Anda di halaman 1dari 12

I.

PENDAHULUAN

Teknologi pengolahan limbah kian maju pesat. Berbagai metode dengan peralatan yang modern digunakan untuk mengatasi permasalahan limbah supaya tidak mencemari lingkungan. Dalam pengolahan limbah, nitrogen merupakan unsur yang menjadi parameter tingkat pencemaran terhadap lingkungan. Limbah yang mengandung sejumlah besar senyawa nitrogen tidak diizinkan dibuang ke lingkungan secara langsung karena akan berdampak sangat tidak baik terhadap ekologi dan kesehatan manusia. Untuk mengatasinya, secara konvensional digunakan teknologi nitrifikasi dan denitrifikasi. Namun proses pengolahan limbah untuk mengkonversi senyawa nitrogen ini membutuhkan biaya dan energi yang sangat banyak, operasi yang rumit, dan ketahanan lingkungan. Oksidasi ammonia anaerob (Anaerobic ammonia oxidation /ANAMMOX) merupakan salah satu teknologi alternatif yang digunakan dalam proses pengolahan limbah terutama yang berkaitan dengan nitrogen. Dalam proses ini, nitrit digunakan sebagai akseptor elektron dalam konversi ammonia menjadi gas nitrogen. Proses ini menawarkan kesempatan yang cukup besar untuk mengkonversi ammonia dalam system yang autotrof mutlak dengan bantuan biomassa. Dalam proses ini tidak dibutuhkan senyawa karbon organik, ammonia digunakan sebagai donor elektron untuk reduksi nitrit. Oksidasi ammonia dapat dilangsungkan secara aerob dan anaerob dan terdapat beberapa agen bakteri yang memiliki kemamppuan oksidasi ammonia. Mereka melakukannya dalam 2 tahap yaitu mengoksidasi ammonia menjadi nitrit dengan hidroksilamin, kemudian mengoksidasi nitrit menjadi nitrat dengan menggunakanhydroxylamine oxidoreduxctase. Tahap kedua adalah mengoksidasi nitrat menjadi gas nitrogen secara anaerob. Bakteri pengoksidasi ammonia dari jenis kemolitoautotrof aerob merupakan jenis bakteri yang secar khusus dapat hidup pada media yang mengandung amonia dan CO2 dan mampu menggunakan ammonia monooxygenase untuk menkonversi ammonia dengan hidroksilamin. Beberapa bakteri heterotrof seperti P.

Pantotropha dan Alcaligenes faecalis dapat menyelenggarakan reaksi yang sama. Metanotrop mampu mengkonversi ammonia menjadi hidroksilamin melalui methane monooxygenase yang dapat mengoksidasi metana menjadi CO2.

II.

PROSES ANAEROBIC AMMONIUM OXIDATION PADA LIMBAH CAIR

Sejarah dan Mekanisme Anaerobic Ammonium Oxidation (ANAMMOX) menurut Van de Graff Proses ANaerobic AMMonium OXidation (ANAMMOX) pertama kali ditemukan pada tahun 1980-an namun sebenarnya telah diprediksi sejak lama. Van de Graff et al. (1997) dan Bock et al. (1995) menemukan bahwa nitrit lebih baik dalam menjadi akseptor elektron. Aliran lainnya dengan kandungan nitrogen yang tinggi dan kandungan karbon yang rendah seperti dalam leachet landfill dan kondensat evaporator dapat diolah dengan menggunakan proses ini. Dalam proses ANAMMOX, ammonia dioksidasi dalam kondisi anoksik, kondisi di mana nitrit dapat menjadi akseptor elektron. Ion ammonium dan nitrit dikonsumsi dalam basis yang hamper eqimolar. Proses ini dapat dikombinasikan dengan proses nitritasi parsial seperti proses SHARON di mana sebagian ammonia dioksidasi menjadi nitrit. Kedua proses autotrof tersebut dapat menambah sustainibilitas atau ketahanan pengolahan limbah terhadap kebutuhan penambahan karbon (dan secara bersamaan menambah produksi lumpur) yang dapat dihindari serta konsumsi oksigen dan emisi oksida nitrat dapat direduksi dalam jumlah besar. Kombinasi antara proses SHARON dan ANAMMOX diakhiri dengan proses penghilangan nitrogen Kehadiran bakteri pemroses ANAMMOX yang mampu memproduksi gas nitrogen dari ammonia dan nitrit/nitrat pertama kali didemonstrasikan dalam reaktor denitrifikasi terfluidisasi dalam proses pengolahan lumpur dari aliran effluent pembuangan kotoran dan limbah ammonia, dan endapan dari air laut. Bakteri mediasi pada proses ini diidentifikasi 20 tahun yang lalu dan pada saat itu kejutan besar bagi komunitas ilmiah. Ini terjadi di banyak lingkungan alam dan ANAMMOX juga merupakan nama merek dagang untuk teknologi penghapusan amonium yang telah dikembangkan oleh Delft University of Technology. Yang termasuk ke dalam bakteri yang berperan penting dalam proses ANAMMOX ini adalah : Brocadia yaitu Brocadia anammoxidans Kuenenia yaitu Kuenenia stuttgartiensis Scalindua yaitu Scalindua brodae, Scalindua wagneri, dan Scalindua sorokinii Adapun mekanisme terjadinya proses ANAMMOX ini dihipotesiskan oleh van de Graaf et al. (1997) dapat dijelaskan dengan dua metode sebagai berikut:

1. Oksidasi ammonia menjadi nitrit menjadi hidroksilamin, yang akan bereaksi dengan nitrit yang nantinya akan direduksi menjadi nitrogen. Pembentukan hidroksilamin dari ion ammonium dilakukan dengan bantuan enzim hydroxylamine oxidoreduxctase. Proses ini nampak tidak memungkinkan karena adanya inhibis dari oksigen yang daya oksidasinya sangat kuat. 2. Reduksi parsial dari nitrit dengan pembentukan hidroksilamin (NH2OH) yang kemudian akan bereaksi lebih lanjut dengan ammonia membentuk hidrazin (N2H4). Hidrazin inilah yang akan dikonversi menjadi nitrogen. Oksidasi dengan mekanisme seperti ini akan memberikan daya reduksi yang ekivalen dengan yang dibutuhkan untuk kondisi awal reduksi nitrit.

Karakteristik Bakteri ANAMMOX Bakteri ANAMMOX berbentuk cocci biasanya berukuran kurang dari 1m dan waktu regenerasinya 10-30 hari. Bakteri ini termasuk dalam ordo Planctomycetes dan oleh karena itu bersifat chemolithoautrotroph anaerobic. Sejauh ini semua percobaan kultur murni bakteri ANAMMOX gagal karena sangat kesulitan untuk mengisolasikannya. Sehingga, hanya dapat dilakukan cara pengkayaan kultur (enrichment cultures) yang tersedia dan semua yang kita ketahui tentang bakteri ANAMMOX didapatkan dari kultur yang diperkaya tersebut. Salah satu sifat utama bakteri ANAMMOX adalah memiliki anammoxosom, yang merupakan ruangan yang menempel pada membran yang mengandung lemak ladderane. Dipercaya bahwa proses ANAMMOX berlangsung dalam membrane ini. Lemak ladderane ini unik dan hanya dimiliki oleh bakteri ANAMMOX serta memiliki suatu struktur yang aneh yang terbuat dari lemak yang kaku dan keras (rigid). Membran anammoxosom ini sangat rapat karena hidrasin intermediatenya sangat reaktif dan dibutuhkan sebagai alat proteksi dari keseluruhan sel. Keuntungan lain dari ketatnya membrane ini adalah membatasi difusi proton melalui membrane dan oleh karena itu enzim ATPase lebih efisien. Bakteri ANAMMOX tumbuh secara lamban. Waktu regenerasinya di laboratorium dalam kondisi optimum adalah 11 hari dan dalam rata-rata 2-3 minggu. Hasil biomassanya adalah 0,07 C-mol per mol ammonium teroksidasi dengan pembebasan energi. Ini sangat irit. Sepertinya efisiensi ini yang menyebabkan pertumbuhan yang lamban. Alasan yang sebenarnya adalah kecepatan konversi substrat yang rendah. Optimum temperatur telah diamati dalam berbagai

habitat yang berbeda. Dalam pengelolaan limbah cair, optimum temperatur sebesar 370C. Di bawah kondisi lingkungan alam, temperatur optimum lebih rendah. ANAMMOX telah ditemukan dalam mesin pengelola limbah cair. Diasumsikan bahwa penggunaan proses ANAMMOX di mesin pengolah limbah cair dapat mengurangi biaya operasional 90%. Ada dua alasan bahwa penggunaan proses ini mengurangi biaya operasional, yaitu tidak perlu menambahkan methanol sebagai tambahan sumber karbon dan hanya dibutuhkan oksigen separuhnya dibanding langkah nitrifikasi/denitrifikasi tradisional. Penghematan lain adalah penghapusan langkah nitrifikasi yang membutuhkan karbon sintetik untuk berlangsungnya langkah denitrifikasi yang memproduksi CO2. CO2 dikonsumsi oleh bakteri ANAMMOX dalam pengelolaan limbah cair. Alasan mengapa karbon ditambahkan adalah bahwa tidak cukup karbon organik dalam air limbah untuk semua nitrogen reaktif di denitrifikasi (Hertach, 2008). Tiga genera tersebut adalah monophyletic dan cabang dari planctomycete. Mereka mimiliki suatu ultrastruktur dan metabolisme yang sama yang mengarah kepada kesimpulan bahwa ciri ANAMMOX (anammox feature) hanya berevolusi sekali dalam hidupnya. Semua spesies ANAMMOX telah dapat ditemukan di sistem marin dan estuarin masuk dalam genus Scalindua (Hertach, 2008 ).

Persamaan Reaksi Pada Proses ANNAMMOX dan Tahapan Pengolahan Limbah Cair Dalam proses ANAMMOX, amonia dan nitrit dikonversi menjadi gas nitrogen Amonia diubah sebagian menjadi nitrit (persamaan reaksi a) oleh bakteri pengoksidasi amonia aerobik dalam kondisi oksigen terbatas. Selanjutnya, bakteri pengoksidasi amonia anaerobik akan mengubah amonia dan nitrit yang terbentuk menjadi gas nitrogen (Persamaan reaksi.b). Kedua reaksi tersebut dapat digabungkan menjadi sistem reaksi yang digambarkan persamaan c. (persamaan a) (persamaan b) (persamaan c)

Karena bakteri ANAMMOX secara reversibel dihambat oleh kehadiran oksigen, proses yang digambarkan oleh persamaan c harus terjadi pada keadaan oksigen terbatas. Bakteri pengoksidasi amonia secara aerobic dapat menghasilkan N2O dan NO dalam kondisi oksigen terbatas (Setiadi et al., 2006). Bakteri ANAMMOX dapat melakukan oksidasi amonium secara anaerob karena memiliki enzim hydrazine hydrolase (HH), hydrazine oxidizing (HZO), dan nitrite reducing (NR). Brocardia anammoxidans yang tergolong genus Planctomycetales merupakan spesies bakteri ANAMMOX yang berhasil diisolasi dari reaktor pengolahan limbah secara denitrifikasi. Bakteri tersebut menggunakan nitrit hasil oksidasi amonium sebagai akseptor elektronnya (Nursanty, 2009)

Untuk mengatasi limbah cair ada beberapa tahapan-tahapannya, yang pertama yaitu primary treatment. Dalam primary treatment memiliki banyak treatment yang di lakukan untuk mengatasi limbah cair, setelah melalui primary treatment lanjut ke secondary treatment. Anaerobic suspended growth adalah salah satu cara atau biologi treatment yang di gunakan untuk mengatasi limbah cair. Pada secondary treatment yang dipilih adalah biologi treatment pertumbuhan tersuspensi (suspended growth) karena lebih menguntungkan dibandingkan dengan sistem bioreaktor pertumbuhan melekat (attached growth). Keuntungan bioreaktor pertumbuhan tersuspensi antara lain, tidak memerlukan media pendukung untuk pertumbuhan mikroorganisme dan tidak mudah tersumbat (Sahm 1984).

Disamping itu, bioreaktor yang dipilih memiliki rancang bangun sederhana, murah dan mudah pengoperasiannya serta kestabilan biomassa tinggi. Desain bioreaktor yang memenuhi karakteristik tersebut adalah bioreaktor berpenyekat anaerob karena bioreaktor ini mempunyai rasio waktu tinggal biomassa dengan waktu tinggal hidraulik jauh lebih besar dibandingkan dengan sistim bioreaktor tercampur sempurna (CSTR, continouos stirred tank reactor). Dalam anaerobic suspended growth memiliki banyak cara untuk mengatasi limbah dan salah satu anaerobic suspended growth adalah ANAMMOX. Dahulu sebelum proses ANAMMOX ditemukan, untuk menghilangkan ammonium, proses oksidasi ammonium adalah dari ammonium menuju nitrit, kemudian nitrat. Selanjutnya, nitrat direduksi menjadi N2O dan N2. Sistem nitrifikasi baru-baru ini dikembangkan di mana oksidasi nitrit menjadi nitrat dicegah yang merupakan cara ideal untuk proses ANAMMOX. Kombinasi dari nitrifikasi parsial dan proses ANAMMOX tetap menjadi tantangan untuk aplikasi masa depan dalam penghapusan amonium dari air limbah dengan konsentrasi amonium tinggi.

Disamping denitrifikasi (persamaan 1) dan ANAMMOX (persamaan 2) ada beberapa reaksi baru yang ditemukan, yang dapat menghasilkan nitrogen N2 dari ammonium dan nitrat. 4 NO3 - + 5 CH2O 2 N2 + 4 HCO3 - + CO2 + 3 H2O NH4 + + NO2- -N2 + 2H2O

(persamaan 1)

(persamaan 2)

Dalam proses biologis, nitrit dan amonium dikonversi langsung ke dinitrogen. Proses ini memberikan kontribusi hingga 50% dari gas dinitrogen diproduksi di lautan. Dengan demikian wastafel utama untuk nitrogen tetap sehingga membatasi produktivitas primer kelautan. Reaksi katabolik keseluruhan adalah: NH 4 + + NO 2 N 2 + 2H 2 O.

Metode Untuk Identifikasi ANAMMOX Di alam denitrifikasi dan ANAMMOX dapat berlangsung bersamaan dan oleh karena itu, metode yang memadai dibutuhkan untuk membedakannya. Ada beberapa jalan untuk membuktikan bahwa terjadi proses ANAMMOX. Pertama, dengan perunut isotop nitrogen. Dengan ingkubasi sampel 15NH4+ dan 15NO3- kita dapat memisahkan antara denitrifikasi dan ANAMMOX sehingga kita memiliki bukti bahwa proses ANAMMOX terjadi. Langkah selanjutnya adalah mengubungkan prose situ dengan organismenya. Bakteri ANAMMOX dapat diidentifikasi dengan melihat lemak ladderane, dengan hibridisasi fluorescence in situ (FISH, Fluorescence in situ hybridization) dan dengan cara analysis phylogenetic dari gen 16S rRNA parsial.

Identifikasi Pengukuran Komunitas Bakteri ANAMMOX dengan Metode FISH (Fluorescence in situ hybridization) Untuk waktu yang lama konsensus umum amonium yang hanya bisa dioksidasi dalam kondisi aerobik. Austria kimiawan teoritis Engelbert Broda adalah orang pertama yang mengakui kemungkinan oksidasi amonium anaerobik pada tahun 1977. Penghapusan simultan amonium dan produksi gas nitrogen diamati dalam industri pengolahan air limbah di Belanda pada tahun 1986.

Kombinasi SHARON/ANAMMOX Dalam langkah ini, campuran ammonium-nitrit yang dihasilkan dari reactor Sharon, diubah menjadi gas nitrogen secara anaerob. Ammonium digunakan sebagai donor electron. Karena ANAMMOX berlangsung lambat (10 hari), volumenya harus diperbesar. SHARON (Single reactor for High activity Ammonia Removal Over Nitrite) adalah cara baru yang berbeda dengan

cara konvensional dalam penanganan limbah. Proses ini berlangsung dalam suatu reactor campuran yang sempurna tanpa penghambatan biomassa. Ini digunakan dalam menangani limbah dari pengolahan limbah yang mengalir. Dalam proses ini ammonium langsung diubah ke nitrit, dan langsung ke gas nitrogen. Oksidasi ammonium berhenti sampai nitrit oleh pengoperasian proses SHARON pada peningkatan temperatur. Pada temperatur yang lebih tinggi, bakteri pengoksidasi ammonium tumbuh lebih cepat dibanding bakteri pengoksidasi nitrit. Bakteri pengoksidasi nitrit yang tumbuh lambat terbuang dari reactor dan oksidasi ammonium berhenti pada nitrit. Temperatur proses ini antara 30 dan 40 Celcius. Waktu tinggal berkisar antara 1 dan 2 hari. Penerapan proses ANAMMOX terletak pada penghapusan amonium dalam pengolahan air limbah dan terdiri dari dua proses yang terpisah. Langkah pertama adalah parsial nitrifikasi ( nitritation ) setengah dari ammonium menjadi nitrit oleh bakteri pengoksidasi amonia : 4NH4+ + 3O2 2NH4+ + 2NO2- + 4H+ + 2H2O Ammonium yang dihasilkan dan nitrit dikonversi dalam proses ANAMMOX ke gas dinitrogen dan nitrat sekitar 15% (tidak ditampilkan) oleh bakteri ANAMMOX. NH4+ + NO2- N2 + 2 H2O Langkah kedua proses dapat berlangsung dalam 1 reaktor mana dua serikat bakteri bentuk butiran kompak.

Pengaruh konsentrasi COD terhadap ANAMMOX Semakin tinggi konsentrasi COD, semakin tinggi inhibitor, khususnya pada tahap pertama dalam percobaan. Kecepatan pembuangan (removal) ammonium dan jumlah ammonium, nitrit dan nitrat dikontrol oleh konsentrasi COD dalam reactor. Lebih lanjut, semakin tinggi konsentrasi COD, semakin rendah efisiensi pengbuangan (removal) COD. Dalam permulaan reaksi, semakin tinggi konsentrasi COD, semakin tinggi pembuangan COD dan lebih besar pengaruhnya atas reaksi ANAMMOX (Jing Kang dan Jian-Long Wang, 2006)

Aplikasi ANAMMOX di industri / pabrik Untuk pengayaan organisme ANAMMOX biomassa butiran atau sistem biofilm tampaknya sangat cocok di mana umur lumpur yang diperlukan lebih dari 20 hari dapat dipastikan. Kemungkinan reaktor yang Sequencing Batch Reaktor (SBR), bergerak seperti

angkat-loop reaktor gas. Pengurangan biaya dibandingkan dengan penghapusan nitrogen konvensional memang cukup besar, teknik ini masih muda namun terbukti dalam beberapa fullscale instalasi. Reaktor skala penuh pertama ditujukan untuk aplikasi bakteri ANAMMOX yang dibangun di Belanda pada tahun 2002. Perlakuan wastewater plants lainnya, seperti yang ada di di Jerman (Hattingen), di mana aktivitas ANAMMOX adalah tanpa sengaja diamati dengan tanpa ada tujuan.Namun pada tahun 2006 terdapat tiga proses skala penuh di Belanda. Satu di sebuah pabrik pengolahan air limbah kota (di Rotterdam ), dan dua di industry, limbah cair. Di Indonesia, terdapat enam pabrik pupuk urea dengan karakteristik limbah cair berkadar urea dan amonia-nitrogen tinggi. Selama ini proses pengolahan limbah pabrik-pabrik tersebut adalah dengan menampung limbah dalam kolam-kolam besar tanpa perlakuan khusus atau pengaturan kondisi operasi sehingga keluaran proses tidak selalu berada di bawah baku mutu yang ditetapkan. Penelitian terdahulu memanfaatkan mikroalgae berklorofil, yang menghasilkan enzim urease, untuk menguraikan senyawa urea dan amonia dalam air limbah. Dalam skala besar, mikroalgae selalu berasosiasi dengan bakteri lain. Mikroalgae menyerap senyawasenyawa CO2, NH4+, NO3-, PO43- hasil metabolisme bakteri. Oksigen yang diproduksi mikroalgae, digunakan oleh bakteri untuk proses nitrifikasi-denitrifikasi. Proses konvensional untuk menghilangkan ammonium pada umumnya melalui 2 tahap, nitrifikasi-aerobik dan denitrifikasi-anaerobik. Dalam skala laboratorium telah dikembangkan proses autotrofik 1 tahap dimana ammonium dioksidasi secara langsung menjadi N2 dimana kebutuhan O2 lebih kecil 63% dan tanpa senyawa pereduksi. Kajian yang dilangsungkan pada dekade terakhir menemukan bahwa konversi NH4+ menjadi gas N2 secara autotrofik meliputi 2 tahap: (i) nitrifikasi aerobik NH4+ menjadi NO2 atau NO3 dengan O2 sebagai penerima elektron dan (ii) denitrifikasi anoksik NO2 atau NO3 menjadi gas N2 dengan NH4+ sebagai donor elektron (Anderson & Levine, 1986). Akan tetapi, aplikasi proses 1 tahap dengan nitrifier sebagai biokatalis secara praktis masih menghadapi kendala karena kapasitas spesifik penghilangan N masih sangat rendah yaitu, kurang dari 2 mg N [g Volatile Suspended Solids (VSS)]day, dan ketidakpastian kondisi operasi (Bock, et al 1995; Schmidt & Bock, 1997). Pada tahun 1994, pengolahan efluen dari reaktor metanogenik dengan menggunakan reaktor fluidized-bed, mampu menghilangkan nitrat dan secara simultan menurunkan amonium disertai pembentukan gas N2 (Mulder, et al. 1995). Proses itu disebut ANAMMOX (Anaerobic Ammonium Oxidation). Mikroorganisme yang

mengkatalisis reaksi tersebut belum diidentifikasi, tetapi dianggap tidak berkaitan dengan fungsi nitrifier autotrofik (Strous et al, 1997). Pertumbuhan populasi mikroba ANAMMOX sangat lambat. Uji skala laboratorium menunjukkan bahwa pada pengolahan air limbah dengan kadar amonium tinggi, input NO2 dalam jumlah stoikiometrik sangat penting (Strous et al, 1997 ). Adanya O2, walaupun dalam jumlah kecil, dapat menghambat konversi amonium secara anaerobik (van de Graaf et al, 1996). Penelitian skala laboratorium ini mempelajari potensi sistem OLAND (Oxygen-Limited Autotrophic Nitrification-Denitrification) dengan lumpur nitrifying sebagai biokatalis. Pada dasarnya pembuatan lumpur aktif nitrifying relatif mudah (Gernaey et al, 1997). Tetapi bila lumpur itu kemudian dapat diinduksi untuk mengkonversi NH4+ menjadi N2 tanpa bantuan sumber karbon organik, maka sebuah langkah penting dalam pengolahan limbah akan mungkin dilakukan.

III.

KESIMPULAN

1. ANAMMOX adalah proses oksidasi ammonia yang terjadi dalam kondisi anaerob dan biasanya dimanfaatkan dalam pengolahan limbah cair. Reaksi ANAMMOX dapat digambarkan sebagai berikut :

2. Bakteri ANAMMOX dapat melakukan oksidasi amonium secara anaerob karena memiliki enzim hydrazine hydrolase (HH), hydrazine oxidizing (HZO), dan nitrite reducing (NR). 3. Manfaat Proses ini dapat disebutkan sebagai berikut: Efektif dalam biaya Tidak diperlukan penambahan sumber karbon organic Energy yang diperlukan dapat direduksi sebanyak 60% dari kebutuhan energy biasa Emisi CO2 dapat dikurangi sampai 90% Tidak menghasilkan lumpur yang berlebihan Ringkas dan tidak merepotkan

DAFTAR PUSTAKA Anderson, I. C., and J. S. Levine. 1986. Relative rates of nitric oxide and nitrous oxide production by nitrifiers, denitrifiers, and nitrate respirers. Appl. Environ. Microbiol. 51:938-945. Anonym (2007) Wastewater Technology Fact Sheet: Side Stream Nutrient Removal. United state Environmental Protection agency, USA. 7p. Bock, E., I. Schmidt, R. Stven, and D. Zart. 1995. Nitrogen loss caused by denitrifying Nitrosomonas cells using ammonium or hydrogen as electron donors and nitrite as electron acceptor. Arch. Microbiol. 163:16-20. Gernaey, K., L. Verschuere, L. Luyten, and W. Verstraete. 1997. Fast and sensitive acute toxicity detection with an enrichment nitrifying culture. Water Environ. Res. 69:1163-1169. Hertach, M (2008) Anaerobic Ammonium Oxidation (ANAMMOX) A new sink in the marine nitrogen cycle. Hildastrasse 4 8004 Zrich. 16p. Jing Kang dan Jian-Long Wang (2006) Influence of Chemical Oxygen Demand Concentrations on Anaerobic Ammonium Oxidation by Granular Sludge From EGSB Reactor. BIOMEDICAL AND ENVIRONMENTAL SCIENCES 19, 192-196 Karthikeyan, O.P. dan K. Joseph (2009) ANAMMOX a novel process for nitrogen management in bioreactor landfills a review. Centre for Environmental Studies, Anna University, Chennai 25. Mulder, A., A. A. van de Graaf, L. A. Robertson, and J. G. Kuenen. 1995. Anaerobic ammonium oxidation discovered in a denitrifying fluidized bed reactor. FEMS Microbiol. Ecol. 16:177-184. Sahm, H (1984) Anaerobic wastewater treatment, advances in biochemical engineering. Biotechnology 29: 83-115. Strous, M., E. van Gerven, J. G. Kuenen, and M. Jetten. 1997. Effects of aerobic and microaerobic conditions on anaerobic ammonium-oxidizing (ANAMMOX) sludge. Appl. Environ. Microbiol. 63:2446-2448 Strous, M., E. van Gerven, P. Zheng, J. G. Kuenen, and M. S. M. Jetten. 1997. Ammonium removal from concentrated waste streams with the anaerobic ammonium oxidation (ANAMMOX) process in different reactor configurations. Water Res. 31:1955-1962. Van de Graaf, A.A., de Bruijn, P., Robertson, L.A., Jetten, M.S.M., Kuenen, J.G. (1996). Autotrophic growth of anaerobic ammonium-oxidizing micro-organisms in a fluidized bed reactor. Microbiology 142, S. 21872196.