Anda di halaman 1dari 14

ETIKA PROFESI DAN TATA KELOLA KORPORAT

PRINSIP 2 OECD :
PT Aneka Tambang Tbk

Nama Kelompok:

Bayu Ari Bowo (1506773791)


Iga Cindy Pratiwi (1506774043)
Purnellatika Azani (1506701123)
Yuha Nadhirah Qintharah (1506701376)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS INDONESIA
2015/2016

1|Page
Universitas Indonesia
Fakultas Ekonomi
Program Studi MAKSI-PPAk
Semester Gasal 2015/2016

STATEMENT OF AUTHORSHIP

Kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa tugas terlampir adalah murni
hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya gunakan tanpa
menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada
mata ajaran lain, kecuali saya menyatakan dengan jelas bahwa kami menggunakannya.

Kami memahami bahwa tugas yang saya kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Mata Ajaran : Etika Profesi dan Tata Kelola Korporat


Judul Tugas : Prinsip 2 OECD : PT Aneka Tambang, Tbk

Hari, Tanggal : Rabu, 4 November 2015


Nama Pengajar : Prof. Sidharta Utama, Ph.D

Kelas : A-15/1P

Kelompok 5 :
1. Nama Mahasiswa : Bayu Ari Bowo
Nomor Mahasiswa : 1506773791
2. Nama Mahasiswa : Iga Cindy Pratiwi
Nomor Mahasiswa : 1506774043
3. Nama Mahasiswa : Purnellatika Azani
Nomor Mahasiswa : 1506701123
4. Nama Mahasiswa : Yuha Nadhirah Qintharah
Nomor Mahasiswa : 1506701376

(Dibuat oleh seluruh anggota kelompok)

Tandatangan :

Bayu Ari Bowo Iga Cindy Pratiwi Purnellatika Azani Yuha Nadhirah Qintharah
1506773791 1506774043 1506701123 1506701376

2|Page
PENDAHULUAN

Adanya pemisahan antara kepemilikan dengan pengendalian di dalam perusahaan


menyebabkan munculnya teori keagenan. Menurut Jensen dan Meckling (1976), hubungan
keagenan sebagai “agency relationship as a contract under which one or more person (the principals)
engage another person (the agent) to perform some service on their behalf which involves delegating
some decision making authority to the agent”. Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak atau
perjanjian antara satu atau lebih orang selaku pemilik yang memerintah orang lain selaku agen
untuk melakukan suatu jasa atas nama pemilik termasuk pemberian wewenang dalam pengambilan
keputusan1. Manajemen merupakan pihak yang dikontrak (agen) oleh pemegang saham (prinsipal)
untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham dengan tujuan memaksimalkan nilai perusahaan.
Masalah keagenan muncul karena sifat dasar self interest manajemen yang cenderung untuk
mendahulukan kepentingan pribadi dan tidak lagi memaksimalkan nilai perusahaan. Selain itu,
adanya asymmetry information yang membuat pemilik atau pemegang saham selalu pada posisi
yang dirugikan dibandingkan manajemen. Asymmetry information adalah suatu situasi dimana salah
satu pihak (manajemen) dalam transaksi memiliki informasi yang lebih banyak dibanding pihak lain
(pemilik atau pemegang saham). Teori keagenan dan informasi asimetri inilah yang menjadi cikal
bakal munculnya isu corporate governance dengan tujuan untuk mengendalikan konflik kepentingan
antara agent (manajer) dengan principle (pemilik).

Corporate governance atau tata kelola perusahaan adalah rangkaian proses, kebiasaan,
kebijakan, aturan, dan institusi yang memengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta pengontrolan
suatu perusahaan atau korporasi. Tata kelola perusahaan juga mencakup hubungan antara para
pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat serta tujuan pengelolaan perusahaan. Pihak-
pihak utama dalam tata kelola perusahaan adalah pemegang saham, manajemen, dan dewan
direksi. Pemangku kepentingan lainnya termasuk karyawan, pemasok, pelanggan, bank dan kreditor
lain, regulator, lingkungan, serta masyarakat luas2. Saat ini, penerapan corporate governance bukan
lagi merupakan pilihan bagi perusahaan, tetapi sudah menjadi keharusan untuk diimplementasikan.
Hal ini diperkuat dengan adanya tuntutan dari publik kepada perusahaan untuk menerapkan
corporate governance serta adanya regulasi yang mengatur penerapannya.

OECD3 mengelompokkan prinsip-prinsip corporate governance menjadi 6 bagian, yaitu :

1. Kerangka tata kelola (Ensuring the basis for an effective corporate governance framework),
2. Perlindungan atas hak-hak pemegang saham (The rights of shareholders and key ownership
function),

1
https://bungrandhy.wordpress.com/2013/01/12/teori-keagenan-agency-theory/
2
www.wikipedia.org
3
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD - Organisation for Economic Co-operation
and Development) merupakan sebuah organisasi internasional dengan tiga puluh negara yang menerima
prinsip demokrasi perwakilan dan ekonomi pasar bebas. Berawal tahun 1948 dengan nama Organisasi untuk
Kerja Sama Ekonomi Eropa (OEEC - Organisation for European Economic Co-operation), dipimpin oleh Robert
Marjolin dari Perancis, untuk membantu menjalankan Marshall Plan, untuk rekonstruksi Eropa setelah Perang
Dunia II. Kemudian, keanggotaannya merambah negara-negara non-Eropa, dan tahun 1961, dibentuk kembali
menjadi OECD oleh Konvensi tentang Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi. (Sumber :
www.wikipedia.org)

3|Page
3. Perlakuan yang adil bagi seluruh pemegang saham (The equitable treatment of
shareholders),
4. Peranan stakeholders dalam corporate governance (The role of stakeholders in corporate
governance),
5. Keterbukaan dan Tranparansi (Disclosure and transparency), dan
6. Tanggungjawab dewan komisaris (The responsibilities of the board).

Di Indonesia, praktek Good Corporate Governance (GCG) mulai banyak dikenal pada saat
terjadinya krisis ekonomi tahun 1997. Banyaknya bank dan perusahaan besar yang jatuh pada saat
krisis tersebut diduga karena buruknya corporate governance. Pengaturan penerapan GCG di
Indonesia berawal dari usulan penyempurnaan peraturan pada Bursa Efek Jakarta (BEJ), yang
sekarang bernama Bursa Efek Indonesia (BEJ) atau Indonesia Stock Exchange (IDX), dimana para
emitennya diwajibkan untuk mengangkat komisaris independen serta membentuk audit commitee.
Pada tahun 1999, pemerintah membentuk lembaga khusus yang bernama Komite Nasional
mengenai Kebijakan Corporate Governance (KNKCG). Tugas utama KNKCG adalah merumuskan dan
menyusun rekomendasi kebijakan nasional mengenai GCG, serta memprakarsai dan memantau
perbaikan di bidang corporate governance di Indonesia. Pedoman umum GCG pertama kali muncul
di tahun 2001 melalui KNKGC, disusul dengan pedoman CG bidang Perbankan tahun 2004 dan
Pedoman Komisaris Independen serta Pedoman Pembentukan Komite Audit yang Efektif. Pada
tahun 2004, KNKGC diubah menjadi Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) dengan
diperluas cakupan tugasnya, yaitu tidak hanya sosialisasi governance di sektor korporasi, tetapi juga
sektor publik. KNKG menyempurnakan pedoman CG pada tahun 2006.

ASEAN menyepakati rencana implementasi ASEAN Capital Market Forum (ACMF)


Implementation Plan pada tahun 2009 untuk mempromosikan pengembangan pasar modal yang
terintegrasi. Salah satu alat yang digunakan dalam memeringkat kinerja CG perusahaan publik di
ASEAN adalah dengan ASEAN Corporat Governance Scorecard. Prinsip-prinsip CG pada OECD
digunakan sebagai acuan dalam penyusunan scorecard tersebut. Hasil atas penilaian di Indonesia
adalah bahwa sebagian besar perusahaan publik belum menerapkan prinsip-prinsip CG yang berlaku
global. Hal ini terlihat dari rata-rata nilai 43,4% dengan nilai maksimum 75,4% dan nilai minimum
20,8%. Berdasarkan hasil penilaian di tahun 2012 dan 2013, terdapat peningkatan yang signifikan
dalam tata kelola emiten di Indonesia. Namun, masih terdapat beberapa aspek yang memerlukan
perbaikan, terutama terkait dengan informasi agenda dan hasil RUPS, informasi pada situs web
emiten, serta proses nominasi direksi dan dewan komisaris. 4

4
ASEAN Corporate Governance Scorecard : Country Reports and Assesments 2012-2013; Join initiative of the
ASEAN Capital Market Forum (ACMF) and the Asian Development Bank (ADB)

4|Page
LANDASAN TEORI

I. Prinsip II OECD
Prinsip OECD (2004) memastikan dasar untuk kerangka kerja tata kelola perusahaan yang
efektif, hak pemegang saham dan fungsi kepemilikan, perlakuan yang adil terhadap pemegang
saham, peran pemegang saham dalam CG, keterbukaan tata kelola perusahaan dan transparansi,
serta tanggung jawab dewan. Terdapat 6 bagian prinsip-prinsip penerapan CG yang dikembangkan
oleh OECD, yaitu :

1. Ensuring the basis for an effective corporate governance framework,


2. The rights of shareholders and key ownership function,
3. The equitable treatment of shareholders,
4. The role of stakeholders in corporate governance,
5. Disclosure and transparency, dan
6. The responsibilities of the board.

Pada paper ini, hanya membahas tentang prinsip nomor 2, yaitu perlindungan atas hak-hak
pemegang saham.

Prinsip CG OECD tentang tata kelola menyebutkan bahwa kerangka tata kelola perusahaan
harus melindungi hak-hak pemegang saham dan memfasilitasi pelaksanaan hak-hak pemegang
saham. Pada prinsip nomor 2 tersebut, terdapat 7 bagian, yaitu :

A. Hak-hak dasar pemegang saham termasuk hak untuk:


1. Metode pendaftaran kepemilikan yang aman
2. Mengalihkan atau memindahkan saham
3. Mendapatkan informasi yang relevan dan material tentang korporasi secara tepat waktu
dan teratur
4. Berpartisipasi dan memberikan suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
5. Mengangkat dan memberhentikan Direksi dan Dewan Komisaris
6. Mendapatkan bagian dalam keuntungan perusahaan

B. Hak-hak pemegang saham untuk berpartisipasi dan mendapatkan cukup informasi dalam
pengambilan keputusan penting perusahaan, seperti :
1. Perubahan anggaran dasar perusahaan atau akte pendirian atau dokumen-dokumen
tentang pengelolaan perusahaan lainnya
2. Otorisasi penambahan atau penerbitan saham baru
3. Transaksi luar biasa (extraordinary transaction), termasuk pengalihan sebagian atau
hampir seluruh aset yang berdampak pada penjualan perusahaan.

C. Pemegang saham memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara efektif dan memberikan
suara dalam RUPS serta diberikan informasi mengenai peraturan-peraturan termasuk prosedur
penyampaian hak suara. Hal ini meliputi :
1. Informasi yang memadai dan tepat waktu terkait tanggal, lokasi, dan agenda RUPS,
termasuk masalah-masalah yang akan diputuskan dalam rapat

5|Page
2. Kesempatan untuk bertanya kepada pengurus, termasuk pertanyaan berkaitan dengan
audit eksternal tahunan, mengusulkan butir-butir agenda rapat, dan mengajukan
pemecahannya dalam batas-batas yang wajar
3. Pemberian fasilitas kepada pemegang saham untuk berpartisipasi efektif dalam
keputusan-keputusan pokok corporate governance, termasuk mengusulkan dan memilih
calon anggota pengurus. Selain itu, kewajaran atas komponen penggajian atau
kompensasi bagi anggota pengurus dan karyawan harus didasarkan pada persetujuan
pemegang saham.
4. Pemegang saham harus dapat memberikan hak suara secara langsung atau in absentia,
dan efek yang sama harus diberikan kepada mereka, baik yang secara langsung atau in
absentia.

D. Struktur dan komposisi modal yang memungkinkan pemegang saham tertentu untuk
mendapatkan tingkat pengendalian yang tidak proporsional dengan kepemilikan ekuitas mereka
harus diungkapkan

E. Pasar untuk pengendalian perusahaan berfungsi secara efisien dan transparan


1. Peraturan dan prosedur yang mengatur akuisisi perusahaan di pasar modal, dan transaksi
yang luar biasa, seperti merger dan penjualan aset perusahaan dalam jumlah yang
substansial, harus diatur secara jelas dan diungkapkan sehingga investor mengetahui hak-
hak dan pilihan-pilihannya. Transaksi harus terjadi pada harga transparan dan dalam
kondisi yang adil yang melindungi hak-hak semua pemegang saham sesuai dengan
klasifikasinya
2. Perangkat anti-take-over tidak boleh digunakan untuk melindungi manajemen dan
dewan direksi dari akuntabilitas

F. Pelaksanaan hak-hak atas kepemilikan oleh seluruh pemegang saham, termasuk investor
institusi, harus difasilitasi. Hal-hal yang diatur adalah :
1. Investor institusi yang bertindak dalam kapasitas secara fidusia harus mengungkapkan
keseluruhan tata kelola perusahaan dan kebijakan pemungutan suara berkaitan dengan
investasinya, termasuk tata cara yang telah ditetapkan untuk memutuskan penggunaan
hak suara mereka.
2. Investor institusi yang bertindak dalam kapasitas secara fidusia harus mengungkapkan
bagaimana mereka menangani conflict of interest (konflik kepentingan) yang material
yang mungkin mempengaruhi pelaksanaan hak-hak pemilik utama berkaitan dengan
investasinya
G. Pemegang saham, termasuk pemegang saham institusi, harus diperbolehkan untuk saling
berkonsultasi tentang masalah-masalah berkenaan dengan hak-hak dasar pemegang saham
sebagaimana didefinisikan dalam prinsip-prinsip tersebut di atas, dapat dikecualikan untuk
mencegah penyalahgunaan.

6|Page
II. ASEAN Corporate Governance Scorecard (Bagian A)
Dalam memberikan penilaian pelaksanaan corporate governance bagi perusahaan go public,
ACMF mengembangkan ASEAN Corporat Governance Scorecard template. Terdapat 2 level penilaian,
level 1 adalah five major sections terkait dengan prinsip-prinsip OECD, sedangkan level 2 adalah two
additional sections terkait bonus dan penalti.

Prinsip 2 OECD, yaitu hak pemegang saham diatur pada level 1 bagian A - ASEAN Corporat
Governance Scorecard. Terdapat 26 pertanyaan untuk menilai bagian A ini, yaitu :

No Code Question Guiding Reference


Level 1 : Major Section
A Rights of Shareholders
A.1 Basic Shareholder Rights
1 A.1.1 Does the company pay (interim and final/annual) OECD Principle II: The Rights of Shareholders
dividends in an equitable and timely manner; and Key Ownership Functions
that is, all shareholders are treated equally and (A) Basic shareholder rights should include
paid within 30 days after being (i) declared for the right to, amongst others: (6) share in the
interim dividends and (ii) approved by annual profits of the corporation.
general meeting (AGM) for final dividends?

A.2 Right to participate in decisions concerning fundamental corporate changes.


Do shareholders have the right to participate in:
2 A.2.1 Amendments to the company's constitution? OECD Principle II
(B) Shareholders should have the right to
participate in, and to be sufficiently
informed on, decisions concerning
fundamental corporate changes such as: (1)
amendments to the statutes, or articles of
incorporation or similar governing
documents of the company.

3 A.2.2 The authorisation of additional shares? OECD Principle II (B):


(2) the authorization of additional shares
4 A.2.3 The transfer of all or substantially all assets, OECD Principle II. (B):
which in effect results in the sale of the company? (3) extraordinary transactions, including the
transfer of all or substantially all assets, that
in effect result in the sale of the company

A.3 Right to participate effectively in and vote in general shareholder meetings and should be
5 A.3.1 Do shareholders have the opportunity, evidenced OECD Principle II (C):
by an agenda item, to approve remuneration (3) Effective shareholder participation in key
(fees, allowances, benefit-in-kind and other corporate governance decisions, such as the
emoluments) or any increases in remuneration nomination and election of board members,
for the non-executive directors/commissioners? should be facilitated. Shareholders should
be able to make their views known on the
6 A.3.2 Does the company provide non-controlling remuneration policy for board members and
shareholders a right to nominate candidates for key executives. The equity component of
board of directors/commissioners? compensation schemes for board members
7 A.3.3 Does the company allow shareholders to elect and employees should be subject to
directors/commissioners individually? shareholder approval.

7|Page
No Code Question Guiding Reference
Level 1 : Major Section
8 A.3.4 Does the company disclose the voting and vote OECD Principle II (C):
tabulation procedures used, declaring both Shareholders should have the opportunity
before the meeting proceeds? to participate effectively and vote in general
shareholder meetings and should be
informed of the rules, including voting
procedures that govern general shareholder
meetings
9 A.3.5 Do the minutes of the most recent AGM record OECD Principle II (C):
that there was an opportunity allowing for (2) Shareholders should have the
shareholders to ask questions or raise issues? opportunity to ask questions to the board,
10 A.3.6 Do the minutes of the most recent AGM record including questions relating to the annual
questions and answers? external audit, to place items on the agenda
11 A.3.7 Did the disclosure of the outcome of the most of general meetings, and to propose
recent AGM include resolution(s)? resolutions, subject to reasonable
12 A.3.8 Did the company disclose the voting results limitations.
including approving, dissenting, and abstaining
votes for each agenda item for the most recent
AGM?
13 A.3.9 Did the company disclose the list of board OECD Principle II (C); and
members who attended the most recent AGM? ICGN 2.4.2:
14 A.3.10 Did the chairman of the board of All directors need to be able to allocate
directors/commissioners attend the most recent sufficient time to the board to perform their
AGM? responsibilities effectively, including
15 A.3.11 Did the CEO/Managing Director/President attend allowing some leeway for occasions when
the most recent AGM? greater than usual time demands are made.
16 A.3.12 Did the chairman of the Audit Committee attend
17 A.3.13 Did the company organise their most recent AGM OECD Principle II (C)
in an easy to reach location?
18 A.3.14 Does the company allow for voting in absentia? OECD Principle II (C): (4) Shareholders
should be able to vote in person or in
absentia, and equal effect should be given
to votes whether cast in person or in
absentia.
19 A.3.15 Did the company vote by poll (as opposed to by OECD Principle II (C)
show of hands) for all resolutions at the most
recent AGM?
20 A.3.16 Does the company disclose that it has appointed OECD Principle II (C)
an independent party (scrutineers/inspectors) to
count and/or validate the votes at the AGM?
21 A.3.17 Does the company make publicly available by the OECD Principle II (C):
next working day the result of the votes taken (1) Shareholders should be furnished with
during the most recent AGM for all resolutions? sufficient and timely information
concerning the date, location and agenda of
22 A.3.18 Do companies provide at least 21 days notice for general meetings, as well as full and timely
all resolutions? information regarding the issues to be
23 A.3.19 Does the company provide the rationale and decided at the meeting.
explanation for each agenda item which require
shareholders’ approval in the notice of
AGM/circulars and/or the accompanying
statement?

8|Page
No Code Question Guiding Reference
Level 1 : Major Section
A.4 Markets for corporate control should be allowed to function in an efficient and transparent
24 A.4.1 In cases of mergers, acquisitions and/or OECD Principle II (E):
takeovers, does the board of Markets for corporate control should be
directors/commissioners of the offeree company allowed to function in an efficient and
A.5 The exercise of ownership rights by all shareholders, including institutional investors, should
25 A.5.1 Does the company publicly disclose policies to OECD Principle II (F):
encourage shareholders including institutional The exercise of ownership rights by all
shareholders to attend the AGM? shareholders, including institutional
26 A.5.2 Is the share ownership by institutional investors, investors, should be facilitated.
other than controlling shareholders, greater than
5%?

Bonus dan penalty terkait prinsip 2 OECD, yaitu hak pemegang saham diatur pada level 2
bagian A - ASEAN Corporate Governance Scorecard. Terdapat 2 pertanyaan untuk menilai level 2
bagian A ini, yaitu :

No Code Question Guiding Reference


Level 2 : Additional Section (Bonus & Penalty)
BONUS
A Rights of Shareholders
A.1 Right to participate effectively in and vote in general shareholders meeting and should be
1 A.1.1 (B) Does the company allow the use of secure OECD Principle II (C)
electronic voting in absentia at the general (4) Shareholders should be able to vote in
meetings of shareholders? person or in absentia, and equal effect
PENALTY
A Rights of Shareholders
A.1 Right to participate effectively in and vote in general shareholders meeting and should be
2 A.1.1 (P) Did the company fail or neglect to offer equal OECD Principle II (A)
treatment for share repurchases to all
shareholders?

9|Page
PT ANEKA TAMBANG, Tbk

A. PROFIL PERUSAHAAN
ANTAM berdiri pada tanggal 5 Juli 1968 dengan nama “Perusahaan Negara (PN) Aneka
Tambang” berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 22 tahun 1968. PN Aneka Tambang
ini merupakan merjer dari beberapa perusahaan tambang dan proyek tambang milik
pemerintah Indonesia. Berdasarkan PP nomor 26 tahun 1974, pada tanggal 14 September 1974,
ANTAM berubah status menjadi Perusahaan Negara Perseroan Terbatas (Perusahaan
Perseroan). ANTAM berubah nama menjadi Perseroan Terbatas dengan akta pendirian
perseroan nomor 320 tanggal 30 Desember 1974. Pada tahun 1997, dalam rangka mendukung
pendanaan proyek ekspansi feronikel, ANTAM menawarkan 35% sahamnya ke publik melalui
Bursa Efek Indonesia. Pada tahun 1999, perusahaan mencatatkan sahamnya di Australia dengan
status foreign exempt entity, yang kemudian ditingkatkan statusnya menjadi ASX Listing pada
tahun 2002. Berdasarkan data laporan keuangan perusahaan tahun 2014, struktur kepemilikan
perusahaan terdiri dari Pemerintah Republik Indonesia (65%) dan masyarakat (35%).
PT Aneka Tambang, Tbk merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak
di bidang pertambangan dengan kegiatan mencakup eksplorasi, penambangan, pengolahan,
serta pemasaran. Komoditas ANTAM adalah bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit, dan
batubara. Dalam rangka memanfaatkan cadangan yang ada menjadi tambang yang
menghasilkan keuntungan, perusahaan membentuk beberapa usaha patungan (joint ventures
entities) dengan mitra internasional.

B. VISI DAN MISI


Visi ANTAM 2030 adalah “Menjadi korporasi global terkemuka melalui diversifikasi dan
integrasi usaha berbasis Sumber Daya Alam”. Maksud dari “global terkemuka” adalah sebagai
perusahaan pengolah mineral terbesar di Indonesia dengan jangkauan pemasaran di seluruh
dunia dan operasional berstandar dunia. Terdiversifikasi bermakna bisnis yang pruden melalui
pengembangan usaha secara horisontal, sedangkan terintegrasi dimaksudkan saling terkait dari
hulu ke hilir.
Misi ANTAM 2030 adalah :
a. Menghasilkan produk-produk berkualitas dengan memaksimalkan nilai tambah melalui
praktek-praktek industri terbaik dan operasional yang unggul.
b. Mengoptimalkan sumber daya dengan mengutamakan keberlanjutan, keselamatan kerja
dan kelestarian lingkungan
c. Memaksimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan
d. Meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan karyawan serta kemandirian masyarakat di
sekitar wilayah operasi

Tujuan utama perusahaan adalah berfokus pada peningkatan nlai pemegang saham
dengan penurunan biaya seiring usaha pertumbuhan guna menciptakan keuntungan yang
berkelanjutan. Strategi perusahaan dalam mencapai tujuannya adalah berfokus pada komoditas
inti nikel, emas, dan bauksit melalui peningkatan output produksi untuk meningkatkan
pendapatan serta menurunkan biaya per-unit.

10 | P a g e
C. DAFTAR PEMEGANG SAHAM
Berdasarkan data laporan keuangan perusahaan tahun 2014, struktur kepemilikan
perusahaan terdiri dari Pemerintah Republik Indonesia (65%) dan masyarakat (35%). Adapun
rincian pemegang saham perusahaan dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini,

Tabel 1
Susunan Pemegang Saham ANTAM per-31 Desember 2014

Berdasarkan tabel 1 di atas, kelompok pemegang saham selain Pemerintah Republik Indonesia,
yaitu dengan total kepemilikan 35% terdiri atas investor ritel domestik (14,1%), investor institusi
(12,5%), dan investor asing (8,4%). Pemegang saham terbesar setelah Pemerintah Republik
Indonesia adalah PT Prudential Life Assurance dengan kepemilikan sebesar 2,45% atau
sebanyak 234.135.900 lembar saham.

D. PRAKTIK TATA KELOLA PERUSAHAAN

ANTAM menerapkan praktik terbaik Corporate Governance secara konsisten dan


berkesinambungan dengan menjaga keseimbangan antara kepentingan pemegang saham
maupun pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya. Dalam rangka penerapan Good
Corporate Governance (GCG), ANTAM berupaya mengadopsi standar yang berlaku secara
internasional, yaitu ASX Corporate Governance Principles and Recommendations (diterbitkan
oleh Australian Securities Exchange Corporate Governance Council tahun 2010), ASEAN
Corporate Governance Scorecard (diterbitkan oleh ACMF). Selain itu, ANTAM juga menerapkan
standar yang berlaku di Indonesia, seperti Pedoman GCG (diterbitkan oleh KNKG tahun 2006)

11 | P a g e
dan Standar Penerapan GCG untuk BUMN (dikeluarkan oleh Kementerian Negara BUMN melalui
Peraturan Menteri Negara BUMN nomor Per-01/MBU/2011 dan SK-16/S MBU/2012).

Dalam penerapan GCG, ANTAM telah mengembangkan aspek infrastruktur GCG, baik
hard maupun soft structure. Pembangunan hard structure yang telah dilakukan terlihat dari
adanya organ utama perusahaan yaitu RUPS, Dewan Komisaris dan Direksi. Sedangkan Soft
structure yang telah dikembangkan antara lain penyusunan Pedoman Kebijakan Perusahaan,
Management policy, Standard Operating Procedure (SOP), Standar Etika (Code of Conduct, COC)
Perusahaan, Pedoman kerja atau Charter (Charter Dewan Komisaris, Charter Direksi, Charter
Komite, dan Internal Audit Charter).

Setiap organ utama perusahaan memiliki peran dalam penerapan GCG perusahaan.
RUPS adalah wadah bagi para pemegang saham yang memiliki wewenang yang tidak dapat
dilimpahkan kepada dewan komisaris maupun direksi. Direksi bertanggungjawab penuh
mengelola perusahaan sesuai dengan amanah yang telah diberikan. Dewan Komisaris terdiri
dari Komisaris Independen dan 3 Komite Penunjang Dewan Komisaris, yaitu Komite Audit,
Komite Corporate Governance, Nominasi dan Remunerasi (GCG-NR), dan Komite Manajemen
Risiko. Dewan komisaris bertugas mengawasi dan memberikan nasihat kepada direksi sebagai
pengurus perusahaan yang pelaksanaan tugas, tanggungjawab, dan kewenangannya dilaporkan
kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Anggaran Dasar (AD) perusahaan telah mengalami beberapa kali revisi atau perubahan
yang dilakukan melalui RUPS. Revisi terakhir Anggaran Dasar perusahaan dengan Akta
Pernyataan Keputusan Rapat Perusahaan (Persero) PT Aneka Tambang Tbk Nomor 67 tanggal
31 Maret 2015 yang dibuat dihadapan Notaris Fathiah Helmi, SH dan telah disetujui oleh
Menteri Hukum dan HAM RI berdasarkan keputusan nomor AHU-0934135.AH.01.02.TAHUN
2015 tertanggal 27 April 2015. Akta tersebut dibuat berdasarkan hasil RUPS Tahunan tahun
2014 yang dilaksanakan di Auditorium Binakarya, Hotel Bidakara Jakarta, pada tanggal 31 Maret
2015. Pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada
tanggal 7 Oktober 2015, disepakati perubahan Anggaran Dasar Perusahaan terkait dengan
penambahan modal perusahaan melalui Penawaran Umum Terbatas I (PUT I) dengan
menerbitkan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

12 | P a g e
ANALISA PRAKTIK CORPORATE GOVERNANCE PT ANEKA TAMBANG Tbk

On progress

13 | P a g e
REFERENSI

ASEAN Capital Market Forum (ACMF), ASEAN Corporate Governance Scorecard : Country Reports
and Assesments 2012-2013
OECD. 2004, OECD Principles of Corporate Governance
Anggaran Dasar PT Aneka Tambang Tbk dalam Pernyataan Keputusan RUPS Tahunan Perusahaan
Perseroan (Persero) PT Aneka Tambang Tbk Nomor 67
Peraturan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) No.32/POJK.04/2014 tentang Rencana dan Penyelenggaraan
RUPS Perusahaan Terbuka
Peraturan bapepam no. IX.E.2 tentang transaksi material
www.antam.com
www.wikipedia.org
www.bungrandhy.wordpress.com/2013/01/12/teori-keagenan-agency-theory/

contoh penulisan reff:


Hartati, Dwi. ___, Menulis Daftar Pustaka, [pdf], (http://oke.or.id,diakses tanggal 17 September
2008)
Sophia, S. 2002, Petunjuk Sitasi Serta Cantuman daftar Pustaka Bahan Pustaka Online, Pusat
Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, Departemen Pertanian, Bogor.
Winarko, E. ____, Penulisan Sitasi pada Karya Ilmiah, [pdf],
(http://ewinarko.staff.ugm.ac.id/metopen/modul6-daftarpustaka.pdf, diakses tanggal 17 September
2008 )

14 | P a g e