. Untuk itu kita jangan sampai lengah. di samping hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus. dan sebagainya. diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari Asia Pasific Association of Medical Informatics. dan sebagainya. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS Pertamina Jaya Jakarta. dan infeksi.co. di DKI terdapat penderita DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2. Kuala Lumpur. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya.Hj.

SpS(K). KHOM dalam sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta. Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan. dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hotel Mandarin Oriental . Danial Abadi. 18 Januari 2004 Pada tanggal 18 Januari 2004. tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia.(foto diambil saat Session Mari Tanya Ahli. 144. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf. SpS(K)). 8-9 Mei 2004 Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna.Jakarta. 15-16 Mei 2004 Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang. Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar dimulai pukul 09. Jakarta. Bagian/UP Neurologi FK UNHAS/RS Dr. 27 . Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI. Demikian salah satu yang ditekankan Prof.16 % (WKNPG : 2. Cermin Dunia Kedokteran No. Nutrisi enteral lebih unggul dibandingkan parenteral dalam mempertahankan fungsi gastrointestinal. karena dapat mencegah atrofi villi usus. Jakarta.02 % (WKNPG : 5. KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International Convention Center beberapa waktu lalu. Oleh karena itu penyakit DM saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan guideline terbaru DM.5 %) dan wanita 11. Seminar IT PERMAPKIN. Demikian dikatakan dr. Minggu 23 Mei 2004 diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical Industry Congres I. Seminar Integrated Hospital Marketing. radiasi dan operasi. Demikian dikatakan Prof. 24 Mei 2004. 24 Mei 2004 Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa lagi saat ini. mahasiswa baik kedokteran maupun keperawatan. 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) 2004.00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang peserta. menjadi terapi yang bersifat spesifik. Demikian dijelaskan Handi Irawan. Sie. K.PD. di Jakarta selama 2 hari. SpPD. dr. SPS(K).5th Jakarta Antimicrobial Update 2004. Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar. Amiruddin Aliah. 25 . membuktikan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat. Oleh karena itu obesitas menjadi masalah epidemik yang global. Sebabnya. Dr. sehingga diharapkan terapi akan lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas hidup pasien yang meningkat. angka kejadian penyakit ini pada pria melonjak hingga mencapai 9. Hotel Shangri La Jakarta. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di Jakarta. dari kiri ke kanan: dr. Slamet Suyono. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan saraf”. Zubairi Djorban. SpS(K). mengingat sangat beragamnya latar belakang profesi yang menjalankannya. 23 .26 Mei 2004 Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan Riset Marketing dalam menjalankan usahanya. termasuk dari Kalbe Group. Bali International Convention Center.26 Mei 2004.9 %). lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa Republika tersebut. Dibandingkan dengan data WKNPG tahun 1998. enterosit dan kolonosit.25 Mei 2004 Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta. Jakarta. 6-9 Mei 2004 Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung koroner (CHD/Coronary Heart Disease). 25 . Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri. Hotel Borobudur Jakarta. dr. Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I. Spesifik yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan perkembangan khusus sel kanker. dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu penyakit dalam atau perawatan intensif National Obesity Symposium III. Sp. dr. Prabowo Soemarto dalam Seminar IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta. MM dan Prof. karena proses bisnis layananan kesehatan termasuk hal yang kompleks. dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul "Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN). Arifin Limoa. Dr. Prof. Menurut Budi Sampurna. H. Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum.28 April 2004 Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan. tetap menjaga kelangsungan fungsi usus. Ed. Jakarta. seharusnya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses bisnis"nya. 29 Mei 2004 Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi. ASEAN Pharmaceutical Industry Congress. 2004 61 . kasus tuntutan di rumah sakit umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh ketidakpuasan pasien.

