Anda di halaman 1dari 19

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Data prevalensi pneumokoniosis bervariasi pada tiap negara di dunia.

Data SWORD di Inggris tahun 199 !199" menun#ukkan kasus pneumokoniosis sebesar 1 $. Di %anada& kasus pneumokoniosis pada tahun 199'!199( sebesar 1 $& sedangkan data di A)rika Selatan tahun 199*!1999 sebesar *1$.9 +umlah kasus kumulati) pneumo,oniosis di -ina dari tahun 19.9!' tahun ' 1 men,apai /*9 1'9 dan sampai tahun ' " men,apai 1 9*( kasus. Di Amerika . mengalami penurunan& pada Serikat kematian akibat pneumokoniosis tahun 19*"!'

. ditemukan seban0ak ' /(1 kasus kematian. Silikosis& asbestosis dan ' men0ebutkan& terdapat 21 kasus pneumokoniosis terdiri atas /*$

pneumokoniosis batubara merupakan #enis pneumokoniosis terban0ak. Data di Australia tahun 1919!' asbestosis& ("$ silikosis dan *$ pneumokoniosis batubara. 3Susanto& ' 114 5revalensi pneumo,oniosis batubara di berbagai pertambangan di Amerika Serikat dan Inggris bervariasi 3'&/!( $4 tergantung besarn0a kandungan batubara pada daerah pertambangan tersebut. Studi surveilans 0ang dilakukan di 6i,higan& Amerika Serikat& antara tahun 19"1 hingga 199/ menun#ukkan bah7a * $ lebih dari /11 peker#a pabrik8 pertambangan 0ang telah beker#a selama minimal ' tahun menderita silikosis. 9ahun 199* silikosis dilaporkan ter#adi pada * orang dari 1 1' peker#a pabrik mobil. Risiko pen0akit ini meningkat seiring dengan lama pa#anan terhadap partikel silika. Seban0ak 1'$ peker#a dengan masa ker#a lebih dari ( tahun menderita silikosis. Data prevalensi pneumokoniosis nasional di Indonesia belum ada. Data 0ang ada adalah penelitian!penelitian berskala ke,il pada berbagai industri 0ang berisiko ter#adi pneumokoniosis. Dari beberapa penelitian tersebut ditemukan prevalensi pneumokoniosis bervariasi &/!9&"$ . 5enelitian Darmanto et al. di tambang batubara tahun 19"9 menemukan prevalensi pneumokoniosis batubara sebesar 1&1/$.1( Data penelitian di Bandung tahun 199 pada peker#a tambang batu menemukan kasus pneu!mokoniosis sebesar (&1$. 5enelitian oleh Bangun et al. tahun 199" pada pertambangan batu di Bandung menemukan kasus pneumokoniosis sebesar 9&"$. %asmara 3199"4 pada peker#a semen menemukan ke,urigaan pneumokoniosis 1&1$. 5enelitian OSH center tahun ' pada peker#a keramik menemukan silikosis sebesar 1&/$.

5enelitian 5andu et al. di pabrik pisau ba#a tahun '

' menemukan /$ gambaran radiologis

0ang diduga pneumokoniosis. Dama0anti et al. pada pabrik semen menemukan ke,urigaan pneumokoniosis se,ara radiologis sebesar &/$. 3Susanto& ' 114

B. 9u#uan 1. 9u#uan :mum 6en#elaskan konsep teori dan asuhan kepera7atan pada klien dengan silikosis '. 9u#uan khusus a. 6en#elaskan pengertian dari pen0akit silikosis b. 6en#elaskan tentang pen0ebab dari pen0akit silikosis ,. 6en#elaskan dan men0ebutkan tanda&ge#ala dan klasi)ikasi Silikosis d. 6en#elas pato)isiologi dari pen0akit silikosis dan WOe. 6en#elaskan pemeriksaan penun#ang dari pen0akit Silikosis ). 6en#elaskan penatalaksanaan dan pen,egahan pen0akit silikosis g. 6ampu membuat asuhan kepera7atan pada klien dengan silikosis tindakan kepera7atan dan melakukan evaluasi kepera7atan. mulai dari pengka#ian&penentuan diagnose& meren,anakan tindakan kepera7atan& melakukan

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS A. %onsep Dasar 9eori 1. De)inisi Silikosis adalah pneumo,oniosis 0ang sering ditemukan akibat terpa#an oleh debu sili,a. Sili,a merupakan istilah kimia untuk partikel!partikel 0ang mengandung sili,on dioksida. 3;arrianto& ' 1'4 Silikosis adalah pen0akit paru kronis 0ang disebabkan menghirup debu sili,a 8partikel sili,on dioksida 3Smelt<er&' '. %lasi)ikasi a. Silikosis kronis simplek Silikosis kronik merupakan bentuk silikosis 0ang paling sering ditemukan. 9er#adi karena pa#anan terhadap debu sili,a dengan konsentrasi rendah selama 1/ tahun atau lebih. %arakteristik bentuk silikosis ini adalah pembentukan nodul silikotik pada parenkim paru dan kelen#ar getah bening hilus. ter#adi akibat pemaparan se#umlah ke,il debu silika dalam #angka pan#ang 3lebih dari ' tahun4. =odul!nodul peradangan kronis dan #aringan parut akibat silika terbentuk di paru!paru dan kelen#ar getah bening dada. b. Silikosis akselerata Silikosis terakselerasi ter#adi karena pa#anan sili,a selama /!1 tahun. 5rogestivit0 pen0akit tetap berlangsung meskipun peker#a telah dihindarkan dari pa#anan. ter#adi setelah terpapar oleh se#umlah silika 0ang lebih ban0ak selama 7aktu 0ang lebih pendek 3.!" tahun4. 5eradangan& pembentukan #aringan parut dan ge#ala!ge#alan0a ter#adi lebih ,epat. ,. Silikosis akut. 9er#adi akibat pemaparan silikosis dalam #umlah 0ang sangat besar& dalam 7aktu 0ang lebih pendek. 5aru!paru sangat meradang dan terisi oleh ,airan& sehingga timbul sesak na)as 0ang hebat dan kadar oksigen darah 0ang rendah. 9er#adi akibat pemaparan silikosis dalam #umlah 0ang sangat besar& dalam 7aktu 0ang lebih pendek. 5aru!paru 14.

sangat meradang dan terisi oleh ,airan& sehingga timbul sesak na)as 0ang hebat dan kadar oksigen darah 0ang rendah. 3A.D.A.6&' 114 6enurut harington 3' /4 silikosis dibagi ke dalam . #enis 0aitu > 14 =oduler& dengan lesi hialin dan kolagen pada paru '4 ?ibrosis debu ,ampuran& dengan lesi )ibroti, paru 0ang tidak teratur dan berbintang (4 Diatomit& gambaran 0ang mirip dengan alveolitis )ibrosans dan biasan0a disebabkan oleh tanah diatomit .4 Akut& sebuah lipoproteinosis alveoli 0ang ,epat berkembang dengan alveolitis )ibrosans. (. @tiologi Silika adalah mineral alami 0ang terutama terdiri dari silikon dioksida 3 SiO' 4 . Ini ada dalam keadaan kristal dan amor) . %uarsa & kristobalit & dan tridimit adalah ( bentuk 0ang paling umum dari silika kristal & 0ang men0ebabkan silikosis . Silika amor) tidak bera,un . Auart< ada di al)a dan beta bentuk& dengan alpha 0ang lebih umum daripada beta . Alpha kuarsa membuat naik 1' $ dari kerak bumi berat & dan merupakan komponen utama dari batuan beku & seperti granit dan pegmatite . ;al ini #uga ter#adi pada batu pasir & batu tulis & dan shale . Auart< adalah bentuk paling umum dari silika dihirup. 5neumo,oniosis sili,osis . 9er#emahan 0ang tepat dari kata ini adalah debu paru!paru . 5en0akit!pen0akit paru 0ang ditandai dengan granulomatosa nonneoplasti, dan perubahan )ibrosis dalam paru!paru setelah menghirup <at anorganik & seperti debu batubara & asbes & atau silika kristal . Dari pneumo,oniosis ini & silikosis sering kali ter#adi pada sebagian besar orang 0ang beker#a di bidang 0ang melibatkan eksposur 0ang tinggi terhadap debu . Orang tersebut termasuk penambang & peker#a konstruksi & keramik peker#a & pengebor tero7ongan & sandblasters & peker#a tambang & dan pemahat batu . 3A.D.A.6&' 114 .. 5ato)isiologi partikel ke,il berukuran 3 B 1 m 4 seperti sili,a lebih berbaha0a karena partikel tersebut lebih mungkin disimpan distal di bronkiolus pernapasan & saluran alveolar & dan alveoli. 5ermukaan partikel!partikel ini menghasilkan radikal berbasis silikon 0ang mengarah

