Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI DAN PENGUKURAN

WATTMETER SATU FASA

Dosen Pembimbing : AGOENG HARJATMO RAHARDJO, MT. Disusun Oleh : AVIFAH UMMU KALTSUM (121 724 007)

Kelas : 1 C TPTL

JURUSAN TEKNIK KONVERSI ENERGI

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


2013

I.

TUJUAN a. Mengetahui prinsip kerja wattmeter elektrodinamometer

b. Mampu menggunakan wattmeter dengan benar pada rangkaian sistem satu fasa atau pada sistem 3 fasa c. Bersama-sama dengan voltmeter & amperemeter dipergunakan untuk menentukan faktor daya.

II. DASAR TEORI


Wattmeter Satu Fasa

Wattmeter satu fasa dapat dibangun dengan komponen utama berupa elektrodinamometer. Elektrodinamometer dipakai secara luas dalam pengukuran daya, wattmeter tipe elektrodinamometer dapat dipakai untuk mengukur daya searah (DC) maupun daya bolak-balik (AC) untuk setiap bentuk gelombang tegangan dan arus dan tidak terbatas pada gelombang sinus saja. Wattmeter ini terdiri dari satu pasang kumparan yaitu tetap yang disebut kumparan arus dan kumparan berputar atau kumparan tegangan. Kumparan arus terdiri dari dua kumparan, masing-masing mempunyai jumlah lilitan yang sama. Salah satu kumparan menggunakan kawat besaran yang membawa arus beban ditambah arus untuk kumparan potensial. Gulungan laian menggunakan kawat kecil (tipis) dan hanya membawa arus kekumparan tegangan. Tetapi arus ini berlawanan dengan arus di dalam gulungan besar, menyebabkan fluks yang berlawanan dengan fluks utama. Berarti efek satu dihilangkan dan wattmeter menunjukkan daya yang sesuai.
Kumparan Arus Kumparan potensial Ic B (Line) Kumparan Arus A R I

ZL
beban

Diagram voltmeter elektrodinamometer, dihubungkan untuk mengatur daya beban satu phasa.

Kumparan arus terdiri dari dua kumparan, masing-masing memiliki jumlah lilitan yang sama. Salah satu kumparan menggunakan akwat lebih besar yang membawa arus beban ditambah arus untuk kumparan tegangan. Kumparan lain menggunakan kawat kecil (tipis) dan hanya membawa arus ke kumparan tegangan. Tetapi arus ini berlawanan dengan arus didalam kumparan besar, menyebabkan fluks yang berlawanan dengan fluks. Utama. Berarti efek I dihilangkan dan wattmeter menunjukkan daya yang sesuai.

III. PERALATAN PRAKTIKUM a. Wattmeter elektrodinamometer : 1 buah (akurasi dc 0.5% , ac 0.5%) : 1 buah (akurasi dc 0.5% , ac 2.5%) : 1 buah (akurasi dc 0.5% , ac 2.5%) : 1 set : 1 set : 1 set

b. Voltmeter PMMC c. Amperemeter PMMC

d. Resistor bank e. f. Kapasitor bank Induktor bank

IV. PROSEDUR PRAKTIKUM 1. Catat nomer/kode wattmeter, voltmeter, amperemeter, dan transformator arus (CT) yang digunakan pasa praktikum ini. 2. Ukurlah tahanan dalam voltmeter dc 150V dan voltmeter ac 450V dengan menggunakan ohmmeter engan cara menghubungkan terminal-ohmmeter ke terminal + voltmeter, sedangkan terminal + ohmmeter dihubungkan dengan terminal voltmeter. 3. Ukurlah tahanan terminal tegangan pada wattmeter dengan menggunakan ohmmeter. 4. Buatlah rangkaian gambar-1 dengan ketentuan sebagai berikut : Catu daya dc 220V dalam keadaan off. Voltmeter mode dc pada batas ukur 150V (perhatikan polaritasnya). Amperemeter pada mode dc pada batas ukur 24A (perhatikan polaritasnya) Beban berupa resistor pada posisi saklar-3 (R3)

a) Pindahkan saklar catu daya ke posisi on. b) Perhatikan penunjukkan arus pada amperemeter. Gunakan batas ukur arus pada amperemeter yang menghasilkan ketelitian pengukuran paling baik. c) Catat batas ukur voltmeter-dc dan amperemeter-dc yang anda pergunakan pada percobaan ini d) Catat penunjukan voltmeter-dc dan amperemeter-dc. 5. Buatlah rangkaian Gambar-6 dengan ketentuan sebagai berikut : Catu daya dc 220V dalam keadaan off. Saklar tegangan wattmeter pada posisi 260V, saklar arus wattmeter pada posisi off. Voltmeter mode dc pada batas ukur 150V (perhatikan polaritasnya). Amperemeter pada mode dc pada batas ukur 24A (perhatikan polaritasnya) Beban berupa resistor pada posisi saklar-3 (R3) a) Pindahkan saklar catu daya ke posisi on. b) Perhatikan penunjukkan arus pada amperemeter. Gunakan batas ukur arus pada amperemeter yang menghasilkan ketelitian pengukuran paling baik. c) Pindahkan saklar arus wattmeter ke batas ukur yang paling sesuai dengan penunjukan amperemeter. d) Catat batas ukur voltmeter-dc, amperemeter-dc dan wattmeter yang anda pergunakan pada percobaan ini e) Catat penunjukan voltmeter-dc, amperemeter-dc, dan wattmeter. 6. Buatlah rangkaian Gambar-6 dengan ketentuan sebagai berikut : Catu daya dc 220V dalam keadaan off. Saklar tegangan wattmeter pada posisi 260V, saklar arus wattmeter pada posisi off. Voltmeter mode ac pada batas ukur 450V (perhatikan polaritasnya). Amperemeter pada mode ac pada batas ukur 12A (perhatikan polaritasnya) Beban berupa resistor pada posisi saklar-3 (R3), gunakan resistor yang sama dengan percobaan-4. a) Pindahkan saklar catu daya ke posisi on.

b) Perhatikan penunjukkan arus pada amperemeter. Gunakan batas ukur arus pada amperemeter yang menghasilkan ketelitian pengukuran paling baik. c) Pindahkan saklar arus wattmeter ke batas ukur yang paling sesuai dengan penunjukan amperemeter. d) Catat batas ukur voltmeter-ac, amperemeter-ac dan wattmeter yang anda pergunakan pada percobaan ini e) Catat penunjukan voltmeter-ac, amperemeter-ac, dan wattmeter. 7. Ulangi prosedur-6 dengan mengunakan beban berupa resistor (R3) yang dihubungkan seri dengan kapasitor (C3). 8. Ulangi prosedur-6 dengan menggunakan beban berupa resistor (R3) yang dihubungkan seri dengan induktor (L3). 9. Buatlah rangkaian Gambar-10 dengan ketentuan sebagai berikut : Catu daya ac 220V dalam keadaan off. Transformator arus (CT) dengan Nc = 3. Saklar tegangan wattmeter pada posisi 260V, aklar arus wattmeter pada posisi off. Voltmeter mode ac pada batas ukur 450V. Amperemeter pada mode ac pada batas ukur 24A. Beban berupa resistor pada posisi saklar-6 (R6). a) Pindahkan saklar catu daya ke posisi on. b) Perhatikan penunjukan arus pada amperemeter. Gunakan batas ukur arus pada amperemeter yang menghasilkan ketelitian pengukuran paling baik. c) Pindahkan saklar arus wattmeter ke batas ukur yang paling sesuai dengan penunjukan amperemeter. d) Catat batas ukur voltmeter-ac, amperemeter-ac, dan wattmeter yang ada pergunakan pada percobaan ini. e) Catat penunjukan voltmeter-ac, amperemeter-ac, dan wattmeter.

V. TABEL DATA PRAKTIKUM a. Tabel percobaan 1, 2, dan 3


NAMA INSTRUMEN Wattmeter (W) Voltmeter (V) Amperemeter (A) Transformator arus (CT) NOMOR/KODE INSTRUMEN Kel. 02/12 40/28 40/11A 06/10 Rv = Nc = 3 KETERANGAN Rp = 54 k

b. Tabel percobaan 4 s/d 9


W-meter (W) Per cob.
4 5 6 7 8 9

Catu Daya
220V dc 220V dc 220V ac 220V ac 220V ac 220V ac

V-meter (V) beban B.U.


R3 R3 R3 R3& C3 R3& L3 R6 150 150 450 450 450 450

A-meter (A) B.U.


2.4 2.4 6 2.4 6 6

B.U. V
130 260 260 260 260

H.U. A
5.6 0.65 182 1.3 36 1.3 118 1.3 69

H.U.
70 1.5 75 1.5 216 11.25 93 11.25 168 11.25 222 11.25

H.U.
1.36 0.024 1.46 0.024 4.25 0.15 1.86 0.024 2.4 0.15 3.05 0.15

2.5 5 5 5 5

Keterangan : B.U. = Batas Ukur H.U. = Hasil Ukur

VI. PENGOLAHAN DATA Tahanan dalam voltmeter DC : 750 k Tahanan dalam voltmeter AC : 2300 k Tahanan dalam wattmeter AC : 54 k Tahanan dalam wattmeter AC : 27 k

Tugas laporan praktikum : 1. Hitung P pada percobaan empat untuk setiap kondisi berikut : a. Dengan mengabaikan efek pembebanan dan ketelitian alat ukur. b. Dengan memperhitungkan efek pembebanan alat ukur saja.

c. Dengan memperhitungkan ketelitian alat ukur. d. Dengan memperhatikan efek pembebanan dan ketelitian alat ukur. 2. Hitung P, S, Q, dan pf pada percobaan 5, 6, 7, dan 8 untuk setiap kondisi berikut : a. Dengan mengabaikan efek pembebanan dan ketelitian alat ukur. b. Dengan memperhitungkan efek pembebanan alat ukur saja. c. Dengan memperhitungkan ketelitian alat ukur. d. Dengan memperhatikan efek pembebanan dan ketelitian alat ukur. 3. Hitung P, S, Q, dan pf pada percobaan sembilan dengan memperhatikan efek pembebanan alat ukur. Jawab : 1. a. Mengabaikan efek pembebanan dan ketelitian alat ukur P = V.I = 70 V . 1,36 A = 95,2 V.A = 95,2 Watt b. Memperhitungkan efek pembebanan alat ukur saja P = V L . IL =

= (95,2 - 6,53 x 103 ) Watt = 95,193 Watt c. Memperhatikan ketelitian alat ukur saja P = V.I = 70 V 1,5 . 1,36 A 0,024 = 95,2 V.A 1,524 = 95,2 Watt 1,524 d. Memperhatikan efek pembebanan dan ketelitian alat ukur P = V L . IL =

= (95,2 1,524 - 6,53 x 103 ) Watt = 95,193 Watt 1,524

2.

a. Mengabaikan efek pembebanan dan ketelitian alat ukur Pada percobaan 5 =VxA = 75 V x 1,46 A = 109,5 VA = W = 56 Watt beban resistif murni, Jadi bernilai 0. Pf = 1 Pada percobaan 6 =VxA = 216 V x 4,25 A = 918 VA = W = 182 Watt beban resistif murni, Jadi bernilai 0. Pf = 1 Pada percobaan 7 b. Memperhitungkan efek pembebanan alat ukur saja Percobaan 5 PL = W V2(Rv-1 + Rp-1) = 56 Watt 5625 (750000-1 + 27000-1) = 56 Watt 5625 (3,83 x 10-5) = 56 Watt 0,21 = 55,78 Watt SL = V. IL = V ( = 75( = 75 ( = 109,57 VA Q = 0, beban resistif murni, VL dan IL memiliki fasa sama ( = 0) Pf = cos = P/S = PL/SL = 0,50 ) ( ) ( ))
)

