PELAKSANAAN RONDE KEPERAWATAN

OLEH : TIM PENGENDALI MUTU RS

BIDOKKES POLDA JATIM RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TULUNGAGUNG 2010

LAPORAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN TN “E” DENGAN DENGUE HAEMORAGIC FEVER ( DHF ) DI RUANG SAKURA RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TULUNGAGUNG PERIODE TANGGAL 7 MARET 2010 S/D 14 MARET 2010

DI SUSUN OLEH : TIM PENGENDALI MUTU RS

BIDOKKES POLDA JATIM RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TULUNGAGUNG 2010

LAPORAN PENDAHULUAN
I. KONSEP DASAR DHF 1. DEFINISI Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 419). Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Arbovirus (arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. (Ngastiyah, 1995 ; 341). Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan tipe I – IV dengan infestasi klinis dengan 5 – 7 hari disertai gejala perdarahan dan jika timbul tengatan angka kematiannya cukup tinggi (UPF IKA, 1994 ; 201) Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam yang berlangsung akut menyerang baik orang dewasa maupun anak – anak tetapi lebih banyak menimbulkan korban pada anak – anak berusia di bawah 15 tahun disertai dengan perdarahan dan dapat menimbulkan syok yang disebabkan virus dengue dan penularan melalui gigitan nyamuk Aedes. (Soedarto, 1990 ; 36). Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang terutama terdapat pada anak dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, dan biasanya memburuk pada dua hari pertama (Soeparman; 1987; 16). 2. ETIOLOGI i. Virus dengue Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam Arbovirus (Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus dengue tipe 1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus ini berdiameter 40 nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel – sel mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster Kidney) maupun sel – sel Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus. (Soedarto, 1990; 36).

ii. Vektor Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 420). Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan vektor penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya melalui gigitannya nyamuk Aedes Aegyeti merupakan vektor penting di daerah perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan (rural) kedua nyamuk tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes berkembang biak pada genangan Air bersih yang terdapat bejana – bejana yang terdapat di dalam rumah (Aedes Aegypti) maupun yang terdapat di luar rumah di lubang – lubang pohon di dalam potongan bambu, dilipatan daun dan genangan air bersih alami lainnya ( Aedes Albopictus). Nyamuk betina lebih menyukai menghisap darah korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi hari dan senja hari. (Soedarto, 1990 ; 37). iii. Host Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe lainnya. Dengue Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah mendapatkan infeksi virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua kalinya atau lebih dengan pula terjadi pada bayi yang mendapat infeksi virus dengue untuk pertama kalinya jika ia telah mendapat imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui plasenta. (Soedarto, 1990 ; 38). 3. PATOFISIOLOGI Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan virtemia. Hal tersebut menyebabkan pengaktifan complement sehingga terjadi komplek imun Antibodi – virus pengaktifan tersebut akan membetuk dan melepaskan zat (3a, C5a, bradikinin, serotinin, trombin, Histamin), yang akan merangsang PGE2 di Hipotalamus sehingga terjadi termo regulasi instabil yaitu hipertermia yang akan meningkatkan reabsorbsi Na+ dan air sehingga terjadi hipovolemi. Hipovolemi juga dapat disebabkan peningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran palsma. Adanya komplek imun antibodi – virus juga menimbulkan Agregasi trombosit sehingga terjadi gangguan fungsi trombosit, trombositopeni, coagulopati. Ketiga hal tersebut menyebabkan perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi shock dan jika shock tidak teratasi terjadi Hipoxia jaringan dan akhirnya terjadi Asidosis metabolik.

Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari. dan kuagulopati (Arief Mansjoer &Suprohaita. Hipoproteinemia. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan tubuh manusia. Virus hanya dapat hidup dalam sel yang hidup.sebagai reaksi terhadap infeksi terjadi (1) aktivasi sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilaktosin yang menyebabkan peningkatan permiabilitas kapiler sehingga terjadi perembesan plasma dari ruang intravaskular ke ekstravaskular. 2000. 420) . (2) kelainan hemostasis. trombositopenia. Infeksi virus dengue Trombositopenia Demam Anoreksia muntah Manifestasi perdarahan Dehidrasi Hepatomegali Permiabilitas vaskular naik Kebocoran plasma “Plasma Leakage” Haemokonsentrasi. 2000. yang disebabkan oleh vaskulopati. apabila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibatnya akan terjadi mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang dan (3) kerusakan sel endotel pembuluh darah akan merangsang atau mengaktivasi faktor pembekuan.Asidosis metabolik juga disebabkan karena kebocoran plasma yang akhirnya tejadi perlemahan sirkulasi sistemik sehingga perfusi jaringan menurun jika tidak teratasi terjadi hipoxia jaringan. Efusi pleura. (2) agregasi trombosit menurun. Hipovolemia DIC Perdarahan saluran cerna Syock Anoksia Asidosis Meninggal Demam berdarah dengue (Arief Mansjoer &Suprohaita. Ketiga faktor tersebut akan menyebabkan (1) peningkatan permiabilitas kapiler. 419). rata-rata 5-8 hari. Ascites. sehingga harus bersaing dengan sel manusia terutama dalam kebutuhan protein.

1993 . Renjatan (Syok) Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya penderita. 349). epistaksis. (Ngastiyah. 1995 . (Nelson. iii. (soedarto . perdarahan gusi telinga dan sebagainya. dimulai dengan tanda – tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab. Demam Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2 – 7 hari kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah. ii. ( Soedarto. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal harus di perhatikan kemungkinan akan tejadi renjatan pada penderita . Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukan prognosis yang buruk. haematemesis. petekia dan purpura. iv. 296). 201) yaitu : • • Derajat I Derajat II Panas 2 – 7 hari . uji tourniquet hasilnya positif Sama dengan derajat I di tambah dengan gejala – gejala pendarahan spontan seperti petekia. Bersamaan dengan berlangsung demam. meskipun pada anak yang kurang gizi hati juga sudah. melena.4. jari tangan. Dengue Haemoragic Fever (DHF) dibagi menjadi 4 tingkat (UPF IKA. Hepatomegali Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba. • Derajat III . dingin pada ujung hidung. 1994 . Perdarahan Perdarahan biasanya terjadi pada hari ke 2 jdari demam dan umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji tocniguet yang positif mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena. epimosa. jari kaki serta sianosis disekitar mulut. nyeri tulang dan persediaan. MANIFESTASI KLINIS INFEKSI VIRUS DENGUE 1. (Soedarto. gejala – gejala klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia. Nyeri punggung . gejala umumtidak khas. Perdarahan gastrointestinat biasanya di dahului dengan nyeri perut yang hebat. Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga menyebabkan haematemesis. 39). 1995 . 39). 1990 . 1990 . KLASIFIKASI DHF Menurut derajat ringannya penyakit. 39). (Soederita. ekimosa. nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyetainya. 39).

