Anda di halaman 1dari 17

TATAKELOLA PERUSAHAAN

KASUS 13: HASIL PENILAIAN BANK DUNIA ROSC


TERHADAP CORPORATE GOVERNANCE DI NEGARA-
NEGARA ASEAN











Stephanie Indah Mulya / 1106060646
Inez Belinda / 1106060652
Leonardo Hamonangan / 1106075111
Louis Bernardus Dupa Sangkrista / 1106075704


FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
Juni 2014
Kata Pengantar

Pertama-tama, puji syukur penulis sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan kasih karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Tata Kelola Perusahaan
ini dengan baik. Penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih penulis kepada Ibu Cut Saskia
Rahman sebagai dosen mata kuliah Tata Kelola Perusahaan, sehingga penulis dapat mengerjakan tugas
makalah ini di bawah bimbingan Beliau dengan lancar.
Dalam makalah ini, penulis membahas kajian ROSC yang dipublikasikan oleh World Bank pada
tahun 2010 yaitu pengenai penerapan prinsip-prinsip corporate governance dalam OECD pada
perusahaan-perusahaan di Indonesia dan perbandingannya dengan negara-negara ASEAN lainnya.
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat berupa pemahaman yang lebih komprehensif
dan singkat mengenai hasil kajian tersebut untuk setiap pembaca.
Tidak ada gading yang tak retak, begitulah kata pepatah, menggambarkan bahwa tidak ada upaya
manusia yang sempurna. Begitu pun karya makalah penulis ini, tidak luput dari kesalahan-kesalahan.
Penulis memohon maaf atas semua kesalahan yang mungkin terdapat dalam makalah ini, dan penulis juga
menantikan saran dan kritik terhadap hasil karya penulis. Akhir kata, penulis hendak menyampaikan rasa
terima kasih penulis atas waktu dan perhatian yang telah diberikan terhadap makalah ini.

Depok, 4 Juni 2014



Penulis
Statement of Authorship
Kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah terlampir adalah murni hasil
pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa menyebutkan
sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada mata ajaran
lain kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menyatakan dengan jelas menggunakannya.
Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan
untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.
Mata Ajaran : Tata Kelola Perusahaan
Judul Makalah/Tugas : Kasus 13: Hasil Penilaian Bank Dunia Rosc Terhadap Corporate
Governance di Negara-Negara Asean
Tanggal : 4 Juni 2014
Dosen : Cut Saskia Rahman
Dibuat Oleh
- Nama : Stephanie Indah Mulya
NPM : 1106060646
Tandatangan :

- Nama : Inez Belinda
NPM : 1106060652
Tandatangan :

- Nama : Leonardo Hamonangan
NPM : 1106075111
Tandatangan :

- Nama : Louis Bernardus Dupa Sangkrista
NPM : 1106075704
Tandatangan :

1. Corporate Governance Framework
Berdasarkan prinsip OECD yang pertama, sebuah Corporate Governance Framework
harus mendorong pasar yang transparan dan efisien, konsisten dengan peraturan hukum, dan
mengartikulasi dengan jelas mengenai pembagian tanggung jawab di antara berbagai fungsi
pengawasan, fungi regulasi, dan fungsi penegak hukum.
Corporate Governance Framework yang diobservasi dalam Report on the Observance of
Standards and Codes (ROSC) adalah kepatuhan dalam penerapan good corporate
governance pada perusahaan-perusahaan yang berbasis di Indonesia. Dalam risetnya, World
Bank membagi kategori Corporate Governance Framework ini menjadi empat sesuai dengan
poin-poin subprinsip pertama OECD, yaitu framework corporate governance secara
keseluruhan, framework legal yang transparan dan dapat diterapkan, pemisahan yang jelas
antara kewajiban-kewajiban dalam hal regulasi, dan otoritas, integritas, dan sumber-sumber
peraturan. Berikut adalah hasil penelitian World Bank terhadap corporate governance
framework di Indonesia.



