2004

http://www.kalbe.co.id/cdk

ISSN : 0125-913X

144. THT

2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

144. THT
Daftar isi :
2. Editorial 4. English Summary

Artikel
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir 8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia 11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni 13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah 16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R. Susworo 20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati 24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi Arifiani 29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W. Roestam 35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi 41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo 47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe 52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah 55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk 57. Produk Baru 58. Kapsul 59. Informatika Kedokteran 60. Kegiatan Ilmiah 62. Abstrak 64. RPPIK

Keterangan Gambar Sampul : Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13

EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi pendengaran khususnya. Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis maupun keluarga pasien. Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami nantikan

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

Drg. Dr.10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word. Kirby RL. 64: 7-10.co. . Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. Sri Oemijati. 1990.Prof.Prof. R Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang KETUA PENYUNTING Dr. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah. London: William and Wilkins. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio.co. satu muka.4208171 E-mail : cdk@kalbe. 2.DR. hendaknya diberi keterangan mengenai nama. P. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta . SKM. Temprint http://www. akan diberitahu secara tertulis. 021 . 3. Gedung Enseval. Pathogenetic properties of invading microorganisms. Dr. Siti Wuryan A Prayitno. Budi Riyanto W. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku.Medical Rehabilitation. Cermin Dunia Kedokt. Pathologic physiology: Mechanism of diseases.kalbe. . Cempaka Putih. Basmajian JV.Prof.id/cdk PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran. Laboratorium Ortodonti MScD. 1st ed. Dr.Prof. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya. Jakarta 10510 P. Bila terpisah dalam lembar lain. Swartz MN.id Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan.Djuni Pristiyanto ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis. Jakarta Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta TATA USAHA . Baltimore. Cempaka Putih.O. 4. .id/cdk . Bila tidak ada.H. Sodeman WA. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Boenjamin Setiawan Ph. Oen L. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas.id http: //www. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. kedokteran dan farmasi. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. PhD. Sjahbanar Zahir MSc. Box 3117 JKT. (021) 4208171. E-mail : cdk@kalbe. . MSc REDAKSI KEHORMATAN PEMIMPIN UMUM Dr. Hendro Kusnoto. Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. Erik Tapan .913X KETUA PENGARAH Prof.Dr. Tlp. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris.457-72. 1984.D . 1974. Hal 174-9. 4. Drg. sebutkan semua. Dalam: Sodeman WA Jr. bila menggunakan bahasa Indonesia. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. DR. 90 : 95-9). Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Bagian Periodontologi.O. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Philadelphia: WB Saunders. Box 3117 JKT. SpOrt.Prof. hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. Tlp.Dodi Sumarna . Letjen. eds. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku.kalbe. PELAKSANA Sriwidodo WS. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 DEWAN REDAKSI PENERBIT Grup PT. Suprapto Kav. Weinstein L. Jakarta 10510. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Jl. DR. Contoh : 1. Kalbe Farma Tbk.co.co.2004 International Standard Serial Number: 0125 . Gedung Enseval Jl. bila tujuh atau lebih. Soebianto PENCETAK PT. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran. Bila pengarang enam orang atau kurang. Letjen Suprapto Kav.

Adam Malik General Hospital. The symptoms may cause anxiety and disturb the patient’s social life. Diagnosis can be confirmed using a flexible fiberoptic laryngoscope to visualize the larynx. 47-51 ppi. and retinoic acid are still debatable. can be due to vestibular system disorder. Faculty of Medicine. This is a report of a 50 yearold female with vertigo. There is still no accurate and successful management method for this problem . Conventional treatment is still not satisfactory. recurrent respiratory infections also may occur. Partial airway obstruction may manifest as stridor or chest retractions. in Indonesia it is found in North Sulawesi. Practically all patients with laryngeal papilloma present with hoarseness or a weak voice. Indonesia RHINOSCLEROMA Delfitri Munir.English Summary LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN Bambang Supriyatno. Indonesia Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in children. 144. and tend to be concentrated on the free margins of true vocal folds. The mainstay of treatment is surgical ablation. referred to dizziness or a sense of imbalance.2004. 144. The role of medications such as alphainterferon. It is caused by strains of human papilloma virus (HPV) family. University of Indonesia. acyclovir. Lia Amalia Dept of Child Health. Cermin Dunia Kedokt. particularly at the anterior commissure.lys bso. Cermin Dunia Kedokt. Cermin Dunia Kedokt. paroxysms of chocking. Jakarta. chronic cough.raa. 13-15 dmr. Rizalina A Asnir. 8-10 Rhinoscleroma is an endemic disease. North Sumatera and Bali. ribavirin.2004: 144. Cipto Mangunkusumo General Hospital. laa Fate is distinghished but an expensive tutor (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No.fih Vertigo is a common complaint.2004. Yvonne Siboe Dept. of Acupuncture Dr. Jakarta. 2004 . Firmansyah Dept. Medan. treated with acupuncture and showed good improvement. of ENT. North Sumatra. Papillomata have a characteristic wart-like appearance. 144. Indonesia ACUPUNCTURE FOR VERTIGO Prasti Pirawati. L.

5.Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinitis Atrofi Rizalina Arwinati Asnir Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran.4.11.12.11-15 SINONIM : Ozaena.12.14. sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk.1-5. 144. beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda. Kuman lain adalah Stafilokokus.17 Cermin Dunia Kedokteran No. sehingga pengobatannya belum ada yang baku.20 Tetapi dari segi umur.16.11.13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria.2.7.9. umur berkisar dari 10-37 tahun.2.14-16 Oleh karena etiologinya belum pasti. Kata kunci : rinitis atrofi. Medan ABSTRAK Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah. dilakukan operasi .8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9.11.7.11-14 dan di negara sedang berkembang.9.12. rinitis krustosa. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas. 2004 5 . Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.13 Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3.18 5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5.7. lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa.11-14 dan di negara sedang berkembang.7.12.17 Terutama kuman Klebsiella ozaena.1-5.16 Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Diphteroid bacilli.20 KEKERAPAN Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita.1-5.9 Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria.7 7) Teori mekanik dari Zaufal4.10.11 3) Sinusitis kronik1.7. vitamin A1. mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering.14-16 Beberapa teori yang dikemukakan antara lain : 1) Infeksi kronik spesifik 1-4. Kokobasilus. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. 7. Bacillus mucosus.1-5.1. 4 wanita dan 2 pria. rinitis fetida.1-5.11 6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4.11-15 terutama pada usia pubertas.2.5.7.17 Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong. yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta. Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun.16 Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi.1-11 Secara klinis. PENDAHULUAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik.9.7. maka pengobatannya belum ada yang baku.7.5.12.20 Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk1-3.10. Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H.11. Adam Malik.12.8 dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria. Cocobacillus foetidus ozaena 2) Defisiensi Fe1-4. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun.11-15 terutama pada usia pubertas.1-4.1-9 Penyakit ini lebih sering mengenai wanita. sosial ekonomi rendah.7.7.7.5 8) Ketidakseimbangan otonom 4.

yang bertambah jelek dengan terapi estrogen. terlihat rongga hidung sangat lapang. untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau. rontgen foto sinus paranasal. Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat21 : a.12. atrofi konka.2.4. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel.8. 6 Cermin Dunia Kedokteran No.2 Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman.21 Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik. keluhan anosmia belum jelas.13 . rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:3. Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A. sakit kepala.1-5.15.21 KOMPLIKASI4. faringitis. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung. Larutan garam dapur d. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis. dapat ditemukan krusta di nasofaring. dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman.4. midline granuloma.1. terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif.4.17 10) Herediter5.10. sekret purulen dan berwarna hijau. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau b.3. dilakukan dua kali sehari. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis. air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. Campuran : NaCl NH4Cl NaHCO3 aaa 9 Aqua ad 300 c 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat c. lepra. epistaksis dan hidung terasa kering.2 Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu.oleh karena itu secara patologi. pemeriksaan Fe serum. c. 144. rinitis kronik lepra. mukosa makin kering. rongga hidung tampak lebar sekali. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa. warna makin pudar. rinoskleroma dan tbc. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi.12.5.1. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen.11 Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc. 2004 .4 Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat.10 dan rinitis atrofi sekunder. krusta banyak. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul). krusta sedikit.11 Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang. Mantoux test. sinusitis.16.1. pemeriksaan darah rutin.9.19 dan fibrosis dari tunika propria. ingus kental berwarna hijau. gangguan penciuman (anosmi).10.4. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia.11. hidung pelana.9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)4. b. mukosa tampak kemerahan dan berlendir.3 2) Obat cuci hidung.17 11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5. kadang-kadang kuning atau hitam. Antara lain : a. Campuran : Na bikarbonat 28. PATOLOGI DAN PATOGENESIS Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik. PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala.11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal.5. terdapat anosmia yang jelas. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui4. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia. jika krusta diangkat.3.4 g NaCl 56. mukosa hidung tipis dan kering.10-12 Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau.7 g dicampur 280 ml air hangat Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat.3. Sebagian besar kasus merupakan tipe I. Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa.11 Dapat berupa: perforasi septum. Selain faktor-faktor di atas.3. adanya krusta (kerak) berwarna hijau.7.16 12) Golongan darah.4 g Na diborat 28. miasis hidung.7 GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika. Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler.11 Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun.9. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi.

diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa. 349-51. tulang. Soetjipto D. Hidung . 144. Ear. Hilger PA. Pitfalls. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar. Jakarta: EGC. 106 : 652-7. Grewal DS. Sutomo. C. 549-55. Alih Bahasa : Wijaya. 218-9.Heinemann. Weir N. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique.Edisi 6. Jilid 1. Baser B. maka pengobatannya belum ada yang baku. Technique. 1997. Infective Rhinitis and Sinusitis.3) Obat tetes hidung . yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta. 23. 8. Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap.000 U / ml. 20. Maqbool M. Montgomery WW. Cermin Dunia Kedokteran No. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. 4) Vitamin A 3 x 10.3 Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu. Ujung Pandang: 1986. Fundamental of Ear. Kepala dan Leher. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok . 10.3% perbaikan pada periode waktu yang sama. Hagrass. 1996. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali. Nose and Throat Diseases. 1996. Wood DG. A Short Practice of Otolaryngology. 91-3. Kader MA. THT FKUI.Gray RF. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita. 264-7. Edisi ke 3. 1987. Samsudin. Naumann HH.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis. 1993. Doyen A. 1980. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. 14. 381-2. Mangunkusumo E. 1993. A Pocket Reference. 5. 40-1. J Laryngol Otol 1990 . Indication. 221-2. Calcutta : The New Book Stall. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat.J Laryngol Otol 1992 . Jakarta : Bina Rupa Aksara. Farrington WT. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati.10-14. 1996. Buku Ajar Penyakit THT. 1992. Lobo CJ. diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes. 5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung. Bertrand B. 202-5. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka. 229. 218-21. oestradiol dalam minyak Arachis 10. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins. 14th ed Singapore : ELBS. kemudian dipindahkan ke lubang hidung. New York : Georg Thieme Publishers.A Synopsis of Otolaryngology.4. 7.Nose & Throat Diseases and Head . KEPUSTAKAAN 1. 112 : 543-6. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93. Throat and Ear. Jakarta : FKUI. 9.106: 702-3. 114 : 254-9. Jakarta : FKUI. campuran Triosite dan Fibrin Glue. Ramalingam KK. mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. Elhamd KA. 193-411.22 PROGNOSIS Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. 1986. Gamea AM. 1997. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers. 6th ed.11-14 Sinha. 11. 3. Etiology and Management. Groves J. Oleh karena etiologinya belum pasti. Dalam : Boies (ed). 4. Elloy P. 173-82.Hsu C. Maran AGD. setelah krusta diangkat. 4th Bristol:Wright. Penyakit Telinga . 16. 12. 499.000 U selama 2 minggu 5) Preparat Fe 6) Selain itu bila ada sinusitis. 1994. 1403-6. diobati sampai tuntas1-5. 576-80. 22. 492. Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. natrium bikarbonat. Nose and Throat Diseases. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. 1997. Massegur H. 90-2. Rinitis Atrofi. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun. Laryngoscope 1996. Dalam : ScottBrown's Otolaryngology.1. Mangunkusumo E. Becker W.Chen C. 104 : 404-7. Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Oxford : Butterworth .23 Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid. 19. 12 : 325-33.5 KESIMPULAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. 10-5. 4/8/26-7. 1-4. 18. Naumann HH. cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari. Madras : All India Publisher.Hidung. Ujung Pandang. Head and Neck Surgery. Textbook of Ear. Singapore : PG Publishing. bahan sintetis seperti Teflon. Mewengkang N. 1994. Vol. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif. 113-4. Pfaltz CR. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. Sherief SG. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. Kumar S. Surgery of the Upper Respiratory System. 15. New York : Georg Thieme Verlag. J Laryngol Otol 1998. 17. Am J Rhinol 1998 . Sreeramamoorthy B. Jiang R. Disease of the Nose.21 OPERASI Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang. 21. J Laryngol Otol 2000.Neck Surgery. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml.Atrophic Rhinitis-Pathology. 26-7. Disease of the Nose. dermofit. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Edisi 13. 6. 13. Tenggorok . Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. Sayed RH. Colman BH. Hartley C. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan. Ballenger JJ.5. Sydney. Hiranandani NL. 1992. 2nd ed. 1985. Throat and Ear and Head and Neck. 2. 2004 7 . Samiadi D.

rekurensi PENDAHULUAN Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas anak. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti. Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Papiloma Laring pada Anak Bambang Supriyatno. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. Beberapa keadaan diduga berperan sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea dan bahkan sampai ke paru-paru. pemeriksaan fisis. 144. anak. salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif. Pada laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol. diduga berhubungan dengan infeksi human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17. mudah berdarah. 2004 .2. Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta suara tangisan yang abnormal. infeksi saluran nafas kronik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. higiene yang buruk. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”. tetapi lokasi tersering adalah laring. dan pemeriksaan laringoskopi langsung. kelainan imunologis. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas.4. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi. berwarna kemerahan. Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik. Jakarta ABSTRAK Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di saluran nafas anak. obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. trakea dan paru. walaupun tidak ganas. Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur trakeobronkial. rapuh.5 Terdapat dua jenis papiloma laring. dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan nafas serta penyebaran ke paru-paru. Kata kunci : papiloma laring. dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. dan pertumbuhannya eksofilik. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring.3 Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat. Lia Amalia Bagian Ilmu Kesehatan Anak.1 Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. pada anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi. Cipto Mangunkusumo. Papiloma laring pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas. hidung.

dan sianosis lebih jelas. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial.8. Jackson I ditandai dengan sesak.7.3. Terapi fotodinamik Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana papilomatosis laring rekuren. sedangkan Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas. rapuh. Imunologis Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon.11-13 HISTOPATOLOGI Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik. Basheda dkk. seperti kembang kol. tetapi ada faktor lain yang berperan. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi. carbondioxide laser surgery. tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya. 10 Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau parakeratotik. dan terkadang gagal napas. Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. Obat yang digunakan antara lain antivirus. yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru. laringofissure. tetapi tidak untuk lesi parenkim. serta pertumbuhannya eksofilik. Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring.18-20 c.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal. paralisis pita suara. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis. terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2. Biasanya terdapat stridor inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol. Cermin Dunia Kedokteran No. semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi. sesak. retraksi suprasternal. 144. dan stridor inspirasi. nodul pita suara atau kista laring kongenital. stridor inspirasi ringan. ETIOLOGI Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti. dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis. hormon (dietilstilbestrol). tanpa sianosis. Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan.INSIDENS Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak. 2004 9 . 80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun. berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah. Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk. sianosis ringan. tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. Medikamentosa Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah.9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital.6 Agung7 melaporkan 7 kasus antara 1970-1976. asma bronkial. infeksi saluran napas kronik.18 d. b. Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara 1993-1997 dengan usia antara 2. 14-16 Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson. kemerahan. Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan.17.18 Pada kasus papiloma laring yang berulang.5-18 tahun. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm).10 MANIFESTASI KLINIS Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak. steroid. epigastrium. dan mudah berdarah. mikrolaringoskopi dengan diatermi. dan kelainan imunologis. Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring. 6 di antaranya di bawah 12 tahun.17 Diagnosis banding Diagnosis sulit terutama pada fase awal. dan pasien tampak mulai gelisah.10 Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk. mikrolaringoskopi langsung. laringomalasea. Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat. kriosurgeri. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak. maka perlu dicurigai suatu papiloma laring.15 PENATALAKSANAAN Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas. mikrokauter. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi. Bedah Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring. mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas. Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis. dan podofilin topikal. Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger. DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut. mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh. Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut : a. pemeriksaan fisis..

