Anda di halaman 1dari 15

TRANSUDAT EKSUDAT

Oleh:
Chenso Sulijaya 0818011053
Febrina Dwiyanti 0918011044








KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JEND. AHMAD YANI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNILA
UNIVERSITAS LAMPUNG



TRANSUDAT dan EKSUDAT

Rongga-rongga serosa dalam badan normal mengandung sejumlah kecil cairan. Cairan
itu terdapat dalam rongga perikardium, rongga pleura, rongga perut dan berfungsi sebagai
pelumas agar membran-membran yang dilapisi mesotel dapat bergerak tanpa geseran. Jumlah
cairan itu dalam keadaan normal hampir tidak dapat diukur karena sangat sedikit. Jumlah itu
mungkin bertambah pada beberapa keadaan dan akan berupa transudat atau eksudat.

Fungsi dari transudat dan eksudat adalah sebagai respon tubuh terhadap adanya gangguan
sirkulasi dengan kongesti pasif dan oedema (transudat), serta adanya inflamasi akibat infeksi
bakteri (eksudat).

Transudat terjadi sebagai akibat proses bukan radang oleh gangguan kesetimbangan cairan
badan (tekanan osmosis koloid, stasis dalam kapiler atau tekanan hidrostatik, kerusakan endotel,
dsb.), sedangkan eksudat bertalian dengan salah satu proses peradangan.

Bila radang terjadi pada pleura, maka cairan radang juga dapat mengisi jaringan
sehingga terjadi gelembung. Cairan yang terjadi akibat radang mengandung banyak protein
sehingga berat jenisnya lebih tinggi dari pada plasma normal. Begitu pula cairan radang ini dapat
membeku karena mengandung fibrinogen. Cairan yang terjadi akibat radang ini disebut eksudat.
Jadi sifat-sifat eksudat ialah mengandung lebih banyak protein daripada cairan jaringan normal,
berat jenisnya lebih tinggi dan dapat membeku. Cairan jaringan yang terjadi karena hal lain dari
pada radang, misalnya karena gangguan sirkulasi, mengandung sedikit protein, berat jenisnya
rendah dan tidak membeku, cairan ini disebut transudat. Transudat misalnya terjadi pada
penderita penyakit jantung. Pada penderita payah jantung , tekanan dalam pembuluh dapat
meninggi sehingga cairan keluar dari pembuluh dan masuk ke dalam jaringan.

Berbagai jenis eksudat : eksudat ialah cairan dan sel yang keluar dari kapiler dan masuk
ke dalam jaringan pada waktu radang. Bila cairan eksudat menyerupai serum darah dan hanya
sedikit mengandung fibrin dan sel, maka eksudat bersifat cair sekali dan dinamai eksudat
bening/jernih. Eksudat bening sering terjadi pada radang tuberculosis yang mengisi rongga
pleura dapat berjumlah satu liter atau lebih.
Eksudat fibrinosa mengandung banyak fibrin sehingga melekat pada permukaan pleura,
merupakan lapisan kelabu/kuning yang ditemukan pada pneumonia. Mikroskopis eksudat ini
mengandung serabut fibrin dan dalam sela sela diantara serabut ini terdapat sel radang. Eksudat
fibrinosa terjadi bila permeabilitas kapiler bertambah banyak, yaitu karena molekul molekul
fibrin besar dapat keluar dari kapiler dan menjadi bagian daripada eksudat.
Eksudat purulen ialah eksudat yang terjadi daripada nanah. Nanah ini terjadi pada radang
akut yang mengandung banyak sel polinukleus yang kemudian musnah dan mencair karena lisis.
Sisa jaringan nekrotik yang mengalami lisis bersama dengan sel polinukleus yang musnah dan
limfe radang menjadi cairan yang disebut nanah. Eksudat hemoragik ialah eksudat radang yang
berwarna kemerahmerahan karena mengandung banyak eritrosit.
Pemeriksaan cairan badan yang tersangka transudat atau eksudat bermaksud untuk
menentukan jenisnya dan sedapat-dapatnya untuk mendapatkan keterangan tentang causanya.
Ciri-ciri transudat spesifik ; cairan jernih, encer, kuning muda, berat jenis mendekati 1010 atau
setidak-tidaknya kurang dari 1018, tidak menyusun bekuuan (tak ada fibrinogen), kadar protein
kurang dari 2,5 g/dl, kadar glukosa kira-kira sama seperti dalam plasma darah, jumlah sel kecil
dan bersifat steril.
Ciri-ciri eksudat spesifik ; keruh (mungkin berkeping-keping, purulent, mengandung darah,
chyloid,dsb.), lebih kental, warna bermacam-macam, berat jenis lebih dari 1018, sering ada
bekuan (oleh fibrinogen), kadar protein lebih dari 4,0 g/dl, kadar glukosa jauh kurang dari kadar
dalam plasma darah, mengandung banyak sel dan sering ada bakteri.






MEKANISME PEMBENTUKAN TRANSUDAT DAN EKSUDAT

Di dalam rongga serosa dalam keadaan normal terdapat sedikit cairan yang berfungsi
sebagai pergerakan alat-alat di dalam rongga tersebut. Dalam keadaan normal, cairan bergerak
antara pembuluh darah dan cairan ekstravaskuler, disini terdapat keseimbangan antara tekanan
koloid osmotic plasma dan tekanan hidrostatik yang mendorong cairan kedalam jaringan yang
menyebabkan cairan tetap tinggal dalam pembuluh darah.
Tetapi pada keadaan patologis tertentu, misalnya :
a. Tekanan hidrostatik meningkat
b. Tekanan koloid osmotic
c. Kenaikan filtrate kapiler dan protein spesifik
Keadaan-keadaan tersebut menyebabkan naiknya substansi tertentu dan pengumpulan cairan di
ekstravaskuler, molekul-molekul kecil seperti air, elektrolit, dan kristaloid akan berdifusi secara
cepat melewati plasma darah, sehingga terjadi penumpukan cairan, proses ini disebut dengan
istilah ULTRAFILTRASI.

Eksudat terjadi karena infeksi bakteri yang mengakibatkan peningkatan permeabilitas dinding
kapiler pembuluh darah.
Transudat eksudat dapat terjadi pada :
Sindroma nefrotik
Sirosis hepatis
Gagal jantung

MEKANISME PENIMBUNAN CAIRAN PASIF
Penimbunan cairan (efusi) terjadi akibat peningkatan tekanan hidrostatik, yang memaksa
cairan menembus keluar kapiler untuk masuk ke jaringan. Tekanan hidrostatik cenderung
mendorong cairan keluar, dan hal ini dilawan oleh tekanan dalam sirkulasi. Albumin dan protein-
protein di dalam darah berperan menimbulkan tekanan onkotik. Tekan hidrostatik di ujung
arterial biasanya sekitar 40 mmHg, dan tekanan onkotik 25 mmHg. Dengan demikian tekanan
positive yang mendorong cairan keluar ke dalam rongga serosa adalah 15 mmHg. Apabila
tekanan onkotik plasma berkurang, semakin banyak cairan yang didorong keluar, dan ini sering
merupakan penyebab efusi serosa.
Dalam keadaan normal, di ujung venosa kapiler tekanan hidrostatik turun menjadi sekitar
10 mmHg, dan tekanan osmotic koloid tetap 25 mmHg, yang melawan tekanan hidrostatik ini.
Dengan demikian terjadi tekanan negative sebesar 15 mmHg di ujung venosa, yang cenderung
menarik cairan masuk ke dalam pembuluh cairan. Setiap proses yang meningkatkan tekanan
hidrostatik di ujung venosa besar kemungkinannya menyebabkan penimbunan cairan secara
pasif. selain itu, setiap penurunan tekanan onkotik plasma akan mengurangi jumlah cairan yang
tertarik masuk ke dalam kapiler venosa.
Mekanisme lain yang mempermudah penimbunan pasif cairan, yang mungkin bersifat
local atau generalisata, adalah mekanisme alergi yang meningkatkan permeabilitas kapiler atau
obstruksi limfe. Hal ini pada gilirannya, mengurangi jumlah cairan ekstravaskuler yang
dibersihkan oleh system limfatik.
Eksudat terbentuk apabila lapisan kapiler atau membrane rusak oleh proses peradangan
atau neoplastik. Akibatnya protein berukuran besar dan konstituen darah lainnya bocor keluar
untuk masuk ke jaringan dan rongga tubuh. Pada peradangan aktif, kandungan protein pada
cairan ini meningkat.

CARA MEMPEROLEH BAHAN
Bahan (dari rongga perut, pleura, pericardium, sendi, kista, hidrocele,dsb.) didapat dengan
mengadakan pungsi. Karena tidak dapat diketahui terlebih dulu apakah cairan itu berupa
transudat atau eksudat, haruslah pertama-tama syarat bekerja steril diindahkan dan kedua untuk
menyediakan anticoagulant. Sediakanlah pada waktu melakukan pungsi selain penampung biasa
juga penampung steril (untuk biakan) dan penampung yang berisi larutan natrium citrat 20% atau
heparin steril.

Cairan yang diperoleh ditampung dalam 3 botol penampung :
Botol I : Steril untuk pemeriksaan bakteriologi
Botol II : Di tambah anticoagulant untuk pemeriksaan rutin
Botol III : Tanpa anticoagulant untuk pemeriksaan kimia.
Yang harus diperhatikan pada waktu pungsi adalah Pengambilan cairan tidak boleh seluruhnya
karena :
Untuk menghindari terjadinya shock
Pada cairan ascites banyak mengandung protein
Guna pemeriksaan :
Untuk menentukan jenis cairan yang diperiksa
Mengusahakan mencari penyebabnya
Syarat pemeriksaan :
Harus dilakukan dengan cepat karena mudah terjjadi desintegrasi, oleh karena itu
pemeriksaan yang pertama kali dilakukan adalah pemeriksaan cytology.

PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS
1. Jumlah
Ukurlah dan catatlah volume yang didapat dengan pungsi. jika semua cairan dikeluarkan jumlah
itu memberi petunjuk tentang luasnya kelainan.

2. Warna
Mungkin sangat berbeda-beda. Agak kuning, kuning bercampur hijau, merah jambu, merah,
putih serupa susu, dll. Bilirubin memberi warna kuning kepada transudat. darah menjadikannya
merah atau coklat, pus memberi warna putih-kuning, chylus putih serupa susu, B.pyocyaneus
biru-hijau. Warna transudat biasanya kekuning-kuningan, sedangkan eksudat dapat berbeda-beda
warnanya dari putih melalui kuning sampai merah darah sesuai dengan causa peradangan dan
beratnya radang. Warna eksudat oleh proses radang ringan tidak banyak berbeda dari warna
transudat.

3. Kejernihan
Inipun mungkin sangat berbeda-beda dari jernih, agak keruh sampai sangat keruh. Transudat
murni kelihatan jernih, sedangkan eksudat biasanya ada kekeruhan. Jika mungkin, kekeruhan
yang menunjuk kepada sifat eksudat itu dijelaskan lebih lanjut sebagai umpamanya
serofibrineus, seropurulent, serosanguineus, hemoragik, fibrineus, dll.
Kekeruhan pada transudat eksudat terutama disebabkan oleh
Leukosit : Kekeruhan yang sangat ringan sampai dengan seperti bubur.
Erytrocyt : Kekeruhan berwarna kemerah-merahan
Adanya kekeruhan pada transudat eksudat dinyatakan dengan:
Serous
Seropurulent
Serosanguinis
Putrid
Purulent
Serofibrinous

4. Bau
Biasanya baik transudat maupun eksudat tidak mempunyai bau bermakna, kecuali kalau terjadi
pembusukan protein. Infeksi dengan kuman anaerob dan oleh E.coli mungkin menimbulkan bau
busuk, demikian adanya bau mengarah ke eksudat.

5. Berat Jenis
Harus segera ditentukan sebelum kemungkinan terjadinya bekuuan. Penetapan ini penting untuk
menentukan jenis cairan. Kalau jumlah cairan yang tersedia cukup, penetapan dapat dilakukan
dengan urinometer, kalau hanya sedikt sebaiknay memakai refraktometer. Seperti sudah
diterangkan, nilai berat jenis dapat ikut memberi petunjuk apakah cairan mempunyai ciri-ciri
transudat atau eksudat.

6. Bekuan
Perhatikan terjadinya bekuan, dan terangkan sifatnya (renggang, berkeping, berbutir, sangat
halus, dll). Bekuan itu tersusun dari fibrin dan hanya didapat pada eksudat. Kalau dikira cairan
yang dipungsi barsifat eksudat, campurlah sebagian dari cairan itu dengan anticoagulant supaya
tetap cair dan dapat dipakai untuk pemeriksaan lain-lain.
Bekuan yang terjadi sangat lambat pada transudat karena kadar fibrinogen yang rendah disebut
FIBRINOUS SWAB / PELICLE.

PEMERIKSAAN KIMIA
Pemeriksaan kimia biasanya dibatasi saja kepada kadar glukosa dan protein dalam cairan
itu. Alasannya ialah cairan rongga dalam keadaan normal mempunyai susunan yang praktis
serupa dengan susunan plasma darah tanpa albumin dan globulin-globulin. Transudat
mempunyai kadar glukosa sama sperti plasma, sedangkan eksudat biasanya berisi kurang banyak
glukosa teristimewa jika eksudat itu mengandung banyak leukosit.
Protein dalam transudat dan eksudat praktis hanya fibrinogen saja. Dalam transudat
kadar fibrinogen rendah, yakni antara 300-400 mg/dl dan dalam eksudat kadar protein 4-6 g/dl.
Percobaan Rivalta
Test yang sudah tua ini tetap masih berguna dalam upaya membedakan transudat dan eksudat
dengan cara amat sederhana.
Tujuan : Membedakan transudat dan eksudat
Prinsip : Seromucin yang terdapat dalam eksudat dan tidak terdapat dalam transudat akan
bereaksi dengan asam acetat encer membentuk kekeruhan yang nyata.
Cara kerja :
1. Kedalam becker glass 100 ml dimasukkan 100 ml aquadest.
2. Tambahkan 1 tetes asam asetat glacial dan campurlah.
3. Jatuhkan 1 tetes cairan yang diperiksa ke dalam campuran ini, dilepaskan kira-kira 1 cm dari
atas permukaan.
4. Perhatikan tetesan itu bercampur dan bereaksi dengan cairan yang mengandung asam asetat.
ada tiga kemungkinan :
a. Tetesan itu bercampur dengan larutan asam asetat tanpa menimbulkan kekeruhan sama
sekali. Hasil test adalah negative.
b. Tetesan itu mengadakan kekeruhan yang sangat ringan serupa kabut halus. Hasil test
positive lemah.
c. Tetesan itu membuat kekeruhan yang nyata seperti kabut tebal atau dalam keadaan
ekstrem satu presipitat yang putih. hasil test positive .

Catatan :
Cara ini berdasarkan seromucin yang terdapat dalam eksudat, tetapi tidak dalam transudat.
Percobaan ini hendaknya dilakukan beberapa kali untuk mendapatkan hasil yang dapat diandali.
Hasil positive didapat pada cairan yang bersifat eksudat. Transudat biasanya menjadikan test ini
positive lemah. Kalau transudat sudah beberapa kalii dispungsi, maka transudatpun mungkin
menghasilkan kekeruhan serupa yang dari eksudat juga. Cairan rongga badan normal, yaitu yang
bukan transudat atau eksudat dalam arti klinik, menghasilkan test negative.

Kadar protein
Menentukan kadar protein dalam cairan rongga tubuh dapat membantu klinik dalam
membedakan transudat dari eksudat. Kadar protein dalam transudat biasanya kurang dari 2,5
g/dl sedangkan eksudat berisi lebih dari 4 g/dl. Penetapan ini tidak memerlukan cara yang teliti.
Cara :
1. Tetapkan lebih dahulu berat jenis cairan itu.
2. Klau berat jenis 1010 atau kurang, adakanlah pengenceran 5-10 kali. Kalau berat jenis lebih
dari 1010 buatlah pengenceran 20 kali.
3. Lakukanlah penetapan menurut Esbach dengan cairan yang telah diencerkan itu. Dalam
memperhitungkan hasil terakhir ingatlah pengenceran yang tadi dibuat.
Catatan :
Cara Esbach telah cukup teliti untuk dipakai dalam klinik. Pengenceran yang diadakan itu
bermaksud agar kadar protein dalam cairan yang diencerkan mendekati nilai 4 g/liter, ialah kadar
yang memberi hasil yang sebaik-baiknya pada cara Esbach.
Dari berat jenis cairan bersangkutan juga sudah dapat didekati nilai protein dengan memakai
rumus :
(berat jenis 1,007) x 343 = g protein/100 ml cairan. Maka atas perhitungan itu
b.d. 1,010 sesuai dengan 1 g protein per 100 ml
b.d. 1,015 sesuai dengan 2,5 g protein per 100 ml
b.d. 1,020 sesuai dengan 4,5 g protein per 100 ml
b.d. 1,025 sesuai dengan 6 g protein per 100 ml.
Dalam rumus dan perhitungan di atas berat jenis air sama dengan 1,000.




Zat lemak
Transudat tidak mengandung zat lemak, kecuali kalau tercampur dengan chylus. Dalam eksudat
mungkin didapat zat lemak, disebabkan oleh karena dinding kapiler dapat ditembus olehnya.
Keadaan itu sering dipertalikan dengan proses tuberculosis.
Kadang-kadang dilihat cairan yang putih serupa susu. Dalam hal itu perlu mengetahui apakah
putihnya cairan itu disebabkan chylus atau oleh zat lain.
Cara :
1. Berilah larutan NaOH 0,1 N kepada cairan sehingga menjadi lindi.
2. Lakukan ekstraksi dengan eter. Jika cairan itu menjadi jernih, putihnya disebabkan oleh
chylus.
3. Jika tidak menjadi jernih, puutihnya mungkin disebabkan oleh lecithin dalam keadaan emulsi.
Untuk menyatakan lecithin dilakukan test sebagai berikut :
a. Encerkanlah larutan itu 5x dengan etilalkohol 95%
b. Panasilah berhati-hati dlam bejana air. Kalau cairan menjadi jernih, putihnya disebabkan oleh
lecithin. Untuk lebih lanjut membuktikannya teruskanlah percobaan dengan :
c. Saringlah cairan yang telah menjadi jernih itu dalam keadaan masih panas.
d. Filtratnya ditampung dan diuapkan diatas air panas sampai volume menjadi sebesar semula
(sebelum diberi etilalkohol) dan biarkan menjadi dingin lagi.
e. Kalau menjadi keruh lagi, adanya lecithin terbukti. Kekeruhan itu bertambah kalau diberi
sedikit air.

