Anda di halaman 1dari 6

MISKONSEPSI FISIKA DENGAN RUMUS

Sebagian orang menganggap fisika susah karena terlalu banyaknya rumus yang digunakan. Sebenarnya, rumus tidak perlu dihafal tetapi dipahami. Terdengar klise memang, tapi begitulah kenyataannya. Rumus atau persamaan di fisika, pada umumnya dipakai sebagai pernyataan ringkas suatu konsep. Suatu teori atau konsep yang bisa memakan penjelasan berlembar-lembar kertas, dapat dinyatakan dengan tepat hanya dalam satu baris persamaan. Hal ini merupakan salah satu sebab utama mengapa di fisika banyak sekali rumus. Namun, hal yang banyak terjadi dalam pendidikan kita adalah kebanyakan siswa hanya melihat rumus itu secara sepotong-sepotong. Mereka tidak (mau) mengetahui cerita atau konsep di balik rumus tersebut. Hal ini mengakibatkan daya analisis siswa lemah, sehingg mereka hanya bisa menyelesaikan soal yang langsung dan mudah yaitu yang hanya menggunakan satu rumus. Kalau terdapat soal yang menggunakan konsep yang bermacam-macam yang berarti juga memakai rumus lebih dari satu mereka ternyata mengalami miskonsepsi dalam

menyelesaikannya.

1) Rumus untuk koefisien gesek statik sering dinyatakan dengan: = tan

.........(1)

Rumus ini sering dipahami siswa bahwa koefisien gesek statik () tergantung pada besarnyasudut kemiringan bidang (). Padahal pemahaman ini sama sekali salah. Koefisien gesek statik hanya tergantung pada jenis bahan-bahan yang bergesekan. Atau dalam bahasa fisika, koefisien gesek statik merupakan karakteristik dua bahan yang bergesekan (misalnya, antara kayu dengan kayu, dll). Rumus (1) merupakan rumus yang digunakan sebagai cara untuk mengukur koefisien gesek. Apabila kita punya sebuah benda, misalnya buku, lalu kita ingin mengetahui berapa koefisien gesek statik antara buku dengan permukaan dari kayu, maka cara mengetahuinya adalah dengan meletakkan buku tersebut di atas permukaan kayu. Kemudian permukaan kayu itu kita miringkan (terhadap horizontal) sedikit demi sedikit. Pada saat awal (sudut kemiringan

kecil), buku tidak akan bergerak, tetapi setelah terus dimiringkan, pada sudut kemiringan tertentu () buku akan mulai mulai bergerak, nah tan inilah yang merupakan nilai . Terlihat bahwa nilai sudut adalah spesial, tidak bisa divariasikan sembarangan, hanya terdapat satu nilai untuk koefisien gesek statik antara bahan kertas dan kayu. Hal ini mengakibatkan bahwa rumus (1) tidak bisa dipahami sebagai hubungan ketergantungan antara s terhadap . Rumus itu memberitahu kita bagaimana cara mengukur .

2) Rumus untuk koefisien muai panjang () = L / (T.Lo)

........(2)

Dalam rumus di atas, apakah bergantung pada perubahan panjang benda L, perubahan temperatur T, atau panjang awal Lo? Jawabannya: tidak tergantung kepada ketiga besaran di atas. Lagi-lagi, koefisien muai panjang merupakan karakteristik dari suatu bahan (logam). Pers. (2) merupakan persamaan yang mendefinisikan koefisien muai panjang. Jadi, arti dari pers. (2) adalah koefisien muai panjang didefinisikan sebagai fraksi perubahan panjang per satuan temperatur.

3) Lain lagi dengan persamaan gerak jatuh bebas di bawah ini, h = -(gt2) / 2 .............(3)

yang memang menyatakan ketergantungan ketinggian h terhadap waktu t. Pers. (3) adalah persamaan fungsi h terhadap t2. 4) Massa dan berat Banyak siswa bingung dengan konsep dari massa dan berat. Dalam fisika, berat (w) adalah suatu gaya tarik bumi yang bekerja pada benda tersebut dan punya unit Newton sedangkan massa (m) punya satuan kilogram merupakan ukuran banyaknya zat yang terkandung dalam suatu benda. Dan antara berat (w) dengan massa(m) mempunyai hubungan dalam suatu rumus : W = m.g

Dengan demikian, dari rumus tersebut terlihat bahwa massa benda tidak berubah dimanapun benda tersebut berada. Sedangkan berat benda bisa berubah-ubah, bergantung pada massa benda dimana benda tersebut berada. Namun, banyak siswa menuliskan bahwa berat adalah suatu massa dan punya satuan kilogram. Hal ini dikarenakan kebiasaan mereka dalam kehidupan sehari-hari dalam menyebutkan massa dari suatu benda dengan bahasa berat. 5) Suhu, Kalor dan Energi dalam Suhu, energi dalam dan kalor adalah tiga besaran yang sering dipahami dengan konsep yang salah oleh siswa. Sedangkan dalam fisika, istilah suhu berkaitan dengan energi kinetik zat per satu molekul. Energi dalam adalah energi total (energi kinetik dan energi potensial) yang dimiliki oleh seluruh molekul dalam zat, yaitu U = Ek + Ep. Sedangkan kalor adalah perpindahan sebagian energi dalam suatu zat ke zat lainnya karena perbedaan suhu. Dimana dalam fisika sering dilambangkan dengan, Q. Dan dapat juga dirumuskan dengan persamaan Q = U + Ek. Begitu proses perpindahan energi ini berhenti maka kalor tidak lagi memiliki arti. Jadi kalor bukanlah jumlah energi yang dikandung dalam suatu benda. Karena itu, suatu istilah yang salah konsep atau tidaklah tepat menyatakan bahwa suatu benda mengandung kalor. Kalor yang diberikan pada suatu benda umumnya digunakan untuk menaikkan suhu benda. Tetapi ketika benda berubah wujud misalnya es menjadi air, maka kalor tidak menaikkan suhu benda. 6) Kerja, kekekalan energi dan momentum Dalam fisika, kerja (W) dituliskan dengan persamaan gaya (F) kali jarak (s): W=F.s Jika suatu gaya (F) bekerja pada suatu objek dan objek itu tidak bergerak dalam suatu jarak tertentu (s), maka tidak ada kerja (W). Di sini beberapa siswa berpikir bahwa di situ ada kerja (W). Mereka sulit mengerti mengapa jika seseorang mendorong suatu kereta dengan banyak energi, ia tidak membuat kerja. Mereka berpikir bahwa jika seseorang membuat aktivitas dengan suatu energi ia membuat suatu kerja, gagasan ini bertentangan dengan prinsip fisika yang diterima. Beberapa siswa mengalami kesulitan untuk memahami konsep kekekalan energi. Mereka mengalami dalam hidup mereka bahwa jika mereka mengendarai mobil atau sepeda

motor cukup lama, bensinnya akan habis. Jika mereka bekerja giat, mereka akan lelah kehabisan tenaga. Bagaimana mungkin dapat dikatakan bahwa energinya tetap/kekal?" demikian mereka menyangsikan. Beberapa siswa juga mengatakan bahwa jika dua kereta dengan kecepatan yang sama tetapi arahnya berlawanan bertumbukan, mereka akan berhenti karena kecepatan totalnya menjadi nol. Mereka lupa bahwa kekekalan momentum membutuhkan resultan momentum, yaitu dapat ditulis dengan persamaan, mv = 0. Maka jika massanya berbeda, mereka tidak akan berhenti langsung (Suparno, 1998:98).

TUGAS TELAAH KURIKULUM FISIKA II

Oleh :

1. Meivita Ekananda 2. Wahyuni 3. Suhati NIngsih

(093184201) (093184216) (093184234)

JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA