Anda di halaman 1dari 25

20 Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

TUGAS MAKALAH EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA

Bentuk-bentuk Asesmen Penalaran

OLEH: WIDYA WATI NIM: 19856 DOSEN PEMBIMBING: Prof.Dr.Festiyed, M.Si Dr. Usmeldi, M.Pd KONSENTRASI PENDIDIKAN FISIKA PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2011
. | KATA PENGANTAR 1

20 Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul bentuk-bentuk asesmen penalaran yang dibimbing oleh ibu Prof. Dr Festiyed, M.Si dan Dr. Usmeldi, M.Pd. Makalah yang ditulis penulis ini berbicara mengenai bentuk-bentuk asesmen penalaran. Penulis menuliskannya dengan mengambil dari beberapa sumber baik dari buku maupun dari internet dan membuat gagasan dari beberapa sumber yang ada tersebut. Penulis berterima kasih kepada beberapa pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian makalah ini. Hingga tersusun makalah yang sampai dihadapan pembaca pada saat ini. Penulis juga menyadari bahwa makalah yang penulis tulis ini masih banyak kekurangan. Karena itu sangat diharapkan bagi pembaca untuk menyampaikan saran atau kritik yang membangun demi tercapainya makalah yang lebih baik. Padang, April 2011 Widya Wati

. | KATA PENGANTAR

20 Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................ii DAFTAR ISI..........................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1 BAB II PEMBAHASAN........................................................................................9 A. Dasar Pemikiran Asesmen Penalaran...........................................................9 B. Bentuk Asesmen Penalaran (Reasoning Assessment)................................18 C. Melibatkan Siswa Dalam Penilaian Penalaran............................................18 BAB III PENUTUP..............................................................................................21 A. Kesimpulan.................................................................................................21 B. Saran............................................................................................................21 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................22 DAFTAR PUSTAKA

. | KATA PENGANTAR

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011


BAB I PENDAHULUAN

Penggunaan jenis asesmen yang tepat akan sangat menentukan keberhasilan dalam mengakses informasi yang berkenaan dengan proses pembelajaran. Pemilihan metode asesmen harus didasarkan pada target informasi yang ingin dicapai. Informasi yang dimaksud adalah hasil belajar yang dicapai siswa. Stiggins (1994:3,67) mengemukakan lima kategori target hasil belajar yang layak dijadikan dasar dalam menentukan jenis asesmen yang akan digunakan oleh pengajar. Kelima hasil belajar tersebut adalah:
1.

Knowledge Outcomes, merupakan penguasaan siswa terhadap substansi pengetahuan suatu mata pelajaran

2.

Reasoning

Outcomes,

yang

menunjukkan

kemampuan

siswa

dalam

menggunakan pengetahuannya dalam melakukan nalar (reason) dan memecahkan suatu masalah.
3.

Skill Outcomes, kemampuan untuk menunjukkan prestasi tertentu yang berhubungan dengan keterampilan yang didasarkan pada penguasaan pengetahuan.

4.

Product Outcomes, kemampuan untuk membuat suatu produk tertentu yang didasarkan pada penguasaan pengetahuan.

5.

Affective Outcomes, pencapaian sikap tertentu sebagai akibat mempelajari dan mengaplikasikan pengetahuan. Dari kelima hasil belajar yang dikemukakan di atas, penalaran (Reasoning

Outcomes) merupakan hasil belajar yang memiliki asesmen khas untuk mengevaluasinya.

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

Secara umum, Penalaran (reasoning) merupakan suatu konsep umum yang menunjuk pada salah satu proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui. Copi (1986) menyebut penalaran sebagai cara berpikir spesifik untuk menarik kesimpulan dari premis-premis. Piaget (1964) memberikan garis besar sistem intelektual anak pada tahap perkembangan yang menggambarkan tingkat penalaran yang dimilikinya. Perkembangan kognitif siswa yang dikemukakan terdiri dari empat tahap yaitu : (a) sensori motorik (0-2 tahun), (b) pra (d)

operasional (2-7 tahun), (c) operasional konkret (7-11 tahun) dan

operasional formal (11 tahun ke atas). Masing-masing tahap perkembangan kognitif tersebut dijelaskan sebagai berikut : 1. Tahap Sensori Motorik Tahap ini dicirikan oleh giatnya skemata sensori motoris yang mengatur indra dan gerakan. Dalam periode ini tidak ada kegiatan-kegiatan simbolis. Secara berangsur-angsur lewat kegiatan sensori dan gerakan motorisnya, anak belajar untuk mengkoordinir berbagai macam pola tindakan. Dalam keadaan kesatuan osmose afektif, lama-lama mereka mulai sadar untuk membedakan dengan dunia luar. Kesadaran akan diri sebagai subyek dan pembentukan obyek terjadi secara serentak. Pembentukan obyek ini bukanlah satu kenyataan primer tetapi sebuah konstruksi yang terjadi secara bertahap. Pembentukan obyek ini akan berkembang menjadi kesadaran akan permanensi obyek yang berarti timbulnya kesadaran sebuah obyek yang walaupun tidak dapat diraba secara langsung, toh masih betul-betul berada terus jika suatu saat obyek tersebut tersembunyi bagi si subyek.

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

2.

Tahap Pra Operasional Tahap ini dicirikan

oleh

berangsur-angsurnya

pertambahan

daya

mengabstraksi, yang berarti memiliki kemampuan untuk melepaskan diri dari kenyataan yang konkret secara berganti-ganti. Periode ini dibagi dalam dua sub taraf. a. pra konseptual (2-4 tahun) Dalam taraf pra konseptual perkembangan mental telah berubah karena sudah terjadi perpindahan aksi-aksi sebagai representasi sesaat. Fungsi simbolis berarti kemampuan untuk mewakili sesuatu yang intern (misalnya perasaan dan pikiran). Simbol tidak menujuk pada diri sendiri, tetapi gambaran yang menunjuk kepada sesuatu yang lain. Perluasan realitas simbolis ini khususnya terjadi dalam bentuk permainan, tiruan dan bahasa. Ketiga faktor tersebut merupakan cara yang khas untuk menghadirkan sesuatu yang secara nyata tidak hadir. Sub taraf pra konseptual ini selanjutnya dicirikan lagi oleh sifat egosentrisme. Anak masih menganggap diri sebagai titik pusat mutlak dari dunianya dan menentukan diri sebagai patokan dan ukuran mutlak untuk setiap penilaian dan pertimbangan sehingga anak tidak dapat menempatkan diri dalam sudut pandangan orang lain. Pikiran anak masih bersifat terpusat (sentrasi). Anak yang berhadapan dengan suatu dimensi yang berbedabeda secara serentak, hanya dapat memfokuskan kepada satu dimensi saja. b. Sub taraf intuitif (4 7 tahun) Aspek yang paling menonjol dalam Sub taraf intuitif, anak sudah berhasil mengumpulkan sejumlah benda yang berbeda-beda menurut bentuk,

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

besar dalam satu kategori tunggal. Anak sudah mampu melihat relasirelasi koheren tetapi tidak berhasil menguraikan relasi-relasi koheren tersebut karena cara berpikirnya masih bersifat intuitif. Pada taraf ini anak mulai menangkap realitas secara logis dan munculnya aspek konservasi. Aspek konservasi ini merupakan kesadaran bahwa substansi atau benda (tanah, besi, kayu, air ) tidak kehilangan sifat tetentu (berat, volume) walaupun secara jelas terjadi perubahan bentuk tertentu (transformasi, seperti bentuk bulat berubah menjadi pipih). Tercapainya aspek transformasi ini menandai kepada peralihan pemikiran menuju 1. konkret operasional. Tahap Operasional Konkrit Tahap ini dicirikan oleh penghapusan berbagai keterbatasan yang ada pada taraf sebelumnya. Cara berpikir anak semakin kurang egosentris dan menjadi lebih terdesentrir. Dua ciri yang paling mencolok dari taraf ini adalah sifat operasional dan reversible. Dalam pemikiran operasional, melalui tindakan berpikirnya, anak dapat membuat suatu dengan cara membayangkannya. Perbuatan mental semata-mata dilakukan pada tingkat yang konkret. Tindakannya masih bergantung pada kehadiran nyata obyek-obyek konkret. Dalam prinsip reversibilitas, anak dapat kembali kepada titik tolaknya dan dapat memperbaiki tindakan mentalnya dengan melakukan kembali secara mental urutan yang sebaliknya. Dalam hal ini anak mampu mengantisipasi dan memperhitungkan apa yang akan terjadi. Proses-proses penting selama tahapan operasioanal kongkrit adalah: a. Pengurutan, yaitu kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya.

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

b.

Klasifikasi, yaitu kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat

c.

menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Decentering, yaitu anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya.

d.

Reversibility yaitu anak mulai memahami bahwa jumlah atau bendabenda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal.

e.

Konservasi, yaitu memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut.

f.

Penghilangan sifat egosentrisme, yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah).

1.

Tahap Operasional Formal Erwin dan Nuriyah (2001) mendefinisikan penalaran formal sebagai kemampuan berpikir benar dalam mencapai kebenaran, dapat membedakan antara kenyataan yang diterima dan harapan yang diinginkan. Siswa yang sudah berusia 11 tahun ke atas telah memiliki penalaran formal. Siswa pada usia tersebut telah mampu berpikir secara simbolik dan berpikir abstrak terhadap obyek yang diamati, sistematis, terarah dan akan dicapai, di samping mampu berpikir induktif, deduktif dan empiris rasional. Aspek penalaran formal meliputi penalaran kombinatorial, penalaran korelasional dan penalaran proporsional. Flavell mengemukakan beberapa karakteristik dari berpikir operasional formal, yaitu :

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

a.

Berpikir hipotesis deduktif Ia dapat merumuskan banyak alternatif hipotesis dalam menanggapi masalah dan mencek data terhadap setiap hipotesis untuk membuat keputusan yang layak. Tetapi ia belum mempunyai kemampuan untuk menerima dan menolak hipotesis.

b.

Berpikir proporsional seorang anak pada tahap operasional formal dalam berpikir tidak dibatasi pada benda-benda atau peristiwa-peristiwa yang konkret, ia dapat menangani pernyataan atau proporsi yang memerikan data konkrit. Ia bahkan dapat menangani proporsi yang berlawanan dengan fakta.

c.

Berpikir kombinatorial Kegiatan berpikir yang meliputi semua kombinasi benda-benda, gagasangagasan atau proporsi-proporsi yang mungkin.

d.

Berpikir refleksif Anak-anak dalam periode ini berpikir sebagai orang dewasa. Ia dapat berpikir kembali pada satu seri operasional mental. Ia juga dapat menyatakan operasi mentalnya dengan simbol-simbol (Dahar, 1989).

Lawson menyebutkan ada lima karakteristik bernalar formal, yaitu : a. identifikasi dan pengontrolan variabel : mendefinisikan identifikasi dan pengontrolan variabel sebagai kemampuan siswa dalam mengidentifikasi variabel yang paling tepat terutama dalam memecahkan masalah

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

b.

kemampuan berpikir kombinatorial : kemampuan berpikir yang menggabungkan beberapa faktor kemudian menyimpulkan sebagai hasil penggabungan tersebut terutama dalam memecahkan masalah

c.

kemampuan berpikir korelasional : kemampuan menganalisis masalah dengan menggunakan hubungan-hubungan atau sebab akibat

d.

kemampuan berpikir probabilitas : Cara berpikir untuk memecahkan masalah melalui berbagai kecenderungan mendorong siswa untuk mencari probabilitas

e.

kemampuan berpikir proporsional : kemampuan memecahkan masalah secara proporsi dan menggabungkan proporsi yang satu dengan yang lain. Dengan demikian anak pada tahap operasional formal menggunakan kelima cara tersebut dalam penalarannya. Inhelder dan Piaget membuat suatu inventory untuk mengukur tingkat

operasional formal. Inventory ini mengacu pada skemata yang disesuaikan dengan tingkat operasional formal seseorang. Terkait dengan pengetahuan ilmiah yang harus dimiliki seseorang pada tingkat operasional formal ini, Inhelder dan Piaget memberikan beberapa ciri (Travers, 1982), yaitu : operasi kombinasi (combinatorial operation), perbandingan (proportions), koordinasi terhadap Dua sistem acuan (the coordination of two system of rRefference), proses keseimbangan mekanik (The Process of Mechanical Equilibrium), probabilitas (probability), korelasi (correlation), konsep kekekalan (concepts of conservation). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penalaran formal adalah kapasitas siswa untuk melakukan operasi-operasi formal yang meliputi : berpikir kombinatorial, berpikir proporsi, berpikir koordinasi, berpikir keseimbangan
. | DAFTAR PUSTAKA 1

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

mekanik, berpikir probabilitas, berpikir korelasi, berpikir kompensasi dan berpikir konservasi.

BAB II PEMBAHASAN

A. Dasar Pemikiran Asesmen Penalaran


Nuryani Rustaman menyatakan bahwa kerangka dalam asesmen penalaran terdiri dari Taksonomi Bloom, Kerangka Norris-Ennis, Kerangka

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

Quellmalz, dan dimensi pembelajaran Marzano. Masing-masing dasar pemikiran tersebut akan diuraikan selanjutnya. 1. Taksonomi Bloom Secara umum, Bloom menyatakan klasifikasi kemampuan hasil belajar terbagi menjadi : a. Ranah Kognitif Merupakan kemampuan berpikir, kompetensi memperoleh

pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan dan penalaran. b. Ranah Afektif Berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat penerimaan atau penolakan terhadap suatu obyek c. Ranah Psikomotor Kompetensi melakukan pekerjaan dengan melibatkan anggota badan (berkaitan dengan gerak fisik). Berdasarkan klasifikasi dari kemampuan hasil belajar tersebut, penalaran termasuk pada ranah kognitif. Pada tahun 1956, Benjamin Bloom menulis Taxonomy atas Tujuan Pendidikan: Domain Kognitif, dan sejak saat itu deskripsi dari enam tingkat proses berpikir yang dibuatnya dengan segera diadaptasi serta digunakan dalam berbagai macam ragam konteks. Daftar atas proses kognitif yang dibuatnya, disusun dan diurutkan dari yang paling sederhana, mengingat kembali pengetahuan yang telah dimiliki, sampai

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

dengan yang paling rumit, yaitu memutuskan nilai dan manfaat dari suatu gagasan. Tabel 1 menunjukkan tingkat pemikiran yang pada awalnya dikemukakan Bloom : Tabel 1. Taksonomi Bloom awal Tahap Definisi Pemikiran Pengetahuan Mengingat kembali informasi Kata Kunci identifikasi, deskripsi, nama, label, pengenalan, reproduksi, menyertai, mengikuti

Pemahaman

Pemahaman terhadap makna, ringkasan, mengubah, interpretasi dari sebuah mempertahankan, mengartikan, konsep interpretasi, pemberian contoh Penggunaan dari informasi atau konsep dalam suatu situasi yang baru Memecah informasi atau konsep ke dalam beberapa bagian untuk menjadikannya lebih mudah dipahami Menggabungkan beberapa gagasan secara bersama untuk membentuk sesuatu yang baru Memutuskan nilai dan manfaat membangun, membuat, model, perkiraan, prediksi, persiapan membandingkan, memecah, membedakan, memilih, memisahkan kategorisasi, generalisasi, rekonstruksi

Penerapan

Analisis

Sintesis

Evaluasi

meninjau, kritik, menilai, argumentasi, dukungan

Sebagaimana model teoretik lainnya, taksonomi yang dibuat oleh Bloom memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekuatan terbesarnya adalah taksonomi tersebut mengangkat topik yang sangat penting mengenai proses berpikir dan menempatkan sebuah struktur di seputar topik tersebut yang bermanfaat bagi para praktisi. Banyak guru yang memiliki pertanyaan seputar belajar dan mengajar terangsang untuk

menghubungkannya dengan berbagai tingkat dari taksonomi yang dibuat


. | DAFTAR PUSTAKA 1

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

oleh Bloom, dan dapat dipastikan menjadikan guru-guru tersebut bekerja lebih baik, khususnya dalam mendorong terwujudnya kemampuan berpikir dengan tingkat keteraturan yang lebih tinggi. Pada tahun 1999, Lorin Anderson bersama dengan beberapa rekan kerjanya menerbitkan sebuah versi terbaru dari taksonomi Bloom yang mempertimbangkan jangkauan yang lebih luas dari berbagai faktor yang berdampak pada kegiatan pembelajaran. Taksonomi yang diperbaharui ini berusaha memperbaiki beberapa kekeliruan yang ada pada taksonomi yang asli. Tidak seperti versi 1956, taksonomi yang baru membedakan antara tahu tentang sesuatu (knowing what), isi dari pemikirannya itu sendiri, dan tahu tentang bagaimana melakukannya (knowing how), sebagaimana prosedur yang digunakan dalam

menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, dimensi proses kognitif atas perbaikan taksonomi yang dibuat oleh Bloom tersebut, sebagaimana versi aslinya, memiliki enam kecakapan seperti tabel 2.

Tabel 2. Taksonomi Bloom terbaru Tahap Definisi Pemikiran Mengingat (remembering) pengenalan kembali dan memanggil ulang (recall) informasi yang sesuai dari ingatan jangka panjang

Kata Kunci mengenali, memanggil ulang

Memahami kemampuan untuk (understanding) mengartikan dan memaknai dari bahan pendidikan, seperti bahan bacaan dan penjelasan guru

mengartikan dan memaknai sendiri, mencontohkan, membuat klasifikasi, meringkas, menyimpulkan, membandingkan, menjelaskan

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011


Menerapkan (applying) mengacu kepada penggunaan mengeksekusi / melaksanakan, menerapkan sebuah prosedur yang telah dipelajari baik dalam situasi yang telah dikenal maupun pada situasi yang baru memecah pengetahuan membedakan, menjadi bagian-bagian kecil mengorganisasikan, memberikan atribut dan memikirkan bagaimana bagian-bagian tersebut berhubungan dengan struktur keseluruhan seutuhnya mencakup pemeriksaan (checking) dan pengritisian (critiquing) melibatkan usaha untuk meletakkan berbagai hal secara bersama untuk menghasilkan suatu pengetahuan baru memeriksa, mengkritisi

Menganalisis (analyzing)

Evaluasi (evaluating) Menciptakan (creating)

membangkitkan, merencanakan, menghasilkan

1.

Norris-Enniss Framework Menurut Norris-Ennis Framework dalam stiggin (1994) terdapat 12

indikator

keterampilan

kritis

yang

dikelompokkan

dalam

aspek

keterampilan berpikir kritis seperti di tunjukkan pada table 3 berikut Tabel 3. Indicator keterampilan berpikir kritis Norris Ennis Keterampilan berpikir kritis 1. Memberika n penjelasan sederhana (elementary clarification Sub keterampilan berpikir kritis 1. memfokuskan pertanyaan 2. menganalisis argumentasi 3. bertanya pertanyaan dan menjawab dan klarifikasi

pertanyaan yang menantang

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

) 1. Membangu n keterampila n (basic support) 1. Meyimpulk an (inference) dasar 1. Mempertimbangkan kredibilitas sumber) 2. Mengobservasi mempertimbangkan observasi 1. Membuat dedukasi 2. Membuat 3. Membuat mempertimbangkan keputusan 4. Membuat penjelasan lebih lanjut clarification) 1. Strategi dan taktik (strategies and tactics) (advanced 1. Mendefenisikan 2. Mengidentifikasi asumsi 1. Memutuskan suatu tindakan 2. Berinteraksi dengan orang lain istilah, induksi dan dan nilai mempertimbangkan induksi dedukasi dan hasil dan hasil (criteria suatu

mempertimbangkan

mempertimbangkan defenisi

1.

Marzanos Dimension of Learning Dimensi belajar pertama kali diperkenalkan oleh Robert J. Marzano

tahun 1992 dalam bukunya yang berjudul A different Kind of Classroom. Ada lima dimensi belajar yang dikemukakan MArzano (1992), yaitu: a. Sikap dan persepsi (Attitude dan perceptions) b. Memperoleh dan mengintegrasikan pengetahuan (Acquire and integrate knowledge)
. | DAFTAR PUSTAKA 1

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

c. Mengembangkan dan menghaluskan pengetahuan (Extend and refine knowledge) d. Menggunakan meaningfully) e. Kebiasaan berpikir produktif (productive habits of maind) Kelima dimensi belajar yang telah disebutkan diatas saling berhubungan satu sama lain dan tidak dapat berjalan dalam keadaan terpisah. Dimensi pertama dan kelima merupakan dasar untuk menjalankan dimensi kedua, ketiga, dan keempat. Jika siswa memiliki sikap persepsi negative terhadap pembelajaran, maka proses belajar yang meliputi dimensi dua, tiga dan empat pada siswa tidak akan berjalan dengan baik. Sebaliknya bila siswa memiliki sikap dan persepsi positif maka siswa akan belajar lebih banyak dan hal-hal yang terkait dengan dimensi dua, tiga dan empat dapat dilaksanakan dengan baik. Demikian halnya bila siswa telah terbiasa berpikir secara produktif, maka proses belajar pada diri siswa akan terfasilitasi. Dimensi belajar tersebut saling berinteraksi dapt dilihat pada gambar berikut. pengetahuan secara bermakna (use knowledge

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

1.

Quellmalzs Framework Stiggins (1988) mengemukakan kerangka pemikiran Quellmalz

tentang penalaran sebagai berikut : Kategori Mengingat (Recall) Defenisi Mengingat atau mengenal fakta-fakta kunci, defenisi, ko nsep. Kata Kunci Menyampaikan, mendaftarkan, label, nama, identifikasi, mengulang, siapa, apa, kapan Menganalisis, memutuskan, hubungan, bagaimana sesuatu beroperasi, bagaimana sesuatu digunakan, memberikan contoh

Analisis (Analysis)

Memahami hubungan antara keseluruhan dan bagianbagiannya dan antara sebab dan akibat, gabungan dan pengelompokan, memahami bagaimana suatu proses dan bagaimana bagian sesuatu sesuai bersamaan, memahami hubungan kausal, mendapatkan informasi dari chart, grafik,

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

Kategori Perbandingan (Comparison)

Defenisi diagram, dan peta. Menjelaskan bagaimana sesuatu itu sama atau berbeda. Membandingkan antara dua hal, sederhana ataupun rumit. Perbandingan sederhana didasarkan pada beberapa sifat yang lebih nyata. Perbandingan rumit membutuhkan pengujian yang lebih luas dari sejumlah karakteristik antara dua atau lebih suatu hal yang ingin dibandingkan. Perbandingan dimulai dengan keseluruhan / sebagian hubungan dalam kategori analisis dan membawanya ke tahapan selanjutnya.

Kata Kunci Samakan, bedakan, bandingkan, serupa, berbeda

Penarikan Kesimpulan (Inference)

Penalaran secara induktif atau deduktif. Dalam tugasdeduktif, penalaran siswa dimulai dari generalisasi ke pemisalan spesifik dan diminta untuk mengenalkan atau menjelaskan fakta-fakta. Dalam tugas induktif, siswa diberi pemisalan atau uraian dan mampu menghubungkan dan mengintegrasikan informasi untuk menuju ke generalisasi.

Hipotesis, sintesis, penggunaan fakta, menggunakan aturan, mengeneralisasikan, menciptakan, menduga, memprediksi, menyimpulkan, menggunakan, memecahkan

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

Kategori Evaluasi (Evaluation)

Defenisi Mengungkapkan dan mempertahankan pendapat. Mengevaluasi memerlukan siswa untuk mempertimbangkan kualitas, kredibilitas, harga atau kepraktisan yang menggunakan kriteria yang telah ditetapkan dan menjelaskan bagaimana kriteria tersebut cocok atau tidak.

Kata Kunci Mempertimbangkan, mengevaluasi, solusi terbaik, membenarkan, mempertahankan, mengkritik

Berdasarkan keempat dasar pemikiran para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penalaran merupakan suatu keterampilan berpikir dengan menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, rencana, dan lainnya. Tingkatan penalaran dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Analisis Kata kunci : Komponen, bagian, unsur, urutan logis, langkah-langkah, ide pokok, uraian pendukung, membedah, menentukan, urutan. 2. Menyamakan / membedakan Kata kunci : membedakan antara serupa dan berbeda, membedakan antara kemiripan dan pertentangan, mensejajarkan. 3. Sintesis Kata kunci : menggabungkan, mencampurkan, memformulasikan,

mengorganisasi, mengadaptasi, memodifikasi 4. Klasifikasi Kata kunci : mengelompokkan, memisahkan, menggolongkan, memberikan contoh

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

5.

Menduga dan menarik kesimpulan Kata kunci : menterjemahkan, implikasi, menggambarkan kesimpulan, memprediksi, menghipotesis, mengeneralisasi

6.

Evaluasi Kata kunci : membenarkan, mendukung opini, berpikir kritis, menghargai, mengkritik, berdebat, mempertahankan, membantah, mengevaluasi,

mengadili, membuktikan A. Bentuk Asesmen Penalaran (Reasoning Assessment) Keterampilan penalaran dapat dievaluasi melalui beberapa bentuk asesmen, yaitu : 1. Selected respons assessment Asesmen ini dapat menilai beberapa bentuk penalaran. 2. Essay assessment Asesmen ini menuntut deskripsi dalam bentuk penulisan dari solusi permasalahan kompleks yang memberikan pemikiran ke arah penalaran. 3. Performance assessment Melalui asesmen ini, siswa dapat diamati langsung saat mereka menyelesaikan suatu permasalahan atau menguji suatu produk, dan menarik kesimpulan melalui keterampilan penalaran siswa. 4. Personal communication Asesmen ini melatih siswa untuk menyampaikan pemikirannya secara lisan atau dapat diberikan pertanyaan balikan mengenai penalarannya terhadap suatu hal.

A. Melibatkan Siswa Dalam Penilaian Penalaran


. | DAFTAR PUSTAKA 1

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

Aspek penalaran dan bukti yang dapat dinilai efektif (namun tidak eksklusif) di bawah kondisi terkendali meliputi: Penggunaan penalaran fisika Siswa menunjukkan kemampuan mereka untuk alasan matematis dengan menunjukkan langkah-langkah yang diambil dalam mencapai solusi. Mereka harus mendapatkan kredit untuk pekerjaan mereka, yang mungkin sulit pada tes pilihan ganda. Memahami bukti Siswa menunjukkan bahwa mereka memahami sifat penting bukti fisika melalui jawaban mereka untuk pertanyaan-pertanyaan yang

memerlukan mereka untuk: Lengkap langkah-langkah dalam suatu bukti yang diberikan (baik membuat pernyataan yang sesuai dengan alasan atau memberikan alasan untuk pernyataan yang diberikan) Membangun hubungan antara langkah-langkah dalam suatu bukti yang diberikan (mengidentifikasi mana dari langkah-langkah sebelumnya dalam bukti yang diperlukan untuk menyimpulkan pernyataan didirikan di langkah a) Menemukan kesalahan dalam bukti yang diberikan Mengevaluasi validitas bukti yang diberikan Membandingkan dan mengevaluasi pembenaran yang berbeda untuk soal yang diberikan (empiris penjelasan, bukti berdasarkan contoh generik, berdasarkan bukti-bukti aksiomatik sistem) Belajar untuk membuktikan

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

Pembangunan bukti di bawah kondisi pengujian adalah latihan yang valid tapi satu yang hati-hati membutuhkan persiapan. Jika satu-satunya cara di mana bukti dinilai, mungkin mengakibatkan siswa memiliki pandangan terdistorsi dan negatif dari proses yang fisika sampai pada

kesimpulan. Sebuah faktor penting untuk mempertimbangkan adalah sebelumnya pengetahuan tentang mahasiswa yang mengambil test: jika mereka sudah melihat buktinya dalam pertanyaan, maka tujuan penilaian yang valid. Alternatif tugas-tugas yang dapat digunakan untuk menilai kemampuan siswa untuk membangun bukti-bukti termasuk meminta mereka untuk: Garis besar bukti Mengidentifikasi pengetahuan fisika yang diperlukan untuk suatu bukti tertentu Mengisi langkah hilang dalam bukti yang diberikan Menyediakan satu set petunjuk untuk orang lain untuk membangun bukti Mengadaptasi bukti yang diberikan kepada situasi baru di mana satu atau lebih elemen yang telah berubah atau asumsi telah diubah Memberikan bukti alternatif untuk situasi tertentu Menyediakan "lokal" bukti (yang bekerja dalam diri-berisi subset dari sebuah aksiomatik sistem)

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan dari pembahasan di atas adalah: 1. kerangka dalam asesmen penalaran terdiri dari Taksonomi Bloom, Kerangka Norris-Ennis, Kerangka Quellmalz, dan dimensi pembelajaran Marzano 2. penalaran merupakan suatu keterampilan berpikir dengan menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, rencana, dan lainnya A. Saran Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan makalah ini adalah hendaknya para guru menguasai kerangka berpikir dalam membuat asesmen penalaran.

. | DAFTAR PUSTAKA

Widya Wati, Kuliah Evaluasi Pendidikan Fisika PPS UNP 2011

DAFTAR PUSTAKA

Quellmalz Framework of Thinking Skills. (dalam folder bahan tugas 11) Taksonomi Bloom. (dalam folder bahan tugas 11) Murti, Bhisma. Berpikir kritis. (dalam folder bahan tugas 11) Rahmat, adi. 2007. Learning dimensions based teaching. Universitas Pendidikan Indonesia: Bandung

. | DAFTAR PUSTAKA