Lancet 2003.7. kebiasaan merokok ataupun riwayat fraktur sebelumnya. Sejumlah 233 pasien mendapat 0. baik di tempat tidur (odds ratio 2. 0. 117 62 Cermin Dunia Kedokteran No.7 – 0.56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras. Peningkatan nyata substansia grisea sebaliknya didapatkan di sebagian besar korteks temporal superior dan parietal inferior bilateral.99) juga terhadap keluhan respirasi (0. 116 di antaranya juga diberi 500 mg.0001) tidak tergantung usia.36.8).89.24 – 8. sedangkan 155 lainnya tidur di alas dengan derajat kekerasan 2. 95%CI 0. ternyata mereka yang tidur di alas medium (5. 0. Lancet 2003.95 (95%CI: 1.6. penelitian ini dilakukan atas 14 824 pria dan wanita 42-82 tahun di Norfolk.0 (paling empuk). Setelah 90 hari mereka dievaluasi. 65% di akhir percobaan) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras (54% dan 59%). siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali. Sayangnya dalam studi ini posisi tidur tidak ikut diperhitungkan. sistem ventilasi ruang kerja mereka disinari dengan UVGI (ultraviolet germicidal irradiation) selama 4 minggu.3. 0. 0.86) dan lebih rendah disabilitasnya (2.9) di kalangan bukan perokok.7 tahun. mereka yang tidur di alas medium juga lebih sedikit merasa nyeri di siang hari (p=0.0001) dibandingkan dengan populasi yang di kisaran 30% tertinggi.5 – 0. sex.363:197-202 brw brw ALAS TIDUR KERAS UNTUK NYERI PINGGANG BAWAH Kebanyakan dokter menganjurkan tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah. Daerah frontal. 158 diminta tidur di alas dengan derajat kekerasan 5. Lancet 2004. 95%CI: 1. metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam setelah pemberian IVIg pertama. p<0.6) lebih banyak yang berkurang rasa nyerinya.6.4 g IVIg/kg. Penggunaan UVGI juga menurunkan keluhan respirasi (0. juga di korteks temporal anterior bilateral. Selama masa itu terjadi 121 fraktur. 362: 1699-707 brw 0.24 – 3.059).13 – 4. p<0.3 – 0.4. risiko frakturnya 4. Pengurangan 1 SD dari BUA (20 db/MHz) dihubungkan dengan risiko fraktur relatif 1. 0. Ternyata penggunaan UVGI dikaitkan dengan penurunan gejala berkait dengan pekerjaan secara umum (OD 0.bb/hari selama 5 hari. selama 48 minggu. selain itu didapatkan ukuran yang lebih kecil di daerah inferior dan korteks prefrontal dorsal bilateral. Sekelompok peneliti di Montreal. 31 di antaranya fraktur femur.0 (paling keras) sampai 10.064) dan nyeri saat bangkit dari tempat tidur (p=0. 0. 144.6.10. kemudian dimatikan selama 12 minggu.93) maupun saat bangkit (1.2 – 0.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras. 362: 1785-91 PENGUKURAN ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO FRAKTUR Risiko fraktur dicoba dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi terhadap tulang kalkaneus.5. Selama periode studi. menunjukkan bahwa morfologi abnormal ditemukan di korteks frontal. 362: 1599-604 brw SICK BUILDING SYNDROME Sick building syndrome (sindrom gedung sakit) merupakan masalah yang belum sepenuhnya dipahami. skala kekerasan kasur berkisar dari 1. Para peneliti di Spanyol menilai 313 dewasa dengan nyeri pinggang bawah kronis nonspesifik. tinggi badan. Penurunan keluhan mukosal terutama di kalangan pekerja atopik (0. Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband ultrasound attenuation) kalkaneus di kisaran 10% terendah.9) dan keluhan mukosal (0. temporal dan parietal merupakan korteks asosiasi heteromodal yang berkaitan dengan fungsi perhatian (attention) dan inhibisi tingkah laku (behavioral inhibition).50 – 2. Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat meramalkan risiko fraktur baik di kalangan pria maupun wanita.9) dan keluhan muskuloskeletal (0.9 ± 0.9). 1.4-0.52.7. Kanada mencoba menyelidikinya pada 771 pekerja kantor.8.5 – METILPRDENISOLON UNTUK SINDROM GUILLAIN BARRE Dutch GBS study group mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk menilai manfaat penambahan metilprednisolon terhadap pengobatan imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre. sepanjang tahun 1997-2000. karena ternyata mereka yang tidur di alas medium lebih banyak yang mengambil posisi fetal (56% di awal percobaan. mereka di amati selama rata-rata 1.8) dan bukan perokok (0.44 kali (95%CI: 2.5 – 0. berat badan. 2004 . Pengoperasian UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim ventilasi sampai 99% (95%CI 67 – 100). nyeri saat berbaring (p=0.97 – 3.93.ABSTRAK KELAINAN KORTEKS PADA ADHD Penelitian menggunakan MRI dan teknik komputasi terhadap korteks serebri 27 anak dan remaja penderita ADHD dibandingkan dengan 46 kontrol. 0. Lancet 2003.

4.40. Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari tercatat 88 (22%) kematian di kelompok latihan dan 105 (16%) di kelompok kontrol.64.56-0. BMJ 2004. Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0. Para peneliti di Italia memberikan 100 mg aspirin/hari pada 253 pasien polisitemia vera. setelah 4 hari pengobatan pasien tersebut mengalami gerakan involunter di kepala dan keempat ekstremitasnya.06).55-1.62. Kematian. 95%CI 0. 24. Pemantauan dilakukan setelah 12. 110 di kelompok studi dan 97 di kelompok plasebo. trombosis vena atau kematian akibat kardiovaskuler (RR 0. Di akhir percobaan. data diolah dari 207 (53%) peserta. 406 sebagai kontrol. Lancet 2004. emboli paru. Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan. p=0. Analisis atas data dari 225 pasien menunjukkan bahwa skor disabilitas membaik satu tingkat atau lebih pada 68% (76 dari 112) pasien kelompok metilprednisolon dan pada 56% (63 dari 113) pasien kontrol. MENCEGAH EKSASERBASI ASMA Suatu studi dilakukan untuk menilai manfaat penggandaan dosis inhalasi kortikosteroid dalam upaya mencegah peningkatan dosis prednisolon oral.97-2. 36.03). dibandingkan dengan 265 pasien yang diberi plasebo. aerobik dan kalistenik yang bervariasi di antara percobaan-percobaan tersebut.15 – 1.27-9.bb sulfametoksazol iv dan 2 g.363:271-5 brw Cermin Dunia Kedokteran No.350:88-9 brw ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA VERA Aspirin ternyata juga bermanafat untuk mencegah komplikasi trombosis di kalangan pasien polisitemia vera.18 – 0.350:114-24 brw Program latihan yang dijalani berupa bersepeda. 2004 63 . N Engl J Med 2004. demikian juga risiko infark miokard non fatal.68.15. Sejumlah 390 penderita asma pengguna kortikosteroid inhalasi yang berisiko eksaserbasi dipantau gejala asma dan morning peak flownya selama sampai 12 bulan. 0. 144. risiko infark miokard non fatal. Risk ratio penggunaan prednisolon 0.46 – 0. OR=1. Pemeriksaan MRI hasilnya tidak spesifik.71).015) Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan latihan (0. 95%CI: 0.22 (11%) dari kelompok studi dan 24 (12%) dari kelompok plasebo membutuhkan prednisolon tambahan untuk mengatasi gejala asmanya.93. logrank x2 5. p=0.88. stroke non fatal atau kematian akibat kardiovaskuler lebih rendah di kelompok aspirin (RR 0. seftriakson iv dua kali sehari untuk infeksi Nocardia. p=0. 100 mg/kg. Setelah penyesuaian data terhadap usia dan tingkat penyakit saat masuk. Efek samping perdarahan tidak berbeda bermakna (RR 1. (OR 1. keesokan harinya gerakan involunter berkurang dan hilang sama sekali setelah 4 hari.9.35. Kejadian ini sebelumnya pernah dilaporkan pada 1 kasus anak. p=0.91.72. 95%CI 0. 6. p=0. dan pasien menolak punksi lumbal.41.95 (95%CI 0.8) Para peneliti berkesimpulan bahwa menggandakan dosis inhalasi tidak mencegah perburukan gajala asma (yang diukur dari kebutuhan prednisolon oral) Lancet 2004. jalan kaki. p=0. 192 menggandakan dosisnya. 48 dan 60 bulan kemudian.65.328:189-92 brw EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan yang seluruhnya melibatkan 801 pasien – 395 menjalani latihan. berupa mioklonus multifokal dan asterixis bilateral. stroke non fatal.07-3.09).003). 95%CI 0. Saat gejalanya mulai memburuk. sedangkan 198 lainnya tidak (kedua kelompok menggunakan inhaler yang serupa) Setelah 12 bulan. N Engl J Med 2004.89 (95%CI: 1.363:192-6 brw EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL Telah dilaporkan satu kasus wanita 63 tahun yang mendapat 20 mg/kg.011).bb trimetoprim.ABSTRAK sisanya mendapat plasebo. p=0. Efek samping tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok tersebut. Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil pengobatan sindrom Guiilain/Barre. 95%CI 0. baik keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna. ternyata 46 menggunakan prednisolon tambahan .92.

E C 4. E A 64 Cermin Dunia Kedokteran No. 8. Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi : a) Defisiensi vitamin B b) Defisiensi vitamin C c) Defisiensi vitamin D d) Defisiensi Zn e) Defisiensi Fe Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di a) Submental b) Intralingual c) Suprahioid d) Transhioid e) Infrahioid Yang tidak benar mengenai papiloma laring. Klebsiella Pseudomonas Staphylococcus 2. Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo . 7. 144. 4. 9. 6. D D 2. 2004 .Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. a) Tumor jinak b) Tidak pernah mematikan c) Berhubungan dengan HIV d) Gejalanya awalnya sesak e) Sering rekuren Rinoskleroma dikaitkan dengan : a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) d) e) 7. B B 5. 5. 3. a) 100 dB b) 120 dB c) 140 dB d) 160 dB e) 180 dB 8. E A 3. 9. 10. 10. a) Gangguan peredaran darah otak b) Trauma vestibuler c) Penyakit Meniere d) Vertigo posisional benigna e) Neuronitis vestibularis 6. JAWABAN RPPIK : 1. Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan: a) Mongoloid b) Kaukasian c) Negroid d) Hispanik e) India Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas suara di atas: a) 20 dB b) 40 dB c) 60 dB d) 80 dB e) 100 dB Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful