Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Tujuan Percobaan Menentukan data-data yang diperlukan untuk membuat diagram titik didih vs komposisi dari sistem cairan binair. I.2. I.2.1. Tinjauan Pustaka Sistem Ideal Volatilitas relatif merupakan perbandingan dari tekanan uap komponen-komponen yang terdapat di dalam suatu campuran. Volatilitas relatif dapat menunjukkan tingkat kesulitan dari suatu proses distilasi untuk memisahkan komponen yang mudah menguap dari komponen yang tidak mudah menguap. Volatilitas relatif digunakan untuk merancang semua proses distilasi dan proses-proses pemisahan lainnya yang berkaitan dengan adanya kontak dari fase gas dan cair pada suatu sistem kesetimbangan. Volatilitas relatif tidak dapat digunakan untuk proses pemisahan yang melibatkan reaksi antara komponen-komponen yang terkandung di dalam campuran. Suatu campuran yang volatilitas relatifnya mendekati satu sukar dipisahkan dengan cara distilasi biasa karena membutuhkan plate dalam jumlah besar sehingga dibutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk memisahkan campuran yang volatilitas relatifnya mendekati satu, maka dapat ditambahkan suatu bahan yang disebut dengan entrainer. Entrainer akan mengubah volatilitas relatif sistem, sehingga campuran dapat dipisahkan dengan mudah. Metode distilasi dengan cara menambahkan entrainer dalam suatu campuran biner sehingga dalam campuran terkandung tiga komponen, kemudian campuran tersebut didistilasi disebut dengan metode distilasi azeotrop. Salah satu contoh entrainer yang sering digunakan adalah benzena atau sikloheksana. Benzena atau sikloheksana dapat ditambahkan pada campuran binair air-etanol.

Ketika benzena ditambahkan pada campuran biner etanol-air, ternary azeotrop terbentuk dengan komposisi 74% benzena, 18,5% etanol, 7,5% air, serta titik didih azeotropnya 149F. Titik didih yang dicapai ini 29F lebih rendah daripada titik didih benzena. Karena ternary azeotrop lebih kaya air daripada sistem binernya maka semua air dapat terdistilasi. Apabila sikloheksana ditambahkan pada campuran biner air-etanol, maka ternary azeotrop akan terbentuk dengan komposisi 7% air, 17% etanol, dan 76% sikloheksana, serta titik didih azeotropnya 62,1C. (Wikimedia Foundation, Inc., 2007) Hukum Dalton menyatakan bahwa tekanan total suatu campuran gas sama dengan jumlah tekanan parsial dari masing-masing komponennya. Tekanan total suatu campuran gas menurut hukum Dalton tersebut dapat dituliskan sebagai berikut: Pt =

pi = p +p
1

+p3 +p4 +......+pn

(1)

Dalton juga menyatakan bahwa tekanan parsial gas lokal dalam campuran gas sebanding dengan fraksi mol dalam campuran gas itu, sehingga tekanan parsial suatu gas dapat dirumuskan: pi = Yi Pt dimana: pi = tekanan parsial gas i Yi = fraksi mol komponen i dalam fase uap Pt = tekanan total Hukum Raoult menjelaskan mengenai hubungan antara tekanan parsial dalam fase gas dan komposisi dalam fase cair. Hukum Raoult dapat dinyatakan dengan persamaan: pi = Xi Pi dimana: Pi = tekanan uap murni komponen i Dengan menggabungkan persamaan (2) dan (3), akan didapatkan suatu persamaan yang menyatakan kesetimbangan campuran uap dan cairan ideal. Persamaan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut: Pt = pi = Yi Pt = Xi Pi (4) (3) (2)

Pada campuran ideal, rasio tekanan uap tidak berubah terhadap suhu dan koefisien fugasitas serta koefisien aktivitasnya adalah satu, sehingga volatilitas relatif hanya bergantung pada rasio tekanan uap yang konstan pada range titik didih komponen-komponennya. Oleh karena itu, rasio konsentrasi kedua komponen dalam dua fase akan konstan sepanjang kisaran suhu. Pada kasus-kasus yang umum terjadi, rasio tekanan uap tidak konstan, harga koefisien fugasitas dan koefisien aktivitas tidak sama dengan satu serta berubah dengan konsentrasi fase cairan. Distilasi azeotrop adalah suatu metode yang digunakan untuk memisahkan campuran yang sulit atau tidak mungkin dipisahkan dengan distilasi fraksinasi biasa, yaitu: 1. 2. 3. Campuran yang titik didih komponennya berdekatan satu sama lain. Campuran azeotrop. Campuran yang mempunyai volatilitas relatif mendekati satu.