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS
Menghitung jumlah sel dalam cairan eksudat atau transudat tidak selalu mendatangkan
manfaat. Jikalau sekiranya diperkirakan akan terjadi bekuan, perlulah cairan setelah pungsi di
campur dengan anticoagulans, umpamanya larutan Na citrate 20% untuk tiap 1 ml cairan dipakai
0,01 ml larutan citrate itu.
Sel yang dihitung biasanya hanya leukosit (bersama sel-sel berinti lain seperti sel mesotel, sel
plasma, dsb.0 saja. Menghitung jumlah erytrosit jarang sekali dilakukan karena tidak bermakna.

Menghitung jumlah leukosit
Kalau cairan berupa purulent, tidak ada gunanya untuk menghitung jumlah leukosit. Tindakan ini
baiklah hanya dilakukan dengan cairan yang jernih atau yang agak keruh saja. Pada cairan jernih
pakailah pengenceran seperti dipakai untuk menghitung jumlah leukosit dalam cairan otak.
Untuk cairan yang agak keruh, pilihlah pengenceran yang sesuai. Bahan pengenceran sebaiknya
larutan NaCl 0,9%, jangan larutan turk, Karena cairan turk itu mungkin menyebabkan terjadinya
bekuan dalam cairan.
Cairan yang berupa transudat biasanya mengandung kurang dari 500 sel/ul. semakin tinggi angka
itu semakin besar kemungkinan cairan tersebut bersifat eksudat.

Menghitung jenis sel
Menghitung jenis sel biasanya hanya membedakan dua golongan jenis sel yaitu golongan yang
berinti satu yang digolongkan dengan nama limfosit dan golongan sel polinuklear atau
segment. Dalam golongan limfosit ikut terhitung limfosit, sel-sel mesotel, sel plasma, dsb.
Perbandingan banyak sel dalam golongan golongan itu memberi petunjuk kearah jenis radang
yang menyebabkan atau menyertai eksudat itu.
Cara :
1. Sedian apus dibuat dengan cara berlain-lainan tergantung sifat cairan itu :
a. jika cairan jernih, sehingga diperkirakan tidak mengandung banyak sel, pusinglah 10-15 ml
bahan. Cairan atas dibuang dan sediment dicampur dengan beberapa tetes serum penderita
sendiri. Buatlah sediaan apus dari campuran itu.
b. Kalau cairan keruh sekali atau purulent, buatlah sediaan apus langsung memakai bahan itu.
Jika terdapat bekuan dalam cairan, bekuan itulah yang dipakai untuk membuat sediaan tipis.
2. Pulaan sediaan itu dengan Giemsa atau Wright.
3. Lakukan hitung jenis atas 100-300 sel. Hitung jenis itu hanya membedakan limfosit dari
segment
Catatan :
Hasil hitung jenis dapat memberikan keterangan tentang jenis radang yang menyertai proses
radang akut hampir semua sel berupa segment. Semakin tenang proses itu semakin bertambah
limfositnya, sedangkan radang dan rangsang menahun menghasilkan hanya limfosit saja dalam
hitung jenis.
Pemeriksaan sitologik terhadap adanya sel-sel abnormal, teristimewa sel-sel ganas sangat
penting. Sitodiagnostik semacam itu tidak dapat dilakukan dengan cara seperti di atas, melainkan
mewajibkan teknik khusus menurut Papanicolaou.

Perbedaan Transudat dan Eksudat



















Parameter transudat eksudat
BJ < 1.016 > 1,016
Protein (mg/d) <3,0 > 3,0
Rasio fkuid : serum < 0,5 >0,5
LD IU <200 >200
Rasio fluid serum <0,6 >0,6
Rasio fluid diatas limit < 2:3 >2:3
Normal serum <1000/mm3 >1000/mm3
Jumlah lekosit rendah bervariasi rendah-gross
Eritrosit sana dengan serum < serum
Glukosa <55 >55
Parameter Transudat Eksudat
Kolesterol (md/dl) <0,32 >0,32
PH 7,4-7,5 7,35-7,45 \
Kekeruhan jernih keruh
Warna kuning muda bervariasi
Light's Criteria
Determination of transudate versus exudate source of pleural effusion
Fluid is exudate if one of the following Lights criteria is present:
[1, 2, 3, 4]

