2004

http://www.kalbe.co.id/cdk

ISSN : 0125-913X

144. THT

2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

144. THT
Daftar isi :
2. Editorial 4. English Summary

Artikel
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir 8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia 11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni 13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah 16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R. Susworo 20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati 24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi Arifiani 29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W. Roestam 35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi 41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo 47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe 52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah 55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk 57. Produk Baru 58. Kapsul 59. Informatika Kedokteran 60. Kegiatan Ilmiah 62. Abstrak 64. RPPIK

Keterangan Gambar Sampul : Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13

EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi pendengaran khususnya. Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis maupun keluarga pasien. Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami nantikan

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

3. bila menggunakan bahasa Indonesia. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. Jakarta 10510 P. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. 1st ed. Bila terpisah dalam lembar lain. Laboratorium Ortodonti MScD. Soebianto PENCETAK PT. Budi Riyanto W.Dodi Sumarna . Temprint http://www. Basmajian JV. Kalbe Farma Tbk.Prof. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis. bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah. 4. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. P. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Gedung Enseval Jl. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris.H. Bagian Periodontologi. 1990. eds. Sodeman WA.457-72.O.Prof.kalbe. Weinstein L. Baltimore.id Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. Sjahbanar Zahir MSc. Boenjamin Setiawan Ph. Drg. . 2. (021) 4208171.Prof. bila tujuh atau lebih. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. 1984. Box 3117 JKT. . hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. R Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang KETUA PENYUNTING Dr.10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word.2004 International Standard Serial Number: 0125 . Dalam: Sodeman WA Jr. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas.id/cdk PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. Jakarta 10510. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . London: William and Wilkins. DR. SpOrt. Oen L. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya.id/cdk . Jakarta Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta TATA USAHA . Philadelphia: WB Saunders. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. sebutkan semua. 1974. Bila pengarang enam orang atau kurang. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah.co.Dr. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku.D .Prof. Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. 64: 7-10. Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta . Cempaka Putih. . SKM. Cermin Dunia Kedokt. satu muka. kedokteran dan farmasi. Erik Tapan . Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Suprapto Kav. Hendro Kusnoto. Siti Wuryan A Prayitno. Box 3117 JKT. Kirby RL. Dr. Sri Oemijati. Letjen. akan diberitahu secara tertulis. Drg. Gedung Enseval.co. Swartz MN. Cempaka Putih. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran. MSc REDAKSI KEHORMATAN PEMIMPIN UMUM Dr.4208171 E-mail : cdk@kalbe. Dr.id http: //www. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 DEWAN REDAKSI PENERBIT Grup PT. Pathogenetic properties of invading microorganisms. E-mail : cdk@kalbe. Tlp. 021 . Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran.Medical Rehabilitation. PELAKSANA Sriwidodo WS. Bila tidak ada. 4. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979.co. Jl. Dr. 90 : 95-9).913X KETUA PENGARAH Prof. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. . Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Contoh : 1. DR. hendaknya diberi keterangan mengenai nama.Djuni Pristiyanto ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran.Prof. Tlp. Hal 174-9. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya.co. PhD.kalbe. Letjen Suprapto Kav.DR. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia.O.

Adam Malik General Hospital.2004: 144. particularly at the anterior commissure. and tend to be concentrated on the free margins of true vocal folds. Practically all patients with laryngeal papilloma present with hoarseness or a weak voice. The symptoms may cause anxiety and disturb the patient’s social life. Cipto Mangunkusumo General Hospital.2004. acyclovir. Jakarta.lys bso. Diagnosis can be confirmed using a flexible fiberoptic laryngoscope to visualize the larynx. 144. Medan. Firmansyah Dept. and retinoic acid are still debatable. Papillomata have a characteristic wart-like appearance. 144. 13-15 dmr. Cermin Dunia Kedokt. Indonesia RHINOSCLEROMA Delfitri Munir. Indonesia Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in children. Yvonne Siboe Dept. can be due to vestibular system disorder. North Sumatera and Bali. Lia Amalia Dept of Child Health. University of Indonesia. L. It is caused by strains of human papilloma virus (HPV) family. Conventional treatment is still not satisfactory. treated with acupuncture and showed good improvement. There is still no accurate and successful management method for this problem . Cermin Dunia Kedokt. laa Fate is distinghished but an expensive tutor (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No. referred to dizziness or a sense of imbalance. paroxysms of chocking.raa. in Indonesia it is found in North Sulawesi. recurrent respiratory infections also may occur. 8-10 Rhinoscleroma is an endemic disease. 47-51 ppi. Cermin Dunia Kedokt. chronic cough. 2004 . Jakarta. This is a report of a 50 yearold female with vertigo. The role of medications such as alphainterferon. of ENT. The mainstay of treatment is surgical ablation. Faculty of Medicine. 144. of Acupuncture Dr. ribavirin. Partial airway obstruction may manifest as stridor or chest retractions. Indonesia ACUPUNCTURE FOR VERTIGO Prasti Pirawati.fih Vertigo is a common complaint.English Summary LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN Bambang Supriyatno. Rizalina A Asnir. North Sumatra.2004.

1-5.7. 144.17 Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong.11-15 SINONIM : Ozaena.11.7.13 Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3.9 Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria.1-9 Penyakit ini lebih sering mengenai wanita.1-5.2.1-5. 7.12.7. Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun. Adam Malik. yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta.8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9. Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H.7 7) Teori mekanik dari Zaufal4.17 Terutama kuman Klebsiella ozaena. mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering.7.11.8 dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria.11-15 terutama pada usia pubertas. lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang.11-14 dan di negara sedang berkembang. sosial ekonomi rendah.7.5 8) Ketidakseimbangan otonom 4. 2004 5 . Kuman lain adalah Stafilokokus.7.7. rinitis krustosa. sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk. PENDAHULUAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. Medan ABSTRAK Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah.10.7.12.10.14.2. Kokobasilus.14-16 Oleh karena etiologinya belum pasti. beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. dilakukan operasi .9. Kata kunci : rinitis atrofi.14-16 Beberapa teori yang dikemukakan antara lain : 1) Infeksi kronik spesifik 1-4.7. Cocobacillus foetidus ozaena 2) Defisiensi Fe1-4.20 Tetapi dari segi umur.1-5. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala.12.11-15 terutama pada usia pubertas.4.Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinitis Atrofi Rizalina Arwinati Asnir Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas.1-4.11 6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4.11 3) Sinusitis kronik1.12.11.16 Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi.16 Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.7.18 5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5.2.20 Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk1-3.5.5.17 Cermin Dunia Kedokteran No.13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun.12.11.11-14 dan di negara sedang berkembang. sehingga pengobatannya belum ada yang baku.1. Diphteroid bacilli. rinitis fetida. umur berkisar dari 10-37 tahun.16. Bacillus mucosus. 4 wanita dan 2 pria.9.5. vitamin A1.1-11 Secara klinis.20 KEKERAPAN Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita.12.7. maka pengobatannya belum ada yang baku.9. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia.1-5.

11 Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis.9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)4. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung. Mantoux test.11. krusta banyak. atrofi konka. terlihat rongga hidung sangat lapang. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui4. Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa.7 g dicampur 280 ml air hangat Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat. dapat ditemukan krusta di nasofaring. sinusitis.16 12) Golongan darah. hidung pelana.19 dan fibrosis dari tunika propria. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. mukosa hidung tipis dan kering.5. kadang-kadang kuning atau hitam. adanya krusta (kerak) berwarna hijau.1-5. Sebagian besar kasus merupakan tipe I.17 10) Herediter5. b.2 Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu. c. 144.2 Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman.9.9.10. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen. rontgen foto sinus paranasal.oleh karena itu secara patologi.11 Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa. Antara lain : a. epistaksis dan hidung terasa kering. gangguan penciuman (anosmi). 6 Cermin Dunia Kedokteran No.3. mukosa makin kering.1. untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau.8. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif.3. dilakukan dua kali sehari. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau b. Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat21 : a.7 GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis. terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3.5. rongga hidung tampak lebar sekali. warna makin pudar.10-12 Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia.10 dan rinitis atrofi sekunder.12. ingus kental berwarna hijau.3 2) Obat cuci hidung. lepra. air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. keluhan anosmia belum jelas.2.4 Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas. Larutan garam dapur d. pemeriksaan Fe serum.15.11 Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul).11 Dapat berupa: perforasi septum.12.4. jika krusta diangkat. midline granuloma. Campuran : Na bikarbonat 28. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis.3. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia. faringitis. 2004 . dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang. sakit kepala.1. sekret purulen dan berwarna hijau.3. Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A. mukosa tampak kemerahan dan berlendir.16. PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis.10.1.21 Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik.17 11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5.4.4. Campuran : NaCl NH4Cl NaHCO3 aaa 9 Aqua ad 300 c 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat c.4 g Na diborat 28. rinoskleroma dan tbc. yang bertambah jelek dengan terapi estrogen. Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler.11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal. krusta sedikit. rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:3.13 .7.4 g NaCl 56. pemeriksaan darah rutin. terdapat anosmia yang jelas. Selain faktor-faktor di atas.21 KOMPLIKASI4. rinitis kronik lepra. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi.4. miasis hidung. PATOLOGI DAN PATOGENESIS Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik.

Ramalingam KK. Pitfalls. Oxford : Butterworth . 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid. Becker W. Kader MA. 104 : 404-7. Gamea AM. 1987.23 Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka. kemudian dipindahkan ke lubang hidung. 90-2. J Laryngol Otol 2000. Baser B. Edisi ke 3. 2004 7 . 221-2. 1-4. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. 1997. Ujung Pandang: 1986. Naumann HH. Kepala dan Leher. 202-5. 193-411. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. 1996. Technique. 1992. Jiang R. 492. 4) Vitamin A 3 x 10. Textbook of Ear. 4. 1997.J Laryngol Otol 1992 . Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. 40-1. 1997. Elhamd KA. 18. Samsudin. 4/8/26-7.3 Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. New York : Georg Thieme Verlag. Dalam : ScottBrown's Otolaryngology. 3. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. 1996. Calcutta : The New Book Stall. natrium bikarbonat. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. 19. 549-55.3) Obat tetes hidung . Sutomo.Chen C. J Laryngol Otol 1990 . 106 : 652-7. 1993. diobati sampai tuntas1-5. 20. Dalam : Boies (ed). Doyen A. 15. 1996. 1994. Alih Bahasa : Wijaya. 10.Nose & Throat Diseases and Head .10-14. Weir N. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi.5. A Pocket Reference. Mangunkusumo E.21 OPERASI Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar. Maqbool M. 1985. Wood DG.Heinemann. Jakarta: EGC. bahan sintetis seperti Teflon. 2nd ed. Samiadi D. 576-80. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Disease of the Nose. Nose and Throat Diseases. Mewengkang N. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers. Cermin Dunia Kedokteran No. 1992. 264-7. New York : Georg Thieme Publishers.Edisi 6. diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa. Montgomery WW. Pfaltz CR. 6th ed. Sherief SG. Hiranandani NL. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml. Farrington WT.5 KESIMPULAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. 4th Bristol:Wright. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique.Gray RF. 21. 8. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok . 6. Edisi 13. 1980.11-14 Sinha. Jakarta : FKUI. Grewal DS.Hidung. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins. 17. 7. Mangunkusumo E. 218-21. 113-4. Kumar S. 10-5. 349-51. Lobo CJ. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. 144.Neck Surgery. Am J Rhinol 1998 . J Laryngol Otol 1998. 12 : 325-33. Throat and Ear and Head and Neck. Head and Neck Surgery. 1993. setelah krusta diangkat. oestradiol dalam minyak Arachis 10. diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. Sayed RH. Singapore : PG Publishing. 9. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan. C. 12. Vol. yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta. dermofit. Ujung Pandang.4. Groves J. Surgery of the Upper Respiratory System. 1994. Rinitis Atrofi. Disease of the Nose. 173-82. Bertrand B. Penyakit Telinga . Sydney. 16. KEPUSTAKAAN 1. 229. 91-3. Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap. maka pengobatannya belum ada yang baku.3% perbaikan pada periode waktu yang sama. Sreeramamoorthy B. 22. Laryngoscope 1996. Jakarta : FKUI. 1403-6. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Ear. 1986.1. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun. Infective Rhinitis and Sinusitis.106: 702-3. 381-2. Elloy P. Hilger PA. Madras : All India Publisher. 23. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis. Buku Ajar Penyakit THT. Fundamental of Ear. A Short Practice of Otolaryngology. Jilid 1. 14th ed Singapore : ELBS. 14.000 U / ml. Colman BH.22 PROGNOSIS Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. Hartley C. Tenggorok . 112 : 543-6.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis.A Synopsis of Otolaryngology. Oleh karena etiologinya belum pasti. Etiology and Management. 13. Nose and Throat Diseases. Hidung . cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari. 114 : 254-9. 26-7. Maran AGD. Indication. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93. THT FKUI.000 U selama 2 minggu 5) Preparat Fe 6) Selain itu bila ada sinusitis. Massegur H. 2. Naumann HH. 5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung. 499. Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Throat and Ear. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali. campuran Triosite dan Fibrin Glue. 218-9. 11. Ballenger JJ. tulang. Soetjipto D. 5. Hagrass. mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi.Atrophic Rhinitis-Pathology.Hsu C.

mudah berdarah. Cipto Mangunkusumo. Pada laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol. walaupun tidak ganas. higiene yang buruk. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta suara tangisan yang abnormal. Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur trakeobronkial. rekurensi PENDAHULUAN Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas anak. Beberapa keadaan diduga berperan sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah. infeksi saluran nafas kronik. diduga berhubungan dengan infeksi human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. kelainan imunologis. dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu. pemeriksaan fisis. Jakarta ABSTRAK Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di saluran nafas anak. berwarna kemerahan. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring. trakea dan paru. dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.3 Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut. hidung.4.1 Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. dan pemeriksaan laringoskopi langsung. tetapi lokasi tersering adalah laring. obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Papiloma Laring pada Anak Bambang Supriyatno. dan pertumbuhannya eksofilik. Papiloma laring pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas. Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui. Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea dan bahkan sampai ke paru-paru. 144. 2004 . Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan nafas serta penyebaran ke paru-paru. anak.2. rapuh. salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif. Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik. Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17. Kata kunci : papiloma laring. pada anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi.5 Terdapat dua jenis papiloma laring. Lia Amalia Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas.

sianosis ringan. hormon (dietilstilbestrol).INSIDENS Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak. berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi. terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial. serta pertumbuhannya eksofilik.9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital.10 MANIFESTASI KLINIS Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti. tanpa sianosis.6 Agung7 melaporkan 7 kasus antara 1970-1976. yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru. Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara 1993-1997 dengan usia antara 2. carbondioxide laser surgery. asma bronkial.10 Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk.8. mikrokauter. mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas. 6 di antaranya di bawah 12 tahun. Medikamentosa Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. kemerahan. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis. Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan.11-13 HISTOPATOLOGI Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal. 80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun. stridor inspirasi ringan. Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring. dan pasien tampak mulai gelisah. tetapi tidak untuk lesi parenkim. tetapi ada faktor lain yang berperan.. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi. Jackson I ditandai dengan sesak. rapuh.17 Diagnosis banding Diagnosis sulit terutama pada fase awal.15 PENATALAKSANAAN Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh. mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas. seperti kembang kol. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula. laringomalasea. retraksi suprasternal. Biasanya terdapat stridor inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas. b.3. laringofissure.18 d. Imunologis Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon. Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut : a. dan stridor inspirasi. infeksi saluran napas kronik. tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. steroid. mikrolaringoskopi langsung. Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis. semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi.18 Pada kasus papiloma laring yang berulang. dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis. mikrolaringoskopi dengan diatermi. 14-16 Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson. epigastrium. maka perlu dicurigai suatu papiloma laring. tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya. Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. sesak. Obat yang digunakan antara lain antivirus.7. sedangkan Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang. Terapi fotodinamik Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana papilomatosis laring rekuren. 10 Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau parakeratotik.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan. dan podofilin topikal. nodul pita suara atau kista laring kongenital. dan sianosis lebih jelas.5-18 tahun. dan terkadang gagal napas.17. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak. pemeriksaan fisis. Basheda dkk. 144. paralisis pita suara. kriosurgeri. mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi. dan mudah berdarah. Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk. dan kelainan imunologis. ETIOLOGI Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti.18-20 c. Bedah Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring. 2004 9 . Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm). Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring. DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut. Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger. Cermin Dunia Kedokteran No.

Otolaryngol Clin N Am 2000. 122:942-4. Pediatric respiratory papillomatosis. Cantell K. 102:580-3. Skripsi. 101:1162-6. 108:226-9. radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas. Ultrasonic treatment of laryngeal papillomata. Shikowitz MJ. Harley C. 10. 19. Agung IB. Derkay CS. 107:327-32 Green GE. Current Diagnosis and Treatment.KOMPLIKASI Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas. Shoemaker DL. Human papillomavirus infection in papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. 33:187-207. 4. diduga akibat tindakan trakeostomi. Laryngoscope 1992.13 Meskipun jarang. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru. Interferon therapy in juvenile laryngeal papillomatosis. ekstirpasi yang tidak sempurna. 5. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang. PROGNOSIS Prognosis papiloma laring umumnya baik. Smith EM. Schneider PS. 121:1386-91. Haliwell M. Haglund S.h. Laryngeal papillomatosis: clinical histopathologic and molecular studies. 2. THT FKUI. Leventhal B. tetapi dapat meluas ke trakea. 17. N Engl J Med 1983. 308:1261-4. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma. Bashida SG.16 Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. 18. 9. Laryngoscope 1998. Ossof RH. Bristol General Hospital. Bajtai A. Laryngol and Otol 1994. Task force on recurrent respiratory papillomas. 11:242-52. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1993. Steinberg BM. Steinberg BM. Derkay CS.249-60. Dere H. 115:322-5. Mulloly VM. Recurrent respiratory papillomatosis. 13. 33:1-12. 14. 107:915-47. Pignatari SSN. Birzgalis AR. 97:678-85. Yasin AR. 8. Comparison of pulsed and continuous wave light in photodynamic therapy of papillomas: An experimental study. Endobronchial and parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of photodynamic therapy. 102:300-10. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995. Werkheven JA. Mehta AC. 144. Clinical effect of alpha interferon dose variation on laryngeal papillomas. 6. Myers EN. Kohlmoos HW. Orlowski JP. KEPUSTAKAAN 1. Kashima H. Steinberg BM. Darrow DH. 119:554-7. Soft tissue complication of laser surgery for reccurent papillomatosis. Hamilton. Erisen L. Smith RJH. Topp WC. Mounts P. de Boer G.669-75. . Laryngoscope 1991. Arch Otolaryngol 1995. Recurrent respiratory papillomatosis of the larynx. 100:1458-64. Arch Otolaryngol 1995. Prognostic role of viral typing and cofactors. Gray SD. A preliminary study. Late recurrences of laryngeal papillomatosis. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996. Otolaryngol Clin N Am 2000. Fairman DH. Arch Otolaryngol 1981. Lundwuist P. et al. The Manchester experience 1974-1992. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM. Rimell EM. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. Papova viruses and recurrent laryngeal papillomata. Laryngoscope 1997. dan paru. 3. 12. 11. 7. Abramson AL. 20. Laryngoscope 1987. Hidvigi J. Bauman NM. Elo J. Laryngeal papillomavirus infection during clinical remission. Winkler B. 1982. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. 2004 . 1977. Sites of predilection in recurrent respiratory papillomatosis. bronkus. h. Fagan JJ. Papilloma of the larynx in children. 98:1324-9. Abramson AL. Pathogenesis and treatment of juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis. Pou AM. 16. Losin. White A. 15. Chest 1991.

12 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.5 Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31.3.1 LOKASI Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher.5%.12 Predileksi umur terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%.5 Kista ini biasanya terletak di garis median leher.5 : . 2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista.1% . Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher.14 Ada penulis yang menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus. maka epitel duktus juga ikut meradang. yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya. seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya.5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34. lokasinya terdapat di: Cermin Dunia Kedokteran No.6%.3.4.9. sehingga terbentuklah kista.suprahioid : 24. yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea.4%. rata-rata pada usia 5.1.1. dekade ke tiga 13.14 walaupun dapat ditemukan di semua usia.5 Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.5 tahun. Kista ini lebih sering terjadi pada anak. Medan ABSTRAK Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher. jika sering terjadi peradangan. dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kista Duktus Tiroglosus Hafni Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H. pada dekade ke dua 20.12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang.11 PATOGENESIS Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus : 1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus. 144.10.3 Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun. bagian tengah korpus hiod.intra lingual : 2.11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari + 86. Kata kunci : Kista duktus tiroglosus.4.000 pasien anak.13 KEKERAPAN Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher.4. umur sampai 5 tahun terdapat 38%.1.9% Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus.1-11 Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid.9.5.11 Lokasi yang sering adalah1. sehingga mengalami degenerasi kistik. Adam Malik. kekambuhan PENDAHULUAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid.6 Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak.tirohioid : 60.5.10.9% .4-10. 2004 11 .4.1% . merupakan 40% dari tumor primer di leher.10.suprasternal : 12. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.13.

11 4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya. eksisi sederhana. Philadelphia : WB Saunders Co. Kohut RI et al. 415-21. Konsistensi massa teraba kistik. 14. Hereditary Thyroglossal Duct Cyst. Penyakit Telinga. 19. 2.transhioid : 2 . Foramen sekum dijahit. Branchial cleft anomalies. 1996. warna sama dengan kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. 2nd ed. 6/30/8-12. Ujung Pandang. II. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah.Otolaryngology. Vol. KEPUSTAKAAN 1. 144. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik. Waddell A. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya. 1990. Bluestone CD. Thyroglossal duct remnants. Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya. Fusion of the thyroid interval in a patient with a thyroglossal duct cyst.dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%. 1. Dalam : Comprehensive Management of Head and Neck Tumors. otot lidah yang longgar dijahit. 1994. Dalam : Kumpulan Naskah Konas VI Perhati. Lingual tiroid 2. Samsudin. Urben SL. 1996. J. 6th ed. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. 3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia. Developmental Anomalies of the Neck. 122: 1094-6. yang harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher.). 11.6. diagnosis dapat ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan dilakukan foto Rontgen. 1362-69. Congenital Neck Masses and Cysts. 6th ed. 1997. mudah digerakkan.1985. Dalam: Pediatric Otolaryngology. 760-7. 10. Ransom ER. 88. Damijanti T. aspirasi perkutan.8 GEJALA KLINIK Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher. Bailey JB. 5/16/14. Sobol M. Hidung. irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula. Otot sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya. Simko MEJ. Vol. sampai tulang hioid. Edisi 13. Kista brankial Lipoma1. Benign Tumors. 183.5. Greinwald JH. Laryngol. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak. Dalam Boies. Tenggorok. Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %. Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%. 8. Montgomery WW. Kepala dan Leher. 9. 120 (5): 757-9. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.5. tidak nyeri.. A Handbook for Students and Practitioners. Ballenger JJ. korpus hioid. Suparjadi S. Aberrant thyroglossal cyst. Pincu RL. 4.10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm. Karmody CS. Oxford : Butterworth . dapat di atas atau di bawah tulang hioid.7. Alih Bahasa : Wijaya C.1. 1989. 1313-14. 14th ed. Thawley S.9 Bila terinfeksi. 5. Singapore : ELBS. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid. bulat. Ellis PDM. 381-2. reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik. kepala dan leher hiperekstensi.11 Cara Sistrunk : 1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang. thyroglossal cysts and fistulae. dipasang drain dan irisan kulit ditutup kembali. fasia yang lebih dalam digenggam dengan klem.6. Oxford: Butterworth – Heinemann.Heinemann. Bila ada fistula.submental : 2 . benjolan akan terasa nyeri.2. dibuat irisan memanjang di garis media. 5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum. yaitu kista beserta duktusnya. Head and Neck Surg.11 Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi. 1987.suprahioid : 18 . Vol. Otol. 755.). J.infrahioid : 43 . Massa Jinak Leher. Buku Ajar Penyakit THT. Stool SE. Edisi 6. 6. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. Cohen JI. 2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang empat sentimeter. Otol. Leichtman LG. posisi terlentang. Corry J et al. 295-6. Disease of Nose. Saleh H. Benign diseases of the neck. Philadelphia : Lea & Febiger. Kejadian fistel ini antara 15-34%.suprasternal : 3 Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral. Otolaryngol. Duktus beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. Philadelphia : JB Lippincott Co. Kista dermoid 3. Jilid 1. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag.11 Diagnosis Banding 1. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. Korpus hioid dipotong satu sentimeter. Jakarta : EGC. Panje WR (eds. antara lain insisi dan drainase. 114: 128-9. berbatas tegas. 12 Cermin Dunia Kedokteran No. 13. Philadelphia : WB Saunders Co. Throat and Ear and Head and Neck. 1986. THT FKUI. 2000. 4. 108 : 1105-7. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. O’Hanlon DM. 1983 .5 KESIMPULAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid.11 KOMPLIKASI Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder akibat trauma. Laryngol. Robertson N et al. Untuk fistula. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. Maran AGD. Dalam : Head and Neck Surgery . Colman BH. Scheetz MD (eds. Johnson JT. 2nd ed. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. Surgery of the Upper Respiratory System. 3. 1997. 7. kadangkadang lebih besar. 1987. 2. 2004 . Walsh N. infeksi atau operasi yang tidak adekuat. walaupun dapat ditemukan pada semua usia. 1994. 12.

7 INSIDEN Rinoskleroma dapat mengenai semua usia.2. Ukraina. Salvador.2-4.8-10 Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870). India.1.8 Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif. radiasi dan pembedahan.10 Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma. lingkungan hidup yang tidak sehat dan gizi yang jelek.1. PENDAHULUAN Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika Serikat dan Inggris. tapi endemik di beberapa negara di Asia.7 HISTOPATOLOGI Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo- Cermin Dunia Kedokteran No. Eropa dan Afrika. 144.11 Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia.13-16 Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara. Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini sampai sekarang.1-7 Di Indonesia.9 Kebanyakan penderita ditemukan pada dekade dua dan tiga. Sumatera Utara dan Bali. tetapi sering pada dewasa muda. Kolumbia.9. Firmansyah Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.8.9.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T. Rusia. Cekoslovakia. 2004 13 .TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinoskleroma Delfitri Munir.11. orofaring.1.7.1. Medan ABSTRAK Rinoskleroma merupakan penyakit endemik. mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung.5.8.8 ETIOLOGI Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis yang merupakan basil Gram negatif. Philipina dan Indonesia.8 Pengobatan meliputi medikamentosa. meluas secara bertahap menjadi nodul padat yang tidak sensitif.9 Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut. di Indonesia terutama di Sulawesi Utara. Guatemala. subglotis. namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang memberikan hasil memuaskan. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah. Sumatera Utara dan Bali.1. Uganda.2 Belinoff melaporkan 94. rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum perang dunia ke dua. Rumania.2. Kasus pertama ditemukan oleh Snigders dan Stoll (1918) di Sumatera Utara. Amerika. trakea dan bronkus. Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring. dan dalam beberapa tahun akan mengisi dan menyumbat hidung.8 Fisher menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan. Mesir. Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis).5 % terdapat pada golongan pekerja kasar seperti petani. Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini.8. Adam Malik.6. Rizalina A Asnir.2. Sumatera Utara dan Bali. Nigeria. Bila tidak diterapi akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me- nimbulkan deformitas yang luas.2 Dilaporkan banyak terdapat di Sulawesi Utara.

berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel permukaan.patologis yang khas.6. Di samping itu terdapat pula sebukan sel-sel plasma.11 14 Cermin Dunia Kedokteran No.2. 2004 . tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik.8 1. test aglutinasi) dan imunokimia. Toppozada mengemukakan bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat pada penyakit ini.Rifampisin 450 mg/ hari . Radiasi Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod. kemerahan. GEJALA KLINIS Gejala tergantung pada area.6.3.Stadium II (Granulomatous. Sporotrikosis. Atrofi. perluasan dan lamanya penyakit.Khloramphenikol. histopatologi. Proses infeksi granulomatosa a. mudah berdarah. limfosit dan histiosit.7. Infiltratif. Stadium granulomatosa Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik. Noduler) Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis. Jamur : Histoplasmosis. Siprofloksasin. Gambaran penyakit pada stadium ini tidak khas.Streptomisin : 0. Parasit : Leismaniasis mukokutaneus 2. Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung. Stadium sklerotik Fibrosis yang luas.9 Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa. ditambah dengan pemeriksaan penunjang seperti radiologi. sakit kepala. Dari pemeriksaan. laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis. Eksudasi) Ditemukan pada usia sekolah.14: . hiperplasi pseudo epiteliomatosa.12 1. Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler yang sangat besar. Russel body.7. kemerahan. Klofazimin1. yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk.Stadium III (Skleromatous. sering seperti rinitis biasa. kavum nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah. laring. tetapi hasilnya belum memuaskan. Pada stadium ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius bagian bawah.810. namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan.11. Sifilis.13-15 Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif.10 2. Blastomikosis.1. Proses yang sama dapat terjadi pada mulut. Antibiotik yang dapat digunakan antara lain: . Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan. Sikatrik) Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak. Pada stadium ini biasanya penyakit mudah dikenali. 3. Pada stadium I. Stadium kataral/ atropik Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi. jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada sitoplasma. Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya.1. Lebih lanjut rongga hidung mulai dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan. Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz.Stadium I (Kataralis.8 Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan. hanya pilek yang tidak mau sembuh dengan pengobatan biasa. dapat terjadi gangguan penciuman.1 Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1. trakea dan bronkus. Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras. permukaan licin tanpa ulkus. Koksidioidomikosis c. . faring.Tetrasiklin : 1-2 g/ hari .2.9 Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia. yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2.8-11. . Stenosis. Sarkoidosis 3.14. bakteriologi.8. pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior. tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan. konsistensi padat. Sel-sel ini menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan diagnosis penyakit rinoskleroma. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian dikenal sebagai basil dari Von Frisch. Bakteri : Tuberkulosis. di samping keluhan hidung tersumbat juga sering terjadi perdarahan dari hidung. kemudian diikuti cairan mukopurulen berbau busuk.15 Diagnosis Banding2. Wegener granulomatosis PENATALAKSANAAN Meliputi : medikamentosa. sumbatan hidung yang berkepanjangan. dapat ke arah posterior (nasofaring) maupun ke depan (nares anterior). serologi (test komplemen fiksasi. 144. kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut dan penyempitan jalan nafas.5-1 g/ hari .8. 2. Lepra b.9.13.15 1.2.710. radiasi dan tindakan bedah. Medikamentosa Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif. Pada stadium II. Dimulai dengan cairan hidung encer. Kemudian terjadi invasi. histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel).

No 4. http//www. 4. Vol III. h 457-66. Yigla M. Jilid I. hidung. Penyakit hidung. Wilson WR. faring dan telinga. p. orofaring 2. 7. atelektasis paru.Palatum mole. Infective rhinitis and sinusitis. throat and ear and head and neck.9. Butterworth-Heinemann. Maran AGD. Chest. Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial. h 4/8/34-35 Rhinoscleroma http//www. Jika terjadi sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus dilakukan trakeostomi. Infectious disease of the paranasal sinuses. 8.7. Jakarta.atlases. 144. p. Ahmad M. komplikasi dapat juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa) dan berdegenerasi maligna. Monduzzi. USA: WB Saunders Co. 3. Chitale A. 15. 1991. 5. In: Otolaringology. Vol 1. 61. Tjekeg M dkk. 16. Oren I et al. 1990. Wiratno dkk. Great Britain: 1997. uvula. Ben-izhak O. Ed II. Vol 17. EGC. p.9 4.Orbita : proptosis. 1994.afip. 1991. p. Laring. Pembedahan Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung. Infections of the nose. Vol IV. 1983. Granuloma kronis pada muka. Becker W. USA: WB Saunders Co. Sreemamoorthy B.ce/atl-en/sect-sect-58/html.4. Dalam Boies (ed).Saluran lakrimal (dakrioskleroma) . Benign Tumours and Granulomas in Nose. Medan. Pranowo S. 1997.129. Juli. Balenger JJ. 2089. Laryngotracheobronchial involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma. Suardana W.org/departements/endocrine/case/dec00/december2 htm. Wein N.1. ed IV. 40. Agustus. 13. Vol III. January. New York: Thieme medical publishers inc.thedoctorsdoctor. 12. PG Publishing.1. 206-7. Cermin Dunia Kedokteran No. Buku Ajar penyakit THT. 1851-52. Sydney: March. sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas. Shapiro J.muni. In Otolaryngology. kepala dan leher. Binarupa Aksara. Groves C. In Scott-Brown’s Otolaryngology. Ed III.32/micro/v17n04. htm Colman BH. Montgomery WW. 1990. h 224556. 14.16 KOMPLIKASI Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke : 1.Dilatasi Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total.13. nose and throat diseases. June 2000.1 KEPUSTAKAAN 1.162. Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI.Telinga bagian tengah (otoskleroma) .com/diseases/rhinoscleroma. 2004 15 .htm. 1980. Nauman HH. sehingga pengangkatan dapat dikerjakan dengan mudah secara intranasal. Longman Singapore Publ. asfiksia dan kematian. Organ sekitar hidung : . Ed III. 2. 1998. 4. Dr. Pfaltz CR. Surabaya. http//www. Fried MP.10. 1993. Hilger PA. ed I India: All India Publishers. p. 1997. 603-7. p. h 368-70.103. 11. Diseases of the nasal cavity. In A Short Practice of Otolaryngology.Sinus paranasal . Scleroma. In XVI World Congress of Otorhinolaringology head and neck surgery.14. In: Diseases of the nose. ed 13. Acute and chronic laryngeal infections. Throat and Ear. 6. Jakarta. http//www. Ear. Ed X. Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII PERHATI. Intrakranial Di samping akibat perluasan penyakit. tenggorok. Beberapa aspek penyakit rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar. 9. kebutaan . 3. h 128-34. h 210. Ed VI. Rinoskleroma di RS. Dalam: Penyakit telinga. 3. hidung. 1993. Ed VI. Kariadi Semarang. Department of pathology. 10. Masna PW. Ramalingam KK. Desasouza S.

Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). kulit hitam dan Hispanics. Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia. Yang disebut KNF adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini. Cipto Mangunkusumo. Susworo Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. yakni 4. terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan. bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih. Dijumpai 16 Cermin Dunia Kedokteran No. kanker payudara dan kanker kulit. bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya KNF. Catatan dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan ke empat setelah kanker leher rahim. pajanan pada bahan kimia atau oleh virus.000 penduduk per tahun. Bermula dari terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme pertumbuhan sel.000 penduduk1. tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. diasin). KANKER NASOFARING (KNF) Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari langit langit lunak. Sebaliknya. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap. Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per 100. atau gen HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. Antara lain disebutkan faktor makanan.2 Bandingkan dengan negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka kejadian 1 per 100. 2004 lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir R. sedangkan angka rata rata di Cina bagian selatan berkisar antara 20 per 100.3 Sekalipun termasuk ras Mongoloid. Sebagian lagi bersifat diturunkan Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu. 144.7 kasus baru per tahun per 100. dan beberapa ras di Afrika bagian utara. tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring. . Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah. Berbagai kekacauan struktur ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar. seperti konsumsi lemak yang terlalu tinggi. maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol. misalnya kelainan pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium). bangsa Korea. di samping Mediteranian. seperti perokok berat. apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran tersebut. putusnya kromosom (chromosome breaks) dan delesi pada sel sel somatik. Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi. pola hidup. Perubahan genetik ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak terkontrol. dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini. faktor eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini.000. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan. Sel akan tumbuh tidak normal dan berlebihan.000 penduduk. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi. Jakarta PENDAHULUAN Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang disebut sebagai mekanisme karsinogenesis.

Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan. Lendir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. Untuk menegakkan diagnosis. 2004 17 . GEJALA KLINIS KNF Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada penderita KNF. Berbeda halnya dengan kanker leher rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik Papanicolaou dan mamografi.Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV. Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. Di beberapa bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih.5 Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti udang asin. padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. capsid antigen dan early antigen. selain gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding nasofaring dengan alat endoskopi. 144. debu kayu serta asap kayu bakar. disusul oleh keturunan Melayu (6. USG hati. pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis di organ-organ tersebut. pendengaran sedikit menurun serta mendesing. Saraf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata. telur asin. Pemberian pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama. Keluhan telinga dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar.5 per 100. Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali menyerang saraf pusat yang keluar dari otak. Selain gangguan motorik.000). Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid. Pembesaran kelenjar leher merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. Di samping itu pemberian khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker Cermin Dunia Kedokteran No. CT scan atau MRI nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein Barr. maka dapat dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut. seperti foto paru. infeksi EBV dan penggunaan CHB6. keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah. Manakala pasien merasa bahwa kelenjar leher menjadi makin besar. pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (Chinese herbal medicine= CHB). Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF. Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga menyulitkan tindakan radioterapi. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). predisposisi genetik dan pola makan tertentu. 4 Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV). Yang selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya muncul salah satu gejala akibat KNF. Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai konskuensi terhadap tujuan pengobatan. kadang kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga. Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. Epstein dan Barr pada limfoma Burkitt pada 1960). Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura. terlebih pada stadium dini.000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0. Sedangkan pemeriksaan lain. Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa. Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18. Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus menerus. (yang dinamai sesuai dengan penemunya. Pada 1966.000 penduduk). sampai saat ini belum ada metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF. Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. Pada keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau keduanya. Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan otak saja. Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan nasofaring. PENGOBATAN Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi radiasi. banyak kasus yang terlambat didiagnosis.5 per 100. Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya. Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style salted fish). akibatnya terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang juling.5 per 100.

Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). and risk of nasopharyngeal carcinoma. karies gigi akan lebih mudah terjadi. France : IARC Scient. Cipto Mangunkusumo General Hospital. 1981. Vol. Metode brakhiterapi. 10: 15-24. Yusuf A. 143. Publ. ed. Cancer Res. 471–86. Estimates of the world-wide incidence of 25 major cancers in 1990. Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada mukosa dasar tengkorak. Jakarta Indonesia 1988. Henderson BE. 5. 1997. Soetjipto D. pada umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang memuaskan. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar. 52: 3048 –51. bahkan setelah selesai terapi. Berkonsultasi ke dokter keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan tindakan yang tepat. p. Whelan SL. bawah serta klavikula. yakni dengan memasukkan sumber radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di sekitarnya. No. EFEK SAMPING PENGOBATAN Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa negara maju. Ferlay J. 6. Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna. Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan. Raymond L. Herbal medicine use. PENUTUP Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang spesifik. Yu MC. pasien akan selalu diawasi oleh dokter. In: Schottenfeld D and Fraumeni JF (eds). Cancer epidemiology and prevention. p. dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala seperti yang diutarakan di atas. Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas. 1990. 1992. NPC in Chinese – Salted fish or inhaled smoke? Prev Med. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula. Henderson BE. Bila saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa sisa makanan ini berkurang. memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar. Ross RK. Fachrudin D. 144. Epstein Barr virus. Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi. Cancer in Asia and Pacfic. dapat menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator linier (Linear Accelerator atau Linac). The flame of glory is the torch of the mind 18 Cermin Dunia Kedokteran No. 603 –18. Hildesheim A et al. Young J. 2004 . Himawan S.yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi. Yu MC. 80: 827–41. (Lihat lampiran/ halaman 19). Azis MF. Pisani P. Cancer Incidence in Five Continents. Ferlay J. Pengobatan radiasi. Nasopharyngeal carcinoma in Dr. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. Syafril A. Lyon. York: Oxford University Press. 2. IARC Press. Susworo. Parkin DM. Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. Ho JHC. N. mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). Parkin DM. terutama pada kasus dini. 4. Nasopharyngeal cancer. Djakaria M. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan. KEPUSTAKAAN 1. 2nd. (Eds). In : Tjokronagoro A. Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. YKI. Int J Cancer. 1996. 3. 7. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah memilikinya.

LAMPIRAN : Gambar 1. Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator) Gambar 3. Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala. 144. Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi. 2004 19 . Cermin Dunia Kedokteran No. Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang ternyata merupakan metastasis dari KNF Gambar 2.

Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. Branhamella catarrhalis. Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies.5%. Departemen Kesehatan RI.catarrhalis PENDAHULUAN Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 20%. Streptococcus β-hemolyticus. terutama infeksi pernapasan akut (ISPA). baik infeksi saluran per20 Cermin Dunia Kedokteran No. yakni sebesar 68.3 %. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI.04%. Streptococcus sp. Kata kunci : Tonsilo-faringitis. Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam. 2004 napasan atas maupun bagian bawah. dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai bulan Nopember 1999. 53.11%. Streptococcus βhemolyticus 6. 87. Branhamella catarrhalis 22. Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh bakteri (kuman). 40% dan 80%. salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam.8 %.1 %. Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut adalah 73. Ani Isnawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.HASIL PENELITIAN Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat Retno Gitawati. terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah.82%. Metoda penelitian cross-sectional. serta lebih dari 50% penyebabnya . dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat”. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. Jakarta ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia.5 % dan dewasa 23.9 %.2%. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47. termasuk Indonesia. Streptococcus pneumoniae 3. Betalaktam. B. Lima spesies terbanyak adalah: Streptococcus viridans 54. usia 5-15 tahun 29.52%. 144.

termasuk jenis antimikroba yang diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas. dan Haemophillus(2). sifat hemolisis agar darah. Tabel 1. Pseudomonas. Kuman hasil isolasi diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada media Mueller-Hinton. berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut 31. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat pada suhu 370C selama 24 jam. dan kotrimoksazol(4). yang memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 1999.35%. Staphylococcus. terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam. Semua subyek telah menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent.2%).71 %. Streptococcus β-haemolyticus (6.76) 1 (0. fermentasi karbohidrat. Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus viridans (54. Streptococcus pneumoniae (3. Branhamella. HASIL Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis. Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI.53) 1 (0. sedangkan terhadap Penisilin-G dan amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah. Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari usap tenggorok antara lain Streptococcus.2) 30 (22.43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas. Yeast (ragi) Staphylococcus aureus Alkaligenes dispar Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus epidermidis Jumlah Jumlah (%) 71 (54.82%). dengan cara atau rumus sebagai berikut: % R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman “Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 + (% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Z”)/100. Cermin Dunia Kedokteran No. dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam. yakni dengan mengukur zona hambatan. 2.53) 2 (1. Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin. 1.05%). dan memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C. yakni golongan penisilin dan sefalosporin. Proteus. Antimikroba golongan betalaktam. 144.9%). (Tabel 1).2 %. Branhamella catarrhalis (22. dengan sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat.76) 132 (100) usap Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000). Jumlah subyek sebanyak 83 penderita. terhadap antimikroba golongan betalaktam. 7.05) 2 (1. B hemolyticus diperoleh 6. dan hasilnya menunjukkan profil resistensi (Tabel 2). sakit menelan.82) 5 (3. 10. Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut. Kuman ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab endokarditis.53) 2 (1. dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama sakit.76) 1 (0. tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda detritus. Streptococcus non-haemolyticus (3.11%).adalah virus(1). kecuali terhadap Cefradin. Untuk kuman S. (R = resistensi) Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3).93% dan 5. 11. Isolat-isolat kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya terhadap antimikroba betalaktam. dan uji-uji khusus lainnya. 2004 21 . berturut-turut 9. Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen tenggorok No. khususnya terhadap kuman penyebab ISPA.82) 4 (3.04%. BAHAN DAN CARA Desain uji adalah studi kasus cross sectional. 8. Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA.4 % . 4. batuk. 3. 9. hampir sama dengan yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4. Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap antimikroba betalaktam.11) 5 (3. Escherichia. dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun. Jenis (spesies) kuman Streptococcus viridans Branhamella catarrhalis Streptococcus β-haemolyticus Streptococcus pneumoniae Streptococcus non-haemolyticus Klebsiella pneumoniae Acinobacter spp. kadang-kadang disertai folikel bereksudat. dan memerlukan terapi antimikroba. yakni sebesar 68. 6. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni. hiperemis. makrolida. 5. 12.82%) dan Klebsiella pneumoniae (3. dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya. Klebsiella.46 %. Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S. viridans sebanyak 54. DISKUSI Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif. tetapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 % dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25.9) 8 (6.

Cefrad = Cefradin.48%. Cefep = Cefepime. tidak jauh berbeda dengan resistensi kuman S.29 1.67%.11 3.turut adalah Golongan B Laktam.52 87.05 )(10).76 0. Dwiprahasta I.33 3. . Resistensi kuman S. Di Indonesia untuk infeksi pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan ke empat setelah eritromisin.82 3. 3. viridans B.7 % dan 96.viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2. Josodiwondo S. MKI 4 (2/3): 56-60.04 %. Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob di Bidang THT. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute respiratory infections for the under five children among general practitioners. makrolid 15 %. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Penisilin G adalah 70%. 3. Streptococcus pneumoniae 3.53 1. P.53 1. epidermidis PeG 2. tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin bahkan juga terhadap golongan sefalosporin. Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12 miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan di rumah sakit berturut . non-haemolyticus K. aureus terhadap Penisilin G dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3. β-haemolyticus S. aureus 0 %.33 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefep 0 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefrad 73. MKI 1996.52 2.2 % dan 66. sefalosporin 7. Yeast (ragi) S.41 4. 8. 2. Ceftri = Ceftriakson. lima kuman terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54. Streptococcus β-hemolyticus 6. pneumoniae S. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik. Cefpi = Cefpirome.04%.Tabel 2. Trihendrokesowo dkk. .82 3.93 6.82 30. Cefoti = Cefotiam. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut– turut adalah 46. Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan.5%. MKI 1987.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. 5. selain itu dapat terjadi resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan. Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi bakteri gram positif. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin.0 %. 2 (1): 6-12. Sulb = Sulbenislin. Dirjen Binkesmas. Untuk mengatasi bakteri gram negatif tampaknya penisilin. catarrhalis S. Abdoerachman H.82 0 0 0 0 0 0 100 50 100 100 0 Sulb 0 0 0 0 0 0 0 100 0 100 0 0 Cefpi 0 3. Branhamella catarrhalis 22. 2004 menghasilkan enzim betalaktamase. Departemen Kesehatan R I. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga mungkin sudah banyak terjadi resistensi. akan tetapi 9 % penderita meninggal dunia. 144.53 Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah terhadap Cefradin sebesar 68. pneumoniae Acinobacter spp.0 0 0 0 0 20 0 0 50 0 100 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 Isolat kuman S. Antimikroba Cefradin Penisilin-G Ceftriakson Cefotaksim Amoksisilin Cefotiam Cefpirome Sulbenisilin Cefepime kuman usap tenggorok terhadap % total resistensi 68.05 2. Amx = Amoksisilin. 4. sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0.0 100 0 100 0 100 100 0 Keterangan: PeG= Penisilin-G. Cefota = Cefotaksim. 6. aureus Alkaligenes spp.82%.2 22.2 %. 9. kecuali sefalosporin generasi ke tiga (11. 46(9): 467-76. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam % Isolat kuman 54. 7. 1996. 26. Tabel 3..76 % resistensi antimikroba Cefoti Ceftri Cefota 1. 1. bahkan sefalosporin sudah berkurang kemampuannya.33 0 0 0 0 20.23 4.9 %. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%. Makrolid dan Fluorokuinolon.57 5. amoksisilin dan ampisilin(2).23 0 3.0 80. KEPUSTAKAAN 1.viridans dan S. 60% dan 20%. penisilin spektrum sedang dan sempit 13. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi bakteri yang sensitif. KESIMPULAN Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies. . Fachrudin D. 4.0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Amx 2. Berkala Ilmu Kedokteran 1997 .9 6. aeruginosa S.7 %.35 3.87 5.53 0.05 1.2%.04 9. yakni sebesar 68.33 53.82 %.11%.Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian berlebihan akan mempercepat resistensi. Total resistensi isolat antimikroba betalaktam No.7 %.0 20. 2.12). sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat minimum (MIC) kuman dan kesembuhan. 12. karena mampu 22 Cermin Dunia Kedokteran No. 5.8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986) sebesar 3.5 40. namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S. diikuti oleh Penicillin G dan Ceftriakson.76 0. Penulisan resep oleh dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin spektrum luas sebanyak 53. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba Saat Ini.

Jakarta. Surakarta. Kariadi Semarang. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Fax : 0778-421352 E-mail : pitika2@idai. Suprihati. Fax : 0274-565639 E-mail: pututby@email. : 021-3928658. Padang Telp. Fax : 0751-37771 Email: pibipd@yahoo. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI . 1994. Amsterdam : Excerpta Medica 1980. : 021-31934636.idki. Bandung Telp. Idajadi A. Tangerang Telp. Hartono TE.php Hotel Bumi Minang.net. : 021-4532202.com Website : www.or. Bandung Telp. Med Progr January 2003. : 021-5684085 ext. : 0778-7024522. Telp. Fax : 021-3919653 Email: iisic2@pharma-pro.itb. 2004 23 .interna. 5. Fax : 021-3928659 E-mail : endocrin@rad.idai.: 021-79184052 Website: http://www.co. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI. Rai IB. Beta Lactamase. Slombe B.id Hotel Horison.or.com 10-11 12-14 Juli 13-15 16 16-18 31-1/8 17-18 25-26 September 30-3/10 2nd Indonesia . : 0274-587555. 9. 6-17. Surakarta .obgyn-bandung. : 021-4786 4646. Management and Therapy in Critical Care Medicine Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3 dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan Produktivitas Kerja The 6th Int. Batam Telp. Herman MJ. distribution of phenotypes related to beta lactamase production. Sirot S.com Hotel Sahid Jaya. Watson A.pluit@rad. roga@biotech. Ringroad Selatan Yogyakarta Telp. Saulnier P.id Jakarta Convention Centre Telp.or. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae. detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www.net. Occurrence and Classsification. 12.net. : 0274-37430 Website: http://telmed.id Bali.id Karawaci. Antibiotik Beta Laktam. Fax : 021-56961530 E-mail: iqbalicu@idola. Fax : 022-2511612 E-mail : roga@scientist. rs. 1242.co. 11. : 022-2534115. : 021-330956. Bali Telp.id Jakarta.or. : 022-2039086 / 2035042. Faks. 6684878 Email : elsabali2004@globalmedicaonline. 1988. 7.id Hotel Grand Hyatt. 144.com. Wibisono MY. Gedung AR Fachruddin. Tarigan HMM. Nukman R. Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah.ac. Jones A.International Symposium on Infection Control Informasi terkini.respina.fkumy. J Internat Med Res 1986. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr. Meeting on Respiratory Care Ind. Sugito.1988. Jakarta Telp.internafkunand. (eds).id Website : www.org website : www. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic Therapy. 10.id Hotel Planet Holiday. Pola bakteriologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa. : 021-3919653. Fax : (021)-3913982 Website : www.6.kalbe. Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia.pluit-hospital.com/index. Bag Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP. Laporan penelitian 1998.id/calendar>>Complete Cermin Dunia Kedokteran No. : 0274-37430. 14:193-9. Jakarta Telp. KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004 Bulan Tanggal 10 Kegiatan Telemedicine Network in Indonesia. 8.or.org KPP Bioteknologi ITB. : 0751-37771.id Hotel Sahid Jaya. : (021)-3148610.com. How is the Benefit for Family Doctors The First Indonesian Symposium on Interventional Pediatric Cardiology Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak IDAI PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas " Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular III & KARIMUN III Konker PGI-PEGI-PPHI PIT IX Ilmu Penyakit Dalam 6-8 11-13 Agustus 13-15 28 Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes 11th International Symposium on Shock and Critical Care : New Insight in Diagnosis. Fax : 021-4786 6543 Email : info@respina. In : Rolinson GN.net Hotel Planet Holiday. 6685070. Fax : 021-3161467 Hotel Sheraton Mustika. Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin. Fax : 022-2035042 E-mail : pitpogi14@obgyn-bandung. 6685006 Fax : 021-4535833. Sirot J. Telp.com Web-site : www. Yogyakarta Telp.id Bali International Convention Center Telp. (Respina V) 5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit Dalam (PIB V IPD) FK Unand Recent Advances and Challenges in Endoscopic Surgery in Asia Pacific 26-29 Tempat dan Sekretariat Lt.3907703. Batam Telp. Fax : 021-3914830 Website : www.

Hal ini perlu diketahui. bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan. Konduksi Tulang Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah. cara mendeteksi gangguan pendengaran akibat kebisingan. maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. tengah. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising di tempat kerja. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar. Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis. suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi. Untuk itu. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi). serta tatalaksana gangguan pendengaran akibat kebisingan. sangat luas. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. dan dalam. Respon auditorik Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna. Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar. melakukan deteksi dini dan pengendalian bising di tempat kerja. Secara umum tekanan suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini.Bising yang di dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh. Jakarta PENDAHULUAN Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang disenangi. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja Novi Arifiani Subdepartemen Kedokteran Okupasi. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi pendengaran. adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. 144. Telinga luar berfungsi 24 Cermin Dunia Kedokteran No. Di telinga tengah ini. Misalnya. Pembahasan pada tulisan ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap kesehatan terutama kemampuan pendengaran. bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. dan lain sebagainya. biasanya di atas 120 dB. penurunan kemampuan kerja. Anatomi Telinga Secara anatomi. Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin. namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu. alat-alat transportasi berat. cara yang digunakan untuk . gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan. 2004 mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. Secara definisi. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini. tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising terhadap kesehatan tenaga kerja. karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang berasal dari jalur ini.

di udara terbuka. amplitudo. kerusakan tulang-tulang pendengaran. Kemampuan telinga untuk membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara yang vertikal. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga. Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara tersebut. Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan adanya suara lain. Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz. Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap. maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan. Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara. maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. Noise-Induced Temporary Threshold Shift Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok. yaitu trauma akustik. pendengaran orang tersebut berkurang. dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga. namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen. dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat. Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga sebagai kuat atau lemahnya suara. Kemampuan ini penting untuk memilih suara yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak ingin didengarkan. dan waktu yang didengar untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut. Trauma Akustik Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara masking tersebut. diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam. dan durasi. Masking Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara adalah masking. Kekuatan suara Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. 3). yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)). atau kerusakan langsung organ Corti. Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut. Sensitivitas Pendengaran Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran. pengeras suara. 2). Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh masing-masing telinga. 144. dengan kata lain. Untuk menghindari kelelahan auditorik. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti.mendengar suara tersebut ( melalui earphone. dsb). Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata. perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift). Lokalisasi Sumber Bunyi Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi. 2004 25 . Pada trauma akustik. Makin tinggi tekanan udara. serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga. Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar. makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga manusia. Pemahaman percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu. nilai ambang di atasnya. atau suatu alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik berdasarkan frekuensi. cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea. karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. dsb). Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik.

sedangkan efek jangka panjang terjadi sampai beberapa jam. 3000. dan 6000 Hz. Noise-Induced Permanent Threshold Shift Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia. tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. pengukuran impedance. spektrum suara. Memeriksa pendengaran Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. 2004 merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan. dan sering timbul tinitus. untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500. frekuensi yang diuji. durasi total pajanan. hari ataupun lebih lama. dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif.setelah pajanan suara. disritmia jantung. gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. bahwa keadaan bising di lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya. respon gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas sampai timbulnya keluhan dispepsia. hidung. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas. Secara sederhana. refleks pernapasan berupa takipneu. dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. Namun dapat pula terjadi respon pupil mata berupa miosis. serta faktor-faktor lain seperti usia. Efek jangka panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang berulang. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara. EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. Weber. Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi. seperti faktor fisika lain berupa panas. 2000. jenis kelamin. 144. dan sebagainya. dan pola pajanan temporal. sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek. dan sebagainya. Efek jangka pendek Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot. getaran. durasi pajanan. serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising. untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini 26 Cermin Dunia Kedokteran No. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan. jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara. kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan. Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit setelah pajanan terjadi. 4000. Bila sudah terjadi kerusakan. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising. alat transmisi ke telinga. pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik. bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik. mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya faktor risiko. spektrum bising. dilakukan pemeriksaan audiometri. tes rekruitmen. tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan. meningkatnya tekanan darah. untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry. tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat gangguan saraf otonom. berbicara dengan suara menggumam. serta aktivasi hormon kelenjar adrenal seperti hipertensi. serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini. trauma telinga karena agen fisik lainnya. Pada skala frekuensi. Namun perlu diingat. serta dapat terjadi pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang paling rentan adalah paru-paru). Pemeriksaan telinga. Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi. faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara. Untuk menilai ambang pendengaran. Efek jangka panjang Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh hormonal. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne. 1000. dan sebagainya. . status kesehatan. Pada pemeriksaan fisik. obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen). tidak jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis. sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain. berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan (Gambar 1). Dari data observasi di lingkungan industri. dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia. dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga.

dan permasalahan hukum harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. jenis pekerjaan yang dilakukan (beserta tanggal atau waktu bekerja). Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. Jika dipergunakan alat bantu dengar. Pemeriksaan audiometri pra kerja merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal kondisi pendengaran tenaga kerja. Namun tetap perlu hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang kemampuan atau performa kerja. Benar telah terjadi kehilangan atau gangguan pendengaran dan 2). tinggi rendah dan irama percakapan. Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan bising di tempat kerja adalah 1). gangguan pendengaran yang saat ini terjadi.Bising Reaksi Stres Umum akibat Kenaikan Adrenalin dan Noradrenalin Kenaikan Tekanan Darah Respon Vegetatif Peningkatan Kebutuhan Oksigen Peningkatan Agregasi Trombosit Kerusakan Dinding Arteri Trombosis Arteriosklerotik Oklusi A. Hearing conservation program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan ini. Namun penelitian efek kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan dengan seksama. 2004 27 Iskemaia Jantung Infark Miokard Stroke Gambar 1. pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan di lingkungan kerja. Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara dini. pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya deteksi dini pula. terutama pada lingkungan industri. riwayat pekerjaan. keluhan utama. riwayat keluarga. kondisi medis. riwayat penyakit dahulu. barang atau jasa yang dihasilkan. Survei kebisingan di tempat kerja harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang . tanggal bekerja dan umur saat itu. suara di atas 95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja. Pelaksanaan program pemeliharaan pendengaran (hearing program conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan di tempat kerja. Suara yang asing. namun pada pemeriksaan efisiensi kerja terlihat pengaruh yang cukup bermakna. Pada awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang timbul akibat bising. interupsi suara berulang. Koroner Oklusi Arteri Lainnya terjadi. untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap pemeriksaan tersebut. Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. durasi masing-masing pekerjaan. Selain itu. Cermin Dunia Kedokteran No. 144. Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. Pemeriksaan ini bersifat subyektif. perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir. riwayat pelatihan militer. PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA AKIBAT BISING Faktor akustik. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Penggunaan alat pelindung telinga. kondisi geografis dan lokasi fisik pekerjaan. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan menanyakan nama pekerjaan. Jika pendengaran sudah sedemikian buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat menerima keadaannya. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan). Dan gangguan pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di tempat kerja yang berlebihan. Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari. penderita tuli akibat bising ini juga sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume.

Horvarth EP. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual. Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai perhitungan kompensasi. dan Hearing Conservation. Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi suara 8. Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga. Noise. 2nd ed. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini cukup besar. Mosby. Pemeriksaan refleks kedua mata 4. Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berbeda di masing-masing negara. cermat. Harris CM (ed). Menilai ada atau tidaknya nistagmus 5. 2004 . sumber suara atau kebisingan yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini).htm. 2004. Occupational Medicine. Zenz C. Edisi 5. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Nilland J. In . 2. McGraw-Hill Book Comp. 144. Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan secara teliti. KESIMPULAN Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas tenaga kerja.penggunaan alat pelindung diri. http://www. Noise and Nuisance Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and Feasibility Study September 1998. Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan adalah: 1. Iskandar N. Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi. 4. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Food and Rural Affair. New York : 1979. 3rd ed. St. (chief ed). In : Zenz C. adakah tanda-tanda abnormalitas 3. 28 Cermin Dunia Kedokteran No. Pemeriksaan dengan garpu tala 6. dan hati-hati untuk menghindari kesalahan prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja. Jakarta : 2001 Department for Environment. Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa hantaran udara dan hantaran tulang 7. Bila terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja. harus dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja tersebut. Tes rekrutmen Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain. KEPUSTAKAAN 1. Handbook of Noise Control. 3. Louis : 1994 Soepardi ES.uk/ environment/noise/health/page05. Occupational Hearing Loss. 2. Dickerson OB.defra. February 6th.gov.

2. di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31.5 detik berturut-turut. Pada pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91 dB (64 dB . Bising terputus-putus Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise. dsb. 1000 atau 4000 Hz). kipas angin.105 dB (Sundari.1 – 108. Apa yang disebut kebisingan Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara. suara katup gas. dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising melebihi 90dB di tempat kerjanya. Di Indonesia. Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas. Di perusahaan plywood di Tangerang. gergaji sirkuler. Menurut WHO (1995). Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi : 1.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja Ambar W. suara dapur pijar. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon. rerata akselerasi getar 4. 1997) mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB dengan 50% NIHL.16 %. Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter. meriam dll. Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara.14% dan gangguan keseimbangan saja 27. kebisingan di lapangan terbang dll 4. 3. mudah emosi. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas 85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. tembakan. Bising impulsif Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. dari jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana. jumlah seluruh gangguan mencapai 72. bising merupakan masalah utama kesehatan kerja. Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss) atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%. 144.81% dengan paparan kebisingan 86. Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara industri. yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus.1997). Cermin Dunia Kedokteran No. Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja. prevalensi NIHL 31. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0. 2004 29 . Roestam Subbagian Kedokteran Kerja. Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran seperti susah tidur. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2m/dt2. Penerapan program konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising. gangguan pendengaran saja 17. melainkan ada periode relatif tenang. Di Quebec-Canada. Ini diperkuat dengan penelitian Yenni Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas.96 dB).2 dB (Lusianawaty). suara katup mesin gas.28% dari 350 pengemudi bajaj yang diperiksa. Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL 27. misalnya suara gergaji sirkuler. Pada kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27.43%.55% pada tingkat paparan kebisingan 85 .71%. Nada kebisingan dengan demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada.

dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap. c. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. b. serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. d. keselamatan tenaga kerja. Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural. PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN TENAGA KERJA Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja. 144. konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki. sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. yang dikaitkan dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut (Tabel 1). seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE. Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb: • Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS .bersifat sementara . Ketulian bersifat progresif. Tabel 1. ledakan dan Di Indonesia. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising.5 0. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising.25 atau kurang 5. Efek pada pendengaran Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara.menetap PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. kelelahan. sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang.reversible/bisa kembali normal Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg). apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba.Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif. • Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap . Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari. Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. Gangguan fisiologis Pada umumnya. daya dengarnya akan pulih sempurna. • Tuli karena Trauma akustik Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba. tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa. 2. namun bila terus menerus bekerja di tempat bising. dan lain-lain. Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut : a. Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman. stres. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan. Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten. Gangguan keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang. Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari pengaruh buruk kebisingan. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja.waktu pemulihan bervariasi . daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali. 5. 4. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising.patologis . gangguan psikologis. gangguan komunikasi dan ketulian. tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam. 3. gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan 30 Cermin Dunia Kedokteran No. Batasan waktu dan Pajanan kebisingan Intensitas suara (dB) OSHA Indonesia 90 85 92 95 88 100 91 105 94 110 97 115 100 Jam kerja terpapar 8 6 4 2 1 0. Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah bising yang bersifat kontinu. susah tidur. karena suara impulsif dengan intensitas tinggi. intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam.non-patologis . seperti letusan. peningkatan nadi. bising bernada tinggi sangat mengganggu. seperti gangguan fisiologis. kurang konsentrasi. tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain. 1. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis. terutama yang memilikis pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi. yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. 2004 . cepat marah. Organisasi Pekerja Internasional /ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan ketentuan jam kerja yang diperkenankan.

mengurangi angka kesakitan. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas 6. ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit). biaya kesehatan yang membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan. 3. mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding. meningkatkan produktivitas. Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program. kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya. mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan. menutup sumber kebisingan dengan barrier. langit-langit dan lantai. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising. Bagi pengusaha Taat hukum. Tuli ini biasanya bersifat akut. 1994). Monitoring paparan bising 2. seperti respons terhadap alarm atau pesan lisan f. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri. 3. angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah. 6. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat. Utamakan pencegahan bukan pengobatan. Problem dalam mendengarkan musik c. Serta bisa mengurangi stres. oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini perlu diprioritaskan. cepat sembuh secara parsial atau komplit. Problem komunikasi di tempat kerja b. Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. Problem membedakan suara Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment terhadap disability berbeda pada setiap individu. Hearing Impairment Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS) 2. tergantung fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan. Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan) Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja. namun merupakan pedoman. 5. 2004 31 . 4. 6. terutama bila sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun.lainnya. Berupa policy statement 3. mengurangi angka kecelakaan. Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik. menunjukkan itikad baik. Program pencegahan ini dikenal dengan istilah Program Konservasi Pendengaran. misalnya : a. Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal. b. dan lain-lain). Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis. Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan dalam melakukan aktivitas normal harian. menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses). kesejahteraan bukan santunan. Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja. Evaluasi audiometer Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE) Pendidikan dan Motivasi Evaluasi Program Audit Program Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur : a. proaktif bukan reaktif. Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri) c. bersifat menetap (irreversible). Dilaksanakan oleh semua jajaran. Economic self-sufficiency handicap e. Bagi karyawan Mencegah ketulian. 1996): 1. Integrated dengan program K3 4. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik. dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana. Handicap Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya. 144. hubungan baik dengan karyawan. 2. Occupational handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam bekerja dan memilih karir) d. ruang isolasi. Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut : a. Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting. Cermin Dunia Kedokteran No. 1. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam mengikuti pembicaraan) b. c. 7. Kontrol engineering dan administrasi 3. 5. rotasi kerja. tinitus. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. 5. antara lain: 1. Program selengkapnya adalah sebagai berikut : 4. 2. PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI PENDENGARAN Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH. jadwal kerja . Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS SEBAGAI TENAGA KERJA Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja dibedakan atas : 1. Problem mencari arah/asal suara d. Dukungan manajemen 2. Hearing Disability Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat hearing impairment.

yang sering juga disebut survei bising. Pengendalian administratif dilakukan dengan cara : 1. atau menggunakan APD 2. menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja. SOP pengukuran harus ada dan jelas. Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi. Monitoring bising terperinci Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan. Monitoring pendahuluan Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran. 3. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara. Setiap tahun. Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD. Saat pindah tugas keluar dari tempat bising 5. Evaluasi : .untuk baseline 14 jam bebas bising. diharuskan memakai . Saat pensiun/purna tugas Tipe audiogram : 1.periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun Bila STS (+) karena pekerjaannya : . bila STS persisten atau membaik IV. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap : a. bila bising > 85 dB 4. contohnya : 1. b. Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat kerja. Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). 5. ukur tempat dan ruang kerja. bila lebih dari 85 dB. Mengatur jadual produksi 2. Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) . Mengikuti peraturan III.periksa data kalibrasi alat . Kecocokan. lakukan tahap selanjutnya c. Penempatan ke tempat bising 3. mengencangkan bagian mesin yang longgar. Penjadualan pengoperasian mesin 4. maka disebut + (positif) Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah : . Pre-employment/preplacement/Baseline 2. tenaga mesin.setiap tahun dibandingkan dengan base-line . 3.komunikasikan dengan karyawan tersebut .Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis .jika karena penyakit. Annual monitoring 3. 2. Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk bekerja. PENGGUNAAN APD Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga : 1. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran 5. beri petunjuk ulang .Bila perlu. 4. Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA 3. Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai berpegas.bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz). konsulkan ke dokter THT . kecepatan putaran atau isolasi. 2. berdasarkan lokasi tempat kerja. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di setiap lokasi. ukur maximun dan minimumnya.. Prinsip monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut : 1. Exit Policy mengenai audiogram : 1. konsul THT Lakukan revisi baseline. sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran dan tindakan lebih lanjut (skala b). KONTROL .engineering dan administratif Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising. Pre-employment 2. Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan. MONITORING PAPARAN BISING Tujuan monitoring paparan bising. EVALUASI AUDIOMETRI Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada : 1. Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification. pengukuran dengan peta. Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku.paling lama dalam waktu 2 minggu . memberi pelumas secara teratur.periksa tempat kerja . 4. Rotasi tenaga kerja 3. 5. 2.untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam Ada 2 macam monitoring paparan bising : 1. alat pelindung telinga tidak akan memberikan II.periksa dokter .Bila belum menggunakan APD. 7. dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis). bertujuan untuk : 1. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai. Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang.Bila sudah memakai. 6. Base line atau data dasar : .dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA) . Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara periodik. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti. . catat lamanya terpapar (sekarang digunakan audiometer). Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi 32 Cermin Dunia Kedokteran No. 2. adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja.I. 2004 . dan lain-lain. 144.

Hasil pengukuran kebisingan. 5. keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat. Cermin Dunia Kedokteran No. Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya. V. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara. perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. 144.50 dB frekuensi 100 – 8000 Hz. PROGRAM AUDIT 1. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40. dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. dengan sasaran : 1. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja. identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut. Juga melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga. Penyuluhan khusus. Audit Eksternal. 2. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya. misalnya pelatihan dan penyuluhan. 2. bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program. custom-molded type c. Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka. VII.perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat. kemudahan membersihkan dan kenyamanan Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut : TWA/dBA < 85 85 – 89 90 – 94 95 – 99 > 100 Pemakaian APD Tidak wajib/perlu Optional Wajib Wajib Wajib Pemilihan APD Bebas memilih Bebas memilih Bebas memilih Pilihan terbatas Pilihan sangat terbatas APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya. Beberapa tipe sumbat telinga : a. 2. terus menerus untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran. Jenis-jenis alat pelindung telinga : 1. 3. Kontrol engineering dan administratif. PENUTUP Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi pendengaran. 3. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA 2. Kemudahan pemakaian. Nyaman dipakai. premolded type Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. biaya. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani. 2004 33 . formable type b. dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran. terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut. tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai. perusahaan harus menyediakan APD ini. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal. APD yang digunakan. 4. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi tinggi Pemilihan alat pelindung telinga : 1. EVALUASI PROGRAM Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi. kesertaan supervisor dalam program. VI. pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan. Earmuff bila di atas 100 dBA 3. 3. Tidak saja untuk melindungi pekerja. 2.

Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : Telemedicine Network in Indonesia di Yogyakarta. 144.net Redaksi CDK 34 Cermin Dunia Kedokteran No. 10 Juli 2004 Website : http://telmed.fkumy. 2004 .

Berdasarkan permasalahan tersebut. tekanan balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. trakeostomi juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dengan kanul trakea masih terpasang. Trakeostomi mengurangi ruang mati (dead space) anatomik sampai 100 ml. Selama di rumah penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea.PRAKTIS Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi HR Krisnabudhi ] Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus. yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi. Keadaan ini menyebabkan penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi ludah ke dalam laring dan trakea. Pada discharge trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai koloni bakteri. Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan laring pada waktu menelan. mengurangi efektifitas refleks batuk. Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge. karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara. mengganti kanul trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi. akan diuraikan cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3). Selanjutnya dikatakan. bakteri dan flora di dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea. Hal ini sangat penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat terbatas. sering saling tertukar. Definisi yang tepat untuk trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea. Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon. bukan dari saluran napas bagian atas. dan mengganggu gerakan penutupan glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah. terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan penyempitan di daerah glotis. cara membersihkan kanul dalam. Cermin Dunia Kedokteran No. akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea. Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental. sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea. 2004 35 . TRAKEOSTOMI Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen trakea. Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang diperlukan(2). Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi(1). serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian atas. pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff. Bogor. 144. Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah. tidak ada korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas dengan bakteri dan flora trakea penderita. perawatan luka operasi di stoma. yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif(4). pemeriksaan periodik kanul dalam. humidifikasi buatan. petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada penderita. Trakeostomi meniadakan mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior. Jawa Barat PENDAHULUAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalulintas udara pernapasan. PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT TRAKEOSTOMI Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita tidak dapat berbicara. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas.

sehingga perlu dilakukan pengisapan. 144. Discharge ini akan keluar bila penderita batuk. b).PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda asing akan merangsang pengeluaran discharge. Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. kasa perban. Sebelum melakukan pengisapan. dan hati-hati membersihkan kulit di sekitar kanul. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. Alat ini relatif lebih efisien. Alat ini dipasang pada kanul trakea. Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti sesering mungkin. Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara inspirasi. Pastikan tidak ada air memasuki stoma. Bila penderita bernafas spontan. setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. Cara membersihkan kanul dalam. saringan. Angkatlah kanul dalam dan bersihkan. tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. d). kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). penjepit. b). sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. Akan timbul gangguan saat menelan. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. Petunjuk umum Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas tanggung jawab sendiri. dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit. Peralatan hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul. Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan penderita saat dari rumah sakit. panci bergagang. siapkan alat-alat untuk resusitasi. lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut. Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering terbentuk di dalam kanul. Jika tergantung pada seseorang saat melakukan hal itu. Alat ini harus diganti setiap 3 jam. Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. c). 2). Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. Pada waktu ekspirasi. Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali. kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum. dan cairan penggosok perak. Angkat kanul dalam dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul 36 Cermin Dunia Kedokteran No. Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan menjadi berbunyi. mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer). Dengan adanya trakeostomi. mungkin telah terdapat krusta atau mukus di dalam kanul. Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat. Bila didapatkan sekret yang kental. Buatlah larutan sabun di dalam botol. Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a). Kekurangan alat ini ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut fungsinya akan berkurang. sebagai berikut: 1). Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air sabun. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. Jika udara rumah kering. PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi. pada saat dilakukan pengisapan atau pada saat penggantian kanul. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. Condensor humidifier. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap. Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan kelembaban relatif udara inspirasi. uap air mengembun pada lempeng-lempeng metal dari kondensor. Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui kotak plastik yang dilubangi. Krusta diangkat dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol. Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril. c). d). Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a). Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. Sebelum mengangkat kanul. Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan. Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. jangan diberi tekanan negatif. trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. Membersihkan kanul dalam Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil. Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). mungkin akan bermasalah. Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. menggunakan lap atau kasa perban. paling baik membersihkannya dengan memakai kasa basah di atas kanul. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi(5). 2004 . dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang. teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. Beberapa jam pertama pasca bedah. Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul. dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat.

kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior.dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. Tarik kanul dalam ke belakang. 4). oleh karena itu tidak boleh dicoba untuk digores. pita trakeostomi dibuka lebih dahulu. Biarkan kanul dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam kanul luar (Gb. 2). Untuk mengangkat kanul trakeostomi. dan siap untuk dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. 6). Pita trakeostomi yang digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. 4).2a). dan tempatkan kembali saringan dalam panci. bahkan kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain. Setelah air mendidih. oleh karena itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah. Cuci kanul dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa menit di dalam cairan sabun. 5). Kanul plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang sama seperti halnya kanul perak. Gambar 2. 3). 2). Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk membersihkan kanul dalam. kemudian bersihkan dan cuci. cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. menyebabkan kanul trakeostomi dapat dimasukkan dengan mudah. Jika kanul dari perak telah memudar. didihkan kanul dalam selama 5 menit. Adanya lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan dengan trakea. Isi panci dengan air secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb. Goyangkan kanul dalam untuk mengangkat tetesan air. 1). 2b). Pembersihan kanul dalam Merebus kanul dalam Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1). kanul dalam dan luar dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain. Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah dibersihkan. 7). Biasanya. Masukkan kanul dalam ke tempatnya dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya. Cara mengganti kanul trakeostomi Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. pelindung atau permukaan lempeng kanul trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk. Setelah kanul dalam bersih. Salep dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi untuk mempermudah memasukkannya. Kanul harus bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang. 3). rendam di dalam cairan pembersih perak untuk beberapa menit. 8). 5). Gambar 1. Gunakan penjepit untuk membantu menarik kasa melalui kanul. Cara sterilisasi kanul dalam Logam bahan pada kanul perak sangat lunak. Angkat saringan dari panci bergagang. ke depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai bagian dalam kanul dalam bersih. 144. tuangkan air dari panci. Tempatkan kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada panci bergagang (Gb. Bersihkan bagian dalam kanul dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada suatu tempat (Gb. Cermin Dunia Kedokteran No. 3). krusta dapat diangkat dengan merendamnya. 2004 37 .

Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul trakeostomi ialah sebagai berikut : 1). semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau apotik bisa digunakan sebagai penghisap. khususnya bila terdapat drainase sekitar kanul. 2004 . 144. Pegang kateter dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan tangan yang lain.Cara melakukan : 1). kecuali jika ada instruksi khusus untuk melakukannya dari dokter. Gb. Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita trakeostomi diikat. 5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan menggunakan alas di dada. Mukus ini akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin. tempatkan kasa di atas kanul. Cara penggantian kanul trakeostomi Pada saat memasukkan kanul trakeostomi. mukus akan terhisap ke dalam kateter dan semprit. 3). Peralatan tersebut sering dididihkan untuk memelihara kebersihannya (Gb. 4” X 4 “ gauze pad Gambar 3. Cara penghisapan discharge Cara membuat kain alas di dada Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di bawah kanul trakeostomi. 5). Gambar 4. Potong satu lembar kasa membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci. Lipat 4 inci kasa pada tiap sisi.4). 2). 2). penderita melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk. Siapkan alat-alat. 4). Cara menghisap Banyaknya discharge mukus bervariasi. Lepaskan balon karet. hal yang penting ialah bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat pada kanul dibersihkan. Penghisapan mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus. Bersihkan alat-alat dengan air sabun. Di samping itu. Tekan balon karet sebelum kateter dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi. Kanul trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah dalam secara halus. 4). Lipat 1 inci pada tepi atas dan bawah. jika udara dalam rumah kering. Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang 38 Cermin Dunia Kedokteran No. untuk mengeluarkan udara di dalamnya. 3). Jika mesin penghisap tidak didapat. Kateter karet tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul trakeostomi. atau jika kanul teriritasi. Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci. Alas dada dari kasa trakeostomi steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit.

1978 . Petunjuk ini tergantung pada keadaan penderita saat pulang dari rumah sakit. 4). Me Klay K.dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita pada tempatnya. merebus kanul dalam. Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul trakeostomi Gambar 5. 5th ed. 2004 39 . Perawatan trakeostomi mandiri meliputi petunjuk umum. kasa 4 x 4 inci. Pastikan tali pengikat pada permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman (Gb. Kasa 2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. Me Dowall GD. Tokyo : Igaku Shoin Ltd. Me Kailum JR. Selama di rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. 2. Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di atas pita trakeostomi. 3). kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan melipat kasa dua kali. In : Logan Turner's Diseases of the nose. mengganti kanul. Gambar 6. Cara membuat alas trakeostomi Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih mudah tetapi sedikit lebih mahal. Paparella MM. Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan untuk tiap alas dada. 705-17. Bireell JF. Adams GL. Pakaikan kasa trakeostomi alas dada. 5th ed.5).. Kasa 2x2 inci telah disetik pada tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi kanul trakeostomi. Satu tiap tepi dari kasa terbuka 4x 4 inci. Maran AGD. Dokter atau paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal perawatan kanul trakea. 144. 5). kasa 4 x 4 inci yang tidak terlipat. Bristol : John Wright and Sons Ltd. 1). masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. 2). In :Boies's Fundamentals of Otolaryngology. 5). nose and throat diseases. throat and ear. RINGKASAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan lalulintas udara pernafasan. 1977 . dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi. Tracheostomy. 1567-73. cara membersihkan kanul trakea. panjangnya 6 inci. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi. Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita trakeostomi dan lipat kasa ke atas. Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan. menghisap discharge. Cermin Dunia Kedokteran No. Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas. KEPUSTAKAAN 1. A Textbook of ear. 6). Jika kasa tidak terlipat. Boies LR. Tracheostomy. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. 6).

2nd ed. Philadelphia : WB Saunders Co. Tood GB. 62 : 272-6. Philadelphia: WB Saunders.obgyn-bandung.. 1973. 1979 . Shumrick (eds). Nose and throat. 1973 . Comparison of five type of tracheostomy tubes in the intubated trachea. Natvig K. Embriology and anatomy of the larynx. Ann Otol 1975 . 15. 1971 : 31-61. 1973. An atlas of head and neck surgery. Siregar Z. Operative Surgery. Zorick FJ. Long custom made plastic tracheostomy tube in severe tracheomalacia. Steel PM. Martin WM. J Laryngol Otol 1981. 3rd ed. 107 : 114-6. 1976 . Ann Otol 1980. 11. nose and throat. Tracheal changes in relation to different tracheostomy technique (An experimental study on rabbits). 17. J Laryngol Otol 1974 . Galood HD. Otolaryngology. Shumrick DA. 6. Roth T. 12. Paparella MM. Arch Otolaryngol. 20. Otolaryngology. JAMA 1981. Fujita S. Batsakis JC. London : Edward Arnold Ltd. 87 : 99-108. 2004 . Montgomery WW. vol I. Wright D.org Redaksi CDK 40 Cermin Dunia Kedokteran No. Skripsi di Bagian THT/RSCM. Putney FJ. Philadelphia : WB Saunders Co. 144. London : Butterworths. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy. A preparation guide. Vol. 18. Vol I. 5. 95: 61-8. Conway WA. London : Butterworths. 91: 355-61. 13 – 15 Juli 2004 Website : http://www. 4. Ann Otol 1980. Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : PIT XIV POGI “Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas”. 246 : 34750. Basic sciences. Basic sciences and related disciplines. Olving JH. Vol II. Ann Otol 1978 . Inc. Co. Magilligon DJ. (ed). (eds). 14. Lulenski GC. Laryngoscope 1981. 242-8. (eds). Crawley BE. Montgomery WW. Grooves. 2nd ed. An experimental study. 13. Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. New York : Medical Examination Publ. 8. Basic sciences and related disciplines. 433-75. Toledo PS. Shapiro RS. Lee KJ.3. Lulenski GC. In: Ballantyne J. respiratory apparatus. 89 (suppl 73): 1-7. 7. Bandung. Complications and postoperative care after tracheostomy. Feldman SA. The Otolaryngology board. Tracheostomy and artificial ventilation in the treatment of respiratory failure. Evans JNG. 19 September 1981. Silicone tracheal canula. diaphragma and esophagus. 19. Tracheal incision as a contributing factor to tracheal stenosis. In : Ballantyne. Krikotirotomi. 89 : 521-8. Lore JM. 84 : 781-6. Evans CC. 1. Victor LD. Scott-Brown's diseases of the ear. Laryngo-tracheoplasty. 88 : 589-97. 9. 1973 : 170-96. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree. Arch Otolaryng 1981 . Davies J. In: Paparella. Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea. 10. 1955. 4th ed. Fundamental international techniques. 16. 688-708. Tracheostomy and laryngotomy.

selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh. tak stabil (giddiness. yang sering digambarkan sebagai rasa berputar. terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian. karena berjalan dengan kedua tungkainya. umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan. unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness). relatif kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki. Bagan Sistim Keseimbangan Manusia Cermin Dunia Kedokteran No. Indonesia PENDAHULUAN Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek. Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor.1) . Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang. Gambar 1. 2004 41 . serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya. selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. Bogor. deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi. SISTIM KESEIMBANGAN Manusia. 144. rasa oleng.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Vertigo: Aspek Neurologi Budi Riyanto Wreksoatmodjo Rumah Sakit Marzuki Mahdi. sehingga lebih memerlukan informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan. Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb.

(Skema) Oleh karena itu. yang berkembang menjadi gejala mual. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat. Skema Klasifikasi Vertigo 6. Neural Store Sensory input (Rangsangan gerakan) pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo. Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu. serebelum) atau rasa melayang. pada setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan bentuk vertigo. akibatnya akan timbul vertigo. peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis Keterangan : SYM : Sympathic Nervous System. Mabuk Udara 4. Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda). timbul reaksi dari susunan saraf otonom. Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata). sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan. berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No. 3. nistagmus. mual dan muntah.(Gb. Normal Motion Sickness Adapted PAR PAR SYM SYM SYM PAR Gambar 3. sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb. 144. letak lesi dan penyebabnya.PATOFISIOLOGI Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat. menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu. Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik. 5. Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus. Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi. melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda. 3). 2004 . Comparator Unit Psikogenik Mismatch Signal Sindrom Fobia Gambar 2. belajar dan daya ingat. vestibulum dan proprioseptik. muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis. Berbeda dengan teori rangsang berlebihan. 2. Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor). berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis. Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1. TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit tersendiri. Skema teori Neural Mismatch Sentral Vertigo Patologik BPPH Perifer Meniere Infeksi Trauma Iskemi Fisiologik Ketinggian. gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan. teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab. PAR : Parasympathic Nervous System Teori sinap Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler.2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala.

baik kelainan sistemik. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. 2004 43 . paroksimal. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik. Gambar 4. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik. Dalam menghadapi kasus vertigo. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik (Gambar 4)(6. Juga kemungkinan trauma akustik. vestibularis. salisilat. hipotensi. gagal jantung b. otologik atau neurologik – vestibuler atau serebeler. dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan.batang otak. Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh. c. hipertensi. anemi. Uji Romberg PEMERIKSAAN FISIK Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab. antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti anemi. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). tekanan darah diukur dalam posisi berbaring. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. Uji Romberg (Gb. tujuh keliling. kronik. 5) : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. bising karotis. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. Fungsi vestibuler/serebeler a. Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab. 7). Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit Gambar 5. serebelum. hipertensi. pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya. irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya. selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. rasa naik perahu dan sebagainya. hipoglikemi. berputar. goyang. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan. penyakit jantung. Cermin Dunia Kedokteran No. penyakit paru juga perlu ditanyakan. kongestif. apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks serebri. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang. hilang timbul. progresif atau membaik.ANAMNESIS Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1. ketegangan. gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum.duduk dan berdiri. Uji Unterberger. Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. kepala dan badan berputar ke arah lesi. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. kanamisin. hipotensi. keletihan. dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin. 144. kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik.

Uji Babinsky Weil Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8. Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 8.1. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang. Gambar 9. Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike (Gb. Uji Unterberger Kepala putar ke samping d. kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi. Uji Dix-Hallpike 44 Cermin Dunia Kedokteran No. a. Uji Babinsky-Weil (Gb. Uji Tunjuk Barany e.9) Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. 8) Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit. 2004 . lakukan uji ini ke kanan dan kiri Gambar 6. Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang) Gambar 7. 9) Perhatikan adanya nistagmus. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas. 144. jika ada gangguan vestibuler unilateral. 7) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan.

Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler) Nama Dagang Marezine Dramamine Benadryl Bonine. sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal. kemudian duduk tegak kembali. Magnetic Resonance Imaging (MRI). parestesi) dan serebeler (tremor. Gambar 9. Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular. umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik. baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin. nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit. VIII. Weber lateralisasi ke sisi yang tuli. Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP). Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi. Stenvers (pada neurinoma akustik). TERAPI Tujuan pengobatan vertigo. 2004 45 . Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). Weber dan Schwabach. dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. 2. kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin. b. tahan selama 30 detik. selain kausal (jika ditemukan penyebabnya). Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. kiri dan kanan me Cermin Dunia Kedokteran No. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus. bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue). Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. okulomotor. leher. 144. otot wajah. Bekesy Audiometry.5 mg 1 dd 0.rec Hydroxyzine Ephedrine Cinnarizine Flunarizine Hyoscine Betahistin sc.fungsi sensorik (hipestesi. c. Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif. akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue).Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga. dan fungsi menelan. penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain. gangguan cara berjalan). Tabel 3. dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus.rec Nama Generik Cyclizine Dimenhydrinate Diphenhydramine Meclizine Promethazine Scopolamine 50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 12. Pencitraan: CT Scan. Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung. sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral. pendengaran. Audiometri Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test. Antivert Phenergan.iv.5-25 mg 2-3 dd 25 mg 4 dd 0. Fungsi Pendengaran Tes garpu tala Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif.Elektromiografi (EMG). berupa gerakan mata melirik ke atas. lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh. (Tabel 3). SISI. sensorik wajah. kemudian duduk tegak kembali. b.Dari posisi duduk di atas tempat tidur. Pada tuli konduktif tes Rinne negatif. Tone Decay. 4. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. Pemeriksaan Penunjang 1. Bestalin Stugeron Sibelium Buscopan Hyscopan Merislon 6 mg Betaserc 8 mg Lama Kerja (jam) 4-6 4-6 4-6 12-24 4-6 72 4-6 4–6 Dosisi Dewasa Tingkat Sedasi + ++ ++ + ++ + + ++ 0 + + 0 0 0 Rute Lain im im. Foto Rontgen tengkorak. iv im im - Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9). kampus visus. sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga. dan Schwabach memendek. bawah.5 mg 3 dd 25-100 mg 3 dd 25 mg 4 dd 25-50 mg 3 dd 5 mg 2 dd 10-20 mg 3-4 dd 6-12 mg 3 dd 8-16 mg 3 dd im. iv im.iv. Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan. Sentral: tidak ada periode laten. 2. a. ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi saraf. Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus. Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas). Avopreg Transderm Scop Holopon Iterax. dengan tes-tes Rinne. 3. tahan selama 30 detik. Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG). Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º. Arteriografi. sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal.

Neurootologi klinis:Vertigo. Di awal sakit. Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid. sedangkan kanamisin. diduga disebabkan oleh infeksi virus. berhenti merokok. tanpa tahun. Patofisiologi. Syeban ZS. Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo. Vertigo ditinjau dari segi neurologik. tanpa tahun. umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan. Diagnosis dan Terapi. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat. kemudian diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup. hal. umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6 minggu. derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. tetapi 60-80 % akan remisi spontan. 5. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n. pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur. jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis. 24 Juli 2001 Mengenal Pusing dalam Praktek Umum. Monograf. asam nalidiksat. Belum ada pengobatan yang terbukti efektif. Dapat dicoba pengggunaan vasodilator. KEPUSTAKAAN 1. Duphar. diuretik loop. membatasi asupan garam. Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein. amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik. Sedjawidada R. Dalam: Simposium Tinitus dan Vertigo. Kusumastuti K. Penyakit Meniere Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di telinga dalam. terapi profilaktik juga belum memuaskan. koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler. 4.vestibularis. 14 Desember 1991. diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik. RINGKASAN Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek. Dalam: Joesoef AA. Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan. Harahap TP. Vertigo. Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik. Monograf.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid. 3. dapat dilakukan labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal). 144. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral. Perdossi. Obat penyekat alfa adrenergik. Vertigo akibat obat Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran.1999.). Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa. penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer. Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil. 2004 . yang makin lama makin cepat. Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain: Benign paroxysmal positional vertigo Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo. bisa alat dan saraf vestibuler. Seri edukasi. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala. antiinflamasi nonsteroid. Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia cabang DKI Jakarta. Aspek Neurologi dari Vertigo. selain vertigo. Andradi S. metronidaziol dan minosiklin. Tinjauan umum mengenai vertigo. Neuritis vestibularis Merupakan penyakit yang self limiting. 6. biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran.(eds. selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati. tanpa tahun. demikian juga gentamisin. 2.ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat. vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo.. terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya. Kelompok Studi Vertigo Perdossi. diuretik ringan bersama diet rendah garam.xiii-xxviii. 2002. Joesoef AA. Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik. Every true genius must be natural or it is none (Schiller) 46 Cermin Dunia Kedokteran No. 7. Kelompok Studi Vertigo.

Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap.Vertigo posisional paroksismal laten. 50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) . Pengobatan vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil. Yang tanpa disertai keluhan telinga. dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. KLASIFIKASI Berdasarkan gejala klinisnya. muntah) dan pusing (2). termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. 2004 47 . dapat disertai gejala lain. Labirin picu (trigger labyrinth). Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi. Vertigo paroksismal 2. tumor fossa cranii posterior. keluhannya konstan tanpa Cermin Dunia Kedokteran No. pening. tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. mumet. berlangsung beberapa menit atau hari.PRESENTASI KASUS Terapi Akupunktur untuk Vertigo Prasti Pirawati. Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. 144. kepala terasa enteng. Gejalanya menyebabkan pasien takut dan cemas. penderita sama sekali bebas keluhan. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2): 1. kemudian menghilang sempurna. Yvonne Siboe Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh (2). otonomik (pucat. 2. Sindrom Cogan. DEFINISI Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). peluh dingin. Cipto Mangunkusumo. Migren ekuivalen. Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. kemudian berangsur-angsur mengurang. Jakarta ABSTRAK Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi. Arakhnoiditis pontoserebelaris. Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja. rasa mengambang. melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus. 3.Vertigo posisional paroksismal benigna. Di antara serangan. PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1) Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng. Epilepsi. bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun. L. tergolong sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : 1. sempoyongan. 3. unstable). Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun. Vertigo kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut. Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance). tujuh keliling. rasa melayang (1). Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. kelainan gigi/ odontogen. . termasuk di sini adalah : . Sindrom Lermoyes. diterapi dengan akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan. mual. pusing.

atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan.Psikiatrik 4. berangsurangsur mereda. Nervus VIII. : Hipertensi kronis. hematobulbi. Pemeriksaan tambahan : . tumor medula adrenal. 48 Cermin Dunia Kedokteran No. informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. di samping itu. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus. sklerosis multipleks. kelainan kardiovaskuler. 2. 6. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. dibedakan menjadi: 1.Hipotensi ortostatik . alergi. b.Audiometri dan BAEP . tumor serebelopontin. siringobulbi. Migren. tumor. hipotensi ortostatik. EMG. keadaan menstruasi-hamilmenopause. 3. III. d. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler. TERAPI Terdiri dari : 1. Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika. Epilepsi. Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) : 1.Pemeriksaan fisik umum. 2. mabuk gerakan. jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. ensefalitis. Penyakit SSP : a. stenosis dan insufisiensi aorta. Trauma kepala/ labirin. Infeksi : meningitis. sindrom arteria vestibularis anterior. Kelainan psikiatrik: depresi. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. Dalam kondisi fisiologis/normal. tumor. dibedakan menjadi : 1. Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri. Hipoksia – Iskemia otak. otitis media dengan efusi. blok jantung. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar.ENG .(2). vertigo postural. sindrom pasca komosio. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual. ensefalitis pontis. hipoparatiroid. 2. cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis.serangan akut. arteriosklerosis. pelagra. visual. 2.Radiologik dan Imaging . 3. 2004 4. fobia. hipertensi kardiovaskular. neurosa cemas. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin. c. Pemeriksaan khusus : . labirintitis. DIAGNOSIS 1. yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. Vertigo yang dipengaruhi posisi : . c.Vertigo servikalis. Vertigo yang serangannya mendadak/akut. d. PATOFISIOLOGI Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. Kelainan mata: kelainan proprioseptik. hidrops labirin (morbus Meniere ). intoksikasi obat. Anamnesis. trauma. sumbatan arteria serebeli inferior posterior. Telinga bagian luar : serumen.Pemeriksaan neurologik .Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh . kelainan okuler. ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. otitis media purulenta akuta. herpes zoster otikus. IV dan VI. ensefalitis vestibularis. Tumor. kelainan endokrin. 144. lesi labirin akibat bahan ototoksik. sklerosis multipel. f.Laboratorium . sindrom sinus karotis. sindrom hiperventilasi. meningitis Tb. labirintitis kronis. Kelainan endokrin: hipotiroid. hipoglikemi.VIII. 5. dan proprioseptik. e. akan diproses lebih lanjut. labirintitis akuta. neuritis n.EEG. kelainan psikis. perdarahan. anemia. e.Pemeriksaan mata . fibrilasi atrium paroksismal. sinkop. rudapaksa dengan perdarahan. 3. abses. serangan vaskular. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik. Intoksikasi. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. hipoglikemi. susunan vestibuloretikularis. b. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani. dan EKG. sklerosis multipleks. trauma. Pemeriksaan fisik : . unsteadiness. ETIOLOGI 1. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika.Pemeriksaan otologik . reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer : a. jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar. Lues serebri. vertigo epidemika. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. lues. dan vestibulospinalis. : infeksi. benda asing. kolesteatoma. perdarahan labirin. 2. Inti Vestibularis: infeksi. maka proses pengolahan informasi akan terganggu. trauma. trombosis arteria serebeli posterior inferior. Terapi kausal . Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis.

2. 3.

Terapi simtomatik Terapi rehabilitatif

TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya Qi ke telinga (4). Gejala Klinis(4,5 ) Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus. Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis, nadi senar dan seperti benang. Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 ) 1. Hiperaktifitas Yang Hati Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan defisiensi Yin Hati.. 2. Defisiensi Qi dan darah Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan penglihatan kabur. 3. Defisiensi Cing Ginjal. Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung, sehingga timbul gejala vertigo. 4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah. Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo. Terapi (4,5,6 ) 1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya : Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati, menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati, melancarkan Qi Hati. Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20), Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3). 2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya : Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan Limpa dikuatkan. Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen (HT 7). 3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya : Menguatkan Ginjal

Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu ( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ). 4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya : Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung. Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ), Fenglong ( ST 40 ). KASUS I. Identitas penderita Nama Umur Jenis kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Berobat tanggal

: : : : : : :

Ny. YR 50 th perempuan Islam menikah PNS (Fisioterapis) 4 September 2003

II. Anamnesis Keluhan utama : kepala terasa muter sejak 1 bulan Keluhan tambahan : mual . Perjalanan penyakit : - Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan. Setelah berobat ke fisioterapi, membaik. - Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan mual. Muntah tidak ada. - Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada penyempitan di C 4-5. - Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®. - Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta dirujuk ke bagian Akupunktur. - Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. - Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar, tidak disertai pusing atau gejala lain. - Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-). - Riwayat infeksi telinga (-). III. Status Presens Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris. Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal. IV. Pemeriksaan penunjang Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan kiri, Intervertebra C 6-7 kanan. Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200 mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49

V. Pemeriksaan Akupunktur 1. Pengamatan ( Wang ) : a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar mata: bersinar; kesadaran : baik. b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah : bersinar segar. c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh : t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata, telinga, hidung : t.a.k. d. Pemeriksaan Lidah : - otot lidah : merah muda, kebasahan sedang, pergerakan normal. - selaput lidah : putih, tipis, bersih. 2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) : a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas: normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar. b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat: tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa 3. Anamnesis (Wun) : Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama seperti di atas. Pertanyaan khusus : a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin b. Keadaan berkeringat : normal c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada keluhan d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik, kesukaan akan rasa: tak spesifik f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual, perih terutama kalau terlambat makan g. Pendengaran: tak ada keluhan h. Rasa haus: tak ada . i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi tetap sadar, Ro kepala t.a.k. j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid 1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya, dismenorrhea (-), leukorrhea (-). 4. Perabaan (Cie) : a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan otot. b. Suhu tubuh: normal c. Pemeriksaan nadi : kiri kanan dangkal dalam dangkal dalam cun 5 5 5 5 kuan 5 4 5 5 ce 5 5 5 5 5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu : a. Lambung : jika perut kosong perih, mual. b. Limpa : nafsu makan menurun, perut kembung, bertahak c. Hati : kepala muter, gangguan haid. d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

VI. Resume Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur. Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro kepala t.a.k. Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan : 1. Wang : - Sen : baik - Se : normal, bersinar - Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot, takut menengok. - Lidah : normal. 2. Wen : tak ada kelainan 3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit. 4. Cie: kuan kiri dalam Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ Lambung, Limpa, Hati. VII. Diagnosis Kerja Kedokteran Umum : Vertigo Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu akibat Si Hati. VIII. Pengobatan 1. Alat : jarum 2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya : a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang. d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual 3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali. 4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit. IX. Prognosis Dubia ad bonam

XI. Anjuran 1. Berobat akupunktur rutin 2. Pemeriksaan : CT, MRI 3. Konsul THT, Mata. XII. Follow up Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum obat dari bag. Saraf Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan. Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan. Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-). Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh. DISKUSI Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar (akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan perut kembung, sering bertahak. Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.

Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati, menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual, pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan. Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 1996. Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI. Jakarta; 1999. Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi FKUI/RSCM. Jakarta. Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed. Beijing: New World Press. 2000. O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press. 1981. Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ). Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5. Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia., 1978. Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51

144. Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teh [Camellia sinensis O. yaitu sinensis. murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat) dan dapat dibuat oleh semua orang. Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas. Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989). anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali ke obat tradisional) adalah tepat. Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat.6): Divisi Sub divisi Kelas Sub Kelas Ordo (bangsa) Familia (suku) Genus (marga) Spesies (jenis) Varietas : : : : : : : : : Spermatophyta (tumbuhan biji) Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Dialypetalae Guttiferales (Clusiales) Camelliaceae (Theaceae) Camellia Camellia sinensis Assamica3. lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam. dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung. sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia.5. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus. Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik. daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim. 2004 .3 Menurut Graham HN (1984). Teh hitam Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia. Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C. terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus. dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi. dengan harga obat-obatan yang mahal. Jakarta ABSTRAK Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat. teh dibagi menjadi 3 (tiga) macam(3). 52 Cermin Dunia Kedokteran No. tanaman teh Camellia sinensis O. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan Sulistyowati Tuminah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.4 KLASIFIKASI Di zaman dahulu.K. var. Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit. assamica dan irrawadiensis. aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5.7 2.Var. adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang. Departeman Kesahatan RI.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3. Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber 1. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis. assamica. irrawadiensis. kariostatik serta hipokolesterolemik.49%.3 Selain itu di negara-negara Barat. Keuntungan dengan cara pemberian uap panas. genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis. PENDAHULUAN Transisi nutrisi yang terjadi saat ini.K. Juga karena bahannya mudah didapat.5.6 MACAM-MACAM TEH Berdasarkan penanganan pasca panen. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). kanker.1 Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke.2 Di masa sekarang. yaitu : Teh Hijau Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi.

setelah 60.29 2.82. katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin. Komponen Kafein Theobromin Theofilin (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Glikosida flavonol Bisflavanol Asam Theaflavat Theaflavin Thearubigen Asam gallat Asam klorogenat Gula Pektin Polisakarida Asam oksalat Asam malonat Asam suksinat Asam malat Asam akonitat Asam sitrat Lipid Kalium (potassium) Mineral lain Peptida Theanin Asam amino lain Aroma % Berat kering 7. epigalo katekin galat sebesar 4. kemudian diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat makan siang. 6. yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus.3.11 Selain itu diet fluorin yang Cermin Dunia Kedokteran No. 4.110 µmol/l). 5.31 0. 19. 15. 20. berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu.25 1. 14.74 6. 24.90 1. 2004 53 .0). 9. 12. 2. tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC).85 0.09 4. 27.10 Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek.42 20. sebuah kanula intravena dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap aktivitas antioksidan serum. kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim. berbeda dengan hasil penelitian mengenai pengaruh flavonoid anggur merah. 120.57 3. epikatekin daya antioksidannya sebesar 2. 12. Setelah 4 jam berpuasa. Komponen Kafein (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Flavonol Theanin Asam glutamat Asam aspartat Arginin Asam amino lain Gula Bhn yg dpt mengendapkan alkohol Kalium (potassium) % Berat kering 7. Pada proses ini.5 g daun teh ke dalam 25 ml air mendidih. yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme. indeks massa tubuh: 24.74 0.16 4.17 1.15 0.03 0.7 KOMPONEN THE (3) Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (tabel 1 dan 2) : Tabel 1. 10.84 4. Teh oolong Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus.enzim.98 5.96 percobaan 430 µmol/l.13 3.4 Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda. 6.7 Tabel 2.01 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer secara komersial dengan memasukkan 0. 4. usia rata-rata 21. 5 wanita. dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%. 13.09 0.68 12. Rata-rata aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8.93. Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4. 5. 8. selanjutnya digulung dan dikeringkan. 28.1 tahun. kemudian diaduk selama 3 menit.21 3. melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri. 8. 21.70 0. Komposisi teh hitam(3) No. Apabila proses fermentasi telah selesai. Penelitian ini tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif jangka panjang terhadap status antioksidan. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%. 18. 1. 13. Daun teh dilayukan lebih dahulu.69 0.40. 16. 3. 9. Komposisi teh hijau(3) No. 11. Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5 laki-laki. 23. biasanya dilakukan selama 2-4 jam. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal KHASIAT TEH Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh. 11.8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C).50 dan untuk katekin daya antioksidannya sebesar 2.477 µmol/l (kisaran 4.275-12.23 4. 447 dan 439 µmol/l (tidak ada perubahan yang berarti/signifikan). kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak. 25. 1.9. 14.50 0.56 0. 29.50 0.75.7 3. dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550 µmol/l. 10. 22.62 35.63 Trace Trace Trace 2. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir.43 1. Daya antioksidan komponen katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin C ataupun β-karoten.01 0.70 5. 180 menit pemberian teh adalah rata-rata 434.20 8. 26.50 0. 7.02 0. 3.86 1. 7.99 3. 144.83 4.21 6.79 4. 17. epigalo katekin 3. 30. 2.

Tumbuh-tumbuhan diketahui sebagai sumber besi yang baik. Kushi LH. Brussel: 1995 . Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study. Zhi YW. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake. Tuminah S. melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri. Prima Kardia Pers. Yogyakarta. 1997. Eur J Clin Nutr. Tjitrosoepomo G. 1984 : 29-74. Jakarta. O2•− . 1-495. 1990. Toda M. Jufri M. 55(2) : 31-43. Van Steenis CGGJ. 1996. Hyderabad. 1989 . Kono S. et al. 1987 . Nature 1954. 128: 49-51. 3. Pradnya Paramita. 11. 7. Hong CP. J Nat’l Cancer Inst. blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. 23. Ferraro T. Preventive Medicine. Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. Crit Rev Food Sci Nutr. cet ke-1. kolesterol LDL. yaitu besi heme (yang terikat pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak terikat pada molekul hemoglobin). Goldbohm RA. hal ini dapat dijelaskan. makanan berserat dan mengandung fitat menghambat penyerapan besi non-heme. 37 (8) : 739-60. 54 Cermin Dunia Kedokteran No. Van-Popel-G. flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL.21 Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. 19. Antioxidants. sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia dan lebih mudah diserap. 21. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT.24 PENUTUP Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh. 16. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O. 88 (2) : 93-100. Fluorine in Tea and Caries in Rats. Jakarta. In Liss AR. 144 (2) : 175-82. Nakayama M. 1997 : 82-3. 5. flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH•. 2. 1999. Gershon-Cohen J. 173 : 304-312. Prima Kardia Pers. Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam. ILSI European Monograph Series. and Disease Prevention. 26 (6) : 769-75. 1996. Baraas F. 1997. terutama yang berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker. Van-den Brandt – PA. 3 Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi. 18. tetapi berjenis nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit. 14. FMIPA UI. 20. 1998. cet ke-2. Consumption. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. Oxidants. termasuk pada wanita post menopause. Blot WJ. Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. Hertog MG. Brants HA. Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea. Thorpe G. 12.20. Chow WH. Imai K. 4. Nutr Rev. 1-24. Folsom AR. Shinchi K. 2001 : 1-15. Shinchi K. KEPUSTAKAAN 1. Baraas F.12 Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit. 1996. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76. baik teh hitam maupun teh hijau. Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan. Am J Epidemiol. 1994.22 Sutarmaji (1994) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. Teh juga telah diuji teratogenik. Jakarta. bahwa besi yang diabsorbsi manusia terdiri dari dua jenis. 2000. Wakabayashi K. Van Het Hof KH. Antioksidan dan Penyakit Jantung. Kono S. Prog Clin Biol Rev. konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi non-heme. 52 : 389-95. Ternyata sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0. 6 (3) : 128-33. Substansi seperti tanin (dari teh). Popkin BM. teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis. Suga K. 21 : 526-31. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. 1994. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia. 24.19 Selain itu pada wanita post menopause.23Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik. trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P < 0. 13. Nutrition News. Nair MK. Dirghantara E. Jufri M. 1-477. Graham HN. 313 : 229. Ikeda N. Drewnowski A. Letters in Applied Microbiology. 20 (2) : 1-6. 11 : 3840.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. Sutarmaji A. 1999 : 11-2. Jakarta. Yang CS. Van den Berg H.13 Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia. Maxwell S. Preventive Medicine 1992.54 g /200 g.05). et al. 17.14-18 Diperkirakan. Shimamura T. Astuti M. McClendon JF. tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. 8. Yang GY. Langseth L. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. Mou TH. 22. Chen L. Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. FMIPA UI. Okubo S. Imanishi K. UGM Press. Japan. 6. McLaughin JK. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia.35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan. Cermin Dunia Kedokt. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar. Cancer Research 1992. body weight. cet ke-1. BMJ (27 July) [Medline] 1996. Jakarta. Yanai F. J Epidemiol. Potensi Antioksidan pada Teh. Nakachi K. cet ke-4. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry. National Institute of Nutrition. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu. Selain itu. Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. Weststrate JA. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity.3 Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh teh. menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. Environ Health Perspect. Sellers TA. Biokimia FKUI. and Health Effects. 144. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik. 2004 . 9. Lee MJ. Zheng W. et al. 15. 10. 52 : 1162-70. Jakarta. 1997. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis.terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar. tetapi manusia masih bisa mendapatkan besi heme dari daging merah. Doyle TJ. Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1. dan radikal peroksil. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. Bag.

Kriteria inklusi : penderita berumur minimal 15 tahun.pada penelitian ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji HI.871 kasus dan 1. Sri Susilowati. Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO. Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia.68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49. 144. 2004 55 . 2001) . demam akut 2-7 hari.89%) dengan rata-rata umur penderita 25 tahun. Departemen Kesehatan RI.April 2001. Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes. sejak itu penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya yang makin meluas. Jakarta PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta dan Surabaya. dan mengisi informed consent. Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun terbanyak di bawah 30 tahun (82. Tujuan khususnya ialah: (a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD berdasarkan umur dan jenis kelamin (b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut (c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasil uji HI (d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasiI uji HI berdasarkan golongan usia (e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif METODOLOGI Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit selama periode Januari . Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor. Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati) Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9. (Tabel 1). Faktor.32%) lainnya tidak dapat diambil sampel darah konvalesennya karena : (a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan sudah banyak diambil darahnya (b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas karena sudah terlanjur pulang. Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen Dengue-2. Cermin Dunia Kedokteran No.HASIL PENELITIAN Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta tahun 2001 Enny Muchlastriningsih. dan tahun 1999 3751 kasus dengan 42 kematian(3). Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI. tahun 1998 15422 kasus dengan 133 kematian. Diana Hutauruk Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. dirawat di rumah sakit. Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian.faktor yang diduga dapat mempengaruhi peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2): (a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali (c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah endemis (d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi. HASIL DAN DISKUSI Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369 orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang (50.414 kematian(1).

74 3. Tabel 4. PPM&PLP Departemen Kesehatan RI.50%. Med. Pimpinan dan Staf RS Persahabatan. ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah bergeser ke umur yang lebih tua. hasil uji HI positif sebesar 51.7 100.0 Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya yaitu 51. Cassals J.19%. 144. Tabel 2. Hyg. 56 Cermin Dunia Kedokteran No.3% positif dan 48. Data Kasus DBD 1999.6849). 1958.21%. tahun 1996: 32. Desember 1999. Pimpinan dan Staf RS Pasar Rebo. Am. 5. ini mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD yang banyak dianut.07 1.7% negatif. tahun 1995: 50.42 3. dan tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji I-II yang positif. tahun 1998: 36. penderita berada pada derajat I dan II. UCAPAN TERIMA KASIH Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan Litbangkes.00 Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi. Golongan umur (th) 1520253035404550556065Total Kriteria hasil uji HI positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif 8 18 2 4 17 5 5 12 2 1 8 1 0 3 0 1 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 21 64 11 Total 28 26 19 10 3 3 4 0 1 0 2 96 Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara 30% .Tabel 1.7% dan derajat II sebanyak 44. infeksi sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun.53 0.Dit.44 10.82%.5% . 2004 . 7: 561. Profil Kesehatan Indonesia 1999. Techniques for Haemagglutinatuon and Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses.21 0. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD berdasarkan Umur.61 100. 3. Surveilans Dit. Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) . KEPUSTAKAAN l. 2.74 31. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI positif Kriteria Uji HI Positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif Total Jumlah (N) 21 64 11 96 % 21.55 1. J. Berita Epidemiologi. 2000.4 100. Sub. Jakarta. Keadaan tersebut mungkin disebabkan: (a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD (b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa pengobatan yang dianjurkan (c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara. Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding. dan untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55 tahun.7 11. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue. Departernen Kesehatan RI 2000.0 Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I sebanyak 55. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998.3% dengan kriteria positif sekunder yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada penderita lanjut usia. KESIMPULAN Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat diperiksa uji HI karena berbagai kendala. Direktorat Jenderal PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. 4.53 1. dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. tahun 1997: 34.16 6. Tabel 3. Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD Hasil Uji HI Positif Negatif Total Jumlah (N) 96 91 187 % 51.9 66. waktu maupun penyimpanannya (d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. karena jumlah responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita laki-laki lebih besar.3%. Clarke DH. Muchlastriningsih E et al.1:1). tidak didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Umur (tahun) 1520253035404550556065Jumlah Laki-laki (N) 25 30 18 11 6 4 2 0 0 1 1 98 Perempuan (N) 25 29 9 8 6 3 4 1 1 1 2 89 Total 50 59 27 19 12 7 6 1 1 2 3 187 % 26. yaitu: tahun 1994: 34. tetapi adanya penderita dengan infeksi primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi virus.3 48.24%(5). Trop.Jen. 2001.

PENYIMPANAN Simpan dalam lemari es. muntah ataupun reaksi di tempat injeksi. Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual. Senin – Jumat (07. Jl. 144. tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu. Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang. meskipun dapat dihentikan setiap saat.kalbe. 2004 57 . KEMASAN Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL. sakit kepala. 3000 IU dan 10.co. KONTRA INDIKASI • Hipertensi berat yang tidak terkontrol. EFEK SAMPING • Hipertensi • Peningkatan jumlah platelet • Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash. • Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia. Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0. : (021) 428 73680 Website : http://www. Letjend. Jangan dibekukan dan dikocok.Produk Baru Hemapo® Erythropoietin Syringe 2000 IU. INDIKASI Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis. • Hipersensitif terhadap human albumin. Clinical Trial III Report of rhEPOInjection Marketing Office PT. Fase Koreksi: Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen hematinik.30) Cermin Dunia Kedokteran No. sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis semula). Fax. KALBE FARMA Tbk.id Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123. Suprapto. Jakarta 10510 PO Box 3105 JAK. suhu 2-8°C. Dosis untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian. mual. edema. fatigue. artralgia. DOSIS dan CARA PEMBERIAN Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik: Larutan dapat diberikan secara IV atau SC. Reference: Bei Jing XieHe Hospital. 3000 IU/mL dan 1000 IU/mL. 10. Gedung Enseval. 1998. seperti: FeSO4. Fase Pemberian: Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%. 3000 IU.000 IU in 1 mL KOMPOSISI Setiap mL larutan berisi: Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU. Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4 minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat. Jakarta – Indonesia Tlp.5%/minggu). terlindung dari cahaya. dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/ kg/minggu. INTERAKSI Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan.00-15.: (021) 428 73888-89.000 IU. diare. pruritus dan urtikaria.

Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral. 1990).html 58 Cermin Dunia Kedokteran No.net. Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal.apsul Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA./hearing/hrexam. 144. 2004 . Sumber: http://ivertigo.

aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis.INFORMATIKA KEDOKTERAN PENGANTAR Medical informatics is located at the intersection of information technology and the different disciplines of medicine and healthcare. Secara rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada ulasan di bawah ini: Berawal pada tahun 1970-an Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah bahasa Perancis informatique médicale. kedokteran nuklir. dr HM Goh. dan beberapa area yang lebih spesifik. (2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan praktis dari proses informasi dan komunikasi. 2. Dalam perbincangan penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia. proses kontrol. Biaya dan keuntungan sistem informasi. informatika yang berorientasi pada aplikasi. dan tele-tele yang lain Medical Imaging Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound. dll Sistem Informasi Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1) yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada keperawatan Web dan internet Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi Informatik (Information Technology). Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan. Dalam praktek sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti: 1. disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’ sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. aspek keamanan dan legalitas. 3. Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast). pengambilan keputusan dan analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran. sifat website pun sudah mulai berubah. artikel kesehatan. Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. dan informatics. Dua definisi Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika Kedokteran. information processing. 144. atau artificial intelligence. health informatics. Demikian pula jika kita ingin membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran. computer in medicine. dll. maka secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer yang fundamental. dan informatika terapan. yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. teleradiologi. Mereka mendefinisikan sebagai berikut: (1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan management. berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran dan kesehatan. dll. merawat data. dental informatics. radiologi. seperti: computer science. Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat. Jika mengikuti perkembangan bidang informatika. dll. Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti: medical computer science. dll. computational linguistics. penulis melihat ada pendapat dua pakar informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang. misalnya menginformasikan jam praktek dokter. Sebaliknya. seperti: tanya jawab. melihat rekam medik dll. (Dr. Akhir-akhir ini. 5. Proses pengolahan data Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya. Aspek-aspek lain yang berperan Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah: Interaksi manusia dan komputer. dan beberapa istilah yang spesifik seperti nursing informatics. telekardiologi. contohnya: computational physics. medical information science. 2004 59 . Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. dll. seperti: proses pendaftaran pasien. 4. Telekomunikasi Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah).

Kegiatan Ilmiah Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". Demikian dikatakan dr. 6 .id. mewakili Mentri Kesehatan Malaysia Tan Sri Datu Dr. Sp. hal ini jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia.kalbe.co. (tampak dalam foto dr. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari Asia Pasific Association of Medical Informatics. Demikian dikatakan dr.8 April 2004 Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur. berarti peserta simposium bisa memperoleh berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di Stand Kalbe Farma. Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. 20 Maret 2004 Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004.Hj. eHealth Asia 2004. 144. Mohammad Taha bin Arif. APAMI Board Meeting. Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di sekelilingnya.043 orang.PD-KGH. 2004 . dan Portal Kedokteran www. Studio mini Jakarta Eye Center. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. Wakil dari Indonesia. di samping hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus.000 kali per hari. Tele-education kesehatan via satellite. Untuk itu kita jangan sampai lengah. mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di Indonesia. melainkan 60 Cermin Dunia Kedokteran No. Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". Hotel Acasia. RSIA HERMINA Daan Mogot . 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. RS Mitra International. J.Pudji Rahardjo. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS Pertamina Jaya Jakarta. Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. Demikian terungkap dalam Seminar Awam "Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue. J. menghisap rokok.PD-KGH. Hotel Acasia. sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang. dan sebagainya. Pudji Rahardjo. mentri menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan. Kuala Lumpur. batu ginjal. Sp. 6 April 2004. batu ginjal.Pudji Rahardjo. bisa diakses di http://www.kalbe. yang di klik rata-rata 2. Laporan lengkap dari simposium. dan infeksi.Jakarta. SpPD-KGH. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. Erik Tapan. dan sebagainya. membuka acara eHealth Asia 2004. ternyata bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. Dalam sambutan tertulisnya. dan bisa langsung diakses pada homepage Kalbe Farma Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah. narasumber simposium berkenan menyumbangkan suara emasnya) juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. dokter spesialis anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut. Sabtu 20 Maret 2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta. Pada topik yang diberi tanda Breaking News. hari ini Dato' Dr Abdul Gani Che Din. di DKI terdapat penderita DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2. setelah menyelesaikan acara ilmiah.id/seminar. Kuala Lumpur. 6 April 2004 Pada malam hari. Acara tersebut menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani.co. dan infeksi. 25 Maret 2004 Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata bukan hanya merupakan masalah yang sederhana. menghisap rokok. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern.

Arifin Limoa. Sp. dr. di Jakarta selama 2 hari. mengingat sangat beragamnya latar belakang profesi yang menjalankannya.02 % (WKNPG : 5. 8-9 Mei 2004 Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna. Oleh karena itu penyakit DM saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan guideline terbaru DM. Demikian salah satu yang ditekankan Prof. 2004 61 . Dr. 24 Mei 2004. 27 . termasuk dari Kalbe Group. Sie.26 Mei 2004 Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan Riset Marketing dalam menjalankan usahanya. dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul "Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN). SpPD. Prof. dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu penyakit dalam atau perawatan intensif National Obesity Symposium III. Ed. Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar. dr.25 Mei 2004 Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta.5 %) dan wanita 11. membuktikan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat. 18 Januari 2004 Pada tanggal 18 Januari 2004. Bagian/UP Neurologi FK UNHAS/RS Dr. mahasiswa baik kedokteran maupun keperawatan. Dibandingkan dengan data WKNPG tahun 1998. Sebabnya. Bali International Convention Center. dari kiri ke kanan: dr. 15-16 Mei 2004 Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang. KHOM dalam sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta. 144. Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI. Minggu 23 Mei 2004 diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical Industry Congres I. lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa Republika tersebut. angka kejadian penyakit ini pada pria melonjak hingga mencapai 9. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan saraf”. Hotel Mandarin Oriental . Dr. Hotel Shangri La Jakarta. Cermin Dunia Kedokteran No. Menurut Budi Sampurna. Zubairi Djorban. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf. Danial Abadi. Seminar IT PERMAPKIN. Slamet Suyono. 29 Mei 2004 Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi.9 %).5th Jakarta Antimicrobial Update 2004. tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia. Demikian dikatakan dr. dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar dimulai pukul 09.PD. Demikian dikatakan Prof. Spesifik yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan perkembangan khusus sel kanker. seharusnya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses bisnis"nya.Jakarta. Amiruddin Aliah. karena proses bisnis layananan kesehatan termasuk hal yang kompleks. 6-9 Mei 2004 Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung koroner (CHD/Coronary Heart Disease). radiasi dan operasi. Seminar Integrated Hospital Marketing. Jakarta. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di Jakarta. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri. karena dapat mencegah atrofi villi usus. SpS(K)). 25 . Jakarta.00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang peserta. 25 . enterosit dan kolonosit. Demikian dijelaskan Handi Irawan. Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan. Oleh karena itu obesitas menjadi masalah epidemik yang global. K. Jakarta. KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International Convention Center beberapa waktu lalu. Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I.28 April 2004 Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan. menjadi terapi yang bersifat spesifik. Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum. sehingga diharapkan terapi akan lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas hidup pasien yang meningkat. H. tetap menjaga kelangsungan fungsi usus. SpS(K). 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) 2004. Jakarta. MM dan Prof.16 % (WKNPG : 2. Nutrisi enteral lebih unggul dibandingkan parenteral dalam mempertahankan fungsi gastrointestinal. kasus tuntutan di rumah sakit umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh ketidakpuasan pasien. 24 Mei 2004 Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa lagi saat ini. SpS(K). SPS(K). dr.(foto diambil saat Session Mari Tanya Ahli. Hotel Borobudur Jakarta.26 Mei 2004. Prabowo Soemarto dalam Seminar IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta. 23 . ASEAN Pharmaceutical Industry Congress.

Sejumlah 233 pasien mendapat 0.064) dan nyeri saat bangkit dari tempat tidur (p=0. metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam setelah pemberian IVIg pertama.0 (paling keras) sampai 10. mereka yang tidur di alas medium juga lebih sedikit merasa nyeri di siang hari (p=0.5 – METILPRDENISOLON UNTUK SINDROM GUILLAIN BARRE Dutch GBS study group mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk menilai manfaat penambahan metilprednisolon terhadap pengobatan imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre. penelitian ini dilakukan atas 14 824 pria dan wanita 42-82 tahun di Norfolk.4-0.95 (95%CI: 1. Penurunan keluhan mukosal terutama di kalangan pekerja atopik (0. 0.24 – 3.13 – 4.24 – 8.bb/hari selama 5 hari.3 – 0. kebiasaan merokok ataupun riwayat fraktur sebelumnya. 2004 .36. Pengoperasian UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim ventilasi sampai 99% (95%CI 67 – 100).059). 95%CI 0. risiko frakturnya 4. Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat meramalkan risiko fraktur baik di kalangan pria maupun wanita.86) dan lebih rendah disabilitasnya (2.7 tahun. 362: 1599-604 brw SICK BUILDING SYNDROME Sick building syndrome (sindrom gedung sakit) merupakan masalah yang belum sepenuhnya dipahami. Peningkatan nyata substansia grisea sebaliknya didapatkan di sebagian besar korteks temporal superior dan parietal inferior bilateral. 0.5 – 0. temporal dan parietal merupakan korteks asosiasi heteromodal yang berkaitan dengan fungsi perhatian (attention) dan inhibisi tingkah laku (behavioral inhibition). selain itu didapatkan ukuran yang lebih kecil di daerah inferior dan korteks prefrontal dorsal bilateral. 144. Selama periode studi. 0.9) di kalangan bukan perokok.97 – 3. mereka di amati selama rata-rata 1. 31 di antaranya fraktur femur.0 (paling empuk). Lancet 2004. juga di korteks temporal anterior bilateral. p<0. menunjukkan bahwa morfologi abnormal ditemukan di korteks frontal.4. siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali. p<0. Daerah frontal.9).89.9) dan keluhan mukosal (0. nyeri saat berbaring (p=0.8. baik di tempat tidur (odds ratio 2.93. selama 48 minggu.6) lebih banyak yang berkurang rasa nyerinya.2 – 0.50 – 2.363:197-202 brw brw ALAS TIDUR KERAS UNTUK NYERI PINGGANG BAWAH Kebanyakan dokter menganjurkan tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah.8). 0. 362: 1785-91 PENGUKURAN ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO FRAKTUR Risiko fraktur dicoba dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi terhadap tulang kalkaneus.ABSTRAK KELAINAN KORTEKS PADA ADHD Penelitian menggunakan MRI dan teknik komputasi terhadap korteks serebri 27 anak dan remaja penderita ADHD dibandingkan dengan 46 kontrol. Sayangnya dalam studi ini posisi tidur tidak ikut diperhitungkan. Ternyata penggunaan UVGI dikaitkan dengan penurunan gejala berkait dengan pekerjaan secara umum (OD 0. Lancet 2003.52. 0. sex. tinggi badan. Lancet 2003.9 ± 0. 158 diminta tidur di alas dengan derajat kekerasan 5. 117 62 Cermin Dunia Kedokteran No.8) dan bukan perokok (0. 65% di akhir percobaan) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras (54% dan 59%).56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras. 0.0001) tidak tergantung usia. Pengurangan 1 SD dari BUA (20 db/MHz) dihubungkan dengan risiko fraktur relatif 1.44 kali (95%CI: 2. Para peneliti di Spanyol menilai 313 dewasa dengan nyeri pinggang bawah kronis nonspesifik. Kanada mencoba menyelidikinya pada 771 pekerja kantor. Setelah 90 hari mereka dievaluasi.3.4 g IVIg/kg. Penggunaan UVGI juga menurunkan keluhan respirasi (0. skala kekerasan kasur berkisar dari 1.6.5.0001) dibandingkan dengan populasi yang di kisaran 30% tertinggi. kemudian dimatikan selama 12 minggu. karena ternyata mereka yang tidur di alas medium lebih banyak yang mengambil posisi fetal (56% di awal percobaan.99) juga terhadap keluhan respirasi (0.10.5 – 0. sedangkan 155 lainnya tidur di alas dengan derajat kekerasan 2. Lancet 2003. 362: 1699-707 brw 0. 0. sistem ventilasi ruang kerja mereka disinari dengan UVGI (ultraviolet germicidal irradiation) selama 4 minggu. Sekelompok peneliti di Montreal. Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband ultrasound attenuation) kalkaneus di kisaran 10% terendah. 116 di antaranya juga diberi 500 mg.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras. sepanjang tahun 1997-2000. Selama masa itu terjadi 121 fraktur. 1.7.93) maupun saat bangkit (1.7 – 0.9) dan keluhan muskuloskeletal (0.6. 95%CI: 1. ternyata mereka yang tidur di alas medium (5.6. berat badan.7.

95%CI: 0. ternyata 46 menggunakan prednisolon tambahan . Lancet 2004. 2004 63 .56-0.88. p=0. p=0. trombosis vena atau kematian akibat kardiovaskuler (RR 0.64. Setelah penyesuaian data terhadap usia dan tingkat penyakit saat masuk. Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil pengobatan sindrom Guiilain/Barre. p=0. Saat gejalanya mulai memburuk.91. 144.68. Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan. Di akhir percobaan.65.09). setelah 4 hari pengobatan pasien tersebut mengalami gerakan involunter di kepala dan keempat ekstremitasnya. 110 di kelompok studi dan 97 di kelompok plasebo.015) Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan latihan (0.95 (95%CI 0. jalan kaki.8) Para peneliti berkesimpulan bahwa menggandakan dosis inhalasi tidak mencegah perburukan gajala asma (yang diukur dari kebutuhan prednisolon oral) Lancet 2004. baik keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna. 95%CI 0.15 – 1.4.41. dibandingkan dengan 265 pasien yang diberi plasebo. (OR 1. p=0.22 (11%) dari kelompok studi dan 24 (12%) dari kelompok plasebo membutuhkan prednisolon tambahan untuk mengatasi gejala asmanya. Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari tercatat 88 (22%) kematian di kelompok latihan dan 105 (16%) di kelompok kontrol.003). stroke non fatal atau kematian akibat kardiovaskuler lebih rendah di kelompok aspirin (RR 0. Kematian. seftriakson iv dua kali sehari untuk infeksi Nocardia. berupa mioklonus multifokal dan asterixis bilateral. 0. Kejadian ini sebelumnya pernah dilaporkan pada 1 kasus anak.62. Analisis atas data dari 225 pasien menunjukkan bahwa skor disabilitas membaik satu tingkat atau lebih pada 68% (76 dari 112) pasien kelompok metilprednisolon dan pada 56% (63 dari 113) pasien kontrol.71). BMJ 2004. 24.9. Para peneliti di Italia memberikan 100 mg aspirin/hari pada 253 pasien polisitemia vera. Efek samping perdarahan tidak berbeda bermakna (RR 1. 95%CI 0. Pemantauan dilakukan setelah 12. 36.89 (95%CI: 1. OR=1. 95%CI 0. 192 menggandakan dosisnya. 48 dan 60 bulan kemudian. Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0. emboli paru. data diolah dari 207 (53%) peserta. Sejumlah 390 penderita asma pengguna kortikosteroid inhalasi yang berisiko eksaserbasi dipantau gejala asma dan morning peak flownya selama sampai 12 bulan. p=0. Efek samping tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok tersebut. 95%CI 0. N Engl J Med 2004. Pemeriksaan MRI hasilnya tidak spesifik.363:192-6 brw EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL Telah dilaporkan satu kasus wanita 63 tahun yang mendapat 20 mg/kg. stroke non fatal. logrank x2 5.bb trimetoprim. keesokan harinya gerakan involunter berkurang dan hilang sama sekali setelah 4 hari.350:114-24 brw Program latihan yang dijalani berupa bersepeda.92. Risk ratio penggunaan prednisolon 0. 406 sebagai kontrol.46 – 0.06). sedangkan 198 lainnya tidak (kedua kelompok menggunakan inhaler yang serupa) Setelah 12 bulan. p=0.03).07-3.35.350:88-9 brw ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA VERA Aspirin ternyata juga bermanafat untuk mencegah komplikasi trombosis di kalangan pasien polisitemia vera. MENCEGAH EKSASERBASI ASMA Suatu studi dilakukan untuk menilai manfaat penggandaan dosis inhalasi kortikosteroid dalam upaya mencegah peningkatan dosis prednisolon oral. aerobik dan kalistenik yang bervariasi di antara percobaan-percobaan tersebut.27-9. dan pasien menolak punksi lumbal.011).15.93.328:189-92 brw EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan yang seluruhnya melibatkan 801 pasien – 395 menjalani latihan. N Engl J Med 2004.363:271-5 brw Cermin Dunia Kedokteran No. risiko infark miokard non fatal. 6.18 – 0. p=0.ABSTRAK sisanya mendapat plasebo. 100 mg/kg.40.72. demikian juga risiko infark miokard non fatal.97-2.55-1.bb sulfametoksazol iv dan 2 g.

JAWABAN RPPIK : 1. 3. 5. 6. Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi : a) Defisiensi vitamin B b) Defisiensi vitamin C c) Defisiensi vitamin D d) Defisiensi Zn e) Defisiensi Fe Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di a) Submental b) Intralingual c) Suprahioid d) Transhioid e) Infrahioid Yang tidak benar mengenai papiloma laring. E C 4. 9. 7. 10. 9. a) Gangguan peredaran darah otak b) Trauma vestibuler c) Penyakit Meniere d) Vertigo posisional benigna e) Neuronitis vestibularis 6. Klebsiella Pseudomonas Staphylococcus 2. 2004 . 10. E A 64 Cermin Dunia Kedokteran No. 144. E A 3. Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo . D D 2. B B 5.Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. 8. 4. Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan: a) Mongoloid b) Kaukasian c) Negroid d) Hispanik e) India Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas suara di atas: a) 20 dB b) 40 dB c) 60 dB d) 80 dB e) 100 dB Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi . a) Tumor jinak b) Tidak pernah mematikan c) Berhubungan dengan HIV d) Gejalanya awalnya sesak e) Sering rekuren Rinoskleroma dikaitkan dengan : a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) d) e) 7. a) 100 dB b) 120 dB c) 140 dB d) 160 dB e) 180 dB 8.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful