Anda di halaman 1dari 4

Meningioma

Defenisi Meningioma merupakan tumor jinak yang berasal dari durameter atau arachnoid.

Epidemiologi Meningioma terjadi sekitar 15% dari semua tumor intrakranial primer. Meningioma lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan dengan pria dengan rasio 1.4-2.8 : 1 dan insidensinya lebih tinggi pada umur antara 60-70 tahun. Resiko menderita meningioma ditemukan meningkat pada orang yang mendapatkan radioterapi daerah kepala. Resiko meningioma juga meningkat pada pasien dengan riwayat keluarga. Hal ini berhubungan dengan defek genetik atau mutasi pada gen neurofibromatosis 2 pada kromosom 22q.

Patofisiologi Meningioma bisa terjadi di intracranially, dan berasal dari dari arachnoidal cap cell yang terdapat pada lapisan arachnoid yang menutupi otak. Meningioma biasanya ditemukan pada permukaan otak, pada kasus yang jarang meningiomas bisa muncul di intraventrikular atau di intraosseus. Lokasi tersering munculnya meningiomas adalah regio sylvian pada hemisphere cerebri, permukaan superior parasagital dari lobus frontal dan parietal, olfactory groove, permukaan superior dari cerebellum dan spinal kanal.

Etiologi Trauma dan virus merupakan kemungkinan penyebab pembentukan meningioma , tetapi belum ditemukan bukti definitif yang mendukung. Pasien dengan paparan radiasi. Mutasi genetik yaitu gen NF2 pada chromosome 22q.

Manifestasi Klinis Meningiomas bisa menyebab gejala melalui beberapa mekanisme diantaranya iritasi pada korteks, kompresi pada otak atau saraf kranial, menginvasi jaringan lunak atau menyebabkan kerusakan vaskular pada otak. 1. Iritasi : dengan mengiritasi korteks, meningioma bisa menyebabkan kejang. Kejangnya pertama kali muncul pada usia dewasa. 2. Kompresi : ditandai dengan sakit kepala yang terlokalisasi atau nonspesifik. Selain itu kompresi pada pada bagian otak bisa menyebabkan disfungsi otak yang fokal atau general dengan gejala kelemahan focal, dysphagia, atau somnolen.

3. Gejala yang stereotipik : meningioma pada lokasi tertentu bisa menyebabkan gejala yang stereotipik seperti pada tabel 1. Gejala ini bukan pathognomonic dari meningioma pada lokasi tersebut. Gejala ini bisa terjadi pada kondisi atau lesi yang lain. Tabel 1 Lokasi Parasagittal Subfrontal Cavernous sinus Gejala Monoparesis dari kaki yang kontralateral Menyebabkan gangguan mental, apati, dan inkontinesia urin Defisit saraf kranial multipel (II, III, IV, V, VI) yang menyebabkan berkurangnya ketajaman penglihatan dan diplopia dengan baal pada wajah. Hemianopsia kontralateral Berkurangnya pendengaran disertai baal pada wajah dan lemahnya otot wajah Nyeri pada spinal yang terlokalisasi Exophthalmos, kebutaan

Lobus osipital Cerebellopontine angle Spinal cord Optic nerve

4. Vaskular : gejalanya sangat jarang, tapi bisa menyebabkan Transient Ischemic Attack atau Stroke. 5. Lain-lain seperti : a. Intraventricular meningiomas bisa menunjukkan gejala obstruktif hidrosefalus. b. Meningioma pada daerah sekitar sella turcica bisa menyebabkan panhypopituitarism. c. Meningioma yang mengkompresi daerah visual pathway bisa menyebabkan gangguan lapang pandang, tergantung kepada lokasinya. Pemeriksaan fisik yang ditemukan diakibatkan oleh meningkatnya tekanan intrakranial, keterlibatan saraf kranial, kompresi parenkima otak, dan keterlibatan tulang atau jaringan lunak akibat meningiomanya.pemeriksaan fisik yang bisa didapatkan diantaranya : 1. Meningkatnya tekanan intrakranial menyebabkan papiledema, bahkan herniasi otak. 2. Keterlibatan saraf kranial bisa menyebabkan anosmia, defek pada lapang pandang, diplopia, menurunnya sensasi pada wajah, paresis pada wajah, menurunnya pendengaran. 3. Kompresi pada parenkim otak bisa menyebabkan gejala pyramidal, babinski yang positif, disorientasi. 4. Spinal meningioma bisa menyebakan Brown-Sequard syndrome seperti menurunnya sensasi nyeri yang kontra lateral,, kelemahan ipsilateral, berkurangnya sensasi posisi. Selain itu juga menyebabkan lemahnya sphincter bahkan sampai quadrpareisi atau paraparesis.

Pemeriksaan penunjang 1. Radiologi Diagnosis dari meningioma dapat dilakukan dengan CT scan dengan kontras dan MRI, ditandai dengan kalsifikasi dan vaskularitas yang meningkat. Biasanya tumor berbentuk mass dengan kontur yang lembut. Pada CT scan masa terlihat isointense atau sedikit hiperintense, selain itu juga bisa terdapat edema pada sekeliling masa. Pada pemeriksaan CSF protein biasanya ditemukan meningkat.

Gambar 1: MRI of a meningioma on plaque

Gambar 2: Bone-window CT reveals calcification of the meningioma

Histologi Meningioma biasanya globular dengan batas yang jelas, dengan perlekatan dural yang luas dan mengalami invaginasi pada otak. Permukaannya bisa terlihat pucat translusent atau berwarna kuning kecoklatan, kadang kadang bisa terlihat seperti berpasir.

Penatalaksanaan Eksisi dengan operasi bisa menghilangkan semua gejala dengan permanen dan mengankat tumor dengan total. Rekurensi bisa terjadi pada tumor yang tidak diangkat secara sempurna. Tumor yang terdapat di bawah hipothalamus atau dibagian anterior dari brain stem paling sulit diangkat melalui operasi. Radioterapi atau pisau gamma bisa digunakan pada kasus yang tidak bisa dioperasi, tumor yang tidak bisa terangkat dengan sempurna, ataupun menunjukkan karakteristik yang malignant. Tumor yang kecil pada dasar dari otak juga bisa dihilangkan dengan fokus radiasi.

Prognosis Pasien dengan meningioma yang direseksi secara total memiliki prognosis yang bagus. Meningioma yang memiliki kemungkinan rekuren adalah pada eksisi yang tidak sempurna atau pada tumor yang multipel.