Anda di halaman 1dari 14

SINTESIS SENYAWA ANTIMALARIA (1)-N-(4-ETOKSIBENZIL)-1,10FENANTROLINIUM KLORIDA

Ruslin Hadanu1, Sabirin Mastjeh2, Jumina3, Mustafa4, Mahardika AW5, Eti Nurwening Sholikhah6 Jurusan Pendidikan Kimia,FKIP, Universitas Pattimura - Ambon Laboratorium Kinia Organik, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, UGM-Yogyakarta 4,5,6Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada-Yogyakata
1 2,3

ABSTRAK Telah dilakukan sintesis senyawa (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolin klorida dari bahan dasar 1,10-fenantrolin monohidrat dan 4-hidroksibenzaldehida melalui 4 tahap reaksi. Tahap pertama dilakukan reaksi etilasi terhadap senyawa 4-hidroksibenzaldehida dilakukan menggunakan katalis sodium hidroksida yang ditambahkan secara perlahan-lahan kemudian direfluks selama 3,5 jam. Hasil reaksi diperoleh senyawa 4-etoksibenzaldehida (63,84%) berupa cairan coklat. Tahap kedua, reduksi senyawa 4-etoksibenzaldehida menggunakan reagen natrium borohidrida (NaBH4), pelarut etanol absolut yang direfluks selama 3 jam, dihasilkan senyawa 4-etoksibenzil alkohol berupa cairan kuning jernih dengan rendemen sebesar 70,06%. Senyawa 4-etoksibenzil alkohol selanjutnya diklorinasi menggunakan pereaksi tionil klorida (SOCl2). Reaksi klorinasi dilakukan pada suhu refluks selama 3 jam, diperoleh senyawa 4-etoksibenzil klorida berupa cairan kuning, mempunyai rendemen 70,06% dan setelah dianalisis dengan GC-MS mempunyai kemurnian yang cukup tinggi (90,22%). Rangkaian sintesis tersebut di atas adalah merupakan proses pembuatan reagen pengalkilasi yang selanjutnya direaksikan dengan senyawa bahan dasar 1,10fenantrolin. Reaksi tahap akhir adalah benzilasi senyawa 1,10-fenantrolin monohidrat menggunakan reagen 4-etoksibenzil klorida. Kondisi reaksi berlangsung pada suhu refluks mengunakan pelarut aseton selama 18 jam menghasilkan senyawa (1)-N-(4-etoksibenzil)1,10-fenantrolin klorida berupa padatan merah muda yang mempunyai rendemen dan titik leleh berturut-turut sebesar 92,85% dan 199oC. Struktur produk dibuktikan dengan spektroskopi IR dan 1H-NMR. Hasil uji aktivitas in vitro antiplasmodial pada sel FCR3 resisten klorokuin terhadap senyawa (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolin klorida diperoleh hasil IC50 sebesar 0,533,11 M pada waktu inkubasi selama 24 dan 72 jam. Kata kunci: 1,10-fenantrolin, benzaldehida, (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolin klorida.

SYNTHESIS OF ANTIMALARIAL COMPOUND (1)-N-(4-ETHOXYBENZYL)-1,10PHENANTHROLINIUM CHLORIDE Ruslin Hadanu1, Sabirin Mastjeh2, Jumina3, Mustafa4, Mahardika AW5, Eti Nurwening Sholikhah6
2,3

Department of Chemistry, Pattimura University - Ambon Laboratorium of Organic Chemistry, Department of Chemistry, GMU 4,5,6Medical Faculty Gadjah Mada University-Yogyakata
1

