Anda di halaman 1dari 9

NAMA NIM

:DONA FEBRIANDARI :0911121210

PRAKTIKA SENIOR PSIK UR OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK) A. Pengertian OMSK ialah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening, atau berupa nanah. B. Etiologi Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah supuratif menjadi kronis antara lain : 1. Gangguan fungsi tuba eustachius yang kronis akibat : a. Infeksi hidung dan tenggorok yang kronis atau berulang. b. Obstruksi anatomik tuba eustachius parsial / total 2. Perforasi membran timpani yang menetap 3. Terjadinya metaplasia skuamosa atau perubahan patologik menetap lainnya pada telinga tengah. 4. Obstruksi menetap terhadap aerasi telinga tengah atau rongga mastoid. Hal ini dapat disebabkan oleh jaringan parut, penebalan mukosa, polip, jaringan granulasi (timpanosklerosis). 5. Terdapat daerah-daerah dengan sekuester atau osteomielitis persisten di mastoid. 6. Faktor-faktor konstitusi dasar seperti alergi, kelemahan umum, atau perubahan mekanisme pertahanan tubuh. C. Klasifikasi OMSK OMSK dibagi menjadi 2 jenis yaitu : 1. OMSK tipe benigna (tipe mukosa = tipe aman)

Proses peradangan terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe benigna jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe benigna tidak terdapat kolesteatom. 2. OMSK tipe maligna (tipe tulang = tipe bahaya) OMSK tipe maligna ialah OMSK yang disertai dengan kolesteatoma. Perforasi terletak pada marginal atau di atik, kadang-kadang terdapat juga kolesteatoma dengan perforasi subtotal. Sebagian komplikasi yang berbahaya atau total timbul pada atau fatal, timbul pada OMSK tipe maligna. D. Manifestasi Klinik 1. Perforasi pada marginal atau pada atik. 2. Abses atau kiste retroaurikuler (belakang telinga) 3. Polip atau jaringan granulasi di liang telinga luar yang verasal dari dalam telinga tengah. 4. Terlihat kolesteatom pada telinga tengah (sering terlihat di epitimpanum). 5. Sekret berbentuk nanah dan berbau khas (aroma kolesteatom) 6. Terlihat bayangan kolesteatom pada foto rontgen mastoid. E. Stadium OMSK Stadium otitis media supuratif akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah 1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius Stadium oklusi tuba Eustachius terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh retraksi membrana timpani akibat tekanan negatif dalam telinga tengah karena terjadinya absorpsi udara. Selain retraksi, membrana timpani kadang-kadang tetap normal atau hanya berwarna keruh pucat atau terjadi efusi (tidak dapat dideteksi). Stadium oklusi dari otitis media supuratif akut (OMA) sukar dibedakan dengan tanda dari otitis media serosa akibat virus atau alergi. 2. Stadium Hiperemis (Presupurasi)

Stadium hiperemis (pre supurasi) akibat pelebaran pembuluh darah di membran

timpani yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat. 3. Stadium Supurasi Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen (nanah). Selain itu edema pada mukosa telinga tengah makin hebat dan sel epitel superfisial hancur. Ketiganya menyebabkan terjadinya bulging (penonjolan) membrana timpani ke arah liang telinga luar. Pasien akan tampak sangat sakit, nadi & suhu meningkat dan rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Anak selalu gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak. Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan ruptur membran timpani akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membran timpani. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan. Nekrosis ini disebabkan oleh terjadinya iskemia akibat tekanan kapiler membran timpani karena penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil. Keadaan stadium supurasi dapat kita tangani dengan melakukan miringotomi. Bedah kecil ini kita lakukan dengan membuat luka insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari telinga tengah menuju liang telinga luar. Luka insisi pada membran timpani akan mudah menutup kembali sedangkan ruptur lebih sulit menutup kembali. Bahkan membran timpani bisa tidak menutup kembali jika membran timpani tidak utuh lagi. 4. Stadium Perforasi Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman. Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu menurun dan bisa tidur nyenyak. Jika membran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret (nanah)

tetap berlangsung selama lebih 3 minggu maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih 1,5-2 bulan maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik (OMSK). 5. Stadium Resolusi Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal hingga perforasi membran timpani menutup kembali dan sekret purulen tidak ada lagi. Stadium ini berlangsung jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman rendah. Stadium ini didahului oleh sekret yang berkurang sampai mengering. Apabila stadium resolusi gagal terjadi maka akan berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik (OMSK). Kegagalan stadium ini berupa membran timpani tetap perforasi dan sekret tetap keluar secara terus-menerus atau hilang timbul. Otitis media supuratif akut (OMA) dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa. Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa mengalami perforasi membran timpani.

