Anda di halaman 1dari 72

[Blok THT].

KERABAT 2014

HANDOUT ANATOMI
BLOK THT

LABORATORIUM ANATOMI DAN EMBRIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS
2017

1
KERABAT 2014 [[Blok THT]

2
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

Organon Vestibulocochleare

Gilang Teguh Pratama


G0014108

Hal yang tersulit bukanlah memulai sebuah gerakan yang besar, tetapi
memastikan sebuah gerakan yang konsisten hingga akhir.

3
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

MIND MAP
ORGANON
AUDITIVUS

AURIS EXTERNA AURIS INTERNA

AURIS MEDIA

MEMBRANA TYMPANICA LABIRYNTHUS


AURICULA
CAVUM TYMPANI MEMBRANACEUS
MEATUS ACUSTICUS OSSICULA AUDITUS
LABIRYNTHUS OSSEUS
EXTERNUS TUBA AUDITIVA

Gambar 1. Auris externa, media, et interna (Yokochi, 2011)

4
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

Gambar 2. Bagian-bagian organon auditiva ( Slide Kuliah Anatomi Blok THT


Prof. Satimin, 2013))

I. Auris Externa (Telinga Luar)


Telinga luar terdiri dari auricula (daun telinga) dan meatus acusticus externus (MAE).
A. Auricula (Pinna)
Auricula berfungsi untuk mengumpulkan gelombang suara untuk disalurkan ke
dalam MAE dan melindungi porus acusticus externus. Berbentuk tidak teratur, terdiri atas
cartilago dan jaringan fibrosa kecuali bagian lobulus auricularis (cuping telinga), yang
terutama terdiri atas jaringan adiposa. Cartilago yang menyusun auricula adalah Cartilago
auriculae dan cartilago meatus acusticus externus yang berhubungan satu sama lain.
Bangunan-bangunan yang terdapat pada auricula dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

5
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

Gambar 3. Bagian-bagian auris externa

Cartilago auriculae dilekatkan pada os temporale oleh ligamenta :


 Ligamentum auriculae anterius
Ligamentum ini akan menggerakan spina helicis dan lamina tragi pada
processus zygomaticus ossis temporalis
 Ligamentum auriculae posterius
Ligamentum ini mempererat eminentia conchae pada pars mastoideus
ossis temporalis
 Ligamentum auriculae superius
Ligamentum ini mempererat spina helicis pada tepi cranial porus
acusticus externus
Juga dilengkapi oleh otot-otot:
1. Otot intrinsik:
 M. helicis mayor
 M. helicis minor
 M. tragicus
 M. antitragicus
 M. obliquus auriculae
 M. tranversus auriculae

6
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

Gambar 4. Musculi intrinsik et ligamenta penyusun bagian auricula (Sobotta, 2008)

2. Otot ekstrinsik
 M. auricularis anterior
 M. auricularis posterior
 M. auricularis superior

7
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

Gambar 5. Musculi ekstrinsik penyusun bagian auricular

Vascularisasi :
1. A. auricularis posterior cabang A. carotis externa
2. Rami auriculares anteriores A. temporalis superficialis
3. Ramus auricularis A. occipitalis

Innervasi :
1. N. auricularis magnus cabang plexus cervicalis
2. Rami auricularis N. vagus
3. Rami auriculotemporalis N. mandibularis
4. N. occipitalis minor

B. Meatus Acusticus Externus (MAE)


Liang telinga berupa saluran sempit berbentuk huruf Syang berfungsi menghantarkan
gelombang suara ke membrana tympani. Rangka tulang rawan pada 1/3 bagian luar atau
lateral (pars cartilaginea), sedangkan 2/3 bagian dalam atau medial terdiri dari tulang (pars
ossea). Panjang liang telinga 2,5-3 cm, membentang dari auricula samapi sulcus tympanicus,
dipisahkan dengan cavitas tympanica(cavum tympani) oleh membrana tympanica.
Di 1/3 bagian luar kulit telinga terdapat banyak kelenjar serumen atau glandula
ceruminata (modifikasi kelenjar apokrin) dan rambut. Glandula ceruminata ini berfungsi
untuk:
 Memperlambat pertumbuhan mikroorganisme
 Mengurangi risiko infeksi
 Menjerat benda asing yang masuk ke liang telinga
 Menolak serangga

8
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

Gambar 6. Meatus acusticus externus (Gray’s Anatomy, 2009)

9
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

Kelenjar keringat (glandula sebacea) terdapat pada seluruh kulit liang telinga.
Pada 2/3 bagian dalam tidak dijumpai kelenjar serumen.

Vascularisasi :
1. A. Auricularis profundus cabang A.maxillaris
2. R. Auricularis anterior cabang A. temporalis superficialis
3. R. Auricularis A. Auricularis posterior

Innervasi :
1. N. Auriculotemporalis cabang N. Mandibularis
2. N. Auricularis magnus, R. Posterior
3. N. Auricularis magnus, R. anterior
4. R. Auricularis N. vagus
5. N. Fascialis

Gambar 7. Inervasi auris externa (Gray’s Anatomy, 2009)

10
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

I. Auris Media (Telinga Tengah)

A. Cavum Tympanicum
Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas-batas sebagai berikut :
 Dinding posterior berhubungan dengan aditus ad anthrum  cellulae mastoideae;
 Dinding anterior berhubungan dengan tuba auditiva (Eustachius) nasopharynx;
 Dinding lateral (pars membranaceae) adalah membrana tympani;
 Dinding mediaal (pars labyrinthi) berbatasan dengan labyrinth, di sini dijumpai:
fenestra vestibuli/ovale ( yg ditutupi basis stapes) dan fenestra rotunda/cochleae
(yg ditutupi oleh membrana tympani secundaria)
 Dinding inferior berbatasan dengan bulbus superior V. jugularis interna
 Dinding superior (pars tegmentalis) berbatasan dengan cavum cranii

Gambar 8. Cavum tympanicum (Gray’s Anatomy, 2009)

Vascularisasi:
1. A. tympanica anterior cabang A. maxillaris interna
2. R. stylomastoideus A. auricularis posterior
3. A. tympanica inferior cabang A. pharyngea ascendens
4. R. petrosus A. meningea media
5. A. tympanica superior cabang A. meningea media
6. A. caroticotympanica cabang A. carotis interna

Innervasi:
1. Plexus tympanicus

11
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

2. N. musculi tensoris tympani et N. stapedius

B. Membran Tympani
Berbentuk kerucut, ditutupi kulit pada permukaan eksternalnya dan lapisan
membran mukosa pada permukaan internalnya. Membran tympani memisahkan auris
externa dan auris media. Mempunyai ukuran, ketegangan dan ketebalan yang sesuai
untuk vibrasi mekanik gelombang suara.
Membrana tympanica dibagi menjadi 2 bagian:
a. Pars Flaccida/membrana shrapnell (superior)  tidak memiliki limbus
b. Pars tensa/membrana propria (inferior)  memiliki limbus

12
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

Membrana tympanica dibagi menjadi 4 kuadran :


a. Kuadran superior anterior
b. Kuadran inferior anterior (kuadran I)
Terdapat cone of light (daerah pantul jika cahaya diarahkan langsung pada
membrana tympanica)
c. Kuadran superior posterior
d. Kuadran inferior posterior
Sering dilakukan parasinthese/miringotomi untuk eksplorasi eksudat/pus
pada peradangan cavum tympani

Gambar 9. Bagian-bagian membran tympani (Gray’s Anatomy, 2009)

Gambar 10. Membran tympani dan pembagian kuadrannya (Gray’s Anatomy,


2009))

13
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

Vascularisasi :
1. R. auricularis profundus cabang A. maxillaris interna
2. A. tympanica anterior cabang A. maxillaris interna
3. A. stylomastoideus cabang A. auricularis posterior

Innervasi :
1. N. Auricolotemporalis cabang dari N. Mandibularis (N.V/3)
2. R. Auricularis N.V

14
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

C. Ossicula Auditiva
Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun
dari luar ke dalam, yaitu maleus, inkus dan stapes. Tulang pendengaran di dalam
telinga tengah saling berhubungan. Prosesus longus maleus (tonjolan panjang tulang
meleus) melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus, dan inkus
melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan
dengan koklea. Hubungan antar tulang-tulang pendengaran merupakan persendian.
Ketiga tulang ini berfungsi untuk menghantarkan vibrasi dari membrana tympani
menuju foramen ovale, yang memisahkan auris media dan auris interna.
a. Malleus
 Caput mallei
Bersendi dengan corpus incudis  articulatio incudomallearis  tipe :
sellaris
 Collum mallei
 Manubrium mallei
Tempat insersio M. Tensor tympanicum
Melekat pada membrane tympani
 Processus anterior
 Processus lateralis
b. Incus
 Corpus incudis
Bersendi dengan caput mallei  articulatio incudomallearis  tipe :
sellaris
 Crus longum
Berakhir sebagai processus lenticularis yang bersendi dengan caput
stapedis  articulatio incudostapedialis  tipe : globoidea
 Crus brevis
c. Stapes
 Caput stapedis bersendi dengan incus  articulatio incudostapedialis
 tipe : globoidea
 Collum stapedis
Tempat insersio M. Stapedius
 Crus anterius et posterius
 Basis stapedis
Melekat pada fenestra vestibuli/ovale

Musculi ossiculorum auditivum


a. M. Stapedius
 Origo : eminentia pyramidalis
 Insersio : collum stapedis
 Inervasi : N. Facialis
 Fungsi : secara refleks meredam getaran stapes dengan menarik
collumnya ke arah posterior

15
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

b. M. Tensor tympani
 Origo : pars cartilaginea tuba auditiva, pars ossicula auditiva, ala major
ossis sphenoidalis
 Insersio : manubrium mallei
 Inervasi : cabang-cabang N. Mandibularis
 Fungsi : secara refleks meredam getaran malleus dengan menarik
manubrium mallei ke medial dan lebih menegangkan membrana
tympanica

Gambar 11. Ossicula auditiva dilihat dari anterior (Gray’s Anatomy, 2009)

Gambar 12. Ossicula auditiva dan persendiannya (Gray’s Anatomy, 2009)

16
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

Gambar 13. Ossicula auditiva dilihat


dari arah membran tympani (Moore,
2014)

D. Tuba Auditiva Eustachii

Tuba auditiva eustachii menghubungkan cavum tympanicum dengan nasopharynx,


berfungsi untuk menjaga keseimbangan antara tekanan udara di dalam telinga dengan
udara atmosfer. Biasanya saluran ini dalam keadaan menutup, dapat membuka pada
saat menelan, menguap dan mengunyah. Saluran ini dapat memungkinkan masuknya
mikrooragnisme dari nasopharynx ke cavum tympani sehingga menyebabkan
peradangan  otitis media
Saluran ini terbagi menjadi 2: pars ossea (1/3 bagian yang dekat auris media) dan
pars cartilagines (2/3 bagian sisanya). Tuba auditiva Eustachii juga berhubungan
langsung dengan antrum mastoideum.

Fungsi:
1.Menjaga keseimbangan tekanan cavum tympani dengan tekanan udara luar
2. Menjaga kebebasan gerak membrana tympanica

Vaskularisasi :

1. A. Tympanica superior, cab. Dari A. Meningea media


2. A. Tympanica anterior, cab. Dari A. Maxillaris
3. A. Tympanica inferior, cab. Dari A. Pharyngea ascendens
4. A. Tympanica posterior, cab. Dari A. Stylomastoidea, cab. Dari A. Auricularis
posterior
5. R. caroticotympanicus
Vena :
vv. Tympanicae vv. Articulares V. Facialis
17
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

Inervasi :

1. N. Tympanicus cab. N. IX
2. N. Auriculotemporalis cab. N. V
3. r. Auricularis N. X
4. n. Caroticotympanici cab. plexus caroticus internus
5. r. Tubae cab N. tympanicus

Gambar 14. Tuba auditiva eustachii (Netter, 2014)

18
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

Gambar 15. Neurovaskularisasi Auris externa et media (Moore, 2014)

II. Auris Interna (Telinga Dalam)

Terdapat di dalam pars petrosa ossis temporalis, di sebelah medial auris media dan
berisi cairan. Fungsi dari auris interna adalah meneruskan impuls yang berkaitan dengan
pendengaran (ductus cochlearis) dan keseimbangan (utriculus, sacculus et ductus
semicircularis) ke SSP.

Gambar 16. Auris interna (Gray’s Anatomy, 2009)


19
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

Terdapat di dalam os temporalis, di sebelah medial auris media, berisi cairan. Terdiri
dari dua bagian yaitu:

A. Labyrinthus osseus
Berupa ruangan yang berkelok-kelok yang berisi cairan perilimfe (mirip LCS). Terdiri
dari tiga bagian :
a) Vestibulum
Bagian tengah labyrinthus osseus yang menghubungkan canalis semicircularis
dengan cochlea. Dinding lateral vestibulum terdapat fenestra ovale (tingkap
lonjong) dan fenestra rotundum (tingkap bundar) yang berhubungan dengan auris
media.
b) Canalis semicircularis
Berupa rongga tulang, berproyeksi dari bagian posterior vestibulum. Canalis
semicircularis anterior dan posterior terletak pada bidang vertikal, tegak lurus satu
sama lain. Sedangkan canalis semicircularis lateralis terletak horizontal dan tegak
lurus terhadap kedua lainnya.
Reseptor di canalis semicircularis ini distimulasi karena rotasi kepala.
Kombinasi vestibulum dan canalis semicircularis ini disebut kompleks vestibular.

Gambar 17. Labyrinthus osseus (Netter, 2014)


c) Cochlea

Cochlea merupakan struktur tulang berbentuk seperti rumah siput yang


bermuara ke vestibulum dan mengandung organ pendengaran. Struktur tulang ini
berupa canalis sempit yang mengelilingi modiolus cochlea sebanyak 2,5 kali secara
spiral.

Modiolus cochlea adalah axis central cochlea yang berupa tulang berronga.
Modiolus cochlea ditembus oleh cabang-cabang n. Cochlearis. Modiolus cochlea
mengalami perluasan ke arah lateral menjadi lamina modiolus (lamina spiralis).

Terdapat 3 ruang dalam cochlea yaitu skala vestibuli, skala media dan skala
timpani. Dasar skala vestibuli disebut membran vestibuli (membran Reissner).
Sedangkan dasar skala media adalah membran basalis, pada membran ini terletak
20
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

organ corti. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan


perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli. Skala vestibuli merupakan
kelanjutan vestibulum dan dibatasi oleh fenestra vestibuli/ovale window
sedangkan skala tympani akan bermuara ke dalam fenestra cochlea/bulat/round
window.

Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut
membran tektoria, dan pada membran basalis melekat sel rambut yang terdiri dari
sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis corti, yang membentuk organ corti.

Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi
endolimfa. Ion dan garam yang terdapat di perilimfa berbeda dengan endolimfa.
Hal ini penting sebagai reseptor pendengaran.

Gambar 18. Bagian-bagian cochlea (Gray’s Anatomy, 2009)

21
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

Gambar 19. Bagian-bagian cochlea (Moore, 2014)

B. Labyrinthus membranaceus
Berupa tabung berongga dan kantong yang terdapat di dalam labyrinthus osseus .
Berisi cairan endolimfe (mirip cairan interselular). Di daerah vestibulum terdiri dari dua
kantong yaitu utriculus dan sacculus. Ductus semicircularis terisi cairan endolimfe
terdapat di dalam canalis semicircularis yang terisi cairan perilimfe.
Tiap ductus semicircularis, utriculus dan sacculus mengandung reseptor
equilibrium statis (berhubungan dengan gravitasi) dan equilibrium dinamis
(berhubungan dengan gerakan kepala).
a. Utriculus
 Utriculus ukurannya lebih besar dibanding sacculus, bentuknya oval,
memanjang dan irreguler
 Terletak di bagian postero-superior di dalam vestibulum, di posterior
sacculus dan berhubungan dengan ductus semicircularis
 Utriculus berhubungan dengan sacculus melalui ductus
utriculosaccularis
 Utriculus lebih merespon centrifugal et vertical acceleration
b. Sacculus
 Ukurannya lebih kecil dibanding utriculus, bentuknya berupa kantong
membulat dan agak lonjong
 Terletak di bagian antero-inferior dari vestibulum dan aterior utriculus
 Di permukaan inferior dari sacculus terdapat ductud reuniens yang
menghubungkan sacculus dengan ductus cochlearis
 Sacculus merespon liniar acceleration
c. Ductus semicircularis
 Terdapat di dalam canalis semicircularis

22
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

Setiap ductus mengalami pelebaran pada ujungnya yang disebut


ampulla
 Pada dinding bagian dalam ampulla terdapat reseptor keseimbangan
yaitu crista ampullaris yang berfungsi untuk mendeteksi gerakan
angular/rotational kepala
 Ductus semicircularis merespon pergerakan dari berbagai arah
d. Ductus cochlearis
 Ductus cochlearis berputar didalam canalis cochlearis
 Ductus cochlearis berada di posisi central dalam cohclea sehingga
membagi canalis cochlearis menjadi dua bagian yaitu scala vestibuli et
scala tympani
 Ductus cochlearis berhubungan dengan sacculus melalui ductus
reuniens

Gambar 20. Labyrinthus membranaceus (Netter, 2014)

Inervasi Auris Interna

 N. VII
 N. VIII

23
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

Vaskularisasi Auris Interna

 Sytema arteriosa
o A. Labyrinthi  a. Cerebelli anterior inferior  a. Basilaris
o A. Vestibularis anterior  a. Labirynthi
o A. Vestibulocochlearis  a. Labirynthi
o A. Spiralis modiolaris
 Systema venosa
o Vv. Vestibularis  v.aqueductus vestibuli  sinus petrosus inferior
o V. Auditiva interna  sinus petrosus inferior atau sinus transversus
o V. Canaliculi cochlea  bulbus superius vena jugularis interna

Gambar 21. N. Vestibulocochlearis (Netter, 2014)

24
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

Mekansime Pendengaran

a. Gelombang-gelombang suara di udara ditangkap dan dikumpulkan oleh


auriculae b. Gelombang suara tersebut kemudian dihantarkan melalui meatus
acusticus
externus menuju membrana tympanica
c. Getaran dari membrana tympanica menyebabkan pergerakan ossicula auditiva
d. Pergerakan stapes pada fenestra vestibuli menghasilkan gelombang tekanan
pada perilymphe pada ductus vestibularis
e. Gelombang tekanan mengubah membrana basillaris pada perjalanannya
menuju fenestra cochlea scala tympani
f. Getaran membrana basilaris menyebabkan getaran sel rambut terhadap
membrana tectorial
g. Informasi mengenai daerah dan intensitas rangsang delay ke susunan saraf pusat
melalui nervus cochlearis cabang N. VIII

Gambar 22. Proses pengantaran suara (Moore, 2014)

21
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

Pemeriksaan Telinga

a. Auris externa

- Auricula dengan inspeksi biasa


- Meatus acusticus externus et Membran tympani dengan inspeksi menggunakan
otoskop

Ototscopic Examination

Pemeriksaan pada meatus acusticus externus dan membrana tympanica dapat


dimulai dengan meluruskan meatus untuk memudahkan memasukkan otoskop..
Pada orang dewasa dapat dilakukan dengan menarik auricula ke arah
superoposterior. Dan pada anak-anak dapat ditarik ke arah inferoposterior.
Membrana typmpanica yang normal akan terlihat translucent dan berwarna
keabu-abuan.

b. Auris Media dan Interna

- Tes Pendengaran

Tes Garputala didasarkan pada dua prinsip utama, yaitu :


0. Telinga dalam lebih sensitif terhadap hantaran suara oleh udara dibandingkan oleh
tulang.
1. Bila ada gangguan pada hantaran suara oleh udara, telinga yang terganggu akan
lebih sensitif terhadap hantaran oleh tulang, disebut tuli hantaran murni.

22
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

Tes Garputala meliputi 3 tes, yaitu tes Rinne, tes Weber, tes Swabach.

Interpretasi Tes Garputala

Tes Hasil
Tes Weber Tes Swabach
Rinne
Positif Tidak ada Sama Normal
lateralisasi dengan
pemeriksa
Negatif Lateralisasi Memanjang tuli hantaran/
ke telinga tuli konduksi
yang sakit
Positif Lateralisasi Memendek tuli
ke telinga sensorineural
yang sehat

Selain penilaian fungsional, auris media dan interna dapat juga dievaluasi dengan CT
SCAN dan MRI

23
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

IV. Klinis
1) External ear injury
Pendarahan karena trauma yang terjadi didalam auricula akan menghasilkan auricula
hematome. Pengumpulan darah yang terletak di antara perichondrium dan kartilago
auricularis dapat menyebabkan distorsi kontur auricula, contoh : cauliflower or boxer's
ear yang sering terjadi pada petinju professional.
2) Otitis Externa Akut (Swimmer’s ear)
Inflamasi yang terjadi di meatus acusticus externus. Infeksi ini sering terjadi pada
perenang yang tidka mengeringkan telinga setelah selesai berenang. Penderita akan
merasakan gatal dan sakit di telinga. Penekanan di daerah tragus akan menambah rasa
sakit (tragus pain). Ini merupakan tanda patognomonik dari otitis externa akut.
3) Surfer’s ear
Telinga peselancar/surfer’s ear, sering terjadi pada seseorang yang berselancar atau
berenang dalam air dingin, sebagai akibat dari terbentuknya “benjolan tulang” dalam
meatus acusticus externus. Pertumbuhan benjolan ini dapat memperkecil diameter
meatus dan mengurangi pendengaran auris yang terkena
4) Otitis Media
Manifestasi klinis dari penyakit ini adalah adanya rasa sakit pada telinga dan bulging
pada membrana tympanica yang berwarna kemerahan karena inflamasi. Penyakit ini
biasanya sering terjadi setelah adanya infeksi saluran pernafasan bagian atas. Kenapa?
Jika tidak diobati penyakit ini dapat menyebabkan impaired hearing karena inflamasi
yang terjadi menyebabkan gangguan pada ossicula auditiva.

Gambar 23. Otitis media (Moore, 2014)

24
[Organon Vestibulocochleare]. KERABAT 2014

5) Perforasi membrana tympanica


Dapat disebabkan karena otitis media, adanya benda asing di meatus acusticus
externus, trauma atau tekanan yang terlalu besar (scuba diving). Minor ruptur pada
membrana tympanica dapat sembuh sendiri, sedangkan ruptur yang besar memerlukan
tindakan operasi.
6) Mastoiditis
Infeksi di antrum mastoideum dan cellulae mastoidea yang disebabkan oleh infeksi
pada telinga tengah yang lalu menyebar ke processus mastoideus.
7) Barotrauma
Injury yang disebabkan karena adanya perbedaan tekanan antara lingkungan sekitar
dengan tekanan yang ada di telinga tengah. Injury ini sering terjadi pada fliers atau
divers.
8) High Tone Deafness
Sering terpapar dengan suara yang keras dalam waktu yang lama dapat menyebabkan
perubahan pada organ pendengaran. Tuli jenis ini sering menyerang orang-orang yang
bekerja pada tempat yang bising dan tanpa mengenakan pelindung telinga.
9) Myringitis
Radang pada membrana tympanica
10) Tinnitus
Suara berdenging pada telinga yang biasanya merupakan tanda awal adanya kerusakan
pada ductus cochlearis
11) Vertigo
Gangguan keseimbangan karena adanya kerusakan pada ductus semicircularis

“Fokus merupakan hal yang penting, namun lebih penting lagi untuk melakukan apa
yang menjadi passion kalian”

“Ada yang berpikir lebih baik menjadi sebuah sumur yang dalam daripada menjadi
sebuah kolam yang dangkal, namun ternyata lebih baik lagi untuk memilih menjadi
lautan yang luas dan dalam”
(GTP, 2017)

25
KERABAT 2014 [Organon Vestibulocochleare]

References

1. Buku Pantom (Panduan Anatomi) 2009


2. Diktat Anatomi FK UNDIP 1991
3. Handout anatomi KERABAT 2012
4. RAUL KERABAT 2013
5. Drake RL, Mitchell AWM, Vogl W. 2009. Gray’s Anatomy for Students. Elsevier
Inc.
6. Derrickson B, Tortora GJ. 2012. Principle’s of Anatomy and Phisiology 13th
Edition.
USA: John Wiley & Sons, Inc.
7. Moore KL, Dalley AF. 2014. Clinically Oriented Anatomy. Edisi ke-5. USA:
Lippincott
Williams & Wilkins
8. Snell RS. 2012. Anatomi Klinis Berdasarkan Sistem. Jakarta: EGC
9. Netter FH. 2014. Atlas of Human Anatomy: Sixth Edition. USA: Saunders, Elsevier
Inc.
10. Tanto C, et al. 2014. Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV. Jakarta: Media
Aesculapius.

26
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

NASUS, PHARYNX, LARYNX

Neoniza Eralusi Asrini


G0014178

27
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

A. NASUS

Nasus externus terdiri dari tulang dan tulang rawan yaitu:


 Tulang: os nasale, os maxilla dan os frontale
 Tulang rawan: processus lateralis cartilago septi nasi, cartilago alaris major, 3 atau 4
cartilagines alaris minores, dan sebuah cartilago septi nasi pada garis tengah

Tulang pada nasus (Netter, 2010)

Septum nasi
Septum nasi terdiri dari:
- Cartilago septi nasi di anterior
- Vomer dan lamina
perpendicularis os ethmoidale
di posterior
- Spina nasalis os frontale
- Os nasale
- Crista nasalis os maxilla dan os
palatinum

CAVUM NASI
 Merupakan bagian dari systema respiratorium dan olfactoricum
 Apertura:
 Apertura anterior cavum nasi adalah nares, yang menghubungkan cavum nasi dengan
nasus externus
 Apertura posterior cavum nasi adalah choanae, yang membuka ke dalam nasopharynx
 Cavum nasi satu dengan sebelahnya dibatasi oleh septum nasi