Untuk mengatasi kesulitan tersebut distilasi azeotrop, yaitu dengan menambahkan entrainer ke dalam larutan biner untuk menghasilkan campuran sebagai destilat dan komponen lainnya sebagai residu. Campuran azeotrop yang baru ini mempunyai titik didih yang lebih rendah dibandingkan dengan campuran mula-mula. Volatilitas relatif didefinisikan sebagai rasio fraksi mol komponen i dalam fase uap dan cair dibagi dengan rasio fraksi mol komponen j dalam fase uap dan cair. Volatilitas relatif dinyatakan dalam persamaan: Yi /Xi Yj /X j

(5)

Volatilitas relatif merupakan ukuran yang menyatakan mudah atau sukarnya suatu campuran dipisahkan dengan cara distilasi. Makin besar harga ij makin mudah pemisahan dapat dilakukan. Persamaan (5) untuk komponen i dapat dituliskan menjadi: Yi = X i Pi Pt (6)

Persamaan (5) untuk komponen j dapat dituliskan menjadi: Yj = X j Pj Pt (7)

Dengan mensubstitusikan persamaan (6) dan (7) ke dalam persamaan (5), maka maka dapat diperoleh persamaan volatilitas relatif (ij) untuk sistem ideal. Persamaan volatilitas relatif tersebut dapat dituliskan dengan persamaan: Pi Pj

ij =

(8)

Harga volatilitas relatif berubah mengikuti hukum Raoult, sehingga volatilitas relatif sedikit berubah terhadap perubahan konsentrasi dalam range yang cukup besar. (Maron, 1974) I.2.2. Sistem Non Ideal Tidak idealnya komponen dalam suatu campuran dinyatakan dengan koefisien aktifitas (), sehingga hukum Raoult untuk campuran yang tidak ideal dapat dinyatakan dengan: pi = Xi Pi i (9)

Untuk campuran gas yang tidak ideal, koefisien fugasitas (V) harus diperhitungkan dalam Hukum Dalton, sehingga persamaan (2) dapat dituliskan menjadi: pi = Xi Pi i (10)

Dengan menggabungkan persamaan (9) dan (10) didapatkan persamaan: pi Vi = Xi Pi i (11)

Dengan mensubstitusikan persamaan (11) ke dalam persamaan (3), dapat diperoleh: Yi Pt Vi = i Xi Pi Persamaan (12) untuk komponen i dapat dituliskan menjadi: Yi i P i = X i Vi Pt (12)

(13)

Persamaan (12) untuk komponen j dapat dituliskan menjadi: Yj Xj =

j Pj Vj Pt

(14)

Dengan mensubstitusikan persamaan (13) dan (14) ke persamaan (5), maka diperoleh persamaan volatilitas relatif untuk sistem non ideal, yang dituliskan sebagai berikut: Yi Xi i Pi Vj = Yj X j j Pj Vi

ij =

(15)

I.2.3.

Distilasi Larutan Binair Pada umumnya, proses distilasi dilakukan pada tekanan tetap yaitu pada 1 atm. Sifat-sifat dari proses distilasi tersebut dapat dipelajari dari diagram titik didih terhadap komposisi untuk larutan ideal.

Gambar I.1. Kurva berbagai macam tipe distilasi (B/R Corporation, 2007) Pada diagram tersebut terdapat kurva L dan kurva V. Kurva L menyatakan komposisi cairan yang berada dalam kesetimbangan dengan larutan, sedangkan kurva V menyatakan komposisi uap yang berada dalam keseimbangan dengan larutan. TA dan TB menyatakan titik didih larutan A dan B. Setiap titik yang berada di atas kurva L merupakan campuran antara A dan B dalam keadaan uap, sedangkan setiap titik yang berada di bawah kurva V merupakan campuran antara A dan B dalam keadaan cair. Titik yang berada di antara kurva V dan L menyatakan uap dan cair terdapat bersama-sama dalam keadaan seimbang. Uap yang terbentuk selalu mengandung komponen yang mempunyai titik didih lebih rendah dan jumlah yang relatif lebih banyak daripada larutan.

Pada larutan ideal dan larutan lain yang tidak menyimpang terlalu banyak dari keadaan ideal, pemisahan komponen-komponennya dapat dilakukan melalui proses penyulingan bertingkat. Pada larutan yang menyimpang terlalu banyak dari keadaan ideal, tekanan uap larutan menunjukan adanya harga maksimum dan minimum. Harga maksimum dan minimum tersebut dapat ditunjukkan melalui diagram titik didih terhadap komposisi pada larutan yang tidak ideal. Terdapat tiga tipe kurva hubungan antara fase uap dan fase cair larutan, antara lain: 1. Tipe 1 (intermediet), jika tekanan uap A adalah yang terendah dan tekanan uap B adalah yang tertinggi dalam sistem, sementara tekanan uap dari seluruh komposisi A dan B merupakan intermediet keduanya. Sehingga, pada tekanan konstan titik didih A menjadi yang tertinggi dalam sistem dan sebaliknya dengan B, semua komposisi cair A dan B akan menjadi intermedietnya dan membentuk suatu kurva komposisi cairan seperti pada gambar I.2. Fase uap yang terbentuk dari berbagai komposisi larutan harus lebih kaya akan konstituen volatil B, sehingga kurva komposisi fase uap akan lebih mengarah pada B yang mengakibatkan kurva uap berada di atas kurva cairan. Contoh kurva hubungan antara fase uap dan fase cair yang termasuk dalam tipe 1 adalah kurva antara benzena dengan toluena dan karbontetraklorida dengan benzena.

Gambar I.2. Kurva tipe 1 (intermediet) (Perry, 1984)

2.

Tipe 2 (minimum), tekanan uap sistem adalah maksimum pada komposisi tertentu, sehingga akan menyebabkan larutan mendidih pada suhu yang terendah dan menghasilkan kurva titik didih yang minimum. Contoh kurva hubungan antara fase uap dan fase cair yang termasuk dalam tipe 2 adalah kurva antara benzena dengan sikloheksana dan air dengan etanol.

Gambar I.3. Kurva tipe 2 (minimum) (Perry, 1984) 3. Tipe 3 (maksimum), tekanan uap sistem adalah yang terendah, sehingga larutan akan mendidih pada titik didih tertinggi dan menghasilkan kurva titik didih maksimum. Contoh kurva hubungan antara fase uap dan fase cair yang termasuk dalam tipe 2 adalah kurva antara kloroform dengan aseton dan piridina dengan asam asetat.

Gambar I.4. Kurva tipe 3 (maksimum) (Perry, 1984)