F. Komplikasi Menurut Adam dkk, komplikasi OMSK diklasaifikasikan sebagai berikut : 1. Komplikasi di telinga tengah : a. Perforasi persisten b. Erosi tulang pendengaran c. Paralisis nervus fasial 2. Komplikasi di telinga dalam : a. Fistel labirin b. Labirinitis supuratif c. Tuli saraf 3. Komplikasi di ekstradural : a. Abses ekstradural b. Trombosis sinus lateralis

c. Petrositis 4. Komplikasi ke susunan saraf pusat : a. Meningitis b. Abses otak c. Hidrosefalus otitis G. Penatalaksanaan OMSK Pembedahan banyak dilakukan dalam kasus OMSK. Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain : 1. Mastoidektomi Sederhana. Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe benigna yang pada pengobatan konservatif tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Tujuannya ialah supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Pada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki. 2. Mastiodektomi Radikal. Operasi ini dilakukan pada OMSK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intra kranial. Fungsi pendengaran tidak diperbaiki. Kerugian operasi ini ialah pasien tidak diperbolehkan renang seumur hidup, pasien harus kontrol teratur, pendengaran berkurang sekali. Modifikasi operasi ini ialah dengan memasang tandur (graft) pada rongga operasi serta membuat meatal / plasti yang lebar, sehingga rongga operasi kering permanen, tetapi terdapat cacat anatomi yaitu meatus luar liang telinga menjadi lebar. 3. Mastiodektomi Radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy) Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatom di daerah atik, tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan, dan dinding posterior

liang telinga direndahkan. Tujuan operasi ialah, untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. 4. Miringoplasti Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe I. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. Tujuan operasi ini ialah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap. Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. 5. Timpanoplasti Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi ialah untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. Pada operasi ini, selain rekonstruksi membran timpani juga dilakukan rekonstruksi tulang pendengaran (timpanoplasti tipe II, II, IV, V sebelum rekonstruksi dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum timpani dengan atau tanpa mastoidektomi untuk membersihkan jaringan patologis. Tidak jarang, operasi ini terpaksa dilakukan 2 tahap dengan jarak waktu 6 12 bulan. 6. Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty) Merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada kasus OMSK tipe maligna atau benigna dengan jaringan granulasi yang luas. Tujuan operasi ialah untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastiodektomi radikal. Membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani, dikerjakan melalui 2 jalan (combined Approach) yaitu melalui liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. H. Pemeriksaan Penunjang 1. Rontgen : Terlihat bayangan kolesteatoma pada rongga mastoid 2. CT Scan : Diskontinuitas osikula 3. Uji Fistula positif

I. Diagnosa Keperawatan 1. Pre Operasi a. Resiko terjadi injuri / trauma berhubungan dengan ketidakseimbangan labirin : vertigo Tujuan : Pasien tidak mengalami injuri / trauma dengan : - Mengurangi / menghilangkan vertigo / pusing - Mengembalikan keseimbangan tubuh - Mengurangi terjadinya trauma Kriteria Hasil: Pusing berkurang Pasien tidak mengalami injuri

Intervensi : a. Kaji ketidakseimbangan tubuh pasien b. Observasi tanda vital c. Beri lingkungan yang aman dan nyaman d. Anjurkan teknik relaksasi untuk mengurangi pusing e. Penuhi kebutuhan pasien f. Libatkan keluarga untuk menemani saat pasien bepergian g. Kolaborasi pemberian analgetik b. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penatalaksanaan OMA yang tepat. Tujuan : Pengetahuan pasien tentang penatalaksanaan OMA meningkat Kriteria hasil: Pasien menyatakan pemahaman tentang pemberian informasi Pasien mampu mendemonstrasikan prosedur dengan tepat.

Intervensi : a. Kaji tingkat pengetahuan pasien b. Berikan informasi berkenaan dengan kebutuhan pasien c. Susun bersama hasil yang diharapkan dalam bentuk kecil dan realistik untuk memberikan gambaran pada pasien tentang keberhasilan

d. Beri upaya penguatan pada pasien e. Gunakan bahasa yang mudah dipahami f. Beri kesempatan pada pasien untuk bertanya g. Dapatkan umpan balik selama diskusi dengan pasien h. Pertahankan kontak mata selama diskusi dengan pasien i. Berikan informasi langkah demi langkah dan lakukan demonstrasi ulang bila mengajarkan prosedur j. Beri pujian atau reinforcement positif pada klien

c. Cemas berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan Tujuan : Kecemasan pasien berkurang / hilang Kriteria Hasil: Pasien tidak cemas Keluarga mau menemani pasien

Intervensi : a. Kaji tingkat kecemasan pasien dan keluarga tentang prosedur tindakan pembedahan b. Jelaskan pada pasien tentang apa yang harus dilakukan sebelum dan sesudah tindakan pembedahan c. Berikan reinforcement positif atas kemampuan pasien d. Jelaskan tentang prosedur pembedahan e. Libatkan keluarga untuk memberikan semangat pada pasien 2. Post Operasi a. Nyeri berhubungan dengan tindakan pembedahan mastoidektomi Tujuan : Nyeri pasien berkurang Intervensi : a. Kaji tingkat nyeri pasien b. Kaji faktor yang memperberat dan memperingan nyeri c. Ajarkan teknik relaksasi untuk menghilangkan nyeri

d. Anjarkan pada pasien untuk banyak istirahat baring e. Beri posisi yang nyaman f. Kolaborasi pemberian analgetik b. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan post operasi mastoidektomi Tujuan : Resiko infeksi tidak terjadi Intervensi : a. Kaji kemungkinan terjadi infeksi / tanda-tanda infeksi b. Observasi pasien c. Lakukan perawatan ganti balutan dengan teknik steril setelah 24 jam dari operasi d. Kaji keadaan daerah poerasi e. Ganti tampon setiap hari f. Pasang pembalut tekan bila dilakukan insisi mastoid g. Bersihkan daerah operasi setelah 2 3 minggu