Anda di halaman 1dari 126

Agar Rumah Kita

tidak Seperti

Neraka
Tafsir Ayat-ayat Keluarga

Ahmad Kusyairi Suhail, Lc., MA.

Buku ini kami hadiahkan untuk

Semoga bermanfaat untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan semoga Allah SWT mencurahkan rahmat dan taufik-Nya kepada kita semua. Amin ... .............................................. , ........................... Hormat kami,

.............................................

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

Apa Kata Mereka tentang Buku ini:


Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

"Jika kita tidak mampu "Menghadirkan 'Surga' di Rumah", berarti rumah kita akan menjadi seperti 'neraka'. Buku ini mengupas sisi-sisi negatif dalam kehidupan rumah tangga dalam frame tafsir tematik, yang sangat penting untuk dicaba agar sisi negatif itu bisa dihindari, sehingga rumah tangga kita diberkahi". KH. DR. MUSLIH ABDUL KARIM, MA. (Pengasuh Pondok Pesantren Baitul Qur'an Depok Jawa Barat dan Dosen Tafsir di Pasca Sarjana Institut Ilmu Al Qur'an (IIQ) Jakarta) "Belajar mengelola rumah tangga yang sakinah memang harus terus menerus dan istiqomah. Tidak mudah memang. Tapi, bukankah pernikahan itu itu melengkapi separuh agama kita? Maka, membaca buku karya Ustadz Ahmad Kusyairi Suhail ini dapat membantu kita menyirami sisi-sisi yang gersang dari kehidupan rumah tangga kita. Maka, sabar, tawakkal dan tentu saja banyak do'a kepada-Nya, merupakan kunci kebahagiaan rumah tangga Insya Allah". ANNEKE PUTRI (Seniman, penulis, pendiri dan pengajar a klinik AKTING Plus, Motivation and Personal Development) "Tidak ada Taujih (arahan dan wejangan) yang lebih baik dari pada Taujih Rabbani melalui ayat-ayat-Nya, yang sebagian isinya berupa larangan-larangan dan sebagian darinya dimuat dalam buku ini. Buku yang bagus untuk menjadi referensi bacaan keluarga menuju terciptanya keluarga SAMARA (SAkinah, MAwaddah wa RAhmah)". KH. DR AHZAMI SAMI'UN JAZULI, MA. (Dosen Tafsir di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikmah (YAPIDH) Bekasi Jawa Barat)

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

Pendahuluan

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka


Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Alhamdulillah, segala puja dan puji hanya bagi Allah SWT, yang menurunkan Al Qur'an sebagai panduan dan pedoman hidup, arahan untuk meraih surga dan menyelamatkan dari api neraka. Shalawat dan salam semoga tercurah pada nabi Muhammad SAW, sosok "Al Qur'an berjalan" di muka bumi, keluarga dan para sahabatnya yang merupakan "Generasi Al Qur'an yang Unik". Salah satu bentuk krisis multidimensional yang menimpa bangsa ini dan perlu mendapatkan perhatian serius adalah krisis keluarga. Data perselisihan di lingkungan keluarga cenderung meningkat. Data 2009 misalnya, menunjukkan bahwa perkara yang masuk ke Pengadilan Agama (PA) secara nasional mencapai 246.015 perkara di tingkat pertama. Jumlah perkara perkawinan sebanyak 241.729. Ini merupakan jumlah perkara terbesar atau sama dengan 98,2 %. Fenomena ini diperparah dengan kasus cerai gugat yang mencapai angka 171.477 perkara. Ini lebih banyak dari angka cerai talak yang mencapai 86.592 perkara. Peningkatan angka perceraian ini dapat berpotensi menjadi sumber permasalahan sosial. Korban yang paling merasakan dampaknya adalah anak-anak yang seharusnya memperoleh pengayoman. Salah satu akar penyebab perceraian yang tgerbesar adalah rendahnya pengetahuan dan kemampuan suami istri mengelola dan mengatasi pelbagai permasalahan rumah tangga (Republika, 15 Agustus 2010). Sesungguhnya kehidupan itu tak akan pernah sepi dari romatika dan problematika. 'Surga' kehidupan dalam keluarga sehingga terucap, "Baiti Jannati, rumah adalah surgaku" bukan utopia. Namun, 'Neraka' kehidupan dalam berkeluarga pun sehingga terlontar keluhan, "Baiti ka'n Naar, rumahku seperti neraka" juga bukan hal mustahil bisa terjadi. Maka, Al Qur'an tak akan berhenti dalam memberikan solusi. Di antaranya firman Allah SWT berikut,


Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikatAgar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At Tahrim [66]: 6). Melalui ayat ini, Allah memperingatkan kita untuk memberikan perhatian besar terhadap keluarga dengan membentengi diri dan keluarga besar kita dari jilatan api neraka. Penggunaan lafazh Quu (peliharalah) dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa taring-taring neraka menyebar di mana-mana siap menerkam diri kita dan keluarga. Ayat ini dapat pula dimaknai, bahwa kita diperintahkan untuk menjadikan rumah kita tidak seperti neraka. Caranya dengan mendidik dan membina anggota keluarga kita menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah dengan senantiasa menyeru mereka untuk mentaati Allah SWT dan melarang mereka dari maksiat kepada-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Dalam kajian Ibnu Katsir, dari Ibnu Abbas, saat menafsirkan ayat di atas (Quu anfusakum wa ahliikum naaran), beliau RA berkata: Berbuatlah untuk taat kepada Allah dan takutlah kalian terhadap maksiat kepada Allah (Tafsir Ibnu Katsir V/112). Buku yang ada di hadapan Anda ini, mengangkat sebagian dari Taujihat Rabbaniyyah (arahan-arahan Allah) berupa larangan-larangan dan perilakuperilaku negatif lain yang mesti diwaspadai dan dihindari agar terhindar dari murka Ilahi atau siksa api neraka. Jika sifat dan perilaku negatif ini terdapat dalam sebuah rumah tangga, maka rumahnya pun seperti neraka dan jauh dari kehidupan surgawi; tenang, harmonis, damai, sejahtera dan bahagia yang diredaksikan dalam Al Qur'an (Surat Ar Rum [30]: 21) dengan Sakinah, Mawaddah wa Rahmah. Seperti Bahaya Takabbur, Jangan Ada Dusta di antara Kita, Hidup Nyaman Tanpa Su'uzhzhan, Ketika Cinta Berbalas Durhaka, Virus Ganas itu Bernama "Riya", Besarnya Dosa Fitnah, Jangan Nafkahi Keluarga dengan Harta yang Didapat dengan Batil, Bahaya MIRAS dan Narkoba, Bersihkan Rumah dari Pengumpat dan Pencela, Menukar Ni'mah dengan Niqmah, Jauhi Dengki, Dahsyatnya Dosa Membunuh, Menentang Syariat Membuat 'Sekarat', Menolak Takwa Menolak Surga, dan lain-lain. Semua itu dikupas dalam perspektif Al Qur'an dan dibingkai dalam frame Tafsir Maudhu'i (tafsir tematik) dengan merujuk kepada pendapat Mufassir (ahli tafsir) ternama, baik dari kalangan salaf (dahulu), seperti Ibnu Jarir, Al Qurthubi, Ibnu Katsir dalam kitab-kitab tafsir mereka dan lain-lain, maupun khalaf (terkini), seperti Ibnu 'Asyur, Sayyid Quthb, Dr. Wahbah Az Zuhaili dalam kitab-kitab tafsir mereka dan lain-lain, kemudian diolah dan dikembangkan dengan realitas konteks kekinian. Barangkali di antara Anda, pembaca yang budiman, ada yang bertanya, mengapa hanya fokus mengupas sisi-sisi negatif, bukankah arahan-arahan Allah juga banyak yang mengupas sisi-sisi positif? Jawabnya adalah, bahwa sebagian sisi-sisi positif itu Allhamdulillah telah penulis kupas dalam buku "Menghadirkan Surga di Rumah", dan buku ini semacam kelanjutan dari buku tersebut. Sehingga tidak salah jika dikatakan, buku ini merupakan Tafsir Ayat-ayat Keluarga seri kedua. Meskipun begitu, masingmasing buku memuat tema-tema pilihan terkait kehidupan keluarga, mengikuti kandungan setiap ayat yang dikaji sehingga dengan demikian independensi setiap buku pun tetap terjamin.
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

Selain itu, penulis juga terinspirasi oleh tindakan antisipatif yang dilakukan oleh sahabat Nabi, Huzaifah bin Yaman RA dengan rajin bertanya kepada Rasulullah SAW tentang keburukan (hal-hal negatif) disaat kebanyakan sahabat lain bertanya tentang kebaikan (hal-hal positif).

" .(3434 .." ) : 8333 7556


Dari Hudzaifah bin Yaman RA, ia berkata, "Dahulu orang-orang (sibuk) bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, sementara aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir menimpaku.." (HR Bukhari, no. 3338 dan 6557 dan Muslim, no. 3434). Akhirnya, penulis hanya bisa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Sebab, hanya berkat taufik dan inayah-Nya, kontemplasi (renungan) dan khawathir (lintasan pikiran) pajang selama hampir tiga tahun dapat terwujud dalam buku ini. Terkadang sebagian renungan yang kemudian mengerucut menjadi ide tema tulisan itu, muncul ketika penulis berada di Tanah Suci. Sebagian lagi melintas saat melihat poblematika rumah tangga sahabat, kerabat atau masyarakat. Gagasan lain, terkadang datang ketika sedang berada di atas pesawat terbang dalam perjalanan tugas dakwah ke daerah, dan lain-lain. Yang pasti, beragam kendala sering menghambat atau memperlambat penuntasan sebuah gagasan menjadi sebuah tulisan. Hal ini dikarenakan banyaknya kelemahan penulis, sehingga ada beberapa tulisan yang baru selesai berjam-jam, bahkan ada juga yang berhari-hari baru selesai. Namun taufik dan pertolongan Allah jualah yang mampu merealisasikan mimpi-mimpi itu kini menjadi suatu kenyataan. Sekali lagi, pantas penulis ucapkan; Alhamdulillahi bi Ni'matihii Tatimmu'sh Shaalihaat (Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya, semakin sempurnalah kebaikan-kebaikan). Tak lupa penulis haturkan banyak terima kasih kepada Aba dan Ibunda tercinta yang getaran cinta dan gelombang do'anya selalu mengiringi 'derap langkah' penulis, teriring do'a Athaalallahu 'Umrahuma 'Alaa Thaa'atihi (Semoga Allah panjangkan umur keduanya dalam keta'atan kepada-Nya). Juga istri penulis tersayang, yang selalu setia menemani penulis mengarungi samudera kehidupan dengan ide inovatif, support, dukungan moral, do'a dan vibrasi cinta kasihnya yang tiada henti sampai kini. Anak-anakku; Nusaibah, Mush'ab, Abdurabbinnabi, Ukasyah dan Zinnirah yang kehadirannya di tengah keluarga kami telah banyak memberi inspirasi dan motivasi bagi penulis, teriring harapan abi dan umi untuk kalian yang tidak muluk-muluk sebagaimana harapan nabi Ibrahim AS pada anak dan keluarganya,


"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do'a kami" (QS Ibrahim [14]: 40). Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada para masyayikh, guru, keluarga besar H. M. Suhail Ridwan di Gresik Jawa Timur, keluarga besar
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

H. Sidiq di Bekasi Jawa Barat, anggota Komunitas Pohon Sawo (Kompos); penggagas ide cerdas tanpa batas, Civitas Akademika Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Darul Hikmah Bekasi, Fakultas Dirasat Islamiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Pengurus Pusat Ikatan Dai Indonesia (IKADI), para kiyai di Shariah Consulting Center (SCC) Jakarta dan semua pihak yang tidak bisa penulis sebut satu persatu yang telah banyak membantu penulis dalam bekerja dan berdakwah. Teriring do'a buat mereka semua, Jazahumullahu Ahsana'l Jaza'. Kesuksesan buku ini bukan semata-mata didasarkan pada banyaknya kuatitas tiras. Namun, terletak pada sejauh mana ayat-ayat suci Al Qur'an di dalamnya mampu memberikan pengaruh positif bagi Anda, pembaca, untuk kemudian menjadikannya sebagai Way of Life, pedoman hidup, guna meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di khirat. Kesuksesan buku ini apabila pesan-pesan spiritual Allah SWT yang terkandung di dalamnya mampu memberikan inspirasi dan solusi bagi setiap problematika rumah tangga yang kita hadapi. Sebab, Al Qur'an diturunkah oleh Allah SWT ke bumi ini memang sebagai solusi atas seluruh permasalahan manusia, yang dibahasakan dalam Al Qur'an (Surat Al Maaidah [5]: 15-16) dengan zhulumaat (berbagai kegelapan), baik kegelapan ideologi, ekonomi, sosial, budaya, moral, termasuk kegelapan urusan rumah tangga. Keberhasilan buku ini tergantung kepada kemampuannya untuk menggugah setiap anggota keluarga untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri sehingga tercipta lingkungan keluarga yang egaliter dan menjadi basis internalisasi nilai-nilai Ilahi. Dan jika setiap keluarga di negeri ini menjadikan hal ini sebagai landasan filosofis dan garis perjuangannya, maka bukan hal yang mustahil Indonesia yang kini masih diterpa badai krisis multidimensi dan bencana yang datang silih nerganti tiada henti, akan menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Karena keluarga merupakan akar dari kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara. Bila keluarga terbina dengan baik, maka individu-individunya akan menjadi pionir kebaikan dan perbaikan di tengah masyarakatnya. Sebaliknya, apabila potret kehidupan keluarga dalam suatu masyarakat buram, maka fragmen kehidupan masyarakat pun akan gelap gulita dan runyam. Sebab, bangsa dan negara yang kuat berawal dari keluarga yang taat. Semoga Allah SWT menerima amalan ini dan menjadikannya ikhlas karena-Nya, serta mengampuni dosa dan kesalahan penulis. Amin.. Tegur dan kritikan dari manapun datangnya akan penulis terima dengan tangan terbuka untuk kesempurnaan buku ini. Bekasi, 01 Jumadil Ula 1432 H 05 April 2011 M Al Faqir Ilaa Rahmiti Rabbihi'l Qadiir

Ahmad Kusyairi Suhail


Email: akusairis@hotmail.com

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

Daftar Isi
Apa Kata Mereka tentang Buku ini .... 4 Pendahuluan: Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka ................................ 5 1. Potret Keluarga Penghuni Neraka ............................................................10 2. Hati-hati dengan Hati .............................................................................. 14 3. Bahaya Takabbur ................................................................................... 17 4. Jangan Ada Pendusta Di antara Kita ....................................................... 21 5. Ketika Harta Membawa Prahara ............................................................ 25 6. Hidup Nyaman Tanpa Su'uzhzhon .......................................................... 28 7. Jangan Menipu dengan Sumpah Palsu ................................................. 32 8. Virus Ganas itu Bernama Riya ............................................................. 35 9. Jangan Sekali-kali Ingkar Janji ................................................................. 38 10. Besarnya Dosa Fitnah ............................................................................. 42 11. Mewaspadai Sifat Tergesa-gesa ............................................................. 45 12. Bahaya Israf (Berlebih-lebihan) ............................................................. 48 13. Ketika Cinta Berbalas Durhaka ............................................................ 52 14. Parsial Membawa Sial ........................................................................... 56 15. Jangan Nafkahi Keluarga dengan Harta yang Didapat dengan Batil ........... 60 16. Nestapa Pembuka Kran Keburukan ...................................................... . 64 17. Bahaya MIRAS (Minuman Keras) dan Narkob........................................ 67 18. Bersihkan Rumah dari Pengumpat dan Pencela ........................................ 71 19. Menukar Nimah dengan Niqmah ........................................................... 74 20. Jauhi Dengki (Hasad) ...... .... 77 21. Ketika Pendosa Berlimpah Harta ... 81

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

22. Manusia Paling Merugi di Dunia dan Akhirat ... .. 85 23. Dahsyatnya Dosa Membunuh ... 89 24. Menentang Syariat, Membuat Sekarat .. . 93 25. Agar Kita dan Keluarga tidak Menjadi Penghuni Neraka .. 96 26. Manusia Terjajah .. ... 97 27. Ancaman bagi Orang yang Menolak Hijrah .... 103 28. Menolak Takwa Menolak Surga .... 107 29. Manusia Berprilaku Binatang .. 111 30. Nikmatnya Menjadi Keluarga yang Istiqomah .. ... 115 Daftar Pustaka ..... 118 Biodata Singkat Penulis ................................................................................ 120

1. Potret Keluarga Penghuni Neraka

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

10

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut" (QS Al Lahab [111]: 1-5). The life is choice, hidup adalah pilihan, demikian komentar orang bijak. Dan sayangnya pilihannya hanya ada dua. Kita mau hidup bahagia atau sengsara. Kita mau menjadi orang baik atau buruk. Kita mau surga atau neraka. Masingmasing ada jalannya dan pilihan kita tentu memiliki konsekwensi. Begitu pula dengan urusan rumah tangga. Kita mau mengkondisikan dan memanage rumah tangga sebagai bahtera menuju surga atau neraka, juga pilihan yang masingmasing pilihan memiliki resiko yang berbeda-beda. Ayat di atas menjelaskan tentang potret keluarga penghuni neraka, yaitu keluarga Abu Lahab. Sebagai kepala rumah tangga, Abu Lahab telah memilih jalan kesesatan bagi dirinya dan keluarganya (isterinya). Maka, pasangan suami isteri ini pun mendapatkan balasan atas pilihannya, yaitu kesengsaraan yang abadi, di neraka. Curikulum Vitae Singkat Abu Lahab dan Isterinya Abu Lahab adalah salah seorang paman Nabi Muhammad SAW. Bernama lengkap; Abdu'l 'Uzza bin Abdul Muththalib. Sementara nama lengkap Nabi SAW; Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib. 'Uzza adalah nama tuhan berhala/patung kesohor yang disembah oleh kaum Quraisy, sehingga Abdu'l 'Uzza berarti hamba tuhan 'Uzza. Ia termasuk salah seorang tokoh pembesar kabilah Quraisy. Di kalangan kaumnya, ia biasa dipanggil dengan Abu Utaibah. Namun, ia kondang dengan julukan Abu Lahab, karena wajahnya merah seperti warna merah api yang menyala-nyala. Sementara isterinya juga dari keluarga berada dan termasuk dalam deretan tokoh wanita terpandang di kalangan kabilah Quraisy. Nama lengkapnya, Arwaa binti Harb bin Umayyah, saudara perempuan Abu Sufyan dan ia biasa dipanggil dengan Ummu Jamil (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir V/270). Konon, sebelum bi'tsah atau diutusnya Nabi SAW menjadi Rasul, Abu Lahab pernah meminang kedua putri Nabi, yaitu Ruqoyyah dan Ummu Kultsum untuk dijodohkan dengan kedua putranya, bahkan berlanjut kepada pernikahan. Namun, setelah bi'tsah, Rasulullah SAW memerintahkan keduanya untuk menceraikan kedua putrinya, sehingga hal ini cukup membebani secara psikologis bagi Nabi SAW (Lihat: Fi Zhilal Al Qur'an VI/4000). Meski ada hubungan keluarga dekat dengan Nabi SAW, kedua pasangan suami isteri ini adalah orang yang paling benci dan sangat memusuhi Rasulullah SAW dan dakwah yang dibawanya. Sepak terjang permusuhan keluarga ini terhadap Pemimpin dan Murabbi Da'i (Nabi) SAW sepanjang zaman, telah direkam oleh sejarah. Imam Ahmad meriwayatkan Rabi'ah bin Abbad dari kabilah Banu Ad Dail, yang kemudian masuk Islam bercerita, "Aku pernah melihat Nabi SAW di masa jahiliyah di pasar Dzi'l Majaaz, beliau bersabda, "Wahai manusia, ucapkanlah Laa Ilaaha Illallaahu (Tidak ada Ilah selain Allah) niscaya kalian akan berbahagia". Dan orang-orang (waktu itu) berkerumun mengelilingi beliau, sementara di belakangnya ada seorang lelaki berwajah kemerahan dan bermulut sumbing

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

11

menyelanya, "Sungguh dia ini (maksudnya: Muhammad) adalah pemuda yang pembohong. Kemana saja Nabi SAW pergi, lelaki itu selalu membuntutinya. Lalu aku bertanya siapa lelaki yang selalu mengikutinya itu, mereka menjawab, "Dia adalah pamannya; Abu Lahab" (Tafsir Ibnu Katsir V/269). Menurut versi riwayat lain, setiap kali Nabi SAW menyeru kepada suatu kabilah untuk mengimani beliau sebagai utusan Allah dan mengajak mereka untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, Abu Lahab selalu menimpali dakwah Nabi SAW dengan mengatakan, "Wahai kabilah Fulan, dia ini ingin menjauhkan kalian dari tuhan Laata dan Uzza serta sekutusekutu kalian dari Jin Bani Malik bin Aqyasy. Ia datang dengan membawa bid'ah dan kesesatan, maka jangan dengarkan dia dan jangan ikuti dia!" HR Imam Ahmad dan Ath Thabari (Lihat Tafsir Ibnu Katsir V/269-270). Bahkan, kebencian dan permusuhan Abu Lahab terhadap Nabi SAW dan gerakan dakwah sudah diperagakannya sejak hari pertama Nabi memulai dakwah. Hal ini sebagaimana disebut dalam Asbabu'n Nuzul (sebab turunnya ayat di atas) berikut ini. Asbaabu'n Nuzul Ayat Dari Ibnu Abbas RA berkata, Ketika turun ayat, "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat" (QS Asy Syu'araa [26]: 214), orangorang yang ikhlas dari kabilahmu, Rasulullah SAW langsung keluar menuju bukit Shafa, lalu berteriak, "Ya Shabaahaah! (Panggilan untuk mengumpulkan orang di pagi hari)". Mereka bertanya-tanya, "Siapa yang berteriak ini?" Mereka menjawab, "Muhammad", mereka pun segera berkumpul kepadanya. Nabi SAW memanggil (lagi), "Wahai Bani Fulan, wahai Bani Fulan, wahai Bani Abdi Manaaf, wahai Bani Abdu'l Muththalib! Maka berkumpullah orang-orang (dari kabilah-kabilah yang disebut tadi) kepadanya. Nabi SAW bersabda (setelah mereka berkumpul) lagi, "Bagaimana pendapat kalian, seandainya aku memberitahukan kepada kalian bahwasanya seekor kuda akan keluar di puncak bukit ini, apa kalian akan membenarkanku?" Mereka menjawab, "Kami belum pernah melihatmu berbohong". Nabi SAW lalu bersabda, "Ketahuilah sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan di antara siksa yang pedih". Abu Lahab pun langsung menyahutnya, "Tabban laka (bedebah/binasalah kamu)! Apa hanya untuk ini engkau kumpulkan kami! Kemudian dia bangkit dan pergi, lalu turunlah surat ini, "Binasalah kedua tangan Abu Lahab" dan sungguh ia benar-benar binasa (HR Bukhari, no. 4589 dan Muslim, no. 307, dan lafazh hadits ini milik Muslim). Rumah Tangga Penghuni Neraka Ayat di atas memotret kehidupan rumah tangga yang dibangun di atas kekufuran, kebencian yang dahsyat terhadap dakwah dan Risalah Ilahiyah serta pembawa risalahnya, Muhammad SAW yang merupakan manusia terbaik di jagat raya. Si suami yang diperankan oleh Abu Lahab, bersinergi dengan isterinya, Ummu Jamil, mempraktekkan segala bentuk permusuhan kepada Nabi SAW. Mulai dari intimidasi, mempermalukan di depan khalayak umum, negative champagne, pembunuhan karakter sampai upaya-upaya menyakiti Nabi SAW secara fisik. Karena itu, ketika menafsirkan ayat, "Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar", kebanyakan ulama yang menafsirkannya sebagai kiasan bagi penyebar fitnah, kemana-mana selalu menjelek-jelekkan Nabi SAW dan kaum

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

12

muslim. Tapi, ada juga ulama yang menafsirkannya secara hakiki. Bahwa isteri Abu Lahab, sering membawa kayu bakar yang berduri pada malam hari dan disebarkannya di jalan yang biasa dilalui Nabi SAW dan para sahabat sehingga mereka terjatuh dan terlukai olehnya. Pendapat ini didukung oleh Abu Hayyan (Lihat: At Tafsir Al Munir, Dr. Wahbah Az Zuhaili, XXX/457-458). Lokasi rumah Abu Lahab yang berdekatan dengan rumah Rasulullah SAW, sangat kondusif bagi kedua pasangan suami isteri ini untuk berbuat semena-mena terhadap Nabi SAW dan menyakitinya. Maka, pantaslah keluarga ini mendapatkan kesengsaraan di dunia, meskipun mereka bergelimang banyak harta seperti disinggung pada ayat kedua, dan mereka diancam neraka. Bagi Abu Lahab, Allah mengancam "Binasalah kedua tangan Abu Lahab" ini adalah do'a kebinasaan. "dan sungguh dia binasa" yakni benar-benar telah terbukti bahwa dia binasa dan celaka, hal ini merupakan berita dari Allah SWT. Di akhirat ia diancam dengan siksa api neraka Jahannam, "Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak". Terdapat kesesuaian lafazh dan bentuk; Disebut Abu Lahab karena wajahnya kemerahan bak api, ia kelak disiksa di neraka yang "Lahab", bergejolak. Maka, sungguh ia telah rugi dunia dan akhirat. Sedangkan bagi isterinya, Allah mengancam, "Yang di lehernya ada tali dari sabut". Allah SWT menggambarkan kondisi ketika ia disiksa dengan api neraka Jahannam dengan kondisinya ketika di dunia menyebar fitnah dan ketika memikul kayu berduri dan melilitkannya di lehernya kemudian ditebarkannya di jalan yang dilalui Nabi SAW. Sebab, balasan itu sesuai dan saetimpal dengan perbuatan. Ketika Ummu Jamil mendengar turunnya surat ini, dengan membawa batu ia mendatangi sahabat Abu Bakar yang sedang bersama dengan Rasululllah SAW di dalam masjid, sambil berkata, "Telah sampai berita kepadaku bahwa sahabatmu (maksudnya Nabi SAW) telah menghinaku. Sungguh aku akan hajar dia dan benar-benar aku akan hajat dia. Dan Allah telah membutakan penglihatannya dari melihat Rasulullah SAW. Diriwayatkan bahwasanya Abu Bakar RA bertanya kepadanya, "Apakah engkau melihat seseorang bersamaku?" Ummu Jamil menjawab, "Apa engkau menghinaku? Sungguh aku tidak melihat selainmu" (Lihat: Tafsir Al Bahr Al Muhith, Abu Hayyaan, VIII/526 dan lihar Tafsir Ibnu Katsir V/270). Di dalam surat ini terdapat mukjizat yang gamblang dan bukti yang jelas tentang kenabian Rasulullah SAW, karena ayat di atas memberitakan bahwa kedua pasangan suami isteri tersebut tidak akan beriman, dan begitulah yang terjadi, keduanya mati dalam keadaan kafir. Juga menginformasikan keadaan keduanya yang kelak akan disiksa dengan api neraka Jahannam yang menyala-nyala, padahal ketika turun surat ini keduanya masih hidup. Hal ini jelas membuktikan kebenaran kerasulan Muhammad SAW. Sungguh ironi keberakhiran keluarga ini. Tentu, tak ada satu pun dari kita yang menginginkan keluarganya akan berakhir mengenaskan di neraka kelak seperti keluarga Abu Lahab. Maka, seluruh tenaga, pikiran dan harta harus kita kerahkan untuk mentarbiyah dan mendidik seluruh anggota keluarga kita untuk menjadi pendukung dan aktifis dakwah, bukan menjadi musuh dakwah dan juru dakwah. Sebab, siapapun yang memusuhi dakwah dan juru dakwah, maka akan mendapatkan balasan seperti yang diterima oleh Abu Lahab, yaitu Naaran Dzaata Lahab (neraka yang bergejolak). Na'uudzu billaahi min dzaalik.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

13

2. Hati-hati dengan Hati


Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

14

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada (QS Al Haj [22]: 46). Urgensi Hati Hati merupakan salah satu organ internis manusia yang terpenting. Ia menjadi tempat seluruh perasaan jiwa, kekuatan berfikir dan keyakinan manusia. Perasaan cinta, benci, bahagia, gelisah, marah, takabbur, tawadhu, yakin dan ragu muncul dari hati. Karenanya hati sangat menentukan baik dan buruk manusia secara menyeluruh. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,


Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal organ, bila ia baik maka baiklah seluruh tubuh manusia itu. Dan bila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Organ itu adalah hati (qolbu) (HR Bukhari no. 52 dan Muslim no. 4178). Dengan demikian menjaga kesehatan hati berarti menjaga manusia secara keseluruhan. Sedangkan membiarkan hati rusak sama dengan merusak manusia itu sendiri. Hal ini sangatlah rasional mengingat hati adalah tempat bersemayamnya keyakinan yang akan menentukan visi hidup seorang manusia, sumber niat, motivasi, selera dan emosi yang akan mengarahkan amal seseorang dan menentukan mutunya. Ayat di atas menjelaskan bahayanya hati yang buta yang tidak pernah bisa memahami makna kehidupan dan tidak dapat mengambil ibrah (pelajaran) dari kehancuran kaum-kaum sebelumnya. Tidak bisa membedakan haq (benar) dan batil. Ketika menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir rahimahullah- menukil ucapan Ibnu Abid Dunya, Sebagian ahli hikmah pernah mengatakan: Hidupkan hatimu dengan mauizhah (nasehat). Sinari ia dengan tafakkur (kontemplasi/merenung). Matikan dengan zuhud, kuatkan dengan keyakinan, hinakan dengan kematian, putuskan dengan kehancuran, perlihatkan kepahitan dunia, tanamkan kewaspadaan terhadap perputaran waktu, perlihatkan padanya berita-berita kaum terdahulu, ingatkan dengan apa yang menimpa orang-orang sebelumnya, perjalankan ia ke negeri-negeri mereka dan bekas-bekas peninggalan mereka dan biarkan hati itu melihat apa yang telah mereka perbuat dan kehancuran serta kebinasaan yang menimpa mereka (Tafsir Ibnu Katsir III/438-439). Pembagian Hati Merujuk pada ayat-ayat Al Quran, para ulama membagi hati menjadi 3 (tiga) macam: 1. Al Qalb As Salim (Hati yang Suci/Bersih):

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

15

Inilah hati yang akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat bagi pemiliknya sebagaimana firman Allah: Pada hari dimana tiada gunanya lagi harta dan anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang sehat. (Q.S. Asy Syuaraa (26): 8889). Salim atau sehat adalah lawan sakit. Artinya hati tersebut sehat dan selamat dari semua penyakit syahwat yang menentang perintah Allah dan larangan-Nya. Juga sehat dan selamat dari semua penyakit syubhat yang menentang berita-Nya. Karenanya, ia selamat dari penyembahan kepada saelain Allah. Jika ia cinta, maka cintanya karena Allah. Dan ia benci, maka bencinya pun karena Allah. Inilah hati yang bersih dari noda, sehingga menjadi jernih dalam melihat, menimbang dan menilai sebuah masalah. Ia menjadi lembut dan memiliki empati, sehingga mudah tersentuh, memiliki kecerdasan emosi, sehingga menjadi sangat terkendali dan jauh dari sifat-sifat kekakuan, kekasaran dan kekerasan. Sementara itu kuat artinya tahan bantingan, tidak mudah retak apalagi pecah. Hati yang bersih melahirkan sifat sabar tangguh, tidak mudah kusut dan menyerah ketika menghadapi ujian, tantangan, dan cobaan. Walhasil, terkumpul padanya semua jenis kebaikan dan kebajikan. Dalam konteks kehidupan rumah tangga, maka hati yang bersih yang dimiliki oleh seorang suami dan isteri akan menghadirkan keharmonisan kehidupan rumah tangga sehingga menjadi rumah tangga SAMARA. 2. Al Qalb Al Mayyit (Hati yang Mati): Hati yang tidak ada kehidupan di dalamnya sehingga tidak mengenal Rabbnya dan senantiasa hidup dalam gelimang dosa dan maksiat. Tidak pernah bisa berubah meskipun sudah dibombardir dengan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Nabi SAW seperti disinyalir dalam firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat" (QS Al Baqarah [2]: 6-7). Hati yang semacam ini jika sudah menang dengan syahwatnya, maka tidak akan pernah memperdulikan lagi Tuhannya ridha atau tidak. Karenanya, ia menyembah kepada selain Allah. Jika ia cinta, makan cintanya karena hawa nafsunya. Dan jika ia benci, maka bencinya pun karena hawa nafsunya. Hawa nafsu benar-benar menjadi imamnya. Panglimanya adalah syahwat. Sopirnya adalah kebodohan dan kendaraannya adalah kelalaian. Karenanya bergaul dengan pemilik hati ini adalah penyakit. Berinteraksi dengannya adalah racun dan duduk bersamanya adalah kebinasaan. Hati yang buta sebagaimana disinggung ayat di atas adalah analogi dari hati yang mati ini. Selain itu, Al Quran menyamakan jenis hati ini dengan dengan batu yang keras sebagaimana firman Allah, Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, atau lebih keras dari itu (QS Al Baqarah [2]: 74). Yang dicirikan dengan munculnya sifat-sifat tercela. Ibarat besi, hati yang mati itu telah berkarat sehigga susah jika tidak boleh dibilang mustahil- untuk diharapkan hidup, apalagi bersih. Allah SWT berfirman, di Q.S.83:14, Sekali-kali tidak (demikian). Bahkan telah menutupi hati mereka karena apa-apa yang mereka kerjakan. (QS Al Muthaffifin [83]: 14). Sehingga yang dominan dalam hidupnya adalah kekufuran, kezhaliman, dan kemaksiatan serta keburukan.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

16

Dan Al Quran ketika menyinggung hati yang mati, konteksnya adalah orang-orang kafir. Karena itu, seorang mukmin harus selalu mewaspadai diri untuk menjauh dari hati yang mati ini. Keluarga SAMARA hanya ada dalam mimpi tidak akan pernah terealisasi jika suami dan isteri hatinya mati. 3. Al Qalb Al Maridh (Hati yang Sakit): Hati yang terdapat di dalamnya kehidupan, namun juga terdapat penyakit. Antara Mahabbatullah (mencintai Allah) dan Mahabbatusy Syahawaat (mencintai syahwat) bertarung dan berkecamuk menjadi satu dalam hati. Inilah hati orang-orang munafik. Allah SWT berfirman: "Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta" (QS Al Baqarah [2]: 10). Al Quran menyinggung hati yang semacam ini ketika berbicara tentang sifat-sifat orang-orang munafik. Karenanya jenis hati ini pun berbahaya. Namun, masih ada harapan untuk sembuh. Sebab, setiap penyakit pasti ada obatnya. Akhirnya, mari kita hati-hati dengan hati kita. Karena masa depan manusia ditentukan oleh hati. Shalat, zakat, infak, sedekah, puasa, haji, tilawah Al Quran, memperbanyak dzikir, tafakkur, aktif berdakwah dan beragam amal shalih lainnya adalah terapi hati yang pasti jitu karena hal itu perintah Ilahi.

3. Bahaya Takabbur

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

17


Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (tanda kekuasaan-Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya (QS Al Araaf [7]: 146).