Steinberg BM. Harley C. 121:1386-91. Leventhal B. Current Diagnosis and Treatment.KOMPLIKASI Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas. 102:300-10. . Laryngoscope 1992. Bashida SG. Hidvigi J. et al. radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas. 144. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996. Haliwell M. Task force on recurrent respiratory papillomas. Fagan JJ. Laryngoscope 1987. 100:1458-64. Papova viruses and recurrent laryngeal papillomata. Myers EN. Laryngoscope 1997. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995. Werkheven JA. Sites of predilection in recurrent respiratory papillomatosis. 6. 17. 12.16 Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. Kohlmoos HW. Schneider PS. Haglund S. Pathogenesis and treatment of juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis. Arch Otolaryngol 1995. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1993.h. Bauman NM. Shoemaker DL. 11. 108:226-9. Abramson AL. 18. 10. Mounts P. 9. Topp WC. dan paru. Mulloly VM. Late recurrences of laryngeal papillomatosis. Soft tissue complication of laser surgery for reccurent papillomatosis. Winkler B. 13. N Engl J Med 1983. Papilloma of the larynx in children. Cantell K. Laryngoscope 1998. Otolaryngol Clin N Am 2000. Arch Otolaryngol 1981. Laryngeal papillomatosis: clinical histopathologic and molecular studies. THT FKUI. ekstirpasi yang tidak sempurna. bronkus. Skripsi. PROGNOSIS Prognosis papiloma laring umumnya baik. 115:322-5. Laryngoscope 1991. Endobronchial and parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of photodynamic therapy. Derkay CS. Orlowski JP. 308:1261-4. 15. 98:1324-9. Rimell EM. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993. Gray SD. Steinberg BM. Ossof RH.669-75. Smith RJH. 1982. 14. Erisen L. 107:915-47. Hamilton. 4. Laryngeal papillomavirus infection during clinical remission. White A. Mehta AC. h. 7. Recurrent respiratory papillomatosis of the larynx. The Manchester experience 1974-1992. 101:1162-6. 119:554-7. diduga akibat tindakan trakeostomi. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM. Interferon therapy in juvenile laryngeal papillomatosis. 5. Pediatric respiratory papillomatosis. Losin. de Boer G. Shikowitz MJ. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. Human papillomavirus infection in papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction. Prognostic role of viral typing and cofactors. Lundwuist P. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. Birzgalis AR. A preliminary study. Recurrent respiratory papillomatosis. Pou AM. Abramson AL. 107:327-32 Green GE. tetapi dapat meluas ke trakea. Darrow DH. Laryngol and Otol 1994.13 Meskipun jarang. 16. Yasin AR. 19. Clinical effect of alpha interferon dose variation on laryngeal papillomas. Chest 1991. Kashima H. 33:187-207. 11:242-52. Agung IB. 97:678-85. 102:580-3. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru. 2. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma. Fairman DH. 2004 . Ultrasonic treatment of laryngeal papillomata. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring. Pignatari SSN. Bristol General Hospital. Otolaryngol Clin N Am 2000. Steinberg BM. 3. Bajtai A. Dere H. KEPUSTAKAAN 1. Arch Otolaryngol 1995. 1977. 33:1-12. Derkay CS. Comparison of pulsed and continuous wave light in photodynamic therapy of papillomas: An experimental study. 20.249-60. Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang. Smith EM. 8. Elo J. 122:942-4.

9.4-10.suprahioid : 24.1% .6%. kekambuhan PENDAHULUAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid.4%.5.11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari + 86. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya. maka epitel duktus juga ikut meradang. dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid.5 : . sehingga terbentuklah kista.5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34.1.3. Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher.4.5. pada dekade ke dua 20. rata-rata pada usia 5. Medan ABSTRAK Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher.4.5 Kista ini biasanya terletak di garis median leher.11 PATOGENESIS Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus : 1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.5 tahun. yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea.5 Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.5%. yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.12 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.6 Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak.14 Ada penulis yang menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus. sehingga mengalami degenerasi kistik.9.13. umur sampai 5 tahun terdapat 38%.12 Predileksi umur terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%.11 Lokasi yang sering adalah1.3 Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun.4.intra lingual : 2. lokasinya terdapat di: Cermin Dunia Kedokteran No. dekade ke tiga 13.13 KEKERAPAN Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher.3.000 pasien anak. 2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista.1. jika sering terjadi peradangan.12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang. 2004 11 .9% .1. seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920. Kata kunci : Kista duktus tiroglosus.1% .4.suprasternal : 12.tirohioid : 60.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kista Duktus Tiroglosus Hafni Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.1 LOKASI Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher. Kista ini lebih sering terjadi pada anak.10.5 Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31. bagian tengah korpus hiod. sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid. merupakan 40% dari tumor primer di leher.14 walaupun dapat ditemukan di semua usia.10. 144.10. Adam Malik.9% Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus.1-11 Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher.

Fusion of the thyroid interval in a patient with a thyroglossal duct cyst.2. Dalam : Comprehensive Management of Head and Neck Tumors. 2nd ed. 415-21. tidak nyeri. 6th ed. Branchial cleft anomalies. Congenital Neck Masses and Cysts. walaupun dapat ditemukan pada semua usia. Ujung Pandang. Panje WR (eds. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah. 11. Otol.6. Leichtman LG. Alih Bahasa : Wijaya C. 1990.6. Vol. Lingual tiroid 2. Bailey JB. eksisi sederhana.11 4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya. 7. 755. Suparjadi S. 1996. Bluestone CD. Head and Neck Surg. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. 1994. Edisi 13. Vol. 9. dipasang drain dan irisan kulit ditutup kembali. yaitu kista beserta duktusnya. Benign diseases of the neck. 8. diagnosis dapat ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan dilakukan foto Rontgen.infrahioid : 43 . KEPUSTAKAAN 1.11 KOMPLIKASI Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder akibat trauma. 1313-14. Colman BH. 2. Edisi 6.11 Cara Sistrunk : 1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. Thyroglossal duct remnants. Samsudin. 4. dibuat irisan memanjang di garis media. 2000. Otolaryngol. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak. 13. 1997.5. Bila ada fistula. Oxford: Butterworth – Heinemann. Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. Penyakit Telinga. 1997. 10. Untuk fistula. 1994. 1362-69. otot lidah yang longgar dijahit. Disease of Nose. 2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang empat sentimeter. O’Hanlon DM. Philadelphia : Lea & Febiger. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid. Tenggorok. 144. Korpus hioid dipotong satu sentimeter. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. fasia yang lebih dalam digenggam dengan klem. korpus hioid. Throat and Ear and Head and Neck. Kejadian fistel ini antara 15-34%. 6/30/8-12. 4. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. Foramen sekum dijahit.10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm. Philadelphia : WB Saunders Co. 1983 .11 Diagnosis Banding 1. Saleh H. Scheetz MD (eds.Otolaryngology. 114: 128-9. irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula. Duktus beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. 183. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%. dapat di atas atau di bawah tulang hioid. Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya. Simko MEJ. 12. Dalam Boies.7. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. II. 108 : 1105-7. Kista brankial Lipoma1.suprahioid : 18 . Kista dermoid 3. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. benjolan akan terasa nyeri. sampai tulang hioid. J. 14. kadangkadang lebih besar. Ransom ER. warna sama dengan kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. Benign Tumors. Stool SE.5. 19. Dalam : Head and Neck Surgery . 1986. Oxford : Butterworth . Greinwald JH. Surgery of the Upper Respiratory System. 14th ed. Johnson JT. Thawley S.Heinemann. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Buku Ajar Penyakit THT. 88. Jakarta : EGC.9 Bila terinfeksi. posisi terlentang. 3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia. 1989. Waddell A.11 Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi.. Walsh N. infeksi atau operasi yang tidak adekuat.8 GEJALA KLINIK Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher.1985. Developmental Anomalies of the Neck.suprasternal : 3 Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral. THT FKUI. antara lain insisi dan drainase. Philadelphia : JB Lippincott Co. 1. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik. Cohen JI. Aberrant thyroglossal cyst. 5/16/14. Jilid 1. Ballenger JJ. 6. Otot sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya. Karmody CS. Dalam: Pediatric Otolaryngology. 122: 1094-6. 295-6. thyroglossal cysts and fistulae. A Handbook for Students and Practitioners. 3.transhioid : 2 . Damijanti T. 2nd ed. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag. Ellis PDM. kepala dan leher hiperekstensi. Hidung.). berbatas tegas.5 KESIMPULAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. mudah digerakkan. Pincu RL. J. Hereditary Thyroglossal Duct Cyst. Massa Jinak Leher. 5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum. Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %.submental : 2 . aspirasi perkutan. 2004 . 2. bulat. reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik. Laryngol. Montgomery WW. 6th ed. 381-2. 760-7. Sobol M. 12 Cermin Dunia Kedokteran No. 1996. Dalam : Kumpulan Naskah Konas VI Perhati. Kohut RI et al. Singapore : ELBS. Vol. Philadelphia : WB Saunders Co. 1987. Corry J et al. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th.dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%. Robertson N et al. Konsistensi massa teraba kistik. Kepala dan Leher. Laryngol. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya. Maran AGD. Otol. yang harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher.).1. 120 (5): 757-9. 1987. Urben SL. 5.

Kasus pertama ditemukan oleh Snigders dan Stoll (1918) di Sumatera Utara.1-7 Di Indonesia.8-10 Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870).1.7 HISTOPATOLOGI Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo- Cermin Dunia Kedokteran No.8.5.11 Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia. tapi endemik di beberapa negara di Asia.7 INSIDEN Rinoskleroma dapat mengenai semua usia. Bila tidak diterapi akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me- nimbulkan deformitas yang luas. Sumatera Utara dan Bali.8 Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif.9. Eropa dan Afrika. Philipina dan Indonesia.13-16 Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara.8 Fisher menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan. orofaring. Sumatera Utara dan Bali.9.2 Dilaporkan banyak terdapat di Sulawesi Utara.2. Rusia.11.10 Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma. Firmansyah Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.6. mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung. tetapi sering pada dewasa muda. 2004 13 . dan dalam beberapa tahun akan mengisi dan menyumbat hidung. Cekoslovakia. Nigeria. 144.7. Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring. rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum perang dunia ke dua.8.2. Amerika.9 Kebanyakan penderita ditemukan pada dekade dua dan tiga.1. Mesir. Salvador. PENDAHULUAN Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika Serikat dan Inggris.8 ETIOLOGI Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis yang merupakan basil Gram negatif. Kolumbia. Guatemala. trakea dan bronkus.2. Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini sampai sekarang. Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini. India.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T.2-4.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinoskleroma Delfitri Munir.9 Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut.8 Pengobatan meliputi medikamentosa. lingkungan hidup yang tidak sehat dan gizi yang jelek. di Indonesia terutama di Sulawesi Utara. Ukraina. Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis).1.1. namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang memberikan hasil memuaskan. radiasi dan pembedahan.1.5 % terdapat pada golongan pekerja kasar seperti petani.2 Belinoff melaporkan 94.8. Medan ABSTRAK Rinoskleroma merupakan penyakit endemik. Rizalina A Asnir. Rumania. subglotis. meluas secara bertahap menjadi nodul padat yang tidak sensitif. Sumatera Utara dan Bali. Uganda. Adam Malik. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah.

Sifilis. Blastomikosis.1. berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel permukaan. sering seperti rinitis biasa. Noduler) Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis.8 Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan. yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk. Medikamentosa Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif.9 Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa.15 Diagnosis Banding2. dapat ke arah posterior (nasofaring) maupun ke depan (nares anterior). Russel body. Bakteri : Tuberkulosis. Dari pemeriksaan. . Pada stadium ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius bagian bawah. Kemudian terjadi invasi. tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik. histopatologi. Stadium granulomatosa Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik. Koksidioidomikosis c. kemudian diikuti cairan mukopurulen berbau busuk. bakteriologi. Pada stadium I. Sporotrikosis. Lepra b. Pada stadium ini biasanya penyakit mudah dikenali.11. Gambaran penyakit pada stadium ini tidak khas. namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan.2.2. kemerahan.810. yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2. tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan. 2004 .11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis. mudah berdarah.1. perluasan dan lamanya penyakit. Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya.10 2.6.2. Dimulai dengan cairan hidung encer.7.13.11 14 Cermin Dunia Kedokteran No. Infiltratif. Stadium sklerotik Fibrosis yang luas. faring.15 1.1 Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1.Tetrasiklin : 1-2 g/ hari . Toppozada mengemukakan bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat pada penyakit ini.9. histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel). limfosit dan histiosit. 3. Sikatrik) Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak. radiasi dan tindakan bedah. permukaan licin tanpa ulkus. trakea dan bronkus. Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler yang sangat besar. kavum nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah.8-11.Stadium III (Skleromatous. GEJALA KLINIS Gejala tergantung pada area. Lebih lanjut rongga hidung mulai dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan. Radiasi Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod. Di samping itu terdapat pula sebukan sel-sel plasma.8. Eksudasi) Ditemukan pada usia sekolah. Sarkoidosis 3. .Khloramphenikol. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian dikenal sebagai basil dari Von Frisch.Stadium I (Kataralis. Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan. Proses yang sama dapat terjadi pada mulut. Klofazimin1.6. Sel-sel ini menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan diagnosis penyakit rinoskleroma. sakit kepala. kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut dan penyempitan jalan nafas. laring. sumbatan hidung yang berkepanjangan.3.patologis yang khas. Proses infeksi granulomatosa a. Antibiotik yang dapat digunakan antara lain: . Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung.Streptomisin : 0.710.8 1. 2. Wegener granulomatosis PENATALAKSANAAN Meliputi : medikamentosa. Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras. hanya pilek yang tidak mau sembuh dengan pengobatan biasa. Stenosis.14: . Siprofloksasin.Rifampisin 450 mg/ hari . ditambah dengan pemeriksaan penunjang seperti radiologi. kemerahan. Atrofi. dapat terjadi gangguan penciuman. di samping keluhan hidung tersumbat juga sering terjadi perdarahan dari hidung. Jamur : Histoplasmosis. Stadium kataral/ atropik Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi.7. serologi (test komplemen fiksasi. hiperplasi pseudo epiteliomatosa.14.9 Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia. Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz. test aglutinasi) dan imunokimia. jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada sitoplasma. Parasit : Leismaniasis mukokutaneus 2.8. 144. pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior.5-1 g/ hari . tetapi hasilnya belum memuaskan.12 1.13-15 Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif. Pada stadium II. laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi.Stadium II (Granulomatous. konsistensi padat.

7. Benign Tumours and Granulomas in Nose. Scleroma. Becker W.1. In Otolaryngology. 1991. Yigla M. Intrakranial Di samping akibat perluasan penyakit. Agustus. 13.org/departements/endocrine/case/dec00/december2 htm. Sreemamoorthy B.9 4.16 KOMPLIKASI Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke : 1. Suardana W.Dilatasi Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total. tenggorok. h 4/8/34-35 Rhinoscleroma http//www. Ed II. 4. Sydney: March. faring dan telinga. atelektasis paru. Wein N. h 368-70. Laryngotracheobronchial involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma. January. Longman Singapore Publ.13. h 128-34. Organ sekitar hidung : . Acute and chronic laryngeal infections. asfiksia dan kematian.4. Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI. Binarupa Aksara. Granuloma kronis pada muka. Chest. Buku Ajar penyakit THT. Nauman HH. Penyakit hidung. Maran AGD. ed 13. Ed VI. http//www. 11. 15. Wilson WR. Kariadi Semarang. Vol III.32/micro/v17n04. In: Otolaringology. Jakarta. Pembedahan Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung. http//www. 1993. Ed III. Jakarta. 206-7. Infective rhinitis and sinusitis. Ahmad M. p. throat and ear and head and neck. Dalam: Penyakit telinga. Balenger JJ. In Scott-Brown’s Otolaryngology.thedoctorsdoctor. In XVI World Congress of Otorhinolaringology head and neck surgery. p. Groves C. 144. 14.1. 4. Department of pathology.muni. New York: Thieme medical publishers inc.1 KEPUSTAKAAN 1. Hilger PA.14. hidung. 12. Montgomery WW. 7. Vol 1. Cermin Dunia Kedokteran No.103. Ed VI. Juli. Laring. Desasouza S. EGC. Ben-izhak O. 2.Orbita : proptosis. 1991. Oren I et al. 3. 3. orofaring 2. 8. Pfaltz CR. Rinoskleroma di RS. 1990. 61.Telinga bagian tengah (otoskleroma) . Shapiro J. 1994. Beberapa aspek penyakit rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar. 603-7. 1998. Jika terjadi sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus dilakukan trakeostomi. 5. Ramalingam KK. Masna PW. htm Colman BH.10. p. Pranowo S. PG Publishing. nose and throat diseases. 3. Dalam Boies (ed). uvula. Medan. hidung. Ear. kebutaan . Chitale A. Fried MP. No 4. In A Short Practice of Otolaryngology. 1851-52. Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial. 40. 10. kepala dan leher. 2004 15 . Infectious disease of the paranasal sinuses.com/diseases/rhinoscleroma. Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII PERHATI. Monduzzi. h 224556. USA: WB Saunders Co. 1990. 1997.162. Jilid I.Palatum mole. Infections of the nose. Wiratno dkk. 6. 16. Vol III. h 457-66. p.atlases. 1980. sehingga pengangkatan dapat dikerjakan dengan mudah secara intranasal. Dr. June 2000.129. h 210. Throat and Ear. 9.ce/atl-en/sect-sect-58/html. Diseases of the nasal cavity. Great Britain: 1997. Vol IV. Ed III. ed IV. 2089.afip. Surabaya. http//www. ed I India: All India Publishers. Ed X. Vol 17. In: Diseases of the nose. Butterworth-Heinemann. p.9. 1993. 1997.Sinus paranasal . sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas. komplikasi dapat juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa) dan berdegenerasi maligna. Tjekeg M dkk. USA: WB Saunders Co.Saluran lakrimal (dakrioskleroma) .htm. 1983. p.

dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. KANKER NASOFARING (KNF) Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari langit langit lunak. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini. Yang disebut KNF adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini. . seperti konsumsi lemak yang terlalu tinggi. Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi. Catatan dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan ke empat setelah kanker leher rahim. misalnya kelainan pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium).TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir R. 144. pola hidup. maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol. dan beberapa ras di Afrika bagian utara. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia. Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini. Jakarta PENDAHULUAN Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang disebut sebagai mekanisme karsinogenesis. kanker payudara dan kanker kulit. pajanan pada bahan kimia atau oleh virus. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan. tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. Sebagian lagi bersifat diturunkan Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu. Susworo Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.000 penduduk1. Sel akan tumbuh tidak normal dan berlebihan. Antara lain disebutkan faktor makanan. diasin). Dijumpai 16 Cermin Dunia Kedokteran No. Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per 100. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. bangsa Korea. tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring. Berbagai kekacauan struktur ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar.000. apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran tersebut. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan. Perubahan genetik ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak terkontrol. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal. bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap. faktor eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif. sedangkan angka rata rata di Cina bagian selatan berkisar antara 20 per 100. atau gen HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. yakni 4.000 penduduk per tahun. di samping Mediteranian. kulit hitam dan Hispanics. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya KNF. Cipto Mangunkusumo. 2004 lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita.000 penduduk. Sebaliknya. putusnya kromosom (chromosome breaks) dan delesi pada sel sel somatik. Bermula dari terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme pertumbuhan sel. seperti perokok berat.7 kasus baru per tahun per 100.2 Bandingkan dengan negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka kejadian 1 per 100.3 Sekalipun termasuk ras Mongoloid.

telur asin.5 per 100. Keluhan telinga dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar. PENGOBATAN Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi radiasi. Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style salted fish). Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan nasofaring. Saraf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata. pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis di organ-organ tersebut. Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya. debu kayu serta asap kayu bakar. akibatnya terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang juling. predisposisi genetik dan pola makan tertentu. Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus menerus. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. Yang selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya muncul salah satu gejala akibat KNF. maka dapat dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut. Selain gangguan motorik. Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan otak saja. seperti foto paru. sampai saat ini belum ada metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF. Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. pendengaran sedikit menurun serta mendesing.5 Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti udang asin. Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan. Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF.000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0.5 per 100.000). infeksi EBV dan penggunaan CHB6. Untuk menegakkan diagnosis. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura. Lendir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang. 144. Pada 1966. Pemberian pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama. Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga menyulitkan tindakan radioterapi. banyak kasus yang terlambat didiagnosis. USG hati. Di beberapa bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih. 4 Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV). Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa. Berbeda halnya dengan kanker leher rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik Papanicolaou dan mamografi. Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid.000 penduduk). keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah. seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV. pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. Epstein dan Barr pada limfoma Burkitt pada 1960). selain gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding nasofaring dengan alat endoskopi. Sedangkan pemeriksaan lain. Manakala pasien merasa bahwa kelenjar leher menjadi makin besar. terlebih pada stadium dini. KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein Barr.Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai konskuensi terhadap tujuan pengobatan. CT scan atau MRI nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. Pembesaran kelenjar leher merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar.5 per 100. capsid antigen dan early antigen. Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali menyerang saraf pusat yang keluar dari otak. (yang dinamai sesuai dengan penemunya. Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain. disusul oleh keturunan Melayu (6. 2004 17 . GEJALA KLINIS KNF Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada penderita KNF. Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18. Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (Chinese herbal medicine= CHB). Di samping itu pemberian khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker Cermin Dunia Kedokteran No. Pada keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau keduanya. kadang kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga.

pasien akan selalu diawasi oleh dokter. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula. and risk of nasopharyngeal carcinoma. dapat menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator linier (Linear Accelerator atau Linac). Azis MF. p. No. terutama pada kasus dini. pada umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang memuaskan. Int J Cancer. (Lihat lampiran/ halaman 19). Epstein Barr virus. 1992. Estimates of the world-wide incidence of 25 major cancers in 1990. Ross RK. (Eds). Cancer Incidence in Five Continents. Bila saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa sisa makanan ini berkurang. Yu MC. Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. 4. Lyon. 1990. Cancer in Asia and Pacfic. YKI. Yu MC. N. Publ. mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). Nasopharyngeal cancer. Whelan SL. 144. 2004 . The flame of glory is the torch of the mind 18 Cermin Dunia Kedokteran No. bahkan setelah selesai terapi. 603 –18. Susworo. KEPUSTAKAAN 1. Parkin DM. Ferlay J. In: Schottenfeld D and Fraumeni JF (eds). Vol. Pengobatan radiasi. Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna. Fachrudin D. 1996. Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). p. EFEK SAMPING PENGOBATAN Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah memilikinya. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar. Jakarta Indonesia 1988. Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas. Cipto Mangunkusumo General Hospital. In : Tjokronagoro A. 80: 827–41. Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi. 5. Henderson BE. 143. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan. Young J. 10: 15-24. Soetjipto D. Cancer epidemiology and prevention. Djakaria M. Cancer Res. 2. 3. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. 471–86. karies gigi akan lebih mudah terjadi. 7. Raymond L. Ho JHC. Metode brakhiterapi. Herbal medicine use. Yusuf A. 6. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa negara maju. yakni dengan memasukkan sumber radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di sekitarnya. Ferlay J. Henderson BE. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. France : IARC Scient. 52: 3048 –51. ed. Hildesheim A et al. Pisani P. memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar. NPC in Chinese – Salted fish or inhaled smoke? Prev Med. Berkonsultasi ke dokter keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan tindakan yang tepat. IARC Press. 1997. dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala seperti yang diutarakan di atas. Himawan S. 2nd. Parkin DM. 1981. Nasopharyngeal carcinoma in Dr. Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada mukosa dasar tengkorak. PENUTUP Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang spesifik. bawah serta klavikula. Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. York: Oxford University Press. Syafril A.yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi. Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan.

Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi. 144. Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator) Gambar 3. Cermin Dunia Kedokteran No. Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang ternyata merupakan metastasis dari KNF Gambar 2. Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala.LAMPIRAN : Gambar 1. 2004 19 .

Streptococcus sp. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 20%. usia 5-15 tahun 29. 40% dan 80%.8 %. Betalaktam.04%. Kata kunci : Tonsilo-faringitis. terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah. Departemen Kesehatan RI.9 %. 144.catarrhalis PENDAHULUAN Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang. yakni sebesar 68. dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai bulan Nopember 1999. Metoda penelitian cross-sectional. Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut adalah 73.52%. termasuk Indonesia. Ani Isnawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Streptococcus β-hemolyticus. dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat”.5%. baik infeksi saluran per20 Cermin Dunia Kedokteran No.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans.1 %.82%. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%. B. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47. Branhamella catarrhalis. 87. 53. Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam. serta lebih dari 50% penyebabnya . Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh bakteri (kuman). Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. 2004 napasan atas maupun bagian bawah. Lima spesies terbanyak adalah: Streptococcus viridans 54. salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam.HASIL PENELITIAN Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat Retno Gitawati. Branhamella catarrhalis 22. terutama infeksi pernapasan akut (ISPA).3 %. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. Streptococcus βhemolyticus 6. Jakarta ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia.2%.5 % dan dewasa 23. Streptococcus pneumoniae 3. Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies.11%.

yang memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 1999. batuk. yakni sebesar 68. Streptococcus pneumoniae (3. dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya.71 %. 10. 8. 144. Semua subyek telah menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent. hiperemis. berturut-turut 9. makrolida. 2004 21 . Streptococcus β-haemolyticus (6. B hemolyticus diperoleh 6. fermentasi karbohidrat. 6. 2. Yeast (ragi) Staphylococcus aureus Alkaligenes dispar Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus epidermidis Jumlah Jumlah (%) 71 (54.2%). Cermin Dunia Kedokteran No. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni. terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam. Jumlah subyek sebanyak 83 penderita. khususnya terhadap kuman penyebab ISPA. termasuk jenis antimikroba yang diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas.82%). Branhamella. 5.adalah virus(1). 9. hampir sama dengan yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4. Streptococcus non-haemolyticus (3.04%. Proteus. Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap antimikroba betalaktam.43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas. 1.76) 132 (100) usap Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000). berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut 31. Klebsiella. 7. dengan sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat.35%. dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam. 3.82) 4 (3. kadang-kadang disertai folikel bereksudat.53) 2 (1. Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus viridans (54. sakit menelan. Jenis (spesies) kuman Streptococcus viridans Branhamella catarrhalis Streptococcus β-haemolyticus Streptococcus pneumoniae Streptococcus non-haemolyticus Klebsiella pneumoniae Acinobacter spp. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat pada suhu 370C selama 24 jam. Staphylococcus. terhadap antimikroba golongan betalaktam. viridans sebanyak 54.76) 1 (0. kecuali terhadap Cefradin. Antimikroba golongan betalaktam.2) 30 (22.53) 1 (0. Untuk kuman S. BAHAN DAN CARA Desain uji adalah studi kasus cross sectional. Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen tenggorok No.82%) dan Klebsiella pneumoniae (3. sifat hemolisis agar darah. 11. Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. (Tabel 1). Isolat-isolat kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya terhadap antimikroba betalaktam. dan uji-uji khusus lainnya. sedangkan terhadap Penisilin-G dan amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah.46 %. (R = resistensi) Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3). Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut.9) 8 (6. DISKUSI Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif. Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S.11%).05) 2 (1. dan memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C. dan kotrimoksazol(4). tetapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 % dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25. Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA. 12.05%). dan Haemophillus(2). HASIL Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis.76) 1 (0. Kuman ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab endokarditis. tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda detritus.11) 5 (3. yakni dengan mengukur zona hambatan.2 %. yakni golongan penisilin dan sefalosporin.9%).93% dan 5. Kuman hasil isolasi diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada media Mueller-Hinton. dengan cara atau rumus sebagai berikut: % R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman “Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 + (% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Z”)/100. dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama sakit.53) 2 (1. Branhamella catarrhalis (22.4 % . 4. dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun. Tabel 1. Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari usap tenggorok antara lain Streptococcus. Escherichia. dan memerlukan terapi antimikroba. Pseudomonas. dan hasilnya menunjukkan profil resistensi (Tabel 2). Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin.82) 5 (3.

bahkan sefalosporin sudah berkurang kemampuannya. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga mungkin sudah banyak terjadi resistensi. non-haemolyticus K. penisilin spektrum sedang dan sempit 13. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin.Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian berlebihan akan mempercepat resistensi.52 2.2 % dan 66. karena mampu 22 Cermin Dunia Kedokteran No. 46(9): 467-76. 1. Ceftri = Ceftriakson. Branhamella catarrhalis 22.82%. 5. 12.7 %.57 5. Cefoti = Cefotiam. 8. . MKI 4 (2/3): 56-60.0 80. kecuali sefalosporin generasi ke tiga (11. aureus Alkaligenes spp. catarrhalis S.viridans dan S. 3. Tabel 3. aeruginosa S. pneumoniae Acinobacter spp. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute respiratory infections for the under five children among general practitioners.76 0. Untuk mengatasi bakteri gram negatif tampaknya penisilin. Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan. viridans B. Josodiwondo S.0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Amx 2.76 % resistensi antimikroba Cefoti Ceftri Cefota 1.8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986) sebesar 3. 26. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba Saat Ini.Tabel 2.9 6.11 3. Fachrudin D. P. 5. 6. Total resistensi isolat antimikroba betalaktam No. KEPUSTAKAAN 1.53 Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah terhadap Cefradin sebesar 68. tidak jauh berbeda dengan resistensi kuman S. Cefep = Cefepime. pneumoniae S.67%. Di Indonesia untuk infeksi pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan ke empat setelah eritromisin. Yeast (ragi) S. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut– turut adalah 46. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. 60% dan 20%.7 % dan 96. makrolid 15 %.12).33 3. sefalosporin 7. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala. Cefrad = Cefradin. Dwiprahasta I.35 3. 144. yakni sebesar 68.04%.33 0 0 0 0 20. Streptococcus pneumoniae 3. . .viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2. selain itu dapat terjadi resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan.0 100 0 100 0 100 100 0 Keterangan: PeG= Penisilin-G.48%. Cefota = Cefotaksim.2%.. 7.87 5.82 3.82 3.82 0 0 0 0 0 0 100 50 100 100 0 Sulb 0 0 0 0 0 0 0 100 0 100 0 0 Cefpi 0 3. diikuti oleh Penicillin G dan Ceftriakson. 2. aureus terhadap Penisilin G dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3. 1996. Cefpi = Cefpirome.52 87. Resistensi kuman S. Sulb = Sulbenislin.04 %.05 1.76 0.turut adalah Golongan B Laktam. Penulisan resep oleh dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin spektrum luas sebanyak 53. 2. Trihendrokesowo dkk.0 20.2 %. MKI 1987. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Penisilin G adalah 70%.0 %.33 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefep 0 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefrad 73. Streptococcus β-hemolyticus 6. aureus 0 %.33 53.11%. sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat minimum (MIC) kuman dan kesembuhan. MKI 1996. Departemen Kesehatan R I.7 %. namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S. β-haemolyticus S. 9. epidermidis PeG 2. 2 (1): 6-12. Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob di Bidang THT. 2004 menghasilkan enzim betalaktamase.53 1. Makrolid dan Fluorokuinolon.0 0 0 0 0 20 0 0 50 0 100 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 Isolat kuman S.2 22.04 9. sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0.05 )(10). Berkala Ilmu Kedokteran 1997 .5%.23 4. tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin bahkan juga terhadap golongan sefalosporin. Amx = Amoksisilin.5 40. Dirjen Binkesmas.82 %. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam % Isolat kuman 54.93 6. Antimikroba Cefradin Penisilin-G Ceftriakson Cefotaksim Amoksisilin Cefotiam Cefpirome Sulbenisilin Cefepime kuman usap tenggorok terhadap % total resistensi 68. Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12 miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan di rumah sakit berturut .23 0 3.05 2.53 0. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%. 3.82 30. lima kuman terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54. 4.41 4.29 1. amoksisilin dan ampisilin(2). 4. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi bakteri yang sensitif.53 1. KESIMPULAN Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies. Abdoerachman H. akan tetapi 9 % penderita meninggal dunia.9 %. Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi bakteri gram positif.