pada produksi hidroksil & hidrogen peroksida & dan radikal oksigen lainn0a 0ang merusak membran sel dengan peroksidasi lipid dan menonakti)kan protein sel penting. 6akro)ag alveolar menelan partikel men#adi akti) dan pelepasan sitokin & termasuk tumor ne,rosis )a,tor & interleukin ! 1 & dan leukotrien B ! . & serta )aktor kemotaktik 0ang merekrut sel! sel in)lamasi lainn0a. Berikut0a ter#adi peradangan kerusakan sel residen dan matriks ekstraseluler. 9rans)orming gro7th )a,tor ! alpha menginduksi proli)erasi tipe ' pneumo,0tes & dan sitokin lain 3misaln0a & )aktor pertumbuhan platelet!derived & insulin ! seperti )aktor pertumbuhan 4 menstimulasi )ibroblast untuk berkembang biak dan menghasilkan kolagen & hasil )ibrosis . 5artikel silika hidup lebih lama makro)ag alveolar 0ang tertelan mereka & sehingga ter#adi siklus ,edera. 3#ed0nak& ' 114 /. ?aktor Resiko ter#adin0a silikosis a. 5ertambangan&pembuat tero7ongan&penggalian dalam tanah&pro0ek bangunan b. 5enggalian granit&pasir &batu tulis ,. 9ukang batu > pembuatan monument&granit dan pemotongan batu d. 5enuangan logam > logam besi. e. 5enggosokan > tepung sili,a&logam&kertas amplas&batu nisan ). %eramik > pembuatan pot&,etakan oven&periuk8kuali g. 5embuatan gelas&pembuatan gigi 3Ikhsan&' 94. *. 6ani)estasi klinis Silikosis kronik 5ada silikosis ini dapat ditemukan tanda dan ge#ala seperti klien mengeluh batuk berdahak serta sesak napas. Biasan0a keluhan ini disertai oleh pen0akit 0ang men0ertain0a seperti bron,hitis kronik karena debu dan ri7a0at rokok. Sesak napas a7aln0a terlihat pada 7aktu ker#a kemudian pada saat istirahat. Silikosis terakselerasi Ce#ala 0ang ter#adi lebih menahun tetapi perubahan klinis dan radiologis lebih ,epat menimbulkan )ibrosis 0ang lebih di)us. Biasan0a ter#adi gagal napas. Silikosis akut Sesak napas progresi)&demam&batuk&penurunan berat badan&hipoksemia #ika terpa#an pada sili,a konsentrasi tinggi

3Ikhsan&' WO- Silikosis

94.