Salah satu penyakit berbahaya yang harus diwaspadai agar jangan sampai menimpa diri dan keluarga kita adalah takabbur. Takabbur adalah membanggakan diri sendiri secara berlebih-lebihan sehingga meremehkan orang lain, menyinggung perasaannya dan menolak kebenaran yang datang darinya. Sinonim takabbur adalah sombong atau congkak. Munasabah (Korelasi) Ayat tersebut dengan Ayat-ayat Sebelumnya Ayat di atas berbicara tentang karakter orang-orang yang takabbur pada zaman dahulu dan sekarang. Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah SWT menjelaskan kebinasaan dan keberakhiran Firaun dan kaumnya yang mengenaskan disebabkan kesombongan dan kezalimannya, maka pada ayat di atas Allah SWT menyebutkan bahwa penolakan kaum Quraisy terhadap keimanan adalah juga disebabkan oleh sifat takabbur. Hal ini menunjukkan bahwa penyebab utama kekufuran manusia sepanjang masa adalah takabbur. Sebab, takabbur dapat memalingkan seseorang dari kebenaran, bahkan cenderung mendustakannya sehingga membuatnya lalai dan menutup diri dari ayat-ayat Allah, baik yang berupa Qauliyah (firman-firman-Nya) maupun Kauniyah (alam semesta). Sifat Orang-orang yang Takabbur Di antara karakter dan sifat orang-orang yang takabbur seperti tertera dalam ayat tersebut adalah: 1. Bahwa mereka tidak akan pernah mengimani ayat (tanda kekuasaan) Allah yang menunjukkan kepada al Haq (kebenaran). Sebab, ayat-ayat Allah hanya bermanfaat bagi orang mau menerima kebenaran, sebagaimana firman Allah: Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam ayat (keterangan), hingga mereka menyaksikan adzab yang pedih (QS Yunus [10]: 96-97). 2. Bahwa mereka menjauhi jalan yang membawa kepada petunjuk dan keselamatan. Jika mereka melihat jalan itu, mereka sengaja menghindar darinya dan lebih suka dan enjoy menapaki jalan lainnya.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

18

3. Sementara jika terlihat pada mereka jalan kesesatan, kezaliman dan kerusakan, mereka pun dengan cepat menempuh dan menapakinya sehingga muncullah perilaku negatif dan zalim. Semua itu terjadi akibat mereka mendustakan ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada para rasul dan mereka lalai dari padanya serta tidak pernah mau mengamalkannya. Dalam kajian tafsir Ibnu Katsir, bahwa orang-orang yang sombong tanpa alasan yang benar, Allah hinakan mereka dengan kebodohan seperti firman-Nya, Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya (QS Al Anaam [6]: 110). Dan firman Allah, Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka (QS Ash Shaff [61]: 5). Sebagian ulama salaf pernah mengatakan, Orang yang malu dan takabbur tidak akan pernah mendapatkan ilmu. Ulama lain mengatakan, Barangsiapa yang tidak sabar atas beratnya belajar/mencari ilmu, akan tetap bodoh selama-lamanya (Tafsir Ibnu Katsir II/360). Menurut Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili, khitab ayat ini umum, mencakup semua umat dan individu. Seperti Firaun dan kaumnya yang dipalingkan Allah SWT dari memahami ayat-ayat (yang dibawa) nabi Musa AS. Bisa jadi mereka memahami sebagian ayat tersebut, namun mengingkarinya disebabkan kezaliman dan kesombongannya sebagaimana disampaikan Allah dalam firman-Nya, Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya (QS An Naml [27]: 14). Juga seperti kaum kafir Quraisy yang kesombongan mereka menutupinya dari memahami dan memikirkan ayat-ayat Allah padahal mereka meyakini kebenaran dan kejujuran Muhammad SAW (At Tafsir Al Munir IX/91). Hal-hal yang Berpotensi Menjerumuskan Seseorang kepada Takabbur Pertama: ilmu. Keluasan dan ketinggian ilmu seseorang yang jauh dari iman, sangat berpotensi menjerumuskannya kepada takabbur dan meremehkan orang lain. Ia melihat dirinya di sisi Allah SWT adalah orang yang paling tinggi dan paling afdhal. Kedua: nasab (keturunan). Orang yang berdarah biru dan berasal dari keturunan mulia terkadang mudah meremehkan orang lain dari keturunan orang biasa. Hal ini termasuk perbuatan di masa jahiliyah yang diingkari oleh Nabi SAW. Seperti teguran Rasulullah SAW terhadap Abu Dzar yang telah menghina seseorang dengan menyebut asal usul ibunya. Beliau SAW sangat marah dan bersabda, Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang masih memiliki kebiasaan jahiliyah. Mereka adalah saudara-saudaramu (seiman) HR Bukhari I/84. Ketiga: harta. Tidak sedikit orang yang kaya raya terhipnotis oleh kekayaannya sehingga merendahkan orang fakir dan miskin. Allah SWT telah menyinggung hal ini seperti dalam firman-Nya, Dan mereka (orang-orang yang hidup mewah) berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab. Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendakiNya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". Dan sekali-kali

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

19

bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempattempat yang tinggi (dalam syurga) (QS Saba [34]: 35-37). Keempat: tahta, jabatan dan gelar. Seseorang yang menduduki jabatan prestisius atau memiliki gelar tinggi, jika tidak hati-hati, berpotensi menjerumuskan dirinya kepada sifat takabbur. Kelima: banyaknya pendukung, pengikut dan suku atau marga serta popularitas juga sangat potensial menjadikan seseorang takabbur. Semua hal di atas berpotensi menyebabkan seseorang sombong jika terlepas dari iman. Sebaliknya, ketika seseorang selalu merawat dan menumbuhkembangkan keimanannya dengan beragam ibadah dan amal saleh, maka semua hal di atas justru dapat meninggikan derajatnya di sisi Allah SWT. Yaitu ketika semua itu dijadikan wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah Taaala. Ancaman bagi Orang yang Takabbur Selain ancaman yang disebutkan dalam ayat di atas, ancaman terberat dan terbesar yang ditimpakan kepada orang yang takabbur adalah: Di dunia ia akan terus dihantui oleh kegalauan, keresahan dan penghidupan yang sempit yang jauh dari rahmat dan berkah. Sehingga masalah demi masalah melilitnya tiada henti. Allah SWT berfirman, Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS Thaaha [20]: 124). Sebab, ketika seseorang membangga-banggakan dirinya secara berlebihlebihan (takabbur) menyebabkan ia berpaling dari mengenal Allah dan mengingat-Nya. Sedangkan di akhirat, orang yang takabbur diharamkan dari surga alias masuk neraka. Allah SWT berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina (QS Al Mumin [60]: 60). Rasulullah SAW bersabda, Tidak akan masuk surga, orang yang di hatinya ada seberat biji atom dari kibr (sombong). Seseorang lalu berkata: Sesungguhnya ada orang yang suka tampil dengan baju yang dan sandal bagus (bagaimana?). Nabi SAW menjawab: Sesungguhnya Allah itu indah mencintai keindahan. Kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia HR Muslim I/93 no. 147. Untuk itu, mari kita bentengi diri kita dan keluarga kita dari penyakit takabbur dengan menanam benih-benih takwa dalam rumah kita dan meramaikannya dengan senandung ayat-ayat Allah.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

20

4. Jangan Ada Pendusta Di antara Kita


Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

21


"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit [artinya: doa dan amal mereka tidak diterima oleh Allah] dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum[artinya: mereka tidak mungkin masuk surga sebagaimana tidak mungkin masuknya unta ke lubang jarum]. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka)[ maksudnya: mereka terkepung dalam api neraka]. Demikianlah kami memberi balasan kepada orangorang yang zalim" (QS Al A'raaf [7]: 40-41). Dusta adalah Pangkal Segala Keburukan Dusta merupakan akhlak tercela yang paling buruk. Dalam dusta terhimpun segala keburukan dan kebusukan. Beragam penyakit seperti namimah (memfitnah), ghibah (menggunjing), dengki, hasud, takabbur, permusuhan, pengkhianatan, perselingkuhan dan lain-lain, termasuk KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) semuanya berawal dan berasal dari dusta. Jika jujur (shidq) adalah pangkal dari segala kebaikan, maka pangkal dari segala keburukan adalah dusta. Sebab, dusta melahirkan kejelekan demi kejelekan yang berujung pada kesengsaraan dan kebinasaan. Rumah tangga SAMARA (sakinah, mawaddah wa rahmah) mustahil dapat dibangun dengan dusta. Selama ada pendusta, baik itu suami atau isteri, maka keharmonisan rumah tangga hanya menjadi hal yang mimpi atau utopia. Membiarkan anak terbiasa berdusta, maka berarti kita telah menghancurkan masa depannya. Menumbuhsuburkan pendusta atau cuek/tidak peduli dengan gejala-gejala dusta, apalagi jika sudah menjadi fenomena, dalam suatu organisasi, instansi, partai atau negeri, berarti kita sedang menenggelamkan institusi tersebut secara pelan tapi pasti ke dalam jurang kehancuran. Rasulullah saw bersabada, "Hendaknya kalian selalu jujur. Sebab, kejujuran itu menghantarkan kepada kebajikan dan kebajikan itu menghantarkan kepada surga. Seseorang akan senantiasa jujur dan berusaha keras untuk jujur sampai dicatat di sisi Allah sebagai shiddiq (orang yang sangat jujur). Dan waspadalah terhadap dusta. Sebab, dusta itu menghantarkan kepada

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

22

keburukan/kejahatan dan keburukan itu menghantarkan kepada neraka. Dan seseorang akan selalu dusta dan berusaha keras untuk dusta sampai dicatat di sisi Allah sebagai kadzdzaab (pendusta)" (HR Muslim no. 4721). Ayat di atas menyinggung tentang bahaya dan ancaman bagi pendusta. Maka, agar rumah kita tidak seperti neraka, jangan mentolerir ada pendusta di antara anggota keluarga kita. Ancaman dan Siksaan Bagi Pendusta Allah swt, di dalam ayat tersebut, menjelaskan ancaman dan siksaan bagi pendusta. Bahwa para pendusta, termasuk orang-orang yang mendustakan ayatayat Allah yang menunjukkan tentang keesaan-Nya, kebenaran para utusan dan nabi-Nya dan kepastian adanya hari pembalasan, diancam dengan berbagai macam ancaman, di antaranya: 1. Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit Dalam kajian Imam Ibnu Katsir, bahwa maksudnya adalah amal saleh dan doanya tidak diangkat (ke langit). Yakni, tidak akan diterima oleh Allah swt. Karena Allah swt hanya menerima dengan baik orang-orang yang bertakwa, menerima amal shalih dan kepada-Nyalah naik ucapan-ucapan yang baik sebagaimana firman-Nya, " kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya[1250]" (QS Faathir [35]: 10). Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa perkataan yang baik itu ialah kalimat tauhid yaitu Laa ilaa ha illallaah; dan ada pula yang mengatakan zikir kepada Allah dan ada pula yang mengatakan semua perkataan yang baik yang diucapkan Karena Allah. Maksudnya ialah bahwa perkataan baik dan amal yang baik itu dinaikkan untuk diterima dan diberi-Nya pahala. Semua itu tersimpan rapi sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, "Sekali-kali tidak, Sesungguhnya Kitab orangorang yang berbakti itu (tersimpan) dalam 'Illiyyin (nama kitab)" (QS Al Muthaffifin [83]: 18). Ada juga berpendapat, bahwa maksudnya adalah tidak dibukakan bagi arwah mereka pintu-pintu langit (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir II/331). Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Bara' bin 'Aazib ra, bahwasanya Rasulullah saw menuturkan pencabutan ruh pendurhaka. Maka ketika diangkat ke langit, para malaikat mengangkat ruh (nyawa) itu naik ke langit. Lalu setiap kali ruh itu melewati sekelompok malaikat, mereka selalu bertanya, "Siapa ruh yang busuk ini?" Mereka pun menjawab, "Dia adalah si Fulan bin si Fulan". Mereka menyebut namanya yang terjelek yang biasa ia dipanggil dengan nama itu sewaktu di dunia. Hingga tatkala mereka tiba di langit, mereka pun minta dibukakan pintu langit, tapi pintu itu tidak dibuka. Kemudian Rasulullah saw membaca firman Allah swt, "Tidak akan dibukakan bagi mereka pintupintu langit" (Lihat selengkapnya dalam kitab At Targhib wa't Tarhib, Al Mundziri, IV/199-102, no. 5414 dan menurut beliau hadits ini hasan). 2. Tidak akan masuk surga hingga unta masuk ke lubang jarum Dosa dusta itu menyebabkan mereka tidak akan masuk surga selamalamanya. Sebab mereka telah tertolak dari rahmat Allah. Penggunaan redaksi "hingga unta masuk ke lubang jarum" menunjukkan bahwa mereka mustahil masuk surga sebagaimana kemustahilan masuknya unta ke lubang jarum.
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

23

Ibnu Abbas ra berkata, "Sesungguhnya Allah sangat bagus sekali dalam membuat tasybih (penyamaan) dengan unta. Bahwa benang cocok untuk dimasukkan ke dalam lubang jarum, sementara unta tidak tepat" (At Tafsir Al Munir, Dr Wahbah Az Zuhaili, VIII/25). 3. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka) Begitu bahayanya dusta, maka balasannya pun dahsyat, yaitu neraka. Dan keadaan mereka di neraka pun sungguh sangat mengenaskan. Mereka mempunyai tikar tidur, tapi bukan terbuat dari bahan polyester, misalnya, yang membuat tidur lebih nyenyak, lebih pulas dan merasakan kesegaran setelahnya. Melainkan terbuat dari api neraka, ditambah lagi; di atas mereka ada selimut (penutup) dari neraka. Maksudnya, mereka terkepung dalam api neraka sehingga tidak pernah akan bisa lolos sebagaimana firman Allah, "Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka" (QS Al Humazah [108]: 8) dan firman-Nya, "Dan Sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orangorang yang kafir" (QS At Taubah [9]: 49) dan firman-Nya, "Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api)" (QS Az Zumar [39]: 16). Dalam hadits tentang perjalanan Mi'raj, Rasulullah saw menyampaikan gambaran kedahsyatan siksa bagi pendusta dalam sabdanya, "Semalam aku melihat dua orang laki-laki mendatangiku seraya berkata kepadaku: orang yang engkau lihat tadi (di neraka) yang ditarik/dirobek dagunya adalah kadzdzab (pendusta), yang (ketika di dunia) selalu berdusta sehingga kedustaan/kebohongannya menyebar ke seluruh penjuru (ke mana-mana), maka ia pun disiksa seperti itu sampai hari kiamat" (HR Bukhari, no. 5631). Macam-macam Dusta Semua dusta itu buruk dan tercela. Namun, tingkat keburukan suatu dusta dengan jenis dusta yang lain berbedabeda. Karena itu, secara garis besar dusta terbagi menjadi dua: Pertama: Dusta kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah dusta yang paling besar yang dapat menjadikan kufur pelakunya sehingga berhak mendapatkan laknat dan jauh dari rahmat Allah. Termasuk dalam jenis dusta ini adalah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, mendustakan ayat-ayat Allah (seperti dalam ayat di atas), mendustakan para rasul dan menuduh mereka bohong dan mendustakan hari kebangkitan dan hari pembalasan serta hal-hal yang ghaib yang sudah diterangkan oleh Al Qur'an dan As Sunnah. Kedua: Dusta kepada manusia. Dusta jenis ini termasuk dalam katagori dosa besar dan termasuk sifat dan karakter orang munafik. Sebab, kejujuran keimanan seseorang akan menjauhkan dari sifat tercela ini. Termasuk dalam jenis dusta ini adalah memberikan persaksian palsu, sumpah palsu, dusta dalam jual

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

24

beli, dusta dalam canda, dusta untuk merusak hubungan dua orang, termasuk hubungan suami isteri, menyebar informasi dusta seperti isu dan gossip dan lain-lain. Termasuk dalam katagori ini dusta kepada anak kecil, sesuatu yang bagi sebagian orang (juga orang tua terhadap anak) menjadi kebiasaan, bahkan melakukannya tanpa beban. Padahal Nabi saw pernah mewantiwanti dalam sabdanya, "Barangsiapa mengatkaan kepada anak kecil: Kemarilah, ini saya kasih (sesuatu), kemudian ternayata ia tidak memberinya sesuatu, maka hal ini merupakan dusta" (HR Ahmad dan dihasankan oleh Al Albaani). Untuk itu mari kita hadirkan suasana surgawi dalam rumah kita dan agar rumah kita tidak seperti neraka, maka jangan pelihara pendusta di rumah kita atau jangan tolerir sedikit pun kebiasaan berdusta dilakukan oleh anggota keluarga kita. Negeri ini pun bukan mustahil menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur jika menegakkan supremasi hukum secara tegas kepada para pendusta. Mari perangi pendusta!!!

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

25

5. Ketika Harta Membawa Prahara


(Belajar dari Kisah Karun)


"Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri" (QS Al Qashash [28]: 76). Urgensi Cerita dalam Al Qur'an Di antara hal yang banyak menghiasi lembaran-lembaran Al Qur'an adalah kisah atau cerita tentang kaum terdahulu. Dan yang membedakannya dengan kisah-kisah dalam buku-buku cerita, bahwa kisah/cerita dalam Al Qur'an semuanya nyata dan tidak ada yang fiktif atau dibuat-buat. Tentang urgensi, fungsi dan hakekat cerita dalam Al Qur'an telah ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

26

dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman" (QS Yusuf (12): 111). Siapa Karun? Salah satu cerita yang dipaparkan oleh Al Qur'an adalah kisah Karun. Ayat di atas tidak merinci seting waktu dan tempat cerita. Namun, cukup dengan mengisyaratkan bahwa "Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka". Tidak lebih dari itu. Apakah kisah in terjadi di saat nabi Musa masih di Mesir? Atau setelah beliau AS keluar dari Mesir tapi masih dalam masa hidupnya? Atau terjadi di tengah kaum Bani Israil setelah era nabi Musa? Tidak ada penjelasan tentang itu. Ada beberapa riwayat yang menerangkan tentang siapa Karun. Di antaranya, bahwa dia adalah anak paman nabi Musa AS, bernama lengkap Karun bin Yashur bin Qaahatsa, kakek nabi Musa karena silsilah beliau adalah Musa bin Imran bin Qaahatsa (Tafsir Ibnu Katsir IV/145). Sebagian lagi menambahkan, bahwa Karun pernah menyakiti nabi Musa AS, yaitu dengan menyuap seorang wanita agar mau mengaku telah berbuat zina dengan Musa AS. Lalu Allah membebaskan nabi Musa dan menghukum Karun dengan dibenamkan ke dalam bumi (Fii Zhilal Al Qur'an V/2710). Kita tidak perlu menguras tenaga untuk membahas riwayat-riwayat semacam itu dan bahkan tidak membutuhkannya. Sebab, apa yang dikupas oleh ayat tersebut di atas cukup untuk menghantarkan tujuan dari kisah dan yang terpenting bagaimana kita mampu mencerna dan menangkap pelajaran dan pesan spiritual dari kisah tersebut. Harta yang Melimpah Membuat Karun Berlaku Aniaya Harta atau fulus sudah pasti menggiurkan semua orang. Siapa yang tidak senang dengan fulus? Dengan fulus, semua urusan mulus, demikian komentar sebagian orang. Sebagian lagi berseloroh, fulus dapat membangkitkan nufus (jiwa) dan tanpa fulus jiwa akan mampus. Semua itu menunjukkan betapa kuatnya daya tarik harta bagi manusia. Dan dahsyatnya daya tarik dunia inilah yang terkadang membuat tidak sedikit manusia yang terjerumus dalam kesesatan dan berakhir dengan kesengsaraan karena menghamba kepada harta dan menganggap harta segala galanya. Perhatikan firman Allah SWT berikut, "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalnya" (QS Al Humazah (104): 13). Menurut Sayyid Quthb, bahwa ia menyangka hartanya itu tuhan yang mampu/kuasa atas segala sesuatu. Tidak lemah untuk melakukan apa pun. Bahkan dapat menolak kematian dan mengekalkan kehidupan sekalipun! (Fii Zhilal Al Qur'an VI/3972). Ketika jiwa manusia telah didominasi oleh cinta harta yang membuta, maka ia akan terus memburu harta tanpa lelah dan tanpa pernah merasa kenyang sebagaimana sabda Nabi SAW, "Seandainya manusia memiliki dua lembah (yang penuh terdiri) dari harta niscaya ia akan menginginkan lembah ketiga. Dan tidak akan memenuhi dada manusia kecuali tanah, dan Allah akan menerima taubat orang yang mau bertaubat" (HR Bukhari VIII/115 dan Muslim II/725, 726 hadits no. 1048-1050).

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

27

Inilah yang terjadi pada Karun. Kekayaan yang Allah SWT anugerahkan kepadanya luar biasa dan tidak ada duanya saat itu dan mungkin sepanjang sejarah umat manusia sehingga hartanya pun sampai kini masih terus diburu. Sehingga muncul istilah 'memburu harta Karun'. ".. dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat" demikian Al Qur'an menggambarkan kekayaan yang dimiliki Karun. Penyebutan "Kunuuz" (perbedaharaan harta) dalam ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa Karun bukan saja memiliki uang kontan yang melimpah, namun ia juga memiliki berbagai macam perhiasan yang tidak terhitung jumlahnya yang disimpan dalam brankas-brankas besar. Tidak terbayang betapa banyak dan besarnya brankas serta betapa berat isinya sehingga untuk memikul kuncikuncinya saja diperlukan banyak orang yang berbadan kekar. Konon, kata Ibnu Abbas RA, ada 40 orang yang kuat-kuat yang memikul kunci-kunci brankas tersebut (Tafsir Al Munir, DR Wahbah Az Zuhaili XX/160). Namun, kekayaan yang melimpah yang merupakan nikmat Allah itu tidak disyukuri oleh Karun. Justru membuatnya berlaku aniaya, takabbur, sombong dan durhaka kepada Allah SWT. Tidak dijelaskan secara detail perbuatan aniaya macam apa yang dilakukan Karun terhadap kaumnya. Namun, kita bisa menangkap bahwa mungkin tidak akan jauh berbeda dengan perbuatan aniaya yang dilakukan para penghamba harta zaman sekarang. Yaitu, dengan merampas tanah kaumnya/rakyatnya dan negaranya. Dengan korupsi, monopoli dan segala bentuk praktek kezaliman lainnya. Sehingga harta rakyat habis terkuras, yang tersisa hanya sampah-sampahnya. Di Tengah Fenomenan Kezaliman Selalu Ada Orang yang Berhati Suci Selalu saja ada orang yang galau melihat berbagai macam fenomena kezaliman yang bertentangan dengan fitrah dan hati nuraninya yang ingin meluruskan keadaan yang menyimpang. Demikian pula, ketika Karun tampil ke panggung kehidupan dengan congkak dan rakus serta membangga-banggakan kekayaannya, maka tampillah orang-orang shalih dari kaumnya memberanikan diri menasehatinya dengan mengatakan, "Janganlah kamu terlalu bangga". Janganlah kamu terlalu bangga dengan harta, kekayaan dan kekuasaan. Jangan kamu membanggakan diri sehingga lupa terhadap Tuhan yang memberi nikmat harta kepadamu yang seharusnya kamu bersyukur kepada-Nya. Jangan kamu terlalu membanggakan diri sehingga membuatmu merendahkan orang lain dan berlaku aniaya terhadapnya. Sebab "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang terlalu membanggakan diri" yang tidak mensyukuri Allah atas berbagai macam nikmat yang Ia anugerahkan kepada mereka. Ketika Al Qur'an menyinggung tentang kekayaan Karun di atas, tidak berarti bahwa Islam melarang seseorang untuk kaya. Tidak. Sebab, tidak sedikit ayat Al Qur'an yang memerintahkan kita untuk menunaikan zakat dan rajin berinfak. Bagaimana kita bisa berhaji, berzakat dan bersedekah jika kita tidak memiliki harta dan kaya. Selama kekayaan itu diperoleh seseorang dengan cara yang halal, dan tidak melanggar aturan syariat Islam dan membuatnya menjadi orang yang bersyukur kepada Allah SWT maka justru ia menjadi manusia yang mulia. Yang dilarang oleh Islam bahkan dicela adalah orang-orang yang menumpuk kekayaan dengan cara yang haram seperti dengan mencuri, KKN (korupsi kolusi dan nepotisme) serta manipulasi sehingga membutanya sombong,

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

28

durhaka dan mengkufuri nikmat Allah SWT seperti yang diperankan oleh Karun dengan ending yang sangat menyakitkan dan mengenaskan. Yaitu ia beserta rumah dan seluruh kekayaannya dibenamkan oleh Allah ke dalam bumi. Maka, waspadalah! Waspadalah! Semoga kita sekeluarga dapat mengambil pelajaran dari kisah Karun ini sehingga kita pantas disebut sebagai orang-orang yang berakal. Amin...

6. Hidup Nyaman Tanpa Su'uzhzhon


"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa" (QS Al Hujuraat [49]: 12.

Su'uzhzhon yang sering diterjemahkan dengan berburuk sangka, dalam terminologi syar'i adalah prasangka atau dugaan yang berujung dengan menyifati orang lain dengan kejelekan dan keburukan tanpa dalil dan bukti (Aafaat 'Ala'th Thariiq, Dr. As Sayyid Muhammad Nuh, I/327Orang yang su'uzhzhon selalu melihat apa pun dengan penglihatan negatif. Pikirannya dipenuhi dengan pikiran minor. 'Kaca mata'nya selalu minus. Sehingga tidak ada sedikit pun kebaikan pada orang lain, dalam pandangannya. Ketika ada orang yang meninggalkan kebajikan, seperti meninggalkan menjawab salam, bezoek orang sakit, ta'ziyah orang mati, membantu orang yang membutuhkan dan tidak memenuhi undangan. Semua itu tidak ditunaikan karena udzur syar'i (alasan yang dibenarkan oleh syariat Islam) diluar kehendaknya seperti karena tugas ke luar kota atau bepergian, sakit, tidak tahu atau ada kewajiban yang lebih besar dan lebih prioritas. Maka, dalam pandangan orang
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

29

yang su'uzhzhon bahwa dia meninggalkan kebajikan-kebajikan di atas karena takabbur (sombong) atau merendahkan orang lain atau sifat bakhil dan kikir dan lain-lain. Sebaliknya, jika ada orang/keluarga yang shalih yang rajin berda'wah, amar ma'ruf nahi munkar, berinfak dan bersedekah serta semangat melaksanakan berbagai kebajikan lainnya. Maka, dalam 'kaca mata' pelaku su'uzhzhon, semua kebajikan itu dilakukannya karena riya' (pamer), ingin populer/dipuji atau ada udang di balik batu; bertujuan meraih keuntungan duniawi dan lain sebagainya. Padahal pelaku kebajikan itu semata-mata menunaikannya karena diperintah oleh Allah SWT. Untuk itu, ayat di atas hadir ke tengah-tengah kita untuk menerapi berbagai macam fenomena su'uzhzhon yang ada di tengah masyarakat yang membuat hidup tidak tentram dan nyaman. Su'uzhzhon bukan Sifat dan Karakter Orang yang Beriman Sebelum melarang untuk menjauhi kebanyakan azh Zhan (prasangka), Allah SWT mengawali dengan panggilan mesra "Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu (Hai orang-orang yang beriman)". Metode ini banyak kita dapatkan dalam Al Qur'an, tidak lain agar perintah tersebut dapat direspon secara positif dan diapresiasi dengan baik. Dan ini merupakan pelajaran penting bagi da'i, orang tua dan kalangan pendidik dalam menyampaikan pesan-pesan spiritual, nasehat dan taujih-taujihnya. Yaitu memulai dengan memuji dan menyebut-nyebut kebaikan obyek da'wah atau orang/anak yang akan dinasehatinya, baru kemudian masuk kepada materi asasi yang ingin disampaikannya. Dalam konteks tema ini, maka penggalan awal ayat tesebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa berparasangka buruk (su'uzhzhon) bukanlah sifat dan karakter orang yang beriman. Kejujuran keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya akan menjauhkannya dari sifat yang berbahaya ini. Dalam kajian Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- yang dimaksud dengan kebanyakan prasangka yang harus dijahuhi oleh seorang mukmin adalah, "Tuhmah (tuduhan) kepada istri/keluarga, kerabat dan orang lain yang tidak pada tempatnya. Karena sebagian prasangka itu murni sebagai dosa, maka hendaknya ia menjauhi kebanyakan darinya untuk kehati-hatian" (Tafsir Ibnu Katsir IV/487). Su'uzhzhon yang diharamkan oleh Allah dalam ayat di atas adalah su'uzhzhon terhadap Allah SWT, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin yang sudah jelas terlihat kesalehan dan keistiqomahannya. Selain ayat di atas, banyak sekali dalil lain yang menegaskan keharaman su'uzhzhon. Di antaranya: Firman Allah SWT, "Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orangorang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selamalamanya dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa" (QS Al Fath [48]: 12). Dalam ayat lain, Allah berfirman, "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)" (QS Al An'aam [6]: 116. Allah SWT juga berfirman, "Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

30

berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan" (QS Yunus [10]: 36). Rasulullah SAW juga melarang hal ini melalui sabdanya, "Jauhilah azh Zhan (prasangka). Sebab, sesungguhnya prasangka itu akdzbu'l hadits (ucapan yang paling dusta)" HR Bukhari VIII/23 dan Muslim IV/1986. Abdullah bin Umar RA bercerita, "Aku pernah melihat Nabi SAW thowaf mengelilingi Ka'bah dan bersabda, "Alangkah bagusnya engkau dan alangkah harumnya baumu. Alangkah agungnya engkau dan alangkah agungnya kehormatanmu. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin lebih agung di sisi Allah dari pada kehormatanmu (Ka'bah). Demikian pula harta dan darahnya. Dan hendaknya tidak berprasangka kepadanya (orang mukmin) kecuali yang baik" HR Ibnu Majah no. 3932. Kata Al Bushairi dalam Az Zawaaid (III/223), "Ada seorang perawi hadits ini yaitu, Nasr bin Muhammad yang didha'ifkan oleh Abu Haatim, tapi disebut Ibnu Hibban dalam kitab Ats Tsiqaat-nya. Sedangkan para perawi lainnya semuanya tsiqah". Luar biasa nilai seorang mukmin di sisi Allah menurut hadits tadi. Sampaisampai harta, darah dan kehormatannya mengungguli kehormatan Ka'bah yang agung itu. Karenanya, melalui ayat di atas Allah SWT ingin mensucikan hati orang mukmin dari polusi su'uzhzhon sehingga membuatnya jatuh dalam kubangan dosa. Menurut Sayyid Quthb rahimahullah-, ayat tersebut bukan hanya mentarbiyah dhamir dan hati. Melainkan juga mengajarkan prinsip dalam ta'amul (berhubungan) dengan orang lain dengan menghormati hak asasi masyarakat yang hidup dalam komunitas yang bersih. Karenanya, tidak boleh seseorang diganjar atas dasar prasangka dan dihukum atas dasar keragu-raguan dan persangkaan. Jangan sampai prasangka (zhan) menjadi landasan dan pijakan untuk menvonis dan menghukum seseorang. Bahkan, tidak boleh menjadi landasan untuk mentahqiq (menyidik)nya. Sebab, Rasulullah SAW telah bersabda, "Jika engkau berprasangka (kepada seseorang) maka jangan engkau mentahqiq (menyidiknya berdasarkan prasangka itu)" HR Ath Thabari dalam Al Mu'jam Al Kabir III/228. Ini artinya bahwa manusia pada dasarnya bebas dari tuduhan negatif apa pun dan terpelihara hak-hak asasinya, kemerdekaannya sampai ada bukti yang akurat bahwa mereka layak untuk dituduh dan dihukum. Prasangka saja tidaklah cukup dijadikan dasar untuk menghukum mereka (Lihat Fii Zhilal Al Qur'an IV/3345). Su'uzhzhan adalah Sifat Orang Munafik Al Qur'an telah menguak dalam banyak ayatnya sifat dan karakter orangorang munafik. Dan salah satu sifat mereka adalah selalu mencibiri orang-orang muslim yang melakukan kebajikan. Mereka selalu su'uzhzhon terhadap kaum muslimin. Seperti komentar mereka terhadap orang-orang mukmin yang rajin bersedekah, mereka mengatakan bahwa orang-orang mukmin menunaikan kebaikan tersebut dengan motif riya' (pamer) dan sekedar mencari popularitas. Maka, Allah SWT menurunkan ayat-Nya, "(Orang-orang munafik) yaitu orangorang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih" (QS At Taubah [9]: 79). Jangan Sampai Kita Disu'uzhzhoni (Menjadi Obyek Su'uzhzhon)

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

31

Penggalan ayat di atas, "sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa" menunjukkan bahwa ada zhan (prasangka) yang tidak dosa. Bahkan, para ulama menghukumi wajib su'uzhzhon terhadap orang kafir yang jelas-jelas memproklamirkan permusuhannya kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Sebab, menurut Allah yang Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam hati, "Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak" (QS At Taubah [9]: 8). Dalam ayat lain, "Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan" (QS Ali Imran [3]: 167). Demikian pula wajib su'uzhzhon terhadap seorang muslim atau mengaku muslim, namun terang-terangan menantang Allah dengan maksiat dan menghalangi da'wah serta beragam kebaikan. Seperti terang-terangan meminum khamr (miras), berzina, mencuri dan merampok, termasuk melakukan tindak korupsi. Juga wajib su'uzhzhon terhadap orang-orang yang bisa jadi diperalat orang-orang kafir untuk merealisasikan rencana-rencana jahat dan makar mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Su'uzhzhon terhadap mereka adalah sebagai bentuk warning dan waspada agar tidak meniru perbuatannya serta guna mengcounter dan mengantisipasi tipu daya dan konspirasi mereka. Untuk itu seorang muslim, apa pun profesinya baik dia pemimpin, karyawan, pengusaha, pedagang, PNS, anggota legislatif maupun pejabat eksekutif dan lain-lain tidak boleh menjatuhkan diri dalam hal-hal yang syubhat apalagi yang jelas-jelas haram agar tidak menjadi obyek su'uzhzhon. Seperti memiliki mobil dan rumah mewah sementara semua orang tahu gaji dari pekerjaannya tidak mungkin dapat membeli mobil itu. Berpenampilan borjuis padahal penghasilannya pas-pasan. Atau masuk ke tempat-tempat maksiat yang tidak pantas dimasuki oleh seorang mukmin. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW seperti diceritakan oleh isteri beliau, Shafiyyah binti Huyay RA, "Nabi SAW pernah melakukan i'tikaf, lalu akau menemuinya malam hari dan berbincang dengannya. Kemudian aku beranjak pulang dan beliau pun berdiri ingin mengantarku sebab Shafiyyah tinggal di rumah Usamah bin Zaid-. Lalu dua orang lelaki dari kaum Anshar lewat (berpapasan dengan kami). Begitu keduanya melihat Nabi, maka keduanya mempercepat jalannya, Nabi SAW pun lantas menegurnya, "Pelan-pelan saja kalian (dan jangan terburu-buru). Sesungguhnya (wanita yang bersamaku) ini adalah Shafiyyah binti Huyay". Keduanya lalu berucap, "Subhaanallah (Maha Suci Allah) wahai Rasulullah!" (Keduanya tidak ingin dituduh su'uzhzhon). Nabi lalu bersabda, "Sesungguhnya syetan itu mengalir di aliran darah manusia, dan aku sungguh takut syetan menancapkan keburukan (su'uzhzhon) di hati kalian". Karenanya, mari kita bersihkan hati kita dan keluarga kita dari polusi su'uzhzhon agar hidup ini menjadi nyaman dan tentram dengan mendekatkan mereka kepada nilai-nilai ilahi.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

32

Jangan Menipu dengan Sumpah Palsu .7


Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang Telah mereka kerjakan (QS Al Munaafiquun [63]: 2).

Tidak sedikit orang yang menutupi kebohongannya dengan sumpah. Seorang suami atau isteri yang mengkhianati pasangannya misalnya, ketika dikonfirmasi tentang pengkhianatannya maka dengan entengnya ia bersumpah. Seorang koruptor tidak segan-segan mengumbar sumpah untuk menutupi perbuatan korupsinya. Pencuri yang sudah tertangkap basah pun terkadang tanpa beban berkelit dengan ribuan sumpah. Seseorang yang menggunjing dan memfitnah orang lain, ketika ditegur oleh orang yang difitnah, tidak jarang sering berkilah dengan sumpahnya, Demi Allah, saya tidak pernah mengatakan apa-apa tentang kamu. Demi Allah, kamu benar-benar sahabat sejatiku. Seorang calon anggota legislatif atau calon pejabat di saat kampanye menghipnotis masyarakat dengan janji-janjinya, namun setelah berhasil menjadi pejabat dan ditagih janjinya, terkadang tanpa merasa dosa bersumpah, Demi Allah, saya tidak pernah menjanjikan itu. Dan sebagainya.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

33

Jika mereka melakukan itu, maka mereka benar-benar telah menjadikan sumpahnya sebagai perisai. Bersumpah Palsu adalah Karakter Orang Munafik Ayat di atas menerangkan salah satu karakter orang munafik, yaitu banyak bersumpah palsu untuk menutupi kedustaannya. Dalam kajian Imam Ibnu Katsir, bahwa ayat ini meminta kita, kaum muslimin untuk waspada terhadap orang-orang yang bersumpah palsu supaya masyarakat membenarkan apa yang mereka katakan. Sehingga orang yang tidak mengenal hakekat mereka, berdecak kagum dan meyakini bahwa mereka (pun) orang-orang Islam. Bisa jadi ia menteladani apa yang mereka perbuat dan membenarkan apa yang mereka katakan. Padahal dalam batin mereka, tidak ada sedikit pun celah bagi Islam dan kaum muslimin. Hal ini tentu membawa banyak mudharat bagi banyak orang. Untuk itulah Allah swt berfirman, Lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan(Lihat Tafsir Ibnu Katsir V/92). Yang dimaksud dengan Junnah atau perisai dalam ayat tersebut adalah bahwa orang-orang munafik bersumpah bahwa mereka beriman adalah untuk menjaga harta mereka supaya jangan dibunuh atau ditawan atau dirampas hartanya (Lihat At Tafsir Al Munir, Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili, XXVIII/215). Ayat ini memberi sinyal kuat, bahwa orang-orang munafik biasa mengumbar sumpah setiap kali terkuak tipu daya atau rencana jahat mereka atau komentar buruk mereka tentang kaum muslimin. Mereka lakukan itu untuk menutupi kebusukan dan kebobrokan mereka sehingga mereka tidak dihukumi sebagai orang kafir yang halal darah dan hartanya. Sekaligus agar mereka terus dapat melanjutkan tipu daya dan makar jahatnya sehingga mereka dapat menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Begitu bahayanya prototipe manusia yang banyak bersumpah seperti itu, maka Allah swt melarang kita mengikutinya sebagaimana firman-Nya, Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina (QS Al Qalam [68]: 10). Lafazh Hallaaf dalam ayat ini, bermakna banyak bersumpah dan merupakan shighah mubaalaghah (bentuk kalimat yang mengandung arti berlebihan) mengikuti wazan Faaal yakni bersumpah terus-menerus. Orang Munafik Diancam dengan Neraka karena Menipu dengan Sumpah Palsu Karena sering menipu dengan sumpah palsu ini, orang-orang munafik diancam oleh Allah dengan neraka Jahannam. Allah swt berfirman, Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam (QS An Nisaa [4]: 140). Bahkan, mereka ditempatkan di aspalnya neraka sebaimana firman Allah swt, Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka (QS An Nisaa [4]: 145).
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

34

Hal Ini menunjukkan betapa bahayanya orang-orang munafik. Dan karenanya umat harus selalu waspada terhadap kelompok ini yang terkadang tidak mudah untuk dikenali. Sebab baju mereka adalah Islam. Bahasa dan ungkapanungkapan mereka bernadakan Islam. Penampilan mereka pun terkadang tak berbeda dengan umumnya kaum muslimin. Namun, dalam diri mereka tersimpan rasa dengki dan benci terhadap Islam dan kaum muslimin. Mereka selalu berusaha melemahkan perjuangan umat. Semua program dan aktivitas yang berorientasikan Islam selalu mereka halangi. Karenanya, tidak salah jika mereka pantas disebut sebagai musuh dalam selimut. Namun, setiap kali akan terungkap kebusukannya, mereka langsung menutupinya dengan bersumpah palsu. Dan tentu hal ini termasuk pelecehan terhadap Allah, karena membawa-bawa nama Allah dalam sumpahnya (Demi Allah) guna menutupi kebobrokannya. Jangan Biarkan Keluarga Kita Terbiasa dengan Sumpah Agar rumah kita tidak seperti neraka, maka kita tidak boleh membiarkan seorang pun dari anggota keluarga kita terbiasa dengan sumpah. Caranya dengan menanamkan nilai-nilai kejujuran sejak dini kepada mereka. Menjelaskan bahayanya bersumpah palsu. Dan yang lebih penting lagi memberikan keteladanan yang baik dalam masalah ini. Manusia-manusia besar yang namanya dicatat dengan tinta emas dalam sejarah, mereka menjadi besar dan unggul karena mereka selalu meninggalkan perilaku negatif ini. Imam Syafii rahimahullah- misalnya, beliau tidak pernah bersumpah, baik dilakukannya untuk kebenaran ataupun kedustaan. Ulama yang nama aslinya, Muhammad bin Idris ini pernah mengatakan, Saya tidak pernah bersumpah dengan (nama) Allah, baik secara benar maupun dusta. Luar biasa!! Betapa tinggi ketakwaan Imam Syafii. Betapa wara beliau. Hal itu, beliau lakukan semata-mata sebagai pengagungan dan penghormatan kepada Allah swt. Memang, tidak dosa orang bersumpah untuk kebenaran. Tetapi ketika itu menjadi kebiasaan maka bukan hal yang baik, bahkan bisa masuk katagori Hallaaf (banyak bersumpah) yang dilarang Allah untuk mengikutinya sebagaimana tersebut di atas. Lebih dari itu, berpotensi besar untuk terjerumus ke dalam sumpah palsu. Untuk itu, jangan tolerir isteri atau suami dan anak-anak kita menyepelekan dan mempermainkan sumpah. Buat komitmen dan tulisan besar di rumah kita, JANGAN ADA SUMPAH PALSU DI ANTARA KITA agar rumah kita tidak panas membara bak neraka. Sehingga jauh dari ketenangan, ketentraman, kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan..

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

35

8. Virus Ganas itu Bernama Riya


Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

36

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (QS Al Baqarah [2]: 264). Siapa pun tidak akan pernah mau menjadi sosok manusia berikut ini. Di dunia ia dikenal masyarakat luas sebagai orang yang baik. Ahli ibadah, rajin menuntut ilmu, membaca Al Quran, aktif berdakwah dan dermawan bahkan telah berkorban dengan harta, jiwa dan raganya di jalan Allah. Namun, di akhirat kondisinya sangat tragis dan mengenaskan karena menjadi penghuni neraka. Apa yang salah? Yang salah adalah niat dan motivasinya dalam beramal. Semua kebaikan dan kebajikan yang dilakukan di dunia, ternyata tidak didasari karena ikhlas, mencari ridho Allah SWT, melainkan karena riya (pamer) dan mengharapkan pujian manusia. Sehingga semua amal kebajikannya pun hancur lebur tak berbuah pahala sedikit pun. Rasulullah SAW telah memberitakan sosok manusia nestapa ini dalam hadits shahihnya, Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili dan dieksekusi adalah: - Seorang yang mati di jalan Allah. Ia dihadirkan dan diperkenalkan nikmat-nikmatnya, maka ia pun mengenalnya. Lalu ditanya, Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat-nimat itu? Ia menjawab, Aku pergunakan untuk berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid. Allah berfirman, Engkau telah berbohong. Engkau berperang (dengan motivasi) agar engkau dipanggil pemberani (pahlawan). Maka, hal itu benar-benar telah terwujud. Kemudian datang perintah agar diseret wajahnya hingga dijerumuskan ke dalam api neraka. - Dan dihadirkan (pula) seorang yang rajin mencari ilmu, mengajarkannya kepada orang lain dan rajin membaca Al Quran. Diperkenalkan nikmatnikmatnya, maka ia pun mengenalnya. Lalu ditanya, Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu? Ia menjawab, Aku pergunakan untuk menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Quran. Allah berfirman, Engkau dusta. Sesungguhnya engkau rajin mencari ilmu agar engkau dijuluki sebagai orang alim (cerdas, jenius atau intelektual). Dan engkau rajin membaca Al Quran agar engkau dipanggil Qori (ahli tilawah). Maka, hal itu pun benar-benar telah terealisir. Kemudian datang perintah agar diseret wajahnya hingga dijerumuskan ke dalam api neraka. - Dihadirkan juga seorang yang diluaskan rezkinya oleh Allah dan dianugerahi beragam harta yang melimpah. Diperkenalkan nikmat-nikmatnya, maka ia pun mengenalnya. Lalu ditanya, Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu? Ia menjawab, Tidak ada urusan yang Engkau senang untuk berinfak disitu kecuali aku telah berinfak di dalamnya semata-mata untuk-Mu (mencari ridho-Mu). Allah berfirman, Engkau berbohong. Sesungguhnya engkau berinfak agar engkau dipanggil dermawan. Maka, hal itu benar-benar telah terwujud. Kemudian datang perintah agar diseret wajahnya hingga dijerumuskan ke dalam api neraka (HR Muslim no. 1905).

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

37

Ayat dan hadits di atas menggambarkan betapa bahayanya riya. Ia merupakan virus ganas yang menyerang amal seseorang dan membumihanguskannya sehingga tidak menyisakan pahala sedikit pun. Bahkan, Abu Hurairah RA sampai pingsan 3 (tiga) kali ketika ingin memberitakan hadits tersebut karena beliau sangat takut sekali dengan penyakit hati yang paling berbahaya ini (Ar Raaid, Maazin Al Furaih, I/53). Makna Riya Syekh Izzuddin bin Abdussalam rahimahullah- mendefinisikan riya dengan membandingkan dengan sumah seraya mengatakan, Riya adalah beramal (melakukan kebajikan) untuk selain Allah. Sedang sumah adalah menyembunyikan amal/perbuatan untuk Allah, kemudian menceritakannya kepada orang lain (Fathul Bari, Ibnu Hajar XI/336). Definisi lain mengatakan, riya adalah seorang muslim mempertontonkan amal shalih di hadapan orang banyak dengan tujuan mengharapkan kedudukan atau dunia. Sementara Al Qadhi Iyadh rahimahullah- mengatakan, Meninggalkan amal perbuatan demi manusia adalah riya. Beramal karena manusia syirik. Dan ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya (Tahdzib Madaarij Ash Shalihin, hal. 515). Orang Beriman Tidak Akan Mengungkit-ungkit Kebaikan dan Riya Allah SWT mengawali pesan-pesan spiritual-Nya dalam ayat tersebut dengan memanggil orang-orang yang beriman dengan An Nida Al Habib (panggilan mesra), Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu. Hal ini memberikan pemahaman kepada kita, bahwa kejujuran keimanan seseorang mendorongnya untuk tidak menghilangkan (pahala) beragam kebaikan, termasuk sedekahnya dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima). Ia sadar betul, bahwa mengungkit-ungkit kebajikan diancam oleh Nabi SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim- dengan dijauhkan dari surga dan tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat. Keimanannya kepada Allah menjadikannya selalu beramal dan berbuat kebajikan didasari ikhlas karena Allah dan bukan karena riya kepada manusia. Berbeda sekali, ketika hati kosong dari iman dan dipenuhi oleh riya. Dalam kajian tafsir Sayyid Quthb rahimahullah- orang yang riya tidak akan dapat merasakan denyut dan secercah iman sebab telah tertutup oleh riya. Hati yang semacam ini diumpamakan seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Maka, terkuaklah kerasnya batu itu, meski telah disiram hujan, ia tetap tidak menumbuhkan tanaman dan tidak menghasilkan buah. Begitu pula dengan hati yang berinfak karena riya kepada manusia, maka tidak akan membuahkan kebaikan dan menghasilkan pahala (Fi Zhilal Al Quran, I/303). Karena itu, pantaslah kalau riya adalah sifat dan karakter orang-orang munafik sebagaimana firman Allah SWT, Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (QS An Nisaa [4]: 142). Sebab-sebab Riya dan Obatnya

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

38

Sifat negatif yang ada pada seseorang bukanlah bawaan dari lahir, melainkan karena ada faktor-faktor pemicunya. Demikian pula dengan riya, kemunculannya didorong oleh banyak sebab. Diantara sebab-sebab riya adalah lingkungan keluarga dan didikan sejak kecil, pengaruh teman yang buruk akhlaknya, tamak, ambisi terhadap jabatan dan popularitas, dan tidak mengenal Allah dengan baik. Penyakit hati yang juga dikenal dengan sebutan Syirik Ashghar (Syirik kecil) ini tidak berarti tidak bisa dibasmi dan diobati. Sebab, setiap penyakit pasti ada obatnya, termasuk riya. Diantara obat riya adalah: Mengenal Allah lebih mendalam, menjauhi teman-teman yang dikenal sebagai orang yang suka riya, meningkatkan komitmen terhadap nilai-nilai-Islam, sering mengingat dampak-dampak negatif riya baik di dunia maupun di akhirat dan lain-lain, selain tentu dengan doa, meminta perlindungan Allah SWT dari virus ganas ini seperti biasa dilakukan oleh para ulama salaf. Semoga Allah SWT melindungi kita dan semua keluarga kita dari sifat riya. Amin..

9. Jangan Sekali-kali Ingkar Janji


Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

39


Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang shaleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menanamkan kemunafikan dalam hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta (QS At Taubah [9]: 75-77). Di tengah pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) maupun Pemilihan Presiden (Pilpres), rakyat seringkali disuguhi dengan umbar janji sang calon pemimpin. Pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis, peningkatan kesejahteraan taraf hidup masyarakat, pembangunan infrastruktur, pembukaan lapangan kerja dan sebagainya adalah sederet daftar janji dan angin surga yang biasa dipidatokan dalam orasi-orasi saat kampanye. Semua itu dilakukan guna menghipnotis suara rakyat agar mendukung dan memilih sang calon pemimpin. Namun, ketika jabatan sudah digenggam dan kursi sudah diduduki yang sering terjadi adalah lupa diri dan ingkar janji. Sehingga janji tinggalah janji, tak pernah terbukti. Dalam kehidupan rumah tangga pun, tidak sedikit dari suami atau isteri yang biasa mengumbar janji untuk memikat hati sang permaisuri atau pangeran. Janji untuk sehidup semati, siap bersama dalam suka dan duka, selalu setia sepanjang masa, siap untuk sengsara bersama dan janji-janji lain. Namun, tidak sedikit dari mereka yang kemudian ingkar janji. Air susu pun dibalas dengan air toba. Dan sekali lagi, janji tinggalah janji, tal pernah terealisasi. Ingkar Janji adalah Sifat Orang Munafik Ayat di atas menguak salah satu sisi buruk kehidupan orang-orang munafik. Yaitu biasa ingkar janji. Ketika mereka fakir dan dalam kesulitan ekonomi, mereka berjanji jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada mereka, niscaya mereka akan rajin bersedekah dan akan menjadi orang shaleh. Namun, ketika semua itu terkabul, mereka lupa dengan ikrarnya. Mereka mengingkari janjinya sehingga mereka pun menjadi orang yang bakhil dan kikir. Ingkar janji disertai berdusta kepada Allah inilah yang menyebabkan kemunafikan menamcap kokoh dalam hati sampai mati, menghadap Sang Ilahi Rabbi, Allah swt. Jiwa manusia itu lemah dan bertabiat bakhil dan kikir kecuali orang yang dipelihara oleh Allah. Tidak ada yang bisa mensucikan dari penyakit kikir ini kecuali dihiasi dan dimakmurkan jiwa itu dengan iman. Dengan keimanan, jiwa manusia bisa melejit cepat dan terlepas dari semua ikatan kerakusan terhadap
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

40

manfaat yang singkat dan kenikmatan sesaat. Obsesinya selalu dapat merengkuh kenikmatan yang panjang nan abadi. Harapannya selalu bisa meraih kebahagiaan yang tak berkeputusan, berdimensi dunia dan akhirat. Motivasinya selalu ingin memperoleh ridha Allah. Karena itulah, jiwa dan hati orang yang beriman akan tenang dan tentram dengan keimanan. Sehingga tidak pernah takut jatuh miskin dan fakir disebabkan infak dan sedekah. Karena, ia yakin bahwa apa di sisi manusia pasti habis dan lenyap, sementara apa yang di sisi Allah pasti tetap dan kekal. Ketenangan jiwa ini menjadikannya selalu semangat dalam bersedekah di jalan Allah, sebab ia yakin Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih besar dan melipatgandakan nikmat-Nya. Jadi, manusia dengan kemanusiaannya saja tidak ada yang bisa dibanggakan. Manusia baru bisa berharga dan bernilai di sisi Allah dengan iman. Inilah barangkali rahasia di dalam Al Quran, bahwa setiap kali menyebut sifatsifat buruk manusia, selalu kita dapatkan redaksi Al Quran menggunakan lafazh, Wa minannaas (di antara manusia) atau Wa Minhum (di antara mereka). Seperti firman Allah, Dan di antara manusia ada yang berkata, Kami beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal sesungguhnya mereka bukanlah orangorang yang beriman (QS Al Baqarah [2]: 8). Atau firman-Nya, Dan di antara mereka (orang munafik) ada orang-orang yang menyakiti hati Nabi (Muhammad) ... (QS At Taubah [9]: 61). Lihat pula QS At Taubah [9] ayat 49 dan 58 dan lain-lain. Dan kebanyakan hal itu menyinggung sifat dan karakter orang-orang munafik. Asbabun Nuzul (Sebab turunnya) Ayat Ada kisah populer di dunia Islam, termasuk di masyarakat kita, yang dinukil oleh banyak ulama tafsir dalam kitab-kitab klasik mereka sebagai sebab turunnya ayat ini. Imam Ibnu Katsir mengutip dari Ibnu Jarir dan Ibnu Hibban dari Abu Umamah Al Baahili, bahwa ayat tersebut turun berkaitan dengan kisah Tsalabah bin Haathib Al Anshari. Ia datang menemui Nabi saw dan memohon, Ya Raulullah, tolong doakan kepada Allah untuk menganugerahkan kepadaku harta yang melimpah. Rasulullah saw menanggapi dengan sabdanya, Bagaimana kamu ini Tsalabah! Harta sedikit yang menjadikanmu bersyukur itu jauh lebih baik dari pada harta banyak yang membuatmu tidak mampu mengemban (amanah)nya. Tsalabah kembali memohon, lalu Nabi saw bersabda, Apa kamu tidak ridha (ingin) seperti Nabi Allah?! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalau aku mau gunung-gunung itu (berubah) menjadi emas dan perak dan berjalan bersamaku, niscaya ia akan tunduk dan berjalan!. Tsalabah tetap pada pendiriannya dan berkata, Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau doakan kepada Allah, lalu Dia menganugerahiku harta yang melimpah niscaya aku akan tunaikan kewajibanku untuk memberi hak kepada setiap orang yang berhak (mendapatkannya). Lalu, Rasulullah saw pun berdoa, Ya Allah anugerahilah Tsalabah harta yang melimpah. Kemudian seekor domba yang digembala oleh Tsalabah terus berkembang dan beranak pinak sampai memenuhi semua ladang kota Madinah sehingga membuatnya sibuk mengurusnya. Pada awalnya, semua aktifitas itu tidak melalaikannya dari shalat. Namun, lama kelamaan, ia pun terbuai dengan kekayaannya yang semakin bertambah. Sehingga mulai meninggalkan berjamaah shalat maghrib, isya dan subuh. Seiring dengan terus berkembangnya usaha dan kekayaannya, maka ia pun mulai meninggalkan shalat-shalat fardhu kecuali shalat Jumat. Tapi, lama kelamaan shalat Jumat pun ditinggalkannya.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

41

Kemudian Allah swt menurunkan kepada Rasul-Nya ayat Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka .. (QS At Taubah [9]: 103). Maka, diutuslah dua orang untuk menagih zakat Tsalabah, namun direspon dengan negatif sehingga kedua orang utusan Nabi itu pulang dengan tangan hampa. Rasulullah saw geram karenanya sampai turunlah ayat di atas. Lalu seseorang dari kerabat Tsalabah memberitahu Tsalabah tentang ayat tersebut, barulah Tsalabah sadar dan menyesal lalu ia bergegas menemui Rasulullah saw dan memohon beliau saw menerima zakatnya, Tapi, Nabi saw menjawab Sesungguhnya Allah telah melarangku untuk menerima zakat dan sedekahmu. Bak disambar petir, Tsalabah pun kemudian meratapi nasibnya dan melumuri kepalanya dengan debu. Sepeninggal Rasulullah saw, Tsalabah masih terus berharap kepada para Khalifah Abu Bakar ra, kemudian Umar bin Khaththab ra dan Utsman bin Affan ra untuk bisa menerima zakatnya. Namun, tak satu pundari mereka yang mau menerima zakatnya sampai ia mati di zaman khalifah Utsman ra (Lihat: Tafsir Ath Thabari VI/425-428 dan Tafsir Ibnu Katsir III/41-42). Kritikan terhadap Asbabun Nuzul Riwayat Asbabun Nuzul di atas mendapatkan kritikan keras dari para ulama hadits. Mereka berpendapat bahwa riwayat itu tidak shahih. Imam Al Qurthubi berkomentar, bahwa Tsalabah adalah veteran perang Badar dari kalangan sahabat Anshar. Ia seorang mukmin, maka riwayat tentang dia (seperti riwayat di atas) tidak shahih. Ibnu Abdul Bar mengatakan, bahwa pendapat yang mengatakan bahwa Tsalabah itu pengemplang (menolak membayar) zakat yang menjadi penyebab turunnya ayat (di atas) tidaklah benar, wallahu alam. Adh Dhahhak berkata, bahwasanya ayat tersebut turun berkaitan dengan orang-orang munafik seperti Nabtal bin Al Harits, Jadd bin Qais dan Muattib bin Qusyair (Lihat: Tafsir Al Qurthubi VIII/133). Ibnu Hajar pun meragukan bahwa ayat itu turun tentang Tsalabah bin Haathib. Sebab, jika dia Tsalabah veteran perang Badar, maka jelas tidak benar. Karena veteran perang Badar dijamin masuk surga sebagaimana sabda Nabi saw, Tidak akan masuk neraka, orang yang ikut dalam perang Badar dan (perjanjian) Hudaibiyah (Lihat: Fathul Baari VII/443). Dan Allah pun telah berfirman kepada ahli Badar, Lakukan sekehendakmu, sebab Aku benar-benar telah mengampuni kalian (Lihat: Kanzul Ummaal hadits no. 37957, 37058 dan HR Baihaqi di As Sunan Al Kubra IX/146-147). Bagaimana orang yang telah sampai pada derajat ini kemudian Allah menimbulkan kemunafikan dalam hatinya dan menurunkan ayat tentangnya?!! Maka, yang tampak, bahwa itu bukanlah Tsalabah bin Haathib, melainkan orang lain. Wallahu alam (Al Ishaabah fii Tamyiiz As Shahaabah, Ibnu Hajar, I/516-517). Bahkan, Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya Al Muhalla (XI/207-208), mengomentari riwayat tersebut sebagai riwayat yang batil. Sebab, Tsalabah adalah veteran perang Badar yang sangat populer. Lalu, pada silsilah/deretan perawinya ada Muan bin Rifaah, Al Qasim bin Abdurrahman dan Ali bin Yazid putra Abdul Malik- mereka semua adalah perawi dhaif. Al Faadhil Addab Al Hamasy menulis buku mengkritisi kisah ini dengan menghimpun banyak pendapat para ulama, dengan judul Tsalabah bin Haatib, Sahabat Al Muftaraa Alaihi (yang terdustakan) (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, dengan tahqiq Saami bin Muhammad As Salaamah, IV/185, Dar Thayyibah, Riyadh, cet. I, 1997).

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

42

Sengaja, penulis paparkan panjang lebar di sini, karena cerita ini sangat populer di masyarakat sehingga sering menjadi bumbu ceramah beberapa juru dakwah. Rasulullah saw menegaskan bahwa ingkar janji adalah salah satu karakter orang munafik dalam sabdanya, Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat. (HR Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59). Ingkar Janji Menjerumuskan Pelakunya ke Neraka Ayat di atas mengisyaratkan ancaman bagi orang yang ingkar janji. Dan lafazh Maka Allah menanamkan kemunafikan dalam hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah menunjukkan bahwa ia mati dalam keadaan munafik dan nifak di sini adalah termasuk Nifaq Itiqadi (nifak dalam bentuk aqidah/keimanan), yang karenanya pelakunya dihukumi keluar dari Islam. Dan orang munafik semacam inilah yang diancam oleh Allah dengan firman-Nya, Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka (QS An Nisaa [4]: 145). Tidak berlebihan jika ancaman bagi pelaku ingkar janji begitu amat berat. Sebab, ingkar janji adalah sifat yang dapat merusak dan memporak-porandakan seluruh rencana dan planing. Ia merupakan perilaku buruk yang bisa melunturkan kepercayaan dan kesetiaan masyarakat kepada seseorang. Sangat disayangkan, dalam kehidupan sehari-hari kita, banyak dijumpai fenomena buruk ini. Kurang disiplin dalam menepati waktu masih menjadi pemandangan yang biasa di antara kaum muslimin. Keterlambatan pun seakan-akan telah menjadi sesuatu yang lumrah. Oleh karena itu, mari kita perangi penyakit ini. Mulai dari diri sendiri, lalu anak dan isteri kemudian masyarakat di sekitar kita sehingga akhirnya membumi di negeri ini. Sebab, tentu tidak ada di antara kita yang rela anak, suami atau isteri dan keluarga besarnya menjadi bahan bakar api neraka. Wal iyaadhu billahi. Maka, agar rumah kita tidak seperti neraka, mari jauhi ingkar janji...

10. Besarnya Dosa Fitnah


"Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah" (QS Al Qalam [68]: 11).

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

43

Salah satu penyakit lisan yang berbahaya dan harus diwaspadai adalah fitnah. Dalam terminologi syar'i, fitnah disebut dengan An Namimah. Yaitu menyebar-nyebarkan berita di antara manusia untuk memburuk-burukkan seseorang dan menanamkan permusuhan, kebencian dan kedengkian. Menyebarkan isu dan gosip termasuk dalam katagori fitnah. Ia merupakan akhlak yang tercela yang membuat dua orang teman akrab menjadi bermusuhan, memporakporandakan hubungan sepasang suami isteri dan menjadikan dua orang bersaudara seperti orang asing yang tak saling kenal. Pemfitnah itu bak lalat yang menyebarkan bakteri penyakit ke mana-mana. Asbab Nuzul Ayat Ayat di atas merupakan petikan sifat orang yang memusuhi da'wah Rasulullah SAW dan para sahabatnya, yang dilarang oleh Allah SWT untuk diikuti. Lebih lengkapnya, Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang benyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak" (QS Al Qalam (68): 10-14). Para mufassir berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud dalam ayat tersebut. Ada yang berpendapat, bahwa orang tersebut adalah Al Akhnas bin Syariq Ats Tsaqafi, rekanan Bani Zahrah. Pendapat lain mengatakan, ayat di atas turun untuk Al Aswad bin Abd Yaghuts Az Zuhri. Tapi, yang masyhur, bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Al Walid bin Al Mughirah (Lihat: Tafsir Ibnu Jarir XII/184 dan 186, Tafsir Ibnu Katsir V/124-125 dan Tafsir Al Munir XXIX/50-51). Tidak terlalu penting bagi kita persisnya siapa yang dimaksud dalam ayat di atas. Yang penting, bahwa mereka bertiga, dan terutama Al Walid bin Al Mughirah, adalah orang-orang yang berada di garda terdepan dalam menyebar fitnah. Mereka memiliki track record buruk dalam berbuat makar terhadap Rasulullah SAW dan orang-orang yang beriman. Mereka selalu menghadang arus da'wah dan menghalangi semua program dan aktivitas di jalan Allah. Dan mengingat relevansi Al Qur'an untuk semua zaman dan makan (tempat), maka ancaman bagi mereka tentu juga berlaku siapa saja yang memusuhi dan memerangi da'wah dan aktivis da'wah di mana saja dan kapan saja. Ancaman bagi Penyebar Fitnah Sesungguhnya fitnah adalah perbuatan yang sangat kejam. Wal fitnatu asyaddu mina'l qatl, dan fitnah itu lebih kejam dan lebih besar bahayanya dari pembunuhan. Demikian penegasan Allah SWT dalam QS Al Baqarah (2) ayat 191. Sebab, pengaruh fitnah sangat besar dan dampaknya sangat luas. Lebih tajam lisan daripada pedang. Demikian bunyi peribahasa kita yang menggambarkan betapa dahsyatnya pengaruh lisan sehingga mengalahkan ketajaman pedang. Jika gelombang tsunami hanya memporakporandakan satu wilayah propinsi. Maka, fitnah dapat membuat gempar seluruh pelosok negeri. Bahkan, dunia pun bisa digoyang dengan fitnah, jika melihat kecanggihan tehnologi saat ini. Contoh paling akurat adalah fitnah yang dihembuskan secara sistemis dan terencana oleh pemerintah Amerika di bawah kepemimpinan George W. Bush terhadap rakyat Irak. Yaitu bahwa pemerintah Irak memiliki senjata nuklir yang

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

44

berbahaya. Milyaran dolar Amerika menguap percuma untuk mendukung fitnah ini. Jutaan barel minyak dirampas dari negeri Islam ini. Ratusan ribu penduduk muslim Irak terbunuh dan ribuan tentara Amerika dan sekutu menjadi 'tumbal' korban fitnah ini. Dunia gonjang-ganjing oleh fitnah ini. Rakyat Irak sampai detik ini masih menderita. Perang saudara pun meletus tersulut oleh fitnah ini. Barangkali inilah fitnah terbesar abad ini yang menghabiskan biaya termahal dan menelan korban terbanyak. Karena itu, pantaslah jika penyebar fitnah diancam dengan berbagai macam ancaman, di antaranya: 1. Diberi gelar "Manusia Terburuk" Karena sering memburuk-burukkan orang lain, maka penyebar fitnah diberi gelar oleh Rasulullah SAW dengan seburuk-buruk manusia. Beliau bersabda, "Inginkah kalian aku beritahukan manusia terburuk di antara kalian? Para sahabat menjawab: Ya. Beliaua SAW bersabda, "Yaitu orang-orang yang kesana dan kemari menyebar fitnah, yang memecahbelah di antara orang yang saling mencintai dan meniupkan aib kepada orang yang tidak berdosa/bersalah" (HR Ahmad VI/459). 2. Disiksa di alam kubur Suatu ketika Rasulullah SAW melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda, "Sesungguhnya keduanya saat ini sedang disiksa. Dan keduanya tidak disiksa karena melakukan dosa besar. Adapun salah seorang dari keduanya, dulunya berjalan (kesana kemari) menghambur fitnah. Sedangkan yang satunya tidak bersih selesai kencing" (HR Bukhari I/317 dan Muslim III/200). Bagi kebanyakan orang, kedua perbuatan tersebut dianggap kecil dan sepele. Tapi, ternyata dapat membuat pelakunya sengsara di alam kubur. 3. Tidak akan masuk surga Sungguh merana dan sengsara sekali orang yang suka menyebar fitnah, gosip dan isu. Sebab, ia akan diharamkan menikmati berbagai macam kenikmatan abadi di surga. Nabi SAW bersabda, "Tidak akan masuk surga Nammaam (orang yang suka menyebar fitnah)" (HR Bukhari X/472 dan Muslim II/113). Kiat Menepis Fitnah Ada beberapa motivasi dan mendorong orang menyebar fitnah. Di antaranya, ia menginginkan keburukan bagi obyek berita/informasinya. Atau ingin memperlihatkan senang/suka kepada orang yang ia beri informasi. Atau sekedar iseng dan sengaja berbuat batil dengan fitnah itu. Maka, ketika kita mendengar atau menerima suatu berita yang menfitnah, kita wajib menepisnya dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Jangan percaya dengan penyebar fitnah, sebab ia adalah fasik sebagaimana firman Allah SWT, "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui.." (QS Al Hujuraat (49): 6). 2. Nasehatilah dia dan sampaikan kepadanya bahwa perbuatannya itu jahat dan kejam. 3. Bencilah ia karena Allah karena ia dibenci di sisi Allah. 4. Jangan cepat berburuk sangka terhadap saudara kita atau orang yang menjadi obyek fitnah karena ini pertanda iman. Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyak dari

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

45

prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.." (QS Al Hujuraat (49): 12). 5. Jangan sampai apa yang diceritakan kepada kita membawa kita untuk tajassus (mencari-cari kesalahan) orang lain, karena Allah melarang hal ini, "Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain" (QS Al Hujuraat (49): 12). 6. Jangan ridha larangan kita pada pelaku fitnah itu terjadi pada kita. Maka, jangan sampai kita menceritakan fitnah itu kepada orang lain sehingga kita pun akhirnya terjebak pada dosa yang sama. 7. Hendaknya kita selalu memikirkan setiap dampak dari ucapan kita sehingga tidak mengatakan kecuali yang baik. Dari sini kita bisa membenarkan ungkapan bahwa diam itu emas. Sebab, Nabi SAW juga telah menegaskan hal ini dalam sabdanya, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia mengatakan yang baik atau hendaknya ia diam" (HR Bukhari X/445 dan Muslim II/18). Keluarga Penyebar Fitnah Ayat di atas, sesungguhnya juga memberikan pemahaman kepada kita agar mewaspadai, jangan sampai ada anggota keluarga kita yang hobinya menyebar fitnah. Sebab, Al Qur'an ternyata telah memaparkan kepada kita prototipe keluarga penyebar fitnah, seperti yang terjadi pada isteri nabi Nuh AS dan nabi Luth AS. Juga yang secara lebih spesifik disebut oleh Al Qur'an yaitu isteri Abu Lahab. Kesemuanya dibalas oleh Allah dengan neraka. Perhatikan firman Allah, "Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar" (QS Al Lahab (111): 4). Dalam bahasa Arab, "Pembawa kayu bakar" adalah majaz (kiasan) bagi penyebar fitnah. Isteri Abu Lahab dijuluki seperti itu, karena ia selalu menyebarkan fitnah kesana kemari untuk menjelek-jelekkan Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Karenanya, mari kita bina dan kondisikan keluarga kita menjadi orangorang yang pandai mensyukuri nikmat Allah dan selalu membersihkan hati sehingga terhindar dari sifat-sifat tercela, seperti fitnah.

11. Mewaspadai Sifat Tergesa-gesa


"Dan manusia berdo'a untuk kejahatan sebagaimana ia berdo'a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa" (QS Al Israa' [17]: 11).
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

46

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat yang banyak menawarkan penyelesaian urusan dan tugas dalam waktu yang singkat dan cepat, maka fenomena tergesa-gesa dalam terminologi syar'i disebut Isti'jaal-menyerang banyak kehidupan umat manusia. Tidak terkecuali dalam kehidupan rumah tangga. Maka, kita dapatkan seorang suami yang tergesa-gesa menjatuhkan talak atau cerai kepada isterinya atau sebaliknya seorang isteri yang tergesa-gesa menggugat minta dicerai oleh suaminya. Keduanya dilakukan tergesa-gesa tanpa pertimbangan yang matang. Atau seorang isteri yang tidak sabar dengan ujian hidup seperti kemiskinan atau pendapatan suami yang pas-pasan, dan karena tergesa-gesa ingin bergelimang dengan banyak harta maka memprovokasi suaminya untuk mengambil jalan pintas dengan cara menipu, mencuri, merampok atau korupsi. Ada juga keluarga yang tergesa-gesa dalam menghambur-hamburkan waktu, potensi dan hartanya tanpa pernah memikirkan masa keshalihan dan masa depan anak cucunya sehingga hidupnya tidak sepi dari foya-foya dan memperturutkan hawa nafsu. Kita juga menemukan keluarga yang tergesa-gesa dan tidak sabar dalam membangun keluarga SAMARA (Sakinah Mawaddah wa Rahmah), tanpa planning (perencanaan) yang matang dan tidak memiliki skala prioritas. Ia mengira hal itu dapat diwujudkan dengan 'bim salabim' dan seperti membalik sebelah tangan. Sehingga bukan keluarga Samara yang terwujud, namun keluarga 'Amarah' yang suami dan isteri saling beradu dan meluapkan amarahnya, maka rumah pun menjadi bak ring tinju. Antara Petunjuk Al Qur'an dan Hawa Nafsu Insan Ayat di atas diawali dengan ayat yang menjelaskan bahwa Al Qur'an memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus (Lihat QS Al Israa' [17]: 10) yang memberikan pemahaman kepada kita bahwa manusia yang berpegang teguh kepada Hadyu'l Qur'an (petunjuk Al Qur'an), maka hidupnya akan selalu lurus, keluarganya lurus dan semua urusannya pun mulus. Sementara manusia yang jauh dari petunjuk Al Qur'an, maka akan menjadi hamba hawa nafsunya sehingga mudah emosi, tidak terkendali dan frustasi yang melahirkan sifat tergesa-gesa dan membuat dirinnya berada dalam bahaya. Dengan demikian jelas sekali perbedaan antara Hadyu'l Qur'an (petunjuk Al Qur'an) dan Hawa'l Insaan (hawa nafsu insan). Berarti, jelas sekali jurang pemisah anatara keluarga yang dibangun dengan petunjuk Al Qur'an dan keluarga yang dibangun dengan hawa nafsu. Dalam kajian tafsir Imam Ibnu Katsir rahimahullah (Lihat Tafsir Ibnu Katsir III/257), bahwa dalam ayat ini Allah Ta'ala memberitahukan ketergesagesaan manusia dalam mendo'akan keburukan (seperti kematian atau kehancuran) atas dirinya, anaknya atau hartanya dan lain-lain. Sifat tergesa-gesanya itu timbul dari kegelisahan, rasa putus asa dan frustasi menghadapi peroblematika kehidupan. Padahal ini sangat berbahaya, sebab kalau seandainya Allah mengabulkan do'anya niscaya ia akan celaka dan binasa. Sebagaimana firman Allah, "Dan sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia sepeti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah dikahiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimang di dalam kesesatan mereka" (QS Yunus [10]: 11).

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

47

Rasulullah SAW juga pernah melarang seseorang dalam situasi dan kondisi sesulit apa pun mendo'akan keburukan atas dirinya dan hartanya dalam sabdanya seperti dikutip oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (III/257)-, "Janganlah kamu mendo'akan keburukan atas dirimu dan hartamu, khawatir hal itu berbarengan dengan waktu mustajab sehingga Allah mengabulkan (do'amu) pada saat itu". Sebab-sebab Isti'jaal (Tergesa-gesa) 1. Dorongan Jiwa Menghilangkan sifat tergesa-gesa ini dari diri manusia adalah mustahil. Sebab, ia merupakan sifat melekat dan tabi'at yang tertanam dalam naluri dan fitrah manusia sebagaimana firman Allah, "Manusia telah diciptakan (bertabiat) tergesa-gesa" (QS Al Anbiyaa' [21]: 37). Maka, munculnya sifat tergesa-tergesa bisa jadi disebabkan oleh faktor ini. Karenanya, manusia harus mampu memanage dan mengelolanya dengan baik sehingga sifat ini dapat tersalurkan secara profesional dan proporsional. Hal ini hanya bisa terjadi jika mengikuti petunjuk Ilahi. Sebab, Allah SWT pun telah menganugerahkan pada manusia potensi untuk mengelola hal itu. 2. Gangguan Syetan Syetan memiliki saham yang tidak kecil dalam menyeret manusia kepada sifat negatif ini. Sebab, salah satu tugas syetan adalah mengganggu manusia agar tergesa-gesa dalam keburukan dan maksiat kepada Allah. Karenanya dikatakan dalam atsar, "Sesungguhnya tergesa-gesa itu dari syetan". 3. Kurangnya Iman dan Pemahaman Agama Minimnya iman dan kurangnya pemahaman agama dapat menyebabkan seseorang selalu tergesa-gesa dalam berbagai aspek kehidupannya. Sebab, jika pemahaman agama dan keimanan seseorang kuat dan berkualitas tentu menjadikan seseorang cerdas dan selalu membuat pertimbangan yang matang dalam setiap ucapan dan langkahnya sehingga tidak tergesa-gesa dalam bertindak. 4. Miliu yang Rusak Manusia adalah anak lingkungannya, demikian bunyi pepatah Arab yang mengingatkan betapa pentingnya peran miliu atau lingkungan dalam membentuk karakter dan kepribadian seseorang. Termasuk miliu di sini adalah teman, keluarga, daerah tempat tinggal dan tempat kerja kita dll. Karenanya Rasulullah SAW menegaskan dalam sabdanya, "Seseorang itu tergantung (kualitas) agama teman akrabnya. Maka, hendaknya engkau memperhatikan siapa teman akrabnya" HR Abu Dawud. 5. Lalai terhadap Sunnatullah tentang Alam Semesta dan Diri Manusia Allah SWT menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Menciptakan manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan secara bertahap. Padahal Ia SWT Maha Mampu untuk mencipatakan semua itu sekaligus dan dalam waktu sekejap, dengan sebuah kata "Kun (Jadilah)" seperti dalam firman-Nya, "Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!" maka terjadilah ia" (QS Yaasiin [36]: 82).

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

48

Terapi Sifat Tergesa-gesa Setiap penyakit pasti ada obatnya. Demikian pula halnya dengan penyakit tergesa-gesa ini. Maka, kita dapat menerapi penyakit ini dengan langkah-langkah berikut: 1. Banyak merenung dan memikirkan dampak negatif dari sifat ini sehingga membuat hati kita tenang dan selalu mempertimbangkan secara matang dalam berucap dan berbuat. 2. Berinteraksi lebih intensif dengan Al Qur'an, khususnya ayat-ayat yang menjelaskan sunnatullah tentang alam semesta dan diri manusia serta bagaimana Allah tidak tegesa-gesa mengadzab para pelaku maksiat dan pendusta. 3. Bersungguh-sungguh dalam Mujahadatu'n Nafs (memaintenance diri) dan melatihnya untuk lebih berhati-berhati dalam berucap dan bertindak serta membiasakan diri dengan merancang planning yang matang dalam setiap urusannya. 4. Banyak membaca sirah nabawiyah dan kisah-kisah orang sukses dalam memerangi sifat negatif ini. 5. Berteman dengan teman-teman yang shalih. 6. Berdo'a kepada Allah agar dilindungi dari sifat tercela ini. Semoga kita sekeluarga terhindar dari sifat negatif ini sehingga dimudahkan Allah untuk membangun keluarga SAMARA. Amin.

12. Bahaya Israf (Berlebih-lebihan)

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

49


"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan" (QS Al A'raaf [7]: 31).

Salah satu hal negatif yang harus dijauhi oleh seorang muslim dan keluarga muslim adalah israf (berlebih-lebihan) dalam urusan sandang, pangan dan papan. Di tengah krisis ekonomi yang melanda negeri ini tidah terlalu sulit menemukan orang memiliki banyak rumah bak istana dan 'segudang' mobil yang bertender di garasi. Bahkan, ada mobil mereka yang satunya bernilai miliaran rupiah. Di negeri yang kaya sumber daya alam (SDA) ini yang menurut Price Waterhouse Coopers sebagai penghasil bahan tambang terbesar: timah: No. 1 di dunia, batu bara: No. 3 di dunia, tembaga: No. 4 di dunia, nikel: No. 5 di dunia, emas: No. 7 di dunia, penghasil 80% minyak di Asia Tenggara dan penghasil 35% gas alam cair di dunia. Ternyata tingkat kemiskinannya masih sangat tinggi. Masih banyak rakyatnya yang kelaparan, bahkan di beberapa daerah ada yang terjangkit penyakit busung lapar. Sementara di sisi yang lain, tidak sedikit orang yang menghabiskan uang jutaan rupiah untuk memenuhi syahwat makannya dalam waktu semalam, bahkan mungkin sekejap. Semua ini bisa terjadi di antaranya karena terjangkit penyakit israf. Untuk itulah Al Qur'an hadir ke dunia menjadi solusi bagi kesenjangan sosial, diantaranya dengan menawarkan hidup sederhana dan tidak israf seperti yang terkandung dalam ayat di atas. Asbabu'n Nuzul (Sebab Turunnya) Ayat Ayat ini turun sebagaimana riwayat Imam Muslim dan lainnya, dilatarbelakangi oleh kebiasaan orang-orang musyrik Mekkah, baik laki-laki maupun perempuan yang thawaf mengelilingi Ka'bah dalam keadaan telanjang. Hanya dibagi waktunya menjadi dua; kaum laki-laki di siang hari dan kaum perempuan di malam hari, lalu Allah swt menurunkan ayat tersebut yang memerintahkan untuk memakai pakaian yang indah di setiap memasuki mesjid (Tafsir Ibnu Katsir II/328). Kemudian muadzdzin (tukang adzan) Rasulullah mengumumkan agar masyarakat tidak lagi thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang. Al Kalbi bercerita, dahulu masyarakat Jahiliyah tidak mau memakan makanan kecuali makanan pokoknya, dan tidak mau memakan dasm (jenis makanan) selama menunaikan haji karena ingin mengagungkan ibadah ini. Maka,kaum muslimin berkomentar, Ya Rasulullah kita lebih berhak melakukan itu (meningalkan makan dasm), lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat tersebut yang memerintahkan untuk makan, baik daging, dasm dan lainnya serta minum minuman yang halal (Tafsir Al Munir, Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili, VIII/182). Al Qur'an adalah Pedoman Hidup

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

50

Tidak ada satu pun sisi dari sisi-sisi kehidupan kecuali telah dijelaskan oleh Islam atau Al Qur'an dan diterangkan hukum-hukumnya. Al Qur'an tidak hanya meletakkan undang-undang dan aturan tentang hubungan sosial semata, melainkan mencakup seluruh aspek kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa Al Qur'an adalah aturan kehidupan (syari'atul hayah). Salah satu aturan itu adalah kewajiban berpakaian dengan pakaian yang indah, rapi dan menutup aurat khususnya dalam beribadah shalat dan thawaf. Sebab, menutup aurat termasuk wajib dalam shalat dan thawaf dan ini merupakan bentuk peradaban yang agung. Aturan lain, diperbolehkan makan dan minum selama tidak berlebih-lebihan. Dengan demikian ayat ini memberikan pemahaman kepada kita tentang Wasathiyyatu'l Islam (Moderasi Islam). Bahaya Israf (Berlebih-lebihan) Ayat di atas melarang keras perbuatan israf (berlebih-lebihan) dalam segala hal, khususnya dalam urusan sandang, pangan dan papan. Larangan ini juga telah dipertegas oleh Rasulullah saw dalam sabdanya, "Makanlah, minumlah dan pakailah (pakaian) dan bersedekahlah (belanjakan hartamu) tanpa sombong dan berlebih-lebihan. Sebab, sesungguhnya Allah senang jika nikmat-Nya terlihat membekas pada hamba-Nya" HR Ahmad. Dalam terminologi syar'i, israf adalah melebihi batas dalam segala hal. Ada yang mendefinisikan israf dengan "membelanjakan harta bukan untuk menta'ati Allah atau tabzhir dan melebihi batas" (Al Qamus Al Muhith III/156 dan Al Mu'jam Al Wasith I/427). Nabi saw sendiri telah menggariskan makna israf dalam hal pangan dalam sabdanya, "Sesungguhnya termasuk israf jika engkau makan apa saja yang engkau inginkan" HR Ad Daaruquthni. Agar kita tidak terjerumus ke dalam israf, maka berdasarkan hadits tersebut kita harus bisa membedakan antara WANT (keinginan) dan NEED (kebutuhan). Tidak semua yang kita inginkan harus diperturutkan dan diwujudkan. Semua keinginan kita harus disesuaikan dengan kebutuhan. Jika kita tidak membutuhkannya, maka kita harus dapat mengerem dan mengendalikan keinginan itu. Bahaya israf dalam ayat di atas tampak dengan jelas ketika Al Qur'an mengatakan, "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihlebihan". Jika seseorang tidak dicintai oleh sesama manusia meski tidak diharapkan-itu masihlah ringan. Namun, jika tidak dicintai alias dibenci oleh Allah swt tentu akan membawa kerugian dan kesengsaraan di dunia dan akhirat. Karena, hal ini berarti akan dijauhkan dari rahmat, taufiq dan ma'unah (pertolongan) Allah. Dan adakah orang yang lebih sengsara daripada orang yang dibenci oleh Allah?! Sebab-sebab Israf Agar kita sekeluarga terhindar dari israf, maka kita harus mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjangkitnya 'virus' israf pada diri seseorang. Di antaranya: 1. Keluarga Ketika seseorang tumbuh dewasa di tengah-tengah keluarga yang memiliki gaya hidup israf, maka ia akan menjadi musrif (pelaku israf) kecuali orang yang mendapat rahmat Allah. Jadi, orang tua dan keluarga sangat besar perannya dalam mempengaruhi gaya hidup seorang anak. 2. Kelapangan rizki setelah ditimpa kesulitan ekonomi

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

51

Tidak sedikit orang bisa sabar dan istiqomah dengan kemiskinan dan kesulitan ekonomi. Namun, tidak bisa sabar dan istiqomah ketika dirubah nasibnya oleh Allah, dengan kemudahan dan kelapangan rizki, maka terkadang membuatnya lalai sehingga berlaku israf. Nabi saw bersabda, "Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Melainkan yang aku takutkan atas kalian adalah ketika dilapangkan atas kalian dunia seperti pernah dilapangkan atas kaum sebelum kalian. Lalu kalian berlomba-lomba dalam urusan dunia itu seperti mereka dulu juga berlomba-lomba untuk itu, dan dunia itu pun akahirnya membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka" (HR Bukhari VIII/112 dan Muslim IV/2273-2274 no.2961). 3. Berteman dengan orang-orang yang biasa israf Seseorang tergantung kepada teman akrabnya, demikian Nabi SAW mengingatkan betapa pentingnya pengaruh teman. Maka, ketika setiap hari seseorang hidup dan berinteraksi dengan orang-orang yang biasa israf, maka cepat atau lambat pasti akan mengikuti pola hidup mereka. 4. Lalai terhadap kedahsyatan keadaan hari kiamat Mengingat kedahsyatan hari kiamat dapat membuat seseorang hati-hati untuk tidak mudah memhambur-hamburkan hartanya. Karena, ia sadar, bahwa semua perbuatannya akan dipertanggungjawabkan pada hari kiamat. 5. Lupa terhadap realitas kehidupan manusia umumnya dan kaum muslimin khususnya yang tingkat kemiskinannya masih sangat tinggi. Terapi Israf Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Demikian pula dengan israf. Penyakit ini tentu masih bisa diterapi dan disembuhkan. Di antaranya: 1Merenungkan dampak negatif dari israf sehingga membuatnya semangat untuk menghindarinya. 2Berjanji pada diri sendiri dan menancapkan tekad membara untuk melawan israf dengan memproduksi berbagai amal shalih seperti qiyamullail, puasa sunnah, sedekah dan lain-lain. 3Merenungkan secara mendalam sabda-sabda Nabi yang mengancam pelaku israf dan membaca dengan seksama sejarah hidup salafus shalih dan kesederhanaan mereka. 4Mengikuti perkembangan dan memberi perhatian besar kepada realitas manusia pada umumnya dan kaum muslimin khususnya. 5Selalu memikirkan kematian dan peristiwa-peristiwa pasca kematian sehingga membantunya menjauhkan diri dari fenomenafenomena israf. 6Memohon perlindungan kepada Allah swt dari penyakit israf. Semoga kita sekeluarga terhindar dari 'virus' israf. Amin ...

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

52

13. Ketika Cinta Berbalas Durhaka

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

53


.. Dan pergaulilah isteri-isteri dengan baik (patut). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (QS An Nisaa [4]: 19). Dalam sebuah forum konsultasi keluarga, seorang isteri mengadukan tentang perlakuan kasar suaminya kepada Ketua Majlis Ulama Besar Arab Saudi, waktu itu masih dijabat oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah-, Suami saya semoga Allah mengampuninya- meskipun ia seorang yang konsisten denga akhlak mulia dan takut kepada Allah, namun ia tidak pernah memberi perhatian kepadaku sama sekali di rumah, Dia selalu murung dan cemberut terus padahal Allah Maha Mengetahui bahwa saya sudah menunaikan semua kewajibanku sebagai isteri dan memberikannya ketenangan. Tapi, saya tetap sabar dengan perlakuan-perlakuannya terhadapku. Setiap kali saya tanya sesuatu kepadanya, dia langsung marah dan emosi, dan berkomentar, bahwa itu ucapan sepele dan idak berguna. Untuk diketahui, dia selalu bahagia dan ceria jika berkumpul dengan teman-temannya. Sementara saya tidak mendapatkan darinya kecuali cacian dan perlakuan kasar. Sungguh dia telah sering menyakitiku dan menganiayaku sehingga membuatku berkali-kali ingin kabur dari rumah .. (Fataawa Al Marah, Muhammad Al Musnid, h. 115, cet. I, Riyadh, 1414 H). Perlakuan kasar dan kejam terhadap isteri ternyata tidak monopoli terjadi pada masa Jahiliyah saja sebagaimana disinggung oleh bagian awal dari ayat di atas. Melainkan juga terjadi di zaman modern dewasa ini seperti contoh di atas. Rumah dengan situasi dan kondisi semacam itu tak berlebihan jika dianggap bagai neraka. Di Indonesia sendiri, jumlah kasus KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga) terbilang tidak sedikit. Bahkan ada celetukan, setelah disahkan UU tentang KDRT, justru kasus KDRT semakin meningkat dan banyak terungkap oleh publik. Tentu, analisis ini masih perlu diuji dengan data dan fakta. Perlakuan yang Baik terhadap Pasangan Ayat di atas mempersembahkan satu kiat agar rumah kita tidak seperti neraka, yaitu memperlakukan pasangan dengan baik. Allah swt berfirman, .. Dan pergaulilah isteri-isteri dengan baik (patut). Menurut Ibnu Katsir, bahwa maksud ayat tersebut adalah Perbaguslah ucapanmu (wahai para suami) terhadap mereka. Perbaikilah perbuatanmu dan perindahlah tampilanmu sesuai kemampuanmu sebagaimana engkau menginginkan hal itu dari isterimu. Maka, lakukanlah terhadap isterimu seperti yang ingin ia lakukan terhadapmu (Tafsir Ibnu Katsir, II/22). Sebagaimana firman Allah Taala, .. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf (benar dan patut) (Al Baqarah [2]: 28). Dengan demikian perlakuan maruf dalam ayat di atas maknanya sangat integral dan universal. Termasuk di dalamnya berusaha untuk berpenampilan baik dan menarik. Nabi saw pernah memberi kiat agar suami menjadi dambaan bagi isterinya, Cucilah wahai para lelaki pakaianmu, pakailah minyak rambut,

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

54

bersikat gigilah, mandilah dan bersucilah; karena kaum Bani Israel tidak melakukan hal itu kepada isteri-isteri mereka (HR Thabrani). Ibnu Abbas ra berkata, Aku biasa berhias untuk isteriku sebagaimana ia suka berhias untuk diriku. Dalam perpektif Nabi saw, manusia terbaik di dunia, bukanlah manusia yang paling kaya atau paling tinggi jabatannya atau paling tinggi gelarnya atau paling keren tampilannya atau variabel-variabel dunia lainnya. Melainkan, manusia yang paling baik dalam memperlakukan pasangannya, memberikan banyak perhatian terhadap keluarganya. Beliau saw bersabda, Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap isterinya (HR Tirmidzi, no. 3830 dan Ibnu Majah, no. 1967. Menurut Tirmidzi, hadits tersebut hasan gharib shahih). Karenanya, termasuk akhlak Rasulullah saw, bahwa beliau adalah orang yang selalu baik dalam bergaul, selalu ceria, mesra dengan isterinya, lemah lembut terhadap mereka, memberi mereka nafkah yang cukup untuk kebutuhan mereka (Lihat: QS Ath Thalaq [65]: 7) , bersenda gurau dan bercanda dengan isterinya. Misalnya, beliau saw pernah berlomba lari dengan isterinya, Aisyah ra dan lainlain. Faktor ini tidak bisa dipungkiri selain pertolongan Allah- juga memiliki andil besar dalam menghantarkan keberhasilan Rasulullah saw dalam berdakwah dan membangun peradaban umat manusia serta mengeluarkan mereka dari beragam kezhaliman dan kegelapan di semua aspek kehidupan. Perlakuan yang baik terhadap keluarga membuat keluarga menjadi kreatif, energik dan produktif. Maka, menteladani Nabi saw dalam hal ini untuk keharmonisan rumah tangga kita agar menjadi rumah tangga SAMARA merupakan keniscayaan dan keharusan, karena ini perintah Allah, sebagaimana firmanNya, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (QS Al Ahzaab [33]: 21). Dan Rasulullah saw juga pernah berwasiat, untuk memperlakukan dengan baik dan memwanita/isteri dan sesiat kebaikan terhadap kaum wanita (HR Muslim, no. 2671). Ketika Cinta Berbalas Durhaka Termasuk memperlakukan pasangan dengan maruf (baik dan patut) adalah setia dan tidak mengkhianatinya dalam suka dan duka. Tidak sedikit rumah tangga yang lulus ujian ketika diuji oleh Allah swt dengan kemiskinan dan kesempitan. Taburan cinta dan belaian kasih sayang dari kedua pasangan; suami dan isteri menjadi pemandangan sehari-hari di kala masih dalam kondisi masakin (miskin dan masih dimasakin orang tua). Sehingga janji seia sekata dan sehidup semati telah menjadi komitmen berdua seakan tak akan pernah lekang dimakan zaman. Namun, ketika Allah mengujinya dengan kekayaan dan kemudahan, tidak sedikit yang berguguran dan tidak lulus ujian illa man rahimallah (kecuali orang yang dirahmati oleh Allah). Ketika dunia dibuka dan dibentangkan oleh Allah di hadapan seseorang. Harta melimpah, rumah luas, mobil mewah, jabatan public bergengsi dan sejenisnya terkadang mudah membuat sebagian suami atau isteri lalai sehingga menggerus sedikit demi sedikit cinta terhadap pasangannya. Bahkan, ada juga yang secara cepat mematikan api cinta sehingga melupakan pasangannya. WIL (Wanita Idaman Lain) atau PIL (Pria Idaman Lain) menjadi pelariannya dan puncaknya kehancuran biduk rumah tangga, yaitu cerai. Maka, cinta tulus itu pun telah dibalas dengan durhaka yang memicu prahara rumah tangga. Tentu, semua itu bisa terjadi ketika rumah tangga jauh dari iman dan lupa

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

55

terhadap tujuan rumah tangga yang hakiki, membangun istana takwa sebagaimana firman Allah swt, Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah.. (QS An Nisaa [4]: 1). Begitu pentingnya rumah tangga, sampaisampai dalam ayat ini, diapit oleh dua kali perintah takwa. Menerima Kelebihan dan Kekurangan Pasangan Bagian akhir ayat di atas, Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak memberikan pemahaman kepada kita bahwa termasuk perlakukan yang baik adalah menghargai kelebihan pasangan dan memaklumi kekurangannya. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah swt semata. Maka, mengharapkan kesempurnaan isteri atau suami kita adalah sama saja mengharapkan kemustahilan. Karenanya, seorang yang beriman dituntut untuk mampu memenej (mengelola) kelebihan dan kekurangan pasangannya menjadi sebuah kekuatan yang dapat memancarkan cahaya sakinah, mawaddah wa rahmah dalam kehidupan bahtera rumah tangganya. Karena itu, Sayyidina Umar bin Khaththab ra, seperti dikutip oleh Sayyid Quthb, pernah marah besar kepada seorang suami yang ingin menceraikan isterinya lantaran sudah tidak mencintainya dengan mengatakan, Celaka kamu ini! Bukankah rumah tanggamu selama ini dibangun di atas pondasi cinta? Lalu, mana usaha kerasmu untuk memelihara cinta itu? (Tafsir Fii Zhilal Al Quran, I/600). Untuk itu, perlakuan yang maruf, memahami dan menghargai kewajiban dan hak masing-masing, taawun (tolong-menolong) dalam kebajikan dan takwa, komunikasi efektif dalam rumah tangga dan selalu mengiringi dengan doa adalah merupakan kunci-kunci kebahagiaan rumah tangga sehingga menjadikan rumah kita tidak seperti neraka. Jika cinta kasih sudah diberikan dan perlakuan maruf (baik dan patut) sudah ditegakkan, namun dibalas dengan durhaka dan ketidakpatuhan, maka neraka lah balasan dan tempatnya kelak. Ancaman ini disampaikan Rasulullah saw dalam haditsnya, Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang berbuat kufur Beliau lalu ditanya, Apakah maksudnya mereka kufur kepada Allah? Beliau menjawab, (Maksudnya) kaum wanita itu mengkufuri suami (tidak mentaatinya dan durhaka kepadanya) dan mengkufuri kebaikan (perlakuan suami). Jika kamu telah berbuat baik kepada seorang di antara mereka sepanjang waktu, kemudian dia melihat sesuatu darimu, dia berkomnetar, Aku tidak melihat darimu ada kebaikan sedikit pun (HR Bukhari no. 28). Semoga Allah swt tidak menjadikan rumah kita seperti neraka (panas, kering, tidak ada ketenangan dan cinta kasih) dan menjauhkan kita semua dari neraka akhirat. Amin ..

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

56

14. Parsial Membawa Sial

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

57


"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (maksudnya: tidak dengan penuh keyakinan); maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (maksudnya: kembali kafir lagi). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata" (QS Al Hajj [22]: 11).

Sebagian orang atau keluarga, ada yang selalu berpikir pragmatis dan opurtunis. Merela memandang kebajikan, dakwah atau amal saleh lainnya dengan 'kaca mata' untung rugi. Memperlakukan dan menyamakan agama seperti sebuah transaksi bisnis. Jika ada ajaran agama yang menguntungkan secara duniawi, maka ia semangat melaksanakannya. Namun, jika logika matematikanya mengatakan rugi secara materi, maka ditinggalkan ajaran itu tanpa beban dan tanpa merasa dosa. Berusaha keras untuk selalu hadir dalam acara-acara keagamaan selama memberikan keuntungan secara materi kepada dirinya. Sebaliknya, jika membawa kepada kerugian duniawi, maka ia pun tidak mau mengikuti dan enggan menghadirinya. Rajin shalat dan hadir ke mesjid ketika tanggal tua, begitu tanggal muda melalaikan shalat dan segan menyapa mesjid. Ada juga yang hanya mau aktif berdakwah ketika dakwah mendatangkan keuntungan materi, namun jika merugikan 'no way' katanya. Fenomena semacam ini ternyata pernah terjadi pada masa turunnya wahyu ilahi, seperti disinggung oleh ayat di atas. Akidah adalah Pondasi dan Anugerah Ilahi Akidah dalam kehidupan seorang mukmin haruslah menjadi pondasi kokoh yang selalu membuat solid dan tegar. Ketika dunia gonjang-ganjing, terpaan ujian kehidupan sangat kencang dan gelombang badai 'tsunami' keras menghantamnya, ia tetap berdiri tegak dan kokoh di atas pondasi itu. Dalam kajian Sayyid Quthb (lihat: Fi Zhilal Al Qur'an IV/2412), begitulah (seharusnya) nilai dan harga akidah dalam kehdupan orang beriman. Karenanya, ia harus selalu lurus di atas akidah tersebut, tsiqah (percaya/yakin) dengannya dan tidak mengharapkan balasan atasnya. Sebab, akidah itu sendiri adalah balasan (dan anugerah dari Allah) .. Ya, dia sendiri merupakan balasan yang membuka hati
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

58

menerima nur (cahaya) dan meminta hidayah (petunjuk). Lalu Allah menganugerahinya akidah, tempat bersandar seorang mukmin sehingga meraih ketenangan jiwa dengannya. Ya, akidah itu sendiri adalah balasan yang menyebabkan seorang mukmin dapat menemukan nilainya ketika melihat begitu banyak manusia yang terseret ombak kehidupan, tidak tahan dengan beragam ujian dan didominasi dengan kegalauan pikiran yang memicu frustasi, bahkan tidak sedikit yang kemudian bunuh diri.. Di tengah situasi dan kondisi yang memprihatinkan seperti itu, seorang mukmin, dengan akidahnya, tampil dengan tenang, tidak kalut, tegar dan selalu berhubungan dengan Allah, ia tenang dengan hubungan itu. Sebab, akidahnya mengajarkan, bahwa hidup adalah ujian. Dan ujian itu berupa kebaikan dan keburukan sebagaimana firman Allah, "Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) .." (QS Al Anbiyaa' [21]: 35). Nabi SAW pun pernah menegaskan,


Sungguh amat menakjubkan urusan orang yang beriman, karena semua urusannya adalah kebaikan semata, dan tak seorang pun yang memiliki hal itu selain orang beriman. Apabila ia memperoleh kegembiraan (nikmat), lalu ia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa keburukan/bencana, lalu ia bersabar, maka itupun kebaikan baginya (HR Muslim, no. 5138). Maka, pantaskah untuk menegakkan akidah dan ibadah, kita masih pragmatis dan opurtunis? Apa pantas kita menimbang akidah dengan neraca untung dan rugi secara materi? Pantaskah kita menyamakan akidah seperti transaksi jual beli? Jawabannya adalah tidak ada yang tidak pantas bagi orang yang akidahnya bermasalah seperti orang munafik. Namun, tidak bagi orang mukmin. Bagi orang munafik semua itu pantas saja. Karenanya, yang dimaksud dalam ayat di atas, menurut Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rahimahullah-; "Adalah orang munafik; ketika dunianya lagi baik (nan melimpah), ia rajin beribadah. Tetapi, jika dunianya lagi sempit (kekurangan harta dll), ia berubah (menjadi malas). Maka, ia tidak beribadah kecuali jika mendatangkan kemaslahan bagi dunianya. Dan jika ditimpa suatu bencana atau fitnah, ia meninggalkan agamanya dan kembali kepada kekufuran" (Tafsir Ibnu Katsir III/422). Beribadah Secara Parsial Membawa Sial Dalam kajian Imam Ibnu Katsir, penggunaan lafazh "harf" dalam ayat di atas, berarti tepi gunung. Maksudnya ia masuk ke dalam agama (Islam) dengan berada di tepi, tidak dengan penuh keyakinan. Jika menemukan ada sesuatu (ajaran) yang menyenangkan, maka ia tetap berada di sana. Namun, jika ada yang tidak menyenangkan maka ia pun hengkang darinya (berbalik kepada kekufuran)" (Tafsir Ibnu Katsir III/422).
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

59

Allah swt menyamakan keadaan orang-orang munafik seperti orang yang berdiri di tepi gunung tanpa berpijak kepada pegangan yang kokoh; gamang, tidak solid dan berpotensi jatuh ke jurang. Atau seperti orang yang berdiri di tepi barisan tentara; jika menang ia tetap berada di sana, namun jika kalah maka ia sudah siap untuk lari. Begitulah keadaan orang yang ragu, lemah dan parsial dalam beribadah (Lihat: At Tafsir Al Munir, Az Zuhaili, XVII/166). Tidak terlalu sulit menemukan orang yang selalu 'cari aman' sendiri dalam beragama dewasa ini. Agama dipermainkan dan diposisikan tak lebih seperti komoditas yang bisa dieksploitasi seenaknya untuk menghasilkan keuntungan materi. Ajaran agama dipilah-pilah semaunya; mana yang sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingannya dijalankan. Namun, jika ada ajaran agama yang bertbarakan dengan kepentingan duniawinya dicampakkan, Agama disekat-sekat semaunya sehingga muncullah kesan seakan agama hanya mengurusi ibadah mahdhah semata. Untuk urusan shalat, zakat, puasa dan haji mengambil dari tuntunan agama. Sementara untuk urusan ekonomi, sosial, politik, pendidikan (termasuk pendidikan anak dan keluarga) tidak pernah mengambil dari tuntunan agama. Dalihnya, agama tidak mengatur urusan-urusan tersebut. Maka, jangan heran anda menemukan orang yang rajin shalat dan rajin pergi ke Tanah Suci, namun ia penghisap dan pengemplang uang rakyat, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan mahkota (kedudukan). Model pengamalan agama yang parsial seperti inilah yang akan terus membawa sial dan melahirkan manusiamanusia binal (seperti koruptor dll). Jika ibadah dimaknai secara parsial, lalu apa manfaat dan gunanya firman Allah swt yang menegaskan bahwa seluruh kehidupan ini adalah ibadah, yaitu, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (mengabdi) kepada-Ku" (QS Adz Dzariyaat [51]: 56). Ibnu Abbas ra ketika menafsirkan ayat ini, seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bercerita, "Dahulu ada seorang yang datang (dan singgah) di Madinah. Apabila isterinya melahirkan bayi laki-laki dan kudanya beranak pinak, dia berkomentar: Agama ini (maksudnya: Islam) agama yang bagus. Namun, apabila isterinya tidak bisa melahirkan dan kudanya tidak beranak (yakni tidak berkembang), ia pun berkomentar: Ini adalah agama yang buruk" (Tafsir Ibnu Katsir III/4220. Dalam riwayat lain, diceritakan, dahulu ada sekelompok orang badui (dusun) menemui Nabi saw dan mengikrarkan diri masuk Islam. Ketika mereka kembali ke kampong halamannya, jika mereka mendapatkan cuaca kondusif; hujan turun, tanah subur dan anugerah melimpah, mereka berkata: ini adalah agama yang bagus dan mereka berpegang teguh dengannnya. Namun, jika mereka mendapatkan iklim tidak bersahabat; kering, tanah tandus dan kekuarangan finansial, maka mereka pun berkomntar: tidak ada kebaikan dalam agama ini. Lalu Allah menurunkan kepad Nabi-Nya ayat di atas (Tafsir Ibnu Katsir III/422). Untuk itu, jangan biarkan bangsa kita terus terpasung oleh pemahaman parsial dalam beragama jika kita masih menghendaki negeri ini selamat dari sial (baca: krisis) munltimedimensional. Jangan tolerir sedikit pun ada di antara anggota keluarga kita yang memiliki persepsi parsial dalam beribadah jika kita ingin rumah kita tidak seperti neraka. Sebaliknya, benar-benra menginginginkan keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa ramahmah. Sebab, pemahaman ibadah/agama yang parsial membawa sial dalam banyak hal. "Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata" demikian Allah menutup ayat di atas. Wallaahu a'lam bi'sh showab..

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

60

15. Jangan Nafkahi Keluarga dengan Harta

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

61

yang Didapat dengan Batil


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS An Nisaa [4]: 29-30). Demi sesuap nasi dan menafkahi anak dan isteri, di masa kini, tidak sedikit orang yang mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara. Ada yang mencopet, menjambret dan merampok. Ada yang menipu dan memanipulasi. Ada yang menggerogoti uang rakyat dengan cara kolusi dan korupsi. Ada yang menjual bangkai dan mengoplos daging sapi dengan babi. Ada yang menjual diri atau menjual anaknya sendiri. Ada yang berjudi. Ada juga yang menimbun bahanbahan pokok agar terjadi kelangkaan sehingga harganya melambung tinggi. Dan masih banyak lagi tingkah laku manusia dalam memakan harta sesamanya dengan jalan yang batil yang terjadi dewasa ini. Ayat di atas menjelaskan bahwa salah satu dosa dan kezaliman besar yang membuat pelakunya masuk neraka adalah memakan harta manusia dengan jalan yang batil. Karakter Orang yang Beriman tidak Memakan Harta Manusia dengan Jalan yang Batil

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

62

Allah SWT mengawali ayat di atas dengan panggilan mesra Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu (Hai orang-orang yang beriman). Ini memberikan pemahaman bahwa termasuk karakter seorang mukmin adalah tidak akan memakan harta manusia dengan jalan yang batil. Sebab, keimanan itu identik dengan kesucian, kebersihan, kebaikan dan keberkahan. Sementara memakan harta manusia dengan jalan yang batil merupakan perbuatan yang kotor, busuk, buruk dan membawa kehancuran dan kerugian dunia dan akhirat. Dengan demikian, panggilan Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu tersebut berarti merupakan tasyrif (penghormatan dan penghargaan) kepada orang-orang yang beriman. Dalam kajian Ibnu Katsir, bahwa Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk memakan harta sesama mereka dengan jalan yang batil, yaitu dengan semua jenis pendapatan yang tidak syari (dilarang syariat Islam). Seperti beragam jenis riba, judi dan semua jenis tipu muslihat (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir II/33). Yang dimaksud batil di sini adalah usaha apa saja yang bertentangan dengan syariat. Sementara menurut Prof. Dr. Muhammad Wahbah Az Zuhaily dalam At Tafsir Al Munir (V/31), bahwa dalam ayat tersebut Allah SWT tidak hanya melarang memakan harta orang lain dengan jalan yang batil, melainkan juga melarang memakan harta sendiri dengan jalan yang batil. Sebab, firman-Nya Amwaalaakum (harta-harta kalian) mencakup harta sendiri maupun harta orang lain. Memakan harta sendiri dengan jalan yang batil adalah dengan menggunakan harta itu untuk maksiat kepada Allah SWT. Sedangkan memakan harta orang lain dengan jalan yang batil adalah dengan semua bentuk pendapatan yang tidak disyariatlkan dalam Islam seperti riba, judi, ghashab dan menipu. Ibnu Abbas RA dan Imam Hasan Al Basri berpendapat bahwa yang dimaksud batil adalah memakan harta orang tanpa kompensasi. Jadi batil adalah apa yang diambil tanpa kompensasi. Perniagaan adalah Halal dan Mulia Lalu Allah SWT mengecualikan cara menghasilkan uang yang halal adalah dengan jalan perniagaan suka sama suka antara penjual dan pembeli. Ayat ini dijadikan hujjah oleh Imam Asy Syafii tentang wajibnya qabul dalam akad jual beli. Pendapat ini ditentang oleh Jumhur Ulama, seperti Imam Malik, Abu Hanifah dan Imam Ahmad yang berpendapat bahwa jual beli tetap sah meski tanpa qabul (Lihat Tafsir Ibnu Katsir II/34). Penyebutan perniagaan/perdagangan secara khusus dalam ayat ini di tengah banyaknya jenis pekerjaan, karena itulah jenis pekerjaan yang banyak digeluti oleh umat manusia sepanjang zaman. Hal ini juga menunjukkan bahwa perniagaan adalah pekerjaan yang paling mulia. Al Ashfihani meriwayatkan dari Muadsz bin Jabal RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, Sebagus-bagusnya pekerjaan adalah adalah penghasilan para pedagang yang jika berbicara tidak berdusta. Jika berjanji tidak melewati. Jika dipercaya, mereka tidak berkhianat. Jika membeli tidak mencela. Jika menjual tidak memuji,. Jika mereka punya hutang, tidak menundanunda (pembayarannya) dan jika mereka memiliki (modal) tidak mempersulit (meminjamkan modal). Dan tidak semua yang saling ridha (suka sama suka) itu dibenarkan secara syari alias halal. Karenanya, suka sama suka di sini pun juga tetap dalam batasbatas koridor syari. Maka riba misalnya, yang terdiri dari dua macam; Nasiah (ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan) dan

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

63

Fadhl (ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, perak dengan perak, padi dengan padi dan sebagainya) meskipun sama-sama transaksi barter sebagaimana jual beli dan dilakukan atas dasar suka sama suka tetap saja haram dan tidak halal. Sebab, Allah SWT telah membantah pendapat para pelaku transaksi ribawi dari masyarakat Arab zaman Jahiliyah yang berpendapat Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba (QS Al Baqarah [2]: 275). Mengapa? Karena Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS Al Baqarah [2]: 275). Kerancuan persepsi tentang kesamaan itulah, barangkali yang menjadikan pengecualian di atas kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu datangnya langsung setelah larangan memakan harta dengan jalan yang batil. Dengan begitu, harusnya telah terkoreksi persepsi yang keliru tadi sehingga menjadi lurus dan benar. Di sinilah peran keimanan sangat besar dalam membuat perubahan yang signifikan tersebut. Demikian pula dengan judi dan zina, meskipun dilakukan atas dasar suka sama suka tetap saja haram. Hubungan antara Memakan Harta dengan Jalan yang Batil dan Pembunuhan Setelah melarang memakan harta dengan jalan yang batil, tiba-tiba Allah SWT kemudian berfirman, Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Ini sungguh menarik dan luar biasa!!! Sebuah isyarat atau tepatnya warning penting dari Allah SWT, bahwa memakan harta dengan jalan yang batil memiliki dampak negatif yang sangat berbahaya bagi integritas dan stabilitas suatu komunitas atau masyarakat dan bangsa. Yaitu pembunuhan. Pembunuhan jati diri dan harga diri, pembunuhan karakter dan juga pembunuhan antar umat manusia dengan saling menumpahkan darah. Begitulah yang terjadi dewasa ini. Ketika beragam model dan modus operandi memakan harta dengan jalan yang batil telah mengkultur dan menstruktur dalam suatu komunitas masyarakat dan bangsa, seperti riba, judi, menimbun bahan pokok, manipulasi, monopoli, suap, pencurian, kolusi, korupsi dan jual beli dengan komoditas yang tidak semestinya dijual, seperti harga diri, hati nurani, akhlak dan agama untuk kepentingan duniawi yang hina dan sesaat (kursi, jabatan, dll). Tidaklah semua itu terjadi kecuali komunitas (keluarga, ormas, partai), masyarakat dan bangsa itu telah membunuh dirinya dan menjerumuskan ke dalam jurang kenistaan dan kehancuran!! Kalau sudah seperti itu, maka tak akan ada lagi yang namanya citra positif, harkat dan martabat, eksistensi, moralitas dan integritas. Dan Allah SWT menyayangi orang-orang yang beriman dari bentuk pembunuhan yang menghancurkan kehidupan ini dan membuat diri menjadi hina dan tidak berharga, Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu dengan melarang perbuatan keji tersebut. Untuk itu, Janganlah kamu membunuh dirimu dengan melanggar keharaman-keharaman Allah dan memperbanyak maksiat kepada-Nya dan saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (Lihat Tafsir Ibnu Katsir II/34) serta membiarkan dan membudayakan praktek busuk ini tumbuh subur. Termasuk dalam katagori memakan harta dengan jalan yang batil adalah memakan harta anak yatim secara zalim. Karena demikian lemahnya anak yatim dan mudahnya memakan harta mereka serta mudahnya meluluhkan hati orang lain

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

64

untuk simpati dengan anak yatim sehingga proposal-proposal mobilisasi dana untuk hal ini pun mudah direspon secara positif oleh banyak pihak, maka Allah SWT perlu mengkhususkan peringatan keras bagi pelanggarnya dengan firmanNya, Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka) (QS An Nisaa [4]: 10). Ayat di atas, Janganlah kamu membunuh dirimu juga menunjukkan haramnya bunuh diri dengan alasan apapun. Rasulullah SAW besabda, Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan senjata (pisau dll), maka di hari kiamat senjata itu ada di tangannya merobek perutnya, dia kekal di dalam neraka Jahannam selama-lamanya. Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan racun, maka racun itu ada di dalam genggaman tangannya, ia menenggaknya di neraka Jahannam, ia kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa menjatuhkan dirinya dari suatu gunung (atau tempat tinggi seperti gedung bertingkat dll), lalu membunuh dirinya, maka ia akan terjungkal di neraka Jahannam, kekal di dalamnya selama-lamanya (HR Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109). Balasan bagi orang yang membunuh dirinya; baik dengan bunuh diri dengan makna yang hakiki, maupun membunuh diri dengan memakan harta dengan jalan yang batil di atas, keduanya disiksa oleh Allah dengan api neraka, Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Nah, siapa yang rela dirinya dan keluarganya menjadi penghuni neraka?!! Maka, waspadalah terhadap perbuatan keji yang menjerumuskan ke neraka di atas! Semoga kita sekeluarga selamat dari api neraka. Amin ...

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

65

16. Nestapa Pembuka Kran Keburukan


Sesungguhnya Allah melaknai orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, Andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata;:"Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami Telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar" (QS Al Ahzaab [33: 64-68].

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

66

Dalam merespon nilai-nilai kebaikan dan keburukan, manusia baik secara individual maupun komunal, termasuk di dalamnya keluarga dan masyarakat- terbagi menjadi 4 (empat macam): Pertama; ada manusia yang responsif terhadap kebaikan dan menikmatinya sendiri. Kedua; ada manusia yang responsif terhadap kebaikan tapi aktif mengajak orang lain kepada kebaikan tersebut. Ketiga; ada manusia yang tidak renponsif terhadap kebaikan, melainkan sangat respek terhadap keburukan dan hanyak dinikmatinya sendiri. Keempat; manusia yang respek terhadap keburukan dan sangan proaktik mengajak orang lain kepada keburukan itu. Dan tentu saja, prototipe manusia jenis keempat tersebut sangatlah berbahaya. Maka, jangan kita biarkan ada dalam keluarga dan rumah kita. Sebab, ia bisa menyulut dan menyulap rumah kita menjadi seperti neraka. Panas, gersang, tidak ada kedamaian, jauh dari sakinah mawaddah wa rahmah. Dan betapa sengsara dan nestapanya manusia seperti itu di akhirat kelak seperti disinggung oleh ayat di atas. Rintihan dan Penyesalan Orang-orang yang Tidak Taat Allah dan Rasul Pada ayat sebelumnya, Allah swt memberitakan bahwa orang Ayat di atas memberitakan pemandangan hari Kiamat, yang ditanyakan dalam ayat sebelumnya. Bahwa pada hari itu orang-orang kafir dijauhkan oleh Allah dari rahmat-Nya. Dan Allah menyiapkan bagi mereka api yang menyala-nyaka (neraka). Api itu telah siap siapa menunggu mereka. Mereka kekal di dalamnya untuk masa yang panjang, tidak ada yang tahu batas dan akhirnya kecuali Allah tanpa ada seorang pun yang bisa melindungi dan menolongnya. Karenanya tidak ada harapan untuk bisa lepas dari siksaan api neraka tersebut. Lalu Allah menerangkan kedahsyatan siksaan mereka di dalam neraka, yaitu ketika wajah mereka dibolak-balikan dalam neraka. Berarti neraka menyambarnya dari semua sisi. Dalam kajian Ibnu Katsir, bahwa dalam kondisi seperti itu, mereka berandai-andai dan berharap, andaikata ketika mereka di dunia termasuk orang yang mentaati Allah dan Rasul (Tafsir Ibnu Katsir IV/251). Hal ini sebagaimana diberitakan Allah tentang penyesalan mereka dalam ayat lain Dan (Ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya [menggigit tangan (jari) maksudnya menyesali perbuatannya], seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) Aku mengambil jalan bersamasama Rasul". Kecelakaan besarlah bagiKu; kiranya Aku (dulu) tidak menjadikan si fulan [ialah syaitan atau orang yang Telah menyesatkannya di dunia] itu teman akrab(ku). Sesungguhnya

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

67

dia Telah menyesatkan Aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia (QS Al Furqaan [25]: 27 29). Tentu saja, harapan semacam ini adalah harapan yang siasia, bukan pada tempatnya dan tidak akan pernah terkabul. Sebab, telah kadaluarsa dan melewati batas waktu. Itulah rintihan dan penyesalan orang-orang yang ketika di dunia tidak mentaati Allah dan Rasul-Nya. Dan meskipun konteks ayat ini menyinggung orang-orang kafir, namun hal juga berlaku bagi siapa saja yang berperilaku sama seperti mereka. Karena pada hakekatnya, Al Quran itu petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Ancaman Bagi Pembuka Kran Keburukan Kemudian mereka dendam kepada para pembesar, pemimpin dan tokoh agama mereka yang telah memprovokasi dan menyesatkan mereka sehingga membuat mereka menentang Rasul, menjauh dari kebenaran, menghalangi dakwah dan memusuhi orang-orang yang aktif berdakwah dan komitmen dengan ajaran-ajaran Allah. Maka, rasa dendam dan dengki itu mereka ungkapkan dalam permohonan mereka kepada Allah sementara mereka disiksa di neraka jahannam seraya mengatakan, "Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". Yang pertama azab akibat kekufuran mereka dan kedua azab memprovokasi dan menyesatkannya. Ayat ini adalah warning bagi kita semua agar tidak menjadi pembuka kran keburukan apa piun profesi kita. Tidak menjadi orang yang sesat dan menyesatkan. Ketika seorang pemimpin membuat peraturan yang menyuburkan kemaksiatan dan kemungkaran atau mengeluarkan kebijakan yang menyuburkan praktek KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), maka ia telah menjadi pembuka kran keburukan. Seorang suami atau istri yang menghidupan praktek-praktek manajemen rumah tangga yang tidak islami dan menjauh dari Allah, berarti ia telah menjadi pembuka kran keburukan. Orang tua yang tidak shalat dan membiarkan anak-anaknya juga tidak shalat atau membiarkannya berbuat suatu kemungkaran, maka ia adalah pembuka kran keburukan. Seseorang yang mengenalkan suatu bentuk kemaksiatan, seperti judi, narkoba, zina, mencuri atau lainnya, kepada temannya, maka ia termasuk menjadi pembuka kran keburukan. Dan lain-lain. Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun pahalanya. Dan barangsiapa yang yang mengajak kepada kesesatan (keburukan), maka atasnya dosa dan dosa orang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dosa tersebut (HR Muslim no. 4831). Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah (kebiasaan yang baik) lalu diamalkan sepeninggalnya, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengamalkannya tanpa dikurangi sedikit pun pahalanya. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyiah (kebiasan yang buruk) lalu diamalkan setelahnya, maka atasnya dosa dan dosa

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

68

orang mengamalkannya tanpa dikurangi sedikitpun dosa tersebut (HR Ahmad no. 18404). Ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa pembuka kran dan jalan keburukan akan mendapat siksa dua kali lipat dari pelaku keburukan itu sendiri. Untuk itu, agar rumah kita tidak seperti neraka, maka jangan biarkan di dalam rumah atau keluarga kita ada provokator dan pembuka kran keburukan. Setiap kali ada sinyal atau benih-benih yang mengarah kesana, harus dihentikan dan dibasmi secepatnya. Semoga Allah jadikan kita sekeluarga menjadi pembuka jalan kebaikan dan kebajikan dan lindungi kita semua dari menjadi pembuka kran keburukan.

17. Bahaya MIRAS (Minuman Keras) dan Narkoba

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

69

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". (QS Al Baqarah [2]: 219). Sejarah mencatat, bahwa umat manusia telah mengenal khamar atau miras (minuman keras) dan judi sejak dahulu kala. Tidak terkecuali bangsa Arab. Khamar dan judi telah menjadi bagian dari gaya hidup mereka sehingga tidak mudah meninggalkannya. Karena itu pengharaman khamar dalam Islam dilakukan secara gradual dan bertahap. Hal ini berbeda dengan penanganan kasus yang terkait dengan akidah atau kemusyrikan, yang tidak mengenal bertahap dalam penyelesaiannya. Ayat di atas merupakan tahap pertama dari proses pengharaman khamar. Tahap-tahap Pengharaman Khamar Ketika menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir rahimahullah- menukil riwayat Imam Ahmad dari Sayyidina Umar RA. Bahwa ketika turun pengharaman khamar, Umar RA berdoa, Ya Allah jelaskan kepada kami tentang khamar dengan penjelasan yang gamblang. Maka, turunlah ayat di atas, Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar... Lalu Umar RA dipanggil dan dibacakan kepadanya ayat tersebut. Ia pun berdoa lagi, Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang khamar dengan penjelasan yang gamblang. Maka, turunlah ayat (43) dalam QS An Nisaa[4], Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk.... Tukang adzan Rasulullah SAW pun saat itu-jika mengumandangkan iqomat untuk shalat mengingatkan dengan suara keras, Hendaknya jangan ada seorang pun akan menunaikan shalat dalam keadaan mabuk. Lalu Umar RA dipanggil dan dibacakan ayat itu kepadanya. Ia pun kembali berdoa sepertinya ia belum puas dengan ayat tersebut-, Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang khamar dengan penjelasan yang gamblang. Maka, turunlah ayat (90 91) dalam QS Al Maaidah [5], Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Lalu dipanggillah Umar RA dan dibacakan kepadanya ayat tersebut, dan begitu sampai pada akhir ayat, Fahal antum muntahuun (maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu), ia pun langsung mengatakan, Intahainaa, intahainaa (Kami berhenti. Kami berhenti sekarng juga) (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir I/229).

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

70

Karena meminum khamar merupakan kebiasaan yang melekat dan mendarah daging di kalangan bangsa Arab, maka penyelesaiannya pun berjenjang. Diawali dengan menggerakkan gelora religiusitasnya dalam diri kaum muslimin saat itu. Yaitu bahwa dosa dalam meminum khamar dan berjudi itu lebih besar dari manfaatnya seperti dalam QS Al Baqarah [2]: 219. Di situ jelas ada makna tersirat bahwa meninggalkan keduanya jauh lebih utama. Sementara pada tahap kedua, melalui QS An Nisaa [4]: 43, mulai dipersempit kesempatan untuk mengkonsumsi khamar sehingga mengurangi kecanduan terhadapnya dengan melarang shalat dalam keadaan mabuk. Sebab, shalat itu diwajibkan lima waktu, dan sebagian besar waktunya berdekatan sehingga tidak cukup waktu lagi untuk mabuk dan melepaskan diri darinya. Nah, setelah mulai terminimalisir kecanduan mereka terhadap khamar, bahkan mereka mampu untuk melepaskan diri dari kebiasaan mengkonsumsinya dalam waktu yang lama dalam sehari, maka pada tahap akhir datanglah pengharaman khamar secara total dengan turunnya QS Al Maaidah [5]: 90-91. Makna Khamar dan Cakupannya Makna Khamr secara etimologis (bahasa) adalah menutupi sesuatu. Karenanya minuman itu disebut khamar secara terminologis, karena ia menutupi tempat akal/otak sehingga tidak dapat berfungsi secara baik dan normal. Kemudian populer di kalangan sebagian masyarakat bahwa khamar merupakan nama bagi apa saja yang memabukkan. Sebagian lagi membatasi makna khamar pada sesuatu yang memabukkan yang terbuat dari anggur dan kurma (Lihat Mufradaat Alfaazh Al Quran, Ar Raaghib Al Ashfihaani, hal. 299). Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi SAW, Khamar itu dari kedua pohon ini: kurma dan anggur (HR Imam Muslim, no. 1985). Imam Al Baghawi dalam kitabnya, Syarh As Sunnah (XI/351-353) mengomentari hadits tersebut, bahwa makna hadits itu adalah bahwasanya kebanyakan khamar terbuat dari kurma dan anggur. Namun, dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda, Khamar adalah sesuatu yang menutupi otak/akal HR Bukhari X/39. Hadits ini merupakan dalil yang jelas menerangkan gugurnya pendapat yang membatasi khamar hanya pada sesuatu yang terbuat dari sari anggur atau kurma saja. Yang benar adalah apa saja yang memabukkan termasuk dalam katagori khamar, dan karenanya haram hukumnya. Dengan definisi tersebut maka cakupan khamar sesungguhnya sangatlah luas. Maka, narkoba dengan beragam jenisnya; shabu-shabu, ganja, heroin, ekstasi dan lain-lain adalah khamar. Demikian pula halnya dengan MIRAS (minuman keras) dengan beragam merknya juga termasuk khamar, dan karenanya semua itu haram hukumnya. Rasulullah SAW pun pernah mensinyalir bahwa akan muncul berbagai macam merk dan nama selain nama khamar, namun hakekatnya adalah khamar. Beliau SAW bersabda, "Sekelompok umatku akan minum khamr (minuman keras) dan menyebutkannya dengan nama (baru) selain nama khamr. Para penyanyi wanita akan mendatangi mereka, lalu para pemain musik akan melakukan pertunjukan di hadapan mereka." (HR Imam Ahmad dan Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir. Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar, X/55) Dosa dan Bahaya MIRAS dan Narkoba Lebih Besar dari Manfaatnya

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

71

Dalam ayat di atas, disebut, bahwa "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. Mungkin di antara kita ada yang bertanya apa manfaatnya? Dalam kajian tafsir Imam Ibnu Katsir, bahwa di antara manfaatnya adalah menghaluskan makanan dan memudahkan keluarnya kotoran. Demikian pula dengan mengambil manfaat dari keuntungan menjualnya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir I/229). Karenanya, bisnis miras dan narkoba konon menjanjikan keuntungan materi yang sangat menggiurkan. Dalam sebuah wawancara di RCTI tanggal 20 Mei 2002, Hendri Yosodiningrat, SH, Ketua GRANAT (Gerakan Nasional Anti Narkoba Granat), menuturkan, bahwa volume perdagangan gelap narkoba berjumlah 1.440 ton pertahun. Pemakai berjumlah 4 juta orang pertahun. Omset perdagangan narkoba 288 trilyun pertahun dan 10 persennya (28 trilyun) disisihkan untuk menyuap aparat penegak hukum. Dipastikan, 3 RW di Indonesia ada pengguna narkoba!!! Beberapa waktu lalu negeri yang dihuni mayoritas muslim ini gempar dengan digrebeknya pabrik ekstasi terbesar nomer tiga di dunia, setelah yang ada di Fiji dan Cina. Di Desa Cemplang, Kecamatan Jawilan, Serang, Banten ditemukan pabrik yang dapat memproduksi ekstasi sebanyak 100 kilogram per pekan. Bayangkan 1 kg ekstasi dapat menghasilkan 10 ribu pil dengan harga Rp 100 ribu per butir, maka pabrik tersebut dapat menghasilkan Rp 1 triliun per pekannya, dan dalam setahun menghasilkan sekitar Rp 48 triliun. Angka yang sungguh sangat fantastis, menggiurkan dan menggoda. Namun, bahayanya jauh lebih besar dari manfaatnya. Minuman keras (miras) bahayanya sangat meresahkan. Di Jayapura misalnya, sebanyak 65 persen angka kriminalitas di Papua disebabkan miras. Akibat miras telah merusak seluruh tatanan kehidupan masyarakat Papua dan menghambat proses pembangunan (www25.brinkster.com, tanggal 19 Juli 2002). Masih membekas dalam ingatan kita konser maut yang merubah Bandung, yang dulu dikenal sebagai lautan api, menjadi lautan mayit. Sebab, konser grup musik Beside yang diselenggarakan di Gedung Asia Africa Cultural Centre (AACC) pada tanggal 9 Februari 2008 yang lalu itu telah merenggut nyawa 11 orang. Berdasarkan pengakuan penonton, seperti dimuat dalam berbagai media cetak dan elektronik, terungkap bahwa miras dibagikan sejak di pintu masuk, dikemas plastik. Dari panggung, miras diumbar ke penonton. Jelas sekali tidak bisa dipungkiri, miras memiliki andil besar dalam hal ini. Belum lagi entah sudah berapa banyak keluarga yang hancur gara-gara miras. Tidak sedikit kecelakaan lalu lintas yang memakan banyak korban jiwa atau membuat cacat seumur hidup juga akibat pengaruh miras. Karenanya, tidak salah jika khamar atau miras adalah pangkal segala dosa. Sebab, dengan meminum miras atau mengkomsumsi narkoba, hilanglah kesadaran seseorang yang kemudian dapat menjerumuskannya kepada perbuatan-perbuatan dosa lainnya, seperti zina dan pembunuhan. Jadi, ditinjau dari berbagai macam aspek; baik aspek kesehatan, ekonomi, kepribadian, sosial dan kebersihan, miras dan narkoba jelas sangat berbahaya. Sedangkan menjauhkan diri darinya atau bertaubat dengan berhenti darinya bagi yang pernah mengkonsumsinya, jelas mendatangkan banyak kebaikan bagi pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. Dari sini, semakin jelasnya mengapa miras dan narkoba diharamkan dalam Islam dan pelakunya mendapatkan hukuman yang sangat berat di dunia dan siksa yang sangat pedih di akhirat. Karenanya membudayakan Gaya

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

72

Hidup Sehat nan Islami dalam keluarga kita menjadi sebuah keniscayaan. Sebab, kesehatan menjadi tolok ukur sempurnanya pengamalan ibadah. Semoga Allah SWT melindungi diri kita dan semua keluarga kita dari narkoba dan miras yang mengganas ini. Amin ...

18. Bersihkan Rumah dari Pengumpat dan Pencela


Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

73


"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung [maksudnya mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang karenanya dia menjadi kikir dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah.]. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan. Yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka. (Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang" (QS Al Humazah [104]: 1 9). Di antara penyakit lisan (Aafatu'l Lisan) yang sangat berbahaya adalah mengumpat dan mencela. Maka, membiarkan dan mentolerir ada pengumpat dan pencela di rumah kita, sama saja dengan menumbuhsuburkan rumah kita menjadi seperti neraka. Ayat di atas menjelaskan secara gamblang betapa dahsyatnya ancaman bagi pengumpat dan pencela. Umpatan dan Celaan adalah Termasuk Ujian Dakwah Surat Al Humazah adalah termasuk deretan Surat Makkiyah, yaitu surat yang turun sebelum Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah. Karenanya, ia merekam salah satu gambaran riil ujian dan gangguan yang terjadi pada tahuntahun awal kehidupan dakwah. Pada saat yang sama, hal ini merupakan contoh konkrit dari tribulasi-tribulasi dakwah yang bisa terjadi pada sosok dai siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Jadi, hal ini bagian dari sunnatullah dalam dakwah sehingga tidak boleh membuat juru dakwah putus asa, pesimis dan loyo apalagi sampai meninggalkan gelanggang dakwah hanya karena tidak tahan umpatan dan celaan serta beragam bentuk pemberian stigma negatif lainnya.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

74

Dalam kajian Sayyid Quthb rahimahullah- surat ini memberi gambaran sosok pencela yang kerdil jiwanya karena telah dikuasai oleh harta sehingga menganggap harta adalah nilai (value), variabel atau standar tertinggi dalam kehidupan. Nilai yang mengungguli semua jenis nilai dan standar. Maka, ketika ia memiliki gelimang harta, berarti sesungguhnya ia telah memiliki dan menguasai harga diri manusia! Dan puncaknya, ia menganggap harta adakah tuhan yang 'maha' kuasa atas segala sesuatu. Mampu berbuat apapun! Sampai-sampai mampu menolak kematian dan mengekalkan kehidupan serta menolak qadha' (ketentuan) Allah, hisab (audit)-Nya dan jaza' (balasan)-Nya, jika ia masih memandang adanya hisab dan balasan! (Lihat: Fii Zhilal Al Qur'an VI/3972). Sababu'n Nuzul Surat Imam Ar Razi (lihat: Tafsir Ar Razi 32/91) dan Abu Hayyan (lihat: Tafsir Al Bahr Al Muhitd VIII/510) menuturkan riwayat tentang sebab turunnya surat Al Humazah. Bahwa menurut Imam 'Atha', Al Kalbi dan As Suddi, surat tersebut turun terkait dengan Akhnas bin Syuraiq yang sering mengumpat dan menggunjing masyarakat, khususnya Rasulullah SAW. Sementara menurut Muqaatil, surat ini turun terkait dengan Walid bin Mughirah yang sering menggunjing Nabi SAW dari belakang dan mencela beliau di hadapannya. Diriwayatkan juga bahwa Umayyah bin Khalaf juga melakukan hal yang sama. Abu Hayyan berkomentar, surat ini turun terkait dengan Akhnas bin Syuraiq atau Al 'Aash bin Waail atau Jamil bin Mu'ammar atau Walid bin Mughirah atau Umayyah bin Khalaf, banyak sekali perbedaan pendapat tentang masalah ini. Dan mungkin saja turun terkait dengan mereka semua. Meskipun begitu, surat ini bersifat umum dan bisa berlaku pada siapa saja yang memiliki sifat dan perilaku yang sama seperti mereka (Lihat: Tafsir Al Bahr Al Muhith VIII/510). Pendapat ini sesungguhnya juga telah disampaikan oleh pakar tafsir dari kalangan tabi'in, Mujahid, bahwa surat tersebut berlaku umum untuk siapa saja yang memiliki sifat negatif yang sama (lihat; Tafsir Ibnu Katsir V/254). Sebab, ada kaidah dalam Ushul Fiqh berbunyi "Khushush'us Sabab Laa Yunaafi 'Umuumi'l Lafzh", bahwa kekhususan sebab turunnya suatu ayat atau surat tidak menafikan keumuman lafazh. Mengumpat dan Mencela adalah Sifat dan Karakter Orang-orang Kafir Sederetan nama di atas, jika riwayat-riwayat tersebut shahih, adalah namanama tokoh musuh bebuyutan dakwah di zaman Nabi SAW, yang sudah sangat populer sepak terjangnya dalam memusuhi Nabi SAW dan orang-orang beriman. Hal ini memberikan pemahaman, bahwa mengumpat dan mencela adalah sifat dan karakter orang-orang kafir. Karenanya, Islam membenci perilaku buruk ini dalam banyak ayat di dalam Al Qur'an, seperti firman Allah SWT, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri [maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karena orangorang mukmin seperti satu tubuh] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman [panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

75

yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya] dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka itulah orang-orang yang zalim" (QS Al Hujuraat [49]: 11). Namun, kali ini, di dalam surat ini disebut dengan sangat buruk dengan susunan kata yang diakhiri dengan nada yang sangat menggelegar; "zah, dah, dah, mah dst" serta ditambah dengan ancama azab yang sangat dahsyat dan membuat bulu kuduk berdiri. Begitulah gambaran perilaku buruk dari jiwa yang kosong dari iman. Cinta Harta yang Membabi Buta Pemicu Lahirnya Pengumpat dan Pencela Ayat di atas menyinggung pemicu lahirnya sosok pengumpat lagi pencela, yaitu, "Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung [maksudnya mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang karenanya dia menjadi kikir dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah.]. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya". Ketika manusia mempersepsikan harta sebagai "segalagalanya", bahkan sampai 'menuhankan'nya karena mengira harta itu berkuasa atas segala sesuatu dan mampu berbuat apa pun, termsuk mampu menolak kematian dan dapat mengekalkan kehidupannya, maka beragam sifat dan perilaku negatif dengan sendirinya pasti akan muncul. Dan karenanya di mata manusia semacam ini, semua orang bisa diatur, semua orang derajatnya lebih rendah darinya, semua orang adalah hamba/budak yang bisa diperkukan apa saja sekehendak hatinya. Maka, menghina, mengumpat dan mencela orang lain adalah hal biasa dan lumrah bagi orang yang menghamba kepada harta. Ancaman yang Dahsyat bagi Pengumpat dan Pencela Kedahsyatan ancaman bagi pengumpat dan pencela dilukiskan oleh surat yang terdiri dari 9 ayat ini, sejak awal ayat, bahkan kata pertama dalam surat ini adalah ancaman kebinasaan, "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela". Penyebutan ancaman "Wail", kecelakaanlah .. padahal di akhir surat juga diancam lagi dengan neraka, memberi pemahaman kepada kita bahwa hal ini bisa saja merupakan ancaman kebinasaan dan kehancuran di dunia sebelum nanti di akhirat akan dimasukkan ke dalam api neraka. Karenanya, kehidupan pengumpat dan pencela di dunia tidak akan pernah mendapatkan ketenangan, kedamaian dan jauh dari rahmat dan keberkahan Allah, meskipun secara materi bisa saja hidupnya bergelimang dengan banyak harta. Ketenangan, kebahagiaan dan kesejahteraan yang terlihat hanyalah semu dan bagai fatamorgana. Sementara di akhirat nanti, para pengumpat dan pencela akan dimasukkan ke dalam neraka Huthamah, "(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan. Yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka. (Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang". Penyebutan "hati' secara khusus dalam ayat ini, karena hati (Al Qalbu) adalah Amiru'l Badan, pemimpin tubuh/badan, pengendali dan penentu. Jika hati baik -seperti dalam sabda Nabi SAW-, maka baiklah seluruh anggota tubuh. Sebaliknya, jika ia busuk, maka busuklah seluruh anggota tubuh (HR Bukhari no. 50 dan Muslim no. 2996). Oleh karena itu, jika kita tidak ingin rumah kita seperti neraka, maka jangan kondisikan rumah kita sebagai lembaga pendidikan, atau PT (perguruan tinggi), yang meluluskan pengumpat dan pencela. Caranya kita harus selalu

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

76

memperkokoh dan memperkuat tarbiyah imaniyah (pendidikan dan penggelembengan iman) yang bisa memperbaiki kondisi hati sehingga selalu ingat dan takut kepad Ilahi Rabbi, Allah SWT.

19. Menukar Nimah dengan Niqmah


Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar ni`mat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman (QS Ibrahim [14]: 28-29). Begitu banyak nimah (nikmat) yang Allah SWT anugerahkan kepada kita, sehingga kita pun tak kuasa menghitungnya. Dari sejak bangun tidur hingga kita tidur kembali, hidup kita termasuk kehidupan rumah tangga kita- penuh dengan gelimang nikmat-Nya. Kecukupan pangan, sandang, papan, pekerjaan, jabatan, keutuhan keluarga, kesalehan anak, kemudahan beribadah, berdakwah dan beraktifitas serta stabilitas keamanan, semua ini sesungguhnya termasuk anugerah dan nikmat Allah SWT. Namun, tidak semua orang (temasuk keluarga) cerdas membaca hakekat ini untuk kemudian disikapi dengan syukur. Yang terjadi justru banyak yang membalasnya dengan perilaku negatif. Buktinya beragam kezaliman, kemungkaran dan kemasiatan masih merebak di mana-mana. Indeks korupsi negeri ini masih tinggi, caleg dan pemimpin bersih dan jujur kurang diminati dan dekadensi moral pun tidak sulit ditemui. Padahal semua hal ini adalah bagian dari sikap kufrun nimah (mengkufuri nikmat) yang bisa mengundang bencana dan malapetaka. Ayat di atas secara implisit telah menegaskan hal tersebut. Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya) Ayat Menurut Ibnu Abbas RA, bahwa orang-orang yang telah menukar ni`mat Allah dengan kekafiran adalah orang-orang kafir Mekkah. Sementara Ali bin Abu Thalib RA ketika ditanya oleh seorang yang datang menemuinya, Wahai Amirul Mukminin siapakah orang-orang yang telah menukar ni`mat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?, beliau menjawab, (Mereka adalah) orang-orang munafik dari kalangan Quraisy. Pada riwayat lain dari Umar bin Khaththab RA dan Ali bin Abu Thalib RA, keduanya mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang fajir (dan pembesar) dari Quraisy, yaitu kabilah Bani Mughirah dan Bani Umayyah. Bani Mughirah telah terbunuh dalam perang Badar, sedangkan Bani Umayyah telah menjatuhkan kaumnya ke lembah
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

77

kebinasaan dalam perang Uhud (Lihat Tafsir Ibnu Katsir III/185 dan At Tafsir Al Munir, Dr Wahbah Az Zuhaili, XIII/249). Bentuk-bentuk Menukar Nimah dengan Niqmah Terlepas dari perbedaan yang variatif dan tidak kontradiktif tersebut, yang jelas, menurut Imam Ibnu Katsir, makna ayat tersebut berlaku umum bagi semua orang yang kafir. Sebab, sesungguhnya Allah SWT telah mengutus Muhammad SAW sebagai rahmat sekalian alam dan nikmat bagi seluruh umat manusia. Maka, barangsiapa yang menerimanya dan mensyukuri nikmat ini ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang menolaknya dan mengkufurinya (nikmat ini) maka ia akan masuk neraka (Tafsir Ibnu Katsir III/185). Karenanya, melalui ayat di atas, Allah SWT mengajak kita untuk berpikir cerdas memperhatikan dan merenungkan keadaan orang-orang yang sungguh sangat ajaib (mengherankan). Yaitu mereka yang mendapatkan anugerah nikmat Allah, dalam bentuk adanya rasul (utusan) Allah, ajakan untuk beriman, dituntun kepada pengampunan Allah dan diajak kepada surga yang merupakan kebahagiaan abadi. Namun, apa tanggapan dan sikap mereka? Mereka mengganti semua nikmat tersebut dengan niqmah (bencana), yaitu kekufuran. Sebab, kekufuran itu mengundang bencana, malapetaka dan kebinasaan. Ayat ini seakan telah menyindir dan menjewer kita sebagai bangsa besar yang bergelimang dengan nikmat yang tiada tara. Diantaranya kekayaan sumber daya alam yang sungguh luar biasa fantastis. Negeri kita, Indonesia dikenal sebagai negara penghasil bahan tambang terbesar. Menurut laporan Price Waterhouse Coopers, negara kita penghasil timah nomor 1 di dunia, batu bara nomor 3 di dunia, tembaga nomor 4 di dunia, nikel nomor 5 di dunia, emas nomor 7 di dunia, penghasil 80% minyak di Asia Tenggara dan penghasil 35 % gas alam cair di dunia. Indonesia diakui sebagai salah satu negara yang terkaya dalam luas hutan dan keanekaragaman hayati. Negeri ini memiliki 515 jenis mamalia (urutan kedua, hanya kalah tipis dari Brazil), memiliki jenis terumbu karang dan ikan laut yang luar biasa, termasuk 97 jenis ikan karang yang hanya hidup di perairan laut Indonesia, memiliki 477 jenis palem (terbanyak di dunia), Memiliki 1.400 jenis ikan air tawar (hanya dapat disaingi oleh Brazil) dan ada 397 jenis burung hanya dapat ditemukan di Indonesia. Negara kita juga terbanyak jumlah pulaunya. Jumlah pulau yang ada di Indonesia saat ini, menurut Kompas, 13 Nopember 2004, adalah 17.504, sedangkan jumlah pulau bernama 7.870 dan belum bernama sejumlah 9.634 buah. Tapi, ironisnya terdapat 62 juta jiwa (28,44 %) penduduk miskin (BPS, 2005). Hutang kita pun luar biasa besar. Total hutang luar negeri Indonesia hampir US$ 150 milyar (setara dengan Rp 1.380 triliun) sedangkan hutang dalam negeri Rp 650 triliun, sehingga total hutang Indonesia Rp 2.030 triliun (Revrisond Baswir, 2003). Bahkan, negeri yang kaya raya ini termasuk salah satu yang terbesar tingkat korupsinya di dunia (Transparency International). Dalam urusan maksiat, khususnya pornografi, negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini berada di urutan kedua setelah Rusia sebagai surga bagi pornografi. Mempunyai pabrik ekstasi terbesar nomer tiga (setelah yang ada di Fiji dan Cina) di dunia. Beberapa tahun lalu di Desa Cemplang, Kecamatan Jawilan, Serang, Banten ditemukan pabrik yang dapat memproduksi ekstasi sebanyak 100 kilogram per pekan. Harga 1 kg ekstasi dapat menghasilkan 10 ribu pil dengan harga Rp 100 ribu per butir, maka pabrik tersebut dapat menghasilkan Rp 1 triliun per pekannya.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

78

Bukankah ini bagian dari lembah kebinasaan di dunia akibat kita telah menukar limpahan nimah di atas dengan niqmah sebagaimana disinggung dalam ayat di atas?!! Ketika kita menyianyiakan nikmat dengan tidak mengelolanya secara amanah dan bertanggungjawab, bukankah ini termasuk mengkufuri nikmat? Ketika korupsi, kolusi dan nepotisme serta beragam kemungkaran dibiarkan menjamur, bukankah ini berarti kita telah menukar nimah dengan niqmah (bencana/azab) sehingga memicu munculnya krisis multidimensional?! Tentu, kita masih tidak akan pernah lupa dengan Andalusia, yang kini bernama Spanyol. Negeri itu selama 6 abad, saya ulangi lagi selama 600 tahun, kaum muslimin mayoritas dan maju di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bahkan, saat itu Andalusia menjadi kiblat orang Barat dalam ilmu pengetahuan sehingga mereka mengirimkan anak-anak mereka ke Andalusia untuk belajar kedokteran, matematika dan lain-lain. Namun, kini zaman keemasan itu tinggal kenangan. Kini, kaum muslimin menjadi minoritas di Spanyol. Para sejarawan muslim membuat analisis, bahwa salah satu penyebabnya adalah kufrun nimah (mengkufuri nikmat). Sebagian pembesar mereka menukar nimah dengan niqmah sehingga menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan. Keluarga; anak isteri/suami, harta, rumah, kendaraan, pekerjaan, jabatan, gelar, pangkat, kawan, handai tolan, ilmu pengetahuan, kecerdasan dan kesehatan adalah nikmat dari Allah SWT. Mari kita sikapi dengan syukur agar Allah lipatgandakan nikmat-Nya kepada kita. Caranya, dengan menggunakan semua itu menjadi wasilah (sarana) untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan mendidik anak dan keluarga kita menjadi manusia yang bertakwa. Dengan tidak membiarkan ada kemaksiatan di rumah kita. Dengan mengelola semua nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya, tanpa melanggar rambu-rambu yang digariskan oleh Allah SWT. Ingat, ketika kita menukar semua nimah itu dengan niqmah, maka berarti kita telah menjatuhkan keluarga kita ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman. Semoga Allah SWT membantu kita sekeluarga menjadi orang-orang yang pandai bersyukur sehingga selamat dari neraka Jahannam. Amin...

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

79

20. Jauhi Dengki (Hasad)


Dan dari kejahatan orang yang hasad (dengki) apabila ia dengki (QS Al Falaq [113]: 5). Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menemukan orang yang panas dan tidak tenang hatinya ketika melihat saudaranya, temannya, tetangganya atau orang lain memperoleh suatu kenikmatan dunia. Bahkan, kemudian berharap agar kenikmatan itu hilang atau hancur. Ia tidak senang dengan kebahagiaan orang lain. Dalam Islam, sifat tercela ini disebut dengan hasad (dengki). Imam Al Ghazali (w. 505 H) mendefinisikan hasad dengan membenci suatu nikmat dan senang manakala nikmat itu hilang dari pemiliknya (Ihya Ulumuddin III/277). Bahaya Hasad Begitu besar bahaya hasad, maka Allah SWT dalam ayat di atas memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad SAW untuk berlindung kepada Rabbul Falaq (Tuhan yang Menguasai Subuh) dari kejahatan hasad. Sekaligus ini merupakan isyarat bahwa Nabi SAW dan siapapun yang menyeru kepada kebaikan (dai) pasti ada yang memusuhinya dan pasti yang ada yang hasad (dengki). Sementara ketenangan, ketentraman, keselamatan hanya dapat ditemukan ketika selalu berada dalam dekapan Rabbul Falaq, Allah SWT. Maka, ayat tersebut diawali dengan, Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh (QS Al Falaq [113]: 1). Karena itulah, berdasarkan ayat tersebut para ulama bersepakat bahwa hasad itu hukumnya haram. Di saat menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah- mengatakan, Renungkan pembatasan Allah SWT terhadap pelaku hasad dengan firman-Nya Idzaa Hasad (apabila ia dengki). Sebab, boleh jadi seseorang memiliki rasa hasad (terhadap orang lain), tetapi ia sembunyikan sehingga tidak berdampak negatif secara langsung terhadap orang tersebut .. Hasan Al Bashri pernah ditanya, Apakah seorang mukmin itu juga hasad? Beliau menjawab, Apa engkau lupa apa yang terjadi pada saudara-saudara nabi Yusuf AS (yang hasad terhadapnya) .. (Badaaiut Tafsir, V/423-424). Artinya, penyakit ini bisa jadi menimpa seorang mukmin disaat imannya turun dan lemah Juga didasari oleh larangan Rasulullah SAW dalam haditsnya, Jangan kalian saling membenci, saling hasad dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara (HR Bukhari VIII/33). Bahkan, saking bahayanya, hasad dapat memberangus dan menghapus pahala semua kebaikan-kebaikan seseorang yang boleh jadi telah dibangunnya sekian lama. Berarti shalat kita, puasa kita, sedekah kita, kerja dakwah kita, kebaikan kita terhadap anak, istri dan keluarga kita dan kebaikan-kebaikan lainnya

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

80

yang telah kita dirikan dalam kurun waktu yang lama, bisa hancur dalam waktu sekejap hanya dengan hasad. Oh, alangkah sedih dan ngerinya jika itu terjadi. Rasulullah SAW telah menegaskan hal itu dengan sabdanya, "Waspadalah kalian terhadap hasad. Sebab, hasad itu memakan semua kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu bakar" (HR Abu Dawud no. 4257). Sebab-sebab Hasad Ada banyak faktor yang meyebabkan seseorang jatuh ke dalam hasad, di antaranya: 1. Kelapangan dunia dan berlomba-lomba mengejar dunia Ketika dunia dilapangkan dan dumidahkan bagi manusia, sementara mereka mengabaikan rambu-rambu syariat dalam berinteraksi dengan dunia, maka dengan mudahnya mereka terjerumus dalam pertarungan perebutan dunia yang menggiringnya kepada sifat hasad. Inilah yang disindir oleh Rasulullah SAW ketika bersabda di hadapan para sahabatnya, Jika dibukakan atas kalian bangsa Parsia dan Romawi (atau dengan bahasa lain; jika kalian dimenangkan atas bangsa Parsia dan Romawi), maka bagaimana sikap kalian? Abdurrahman bin Auf RA menjawab, Kami akan mengucapakan syukur sebagaiman yang Allah perintahkan kepada kami (yakni, kami akan memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya dan memohon kepada-Nya tambahan karunia-Nya). Rasulullah SAW lalu bersabda, Atau jangan-jangan tidak seperti itu. Tapi, kalian malah saling berlomba-lomba berebut dunia, lalu kalian saling hasad, kemudian kalian saling membelakangi (tidak bertegur sapa) dan saling membenci atau yang semacamnya. Kalian lalu pergi ke rumah-rumah kaum muhajirin, kemudian saling berantem dan bertengkar (gara-gara dunia) (HR Muslim no. 2962). 2. Melihat nikmat pada orang lain dengan lupa kepada Yang Memberi Nikmat Terkadang ketika seseorang melihat nikmat pada orang lain yang melimpah, sementara dia sendiri kekurangan dan tidak memilikinya ditambah ia lupa kepada Yang Memberi Nikmat, Allah SWT. Ia lupa bahwa Allah SWT membagi kenikmatan-kenikmatan kepada para hamba-Nya dengan sangat bijak. Ia lupa bahwa perbedaan kaya dan miskin sama sekali tidaklah berarti kecuali dengan takwa. Jika seseorang lupa semua ini, maka hal ini membuka jalan bagi syetan untuk menggodanya. Kenapa hanya dia yang dapat nikmat itu, kenapa saya tidak padahal secara skill saya lebih berhak?! Saya lebih senior dan lebih berpengalaman?! Begitulah syetan memprovokasinya dengan beragam pertanyaan yang menyesatkan sekaligus menyesakkan hatinya. Rasulullah SAW mengingatkan dengan sabdanya, .. ada dua hal yang tidak akan berkumpul/bertemu di hati seorang hamba; iman dan hasad (HR An NasaaI no. 4317-4320). Artinya, bahwa iman kepada Allah, Yang Memberi Nikmat tidak akan bisa bertemu dengan hasad selama-lamanya. Karena itu, seorang mukmin sejati tidak akan pernah hasad. 3. Takabbur Seperti Iblis yang takabbur dan sombong, dengan mengklaim bahwa ia lebih baik dan mulia dari Adam dengan dalih bahwa ia diciptakan Allah dari api

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

81

sementara Adam diciptakan dari tanah (Lihat QS Shaad: 71-76). Dan inilah hasad pertama yang terjadi di langit. Sedangkan hasad pertama yang terjadi di bumi adalah hasadnya Qabil terhadap Habil hingga membunuhnya sebagaimana diceritakan oleh Al Quran, Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa (QS Al Maaidah [5]: 27). 4. Pembedaan perlakuan Seperti ketika orang tua berbeda dan pilih kasih dalam memperlakukan anak-anaknya. Atau perbedaan perlakuan atasan terhadap bawahannya. Hal ini telah terjadi pada saudara-saudara nabi Yusuf AS. Terapi Hasad 1. Memohon perlindungan kepada Allah SWT seperti perintah Allah SWT terhadap Rasul-Nya dalam ayat di atas. Karenanya, surat Al Falaq adalah termasuk surat yang dapat membentengi seorang mukmin dari hasad, gangguan tenun dan santet. 2. Takwa dan sabar Allah SWT berfirman, Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu (QS Ali Imran [3]: 120). 3. Taubat Allah SWT berfirman, .. dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiaptiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.. (QS Huud [11]: 3). Dan firman-Nya, .. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (QS An Nuur [24]: 31). 4. Berbuat baik kepada orang yang hasad Allah SWT berfirman, Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orangorang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar (QS Fushshilat [41]: 34-35). Dan firman-Nya, .. dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan (QS Al Qashash [28]: 54). 5. Mengobati dengan ruqyah syariyah, seperti saat Jibril meruqyah Rasulullah SAW dalam hadits diriwayatkan oleh Aisyah RA (HR Muslim no. 2185). Terkadang beliau SAW meruqyah dirinya sendiri, juga pernah meminta sahabatnya, Jabir RA meruqyah beliau (lihat hadits-haditsnya dalam Tafsir Ibnu Katsir V/276-278).

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

82

6. Tawakkal (berserah diri) kepada Allah SWT setelah semua ikhtiar dan usaha dilakukan. Allah SWT telah menjamin orang yang tawakkal kepada-Nya dengan firman-Nya, Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya (QS Ath Thalaaq [65]: 3).

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

83

21. Ketika Pendosa Berlimpah Harta


"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa" (QS Al An'aam [6]: 44). Ketika membimbing haji kemarin, di Tanah Suci seorang jama'ah haji bertanya, "Ustadz, mengapa ada orang atau keluarga yang tidak taat beragama; tidak shalat, tidak puasa, tapi rizkinya melimpah? Usahanya sukses, kaya dan sekilas kelihatannya bahagia". Pertanyaan ini mewakili sekian banyak orang yang penasaran melihat fenomena di masyarakat tentang adanya orang yang ahli ibadah namun hidupnya pas-pasan dan serba kesulitan. Sementara di sisi lain, ada orang atau keluarga yang ahli maksiat, koruptor dan tidak taat menjalankan agama, tapi hidup dengan bergelimang dunia. Kelihatannya rizkinya mudah dan melimpah. Dalam konteks global, banyak di antara kita yang bertanya-tanya ketika menyaksikan banyak negara dengan penduduk mayoritas muslim dengan ribuan masjid tersebar di seantero negeri, sekian juta kali lantunan takbir, tahmid, tahlil dan dzikir serta doa dikumandangkan, tapi mayoritas penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Sebaliknya, tidak sedikit negara yang kafir, yang penduduknya selalu tenggelam dalam beragam bentuk kemaksiatan dan kemungkaran; zina, khamr, judi, narkoba dan lain-lain, namun kok sepertinya maju dalam banyak aspek kehidupan; ekonomi, militer, pendidikan, teknologi, informasi dan lain sebagainya. Kenapa hal ini bisa terjadi?? Ayat di atas menjawab pertanyaan tersebut dengan gamblang. Ujian Kesejahteraan Hidup bagi Pendosa Di dalam ayat di atas, Allah menceritakan umat-umat terdahulu yang di utus kepada mereka, para rasul, kemudian Allah siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Namun, ketika datang siksaan Allah kepada mereka, mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk dan

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

84

merendahkan diri, bahkan hati mereka semakin menjadi keras dan syaitan pun menampakkan kepada mereka keindahan/kebagusan apa yang mereka kerjakan. Maka, di tengah kedurhakaan mereka kepada Allah dengan mendustakan Allah dan Rasul-Nya, melakukan segala bentuk kemusyrikan dan kemaksiatan, Allah menguji mereka dengan kemakmuran dan kesejahteraan hidup. "Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka" demikian penegasan Allah swt tentang kehidupan dunia dan kesejahteraan hidup yang melimpah yang diterima para pendosa tersebut. Menurut Imam Ibnu Katsir, "Maksudnya; Kami membukakan untuk mereka pintu-pintu rizki dari segala hal (dalam semua aspek kehidupan) yang mereka pilih. Dan ini adalah istidraj (mengulur-ulur) dan imlaa' (penangguhan) dari Allah Ta'ala bagi mereka" (Tafsir Ibnu Katsir II/259). Imam Malik menafsirkannya dengan kemakmuran dunia dan kemudahannya (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir II/259). Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya (IV/145) meriwayatkan hadits dari Uqbah bin 'Aamir ra dari Nabi saw

.
"Apabila engkau melihat Allah memberi seorang hamba kelimpahan dunia atas maksiat-maksiatnya, apa yang Ia suka, maka ingatlah sesungguhnya hal itu adalah istidraj", kemudian Rasulullah saw membaca ayat tersebut. Hadits ini oleh Imam As Suyuthi dinilai sebagai hadits hasan (Al Jaami' Ash Shaghir I/97 no. 629). Begitulah sunnatullah dalam kehidupan pendosa dan pelaku maksiat. Bahwa, terkadang Allah swt membukakan beragam pintu rizki dan pintu kesejahteraan hidup serta kemajuan dalam banyak aspek kehidupan seperti termaktub dalam redaksi ayatnya, "Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka"; kemajuan di bidang ekonomi, pendidikan, teknologi, militer, kesehatan, kebudayaan, stabilitas keamanan dan lain sebagainya. Dan ini merupakan istidraj dan imlaa' dari Allah bagi mereka sebagaimana firman Allah, "Maka serahkanlah (Ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan Ini (Al Quran). nanti kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh" (QS Al Qalam [68]: 44-45). Maka, ketika ada seseorang yang tidak shalat, tidak puasa di bulan Ramadhan, hidup dalam kubangan maksiat, namun hidupnya makmur dan sejahtera, ini adalah istidraj. Ketika ada keluarga yang jauh dari Allah dan memanage rumah tangganya dengan nilai-nilai yang tidak islami, namun rizkinya melimpah dan hidupnya bergelimang dengan beragam kenikmatan dunia, maka ini pun termasuk istidraj. Ketika ada ormas atau jama'ah yang menghidupi organisasi dan jama'ahnya dengan uang haram, tapi kelihatannya tambah maju dengan semakin bertambah banyaknya anggota dan pendukungnya serta semakin meluasnya pengaruh dan cabang-cabangnya, maka ini juga termasuk istidraj. Ketika ada seseorang atau partai yang memenangkan pilkada atau pemilihan legislatif atau pemilihan umum dengan melanggar syarat-syarat kemenangan hakiki yang digariskan oleh Allah, baik dalam fund reshing (pendanaan)nya maupun dalam menarik simpati dukungan menggunakan hal-hal yang haram dan menghalalkan segala cara, namun mendapatkan dukungan suara dan kursi yang sangat signifikan, maka ingatlah yang demikian ini pun adalah istidraj.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

85

Hal ini juga berlaku bagi suatu bangsa dan negara. Ketika ada negara yang kufur kepada Allah, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, melegalkan beragam bentuk maksiat kepada Allah, memerangi orang-orang yang mencintai Allah dn Rasul-Nya, membatasi atau melarang berbagai aktifitas dakwah dan halhal positif lainnya, namun secara zhahir tampak maju di banyak aspek kehidupan, maka hal ini termasuk istidraj. Sebab, tidak setiap orang, keluarga, komunitas, ormas, partai, bangsa atau negara yang dianugerahi oleh Allah dengan kelimpahan rizki, kesejahteraan hidup, kemajuan dan kemenangan, berarti Allah mencintainya dan mendukungnya. Tidak. Karena, Allah memberi rizki orang yang mukmin dan kafir, yang baik dan jahat, bahkan bisa jadi Allah mengabulkan do'a dan permintaaan mereka lalu memberi mereka apa yang mereka di dunia, namun di akhirat mereka tidak mendapatkan bagian (pahala) apa pun, bahkan nerakalah tempat mereka. Coba renungkan firman Allah berikut, "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, Kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali" (QS AL Baqarah [2]: 126). Dan firman-Nya, "Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, Sebenarnya mereka tidak sadar" (QS Al Mukminuun [23]: 55-56). Juga firman-Nya, "Dan janganlah sekali-kali orangorang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh kami kepada mereka [Yakni: dengan memperpanjang umur mereka dan membiarkan mereka berbuat dosa sesuka hatinya] adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan" (QS Ali Imran [3]: 178). Jadi, menurut Sayyit Quthb, sesungguhnya kemakmuran dan kesejahteraan hidup merupakan ujian lain sebagaimana ujian kesulitan dan kesengsaraan hidup. Bahkan, kesejahteraan dalam ujian, kedudukannya lebih tinggi dari pada kesengsaraan. Dan Allah menguji hamba-Nya dengan kesejahteraan dan kesengsaraan, dengan kemudahan dan kesulitan. Dia swt menguji hamba-hambaNya yang ta'at dan maksiat (Fi Zhilal Al Qur'an II/1090). Bedanya, orang mukmin tidak terpukau terhadap nikmat, namun justru menyikapinya dengan syukur dan menyikapi ujian kesulitan dengan sabar sehingga karenanya semua urusannya menjadi baik dan bernilai pahala. Rasulullah saw bersabda, "Ajaib atau unik urusan orang mukmin itu. Sebab, semua urusannya itu baik, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan (kemudahan) lalu bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesulitan, namun bersabar, maka hal itu pun menjadi kebaikan baginya" (HR Muslim no. 5318). Kebinasaan Datang pada Puncak Kesenangan Setelah Allah mengulur-ulur (istidraj) dan memberi tangguh (imlaa') dengan membukakan beragam pintu kesejahteraan dan kemakmuran serta kemenangan "sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa" .

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

86

Inilah yang harus selalu kita waspadai. Ternyata, kemakmuran dan kesejahteraan hidup di tengah gumulan maksiat kepada Allah bukanlah nikmat yang hakiki, melainkan istidraj dan mukaddimah kepada siksa. Ternyata, kemajuan dalam banyak aspek dan kemenangan yang diraih dengan menghalalkan segala cara adalah kemajuan dan kemenangan semu, karena bisa jadi merupakan istidraj dan justru pengantar bagi kehancuran, kemunduran dan kekalahan. Maka, waspadalah untuk berkomentar, "Saya tidak shalat saja, banyak rizki". Atau "Pakai uang haram sedikit-sedikit kan tidak apa-apa untuk kemenangan dakwah yang lebih besar" dan lain-lain. Kini, masihkah ada di antara kita yang bangga dan terhipnotis oleh kemilau kemajuan negeri adidaya Amerika dan negara Barat lainnya? Masihkah, kita asyik masyuk dengan beragam kemaksiatan dan kemungkaran, toh masih merasa banyak kemudahan rizki? Dan masihkah kita terus membiayai aktifitas rumah tangga atau organisasi atau partai kita dengan uang-uang haram, toh tetap saja keluarga atau simpatisan dan anggota kita tidak berkurang? Ingat, kehancuran dan kebinasaan serta kekalahan itu datang secara tibatiba, bahkan bisa jadi datang pada puncak kebahagiaan, kemajuan dan kemenangan

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

87

22. Manusia Paling Merugi di Dunia dan Akhirat


"Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia [Maksudnya: tidak beriman kepada pembangkitan di hari Kiamat, hisab dan pembalasan], maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayatKu dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok". (QS Al Kahfi [18]: 103106).

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

88

Harta, jabatan, kegantengan/kecantikan, gelar, popularitas dan segala pernak-pernik dunia serta kuantitas amal tidak jarang sering memperdaya banyak orang. Sehingga muncullah egoisme, ujub (membanggakan diri sendiri) dan merasa paling baik, paling hebat, paling shalih dari orang lain. Decak kagum, pujian, gemuruh tepuk tangan, suara takbir yang menggelegar, sertifikat dan segala mahkota penghargaan menambah dan mengangkat derajatnya sehingga menganggap diri sendiri sebagai "The Best". Tentu, boleh jadi benar di mata kebanyakan manusia, seseorang dengan segala atribut dunia yang menempel pada dirinya dan merasa banyak melakukan amal dan kebajikan di dunia, kemudian merasa menjadi "The Best". Ya, tidak salah ia bisa saja benar-benar "The Best" di mata umat manusia. Tapi, pertanyaan penting dan mendasar adalah apakah ia juga "The Best" di mata Allah swt. Apakah ia termasuk orang yang paling hebat, paling bahagia dan paling shalih di sisi Ilahi Rabii; Allah swt. Ayat di atas mengungkap dengan gamblang, bahwa ternyata ada orang, termasuk di sini, keluarga, organisasi, partai, jama'ah atau bangsa, yang terperdaya oleh dirinya sendiri dan merasa telah banyak berbuat kebaikan sehingga merasa "The Best", namun ternyata di sisi Allah, pada hari Kiamat nanti dia atau mereka termasuk orang yang paling merugi. Menakar Untung dan Rugi dengan Neraca Ilahi Ketika Allah berfirman, "Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya"., maka ayat ini memberi pemahaman kepada kita bahwa neraca dan timbangan untung dan rugi bukanlah berdasarkan penilaian hawa nafsu atau pandangan kebanyakan orang. Melainkan, harus diukur dan ditakar dengan neraca Allah. Seseorang secara subyektif dapat saja menilai dirinya telah melakukan banyak kebajikan. Namun, ternyata Allah menvonisnya termasuk "orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini". Karenannya, takaran yang benar dalam mengukur untung dan rugi, bahagia dan sengsara serta baik dan buruk adalah neraca Allah swt. Inilah neraca yang absolut kebenarannya dan tidak akan pernah salah karena Allah adalah Al Haq, Yang Maha Benar. Siapakah Manusia yang Paling Merugi itu? Tentang siapa yang dimaksud orang yang paling merugi perbuatannya dalam ayat tersebut, terdapat beberapa pandangan para sahabat dan ulama. Imam Bukhari meriwayatkan dari Mush'ab bin Sa'ad, ia berkata, "Aku bertanya kepada ayahku [yakni Sa'ad bin Abi Waqqash RA] tentang firman Allah, "Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?", apakah mereka itu Al Haruriyah, (yakni kelompok Khawarij)? Dia menjawab, "Tidak. Mereka adalah kaum Yahudi dan Nasrani. Adapun orang-orang Yahudi (disebut paling merugi) karena mereka telah mendustakan Muhammad SAW. Sementara orang-orang Nasrani (disebut paling merugi) karena mereka mengkufuri syurga sambil mengatakan, tidak ada makanan dan minuman di dalam syurga. Al Haruriyah adalah orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh. Dan Sa'ad [yakni ibnu Abi Waqqash] menamakan mereka dengan sebutan orang-orang fasik" (HR Bukhari, no. 4359).

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

89

Sementara Imam Ibnu Katsir (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir III/329) mengutip pendapat Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, Dhahhak dan lain-lain, bahwa mereka (yang paling merugi yang dimaksud dalam ayat tersebut) adalah Al Haruriyah (Khawarij). Dalam kajian Ibnu Katsir, itu artinya bahwa ayat ini mencakup Al Haruriyah sebagaimana mencakup kaum Yahudi, Nasrani dan lainnya. Jadi, ayat tersebut bukan turun untuk satu kelompok tertentu saja, melainkan ia bersifat umum. Sebab, ayat ini Makkiyah sebelum kaum Yahudi dan Nasrani menjadi mitra bicara (khithab) dan sebelum adanya kelompok Khawarij. Dengan demikian, ayat tersebut bersifat general dan berlaku umum bagi siapa saja, baik Ahli Kitab, orang-orang musyrik dan orang-orang sesat lainnya, yang menyembah Allah dengan cara yang tidak diridhai dan tidak syar'i, sedangkan ia menyangka bahwa apa yang dilakukannya adalah benar dan amalnya diterima padahal kenyataannya ia benar-benar telah salah dan amalnya tertolak. Hal ini seperti disinggung oleh Allah SWT dalam firman-Nya, "Banyak muka pada hari itu tunduk terhina Bekerja keras lagi kepayahan. Memasuki api yang sangat panas (neraka)" (QS Al Ghaasyiyah [88]: 2-4). Juga firman-Nya, "Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan [yakni amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia, amal-amal itu tak dibalasi oleh Allah karena mereka tidak beriman], lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan" (QS Al Furqaan [25]: 23). Allah Juga berfirman,"Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun." (QS An Nuur [24]: 39). Ketiga ayat tadi menunjukkan bahwa orang-orang Kafir, karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan balasan atas amalan mereka itu. 5 (Lima) Sebab Menjadi Manusia yang Paling Merugi di Dunia dan Akhirat Ayat di atas menyinggung beberapa faktor yang menjadikan seseorang menjadi manusia yang paling merugi di dunia dan di akhirat. Di antaranya: 1. Melakukan perbuatan/amal yang sia-sia, tidak berdasarkan aturan yang disyariatkan dan tidak diridhai oleh Allah SWT. Faktor ini kita fahami dari firman-Nya, "Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini". 2. Mengkufuri ayat-ayat Allah, dan 3. Mengkufuri hari kebangkitan dan hari akhir. Keduanya tercermin dari firman-Nya, "Mereka itu orangorang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia" [Maksudnya: tidak beriman kepada pembangkitan di hari Kiamat, hisab dan pembalasan]. 4. Mereka mengolok-olok ayat-ayat Allah. 5. Mereka juga mengolok-olok para rasul Allah. Kedua hal ini termaktub dalam firman-Nya di atas, "mereka menjadikan ayatayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok". Balasan bagi Manusia yang Paling Merugi

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

90

Di dalam ayat tersebut, Allah SWT juga menyebutkan balasan bagi manusia yang paling merugi, di antaranya: ,. disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok 1. Terhapusnya amalan-amalannya, "maka hapuslah amalanamalan mereka" 2. Terkoyak-koyaknya kehormatan dan kemuliaannya, "..dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat". 3. Disiksa di neraka Jahannam, "Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam". Terkait dengan ayat di atas, Rasulullah SAW bersabda,

{ }
"Sesungguhnya nanti pada hari Kiamat akan datang seseorang yang besar dan gemuk, namun di sisi Allah beratnya tidak bisa mengungguli sayap seekor nyamuk". Lalu Nabi SAW bersabda, "Bacalah "..dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat" (HR Bukhari, no. 4360). Artinya tidak ada pahala bagi mereka, amalan-amalan mereka justru memicu siksa serta tidak ada kebaikan mereka yang bisa ditimbang di hari Kiamat. Sebab, selama di dunia ia menimbang untung dan rugi serta baik dan buruk dengan neraca nafsu dan variable-variabel dunia yang menipu. Dan orang yang tidak memiliki kebaikan di akhirat berarti tempatnya ada di neraka. Maka, rumah yang dihuni oleh manusia-manusia dengan prototipe di atas, akan menjadi seperti 'neraka'; panas oleh kemelut dan konflik yang tiada henti, api cinta kasih meredup dan cepat mati serta akan jauh dari berkah Ilahi. Agar kita sekeluarga tidak menjadi manusia yang paling merugi, maka mari kita nyalakan terus 'pelita' iman dengan beragam aktifitas yang diridhai oleh Sang Pemilik Kebahagiaan Sejati, Allah, Rabbu'l 'Aalamin ..

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

91

23. Dahsyatnya Dosa Membunuh


Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya (QS An Nisaa [4]: 93). Jagat Nusantara baru-baru ini digegerkan oleh rentetan pembunuhan mutilasi yang sangat sadis. Bahkan, setiap hari media cetak dan elektronik hampir tidak pernah sepi dari berita tentang pembunuhan, yang terkadang hanya dipicu oleh masalah sangat sepele. Begitu murahnya nilai darah anak cucu Adam di mata sebagian manusia. Kemuliaan Manusia Meski manusia adalah makhluk Allah yang lemah (QS An Nisaa [4]: 28), bodoh (QS Al Ahzab [33]: 72) dan fakir (QS Faathir [35]: 15), namun manusia
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

92

dimuliakan oleh Allah SWT atas semua makhluk-Nya yang lain dengan beragam kemuliaan sebagaimana firman-Nya, Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (QS Al Israa [17]: 70). Di antara kemuliaan dan kelebihan manusia adalah: 1. Diciptakan dalam sebaik-baik bentuk (QS At Tiin [95]: 4). 2. Ditiupkan ruh ke dalam (tubuh)nya ruh (QS As Sajdah [32]: 9). 3. Ditundukkan alam untuknya (QS Al Jaatsiyah [45]: 12, Al Baqarah [2]: 29, AL Mulk [67]: 15). Pembunuhan adalah Dosa Besar Karenanya membunuh makhluk yang termulia ini adalah kejahatan agung dan dosa besar sebagaimana firman Allah SWT, Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya (QS Al Maaidah [5]: 32). Ayat di atas menegaskan betapa besarnya dosa membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang jelas dan dibenarkan dalam Islam. Dalam kajian tafsir Ibnu Katsir rahimahullah- bahwa ayat ini merupakan ancaman dahsyat dan siksa yang amat pedih bagi pelaku dosa besar (membunuh) ini yang dalam beberapa ayat disandingkan dengan dosa syirik seperti dalam QS Al Furqaan [25]: 68, Al Anaam [6]: 151 dan lain-lain (Tafsir Ibnu Kartsir II/85). Tentang Sababun Nuzul (sebab turunnya) ayat tersebut, Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalan periwayatan Ibnu Juraij dari Ikrimah, bahwasanya (dahulu) ada seorang lelaki dari kaum Anshar membunuh saudara laki-laki Miqyas bin Shabaabah. Lalu Nabi SAW memberinya diyah (harta tebusan), dia pun menerimanya. Kemudian ia merencanakan untuk membunuh pembunuh adiknya, dan benar terjadi ia telah membunuhnya. Lalu Nabi SAW bersabda, Aku tidak menjaminnya dalam halal dan haram, maka pada hari Fathu Makkah, ia pun dieksekusi mati. Ibnu Juraij berkata, ayat ini turun tentang masalah ini (Lihat At Tafsir Al Munir, Dr Wahbah Az Zuhaili V/199-200) Ada dua hal penting yang menyebabkan pelaku pembunuhan dalam ayat di atas diancam dengan ancaman yang dahsyat. Pertama: yang dibunuh adalah orang yang beriman. Padahal dengan keimanan itulah seseorang bernilai dan berharga di sisi Allah SWT (QS Al Baqarah [2]: 221, Al Hujuraat [49]: 13), bahkan diangkat derajatnya oleh Allah Taaala (QS Al Mujaadilah [58]: 11). Dan hancurnya dunia masih jauh lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin, demikian sahabat Al Barra bin Aazib RA meriwayatkan dari Rasulullah SAW seperti dalam hadits riwayat Imam Al Baihaqi. Kedua: pembunuhan itu dilakukan dengan sengaja. Berarti direncanakan secara matang dan dengan menggunakan senjata yang mematikan. Karena itu, pantaslah pembunuhan semacam ini tidak bisa ditebus dengan denda dan membebaskan budak, melainkan pelakunya diancam dengan ancaman yang dahsyat dan hukuman yang berlapis-lapis yaitu: 1) Diganjar dengan neraka jahannam, ia kekal di dalamnya selamalamanya.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

93

2) Mendapat murka Allah 3) Dilaknat oleh Allah sehingga hidupnya sepi dari ketenangan, ketentraman dan kesejahteraan karena ketika dilaknat berarti dijauhkan dari rahmat. 4) Disediakan baginya adzab yang besar. Karena itulah membunuh adalah perbuatan keji dan dosa besar. Dalam Islam, diharamkan membunuh jiwa seorang muslim kecuali karena adanya salah satu dari tiga alasan yang dibenarkan sebagaimana dalam hadits shahih, Tidak halal darah seorang muslim yang bersyahadat bahwa tidak ada tuhan selah Allah dan sesungguhnya aku adalah Rasulullah kecuali karena salah satu dari tiga alasan berikut: (dibunuh) jiwa karena (membunuh) jiwa yang lain, orang yang sudah menikah tapi berzina dan orang yang meninggalkan agamanya (murtad) yang memisah dari jamaah (kaum muslimin) (HR Bukhari no. 6370 dan Muslim no. 3175). Ketiga alasan yang dibenarkan ini pun tidak diperbolehkan seseorang mengeksekusinya sendiri, melainkan yang berhak mengeksekusi adalah imam/penguasa atau wakilnya. Maka, semua pintu yang mengarah kepada pembunuhan harus ditutup rapat. Beragam kebijakan dan usaha harus dikerahkan untuk mencegah terjadinya pembunuhan. Rasulullah SAW pun telah mewaspadai kaum muslimin untuk tidak saling bunuh membunuh, bahkan beliau memberitakan bahwa pembunuh dan yang dibunuh keduanya masuk neraka. Dari Abu Bakrah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, Apabila ada dua orang muslim yang bertemu dengan kedua pedangnya (ingin saling membunuh), maka pembunuh dan yang dibunuh di neraka. Abu Bakrah bertanya, Ya Rasulullah, yang pembunuh ini (kami tahu), tapi bagaimana dengan yang dibunuh (kenapa juga masuk neraka)? Beliau menjawab, Yang dibunuh (juga masuk neraka) karena ia juga bersemangat untuk membunuh saudara/sahabatnya (HR Bukhari no.30). Karenanya, seorang beriman tidak akan pernah mau membunuh saudarnya sesama mukmin, takut akan menjadi penghuni neraka. Para sahabat RA, mereka menjadi manusia unggul dan dijuluki oleh Nabi SAW sebagai generasi terbaik, tidak pernah terbersit di benak pikiran mereka untuk membunuh para pembunuh orang tua, anak-anak dan suadara-saudara mereka, setelah mereka (para pembunuh keluarganya) masuk Islam. Mereka sadar betul, bahwa membunuh dapat mencederai bahkan mengingkari keimanan. Apakah Diterima Taubatnya Orang yang Membunuh dengan Sengaja? Ayat di atas mengundang perdebatan dan polemik di kalangan para ulama seputar diterima atau tidak taubatnya orang yang membunuh dengan sengaja karena dahsyatanya ancaman yang ada dalam ayat di atas. Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok Pertama diwakili oleh Ibnu Abbas dan beberapa orang dari sahabat dan tabiin yang berpendapat tidak ada taubat bagi pelaku pembunuhan dengan sengaja berdasarkan ayat di atas dan hadits-hadits yang menunjukkan besarnya dosa membunuh, sebagian telah dituturkan di atas (Lihat Tafsir Ibnu Katsir II/85). Kelompok Kedua, yaitu Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat diterima taubatnya pelaku pembunuhan dengan sengaja jika benar-benar ia melakukan

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

94

taubatan nasuha. Hal ini didasarkan pada dalil dari ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits yang banyak sekali. Di antaranya firman Allah, Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosadosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Az Zumar [39]: 53). Ayat ini umum berlaku untuk semua jenis dosa, termasuk dosa membunuh. Dan firman-Nya, Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya (QS An Nisaa [4]: 48). Ayat ini juga umum berlaku untuk semua bentuk dosa kecuali dosa syirik. Juga dalam QS Al Furqaan [25]: 68-70, jelas sekali orang yang taubat dikecualikan dari siksa di hari kiamat nanti. Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, disebutkan tentang seseorang dari Bani Israil yang membunuh seratus orang, kemudian dia bertanya kepada orang yang alim, Apakah masih terbuka bagiku taubat? Ia menjawab, Siapa yang bisa menghalangi antara dirimu dan taubat? (Artinya masih terbuka bagimu pintu taubat). Kemudian orang alim itu menyarankan untuk meninggalkan tempat tinggalnya dan pergi ke negeri yang penduduknya menyembah Allah, maka ia pun berhijrah menuju tempat tersebut dengan tujuan untuk bertaubat, namun belum sampai ke tempat yan dituju, ia mati, lalu malaikat rahmat mendekapanya. Jika hal ini terjadi di kalangan Bani Israil, maka tentu jika terjadi pada umat ini, lebih berhak untuk diterima taubatnya. Mengenalkan kepada keluarga tentang dosa-dosa yang diancam oleh Allah SWT dengan siksa api neraka dan membunuh salah satunya, adalah merupakan bentuk tanggung jawab kita untuk memagari dan memelihara mereka dari api neraka seperti perintah QS At Tahrim [66]: 6, sehingga keluarga besar kita dapat menjauhkan diri dari perbuatan keji ini. Allahumma Amin...

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

95

24. Menentang Syariat, Membuat Sekarat


Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih (QS An Nuur [24]: 63).

Beragam fenomena kerusakan alam akibat kezhaliman manusia telah Allah SWT perlihatkan di muka bumi agar umat manusia sadar dan kembali ke pangkuan Ilahi. Namun, sedikit sekali manusia yang cerdas membaca fenomena sebagai akibat dari pelanggaran terhadap syariat Allah. Kali ini, Allah SWT memperlihatkan kekuasaan-Nya di Amerika Serikat, negara adikuasa yang dikenal sebagai negara Super Power, Polisi Dunia dan kiblat
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

96

banyak negara di dunia. Yaitu munculnya badai krisis keuangan global yang telah banyak memakan korban bank investasi raksasa seperti Lehman Brothers, Bear Steaners, Merril Lynch dan Morgan Stanley. Bahkan, badai ini menjerumuskan negara Islandia ke jurang kebangkuran. Dampak guncangan badai ini pun kian mengglobal, dari penjuru utara hingga selatan, dari barat ke timur. Meski, telah digelontorkan dana 700 miliar dolar AS yang hampir setara dengan Rp 7.000 triliun atau nyaris lima kali APBN kita, untuk menyelamatkan berbagai lembaga keuangan di negara itu, namun diprediksi krisis global kali ini tidak akan berhenti, bahkan akan lebih dahsyat dari depresi ekonom tahun 1930-an. Oleh Presiden Ekuador, krisis Amerika dianggap sebagai bukti kegagalan sistem kapitalis (Hidayatullah.com 6/10/2008). Menentang Syariat Membawa Sekarat dalam Semua Aspek Kehidupan Jika Morris Berman baru tahun 2006 meramal kebangkrutan kekaisaran Amerika Serikat secara komprehensif dalam bukunya yang menjadi best seller berjudul Dark Ages America, The Final Phase of Empire atau Abad Gelap Amerika, Tahap Akhir dari Kaisar. Maka, sesungguhnya lebih dari empat belas abad yang lampau, Al Quran melalui ayat di atas telah menetapkan sunnatullah tentang munculnya fitnah, termasuk fitnah iqtishadiyah, krisis ekonomi. Dalam ayat tersebut, Allah SWT memberikan warning kepada siapa saja, baik individu, keluarga, ormas, masyarakat, bangsa dan negara yang melanggar perintah Rasulullah SAW pasti akan ditimpa fitnah. Meskipun, konteks ayatnya ditujukan kepada orang-orang munafik (Lihat At Tafsir Al Munir, Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili, XVIII/315-316). Dan kata fitnah dalam ayat di atas diredaksikan dengan bentuk Nakirah, yang memiliki faedah tanwi (variatif) dan taktsir (banyak). Berarti fitnah yang menimpanya beragam; fitnah aqadiyah (krisis akidah/ideologi), fitnah akhlaqiyah (krisis moral), fitnah ijtimaiyah (krisis sosial), fitnah siyasiyah (krisis politik), fitnah ailiyah (krisis keluarga), fitnah kauniyah (krisis alam) dan fitnah iqtishadiyah (krisis ekonomi). Menurut Ibnu Katsir rahimahullah-, bahwa perintah Rasulullah SAW tersebut adalah jalannya, manhajnya, jejaknya, sunnahnya dan syariatnya (Tafsir Ibnu Katsir, IV/66). Karena itu, krisis global yang mengguncang Amerika Serikat adalah hal wajar dan bukan hal yang mengherankan. Sebab, negara adi daya itu tidak hanya melanggar dan menentang syariat, namun telah memiliki daftar panjang kejahatan dan dosa terhadap kaum muslimin. Ribuan nyawa kaum muslimin melayang di Palestina, Afghanistan dan Irak, tidak bisa dipungkiri ada peran dan kontribusi besar Amerika Serikat di sana, baik langsung maupun tidak langsung. Dalam kajian Sayyid Quth rahimahullah-, bahwa sesungguhnya ayat tersebut merupakan peringatan yang genting dan ancaman yang menakutkan .. Maka, hendaknya orang-orang yang menyalahi dan menentang perintah Rasul SAW, mengikuti selain manhajnya dan berangsur-angsur pergi dari barisan ingin mengejar suatu manfaat dan mencegah kemudharatan, hendaknya mereka waspada dan takut ditimpa fitnah yang dapat menggoncang tatanan/sistem. Sehingga bercampurbaurlah kebenaran dan kebatilan, yang baik dan yang busuk. Membuat urusan dan kehidupan berjamaah pun menjadi rusak. Tidak seorang pun yang bisa menyelamatkan dirinya. Kebaikan dan keburukan pun susah dibedakan. Dan itulah era kehancuran dan kesengsaraan bagi semua .. (Lihat Fi Zhilal Al Quran, IV/2535).

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

97

Inilah kaidah kehidupan yang terus berlaku sepanjang masa dan bagi siapa saja. Ketika keluarga dimanage dengan sistem dan aturan yang menentang syariat, maka bisa dipastikan keluarga itu akan sekarat; berada di jurang kehancuran dan tidak akan pernah terwujud sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta kasih) dan rahmat (sayang). Kalau toh kelihatannya mapan secara finansial dan mempesona tampilan fisiknya, maka hal itu penuh dengan kepalsuan dan tak lebih sekedar fatamorgana. Jika organisasi, partai atau jamaah dalam kiprah dan aktifitasnya melanggar dan menentang syariat, maka tinggal menunggu waktu untuk sekarat. Kalau bangsa dan negara dalam kebijakan-kebijakannya melanggar syariat, maka sekarat adalah suatu kepastian. Dan ketika alam dikelola dengan melanggar syariat, maka alam pun akan sekarat sehingga terjadilah bencana dan malapetaka di mana-mana. Seperti banjir, longsor, tsunami, gunung meletus dan lain-lain. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah SWT, Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar Ruum [30]: 41). Demikianlah kondisi seseorang, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara yang sekarat di dunia dalam semua aspek kehidupan akibat menentang syariat. Hal yang sama yang juga pernah terjadi pada bangsa Ad, kaum nabi Hud AS, bangsa Tsamud, kaum nabi Shalih AS, kaumnya nabi Luth AS, nabi Nuh AS, Firaun dan Qarun. Mereka semua binasa dan sekarat karena menentang syariat para nabi mereka. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuatbuat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman (QS Yusuf [12]: 111) demikian Allah SWT mengingatkan kita. Sementara di akhirat, kondisinya sudah pasti lebih mengenaskan dan mengerikan. Sebab, firman Allah atau ditimpa adzab yang pedih. Tidakkah cukup kejadian di Amerika Serikat dan kebinasaan dan sekarat kaum-kaum terdahulu menjadi pelajaran dan menambah kecerdasan spiritual kita?!? Mengapa kita tidak segera beralih syariat Allah, seperti all out menerapkan sistem keuangan syariah yang menjamin barakah (keberkahan) rafahiyah (kesejahteraan) ekonomi kita!?? Semoga Allah SWT menjauhkan kita sekeluarga dari fitnah/sekarat dan adzab dengan berusaha semaksimal mungkin menerapkan dan membumikan syariat (Allah). Amin

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

98

25. Agar Kita dan Keluarga tidak Menjadi Penghuni Neraka


Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

99

yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At Tahrim [66]: 6). Begitu mulia dan tingginya kedudukan keluarga dalam Islam, maka pembahasan seputar keluarga mendapatkan porsi yang sangat besar dalam Al Quran. Salah satunya adalah ayat di atas, yang menyinggung secara khusus tentang keluarga. Sehingga tidak berlebihan sampai ada yang menyebut Al Qur'an sebagai Kitab Al Usrah (Kitab Keluarga). Standar Kesuksesan Orang Beriman Jika persepsi kebanyakan orang menilai kesuksesan seseorang dengan Miqyaas Maaddi, standar materi, seperti kekayaan, tampilan fisik, gelar dan jabatan, maka ayat di atas tampil untuk meluruskan persepsi yang benar tentang arti kesuksesan yang sejati. Yaitu, sesungguhnya ayat tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa Miqyaas Kamaal wa Najaah Al Mumin (standar kesempurnaan dan kesuksesan seorang mukmin) adalah sejauh mana ia sukses dalam menciptakan Istiqraar Usari/Aaili (stabilitas keluarga) setelah mampu menciptakan Istiqraar Nafsi (stabilitas diri). Karenanya ayat tersebut diawali dengan panggilan Yaa Ayyuhalladziina Aamanu (Hai orang-orang yang beriman). Jadi, seorang mukmin yang sempurna dan sukses adalah seorang mukmin yang sukses dalam Ar Riaayah Al Usariyah (mengayomi keluarga). Mampu mengkondisikan keluarganya untuk menjadi generator dan inspirator bagi dirinya dalam memproduksi beraneka macam kebajikan. Mampu mewujudkan keluarganya menjadi keluarga SAMARA (SAkinah MAwaddah wa RAhmah). Dalam ayat di atas dibahasakan dengan kemampuannya membentengi diri dan keluarganya dari api neraka. Cara Membentengi Keluarga dari Api Neraka Ada beragama cara yang dapat dilakukan unutk membentengi keluarga dari api neraka, di antaranya: 1. Menjadikan mereka menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah dengan senantiasa menyeru mereka untuk mentaati Allah SWT dan melarang mereka dari maksiat kepada-Nya. Ini berarti ia harus selalu mengkondisikan dan menfasilitasi terwujudnya iklim yang mendorong semua anggota keluarga menjadi orang-orang yang yang bertaqwa. Dalam kajian Ibnu Katsir, dari Ibnu Abbas, saat menafsirkan ayat Quu anfusakum wa ahliikum naaran, beliau RA berkata: Berbuatlah untuk taat kepada Allah dan takutlah kalian terhadap maksiat kepada Allah (Tafsir Ibnu Katsir V/112). Untuk itu, ketika orang tua membiasakan anak-anaknya sholat, puasa, rajin membaca Al Quran dan lain-lain sesungguhnya orang tua tersebut telah membentengi mereka dari api neraka.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

100

2. Mentarbiyah (membina) keluarga dengan pembinaan yang terpadu dan kontinyu. Ketika menafsirkan ayat di atas, Sayyidina Ali bin Abu Thalib RA mengatakan; Didiklah dan ajarilah mereka (Tafsir Ibnu Katsir V/112). 3. Menyiapkan sandang, pangan dan papan keluarga dengan cara yang halal. Sebab, sandang, pangan dan papan yang haram atau didapat dari cara yang haram justru menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Sebagaimana sabda Nabi SAW; Setiap daging yang tumbuh (dalam tubuh manusia) dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih berhak untuk (tempat tinggal)nya HR Ath Thabrani. Kedahsyatan Siksa Api Neraka Ayat di atas secara eksplisit juga menggambarkan kuatnya tarikan dan kedahsyatan siksa api neraka dengan 4 (empat) hal: Pertama: penggunaan lafazh Quu (peliharalah) dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa taring-taring neraka menyebar di mana-mana siap menerkam diri kita dan keluarga. Karenanya kita harus selalu menjaga dan memelihara diri kita dan keluarga agar selamat dari jilatan api neraka. Hal ini jelas berbeda konteks maknanya jika menggunakan perintah Ibtaiduu (jauhilah neraka) misalnya. Kedua: disebutnya neraka dengan redaksi Naaran bukan An Naar- dalam bentuk nakirah (umum) yang berarti Lit Tazhim (untuk pengagungan/pembesaran). Ketiga: penyebutan yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu menunjukkan betapa hinanya manusia yang tidak beriman kepada Allah SWT sehingga ia dan batu sama di dalam neraka. Yaitu sama-sama menjadi bahan bakar. Ada yang berpendapat (Tafsir Ibnu Aasyur XXVIII/327), bahwa batu di situ adalah berhala-berhala yang disembah sebagaimana firman Allah SWT; Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya (QS Al Anbiyaa (21): 98). Tentang perbandingan batu neraka Jahannam dengan batu di dunia, Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (V/113) meriwayatkan sebuah hadits yang dikomentarinya sebagai hadits mursal gharib; Bahwasanya Rasulullah SAW membaca ayat di atas, di sisinya ada beberapa orang sahabat, di antara mereka ada seorang yang sudah tua bertanya; Ya Rasulullah, apakah batu jahannam seperti batu dunia?. Lalu Nabi SAW menjawab; Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh sebuah batu neraka Jahannam lebih agung dan besar dari pegunungan dunia seluruhnya. Orang tua tadi langsung pingsan. Kemudian Nabi SAW menaruh tangannya di dadanya, di dapatinya orang tua tersebut masih hidup, maka beliau SAW bersabda; Wahai orang tua, katakanlah Laa Ilaaha illallah (tiada tuhan selain Allah). Lalu ia mengucapkannya, maka ia diberi berita gembira dengan syurga. Para sahabat bertanya; Ya Rasulullah, apa ia termasuk golongan kita (Islam)? Beliau SAW menjawab; Ya. Allah Taala berfirman; Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku) (QS Ibrahim (!4): 14)

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

101

Keempat: kalimat penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras melengkapi kengerian dan kedahsyatan api neraka. Tabiat para malaikat itu sesuai dengan tabiat azab yang ditimpakan kepada mereka. Ditambah lagi bahwa para malaikat itu bukanlah tipe pembangkang, melainkan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Ini berarti mereka tidak bisa dilobi, dipengaruhi apalagi sampai dibeli. Oleh karena itu seorang mukmin wajib selalu membentengi diri dan keluarganya dari api neraka sebelum hilang kesempatan dan tidak bermanfaatnya udzur seperti yang terjadi pada orang-orang kafir sebagaimana firman Allah SWT; Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan udzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan. (QS At Tahrim (66): 7). Usaha ini membuat rumah kita tidak akan seperti neraka yang akhirnya menjadikan kita sekeluarga diselamatkan oleh Allah dari api neraka insya Allah. Allahumma Aamin

26. Manusia Terjajah

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

102


"Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut [Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah SWT] itu. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)" (QS An Nahl [16]: 36). Setiap tahun, setiap bulan Agustus, tepatnya tanggal 17 Agustus, Indonesia selalu memperingati hari kemerdekaan. Beragam acara dan kegiatan digelar. Dari mulai lomba balap karung, beragam cabang olah raga dipertandingkan hingga lomba panjat pinang. Ada juga yang menyelenggarakan acara dzikir, do'a dan istighotsah untuk bangsa, juga acara-acara seremonial lainnya. Selain yang pasti upacara Detik-detik Proklamasi yang dilaksanakan di seantero Nusantara. Semua itu diselenggarakan konon dalam rangka mensyukuri nikmat kemerdekaan. Tetapi, benarkah kita sudah merdeka?! Jika kemerdekaan dimaknai merdeka dari penjajah, maka bangsa ini memang telah merdeka. Namun, dalam perspektif Islam, benarkah bangsa ini merdeka? Lalu apa hakekat kemerdekaan menurut Islam? Ayat di atas menyinggung hal ini secara gamblang. Misi Rasul adalah Menjadikan Umat Manusia Merdeka Ayat di atas menjelaskan, bahwa Allah SWT mengutus pada setiap umat seorang Rasul, sejak zaman nabi Nuh AS sampai nabi Muhammad SAW untuk menjalankan misi suci. Misi suci itu adalah memerdekakan semua umat manusia dari penyembahan kepada selain Allah, menuju penyembahan kepada Allah semata. Dalam bahasa ayat tersebut, bahwa semua rasul yang diutus oleh Allah SWT menyeru kaumnya, "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut". Hal ini dipertegas oleh banyak ayat dalam Al Qur'an, diantaranya Allah berfirman, "Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku" (QS Al Anbiyaa' [21]: 25). Maka, nabi Nuh AS mengatakan kepada kaumnya, "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)" (QS Al A'raaf [7]: 59). Nabi Hud AS yang diutus kepada kaum 'Ad, menyeru kaumnya, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" (QS Al A'raaf [7]: 65)> Nabi Shalih AS kepada kaumnya, Tsamud, menyeru hal sama, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya" (QS Al A'raaf [7]: 73).
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

103

Hal yang sama juga dilakukan oleh nabi Syu'aib AS kepada kaumnya, penduduk Madyan, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya" (QS Al A'raaf [7]: 85). Hal ini menunjukkan, bahwa Din (agama) para rasul itu satu dan Wihadatu Risalaati'r Rusul (kesatuan visi dan misi para rasul), yaitu menjadikan umat manusia merdeka dari penyembahan kepada selain Allah SWT dan hanya menyeru untuk menyembah Allah semata. Karena itu, menurut Ibnu Katsir, setelah penjelasan ini, bagaimana bisa orang-orang musyrik itu mengatakan seperti dalam ayat sebelumnya- "Jika Allah menghendaki, niscaya Kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia" (QS An Nahl [16]: 35). Sesungguhnya Masyi'ah Syar'iyyah (kehendak Allah yang bersifat syar'i) untuk kufur itu telah ternafikan dengan sendirinya sehingga tidak bisa mereka menisbatkan kemusyrikannya kepada kehendak Allah, karena hal itu bukanlah keinginan-Nya. Sebab, Allah Ta'aala telah melarang umat manusia untuk kefur melalui lisan para Rasul-Nya. Sementara Masyi'ah Kauniyyah (kehendak Allah yang bersifat kauni), yaitu taqdir (ketentuan) Allah atas kekufuran sebagian umat manusia adalah sesuai dengan pilihan mereka sendiri, sehingga hal ini tidak bisa dijadikan hujjah (argumentasi) atas kekufuran mereka. Sebab, Allah SWT telah menciptakan api neraka dan penghuninya adalah setan-setan dan orang-orang kafir. Allah sendiri tidak ridha hamba-hamba-Nya menjadi kufur. Maka, hal ini telah menjadi hujjah yang kuat bagi-Nya SWT (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir III/212). Makna Thaghut Thaghut secara etimologis berasal dari kata thaghaa yathghaa thughyaan yang berarti melampaui batas dalam maksiat. Lalu secara terminologis, thaghut berarti semua orang yang melampaui batas, dan segala sesuatu yang disembah selain Allah (Lihat: Mufradaat Alfaazh Al Qur'an, Al Ashfihaani, hal. 520, Dar Al Qalam, Damaskus, cet.I, 1412 H/1992 M). Menurut Imam Ibnu'l Qayyim rahimahullah-, makna thaghut adalah seorang hamba melampaui batas, baik dalam hal ma'bud (sesembahan/yang disembah) atau matbu' (yang diikuti) atau muthaa' (yang ditaati). Dan thaghut itu banyak bentuknya, pangkalnya ada lima: 1. Iblis yang dilaknat oleh Allah. 2. Orang yang disembah dan ia rela untuk itu. 3. Orang yang menyeru umat manusia untuk menyembah dirinya. 4. Orang yang mengklaim/mengaku mengetahui hal yang ghaib. 5. Orang yang berhukum kepada selain yang diturunkan oleh Allah (Al Ushul Ats Tsalaatsah wa Adillatuha,

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

104

Muhammad At Tamimi, hal 24-25, Wizaarah Asy Syu'un Al Islamiyah, Saudi Arabia, 1416 H). Lafazh ini dengan derivasi (kata jadian)nya disebut 39 kali dalam Al Qur'an. Perhatian Al Qur'an yang begitu besar ini, merupakan warning agar umat manusia waspada terhadap segala penyembahan kepada selain Allah, dan segala perilaku yang melampaui batas. Hakekat Kemerdekaan dalam Perspektif Islam Memahami misi Rasul di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa kemerdekaan dalam pandangan Islam bukan sekedar merdeka dari penjajah. Melainkan ketika kita hanya menghamba kepada Allah SWT semata. Makna ini dipertegas oleh Rib'i bin Amir, ketika diutus oleh panglima perang kaum muslimin dalam perang Qadisiyah, Sa'ad bin Abi Waqqash RA. Dihadapan Rustum, panglima perang bangsa Persia, Rib'i bin Amir menyampaikan misi luhurnya, "Kami datang untuk memerdekan umat manusia dari penyembahan dari sesama manusia menuju penyembahan kepada Rabb manusia, Allah SWT. Untuk memerdekakan manusia dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan untuk memerdekakan manusia dari kezhaliman beragam agama menuju keadilan Islam" (Al Bidaayah wa'n Nihaayah, Ibnu Katsir IV/43). Al Qur'an mendokumentasikan, bahwa dalam sejarah peradaban umat manusia telah terjadi penyelewengan penyembahan kepada selain Allah. Di antara mereka ada yang menyembah matahari dan bulan sebagaimana firman Allah, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika Ialah yang kamu hendak sembah" (QS Fushshilat [41]: 37). Diantara mereka ada yang menyembah malaikat seperti dalam firman Allah, "Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) Dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?" (QS Ali Imran [3]: 80). Ada juga, manusia yang menyembah para nabi. Allah berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaibghaib" (QS Al Maaidah [5]: 116). Al Qur'an juga menyinggung manusia yang menyembah hawa nafsu, "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?" (QS Al Furqaan [25]:

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

105

43). Juga lihat QS Al Jaatsiyah [45]: 23. Dan bentuk-bentuk thaghut yang lain masih banyak. Dalam bahasa ayat di atas, manusia yang terjajah dan belum merdeka adalah mereka yang berada dalam kesesatan. Sementara manusia yang merdeka sejati adalah mereka yang mendapat hidayah (petunjuk) Allah, yang hanya menghamba kepada Allah SWT semata, "Maka di antara umat itu ada orangorang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya". Begitulah, hidup adalah pilihan diantara dua hal; hidayah (petunjuk) atau dhalalah (kesesatan), Al Khair (kebaikan) atau Asy Syarr (keburukan), iman atau kufur, Al Haq (kebenaran) atau Al Baathil (kebatilan), taqwa atau fujur, dan akhirnya di akhirat nanti manusia dihadapkan pada dua pilihan tempat; surga atau neraka. Setiap pilihan memiliki konsekuensi dan balasan masing-masing. Maka, penting merenungkan keberakhiran manusia dan kaum terjajah, yang durhaka kepada para rasul, mendustakan kebenaran dan menentangnya seperti kaum 'Ad dan Tsamud, yang telah dibinasakan oleh Allah SWT disebabkan dosa-dosa mereka, "Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)". Mari kita bina dan kondisikan diri kita, keluarga dan masyarakat untuk menjadi manusia-manusia merdeka yang hakiki agar bahagia dunia dan akhirat dalam rengkuhan ridha Ilahi.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

106

27. Ancaman bagi Orang yang Menolak Hijrah


"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri [yang dimaksud dengan orang yang Menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Mekah yang tidak mau hijrah bersama

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

107

Nabi sedangkan mereka sanggup. mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar; akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu], (kepada mereka) Malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". mereka menjawab: "Adalah kami orangorang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para Malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)" (QS An Nisaa' [4]: 9798). Hijrah yang merupakan sarana strategis untuk membangun peradaban umat manusia dan menjanjikan bagi pelakunya kelapangan rizki, pengampunan dosa, derajat tinggi di sisi Allah dan surga sebagaimana dalam firman-Nya, "Orangorang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padanya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar" (QS At Taubah [9]: 20-22). Hijrah yang menjanjikan kebahagiaan di dunia dan akhirat ini, ternyata tidak menggiurkan bagi semua orang. Ayat di atas menerangkan ancaman yang dahsyat bagi orang yang menolak hijrah. Hijrah adalah Bukti Kejujuran Iman Sesungguhnya keimanan itu tidak cukup dengan klaim dan pengakuan, melainkan memerlukan pembuktian dan pengorbanan. Maka, hijrah yang mencakup dua makna; Hijrah Hissiyyah (Hijrah secara fisik, yaitu pindah dari satu tempat menuju tempat lain, seperti hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah menuju Madinah) dan Hijrah Ma'nawiyyah (Hijrah secara maknawi/non fisik, yaitu meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah menuju apa-apa yang diridhoiNya) adalah salah satu bukti kejujuran iman seseorang. Karena itu, hampir mayoritas jika tidak dibilang semuanya- ayat-ayat yang menerangkan tentang hijrah selalu disebut dengan iman. Seperti dalam QS Al Baqarah [2]: 218, Al Anfaal [8]: 72, 75, Al Ahzaab [33]: 6, al Mumtahinah [60]: 10 dan lain-lain. Bahkan, Allah SWT menegaskan dalam QS Al Anfaal [8]: 74, bahwa orang-orang yang berhijrahlah yang pantas mendapatkan julukan mukmin sejati, yaitu dalam firman-Nya, Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (QS Al Anfaal [8]: 74). Dengan demikian, orang yang menolak hijrah berarti diragukan keimananannya bahkan bisa dianggap orang yang tidak beriman sehingga pantas mendapat siksaan yang sangat pedih seperti disinggung oleh ayat di atas. Macam-macam Orang Mukmin di Zaman Nabi SAW

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

108

Ayat di atas menggiring kita untuk meneropong macam-macam orang yang mukmin di zaman Nabi SAW. Sesungguhnya Allah SAW membagi orang-orang beriman pada zaman Nabi SAW menjadi empat kelompok, yaitu: Kelompok Pertama: Kaum Muhajirin awal (Al Muhaajiruun Al Awwaluun); orang-orang yang berhijrah pertama kali, mereka ini disifati oleh Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah" (QS Al Anfaal [8]: 72). Kelompok Kedua: Kaum Anshar, yaitu mereka yang memberikan tempat kediaman, pertolongan dan mengerahkan jiwa raga dan hartanya untuk melayani Rasulullah SAW dan urusan para sahabatnya (kaum Muhajirin). Tanpa mereka, setelah karunia dari Allah, tentu tidak sempurna tujuan hijrah. Mereka ini disinggung oleh Allah SWT dengan firman-Nya, ".. dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi [Yang dimaksud lindung melindungi Ialah: di antara muhajirin dan anshar terjalin persaudaraan yang Amat teguh, untuk membentuk masyarakat yang baik. demikian keteguhan dan keakraban persaudaraan mereka itu, sehingga pada pemulaan Islam mereka waris-mewarisi seakan-akan mereka bersaudara kandung.] .." (QS Al Anfaal [8]: 72). Kelompok Ketiga: Orang-orang mukmin yang tidak berhijrah ke Madinah, mereka tetap tinggal di Mekah. Mereka inilah yang disinggung oleh Allah SWT dengan firman-Nya, ".. dan orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah .." (QS Al Anfaal [8]: 72). Maka, Allah SWT menjelaskan hukum mereka dari dua sisi: Pertama: Allah berfirman, ".. Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah.." (QS Al Anfaal [8]: 72). Bahwa makna wilayah (perlindungan) yang dinafikan di sini adalah pertolongan dan waris (Lihat: Tafsir Ath Thabari XIV/81). Kedua: Allah befirman, ".. (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan .." (QS Al Anfaal [8]: 72). Dengan demikian, pemutusan wilayah tadi tidaklah seperti pemutusan terhadap orang-orang kafir. Sebab, mereka masih termasuk mukmin hanya mereka tidak berhijrah. Karenanya, jika mereka meminta bantuan melawan orang-orang kafir, maka Rasulullah SAW dan para sahabat wajib memberikan pertolongan sebab mereka masih termasuk saudara dalam agama. Tetapi mereka tidak memiliki hak atas harta rampasan perang sebagaimana hadits riwayat Imam Ahmad (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, II/432). Kelompok Keempat: Orang-orang yang tidak berhijrah bersama Nabi SAW ke Madinah, namun sesudah itu mereka berhijrah, mereka inilah yang dimaksud dalam firman Allah SWT, "Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga) " (QS Al Anfaal [8]: 75). Pengklasikasian ini diperkuat oleh pendapat Ibnu Abbas RA yang mengatakan, "Nabi SAW meninggalkan masyarakat di hari wafatnya, dalam 4 (empat) kelompok; (pertama) orang mukmin yang berhijrah, (kedua) kaum Anshar, (ketiga) orang Arab mukmin yang tidak berhijrah, jika Nabi meminta bantuan kepadanya, ia menolongnya, dan jika Nabi membiarkannya maka hal itu merupakan restunya. Jika ia meminta pertolongan kepada Nabi SAW dalam (urusan pembelaan) agama, maka wajib bagi beliau SAW untuk memberikan

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

109

pertolongan. Yang demikian ini adalah (maksud) firman-Nya ".. (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan .." (QS Al Anfaal [8]: 72). Dan keempat: orang-orang yang mengikuti dengan baik" (Tafsir Ath Thabari XIV/83). Neraka Jahannam bagi Orang yang Menolak Hijrah Ayat di atas menerangkan bahwa tidak boleh bagi seorang muslim tinggal di negeri orang kafir jika masih ada negeri-negeri orang Islam, lebih-lebih jika keberadaannya di negeri kafir tersebut mengancam agamanya. Dan Allah SWT tidak menerima alasan orang-orang yang tidak mau berhijrah karena mereka lemah, tertindas sehingga tidak bisa pergi berhijrah.Bahkan, Allah menyebut mereka sebagai orang-orang yang menganiaya (menzhalimi) diri sendiri. Tentang maksud "Zhulm", menzhalimi diri sendiri) dalam ayat di atas, ada 2 (dua) pendapat yang berkembang di kalangan ulama tafsir: Pertama: yaitu orang-orang yang telah masuk Islam di Mekah dan tetap tinggal di sana, dan tidak mau berhijrah ke Madinah. Maka, Allah menjelaskan melalui ayat ini, bahwa mereka telah menganiaya diri sendiri dengan kemunafikan mereka, kekufuran mereka dan meninggalkan hijrah (Lihat: At Tafsir Al Kabir, Ar Raazi, XI/12). Kedua: Mereka menganiaya diri sendiri karena mereka meninggalkan melaksanakan kebenaran (Al Haq) karena takut disakiti/disiksa di kalangan kerabat mereka, para pengikut kebatilan (Lihat: Tafsir Al Maraaghi V/131). Teks Al Qur'an menyebut mereka "menganiaya diri sendiri", karena mereka telah mengharamkan diri mereka untuk hidup di negeri Islam, sebuah kehidupan yang agung, bersih, mulia dan penuh kemerdekaan. Dan mewajibkan dan memenjarakan diri mereka untuk hidup di negeri kufur, sebuah kehidupan yang hina dina, lemah dan penuh intimidasi. Karena itulah "mereka diancam dengan neraka Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali". Hal ini menunjukkan bahwa maksud ayat tersebut adalah orang-orang yang benar-benar terancam agama mereka di sana (negeri kufur)! (Lihat: Fii Zhilal Al Qur'an II/743-744). Hal ini memberikan pemahaman kepada kita, bahwa ketika seseorang, keluarga, masyarakat dan bangsa merasa nyaman dengan kezaliman, kemaksiatan dan segala bentuk kemungkaran, dan tidak mau berhijrah, meninggalkan hal-hal negatif tadi, maka berarti harus siap menghadapi ancaman azab di dunia; yang bisa dalam bentuk bencana, musibah dan krisis multidimensional, dan azab di akhirat; neraka Jahannam. Maka, inilah saatnya diri kita, keluarga dan bangsa kita untuk berhijrah guna meraih kejayaan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

110

28. Menolak Takwa Menolak Surga


"Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya" (QS Al Baqarah [2]: 206).. Merupakan hal yang aksiomatis, setiap orang pasti ingin solusi atas segala problematikanya. Setiap orang pasti ingin rizkinya melimpah. Setiap orang pasti ingin semua urusannya mudah. Setiap orang pasti ingin surga. Namun, barangkali aneh bin ajaib, ketika ditawarkan tips, 'ramuan' dan 'jalan hidup' menuju ke semua yang diinginkannya tersebut, tidak semua orang mau. Bahkan, tidak sedikit yang

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

111

menolak mentah-mentah tips tersebut. Ayat di atas menyinggung orang-orang yang menolak takwa yang merupakan sumber kebahagiaan dunia dan akhirat. Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya) Ayat Imam Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya (Tafsir Ibnu Jarir, II/324) meriwayatkan dari As Suddy, sebab turunnya ayat ini dan dua ayat sebelumnya (ayat 204 dan 205 dari QS Al Baqarah), bahwa ayat ini menyinggung Al Akhnas bin Syuraiq Ats Tsaqafi (nama aslinya Ubay, sedang Al Akhnas adalah gelarnya), yang merupakan mitra koalisi kabilah Bani Zuhrah, datang menghadap Nabi SAW di Madinah dan mengaku ingin masuk Islam. Ia memperlihatkan keseriusan Islamnya di hadapan Rasulullah SAW sampai-sampai membuat beliau terkagum karena ia memang dikenal sebagai lelaki yang kata-kata dan tampilannya memukau dan 'menghipnotis' banyak orang. Kemudian ia keluar dari majlis Nabi SAW, lalu melewati kebun tanaman dan binatang ternak (keledai) milik kaum muslimin, ia membakar kebun tanaman itu dan membunuh binatang-binatang ternaknya, maka Allah SWT menurunkan ayat di atas dan dua ayat sebelumnya yang mengungkap hipokrit atau kemunafikannya dan menguak kebobrokan. Allah SWT berfirman, "Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang (musuh) yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan [ungkapan ini adalah ibarat dari orang-orang yang berusaha menggoncangkan iman orang-orang mukmin dan selalu Mengadakan pengacauan]. Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya" (QS Al Baqarah [2]: 204-206). Menurut Ibnu Jarir, karena kesombongan dan kedurhakannya kepada Allah dan Rasul-Nya, Allah SWT sampai perlu menurunkan beberapa ayat lain tentang perilaku Al Akhnas ini. Selain ayat di atas, Al Akhnas juga menjadi sebab turunnya ayat 1 dari QS Al Humazah [104], "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela" dan QS Al Qalam [ ]: 10-13, "Dan janganlah kamu ikuti Setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. Yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya". Menolak Takwa Sama dengan Menolak Surga Ayat di atas menguak perilaku dan wajah asli orang munafik yang hanya pintar memainkan kata-kata, pandai berargumentasi dan mengedepankan penampilan yang menghipnotis. Namun, hatinya memendam kebencian yang membara dan dendam kesumat kelewat batas terhadap kaum muslimin. Kerjanya hanya berbuat onar, membuat kerusakan dalam semua aspek kehidupan kaum muslimin serta merusak tatanan kehidupan umat yang sudah mapan sehingga terjadilah instabilitas dan tujuan puncaknya adalah kehancuran umat Islam. Nah, ketika ia kedapatan melakukan kerusakan dan menyebarluaskan kemungkaran dan hal-hal negatif di tengah kehidupan umat, lalu dinasehati untuk takut kepada Allah, agar malu kepada Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

112

dan diingatkan untuk tidak berbuat sesuatu yang mendatangkan kemurkaannya, ia malah meresponnya dengan angkuh dan sombong, bahkan ia membanggakan bukan dengan kebenaran, keadilan dan kebaikan, melainkan membanggakan dengan dosa-dosanya. Sehingga ia semakin menjadi-jadi dalam melakukan kesalahan, kejahatan dan kemaksiatan dan dosannya tanpa pernah risih dan malu. Hal ini digambarkan oleh ayat di atas, "Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa". Di zaman sekarang pun, tidak terlalu sulit menemukan prototipe manusia yang semacam ini. Dalam kajian Ibnu Katsir (lihat Tafsir Ibnu Katsir I/222), bahwa perilaku orang yang sombong dan membangkang ketika dinasehati untuk bertakwa kepada Allah ini, sama seperti perilaku orang kafir dalam ayat, "Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: "Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, Yaitu neraka?" Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali" (QS Al Hajj [2]: 72). Dengan demikian, menolak takwa adalah sifat dan karakter orang munafik dan orang kafir. Sesungguhnya, ketika seseorang menolak takwa maka itu sama saja dengan menjerumuskan dirinya dalam kerugian yang berkepanjangan di dunia dan akhirat. Karena itu berarti ia menolak banyak kebaikan, yang sesungguhnya ia sendiri sangat membutuhkan dan menginginkannya, di antaranya: Pertama: Berarti ia menolak adanya solusi atas segala permasalahan dan problematika yang dihadapinya di dunia, sebab Allah SWT menjanjikan jalan keluar dari segala permasalahan yang melilit manusia bagi orang yang bertakwa, "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar" (QS Ath Thalaaq [65]: 2). Kedua: Berarti ia menolak rizki yang melimpah karena hanya dengan takwa Allah akan menganugerahi seseorang rizki yang melimpah dan tanpa diduga sebagaimana firman-Nya, "Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangkasangkanya" (QS Ath Thalaaq [65]: 3). Gambaran konkritnya, bisa jadi seseorang memiliki gaji bulanan yang menurut logika matematika kita tidak mencukupi untuk segala kebutuhananya, namun karena ia bertakwa maka Allah memberkahi rizkinya sehingga cukup memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya atau ia mendapatkan rizki yang tidak pernah diprediksi dan tanpa disangka-sangkanya. Ketiga: Berarti ia menolak kemudahan urusan, padahal hanya dengan takwa, Allah memudahkan semua urusan seseorang sebagaimana janji-Nya, "Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya" (QS Ath Thalaaq [65]: 3). Keempat: Dan yang paling menyengsarakan adalah bahwa orang yang menolak takwa berarti sama dengan ia menolak surga. Sebab, di dalam Al Qur'an telah dipatenkan oleh Allah SWT dalam banyak ayat, bahwa surga hanya dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa, "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa" (QS Ali 'Imran [3]: 133). Dan firman-Nya, "Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka)" (QS Qaaf [50]: 31). Dan ayat lain, "Sesungguhnya

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

113

orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air " (QS Adz Dzaariyaat [51]: 15) dan lain-lain. Untuk itu, tidak ada yang pantas bagi orang yang menolak takwa dan sombong serta bangga dengan dosa-dosanya selain neraka Jahannam. Allah berfirman,"Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam" Cukuplah bagi mereka Jahannam "(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati" (QS Al Humazah [104]: 6-7). Dan adakah tempat tinggal yang lebih buruk dari neraka Jahannam?!! "Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya" dan mereka kekal selamalamanya. Manusia Unggul adalah Manusia yang Selalu Takut Ketika Dinasehati dengan Takwa Dalam banyak kesempatan Rasulullah SAW selalu menasehati dan mewasiati para sahabat dengan takwa. Mereka pun merespon nasehat itu dengan baik dan mereka amalkan dalam keseharian mereka. Inilah yang menjadikan mereka manusia unggul dan generasi terbaik sepanjang zaman. Diriwayatkan, suatu hari khalifah Harun Ar Rasyid didatangi oleh seseorang dan dinasehati seraya mengucapkan, "Wahai khalifah, Ittaqillah, takutlah kepada Allah!". Harun Ar Rasyid langsung terungkur jatuh pingsan. Ketika sudah siuman, para pembantunya bertanya, "Mengapa ketika dikatakan kepadamu "Ittaqillah", engkau pingsan?". Harun Ar Rasyid menjawab, "Aku takut seperti orang yang disinggung oleh Allah dalam ayat,, kemudian beliau membaca ayat di atas. Hampir setiap pekan para khatib di hari Jum'at selalu berpesan kepada kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah, tapi apakah pesan dan wasiat ini dapat merubah perilaku dan keadaan umat?! Maka, tidak ada yang harus kita lakukan selain mengkondisikan anak, isteri atau suami dan keluarga besar kita untuk menjadi orang-orang yang takwa jangan biarkan ada di antara mereka yang menolak takwa agar kita sekelarga berbahagia di dunia dan akhirat.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

114

29. Manusia Berprilaku Binatang


"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai" (QS Al A'raaf [7]: 179).

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

115

Barangkali kita pernah memberi komentar atau mendengar komentar orang lain terhadap prilaku sebagian manusia, dengan ungkapan seperti ini, "Kok ada ya manusia seperti itu". Atau komentar, "Kok bisa manusia berbuat seperti itu", atau komentar lain lagi, "Hewan saja masih punya malu dan takut, tapi dia (manusia) kok tidak punya malu dan tidak ada takutnya" dan lain-lain. Semua komentar di atas dan yang sejenisnya seakan memberi isyarat, bahkan mungkin sebuah pengakuan dari kita, bahwa ada di antara manusia itu yang berprilaku binatang. Wujud dan tampilannya manusia, tapi sifat dan perbuatannya seperti binatang. Ayat di atas secara jelas dan gamblang menyinggung fenomena tersebut. Yaitu bahwa ada makhluk bernama manusia yang seperti binatang. Isi Neraka Jahannam adalah Kebanyakan Jin dan Manusia Sesungguhnya Allah SWT menciptakan makhluk yang banyak dari kalangan jin dan manusia yang dipersiapkan melakukan perbuatan yang menghantarkan masuk neraka Jahannam. Sebagaimana Ia SWT juga menciptakan makhluk lain yang dipersiapkan melakukan perbuatan yang memasukkannya ke surga. Allah SWT berfirman tentang tempat kembali kedua kelompok tersebut, ".. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam" (QS Asy Syura [42]: 7). Dan Allah berfirman tentang keadaan mereka pada hari Kiamat, ".. Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia" (QS Huud [11]: 105). Dalam kajian tafsir Ibnu Katsir, ayat bermakna bahwa Kami (Allah) telah menyiapkan kebanyak jin dan manusia untuk neraka Jahannam, karena itulah mereka akan melakukan perbuatan ahli neraka. Sebab, sesungguhnya ketika Allah hendak menciptakan makhluk, Ia benar-benar telah mengetahui apa yang mereka akan perbuat sebelum mereka ada. Hal itu telah Allah tulis dalam suatu kitab (catatan), lima puluh tahun sebelum Ia menciptakan langit dan bumi sebagaimana disebut dalam hadits shahih rwayat Imam Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah telah tentukan takdir makhluk lima puluh tahun sebelum Ia menciptakan langit dan bumi, dan 'Arasy-Nya di atas air" HR Muslim. Dalam hadits lain, dari Aisyah RA ia berkata, "Nabi SAW pernah dipanggil menuju jenazah seorang bayi dari kaum Anshar. Lalu aku bilang: Ya Rasulullah, beruntung sekali orang (tua) yang memiliki (simpanan) 'burung pipit' surga, yang belum pernah berbuat kejelekan dan menjumpainya. Rasulullah SAW lantas bersabda, "Atau selain itu wahai Aisyah. Sesugguhnya Allah telah menciptakan surga dan menyiapkan penghuninya disaat mereka masih ada di tulang rusuk ayah mereka. Dan Ia telah menciptakan neraka dan menyiapkan penghuninya disaat mereka masih ada di tulang rusuk ayah mereka" HR Muslim. Hal ini juga telah dipertegas dalam kitab 'Shahihain' dari hadits Ibnu Mas'ud RA,, ".. Kemudian Allah mengutus malaikat kepadanya, lalu malaikat itu diperintah untuk menetapkan dan menuliskan empat hal. Maka, ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya dan apakah ia sengsara atau bahagia". Jenis Hati, Mata dan Telinga yang Menjerumuskan ke Neraka Jahannam Sementara dalam kajian Sayyit Quthub, bahwa ada dua pertimbangan yang bisa ditangkap dari ayat di atas yang menerangkan bahwa kebanyakan jin dan manusia diciptakan dan disiapkan untuk neraka Jahannam: Pertimbangan pertama: sesungguhnya terbuka bagi pengetahuan Allah yang azali (sejak dahulu kala), bahwa mereka (kebanyakan jin dan manusia) itu

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

116

akan dijerumuskan ke neraka Jahannam .. Dan hal ini tidak membutuhkan terlihatnya perbuatan yang menjadikan mereka berhak masuk neraka, ke dalam dunia 'amal' nyata mereka. Sebab, 'ilmu (pengetahuan) Allah universal dan integral, tidak terbatas pada zaman dan gerakan yang melahirkan perbuatan di dunia hamba yang baru. Pertimbangan kedua: sesungguhnya pengetahuan Allah yang azali yang tidak terkait dengan zaman dan gerakan di dunia hamba yang baru-, bukanlah hal ini yang mendorong kebanyakan jin dan manusia tersebut kepada kesesatan yang menjadikan mereka berhak masuk nerakan Jahannam, melainkan dipicu oleh faktor yang disebut secara tekstual oleh ayat di atas, "Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah)". Mereka tidak membuka hati yang dianugerahkan kepada mereka untuk memahami (ayat-ayat Allah), padahal tanda-tanda dan bukti-bukti keimanan dan hidayah (petunjuk) itu tampak dengan jelas di alam nyata dan pada risalah (misi) yang dibawa oleh para rasul, (semua ini) dapat ditemukan dan dirasakan oleh hati dan nurani yang terbuka. Mereka juga tidak membuka mata untuk melihat Aayat Kauniyah (tanda-tanda kekuasaan Allah yang terkait dengan alam semesta). Mereka pun tidak membuka telinga untuk mendengar ayat-ayat Allah yang dibaca .. Mereka benar-benar menelantarkan perangkat-perangkat ini yang dianugerahkan kepada mereka dan mempergunakannya dengan baik. Karena itu, mereka hidup dalam kelalaian dan tidak pernah melakukan kontemplasi (permenungan): "Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka itulah orang-orang yang lalai" (Lihat: Fi Zhilal Al Qur'an III/1401). Urgensi Hati yang Menjadi Pemimpin Tubuh Penyebutan secara khusus; hati, mata dan telinga, menunjukkan betapa pentingnya ketiga organ tubuh manusia ini, yang bisa menghantarkan ke surga, manakala digunakan dengan baik untuk meningkatkan kualitas IMTAK (iman dan takwa). Tapi, ketiga organ tubuh tersebut bisa juga menjerumuskan ke neraka, manakala diditelantarkan dan digunakan untuk maksiat kepada Allah. Lalu lebih khusus lagi, didahulukannya hati dari penyebutan mata dan telinga, menunjukan urgensi hati bagi keseluruhan tubuh manusia. Sebab, hati merupakan salah satu organ internis manusia yang terpenting. Hati menjadi tempat seluruh perasaan jiwa, kekuatan berfikir dan keyakinan manusia. Perasaan cinta, benci, bahagia, gelisah, marah, takabbur, tawadhu, yakin dan ragu muncul dari hati. Karenanya hati sangat menentukan baik dan buruk manusia secara menyeluruh, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,


Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal organ, bila ia baik maka baiklah seluruh tubuh manusia itu. Dan bila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Organ itu adalah hati (qolbu) (HR Bukhari no. 52 dan Muslim no. 4178). Dengan demikian menjaga kesehatan hati berarti menjaga manusia secara keseluruhan. Sedangkan membiarkan hati rusak sama dengan merusak manusia itu

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

117

sendiri. Hal ini sangatlah rasional mengingat hati adalah tempat bersemayamnya keyakinan yang akan menentukan visi hidup seorang manusia, sumber niat, motivasi, selera dan emosi yang akan mengarahkan amal seseorang dan menentukan mutunya. Imam Ibnu Hajar rahimahullah- mengatakan, "Dikhususkannya (posisi) hati seperti itu, karena hati adalah Amiru'l Badan (pemimpin tubuh); kebaikan pemimpin menghantarkan kepada kebaikan rakyat dan rusaknya pemimpin membuat rakyat rusak pula" (Fathu'l Baari I/137). Manusia Berprilaku Binatang Ayat di atas menegaskan, bahwa ketika manusia menelantarkan fungsi hati, mata dan telinga dan tidak dipergunakan sesuai titah Ilahi, maka ia disamakan seperti binatang yang tidak ber'hati' dan berakal. Karena itu, ayat tersebut memberi sinyal penting akan adanya manusia yang berprilaku binatang. Tampilan sih oke, parlente, semua pernak-pernik dan hiasan dunia menempel di tubuhnya, namun prilakunya bak binatang, seperti sapi, onta, kambing atau lainnya. Maka, pantaskah seorang pejabat yang menjarah dan mengkorupsi uang rakyat jutaan atau milyaran rupiah dan membiarkan sebagian rakyatnya mengidap busung lapar, gizi buruk, bahkan ada yang sekeluarga makan tiwul kemudian tewas keracunan disebut berprilaku manusiawi?! Pantaskah seorang suami yang menyiksa istrinya dengan menyiram wajah istrinya dengan air panas atau seorang suami yang menjual istrinya kepada orang lain untuk dirampas kehormatannya disebut sebagai manusia?! Pantaskah seorang ayah yang menggilas kaki anaknya di rel kereta api disebut sebagai manusia?! Pantaskah seorang guru yang berbuat tidak senonoh terhadap beberapa orang muridnya dianggap sebagai manusia?! Manusiakah orang yang merekam perbuatan mesumnya dengan pacarnya dan istri orang lain lalu perbuatan asusilanya ditonton oleh sekian juta mata?! Karena itu, mari kita bergandeng angan da berjibaku untuk membuat gerakan besar "Insaaniyyatu'l Insaan", Memanusiakan manusia, dengan menyadarkan manusia untuk memberdayakan fungsi hati, mata dan telinganya sesuai petunjuk Ilahi dan Nabi agar mereka tidak seperti binatang dan terjauh dari api neraka Jahannam. Wallah a'lam bish shawab ..

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

118

30. Nikmatnya Menjadi Keluarga yang Istiqomah

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

119


Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Fushshilat [41]: 30-32). Sesungguhnya jalan kehidupan, termasuk kehidupan keluarga, bukanlah jalan yang bertaburan dengan bunga-bunga yang selalu terlihat indah dan meyeruakkan bau semerbak wewangian. Melainkan ia jalan yang berliku, terjal dan penuh dengan duri. Jerat-jerat syetan baik dari jin maupun manusia, godaan hawa nafsu dan tarikan kuat dunia adalah ranjau-ranjau kehidupan yang selalu menghadang manusia untuk menjerumuskan kepada kenistaan, kehancuran dan kerugian dunia dan akhirat. Maka, (berprilaku) istiqomah menjadi solusi. Sebab, dengan istiqomah seseorang atau keluarga bisa menjadi tegar dan kokoh; tak mempan diterjang kerasnya badai kehidupan hingga akhirnya dapat meraih kemenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ayat di atas menjelaskan tentang kemenangan dan kebahagiaan orang atau keluarga yang istqomah. Definisi Istiqomah Banyak versi definisi istiqomah yang dikemukakan oleh para ulama. Di antaranya, Istiqomah adalah melaksanakan semua yang diperintah (Islam) dan menjauhi semua yang dilarangnya. Sebagian ulama mendefinisikan dengan mengikuti sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW disertai menyifati diri dengan akhlak yang diridhai. Sebagian lagi mengartikan dengan membebankan jiwa pada akhlak Al Quran dan As Sunnah (Lihat Faidhul Qadir IV/523). Sementara menurut Imam Ar Raghib Al Ashfihani, istiqomah adalah konsistensi seseorang dengan manhaj mustaqim (sistem yang lurus) (Mufradaat Alfaazh Al Quran h.692). Abu Bakar Ash Shiddiq RA menafsirkan istiqomah dalam ayat tersebut dengan mengatakan, Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun. Dalam riwayat lain, beliau menafsirkan, Mereka tidak menengok kepada tuhan selain Allah. Sedang Abul Aliyah menafsirkannya dengan Mereka mengikhlaskan Din (agama) dan amal hanya untuk Allah (Lihat Tafsir Ibnu Katsir IV/389). Dari beragam definisi di atas, tampak dengan jelas bahwa perbedaan definisi tersebut adalah perbedaan variatif, bukan perbedaan kontradiktif. Karena itu, istiqomah dalam bahasa Al Quran, termasuk dalam ayat di atas, bermakna lurus dalam berIslam, berkesinambungan di atas petunjuk Allah SWT dan

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

120

komitmen serta konsisten dengan hukum-hukum-Nya dengan selalu merespon perintah-perintah-Nya dan meninggalkan keharaman-keharaman-Nya. Jadi, keumuman makna istiqomah mencakup seluruh ajaran Islam sebagaimana jawaban Rasulullah SAW kepada Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi RA ketika ia meminta wasiat kepada Nabi SAW, Ya Rasulullah, katakan (berikan) kepadaku suatu ucapan (pesan) dalam Islam yang aku tidak akan tanyakan hal itu kepada seorang pun sesudahmu di riwayat lain selainmu-! Beliau SAW lalu menjawab, Ucapkan Aku beriman kepada Allah kemudian istiqomahlah (dengan ikrar dan keyakinan itu) (HR Muslim no. 55 dan Ahmad no. 14869). Keistimewaan dan Keutamaan Istiqomah Istiqomah adalah induk akhlak mulia dalam Islam. Sebab, barangsiapa yang istiqomah, maka akan terjauhkan dari akhlak dan perilaku tercela. Seorang suami yang istiqomah, tidak akan menzhalimi isteri dan keluarganya. Seorang isteri yang istiqomah akan selalu menjaga kehormatan diri, keluarga dan harta suaminya. Seorang anak yang istiqomah akan selalu berbakti kepada kedua orang tuanya. Seorang pemimpin atau pejabat yang istiqomah akan menjauhkan dirinya dari praktek KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Rakyat yang istiqomah akan mentaati instruksi pemimpinnya yang mengajak kepada kebaikan dan takwa. Namun, tetap kritis jika pemimpinnya salah dan keliru. Dalam ayat di atas Allah SWT menerangkan keistimewaan dan keutamaan istiqomah. Dalam kajian tafsir Ibnu Katsir rahimahullah, bahwa maksud firman Allah, Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka adalah mereka mengikhlaskan amal/perbuatan hanya untuk Allah dan mentaati Allah Taala berdasarkan apa yang disyariatkan-Nya bagi mereka (Tafsir Ibnu Katsir IV/389). Penggunaan kata sambung (isim maushul) Tsumma yang artinya kemudian dalam ayat tersebut (juga dalam QS AlAhqaaf [46]: 13) maupun dalam hadits Sufyan bin Abdullah di atas, menunjukkan bahwa untuk menggapai istiqomah dalam hidup bukanlah perkara yang mudah. Jarak dari mengatakan Tuhan kami ialah Allah sampai ke istiqomah tidaklah dekat. Jalan menuju istiqomah sangatlah jauh dan panjang. Banyak ujian dan cobaan yang harus dihadapi oleh seseorang yang mengimani Allah sebagai Rabb-nya untuk sampai akhirnya menjadi istiqomah. Rasulullah SAW telah mensinyalir hal ini dalam hadits yang diceritakan oleh Anas RA, bahwasanya Nabi SAW pernah membaca ayat tersebut lalu bersabda, Sungguh banyak orang mengatakan hal itu kemudian kebanyakan mereka kufur. Untuk itu barangsiapa yang mengatakan seperti itu sampai mati, maka benar-benar ia termasuk orang yang istiqomah (HR Tirmidzi yang dinilai sebagai hadits hasan gharib no. 3173). Menyadari beratnya istiqomah, maka Imam Hasan Al Bashri selalu memohon kepada Allah dalam doanya, Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahilah kami istiqomah (Tafsir Ibnu Katsir IV/389). Karena itu, pantaslah kalau Allah SWT memberikan banyak penghargaan kemuliaan bagi orang-orang atau keluarga yang istiqomah, di antaranya: 1. Para malaikat akan turun secara beruntun kepada mereka dengan membawa rahmat, keberkahan dan ketenangan dalam kondisi, harta, rumah tangganya dan kesalehan amalnya.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

121

2. Malaikat memberi kabar gembira kepada "Janganlah kamu merasa takut. dengan urusan akhirat yang akan engkau hadapi. Seorang mukmin yang istiqomah tentu ada perasaan takut ketika sakaratul maut, takut terhadap azab kubur, pertanyaan Munkar dan Nakir dan lain-lain. Karena itu, kabar gembira ini datang pada tempatnya sehingga menjadikan orang yang istiqomah menjadi tenang. 3. Kabar gembira kedua dari Malaikat adalah Dan janganlah kamu merasa sedih terhadap apa yang engkau tinggalkan dari urusan dunia, baik anak, keluarga atau harta, sesungguhnya kami (Malaikat) akan mengurus semua (dengan izin Allah). Adalah wajar jika manusia menjelang kematiannya, merasa khawatir terhadap kondisi anak-anaknya, keluarganya dan hartanya. Beragam pertanyaan menghantui pikirannya pada detik-detik terakhir akan meninggalkan dunia. Maka kabar gembira kedua ini tentu sangat membuat tenang hatinya sehingga ia pun mati dengan tenang. 4. Kabar gembira ketiga adalah Dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".. Zaid bin Aslam berkata, Para malaikat itu memberi kabar gembira mejelang kematiannya, di dalam kuburnya dan ketika dibangkitkan (Tafsir Ibnu Katsir IV/390). 5. Support dan kebersamaan Malaikat pada hari Kiamat, Kami-lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat . Ini kebersamaan yang sempurna dari Malaikat dengan orang-orang mukmin yang istiqomah sejak masuk liang kubur sampai masuk surga, sehingga dapat melewati huru-hara hari Kiamat dengan selamat dan tenang. 6. Kabar gembira terakhir Di dalam surga kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Semua kenikmatan dan penghargaan itu hanya diterima oleh orang-orang yang istiqomah.. Karenanya, tidak ada pilihan lain kecuali harus kita kerahkan semua waktu, tenaga, harta dan potensi kita untuk menjadikan diri dan keluarga kita menjadi orang dan keluarga yang istiqomah agar dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allaahumma Amin ...

DAFTAR PUSTAKA
1. Al Qur'an dan Terjemahannya. 2. Al 'Asqalani, Ahmad bin Ali bin Hajar (w 852 H), Fathu'l Bari, Kairo: Dar Ar Rayyan li't Turats, 1407 H /1987 M. 3. Al 'Asqalani, Ahmad bin Ali bin Hajar (w 852 H), Al Ishaabah fi Tamyiiz Ash Shahaabah, Beirut: Daru'l Kutub Al 'Arabiyah, 1415 H/1995 M. 4. Abu Dawud, Sulaiman bin Al Asy'ats As Sijistani (w 275 H), Sunan Abi Dawud, Istambul: Al Maktabah Al Islamiyah.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

122

5. Abu Hayyan, Muhammad bin Yusuf Al Andalusi (w 745 H), Tafsir Al Bahr Al Muhith, Beirut: Dar Al Kutub Al 'Arabiyah, 1413 H/1993 M. 6. Ahmad bin Hanbal (w 241 H), Al Musnad, Al Maktab Al Islamy, Beirut: Dar Shaadir, 1969 M. 7. Al Alusi, Abu'l Fadhl Mahmud (w 1270 H), Ruh Al Ma'ani fi Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim wa As Sab'i Al Matsaani, Beirut: Dar Al Fikr, 1414 H/1994 M. 8. Al Ashfihaani, Ar Raaghib Al Husain (w 425 H), Mufradaat Alfaazh Al Qur'an, Damaskus: Dar Al Qalam, Cet. I, 1412 H/1992 M. 9. Al Baghawi, Syarh As Sunan. 10. Al Baihaqi, Abu Bakar Ahmad bin Husain (w 458 H), As Sunan Al Kubro, Beirut: Dar Al Ma'rifah, Cet. II, 1408 H/1988 M. 11. Al Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il (w 256 H), At Taariikh Al kabir, Turki: Al Maktabah Al Islamiyah. 12. Al Bushairi, Az Zawaaid. 13. Ad Daaruqutni, Ali bin Umar (w 385 H), Sunan Ad Daaruquthni, Kairo: Dar Al Mahaasin. 14. Al Furaih, Mazin bin Abdul Karim, Ar Raaid Duruusun fi't Tarbiyah wa'd Da'wah, Jeddah KSA: Dar Al Andalus Al Khadhra', Cet. II, 1425 H/2004 M. 15. Al Ghazali, Abu Haamid Muhammad bin Muhammad (w 505 H), Ihyaa' 'Ulumuddin, Beirut: Dar Al Qalam. 16. Al Manaawi, Zaenuddin Muhammad Abdurrauf (1030 H), Faidhu'l Qadir Syarh Al Jami' Ash Shaghir li's Suyuthi, Mesir: Al Maktabah At Tijaariyah, 1357 H/1938 M. 17. Al Maraaghi, Ahmad Mustofa (w 1952 H), Tafsir Al Maraaghi, Mesir: Mathba'ah Mustofa Al Babi Al Halabi, Cet. III, 1394 M. 18. Al Mundziri, Abu Muhammad Zakiyuddin Abdul Azhim bin Abdu'l Qawi (w 656 H), At Targhib wa't Tarhib mina'l Hadits Asy Syarif, Mesir: Mathba'ah As Sa'adah, 1380 H/1961 M. 19. Al Mu'jam Al Wasith. 20. Al Musnid, Muhammad, Fataawa Al Mar'ah, Riyadh: Cet. I, 1414 H. 21. Al Muttaqi Al Hindi, Ali bin Hassamu'd Din (w 975 H), Kanzu'l 'Ummal fi Sunan Al Aqwal wa'l Af'aal, Halb: Makatabah At Turats Al Islamy, Cet. I, 1389 H/1969 M. 22. Al Qurthubi, Muhammad bin Ahmad Al Anshari, Al Jami' Li Ahkam AL Qur'an, Beirut: Dar Al Kutub Al 'Ilmiyah, 1408 H 1988 M. 23. Ar Razi, Fakhruddin, At Tafsir Al Kabir, Beirut; Dar Al Kutub Al Ilmiyah, Cet. I, 1414 H/1994 M. 24. At Tamimi, Muhammad, Al Ushul Ats Tsalaatsah wa Adillatuha, Saudi Arabia: Wizaarah Asy Syu'un Al Islamiyah, 1416 H. 25. Ath Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir (w 310 H), Jami'ul' Bayan fi Ta'wil Al Qur'an, Beirut: Dar Al Kutub Al 'Ilmiyah, 1412 H / 1992 M. 26. Ath Thabrani, Abu'l Qasim Sulaiman bin Ahmad, Al Mu'jam Al Kabir, Al Mushil: Maktabah Al 'Ulum wa'l Hikam, 1404 H/1983 M. 27. Badaai'u't Tafsir. 28. Ibnu 'Asyur, Muhammad Ath Thahir, At Tahrir wa't Tanwir, Beirut: Mu'assasah At Tarikh, 1420 H 2000 M.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

123

29. Ibnu Hazm, Al Muhalla. 30. Ibnu Katsir, Abu'l Fidaa' Isma'il bin Umar (w 774 H), Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Riyadh: Maktabah Ar Rusyd, 1420 H/1999 M. 31. Ibnu Katsir, Abu'l Fidaa' Isma'il bin Umar (w 774 H), Al Bidayah wa'n Nihayah, Beirut: Maktabah Al Ma'arif. 32. Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid (w 275 H), Sunan Ibnu Majah, Mesir: Dar Ihyaa' Al Kutub Al 'Arabiyah, 1273 H/1953 M. 33. Ibnu Taimiyah, Syaikhu'l Islam Ahmad bin Abdul Halim (w 728 H), Majmu' Fataawa, Madinah Al Munawwarah: Majma Al Malik Fahd li Thiba'ah Al Mushaf Asy Syarif, 1416 H/1995 M. 34. Kompas, Edisi 13 Nopember 2004. 35. Morris Berman, Dark Ages America, The Final Phase of Empire, 2006. 36. Muslim, Abu'l Husain Muslim bin Hajjaj Al Qusyairi An Naisaburi (w 261 H), Shahih Muslim, Mesir: Dar Ihya' Al Kutub Al 'Arabiyah, 1375 H/1955 M. 37. Nuh, Sayyid Muhammad, Aafaat 'Ala'th Thariq, Mesir: Daru'l Yaqin, 1418 H/1998 M. 38. Al Qamus Al Muhith, Dar Ihyaa' At Turaats Al 'Arabi, 1422 H/2001 M. 39. Quthb, Sayyid (w 1967 M), Fi Zhilal Al Qur'an, Beirut: Dar Asy Syuruq, 1406 H 1986 M. 40. Republika, Edisi 15 Agustus 2010. 41. RCTI, 20 Mei 2002 M. 42. Tahdzib Madaariju's Saalikin, Dar Qutaibah, 1433 H/2002 M. 43. www. brinkster.com / 19 Juli 2002 M. 44. www. hidayatullah. Com / 6 Oktober 2008.

BIODATA SINGKAT PENULIS

Ahmad Kusyairi Suhail lahir di Gresik, Jawa Timur, 7 April 1968. menyelesaikan pendidikan dasarnya tahun 1980 di MI (Madarasah Ibtidaiyah)
Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

124

Banin Banat Sidayu, Gresik, lalu melanjutkan di MTs dan MA Kanjeng Sepuh (TPKS) Sidayu, Gresik, hingga selesai tahun 1986. Setamat dari TPKS, anak ke-6 dari 13 orang bersaudara ini sempat menimba ilmu sebentar di Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan, untuk kemudian pergi ke Jakarta dan memperdalam pengetahuan Islam dan bahasa Arab di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Araba (LIPIA) yang berada di bawah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Saudi Arabia. Belum sempat lulus Fakultas Syari'ah di lembaga tersebut, datang panggilan beasiswa dari Saudi Arabia, dan menyelesaikan pendidikan S1 tahun 1997 di Fakultas Tarbiyah, jurusan Islamic Studies (Tafsir Hadits), King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Lalu meraih gelar Master of Art (MA) tahun 2003 di bidang Tafsir Hadits di universitas yang sama. Kini, putra pasangan H. Suhail Ridwan dan Hj. Amiroh ini sedang menunggu sidang disertasi program doctoral (S3) di jurusan Al Qur'an dan As Sunnah, Akademi Pengajian Islam (API) Universiti Malaya (UM), Malaysia. Disertasinya ditulis dalam bahasa Arab berjudul "Al Ummah Al Islamiyah; Asbaab Adh Dha'f wa Subul An Nuhudh, Diraasah Qur'aniyah" (Umat Islam; Sebab-sebab Kelemahannya dan Pilar-pilar Kebangkitannya, dalam Perspektif Al Qur'an). Selain menjadi dosen di Fakultas Dirosat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Darul Hikmah/YAPIDH Bekasi, ia juga aktif berda'wah di berbagai instansi pemerintahan, perusahaan dan perkantoran. Kini, ia mengemban amanah sebagai: Ketua I Pengurus Pusat Ikatan Da'i Indonesia (IKADI), Dewan Pengawas Yayasan Perguruan Islam Darul Hikmah (YAPIDH) Bekasi, Ketua STIU Darul Hikmah dan Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Bank Syariah (BPRS) Kota Bekasi. Dalam berbagai kesempatan, ia juga melakukan da'wah ke berbagai negara. Di antara negara yang pernah dikunjunginya: Yordania, Suria, Uni Emirat Arab, Bahrain, Malaysia, Brunei Darussalam dan Saudi Arabia. Di antara karyanya: Al Mufassir; Syuruutuhu, Aadaabuhu, Mashaadiruhu, Dirasah Ta'shiliyah (Maktabah Ar Rusyd, Riyadh, Saudi Arabia, Cet.I, 1429 H/2008 M). Buku yang membahas Studi Orisinalitas Perangkat-perangkat yang Mesti Dimiliki oleh Pakar Tafsir ini sekarang menjadi salah satu referensi penting di bidang ilmu tafsir digunakan di banyak perguruan tinggi Islam terkemuka di Timur Tengah. Juga Bekal Da'i Muda (bersama penulis lain, Pustaka Ikadi Jakarta, 2008), Menghadirkan Surga di Rumah (Maghfirah Pustaka Jakarta, 2007), Islam Moderat (bersama penulis lain, Pustaka Ikadi Jakarta, 2006), Menjadi Hamba Rabbani (bersama penulis lain, Pustaka Ikadi Jakarta, 2005), Militer dalam Pandangan Islam (Tarbiyatuna, 2002) dan Panduan Cerdas Cermat Islami (Pustaka Darul Hikmah, 2001). Selain itu, ia juga aktif menerjemahkan beberapa buku dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, di antaranya: Pemuda dan Canda (GIP Jakarta,Cet. I, 1996), 30 Tanda-tanda Orang Munafiq (GIP Jakarta,Cet. I, 1993), Berjabat Tangan dengan Perempuan (GIP Jakarta,Cet. I, 1992). Beberapa tulisan artikelnya dimuat di harian Republika, majalah Panjimas, Ummi, Gontor, Sabili, Saksi, bulletin FIKRAH dan Manhajuna.

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

125

Agar Rumah Kita tidak Seperti Neraka

126