Anda di halaman 1dari 15

PENILAIAN PRAKTIK OECD CG PRINSIP 3

DI PT. ANEKA TAMBANG Tbk.


A. OECD (Organisation for Economic Co-operation and
Development)
Organisasi

untuk

Kerja

Sama

dan

Pembangunan

Ekonomi (OECD - Organisation for Economic Co-operation and


Development)

merupakan

internasional dengan
prinsip demokrasi

tiga

puluh

perwakilan dan

sebuah organisasi
negara

yang

menerima

ekonomi pasar

bebas.

Berawal tahun1948 dengan nama Organisasi untuk Kerja


Sama Ekonomi Eropa (OEEC - Organisation for European
Economic Co-operation), dipimpin oleh Robert Marjolin dari
Perancis, untuk membantu menjalankan Marshall Plan, untuk
rekonstruksi Eropa setelah Perang

Dunia

II.

Kemudian,

keanggotaannya merambah negara-negara non-Eropa, dan


tahun 1961, dibentuk kembali menjadi OECD oleh Konvensi
tentang Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan
Ekonomi (Wikipedia.com).
B. OECD PRINCIPLE 3 - Pemerataan Perlakuan Pemegang
Saham
Berikut ini penjelasan dan terjemahan dari OECD CG
Prinsip 3 2004 mengenai Pemerataan Perlakuan Pemegang
Saham. Pada prinsip ke-3 ini ditekankan perlunya persamaan
perlakuan

kepada

seluruh

pemegang

saham

termasuk

pemegang saham minoritas (pemilik saham yang nilainya


kecil atau dibawah 50%) dan pemegang saham asing. Prinsip
ini menekankan pentingnya kepercayaan investor di pasar
modal. Untuk itu industri pasar modal harus dapat melindungi
investor dariperlakuan yang tidak benar yang mungkin

dilakukan oleh manajer, dewan komisaris, dewan direksi atau


pemegang saham utama perusahaan.
Pada praktiknya pemegang saham utama perusahaan
mempunyai

kesempatan

memberikan

pengaruhnya

perusahaan.

Dari

praktik

yang

lebih

dalam
ini,

banyak

kegiatan

seringkali

untuk

operasional

transaksi

yang

terjadimemberikan manfaat hanya kepada pemegang saham


utama atau bahkan untuk kepentingan direksi dan komisaris.
Dari kemungkinan terjadinyausaha-usaha yang dapat
merugikan kepentingan investor, baik lokal maupun asing,
maka

prinsip

ini

menyatakan

bahwa

untuk

melindungi

investor, perlu suatu informasi yang jelas mengenai hak dari


pemegang saham. Seperti hak untuk memesan efek terlebih
dahulu dan hak pemegang saham utama untuk memutuskan
suatu

keputusan

tertetu

dan

hak

untuk

mendapatkan

perlindungan hukum jika suatu saat terjadi pelanggaran atas


hak pemegang saham tersebut.
Prinsip ini terbagi atas 3 Sub prinsip utama.
1. Pertama adalah mengenai kesamaan perlakuan antara
pemegang saham dalam kelas saham yang sama. Di dalam
prinsip ini terdapat 5 sub prinsip yang didiskusikan.
a. Sub prinsip pertama mengenai kemudahan dari investor
untuk mendapatkan informasi mengenai hak yang
melekat pada setiap seri dan kelas saham sebelum
mereka membeli saham suatu perusahaan. Dalam sub
prinsip ini investor harus mengetahui hak yang melekat
pada saham yang mereka beli. Seperti jika investor
membeli saham preference,maka investor tersebut akan
mendapatkan

bagian

dari

keuntungan

perusahaan

namun disisi lain biasanya saham itu tidak mempunyai


hak voting.

b. Sub prinsip kedua berbicara mengenai perlindungan


kepada pemegang saham minoritas dari tindakan yang
merugikan

yang

pemegang

dilakukan

saham

perlindungan

oleh

utama.