ABSTRACT The synthesis of (1)-N-(4-ethoxybenzil)-1,10-phenanthroline chloride with 1,10phenanthroline monohidrate and 4-hidroxybenzaldehyde as starting material has been carried out. There four steps of the reactions. The first step of reaction is ethyilation of 4hidroxybenzaldehide with sodium hydroxide (NaOH) added drop by drop and diethyl sulphate, was conducted by reflux for 3,5 h. The result of reaction is 4-ethoxybenzaldehyde (63,84%) in the form of brown dilution. The second step of reaction was reduction of 4ethoxybenzaldehyde using natrium borohydride (NaBH4) reagent and ethanol absolute solution. The mixture was refluxed for 3 h, yielded 4-ethoxybenzyl alcohol (yellow dilution form) and having rendemen 70,06%. Therefore, clorination of 4-ethoxybenzyl alcohol with thionyl chloride (SOCl2) was conducted by reflux for 3 h, yielded 4-ethoxysibenzyl chloride (the yellow dilution form), having rendemen 70,06% and after analysed with GC-MS have the high purity (90,22%). Steps of syinthesis in above mentioned is represent the process of reagen alkylation and then reacted with 1,10-phenanthroline monohydrate. The final steps reaction is benzylation of 1,10-phenanthroline monohidrat with 4ethoxysibenzyl chloride reagent. It was conducted by reflux in aceton for 18 h at 55oC. The yield of the reaction was (1)-N-(4-ethoxybenzil)-1,10-phenanthroline chloride (92,85%), red solid form, melting point 199oC. The structures of product was characterized by IR and 1HNMR spectroscopy. The in vitro antiplasmodial activity on chloroquine-resistant P. falciparum strain FCR-3 for (1)-N-(4-ethoxybenzyl)-1,10-phenanthroline chloride were determined by radioactive method. The result showed that after 24 and 72 h incubation IC50 were 0,53 and 3,11 M, respectively.

Keyword: 1,10-phenanthroline, benzaldehyde, (1)-N-(4-ethoxybenzyl)-1,10-phenanthroline chloride.

PENGANTAR Dewasa ini malaria masih merupakan masalah kesehatan global, baik di negaranegara berkembang maupun negara maju. Usaha pemberantasan telah lama dilakukan namun hingga saat ini belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. Bahkan malaria kini merupakan salah satu penyakit yang mengancam kembali penduduk di seluruh dunia. Hal ini ditandai dengan meningkatnya wabah malaria pada akhir-akhir ini di seluruh daerah endomik di dunia. Badan Kesehatan Dunia melaporkan pada tahun 1997 bahwa kurang lebih 41% penduduk dunia atau sekitar 2,3 miliar orang tinggal di daerah endemis malaria dan terancam infeksi parasit malaria. Lebih jauh dilaporkan antara 300-500 juta penduduk terinfeksi malaria setiap tahunnya, dan diperkirakan antara 1,52,7 juta meninggal per tahun terutama balita dan ibu hamil di Afrika (WHO, 1997). Tiga tahun kemudian (tahun 2000) Badan Kesehatan Dunia WHO juga melaporkan bahwa lebih dari 100 negara diperkirakan terjangkit wabah malaria dan penyakit ini mengancam hampir 40% populasi penduduk dunia dan di atas 300 juta peristiwa akut penyakit malaria terjadi setiap tahun. Pada tahun 2004, WHO kembali melaporkan bahwa lebih dari 40% penduduk dunia terancam dan beresiko tinggi terkena wabah penyakit malaria. WHO memperkirakan bahwa lebih kurang tiga juta orang pada setiap tahunnya meninggal dunia akibat terinfeksi virus malaria (http://www. who.int/whr/2004/en/report/pdf/diakses 24 Desember 2005). Faktor yang mempersulit kemoterapi malaria modern adalah galur Plasmodia (khususnya falciparum) yang resisten obat telah dilaporkan di beberapa negara misalnya P. falciparum, P vivax, dan P. falciparum resisten klorokuin (Fatah, 1982). Banyak faktor yang menjadi kendala dalam usaha pemberantasan malaria. Diantara faktor utama tersebut adalah timbulnya vektor malaria yang resisten terhadap insektisida dan parasit yang resisten terhadap antimalaria yang tersedia. Penyebaran parasit yang resisten ini begitu cepat dan luas hampir di seluruh daerah endomik malaria di dunia. Hal ini mendorong para peneliti untuk berusaha menemukan antimalaria baru untuk melawan parasit yang resisten tersebut. Usaha untuk menemukan antimalaria baru salah satunya dilakukan dengan sintesis kerangka senyawa yang sudah dikenal aminoquinolin dan fenantren. Dalam usaha menemukan antimalaria baru dari golongan fenantren telah dilakukan penelitian terdahulu dengan memasukan atom N ke dalam kerangka fenantren ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerangka fenantren-1,10 yang mempunyai aktifitas mempunyai aktifitas antimalaria seperti kerangka 4-

