Anda di halaman 1dari 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendekatan Teori Permukiman Kumuh 2.1.1 Definisi Permukiman Kumuh Permukiman kumuh sering dilihat sebagai suatu kawasan yang identik dengan kawasan yang apatis, kelebihan penduduk, tidak mencukupi, tidak memadai, miskin, bobrok, berbahaya, tidak aman, kotor, di bawah standar, tidak sehat dan masih banyak stigma negatif lainnya (Rahardjo Adisasmita, 2010). Dari beberapa kesan yang timbul dari permukiman kumuh dapat disimpulkan definisi dari permukiman kumuh itu sendiri, terdapat beberapa definisi yang diungkapkan oleh para ahli, berikut penjelasannya : Permukiman kumuh yaitu permukiman yang padat, kualitas konstruksi rendah, prasarana, dan pelayanan minim adalah pengejawantahan kemiskinan (Tjuk Kuswartojo, 2005). Sedangkan menurut Parsudi Suparlan, permukiman kumuh adalah permukiman atau perumahan orang-orang miskin kota yang berpenduduk padat, terdapat di lorong-lorong yang kotor dan merupakan bagian dari kota secara keseluruhan, juga biasa disebut dengan wilayah pencomberan atau semerawut. Pengertian lain dari permukiman kumuh juga diungkapkan oleh Johan Silas yaitu permukiman kumuh dapat diartikan menjadi dua bagian, yang pertama ialah kawasan yang proses pembentukannya karena keterbatasan kota dalam menampung perkembangan kota sehingga timbul kompetisi dalam menggunakan lahan perkotaan. Sedangkan kawasan permukiman berkepadatan tinggi merupakan embrio permukiman kumuh. Dan yang kedua ialah kawasan yang lokasi penyebarannya secara geografis terdesak perkembangan kota yang semula baik, lambat laun menjadi kumuh, yang menjadi penyebabnya adalah mobilitas sosial ekonomi yang stagnan.

2.1.2 Karakteristik Permukiman Kumuh Permukiman kumuh timbul dengan karakteristik yang selalu berkesan negative. Beberapa karakteristik permukiman kumuh adalah (Purwanita Setijanti, 2010) : 1. Keadaan rumah pada permukiman kumuh terpaksa dibawah standar, rata-rata 6 m2/orang. 2. Permukiman ini secara fisik memberikan manfaat pokok yaitu dekat dengan tempat kerja dan harga rumah juga murah baik membeli ataupun menyewa. Disamping itu terdapat pula pendapat lain yang menyebutkan karakteristik yang merupakan ciri-ciri dari permukiman kumuh yaitu :

1. Permukiman kumuh tersebut dihuni oleh penduduk yang padat dan berjubel, karena adanya pertambahan penduduk yang alamiah maupun migrasi yang tinggi dari desa. 2. Permukiman kumuh tersebut dihuni oleh warga yang berpenghasilan rendah atau

berproduksi sub system, yang hidup dibawah garis kemiskinan. 3. Perumahan di permukiman tersebut berkualitas rendah atau masuk dalam kategori rumah darurat (sustainable housing condition), yaitu bangunan rumah yang terbuat dari bahan-bahan tradisional,seperti, bamboo, kayu, ilalang, papan dan bahan-bahan cepat hancur lainnya. 4. Kondisi kebersihan dan sanitasi rendah. 5. Langkanya pelayanan kota (urban service) seperti: air bersih, fasilitas MCK, sistim

pembuangan kotor dan sampah serta perlindungan dari kebakaran. 6. Pertumbuhan tidak terencana sehingga penampilan fisiknyapun tidak teratur dan terurus. 7. Secara sosial terisolir dari permukiman lapisan masyarakat lainnya. 8. Permukiman tersebut pada umumnya berlokasi disekitar pusat kota dan seringkali tak jelas pula status hukum tanah yang ditempati ( Utami Trisni, 1997) Sedangkan menurut para ahli karakteristik permukiman kumuh antara lain : 1. Dihuni oleh penduduk dengan penghasilan rendah dengan porsi pengeluaran untuk makan dan minum yang relatif besar. 2. Pendidikan kepala keluarga pada umumnya rendah. 3. Pemakaian air bersih relatif sedikit. 4. Pembuangan sampah tidak tertata rapi. 5. Cara penduduk membuang tinja dan kotoran lain tidak sehat. 6. Drainase kurang berfungsi dengan baik sehingga terjadi genangan air, berbau busuk dan kotor.

2.1.3 Faktor Penyebab Timbulnya Permukiman Kumuh Ada beberapa faktor penyebab timbulnya permukiman kumuh sebagaimana yang dikemukakan oleh Yudohusodo (1991) dalam bukunya Rumah Untuk Seluruh Rakyat adalah sebagai berikut : Arus urbanisasi penduduk yang sangat pesat terutama di kota-kota besar berdampak

terhadap timbulnya ledakan jumlah penduduk. Sektor informal merupakan bidang pekerjaan tanpa penghasilan yang tetap. Bidang

pekerjaan ini muncul karena pengaruh desakan ekonomi yang tidak didukung oleh keahlian yang memadai.

- Kondisi sosial budaya masyarakat juga menjadi pemicu terbentuknya kawasan permukiman kumuh, yang dimaksud disini menyangkut pola hidup atau kebiasaan masyarakat yang masih terbawa iramanya kehidupan kota.

2.1.4 Upaya Penanganan Permukiman Kumuh Penanganan permukiman kumuh dilakukan sebagai upaya perbaikan lingkungan permukiman yang mengalami penurunan kualitas lingkungan, dimana kondisi kehidupan dan penghidupan masyarakatnya sangat memprihatinkan, kepadataan bangunan sangat tinggi, struktur bangunan sangat rendah, dan kekurangan terhadap akses prasarana dan sarana permukiman seperti drainase, sampah, dan sebagainya. Kondisi non fisik seperti sosial budaya masyarakat penghuni perlu dipahami sebagai pendekatan dalam penanganan dimasa depan secara seimbang dan berkesinambungan. Terkait upaya peningkatan kualitas dilingkungan permukiman kumuh, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah melaksanakan rencana strategis peningkatan kualitas lingkungan permukiman kumuh yang mempertimbangkan efektifitas dan efisiensi, sebagai bagian dari proses pembangunan berkelanjutan (sustainable development) serta mengedepankan strategi pemberdayaan dan kemampuan (empowerment and enabling stategy) maka prakarsa pembangunan

(perbaikan/penataan permukiman kumuh) akan meningkat, begitupula rasa kepemilikan masyarakat terhadap proyek pembangunan. Tujuannya adalah tercapainya peningkatan

kualitas lingkungan permukiman yang mampu mendorong tercapaianya peningkatan derajat kesehatan, pendidikan dan daya beli masyarakat. Serta peningkatan kualitas lingkungan kawasan permukiman yang sehat sehingga dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi kesehatan lingkungan kota. Dalam penyelengaraan peningkatan kualitas lingkungan permukiman kumuh terdapat 3 pendekatan (Purwanita Setijanti, 2010), yakni: 1. Pendekatan partisipatori, yang mampu mengeksplorasi masukan dari komunitas,

khususnya kelompok sasaran, yang mefokuskan pada permintaan lokal, perubahan prilaku dan yang mampu mengeksplorasi cara-cara inovatif untuk melaksanakan operasional dan pemeliharaannya. 2. Pembangunan berkelanjutan, yang dilaksanakan dengan menaruh perhatian utama pada pencapaian tujuan pembangunan lingkungan yang terintegrasi dalam satu kesatuan sistem dengan pencapaian tujuan pembangunan sosial dan ekonomi. Pendekatan ini dilakukan dengan memadukan kegiatan-kegiatan penyiapan dan pemberdayaan masyarakat, serta kegiatan pemberdayaan usaha ekonomi dan komunitas dengan kegiatan pendayagunaan

10

prasarana dan sarana dasar perumahan dan permukiman sebagai satu kesatuan sitem yang tidak terpisahkan. 3. Pendekatan secara fisik dari sisi tata ruang, pendekatan ini pada peningkatan kualitas lingkungan permukiman kumuh merupakan bagian dari rencana umum tata ruang kota dan merupakan suatu hal yang penting untuk meningkatkan fungsi dan manfaat ruang kota secara integral. Bentuk-bentuk penanganan dengan pendekatan aspek keruangan dibedakan menjadi 3 bagian, yakni : a. Redefiasi Bentuk penanganan permukiman dengan melakukan intervensi program permukiman tanpa merubah struktur ruang yang telah ada dan berjalan. Kegiatan-kegiatan yang dapat diterapkan dalam lingkup redifinisi permukiman ini meliputi 1) Revitalisasi: Peningkatan kualitas lingkungan, memperbaiki dan mendorong ekonomi kawasan dengan memanfatkan prasarana dan sarana 2) Rehabilitasi: Meliputi renovasi dengan melakukan perubahan sebagian komponen pembentukan permukiman, komponen diperbaharui sesuai standart yang baru berlaku. Rekontruksi dengan mengembalikan komponen permukiman pada kondisi asalnya, baik persyaratan maupun penggunaannya. b. Restrukturisasi: Penanganan permukiman yang melakukan suatu proses penstruktur kembali pola ruang atau struktur ruang yang telah ada dapat diterapkan dalam lingkup restrukruriasi permukiman ini meliputi : 1) Renewal: Melakukan pembongkaran secara sebagian atau menyeluruh komponen permukiman, melakukan perubahan secara stuktural dengan membangun kembali di atas lahan yang sama. 2) Redevelopment: Dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan pembongkaraan prasarana dan sarana dari sebagian ataupun seluruh kawasan. 3) Restorasi: Dengan mengembalikan pada kondisi asalnya sesuai dengan persyaratan permukiman yang benar. Masing-masing kegiatan tersebut diatas mempunyai kelebihan dan kekurangan. Penerapaan penanganan tersebut dilakukan sesuai dengan permasalahan dan karakteristik lingkungan permukiman yang akan ditangani. Hal ini juga mengacu pada kebijakan

11

penanganan permukiman kumuh yang ada dalam Surat Edaran Menpera No. 04/SE/M/I/93 tahun 1993: penanganan perumahan dan permukiman kumuh yang tidak layak huni yang keadaannya tidak memenuhi persyaratan teknis, sosial, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan serta tidak memenuhi persyaratan ekologis dan legal administratif, dilaksanakan melalui pola perbaikan/ pemugaran, peremajaan maupun relokasi sesuai dengan tingkat/ kondisi permasalahan yang ada.

2.2 Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Permukiman Kumuh 2.2.1 Definisi dan Kategori Peran Serta Masyarakat Dalam usaha untuk melakukan penataan bagi permukiman kumuh seharusnya pihak yang terlibat bukan hanya pemerintah ataupun pihak organisasi yang terkait saja, tetapi di dalamnya seharusnya juga melibatkan masyarakat sebagai pihak yang dikenai pekerjaan. Peran serta masyarakat dalam penataan permukiman kumuh menuntut adanya keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan yang berarti adanya pelimpahan sebagian kekuasaan pada masyarakat itu sendiri. Menurut Arnstein (Arnstein, 1969, 358) definisi peran serta masyarakat adalah sebagai berikut : Citizen participation is a categorical term for citizen power. It is the redistribusion of power that enables the have not citizens, presently from the political and economic processes, to deliberately include in the future. Sedangkan menurut Turner (Turner, 1982, 127-128), isu utama yang diangkat dalam adanya peran serta dari masyarakat adalah sebagai berikut : The central issues of peoples participation is that of control or the power to decide. Who actually does what follows from and is therefore secondary to the initialdirectives. This is what citizen participation is really about : whose participation in whose decision? Dari kedua pernyataan yang diungkapkan oleh Arnstein dan Turner isu pokok dalam peran serta masyarakat adalah kekuatan untuk mengontrol dan menentukan yang dimiliki masyarakat. Peran serta masyarakat sangat erat kaitannya dengan kekuatan atau hak

masyarakat, terutama dalam pengambilan keputusan dalam tahap identifikasi masalah, mencari pemecahan masalah sampai dengan pelaksanaan berbagai kegiatan selama proses penataan permukiman. Dan tanpa semua kewenangan tersebut masyarakat tidak akan dapat menyalurkan keinginan dan aspirasi mereka.

12

Dalam pelaksanaannya perlu adanya saling percaya dan keterbukaan antara pihak pemerintah dan masyarakat yang bersangkutan. Mengingat ada berbagai macam peran serta masyarakat, maka perlu ada kejelasan bagaimana peran serta tersebut dilaksanakan. Menurut Arnstein (Arnstein, 1969) tipologi peran serta dapat dibedakan menjadi delapan tipologi, antara lain yaitu : 1. Manipulation Masyarakat hanya dipakai namanya sebagai anggota dalam berbagai badan penasehat, namun sebenarnya di dalamnya tidak terdapat peran serta masyarakat yang sebenarnya dan tulus. Nama masyarakat diselewengkan dan hanya dipakai sebagai alat publikasi pemerintah. 2. Therapy Masyarakat dilibatkan pada banyak kegiatan, namun pada kenyataannya kegiatan tersebut lebih banyak untuk mengubah pola pikir masyarakat yang bersangkutan daripada mendapatkan usulan atau masukan dari masyarakat. 3. Informing Peran serta yang hanya sekedar pemberian informasi kepada masyarakat tentang hakhak mereka, tanggung jawab. Peran serta ini bersifat satu arah dari pemegang kekuasaan kepada masyarakat tanpa memungkinkan adanya memberikan umpan balik dari masyarakat. 4. Consultation Peran serta dengan cara mengundang opini masyarakat. Tingkat keberhasilannya rendah, karena tidak adanya jaminan bahwa kepedulian dan aspirasi masyarakat akan diperhatikan. Metode yang sering digunakan survey tentang arah piker masyarakat, pertemuan lingkungan masyarakat dan dengar pendapat. 5. Placation Beberapa anggota masyarakat yang dianggap mampu dimasukkan sebagai anggota dalam badan-badan kerjasama pengembangan kelompok masyarakat. 6. Partnership Kekuasaan atas berbagai hal dibagi antara pihak masyarakat dengan pemegang kekuasaan. Disepakati untuk saling membagi tanggung jawab dalam perencanaan, pengendalian keputusan, penyusunan kebijaksanaan dan pemecahan berbagai masalah yang dihadapi.

13

7. Delegated Power Masyarakat mempunyai kewenangan untuk memperhitungkan bahwa programprogram yang akan dilaksanakan bermanfaat bagi mereka. Pemilik kekuasaan (pemerintah) harus mengadakan tawar menawar dengan masyarakatdan tidak dapat memberikan tekanan dari atas. 8. Citizen Control Masyarakat memiliki kekuatan untuk mengatur program atau kelembagaan yang berkaitan dengan kepentingan mereka. Masyarakat dapat langsung berhubungan dengan sumber dana. Pembagian tingkat peran serta dapat dibagi lagi dengan pembagian peran serta yang lebih sesuai dengan kondisi atau pelaksanaan di Indonesia (Bambang Panudju, 2009), yaitu sebagai berikut : 1. Tidak berperan serta, masyarakat dapat dikatakan tidak terlibat sama sekali. 2. Berperan pasif, masyarakat hanya memberikan informasi atau menerima arahanarahan saja dari pihak lain 3. Berperan serta aktif, aktif ikut dalam pelaksanaan kegiatan yang diarahkan oleh pihak lain atau memberikan bantuan pada pihak lain. 4. Berperan serta aktif dan memberikan masukan-masukan dalam pengambilan keputusan, atau membantu memecahkan masalah. 5. Berperan serta penuh dalam pengambilan keputusan.

2.2.2 Peran Serta Masyarakat dalam Pendanaan Meskipun sebagian besar masyarakat permukiman kumuh identik dengan

penghasilannya yang rendah, biasanya masyarakat bersedia untuk menyediakan dana dan berperan serta untuk pemenuhan kebutuhan tempat tinggal yang layak sekiranya ada kejelasan atau keamanan dalam status kepemilikan rumahnya. Dengan kondisi ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah yang sangat minimal, tidak mungkin masyarakat tersebut dituntut untuk menyediakan dana yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan permukiman yang layak. Untuk dapat menarik peran serta masyarakat, diperlukan adanya system pengadaan permukiman khusus dan berbagai macam bantuan sumber dana dari berbagai pihak (Turner; 1976; 39).

14

2.3 Adaptasi Teori Maslow Untuk Permukiman Menurut teori hirarki kebutuhan yang diungkapkan oleh Abraham Maslow, manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi. Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Dalam tingkat dari lima kebutuhan dasar, orang tidak merasa perlu kebutuhan di tingkat kedua hingga ia merasa kebutuhan di tingkat pertama telah terpenuhi, begitu juga untuk rasa perlu kebutuhan di tingkat ketiga yang baru dirasakan diperlukan jika kebutuhan di tingkat kedua telah terpenuhi, dan begitu seterusnya.Sehingga dapat dikatakan untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya. Lima (5) kebutuhan dasar Maslow - disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial : 1. Kebutuhan Fisiologis Antara lain meliputi : sandang/pakaian, pangan/makanan, papan/rumah, dan kebutuhan biologis seperti bernafas, dan lain sebagainya. 2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan Contoh seperti : bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya. 3. Kebutuhan Sosial Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain. 4. Kebutuhan Penghargaan Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya. 5. Kebutuhan Aktualisasi Diri Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya. Sedangkan menurut Turner (Turrner; 1971; 166-168) yang merujuk pada teori Maslow, terdapat kaitan antara kondisi ekonomi seseorang dengan skala prioritas kebutuhan hidup dan prioritas kebutuhan akan perumahan atau tempat tinggal. Dalam menentukan prioritas tentang rumah, seseorang atau sebuah keluarga yang berpendapatan sangat rendah cenderung meletakkan prioritas utama pada lokasi rumah yang

15

berdekatan dengan tempat yang dapat memberikan kesempatan kerja. Tanpa kesempatan kerja yang dapat menopang kebutuhan sehari-hari, sulit bagi mereka untuk dapat mempertahankan hidupnya. Status kepemilikan rumah dan lahan menempati prioritas kedua, sedangkan bentuk dan kulaitas rumah merupakan prioritas terakhir. Yang terpenting pada tahap ini adalah tersedianya rumah untuk berlindung dan beristirahat dalam upaya mempertahankan hidupnya. Selanjutnya seiring dengan meningkatnya pendapatan, prioritas kebutuhan

perumahannya akan berubah pula. Status kepemilikan rumah menjadi prioritas utama, karena orang atau keluarga tersebut ingin mendapatkan kejelasan tentang status kepemilikan

rumahnya. Dengan demikian mereka yakin bahwa tidak akan digusur. Tanpa jaminan adanya kejelasan tentang status kepemilikan rumah dan lahannya, seseorang atau sebuah keluarga akan selalu merasa tidak aman sehingga mengurangi minat mereka untuk memperluas atau meningkatkan kualitas rumahnya dengan baik. Prioritas kedekatan lokasi rumah dengan fasilitas pekerjaan menjadi prioritas kedua karena kesempatan kerja bukan lagi masalah yang mendesak. Sedangkan bentuk dan kualitas rumah masih tetap menempati prioritas terakhir (Turner; 1972; 167-169). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah dan sangat rendah, faktor jarak antara lokasi rumah dengan tempat kerja menempati prioritas nomor satu. Faktor kejelasan status kepemilikan lahan dan rumah menjadi prioritas kedua sedangkan factor bentuk dan kualitas bangunan tetap menempati prioritas paling rendah. Teori tersebut di atas dapat dijadikan dasar bagi penyusunan criteria perumahan atau permukiman yang dibutuhkan oleh masyarakat berpenghasilan rendah sebagai penghuni permukiman kumuh, yaitu sebagai berikut : a. Lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat-tempat yang dapat memberikan pekerjaan bagi masyarakat tersebut. b. Status kepemilikan lahan dan rumah yang jelas, sehingga tidak ada rasa ketakutan dari penghuni untuk digusur. c. Bentuk dan kualitas bangunan tidak perlu terlalu baik , tetapi cukup memenuhi fungsi dasar yang diperlukan penghuninya. d. Harga atau biaya perumahan atau permukiman harus sesuai dengan tingkat pendapatan (kemampuan dan kesediaan membayar) mereka.

16

2.4 Kemampuan dan Kesediaan Membayar Tempat Tinggal 2.4.1 Pengertian Kemampuan Membayar Tempat Tinggal Kemampuan membayar untuk tempat tinggal (Ability to pay) atau dikenal dengan ATP, yaitu besarnya dana yang sebenarnya dapat dialokasikan untuk membayar kebutuhan akan tempat tinggal yang bersangkutan. Pengertian lain dari kemampuan membayar (ATP) adalah kemampuan masyarakat untuk membayar permukiman layak huni yang dibutuhkan berdasarkan tingkat pendapatan ideal yang diterimanya, baik pendapatan kepala keluarga dan pendapatan total keluarga. Nilai ini merupakan ATP per kapita penduduk, sehingga tidak langsung identik dengan WTP yang berdasarkan rumah tangga (Lilik Muntamah, dkk. 2010).

2.4.2 Pengertian Kesediaan Membayar Tempat Tinggal Kesediaan membayar untuk tempat tinggal (Willingness to pay), atau dikenal dengan WTP, adalah besarnya dana yang mau dibayarkan oleh suatu keluarga untuk memperoleh tempat tinggal. Pengertian lainnya adalah tingkat kesediaan masyarakat untuk membayar atau mengeluarkan imbalan atas persepsi masyarakat tersebut terhadap produk/jasa layanan yang diterimanya. Tingkat kesediaan membayar dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain seperti karakteristik ekonomi, karakteristik sosial ekonomi dan karakteristik dari barang itu sendiri. Tingkat kemampuan membayar atau dapat dinyatakan sebagai kesediaan membayar berdasarkan pendapatan kepala keluarga dan pendapatan total keluarga memiliki batasan secara teoritis atau ATP teoritis yaitu maksimal 20% - 30 % dari total pendapatan kepala keluarga dan pendapatan total keluarga (Yovita Maureen M, 2008). Kombinasi pendekatan dengan menggabungkan infomasi tentang kesediaan membayar (WTP) dan kemampuan membayar (ATP) akan memberi gambaran besarnya jangkauan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan akan tempat tinggal (Lilik Muntamah, dkk. 2010).

2.5 Sintesa Teori Permukiman kumuh merupakan kawasan yang identik dengan berbagai stigma yang bernilai negatif seperti kawasan yang apatis, kelebihan penduduk, tidak mencukupi, tidak memadai, miskin, bobrok, berbahaya, tidak aman, kotor, di bawah standar,dan tidak sehat. Permasalahan permukiman kumuh selama ini masih belum memiliki upaya penanganan yang maksimal. Upaya penyelesaian yang bisa diusahakan bisa berdasarkan pendekatan secara partisipatori, pendekatan berkelanjutan dan pendekatan secara fisik.

17

Peran serta masyarakat diperlukan dalam upaya penanganan permukiman kumuh karena masyarakatlah pihak yang terlibat secara langsung dengan permasalahan tersebut. Peran serta masyarakat disini berupa kekuasaaan dan wewenang untuk dapat menentukan jenis penanganan dalam penataan permukiman kumuh yang paling sesuai dengan kondisi ekonomi dan sosial yang dialami masyarakat. Berdasarkan adaptasi teori maslow yang dilakukan oleh Turner, kriteria utama penentuan permukiman berdasarkan preferensi masyarakat antara lain adalah lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat-tempat yang dapat memberikan pekerjaan bagi masyarakat tersebut; status kepemilikan lahan dan rumah yang jelas, sehingga tidak ada rasa ketakutan dari penghuni untuk digusur; bentuk dan kualitas bangunan tidak perlu terlalu baik, tetapi cukup memenuhi fungsi dasar yang diperlukan penghuninya; harga atau biaya perumahan atau permukiman harus sesuai dengan tingkat pendapatan (kemampuan dan kesediaan membayar) mereka. Dalam hal ini permasalahan utama yang diangkat adalah harga permukiman yang harus sesuai dengan tingkat kemampuan (ATP) dan kesediaan membayar (WTP) untuk tempat tinggal yang layak baik berdasarkan karakteristik sosial, ekonomi dan fisik lingkungan dari lingkungan permukiman kumuh masyarakat itu sendiri.

18