kepada

atau

Salah

pemegang

atas

satu

saham

nama
bentuk

minoritas

sebenarnya adalah bagaimana direksi menjalankan


perusahaan untuk kepentingan perusahaan bukan untuk
kepentingan pemegang saham tertentu sehinggatidak
ada

perbedaan

manfaat

yang

diperoleh

antara

pemegang saham.
c. Sub prinsip selanjutnya adalah mengenai pihak yang
boleh mewakili pemegang saham dalam RUPS. Pada
prinsip ini juga menjelaskan bahwa bank kustodian tidak
secara otomatis menjadi wakil pemegang saham di
RUPS. Bank kustodian atau disingkat kustodian adalah
suatu

lembaga

yang

bertanggung

jawab

untuk

mengamankan aset keuangan dari suatu perusahaan


ataupun perorangan. Bank kustodian ini akan bertindak
sebagai tempat penitipan kolektif dan dari asset seperti
saham, obligasi, serta melaksanakan tugas administrasi
seperti menagih hasil penjualan, menerima deviden,
mengumpulkan informasi mengenai perusahaan acuan
seperti

misalnya

tahunan,

rapat

umum

menyelesaikan

pemegang

transaksi

saham

penjualan

dan

pembelian, melaksanakan transaksi dalam valuta asing


apabila

diperlukan, serta

menyajikan laporan atas

seluruh aktivitasnya sebagai kustodian kepada kliennya


contohnya seperti Bank Central Asia (Wikipedia.com).
Bank kustodian mempunyai tugas untuk menyediakan
informasi mengenai agenda RUPS sehingga pemegang
saham dapat menentukan suara mereka di RUPS
termasuk

apakah

mereka

akan

melimpahkan

hak

suaranya

pada

seluruh

agenda

atau

merekaakan

memberikan hak suara pada suatu agenda tertentu.


d. Sub prinsip ke empat adalah penghilangan hambatan
pemberian

suara

oleh

pemegang

saham

yang

berdomisili di di luar wilayah kedudukan Emiten atau


Perusahaan

Publik.

Hambatan

akan

terjadi

karena

biasanya pemegang saham asing menyimpan saham


mereka melalui suatu rantai perantara (intermediaries).
Saham tersebut dicatat atasnama nasabah dalam akun
perusahaan sekuritas lalu akun perusahaan sekuritas
tercatat pada lembaga penyelesaiandan penyimpanan.
Dengan demikian maka nama dari pemegang saham
yang asli tidak langsung dapat diketahui, sehingga
begitu

perusahaan

pemegangsaham

akan

atas

meminta
suatu

keputusan

transaksi

dari

tersebut,

informasi yang seharusnya sampai sebelum keputusan


di ambil, penyampaiannya menjadi tidak tepat waktu.
Dampak dari terlambatnya informasi kepada pemegang
saham adalah tidak cukupnya waktu dari pemegang
saham untuk menganalisa dan memberikan masukan
kepada perusahaan atas hal tersebut Dengan melihat
bahwa terdapat kemungkinan perusahaan tidak dapat
memberikan perlakuan yang saham kepada semua
pemegang

sahamnya,

maka

sebaiknya

perundang-

undangan yang ada harus dapat memberikan kejelasan


mengenai pihak yang dapat diberikan kewenangan oleh
pemegang saham asing sebagai wakilnya sehingga
informasi dapat segera diterima oleh pemegang saham.
Selain itu peranturan jika dimungkinkan juga dapat
mengatur mengenai penyerderhanaan rantai perantara.
e. Sub prinsip terakhir dari bagian kesatu prinsip 3 ini
adalah mengenai proses dan prosedur RUPS yang harus
memperhatian

perlakuan

yang

sama

bagi

seluruh

pemegangsaham, termasuk prosedur yang sederhana


dan

tidak

mahal

bagi

pemegang

saham

untuk

melakukan hak votingnya.


Masih ada beberapa perusahaan yang mempunyai
prosedur rumit dan mahal dalam hubungannya dengan
hak voting pemegang saham. Misalnya penetapan fee
bagi pelaksanaan hak voting pemegang sahamnya dan
persyaratan kehadiran bagi pemegang saham untuk
melakukan voting.
Untuk itu sub prinsip
perusahaanperusahaan

ini

untuk

mengusulkan
dapat

kepada

menghilangkan

kesulitan pemegang saham untuk berpartisipasi dalam


RUPS

dan

juga

mengusulkan

untuk

dapat

menggunakanfasilitas elektronik jika pemegang saham


tidak dapat hadir dan juga tidak menujuk wakilnya di
RUPS.
2. Bagian kedua prinsip 3 ini berbicara mengenai larangan
transaksi orang dalam (insider trading) yaitu perdagangan
saham yang dilakukan oleh orang dalam, yang mengerti
proyeksi naik turunnya saham tersebut, sehingga secara
tidak

langsung

akan

merugikan

orang

lainnya

dan

perdagangan tutup sendiri yang merugikan pihak lain


(abusive self dealing). Menurut Goshen 2003, Self Dealing
merupakan tindakan curang pemegang saham kendali atau
direksi untuk menyalurkan keuntungan perusahaan kepada
mereka melalui serangkaian transaksi tanpa menyalurkan
keuntungan tersebut kepada pemegang saham lainnya.
Banyak negara OECD sudah mempunyai peraturan
perundang-undangan berkenaan dengan larangan dua
transaksi diatas. Yang masih menjadi masalah adalah
penegakkan hukum yang belum efektif atas pelanggaran
ketentuan yang ada. Oleh sebab itu, pemerintah diminta

untuk

memberikan

perhatiannya

terdapat

penegakan

hukum khususnya untuk transaksi di atas.


3. Bagian terakhir dari pinsip 3 adalah kewajiban dari
komisaris,

direksi

dan

manajemen

kunci

untuk

mengungkapkan kepentingannya kepada dewan komisaris


jika baik langsung maupun tidak langsung atas nama pihak
ketiga mempunyai kepentingan yang material dalam suatu
transaksi atau suatu hal yang mempengaruhi perusahaan.
Pengungkapankepentingan para pihak di atas kepada
dewan komisaris juga harus diikuti dengan ketidak-ikut
sertaan para pihak didalam pengambilan keputusan yang
berkaitan dengan transaksi yang memuat kepentingan
mereka tersebut.
C. PT. Aneka Tambang Tbk.
PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO)

PT

ANEKA

TAMBANG Tbk disingkat PT ANTAM (Persero) Tbk didirikan


pada tanggal 5 Juli 1968 dengan nama Perusahaan Negara
(PN) Aneka Tambang berdasarkan Peraturan Pemerintah
No. 22 tahun 1968 sebagai hasil penggabungan dari Badan
Pimpinan Umum Perusahaan-perusahaan Tambang Umum
Negara, Perusahaan Negara Tambang Bauksit Indonesia,
Perusahaan Negara Tambang Emas Tjikotok, Perusahaan
Negara Logam Mulia, PT Nikel Indonesia, Proyek Intan dan
Proyek-proyek eks Bapetamb. Pendirian PN Aneka Tambang
tersebut

telah

diundangkan

dalam

Lembaran Negara

Republik Indonesia No. 36 tahun 1968 tanggal 5 Juli 1968.


Pada tanggal 14 Juni 1974, berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 26 tahun 1974, status Perseroan diubah
dari

Perusahaan

Negara

menjadi

Perusahaan

Perseroan

(PERSERO) (Perusahaan Perseroan) dan sejak itu dikenal


sebagai Perusahaan Perseroan (Persero) Aneka Tambang.

Nama

perusahaan

Aneka Tambang

kemudian

(Persero)

diubah

berdasarkan

menjadi

akta

PT

Perseroan

Terbatas No. 320 tanggal 30 Desember 1974 dibuat di


hadapan Warda

Sungkar

sebagai pengganti

dari

Alurmei,
Abdul

S.H., pada

Latief,

dahulu

waktu

itu

notaris

di

Jakarta jo. akta Perubahan No. 55 tanggal 14 Maret 1975


dibuat di hadapan Abdul Latief, dahulu notaris di Jakarta,
dalam

rangka

melaksanakan

terdapat dalam

(i)

ketentuan-ketentuan

Undang-undang

tentang Penetapan

Peraturan

No.

tahun

Pemerintah

yang
1969

Pengganti

Undangundang No. 1 tahun 1969 (Lembaran Negara tahun


1969 No. 16, Tambahan Lembaran Negara No. 2890) tentang
bentukbentuk

Usaha

Negara

menjadi

Undang-undang

(Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1969 No. 40,


Tambahan

Lembaran

Pemerintah No. 12

Negara
tahun

No.2904),

1969

(ii)

tentang

Peraturan
Perusahaan

Perseroan (Persero). Lembaran Negara Republik Indonesia


tahun 1969 No. 21, Tambahan Lembaran Negara No.2894;
(iii)

Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1974 tentang

Pengalihan

Bentuk

Perusahaan

menjadi Perusahaan Perseroan


Presiden

Republik

Indonesia

Negara
(Persero)
No.11

Aneka
jo.

Tambang
Instruksi

tahun

1973

(disempurnakan) tentang Pedoman Hubungan dan Tatakerja


antar Menteri Bidang Teknis dan Menteri Keuangan yang
mewakili Negara selaku pemegang saham Persero; dan (iv)
Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.
Kep.

1768/MK/IV/12/1974,

tentang

Penetapan

Modal

Perusahaan Perseroan (Persero) PT Aneka Tambang, aktaakta

mana

Menkumham

telah

memperoleh

persetujuan

dari

dalam Surat Keputusannya No. Y.A. 5/170/4

tanggal 21 Mei 1975 dan kedua Akta tersebut di atas telah


didaftarkan dalam buku register yang berada di Kantor

Pengadilan
1736

Negeri Jakarta

dan

No.

berturut-turut

di

bawah

No.

1737 tanggal 27 Mei 1975 serta telah

diumumkan dalam Berita Negara No. 312, Tambahan Berita


Negara No. 52 tanggal 1 Juli 1975 (Annual Report PT. Antam
Tahun 2013).
D. Implementasi GCG pada PT. Aneka Tambang Tbk.
Secara formal implementasi GCG dalam PT Aneka
Tambang Tbk (Antam) dimulai ketika perseroan mencatatkan
sebagian

sahamnya

di

Bursa

Efek

Indonesia

pada

Novermber 1997. Sejak itu sebagai perusahaan publik, PT


Aneka

Tambang

Tbk

dituntut

untuk

transparan

dan

independen.
PT Aneka Tambang Tbk memiliki Pedoman Kebijakan
Perusahaan (PKP) guna memastikan agar kegiatan usahanya
dilaksanakan secara adil, bertanggungjawab dan transparan.
Menurut direktur utama PT Aneka Tambang Tbk, Alwin Syah
Loebis, PKP merupakan kumpulan kebijakan yang disusun
berdasarkan

prinsip

GCG

sebagai

acuan

kegiatan

dan

pengambilan keputusan perusahaan serta sebagai pedoman


dalam

melaksanakan

pengawasan

dan

pengendalian,

sekaligus menjadi kriteria penguji dalam mengkaji kesahihan


dari semua keputusan dan peraturan yang dikeluarkan PT
Aneka Tambang Tbk. Selain itu dilakukan penyempurnaan
standar etika (code of conduct) yang harus ditandatangani
setiap tahunnya dan wajib ditaati seluruh insan PT Aneka
Tambang Tbk. Standar (Code) perbaikan terhadap GCG
menurut Alwin Syah Demi memastikan berjalannya prinsip
GCG dibentuk lima komite yakni Komite Audit, Komite Pasca
Tambang dan Lingkungan, Komite Manajemen Loebis terus
dilakukan dan tiap tahun dilakukan assessment oleh konsultan
independen.

Demi memastikan berjalannya prinsip GCG dibentuk


lima komite yakni Komite Audit, Komite Pasca Tambang dan
Lingkungan, Komite Manajemen Resiko, Komite Nominasi,
Remunerasi dan Pengembangan SDM serta Komite Corporate
Governance.

Bila

manajemen

atau

direksi

melakukan

pelanggaran GCG, para karyawan diberikan akses khusus


melaporkan temuannya ke komisaris. Menurut Alwin Syah
Loebis, sejak menerapkan prinsip GCG tersebut, PT Aneka
Tambang Tbk memperoleh banyak manfaat yang kemudian
berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Dimulai
dengan keterbukaan informasi yang menimbulkan care & trust
dari investor dan para stakeholder.
Kepercayaan

itu

membuat

lembaga

kreditor

dan

masyarakat luas berminat menyerap pinjaman perusahaan


dengan

biaya

murah

sehingga

perusahaan

mengalami

pertumbuhan yang berdampak pada peningkatan harga


saham karena nilai perusahaan meningkat.
Berikut ini Standart Praktik GCG yang digunakan dalam
5 tahun terakhir:

Berikut ini penerapan Prinsip 3 OECD (Pemerataan


Perlakuan Pemegang Saham) pada PT. Aneka Tambang Tbk. :
Sub
No Prins
ip
1 3.1

3.1.a

Inti Prinsip
Kesamaan
perlakuan
antara pemegang saham
dalam kelas saham yang
sama
Kemudahan dari investor
untuk
mendapatkan
informasi mengenai hak
yang
melekat
pada
setiap seri dan kelas
saham sebelum mereka
membeli saham

Implementasi pada PT. Antam

Terdapat informasinya pada Laporan Tata


Kelola Perusahaan (AN13 425)
Terdapat Informasi :
- Peraturan Kepemilikan dan Hak Saham
(AN13 448)
- Struktur Modal Saham (AN13 450)
- Realisasi Penggunaan Dana Saham
(AN13 451)
- Pembayaran Deviden Tunai (AN13 453)
Transparasi Laporan Keuangan (Laporan
Keuangan yang audited)

3.1.b

3.1.c

Perlindungan
kepada
pemegang
saham
minoritas dari tindakan
yang merugikan yang
dilakukan oleh atau atas
nama pemegang saham
utama

Terdapat informasinya pada Laporan Tata


Kelola Perusahaan (AN13 426) namun
untuk penyampaian informasinya masih
kurang

Mengenai pihak yang


boleh
mewakili
pemegang saham dalam
RUPS. Pada prinsip ini
juga menjelaskan bahwa
bank kustodian tidak
secara otomatis menjadi
wakil pemegang saham

Terdapat informasinya pada Laporan Tata


Kelola Perusahaan (AN13 425) namun
untuk penyampaian informasinya masih
kurang

Dilindungi pada poin Hak Pemegang saham


yang tertera pada Peraturan Kepemilikan
dan Hak Saham (AN13 448)

Terdapat informasinya pada Laporan Tata


Kelola Perusahaan (AN13 426) namun
untuk pemberitahuan undangannya masih

di RUPS

kurang
Dilindungi pada poin Hak Pemegang saham
yang tertera pada Peraturan Kepemilikan
dan Hak Saham (AN13 448)

3.1.d

3.1.e

3.2

Penghilangan hambatan
pemberian suara oleh
pemegang saham yang
berdomisili di di luar
wilayah
kedudukan
Emiten atau Perusahaan
Publik
Proses
dan
prosedur
RUPS
yang
harus
memperhatian
perlakuan yang sama
bagi
seluruh
pemegangsaham,
termasuk prosedur yang
sederhana
dan
tidak
mahal bagi pemegang
saham untuk melakukan
hak votingnya.
Larangan
transaksi
orang dalam (insider
trading)
dan
perdagangan
tutup
sendiri yang merugikan
pihak lain (abusive self
dealing)

Dilindungi pada poin Hak Pemegang saham


yang tertera pada Peraturan Kepemilikan
dan Hak Saham (AN13 448)

Dilindungi pada poin Hak Pemegang saham


yang tertera pada Peraturan Kepemilikan
dan Hak Saham (AN13 448)

Diatur pada poin Pencegahan Transaksi


Orang Dalam (AN13 267)
Orang dalam perusahaan atau pihakpihak
yang mempunyai Hubungan
Istimewa
dengan
ANTAM
dilarang
memperdagangkan sekuritas perusahaan
berdasarkan informasi atau fakta material
yang belum diungkap. Oleh karena itu,
ANTAM
telah
menyusun
Kebijakan
Perdagangan
Efek
Berbentuk
Saham
Perseroan
PT
ANTAM
(Persero)
Tbk
berdasarkan
Keputusan
Direksi
No.
242.K/02/DAT/2013 dan dipublikasikan di

portal internal.

3.3

Dan juga terdapat informasinya pada


Laporan Tata Kelola Perusahaan (AN13
426)
Kewajiban
dari Terdapat pada poin Pihak Berelasi yang
komisaris, direksi dan dijabarkan secara detail (AN13 202-203)
manajemen kunci untuk
mengungkapkan
kepentingannya kepada
dewan komisaris jika
mereka, baik langsung
maupun tidak langsung
atas nama pihak ketiga
mempunyai kepentingan
yang material dalam
suatu
transaksi
atau
suatu
hal
yang
mempengaruhi
perusahaan.
*AN13 adalah Annual Report Tahun 2013

Berdasarkan Laporan Review Tata Kelola Perusahaan


oleh RSM AJJ (Audit, Tax and Advisory) untuk periode 1 Januari
2013 sampai 31 Desember 2013 yang diterbitkan pada
tanggal 14 Februari 2014 ditampilkan mengenai indicator
tolak ukur pencapaian GCG pada PT. Aneka Tambang Tbk
sesuai dengan pedoman yang digunakan (Annual Report PT.
Aneka Tambang Tbk 2013).

DAFTAR PUSTAKA
BAPEPAM-LK, 2006 Studi Penerapan Prinsip Prinsip
OECD 2004 dalam Peraturan BAPEPAM mengenai Corporate
Governance, Jakarta: Departemen Keuangan RI BAPEPAM LK
Perusahaan Perseroan (Persero). Aneka Tambang Tbk.
Annual Report Tahun 2013
Wikipedia. Bank custodian http://id.wikipedia.org/wiki/
Bank_kustodian. Diakses pada tanggal 24 November 2014
16:40.
Wikipedia.
Organisasi
untuk
Kerja
Sama
dan
Pembangunan
Ekonomi
http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_untuk_Kerja_Sama_dan_
Pembangunan_Ekonomi. Diakses pada tanggal 25 November
2014 13:20.
Zohar Goshen. 2003. The Efficiency of Corporate Self
Dealing: Theory Meets Reality. California Law Review. hal. 396
http: www.weslaw.com
www.antam.com

www.oecd.org