trombositipenia. WHO. Uji tourniquet positif. berkeringat dan kulit tampak biru. • Derajat IV Nadi tidak teraba. (120/80 → 120/100 → 120/110 → 90/70 → 80/70 → 80/0 → 0/0 ) d. perdarahan gusi. Derajat IV Nadi tidak teraba.140 mmHg) anggota gerak teraba dingin. d. Derajat III gelisah. Panas 2-7 hari. tekanan darah menurun.tekanan darah tidak terukur (denyut jantung > . ekimosis. Derajat II Sama dengan derajat I. : Syock berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak : Ditemukan kegagalan sirkulasi. Derajat IV dapat diukur. 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan. c. yaitu nadi cepat dan lemah. melena. Derajat I Derajat II lain. berkeringat dan kulit tampak biru. ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie. b. tanpa perdarahan spontan. Derajat I Demam disertai gejala klinis lain. tekanan darah tidak teatur (denyut jantung ≥ 140x/mnt) anggota gerak teraba dingin. : Derajat I disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau perdarahan . yaitu : a. tekanan nadi menurun/ hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan pasien menjadi : Demam dengan test rumple leed positif. b. c. dan hemokonsentrasi. Derajat III Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (>120x/mnt ) tekanan nadi sempit ( ≤ 120 mmHg ). Derajat (WHO 1997): a.Penderita syok ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (> 120 / menit) tekanan nadi sempit (< 20 mmHg) tekanan darah menurun (120 / 80 mmHg) sampai tekanan sistolik dibawah 80 mmHg. hematemesis.

2000. diare maupun obstipasi dan kejang – kejang. nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan. (Soedarto. Infeksi virus dengue Asimptomatik Simptomatik Demam yang tak jelas penyebabnya Tanpa perdarahan Demam dengue Demam berdarah dengue dengan “Plasma Leakage” Dengan perdarahan DBD syock tanpa DBD dengan syock (Arief Mansjoer &Suprohaita. 420) . Gejala klinik lain yaitu nyeri epigasstrium. gelisah. 1995 . muntah – muntah. 39).TANDA DAN GEJALA Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya. sopor koma. tanda dan gejala lain adalah : Hati membesar. Asites Cairan dalam rongga pleura ( kanan ) Ensephalopati : kejang.

chikungunya) ii. Laboratorium: 1. PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSA Untuk mendiagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF) dapat dilakukan pemeriksaan dan didapatkan gejala seperti yang telah dijelaskan sebelumnya juga dapat ditegakan dengan pemeriksaan laboratorium yakni : Trombositopenia (< 100. dan gelisah. Trombositopenia (< 100. PCV berulangkali (setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukan tanda perbaikan) faal haemostasis x-foto dada. hematemesis (test rumple leed). titer antibodi HI dalam fase akut > 1/20 dan akan meningkat dalam stadium rekovalensi sampai lebih dari pada 1/2560. cepat. akral dingin dan sianosis.000/ uL) dan terjadi hemokonsentrasi lebih dari 20%. 1994 . 69). Infeksi bakteri / virus lain (tonsilo faringitis. Pembesaran hepar. elektro kardio gram. Syock yang ditandai dengan nadi lemah. yang hasilnya adalah Pada infeksi pertama dalam fase akut titer antibodi HI adalah kurang dari 1/20 dan akan meningkat sampai < 1/1280 pada stadium rekovalensensi pada infeksi kedua atau selanjutnya. isolasi virus.5. 202) Pada renjatan yang berat maka diperiksa : Hb. melena. (UPF IKA. DIAGNOSA BANDING Belum / tanpa renjatan : 1. demam dari kelompok pnyakit exanthem. Apabila titer HI pada fase akut > 1/1280 maka kadang titernya dalam stadium rekonvalensi tidak naik lagi. Pemeriksaan serologik yaitu titer CF (complement fixation) dan anti bodi HI (Haemaglutination ingibition) (Who. Dasar diagnosis Dengue Haemoragic Fever (DHF)WHO tahun 1997: Klinis: Demam tinggi dengan mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari. Demam tipoid 2.000 / mm3) . Renjatan septik oleh kuman gram negatif lain iii. Hb dan PCV meningkat (> 20%) leukopenia (mungkin normal atau leukositosis). Dengan perdarahan 1. hepatitis. tekanan darah menurun. Campak 2. 6. 1998 . Leukimia . serologis (UPF IKA. kreatinin serum. Dengan renjatan 1. Menifestasi perdarahan petikie. 1994).

344) Dengue Haemoragic Fever (DHF) ringan tidak perlu dirawat. (Soemarmo. 1998 . terdiri dari virus. 8. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan tinggi Menurut Rezeki S. Pemberantasan penyakit Dengue Haemoragic Fever (DHF) ini yang paling penting 1) adalah upaya membasmi jentik nyamuk penularan ditempat perindukannya dengan melakukan “3M” yaitu Menguras tempat – tampet penampungan air secara teratur sekurang – kurangnya sxeminggu sekali atau menaburkan bubuk abate ke dalamnya 2) Menutup rapat – rapat tempat penampung air dan 3) Menguburkan / menyingkirkan barang kaleng bekas yang dapat menampung air hujan seperti → dilanjutkan di baliknya. Dengan kejang 1. 57) 1) manfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan pada saat hsedikit terdapatnya DHF / DSS 2) memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita veremia. aedes dan manusia. 1998 : 22. 56) Prinsip tepat dalam pencegahan DHF (Sumarmo. 571) . termasuk pula daerah penyangga sekitarnya. Karena sampai saat ini belum terdapat vaksin yang efektif terdapat virus itu maka pemberantasan ditujukan pada manusia terutama pada vektornya. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN Pemberantasan Dengue Haemoragic Fever (DHF) seperti juga penyakit menular laibn didasarkan atas pemutusan rantai penularan. Ensefalitis 2. 1998 . Meningitis 7. Anemia aplastik iv. 1995 . apabila orang tua dapat diikutsertakan dalam pengawasan penderita di rumah dengan kewaspadaan terjadinya syok yaitu perburukan gejala klinik pada hari 3-7 sakit ( Purnawan dkk. 3) 4) Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah pengambaran yaitu sekolah dan RS. 12995 . Dengue Haemoragic Fever (DHF) sedang kadang – kadang tidak memerlukan perawatan.2. PENATALAKSANAAN DHF PADA ANAK Pada dasarnya pengobatan pasien Dengue Haemoragic Fever (DHF) bersifat simtomatis dan suportif (Ngastiyah.

203) yaitu: Panas 1-2 hari disertai dehidrasi (karena panas. Belum atau tanpa renjatan: 1. Sedangkan penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut UPF IKA. kesan sakit keras (tidak mau bermain). 1994 .Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue (UPF IKA. muntah. Antipiretik yang dapat diberikan ialah golongan asetaminofen.perdarahan. Panas 3-5 hari disertai nyeri perut. Hiperpireksia (suhu 400C atau lebih) diatasi dengan antipiretika dan “surface cooling”. Hb dan Ht/PCV meningkat.asetosal tidak boleh diberikan Tidak baik ↓ PCV Nadi cepat & lemah Produksi urine ↓ . Panas disertai renjatan. Alur Tatalaksana Pemberian Cairan DHF Derajat I dan II D5 RL atau D5 Ringer Asetat 7 ml/kg BB/1 jam Baik ↓ PCV ↓ Nadi stabil Produksi urine ↑ Hb ↓ ↓ 5 ml/Kg BB/1 jam ↓ 3 ml/Kg BB/1 jam ↓ 24 – 48 jam stabil PCV ↓ > 5 Disertai Hb ↓ ↓ Baik Tanda vital berubah ↓ 10 ml/Kg BB/1 jam ↓ 15 ml/Kg BB/1 jam ↓ Tidak baik PCV tetap tinggi dari harga normal ↓ Plasma Darah Sumber : Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR/RSUD Dr Soetomo Surabaya. masukan kurang) atau kejang–kejang. 203 – 206 adalah. Panas disertai perdarahan. 1994 . pembesaran hati uji torniquet positif/negatif.

1 infus cairan ringer laktat dengan dosis 75 ml / kg BB / hari untuk anak dengan BB . 4 kali sehari. untuk anak dengan BB < 25 Kg 75 ml/KgBB/24 jam. air bauh susu secukupnya b. a. b.Umur 6 – 12 bulan : 60 mg / kali.3 Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut : • • • • Obat-obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi sekunder lain antipiretik untuk anti panas darah 15 cc/kgBB/hari perdarahan hebat. 4 kali sehari Umur 10 tahun keatas : 250 mg.2 Untuk kasus yang menunjukan gejala dehidrasi disarankan minum sebanyak – banyaknya dan sesering mungkin. Oral ad libitum atau < 10 kg atau 50 ml / kg BB / hari untuk anak dengan BB < 10 10 kg bersama – sama di berikan minuman oralit. 100 ml/Kg BB/24 jam. untuk anak dengan BB 31-40 kg 50 ml/KgBB/24 jam. untuk anak dengan BB 41-50 kg b. 4 kali sehari Umur 1 – 5 tahun : 50 – 100 mg. 4 sehari Umur 5 – 10 tahun : 100 – 200 mg. untuk anak dengan BB 26-30 kg 60 ml/KgBB/24 jam.

1994 . a. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu ( 24 jam dikurangi waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan ). 203 – 206 adalah. Alur Tatalaksana Pemberian Cairan DHF Derajat III D5 RL atau D5 Ringer Asetat 10 . PCV Nadi cepat & lemah Produksi urine ↓ PCV ↓ > 5 Disertai Hb ↓ PCV tetap tinggi dari harga normal ↓ Koloid ↓ Tidak baik O2 Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan tensi . 100 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 Kg 75 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dng berat badan 26-30 Kg. Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba dengan frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral hangat) lanjutkan dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/1jam. 50 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 Kg. 60 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 Kg.20 ml/kg BB/1 jam Baik ↓ PCV ↓ Nadi stabil Produksi urine ↑ Hb ↓ ↓ 7 ml/Kg BB/1 jam ↓ 5 ml/Kg BB/1 jam ↓ 3 ml/Kg BB/1 jam ↓ Darah + Atasi Asidosis Sumber : Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR/RSUD Dr Soetomo Surabaya. Sedangkan penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut UPF IKA. Perhitungan kebutuhan cairan dalam 24 jm diperhitungkan sebagai berikut : • • • • b.Dengan Renjatan : 2.

a. Jika keadaan umum membai dilanjutkan cairan RL sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan. akral dingin maka penderita tersebut harus memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 ml/Kg BB/ 1 jam. Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 ml/Kg BB/ 1 jam keadaan tensi menurun lagi. c. Jika keadaan umum membaik dilanjutkan dengan cairan RL dengan perhitungan sebagai berikut : kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.masih terukur kurang dari 80 mmHg dan nadi cepat lemah.a. akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau yang lainnya) sebanyak 10 mL/ Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang maksimal 30 mL/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. Perhitungan kebutuhan cairan seperti yang tertera pada 2. tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi cepat lemah. Dan dapat diulang maksimal 30 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. . Perhitungan kebutuhan cairan seperti yang tertera pada 2.

Jika keadaan umum membaik lanjutkan pemberian PCV Nadi cepat & lemah Produksi urine ↓ PCV ↓ > 5 Disertai Hb ↓ PCV tetap tinggi dari harga normal ↓ Koloid ↓ Tidak baik O2 . bila keadaan baik (T > 80 mmHg dan nadi < 120 x/menit. 1994 .20 ml/kg BB/1 jam Bolus 30 menit Baik ↓ PCV ↓ Nadi stabil Produksi urine ↑ Hb ↓ ↓ 7 ml/Kg BB/1 jam ↓ 5 ml/Kg BB/1 jam ↓ 3 ml/Kg BB/1 jam ↓ Darah + Atasi Asidosis Sumber : Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR/RSUD Dr Soetomo Surabaya. b. Jika keadaan umum tidak stabil infus RL dilanjutkan sampai perhitungan sebagai berikut : Kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan. Alur Tatalaksana Pemberian Cairan DHF Derajat IV D5 RL atau D5 Ringer Asetat 10 .3.a. Perhitungan kebutuhan cairan seperti yang tertera pada 2. a. Apabila setelah pemberian Rl 30 ml/Kg BB/ 1 jam keadaan umum masih buruk. Sedangkan penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut UPF IKA. akral hangat lanjutkan dengan RL sebanyak 10 ml/Kg BB/1 jam. 203 – 206 adalah. Tensi tak terukur dan nadi tak teraba maka klien harus dipasang infus 2 tempat dengan maksud satu tempat untuk RL 10ml/Kg BB/1 jam dan tempat lain untuk pemberian plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 20 ml/Kg BB/1 jam selama 1 jam. Berikan cairan RL sebanyak 30 ml/Kg BB/1 jam.

N = 0 maka klien ini perlu dikonsultasikan ke bagian anestesi untuk dievaluasi kebenaran cairan yang dibutuhkan apabila sudah sesuai dengan yang masuk. e. Perhitungan kebutuhan cairan seperti yang tertera pada 2. Jika keadaan umum membaik lanjutkan pemberian RL dengan perhitungan sebagai berikut : Kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.RL dengan perhitungan sebagai berikut : Kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan. maka klien ini perlu dikonsultasikan ke bagian anestesi.a. Apabila setelah pemberian Rl 30 ml/Kg BB/ 1 jam keadaan umum membaik tetapi tensi terukur kurang dari 80 mmHg dan nadi > 120 x/menit akral hangat atau akral dingin maka klien ini sebaiknya diberikan plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 ml/Kg BB/1 jam dan dapat diulangi maksimal sampai 30 ml/Kg BB/24 jam. Dalam hal ini perlu monitor dengan pemasangan CVP. Tensi tak terukur secara palpasi dan nadi teraba cepat lemah. . Jika reaksi perbaikan tidak tampak. Apabila setelah pemberian Rl 30 ml/Kg BB/ 1 jam keadaan umum masih buruk.a. Kortikosteroid dan perbaiki kelainan yang lain. Jika tata laksana grade IV setelah 2 jam sesudah plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 20 ml/Kg BB/1 jam dan RL 10 ml/Kg BB/1 jam tidak menunjukkan perbaikan T = 0. akral dingin maka klien ini sebaiknya diberikan plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 20 ml/Kg BB/1 jam. c. maka klien ini perlu diberikan lagi plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 ml/Kg BB/1 jam. N > 120 x/menit). d. f. gunakan obat Dopamin. Perhitungan kebutuhan cairan seperti yang tertera pada 2.a. Perhitungan kebutuhan cairan seperti yang tertera pada 2. Jika tata laksana grade IV setelah 2 jam sesudah plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 20 ml/Kg BB/1 jam dan RL 30 ml/Kg BB/1 jam belum menunjukkan perbaikan yang optimal (T < 80. Jika keadaan umum membaik lanjutkan pemberian RL dengan perhitungan sebagai berikut : Kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.

g. . akral dingin maka klien ini perlu diberikan lagi plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 ml/Kg BB/1 jam dan dapat diulangi maksimal sampai 30 ml/Kg BB/24 jam. Jika tata laksana grade IV sesudah memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 ml/Kg BB/1 jam dan RL 30 ml/Kg BB/1 jam belum menunjukkan perbaikan yang optimal (T > 80. Jika reaksi perbaikan tidak tampak. N < 120 x/menit). maka klien ini perlu dikonsultasikan ke bagian anestesi. Dalam hal ini klien perlu diberikan Lasix 1 mg/Kg BB/kali dan Dopamin. Untuk kasus – kasus yang sudah memperoleh cairan 60 mg/Kg BB/2 jam pikirkan bahaya overload dan kemampuan kontraksi yang kurang.

lemah. perdarahan spontan. sakit kapala. penyakit itu bisa terulang. Jenis kelamin : secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan pada penderita DHF. II. mual. bahkan sampai di pedesaan dengan jumlah penduduk yang padat dan dalam waktu relatif singkat. Riwayat Keperawatan Sekarang Panas tinggi (Demam) 2 – 7 hari. RIWAYAT KEPERAWATAN P (Provocative) Q (Quality) R (Region) S (Severity) T (Time) 1. 5. Keluhan Utama Penderita mengeluh badannya panas (peningkatan suhu tubuh) sakit kepala. : Dari Grade I. 1995 ). Riwayat Keperawatan Sebelumnya Tidak ada hubungannya antara penyakit yang pernah diderita dahulu dengan penyakit DHF yang dialami sekarang. . II. : Keluhan dari ringan sampai berat. tetapi kalau dahulu pernah menderita DHF. ruam 5 – 12 jam. ruam. Tetapi kematian lebih sering ditemukan pada anak perempuan daripada anak lakilaki. Riwayat Kesehatan Lingkungan : Virus dengue. 2. nyeri ulu hati dan penurunan nafsu makan (anoreksia). Tempat tinggal : penyakit ini semula hanya ditemukan di beberapa kota besar saja. 3. 4.PENGKAJIAN I. remaja dan dewasa ( Effendy. Riwayat Kesehatan Keluarga Riwayat adanya penyakit DHF didalam keluarga yang lain (yang tinggal didalam satu rumah atau beda rumah dengan jarak rumah yang berdekatan) sangat menentukan karena ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty. lemah. : Demam 5 – 8 hari. : Semua sistem tubuh akan terganggu. malaise. kemudian menyebar kehampir seluruh kota besar di Indonesia. III sampai IV. mual dan nafsu makan menurun. IDENTITAS Umur: DHF merupakan penyakit daerah tropik yang sering menyebabkan kematian pada anak. nyeri otot dan pegal pada seluruh badan. sakit pada saat menelan. nyeri ulu hati. muntah.

yaitu pada tempat penampungan air bersih. yaitu faktor gen yang diturunkan dari kedua orang . tempat air minum burung yang jarang diganti airnya. Aedes albapictus. Dengan jarak terbang nyamuk + 100 meter. c.DHF ditularkan oleh 2 jenis nyamuk. d. b. banyak hormon yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. . Faktor Keturunan tuanya. Faktor Gizi . Setiap sel memerlukan makanan atau gizi yang baik. bak mandi jarang dibersihkan. lingkungan biologi dan lingkungan psikososial. seperti kaleng bekas. Untuk mencapai tumbuh kembang yang baik dibutuhkan gizi yang baik. Faktor Lingkungan. yaitu 2 nyamuk aedes: Aedes aigepty: Merupakan nyamuk yang hidup di daerah tropis terutama hidup dan berkembang biak di dalam rumah. ban bekas. 6. Faktor Hormonal . Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan : Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak a. Terdiri dari lingkungan fisik. namun yang paling berperan adalah Growth Hormon (GH).

IV. 5. 2. mual. Sistem Cardiovaskuler Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi. akan mengungkapkan nyeri sat kencing. kesulitan menelan. uji tourniquet positif. dapat muntah darah (hematemesis). pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit. perdarahan melalui hidung (epistaksis). Peningkatan suhu tubuh (Hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus dengue (viremia). Sistem integumen Terjadi peningkatan suhu tubuh (Demam). 2. nyeri tekan pada epigastrik. Pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur. pembesarn limpa. penurunan tekanan darah (hipotensi). pada auskultasi terdengar ronchi. terjadi bintik merah seluruh tubuh/ perdarahan dibawah kulit (petikie). tachypnea. cyanosis sekitar mulut. trombositipeni. ruam makulopapular. kulit kering. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. pergerakan dada simetris. pernapasan dangkal. berak darah (melena). abdomen teregang. penurunan nafsu makan. Pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi. nyeri saat menelan. Sistem perkemihan Produksi urine menurun. pembesaran pada hati (hepatomegali) disertai dengan nyeri tekan tanpa diserta dengan ikterus. 3.III. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke . kadang kurang dari 30 cc/jam. Sistem Persyarafan / neurologi Nyeri pada bagian kepala. 6. PEMERIKSAAN FISIK / PENGKAJIAN PERSISTEM 1. Selaput mukosa kering. kencing berwarna merah. bola mata dan persendian. hidung dan jari-jari. pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet. muntah. Sistem Pencernaan / Gastrointestinal Perdarahan pada gusi. Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat terjadi DSS 4. perkusi sonor. Sistem Pernapasan / Respirasi Sesak. effusi pleura (crackless). nadi cepat (tachycardia).

4. pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. 5.ekstravaskuler 3. 6. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan. . 7. Resiko terjadinya cidera (perdarahan) berhubungan dengan penurunan factor-fakto pembekuan darah ( trombositopeni ) Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdaahan Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi.

Anjurkan keluarga agar mengenakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat pada klien. Berikan kompres (air biasa / kran). c. Tujuan : Suhu tubuh normal kembali setelah mendapatkan tindakan perawatan. d. nadi. Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi Berikan / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi ) Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi. Observasi intake dan output. e. nadi dalam batas normal (80-100 x/mnt). Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering.Diagnosa Keperawatan. Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh. Intervensi : a. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. Kriteria Hasil. Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 – 37. Intervensi & Rasional 1. Tujuan. Nyeri otot hilang. Obat khususnyauntuk menurunkan suhu tubuh pasien. Peningkatan suhu tubuh (Hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus dengue (viremia). b. membran mukosa basah. . tanda vital ( suhu. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat antipiretik sesuai program. Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.

N: 80-120x/mnt). Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi. Capilarry refill < 3 detik. warna. plasma atau darah. Vital sign dalam batas normal (TD 100/70 mmHg. Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh. e.2. Akral hangat. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari (sesuai toleransi) Rasional : Untuk memenuhi kabutuhan cairan tubuh peroral Kolaborasi : Pemberian cairan intravena. Pulsasi kuat. b. c. Kriteria : Input dan output seimbang. d. Tidak ada tanda presyok. untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok. Observas vital sign tiap 3 jam/lebih sering Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler Observasi capillary Refill Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer Observasi intake dan output. . konsentrasi. BJ urine. Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan / Tidak terjadi syok hipovolemik. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. Intervensi : a. Catat jumlah.

pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.3. Resiko Syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok / syok b. PCV. Kolaborasi : pemeriksaan : HB. Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal Intervensi : a. Monitor keadaan umum pasien Raional . trombo Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut. dan segera laporkan jika terjadi perdarahan Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan. Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan. e. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok c. . d. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat.

b. e. Observasi porsi makan klien. f. Berikan dan Bantu oral hygiene. c. g. Kolaborasi dalam pemberian diet lunak dan rendah serat. d. Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan mengandung gas. i. Sajikan makanan dalam keadaan hangat. Berikan / Anjurkan pada klien untuk makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster. Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. k. Kaji riwayat nutrisi. termasuk makanan yang disukai Rasional : Mengidentifikasi defisiensi. Nafsu makan meningkat. porsi makanan yang disajikan mampu dihabiskan klien. menduga kemungkinan intervensi Observasi dan catat masukan makanan pasien Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan ) Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.4. h. Rasional : Mencegah terjadinya distensi pada lambung yang dapat menstimulasi muntah. j. Jelaskan pada klien dan keluarga tentang penting nutrisi/ makanan bagi proses penyembuhan. Intervensi : a. Anjurkan pada klien untuk menarik nafas dalam jika mual. . berat badan dan keluhan klien. mual dan muntah berkurang. tidak terjadi penurunan berat badan.

Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis. pelihara kebersihan mulut. N: 80-100x/menit reguler. Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis. Monitor trombosit setiap hari Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari. tidak ada perdarahan spontan (gusi. dan anjurkan untuk segera melaporkan jika ada tanda perdarahan seperti di gusi. Kolaborasi dalam pemberian transfusi (trombosit concentrate). Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak. ptike. c. . Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi perdarahan. berak darah (melena). nadi. Kriteria : TD 100/60 mmHg. trombosit dalam batas normal (150. Intervensi : a. d. atau muntah darah (hematemesis). b. Tujuan : Tidak terjadi perdarahan selama dalam masa perawatan.000/uL). Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium secara berkala (darah lengkap). Anjurkan pada klien untuk banyak istirahat tirah baring ( bedrest ) Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah ( trombositopeni ). Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang bahaya yang dapat timbul akibat dari adanya perdarahan. Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut. pulsasi kuat. dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien. f. suhu dan pernafasan). berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah dan Observasi tanda-tanda perdarahan serta tanda vital (tekanan darah. hidung. g. e. hematemesis dan melena). hidung(epistaksis).

Penerbit buku Kedokteran EGC. Penerbit buku Kedokteran EGC. Ngastiyah (1997).K. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarata. Jakarta. (1999). Jakarta. (1999). (1982). Volume I. (terjemahan). Barbara. Lynda Juall. Penerbit FKUI. (1994). (terjemahan). (terjemahan). Soetjiningsih. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penerbit buku Kedokteran EGC. Arif & Suprohaita. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius. Mansjoer. Edisi 8. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Soeparman. Edisi 2. Jakarta. (terjemahan). Universitas Airlangga. Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. (2000. Bandung. Tumbuh Kembang Anak. F. (terjemahan). Long.). Pedoman Diagnosis dan Terapi. Jakarta. (1996). Carpenito. (1995). Penerbit buku Kedokteran EGC. Perawatan Medikal Bedah. Jakarta. Fakultas Kedokteran Unair & RSUD dr Soetomo Surabaya 27 . Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Rencana Asuhan Keperawatan. Barbara C. Suharso Darto (1994). (1987). Lynda Juall. (1998). Engram. Penerbit buku Kedokteran EGC. Volume 2. Perawatan Anak Sakit. Marilynn E. Junadi. Surabaya. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta. Kapita Slekta Kedokteran Jilid II. Jakarta. Doenges. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 3. Purnawan. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi kedua.

RIWAYAT KEPERAWATAN 1. 7 Pebruari 1982 II. Hartono : Ny. Eko N : Laki. IDENTITAS KLIEN : Tn.laki : 29 tahun : Pertama : Tn. Supriadi 104 Tulungagung : 7 Maret 2010 : DHF : Klien dan orangtua klien. 2) Lama keluhan : Sejak 4 hari yang lalu 3) Akibat timbulnya keluhan : Klien tampak lemah 28 . : 8 Maret 2010 Nama Jenis Kelamin Umur Anak ke Nama Ayah Nama Ibu Pendidikan Ayah Pendidikan Ibu: S1 Pekerjaan Ayah Pekerjaan Ibu Agama Suku Alamat Taggal MRS Diagnosa Medis Sumber Informasi Pengkajian tanggal Tempat Tanggal Lahir : Tulungagung. Endang : S1 : Swasta : Anggota POLRI : Islam : Jawa : Jl. Riwayat Keperawatan Sekarang 1) Keluhan Utama : Sakit kepala. panas dan tidak nafsu makan.ASUHAN KEPERAWATAN TN”E” DENGAN DHF DI RUANG SAKURA RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TULUNGAGUNG PENGKAJIAN I.

warna kulit merah.1 kg. bak mandi dikuras setiap seminggu 1 kali. Post-Natal : Perkembangan dan pertumbuhan sampai anak berumur 10 th Berjalan normal. Tinggal dalam satu rumah dengan jumlah penghuni 4 Orang.4) 5) Faktor yang memperberat : Upaya untuk mengatasi : Dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Tulungagung 2. Lahir spontan langsung menangis. 4) Kultur dan kepercayaan : Menganut budaya jawa. ditolong bidan. minum obat-obatan maupun minum jamujamuan. dengan berat badan lahir 3. Riwayat Keperawatan Sebelumnya 1. Natal : Anak lahir pada usia kehamilan 9 bulan 10 hari. sekitar rumah terdapat beberapa ban bekas untuk menanam tanaman yang belum dipakai. Prenatal : Selama hamil ibu tidak pernah sakit. 3) Pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga : Anak pertama belum bersekolah. 5) Fungsi dan hubungan keluarga : Cukup harmonis. 29 . 1) Lainnya : Sebelumnya klien tidak penah dirawat karena penyakit apapun. walaupun tinggal dekat kali kecil. 3. Riwayat Kesehatan Keluarga 1) Komposisi keluarga : Keluarga sudah memiliki 1 orang putri 2) Lingkungan rumah dan komunitas : Menurut ibu kondisi lingkungan rumah cukup bersih. Menurut ibu Lingkungan wilayah belum pernah disemprot.

30 . Ibu sangat gelisah atas keadaan anaknya ini. 7) Lainnya : Menurut keluarga (Ibu) tidak ada keluarga yang dalam waktu dekat ini menderita sakit DHF.6) Persepsi keluarga tentang penyakit klien : Anggapan keluarga bahwa anaknya menderita penyakit berat dan harus segara ditangani.

Mual tidak ada. warna kuning agak pekat ditampung oleh ibu untuk diukur. S : 386 turgor baik.III. harus dipaksakan baru mau minum. spontan. Bunyi nafas tambahan tidak terdengar. Frekuensi napas 25x/menit. tidak terdapat tanda-tanda cyanosis. nadi 98x/mnt. 3. 4. muntah tidak terjadi. kekuatan otot baik. 8. tanda-tanda petikhie spontan tidak terlihat. pd saat pengkajian tanda-tanda epistaksis sudah tidak ada. Sistem Integumen :. tidak terdapat pernapasan cuping hidung. bising usus 8x/mnt. minum tidak suka. keempat ekstremitas simetris. tidak terjadi perdarahan spontan. 5. OBSERVASI SYSTEM). 1. Sistem Neurosensori : Tidak ada kelainan. Sistem Genitourinary : BAK lancar. hanya tanda pethike bekas rumple leed. Sistem Gastrointestinal : Nafsu makan menurun. 31 . Sistem muskuloskeletal : Tidak terdapat kontraktur sendi. pethikae bekas rumple leed. 7. Sistem Respirasi : DAN PEMERIKSAAN FISIK (PENGKAJIAN BODY Pergerakan napas simetris. anak hanya mau makan 3 sendok makan. Sistem Cardiovaskuler : TD : 100/60. tidak ada luka. akral dingin. BAB dari malam belum ada. 6. 2. tidak terdapat perdarahan spontan pada kulit. capiler refill < 3 detik. tidak ada deformitas. Sistem Endokrin : Tidak ada kelainan. Terdapat nyeri tekan daerah hepar dan asites positif.

14 maret 244.000.000. PROGRAM TERAPI Infus RL 30 tpm Cefotaxim 2x1 gr Ranitidin 2x1 Sanmol tab 2x500mg. Ciprofloqacin 3x1 Dexametashon 3x2tab Diet TKTP 1600 Kkal 32 .IV.000.000. 11 Maret 124. 8 Maret 128. 12 Maret 100.000.000 Widal : Negatip V.000. 13 Maret 154. DIAGNOSTIC TEST / PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. 9 Maret 84. 10 Maret 81. Laboratorium : Hb :tanggal 7 Maret – 14 Maret =Normal Trombo : 7 Maret 136.000.

Berikan kompres air biasa / kran 33 . Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. Rencana Intervensi : 1. Resiko gangguan nutrisi kurang berhubungan dengan nafsu makan yang menurun. S : Klien mengatakan badanya terasa panas. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi virus dengue Tujuan : Suhu tubuh normal kembali setelah mendapatkan tindakan perawatan.VI. Kriteria : TTV khususnya suhu dalam batas normal (360C – 370C). Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi virus dengue. N . 3. S : Klien mengatakan tidak suka minum dan perut terasa kenyang minum terus. S : Klien menyatakan tidak mau makan. PERENCANAAN 1. ANALISA DAN SINTESA DATA NO DATA 1. tetapi tidak mual. O : KU lemah Makan pagi hanya mau 3 sendok ETIOLOGI Proses infeksi virus dengue  Viremia  Thermoregulasi MASALAH Peningkatan suhu tubuh Peningkatan suhu tubuh Ektravasasi cairan Intake kurang  Volume plasma berkurang  Penurunan volume cairan tubuh Cairan tubuh 3. 2. RR 25x/mnt. 133. Membran mukosa basah. Nafsu makan menurun  Intake nutrisi tidak adekuat  Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Nutrisi VII. TTV : S : 376. 2. 98x/mnt. TD : 100/60. pusing O : Akral dingin Panas hari ke 2 panjang. Nyeri otot hilang. Nadi 98x/mnt.000 TD : 100/60. O : Turgor kulit baik Mukosa bibir kering Urine banyak warna kuning pekat Panas hari ke 2 panjang Trombosit . DIAGNOSA KEPERAWATAN : 1. nadi dalam batas normal (80-100 x/mnt). VIII.

3.Rasional : Kompres akan memberikan pengeluaran panas secara induksi. Vital sign dalam batas normal (TD 100/70 mmHg. Observasi Vital sign setiap jam atau lebih. 5. Observasi intake dan output. 3. 2. 2. Rasional : Penurunan haluaran urine / urine yang pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. 4. Rasional : Meningkatkan jumlah cairan tubuh untuk mencegah terjadinya hipovolemik syok. Akral hangat. catat jumlah. 2. Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi / Nutrisi terpenuhi 34 . 3. Rencana Intervensi . Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan / Tidak terjadi syok hipovolemik. Rasional : Mengetahui kondisi dan mengidentifikasi fluktuasi cairan intra vaskuler. konsentrasi dan BJ urine. warna. Capilarry refill < 3 detik. Kolaborasi pemberian cairan intra vena. Observasi capillary refill Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer. Rasional : Memberikan rasa nyaman dan memperbesar penguapan panas 4. Anjurkan klien untuk banyak minum 1500 – 2000 ml Rasional : Mengganti cairan tubuh yang keluar karena panas dan memacu pengeluaran urine guna pembuangan panas lewt urine. Observasi intake dan out put Rasional : Deteksi terjadinya kekurangan volume cairan tubuh. Observasi TTV setiap 1 jam Rasional : Menentukan intervensi lanjutan bila terjadi perubahan 6. Anjurkan anak untuk banyak minum 1500-2000 ml /hari (sesuai toleransi) Rasional : Untuk pemenuhan kebutuhan ciran tubuh peroral. Kolaborasi untuk pemberian antipiretik Rasional : Antipireik berguna bagi penurunan panas. Pulsasi kuat. plasma atau darah. 5. Anjurkan untuk memakai pakaian yang tipis dan menyengat keringat. 1. Kriteria : Input dan output seimbang. Tidak ada tanda presyok. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang berhubungan dengan nafsu makan yang menurun. N: 80-120x/mnt).

2. Berikan makanan yang mudah ditelan mudah cerna Rasional : Mengurangi kelelahan klien dan mencegah perdarahan gastrointestinal. mual dan muntah berkurang. Rasional : Menghindari mual dan muntah 4. 3. Rasional : Mencegah terjadinya distensi pada lambung yang dapat menstimulasi muntah. 35 . Nafsu makan meningkat.Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan mengandung gas. Rencana Intervensi : 1. Beri makanan kesukaan klien Rasional : Memungkinkan pemasukan yang lebih banyak 6. Kolaborasi pemberian cairan parenteral Rasional : Nutrisi parenteral sangat diperlukan jika intake peroral sangat kurang. porsi makanan yang disajikan mampu dihabiskan klien. 5. Berikan makanan porsi kecil tapi sering. tidak terjadi penurunan berat badan. Kaji keluhan mual. muntah atau penurunan nafsu makan Rasional : Menentukan intervensi selanjutnya.

Mengobservasi intake dan out put. Rekam Medis : 10178278 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Mengobservasi suhu : 38 0C. Tensi : 100/75. Menjelaskan pentingya tirah baring adalah untuk menghindari berkembangnya invasi virus yang lebih luas. TANGGAL 7 Maret 2010 JAM No. Menganjurkan klien untuk banyak minum 6 – 8 gelas/hari. Memberikan kompres dingin (air biasa / kran).nadi : 98x/mnt. Menjelaskan pada ibu penyebab timbulnya panas tubuh. 8 Maret 2010 S: O: Input dan output seimbang. O: Suhu : 380C Nadi :88 x/mt Membran mukosa basah Nyeri otot hilang. RR 24x/mnt. Melanjutkan pemberikan cairan perinfus dan memantau tetesan infus RD5 175 cc / jam → 75 cc / jam Melakukan observasi : Suhu : 360C. 36 . panas tubuh disebabkan oleh masuknya virus dalam tubuh sehingga tubuh melakukan perlawanan terhadap virus tersebut dengan pengaktifan sistem komlemen sehingga sebagai kompensasi adalah timbulnya demam tubuh. Nadi :88 x/mt Turgor mulai membaik. Mengkaji saat timbulnya demam. Mengkaji saat timbulnya demam. Menjelaskan pada ibu tanda kekurangan cairan : torgor kulit Hari Rawat ke : 2.IX. EVALUASI (SOAP) S: Klien mengatakan panas badan mulai turun. Menganjurkan untuk memakai pakaian yang tipis dan menyengat keringat. Ayu Puji Lestari NO. Kompres dingin masih terpasang A: Tujuan berhasil P: Intervensi dihentikan 2. IMPLEMENTASI & EVALUASI KEPERAWATAN Nama Klien : Ny. Nadi :88 x/mt Mengobservasi Vital sign setiap jam Mengobservasi capillary refill Mengobservasi intake dan output Menganjurkan anak untuk banyak minum 6 – 8 gelas /hari (sesuai toleransi) Memberikan susu 200 cc. tensi : 100/60 mmHg. DX 1.

Melanjutkan pemberikan cairan perinfus dan memantau tetesan infus RD5 175 cc / jam → 75 cc / jam Kulit tidak kering. Mukosa mulut basah. bibir/ mulut kering. Menganjurkan makanan porsi kecil tapi sering. 9 Maret 2010 Mengkaji keluhan mual. O: Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. kadang masih terasa mual. mempertahan kan kondisi tubuh. muntah atau penurunan nafsu S: 37 . Tidak ada tanda pre shock. A: Resiko tidak terjadi P: Intervensi dilanjutkan 3. 10 Maret 2010 Mengkaji keluhan mual. Akral hangat. Mejelaskan pentingnya nutrisi bagi tubuh yaitu untuk mengganti sel yang rusak. muntah atau penurunan nafsu makan. Memantau porsi yang dihabiskan klien. Mengkolaborasikan pemberian cairan parenteral S: Klien mengatakan nafsu makan masih kurang. Porsi makanan yang disajikan mampu dihabiskan klien. Mual dan muntah berkurang.jelek. Capilarry refill < 3 detik. Memberikan makanan yang mudah ditelan mudah cerna. memenuhi kebutuhan asupan makanan. jika tidak ada mual muntah teruskan makan. Nafsu makan meningkat. A: Masalah tidak terjadi P: Intervensi dilanjutkan 4. Tidak terjadi penurunan berat badan. Pulsasi kuat. Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan mengandung gas.

mempertahan kan kondisi tubuh. Memantau porsi yang dihabiskan klien. O: Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. Mengkolaborasikan pemberian cairan parenteral S: Klien mengatakan nafsu makan masih kurang. Mual dan muntah berkurang.makan. Porsi makanan yang disajikan mampu dihabiskan klien. Memantau porsi yang dihabiskan klien. A: Masalah tidak terjadi P: Intervensi dilanjutkan 11 Maret 5. Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan mengandung gas. Tidak terjadi penurunan berat badan. Mengkolaborasikan pemberian cairan parenteral Klien mengatakan nafsu makan masih kurang. Mual dan muntah berkurang. Menganjurkan makanan porsi kecil tapi sering. Tidak terjadi penurunan berat badan. Mejelaskan pentingnya nutrisi bagi tubuh yaitu untuk mengganti sel yang rusak. Porsi makanan yang disajikan mampu dihabiskan klien. Nafsu makan meningkat. kadang masih terasa mual. O: Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. Menganjurkan makanan porsi kecil tapi sering. Mengkaji keluhan mual. kadang masih terasa mual. memenuhi kebutuhan asupan makanan. Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan mengandung gas. A: Masalah tidak terjadi 38 . jika tidak ada mual muntah teruskan makan. Memberikan makanan yang mudah ditelan mudah cerna. muntah atau penurunan nafsu makan. jika tidak ada mual muntah teruskan makan. Nafsu makan meningkat.

Mengkaji keluhan mual. Tidak terjadi penurunan berat badan. jika tidak ada mual muntah teruskan makan.. Memberikan makanan yang mudah ditelan mudah cerna. Memberikan makanan yang mudah ditelan mudah cerna. Hindari makanan yang merangsang (pedas / asam) dan mengandung gas. A: Masalah tidak terjadi P: Intervensi dilanjutkan 13 Maret 7. Mengkolaborasikan pemberian cairan parenteral S: Klien mengatakan nafsu makan sudah enak O: Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. Tidak terjadi penurunan berat badan. Memantau porsi yang dihabiskan klien. Mual dan muntah berkurang. muntah atau penurunan nafsu makan. O: Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. Porsi makanan yang disajikan mampu dihabiskan klien.. Menganjurkan makanan porsi kecil tapi sering. muntah atau penurunan nafsu makan. Memantau porsi yang dihabiskan klien. 39 . Porsi makanan yang disajikan mampu dihabiskan klien. Nafsu makan meningkat. kadang masih terasa mual. Mengkaji keluhan mual.P: Intervensi dilanjutkan 12 Maret 6. Nafsu makan meningkat. Mengkolaborasikan pemberian cairan parenteral S: Klien mengatakan nafsu makan masih kurang.

Mual dan muntah tidak ada A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan 40 .

DAFTAR HADIR PELAKSANAAN RONDE KEPERAWATAN N0 NAMA RUANG JABATAN TTD 41 .

42 .

43 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful