Anda di halaman 1dari 2

TINJAUAN PUSTAKA Suatu pekerjaan pengolahan tanah akan dikatakan berhasil dengan baik jika hasil akhirnya berupa

suatu kondisi tanah yang sesuai dengan keperluan khasnya. Biasanya untuk bisa diperoleh kondisi tanah yang mendekati kesesuaian dengan yang diperlukan, pengolahan tanah dilakukan lebih dari satu kali, misalnya dengan pembajakan diikuti penggaruan ataupun pola lainnya. Beberapa parameter yang digunakan untuk menilai mutu kerja ataupun karakteristik kerja alat pengolahan tanah antara lain adalah : kedalaman pengolahan, tingkat penghancuran bongkah tanah dan tingkat kegemburan, serta bentuk akhir permukaan tanah setelah pengolahan (HardjosentonO, 1996). Kapasitas lapang efektif suatu alat merupakan fungsi dari lebar kerja teoritis mesin, prosentase lebar teoritis yang secara aktual terpakai, kecepatan jalan dan besarnya kehilangan waktu lapang selama pengerjaan. Dengan alat-alat semacam garu, penyiang lapang, pemotong rumput dan pemanen padu, secara praktis tidak mungkin untuk memanfaatkan lebar teoritisnya tanpa adanya tumpang tindih. Besarnya tumpang tindih yang diperlukan terutama merupakan fungsi dari kecepatan, kondisi tanah dan keterampilan operator. Pada beberapa keadaan, hasil suatu tanaman bisa jadi terlalu banyak sehingga pemanen tidak dapat digunakan memanen selebar lebar kerjanya, bahkan pada kecepatan maju minimum yang masih mungkin (Daywin, 1978). Kecepatan maju terbesar yang diijinkan berkaitan dengan faktor-faktor semacam sifat pengerjaan, kondisi lapang, dan besarnya daya tersedia. Untuk alat pemanen, faktor pembatasnya boleh jadi ialah kecepatan maksimum dapat ditanganinya bahan secara efektif dengan mesin tersebut. Waktu hilang merupakan variabel yang paling sulit dinilai dalam hubungannya dengan kapasitas lapang. Waktu lapang bisa hilang akibat penyetelan / pembetulan atau pelumasan alat, kerusakan, penggumpalan, belok di ujung, penambahan benih atau pupuk, pengosongan hasil panenan, menunggu alat pengangkut, dan sebagainya (Irwanto, 1980). Dalam kaitannya dengan kapasitas lapang efektif dan efisiensi lapang, waktu hilang tidak mencakup waktu pemasangan atau perawatan harian alat, ataupun waktu hilang akibat kerusakan yang berat. Waktu hilang hanya mencakup

waktu untuk perbaikan kecil di lapang dan waktu untuk pelumasan yang dibutuhkan di luar perawatan harian, di samping hal-hal lain seperti diuraikan di depan. Waktu lapang total dianggap sama dengan jumlah waktu kerja efektif ditambah waktu hilang (Ciptohadijoyo, 2003).

DAFTAR PUSTAKA Ciptohadijoyo, S. 2003. Handout Mesin Produksi Pertanian. FTP UGM. Yogyakarta. Daywin, F.J. 1978. Motor Bakar dan Traktor Pertanian . FATEMETA IPB. Bogor. Hardjosentono. 1996. Mesin-mesin Pertanian. Cetakan Kedua. Bumi.Aksara. Jakarta. Irwanto, A. 1980. Alat dan Mesin Budidaya Pertanian. FakultasMekanisasi dan Teknologi Hasil Pertanian. ITB. Bandung.

Note : 1. Sumber referensi diatas sebagian hanya fiktif 2. Untuk mendukung traffic blog ini, Jikalau berkenan silahkan klik iklan yang di tampilakan di blog kami. 3. Terima Kasih atas pengertian dan kunjungannya