Partikel silica terhirup

Partikel silica tertahan di bronkiolus pernapasan , saluran alveolar , dan alveoli

Mikrofag alveolar memakan partikel

febris

Makrofag menghasilkan enzim sebagai mekanisme pertahanan

Mk % *ipertermi

Terbentuknya jaringan parut pada paru / terbentuknya lesi nodul

S!"! #S!S

Silikosis Akut
Terbentuknya nodul diparenkim $atuk berdahak,sesa k napas peningkatan mukus Aktifitas silikosis

Silikosis ronis

Silikosis Terakselerasi

Adanya silikoproteinosis

)agal napas,gagal kardiorespirasi

'apsu makan menurun,$ $ menurun

Penurunan fungsi paru,difusi gas trgangggu

kematian

M % $ersihan &alan napas inefektif

M %Perubaha n nutrisi kurang dari keb(tbh

Sesak napas progresif,hipoksemia

M % )angguan pertukaran gas

1. 5emeriksaan diagnostik a. 5emeriksaan )isik Observasi kepada pasien akan akan ditemukan napasn0a memburu pada 7aktu istirahat atau setelah melakukan tes )ungsi paru. 6ungkin #uga ditemukan #ari tabuh. 5ada auskultasi paru dapat ditemukan krepitasi halus pada basal paru pasien dengan silikosis. 6ungkin terdapt ronkhi atau mengi. 6ani)estasi ektrapulmonar pen0akit berilium kronis& kanker paru mesoletioma ganas harus di,ari #ika dianggap perlu. ;al ini penting dalam dalam menentukan diagnosis banding atau men,ari kemungkinana ter#adin0a komplikasi& ,ontohn0a gagal #antung atau stenosis katup mitral 0ang mungkin tidak berhubungan dengan ker#a. b. 5emeriksaan Radiologi Rontgen 5aru 5emeriksaan rontgen paru dan berkualitas baik penting dilakukan& khususn0a dalam menegakkan diagnosis silikosis tahap a7al. 5erbandingan dengan standar pemeriksaan rontgen paru untuk pneumo,oniosis& menolong saat misalkan0a klasi)ikasi organisasi buruh internasional& sangat

membuktikan adan0a nodul dan gambaran berbentuk garis 0ang ban0ak untuk men,urigai adan0a silikosis atau asbestosis. Diagnosa silikosis atau asbestosis tidak boleh didasarkan pada satu )oto sa#a. Biasan0a harus berdasarkan paling sedikit dua )oto dengan #arak beberapa bulan di antaran0a. -9 S,an ,. 9es ?ungsi 5aru ;al 0ang paling mendasar pada tes ini adalah kapasitas vital 3?D-4& volume ekspirasi paksa pada detik pertama 3?@D14 dan perbandingan kedua hasil tersebut 3?@D18?D-4. ?D- adalah seluruh volume udara 0ang bisa dikeluarkan se,ara paksa dari paru setelah dilakukan ekspirasi maksimum dan ?@D1 adalah volume udara 0ang dikeluarkan pada detik pertama manuver tersebut. d. 5emeriksaan Laboratorium

5emeriksaan gas darah pada arteri biasan0a ditemukan hipoksia dan hipokapnia 9est serologi S0stem imun ditemukan abnormal pada penderita silikosis termasuk peningkatan kadar )a,tor rematoid&antinu,lear antibod0 dan komplek imun. e. 5emeriksaan lain 5emeriksaan u#i tuber,ulin dengan puri)ied protein derivative 3#e0aratnam& ' ". 5enatalaksanaan 5neumokosiss tidak akan mengalami regresi& menghilanag ataupun berkurang progresivitasn0a han0a dengan men#auhi pa#anan. 9ata laksana medis pada umumn0a han0a mengobati pada ge#ala simptomatikn0a. 9idak ada pengobatan 0ang e)ekti) 0ang dapat menginduksikan regresi kelainan ataupun menghentikan progresivitasn0a pneumo,oniosis. 5en,egahan merupakan hal 0ang paling utama. Regulasi dalam peker#aan dan ,ontrol pa#anan debu sudah dilakukan se#ak lama pada =egara industr0 dan terus dilakukan upa0a perbaikan!perbaikan. 3susanto& ' 114 9idak ada pengobatan khusus untuk silikosis . 6enghapus sumber paparan silika adalah penting untuk men,egah pen0akit dari semakin buruk . 5engobatan suporti) meliputi obat batuk & bronkodilator & dan oksigen #ika diperlukan . Antibiotik 0ang diresepkan untuk in)eksi perna)asan sesuai kebutuhan . 3A.D.A.6& ' 114 9. 5en,egahan 5en,egahan silikosis dapat dilakukan antara lain > a. b. ,. 5engendalaian h0giene 0ang e)isien dan ketat di tempat ker#a Alat pelindung diri pernapasan buat peker#a 5emeriksaan kesehatan berkala dengan pengukuran kapasitas ventilasi sebelum dan sesudah shi)t 3;arington& ' /4 94

1 . %omplikasi a. Dapat ter#adi hipertensi paru 0ang kemudian 0ang kemudian men#adi kor pulmonalisme akibat )ibrosis berat dan penurunan ventilasi alveolus. b. 5neumonia dapat ter#adi berulang karena pen0akit restrikti) men0ebabkan atelektasis dan pertukaran gas 0ang buruk. 3-or7in& ' 94

6enurut A.D.A.6 3' 114 komplikasi silikosis adalah a. Bronkitis b. @mph0sema ,. %egagalan #antung. d. 9uberkolosis e. ?ibrosis massive progresi) ). Cagal napas

B. Konsep Asuhan Keperawatan 1. 5engka#ian a. Identitas pasien 5enka#ain identitas pasien terdiri dari =ama &umur& seE& alamat& suku& bangsa& pendidikan& peker#aan. Silikosis lebih sering diderita oleh kalangan peker#a industri8bangunan atau 0ang sering berhubungan dengan sili,a 0ang sebagian besar dilakukan oleh pria sehingga lebih sering men0erang pria dibanding 7anita. b. Ri7a0at 5en0akit Sekarang %lien dengan silikosis pada umumn0a mengalami sesak saat berna)as& batuk berdahak ,. %eluhan utama 5ada lien dengan silikosis akan mengeluh sesak& batuk& demam d. Ri7a0at 5en0akit dahulu

5erlu ditan0akan apakah klien pernah mengalami in)eksi saluran pernapasan atas 3IS5A4 dengan ge#ala luka tenggorok& ri7a0at bron,hitis&9B-. e. Ri7a0at pen0akit keluarga :mumn0a klien dengan silikosis tidak memiliki pen0akit keluarga 0ang berhubungan dengan pen0akit ini ). Ri7a0at 5sikososial 5era7at perlu mengka#i tentang perasaan& status emosional& dan perilaku klien. 6isaln0a& klien sering merasa ,emas akibat n0eri 0ang kronis dan mengisolasi diri karena pen0akit 0ang diderita. g. 5emeriksaan ?isik> 1.4 B1 3Breath4 > sesak napas& batuk berdahak& adan0a penggunaan otot bantu perna)asan inspirasi& '.4 B' 3Blood4 > ,0anosis& h0poEia& hipoksemia& (.4 B( 3Brain4 > demam ..4 B. 3Bladder4 > ! /.4 B/ 3Bo7el4 > na)su makan turun& BB turun& 5asien lemah *.4 B* 3Bone4 > malaise h. 5emeriksaan 5enun#ang 5emeriksaan Laboratorium > 9es Cas darah arteri biasan0a ditemukan hipoksia dan hipokapnia. 5emeriksaan serologi S0stem imun ditemukan abnormal pada penderita silikosis termasuk peningkatan kadar )a,tor rematoid&antinu,lear antibod0 dan komplek imun. 5emeriksaan Radiologi > biasan0a ditemukan nodul dan gambaran berbentuk garis 0ang ban0ak untuk men,urigai adan0a silikosis

'. Analisis data dan Diagnosis %epera7atan a. Analisis data =o 1 Data @tiologi DS> pasien mengatakan sering Sekresi batuk!batuk disertai berdahak DO> pasien terlihat sesak& terdengar suara ronkhi3F4& penggunaan otot bantu ' pernapasan DS>5asien napas DO>RRGlebih '.E8menit ( &hipoksia&hipoksemia&,0anosis DS> 5asien mengatakan demam DO> hasil lab meningkat& meningkat39>>(1&/4 . 5eningkatan ;ipertemia dari mengatakan sesak 5enurunan di)usi Cangguan pertukaran gas mu,us meningkat 6asalah Bersihan #alan napas e)ekti) tidak

leukosit la#u suhu metabolism sekunder

reaksi sili,a DS> pasien mengatakan tidak Intake nutrisi %etidakseimba ada napsu makan DO> BB menurun&mual in adekuat ngan kurang kebutuhan tubuh nutrisi dari

b. Diagnosis kepera7atan 14 Bersihan +alan =a)as tidak @)ekti) b8d sekresi mukus meningkat ditandai dengan pasien mengeluh batuk dan berdahak&sesak napas. '4 Cangguan 5ertukaran gas b.d penurunan di)usi ditandai dengan pasien mengeluh sesak napas&hipoksia&hipoksemia&,0anosis

(4 ;ipertermia b8d 5eningkatan la#u metabolisme sekunder dari reaksi sistemis sili,a ditandai dengan demam&kelemahan&hasil lab tes serologi mengalami peningkatan. .4 %etidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Intake nutrisi in adekuat sekunder terhadap proses pen0akit ditandai dengan penurunan BB dan na)su makan menurun. (. Intervensi %epera7atan No 1 D!a"nosa Keperawatan Bersihan +alan =a)as tidak @)ekti) b8d sekresi mukus meningkat ditandai dengan pasien mengeluh batuk dan berdahak&sesak napas. Tu#uan $an %r!ter!a Has!& Inter'ens!

9u#uan > NI( ) 5asien akan menun#ukan 14 6onitor status bersihan #alan napas 0ang oksigen pasien e)ekti) selama pera7atan R 8sebagai data dasar dalam -riteria ;asil> menentukan Dalam 7aktu 'E'. #am intervensi pasien dapat selan#utn0a. '4 Auskultasi suara na)as& ,atat 6endemonstrasikan adan0a suara batuk e)ekti) dan suara tambahan na)as 0ang bersih& R 8suara tidak ada sianosis dan tambahan d0spneu 3mampu menun#ukan mengeluarkan sputum& adan0a mampu berna)as penumpukan dengan mudah4 sekret 6enun#ukkan #alan (4 Lakukan na)as 0ang paten )isioterapi 3klien tidak merasa dada&postural ter,ekik& irama na)as& drainase&vibrasi )rekuensi perna)asan dan ,lapping dalam rentang normal& #ika perlu tidak ada suara na)as R 8untuk abnormal4 meningkatkan mobilisasi sekresi 0ang mengganggu oksigenasi. 5antau sputum untuk menge)ekti)kan

terapi. .4 A#arkan teknik batuk e)ekti). R 8membantu mengeeluarkan sputum. /4 Lakukan nebulaiser sesuai indikasi R 8aerosol ber)ungsi untuk mengen,erkan dahak sehingga mudah untuk dikeluarkan *4 Berikan ,airan sekurang! kurangn0a ( liter perhari atau sesuai indikasi R 8hidrasi membantu mengen,erkan dahak 14 Berikan O' sesuai indikasi "4 Berikan bronkodilator bila perlu ' Cangguan 5ertukaran gas b.d penurunan di)usi ditandai dengan pasien mengeluh sesak napas&hipoksia&hipoksemia&,0anosis 9u#uan > NI( ) 5asien akan mempun0ai 1 6onitor rata H )ungsi paru dalam batas rata& kedalaman& normal irama dan usaha -riteria hasil> respirasi De)inisi > %elebihan atau Dalam 7aktu (E'. #am R 8sebagai data kekurangan dalam oksigenasi dan selama pera7atan dasar dalam atau pengeluaran karbondioksida di menentukan 6endemonstrasikan dalam membran kapiler alveoli intervensi peningkatan ventilasi selan#utn0a. dan oksigenasi 0ang ' 5antau tanda! adekuat tanda vital&irama 6endemonstrasikan #antung&ACD tidak ada sianosis dan dan hemoglobin d0spneu&sesak napas R 8perubahan 9anda tanda vital salah satu dalam rentang normal

Laboratorium 3ACD4 dalam batas normal.

;ipertermia b8d 5eningkatan la#u metabolisme sekunder dari reaksi sistemis sili,a ditandai dengan demam&kelamahan&hasil lab tes serologi mengalami peningkatan.

9u#uan > 5asien akan menun#ukan termoregulasi 0ang adekuat -riteria evaluasi> Dalam 7aktu 1E'. #am pasien akan menun#ukan De)inisi > suhu tubuh naik diatas Suhu tetap normal rentang normal =adi dalam batas normal Leukosit dalam batas normal 3/ ! 1 mg8dl4 Akral tidak panas

parameter tersebut dapat mengindikasikan keparahan pen0akit ( A#arkan pada pasien teknik bernapas dan relaksasi R 8meminimalisir penggunaan oksigen. . +elaskan penggunaan alat bantu 0ang diperlukan R 8mengurangi tingkat ke,emasan pasien oleh karena alat bantu. / In)ormasikan kepada pasien bah7a merokok itu dilarang. * Berikan oksigen NI( ) 6onitor suhu sesering mungkin R 8untuk me0akinkan perbandingan data 0ang akurat 6onitor IWL R 8sebagai data dasar dalam menentukan intervensi selan#utn0a 6onitor 7arna dan suhu kulit

R 8kulit kemerahan dan akral panas menandakan adan0a peningkatan suhu 6onitor tekanan darah& nadi dan RR R 8perubahan salah satu parameter pemeriksaan menandakan adan0a peningkatan suhu tubuh. 6onitor penurunan tingkat kesadaran R 8perubahan tingkat kesadaran menandakan hipoksia #aringan otak 6onitor WB-& ;b& dan ;,t R 8perubahan salah satu laboratorium menandakan adan0a peningkatan suhu tubuh 6onitor intake dan output R 8sebagai data dasar dalam menentukan intervensi Berikan ,airan intravena R 8hidrasi

dapat menurunkan suhu. %ompres pasien pada lipat paha dan aksila R 8untuk menurunkan panas Atur pemberian antibioti, dan antipiretik R 8antibioti, mengurangi in)eksi dan antipiretik menurunkan panas. . %etidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi inadekuat sekunder terhadap proses pen0akit. 9u#uan > NI( ) 5asien akan mempertahankan status %a#i adan0a gi<i 0ang adekuat selama alergi makanan pera7atan R 8untuk De)inisi > Intake nutrisi tidak ,ukup -riteria evaluasi> menetukan untuk keperluan metabolisme Adan0a peningkatan ren,ana tubuh. berat badan sesuai intervensi dengan tu#uan selan#utn0a Berat badan ideal 6onitor #umlah sesuai dengan tinggi nutrisi dan badan kandungan kalori 6ampu mengidenti)ikasi Berikan kebutuhan nutrisi in)ormasi tentang 6enun#ukan asupan kebutuhan makanan oral 0ang nutrisi adekuat R 8melibatkan klien dalam menentukan nutrisin0a %a#i kemampuan pasien untuk mendapatkan

nutrisi 0ang dibutuhkan 9imbang BB klien pada interval 0ang tepat R 8mengevaluasi kee)ekti)an intervensi 6onitor lingkungan selama makan R 8lingkungan 0ang n0aman meningkatkan napsu makan pasien 6onitor makanan kesukaan R 8memberikan makanan kesukaan meningkatkan napsu makan klien An#urkan klien makan sedikit tapi sering R 8meningkatkan asupan 0ang adekuat

BAB * PENUTUP

A. %esimpulan Silikosis adalah pneumo,oniosis 0ang sering ditemukan akibat terpa#an oleh debu sili,a. Sili,a merupakan istilah kimia untuk partikel!partikel 0ang mengandung sili,on dioksida. Silikosis diklasi)ikasikan men#adi ( 0aitu silikosis kronik simplek& silikosis akselerata& silikosis akut. Silika adalah mineral alami 0ang terutama terdiri dari silikon dioksida 3 SiO' 4 . Ini ada dalam keadaan kristal dan amor) . %uarsa & kristobalit & dan tridimit adalah ( bentuk 0ang paling umum dari silika kristal & 0ang men0ebabkan silikosis . 5emeriksaan diagnostik pada kasus silikosis meliputi pemeriksaan )isik& pemeriksaan laboratorium& pemeriksaan radiologis -9 s,an dan )oto thoraE& u#i tuberkulin& dan pemeriksaan )ungsi paru. Asuhan kepera7atan untuk kasus ini meliputi tahap asuhan kepera7atan pada umumn0a. Adapun diagnosa kepera7atan 0ang dapat ditegakkan pada kasus silikosis salah satun0a adalah bersihan #alan napas tidak e)ekti) berhubungan dengan sekret mukus 0ang kental dan ban0ak serta upa0a batuk buruk. B. Saran Bagi mahasis7a kepera7atan khususn0a makalah ini sebagai salah satu re)erensi untuk melakukan asuhan kepera7atn 0ang komprehensi) bagi pasien 0ang menderita slikosis. Bagi mas0arakat 0ang megalami atau menemui ge#ala pada pen0akit diatas untuk segera memeriksakan dirin0a ke pela0anan terdekat sebagai upa0a diberikann0a penanganan lebih dini dan men,egah komplikasi dari pen0akit tersebut

DA?9AR 5:S9A%A

-or7in& @li<abeth +. ' 9. Buku Saku 5ato)isiologi. @C- > +akarta D#o#odibroto& Darmanto. ' 9. Respirologi 3Respirator0 6edi,ine4. @C- > +akarta ;arrington& +.6. ' (. Buku Saku %esehatan %er#a. @C- > +akarta ;eather& ; 3' 1'4& Nanda,NIC & NOC, 2012-2014 Nursing Diagnosis: De inition and Clasi ication. +akarta > @CIkhsan&6 3' 94. !en"a#it !aru #er$a dan %ing#ungan. +akarta >?%:I +e0aratnam& +. ' 9. Buku A#ar 5raktik %edokteran %er#a. @C- > +akarta Susanto& Agus D7i.3' 114. 5neumokoniosis. +urnal Indon 6ed Asso,& volum *1&nomor 1' A.D.A.66edi,al@n,0,lopedia3' 114. http>88777.n,bi.nlm.nih.gov8pubmedhealth856; 11118Ireport Atlanta diakses pada '1 September ' 1(& 1/.11 WIB Basil Darke0& 6D& Silikosis&3' 114. http>88emedi,ine.meds,ape.,om8arti,le8( ' '1! overvie7 diakses pada '1 September ' 1(& ' .1/ WIB. 6edi,astore3' 1'4http>88medi,astore.,om8pen0akit8.'(8SilikosisJSili,osis.html diakses pada '1 September ' 1(& ' . / WIB. =u<ulul&S3' 1'4http>88nu<ulul!)kp 9.7eb.unair.a,.id8artikelJdetail!(//'(!%ep $' Respirasi!Askep$' Asbestosis$' dan$' Silikosis.html diakses pada '" September ' 1(& 1.. WIB. +ed0nak& Andr<e# R.+2,11-. I.a"!n" In S!&!%os!s An$ (oa& /or er Pneu.o%on!os!s. http>88emedi,ine.meds,ape.,om8arti,le8(*111"!overvie7 diakses pada '" September ' 1(& 1..( WIB.