Anda di halaman 1dari 35

PERBANDINGAN PERHITUNGAN HARGA POKOK SECARA KONVENSIONAL DAN ACTIVITY BASED COSTING (ABC)

KELOMPOK 3 : 1. AGUSTINA WULANDARI 2. RENI RINJANI 3. RISKA MARTIN 4. VANNI APRIYANTI S

Universitas Pamulang Jl . Surya Kencana No.1 Pamulang-Tangerang Selatan Telp. (021) 7412566 Email : info@unpam.ac.id, Website, http://www.unpam.ac.id

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kita menyadari bahwa saat ini kita telah memasuki era globalisasi, dimana hampir tidak ada lagi batas dalam berkomunikasi antar negara. Setiap orang dengan leluasa bebas mengakses (informasi) dari negara mana saja, mempunyai kesempatan yang sama untuk berusaha dimana saja, tanpa ada hambatan masuk yang sering diberlakukan oleh suatu negara. Pada era globalisasi barang-barang dari negara lain bebas masuk ke Indonesia, begitu pula sebaliknya barang-barang Indonesia bebas memasuki pasar luar negeri. Untuk itu sebagai kata kunci, barang-barang dan atau jasa yang akan memasuki pasar global harus mampu bersaing dengan barang-barang dan atau jasa dari negara lain. Untuk dapat bersaing di pasar global maka perusahaan harus mampu menghasilkan produk yang memiliki mutu yang tinggi dengan tingkat harga yang bersaing. Mutu adalah apa yang pelanggan rela dan senang membayar (Gumbira-Said, 2001). Perusahaan harus dapat bekerja secara efisien, dengan mengurangi pos-pos biaya yang tidak bermanfaat dan memfokuskan alokasi biaya ke pos-pos biaya yang produktif yang menghasilkan manfaat dan nilai tambah bagi perusahaan maupun konsumen. Dalam menentukan harga jual suatu produk pada umumnya berdasarkan harga pokok produk yang merupakan/mencerminkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk. Untuk itu dalam perhitungan harga pokok suatu produk harus dilakukan dengan akurat, sehingga akan dihasilkan harga jual yang lebih tepat dan lebih realistis. Selanjutnya perusahaan akan dapat menentukan keuntungan yang yang diinginkan.

Pada perusahaan manufaktur yang masuk dalam perhitungan harga pokok produksi (biaya produksi) terdiri dari biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku langsung merupakan bagian yang tak te$isahkan dari produk jadi dan dapat ditelusuri secara fisik dan mudah terhadap produk yang dihasilkan. Begitu pula biaya tenaga kerja langsung, biaya ini juga dapat secara mudah dan langsung ditelusuri ke produk jadi. Sedangkan biaya overhead pabrik merupakan biaya tidak langsung, sulit untuk ditelusuri secara langsung terhadap produk. Untuk itu pembebanan biaya overhead pabrik ke tiap-tiap produk yang dihasilkan dilakukan dengan alokasi biaya tidak langsung berdasarkan atas asumsi keterkaitan biaya terhadap suatu produk. Dalam pengalokasian/pembebanan biaya overhead ke setiap produk yang diproduksi pada umumnya digunakan 2 (dua) sistem biaya, yaitu sistem biaya konvensional (tradisional) yang menggunakan unit / kuantitas produk yang dihasilkan sebagai dasar pembebanan. Perhitungan ini sering dianggap kurang tepat dalam pengalokasian biaya biaya tidak langsung karena hanya menggunakan pemacu biaya jam kerja atau jam mesin. Sehubungan dengan hal tersebut maka telah perkembangan suatu cara perhitungan Harga Pokok Produksi yang dianggap lebih tepat pengalokasian biaya tidak langsungnya kepada masing masing prodak yang diproduksi. Perhitungan harga pokok produksi yang baru ini di sebut sebagai sistem activity based costing (ABC), system ABC mengalokasikan BOP bukan ke masing masing departemen tetapi ke masing masing aktifitas lalu baru mengalokasikannya ke masing masing barang. Mengingat masih banyak perusahaan terutama di indonesia yang menghitung harga pokok produksinya secara konvensional, karena system ABC belum dikuasai dan dianggap sukar, maka kami akan mencoba untuk menbandingkan bagaimana

perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan cara konvensional dan Activity Based Costing (ABC). B. Tujuan a. Untuk mengetahui cara perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan cara konvensional dan activity based costing (ABC) . b. Untuk menentukan sistem perhitungan harga pokok produk manakah yang baik untuk diterapkan pada perusahaan. c. Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan perhitungan harga pokok produksi secara konvensional dan Activity Based Costing (ABC).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi Biaya Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Objek kegiatan akuntansi biaya adalah biaya. 2.2 Pengertian Biaya Produksi Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Sedangkan dalam arti sempit, biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva. Biaya produksi adalah biaya-biaya yang yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Menurut objek pengeluarannya, secara garis besar biaya produksi dibagi menjadi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik (factory overhead cost). 2.2.1 Biaya Bahan Baku Biaya bahan baku langsung adalah semua biaya bahan yang membentuk bagian integral dari barang jadi dan yang dapat dimasukkan langsung dalam kalkulasi biaya produk. Contoh bahan baku langsung adalah kayu untuk pembuatan meubel dan tanah liat untuk pembuatan genteng. Pertimbangan utama dalam mengelompokkan bahan ke dalam bahan baku langsung adalah kemudahan penelusuran proses pengubahan bahan tersebut sampai menjadi barang jadi. Sebagai contoh, paku untuk membuat peralatan meubel merupakan bagian dari barang jadi, namun agar perhitungan biaya meubel tersebut bisa dilakukan secara cepat, bahan ini dapat diklasifikasikan sebagai bahan baku tidak langsung.

.2.2 Biaya Tenaga Kerja Biaya tenaga kerja langsung adalah karyawan atau karyawati yang dikerahkan untuk mengubah bahan langsung menjadi barang jadi. Biaya untuk ini meliputi gaji para karyawan yang dapat dibebankan kepada produk tertentu. 2.2.3 Biaya Overhead Pabrik Biaya overhead pabrik disebut juga biaya produk tidak langsung, yaitu kumpulan dari semua biaya untuk membuat suatu produk selain biaya bahan baku langsung dan tidak langsung. Overhead pabrik pada umumnya didefinisikan sebagai bahan tidak langsung, pekerja tidak langsung, dan bahan pabrik lainnya yang tidak secara mudah diidentifikasikan atau dibebankan langsung ke pekerjaan produk atau tujuan akhir biaya. Biaya overhead pabrik terdiri dari biaya Biaya overhead pabrik tetap dan biaya Biaya overhead pabrik variabel. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu, biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Ada juga yang dinamakan biaya semi variabel adalah biaya yang berubah tak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

2.2.4

Gambaran Umum Penentuan Harga Pokok Produksi secara Konvensional

Sistem akuntansi biaya konvensional menggunakan unit / kuantitas produk yang dihasilkan sebagai dasar pembebanan. Metode pembebanan semacam ini sering disebut juga Unit Based System. Pada sistem ini biaya-biaya yang timbul dicatat, dikumpulkan, dan dikendalikan berdasar atas elemen-elemennya ke dalam pusat-pusat pertanggungjawaban. Dengan cara semacam ini maka biaya-biaya produksi juga ditentukan menurut banyaknya sumber daya yang diserap oleh masing-masing pusat biaya. Ada dua metode yang digunakan untuk menghitung harga pokok produk yaitu sebagai berikut : A. Metode Harga Pokok Penuh (Full Costing) Metode harga pokok penuh merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produk yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, baik yang bersifat tetap maupun variabel. Metode harga pokok penuh ditujukan untuk memenuhi kepentingan pihak eksternal perusahaan. Biaya bahan variable Biaya upah variable Biaya overhead tetap Biaya overhead variabel Harga pokok produksi $ XXX $ XXX $ XXX $ XXX ----------- (+) $ XXX

B.Metode Harga Pokok Variabel (Variable Costing)

Metode harga pokok variabel merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya mempehitungkan biaya produksi yang bersifat variabel ke dalam harga pokok produksi. Biaya tersebut meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel. Metode harga pokok variabel ini lebih ditujukan untuk memenuhi kepentingan pihak internal. Biaya bahan variable Biaya upah variable Biaya overhead variable Harga pokok produksi $ XXX $ XXX $ XXX ----------- (+) $ XXX

2.2.4

Gambaran Umum Penentuan Harga Pokok Produksi secara Activity Based Costing Sistem Activity Based Costing (ABC) mengalokasikan BOP ke dalam masing masing

aktifitas kemudian baru mengalokasikannya ke masing- masing barang. Pada metode ABC yang dilakukan berdasarkan konsumsi aktivitas masing-masing jenis produk. Maka dengan semakin banyaknya konsumsi aktivitas yang terjadi dalam suatu produk, maka semakin besar biaya yang dialokasikan ke produk tersebut.

BAB III

PEMBAHASAN 3.1 Sistem Pembebasan Biaya Overhead Pabrik Pada Harga Pokok Produksi 3.3.1 Sistem Biaya Konvensional Sebelum membahas tentang konsep dasar pengalokasian biaya dengan sistem biaya konvensional. Akan terlebih dahulu , dibahas tentang pengertian biaya konvensional. Menurut Rayburn (1999:41), pengertian sistemn biaya konvensional sebagai berikut : Sistem biaya konvensional beranggapan bahwa penggerak biaya yang berkaitan dengan volume merupakan satu-satunya factor yang menyebabkan adanya kegiatan dan biaya, sistem biaya konvensional menggunakan penggerak biaya yang berkaitan dengan volume untuk membebankan overhead dari pusat biaya ke produk Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem biaya konvensional yang telah jelas menerangkan bahwa ada distorsi dalam pengalokasian biaya overhead khususnya pada perusahaan yang multi produk, dan dapat dianalisis lebih lanjut ke dalam perhitungan harga pokok produksi. Akibat dari kesalahan pengalokasian biaya overhead maka akan menjadi masalah dalam melakukan perhitungan harga produk produksi. Adanya proses perhitungan harga pokok produksi yang tidak tepat, maka produk yang seharusnya dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan akan menjadi tidak menguntungkan bagi perusahaan. Setelah membahas tentang pengertian dari biaya konvensional, maka akan membahas konsep dasar pembebanan biaya dalam sistem biaya konvensional. Kalkulasi biaya produk konvensional hanya membebankan biaya produksi pada produk. Pembebanan biaya bahan langsung dan tenaga kerja langsung ke produk tidak memiliki pengaruh khusus. Biaya-biaya ini dapat dibebankan ke produk dengan menggunakan penelusuran langsung atau penelusuran penggerak yang sangat akurat, dan sistem biaya yang paling konvensional dirancang agar dapat dipastikan hal ini dapat terjadi.

Biaya overhead sebaliknya memiliki masalah yang berbeda. Hubungan input dan output yang dapat diobservasi secara fisik antara tenaga kerja langsung, bahan langsung dan produk tidak tersedia untuk overhead. Oleh karena itu, pembebanan overhead harus tergantung pada penelusuran pergerakan dan lokasi. Dalam sistem biaya konvensional, biaya-biaya yang timbul akibat pemakaian sumber daya dialokasikan pada produk berdasarkan jam kerja langsung, bahan baku yang dibeli atau yang diproduksi. Akibat pengalokasian biaya dalam sistem biaya konvensional mengalami distorsi, khususnya pada perusahaan yang menghasilkan multi produk. Setiap produk mengalami perbedaan dalam penanganan dan konsumsi sumber daya dan aktivitas. Sistem biaya konvensional mengasumsikan bahwa produk menimbulkan biaya

overhead yang terjadi tidak dikaitkan dengan penyebab terjadinya (cost driver atau cost generator) tetapi langsung dibebankan kepada produk berdasarkan jam kerja, jam mesin atau jumlah bahan baku yang dibeli

Dalam sistem konvensional tersebut dapat dijelaskan dengan contoh sebagai berikut : Diketahui PT X memproduksi 3 macam unit produksi. Beikut ini akan disajikan data unit yang diproduksi sebagai berikut : 1. Monitor (M)

2. Televisi (TV) 3. Hand Phone (HP) Berikut ini akan disajikan data biaya overhead produksi sebagai berikut :
TABEL A "PT.X" Biaya - biaya Overhead Pabrik No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Keterangan Biaya Bahan Baku Tidak Langsung Biaya Listrik dan Air Biaya Quality Control Biaya Gaji Pegawai Biaya Repair dan Maintenance Mesin Biaya Asuransi Biaya Pengiriman Barang Biaya Adminstrasi Pabrik Biaya Penyusutan Mesin Biaya Penyusutan Gedung $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ TOTAL $ Jumlah 150,000,000 20,000,000 35,000,000 45,000,000 30,000,000 45,000,000 50,000,000 25,000,000 20,000,000 20,000,000 440,000,000

Selain biaya overhead terdapat biaya produksi lainnya yang harus diklasifikasikan ke dalam masing-masing produk yaitu bahan baku dan tenaga kerja langsung. Berikut ini akan disajikan data biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung sebagai berikut :
TABEL B Tahun "PT.X" Keterangan Direct Material Cost Direct Labour Cost $ $ M 65,000,000 25,000,000 $ $ TV 75,000,000 25,000,000 $ $ HP 50,000,000 30,000,000 $ $ TOTAL 190,000,000 80,000,000

Pemakaian sumber daya produksi untuk ke tiga produk tersebut akan diasumsikan sebagai berikut :
TABEL C "PT. X" Keterangan Unit Produksi JamTenaga Kerja Langsung JamTenaga Mesin Frekuensi Pesanan M 520 12,400 1,000 25 TV 530 12,400 1,200 25 HP 450 15,000 2,300 30 Total 1,500 39,800 4,500 80

Perhitungan tariff overhead pabrik adalah : Tarif biaya overhead pabrik = Total Overhead Pabrik Total Jam Tenaga Langsung = $ 440.000.000 39.800 = $ 11.055,28/ jam tenaga kerja

Tarif sebesar $ 11.055,28, tersebut kemudian dijadikan dasar untuk menghitung biaya overhead untuk masing-masing unit produksi berdasarkan konsumsi tenaga kerja langsung. Hal ini berarti untuk produk yang menggunakan jam tenaga kerja langsung selama 1 jam akan dibebankan biaya overhead pabrik sebesar $ 11.055,28 , pengalokasian biaya overhead kepada masing masing unit adalah sebagai berikut :
1.) Biaya Overhead unit M = $ 11.055,28 x $ 12.400 = $ 137.085.472 2.) Biaya Overhead unit TV=$ 11.055,28 x $ 12.400 = $ 137.085.472

3.) Biaya Overhead unit HP= $ 11.055,28 x $ 15.000= $ 165.829.200

Perhitungan harga pokok produksi per unit dengan tariff overhead berdasarkan jam tenaga kerja langsung sebagai berikut :
TABEL D Keterangan Bahan Baku Langsung Tenaga Kerja Langsung BOP Harga Pokok Produksi Unit Produksi Harga Pokok Produksi Per Unit $ $ $ $ $ M 65,000,000 25,000,000 137,085,472 227,085,472 520 436,702.8 $ $ $ $ $ TV 75,000,000 25,000,000 137,085,472 237,085,472 530 447,331.1 $ $ $ $ $ HP 50,000,000 30,000,000 165,829,200 245,829,200 450 546,287.1

3.3.2

Activity Based Costing Sebelum membahas konsep dasar pembebanan biaya dengan sistem activity based

costing terlebih dahulu akan dibahas pengertian sistem activity based costing. Menurut Blocher at All (2000:120), pengertian dari activity based costing adalah Sistem activity based costing adalah pendekatan penentuan biaya produk yang membebankan biaya ke produk atau jasa berdasarkan konsumsi sumber daya yang disebabkan oleh aktivitas

Dasar pemikiran penentuan biaya ini adalah bahwa produk atau jasa perusahaan dilakukan oleh aktivitas yang dibutuhkan tersebut menggunakan sumber daya yang menyebabkan timbulnya biaya. Sumber daya dibebankan ke aktivitas. Kemudian aktivitas dibebankan ke objek berdasarkan penggunaannya Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian dari activity based costing adalah suatu sistem kalkulasi harga pokok produk yang menekankan kepada prinsip aktivitas terhadap pengolahan suatu produk, sehingga keadaan ini menurut manajemen untuk melakukan proses pengumpulan dan penelusuran data biaya dan kinerja aktivitas-aktivitas perusahaan dan umpan balik antara biaya yang sesungguhnya dengan biaya yang direncanakan untuk membuat tindakan koreksi jika diperlukan. Setelah membahas sedikit tentang pengertian dari activity based costing, maka akan membahas tentang konsep dasar pembebanan biaya dalam sistem activity based costing. Pembebanan biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung ke produk tidak memiliki tantangan secara khusus. Biaya biaya ini dapat dibebankan ke dalam produk dengan menggunakan penelusuran langsung. Dengan melihat konsep-konsep yang ada dan keakuratan perhitungan dengan menggunakan activity based costing sistem maka penentuan biaya overhead yang telah berlaku secara proposional oleh activity based costing sistem akan menghasilkan ketepatan dalam menghitung harga pokok produksi. Dengan demikian sistem pengalokasian biaya overhead menjadi tepat dan menghasilkan perhitungan harga pokok produksi yang akurat dan relevan. Dalam perhitungan harga pokok produksi berdasarkan activity based costing sistem, dilakukan langkah sebagai berikut :

a. Mengidentifikasikan pusat-pusat aktivitas meliputi :


1. Biaya Bahan Penolong 2. Biaya Pengiriman Barang 3. Biaya Quality Control

6. Biaya Listrik dan Air 7.Biaya Penyusutan Gedung 8. Biaya Perbaikan dan Pemeliharaan

4. Biaya Gaji Pegawai Adminstrasi dan Umum 9.Biaya Asuransi 5. Biaya Administrasi Pabrik

10.Biaya Penyusutan diidentifikasikan kemudian aktifitas tersebut

Setelah

aktivitas

ini

dikelompokkan ke dalam pusat biaya (cost pool)/ cost center).Cost Pool / Cost Center adalah Biaya yang terjadi dalam perusahaan dikumpulkan dalam setiap pusat kegiatan (Aktivitas). Aktivitas adalah setiap kejadian atau transaksi yang merupakan pemicu biaya

Kegiatan (aktifitas) sebagai pemacu biaya dapat dikelompokkan menjadi: 1). Unit-level activities, yaitu Aktivitas yang besar kecilnya dipengaruhi langsung oleh unit produksi 2). Batch-level activities, yaitu Aktivitas yang besar kecilnya dipengaruhii oleh banyaknya partai (batch) yang terjadi didalam satu 3). periode .

Product sustaining activities (kegiatan berlevel produk) yaitu Aktivitas yang berfungsi untuk mendukung dan mempertahankan suatu produk secara individual

4).

Facilities sustaining activities adalah meliputi Aktivitas yang berkait dengan pengadaan fasilitas yang dibutuhkan oleh kegiatan perusahaan secara menyeluruh.. Berikut akan ditampilkan hubungan biaya dengan aktivitas dalam cost pool sebagai berikut :
TABEL E Cost Pool 1. Unit Related Activity 2. Batch Related Activities Biaya -Biaya Bahan Penolong -Biaya Quality Control -Biaya Gaji Pegawai Adminstrasi -Biaya Administrasi Pabrik -Biaya Pengiriman Barang 3. Product Sustaining Activities 4. Fasility Sustaining Activities -Biaya Listrik dan Air -Biaya Perbaikan dan Pemeliharaan Mesin -Biaya Asuransi -Biaya Penyusutan Mesin -Biaya Penyusutan Gedung

TABEL F "PT.X" PENGALOKASIAN BIAYA KE COST POOL No Cost Pool Biaya b. Menetapkan biaya setiap pusat aktivitas 1 Biaya Bahan Penolong $ 150,000,000 Biaya Quality Control $ 35,000,000 Penerapan biaya kepada pusat aktivitas ini dilakukan dengan 185,000,000 mengumpulkan Jumlah $ 2 Biaya Gaji Pegawai Bagian Adm dna Umum $ 45,000,000 biaya yang terhubung dengan setiap aktivitas tersebut, yang dinamakan pusat biaya Biaya Administrasi Pabrik $ 25,000,000 Biaya Pengiriman manajemen perusahaan telah menetapkan distribusi biaya kepada $ 50,000,000 (Cost pool). PihakBarang Jumlah $ 120,000,000 3 setiap aktivitas atas Pemeliharaanoverhead pabrik yang telah diestimasikan, sebagai Biaya Perbaikan dan total biaya Mesin $ 30,000,000 Biaya Listrik dan Air $ 20,000,000 berikut : Jumlah $ 50,000,000 4 Biaya Asuransi $ 45,000,000 Biaya Penyusutan Mesin $ 20,000,000 Biaya Penyusutan Gedung $ 20,000,000 Jumlah $ 85,000,000 $ 440,000,000 Total Biaya Overhead Pabrik

c. Menentukan pemicu biaya


Penentuan pemicu biaya setiap aktivitas akan ditampilkan : TABEL G No 1 2 3 4 Cost Pool Unit Related Activities Bacth Related Activities Product Sustaining Activities Facility Sustaining Activities Cost Driver Unit Produksi Frekuensi Pesanan Jam Kerja Mesin Jam Tenaga Kerja Langsung

d. Penentuan tarif per pemicu biaya

Pemicu biaya untuk setiap pusat biaya telah ditentukan, maka langkah selanjutnya adalah menentukan tarif setiap pusat biaya berdasarkan pemicu biayanya. Masing-masing sebagai acuan untuk mengalokasikan biaya overhead pabrik kepada masing-masing produk. Kemudian dilakukan perhitungan tarif biaya overhead untuk masing-masing produk dengan menggunakan empat dasar pembebanan dalam masing-masing cost pool yang ditampilkan pada tabel berikut :
TABEL H PERHITUNGAN TARIF BIAYA OVERHEAD PER COST POOL Unit Related Activities 1. Jumlah biaya overhead 2. Unit Produksi 3. Frekuensi Pesanan 4. Jam Kerja Mesin 5. Jam Tenaga Kerja Langsung Tarif Per Cost Pool $ 123,333.33 $ 1,500,000.00 $ 11,111.11 $ $ 185,000,000 1500 80 4500 39800 2,135.68 Bacth Related Activities $ 120,000,000 Product Sustaining Activities $ 50,000,000 Facility Sustaining Activities $ 85,000,000

e. Pengalokasian biaya overhead kepada unit produksi Pengalokasian biaya overhead pabrik ke setiap produksi ini, dilakukan atas dasar konsumsi aktivitas produksi actual dikaitkan dengan masing-masing tarif yang telah diperhitungkan pada table berikut ini :

T A B EL I P ER HITUN GA N B IA YA O V ER HEA D P A B R IK B ER D A S A R KA N C O S T P O O L No 1 2 3 4 C os t P ool U n it Re la te d A c tiv itie s $ Ba c th Re la te d A c tiv itie s $ Pro d u c t Su s ta in in g A c tiv itie s $ Fa c ility S u s ta in in g A c tiv itie s$ T o ta l $ M 64,133,332 $ 37,500,000 $ 11,111,110 $ 26,482,432 $ 139,226,874$ TV 65,366,665 $ 37,500,000 $ 13,333,332 $ 106,784,000$ 222,983,997$ HP 55,499,999 45,000,000 25,555,553 106,784,000 232,839,552

T A B EL J P ER H IT UN G A N H A R G A P O K O K P R O D UK S I B ER D A S A R K A N A C T IV IT Y B A S ED C O S T IN (da l am R u pi a h ) K e te r a n g an BBL $ TKL $ BOP $ HPP $ U n it P ro d u k s i H P P / U n it $ M 65 ,000 ,000 $ 25 ,000 ,000 $ 1 39 ,2 26 ,8 74 $ 2 29 ,2 26 ,8 74 $ 52 0 44 0,82 0.91 $ TV 75 ,0 00 ,0 00 $ 25 ,0 00 ,0 00 $ 222 ,9 83 ,9 97 $ 322 ,9 83 ,9 97 $ 530 60 9,40 3.77 $ HP 5 0,00 0,00 0 3 0,00 0,00 0 23 2,83 9,55 2 31 2,83 9,55 2 450 6 95,1 99.0 0

TAB EL K P ERB ANDINGAN HARGA P O KO K P RO DUKS I B ERDAS ARKAN ACTIVITY B AS ED CO S TING DAN KO NVENS IO NAL HP P KONVENSIONA L $ A CT IVIT Y BA SED COST ING $ SELISIH $ M 436,702.80 $ 440,820.91 $ (4,118.11)$ TV 447,331.10 $ 609,403.77 $ (162,072.67)$ HP 546,287.10 695,199.00 (148,911.90)

Kesimpulan : Penentuan biaya produksi dan harga pokok produk dengan sistem ABC lebih akurat dibandingkan sistem konvensional. Sistem konvensional menggunakan satu pemicu biaya yaitu Jam Tenaga Kerja Langsung sebagai dasar alokasi BOP. Sedangkan pada sistem ABC digunakan beberapa macam pemicu biaya yaitu Unit Produksi, Jam Tenaga Kerja Langsung, Jam Tenaga Kerja Mesin dan Frekuensi Pesanan. Sistem Konvensional melaporkan HPP seluruh jenis produksi (Monitor, TV dan

Handphone) lebih rendah dibanding Sistem ABC atau terjadi Undercost, dimana jika perusahaan

mengunakan sistem ABC , perusahaan dapat meningkatkan harga jual dari sebelumnya, agar perusahaan tidak menderita rugi pada penjualan Monitor tetapi konsumen masih mau membeli karena masih dalam daya beli konsumen.

LAMPIRAN CONTOH SOAL

SOAL 1 1. Perusahaan JC memproduksi 4 jenis produk yaitu B1, B2, B3, dan B4 dengan kapasitas produksi untuk B1 dan B3 sebesar 10 unit sedangkan B2 dan B4 100 unit. Semua produk tersebut diproduksi dengan menggunakan peralatan dan proses yang sama. Dengan biaya Overhead pabrik total Rp. 9.924,- . Produksi dari ke empat produk tersebut memerlukan biaya yang terdiri dari 7 aktivitas, dimana biaya tersebut di alokasikan ke produk secara tidak langsung. Berikut rincian mengenai aktivitas dan biaya yang dibebankan: - Pemesanan material (10% dari biaya material langsung)

- Pengawasan tenaga kerja langsung (Rp 10 per jam tenaga kerja langsung) - Menjalankan mesin (Rp 15 per jam mesin) - Melakukan set up ( Rp 120 per set up) - Memenuhi pesanan (Rp 125 per pesanan) - Menangani material (Rp 25 per batch yang ditangani) - Mengadministrasikan komponen (Rp 500 per komponen) Data-data yang berhubungan dengan seluruh proses produksi adalah sebagai berikut:
Unit Level A c tivities P roduk s i B iay a M aterial Jam TK Langs ung 5 50 15 150 220 Jam M es in 5 50 15 150 220 Jm l S et Up 1 3 1 3 8 B atc h Level A c tivities P roduc t A c tivities Jm l Jm l P enanganan K om ponen P es anan 1 3 1 3 8 1 3 1 3 8 1 1 1 1 4

B1 B2 B3 B4 TOTA L

Rp Rp Rp Rp Rp

60 600 180 1,800 2,640

Biaya tenaga kerja Rp 7,5 per jam Hitunglah besarnya harga pokok produksi per unit: a. Menggunakan biaya konvensional dengan dasar pembebanan jam kerja langsung. b. Menggunakan sistem activity based costing.

JAWABAN A. Perhitungan Harga Pokok Produk Menggunakan Metode Konvensional 1. Menentukan Tarif Biaya Overhead Pabrik berdasarkan Jam Tenaga Kerja Langsung Tarif Overhead Pabrik = Jumlah Biaya Overhead Pabrik Jumlah Jam TK Langsung = Rp 9.924 220 Jam

= Rp 45.11/ Jam Tenaga Kerja 2. Menghitung Biaya Overhead Pabrik untuk masing-masing produk
Keterangan B1 B2 B3 B4 Total Tarif BOP Rp Rp Rp Rp 45.11 45.11 45.11 45.11 Rp Jam TK 5 50 15 150 Rp Rp Rp Rp Total 225.55 2,255.50 676.65 6,766.50 9,924.20

220.00 Rp

3. Menghitung Harga Pokok Produk Per Unit


Keterangan Material Upah Biaya Utama BOP @ Rp 45,11 HP Produksi Unit diproduksi HP Produksi/Unit Rp Rp Rp B1 60 Rp B2 600 Rp B3 180 Rp B4 1,800 1,050 Rp Rp Total 2,640 1,540 4,180

35 Rp 95 Rp

350 Rp 950 Rp

105 Rp 285 Rp

2,850 Rp

Rp 225.55 Rp 2,255.50 Rp 676.65 Rp 6,766.50 Rp 320.55 Rp 3,205.50 Rp 961.65 Rp 9,616.50 10 Rp 32.06 Rp 100 32.06 10 Rp 96.17 Rp 100

Rp 9,924.20 Rp 14,104.20 220

96.17 Rp 14,324.20

B. Perhitungan Harga Pokok Produk Menggunakan Metode Activity Based Costing 1. Pengelompokkan Biaya Aktivitas dan Pemicu Biaya
Aktivitas Pemesanan Material Pengawasan Tenaga Kerja Menjalankan Mesin Melakukan Set Up Memenuhi Pesanan Menangani Material Mengadministrasikan komponen Pemicu Biaya Biaya Material Langsung Jam Tenaga Kerja Langsung Jam Mesin Jumlah Set Up Jumlah Pesanan Jumlah Batch yang ditangani Jumlah Komponen

2. Perhitungan Biaya Aktivitas


Aktivitas Pemesanan Material Pengawasan Tenaga Kerja Menjalankan Mesin Melakukan Set Up Memenuhi Pesanan Menangani Material Mengadministrasikan komponen Tarif per Pemicu Jumlah Per Biaya Pemicu Biaya Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 264 Rp 10 15 120 125 25 500 220 220 8 8 8 4 TOTAL 1 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Total 264 2,200 3,300 960 1,000 200 2,000 9,924

3. Penentuan BOP yang dibebankan ke masing-masing produk


Aktivitas Pemesanan Material Pengawasan Tenaga Kerja Menjalankan Mesin Melakukan Set Up Memenuhi Pesanan Menangani Material Rp Rp Rp Rp Rp Rp B1 6 50 75 120 125 25 500 901 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp B2 60 500 750 360 375 75 500 2,620 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp B3 18 150 225 120 125 25 500 1,163 Rp B4 180

Rp 1,500 Rp 2,250 Rp Rp Rp 360 375 75

Mengadministrasikan komponen Rp TOTAL Rp

Rp 500 Rp 5,240

4. Menghitung Harga Pokok Produk Per Unit


Keterangan Material Upah Biaya Utama BOP HP Produksi Unit diproduksi HP Produksi/Unit Rp Rp Rp Rp Rp Rp B1 60 35 95 901 996 10 99.60 Rp Rp Rp Rp Rp Rp B2 600 350 950 2,620 3,570 100 35.70 Rp Rp Rp Rp Rp Rp B3 180 105 285 1,163 1,448 10 144.80 Rp Rp Rp Rp Rp Rp B4 1,800 1,050 2,850 5,240 8,090 100 80.90 Rp Total Rp Rp Rp Rp 2,640 1,540 4,180 9,924

Rp 14,104 220 64.11

5. Membandingkan Hasil yang diperoleh B1


Keterangan HP Produksi / unit metode Rp konvensional HP Produksi / unit metode Rp ABC 32.06 Rp 99.60 Rp

B2 32.06 Rp

B3 96.17 144.80 Rp Rp

B4 96.17 80.90

35.70 Rp

SOAL 2 Perusahaan percetakan Aksara di Jakarta selama bulan April 2009 telah menyelesaikan 3 macam proyek pesanan dengan rincian sbb:
Produk Buku Teks Karcis Park Leaflet Kode BT KP LF Spesifikasi produk Isi 800 lembar B/W . Hard cover Isi 50 lembar cetak full color bolak balik Satuan Exemplar Jilid biasa buku Rim Kuantitas 8,000 50,000 2,000

Biaya langsung untuk ketiga macam produk adalah sbb:


Produk Buku Teks Karcis Leafleat Jumlah Kode BT KP LF Rp Rp Rp Rp Bahan Langsung 224,000,000 87,500,000 35,000,000 346,500,000 Upah Langsung Rp Rp Rp Rp 67,200,000 26,250,000 10,500,000 103,950,000

Biaya Overhead pabrik , menurut jenis biaya selama bulan April :


Jenis Biaya Bahan Tidak Langsung Upah Tidak Langsung Penyusutan Supervisi Utilitis Asuransi Rupa-rupa Jam Mesin Kode Total Biaya Overhead BT 1,066.66 Jumlah Biaya / Bulan Rp Rp Rp Rp Rp Rp 85,230,000 22,956,000 125,000,000 14,371,000 99,250,000 10,000,000 Film 800 1 2 803 Packing 400 500 2000 2900 Set-Up 800 1 4 805

Rp Lembar Cetak 74,230,000 Jilid Rp 431,037,000 Rp 6,400,000 8000 2,500,000 4,000,000 12,900,000 50000 58000

Konsumsi aktivitas selama bulanRp April: KP 416.66


LF Total 666.66 2,150 Rp Rp

Asumsi didalam penghitungan Harga pokok Konvensional perusahaan membebankan biaya overhead (total) dengan cost driver jam mesin Tarif Biaya overhead = 431.037.000 = Rp. 200.482,- per jam mesin 2.150 Tarif sebesar Rp. 200.482,- , tersebut kemudian dijadikan dasar untuk menghitung biaya overhead untuk masing-masing unit produksi berdasarkan konsumsi jam kerja mesin. Hal ini berarti untuk produk yang menggunakan jam kerja mesin selama 1 jam akan dibebankan biaya overhead pabrik sebesar Rp. 200.482,- , pengalokasian biaya overhead kepada masing masing unit adalah sebagai berikut :
Kode Jam Mesin BT KP LF 1,066.67 416.67 666.67 Rp Rp Rp Tarif/Jam 200,482 200,482 200,482 Total Rp Rp Rp Rp Jumlah 213,847,814 83,534,302 133,654,884 431,037,000

Perhitungan harga pokok produksi per unit dengan tariff overhead berdasarkan jam tenaga kerja langsung sebagai berikut :
Biaya Produksi Biaya Langsung : Bahan Langsung Upah Langsung Biaya Overhead (Konvensional)) Total Harga Pokok Produksi Kuantitas Harga Pokok Produk/Unit Rp Rp 224,000,000 Rp 87,500,000 Rp Rp 67,200,000 Rp 26,250,000 Rp 35,000,000 10,500,000 BT KP LF

Rp 213,847,814 Rp 83,534,302 Rp 133,654,884 Rp 505,047,814 Rp 197,284,302 Rp 179,154,884 8000 63,131 Rp 50000 3,946 Rp 2000 89,577

Perhitungan Metode Harga Pokok Produksi Secara ABC Langkah 1. Mengalokasikan Biaya Overhead kedalam pusat aktivitas:
Jenis Aktivitas Biaya Pra Cetak Percetakan Set-Up Mesin Penjilidan Pengepakan Total Biaya Overhead Alokasi Biaya Rp Rp Rp Rp Rp Rp Cost Driver yang digunakan

23,287,000 Pemakaian Film 180,600,000 Jumlah Lembar Cetak 24,150,000 Frekuensi Set-Up 185,600,000 Jumlah Exemplar/ Buku 17,400,000 Jumlah Paket 431,037,000

Langkah 2. Menetapkan Biaya per satuan aktivitas (sesuai cost driver)


Jenis Aktivitas Biaya Pra Cetak Percetakan Set-Up Mesin Penjilidan Pengepakan Biaya Aktivitas Rp Rp Rp Rp Rp 23,287,000 180,600,000 24,150,000 185,600,000 17,400,000 Rp Cost Driver 12,900,000 Biaya / Satuan 803 Rp Rp 805 Rp 58000 Rp 2900 Rp 29,000 14 30,000 3,200 6,000

Langkah 3. Mengalokasikan Biaya Aktivitas kedalam produk sesuai dengan jumlah konsumsi aktivitas.
Jenis A k tivitas B iay a P ra Cetak P erc etak an S et-Up M es in P enjilidan P engepak an Rp Rp Rp Rp Rp BT 23,200,000 Rp 89,600,000 Rp 24,000,000 Rp 25,600,000 Rp 2,400,000 Rp
BT 164,800,000 Rp Rp 224,000,000 Rp

KP 29,000 Rp 35,000,000 Rp 30,000 Rp 160,000,000 3,000,000 Rp


KP 198,059,000 Rp 87,500,000 Rp 26,250,000 Rp

LF 58,000 Rp 56,000,000 Rp 120,000 Rp Rp 12,000,000 Rp


LF 68,178,000 Rp

Total 23,287,000 180,600,000 24,150,000 185,600,000 17,400,000


Total 431,037,000

TotalBiayaaProduksi Rp B iay O verhead Biaya Langsung :


Bahan Langsung

Langkah 4. Menghitung Harga Pokok Produk Rp Upah Langsung Rp 67,200,000


Biaya Overhead (ABC) Kuantitas Harga Pokok Per Unit Rp

35,000,000 Rp 346,500,000 10,500,000 Rp 103,950,000 68,178,000 Rp 431,037,000 2000 56,839

Rp 164,800,000 Rp 198,059,000 Rp 8000 57,000 Rp 50000 6,236 Rp

Total Harga Pokok Produksi Rp 456,000,000 Rp 311,809,000 Rp 113,678,000 Rp 881,487,000

Perbandingan :
Kode BT KP LF Konvensional Rp Rp Rp 63,131 3,946 89,577 Rp Rp Rp ABC 57,000 6,236 56,839 Rp Rp Rp Selisih 6,131 (2,290) 32,738 Overstated Understated Overstated

Dari hasil pembandingan diketahui bahwa terjadi understated harga pokok pada produk KP sementara untuk produk LF terjadi overstated yang sangat signifikan. Kekeliruan ini akan menyebabkan kekelruan didalam keputusan penetapan harga jual (Pricing).

SOAL 3 P.T. Ayu Jelita membuat 4 produk A, B, C, dan D dengan data sebagai berikut :
Jumlah / Putaran Produksi 3 4 7 10 24 Jam Kerja Langsung / unit 2 4 2 4 12 Jam Mesin / Biaya Material Komponen unit / unit Material / unit 2 4 2 4 12 Rp Rp Rp Rp Rp 30 75 30 75 210 8 5 8 6 27

Produk

Unit Keluaran

A B C D Total

25 25 250 250 550

Biaya tenaga kerja Rp 7,- perjam Biaya overhead pabrik :

Biaya variabel jangka pendek Biaya variabel jangka panjang :


-

Rp8,250

Biaya penjadwalan Biaya set up

Rp7,680 Rp3,600 Rp11,280

Biaya penanganan material

Rp 7,650+ Rp 27.180

Hitunglah harga pokok perunit : a. Menggunakan kalkulasi biaya produk konvensional dengan memakai tarif overhead jam tenaga kerja b. Menggunakan ABC dengan pemacu biaya sebagai berikut : Biaya variabel jangka pendek Biaya penjadwalan Biaya set up Biaya penanganan material Jam mesin

Jumlah putaran produksi Jumlah putaran produksi Jumlah komponen

c. Bandingkan hasil dari kedua metode tersebut

JAWABAN B. Kalkulasi Biaya dengan metode Acitivity Based Costing


Produk A B C D Jumlah Unit 25 25 250 250 Jam Kerja Langsung/Unit 2 4 2 4 Total Total 50 100 500 1000 1650

Tarif Overhead Pabrik = Rp27,180 1,650 = Rp 16.47 / Jam Tenaga Kerja

Perhitungan Harga Pokok Per Unit (Metode Konvensional)


Keterangan Material Upah Biaya Utama BOP @ 16.47 HP Produksi Unit diproduksi A (Rp) Rp Rp Rp Rp B (Rp) C (Rp) D (Rp) Total (Rp) 28,875 11,550 40,425 27,175.5 67,600.5

750 Rp 1,875 Rp 350 Rp 700 Rp

7,500 Rp 3,500 Rp

18,750 Rp 7,000 Rp 25,750 Rp 16,470 Rp 42,220 Rp 250 169

1,100 Rp 2,575 Rp 11,000 Rp 823.5 Rp 1,647 Rp 8,235 Rp

Rp 1,923.5 Rp 4,222 Rp 19,235 Rp 25 Rp 77 Rp 25 169 Rp 250 77 Rp

. HP Produksi / unit

Kalkulasi Biaya dengan metode Acitivity Based Costing


No K eterangan Biay a Pem ic u Biay a 1,650 Rp Tarif 5 / Jam TK

1 B iaya V ariabel Jangka P endek Rp 8,250 2 B iaya P enjadwalan 3 B iaya S et Up 4 B iaya P enanganan M aterial
Komponen Material / unit 8 5 8 6 Total

Rp 7,680 Rp 3,600 Rp 7,650

24 Rp 320 / P erputaran Produk si 24 Rp 150 / P erputaran Produk si 3,825 Rp 2 / K om ponen

Produk A B C D

Jumlah Unit 25 25 250 250

Total 200 125 2,000 1,500 3,825

Perhitungan Harga Pokok Per Unit (Metode ABC)


K e te ra n g a n

A (R p ) B ia ya U ta m a R p 1 ,1 0 0 B i Va r. Jk P d k @ R p . 5 /Ja m T K Rp 250 B i P e n ja d w a la n @ R p . 3 2 0 Rp 960 B i S e t U p @ R p . 1 5 0 /p u ta ra n Rp 450 B i P e n a n g a n g a n m a te ria l @ R p . 2 /k o m p oR p n 4 0 0 ne H P P ro d u ks i R p 3 ,1 6 0 U n it d ip ro d u ks i 25 H P P ro d u ks i / u n it R p 1 2 6 .4

B Rp Rp Rp Rp Rp Rp

(R p ) 2 ,5 7 5 500 1 ,2 8 0 600 250 5 ,2 0 5 25 R p 2 0 8 .2

C (R p ) R p 1 1 ,0 0 0 R p 2 ,5 0 0 R p 2 ,2 4 0 R p 1 ,0 5 0 R p 4 ,0 0 0 R p 2 0 ,7 9 0 250 R p 8 3 .1 6

D (R p ) R p 2 5 ,7 5 0 R p 5 ,0 0 0 R p 3 ,2 0 0 R p 1 ,5 0 0 R p 3 ,0 0 0 R p 3 8 ,4 5 0 250 R p 1 5 3 .8

To ta l (R p ) R p 4 0 ,4 2 5 R p 8 ,2 5 0 R p 7 ,6 8 0 R p 3 ,6 0 0 R p 7 ,6 5 0 R p 6 7 ,6 0 5

Membandingkan hasil yang diperoleh


K e te ra n g a n A (R p ) H P P ro d u k s i / u n i t m e to d e k o n v e n s7i o n a l 7 H P P ro d u k s i / u n i t m e to d e A B C 1 2 6 .4 B (R p ) 169 2 0 8 .2 C (R p ) 77 8 3 .1 6 D (R p ) 169 1 5 3 .8

Metode ABC lebih banyak membebankan overhead terhadap produksi dengan volume yang lebih rendah dan cenderung membebankan secara relatif lebih kecil terhadap produksi dengan volume yang lebih tinggi. SOAL 4 PT Bangetmaju memproduksi 3 jenis produk. Penghitungan Harga Pokok Produk selama ini masih menggunakan secara tradisional. Mulai tahun ini PT Bangetmaju selain melakukan penghitungan secara tradisional juga melakukan penghitungan Harga Pokok Produk dengan menerapkan penghitungan atas dasar aktifitas. Data yang berkaitan dengan penghitungan Harga Pokok Produk untuk tahun ini disajikan dalam tabel berikut:
BOP Produk X Y Z Total Jml biaya Unit 20 unit 100 unit 100 unit JKL 30 jam 150 jam 70 jam 250 jam Rp 2,500 Rp 6,600 Rp BTKL Rp Rp Rp BBB 300 Rp 1,500 700 Rp Rp 600 3,000 3,000 Setups 2 kali 1 kali 3 kali 6 kali 6,200 Rp Handles 2 kali 1 kali 3 kali 6 kali 3,300 Rp Part 1 kali 1 kali 2 kali 4 kali 3,000

BOP yang terjadi di PT Bangetmaju dikaitkan dengan penyebab terjadinya biaya (cost drivers) Overhead, yaitu: product line setups, number of handles dan number of part. Number of setups menujuk pada jumlah berapa kali setiap jenis produk (product line) di set up (penyiapan atau menyusun persiapan produksi). Jumlah penanganan (number of handles) menunjuk pada jumlah berapa kali produk ditangani, yaitu perpindahan dari tempat kerja yang satu ke tempat yang lainya hingga menjadi produk jadi. Jumlah bahan penolong (number of part) adalah jumlah bahan penolong yang dipakai dalam pemrosesan tiap unit produk. ALOKASI BOP SECARA KONVENSIONAL Penentuan tarif BOP : Tarif BOP = BOP Jam Kerja Langsung

= Rp 6.200 + Rp 3.300 + Rp 3.000 250 Jam = Rp 50 per Jam Kerja Langsung Pembebanan BOP ke produk:
Produk (A) X Y Z Konsumsi JKL (B) 30 JKL 150 JKL 70 JKL Tarip per JKL (C) 50 50 50 BOPdb (D) 1500 7500 3500 Jumlah Unit (E) 20 100 100 Tarip Pembebanan BOP per Unit (F) 75 75 35

D=BxC

F = D (:) E

BOPdb = BOP dibebankan

PENGHITUNGAN HARGA POKOK PER UNIT


Produk (A) X Y Z JML Unit (B) 20 100 100 (C) 300 1500 700 (D) 600 3000 3000 BTKL BBB BTKL (E) Rp Rp Rp 15 15 7 BIAYA PER UNIT BBB (F) Rp Rp Rp 30 30 30 BOPdb (G) Rp Rp Rp 75 75 35 Rp Rp Rp TOTAL HP /unit (H) 120 120 72

Keterangan: E= C : B

F= D : B

H = E+F+G

Dengan perhitungan secara konvensional, produk X dan Y harga pokok per unitnya sama yaitu sebesar Rp 120 sedangkan produk Z hanya sebesar = Rp 72. Jumlah BOPdb diatas tidak dapat menunjukkan hubungan sebab akibat antara jumlah BOPdb dengan penyebabnya. Hal tersebut dikarenakan jumlah BOPdb ditentukan dengan cara pengalokasian BOP menurut JKL. PENGHITUNGAN SECARA ACTIVITY BASED COSTING (ABC) Dari kasus diatas, BOP dapat dibebankan berdasarkan aktifitas. penyebab timbulnya biaya. Aktifitas merupakan

Oleh karena itu biaya harus dibebankan menurut aktifitas yang

dikonsumsi. Tarip untuk tiap satu kali aktifitas dapat ditentukan dengan total biaya aktifitas dibagi dengan aktifitas yang dipakai tiap produk. Perhitungan tersebut ditunjukkan dengan tabel sebagai berikut:
AKTIFITAS TOTAL BIAYA AKTIFITAS (B) Rp 6,200 Rp 3,300 Rp 3,000 AKTIFITAS DIKONSUMSI (C) 6 6 4 TARIP PER AKTIFITAS (D)=B:C Rp 1,033.33 Rp 550.00 Rp 750.00

(A) Setup Handling Part numbers

Kemudian penghitungan pembebanan BOP berdasarkan aktifitas yang dikonsumsi oleh produk dilakukan dengan mengalikan jumlah aktifitas yang dikonsumsi dengan tarip per aktifitas. Perhitungan tersebut diringkas dalam tabel sebagai berikut:
A K TIF ITA S TA R IF (A ) (B ) (C ) S etup R p 1 ,0 3 3 .3 32 H an d lin g R p 5 5 0 .0 02 P art R p 7 5 0 .0 01 TO TA L 5 P ro d u k X (D )= B x C (E ) Rp 2 ,06 6 .61 6 Rp 1 ,10 0 .01 0 Rp 7 5 0 .010 Rp 3 ,91 6 .63 6 P rod u k Y (F )= B x E (G ) Rp 1 ,0 3 3 .3 3 Rp 5 50 .03 0 Rp 7 50 .02 0 Rp 2 ,3 3 3 .3 8 3 P rod u k Z (H )= B x G Rp 3 ,0 9 9 .9 9 Rp 1 ,6 5 0 .0 0 Rp 1 ,5 0 0 .0 0 Rp 6 ,2 4 9 .9 9

Hasil penghitungan Harga Pokok per unit:


P RO DUK (A ) X Y Z JM L U N IT (B ) 20 10 0 10 0 B TK L (C ) Rp Rp Rp 30 0R p 1 ,5 00R p 70 0R p BBB (D ) 600 p R 3,00 0R p 3,00 0R p BOP (E ) TO TA L H P H P P E R U N IT

(F )= C + D + E (G )= F /B 3, 91 6. 67p R 4 ,8 1 6 .6 7 R p 2 40 .8 3 2, 33 3. 33p R 6 ,8 3 3 .3 3 R p 6 8 .33 6, 24 9. 99p R 9 ,9 4 9 .9 9 R p 9 9 .50

Membandingkan Hasil Perhitungan


Keterangan HP Per Unit Metode Konvensional HP Per Unit Metode ABC X Rp 120 Rp Y 120 Rp Z 72

Rp

240.83

Rp

68.33

Rp

99.50

SOAL 5 PT Multi Perkasa memproduksi suatu produk yang dilayani melalui suatu pesanan. Sistem penghitungan harga pokok pesanan yang dipakai selama ini mengkategorikan biaya ke dalam dua jenis biaya langsung (biaya bahan dan BTKL) dan satu biaya tak langsung (yaitu BOP, dialokasikan dengan menggunakan Jam Kerja Langsung). sistem penghitungan HPP dengan ABC. Tarip alokasi BOP pada sistem sebelumnya adalah sebesar Rp 115.000,- per JKL. Pada saat ini sebuah tim sedang menerapkan Dalam sistem yang baru tersebut, dua jenis biaya

langsung tetap dipertahankan, sedang tarip BOP tunggal diganti dengan 5 pusat pengumpulan biaya (cost pool). Kelima cost pool menyajikan lima aktifitas.
Aktivita s Penanganan bahan Pembubutan Penggilingan Grenda Pengujian Cost Drive r Jum lah unit bahan Jum lah perputaran Jum lah jam m esin Jum lah unit bahan Jum lah unit di test Ta rif Rp Rp Rp Rp Rp 400 200 20,000 800 15,000

Saat ini ada 2 pesanan yang diproses dengan menggunakan sistem yang baru. Pesanan tersebut memiliki karakteristik sebagai berikut:

P es anan A A B ia y a B a h a n B a k u B TK L Ju m la h JK L Ju m la h b a h a n p e n o lo n g Ju m la h p e rp u t a ra n Ju m la h ja m m e s in 9,700 ,000 750,000 25 500 20,000 150

P esanan A B 59,900,000 11,250,000 375 2,000 60,000 1,042.50

Diminta :
1. Hitunglah Harga Pokok Produk per unit dengan sistem konvensional. 2. Hitunglah Harga Pokok Produk per unit dengan sistem activity based costing

JAWABAN
PT. Multi Perkasa Sistem Konvensional Biaya Bahan Baku BTKL BOP Rp 115.000 x 25 Unit Rp 115.000 x 375 Unit Total HPP HPP Per Unit = Rp Rp = Rp Pesanan AA Pesanan AB Rp 9,700,000 Rp 59,900,000 Rp 750,000 Rp 11,250,000 Rp 2,875,000 Rp 13,325,000 Rp 13,325,000 Rp 10 Unit 1,332,500 Rp 43,125,000 114,275,000 114,275,000 200 Unit 571,375

PT. Multi Perkas a Sis tem ABC Biaya Langs ung BBB BTKL Jum lah Biaya Langs ung Biaya Tidak Langs ung Penanganan Bahan : Pem bubutan Penggilingan Gerenda Pengujian Rp 400 x 500 Rp 400 x 2.000 Rp 200 x 20.000 Rp 200 x 60.000 Rp 20.000 x 150 Rp 20.000 x 1.042,5 Rp 800 x 500 Rp 800 x 2.000 Rp 15.000 x 10 Rp 15.000 x 200 Jum lah Biaya Tidak Langs ung Total HPP HPP Per Unit Pes anan AA = Rp 18.200.000 10 Unit = Rp 1.820.000,= Rp = = Rp = = Rp = = Rp = = Rp = Rp Rp 150,000 Rp 7,750,000 Rp 18,200,000 Rp 3,000,000 38,250,000 109,400,000 200 Unit = Rp 547.000,400,000 Rp 1,600,000 3,000,000 Rp 20,850,000 4,000,000 Rp 12,000,000 200,000 Rp 800,000 Rp Rp Rp Pes anan AA 9,700,000 Rp 750,000 Rp 10,450,000 Rp Pes anan AB 59,900,000 11,250,000 71,150,000

HPP Per Unit Pes ananRp 109.400.000 = AB