Anda di halaman 1dari 19

Laboratorium Kimia-Farmasi Program Studi Farmasi F-MIPA Universitas Lambung Mangkurat

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS PERCOBAAN I PRAKTIKUM PENDAHULUAN

Oleh : Nama NIM Kelompok ASISTEN : Lisa Karlina Halim : J1E111003 : II B : Ghea Chalida Andita

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2012

HALAMAN PENILAIAN PERCOBAAN I PRAKTIKUM PENDAHULUAN

Tanggal Jurnal Awal

Nilai

Jurnal Akhir

Mengetahui Asisten,

Ghea Chalida Andita

BAB I PENDAHULUAN

Suatu senyawa yang terdiri dari beberapa unsur dapat diketahui sifatnya dari mencoba melakukan pemeriksaan pendahuluan yang kita lakukan dengan menggunakan berbagai macam analisis. Pada pemeriksaan pendahuluan digunakan berbagai macam metode analisis. Dua langkah utama analisis identifikasi dan estimasi komponen-komponen suatu senyawa. Langkah identifikasi sebagai analisis kualitatif sedangkan langkah estimasinya adalah analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif dapat diklasifikasikan dengan dasar perbedaan metode analisis atau klasifikasi dengan skala analisisnya (Khopkar, 1990). Pengujian pendahuluan dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum, ke arah manakah perhatian harus diberikan dalam analisis kualitatif. Pengamatan pendahuluan dapat dilakukan dengan mengamati warna padatan dan larutan, melalui reaksi nyala, reaksi dengan asam sulfat dan melalui pengujian kelarutan (Svehla,1990). Pada uji pendahuluan yang dilakukan adalah menguji reaksi nyala api, reaksi pemijaran, penyelidikan NH3, penyelidikan H2S, penyelidikan CO2, mengendapkan zat dengan H2S, pengendapan hidroksida, membedakan Cl-, Br-, I-, membedakan Hg2Cl2 dengan HgCl2, membedakan Fe2+ dan Fe3+, identifikasi reduktor, identifikasi oksidator, membedakan Ca2+, Ba2+, Sr2+, beberapa bentuk kristal yang spesifik, reaksi cincin coklat (uji nitrat), uji nyala borat, organoleptis, reaksi pembentukan amalgam dan reaksi gutzeit serta fleitman (Day dan Underwood, 1986). Analisis kualitatif berkaitan dengan identifikasi zat-zat kimia, mengenali unsur atau senyawa apa yang ada dalam suatu sampel. Langkah pertama dalam analisis kualitatif adalah membedakan antara sampel organik dan anorganik. Sehingga perlu diadakannya suatu kegiatan agar lebih mengetahui secara mendalam mengenai analisis kualitatif dengan menggunakan pemeriksaan pendahuluan untuk mengetahui sifat-sifat dari suatu senyawa. Analisis kualitatif berlaku untuk senyawa kation dan senyawa anion (Khopkar,1990).

BAB II MAKSUD DAN TUJUAN PRAKTIKUM

Maksud dan tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui sifat-sifat organoleptis suatu zat baik itu bentuk, warna maupun baunya. Selain itu melalui praktikum ini diharapkan praktikan mampu melakukan identifikasi awal pada suatu zat untuk menduga zat apa yang dianalisa sebelum melanjutkan ke reaksi dugaan dan reaksi spesifik.

BAB III TEORI SINGKAT

Analisis kualitatif dilakukan untuk menemukan dan mengidentifikasi jenis unsur, senyawa dan jenis gugusan yang terdapat dalam bahan yang dianalisis. Langkah pertama dalam analisis kualitatif adalah membedakan antara sampel organik dan anorganik. Sampel anorganik adalah senyawa logam dan non logam yang menghasilkan ion-ion dalam larutan (Svehla, 1990). Analisis kualitatif menggunakan dua macam uji, reaksi kering dan reaksi basah. Reaksi kering dapat diterapkan untuk zat-zat padat dan reaksi basah untuk zat dalam larutan. Kebanyakan reaksi kering yang diuraikan dapat digunakan untuk analisis semimikro dengan hanya modifikasi kecil (Svehla,1990). Dasar identifikasi unsur-unsur terletak pada sifat-sifat fisika dan kimia. Sifat fisika yang paling sederhana adalah dapat diamati, misalnya, warna suatu senyawa atau hasil reaksi dengan pereaksi tertentu. Jika pemakaian pereaksi dibatasi pada pereaksi yang memberikan hasil yang dapat diamati, maka hasil reaksi harus berupa : a) Senyawa berwarna (larutan atau endapan) b) Uap yang terlihat meninggalkan larutan atau memberikan bau spesifik c) Pelarutan kembali endapan yang terbentuk sebelumnya (Harjadi, 1993). Pada pemeriksaan pendahuluan ini menggunakan beberapa macam analisis pada senyawa ion. Pertama yaitu pemeriksaan organoletis, pemeriksaan organoleptis adalah pemeriksaan yang dilakukan pada senyawa-senyawa ion dengan memperhatikan bentuk, warna zat, bau zat, sifat higroskofis, tunggal/ campuran dan kelarutan dalam air. Sedangkan yang kedua adalah reaksi nyala, yaitu dilakukan reaksi nyala dengan kawat Ni-Cr, reaksi nyala Belistein, reaksi nyala borat, dan pemijaran. Kemudian pemeriksaan dengan reaksi dengan H2SO4 encer maupun pekat (Basset, 1994).

Setiap analisis terbagi menjadi tiga bagian yaitu : 1. Pemeriksaan pendahuluan meliputi pemeriksaan pendahuluan dengan uji kering, pemeriksaan hasil-hasil yang mudah menguap yang diperoleh dengan larutan natrium hidroksida dan dengan asam sulfat. 2. Pemeriksaan ion logam (kation) dalam larutan 3. Pemeriksaan anion dalam larutan (Harjadi, 1993). Berikut ini adalah langkah-langkah dalam pemeriksaan pendahuluan : a. Pemeriksaan Organoleptis 1. Bentuk Melihat bentuk dari zat atau bahan yang akan diidentifikasi, misalnya berbetuk padatan, serbuk kristal, maupun lempengan. 2. Warna zat Dapat diperhatikan warna-warna dari beberapa ion dan senyawa kimia dalam bentuk larutan dan padatan seperti berikut : Biru Coklat Merah : Cu2+, Co2+ : Fe2O3, PbO2, SnS, CdO : HgO, Hgl2, K3Fe(CN6), K2CrO7 : Fe2+, Ni2+, Cr3+ : NaCl, KOH

Kuning : As2S3, CdS, PbI2, CrO42Hijau Putih

3. Bau zat Bau pada senyawa kimia mempunyai ciri khas tersendiri, seperti : Garam-garam amoniak Garam-garam asetat Arsen 4. Sifat higroskopis Sifat higroskopis adalah sifat suatu senyawa yang apabila dilarutkan dengan air maka dapat terlarut atau mudah larut, berikut contoh-contoh dari senyawa yang bersifat higroskopis : KOH, NaOH, NaCl, CaCl2. (Hedisoebroto, 1990). b. Reaksi Nyala : Bau amoniak : Bau cuka : Bau arsen

Reaksi nyala api dilakukan dengan membasahi sampel dengan HCl pekat, massa yang basah itu diambil sedikit dengan kawat platina yang bermata kecil, lalu dipanaskan di bagian luar pembakaran. Sampel diberi HCl dengan maksud membentuk garam klorida, karena garam-garam klorida termasuk bahan-bahan yang paling mudah menguap. Uap yang terjadi itu menyebabkan api berwarna yang tergantung dari macam kationnya. Senyawa-senyawa baik padatan maupun larutan mampu menunjukkan jenis warna logam khas. Logam-logam tembaga, nikel, mangan, kronium, kobalt, dan besi menghasilkan garam-garam berwarna. Demikian juga garam-garam kromat, dikromat, dan permanganat mampu menunjukkan warna spesifik. Berikut akan diberikan daftar beberapa warna yang umum: CrO42Cr2O2MnO Ni+2 Fe3+
4-

: kuning : merah jingga : ungu : hiaju : merah coklat

Fe+2 Cr+3 Cu
2+

: hijau abu-abu : hijau : biru-hijau : merah anggur ke biru (Harjadi, 1993).

Co+2

Mn+2 : merah muda

Beberapa kation mampu memberikan warna khas pada nyala Burner, dengan mengamati warna dapat diketahui ion manakah yang mungkin ada dalam campuran. Untuk pengerjaan ini diperlukan kawat Pt yang telah dibersihkan dengan baik. Pengujian dilakukan dengan garam klorida, mengingat garam ini lebih cepat menguap dibandingkan dengan garam lainnya. Beberapa warna yang dihasilkan kation antara lain Na+ Ca2+ Cu
2+

: kuning : merah kuning : hijau-biru

K+ Ba2+ BO3
2+

: ungu
:

Sr2+ : merah

hijau

: hijau pucat

(Harjadi, 1993). c. Reaksi dengan Asam Sulfat. Beberapa contoh reaksi dan pengamatan adalah: H2S
-

Bau telur busuk, menghitamkan kertas Pb asetat dan sumber senyawa Sulfida

Oac

gas bau asam cuka jika dipanaskan

NO3ClBrIS2CO32SO32CrO42SO42(Hedisoebroto, 1990). d. Pengujian Kelarutan

gas coklat, bau merangsang jika dipanaskan gas kuning, bau merangsang, memerahkan kertas lakmus dan sumber senyawa Hipokrit gas coklat, bau merangsang, memerahkan kertas lakmus gas ungu, bau merangsang dan sumber senyawa Iodida gas, bau telur busuk, pengendapan belerang gas tak berwarna, mengeruhkan air barit dan sumber senyawa Karbonat dan Bikarbonat gas tak berwarna, bau merangsang dan sumber senyawa Sulfit perubahan warna dari kuning ke merah jingga Tidak ada perubahan jelas

Pada pengujian kelarutan, jika sampel berupa padatan harus dicari pelarut yang sesuai. Untuk itu sampel sebaiknya digerus terlebih dahulu supaya menjadi halus, kemudian diuji kelarutannya dalam berbagai pelarut. Pengujian dilakukan mula-mula dalam keadaan dingin, setelah itu dalam keadaan panas. Sebagai p elarut yang dipakai urutan air, asam klorida (encer dan pekat), asam nitrat (encer dan pekat), dan terakhir air raja (campuran asam klorida dan asam nitrat dalam perbandingan 3 : 1). Sedapat mungkin dibatasi sampai dengan asam klorida, tetapi andai kata harus dipakai asam nitrat sebaiknya kelebihan asam nitrat dihilangkan lebih dulu sebelum dilarutkan kembali dalam asam klorida encer (Basset, 1994). Tujuan dari analisis kualitatif bukan sekedar mendeteksi bahan-bahan penyusun suatu campuran, melainkan juga memiliki tujuan yang sama pentingnya yaitu untuk mengetahui jumlah relatif yang mendekati dari setiap komponen. Untuk tujuan ini, biasanya hanya dipakai sejumlah kecil yaitu sekitar 0,5 1,0 gram dari zat itu; jumlah relatif berbagai endapan akan memberi petunjuk yang kasar tentang proporsi dari bahan-bahan penyusun yang ada (Svehla, 1990). Dalam analisis kualitatif yang jauh lebih penting adalah sifat-sifat khas dari zat tersebut seperti warnanya atau menunjukkan fluorescensi. Rupa dari zat harus

diperhatikan dengan seksama; jika perlu hendaknya dipakai lensa atau mikroskop. Kemudian diamati apakah zat itu terdiri dari kristal ataukah amorf, serta apakah bersifat magnetis dan memiliki bau atau warna yang khas (Svehla, 1990).

BAB IV METODE KERJA

IV. 1

ALAT DAN BAHAN A. ALAT Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :

1. batang pengaduk, 2. bunsen, 3. cawan porselin 4. gabus, 5. gelas obyek, 6. kaca arloji 7. Kaki tiga 8. kapas 9. kawat Ni-Cr 10. Keping tembaga 11. kertas saring, 12. krus porselen/pecahan porselen, 13. mikroskop 14. Penjepit kayu 15. pipa bengkok 16. pipet tetes, 17. sendok tanduk 18. tabung reaksi

B. BAHAN Bahan-baham yang digunakan dalam percobaan ini adalah : 1. 2. 3. 4. Asam sulfat pekat. As2O3HCl pekat. Ba(NO3)2. BiNO4. 17. K3Fe(CN)6. 18. KNO2. 19. KNO3. 20. KOH.

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. IV.2

CaCl2. CoSO4. Co(II). CuSO4. FeCl3. Fe (NO3)3. HgI2. H2O. Kawat Ni-Cr. Kawat tembaga. KI. K2CrO4.

21. Metanol. 22. MgCl2. 23. MgSO4. 24. MnO2. 25. NaCl . 26. NaOH. 27. Na2CO3. 28. NiSO4. 29. Pb(NO3)2 30. Sr(NO3)2. 18. KMnO4 32. ZnO

CARA KERJA

IV.2.1 Reaksi Nyala Api 1. Menyalakan alat pembakar bunsen. 2. Mebersihkan kawat ose sampai nyala tidak berwarna (cara membersihkan kawat ose). 3. Dibasahi kawat yang telah bersih dengan sedikit air suling dan dikenakan ke zat yang akan diperiksa. Dipanaskan pada nyala gas bagian luar. Diperhatikan warna nyala yang terjadi. Dilakukan percobaan dengan garam-garam dari logam K, Ba, Ca, Na, Cu, Borat, Pb dan Sb. 4. Untuk logam Na dilakukan paling akhir (mengapa) ? 5. Dibuat table percobaan diatas dan amati reaksi nyala api. IV.2.2 Reaksi Pemijaran 1. Ditaroh sedikit zat padat dalam krus porselen/pecahan porselen. Dilakukan pemanasan/pemijaran menurut petunjuk. 2. Diamati perubahan warna yang terjadi selama pemanasan dan setelah dingin. 3. Dilakukan percobaan ini dengan zat-zat ZnO, CuSO4, dan FeCl3.

IV.2.3 Penyelidikan NH3 1. Dimasukan sedikit kristal NH4OH dalam tabung reaksi besar. Dilarutkan dalam sedikit mungkin air suling dan tambahan larutan NaOH 4 N beberapa tetes. Dipanaskan secara hati-hati dengan nyala api kecil. 2. Diperiksa gas yang terjadi dengan : a. Diselidiki baunya (perhatikan caranya). b. Kertas lakmus yang merah yang dibasahi air diatas mulut tabung. c. Batang pengaduk yang dibasahi HCl pekat dipegang diatas mulut tabung. IV.2.4 Penyelidikan H2S 1. Dimasukan 0,5 mL larutan Na2S ke dalam tabung reaksi besar. 2. Ditambahkan kedalamnya beberapa tetes HCl 4 N. diperiksa gas yang terjadi dengan : a. Diselidiki baunya (perhatikan caranya) b. Sepotong kertas saring yang dibasahi larutan Pb asetat dipegang diatas mulut tabung. IV.2.5 Penyelidikan CO2 Cara A 1. Disiapkan 2 tabung reaksi besar dan pipa bengkok dengan gabus. 2. Tabung 1 diisi garam karbonat (Na2CO3 atau CaCO3 dan diberi sedikit air suling). 3. Tabung 2 diisi larutan Ca(OH)2 atau Ba(OH)2. 4. Tabunng 1 yang berisi garam karbonat diberi sedikit H2SO4 2 N dengan hati-hati dan segera dihubungkan dengan tabung 2 melalui pipa bengkok. 5. Harus diperhatikan tabung 1, pipa tidak boleh tercelup zatnya sedang pada tabung2 harus tercelup laruta Ca(OH)2 (mengapa) ? 6. Tabung 1 dipanaskan dengan nyala api kecil. Amati reaksi yang terjadi dalam tabung reaksi 1 dan tabung reaksi 2. Cara B

1. Dimasukan pipet tetes dalam tutup gabus yang cocok untuk menutup tabung reaksi. 2. Pipet diisi larutan Ca(OH)2 dan dijaga jangan samapai menetes. 3. Tabung diisi garam karbonat, diberi sedikit H2SO4 2 N dengan hatihati dan pipet segera ditutupkan diatas tabung. Pipet jangan sampai tercelup larutan karbonat. 4. Diamati reaksi yang terjadi dalam tabung dan endapan pada pipet tetes. IV.2.6 Mengendapkan Zat dengan H2S 1. Diasamkan dengan 2 mL HCl 4 N larutan 2 mL larutan Na3AsO3. 2. Dipanasi hati-hati sampai hamper mendidih (80o), disliri dengan gas H2S selama 10 menit (Diperhatikan cara mengaliri H2S) dan diamati reaksinya. 3. disaring endapan yang terbentuk, dicuci dengan air suling dan dipindahkan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan padanya HCl pekat dan dipanasi secara hati-hati dalam lemari asam serta amati reaksinya. 4. Diulangi percobaan ini dengan garam Sb sebagai pengganti Na3AsO3 dan diterangkan perbedaan yang anda lihat pada kedua percobaan diatas serta dituliskan reaksinya.

IV.2.7 Pengendapan Hidroksida 1. Diambil 4 buah tabung reaksi besar dan ditiap-tiap tabung diisi larutan garam, masing-masing diisi 1 mL. Tabung I : Al3+ Tabung II : Fe3+ Tabung III : Zn2+ Tabung IV : Co2+

2. Ditambahkan pada masing-masing tabung NH4OH 6 N 4-5 tetes sambil dikocok. Diperhatikan reaksi yang terjadi dan diamati perbedaannya.

3. Ditambah NH4OH dilanjutkan samapai berlebih (+ 1 mL). Diamati reaksinya yang terjadi dan diamati perbedaannya. 4. Dilakukan percobaan ini sekali lagi dengan NaOH 6 N sebagai reagennya. 5. Dituliskan rumus dan warna endapan atau ion baru yang terbentuk di dalam table. IV.2.8 Membedakan Cl-, Br-, IPercobaan 1 : 1. Satu mL larutan kloridda dalam tabung reaksi diberi beberapa tetes larutan HNO3 4 N. Sambil dikocok tambahkan ke dalam larutan tersebut, setetes demi setetes larutan AgNO3 dan diamati reaksinya. 2. Didiamkan endapan di sinar matahari dan diamati perubahannya. 3. Diputar endapan (sentrifuse), dibuang cairannya lalu ditambahkan pada endapan tersebut 2 mL NH4OH dan kocok. Diperhatikan reaksi yang terjadi dan ditambahkan 1 mL HNO3 2 N. 4. Diterangkan semua peristiwa yang anda lihat dan dituliskan reaksinya. 5. Dilarutkan percobaan ini untuk garam bromida dan iodida dan dicoba juga melarutkan endapan AgCl, AgBr, AgI dalam NH4OH pekat. Percobaan II 1. Dimasukan 1 mL larutan garam klorida, bromida, dan iodida dalam 3 tabung reaksi yang berbeda. Masing-masing diasamkan dengan penambahan H2SO4 2 N, lalu tambahkan 0,5 mL kloroform sehingga tampak lapisan kloroform dibagian bawah. 2. Ditambahkan 1 tetes H2SO4 pekat dan beberapa tetes larutan KMnO4 sambil dikocok. Diamati warna lapisan kloroform. 3. Dijelaskan beda ketiga ion (Cl-, Br-, I-)

IV.2.9 Membedakan Hg2Cl2 dengan HgCl2

1. 1 mL larutan HgCl2 dalam tabung reaksi ditambah dengan setetes demi setetes larutan KI hingga berlebih. Diterangkan reaksi yang terjadi. 2. Dilakukan percobaan diatas dengan Hg22+ sebagai pengganti Hg2+. 3. Diterangkan beda kedua percobaan diatas dan dituliskan rumus serta warna endapan atau ion baru dalam table. IV.2.10 Membedakan Fe2+ dan Fe3+ 1. 1 mL larutan Fe2+ atau Fe3+ ditambah beberapa tetes reagen, masingmasing NH4OH, NH4CNS, K4Fe(CN)6, K3Fe(CN)6. 2. Ditulis hasilnya dalam table. IV.2.11 Identifikasi Reduktor 1. 1 mL larutan asam/garam oksalat dalam tabung reaksi besar, ditamabah 1 mL H2SO4 2 N, dipanasi sampai 70oC. 2. Ditambahkan 2 tetes larutan KMnO4 dan dikocok. 3. Diamati reaksi yang terjadi dan diterangkan. IV.2.12 Identifikasi Oksidator 1. Ditambah dengan hati-hati 1 tetes reagen difenilamin H2SO4 dalam penetes yang diisi dengan 2 tetes larutan garam nitrat. 2. Diamati reaksinya dan diterangkan. IV.2.13 Membedakan Ca2+, Ba2+, Sr2+ 1. Diambil 3 buah tabung reaksi dan masing-masing tabung diisi dengan larutan garam. Dimana tabung 1 = Sr2+, tabung 2 = Ba2+, dan tabung 3 = Ca2+. 2. Ditambahkan dalam tiap-tiap tabung beberapa tetes H2SO4 2 N. 3. Diamati reaksinya dan didiamkan sampai 30 menit lagi, diamati lagi. IV.2.14 Beberapa Bentuk Kristal yang Spesifik a. Kristal PbCl2 1. Ditambah beberapa tetes HCl 4 N dalam tabung reaksi besar yang diisi dengan 1 mL larutan Pb asetat. Diamati reaksi yang terjadi.

2. Dipanaskan tabung ini sampai cairan mendidih beberapa menit. Diamati apa yang terjadi. 3. Dibiarkan tabung menjadi dingin. Apa yang terjadi dan diterangkan semua reaksi yang terjadi. b. Kristal PbI2 1. Ditambah 2 tetes larutan KI pada gelas obyek yang diisi dengan 2 tetes larutan Pb asetat. Dipanasi dengan nyala api yang kecil dan didinginkan. 2. diamati kristal yang terjadi dibawah mikroskop (gelas obyek ditutup dengan gelas penutup). Ditulis reaksinya dan digambar kristal yang terbentuk. c. Kristal Zn-Hg Thiosianat 1. Ditambah dengan 1 tetes reagen Hg thiosiana pada gelas obyek yang telah diisi dengan 1 tetes larutan garam Zn, kemudian gelas penutup ditutup. 2. Diamati bentuk kristal yang terjadi dan ditulis reaksinya serta digambar kristal yang terbentuk. d. Kristal Zn Uranil Asetat 1. Ditambah dengan pereaksi Zn uranil asetat pada gelas obyek yang telah diisi dengan 1 tetes larutan garam Na, kemudian gelas penutup ditutup. 2. Diamati bentuk kristal yang terjadi dan ditulis reaksinya serta digambar kristal yang terbentuk. e. Kristal Cd Oksalat 1. Ditambah dengan 1 tetes larutan garam oksalat pada gelas obyek yang telah diisi dengan 1 tetes larutan garam Cd, kemudian gelas penutup ditutup. 2. Diamati bentuk kristal yang terjadi dan ditulis reaksinya serta digambar kristal yang terbentuk.

f. Kristal Ammonium Molibdat 1. Diberi 1 kristal ammonium molibdat pada gelas obyek yang telah diisi dengan 2 tetes larutan garam Al, kemudian didiamkan sebentar dan gelas penutup ditutup. 2. Diamati bentuk kristal yang terjadi dan ditulis reaksinya serta digambar kristal yang terbentuk. g. Kristal Kalium Molibdat 1. Diberi setetes triple nitrit A dan 1 tetes tripel nitrit B pada gelas obyek yang telah diisi 1 tetes larutan K, kemudian didiamkan sebentar dan gelas penutup ditutup. 2. Diamati bentuk kristal yang terjadi dan ditulis reaksinya serta digambar kristal yang terbentuk. IV.2.15 Reaksi Cincin Coklat (Uji Nitrat) 1. Dimasukan dalam tabung reaksi 1 mL garam NO3- (misalnya natrium nitrat). 2. Ditambahkan ke dalamnya larutan pekat FeSO4 rp dan dikocok perlahan-lahan. 3. Dialirkan H2SO4 pekat melalui dinding tabung yang dimiringkan. 4. Diamati dan dituliskan reaksi yang terjadi. IV.2.16 Uji Nyala Borat 1. Dicampur dengan 1-2 mL metanol/etanol dan 1-2 tetes H2SO4 pekat pada cawan porselin yang diisi dengan sedikir zat padat, lalu hati-hati dinyalakan. 2. Diamati dan dituliskan reaksi yang terjadi. IV.2.17 Organoleptis 1. Zat dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 2. Diamati warna, bau, sifat higroskopis dan kelarutan zat.

IV.2.18 Reaksi Pembentukan Amalgam 1 Dimasukkan Hg2+ di dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan HCl 0,5 N. 2. Didiamkan beberapa saat lalu dimasukkan kedalamnya keeping Cu. 3. Diamati reaksi yang terjadi. Dilakukan prosedur yang sama dengan mengganti Hg2+ dengan Bi3+. IV.2.19 Reaksi Gutzeit dan Fleitman Reaksi Gutzeit 1. Dimasukkan Sb3+ ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan larutan Zn2+ dan H2SO4 kemudian ke tengah tabung reaksi

dimasukkan kapas yang ditetesi Pb asetat. 2. Selanjutnya tabung ditutupi dengan kertas saring yang ditetesi dengan AgNO3. Tabung kemudian dipanaskan dan diamati reaksi yang terjadi. Percobaan diulangi dengan mengganti Sb3+ menjadi As3+. Reaksi Fleitman 1. Dimasukkan Sb3+, serbuk aluminium dan KOH ke dalam tabung reaksi. 2. kemudian ke tengah tabung reaksi dimasukkan kapas yang ditetesi Pb asetat. 3. Selanjutnya tabung ditutupi dengan kertas saring yang ditetesi dengan AgNO3. 4. Tabung kemudian dipanaskan dan diamati reaksi yang terjadi. Percobaan diulangi dengan mengganti Sb3+ menjadi As3+.

DAFTAR PUSTAKA

Bassett, J. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Day, R.A. & A.L Underwood. 1986. Analisa Kimia Kuantitatif. PT. Gelora Aksara Pratama : Surabaya Harjadi, W. 1990, Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia : Jakarta. Hedisoebroto, N. 1990. Dasar-dasar Analisis dan Pemisahan Kimia. ITB: Bandung. Khopkar, S. M. 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia Press : Jakarta Svehla, G. 1990. Vogel: Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian I. PT. Kalman Media Pusaka : Jakarta