Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu bahan tambang yang banyak terdapat di bumi dan sampai saat ini telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai keperluan adalah emas . Emas adalah unsur kimia dlm tabel periodik yang memiliki simbol Au (bahasa Latin: 'aurum') dan nomor atom 79. Sebuah logam transisi (trivalen dan univalen) yang lembek, mengkilap, kuning, berat, "malleable", dan "ductile". Emas tidak bereaksi dengan zat kimia lainnya tapi terserang oleh klorin, fluorin dan aqua regia. Logam ini banyak terdapat di nugget emas atau serbuk di bebatuan dan di deposit alluvial dan salah satu logam coinage. Kode ISOnya adalah XAU. Emas melebur dalam bentuk cair pada suhu sekitar 1000 derajat celcius. Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5 3 (skala Mohs), serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya >20%. Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak

dan

larutan

hidrotermal,

sedangkan

pengkonsentrasian

secara

mekanis

menghasilkan endapan letakan (placer). Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu:

Endapan primer; dan Endapan plaser.

Emas moneter sebagai jaminan mata uang yang pernah dipakai oleh Bank Indonesia

Emas digunakan sebagai standar keuangan di banyak negara dan juga digunakan sebagai perhiasan, dan elektronik. Penggunaan emas dalam bidang moneter dan keuangan berdasarkan nilai moneter absolut dari emas itu sendiri terhadap berbagai mata uang di seluruh dunia, meskipun secara resmi di bursa komoditas dunia, harga emas dicantumkan dalam mata uang dolar Amerika. Bentuk penggunaan emas dalam bidang moneter lazimnya berupa bulion atau batangan emas dalam berbagai satuan berat gram sampai kilogram. Maksud dan Tujuan

Sebagai bahan acuan berbagai pihak dalam melakukan kegiatan penyelidikan umum dan eksplorasi emas.

1.2.Batasan Masalah

Dalam makalah ini, tim penyusun hanya membahas menyangkut mengenai bijih besi dan Metode eksplorasi tak langsung yaitu metode eksplorasi geofisika.

1.5. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam pembuatan makalah ini, yaitu : a. Studi Literatur

Merupakan cara analisis dengan mencari data-data yang diperlukan dari buku-buku referensi ataupun suatu website untuk menambah wawasan teori yang lebih mendalam dan luas. b. Metode Bimbingan Dalam makalah ini memerlukan bimbingan dan pengarahan dari dosen pembimbing sebagai koreksi terhadap penyusunan makalah ini.

BAB II DASAR TEORI

2.1.Teori Dasar Pembentukan Bijih Besi


2.1.1 Sifat Fisik Besi

Berikut tabel sifat-sifat fisika dari logam besi:

Fase Massa Jenis (sekitar suhu kamar) Masaa Jenis cair pada titik lebur Titik Lebur Titik Didih Kalor Peleburan Kalor Penguapan Kapasitas Kalor

Padat 7,86 g/cm 6,98 g/cm 1811 K (1538 C, 2800 F) 3134 K (2861 C, 5182 F) 13,81 kJ/mol 340 kJ/mol (25 C) 25,10 J/(molK)

Tekanan Uap P/Pa Pada T/K 1 1728 10 1890 100 2091 1K 2346 10K 2679 100K 3132

Tabel 1 : Sifat fisik logam besi

2.1.2. Sifat Kimia Besi mempunyai empat isotop stabil yang stabil yaitu: 54Fe, 56Fe, 57Fe and 58Fe. Kelimpahan isotop-isotop Fe dalam alam sekitar adalah lebih kurang 54Fe (5.8%), 56Fe (91.7%), 57Fe (2.2%) dan 58Fe (0.3%). Besi murni cukup reaktif. Dalam udara lembab akan cepat teroksidasi dan membentuk besi (III) oksida hidrat (karat) yang tidak sanggup melindungi karena zat ini akan hancur dan membiarkan permukaan logam yang baru terbuka. Logam besi mudah larut dalam asam mineral. Dengan asam bukan pengoksidasi tanpa udara, diperoleh Fe (II). Dengan adanya udara atau bila digunakan HNO3 encer panas, sejumlah besi akan menjadi Fe (III). Media pengoksidasi yang sangat kuat seperti HNO3 pekat atau asam-asam yang mengandung dikromat akan membuat besi pasif. Dari sifatsifat di atas, salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat

dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi

Ciri-ciri atom Struktur Kristal Bilangan Oksidasi Kubus Pusat Badan 2, 3, 4, 6 (oksida amfoter) 1,83 (skala Pauling pertama: 762,5 kJ/mol Energi Ionisasi ke-2: 1561,9 kJ/mol ke-3: 2957 kJ/mol Jari-jari atom Jari-jari atom (terhitung) Jari-jari kovalen 140 pm 156 pm 125 pm

Elektronegativitas

Tabel 2 : Sifat kimia logam besi

2.1.3. Mineralogi Besi

Bijih besi adalah batuan dan mineral dari mana logam besi dapat diekstraksi secara ekonomis. Bijih biasanya kaya besi oksida dan mempunyai warna yang bervariasi muali dari abu-abu gelap, kuning terang, ungu, dan berkarat merah. Besi itu sendiri biasanya ditemukan dalam bentuk magnetit (Fe3O4), bijih besi (Fe2O3), goethite (FeO(OH)), limonit (FeO(OH), dan siderite (FeCO3). Bijih besi juga dikenal sebagai "bijih alam" dimana nama ini mengacu pada tahun-tahun awal pertambangan besi. Bijih besi merupakan bahan baku yang digunakan untuk membuat besi babi, yang merupakan salah satu bahan baku utama untuk membuat baja. Dari semua besi, 98% dari bijih besi yang ditambang digunakan untuk membuat baja. Sesungguhnya, telah dinyatakan sebelumnya bahwa bijih besi adalah bagian terbesar dari integral ekonomi global dibandingkan dengan komoditi lainnya, kecuali mungkin minyak. Logam besi hampir tidak dikenal di permukaan bumi kecuali sebagai besi-nikel paduan dari meteorit dan sangat langka dalam bentuk mantel xenoliths. Oleh karena itu, semua sumber zat besi yang digunakan oleh industri manusia dieksploitasi dari besi oksida mineral yang merupakan bentuk utama yang digunakan dalam industri yang bijih besi. Proses terbentuknya bahan galian sangatlah kompleks yaitu lebih dari satu proses bekerja bersama-sama. Meskipun dari satu jenis bahan galian logam, apabila terbentuk oleh proses yang berbeda-beda, maka akan menghasilkan tipe endapan yang berbeda pula. Beberapa proses pembentukan bijih besi antara lain: 1. Diferensiasi magmatik 2. Larutan hidrotermal 3. Proses sedimentasi

4. Proses pelapukan Dari proses di atas, tiap-tiap proses akan menghasilkan endapan bijih besi yang berbeda dalam hal mutu, besar cadangan, maupun jenis mineral ikutannya. Dengan mengetahui proses pembentukan besi di atas, maka akan sangat membantu dalam pencarian, penemuan, ataupun pengembangannya.

2.1.3.1. Bijih Besi Primer (Ore Deposits)

Proses terjadinya cebakan bahan galian bijih besi berhubungan erat dengan adanya peristiwa tektonik pra-mineralisasi. Akibat peristiwa tektonik,

terbentuklah struktur sesar, struktur sesar ini merupakan zona lemah yang memungkinkan terjadinya magmatisme, yaitu intrusi magma menerobos batuan tua. Akibat adanya kontak magmatik ini, terjadilah proses rekristalisasi, alterasi, mineralisasi, dan penggantian (replacement) pada bagian kontak magma dengan batuan yang diterobosnya. Proses penerobosan magma pada zona lemah ini hingga membeku umumnya disertai dengan kontak metamorfosa. Kontak metamorfosa juga melibatkan batuan samping sehingga menimbulkan bahan cair (fluida) seperti cairan magmatik dan metamorfik yang banyak mengandung bijih.

2.1.3.2. Bijih Besi Sekunder (Endapan Placer)

Jenis bijih besi sekunder dibentuk oleh kumpulan mineral berat melalui proses sedimentasi, secara alamiah terpisah karena gravitasi dan dibantu pergerakan media cair, padat dan gas/udara. Kerapatan konsentrasi mineralmineral berat tersebut tergantung kepada tingkat kebebasannya dari sumber, berat

jenis, ketahanan kimiawi hingga lamanya pelapukan dan mekanisma. Dengan nilai ekonomi yang dimilikinya para ahli geologi menyebut endapan alochton tersebut sebagai cebakan placer. Penambangannya bijih besi sekunder biasanya dengan cara pengerukan, yang merupakan metoda penambangan termurah.

Tabel 3 : Cebakan-cebakan placer berdasarkan genesanya

Genesa Terakumulasi in situ selama pelapukan Terkonsentrasi dalam media padat yang bergerak Terkonsentrasi dalam media cair yang bergerak (air)

Jenis Placer residual Placer eluvial Placer sungai Placer pantai aluvial atau

Terkonsentrasi dalam media gas/udara yang Placer Aeolian (jarang) bergerak

Placer residual adalah Partikel mineral/bijih pembentuk cebakan terakumulasi langsung di atas batuan sumbernya (contoh : urat mengandung emas atau kasiterit) yang telah mengalami

pengrusakan/peng-hancuran kimiawi dan terpisah dari bahan-bahan batuan yang lebih ringan. Jenis cebakan ini hanya terbentuk pada permukaan

tanah yang hampir rata, dimana didalamnya dapat juga ditemukan mineralmineral ringan yang tahan reaksi kimia (misal : beryl). Placer eluvial adalah Partikel mineral/bijih pembentuk jenis cebakan ini diendapkan di atas lereng bukit suatu batuan sumber. Di beberapa daerah ditemukan placer eluvial dengan bahan-bahan pembentuknya yang bernilai ekonomis terakumulasi pada kantong-kantong (pockets) permukaan batuan dasar. Placer sungai atau aluvial adalah Jenis ini paling penting terutama yang berkaitan dengan bijih emas yang umumnya berasosiasi dengan bijih besi, dimana konfigurasi lapisan dan berat jenis partikel mineral/bijih menjadi faktor-faktor penting dalam pembentukannya. Telah dikenal bahwa fraksi mineral berat dalam cebakan ini berukuran lebih kecil daripada fraksi mineral ringan, sehubungan : Pertama, mineral berat pada batuan sumber (beku dan malihan) terbentuk dalam ukuran lebih kecil daripada mineral utama pembentuk batuan. Kedua, pemilahan dan susunan endapan sedimen dikendalikan oleh berat jenis dan ukuran partikel (rasio hidraulik). Placer pantai adalah Cebakan ini terbentuk sepanjang garis pantai oleh pemusatan gelombang dan arus air laut di sepanjang pantai. Gelombang melemparkan partikel-partikel pembentuk cebakan ke pantai dimana air yang kembali membawa bahan-bahan ringan untuk dipisahkan dari mineral berat. Bertambah besar dan berat partikel akan

diendapkan/terkonsentrasi di pantai, kemudian terakumulasi sebagai batas

yang jelas dan membentuk lapisan. Perlapisan menunjukkan urutan terbalik dari ukuran dan berat partikel, dimana lapisan dasar berukuran halus dan/ atau kaya akan mineral berat dan ke bagian atas berangsur menjadi lebih kasar dan/atau sedikit mengandung mineral berat. Placer pantai (beach placer) terjadi pada kondisi topografi berbeda yang disebabkan oleh perubahan muka air laut, dimana zona optimum pemisahan mineral berat berada pada zona pasang-surut dari suatu pantai terbuka. Konsentrasi partikel mineral/bijih juga dimungkinkan pada terrace hasil bentukan gelombang laut. Mineral-mineral terpenting yang dikandung jenis cebakan ini adalah : magnetit, ilmenit, emas, kasiterit, intan, monazit, rutil, xenotim dan zirkon.

Mineral ikutan dalam endapan placer adalah suatu cebakan pasir besi selain mengandung mineral-mineral bijih besi utama tersebut dimungkinkan berasosiasi dengan mineral-mineral mengandung Fe lainnya. Mineral-mineral pembawa besi dengan nilai ekonomis dengan susunan kimia, kandungan Fe dan klasifikasi komersil dapat dilihat pada Tabel dibawah ini: Tabel 4 : mineral-mineral bijih besi bernilai ekonomis Mineral Magnetit Hematit Limonit Siderit Susunan kimia FeO, Fe2O3 Fe2O3 Fe2O3.nH2O FeCO3 Kandungan Fe (%) 72,4 70,0 59 63 48,2 Klasifikasi komersil Magnetik atau bijih hitam Bijih merah Bijih coklat Spathic, black band, clay ironstone

Sumber : Iron & Ferroalloy Metals in (ed) M. L. Jensen & A. M. Bafeman, 1981; Economic Mineral Deposits, P. 392.

10

2.2. Metode dan Tata Cara Eksplorasi Bijih Besi Penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi di Indonesia sudah banyak dilakukan oleh berbagai pihak, sehingga diperlukan penyusunan pedoman teknis eksplorasi bijih besi. Pedoman dimaksudkan sebagai bahan acuan berbagai pihak dalam melakukan kegiatan penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi primer, agar ada kesamaan dalam melakukan kegiatan tersebut diatas sampai pelaporan.

Berdasarkan pada sifat penyelidikan dan pendekatan teknologi yang digunakan, kegiatan eksplorasi dibedakan menjadi dua, yaitu eksplorasi langsung dan eksplorasi tak langsung. 2.2.1. Metode Eksplorasi Langsung Metode eksplorasi langsung ialah suatu metode eksplorasi yang berhubungan langsung dengan kondisi permukaan atau bawah permukaan, terhadap endapan yang dicari. Beberapa metode eksplorasi langsung adalah : Pemetaan Geologi. Tracing Float, Paritan, dan Sumur Uji. Sampling. Pemboran Eksplorasi.

2.2.2. Metode Eksplorasi Tak Langsung Metode eksplorasi tak langsung ialah suatu metode eksplorasi yang tidak berhubungan langsung dengan kondisi permukaan atau bawah permukaan, terhadap endapan yang dicari. Namun melalui anomaly-anomali yang diperoleh

11

dari hasil pengamatan/pengukuran dengan memanfaatkan sifat-sifat fisik atau kimia dari endapan. Beberapa metode eksplorasi tak langsung adalah : Penginderaan jarak jauh. Metode eksplorasi geokimia. Metode eksplorasi geofisika.

Tata cara eksplorasi bijih besi meliputi urutan kegiatan eksplorasi sebelum pekerjaan lapangan, saat pekerjaan lapangan dan setelah pekerjaan lapangan. Kegiatan sebelum pekerjaan lapangan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai prospek cebakan bijih besi primer, meliputi studi literatur dan penginderaan jarak jauh. Penyediaan peralatan antara lain peta topografi, peta geologi, alat pemboran inti, alat ukur topografi, palu dan kompas geologi, loupe, magnetic pen, GPS, pita ukur, alat gali, magnetometer, kappameter dan peralatan geofisika.

Kegiatan pekerjaan lapangan yang dilakukan adalah penyelidikan geologi meliputi pemetaan; pembuatan paritan dan sumur uji, pengukuran topografi, survei geofisika dan pemboran inti.

Kegiatan setelah pekerjaan lapangan yang dilakukan antara lain adalah analisis laboratorium dan pengolahan data. Analisis laboratorium meliputi analisis kimia dan fisika. Unsur yang dianalisis kimia antara lain : Fetotal, Fe2O3, Fe3O4, TiO2, S, P, SiO2, MgO, CaO, K2O, Al2O3, LOI. Analisis fisika yang dilakukan antara lain : mineragrafi, petrografi, berat jenis (BD). Sedangkan pengolahan data adalah interpretasi hasil dari penyelidikan lapangan dan analisis laboratorium.
12

2.3.Tahapan Eksplorasi

Tahapan eksplorasi adalah urutan penyelidikan geologi yang umumnya dilakukan melalui empat tahap sebagai berikut : Survei tinjau, prospeksi, eksplorasi umum, eksplorasi rinci. Survei tinjau, tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang berpotensi bagi keterdapatan mineral pada skala regional. Prospeksi, tahap eksplorasi dengan jalan mempersempit daerah yg mengandung endapan mineral yg potensial. Eksplorasi umum, tahap eksplorasi yang rnerupakan tahap awal dari suatu endapan yang teridentifikasi. Eksplorasi rinci yaitu tahap eksplorasi yang secara rinci dalam 3 dimensi terhadap endapan mineral yang telah diketahui dari pencontohan singkapan, paritan, lubang bor, shafts dan terowongan.

Penyelidikan geologi adalah penyelidikan yang berkaitan dengan aspekaspek geologi diantaranya : pemetaan geologi, parit uji, sumur uji. Pemetaan adalah pengamatan dan pengambilan conto yang berkaitan dengan aspek geologi dilapangan. Pengamatan yang dilakukan meliputi : jenis litologi, mineralisasi, ubahan dan struktur pada singkapan, sedangkan pengambilan conto berupa batuan terpilih.

Penyelidikan Geofisika adalah penyelidikan yang berdasarkan sifat fisik batuan, untuk dapat mengetahui struktur bawah permukaan, geometri cebakan mineral, serta sebarannya secara horizontal maupun secara vertical yang

13

mendukung penafsiran geologi dan geokimia secara langsung maupun tidak langsung.

Pemboran inti dilakukan setelah penyelidikan geologi dan penyelidikan geofisika. Penentuan jumlah cadangan (sumberdaya) mineral yang mempunyai nilai ekonomis adalah suatu hal pertama kali yang perlu dikaji, dihitung sesuai standar perhitungan cadangan yang berlaku, karena akan berpengaruh terhadap optimasi rencana usaha tambang, umur tambang dan hasil yang akan diperoleh.

Dalam hal penentuan cadangan, langkah yang perlu diperhatikan antara lain: 1) Memadai atau tidaknya kegiatan dan hasil eksplorasi. 2) Kebenaran penyebaran dan kualitas cadangan berdasarkan korelasi seluruh data eksplorasi seperti pemboran, analisis contoh. 3) Kelayakan penentuan batasan cadangan, seperti Cut of Grade, Stripping Ratio, kedalaman maksimum penambangan, ketebalan minimum dan sebagainya bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi dan sebaran bijih besi bawah permukaan. 4) Tata cara eksplorasi pasir besi meliputi urutan kegiatan eksplorasi pasir besi mulai dari kegiatan sebelum pekerjaan lapangan, saat pekerjaan lapangan dan setelah pekerjaan lapangan yang dilakukan untuk mengetahui potensi pasir besi. 5) Kegiatan sebelum pekerjaan lapangan seperti: a) Studi Literatur yang dilakukan meliputi: pengumpulan dan pengolahan data serta laporan kegiatan sebelumnya.

14

b) Studi Penginderaan Jarak Jauh dengan jenis data yang dapat digunakan dalam studi ini meliputi: data Citra Landsat MSS TM/Tematic mapper, SLAR, Spot image dan foto udara. Dengan data penginderaan jarak jauh ini dapat dilakukan interpretasi gejalagejala geologi yang berguna sebagai acuan dalam eksplorasi pasir besi. c) Studi Geofisika dengan Eksplorasi Bijih Besi (Iron Ore) Menggunakan Metode Magnetik.

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Eksplorasi Bijih Besi dengan Metode Eksplorasi Geofisika Ekplorasi merupakan penyelidikan awal di bidang pertambangan yang bertujuan untuk mengetahui potensi mineral atau bahan galian di suatu wilayah penelitian. Hasil sebuah ekplorasi biasanya berupa karakteristik bahan tambang, sebaran mineral, atau jumlah cadangan mineral. Di dalam eksplorasi geofisika biasanya digunakan beberapa metode seperti metode geolistrik (geoelectric), metode magnetik, metode gravitasi dan seismik. Masing-masing metode diterapkan sesuai dengan objek bahan galian yang akan diselidiki. Misalnya, metode geolistrik sangat cocok untuk mengetahui potensi air tanah (ground
15

water). Metode ini juga dapat diterapkan untuk eksplorasi mineral seperti bijih besi dan mangan. Namun, akurasinya rendah dikarenakan nilai resistivitas skala laboratorium untuk beberapa jenis mineral berbeda dengan skala lapangan. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh struktur batuan. Contoh lainnya adalah metode magnetik, cocok digunakan untuk eksplorasi mineral magnetis seperti bijih besi seperti magnetit dan hematit. Metode ini didasarkan pada nilai anomali medan magnet bumi di suatu kawasan survei. Sebagaimana kita ketahui bahwa bumi memiliki sifat seperti magnet (dwi kutub) yaitu kutub utara dan selatan. Dalam makalah ini akan diulas secara singkat mengenai eksplorasi mineral dengan metode magnetik atau biasa juga disebut sebagai metode geomagnetik. Untuk memahami metode geomagnetik, ada baiknya diulas secara ringkas beberapa teori dasar tentang kemagnetan dan beberapa kajian yang berkaitan dengannya.

3.2. Kegiatan Pekerjaan Lapangan 1) Pemetaan Geologi dalam penyelidikan pasir besi meliputi pemetaan batas pasir pantai dengan litologi lainnya, sehingga dapat diperoleh gambaran sebaran endapan bijih besi. 2) Pengukuran Topografi dilakukan untuk menggambarkan morfologi pantai dan perencanaan penempatan titik-titik lokasi pemboran dan sumur uji serta lintasan geofisika. Urutan kegiatan yang dilakukan dalam pengukuran topografi adalah sebagai berikut:

16

a) Penentuan koordinat titik awal pengukuran pada punggungan sand dune. b) Pembuatan garis sumbu utama (base line, dan c) Pengukuran siku-siku untuk garis lintang (cross line). Garis sumbu utama diusahakan searah dengan garis pantai dan garis-garis lintang yang merupakan tempat kedudukan titik bor, arahnya dibuat tegak lurus terhadap sumbu utama dengan interval jarak tertentu. Geofisika (Geomagnetik) metode geofisika yang digunakan dalam studi ini adalah metode geomagnetik yang meliputi: aeromagnetic dan

groundmagnetic, namun jarang diterapkan. Tujuan dari penerapan metode ini adalah untuk mencari sebaran anomali magnetik daerah pantai yang dieksplorasi. Pemboran ini dimaksudkan untuk mengambil contoh-contoh bijih besi pantai baik yang ada diatas permukaan laut maupun yang berada dibawahnya. Pekerjaan pemboran pasir besi dilakukan dengan menggunakan bor dangkal baik yang bersifat manual (Doormer) maupun bersifat semi mekanis. Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Penentuan lokasi titik bor. 2) Setting alat bor. 3) Pembuatan lubang awal dilakukan dengan menggunakan mata bor sampai batas permukaan air tanah. 4) Setelah menembus lapisan air tanah, pemboran dilakukan dengan menggunakan casing yang didalamnya dipasang bailer. 5) Pemboran dihentikan sampai batas batuan dasar.

17

Pengambilan contoh bijh besi yang terletak di atas permukaan air tanah diambil dengan sendok pasir (sand auger) jenis Ivan berdiameter 2,5 inchi, sedangkan contoh pasir yang berada di bawah permukaan air tanah dan bawah permukaan air laut diambil dengan bailer yang dilengkapi ball valve. Contoh-contoh diambil untuk setiap kedalaman 1,5 meter atau setiap satu meter dan dibedakan antara contoh dari horizon A, contoh horizon B dan contoh dari horizon C. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengambil contoh-contoh bijh besi pantai sampai pada kedalaman tertentu sampai mencapai permukaan air dan untuk mengetahui profil/penampang tegak perlapisan bijih besi. Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Penentuan lokasi sumur uji. 2) Penggalian dengan luas bukaan sumur 1m x 1m atau 1,5m x 1,5m. 3) Bila terjadi runtuhan maka dibuat penyangga. 4) Pembuatan sumur dihentikan apabila telah mencapai permukaan air atau telah mencapai batuan dasar. 5) Pengambilan contoh pasir besi dari sumur uji diambil dengan interval setiap satu meter menggunakan metode channel sampling, dengan ukuran 5 cm x 10 cm. 6) Preparasi Contoh, proses preparasi di lapangan untuk contoh bor dan sumur uji. Contoh yang diambil harus homogen dari setiap interval kedalaman. Dengan pengambilan yang cukup representatif akan menjamin ketelitian dalam analisa kimia, perhitungan sumber daya atau cadangan dari endapan pasir besi pantai.

18

Pengambilan contoh-contoh tersebut didasari oleh prosedur baku dalam eksplorasi endapan bijih besi. Kegiatan yang dilakukan dalam proses preparasi dengan metode increment mengacu pada Japan Industrial Standard (J.I.S), yaitu: 1) Contoh pasir hasil pemboran atau sumur uji ditampung pada suatu wadah dan diaduk hingga homogen. 2) Contoh tersebut di atas dimasukkan dalam kotak increment, diratakan dan dibagi dalam garis kotak- kotak. 3) Contoh direduksi dengan menggunakan sendok increment dari kotak increment, dari tiap-tiap kotak ditampung dalam kantong contoh. 4) Contoh hasil reduksi kemudian dikeringkan. 5) Contoh yang sudah dikeringkan dari tiap tiap interval dibagi menjadi 3 bagian. Satu bagian untuk contoh individu, satu bagian untuk contoh komposit dan satu bagian untuk duplikat. 6) Satu bagian contoh dari tiap interval digabungkan dengan interval lainnya menjadi contoh komposit. Kegiatan yang dilakukan dalam proses preparasi dengan metode riffle splitter, yaitu: 1) Contoh bijh besi hasil pemboran atau sumur uji ditampung pada suatu wadah dan diaduk hingga homogen, kemudian dikeringkan. 2) Contoh yang telah kering direduksi dengan riffle splitter hingga mendapatkan berat yang diinginkan (+ 3 kg). 3) Contoh yang sudah mengalami splitting dari tiap tiap interval dibagi menjadi 3 bagian. Satu bagian untuk contoh individu, satu bagian untuk contoh komposit

19

dan satu bagian untuk duplikat. 4) Satu bagian contoh dari tiap interval digabungkan dengan interval lainnya menjadi contoh komposit. Penentuan Persentase Kemagnetan (MD), diawali dengan pemisahan mineral magnetik dengan non-magnetik, sebagai berikut: 1) Hasil preparasi contoh dilapangan sebanyak 1 kg, direduksi hingga + 100 gr menggunakan splitter (contoh hasil reduksi). 2) Contoh hasil reduksi ditaburkan dalam suatu tempat secara merata. 3) Pemisahan dilakukan dengan menggerak-kan magnet batang 300 gauss berulang-ulang minimal 7 kali di atas selembar kaca setebal 2 mm yang dibawahnya tertabur contoh pasir untuk mendapatkan contoh konsentrat yang cukup bersih. Jarak antara magnet batang dengan lapisan pasir harus dibuat tetap untuk menghindari perbedaan kuat medan magnet. 4) Konsentrat yang diperoleh dari pemisahan magnet, ditimbang dalam satuan gram. 5) Penentuan Berat Jenis insitu dilakukan dengan cara sebagai berikut: a) Penghitungan volume contoh dari bor berdasarkan perhitungan volume bagian dalam dari casing dengan rumus: V= x r2 x t, dengan V = Volume contoh = Konstanta (3,14) r = jari-jari bagian dalam casing t = ketinggian contoh dalam casing b) Penentuan berat dengan cara menimbang setiap interval contoh.

20

3.3. Kegiatan Setelah Pekerjaan Lapangan Analisa Laboratorium dilakukan setelah contoh-contoh telah dikumpulkan. Pekerjaan analisa laboratorium meliputi analisa kimia dan fisika. Analisa kimia dilakukan terhadap contoh individu untuk mengetahui kandungan unsur dalam konsentrat, antara lain: Fetotal (FeO dan Fe2O3, Fe3O4) dan Titan. Analisa fisika yang dilakukan antara lain analisa mineral butir, analisa ayak, analisa sifat magnetik dan berat jenis. Analisa mineral butir dilakukan untuk mengetahui jenis dan persen berat mineral baik untuk fraksi magnetik maupun nonmagnetik contoh yang dianalisa mineral butir berasal dari contoh komposit, yang mewakili wilayah/blok pemboran. Analisa ayak dimaksudkan untuk mengetahui ukuran butiran bijih besi yang dominan. Analisa ayak dilakukan terhadap contoh pilihan berasal dari bagian-bagian blok interval dalam bentuk contoh komposit berat 500 gram yang dibagi menjadi 6 fraksi, yakni: 1) butiran yang lebih besar + 2 mm atau + 10 mesh, 2) butiran antara 2 + 1mm atau 10 + 18 mesh, 3) butiran antara 1 + mm atau 18 + 35 mesh, 4) butiran antara 1/2 + mm atau 35 + 72 mesh, 5) butiran antara 1/4 + 1/8 atau 72 + 150 mesh, dan 6) butiran yang lebih kecil dari 1/8 mm. Masing-masing fraksi jumlahnya dinyatakan dalam persen berat yang dapat

21

digambarkan dalam bentuk diagram balok sehingga sebaran fraksi bijih besi yang dominan dapat diketahui. Analisa berat jenis dimaksudkan untuk mengetahui berat jenis bijih besi. Pengolahan Data dari hasil pengamatan dan analisa laboratorium diolah dan ditafsirkan secara seksama untuk memberikan gambaran tentang kondisi geologi daerah penelitian yang berkembang dari aspek genetik, posisi, hubungan serta distribusinya. Data hasil analisa MD dan pemboran dibuat profil penyebaran endapan pasir besi terhadap sumbu panjang (sejajar pantai) dan sumbu pendek (tegak lurus pantai) dan isograde.

Lokasi-lokasi pengambilan contoh diplot dalam peta topografi hasil pengukuran (Peta Lokasi Pengambilan Contoh dan Peta Isograde). Peta-peta yang dihasilkan bertujuan untuk keperluan penambangan, misalnya: peta isograde dan peta topografi serta penampang tegak sebaran bijih besi ke arah kedalaman baik sejajar garis pantai maupun yang memotong tegak lurus garis pantai. Bentuk bentuk gumuk pasir baik yang front maupun back dunes dipetakan secara rinci. Perhitungan sumber daya secara manual dilakukan dengan beberapa metode, antara lain: 1) Metode daerah pengaruh dengan rumus : C = (L x t) X MD x SG Dimana: C = Sumber daya dalam ton L = Luas daerah pengaruh dalam m2 t = Tebal rata-rata endapan pasir besi dalam meter

22

MD = prosentase kemagnetan dalam % SG = Berat Jenis dalam ton/m3 2) Metode Geostatistik Metode ini digunakan untuk membantu dalam perhitungan estimasi sumber daya/cadangan endapan bahan galian dimana nilai contoh merupakan realisasi fungsi acak (statistik spasial). Pada hipotesis ini, nilai contoh merupakan suatu fungsi dari posisi dalam cebakan, dan posisi relatif contoh dimasukkan dalam pertimbangan. Kesamaan nilai-nilai contoh yang merupakan fungsi jarak contoh serta yang saling berhubungan ini merupakan dasar teori statistik spasial. Metode ini jarang dilakukan dalam perhitungan estimasi sumber daya /cadangan bijih besi. Metode geostatistik yang digunakan dalam eksplorasi bijih besi adalah varian estimasi. Pada metode ini estimasi suatu cadangan dicirikan oleh suatu ekstensi/pengembangan satu atau beberapa harga yang diketahui terhadap daerah sekitarnya yang tidak dikenal. Ada beberapa cara estimasi yang sudah dikenal pada kegiatan pertambangan antara lain: a) Estimasi kadar rata-rata suatu cadangan bijih berdasarkan rata-rata suatu kadar yang didapat dari analisis contoh pemboran/sumur uji. b) Estimasi endapan bijih pada suatu tambang atau blok-blok penambangan dengan menggunakan sistem poligon sebagai daerah pengaruh, yang antara lain didasari oleh titik-titik pengamatan berikutnya, pembobotan secara proporsional yang berbanding terbalik dengan jarak dan lain-lain.

23

Tujuan dari penggunaan metode ini antara lain untuk memperoleh gambaran tiga dimensi dari bentuk endapan pasir besi. Pada penerapannya untuk perhitungan dalam geostatistik umumnya memerlukan bantuan komputer.

BAB IV PENUTUP

4.2. Kesimpulan

Besi merupakan bahan galian yang paling banyak dan beragam kegunaannya karena disebabkan oleh kelimpahan besi di kerak bumi sangat besar dan juga pengolahannnya relatif murah dan memerlukan biaya yang cukup murah.

24

Selain itu juga besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan (mempunyai banyak manfaat) dan dapat dengan mudah dimodifikasi. Besi merupakan unsur keempat yang berlimpah ditemukan di kerak bumi. Hingga saat ini telah banyak usaha untuk mengeksplorasi bahan galian ini karena pemanfaatannya yang sangat besar. Teknik pengeksplorasian besi sangat beragam tergantung dari tujuan yang ingin dicapai. Penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi di Indonesia sudah banyak dilakukan oleh berbagai pihak, sehingga diperlukan penyusunan pedoman teknis eksplorasi bijih besi. Pedoman dimaksudkan sebagai bahan acuan berbagai pihak dalam melakukan kegiatan penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi primer, agar ada kesamaan dalam melakukan kegiatan tersebut diatas sampai pelaporan. Berdasarkan pada sifat penyelidikan dan pendekatan teknologi yang digunakan, kegiatan eksplorasi dibedakan menjadi dua, yaitu eksplorasi langsung dan eksplorasi tak langsung. Beberapa metode eksplorasi langsung adalah : Pemetaan Geologi Tracing Float, Paritan, dan Sumur Uji Sampling Pemboran Eksplorasi Beberapa metode eksplorasi tak langsung adalah : Penginderaan jarak jauh Metode eksplorasi geokimia Metode eksplorasi geofisika

Tata cara eksplorasi bijih besi meliputi urutan kegiatan eksplorasi sebelum pekerjaan lapangan, saat pekerjaan lapangan dan setelah pekerjaan lapangan. Kegiatan sebelum pekerjaan lapangan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran
25

mengenai prospek cebakan bijih besi primer, meliputi studi literatur dan penginderaan jarak jauh. Penyediaan peralatan antara lain peta topografi, peta geologi, alat pemboran inti, alat ukur topografi, palu dan kompas geologi, loupe, magnetic pen, GPS, pita ukur, alat gali, magnetometer dan peralatan geofisika.

26