6-17. Herman MJ. Fax : 0274-565639 E-mail: pututby@email.com. : 0274-37430 Website: http://telmed. (eds). 1988.fkumy. Fax : 021-4786 6543 Email : info@respina. 144.id Hotel Planet Holiday.com.or. Fax : 0778-421352 E-mail : pitika2@idai. 6685070. In : Rolinson GN.co.internafkunand. Sirot S. Fax : 022-2511612 E-mail : roga@scientist. distribution of phenotypes related to beta lactamase production.id Jakarta Convention Centre Telp. Gedung AR Fachruddin. Sirot J. Idajadi A. KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004 Bulan Tanggal 10 Kegiatan Telemedicine Network in Indonesia.id Hotel Horison. : 021-3928658. Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia. : 021-4532202.or. Saulnier P.net.International Symposium on Infection Control Informasi terkini. 6685006 Fax : 021-4535833.id Bali International Convention Center Telp. Fax : (021)-3913982 Website : www.net. Tangerang Telp. Sugito. Telp. : 021-3919653. Tarigan HMM. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut.or. Bandung Telp.idki. Surakarta . How is the Benefit for Family Doctors The First Indonesian Symposium on Interventional Pediatric Cardiology Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak IDAI PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas " Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular III & KARIMUN III Konker PGI-PEGI-PPHI PIT IX Ilmu Penyakit Dalam 6-8 11-13 Agustus 13-15 28 Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes 11th International Symposium on Shock and Critical Care : New Insight in Diagnosis.pluit@rad. 2004 23 .id Hotel Sahid Jaya. Amsterdam : Excerpta Medica 1980. 12. Fax : 022-2035042 E-mail : pitpogi14@obgyn-bandung. (Respina V) 5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit Dalam (PIB V IPD) FK Unand Recent Advances and Challenges in Endoscopic Surgery in Asia Pacific 26-29 Tempat dan Sekretariat Lt.id Hotel Grand Hyatt.idai. Pola bakteriologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa. : 021-5684085 ext. Kariadi Semarang.itb. Yogyakarta Telp. Watson A.net Hotel Planet Holiday.com 10-11 12-14 Juli 13-15 16 16-18 31-1/8 17-18 25-26 September 30-3/10 2nd Indonesia . Nukman R.com/index.ac. Bandung Telp. Fax : 0751-37771 Email: pibipd@yahoo. Fax : 021-3161467 Hotel Sheraton Mustika.id Bali.id Karawaci. : 021-31934636. : 021-4786 4646.: 021-79184052 Website: http://www.id Jakarta. 10. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr. Fax : 021-56961530 E-mail: iqbalicu@idola.com Website : www. Fax : 021-3928659 E-mail : endocrin@rad. : 0751-37771.respina. Fax : 021-3919653 Email: iisic2@pharma-pro. : 022-2039086 / 2035042. Fax : 021-3914830 Website : www. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI . Faks. Jakarta Telp.1988.co.obgyn-bandung. Batam Telp. : 0274-587555. Ringroad Selatan Yogyakarta Telp.interna. Bali Telp. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI.6. Med Progr January 2003. 9. 8. 11. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae. 6684878 Email : elsabali2004@globalmedicaonline. Jakarta Telp. Beta Lactamase. Antibiotik Beta Laktam.3907703. 1994. Suprihati.org KPP Bioteknologi ITB.or.kalbe. Occurrence and Classsification. Rai IB. Jones A. Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah. Telp. : 0274-37430.php Hotel Bumi Minang. Hartono TE. : 022-2534115.org website : www. Meeting on Respiratory Care Ind. Batam Telp. : 0778-7024522. roga@biotech. : (021)-3148610. Management and Therapy in Critical Care Medicine Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3 dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan Produktivitas Kerja The 6th Int. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic Therapy. 14:193-9.id/calendar>>Complete Cermin Dunia Kedokteran No. 1242.pluit-hospital. Jakarta.net. Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin. Laporan penelitian 1998. 7. Surakarta. 5.com Web-site : www.or.com Hotel Sahid Jaya. detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www. : 021-330956.id Website : www. rs. Slombe B. Padang Telp. Bag Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP. Wibisono MY. J Internat Med Res 1986.

gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis. namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi. sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. Telinga luar berfungsi 24 Cermin Dunia Kedokteran No. suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang berasal dari jalur ini. adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan. melakukan deteksi dini dan pengendalian bising di tempat kerja. Untuk itu. tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising terhadap kesehatan tenaga kerja. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. 144. Respon auditorik Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna. Hal ini perlu diketahui. 2004 mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan. dan dalam. bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. Di telinga tengah ini. maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin.Bising yang di dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh. telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi pendengaran. sangat luas. Misalnya. penurunan kemampuan kerja. Konduksi Tulang Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah. tengah. Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar. namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu. cara yang digunakan untuk . serta tatalaksana gangguan pendengaran akibat kebisingan. dan lain sebagainya. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi). biasanya di atas 120 dB. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. Secara umum tekanan suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising di tempat kerja. Jakarta PENDAHULUAN Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang disenangi. cara mendeteksi gangguan pendengaran akibat kebisingan. Pembahasan pada tulisan ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap kesehatan terutama kemampuan pendengaran. Anatomi Telinga Secara anatomi. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan. Secara definisi. alat-alat transportasi berat. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja Novi Arifiani Subdepartemen Kedokteran Okupasi.

Sensitivitas Pendengaran Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. pengeras suara. kerusakan tulang-tulang pendengaran. 3). Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz. Untuk menghindari kelelahan auditorik. atau suatu alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik berdasarkan frekuensi. Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh masing-masing telinga. Trauma Akustik Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga. Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga sebagai kuat atau lemahnya suara. Kemampuan ini penting untuk memilih suara yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak ingin didengarkan. Pemahaman percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu. Masking Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara adalah masking. Makin tinggi tekanan udara. dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga manusia. 144. pendengaran orang tersebut berkurang. dan waktu yang didengar untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut. Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik. atau kerusakan langsung organ Corti. diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat. serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga. Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata. dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga. cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat. 2004 25 . Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara tersebut. Lokalisasi Sumber Bunyi Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi. Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara. amplitudo. dsb).mendengar suara tersebut ( melalui earphone. perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift). dsb). Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan. dan durasi. Kemampuan telinga untuk membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara yang vertikal. Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok. di udara terbuka. maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap. Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara masking tersebut. Kekuatan suara Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. yaitu trauma akustik. yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)). Noise-Induced Temporary Threshold Shift Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Pada trauma akustik. maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band. karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan adanya suara lain. Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea. Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal. Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar. GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran. dengan kata lain. Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut. 2). nilai ambang di atasnya.

biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas. Efek jangka panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang berulang. serta dapat terjadi pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang paling rentan adalah paru-paru). 2004 merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan. Secara sederhana. seperti faktor fisika lain berupa panas. spektrum bising. 3000. Weber. Pemeriksaan telinga. Namun dapat pula terjadi respon pupil mata berupa miosis. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara. 2000. Memeriksa pendengaran Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. hari ataupun lebih lama. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini. tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan. tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini. Untuk menilai ambang pendengaran. Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain.setelah pajanan suara. Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi. 1000. spektrum suara. serta faktor-faktor lain seperti usia. dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga. Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit setelah pajanan terjadi. getaran. respon gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas sampai timbulnya keluhan dispepsia. untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500. hidung. Bila sudah terjadi kerusakan. 4000. bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan. tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan (Gambar 1). Efek jangka pendek Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot. jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara. refleks pernapasan berupa takipneu. durasi total pajanan. dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne. berbicara dengan suara menggumam. dan pola pajanan temporal. mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya faktor risiko. status kesehatan. dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. Noise-Induced Permanent Threshold Shift Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia. durasi pajanan. serta aktivasi hormon kelenjar adrenal seperti hipertensi. dan 6000 Hz. Pada pemeriksaan fisik. trauma telinga karena agen fisik lainnya. dan sebagainya. . dan sebagainya. Dari data observasi di lingkungan industri. Namun perlu diingat. dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia. faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara. kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan. 144. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat gangguan saraf otonom. pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik. jenis kelamin. sedangkan efek jangka panjang terjadi sampai beberapa jam. Efek jangka panjang Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh hormonal. bahwa keadaan bising di lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya. serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising. meningkatnya tekanan darah. obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen). Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry. EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang. untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini 26 Cermin Dunia Kedokteran No. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). dan sering timbul tinitus. gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. tes rekruitmen. sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek. serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. tidak jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis. dan sebagainya. Pada skala frekuensi. pengukuran impedance. disritmia jantung. alat transmisi ke telinga. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising. dilakukan pemeriksaan audiometri. frekuensi yang diuji.

dan permasalahan hukum harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap pemeriksaan tersebut. Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar. Pemeriksaan audiometri pra kerja merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal kondisi pendengaran tenaga kerja. barang atau jasa yang dihasilkan. Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. Selain itu. Jika dipergunakan alat bantu dengar. Cermin Dunia Kedokteran No. Namun penelitian efek kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan dengan seksama. riwayat pelatihan militer. perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir. gangguan pendengaran yang saat ini terjadi. Pada awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang timbul akibat bising. Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. namun pada pemeriksaan efisiensi kerja terlihat pengaruh yang cukup bermakna. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan menanyakan nama pekerjaan. riwayat keluarga. Pemeriksaan ini bersifat subyektif. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Pelaksanaan program pemeliharaan pendengaran (hearing program conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan di tempat kerja. Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari. kondisi medis. Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara dini. suara di atas 95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja.Bising Reaksi Stres Umum akibat Kenaikan Adrenalin dan Noradrenalin Kenaikan Tekanan Darah Respon Vegetatif Peningkatan Kebutuhan Oksigen Peningkatan Agregasi Trombosit Kerusakan Dinding Arteri Trombosis Arteriosklerotik Oklusi A. 144. Namun tetap perlu hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang kemampuan atau performa kerja. Jika pendengaran sudah sedemikian buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat menerima keadaannya. Koroner Oklusi Arteri Lainnya terjadi. Dan gangguan pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di tempat kerja yang berlebihan. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. Benar telah terjadi kehilangan atau gangguan pendengaran dan 2). pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya deteksi dini pula. riwayat penyakit dahulu. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan). Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan bising di tempat kerja adalah 1). 2004 27 Iskemaia Jantung Infark Miokard Stroke Gambar 1. tanggal bekerja dan umur saat itu. kondisi geografis dan lokasi fisik pekerjaan. interupsi suara berulang. jenis pekerjaan yang dilakukan (beserta tanggal atau waktu bekerja). KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA AKIBAT BISING Faktor akustik. durasi masing-masing pekerjaan. Survei kebisingan di tempat kerja harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang . terutama pada lingkungan industri. keluhan utama. PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. penderita tuli akibat bising ini juga sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume. pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan di lingkungan kerja. Hearing conservation program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan ini. tinggi rendah dan irama percakapan. Penggunaan alat pelindung telinga. riwayat pekerjaan. Suara yang asing.

htm. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual. Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga. McGraw-Hill Book Comp. http://www. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Horvarth EP. Edisi 5. Mosby. 144. Noise and Nuisance Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and Feasibility Study September 1998. Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai perhitungan kompensasi. Nilland J. 2004. 4. Handbook of Noise Control. KESIMPULAN Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas tenaga kerja. Dickerson OB. Noise. (chief ed).uk/ environment/noise/health/page05. Pemeriksaan refleks kedua mata 4. 2. In . Bila terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja. KEPUSTAKAAN 1.penggunaan alat pelindung diri. In : Zenz C. sumber suara atau kebisingan yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini). harus dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja tersebut. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Occupational Medicine. Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan secara teliti. 28 Cermin Dunia Kedokteran No. cermat. 2. Harris CM (ed). Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berbeda di masing-masing negara. Jakarta : 2001 Department for Environment. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini cukup besar.defra. 3rd ed. New York : 1979. 2nd ed. Tes rekrutmen Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain. Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan adalah: 1. Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi suara 8. Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi. Louis : 1994 Soepardi ES. Food and Rural Affair. February 6th. 2004 . Menilai ada atau tidaknya nistagmus 5. Iskandar N. adakah tanda-tanda abnormalitas 3. Occupational Hearing Loss. Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa hantaran udara dan hantaran tulang 7. St. 3. dan Hearing Conservation.gov. dan hati-hati untuk menghindari kesalahan prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja. Zenz C. Pemeriksaan dengan garpu tala 6.

1 – 108. di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31.2m/dt2. misalnya suara gergaji sirkuler.43%. Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi : 1. Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran seperti susah tidur. Ini diperkuat dengan penelitian Yenni Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas. jumlah seluruh gangguan mencapai 72. yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus. mudah emosi. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas.2 dB (Lusianawaty). Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter. kebisingan di lapangan terbang dll 4.5 detik berturut-turut. dsb. gangguan pendengaran saja 17. Di Indonesia. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas 85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000. Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara industri. Pada kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27. Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara. Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB.16 %. Menurut WHO (1995).105 dB (Sundari. suara katup mesin gas. prevalensi NIHL 31.96 dB).71%.14% dan gangguan keseimbangan saja 27. rerata akselerasi getar 4. Roestam Subbagian Kedokteran Kerja. Bising impulsif Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. Di Quebec-Canada. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.81% dengan paparan kebisingan 86. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon. 144. Cermin Dunia Kedokteran No. suara katup gas. Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL 27. kipas angin. 2004 29 . 1000 atau 4000 Hz). meriam dll. tembakan. dari jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana. gergaji sirkuler.1997). dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Penerapan program konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising. diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising melebihi 90dB di tempat kerjanya. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0. Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih. Di perusahaan plywood di Tangerang. bising merupakan masalah utama kesehatan kerja. Apa yang disebut kebisingan Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara.28% dari 350 pengemudi bajaj yang diperiksa.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja Ambar W. Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss) atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%. Pada pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91 dB (64 dB . Bising terputus-putus Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise. Nada kebisingan dengan demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada. suara dapur pijar. 1997) mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB dengan 50% NIHL. 2.55% pada tingkat paparan kebisingan 85 . melainkan ada periode relatif tenang. 3.

reversible/bisa kembali normal Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat. intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari.5 0. d. Ketulian bersifat progresif. bising bernada tinggi sangat mengganggu. peningkatan nadi. sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. 3. Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten. yang dikaitkan dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut (Tabel 1). Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam. 2. • Tuli karena Trauma akustik Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba. dan lain-lain. terutama yang memilikis pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi. Organisasi Pekerja Internasional /ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan ketentuan jam kerja yang diperkenankan.menetap PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. kelelahan. stres. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising. gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan 30 Cermin Dunia Kedokteran No.patologis . Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam. Efek pada pendengaran Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian.bersifat sementara . namun bila terus menerus bekerja di tempat bising. Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari. 1. PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN TENAGA KERJA Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja. gangguan komunikasi dan ketulian. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula. dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap. konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki. • Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap . tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising.25 atau kurang 5. b. Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural.non-patologis . 2004 . Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah bising yang bersifat kontinu. 4. cepat marah. keselamatan tenaga kerja. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan. tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa. Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari pengaruh buruk kebisingan. yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. c. Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb: • Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS . Tabel 1. karena suara impulsif dengan intensitas tinggi.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja. 5.waktu pemulihan bervariasi . 144. ledakan dan Di Indonesia. daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara. seperti letusan. gangguan psikologis. susah tidur. Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut : a. serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE. Gangguan keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg). Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup. kurang konsentrasi. Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. daya dengarnya akan pulih sempurna. Gangguan fisiologis Pada umumnya.Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif. apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. seperti gangguan fisiologis. tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain. Batasan waktu dan Pajanan kebisingan Intensitas suara (dB) OSHA Indonesia 90 85 92 95 88 100 91 105 94 110 97 115 100 Jam kerja terpapar 8 6 4 2 1 0.

Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri) c. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. Problem membedakan suara Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment terhadap disability berbeda pada setiap individu. Serta bisa mengurangi stres. rotasi kerja. Utamakan pencegahan bukan pengobatan. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri. ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit). 5. 1996): 1. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising. 7. 3. Monitoring paparan bising 2. 3. namun merupakan pedoman. 2. angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah. dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana. Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan) Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja. menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses). Hearing Impairment Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS) 2. oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini perlu diprioritaskan. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam mengikuti pembicaraan) b. Evaluasi audiometer Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE) Pendidikan dan Motivasi Evaluasi Program Audit Program Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja. proaktif bukan reaktif. biaya kesehatan yang membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan. misalnya : a. tinitus. 6. mengurangi angka kecelakaan. 5. Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut : a. PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI PENDENGARAN Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH. Dukungan manajemen 2. Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal. 5. menutup sumber kebisingan dengan barrier. Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. 4. Economic self-sufficiency handicap e. Berupa policy statement 3. mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan. 1. Problem dalam mendengarkan musik c. mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding. Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. meningkatkan produktivitas. Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan dalam melakukan aktivitas normal harian. Hearing Disability Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat hearing impairment.lainnya. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik. Program selengkapnya adalah sebagai berikut : 4. cepat sembuh secara parsial atau komplit. Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis. Occupational handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam bekerja dan memilih karir) d. Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja. kesejahteraan bukan santunan. hubungan baik dengan karyawan. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur : a. Problem komunikasi di tempat kerja b. terutama bila sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun. ruang isolasi. Bagi pengusaha Taat hukum. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat. AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS SEBAGAI TENAGA KERJA Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja dibedakan atas : 1. Integrated dengan program K3 4. Cermin Dunia Kedokteran No. b. 1994). Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program. Kontrol engineering dan administrasi 3. seperti respons terhadap alarm atau pesan lisan f. langit-langit dan lantai. Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI. Handicap Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya. mengurangi angka kesakitan. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting. antara lain: 1. 6. Tuli ini biasanya bersifat akut. 2004 31 . Program pencegahan ini dikenal dengan istilah Program Konservasi Pendengaran. Problem mencari arah/asal suara d. 2. jadwal kerja . SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas 6. Dilaksanakan oleh semua jajaran. dan lain-lain). menunjukkan itikad baik. tergantung fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan. c. kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya. bersifat menetap (irreversible). Bagi karyawan Mencegah ketulian. 144.

mengencangkan bagian mesin yang longgar. bila STS persisten atau membaik IV. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di setiap lokasi.komunikasikan dengan karyawan tersebut . Setiap tahun. 5. 7. 2.untuk baseline 14 jam bebas bising. 4.dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA) . 2. Exit Policy mengenai audiogram : 1.Bila belum menggunakan APD. Mengatur jadual produksi 2. berdasarkan lokasi tempat kerja. Penjadualan pengoperasian mesin 4. Pre-employment/preplacement/Baseline 2.Bila perlu. bertujuan untuk : 1.periksa dokter . 3. adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja. Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara periodik. bila lebih dari 85 dB. dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara.I. KONTROL . lakukan tahap selanjutnya c.periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun Bila STS (+) karena pekerjaannya : . 2004 .untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam Ada 2 macam monitoring paparan bising : 1. Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD. memberi pelumas secara teratur. Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) . Saat pindah tugas keluar dari tempat bising 5. ukur tempat dan ruang kerja. Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi 32 Cermin Dunia Kedokteran No. maka disebut + (positif) Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah : .periksa tempat kerja . konsulkan ke dokter THT . Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA 3. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran 5. Pre-employment 2. contohnya : 1. Monitoring pendahuluan Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran. Penempatan ke tempat bising 3. Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi. Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat kerja. SOP pengukuran harus ada dan jelas. 2. alat pelindung telinga tidak akan memberikan II. Annual monitoring 3.Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis . yang sering juga disebut survei bising.engineering dan administratif Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising. Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). 6. diharuskan memakai . Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap : a.paling lama dalam waktu 2 minggu . Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification. sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran dan tindakan lebih lanjut (skala b). Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan. tenaga mesin.setiap tahun dibandingkan dengan base-line .jika karena penyakit. Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). Evaluasi : . 3. Monitoring bising terperinci Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan.Bila sudah memakai. dan lain-lain.bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz). 2. Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang.. 4. pengukuran dengan peta. Kecocokan. beri petunjuk ulang .periksa data kalibrasi alat . catat lamanya terpapar (sekarang digunakan audiometer). Pengendalian administratif dilakukan dengan cara : 1. Prinsip monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut : 1. kecepatan putaran atau isolasi. Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk bekerja. konsul THT Lakukan revisi baseline. Mengikuti peraturan III. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis). 5. Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai berpegas. PENGGUNAAN APD Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga : 1. . Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara. MONITORING PAPARAN BISING Tujuan monitoring paparan bising. atau menggunakan APD 2. EVALUASI AUDIOMETRI Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada : 1. Base line atau data dasar : . menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja. bila bising > 85 dB 4. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai. b. Rotasi tenaga kerja 3. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti. ukur maximun dan minimumnya. 144. Saat pensiun/purna tugas Tipe audiogram : 1.

Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya. Beberapa tipe sumbat telinga : a. dengan sasaran : 1. VII. 2. kesertaan supervisor dalam program. 3. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. APD yang digunakan. dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA 2. 4. Tidak saja untuk melindungi pekerja. VI. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja. PROGRAM AUDIT 1. Penyuluhan khusus. Earmuff bila di atas 100 dBA 3. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara. dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. misalnya pelatihan dan penyuluhan.50 dB frekuensi 100 – 8000 Hz. terus menerus untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran. 2004 33 . Kontrol engineering dan administratif. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani. 5. PENUTUP Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi pendengaran. bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program. Juga melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga. identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut. 2. Audit Eksternal. keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat. custom-molded type c. Kemudahan pemakaian.perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat. terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut. 2. tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai. sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. Hasil pengukuran kebisingan. Nyaman dipakai. biaya. formable type b. Jenis-jenis alat pelindung telinga : 1. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40. Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka. perusahaan harus menyediakan APD ini. pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan. Cermin Dunia Kedokteran No. premolded type Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya. 3. EVALUASI PROGRAM Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi. 2. perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. 144. kemudahan membersihkan dan kenyamanan Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut : TWA/dBA < 85 85 – 89 90 – 94 95 – 99 > 100 Pemakaian APD Tidak wajib/perlu Optional Wajib Wajib Wajib Pemilihan APD Bebas memilih Bebas memilih Bebas memilih Pilihan terbatas Pilihan sangat terbatas APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi tinggi Pemilihan alat pelindung telinga : 1. 3. V.

Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : Telemedicine Network in Indonesia di Yogyakarta. 2004 .net Redaksi CDK 34 Cermin Dunia Kedokteran No. 144. 10 Juli 2004 Website : http://telmed.fkumy.

melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus. humidifikasi buatan. Definisi yang tepat untuk trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea. Trakeostomi meniadakan mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior. Jawa Barat PENDAHULUAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalulintas udara pernapasan. tekanan balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental. pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff. pemeriksaan periodik kanul dalam. bakteri dan flora di dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas. Selanjutnya dikatakan. Pada discharge trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai koloni bakteri. Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi(1). Hal ini sangat penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat terbatas. serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT TRAKEOSTOMI Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita tidak dapat berbicara. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea. dan mengganggu gerakan penutupan glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah. akan diuraikan cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3). sering saling tertukar. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dengan kanul trakea masih terpasang. Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah. terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan penyempitan di daerah glotis. trakeostomi juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. Berdasarkan permasalahan tersebut. petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada penderita. bukan dari saluran napas bagian atas. 144. yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif(4). mengurangi efektifitas refleks batuk. Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan laring pada waktu menelan. Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon. karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara. Keadaan ini menyebabkan penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi ludah ke dalam laring dan trakea. Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang diperlukan(2). Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian atas. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. Trakeostomi mengurangi ruang mati (dead space) anatomik sampai 100 ml.PRAKTIS Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi HR Krisnabudhi ] Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. Bogor. tidak ada korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas dengan bakteri dan flora trakea penderita. cara membersihkan kanul dalam. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi. TRAKEOSTOMI Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen trakea. akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea. 2004 35 . sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea. perawatan luka operasi di stoma. Selama di rumah penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea. Cermin Dunia Kedokteran No. Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge. mengganti kanul trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi.

Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap. sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. d). c). c). sebagai berikut: 1). setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan kelembaban relatif udara inspirasi. Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering terbentuk di dalam kanul. dan hati-hati membersihkan kulit di sekitar kanul. menggunakan lap atau kasa perban. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. Bila penderita bernafas spontan. Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. 144. tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. Sebelum mengangkat kanul. Dengan adanya trakeostomi. Membersihkan kanul dalam Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil. penjepit. 2004 . Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). Angkat kanul dalam dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul 36 Cermin Dunia Kedokteran No. campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui kotak plastik yang dilubangi. Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. dan cairan penggosok perak. Alat ini dipasang pada kanul trakea. dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang. sehingga perlu dilakukan pengisapan. lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut. Condensor humidifier. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. Beberapa jam pertama pasca bedah. Pastikan tidak ada air memasuki stoma. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat. Petunjuk umum Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas tanggung jawab sendiri. Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. d). PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi. paling baik membersihkannya dengan memakai kasa basah di atas kanul. Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara inspirasi. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi(5). Bila didapatkan sekret yang kental. b). Discharge ini akan keluar bila penderita batuk. karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. Buatlah larutan sabun di dalam botol. Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan penderita saat dari rumah sakit. Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a). Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a). kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. Peralatan hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul. Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. Alat ini harus diganti setiap 3 jam. Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril. Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer). Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. Pada waktu ekspirasi. Alat ini relatif lebih efisien. Jika tergantung pada seseorang saat melakukan hal itu. Angkatlah kanul dalam dan bersihkan. dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit. b). 2). Kekurangan alat ini ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut fungsinya akan berkurang. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. mungkin telah terdapat krusta atau mukus di dalam kanul. Sebelum melakukan pengisapan. siapkan alat-alat untuk resusitasi. uap air mengembun pada lempeng-lempeng metal dari kondensor. dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat. mungkin akan bermasalah. Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. Jika udara rumah kering. Krusta diangkat dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol. Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air sabun. Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum. panci bergagang. laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). saringan. Cara membersihkan kanul dalam. Akan timbul gangguan saat menelan.PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda asing akan merangsang pengeluaran discharge. Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti sesering mungkin. kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan. begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. kasa perban. jangan diberi tekanan negatif. Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. pada saat dilakukan pengisapan atau pada saat penggantian kanul. Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan menjadi berbunyi. Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul.

5). Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk membersihkan kanul dalam. dan siap untuk dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. 4). 3). Kanul plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang sama seperti halnya kanul perak. 3). Isi panci dengan air secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb. oleh karena itu tidak boleh dicoba untuk digores. didihkan kanul dalam selama 5 menit. Salep dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi untuk mempermudah memasukkannya. 2b). kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior. 2). 2). Angkat saringan dari panci bergagang.dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. Kanul harus bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang. bahkan kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain. kemudian bersihkan dan cuci. cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. Adanya lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan dengan trakea. 1). Pembersihan kanul dalam Merebus kanul dalam Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1). Gambar 2. Masukkan kanul dalam ke tempatnya dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya. Bersihkan bagian dalam kanul dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada suatu tempat (Gb. Biarkan kanul dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam kanul luar (Gb. Goyangkan kanul dalam untuk mengangkat tetesan air. Setelah air mendidih. krusta dapat diangkat dengan merendamnya. rendam di dalam cairan pembersih perak untuk beberapa menit. Biasanya. Cara mengganti kanul trakeostomi Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. Jika kanul dari perak telah memudar.2a). 7). oleh karena itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah. Gunakan penjepit untuk membantu menarik kasa melalui kanul. menyebabkan kanul trakeostomi dapat dimasukkan dengan mudah. 3). Cermin Dunia Kedokteran No. 8). 2004 37 . dan tempatkan kembali saringan dalam panci. 4). pelindung atau permukaan lempeng kanul trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk. Cuci kanul dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa menit di dalam cairan sabun. Cara sterilisasi kanul dalam Logam bahan pada kanul perak sangat lunak. Tarik kanul dalam ke belakang. Setelah kanul dalam bersih. Pita trakeostomi yang digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. kanul dalam dan luar dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain. 6). 5). tuangkan air dari panci. Gambar 1. 144. Tempatkan kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada panci bergagang (Gb. Untuk mengangkat kanul trakeostomi. Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah dibersihkan. ke depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai bagian dalam kanul dalam bersih. pita trakeostomi dibuka lebih dahulu.

penderita melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk. Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. 3). 4). Mukus ini akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin. 5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan menggunakan alas di dada. 4). 2). Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul trakeostomi ialah sebagai berikut : 1). Lipat 4 inci kasa pada tiap sisi. jika udara dalam rumah kering. Tekan balon karet sebelum kateter dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi. Cara penghisapan discharge Cara membuat kain alas di dada Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di bawah kanul trakeostomi. Penghisapan mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus. Peralatan tersebut sering dididihkan untuk memelihara kebersihannya (Gb. Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita trakeostomi diikat. semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau apotik bisa digunakan sebagai penghisap. atau jika kanul teriritasi. 2). Pegang kateter dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan tangan yang lain. 5). Kateter karet tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul trakeostomi. Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci. Lipat 1 inci pada tepi atas dan bawah. Cara menghisap Banyaknya discharge mukus bervariasi. 144. mukus akan terhisap ke dalam kateter dan semprit. 2004 .Cara melakukan : 1). tempatkan kasa di atas kanul. Gambar 4. Alas dada dari kasa trakeostomi steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit. Di samping itu. khususnya bila terdapat drainase sekitar kanul. 4” X 4 “ gauze pad Gambar 3. Cara penggantian kanul trakeostomi Pada saat memasukkan kanul trakeostomi. Lepaskan balon karet. Kanul trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah dalam secara halus. untuk mengeluarkan udara di dalamnya.4). Siapkan alat-alat. hal yang penting ialah bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat pada kanul dibersihkan. kecuali jika ada instruksi khusus untuk melakukannya dari dokter. 3). Gb. Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang 38 Cermin Dunia Kedokteran No. Jika mesin penghisap tidak didapat. Bersihkan alat-alat dengan air sabun. Potong satu lembar kasa membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci.

Petunjuk ini tergantung pada keadaan penderita saat pulang dari rumah sakit. Cermin Dunia Kedokteran No.dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita pada tempatnya. Maran AGD. merebus kanul dalam. 144. In : Logan Turner's Diseases of the nose. Bristol : John Wright and Sons Ltd. kasa 4 x 4 inci yang tidak terlipat. Me Kailum JR. Satu tiap tepi dari kasa terbuka 4x 4 inci. 4). panjangnya 6 inci. Perawatan trakeostomi mandiri meliputi petunjuk umum. Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan untuk tiap alas dada. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi. 2. dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi. 2). Selama di rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. Me Dowall GD. RINGKASAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan lalulintas udara pernafasan. Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas. Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan. cara membersihkan kanul trakea. Tracheostomy.. throat and ear. In :Boies's Fundamentals of Otolaryngology. 3). Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita trakeostomi dan lipat kasa ke atas. Adams GL. Boies LR. kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan melipat kasa dua kali. 1). menghisap discharge. Tokyo : Igaku Shoin Ltd. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. 1567-73. Bireell JF. 705-17. Tracheostomy. Kasa 2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. Gambar 6. Paparella MM. mengganti kanul. Dokter atau paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal perawatan kanul trakea. Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di atas pita trakeostomi.5). Cara membuat alas trakeostomi Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih mudah tetapi sedikit lebih mahal. 5th ed. 6). masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. 6). 5). A Textbook of ear. KEPUSTAKAAN 1. Me Klay K. kasa 4 x 4 inci. Jika kasa tidak terlipat. Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul trakeostomi Gambar 5. Pakaikan kasa trakeostomi alas dada. 1977 . 1978 . 2004 39 . Pastikan tali pengikat pada permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman (Gb. 5). nose and throat diseases. 5th ed. Kasa 2x2 inci telah disetik pada tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi kanul trakeostomi.

Victor LD. Scott-Brown's diseases of the ear. Feldman SA. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy. 13. Bandung. Conway WA. Laryngo-tracheoplasty. 433-75.org Redaksi CDK 40 Cermin Dunia Kedokteran No. 14. Shapiro RS. respiratory apparatus. Martin WM. 1979 . Ann Otol 1980. 1955. Zorick FJ. 4. Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea. Arch Otolaryngol. Evans JNG. Philadelphia : WB Saunders Co. Vol II. 11. Otolaryngology. Fundamental international techniques. nose and throat. Tracheal changes in relation to different tracheostomy technique (An experimental study on rabbits). 3rd ed. 89 (suppl 73): 1-7. Co. 2nd ed. diaphragma and esophagus. Roth T. 1973. 4th ed. 19 September 1981. Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. Montgomery WW. Batsakis JC. Comparison of five type of tracheostomy tubes in the intubated trachea. 15. 87 : 99-108. Galood HD. Fujita S. Grooves. Paparella MM. 246 : 34750. Nose and throat. 13 – 15 Juli 2004 Website : http://www. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree. 17. 10. Putney FJ. Evans CC. 62 : 272-6. London : Butterworths. In : Ballantyne. The Otolaryngology board. Vol. 1973 . 19. 144. An atlas of head and neck surgery. (eds). Siregar Z. Olving JH.. J Laryngol Otol 1974 . Silicone tracheal canula. 1. Ann Otol 1975 . Tood GB.3. Laryngoscope 1981. Crawley BE. Ann Otol 1980. 1976 . 12. A preparation guide. Operative Surgery. 89 : 521-8. Tracheostomy and laryngotomy. Philadelphia : WB Saunders Co. (ed). 88 : 589-97.obgyn-bandung. 5. Vol I. Shumrick (eds). Lulenski GC. Basic sciences. An experimental study. Montgomery WW. Lee KJ. Skripsi di Bagian THT/RSCM. 1971 : 31-61. 242-8. Arch Otolaryng 1981 . Wright D. Inc. Ann Otol 1978 . Tracheal incision as a contributing factor to tracheal stenosis. Embriology and anatomy of the larynx. 1973. Davies J. 107 : 114-6. Basic sciences and related disciplines. vol I. 95: 61-8. Steel PM. 2nd ed. Philadelphia: WB Saunders. 84 : 781-6. Complications and postoperative care after tracheostomy. Toledo PS. JAMA 1981. Shumrick DA. J Laryngol Otol 1981. 16. Natvig K. Krikotirotomi. Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : PIT XIV POGI “Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas”. 7. Basic sciences and related disciplines. 9. London : Butterworths. New York : Medical Examination Publ. Lore JM. Tracheostomy and artificial ventilation in the treatment of respiratory failure. 91: 355-61. Otolaryngology. 6. 8. Long custom made plastic tracheostomy tube in severe tracheomalacia. London : Edward Arnold Ltd. (eds). 1973 : 170-96. 18. Lulenski GC. In: Paparella. 2004 . Magilligon DJ. In: Ballantyne J. 688-708. 20.

selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. Gambar 1. Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb. deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi. relatif kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki. terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian. Indonesia PENDAHULUAN Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek. umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan. Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor. karena berjalan dengan kedua tungkainya. yang sering digambarkan sebagai rasa berputar. 2004 41 . serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya. Bagan Sistim Keseimbangan Manusia Cermin Dunia Kedokteran No. unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness).TINJAUAN KEPUSTAKAAN Vertigo: Aspek Neurologi Budi Riyanto Wreksoatmodjo Rumah Sakit Marzuki Mahdi. rasa oleng. Bogor. Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang. selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh. sehingga lebih memerlukan informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan. 144.1) . SISTIM KESEIMBANGAN Manusia. tak stabil (giddiness.

akibatnya akan timbul vertigo. ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler. berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu. Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik. TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit tersendiri. (Skema) Oleh karena itu. 3. Normal Motion Sickness Adapted PAR PAR SYM SYM SYM PAR Gambar 3. timbul reaksi dari susunan saraf otonom. Comparator Unit Psikogenik Mismatch Signal Sindrom Fobia Gambar 2. serebelum) atau rasa melayang. Skema Klasifikasi Vertigo 6. peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan. melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda. Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis Keterangan : SYM : Sympathic Nervous System. Neural Store Sensory input (Rangsangan gerakan) pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo. 5. letak lesi dan penyebabnya. belajar dan daya ingat. 2. 2004 . Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor). Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1. mual dan muntah. berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis. Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda). vestibulum dan proprioseptik.2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala. teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No. atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. Mabuk Udara 4. yang berkembang menjadi gejala mual. muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis. Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus. nistagmus. Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata). Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu. Berbeda dengan teori rangsang berlebihan. sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb. teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab. gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan. 144.(Gb. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat. 3). PAR : Parasympathic Nervous System Teori sinap Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. Skema teori Neural Mismatch Sentral Vertigo Patologik BPPH Perifer Meniere Infeksi Trauma Iskemi Fisiologik Ketinggian. Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi. pada setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan bentuk vertigo.PATOFISIOLOGI Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat.

tujuh keliling. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik (Gambar 4)(6. 2004 43 . Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang.ANAMNESIS Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang. Uji Romberg PEMERIKSAAN FISIK Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab.batang otak. Uji Unterberger. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. goyang. Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. ketegangan. selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. Dalam menghadapi kasus vertigo. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit Gambar 5. anemi. lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. hipertensi. baik kelainan sistemik. keletihan. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. Cermin Dunia Kedokteran No. serebelum. apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks serebri. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung. rasa naik perahu dan sebagainya. hipotensi. atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik. 144. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti anemi. Fungsi vestibuler/serebeler a. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. 7). 5) : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan. otologik atau neurologik – vestibuler atau serebeler. agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. c. pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya. kanamisin. Gambar 4. Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. bising karotis. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. kronik. dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh.duduk dan berdiri. gagal jantung b. paroksimal. penyakit paru juga perlu ditanyakan. kepala dan badan berputar ke arah lesi. Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh. berputar. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). hipertensi. penyakit jantung. dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan. tekanan darah diukur dalam posisi berbaring. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. hipoglikemi. gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum. progresif atau membaik. hipotensi. Juga kemungkinan trauma akustik. kongestif. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1. Uji Romberg (Gb. salisilat. hilang timbul. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik. vestibularis.

kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas. Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang) Gambar 7. Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike (Gb. 144. Uji Dix-Hallpike 44 Cermin Dunia Kedokteran No. a. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb. Uji Unterberger Kepala putar ke samping d. Uji Babinsky-Weil (Gb. Gambar 9. 7) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan. 9) Perhatikan adanya nistagmus.9) Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 8. 2004 . jika ada gangguan vestibuler unilateral. Uji Babinsky Weil Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8. 8) Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi. lakukan uji ini ke kanan dan kiri Gambar 6. Uji Tunjuk Barany e.1.

Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular. Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi. selain kausal (jika ditemukan penyebabnya).iv. VIII. Foto Rontgen tengkorak. dan fungsi menelan. sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga. TERAPI Tujuan pengobatan vertigo. dengan tes-tes Rinne. iv im. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain. sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal. Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus. 2004 45 . iv im im - Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9).5-25 mg 2-3 dd 25 mg 4 dd 0. Gambar 9. Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan. 3. Pemeriksaan Penunjang 1. c. Fungsi Pendengaran Tes garpu tala Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif. sensorik wajah. bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue). Pada tuli konduktif tes Rinne negatif. penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat. dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus. 2. (Tabel 3). 2.Elektromiografi (EMG). dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif. Weber lateralisasi ke sisi yang tuli. Pencitraan: CT Scan. Audiometri Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test.Dari posisi duduk di atas tempat tidur. gangguan cara berjalan). kemudian duduk tegak kembali. Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas). tahan selama 30 detik. dan Schwabach memendek. berupa gerakan mata melirik ke atas.iv. b. akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit. Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler) Nama Dagang Marezine Dramamine Benadryl Bonine. Sentral: tidak ada periode laten. SISI. leher. lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh. Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin. sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral. ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi saraf. Arteriografi. baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin. Magnetic Resonance Imaging (MRI).rec Nama Generik Cyclizine Dimenhydrinate Diphenhydramine Meclizine Promethazine Scopolamine 50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 12. Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP). hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. bawah.5 mg 3 dd 25-100 mg 3 dd 25 mg 4 dd 25-50 mg 3 dd 5 mg 2 dd 10-20 mg 3-4 dd 6-12 mg 3 dd 8-16 mg 3 dd im. tahan selama 30 detik. 144. Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º. b. kemudian duduk tegak kembali. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik).Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga. kiri dan kanan me Cermin Dunia Kedokteran No. otot wajah. Weber dan Schwabach.5 mg 1 dd 0. kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. okulomotor. pendengaran. Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit.fungsi sensorik (hipestesi. Bekesy Audiometry. Avopreg Transderm Scop Holopon Iterax. Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik. parestesi) dan serebeler (tremor. kampus visus. Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG). a. 4. sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Bestalin Stugeron Sibelium Buscopan Hyscopan Merislon 6 mg Betaserc 8 mg Lama Kerja (jam) 4-6 4-6 4-6 12-24 4-6 72 4-6 4–6 Dosisi Dewasa Tingkat Sedasi + ++ ++ + ++ + + ++ 0 + + 0 0 0 Rute Lain im im. Stenvers (pada neurinoma akustik). Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus. Tone Decay. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit.rec Hydroxyzine Ephedrine Cinnarizine Flunarizine Hyoscine Betahistin sc. Antivert Phenergan. Tabel 3.

hal. berhenti merokok. Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia cabang DKI Jakarta. tanpa tahun. vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo. RINGKASAN Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek. Dalam: Joesoef AA. Vertigo ditinjau dari segi neurologik. koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler. Sedjawidada R. 2. biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n. tanpa tahun. Duphar. sedangkan kanamisin. bisa alat dan saraf vestibuler. 2004 .(eds. KEPUSTAKAAN 1. Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain: Benign paroxysmal positional vertigo Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo. Penyakit Meniere Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di telinga dalam. diduga disebabkan oleh infeksi virus. asam nalidiksat.1999.. yang makin lama makin cepat. Monograf. Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik. Patofisiologi. Kusumastuti K. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo. Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. Harahap TP. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer. 3.xiii-xxviii. terapi profilaktik juga belum memuaskan. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya. Every true genius must be natural or it is none (Schiller) 46 Cermin Dunia Kedokteran No. diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik.vestibularis. 5. derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. Obat penyekat alfa adrenergik. Monograf. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala. Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral. diuretik ringan bersama diet rendah garam.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid. Vertigo akibat obat Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran.ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat. Andradi S. umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6 minggu. Syeban ZS. 24 Juli 2001 Mengenal Pusing dalam Praktek Umum. Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein. Neurootologi klinis:Vertigo. demikian juga gentamisin.). Kelompok Studi Vertigo Perdossi. Seri edukasi. selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati. 2002. diuretik loop. tetapi 60-80 % akan remisi spontan. terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil. membatasi asupan garam. Perdossi. Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil. Kelompok Studi Vertigo. penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer. metronidaziol dan minosiklin. Diagnosis dan Terapi. jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis. Joesoef AA. antiinflamasi nonsteroid. Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa. selain vertigo. Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan. Vertigo. Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan. kemudian diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup. umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan. Dapat dicoba pengggunaan vasodilator. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat. Dalam: Simposium Tinitus dan Vertigo. Tinjauan umum mengenai vertigo. Aspek Neurologi dari Vertigo. 14 Desember 1991. amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik. 4. 6. Di awal sakit. 144. Neuritis vestibularis Merupakan penyakit yang self limiting. tanpa tahun. Belum ada pengobatan yang terbukti efektif. dapat dilakukan labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal). Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid. pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur. 7.

tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. 144.Vertigo posisional paroksismal laten. Pengobatan vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil. termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. tujuh keliling. dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. dapat disertai gejala lain. Yvonne Siboe Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere. mumet. Cipto Mangunkusumo. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi.Vertigo posisional paroksismal benigna. Vertigo paroksismal 2. kemudian menghilang sempurna. kelainan gigi/ odontogen. KLASIFIKASI Berdasarkan gejala klinisnya. otonomik (pucat. Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance). Epilepsi. terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh (2). Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. berlangsung beberapa menit atau hari. Gejalanya menyebabkan pasien takut dan cemas. 2004 47 . Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. unstable). keluhannya konstan tanpa Cermin Dunia Kedokteran No. . tergolong sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. peluh dingin. pening. Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap. 3. Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja.PRESENTASI KASUS Terapi Akupunktur untuk Vertigo Prasti Pirawati. Sindrom Cogan. Migren ekuivalen. PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1) Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng. melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus. sempoyongan. pusing. penderita sama sekali bebas keluhan. Labirin picu (trigger labyrinth). termasuk di sini adalah : . tumor fossa cranii posterior. muntah) dan pusing (2). DEFINISI Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun. Arakhnoiditis pontoserebelaris. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2): 1. Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun. kepala terasa enteng. Sindrom Lermoyes. mual. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : 1. Yang tanpa disertai keluhan telinga. 2. L. 50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) . rasa melayang (1). Jakarta ABSTRAK Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi. Vertigo kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut. 3. kemudian berangsur-angsur mengurang. Di antara serangan. rasa mengambang. diterapi dengan akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan.

144. fibrilasi atrium paroksismal.(2).Audiometri dan BAEP . EMG. trauma. hipotensi ortostatik. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. intoksikasi obat. tumor. Dalam kondisi fisiologis/normal. Migren. meningitis Tb. hipoglikemi. sklerosis multipleks. yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. keadaan menstruasi-hamilmenopause. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. fobia. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. kelainan okuler. Pemeriksaan khusus : . 2004 4. visual. sklerosis multipel.Hipotensi ortostatik . Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. Terapi kausal . jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar. 5. Pemeriksaan tambahan : . c. trauma. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. hipoparatiroid. 2. jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. : infeksi. sindrom sinus karotis. b. 2. tumor. trombosis arteria serebeli posterior inferior. stenosis dan insufisiensi aorta. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual. b. mabuk gerakan. perdarahan labirin.Pemeriksaan neurologik . sinkop. Tumor. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin. ensefalitis pontis. sklerosis multipleks. tumor serebelopontin. e. blok jantung. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani. 2.ENG . informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. trauma. Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) : 1. dibedakan menjadi: 1. susunan vestibuloretikularis. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler. 3. lues. Vertigo yang serangannya mendadak/akut. serangan vaskular. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus.Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh . anemia. Vertigo yang dipengaruhi posisi : . Telinga bagian luar : serumen. sindrom arteria vestibularis anterior. dan proprioseptik. hematobulbi.VIII. otitis media dengan efusi. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer : a. ensefalitis. f. labirintitis akuta. Hipoksia – Iskemia otak. sindrom pasca komosio. Anamnesis. cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis. siringobulbi. e.Pemeriksaan mata . kelainan psikis.serangan akut. c.Radiologik dan Imaging . berangsurangsur mereda.Psikiatrik 4. sindrom hiperventilasi. neurosa cemas. 3. ensefalitis vestibularis. Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis. dan EKG.EEG. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik. d. 2. akan diproses lebih lanjut.Vertigo servikalis. Nervus VIII. kelainan endokrin. 3. Epilepsi. hidrops labirin (morbus Meniere ). labirintitis kronis. PATOFISIOLOGI Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. arteriosklerosis. Intoksikasi. TERAPI Terdiri dari : 1. III. Trauma kepala/ labirin. IV dan VI. unsteadiness. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. otitis media purulenta akuta. neuritis n. Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika. di samping itu. ETIOLOGI 1. vertigo postural. Lues serebri. alergi. Inti Vestibularis: infeksi. hipertensi kardiovaskular. herpes zoster otikus. rudapaksa dengan perdarahan. benda asing. abses. lesi labirin akibat bahan ototoksik. Infeksi : meningitis.Laboratorium . hipoglikemi. Kelainan endokrin: hipotiroid. dan vestibulospinalis. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. kelainan kardiovaskuler. Pemeriksaan fisik : . vertigo epidemika. 2. 6. 48 Cermin Dunia Kedokteran No. Penyakit SSP : a. tumor medula adrenal. Kelainan psikiatrik: depresi. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan.Pemeriksaan otologik . perdarahan. DIAGNOSIS 1. : Hipertensi kronis. dibedakan menjadi : 1. labirintitis. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar. d. Kelainan mata: kelainan proprioseptik.Pemeriksaan fisik umum. ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. pelagra. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika. kolesteatoma. maka proses pengolahan informasi akan terganggu. sumbatan arteria serebeli inferior posterior.

2. 3.

Terapi simtomatik Terapi rehabilitatif

TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya Qi ke telinga (4). Gejala Klinis(4,5 ) Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus. Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis, nadi senar dan seperti benang. Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 ) 1. Hiperaktifitas Yang Hati Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan defisiensi Yin Hati.. 2. Defisiensi Qi dan darah Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan penglihatan kabur. 3. Defisiensi Cing Ginjal. Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung, sehingga timbul gejala vertigo. 4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah. Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo. Terapi (4,5,6 ) 1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya : Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati, menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati, melancarkan Qi Hati. Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20), Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3). 2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya : Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan Limpa dikuatkan. Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen (HT 7). 3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya : Menguatkan Ginjal

Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu ( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ). 4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya : Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung. Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ), Fenglong ( ST 40 ). KASUS I. Identitas penderita Nama Umur Jenis kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Berobat tanggal

: : : : : : :

Ny. YR 50 th perempuan Islam menikah PNS (Fisioterapis) 4 September 2003

II. Anamnesis Keluhan utama : kepala terasa muter sejak 1 bulan Keluhan tambahan : mual . Perjalanan penyakit : - Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan. Setelah berobat ke fisioterapi, membaik. - Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan mual. Muntah tidak ada. - Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada penyempitan di C 4-5. - Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®. - Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta dirujuk ke bagian Akupunktur. - Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. - Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar, tidak disertai pusing atau gejala lain. - Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-). - Riwayat infeksi telinga (-). III. Status Presens Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris. Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal. IV. Pemeriksaan penunjang Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan kiri, Intervertebra C 6-7 kanan. Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200 mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49

V. Pemeriksaan Akupunktur 1. Pengamatan ( Wang ) : a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar mata: bersinar; kesadaran : baik. b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah : bersinar segar. c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh : t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata, telinga, hidung : t.a.k. d. Pemeriksaan Lidah : - otot lidah : merah muda, kebasahan sedang, pergerakan normal. - selaput lidah : putih, tipis, bersih. 2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) : a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas: normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar. b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat: tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa 3. Anamnesis (Wun) : Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama seperti di atas. Pertanyaan khusus : a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin b. Keadaan berkeringat : normal c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada keluhan d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik, kesukaan akan rasa: tak spesifik f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual, perih terutama kalau terlambat makan g. Pendengaran: tak ada keluhan h. Rasa haus: tak ada . i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi tetap sadar, Ro kepala t.a.k. j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid 1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya, dismenorrhea (-), leukorrhea (-). 4. Perabaan (Cie) : a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan otot. b. Suhu tubuh: normal c. Pemeriksaan nadi : kiri kanan dangkal dalam dangkal dalam cun 5 5 5 5 kuan 5 4 5 5 ce 5 5 5 5 5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu : a. Lambung : jika perut kosong perih, mual. b. Limpa : nafsu makan menurun, perut kembung, bertahak c. Hati : kepala muter, gangguan haid. d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

VI. Resume Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur. Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro kepala t.a.k. Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan : 1. Wang : - Sen : baik - Se : normal, bersinar - Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot, takut menengok. - Lidah : normal. 2. Wen : tak ada kelainan 3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit. 4. Cie: kuan kiri dalam Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ Lambung, Limpa, Hati. VII. Diagnosis Kerja Kedokteran Umum : Vertigo Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu akibat Si Hati. VIII. Pengobatan 1. Alat : jarum 2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya : a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang. d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual 3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali. 4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit. IX. Prognosis Dubia ad bonam

XI. Anjuran 1. Berobat akupunktur rutin 2. Pemeriksaan : CT, MRI 3. Konsul THT, Mata. XII. Follow up Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum obat dari bag. Saraf Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan. Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan. Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-). Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh. DISKUSI Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar (akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan perut kembung, sering bertahak. Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.

Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati, menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual, pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan. Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 1996. Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI. Jakarta; 1999. Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi FKUI/RSCM. Jakarta. Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed. Beijing: New World Press. 2000. O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press. 1981. Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ). Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5. Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia., 1978. Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51

daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim. Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik.6): Divisi Sub divisi Kelas Sub Kelas Ordo (bangsa) Familia (suku) Genus (marga) Spesies (jenis) Varietas : : : : : : : : : Spermatophyta (tumbuhan biji) Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Dialypetalae Guttiferales (Clusiales) Camelliaceae (Theaceae) Camellia Camellia sinensis Assamica3. lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia. Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas. genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis.3 Selain itu di negara-negara Barat.2 Di masa sekarang. Departeman Kesahatan RI. assamica. irrawadiensis.5.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teh [Camellia sinensis O. yaitu sinensis. Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis. Keuntungan dengan cara pemberian uap panas.5. tanaman teh Camellia sinensis O. adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang. Juga karena bahannya mudah didapat. teh dibagi menjadi 3 (tiga) macam(3).3 Menurut Graham HN (1984). Teh hitam Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi.K. Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989). sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia. dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan Sulistyowati Tuminah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. PENDAHULUAN Transisi nutrisi yang terjadi saat ini. yaitu : Teh Hijau Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus. kanker.49%. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). 2004 . kariostatik serta hipokolesterolemik. 52 Cermin Dunia Kedokteran No. dengan harga obat-obatan yang mahal. Jakarta ABSTRAK Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat. anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali ke obat tradisional) adalah tepat. assamica dan irrawadiensis. aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5.4 KLASIFIKASI Di zaman dahulu. terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus.Var.7 2. dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung. murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat) dan dapat dibuat oleh semua orang.1 Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke. Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit. 144.K. Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas.6 MACAM-MACAM TEH Berdasarkan penanganan pasca panen. Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C. Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber 1. var.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3.

epikatekin daya antioksidannya sebesar 2.477 µmol/l (kisaran 4.79 4. 18.90 1. 16. 19. 447 dan 439 µmol/l (tidak ada perubahan yang berarti/signifikan).3.5 g daun teh ke dalam 25 ml air mendidih. 17.84 4. Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5 laki-laki.96 percobaan 430 µmol/l.275-12.02 0. 13. Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4.23 4.43 1. berbeda dengan hasil penelitian mengenai pengaruh flavonoid anggur merah.40. 10.74 6.09 4.9. 5 wanita.70 0. 14. 5. 23. Komposisi teh hijau(3) No.01 0. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%. Rata-rata aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8.29 2.11 Selain itu diet fluorin yang Cermin Dunia Kedokteran No. 3.09 0. 7.10 Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek. kemudian diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat makan siang.1 tahun. 2.75.98 5. Penelitian ini tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif jangka panjang terhadap status antioksidan. 180 menit pemberian teh adalah rata-rata 434.25 1. Daya antioksidan komponen katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin C ataupun β-karoten. 14. melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri.0). katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin. 4. 29.03 0. 22. 30. Setelah 4 jam berpuasa. 26.70 5. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap aktivitas antioksidan serum.50 0. 5.62 35. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir.7 3.21 6.20 8. 9. tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC). kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim.7 KOMPONEN THE (3) Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (tabel 1 dan 2) : Tabel 1.31 0.63 Trace Trace Trace 2.50 0.93.57 3. indeks massa tubuh: 24.7 Tabel 2. 3. 12. epigalo katekin galat sebesar 4.50 0. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal KHASIAT TEH Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh.enzim. 1. 8. 9.82. usia rata-rata 21. Komponen Kafein Theobromin Theofilin (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Glikosida flavonol Bisflavanol Asam Theaflavat Theaflavin Thearubigen Asam gallat Asam klorogenat Gula Pektin Polisakarida Asam oksalat Asam malonat Asam suksinat Asam malat Asam akonitat Asam sitrat Lipid Kalium (potassium) Mineral lain Peptida Theanin Asam amino lain Aroma % Berat kering 7.74 0. 28. 21.13 3.83 4.16 4.42 20. Daun teh dilayukan lebih dahulu. Apabila proses fermentasi telah selesai. 11. 13.50 dan untuk katekin daya antioksidannya sebesar 2.110 µmol/l). berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4.56 0. 27.21 3.15 0. 24. Komponen Kafein (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Flavonol Theanin Asam glutamat Asam aspartat Arginin Asam amino lain Gula Bhn yg dpt mengendapkan alkohol Kalium (potassium) % Berat kering 7.86 1. 7.4 Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda. 8. 25. 6. Komposisi teh hitam(3) No.69 0. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu. yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme. 2. 144. biasanya dilakukan selama 2-4 jam. 12. 11. 1. 2004 53 .68 12.8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C).85 0. yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus. selanjutnya digulung dan dikeringkan. 120. Pada proses ini. setelah 60. 10.01 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer secara komersial dengan memasukkan 0. 6. 4. 20. dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%. 15. dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550 µmol/l.17 1.99 3. Teh oolong Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus. sebuah kanula intravena dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati. epigalo katekin 3. kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak. kemudian diaduk selama 3 menit.

Van-Popel-G. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan. 16. 10. Graham HN. Jakarta. 14. 26 (6) : 769-75. Okubo S. Biokimia FKUI. 128: 49-51. 2. Lee MJ.24 PENUTUP Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh. Nakachi K. KEPUSTAKAAN 1. 3 Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi. 1998. Pradnya Paramita. Brants HA. menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. Baraas F. Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population. Shinchi K. Van-den Brandt – PA. flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH•. McLaughin JK. 13. 144 (2) : 175-82. Langseth L. 8. 19. et al. Yanai F. 1997 : 82-3. konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi non-heme. Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam. UGM Press. 37 (8) : 739-60. 52 : 389-95. Zheng W. Ikeda N. Popkin BM. Blot WJ. Jakarta. In Liss AR. body weight. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. Yang CS.19 Selain itu pada wanita post menopause. 52 : 1162-70. FMIPA UI. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). 1-495. tetapi berjenis nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit. 1990.14-18 Diperkirakan. Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1. Nutr Rev. 9.54 g /200 g. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. Van Het Hof KH. trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P < 0. 1999. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76. 17. Gershon-Cohen J. Mou TH. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia. Imanishi K. Tuminah S. J Nat’l Cancer Inst. ILSI European Monograph Series. bahwa besi yang diabsorbsi manusia terdiri dari dua jenis. Toda M. Prima Kardia Pers. Am J Epidemiol. Hyderabad. 23. Weststrate JA. Teh juga telah diuji teratogenik. Maxwell S. Van Steenis CGGJ. Tjitrosoepomo G. Doyle TJ. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT. 20. 144. blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. cet ke-2. Oxidants. Crit Rev Food Sci Nutr. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. Cancer Research 1992. sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia dan lebih mudah diserap. 22. Brussel: 1995 . 11. Japan. 18. Environ Health Perspect. and Health Effects. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. Jakarta.23Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik. 1-24. 5. Suga K. melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri. FMIPA UI. Consumption. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis. Jakarta. 11 : 3840. Tumbuh-tumbuhan diketahui sebagai sumber besi yang baik. Sutarmaji A. hal ini dapat dijelaskan. Fluorine in Tea and Caries in Rats. 1999 : 11-2. 6. Ferraro T. 1987 . cet ke-1. Letters in Applied Microbiology.12 Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit. kolesterol LDL.05). Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. National Institute of Nutrition. hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik. 173 : 304-312. dan radikal peroksil. 1997. et al. Drewnowski A. Kono S. Yang GY. 4. Shinchi K. 1994. 1997. 12. Bag. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar. Yogyakarta. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry. Thorpe G. 1989 . Prog Clin Biol Rev.21 Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. 24. 2000.13 Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study. et al. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. Selain itu. 21 : 526-31. Jakarta.3 Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh teh. Hong CP. 313 : 229. 1996. terutama yang berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker. McClendon JF. 21. Antioksidan dan Penyakit Jantung. Goldbohm RA.terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar. 1997. BMJ (27 July) [Medline] 1996. Preventive Medicine 1992. Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. Wakabayashi K. Shimamura T. Sellers TA. baik teh hitam maupun teh hijau. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu. J Epidemiol. tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. Jufri M. Cermin Dunia Kedokt. 1994. 55(2) : 31-43. Nair MK. 3. 1984 : 29-74. O2•− . Substansi seperti tanin (dari teh). Antioxidants. Folsom AR. Imai K. Eur J Clin Nutr. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake. Kono S. Preventive Medicine.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total.22 Sutarmaji (1994) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis. 1-477. 1996. yaitu besi heme (yang terikat pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak terikat pada molekul hemoglobin). Zhi YW. Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. 2001 : 1-15.20. 2004 . Jakarta. Kushi LH. Astuti M. Ternyata sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0. Nakayama M. Hertog MG. Prima Kardia Pers. 6 (3) : 128-33. Van den Berg H. 20 (2) : 1-6. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity. Chen L. Chow WH. makanan berserat dan mengandung fitat menghambat penyerapan besi non-heme. tetapi manusia masih bisa mendapatkan besi heme dari daging merah. Nature 1954. Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea. Potensi Antioksidan pada Teh. Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. Nutrition News. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O. 7. 88 (2) : 93-100. 54 Cermin Dunia Kedokteran No. flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL. 1996. cet ke-1. 15. termasuk pada wanita post menopause. Jufri M. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia. Dirghantara E.35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan. and Disease Prevention. cet ke-4. Baraas F.

2001) . Tujuan khususnya ialah: (a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD berdasarkan umur dan jenis kelamin (b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut (c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasil uji HI (d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasiI uji HI berdasarkan golongan usia (e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif METODOLOGI Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit selama periode Januari .faktor yang diduga dapat mempengaruhi peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2): (a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali (c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah endemis (d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi. Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes. 144. Diana Hutauruk Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen Dengue-2. Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati) Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9.871 kasus dan 1. Cermin Dunia Kedokteran No. Kriteria inklusi : penderita berumur minimal 15 tahun. Departemen Kesehatan RI. Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor. 2004 55 . dan tahun 1999 3751 kasus dengan 42 kematian(3). Faktor.April 2001.HASIL PENELITIAN Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta tahun 2001 Enny Muchlastriningsih. (Tabel 1). dirawat di rumah sakit. dan mengisi informed consent. demam akut 2-7 hari.68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49. sejak itu penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya yang makin meluas. Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO. Jakarta PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta dan Surabaya. Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun terbanyak di bawah 30 tahun (82. Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia.32%) lainnya tidak dapat diambil sampel darah konvalesennya karena : (a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan sudah banyak diambil darahnya (b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas karena sudah terlanjur pulang.pada penelitian ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji HI. Sri Susilowati. Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian.89%) dengan rata-rata umur penderita 25 tahun. HASIL DAN DISKUSI Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369 orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang (50. tahun 1998 15422 kasus dengan 133 kematian. Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI.414 kematian(1).

waktu maupun penyimpanannya (d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.19%. Pimpinan dan Staf RS Pasar Rebo. Keadaan tersebut mungkin disebabkan: (a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD (b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa pengobatan yang dianjurkan (c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara. hasil uji HI positif sebesar 51. dan untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55 tahun. tahun 1995: 50. Hyg.7 11.9 66. 4. Med.21%. ini mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD yang banyak dianut.21 0. 1958. UCAPAN TERIMA KASIH Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan Litbangkes. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Umur (tahun) 1520253035404550556065Jumlah Laki-laki (N) 25 30 18 11 6 4 2 0 0 1 1 98 Perempuan (N) 25 29 9 8 6 3 4 1 1 1 2 89 Total 50 59 27 19 12 7 6 1 1 2 3 187 % 26.6849). tahun 1997: 34. Trop. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD berdasarkan Umur. KESIMPULAN Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat diperiksa uji HI karena berbagai kendala.Jen.00 Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi.3% dengan kriteria positif sekunder yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada penderita lanjut usia.Tabel 1. tetapi adanya penderita dengan infeksi primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi virus. Golongan umur (th) 1520253035404550556065Total Kriteria hasil uji HI positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif 8 18 2 4 17 5 5 12 2 1 8 1 0 3 0 1 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 21 64 11 Total 28 26 19 10 3 3 4 0 1 0 2 96 Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1. Tabel 4. tidak didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0. infeksi sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun. Desember 1999. Sub.74 31. Surveilans Dit. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI positif Kriteria Uji HI Positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif Total Jumlah (N) 21 64 11 96 % 21. Am. 2004 . Berita Epidemiologi. PPM&PLP Departemen Kesehatan RI.5% . Techniques for Haemagglutinatuon and Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses.3%. dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini.74 3.53 0.16 6.55 1.0 Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I sebanyak 55.61 100. Data Kasus DBD 1999. ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah bergeser ke umur yang lebih tua.07 1. Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding. tahun 1996: 32. Jakarta.7% dan derajat II sebanyak 44. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998.53 1.3 48. Profil Kesehatan Indonesia 1999. Departernen Kesehatan RI 2000. 5. KEPUSTAKAAN l. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara 30% . Tatalaksana Demam Berdarah Dengue.0 Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya yaitu 51.3% positif dan 48. tahun 1998: 36.7 100. Muchlastriningsih E et al. Clarke DH. dan tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji I-II yang positif.24%(5). 2. Pimpinan dan Staf RS Persahabatan.50%. yaitu: tahun 1994: 34. J. Cassals J. 7: 561. 3.4 100.7% negatif. 144. 2000. Tabel 2. Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD Hasil Uji HI Positif Negatif Total Jumlah (N) 96 91 187 % 51.44 10.82%. Direktorat Jenderal PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. penderita berada pada derajat I dan II. Tabel 3. karena jumlah responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita laki-laki lebih besar.1:1). Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) . 56 Cermin Dunia Kedokteran No.Dit. 2001.42 3.

144. Reference: Bei Jing XieHe Hospital.30) Cermin Dunia Kedokteran No. fatigue. edema. PENYIMPANAN Simpan dalam lemari es. Jakarta 10510 PO Box 3105 JAK. Dosis untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian. sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis semula). Suprapto. Fax. Senin – Jumat (07.co. : (021) 428 73680 Website : http://www.000 IU. Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0. Fase Pemberian: Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%. KONTRA INDIKASI • Hipertensi berat yang tidak terkontrol. 1998. Jl. 2004 57 .: (021) 428 73888-89. Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual. Fase Koreksi: Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/ kg/minggu. artralgia. meskipun dapat dihentikan setiap saat. Jakarta – Indonesia Tlp. pruritus dan urtikaria. DOSIS dan CARA PEMBERIAN Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik: Larutan dapat diberikan secara IV atau SC. KEMASAN Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL. Clinical Trial III Report of rhEPOInjection Marketing Office PT. muntah ataupun reaksi di tempat injeksi. • Hipersensitif terhadap human albumin. EFEK SAMPING • Hipertensi • Peningkatan jumlah platelet • Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash.Produk Baru Hemapo® Erythropoietin Syringe 2000 IU. tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen hematinik. 3000 IU. 3000 IU/mL dan 1000 IU/mL. INTERAKSI Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan. Jangan dibekukan dan dikocok. Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4 minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat. diare. suhu 2-8°C. Letjend. KALBE FARMA Tbk.kalbe. INDIKASI Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis. 3000 IU dan 10. Gedung Enseval. Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang. sakit kepala.5%/minggu).00-15. mual. terlindung dari cahaya. • Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia. 10. tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu. seperti: FeSO4.id Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123.000 IU in 1 mL KOMPOSISI Setiap mL larutan berisi: Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU.

/hearing/hrexam. 144.html 58 Cermin Dunia Kedokteran No.net. 1990). Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal.apsul Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA. 2004 . Sumber: http://ivertigo. Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral.

dan beberapa istilah yang spesifik seperti nursing informatics. Secara rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada ulasan di bawah ini: Berawal pada tahun 1970-an Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah bahasa Perancis informatique médicale. radiologi. Dalam perbincangan penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia. Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. informatika yang berorientasi pada aplikasi. disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’ sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. merawat data. teleradiologi. medical information science. dll. aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis. dental informatics. Jika mengikuti perkembangan bidang informatika. (Dr. Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat. proses kontrol. aspek keamanan dan legalitas. Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. Akhir-akhir ini. Proses pengolahan data Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya. 5. kedokteran nuklir. seperti: tanya jawab. telekardiologi.INFORMATIKA KEDOKTERAN PENGANTAR Medical informatics is located at the intersection of information technology and the different disciplines of medicine and healthcare. 2. atau artificial intelligence. Sebaliknya. Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi Informatik (Information Technology). Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan. dll. Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast). maka secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer yang fundamental. dan tele-tele yang lain Medical Imaging Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound. penulis melihat ada pendapat dua pakar informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang. computational linguistics. sifat website pun sudah mulai berubah. pengambilan keputusan dan analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran. Mereka mendefinisikan sebagai berikut: (1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan management. melihat rekam medik dll. dll. artikel kesehatan. dan beberapa area yang lebih spesifik. 2004 59 . 3. seperti: computer science. dll Sistem Informasi Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1) yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada keperawatan Web dan internet Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. misalnya menginformasikan jam praktek dokter. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data. contohnya: computational physics. 4. information processing. 144. dan informatics. dr HM Goh. Demikian pula jika kita ingin membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran. Dalam praktek sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti: 1. Telekomunikasi Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation. Aspek-aspek lain yang berperan Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah: Interaksi manusia dan komputer. dan informatika terapan. berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran dan kesehatan. Biaya dan keuntungan sistem informasi. health informatics. dll. seperti: proses pendaftaran pasien. Dua definisi Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika Kedokteran. (2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan praktis dari proses informasi dan komunikasi. yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah). Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti: medical computer science. dll. computer in medicine.

