P. 1
cdk_144_tht

cdk_144_tht

|Views: 177|Likes:
Dipublikasikan oleh ndah_humairo

More info:

Published by: ndah_humairo on Jun 22, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/01/2013

pdf

text

original

Sections

2004

http://www.kalbe.co.id/cdk

ISSN : 0125-913X

144. THT

2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

144. THT
Daftar isi :
2. Editorial 4. English Summary

Artikel
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir 8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia 11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni 13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah 16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R. Susworo 20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati 24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi Arifiani 29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W. Roestam 35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi 41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo 47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe 52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah 55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk 57. Produk Baru 58. Kapsul 59. Informatika Kedokteran 60. Kegiatan Ilmiah 62. Abstrak 64. RPPIK

Keterangan Gambar Sampul : Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13

EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi pendengaran khususnya. Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis maupun keluarga pasien. Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami nantikan

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

Dalam: Sodeman WA Jr. Temprint http://www.co.id http: //www. DR. Bila pengarang enam orang atau kurang. Laboratorium Ortodonti MScD. Sri Oemijati. .co. SpOrt. satu muka.co. Contoh : 1. Letjen. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran. . Bagian Periodontologi. Tlp. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979.10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word. Cempaka Putih. Pathogenetic properties of invading microorganisms. 1990.Prof.457-72. Gedung Enseval Jl. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup.Dr. Nama (para) pengarang ditulis lengkap.913X KETUA PENGARAH Prof.Djuni Pristiyanto ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran. Hendro Kusnoto. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. Philadelphia: WB Saunders. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut.DR. Oen L. 021 . Dr. 4. Jakarta 10510 P.Prof. . Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. London: William and Wilkins. 1st ed. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Sodeman WA. eds. Bila tidak ada. Cermin Dunia Kedokt. kedokteran dan farmasi. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. 3. Tlp.O. Erik Tapan . Dr. P. PhD. Boenjamin Setiawan Ph. (021) 4208171. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis. Sjahbanar Zahir MSc. Hal 174-9.Prof. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris.Prof. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. 1984. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. SKM. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Kirby RL.Dodi Sumarna . 1974. Box 3117 JKT. Suprapto Kav. bila menggunakan bahasa Indonesia. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas. sebutkan semua.id/cdk PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. Gedung Enseval. Drg. Weinstein L.Medical Rehabilitation. DR.D . Bila terpisah dalam lembar lain. bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah.id Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan. Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. 2.kalbe. 64: 7-10.4208171 E-mail : cdk@kalbe. Swartz MN.2004 International Standard Serial Number: 0125 . Letjen Suprapto Kav. Soebianto PENCETAK PT. hendaknya diberi keterangan mengenai nama.co. MSc REDAKSI KEHORMATAN PEMIMPIN UMUM Dr. R Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang KETUA PENYUNTING Dr. Drg. Baltimore. Kalbe Farma Tbk. Basmajian JV. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia.H. PELAKSANA Sriwidodo WS. Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta . Siti Wuryan A Prayitno. Box 3117 JKT. 4.O. bila tujuh atau lebih. Jakarta Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta TATA USAHA . Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah.Prof. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 DEWAN REDAKSI PENERBIT Grup PT. Jl.kalbe. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. 90 : 95-9).id/cdk . Jakarta 10510. Cempaka Putih. akan diberitahu secara tertulis. Dr. Budi Riyanto W. . hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. E-mail : cdk@kalbe. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio.

University of Indonesia. of Acupuncture Dr. North Sumatera and Bali. There is still no accurate and successful management method for this problem . 47-51 ppi. North Sumatra. 144. of ENT. treated with acupuncture and showed good improvement. Firmansyah Dept. referred to dizziness or a sense of imbalance. Conventional treatment is still not satisfactory. Lia Amalia Dept of Child Health. and retinoic acid are still debatable. acyclovir. Cermin Dunia Kedokt. chronic cough. It is caused by strains of human papilloma virus (HPV) family.2004: 144. The role of medications such as alphainterferon. The symptoms may cause anxiety and disturb the patient’s social life. The mainstay of treatment is surgical ablation. Practically all patients with laryngeal papilloma present with hoarseness or a weak voice. paroxysms of chocking. Indonesia RHINOSCLEROMA Delfitri Munir. Partial airway obstruction may manifest as stridor or chest retractions.2004. Medan. L. Yvonne Siboe Dept. Adam Malik General Hospital. Diagnosis can be confirmed using a flexible fiberoptic laryngoscope to visualize the larynx. 2004 . ribavirin. laa Fate is distinghished but an expensive tutor (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No.2004. 144. Cermin Dunia Kedokt. in Indonesia it is found in North Sulawesi. Indonesia ACUPUNCTURE FOR VERTIGO Prasti Pirawati. Papillomata have a characteristic wart-like appearance.fih Vertigo is a common complaint. and tend to be concentrated on the free margins of true vocal folds. 144. This is a report of a 50 yearold female with vertigo. Rizalina A Asnir. Jakarta. Faculty of Medicine. Cermin Dunia Kedokt.English Summary LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN Bambang Supriyatno. particularly at the anterior commissure. Cipto Mangunkusumo General Hospital. 13-15 dmr.raa. Jakarta. 8-10 Rhinoscleroma is an endemic disease.lys bso. Indonesia Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in children. recurrent respiratory infections also may occur. can be due to vestibular system disorder.

13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria.16 Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Medan ABSTRAK Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah.11-15 SINONIM : Ozaena.5.11.11-15 terutama pada usia pubertas. rinitis fetida.9.14-16 Oleh karena etiologinya belum pasti.7.1-5.11.8 dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria. yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta.5. 2004 5 .11 3) Sinusitis kronik1.16.17 Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong.8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9.7. dilakukan operasi .11-14 dan di negara sedang berkembang.9.11 6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4.1-11 Secara klinis. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala.7. lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas.1.5 8) Ketidakseimbangan otonom 4.12. maka pengobatannya belum ada yang baku. Kokobasilus.12. rinitis krustosa. Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun.1-5.1-5.1-5.12. 7. Kuman lain adalah Stafilokokus. Bacillus mucosus. PENDAHULUAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. 144.16 Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi.5. Adam Malik.13 Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3.14-16 Beberapa teori yang dikemukakan antara lain : 1) Infeksi kronik spesifik 1-4.7.10. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa. sehingga pengobatannya belum ada yang baku.18 5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5.17 Cermin Dunia Kedokteran No.7. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia.1-4.14. sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk.11-15 terutama pada usia pubertas. 4 wanita dan 2 pria.1-5.12. mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering.Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinitis Atrofi Rizalina Arwinati Asnir Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran.12.7.11-14 dan di negara sedang berkembang.20 Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk1-3.10.9.2.7.7.17 Terutama kuman Klebsiella ozaena. Kata kunci : rinitis atrofi.11.9 Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.1-9 Penyakit ini lebih sering mengenai wanita.12.20 Tetapi dari segi umur.20 KEKERAPAN Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita.2.11. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun. sosial ekonomi rendah. Cocobacillus foetidus ozaena 2) Defisiensi Fe1-4.7 7) Teori mekanik dari Zaufal4. Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H.7.2. vitamin A1.4. Diphteroid bacilli.7.7. beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda. umur berkisar dari 10-37 tahun.

1.12. 144. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia. yang bertambah jelek dengan terapi estrogen.3.11 Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc. rinitis kronik lepra. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif. Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. atrofi konka. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis.2 Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul). Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi. pemeriksaan darah rutin. ingus kental berwarna hijau.11 Dapat berupa: perforasi septum. rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:3. mukosa tampak kemerahan dan berlendir. Antara lain : a.4. untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau. PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala.11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau b. Selain faktor-faktor di atas. terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3. pemeriksaan Fe serum. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika. keluhan anosmia belum jelas. Larutan garam dapur d. krusta sedikit. rongga hidung tampak lebar sekali.10. terdapat anosmia yang jelas. b. Campuran : NaCl NH4Cl NaHCO3 aaa 9 Aqua ad 300 c 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat c. Mantoux test.13 .15.19 dan fibrosis dari tunika propria.9.7 GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis. midline granuloma.10.10 dan rinitis atrofi sekunder. krusta banyak.3.1-5.9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)4. sakit kepala. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel. rinoskleroma dan tbc.5. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis.16 12) Golongan darah. mukosa hidung tipis dan kering.17 10) Herediter5. dilakukan dua kali sehari.3 2) Obat cuci hidung.2 Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman.2. miasis hidung. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas.8.4 g Na diborat 28. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis. terlihat rongga hidung sangat lapang. dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang.7.1. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen. Campuran : Na bikarbonat 28.7 g dicampur 280 ml air hangat Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat. dapat ditemukan krusta di nasofaring. kadang-kadang kuning atau hitam. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung. rontgen foto sinus paranasal.4. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa.16.21 KOMPLIKASI4.11 Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang. Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A.3. hidung pelana. epistaksis dan hidung terasa kering.12. Sebagian besar kasus merupakan tipe I. Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler.4. PATOLOGI DAN PATOGENESIS Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik. mukosa makin kering. 6 Cermin Dunia Kedokteran No. sekret purulen dan berwarna hijau.oleh karena itu secara patologi. jika krusta diangkat.3. Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat21 : a.11. c. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui4.1. gangguan penciuman (anosmi). lepra. air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut.11 Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun. sinusitis.21 Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik.10-12 Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau.4. faringitis. 2004 . warna makin pudar.5.4 g NaCl 56.9.17 11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5. adanya krusta (kerak) berwarna hijau.4 Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat.

20. 6. 1994. 2004 7 . Dalam : ScottBrown's Otolaryngology. Technique. 2nd ed. Penyakit Telinga . 1987. 14. Ujung Pandang. Montgomery WW. Bertrand B. Sydney. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Elhamd KA. Lobo CJ. Throat and Ear and Head and Neck. 1993. Etiology and Management.Chen C. J Laryngol Otol 2000. Edisi ke 3. Hilger PA. dermofit. Jilid 1. 113-4. Oleh karena etiologinya belum pasti. 40-1. 10-5.000 U selama 2 minggu 5) Preparat Fe 6) Selain itu bila ada sinusitis. C. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. Hartley C. oestradiol dalam minyak Arachis 10. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok . Tenggorok . Singapore : PG Publishing.Hsu C. Groves J. Kader MA. 218-21. Indication. 549-55.4. 21. diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. 173-82. Mangunkusumo E. 8. 10. Ballenger JJ. Alih Bahasa : Wijaya. 4th Bristol:Wright. 4/8/26-7. 90-2. THT FKUI.Heinemann. 1997.22 PROGNOSIS Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka. 1994. 5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung. 576-80. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. Kepala dan Leher. A Short Practice of Otolaryngology. Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery.3 Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali. Mewengkang N. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. 23. New York : Georg Thieme Publishers. Becker W. 1986. Sreeramamoorthy B. diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa. Ear. 4. Rinitis Atrofi. Baser B. 112 : 543-6. tulang. Hidung . Farrington WT. 264-7. 17. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis. Sayed RH. 7. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. 1997. 1403-6. 492.Gray RF. 202-5. 12. Doyen A. Throat and Ear. 1996. Buku Ajar Penyakit THT. 9.5. 13. Jakarta : FKUI. Head and Neck Surgery.11-14 Sinha. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita. Textbook of Ear. Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap. 1993. Maran AGD. KEPUSTAKAAN 1. Surgery of the Upper Respiratory System. 18. Naumann HH. A Pocket Reference. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar.000 U / ml. 144. 11.J Laryngol Otol 1992 . diobati sampai tuntas1-5. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. J Laryngol Otol 1990 . Infective Rhinitis and Sinusitis. Hiranandani NL. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93. 1992. Pitfalls. New York : Georg Thieme Verlag.Neck Surgery. Weir N.Atrophic Rhinitis-Pathology. Jiang R. Elloy P. Nose and Throat Diseases. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan. 22. Jakarta : FKUI. 1980. 218-9. 91-3. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif.106: 702-3. Samiadi D. Vol. Colman BH. 1996. 1992. Jakarta : Bina Rupa Aksara. 4) Vitamin A 3 x 10. 6th ed. 114 : 254-9. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins. 16.23 Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. bahan sintetis seperti Teflon. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat. Laryngoscope 1996. Disease of the Nose. 1-4. Wood DG.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis. Naumann HH.1. 499. 3. 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid. Mangunkusumo E. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers. Maqbool M. maka pengobatannya belum ada yang baku. 104 : 404-7. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. Samsudin. Edisi 13.3% perbaikan pada periode waktu yang sama. 5. 12 : 325-33. Calcutta : The New Book Stall. natrium bikarbonat. kemudian dipindahkan ke lubang hidung.Edisi 6. Madras : All India Publisher. 1997. Fundamental of Ear.Hidung. cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. campuran Triosite dan Fibrin Glue. yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta.21 OPERASI Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang.Nose & Throat Diseases and Head . Pfaltz CR. setelah krusta diangkat.3) Obat tetes hidung . Jakarta: EGC. 14th ed Singapore : ELBS.5 KESIMPULAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. Massegur H. J Laryngol Otol 1998. 15. 381-2. Cermin Dunia Kedokteran No. 1985. Am J Rhinol 1998 . 106 : 652-7. Ujung Pandang: 1986. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun. Sherief SG. Disease of the Nose. Kumar S. 193-411.10-14. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml. 221-2. Soetjipto D. 349-51. Nose and Throat Diseases. Dalam : Boies (ed). Oxford : Butterworth . Gamea AM. 19. Grewal DS. mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. 1996. Hagrass.A Synopsis of Otolaryngology. 229. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. 26-7. 2. Ramalingam KK. Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. Sutomo.

tetapi lokasi tersering adalah laring. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. Kata kunci : papiloma laring. Papiloma laring pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas. anak. dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. trakea dan paru. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan nafas serta penyebaran ke paru-paru. higiene yang buruk. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta suara tangisan yang abnormal. pemeriksaan fisis. Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17. Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik. Pada laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Papiloma Laring pada Anak Bambang Supriyatno. mudah berdarah. dan pemeriksaan laringoskopi langsung. diduga berhubungan dengan infeksi human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. Lia Amalia Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi. Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur trakeobronkial. dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu. obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. Beberapa keadaan diduga berperan sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah. rapuh. 2004 . hidung. 144. berwarna kemerahan.1 Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. rekurensi PENDAHULUAN Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas anak. Jakarta ABSTRAK Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di saluran nafas anak.5 Terdapat dua jenis papiloma laring. Cipto Mangunkusumo. salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea dan bahkan sampai ke paru-paru. walaupun tidak ganas. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut. infeksi saluran nafas kronik. Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19. pada anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi. Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui.2. kelainan imunologis.3 Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”. dan pertumbuhannya eksofilik.4.

terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2. Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring. mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi. Imunologis Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon. 144. pemeriksaan fisis.6 Agung7 melaporkan 7 kasus antara 1970-1976. infeksi saluran napas kronik. yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru. nodul pita suara atau kista laring kongenital. Basheda dkk.18 Pada kasus papiloma laring yang berulang. steroid. Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan. asma bronkial.INSIDENS Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak. dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis. DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut.8.10 Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk. dan pasien tampak mulai gelisah. paralisis pita suara. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi. Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut : a. 6 di antaranya di bawah 12 tahun. Obat yang digunakan antara lain antivirus.. kriosurgeri. tetapi ada faktor lain yang berperan. tanpa sianosis. retraksi suprasternal. Terapi fotodinamik Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana papilomatosis laring rekuren.11-13 HISTOPATOLOGI Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik. 10 Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau parakeratotik. laringomalasea. stridor inspirasi ringan. Medikamentosa Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi. dan mudah berdarah. serta pertumbuhannya eksofilik. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak.17 Diagnosis banding Diagnosis sulit terutama pada fase awal. mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial. seperti kembang kol. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas. dan sianosis lebih jelas. laringofissure. kemerahan. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm). Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring. maka perlu dicurigai suatu papiloma laring. rapuh. Biasanya terdapat stridor inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol.17. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas. dan kelainan imunologis. Cermin Dunia Kedokteran No. mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas.15 PENATALAKSANAAN Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring. Bedah Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring.3. b. hormon (dietilstilbestrol). mikrolaringoskopi langsung. Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger. tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi. Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal. sianosis ringan.7. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh. sesak. 80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis.18-20 c. Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara 1993-1997 dengan usia antara 2.18 d.10 MANIFESTASI KLINIS Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak. berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah. Jackson I ditandai dengan sesak. tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya. carbondioxide laser surgery.5-18 tahun. ETIOLOGI Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti. Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk. dan stridor inspirasi.9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti. Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan. dan terkadang gagal napas. mikrokauter. mikrolaringoskopi dengan diatermi. dan podofilin topikal. Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. tetapi tidak untuk lesi parenkim. sedangkan Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. 2004 9 . 14-16 Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson. epigastrium. Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis.

Fairman DH. Laryngoscope 1991. . Laryngeal papillomatosis: clinical histopathologic and molecular studies. 102:300-10. Shoemaker DL. Pou AM. Laryngoscope 1992. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru. Gray SD. Recurrent respiratory papillomatosis. Elo J. Steinberg BM. Mulloly VM. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993. Cantell K. 3. Leventhal B. White A. 5. Interferon therapy in juvenile laryngeal papillomatosis. Current Diagnosis and Treatment. Laryngoscope 1987. Abramson AL.669-75. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995. Bajtai A. 18. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1993. Ultrasonic treatment of laryngeal papillomata. Haglund S. 98:1324-9. The Manchester experience 1974-1992. 17. Smith RJH.KOMPLIKASI Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas. Pathogenesis and treatment of juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis. 107:327-32 Green GE. Werkheven JA. Papilloma of the larynx in children. Mounts P. radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas. KEPUSTAKAAN 1. 19.13 Meskipun jarang. ekstirpasi yang tidak sempurna. 119:554-7. 1982. Recurrent respiratory papillomatosis of the larynx. Sites of predilection in recurrent respiratory papillomatosis. Dere H. bronkus. Bristol General Hospital. diduga akibat tindakan trakeostomi. Abramson AL. 12. de Boer G. Bauman NM. 11:242-52. Otolaryngol Clin N Am 2000. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. Soft tissue complication of laser surgery for reccurent papillomatosis. 4. Steinberg BM. Arch Otolaryngol 1995. 100:1458-64. A preliminary study. Yasin AR. 13. Mehta AC. Laryngoscope 1997. Topp WC. Haliwell M. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. 33:187-207. Kohlmoos HW. 144. Smith EM. Orlowski JP. 108:226-9. 8. Shikowitz MJ. Endobronchial and parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of photodynamic therapy. h. 101:1162-6. 2. Myers EN. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996. 1977. Lundwuist P. 11. Birzgalis AR. Erisen L. 10.h. 2004 . Steinberg BM. Agung IB. Arch Otolaryngol 1981. Pignatari SSN. 121:1386-91. tetapi dapat meluas ke trakea. Schneider PS. Chest 1991. Late recurrences of laryngeal papillomatosis. 102:580-3. Laryngeal papillomavirus infection during clinical remission. Otolaryngol Clin N Am 2000. Darrow DH. dan paru. N Engl J Med 1983. Derkay CS. 97:678-85. Papova viruses and recurrent laryngeal papillomata. Bashida SG. Arch Otolaryngol 1995. Task force on recurrent respiratory papillomas. Losin.249-60. Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang. 308:1261-4.16 Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. 115:322-5. 14. Ossof RH. 20. Comparison of pulsed and continuous wave light in photodynamic therapy of papillomas: An experimental study. 16. 15. Human papillomavirus infection in papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. Hidvigi J. Skripsi. Prognostic role of viral typing and cofactors. Kashima H. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM. Laryngoscope 1998. 7. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. 107:915-47. PROGNOSIS Prognosis papiloma laring umumnya baik. Fagan JJ. 9. THT FKUI. Pediatric respiratory papillomatosis. et al. Winkler B. Harley C. Clinical effect of alpha interferon dose variation on laryngeal papillomas. Hamilton. 6. Laryngol and Otol 1994. 122:942-4. Rimell EM. 33:1-12. Derkay CS.

5 : .6%.12 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. 2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista. yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea.intra lingual : 2. yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.4.11 PATOGENESIS Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus : 1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus.4%.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kista Duktus Tiroglosus Hafni Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.10. merupakan 40% dari tumor primer di leher.suprasternal : 12. Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher.14 Ada penulis yang menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus. Kata kunci : Kista duktus tiroglosus.3.1.11 Lokasi yang sering adalah1.9.13 KEKERAPAN Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya. jika sering terjadi peradangan.1.4. sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid. dekade ke tiga 13. dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid.1% .5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34. pada dekade ke dua 20.000 pasien anak. Kista ini lebih sering terjadi pada anak.14 walaupun dapat ditemukan di semua usia.4-10.5.1.5 Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31.10. Medan ABSTRAK Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher. bagian tengah korpus hiod.5 tahun.5%. Adam Malik. umur sampai 5 tahun terdapat 38%.9% Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus.1% .12 Predileksi umur terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%.10. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.suprahioid : 24. kekambuhan PENDAHULUAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid.9.5 Kista ini biasanya terletak di garis median leher.tirohioid : 60. rata-rata pada usia 5.4. lokasinya terdapat di: Cermin Dunia Kedokteran No.5. sehingga mengalami degenerasi kistik.13. 2004 11 . sehingga terbentuklah kista.6 Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak.5 Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.4. seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920. 144.1-11 Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher.1 LOKASI Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher.12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang.11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari + 86.3 Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun.3.9% . maka epitel duktus juga ikut meradang.

Kista brankial Lipoma1. 14th ed. 5/16/14. Robertson N et al. 1987. Tenggorok.1985. Leichtman LG. Duktus beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. Waddell A. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%. Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. 3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia.7. Sobol M. 1994. Kohut RI et al. dapat di atas atau di bawah tulang hioid.5. Laryngol. 2000. Massa Jinak Leher. Throat and Ear and Head and Neck. Jakarta : EGC.suprasternal : 3 Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral. Developmental Anomalies of the Neck. Singapore : ELBS. A Handbook for Students and Practitioners. 381-2. Aberrant thyroglossal cyst. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Jilid 1. Dalam : Comprehensive Management of Head and Neck Tumors. Lingual tiroid 2. 1997. korpus hioid. fasia yang lebih dalam digenggam dengan klem. 10. Philadelphia : WB Saunders Co. infeksi atau operasi yang tidak adekuat. 11. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher.transhioid : 2 . Damijanti T.8 GEJALA KLINIK Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher.11 4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya. Bailey JB. Alih Bahasa : Wijaya C. Ujung Pandang. Edisi 6. Dalam : Kumpulan Naskah Konas VI Perhati. 122: 1094-6. yaitu kista beserta duktusnya. Oxford : Butterworth . Suparjadi S.suprahioid : 18 . Vol. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. Ransom ER. 88.6. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak. thyroglossal cysts and fistulae. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. 19. Philadelphia : WB Saunders Co. Bila ada fistula. 1996. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. 5.9 Bila terinfeksi. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. Cohen JI. yang harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher. 120 (5): 757-9. Pincu RL.2. reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik.1. Konsistensi massa teraba kistik. berbatas tegas. kadangkadang lebih besar. 5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum. Samsudin. 14. Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %. eksisi sederhana. 2nd ed. 1987. dipasang drain dan irisan kulit ditutup kembali. Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya. Branchial cleft anomalies. Greinwald JH. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya. Fusion of the thyroid interval in a patient with a thyroglossal duct cyst. 2. Surgery of the Upper Respiratory System. Buku Ajar Penyakit THT.submental : 2 .11 Cara Sistrunk : 1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang.6.Heinemann. 415-21. II. Korpus hioid dipotong satu sentimeter. Benign diseases of the neck. Stool SE. irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula. Walsh N. Thawley S. Maran AGD. 1362-69. Dalam: Pediatric Otolaryngology. Congenital Neck Masses and Cysts. 9. Hidung. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid.). Vol. Scheetz MD (eds. Montgomery WW. Laryngol. 2. Dalam : Head and Neck Surgery . Bluestone CD.10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm. Edisi 13. 3. Ellis PDM. Otolaryngol. 114: 128-9. Kista dermoid 3. dibuat irisan memanjang di garis media. warna sama dengan kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. 755. kepala dan leher hiperekstensi. J. Ballenger JJ. walaupun dapat ditemukan pada semua usia. 183. 6th ed. Johnson JT. Hereditary Thyroglossal Duct Cyst. Thyroglossal duct remnants. Kejadian fistel ini antara 15-34%. 7. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology.11 Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi. Philadelphia : JB Lippincott Co. 12. antara lain insisi dan drainase. 1990. otot lidah yang longgar dijahit. tidak nyeri. Philadelphia : Lea & Febiger. Panje WR (eds. Foramen sekum dijahit. Simko MEJ.). 12 Cermin Dunia Kedokteran No. 6. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah. Untuk fistula. diagnosis dapat ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan dilakukan foto Rontgen. 6/30/8-12.11 Diagnosis Banding 1. Kepala dan Leher. J. Colman BH. Vol. Disease of Nose. Benign Tumors. O’Hanlon DM. 295-6. 13.5. 6th ed. 4. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 1986. Oxford: Butterworth – Heinemann. Corry J et al. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag. Penyakit Telinga..dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%. Karmody CS. 2004 . KEPUSTAKAAN 1. 2nd ed. bulat. benjolan akan terasa nyeri. aspirasi perkutan. Otol. Urben SL. Dalam Boies. 760-7. THT FKUI. 108 : 1105-7. 1996. posisi terlentang. 1313-14. 1983 . 1994. Saleh H. Otol.5 KESIMPULAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. 1989. 1997. Head and Neck Surg. 4.infrahioid : 43 .11 KOMPLIKASI Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder akibat trauma. mudah digerakkan. 2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang empat sentimeter. 144. sampai tulang hioid. 1. 8.Otolaryngology. Otot sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya.

Uganda. tetapi sering pada dewasa muda.8 Pengobatan meliputi medikamentosa. Sumatera Utara dan Bali. trakea dan bronkus.7 INSIDEN Rinoskleroma dapat mengenai semua usia. PENDAHULUAN Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika Serikat dan Inggris.9. 144.13-16 Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara.1. Salvador.11 Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia.8 ETIOLOGI Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis yang merupakan basil Gram negatif. lingkungan hidup yang tidak sehat dan gizi yang jelek. tapi endemik di beberapa negara di Asia. Sumatera Utara dan Bali. radiasi dan pembedahan. Kasus pertama ditemukan oleh Snigders dan Stoll (1918) di Sumatera Utara. Sumatera Utara dan Bali. Firmansyah Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H. meluas secara bertahap menjadi nodul padat yang tidak sensitif. Guatemala.8 Fisher menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan. di Indonesia terutama di Sulawesi Utara. Rizalina A Asnir. Nigeria.8. mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung.5. Cekoslovakia.2.2 Dilaporkan banyak terdapat di Sulawesi Utara.10 Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma.1. Amerika. orofaring. Medan ABSTRAK Rinoskleroma merupakan penyakit endemik. namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang memberikan hasil memuaskan.8. Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis).9 Kebanyakan penderita ditemukan pada dekade dua dan tiga.8 Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif.7.7 HISTOPATOLOGI Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo- Cermin Dunia Kedokteran No. Rumania.8. Ukraina.1.9.6. Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini.5 % terdapat pada golongan pekerja kasar seperti petani. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah. 2004 13 . rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum perang dunia ke dua.2.8-10 Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870).TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinoskleroma Delfitri Munir. India.2-4.9 Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut. Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini sampai sekarang. dan dalam beberapa tahun akan mengisi dan menyumbat hidung. Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring.1-7 Di Indonesia. Mesir. Adam Malik.2. Eropa dan Afrika.1. subglotis. Rusia.2 Belinoff melaporkan 94.11.1.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T. Bila tidak diterapi akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me- nimbulkan deformitas yang luas. Philipina dan Indonesia. Kolumbia.

710. Medikamentosa Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif. Atrofi.15 Diagnosis Banding2.8. mudah berdarah. hiperplasi pseudo epiteliomatosa. . Sel-sel ini menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan diagnosis penyakit rinoskleroma.8 1. bakteriologi.Stadium I (Kataralis. Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung.1.9 Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa. 2.Rifampisin 450 mg/ hari . laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi.13. Bakteri : Tuberkulosis.Tetrasiklin : 1-2 g/ hari . Toppozada mengemukakan bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat pada penyakit ini. 144. Sifilis.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis. Koksidioidomikosis c. Blastomikosis.6. 2004 .14: . Lepra b. kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut dan penyempitan jalan nafas. pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior. Pada stadium ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius bagian bawah. limfosit dan histiosit.2. sumbatan hidung yang berkepanjangan. kemerahan. Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya. Pada stadium I. sakit kepala. Dimulai dengan cairan hidung encer. perluasan dan lamanya penyakit.2. konsistensi padat. kavum nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah. histopatologi. Wegener granulomatosis PENATALAKSANAAN Meliputi : medikamentosa. Sporotrikosis. histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel). Jamur : Histoplasmosis.1. kemudian diikuti cairan mukopurulen berbau busuk.Stadium II (Granulomatous.Streptomisin : 0. ditambah dengan pemeriksaan penunjang seperti radiologi. 3.11 14 Cermin Dunia Kedokteran No.2.patologis yang khas.13-15 Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif.810. Stenosis. . Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras.12 1. Antibiotik yang dapat digunakan antara lain: . Kemudian terjadi invasi.10 2.8-11. Parasit : Leismaniasis mukokutaneus 2. yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2. yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk. Sarkoidosis 3. trakea dan bronkus. radiasi dan tindakan bedah. Stadium sklerotik Fibrosis yang luas. Dari pemeriksaan. serologi (test komplemen fiksasi.Khloramphenikol. laring. Klofazimin1. Di samping itu terdapat pula sebukan sel-sel plasma. Noduler) Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis.11. namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan. Sikatrik) Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak. tetapi hasilnya belum memuaskan. dapat ke arah posterior (nasofaring) maupun ke depan (nares anterior). sering seperti rinitis biasa. jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada sitoplasma.5-1 g/ hari . Radiasi Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian dikenal sebagai basil dari Von Frisch.15 1. Stadium granulomatosa Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik. Proses infeksi granulomatosa a.8 Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan. berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel permukaan. Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler yang sangat besar. Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz.6.1 Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1. Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan. Infiltratif. kemerahan. dapat terjadi gangguan penciuman.3. Siprofloksasin. faring. tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan.8. test aglutinasi) dan imunokimia. GEJALA KLINIS Gejala tergantung pada area.9 Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia.9. Proses yang sama dapat terjadi pada mulut. tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik. Pada stadium ini biasanya penyakit mudah dikenali. Stadium kataral/ atropik Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi. Gambaran penyakit pada stadium ini tidak khas.14. Eksudasi) Ditemukan pada usia sekolah.7.7. di samping keluhan hidung tersumbat juga sering terjadi perdarahan dari hidung. hanya pilek yang tidak mau sembuh dengan pengobatan biasa. Pada stadium II. Lebih lanjut rongga hidung mulai dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan. permukaan licin tanpa ulkus. Russel body.Stadium III (Skleromatous.

com/diseases/rhinoscleroma. p. Penyakit hidung. 1997.Orbita : proptosis. EGC. USA: WB Saunders Co. Sydney: March.7. 1991. Dalam: Penyakit telinga. Binarupa Aksara. In XVI World Congress of Otorhinolaringology head and neck surgery. 6. Ed III. Vol III. Desasouza S.162. New York: Thieme medical publishers inc. 2089. 12. faring dan telinga. h 457-66.10. Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial. tenggorok. Benign Tumours and Granulomas in Nose. Maran AGD. In: Otolaringology.Dilatasi Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total. 1990. 1998. Longman Singapore Publ. Vol 1. Wein N.16 KOMPLIKASI Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke : 1. Buku Ajar penyakit THT. 1993. h 210. Suardana W. Montgomery WW. http//www. Intrakranial Di samping akibat perluasan penyakit. Infections of the nose. Granuloma kronis pada muka. asfiksia dan kematian. sehingga pengangkatan dapat dikerjakan dengan mudah secara intranasal. h 368-70. In Scott-Brown’s Otolaryngology. Wilson WR. Ed VI. Beberapa aspek penyakit rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar. 8. http//www. ed I India: All India Publishers. Tjekeg M dkk. Vol 17.14. Balenger JJ. Becker W. USA: WB Saunders Co. Organ sekitar hidung : .muni. Ear.Sinus paranasal . Laryngotracheobronchial involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma. nose and throat diseases. Diseases of the nasal cavity. Butterworth-Heinemann. 603-7. 144. Jakarta.Palatum mole.13. 15. 4. 10. Rinoskleroma di RS. h 128-34. Acute and chronic laryngeal infections. ed 13.103.9. Jika terjadi sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus dilakukan trakeostomi.4. p. Throat and Ear. http//www. 14. Department of pathology. 3. Chitale A. Surabaya. Wiratno dkk. No 4. Laring.ce/atl-en/sect-sect-58/html. In: Diseases of the nose. Shapiro J. Pfaltz CR. 3. uvula. Juli. Ed III. Ed II.afip. Pembedahan Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung.129. 1997. p. atelektasis paru. Infective rhinitis and sinusitis. htm Colman BH. Scleroma.32/micro/v17n04. 7. Great Britain: 1997.htm. orofaring 2. 9. Jilid I. Monduzzi.1. Yigla M. Oren I et al. 1994. hidung. Nauman HH. June 2000. January. Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII PERHATI. 1983. 206-7. 3. kepala dan leher.thedoctorsdoctor.9 4. Infectious disease of the paranasal sinuses. Medan. Ed X. In Otolaryngology. 13. Pranowo S.1 KEPUSTAKAAN 1. 1980. 1990. Vol III. 40. hidung. In A Short Practice of Otolaryngology. 1993. Sreemamoorthy B. Ahmad M. Groves C.Saluran lakrimal (dakrioskleroma) . 11. 61. Agustus. 2. Vol IV. Jakarta. Fried MP. Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI. sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas. 4. h 224556. 16. Masna PW. Ed VI. p. Cermin Dunia Kedokteran No.atlases. throat and ear and head and neck.org/departements/endocrine/case/dec00/december2 htm.Telinga bagian tengah (otoskleroma) . 5.1. 1851-52. Dalam Boies (ed). ed IV. kebutaan . Ramalingam KK. p. 2004 15 . Hilger PA. PG Publishing. h 4/8/34-35 Rhinoscleroma http//www. 1991. Kariadi Semarang. p. Dr. Ben-izhak O. komplikasi dapat juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa) dan berdegenerasi maligna. Chest.

dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi.000 penduduk per tahun. yakni 4. Dijumpai 16 Cermin Dunia Kedokteran No. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap.000 penduduk1. . Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. Jakarta PENDAHULUAN Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang disebut sebagai mekanisme karsinogenesis. maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol. Berbagai kekacauan struktur ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar. Yang disebut KNF adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi.7 kasus baru per tahun per 100. Susworo Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Sel akan tumbuh tidak normal dan berlebihan.000 penduduk. tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring. misalnya kelainan pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium). Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan. Catatan dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan ke empat setelah kanker leher rahim. Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini. seperti perokok berat. Sebagian lagi bersifat diturunkan Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu. bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih.3 Sekalipun termasuk ras Mongoloid.2 Bandingkan dengan negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka kejadian 1 per 100. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini. pajanan pada bahan kimia atau oleh virus. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia. Perubahan genetik ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak terkontrol. diasin). dan beberapa ras di Afrika bagian utara. KANKER NASOFARING (KNF) Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari langit langit lunak. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). Sebaliknya. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini. tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. seperti konsumsi lemak yang terlalu tinggi. pola hidup. kulit hitam dan Hispanics. sedangkan angka rata rata di Cina bagian selatan berkisar antara 20 per 100. 2004 lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita. bangsa Korea. bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya KNF. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. di samping Mediteranian. faktor eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif. atau gen HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal. kanker payudara dan kanker kulit.000. apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran tersebut. terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir R. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah. Cipto Mangunkusumo. Bermula dari terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme pertumbuhan sel. putusnya kromosom (chromosome breaks) dan delesi pada sel sel somatik. 144. Antara lain disebutkan faktor makanan. Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per 100.

Sedangkan pemeriksaan lain.000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0. Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya. Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus menerus. Pada 1966. Untuk menegakkan diagnosis. Saraf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata. Manakala pasien merasa bahwa kelenjar leher menjadi makin besar. Pemberian pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama. KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein Barr. GEJALA KLINIS KNF Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada penderita KNF. Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa. 144.5 per 100.Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. debu kayu serta asap kayu bakar. Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah. Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style salted fish). Yang selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya muncul salah satu gejala akibat KNF. Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan nasofaring. predisposisi genetik dan pola makan tertentu.5 per 100. Pada keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau keduanya. Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. Pembesaran kelenjar leher merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. telur asin. pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). disusul oleh keturunan Melayu (6. seperti foto paru. CT scan atau MRI nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. infeksi EBV dan penggunaan CHB6. Selain gangguan motorik. kadang kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga.5 per 100. terlebih pada stadium dini. pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis di organ-organ tersebut. capsid antigen dan early antigen. banyak kasus yang terlambat didiagnosis. Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura. sampai saat ini belum ada metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF. Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF. Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan. akibatnya terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang juling.000 penduduk). Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai konskuensi terhadap tujuan pengobatan. Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali menyerang saraf pusat yang keluar dari otak. USG hati. Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga menyulitkan tindakan radioterapi. PENGOBATAN Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi radiasi. Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18. 4 Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV). Di beberapa bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih. padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. (yang dinamai sesuai dengan penemunya. Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain.000). seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV. Berbeda halnya dengan kanker leher rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik Papanicolaou dan mamografi. selain gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding nasofaring dengan alat endoskopi.5 Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti udang asin. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (Chinese herbal medicine= CHB). maka dapat dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut. 2004 17 . Lendir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. Keluhan telinga dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar. Di samping itu pemberian khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker Cermin Dunia Kedokteran No. Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan otak saja. Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid. pendengaran sedikit menurun serta mendesing. Epstein dan Barr pada limfoma Burkitt pada 1960).

bahkan setelah selesai terapi. dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala seperti yang diutarakan di atas. 2nd. Azis MF. 1981. Ross RK. ed. NPC in Chinese – Salted fish or inhaled smoke? Prev Med. N. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah memilikinya. Publ. and risk of nasopharyngeal carcinoma. p. 603 –18. The flame of glory is the torch of the mind 18 Cermin Dunia Kedokteran No. 144. IARC Press. pada umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang memuaskan. In : Tjokronagoro A. (Eds). Cancer Res. 2004 . Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). YKI. Ferlay J. karies gigi akan lebih mudah terjadi. Int J Cancer. terutama pada kasus dini. 7. pasien akan selalu diawasi oleh dokter. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. Parkin DM. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. Ferlay J. Young J. Nasopharyngeal cancer. Henderson BE. In: Schottenfeld D and Fraumeni JF (eds). 80: 827–41. Yusuf A. Pisani P. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula. Herbal medicine use. 5. Jakarta Indonesia 1988. (Lihat lampiran/ halaman 19). yakni dengan memasukkan sumber radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di sekitarnya. Parkin DM. 6. France : IARC Scient. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar. Bila saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa sisa makanan ini berkurang. Vol. Estimates of the world-wide incidence of 25 major cancers in 1990. 143. mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). Henderson BE. dapat menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator linier (Linear Accelerator atau Linac).yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi. Hildesheim A et al. p. Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan. Djakaria M. Cancer in Asia and Pacfic. Raymond L. Whelan SL. Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. Himawan S. Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna. Susworo. Yu MC. 10: 15-24. KEPUSTAKAAN 1. York: Oxford University Press. No. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa negara maju. Cancer Incidence in Five Continents. Epstein Barr virus. Soetjipto D. 1996. Syafril A. PENUTUP Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang spesifik. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan. Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas. 1990. 52: 3048 –51. 471–86. 2. Fachrudin D. 4. Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi. Lyon. Ho JHC. 1992. 1997. Yu MC. memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar. Nasopharyngeal carcinoma in Dr. 3. Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada mukosa dasar tengkorak. EFEK SAMPING PENGOBATAN Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. Pengobatan radiasi. Metode brakhiterapi. Berkonsultasi ke dokter keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan tindakan yang tepat. Cipto Mangunkusumo General Hospital. Cancer epidemiology and prevention. bawah serta klavikula.

144. Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang ternyata merupakan metastasis dari KNF Gambar 2. Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator) Gambar 3. Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 19 .LAMPIRAN : Gambar 1. Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi. Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala.

serta lebih dari 50% penyebabnya . Branhamella catarrhalis 22. Jakarta ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia. yakni sebesar 68. salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam. B.3 %. Streptococcus sp. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. termasuk Indonesia. Lima spesies terbanyak adalah: Streptococcus viridans 54.9 %.52%. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai bulan Nopember 1999. usia 5-15 tahun 29.5 % dan dewasa 23. Streptococcus pneumoniae 3. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%.8 %.1 %. Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut adalah 73. 144. Branhamella catarrhalis. terutama infeksi pernapasan akut (ISPA).04%.2%. 87. 40% dan 80%. Streptococcus βhemolyticus 6.catarrhalis PENDAHULUAN Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang. Metoda penelitian cross-sectional. Ani Isnawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah.11%.5%.82%. Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam. Betalaktam. Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans. dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat”. Kata kunci : Tonsilo-faringitis. 53. baik infeksi saluran per20 Cermin Dunia Kedokteran No.HASIL PENELITIAN Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat Retno Gitawati. Departemen Kesehatan RI. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 20%. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47. Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh bakteri (kuman). 2004 napasan atas maupun bagian bawah. Streptococcus β-hemolyticus.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3.

dan kotrimoksazol(4). dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun. Proteus. HASIL Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis. berturut-turut 9.05%). terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam. yakni golongan penisilin dan sefalosporin.05) 2 (1. sakit menelan. dengan sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat.35%.53) 1 (0. Yeast (ragi) Staphylococcus aureus Alkaligenes dispar Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus epidermidis Jumlah Jumlah (%) 71 (54. (Tabel 1). 5. 7.2 %. BAHAN DAN CARA Desain uji adalah studi kasus cross sectional. 3. 12. makrolida. dan memerlukan terapi antimikroba. sifat hemolisis agar darah. fermentasi karbohidrat. Branhamella catarrhalis (22. Untuk kuman S. sedangkan terhadap Penisilin-G dan amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah. dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam. Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin.82%) dan Klebsiella pneumoniae (3. batuk. khususnya terhadap kuman penyebab ISPA. Pseudomonas. dan hasilnya menunjukkan profil resistensi (Tabel 2).11%). dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama sakit. Streptococcus β-haemolyticus (6. Kuman hasil isolasi diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada media Mueller-Hinton.76) 1 (0. viridans sebanyak 54.76) 132 (100) usap Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000).9%). Escherichia. dan Haemophillus(2).71 %.76) 1 (0. Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut. Staphylococcus. tetapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 % dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25. 2. Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI.93% dan 5. Semua subyek telah menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent.53) 2 (1.adalah virus(1). Jenis (spesies) kuman Streptococcus viridans Branhamella catarrhalis Streptococcus β-haemolyticus Streptococcus pneumoniae Streptococcus non-haemolyticus Klebsiella pneumoniae Acinobacter spp.82%). dan uji-uji khusus lainnya.43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas. kadang-kadang disertai folikel bereksudat. Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA. Streptococcus non-haemolyticus (3. termasuk jenis antimikroba yang diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas. yakni sebesar 68. terhadap antimikroba golongan betalaktam. berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut 31. dan memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C. 11. Isolat-isolat kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya terhadap antimikroba betalaktam. Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus viridans (54. 9. tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda detritus. Streptococcus pneumoniae (3. Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen tenggorok No. hampir sama dengan yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4.2%).4 % . (R = resistensi) Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3). yang memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 1999. B hemolyticus diperoleh 6. Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S.9) 8 (6.2) 30 (22. Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari usap tenggorok antara lain Streptococcus. yakni dengan mengukur zona hambatan.11) 5 (3. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni. Kuman ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab endokarditis. Antimikroba golongan betalaktam. 1. 8. Branhamella. 4.04%. Klebsiella. hiperemis. 144. 2004 21 . dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat pada suhu 370C selama 24 jam. kecuali terhadap Cefradin. Tabel 1. dengan cara atau rumus sebagai berikut: % R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman “Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 + (% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Z”)/100.82) 4 (3. 6. DISKUSI Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif.82) 5 (3. Cermin Dunia Kedokteran No.46 %. Jumlah subyek sebanyak 83 penderita. 10.53) 2 (1. Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap antimikroba betalaktam.

Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi bakteri yang sensitif.8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986) sebesar 3. 6. selain itu dapat terjadi resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan. aeruginosa S. Fachrudin D. yakni sebesar 68. 12.0 100 0 100 0 100 100 0 Keterangan: PeG= Penisilin-G. 9.2 22. Cefoti = Cefotiam. P. Abdoerachman H.viridans dan S. amoksisilin dan ampisilin(2).82 3. Cefpi = Cefpirome.7 %. 60% dan 20%.. Ceftri = Ceftriakson. β-haemolyticus S. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute respiratory infections for the under five children among general practitioners.76 0. 2004 menghasilkan enzim betalaktamase. Sulb = Sulbenislin. Streptococcus β-hemolyticus 6. Josodiwondo S. MKI 1987. 7.11 3. 144.29 1. KEPUSTAKAAN 1. .04 %.04%. aureus 0 %. 2 (1): 6-12. Dwiprahasta I.52 2.33 53. 1996. Amx = Amoksisilin.0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Amx 2. viridans B.82 0 0 0 0 0 0 100 50 100 100 0 Sulb 0 0 0 0 0 0 0 100 0 100 0 0 Cefpi 0 3.9 6.53 Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah terhadap Cefradin sebesar 68. diikuti oleh Penicillin G dan Ceftriakson.23 0 3. Di Indonesia untuk infeksi pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan ke empat setelah eritromisin. Total resistensi isolat antimikroba betalaktam No.41 4. Dirjen Binkesmas. 26. 4. Berkala Ilmu Kedokteran 1997 .2 %. 4. Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12 miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan di rumah sakit berturut . Antimikroba Cefradin Penisilin-G Ceftriakson Cefotaksim Amoksisilin Cefotiam Cefpirome Sulbenisilin Cefepime kuman usap tenggorok terhadap % total resistensi 68. aureus terhadap Penisilin G dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3. 3.turut adalah Golongan B Laktam. aureus Alkaligenes spp.76 0. Departemen Kesehatan R I. Makrolid dan Fluorokuinolon.76 % resistensi antimikroba Cefoti Ceftri Cefota 1.12).0 20. tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin bahkan juga terhadap golongan sefalosporin. sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat minimum (MIC) kuman dan kesembuhan. Tabel 3. Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi bakteri gram positif. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga mungkin sudah banyak terjadi resistensi.82 30.11%. 5. KESIMPULAN Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies. 5. bahkan sefalosporin sudah berkurang kemampuannya. epidermidis PeG 2. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik. pneumoniae Acinobacter spp. Penulisan resep oleh dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin spektrum luas sebanyak 53.53 0. Cefota = Cefotaksim.viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Penisilin G adalah 70%. Cefep = Cefepime. .05 )(10).33 3.5 40. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. pneumoniae S.7 %.0 80.35 3.2%.9 %. makrolid 15 %.53 1.2 % dan 66. . Untuk mengatasi bakteri gram negatif tampaknya penisilin. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut– turut adalah 46.82%.53 1.67%. sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0. Yeast (ragi) S. penisilin spektrum sedang dan sempit 13. Cefrad = Cefradin.23 4. Trihendrokesowo dkk.0 0 0 0 0 20 0 0 50 0 100 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 Isolat kuman S. MKI 1996.7 % dan 96. Resistensi kuman S. 1. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba Saat Ini. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala. lima kuman terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54. 2. 3. tidak jauh berbeda dengan resistensi kuman S. sefalosporin 7. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam % Isolat kuman 54.04 9. non-haemolyticus K.52 87. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%.82 %.Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian berlebihan akan mempercepat resistensi.48%. MKI 4 (2/3): 56-60. Streptococcus pneumoniae 3.93 6. 2.05 2. namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S.0 %.5%.82 3.87 5. karena mampu 22 Cermin Dunia Kedokteran No.33 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefep 0 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefrad 73.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. 46(9): 467-76.33 0 0 0 0 20. kecuali sefalosporin generasi ke tiga (11. catarrhalis S. Branhamella catarrhalis 22.Tabel 2.57 5. Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob di Bidang THT. 8.05 1. akan tetapi 9 % penderita meninggal dunia.

pluit-hospital. distribution of phenotypes related to beta lactamase production.internafkunand. Med Progr January 2003.id Hotel Grand Hyatt. Occurrence and Classsification. Kariadi Semarang. Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah. 1994.pluit@rad.net.com/index.id Hotel Planet Holiday. Nukman R. J Internat Med Res 1986. In : Rolinson GN. (eds). Padang Telp. (Respina V) 5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit Dalam (PIB V IPD) FK Unand Recent Advances and Challenges in Endoscopic Surgery in Asia Pacific 26-29 Tempat dan Sekretariat Lt. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI.or.php Hotel Bumi Minang. KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004 Bulan Tanggal 10 Kegiatan Telemedicine Network in Indonesia.or.fkumy.net. Batam Telp.or.idai. 14:193-9. Fax : 0751-37771 Email: pibipd@yahoo. 7.com Hotel Sahid Jaya.org KPP Bioteknologi ITB. detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www. : 021-5684085 ext. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut.com Web-site : www.ac. 1242. : 0778-7024522. Wibisono MY. Jakarta Telp. : 0274-587555. : 0751-37771. : 021-4532202. 1988.id Bali International Convention Center Telp. Fax : 0778-421352 E-mail : pitika2@idai. Beta Lactamase. Management and Therapy in Critical Care Medicine Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3 dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan Produktivitas Kerja The 6th Int.net. Fax : 022-2035042 E-mail : pitpogi14@obgyn-bandung. Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia. Idajadi A.org website : www.id Jakarta Convention Centre Telp.com Website : www. Jakarta. Hartono TE. 6-17. : 022-2039086 / 2035042.: 021-79184052 Website: http://www. Ringroad Selatan Yogyakarta Telp.kalbe. 11. Jakarta Telp. 6684878 Email : elsabali2004@globalmedicaonline. : (021)-3148610. 6685070. Jones A.6. Sugito. Sirot J. 6685006 Fax : 021-4535833.interna. : 021-3919653.com.id Hotel Horison.1988. Rai IB. Pola bakteriologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa.or. Faks. Meeting on Respiratory Care Ind. Herman MJ. : 021-330956. 144. 5. Suprihati. Telp.id Karawaci.co. Sirot S. : 021-3928658. Fax : 021-3928659 E-mail : endocrin@rad. Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae.co. Bandung Telp.id Bali. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic Therapy. Gedung AR Fachruddin. Bag Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP. Fax : 021-56961530 E-mail: iqbalicu@idola. Slombe B. : 021-4786 4646. Fax : (021)-3913982 Website : www. Amsterdam : Excerpta Medica 1980.id Jakarta. Surakarta.respina.International Symposium on Infection Control Informasi terkini. : 0274-37430. : 021-31934636. Surakarta . How is the Benefit for Family Doctors The First Indonesian Symposium on Interventional Pediatric Cardiology Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak IDAI PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas " Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular III & KARIMUN III Konker PGI-PEGI-PPHI PIT IX Ilmu Penyakit Dalam 6-8 11-13 Agustus 13-15 28 Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes 11th International Symposium on Shock and Critical Care : New Insight in Diagnosis. Fax : 021-3914830 Website : www. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI . 2004 23 .itb. Bali Telp. Fax : 0274-565639 E-mail: pututby@email.id/calendar>>Complete Cermin Dunia Kedokteran No. Watson A. Fax : 021-4786 6543 Email : info@respina. Fax : 021-3161467 Hotel Sheraton Mustika. Yogyakarta Telp. : 0274-37430 Website: http://telmed.or. Saulnier P. 9. Fax : 021-3919653 Email: iisic2@pharma-pro.net Hotel Planet Holiday.3907703.com. roga@biotech. : 022-2534115. Tangerang Telp.id Website : www. Antibiotik Beta Laktam. 10. Laporan penelitian 1998.com 10-11 12-14 Juli 13-15 16 16-18 31-1/8 17-18 25-26 September 30-3/10 2nd Indonesia . Tarigan HMM. rs.obgyn-bandung. 12. Fax : 022-2511612 E-mail : roga@scientist.idki. 8. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr.id Hotel Sahid Jaya. Telp. Batam Telp. Bandung Telp.

Jakarta PENDAHULUAN Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang disenangi. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini. serta tatalaksana gangguan pendengaran akibat kebisingan. bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan. 2004 mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar. namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu. sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. Secara definisi. Secara umum tekanan suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja Novi Arifiani Subdepartemen Kedokteran Okupasi. Hal ini perlu diketahui. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi. sangat luas. tengah. Konduksi Tulang Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi pendengaran. Pembahasan pada tulisan ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap kesehatan terutama kemampuan pendengaran. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan. Misalnya. tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising terhadap kesehatan tenaga kerja. alat-alat transportasi berat. Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin. penurunan kemampuan kerja. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi). gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. Untuk itu. Anatomi Telinga Secara anatomi. adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang berasal dari jalur ini. suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. dan lain sebagainya. Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar. 144. Respon auditorik Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising di tempat kerja. Di telinga tengah ini. cara yang digunakan untuk . cara mendeteksi gangguan pendengaran akibat kebisingan. maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. Telinga luar berfungsi 24 Cermin Dunia Kedokteran No. dan dalam. melakukan deteksi dini dan pengendalian bising di tempat kerja.Bising yang di dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh. bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. biasanya di atas 120 dB. gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis.

2). Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat. nilai ambang di atasnya. di udara terbuka. Pada trauma akustik. Noise-Induced Temporary Threshold Shift Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. pendengaran orang tersebut berkurang. Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz. Pemahaman percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu. Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal. Kemampuan ini penting untuk memilih suara yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak ingin didengarkan. 144. maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga manusia. diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga. dan durasi. atau kerusakan langsung organ Corti. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. dengan kata lain. Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok. yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)). Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan adanya suara lain. Masking Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara adalah masking. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan. cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut. dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea. karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. Trauma Akustik Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. amplitudo. Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band. atau suatu alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik berdasarkan frekuensi. kerusakan tulang-tulang pendengaran. maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift). dsb). dan waktu yang didengar untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut. Lokalisasi Sumber Bunyi Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi. Untuk menghindari kelelahan auditorik. 3). Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik.mendengar suara tersebut ( melalui earphone. Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar. Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen. GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran. dsb). Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh masing-masing telinga. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. pengeras suara. Sensitivitas Pendengaran Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata. Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara tersebut. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap. Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara masking tersebut. Makin tinggi tekanan udara. dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga. Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara. Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga sebagai kuat atau lemahnya suara. Kekuatan suara Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. Kemampuan telinga untuk membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara yang vertikal. Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam. 2004 25 . yaitu trauma akustik. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga. maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat.

serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising. Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry. obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen). serta faktor-faktor lain seperti usia. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan (Gambar 1). 2004 merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan. jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara. mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya faktor risiko. kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan. Memeriksa pendengaran Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. Pemeriksaan telinga. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan. Untuk menilai ambang pendengaran. gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. Efek jangka panjang Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh hormonal. Efek jangka panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang berulang. 1000. spektrum bising. dan sebagainya. trauma telinga karena agen fisik lainnya. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. . pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik. sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain. seperti faktor fisika lain berupa panas. bahwa keadaan bising di lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya. serta aktivasi hormon kelenjar adrenal seperti hipertensi. Efek jangka pendek Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot. sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek. frekuensi yang diuji. Namun dapat pula terjadi respon pupil mata berupa miosis. Secara sederhana. getaran. pengukuran impedance. refleks pernapasan berupa takipneu. tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan. Dari data observasi di lingkungan industri. serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. dan sering timbul tinitus. faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara. EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang. untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. tidak jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis. hidung. disritmia jantung. Bila sudah terjadi kerusakan. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne. 144. Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit setelah pajanan terjadi. bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik. untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500. serta dapat terjadi pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang paling rentan adalah paru-paru). durasi total pajanan. 3000. untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini 26 Cermin Dunia Kedokteran No. dan sebagainya. dan 6000 Hz. Noise-Induced Permanent Threshold Shift Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia.setelah pajanan suara. dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif. sedangkan efek jangka panjang terjadi sampai beberapa jam. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising. tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. 2000. berbicara dengan suara menggumam. status kesehatan. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini. dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia. Weber. dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara. durasi pajanan. tes rekruitmen. respon gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas sampai timbulnya keluhan dispepsia. jenis kelamin. 4000. Pada skala frekuensi. Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi. Namun perlu diingat. Pada pemeriksaan fisik. Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi. spektrum suara. dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat gangguan saraf otonom. hari ataupun lebih lama. alat transmisi ke telinga. dilakukan pemeriksaan audiometri. tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini. dan sebagainya. meningkatnya tekanan darah. biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas. dan pola pajanan temporal.

Koroner Oklusi Arteri Lainnya terjadi. Hearing conservation program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan ini. Selain itu. penderita tuli akibat bising ini juga sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume. Pada awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang timbul akibat bising. durasi masing-masing pekerjaan. riwayat penyakit dahulu. tinggi rendah dan irama percakapan. riwayat keluarga. Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari. Jika dipergunakan alat bantu dengar. tanggal bekerja dan umur saat itu. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA AKIBAT BISING Faktor akustik. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan). perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir. Penggunaan alat pelindung telinga. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Namun penelitian efek kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan dengan seksama. Cermin Dunia Kedokteran No. namun pada pemeriksaan efisiensi kerja terlihat pengaruh yang cukup bermakna. gangguan pendengaran yang saat ini terjadi. kondisi geografis dan lokasi fisik pekerjaan. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan menanyakan nama pekerjaan. barang atau jasa yang dihasilkan. Pemeriksaan audiometri pra kerja merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal kondisi pendengaran tenaga kerja. kondisi medis. riwayat pelatihan militer. PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. riwayat pekerjaan. Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan bising di tempat kerja adalah 1). untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap pemeriksaan tersebut. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. Suara yang asing. suara di atas 95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja. Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara dini. interupsi suara berulang. dan permasalahan hukum harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. jenis pekerjaan yang dilakukan (beserta tanggal atau waktu bekerja). Pelaksanaan program pemeliharaan pendengaran (hearing program conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan di tempat kerja. Survei kebisingan di tempat kerja harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang . Dan gangguan pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di tempat kerja yang berlebihan. Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. Jika pendengaran sudah sedemikian buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat menerima keadaannya. Pemeriksaan ini bersifat subyektif. 2004 27 Iskemaia Jantung Infark Miokard Stroke Gambar 1. pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan di lingkungan kerja. Namun tetap perlu hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang kemampuan atau performa kerja.Bising Reaksi Stres Umum akibat Kenaikan Adrenalin dan Noradrenalin Kenaikan Tekanan Darah Respon Vegetatif Peningkatan Kebutuhan Oksigen Peningkatan Agregasi Trombosit Kerusakan Dinding Arteri Trombosis Arteriosklerotik Oklusi A. terutama pada lingkungan industri. Benar telah terjadi kehilangan atau gangguan pendengaran dan 2). pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya deteksi dini pula. Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. 144. Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar. keluhan utama.

Noise and Nuisance Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and Feasibility Study September 1998. Nilland J. Pemeriksaan dengan garpu tala 6. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini cukup besar. Zenz C. Food and Rural Affair. Jakarta : 2001 Department for Environment. 2nd ed. Edisi 5. 28 Cermin Dunia Kedokteran No. harus dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja tersebut. In : Zenz C.htm. Iskandar N. (chief ed). Occupational Medicine. February 6th. 2004 . Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai perhitungan kompensasi.uk/ environment/noise/health/page05. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2. Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan secara teliti. Pemeriksaan refleks kedua mata 4.defra.penggunaan alat pelindung diri. In . New York : 1979. Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi suara 8. 4. Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan adalah: 1. Harris CM (ed). Louis : 1994 Soepardi ES. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual.gov. adakah tanda-tanda abnormalitas 3. St. KEPUSTAKAAN 1. Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berbeda di masing-masing negara. Horvarth EP. KESIMPULAN Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas tenaga kerja. http://www. McGraw-Hill Book Comp. dan hati-hati untuk menghindari kesalahan prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja. Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga. Bila terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja. Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi. Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa hantaran udara dan hantaran tulang 7. cermat. Noise. Handbook of Noise Control. 2004. Mosby. 3rd ed. Tes rekrutmen Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain. Menilai ada atau tidaknya nistagmus 5. Dickerson OB. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Occupational Hearing Loss. sumber suara atau kebisingan yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini). dan Hearing Conservation. 144. 3. 2.

yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus. kipas angin. dari jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon. Cermin Dunia Kedokteran No. gangguan pendengaran saja 17.1997).55% pada tingkat paparan kebisingan 85 . Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas. suara katup mesin gas. meriam dll. Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara industri.105 dB (Sundari. misalnya suara gergaji sirkuler.1 – 108. 2004 29 . Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja. dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja.28% dari 350 pengemudi bajaj yang diperiksa. Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL 27. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.43%. Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss) atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%. Di Quebec-Canada. prevalensi NIHL 31.71%. 2. Bising impulsif Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara. dsb. Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB.16 %. gergaji sirkuler. Roestam Subbagian Kedokteran Kerja. Di perusahaan plywood di Tangerang.2 dB (Lusianawaty). jumlah seluruh gangguan mencapai 72. bising merupakan masalah utama kesehatan kerja. Nada kebisingan dengan demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada.81% dengan paparan kebisingan 86. Ini diperkuat dengan penelitian Yenni Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas. Pada kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja Ambar W. suara katup gas. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0. 1000 atau 4000 Hz). tembakan. 1997) mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB dengan 50% NIHL. 3. Menurut WHO (1995). melainkan ada periode relatif tenang. Pada pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91 dB (64 dB . Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi : 1. mudah emosi. Apa yang disebut kebisingan Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000. diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising melebihi 90dB di tempat kerjanya. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih.5 detik berturut-turut. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas 85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. Di Indonesia. Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter.14% dan gangguan keseimbangan saja 27. kebisingan di lapangan terbang dll 4. di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31. rerata akselerasi getar 4. 144. Penerapan program konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising.2m/dt2. Bising terputus-putus Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise. Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran seperti susah tidur. suara dapur pijar.96 dB).

c. seperti letusan. tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa. karena suara impulsif dengan intensitas tinggi. 5. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula.patologis . terutama yang memilikis pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi. apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. d.5 0. gangguan psikologis. seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE. seperti gangguan fisiologis. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara. tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja. Tabel 1. Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural. susah tidur. Gangguan fisiologis Pada umumnya. ledakan dan Di Indonesia.non-patologis . Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten.25 atau kurang 5. Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut : a.Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif. 2. daya dengarnya akan pulih sempurna. daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg). Efek pada pendengaran Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian. 1. gangguan komunikasi dan ketulian.reversible/bisa kembali normal Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam. Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb: • Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS .waktu pemulihan bervariasi . • Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap . yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. dan lain-lain. dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap. b. keselamatan tenaga kerja. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising. • Tuli karena Trauma akustik Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba. 4. Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah bising yang bersifat kontinu. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis. yang dikaitkan dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut (Tabel 1). 2004 . Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. 144. cepat marah.bersifat sementara . Ketulian bersifat progresif. sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman. Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. Batasan waktu dan Pajanan kebisingan Intensitas suara (dB) OSHA Indonesia 90 85 92 95 88 100 91 105 94 110 97 115 100 Jam kerja terpapar 8 6 4 2 1 0. peningkatan nadi. kelelahan.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja. serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. bising bernada tinggi sangat mengganggu. Organisasi Pekerja Internasional /ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan ketentuan jam kerja yang diperkenankan. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan. gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan 30 Cermin Dunia Kedokteran No. tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup. Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari. PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN TENAGA KERJA Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja.menetap PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. kurang konsentrasi. sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. namun bila terus menerus bekerja di tempat bising. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. 3. Gangguan keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang. intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari. Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari pengaruh buruk kebisingan. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising. konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki. stres.

biaya kesehatan yang membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan. mengurangi angka kecelakaan. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan) Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja. Problem komunikasi di tempat kerja b. Hearing Impairment Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS) 2. 1. mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding. Program selengkapnya adalah sebagai berikut : 4. 4. mengurangi angka kesakitan. 5. Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program. antara lain: 1. c. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising. cepat sembuh secara parsial atau komplit. 5. 1994). b. Kontrol engineering dan administrasi 3. Problem mencari arah/asal suara d. Hearing Disability Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat hearing impairment. mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan. bersifat menetap (irreversible). Cermin Dunia Kedokteran No. dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana. proaktif bukan reaktif. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting. Utamakan pencegahan bukan pengobatan. 144. 1996): 1. Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan dalam melakukan aktivitas normal harian. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik. 6. Evaluasi audiometer Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE) Pendidikan dan Motivasi Evaluasi Program Audit Program Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja. 6. jadwal kerja . Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja. 2. menunjukkan itikad baik. Bagi karyawan Mencegah ketulian. ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit). NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat. misalnya : a. Problem membedakan suara Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment terhadap disability berbeda pada setiap individu. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur : a. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis. kesejahteraan bukan santunan. menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses). hubungan baik dengan karyawan. angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri. namun merupakan pedoman. Dilaksanakan oleh semua jajaran. 3. Tuli ini biasanya bersifat akut. 3. rotasi kerja. terutama bila sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun. Dukungan manajemen 2. 2. meningkatkan produktivitas. Berupa policy statement 3. dan lain-lain). Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri) c. Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal.lainnya. Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut : a. seperti respons terhadap alarm atau pesan lisan f. Handicap Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya. 5. Occupational handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam bekerja dan memilih karir) d. Bagi pengusaha Taat hukum. tinitus. 2004 31 . Serta bisa mengurangi stres. tergantung fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan. menutup sumber kebisingan dengan barrier. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam mengikuti pembicaraan) b. Program pencegahan ini dikenal dengan istilah Program Konservasi Pendengaran. Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas 6. oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini perlu diprioritaskan. PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI PENDENGARAN Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH. Integrated dengan program K3 4. Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. Problem dalam mendengarkan musik c. langit-langit dan lantai. Economic self-sufficiency handicap e. Monitoring paparan bising 2. ruang isolasi. AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS SEBAGAI TENAGA KERJA Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja dibedakan atas : 1. Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik. 7.

periksa dokter . Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap : a. 144. 4. 3.bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz). bila STS persisten atau membaik IV.paling lama dalam waktu 2 minggu .dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA) . yang sering juga disebut survei bising. Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang. Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA 3. memberi pelumas secara teratur. Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara periodik. kecepatan putaran atau isolasi. pengukuran dengan peta. alat pelindung telinga tidak akan memberikan II. Monitoring pendahuluan Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran. Monitoring bising terperinci Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan. mengencangkan bagian mesin yang longgar. Exit Policy mengenai audiogram : 1.untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam Ada 2 macam monitoring paparan bising : 1. 7. Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification. b. Annual monitoring 3. ukur tempat dan ruang kerja. atau menggunakan APD 2. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di setiap lokasi. dan lain-lain.komunikasikan dengan karyawan tersebut . Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) . 6. Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan. Pengendalian administratif dilakukan dengan cara : 1. 5.setiap tahun dibandingkan dengan base-line . konsulkan ke dokter THT . Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai berpegas. diharuskan memakai .untuk baseline 14 jam bebas bising. MONITORING PAPARAN BISING Tujuan monitoring paparan bising. beri petunjuk ulang . Pre-employment 2.Bila belum menggunakan APD. SOP pengukuran harus ada dan jelas. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara. 2.Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis . Setiap tahun. catat lamanya terpapar (sekarang digunakan audiometer). Prinsip monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut : 1. Base line atau data dasar : . EVALUASI AUDIOMETRI Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada : 1. Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). Pre-employment/preplacement/Baseline 2. tenaga mesin. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti. 4. ukur maximun dan minimumnya. KONTROL . dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. 3. bila lebih dari 85 dB. 2. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku. Saat pensiun/purna tugas Tipe audiogram : 1. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai. Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD. konsul THT Lakukan revisi baseline. lakukan tahap selanjutnya c. Penempatan ke tempat bising 3.I. Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi 32 Cermin Dunia Kedokteran No. Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi. 2. 5. maka disebut + (positif) Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah : . Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat kerja. Kecocokan.Bila sudah memakai. Rotasi tenaga kerja 3.Bila perlu. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran 5.periksa data kalibrasi alat .engineering dan administratif Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising. 2004 . berdasarkan lokasi tempat kerja. Penjadualan pengoperasian mesin 4. bertujuan untuk : 1. Mengatur jadual produksi 2. bila bising > 85 dB 4. Evaluasi : .jika karena penyakit. PENGGUNAAN APD Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga : 1. .. adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja.periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun Bila STS (+) karena pekerjaannya : . contohnya : 1. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis). Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). Saat pindah tugas keluar dari tempat bising 5. sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran dan tindakan lebih lanjut (skala b). Mengikuti peraturan III.periksa tempat kerja . menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja. Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk bekerja. 2.

identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut. sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. Penyuluhan khusus. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara. pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan. 2. Earmuff bila di atas 100 dBA 3. VII. EVALUASI PROGRAM Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA 2. premolded type Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program. Beberapa tipe sumbat telinga : a. Cermin Dunia Kedokteran No. Hasil pengukuran kebisingan. VI.50 dB frekuensi 100 – 8000 Hz. dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran. Tidak saja untuk melindungi pekerja. terus menerus untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran. terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut. Audit Eksternal. keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat. formable type b. Jenis-jenis alat pelindung telinga : 1. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40. kemudahan membersihkan dan kenyamanan Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut : TWA/dBA < 85 85 – 89 90 – 94 95 – 99 > 100 Pemakaian APD Tidak wajib/perlu Optional Wajib Wajib Wajib Pemilihan APD Bebas memilih Bebas memilih Bebas memilih Pilihan terbatas Pilihan sangat terbatas APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya. 3. misalnya pelatihan dan penyuluhan. perusahaan harus menyediakan APD ini. APD yang digunakan. Nyaman dipakai. 3. custom-molded type c. 2. 4. PROGRAM AUDIT 1. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya. Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja. 2. 3. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. Juga melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga. 2. Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka. V. 2004 33 .perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat. PENUTUP Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi pendengaran. biaya. perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. Kemudahan pemakaian. 5. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal. Kontrol engineering dan administratif. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi tinggi Pemilihan alat pelindung telinga : 1. tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai. dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. dengan sasaran : 1. 144. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani. kesertaan supervisor dalam program.

Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : Telemedicine Network in Indonesia di Yogyakarta. 144. 2004 .fkumy. 10 Juli 2004 Website : http://telmed.net Redaksi CDK 34 Cermin Dunia Kedokteran No.

144. yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif(4). Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah. cara membersihkan kanul dalam. humidifikasi buatan. terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan penyempitan di daerah glotis. bukan dari saluran napas bagian atas. Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan laring pada waktu menelan. Pada discharge trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai koloni bakteri. serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada penderita. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dengan kanul trakea masih terpasang. pemeriksaan periodik kanul dalam. TRAKEOSTOMI Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen trakea. akan diuraikan cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3). Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang diperlukan(2). tidak ada korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas dengan bakteri dan flora trakea penderita. melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus. yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi. mengganti kanul trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi. Selanjutnya dikatakan. Jawa Barat PENDAHULUAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalulintas udara pernapasan. Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi(1). PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT TRAKEOSTOMI Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita tidak dapat berbicara. Trakeostomi mengurangi ruang mati (dead space) anatomik sampai 100 ml. Hal ini sangat penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat terbatas. sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. Selama di rumah penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea. Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. tekanan balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. Berdasarkan permasalahan tersebut. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental. mengurangi efektifitas refleks batuk. Keadaan ini menyebabkan penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi ludah ke dalam laring dan trakea. Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian atas. dan mengganggu gerakan penutupan glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah. perawatan luka operasi di stoma. Definisi yang tepat untuk trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea. Trakeostomi meniadakan mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior. sering saling tertukar. pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas. trakeostomi juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. Bogor. akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea. bakteri dan flora di dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain. 2004 35 . Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge. Cermin Dunia Kedokteran No. karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara.PRAKTIS Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi HR Krisnabudhi ] Rumah Sakit Bina Husada Cibinong.

pada saat dilakukan pengisapan atau pada saat penggantian kanul. Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a). c). setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan menjadi berbunyi. uap air mengembun pada lempeng-lempeng metal dari kondensor. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. Bila didapatkan sekret yang kental. Alat ini dipasang pada kanul trakea. Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering terbentuk di dalam kanul. Angkat kanul dalam dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul 36 Cermin Dunia Kedokteran No. panci bergagang. mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer). campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui kotak plastik yang dilubangi. trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. mungkin akan bermasalah. paling baik membersihkannya dengan memakai kasa basah di atas kanul. b). Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap. Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. Alat ini relatif lebih efisien. Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat. dan hati-hati membersihkan kulit di sekitar kanul. Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi(5). sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). Buatlah larutan sabun di dalam botol. PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi. Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan. selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. Pada waktu ekspirasi. Sebelum melakukan pengisapan. Akan timbul gangguan saat menelan. Dengan adanya trakeostomi. Condensor humidifier. Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara inspirasi. Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. Peralatan hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul. d). Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum. teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. jangan diberi tekanan negatif. Jika tergantung pada seseorang saat melakukan hal itu. penjepit. 144. Bila penderita bernafas spontan. Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a). saringan. menggunakan lap atau kasa perban. 2004 . Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. Petunjuk umum Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas tanggung jawab sendiri. Beberapa jam pertama pasca bedah. d). Krusta diangkat dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. b). Pastikan tidak ada air memasuki stoma. dan cairan penggosok perak. Alat ini harus diganti setiap 3 jam. Membersihkan kanul dalam Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil. Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit. Angkatlah kanul dalam dan bersihkan. c).PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda asing akan merangsang pengeluaran discharge. Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti sesering mungkin. Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air sabun. Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang. sebagai berikut: 1). tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. 2). lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut. Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. Sebelum mengangkat kanul. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan penderita saat dari rumah sakit. kasa perban. sehingga perlu dilakukan pengisapan. mungkin telah terdapat krusta atau mukus di dalam kanul. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. Kekurangan alat ini ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut fungsinya akan berkurang. kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. Discharge ini akan keluar bila penderita batuk. siapkan alat-alat untuk resusitasi. Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan kelembaban relatif udara inspirasi. Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali. Jika udara rumah kering. Cara membersihkan kanul dalam. kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat. Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril.

2004 37 . 5). 3). oleh karena itu tidak boleh dicoba untuk digores. Jika kanul dari perak telah memudar. Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk membersihkan kanul dalam. 3). Cuci kanul dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa menit di dalam cairan sabun. 2). Cara sterilisasi kanul dalam Logam bahan pada kanul perak sangat lunak. Biasanya. Gambar 2.dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. Bersihkan bagian dalam kanul dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada suatu tempat (Gb. 7). dan siap untuk dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. Cara mengganti kanul trakeostomi Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. Isi panci dengan air secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb. 144. Angkat saringan dari panci bergagang. 2b). Cermin Dunia Kedokteran No. menyebabkan kanul trakeostomi dapat dimasukkan dengan mudah. ke depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai bagian dalam kanul dalam bersih. bahkan kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain. cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. kemudian bersihkan dan cuci. Biarkan kanul dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam kanul luar (Gb. Tempatkan kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada panci bergagang (Gb. 3). 6). dan tempatkan kembali saringan dalam panci. kanul dalam dan luar dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain. Pita trakeostomi yang digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior. 4). Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah dibersihkan. Goyangkan kanul dalam untuk mengangkat tetesan air. rendam di dalam cairan pembersih perak untuk beberapa menit. Kanul plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang sama seperti halnya kanul perak. 1). Pembersihan kanul dalam Merebus kanul dalam Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1). Kanul harus bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang. Adanya lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan dengan trakea. pelindung atau permukaan lempeng kanul trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk. krusta dapat diangkat dengan merendamnya. 5). 2). Tarik kanul dalam ke belakang. didihkan kanul dalam selama 5 menit. tuangkan air dari panci. pita trakeostomi dibuka lebih dahulu. oleh karena itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah. Untuk mengangkat kanul trakeostomi. 4). Salep dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi untuk mempermudah memasukkannya. 8). Gambar 1.2a). Masukkan kanul dalam ke tempatnya dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya. Setelah air mendidih. Setelah kanul dalam bersih. Gunakan penjepit untuk membantu menarik kasa melalui kanul.

Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita trakeostomi diikat. 3). 2004 . untuk mengeluarkan udara di dalamnya. 4). Alas dada dari kasa trakeostomi steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit. tempatkan kasa di atas kanul. Lipat 1 inci pada tepi atas dan bawah. mukus akan terhisap ke dalam kateter dan semprit. Cara penggantian kanul trakeostomi Pada saat memasukkan kanul trakeostomi. Di samping itu. Lepaskan balon karet. Mukus ini akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin. Gambar 4. Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. penderita melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk. Lipat 4 inci kasa pada tiap sisi. 144. kecuali jika ada instruksi khusus untuk melakukannya dari dokter. Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang 38 Cermin Dunia Kedokteran No. Jika mesin penghisap tidak didapat. Gb. 5). 3). Bersihkan alat-alat dengan air sabun. Cara menghisap Banyaknya discharge mukus bervariasi. Tekan balon karet sebelum kateter dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi. Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci. 5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan menggunakan alas di dada. 2). Pegang kateter dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan tangan yang lain. khususnya bila terdapat drainase sekitar kanul. semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau apotik bisa digunakan sebagai penghisap. Penghisapan mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus. atau jika kanul teriritasi. 4” X 4 “ gauze pad Gambar 3. jika udara dalam rumah kering. hal yang penting ialah bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat pada kanul dibersihkan. Potong satu lembar kasa membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci. Cara penghisapan discharge Cara membuat kain alas di dada Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di bawah kanul trakeostomi. Siapkan alat-alat. Peralatan tersebut sering dididihkan untuk memelihara kebersihannya (Gb. Kanul trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah dalam secara halus. 4). Kateter karet tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul trakeostomi.4). 2). Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul trakeostomi ialah sebagai berikut : 1).Cara melakukan : 1).

masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. Dokter atau paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal perawatan kanul trakea. A Textbook of ear. 2. KEPUSTAKAAN 1. Selama di rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. 5). Perawatan trakeostomi mandiri meliputi petunjuk umum. 6).5). panjangnya 6 inci. Cara membuat alas trakeostomi Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih mudah tetapi sedikit lebih mahal. kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan melipat kasa dua kali. 1977 . Bireell JF. Petunjuk ini tergantung pada keadaan penderita saat pulang dari rumah sakit. mengganti kanul. Cermin Dunia Kedokteran No. 1). 3). Kasa 2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. 2). Gambar 6. 144. menghisap discharge. Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas. Paparella MM.dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita pada tempatnya. 6). kasa 4 x 4 inci. In : Logan Turner's Diseases of the nose. cara membersihkan kanul trakea. Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan. Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di atas pita trakeostomi. Me Dowall GD. Me Klay K. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi. Maran AGD. Tokyo : Igaku Shoin Ltd. 5th ed. Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul trakeostomi Gambar 5. 2004 39 . Bristol : John Wright and Sons Ltd. 705-17. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi. Pastikan tali pengikat pada permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman (Gb. Me Kailum JR. RINGKASAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan lalulintas udara pernafasan. Adams GL. merebus kanul dalam. 5th ed. kasa 4 x 4 inci yang tidak terlipat. Kasa 2x2 inci telah disetik pada tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi kanul trakeostomi. Boies LR. nose and throat diseases.. 1978 . 5). throat and ear. In :Boies's Fundamentals of Otolaryngology. Tracheostomy. 4). Satu tiap tepi dari kasa terbuka 4x 4 inci. Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita trakeostomi dan lipat kasa ke atas. Pakaikan kasa trakeostomi alas dada. 1567-73. Jika kasa tidak terlipat. Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan untuk tiap alas dada. Tracheostomy.

An atlas of head and neck surgery.org Redaksi CDK 40 Cermin Dunia Kedokteran No. Inc. The Otolaryngology board. Laryngoscope 1981. Skripsi di Bagian THT/RSCM. J Laryngol Otol 1981. In: Paparella. Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : PIT XIV POGI “Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas”. Lee KJ. Shumrick DA. 87 : 99-108. Tood GB. 12. London : Butterworths. 1973 : 170-96. Olving JH. respiratory apparatus. 89 : 521-8. Vol I. 433-75. 144. Conway WA. Siregar Z. Operative Surgery. Bandung. 17. Lulenski GC. 4th ed. 4. 1973. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree. 107 : 114-6. 688-708. 19. 1971 : 31-61. 95: 61-8. Philadelphia: WB Saunders. 246 : 34750. J Laryngol Otol 1974 . 16. 2nd ed. Embriology and anatomy of the larynx. Arch Otolaryngol. 20. A preparation guide. Ann Otol 1975 . Natvig K. Krikotirotomi. 242-8. Tracheostomy and artificial ventilation in the treatment of respiratory failure. 19 September 1981. Lulenski GC. Victor LD. Vol. Laryngo-tracheoplasty. London : Edward Arnold Ltd. Evans JNG. 15. 1973. 8. Scott-Brown's diseases of the ear. Vol II. 1976 . Long custom made plastic tracheostomy tube in severe tracheomalacia. 10. Montgomery WW. JAMA 1981. Arch Otolaryng 1981 . Otolaryngology. 11. Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea. In: Ballantyne J. 5. 13 – 15 Juli 2004 Website : http://www. Steel PM. Roth T. Shapiro RS. Tracheal changes in relation to different tracheostomy technique (An experimental study on rabbits). Complications and postoperative care after tracheostomy. Galood HD. Basic sciences and related disciplines. Basic sciences and related disciplines. Lore JM. 1979 . nose and throat. Nose and throat. 62 : 272-6. Philadelphia : WB Saunders Co. In : Ballantyne. 1. 9. Basic sciences. An experimental study. 89 (suppl 73): 1-7. vol I.obgyn-bandung. 6. Evans CC. Paparella MM. 88 : 589-97. Feldman SA. Wright D. Philadelphia : WB Saunders Co. Ann Otol 1980. Fundamental international techniques. Martin WM. Tracheostomy and laryngotomy. Otolaryngology. New York : Medical Examination Publ. Ann Otol 1980. Silicone tracheal canula. Tracheal incision as a contributing factor to tracheal stenosis. Fujita S. 13. Montgomery WW. Ann Otol 1978 . Batsakis JC. 14. Davies J. Zorick FJ. (eds). Putney FJ. Co. 18. Comparison of five type of tracheostomy tubes in the intubated trachea.. (eds). 1973 . London : Butterworths. (ed). Crawley BE. diaphragma and esophagus. 2004 . Toledo PS. 2nd ed. Grooves.3. Shumrick (eds). Magilligon DJ. 91: 355-61. 7. 84 : 781-6. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy. Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. 1955. 3rd ed.

umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan. 144. yang sering digambarkan sebagai rasa berputar.1) . rasa oleng. serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya. Bagan Sistim Keseimbangan Manusia Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 41 .TINJAUAN KEPUSTAKAAN Vertigo: Aspek Neurologi Budi Riyanto Wreksoatmodjo Rumah Sakit Marzuki Mahdi. relatif kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki. Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang. Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb. Indonesia PENDAHULUAN Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek. Gambar 1. selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness). SISTIM KESEIMBANGAN Manusia. sehingga lebih memerlukan informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan. Bogor. karena berjalan dengan kedua tungkainya. Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor. selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh. tak stabil (giddiness. deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi. terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian.

timbul reaksi dari susunan saraf otonom. 3. nistagmus. (Skema) Oleh karena itu. yang berkembang menjadi gejala mual. Mabuk Udara 4. Comparator Unit Psikogenik Mismatch Signal Sindrom Fobia Gambar 2. TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit tersendiri. vestibulum dan proprioseptik. Skema Klasifikasi Vertigo 6. melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda.2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala. serebelum) atau rasa melayang. sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb. Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi. atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. Neural Store Sensory input (Rangsangan gerakan) pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo. 144. 3). 2. muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis. sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat. menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu. Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda). 5. Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik. pada setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan bentuk vertigo. Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor). berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis. akibatnya akan timbul vertigo. letak lesi dan penyebabnya. berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). 2004 .PATOFISIOLOGI Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat. ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler. Berbeda dengan teori rangsang berlebihan. Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis Keterangan : SYM : Sympathic Nervous System. Skema teori Neural Mismatch Sentral Vertigo Patologik BPPH Perifer Meniere Infeksi Trauma Iskemi Fisiologik Ketinggian. mual dan muntah. PAR : Parasympathic Nervous System Teori sinap Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus. Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata). Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1. peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu. belajar dan daya ingat. gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan. teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab. Normal Motion Sickness Adapted PAR PAR SYM SYM SYM PAR Gambar 3. teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No.(Gb.

mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi.batang otak. berputar. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin. vestibularis. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab. kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik.duduk dan berdiri. hipertensi. keletihan. Cermin Dunia Kedokteran No. hipotensi. kronik. Juga kemungkinan trauma akustik. anemi. hipertensi. lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya. ketegangan. c. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit Gambar 5. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik. Dalam menghadapi kasus vertigo. dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan. salisilat. selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. otologik atau neurologik – vestibuler atau serebeler. dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). 7). kanamisin. antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti anemi. 5) : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. Uji Unterberger. paroksimal. penyakit paru juga perlu ditanyakan. Uji Romberg PEMERIKSAAN FISIK Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab. 144. baik kelainan sistemik. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung. hipotensi. pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya. progresif atau membaik. rasa naik perahu dan sebagainya. hilang timbul. 2004 43 . agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. tekanan darah diukur dalam posisi berbaring. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum. tujuh keliling. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1. kepala dan badan berputar ke arah lesi. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. hipoglikemi. Gambar 4. Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. goyang. Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh. serebelum. Fungsi vestibuler/serebeler a. apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks serebri. bising karotis. atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik. irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik (Gambar 4)(6. gagal jantung b.ANAMNESIS Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang. kongestif. penyakit jantung. Uji Romberg (Gb.

Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. jika ada gangguan vestibuler unilateral. 2004 . 144. 8) Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit. kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang) Gambar 7. pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang. 9) Perhatikan adanya nistagmus. Uji Dix-Hallpike 44 Cermin Dunia Kedokteran No. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi. Uji Babinsky-Weil (Gb. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb. 7) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan. Uji Tunjuk Barany e. Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 8.9) Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. Gambar 9. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas. a.1. Uji Unterberger Kepala putar ke samping d. lakukan uji ini ke kanan dan kiri Gambar 6. Uji Babinsky Weil Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8. Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike (Gb.

4. ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi saraf. sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga.iv. Avopreg Transderm Scop Holopon Iterax. c. Weber dan Schwabach. Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit. Pencitraan: CT Scan. sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. kemudian duduk tegak kembali. SISI. kampus visus. Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º. (Tabel 3). 3.5-25 mg 2-3 dd 25 mg 4 dd 0. sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal. bawah. Bestalin Stugeron Sibelium Buscopan Hyscopan Merislon 6 mg Betaserc 8 mg Lama Kerja (jam) 4-6 4-6 4-6 12-24 4-6 72 4-6 4–6 Dosisi Dewasa Tingkat Sedasi + ++ ++ + ++ + + ++ 0 + + 0 0 0 Rute Lain im im. okulomotor. Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular.iv. dan Schwabach memendek. iv im im - Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9). Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung. 2004 45 . sensorik wajah. Weber lateralisasi ke sisi yang tuli. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain. pendengaran. 2. kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. b. Sentral: tidak ada periode laten. 2. Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG). leher.5 mg 3 dd 25-100 mg 3 dd 25 mg 4 dd 25-50 mg 3 dd 5 mg 2 dd 10-20 mg 3-4 dd 6-12 mg 3 dd 8-16 mg 3 dd im.rec Nama Generik Cyclizine Dimenhydrinate Diphenhydramine Meclizine Promethazine Scopolamine 50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 12. gangguan cara berjalan). Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler) Nama Dagang Marezine Dramamine Benadryl Bonine. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. selain kausal (jika ditemukan penyebabnya). dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. Arteriografi. nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit. Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas). Antivert Phenergan. baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin.rec Hydroxyzine Ephedrine Cinnarizine Flunarizine Hyoscine Betahistin sc. Pemeriksaan Penunjang 1. tahan selama 30 detik. dengan tes-tes Rinne.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga.fungsi sensorik (hipestesi. Fungsi Pendengaran Tes garpu tala Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif. dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan.Elektromiografi (EMG). Tone Decay. 144. Audiometri Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test. umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik. Pada tuli konduktif tes Rinne negatif. dan fungsi menelan. kemudian duduk tegak kembali. iv im. lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh. Magnetic Resonance Imaging (MRI). Bekesy Audiometry. bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue). Stenvers (pada neurinoma akustik). b. Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. Gambar 9. Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi. dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. tahan selama 30 detik. otot wajah. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus. dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus. parestesi) dan serebeler (tremor. Foto Rontgen tengkorak. akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). VIII. a. TERAPI Tujuan pengobatan vertigo. penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat. berupa gerakan mata melirik ke atas. Tabel 3.Dari posisi duduk di atas tempat tidur. kiri dan kanan me Cermin Dunia Kedokteran No. Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP). sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral.5 mg 1 dd 0. Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus.

xiii-xxviii. 3. Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa. Andradi S. diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik. diuretik loop. 144. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer. tetapi 60-80 % akan remisi spontan. Syeban ZS. Vertigo. koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler.1999. Every true genius must be natural or it is none (Schiller) 46 Cermin Dunia Kedokteran No. Perdossi. Aspek Neurologi dari Vertigo. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat. sedangkan kanamisin. Tinjauan umum mengenai vertigo. 2. pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur. Seri edukasi. bisa alat dan saraf vestibuler. RINGKASAN Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek. 5.ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat. 14 Desember 1991. selain vertigo. Sedjawidada R. Di awal sakit. KEPUSTAKAAN 1. kemudian diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup. Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik. Dapat dicoba pengggunaan vasodilator. Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik. 7.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid. Dalam: Joesoef AA. Duphar. Monograf. Neuritis vestibularis Merupakan penyakit yang self limiting. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya. biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran. Vertigo akibat obat Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran. Kusumastuti K. Harahap TP. hal. Kelompok Studi Vertigo Perdossi. Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein. tanpa tahun. tanpa tahun. Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan. 2002. Diagnosis dan Terapi. Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid. tanpa tahun. Monograf. diuretik ringan bersama diet rendah garam. Penyakit Meniere Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di telinga dalam. selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati. Kelompok Studi Vertigo. jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis. yang makin lama makin cepat. Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain: Benign paroxysmal positional vertigo Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo. diduga disebabkan oleh infeksi virus. umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan. metronidaziol dan minosiklin. antiinflamasi nonsteroid. amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo. Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. dapat dilakukan labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal). demikian juga gentamisin. Dalam: Simposium Tinitus dan Vertigo. terapi profilaktik juga belum memuaskan. Belum ada pengobatan yang terbukti efektif. Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia cabang DKI Jakarta. Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil. Vertigo ditinjau dari segi neurologik. Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan. Joesoef AA. berhenti merokok. derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. asam nalidiksat. 24 Juli 2001 Mengenal Pusing dalam Praktek Umum.).vestibularis. Patofisiologi. terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil. vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo. 6. Neurootologi klinis:Vertigo. 2004 . membatasi asupan garam. umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6 minggu. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n. 4. penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer. Obat penyekat alfa adrenergik. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral.(eds..

50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) . sempoyongan. kepala terasa enteng. terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh (2). peluh dingin. PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1) Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng. Pengobatan vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil. Jakarta ABSTRAK Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi. penderita sama sekali bebas keluhan. Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance). 2. Vertigo kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut. Vertigo paroksismal 2. muntah) dan pusing (2). dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. kelainan gigi/ odontogen. pusing. unstable). Di antara serangan. 3. Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun. Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. otonomik (pucat.Vertigo posisional paroksismal laten. Labirin picu (trigger labyrinth). keluhannya konstan tanpa Cermin Dunia Kedokteran No. Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere. L. tumor fossa cranii posterior. Epilepsi. tergolong sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. termasuk di sini adalah : . Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap.Vertigo posisional paroksismal benigna. rasa mengambang. diterapi dengan akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan. Sindrom Cogan. Sindrom Lermoyes. Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. tujuh keliling. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : 1. 2004 47 . berlangsung beberapa menit atau hari. bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. kemudian menghilang sempurna. DEFINISI Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus.PRESENTASI KASUS Terapi Akupunktur untuk Vertigo Prasti Pirawati. rasa melayang (1). Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi. Yvonne Siboe Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja. Yang tanpa disertai keluhan telinga. mumet. kemudian berangsur-angsur mengurang. dapat disertai gejala lain. pening. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2): 1. 144. Migren ekuivalen. Cipto Mangunkusumo. tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Gejalanya menyebabkan pasien takut dan cemas. Arakhnoiditis pontoserebelaris. 3. mual. KLASIFIKASI Berdasarkan gejala klinisnya. .

ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. Tumor. keadaan menstruasi-hamilmenopause. c. ensefalitis vestibularis. sklerosis multipel. Kelainan psikiatrik: depresi.Hipotensi ortostatik . Penyakit Sistem Vestibuler Perifer : a.Radiologik dan Imaging . maka proses pengolahan informasi akan terganggu. Kelainan endokrin: hipotiroid. fibrilasi atrium paroksismal. Vertigo yang serangannya mendadak/akut. lues.Vertigo servikalis. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler. rudapaksa dengan perdarahan. hipotensi ortostatik. Trauma kepala/ labirin. cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis. Migren. Lues serebri. Kelainan mata: kelainan proprioseptik. : Hipertensi kronis. Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri.Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh . hipoparatiroid. dibedakan menjadi: 1. yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. intoksikasi obat. 2. tumor serebelopontin. hematobulbi. labirintitis kronis. pelagra. kelainan okuler. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus. Dalam kondisi fisiologis/normal. sindrom hiperventilasi. dibedakan menjadi : 1. labirintitis akuta. hipoglikemi. sklerosis multipleks. b. kelainan kardiovaskuler. tumor medula adrenal. f. sindrom sinus karotis. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik. jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar. unsteadiness. DIAGNOSIS 1. 2. perdarahan. sindrom arteria vestibularis anterior.Pemeriksaan mata . Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani. visual. otitis media purulenta akuta. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika. Epilepsi. benda asing. 3. neurosa cemas. meningitis Tb. kolesteatoma. kelainan psikis. sinkop. tumor. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. 2. berangsurangsur mereda. trauma. sklerosis multipleks. Anamnesis. hipertensi kardiovaskular. akan diproses lebih lanjut. Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika.Psikiatrik 4. mabuk gerakan. trauma. trauma.serangan akut. blok jantung. neuritis n. sumbatan arteria serebeli inferior posterior. Inti Vestibularis: infeksi. Pemeriksaan khusus : . d. Telinga bagian luar : serumen. Penyakit SSP : a. fobia. ensefalitis. Terapi kausal . Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. e.Pemeriksaan otologik . ensefalitis pontis. 3. Nervus VIII. IV dan VI. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. hipoglikemi. hidrops labirin (morbus Meniere ). perdarahan labirin. Infeksi : meningitis. 48 Cermin Dunia Kedokteran No. herpes zoster otikus. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. arteriosklerosis. vertigo epidemika.VIII. dan vestibulospinalis. tumor. c. Hipoksia – Iskemia otak. vertigo postural. 144. Pemeriksaan tambahan : . Intoksikasi. ETIOLOGI 1. 6. alergi. : infeksi. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan. anemia. kelainan endokrin. serangan vaskular. susunan vestibuloretikularis. b.EEG. 5. 2. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis. jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. stenosis dan insufisiensi aorta. EMG. lesi labirin akibat bahan ototoksik.Pemeriksaan neurologik . 2004 4.Laboratorium .Audiometri dan BAEP . Disertai keluhan telinga : Trauma labirin. siringobulbi. Pemeriksaan fisik : . Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual. III. dan EKG. trombosis arteria serebeli posterior inferior. Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) : 1. abses. labirintitis.ENG .(2). dan proprioseptik. otitis media dengan efusi. TERAPI Terdiri dari : 1. PATOFISIOLOGI Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. Vertigo yang dipengaruhi posisi : . Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. di samping itu. informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. sindrom pasca komosio. 3. 2.Pemeriksaan fisik umum. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar. e. d.

2. 3.

Terapi simtomatik Terapi rehabilitatif

TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya Qi ke telinga (4). Gejala Klinis(4,5 ) Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus. Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis, nadi senar dan seperti benang. Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 ) 1. Hiperaktifitas Yang Hati Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan defisiensi Yin Hati.. 2. Defisiensi Qi dan darah Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan penglihatan kabur. 3. Defisiensi Cing Ginjal. Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung, sehingga timbul gejala vertigo. 4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah. Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo. Terapi (4,5,6 ) 1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya : Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati, menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati, melancarkan Qi Hati. Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20), Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3). 2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya : Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan Limpa dikuatkan. Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen (HT 7). 3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya : Menguatkan Ginjal

Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu ( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ). 4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya : Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung. Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ), Fenglong ( ST 40 ). KASUS I. Identitas penderita Nama Umur Jenis kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Berobat tanggal

: : : : : : :

Ny. YR 50 th perempuan Islam menikah PNS (Fisioterapis) 4 September 2003

II. Anamnesis Keluhan utama : kepala terasa muter sejak 1 bulan Keluhan tambahan : mual . Perjalanan penyakit : - Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan. Setelah berobat ke fisioterapi, membaik. - Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan mual. Muntah tidak ada. - Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada penyempitan di C 4-5. - Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®. - Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta dirujuk ke bagian Akupunktur. - Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. - Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar, tidak disertai pusing atau gejala lain. - Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-). - Riwayat infeksi telinga (-). III. Status Presens Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris. Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal. IV. Pemeriksaan penunjang Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan kiri, Intervertebra C 6-7 kanan. Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200 mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49

V. Pemeriksaan Akupunktur 1. Pengamatan ( Wang ) : a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar mata: bersinar; kesadaran : baik. b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah : bersinar segar. c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh : t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata, telinga, hidung : t.a.k. d. Pemeriksaan Lidah : - otot lidah : merah muda, kebasahan sedang, pergerakan normal. - selaput lidah : putih, tipis, bersih. 2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) : a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas: normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar. b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat: tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa 3. Anamnesis (Wun) : Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama seperti di atas. Pertanyaan khusus : a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin b. Keadaan berkeringat : normal c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada keluhan d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik, kesukaan akan rasa: tak spesifik f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual, perih terutama kalau terlambat makan g. Pendengaran: tak ada keluhan h. Rasa haus: tak ada . i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi tetap sadar, Ro kepala t.a.k. j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid 1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya, dismenorrhea (-), leukorrhea (-). 4. Perabaan (Cie) : a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan otot. b. Suhu tubuh: normal c. Pemeriksaan nadi : kiri kanan dangkal dalam dangkal dalam cun 5 5 5 5 kuan 5 4 5 5 ce 5 5 5 5 5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu : a. Lambung : jika perut kosong perih, mual. b. Limpa : nafsu makan menurun, perut kembung, bertahak c. Hati : kepala muter, gangguan haid. d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

VI. Resume Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur. Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro kepala t.a.k. Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan : 1. Wang : - Sen : baik - Se : normal, bersinar - Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot, takut menengok. - Lidah : normal. 2. Wen : tak ada kelainan 3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit. 4. Cie: kuan kiri dalam Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ Lambung, Limpa, Hati. VII. Diagnosis Kerja Kedokteran Umum : Vertigo Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu akibat Si Hati. VIII. Pengobatan 1. Alat : jarum 2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya : a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang. d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual 3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali. 4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit. IX. Prognosis Dubia ad bonam

XI. Anjuran 1. Berobat akupunktur rutin 2. Pemeriksaan : CT, MRI 3. Konsul THT, Mata. XII. Follow up Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum obat dari bag. Saraf Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan. Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan. Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-). Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh. DISKUSI Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar (akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan perut kembung, sering bertahak. Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.

Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati, menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual, pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan. Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 1996. Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI. Jakarta; 1999. Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi FKUI/RSCM. Jakarta. Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed. Beijing: New World Press. 2000. O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press. 1981. Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ). Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5. Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia., 1978. Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51

yaitu : Teh Hijau Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi. Jakarta ABSTRAK Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat.7 2. PENDAHULUAN Transisi nutrisi yang terjadi saat ini. terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus. sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia. 144. assamica dan irrawadiensis.3 Selain itu di negara-negara Barat. var. tanaman teh Camellia sinensis O. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis. Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C.2 Di masa sekarang. murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat) dan dapat dibuat oleh semua orang. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan Sulistyowati Tuminah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Juga karena bahannya mudah didapat. Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989). Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit. aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus.1 Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke. 2004 . teh dibagi menjadi 3 (tiga) macam(3). Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat. Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas. irrawadiensis.5.6): Divisi Sub divisi Kelas Sub Kelas Ordo (bangsa) Familia (suku) Genus (marga) Spesies (jenis) Varietas : : : : : : : : : Spermatophyta (tumbuhan biji) Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Dialypetalae Guttiferales (Clusiales) Camelliaceae (Theaceae) Camellia Camellia sinensis Assamica3.3 Menurut Graham HN (1984). yaitu sinensis. dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung. Teh hitam Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3.Var. lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). Keuntungan dengan cara pemberian uap panas. Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas. Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber 1. Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik. daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim. dengan harga obat-obatan yang mahal.6 MACAM-MACAM TEH Berdasarkan penanganan pasca panen. anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali ke obat tradisional) adalah tepat.K. kariostatik serta hipokolesterolemik. assamica. genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis. dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi. kanker. 52 Cermin Dunia Kedokteran No.4 KLASIFIKASI Di zaman dahulu.49%.K.5. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teh [Camellia sinensis O. adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang. Departeman Kesahatan RI.

74 6.70 5. 20. 5. Komposisi teh hitam(3) No.79 4.275-12. sebuah kanula intravena dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati. Penelitian ini tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif jangka panjang terhadap status antioksidan. kemudian diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat makan siang. 5.01 0. 25.50 0. 28. Pada proses ini.57 3. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%.0). 13.96 percobaan 430 µmol/l. 1. Daun teh dilayukan lebih dahulu. 2004 53 . 9. Rata-rata aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8.50 dan untuk katekin daya antioksidannya sebesar 2. Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5 laki-laki.50 0.01 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer secara komersial dengan memasukkan 0. Teh oolong Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus.50 0.74 0. epigalo katekin galat sebesar 4. 18. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap aktivitas antioksidan serum. 16.99 3.43 1. kemudian diaduk selama 3 menit. 11.21 3. usia rata-rata 21. 144. 12. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir.09 4. biasanya dilakukan selama 2-4 jam. 9.17 1. Komposisi teh hijau(3) No.03 0. dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%. Setelah 4 jam berpuasa. 23.7 KOMPONEN THE (3) Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (tabel 1 dan 2) : Tabel 1.29 2.62 35. selanjutnya digulung dan dikeringkan. 17. Daya antioksidan komponen katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin C ataupun β-karoten.93.40.02 0.56 0.09 0. 180 menit pemberian teh adalah rata-rata 434. 27. 2. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal KHASIAT TEH Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh. yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus.3. yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme.16 4. 24.98 5.83 4. kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak. 6.69 0. 2. 12.7 Tabel 2.21 6. 30.15 0. 4.75. Komponen Kafein (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Flavonol Theanin Asam glutamat Asam aspartat Arginin Asam amino lain Gula Bhn yg dpt mengendapkan alkohol Kalium (potassium) % Berat kering 7.86 1. 19. 6. 10.68 12. berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4. melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri. Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4. Komponen Kafein Theobromin Theofilin (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Glikosida flavonol Bisflavanol Asam Theaflavat Theaflavin Thearubigen Asam gallat Asam klorogenat Gula Pektin Polisakarida Asam oksalat Asam malonat Asam suksinat Asam malat Asam akonitat Asam sitrat Lipid Kalium (potassium) Mineral lain Peptida Theanin Asam amino lain Aroma % Berat kering 7.31 0.477 µmol/l (kisaran 4.20 8. 26. indeks massa tubuh: 24.70 0.110 µmol/l). 14.1 tahun.8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C). berbeda dengan hasil penelitian mengenai pengaruh flavonoid anggur merah.11 Selain itu diet fluorin yang Cermin Dunia Kedokteran No. dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550 µmol/l. epikatekin daya antioksidannya sebesar 2. tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC).23 4. 3. kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim. 11.63 Trace Trace Trace 2. 5 wanita.84 4. 8. 7. 1.13 3. 120.10 Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek.5 g daun teh ke dalam 25 ml air mendidih. 10.9. 8. 447 dan 439 µmol/l (tidak ada perubahan yang berarti/signifikan). 13. 21.enzim. 15. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu. 7. 14. 4. Apabila proses fermentasi telah selesai.85 0. setelah 60.25 1. katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin. epigalo katekin 3.7 3.90 1.42 20. 22.4 Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda.82. 29. 3.

tetapi berjenis nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study.21 Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. Biokimia FKUI. dan radikal peroksil. Yang GY. blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. 16. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity. J Epidemiol. 9. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1. Cancer Research 1992. 3 Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis. 11. Jakarta. 1997.14-18 Diperkirakan.22 Sutarmaji (1994) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage. 8. et al. Sellers TA. Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. Brussel: 1995 . Am J Epidemiol. Antioxidants. Letters in Applied Microbiology. 12. Shinchi K. 1990. 88 (2) : 93-100. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76. KEPUSTAKAAN 1. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan. Weststrate JA.05). 1984 : 29-74. Shimamura T. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. Tuminah S. 1987 . Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT. 17. cet ke-1. 21. 1994.3 Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh teh. Ikeda N. 24. 2004 . Shinchi K. 37 (8) : 739-60. Ferraro T. cet ke-2. Eur J Clin Nutr. 4. Van-Popel-G. 22. Prima Kardia Pers. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. Lee MJ. Antioksidan dan Penyakit Jantung. 20 (2) : 1-6. Pradnya Paramita. Popkin BM. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia. Tjitrosoepomo G. Goldbohm RA. Tumbuh-tumbuhan diketahui sebagai sumber besi yang baik. Nair MK. Crit Rev Food Sci Nutr. 11 : 3840. ILSI European Monograph Series. Consumption. teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis. 1999. J Nat’l Cancer Inst.24 PENUTUP Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh. Van Het Hof KH. Blot WJ. 1-495. baik teh hitam maupun teh hijau. FMIPA UI. 1989 . terutama yang berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker. melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri. and Disease Prevention. 20. 173 : 304-312. et al. hal ini dapat dijelaskan. 14. Potensi Antioksidan pada Teh.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total. Fluorine in Tea and Caries in Rats. 6. 2000. BMJ (27 July) [Medline] 1996. McClendon JF. menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. Imai K. Hyderabad. kolesterol LDL. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar. Jufri M. Suga K. 52 : 1162-70. cet ke-4. tetapi manusia masih bisa mendapatkan besi heme dari daging merah. 1996. Langseth L. Prog Clin Biol Rev. 21 : 526-31. trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P < 0. 5. 52 : 389-95. 6 (3) : 128-33. Mou TH. Japan. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O. 1996. flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL. Yanai F. Van den Berg H. Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. Nutrition News. body weight. Wakabayashi K. Imanishi K. Baraas F. konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi non-heme. Jakarta. 1996. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake. Okubo S. Chow WH. Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. National Institute of Nutrition. Jakarta. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry. UGM Press. 13. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. 18. Preventive Medicine. Zheng W.23Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik. 1997 : 82-3. 26 (6) : 769-75. Jufri M. Yang CS. Nakachi K. Baraas F. 1994. McLaughin JK. Nature 1954. Jakarta. 1997.12 Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit. and Health Effects.19 Selain itu pada wanita post menopause. 23. Ternyata sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0. Thorpe G. Kono S. Doyle TJ. Toda M. cet ke-1. 2. Yogyakarta. flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH•. Hertog MG. 313 : 229. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia. 1999 : 11-2. et al. Nakayama M. Drewnowski A. yaitu besi heme (yang terikat pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak terikat pada molekul hemoglobin). Van-den Brandt – PA. Astuti M.13 Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia. Chen L. In Liss AR. Teh juga telah diuji teratogenik. Jakarta. Van Steenis CGGJ. Folsom AR. hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik. Hong CP. Preventive Medicine 1992. Oxidants. 128: 49-51.terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar.35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan. sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia dan lebih mudah diserap. Kono S. 144. 10. Prima Kardia Pers. Gershon-Cohen J. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. 1-24. Kushi LH. Brants HA. makanan berserat dan mengandung fitat menghambat penyerapan besi non-heme. 55(2) : 31-43. 3. 1998. 54 Cermin Dunia Kedokteran No.20. 15. 1-477. 19. Maxwell S. Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea. Cermin Dunia Kedokt. Graham HN. Environ Health Perspect. Substansi seperti tanin (dari teh). 2001 : 1-15. 1997.54 g /200 g. termasuk pada wanita post menopause. Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population. Dirghantara E. Sutarmaji A. Bag. 7. FMIPA UI. Nutr Rev. 144 (2) : 175-82. Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam. O2•− . bahwa besi yang diabsorbsi manusia terdiri dari dua jenis. Jakarta. Selain itu. Zhi YW.

89%) dengan rata-rata umur penderita 25 tahun. (Tabel 1). Cermin Dunia Kedokteran No. Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes.68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49.414 kematian(1). Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia. demam akut 2-7 hari. Diana Hutauruk Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.HASIL PENELITIAN Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta tahun 2001 Enny Muchlastriningsih.pada penelitian ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji HI. dirawat di rumah sakit. sejak itu penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya yang makin meluas. dan mengisi informed consent. Jakarta PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta dan Surabaya.871 kasus dan 1. HASIL DAN DISKUSI Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369 orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang (50. Kriteria inklusi : penderita berumur minimal 15 tahun. Tujuan khususnya ialah: (a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD berdasarkan umur dan jenis kelamin (b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut (c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasil uji HI (d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasiI uji HI berdasarkan golongan usia (e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif METODOLOGI Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit selama periode Januari . Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor. Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian. Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati) Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9. 2001) . 144. Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI. Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen Dengue-2. Sri Susilowati. dan tahun 1999 3751 kasus dengan 42 kematian(3).32%) lainnya tidak dapat diambil sampel darah konvalesennya karena : (a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan sudah banyak diambil darahnya (b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas karena sudah terlanjur pulang. 2004 55 . Faktor. Departemen Kesehatan RI.April 2001. Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO.faktor yang diduga dapat mempengaruhi peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2): (a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali (c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah endemis (d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi. Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun terbanyak di bawah 30 tahun (82. tahun 1998 15422 kasus dengan 133 kematian.

0 Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I sebanyak 55.Dit. tetapi adanya penderita dengan infeksi primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi virus.16 6. 1958. Jakarta. Hyg.4 100. Data Kasus DBD 1999. KESIMPULAN Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat diperiksa uji HI karena berbagai kendala. Direktorat Jenderal PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. hasil uji HI positif sebesar 51. Cassals J. 2000.53 1.07 1.00 Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi. 56 Cermin Dunia Kedokteran No. Techniques for Haemagglutinatuon and Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses. Tabel 2. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue. Am.6849). 5.9 66.3% positif dan 48. yaitu: tahun 1994: 34. Departernen Kesehatan RI 2000.19%.7% negatif.0 Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya yaitu 51. PPM&PLP Departemen Kesehatan RI.Jen. Pimpinan dan Staf RS Pasar Rebo. 2.44 10. ini mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD yang banyak dianut. Clarke DH.61 100. ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah bergeser ke umur yang lebih tua. Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding.21 0. Trop. 4. 144. Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) . Med.24%(5).82%.3%. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI positif Kriteria Uji HI Positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif Total Jumlah (N) 21 64 11 96 % 21. Muchlastriningsih E et al.21%. Tabel 4. Tabel 3. dan tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji I-II yang positif. dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. J. KEPUSTAKAAN l. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Umur (tahun) 1520253035404550556065Jumlah Laki-laki (N) 25 30 18 11 6 4 2 0 0 1 1 98 Perempuan (N) 25 29 9 8 6 3 4 1 1 1 2 89 Total 50 59 27 19 12 7 6 1 1 2 3 187 % 26.3 48. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD berdasarkan Umur. UCAPAN TERIMA KASIH Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan Litbangkes. waktu maupun penyimpanannya (d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. 7: 561. penderita berada pada derajat I dan II.42 3.53 0. dan untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55 tahun.3% dengan kriteria positif sekunder yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada penderita lanjut usia. karena jumlah responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita laki-laki lebih besar. Golongan umur (th) 1520253035404550556065Total Kriteria hasil uji HI positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif 8 18 2 4 17 5 5 12 2 1 8 1 0 3 0 1 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 21 64 11 Total 28 26 19 10 3 3 4 0 1 0 2 96 Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998.1:1). Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD Hasil Uji HI Positif Negatif Total Jumlah (N) 96 91 187 % 51.5% . tahun 1996: 32. Surveilans Dit.7% dan derajat II sebanyak 44.7 100.74 31. 2004 . infeksi sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun. Berita Epidemiologi. Desember 1999. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara 30% .74 3. tahun 1997: 34.7 11. Profil Kesehatan Indonesia 1999. tidak didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0.50%.Tabel 1. tahun 1995: 50. Sub. tahun 1998: 36. Keadaan tersebut mungkin disebabkan: (a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD (b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa pengobatan yang dianjurkan (c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara. 2001.55 1. 3. Pimpinan dan Staf RS Persahabatan.

KALBE FARMA Tbk. 3000 IU dan 10. Reference: Bei Jing XieHe Hospital.000 IU in 1 mL KOMPOSISI Setiap mL larutan berisi: Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU. INDIKASI Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis. Letjend. : (021) 428 73680 Website : http://www. EFEK SAMPING • Hipertensi • Peningkatan jumlah platelet • Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash. Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4 minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat.Produk Baru Hemapo® Erythropoietin Syringe 2000 IU. terlindung dari cahaya. 3000 IU/mL dan 1000 IU/mL.co. Gedung Enseval. KEMASAN Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL. 3000 IU. 1998. Dosis untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian.5%/minggu). Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang.30) Cermin Dunia Kedokteran No. suhu 2-8°C. sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis semula). pruritus dan urtikaria. 144. Suprapto.id Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123. dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/ kg/minggu. edema.00-15. muntah ataupun reaksi di tempat injeksi. artralgia.: (021) 428 73888-89. Clinical Trial III Report of rhEPOInjection Marketing Office PT. Jakarta – Indonesia Tlp. DOSIS dan CARA PEMBERIAN Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik: Larutan dapat diberikan secara IV atau SC. Senin – Jumat (07. • Hipersensitif terhadap human albumin.kalbe. INTERAKSI Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan. Jakarta 10510 PO Box 3105 JAK. Fax. 10. fatigue. Jl. Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual. mual. sakit kepala. PENYIMPANAN Simpan dalam lemari es. Fase Pemberian: Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%. tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen hematinik. meskipun dapat dihentikan setiap saat. Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0.000 IU. seperti: FeSO4. Fase Koreksi: Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. Jangan dibekukan dan dikocok. KONTRA INDIKASI • Hipertensi berat yang tidak terkontrol. diare. • Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia. 2004 57 . tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu.

html 58 Cermin Dunia Kedokteran No. 144. Sumber: http://ivertigo.net. Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral. Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal. 2004 ./hearing/hrexam.apsul Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA. 1990).

dll. radiologi. merawat data. Sebaliknya. misalnya menginformasikan jam praktek dokter. dan beberapa area yang lebih spesifik. Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti: medical computer science. dan informatika terapan. seperti: proses pendaftaran pasien. Secara rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada ulasan di bawah ini: Berawal pada tahun 1970-an Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah bahasa Perancis informatique médicale. health informatics. (2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan praktis dari proses informasi dan komunikasi. dll Sistem Informasi Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1) yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada keperawatan Web dan internet Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. 2004 59 . information processing. sifat website pun sudah mulai berubah. Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast). dll. 3. informatika yang berorientasi pada aplikasi. disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’ sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. pengambilan keputusan dan analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran. 4. aspek keamanan dan legalitas. penulis melihat ada pendapat dua pakar informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang. dan beberapa istilah yang spesifik seperti nursing informatics. seperti: tanya jawab. dll. dll. Mereka mendefinisikan sebagai berikut: (1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan management. Jika mengikuti perkembangan bidang informatika. proses kontrol. dan tele-tele yang lain Medical Imaging Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound. Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah). (Dr. Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. Aspek-aspek lain yang berperan Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah: Interaksi manusia dan komputer. seperti: computer science. 5. Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat. yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. teleradiologi. Biaya dan keuntungan sistem informasi. atau artificial intelligence. maka secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer yang fundamental. Dalam praktek sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti: 1. Dalam perbincangan penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia. dr HM Goh. Telekomunikasi Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation. Proses pengolahan data Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya. artikel kesehatan.INFORMATIKA KEDOKTERAN PENGANTAR Medical informatics is located at the intersection of information technology and the different disciplines of medicine and healthcare. computational linguistics. berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran dan kesehatan. Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan. Demikian pula jika kita ingin membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran. 144. kedokteran nuklir. computer in medicine. contohnya: computational physics. telekardiologi. aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis. 2. dental informatics. melihat rekam medik dll. Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi Informatik (Information Technology). medical information science. dll. dan informatics. Akhir-akhir ini. Dua definisi Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika Kedokteran. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data.

Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya. ternyata bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja. mewakili Mentri Kesehatan Malaysia Tan Sri Datu Dr. Demikian dikatakan dr. Demikian dikatakan dr. mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di Indonesia.co. menghisap rokok. di samping hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus.id/seminar. Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di sekelilingnya. 20 Maret 2004 Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004.Hj. Tele-education kesehatan via satellite. J. berarti peserta simposium bisa memperoleh berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di Stand Kalbe Farma. 2004 . dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. Pudji Rahardjo. menghisap rokok. Dalam sambutan tertulisnya.id. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. dan Portal Kedokteran www. 6 . membuka acara eHealth Asia 2004. RSIA HERMINA Daan Mogot . batu ginjal. sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang. Wakil dari Indonesia. RS Mitra International. Acara tersebut menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani. dan infeksi. Kuala Lumpur.kalbe.Jakarta. Hotel Acasia. dokter spesialis anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut. Erik Tapan. SpPD-KGH. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. Sabtu 20 Maret 2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta. Mohammad Taha bin Arif. J. setelah menyelesaikan acara ilmiah. Pada topik yang diberi tanda Breaking News. melainkan 60 Cermin Dunia Kedokteran No.Kegiatan Ilmiah Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah".043 orang. Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. Studio mini Jakarta Eye Center.co. bisa diakses di http://www. narasumber simposium berkenan menyumbangkan suara emasnya) juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan lingkungan sekitarnya.000 kali per hari. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari Asia Pasific Association of Medical Informatics. Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah".8 April 2004 Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. mentri menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan.PD-KGH. di DKI terdapat penderita DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2. Demikian terungkap dalam Seminar Awam "Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue.Pudji Rahardjo. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS Pertamina Jaya Jakarta. Laporan lengkap dari simposium. (tampak dalam foto dr. Sp. Sp. dan sebagainya.Pudji Rahardjo. 6 April 2004 Pada malam hari. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. hari ini Dato' Dr Abdul Gani Che Din. 6 April 2004. 144. Untuk itu kita jangan sampai lengah. dan bisa langsung diakses pada homepage Kalbe Farma Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah. 25 Maret 2004 Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata bukan hanya merupakan masalah yang sederhana. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. dan sebagainya. yang di klik rata-rata 2. APAMI Board Meeting. Hotel Acasia. dan infeksi. hal ini jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia.PD-KGH.kalbe. eHealth Asia 2004. Kuala Lumpur. batu ginjal.

29 Mei 2004 Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi. Ed. angka kejadian penyakit ini pada pria melonjak hingga mencapai 9. 6-9 Mei 2004 Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung koroner (CHD/Coronary Heart Disease). Sie. 24 Mei 2004 Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa lagi saat ini. Hotel Mandarin Oriental . Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I. 18 Januari 2004 Pada tanggal 18 Januari 2004. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan saraf”. Menurut Budi Sampurna. dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul "Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN). enterosit dan kolonosit. Seminar Integrated Hospital Marketing. radiasi dan operasi. Sp. 8-9 Mei 2004 Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna. 2004 61 . SpS(K)). Hotel Shangri La Jakarta. Oleh karena itu obesitas menjadi masalah epidemik yang global. Demikian dijelaskan Handi Irawan.Jakarta. Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum. menjadi terapi yang bersifat spesifik.16 % (WKNPG : 2. Nutrisi enteral lebih unggul dibandingkan parenteral dalam mempertahankan fungsi gastrointestinal. 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) 2004. karena proses bisnis layananan kesehatan termasuk hal yang kompleks. SPS(K). Cermin Dunia Kedokteran No. dr.26 Mei 2004. Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar dimulai pukul 09. Oleh karena itu penyakit DM saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan guideline terbaru DM. Demikian dikatakan Prof. Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar.PD. H. SpS(K). Jakarta. Slamet Suyono.5 %) dan wanita 11. Demikian dikatakan dr. Zubairi Djorban.00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang peserta. sehingga diharapkan terapi akan lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas hidup pasien yang meningkat. karena dapat mencegah atrofi villi usus. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di Jakarta. Amiruddin Aliah. dr. kasus tuntutan di rumah sakit umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh ketidakpuasan pasien. Sebabnya. Dibandingkan dengan data WKNPG tahun 1998. lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa Republika tersebut.5th Jakarta Antimicrobial Update 2004. dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu penyakit dalam atau perawatan intensif National Obesity Symposium III. Bali International Convention Center. mengingat sangat beragamnya latar belakang profesi yang menjalankannya. dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.(foto diambil saat Session Mari Tanya Ahli. Jakarta. Seminar IT PERMAPKIN. seharusnya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses bisnis"nya. di Jakarta selama 2 hari. Hotel Borobudur Jakarta. membuktikan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat. MM dan Prof. 15-16 Mei 2004 Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang.26 Mei 2004 Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan Riset Marketing dalam menjalankan usahanya. KHOM dalam sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta. Demikian salah satu yang ditekankan Prof. 25 . 23 . Dr. Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI. 27 . termasuk dari Kalbe Group. mahasiswa baik kedokteran maupun keperawatan. tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia. dr. SpPD. Arifin Limoa.28 April 2004 Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan. SpS(K). Dr. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri. Prof. Spesifik yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan perkembangan khusus sel kanker.25 Mei 2004 Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta. Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan. KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International Convention Center beberapa waktu lalu. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf. dari kiri ke kanan: dr.9 %). tetap menjaga kelangsungan fungsi usus. Danial Abadi. ASEAN Pharmaceutical Industry Congress. Prabowo Soemarto dalam Seminar IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta. Jakarta. Bagian/UP Neurologi FK UNHAS/RS Dr. 24 Mei 2004. 25 .02 % (WKNPG : 5. Minggu 23 Mei 2004 diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical Industry Congres I. 144. K. Jakarta.

97 – 3. 362: 1599-604 brw SICK BUILDING SYNDROME Sick building syndrome (sindrom gedung sakit) merupakan masalah yang belum sepenuhnya dipahami. 0.95 (95%CI: 1. menunjukkan bahwa morfologi abnormal ditemukan di korteks frontal. risiko frakturnya 4.56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras. temporal dan parietal merupakan korteks asosiasi heteromodal yang berkaitan dengan fungsi perhatian (attention) dan inhibisi tingkah laku (behavioral inhibition). 0. sepanjang tahun 1997-2000. 158 diminta tidur di alas dengan derajat kekerasan 5. Peningkatan nyata substansia grisea sebaliknya didapatkan di sebagian besar korteks temporal superior dan parietal inferior bilateral. Sekelompok peneliti di Montreal.93) maupun saat bangkit (1. p<0.52. 117 62 Cermin Dunia Kedokteran No. Setelah 90 hari mereka dievaluasi. p<0.4-0. selain itu didapatkan ukuran yang lebih kecil di daerah inferior dan korteks prefrontal dorsal bilateral.5.86) dan lebih rendah disabilitasnya (2.0001) tidak tergantung usia.93. kemudian dimatikan selama 12 minggu. Pengoperasian UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim ventilasi sampai 99% (95%CI 67 – 100).9). Pengurangan 1 SD dari BUA (20 db/MHz) dihubungkan dengan risiko fraktur relatif 1. Para peneliti di Spanyol menilai 313 dewasa dengan nyeri pinggang bawah kronis nonspesifik.7 – 0. tinggi badan.7.9 ± 0. 0.9) dan keluhan mukosal (0. Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband ultrasound attenuation) kalkaneus di kisaran 10% terendah.50 – 2. Lancet 2003. 362: 1785-91 PENGUKURAN ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO FRAKTUR Risiko fraktur dicoba dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi terhadap tulang kalkaneus. 0.6.363:197-202 brw brw ALAS TIDUR KERAS UNTUK NYERI PINGGANG BAWAH Kebanyakan dokter menganjurkan tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah. 65% di akhir percobaan) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras (54% dan 59%). 0. 362: 1699-707 brw 0. Sejumlah 233 pasien mendapat 0.13 – 4.8).10. sedangkan 155 lainnya tidur di alas dengan derajat kekerasan 2.5 – METILPRDENISOLON UNTUK SINDROM GUILLAIN BARRE Dutch GBS study group mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk menilai manfaat penambahan metilprednisolon terhadap pengobatan imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre.ABSTRAK KELAINAN KORTEKS PADA ADHD Penelitian menggunakan MRI dan teknik komputasi terhadap korteks serebri 27 anak dan remaja penderita ADHD dibandingkan dengan 46 kontrol. nyeri saat berbaring (p=0. mereka di amati selama rata-rata 1. 116 di antaranya juga diberi 500 mg. selama 48 minggu.059). mereka yang tidur di alas medium juga lebih sedikit merasa nyeri di siang hari (p=0. Kanada mencoba menyelidikinya pada 771 pekerja kantor. 1.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras. Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat meramalkan risiko fraktur baik di kalangan pria maupun wanita. 0.3.24 – 3. Selama periode studi.4.2 – 0. 95%CI 0.6. Penurunan keluhan mukosal terutama di kalangan pekerja atopik (0. Lancet 2004. skala kekerasan kasur berkisar dari 1. Penggunaan UVGI juga menurunkan keluhan respirasi (0.9) dan keluhan muskuloskeletal (0. berat badan.89. 0. metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam setelah pemberian IVIg pertama.24 – 8.8.9) di kalangan bukan perokok. Selama masa itu terjadi 121 fraktur. baik di tempat tidur (odds ratio 2. Ternyata penggunaan UVGI dikaitkan dengan penurunan gejala berkait dengan pekerjaan secara umum (OD 0.7 tahun.99) juga terhadap keluhan respirasi (0.6. penelitian ini dilakukan atas 14 824 pria dan wanita 42-82 tahun di Norfolk.44 kali (95%CI: 2.bb/hari selama 5 hari.5 – 0.36.0001) dibandingkan dengan populasi yang di kisaran 30% tertinggi. juga di korteks temporal anterior bilateral. sex.8) dan bukan perokok (0. siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali. Lancet 2003. 95%CI: 1. Sayangnya dalam studi ini posisi tidur tidak ikut diperhitungkan.6) lebih banyak yang berkurang rasa nyerinya.0 (paling empuk). karena ternyata mereka yang tidur di alas medium lebih banyak yang mengambil posisi fetal (56% di awal percobaan. kebiasaan merokok ataupun riwayat fraktur sebelumnya.0 (paling keras) sampai 10.4 g IVIg/kg. 2004 . Daerah frontal.064) dan nyeri saat bangkit dari tempat tidur (p=0. Lancet 2003. 31 di antaranya fraktur femur.3 – 0.7. 144.5 – 0. ternyata mereka yang tidur di alas medium (5. sistem ventilasi ruang kerja mereka disinari dengan UVGI (ultraviolet germicidal irradiation) selama 4 minggu.

40. 100 mg/kg. 144. berupa mioklonus multifokal dan asterixis bilateral. Saat gejalanya mulai memburuk.15.328:189-92 brw EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan yang seluruhnya melibatkan 801 pasien – 395 menjalani latihan. Sejumlah 390 penderita asma pengguna kortikosteroid inhalasi yang berisiko eksaserbasi dipantau gejala asma dan morning peak flownya selama sampai 12 bulan. p=0. Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0.27-9. ternyata 46 menggunakan prednisolon tambahan . (OR 1. Di akhir percobaan. dan pasien menolak punksi lumbal. stroke non fatal.88. 95%CI 0. dibandingkan dengan 265 pasien yang diberi plasebo. 95%CI 0. 0.62. N Engl J Med 2004.350:88-9 brw ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA VERA Aspirin ternyata juga bermanafat untuk mencegah komplikasi trombosis di kalangan pasien polisitemia vera. 36.93.92.55-1. p=0. keesokan harinya gerakan involunter berkurang dan hilang sama sekali setelah 4 hari.22 (11%) dari kelompok studi dan 24 (12%) dari kelompok plasebo membutuhkan prednisolon tambahan untuk mengatasi gejala asmanya.18 – 0. emboli paru. Para peneliti di Italia memberikan 100 mg aspirin/hari pada 253 pasien polisitemia vera. Lancet 2004.89 (95%CI: 1.68.363:192-6 brw EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL Telah dilaporkan satu kasus wanita 63 tahun yang mendapat 20 mg/kg. setelah 4 hari pengobatan pasien tersebut mengalami gerakan involunter di kepala dan keempat ekstremitasnya.003).91. p=0. p=0.35. MENCEGAH EKSASERBASI ASMA Suatu studi dilakukan untuk menilai manfaat penggandaan dosis inhalasi kortikosteroid dalam upaya mencegah peningkatan dosis prednisolon oral. baik keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna. p=0. risiko infark miokard non fatal. p=0. 6. 2004 63 . Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil pengobatan sindrom Guiilain/Barre.06). trombosis vena atau kematian akibat kardiovaskuler (RR 0. Pemantauan dilakukan setelah 12. stroke non fatal atau kematian akibat kardiovaskuler lebih rendah di kelompok aspirin (RR 0.03).56-0. BMJ 2004. Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan. demikian juga risiko infark miokard non fatal.bb sulfametoksazol iv dan 2 g.15 – 1.363:271-5 brw Cermin Dunia Kedokteran No.71).07-3. Efek samping perdarahan tidak berbeda bermakna (RR 1. 24. 192 menggandakan dosisnya. Kejadian ini sebelumnya pernah dilaporkan pada 1 kasus anak. Risk ratio penggunaan prednisolon 0.9. jalan kaki. N Engl J Med 2004. Kematian. Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari tercatat 88 (22%) kematian di kelompok latihan dan 105 (16%) di kelompok kontrol.8) Para peneliti berkesimpulan bahwa menggandakan dosis inhalasi tidak mencegah perburukan gajala asma (yang diukur dari kebutuhan prednisolon oral) Lancet 2004. OR=1. aerobik dan kalistenik yang bervariasi di antara percobaan-percobaan tersebut. Analisis atas data dari 225 pasien menunjukkan bahwa skor disabilitas membaik satu tingkat atau lebih pada 68% (76 dari 112) pasien kelompok metilprednisolon dan pada 56% (63 dari 113) pasien kontrol.41. Pemeriksaan MRI hasilnya tidak spesifik.65.ABSTRAK sisanya mendapat plasebo.97-2.350:114-24 brw Program latihan yang dijalani berupa bersepeda. Efek samping tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok tersebut. p=0. sedangkan 198 lainnya tidak (kedua kelompok menggunakan inhaler yang serupa) Setelah 12 bulan. data diolah dari 207 (53%) peserta.bb trimetoprim. Setelah penyesuaian data terhadap usia dan tingkat penyakit saat masuk. seftriakson iv dua kali sehari untuk infeksi Nocardia. 95%CI 0.46 – 0. 406 sebagai kontrol.95 (95%CI 0.09).72. 95%CI: 0.4.64. 95%CI 0. logrank x2 5. 110 di kelompok studi dan 97 di kelompok plasebo. 48 dan 60 bulan kemudian.015) Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan latihan (0.011).

B B 5. a) 100 dB b) 120 dB c) 140 dB d) 160 dB e) 180 dB 8. 2004 . E A 3. 5. 10. Klebsiella Pseudomonas Staphylococcus 2. E C 4. 6. 4. Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan: a) Mongoloid b) Kaukasian c) Negroid d) Hispanik e) India Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas suara di atas: a) 20 dB b) 40 dB c) 60 dB d) 80 dB e) 100 dB Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi . 10. 9.Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. D D 2. Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo . 7. 3. 144. JAWABAN RPPIK : 1. a) Tumor jinak b) Tidak pernah mematikan c) Berhubungan dengan HIV d) Gejalanya awalnya sesak e) Sering rekuren Rinoskleroma dikaitkan dengan : a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) d) e) 7. a) Gangguan peredaran darah otak b) Trauma vestibuler c) Penyakit Meniere d) Vertigo posisional benigna e) Neuronitis vestibularis 6. Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi : a) Defisiensi vitamin B b) Defisiensi vitamin C c) Defisiensi vitamin D d) Defisiensi Zn e) Defisiensi Fe Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di a) Submental b) Intralingual c) Suprahioid d) Transhioid e) Infrahioid Yang tidak benar mengenai papiloma laring. 8. E A 64 Cermin Dunia Kedokteran No. 9.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->