Karena perbedaan dalam diagram distilasi dari ketiga tipe larutan, karakteristik masing-masing tipe pada temperatur yang konstan juga akan berbeda. Untuk tipe II dan tipe III, pemisahan untuk mendapat komponen murni tidak mungkin terjadi. Jika larutan pada komposisi A dan C, seperti pada Gambar I.3. didistilasi, uap yang terjadi akan mempunyai komposisi c dan akan lebih kaya dalam B daripada residunya. Karena kenyataan ini, komposisi dari residu akan lebih kaya akan A dan residu akan menguap pada suhu yang lebih tinggi daripada larutan asal A. Jika distilasi ini dilanjutkan, maka akan didapatkan residu murni A, dengan titik didih TA. Di lain pihak, jika uap dari larutan asal, c dikondensasi dan dilakukan distilasi terus menerus, maka komposisi uap C akan didapat. Uap tersebut ketika dikondensasi dan didistilasi kembali akan didapat hasil uap dengan komposisi C, uap yang didapat dari larutan akan mempunyai komposisi yang sama dengan larutan, dan pemisahan lebih jauh lagi tidak dapat dilakukan. Konsekuensinya, campuran yang berada pada komposisi di antara A dan C dapat dipisahkan dengan distilasi fraksional hanya sampai residu murni A dan distilat akhir komposisi C, sedangkan komponen murni B tidak dapat diperoleh. Jika larutan dengan komposisi di antara C dan B didistilasi, sebagai contoh Gambar I.4., uap yang dihasilkan e akan lebih kaya dalam A daripada larutan asal. Apabila distilasi diteruskan maka akan diperoleh komponen murni B dan distilat akan mempunyai komposisi C. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa komponen murni B akan didapat dari residu, sedangkan canpuran C dengan titik didih konstan akan didapat dari distilat. Komponen murni A tidak dapat diperoleh dari distilasi. Karakteristik larutan pada tipe III merupakan kebalikan dari larutan pada tipe II, dengan harapan bahwa residu cenderung mengarah pada campuran dengan titik didih maksimum, sedangkan distilat cenderung mengarah pada komponen murni. Jika dimulai dari campuran yang memiliki komposisi antara A dan D, seperti Gambar I.3., uap yang didapat dari distilasi akan mempunyai komposisi c, dimana lebih kaya

akan A daripada larutan, sehingga komposisi dari residu akan mengarah pada D. Redistilasi dari uap akan menghasilkan komponen murni A. Jika campuran berada diantara B dan D, seperti Gambar I.4., didistilasi maka akan menghasilkan uap dengan komposisi e dimana lebih kaya dalam B daripada larutan. Dengan demikian residu akan cenderung mengarah pada D, sedangkan redistilasi dari uap akan cenderung mengarah pada komponen murni B. (Maron, 1974) I.2.4. Azeotrop Titik didih campuran yang konstan disebut sebagai azeotrop. Komposisi azeotrop hanya akan konstan pada tekanan tertentu. Jika tekanan diubah, maka titik didih dan komposisi azeotrop akan ikut berubah. Pada Tabel I.1. terlihat berbagai titik didih azeotrop dan komposisi azeotrop pada tekanan total 760 mmHg. Tabel I.1. Titik Didih dan Komposisi Beberapa Azeotrop (Perry, 1984) Tipe A air etanol karbon disulfida piridina asam asetat kloroform piridina asam asetat B etanol benzena etil asetat air 1,4 dioksan aseton asam format piridina Titik didih ( C) 78,15 67,8 46,1 92,6 119,5 64,7 149,0 139,7 Berat B dalam azeotrop (%) 95,57 67,6 3,0 43,0 23,0 20,0 18,0 65,0

Minimum

Maksimum

Untuk campuran biner, tekanan dan temperatur mempengaruhi komposisi uap dan cairan dalam kesetimbangan. Karena itulah, data hasil percobaan sering ditampilkan dalam bentuk tabel dari fraksi mol uap y dan fraksi mol cairan x sebagai satu kesatuan dengan range temperatur T