Grafik di atas menunjukkan hasil observasi World Bank mengenai Corporate
Governance Framework di Indonesia. Angka-angka tersebut menunjukkan persentase
penerapan corporate governance framework dan dapat dikategorikan ke dalam empat bagian,
yang pertama yaitu angka >95% menunjukkan implementasi keseluruhan (fully
implemented), 75-95 menunjukkan implementasi sebagian besar (broadly implemented), 35-
75 menunjukkan implementasi sebagian (partially implemented), dan <35 menunjukkan tidak
ada implementasi (not implemented).
Dapat kita lihat bahwa penerapan subprinsip A yaitu corporate governance framework
secara keseluruhan hanya mencapai angka 65 yang berarti hanya sebagian
diimplementasikan. Transparansi dan penerapan framework legal serta otoritas, integritas,
dan sumber-sumber peraturan juga menunjukkan angka yang tidak jauh berbeda yaitu 69 dan
67. Walaupun demikian, pemisahan yang jelas antara kewajiban-kewajiban regulator sudah
diimplementasikan dengan cukup baik dan mendapat poin sebesar 88.
Pada kenyataannya, dalam studi penerapan prinsip-prinsip OECD 2004 yang dikeluarkan
oleh Bapepam-LK disebutkan bahwa peraturan perundangan secara umum telah sejalan
dengan prinsip OECD. Jadi, rendahnya nilai penerapan prinsip OECD yang pertama ini
bukan disebabkan oleh minimnya peraturan perundangan, namun karena implementasinya
belum seratus persen sesuai dengan prinsip pertama OECD maupun peraturan perundang-
undangan yang berlaku.



Apabila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya yaitu Malaysia, Thailand,
Filipina, dan Vietnam, Indonesia kira-kira berada di tengah-tengah. Namun perlu
diperhatikan bahwa tahun angka-angka pada grafik di atas tersebut dipuublikasikan berbeda-
beda, serta metodologi penilaiannya juga belum tentu sama. Hal itu menyebabkan kita tidak
dapat membandingkan nilai kelima negara tersebut dengan apple to apple. Persentase
penerapan prinsip pertama OECD di Indonesia menurut publikasi ROSC tahun 2009
menunjukkan angka 72%, kalah dengan Malaysia dan Thailand pada tahun 2005 yang
mendapat nilai 85%. Namun, Indonesia masih mendapat nilai yang lebih tinggi dibandingkan
dengan Filipina yang mendapat nilai 60% pada publikasi ROSC tahun 2006 dan Vietnam
yang mendapat nilai 41% pada publikasi tahun 2006.

2. Shareholder Rights
Prinsip Corporate Governance dari OECD yang kedua mewajibkan framework tata
kelola perusahaan yang diterapkan harus melindungi dan memfasilitasi pelaksanaan hak
pemegang saham. Adapun hak pemegang saham yang dimaksud adalah hak metode registrasi
kepemilikan, hak mentransfer saham, mendapatkan informasi yang material dan relevan
terkait perusahaan secara reguler, berpartisipasi dalam rapat umum pemegang saham,
memilih dan menurunkan anggota direksi, dan mendapatkan bagian dari keuntungan
perusahaan.

(sumber: Detailed Country Assessment Indonesia, April 2010)
Berdasarkan observasi World Bank pada tahun 2010, ditemukan bahwa terdapat
disparitas yang cukup tinggi dari nilai-nilai antarsubprinsip, dengan rata-rata poin sebesar 77
(broadly implemented). Nilai ini cukup moderat namun mengindikasikan masih adanya
penerapan yang buruk dari prinsip kedua OECD pada beberapa poin. Dapat dilihat pada
grafik di atas, terdapat satu subprinsip yang masuk ke kategori not implemented, atau belum
diterapkan, yaitu pengungkapan kontrol yang tidak seimbang dengan poin 25. Selain itu, nilai
yang relatif rendah juga ditunjukkan dari banyaknya subprinsip yang masuk ke dalam
kategori partially implemented, beberapa diantaranya yaitu pada subprinsip pengungkapan
tatakelola dan kebijakan voting oleh investor institusi (38 poin), pelaksanaan fasilitasi hak
kepemilikan (42 poin), dan pengungkapan manajemen konflik kepentingan oleh investor
institusi (46 poin). Pada subprinsip disproportionate control disclosure, ditemukan bahwa
tidak ada regulasi atau undang-undang yang mengatur mekanisme untuk disproportionate
control, pengungkapan perjanjian antarpemegang saham, walaupun masih ada regulasi
Bapepam-LK nomor IX.C.1, IX.C.2, IX.C.3 yang mengatur pengungkapan struktur
perusahaan dalam prospektus penawaran publik. Pengungkapan capital structure juga
untungnya masih diatur dalam peraturan Bapepam-LK X.K.6, VIII.G.7. Meskipun demikian,
aturan pengungkapan itu masih sebatas pada satu level perusahaan, dimana banyak dari
perusahaan listed di BEI memiliki struktur kepemilikan berbentuk piramida, sehingga sulit
bagi non-controlling shareholder untuk mengidentifikasi ultimate owner dari perusahaan.
Kendati demikian, pada penerapan prinsip kedua ini, teradapat lima subprinsip yang
masuk ke dalam kategori fully implemented, dimana empat diantaranya mendapatkan nilai
penuh. Skor ini mengindikasikan bahwa regulasi dan iklim corporate governance di
Indonesia telah berhasil memfasilitasi transfer hak, hak partisipasi dan memilik dalam RUPS,
memilih dan menurunkan anggota direksi, serta mengizinkan pemegang saham untuk
berkonsultasi satu sama lain. Transfer hak dilindungi oleh payung hukum UU no 40 tahun
2007 pasal 59, dimana perusahaan listed tidak diperbolehkan untuk membatasi transfer
kepemilikan. Dalam UU no 40 tahun 2007 pasal 52 pasal 1(a), terdapat pula kerangka hukum
yang memberikan hak bagi pemegang saham untuk menghadiri dan mengeluarkan suara
dalam RUPS. Untuk subpoin hak memilih dan menurunkan anggota direksi, dasar
hukumnya terdapat pada pasal 94, 105, dan 111 UU no 40 tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas. Dengan demikian, maka di Indonesia anggota direksi diangkat oleh RUPS (dimana
ada partisipasi pemegang saham), dan dapat diberhentikan sewaktu-waktu oleh RUPS
berdasarkan alasan tertentu, serta pemilihan Dewan Komisaris pun juga dipilih oleh RUPS.

(sumber: Detailed Country Assessment Indonesia, April 2010)
Figur di atas menggambarkan perbandingan tingkat implementasi prinsip kedua OECD
di-antara negara-negara di ASEAN dan India. Berdasarkan assessment hingga tahun 2009,
Indonesia telah berhasil mendapatkan peringkat ketiga dari segi poin rata-rata, dimana poin
tertinggi diraih oleh India (85 poin), yang diikuti Malaysia dan Thailand (masing-masing 78
poin). Namun, perbandingan ini memiliki kelemahan, yaitu observasi dilakukan pada tahun
yang berbeda, serta metodologi observasi tidak persis sama. Dapat dilihat bahwa Indonesia
telah berhasil memperbaiki diri, yang diindikasikan dengan peningkatan skor secara
signifikan, dari 56 poin di tahun 2004 ke 77 poin di tahun 2009. Dengan demikian, dapat
ditarik kesimpulan bahwa hak pemegang saham semakin dilindungi di Indonesia.

3. Equitable Treatment of Shareholders
Pada prinsip OECD yang ketiga, dikatakan bahwa kerangka tata kelola perusahaan harus
dapat menjamin perlakuan yang setara terhadap seluruh pemegang saham, termasuk
minoritas dan pemegang saham asing. Semua pemegang saham harus memiliki kesempatan
untuk memperoleh kompensasi yang efektif apabila terjadi pelanggaran terhadap hak hak
mereka. Tertulis bahwa pemegang saham harus memiliki hak hak yang sama. Investor
harus memperoleh akses terhadap informasi atas hak yang mereka dapatkan sebelum mereka
memperoleh saham tersebut. Segala perubahan atas hak voting harus mendapatkan
persetujuan dari pemegang saham bersangkutan. Prinsip ini juga mengharuskan adanya
perlindungan terhadap pemegang saham minoritas atas benturan kepentingan yang mungkin
terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Insider trading dan abusive self dealing
dilarang dan dewan harus mencantumkan apabila mereka memiliki kepentingan pribadi yang
material atas setiap transaksi yang mempengaruhi perusahaan baik secara langsung maupun
tidak langsung.
Bank Dunia menilai Indonesia dengan skor 78 atas prinsip ketiga OECD ini, yaitu
Equitable Treatment of Shareholders. Subprinsip dengan nilai tertinggi diperoleh oleh nomor
empat yaitu penghapusan halangan atas cross border voting dengna nilai 95. Hal ini
menunjukkan bahwa perusahaan perusahaan di Indonesia yang memiliki pemegang saham
luar negeri telah memiliki sistem yang baik dalam melakukan pengambilan keputusan yang
melibatkan seluruh pihak termasuk pemegang saham asing yang tidak berada di Indonesia.
Sementara itu nilai terendah diperoleh oleh subprinsip yang ketujuh, yaitu pengungkapan
kepentingan yang dilakukan oleh dewan dengan nilai 58 atau baru diterapkan secara parsial
dan belum menyeluruh. Subprinsip ini mengatur bahwa dewan, baik itu dewan direksi,
komisaris, ataupun dewan lainnya di dalam perusahaan, harus mengungkapkan bisnis
pribadi, keluarga, kerabat, ataupun hubungan lain yang memungkinkan terjadinya benturan
kepentingan dengan perusahaan tempat dewan tersebut menjabat. Benturan kepentingan
tersebut dapat berupa pengambilan keputusan maupun transaksi transaksi.
Subprinsip kedua dan ketiga juga masih menempati nilai yang cukup rendah yaitu 67 dan
64. Kedua subprinsip ini menilai mengenai perlakuan yang adil terhadap pemegang saham
minoritas. Nilai kedua yang tertinggi diperoleh oleh subprinsip voting yang dilakukan oleh
kustodian dengan persetujuan pemegang hak yang sebenarnya.
Dibandingkan dengan negara negara Asia, Indonesia pada tahun 2009 memiliki nilai
yang cukup tinggi yaitu 75. Nilai ini berkembang cukup pesat dibandingkan dengan tahun
2004 yang hanya memperoleh nilai 60. Thailand yang pada tahun 2005 memiliki nilai 77,
mengalami penurunan nilai menjadi 76 pada tahun 2013. Sebaliknya, Malaysia mengalami
kenaikan sebesar dua nilai menjadi 79 pada tahun 2012.




4. Equitable Treatment of Stakeholder
Prinsip keempat OECD mengatakan bahwa kerangka tatakelola perusahaan harus
mengakui adanya hak hak pemegang kepentingan yang terikat secara hukum atau melalui
perjanjian kedua belah pihak dan mendorong terciptanya kerjasama yang aktif antara
korporasi dengan pemegang kepentingan dalam menciptakan kekayaan, pekerjaan, dan
keberlangsungan finansial perusahaan.
Dinyatakan bahwa hak hak pemegang kepentingan, baik yang telah diatur secara
hukum maupun atas perjanjian kedua belah pihak, harus dihargai. Pemegang kepentingan
yang diatur secara hukum harus memiliki kesempatan untuk mendapatkan kompensasi yang
pantas apabila hak hak mereka terlanggar. Mekanisme yang baik juga harus disusun untuk
menjamin dihargainya kinerja karyawan. Pemegang kepentingan yang berpartisipasi dalam
tatakelola perusahaan juga harus memiliki akses yang relevan, luas, dan dapat diandalkan,
dengan waktu yang berkala. Isu isu terkait dengan tindakan yang illegal ataupun tidak
beretika harus dapat dikomunikasikan secara bebas oleh pemegang kepentingan kepada
dewan dan hak mereka tidak boleh terganggu oleh karena laporan tersebut. Kerangka juga
harus dibuat secara efektif dan efisien dan secara jelas menyatakan peran dan hak hak yang
dimiliki oleh kreditur.

Indonesia memiliki nilai yang tinggi pada subprinsip yang ketiga yaitu mengenai akses
atas informasi. Nilai 92 tersebut diperoleh karena adanya keterbukaan dan memang telah
diwajibkan bagi perusahaan untuk secara berkala menerbitkan laporan tahunan yang berisi
informasi informasi penting perusahaan. Nilai paling rendah yaitu 38 diperoleh oleh
subprinsip yang keempat yaitu perlindungan terhadap whistleblower. Hal ini menunjukkan
bahwa perlindungan terhadap pelapor whistleblower masih belum terjamin dan hak hak
mereka masih dapat terganggu. Tentu saja ini merupakan isu sangat penting yang harus
diperbaiki di Indonesia

Dibandingkan dengan negara negara Asia, Indonesia pada tahun 2009 memiliki nilai
73. Nilai ini terpaut cukup jauh dengan Malaysia yang telah memperoleh nilai 87 pada tahun
2005. Sisi positif yang dapat kita lihat adalah terjadi peningkatan atau tren positif terhadap
nilai Indonesia yang beranjak dari 60 pada tahun 2004 menjadi 73 pada tahun 2009. Dengan
adanya perbaikan secara menyeluruh dan terus menerus, diharapkan agar Indonesia dapat
terus meningkatkan nilai pada prinsip empat OECD ini.
5. Disclosure & Transparency
Prinsip OECD yang kelima mengharuskan bahwa sebuah entitas terbuka atas segala
informasi mengenai dirinya dan informasi ini harus disampaikan tepat waktu dan akurat
terutama untuk semua hal yang material berkaitan dengan perusahaan. Termasuk di dalam
hal material ini adalah keadaan keuangan, kinerja, kepemilikan, dan tatakelola perusahaan.
Prinsip keterbukaan dan transparansi ini terbagi lagi menjadi enam subprinsip. Di Indonesia
sendiri, implementasi prinsip OECD kelima ini terlihat seperti yang tertera pada figur di
bawah yang disusun berdasarkan penilaian Bank Dunia atas penerapan corporate governance
di Indonesia.

(sumber: Detailed Country Assessment Indonesia, April 2010)
Dari perolehan angka diatas, disimpulkan bahwa tidak ada prinsip yang benar benar
diterapkan secara keseluruhan oleh Indonesia. Hanya subprinsip A1 mengenai laporan
keuangan dan operasional saja yang hampir diimplementasikan secara keseluruhan.
Sementara itu, subprinsip A8 mengenai struktur dan kebijakan tatakelola justru paling sedikit
penerapannya di Indonesia dengan poin 44 atau implementasinya dilakukan sebagian.
Penerapan peraturan yang mendukung kriteria keterbukaan dan transparansi di Indonesia
memiliki rata rata sebesar 73 yang berarti secara umum, prinsip kelima ini baru diterapkan
sebagian oleh Indonesia.
Tingkat implementasi tertinggi berada pada subprinsip terkait laporan keuangan dan
operasional karena memang di Indonesia sudah ada peraturan yang secara tegas mengatur
bahwa sebuah entitas yang terdaftar harus membuat laporan keuangan yang diaudit oleh
auditor eksternal. Aturan ini pun sudah diaati oleh seluruh perusahaan listed di Indonesia.
Sedangkan tingkat implementasi terendah berada pada keterbukaan informasi mengenai
struktur tatakelola karena aturan mengenai hal tersebut masih bersifat sukarela dan tidak
wajib pengungkapannya. Selain itu, tingkat pengungkapan terkait remunerasi bagi BOD dan
BOC juga masih rendah. Berdasarkan IICD 2008 diperoleh data bahwa sebagian besar
perusahaan listed mengungkapkan remunerasi secara agregat, hanya 2% yang
mengungkapkannya secara individual, dan hanya 5% yang mengungkapkan kebijakan
remunerasinya.
Penerapan subprinsip D mengenai akuntabilitas eksternal auditor juga masih rendah yaitu
58%. Hal ini dikarenakan Bapepam-LK masih dalam proses pengembangan kapasitas
inspeksi audit yang independen dan efisien. Yang terendah keempat adalah subprinsip A3
dimana memang peraturan di Indonesia mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan
pemegang saham yang memiliki kepemilikan lebih dari 5%. Akan tetapi aturan tersebut tidak
mengharuskan perusahaan menyajikan informasi apabila ada ultimate shareholdings atau
ultimate control di perusahaan.
Jika dibandingkan dengan negara negara lain di Asia, Indonesia termasuk salah satu
negara dengan tingkat penerapan yang tinggi seperti tampak pada figur di bawah ini.
(sumber: Detailed Country Assessment Indonesia, April 2010)
Negara yang paling tinggi tingkat penerapan corporate governance-nya adalah Malaysia
dengan skor rata rata sebesar 87. Diikuti dengan India dengan skor 82. Tingkat
implementasi terendah ditempati oleh Vietnam. Pembaca memang tidak dapat
membandingkan secara apple-to-apple skor tersebut, termasuk di dalamnya adalah penerapan
Indonesia tahun 2004 dengan 2009, karena tahun yang berbeda dan disebutkan bahwa
penggunaan metodologi penilaian juga berbeda. Namun dapat dilihat bahwa pada tahun 2005
saja Malaysia sudah memperoleh skor yang jauh lebih tinggi yaitu 87 dibandingkan dengan
Indonesia tahun 2004 yang hanya memperoleh skor 60.

6. Responsibilities of the Board
Prinsip GCG dari OECD yang terakhir berkaitan dengan tanggung jawab dewan
komisaris dan direksi perusahaan. Dalam prinsip ini dinyatakan bahwa kerangka kerja
tatakelola perusahaan harus memastikan pedoman strategis perusahaan, monitoring yang
efektif terhadap manajemen oleh dewan, serta akuntabilitas dewan terhadap perusahaan dan
pemegang saham. Indonesia menggunakan struktur two-tier board yang terdiri atas BOC dan
BOD dimana BOC memantau dan memberikan saran kepada BOD. Implementasi atas
prinsip ini di Indonesia seperti tampak pada figur berikut.
(sumber: Detailed Country Assessment Indonesia, April 2010)
Di Indonesia, subprinsip dengan tingkat penerapan paling tinggi ialah subprinsip D1
tentang tanggung jawab dewan untuk menelaah dan mengarahkan strategi perusahaan,
rencana utama, kebijakan mengenai resiko, anggaran tahunan, rencana usaha, sasaran kinerja,
memonitor penerapan dan kinerja perusahaan serta memantau belanja modal yang besar,
akuisisi, dan divestasi. Penerapan terendah berada pada tanggung jawab dewan untuk
melakukan nominasi atau pemilihan dewan yang transparan. Di Indonesia hal ini masih
kurang diterapkan karena seringkali tidak ada proses yang transparan dalam pemilihan
adalah bahwa di Indonesia, dewan pun tidak memperlakukan shareholder secara sama dan
adil yang dibahas lebih detil pada penerapan prinsip equitable treatment of shareholders.
Masih terkait dengan equitable treatment, komitmen dewan terhadap tanggun jawabnya
untuk berlaku adil terhadap seluruh shareholder masih sangat kecil. Hal ini tergambar
dengan skor komitmen yang hanya 50. Berdasarkan analisis Bank Dunia, sebagian besar
dewan di Indonesia masih mengutamakan kepentingan controlling shareholders dan
mengesampingkan minority shareholders.
(sumber: Detailed Country Assessment Indonesia, April 2010)
Secara umum Indonesia memperoleh skor 66 untuk penerapan prinsip ini. Dan jika
dibandingkan dengan negara lain di Asia, pada penerapan prinsip ini Indonesia juga masih
kalah dibandingkan Malaysia, India, dan Thailand. Vietnam masih menempati posisi
terendah dengan skor 43. Selisih skor antara Indonesia dengan India dan Malaysia cenderung
sangat jauh yang mengindikasikan bahwa Indonesia masih perlu mengembangkan aturan
aturan yang berlaku agar tingkat implementasi prinsip ini dapat meningkat.












Daftar Pustaka
Peraturan Bapepam-LK nomor VII.G.7
Peraturan Bapepam-LK nomor IX.C.1
Peraturan Bapepam-LK nomor IX.C.2
Peraturan Bapepam-LK nomor IX.C.3
Peraturan Bapepam-LK nomor X.K.6
Indonesia, R. (2007). Undang-undang Republik Indonesia nomor 40 tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas
Bank, The World. (2010). Report on the Observance of Standards and Codes (ROSC): Corporate
Governance Country Assessment.
Bank, The World. (2010). Report on the Observance of Standards and Codes (ROSC): Annex:
Corporate Governance Detailed Country Assesment (DCA).
Bapepam-LK. (2006). Studi Penerapan Prinsip-Prinsip OECD 2004 dalam Peraturan Bapepam
Mengenai Corporate Governance.