Anda di halaman 1dari 21

ETIKA PROFESI DAN TATA KELOLA KORPORAT

Penilaian praktek OECD CG prinsip 3 di


PT Aneka Tambang Tbk.

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:


Aryo Adiwoso (1406514946)
Budi Andhita (1406514965)
Dian Permata Sari (1406515021)
Faisal Andhika (1406515072)
Silvy Christina (1406590305)

MAGISTER AKUNTASI FAKULTAS EKONOMI


UNIVERSITAS INDONESIA
APRIL 2015

Statement of Authorship
Kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir
adalah murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang
saya/kami gunakan tanpa menyebut sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada
mata ajaran lain, kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menggunakannya.
Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.
Mata Ajaran

: Etika Profesi dan Tata Kelola Korporat

Judul Makalah/Tugas : Penilaian Praktek OECD CG Prinsip 2 di PT Aneka Tambang Tbk.


Tanggal

: 22 April 2015

Dosen

: Ruddy Koesnadi, M.Ak

Nama

: Faisal Andhika

Nama

: Aryo Adiwoso

NPM

: 14065 15072

NPM

: 14065 14946

Tanda Tangan :

Tanda Tangan :

Nama

: Dian Permatasari

Nama

: Budi Andhita

NPM

: 14065 15021

NPM

: 14065 14965

Tanda Tangan :

Nama

: Silvy Christina

NPM

: 14065 90305

Tanda Tangan :

Tanda Tangan :

PENDAHULUAN
Saat ini, dunia usaha semakin berkembang dan membutuhkan pengelolaan yang
semakin baik dan sehat. Setiap pimpinan dan seluruh karyawan dari perusahaan publik
diharapkan dapat menunjukkan tindakan yang terpuji kepada stakeholder dan dapat
bertanggungjawab atas semua tindakan dan keputusannya dalam mengelola perusahaan.
Untuk meningkatkan performa perusahaan kearah yang lebih baik, maka perusahaan harus
dikelola secara professional dengan mengindahkan prinsip-prinsip Good Governance.
Keberlangsungan eksistensi perusahaan tidak hanya diukur oleh performa keuangan,
peningkatan keuntungan akan tetapi juga performa internal perusahaan (etika dan Good
Corporate Governance) dan performa kepedulian sosial perusahaan. Etika bisnis memiliki
peran yang sangat besar dalam keberlangsungan eksistensi perusahaan. Penerapan etika
bisnis secara konsisten dapat mewujudkan iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan
untuk mendorong terciptanya pasar yang efisien, transparan dan mampu memberikan manfaat
yang besar bagi seluruh stakeholder-nya. Oleh karena itu sudah selayaknya perusahaan
menerapkan suatu prinsip Good Corporate Governance yang dapat digunakan sebagai salah
satu alatnya.
Pentingnya penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance telah menjadi
perhatian bagi dunia bisnis di setiap negara. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance
yang dikeluarkan oleh OECD menjadi acuan bagi setiap negara dalam penerapannya. Prinsipprinsip Good Corporate Governance yang dikeluarkan oleh OECD tahun 2004 mencakup
hal-hal sebagai berikut:
1. Ensuring the basis for an Effective Corporate Governance Framework
2. The Rights of Shareholders and Key Ownership Functions
3. The Equitable Treatment of shareholders
4. The Role of Stakeholders in Corporate Governance
5. Disclosure and Transparency
6. The responsibilities of the Board
PT Aneka Tambang (ANTAM) merupakan sebuah perusahaan pertambangan yang
mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 5 Juli 1968. di Eropa dan Asia. Sebagai
sebuah perusahaan yang memiliki wilayah operasi yang tersebar di seluruh Indonesia yang
kaya akan bahan mineral, ANTAM memiliki arus kas yang solid dan manajemen keuangan

yang berhati-hati. ANTAM didirikan sebagai Badan Usaha Milik Negara pada tahun 1968
melalui merjer beberapa perusahaan pertambangan nasional yang memproduksi komoditas
tunggal. Untuk mendukung pendanaan proyek ekspansi feronikel, pada tahun 1997 ANTAM
menawarkan 35% sahamnya ke publik dan mencatatkannya di Bursa Efek Indonesia. Pada
tahun 1999, ANTAM mencatatkan sahamnya di Australia dengan status foreign exempt entity
dan pada tahun 2002 status ini ditingkatkan menjadi ASX Listing yang memiliki ketentuan
lebih ketat.
Sebagai Perusahaan yang terdaftar di berbagai Bursa Efek (multi listing) antara lain di
Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Australian Securities Exchange (ASX), dalam mencapai
tujuan strategis menjadi Perseroan berkelas dunia, saat ini ANTAM berfokus pada
peningkatan nilai pemegang saham dan berkomitmen dalam pelaksanaan penerapan prinsp
GCG agar kegiatan operasional Perusahaaan dijalankan dengan berlandaskan prinsip
Transparency, Accountability, Responsibility, Independency dan Fairness yang dijiwai oleh
Nilai-Nilai dan Etika Perusahaan.
Dewan Komisaris telah membentuk Komite GCG, Nominasi dan Remunerasi (GCGNR), dengan tugas utama Komite GCG-NR memantau dan memastikan diterapkannya GCG
serta standar etika perusahaan secara efektif, mengawasi pelaksanaan pengelolaan sosial dan
lingkungan perusahaan serta pengawasan jalannya proses nominasi dan remunerasi calon
Direksi dan Dewan Komisaris di Perusahaan termasuk juga pengelolaan Human Capital
secara umum. Prinsip GCG pada OECD yang akan dibahas dalam makalah ini adalah prinsip
ke-3 yaitu Perlakuan yang setara terhadap seluruh Pemegang Saham (Equitable
treatment of shareholders).

