Anda di halaman 1dari 8

JOURNAL READING

Long-Term Efect of Early-Life Otitis Media on Language Development

Disusun oleh : Nuri Nandhya Kirana

Pembimbing : Dr. Sondang BRS, Sp.THT, MARS

KEPANITERAAN KLINIK THT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIANJUR FAKULTAS KESEHATAN DAN KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA 2011

EFEK JANGKA PANJANG DARI OTITIS MEDIA PADA PERKEMBANGAN BAHASA DI KEHIDUPAN AWAL
PENDAHULUAN
Perkembang bahasa secara umum dianggap memiliki periode sensitive selama awal tahap masa kanank- kanak, terutama selama 2 tahun pertama kehidupan ketika dasar kemampuan berbahasa mulai diperoleh, untuk pembentukan perkembangan kemampuan bahasa selanjutnya. Oleh karena itu, dengan adanya penurunan dari kualias input bahasa selama periode ini makan akan menghasilkan kemunduran yang tidak akan bisa dikompensasi nantinya. Adanya penelitian ini diujukan untuk mengetahui efek jangka panjang otitis media di awal kehidupan dan konsekuensi nya terhadap kehilangan pendengaran dalam perkembangan bahasa. Otitis media yang berulang selama awal kehidupan bukan hanya mengakibatkan penurunan dalam kemampuan output pendengaran tapi juga turun naik (nada) dari suara saat berbicara selama periode OM- positive dan OM- negatife. Kemungkinan konekuensi bahwa turun naik suara (nada) yang di dengar akan menyulitkan dalam pembentukan pola untuk berbicara, yang mana merupakan bagian paling fatal dalam proses bahasa. Pada penelitian sebelumnya, Teele, Klein,Chase, Menyuk,Rosner (1990) melakukan penelitian prospective yang bertujuan menilai efek jangka panjang dari OM pada awal kehidupan perkembang bahasa. Membentuk sebuah kelompok yg berisi 147 orang anak berusia 7 tahun dan di dapatkan hasil adany korelasi positive yang significant antara lama periode dengan OM pada 3 tahun awal usia kehidupan dan sedikit artikulasi dan hubungannya dengan kemampuan berbahasa. Namun dari beberapa penelitian selanjutnya tahun 1991,2002,2007 secara prospective longitudinal dan meta analysis. Bahwa tidak ditemukannya atau hanya ditemukan dalam jumlah kecil hubungan antara OM pada awal kehidupan dengan perkembangan kemampuan berbahasa. Pada penelitian ini , peneliti mempertimbangkan untuk mengulangi penelitian sebeumnya dengan meniai Otitis Media dan Kehilangan Pendnegaran pada usia 2 tahun pertama kehidupan dan terkait dengan usia anak berjalan serta usia sekolah saat anak mulai memiliki kemampuan berbahasa. Dengan karakteristik subjek berdasarkan jenis kelamin, sedang menyusu, perkembang kognitive, dan tingkat pendidikan orangtua dipertimbangkan potential sebagai moderator dalam prroses penelitan.

METODE
Participant / Subjek Sample penelitian terdiri dari 65 anak, 34 laki laki dan 31 perempuan. Sample ini sebelumnya telah melalui proses penelitian prospective yang lebih besar dengan 250 anak (100 bayi lahir dengan risiko tinggi dan 150 anak lahir sehat) yang di uji setiap 3 bulan selama 2 tahun pertama di Maastricht Otitis Media With Effusion Study (MOMES) di University Hospita Maastricht antara Oktober 1989 dan April 1995. 150 anak lahir sehat tersebut telah direkrut dari General Delivery Outpatient Department. Semua anak- anak ini dilakukan pemeriksaan THT 7 kali dari rencana 9 kali saat usia baru lahir hingga usia 24 bulan untuk keperluan penelitian. 65 anak subjek penelitian semuanya merupakan bayi lahir sehat. Dan mereka meakukan pemeriksaan lengkap hingga usia 7 tahun ( rage usia = 6.6 -7.10 tahun; M = 7,3; SD=0,4). Semua anak lahir di Selatan Netherlands dan status telinga tengah mereka telah di periksa sejak lahir hingga usia 24 bln. Saat usia 27 bln, kemampuan bahasa mereka di uji pada 53 anak sample subjek penelitian, dan 44 anak sample penelitian di uji kemampuan produksi bahasa. Anak- ana memiliki pendengaran normal dan sedang tidak menderita OM saat usia perkembangan bahasa. 2 orang anak memiliki sedikit Tuli konduktif saat pemeriksaan usia 7 tahun dan mereka di jadwalkan ulang untuk perjanjian berikutnya, selama status telinga tengah dan pendengaran mereka dalam batas normal. Tingkat pendidikan orangtua di kategorikan berdasarkan Standard Onderwijs Indeing (SOI) scale, dengan skor 4 14. Dengan penilaian 4 9 = rendah dan 10 14 = tinggi.