10

pada tekanan tetap atau dengan range tekanan P pada suhu yang konstan. Data-data tersebut biasanya berada pada tekanan 101,3 kPa atau 1 atm. Pada metode distilasi, pemisahan dihasilkan dari perbedaan komposisi fase uap dan cair yang terjadi akibat adanya penguapan parsial dari campuran cairan atau kondensasi parsial dari campuran uap. Fase uap menjadi diperkaya dengan komponen-komponen volatil yang lebih banyak ketika fase cair sudah hampir tidak memiliki lagi komponenkomponen yang sama. Dalam berbagai situasi, bagaimanapun juga, perubahan dalam komposisi antara fase uap dan cair pada kesetimbangan menjadi kecil (disebut juga pinched condition) dan sejumlah besar penguapan serta kondensasi parsial dibutuhkan untuk memperoleh pemisahan yang diharapkan. Alternatif lainnya, fase uap dan cair dapat mempunyai komposisi yang identik karena pembentukan azeotrop dan tidak ada pemisahan oleh distilasi yang mungkin. (Perry, 1984) Ketentuan dasar dalam pemisahan komponen dengan destilasi terletak pada komposisi vapor yang berbeda dari fase liquid dimana terdapat suatu kesetimbangan pada titik didih liquid tersebut. Destilasi ditekankan pada larutan yang semua komponennya dikenali bersifat volatil, seperti larutan ammonia-air atau ethanol-air, dimana semua komponennya akan menjadi vapor. Dalam evaporasi, secara kontras, sebuah larutan air dan garam, dimana ait tersebut dapat diuapkan sedangkan garamnya tidak. Proses absorpsi pun berbeda dengan destilasi dimana salah satu komponennya sungguh-sungguh tidak larut dalam fase liquid. Sebuah contoh adalah absorpsi ammonia dari udara dengan air, dimana udara tersebut tidak larut dalam air-ammonia. Dalam kestimbangan yang terjadi pada destilasi, sebuah campuran liquid di-vapor-kan secara parsial. Vapor tersebut akan membentuk suatu kesetimbangan dengan fase liquid, yang kemudian keduanya dapat dipisahkan. Hal ini dapat dilakukan secara kontinu. (Geankoplis,1999)

11

I.2.5.

Distilasi Etanol Sistem antara etanol dan air akan membentuk kurva minimum dengan memiliki titik azeotrop pada 95% etanol dan 5% air dengan titik didih azeotrop berada pada suhu 78,15C. Titik azeotrop dapat terjadi karena pada suhu 78,15C (untuk sistem etanol-air) komposisi uap sama dengan komposisi cairnya, sehingga larutan jika didistilasi kembali akan memiliki komposisi yang tetap. (Maron, 1974) Azeotrop adalah cairan yang berada dalam kesetimbangan dengan fase uapnya dan memiliki komposisi uap dan cairan yang sama. Hal tersebut menunjukkan bahwa distilasi azeotrop dan kondesasi uap memberikan cairan yang sama dengan kondisi awal. Larutan etanol dan air yang lain berada dalam kesetimbangan dengan uap di mana lebih kaya dengan etanol, hal inilah yang merupakan penyebab mengapa distilasi dapat dilakukan. Tetapi pada kenyataannya, etanol menguap ke gas di mana lebih kaya akan etanol.

Gambar I.5. Kurva distilasi etanol (Selve, 1997) Garis hitam merupakan komposisi cairan yang bergerak dari sudut yang satu ke sudut yang lain. Kurva merah menunjukkan fraksi etanol dalam uap dalam ketergantungan dengan fraksi etanol dalam cairan. Untuk konsentrasi etanol yang rendah dalam cairan, konsentrasi etanol dalam uap lebih tinggi daripada dalam cairan, tetapi kurva-kurva tersebut berhimpit bersama pada konsentrasi yang tinggi.

12

Distilasi untuk memurnikan etanol akan berjalan sangat baik sampai garis kurva berhimpit satu sama lain. Garis kurva tersebut berpotongan pada titik azeotrop. Komposisi azeotrop akan berubah seiring dengan berubahnya tekanan. Distilasi pada tekanan yang berbeda adalah satu cara untuk mengatasi azeotrop. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan cairan organik seperti benzena untuk mengubah karakteristik dari uap dan cairan. Penghimpitan garis-garis kurva menyebabkan distilasi beralih dari proses besar menjadi proses yang lemah untuk mendapatkan etanol kembali. (Selve, 1997) Distilasi adalah cara yang umum digunakan untuk memisahkan suatu larutan, memurnikan cairan, atau memisahkan komponenkomponen yang terdapat dalam suatu campuran. Dalam distilasi, cairan diuapkan dengan pemanasan, kemudian dikondensasi kembali menjadi cairan yang disebut distilat atau kondensat dan ditampung dalam wadah yang terpisah. Pada larutan ideal, komponen yang memiliki titik didih yang rendah dapat dikumpulkan dalam suatu wadah dan komponen yang memiliki titik didih yang lebih tinggi dapat dikumpulkan dalam wadah yang terpisah. Komponen yang memiliki titik didih yang lebih tinggi akan tertahan pada labu distilasi sebagai residu. Titik didih suatu cairan didefinisikan sebagai temperatur di mana tekanan uapnya sama dengan tekanan di sekitar larutan yang bekerja pada permukaan larutan tersebut, yang biasanya merupakan tekanan atmosfer. Senyawa yang berbeda akan mendidih pada temperatur yang berbeda karena masing-masing senyawa memiliki tekanan uap yang berbeda. Bila suatu senyawa memiliki tekanan uap yang semakin tinggi, maka senyawa tersebut akan mendidih pada temperatur yang semakin rendah. Metode distilasi dengan perbedaan titik didih mengukur temperatur uap di atas cairan. Secara teori, temperatur uap dan temperatur cairan yang mendidih adalah sama ketika kedua fase tersebut berada pada keadaan setimbang. Dalam distilasi, yang diukur adalah temperatur uap

13

dan bukan temperatur cairan karena bila termometer diletakkan pada campuran cairan yang mendidih, maka pembacaan temperatur akan menunjukkan angka yang lebih tinggi daripada temperatur pada fase uap. Hal ini terjadi karena ada kemungkinan cairan berada dalam keadaan superheated atau terkontaminasi dengan komponen yang lain sehingga temperatur tidak lagi tepat untuk pengukuran titik didih. Ketika cairan di dalam labu distilasi mendidih, uap akan naik menuju bagian atas dari labu distilasi tersebut, kemudian melalui termometer dan masuk ke kondensor. Sejumlah uap akan terkondensasi di dinding labu distilasi dan di ujung termometer. Sepanjang uap mengalir keluar ke sidearm dan ujung termometer terbenam oleh uap, cairan yang terkondensasi pada ujung termometer berada pada kesetimbangan dengan fase uap dan titik didih yang akurat dapat diperoleh. Sama halnya dengan titik leleh, titik didih biasanya juga dilaporkan dalam bentuk range titik didih. Senyawa murni menunjukkan range titik didih antara 1C hingga 2C atau kurang, akan tetapi tidak semua cairan dengan titik didih yang konstan merupakan senyawa murni. Ketika pelarut yang mengandung komponen yang non volatil di pisahkan dari larutan dengan pemanasan atau ketika suatu cairan yang murni didistilasi, temperatur akan naik dengan tajam menuju titik didihnya. Ketika alat penyulingan telah mencapai kesetimbangan termal, titik didih akan relatif konstan, tidak berubah lebih dari 1C hingga 2C selama proses distilasi. Penurunan temperatur yang signifikan menunjukkan distilasi cairan murni telah sempurna. Karena sebagian besar metode distilasi dilakukan terhadap campuran cairan, maka perlu dipertimbangkan teori mengenai campuran ideal (tidak saling berinteraksi) antara dua cairan yang saling larut, A dan B, dengan A adalah cairan yang memiliki titik didih yang lebih rendah. Bila perbedaan titik didih antara kedua cairan tersebut besar (100C atau lebih), temperatur akan naik ke titik didih cairan A, senyawa yang memiliki titik didih yang lebih rendah, dan temperatur akan konstan selama A terdistilasi. Ketika hampir semua senyawa A terdistilasi,

