Anda di halaman 1dari 14

Makalah Tatakelola Perusahaan Studi Kasus KajianBapepam-LK Tahun 2006 & 2010

Disusun oleh: Nadesha Quadonya 1106001095 Nadhira Ayu Savitri 1106009601

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA TAHUN AJARAN 2013/2014

Statement of Authorship Saya/kami yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya/kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan jelas bahwa saya/kami menyatakan dengan jelas menggunakannya.

Saya/kami memahami bahwa tugas yang saya/kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

MataAjaran

Tatakelola Perusahaan Makalah Tatakelola Perusahaan Studi Kasus Kajian Bapepam-LK Tahun 2006 & 2010

JudulMakalah/Tugas :

Tanggal Dosen

: :

Rabu, 19 Februari 2014 Elok Tresnaningsih, M.S.Ak

Nama NPM Tandatangan

: : :

Nadesha Quadonya 1106001095

Nama NPM Tandatangan

: : :

Nadhira Ayu Savitri 1106009601

DAFTAR ISI

STATEMENT OF AUTHORSHIP ....................................................................................... i DAFTAR ISI ........................................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1 BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................................... 2 BAB III PEMBAHASAN KASUS ........................................................................................... 4 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................................. 9 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 10

BAB I Pendahuluan

Saat ini tatakelola perusahaan telah menjadi isu yang mempengaruhi kebijakan structural perusahaan dan ekonomi secara makro, yang bersinergi dalam pencapaian tujuan perusahaan.Tatakelola perusahaan yang baik mendorong terciptanya

persainganusaha yang sehat, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas pasar finansial. Karena adanya globalisasi yang menghubungkan perusahaan-perusahaan di berbagai negara dalamsistem ekonomi pasa rdunia, dibutuhkan suatu acuani nternasional dalam penerapan tatakelola perusahaan yang baik (GCG). Hal ini melatarbelakangi diiterbitkannya OECD Principles of Corporate Governance pada tahun 2004, yang berfokus pada masalah tatakelola yang mungkin timbul dari pemisahan kepemilikan dan kontrol.

Selain mengacu pada OECD Principles of Corporate Governance, penerapan GCG juga berpedoman padaPedoman Umum Good Corporate Governance yang diterbitkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) pada tahun 2006. Penerapan OECD Principles of Corporate Governance di Indonesia telah dikaji oleh Bapepam-LK yang hasilnya diterbitkan pada tahun 2006. Dalam kajian tersebut, Bapepam-LK menemukan bahwa masih ada prinsip OECD yang belum

diterapkandalam peraturan Bapepam. Sedangkan hasil kajian Bapepam-LK atas peraturan GCG di negara-negara anggota ASEAN Capital Market Forum (ACMF) yang tahun 2010 menemukan bahwa masih terdapat perbedaan ketentuan dan persyaratan terkait GCG di antara negara-negara ACMF. Makalah ini bertujuan membahas isu-isu terkait hasil dari kedua kajian tersebutdan implikasinya pada penyusunan kebijakan dan penerapan GCG di Indonesia.

BAB II Landasan Teori

Boards, termasuk di dalamnya Dewan Komisaris dan Direksi, menjadi instrumen yang efektif dalam menerapkan kontrol internal manajemen untuk mencapai good corporate governance. Ada dua jenis struktur boards yaitu one-tier board (AngloSaxon) dan two-tier boards (European). Dalam one-tier board, yang diterapkan oleh antara lain AS dan Inggris, hanya terdapat Dewan Direksi yang memiliki fungsi manajemen dan kontrol. Direksi terdiri atas direktur eksekutif yang menjalankan perusahaan dan direktur non-eksekutif yang tidak berperan dalam operasi perusahaan. Kelebihan sistem one-tier adalah pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akses langsung terhadap informasi, sedangkan kekurangannya adalah Direksi terlalu bergantung kepada CEO dengan tujuan diangkat kembali (reappointed) sehingga CEO mengontrol Direksi yang seharusnya independen. Struktur kedua adalah two-tier boards, yang diterapkan oleh antara lain Jerman dan Indonesia. Dalam two-tier boards terdapat Dewan Komisaris yang memiliki fungsi pengawasan dan Direksi yang memiliki fungsi manajemen. Kelebihan struktur ini adalah pemisahan fungsi pengawasan dan manajemen yang pening untuk kontrol internal, serta Dewan Komisaris menjadi wakil dari kepentingan pemegang saham. Sedangkan kekurangannya adalah Dewan Komisaris yang berasal dari luar perusahaan seringkali kurang memahami nature of business perusahaan dan Dewan Komisaris tidak mempunyai akses langsung kepada informasi sehingga terlalu bergantung kepada Direksi. Dalam mencapai good corporate governance, Indonesia mengacu pada OECD Principles of Corporate Governance dan Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia yang diterbitkan Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia

Pedoman KNKG secara keseluruhan mengatur hal-hal yaitu rumusan peran 3 pilar penting GCG, asas GCG, etika bisnis dan pedoman perilaku, organ perusahaan, hak dan tanggung jawab pemegang saham, serta peranan pemangku kepentingan. Tiga pilar penting GCG terdiri dari negara dan perangkatnya yang menciptakan, melaksanakan dan menegakkan undang-undang dengan konsisten; dunia usaha yang

berpedoman

pada

GCG

dalam

melakukan

usaha,

dan

masyarakat

yang

menunjukkankepeduliandanmelakukankontrol sosial. Sedangkan asas GCG terdiri atas transparansi (perusahaan harus menyediakani nformasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan), akuntabilitas (perusahaan harus dapat

mempertanggungjawabkan kinerjanya secaratransparan dan wajar), responsibilitas (perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggungjawab terhadap masyarakat dan lingkungan), independensi (perusahaan harus dikelola secara independen), sertakewajaran dank esetaraan (perusahaan harus memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya). OECD Principles of Corporate Governance

OECD Principles terdiri dari enam prinsip GCG yaitu menjamin kerangka dasar CG yang efektif, mengatur hak pemegang saham dan fungsi utama kepemilikan saham, mengatur penerapan perlakuan yang samaterhadappemegangsaham termasuk pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing, mengatur peranan stakeholders dalam corporate governance, mengatur keterbukaan informasi dan transparansi, dan merinci tanggung jawab Dewan Komisaris dan Direksi.

BAB III

Pembahasan Kasus

Kajian Bapepam-LK tahun 2006 atas penerapan prinsip-prinsip OECD 2004 dalam peraturan Bapepam bertujuan menyelaraskan peraturan Bapepam dengan prinsip-prinsip OECD dan melakukan pengkajian terhadap implementasi peraturan tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar prinsip OECD telah diterapkan di Indonesia melalui peraturan Bapepam.Namun, ada beberapa prinsip yang signifikan bagi terlaksananya GCG yang belum diatur dalam ketentuan. Perbedaan tersebut digambarkan lebih lanjut pada table berikut: Prinsip IV Sub-prinsip C Penerapan dalam Peraturan Bapepam Belum ada peraturan Bapepam yang mengatur Employee Stock Option (ESOP) IV D Belum ada peraturan Bapepam yang mensyaratkan disusunnya Sustainability Report yang terpisah dari Laporan Tahunan

IV

Belum ada peraturan Bapepam yang mengatur kewajiban dan tata cara perusahaan terkait whistle blower. Karyawan dijamin hak-haknya sesuai UU No.13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban

A4

Terkait informasi remunerasi, belum terdapat peraturan Bapepam yang mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan kewajiban dan hak individual dari para direksi dan komisaris.

VI

D6

Belum ada peraturan Bapepam yang mengatur kewajiban dewan komisaris terkait potensi benturan kepentingan dari manajemen, anggota Dewan dan pemegang saham, serta penyalahgunaan aset perusahaan dan penyelewengan dalam transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa.

Terkait hasil kajian tersebut, Bapepam-LK mengajukan beberapa rekomendasi yang dapat memperbaiki penerapan GCG di Indonesia, yaitu: Meningkatkan sosialiasi penerapan GCG bagi perusahaan maupun masyarakat sebagai stakehoder Menyusun ketentuan yang mengatur tentang ESOP, dengan

mempertimbangkan meningkatkatnya kepopuleran ESOP sebagai bentuk remunerasi Menyusun ketentuan yang mengatur pelaporan kegiatan CSR perusahaan dalam sebuah laporan tersendiri yaitu Sustainability Reportagar stakeholder dapat mengakses informasi dampak sosial dan lingkungan dari aktivitas perusahaan Menyusun ketentuan yang mewajibkan Dewan Komisaris dan Direksi melakukan pengungkapan apabila memiliki kepentingan material atas transaksi perusahaan Manyusun ketentuan yang mengatur pembentukan komite nominasi dan remunerasi sehingga para pemegang saham memiliki akses yang lebih terbuka terhadap informasi nominasi dan remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi Menyusun ketentuan yang mengatur tata cara perusahaan memfasilitasi internal whistleblowing

Kemudian pada tahun 2010 Bapepam-LK melakukan kajian terhadap pedoman Good Corporate Governance di negara-negara yang tergabung dalam ASEAN Capital Market Forum khususnya Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Philipina dengan tujuan untuk memperoleh gambaran mengenai perbedaan dan persamaan ketentuan yang diterapkan bagi perusahaan-perusahaan terbuka di Negaranegara tersebut. Dari kegiatan ini diharapkan akan diketahui sejauh mana pedoman Good Corporate Governance di Indonesia sejalan dengan pedoman Good Corporate Governance di negara-negara tersebut di atas.

Dari hasil kajian tersebut ditemukan beberapa perbedaanpedoman Good Corporate Governance di Indonesia, Malaysia, Singapore, Thailand danPhilipina sebagai berikut: Indonesia MetodePene Mandatory rapanPedom an Persyaratanj 30% Malaysia Comply dan Explain sepertigad sepertigadar sepertigadarij umlahdewan (Board) Singapore Thailand Philipina

Comply dan Comply dan Comply Explain Explain dan Explain Minimal 20% darijumlah dewan disesuaikan disesuaikand engankomple ksitas setidaknya terdiridari 5 orang &tidaklebi hdari 15 anggotame ncakup

umlahkomis darijumlahd arisindepen den komposisid anjumlahDe wan ewankomis aris disesuaikan dengankom pleksitas perusahaan danmemper

arijumlahd ijumlahdew ewan (Board) disesuaika an (Board)

ndenganko dengankom mpleksitas perusahaa ndanmem pleksitas

perusahaand perusahaanda anmemperh atikanefekti fitasdalamp nmemperhati kanefektifitas dalampenga

hatikanefekt perhatikan ifitasdalamp efektifitas engambilan keputusan.

dalampeng engambilan ambilanke putusan. keputusan.

mbilankeputu executive san. director (direksi) dan non executive director (komisaris ).

Komite Audit danKomite Nominasida

Komite audit diwajibkans edangkanko

Komite audit diwajibka nsedangka nkomiteno minasidan remuneras

Komite audit diwajibkans edangkanko mitenomina sidanremun erasi

Komite audit diwajibkanse dangkankomi tenominasida nremunerasi dianjurkan

Komite audit diwajibka nsedangka nkomiteno minasidan remuneras

nRemuneras mitenomina i. sidanremun erasi

dianjurkan

i dianjurkan

dianjurkan

i dianjurkan

Keberadaan fungsi audit internal

Wajibbagip erusahaante rbuka.

Wajibbagi perusahaa nterbuka.

Wajibbagip erusahaante rbuka.

Wajibbagiper usahaanterbu ka.

Wajibbagi perusahaa nterbuka.

Terkait dengan hasil kajian tersebut, beberapa rekomendasi yang perlu dilakukan yaitu pengungkapanpelaksanaanpedoman Good Corporate Governance pada Emiten dan Perusahaan Publik perlu diatur dalam peraturan OJK sebagai pengganti Bapepam-LK sehingga OJK dapat melakukan pengawasan dan memberikan sanksi dalam hal perusahaan tidak melaksanakan ketentuantersebut. Pengaturan mengenai kewajiban ini diperlukan mengingat kualitas penerapan prinsipprinsip GCG oleh Emiten dan Perusahaan Publik belum cukupt inggi. Metode comply and explain dalam penerapan GCG perlu dipertimbangkan karena dapat memberikan fleksibilitas dalam penerapan aspek-aspek yang diatur dalam Pedoman. Kemudian OJK dapat menggunakan Pedoman Good Corporate Governance yang disusun oleh Komite Nasional Kebijakan Governance atau menerbitkan Pedoman Good Corporate Governance secara khusus bagi Emiten dan perusahaanPublik. Yang terakhir, pelaksanaan aspek-aspek dalam Pedoman Good Corporate dapat ditingkatkan menjadi bersifat mandatory, seperti pembentukan komite nominasi dan remunerasi dan kewajiban memiliki code of conduct perusahaan secara tertulis untuk meningkatkan kualitas penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dalam pengelolaan perusahaan. Sebagai respon dari Kajian Bapepam-LK atas Penerapan GCG di Negaranegara ACMF tahun 2010, OJK mengeluarkan Peta Arah Tata Kelola Perusahaan Indonesia (Roadmap Good Corporate Governance) khusus untuk Emiten dan Perusahaan Publik pada tanggal 2 Februari 2014, yang didukung oleh International Financial Corporation (IFC), anak perusahaan Bank Dunia. Tujuan disusunnya Roadmap ini adalah menyusun tonggak perbaikan tatakelola Emiten dan Perusahaan Publik, memperbaiki regulasi dan praktik tata kelola Emiten dan Perusahaan Publik secara komprehensif, serta meningkatkan praktik tata kelola Emiten dan Perusahaan Publik Indonesia agar setidaknya sejajar dengan perusahaan di kawasan ASEAN.