28
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

 Dengan cavum oris dibatasi oleh palatum durum


 Dengan cavitas cranii diatasnya dibatas oleh bagian os frontale, ethmoidale, dan
sphenoidale
1. REGIO
a. Vestibulum nasi: ruangan di bagian dalam nares yang dibatasi oleh kulit dan terdapat
rambut yang berfungsi menyaring udara yang masuk.
b. Regio respiratoria
c. Regio olfactoria: terdapat di apex cavum nasi, berisi reseptor olfactorium.
2. DINDING LATERAL
Terdapat 3 lengkungan tulang yang bertingkat (concha). Concha nasalis membagi cavum nasi
menjadi 4 saluran udara:

Dinding lateral cavum nasi (Netter, 2010)

a. Recessus sphenoethmoidale
 Terletak antara concha nasalis superior dan atap nasi
b. Meatus nasi superior
 Terletak di antara concha nasalis superior dan media
 Dari sini bermuara sinus ethmoidalis posterior dan sinus sphenoidalis
c. Meatus nasi media
 Terletak di antara concha nasalis media dan inferior
 Pada dinding lateralnya terdapat prominentia bulat, bulla ethmoidalis, diakibatkan
penonjolan sinus ethmoidalis anterior di bawahnya, yang selanjutnya bermuara pada
tepi atas meatus.
 Suatu celah melengkung, hiatus semilunaris, terletak tepat di bawah bulla. Ujung
anterior hiatus masuk ke dalam saluran berbentuk corong yang disebut infundibulum.
 Terdapat muara sinus maxillaris, sinus frontalis, dan sinus ethmoidalis anterior
 Sinus maxillaris bermuara melalui hiatus semilunaris. Sinus frontalis bermuara dan
bersambung dengan infundibulum. Sinus ethmoidalis anterior bermuara pada
infundibulum

d. Meatus nasi inferior


 Terdapat di bawah concha nasalis inferior

29
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

 Terdapat muara dari ductus nasolacrimalis

SINUS PARANASALES

Sinus paranasales merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga


berbentuk rongga di dalam tulang. Ada 4 pasang sinus paranasalis mulai dari yang terbesar
yaitu:

 Sinus maxillaris (anthrum Highmori)


 Sinus frontalis
 Sinus ethmoidalis
 Sinus sphenoidalis

Sinus paranasales (Netter, 2010)

Secara embriologi sinus paranasalis berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung.
Perkembangan sinus dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sphenoidalis dan sinus
frontalis. Saat anak lahir sinus maxillaris dan sinus ethmoidalis telah ada, sedangkan sinus
frontal baru berkembang pada anak yang berusia 8 tahun. Sinus-sinus ini umumnya mencapai
besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun. Mukosa sinus merupakan lanjutan mukosa
rongga hidung yaitu epitel toraks bertingkat semu bersilia yang mengandung sel goblet. Mukosa

30
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

sinus berperan sebagai pertahanan terhadap infeksi melalui 2 hal, yaitu produksi palut lendir
dan daya pembersihan silia.

1. SINUS MAXILLARIS
Merupakan sinus paranasal yang terbesar dan berbentuk segitiga. Memiliki dinding
lapisan sebagai berikut:
- Anterior : permukaan fasial os maxilla yang disebut fossa canina
- Posterior : permukaan infratemporal maxilla
- Medial : dinding lateral rongga hidung
- Superior : dasar orbita
- Inferior : processus alveolaris dan palatum ,
Ostium sinus maxillaris berada di dalam hiatus semilunaris melalui infundibulum
ethmoid. Infundibulum ethmoidale adalah bagian di sinus ethmoidalis anterior yang berada
tepat sesudah ostium sinus maxillaris. Infundibulum dibatasi oleh processus uncinatus.

Infundibulum
ethmoidale

Processus
uncinatus

Hiatus
semilunaris

Susunan anatomi sinus maxillaris punya beberapa kelemahan, yaitu:


 Dasar sinus maxillaris lebih rendah dari dasar rongga hidung
 Ostium sinus maxillaris terletak jauh tinggi di atas dasar sinus, sehingga drainase sangat
tergantung gerak silia.
 Dasar sinus maxillaris dan akar gigi rahang atas hanya dipisahkan oleh tulang yang
tipis.
 Sinusitis maxillaris mudah berkomplikasi ke orbita melalui lamina papyracea yang
tipis.

Neurovasculer
 N. alveolaris superior (posterior, media dan anterior)
 A / V / N. infra orbitalis
 A/V. Facialis

2. SINUS FRONTALIS
Merupakan sinus yang tumbuh paling akhir. Ada 2 kanan kiri yang seringkali
asimetri yang satu lebih besar daripada yang lain, kadangkala karena besarnya dapat melampaui
linea mediana dan bahkan saling tumpang tindih dengan sisi yang lain.

31
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

Hubungan dengan cavum nasi melalui ductus nasofrontalis yang sempit kemudian
bergabung dengan infundibulum ethmoidale lalu ke meatus nasi media

Neurovasculer dan lymphonodi:

 A / V / N. supraorbitalis
 Anastamose v. opmalmica dan v.
supraorbitalis
 Lymphe ke Inn submandibularis.

3. SINUS SPHENOIDALIS
Merupakan rongga dalam corpus
ossis sphenoidalis yang terletak di atas cavum
nasi dan nasopharynx dan di bawah fossa
cranii media. Ada 2 kanan kiri yang Sinus
dipisahkan oleh septa tulang, umumnya baik sphenoidalis
sinus maupun septumnya asimetris dengan
bentuk bervariasi. Sinus ini membuka ke
dalam recessus sphenoethmoidalis yang terletak di atas dan di belakang concha nasalis superior.

Topographinya sangat penting, yaitu :

- Inferior : nasopharynx, cavum nasi bagian posterior dan canalis


pterygoideus dengan neurovasculer yang melaluinya

- Anterior : bagian superior cavum nasi tengah dengan sinus


ethmoidalis posterior.

- Lateral : N. opticus dalam foramen opticum dan bagian apex orbita.


Sinus cavernosus dimana pada dindingnya terdapat a. carotis
interna, n.III, IV, VI, dan N. maxillaris. sewaktu berjalan di
bawah sinus cavernosus dan sewaktu berjalan di dalam
foramen rotundum.

- Superior : lobus frontalis cerebri dan tractus olfactorius, chiasma nervi


optici,hypophysis, pons dan a. Basilaris

Neurovasculer:
- A / V / N. ethmoidalis posterior
- A. carotis interna
- r. orbitalis ganglion pterygopalatinum
- lymphe ke Inn. Retropharyngeum

4. SINUS ETHMOIDALIS

32
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

Merupakan rongga-rongga kecil yang saling berhubungan satu sama lain pada labyrinth
ethmoidalis maka disebut cellulae ethmoidalis.

Topography:

- Lateral : cavum orbita


- Medial : separuh bagian atas cavum nasi
- Posterior : sinus sphenoidalis dan sinus frontalis
- Inferior : meatus nasi superior dan media
Beberapa bagian tulang menyempurnakan sinus ini, yaitu lamina orbitalis os frontale (superior),
concha sphenoidalis dan processus orbitalis ossis palatina (posterior) dan os lacrimalis
(anterior).

Sinus ini karena dasar variasi lubang-lubang keluarnya maka dibagi 2 kelompok, yaitu:

 Cellulae ethmoidalis anterior yang dibagi lagi menjadi:


- Recessus ethmoidalis frontalis : genetis berhubungan erat dengan sinus frontalis,
jumlah 3 sampai 4 cellulae lubang keluarnya adalah melalui recessus frontalis meatus
nasi media.
- Cellulae ethmoidalis anterior : lubang keluarnya ke dalam infundidulum ethmoidalis,
jumlah 1 sampai 7 cellulae.
- Bullae ethmoidalis (cellulae ethmoidalis bullaris) : lubangnya langsung ke meatus nasi
media baik pada atau di atas bulla ethmoidalis, jumlah berkisar 1 sampai 6 cellulae.
 Cellulae ethmoidalis posterior
Lubang keluarnya adalah meatus nasi superior, jumlah 1 sampai 7 cellulae karena sinus ini
dipisahkan oleh orbita hanya oleh tulang tipis (lamina papyracia) maka infeksi hebat di sini
dapat ke orbita sehingga dapat timbul cellulitis orbita, bahkan dapat juga mengenai n. II
sehingga terjadi retrobullar neuritis.

Neurovasculer

- A / V / N. ethmoidalis anterior dan posterior


- R. nasalis lateralis posterior a. sphenopalatina
- R.nasalis lateral posterior dan r.ascendens ganglion pterygopalatinus (sphenopalatinus).

INNERVASI DAN VASCULARISASI CAVUM NASI


a. Vascularisasi
Berasal dari A. Carotis interna et externa, yaitu:
- Cabang A. Carotis externa: A. Sphenopalatina, A. Palatina major, A. Labialis superior dan
ramus lateralis nasi
- Cabang A. Carotis interna: A. Ethmoidalis anterior dan A. Ethmoidalis posterior
Bagian bawah rongga hidung mendapat Vascularisasi dari cabang a. maxillaris interna,
diantaranya adalah ujung a. palatina major dan a. sphenopalatina yang keluar dari foramen
sphenopalatina bersama n. sphenopalatina dan memasuki rongga hidung dibelakang ujung
posterior concha media.

