Anda di halaman 1dari 12

PEMBENIHAN ANGGREK DENGAN KULTUR JARINGAN

MAKALAH Dibuat untuk memenuhi mata kuliah Pengembangan Konsep Dasar IPA 2 Dosen Pengampu : Drs. Daroni, M.Pd.

Kelas 6B Kelompok 7 1.
2. 3.

Rizal Teguh Sasongko Rini Meita Indrawati Zaekhirin Okviany Nur Azizah Azmi Asvia

(1402408089) (1402408112) (1402408) (1402408212) (1402408220)

4. 5.

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2011

PEMBENIHAN ANGGREK DENGAN KULTUR JARINGAN A. Ekobiologi Anggrek Anggrek termasuk dalam suku anggrek-anggrekan atau famili Orchidaceae yang dalam bahasa yunani, kata orchid berasal dari orchis yang berarti testicle atau buah zakar. Zaman dahulu anggrek identik dengan pria, baik warna, bentuk bahkan strukturnya. Anggrek juga melambangkan kesuburan dan kejantanan, dahulu muncul anggapan jika mengkonsumsi anggrek muda, maka seseorang bisa memiliki anak laki-laki, dan jika mengkonsumsi anggrek tua akan melahirkan anak perempuan, tetapi dalam mitos ini tidak disebutkan arti konsumsi ini dimakan sebagai bahan makanan atau hanya dinikmati keindahan bunganya saja. Anggrek termasuk keluarga besar dari kelompok (subdivisi) tanaman berbunga atau berbiji tertutup angiospermae), kelas tanaman berbiji tunggal (monocotyledone), ordo orchidaceae (anggrek anggrekan). Tanaman anggrek dapat tumbuh di dataran rendah, gurun kering, hutan rimba yang panas sampai dengan dataran tinggi, termasuk puncak gunung yang bersalju. Paling banyak spesies anggrek berasal dari daerah tropis karena disebabkan oleh agroklimat di daerah tropis itu sendiri sangat cocok untuk pertumbuhan anggrek. Anggrek termasuk dalam keluarga tanaman bunga-bungaan yang memiliki lebih banyak jenisnya daripada keluarga tanaman bunga-bungaan lainnya. Para ahli tumbuh-tumbuhan berkeyakinan bahwa anggrek memiliki lebih dari 25.000 jenis yang tersebar di seluruh dunia. Tetapi karena kerusakan hutan, kita banyak kehilangan spesies yang belum dikenali dan tidak tahu dengan pasti berapa jumlahnya. Indonesia trekenal di seluruh dunia dengan kekayaan anggreknya yang memiliki lebih dari 4.000 jenis anggrek yang tersebar hampir di semua pulau. Kalimantan, Papua, Sumatera, Jawa termasuk pulau-pulau yang terkenal di dunia karena kekayaan anggreknya. Anggrek yang paling terkenal dari Indonesia adalah Anggrek Bulan (Phalaenopsis javanicum). amabilis) dan Anggrek Kantung (Paphiopedilum

Anggrek bulan (Phalaenopsis) secara resmi dinobatkan sebagai bunga nasional Puspa Pesona sejak tanggal 5 Juni 1990. Putih bersih warnanya, berlidah kuning, terdiri atas 46-60 spesies, 22 jenis diantaranya tumbuh alami di Indonesia. Sangat menarik sekali jika anggrek bulan ini dibudidayakan baik secara sederhana maupun modern seperti dengan teknik kultur jaringan. Anggrek alam dilestarikan sebagai sumber plasma nutfah bagi terciptanya hibrida-hibrida anggrek baru. Taiwan dan Singapura sudah merintis agribisnis anggrek bulan. Taiwan yang berpusat di Sei Ha Farm Enterprise (terbesar di dunia), dengan luas areal 3,3 hektar, per tahun bisa memproduksi 1,5 juta bibit untuk di ekspor ke Jepang, Malaysia, Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa. Tanaman anggrek bulan ini tergolong jenis epifit yakni menempel pada pohon (di alam). Ditandai dengan karakter pertumbuhannya yang akarnya melekat pada kulit pohon. Seluruh bagian tumbuhan (akar, batang, daun) mengapung di udara, sementara akarnya terdiri dari dua macam, yakni akar lekat dan akar udara. Batang anggrek bulan kadang tak terlihat dikarenakan tertutup oleh pelepah daun. Bentuk daunnya lanset atau bundar panjang, berukuran antara 20-30 cm dengan lebar antara 3-12 cm. Memiliki jumlah bunga per tangkai sangat variatif, 3-25 kuntum bahkan lebih, tergantung spesiesnya juga. Anggrek bulan ini memiliki beberapa ciri khas yang menarik sekali, yakni memiliki tiga sepal daun bunga (calyx), 3 petal daun mahkota bunga (corolla), dan gymnostenium (putik dan benang sari menyatu). Sosok anggrek bulan ini bisa dibilang sangat mempesona sekali karena selain memiliki calyx, corolla dan bibir bunga dengan bentuk bermacam-macam, juga kaya akan warna dari putih bersih, putih kekuningkuningan, merah, ungu, sampai kombinasi warna-warna lain, tergantung jenisnya. B. Ciri Khas dan Jenis Jenis Anggrek Seperti tanaman lainnya, tanaman anggrek juga terdiri atas akar, batang, daun, bunga dan buah. Perbedaan tanaman anggrek dengan tanaman lainnya

terdapat pada bentuk bunganya. Berikut ini beberapa ciri khas tanaman anggrek : 1. Akar Akar anggrek berfungsi sebagai tempat menempelkan tubuh tanaman pada media tanamnya. Akar anggrek epifit memiliki lapisan velamen yang berongga, dimana lapisan ini berfungsi untuk memudahkan akar dalam menyerap air hujan yang jatuh di kulit pohon atau pada media tanam anggrek. Dibawah lapisan velamen terdapat lapisan yang mengandung klorofil. Akar anggrek epifit memiliki beberapa rambut pendek bahkan ada yang nyaris tak berambut. Pada anggrek terrestrial (jenis anggrek tanah),akarnya memiliki rambut yang cukup panjang dan rapat yang berfungsi untuk menyerap air dan zat organik yang ada di tanah. 2. Batang Berdasarkan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibedakan menjadi dua tipe, yakni tipe simpodial dan monopodial. Anggrek simpodial adalah anggrek yang tidak memiliki batang utama. Bunganya keluar dari ujung batang dan akan berbunga kembali pada pertumbuhan anakan atau tunas baru berikutnya. Hanya anggrek jenis Dendrobium yang berbunga lewat sisi-sisi batangnya. Contoh anggrek tipe simpodial antara lain Dendrobium, Cattleya, Oncidium, dan Cymbidium. Biasanya anggrek tipe simpodial ini bersifat epifit. Sedangkan untuk anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang pertumbuhan batangnya lurus ke atas pada satu batang tanpa batas. Bunganya keluar dari sisi batang di antara dua ketiak daun. Contoh anggrek tipe monopodial ini antara lain Vanda, Arachnis, Renanthera, Phalaenopsis, dan Aerides. 3. Daun Pada tanaman anggrek, bentuk daun sangat tergantung dari jenisnya. Beberapa bentuk daun anggrek adalah sebagai berikut : a. Bentuk silindris Bentuk daunnya panjang dan tumpul mirip pensil. Daun seperti ini dijumpai pada anggrek Vanda potlod atau Vandahookeriana. b. Bentuk talang

Helaian daun yang kiri dan kanan membentuk sudut, sehingga bentuk daunnya menyerupai talang. Anggrek jenis Aerides, Ascocentrum, Rhynchostylis adalah sebagian jenis anggrek yang memiliki bentuk daun menyerupai talang. c. Bentuk sendok Bentuk daunnya lonjong dan memanjang serta relatif tidak ada lekukan (datar). Daun seperti ini bias dilihat pada jenis anggrek Cattleya atau Bulbophyllum. d. Bentuk daun bertunggangan Daun mengimpit batang atau bagian pangkal daun diatasnya. Bentuk helaian daunya melebar kearah ujung.Bentuk daun yang bertunggangan ini terjapada anggrek Phalaenopsis dan Oberonia. 4. Bunga Bunga anggrek dapat muncul dipucuk tanaman ( tipe Acranthe ). Bunga anggrek tersusun atas beberapa bagian meliputi sepalum, petala, benang sari, putik dan ovari. Bunga pada tanaman anggrek umumnya memiliki tiga buah sepalum atau daun kelopak bunga. Satu buah sepalum yang terletak di punggung dinamakan daun kelopak punggung atau sepalum dorsal. Dua lainnya dinamakan daun kelopak samping atau sepala literalia. Daun mahkota atau petala pada tanaman anggrek berjumlah dua.Letak antara petala yakni berseling dengan sepala, dimana di antara kedua petala itu terdapat bagian yang dinamakan petalum atau bibir bunga. Pada pusat bunga terdapat suatu alat yang berfungsi sebagai alat kelamin jantan dan betina, yang menjadi satu bagian. Alat kelamin jantan dinamakan stemona atau benang sari, sedangkan alat kelamin betina dinamakan tangkai putik atau gynosteminum. 5. Buah Tanaman anggrek juga dapat menghasilkan buah, tentunya setelah melewati masa persilangan. Setelah bunga diserbuki dan dibuahi, maka anta 39 bulan kemudian muncullah buah yang sudah tua. Kematangan buah anggrek sangat tergantung pada jenis anggreknya itu sendiri. Misalnya, pada anggrek Dendrobium, buahnya akan matang dalam umur 3-4 bulan. Pada anggrek Vanda, umumnya buah akan matang setelah 6-7 bulan. Sementara itu, pada

anggrek Cattleya, buah baru matang setelah 9 bulan. Buah anggrek merupakan buah lentera. Artinya yakni buah akan pecah ketika matang. Bagian yang membuka adalah bagian tengahnya, bukan di ujung atau pangkal buahnya. Bentuk buah anggrek ini berbeda-beda setiap jenisnya. Habitat tanaman anggrek dibedakan menjadi 4 kelompok sebagai berikut :
Anggrek epifit, yaitu anggrek yang tumbuh menumpang pada pohon

lain tanpa merugikan tanaman inangnya dan membutuhkan naungan dari cahaya matahari, misalnya Cattleya sp. memerlukan cahaya +40%, Dendrobium sp. 5060%, Phalaenopsis sp. + 30 %, dan Oncidium sp. 60 75 %.
Anggrek terestrial, yaitu anggrek yang tumbuh di tanah dan

membutuhkan cahaya matahari langsung, misalnya Aranthera sp., Renanthera sp., Vanda sp. dan Arachnis sp. Tanaman anggrek terestrial membutuhkan cahaya matahari 70 100 %, dengan suhu siang berkisar antara 19 380C, dan malam hari 18210C. Sedangkan untuk anggrek jenis Vanda sp. yang berdaun lebar memerlukan sedikit naungan.
Anggrek litofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada batu-batuan, dan

tahan terhadap cahaya matahari penuh, misalnya Dendrobium phalaenopsis.


Anggrek saprofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada media yang

mengandung humus atau daun-daun kering, serta membutuhkan sedikit cahaya matahari, misalnya Goodyera sp. C. Teknik Perkembangan Anggrek Pembibitan tanaman anggrek dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu : a. Vegetatif Pembibitan secara vegetatif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu split (pemisahan rumpun/anakan) dan cara kultur jaringan. Cara split anakan adalah salah satu cara yang masih tergolong tradisional yakni mengambil anakan atau tanaman anggrek yang sudah tumbuh secara sempurna.

Sementara itu, kultur jaringan dilakukan dengan mengambil bagian tanaman muda yang jaringannya masih aktif membelah dan kemudian dikulturkan di laboratorium dengan menggunakan media tanam agar-agar bernutrisi. Pada umumnya perbanyakan secra vegetatif sangat disukai karena anggrek akan lebih cepat berbunga dan sifat-sifat anggrek yang baru akan sama dengan indukannya induknya. b. Generatif yaitu dengan biji. Biji anggrek sangat kecil dan tidak mempunyai endosperm (cadangan makanan), sehingga perkecambahan di alam sangat sulit tanpa bantuan jamur yang bersimbiosis dengan biji tersebut.
c.

(Ayub,

2005).

Pembibitan

secara

vegetatif

ini

akan

menghasilkan anak tanaman yang mempunyai sifat genetik sama dengan

Metode kultur in vitro yaitu menumbuhkan jaringan-jaringan

vegetatif (seperti : akar, daun, batang, mata tunas) dan jaringan-jaringan generatif (seperti : ovule, embrio dan biji) pada media buatan berupa cairan atau padat secara aseptik (bebas mikroorganisme). Secara generatif, benih tanaman diperoleh melalui biji hasil persilangan yang secara genetis biji-biji tersebut bersifat heterozigot. Sehingga benih-benih yang dihasilkan mempunyai sifat tidak mantap dan beragam. Dengan cara ini untuk mendapatkan tanaman yang sama dengan induknya sangatlah sulit, karena persilangan anggrek telah berkembang demikian luasnya. Namun dengan cara ini akan diperoleh varietas baru.

Secara vegetatif yaitu menumbuhkan jaringan-jaringan vegetatif atau kultur jaringan seperti akar, daun, batang atau mata tunas pada media buatan berupa cairan atau padat secara aseptik. Dengan metode ini dapat diharapkan perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara cepat dan berjumlah banyak, serta sama dengan induknya.

D. Pembibitan Tanaman Anggrek dengan Kultur Jaringan Perbanyakan tanaman menggunakan teknik kultur jaringan pertama kali dicoba pada tahun 1902 Haberlandt, berdasarkan adanya sifat tanaman yang

disebut totipotensi ( sel yang sedang tumbuh ) dapat berkembang menjadi tanaman yang utuh , yang dicetuskan oleh 2 orang sarjana Jerman, Schwan dan Schlciden pada tahun 1830. Saat ini, teknik kultur jaringan menjadi cara yang paling efektif untuk menghasilkan tanaman baru dalam jumlah besar dan memiliki sifat yang sama dengan induknya Kultur jaringan merupakan tehnik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, dan menumbuhkan bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari tehnik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Bibit yang dihasilkan dengan teknik kultur jaring mempunyai keunggulan antara lain : a. Mempunyai sifat identik dengan induknya.
b. Pengadaan bibit tidak tergantung musim.

c. Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah. d. Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit dan deraan lingkungan lainnya.
e. Dapat diperbanyak dengan jumlah besar sehingga tidak membutuhkan

tempat yang luas.


f. Mampu menghasilkan bibit dengan jumlah banyak dengan waktu yang

singkat.
g. Kesehatan dan mutu bibit terjamin.

h. Kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibanding dengan perbanyakan konvensional. Persyaratan lokasi Jauh dari sumber polusi Dekat dengan sumber tenaga listrik dan air Untuk menghemat listrik sebaiknya laboratorium ditempatkan di daerah tinggi agar suhu ruangan tetap rendah

Kapasitas laboratorium Dalam suatu laboratorium minimal terdapat 5 ruangan terpisah yaitu gudang untuk menyimpan bahan, ruang pembuatan media, ruang tanam, ruang inkubasi (untuk pertunasan dan pembentukan planlet/bibit tanaman) dan rumah kaca. Peralatan dan bahan kimia yang dibutuhkan antara lain Laminar flow, Pinset, Pisau, Rak kultur, AC, hot plate + stirrer, ph meter, oven, kulkas, bahan kimia (garam mikro+mikro, vitamin, zat pengatur tumbuh, asam amino, alkohol, clorox). Proses produksi Tahapan teknik kultur jaringan : a) Seleksi pohon induk/sumber eksplan. Eksplan berupa mata tunas diambil dari pohon induk yang fisiknya sehat. b) Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alatalat yg steril. Sterilisasi juga digunakan untuk peralatan yaitu dengan menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril. c) Pembuatan media. Media merupakan faktor penentudalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu juga diperlukan bahan tambahan seprti agar , gula dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara dengan autoklaf (alat). d) Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas. memanaskannya

e) Multi plikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar. f) Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri). g) Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptik ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif. Beberapa gambaran dan potensi yang bisa dimunculkan dalam kultur jaringan diantaranya adalah: Kultur meristem, dapat menghasilkan anggrek yang bebas virus, sehingga sangat tepat digunakan pada tanaman anggrek spesies langka yang telah terinfeksi hama penyakit dan virus.
Kultur anther, bisa menghasilkan anggrek dengan genetik haploid (1n),

sehingga bentuknya lebih kecil dinanding anggrek yang diploid(2n). Dengan demikian sangat dimungkinkan untuk menghasilkan tanaman anggrek mini, selain itu juga berpeluang memunculkan sifat resesif unggul yang pada kondisi normal tidak akan muncul karena tertutup oleh yang dominan. Dengan teknik poliploid dimungkinkan untuk mendapatkan

tanaman anggrek giant atau besar. Teknik ini salah satunya dengan memberikan induksi bahan kimia yang bersifat menghambat (cholchicine). Kloning teknik ini memungkinkan untuk dihasilkan anggrek dengan jumlah banyak dan seragam khususnya untuk jenis anggrek bunga potong. Sebagian anggrek telah mampu melakukan teknik ini. Mutasi, secara alami sangat sulit terjadi. Beberapa literatur peluangnya 1:100.000.000. dengan memberi induksi tertentu melalui kultur jaringan hal tersebut lebih mudah diatur. Tanaman yang mengalami mutasi permanen biasanya memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Bank plasma, dengan meminimalkan pertumbuhan secara in-vitro kita bisa mengoleksi tanaman anggrek langka tanpa harus memiliki lahan yang luas dan perawatan intensif.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.deptan.go.id/ditlinhorti/ http://imgv2-1.scribdassets.com/img/word_document/ http://www.butikbella.co.cc/gambar-bunga-anggrek http://matematikacerdas.wordpress.com/2010/01/10/pembibitan-dan-perbanyakananggrek/feed/ http://www.membuatblog.web.id/2010/02/teknik-kultur-jaring.html