14

temperatur akan naik ke arah temperatur senyawa B, senyawa dengan titik didih yang lebih tinggi. Setelah mencapai titik didih senyawa B, temperatur akan konstan selama B terdistilasi. Akan tetapi, jenis distilasi ini jarang ditemui dalam percobaan di laboratorium karena pemisahan biasanya melibatkan campuran senyawa dengan titik didih yang dekat satu sama lain. Hal yang lebih sering terjadi adalah temperatur distilasi naik kurang atau lebih dengan mantap selama proses distilasi karena campuran A dan B terdistilasi. Mula-mula, pada suhu yang rendah, distilat akan mengandung lebih banyak senyawa A (senyawa dengan titik didih yang lebih rendah) daripada senyawa B, tetapi distilat tidak terdiri dari senyawa A murni saja. Pada temperatur yang tinggi, distilat akan didominasi oleh senyawa B tetapi juga mengandung sedikit senyawa A. Meskipun pada mulanya distilat banyak mengandung senyawa A dan pada saat akhir distilat akan banyak mengandung senyawa B, senyawa murni A maupun B tidak akan didapat karena senyawa B (senyawa dengan titik didih yang lebih tinggi) memiliki tekanan uap yang signifikan meskipun pada temperatur di bawah titik didihnya. Tekanan uap senyawa B dalam campuran A dan B merupakan fungsi dari beberapa faktor. Hukum Dalton tentang tekanan parsial menyatakan bahwa tekanan total dari suatu gas merupakan penjumlahan tekanan parsial dari komponen-komponennya. Seperti pada gas, tekanan total pada cairan merupakan penjumlahan tekanan parsial dari komponen-komponennya. Campuran A dan B akan mendidih ketika penjumlahan kedua tekanan parsial (PA dan PB) sama dengan tekanan atmosfer. P = PA + PB (16)

Fraksi mol (X), suatu ukuran konsentrasi, adalah jumlah mol dari suatu komponen di dalam campuran dibagi dengan jumlah mol total (semua komponen yang ada). XA = mol A mol A + mol B (17)

15

XB =

mol B mol A + mol B

(18)

Hukum Raoult menyatakan bahwa pada temperatur dan tekanan tertentu, tekanan parsial dari senyawa di dalam larutan ideal akan sama dengan tekanan uap senyawa murninya dikalikan dengan fraksi mol dalam fase cair. Dengan hukum Raoult, bila PA menyatakan tekanan uap murni senyawa A pada temperatur tertentu dan tekanan uap murni senyawa B pada temperatur tersebut dinyatakan dengan PB, maka : PA = X A PA o PB = X B PB o dimana:PA dan PB = tekanan parsial senyawa A dan B XA dan XB = fraksi mol senyawa A dan B PA dan PB = tekanan uap murni senyawa A dan B (19) (20)

Dengan mensubstitusikan persamaan (19) dan (20), maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut: Pt = X A PA o + XB PBo (21)

Hukum Raoult dan Dalton menyatakan secara matematis bahwa komposisi uap di atas campuran cairan tergantung pada tekanan uap murni masing-masing komponen dan fraksi mol komponenkomponennya di dalam suatu campuran. Semakin tinggi tekanan uap dari suatu komponen, maka akan semakin banyak uap komponen tersebut di atas cairan. Semakin besar konsentrasi suatu komponen dalam cairan, maka akan semakin besar pula konsentrasi uapnya di atas cairan. Distilasi merupakan proses yang dinamis. Uap akan dikondensasi sebagai distilat, ketika semakin banyak uap yang terbentuk dari memanaskan cairan. Selama proses distilasi, pada campuran cairan A dan B, komponen A (komponen dengan titik didih yang lebih rendah) akan semakin sedikit. Karena PB lebih rendah daripada PA, maka temperatur cairan harus dinaikkan untuk menjaga pemanasan sehingga cairan akan semakin kaya akan komponen B. Pada umumnya distilat murni tidak

16

pernah didapat. Tetapi apabila distilat awal diredistilasi, maka akan didapatkan distilat yang lebih murni, dan seterusnya. Karena proses distilasi ini akan banyak memakan waktu, maka dapat dilakukan distilasi fraksional. Karena adanya reaksi intermolekuler, seperti ikatan hidrogen, maka banyak campuran binair tidak mengikuti hukum Raoult dan tidak memiliki diagram fase yang ideal. Contohnya, campuran cairan akan membentuk titik azeotrop di mana campuran terdistilasi pada titik didih dan komposisi yang konstan. Bila temperatur titik azeotrop lebih rendah daripada titik didih kedua senyawa murni campuran, azeotrop akan terdistilasi sebelum komponen yang berlebih. Komponen yang berlebih tidak akan terdistilasi sebagai senyawa murni sebelum azeotrop terdistilasi secara sempurna. Meskipun sebagian besar azeotrop memiliki titik didih yang lebih rendah daripada titik didih senyawa murni komponen-komponennya, beberapa azeotrop memiliki titik didih di antara atau lebih tinggi daripada titik didih senyawa murni komponen-komponennya. Contohnya, azeotrop campuran -bromotoluena (183,7C) dengan n-oktanol (195C) yang memiliki titik didih yang intermediet (184,1C) dan azeotrop campuran aseton (56C) dengan kloroform (61C) yang memiliki titik didih yang lebih tinggi (64,7C). Etanol (78,3C) dengan air (100C) akan membentuk azeotrop yang memiliki titik didih yang lebih rendah (78,15C). (Fessenden, 2001) I.2.6. Indeks Bias Indeks bias merupakan sifat fisika yang dapat digunakan untuk menentukan identitas dan kemurnian cairan. Pembiasan adalah pembelokan berkas cahaya dari satu medium ke medium lain yang memiliki densitas yang berbeda. Pembiasan muncul dari fakta bahwa cahaya merambat lebih lambat pada substansi yang memiliki densitas

17

yang lebih besar. Pembiasan sangat berguna karena derajat pembiasan tergantung dari struktur senyawa. indeks bias, n = kecepatan cahaya di udara kecepatan cahaya pada suatu substansi

Indeks bias dapat diukur dengan alat yang disebut refraktometer. Refraktometer akan menentukan derajat pembiasan cahaya diantara cairan dan prisma. Panjang gelombang cahaya yang berbeda akan dibiaskan dalam jumlah yang berbeda. Bila indeks bias digunakan sebagai konstanta fisik, hanya satu panjang gelombang cahaya saja yang dipakai, biasanya sodium D line, pada 589,3 nm. Panjang gelombang tunggal dapat diperoleh dari lampu sodium maupun cahaya putih dengan sistem prisma. Di samping bergantung pada panjang gelombang cahaya, indeks bias juga bergantung pada temperatur. Untuk alasan ini, temperatur selalu spesifik ketika indeks bias dilaporkan. Indeks bias merupakan sifat fisik yang sangat sensitif. Kecuali jika komponen sangat murni, hampir tidak mungkin untuk mendapatkan indeks bias seperti yang tercantum pada literatur. Semakin dekat indeks bias yang teramati dengan indeks bias yang tercantum pada literatur, semakin murni senyawa tersebut. Dalam hal struktur, indeks bias adalah fungsi dari kepolaran atom dan gugus dalam molekul. Semakin polar suatu molekul, maka indeks biasnya akan semakin tinggi. (Fessenden, 2001)

18

Gambar I.5. Refraktometer (Wikimedia Foudation, Inc., 2007) I.2.7. Pecahan Porselen Batu didih atau pecahan porselen harus digunakan ketika cairan dididihkan dan cairan tidak dapat diaduk secara konstan. Batu didih atau porselin merupakan batu kecil dan berpori yang terbuat dari kalsium karbonat atau silikon karbida yang mengandung udara yang terperangkap. Ketika batu didih atau porselin dipanaskan bersama dengan pelarut, batu didih akan melepaskan gelembung-gelembung udara yang memastikan pendidihan sempurna. Ketika semua udara telah dilepaskan, pori-pori batu didih menyediakan rongga di mana gelembung pelarut dapat terbentuk. Tanpa batu didih, sebagian pelarut dapat mengalami superheated dan mendidih dengan menyembur, proses ini disebut bumping. Bumping menyebabkan sebagian cairan menyembur keluar dari labu distilasi. Cukup dua atau tiga buah batu didih yang digunakan untuk mencegah bumping.

19

Batu didih akan menjaga fungsinya selama waktu pemanasan yang panjang. Sekali batu didih digunakan lalu didinginkan, pori-porinya akan terisi oleh cairan dan kehilangan kemampuan untuk melepas gelembung udara. (Fessenden, 2001)