Aspek-aspek tatakelola perusahaan yang perlu ditingkatkan adalah Kerangka Tata Kelola Perusahaan, Perlindungan PemegangSaham, Peranan Pemangku Kepentingan, Transparansi Informasi, serta Peran dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris dan Direksi. Penyusunan roadmap ini merujuk kepada standar internasiona lterkait praktik tatakelola perusahaan yang baik. Beberapa dari rekomendasi yang diberikan Bapepam-LK telah dituangkan OJK dalam Roadmap, antara lain pemberian insentif karyawan berupa Employee Stock Ownership Program (ESOP), penerapan whistleblowing system, serta pengungkapan komite nominasi dan remunerasi. Dalam rekomendasinya, OJK melalui Roadmap juga menyarankan penggunaan metode comply-and-explain, yang telah lama menjadi best practice di tingkat internasional, dalam implementasi GCG di perusahaan menggantikan metode voluntary yang timbul akibat sifat Pedoman Umum KNKG yangtidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat (non-binding force). Metode comply-and-explain membutuhkan dua komponen penting, yaitu tersedianya pedoman tata kelola khusus bagi Emiten dan Perusahaan Publik yang akan menjadi rujukan utama bagi pendekatan comply or explain dan adanya peraturan yang mewajibkan Emiten dan Perusahaan Publik untuk mengungkapkan kepatuhannya terhadap pedomantata kelola dimaksud, dan bila tidak sanggup mematuhinya, harus dapat menjelaskan alasannya

BAB IV Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan Di Indonesia yang menganut sistem two-tier, penerapan Good Corporate Governance manjadi penting untuk menghindari benturan konflik yang mungkin terjadi antara Dewan Komisaris sebagai supervisor dan Direksi yang memiliki fungsi manajemen. Praktik GCG di Indonesia semakin berkembang setelah terbitnya OECD Principles yang merupakan benchmark internasional penerapan GCG dan Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia yang diterbitkan KNKG. Namun, kajian Bapepam-LK yang diterbitkan pada tahun 2006 menunjukkan bahwa ada beberapa prinsip fundamental OECD yang belum dituangkan dalam peraturan Bapepam-LK pada saat itu, sehingga kualitas GCG di Indonesia masih berada di bottom quartile. Alasan tersebut melatarbelakangi dilakukannya kajian Bapepam-LK terhadap peraturan GCG di negara-negara anggota ACMF. Dari kedua kajian tersebut, dihasilkan beberapa rekomendasi yang dapat membantu KNKG meningkatkan kualitas peraturan GCG di Indonesia, seperti penggunaan metode comply and explain serta penyusunan peraturan yang mengatur antara lain pengungkapan hubungan istimewa, Employee Stock Option (ESOP), dan tata cara koordinasi sistem whistleblower. Perkembangan terakhir dalam penerapan Good Corporate Governance adalah penerbitan Roadmap Tata Kelola Perusahaan Indonesia oleh Otoritas Jasa Keuangan yang mengatur penerapan prinsip-prinsip fundamental yang sebelumnya tidak memiliki ketentuan khusus, seperti pemberian insentif ESOP, sistem whistleblower, dan pengungkapan komite nominasi dan remunerasi. Roadmap tersebut juga merekomendasikan penggunaan metode comply-or-explain untuk menggantikan metode voluntary yang telah diterapkan sejak penerbitan Pedoman Umum KNKG.

Saran Kami menyarankan kepada Otoritas Jasa Keuangan sebagai penyusun Roadmap agar Roadmap tidak hanya memuat rekomendasi yang dapat meningkatkan penerapan Good Corporate Governance, tetapi juga memuat sanksi yang jelas atas kegagalan perusahaan dalam menerapkan GCG dengan baik. Sanksi tersebut dapat

mengacu kepada sanksi yang diatur oleh Undang-undang Perseroan Terbuka maupun Undang-undang Pasar Modal. Dimuatnya sanksi dalam pedoman implementasi GCG penting untuk memberikan kejelasan atas konsekuensi tidak menjalankan GCG dan memberi disinsentif bagi perusahaan untuk melakukan praktik-praktik tidak etis dan ilegal.

Daftar Pustaka Brndle, Udo C. &Jrgen Noll. 2004. The Power of Monitoring. German Law Journal, Vol. 5, No. 11. KNKG. 2006. Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia. OECD.2004.OECD Corporate Governance Principles. OJK. 2014. Roadmap Tata Kelola Perusahaan Indonesia Menuju Tata Kelola Emiten dan Perusahaan Publik yang Lebih Baik.