Anda di halaman 1dari 16

Analisis Struktur Pasar dan Kinerja Industri Penggilingan Steph Subanidja

( Oirektur Program S2 STIE PERBANAS )

Abstract Managers of firms do not make decision in a vacuum. Numerous factors affect decisions. How well a company makes a decision to improve its performance depends on many variables. Some industries are dominated by a few large firms, while others are composed of many small firms. Market structure refers to factors such as the number of firms that compete in a market, size of firms etc. It influences company's performance and affect the decisions the prudent manager will make. This paper tries to analyze the causal relationship between company performance and market share in order to know which factor affecting the company in the industry. By using Herfindahl-Hirschman Index and linear regression, it can be concluded that return on asset asset of company has the bigest influence, and market structure has negative affect to profit margin as an indicator of company's performance. It is also that this industry is a dominant oligopoly. Keywords: Performance, market structure, return on asset, industry concentration Latar Belakang
Sektor industri di Indonesia sejak tahun 1969 hingga sa at ini, semakin kuat perannya dan meluas jenis industrinya, dalam meningkatkan nilai Produk Oomestik Bruto (POB). Bahkan sejak tahun 1990 kontribusi sektor industri terhadap POB Indonesia, telah melampaui kontribusi sektor pertanian. Perkembangan industri pengolahan di Indonesia, dapat dilihat dari nilai tambah yang dihasilkan sebagai kontribusi terhadap POB Indonesia. Sejak tahun 2000 nilai tambah yang dihasilkan oleh industri pengolahan, khususnya industri pengolahan besar dan sedang terus naik berkisar rata-rata 20 persen per tahun, dengan penyumbang terbesar sektor industri makanan dan minuman (Indikator yang melebihi angka 50 persen untuk beberapa jenis industri, yaitu minyak goreng kelapa sawit, susu, es krim, tepung terigu. (Indikator Statistik Industri Besar

dan Sedang 2004, BPS).


Bila struktur pasar industri makanan dan minuman yang ada di Indonesia berkecenderungan ke arah struktur pasar oligopoli, maka akan menyebabkan tiadanya tekanan persaingan, karena usaha industri berpeluang untuk menentukan harga dan jumlah produksi, dan seringkali kinerjanya tidak seimbang. Hal ini berarti semakin tinggi konsentrasi-konsentrasi perusahaan dalam pasar, maka semakin besar kemampuannya untuk mengendalikan pasar, yang pada akhirnya semakin besar kemampuan perusahaan untuk menentukan harga dan produknya dalam rangka meraih laba maksimum. Pendekatan ekonomi industri untuk melihat fenomena struktur usaha industri yang ada dengan cara menganalisis kaitan antara struktur pasar-perilaku dan Kinerja

Statistik Industri Besar dan Sedang 2004, BPS).


Peningkatan perkembangan industri makanan dan minuman juga diikuti oleh pergerakan struktur usaha industri ke arah pasar oligopoli. Hal ini tercermin dari angka Concentration Ratio Industri (CR 4)

(the structure, conduct and performance).


Namun dalam kajian ini penekanannya

Analisis Struktur Pasar dan Kinerja Industri Penggilingan, Steph Subanidja


http://www.univpancasila.ac.id 7/24

ditujukan pada hubungan variabel-variabel struktur pasar dan kinerja, sedangkan perilaku kurang ditekankan. Oleh karena itu variabel perilaku tidak dimasukkan ke dalam model yang digunakan. Dalam kajian ini akan dianalisis seberapa besar pengaruh struktur pasar dan aset dengan kinerja perusahaan. Variabel-variabel yang digunakan adalah kinerja perusahaan yang diwakili oleh marjin laba sebagai variabel dependent, sedangkan varia bel independent digunakan Herfindahl-Hirschman Index / HHI (sebagai ukuran kekuatan pasar), ROA (Return on Asset), dan aset perusahaan. Perusahaan-perusahaan dalam industri yang dianalisis, dibatasi pada industri dengan kode ISIC/KBLI 153 yaitu industri penggilingan padi-padian, tepung, dan makanan ternak). Dari latar belakang penelitian dapat disusun perumusan masalah, yaitu sejauh mana pengaruh struktur pasar, pangsa pasar, return on asset dan asset terhadap margin laba industri penggilingan padipadian, tepung dan makan ternak, baik secara parsial maupun secara bersamasarna. Penelitian ini secara khusus menelaah konsentrasi industri penggilingan padipadian, tepung dan makanan ternak, pangsa pasar, return on asset dan asset perusahaan terhadap margin laba yang diperoleh perusahaan. Hasil penelitian empiris ini diharapkan dapat memberikan manfaat setidaknya untuk memperkaya khasanah studi empiris bagi para peneliti dan pengambil kebijakan publik berkenaan dengan topik yang diteliti, menjadi acuan bagi para praktisi industri penggilingan dalam memformulasikan strategi bisnis perusahaan dan memberikan umpan balik bagi Pemerintah tentang dampak struktur pasar, pangsa pasar, return on asset dan asset terhadap margin laba industri penggilingan.

Struktur Pasar
Ada em pat bentuk struktur pasar utama, yaitu: persaingan sempurna, monopoli, persaingan monopolistik dan oligopoli. Dari keempat struktur pasar tersebut ketiga struktur yang terakhir sering dikatakan sebagai pasar persaingan tidak sempurna. Struktur pasar oligopoli merupakan struktur pasar yang terdiri dari beberapa perusahaan yang mendominasi pasar dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi harga dalam industri. Karena dalam oligopoli hanya ada beberapa penjual, apabila salah satu penjual melakukan sesuatu, hal itu akan mempengaruhi pasar. Biasanya penjual yang lain ikut melakukan perubahan. Perusahaan-perusahaan dalam oligopoli tunduk pada persaingan, namun tetap menguasai pasar dan tidak mudah diganggu oleh pendatang baru karena terdapat barrier yang substansial bagi pendatang baru untuk memasuki pasar ini. Struktur pasar seperti ini menyebabkan tiadanya tekanan persaingan karena berpeluang menciptakan kolusi untuk menentukan harga dan jumlah produksi, dan seringkali kinerjanya tidak seimbang. Kaitan antara kemampuan industri dalam perusahaan-perusahaan (sektor industri) dalam meraih margin laba dengan tingkat konsentrasi dan rintangan masuk, terutama bila konsentrasi di atas batas kritis berhubungan secara positif. Ini berarti semakin tinggi konsentrasikonsentrasi perusahaan dalam pasar maka semakin besar kemampuannya untuk mengendalikan pasar, yang pada akhirnya semakin besar kemampuan perusahaan untuk menentukan harga dan produknya dalam rangka meraih laba maksimum. Pendekatan ekonomi industri untuk melihat fenomena struktur usaha industri yang ada dengan cara menganalisis kaitan

Akuntabilitas, Volume 5, NO.1 September 2005, 1 - 16


http://www.univpancasila.ac.id 7/24

antara struktur pasar-perilaku dan Kinerja (the structure, conduct and performance).
Ukuran Kekuatan Pasar

Ukuran yang paling umum dari kek.uatan pasar adalah Concentration R.atl0.r~~) untuk suatu industri. CR4 yang dldeflnlslkan sebagai persentase dari keseluruhan output industri yang dihasilkan oleh 4 perusahaan terbesar. 5ecara matematis rumus CR4 dapat dituliskan :

pasar monopofi akan mendekati nilai 10.000 ~enurut The U.S. Department of J~stlce bahwa nilai HHI kurang dari 1.000 dlkatakan pa~~r dalam kondisi persaingan yang kompetltrf, sedangkan jika nilai HHI antara 1.000 sampai 1.800 dikatakan pasar dalam kondisi persaingan yang moderat. Dan dikatakan pasar dalam kondisi persaingan tidak sempurna (konsentrasi pada hanya beberapa perusahaan) jika nilai HHllebih dari 1.800.
Kinerja Perusahaan

CR4=

ISi
i=1

51(i 1,2,3 dan 4) adalah pangsa pasar (output) empat pelaku usaha yang terbesar Pada sistuasi pasar monopoli, CR4 akan bernilai 100%, sedangkan untuk pasar persaingan sempurna CR4 akan mendekati nilai 0 (nol), karena perusahaan-perusahaan dengan output terbesarpun mempunyai proporsi yang sangat kecil pada industri tersebut. 5ebagian besar ekonom berpendapat bahwa ukuran rasio konsentrasi (CR4) tidak cukup mengukur kekuatan pasar. 5atu pilihan yang dapat menjelaskan dengan lebih baik tentang peran perusahaan terhadap dominasi pasar, adalah Herfindahl-Hirschman Index (HHI). Ini dihitung dengan menjumlahkan kuadrat dari persentase pangsa pasar seluruh perusahaan di dalam suatu pasar. Secara matematis rumus HHI adalah :

HH/=
j

LS
i=1

j2

5 adalah pangsa pasar (output) pelaku usaha Persaingan sempurna akan memiliki HHI mendekati nol, sedangkan struktur

Kinerja perusahaan merupakan konstruk yang kompleks bagi suatu perusahaan (Greve, 1998: 69). Dalam literatur pemasaran perusahaan, tidak ada kesepakatan yang baku tentang definisi kinerja perusahaan (Cavusgil dan Zou, 1994). Kinerja yang dianggap baik bagi manajemen belum tentu dianggap baik oleh pemilik perusahaan atau karyawan. Dalam menilai suatu kinerja, seorang manager cenderung menggunakan persepsinya dibanding menggunakan kriteria yang ditetapkan berdasarkan tujuan perusahaan (Bourgeouis, 1980). Dalam terminologi yang banyak digunakan, kinerja dianggap berhasil jika realisasi melebihi target yang ditetapkan. Kriteria ini lebih condong menggunakan kriteria kuantitatif yang bersifat objektif dan mudah diukur. Padahal pengukuran kinerja perusahaan seharusnya menggunakan kriteria objektif ( seperti profitabilitas, volume ekspor dan atau nilai ekspor) dan kriteria subjektif seperti (persepsi manager dan persepsi keseluruhan stakeholders) secara bersama-sama (Katsikeas, Leonidou dan Morgan, 2000). Dengan demikian tingkatan kinerja sangat tergantung dari proses pengukuran, pendekatan yang digunakan dan standar yang digunakan (Cunningham, Aldag dan Stone, 1996: 15). Aaby dan Slater (1989) serta 3

Analisis Struktur Pasar dan Kinerja Industri Penggilingan, Steph Subanidja


http://www.univpancasila.ac.id 7/24

Katsikeas, Piercy dan loannidis (1996) mendefinisikan kinerja perusahaa~ sebagai berikut: company performanc~ IS assessed in relation to the extent to which

firms achive their company objectives.


Sedangkan Shoman (1996) memberi batasan tentang kinerja perusahaan sebagai "the dependent variable in the

kinerja perusahaan dipengaruhi .oleh sejumlah variabel independen. Vanabel independen dalam kajian ini adalah konsentrasi industri, yang ditunjukkan oleh IHH, pangsa pasar dan tingkat pengembalian modal. Sumber Data Data penelitian yang digunakan bersumber dari Survey Industri Besar dan Sedang tahun 2004 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Perusahaanperusahaan industri yang dianalisis dibatasi pada perusahaan yang memproduksi komoditi dengan kode ISIC! KBLI 153 (Industri penggilingan padipadian, tepung, dan makanan ternak). Perusahaan industri penggilingan padipadian, tepung, dan makanan ternak berjumlah 733 perusahaan. Teknik Analisis Data Pengaruh kekuatan pasar dan asset terhadap marjin laba memakai model persamaan regresi berganda dengan rumusan sebagai berikut :

simplified model and is defined as the outcome of a firm's activities in export marker'.
Seperti yang disebutkan oleh Lages dan Jap (2002), dalam literatur pemasaran perusahaan, peneliti mendefinisikan kinerja perusahaan dalam berbagai variasi batasan, dan bahkan Cavusgil dan Zou (1994) menyatakan bahwa tidak ada batasan dan definisi kinerja perusahaan yang seragam dalam literatur pemasaran perusahaan. Ketidakseragaman ini juga terjadi pada bagaimana mengukur kinerja perusahaan (Aaby dan Slater, 1989). Namun pada dasarnya ada dua prinsip pengukuran yang digunakan dalam mengukur kinerja perusahaan (Cavusgil dan Shaoming, 1994; Matthyssens dan Pauwels, 1996), yaitu pengukuran secara ekonomi (objektif) dan non-ekonomi (subjektif). Tambunan (2001: 23), menyebutkan bahwa kinerja perusahaan suatu negara dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu dari sisi permintaan (demand-side factors) dan dari sisi penawaran (supply-side factors). Sisi permintaan merupakan faktor eksternal dan sisi penawaran adalah faktor internal. Tidak semua faktor tersebut merupakan variabel independen. Dalam penelitian pemasaran, kinerja perusahaan banyak ditempatkan sebagai varia bel dependen seperti dikemukakan oleh Cavusgil dan Zou (1994), Shoman (1996), Cooper dan Kleinschmidt ( 1985), La, Patterson dan Styles (2003), Katsikeas, Piercy dan loannidis (1996) serta Schroder, Banzon dan Mavondo (1985). Sebagai variabel dependen,

Keterangan : = Marjin Laba HHI = Herfindahl-Hirschman (HHI). PP Pangsa Pasar ROA Return of Asset

Index

= =

Marjin Laba dirumuskan sebagai (Total output - Variabel cost)!Total output, dan variable cost adalah penjumlahan dari biaya tenaga kerja, bahan baku dan biaya energi. Angka Herfindahl-Hirschman Index dihitung untuk setiap kelompok perusahaan yang memiliki kode industri 5 digit yang sama. Pengaruh beberapa variabel-variabel bebas tersebut terhadap variabel tidak bebas (marjin laba) memakai persamaan

Akuntabilitas, Volume 5, No.1 September 2005, 1 - 16

http://www.univpancasila.ac.id

7/24

regresi berganda. Kemudian ditentukan varia bel-varia bel bebas mana saja yang benar-benar mempengaruhi varia bel tidak bebas. Sebelum melakukan langkah pembentukan model regresi tersebut dilakukan pengujian persyaratan analisis untuk mengetahui apakah data normal, dan memiliki hubungan yang linier, kemudian dilakukan uji otokorelasi, multikolonieritas dan heteroskedasitas. Setelah pengujian asumsi regresi, langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian signifikansi model. Pengujian signifikansi model dapat diukur dari nilai statistik-t, nilai statistik-F (ANOVA), dan koefesien determinasinya. Uji statistik-t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel. independent secara individual dalam menerangkan varia bel dependent. Uji statistik-F untuk melihat pengaruh seluruh variabel independent secara simultan terhadap varia bel dependent, biasanya digunakan angka adjusted R2. Angka adjusted R2 yang kecil berarti kemampuan varia belvaria bel independent dalam menjelaskan variabel-variabel dependent terbatas. Untuk melihat pengaruh variabelvariabel independent secara simultan harus dibuat model regresi yang tepat. Untuk memperoleh model regresi yang tepat digunakan analisa Backward
Analysis Regression.

varia bel bebas tersebut dikatakan mempengaruhi varia bel tidak bebas. Dengan menggunakan program SPSS Versi 11.5 akan diperoleh persamaan/ model regresi yang tepat. Berdasarkan hasil regresi tersebut akan diketahui varia bel-varia bel mana saja yang mempengaruhi tingkat marjin laba dari perusahaan industri penggilingan padipadian. tepung. dan makanan ternak (ISIC
153). Uji Signifikansi Model

Uji signifikansi variabel independent terhadap variabel dependent memakai uji statistik-t. Hipotesis dalam bentuk hipotesis nol dan alternatif atas koefesien regresi seperti berikut : Ho: A = O.
(Tidak terdapat pengaruh variabel independent terhadap variabel dependent)

HA:

A*- 0,

(Terdapat pengaruh varia bel independent terhadap variabel dependent)

Dalam analisis ini seluruh variabel bebas dimasukkan dalam persamaan dan kemudian satu persatu varia bel yang tidak memenuhi syarat dikeluarkan dari persamaan. Adapun syarat yang digunakan adalah dengan melihat besaran signifikansi dari pengaruh varia bel bebas tersebut terhadap variabel tidak bebas. Untuk mengetahui signifikansi pengaruh suatu variabel bebas terhadap variabel tidak bebas dilakukan uji statistikt, bila nilainya lebih kecil dari 5 %. maka

Berdasarkan nilai statistik-t. bila signifikasi lebih kecil dari 5% maka hipotesis nol ditolak atau hipotesis alternatif diterima, berarti koefesien regresi signifikan sehingga secara individual variabel independent berpengaruh terhadap varia bel dependent dengan tingkat kepercayaan 95%. Untuk melihat pengaruh seluruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel tidak bebas dilakukan uji statistik-F (Anova). Hipotesis untuk menguji seluruh varia bel bebas secara simultan adalah: Ho: Ao = A1 = A2 = ... = An = 0,
(Tidak terdapat pengaruh varia bel bebas secara bersama-sama terhadap variabel tidak bebas)

HA

Selain Ho'

(Terdapat pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap varia bel tidak bebas)

Analisis Struktur Pasar dan Kinerja Industri Penggilingan, Steph Subanidja


http://www.univpancasila.ac.id 7/24

Ho:

AA = AB = AC = AD = 0,

(Tidak terdapat pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel tidak bebas) HA : Selain Ho' (Terdapat pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap varia bel tidak bebas) Berdasarkan nilai statistik-F, bila signifikansi lebih kecil dari 5%, maka hipotesis nol ditolak. Artinya, secara simultan variabel-variabel bebas signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas dengan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis penelitian ini adalah;

(Terdapat pengaruh konsentrasi pasar, pangsa pasar, return on asset, dan asset secara bersama-sama terhadap margin laba perusahaan) Struktur Pasar Industri Penggilingan Dari tabel 1 terlihat bahwa terdapat hubungan yang negatif antara jumlah perusahaan industri untuk barang sejenis (dengan pendekatan ISIC 5 digit) dengan tingkat konsentrasi pangsa pasar (diukur melalui rasio pangsa pasar Gross output perusahaan terbesar dan HHI). Semakin sedikit perusahaan industri, kian tinggi tingkat konsentrasi pangsa pasarnya. Ada dua sub kelompok industri dan hanya ada tiga pemain (sub kelompok industri tepung terigu dan industri pati lainnya) yang sudah dipastikan konsentrasi pangsa pasarnya hanya milik dari ketiga perusahaan tersebut. ISIC lima digit Jumlah CR4 (%) Perusahaan
290 9 55 34 22 23 3 30 150 24 3 77 13 733 20,77 90,91 66,20 57,38 56,37 39,09 100,00 63,79 31,58 75,49 100,00 42,18 83,42 1,24

Ho:
(Tidak pasar, asset margin

AA = AB = Ac = AD = 0,

terdapat pengaruh konsentrasi pangsa pasar, return on asset, dan secara bersama-sama terhadap laba perusahaan) H1: Selain Ho'

Tabel 1. Nilai CR4 dan HHI menuM ISIC


15311 15312 15313 15314 15316 15318 15321 15322 15323 15324 15329 15331 15332 153

Industri Penggilingan Padi Dan Penyosohan Beras Penggilingan Dan Pembersihan Padi-Padian Lainnya Pengupasan Dan Pembersihan Kopi Pengupasan, Pembersihan Dan Pengeringan Cokelat (Cacao) Pengupasan Dan Pembersihan Kacang-Kacangan Kopra Tepung Terigu Berbagai Macam Tepung Dari Padi-Padian, Biji-Bijian, Kacang-Kacangan, Umbi-Umbian, Dan Sejenisnva Pati Ubi Kayu Berbagai Macam Pati Palma Pati Lainnya Ransum Pakan Ternakllkan Konsentrat Pakan Ternak Penggilingan padi-padian, tepung, dan makanan ternak

HHI
231,29 5406,37 1465,52 1060,08 1145,34 675,52 9992,42 1230,50 409,20 2427,80 7515,55 585,54 2106,10 396,66

Sumber: Survey Industri 8esar dan Sedang 2004, diolah

Akuntabi/itas,

Volume 5, NO.1 September

2005, 1 - 16
7/24

http://www.univpancasila.ac.id

Sebagai rule of thumb, besaran CR4 yang dianggap moderat adalah < 75 persen dengan tingkat HHI antara 1.000 sampai 1.800, maka beberapa sub kelompok dari indutri penggilingan padipadian, tepung, dan makanan ternak (ISIC 5 digit) sangat mengkhawatirkan, yaitu : 1. Industri Penggilingan dan Pembersihan Padi-Padian lainnya (ISIC 15312) dengan nilai CR4 sebesar 90,91 % dan HHI sebesar 5,406,37 2. Industri tepung terigu (ISIC 15321) dengan nilai CR4 sebesar 100 % dan HHI sebesar 9.992,42 3. Industri berbagai macam pati palma (ISIC 15324) dengan nilai CR4 sebesar 75,49 % dan HHI sebesar 2.427,80 4. Industri Pati lainnya (ISIC 15329) dengan nilai CR4 sebesar 100 % dan HHI sebesar 7.515,55 5. Industri konsentrat pakan ternak (ISIC 15332) dengan nilai CR4 sebesar 83,42 dan HHI sebesar 2.106,1 Untuk kelima sub kelompok industri dengan tingkat konsentrasi yang tinggi sudah dapat diyakini bahwa perusahaan industri tersebut cenderung melakukan abuse dari posisinya yang dominan tersebut, di antaranya melalui kebijakan penetapan harga, entry barrier serta berbagai praktik diskriminasi yang sangat mudah dilakukan perusahaan. Akibatnya adalah alokasi sumberdaya, secara agregat, tidak efesien, serta merugikan konsumen. Dalam hal ini konsumen harus membayar mahal produk dari industri tersebut, karena harga lebih banyak ditentukan oleh kemauan perusahaan. Sub-Industri Penggilingan Padi dan Penyosohan Beras Sub-industri penggilingan padi dan penyosohan beras memiliki nilai CR4 sebesar 20,77%. Angka ini lebih dekat ke angka nol dibanding ke angka 100. Angka

ini menunjukkan bahwa sub-industri penggilingan padi dan penyosohan beras berada dalam struktur pasar persaingan monopolistik yang mendekati ke struktur pasar persaingan sempurna. Bila keempat struktur pasar, yaitu pasar persaingan sempurna, pasar persaingan monopolistic, pasar oligo poIi dan pasar monopoli, dapat dibagi berdasarkan proporsi yang sarna (25%) untuk setiap jenis struktur pasar, maka angka 20,77% berada dalam wilayah struktur pasar persaingan sempurna. Dilihat dari angka HHI, sub-industri penggilingan padi dan penyosohan beras memiliki angka HHI sebesar 231,29%. Berdasarkan kriteria The United Stated Department of Justice, angka ini berada dalam skala kurang dari angka 1000, yang berarti sub-industri ini berada dalam kondisi persaingan yang kompetitif. Dilihat dari angka CR4 maupun HHI, sub-industri penggilingan padi dan penyosohan beras berada dalam persaingan yang sangat kompetitif. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sub-industri ini memproduksi barang yang bersifat homogen. Sulit dibedakan hasil penggilingan dan penyosohan padi yang dihasilkan oleh masing-masing perusahaan. Jumlah perusahaan dalam sub-industri ini relatif banyak yaitu berjumlah 290 perusahaan. Output masinmasing perusahaan relatif kecil dibanding hambatan berarti. Sub-Industri Pembersihan Pad i-pad ian Lainnya Di dalam sub-industri penggilingan dan pembersihan padi-padian lainnya, terdapat 9 perusahaan dengan angka CR4 sebesar 90,91% dan HHI sebesar 5406,37. Angka CR4 ini berada dalam interval angka yang hampir mendekati angka konsentrasi 100%. Hal ini berarti sub-industri ini dikategorikan ke dalam pasar monopoli. Angka HHI sebesar 5406,37 yang berarti di atas angka 1800, menunjukkan bahwa

Analisis Struktur Pasar dan Kinerja Industri Penggilingan, Steph Subanidja

7
7/24

http://www.univpancasila.ac.id

sub-industri penggilingan dan pembersihan pad i-pad ian lainnya berada pada persaingan tidak sempurna atau mendekati pasar monopoli. Sub-industri ini cenderung menjadi monopoli bukan karena hambatan teknis (technical barriers to entry), bukan karena perusahaan memiliki kemampuan dan atau pengetahuan khusus, bukan karena hambatan hak paten dan undang-undang, bukan pula karena tingkat efisisiensi, tetapi lebih karena perusahaan ini cenderung tidak memiliki margin laba yang memadai, sehingga tidak banyak perusahaan yang ingin masuk ke subindustri ini.

aktivitas pengupasan dan pembersihan kopi ini dalam skala yang relatif besar, namun cenderung tidak memiliki kompleksitas manajemen yang tinggi.

Sub-Industri Pengupasan, Pembersihan dan Pengeringan Coklat.


Tidak berbeda jauh dengan perusahaan-perusahaan dalam subindustri pengupasan dan pembersihan kopi. Oi dalam sub-industri pengupasan dan pengeringan cokelat (cacao), terdapat 34 perusahaan dengan angka CR4 sebesar 57,38% dengan angka HHI sebesar 1060,08. Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan dalam sub-industri ini dalam kategori pasar oligopoli dengan 57,38% dikuasai oleh 4 perusahaan Ke 34 perusahaan-perusahaan tersebut bersaing secara moderat. Oengan demikian sub industri ini masuk dalam kategori oligopoli dominan, dan hanya sekitar 43% pasar dikuasai oleh 30 perusahaan, atau ratarata satu perusahaan menguasai sekitar 1,5 % pasar. Sisanya rata-rata sekitar 15% dikuasai oleh masing-masing perusahaan dari empat perusahaan dominan tersebut.

Sub-Industri Pengupasan Pembersihan Kopi

dan

Terdapat 55 perusahaan dalam subindustri pengupasan dan pembersihan kopi. Angka konsentrasi industri yang diperoleh adalah 66,20%. Angka ini menggambarkan bahwa sub-industri ini berada dalam struktur pasar oliopoli, dengan sejumlah perusahaan merupakan oligopoli dominan. Oengan kata lain, sebesar 66,20% output dikuasai oleh empat perusahaan terbesar dari 55 perusahaan. Bila dilihat angka HHI, di dalam sub-industri ini diperoleh angka HHI sebesar1465,52 yang berarti berada dalam kisaran angka antara 1000 sampai dengan 1800. Hal ini berarti bahwa perusahaan dalam sub-industri ini berada dalam kondisi persaingan yang moderat. Prodok cenderung homogen dengan sedikit perbedaan tingkat bersih tidaknya produk yang ada di pasaran. Sebagian perusahaan melakukan aktivitasnya secara manual atau dengan alat-alat yang sederhana, sehingga produk yang dihasilkan cenderung tidak standar. Sebagian perusahaan yang lain mengggunakan mesin yang lebih menghasilkan standar output yang baku. Biasanya perusahaan mengoperasikan

Sub-Industri Pengupasan Pembersihan Kacang-Kacangan

dan

Oi dalam sub-industri ini terdapat 22 perusahaan. Oari 22 perusahaan ini 56,37 % pasar dikuasai oleh empat perusahaan dan sisanya 18 perusahaan menguasai 43,63% pasar atau rata-rata dari 18 perusahaan ini menguasai 2,2% pasar. Oengan demikian sub-industri ini dalam kategori pasar oligopoli dominan dengan angka HHI sebesar 1145,34. Kekuatan pasar lebih terletak pada empat perusahaan tersebut. Sub industri- sub industri yang lain berpola yang tidak jauh berbeda dengan sub industri-sub industri yang telah dibahas.

Analisis Kinerja Industri Penggilingan


Berdasarkan data industri

Akuntabilitas, Volume 5, NO.1 September 2005, 1 - 16


http://www.univpancasila.ac.id 7/24

penggilingan pad i-pad ian, tepung, dan makanan ternak, dianalisis pengaruh struktur pasar (HHI), pangsa pasar output, ROA (Return on Asset) dan Aset terhadap marjin laba (II) secara bertahap. Struktur pasar (HHI), pangsa pasar output, ROA (Return on Asset) dan Aset diletakkan sebagai variabel independent dan marjin laba sebagai varia bel dependent.

Apabila nilai HHI naik sebesar 1 satuan maka akan menyebabkan penurunan II sebesar 0,000076. Demikian sebaliknya, jika nilai HHI turun sebesar 1 satuan maka akan menyebabkan kenaikan II sebesar

0,000076.
Berdasarkan signifikansi koefesien regresi sebesar kurang dari 0,001, maka hipotesis nol (Ho) ditolak. Artinya pengaruh HHI atas marjin laba (II) signifikan. Atau dengan kata lain hipotesis bahwa variabel HHI secara individual memiliki pengaruh yang signifikan terhadap marjin laba dengan tingkat kepercayaan di atas 95%. Berdasarkan nilai koefesien determinasi (R2) sebesar 0,032 artinya keragaman yang terjadi pada varia bel marjin laba adalah 3,2% dijelaskan oleh keragaman model dengan varia bel HHI. Karena peningkatan HHI menghasilkan korelasi negatif terhadap marjin maka dapat dikatakan bahwa kontribuasi pengaruh variabel HHI atas marjin laba adalah negatif sebesar 3,2 %.

Pengaruh struktur pasar (HHI) terhadap marjin laba (I1)


Pada subsektor Industri Penggilingan Padi-padian, Tepung, Dan Makanan Ternak menghasilkan regresi HHI atas marjin laba (II) seperti tabel 2 dan 3, atau dapat ditulis sebagai :

II = 0,211 - 0,000076 HHI (sig.) (0,000)

(R2 = 0,032) (0,000)

Dari persamaan regresi sederhana tersebut, apabila HHI dianggap konstan maka besarnya marjin laba (II) adalah

0,211.

Tabel 2. Output Koefesien HHI atas Marjin Laba (n) Model Unstandardized Coefficients B Std. Error Standardized Coefficients Beta t

Sig.

(Constant)

-.180 HHI a Dependent Variable: MLABA Sumber : Survey Industri Besar dan Sedang 2004, diolah

.211 -7.557E-05

.020 .000

10.608
-4.939

.000 .000

Tabel 3 Angka korelasi Koefesien HHI atas Marjin Laba (n) Sumber: Survey Industri Besar dan Sedang 2004, diolah Model Summary Adjusted R Square .031 Std. Error of th e E stima te .43802

Model 1

R .18Q'l

R Square .032

a. Predictors: (Conslant), HHI

Analisis Struktur Pasar dan Kinerja Industri Penggilingan, Steph Subanidja


http://www.univpancasila.ac.id 7/24

Pengaruh pangsa pasar (PP) terhadap marjin Isba (II)


Regresi PP atas marjin laba (D) secara individual dapat dilihat pada tabel 4 dan 5, yang secara singkat dapat ditulis sebagai: D = 0,144 + 0,005 PP (sig.) (0,000) (R2 0,006) (0,029)

Dari persamaan regresi sederhana tersebut, apabila PP dianggap konstan maka besarnya marjin laba (D) adalah 0,144. Apabila nilai PP naik sebesar 1 satuan maka akan menyebabkan kenaikan D sebesar 0,005. Demikian sebaliknya jika nilai HHI turun sebesar 1 satuan maka Tabel 4. Output Koefesien Unstandardized Coefficients B 1 (Constant) .144 .005 Variable: MLABA Std. Error .017 .002

akan menyebabkan penurunan n sebesar 0,005. Berdasarkan signifikansi koefesien regresi sebesar 0,029, maka hipotesis nol (HO) ditolak. Artinya pengaruh PP atas marjin laba (0) signifikan. Atau dengan kata lain hipotesis bahwa variabel PP secara individual memiliki pengaruh yang signifikan terhadap marjin laba dengan tingkat kepercayaan di atas 95%. Berdasarkan nilai koefesien determinasi (R2) sebesar 0,006 artinya keragaman yang terjadi pada variabel marjin laba adalah 0,6% dijelaskan oleh keragaman model dengan variabel PP. Dengan kata lain kontribuasi pengaruh variabel PP atas marjin laba adalah positif, namun sangat kecil yaitu sebesar 0,6 %. PP atas Marjin Laba (rI) Standardized Coefficients Beta 8.501 .081 2.186 .000 .029 t Sig.

Model

PP
a. Dependent

Sumber: Survey Industri Besar dan Sedang 2004, diolah


Tabel 5. Angka korelasi PP dan Marjin Laba (n)

Model Summary Model 1 R .081 a Adjusted R Sauare .005 Std. Error of the Estimate .44383

RSauare .006

a. Predictors: (Constant), PP

Sumber: Survey Industri Besardan Sedang 2004, diolah


Pengaruh ROA terhadap marjin laba (II)
Regresi ROA atas marjin laba (D) secara individual dapat dilihat pada tabel 6 dan 7, yang secara singkat dapat ditulis sebagai: D=O,ll (sig.) +0,11 ROA (R2 = 0,703) (0,257) (0,000) Dari persamaan regresi sederhana tersebut, apabila ROA dianggap konstan maka besarnya marjin laba (n) adalah 0,11. Apabila nilai HHI naik sebesar 1 satuan maka akan menyebabkan kenaikan n sebesar 0,11. Demikian sebaliknya jika nilai ROA turun sebesar 1 satuan maka akan menyebabkan penurunan P sebesar

Akuntabilitas,

Volume 5, NO.1 September

2005, 1 - 16
7/24

10

http://www.univpancasila.ac.id

0,11. Berdasarkan signifikansi koefesien regresi kurang dari 0,001, maka hipotesis nol (HO) ditolak. Artinya pengaruh ROA atas marjin laba (0) signifikan. Atau dengan kata lain hipotesis bahwa varia bel ROA secara individual memiliki pengaruh yang signifikan terhadap marjin laba dengan tingkat kepercayaan di atas 95%.

Berdasarkan nilai koefesien determinasi (R2) sebesar 0,703 artinya keragaman yang terjadi pada variabel marjin laba adalah 70,3% dijelaskan oleh keragaman model dengan varia bel ROA. Dengan kata lain kontribuasi pengaruh variabel ROA atas marjin laba adalah positif sebesar 70,3 %.

Tabel 6. Output Koefesien ROA atas Marjin labs (n) Model 1 Unstandardized Coefficients Std. Error .010 .000 Standardized Coefficients Beta .838 1.134 41.558 .257 .000 t Sig.

B (Constant) .011 ROA .011 a Dependent Variable: MLABA Tabel7.

Sumber : Survey Industri Besar dan Sedang 2004, diolah

Angka korelasi ROA dan Marjin Laba


Mode I Su mmary

(n)

Model 1 .8388 a. Predictors: (Constant), ROA

R Sauare .703

Adjusted R Sauare .702

Std. Error of the Estimate


.24282

Sumber : Survey Industri Besar dan Sedang 2004, diolah Pengaruh Aset terhadap marjin laba (JJ)

Regresi aset atas marjin laba (0) secara individual dapat dilihat pada tabel 5, yang secara singkat dapat ditulis sebagai: 0=0,15+ (sig.) 1,013E-10 Aset (0,000) (R2=O,003) (0,155)

Berdasarkan signifikansi koefesien regresi aset sebesar 0,15 dan lebih besar dari 5%, maka hipotesis nol tidak ditolak. Artinya pengaruh aset atas marjin laba (0) tidak cukup membuktikan mempengaruhi marjin laba pada tingkat kepercayaan 95%.

Tabel 8. Output Koefesien ROA atas Marjin laba (0) Unstandardized Coefficients Std. Error .017 .000 Standardized Coefficients Beta .053 9.052 1.425 .000 .155 Sig.

Model

B (Constant) .150 1 ASET 1.013E-10 a Dependent Variable: MlABA


Sumber:

Survey Industri Besar dan Sedang 2004, dio/ah 11


7/24

Analisis Struktur Pasar dan Kinerja Industri Penggilingan, Steph Subanidja http://www.univpancasila.ac.id

Pengaruh HHI, Pp' ROA dan Aset terhadap marjin laba (fJ) Model regresi marjin laba dengan empat variabel independent HHI, PP, ROA dan
Aset didapat : II = 0,063 - 0,00008 HHI + 0,006 PP + 0,0 II ROA + 3,7E - II Aset (sig.) (0,000) (0,000) (0,000) (0,000) (0,389) ( R2 (adj) Model tersebut menghasilkan pengaruh yang signifikan atas variabel independent HHI, PP dan ROA, dengan signifikasni koefesien regresi lebih kecil dari 0,001.

= 0,73

Tetapi tidak pada varia bel independent Aset, dengan signifikansi koefesien regresi sebesar 0,389, maka variabel Aset tidak signifikan mempengaruhi variabel marjin laba.

Tabel 8. Output Koefesien HHI, PP, ROA dan Aset atas Marjin Laba (n) Unstandardized Coefficients B 1 (Constant) HHI Std. Error .011 .000 .002 Standardized Coefficients Beta 5.700 -8.834 3.571 42.439 .862 .000 .000 .000 .000 .389

Model

Sig.

.063 -.194 -8.145E-05 pp .089 .006 ROA .822 .011 .000 ASET 3.726E-11 .000 .019 a Dependent Variable: MLABA Sumber: Survey Indusfri Besar dan Sedang 2004, diolah

Pengaruh HHI, PP dan ROA terhadap marJin laba (II)


Walaupun secara akumulasi variabel-variabel bebas mempegaruhi variabel tidak bebas, tetapi ada satu variabel yang secara individu (Aset) tidak mempengaruhi varia bel marjin laba.

Oleh karena itu varia bel Aset harus dikeluarkan dari persamaan regresi. Dengan menggunakan analisa Backward Analysis Regression variabel aset dikeluarkan dari persamaan regresi. Dari analisis tersebut diperoleh persamaan regresi yang baru, seperti berikut : R2 (adj) = 0,731 (0,000)

II = 0,064 - 0,00008 HHI + 0,007 PP + 0,011 ROA (sig.) (0,000) (0,000) (0,000) Interpretasi koefesien regresi model tersebut adalah apabila semua variabel independent dianggap konstan maka besarnya Marjin laba adalah 0,064. Apabila nilai variabel diluar varia bel HI! dianggap konstan, bila nilai HHI dinaikkan sebesar 1 satuan maka akan menyebabkan penurunan laba sebesar 0,00008. Kondisi lainnya apabila nilai variabel diluar variabel PP dianggap

konstan, bila nilai PP dinaikkan sebesar 1 satuan maka akan menyebabkan kenaikan laba sebesar 0,007. Terlihat di sini bahwa pengurangan variabel Aset menyebabkan konstanta dan koefesien masing-masing varia bel bebas mengalami perubahan, tetapi secara pengaruh tidak berubah. Artinya bila pada model pertama variabel bebas memiliki pengaruh positif terhadap variabel tidak

Akuntabilitas, Volume 5, NO.1 September 2005, 1 - 16


http://www.univpancasila.ac.id 7/24

12

bebas, maka begitu juga pada model kedua. Tabel 9. Output Koefesien HHI, PP dan ROA atas Marjin Laba (n) Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Beta 5.717 -.194 .099 .822 -8.846 4.515 42.441 .000 .000 .000 .000 t Sig.

Std. Error B (Constant) .011 ..064 2 -8.154EHHI .000 05 .001 PP .007 .000 ROA .011 a Dependent Variable: MLABA
Sumber:

Survey Industri Besar dan Sedang 2004, diolah

Model regresi yang kedua menghasilkan pengaruh yang signifikan atas semua variabel independent (HHI, PP dan ROA) terhadap varia bel dependent (marjin laba). Berdasarkan signifikansi koefesien regresi HHI sebesar di bawah 0,001 dan lebih kecil dari 0,05, maka hipotesis nol ditolak. Artinya pada model dengan lima variabel bebas, imbalan atas HHI signifikan mempengaruhi Marjin laba pada tingkat kepercayaan lebih dari 95 %. Begitu juga dengan signifikansi koefesien PP dan ROA sebesar lebih kecil dari 0,001 dan lebih kecil dari 0,05, maka hipotesis nol ditolak. Artinya pada model dengan tiga variabel independent. Pangsa Pasar (PP), dan Return on Asset (ROA) masing-masing variabel signifikan mempengaruhi Marjin laba pada tingkat kepercayaan 95 %. Berdasarkan persamaan regresi

berganda tersebut, pengaruh Indeks Herfindahl (HHI) terhadap marjin laba adalah negatif. Ini berarti semakin tinggi tingkat Indeks Herfindahl dan variabel lain tidak mengalami perubahan mengakibatkan semakin rendah laba yang diterima perusahaan. Pengaruh pangsa pasar terhadap laba adalah positif. Ini berarti semakin tinggi pangsa pasar dan varia bel bebas lain tidak mengalami perubahan mengakibatkan semakin tinggi pula laba yang diterima perusahaan. Sedangkan pengaruh Return on Asset (ROA) terhadap laba adalah positif. Ini berarti semakin tinggi tingkat Return on Asset (ROA) dan variabel bebas lain tidak mengalami perubahan mengakibatkan semakin tinggi pula laba yang diterima perusahaan.

Tabel10. Output ANOVA HHI, PP dan ROA atas Marjin Laba (0) Sum of Sauares Model Regression 106.015 2 Residual 38.919 144.934 Total b Predictors: (Constant), ROA, HHI, PP c Dependent Variable: MLABA
Sumber:

df 3 729 732

Mean Sauare 35.338 .053

F 661.923

Sig. .000(b)

Survey Industri Besar dan Sedang 2004, diolah

Analisis Struktur Pasar dan Kinerja Industri Penggilingan, Steph Subanidja


http://www.univpancasila.ac.id 7/24

13

Uji simultan model regresi didasarkan pada analisis variansi atau statistik uji-F. Berdasarkan signifikansi ujiF sebesar kurang dari 0,001 dan lebih kecil dari 0,05, maka hipotesis nol ditolak. Artinya, ketiga variabel independent (lndeks Herfindahl, Pangsa Pasar, dan Return on Average Asset), secara bersama - sarna (simultan) memiliki Tabel11. Model

pengaruh yang signifikan terhadap laba pada tingkat kepercayaan 95 %. Dengan kata lain persamaan regresi ini dapat dipakai untuk memprediksi (menduga) laba yang diterima oleh perusahaan industri. Kekuatan persamaan (model) regresi dalam menduga besaran laba dapat terlihat pada table berikut :

Output Summary IH, PP, dan ROA atas Marjin Laba R R Square

Adjusted Std. Error of R Square the Estimate .731 .730 .855(b) .23106 2 b Predictors: (Constant), ROA, HHI, PP Sumber: Survey Industri Besar dan Sedang 2004, diolah Bila dilihat dari koefesien determinasinya ternyata pengaruh ketiga variable bebas dalam menjelaskan perubahan variable laba sangat besar yaitu 0,855. Berdasrkan nilai Adjusted R square diketahui bahwa kemampuan ketiga variable bebas untuk menjelaskan perubahan laba secara bersama-sama adalah sebesar 0,730. Atau dapat dikatakan bahwa kelima variable bebas berkontribusi terhadap lab sebesar 73 %. Ini artinya sebagian besar sumbangan (kontribusi) terhadap variable telah terwakili oleh kelima variable bebas tersebut. Kesimpulan Dari data hasil survey Industri Besar dan Sedang 2002, dapat dilihat struktur pasar industri dengan kode ISIC/KBLI 153 (Industri penggilingan padi-padian, tepung, dan makanan ternak) dengan menggunakan ukuran Concentration Ratio (CR4) dan Herfindahl-Hirschman Index (HHI). Dari ukuran tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa beberapa industri memiliki struktur pasar oligopoly. Dengan menggunakan analisis regresi, Bachrudin, Achmad dan Harapan L. Tobing, 2002, Analisis Data untuk Penelitian Survai, dengan Menggunakan Lisrel, Jurusan Statistika FMIPA Universitas Padjadjaran Bandung. Berndt, Ernst R., 1991, The Practice of Econometric Classic and Contemporary, Addison-Wesley Publishing Company, New York. didapat kesimpulan bahwa hanya variabel aset (secara individu) yang tidak signifikan mempengaruhi marjin laba. Sedangkan untuk variabel independent HHI, pangsa pasar dan ROA (secara individu) secara signifikan mempengaruhi marjin laba. Secara simultan ketiga varia bel independent HHI, pangsa pasar dan ROA signifikan mempengaruhi marjin laba. Kemampuan varia bel independent HHI, pangsa pasar dan ROA untuk menjelaskan perubahan kinerja perusahaan industri dalam bentuk marjin laba secara bersamasarna adalah sebesar 73 %. Daftar Pustaka

Akuntabilitas, Volume 5, NO.1 September 2005, 1 - 16


http://www.univpancasila.ac.id 7/24

14

Best,

Roger

J., 2000,

Market-Based

Management: Strategies for Growing Customer Value and Profitability,


Prentice Hall, New Jersey. Bourgeois, L.J., 1980, Performance and Consensus, Strategic Management Journal, 227-228.

Equation Modeling Dalam Penelitian Manajemen: Aplikasi Model-Model Rumit Dalam Penelitian Untuk Tesis Magister dan Diseriasi Doktor, Edisi
Kedua, BP. UNDIP, Semarang. Greve, Henrich R., 1998, Performance Aspiration and Risky Organizational Change, Administrative Science Quartely, 43, 56-58. Ghozali, Imam, 2002, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, BP. UNDIP, Semarang. Grant, Benhard, 1997,

Buxey, Geoff, 2000, Strategies in An Era of Global Competition, International Journal of Operations & Production Management, Bradford, 20 (9): 9971016. Cavusgil, S.T., and Shaoming Zou, 1994,

Contemporary
Prentice-Hall,

Marketing Strategy-Performance Relationship: An Investigation of the Emeprical Link in Market Ventures,


Journal of Marketing, 58 (January), 1-

Strategy, 2nd Edition,


New Jersey. Gerbing,

D.W. and J.C. Anderson,

1993,

21.
Cooper, Donald R., and Pamela S. Schindler, 2001, Business Research Methods, 7th Edition, McGraw-Hili Irwin, Singapore. Cravens, David W. and Nigel F. Piercy,

Monte Carlo Evaluations of Goodnessof- Fit Indices for Structural Equation Models, In K.A. Bollen & J.S. Long, Testing Structural Equation Models,
California, London, New Delhi, Sage Publications, Inc. Hair, Joseph F. Jr., Rolph E. Anderson, Ronald L. Tatham, and William C. Black, 1998, Multivariate Data Analysis, 5th Edition, Prentice-Hall International, Inc., New Jersey. Hitt, Koskinson, 1995, The Free Press, A Division of Simon & Schuster Inc., New York Irreland dan

2003, Strategic Marketing, McGraw


Hill., Boston. Cunningham, William H., Ramon J. Aldag, and Mary S. Stone, 1996, Business in A Changing World, 4th Edition, SouthWestern College Publishing, Cincinnati, Ohio. Day, George S., 1999, Market Driven Strategy: Processes for Creating Value, The Free Press, A Division of Simon & Schuster Inc., New York. R., 2003, Strategic Management, 8th Edition, PrenticeHall, USA. Fred Augusty, 2002,

Strategic

Management,

Indriantoro,

Nur dan Bambang

Supomo,

1999, Metode Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi & Manajemen, Edisi


Pertama, BPFE, Yogyakarta.

David,

Loehlin,

J. C., 1992, Latent Variabel Models, An Introduction to Factor, Path and Structural Analysis, 2nd Edition, Lawrenced Erlbaum

Ferdinand,

Structural

Analisis Struktur Pasar dan Kinerja Industri Penggilingan, Staph Subanidja


http://www.univpancasila.ac.id 7/24

15

Associates, Publisher, London Miller, Alex, 1998, Strategic Management, 3th Edition, McGraw-Hili Companies, Inc., International Edition, USA. Pearce II, John A., and Richard B. Robinson, JR., 2000, Strategic Management, McGraw-Hili International Inc., Singapore. Porter, Michael E., 1990, The Competitive Advantage of Nations, The Free Press, A Division of Simon & Schuster Inc., New York. Robbins, Stephen P., and Mary Coulter, 2002, Management, 7th Edition, International -Hall International, Inc., New Jersey. Salvatore, Dominick, 1993, Managerial Economics In A Global Economy, 2nd Edition, McGraw-Hili International Editions, Singapore. Sekaran, Uma, 2000, Research Methods for Business: A Skill-Building Approach, 3th Edition, John Wiley & Sons, USA. Sitepu, Nirwana SK., 1994, Analisis Jalur (Path Analysis), Unit Statistika Jurusan Statistika, FMIPA, Universitas Padjadjaran, Bandung. Solimun, 2002, Multivariate Analysis Structural Equation MOdeling (SEM) Lisrel dan Amos: Aplikasi di Manajemen, Ekonomi Pembangunan, PSiko/ogi, Sosial, Kedokteran dan Agrokompleks, Cetakan Pertama, Universitas Negeri Malang. Subanidja, Steph dan Yama, Indo (2004) Pengaruh Imbalan Atas Ekuitas (ROE) dan Perlumbuhan Laba Bersih

Terhadap Rasio Harga Per Nila-Buku (PBV) Saham Perbankan: Data Bursa Efek Jakarta 2002-2003 (Perbanas Finance & Banking Journal, Vol. 6 No. 2, Desember 2004, Jakarta, Indonesia Tabachnick, B.G. and L.S. Fidell, 1996, Using Multivariate Statistics, 3th Edition, Harpoer Collings Colleg Publishers, New York. Wheelen, Thomas L. and J. David Hunger, 2000, Strategic Management and Business Policy: Entering 21st Century Global Society, 7th Edition , International Edition, Prentice Hall International, Inc.,USA. Zikmund G. William, 2000, Business Research Methods, Sixth Edition, Harcourt, Inc., The Dryden Press.

Akuntabi/itas, Volume 5, NO.1 September 2005, 1 - 16


http://www.univpancasila.ac.id 7/24

16