Bagian depan hidung mendapat Vascularisasi dari cabang-cabang a. facialis. Pada bagian
depan septum nasi terdapat anastomosis a. labialis superior, a. Palatina major, a.
Sphenopalatina, a. Ethmoidalis anterior, membentuk plexus yang cukup dekat dengan

33
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

permukaan yang disebut plexus Kiesselbach (little area), yang merupakan tempat paling sering
terjadi epistaksis.

Vaskularisasi cavum nasi (Sobotta, 2006)

Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterianya.
Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v. opthalmica yang berhubungan
dengan sinus cavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga merupakan
faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intracranial.

b. Innervasi
1) Serabut afferent (cabang n. trigeminus menghantarkan rangsang di concha nasalis
superior;
- Sebagai rangsang raba tekanan
- Sebagai rangsang rasa sakit
Serabut afferent tersebut adalah :

- N. ethmoidalis (n. opthalmicus)


- N. nasopalatinus (n. maxillaries)
2) Syphatis dan parasympathis
Dari n. VII (untuk sekresi kelenjar), yaitu :

- N. petrosus superficialis major (v. dilatesi)


- Plexus caroticus (v. caroticus)
3) Sel-sel olfactorius:
Neuron bipolar — bulbus olfactorius menembus lamina cribrosa -> n. olfactorius ke
belakang sebagai tractus olfactorius.

Neurit-neurit di sel olfactorius (neuron bipolar) membentuk filae olfactoria yang


meninggalkan cavum nasi lewat lubang-Iubang di dalam lamina cribrosa untuk berakhir
pada bulbus olfactorius, ke belakang sebagai tractus olfactorius.Pecahan pada dasar fossa
cranii anterior dimana lamina cribrosa ikut pecah dapat mengganggu fila olfactoria.

c. System limfatik

34
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

Suplai limfatik hidung amat kaya dimana terdapat jaringan pembuluh anterior dan
posterior. Jaringan limfatik anterior kecil dan bermuara di sepanjang pembuluh facialis yang
menuju leher.Jaringan ini mengurus hampir seluruh bagian anterior hidung sampai vestibulum
dan daerah preconcha. Jaringan limfatik posterior mengurus mayoritas anatomi hidung,
menggabungkan ketiga saluran utama di daerah hidung belakang sampai saluran superior,
media dan inferior. Kelompok superior berasai dari concha media dan superior dan bagian
dinding hidung juga berkaitan, berjalan di atas tuba eustachius dan bermuara pada kelenjar
limfe retropharingea.Kelompok media, berjalan di bawah tuba eustachius, mengurus concha
inferior, meatus inferior dan sebagian dasar hidung, dan menuju rantai kelenjar limfe jugularis.
Kelompok inferior berasai dari septum dan dasar hidung, berjalan menuju kelenjar limfe di
sepanjang pembuluh jugularis interna.

3. APLIKASI KLINIK CAVUM NASI


Common cold (salesma) merupakan infeksi tersering dari hidung. Dari sini bisa meluas
menjadi sinusitis atau nasopharingitis. Perluasan infeksi juga dapat melalui lamina cribrosa untuk
mencapai bangunan-bangunan otak melalui ductus nasolacrimalis ke apparatus lacrimalis.

Polip hidung ialah massa yang lunak, berwarna pastel atau keabu-abuan yang terdapat di
dalam rongga hidung. Polip berasal dari pembengkakan mukosa hidung yang berisi banyak cairan
interseluler dan kemudian terdorong ke dalam rongga hidung oleh gaya berat.

B. PHARYNX
- Merupakan saluran muskulomembranosa dengan panjang 12-14 cm.
- Pharynx membentang dari basis cranii hingga ke batas bawah kartilago cricoidea setinggi VC
VI yang kemudian akan belanjut menjadi oesophagus.
- Pharynx terdiri dari dua jenis muskulus yaitu 3 muskulus sirkuler yang berfungsi sebagai
konstriktor dan 3 muskulus longitudinal yang berfungsi sebagai elevator.

35
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

Gambar 1. Nasopharynx, oropharynx, dan laryngopharynx dilihat dari posterior (Gray`s, 2008)

1 NASOPHARYNX
- Nasopharynx disebut juga epipharynx, pars nasalis pharyngis
- Nasopharynx merupakan bagian dari pharynx yang paling cranial. Cavum nasi terletak
di anterior nasopharynx, keduanya dihubungkan oleh Choanae
- Berhubungan dengan telinga tengah melalui Tuba auditiva
- Nasopharynx berlanjut ke bawah menjadi oropharynx melalui isthmus pharyngeus atau hiatus
nasopharyngeus, yang dibatasi oleh palatum molle, arcus palatopharyngeus dan dinding
dorsal pharynx. Isthmus pharyngeus ini akan menutup pada saat menelan akibat peninggian
palatum molle dan konstriksi sphincter palatopharyngealis.

36
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

Pharynx (Netter, 2010)

a. Atap dan dinding posterior nasopharynx


- Atap dari nasopharynx disebut juga fomix pharyngis
- Dinding posterior nasopharynx akan melekat pada facies inferior corpus ossis
sphenoidalis dan pars basilaris ossis occipitalis.
- Terdapat tonsilla pharyngealis (adenoidea) di membrana mucosa dinding posterior
nasopharynx
- Pembesaran dari tonsilla pharyngea ini dikenal sebagai hipertrofi adenoid yang
dapat membuat buntu tractus respiratorius sehingga menyebabkan bernafas melalui
mulut dan mempengaruhi pertumbuhan wajah. Tonsilla pharyngealis ini banyak
terlihat pada anak-anak dan akan mengecil saat pubertas.
b. Dinding lateral nasopharynx

37
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

- OPTAE
Di setiap dinding lateral nasopharynx dijumpai adanya ostium pharyngeum tubae
auditivae (OPTAE) yang terletak setinggi Meatus nasi inferior. Ostium ini
merupakan tempat masuknya Tuba auditiva (tuba EUSTACHIAN) dan
menghubungkan nasopharynx dengan cavitas tympanica.
- Torus tubarius
Torus tubarius adalah peninggian di sebelah posterior dan superior OPTAE. Torus
tubarius dibentuk oleh pars cartilaginea tubae. Plica dari membrana mucosa yang
berjalan descendens dari torus tubarius ini menuju ke palatum, disebut sebagai plica
salpingopalatina. Plica ini dibentuk oleh M. Salpingopalatina
- Torus levatorius: peninggian di inferior OPTAE yang dibentuk oleh M. Levator veli
palatini.
- Recessus pharyngeus: bagian dari cavum pharyngis yang terletak di sebelah dorsal
dari torus tubarius dan memanjang ke atas sampai atap Pharynx . Jaringan limphoid
yang kadang-kadang terdapat di membrana mucosa di recessus pharyngeus ini disebut
sebagai tonsilla tubaria.

Nasopharynx dan oropharynx (Netter, 2010)

2 OROPHARYNX
- Disebut juga mesopharynx, pars oralis pharyngis
- Merupakan bagian pharynx yang terletak di belakang cavum oris
- Membentang dari setinggi palatum molle hingga bagian atas epiglottis
- Skeletopis setinggi VC 2- bagian atas VC 3
- Dihubungkan dengan cavum oris oleh isthmus faucium dengan batas-batas :
 Cranial : Palatum molle
 Lateral : Arcus palatopharyngeus, tonsilla palatina
 Caudal : Radix linguae
- Bangunan-bangunan penting :
 Arcus palatoglossus
o Merupakan suatu pelipatan mukosa di bagian anterior
o Membentang dari palatum molle hingga tepi lingua
o Terbentuk karena adanya desakan dari M. Palatoglossus

38
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

 Arcus palatopharyngeus
o Merupakan suatu pelipatan mukosa di bagian posterior
o Membentang dari palatum molle hingga dinding lateral pharynx
o Terbentuk karena adanya desakan dari M. Palatopharyngeus
 Diantara arcus palatoglossus dan arcus palatopharyngeus terdapat suatu cekungan yang
disebut dengan fossa tonsilaris yang merupakan cekungan terdapatnya tonsilla palatina.
 Tonsilla palatina merupakan sepasang jaringan limfoid yang dilapisi oleh membana
mukosa di bagian luarnya. Benda asing yang runcing dan kecil seperti tulang ikan atau
potongan tulang ayam sering tersangkut disini. Tonsilla palatina mendapatkan
vaskularisasi dari R.tonsilaris A.facialis dan aliran limfenya menuju ke nodus limfe
cervicalis profundus.
 Antara radix lingua dan epiglottis dihubungkan oleh membrana glossoepiglotica. Pada
membrana tersebut terdapat penebalan di bagian medial disebut dengan plica
glossoepiglotica mediana. Penebalan di bagian lateral disebut dengan plica
glossoepiglotica laterale. Diantara dua penebalan tersebut terdapat cekungan yang
disebut dengan vallecula epiglotica yang berfungsi untuk menampung benda tumpul
yang tertelan. Bila benda asing berada di vallecula epiglotica dan menekan epiglotis
dapat menyumbat saluran nafas
 Saat menelan, isthmus faucium terbuka, palatum terelevasi, cavitas laryngis tertutup
dan makanan bergerak mengarah ke esofagus. Seseorang tidak dapat bernafas dan
menelan bersamaan karena saluran nafas tertutup pada 2 sisi yaitu isthmus pharyngeum
dan larynx.
- Innervasi oropharynx didapatkan dari N.IX

Tonsil (Netter, 2010)

3 LARYNGOPHARYNX
- Merupakan bagian pharynx yang teletak sepanjang larynx maka juga disebut sebagai
hypopharynx
- Membentang dari epiglottis hingga batas bawah cartilago cricoidea
- Skeletopis setinggi VC 3-6
- Bangunan-bangunan penting :

39
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

 Fossa piriformis
o Terletak di kanan dan kiri dari laryngopharynx
o Berbatasan di bagian medial dengan plica aryepiglotica
o Berbatasan di bagian lateral dengan cartilago thyroidea dan membrana thyroidea
o Berfungsi untuk menampung benda tajam yang tertelan
 Adytus laryngis
o Merupakan pintu masuk menuju larynx
o Terletak pada dinding anterior laryngopharynx

Pharynx dilihat dari posterior (Snell, 2012)

VASKULARISASI PHARYNX

- Cabang A. Maxillaris : r. pharyngeus A. Palatina descendens


- Cabang A. Facialis : A. Palatina ascendens , A. Tonsillaris
- R. pharyngeus A. Pharyngea ascendens
- Rr. Dorsalis linguae A. Lingualis
- Rr. pharyngei A. Thyroidea inferior

40
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

MUSCULI PHARYNX

- M. Constrictor pharyngis superior terdiri dari :


 M. Mylopharyngis
 M. Glossopharyngis
 M. Buccopharyngis
 M. Pterygopharyngis
- M. Constrictor pharyngis medius terdiri dari :
 M. Chondropharyngis
 M. Ceratopharyngis
- M. Constrictor pharyngis inferior terdiri dari :
 M. Thyropharyngis
 M. Cricopharyngis
- M. Levator pharyngis terdiri dari :
 M. Stylopharyngis
 M. Salpingopharyngis
 M. Palatopharyngis

41
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

Musculi Pharynx (Netter, 2010)

KLINIS

- Tonsil dan Tonsilitis


Secara fisiologis, tonsila palatina mencapai ukuran terbesar saat berusia anak-anak. Setelah
masa pubertas, bersamaan dengan jaringan limfoid yang lain di dalam tubuh akan mengalami
atrofi. Tonsila palatina merupakan salah satu tempat paling sering mengalami infeksi
menyebabkan timbulnya gejala sakit tenggorokan (pharyngitis) dan demam. Nodus limfe
cervicalis profundus yang terletak di bagian dalamnya yang akan menjadi muara limfe dari
tonsila palatina akan mengalami pembesaran dan pengerasan. Adanya infeksi yang berulang
berupa tonsilitis paling ideal diberikan tindakan tonsilektomi.
- Abses peritonsillar (Quinsy)
Penyakit ini disebabkan adanya penyebaran infeksi dari tonsila palatina ke jaringan longgar
diluar kapsul tonsila.
- Adenoid
Pembesaran dari jaringan limfoid yang biasanya berhubungan dengan proses infeksi
menyebabkan tonsila pharyngea akan membesar yang secara klinis disebut dengan adenoid.
Tonsila pharygeal yang membesar akan menutup choanae dan menyebabkan pasien akan
mendengkur dengan keras saat tidur dan bernafas melalui mulut. Karena adanya pembesaran
tonsila pharyngealis akan menutup OPTAE sehingga menyebabkan timbulnya gejala
berkurangnya pendengaran dan otitis media yang berulang. Salah satu penatalaksanaan dari
kasus ini ialah dengan adenoidektomi.

42
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

LARYNX

Posisi kartilago tyroidea dan cricoidea (Netter, 2010)

- Merupakan saluran pernapasan, sfingter, dan organ fonasi yang membentang dari lingua hngga
trachea.
- Larynx merupakan saluran yang fleksibel saat proses menelan. Saat istirahat, larynx terletak
setinggi skeletopis VC 3- VC 6.

A. SKELETON LARYNGIS
- Merupakan bagian keras dari larynx yang dibentuk oleh kartilago yang dihubungkan oleh
ligamentum-ligamentum dan memrana fibrosa serta digerakkan oleh beberapa muskulus.
- Cartilagines Laryngis
 Cartilago hyoid  VC 3
 Cartilago thyroid  VC 4- VC 5
 Cartilago cricoidea  VC 6

Fibrocartilago elastis Hyalin


Corniculata Thyroid
Epiglottis Cricoidea
Apex arytenoidea Sebagian besar arytenoidea
Tritiata (triticea)

43
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

Kartilago penyusun larynx (Netter, 2010)

Cartilago thyroidea

 Cartilago terbesar di larynx


 Terdiri dari lamina dexter dan sinister yang bertemu di bagian medial yang
membentuk prominentia laryngea (Adam`s Apple). Sudut di antara 2 laminae lebh
tajam pada laki-laki (90o) daripada perempuan (120o) .
 Terdapat incisura thyroidea superior tepat di superior prominentia laryngea, serta
incisura thyroidea inferior di bawah prominentia laryngea

44
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

 Pada posterior cartilago thyroidea memanjang membentuk cornu superius dan cornu
inferius.
 Bagian medial cornu inferius memiliki facies articularis untuk bersendi dengan
cartilago cricoidea
 Cornu superius dengan cornu majus os hyoideum terhubung oleh Ligamentum
thyrohyoideum laterale
 Terdapat linea obliqua tempat perlekatan musculi ekstrinsik larynx

Cartilago cricoidea
 Cartilago hyalin yang mempunyai daerah luas di bagian belakang dan membentuk
cekungan kecil di bagian depan yang membentuk sudut.
 Terletak di bagian inferior dari catilago thyroid.

Cartilago epiglottis

 Merupakan cartilago yang berbentuk seperti ujung sendok atau helaian daun yang
tangkainya menempel pada cartilago thyroidea melalui ligamentum thyroepigloticum
 Pada bagian pinggir menempel pada cartilago arytenoidea dihubungkan oleh plica
aryepiglottica.

Cartilago arytenoidea

 Merupakan cartilago berbentuk piramid yang berpasangan dan memiliki basis dan
apex
 Basis cartilaginis arytenoidea menempel pada superolateral lamina cricoidea
dihubungkan oleh ligamentum cricoarytenoidea.
 Apexnya bersendi dengan cartilago corniculats

Cartilago corniculata

 Merupakan fibrocartilago elastis dengan bentuk kerucut yang bersendi dengan apex
cartilago arytenoidea.

Cartilago cuneiforme

 Merupakan sepasang cartilago berukuran kecil, memanjang, terletak masing-masing


di plica aryepiglottica anterosuperior dari cartilago corniculata yang akan terlihat
apabila mukosa telah diangkat.

45
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

A.

B.

Kartilago dan ligamentum laryngis dilihat dari A. Anterior dan B. Posterior (Gray`s, 2008)

46
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

B. JARINGAN LUNAK LARYNX


a. Ligamenta et Membrana Ekstrinsik Laryngis
- Membrana thyrohyoidea
Membrana fibroelastis yang berbentuk datar. Membrana yang menghubungkan
cartilago thyroid dengan os hyoid.
- Ligamentum hyoepigloticum et ligamentum thyroepiglotticum
Membrana yang berfungsi untuk melekatkan cartilago epiglottis dengan os hyoid dan
cartilago thyroid.
- Ligamentum cricotracheale
Membrana yang menghubungkan bagian bawah cricoid ke cartilago trachea yang
pertama yang kemudian akan melanjutkan diri menjadi perikondrium trachealis.

b. Ligamenta et Membrana Instrinsik Laryngis


- Membrana quadrangularis
Sepasang membrana quadrangularis yang masing-masing membentang dari batas
lateral epiglottis ke cartilago arytenoidea yang ipsilateral.
- Membrana cricothyroidea dan conus elasticus
Ligamentum cricothyroideum sebagian besar terdiri dari jaringan elastis. Jaringan
elastis tersebut terdiri dari dua bagian yaitu membrana cricothyroidea di bagian bawah
dan conus elasticus di bagian atas.
 Membrana cricothyroidea (ligamentum cricothyroideum mediana) merupakan
membrana yang membentang dari bawah ke atas dari batas atas cartilago cricoid
ke batas bawah cartilago thyroid.
 Conus elasticus (membrana cricovocal, ligamentum cricothyroideum lateralis,
ligamentum cricothyroideum) merupakan membrana yang terletak di bawah conus
elasticus berjalan ke atas dari cartilago cricoidea menuju batas bawah cartilago
thyroid.

47
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

Membrana Laryngea (Gray`s, 2008)

C. CAVITAS LARYNGIS
Membentang dari adytus laryngis (pintu masuk larynx) sampai setinggi tepi bawah
cartilago cricoidea yang akan beralih menjadi lumen trachea.
- Adytus laryngis
Batas : Anterior : epiglottis
Posterior : apex cartilago arytenoidea, cartilago corniculata
Lateral : plica aryepiglottica
Terbagi menjadi 3 regio utama:
- Vestibulum laryngis
Daerah di bawah aditus laryngis sampai ke atas plica vestibularis
- Bagian tengah: terletak di antara plica vestibularis di atas dan plica vocalis
- Cavitas infraglottica
Ruang paling inferior dan diantara plica vocalis
Bagian penting cavitas laryngis:
- Ventriculus laryngis
Terletak diantara plica vestibularis dengan plica vocalis. Pada bagian anterior meluas
dan membentuk suatu katung buntu yang disebut dengan sacculus laryngis yang banyak
terdapat glandula mucosa untuk lubrikasi plica vocalis.
- Rima vestibuli
Merupakan celah yang terletak antara kedua plica vestibularis dexter et sinister.

- Plica vestibularis (pita suara palsu)

48
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

Lipatan membran mukosa yang meliputi ligamentum vestibulare. Membentang antara


cartilago thyroidea dan cartilago arytenoidea.
- Rima glotidis
Celah antara plica vocalis dexter et sinister
- Plica vocalis (pita suara asli)
Melingkupi ligamentum vocale yang disebelah lateralnya terdapat m. vocalis

Gambar 7. Potongan koronal larynx; dilihat dari posterior (Gray`s, 2008)

D. FUNGSI LARYNX
Untuk systema respiratorium inferior dan memberi mekanisme menghasilkan suara.
Selama respirasi tenang, aditus laryngis, rima vestibuli dan rima glottidis terbuka, cartilago
arytenoidea abduksi.
Saat fonasi, cartilago arytenoidea dan plica vocalis teradduks dan udara didorong melalui
rima glottidis yang tertutup. Gerakan ini menyebabkan plica vocalis bergetar yang
kemudian dimodifikasi oleh saluran nafas atas dan juga cavum oris. Tegangan plica vocalis
disesuaikan oleh M. Vocalis dan cricothyroideus.

49
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

E. MUSCULI LARYNGIS
a. Muskulus ekstrinsik
Merupakan muskulus yang salah satu perlekatannya berada di larynx, sedangkan
perlekatan yang lain berada di luar larynx.
Depresores Larynx Levatores Larynx
m. sternohyoideus m. thyroideus
m. omohyoideus m. digastricus
m. stylohyoideus
m. stylopharyngeus
m. palatopharyngeus

b. Muskulus intrinsik
Merupakan muskulus yang origo dan insertionya berada di dalam larynx (derivat arcus
pharyngeus IV dan VI).
Fungsi Muskulus
Membuka glottis/rima glotidis m. cricoarytenoideus posterior
Menutup glottis m. cricoarytenoideus lateralis
m. arytenoideus transversus
m. thyroarytenoideus
Menegangkan lig. Vocale m. cricoarytenoideus
Mengendurkan lig. Vocale m. thyroarytenoideus
m. vocalis
Membuka adytus laryngis m. thyroepiglotticus
Menutup adytus laryngis m. arytenoideus transversus
m. arytenoideus obliquus

50
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

Musculi Laryngis (Netter, 2010)

51
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

F. VASKULARISASI DAN INNERVASI LARYNX


a. Vaskularisasi Larynx
Arteria
- A. Laryngeal superior
Merupakan cabang dari A. thyroidea superior cabang dari A. Carotis externa.
Arteria ini sebagian akan memvaskularisasi sebagian besar dari larynx dari
epiglottis turun hingga daerah setinggi plica vocalis.
- A. Laryngeal inferior
Merupakan cabang dari A. thyroidea inferior cabang dari A.subclavian. Arteria ini
memvaskularisasi di daerah sekitar cricotyhoroid, membran, dan muskulus di
aspek inferior larynx.
- A. cricothyroidea
Merupakan cabang dari A. thyroidea superior yang memvaskularisasi daerah
sternothyroid
Vena
- V. Laryngeal superior  V. Thyroidea superior  V. jugularis interna
- V. Laryngeal inferior  V. Thyroidea inferior  V. Brachiocephalica sinistra

Gambar 9. Vaskularisasi Larynx (Gray`s, 2008)

b. Innervasi Larynx

52
[Nasus, Pharynx, Larynx]. KERABAT 2014

Motorik
- Semua muskulus mendapat innervasi dari N.X kecuali m. cricothyroideus
mendapat innervasi dari r. externus n. laryngeus superius
Sensoris
- Di atas plica vocalis : n. laryngeus superius
- Di bawah plica vocalis : n. laryngeus reccurens

G. KLINIS LARYNX
- Cricothyrotomy
Merupakan salah satu tindakan emergensi untuk menyelamatkan jalan napas dengan
cara melakukan prosedur insisi pada membrana cricothyroidea. Letak insisi kira-kira
pada 1 jari di bawah Adam`s apple (pada cekungan diantara dua peninggian cartilago).

DAFTAR PUSTAKA

Drake R, Vogl A, Mitchell A. 2015. Gray’s Anatomy for Students 3rd Edition. United Kingdom:
Elsevier

R.Putz., R.Pabst. 2006 .Atlas Anatomi Manusia Sobotta Jilid 3 Edisi 22. Jakarta : EGC.

Netter, F. 2010. Atlas Anatomi Manusia Edisi 5. United Kingdom: Elsevier

Snell, R. 2012. Clinical Anatomy by Regions 9th Edition. Philadelphia: Lippincott William & Wilkins

Muhammad, Asadulah F., Yustian, P. 2016. Handout Anatomi Nasus Pharynx Larynx. Surakarta:
Laboratorium Anatomi FK UNS

53
KERABAT 2014 [Nasus, Pharynx, Larynx]

54
[Os Temporale]. KERABAT 2014

Os Temporale

EDITOR:
Maudy Putri Saraswati

55
KERABAT 2014 [Os Temporale]

56
[Os Temporale]. KERABAT 2014

I. Os Temporale
A. Fungsi, Letak dan Batas-batas Os Temporale
Salah satu ossa penyusun cranium ini berjumlah sepasang dan terletak di bagian
lateral. Selain berfungsi melindungi cerebrum, ossa ini memiliki beberapa fungsi
penting:
1) organon auditiva atau alat pendengaran,
2) Sistema vestibuler atau equilibrium atau keseimbangan,
3) Terdapat lubang untuk keluar-masuk arteriae dan nervus pada cavum cranii
yaitu cabang-cabang N. VII, N. VIII, N. IX, A. Carotis interna; Cabang-
cabang arteria meningea media; Cabang- cabang arteria Carotis eksterna
4) Pangkal dari otot-otot yang menuju viscero cranium,
5) Persendian dengan mandibular,
6) Tempat fiksasi os hyoideum.
Os ini berbatasan langsung dengan beberapa os, yakni: os parietale di sisi
superior membentuk Sutura squamosa, os occipitale di sisi posterior membentuk
Sutura occipitomastoidea, ala magna os sphenoidale disisi anterior membentuk
Sutura sphenosquamosa.
Sutura squamosa

Sutura sphenosquamosa

Sutura occipitomastoidea

Gambar 1. Tampak Os Temporale penyusun dinding lateral Cranium (Sobotta, 2010)

57
KERABAT 2014 [Os Temporale]

II. Pembagian dan Bangunan Yang Teridentifikasi pada Os Temporal


Os Temporale secara umum terbagi menjadi 4 bagian, yaitu: 1). Pars squamosa, 2).
Pars Tympanica, 3). Pars Petrosa, 4). Pars Hyoidea.
Os temporal sinistra saat neonates (Sobotta, 2006)

A. Pars squamosa
1. Facies Temporalis
Merupakan sisi os temporal yang menghadap keluar. Bangunan yang
dapat diidentifikasi antara lain:

58
[Os Temporale]. KERABAT 2014

a) Processus Zygomaticus, penonjolan kearah ventral yang akan


bersatu dengan procesessus temporalis ossis zygomaticus
membentuk Arcus Zygomaticus. Persendiannya disebut Sutura
temporozygomaticus.
b) Tuberculum articulare, tonjolan yang membulat dan terletak pada
tepi bawah dari processus zygomaticus.
c) Meatus acusticus externus, saluran menuju dalam rongga cranium.
*(dalam sobbota ada terminology porus acusticus externus).
d) Fossa mandibularis, yang akan bersendi dengan Caput
mandibulae membentuk Articulatio temporomandibulae dengan
tipe Elipsoidea yang berperan dalam proses pengunyahan.
e) Fissura petrotympanica gasseri, merupakan celah yang membagi
dua Fossa mandibularis, dan celah ini dilalui Chorda Tympani
N.VII dan R. Tympanicus A. Maxillaris.
f) Sulcus arteriae temporalis mediae, alur yang dilalui oleh a.
temporalis mediae (lihat gambar 4 bab temporal

A
C

Gambar 2. Tampak Facies temporalis, Pars Squamosa (Yokochi, 1998)

59
KERABAT 2014 [Os Temporale]

2. Facies cerebralis
a) Sulcus arteriae meningea mediae hasil pendesakan oleh arteriae
meningea mediae.
b) Impressiones gyrorus merupakan hasil pendesakan dari gyrus
temporalis cerebri.