Prosedure Evaluasi di usia 0 27 bulan. Setiap 3 bulan antara usia baru lahir sampai 24 bulan, pertama anak menjalani pemeriksaan otoscopy, kemudian penilaian pendengaran, diiuti dengan tympanometry. Saat usia 27 bulan, hanya pemeriksaan tympanometry dilakukan. Seorang otologist dan audiologist berpengalaman memeriksa liang telinga luar dan gendang telinga dengan otoscope tangan. Untuk kasus yang tidak jelas dilakukan pemeriksaan dengan otomicroscope. Hasil pemeriksaan otoscopic di deskripsikan ke dalam normal, ragu ragu, atau Otitis Media. Pemeriksaan tympanogram pada kedua telinga direkam untuk menganalisa keadan telinga tengah dan di karakteristikan berdasarkan Klasifikasi modifikasi Jerger (1970). Standar diagnosis teinga tengah, otoscopic, dan tympanometry di kombinasi dalam algoritma diagnostic MOMES.

Metode Penilaian pendengaran tergantung usia. Usia sampai dengan 9 bulan, bayi diperiksa dengan prosedure menguatkan tingkah laku (nonreinforced behavioral procedure/BOA). Diatas usia ini anak diperiksa prosedur reflek orientasi kondisi ( a conditioned orientation reflex procedure/CORA). Pada pemeriksaan BOA dan CORA diberi nilai amban bising dengan frekuensi 0.5, 1, 2, 4, dan 8 kHz dan 30dB HL). Respon penilaian minimum untuk kedua telinga dengan nilai 10 dB HL down / 5 dB HL up. Di usia 27 bulan, ekspressive bahasa spontan di nilai denga mereka bahasa spontan subjek sample selama interaksi orangtua dan anak saat bermain. Pengucapan bahasa di analisa berdasarkan Grammatical Analysis of Developmental Language Disorder (GRAMAT) oleh seorang speech therapy. Penilaian deskripsi terhadap rata-rata panjang pengucapan kata (Mean length of utterance/MLU) dan rata- rata panjang pengucapan lima kata (Mean Length of the five longest utterances/MLUL). Saat usia 27 bulan, perkembangan secara umum di nilai oleh satu dari dua psikolog berdasarkan dari cerita anak. Penilaian berdasarkan Bayley Scales of Infant Development, dengan penilaian perkembangan kognitive berdasarkan nonverbal Bayley Mental Development Index (MDI). Evaluasi saat usia sekolah, usia 7 tahun dilakukan pemeriksaan otoscop dan tympanometri, prosedure pemeriksaan yang sama seperti saat berusia 2 tahun, yang di lengkapi oleh seorang otolaryngologist yang menilai OM dan riwayat tuli. Ada 2 tes dari Dutch Language Test for Children (Van Bon, 1982) yang digunakan untuk anak-anak dalam kemampuan bahasanya: Word Forms Production test kemampuan berbahasa dan pengetahuan dari bentuk kata Concealed Meaning test fokus pada kemampuan anak untuk memahami isi dari kaliamat-kalimat

Dari 65 anak yang dilakukan penilaian saat usia sekolah, ada 53 anak terdapat perkembangan kognitif pada skor Reynell dan 44 anak pada pemeriksaan MLU dan MLUL hasil dari sampel relatif kecil.

Analysis Statistik Analisa statistik dengan menggunakan SPSS 15.0. untuk memperoleh deskripsi statistik, koefisien korelasi, dan koefisien regresi untuk skore variasi bahasa. Skor nilai bahasa dikonversi ke skor standar ( skala dari 1 sampai 10, dengan rata-rata 5). Analisa statistik untuk meneliti efek OM dan tuli dalam perkembangan bahasa di lakukan dalam dua fase. Pertama, skor bahasa saat usia 27 tahun (Reynell dan MLU) di nilai

berhubungan terhadap status tellinga tengah dengan mempertimbangkan moderating factor. Faktor-faktor ini di analisa ke dalam bentuk pembagian (dichotomized). Setelah itu, kedua hasil skor penilaian saat usia 7 tahun (uji WFP dan CM) di uji berdasarkan analisa multivariat (MANOVA). Skor bahasa saat usia 27 bulan dan jumlah kejadian OM dan rata-rata tuli saat usia 2 tahun dibandingkan dengan variable penjelas.

HASIL
Deskripsi statistic jumlah insiden OM, kehilangan pendengaran saat visite, rata-rata visite dar keseuruhan diawal kehidupan, dan skor outcome bahasa saat usia 27 bulan dan usia 7 tahun teah dijelaskan di table 1.

Table 2 menjelaskan skor bahasa berdasarkan jenis kelamin, ASI,tingkat pendidikan orangtua, pembagian angka kejadian OM dan kehilangan pendengara (Tuli) dan hasil test t statistic outcome penilaian MLUL.

Faktor faktor sedang dalam hubungan antara OM awal kehidupan dan Kehilangan Pendengaran serta Kemampuan Berbahasa pada usia 27 bulan Pada tabel 2, telah dijelaskan juga bawa ASI positive memiliki hubungan terhadap MLU saat usia 27 buan, walaupun tidak ada hubungan yang signifikan antara skor bahasa dan jenis kelamin. Tingkat pendidikan orangttua yang tinggi memiliki efek postive dalam penilaian perkembangan bahasa saat usia awal dan usia sekolah. Faktor faktor sedang terhadap hubungan antara OM awal kehidupan dan Kehilangan pendengaran dan Kemampuan Berbahasa saat usia 7 tahun ASI dan jenis kelamin tida berhubugan dengan skor bahasa saat usia 7 tahun. Tingkat pendidikan orangtua yang tinggi juga memiliki efek positive dalam uji CM dan WFP. Ratarata rata kehilangan pendengaran di usia 2 tahun terlihat berhubungan dengan skor bahasa di usia 7 tahun.

Skor Bahasa di usia 27 bulan dan 7 tahun Dapat dilihat pada tabel 3, bahwa MLU, MLUL, dan Reynell memiliki korelasi yang lemah dengan skor WFP saat usia 7 tahun. Selain itu, dapat diihat adanya korelasi positive antara kemampuan berbahasa saat usia 27 bulan dan 7 tahun.

Hubungan antara Produksi Bahasa dan Pemahaman serta Efect Kombinasi Keduanya Pertimbangan Produksi bahasa dan pemahaman saat usia 7 tahun adalah lemah, namun secara statistik memiliki korelasi / hubungan yang signifikan (tabel 3 ) Variable Orangtua antara usia 0 7 tahun dan kemampuan bahasa di usia sekolah Untuk setiap interval usia ( 0-2 tahun, 2- 4 tahun, 4 6 tahun, dan 6-8 tahun), efek masalah laporan pendengaran orangtua, koncultasi THT, peech therapy, perkembangan berbicara anatara baru lahir dan usia 7 tahun sera masalah pedengaran di lakukan daam uji dependent t test.

DISKUSI
Pada penelitian ini memiliki kekurangan yaitu tidak dapat mendemonstrasikan secara langsung efek OM atau kehilangan pendengaran pada usia 2 tahun terhadap pemahaman bahasa dan kemampuan memproduksi bahasa di usia sekolah. Efek negative dari kehilangan pendengaran terhadap produksi bahasa di usia 27 tahun, dan OM di usia 7 tahun sgnifikan hanya secara marginal. Otitis Media merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi dalam perkembangan anak. Bagaimanapun perkmbangan kognitif merupakan suatu predictor yang kuat dalam membantu anak menilai perkembangan bahasanya. Seperti dijeaskan bahwa adanya hubungan antara kemampuan bahasa dengan tigkat pendidikan orangtua. Informasi mengenai kehilangan pendengaran selama interval usia 2 thn sampai usia 7 tahun diperoleh melalui pertanyaan atau wawancara terhadap orangtua. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa terdapat hubungan positive antara kemampuan berbahasa di usia 7 tahun dan variable lainnya ( pendidikan orangtua, speech therapy) di usia awal. Hubungan antara skor keterlambatan berbahasa dan rata-rata kehilangan pendengaran di usia 2 tahun dengan angka kejadian OM memiliki hubungna yg lama atau bahakan tidak terdapat hubungan.