RSIA HERMINA Daan Mogot .id/seminar. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS Pertamina Jaya Jakarta. eHealth Asia 2004.kalbe. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. 6 . Pudji Rahardjo. dokter spesialis anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut. sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang. Hotel Acasia. J. Sp. hal ini jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia. membuka acara eHealth Asia 2004. J. Kuala Lumpur. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. dan Portal Kedokteran www. Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". Sabtu 20 Maret 2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta. Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk. Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di sekelilingnya. narasumber simposium berkenan menyumbangkan suara emasnya) juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. yang di klik rata-rata 2.Pudji Rahardjo. Laporan lengkap dari simposium.Kegiatan Ilmiah Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah". dan sebagainya.id. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern.PD-KGH. mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di Indonesia.Jakarta. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. hari ini Dato' Dr Abdul Gani Che Din. (tampak dalam foto dr. menghisap rokok. RS Mitra International. bisa diakses di http://www. dan infeksi. dan bisa langsung diakses pada homepage Kalbe Farma Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah. Acara tersebut menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani. Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya. Sp. Pada topik yang diberi tanda Breaking News. di samping hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus. Kuala Lumpur. Dalam sambutan tertulisnya. Demikian dikatakan dr. melainkan 60 Cermin Dunia Kedokteran No. APAMI Board Meeting.8 April 2004 Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur. 20 Maret 2004 Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004. diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari Asia Pasific Association of Medical Informatics. Demikian dikatakan dr. batu ginjal. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. Demikian terungkap dalam Seminar Awam "Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue. menghisap rokok.co. Tele-education kesehatan via satellite. Hotel Acasia. Studio mini Jakarta Eye Center. di DKI terdapat penderita DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2.Hj.Pudji Rahardjo. dan infeksi.kalbe. ternyata bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja. berarti peserta simposium bisa memperoleh berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di Stand Kalbe Farma. SpPD-KGH.000 kali per hari. 144. Wakil dari Indonesia. mentri menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. 25 Maret 2004 Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata bukan hanya merupakan masalah yang sederhana.PD-KGH. 6 April 2004.co. Untuk itu kita jangan sampai lengah. 6 April 2004 Pada malam hari. 2004 .043 orang. Mohammad Taha bin Arif. mewakili Mentri Kesehatan Malaysia Tan Sri Datu Dr. batu ginjal. Erik Tapan. setelah menyelesaikan acara ilmiah. dan sebagainya. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol.

Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar. Sebabnya. Seminar IT PERMAPKIN. Jakarta. Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I.28 April 2004 Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan. karena proses bisnis layananan kesehatan termasuk hal yang kompleks. Slamet Suyono. dr.02 % (WKNPG : 5. 23 . SpPD. dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. ASEAN Pharmaceutical Industry Congress. sehingga diharapkan terapi akan lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas hidup pasien yang meningkat. Hotel Borobudur Jakarta. Cermin Dunia Kedokteran No. 25 . Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan. Spesifik yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan perkembangan khusus sel kanker. mahasiswa baik kedokteran maupun keperawatan.Jakarta. Nutrisi enteral lebih unggul dibandingkan parenteral dalam mempertahankan fungsi gastrointestinal. tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia. 2004 61 . radiasi dan operasi. Sp. dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul "Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN). dr. karena dapat mencegah atrofi villi usus. Oleh karena itu obesitas menjadi masalah epidemik yang global. SpS(K). dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu penyakit dalam atau perawatan intensif National Obesity Symposium III. Menurut Budi Sampurna. Bali International Convention Center.25 Mei 2004 Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan saraf”. Jakarta. Demikian dijelaskan Handi Irawan. Dr. Zubairi Djorban. KHOM dalam sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta. Demikian dikatakan dr. 24 Mei 2004 Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa lagi saat ini. 24 Mei 2004. 18 Januari 2004 Pada tanggal 18 Januari 2004. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di Jakarta. lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa Republika tersebut. H. KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International Convention Center beberapa waktu lalu. termasuk dari Kalbe Group. seharusnya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses bisnis"nya.5 %) dan wanita 11. 8-9 Mei 2004 Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna. Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI. dr. Jakarta.16 % (WKNPG : 2. 27 . membuktikan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat.26 Mei 2004 Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan Riset Marketing dalam menjalankan usahanya. dari kiri ke kanan: dr. Jakarta. Oleh karena itu penyakit DM saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan guideline terbaru DM.9 %).PD. Demikian salah satu yang ditekankan Prof. 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) 2004. Dr. Minggu 23 Mei 2004 diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical Industry Congres I. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf. menjadi terapi yang bersifat spesifik. SpS(K)). Sie. SPS(K). 15-16 Mei 2004 Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang. 6-9 Mei 2004 Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung koroner (CHD/Coronary Heart Disease). Amiruddin Aliah. Ed. Seminar Integrated Hospital Marketing. SpS(K).(foto diambil saat Session Mari Tanya Ahli. mengingat sangat beragamnya latar belakang profesi yang menjalankannya. Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri. Danial Abadi. angka kejadian penyakit ini pada pria melonjak hingga mencapai 9. enterosit dan kolonosit. tetap menjaga kelangsungan fungsi usus. Arifin Limoa. K.5th Jakarta Antimicrobial Update 2004. 25 . Prof. Demikian dikatakan Prof.00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang peserta. Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar dimulai pukul 09. Hotel Mandarin Oriental . 29 Mei 2004 Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi. kasus tuntutan di rumah sakit umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh ketidakpuasan pasien. Prabowo Soemarto dalam Seminar IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta. Dibandingkan dengan data WKNPG tahun 1998. Hotel Shangri La Jakarta.26 Mei 2004. di Jakarta selama 2 hari. Bagian/UP Neurologi FK UNHAS/RS Dr. 144. MM dan Prof.

363:197-202 brw brw ALAS TIDUR KERAS UNTUK NYERI PINGGANG BAWAH Kebanyakan dokter menganjurkan tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah. 0.24 – 8.7 tahun. 2004 .7. Setelah 90 hari mereka dievaluasi.5.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras. menunjukkan bahwa morfologi abnormal ditemukan di korteks frontal. Sekelompok peneliti di Montreal.9) dan keluhan mukosal (0.97 – 3. Penurunan keluhan mukosal terutama di kalangan pekerja atopik (0. Lancet 2003. karena ternyata mereka yang tidur di alas medium lebih banyak yang mengambil posisi fetal (56% di awal percobaan. metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam setelah pemberian IVIg pertama. 362: 1599-604 brw SICK BUILDING SYNDROME Sick building syndrome (sindrom gedung sakit) merupakan masalah yang belum sepenuhnya dipahami.ABSTRAK KELAINAN KORTEKS PADA ADHD Penelitian menggunakan MRI dan teknik komputasi terhadap korteks serebri 27 anak dan remaja penderita ADHD dibandingkan dengan 46 kontrol. selain itu didapatkan ukuran yang lebih kecil di daerah inferior dan korteks prefrontal dorsal bilateral. penelitian ini dilakukan atas 14 824 pria dan wanita 42-82 tahun di Norfolk. juga di korteks temporal anterior bilateral. Pengoperasian UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim ventilasi sampai 99% (95%CI 67 – 100).9).5 – 0.6. 65% di akhir percobaan) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras (54% dan 59%).3 – 0.44 kali (95%CI: 2. 0.6.50 – 2. berat badan. 1.064) dan nyeri saat bangkit dari tempat tidur (p=0.93. 117 62 Cermin Dunia Kedokteran No. Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat meramalkan risiko fraktur baik di kalangan pria maupun wanita. sedangkan 155 lainnya tidur di alas dengan derajat kekerasan 2.9 ± 0. 362: 1699-707 brw 0. kebiasaan merokok ataupun riwayat fraktur sebelumnya.3. Ternyata penggunaan UVGI dikaitkan dengan penurunan gejala berkait dengan pekerjaan secara umum (OD 0.8) dan bukan perokok (0. 31 di antaranya fraktur femur.86) dan lebih rendah disabilitasnya (2. Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband ultrasound attenuation) kalkaneus di kisaran 10% terendah.13 – 4. Selama masa itu terjadi 121 fraktur.2 – 0. Lancet 2003. 0.10.bb/hari selama 5 hari. selama 48 minggu. 0.52.9) dan keluhan muskuloskeletal (0.24 – 3.0001) dibandingkan dengan populasi yang di kisaran 30% tertinggi.7.5 – METILPRDENISOLON UNTUK SINDROM GUILLAIN BARRE Dutch GBS study group mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk menilai manfaat penambahan metilprednisolon terhadap pengobatan imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre.93) maupun saat bangkit (1. risiko frakturnya 4. sistem ventilasi ruang kerja mereka disinari dengan UVGI (ultraviolet germicidal irradiation) selama 4 minggu. Penggunaan UVGI juga menurunkan keluhan respirasi (0. 95%CI 0. mereka di amati selama rata-rata 1. tinggi badan. Daerah frontal. 116 di antaranya juga diberi 500 mg.6. sepanjang tahun 1997-2000.4.95 (95%CI: 1. sex. p<0.5 – 0.7 – 0.4-0.4 g IVIg/kg.9) di kalangan bukan perokok. temporal dan parietal merupakan korteks asosiasi heteromodal yang berkaitan dengan fungsi perhatian (attention) dan inhibisi tingkah laku (behavioral inhibition). Kanada mencoba menyelidikinya pada 771 pekerja kantor. 0.8. kemudian dimatikan selama 12 minggu.56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras.0 (paling empuk). 144. 0.8). Lancet 2004. skala kekerasan kasur berkisar dari 1. Peningkatan nyata substansia grisea sebaliknya didapatkan di sebagian besar korteks temporal superior dan parietal inferior bilateral. Lancet 2003. p<0. 0. Selama periode studi. 158 diminta tidur di alas dengan derajat kekerasan 5. Para peneliti di Spanyol menilai 313 dewasa dengan nyeri pinggang bawah kronis nonspesifik. Pengurangan 1 SD dari BUA (20 db/MHz) dihubungkan dengan risiko fraktur relatif 1. ternyata mereka yang tidur di alas medium (5. 362: 1785-91 PENGUKURAN ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO FRAKTUR Risiko fraktur dicoba dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi terhadap tulang kalkaneus. mereka yang tidur di alas medium juga lebih sedikit merasa nyeri di siang hari (p=0.059).99) juga terhadap keluhan respirasi (0.0 (paling keras) sampai 10.89.6) lebih banyak yang berkurang rasa nyerinya. 95%CI: 1. nyeri saat berbaring (p=0. siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali.36.0001) tidak tergantung usia. Sejumlah 233 pasien mendapat 0. Sayangnya dalam studi ini posisi tidur tidak ikut diperhitungkan. baik di tempat tidur (odds ratio 2.

003). aerobik dan kalistenik yang bervariasi di antara percobaan-percobaan tersebut. Sejumlah 390 penderita asma pengguna kortikosteroid inhalasi yang berisiko eksaserbasi dipantau gejala asma dan morning peak flownya selama sampai 12 bulan. 24.46 – 0.72. Di akhir percobaan.15 – 1.09). setelah 4 hari pengobatan pasien tersebut mengalami gerakan involunter di kepala dan keempat ekstremitasnya. N Engl J Med 2004.97-2.41. p=0.328:189-92 brw EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan yang seluruhnya melibatkan 801 pasien – 395 menjalani latihan.56-0. Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil pengobatan sindrom Guiilain/Barre. Kejadian ini sebelumnya pernah dilaporkan pada 1 kasus anak. 36. Pemantauan dilakukan setelah 12.91. seftriakson iv dua kali sehari untuk infeksi Nocardia.ABSTRAK sisanya mendapat plasebo.350:114-24 brw Program latihan yang dijalani berupa bersepeda. sedangkan 198 lainnya tidak (kedua kelompok menggunakan inhaler yang serupa) Setelah 12 bulan. 95%CI 0.27-9.92. 6. stroke non fatal. p=0. 100 mg/kg. trombosis vena atau kematian akibat kardiovaskuler (RR 0.95 (95%CI 0.bb sulfametoksazol iv dan 2 g. Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan. 0.bb trimetoprim.64.4. data diolah dari 207 (53%) peserta. Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari tercatat 88 (22%) kematian di kelompok latihan dan 105 (16%) di kelompok kontrol. OR=1. Saat gejalanya mulai memburuk. risiko infark miokard non fatal. p=0. 2004 63 . 192 menggandakan dosisnya. 95%CI 0.35. emboli paru.18 – 0. demikian juga risiko infark miokard non fatal.15.62.22 (11%) dari kelompok studi dan 24 (12%) dari kelompok plasebo membutuhkan prednisolon tambahan untuk mengatasi gejala asmanya. keesokan harinya gerakan involunter berkurang dan hilang sama sekali setelah 4 hari.363:192-6 brw EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL Telah dilaporkan satu kasus wanita 63 tahun yang mendapat 20 mg/kg. Efek samping tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok tersebut. 110 di kelompok studi dan 97 di kelompok plasebo. 95%CI: 0. 144.06).03).011). Pemeriksaan MRI hasilnya tidak spesifik. p=0. Lancet 2004. dibandingkan dengan 265 pasien yang diberi plasebo.9.55-1. ternyata 46 menggunakan prednisolon tambahan . baik keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna. p=0. stroke non fatal atau kematian akibat kardiovaskuler lebih rendah di kelompok aspirin (RR 0.93.8) Para peneliti berkesimpulan bahwa menggandakan dosis inhalasi tidak mencegah perburukan gajala asma (yang diukur dari kebutuhan prednisolon oral) Lancet 2004. (OR 1. MENCEGAH EKSASERBASI ASMA Suatu studi dilakukan untuk menilai manfaat penggandaan dosis inhalasi kortikosteroid dalam upaya mencegah peningkatan dosis prednisolon oral. N Engl J Med 2004. jalan kaki. p=0.363:271-5 brw Cermin Dunia Kedokteran No. BMJ 2004.40.07-3. Efek samping perdarahan tidak berbeda bermakna (RR 1. 95%CI 0. berupa mioklonus multifokal dan asterixis bilateral. logrank x2 5. Risk ratio penggunaan prednisolon 0. p=0. Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0.89 (95%CI: 1. Analisis atas data dari 225 pasien menunjukkan bahwa skor disabilitas membaik satu tingkat atau lebih pada 68% (76 dari 112) pasien kelompok metilprednisolon dan pada 56% (63 dari 113) pasien kontrol.71).350:88-9 brw ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA VERA Aspirin ternyata juga bermanafat untuk mencegah komplikasi trombosis di kalangan pasien polisitemia vera. dan pasien menolak punksi lumbal.88. Para peneliti di Italia memberikan 100 mg aspirin/hari pada 253 pasien polisitemia vera.65. 48 dan 60 bulan kemudian. Kematian.68.015) Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan latihan (0. Setelah penyesuaian data terhadap usia dan tingkat penyakit saat masuk. 95%CI 0. 406 sebagai kontrol.

a) Gangguan peredaran darah otak b) Trauma vestibuler c) Penyakit Meniere d) Vertigo posisional benigna e) Neuronitis vestibularis 6. Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi : a) Defisiensi vitamin B b) Defisiensi vitamin C c) Defisiensi vitamin D d) Defisiensi Zn e) Defisiensi Fe Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di a) Submental b) Intralingual c) Suprahioid d) Transhioid e) Infrahioid Yang tidak benar mengenai papiloma laring. JAWABAN RPPIK : 1. 4. E A 64 Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 . 5. E C 4. 3. B B 5. a) 100 dB b) 120 dB c) 140 dB d) 160 dB e) 180 dB 8. D D 2. Klebsiella Pseudomonas Staphylococcus 2.Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. 10. Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan: a) Mongoloid b) Kaukasian c) Negroid d) Hispanik e) India Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas suara di atas: a) 20 dB b) 40 dB c) 60 dB d) 80 dB e) 100 dB Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi . 10. E A 3. 6. 8. 9. 7. 9. Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo . 144. a) Tumor jinak b) Tidak pernah mematikan c) Berhubungan dengan HIV d) Gejalanya awalnya sesak e) Sering rekuren Rinoskleroma dikaitkan dengan : a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) d) e) 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful