Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KELOMPOK PATOLOGI DAN REHABILITASI SOSIAL

DRUG ABUSE

Disusun oleh : Cyndy Marcha Kahiana Pramisya Fika Devi Haristyani Desiyanti K. Jacob Heriyanto Yulian Danny Waskita Muhamad Mujahidin Erwin Santoso 802008035 802008090 802008112 802008128 802008019 802008104 802008051

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan anugerah ilmu pengetahuan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul Drug Abuse ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Patologi dan Rehabilitasi Sosial serta sebagai acuan bagi kami untuk melakukan presentasi. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kesalahan ataupun kekurangan, baik itu dari segi penulisan, isi dan lain sebagainya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik maupun saran yang membangun dari para pembaca. Demikianlah pengantar ini kami sampaikan, dengan harapan semoga makalah ini dapat diterima dan bermanfaat bagi para pembaca. Penulis mengucapkan terima kasih atas waktu dan perhatian yang diberikan.

Salatiga, September 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman sampul.i Kata Pengantar..ii Bab 1 Pendahuluan..1 Bab 2 Pembahasan2


A. Pemahaman Mengenai Drug Abuse...3

B. Penggolongan NAPZA..6
C. Faktor-faktor Penyebab Drug Abuse8 D. Efek yang Ditimbulkan oleh Drug Abuse...9 E. Pencegahan..10

Bab 3 Studi di Rehabilitasi Narkoba di Rumah Damai..11 Bab 4 Penutup.15


A. Kesimpulan..15 B. Saran15

Daftar Pustaka

BAB I PENDAHULUAN Penyalahgunaan obat-obatan merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Peningkatan yang sangat besar dari kasus Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) telah memaksa masyarakat untuk memperhatikan konsekuensi dari penyalahgunaan obat-obatan terlarang ini. Masalah AIDS yang sekarang ini muncul dan merabah dalam masyarakat pada dasarnya merupakan fenomena gunung es yang terjadi akibat dari penyalahgunaan obat-obatan. Telah menjadi life style dalam masyarakat ketika individu mengalami masalah atau stress kemudian lari pada penggunaan obat-obatan. Baik itu obatobatan yang hanya bersifat menyembuhkan sakit kepala maupun yang bersifat anti depresant dan sebagainya. Hal ini sudah menjadi frame berpikir masyarakat kita yang telah terkonstruk bahwa obat-obatan penenang dapat menghilangkan masalah (mengurangi beban masalah). Pada kenyataannya, masyarakat yang menggunakan obat psikotropik untuk kepentingan sendiri (non medical use) kebanyakan disertai dengan munculnya masalah sosial, seperti tindakan kriminal dan kenakalan remaja. Sejak dekade 1960an banyak remaja yang tergolong usia dewasa muda menderita gangguan penggunaan zat. Mereka menggunakan zat bahan atau obat psikoaktif dalam jumlah berlebihan sebagai respon mereka terhadap masalah yang mereka hadapi. Tentu saja hal ini merugikan bagi individu yang menggunakan obat-obatan untuk lari dari masalahnya. Penyalahgunaan obat penenang dapat mengakibatkan overdosis, infeksi virus maupun bakteri juga dapat terjadi akibat penyuntikan narkotika, termasuk human immunodeficiency virus (HIV)

BAB II PEMBAHASAN
A. Pemahaman Mengenai Drug Abuse

Penyalahgunaan obat atau "drug abuse" berasal dari kata salah guna atau tidak tepat guna, merupakan suatu penyelewengan penggunaan obat bukan untuk tujuan medis/pengobatan atau tidak sesuai dengan indikasinya. Bahan/zat psikoaktif yaitu obat yang dapat diterima oleh masyarakat atau memperoleh persetujuan medis untuk memperbaiki suasana hati dan keadaan pikiran. Misalnya saja penggunaan obat antianxietas untuk mengatasi keadaan kecemasan akut, sesuai dengan resep yang diberikan oleh dokter. Obat psikotropika adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental dan prilaku. Obat ini biasanya digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik. Obat narkotika adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa sakit, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. Obat ini biasanya digunakan untuk analgesik (anti rasa sakit), antitusif (mengurangi batuk), antipasmodik (mengurangi rasa mulas dan mual) dan pramedikasi anestesi dalam praktik kedokteran (Maslim R, 1999). Obat psikotropika maupun narkotika digunakan dalam ilmu kedokteran sebagai penyembuhan dari rasa sakit. Baik narkotika, psikotropika, maupun zat adiktif lainnya, seperti minuman beralkohol, inhalansia (zat yang dihirup) dan solven (zat pelarut), serta tembakau dapat menyebabkan kecanduan yang merugikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Meskipun digunakan dalam ilmu kedokteran, penggunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) harus dimanfaatkan secara tepat guna dan tidak boleh disalahgunakan. Penggunaan yang berlebihan akan menyebabkan kecanduan/adiksi, yaitu suatu keadaan yang ditandai dengan pencarian atau penggunaan berulang dan kompulsif dari

suatu bahan psikoaktif meskipun hal tersebut akan membawa dampak merugikan bagi psikologis, fisik, maupun sosial. Ketika kecanduan ini terus diatasi dengan penggunaan obat, maka tubuh akan mengalami toleransi, yaitu suatu keadaan dimana obat menghasilkan pengurangan respon biologis maupun respon perilaku, sehingga untuk menghasilkan efek yang sama, dibutuhkan dosis yang lebih besar daripada dosis awal yang pernah diberikan.
B. Penggolongan NAPZA

1. Berdasarkan efeknya terhadap perilaku


a. Golongan Depresan (Downer)

Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini menbuat pemakaiannya merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. Golongan ini termasuk Opioida (morfin, heroin/putauw, kodein), Sedatif (penenang), hipnotik (otot tidur), dan tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain.
b. Golongan Stimulan (Upper)

Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Zat yang termasuk golongan ini adalah : Amfetamin (shabu,esktasi), Kafein, Kokain c. Golongan Halusinogen Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis. Golongan ini termasuk : Kanabis (ganja), LSD, Mescalin. 2. Penggolongan Narkotika menurut UU No. 2 tahun 1997 a) Narkotika Golongan I :

Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, dan tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan, (Contoh : heroin/putauw, kokain, ganja). b) Narkotika Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan (Contoh : morfin,petidin) c) Narkotika Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan (Contoh : kodein). Narkotika yang sering disalahgunakan adalah Narkotika Golongan I: (1) Opiat : morfin, herion (putauw), petidin, candu, dan lain-lain (2) Ganja atau kanabis, marihuana, hashis (3) Kokain, yaitu serbuk kokain, pasta kokain, daun koka. 3. Penggolongan Psikotropika menurut UU No. 5 tahun 1995 a) PSIKOTROPIKA GOLONGAN I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. (Contoh : ekstasi, shabu, LSD) b) PSIKOTROPIKA GOLONGAN II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. (Contoh amfetamin, metilfenidat atau ritalin) c) PSIKOTROPIKA GOLONGAN III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi

sedang

mengakibatkan

sindroma

ketergantungan

(Contoh

pentobarbital, Flunitrazepam). d) PSIKOTROPIKA GOLONGAN IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan (Contoh : diazepam, bromazepam, Fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide, nitrazepam, seperti pil BK, pil Koplo, Rohip, Dum, MG). Psikotropika yang sering disalahgunakan antara lain : (1) Psikostimulansia : amfetamin, ekstasi, shabu (2) Sedatif & Hipnotika (obat penenang, obat tidur): MG, BK, DUM, Pil koplo dan lain-lain (3) Halusinogenika : Iysergic acid dyethylamide (LSD), mushroom. 4. Zat Adiktif lain a) Minuman berakohol Mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan syaraf pusat. Jika digunakan sebagai campuran dengan narkotika atau psikotropika, memperkuat pengaruh obat/zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman berakohol, yaitu :
-

Golongan A : kadar etanol 1-5%, (Bir) Golongan B : kadar etanol 5-20%, (Berbagai jenis minuman anggur) Golongan C : kadar etanol 20-45 %, (Whiskey, Vodca, TKW, Manson House, Johny Walker, Kamput.)

b) Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalah gunakan, antara lain : Lem, thinner, penghapus cat kuku, bensin. c) Tembakau Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat, missal : rokok.

C. Faktor-faktor Penyebab Drug Abuse

a. Faktor Individu Penyakit jasmaniah Kepribadian dgn resiko tinggi : mudah kecewa, cenderung agresif,kurang PD, selalu menuntut, sifat antisocial, memiliki gangguan jiwa (cemas, depresi, apatis), kurang religious, penilaian diri negative. Motivasi tertentu : menyatakan diri bebas, memuaskan rasa ingin tahu, dan mendapat pengalaman baru, agar diterima kelompok ttn, melarikan diri dr sesuatu, sebagai lambing kemoderan.
b. Faktor Zat

Ketersediaan zata pada peredaran gelap Kemudahan memperoleh zat Lingkungan keluarga : tidak harmonis, komunikasi antara ortu dan ank krg efektif, ortu otoriter, keluarga terlalu permisisf. Lingkungan sekolah : sekolah kurang disiplin, adanya murid pengguna. Lingkungan teman sebaya ; tekanan kelompok sebaya sgt kuat, ancaman fisik sgt kuat, ancaman fisik dr teman pengedar. Lingkungan masyarakat luas : situasi politik, ekonomi, social yg kurang mendukung.

c. Faktor lingkungan

D. Efek yang Ditimbulkan oleh Drug Abuse

Keinginan yang tak tertahankan (an overpowering desire) terhadap obat tersebut. Kecenderungan untuk menambah dosis sesuai toleransi tubuh Ketergantungan fisik dan psikis Menimbulkan kerugian materi dan uang Menimbulkan terjadinya bentuk-bentuk kriminal lainnya Merusak generasi muda sebagai penerus dan kader pimpinan bangsa

E. Pencegahan Dan Solusi Penyalahgunaan Narkoba Faktor yang dapat mencegah seseorang menggunakan narkoba : Ikatan yang kuat di dalam keluarga Pengawasan orang tua yang didasarkan pada aturan tingkah laku yang jelas dan pelibatan orang tua dalam kehidupan anak/remaja Keluarga harus dapat menciptakan komunikasi yang lebih baik Disiplin, tegas dan konsisten dengan aturan yang dibuat Berperan aktif dalam kehidupan anak-anak Mengetahui dengan siapa anak/remaja bergaul Mampu mengembangkan tradisi keluarga dan nilai-nilai keagamaan

Solusi yang dapat dilakukan ketika ada anggota keluarga yang menggunakan narkoba : Berusaha tenang, kendalikan emosi, jangan marah dan tersinggung Jangan tunda masalah, hadapi kenyataan, adakan dialog terbuka Dengarkan anak, beri dorongan non verbal. Jangan memberi Hargai kejujuran Tingkatkan hubungan dalam keluarga, rencanakan membuat Cari pertolongan, cari bantuan pihak ketiga yang paham dalam

dengan anak ceramah/nasehat berlebih

kegiatan bersama-sama keluarga menangani narkoba atau tenaga profesional, puskesmas, rumah sakit, panti/tempat rehabilitasi.

BAB III REHABILITASI NARKOBA RUMAH DAMAI A. Rumah Damai Rumah Damai Hope House of Peace yang beralamat di Desa Cepoko Rt/Rw 004/001 Kel. Cepoko, Kec. Gunung Pati, Semarang, merupakan tempat bagi pecandu narkoba untuk memulihkan diri dari kecanduan. Rumah Damai berdiri sejak 1999 sampai sekarang. Di Rumah Damai ini terdapat 48 orang yang tinggal dan semuanya laki-laki. Pembiayaan di Rumah Damai ini diperoleh dari keluarga dari pecandu yang setiap bulannya dikenai biaya Rp. 2.600.000,00. Ada sistem subsidi silang mengenai pembiayaan dengan pertimbangan bahwa tidak semua penghuni di Rumah Damai memiliki keluarga yang mampu secara ekonomi. Di Rumah Damai ada peraturan utama bagi penghuni, yaitu berhenti merokok. Hal ini karena merokok merupakan pintu utama masuknya kembali narkoba dalam kehidupan penghuni Rumah Damai ini. Aturan lain yang ada di Rumah Damai ini disusun dalam jadwal harian sebagai berikut : Pukul 05.00 05.30 Pukul 06.00 07.00 Pukul 07.00 08.00 Pukul 08.00 10.00 Pukul 10.00 12.00 Pukul 12.00 13.00 Pukul 13.00 15.00 Pukul 15.00 16.30 Pukul 16.30 19.00 Pukul 19.00 20.00 Pukul 20.00 bangun tidur doa pagi bersih-bersih sarapan, olahraga, dan fellowship sesi, sabtu diisi futsal di daerah Arteri makan siang istirahat mendengar DVD Khotbah atau motivasi olahraga, dll. makan malam sesi (sampai selesai) dan tutup hari

Fasilitas di Rumah Damai tergolong cukup memadai bagi penghuni rumah karena terdapat ruang pertemuan dengan alat music yang dilengkapi LCD dan

AC, ruang fitness dengan peralatan yang memadai, meja billiard, kolam renang, lapangan kecil, dll. Meskipun demikian, di Rumah Damai ini tidak ada televisi, penghuni tidak diijinkan membawa alat komunikasi handphone ataupun uang. Penghuni yang ada di Rumah Damai ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak ada kategori khusus bagi mereka yang masuk di Rumah Damai ini, termasuk mengenai kepercayaan. Akan tetapi bagi mereka yang selain Kristen diberi pilihan untuk masuk atau tidaknya karena setiap program yang ada memang dirancang dengan landasan iman Kristiani. Dan setiap mereka yang akan masuk ke Rumah Damai untuk pemulihan harus ada wali yang bertanggung-jawab mengisi form pendaftaran serta persetujuan bahwa selama program di Rumah Damai keluarga tidak boleh mengintervensi dalam bentuk apapun. Berdasarkan keterangan dari penghuni, rata-rata mereka mengkonsumsi morfine, putaw, dan sabu-sabu. Yang membuat mereka jatuh dalam jerat narkoba antara lain : Coba-coba Pergaulan Ada masalah dengan keluarga Kondisi keluarga yang banyak menuntut

