Anda di halaman 1dari 143

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan lembaga yang sangat penting dalam proses pendidikan anak, dan sangat menentukan dalam pembentukan kepribadian serta kemampuan. Secara teoritis dapat dipastikan bahwa dalam keluarga yang baik, anak memiliki dasar-dasar pertumbuhan dan perkembangan yang cukup kuat untuk menjadi manusia dewasa. Kehidupan keluarga yang diawali dengan proses pernikahan mengandung makna spiritual yang suci dan agung, Karena dengan terlaksananya ijab qabul antara sepasang pengantin itu artinya apa yang diharapkan oleh Allah SWT yaitu hubungan biologis menjadi halal bagi keduanya dan sekaligus berfungsi sebagai ibadah dan amal shaleh. Oleh karena itu pernikahan merupakan perbuatan yang bersifat suci/sakral yang semestinya di jaga dan tidak di nodai dengan hal-hal yang dapat merusak keutuhan suatu pernikahan. Untuk mewujudkan kelanggengan suatu pernikahan diperlukan beberapa syarat diantaranya: dari segi pendidikan, untuk mengarungi kehidupan bahtera rumah tangga hendaknya mereka mempunyai atau membekali diri mereka dengan pendidikan yang memadai. Karena tidak jarang terjadi perselisihan dalam rumah tangga dikarenakan minimnya pengetahuan mereka tentang pernikahan, khususnya pada pasangan yang menikah dalam usia muda, sehingga mereka tidak mampu menyelesaikan persoalan dengan hati yang jernih, kebanyakan dari mereka lebih mengedepankan emosi ketimbang akal.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Dari segi ekonomi, maraknya perceraian yang terjadi pada pasangan usia muda diantaranya adalah disebabkan oleh kemampun ekonomi yang lemah. Apalagi di zaman sekarang kebutuhan terus meningkat, beban yang harus ditanggungpun terasa semakin berat. Sehingga banyak diantara mereka yang telah membina rumah tangga harus berakhir dengan perceraian. Oleh karena itu, sebelum memasuki jenjangan pernikahan seseorang hendaknya harus sudah mempunyai kehidupan ekonomi yang mapan. Agar istri dan anak-anaknya kelak tidak terlantar serta mempunyai masa depan yang cerah. Kemudian juga yang tak kalah pentingnya adalah restu orang tua. Pernikahan yang dilaksanakan tanpa restu orang tua, tidak akan pernah bisa bertahan lama.Pernikahan tanpa adanya restu orang tua, yang dalam perkawinan restu orang tua merupakan faktor penting untuk memulai hidup baru sebagai suami istri. Manakala hal tersebut tidak diperoleh, maka akan muncul problem antara anak dengan orang tua. Seorang anak yang sebelum menikah mempunyai hubungan yang erat dengan orang tua, begitupun sebaliknya jalinan kasih sayang yang terlihat harmonis. Namun begitu cerai berai, ketika sang anak terpaksa meninggalkan orang tua, memutuskan hubungan darah bahkan layaknya seperti orang asing yang bermusuhan, disaat orang tua tidak menyetujui pernikahannya.1 Dalam masyarakat kita masih banyak terjadi perkawinan di bawah umur sekalipun dilarang oleh Undang-Undang perkawinan. Perkawinan dalam usia muda ini menimbulkan masalah sosial, yaitu perceraian yang meningkat. Perceraian di kalangan remaja yang
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

sebenarnya belum siap membina rumah tangga secara fisik dan mental mengakibatkan anak anak dilahirkan terlantar, tingkat kehidupan ekonomi merosot, dan yang lebih menyedihkan lagi masyarakat pedesaan kita menerima ini sebagai suatu kenyataan hidup yang harus diterima dengan pasrah. Kegagalan dan keretakan yang terjadi di tengah-tengah keluarga sering kali disebabkan masalah sederhana tetapi sangat mendasar, seperti masalah seks. Mereka pikir, bahwa pernikahan segala sesuatu akan berjalan secara alamiah, kebahagiaan akan turun dengan sendirinya sekalipun mereka tidak memiliki pengetahuan untuk mengatur kehidupan rumah tangganya. Kenyataannya, kebahagiaan perkawinan perlu di usahakan secara terus menerus antara suami istri, karena perceraian yang terjadi sering diakibatkan tidak adanya persiapan diantara kedua belah pihak.2 Pernikahan di usia muda juga memiliki implikasi bagi kesejahteraan keluarga dan dalam masyarakat secara keseluruhan. Bagi perempuan yang tidak berpendidikan dan tidak siap menjalankan perannya sebagai ibu yang bisa memberikan sumbangannya kepada masyarakat, terdapat biaya yang harus dibayar disetiap tingkat mulai dari tingkat individual, keluarga sampai kepada bangsa secara keseluruhan. Pada dasarnya hukum Islam tidak memberikan batasan usia bagi seseorang yang ingin melaksanakan pernikahan. Akan tetapi lebih mengarah kepada tanda-tanda fisik seperti puberitas biologis, atau dengan kata lain telah mencapai usia baligh. Yaitu seperti yang terjadi pada laki-laki dengan keluarnya mani dan bagi perempuan telah mengalami menstruasi. Namun pada kenyataannya, dewasa ini pada usia tersebut biasanya belum mencapai kematangan, baik emosi, ekonomi,, sosial dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kompilasi
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

hukum Islam yang mengatur masalah-masalah tersebut memberikan batasan usia bagi lakilaki dan perempuan yang ingin melangsungkan pernikahan.pernikahan, bagi laki-laki sekurang-kurangnya telah mencapai 19 tahun dan bagi perempuan sekurang-kurangnya telah mencapai 16 tahun. Ketentuan ini dimaksudkan untuk mendapatkan kualitas rumah tangga dan keturunan yang baik. Dewasa ini pemenuhan kebutuhan sehari-hari dirasakan sangat berat, dengan naiknya harga-harga kebutuhan pokok, dan banyaknya anak yang putus sekolah dan tidak mampu melanjutkan kejenjang pendidikan selanjutnya, sehingga mereka banyak mencari pekerjaan untuk meringankan baban orang tuanya. Anak laki-laki bekerja sebagai kuli, menjadi tukang cuci motor dan kuli bangunan, sedangkan anak-anak perempuan bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau tinggal di rumah saja, kemudian dinikahkan. Sehingga banyak terjadi pernikahan di usia muda yang disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya: faktor ekonomi, orang tua tidak sanggup menyekolahkan anaknya sehingga ia cepatcepat dinikahkan, juga karena kurangnya kemauan anak untuk melanjutkan sekolah dan factor takut jadi perawan tua, maka satu-satunya jalan keluar adalah dinikahkan secepatnya manakala ada jodohnya. Berdasarkan hal tersebut yang terjadi di Desa Tolo Weri Kota Bima, penulis tertarik untuk meneliti dan mengkaji masalah-masalah tersebut di lingkungan ini, dalam bentuk skripsi yang berjudul : .Pernikahan Pada Usia Muda dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Berumah Tangga.

B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah


10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

1. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis mengidentifikasikan masalah yang akan diteliti sebagai berikut: a. Peran suami istri dalam mengarungi kehidupan bahtera kehidupan berumah tangga b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pernikahan di usia muda. c. Pengaruh pernikahan di usia muda terhadap kehidupan rumah tangga. 2. Pembatasan Masalah Agar skripsi ini lebih terarah, penulis membatasi masalah yang akan di teliti kepada: a. Kehidupan rumah tangga pada pasangan usia muda b. Kehidupan rumah tangga pada pasangan usia dewasa 3. Peumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas, penulis merumuskan masalah yang di teliti sebagai berikut: a. Apa yang menyebabkan terjadinya pernikahan di usia muda di RW 09, Desa Sasakpanjang? b. Problem-problem apa saja yang muncul pada pasangan suami istri usia muda dalam membina keluarga? c. Seperti apa dampak pernikahan pasangan usia muda terhadap kehidupan berumah tangga? C. Tujuan dan Kegunaan Hasil Penelitian 1. Tujuan Penelitian a. Untuk mendeskripsikan tentang faktor-faktor penyebab terjadinya pernikahan di usia
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

muda, problem-problem yang mereka hadapi dalam membangun rumah tangga. b. Untuk menggambarkan kehidupan rumah tangga pasangan usia muda c. Untuk mengetahui pengaruh pernikahan di usia muda terhadap kehidupan berumah tangga. 2. Manfaat Penelitian a. Sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi pada tingkat strata (S1) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. b. Memberikan masukan kepada para wanita yang merencanakan pernikahan, untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum melangsungkan pernikahan. d. Memberikan masukan bagaimana cara mengurus rumah tangga yang baik, sehingga menyadari perihal membangun rumah tangga yang harmonis. D. Sistematika Penulisan Pembahasan skripsi ini mengikuti pedoman penulisan skripsi, tesis, dan disertasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. BAB I : Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan kegunaan hasil penelitian, dan sistematika penulisan. BAB II : Kajian teori, meliputi pernikahan di usia muda, membahas tentang pernikahan di usia muda, syarat dan rukun nikah, tujuan pernikahan, usia yang paling baik untuk menikah. Selanjutnya kehidupan rumah tangga, membahas tentang pengertian rumah tangga, pernikahan sebagai awal kehidupan rumah tangga, peran suami istri dalam
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

mengurus rumah tangga, serta kriteria rumah tangga yang harmonis. BAB III : Metodologi penelitian, meliputi variabel penelitian dan definisi operasional, waktu dan tempat penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, teknik pengolahan data dan analisa data. BAB IV : Penyajian data atau hasil penelitian, merupakan bab yang menyajikan tantang variabel penelitian, waktu dan tempat penelitin, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, teknik pengolahan dan analisa data. BAB V : Merupakan bab penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran-saran.

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

BAB II KAJIAN TEORI A. Ketentuan Hukum Pernikahan Usia Muda 1. Pengertian Usia Muda Pernikahan usia muda terdiri dari dua kata yaitu pernikahan dan usia muda. Pernikahan berasal dari bahasa Arab yaitu An-nikah yang berarti menghimpun dan mengumpulkan. Dalam pengertian fiqih nikah adalah akad yang mengandung kebolehan melakukan hubungan suami istri dengan lafaz perkawinan/pernikahan atau yang semakna dengan itu.1 Dalam pengertian yang luas pernikahan adalah suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa ketentraman serta kasih sayang dengan cara yang diridhoi Allah.2 Menurut istilah syara. nikah ialah aqad yang menghalalkan pria menggauli wanita atau sebaliknya yang sebelumnya dilarang oleh syara.3 Usia muda menunjukkan usia belia, ini bisa digunakan untuk menyebutkan sesuatu yang dilakukan sebelum batas usia minimal. Dengan demikian pernikahan usia muda berarti
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

pernikahan yang dilaksanakan di bawah umur enam belas tahun. Undang-Undang perkawinan No. 1 Tahun 1974, pasal 1 merumuskan arti perkawinan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.4 Sementara kompilasi hukum Islam, pasal 2 menyebutkan arti pernikahan adalah akad yang sangat kuat atau mitsaqon ghalizan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya adalah ibadah.5 2. Syarat dan rukun nikah Disamping rukun, akad nikah juga mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi. Syaratsyaratnya adalah sebagai berikut:6 a. Calon suami b. Wanita yang halal untuk dinikahi c. Sighat (ijab dan qabul bersifat selamanya) d. Saksi e. Adanya keridhoan dari kedua belah pihak atas pernikahan itu f. Identitas pelaku akad harus diungkapkan secara jelas g. Wali Dalam kompilasi hukum Islam, perkawinan dinyatakan dalam pasal 6 tentang syarat perkawinan, diantaranya: 1. Perkawinan harus dilakukan menurut hukum agama 2. Perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundangan 3. Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

4. Untuk melangsungkan pernikahan seorang yang belum mencapai umur 21 harus mendapat izin orang tua. Ulama fiqih menyatakan bahwa rukun nikah itu adalah kerelaan hati kedua belah pihak (laki-laki dan wanita).8 Daud Ali, sebagaimana dikutif Anshari Thayib, menyatakan mengenai rukun dan syarat nikah sebagai berikut :9 Menurut hukum Islam rukun nikah adalah : a. Calon suami b. Calon istri c. Saksi d. Ijab dan qabul Adapun syarat nikah menurut hukum Islam adalah : a. Persetujuan kedua mempelai b. Mahar atau maskawin c. Tidak boleh melanggar larangan-larangan perkawinan umat Islam adalah pencatatan. 3. Tujuan Pernikahan Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Selain itu tujuan pokok pernikahan adalah terbentuknya satu susunan keluarga yang bahagia. Jika dirinci lebih jauh tujuan pernikahan memang cukup banyak di antaranya :10 a. Proses mendapatkan keturunan. Allah menciptakan manusia dari laki-laki dan perempuan, kemudian menciptakan pasangan-pasangan hidup mereka dari golongan manusia sendiri, dari sepasang manusia kemudian akan dilahirkan keturunanketurunan yang akan menjadi generasi
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

penerus para orang tua sehingga generasi tersebut akan melahirkan generasi-generasi yang akan membentuk suatu umat Nabi Muhammad SAW

b. Menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah. Manusia yang beriman semakin sadar bahwa diciptakannya suami dan istri dari golongan manusia itu merupakan bukti kemaha kuasaan dan kebesaran Allah. c. Terciptanya keluarga-keluarga yang baik karena Allah. Karena susunan Keluarga yang baik inilah dasar terbentuknya satu masyarakat yang baik. d. Menimbulkan Rasa Cinta Kasih dan Sayang. Rasa cinta, kasih dan sayang akan muncul ketika terbentuknya keluarga, yaitu antara suami istri, antara orang tua dengan anak dan juga antara sesama anggota keluarga yang lain. Hal inidimaksudkan agar dengan pernikahan itu diharapkan manusia dapat saling mencintai sesamanya, sesama anggota keluarga, masyarakat dan lain-lain. Sehingga dengan munculnya rasa cinta, kasih dan sayang tersebut akan terwujud manusia yang bahagia dan merasa aman dan tentram dalam hidupnya, yang pada akhirnya akan terbentuk umat yang diliputi rasa cinta, kasih dan sayang
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

e. Menghormati Sunnah Rasul. Raslullah SAW memerintahkan umatnya untuk menikahi wanita, karena beliau membenci orang-orang yang berjanji akan berpuasa setiap hari, akan beribadah setiap malam dan tidak akan pernah menikah lantaran ingin membuktikan bahwa ibadah mereka bisa melebihi Rasulullah SAW, dengan alasan seperti itu Nabi Muhammad menghampiri mereka dan memerintahkan mereka untuk menikah, sebagimana haditsnya:
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Menurut Abdurrahman Ghazali dalam bukunya fiqih munakahat mengemukakan bahwa tujuan perkawinan menurut agama Islam ialah untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia.11 Prof. Dr. Andi Hakim Nasution dkk mengemukakan bahwa : .tujuan perkawinan ialah untuk membangun rumah tangga yang bahagia, harmonis, tentram, dan sakinah.12 d. Usia ideal untuk menikah Di Indonesia ternyata masih banyak terjadi perkawinan di bawah umur. Itu semua terjadi karena pengaruh lingkungan atau karena didikan orang tua sejak kecil yang di tanamkan pada anak-anak mereka hingga masa dewasa. Kebiasaan yang masih sering terjadi seperti itu memang tidak buruk. Namun di samping ada segi positifnya, juga ada segi negatifnya. Para psikolog mengkhawatirkan perkawinan yang terjadi di bawah umur akan menemui batu sandungan karena sangat bergantung pada keadaan jiwa seseorang. Hal itu senada yang diungkapkan oleh para dokter, bahwa sebelum melangsungkan pernikahan hendaknya calon suami istri benar-benar berpikir secara jernih dan matang terutama kesiapan jasmaninya. Karena itu sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mempersiapkan anak-anak mereka sebaik mungkin dengan memberikan pendidikan yang memadai. Kepada mereka
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

hendaknya ditekankan bahwa alangkah baiknya melangsungkan pernikahan setelah


11 Abdurrahman 12 Andi

Ghazali, Fiqih Munakahat,(Jakarta: Prenada Media, 2003) h. 22

Hakim Nasution, et.al, Membina Keluarga Bahagia, (Jakarta: PT.Pustaka Antara, 1996),

cet.4,h.28

20 mencapai usia kedewasaan. Sebab cara berpikir seseorang sangat dipengaruhi oleh tingkatan umur, semakin matang umurnya semakin matang pula cara berpikirnya.13 Menurut Diane E. Papalia dan Sally Wendkos dalam bukunya Human Development 1995, mengemukakan bahwa usia terbaik untuk melakukan pernikahan bagi perempuan adalah 19 sampai dengan 25 tahun, sedangkan untuk laki-laki usia 20 sampai 25 tahun diharapkan sudah menikah. Karena ini adalah usia terbaik untuk menikah baik untuk memulai kehidupan rumah tangga maupun untuk mengasuh anak pertama.14 Dalam kompilasi hukum Islam pasal 15 telah di sebutkan bahwa untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga, perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang telah di tetapkan dalam pasal 7 undang-undang no.1 tahun 1974 yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon istri sekurangkurangnya berumur 16 tahun. Sementara menurut Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, dalam usia kurang dari 21 tahun
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

seorang anak, jika mau menikah harus seizin orang tua, dan KUA (Kantor Urusan Agama) tidak akan menikahkan mereka sebelum ada izin dari orang tua.15 Suatu pernikahan tanpa seizin orang tua, dimana mereka atau salah satu dari mereka berusia kurang dari 21 tahun, maka pernikahannya tidak sah. Kecuali mereka telah mendapat izin dari pengadilan berupa dispensasi pengadilan yang mereka ajukan sendiri ke pengadilan yang mewilayahi tempat
13 Syaikh

Abdul Aziz bin Abdurrahman al-Musna, Perkawinan dan Masalahnya, (Penerbit: Pustaka

al-Kautsar), cet 2, h. 28-30


14 M.

Fauzil Adhim, Indahnya Pernikahan Dini, (Jakarta: PT. Gema Insani, 2002), cet 1, h.38 Wirawan Sarwono, Persiapan Menuju Pernikahan Yang Lestari, (Jakarta: Pustaka Antara,

15 Sarlito

1996), Cet. ke-4, h.107

21 tinggal mereka, sehingga dengan adanya izin dari pengadilan itu KUA dapat menikahkan mereka. Bagi seorang wanita yang tidak direstui/dizinkan maka sebagai walinya adalah wali hakim. Dispensasi dari pengadilan itu adalah sebagai pengganti izin dari orang tua, dimana

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

orang tua atau wali yang disebut dalam pasal 6 ayat 3,4, dan 5 enggan menikahkan mereka. Secara hukum pernikahan mereka sah, sebab semua rukun dan syarat telah terpenuhi. Dalam pernikahan, usia dan kedewasaan memang menjadi hal yang harus diperhatikan bagi para pria dan wanita yang ingin melangsungkan pernikahan. Karena bila kita melihat fenomena yang ada, pada orang yang dewasa ketika berumah tangga dipandang akan dapat mengendaliakn emosi dan kemarahan yang sewaktu-waktu akan muncul dalam keluarga. Ini dimungkinkan karena kualitas akal dan mentalnya sudah relative stabil sehingga dapat mengontrol diri sendiri maupun dengan pasangan dan lingkungan sekitar. Kedewasaan dalam bidang fisik-biologis, sosial ekonomi, emosi dan tanggung jawab serta keyakinan agama, ini merupakan modal yang sangat besar dan berarti dalam upaya meraih kebahagiaan.16 Bila diklasifikasikan aspek-aspek yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai ukuran kualitas pribadi, menyebabkan batasan usia nikah tidak dapat dihindari. Setidaknya ada beberapa macam hal yang diharapkan dari pendewasaan usia, seperti: 1. Pendidikan dan keterampilan
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Dalam bidang pendidikan dan keterampilan merupakan aspek yang sangat penting sebagai bekal kemampuan yang harus dimiliki bagi seseorang yang melangsungkan pernikahan. Hal ini sebagai penopang dan sumber memperoleh nafkah untuk memenuhi segala kebutuhan dalam rumah tangga. Dalam proses pendidikan yang ditempuh diharapkan dapat terpancar ilmu pengetahuan sebagai bekal yang tiada tara bila dibandingkan dengan potensi lainnyaw.

16 Drs.

Hasan Basri, Keluarga Sakinah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), h. 6

Jika ia seorang pemuda, ilmu sangat diperlukan karena akan menempati posisi kepala rumah tangga yang akan bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anak. Firman Juga bagi seorang wanita, sekalipun bukan sebagai kepala rumah tangga tetapi akan sangat berpengaruh dalam pembentukan rumah tangga dan dalam mewarnai kepribadian anak. Seorang ibu yang baik dan berilmu akan mampu mengarahan anak-anaknya menjadi anak-anak yang berpribadi luhur dan berakhlak mulia. Karena itu peran seorang ibu amatlah besar yang tidak dapat diabaikan. 2. Psikis dan Biologis Mentalitas yang mantap merupakan satu kekuatan besar dalam memperoleh keutuhan sebuah rumah tangga. Keseimbangan fisik dan psikis yang ada pada setiap individual manusia dapat membuahkan ketahanan dan kejernihan akal sebagai jenis persoalan yang dihadapi. Akal yang potensial baru dapat muncul setelah mengalami berbagai proses dan perkembangan. Aspek biologis merupakan potensi yang sangat dominan terhadap keharmonisan rumah tangga. Oleh karena itu keberadaannya tidak boleh diabaikan begitu saja.

3. Sosial cultural
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Pada sisi ini, seorang individu diharapkan mampu membaca kondisi dilingkungan sekitar dan dapat menyesuaikannya. Hal ini agar tercipta suasana dimana dalam suatu rumah tangga yang dibina diakui keberadaannya oleh masyarakat sekitar sebagai bagian dari anggota masyarakat sehingga keluarga yang dibentuk tidak merasa terisolasi dari pergaulan yang bersifat umum. Secara sosiologis kedewasaan merupakan merupakan sesuatu yang didasari atas perbedaan peran sosial yang ditempati.17 Artinya tingkat perkembangan kedewasaan berbedabeda sesuai dengan tempat dan lingkungannya. Bagi pasangan dalam satu keluarga perlu memahami dan membekali akan pengetahuan ini, agar kelengkapan potensi yang diperkirakan dapat tercukupi. Dari uraian-uraian tadi, dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan pembatasan usia dalam pernikahan ialah:
17 Wiliam J. Goode, Sosiologi Keluarga, (Jakarta: Bina Aksara, 1985), Edisi Pertama, h.20

a. Untuk mendapatkan pasangan yang berkualitas, siap memasuki dan mengarungi bahtera kehidupan berumah tangga. b. Agar didapati pribadi yang mandiri di keluarga yang kuat dan kokoh dalam menghadapi segala problematika keluarga. c. Diharapkan agar didapati keturunan yang baik dan berkepribadian luhur dan mulia. Banyak manfaat dari pernikahan di usia muda, namun demikian manfaat ini hanya bias dirasakan oleh mereka yang sungguh-sungguh ikhlas menikah untuk ibadah di antaranya:18 d. Menyelamatkan diri dari penyimpangan seks
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Mereka yang menyegerakan menikah karena takut terjerumus pada lembah perzinahan sangat agung dalam pandangan Islam. e. Sehat jasmani dan rohani Penyaluran seks yang benar itulah yang menjadi kunci kesehatan jasmani dalam rumah tangga. 3. Lebih cepat memiliki keturunan Diantara tujuan pernikahan adalah untuk memiliki keturunan, nikah di usia muda memungkinkan mempercepat keturunan. Bagi istri memiliki anak dalam rentang waktu usia 2035 tahun adalah saat yang paling baik, sebaliknya mereka yang baru menikah di atas 30 tahun akan memiliki waktu subur yang sempit. 4. Lebih banyak nilai ibadah
18 Abu Al-Ghifari, Pernikahan Dini Dilema Generasi Ekstravaganza, (Bandung:PT. Mujtahid, 2002), cet 1, h.58-64

Rumah tangga lebih banyak memberikan nilai ibadah, karena banyak lahan amaldalam rumah tangga. Bagi suami menghidupi anak istri, memberikan nafkah batin, dan lain sebagainya adalah perbuatan yang sangat mulia bahkan tergolong jihad. Begitu juga istri dalam menyediakan makanan bagi suami, menyambut saat dating kerja, mendidik anak-anak akan mendapatkan pahala yang berlimpah.

5. Lebih cepat dewasa Banyak halangan dan rintangan dalam hidup berumah tangga. Halangan itu bila di renungi memberikan pendidikan mental yang baik. Mereka yang sering di terpa barbagai kesulitan akan mudah memahami hidup, karena itu dengan berumah tangga lebih cepat
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

mendewasakan seseorang dan ini penting artinya bagi kelangsungan hidup berikutnya. Semakin cepat menikah maka akan cepat seseorang mencapai kedewasaan. Namun demikian, secara umum pernikahan di usia muda mengandung beberapa kelemahan dan membahayakan kelestarian sebuah rumah tangga, diantara kelemahannya adalah: 1. Belum memiliki kematangan dalam mengurus keluarga, hingga berpengaruh terhadap melemahnya struktur keluarga muslim. 2. Kemungkinan menghasilkan keturunan yang lemah, baik fisik maupun kecerdasannya. 3. Para wanita usia muda yang belum siap memasuki rumah tangga akan banyak menderita, berkeluh kesah dan belum mampu melaksanakan fungsi dan pernannya sebagai seorang ibu yang baik. 4. Besar kemungkinan rusaknya sebuah struktur keluarga, sehingga menyebabkan terjadinya perceraian. Dalam ajaran Islam tidak ada batasan usia untuk melangsungkan pernikahan. Hal ini bisa
1. dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1].

dianjurkan untuk menikah. Bahkan bila dipahami kata . seorang pemuda yang dipandang sudah layak dan pantas untuk melangsungkan pernikahan. Jadi sudah terkumpul didalamnya akan factor-faktor penunjang terhadap bekualitasnya perkawinan dan aspek-aspeknya seperti fisik, mental dan ekonomi.
10 Anshari

. merupakan sebuah predikat tertentu bagi

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

B. Kehidupan Rumah Tangga 1. Pengertian Rumah Tangga 27 Rumah tangga adalah suatu kumpulan dari masyarakat terkecil, yang terdiri dari pasangan suami istri, anak-anak, mertua dan sebagainya.19 Terciptanya suatu rumah tangga karena adanya perkawinan yang dilakukan oleh calon suami istri di mana keduanya ingin hidup dalam satu atap dan satu cita-cita dengan memegang peranan dan tanggung jawab menurut posisi dan fitrahnya masing-masing. Dengan demikian suatu rumah tangga bisa menjadi bahagia, tinggal tergantung dari pelakunya, yaitu suami dan istri. Kalau keduanya bisa memegang peranan, niscaya rumah tangga itu akan langgeng dan bahagia. Sebaliknya jika suami istri di dalam rumah tangganya sama-sama tidak bertanggung jawab dan mengingkari peranannya, pastilah rumah tangga itu akan berantakan. Hancurnya suatu rumah tangga akan menyebabkan tidak tenangnya suami istri serta anak-anak. Ini berarti pernikahan yang dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh ketenangan hidup tidak berhasil. Rumah tangga yang bahagia adalah keluarga yang tenang dan tentram, rukun dan damai. Dalam keluarga itu terjalin hubungan yang mesra dan harmonis di antara semua
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

anggota keluarga dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. 2. Pernikahan Sebagai Awal Kehidupan Rumah Tangga Ketika sepasang calon suami istri beritikad memadu kasih dan berniat membangun bahtera rumah tangga, maka satu hal yang perlu di ingat adalah pernikahan merupakan gerbang suci untuk memasuki dunia lain, dimana segala bentuk kebahagiaan duniawi dan kenikmatan surgawi di dunia akan tersingkapkan kepada mereka secara sah dan beradab.
19

Drs. H. Sidi Nazar Bakri, Kunci Keutuhan Rumah Tangga,

(Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1993), cet-1, h. 26


28 Ketentraman dalam rumah tangga datang dari kedua mempelai yang saleh dan shaleha, memahami apa yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai suami istri, putra-putri yang taat pada ajaran agama dan norma-norma sosial, serta sikap-sikap sosial yang baik seperti sikap saling menghargai, saling mengasihi, menyayangi, rela berkorban dan tidak egois di kalangan keluarga. Dan keluarga yang bahagia tidak mungkin dicapai kecuali melalui lembaga perkawinan atau dalam rumah tangga.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Pernikahan merupakan tangga untuk menaiki kesempurnaan kualitas spiritual. Pernikahan adalah sarana untuk menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah tanpa diganggu oleh pikiran-pikiran atau fantasi-fantasi yang mengeruhkan hati, mengotori jiwa, dan membuyarkan pikiran. Tidak heran jika kita mendengar penuturan orang yang telah menikah yang menyatakan kehidupan mereka justru lebih tentram, tenang dan tidak di ganggu oleh pikiran-pikiran kotor setelah menikah. Dampak lain mereka terhindar dari penyakit mematikan dan memalukan akibat hubungan seksual dengan pasangan illegal. Batin mereka juga akan terbebaskan dari himpitan rasa bersalah karena melakukan seks ekstra marital. Perkawinan yang berkualitas adalah perkawinan yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikit : 1. Perkawinan didasari dengan niat ibadah yang pilihannya sesuai dengan petunjuk Allah dan sunnah Rasul-Nya. 2. Perkawinan yang dilaksanakan oleh orang yang benar-benar telah berkemampuan yaitu: 29 a. Kemampuan fisik atau jasmani yaitu orang yang telah benar-benar dewasa dan matang untuk melakukan tugas reproduksi.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

b. Kemampuan mental, yaitu telah mencapai kedewasaan rohani c. Kemampuan melaksanakan prinsip-prinsip kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat. d. Kemampuan untuk menjaga dan mengupayakan kesehatan anggota keluarga. 3. Peran Suami Istri Dalam Mengurus Rumah Tangga Islam telah menetapkan ketentuan yang seimbang antara hak dan kewajiban, bukan hanya dalam rumah tangga, tetapi juga dalam setiap permasalahan dan ketentuan yang ada. Hanya Islamlah yang mampu mengatur hukum yang berkenaan dengan umatnya pada penempatan masalah secara adil dan proporsional, tidak ditambah atau dikurangi. Karena setiap hamba memiliki hak dan kewajiban yang sama.20 Lebih lanjut Allah SWT mengibaratkan pasangan suami istri itu laksana pakaian sesuai dengan firman-Nya salam surat Al-Baqarah ayat 187:

20

Abdul Hamid Khisyik, Bimbingan Islam Untuk Mencapai

Keluarga Sakinah, (Bandung: Mizan, 1997), Cet ke-IV, h. 120


30 menjadi symbol kebanggaan disamping sebagai alat penutup aurat. Tentu kebanggaan

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

seorang suami terhadap istrinya atau kebanggaan istri terhadap suaminya, boleh jadi karena kecantikan atau ketampanannya, karena prestasi-prestasi yang diraih oleh masingmasing, atau juga karena status sosial, namun yang paling penting dari semua itu adalah kebanggaan karena kepribadian suami atau istri. Secara ringkas kewajiban seorang suami terhadap istri, diantaranya:21 1. Memperlakukan istri dengan cara yang baik dan bijaksana, yaitu dengan menghargai serta menghormati hak-hak istrinya. Singkatnya jangan memperlakukan istri laksana budak belian, jangan bersikap kasar tanpa memperhatikan dan menghargai hak-haknya sebagai istri, saling menghormati adalah kunci kebahagiaan dalam rumah tangga. 2. Jangan menyakiti istri dan mensia-siakannya, baik jasmani maupun rohaninya. Mensia-siakan istri atau suami berarti melalaikan kewajiban yang dipikulkan oleh Allah SWT kepadanya, tentu akan berdosa. 3. Memberi nafkah sesuai dengan kemampuan yang ada secara tulus ikhlas 4. Membantu istri dalam kesukaran atau kesulitan, sewaktu-waktu yang sangat diperlukan. Yaitu turun tangan untuk membantunya dan sikap ini adalah suatu hal yang wajar. 5. Mengajari istri dan anak-anak tentang hukum-hukum Agama dan

memperingatkannya,
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

agar menjadi manusia-manusia yang baik serta mengamalkan ajaran Agama dalam kehidupan sehari-hari.
21

Drs. H. Sidi Nazar Bakry, Kunci Keutukan Rumah Tangga,

(Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1993), Cet-1, h. 38-42


31 Pelaksanaan kewajiban antara suami dan istri harus seimbang dan sejalan, kewajiban dilaksanakan dan yang hak diterima. Kewajiban istri terhadap suami antara lain adalah sebagai berikut: 1. Setia dan patuh kepada suami, baik di waktu senang maupun di waktu susah, dalam keadaan suka dan maupun duka. 2. Berwajah cerah dan simpatik (setia). Hindarilah bermuram durja, bermuka masam dan sering menggerutu atau suka cemberut, pasangalah muka manis. 3. Jangan bepergian tanpa izin suami. Bila ada suatu keperluan untuk keluar rumah, mintalah izin kepada suami terlebih dahulu, hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan fitnah-fitnah dan lain-lainnya. 4. Memegang rahasia suami dan rumah tangganya. Istri yang baik tidak akan mau membuka rahasia suami dan rumah tangganya kepada orang lain, karena hal itu memang dilarang oleh ajaran Agama. 5. Mengurus rumah dan mendidik anak-anak menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur. Mendidik dan mengurus rumah tangga adalah pekerjaan mulia, dan ini sudah
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

menjadi fitrah bagi seorang wantia, namun pada hakikatnya adalah kewajiban bersama antara suami istri. Islam menyuruh saling tolong menolong antara suami istri. Sang suami agar membantu istrinya dalam mengatur dan merawat rumah tangga, sedangkan sang istri membantu suaminya dalam pekerjaannnya. Dan inilah yang disebut dengan saling tolong menolong sebagimana di tuntut oleh agama kita. 32 Dan alangkah baiknya bila dalam dalam bergaul senantiasa terjalin rasa cinta, kasih, sayang dan kemesraan. Karena dalam pandangan islam rumah tangga bukan hanya sekedar merupakan suatu badan ekonomi ataupun badan pengayoman dalam arti harfiah semata. Akan tetapi rumah tangga adalah suatu sistem untuk mempersiapkan cuaca yang cocok bagi kehidupan manusia yang menyenangkan, masing-masing suami istri terpuasi kebuthankebutuhan jiwanya untuk dicintai, di lindungi, di hargai dan mendapat kemantapan pribadi, juga untuk mengungkapkan perasaan-perasaan tersebut, selain kebutuhan kepada keturunan yang shaleh dan kebutuhan kepada kasih sayang di samping terpuasinya kebutuhankebutuhan
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

material. Meskipun Islam telah membuat keseimbangan antara hak-hak dan kewajiban-kewajiban suami istri, namun ia tetap menjadikan laki-laki sebagai pemimpin. Namun bukan berarti wanita tidak punya tanggung jawab. Wanita juga mempunyai tanggung jawab, ia bersama suaminya bertanggung jawab dan memikul beban rumah tangga. Adapun mengenai mengapa islam menyerahkan kepemimpinan kepada lakilaki, hal itu karena laki-lakilah yang sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat, sebab Allah elah memberinya kekuatan jasmani, pikiran yang bijak dan tidak cenderung kepada perasaan, di samping kesanggupannya tantang nafkah dan pemeliharaan keluarga secara keseluruhan.22 Dalam kompilasi hukum Islam pasal 77 diterangkan bahwa: Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah yang menjadi sendi dasar dan susunan mamsyarakat.
22

Tuntunan Keluarga Sakinah Bagi Usia Nikah, (Jakarta:

Departemen Agama RI, 2004), h.205-206


33 Suami istri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara anak-anak mereka, baik
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

mengenai pertumbuhan jasmani, rohani maupun kecerdasan dan pendidikan agamannya. Istri yang baik adalah perhiasaan paling berharga dalam kehidupan berumah tangga, tidak ada kekayaan lain di dunia ini melebihi istri yang shaleha, taat pada perintah Allah dan Rasulnya, bisa menjadi sumber inspirasi bagi suami dan anak-anak, serta tidak menyusahkan suami atau membuatnya marah baik dengan perkataan maupun perbuatan. Karena rumah tangga yang sakinah dan penuh cinta kasih harus dibangun oleh dua orang yaitu suami dan istri. Peran istri sangat besar, demikian juga peran suami. Istri tidak boleh meresahkan suami dengan kata-kata ataupun perbuatan, demikian halnya dengan suami tidak boleh bertindak kasar kepada istri. Dengan demikian sebagai suami istri harus saling bahu membahu supaya terciptanya rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.23 Begitupun suami, seorang suami yang beriman harus berkeinginan dan berupaya untuk menjadikan dirinya sebagai .suami idaman.. Tidak ada ruginya bagi seorang suami

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

berusaha untuk menjadi suami idaman, hal ini justru akan mendatangkan keuntungankeuntungan. Karena di satu sisi ia memberikan kebahagiaan kepada istri, yang berarti ia juga akan diberikan layanan yang baik oleh istri, di sisi lain ia juga sedang mempraktikkan amal shaleh di dalam kehidupannya, yang berarti ia akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah SWT, juga sebagai seorang muslim, maka apa yang dilakukannya itu akan menjadi citra positif bagi orang lain. Demikianlah seharusnya seorang suami berprilaku, sehingga akan dapat menjadi contoh di dalam kehidupan, termasuk di dalam urusan berumah tangga.
23

Mustofa Muchdhor, Buku Pintar Berumah Tangga, (Penerbit:

Kalam Pustaka, 2005), cet 1, h.131151


34 4. Kriteria Rumah Tangga yang Harmonis Setiap orang tentu menginginkan mempunyai rumah tangga yang bahagia, harmonis, tenteram, sakinah. Rumah tangga yang diliputi oleh suasana saling mencintai (mawaddah)
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

dan kasih mengasihi (rahmah). Rumah tangga yang demikian bukan saja menciptakan suasana yang mesra di kalangan keluarga, tapi juga memancarkan kemesraan itu kepada orang lain, terutama kepada tetangga dan lingkungan. Untuk mewujudkan rumah tangga atau keluarga yang diidamkan oleh suami istri, Islam memberikan beberapa tuntunan yang perlu diperhatikan secara mendalam dan diamalkan dengan sebaik-baiknya, diantaranya : Pertama: Pada dasarnya suami dan istri mempunyai derajat dan martabat yang sama sebagai manusia, hanya saja dalam kehidupan rumah tangga, keduanya mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berbeda sesuai dengan kodrat masing-masing. Kedua: dalam kehidupan rumah tangga, hubungan suami istri hendaknya saling melengkapi dan saling mengasihi. Suami dapat membimbing istri secara arif serta bijak dan istri dapat membantu suami dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Al-Qur.an mengumpamakan suami sebagai pakaian bagi istrinya dan istri sebagai pakaian bagi suaminya, yang berarti keduanya harus saling menutupi kekurangan dan aibnya satu sama lain.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Ketiga: Suami sebagai kepala rumah tangga hendaknya mampu menciptakan suasana pergaulan dalam rumah tangganya dengan baik, yang dijalin oleh kemesraan dan kasih sayang. Keempat: Yang sangat penting ialah menciptakan suasana keagamaan dalam rumah tangga. Suasana keagamaan ini akan menjadikan rumah tangga yang penuh kerukunan dan kedamaian, karena didasari oleh rasa berserah diri kepada Allah. Nabi Muhammad SAW menggambarkan bahwa rumah tangga yang diwarnai oleh suasana keagamaan ibarat orang hidup, sedangkan rumah tangga yang sunyi dan kering dari suasana keagamaan ibarat orang mati. C. Kerangka Berpikir Berdasarkan uraian di atas maka penulis mengemukakan kerangka berpikir yang digunakan dalam skripsi ini yaitu: dalam kehidupan berumah tangga sepasang suami istri di tuntut untuk menjadikan rumahnya sebagai surga, dan untuk mewujudkan semua itu, suami istri membutuhkan kehadiran agama di dalam rumah tangganya. Karena dengan kehadiran agama maka akan membuat pasangan suami istri hidup tenang dan damai, apalagi bagi
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

pasangan usia muda, justru kehadiran agama sangat dibutuhkan, karena agama merupakan perekat dalam rumah tangga, dan dalam proses mendidik anak factor agama sangat di butuhkan sekali, karena itu pendidikan agama hendaknya di tanamkan sejak anak masih kecil. 36 Dalam hal ini peran orang tua sangat di butuhkan sekali, apalagi bagi pasangan muda yang sudah mempunyai anak di usia muda, maka kehadiran agama sangat diperlukan. Karena anak yang dibekali pendidikan agama oleh orang tuanya maka anak tersebut akan mentaati norma-norma yang berlaku di tempat ia tinggal. Dan di sinilah sangat ditekankan sekali kepada pasangan usia muda bahwa sebelum mereka mengarungi bahtera rumah tangga, maka sebaiknya harus terlebih dahulu membekali diri dengan ilmu-ilmu agama maupun ilmu berumah tangga, agar dalam mengarungi kehidupan rumah tangga nanti, kedua pasangan suami istri tersebut selalu mendapatkan rahmat dan barokah dari Allah SWT. 37 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Variabel Penelitian
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Kata .Variabel. berasal dari dari Bahasa Inggris .variable. yang berarti .ubahan., .faktor tidak tetap, atau .gejala yang dapat berubah..1 Sutrisno Hadi mendefinisikan variabel sebagai gejala yang bervariasi. Misalnya jenis kelamin, karena jenis kelamin mempunyai variasi seperti laki-laki, perempuan dan berat badan.2 Variabel adalah obyek penelitian, atau yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.3 Adapun penelitian ini meliputi dua variabel, yaitu: 1. Variabel bebas (Independent variabel) yaitu pernikahan di usia muda 2. Variabel terikat (Dependent variabel) yaitu kehidupan berumah tangga Definisi operasional meliputi : 1. Pernikahan yang dilakukan oleh wanita berada di bawah usia minimal. 2. Faktor-faktor atau hal-hal yang mendorong terjadinya pernikahan dini ditinjau dari segi: pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan orang tua, dan penghasilan orang tua, jumlah anggota keluarga, kebutuhan keluarga, pendidikan akhir
1

Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada, 2000), cet.X, h.33


2

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan

Praktek, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), cet XI, h.94


10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Ibid., h.99

38 responden, sikap orang tua terhadap pendidikan anak wanita dan kebiasaan lingkungan masyarakat RW 09, Desa Sasakpanjang. B. Waktu dan Tempat Penelitian Untuk mendapatkan informasai yang dibutuhkan, penulis melakukan penilitian ini mulai dari bulan Maret . Mei 2007. Dan bertempat di RW 09 Desa Sasakpanjang Kecamatan Tajurhalang Kabupaten Bogor. C. Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Secara sederhana, populasi dapat di artikan sebagai berikut: 1. Populasi adalah kesluruhan subjek penelitian 2. Populasi adalah kumpulan dari individu dengan kualitas serta ciri-ciri yang di tetapkan 3. Sekumpulan objek yang lengkap dan jelas Dalam penelitian ini populasinya adala ibu-ibu yang menikah di usia muda dan yang menikah dalam usia dewasa, dan telah menjalani perkawinan yang lebih dari dua tahun dan telah mempunyai anak, jumlah meraka tiga puluh orang. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Karena populasinya berjumlah tiga puluh orang maka penulis

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

mengambil sampel seluruhnya, dengan perincian 15 ibu-ibu yang menikah di usia muda dan 15 yang menikah di usia dewasa. D. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang relevan dengan masalah yang akan di bahas, penulis melakukan penelitian dengan cara sebagai berikut: 39 1. Observasi yaitu pengumpulan data dengan jalan mengadakan pengamatan di lapangan secara langsung kepada ibu-ibu di RW 09 Desa Sasakpanjang dan mencari data yang sebenarnya. 2. Wawancara yaitu pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab kepada tokoh masyarakat di RW 09 Desa Sasakpanjang mengenai masalah yang diteliti. 3. Angket, yaitu pengumpulan data dengan cara menggunakan pertanyaan tertulis kepada ibu-ibu yang terpilih sebagai sampel penelitian di RW 09 Desa Sasakpanjang yang berjumlah 30 orang. E. Teknik Pengolahan Dan Analisa Data Setelah semua tahap persiapan selesai, tahap berikutnya yang dilakukan adalah mengolah data, agar data yang sudah terkumpul dapat di analisa. Sebelum mengolah data, perlu ditentukan aplikasi yang ingin di gunakan. Dalam analisa data yang menggunakan statistic, ada dua cara yang biasa dilakukan peneliti:
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

1. Menampilkan berdasarkan visualisasi dalam bentuk diagram disertai dengan bentuk tabulasi frekuensi. 2. Menampilkan berdasarkan bentuk lain dan hanya menampilkan tabel tersendiri saja.4 Kedua tekhnik penampilan data tersebut digunakan dalam penelitian ini. Setelah data-data tersebut berhasil dikumpulkan, sebelum data tersebut dianalisis penulis akan mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
4

M. Budiaf, Pengorganisasian, Pengolahan dan Analisa Data,

(Penerbit: IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1993), h.3-4


40 1. Persiapan, yaitu memilih data sedemikian rupa sehingga hanya data yang terpakai saja yang tertinggal. Langkah persiapan bermaksud merapihkan data agar bersih dan tinggal mengadakan pengolahan lanjutan atau menganalisis. 2. Tabulasi, yaitu memberikan skor (scoring) terhadap item-item yang perlu diber skor, misalnya tes, angket bentuk pilihan ganda, dan sebagainya. 3. Penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian, yaitu pengolahan data yang diperoleh dengan menggunakan rumus-rumus atau aturan-aturan yang ada, sesuai dengan pendekatan penelitian atau desain yang diambil.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

4. Menganalisa data, setelah data terkumpul dan ditabelkan, langkah selanjutnya penulis menganalisa, dimana di dalam penulisan skripsi ini data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan rumus sebagai berikut: P= N F 100 % Keterangan : P = Angka Persentase F = Frekuensi N = Banyaknya responden Selain itu, dalam penelitian ini penulis juga menggunakan analisa data dengan teknik analisa komparasional, yaitu salah satu teknik kuantitatif atau analisa statistic yang dapat dipergunakan untuk menguji hipotesis mengenai ada tidaknya perbedaan yang signifikan diantara variabel yang sedang diteliti.5
5

Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada, 2000), cet.X, h.261


41 Selanjutnya karena dalam penelitian ini hanya menggunakan dua variabel saja, maka
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

digunakan teknik analisa komparasional bivariat, yaitu dengan menggunakan rumus .t. test, adalah salah satu tes statistic yang dipergunakan untuk menguji kebenaran atau kepalsuan hipotesa nihil yang menyatakan bahwa diantara dua buah mean sampel yang diambil secara random dari populasi yang sama, tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Adapun rumus yang dipergunakan adalah:
12 12 MM o

SE

MM t

Keterangan: M = Mean dan SE = Standar Error Penelitian ini menggunakan dua sampel kecil yang satu sama lain tidak ada hubungannya maka dipergunakan rumus ini yakni untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan antara ibu-ibu yang menikah dalam usia muda dan yang menikah dalam usia
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

dewasa dalam kehidupan berumah tangga. Dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Mencari Mean Variabel I ( = Variabel X ) 2. Mencari Mean Variabel II (= Variabel Y) 3. Mencari Deviasi Standar Sekor Variabel X 4. Mencari Deviasi Standar Sekor Variabel Y 5. Mencari Standar Error Mean Variabel X 6. Mencari Standar Error Mean Variabel Y 7. Mencari Standar Error Perbedaan antara Mean Variabel X dan Mean Variabel Y 42 8. Mencari t dengan rumus yang telah disebutkan di muka 9. Memberikan interpretasi terhadap t. 10. Menguji kebenaran ke dua hipotesa, dengan membandingkan besarnya t hasil perhitungan (to ) dan t yang tercantum pada tabel Nilai .t., dengan terlebih dahulu menetapkan degrees of freedomnya atau derajat kebebasannya, dengan rumus: Df atau db = ( N1 + N2 ) . 2 Dengan diperolehnya df atau db maka dapat dicari harga tt pada taraf signifikansi 5% atau 1%. Jika to sama besar atau lebih besar daripada tt maka Ho ditolak,berarti ada perbedaan mean yang signifikan di antara kedua variabel. Jika to lebih kecil daripada tt maka Ho diterima; berarti tidak terdapat perbedaan mean yang signifikan antara variabel I dan
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

variabel II. 43 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Rw. 09 Desa Sasakpanjang 1. Deskripsi Lokasi Penelitian Lingkungan Rw 09 merupakan salah satu dari sepuluh rukun warga yang ada di wilayah desa Sasakpanjang Kecamatan Tajurhalang Kabupaten Bogor. Adapun luas wilayah Rw 09 90 Ha. Mengenai batas wilayah Rw 09, dapat di lihat dari tabel di bawah ini : Tabel 1 Batas Wilayah Rw 09 Letak Rw 09 Perbatasan Rw 09 Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur Berbatasan dengan tugu kembar Berbatasan dengan Kp. Baru Berbatasan dengan Sasakpanjang Tiger Berbatasan dengan SD Impres
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Berdasarkan data yang diperoleh dari salah seorang staf Desa Sasakpanjang bagian kependudukan yaitu Bapak Anda Suhanda, bahwa penduduk Rw 09 berjumlah 641 orang, terdiri dari 275 laki-laki dan 366 perempuan. Dengan jumlah KK (Kepala Keluarga) sebanyak 150 KK. Dengan rincian sebagai berikut: Tabel 2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin 44 No Jenis Kelamin Jumlah 1 2 Laki-laki Wanita 275 366 Jumlah 641 Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa jumlah penduduk Rw 09, lebih banyak kaum wanita dibandingkan dengan laki-laki. Tabel 3 Klasifikasi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian No Mata Pencaharian Jumlah 1
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

2 3 4 5 6 7 Pegawai Negeri Sipil Wiraswasta Petani Tukang Pensiunan Buruh Lain-lain 4 39 205 7 4 20 111 Jumlah 390 Dari tabel 3 tentang klasifikasi penduduk berdasarkan mata pencaharian yang
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

berprofesi sebagai pegawai negeri sipil hanya berjumlah 4 orang , wiraswasta 39 orang, petani 205 orang, tukang 7 orang, pensiunan 4 orang, buruh 20 orang dan lain-lain berjumlah 111 orang (selain dari keenam jenis mata pencaharian tadi), misalnya seperti pedagang. Dari data tersebut kita tahu, bahwa mata pencaharian penduduk Rw 09 mayoritas berprofesi sebagai petani. Tabel 4 Klasifikasi Penduduk Berdasarkan Pendidikan 45 No Jenis Pendidikan Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Buta Huruf Tidak Tamat SD Tamat SD/ Sederajat Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat Akademi (D1 . D3) Sarjana S1 Sarjana S2 Sarjana S3 Lain-lain 70 200 120 60 75 3 4 Jumlah 532 Dari tabel 4 mengenai klasifikasi penduduk berdasarkan perndidikan, buta huruf
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

berjumlah 70 orang, tidak tamat SD 200 orang, tamat SD/sederajat 120 orang, tamat SLTP 60 orang, tamat SLTA 75 orang, tamat akademi (D1 . D3) 3 orang, sarjana S1 4 orang, sarjana S2 tidak ada, sarjana S3 tidak ada, lain-lain tidak ada. Dari data di atas jelas menunjukan bahwa tingkat pendidikan di Desa Sasakpanjang Rw 09 masih sangat rendah dan hanya sebagian kecil yang berpendidikan tinggi. Tabel 5 Sarana Pendidikan di Rw 09 Desa Sasakpanjang No Sarana Pendidikan Jumlah 1 2 TPA SD 2 buah 1 buah Jumlah 3 buah Dari tabel 5 di atas mengenai sarana pendidikan di Rw 09 Desa Sasakpanjang mempunyai 2 buah TPA dan 1 buah sekolah dasar. Untuk ukuran di lingkungan Rw sarana 46 ini mungkin cukup memadai, hanya tinggal kemauan para orang tua untuk memasukan
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

mereka ke dalam lembaga pendidikan tersebut. Tabel 6 Sarana Keagamaan di Rw 09 Desa Sasakpanjang No Sarana Keagamaan Jumlah 1 2 3 Masjid Majlis Ta.lim Musholla 1 buah 2 buah 2 buah Jumlah 5 buah Dari tabel 6 di atas sarana tentang sarana keagamaan yang ada di Rw 09 Desa Sasakpanjang terdiri dari 1 buah masjid, 2 buah majlis ta.lim, dan 2 buah musholla. Jadi, boleh dikatakan sarana keagamaan yang ada di lingkungan Rw 09 Desa Sasakpanjang sudah cukup baik. 2. Kondisi Sosiologis Lokasi Penelitian Berikut ini akan dikemukakan hasil penelitian mengenai kondisi sosiografis
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

penduduk meliputi bidang keagamaan, pendidikan, kesehatan, olah raga, kesenian, dan kebudayaan. a. Keagamaan Islam merupakan agama mayoritas yang dianut dan diyakini kebenarannya oleh masyarakat Rw 09 Desa Sasakpanjang. Secara kuantitas semuanya beragama Islam, karena itu tidak mengherankan apabila pada hari-hari besar Islam diadakan peringantan dengan begitu meriah, karena didukung oleh semua pihak seperti peringatan Maulid Nabi, Isra Mi.raj, Muharraman serta peringantan hari-hari besar Islam lainnya. 47 Adapun kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh kaum ibu maupun kaum bapak dilaksanakan setiap satu minggu sekali, yaitu kegiatan pengajian. Di Rw ini terdapat lima buah sarana ibadah, yang terdiri dari satu buah masjid, dua buah majlis ta.lim, dan dua buah musholla, dengan rincian sebagai berikut: 1. Di Rt 01 terdapat satu buah musholla dan satu buah majlis ta.lim, yang digunakan oleh kaum bapak dan kaum ibu untuk shalat berjama.ah dan pengajian mingguan. 2. Di Rt 02 terdapat satu buah musholla, yang digunakan oleh kaum bapak untuk shalat berjama.ah dan pengajian mingguan yaitu yang dilaksanakan pada setiap malam
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

selasa. Sedangkan untuk kaum ibu pengajian dilaksanakan setiap hari jum.at. 3. Di Rt 03 terdapat satu buah masjid dan satu buah majlis ta.lim, masjid digunakan oleh masyarakat sekitar untuk pengajian setiap malam sabtu. Sedangkan majlis ta.lim digunakan oleh kaum ibu untuk pengajian setiap hari minggu. Untuk pengajian anak-anak dikelola dan dibimbing oleh para ustadz di musholla dan di rumah. Berikut beberapa tempat yang digunakan anak-anak mengaji yaitu: 1. Musholla di lingkungan Rt 02 dilaksanakan setiap malam kecuali malam jum.at 2. Rumah Ustadz Abu Bakar dilaksanakan setiap malam kecuali malam minggu 3. Musholla di lingkungan Rt 01 dilaksanakan setiap malam Dengan adanya pengajian-pengajian yang dilaksanakan di Rw 09 ini, maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas/kegiatan keagamaan di lingkungan Rw 09 berjalan cukup baik. b. Pendidikan Pada umumnya tingkat pendidikan di lingkungan Rw 09 masih sangat rendah, banyak para orang tua mayoritas berpendidikan SD, bahkan banyak pula diantara mereka 48 yang masih buta huruf. Begitupun dengan generasi dibelakang mereka kebanyakan berpendidikan SD, sebagian lagi SMP dan SMA, dan hanya sebagian kecil dari mereka yang berpendidikan sampai ke perguruan tinggi.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pendidikan anaknya masih sangat kurang. Ini dapat dilihat dari banyaknya generasi yang hanya berpendidikan SD dan hanya sebagian kecil saja yang melanjutkan sampai ke jenjang perguruan tinggi, hal ini juga disebabkan karena factor ekonomi, karena secara mayoritas penduduk Rw 09 ini juga termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah. Dengan melihat perkembangan pendidikan yang semakin maju dan membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, sudah barang tentu merupakan kewajiban semua pihak untuk memikirkan dan mencari solusi yang tepat untuk meningkatkan pendidikan masyarakat, dalam hal ini tentu saja peran orang tua begitu dominant dalam membekali putra-putrinya dengan pendidikan yang memadai, sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin modern. c. Kesehatan Pelayanan dibidang kesehatan masyarakat Rw 09 cukup baik, karena terdapat Puskesmas dan Posyandu. Yang siap melayani masyarakat dengan baik dan dengan biaya
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

yang relatif murah. d. Olah raga dan Kesenian Dalam bidang olah raga, minat masyarakat Rw ini cukup tinggi, khususnya pada cabang bola volley, karena sarana yang ada juga cukup memadai, yaitu terdapat lapangan sepak bola, dua buah lapangan volly dan satu buah lapangan bulu tangkis. Setiap minggu 49 sore sering diadakan pertandingan bola volly dan tidak jarang pula dilaksanakan pertandingan persahabatan dalam olah raga sepak bola seperti dengan tim sepak bola dari luar daerah. Dalam bidang kesenian di Rw 09 Desa Sasakpanjang terdapat grup qasidah yang dimainkan oleh ibu-ibu pengajian. Kesenian ini juga sering dipentaskan dalam acaraacara tertentu seperti parade qasidah, acara perkawinan, serta hari-hari besar Islam. B. Analisa Data Data penelitian ini diperoleh dari 30 responden ibu-ibu muda yang ada di Rw09. Mengenai factor-faktor yang menyebabkan terjadinya pernikahan usia muda. Data angket yang terkumpul penulis olah ke dalam tabel-tabel sebagai berikut: Tabel 1
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Pendidikan Orang tua No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Tidak sekolah SD tidak tamat SLTP tidak tamat SLTP tamat 7 19 4 23,33% 63,33% 13,33% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut, mengenai tingkat pendidikan orang tua mereka, responden menjawab sebanyak 23,33% orang tua mereka tidak sekolah, kemudian yang menjawab SD
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

tidak tamat sebanyak 63,33% dan yang menjawab SLTP tidak tamat sebanyak 13,33%. Dari data ini terlihat sebanyak 63,33% responden menjawab orang tua mereka tidak tamat SD. 50 Hal ini menunjukan bahwa tingkat pendidikan para orang tua responden masih rendah sebagian 63,33% yang menjawab tidak tamat SD. Tabel 2 Pekerjaan Orang tua No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Wiraswasta Guru Petani Pegawai Negeri 14 16 10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

14,66% 53,33% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut mengenai pekerjaan para orang tua responden, menyatakan bahwa sebanyak 14,66% bekerja sebagai wiraswasta, dan 53,33% berprofesi sebagai petani. Data ini menunjukan bahwa sebagian besar penduduk Rw09 berprofesi sebagai petani. Tabel 3 Penghasilan Orang tua No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Di bawah 500.000 Rp. 500.000 - <Rp.700.000 Rp. 700.000 - <Rp.1000.000 Rp. Lebih dari 1 juta 7 18
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

2 23,33% 60% 6,66% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut di atas 23,33% responden menyatakan bahwa penghasilan orang tuanya di bawah 500.000, 60% responden menjawab penghasilan orang tuanya Rp.500.000 <Rp.700.000, dan sebanyak 6,66% responden menjawab penghasilan orang tuanya Rp.700.000 - <Rp. 1000.000. Data ini menunjukan bahwa sebagian penghasilan para orang tua responden masih rendah. Tabel 4 51 Merasa cukup dengan penghasilan orang tua No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Sangat cukup Cukup Kurang Tidak cukup 1 12 15 2 3,33% 40% 50% 6,66% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut 3,33% responden menjawab sangat cukup dengan penghasilan orang tuanya, 40% responden menjawab cukup dengan penghasilan orang tuanya, 50% responden menjawab kurang dan 6,66% yang menjawab tidak cukup. Data ini menunujukan bahwa penghasilan orang tua kurang mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Tabel 5 Pendidikan Responden No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

1 2 3 4 SD SLTP SLTA Perguruan Tinggi 16 12 2 53,33% 40% 2,66% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut mengenai pendidikan responden, 53,33% menjawab pendidikan akhir mereka hanya sampai SD, 40% responden menjawab sampai SLTP dan 2,66% yang menjawab sampai SLTA. Ini menunjukan bahwa tingkat pendidikan responden yang ada di
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Rw09 masih rendah. Tabel 6 Pendidikan Suami No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 SD SLTP 8 12 26,66% 40% 52 3 4 SLTA Perguruan Tinggi 10 33,33% Jumlah 30 100%
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Dari tabel tersebut di atas, mengenai tingkat pendidikan akhir suami, 26,66% responden menjawab pendidikan akhir suami hanya sampai SD, 40% responden menjawab pendidikan akhir suami sampai SLTP, dan 33,33% responden yang menjawab pendidikan akhir suami mereka sampai SLTA. Data ini menunjukan bahwa tingkat pendidikan suami masih terbilang rendah. Tabel 7 Penyebab Putus Sekolah No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Ekonomi orang tua yang serba pas-pasan Orang tua belum mengerti akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya Tidak punya cita-cita untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Lain-lain (kurangnya dukungan dari orang tua, karena sudah ingin menikah) 20 5 3 2 66,66% 16,66% 10% 6,66% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut bahwa alasan mereka putus sekolah, 20% responden menjawab karena ekonomi orang tua yang serba pas-pasan, 16,66% responden menjawab orang tua belum mengerti tentang arti pendidikan bagi anak-anaknya, 10% responden menjawab karena tidak punya cita-cita untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi. Dan 6,66% responden menjawab dengan berbagai macam alasan diantaranya karena kurangnya dukungan dari 53

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

orang tua dan karena ingin cepat menikah. Dari data ini menunjukan bahwa alasan mereka putus sekolah lebih banyak disebabkan karena faktor ekonomi orang tua yang serba paspasan. Tabel 8 Sikap Orang tua Terhadap Pendidikan Anak Perempuan No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Anak perempuan kalau sudah haid tidak perlu sekolah lagi sebaiknya dikawinkan saja Anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup bisa membaca dan menulis sudah dianggap cukup Setinggi-tingginya perempuan bersekolah akhirnya pergi ke dapur juga Lain-lain (pendidikan itu
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

penting, tapi karena saya sendiri ingin putus sekolah, pendidikan penting, cuma tidak ada biaya lagi, pendidikan sangat penting) 2 15 10 3 6,66% 50% 33,33% 10% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut di atas menunjukan tentang sikap orang tua terhadap pendidikan anak perempuan,yaitu 6,66% responden menyatakan anak perempuan kalau sudah haid tidak perlu sekolah lagi sebaiknya dinikahkan saja, 50% responden menjawab anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup bisa membaca dan menulis sudah dianggap cukup, 33,33% menjawab setinggi-tingginya perempuan bersekolah akhirnya pergi ke dapur juga,
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

sedangkan 10% responden menjawab dengan alasan yang berbeda-beda diantaranya: pendidikan itu penting, tapi karena responden sendiri ingin putus sekolah, -pendidikan 54 penting, cuma karena tidak ada biaya lagi, - pendidikan sangat penting. Data ini menunjukan bahwa para orang tua masih kurang peduli terhadap pendidikan kaum perempuan. Tabel 9 Alasan menikah No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Karena sudah tidak sekolah lagi Meringankan beban orang tua Karena kecelakaan (hamil di luar nikah) Lain-lain (karena ingin memulai kehidupan baru dimana ada suami dan anak, karena bosan pacaran terus, dipaksa orang tua, takut hamil diluar nikah, karena
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

tidak mau jadi omongan orang, juga karena sudah mendapat jodoh 10 11 3 6 33,33% 36,66% 10% 20% Jumlah 30 100% Dari data tersebut bahwa alasan mereka menikah 33,33% responden menjawab karena sudah tidak sekolah lagi, 36,66% responden menjawab meringankan beban orang tua, 10% responden menjawab karena kecelakaan (hamil di luar nikah), dan 20% responden menjawab dengan alasan yang berbeda-beda diantaranya karena ingin memulai kehidupan baru dimana ada istri dan anak, karena bosan pacaran terus,dipaksa orang tua,..). Hal ini

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

menunjukan sebagian besar responden yaitu 36,66% menikah untuk meringankan beban orang tua mereka. 55 Tabel 10 Kebiasaan Lingkungan Masyarakat Menikahkan Anak Pada Usia Muda No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Orang tua merasa bangga bila anaknya cepat mendapatkan jodoh Malu dan takut kalau anaknya menjadi perawan tua Takut kalau anaknya kecelakaan (hamil di luar nikah) Lain-lain (sudah biasa, menghindari omongan orang, karena sudah datang jodohnya, juga karena sudah tidak sekolah
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

lagi) 5 13 9 3 16,66% 43,33% 30% 10% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut menunjukan tentang kebiasaan lingkungan masyarakat Rw09 menikahkan anak pada usia muda, 16,66% responden menjawab orang tua merasa bangga bila anaknya cepat mendapatkan jodoh, 43,33% responden menjawab orang tua merasa malu dan takut kalau anaknya menjadi perawan tua, 30% responden menjawab orang tua takut kalau anaknya kecelakaan (hamil di luar nikah), dan 10% responden menjawab orang tua memiliki pandangan yang beragam diantaranya: karena sudah menjadi kebiasaan, untuk

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

menghindari omongan orang, karena sudah datang jodohnya..). Dari data ini menunjukan bahwa pandangan para orang tua mengenai budaya takut anaknya menjadi perawan tua ternyata masih mendominasi. Tabel 11 56 Upaya Orang Tua Untuk Memenuhi Persyaratan Umum Dalam Melangsungkan Pernikahan Bila Umur Anak Belum Memenuhi Syarat No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Menaikan umur agar dapat memenuhi syarat Menikah di bawah tangan Diserahkan kepada Rt/Rw setempat, biasanya mereka dapat mengurusnya Memakai umur apa adanya 14
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

9 7 46,66% 30% 23,33% Jumlah 30 100% Dari tabel di atas menunjukan bahwa untuk memenuhi persyaratan umum dalam melangsungkan pernikahan sebanyak 46,66% responden menjawab para orang tua menaikan umur agar dapat memenuhi syarat, 30% responden menjawab orang tua menyerahkannya kepada rt/rw setempat, dan 23,33% responden menjawab dengan memakai umur apa adanya. Data ini menunjukan bahwa sebagian orang tua 46,66% menaikan umur anak mereka untuk memenuhi persyaratan pernikahan. Tabel 12 Pernah Bertengkar Dengan Suami No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

4 Sangat sering Sering Kadang-kadang Tidak pernah 8 21 1 26,66% 70% 3,33% Jumlah 30 100% Dari data tersebut 26,66% responden menjawab sering bertengkar dengan suami, 70% responden menjawab kadang-kadang bertengkar, dan 3,33% responden yang menjawab 57 tidak pernah tidak pernah bertengkar. Data ini menunjukan diantara mereka (suami istri) jarang terjadi pertengkaran. Tabel 13
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Suasana Keluarga Jika Sedang Bertengkar No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Emosi, saling baku hantam/pukul Emosi, merusak perabot rumah tangga Emosi, saling adu bicara Saling diam-diaman 1 4 8 17 3,33% 13,33% 26,66% 56,66% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut di atas mengenai suasana keluarga jika sedang bertengkar, 3,33%
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

responden menjawab saling memukul, 13,33% responden menjawab merusak perabot rumah tangga, 26,66% responden menjawab saling adu bicara dan 56,66% responden menjawab saling diam-diaman. Hal ini menunjukan sebagian responden ketika sedang bertengkar lebih banyak saling diam-diaman. Tabel 14 Masalah Yang Memicu Pertengkaran No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Ketidak cukupan ekonomi Masalah mengurus anak Adanya orang ketiga (selingkuhan) Kesalah pahaman 5 5 2
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

18 16,66% 16,66% 6,66% 60% Jumlah 30 100% Dari data tersebut masalah yang memicu pertengkaran 16,66% responden menjawab ketidak cukupan ekonomi, 16,66% responden menjawab masalah mengurus anak, 6,66% 58 responden menjawab adanya orang ketiga (selingkuhan), serta 60 % responden menjawab karena kesalah pahaman. Data ini menunjukan pertengkaran diantara mereka lebih banyak dipicu oleh kesalah pahaman. Tabel 15 Upaya Mencairkan Suasana Pertengkaran Yang Terjadi No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Saling koreksi diri, lalu baikan dan saling memaafkan Saling menjaga gengsi, baikan tapi tidak mau saling memaafkan Kabur dari rumah, minta bantuan orang tua Mengalah, sekalipun suami tetap marah 17 2 3 8 56,66% 6,66% 10% 26,66% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut di atas untuk mencairkan suasana pertengkaran yang terjadi 56,66% responden menjawab saling koreksi diri, lalu baikan dan saling memaafkan, 6,66% responden menjawab saling menjaga gengsi, baikan tapi tidak mau saling memaafkan, 10%
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

responden menjawab kabur dari rumah, dan meminta bantuan orang tua, dan 26,66% responden menjawab mengalah sekalipun suami tetap marah. Data ini menunjukan bahwa untuk mencairkan suasana pertengkaran mereka selalu introsfeksi diri kemudian saling memaafkan satu sama lain. Tabel 16 Kondisi Rumah Tangga Saat Ini 59 No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Sudah bercerai Berpisah tapi rujuk lagi Biasa-biasa saja Sering bertengkar 26 4 10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

86,66% 13,33% Jumlah 30 100% Dari data tersebut mengenai kondisi rumah tangga 86,66% responden menjawab biasa-biasa saja, dan hanya 13,33% responden yang menjawab sering bertengkar. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar rumah tangga mereka masih dalam keadaan normal. Tabel 17 Bahagia Atau Tidak Dengan Pernikahan No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Sangat bahagia Bahagia Biasa-biasa saja Tidak bahagia 4 16
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

10 13,33% 53,33% 33,33% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut di atas mengenai bahagia atau tidak dengan pernikahan 13,33% responden menjawab sangat bahagia dengan pernikahannya, 53,33% responden menjawab bahagia dengan pernikahannya, 33,33% responden menjawab biasa-biasa saja dengan pernikahannya. Data ini menunjukan bahwa jawaban responden ternyata 53,33% mereka bahagia dengan pernikahannya. Tabel 18 Bertukar Pikiran Dengan Suami Jika Ada Masalah 60 No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Sangat sering Sering Kadang-kadang Tidak pernah 5 9 16 16,66% 30% 53,33% Jumlah 30 100% Dari data tersebut 16,66% responden menjawab sangat sering bertukar pikiran dengan suami jika menghadapi suatu masalah, 30% responden menjawab sering bertukar pikiran dengan suami, dan 53,33% responden yang menjawab kadang-kadang suka bertukar pikiran dengan suami jika ada masalah. Data ini menunjukan bahwa kurang adanya komunikasi yang baik antara suami istri, karena tidak semua masalah dibicarakan bersama. Ini bisa dilihat dari 53,33% jawaban responden ysng menjawab kadang-kadang.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Tabel 19 Tentang Hak Dan Kewajiban Suami Istri No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 Ya Kurang mengetahui Tidak tahu 27 3 90% 10% Jumlah 30 100% Dari tabel di atas mengenai hak dan kewajiban suami istri 90% responden menjawab ya mereka mengetahui hak dan kewajiban suami istri, 10% responden menjawab kurang mengetahui. Data ini menunjukan sebagian besar 90% responden mengetahui hak dan kewajiban mereka. Tabel 20
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Sikap Suami Mengenai Hak Nafkah Yang Belum Terpenuhi 61 No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Memberikannya Mengusahakannya Tidak peduli Marah 9 20 1 30% 66,66% 3,33% Jumlah 30 100% Dari data tersebut mengenai sikap suami jika responden menuntut hak nafkah yang

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

belum terpenuhi, 30% responden menjawab suami akan memberikannya, 66,66% suami akan mengusahakannya, dan 3,33% responden menjawab suami tidak akan peduli jika para istri menuntut hak nafkah yang belum dipenuhinya. Ini menunjukan para suami sadar akan tanggung jawab mereka sebagai seorang suami. Tabel 21 Upaya Yang Dilakukan Jika Menghadapi Suatu Masalah Dalam Rumah Tangga No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Membicarakannya dengan suami Mengadu kepada orang tua Menceritakannya kepada tetangga/teman Membiarkannya 22 8 10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

73,33% 26,66% Jumlah 30 100% Dari data tersebut 73,33% responden menjawab jika menghadapi suatu masalah mereka membicarakannya dengan suami, 26,66% responden menjawab jika menghadapi suatu masalah mereka mengadu kepada orang tua mereka. Ternyata 73,33% responden lebih memilih membicarakan masalah mereka dengan suami, daripada dengan orang lain. Data ini menunjukan bahwa mereka cukup mengetahui tentang etika berumah tangga. 62 Tabel 22 Penghasilan Suami No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Di bawah 500.000 Rp.500.000 - <Rp.700.000 Rp.700.000 - < Rp.1000.000 Lebih dari 1 juta 14 13 2 46,66% 43,33% 6,66% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut 46,66% responden menyatakan bahwa penghasilan suaminya di bawah Rp. 500.000, 43,33% responden menyatakan penghasilan suaminya Rp. 500.000 <Rp. 700.000, dan 6,66% responden menjawab penghasilan suaminya Rp. 700.000 <Rp. 1000.000. Dari data ini menunjukan bahwa sebagian penghasilan suami masih rendah. Tabel 23 Merasa Cukup Dengan Penghasilan Suami No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

1 2 3 4 Sangat cukup Cukup Kurang Tidak cukup 12 15 3 43,33% 50% 10% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut 43,33% responden menjawab cukup dengan penghasilan suaminya, 50% responden menjawab kurang mencukupi, dan 10% responden menjawab tidak cukup. Data ini menunjukan bahwa mereka tidak merasa cukup dengan penghasilan
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

suami. Tabel 24 Bekerja Untuk Membantu Suami 63 No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Sangat sering Sering Kadang-kadang Tidak pernah 2 3 10 15 6,66% 10% 33,33% 50% Jumlah 30 100%
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Dari tabel tersebut 6,66% responden menyatakan mereka sangat sering bekerja untuk membantu suami, 10% responden menyatakan mereka sering bekerja untuk membantu suami, 33,33% responden menyatakan kadang-kadang mereka bekerja untuk membantu suami, dan 50% responden menyatakan tidak pernah bekerja untuk membantu suami. Data ini menunjukan bahwa hanya sebagian kecil istri yang bekerja untuk membantu suami mencari uang, dan sekitar 50% responden menyatakan bahwa mereka tidak bekerja. Tabel 25 Tempat Tinggal Setelah Menikah No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 Di rumah mertua/orang tua Di kontrakan Punya rumah sendiri 22 3 5 73,33% 10%
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

16,66% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut 73,33% responden menyatakan bahwa setelah menikah mereka tinggal di rumah mertua/orang tua, 10% responden menyatakan mereka tinggal di kontrakan, dan 16,66% responden menyatakan bahwa mereka sudah memiliki rumah sendiri. Dari data ini menunjukan bahwa sebagian besar setelah menikah mereka tinggal di rumah mertua/orang tua. Tabel 26 64 Suami Suka Membantu Jika Berada Dalam Kesulitan No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Sangat sering Sering Kadang-kadang Tidak pernah 5 15
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

9 1 16,66% 50% 30% 3,33% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut 16,66% responden menjawab sangat sering dibantu oleh suami jika berada dalam kesulitan, 50% responden menjawab sering dibantu oleh suami jika berada dalam kesulitan, 30% responden menjawab kadang-kadang dibantu oleh suami, dan 3,33% responden menjawab tidak pernah dibantu oleh suami jika berada dalam kesulitan. Data ini menunjukan kepedulian para suami terhadap istrinya masih cukup besar. Tabel 27 Taat Dan Patuh Kepada Suami No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Sangat sering
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Sering Kadang-kadang Tidak pernah 7 17 6 23,33% 56,66% 20% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut 23,33% responden menjawab sangat sering taat dan patuh kepada suami, 56,66% responden menjawab mereka sering taat dan patuh kepada suami, dan 20% yang responden menjawab kadang-kadang taat dan patuh kepada suami. Data ini menunjukan dari segi sikap mereka termasuk istri yang baik, yang selalu taat dan patuh kepada suaminya. Tabel 28 Meminta Izin Kepada Suami Jika Mau Bepergian Atau Keluar Rumah 65
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Sangat sering Sering Kadang-kadang Tidak pernah 5 7 17 1 16,66% 23,33% 56,66% 3,33% Jumlah 30 100% Dari data tersebut di atas 16,66% responden menyatakan sangat sering meminta izin kepada suami jika mau bepergian, 23,33% responden menyatakan sering meminta izin kepada suami jika mau bepergian, 56,66% responden menyatakan kadang-kadang meminta
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

izin kepada suami jika mau bepergian, dan 3,33% responden menyatakan tidak pernah meminta izin kepada suaminya jika mau bepergian. Data ini menunjukan bahwa istri masih belum sepenuhnya patuh kepada suami. Tabel 29 Bercengkrama/Bersendau Gurau Dengan Suami No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Sangat sering Sering Kadang-kadang Tidak pernah 2 10 18 6,66% 33,33% 60%
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Jumlah 30 100% Dari data tersebut 6,66% responden menjawab sangat sering bercengkrama/bersendau gurau dengan suami, 33,33% responden menjawab mereka sering bersendau gurau dengan suami, 60% responden menjawab kadang-kadang mereka bersendau gurau. Data ini menunjukan bahwa sebagian mereka masih belum bisa menciptakan suasana keluarga yang penuh keharmonisan. Tabel 30 Upaya Yang Dilakukan Untuk Menjaga Hubungan Baik Dengan Keluarga Suami 66 No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Selalu berkunjung ke rumahnya Saling bertukar pikiran Memberikan makanan Saling tolong menolong 15 5
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

2 8 50% 16,66% 6,66% 26,66% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut di atas 50% responden menjawab untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga suami yaitu selalu berkunjung ke rumahnya, 16,66% responden menjawab mereka saling bertukar pikiran, 6,66% responden menjawab mereka memberikan makanan, dan 26,66% responden menjawab mereka saling tolong menolong. Data ini menunjukan bahwa untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga suami/mertua yaitu selalu mengunjungi rumahnya. Tabel 31 Perasaan Ketika Melahirkan Anak Pertama No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

4 Sangat sulit Sulit Biasa saja Tidak sulit 1 13 10 6 3,33% 43,33% 33,33% 20% Jumlah 30 100% Dari data tersebut mengenai perasaan setelah melahirkan 3,33% responden menjawab sangat sulit ketika melahirkan, 43,33% responden menjawab sulit ketika melahirkan, 33,33% responden menjawab biasa saja ketika melahirkan, dan 20% responden menjawab tidak mengalami kesulitan ketika melahirkan. Data ini menunjukan sebagian perempuan yang melahirkan di usia muda mengalami kesulitan. Tabel 32
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Menghadapi Anak Pertama Ketika Sakit 67 No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Membelikannya obat Membawanya ke dokter/Puskesmas Membiarkannya Tidak tahu 6 23 1 20% 76,66% 3,33% Jumlah 30 100% Dari tabel di atas 20% responden menjawab bila anak mereka sakit, mereka akan
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

membelikannya obat, 76,66% responden menjawab bila anak mereka sakit, mereka akan membawanya ke dokter/Puskesmas, dan 3,33% responden yang menjawab tidak tahu harus bagaimana bila anak mereka sakit. Data ini menunjukan sebagian besar 76,66% responden cukup mengerti akan tugas mereka sebagai seorang ibu. Tabel 33 Menghadapi Anak Pertama Ketika Ia Menangis Untuk Minta Dibelikan Sesuatu No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Membelikannya agar ia berhenti menangis Meradam tangisnya dengan cara lain (tanpa menuruti keinginannya) Memukulnya/memarahinya Mebiarkannya menangis/mengabaikan keinginannya
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

18 8 4 60% 26,66% 13,33% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut mengenai bagaimana para responden menghadapi anak pertama ketika menangis minta dibelikan sesuatu 60% responden menjawab akan menuruti keinginannya yaitu membelikannya agar ia berhenti menangis, 26,66% responden menjawab akan meredam tangisnya dengan cara lain (tanpa menuruti keinginannya), dan 13,33% 68 responden menjawab memukulnya/memarahinya. Data ini menunjukan sebagian responden 60% akan menuruti keiginan si anak, dan bukanlah hal yang baik karena terkesan terlalu memanjakan anak. Tabel 34 Memberikan Hukuman Bila Anak Melakukan Kesalahan
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Sangat sering Sering Kadang-kadang Tidak pernah 4 20 6 13,33% 66,66% 20% Jumlah 30 100% Dari tabel di atas 13,33% responden menjawab sering memberikan hukuman kepada anak bila mereka melakukan kesalahan, 66,66% responden menjawab kadang-kadang mereka memberikan hukuman kepada anak bila mereka melakukan kesalahan, dan 20%
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

respoden menjawab tidak pernah memberikan hukuman kepada anak mereka sekalipun anaknya berbuat kesalahan. Data ini menunjukan sikap baik para responden kepada anakanak mereka dengan tidak terlalu sering memberi mereka hukuman. Karena terlalu sering menghukum anak juga bukan merupakan cara yang baik, dan itu akan berpengaruh pada psikologisnya. Tabel 35 Memfasilitasi Anak Dalam Pendidikan No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 Membelikan buku dan alat sekolah lengkap Membelikan buku pelajaran dan 21 6 70% 20% 69 3
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

4 alat tulis sekedarnya Membelikan buku tulis saja dan alat sekedarnya Tidak tahu 3 10% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut 70% responden menjawab yang dilakukan untuk memfasilitasi anak-anak dalam pendidikan yaitu dengan membelikannya buku dan alat sekolah lengkap, 20% responden menjawab yang dilakukan untuk memfasilitasi anak-anak dalam pendidikan yaitu dengan membelikan buku pelajaran dan alat tulis sekedarnya, 10% responden menjawab yang dilakukan untuk memfasilitasi anak-anak dalam pendidikan yaitu membelikan buku tulis saja dan alat sekedarnya. Data ini menunjukan bahwa yang dilakukan membelikannya buku dan alat sekolah lengkap. Tabel 36
10 Anshari

untuk

memfasilitasi

anak-anak

dalam

pendidikan

yaitu

dengan

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Mendampingi Anak Dalam Belajar No Alternatif Jawaban Frekuensi Persentase 1 2 3 4 Sangat sering Sering Kadang-kadang Tidak pernah 6 8 14 2 20% 26,66% 46,66% 6,66% Jumlah 30 100% Dari tabel tersebut 20% responden menyatakan sangat sering mendampingi anak dalam belajar, 26,66% responden menyatakan bahwa mereka sering mendampingi anak
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

dalam belajar, 46,66% responden menyatakan kadang-kadang mendampingi anak dalam belajar, dan 6,66% responden menyatakan bahwa mereka tidak pernah mendampingi anak 70 dalam belajar. Data ini menunjukan bahwa mereka tidak setiap saat mendampingi anaknya dalam belajar. C. Pengaruh Pernikahan Di Usia Muda Terhadap Kehidupan Berumah Tangga 1. Deskripsi Data Pengaruh pernikahan di usia muda terhadap kehidupan berumah tangga di Rw ini diungkap melalui observasi, wawancara dan angket. Observasi dilakukan penulis mengenai kehidupan penduduknya, wawancara dilakukan dengan ketua Rw 09 untuk mendapatkan informasi yang penulis butuhkan dan angket disebarkan kepada 30 orang ibu yang penulis jadikan sampel secara purposive. Untuk memperoleh data dari para responden penulis menyebarkan angket. Angket yang

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

telah diisi, penulis memberi nilai dengan teknik scoring model skala likert. Untuk pilihan A bernilai 4, B bernilai 3, C bernilai 2 dan D bernilai 1. karena jumlah pertanyaan dalam angket ada 36 pertanyaan, maka skor tertinggi yang dapat dicapai adalah 144 (4 X 36) dan nilai terendah adalah 36 (1 X 36). 2. Analisa dan Interpretasi data Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua Rw 09 Desa Sasakpanjang dapat diambil kesimpulan bahwa pernikahan di usia muda yang terjadi di wilayah ini karena disebabkan oleh beberapa factor diantaranya: karena factor ekonomi, pendidikan orang tua dan dan kebiasaan lingkungan masyarakat yang menikahkan anaknya dalam usia muda karena khawatir anaknya menjadi perawan tua. Dan terdapat perbedan dalam kehidupan rumah tangga antara ibu-ibu yang menikah di usia muda dan yang menikah di usia dewasa. Ibu 71 yang menikah di usia dewasa pikirannya lebih matang dan lebih siap dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Data penelitian pengaruh pernikahan di usia muda terhadap kehidupan berumah tangga yang telah penulis peroleh kemudian dianalisa menggunakan rumus .t. test, dengan dua mean sampel yaitu ibu-ibu yang menikah dalam usia muda (kelompok I) dan ibu-ibu yang menikah dalam usia dewasa (kelompok II). Setelah data tersebut dianalisa kemudian diinterpretasikan sebagai usaha untuk membuktikan hipotesis yang sudah penulis tetapkan pada bab II. Pada perhitungan .t. test ini penulis menggunakan taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan df= (n1+n2)-2 (15+15)-2=28. Adapun data yang telah penulis peroleh adalah sebagaimana terdapat pada tabel-tabel berikut ini. Tabel 1 Jumlah Sekor Kehidupan Rumah Tangga Ibu-Ibu Yang Menikah Di Usia Muda No A B C D Jumlah Sekor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 16
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

8 12 24 36 24 54 36 21 33 36 33 20 32 34 14 18 26 4 6 8 12 6
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

6 36 36 36 36 36 36 94 82 75 83 89 89 72 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.


10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

15. 20 16 20 28 16 40 16 16 16 33 36 27 30 36 30 30 18 36 30 28 26
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

28 24 16 34 44 2 3 5 9 5 8 8 5 4 2 36 36 36 36 36 36 36
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

36 36 86 85 82 91 84 94 85 82 90 Sedangkan untuk ibu-ibu yang menikah di usia dewasa adalah: Tabel II Jumlah Sekor Kehidupan Rumah Tangga Ibu-Ibu Yang Menikah Di Usia Dewasa No. A B C D Jumlah Sekor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

36 36 24 44 48 44 40 48 39 33 30 30 24 24 8 16 24 20 20 22 24 7
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

5 7 5 4 6 6 36 36 36 36 36 36 36 99 96 88 99 102 96 88 73 8.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 40 28 20 28 16 24 36 32 24 33 45 27 39 39 24


10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

24 24 28 26 28 26 20 12 34 6 4 4 6 6 6 4 3 36 36 36 36 36
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

36 36 36 94 93 94 89 86 89 76 93 Dari tabel ini penulis kemudian mengolah dan menganalisis lebih jauh lagi sehingga akan didapatkan hasil yang diinginkan. Hal tersebut dapat dilihat sebagai berikut : Tabel III Perhitungan nilai .T. dengan dua mean sampel (Ibu-ibu yang menikah di usia muda dan di usia dewasa) Kelompok I (Ibu-ibu yang Menikah di Usia Muda) No X M X X2 1. 2.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

3. 4. 94 82 75 83 86 86 86 86 8 -4 -11 -3 64 16 121 9 74 5. 6. 7.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 89 89 86 85 82 91 84 94 85 82 90 86 86 86


10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

86 86 86 86 86 86 86 86 3 3 0 -1 -4 5 -2 8 -1 -4 4 9 9 0
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

1 16 25 4 64 1 16 16 Kelompok II (Ibu-ibu yang Menikah di Usia Dewasa) No. Y M Y Y2 1. 2. 3. 4. 5. 6. 99 96 88 99 102


10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

96 92 92 92 92 92 92 7 4 -4 7 10 4 49 16 16 49 100 16 75 7. 8.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 88 94 93 94 89 86 89 76 93 92 92 92 92 92 92


10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

92 92 92 -4 2 1 2 -3 -6 -3 -16 1 16 4 1 4 9 36 9 256 1 X = 1291 Y = 1382


10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

N1 = 15 N2 = 15 X2 = 371 Y2 = 582 M1 = X = 1291 = 86,06 (86) M2 = Y = 1382 = 92,13 (92) N1 15 N2 15 Data yang disajikan dalam tabel di atas adalah sekor kehidupan berumah tangga dua kelompok, ibu-ibu yang menikah usia muda dan yang menikah di usia dewasa. Tabel di atas menunjukkan bahwa sekor kehidupan berumah tangga rata-rata dari ibu-ibu yang menikah dalam usia muda adalah 86,06 (86) dan ibu-ibu yang menikah di usia dewasa adalah 92,13 (92), jelas ada perbedaan. Sekarang perlu ditetapkan apakah perbedaan itu terjadi secara kebetulan atau tidak. 76 Untuk itu perlu penaksiran, jika hipotesis nol benar dengan adanya perbedaan 2 (9286), apakah perbedaan itu sudah cukup besar dari perbedaan yang diharapkan, sehingga menolak hipotesis nol? Dan untuk menjawabnya, dipergunakan rumus .t. test dengan membandingkan kedua angka tersebut, dengan langkah-langkah sebagai berikut: Mencari SD Variabel X:
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

SDX atau SD1 = 24,73 4,97 15


2

371

N Mencari SD Variabel Y: SDY atau SD2 = 38,8 6,22 15


2

582

N Dengan diperolehnya SD1 dan SD2 maka selanjutnya dapat kita cari standar error dari M1 dan standar error dari M2: SEM1 = 1,382 3,74 4,97 14 4,97 15 1
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

4,97 11
1

N SD SEM2 = 1,663 3,74 6,22 14 6,22 15 1 6,22 21


2

N SD Setelah berhasil kita peroleh SEM1 dan SEM2 maka langkah berikutnya adalah mencari Standar Error perbedaan antara M1 dan M2:
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

SEM1 . M2 = 2 2
12

1,382 1,663 M M SE SE 4,52 2,12

= 1,76 2,76 To = 2,83 2,12 6 2,12 92 86


12 12

MM

SE SE

77 Langkah selanjutnya, menghitung derajat bebas, dan mengkonsultasikan dengan tabel .t. dengan rumus df = N1 + N2 . 2 = (15 +15) . 2 = 28. Maka ditemukan pada taraf signifikansi 5% = 2,05. Karena to telah diperoleh yaitu sebesar 2,83; sedangkan tt = 2,05, maka to adalah lebih besar daripada tt , dengan demikian hipotesa nihil yang menyatakan tidak ada perbedaan mengenai kehidupan berumah tangga antara ibu-ibu yang menikah pada usia muda dan yang menikah pada usia dewasa ditolak, karena tidak teruji kebenarannya.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan usia pernikahan di kalangan ibu-ibu yang penulis jadikan responden terdapat perbedaan secara signifikan terhadap kehidupan berumah tangga. 78 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa pernikahan di usia muda dapat bersifat positif dan negative tergantung bagaimana kita menyikapinya, apalagi di zaman sekarang ini banyak sekali terjadi pernikahan di bawah umur disebabkan oleh berbagai factor diantaranya karena sudah hamil di luar nikah dan bukan hanya itu ada factor lain yang menyebabkan mereka menikah di usia muda seperti karena tingkat pendidikan yang begitu rendah, keadaan ekonomi yang serba pas-pasan, sehingga untuk membantu meringankan keluarga maka anaknya cepat dinikahkan, meskipun anak yang bersangkutan tetap mempunyai keinginan untuk melanjutkan sekolahnya, latar belakang keluarga yang belum mengerti resiko menikahkan anak pada usia muda, dan

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

kebiasaan lingkungan masyarakat di Rw ini merasa malu bila anaknya belum dinikahkan dan takut jadi perawan tua. Dalam masalah pendidikan pun mereka kurang, dalam artian menikah pada usia muda hanya didasari karena mereka merasa cocok dan tidak memikirkan terlebih dahulu resiko yang akan mereka hadapi. Karena itu sebaiknya pasangan usia muda sebelum 79 melangsungkan pernikahan mereka harus diberikan pendidikan pra nikah, karena pendidikan pra nikah ini sangat berguna sekali untuk mereka, apalagi bagi mereka yang masih tabu tentang pernikahan. Kemudian dalam masalah pendidikan anak pun mereka harus mengerti bagaimana cara mengurus, mendidik dan mengasuh anak yang baik. Karena sebagai orang tua mereka harus mengerti dan paham tata cara dalam mendidik anak. Karena itu orang tua harus memberi contoh yang baik kepada anak-anaknya, dan harus sedini mungkin menanamkan nilainilai agama pada anak-anaknya karena anak adalah titipan Allah yang harus dijaga dan dirawat
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

dengan baik dan juga diberikan pendidikan yang baik dan disinilah para orang tua sangat berperan sekali. B. Saran . Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis memberikan saran kepada para orang tua yang berada di daerah penelitian ini dan para orang tua pada umumnya, juga kepada pasangan usia muda yang mengarungi bahtera kehidupan berumah tangga, sebagai berikut : 1. Hendaknya orang tua lebih mementingkan pendidikan anaknya, minimal tingkat SMA khususnya kepada anak perempuan, sehingga tidak terjadi pernikahan di usia usia muda karena wawasannya akan lebih luas dan bisa hidup dengan seorang lakilaki yang selama ini belum ia kenal. 2. Orang tua dan anak hendaknya jangan terpengaruh kebiasaan masyarakat sekitar, dan ada baiknya kebiasaan ini dihilangkan. 3. Bagi pasangan usia muda sebaiknya diperhitungkan terlebih dahulu resiko apa yang akan dihadapi. Karena banyak sekali terjadi perceraian pada pasangan usia muda 80 karena disebabkan mereka belum mempunyai ilmu yang memadai mengenai rumah tangga. 81 DAFTAR PUSTAKA
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Ulwan, Nashih Abdullah, Pendidikan Anak Dalam Islam, Penerjemah: Jamaluddin Miri LC, Jakarta: Pustaka Amani, 1999. Nadaek, Wilson, Perkawinan dan Keluarga, Jakarta: BP4 no.313, 1998. Ensiklopedi Islam 4, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hove 1994. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Departemen Agama RI, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 2000. Ghazali, Abdurrahman, Fiqih Munakahat, Jakarta, Prenada Media, 2003. Thayib, Anshari, Struktur Rumah tangga Muslim, Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994. Nasution, Hakim Andi, Membina Keluarga Bahagia, Jakarta: PT.Pustaka Antara, 1996. Kauma, Fuad, dan Nipan, Membimbing Istri Mendampingi Suami, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000. Adhim, Fauzil Muhammad., Saatnya Untuk Menikah, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), cet-1,.h.30Samaluthi, Taufik Muhammad Nabil, Pengaruh Agama Terhadap Struktur Keluarga, Penerbit:Bina Ilmu, 1987. Tuntunan Keluarga Sakinah Bagi Usia Nikah, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2004. Muchdhor, Mustofa, Buku Pintar Berumah Tangga, (Penerbit: Kalam Pustaka, 2005), cet 1, Musna, Abdurrahman bin Syaikh Abdul Aziz, Perkawinan dan Masalahnya, Penerbit:
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Pustaka al-Kautsar. Ghifari, Pernikahan Dini Dilema Generasi Ekstravaganza, Bandung:PT. Mujtahid, 2002. Sudijono, Anas, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000. Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002. Rasjid, Sulaiman, Fiqh Islam, Jakarta : Atthahiriyah, 1996. Sabana, M. dkk., Statistik Pendidikan, Bandung : Pustaka Setia, 2000 Sutarmadi, Ahmad, Refleksi Islam Terhadap Perkawinan, Jakarta : BP4, 1998. Al . Quran dan Terjemahnya, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al . Qur.an, Departemen Agama RI, 1978. 82 Mainawi, Muhammad Kautsar, Hak Anak Dalam Keluarga Muslim, (Jakarta: Pustaka AlKautsar, 1996). Darajat, Zakiah, Ilmu Fiqh, (Yogyakarta: PT. Dana Bakti Waqaf, 1995). Jaelani, Qodir Abdul, Keluarga Sakinah, Jakarta : Bina Ilmu, 1995. M. Budiaf, Pengorganisasian, Pengolahan dan Analisa Data, (Penerbit: IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1993).

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

M. Duvall, Syvanus. Di Ambang Pernikahan .Persiapan Mental Bagi Muda-Mudi Untuk Mengantisipasi Berbagai Aspek Hidup Pernikahan.. (Mitra Utama, 1993), cet. ke-7, h.228 83

PENGURUS RUKUN WARGA 09


DESA SASAKPANJANG KECAMATAN TAJURHALANG
Alamat : Jl. Taruna No. 16 Rt. 03/09 Desa Sasakpanjang Kecamatan Tajurhalang Bogor Telp. (0251) 556019 HP. 085214315711 Surat Keterangan Yang bertanda tangan di bawah ini ketua Rukun Warga (RW) 09 Desa Sasakpanjang Kecamatan Tajurhalang Kabupaten Bogor, menerangkan bahwa : Nama : Saiful Anwar NIM : 102011023567 Fak/Jurusan : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan / Pendidikan Agama Islam Tahun Akademik : 2006 . 2007 Alamat : Jl. Taruna No. 16 Rt 02/09. Kel. Sasakpanjang. Tajurhalang. Bogor Adalah benar nama tersebut telah mengadakan penelitian di wilayah Rw 09 Desa Sasakpanjang yang saya pimpin pada bulan Maret . Mei guna mencari data dalam
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

penyusunan skripsi yang berjudul :.Pernikahan Pada Usia Muda dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Berumah Tangga.. Demikianlah surat keterangan ini kami buat, kiranya yang berkepentingan menjadi maklum dan dapat memberikan bantuan bila diperlukan. Sasakpanjang, 15 Mei 2007 Ketua RW 09 Desa Sasakpanjang (AWEH MAWARDI) 84 BERITA WAWANCARA Nama Responden : Aweh Mawardi Jabatan : Ketua Rw 09 Sasakpanjang Hari/Tanggal : 11 Januari 2007 Pertanyaan 1. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya pernikahan di usia muda di Rw 09 Desa Sasakpanjang ? 2. Bagaimana pandangan bapak mengenai pernikahan di usia muda yang terjadi di Rw 09 ini ? 3. Apakah usia pernikahan berpengaruh terhadap keutuhan rumah tangga ? 4. Sejauh mana peranan suami, dan orang tua di Rw 09 dalam mengurus rumah tangga ? 85
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

LEMBAR JAWABAN 1. Pertama dari pihak orang tua, yang ingin cepat-sepat menikahkan anaknya. Karena sudah tidak mampu lagi membiayai anaknya sekolah, sehingga solusinya, ya. dinikahkan saja agar tidak lagi menjadi tanggungan orang tuanya. Dengan kata lain, factor ekonomi merupakan salah satu penyebab terjadinya pernikahan di usia muda. Selain itu, juga karena factor pendidikan orang tua yan kurang memadai, yang kurang memahami akan arti pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Padahal anak merupakan aset bangsa, kalau anak-anak kita bodoh, bagaimana para generasi di belakangnya nanti?. Bukankah akan makin terbelakang. 2. Kalau menurut saya, pernikahan usia muda yang terjadi di Rw 09 ini, merupakan fenomena yang perlu kita cermati, banyak para orang tua yang menganggap remeh hal ini. Padahal pernikahan usia muda itu sangat beresiko. Kebanyakan anak gadis zaman sekarang, memang cepat sekali pertumbuhannya, sehingga ada anak yang baru kelas 2 SMP misalnya, tapi sudah terlihat seperti anak kelas 2 SMA, karena postur tubuhnya yang terlihat tinggi dan besar. Karena itulah mungkin banyak para orang tua, yang melihat anaknya sudah pantas untuk dinikahkan manakala ada jodohnya. Okelah, dari segi fisik si anak tadi sudah cukup memenuhi syarat, tapi bagaimana dari segi mental?, apakah si anak juga sudah siap. Ini yang kadang suka diabaikan oleh para orang tua dan semestinya harus diperhatikan dengan seksama. Agar rumah tangga anaknya nanti tidak berantakan dan kandas ditengah jalan seperti yang banyak terjadi pada rumah tangga
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

pasangan usia muda umumnya. 3. Sangat berpengaruh, diantaranya mungkin belum siap mental, karena orang berumah tangga itu kan bukan untuk sehari dua hari, melainkan untuk seumur hidup. Jadi, harus betul-betul matang persiapannya, terutama ya. mental tadi. Bukankah, setelah menikah ia harus mengurus suami, anak serta rumah tangganya, maka bagaimana ia akan melakukan semua itu, kalau pengetahuannya tentang pernikahan belum memadai, rumah tangga yang harmonispun akan sulit terwujud. Karena itu, menurut saya menikah itu harus siap secara fisik dan mental. Kemudian juga biasanya wanita yang menikah muda 86 itu juga mengalami kesulitan ketika melahirkan, bahkan tidak jarang pula sampai menyebabkan kematian pada sang ibu/bayinya. 4. Tidak diragukan lagi, suami mempunyai peranan yang sangat besar dalam sebuah rumah tangga, suami merupakan tulang punggung bagi keluarga, ia merupakan pemimpin bagi rumah tangganya. 87 Lampiran Nukilan Tabel Nilai .t. Untuk Berbagai df.
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

Harga Kritik .t. Pada Taraf Signifikansi: df atau db 5% 1% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19


10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

20 21 22 23 24 25 12,71 4,30 3,18 2,78 2,57 2,45 2,36 2,31 2,26 2,23 2,20 2,18 2,16 2,14 2,13 2,12
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

2,11 2,10 2,09 2,09 2,08 2,07 2,07 2,06 2,06 63,66 9,92 5,84 4,60 4,03 3,71 3,50 3,36 3,25 3,17 3,11 3,06 3,01
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

2,98 2,95 2,92 2,90 2,88 2,86 2,84 2,83 2,82 2,81 2,80 2,79 88 ANGKET Kode : Rt/Rw : Tempat/Tgl Lahir : Usia Menikah : Petunjuk Pengisian: 1. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan memberikan tanda silang (X) pada salah satu jawaban dari alternatif jawaban yang anda pandang benar 2. Jawablah dengan jujur, jawaban anda akan dijamin kerahasiaannya
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

3. Terima kasih atas bantuan Anda mengisi angket ini 4. Bila jawaban tidak ada dalam pilihan, maka tulislah jawaban anda pada titik-titik yang telah disediakan Pertanyaan angket: 1. Apa pendidikan orang tua anda? a. Tidak sekolah c. SLTP tidak tamat b. SD tidak tamat d. SLTP tamat 2. Apa pekerjaan orang tua anda? a. Wiraswasta c. Petani b. Guru d. Pegawai Negeri 3. Berapa penghasilan orang tua anda setiap bulan? a. Di bawah 300.000 c. Rp. 500.000 < 700.000 e. Lebih dari 1 juta b. Rp. 300.000 < 500.000 d. Rp. 700.000 < 1000.000 4. Dari hasil pekerjaan tersebut, apakah mencukupi kebutuhan keluarga anda seharihari? a. Ya b. Kadang-kadang c. Tidak 5. Apa pendidikan akhir anda? a. SD c. SLTA b. SLTP d. Perguruan Tinggi 6. Apa pendidikan akhir suami anda? a. SD c. SLTA b. SLTP d. Perguruan Tinggi
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

89 7. Faktor apa yang menyebabkan anda putus sekolah? a. Ekonomi orang tua yang serba pas-pasan b. Orang tua belum mengerti akan pentingnya pendidikan bagi anaknya c. Tidak punya cita-cita untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi d. .... 8. Bagaimana sikap orang tua anda terhadap pendidikan anak khususnya bagi anak perempuan? a. Anak perempuan kalau sudah haid tidak perlu sekolah lagi, sebaiknya dikawinkan saja b. Anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup bisa membaca dan menulis sudah dianggap cukup c. Setinggi-tingginya perempuan bersekolah akhirnya pergi ke dapur juga d. .... 9. Apa alasan anda menikah? a. Karena sudah tidak sekolah lagi c. Karena .kecelakaan. (hamil di luar nikah) b. Meringankan beban orang tua d. ..... 10. Kebisaan lingkungan masyarakat anda mengawinkan anak pada usia muda karena? a. Orang tua merasa bangga bila anaknya cepat mendapatkan jodoh b. Malu dan takut kalau anaknya menjadi perawan tua. c. Takut kalau anaknya .kecelakaan. (hamil di luar nikah)
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

d. .... 11. Apa yang dilakukan orang tua anda untuk memenuhi persyaratan umum dalam melangsungkan pernikahan bila umur anda belum memenuhi syarat? a. Menaikan umur agar dapat memenuhi syarat b. Menikah di bawah tangan c. Diserahkan kepada Rt/Rw setempat, biasanya mereka dapat mengurusnya d. Memakai umur apa adanya 12. Setelah menikah apakah anda pernah bertengkar dengan suami? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah 90 13. Bagaimana suasana keluarga, jika kalian sedang bertengkar? a. Emosi, saling baku hantam/memukul b. Emosi, merusak perabot rumah tangga c. Emosi, saling adu bicara d. Saling diam-diaman 14. Masalah apa yang biasanya memicu pertengkaran diantara kalian? a. Ketidak cukupan ekonomi c. Adanya orang ketiga (selingkuhan) b. Masalah mengurus anak d. Kesalah pahaman 15. Bagaimana anda mencairkan suasana pertengkaran suami-istri? a. Saling koreksi diri, lalu baikan dan saling memaafkan b. Saling menjaga gengsi, baikan tapi tidak mau saling memaafkan c. Kabur dari rumah, minta bantuan orang tua
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

d. Mengalah, sekalipun suami tetap marah 16. Bagaimana kondisi rumah tangga anda pada saat ini? a. Sudah bercerai c. Sering bertengkar b. Berpisah tapi rujuk lagi d. Biasa-biasa saja 17. Apakah anda merasa bahagia dengan pernikahan anda saat ini? a. Sangat bahagia c. Biasa-biasa saja b. Bahagia d. Tidak bahagia 18. Jika ada masalah, apakah anda suka bertukar pikiran dengan suami anda? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah 19. Apakah anda mengetahui hak dan kewajiban anda sebagai seorang istri? a. Ya c. Tidak tahu b. Kurang mengetahui 20. Bagaimana sikap suami anda jika anda menuntut hak nafkah yang belum terpenuhi? a. Memberikannya c. Tidak peduli b. Mengusahakannya d. Marah 21. Apa yang anda lakukan jika menghadapi suatu masalah dalam rumah tangga anda? a. Membicarakannya dengan suami c. Menceritakan kepada tetangga/teman 91 b. Mengadu kepada orang tua d. Membiarkannya 22. Berapa penghasilan suami anda setiap bulan? a. Di bawah 300.000 c. Rp. 500.000 < 700.000 e. Lebih dari 1 juta
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

b. Rp. 300.000 < 500.000 d. Rp. 700.000 < 1000.000 23. Apakah anda merasa cukup dengan penghasilan suami anda? a. Sangat cukup c. Kurang b. Cukup d. Tidak cukup 24. Apakah anda bekerja untuk membantu suami anda? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah 25. Di mana tempat tinggal anda setelah menikah? a. Di rumah mertua/orang tua c. Punya rumah sendiri b. Di kontrakan d. ..... 26. Apakah suami anda suka membantu jika anda berada dalam kesulitan? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah 27. Apakah anda taat dan patuh kepada suami anda? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah 28. Apakah anda suka meminta izin kepada suami jika akan bepergian atau keluar rumah? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah 29. Apakah anda suka bercengkrama/bersendau gurau dengan suami? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah 30. Apa yang anda lakukan untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga suami anda? a. Selalu berkunjung ke rumahnya c. Memberikan makanan b. Saling bertukar pikiran d. Saling tolong menolong
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

31. Apa yang anda rasakan ketika melahirkan anak pertama? a. Sangat sulit c. Biasa saja b. Sulit d. Tidak sulit 32. Bagaimana anda menghadapi anak pertama ketika sakit? a. Membelikannya obat c. Membiarkannya 92 b. Membawanya ke dokter/Puskesmas d. Tidak tahu 33. Bagaimana anda menghadapi anak pertama ketika ia menangis untuk minta dibelikan sesuatu? a. Membelikannya agar ia berhenti menangis b. Meredakan tangisnya dengan cara lain (tanpa menuruti keinginannya) c. Memukulnya/memarahinya d. Membiarkannya menangis/mengabaikan keinginannya 34. Apakah anda memberikan hukuman bila anak anda melakukan kesalahan? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah 35. Apa yang anda lakukan untuk memfasilitasi anak anda dalam pendidikan? a. Membelikan buku dan alat sekolah lengkap b. Membelikan buku pelajaran dan alat tulis sekedarnya c. Membelikan buku tulis saja dan alat sekedarnaya d. Tidak tahu 36. Apakah anda selalu mendampingi anak anda dalam belajar?
10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24

a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah__

10 Anshari

Thayib, Rumah tangga Muslim, (Surabaya: PT. Risalah Gusti, 1994),cet 3, h.23-24