Gambar 3. Tampak Facies Cerebralis, pars squamosa (Sobotta,


2008)

B. Pars Tympanica
Bangunan yang terdapat pada bagian ini adalah :
a) Meatus acusticus externus, merupakan sebuah pipa yang
mempunyai lubang yang disebut Porus acusticus eksternus.
b) Spina suprameatica, merupakan tonjolan di atas meatus.
c) Foveola Suprameatica, merupakan cekungan diatas meatus, tepat
di sebelah superior dari spina suprameatica.

60
[Os Temporale]. KERABAT 2014

Gambar 4. Tampak pars tympanica (Sobotta, 2010)

C. Pars Petrosa
Pars petrosa terdiri atas pars pyramidalis dan pars mastoidea, sehingga bisa
juga disebut pars petromastoidea. Secara morfologis, dua bagian ini merupakan
bagian yang sama, tetapi untuk lebih mudahnya masing-masing bagian dipelajari
secara terpisah.

1. Pars Pyramidalis
Bagian yang berbentuk piramid ini mempunyai dua bagian utama yaitu apex
partis petrosa dan basis partis petrosa yang akan melanjutkan diri sebagai
pars mastoidea. Pars pyramidalis mempunyai tiga buah sisi yaitu facies
anterior, posterior dan inferior.

61
KERABAT 2014 [Os Temporale]

a. Facies anterior

1) Impressio trigeminalis: merupakan cekungan dangkal yang


terletak di sebelah dorsal dari apex, terbentuk akibat pendesakan
ganglion semilunare gasseri.
2) Eminentia arcuata: merupakan pendesakan dari canalis
semicircularis superior.
3) Tegmen tympani: merupakan atap dari cavum tympani, terletak di
bagian ventrolateral dari eminentia arcuata.
4) Hiatus canalis facialis: terletak di dekat eminentia arcuata, agak ke
ventrolateral.
- Hiatus canalis facialis akan melanjutkan diri ke depan sebagai
sulcus nervi petrosi mayoris.

62
[Os Temporale]. KERABAT 2014

- Hiatus canalis facialis akan melanjutkan diri ke inferior sebagai


canalis facialis dan berakhir sebagai foramen
stylomastoideum.
- Hiatus canalis facialis akan dilalui oleh N. Petrosus mayor (N
VII) dan R. Petrosus A. Meningea media.
- Hiatus canalis facialis akan ditempati oleh ganglion
geniculatum N VII.
5) Apertura superior canaliculi tympanici: terletak sebelah lateral
dari hiatus canalis facialis.
- Apertura superior canaliculi tympanici akan melanjutkan diri
sebagai sulcus nervi petrosi minoris.
- Apertura superior canaliculi tympanici akan dilalui oleh N.
Petrosi minor (N IX) dan A. Tympanica superior.
- Apertura superior canaliculi tympanici akan menuju ke inferior
dan berakhir sebagai apertura inferior canaliculi tympanici.
6) Foramen caroticum internum: merupakan muara dari canalis
caroticus.
7) Sulcus sinus petrosus superior.

63
KERABAT 2014 [Os Temporale]

b. Facies posterior

1) Porus acusticus internus, pintu masuk menuju pipa bagian dalam


yang disebut meatus acusticus internus.
2) Fossa sub Arcuatus, dataran yang terletak di bawah eminentia
Arcuata.
3) Sulcus Sinus Petrosus Inferior.
4) Apertura Canaliculi Vestibuli,sebuah celah sempit yang ditempati
oleh saccus endolymphe dan dimuarai oleh Ductus
Endolympheserta dilalui oleh A/V Aquaductus vestibuli.
5) Incisura jugularis yang akan membentuk Foramen Jugularis.

64
[Os Temporale]. KERABAT 2014

Meatus acusticus
internus

Pars petrosa os temporal dilihat dari atas.

Bagian sinistra: canalis semicircularis terbuka. Bagian dextra: canalis semicircularis tertutup.

65
KERABAT 2014 [Os Temporale]

c. Facies Inferior

1) Apex partis petrosae yang dilekati M. Tensor Veli Palatinae.


2) Foramen Caroticum Eksternum, akan melanjutkan diri sebagai
Canalis Caroticus. Antara canalis Caroticus dan Cavum Tympani
dihubungkan Oleh sebuah saluran yang disebut Canalis
Carotycotympanicum. Saluran ini dilalui oleh A/N
Caroticitympanica cabang A. Carotis Interna yang pertama.
3) Fossa Jugularis, ditempati oleh BSVJI (bulbus Superius Vena
Jugularis Internae)
4) Fossula petrosa, merupakan jembatan pemisah antara Foramen
jugulare dan Foramen Caroticum Eksternum. Pada Fossula ini
dibagian tengahnya terdapat Apertura Inferior canaliculi Tympanici
sedangkan dibagian ujung medialnya terdapat Apertura Canaliculi
Cochlea.

66
[Os Temporale]. KERABAT 2014

5) Apertura Canaliculi Cochlea, celah tempat keluarnya/ muara dari


saluran Canaliculi Cochlearis dan dilalui oleh ductus
perilymphaticus dan V. Canaliculi Cochlea.Apertura Inferior
Canaliculi Tympanici, terlerak di tengah fossula petrosa dan dilalui
oleh A. Tympanica Inferior dan R. Tympanicus N. IX.
d. Angulus anterior, terletak antara facies anterior dan facies inferior.
1) Canalis Musculotubarius (W), terdapat dua bagian yaitu superior
dan inferior yang dipisahkan oleh septum musculotubarius.
Bagian atas (Superior) membentuk Semicanalis musculi tensor
tympani. Sedangkan bagian inferiornya membentuk Semicanalis
tuba auditiva yang akan berhubungan dengan Pharynx.
2) Canalis Caroticus (X).

D. Pars Mastoidea
Pars mastoidea merupakan bagian yang berada pada bagian posterior os.
termporale. Permukaan luarnya berupa penonjolan membulat yang kasar
disebut processus mastoideus, sedangkan bagian dalamnya berupa ruangan
berongga (trabekula) yang disebut anthrum mastoideum yang terdiri atas
rongga-rongga kecil yang disebut cellulae mastoideae. Anthrum mastoideum
dihubungkan dengan cavum tympani oleh aditus ad anthrum.
- Sulcus Arteri Occipitalis, akan dilalui oleh A. Occipitalis cabang A. Carotis
Externa.
- Incisura Mastoidea, terletak disebelah medial dari processus dan akan
dilekati oleh M. Digastricus Venter Posterior.
- Foramen Mastoideum, akan dilalui oleh V. Emissaria Mastoidea. Lubang
ini terletak pada bagian dorsal dari Processus Mastoideus.

E. Pars hyoidea
Merupakan bagian yang akan berhubungan dengan os hyiodeum melalui M.
Stylohyoideus. Bangunan- bangunan yang ada diantaranya adalah :

67
KERABAT 2014 [Os Temporale]

- Proc. Styloideus, merupakan penonjolan yang runcing terletak di sebelah


ventral dari processus mastoideus. Dilekati oleh ligamentum
stylomandibulare dan M. Stylohyoideus.
- Foramen stylomastoideum, terletak diantara Processus styloideus dan Proc.
Mastoideus, dilalui oleh A. Stylomastoidea Cabang dari A. Auricularis
posterior cabang A. Carotis Eksterna (yang masuk) dan N. Stylomastoideus.
N. Stylomastoideus/N.VII (yang keluar).

Sebelum keluar N.Facialis melengkung membentuk genu eksternum N.VII


sedangkan genu internum terdapat pada Dinding dorsal pons dan bersama
dengan nuclei nervi abducent menonjol membentuk colliculus facialis.

DAFTAR PUSTAKA

Haridhi, A.A., Luh, Ayu. 2016. Handout Anatomi Os Temporale. Surakarta: Laboratorium
Anatomi FK UNS

68