Effusion protein/serum protein ratio greater than 0.5
Effusion lactate dehydrogenase (LDH)/serum LDH ratio greater than 0.6
Effusion LDH level greater than two-thirds the upper limit of the laboratory's reference
range of serum LDH
Exudative effusions
Abdominal fluid: Abscess in tissues near lung, ascites, Meigs syndrome, pancreatitis
Connective-tissue disease: Churg-Strauss disease, lupus, rheumatoid arthritis, Wegener
granulomatosis
Endocrine: Hypothyroidism, ovarian hyperstimulation
Iatrogenic: Drug-induced, esophageal perforation, feeding tube in lung
Infectious: Abscess in tissues near lung, bacterial pneumonia, fungal disease, parasites,
tuberculosis
Inflammatory: Acute respiratory distress syndrome (ARDS), asbestosis, pancreatitis,
radiation, sarcoidosis, uremia
Lymphatic abnormalities: Chylothorax, malignancy, lymphangiectasia
Malignancy: Carcinoma, lymphoma, leukemia, mesothelioma, paraproteinemia
Transudative effusions
Atelectasis: Due to increased negative intrapleural pressure
Cerebrospinal fluid (CSF) leak into pleural space: Thoracic spine injury,
ventriculoperitoneal (VP) shunt dysfunction
Heart failure
Hepatic hydrothorax
Hypoalbuminemia
Iatrogenic: Misplaced catheter into lung
Nephrotic syndrome
Peritoneal dialysis
Urinothorax: Due to obstructive uropathy

Exceptions
These are processes that typically cause exudative effusions, but may cause transudative
effusions.
Amyloidosis
Chylothorax
Constrictive pericarditis
Hypothyroid pleural effusion
Malignancy
Pulmonary embolism
Sarcoidosis
Superior vena cava obstruction
Trapped lung
Leading causes of pleural effusion
Congestive heart failure (transudate), incidence 500,000/year
Pneumonia (exudate), incidence 300,000/year
Cancer (exudate), incidence 200,000/year
Pulmonary embolus (transudate or exudate), incidence 150,000/year
Viral disease (exudate), incidence 100,000/year
Coronary-artery bypass surgery (exudate), incidence 60,000/year
Cirrhosis with ascites (transudate), incidence 50,000/year











Test sensitivity and specificity for exudate
Table 1. Test Sensitivity and Specificity for Exudate (Open Table in a new window)
Sensitivity, % Specificity, %
Lights criteria 98 83
Protein/serum protein ratio >0.5 85 84
LDH/serum LDH ratio >0.6 90 82
LDH >2/3 upper limits of serum normal 82 89
Pleural-fluid cholesterol level >60 mg/dL 54 92
Pleural-fluid cholesterol level >43 mg/dL 75 80
Pleural-fluid/serum cholesterol ratio >0.3 89 81
Serum/pleural-fluid albumin level 1.2 g/dL 87 92

Referensi
1. Light RW, Macgregor MI, Luchsinger PC, Ball WC Jr. Pleural effusions: the diagnostic
separation of transudates and exudates. Ann Intern Med. Oct 1972;77(4):507-
13. [Medline].
2. Light RW, Erozan YS, Ball WC Jr. Cells in pleural fluid. Their value in differential
diagnosis. Arch Intern Med. Dec 1973;132(6):854-60. [Medline].
3. Ali HA, Lippmann M, Mundathaje U, Khaleeq G. Spontaneous hemothorax: a
comprehensive review. Chest. Nov 2008;134(5):1056-65. [Medline].
4. Light RW. Clinical practice. Pleural effusion. N Engl J Med. Jun 20 2002;346(25):1971-
7. [Medline].