Alasan mereka sehingga mereka terdorong untuk dipulihkan di Rumah Damai adalah : Ada yang melihat bahwa terdapat alumni di Rumah Damai bersih dari narkoba Sudah berkali-kali terlibat dengan aparat penegak hukum dan tidak mau berakhir di penjara Keuangan yang semakin menipis Kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan Merasa terpuruk dan banyak ketinggalan dari teman-teman yang tidak mengkonsumsi narkoba sukses dalam kehidupannya

Rehabilitasi merupakan pilihan terakhir karena berbagai upaya yang telah dilakukan tidak memberikan solusi.

B. Progam di Rumah Damai Ada 3 progam utama di dalam Rumah Damai: 1) Pemulihan Fisik Progam ini dilakukan selama 1 - 3 bulan, dengan diberikan kegiatan yang tersistematis selama 3 bulan untuk memulihkan fisik pecandu. Progam ini lebih berkosentrasi pada penyembuhan fisik, terutama kecanduan akan narkoba. Selain itu diberikan pendidikan karakter normatif sebagai bekal untuk kembali bersosialisasi dengan masyarakat umum. 2) Pemulihan Karakter Progam ini dilakukan selama 6 bulan, dengan diberikan kegiatan yang tersistematis selama 6 bulan untuk memulihkan karakter dari pecandu. Hal ini dikarenakan Narkoba juga ikut merubah karakter dari seseorang. Progam ini memberikan perubahan pola pikir, pemulihan perasaaan dan penundukan kehendak(penyangkalan, menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri) dari pecandu, sehingga nantinya dapat berguna saat kembali ke lingkungan masyarakat umumnya. berkosentrasi pada penyembuhan fisik, terutama kecanduan akan narkoba. Selain itu diberikan pendidikan karakter normatif sebagai bekal untuk kembali bersosialisasi dengan masyarakat umum. 3) Sosialisasi Progam ini merupakan progam yang terakhir, dan di sini pecandu yang sudah berhasil melalui pemulihan fisik dan pemulihan karakter diharapakan kembali ke masyarakat. Untuk membantu kembali di masyarakat umum, maka pecandu ini diberi ketrampilan-ketrampilan untu bekerja, sehingga saat keluar dari Rumah Damai ini mereka dapat mengembangkan ketrampilan yang mereka dapatkan di Rumah Damai ini. Ketrampilan yang diajarkan pada mereka adalah: Produksi Bensin Plus

Pembuatan Roti Pembuatan & penjualan bakmie Pembuatan kaos Distribusi Tahitian Noni Juice Distribusi Air OXY Ternak ikan lele Tanaman hias Event Organizer

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1) Narkoba adalah barang yang sangat berbahaya dan bisa merusak

susunan

syaraf.

Dengan

demikian

penggunaan

drugs

dapat

mengakibatkan kepribadian seorang individu berubah menjadi semakin buruk. 2) Narkoba adalah sumber dari tindakan kriminalitas yang bisa merusak norma dan ketrentaman umum. 3) Menimbulkan dampak negative yang berpengaruh terhadap tubuh individu baik scara fisik maupun secara mental. 4) Dengan demikian drug abuse merupakan salah satu bentuk patologi social. 5) Disamping itu, penanganannya dapat dimulai dari lingkungan keluarga dengan pemberian dukungan dan juga menjalani rehabilitasi di tempat rehabilitasi yang diyakini berkualitas baik. B. Saran 1) Bagi para keluarga, agar dapat menjalin relasi yang dekat dengan setiap angota keluarga, terutama anak-anak pada usia remaja dan dewasa awal. Hal ini dilakukan agar dalam keluarga tercipta komunikasi yang baik, sehingga ketika salah satu anggota memiliki suatu masalah, maka tidak mencari tempat pelarian yang salah juga. 2) Bagi anak remaja/dewasa , agar dapat menjaga pergaulan. Hindarilah pergaulan yang akan merumuskan ke hal-hal negative yang salah satunya adalah penggunaan obat-obatan terlarang.

Daftar Pustaka Arulita, KEMAS Volume 1/no. 1/Juli Desember 2005 http://organisasi.org/akibat-dampak-langsung-dan-tidak-langsungpenyalahgunaan-narkoba-pada-kehidupan-kesehatan-manusia