LANDASAN TEORI
Organisasi

untuk

Ekonomi (OECD - Organisation

Kerja
for

Economic

Sama

dan

Co-operation

Pembangunan
and

Development)

merupakan sebuah organisasi internasional dengan tiga puluh negara yang menerima
prinsip demokrasi perwakilan dan ekonomi pasar bebas. Berawal tahun 1948 dengan nama
Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi Eropa (OEEC - Organization for European
Economic Co-operation), dipimpin oleh Robert Marjolin dari Perancis, untuk membantu
menjalankan Marshall Plan, untuk rekonstruksi Eropa setelah Perang Dunia II. Kemudian,
keanggotaannya merambah negara-negara non-Eropa, dan tahun 1961, dibentuk kembali
menjadi OECD oleh Konvensi tentang Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan
Ekonomi.
Misi dan Tujuan OECD
Mempromosikan kebijakan-kebijakan yang akan memperbaiki ekonomi, social, dan
kesejahteraan masyasyarakat diseluruh dunia. OECD Bertujuan untuk membandingkan
pengalaman kebijakan, mencari jawaban untuk masalah umum, mengidentifikasi praktekpraktek yang baik, dan mengkoordinasikan kebijakan-kebijakan domestik dan internasional.
Prinsip OECD
Prinsip-prinsip OECD 2004 mengenai coporate governance digunakan sebagai acuan
bagi masyarakat internasional dalam pengembangan corporate governance, namun OECD
menjelaskan masing-masing negara memiliki karakteristik yang berbeda sehingga satu model
pengembangan corporate governance belum tentu cocok untuk semua negara. Salah satu
contoh adalah perbedaan sistem yang digunakan dalam perusahaan. Beberapa negara
menggunakan one tier system dimana pengawas perusahaan disebut Board dan pengurus
perusahaan disebut Key Executives.
Sementara itu banyak juga negara yang menggunakan two tier system dimana
pengawasan perusahaan dilakukan oleh Board of Commisoner dan pengurusan perusahaan
dilakukan oleh Directors. Di Indonesia system yang diggunakan adalah two tier system,
sehingga istilah Board dalam OECD diartikan sebagai Dewan Komisaris, dan Key
Executives sebagai Direksi.

Secara umum terdapat enam prinsip corporate governance dalam Prinsip-prinsip


OECD 2004 mengenai coporate governance. Keenam prinsip ini menjelaskan hal-hal yang
mencakup, kerangka dasar corporate governance, hak pemegang saham, kesetaraan
perlakuan pemegang saham, peranan stakeholders, keterbukaan dan transparansi, serta
tanggung jawab dewan komisaris.sebagai berikut:
Prinsip 1: Ensuring the Basis for an Effective Corporate Governance Framework
Prinsip corporate governance yang pertama pada dasarnya membahas landasan
(framework) corporate governance yang jelas, tidak boleh bertentang antara satu hukum
dengan hukum lainnya. Pada prinsip pertama juga diharuskan adanya pemisahan tugas
antara pengawasan, pembuat regulasi dan pelaksana tugas operasi kantor sehari-hari.
Sesuai dengan kasus pada PT Sumalindo Lestari Jaya, Tbk. maka prinsip yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah prinsip ke-2 yaitu Hak-hak Pemegang Saham dan
Fungsi-fungsi Penting Kepemilikan Saham (The Rights of Shareholders and Key
Ownership Functions) dan Prinsip ke-3 yaitu Perlakuan yang sama terhadap Pemegang
Saham (The Equitable Treatment of Shareholders)
Prinsip 2II: The Rights of Shareholders and Key Ownership Functions
Prinsip corporate governance yang ke dua dari OECD pada dasarnya mengatur mengenai
Hak-hak Pemegang Saham dan Fungsi-fungsi Kepemilikan Saham. Hal ini terutama
mengingat investor saham terutama dari suatu perusahaan publik, memiliki hak-hak khusus
seperti saham tersebut dapat dibeli, dijual ataupun ditransfer. Pemegang saham tersebut juga
berhak atas keuntungan perusahaan sebesar porsi kepemilikannya. Selain itu kepemilikan atas
suatu saham mempunyai hak atas semua informasi perusahaan dan mempunyai hak untuk
mempengaruhi jalannya perusahaan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Secara
rinci prinsip 2 mengatur hak-hak pemegang saham sebagaimana dapat dilihat dalam uraian di
bawah ini.
Kerangka corporate governance harus melindungi dan menunjang pelaksanaan hak-hak
pemegang saham.
A. Hak-hak dasar pemegang saham harus mencakup hak untuk:
1. memperoleh cara pendaftaran yang aman atas kepemilikan;
2. menyerahkan atau mengalihkan saham;
3. memperoleh informasi yang relevan atau material tentang perusahaan secara teratur
dan tepat waktu;
4. berpartisipasi dan memberikan hak suara dalam rapat umum pemegang saham;