=VxA = 93 V x 1,86 A = 172,98 VA = W = 36 Watt beban resistif murni, bernilai 0. Pf = 1 Pada percobaan 8 =VxA = 168 V x 2,4 A = 403,2 VA = W = 118 Watt Q = S2 P2 = = 385,5 VAR

Percobaan 6 PL = W V2(Rv-1 + Rp-1) = 182 Watt 2162 (2300000-1 + 54000-1) = 182 Watt 46656 (1,89 x 10-5) = 182 Watt 0,88 = 181,11 Watt SL = V. IL = V (( = 21( = 216 = 917,72 VA Q = 0, beban resistif murni, VL dan IL memiliki fasa sama ( = 0) Pf = cos = P/S = PL/SL = 0,2 Percobaan 7 PL = W V2(Rv-1 + Rp-1) = 36 Watt 932 (2300000-1 + 54000-1) = 36 Watt 8649 (1,89 x 10-5) = 36 Watt 0,16 = 35,84 Watt SL = V. IL = V (( = 93. = 93 = 172,96 VA QL2 = SL2 PL2 (bukan beban resistif murni) = = 168,94 VAR (
(

(
(

)
)

(
(

))
))6

(
) (

))
)/

Pf = cos = P/S = PL/SL = 0,20

Percobaan 8 PL = W V2(Rv-1 + Rp-1) = 118 Watt 1682 (2300000-1 + 54000-1) = 118 Watt 28224 (1,89 x 10-5) = 118 Watt 0,53 = 117,47 Watt SL = V. IL = V (( = 168. = 168 = 403, 152 VA QL2= SL2 PL2 (bukan beban resistif murni) QL = = 385,65 VAR (
(

(
) (

))
)/

Pf = cos = P/S = PL/SL = 0,30 c. Memperhatikan ketelitian alat ukur saja Pada percobaan 5 =VxA = 751,5 V x 1,46 0,024 A = (75 2 %) x (1,46 1,64 %)

= 109,5 3,64% VA = W = 56 1,625 Watt Pf = beban resistif, Jadi Pada percobaan 6 =VxA = 216 11,25 V x 4,25 0,15 A = (216 5,2%) x (4,25 3,53%) = (918 8,73%) = 918 80,14 VA bernilai 0. VL dan IL memiliki fasa sama ( = 0)

= W = 182 6,5 Watt Pf = beban resistif, Jadi Pada percobaan 7 =VxA = 93 11,25 V x 1,86 0,024 A = (93 12,1%) x (1,86 1,29%) = (172,98 13,39%) = 172,98 23,16 VA = W = 36 6,5 Watt
=

bernilai 0. VL dan IL memiliki fasa sama ( = 0)

(beban bukan resistif murni) 11,85 VAR 0,063

= = = = 169,19 Pf = Pada percobaan 8 =VxA

= 168 11,25 V x 2,4 0,15 A = (168 6,7%) x (2,4 6,25%) = (403,2 12,95%) = 403,2 52,2 VA = W = 118 6,5 Watt Pf =
=

( karena beban bukan resistif murni)

= =

= = 385,55 15,42 VAR

d. Memperhitungkan pembebanan dan ketelitian alat ukur (BELUM DIHITUNG) Percobaan 5 PL = W V2(Rv-1 + Rp-1) = 56 0,65 Watt 5625 (1,5 x 2) (750000-1 + 27000-1) = 56 0,65 Watt 5625 (1,5 x 2) (3,83 x 10-5) = 56 0,65 Watt 0,21 (1,5 x 2) = 55,78 3,65 Watt SL = V. IL
= , ( { ) ( ( ( ( ( ( ( ) ) ) ) )) } )

