2004

http://www.kalbe.co.id/cdk

ISSN : 0125-913X

144. THT

2004
http. www.kalbe.co.id/cdk
International Standard Serial Number: 0125 – 913X

144. THT
Daftar isi :
2. Editorial 4. English Summary

Artikel
5. Rinitis Atrofi – Rizalina Arwinati Asnir 8. Papiloma Laring pada Anak – Bambang Supriyatno, Lia Amalia 11. Kista Duktus Tiroglosus – Hafni 13. Rinoskleroma – Delfitri Munir, Rizalina A Asnir, Firmansyah 16. Kanker Nasofaring - Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir – R. Susworo 20. Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat – Retno Gitawati, Ani Isnawati 24. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja – Novi Arifiani 29. Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja – Ambar W. Roestam 35. Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi – HR Krisnabudhi 41. Vertigo: Aspek Neurologi – Budi Riyanto Wreksoatmodjo 47. Terapi Akupunktur untuk Vertigo – Prasti Pirawati, L. Yvonne Siboe 52. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah satu Sumber Antioksidan – Sulistyowati Tuminah 55. Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta Tahun 2001 – Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Hutauruk 57. Produk Baru 58. Kapsul 59. Informatika Kedokteran 60. Kegiatan Ilmiah 62. Abstrak 64. RPPIK

Keterangan Gambar Sampul : Jaras sistim pendengaran manusia
sumber: http://ivertigo.net 13

EDITORIAL
Cermin Dunia Kedokteran kali ini terbit dengan topik bahasan masalah telinga, hidung dan tenggorokan. Beberapa penyakit seperti rinitis atrofi dan papiloma laring dapat anda jumpai; selain masalah pengaruh lingkungan – dalam hal ini kebisingan terhadap fungsi pendengaran khususnya. Tidak ketinggalan pula artikel mengenai kanker nasofaring dan perawatan trakeostomi – yang perlu diperhatikan, baik oleh tenaga medis maupun keluarga pasien. Artikel mengenai vertigo juga ikut melengkapi edisi ini Selamat membaca, komentar dan kritik sejawat sekalian tetap kami nantikan

Redaksi

2

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

Drg. Philadelphia: WB Saunders. bila menggunakan bahasa Indonesia. eds. Sri Oemijati. bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah. Boenjamin Setiawan Ph. Letjen. Dr. Cempaka Putih. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris.H. Laboratorium Ortodonti MScD. (021) 4208171. Nama (para) pengarang ditulis lengkap. juga hasil penelitian di bidangbidang tersebut. Naskah diketik dengan spasi ganda di atas kertas putih berukuran kuarto/ folio. Jakarta 10510.id Pengarang yang naskahnya telah disetujui untuk diterbitkan. R Budhi Darmojo Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang KETUA PENYUNTING Dr. Soebianto PENCETAK PT. . Sodeman WA. SpOrt.Prof. Cermin Dunia Kedokt. Basmajian JV. Dr.4208171 E-mail : cdk@kalbe. 021 . DR. E-mail : cdk@kalbe. 4. Sjahbanar Zahir MSc. Contoh : 1. atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. . 90 : 95-9). PhD. MSc REDAKSI KEHORMATAN PEMIMPIN UMUM Dr. dengan menyisakan cukup ruangan di kanan kirinya. bila tujuh atau lebih. P. tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk.10 halaman kuarto disertai/atau dalam bentuk disket program MS Word. Untuk memudahkan para pembaca yang tidak berbahasa Indonesia lebih baik bila disertai juga dengan abstrak dalam bahasa Inggris. 1st ed. Tlp.co. Siti Wuryan A Prayitno. disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/ atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979. Swartz MN. Bila tidak ada.co. . Suprapto Kav. Bila terpisah dalam lembar lain. Pathogenetic properties of invading microorganisms. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Drg. Tabel/skema/ grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas-jelasnya dengan tinta hitam agar dapat langsung direproduksi. Sumarmo Poorwo Soedarmo Staf Ahli Menteri Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta . Hal 174-9.id http: //www. lebih disukai bila panjangnya kira-kira 6 . London: William and Wilkins.Medical Rehabilitation. diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah dan disertai keterangan yang jelas.Prof.913X KETUA PENGARAH Prof. Gedung Enseval Jl. Gedung Enseval.Djuni Pristiyanto ALAMAT REDAKSI Majalah Cermin Dunia Kedokteran. 1974. Baltimore. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku. hendaknya ditandai untuk menghindari kemungkinan tertukar. Bagian Periodontologi. 64: 7-10. Box 3117 JKT. hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Hendro Kusnoto. hendaknya diberi keterangan mengenai nama. sebutkan semua. kedokteran dan farmasi. DR. 1990. Box 3117 JKT.co. Tlp.2004 International Standard Serial Number: 0125 . Budi Riyanto W. Kirby RL. Cempaka Putih. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah. Dr. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh Cermin Dunia Kedokteran. Dalam: Sodeman WA Jr.O. Jakarta 10510 P. 2.kalbe. Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut.457-72. .kalbe. akan diberitahu secara tertulis. disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. SKM.Prof. Bila pengarang enam orang atau kurang. Letjen Suprapto Kav. PELAKSANA Sriwidodo WS. satu muka. Kalbe Farma Tbk. Oen L. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta NOMOR IJIN 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 DEWAN REDAKSI PENERBIT Grup PT. Jl.id/cdk PETUNJUK UNTUK PENULIS Cermin Dunia Kedokteran menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan. Erik Tapan . Pathologic physiology: Mechanism of diseases.Prof.O.id/cdk . Naskah dikirimkan ke alamat : Redaksi Cermin Dunia Kedokteran. Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga/bagian tempat kerja si penulis.Dr. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya.Dodi Sumarna . Temprint http://www. Jakarta Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta TATA USAHA .co. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia. Naskah yang tidak dapat diterbitkan hanya dikembalikan bila disertai dengan amplop beralamat (pengarang) lengkap dengan perangko yang cukup. Weinstein L. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.Prof. 1984.D .DR. 4. 3.

and retinoic acid are still debatable. Adam Malik General Hospital. Jakarta. Cermin Dunia Kedokt. Papillomata have a characteristic wart-like appearance. The symptoms may cause anxiety and disturb the patient’s social life. 13-15 dmr. Firmansyah Dept. North Sumatera and Bali. chronic cough. referred to dizziness or a sense of imbalance. There is still no accurate and successful management method for this problem . of Acupuncture Dr. 2004 .2004. Cermin Dunia Kedokt. particularly at the anterior commissure. Faculty of Medicine. University of Indonesia. 47-51 ppi. Indonesia ACUPUNCTURE FOR VERTIGO Prasti Pirawati. ribavirin. 144. L. The mainstay of treatment is surgical ablation.raa. The role of medications such as alphainterferon. Jakarta. can be due to vestibular system disorder. paroxysms of chocking. of ENT. Cermin Dunia Kedokt. Conventional treatment is still not satisfactory. 8-10 Rhinoscleroma is an endemic disease. Indonesia RHINOSCLEROMA Delfitri Munir.English Summary LARYNGEAL PAPILLOMA IN CHILDREN Bambang Supriyatno. Practically all patients with laryngeal papilloma present with hoarseness or a weak voice. Diagnosis can be confirmed using a flexible fiberoptic laryngoscope to visualize the larynx. Rizalina A Asnir.fih Vertigo is a common complaint. Indonesia Laryngeal papilloma is a benign tumor frequently found in children. acyclovir. Cipto Mangunkusumo General Hospital. treated with acupuncture and showed good improvement. in Indonesia it is found in North Sulawesi. Lia Amalia Dept of Child Health. 144. This is a report of a 50 yearold female with vertigo. and tend to be concentrated on the free margins of true vocal folds. recurrent respiratory infections also may occur.2004. North Sumatra.2004: 144. laa Fate is distinghished but an expensive tutor (Goethe) 4 Cermin Dunia Kedokteran No. Medan. It is caused by strains of human papilloma virus (HPV) family. 144.lys bso. Yvonne Siboe Dept. Partial airway obstruction may manifest as stridor or chest retractions.

7.12.11-14 dan di negara sedang berkembang. Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun.7.5.17 Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong.11 6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun1-4.7.20 Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk1-3. lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang. Adam Malik.7.10. maka pengobatannya belum ada yang baku. sehingga pengobatannya belum ada yang baku. 2004 5 .1-5.12. rinitis krustosa. Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum Pusat H.13 Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk1-3.9.2. 144.11. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala.5.11.7 7) Teori mekanik dari Zaufal4. beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas.9.2.8 Jiang dkk berkisar 13-68 tahun9.17 Cermin Dunia Kedokteran No.7. Bacillus mucosus. Medan ABSTRAK Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah. Kokobasilus.9. yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta. vitamin A1. umur berkisar dari 10-37 tahun.12.20 KEKERAPAN Beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita.11-14 dan di negara sedang berkembang.1-5.1-5. Diphteroid bacilli.4.11.11-15 terutama pada usia pubertas.7.1-11 Secara klinis.8 dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria. PENDAHULUAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik.12. ETIOLOGI Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. rinitis fetida. Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa.1-4. sosial ekonomi rendah.16.9 Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria.10.11-15 terutama pada usia pubertas.11. mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering.7.5. dilakukan operasi . Kuman lain adalah Stafilokokus.11 3) Sinusitis kronik1.1-9 Penyakit ini lebih sering mengenai wanita.11-15 SINONIM : Ozaena.14.14-16 Oleh karena etiologinya belum pasti.17 Terutama kuman Klebsiella ozaena.7.7.18 5) Ketidakseimbangan hormon estrogen1-5.5 8) Ketidakseimbangan otonom 4. sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk.20 Tetapi dari segi umur.13 Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria.2.7.1-5.16 Di RS H Adam Malik dari Januari 1999 sampai Desember 2000 ditemukan 6 penderita rinitis atrofi. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia.12. 7.1.14-16 Beberapa teori yang dikemukakan antara lain : 1) Infeksi kronik spesifik 1-4. Cocobacillus foetidus ozaena 2) Defisiensi Fe1-4.7.Artikel TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinitis Atrofi Rizalina Arwinati Asnir Bagian/SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran. Kata kunci : rinitis atrofi.16 Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun.1-5. 4 wanita dan 2 pria.12.

2. mukosa tampak kemerahan dan berlendir.10 dan rinitis atrofi sekunder. keluhan anosmia belum jelas.4. faringitis.11 Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang. miasis hidung. krusta banyak. rinitis kronik lepra. Larutan garam dapur d. Sebagian besar kasus merupakan tipe I. Mantoux test. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis. untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau. pemeriksaan Fe serum. adanya krusta (kerak) berwarna hijau.21 Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik.4 g NaCl 56. Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler.2 Konservatif 1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman. rinitis kronik sifilis dan rinitis sika.15.7.16 12) Golongan darah. atrofi konka.9.9. Campuran : Na bikarbonat 28.3.3.1-5.10-12 Pada pemeriksaan ditemui : rongga hidung dipenuhi krusta hijau.1.4.13 . Tingkat I : Atrofi mukosa hidung. air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. terdapat anosmia yang jelas. dilakukan dua kali sehari.7 GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN Keluhan biasanya berupa : hidung tersumbat. dapat ditemukan krusta di nasofaring. sinusitis. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi. Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat21 : a. c.21 KOMPLIKASI4. warna makin pudar. krusta sedikit.4. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau b. DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan : anamnesis. pemeriksaan darah rutin. rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui4.17 11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal5.3. rinoskleroma dan tbc.10.1. PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif.3 2) Obat cuci hidung.11 Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun.9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)4.4 Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat.5.11 dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal. Antara lain : a. PATOLOGI DAN PATOGENESIS Beberapa penulis menyatakan adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik.4 g Na diborat 28. membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang. rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua:3.8. 6 Cermin Dunia Kedokteran No. midline granuloma. Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A.11. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia. b.3. terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran3.oleh karena itu secara patologi.12.10. Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul).17 10) Herediter5. rongga hidung tampak lebar sekali. terlihat rongga hidung sangat lapang. Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia.16.19 dan fibrosis dari tunika propria.11 Diagnosis Banding Rinitis kronik tbc. mukosa makin kering. yang bertambah jelek dengan terapi estrogen. mukosa hidung tipis dan kering.7 g dicampur 280 ml air hangat Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat.4. rontgen foto sinus paranasal. epistaksis dan hidung terasa kering. Selain faktor-faktor di atas. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel. ingus kental berwarna hijau. sakit kepala. jika krusta diangkat. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas.11 Dapat berupa: perforasi septum. 2004 . hidung pelana. akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis. kadang-kadang kuning atau hitam. pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis.5. Campuran : NaCl NH4Cl NaHCO3 aaa 9 Aqua ad 300 c 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat c.12. gangguan penciuman (anosmi). 144. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa.1. sekret purulen dan berwarna hijau.2 Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu. membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen. lepra.

492. 1996. Maran AGD. 2) Modified Young's operation Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka. Bertrand B. 193-411. 1986. 264-7.Gray RF. A Pocket Reference. Throat and Ear and Head and Neck. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar.Nose & Throat Diseases and Head . 3. Kumar S. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. 40-1. Jiang R. 22. Pitfalls. Infective Rhinitis and Sinusitis.Heinemann. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. 1994. Buku Ajar Penyakit THT.22 PROGNOSIS Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. 4) Implantasi submukosa dengan tulang rawan. Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. 14th ed Singapore : ELBS. Edisi 13. Mangunkusumo E. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3 x sehari. Calcutta : The New Book Stall. Hartley C. Singapore : PG Publishing. Wood DG. Textbook of Ear. 2. 112 : 543-6. Montgomery WW.000 U / ml. Jilid 1. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. Sinha melaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun. Samiadi D. 229. Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain : 1) Young's operation Penutupan total rongga hidung dengan flap. 6. 576-80.Neck Surgery. Ballenger JJ. 1996. Samsudin. Laryngoscope 1996.3% perbaikan pada periode waktu yang sama. 12 : 325-33. 218-9. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers. 5. Jakarta : FKUI. 202-5. 91-3. tulang. kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml. Soetjipto D. Sutomo. 1993. dermofit. mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. A Short Practice of Otolaryngology.Chen C. cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita. Elloy P. 26-7. setelah krusta diangkat.Hsu C. kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. 4. Hidung . Gamea AM. Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93. Penyakit Telinga .Hidung. 349-51. Doyen A. Dalam : Boies (ed). Ujung Pandang: 1986. Becker W. Grewal DS. 14. 104 : 404-7. Am J Rhinol 1998 . Head and Neck Surgery. Rinitis Atrofi. Surgery of the Upper Respiratory System. Sayed RH. 1992. THT FKUI. Madras : All India Publisher. Ramalingam KK. yang ditandai adanya atrofi progresif mukosa dan tulang konka disertai pembentukan krusta. 381-2. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins.23 Mewengkang N melaporkan operasi penutupan koana menggunakan flap faring pada penderita ozaena anak berhasil dengan memuaskan. kemudian dipindahkan ke lubang hidung. 221-2. Hagrass. 4/8/26-7. New York : Georg Thieme Publishers. Kepala dan Leher. Jakarta : FKUI. 2nd ed. 1997. 20. Jakarta : Bina Rupa Aksara. 12. 1985. 23. Technique. Naumann HH. 15.A Synopsis of Otolaryngology. 4th Bristol:Wright. 21. 13. 144. Vol. 11. Farrington WT. 19. Groves J. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau operatif. 1997. 1980.10-14. New York : Georg Thieme Verlag. 113-4. Oleh karena etiologinya belum pasti. 18.21 OPERASI Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang. Dalam : ScottBrown's Otolaryngology. Maqbool M. Mangunkusumo E. 173-82. Mewengkang N.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis. pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali. Fundamental of Ear. KEPUSTAKAAN 1.11-14 Sinha. 5) Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung. 2004 7 . 549-55. Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 7. 9. 1403-6. Jakarta: EGC. 10-5. 16. 499.3) Obat tetes hidung . Disease of the Nose. oestradiol dalam minyak Arachis 10. 1987. 6th ed. Indication. 8. Sydney. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok . 1996. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Lobo CJ. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. natrium bikarbonat. Elhamd KA. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis. 10. diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa. Naumann HH.Edisi 6.5 KESIMPULAN Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik. 1993. Oxford : Butterworth . Disease of the Nose. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. 1994. diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes.000 U selama 2 minggu 5) Preparat Fe 6) Selain itu bila ada sinusitis. 1992. Colman BH.4. Pfaltz CR. Nose and Throat Diseases. Ear. 4) Vitamin A 3 x 10.1. J Laryngol Otol 1990 .5. Edisi ke 3. 17.106: 702-3. maka pengobatannya belum ada yang baku.J Laryngol Otol 1992 . 106 : 652-7. 114 : 254-9. 1997. campuran Triosite dan Fibrin Glue. Massegur H. Sreeramamoorthy B. 3) Lautenschlager operation Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid. Cermin Dunia Kedokteran No. J Laryngol Otol 1998. Kader MA. Throat and Ear. bahan sintetis seperti Teflon. C. diobati sampai tuntas1-5. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. Ujung Pandang. Sherief SG.Atrophic Rhinitis-Pathology. Etiology and Management. Hiranandani NL. Baser B. 218-21. Hilger PA. Tenggorok . Weir N. J Laryngol Otol 2000. 1-4. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. Alih Bahasa : Wijaya. Nose and Throat Diseases. 90-2.3 Samiadi dalam laporannya memberikan : trisulfa 3 x 2 tablet sehari selama 2 minggu.

dan pemeriksaan laringoskopi langsung.4. Diagnosis papiloma laring ditegakkan berdasarkan anamnesis yang teliti. Manifestasi klinis awal biasanya berupa suara serak sampai afonia serta suara tangisan yang abnormal.1 Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. obat-obatan (medikamentosa) kurang berperan. Tatalaksananya berupa tindakan bedah dikombinasikan dengan fotodinamik. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”. trakea dan paru. dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. Prognosis kurang baik dalam hal rekurensi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. rapuh. 8 Cermin Dunia Kedokteran No. Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17. pemeriksaan fisis. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut. pada anak angka rekurensi (kekambuhan) masih cukup tinggi. tetapi lokasi tersering adalah laring. infeksi saluran nafas kronik. higiene yang buruk. Etiologi pasti papiloma laring tidak diketahui. salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif. berwarna kemerahan. Jakarta ABSTRAK Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai di saluran nafas anak. Pada laringoskopi langsung dapat terlihat gambaran tumor menyerupai kembang kol. rekurensi PENDAHULUAN Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas anak. dan terdapatnya kondiloma akuminata pada ibu. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring.3 Papiloma merupakan jenis tumor yang berkembang dengan cepat. Papiloma laring pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Papiloma Laring pada Anak Bambang Supriyatno. Beberapa keadaan diduga berperan sebagai faktor predisposisi seperti keadaan ekonomi rendah. diduga berhubungan dengan infeksi human papiloma virus (HPV) tipe 6 dan 11. mudah berdarah.5 Terdapat dua jenis papiloma laring. Komplikasi yang mungkin timbul adalah sumbatan jalan nafas serta penyebaran ke paru-paru. Selain itu papiloma laring mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke struktur trakeobronkial. Lia Amalia Bagian Ilmu Kesehatan Anak. walaupun tidak ganas. dan pertumbuhannya eksofilik. Cipto Mangunkusumo. hidung. kelainan imunologis. anak.2. Kata kunci : papiloma laring. 2004 . Mc Kenzie memperkenalkan nama papiloma laring pada abad ke-19. 144. Papiloma laring pada anak dapat menyebar ke trakea dan bahkan sampai ke paru-paru.

Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring. 10 Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa dengan permukaan keratotik atau parakeratotik. 14-16 Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson. Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan. hormon (dietilstilbestrol). Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger.9 Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital. steroid. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi. sesak. tetapi ada faktor lain yang berperan. mikrolaringoskopi langsung. Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat.11-13 HISTOPATOLOGI Gambaran makroskopik papiloma laring berupa lesi eksofitik. mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas. dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis. mikrolaringoskopi dengan diatermi. 2004 9 . dan terkadang gagal napas. dan mudah berdarah. maka perlu dicurigai suatu papiloma laring. kemerahan. ETIOLOGI Etiologi papiloma laring tidak diketahui dengan pasti.5-18 tahun. paralisis pita suara.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. dan kelainan imunologis. nodul pita suara atau kista laring kongenital. kriosurgeri. dan stridor inspirasi.18-20 c. carbondioxide laser surgery.. rapuh. Terapi fotodinamik Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana papilomatosis laring rekuren. b. Cermin Dunia Kedokteran No. Obat yang digunakan antara lain antivirus. mikrokauter. Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis. DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut. sianosis ringan. sedangkan Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang. Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal. seperti kembang kol. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis. Imunologis Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon. dan pasien tampak mulai gelisah. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas. semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi. Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut : a.6 Agung7 melaporkan 7 kasus antara 1970-1976. tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan. Basheda dkk.7. dan podofilin topikal.17 Diagnosis banding Diagnosis sulit terutama pada fase awal. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh.15 PENATALAKSANAAN Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring.18 d. infeksi saluran napas kronik.10 MANIFESTASI KLINIS Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai afonia dan suara tangisan abnormal pada anak.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti. Sedangkan di Bagian THT RSCM ditemukan 14 kasus antara 1993-1997 dengan usia antara 2. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial.18 Pada kasus papiloma laring yang berulang. tetapi tidak untuk lesi parenkim. pemeriksaan fisis. stridor inspirasi ringan. mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps. epigastrium. terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2. laringofissure.INSIDENS Papiloma laring lebih sering dijumpai pada anak. retraksi suprasternal. Jackson I ditandai dengan sesak. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm). Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk. Biasanya terdapat stridor inspirasi dan pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol. Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. 80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun.10 Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk.3. tanpa sianosis. Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan. laringomalasea. dan sianosis lebih jelas. berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah. yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas. Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring. 6 di antaranya di bawah 12 tahun.8. mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi. Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula. Medikamentosa Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak. Bedah Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring. asma bronkial. tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya. 144. serta pertumbuhannya eksofilik.17.

Rimell EM.669-75. Lundwuist P. Chest 1991. Laporan pendahuluan KONAS PERHATI V Semarang. Cantell K. Bauman NM. 33:1-12. Agung IB. 6. Derkay CS. 107:327-32 Green GE. Recurrent respiratory papillomatosis. White A. 102:300-10. Laryngol and Otol 1994. Interferon therapy in juvenile laryngeal papillomatosis. Harley C. A preliminary study. Leventhal B. 20. Hamilton. Smith EM. Human papillomavirus infection in papillomas and nondisease respiratory sites of patients with recurrent respiratory papillomatosis using the polymerase chain reaction.KOMPLIKASI Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas. Bajtai A. Prognostic role of viral typing and cofactors. tetapi dapat meluas ke trakea. Laryngoscope 1998. N Engl J Med 1983. Steinberg BM. 7. Recurrent respiratory papillomatosis of the larynx. . Task force on recurrent respiratory papillomas. The Manchester experience 1974-1992. Arch Otolaryngol 1981. Winkler B. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru. Gray SD. Werkheven JA. Topp WC. Endobronchial and parenchymal juvenile laryngotracheobronchial papillomatosis effect of photodynamic therapy. 2. Pediatric respiratory papillomatosis. 4. Smith RJH. Yasin AR. Shikowitz MJ. 10 Cermin Dunia Kedokteran No. Pignatari SSN. 308:1261-4. Elo J.13 Meskipun jarang. 8. Laryngoscope 1992. 18. Angka rekurensi (berulang) dapat mencapai 40%. Kohlmoos HW. Hidvigi J. Schneider PS. Pou AM. 13. 33:187-207. 115:322-5. Orlowski JP. Ossof RH. 1982. Erisen L. Papilloma of the larynx in children. h. 16. Clinical effect of alpha interferon dose variation on laryngeal papillomas. Haglund S. Mounts P. 11:242-52. Bashida SG. 15. Otolaryngol Clin N Am 2000. Comparison of pulsed and continuous wave light in photodynamic therapy of papillomas: An experimental study.249-60. 119:554-7. Ann Otol Rhinol Laryngol 1993. Laryngeal papillomatosis: clinical histopathologic and molecular studies. 12. Arch Otolaryngol 1995. Mulloly VM. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1993. 9. Myers EN. Fairman DH. 102:580-3. Birzgalis AR. Laryngoscope 1991. 17. Laryngoscope 1987. Penelitian pendahuluan pada papiloma laring.16 Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. Sites of predilection in recurrent respiratory papillomatosis. PROGNOSIS Prognosis papiloma laring umumnya baik. 144. Darrow DH. Current Diagnosis and Treatment. diduga akibat tindakan trakeostomi. 14. bronkus. Derkay CS. Bristol General Hospital. Ultrasonic treatment of laryngeal papillomata. Mehta AC. 1977. radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas. 101:1162-6. 107:915-47. Kashima H. 98:1324-9. Steinberg BM. Otolaryngol Clin N Am 2000. Haliwell M. 97:678-85. Steinberg BM. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1996. Abramson AL. Papova viruses and recurrent laryngeal papillomata. 108:226-9. ekstirpasi yang tidak sempurna. THT FKUI. Skripsi. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi rekurensi pada papiloma. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 1995. de Boer G. Fagan JJ. 3. 5. Abramson AL. Pengelolaan papiloma laring di Bagian THT FK-UGM. Dere H. dan paru. Losin. 10.h. Laryngoscope 1997. Pathogenesis and treatment of juvenile onset recurrent respiratory papillomatosis. 100:1458-64. Late recurrences of laryngeal papillomatosis. Shoemaker DL. Arch Otolaryngol 1995. 2004 . 11. 19. Laryngeal papillomavirus infection during clinical remission. 121:1386-91. Soft tissue complication of laser surgery for reccurent papillomatosis. KEPUSTAKAAN 1. 122:942-4. et al.

pada dekade ke dua 20. dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid.6 Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak.1-11 Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. yaitu dari foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea. Kista ini lebih sering terjadi pada anak.1% .12 Predileksi umur terbanyak antara umur 0 – 20 tahun yaitu 52%. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.000 pasien anak. umur sampai 5 tahun terdapat 38%.10.9.4.tirohioid : 60.9% . traktus yang menghubungkan kista dengan foramen saekum serta mengangkat otot lidah di sekitarnya.13 KEKERAPAN Beberapa penulis menyatakan bahwa kasus ini merupakan kasus terbanyak dari massa non neoplastik di leher.11 PATOGENESIS Terdapat dua teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus tiroglosus : 1) infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus.5%.4. kekambuhan PENDAHULUAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid.11 Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari + 86. jika sering terjadi peradangan. dekade ke tiga 13.10.5 Kista ini biasanya terletak di garis median leher. Teori lain mengatakan mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher.suprasternal : 12. bagian tengah korpus hiod. merupakan 40% dari tumor primer di leher.6%. maka epitel duktus juga ikut meradang. seperti yang dilakukan Sistrunk pada tahun 1920.suprahioid : 24.1.3. Kata kunci : Kista duktus tiroglosus.4%.10.intra lingual : 2.1. 144.1 LOKASI Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher.3 Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun. Adam Malik.4.5.14 Ada penulis yang menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus.5.5% dan usia lebih dari 30 tahun sebesar 34.9. 2) sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista.12 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus yang banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan.4.1. Medan ABSTRAK Kista duktus tiroglosus merupakan 70 % dari kasus kista yang ada di leher. sehingga terbentuklah kista. lokasinya terdapat di: Cermin Dunia Kedokteran No.5 Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.14 walaupun dapat ditemukan di semua usia. sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus tiroid.5 Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar 31. 2004 11 . yaitu dengan mengangkat kista beserta duktusnya.1% .9% Sedangkan Ward4 mendapatkan dari 72 pasien dengan kista duktus tiroglosus.12 Tri D dkk melaporkan 8 kasus kista duktus tiroglosus dari 1983-1985 di RS Kariadi Semarang.11 Lokasi yang sering adalah1.4-10.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kista Duktus Tiroglosus Hafni Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H. rata-rata pada usia 5.5 : .13. sehingga mengalami degenerasi kistik.5 tahun.3.

Simko MEJ. Congenital Neck Masses and Cysts. bulat. Buku Ajar Penyakit THT. Penyakit Telinga.9 Bila terinfeksi. Edisi 6.5. Tata Laksana Kiste Duktus Tiroglosus di UPF THT RSDK Semarang Th. Philadelphia : WB Saunders Co. posisi terlentang.transhioid : 2 . 2.11 Diagnosis Banding 1. 1983 .11 Cara Sistrunk : 1) Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang. 4. Benjolan membesar dan tidak menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. walaupun dapat ditemukan pada semua usia. 1313-14. yang harus dipikirkan pada setiap benjolan di garis tengah leher. Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak. 381-2. Bluestone CD. Johnson JT. Kepala dan Leher. benjolan akan terasa nyeri. Biasanya terletak di garis median leher yang dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas atas kelenjar tiroid. 1. Samsudin. 2000. Ballenger JJ. eksisi sederhana. 12.dengan cara ini angka kekambuhan menjadi 20%.submental : 2 . diagnosis dapat ditegakkan menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan dilakukan foto Rontgen. 13. Fusion of the thyroid interval in a patient with a thyroglossal duct cyst. 2nd ed. 19. Benign Tumors. 9. 295-6. 1987. Philadelphia : JB Lippincott Co. Otol. mudah digerakkan. Colman BH. tidak nyeri. Pasien mengeluh nyeri saat menelan dan kulit di atasnya berwarna merah. 14th ed. 5) Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum. Jakarta : EGC. Vol. 1997. Alih Bahasa : Staf Pengajar Bag.6. 6/30/8-12. aspirasi perkutan. Dalam : Head and Neck Surgery . Corry J et al. Oxford: Butterworth – Heinemann. Cohen JI. korpus hioid. 1997. Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4 %. thyroglossal cysts and fistulae. traktus yang menghubungkan kista dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat. 8. Vol. dapat di atas atau di bawah tulang hioid. Alih Bahasa : Wijaya C. Thawley S. Urben SL. Otol.11 KOMPLIKASI Fistel duktus tiroglosus dapat timbul spontan atau sekunder akibat trauma. 2004 . 5. Throat and Ear and Head and Neck. 11. 14.Heinemann. Laryngol. 1989. Kista dermoid 3. Otolaryngol. antara lain insisi dan drainase. 7. Kejadian fistel ini antara 15-34%. Damijanti T.11 4) Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya. Vol. Dalam : Comprehensive Management of Head and Neck Tumors. kepala dan leher hiperekstensi.6. Kista ini merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. 3. 4. 144.suprahioid : 18 . A Handbook for Students and Practitioners. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan cara Sistrunk yang sudah banyak dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkecil angka kekambuhan. Greinwald JH.5 KESIMPULAN Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus tiroglosus yang tetap ada sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid. Untuk fistula.7.). Scheetz MD (eds. Oxford : Butterworth . Kista brankial Lipoma1. O’Hanlon DM. berbatas tegas. Sobol M. 122: 1094-6. Maran AGD. Edisi 13. Laryngol. 6th ed.2. Philadelphia : WB Saunders Co. Massa Jinak Leher. 114: 128-9. Bila ada fistula. dipasang drain dan irisan kulit ditutup kembali. Thyroglossal duct remnants. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik.11 Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi. Ujung Pandang.8 GEJALA KLINIK Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher. 120 (5): 757-9. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Dalam: Pediatric Otolaryngology. Ransom ER. II. fasia yang lebih dalam digenggam dengan klem. Aberrant thyroglossal cyst. Walsh N. Waddell A. 3) Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia. Kohut RI et al. Foramen sekum dijahit. 1994. 2nd ed. Suparjadi S. Benign diseases of the neck. 12 Cermin Dunia Kedokteran No. sampai tulang hioid. 1986.10 Diameter kista berkisar antara 2-4 cm. 108 : 1105-7. Ellis PDM. 1996. infeksi atau operasi yang tidak adekuat. irisan berbentuk elips megelilingi lubang fistula.5. Hidung. Leichtman LG. Bailey JB.1. Singapore : ELBS. J. dibuat irisan memanjang di garis media. Developmental Anomalies of the Neck. 183. Korpus hioid dipotong satu sentimeter. reseksi dan injeksi dengan bahan sklerotik. Robertson N et al. warna sama dengan kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. Philadelphia : Lea & Febiger. Dalam : Kumpulan Naskah Konas VI Perhati. Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil korpus hioid dan kista beserta duktusduktusnya. 5/16/14. KEPUSTAKAAN 1. Tenggorok. Panje WR (eds. 1362-69. otot lidah yang longgar dijahit. Jilid 1. 415-21. Duktus beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. J. Otot sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya. Branchial cleft anomalies. 2) Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang empat sentimeter. Saleh H. Disease of Nose. 6th ed. Konsistensi massa teraba kistik. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. Lingual tiroid 2.). Surgery of the Upper Respiratory System. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya. 1990. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan dilaporkan antara 60-100%. 755. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. 6.1985.Otolaryngology. Head and Neck Surg.suprasternal : 3 Hanlon mendapatkan 1 kasus kista duktus tiroglosus yang lokasinya jauh ke lateral. 10. Pincu RL. kadangkadang lebih besar. Montgomery WW.infrahioid : 43 . Karmody CS. 1996. Hereditary Thyroglossal Duct Cyst. 2. Stool SE. Dalam Boies.. Dalam : Scott-Brown’s Otolaryngology. 1987. yaitu kista beserta duktusnya. 88. 760-7. THT FKUI. 1994.

Uganda. Rumania.9 Kebanyakan penderita ditemukan pada dekade dua dan tiga. Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis).8. 144.7.1.2-4.2. tetapi sering pada dewasa muda. Guatemala. Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini.7 INSIDEN Rinoskleroma dapat mengenai semua usia. Rizalina A Asnir. Belum ada cara penanggulangan yang tepat dan memuaskan untuk penyakit ini sampai sekarang. Ukraina.10 Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma. mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung. Kolumbia.1-7 Di Indonesia.8. Nigeria. tapi endemik di beberapa negara di Asia. Penyakit ini ditandai dengan penyempitan rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring. rinoskleroma telah dilaporkan sejak sebelum perang dunia ke dua.9. Philipina dan Indonesia. lingkungan hidup yang tidak sehat dan gizi yang jelek. Medan ABSTRAK Rinoskleroma merupakan penyakit endemik. Firmansyah Bagian/ SMF Telinga Hidung dan Tenggorokan-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat H.2. Sumatera Utara dan Bali. Amerika.13-16 Di Indonesia banyak terdapat di Sulawesi Utara. Adam Malik. radiasi dan pembedahan. Kasus pertama ditemukan oleh Snigders dan Stoll (1918) di Sumatera Utara. Salvador.1.11. dan dalam beberapa tahun akan mengisi dan menyumbat hidung. Penyakit ini sering dijumpai pada sosial ekonomi yang rendah. orofaring. namun sampai sekarang belum ada cara tepat yang memberikan hasil memuaskan.11 Penyakit ini merupakan penyakit endemik di Polandia.5 % terdapat pada golongan pekerja kasar seperti petani. Sumatera Utara dan Bali.7 HISTOPATOLOGI Penyakit rinoskleroma adalah penyakit radang menahun granulomatosa dari submukosa dengan gambaran histo- Cermin Dunia Kedokteran No.2. Mesir. India.6.8 Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif. Bila tidak diterapi akan meluas ke bibir atas dan hidung bawah sehingga me- nimbulkan deformitas yang luas. Cekoslovakia.1.2 Belinoff melaporkan 94.8 Fisher menyatakan tidak ada perbedaan yang nyata antara laki-laki dan perempuan.8 Pengobatan meliputi medikamentosa.2 Dilaporkan banyak terdapat di Sulawesi Utara. trakea dan bronkus.8.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Rinoskleroma Delfitri Munir.5.8-10 Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870). Rusia. subglotis. meluas secara bertahap menjadi nodul padat yang tidak sensitif.9. di Indonesia terutama di Sulawesi Utara. Eropa dan Afrika.9 Infeksi biasanya dimulai dari bagian anterior hidung sebagai plak submukosa yang lembut. PENDAHULUAN Rinoskleroma adalah penyakit yang jarang di Amerika Serikat dan Inggris.1. 2004 13 .8 ETIOLOGI Rinoskleroma disebabkan oleh Klebsiela rhinoskleromatis yang merupakan basil Gram negatif.1-16 Penyakit ini juga dihubungkan dengan AIDS dan defisiensi sel T.1. Sumatera Utara dan Bali.

Pada stadium ini biasanya penyakit mudah dikenali.3. Jamur : Histoplasmosis.12 1. sering seperti rinitis biasa. Parasit : Leismaniasis mukokutaneus 2.8 Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetrasiklin dengan hasil yang memuaskan.6. laring. tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan. 3. Pada stadium ini sel-sel Mikulicz sulit ditemukan.Tetrasiklin : 1-2 g/ hari . Infiltratif. Blastomikosis. histopatologi. yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granulomatosa2. konsistensi padat. berupa hiperplasi dan hipertrofi epitel permukaan. Atrofi. mudah berdarah. dapat terjadi gangguan penciuman.8. Sifilis.10 2. Wegener granulomatosis PENATALAKSANAAN Meliputi : medikamentosa. Bakteri : Tuberkulosis.2. Gambaran penyakit pada stadium ini tidak khas. yang menyebabkan stenosis dan kelainan bentuk. hanya pilek yang tidak mau sembuh dengan pengobatan biasa. Antibiotik yang dapat digunakan antara lain: . Dari pemeriksaan.Stadium III (Skleromatous. Dimulai dengan cairan hidung encer. Radiasi Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod. radiasi dan tindakan bedah. serologi (test komplemen fiksasi. Eksudasi) Ditemukan pada usia sekolah. kavum nasi dipenuhi oleh jaringan yang mudah berdarah.15 Diagnosis Banding2. Russel body. Kemudian terjadi invasi. Siprofloksasin. Lebih lanjut rongga hidung mulai dipenuhi krusta yang menyebabkan hidung tersumbat dan berbau busuk serta mukosa hidung menjadi kemerahan. laringoskopi indirek/direk dan bronkoskopi.13-15 Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif.Khloramphenikol.710. hiperplasi pseudo epiteliomatosa. histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel).patologis yang khas. Proses infeksi granulomatosa a. 2004 . Pada stadium I.9. Sporotrikosis. bakteriologi. Pada stadium ini penyakit mudah meluas sampai ke traktus respiratorius bagian bawah. Lepra b.1. Keluhan penderita sesuai dengan stadiumnya. GEJALA KLINIS Gejala tergantung pada area.15 1.11 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis. permukaan licin tanpa ulkus. Stadium kataral/ atropik Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi.14. test aglutinasi) dan imunokimia.8. Lama-lama tuberkel ini bergabung menjadi satu massa noduler yang sangat besar. tetapi hasilnya belum memuaskan.14: . Sarkoidosis 3.2. Sel-sel ini menurut Fischer dan Hoffman penting dalam menegakkan diagnosis penyakit rinoskleroma. . 144. dapat ke arah posterior (nasofaring) maupun ke depan (nares anterior). Stenosis. Pada stadium II. jaringan ikat di bawah epitel berbentuk trabekula dan di infiltrasi oleh sel-sel besar dengan vakuola pada sitoplasma.5-1 g/ hari .Streptomisin : 0. kemerahan. Klofazimin1. ditambah dengan pemeriksaan penunjang seperti radiologi. kemerahan. perluasan dan lamanya penyakit. Stadium granulomatosa Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik. Stadium sklerotik Fibrosis yang luas. Toppozada mengemukakan bahwa sel ini berasal dari sel-sel plasma yang banyak terdapat pada penyakit ini. Sikatrik) Massa secara perlahan-lahan menjadi avaskuler dan terjadi fibronisasi yang diikuti oleh adhesi struktur jaringan lunak.Stadium I (Kataralis. di samping keluhan hidung tersumbat juga sering terjadi perdarahan dari hidung. kemudian diikuti cairan mukopurulen berbau busuk.11. namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan.Rifampisin 450 mg/ hari . Di samping itu terdapat pula sebukan sel-sel plasma. kontraksi jaringan yang akhirnya membentuk jaringan parut dan penyempitan jalan nafas.7. Medikamentosa Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif.7. Terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai tuberkel di permukaan hidung. trakea dan bronkus. Proses yang sama dapat terjadi pada mulut. Koksidioidomikosis c.11 14 Cermin Dunia Kedokteran No. .13.9 Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa.6. pemeriksaan fisik yang meliputi : rinoskopi anterior/posterior. Stadium III adalah stadium yang sudah tenang dengan keluhan dan gejala dari sisa kelainan yang menetap akibat proses sikatrisasi dan kontraksi konsentrik jaringan granulomatosa yang mengeras.8-11. sumbatan hidung yang berkepanjangan. Sel-sel ini mempunyai inti di tepi dan di dalam vakuola terdapat banyak basil berbentuk batang yang kemudian dikenal sebagai basil dari Von Frisch. faring. Sel-sel besar dengan vakuola dan basil-basil tersebut kemudian dikenal dengan sel-sel dari Mikulicz. 2.Stadium II (Granulomatous.9 Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia.2. sakit kepala. Noduler) Ditandai dengan hilangnya gejala rinitis. tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik.810. limfosit dan histiosit.8 1.1 Di hidung dapat dibedakan menjadi tiga stadium 1.1.

Groves C. 40. 3. 1994.ce/atl-en/sect-sect-58/html. 16. asfiksia dan kematian. Cermin Dunia Kedokteran No. Wein N. Dr.13. Agustus. Sreemamoorthy B. Dalam Boies (ed). Chest. Oren I et al. 1991. USA: WB Saunders Co. 1983. 1990. Jika terjadi sumbatan jalan nafas (seperti pada skleroma laring) harus dilakukan trakeostomi. Infective rhinitis and sinusitis. Ramalingam KK.Palatum mole. 6. New York: Thieme medical publishers inc. kebutaan .htm. p. Ben-izhak O. Jakarta. Desasouza S. kepala dan leher. Laryngotracheobronchial involvement in a patient with nonendemic rhinoscleroma. Binarupa Aksara. 1998. 8.1.thedoctorsdoctor. USA: WB Saunders Co. In Otolaryngology.32/micro/v17n04. In Scott-Brown’s Otolaryngology. nose and throat diseases. komplikasi dapat juga timbul berupa perdarahan (pada stadium granulomatosa) dan berdegenerasi maligna. h 224556. Dalam: Penyakit telinga. Diseases of the nasal cavity. p. sering timbul di daerah subglotik yang mengakibatkan kesukaran bernafas.10. 206-7. 2004 15 . January. Hilger PA. Balenger JJ. Acute and chronic laryngeal infections.9. Longman Singapore Publ.7. Vol III. Vol 17. 15. Jakarta. Ed VI.162. Beberapa aspek penyakit rinoskleroma di bagian THT FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar. In: Otolaringology. Sydney: March. Vol IV. Scleroma. 1991. EGC. 5. orofaring 2.Saluran lakrimal (dakrioskleroma) . Rinoskleroma di RS. PG Publishing. Monduzzi.129. Ed III. h 457-66. 3. Montgomery WW.14. 4. Penyakit hidung. Vol III. Yigla M. htm Colman BH. 1980. p. Wilson WR.103.atlases. sehingga pengangkatan dapat dikerjakan dengan mudah secara intranasal. hidung. Jilid I. Benign Tumours and Granulomas in Nose. Becker W. Vol 1. Great Britain: 1997. p. Ed II. June 2000.4. 7.16 KOMPLIKASI Komplikasi dapat timbul akibat perluasan penyakit ke : 1. In XVI World Congress of Otorhinolaringology head and neck surgery. faring dan telinga. 144. h 210. Wiratno dkk. ed 13. 4. 14. 1997. 1993.Orbita : proptosis. Chitale A. uvula. 3. Saluran nafas bawah: sumbatan trakeobronkial. Laring. 1997. Ahmad M. Ed X. Pembedahan Tindakan ini dilakukan pada jaringan skleroma yang terbatas di dalam rongga hidung. 1993. In: Diseases of the nose. 2089.Dilatasi Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total. 2. Shapiro J. Pranowo S. 1990.com/diseases/rhinoscleroma. Infections of the nose.muni. Juli. http//www. 603-7.1 KEPUSTAKAAN 1. Ed VI. Suardana W. http//www. Dalam Kumpulan naskah lengkap ilmiah KONAS VII PERHATI. Nauman HH. Maran AGD.Telinga bagian tengah (otoskleroma) . tenggorok. Surabaya. Throat and Ear. ed IV. Granuloma kronis pada muka. p. h 128-34. h 4/8/34-35 Rhinoscleroma http//www.9 4. Dalam : Kumpulan Naskah KONAS VI PERHATI. hidung. Pfaltz CR. Department of pathology. Medan. In A Short Practice of Otolaryngology. 10. Buku Ajar penyakit THT. Infectious disease of the paranasal sinuses. Fried MP. throat and ear and head and neck. 13. 11. Intrakranial Di samping akibat perluasan penyakit. h 368-70. No 4. Masna PW. Ed III. 9. p. ed I India: All India Publishers. Butterworth-Heinemann. atelektasis paru. Organ sekitar hidung : . Tjekeg M dkk. http//www. Ear. 12.1. 1851-52.afip. Kariadi Semarang. 61.Sinus paranasal .org/departements/endocrine/case/dec00/december2 htm.

Sebagian lagi bersifat diturunkan Adakalanya manifestasi kanker ini memerlukan pula pemicu. pajanan pada bahan kimia atau oleh virus. atau gen HLA A2B46 pada pasien kanker nasofaring. bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya KNF.000 penduduk1. dimana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. misalnya kelainan pada struktur gen BRCA1 dan BRCA2 selalu diasosiasikan dengan kanker payudara atau indung telur (ovarium). dan beberapa ras di Afrika bagian utara. maka KNF paling banyak dijumpai pada ras Mongol. bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih. Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini.000 penduduk per tahun. Catatan dari berbagai rumah sakit menunjukkan bahwa KNF menduduki urutan ke empat setelah kanker leher rahim. Tetapi seluruh bagian THT (telinga hidung dan tenggorokan) di Indonesia sepakat mendudukan KNF pada peringkat pertama penyakit kanker pada daerah ini. seperti perokok berat. apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya KNF pada kelompok migran tersebut. Cipto Mangunkusumo. Beberapa perubahan genetik ini sebagian besar akibat mutasi.000. putusnya kromosom (chromosome breaks) dan delesi pada sel sel somatik. Bermula dari terjadinya defek atau kesalahan letak susunan DNA dalam sel manusia yang mengakibatkan tidak terkontrolnya mekanisme pertumbuhan sel. Berbagai studi epidemilogik mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal. pola hidup.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Kanker Nasofaring Epidemiologi dan Pengobatan Mutakhir R. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah. 2004 lebih banyak pada pria daripada wanita dengan perbandingan 2-3 orang pria dibandingkan 1 wanita. . Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya KNF antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). kanker payudara dan kanker kulit. Antara lain disebutkan faktor makanan.000 penduduk. Berbagai faktor telah diketahui atau dicurigai sebagai penyebab terjadinya kekacauan struktur ini. faktor eksternal seperti sinar ultraviolet dan sinar radioaktif. bangsa Korea. KANKER NASOFARING (KNF) Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi dan di atas bagian bebas dari langit langit lunak.3 Sekalipun termasuk ras Mongoloid. 144. sedangkan angka rata rata di Cina bagian selatan berkisar antara 20 per 100.2 Bandingkan dengan negara Eropa atau Amerika Utara yang mempunyai angka kejadian 1 per 100. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. yakni 4. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian KNF pada para migran dari daratan Tiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. diasin). tepatnya pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan. Perubahan genetik ini mengakibatkan proliferasi sel sel kanker secara tidak terkontrol. terutama pada kelainan struktur gen yang diturunkan. Berbagai kekacauan struktur ini telah dapat diidentifikasi oleh para pakar. Sel akan tumbuh tidak normal dan berlebihan. Dijumpai 16 Cermin Dunia Kedokteran No. kulit hitam dan Hispanics. tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. Yang disebut KNF adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini. Susworo Guru Besar dan Spesialis Radiologi (Konsultan) Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. di samping Mediteranian. Jakarta PENDAHULUAN Telah diketahui sejauh ini bahwa proses terjadinya penyakit kanker berlangsung dalam tahapan tahapan yang disebut sebagai mekanisme karsinogenesis. seperti konsumsi lemak yang terlalu tinggi. Sebaliknya. Apabila kita melihat distribusi penyakit ini di seluruh dunia. Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi.7 kasus baru per tahun per 100. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap. Di Hongkong tercatat sebanyak 24 pasien KNF per tahun per 100.

Kegagalan tersebut terjadi antara lain karena pemeriksaan CT scan / MRI dilakukan hanya pada jaringan otak saja. Epstein dan Barr pada limfoma Burkitt pada 1960). Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit.5 Peneliti lainnya mencoba menghubungkannya dengan makanan yang diawetkan menggunakan garam lainnya seperti udang asin. Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami (Chinese herbal medicine= CHB). sampai saat ini belum ada metode penyaring yang paling efektif untuk deteksi dini KNF. infeksi EBV dan penggunaan CHB6. Di beberapa bagian negeri Cina makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih.Dijumpai pula kenaikan angka kejadian ini pada komunitas orang perahu (boat people) yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. pemindaian tulang dengan radioisotop (bone scanning) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis di organ-organ tersebut. Sedangkan pemeriksaan lain. Selain mendesak dasar tengkorak KNF juga seringkali menyerang saraf pusat yang keluar dari otak. Pada keadaan lanjut hidung akan menjadi mampet sebelah atau keduanya. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. predisposisi genetik dan pola makan tertentu. Adanya metastasis dimanapun akan mengubah stadium penyakit dan mempunyai konskuensi terhadap tujuan pengobatan.5 per 100. 144. terlebih pada stadium dini. Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. Selain gangguan motorik. Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. Untuk menegakkan diagnosis. akibatnya terjadi kelumpuhan bola mata yang mengakibatkan pasien mengeluh penglihatan ganda (diplopia) dan pada pemeriksaan tampak bola mata yang juling. Penjalaran tumor ke selaput lendir hidung dapat mencederai dinding pembuluh darah daerah ini dan tentunya akan terjadi perdarahan dari hidung (mimisan). Keluhan telinga dapat diterangkan sebagai akibat penyumbatan muara saluran Eustachii yang berfungsi menyeimbangkan tekanan dalam ruang telinga tengah dan udara luar. Pemeriksaan titer antibodi IgA terhadap antigen yang diproduksi oleh virus Epstein Barr ternyata hanya bernilai untuk mengevaluasi respons dan kemungkinan terjadinya kekambuhan. seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV. telur asin. USG hati. Yang selanjutnya terjadi biasanya pasien ini akan memperoleh pengobatan nyeri kepala dalam jangka panjang dan pemeriksaan berulang ulang terhadap otaknya sampai akhirnya muncul salah satu gejala akibat KNF. capsid antigen dan early antigen. Di samping itu pemberian khemoterapi diharapkan dapat meningkatkan kepekaan jaringan tumor terhadap radiasi serta membunuh sel sel kanker Cermin Dunia Kedokteran No. padahal nyeri kepala yang timbul dapat merupakan akibat desakan tulang dasar tengkorak oleh tumor. (yang dinamai sesuai dengan penemunya. Keterlambatan diagnosis lain yang pernah terjadi adalah karena kegagalan mencari penyebab keluhan sakit kepala yang terus menerus. seperti foto paru. Pada awalnya pasien mengeluh pilek pilek biasa. Pemberian pengobatan terhadap pembesaran kelenjar yang dianggap tbc tanpa pemeriksaan yang benar tentunya akan sangat merugikan penderita secara moril maupun materiil mengingat pengobatan tbc memerlukan waktu yang lama. Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18. keluhan sensorik yang sering timbul adalah rasa baal di wajah. Lendir dari hidung dapat disertai dengan perdarahan yang berulang.5 per 100. Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya Kanton (Cantonese-style salted fish). pendengaran sedikit menurun serta mendesing. pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan. kadang kadang disertai dengan rasa tidak nyaman di telinga. Berbeda halnya dengan kanker leher rahim dan kanker payudara yang masing-masing dapat terdeteksi dengan metode pemeriksaan sitopatologik Papanicolaou dan mamografi. disusul oleh keturunan Melayu (6. Manakala pasien merasa bahwa kelenjar leher menjadi makin besar.5 per 100. debu kayu serta asap kayu bakar. Hal ini tampak mencolok pada saat terjadi pelarian besar besaran orang Vietnam dari negaranya. CT scan atau MRI nasofaring dan sekitarnya serta pemeriksaan laboratorium. Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain. 4 Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV). Pembesaran kelenjar leher merupakan pertanda penyebaran KNF ke daerah ini yang tidak jarang didiagnosis sebagai tuberkulosis kelenjar. Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid. banyak kasus yang terlambat didiagnosis. selain gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan klinis dengan melihat secara langsung dinding nasofaring dengan alat endoskopi. Diagnosis pasti adalah pemeriksaan histopatologik jaringan nasofaring. Pada 1966.000 penduduk). PENGOBATAN Sampai dengan saat ini dasar pengobatan KNF yang masih terbatas pada daerah kepala dan leher adalah terapi radiasi. KNF tidak pernah dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan dengan virus Epstein Barr. Saraf yang paling sering dikenai adalah saraf penggerak bola mata. Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura.000). Kombinasi pengobatan dengan khemoterapi diperlukan apabila kanker sudah tumbuh sedemikian besarnya sehingga menyulitkan tindakan radioterapi.000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0. maka dapat dipastikan bahwa penyakitnya telah menjadi kian lanjut. Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF. GEJALA KLINIS KNF Karena tidak ada gejala spesifik yang dijumpai pada penderita KNF. 2004 17 .

Berkonsultasi ke dokter keluarga atau langsung ke dokter spesialis THT merupakan tindakan yang tepat. Ross RK. 1990. karies gigi akan lebih mudah terjadi. Yu MC. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri telan. Jakarta Indonesia 1988. ed. Azis MF. 6. 80: 827–41. Susworo. France : IARC Scient. Kombinasi ini diberikan pada kasus kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal. The flame of glory is the torch of the mind 18 Cermin Dunia Kedokteran No. Ferlay J. 1992. memberikan informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi secara benar. Pengobatan radiasi. (Lihat lampiran/ halaman 19). bahkan setelah selesai terapi. Vol. In : Tjokronagoro A. 144. Publ. Int J Cancer. Metode brakhiterapi. Estimates of the world-wide incidence of 25 major cancers in 1990. Henderson BE. (Eds). 4. N. KEPUSTAKAAN 1. 1996. Akibat kelenjar parotis terkena radiasi dosis tinggi terjadilah disfungsi berupa menurunnya alir saliva yang akan diikuti dengan kekeringan pada mukosa mulut (xerostomia). Herbal medicine use. Bila saliva yang mempunyai fungsi antara lain mempertahankan pH mulut di angka netral dan ikut serta dalam membersihkan sisa sisa makanan ini berkurang. 1981. 5. Cancer epidemiology and prevention.yang sudah berada di luar jangkauan radioterapi. Parkin DM. Hildesheim A et al. Cancer in Asia and Pacfic. Bahkan saat ini Malaysia dan Filipina telah memilikinya. bawah serta klavikula. YKI. Djakaria M. Fachrudin D. 2nd. p. Parkin DM. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik. pada umumnya akan memberikan hasil pengobatan yang memuaskan. dianjurkan untuk tidak meremehkan gejala gejala seperti yang diutarakan di atas. Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama pengobatan. No. 3. Yusuf A. Epstein Barr virus. 1997. Penatalaksanaan pembedahan tidak mempunyai peranan pada KNF mengingat lokasi tumor yang melekat erat pada mukosa dasar tengkorak. Soetjipto D. Syafril A. Henderson BE. Raymond L. Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas. Metode yang disebut sebagai IMRT (Intensified Modulated Radiation Therapy) telah digunakan di beberapa negara maju. Cipto Mangunkusumo General Hospital. NPC in Chinese – Salted fish or inhaled smoke? Prev Med. Whelan SL. 52: 3048 –51. p. Nasopharyngeal cancer. Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi. mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). York: Oxford University Press. Yu MC. Cancer Incidence in Five Continents. 471–86. Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna. Namun radiasi pada kasus lanjutpun dapat memberikan hasil pengobatan paliatif yang cukup baik sehingga diperoleh kualitas hidup pasien yang baik pula. In: Schottenfeld D and Fraumeni JF (eds). 603 –18. Lyon. 7. Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. Cancer Res. Young J. Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. and risk of nasopharyngeal carcinoma. IARC Press. 2004 . 2. dapat menggunakan pesawat kobalt (Co60) atau dengan akselerator linier (Linear Accelerator atau Linac). Pisani P. yakni dengan memasukkan sumber radiasi ke dalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang serius pada jaringan sehat di sekitarnya. 143. Himawan S. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar. EFEK SAMPING PENGOBATAN Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring mau tidak mau akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut dan kelenjar parotis. 10: 15-24. PENUTUP Sekalipun KNF tidak selalu memberikan gejala yang spesifik. Nasopharyngeal carcinoma in Dr. Ferlay J. Ho JHC. terutama pada kasus dini. pasien akan selalu diawasi oleh dokter.

Cermin Dunia Kedokteran No.LAMPIRAN : Gambar 1. Alat Radiasi Eksterna (Linear Accelerator) Gambar 3. 144. Masker yang digunakan oleh setiap pasien kanker kepala-leher yang sedang memperoleh radiasi. 2004 19 . Pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang ternyata merupakan metastasis dari KNF Gambar 2. Alat bantu ini berguna untuk fiksasi kepala.

terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) baik infeksi saluran pernafasan atas maupun infeksi saluran pernafasan bawah. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. terutama infeksi pernapasan akut (ISPA). termasuk Indonesia. Streptococcus βhemolyticus 6. yakni sebesar 68. Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus nonhemolyticus terutama terhadap antimikroba Cephradin berturut–turut adalah 73. serta lebih dari 50% penyebabnya . Branhamella catarrhalis.82%. 87. Pemeriksaan isolat dan sensitivitas kuman terhadap antimikroba dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI.52%. 40% dan 80%. Jakarta ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di Indonesia. Metoda penelitian cross-sectional. baik infeksi saluran per20 Cermin Dunia Kedokteran No.9 %. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus viridans. Betalaktam. salah satu mikroba terpilih adalah antimikroba golongan betalaktam. Lima spesies terbanyak adalah: Streptococcus viridans 54. Streptococcus pneumoniae 3. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA untuk usia 0-4 tahun 47.5 % dan dewasa 23.04%. 53.11%. Ditemukan 132 kuman yang terdiri dari 12 spesies. usia 5-15 tahun 29.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. 2004 napasan atas maupun bagian bawah.2%. Kata kunci : Tonsilo-faringitis.5%. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Antimikroba Penisilin G adalah 30%. Streptococcus β-hemolyticus. Streptococcus sp. dilakukan penelitian “Pola sensitivitas kuman hasil usap tenggorok penderita tonsilo-faringitis akut terhadap Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat”. Untuk mengetahui sensitivitas kuman isolat usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam.1 %.3 %.catarrhalis PENDAHULUAN Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang.HASIL PENELITIAN Pola Sensitivitas Kuman dari Isolat Hasil Usap Tenggorok Penderita Tonsilofaringitis Akut terhadap Beberapa Antimikroba Betalaktam di Puskesmas Jakarta Pusat Retno Gitawati.8 %. 144. Terapi antimikroba digunakan bila infeksi disebabkan oleh bakteri (kuman). sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae dan Klebsiella pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 20%. B. Branhamella catarrhalis 22. Ani Isnawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. dilakukan terhadap 83 pasien tonsilo-faringitis akut pengunjung dua puskesmas di Jakarta Pusat pada bulan September 1999 sampai bulan Nopember 1999. Departemen Kesehatan RI.

yakni sebesar 68. makrolida. Tabel 1. dan sejauh ini belum banyak diketahui status sensitivitasnya. 12. Branhamella catarrhalis (22. HASIL Sejumlah 132 kuman yang terdiri atas 12 spesies Gram positif dan Gram negatif berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari 83 sampel usap tenggorok penderita tonsilofaringistis.11) 5 (3. 8. terhadap beberapa antimikroba golongan betalaktam.2 %. berbeda dengan yang dilaporkan Sugito(8) yaitu sebanyak 25 % dan Hartono(9) mendapatkan kuman tersebut 31. 3. Isolat-isolat kuman yang didapat tersebut kemudian diuji sensitivitasnya terhadap antimikroba betalaktam. 7. B hemolyticus diperoleh 6. 11. dengan sampel usap tenggorok penderita infeksi tonsilofaringitis yang berobat di dua puskesmas di wilayah Jakarta Pusat.2%).05) 2 (1.2) 30 (22. 4. 1. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi koloni.71 %. hampir sama dengan yang ditemukan Suprihati dkk(6) sebanyak 4. Kultur dan isolasi kuman dilakukan dengan menggunakan media perbenihan agar darah dan agar coklat pada suhu 370C selama 24 jam. Enam jenis kuman terbanyak yang berhasil diisolasi dari spesimen usap tenggorok berturut-turut adalah: Streptococcus viridans (54. yakni golongan penisilin dan sefalosporin. Staphylococcus.9) 8 (6.05%). Yeast (ragi) Staphylococcus aureus Alkaligenes dispar Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus epidermidis Jumlah Jumlah (%) 71 (54. dan belum pernah mendapatkan antibiotika selama sakit.11%).82) 5 (3. Kuman ini merupakan kuman yang dicurigai sebagai penyebab endokarditis.76) 1 (0. Branhamella.04%.53) 2 (1. fermentasi karbohidrat. Streptococcus pneumoniae (3. dan untuk mengatasinya seringkali digunakan antimikroba golongan betalaktam. dengan rentang usia antara 5 – 65 tahun.4 % . Jumlah subyek sebanyak 83 penderita.82%). dan memenuhi kriteria inklusi sebagai penderita tonsilofaringitis akut dengan gejala klinik: demam tinggi sampai 400C. dan kotrimoksazol(4). Frekuensi distribusi jenis kuman dari 83 spesimen tenggorok No. hiperemis. 5.adalah virus(1).82) 4 (3. dan uji-uji khusus lainnya. dan Haemophillus(2). 9. tetapi berbeda dengan yang ditemukan oleh Sugito(8) sebanyak 25 % dan mirip dengan yang ditemukan Hartono(9) 25.43 % pada penderita infeksi saluran pernafasan atas. Kuman hasil isolasi diuji sensitivitasnya dengan metoda cakram Kirby-Bauer pada media Mueller-Hinton.53) 1 (0. sifat hemolisis agar darah. Antimikroba golongan betalaktam. dan memerlukan terapi antimikroba. 2004 21 . Untuk maksud tersebut telah dilakukan uji sensitivitas kuman yang diisolasi dari usap tenggorok penderita ISPA.35%. dengan cara atau rumus sebagai berikut: % R total antimikroba “A” = (% kuman “X” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “X”)/100 + (% kuman “Y” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Y”)/100 + (% kuman “Z” x % R antimikroba “A” terhadap kuman “Z”)/100. berturut-turut 9.93% dan 5. dan hasilnya menunjukkan profil resistensi (Tabel 2). 10. Sebagian besar kuman Gram positif dan negatif dari isolat usap tenggorok tersebut masih cukup sensitif terhadap antimikroba betalaktam. kadang-kadang disertai folikel bereksudat. Semua subyek telah menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian ini dengan menandatangani informed consent. Spesimen usap tenggorok dikumpulkan dalam media transport dan dilakukan uji sensitivitas di Laboratorium Mikrobiologi FK-UI. Jenis (spesies) kuman Streptococcus viridans Branhamella catarrhalis Streptococcus β-haemolyticus Streptococcus pneumoniae Streptococcus non-haemolyticus Klebsiella pneumoniae Acinobacter spp. yakni dengan mengukur zona hambatan. Klebsiella. Kuman yang terbanyak ditemukan adalah S. sedangkan terhadap Penisilin-G dan amoksisilin total resistensi kuman relatif rendah. Proteus. Escherichia. 6. tonsil membesar dan merah dengan tanda-tanda detritus. Untuk kuman S.76) 132 (100) usap Terhadap hasil uji sensitivitas berbagai spesies kuman terhadap antimikroba betalaktam di atas dapat dilakukan penghitungan total resistensi antimikroba (Soebandrio 2000). Pseudomonas. yang memiliki angka kesakitan ISPA tertinggi di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 1999.82%) dan Klebsiella pneumoniae (3. DISKUSI Hasil usap tenggorok mendapatkan 12 jenis kuman yang mencakup kuman gram negatif dan kuman gram positif. batuk. (R = resistensi) Hasil penghitungan total resistensi berbagai kuman tersebut di atas terhadap antimikroba betalaktam (Tabel 3).9%). Streptococcus non-haemolyticus (3.53) 2 (1. BAHAN DAN CARA Desain uji adalah studi kasus cross sectional. termasuk jenis antimikroba yang diduga paling banyak diberikan untuk infeksi saluran napas. terhadap antimikroba golongan betalaktam.76) 1 (0. Cermin Dunia Kedokteran No. 2.46 %. Streptococcus β-haemolyticus (6. sakit menelan. (Tabel 1). Tabel 3 menunjukkan total resistensi tertinggi kumankuman usap tenggorok adalah terhadap antimikroba Cefradin. viridans sebanyak 54. kecuali terhadap Cefradin. 144. Beberapa kuman penyebab komplikasi infeksi ISPA yang pernah diisolasi dari usap tenggorok antara lain Streptococcus. Infeksi sekunder bakterial pada ISPA dapat terjadi akibat komplikasi terutama pada anak dan usia lanjut. khususnya terhadap kuman penyebab ISPA.

87 5.0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Amx 2. sedangkan kuman Streptococcus pneumoniae terhadap antimikroba Ceftriaxone 80%.2 22.2 % dan 66. 12.53 1. 6. 46(9): 467-76.11%.76 % resistensi antimikroba Cefoti Ceftri Cefota 1. 3.41 4. Penurunan sensitivitas kuman-kuman Streptococcus terjadi terhadap antimikroba Cephradin berturut– turut adalah 46.82 3. Sulb = Sulbenislin. 2.82 3. sefalosporin 7. Makrolid dan Fluorokuinolon. Resistensi kuman S. selain itu dapat terjadi resistensi silang antar golongan maupun dalam satu golongan. KEPUSTAKAAN 1. Total resistensi tertinggi kuman-kuman usap tenggorok adalah terhadap Cephradin. diikuti oleh Penicillin G dan Ceftriakson. Antimikroba Cefradin Penisilin-G Ceftriakson Cefotaksim Amoksisilin Cefotiam Cefpirome Sulbenisilin Cefepime kuman usap tenggorok terhadap % total resistensi 68.9 6. 26. 5. Branhamella catarrhalis 22. bahkan sefalosporin sudah berkurang kemampuannya. Perkembangan Kepekaan Kuman terhadap Antimikroba Saat Ini. Untuk mengatasi bakteri gram negatif tampaknya penisilin. 4. Infeksi Campuran Aerob dan Anaerob di Bidang THT. Streptococcus pneumoniae 3. Cefoti = Cefotiam. aeruginosa S. 3. tetapi akhir-akhir ini banyak dilaporkan bakteri yang resisten terhadap antimikroba golongan penisilin bahkan juga terhadap golongan sefalosporin.04%. 1. Yeast (ragi) S. Cefpi = Cefpirome. pneumoniae S. lima kuman terbanyak adalah : Streptococcus viridans 54.5%.33 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefep 0 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 Cefrad 73. 60% dan 20%.2 %.33 53. KESIMPULAN Ditemukan 132 kuman terdiri dari 12 spesies.viridans dan S. karena mampu 22 Cermin Dunia Kedokteran No.Tabel 2. Profil resistensi isolat kuman usap tenggorok terhadap antimikroba betalaktam % Isolat kuman 54. Fachrudin D. Trihendrokesowo dkk. MKI 1996. Abdoerachman H. 2.0 0 0 0 0 20 0 0 50 0 100 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 Isolat kuman S. .05 2. sedangkan bila terinfeksi bakteri yang resisten dapat menaikkan rata-rata kematian sebesar 17 % (p< 0.23 4.76 0. Ceftri = Ceftriakson. Di Indonesia untuk infeksi pernafasan akut (tonsilitis dan faringitis) sebagai standar pengobatan di puskesmas penisilin G masih merupakan pilihan ke empat setelah eritromisin.05 )(10). sering tidak ada korelasi antara konsentrasi ham-bat minimum (MIC) kuman dan kesembuhan. Josodiwondo S.23 0 3.7 %. 5.7 % dan 96. Dwiprahasta I. 4. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala.0 100 0 100 0 100 100 0 Keterangan: PeG= Penisilin-G.0 80. yakni sebesar 68.82 %. 1996.93 6.57 5.0 20.5 40. MKI 1987.04 9.53 0. Total resistensi isolat antimikroba betalaktam No. Cefrad = Cefradin.04 %.9 %.67%. penisilin spektrum sedang dan sempit 13. Inappropriate use of antibiotics in treatment of acute respiratory infections for the under five children among general practitioners. Cefep = Cefepime.33 0 0 0 0 20. Berkala Ilmu Kedokteran 1997 . tidak jauh berbeda dengan resistensi kuman S. MKI 4 (2/3): 56-60. Antimikroba Cefradin merupakan antimikroba golongan sefalosporin generasi I dan banyak digunakan secara oral untuk penderita infeksi saluran pernafasan sehingga mungkin sudah banyak terjadi resistensi.8 % sedangkan dari penelitian Trihendrokesowo dkk (1986) sebesar 3. Tahun 1997 pasar dunia antibiotik mencapai US $ 12 miliar dengan jumlah peresepan 818 juta untuk infeksi saluran pernafasan akut dan sebagian besar antibiotik yang digunakan di rumah sakit berturut .29 1.52 87. Tabel 3. Test kepekaan tidak selalu akurat untuk memprediksi kesembuhan.82% dan Streptococcus nonhemolyticus 3. 7. Penurunan sensitivitas kuman Branhamella catarrhalis terhadap Penisilin G adalah 70%. Streptococcus β-hemolyticus 6. 9.2%. Departemen Kesehatan R I.53 Total resistensi tertinggi kuman isolat tenggorok adalah terhadap Cefradin sebesar 68. . 8.33 3. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 81 % penderita sembuh jika terinfeksi bakteri yang sensitif. aureus terhadap Penisilin G dari hasil penelitian Josodiwondo (1996) sebesar 3.35 3.76 0.turut adalah Golongan B Laktam.0 %.. 144. Macam Kuman (dari pelbagai bahan pemeriksaan di Yogyakarta) dan Pola Kepekaannya terhadap Beberapa Antibiotik.53 1. . Cefota = Cefotaksim.Penggunaan yang tidak rasional misalnya pemakaian berlebihan akan mempercepat resistensi.82 30.7 %. 2 (1): 6-12. Golongan penisilin masih cukup ampuh untuk mengatasi bakteri gram positif. akan tetapi 9 % penderita meninggal dunia.48%. kecuali sefalosporin generasi ke tiga (11.12). amoksisilin dan ampisilin(2). viridans B. catarrhalis S. β-haemolyticus S.82 0 0 0 0 0 0 100 50 100 100 0 Sulb 0 0 0 0 0 0 0 100 0 100 0 0 Cefpi 0 3.05 1. non-haemolyticus K. Penulisan resep oleh dokter umum di United Kingdom (UK) tahun 1998(10) untuk infeksi saluran pernafasan adalah antimikroba penisilin spektrum luas sebanyak 53. P. pneumoniae Acinobacter spp. namun berbeda dengan hasil resistensi kuman S. makrolid 15 %. epidermidis PeG 2.viridans yang diperoleh penelitian ini yaitu 2.82%. aureus Alkaligenes spp. Dirjen Binkesmas.52 2. aureus 0 %. Amx = Amoksisilin.11 3. 2004 menghasilkan enzim betalaktamase.

Surakarta . Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia. Padang Telp. Ringroad Selatan Yogyakarta Telp.id Hotel Sahid Jaya. KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE JULI-SEPTEMBER 2004 Bulan Tanggal 10 Kegiatan Telemedicine Network in Indonesia.id Jakarta. rs. Bag Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran UNDIP. 6685070. 6684878 Email : elsabali2004@globalmedicaonline. 2004 23 . : 0751-37771. Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah. : 022-2534115.ac.: 021-79184052 Website: http://www. Idajadi A. Meeting on Respiratory Care Ind. : 021-3928658. : 022-2039086 / 2035042. Resistance to Betalactams in Enterobacteriaceae.net Hotel Planet Holiday.id Karawaci. Fax : 022-2511612 E-mail : roga@scientist.kalbe. Med Progr January 2003.id Hotel Grand Hyatt. Saulnier P. Epidemiologi dan Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Batam Telp. : 021-4532202.id Hotel Planet Holiday. 6-17. Jones A.1988.com. Faktor Resiko Streptococcus hemolitikus Beta Grup A pada Penderita Saluran Nafas Atas di RSUP Dr. Wibisono MY.fkumy. Jakarta Telp. Augmentin Clavulanate Pontetiated Amoxycillin.com Hotel Sahid Jaya. Bali Telp.com 10-11 12-14 Juli 13-15 16 16-18 31-1/8 17-18 25-26 September 30-3/10 2nd Indonesia . : 021-4786 4646.or.6.3907703. Antimicrobial Pharmacodynamics in Respiratory Tract Infection: New Approach in Determining Patient Response to Antibiotic Therapy. Laporan penelitian 1998. Fax : 0274-565639 E-mail: pututby@email.co. Rai IB. Jakarta. detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www.com/index. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI. Antibiotik Beta Laktam. Nukman R. Sirot J. : 0274-587555.id Bali. Management and Therapy in Critical Care Medicine Seminar Sehari Kedokteran Kesehatan Kerja: Peran K3 dalam Meningkatkan Perlindungan Pekerja dan Produktivitas Kerja The 6th Int. 144. Hartono TE. Fax : 021-4786 6543 Email : info@respina. (Respina V) 5 Tahun Pertemuan Ilmiah Berkala Ilmu Penyakit Dalam (PIB V IPD) FK Unand Recent Advances and Challenges in Endoscopic Surgery in Asia Pacific 26-29 Tempat dan Sekretariat Lt. 6685006 Fax : 021-4535833. Fax : 021-3919653 Email: iisic2@pharma-pro.com Website : www. Kariadi Semarang. Suprihati. 1988. : 021-31934636.obgyn-bandung.pluit@rad. : 021-3919653. Gedung AR Fachruddin.org website : www.net.net. 10. 8. 7.idai. 1242. Telp. (eds).itb. Watson A. 5. Fax : 021-3914830 Website : www. roga@biotech. Fax : 021-56961530 E-mail: iqbalicu@idola.co. Fax : (021)-3913982 Website : www. Herman MJ. Fax : 0751-37771 Email: pibipd@yahoo. 1994. Sirot S. Surakarta. : 021-330956. Amsterdam : Excerpta Medica 1980.internafkunand.idki.id Jakarta Convention Centre Telp.or. How is the Benefit for Family Doctors The First Indonesian Symposium on Interventional Pediatric Cardiology Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kedokteran Anak IDAI PIT XIV POGI : " Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas " Mekanisme Molekuler Patogenesis Virus RNA dan Perannya Dalam Perkembangan Bioteknologi Simposium Pendekatan Holistik Penyakit Kardiovaskular III & KARIMUN III Konker PGI-PEGI-PPHI PIT IX Ilmu Penyakit Dalam 6-8 11-13 Agustus 13-15 28 Pelatihan Asuhan Nutrisi pada Diabetes 11th International Symposium on Shock and Critical Care : New Insight in Diagnosis.net. : 0274-37430 Website: http://telmed. Bandung Telp. Batam Telp. Jakarta Telp. Slombe B. In : Rolinson GN. : 0778-7024522. Occurrence and Classsification.id Website : www. Dalam Buku Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Konperensi Kerja Nasional V IDPI .or. Tarigan HMM.pluit-hospital.id Hotel Horison. Sugito.or.or. 12. Tangerang Telp. 14:193-9.org KPP Bioteknologi ITB. 11.php Hotel Bumi Minang. : 021-5684085 ext. Fax : 021-3161467 Hotel Sheraton Mustika. Faks.com Web-site : www.id/calendar>>Complete Cermin Dunia Kedokteran No. Telp.id Bali International Convention Center Telp. Beta Lactamase.respina. Yogyakarta Telp.interna. : (021)-3148610. Fax : 021-3928659 E-mail : endocrin@rad. Fax : 022-2035042 E-mail : pitpogi14@obgyn-bandung. Bandung Telp. J Internat Med Res 1986.com.International Symposium on Infection Control Informasi terkini. Fax : 0778-421352 E-mail : pitika2@idai. distribution of phenotypes related to beta lactamase production. 9. Pola bakteriologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Orang Dewasa. : 0274-37430.

sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh telinga manusia sebagai suatu gelombang suara.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja Novi Arifiani Subdepartemen Kedokteran Okupasi. dan lain sebagainya. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN Sebelumnya akan dibahas secara singkat anatomi dan fisiologi pendengaran. biasanya di atas 120 dB. bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan. Jakarta PENDAHULUAN Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang merupakan suara yang disenangi. melakukan deteksi dini dan pengendalian bising di tempat kerja. Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-mesin. Di telinga tengah ini. Secara umum tekanan suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini. telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar. maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan pendidikan. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran lain yang timbul akibat bising di tempat kerja. Pembahasan pada tulisan ini hanya akan dibatasi pada efek kebisingan terhadap kesehatan terutama kemampuan pendengaran. dan dalam. suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. 2004 mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai ke gendang telinga. gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan.Bising yang di dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh. gelombang getaran yang dihasilkan tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis. Konduksi Tulang Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak ke dalam telinga tengah. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia. Telinga luar berfungsi 24 Cermin Dunia Kedokteran No. 144. Misalnya. namun suara yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan tekanan tinggi. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat mengganggu. bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah. tengah. serta tatalaksana gangguan pendengaran akibat kebisingan. Nilai ambang tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi). karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang berasal dari jalur ini. Untuk itu. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis semisirkularis yang berisi cairan. adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga. penurunan kemampuan kerja. tenaga kesehatan perlu mengenali pengaruh bising terhadap kesehatan tenaga kerja. Anatomi Telinga Secara anatomi. cara yang digunakan untuk . sangat luas. Respon auditorik Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga manusia sebagai suatu informasi yang berguna. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. Hal ini perlu diketahui. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini. Secara definisi. Biaya yang harus ditanggung akibat kebisingan ini sangat besar. cara mendeteksi gangguan pendengaran akibat kebisingan. Suara yang nyaman diterima oleh telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan. alat-alat transportasi berat.

Pengukuran kekuatan suara secara umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz. Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang meningkat dengan adanya suara lain. makin kecil perbedaan yang dapat dideteksi oleh telinga manusia. Masking Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara adalah masking. GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang pendengaran. dsb). Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Trauma Akustik Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen. kerusakan tulang-tulang pendengaran. dengan kata lain. Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap suara yang didengar. nilai ambang di atasnya. Kekuatan suara sangat dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara. Jika seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber suara tersebut. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga. atau suatu alunan musik tertentu merupakan suatu proses harmonis di dalam otak manusia yang mengolah informasi auditorik berdasarkan frekuensi. Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran normal. dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga. Lokalisasi Sumber Bunyi Telinga mampu melokalisasi sumber suara/bunyi. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea. pendengaran orang tersebut berkurang. 3). Sensitivitas Pendengaran Kemampuan telinga untuk mengolah informasi akustik sangat tergantung pada kemampuan untuk mengenali perbedaan yang terjadi pada stimulus akustik. dan durasi. namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. Noise-Induced Temporary Threshold Shift Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Dengan menghitung menggunakan pita suara 2 atau 3 band. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu singkat. Fenomena ini dinamakan kelelahan auditorik. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Nilai ini penting dalam pengukuran di lapangan. 2). Pegeseran ambang pendengaran ini dapat berlangsung sementara namun dapat juga menetap. maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit Cermin Dunia Kedokteran No. Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara masking tersebut. Kemampuan telinga untuk membedakan sumber suara yang berjalan horizontal lebih baik daripada kemampuannya untuk membedakan sumber suara yang vertikal. atau kerusakan langsung organ Corti. Kemampuan ini merupakan kerja sama kedua telinga karena didasarkan atas perbedaan tekanan suara yang diterima oleh masing-masing telinga. amplitudo. yaitu trauma akustik. Pemahaman percakapan dan identifikasi suara-suara tertentu. cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noiseinduced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noiseinduced permanent threshold shift). Pajanan bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam. Kemampuan ini penting untuk memilih suara yang ingin didengarkan dengan mengacuhkan suara yang tidak ingin didengarkan. 144. karena bising akan mempengaruhi banyak orang dengan banyak variasi. dan juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. serta perbedaan saat diterimanya gelombang suara di kedua telinga.mendengar suara tersebut ( melalui earphone. Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata. Pada trauma akustik. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat. di udara terbuka. 2004 25 . yaitu selisih antara ambang pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising (satuan yang dipakai adalah desibel (dB)). Perbedaan minimum yang dapat dibedakan pada frekuensi suara yang sama tergantung pada frekuensi suara tersebut. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. Makin tinggi tekanan udara. dan waktu yang didengar untuk masing-masing rangsangan auditorik tersebut. Pebedaan kecil tekanan suara akan didengar oleh telinga sebagai kuat atau lemahnya suara. diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. pengeras suara. dsb). maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. Untuk menghindari kelelahan auditorik. Kekuatan suara Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar.

spektrum bising. dan sebagainya. biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas. tidak jarang disertai juga dengan adanya faktor kimia dan biologis. serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. dan keadaan pendengaran sebelum pajanan. pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik. dan sebagainya. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). Dari data observasi di lingkungan industri. dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif. serta faktor-faktor lain seperti usia. sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek. tes rekruitmen. tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini. serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising. obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen). 3000. serta aktivasi hormon kelenjar adrenal seperti hipertensi. sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain. bahwa keadaan bising di lingkungan seringkali disertai dengan faktor lainnya. berbicara dengan suara menggumam. untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini 26 Cermin Dunia Kedokteran No. gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. Efek jangka pendek berlangsung sampai beberapa menit setelah pajanan terjadi. 4000. faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara. meningkatnya tekanan darah. 1000. kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan. Efek ini dapat berupa gangguan homeostasis tubuh karena hilangnya keseimbangan simpatis dan parasimpatis yang secara klinis dapat berupa keluhan psikosomatik akibat gangguan saraf otonom. Pada pemeriksaan fisik. jenis kelamin. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan. 2004 merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan. Secara sederhana. Namun dapat pula terjadi respon pupil mata berupa miosis. pengukuran impedance. Efek jangka pendek Efek jangka pendek yang terjadi dapat berupa refleks otototot berupa kontraksi otot-otot. dan sebagainya. dilakukan pemeriksaan audiometri. hidung. Untuk menilai ambang pendengaran. untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga. respon gastrointestinal yang dapat berupa gangguan dismotilitas sampai timbulnya keluhan dispepsia. Efek jangka panjang dapat terjadi akibat efek kumulatif dari stimulus yang berulang. mustahil untuk mengisolasi kebisingan sebagai satu-satunya faktor risiko. disritmia jantung. jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara. tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan. Pemeriksaan telinga. refleks pernapasan berupa takipneu. trauma telinga karena agen fisik lainnya. berikut ini respon tubuh terhadap adanya kebisingan (Gambar 1). Pada skala frekuensi. Namun perlu diingat. bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik. Noise-Induced Permanent Threshold Shift Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia. dan 6000 Hz. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising. Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry. Weber. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran. Memeriksa pendengaran Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. . sedangkan efek jangka panjang terjadi sampai beberapa jam. seperti faktor fisika lain berupa panas. status kesehatan. getaran. alat transmisi ke telinga.setelah pajanan suara. Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi. durasi pajanan. dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga. spektrum suara. 144. untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500. serta dapat terjadi pecahnya organ-organ tubuh selain gendang telinga (yang paling rentan adalah paru-paru). hari ataupun lebih lama. dan sering timbul tinitus. Efek jangka panjang Efek jangka panjang terjadi akibat adanya pengaruh hormonal. durasi total pajanan. 2000. frekuensi yang diuji. Untuk itu pemeriksaan gangguan pendengaran pada pekerja perlu dilakukan dengan cara seksama dan hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam memberikan kompoensasi. EFEK FISIOLOGIS KEBISINGAN Efek fisiologis kebisingan terhadap kesehatan manusia dapat dibedakan dalam efek jangka pendek dan efek jangka panjang. Bila sudah terjadi kerusakan. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne. dan respon sistim kardiovaskuler berupa takikardia. dan pola pajanan temporal. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini.

144. barang atau jasa yang dihasilkan. dan permasalahan hukum harus diperhatikan dalam menetapkan hubungan kausal antara pajanan bising dan terjadinya gangguan pendengaran. kondisi medis. Riwayat pekerjaan dilakukan dengan menanyakan nama pekerjaan. pemeriksaan audiometri berkala juga merupakan upaya deteksi dini pula. Benar telah terjadi kehilangan atau gangguan pendengaran dan 2). 2004 27 Iskemaia Jantung Infark Miokard Stroke Gambar 1. untuk itu perlu dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan dokter harus melakukan supervisi terhadap pemeriksaan tersebut. Pada penderita yang mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. Suara yang asing. Bila sudah terjadi gangguan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi maka dapat dipikirkan penggunaan alat bentu dengar. jenis pekerjaan yang dilakukan (beserta tanggal atau waktu bekerja). tanggal bekerja dan umur saat itu. Namun penelitian efek kebisingan terhadap kemampuan kerja masih perlu dilakukan dengan seksama. mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Hal yang perlu diingat dalam menentukan kemungkinan adanya hubungan kausatif antara gangguan pendengaran dan bising di tempat kerja adalah 1). Survei kebisingan di tempat kerja harus memperhatikan teknik sampling agar pemeriksaan tingkat kebisingan dapat memberikan gambaran keadaan yang . Pemeriksaan ini bersifat subyektif. Pelaksanaan program pemeliharaan pendengaran (hearing program conservation) merupakan upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan di tempat kerja. KOMPENSASI TERHADAP KETULIAN PEKERJA AKIBAT BISING Faktor akustik. Hearing conservation program tidak akan dibicarakan secara mendalam pada tulisan ini. Dalam laporan pemeriksaan fisik harus tercantum identitas yang jelas (termasuk saat pemeriksaan dan dokter yang melakukan pemeriksaan). Selain itu. Ikhtisar Reaksi Tubuh terhadap Bising KEBISINGAN DAN KEMAMPUAN KERJA Gangguan terhadap kemampuan kerja pada umumnya terjadi karena meningkatnya kewaspadaan umum akibat rangsangan terus menerus pada susunan saraf pusat. pengawasan dan pengendalian administrasi merupakan upaya penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan di lingkungan kerja. suara di atas 95 dB adalah beberapa keadaan kebisingan yang dapat mempengaruhi kemampuan bekerja. keluhan utama. kondisi geografis dan lokasi fisik pekerjaan. Jika dipergunakan alat bantu dengar. interupsi suara berulang. riwayat pekerjaan. Tanda-tanda gangguan pendengaran harus dikenali secara dini. gangguan pendengaran yang saat ini terjadi. Dan gangguan pendengaran tersebut memang berasal dari pajanan bising di tempat kerja yang berlebihan. riwayat keluarga. Namun tetap perlu hati-hati untuk melakukan interpretasi penelitian tentang kemampuan atau performa kerja. penderita tuli akibat bising ini juga sulit mendengar suaranya sendiri sehingga diperlukan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume. tinggi rendah dan irama percakapan. perlu dilakukan latihan pendengaran agar pekerja dapat menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir. Koroner Oklusi Arteri Lainnya terjadi. Cermin Dunia Kedokteran No. riwayat penyakit dahulu. Penggunaan alat pelindung telinga. namun pada pemeriksaan efisiensi kerja terlihat pengaruh yang cukup bermakna. Perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan ganggguan pendengaran pada pekerja untuk menghindari permasalahan kompensasi yang timbul di kemudian hari. riwayat pelatihan militer. Diagnosis banding lainnya disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama. Pemeriksaan audiometri dilakukan untuk menilai derajat dan tipe gangguan pendengaran yang terjadi. PENATALAKSANAAN TULI AKIBAT BISING Pencegahan merupakan penatalaksanaan pertama dan utama pada kebisingan di lingkungan pekerja. Pada awalnya sulit dibedakan dengan gangguan emosional yang timbul akibat bising. Pemeriksaan audiometri pra kerja merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan data awal kondisi pendengaran tenaga kerja. durasi masing-masing pekerjaan.Bising Reaksi Stres Umum akibat Kenaikan Adrenalin dan Noradrenalin Kenaikan Tekanan Darah Respon Vegetatif Peningkatan Kebutuhan Oksigen Peningkatan Agregasi Trombosit Kerusakan Dinding Arteri Trombosis Arteriosklerotik Oklusi A. Jika pendengaran sudah sedemikian buruknya sehingga komunikasi sangat sulit maka perlu dilakukan psikoterapi lebih intensif agar pekerja dapat menerima keadaannya. terutama pada lingkungan industri.

144. Mosby. 4. Nilland J. In . Uji kemampuan menangkap pembicaraan dan diskriminasi suara 8. Harris CM (ed).defra. 3rd ed. Louis : 1994 Soepardi ES. Pemeriksaan audiometri nada murni untuk memeriksa hantaran udara dan hantaran tulang 7. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. St. dan hati-hati untuk menghindari kesalahan prosedur dalam memberikan kompensasi kepada tenaga kerja. Pemeriksaan fisik mendalam yang harus dilakukan adalah: 1. Edisi 5. Pada tulisan ini tidak akan dibahas mengenai perhitungan kompensasi. 2004 . 28 Cermin Dunia Kedokteran No. sumber suara atau kebisingan yang ada di pekerjaan (baik yang dahulu maupun saat ini). 2nd ed. harus dilakukan perhitungan formulasi gangguan pendengaran untuk memberikan kompensasi yang sesuai dengan kondisi pekerja tersebut.gov. Noise. February 6th. KEPUSTAKAAN 1. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. cermat. Occupational Hearing Loss. Iskandar N.uk/ environment/noise/health/page05. Food and Rural Affair. Jakarta : 2001 Department for Environment. adakah tanda-tanda abnormalitas 3. Tes rekrutmen Sesudah dilakukan pemeriksaan terhadap pekerja dan lingkungan kerja maka dapat ditentukan apakah gangguan pendengaran akibat pekerjaan ataukah sebab yang lain. Bila terjadi akibat pajanan bising berlebihan di tempat kerja. Horvarth EP. Pemeriksaan luar terhadap tanda-tanda jejas atau jaringan sikatrik yang menggambarkan adanya malfungsi. 3. Pemeriksaan gangguan pendengaran harus dilakukan secara teliti. Handbook of Noise Control. 2004. Pemeriksaan refleks kedua mata 4. Setiap pekerja harus dievaluasi secara individual. New York : 1979. Dickerson OB. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan dan deteksi dini untuk pencegahan karena kerugian yang harus dibayarkan akibat kebisingan ini cukup besar.htm. KESIMPULAN Kebisingan di tempat kerja dapat menimbulkan gangguan pendengaran dan gangguan sistemik yang dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas tenaga kerja. Kompensasi diberikan sesuai dengan ketentuan hukum yang berbeda di masing-masing negara. 2. McGraw-Hill Book Comp. Noise and Nuisance Policy : Health Effect Based Noise Assasment Methods : A review and Feasibility Study September 1998. Pemeriksaan dengan garpu tala 6. In : Zenz C. Occupational Medicine. Pemeriksaan otoskop untuk menilai gendang telinga. 2. http://www. (chief ed).penggunaan alat pelindung diri. Menilai ada atau tidaknya nistagmus 5. dan Hearing Conservation. Zenz C.

misalnya suara gergaji sirkuler. prevalensi NIHL 31. dari jajaran tertinggi sampai tenaga kerja pelaksana. Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 – 117 dB dengan prevalensi NIHL 27. kipas angin. mudah emosi. 144. suara katup mesin gas. Frechet mendapatkan data bahwa 55% daerah industri mempunyai tingkat kebisingan di atas 85 dB dan menurut survei prevalensi NIHL (Noise Induced Hearing Loss) atau TAB (Tuli Akibat Bising) bervariasi antara 40 – 50%. Di Indonesia. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2m/dt2. gergaji sirkuler. Roestam Subbagian Kedokteran Kerja.43%. di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31. Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter. Bising impulsif Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya. gangguan pendengaran saja 17. 2. kebisingan di lapangan terbang dll 4. Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi : 1. Cermin Dunia Kedokteran No. Pencegahan dampak buruk kebisingan memerlukan perhatian dan dukungan semua jajaran di tempat kerja. Waugh dan Forcier mendapat data bahwa perusahaan kecil sekitar Sydney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB. 2004 29 . 1997) mendapatkan bahwa mereka terpapar bising antara 97 – 101 dB dengan 50% NIHL.55% pada tingkat paparan kebisingan 85 . bising merupakan masalah utama kesehatan kerja.14% dan gangguan keseimbangan saja 27.81% dengan paparan kebisingan 86. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0. meriam dll. Pada kelompok ini pengemudi yang mengalami gangguan keseimbangan dan pendengaran sebesar 27.1 – 108. Penelitian pada pengemudi bajaj (Kertadikara.1997). jumlah seluruh gangguan mencapai 72. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas. Bising terputus-putus Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise. 1000 atau 4000 Hz). diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising melebihi 90dB di tempat kerjanya. dsb.2 dB (Lusianawaty). Di perusahaan plywood di Tangerang. Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara industri. suara dapur pijar. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon. Menurut WHO (1995). Selain itu kebisingan juga dapat menimbulkan keluhan non-pendengaran seperti susah tidur. Penerapan program konservasi pendengaran di tempat kerja bermanfaat untuk mencegah gangguan pendengaran akibat paparan bising. suara katup gas. Ini diperkuat dengan penelitian Yenni Basiruddin yang mendapatkan tingkat kebisingan dan getar pada pengemudi bajaj melebihi nilai ambang batas.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Program Konservasi Pendengaran di Tempat Kerja Ambar W. Nada kebisingan dengan demikian sangat ditentukan oleh jenis-jenis frekuensi yang ada.28% dari 350 pengemudi bajaj yang diperiksa. 3.5 detik berturut-turut.105 dB (Sundari.16 %.71%. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang di Amerika terpapar bising 85 dB atau lebih. Di Quebec-Canada. Apa yang disebut kebisingan Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara. tembakan.96 dB). dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000. rerata akselerasi getar 4. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa paparan di atas 85 dB dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. melainkan ada periode relatif tenang. yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus. Pada pengukuran bising didapatkan rerata intensitas bising bajaj 91 dB (64 dB .

serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. gangguan komunikasi dan ketulian. gangguan psikologis.waktu pemulihan bervariasi . d.Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif. terutama yang memilikis pektrum frekuensi lebar dan intensitas yang tinggi. yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. Untuk melindungi pendengaran manusia (pekerja) dari pengaruh buruk kebisingan. Gangguan komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara. dan lain-lain. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. peningkatan nadi. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising.reversible/bisa kembali normal Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat. daya dengarnya akan pulih sempurna. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam.patologis . PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN TENAGA KERJA Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja.menetap PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. cepat marah.non-patologis . Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut : a. tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain. namun bila terus menerus bekerja di tempat bising. Organisasi Pekerja Internasional /ILO (International Labour Organization) telah mengeluarkan ketentuan jam kerja yang diperkenankan. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising. Tabel 1. c. kurang konsentrasi. seperti letusan. stres. seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE. seperti gangguan fisiologis. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam. bising bernada tinggi sangat mengganggu. gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan 30 Cermin Dunia Kedokteran No. Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja. konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki. Bising yang dianggap lebih sering merusak pendengaran adalah bising yang bersifat kontinu. tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja. Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg).bersifat sementara . sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari. 1. Gangguan keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula. 144.25 atau kurang 5. 3. 5. Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb: • Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS . kelelahan. b. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis. Gangguan fisiologis Pada umumnya. 2004 . ledakan dan Di Indonesia. Ketulian bersifat progresif. sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. susah tidur.5 0. daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali. keselamatan tenaga kerja. Gangguan psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup. Batasan waktu dan Pajanan kebisingan Intensitas suara (dB) OSHA Indonesia 90 85 92 95 88 100 91 105 94 110 97 115 100 Jam kerja terpapar 8 6 4 2 1 0. dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap harikemudian menjadi ketulian menetap. Efek pada pendengaran Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian. 2. karena suara impulsif dengan intensitas tinggi. • Tuli karena Trauma akustik Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba. Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa. • Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap . intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB untuk waktu kerja 8 jam perhari. 4. yang dikaitkan dengan tingkat intensitas kebisingan lingkungan kerja sebagai berikut (Tabel 1). Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan.

Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI. dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana. 5. Orientation handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam mengikuti pembicaraan) b. Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik. Hearing Disability Didefinisikan sebagai kesulitan mendengarkan akibat hearing impairment. 4. Problem membedakan suara Secara ringkas dapat dikatakan efek hearing impairment terhadap disability berbeda pada setiap individu. namun merupakan pedoman. Problem komunikasi di tempat kerja b. Dilaksanakan oleh semua jajaran. ruang isolasi. hubungan baik dengan karyawan. mengurangi angka kesakitan. Dukungan manajemen 2. mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan.lainnya. rotasi kerja. Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut : 1. cepat sembuh secara parsial atau komplit. antara lain: 1. jadwal kerja . Serta bisa mengurangi stres. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis. angka turn-over karena lingkungan kerja akan rendah. dan lain-lain). Monitoring paparan bising 2. Problem dalam mendengarkan musik c. kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya. 1. 1994). ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit). bersifat menetap (irreversible). tinitus. 2004 31 . mengurangi angka kecelakaan. 6. Bagi karyawan Mencegah ketulian. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. 5. 144. 2. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting. 3. 3. Program selengkapnya adalah sebagai berikut : 4. biaya kesehatan yang membengkak serta kompensasi bila NIHL karena pekerjaan. oleh karena itu pencegahan terhadap gangguan pendengaran ini perlu diprioritaskan. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. Program pencegahan ini dikenal dengan istilah Program Konservasi Pendengaran. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat. Cermin Dunia Kedokteran No. menunjukkan itikad baik. Kontrol engineering dan administrasi 3. Hearing Impairment Didefinisikan sebagai kerusakan fisik telinga baik yang irreversible (NIHL/PTS) maupun yang reversible (TTS) 2. Occupational handicap (ketidakmampuan/keterbatasan dalam bekerja dan memilih karir) d. Menurut WHO diklasifikasikan sebagai berikut : a. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik. Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. kesejahteraan bukan santunan. terutama bila sampai NIHL dan juga merugikan perusahaan karena performance tenaga kerja yang menurun. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising. Problem mencari arah/asal suara d. Utamakan pencegahan bukan pengobatan. 6. 7. c. Handicap Ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang untuk melakukan suatu tugas yang normal dan berguna baginya. AKIBAT KETULIAN TERHADAP AKTIVITAS SEBAGAI TENAGA KERJA Akibat ketulian terhadap aktivitas sebagai tenaga kerja dibedakan atas : 1. proaktif bukan reaktif. Integrated dengan program K3 4. Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program. Tuli ini biasanya bersifat akut. meningkatkan produktivitas. Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja. PROGRAM PENCEGAHAN/ PROGRAM KONSERVASI PENDENGARAN Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi halhal berikut (NIOSH. Inability to cope with occupational requirement (ketidakmampuan/keterbatasan yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan) Kebisingan sangat merugikan tenaga kerja. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas 6. mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding. menggunakan mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses). Physical independence handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan untuk mandiri) c. Economic self-sufficiency handicap e. Bagi pengusaha Taat hukum. 5. b. Social integration handicap (ketidakmampuan/ keterbatasan dalam melakukan aktivitas normal harian. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri. seperti respons terhadap alarm atau pesan lisan f. Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal. Berupa policy statement 3. 2. Evaluasi audiometer Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE) Pendidikan dan Motivasi Evaluasi Program Audit Program Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja. menutup sumber kebisingan dengan barrier. misalnya : a. tergantung fungsi psikologis dan aktivitas sosial yang bersangkutan. langit-langit dan lantai. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur : a. 1996): 1.

4. Pengendalian administratif dilakukan dengan cara : 1. mengencangkan bagian mesin yang longgar.periksa tempat kerja . Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat kerja.bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz). konsulkan ke dokter THT . MONITORING PAPARAN BISING Tujuan monitoring paparan bising. EVALUASI AUDIOMETRI Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada : 1. Evaluasi : .Bila sudah memakai. kecepatan putaran atau isolasi.Bila belum menggunakan APD. Saat pindah tugas keluar dari tempat bising 5.setiap tahun dibandingkan dengan base-line . 3. . 144. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di setiap lokasi. ukur maximun dan minimumnya. Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap : a. 4. sedangkan bila antara 80 – 92 dB perlu pengukuran dan tindakan lebih lanjut (skala b). 6. b. 2. bila lebih dari 85 dB. Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan. Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai berpegas.dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dβA) .periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun Bila STS (+) karena pekerjaannya : . beri petunjuk ulang . Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang. yang sering juga disebut survei bising. Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). 7.engineering dan administratif Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising. bila bising > 85 dB 4. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara. alat pelindung telinga tidak akan memberikan II. maka disebut + (positif) Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah : . Pre-employment 2. Monitoring pendahuluan Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk pendengaran. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku. SOP pengukuran harus ada dan jelas. 2004 . Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) . diharuskan memakai . Monitoring bising terperinci Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan. 5.periksa dokter . 2. Pre-employment/preplacement/Baseline 2. 2. berdasarkan lokasi tempat kerja. tenaga mesin. Setiap tahun. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis). bila STS persisten atau membaik IV.I. 2. atau menggunakan APD 2. Exit Policy mengenai audiogram : 1. 3. adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja. dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. bertujuan untuk : 1. Mengikuti peraturan III. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai.periksa data kalibrasi alat . Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA 3. Penjadualan pengoperasian mesin 4. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara. Rotasi tenaga kerja 3. lakukan tahap selanjutnya c. Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut cukup aman untuk bekerja. Prinsip monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut : 1. Penempatan ke tempat bising 3. Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB).untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam Ada 2 macam monitoring paparan bising : 1. Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara periodik. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti. Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi 32 Cermin Dunia Kedokteran No. Mengatur jadual produksi 2. pengukuran dengan peta. Kecocokan. PENGGUNAAN APD Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga : 1. Annual monitoring 3.jika karena penyakit.komunikasikan dengan karyawan tersebut . dan lain-lain. Saat pensiun/purna tugas Tipe audiogram : 1.untuk baseline 14 jam bebas bising. catat lamanya terpapar (sekarang digunakan audiometer). KONTROL . Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi. menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja. konsul THT Lakukan revisi baseline. memberi pelumas secara teratur. contohnya : 1..paling lama dalam waktu 2 minggu . Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD. 5. Base line atau data dasar : .Bila perlu. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran 5.Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis . ukur tempat dan ruang kerja.

keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan yang produktif dan sehat. Penyuluhan khusus. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 dβ pada frekuensi tinggi Pemilihan alat pelindung telinga : 1. 3. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40. 3. Earplug bila bising antara 85 – 200 dBA 2. dengan sasaran : 1. perusahaan harus menyediakan APD ini. Nyaman dipakai. Tidak saja untuk melindungi pekerja. VI. 5. biaya. terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut. sehingga tenaga kerja termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. 144. 2. tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal. PENUTUP Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi pendengaran. terus menerus untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran. 4. Earmuff bila di atas 100 dBA 3. Cermin Dunia Kedokteran No. Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani.perlindungan bila tidak dapat menutupi liang telinga rapatrapat. kemudahan membersihkan dan kenyamanan Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut : TWA/dBA < 85 85 – 89 90 – 94 95 – 99 > 100 Pemakaian APD Tidak wajib/perlu Optional Wajib Wajib Wajib Pemilihan APD Bebas memilih Bebas memilih Bebas memilih Pilihan terbatas Pilihan sangat terbatas APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya. formable type b. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya. Jenis-jenis alat pelindung telinga : 1. APD yang digunakan. bandingkan data audiogram dengan baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program. PROGRAM AUDIT 1. premolded type Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya. pemeriksaan masing-masing area untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan. perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. Kemudahan pemakaian. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara. 3. Audit Eksternal. VII. identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol lebih lanjut.50 dB frekuensi 100 – 8000 Hz. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. 2004 33 . 2. dan mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. EVALUASI PROGRAM Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi. Beberapa tipe sumbat telinga : a. kesertaan supervisor dalam program. Kontrol engineering dan administratif. Hasil pengukuran kebisingan. custom-molded type c. Juga melalui penyuluhan diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung telinga. 2. 2. V. misalnya pelatihan dan penyuluhan. dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja.

net Redaksi CDK 34 Cermin Dunia Kedokteran No. 10 Juli 2004 Website : http://telmed.fkumy. 144.Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : Telemedicine Network in Indonesia di Yogyakarta. 2004 .

dan mengganggu gerakan penutupan glotis hingga sering terjadi aspirasi ludah. Epitel ini mudah terinfeksi hingga terjadi erosi mukosa trakea. Perubahan ini menyebabkan gagalnya silia mukosa bronkus mengeluarkan partikel-partikel tertentu dari paru. sedang trakeostomi ialah membuat stoma pada trakea. mengganti kanul trakeostomi dan membersihkan discharge yang terjadi. Trakeostomi meniadakan mekanisme filtrasi saluran napas bagian superior. cara membersihkan kanul dalam. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas. TRAKEOSTOMI Istilah trakeotomi dan trakeostomi dengan maksud membuat hubungan antara leher bagian anterior dengan lumen trakea. Definisi yang tepat untuk trakeotomi ialah membuat insisi pada trakea. pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volumelow pressure cuff. tekanan balon pada dinding lateral trakea dapat menyebabkan hipoksi epitel mukosa trakea. perawatan luka operasi di stoma. Untuk itu penderita harus mengetahui cara mengganti dan membersihkan kanul trakea serta tersedianya alat-alat yang diperlukan(2). melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus. Discharge trakea berkurang dan menjadi kental. terutama bila telah terjadi proses patologik yang menyebabkan penyempitan di daerah glotis. 144. Bogor. bakteri dan flora di dalam trakea penderita berasal dari sumber-sumber lain. Jawa Barat PENDAHULUAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan lalulintas udara pernapasan. pemeriksaan periodik kanul dalam. Bartlett dkk menyatakan dari hasil penyelidikannya bahwa pada trakea yang normal tidak terdapat bakteri. tidak ada korelasi antara bakteri dan flora saluran napas bagian atas dengan bakteri dan flora trakea penderita. sering saling tertukar. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dengan kanul trakea masih terpasang. Trakeostomi dapat mengganggu gerakan pengangkatan laring pada waktu menelan.PRAKTIS Perawatan Mandiri Pasca Trakeostomi HR Krisnabudhi ] Rumah Sakit Bina Husada Cibinong. Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi(1). Keadaan ini menyebabkan penderita enggan menelan dan sering tersedak karena aspirasi ludah ke dalam laring dan trakea. Trakeostomi memintas laring dan saluran napas bagian atas. yang sering ialah Pseudomonas aeruginosa dan kokus gram positif(4). akhirnya terjadi metaplasia skuamosa pada epitel trakea. bukan dari saluran napas bagian atas. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan akhir trakeostomi. Mudahmudahan informasi yang didapat dari kepustakaan ini berguna untuk mengelola pasien pasca trakeostomi di rumah. serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. mengurangi efektifitas refleks batuk. humidifikasi buatan. PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIOLOGIS AKIBAT TRAKEOSTOMI Di samping efek pada laring yang menyebabkan penderita tidak dapat berbicara. yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi. Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge. Selama di rumah penderita harus dapat memeliharanya agar jalan napas tetap lancar dan tidak terjadi komplikasi akibat kanul trakea. petunjuk dokter atau paramedis yang perlu diberikan kepada penderita. Trakeostomi mengurangi ruang mati (dead space) anatomik sampai 100 ml. Selanjutnya dikatakan. 2004 35 . trakeostomi juga meniadakan proses pemanasan dan pelembaban udara inspirasi. Cermin Dunia Kedokteran No. Hal ini sangat penting bagi penderita dengan tidal volume yang sangat terbatas. Berdasarkan permasalahan tersebut. Bila digunakan kanul trakea yang memakai balon. karena itu mengurangi tahanan terhadap aliran udara. akan diuraikan cara perawatan mandiri pasca trakeostomi oleh penderita(3). Pada discharge trakea penderita dengan trakeostomi sering ditemukan berbagai koloni bakteri.

Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali. Jika ditemukan krusta dari mukus tebal yang sering terbentuk di dalam kanul. d). teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. d). Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. Membersihkan kanul dalam Alat yang perlu disediakan ialah botol kecil. Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. sebagai berikut: 1). Angkatlah kanul dalam dan bersihkan. menggunakan lap atau kasa perban. Akan timbul gangguan saat menelan. uap air mengembun pada lempeng-lempeng metal dari kondensor. paling baik membersihkannya dengan memakai kasa basah di atas kanul. Cara membersihkan kanul dalam. Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. Iskemia dan nekrosis mukosa trakea. Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul. campuran gas ditiupkan melalui suatu T-piece atau melalui kotak plastik yang dilubangi. b). c). Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. mungkin akan bermasalah. Alat ini dipasang pada kanul trakea. Krusta diangkat dengan kapas aplikator yang dimasukkan ke dalam perhidrol. Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir berisi air yang secara teratur dipanaskan dengan termostat. lakukan setiap hari seperti menyikat gigi atau menyisir rambut. sehingga perlu dilakukan pengisapan. Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril. Condensor humidifier. Buatlah larutan sabun di dalam botol. Efektifitas tetesan ini tergantung pada jumlah tetesan dan kelembaban relatif udara inspirasi. 2). PERAWATAN MANDIRI PASCA TRAKEOSTOMI Pasca trakeostomi penderita akan diberi petunjuk oleh dokter atau paramedis perihal perawatan kanul trakeostomi. Angkat kanul dalam dengan cara pertama-tama putar kait kecil pengunci kanul 36 Cermin Dunia Kedokteran No. jangan diberi tekanan negatif. Alat ini relatif lebih efisien. Pastikan tidak ada air memasuki stoma. Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat. Sebelum melakukan pengisapan. sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. dan cairan penggosok perak. dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat. karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. Discharge ini akan keluar bila penderita batuk. Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. 2004 . Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. Jika mengalami kesulitan bernapas atau pernapasan menjadi berbunyi. Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a). Petunjuk umum Belajarlah merawat sendiri kanul trakeostomi atas tanggung jawab sendiri. Jika tergantung pada seseorang saat melakukan hal itu. pada saat dilakukan pengisapan atau pada saat penggantian kanul. kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. 144. mungkin diperlukan pelembab (bukan vaporizer). Peralatan hendaknya tersedia setiap saat melakukan perawatan kanul. Kekurangan alat ini ialah jika terjadi penimbunan discharge pada alat tersebut fungsinya akan berkurang. kasa perban. Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. siapkan alat-alat untuk resusitasi. setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. Beberapa jam pertama pasca bedah. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara inspirasi. Petunjuk untuk penderita ini tergantung pada keadaan penderita saat dari rumah sakit. panci bergagang. dan hati-hati membersihkan kulit di sekitar kanul. Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum. Jika udara rumah kering. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). penjepit. selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap. Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a). Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. Sebelum mengangkat kanul.PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI Adanya kanul di dalam trakea yang merupakan benda asing akan merangsang pengeluaran discharge. c). dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang. Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan. Kasa tersebut diikatkan pada leher dan harus diganti sesering mungkin. dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit. Pengeluaran discharge dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. saringan. Dengan adanya trakeostomi. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. Alat ini harus diganti setiap 3 jam. Kulit sekitar kanul dipelihara kebersihannya dengan air sabun. mungkin telah terdapat krusta atau mukus di dalam kanul. Bila penderita bernafas spontan. kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi(5). b). Bila didapatkan sekret yang kental. Pada waktu ekspirasi.

7). 144. Gambar 2. rendam di dalam cairan pembersih perak untuk beberapa menit. kanul dalam dan luar dibuat secara spesifik agar cocok satu dengan yang lain. cuci dengan baik memakai air dingin yang mengalir. 8). bahkan kanul dalam tidak akan saling tertukar dengan yang lain. menyebabkan kanul trakeostomi dapat dimasukkan dengan mudah. kemudian ditarik ke arah anterior dan posterior. Cuci kanul dalam dengan air dingin dan kemudian rendam untuk beberapa menit di dalam cairan sabun. Cermin Dunia Kedokteran No. Isi panci dengan air secukupnya untuk merendam kanul dalam (Gb. Setelah air mendidih. Masukkan kanul dalam ke tempatnya dan putar kait kecil pengunci untuk mengunci pada tempatnya. pelindung atau permukaan lempeng kanul trakeostomi dipegang dengan ibu jari dan jari telunjuk.2a). Kanul harus bersih dengan pita trakeostomi telah terpasang. Minimal sekali sehari didihkan kanul dalam setelah dibersihkan. 2). Salep dioleskan sangat tipis pada permukaan luar kanul trakeostomi untuk mempermudah memasukkannya. Pita trakeostomi yang digunakan pada kanul dapat satu atau dua untai (Gb. Untuk mengangkat kanul trakeostomi. 3). Gambar 1. 5). ke depan dan seterusnya sekeliling kasa yang diikatkan sampai bagian dalam kanul dalam bersih. Tarik kanul dalam ke belakang. 4). Adanya lubang pada anterior leher yang secara langsung berhubungan dengan trakea. 2). 6). oleh karena itu tidak boleh dicoba untuk digores. Biasanya.dalam dan kemudian tarik kanul dalam ke luar. 3). 2b). 4). Gunakan penjepit untuk membantu menarik kasa melalui kanul. Pembersihan kanul dalam Merebus kanul dalam Tahapan untuk merebus kanul dalam ialah : 1). Jika kanul dari perak telah memudar. krusta dapat diangkat dengan merendamnya. Goyangkan kanul dalam untuk mengangkat tetesan air. Cara sterilisasi kanul dalam Logam bahan pada kanul perak sangat lunak. Cara mengganti kanul trakeostomi Petunjuk khusus dari dokter dan perawat diperlukan sebelum penderita mengganti kanul trakeostominya. Angkat saringan dari panci bergagang. Bersihkan bagian dalam kanul dalam dengan kasa yang salah satu ujungnya diikatkan pada suatu tempat (Gb. pita trakeostomi dibuka lebih dahulu. 1). didihkan kanul dalam selama 5 menit. 3). Biarkan kanul dalam dingin untuk beberapa menit sebelum dimasukkan ke dalam kanul luar (Gb. Tidak boleh digunakan penggosok kasar untuk membersihkan kanul dalam. Kanul plastik dapat dibersihkan dan dididihkan dengan cara yang sama seperti halnya kanul perak. kemudian bersihkan dan cuci. tuangkan air dari panci. 2004 37 . Setelah kanul dalam bersih. 5). dan siap untuk dimasukkan sebelum pengangkatan kanul trakeostomi. Tempatkan kanul dalam bersih pada saringan dan tempatkan saringan pada panci bergagang (Gb. dan tempatkan kembali saringan dalam panci. oleh karena itu dapat tergores atau bengkok dengan mudah.

Potong satu lembar kasa membentuk segi empat dengan ukuran 16 x 17 inci. Cara menghisap Banyaknya discharge mukus bervariasi. 3). 2). Lipat 4 inci kasa pada tiap sisi. Gambar 4. Jika mesin penghisap tidak didapat. Lepaskan balon karet. penderita melihatnya melalui cermin dan pegang tiap sisi lempeng permukaan kanul dengan ibu jari dan jari telunjuk. hal yang penting ialah bahwa kanul dimasukkan segera setelah kotoran yang melekat pada kanul dibersihkan. tempatkan kasa di atas kanul. 144. Peralatan tersebut sering dididihkan untuk memelihara kebersihannya (Gb. 3). Gb.4). Kateter karet tidak boleh dimasukkan sampai melewati ujung dalam kanul trakeostomi. 4). Di samping itu. Tekan balon karet sebelum kateter dimasukkan ke dalam kanul trakeostomi. Mukus ini akan meningkat jumlahnya jika penderita dingin. 2004 . Tempatkan 2 buah pita yang panjangnya 5 inci atau kasa yang 38 Cermin Dunia Kedokteran No. Lipat 1 inci pada tepi atas dan bawah. 5). 2). 4” X 4 “ gauze pad Gambar 3. Kanul trakeostomi akan meluncur ke dalam dengan tekanan ke arah dalam secara halus. Cara penghisapan discharge Cara membuat kain alas di dada Penderita mungkin perlu memakai kain kasa alas di dada di bawah kanul trakeostomi. Lipat 2 kali untuk mengurangi lebar menjadi 4 inci. Penghisapan mungkin diperlukan untuk mengontrol mukus.Cara melakukan : 1). Setelah kanul trakeostomi terpasang di tempatnya dan pita trakeostomi diikat. jika udara dalam rumah kering. untuk mengeluarkan udara di dalamnya. Pegang kateter dengan salah satu tangan dan balon karet pada semprit dengan tangan yang lain. Mesin penghisap yang mudah dibawa dapat dipinjam dari rumah sakit dengan petunjuk penggunaannya. Cara penggantian kanul trakeostomi Pada saat memasukkan kanul trakeostomi. Bersihkan alat-alat dengan air sabun. semprit steril atau kateter yang dapat dibeli di toko obat atau apotik bisa digunakan sebagai penghisap. atau jika kanul teriritasi. Cara membuat alas dada untuk dipakai di bawah kanul trakeostomi ialah sebagai berikut : 1). mukus akan terhisap ke dalam kateter dan semprit. Alas dada dari kasa trakeostomi steril mungkin tersedia dari pusat sterilisasi rumah sakit. khususnya bila terdapat drainase sekitar kanul. Siapkan alat-alat. kecuali jika ada instruksi khusus untuk melakukannya dari dokter. 5 dan 6 menunjukkan cara membuat dan menggunakan alas di dada. 4).

Petunjuk ini tergantung pada keadaan penderita saat pulang dari rumah sakit. 5th ed. In : Logan Turner's Diseases of the nose. cara membersihkan kanul trakea. Dokter atau paramedis perawatan harus memberikan petunjuk perihal perawatan kanul trakea. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap keberhasilan tujuan akhir trakeostomi. Kasa 2x2 inci telah disetik pada tempat dan dimasukkan di bawah pita trakeostomi pada tiap sisi kanul trakeostomi. nose and throat diseases. Bireell JF. Tracheostomy. kasa 4 x 4 inci.5). Satu tiap tepi dari kasa terbuka 4x 4 inci. Pakaikan kasa trakeostomi alas dada. 5). masukkan pita atau tali pengikat pada tepi bagian atas dari bawah pita trakeostomi alas dada tiap sisi kanul trakeostomi. 6). Kasa 2 x 2 inci dapat dipeniti di bagian dalam (Gb. merebus kanul dalam. Cermin Dunia Kedokteran No. 2. Selama di rumah penderita harus dapat memelihara kanul trakea. kasa 4 x 4 inci yang tidak terlipat. panjangnya 6 inci. Maran AGD. 1). Me Dowall GD. Me Kailum JR. 1978 .. 3). 1567-73. Cara membuat alas trakeostomi Cara lain untuk membuat alas dada trakeostomi lebih mudah tetapi sedikit lebih mahal. Lipat tali pengikat atau pita dari alas dada di atas pita trakeostomi dan lipat kasa ke atas. mengganti kanul. 5). Boies LR. Cara lain membuat alas dada dipakai di bawah kanul trakeostomi Gambar 5. Pasca trakeostomi kadang-kadang penderita pulang dari rumah sakit dengan kanul trakea masih terpasang. Jika kasa tidak terlipat. kasa 2 x 2 inci telah dibuat dengan melipat kasa dua kali. Perawatan trakeostomi mandiri meliputi petunjuk umum. Tracheostomy. Sebuah kasa 4 x 4 atau dua buah kasa 2 x 2 diperlukan untuk tiap alas dada. Dua kasa tidak terlipat 2 x 2 inci dipakaikan. Bristol : John Wright and Sons Ltd. Gambar 6. Pastikan tali pengikat pada permukaan depan alas dada dengan peniti kecil yang aman (Gb. Me Klay K. 705-17. throat and ear. 5th ed. A Textbook of ear. 2). Kasa 2 x 2 inci kemudian dilipat ke bawah di atas pita trakeostomi. 6). Tokyo : Igaku Shoin Ltd. 1977 . Adams GL. menghisap discharge. In :Boies's Fundamentals of Otolaryngology. 144. 2004 39 . dan cara membuat kain alas dada untuk trakeostomi. RINGKASAN Trakeostomi ialah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi afiksi jika ada gangguan lalulintas udara pernafasan. KEPUSTAKAAN 1. 4). Kasa 4 x 4 inci telah dilipat ke atas.dipotong tepi lipatan pada bagian tepi atas separuh lipatan kasa dan setik silang bagian atas untuk mengkokohkan pita pada tempatnya. Paparella MM.

Co. 91: 355-61. Lee KJ. Ann Otol 1975 . Natvig K. Toledo PS. London : Butterworths. J Laryngol Otol 1981. Complications and postoperative care after tracheostomy. 20. 11. A preparation guide. Lulenski GC. 7. Vol. 688-708.obgyn-bandung. Scott-Brown's diseases of the ear. Ann Otol 1980. Otolaryngology. 2nd ed. diaphragma and esophagus. Wright D. Montgomery WW. Basic sciences and related disciplines. Evans CC. Otolaryngology. 1955. 13. Basic sciences and related disciplines. Shapiro RS. 4. respiratory apparatus. Silicone tracheal canula. Skripsi di Bagian THT/RSCM. 87 : 99-108. Lore JM. Long custom made plastic tracheostomy tube in severe tracheomalacia. Tracheostomy and laryngotomy. 13 – 15 Juli 2004 Website : http://www. Laryngoscope 1981. Arch Otolaryngol. Tracheostomy and artificial ventilation in the treatment of respiratory failure. The Otolaryngology board.3. Ann Otol 1978 . (ed). Tood GB. Siregar Z. Batsakis JC. Embriology and anatomy of the larynx. 95: 61-8. Redaksi Mengucapkan Selamat atas diselenggarakannya : PIT XIV POGI “Meningkatkan Profesionalisme Berlandaskan Etika Melalui Kerjasama Antar Pusat Pendidikan Obstetri dan Ginekologi dalam Era Pasar Bebas”. Fundamental international techniques. Philadelphia : WB Saunders Co. 15. Manual for care of Montgomery silicone tracheal Ttube. Basic sciences. Adverse effects of tracheostomy for sleep apnea. 144. 88 : 589-97. Montgomery WW. 19. London : Edward Arnold Ltd. Long term tracheal dimensions after flap tracheostomy. 18. 2004 . (eds).org Redaksi CDK 40 Cermin Dunia Kedokteran No. Crawley BE. In: Paparella. Philadelphia : WB Saunders Co. 246 : 34750. Philadelphia: WB Saunders. Davies J. Shumrick DA. Krikotirotomi. In : Ballantyne. Paparella MM. Magilligon DJ. Evans JNG. Ann Otol 1980. Shumrick (eds). 10. Galood HD. 107 : 114-6. 1973. Putney FJ. 242-8. Laryngo-tracheoplasty. 1973 . In: Ballantyne J.. Nose and throat. New York : Medical Examination Publ. Vol II. 17. 1973. 1971 : 31-61. 1979 . 84 : 781-6. Olving JH. Vol I. Lulenski GC. 1. Fujita S. 12. 3rd ed. JAMA 1981. Operative Surgery. Grooves. 14. 2nd ed. 16. Tracheal incision as a contributing factor to tracheal stenosis. Tracheal changes in relation to different tracheostomy technique (An experimental study on rabbits). (eds). Victor LD. 8. 5. 89 (suppl 73): 1-7. Inc. Arch Otolaryng 1981 . 1976 . An experimental study. Feldman SA. London : Butterworths. vol I. Martin WM. 62 : 272-6. Comparison of five type of tracheostomy tubes in the intubated trachea. J Laryngol Otol 1974 . Roth T. Bandung. Conway WA. Zorick FJ. Physiology of the larynx and tracheobronchial tree. 9. 89 : 521-8. 1973 : 170-96. 433-75. 19 September 1981. An atlas of head and neck surgery. Steel PM. 6. 4th ed. nose and throat.

karena berjalan dengan kedua tungkainya. yang sering digambarkan sebagai rasa berputar. 144. selain itu diperlukan juga informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya. 2004 41 . Indonesia PENDAHULUAN Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek. umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan. Bagan Sistim Keseimbangan Manusia Cermin Dunia Kedokteran No. Vertigo – berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar – merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Vertigo: Aspek Neurologi Budi Riyanto Wreksoatmodjo Rumah Sakit Marzuki Mahdi. Gambar 1. tak stabil (giddiness. Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gb. serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah informasinya. Bogor. sehingga lebih memerlukan informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan. SISTIM KESEIMBANGAN Manusia. unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness). terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian. relatif kurang stabil dibandingkan dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki. Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor.1) . selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh. rasa oleng. deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi.

serebelum) atau rasa melayang. Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1. muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis. Neural Store Sensory input (Rangsangan gerakan) pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo. 2004 .(Gb. yang berkembang menjadi gejala mual. melainkan gejala dari penyakit yang letak lesi dan penyebabnya berbeda-beda. Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda). vestibulum dan proprioseptik. Skema Klasifikasi Vertigo 6. Berbeda dengan teori rangsang berlebihan. Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus. berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). 3). mual dan muntah.2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulangulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsurangsur tidak lagi timbul gejala.PATOFISIOLOGI Rasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat. Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi. akibatnya akan timbul vertigo. Skema teori Neural Mismatch Sentral Vertigo Patologik BPPH Perifer Meniere Infeksi Trauma Iskemi Fisiologik Ketinggian. PAR : Parasympathic Nervous System Teori sinap Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. belajar dan daya ingat. nistagmus. atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis. timbul reaksi dari susunan saraf otonom. Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor). teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mem42 Cermin Dunia Kedokteran No. 5. TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO Seperti diuraikan di atas vertigo bukan suatu penyakit tersendiri. 2. menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat. Comparator Unit Psikogenik Mismatch Signal Sindrom Fobia Gambar 2. Mabuk Udara 4. 144. Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik. sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan. Normal Motion Sickness Adapted PAR PAR SYM SYM SYM PAR Gambar 3. gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan. letak lesi dan penyebabnya. pada setiap penderita vertigo harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang cermat dan terarah untuk menentukan bentuk vertigo. ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler. Keseimbangan Sistim Simpatis dan Parasimpatis Keterangan : SYM : Sympathic Nervous System. peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. 3. Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata). sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gb. Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu. (Skema) Oleh karena itu. teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab.

progresif atau membaik. hilang timbul. salisilat. selain itu harus dipertimbangkan pula faktor psikologik/psikiatrik yang dapat mendasari keluhan vertigo tersebut. Fungsi vestibuler/serebeler a.ANAMNESIS Pertama-tama ditanyakan bentuk vertigonya: melayang. tujuh keliling. rasa naik perahu dan sebagainya. vestibularis. apakah akibat kelainan sentral – yang berkaitan dengan kelainan susunan saraf pusat – korteks serebri. Juga kemungkinan trauma akustik. goyang. kepala dan badan berputar ke arah lesi. Penggunaan obat-obatan seperti streptomisin. kongestif. penyakit paru juga perlu ditanyakan. bising karotis. c. Tandem Gait: penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Uji Romberg PEMERIKSAAN FISIK Ditujukan untuk meneliti faktor-faktor penyebab.duduk dan berdiri. Pendekatan klinis terhadap keluhan vertigo adalah untuk menentukan penyebab. Dalam menghadapi kasus vertigo. kanamisin. hipoglikemi. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh. Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit.batang otak. tekanan darah diukur dalam posisi berbaring. baik kelainan sistemik. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. hipotensi. Uji Unterberger. Pemeriksaan Fisik Umum Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik. serebelum. hipertensi. lalu letak lesi dan kemudian penyebabnya. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang. 2004 43 . ketegangan. kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. anemi. Profil waktu serangan Vertigo pada beberapa penyakit Gambar 5. Cermin Dunia Kedokteran No. penyakit jantung. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. Gambar 4. 144. Uji Romberg (Gb. atau berkaitan dengan sistim vestibuler/otologik. keletihan. Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada: 1. agar dapat diberikan terapi kausal yang tepat dan terapi simtomatik yang sesuai. Apakah juga ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai/ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. kronik. 5) : penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. berputar. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. Profil waktu: apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan. Beberapa penyakit tertentu mempunyai profil waktu yang karakteristik (Gambar 4)(6. gagal jantung b. paroksimal. otologik atau neurologik – vestibuler atau serebeler. hipertensi. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi. pertama-tama harus ditentukan bentuk vertigonya. Faktor sistemik yang juga harus dipikirkan/dicari antara lain aritmi jantung. hipotensi. antimalaria dan lain-lain yang diketahui ototoksik/vestibulotoksik dan adanya penyakit sistemik seperti anemi. gerak bola mata/nistagmus dan fungsi serebelum. Perlu diketahui juga keadaan yang memprovokasi timbulnya vertigo: perubahan posisi kepala dan tubuh. dapat berupa pemeriksaan fungsi pendengaran dan keseimbangan. 7).

9) Perhatikan adanya nistagmus. Fungsi Vestibuler Uji Dix Hallpike (Gb. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi. pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. Kepala harus menggantung ke bawah dari meja periksa Gambar 8. jika ada gangguan vestibuler unilateral. Gambar 9. Uji Babinsky-Weil (Gb. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)(Gb. 7) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan. Secara cepat gerakkan pasien ke belakang (dari posisi duduk ke posisi terlentang) Gambar 7.9) Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer. kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Uji Dix-Hallpike 44 Cermin Dunia Kedokteran No. lakukan uji ini ke kanan dan kiri Gambar 6. 144. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas. Uji Unterberger Kepala putar ke samping d. Uji Babinsky Weil Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis(8. 8) Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit.1. 2004 . Uji Tunjuk Barany e. a.

Bekesy Audiometry. 2004 45 . Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik). Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan. Foto Rontgen tengkorak. dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus. gangguan cara berjalan).Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga. Latihan lain yang dapat dicoba ialah latihan visual-vestibular. 2. ialah untuk memperbaiki ketidak seimbangan vestibuler melalui modulasi transmisi saraf. selain kausal (jika ditemukan penyebabnya). tahan selama 30 detik. sehingga kepalanya menggantung 45º di bawah garis horisontal.iv. Magnetic Resonance Imaging (MRI). VIII. Stenvers (pada neurinoma akustik).5 mg 3 dd 25-100 mg 3 dd 25 mg 4 dd 25-50 mg 3 dd 5 mg 2 dd 10-20 mg 3-4 dd 6-12 mg 3 dd 8-16 mg 3 dd im. baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin.Dari posisi duduk di atas tempat tidur. Bestalin Stugeron Sibelium Buscopan Hyscopan Merislon 6 mg Betaserc 8 mg Lama Kerja (jam) 4-6 4-6 4-6 12-24 4-6 72 4-6 4–6 Dosisi Dewasa Tingkat Sedasi + ++ ++ + ++ + + ++ 0 + + 0 0 0 Rute Lain im im. SISI. sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga. Weber dan Schwabach. tahan selama 30 detik. kampus visus. hilang dalam waktu kurang dari 1 menit. bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue). Tabel 3. Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30º. c. b. bawah. Brainstem Auditory Evoked Pontential (BAEP). Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler) Nama Dagang Marezine Dramamine Benadryl Bonine. Juga fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas). dan fungsi menelan. parestesi) dan serebeler (tremor. Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus. sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral. Audiometri Ada beberapa macam pemeriksaan audiometri seperti Loudness Balance Test. okulomotor. Avopreg Transderm Scop Holopon Iterax.5-25 mg 2-3 dd 25 mg 4 dd 0. Pencitraan: CT Scan.iv. nistagmus dan vertigo berlangsung lebih dari 1 menit. Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik. Tone Decay. Antivert Phenergan. dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif. sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Pasien duduk tegak di tepi tempat tidur dengan tungkai tergantung. 4. dengan tes-tes Rinne. lalu tutup kedua mata dan berbaring dengan cepat ke salah satu sisi tubuh. otot wajah. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30ºC) dan air hangat (44ºC) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit.fungsi sensorik (hipestesi. Arteriografi. (Tabel 3). kemudian kepalanya dimiringkan 45º ke kanan lalu ke kiri. 3. Weber lateralisasi ke sisi yang tuli. Fungsi Pendengaran Tes garpu tala Tes ini digunakan untuk membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif. akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue). pendengaran. Pemeriksaan laboratorium rutin atas darah dan urin.rec Hydroxyzine Ephedrine Cinnarizine Flunarizine Hyoscine Betahistin sc. iv im. Pada tuli konduktif tes Rinne negatif. penderita dibaringkan ke belakang dengan cepat. dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral. a. kemudian duduk tegak kembali.rec Nama Generik Cyclizine Dimenhydrinate Diphenhydramine Meclizine Promethazine Scopolamine 50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 25-50 mg 4 dd 12. 2. 144. Neurofisiologi:Elektroensefalografi(EEG). Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. leher. Pemeriksaan Penunjang 1. TERAPI Tujuan pengobatan vertigo. Setelah 30 detik baringkan tubuh dengan cara yang sama ke sisi lain. Perhatikan saat timbul dan hilangnya vertigo dan nistagmus. b.Elektromiografi (EMG). berupa gerakan mata melirik ke atas. Sentral: tidak ada periode laten. Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit. umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik. dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. iv im im - Selain itu dapat dicoba metode Brandt-Daroff sebagai upaya desensitisasi reseptor semisirkularis (Gambar 9). Latihan ini dilakukan berulang (lima kali berturut-turut) pada pagi dan petang hari sampai tidak timbul vertigo lagi. sensorik wajah. Gambar 9. dan Schwabach memendek. kemudian duduk tegak kembali.5 mg 1 dd 0. kiri dan kanan me Cermin Dunia Kedokteran No.

Perhimpunan Ahli Telinga Hidung dan Tenggorok Indonesia cabang DKI Jakarta. diuretik ringan bersama diet rendah garam. Duphar. Joesoef AA. Makalah lengkap Simposium dan Pelatihan Neurotologi. terapi profilaktik juga belum memuaskan. 5. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya. demikian juga gentamisin. 14 Desember 1991. 6.vestibularis. hal. Obat penyekat alfa adrenergik. jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis. KEPUSTAKAAN 1. 4. Andradi S. diduga disebabkan oleh infeksi virus. tanpa tahun. Vertigo ditinjau dari segi neurologik. Vertigo. derivat kina atau antineoplasitik yang mengandung platina. Monograf. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan gejala. Tinjauan umum mengenai vertigo. Saat ini dikaitkan dengan kondisi otoconia (butir kalsium di dalam kanalis semisirkularis) yang tidak stabil. diuretik loop. Streptomisin lebih bersifat vestibulotoksik.ngikuti gerak obyek yang makin lama makin cepat. Perdossi. tetapi 60-80 % akan remisi spontan. koordinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler. Neuritis vestibularis Merupakan penyakit yang self limiting. 2002.xiii-xxviii. yang makin lama makin cepat. Beberapa penyebab vertigo yang sering ditemukan antara lain: Benign paroxysmal positional vertigo Dianggap merupakan penyebab tersering vertigo. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif berupa dekompresi ruangan endolimfatik dan pemotongan n. selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati. Patofisiologi Tinitus dan Vertigo. amikasin dan netilmisin lebih bersifat ototoksik. Kelompok Studi Vertigo Perdossi. RINGKASAN Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek. asam nalidiksat. Terapi fisik dan manuver Brandt-Daroff dianggap lebih efektif daripada medikamentosa.(eds. Belum ada pengobatan yang terbukti efektif. 2. sedangkan kanamisin. antiinflamasi nonsteroid. Kusumastuti K. tanpa tahun. 2004 . metronidaziol dan minosiklin. tanpa tahun. selain vertigo. Mobilisasi dini dianjurkan untuk merangsang mekanisme kompensasi sentral. pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur. Dalam: Joesoef AA. umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan. Monograf. Dalam: Simposium Tinitus dan Vertigo. berhenti merokok. Kelompok Studi Vertigo. Vertigo akibat obat Beberapa obat ototoksik dapat menyebabkan vertigo yang disertai tinitus dan hilangnya pendengaran. penggunaan obat supresan vestibuler tidak dianjurkan karena jusrtru menghambat pemulihan fungsi vestibluer. dapat dilakukan labirintektomi atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal). Harahap TP. biasanya disertai juga dengan tinitus dan gangguan pendengaran. Seri edukasi. diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik. Every true genius must be natural or it is none (Schiller) 46 Cermin Dunia Kedokteran No. Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein. Diagnosis dan Terapi. 3. Terapi kausal tergantung pada penyebab yang (mungkin) ditemukan. Antimikroba lain yang dikaitkan dengan gejala vestibuler antara lain sulfonamid. vasodilator dan antiparkinson dapat menimbulkan keluhan rasa melayang yang dapat dikacaukan dengan vertigo. Terapi berupa penghentian obat bersangkutan dan terapi fisik. membatasi asupan garam. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat. Patofisiologi. Sekitar 50% pasien akan sembuh dalam dua bulan. umumnya hilang sendiri (self limiting) dalam 4 sampai 6 minggu. 7.Obat-obat itu antara lain aminoglikosid.1999. 24 Juli 2001 Mengenal Pusing dalam Praktek Umum. 144. terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil.. Dapat dicoba pengggunaan vasodilator. Neurootologi klinis:Vertigo. Aspek Neurologi dari Vertigo. Di awal sakit. Penyakit Meniere Dianggap disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen endolimfatik di telinga dalam. Syeban ZS. kemudian diikuti dengan gerakan fleksi–ekstensi kepala berulang dengan mata tertutup. Sedjawidada R.). bisa alat dan saraf vestibuler. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer.

L. Sindrom Lermoyes. Labirin picu (trigger labyrinth).Vertigo posisional paroksismal laten. sempoyongan. Gejalanya menyebabkan pasien takut dan cemas. Di antara serangan. 2.Vertigo posisional paroksismal benigna. kemudian berangsur-angsur mengurang. penderita sama sekali bebas keluhan. 3. tumor fossa cranii posterior. Vertigo paroksismal 2. diterapi dengan akupunktur dan menunjukkan hasil memuaskan. termasuk di sini adalah : . KLASIFIKASI Berdasarkan gejala klinisnya. termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Sindrom Cogan. Migren ekuivalen. melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus. keluhannya konstan tanpa Cermin Dunia Kedokteran No. pusing. peluh dingin. rasa mengambang. bahkan orang tua usia sekitar 75 tahun. Arakhnoiditis pontoserebelaris. Berikut dilaporkan kasus vertigo pada seorang wanita 50 tahun. kemudian menghilang sempurna. Vertigo pada anak (Vertigo de L’enfance). Vertigo kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut. tergolong sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere. mual. unstable). Epilepsi. terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh (2). DEFINISI Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). 3. Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. Cipto Mangunkusumo. berlangsung beberapa menit atau hari. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. kepala terasa enteng. Vertigo perlu dipahami karena merupakan keluhan nomer tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja. kelainan gigi/ odontogen. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : 1. 50 % datang ke dokter dengan keluhan vertigo(2) . mumet. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok (2): 1. rasa melayang (1). Jakarta ABSTRAK Vertigo merupakan kasus yang sering terjadi. PENDAHULUAN Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan (1) Istilah yang sering digunakan oleh awam adalah: puyeng. Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap. Yvonne Siboe Departemen Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi. 144. Yang tanpa disertai keluhan telinga. muntah) dan pusing (2). . dapat disertai gejala lain.PRESENTASI KASUS Terapi Akupunktur untuk Vertigo Prasti Pirawati. tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. 2004 47 . pening. Pengobatan vertigo secara konvensional dengan obat-obatan kadang-kadang kurang berhasil. otonomik (pucat. tujuh keliling.

48 Cermin Dunia Kedokteran No. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan. kolesteatoma. sindrom pasca komosio.ENG . Nervus VIII. kelainan endokrin. dan proprioseptik. unsteadiness. labirintitis kronis. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual. abses. 2. III. akan diproses lebih lanjut. 2. b. rudapaksa dengan perdarahan. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. intoksikasi obat. herpes zoster otikus. Kelainan mata: kelainan proprioseptik.Pemeriksaan fisik umum. 3. sklerosis multipleks. kelainan kardiovaskuler. visual. meningitis Tb. 2. TERAPI Terdiri dari : 1. Anamnesis. Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. vertigo epidemika. dibedakan menjadi : 1. f. pelagra. keadaan menstruasi-hamilmenopause. Terapi kausal . e. stenosis dan insufisiensi aorta. informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. sklerosis multipel. sinkop.Vertigo servikalis. serangan vaskular. di samping itu. dibedakan menjadi: 1. PATOFISIOLOGI Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. 6. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler. ensefalitis pontis.Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh . 2004 4. Epilepsi. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar. fibrilasi atrium paroksismal. siringobulbi. Tumor.Radiologik dan Imaging . atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. Intoksikasi. Vertigo yang dipengaruhi posisi : . Ada pula yang membagi vertigo menjadi(3) : 1. ETIOLOGI 1. kelainan okuler. DIAGNOSIS 1.Audiometri dan BAEP . lues. Kelainan psikiatrik: depresi. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer : a. sindrom arteria vestibularis anterior. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus. cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis.Pemeriksaan otologik . tumor. 5.(2).Pemeriksaan neurologik . c. fobia. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. perdarahan labirin. dan EKG. arteriosklerosis. Pemeriksaan tambahan : . neuritis n. mabuk gerakan. hipoparatiroid. perdarahan. vertigo postural. lesi labirin akibat bahan ototoksik.EEG. Migren. labirintitis akuta. hidrops labirin (morbus Meniere ). dan vestibulospinalis. ensefalitis. e.VIII. sklerosis multipleks. tumor serebelopontin. hipotensi ortostatik. IV dan VI. Penyakit SSP : a. 3. ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. EMG. : infeksi. maka proses pengolahan informasi akan terganggu. otitis media purulenta akuta. trauma. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik. hipoglikemi. sumbatan arteria serebeli inferior posterior. otitis media dengan efusi.Pemeriksaan mata . benda asing. Pemeriksaan fisik : . jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar. 144. neurosa cemas. labirintitis. Trauma kepala/ labirin. trauma. jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. Infeksi : meningitis. susunan vestibuloretikularis. tumor. Lues serebri. 2. 2. Telinga bagian luar : serumen. Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri. kelainan psikis. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Hipoksia – Iskemia otak. Disertai keluhan telinga : Trauma labirin. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. trauma. hipoglikemi. anemia. Kelainan endokrin: hipotiroid. : Hipertensi kronis. hipertensi kardiovaskular. ensefalitis vestibularis. sindrom hiperventilasi.Hipotensi ortostatik . sindrom sinus karotis. blok jantung. b. tumor medula adrenal. trombosis arteria serebeli posterior inferior. c. yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis.Laboratorium . Dalam kondisi fisiologis/normal. Vertigo yang serangannya mendadak/akut. hematobulbi. Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika. alergi.serangan akut. d. 3.Psikiatrik 4. berangsurangsur mereda. d. Inti Vestibularis: infeksi. Pemeriksaan khusus : .

2. 3.

Terapi simtomatik Terapi rehabilitatif

TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR Menurut Ilmu Akupunktur, vertigo termasuk golongan Xuan Yun (pusing = dizziness), disebabkan oleh hiperaktivitas Yang Hati, sehingga mengganggu telinga; atau karena akumulasi reak di Jiao–tengah sehingga menyumbat naiknya Qi ke telinga (4). Gejala Klinis(4,5 ) Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lembut atau seperti senar dan halus. Jika disebabkan oleh naiknya Yang Hati dan berkurangnya Yin Ginjal timbul gejala-gejala: puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis, nadi senar dan seperti benang. Etiologi & Patofisiologi ( 6 , 7 , 8 ) 1. Hiperaktifitas Yang Hati Disebabkan oleh stagnasi Qi Hati, sehingga menimbulkan api Hati dan angin Hati berlebihan yang naik mengganggu Qi di dalam kepala, sehingga timbul puyeng (pusing). Hiperaktifitas Yang Hati lama-kelamaan bisa mengakibatkan defisiensi Yin Hati.. 2. Defisiensi Qi dan darah Disebabkan oleh perdarahan kronis atau gangguan pencernaan sehingga Limpa dan Lambung lemah menyebabkan pembentukan Qi dan darah kurang, kulit pucat, pusing dan penglihatan kabur. 3. Defisiensi Cing Ginjal. Akan mengakibatkan gangguan telinga, otak, dan organorgan lain, terutama Hati, Limpa-Lambung, dan Jantung, sehingga timbul gejala vertigo. 4. Stagnasi lembab di Jiao-tengah. Lemahnya Limpa dan Lambung menyebabkan terbentuknya reak dan lembab yang menyumbat di Jiao tengah sehingga Qi terhambat untuk naik/turun, mengakibatkan vertigo. Terapi (4,5,6 ) 1. Jika akibat Hiperaktifitas Yang Hati, prinsip terapinya : Menenangkan Yang Hati, menguatkan Yin Hati, menghilangkan angin dalam, mengurangi kelebihan api Hati, melancarkan Qi Hati. Titik-titiknya : Baihui (GV 20) atau Fengchi (GB 20), Xingjian (LR 2), Qiuxu (GB 40), Taichong (LR 3). 2. Jika karena Defisiensi Qi dan darah, prinsip terapinya : Memelihara Qi dan darah dengan menguatkan Limpa, jika Qi dan darah tidak bisa naik ke kepala, maka Jantung dan Limpa dikuatkan. Titik-titiknya : Hegu (LI 4), Sanyinjiao (SP 6), Shenmen (HT 7). 3. Jika akibat defisiensi Cing Ginjal, prinsip terapinya : Menguatkan Ginjal

Titik-titiknya : Guanyuan ( CV 4 ), Taixi ( KI 3 ), Shenshu ( UB 23 ), Fuliu ( KI 7 ). 4. Jika akibat stagnasi lembab di Jiao-tengah, prinsipnya : Menguatkan Limpa, menyeimbangkan Lambung, menghilangkan lembab dan menghilangkan reak, sehingga melancarkan Qi dalam Limpa-Lambung. Titik-titiknya : Pishu ( UB 20 ), Yinlingquan ( SP 9 ), Fenglong ( ST 40 ). KASUS I. Identitas penderita Nama Umur Jenis kelamin Agama Status perkawinan Pekerjaan Berobat tanggal

: : : : : : :

Ny. YR 50 th perempuan Islam menikah PNS (Fisioterapis) 4 September 2003

II. Anamnesis Keluhan utama : kepala terasa muter sejak 1 bulan Keluhan tambahan : mual . Perjalanan penyakit : - Kira-kira 1 bulan yang lalu pasien merasa leher sebelah kanan sakit; lama-kelamaan menjalar ke lengan kanan. Setelah berobat ke fisioterapi, membaik. - Dua minggu kemudian, pasien tiba-tiba merasa seperti "ada sesuatu" yang naik; kemudian merasa seperti mabuk dan mual. Muntah tidak ada. - Paisen berobat ke IRM; pada Rö tulang leher, ada penyempitan di C 4-5. - Diberi obat antalgin dan obat untuk vertigo; karena tidak ada perubahan, dirujuk ke bagian Saraf, diberi: Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®. - Seminggu kemudian kambuh lebih parah; pasien merasa ada "sesuatu" yang naik sampai ke leher, kepala terasa berat, dan berputar; disertai mual dan muntah. Pasien minta dirujuk ke bagian Akupunktur. - Tiga bulan sebelumnya pasien beberapa kali mengalami gejala-gejala awal serupa (ada "sesuatu" yang naik) tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. - Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetapi tetap sadar, tidak disertai pusing atau gejala lain. - Riwayat penyakit serupa dalam keluarga (-). - Riwayat infeksi telinga (-). III. Status Presens Keadaan Umum: compos mentis, tekanan darah 110/70 mmHg, nadi: 72 X/menit, pernafasan 20 X/menit, afebris. Pemeriksaan fisik dan neurologik dalam batas normal. IV. Pemeriksaan penunjang Ro Cervical (25/8/03): Spondyloarthrosis C 4-5 kanan dan kiri, Intervertebra C 6-7 kanan. Laboratorium (5/9/03): Hb: 12, Leukosit : 5200, diff: -/4//6/28/2, trombosit: 255.000, LED: 20, gula darah N / 2 jam PP: 92 / 103; Kholesterol Total, HDL / LDL: 284 / 49 / 200 mg/dl, Trigliserid: 174 mg/dl, As. Urat: 3 mg/dl Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 49

V. Pemeriksaan Akupunktur 1. Pengamatan ( Wang ) : a. Sen : semangat : baik; ekspresi umum : baik; sinar mata: bersinar; kesadaran : baik. b. Se : warna kulit: tak tampak kelainan; ekspresi wajah : bersinar segar. c. Sing Tay : bentuk tubuh: sedang; jika berjalan pelanpelan, seperti robot karena takut menoleh; posisi tubuh : t.a.k.; kulit tubuh: normal; keringat biasa; mata, telinga, hidung : t.a.k. d. Pemeriksaan Lidah : - otot lidah : merah muda, kebasahan sedang, pergerakan normal. - selaput lidah : putih, tipis, bersih. 2. Pendengaran dan Penciuman (Wen) : a. Pendengaran : suara bicara : biasa, suara nafas: normal; suara batuk, cekutan, bertahak: tak terdengar. b. Penciuman : hawa mulut: tak tercium, bau keringat: tak tercium; bau reak, air seni, tinja: tak diperiksa 3. Anamnesis (Wun) : Keluhan utama dan riwayat perjalanan penyakit sama seperti di atas. Pertanyaan khusus : a. Suka panas / dingin : lebih suka dingin b. Keadaan berkeringat : normal c. Rasa kepala : berputar; tubuh , anggota gerak : tak ada keluhan d. Buang Air Besar: sekali sehari, konsistensi baik Buang Air Kecil : frekuensi 7-10 kali, banyak, jernih e. Kebiasaan makan, minum: nafsu makan baik, kesukaan akan rasa: tak spesifik f. Dada : tak ada keluhan; perut : kadang-kadang mual, perih terutama kalau terlambat makan g. Pendengaran: tak ada keluhan h. Rasa haus: tak ada . i. Penyakit yang pernah diderita: trauma kepala tetapi tetap sadar, Ro kepala t.a.k. j. Keadaan haid : 4 bulan ini mulai tak teratur, lama haid 1 minggu, jumlah darah lebih sedikit dari sebelumnya, dismenorrhea (-), leukorrhea (-). 4. Perabaan (Cie) : a. Perabaan lokal: tidak ada nyeri tekan atau ketegangan otot. b. Suhu tubuh: normal c. Pemeriksaan nadi : kiri kanan dangkal dalam dangkal dalam cun 5 5 5 5 kuan 5 4 5 5 ce 5 5 5 5 5. Pemeriksaan khusus terhadap organ Cang Fu : a. Lambung : jika perut kosong perih, mual. b. Limpa : nafsu makan menurun, perut kembung, bertahak c. Hati : kepala muter, gangguan haid. d. Organ Cang Fu lain : tak ada kelainan. 50 Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004

VI. Resume Seorang perempuan umur 50 tahun datang dengan keluhan utama kepala terasa berputar disertai mual.. Satu bulan sebelumnya merasa leher sisi kanan sakit, menjalar ke lengan kanan. Setelah fisioterapi, membaik. Dua minggu kemudian pasien merasa seperti mabuk, mual, tidak muntah, didahului oleh rasa seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas. Pasien berobat ke IRM, diberi antalgin dan obat vertigo; pada Rö tulang leher ternyata ada penyempitan di C 4-5. Karena tak ada perubahan, pasien dirujuk ke bagian Saraf, diberi Ibuprofen, Betaserc®, Clobazam, Neurodex®, tetapi tetap belum ada perbaikan. Satu minggu kemudian kambuh lebih parah, dan pasien minta dirujuk ke bag. Akupunktur. Tiga bulan sebelumnya beberapa kali mengalami gejalagejala seperti ada "sesuatu" yang naik ke atas, tapi hanya sebentar dan tidak sampai berputar. Riwayat trauma kepala pada tahun 2000, tetap sadar, Ro kepala t.a.k. Pada pemeriksaan akupunktur didapatkan : 1. Wang : - Sen : baik - Se : normal, bersinar - Sing Tay : kalau berjalan pelan-pelan, seperti robot, takut menengok. - Lidah : normal. 2. Wen : tak ada kelainan 3. Wun : lebih suka dingin, rasa kepala berputar, perut kalau terlambat makan sering mual, perih. Haid selama 4 bulan ini mulai tak teratur, darah haid lebih sedikit. 4. Cie: kuan kiri dalam Pada pemeriksaan organ Cang Fu ada kelainan pada organ Lambung, Limpa, Hati. VII. Diagnosis Kerja Kedokteran Umum : Vertigo Akupunktur : Kepala terasa berputar karena Yang se hati palsu akibat Si Hati. VIII. Pengobatan 1. Alat : jarum 2. Titik yang dipakai dan alasan pemakaiannya : a. Fengchi ( GB 20) : untuk mengusir angin b. Hegu ( LI 4 ): membuang angin, penenang c. Taichong ( LR 3 ): menormalkan Hati, penenang. d. Zhongwan ( CV 12 ) : menguatkan lambung, melancarkan Qi lambung e. Fenglong ( ST 40 ): menghilangkan lembab f. Sanyinjiao ( SP 6 ): menguatkan Limpa g. Neiguan (PC 6): mengatasi mual 3. Frekwensi : dua kali seminggu, 1 seri 12 kali. 4. Manipulasi: penguatan, selama 15 menit. IX. Prognosis Dubia ad bonam

XI. Anjuran 1. Berobat akupunktur rutin 2. Pemeriksaan : CT, MRI 3. Konsul THT, Mata. XII. Follow up Tanggal 8/9/03 : Muter (+/-), mual (+/-),pasien masih minum obat dari bag. Saraf Tanggal 11/9/03 : Muter (-), mual (+/-), nyeri kepala sebelah kanan (berdenyut ). pasien sudah tidak minum obat-obatan. Ditambah akupunktur titik Zulinqi ( GB 41 ) kanan. Tanggal 15/9/03 : Muter (-), nyeri kepala (-), obat (-). Tanggal 18/9/03 : Tak ada keluhan, pasien merasa sembuh. DISKUSI Pada pasien ini , gejala-gejala vertigo disebabkan karena defisiensi Yin Hati. Hal ini dapat dilihat dari gejala-gejala berupa haid tak teratur dalam 4 bulan ini, darah haid lebih sedikit, nadi Hati lemah. Defisiensi Yin Hati ini mengakibatkan muncul gejala-gejala Yang Se Hati palsu yaitu kepala berputar (akibat angin Hati). Hal ini kemudian mengakibatkan gangguan pada Limpa dan Lambung dan terbentuknya lembab/reak sehingga menimbulkan gejala-gejala mual, lambung perih dan perut kembung, sering bertahak. Yin Si Hati ini mungkin disebabkan karena Ginjal yang mulai melemah, mengingat pasien sudah berumur 50 tahun, dan haid tak teratur mungkin merupakan gejala pra-menopause.

Setelah diterapi dua kali dengan prinsip terapi menghilangkan angin, menenangkan pasien, menguatkan Yin Hati, menghilangkan lembab, memperbaiki Limpa dan menyeimbangkan Lambung, serta simtomatis mengurangi mual, pasien merasa ada perbaikan dan pemakaian obat dihentikan. Sampai terapi ke lima pasien sudah merasa sembuh, tak ada keluhan. Karena takut ditusuk dan tak tahan sakit, pasien tidak melanjutkan pengobatan akupunkturnya. Sampai saat laporan dibuat tidak ada keluhan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.
KEPUSTAKAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Lumbantobing S M. Vertigo Tujuh Keliling. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 1996. Nurimaba N, Joesoef A A, Andradi S. Vertigo, Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Cetakan pertama. Kelompok Studi Vertigo, PERDOSSI. Jakarta; 1999. Andradi S. Diagnosa Klinis & Terapi Vertigo. Bagian Neurologi FKUI/RSCM. Jakarta. Yin G, Liu Z . Advance Modern Chinese Acupuncture Therapy. First ed. Beijing: New World Press. 2000. O’Connor J, Bensky D. Acupuncture A Comprehensive Text. Chicago: Eastland Press. 1981. Huaitang S. Acupuncture and Moxibustion Treatment of Vertigo ( 2 ). Internat. J. Clin. Acupunc. 1993 : 4 ( 4 ) : 391 –5. Kiswojo, Kusuma A. Teori dan Praktek Ilmu Akupunktur. Jakarta: PT Gramedia., 1978. Kang L S,. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur.

Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 51

Var. murah (terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat) dan dapat dibuat oleh semua orang. Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat. assamica. kariostatik serta hipokolesterolemik. sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia. teh dibagi menjadi 3 (tiga) macam(3). PENDAHULUAN Transisi nutrisi yang terjadi saat ini.7 2.K. adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang.6 MACAM-MACAM TEH Berdasarkan penanganan pasca panen. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia. Juga karena bahannya mudah didapat.4 KLASIFIKASI Di zaman dahulu. yaitu sinensis. Kandungan flavonoid dalam teh merupakan antioksidan yang bersifat antikarsinogenik. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan Sulistyowati Tuminah Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.K.2 Di masa sekarang. Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas. Van Steenis CGGJ (1987) dan Tjitrosoepomo G (1989). Jakarta ABSTRAK Teh adalah salah satu bahan minuman alami yang sangat populer di masyarakat. anjuran Departemen Kesehatan untuk back to nature (kembali ke obat tradisional) adalah tepat. Departeman Kesahatan RI. Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung. var. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus. Teh hitam Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi.5.3 Selain itu di negara-negara Barat. 2004 . aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5. assamica dan irrawadiensis.49%.5. Keuntungan dengan cara pemberian uap panas. lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam. 144. 52 Cermin Dunia Kedokteran No.6): Divisi Sub divisi Kelas Sub Kelas Ordo (bangsa) Familia (suku) Genus (marga) Spesies (jenis) Varietas : : : : : : : : : Spermatophyta (tumbuhan biji) Angiospermae (tumbuhan biji terbuka) Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) Dialypetalae Guttiferales (Clusiales) Camelliaceae (Theaceae) Camellia Camellia sinensis Assamica3.1 Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke.3 Menurut Graham HN (1984). Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber 1. Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit. tanaman teh Camellia sinensis O. Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas. genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis.assamica (Mast) diklasifikasikan sebagai berikut(3. dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi. dengan harga obat-obatan yang mahal. kanker. irrawadiensis. terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus.TINJAUAN KEPUSTAKAAN Teh [Camellia sinensis O. daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim. Beberapa peneliti lain juga menyebutkan bahwa teh dapat bekerja sebagai hipoglikemik dan menghambat aterosklerosis. yaitu : Teh Hijau Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi.

7 3. 5. 14.86 1.83 4. kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak.09 0.21 6.50 0. dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%. Selanjutnya diteliti pengaruh infus 500 ml teh yang biasa digunakan untuk makan pagi di Inggris (1 g/100 ml) terhadap status antioksidan serum pada 10 sukarelawan yang sehat (5 laki-laki. berarti konsentrasi teh yang umum dikonsumsi mempunyai sifat antioksidan yang kuat secara in vitro4. 9.11 Selain itu diet fluorin yang Cermin Dunia Kedokteran No. Komponen Kafein (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Flavonol Theanin Asam glutamat Asam aspartat Arginin Asam amino lain Gula Bhn yg dpt mengendapkan alkohol Kalium (potassium) % Berat kering 7. 4.40. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir.50 dan untuk katekin daya antioksidannya sebesar 2.16 4. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu. kemudian diinfuskan teh tanpa susu selama lebih dari 20 menit pada saat makan siang.477 µmol/l (kisaran 4.25 1.62 35. 3. 27.01 AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Penelitian di Barat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari 8 macam produk teh hitam yang populer secara komersial dengan memasukkan 0.82.31 0.90 1. Epikatekin galat mempunyai daya antioksidan sebesar 4.03 0. 24. melainkan dilakukan oleh enzim polifenol oksidase yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri. epikatekin daya antioksidannya sebesar 2.275-12.96 percobaan 430 µmol/l. setelah 60. 7. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%. 23. Apabila proses fermentasi telah selesai.9. 29.20 8. 16. 28. 180 menit pemberian teh adalah rata-rata 434.enzim. 9. 6. kemudian diaduk selama 3 menit.68 12. indeks massa tubuh: 24. 2. dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum yang berkisar antara 350-550 µmol/l. 30. 144. biasanya dilakukan selama 2-4 jam.1 tahun.21 3. 13.02 0. Penelitian ini tidak meneliti kemungkinan pengaruh minum teh kumulatif jangka panjang terhadap status antioksidan.7 KOMPONEN THE (3) Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (tabel 1 dan 2) : Tabel 1. 5.3.74 0. berbeda dengan hasil penelitian mengenai pengaruh flavonoid anggur merah.79 4.93. 120. 18.70 0. 10. 21. 10. Komposisi teh hitam(3) No. Daun teh dilayukan lebih dahulu. 8.10 Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek.23 4.69 0. usia rata-rata 21. 2.42 20. 5 wanita.17 1. Daya antioksidan komponen katekin tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan vitamin C ataupun β-karoten. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian teh dengan jumlah besar dalam waktu singkat mempunyai sedikit pengaruh jangka pendek terhadap aktivitas antioksidan serum. yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus.29 2. 15. 2004 53 . Komponen Kafein Theobromin Theofilin (−) Epicatechin (−) Epicatechin gallat (−) Epigallocatechin (−) Epigallocatechin gallat Glikosida flavonol Bisflavanol Asam Theaflavat Theaflavin Thearubigen Asam gallat Asam klorogenat Gula Pektin Polisakarida Asam oksalat Asam malonat Asam suksinat Asam malat Asam akonitat Asam sitrat Lipid Kalium (potassium) Mineral lain Peptida Theanin Asam amino lain Aroma % Berat kering 7. selanjutnya digulung dan dikeringkan.15 0. Rata-rata aktivitas antioksidan larutan yang dihasilkan adalah 8.110 µmol/l). 3. kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim.50 0. 1. 20.75.01 0. katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin. yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme. 1. 14. 11. 26. tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDLC). Pada proses ini.57 3.13 3. Setelah 4 jam berpuasa.50 0. 11.0). epigalo katekin 3.99 3. 8. Komposisi teh hijau(3) No.70 5. Teh oolong Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus.43 1. 13. 17. 22.7 Tabel 2.09 4.98 5. 19. 7.85 0.4 Daya antioksidan komponen katekin berbeda-beda.84 4. 6. 12.63 Trace Trace Trace 2.5 g daun teh ke dalam 25 ml air mendidih. Aktivitas antioksidan serum rata-rata pada awal KHASIAT TEH Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh.74 6. 4. epigalo katekin galat sebesar 4. 12. 25.56 0. 447 dan 439 µmol/l (tidak ada perubahan yang berarti/signifikan). sebuah kanula intravena dipasang pada masing-masing sukarelawan/wati.8 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C).

cet ke-1. Antioxidants. 6. Folsom AR. Sellers TA. Tuminah S.19 Selain itu pada wanita post menopause. Doyle TJ. Tumbuh-tumbuhan diketahui sebagai sumber besi yang baik. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76. 12. Sutarmaji A. Zhi YW. FMIPA UI. Shinchi K. and Disease Prevention. 8. 23. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. Kushi LH. Fluorine in Tea and Caries in Rats. Japan. Brants HA.13 Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia. J Nat’l Cancer Inst. 1994. 4. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake. Jakarta. 1999 : 11-2. hal ini dapat dijelaskan. Cermin Dunia Kedokt.24 PENUTUP Dari uraian di atas tampak banyak sekali khasiat teh. trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P < 0. Eur J Clin Nutr. National Institute of Nutrition. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu. McLaughin JK. Environ Health Perspect. Preventive Medicine. tetapi manusia masih bisa mendapatkan besi heme dari daging merah. Nutrition News. Antioksidan dan Penyakit Jantung.terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar. 5. 1997. 26 (6) : 769-75. Jakarta. Yang GY. Baraas F. Chow WH. 15. Prog Clin Biol Rev. Weststrate JA. Goldbohm RA. Brussel: 1995 . Yogyakarta. Mou TH. 1994. kolesterol LDL. Nair MK. 21 : 526-31. Jakarta. Teh juga telah diuji teratogenik. Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. Imanishi K. et al. 3. 1-477. Gershon-Cohen J. konsumsi vitamin C juga dapat meningkatkan penyerapan besi non-heme. Hertog MG. bahwa besi yang diabsorbsi manusia terdiri dari dua jenis. 1997. cet ke-4. Van den Berg H. 19.20. Blot WJ. J Epidemiol. Kono S. Biokimia FKUI. BMJ (27 July) [Medline] 1996. Suga K. 1-24.35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan. Potensi Antioksidan pada Teh. 1998.22 Sutarmaji (1994) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. Hyderabad. termasuk pada wanita post menopause. 1-495. Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengembangkan penelitian-penelitian lebih jauh mengenai manfaat minuman teh bagi kesehatan. Langseth L. 2. Van-den Brandt – PA. Jakarta. ILSI European Monograph Series. Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea. Ferraro T. 88 (2) : 93-100. Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. 20. Oxidants. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage. Chen L. Jufri M. Imai K. hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT. 20 (2) : 1-6. O2•− . Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1. McClendon JF. 14. Nakachi K. 3 Selain itu sifat menguntungkan dari teh adalah kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi. 9. Tjitrosoepomo G. Yang CS. dan radikal peroksil. 37 (8) : 739-60. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta).54 g /200 g. Jakarta. Yanai F. Kono S. menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. Drewnowski A. teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis. 52 : 389-95. tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. 10. UGM Press. 1987 . body weight. 6 (3) : 128-33. Substansi seperti tanin (dari teh). 2000. 144. 52 : 1162-70. 144 (2) : 175-82. yaitu besi heme (yang terikat pada molekul hemoglobin) dan besi non-heme (yang tidak terikat pada molekul hemoglobin). Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. cet ke-1. FMIPA UI. 24. 7. Jufri M. et al.12 Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit. 22. Crit Rev Food Sci Nutr. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O. Prima Kardia Pers. makanan berserat dan mengandung fitat menghambat penyerapan besi non-heme.21 Dirghantara (1994) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. Zheng W. Nature 1954. Van Steenis CGGJ. Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population. 11. Dirghantara E. 313 : 229. Jakarta. 21. 54 Cermin Dunia Kedokteran No. 1996. 1996. Ternyata sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0. 1997. Wakabayashi K. Am J Epidemiol. flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH•. Van Het Hof KH. baik teh hitam maupun teh hijau. 128: 49-51. Bag. 2004 . flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL. Popkin BM.05). Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-OTetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total. 173 : 304-312. 1984 : 29-74.23Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. Letters in Applied Microbiology. 1999. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry. 1990. 18. 55(2) : 31-43. terutama yang berkaitan untuk penyakit degeneratif selain kanker. 11 : 3840. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia. Hong CP. Pradnya Paramita. 13. et al. 1996. Ikeda N. Prima Kardia Pers. KEPUSTAKAAN 1. Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam. Selain itu. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia. Baraas F. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar. Preventive Medicine 1992. 2001 : 1-15. Lee MJ. Maxwell S. In Liss AR. Shinchi K. sebaliknya besi heme dari daging merah sangat banyak tersedia dan lebih mudah diserap. Consumption. Cancer Research 1992. 1989 . Graham HN. Nakayama M. Astuti M. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. Thorpe G. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study. 17.14-18 Diperkirakan. Van-Popel-G. cet ke-2. and Health Effects. Okubo S. Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. 1997 : 82-3. Toda M. Nutr Rev. tetapi berjenis nonheme yang penyerapannya oleh manusia sangat sedikit.3 Mengenai kemungkinan hambatan penyerapan besi oleh teh. Shimamura T. 16.

Tujuan penelitian ini secara umum ialah untuk memberi gambaran penyakit DBD di Jakarta tahun 2000 dari penderita yang dirawat di rumah sakit dan sampel darahnya diperiksa di laboratorium Pusat Pemberantasan Penyakit Balitbangkes.32%) lainnya tidak dapat diambil sampel darah konvalesennya karena : (a) Penderita tidak mau diambil darahnya lagi dengan alasan sudah banyak diambil darahnya (b) Penderita tidak sempat diambil darahnya oleh petugas karena sudah terlanjur pulang. 144. Diana Hutauruk Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.HASIL PENELITIAN Hasil Pemeriksaan Uji Hemaglutinasi pada Penderita Tersangka Demam Berdarah Dengue di Jakarta tahun 2001 Enny Muchlastriningsih. Jakarta PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 dimulai dari Jakarta dan Surabaya.68%) karena Uji HI memerlukan sampel darah akut (A) dan konvalesen (K) sedangkan 182 orang (49. tahun 1998 15422 kasus dengan 133 kematian. Responden berumur antara 15 tahun sampai 65 tahun terbanyak di bawah 30 tahun (82. Tujuan khususnya ialah: (a) Mengetahui distribusi penderita tersangka DBD berdasarkan umur dan jenis kelamin (b) Mengetahui hasil uji HI pada penderita tersebut (c) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasil uji HI (d) Mengetahui distribusi penderita dengan kriteria positif hasiI uji HI berdasarkan golongan usia (e) Mencari hubungan antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif METODOLOGI Disain penelitian: potong lintang (cross sectional) dengan sampel : penderita tersangka DBD yang dirawat di rumah sakit selama periode Januari . Uji Hemaglutinasi Inhibisi (uji HI) merupakan Gold Standard untuk pemeriksaan serologi pada penderita tersangka DBD (Tatalaksana DBD di Indonesia. Kriteria inklusi : penderita berumur minimal 15 tahun. (Tabel 1). Faktor.pada penelitian ini semua serum responden diperiksa dengan menggunakan uji HI. HASIL DAN DISKUSI Responden yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 369 orang tetapi yang dapat diolah datanya hanya 187 orang (50. Konfirmasi hasil uji HI sesuai dengan kriteria WHO. dan mengisi informed consent. dan tahun 1999 3751 kasus dengan 42 kematian(3). sejak itu penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan jumlah kasus dan jumlah kematian yang terus meningkat serta wilayah penyebarannya yang makin meluas. demam akut 2-7 hari. Departemen Kesehatan RI. Penderita diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium di rumah sakit maupun untuk pemeriksaan uji HI. Uji HI dikerjakan menggunakan metode Clarke & Cassals dengan modifikasi mikrotiter(4) dengan menggunakan antigen Dengue-2. Cermin Dunia Kedokteran No. Sri Susilowati. dirawat di rumah sakit. Daerah Khusus lbukota (DKI) Jakarta merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan jumlah kasus pada tahun 1997 sebanyak 5190 dengan 49kematian. Sebelum uji HI sampel terlebih dahulu mendapat Kaolin treatment untuk menghilangkan non specific inhibitor. 2001) . 2004 55 .faktor yang diduga dapat mempengaruhi peningkatan kasus DBD di Indonesia ialah(2): (a) Pertumbuhan penduduk yang tinggi (b) Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali (c) Tidak adanya kontrol vektor yang efektif di daerah endemis (d) Meningkatnya arus dan sarana transportasi.414 kematian(1).871 kasus dan 1.April 2001. Tahun 1968 hanya 2 Daerah Tingkat (Dati) Il yang terkena dengan 58 kasus dan 24 kematian tetapi pada tahun 1999 Dati II yang terkena sebanyak 203 dengan 9.89%) dengan rata-rata umur penderita 25 tahun.

tetapi adanya penderita dengan infeksi primer dan presumtif juga membenarkan hipotesis virulensi virus. dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. ini menunjukkan bahwa penderita DBD memang sudah bergeser ke umur yang lebih tua. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue.7% negatif. tahun 1998: 36. 5. Sub.74 31. Cassals J.7 11. 2001. penderita berada pada derajat I dan II. Pimpinan dan Staf RS Pasar Rebo. PPM&PLP Departemen Kesehatan RI.3%. dan tidak ada hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji I-II yang positif. 2000. Am. Hyg. Med. Penderita terutama dengan infeksi sekunder (tabel 3) . Berita Epidemiologi. tahun 1997: 34. 2004 . Clarke DH. Muchlastriningsih E et al. tidak didapatkan adanya hubungan linier antara derajat penyakit DBD dengan hasil uji HI positif (p = 0. Tabel 2.16 6. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penderita Tersangka DBD di Jakarta tahun 1998. 1958.0 Pada penelitian ini penderita DBD derajat (grade) I sebanyak 55.19%. Distribusi Penderita Tersangka DBD dengan Kriteria Uji HI positif Kriteria Uji HI Positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif Total Jumlah (N) 21 64 11 96 % 21. Data Kasus DBD 1999.5% . Distribusi Hasil Uji HI pada Penderita Tersangka DBD Hasil Uji HI Positif Negatif Total Jumlah (N) 96 91 187 % 51.7% dan derajat II sebanyak 44. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berkisar antara 30% .6849). hasil uji HI positif sebesar 51.74 3. 2. ini mendukung hipotesis infeksi sekunder pada patogenesis DBD yang banyak dianut.1:1). 4. Departernen Kesehatan RI 2000. 7: 561.9 66. 3.4 100.44 10. KESIMPULAN Ternyata tidak semua penderita tersangka DBD dapat diperiksa uji HI karena berbagai kendala. Techniques for Haemagglutinatuon and Haemagglutination Inhibition with Arthropod-borne Viruses.55 1. KEPUSTAKAAN l.07 1. Trop. J.42 3. Jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebanding.3 48. Tabel 4.53 0.21 0. Golongan umur (th) 1520253035404550556065Total Kriteria hasil uji HI positif Positif primer Positif sekunder Presumtif positif 8 18 2 4 17 5 5 12 2 1 8 1 0 3 0 1 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2 0 0 21 64 11 Total 28 26 19 10 3 3 4 0 1 0 2 96 Pada penelitian ini perbandingan penderita laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 98 : 89 (1. Surveilans Dit.Tabel 1. Desember 1999.24%(5). Keadaan tersebut mungkin disebabkan: (a) Kurang cermat mendiagnosis penyakit DBD (b) Tidak mau ambil risiko penderita DBD terlewatkan tanpa pengobatan yang dianjurkan (c) Pengambilan sampel yang kurang tepat baik cara. Tabel 3.21%.50%. Distribusi Hasil Uji HI Positif pada Penderita Tersangka DBD berdasarkan Umur.7 100.61 100. tahun 1996: 32. karena jumlah responden laki-laki lebih banyak kelihatannya jumlah penderita laki-laki lebih besar. tahun 1995: 50. Jakarta. yaitu: tahun 1994: 34.82%. dan untuk presumtif ditemukan paling tua pada golongan umur 55 tahun. infeksi sekunder terjadi pada golongan umur paling tua 45 tahun. Profil Kesehatan Indonesia 1999.00 Pada tabet 4 terlihat penderita infeksi primer dapat ditemukan pada usia lanjut (golongan umur 65 tahun) meskipun pada usia yang lebih muda lebih banyak terjadi.3% dengan kriteria positif sekunder yang terbanyak meskipun ditemukan infeksi primer pada penderita lanjut usia. waktu maupun penyimpanannya (d) Cara pengerjaan uji yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.3% positif dan 48. 144.Jen.0 Tabel 2 memperlihatkan penderita dan hasil uji HI nya yaitu 51. 56 Cermin Dunia Kedokteran No. Pimpinan dan Staf RS Persahabatan. Direktorat Jenderal PPM&PLP Departemen Kesehatan RI. UCAPAN TERIMA KASIH Ditujukan kepada Kapuslitbang Pemberantasan Penyakit Badan Litbangkes. Distribusi Penderita tersangka DBD menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin Umur (tahun) 1520253035404550556065Jumlah Laki-laki (N) 25 30 18 11 6 4 2 0 0 1 1 98 Perempuan (N) 25 29 9 8 6 3 4 1 1 1 2 89 Total 50 59 27 19 12 7 6 1 1 2 3 187 % 26.53 1.Dit.

Sebaiknya kadar hematokrit dipantau setiap 2-4 minggu sehingga penyesuaian dosis dapat dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kadar Hematokrit yang optimum dan mencegah erithropoiesis yang terlalu cepat. INDIKASI Pengobatan anemia yang disebabkan gagal ginjal kronik (renal anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis. terlindung dari cahaya.id Hotline service (bebas pulsa): 0-800-123-0-123.5%/minggu). EFEK SAMPING • Hipertensi • Peningkatan jumlah platelet • Lain-lain yang jarang terjadi yaitu rash. edema. Jakarta – Indonesia Tlp. Fase Pemberian: Untuk mempertahankan kadar hematokrit 30%-35%. Jl.30) Cermin Dunia Kedokteran No. KONTRA INDIKASI • Hipertensi berat yang tidak terkontrol. KALBE FARMA Tbk.: (021) 428 73888-89.Produk Baru Hemapo® Erythropoietin Syringe 2000 IU.00-15. artralgia. sebaiknya diberikan dosis 50-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian (dosis dikurangi menjadi 2/3 dosis semula). tetapi efek erythropoietin dapat dipotensiasi oleh agen hematinik. 10. Pada umumnya terapi Erythropoietin adalah terapi jangka panjang. Suprapto. DOSIS dan CARA PEMBERIAN Pengobatan anemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik: Larutan dapat diberikan secara IV atau SC. Jangan dibekukan dan dikocok.000 IU. 1998. Senin – Jumat (07. Jakarta 10510 PO Box 3105 JAK. sakit kepala. PENYIMPANAN Simpan dalam lemari es. Clinical Trial III Report of rhEPOInjection Marketing Office PT. fatigue. 3000 IU/mL dan 1000 IU/mL.kalbe. Dosis untuk pasien gagal ginjal kronis non dialisis sebaiknya dipertimbangkan secara individual. 2004 57 . • Hipersensitif terhadap human albumin. tetapi tidak lebih dari 30 IU/kg/minggu. Reference: Bei Jing XieHe Hospital. dapat dilakukan penyesuaian dosis setelah 4 minggu pengobatan dengan meningkatkan dosis 15-30 IU/ kg/minggu. Jika peningkatan hematokrit tidak sesuai dengan yang diharapkan (<0. Letjend. 3000 IU dan 10. Dosis untuk pasien non dialisis: 100 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 3 kali pemberian. muntah ataupun reaksi di tempat injeksi. meskipun dapat dihentikan setiap saat. Gedung Enseval. 144. : (021) 428 73680 Website : http://www. diare. Fax. suhu 2-8°C. 3000 IU.co. • Hipersensitif terhadap produk yang berasal dari sel mamalia. INTERAKSI Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan. KEMASAN Box isi pre-filled syringe 2000 IU/mL.000 IU in 1 mL KOMPOSISI Setiap mL larutan berisi: Epoetin alfa (recombinant human erythropoietin) 2000 IU. Fase Koreksi: Dosis awal untuk pasien hemodialisis adalah 100-150 IU/kg/minggu yang terbagi dalam 2-3 kali pemberian. pruritus dan urtikaria. seperti: FeSO4. mual.

144. Elektrode diletakkan di vertex dan mastoid ipsilateral./hearing/hrexam. Sumber: http://ivertigo. 1990). Brainstem auditory evoked potential (BAEP) pada dewasa normal.html 58 Cermin Dunia Kedokteran No.apsul Klasifikasi derajat gangguan pendengaran (ASHA. 2004 .net.

144. medical information science. maka secara terperinci masih bisa dibagi lagi atas: ilmu komputer yang fundamental. seperti: proses pendaftaran pasien. dll Sistem Informasi Terdapat dua pembagian besar sistem informasi yaitu (1) yang berfokus pada pasien dan (2) yang berfokus pada keperawatan Web dan internet Perkembangan dunia telekomunikasi begitu cepat. Proses pengolahan data Data adalah tulang punggung proses informatika selanjutnya. Mereka mendefinisikan sebagai berikut: (1) Ilmu Informatika Kedokteran adalah ilmu yang menggunakan alat-alat sistem analitik untuk membangun prosedur-prosedur (algoritma-algoritma) demi kepentingan management. Biaya dan keuntungan sistem informasi. Saat ini aplikasi yang berbasis web sudah mulai digemari karena lebih mudah digunakan dari manapun dan kapan saja. dan informatics. kemudian berkembang menjadi bersifat interaktif (dua arah). Aspek-aspek lain yang berperan Aspek-aspek lain yang tidak bisa dianggap enteng adalah: Interaksi manusia dan komputer. berlandaskan pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan pada proses-proses yang terjadi pada pelayanan kedokteran dan kesehatan. dan tele-tele yang lain Medical Imaging Yang masuk dalam area ini seperti: ultrasound. melihat rekam medik dll. 3. Dalam praktek sehari-hari Dalam kehidupan sehari-hari penerapan Informatika Kedokteran bisa dilihat seperti: 1. Dua definisi Dari pelbagai penjelasan mengenai Informatika Kedokteran. dan beberapa istilah yang spesifik seperti nursing informatics. dll. (2) Informatika Kedokteran terdiri dari aspek-aspek teori dan praktis dari proses informasi dan komunikasi. sifat website pun sudah mulai berubah. Jika dahulu hanya bersifat satu arah (broadcast). (Dr. penulis melihat ada pendapat dua pakar informatika kedokteran yang cukup diakui banyak orang. radiologi. 5. contohnya: computational physics. Kesemuanya dibutuhkan agar pengambilan keputusan manusia bisa dipercepat. misalnya menginformasikan jam praktek dokter. Erik Tapan MHA) Cermin Dunia Kedokteran No. atau artificial intelligence. dll. Pengistilahan ini sama dengan pemberian istilah di bidangbidang lain di luar kesehatan. 2. proses kontrol. seperti: computer science. 2004 59 . Sebelum tahun 1970an istilah yang dipergunakan bermacam-macam seperti: medical computer science. teleradiologi. Demikian pula jika kita ingin membagi bidang-bidang dalam informatika kedokteran. Akhir-akhir ini. computational linguistics.INFORMATIKA KEDOKTERAN PENGANTAR Medical informatics is located at the intersection of information technology and the different disciplines of medicine and healthcare. informatika yang berorientasi pada aplikasi. seperti: tanya jawab. Medical Informatics atau Informatika Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari suatu bidang yang terbentuk pada perpotongan ilmu kedokteran/kesehatan dan Teknologi Informatik (Information Technology). merawat data. Jika mengikuti perkembangan bidang informatika. kedokteran nuklir. dental informatics. dll. aspek keamanan dan legalitas. disebutkan bahwa istilah-istilah seperti ’Informatika Kedokteran’ ’Informatika Kesehatan’ maupun ’e-health’ sebenarnya mempunyai arti yang kurang lebih sama. computer in medicine. Sebaliknya. dll. Dalam bidang ini dipelajari bagaimana memperoleh dan mengeluarkan data. yakni: Shortlife EH dan Van Bemmel JH. information processing. dll. 4. dan informatika terapan. Dalam perbincangan penulis dengan pakar Informatika Kedokteran dari Malaysia. aktivitas di website bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk proses bisnis. artikel kesehatan. telekardiologi. Secara rinci perkembangan nama / ilmu tersebut bisa dibaca pada ulasan di bawah ini: Berawal pada tahun 1970-an Istilah medical informatics diketahui berasal dari istilah bahasa Perancis informatique médicale. dan beberapa area yang lebih spesifik. pengambilan keputusan dan analisis keilmuan dari Ilmu Kedokteran. dr HM Goh. Telekomunikasi Masuk dalam bidang ini adalah teleconsultation. health informatics.

dan bisa langsung diakses pada homepage Kalbe Farma Seminar Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah. (tampak dalam foto dr. di DKI terdapat penderita DBD yang masih dirawat di RS sejumlah 2. SpPD-KGH. hal ini jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa penderita demensia. RSIA HERMINA Daan Mogot . batu ginjal. Sp. 2004 . Kuala Lumpur. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. Acara tersebut menampilkan pembicara tunggal Sri Kusumo Amdani. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. dan sebagainya. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. Sp. Pudji Rahardjo. RS Mitra International.043 orang. 6 April 2004. Presentasi dimulai dari Medical Record Elektronik RS Pertamina Jaya Jakarta. membuka acara eHealth Asia 2004. Sabtu 20 Maret 2004 di RSIA Hermina Daan Mogot Jakarta.PD-KGH. diadakan APAMI Board Meeting atau acara organisasi dari Asia Pasific Association of Medical Informatics. dan infeksi. Dalam sambutan tertulisnya.000 kali per hari.PD-KGH. Hotel Acasia. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa waktu lalu. mewakili Mentri Kesehatan Malaysia Tan Sri Datu Dr. Wakil dari Indonesia. J. Untuk itu kita jangan sampai lengah. mempresentasikan perkembangan bidang tersebut di Indonesia. Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah".co.Jakarta.Hj. batu ginjal. dan infeksi. di samping hasil dari sistem kesehatan yang juga harus terfokus. yang di klik rata-rata 2. Demikian dikatakan dr. APAMI Board Meeting. Tele-education kesehatan via satellite. 6 . 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. seperti maraknya mengkonsumsi alkohol. Laporan lengkap dari simposium.kalbe.Kegiatan Ilmiah Simposium Awam "Hindari Anemia Saat Cuci Darah".kalbe. Di samping itu hal-hal lain yang juga menjadi dasar penyebab penyakit ini adalah adanya penyakit immunologi. bisa diakses di http://www. 6 April 2004 Pada malam hari. Kuala Lumpur.id. Erik Tapan. Pada topik yang diberi tanda Breaking News. 25 Maret 2004 Demensia atau yang orang awam sering sebut 'pikun' ternyata bukan hanya merupakan masalah yang sederhana. narasumber simposium berkenan menyumbangkan suara emasnya) juga mempunyai hambatan dalam membina hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. sehingga dapat dirasakan bahwa hal ini akan menjadi suatu problem yang sangat kompleks di masa yang akan datang. Dengan kata lain penyakit ini tidak hanya merugikan diri penderita sendiri tetapi juga orang lain yang berada di sekelilingnya.Pudji Rahardjo. Hotel Acasia. mentri menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan kesehatan bersama hendaknya dipandu oleh prinsip sistem kesehatan yang mantap di masa depan.8 April 2004 Bertempat di Grand Plaza Park Royal Kuala Lumpur.Pudji Rahardjo. dan Portal Kedokteran www. eHealth Asia 2004. Tele-radiologi Pantai Indah Kapuk. hari ini Dato' Dr Abdul Gani Che Din. 18 April 2004 Salah satu penyebab makin banyaknya jumlah penderita gagal ginjal adalah pola hidup modern. 144. menghisap rokok. Demikian terungkap dalam Seminar Awam "Mengenal & Mengatasi Demam Berdarah Dengue. Demikian dikatakan dr. berarti peserta simposium bisa memperoleh berita dalam bentuk cetak (print) bersamaan dengan acara di Stand Kalbe Farma. setelah menyelesaikan acara ilmiah. Siang Klinik : Demensia dan Penatalaksanaannya. J. menghisap rokok. dokter spesialis anak yang berpraktek di rumah sakit ibu dan anak tersebut. ternyata bukan hanya mengalami penurunan fungsi kognitif saja. dan sebagainya.co. Mohammad Taha bin Arif.id/seminar. Studio mini Jakarta Eye Center. 20 Maret 2004 Sampai dengan tanggal 15 Maret 2004. melainkan 60 Cermin Dunia Kedokteran No.

Zubairi Djorban. ASEAN Pharmaceutical Industry Congress. 18 Januari 2004 Pada tanggal 18 Januari 2004. Seminar Integrated Hospital Marketing. Sebabnya. 2004 61 . 27 . KHOM dalam sambutannya pada acara Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI beberapa waktu lalu di Jakarta. 8-9 Mei 2004 Nutrisi enteral atau peroral sangat penting untuk saluran cerna.16 % (WKNPG : 2. lanjut Konsultan Management dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa Republika tersebut. Cermin Dunia Kedokteran No. 24 Mei 2004. Demikian dijelaskan Handi Irawan.9 %). Demikian dikatakan dr. Demikian dikatakan Prof. Dr.26 Mei 2004. angka kejadian penyakit ini pada pria melonjak hingga mencapai 9. Demikian salah satu yang ditekankan Prof.28 April 2004 Komputerisasi dalam "bisnis" layanan kesehatan. sehingga diharapkan terapi akan lebih tepat sasaran dengan efek samping lebih ringan serta kualitas hidup pasien yang meningkat. Sie. seharusnya sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan "proses bisnis"nya.25 Mei 2004 Bertempat di Hotel Gran Melia Jakarta. SpS(K). Amiruddin Aliah.5th Jakarta Antimicrobial Update 2004. Wahidin Sudirohusodo bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) cabang Makassar telah menyelenggarakan simpoisum neurologi untuk masyarakat umum dengan topik ”Pengenalan dini gejala/gangguan saraf”. H. membuktikan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat. Ed.PD. Jakarta. dr. Sp. KE dari Pusat Diabetes dan Lipid FKUI Jakarta pada acara 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) di Bali International Convention Center beberapa waktu lalu. dalam acara seminar Vi tahun 2004 dengan judul "Integrated Hospital Marketing" yang diselenggarakan Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan Indonesia (PERMAPKIN). Hotel Mandarin Oriental . kasus tuntutan di rumah sakit umumnya diartikan sebagai tuntutan hukum yang diakibatkan oleh ketidakpuasan pasien. Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar. mengingat sangat beragamnya latar belakang profesi yang menjalankannya. termasuk dari Kalbe Group. Slamet Suyono. Asal peserta sangat beragam dari masyarakat umum sampai masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan. Menurut Budi Sampurna. K. 24 Mei 2004 Tuntutan terhadap dokter / rumah sakit bukan hal yang luar biasa lagi saat ini. Hal tersebut dipaparkan dokter ahli hukum tersebut sewaktu menjadi pembicara di sesi ilmiah dalam rangka Kongres Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSSI) yang pertama di Jakarta. dr. di Jakarta selama 2 hari. Danial Abadi. Dibandingkan dengan data WKNPG tahun 1998. Bagian/UP Neurologi FK UNHAS/RS Dr. 25 . Dr. Jakarta. dan berperan sebagai nutrisi pokok atau suplemen dalam memperbaiki status nutrisi pasien yang dirawat di bidang ilmu penyakit dalam atau perawatan intensif National Obesity Symposium III. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta dari ASEAN ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh kurang lebih 40 industri farmasi dari dalam dan luar negeri. dokter forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Spesifik yang dimaksud adalah dengan mencegah pertumbuhan dan perkembangan khusus sel kanker. Seminar Ilmiah Kongres ARSSI I. Bali International Convention Center. 15-16 Mei 2004 Hasil riset terbaru dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) yang melibatkan lebih dari enam ribu orang. Tujuan dilaksanakannya simposium ini adalah untuk mencegah/menurunkan kecacatan dan kematina akibat penyakit saraf. SpPD. 29 Mei 2004 Terapi biologi sebagai bagian dari kemoterapi telah berkembang pesat dari terapi konvensional yang sebelumnya berbasis kemoterapi. dari kiri ke kanan: dr. menjadi terapi yang bersifat spesifik. 4th Congress of Asian Pasific Society of Atherosclerosis and Vascular Disease (APSAVD) 2004. Jakarta. radiasi dan operasi. Simposium Neurologi Untuk Masyarakat Umum. karena dapat mencegah atrofi villi usus. Simposium Hematologi-Onkologi Medik Berkesinambungan XI. Arifin Limoa. Acara yang dilaksanakan di Balai Kemanunggalan TNI-Rakyat Makassar dimulai pukul 09. SpS(K). mahasiswa baik kedokteran maupun keperawatan. Seminar IT PERMAPKIN. dr. karena proses bisnis layananan kesehatan termasuk hal yang kompleks. tak hanya di Indonesia saja namun di seluruh dunia. tetap menjaga kelangsungan fungsi usus.Jakarta. 6-9 Mei 2004 Dalam waktu 10 tahun ke depan seorang penderita kencing manis atau diabetes mellitus diperkirakan akan menderita penyakit jantung koroner (CHD/Coronary Heart Disease).26 Mei 2004 Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempergunakan Riset Marketing dalam menjalankan usahanya.(foto diambil saat Session Mari Tanya Ahli. 23 .5 %) dan wanita 11. enterosit dan kolonosit. Hotel Borobudur Jakarta. 25 . SpS(K)). 144.02 % (WKNPG : 5. Hotel Shangri La Jakarta. Oleh karena itu penyakit DM saat ini telah dimasukan sebagai penyakit kardiovaskular berdasarkan guideline terbaru DM. MM dan Prof. Minggu 23 Mei 2004 diadakan acara pembukaan eksebisi dari ASEAN Pharmaceutical Industry Congres I. Oleh karena itu obesitas menjadi masalah epidemik yang global. Prof. Prabowo Soemarto dalam Seminar IT dari PB PERMAPKIN (Perhimpunan Manager Pelayanan Kesehatan) yang berlangsung selama dua hari di Jakarta. SPS(K). Nutrisi enteral lebih unggul dibandingkan parenteral dalam mempertahankan fungsi gastrointestinal. Jakarta.00 WITA diikuti oleh sekitar 1100 orang peserta.

362: 1785-91 PENGUKURAN ULTRASONOGRAFI UNTUK MENILAI RISIKO FRAKTUR Risiko fraktur dicoba dinilai melalui pemeriksaan ultrasonografi terhadap tulang kalkaneus.50 – 2.24 – 3. 116 di antaranya juga diberi 500 mg.0001) tidak tergantung usia.363:197-202 brw brw ALAS TIDUR KERAS UNTUK NYERI PINGGANG BAWAH Kebanyakan dokter menganjurkan tidur di alas yang keras untuk mengatasi keluhan nyeri pinggang bawah.86) dan lebih rendah disabilitasnya (2. 0.0001) dibandingkan dengan populasi yang di kisaran 30% tertinggi.99) juga terhadap keluhan respirasi (0. 0. kemudian dimatikan selama 12 minggu. risiko frakturnya 4. 144. selama 48 minggu.2 – 0.97 – 3.5 – 0. p<0.93) maupun saat bangkit (1.0 (paling empuk). Pengoperasian UVGI menurunkan konsentrasi mikroba dan endotoksin di permukaan sistim ventilasi sampai 99% (95%CI 67 – 100).5 – 0. 0.44 kali (95%CI: 2. Ternyata penggunaan UVGI dikaitkan dengan penurunan gejala berkait dengan pekerjaan secara umum (OD 0.6) lebih banyak yang berkurang rasa nyerinya.8). Selama masa itu terjadi 121 fraktur. sex. nyeri saat berbaring (p=0.9 ± 0.52. Lancet 2003. siklus ini dilakukan sebanyak 3 kali. juga di korteks temporal anterior bilateral.8.5 – METILPRDENISOLON UNTUK SINDROM GUILLAIN BARRE Dutch GBS study group mengadakan penelitian acak butaganda dengan kontrol plasebo untuk menilai manfaat penambahan metilprednisolon terhadap pengobatan imunoglobulin pada sindrom GuillainBarre.7 – 0. Sejumlah 233 pasien mendapat 0.9). tinggi badan.56) dibandingkan dengan yang tidur di alas keras.93. skala kekerasan kasur berkisar dari 1. menunjukkan bahwa morfologi abnormal ditemukan di korteks frontal.ABSTRAK KELAINAN KORTEKS PADA ADHD Penelitian menggunakan MRI dan teknik komputasi terhadap korteks serebri 27 anak dan remaja penderita ADHD dibandingkan dengan 46 kontrol. 0.064) dan nyeri saat bangkit dari tempat tidur (p=0.3 – 0. 362: 1699-707 brw 0.95 (95%CI: 1. sistem ventilasi ruang kerja mereka disinari dengan UVGI (ultraviolet germicidal irradiation) selama 4 minggu. 31 di antaranya fraktur femur. mereka yang tidur di alas medium juga lebih sedikit merasa nyeri di siang hari (p=0. mereka di amati selama rata-rata 1. 0.6.3. Selama periode studi. berat badan. 117 62 Cermin Dunia Kedokteran No.008) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras. 95%CI: 1.13 – 4. temporal dan parietal merupakan korteks asosiasi heteromodal yang berkaitan dengan fungsi perhatian (attention) dan inhibisi tingkah laku (behavioral inhibition). Kanada mencoba menyelidikinya pada 771 pekerja kantor. Setelah 90 hari mereka dievaluasi.059).6. 65% di akhir percobaan) dibandingkan dengan mereka yang tidur di alas keras (54% dan 59%). karena ternyata mereka yang tidur di alas medium lebih banyak yang mengambil posisi fetal (56% di awal percobaan.0 (paling keras) sampai 10. baik di tempat tidur (odds ratio 2. 2004 . Penggunaan UVGI juga menurunkan keluhan respirasi (0. Sekelompok peneliti di Montreal. sedangkan 155 lainnya tidur di alas dengan derajat kekerasan 2. Daerah frontal. Penurunan keluhan mukosal terutama di kalangan pekerja atopik (0.8) dan bukan perokok (0. ternyata mereka yang tidur di alas medium (5. 0.bb/hari selama 5 hari. 362: 1599-604 brw SICK BUILDING SYNDROME Sick building syndrome (sindrom gedung sakit) merupakan masalah yang belum sepenuhnya dipahami. 158 diminta tidur di alas dengan derajat kekerasan 5. Pengurangan 1 SD dari BUA (20 db/MHz) dihubungkan dengan risiko fraktur relatif 1. kebiasaan merokok ataupun riwayat fraktur sebelumnya. 95%CI 0.9) di kalangan bukan perokok. 0.9) dan keluhan mukosal (0. metilprednisolon/hari iv dalam 48 jam setelah pemberian IVIg pertama. selain itu didapatkan ukuran yang lebih kecil di daerah inferior dan korteks prefrontal dorsal bilateral.4 g IVIg/kg.10.89.6. Para peneliti di Spanyol menilai 313 dewasa dengan nyeri pinggang bawah kronis nonspesifik.5. 1.36. penelitian ini dilakukan atas 14 824 pria dan wanita 42-82 tahun di Norfolk. Lancet 2003. Lancet 2003. sepanjang tahun 1997-2000. Lancet 2004. Ternyata populasi yang mempunyai distribusi BUA (broadband ultrasound attenuation) kalkaneus di kisaran 10% terendah.4. Pemeriksaan kuantitatif ultrasonografi terhadap kalkaneus agaknya dapat meramalkan risiko fraktur baik di kalangan pria maupun wanita.7.24 – 8.7 tahun. p<0.7.9) dan keluhan muskuloskeletal (0.4-0. Sayangnya dalam studi ini posisi tidur tidak ikut diperhitungkan. Peningkatan nyata substansia grisea sebaliknya didapatkan di sebagian besar korteks temporal superior dan parietal inferior bilateral.

65.62. 100 mg/kg.bb sulfametoksazol iv dan 2 g.363:192-6 brw EFEK SAMPING TRIMETOPRIMKOTRIMOKSAZOL Telah dilaporkan satu kasus wanita 63 tahun yang mendapat 20 mg/kg. emboli paru.71).64.350:114-24 brw Program latihan yang dijalani berupa bersepeda. stroke non fatal. Terapi trimetoprim-sulfametoksazol dihentikan. Efek samping tidak berbeda bermakna di antara dua kelompok tersebut. keesokan harinya gerakan involunter berkurang dan hilang sama sekali setelah 4 hari.41. p=0.72.003).92. p=0. Sejumlah 390 penderita asma pengguna kortikosteroid inhalasi yang berisiko eksaserbasi dipantau gejala asma dan morning peak flownya selama sampai 12 bulan. Kejadian ini sebelumnya pernah dilaporkan pada 1 kasus anak.328:189-92 brw EFEK LATIHAN TERHDAP KETAHANAN JANTUNG Kelompok peneliti di Inggris melakukan metaanalisis atas 9 percobaan yang seluruhnya melibatkan 801 pasien – 395 menjalani latihan.03).97-2. berupa mioklonus multifokal dan asterixis bilateral.88. 192 menggandakan dosisnya.40. 6.91. seftriakson iv dua kali sehari untuk infeksi Nocardia.06). ternyata 46 menggunakan prednisolon tambahan . 0. p=0. Para peneliti di Italia memberikan 100 mg aspirin/hari pada 253 pasien polisitemia vera.89 (95%CI: 1. p=0. sedangkan 198 lainnya tidak (kedua kelompok menggunakan inhaler yang serupa) Setelah 12 bulan.27-9.015) Kematian dan perawatan rumahsakit juga lebih sedikit di kalangan latihan (0. trombosis vena atau kematian akibat kardiovaskuler (RR 0. dibandingkan dengan 265 pasien yang diberi plasebo.55-1. Setelah penyesuaian data terhadap usia dan tingkat penyakit saat masuk.15 – 1. 95%CI: 0. Efek samping perdarahan tidak berbeda bermakna (RR 1. jalan kaki. Pemantauan dilakukan setelah 12. aerobik dan kalistenik yang bervariasi di antara percobaan-percobaan tersebut.09).95 (95%CI 0. MENCEGAH EKSASERBASI ASMA Suatu studi dilakukan untuk menilai manfaat penggandaan dosis inhalasi kortikosteroid dalam upaya mencegah peningkatan dosis prednisolon oral. OR=1. Ternyata selama periode followup rata-rata selama 705 ± 729 hari tercatat 88 (22%) kematian di kelompok latihan dan 105 (16%) di kelompok kontrol. dan pasien menolak punksi lumbal. 95%CI 0. N Engl J Med 2004. 406 sebagai kontrol.9. Kematian. Pemeriksaan MRI hasilnya tidak spesifik. Ternyata penambahan metilprednisolon tidak memperbaiki hasil pengobatan sindrom Guiilain/Barre.18 – 0.363:271-5 brw Cermin Dunia Kedokteran No. 2004 63 . 48 dan 60 bulan kemudian. 24.56-0.07-3. p=0.22 (11%) dari kelompok studi dan 24 (12%) dari kelompok plasebo membutuhkan prednisolon tambahan untuk mengatasi gejala asmanya.ABSTRAK sisanya mendapat plasebo. Saat gejalanya mulai memburuk.68. 95%CI 0. 110 di kelompok studi dan 97 di kelompok plasebo. p=0.46 – 0. Risk ratio penggunaan prednisolon 0. baik keseluruhan ataupun oleh sebab kardiovaskular lain tidak berbeda bermakna.350:88-9 brw ASPIRIN UNTUK POLISITEMIA VERA Aspirin ternyata juga bermanafat untuk mencegah komplikasi trombosis di kalangan pasien polisitemia vera. 36. risiko infark miokard non fatal. 95%CI 0. stroke non fatal atau kematian akibat kardiovaskuler lebih rendah di kelompok aspirin (RR 0. Analisis atas data dari 225 pasien menunjukkan bahwa skor disabilitas membaik satu tingkat atau lebih pada 68% (76 dari 112) pasien kelompok metilprednisolon dan pada 56% (63 dari 113) pasien kontrol. logrank x2 5. Lancet 2004. data diolah dari 207 (53%) peserta. (OR 1. N Engl J Med 2004. demikian juga risiko infark miokard non fatal. Latihan secara bermakna menurunkan mortalitas (hazard ratio 0.bb trimetoprim.8) Para peneliti berkesimpulan bahwa menggandakan dosis inhalasi tidak mencegah perburukan gajala asma (yang diukur dari kebutuhan prednisolon oral) Lancet 2004.15. Di akhir percobaan. p=0.4.93.35. 95%CI 0.011). setelah 4 hari pengobatan pasien tersebut mengalami gerakan involunter di kepala dan keempat ekstremitasnya. BMJ 2004. 144.

Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Dapatkah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? 1. 4. JAWABAN RPPIK : 1. Kuman yang dikaitkan dengan rinitis atrofi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Defisiensi yang dikaitkan dengan rinitis atrofi : a) Defisiensi vitamin B b) Defisiensi vitamin C c) Defisiensi vitamin D d) Defisiensi Zn e) Defisiensi Fe Kista duktus tiroglosus paling sering ditemukan di a) Submental b) Intralingual c) Suprahioid d) Transhioid e) Infrahioid Yang tidak benar mengenai papiloma laring. 6. 9. Yang termasuk penyebab sentral pada vertigo . 9. E C 4. a) 100 dB b) 120 dB c) 140 dB d) 160 dB e) 180 dB 8. 5. 8. 2004 . B B 5. 7. 10. Kanker nasofaring terutama didapatkan di kalangan: a) Mongoloid b) Kaukasian c) Negroid d) Hispanik e) India Pemakaian sumbat telinga tidak berguna jika intensitas suara di atas: a) 20 dB b) 40 dB c) 60 dB d) 80 dB e) 100 dB Nyeri timbul jika intensitas suara melebihi . E A 64 Cermin Dunia Kedokteran No. a) Gangguan peredaran darah otak b) Trauma vestibuler c) Penyakit Meniere d) Vertigo posisional benigna e) Neuronitis vestibularis 6. 3. 10. 144. a) Tumor jinak b) Tidak pernah mematikan c) Berhubungan dengan HIV d) Gejalanya awalnya sesak e) Sering rekuren Rinoskleroma dikaitkan dengan : a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) Klebsiella pneumoniae d) Klebsiella ozeanae e) Klebsiella rhinoscleromatis Bakteri yang paling sering menginfeksi trakeostomi: a) Streptococcus pneumoniae b) Pneumococcus c) d) e) 7. D D 2. E A 3. Klebsiella Pseudomonas Staphylococcus 2.