antiplasmodial yang baik. Selanjutnya telah disintesis beberapa turunan fenantren-1,10 dan telah diuji aktifitas antiplasmodialnya. Hasilnya menunjukkan beberapa senyawa mempunyai aktifitas yang setara dengan klorokuin sebagai antimalaria utama, tetapi masih kurang aktif dibandingkan halofantrin sebagai prototipe golongan fenantren. Penelitian lebih lanjut untuk menemukan senyawa yang lebih efektif telah dilakukan kajian terhadap hubungan struktur dan aktifitas beberapa turunan fenantrolin. Model persamaan yang menggambarkan hubungan struktur elektronik aktifitas anti plasmodial telah diperoleh. Berdasarkan model persamaan ini pula juga telah dibuat model senyawa yang secara teoritis mempunyai aktifitas lebih baik dari senyawa turunan fenantrolin-1,10 sebelumnya (Mustofa dan Tahir,2001). Beberapa senyawa hasil pemodelan yang mempunyai aktivitas antimalaria yang tinggi secara teoritis (komputasi) menggunakan metode semiempiris AM1 adalah senyawa turunan (1)-N-benzil-1,10-fenantrolinium. Salah satu senyawa turunan (1)-N-benzil-1,10fenantrolinium yang diprediksi mempunyai aktifitas antiplasmodial sebagai obat antimalaria baru adalah senyawa (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolinium klorida.

OH DMS NaOH H (1) O

OC2H5 NaBH4 Etanol

OC2H5 SOCl2 CHCl3 OH (3) H5C2O

H (2)

OC2H5 N N +

Aseton Refluks Cl N

Cl (4) (5) (6)

Gambar 1 Skema tahapan reaksi sintesis senyawa (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolin klorida.

Sintesis senyawa (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolin klorida di antaranya dapat dilakukan dengan menggunakan reaksi benzilasi terhadap senyawa 1,10-fenantrolin monohidrat menggunakan senyawa 4-etoksibenzil klorida yang disintesis melalui 3 tahap

reaksi. Tahap pertama adalah reakai etilasi senyawa 4-hidroksi benzaldehida menggunakan reaksi dietil sulfat menghasilkan 4-etoksibenzaldehida. Selanjutnya senyawa 4etoksibenzaldehida direduksi menggunakan senyawa NaBH4 menghasilkan senyawa 4etoksibenzil alkohol. Kemudian senyawa benzil alkohol diklorinasi menggunakan reagen tionil klorida (SOCl2) menghasilkan reagen pembenzilasi 4-etoksibenzil klorida. Tahaptahapan reaksi sintesis senyawa (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolin klorida secara lengkap disajikan pada Gambar 1. METODOLOGI PENELITIAN Bahan Kimia Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 4-hidroksibenzaldehida, NaOH, NaBH4, 1,10-fentrolin, HCl, kloroform, aseton, SOCl2, Na2SO4, DMS, DES, kertas saring, aguadest (Laboratorium kimia Fisika UGM). Peralatan Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: satu set alat refluks, alatalat gelas laboratoium, Spektroskopi IR (Shimadzu FTIR-8201 PC), Spektroskopi NMR (JOEL JNM MYGO), Spektrofotometri inkubator CO2. Prosedur Penelitian 1. Sintesis Senyawa 4-Metoksi benzaldehida Senyawa NaOH dilarutkan dalam air (30 mL), kemudian ditambahkan senyawa 4hidroksibenzaldehida (1). Selanjutnya campuran diaduk dan direfluks selama 15 menit, kemudian senyawa pengalkilasi ditambahkan tetes demi tetes. Refluks dilanjutkan selama 3,5 jam. Setelah refluks campuran dipindahkan ke corong pisah, kemudian lapisan organik dicuci dengan larutan 10% NaOH. Lapisan air diekstrak dengan diklorometana (3x50 mL) kemudian lapisan organik digabung, dicuci dengan air, dan dikeringkan dengan Na2SO4, selanjutnya dievaporasi. Senyawa produk yang diperoleh diidentifikasi dengan spektrofotometer IR dan proton NMR. 2. Reduksi senyawa 4-etoksibenzaldehida Senyawa NaBH4 dilarutkan dalam 120 mL etanol absolut (sampai homogen), HMassa (Shimadzu GC-17 A,QP-5000),

kemudian ke dalam campuran ditambahkan senyawa 4-etoksibenzaldehida (2) dan direfluks selama 3 jam. Campuran dievaporasi untuk menghilangkan etanol kemudian ditambahkan 50 mL air dan dinetralkan dengan HCl 11 %. Senyawa hasil reduksi diekstraksi dengan etil asetat (3x25 mL). Lapisan organik digabung dan dicuci dengan air (2x25 mL). Selanjutnya dikeringkan dengan Na2SO4 anhidrous dan dievaporasi. Senyawa hasil reduksi dikarakterisasi dengan spektrofotometer IR dan spektrometer proton-NMR. 3. Klorinasi senyawa 4-etoksibenzil alkohol Senyawa 4-etoksibenzil alkohol (3) dan 30 mL kloroform dimasukkan ke dalam leher tiga kapasitas 100 mL yang dilengkapi dengan pendingin bola dan corong penetes, sambil diaduk dengan pengaduk magnet dan didinginkan hingga 0oC. Kemudian ditambahkan SOCl2 dalam 15 mL kloroform yang telah didinginkan, secara bertetes-tetes dengan menggunakan corong penetes. Campuran tersebut diaduk selama 30 menit di atas penangas es. Setelah diaduk pada suhu kamar selama 1 jam, reaksi dilanjutkan dengan cara direfluks pada suhu 60oC selama 3 jam. Selanjutnya ditambhkan 15 mL air, diekstrak dengan kloroform (3 x 20) mL. Lapisan organik digabungkan, dikeringkan dengan Na2SO4 anhidrous, disaring dan dievaporasi. Hasil yang diperoleh berupa cairan berwarna kuning bening, diidentifikasi dengan IR, 1H-NMR dan GC-MS. 4. Sintesis senyawa (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolinium klorida Padatan senyawa 2 mmol 1,10-fenantrolin monohidrat (5) dilarutkan dalam 15 mL aseton. Setelah larut sempurna ditambahkan reagen pembenzilasi (5 mmol) kemudian direfluks. Setelah reaksi sempurna, proses refluks dihentikan kemudian padatan produk yang masih bercampur dengan pelarut didingingkan di lemari pendingin. Kristal yang diperoleh disaring, kemudian dicuci dengan aseton secara berulang sampai kristal produk lebih murni dari sebelumnya (dilihat berdasarkan warna kristal produk). Selanjutnya dilakukan penentuan titik lebur. Jika jarak suhu mulai meleleh dengan suhu akhir meleleh jaraknya masih jauh, maka krital produk dicuci kembali dengan aseton. Struktur produk diuji dengan spektrometer IR dan 1H-NMR. 5. Uji aktivitas antiplasmodium secara in vitro Langkah pertama pembuatan kultur Plasmodium in vitro. P. falciparum strain yang resisten klorokuin (FCR3) ditumbuhkan dengan metode modifikasi berupa penyimpanan candle jar dalam inkubator CO2 pada suhu 37oC. Plasmodium dipelihara secara in vitro

menggunakan eritrosit golongan O dengan kepadatan/hematokrit 1-5% dalam medium RPMI 1640 yang mengandung 25 mM HEPES, 30 mM NaHCO3 dan 10% serum manusia (O). Kondisi kultur diamati tiap hari, dan pada saat akan digunakan untuk uji, Plasmodium disinkronisasi dengan sorbitol 5%. Langkah ke dua adalah uji aktivitas antiplasmodium in vitro dilakukan dengan 2 metode yaitu metode mikroskopis dan metode mikroradioaktif yang dikembangkan oleh Desjardins et al. (1979). Ke dalam mikrokultur 96 sumuran yang mengandung kultur Plasmodium pada fase tropozoit dengan parasitemia 2% (hematokrit 3%), ditambahkan senyawa uji pada berbagai peringkat kadar. Kultur yang mengandung senyawa uji selanjutnya diinkubasikan selama 24 dan 72 jam. Pada metode mikroskopis, nilai parasitemia dihitung dari sediaan apus yang diwarnai dengan Giemsa. Nilai parasitemia ini selanjutnya digunakan untuk menghitung persentase penghambatan pertumbuhan Plasmodium. Pada metode radioaktif, pertumbuhan parasit dihitung berdasarkan pengambilan [3H]-hiposantin oleh parasit. Sebagai kontrol digunakan kultur Plasmodium tanpa senyawa uji dan dianggap mempunyai pertumbuhan 100%. Aktivitas antiplasmodium dinyatakan sebagai IC50 (Inhibitury Concentration 50%) yaitu kadar yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan parasit hingga 50%. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Etilasi senyawa 4-hidroksi-benzaldehida Senyawa 4-hidroksi-benzaldehida (1) mempunyai gugus fenol dimana dengan penambahan basa kuat akan membentuk ion fenoksida. Ion fenoksida mempunyai potensi mengalami reaksi alkilasi dengan senyawa dietil sulfat. Proses alkilasi berlangsung dengan cukup baik yaitu ion fenoksida yang terbentuk akibat penambahan basa kuat yang lebih reaktif menyerang gugus etil pada senyawa dietil sulfat. Karena senyawa 4-hidroksibenzaldehida mempunyai gugus aldehida maka penambahan basa kuat dilakukan dengan hati-hati secara tetes demi tetes untuk mencegah terjadinya penyerangan gugus hidroksi terhadap karbonil gugus aldehida. Sisa senyawa 4-hidroksi-benzaldehida yang belum bereaksi diekstrak dengan larutan NaOH, sehingga diharapkan senyawa 4-hidroksibenzaldehida yang masih bercampur dengan senyawa produk dalam fasa organik dapat pindah ke fasa air. Produk reaksi berupa cairan coklat (rendemen 63,84%). Kurang tingginya rendemen diduga disebabkan oleh adanya gugus pendeaktifasi aldehida akibat efek induksi yang menyebabkan derajat keasaman senywa 4-hidroksi-benzaldehida berkurang. Muatan keelektropositifan atom C pada gugus aldehida diduga sebagai salah satu sebab yang dapat

1.33

O
6.70

3.98

6.70

7.08 7.08 mengganggu terbentuknya ion fenoksida. 4.79 OH Kebenaran struktur produk dapat dibuktikan dengan spektrum IR yaitu dengan tidak

tampaknya pita lebar pada daerah sekitar 3400-3500 cm-1. Hal tersebut memberi petunjuk bahwa gugus fenol pada senyawa 4-hidroksibenzaldehida telah teretilasi. Hasil analisis spektrum 1H-NMR terdapat sinyal pada pergeseran kimia () 3,9-4,2 ppm (multiplet) dan sinyal pada pergeseran kimia () 1,2-1,5 ppm (triplet) yang menunjukkan bahwa pada gugus hidroksi telah terikat gugus etil. Sinyal pada pergeseran kimia 6,8-7,1 dan 7,6-7,8 ppm (doublet of doublet) diperkirakan berasal dari proton benzena, sedangkan sinyal khas dari proton aldehida terdapat pada pergeseran kimia 9,8-9,9 ppm (singlet). 2. Reduksi senyawa 4-etoksi-benzaldehida Senyawa 4-etoksi benzaldehida (2) direduksi menggunakan reagen natrium borohidrida (NaBH4), pelarut etanol absolut yang direfluks selama 3 jam. Produk berupa cairan kuning jernih dengan rendemen sebesar 70,06%. Bukti kuat telah tereduksinya senyawa 4-etoksi-benzaldehida adalah spektrum IR yaitu muncul spektra gugus hidroksi pada daerah 3348,2 cm-1 dan hilangnya serapan gugus karbonil (C=O) yang umumnya nampak pada panjang gelombang sekitar 1700 cm-1. Disamping bukti tersebut yang dapat diperoleh dari spektrum IR di atas adalah munculnya serapan pada daerah 1200-1100 cm-1 yang menunjukkan bukti adanya ikatan C-O dari gugus alkohol dan gugus alkoksi.

Gambar 2 Spektrum 1H-NMR senyawa 4-etoksi-benzil alkohol.

Pada spektrum 1H-NMR di atas (Gambar 3) dapat diperoleh informasi lebih kuat tentang bukti keberhasilan reaksi reduksi senyawa 4-etoksi benzaldehida menjadi senyawa 4etoksibenzil alkohol (3). Hal yang paling kuat adalah nampaknya pita (-CH2-) pada pergeseran kimia 4,5-4,6 ppm. Bukti tersebut diperkuat oleh hilangnya sinyal yang berasal dari proton gugus aldehida yang semula muncul pada 9,8-9,9 ppm (singlet). 3. Klorinasi senyawa 4-etoksi-benzil alkohol

Sintesis senyawa 4-etoksi-benzil klorida (4) dilakukan melalui reaksi klorinasi senyawa senyawa 4-etoksi-benzil alkohol (3) dengan menggunakan senyawa tionil klorida. Reaksi dilakukan pada suhu refluks selama 3 jam. Produk berupa cairan kuning, rendemen 70,06% dan setelah dianalisis dengan GC-MS mempunyai kemurnian cukup tinggi (90,22%). Berdasarkan informasi yanmg diperoleh dari spektrum IR (Gambar 4), dapat diduga kuat bahwa reaksi klorinasi 4-etoksibenzil alkohol menjadi 4-etoksibenzil klorida telah dapat dilakukan dengan hasil yang memuaskan. Tidak munculnya pita lebar dan tajam pada bilangan gelombang sekitar 4000-5000 cm-1 merupakan salah satu bukti kuat bahwa produk hasil reaksi klorinasi adalah senyawa 4-etoksibenzil klorida.

CH3 O

CH2Cl

Bilangan Gelombang (cm-1) Gambar 3 Spektrum IR senyawa 4-etoksibenzil klorida.

Hasil analisis GC-MS diperoleh informasi akurat tentang kemurnian senyawa 4etoksi-benzil klorida (90,22%) yang merupakan kemurnian suatu hasil sintesis yang cukup tinggi. Reaksi klorinasi tersebut mempunyai 6 senyawa hasil samping yang tidak dilakukan karakterisasi lebih lanjut. Selain data tersebut juga diperoleh informasi ion molekuler senyawa 4-etoksi-benzil klorida (m/z 170) merupakan angka yang sesuai dengan berat molekul senyawa 4-etoksi-benzil klorida (Gambar 5).

Gambar 4 Spektrum massa 4-etoksi-benzil klorida.

Dari puncak m/z 170 tersebut dapat diperoleh puncak m/z 136 melalui pelepasan atom Cl- secara heterolitik. Fragmen dengan m/z 107 diperoleh dari pelepasan molekul etil secara homolitik. Puncak pada m/z 107 tersebut merupakan puncak dasar yang distabilkan oleh adanya resonansi sehingga mempunyai limpahan yang lebih tinggi dibanding fragmenfragmen yang lain.

5. Sintesis senyawa (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolinium klorida Sintesis senyawa (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolinium klorida (6) telah dilakukan melalui reaksi alkilasi senyawa 1,10-fenantrolin (5) dengan pereaksi 4-etoksibenzil klorida (4). Reaksi menggunakan pelarut aseton dan dilakukan pada suhu refluks selama 18 jam menghasilkan senyawa berupa padatan merah muda yang mempunyai rendemen dan titik leleh berturut-turut sebesar 92,85% dan 199oC. Untuk memastikan kebenaran struktur senyawa produk (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10fenantrolinium klorida selain diukur titik lelehnya, juga dianalis dengan menggunakan IR (Gambar 5) dan 1H-NMR (Gambar 6).
H3C O N Cl N

Bilangan Gelombang (cm-1) Gambar 5 Spektrum IR (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolinium klorida.

Pada spektrum IR (Gambar 5) terdapat spektra di daerah 1469,7 dan 1392,0 cm-1 yang diduga kuat berasal dari vibrasi bending gugus metilen dan metil. Selain informasi tersebut juga terlihat jelas 3 buah pita tajam di sekitar 1200-1000 cm-1 yang diduga berasal dari gugus etoksi (C-O). Sementara spektra tajam pada daerah 3336,6 cm-1 merupakan spektra khas dari senyawa hasil N-alkilasi yang selalu muncul baik pada spektrum bahan dasar 1,10-fenantrolin maupun pada spektrum IR senyawa-senyawa garam hasil N-alkilasi atau N-benzilasi terhadap turunan 1,10-fenantrolin. Munculnya pita tersebut disebabkan pada senyawa 1,10-fenantrolin dan turunannya diduga mengikat molekul air yang mengandung gugus hidroksi (-OH). Pada 1H-NMR (Gambar 6) spektrum tersebut terdapat dua golongan serapan yang merupakan data penting untuk mengkarakterisasi produk. Golongan serapan yang pertama

1.33 3.98

6.65

6.95 8.81

6.65 6.95

2.6

7.26

adalah serapan A-F terdapat pada pergeseran kimia ( ) = 9,3-6,7 ppm yang merupakan pita
8.5 7.68 serapan yang berasal dari proton-proton cincin benzena dan benzenoida milik senyawa 9.0 7.43

Cl-

9.2

N+

8.00

produk (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolinium klorida.

Gambar 6 Spektrum 1H-NMR (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolinium klorida.

Sementara serapan-serapan golongan ke dua terdapat tiga serapan yaitu puncak G (multiplet; = 4,0-3,6 ppm), puncak H (singlet; = 2,5 ppm) dan puncak I (triplet; = 1,3-1,1 ppm). Puncak G mempunyai serapan multiplet merupakan serapan metilen pada gugus etoksi (-OCH2-CH3) yang disebabkan karena mempunyai 3 proton tetangga. Puncak H singlet berasal dari gugus metilen milik benzil (Ph-CH2) yang tidak mempunyai proton tetangga sehingga mempunyai kenampakan singlet, sedangkan puncak I mempunyai kenampakkan triplet karena mempunyai dua proton tetangga yang diduga kuat berasal dari proton metil yang yang terdapat gugus etoksi (-OCH2-CH3). Berdasakan informasi dari spektrum IR (Gambar 5) dan 1H-NMR (Gambar 6) di atas dapat dikatakan bahwa reaksi benzilasi 1,10-fenantrolin dengan pereaksi 4-etoksibenzil klorida telah berhasil dilakukan. 6. Aktivitas Senyawa (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolinium klorida Uji aktivitas in vitro antiplasmodial yang diuji pada pada sel FCR3 resisten klorokuin. Langkah pertama pembuatan kultur Plasmodium in vitro. P. falciparum strain yang resisten klorokuin (FCR3) ditumbuhkan dengan metode modifikasi berupa penyimpanan candle jar dalam inkubator CO2 pada suhu 37oC. Langkah ke dua adalah uji aktivitas antiplasmodium in vitro dilakukan dengan 2 metode yaitu metode mikroskopis dan metode mikroradioaktif. Hasil uji aktivitas diperoleh harga IC50 senyawa (1)-N-(4etoksibenzil)-1,10-fenantrolinium klorida sebesar 0,53-3,11 M pada waktu inkubasi selama

24 dan 72 jam.

KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan: 1. Sintesis senyawa (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolinium klorida dari bahan dasar 1,10 fenantrolin monohidrat dan 4-hidroksibenzaldehida melalui 4 tahap reaksi. Tiga tahap reaksi merupakan pembuatan reagen pembenzilasi dari 4-hidroksibenzaldehida yaitu reaksi etilasi, reduksi dan klorinasi. Tahap terakhir reaksi benzilasi terhadap senyawa 1,10-fenantrolin yang dilakukanpada suhu refeluks selama 18 jam menghasilkan (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolinium klorida berupa padatan merah muda yang mempunyai rendemen dan titik leleh berturut-turut sebesar 92,85% dan 199oC. 2. Hasil uji aktivitas in vitro antiplasmodial pada sel FCR3 resisten klorokuin terhadap senyawa (1)-N-(4-etoksibenzil)-1,10-fenantrolin klorida diperoleh hasil IC50 sebesar 0,53-3,11 M pada waktu inkubasi selama 24 dan 72 jam. DAFTAR PUSTAKA Desjardin, R.E., Canfield, C.J., Haynes, J.D., & Chulay, J.D. 1979. Quantitative assessment of antimalarial activity in vitro by a semi-automated microdulation technique. Antimicrob. Agents Chemother. 16 : 710-718. Fatah, A.M.,1982, Kimia Farmasi dan Medisinal Organik, Edisi ketujuh diterjemahkan dari Pharmacy Chemistry and Organic Medicinal by Wilson and Gisvold, , Gadjah Mada Press, Yogyakarta Mustofa dan Tahir, A.,2001, Hubungan struktur elektrolik dan aktifitas antiplasmodial senyawa turunan diaza fenantren. Laporan Penelitian, Lembaga Penelitian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Wattimena, J.R., dan Soebito, S., 1990, Senyawa Obat. Buku Pelajaran Kimia Farmasi, Edisi kedua diterjemahkan dari Arzneistoffe, Lehbuch der Pharmazeutischen Chemie by Walter Schunak; Klaus Mayer; Manfred Haake; Original Edition, Gadjah Mada Press, Yogyakarta. WHO. 1997. Practical chemotherapy of malaria. Report of a WHO Scientific Group. Technical Report Series no. 805, Geneva. WHO. 1997. The situation of malaria in the world in 1994.J. Epid. Week. 72: 269-292. WHO, 2004, HIV/AIDS, Tubercolosis, and Malaria: The Status and Impact of the Three Diseases; (http://www. who.int/whr/2004/en/report/pdf/diakses 24 Desember 2005). Yapi, A. D., Mustofa, M., Valentin, A., Chavignon, O., Teulade, J. C., Mallie, M., Chapat, J. P., and Blache. Y.,2000, New Potensial Antimalarial Agents: Syntesis and Biological Activities of Original Diaza-analogs of Phenanthrtene J. Chem. Pharm. Bull, 48 (12) 1886 -1889.