Anda di halaman 1dari 9

ETIKA BISNIS DAN PROFESI

RMK SAP 4

TATA KELOLA ETIS DAN AKUNTABILITAS

Disusun oleh:

KELOMPOK 1
PUTU RAYANA PRAYOGA (1881611050)
RUSDIAN EDY SYAHPUTRA (1881611060)
LESTARI SURYANINGSIH STEPANUS (1881611070)
NI WAYAN NOVA APSARI (1881611072)

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019
SAP 2
TATA KELOLA ETIS DAN AKUNTABILITAS

Pemegang saham dan para pemangku kepentingan lainnya menaruh harapan besar terhadap bisnis,
direksi, eksekutif, dan akuntan profesional tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mereka
melakukannya. Pada saat yang sama, lingkungan tempat bisnis beroperasi semakin kompleks sehingga hal
tersebut menjadi tantangan etika bagi mereka. Jika mereka sampai melakukan tindakan yang melanggar
etika, maka hal tersebut dapat menimbulkan risiko yang besar dan akan berpengaruh buruk bagi reputasi
dan pencapaian tujuan perusahaan secara keseluruhan. Jadi, sangat dibutuhkan sistem tata kelola
perusahaan yang menyediakan aturan serta akuntabilitas yang tepat untuk kepentingan pemegang saham
dan semua pemangku kepentingan lainnya.

A. Kerangka Tata Kelola dan Akuntabilitas Modern untuk Pemegang Saham dan Para
Pemangku Kepentingan Lainnya
1. Ekspektasi baru – kerangka baru untuk memperbaiki kredibilitas
Kasus pelanggaran etika yang berujung pada kegagalan bisnis, audit, dan tata kelola perusahaan
berskala besar seperti Enron, Arthur Andersen, dan WorldCom telah mengakibatkan hilangnya
kepercayaan investor terhadap perusahaan-perusahaan di Amerika. Hal ini merupakan suatu
bencana besar di lingkungan bisnis, dan telah menjadi pemicu harapan baru dalam tata kelola dan
akuntabilitas perusahaan. Menyikapi hal tersebut, para politisi Amerika menciptakan kerangka
tata kelola dan akuntabilitas baru yang dikenal dengan Sarbanes-Oxley Act (SOX) yang bertujuan
untuk memulihkan kembali kepercayaan investor dan memfokuskan kembali tata kelola
perusahaan pada tanggung jawab direksi terhadap kewajiban fidusia mereka, yakni tanggung
jawab terhadap kepentingan pemegang saham dan para pemangku kepentingan lainnya.
2. Akuntabilitas kepada pemegang saham atau pemangku kepentingan?
Karena kepentingan stakeholder bisa secara potensial menimbulkan konflik dengan beberapa
kepentingan shareholder, banyak ketetapan yang secara formal memodifikasi ketetapan dimana
direktur perusahaan memasukkan kepentitangan stakeholders yang sesuai. Direktur diharapkan
untuk memeriksa trade-off antara shareholders dan stakeholders dan memilih satu diantara yang
lain atau solusi campuran. Untungnya, dalam jangka panjang perspektik share-holders seringkali
bertepatan dengan kepentingan stakeholders.
Berdasarkan realita dari tekanan stakehoder dan hasrat untuk mendapat dukungan stakeholders,
perusahaan menyadari bahwa mereka bertanggung jawab kepada stakeholder dan memerintahkan
dirinya untuk meminimkan resiko dan memaksimumkan peluang didalam kerangka kerja
akuntabilitas stakeholder. Secara de facto, perusahaan semakin menyadari bahwa mereka
bertanggungjawab kepada semua stakeholders
3. Tata kelola untuk akuntabilitas pemangku kepentingan secara umum
Shareholder, faktanya merupakan kelompok stakeholders dan mungkin merupakan dasar yang
berkelanjutan yang paling penting, tetapi mereka bukan lagi kelompok stakeholder yang hanya
kepentingannya mempengaruhi tindakan perusahaan. Dalam usaha untuk mengurangi reaksi
stakeholder yang menyakitkan dan meningkatkan peluang di masa depan, perusahaan harus
menilai bagaimana tindakan mereka berakibat pada kepentingan kelompok stakeholder mereka
yang penting. Hal ini yang menggarisbawahi perhatian dari penyaringan lingkungan dan isu
manajemen. Yang berubah adalah stakeholder impact analysis secara signifikan dibangun seperti
halnya alat yang dipekerjakan dalam menguji, meranking dan menaksir kepentingan stakeholder.
4. Mekanisme budaya etis dan kode etik
Nilai-nilai yang ingin direksi perusahaan tanamkan dalam rangka memotivasi keyakinan dan
tindakan personil perlu disampaikan dalam bentuk kode etik yang menyatakan nilai-nilai yang
dipilih, prinsip-prinsip yang mengalir dari nilai tersebut, dan setiap aturan yang harus diikuti
untuk memastikan bahwa nilai-nilai yang tepat dihormati. Kode etik adalah aturan-aturan etika
yang harus melihat budaya di tempat kerja.Dalam mekanisme petunjuknya harus memahami
ancaman-ancaman yang menghambat dalam pekerjaan seperti tidak memahami tugas-tugas yang
terkait dengan kepercayaan dan gagal mengidentifikasi risiko kelola.

B. Pengertian Good Governance


Definisi governance menurut UNESCAP (United Nation Economic and Social
Commission for Asia and The Pacific) adalah: "Pemerintahan"berarti: proses pengambilan
keputusan dan proses dengan mana keputusan diimplementasikan (atau tidak diimplementasikan).
Pemerintahan dapat digunakan dalam berbagai konteks seperti pemerintahan korporat,
pemerintahan internasional, pemerintahan nasional dan pemerintahan lokal.
Good governance memiliki 8 karakteristik utama. yaitu partisipatif, berorientasi konsensus,
akuntabel, transparan,responsif, efektif dan efisien, adil dan inklusif dan mengikuti aturan hukum.
guna menjamin bahwa korupsi dapat diminimalkan, pandangan kaum minoritas diperhitungkan
dan suara-suara yang paling rentan dalam masyarakat didengar dalam pengambilan keputusan. Hal
ini juga berkesesuaiandengan kebutuhan sekarang dan masa depan masyarakat. Berikut ini adalah
penjabaran dari 8 karakteristik utama dariGood Governence yang disampaikan oleh UNESCAP :
Karakteristik pelaksanaan good governance antara lain adalah:
1. Partisipasi yaitu keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan baik secara
langsung maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan yang dapat menyalurkan
aspirasinya. Partisipasi tersebut dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara
serta berpartisipasi secara konstruktif.
2. Rule of law yaitu kerangka hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu.
3. Transparansi umumnya dibangun atas dasar kebebasan memperoleh informasi. Informasi
yang berkaitan dengan kepentingan publik secara langsung dapat diperoleh oleh mereka
yang membutuhkan.
4. Responsif yaitu lembaga-lembaga publik harus cepat dan tanggap dalam melayani
stakeholder.
5. Consensus orientasion yaitu berorientasi pada kepentingan masyarakat yang lebih luas.
6. Equity setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh
kesejahteraan dan keadilan.
7. Efficiency dan effectiveness yaitu pengelolaan sumber daya publik dilakukan secara
berdaya guna (efisien) dan berhasil guna (efektif)
8. Accountability adalah pertanggungjawaban kepada publik atas setiap aktivitas yang
dilakukan.
9. Strategic vision yaitu penyelenggaraan pemerintah dan masyarakat harus memiliki visi
jauh kedepan.

C. Peranan Etika Bisinis dalam Penerapan Good Governance


Kepatuhan pada Kode Etik ini merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan
dan memajukan reputasi perusahaan sebagai karyawan & pimpinan perusahaan yang
bertanggung jawab, dimana pada akhirnya akan memaksimalkan nilai pemegang saham
(shareholder value). Beberapa nilai-nilai etika perusahaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip
GCG, yaitu kejujuran, tanggung jawab, saling percaya, keterbukaan dan kerjasama. Good
Corporate Governance atau dikenal dengan nama Tata Kelola Perusahaan Yang Baik
(selanjutnya disebut “GCG”) muncul tidak semata-mata karena adanya kesadaran akan
pentingnya konsep GCG namun dilatar belakangi oleh maraknya skandal perusahaan yang
menimpa perusahaan-perusahaan besar. Joel Balkan (2002) mengatakan bahwa perusahaan
(korporasi) saat ini telah berkembang dari sesuatu yang relatif tidak jelas menjadi institusi
ekonomi dunia yang amat dominan. Kekuatan tersebut terkadang mampu mendikte hingga ke
dalam pemerintahansuatu negara, sehingga mejadi tidak berdaya dalam menghadapi
penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh para pelaku bisnis yang berpengaruh tersebut.
Semua itu terjadi karena perilaku tidak etis danbahkan cenderung kriminal-yang dilakukan
oleh para pelaku bisnis yang memang dimungkinkan karena kekuatan mereka yang sangat
besar disatusisi, dan ketidak berdayaan aparat pemerintah dalam menegakkan hukum dan
pengawasan atas perilaku para pelaku bisnis tersebut; disamping berbagai praktik tata kelola
perusahaan dan pemerintahan yang buruk
Kode Etik yang efektif seharusnya bukan sekedar buku atau dokumen yang tersimpan saja.
Namun Kode Etik tersebut hendaknya dapat dimengerti oleh seluruh karyawan & pimpinan
perusahaan dan akhirnya dapat dilaksanakan dalam bentuk tindakan (action). Salah satu
contohnya adalah Sarbanes-Oxley Act pada tahun 2002 yang juga menjadi dasar awal konsep
GCG di beberapa negara di dunia. Undang-undang ini berisi mengenai penataan kembali
akuntansi perusahaan publik, tata kelola perusahaan, dan perlindungan terhadap investor.
Berikut ini ringkasan isi pokok dari Sarbanes-Oxley Act:
1. Membentuk independent public company board untuk mengawasi audit
terhadap perusahaan public.
2. Mensyaratkan salah seorang anggota komite audit adalah orang yang ahli
dalam bidang keuangan.
3. Mensyaratkan untuk melakukan full disclosure kepada para pemegang saham
berkaitan dengan transaksi keuangan yang bersifat kompleks.
4. Mensyaratkan Chief Executive Officer (CEO) dan Chief Financial Officer
(CFO) perusahaan untuk melakukan sertifikasi tentang validitas pembuatan
laporan keuangan perusahaannya.
5. Jika diketahui mereka melakukan laporan palsu, mereka akan dipenjara selama
20 tahun dan denda sebesar US$5 juta.
6. Melarang kantor akuntan publik dari tawaran jasa lainnya, seperti melakukan
konsultasi, ketika rnereka sedang melaksanakan audit pada perusahaan yang
sama. Hal ini untuk menghindari adanya benturan kepentingan (conflict of
interest).
7. Mensyaratkan adanya kode etik, terdaftar pada Securities and Exchange
Commission (Bapepam-LK), untuk para pejabat keuangan (financial officer)
Ancaman hukuman 10 tahun penjara untuk pelaku kecurangan wire and mail
fraud.
8. Mensyaratkan mutual fund professional untuk menyampaikan suaranya pada
wakil pemegang saham, sehingga memungkinkan para investor untuk
mengetahui bagaimana saham mereka berpengaruh terhadap keputusan.
9. Memberikan perlindungan kepada individu yang melaporkan adanya tindakan
menyimpang kepada pihak yang berwewenang.

D. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah instrumen yang menunjukkan apakah prinsip – prinsip pemerintahan,
hukum, keterbukaan, transparansi, keberpihakan dan kesamaan dihadapan hukum telah
dihargai atau tidak. Akuntabilitas juga hal yang penting untuk menjamin nilai – nilai secara
efisiensi, efektivitas, reabilitas dan prediktibiltas dari administrasi publik. Dalam peran
kepemimpinan, akuntabilitas dapat merupakan pengetahuan dan adanya pertanggungjawaban
terhadap tiap tindakan, produk, keputusan dan kebijakan termasuk pula di dalamnya
administrasi publik pemerintahanm dan pelaksanaan dalam lingkup peran atau posisi kerja
yang mencakup di dalamnya mempunyai suatu kewajiban untuk melaporkan, menjelaskan
dan dapat dipertanyakan bagi tiap – tiap konsekuensi yang sudah dihasilkan.

E. Elemen Kunci dari Tata Kelola Perusahaan dan Akuntabilitas

1. Mengembangkan, Menerapkan, dan Mengelola Budaya Etis


Direksi, pemilik, manajemen senior, dan karyawan semuanya harus memahami bahwa suatu
organisasi akan lebih bernilai jika mempertimbangkan kepentingan seluruh pemangku
kepentingannya, tidak hanya pemegang saham, dan dalam membuat keputusan
mempertimbangkan nilai-nilai etika yang tepat. Direksi dan para eksekutif harus cermat dalam
mengatur bisnis dan risiko etika perusahaannya.Mereka harus memastikan bahwa budaya etis
telah berjalan dengan efektif dalam perusahaan.Oleh karena itu, dibutuhkan pengembangan kode
etik sehingga dapat menciptakan pemahaman yang tepat mengenai perilaku-perilaku etis,
memperkuat perilaku-perilaku tersebut, dan memastikan bahwa nilai-nilai yang mendasarinya
melekat pada strategi dan operasi perusahaan.Hal-hal seperti konflik kepentingan, pelecehan
seksual, dan hal-hal serupa lainnya harus segera diatasi dengan pengawasan yang memadai untuk
menjaga agar budaya perusahaan tetap sejalan dengan harapan saat ini.
2. Kode Etik Perusahaan
Kode etik dalam tingkah laku bisnis di perusahaan merupakan implementasi salah satu prinsip
tata kelola perusahaan yang baik.Kode etik dapat didefinisikan sebagai mekanisme struktural
perusahaan yang digunakan sebagai tanda komitmen mereka terhadap prinsip-prinsip
etika.Mekanisme tersebut dipandang sebagai suatu cara yang efektif untuk mendukung kebiasaan
etika dalam menjalankan bisnis. Kode etik menuntut karyawan dan pimpinan perusahaan untuk
melakukan praktik-praktik etika bisnis terbaik dalam semua hal yang dilakukan atas nama
perusahaan. Jika prinsip tersebut telah mengakar di dalam budaya perusahaan, maka seluruh
karyawan dan pimpinan perusahaan akan berusaha memahami dan berusaha mematuhi mana yang
boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan dalam aktivitas bisnis perusahaan. Pelanggaran kode
etik merupakan hal yang serius, bahkan dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum.
3. Kepemimpinan yang beretika
Salah satu unsur penting dari tata kelola dan akuntabilitas perusahaan adalah “tone at the top” dan
peran pimpinan dalam membangun, membina, melaksanakan, dan memantau budaya perusahaan
yang diharapkan. Jika para pemimpin senior atau junior hanya bersuara untuk menyatakan nilai-
nilai yang diinginkan di dalam perusahaan, maka karyawan akan mempertimbangkan hal tersebut
sebagai suatu yang tidak patut diperhatikan. Meskipun budaya formal organisasi menetapkan nilai
tersebut, namun jika tidak didukung oleh budaya informal maka hal tersebut hanya akan diangap
sebagai suatu ocehan atau istilah lainnya “window dressing”.

F. Ancaman Terhadap Upaya Penerapan Tata Kelola yang Baik dan Akuntabilitas
Dalam menanggapi ancaman-ancaman yang terkait dengan tata kelola dan akuntabilitas yang baik,
maka suatu pedoman yang jelas sangat dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan mengatasi ancaman-
ancaman tersebut. Tiga ancaman yang signifikan meliputi:
1. Salah mengartikan tujuan dan kewajiban fidusia
Walaupun ketika kebudayaan yang berbeda tidak menjadi isu, pegawai bisa salah mengerti tujuan
dari organisasi dan peranannya sendiri. Kurangnya petunjuk yang sesuai atas mekanisme
pelaporan akan mengakibatkan direktur dan yang lainnya tidak memahami tugas fidusianya.
Misalnya pada kasus Enron, banyak direksi dan karyawannya percaya bahwa tujuan perusahaan
terpenuhi dengan baik oleh tindakan-tindakan yang membawa keuntungan jangka pendek,
sehingga perusahaan melakukan manipulasi untuk memperoleh keuntungan tersebut yang
ternyata berujung pada kehancuran perusahan tersebut.
2. Kegagalan dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko etika
Seiring dengan meningkatnya kompleksitas, volatilitas, dan risiko yang melekat pada kepentingan
dan operasi perusahaan, maka risiko harus dapat diidentifikasi, dinilai, dan dikelola dengan hati-
hati.Prinsipnya yaitu, risiko etika terjadi ketika terdapat kemungkinan harapan stakeholder tidak
terpenuhi.Menemukan dan memperbaikinya adalah sangat penting untuk menghindari krisis atau
kehilangan dukungan dari para pemangku kepentingan. Hal itu dapat dilakukan dengan
menetapkan tanggung jawab, mengembangkan proses tahunan, dan tinjauan dari dewan
organisasi.
3. Konflik kepentingan
Seluruh karyawan dan pimpinan perusahaan harus dapat menjaga kondisi yang bebas dari konflik
kepentingan.Konflik kepentingan terjadi ketika penilaian independen seseorang menjadi goyah,
atau ada kemungkinan goyah dalam membuat keputusan terkait dengan kepentingan terbaik
lainnya yang bergantung pada penilaian tersebut.Hal ini bisa saja terjadi karena karyawan dan
pimpinan perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung memiliki kepentingan pribadi
dalam mengambil suatu keputusan yang seharusnya diambil secara objektif, bebas dari keragu-
raguan, dan demi kepentingan terbaik dari perusahaan.Konflik kepentingan ini lebih dari sekedar
bias, dimana dapat diukur dan disesuaikan.Jadi karena ketidakjelasan sifat dan besarnya pegaruh,
perhatian harus benar-benar diberikan pada setiap kecenderungan yang menuju kepada bias.

G. Tolak Ukur Akuntabilitas Publik


Salah satu perkembangan terkini yang perlu dipertimbangkan oleh dewan direksi dan manajemen
ketika mengembangkan nilai-nilai, kebijakan, dan prinsip-prinsip yang mendasari budaya
perusahaan dan tindakan karyawan mereka adalah gelombang baru dalam pengawasan pemangku
kepentingan dan kebutuhan untuk transparansi dan akuntabilitas publik. Jika direksi mampu
mengenali dan mempersiapkan perusahaan mereka di era baru dimana akan berhadapan dengan
akuntabilitas para pemangku kepentingan yang efektif dan juga sistem tata kelola yang beretika,
mereka tidak hanya akan mengurangi risiko, tapi juga akan menghasilkan keuntungan kompetitif
dari perlanggan, karyawan, mitra, lingkungan, dan para stakeholder lainnya yang tentunya menarik
bagi pemegang saham. Intinya, direksi, eksekutif, dan akuntan profesional harus fokus sepenuhnya
terhadap pengembangan dan pemeliharaan budaya integritas jika mereka ingin memuaskan harapan
seluruh pemangku kepentingannya.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/39310150/Sesi-4-Tata-Kelola-Etis-Akuntabilitas
Leonard J. Brooks (2004). Business and Professional Ethics for Accounting. South-
Western College Publishing, chapter 3 dan 5