5. memilih dan mengganti anggota pengurus; dan


6. 6. memperoleh hak atas bagian keuntungan perusahaan.
B. Pemegang saham harus memiliki hak untuk berpartisipasi dalam, dan diberikan informasi
yang cukup atas keputusan-keputusan tentang perubahan-perubahan penting perusahaan
seperti:
1. perubahan anggaran dasar, atau akte pendirian atau dokumen-dokumen tentang
pengelolaan perusahaan lainnya;
2. otorisasi saham tambahan; dan
3. transaksi luar biasa, termasuk pengalihan seluruh atau hampir seluruh asset, yang
berdampak pada penjualan perusahaan.
C. Pemegang saham harus memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara efektif dan
memberikan hak suara dalam RUPS dan harus diberikan informasi tentang aturanaturannya, termasuk tata cara pemungutan suara, yang mengatur penyelenggaraan RUPS.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1. Pemegang saham harus disediakan informasi yang memadai dan akurat tentang
tanggal, tempat dan agenda RUPS, termasuk informasi lengkap dan akurat tentang
masalah-masalah yang akan diputuskan dalam rapat.
2. Pemegang saham harus memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada
pengurus, termasuk pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan audit eksternal tahunan,
untuk memasukkan butir-butir dalam agenda RUPS, dan untuk mengusulkan
pemecahannya, dalam batas-batas yang wajar.
3. Partisipasi efektif pemegang saham dalam keputusan-keputusan penting pengelolaan
perusahaan, seperti pencalonan dan pemilihan anggota pengurus harus difasilitasi.
Pemegang saham harus dapat membuat pandangan-pandangan mereka berkaitan
dengan kebijakan penggajian anggota pengurus dan pejabatpejabat kunci diketahui.
Kewajaran atas komponen skema penggajian/kompensasi bagi anggota pengurus dan
karyawan harus didasarkan pada persetujuan pemegang saham.
4. Pemegang saham harus dapat memberikan hak suara secara langsung atau secara in
absentia, dan harus dianggap memiliki kekuatan yang sama, baik dilakukan dengan
kehadiran atau tanpa kehadiran pemegang saham yang bersangkutan.

D. Struktur dan komposisi permodalan yang memungkinkan pemegang saham tertentu untuk
memperoleh tingkat pengendalian yang tidak proporsional dengan kepemilikan sahamnya
harus diungkapkan.
E. Pengalihan pengendalian perusahaan harus diperbolehkan agar berfungsi secara efisien
dan transparan yang meliputi :
1. Peraturan dan prosedur tentang pengambilalihan pengendalian perusahaan di pasar
modal, dan transaksi luar biasa, seperti merger dan penjualan asset perusahaan dalam
jumlah yang substansial, harus diatur secara jelas dan diungkapkan sehingga investor
mengetahui hak-hak dan pilihan-pilihannya. Transaksi-transaksi harus dilakukan pada
harga yang transparan dan dengan syarat-syarat yang wajar yang melindungi hak-hak
seluruh pemegang saham sesuai dengan klasifikasinya.
2. Kebijakan anti take over tidak boleh digunakan untuk melindungi manajemen dan
pengurus dari kewajiban melakukan pertanggungjawaban.
F. Pelaksanaan hak-hak atas kepemilikan oleh seluruh pemegang saham, termasuk investor
kelembagaan, harus difasilitasi. Hal-hal yang perlu diatur adalah :
1. Investor institusi yang bertindak dalam kapasitas secara

fiduciary harus

mengungkapkan keseluruhan tata kelola perusahaan dan kebijakan pemungutan suara


berkaitan dengan investasinya, termasuk tata cara yang telah ditetapkan untuk
memutuskan penggunaan hak suara mereka.
2. Investor institusi yang bertindak dalam kapasitas secara

fiduciary harus

mengungkapkan bagaimana mereka menangani benturan kepentingan yang material


yang mungkin mempengaruhi pelaksanaan hak-hak pemilik utama berkaitan dengan
investasinya.
G. Pemegang saham, termasuk pemegang saham institusi, harus diperbolehkan untuk saling
berkonsultasi tentang masalah-masalah berkenaan dengan hak-hak dasar pemegang
saham sebagaimana didefinisikan dalam Prinsip-prinsip tersebut diatas, dapat
dikecualikan untuk mencegah penyalahgunaan.
Prinsip 3III: The Equitable Treatment of Shareholders
Pada prinsip ke-3 ini ditekankan perlunya persamaan perlakuan kepada seluruh pemegang
saham termasuk pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing. Prinsip ini

menekankan pentingnya kepercayaan investor di pasar modal. Untuk itu industri pasar modal
harus dapat melindungi investor dari perlakuan yang tidak benar yang mungkin dilakukan
oleh manajer, dewan komisaris, dewan direksi atau pemegang saham utama perusahaan.
Pada praktiknya pemegang saham utama perusahaan mempunyai kesempatan yang lebih
banyak untuk memberikan pengaruhnya dalam kegiatan operasional perusahaan. Dari praktik
ini, seringkali transaksi yang terjadi memberikan manfaat hanya kepada pemegang saham
utama atau bahkan untuk kepentingan direksi dan komisaris.
Dari kemungkinan terjadinya usaha-usaha yang dapat merugikan kepentingan investor, baik
lokal maupun asing, maka prinsip ini menyatakan bahwa untuk melindungi investor, perlu
suatu informasi yang jelas mengenai hak dari pemegang saham. Seperti hak untuk memesan
efek terlebih dahulu dan hak pemegang saham utama untuk memutuskan suatu keputusan
tertetu dan hak untuk mendapatkan perlindungan hukum jika suatu saat terjadi pelanggaran
atas hak pemegang saham tersebut.
Prinsip ini terbagi atas 3 Sub prinsip utama.
A. Pertama adalah mengenai kesamaan perlakuan antara pemegang saham dalam kelas
saham yang sama. Di dalam prinsip ini terdapat 5 sub prinsip yang didiskusikan.
1. Sub prinsip pertama mengenai kemudahan dari investor untuk mendapatkan informasi
mengenai hak yang melekat pada setiap seri dan kelas saham sebelum mereka
membeli saham suatu perusahaan. Dalam sub prinsip ini investor harus mengetahui
hak yang melekat pada saham yang mereka beli. Seperti jika investor membeli saham
preference, maka investor tersebut akan mendapatkan bagian dari keuntungan
perusahaan namun disisi lain biasanya saham itu tidak mempunyai hak voting.
2. Sub prinsip kedua berbicara mengenai perlindungan kepada pemegang saham
minoritas dari tindakan yang merugikan yang dilakukan oleh atau atas nama
pemegang saham utama. Salah satu bentuk perlindungan kepada pemegang saham
minoritas sebenarnya adalah bagaimana direksi menjalankan perusahaan untuk
kepentingan perusahaan bukan untuk kepentingan pemegang saham tertentu sehingga
tidak ada perbedaan manfaat yang diperoleh antara pemegang saham.
3. Sub prinsip selanjutnya adalah mengenai pihak yang boleh mewakili pemegang
saham dalam RUPS. Pada prinsip ini juga menjelaskan bahwa bank kustodian tidak
secara otomatis menjadi wakil pemegang saham di RUPS. Bank kustodian
mempunyai tugas untuk menyediakan informasi mengenai agenda RUPS sehingga
pemegang saham dapat menentukan suara mereka di RUPS termasuk apakah mereka

akan melimpahkan hak suaranya pada seluruh agenda atau mereka akan memberikan
hak suara pada suatu agenda tertentu
4. Sub prinsip ke empat adalah penghilangan hambatan pemberian suara oleh pemegang
saham yang berdomisili di di luar wilayah kedudukan Emiten atau Perusahaan Publik.
Hambatan akan terjadi karena biasanya pemegang saham asing menyimpan saham
mereka melalui suatu rantai perantara (intermediaries). Saham tersebut dicatat atas
nama nasabah dalam akun perusahaan sekuritas lalu akun perusahaan sekuritas
tercatat pada lembaga penyelesaian dan penyimpanan.
Dengan demikian maka nama dari pemegang saham yang asli tidak langsung dapat
diketahui, sehingga begitu perusahaan akan meminta keputusan dari pemegang saham
atas suatu transaksi tersebut, informasi yang seharusnya sampai sebelum keputusan di
ambil, penyampaiannya menjadi tidak tepat waktu. Dampak dari terlambatnya
informasi kepada pemegang saham adalah tidak cukupnya waktu dari pemegang
saham untuk menganalisa dan memberikan masukan kepada perusahaan atas hal
tersebut.
Dengan melihat bahwa terdapat kemungkinan perusahaan tidak dapat memberikan
perlakuan yang saham kepada semua pemegang sahamnya, maka sebaiknya
perundang-undangan yang ada harus dapat memberikan kejelasan mengenai pihak
yang dapat diberikan kewenangan oleh pemegang saham asing sebagai wakilnya
sehingga informasi dapat segera diterima oleh pemegang saham. Selain itu peranturan
jika dimungkinkan juga dapat mengatur mengenai penyerderhanaan rantai perantara.
5. Sub prinsip terakhir dari bagian kesatu prinsip 3 ini adalah mengenai proses dan
prosedur RUPS yang harus memperhatian perlakuan yang sama bagi seluruh
pemegang saham, termasuk prosedur yang sederhana dan tidak mahal bagi pemegang
saham untuk melakukan hak votingnya. Masih ada beberapa perusahaan yang
mempunyai prosedur rumit dan mahal dalam hubungannya dengan hak voting
pemegang saham. Misalnya penetapan fee bagi pelaksanaan hak voting pemegang
sahamnya dan persyaratan kehadiran bagi pemegang saham untuk melakukan voting.
Untuk itu sub prinsip ini mengusulkan kepada perusahaan-perusahaan untuk dapat
menghilangkan kesulitan pemegang saham untuk berpartisipasi dalam RUPS dan juga
mengusulkan untuk dapat menggunakan fasilitas elektronik jika pemegang saham
tidak dapat hadir dan juga tidak menujuk wakilnya di RUPS.

B. Bagian kedua prinsip 3 ini berbicara mengenai larangan transaksi orang dalam (insider
trading) dan perdagangan tutup sendiri yang merugikan pihak lain (abusive self dealing).
Banyak negara OECD sudah mempunyai peraturan perundang-undangan berkenaan
dengan larangan dua transaksi diatas. Yang masih menjadi masalah adalah penegakkan
hukum yang belum efektif atas pelanggaran ketentuan yang ada. Oleh sebab itu,
pemerintah diminta untuk memberikan perhatiannya terdapat penegakan hukum
khususnya untuk transaksi di atas.
C. Bagian terakhir dari pinsip 3 adalah kewajiban dari komisaris, direksi dan manajemen
kunci untuk mengungkapkan kepentingannya kepada dewan komisaris jika baik langsung
maupun tidak langsung atau atas nama pihak ketiga mempunyai kepentingan yang
material dalam suatu transaksi atau suatu hal yang mempengaruhi perusahaan.
Peungkapan kepentingan para pihak di atas kepada dewan komisaris juga harus diikuti
dengan ketidak-ikut sertaan para pihak didalam pengambilan keputusan yang berkaitan
dengan transaksi yang memuat kepentingan mereka tersebut.
Prinsip 4: The role of stakeholders
Kerangka yang dibangun di suatu negara mengenai corporate governance harus memberikan
pengakuan terhadap hak-hak stakeholders seperti yang ditentukan dalam undang-undang, dan
mendorong kerjasama yang aktif antara perusahaan dengan para stakeholders tersebut dalam
rangka menciptakan kesejahteraan, lapangan kerja, dan kesinambungan usaha. Hal tersebut
diwujudkan dalam bentuk mekanisme yang mengakomodasi peran stakeholders dalam
meningkatkan kinerja perusahaan. Perusahaan juga diharuskan membuka akses informasi
yang relevan bagi kalangan stakeholders yang ikut berperan dalam proses corporate
governance.
Prinsip 5: Disclosure & transparency
Kerangka yang dibangun di suatu negara mengenai corporate governance harus menjamin
adanya pengungkapan informasi yang tepat waktu dan akurat untuk setiap permasalahan yang
berkaitan dengan perusahaan. Dalam pengungkapan informasi ini termasuk adalah informasi
mengenai keadaan keuangan, kinerja perusahaan, kepemilikan dan pengelolaan perusahaan.
Di samping itu informasi yang diungkapkan harus disusun, diaudit, dan disajikan sesuai
dengan standar yang berkualitas tinggi. Manajemen perusahaan juga diharuskan meminta

auditor eksternal melakukan audit yang bersifat independen atas laporan keuangan
perusahaan untuk memberikan jaminan atas penyusunan dan penyajian informasi.
Prinsip 6: The responsibility of the board
Kerangka yang dibangun di suatu negara mengenai corporate governance harus menjamin
adanya pedoman strategis perusahaan, pemantauan yang efektif terhadap manajemen yang
dilakukan oleh Dewan Komisaris dan Direksi, serta akuntabilitas Dewan Komisaris dan
Direksi terhadap perusahaan dan Pemegang Saham. Prinsip ini juga memuat kewenangankewenangan yang harus dimiliki oleh Dewan Komisaris dan Direksi beserta kewajibankewajiban profesionalnya kepada Pemegang Saham dan stakeholders lainnya.

Prinsip Dasar Corporate Governance


Terdapat empat prinsip utama Corporate Governance secara umum yaitu:
1. Fairness (Kewajaran)
Kewajaran (fairness) merupakan suatu bentuk perlakuan yang adil dan setara di dalam
memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan
perundangan yang berlaku.
2. Transparency (Keterbukaan Informasi)
Transparansi merupakan keterbukaan informasi, baik dalam proses pengambilan
keputusan maupun dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai
perusahaan.
3. Accountability (Dapat Dipertanggungjawabkan)
Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertangungjawaban organ
perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.
4. Responsibility (Pertanggungjawaban)
Pertanggungjawaban perusahaan adalah kesesuaian (patuh) di dalam pengelolaan
perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang
berlaku.
6.

GAMBARAN UMUM PT ANEKA TAMBANG Tbk


Profil Perusahaan
Perusahaan Perseroan (Persero) PT Aneka Tambang Tbk adalah BUMN yang
bergerak dalamm bidang pertambangan berbagai jenis bahan galian, serta menjalankan usaha
di bidang industri, perdagangan, pengangkutan dan jasa yang berkaitan dengan pertambangan
berbagai jenis bahan galian tersebut. Sub sektor pertambangan logam dan mineral ini mulai
beroperasi secara komersial pada tanggal 5 Juli 1968. Dengan modal dasar sebesar Rp 3,8
Triliun. Modal ditempatkan dan disetor sebesar Rp 953,8 miliar dengan struktur kepemilikan
Pemerintah Republik Indonesia sebesar 65% dan Masyarakat sebesar 35%. Selain itu, Antam
bergerak juga di bidang industri, perdagangan, pengangkutan dan jasa lainnya yang berkaitan
dengan bahan tambang. Data Total Penjualan tahun 2010 sebesar Rp 8,74 triliun
yang berasal dari komoditas feronikel sebesar Rp 3,68 triliun (42%), bijih nikel sebesar Rp
2,36 triliun (27%), emas dan besi sebesar Rp 2,35 triliun (27%), serta bauksit sebesar Rp 340
milyar (4%).
Antam merupakan perusahaan pertambangan yang terdiversifikasi dan terintegrasi
secara vertikal yang berorientasi ekspor. Melalui wilayah operasi yang tersebar di seluruh
Indonesia yang kaya akan bahan mineral, kegiatan Antam mencakup eksplorasi,
penambangan, pengolahan serta pemasaran dari sumber daya mineral yang dimiliki. Antam
memiliki konsumen jangka panjang yang loyal di Eropa dan Asia. Mengingat luasnya lahan
konsesi pertambangan dan besarnya jumlah cadangan dan sumber daya yang dimiliki, Antam
membentuk beberapa usaha patungan dengan mitra internasional untuk dapat memanfaatkan
cadangan yang ada menjadi tambang yang menghasilkan keuntungan.
Antam memiliki arus kas yang solid dan manajemen keuangan yang berhati-hati.
Antam didirikan sebagai Badan Usaha Milik Negara pada tahun 1968 melalui merjer
beberapa perusahaan pertambangan nasional yang memproduksi komoditas tunggal. Untuk
mendukung pendanaan proyek ekspansi feronikel, pada tahun 1997 Antam menawarkan 35%
sahamnya ke publik dan mencatatkannya di Bursa Efek Indonesia. Pada tahun 1999, Antam
mencatatkan sahamnya di Australia dengan status foreign exempt entity dan pada tahun 2002
status ini ditingkatkan menjadi ASX Listing yang memiliki ketentuan lebih ketat.
Tujuan perusahaan saat ini berfokus pada peningkatan nilai pemegang saham. Hal ini
dilakukan melalui penurunan biaya seiring usaha bertumbuh guna menciptakan keuntungan
yang berkelanjutan. Strategi perusahaan adalah berfokus pada komoditas inti nikel, emas, dan

bauksit melalui peningkatan output produksi untuk meningkatkan pendapatan serta


menurunkan biaya per unit. Antam berencana untuk mempertahankan pertumbuhan melalui
proyek ekspansi terpercaya, aliansi strategis, peningkatan kualitas cadangan, serta
peningkatan nilai melalui pengembangan bisnis hilir. Antam juga akan mempertahankan
kekuatan finansial perusahaan. Melalui perolehan kas sebanyak-banyaknya, perusahaan
memastikan akan memiliki dana yang cukup untuk memenuhi kewajiban, mendanai
pertumbuhan, dan membayar dividen. Untuk menurunkan biaya, perusahaan harus beroperasi
lebih efisien dan produktif serta meningkatkan kapasitas untuk memanfaatkan adanya skala
ekonomis.
Sebagai perusahaan pertambangan, Antam menyadari bahwa kegiatan operasi
perusahaan memiliki dampak secara langsung terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Perusahaan menyadari bahwa aspek lingkungan hidup dan khususnya pengembangan
masyarakat tidak sekedar tanggung jawab sosial tetapi merupakan bagian dari risiko
perusahaan yang harus dikelola dengan baik. Karakteristik industri pertambangan di
Indonesia sebagai industri pembuka daerah tertinggal dan terisolir juga menjadikan peran
perusahaan tambang untuk berperan aktif dalam pengembangan masyarakat sekitar dan
beroperasi sebagai good corporate citizen sangat penting. Hal ini akan berperan penting
dalam menurunkan risiko adanya gangguan terhadap operasi perusahaan. Beranjak dari
konsepsi ini maka perhatian yang mendalam terhadap upaya pelestarian lingkungan serta
partisipasi secara proaktif dalam pengembangan masyarakat merupakan salah satu kunci
kesuksesan kegiatan pertambangan.
Visi Antam :
"Menjadi korporasi global berbasis pertambangan dengan pertumbuhan sehat dan standar
kelas dunia"
Misi Antam :

Membangun dan menerapkan praktik-praktik terbaik kelas dunia untuk menjadikan


Antam sebagai pemain global.

Menciptakan keunggulan operasional berbasis biaya rendah dan teknologi tepat guna
dengan mengutamakan kesehatan dan keselamatan kerja serta lingkungan hidup.

Mengolah cadangan yang ada dan yang baru untuk meningkatkan keunggulan
kompetitif.

Mendorong pertumbuhan yang sehat dengan mengembangkan bisnis berbasis


pertambangan, diversifikasi dan integrasi selektif untuk memaksimalkan nilai
pemegang saham

Meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan pegawai serta mengembangkan budaya


organisasi berkinerja tinggi.

Berpartisipasi meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama di sekitar wilayah


operasi, khususnya pendidikan dan pemberdayaan ekonomi.

Saham ANTAM saat ini diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (Indonesia Stock
Exchange, IDX) serta di Bursa Efek Australia (Australian Securities Exchange, ASX). Saham
ANTAM tercatat di Papan Utama IDX serta merupakan anggota dari LQ45, the Jakarta
Islamic Index, the Jakarta Mining Index, the SRI Kehati Sustainability Index dan beberapa
indeks lokal terkemuka lainnya. Saham ANTAM di ASX tercatat dalam full ASX Listing
sejak tahun 2002. Saham ANTAM di ASX diperdagangkan dalam bentuk Chess Depository
Interests (CDI) dimana satu CDI mewakili 5 saham.
Daftar 10 Pemegang Saham Terbesar di luar Pemerintah Indonesia (saat ini memiliki 65%
saham ANTAM) pada akhir bulan Desember tahun 2014 adalah sebagai berikut :
No
.

Nama pemegang saham

Jumlah

Persentas

saham

Pt prudential life assurance-ref

234,135,900

2.4546510

Bpjs ketenagakerjaan-jht

210,522,500

2.2070911

Pt taspen (persero) - tht

180,766,500

1.8951330

80,886,500

0.8480038

Citibank new york s/a dimensional


emergi

Bpjs ketenagakerjaan - jkk

78,764,500

0.8257570

Banque pictet and cie sa

61,950,000

0.6494759

61,919,500

0.6491562

Bbh boston s/a vangrd emg mkts stk


infd

Status
Asuransi
Perseroan
terbatas
Asuransi
Badan usaha
asing
Asuransi
Badan usaha
asing
Badan usaha
asing

8
9
10

Bpjs ketenagakerjaan bpjs


Citibank new york s/a emerging
markets c
Citibank new york s/a emerging
markets s

59,562,900

0.6244499

40,017,800

0.4195415

32,303,800

0.3386689

Asuransi
Badan usaha
asing
Badan usaha
asing

PEMBAHASAN MASALAH
PRAKTEK CORPORATE GOVERNANCE PT. ANTAM
Antam telah mengembangkan GCG dengan membangun aspek infrastruktur GCG,
baik hard structure maupun soft structure. Hard structure yang telah dibangun diantaranya
adalah dengan dibentuknya Dewan Komisaris yang terdiri dari Komisaris Independen beserta
lima Komite penunjang Dewan Komisaris, meliputi Komite Audit, Komite Good Corporate
Governance, Komite Nominasi Remunerasi dan Pengembangan SDM, Komite CSR
Lingkungan dan Pasca-tambang, dan Komite Manajemen Resiko. Soft structure GCG yang
telah dikembangkan diantaranya Pedoman Kebijakan Perusahaan (PKP), Management
Policy , Standard Operating Procedure (SOP), Standar Etika (Code of Conduct) Perusahaan,
Charter Dewan Komisaris, Charter Direksi, Charter Komite, serta Charter Internal Audit.
Saat ini cakupan Pedoman Kebijakan Perusahaan telah diperluas dan disempurnakan
menjadi

Kebijakan

Tata

Kelola

Perusahaan

atau Corporate

Governance

Policy

(CGP). Perluasan cakupan CGP diarahkan untuk melengkapi aspek-aspek kebijakan proses
yang telah diatur sebelumnya dengan aspek pedoman praktis implementasi GCG
sebagaimana yang diatur di dalam Pedoman Umum GCG Indonesia maupun ASX Principles
and Recomendation.
Pelaksanaan prinsip dasar Corporate Governance pada ANTAM:
Transparansi (Transparency)
ANTAM menjamin pengungkapan informasi materiil dan relevan mengenai kinerja, kondisi
keuangan dan informasi lainnya secara jelas, memadai dan tepat waktu serta mudah diakses
oleh Stakeholders sesuai dengan haknya. Prinsip keterbukaan ini tidak mengurangi kewajiban
untuk melindungi informasi rahasia mengenai ANTAM dan Pelanggan sesuai dengan
peraturan perundanganundangan yang berlaku.
Akuntabilitas (Accountability)
ANTAM menjamin kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban masing-masing
Organ Perusahaan (Rapat Umum Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi) yang
memungkinkan pengelolaan ANTAM terlaksana secara efektif. Akuntabilitas merujuk kepada
kewajiban seseorang atau organ kerja ANTAM yang berkaitan dengan pelaksanaan
wewenang yang dimilikinya dan/atau pelaksanaan tanggung jawab yang dibebankan oleh
ANTAM kepadanya.

Pertanggungjawaban (Responsibility)
ANTAM menjamin kesesuaian dalam melaksanakan aktivitas bisnisnya berdasarkan prinsip
korporasi yang sehat, pemenuhan kewajiban terhadap bekerjasama secara aktif untuk manfaat
bersama dan berusaha untuk dapat memberikan kontribusi yang nyata kepada masyarakat.
Independensi (Independency)
ANTAM menjamin pengelolaan Perusahaan secara profesional tanpa benturan kepentingan
dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
Kewajaran (Fairness)
ANTAM menjamin perlakuan yang adil dan setara dalam memenuhi hak-hak Stakeholders
berdasarkan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Praktek Prinsip 3 OECD: Perlakuan yang setara terhadap seluruh Pemegang Saham
(Equitable treatment of shareholders)
Berdasarkan Laporan Keuangan PT Aneka Tambang pada tahun 2014 terkait dengan
tata kelola korporat atau corporate governance, dapat diketahui bahwa PT Antam sudah
memenuhi prinsip 3 OECD. Terdapat empat subprinsip dalam prinsip 3 OECD ini. Setiap
subprinsip telah dipenuhi oleh PT Antam dengan baik namun ada beberapa hal yang perlu
diperbaiki namun tidak signifikan, sehingga bisa dikategorikan PT Antam hamper memenuhi
Asean Corporate Governance Scorecard.

No

Prinsip dan Rekomendasi

Penerapan
Sebagia
Penuh
n

Keterangan

PERSAMAAN HAK PEMEGANG SAHAM (EQUITABLE TREATMENT OF SHAREHOLDERS RIGHT)

1
2

Saham dan Hak Suara


Pemberitahuan Rapat Umum
Pemegang Saham

v
v

Kualitas informasi
pemberitahuna RUPS
yang telah disajikan
masih perlu
ditingkatkan. Dengan
Mencantumkan antara
lain:
a. Profil calon anggota
Direksi atau maupun
dewan komisaris baru
yang akan diangkat
kembali
b. Penunjukan atau

Perdagangan orang dalam dan


transaksi sendiri harus di
larang

Transaksi dengan pihak-pihak


yang berhubungan (RPTs)
yang dilakukan oleh Direksi
dan Pejabat Kunci
Melindungi pemegang saham
minoritas dari tindakan
pelanggaran

Penunjukan kembali
auditor eskternal.
c.Kebijakan Dividen
ANTAM perlu
mengatur ketentuan
mengenai kewajiban
anggota Direksi dan
Dewan Komisaris
dalam melaporkan
transaksi kepemilikan
saham mereka (bila
ada) pada Saham
perusahaan dengan
jangka waktu 3 hari
kerja.
Kebijakan terkait RPTs
yang dimiliki ANTAM
masih perlu dilengkapi

KESIMPULAN
Etika bisnis memiliki peran yang sangat besar dalam keberlangsungan eksistensi
perusahaan. Oleh karena itu sudah selayaknya perusahaan menerapkan suatu prinsip Good
Corporate Governance dengan prinsip-prinsip dikeluarkan oleh OECD.
PT Aneka Tambang Tbk, sebuah BUMN yang bergerak dalam bidang pertambangan
berbagai jenis bahan galian memiliki tujuan perusahaan yang berfokus pada peningkatan nilai
pemegang saham dan berkomitmen dalam pelaksanaan penerapan prinsp GCG agar kegiatan
operasional

Perusahaaan

dijalankan

dengan

berlandaskan

prinsip

Transparency,

Accountability, Responsibility, Independency dan Fairness yang dijiwai oleh Nilai-Nilai dan
Etika Perusahaan.
Seluruh Pemegang Saham PT Antam memiliki kesempatan untuk mendapatkan
penggantian atau perbaikan (redress) atas pelanggaran dari hak-hak Pemegang Saham.
Adanya perlakuan yang sama atas saham-saham yang berada dalam satu kelas, melarang
praktek-praktek perdagangan orang dalam (insider trading) dan mengharuskan anggota
Direksi untuk melakukan keterbukaan apabila menemukan transaksi-transaksi yang
mengandung benturan kepentingan (conflict of interest). Adanya perlakuan yang sama
terhadap seluruh Pemegang Saham, termasuk Pemegang Saham minoritas dan asing. Semua
tercermin dalam Score Card Laporan Keuangan PT Antam.

DAFTAR PUSTAKA
OECD Principles of Corporate Governance, tahun 2004
Annual Report PT Aneka Tambang Tbk Tahun 2014
Code of Conduct PT Aneka Tambang Tbk
http://www.antam.com