=
= =

{
{ { } }

= =

VA VA

Q = 0 , beban resistif murni, VL dan iL memiliki fasa sama ( = 0) 0,51 Percobaan 6 PL = W V2(Rv-1 + Rp-1) = 182 Watt 2162 (2300000-1 + 54000-1) = 182 Watt 46656 (1,89 x 10-5) = 182 Watt 0,88 = 181,11 Watt 6,69% = 0,51 0,034

)-

( ( ( ( ( ( ) ) )

} )

} )

= = = =(918 = VA

{ { { } }

Q = 0 , beban resistif murni, VL dan iL memiliki fasa sama ( = 0) 0,2 11,5 % = 0,2 Percobaan 7 PL = W V2(Rv-1 + Rp-1) = 36 Watt 932 (2300000-1 + 54000-1) = 36 Watt 8649 (1,89 x 10-5) = 36 Watt 0,16 = 35,84 Watt SL = V. IL
S =
=

0,022

(
{

(
( (

)) ) ( ( ( ( ) ) ) } )

= = = =(172,98 = =

{ {

} }

VA

( karena beban bukan resistif murni)

= = = =
=

= 169,26 0,2 Percobaan 8


S=
=

9,14 VAR 23,85 % = 0,21 0,05

(
{

(
( ( ( (

)) ) ) ) ( ( } ) }

} )

= = = =(403,2 =

{ {

} }

VA

= = = =

= = = 116,95 W

( karena beban bukan resistif murni)

= = = = =
=

= 385,86

18,52 VAR 0,05

0,3 15,9 % = 0,3

3. Hitung P, S, Q, dan pf pada percobaan-9 dengan memperhatikan efek pembebanan alat ukur : Percobaan 9.

=3x
= [

= 2.031,3 VA ] +

= *

= [ = [ ]

= 207 W

Kerena beban hanya terdiri dari resistif, maka VL dan iL memiliki fasa yang sama ( sehingga bernilai 0.

VII. PEMBAHASAN Pada rangkaian yang diujicobakan, alat ukur masing-masing memiliki nilai tahanan dalam dan ketelitian alat ukur yang berbeda. Tahanan dalam voltmeter DC 150 V 750 dan voltmeter AC 450 V 2300 k. Tahanan dalam wattmeter DC 130 V adalah 27 K dan pada AC 260 V adalah 54 K. Pada perhitungan percobaan (5) dan (6) nilai QL adalah 0 hal tersebut dikarenakan beban masih bersifat resitif murni karena hanya terdiri atas tahanan ohm saja sehingga faktor daya yang didapat adalah 1, sedangkan pada percobaan (7) (8) nilai QL dapat diketahui dengan memasukan rumus pengukuran P dan S secara serempak.

VIII. KESIMPULAN Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pF yang didapat dari percobaan nilainya 1 padahal berdasarkan teori watt meter satu fasa dengan menggunakan baik arus AC maupun DC disertai induktor dan kapasitor seharusnya didapat nilai power factor 1 atau mendekati satu. Namun, pada percobaan tanpa menggunakan kapasitor dan induktor didapat power factor satu (1) dikarenakan beban yang diketahui pada percobaan merupakan beban resistif murni. Nilai percobaan dengan memperhitungkan tahanan dalam serta tidak memperhitungkan tahanan dalam memiliki perbedaan. Besar kecilnya perbedaan tersebut tergantung dari nilai yang didapat, alat yang digunakan dan batas ukur dari alat ukur tersebut.

IX. DAFTAR PUSTAKA From http://elektronika-dasar.web.id/instrument/wattmeter-1-satu-fasa/ diunduh 6 Juni


2013 From http://bilt4blog.files.wordpress.com/2008/09/laporan-percobaan-9.pdf diunduh 6 Juni 2013