Anda di halaman 1dari 25

TUGAS

PERANCANGAN ALAT PROSES




ALAT PENUKAR PANAS (HEAT EXCHANGER)

DISUSUN OLEH :
HAPPY LIANI BR KARO 110405056
DESSY M.P.T 110405080
KHAIRUL FAHMI 110405084
PRI HARTINI 100405112






DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014






KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Tugas Perancangan Alat
Proses dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai syarat untuk
menyelesaikan Mata Kuliah Perancangan Alat Proses. Selain itu pembuatan makalah
ini adalah sebagai bukti hasil pengerjaan tugas.
Penulisan makalah ini berdasarkan literatur-literatur yang ada baik dari buku
maupun sumber lainnya.
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dosen pembimbing Mata Kuliah Perancangan Alat Proses : Prof. Dr. Ir.
Rosdanelli Hasibuan, MT
2. Orang tua yang telah memberikan bantuan baik materil dan spiritual.
Namun demikian penulis menyadari apa yang ada dalam makalah ini masih
jauh dari sempurna. Untuk itu adanya kritik dan saran yang membangun sangat
membantu dalam penyempurnaan makalah. Akhirnya penulis berharap semoga
makalah ini ada manfaatnya bagi penulis dan yang membacanya.

Medan, Oktober 2014
Penulis









i




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR GAMBAR iv
DAFTAR TABEL v
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Ruang Lingkup 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2
2.1 Alat Penukar Panas 2
2.2 Prinsip Kerja Alat Penukar Panas 2
2.2.1 Secara Kontak Langsung 2
2.2.2 Secara Kontak Tak Langsung 2
2.3 Komponen Dasar Penyusun Alat Penukar Panas 3
2.3.1 Tube 3
2.3.2 Tube Sheet 7
2.3.3 Baffle 7
2.3.4 Shell 8
2.3.5 Tube Side Channel dan Nozzle 8
2.3.6 Channel Cover 8
2.4 Jenis-Jenis Alat Penukar Panas 8
2.4.1 Penukar Panas Pipa Rangkap
(Double Pipe Heat Exchanger) 8
2.4.2 Penukar Panas Selongsong dan Tabung
(Shell And Tube Heat Exchanger) 9
2.4.3 Penukar Panas Pelat dan Bingkai
(Plate And Frame Heat Exchanger) 11
2.4.4 Penukar Panas Spiral (Spiral Heat Exchanger) 14
2.5 Analisa Kinerja Alat Penukar Panas 15
2.5.1 Koefisien Overall Perpindahan Panas (U) 15
2.5.2 Fouling Factor (Rd) 15
ii




2.5.3 Pressure Drop 16
2.6 Prosedur Perancangan Dasar Alat Penukar Panas 16
BAB III KESIMPULAN 18
DAFTAR PUSTAKA 19
























iii




DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Susunan Tube Segitiga (Triangular Pitch) 4
Gambar 2.2 Susunan Tube Segitiga Diputar (Rotated Triangular Pitch) 4
Gambar 2.3 Susunan Tube Bujur Sangkar (In-Line Square Pitch) 5
Gambar 2.4 Susunan Tube Belah Ketupat (Diamond Square Pitch) 5
Gambar 2.5 Jenis-Jenis Sekat 7
Gambar 2.6 Jenis-Jenis Shell 8
Gambar 2.7 Penukar Panas Pipa Rangkap (Double Pipe Heat Exchanger) 9
Gambar 2.8 Penukar Panas Selongsong dan Tabung
(Shell And Tube Heat Exchanger) 11
Gambar 2.9 Penukar Panas Pelat dan Bingkai
(Plate And Frame Heat Exchanger) 13
Gambar 2.10 Pola-Pola Plat 14
Gambar 2.11 Kombinasi Arus Aliran Fluida pada
Plate and Frame Heat Exchangers 14
Gambar 2.12 Penukar Panas Spiral (Spiral Heat Exchanger) 15













iv




DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kelebihan dan Kekurangan Susunan Tube 6
Tabel 2.2 Karakteristik Kondisi Operasi dan Geometri
Plate and Frame Heat Exchanger 13























v




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Heat Exchanger adalah alat penukar kalor yang berfungsi untuk mengubah
temperatur dan fasa suatu jenis fluida. Proses tersebut terjadi dengan memanfaatkan
proses perpindahan kalor dari fluida bersuhu tinggi menuju fluida bersuhu rendah. Di
dalam dunia industri peran dari heat exchanger sangat penting. Misal dalam industri
pembangkit tenaga listrik, heat exchanger berperan dalam peningkatan efisiensi
sistem. Contohnya adalah ekonomizer, yaitu alat penukar kalor yang berfungsi
memanaskan feed water sebelum masuk ke boiler menggunakan panas dari exhaust
gas (gas buang). Selain itu heat exchanger juga merupakan komponen utama dalam
sistem mesin pendingin, yaitu berupa evaporator dan kondensor.
Dalam perkembangannya, heat exchanger mengalami transformasi bentuk yang
bertujuan meningkatkan efisiensi sesuai dengan fungsi kerjanya. Bentuk heat
exchanger yang sering digunakan adalah shell and tube. Dengan berbagai
pertimbangan, bentuk ini dinilai memiliki banyak keuntungan baik dari segi
pabrikasi, biaya, hingga unjuk kerja (Wafi, dkk., 2011).

1.2 Ruang Lingkup
Ruang lingkup meliputi alat penukar panas, prinsip kerja alat penukar panas,
komponen dasar penyusun alat penukar panas, jenis-jenis alat penukar panas dan
analisa kinerja alat penukar panas.









1




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Alat Penukar Panas
Penukar panas atau heat exchanger (HE), adalah suatu alat yang memungkinkan
perpindahan panas dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin.
Biasanya, medium pemanas dipakai uap lewat panas (superheated steam) dan air
biasa sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas sangat luas dipakai dalam
industri seperti kilang minyak, pabrik kimia maupun petrokimia, industri gas alam,
refrigerasi, pembangkit listrik. Salah satu contoh sederhana dari alat penukar panas
adalah radiator mobil dimana cairan pendingin memindahkan panas mesin ke udara
sekitar (Wikipedia, 2013).

2.2 Prinsip Kerja Alat Penukar Panas
Penukar panas dirancang sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida
dapat berlangsung secara efisien. Proses terjadinya perpindahan panas dapat
dilakukan secara langsung, yaitu fluida yang panas akan bercampur secara langsung
dengan fluida dingin tanpa adanya pemisah dan secara tidak langsung, yaitu bila di
antara fluida panas dan fluida dingin tidak berhubungan langsung tetapi dipisahkan
oleh sekat-sekat pemisah (Pejuang, 2013).

2.2.1 Secara Kontak Langsung
Panas yang dipindahkan antara fluida panas dan dingin melalui permukaan
kontak langsung berarti tidak ada dinding antara kedua fluida. Transfer panas yang
terjadi yaitu melalui interfase / penghubung antara kedua fluida. Contoh : aliran
steam pada kontak langsung yaitu 2 zat cair yang immiscible (tidak dapat
bercampur), gas-liquid, dan partikel padat kombinasi fluida (Pejuang, 2013).

2.2.2 Secara Kontak Tak Langsung
Perpindahan panas terjadi antara fluida panas dan dingin melalui dinding
pemisah. Dalam sistem ini, kedua fluida akan mengalir (Pejuang, 2013).

2




2.3 Komponen Dasar Penyusun Alat Penukar Panas
2.3.1 Tube
Tube dapat dikatakan urat nadi alat penukar panas (heat exchanger) yang
merupakan pipa kecil yang tersusun di dalam shell. Di dalam dan di luar tube
mengalir fluida. Kedua fluida itu mempunyai kapasitas, temperatur, tekanan,
densitas, dan jenis yang berbeda. Kedua ujung tube diikat pada tube sheet, bertujuan
untuk mencegah bocoran fluida yang mengakibatkan fluida terkontaminasi.
Diameter tube yang digunakan sekitar 5/8 in (16 mm) hingga 2 in (50 mm).
Diameter yang lebih kecil 5/8-1 in lebih disukai untuk berbagai tugas karena lebih
kompak sehingga lebih murah. Panjang tube yang disukai untuk alat penukar panas
adalah 6, 8, 12, 16 ft.
Bahan yang digunakan untuk tube antara lain :
a. Baja karbon.
b. Baja nikel.
c. Aluminium dan campuran aluminium.
d. Tembaga dan campuran tembaga.
Pemilihan jenis bahan dan ukuran tube didasarkan pada :
a. Besarnya aliran fluida.
b. Temperatur.
c. Tekanan.
d. Korosif atau tidak.
e. Sistem serta periode pemeliharaan.
f. Fouling atau tidak.
Susunan tube mempengaruhi besarnya penurunan tekanan aliran fluida dalam shell.
Ada beberapa susunan tube pada alat penukar panas antara lain :
1. Segitiga (triangular pitch).
2. Segitiga diputar (rotated triangular or in-line triangular pitch).
3. Bujur sangkar (in-line square pitch).
4. Bujur sangkar yang diputar 45
o
atau belah ketupat (diamond square pitch).
(Dwi, 2012).


3




1. Susunan Tube Segitiga (Triangular Pitch)
Susunan tube segitiga sangat popular dan tidak baik digunakan untuk melayani
fluida kotor. Pembersihan tube dilakukan dengan cara kimia. Susunan tube segitiga
banyak digunakan dan menghasilkan perpindahan panas yang baik per satuan
penurunan tekanan. Di samping itu letak tube lebih kompak (Dwi, 2012).

Gambar 2.1 Susunan Tube Segitiga (Triangular Pitch)
(Dwi, 2012)

2. Susunan Tube Segitiga Diputar (Rotated Triangular Pitch)
Tube yang disusun membentuk 60
o
atau diputar 30
o
, tidak sepopuler jenis yang
pertama, mempunyai karakter yang lebih jelek. Koefisien perpindahan panasnya
tidak baik, tetapi masih lebih baik bila dibandingkan dengan susunan tube yang bujur
sangkar. P yang terjadi mendekati P susunan tube segitiga (Dwi, 2012).

Gambar 2.2 Susunan Tube Segitiga Diputar (Rotated Triangular Pitch)
(Dwi, 2012)

4




3. Susunan Tube Bujur Sangkar (In-Line Square Pitch)
Susunan tube bujur sangkar membentuk sudut 90
o
banyak dipergunakan, dengan
pertimbangan :
a. Apabila P yang terjadi pada alat penukar panas lebih kecil.
b. Apabila pembersihan yang dilakukan pada bagian luar tube adalah dengan cara
pembersihan mekanik. Sebab pada susunan seperti ini terdapat celah antar tube
yang dipergunakan untuk pembersihannya.
c. Susunan ini memberikan perilaku yang baik untuk aliran turbulen. Untuk aliran
laminar memberikan hasil yang kurang baik (Dwi, 2012).

Gambar 2.3 Susunan Tube Bujur Sangkar (In-Line Square Pitch)
(Dwi, 2012)

4. Susunan Tube Belah Ketupat (Diamond Square Pitch)
Susunan tube belah ketupat merupakan jenis kondisi menengah. Jenis ini baik
dipergunakan pada kondisi operasi P kecil, tetapi lebih besar dari P jenis bujur
sangkar. Susunan tube ini relatif lebih baik dibanding dengan susunan tube segitiga
yang diputar (Dwi, 2012).

Gambar 2.4 Susunan Tube Belah Ketupat (Diamond Square Pitch)
(Dwi, 2012)
5




Tabel 2.1 Kelebihan dan Kekurangan Susunan Tube
Susunan Tube Kelebihan Kekurangan
Segitiga
- Film koefisiennya > susunan
bujur sangkar
- Dapat dibuat jumlah tube yang
lebih banyak sebab susunannya
lebih kompak
- P yang terjadi antara
menengah ke atas
- Tidak baik untuk fluida
kotor
- Pembersihan dengan cara
kimia (chemical cleaning)
Segitiga
diputar
- Film koefisiennya tidak sebesar
susunan segitiga tetapi >
susunan bujur sangkar
- Dapat digunakan untuk fluida
kotor
- P yang terjadi antara
menengah ke atas
- Pembersihan dengan cara
kimia (chemical cleaning)
Bujur sangkar
- Baik untuk kondisi yang
memerlukan P <<
- Baik untuk pembersihan luar
tube secara mekanik
- Baik untuk fluida yang kotor
- Film koefisiennya relatif
rendah
Belah ketupat
- Film koefisiennya lebih baik
daripada susunan bujur sangkar
tetapi tidak sebaik susunan
segitiga dan segitiga diputar
- Mudah untuk pembersihan
secara mekanik
- Baik untuk fluida yang kotor
- Film koefisiennya relatif
rendah
- P tidak serendah jenis
susunan bujur sangkar
(Dwi, 2012)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada pemilihan tube alat penukar panas
antara lain :
1. Besarnya P yang terjadi.
2. Aliran fluida luar tube (laminar atau turbulen).
3. Fouling atau non-fouling fluida yang mengalir di luar tube.
4. Cara yang dilakukan untuk pembersihan bagian luar tube (mechanical or
chemical cleaning).
Pitch adalah jarak antara sumbu tube sedangkan ligament atau clearance adalah
jarak atau ruang lintasan aliran fluida antara dua tube yang berdekatan. Besarnya
pitch pada masing-masing susunan tube berhubungan langsung dengan diameter luar
(OD) tube. Umumnya pitch = 1,25 x OD tube. Pada susunan bujur sangkar dibuat
celah bebas untuk ruang pembersihan bagian luar tube sebesar inci (Dwi, 2012).


6




2.3.2 Tube Sheet
Suatu flat lingkaran yang fungsinya memegang ujung-ujung tube dan juga
sebagai pembatas aliran fluida di shell dan tube (Dwi, 2012).

2.3.3 Baffle
Baffle atau sekat-sekat dipasang pada alat penukar panas berfungsi sebagai :
1. Alat untuk mengontrol dan mengarahkan aliran fluida yang mengalir di luar
tube (shell side).
2. Struktur untuk menahan tube-bundel.
3. Menahan atau mencegah terjadinya getaran pada tube.
Jarak antar sekat (baffle spacing atau baffle pitch) ada dua yaitu :
a. Jarak antar sekat maksimum, B = diameter dalam shell.
b. Jarak antar sekat minimum, B = 1/5 x diameter dalam shell.
Bila jarak antar sekat terlalu jarang maka aliran fluida akan aksial sehingga
tidak terdapat aliran yang melintang, sebaliknya jika jarak antar sekat terlalu sempit
akan menimbulkan kebocoran yang berlebihan antara sekat dan shell (Dwi, 2012).

Gambar 2.5 Jenis-Jenis Sekat
(Dwi, 2012)





7




2.3.4 Shell
Merupakan bagian tengah alat penukar panas. Menurut British Standart 3274,
diameter shell berukuran 6 in hingga 42 in, diameter shell terbesar 60 in (Dwi, 2012).

Gambar 2.6 Jenis-Jenis Shell
(Dwi, 2012)

2.3.5 Tube Side Channel dan Nozzle
Merupakan pengatur aliran fluida dalam tube (Dwi, 2012).

2.3.6 Channel Cover
Merupakan tutup yang dapat dibuka saat pemeriksaan dan pembersihan (Dwi,
2012).

2.4 Jenis-Jenis Alat Penukar Panas
2.4.1 Penukar Panas Pipa Rangkap (Double Pipe Heat Exchanger)
Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang di
kedua ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat
(Hartono, 2008). Panjang pipa lurus dibatasi dengan maksimum sekitar 20 ft (Walas,
1990). Fluida yang satu mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di
dalam ruang anulus antara pipa luar dengan pipa dalam. Alat penukar panas jenis ini
dapat digunakan pada laju alir fluida yang kecil dan tekanan operasi yang tinggi
(Hartono, 2008).
8




Alat penukar panas pipa rangkap sebagian besar kalah dibandingkan unit
selongsong dan buluh (shell and tube heat exchanger) dalam beberapa tahun
terakhir. Alat ini mungkin layak dipertimbangkan dalam beberapa hal seperti :
1. Bila koefisien shell side kurang dari setengah dari tabung samping, koefisien sisi
anular dapat dibuat sebanding dengan sisi tabung.
2. Perbedaan suhu yang memerlukan multi shell unit shell and tube dapat dihindari
dengan aliran berlawanan arah yang baik terjadi dalam pipa rangkap.
3. Tekanan tinggi dapat ditampung lebih ekonomis dalam anulus dibandingkan di
dalam shell diameter yang lebih besar (Walas, 1990).


Gambar 2.7 Penukar Panas Pipa Rangkap (Double Pipe Heat Exchanger)
(Walas, 1990)

2.4.2 Penukar Panas Selongsong dan Tabung (Shell And Tube Heat Exchanger)
Alat penukar panas selongsong dan tabung terdiri atas suatu bundel pipa yang
dihubungkan secara paralel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel (selongsong).
Fluida yang satu mengalir di dalam bundel pipa, sedangkan fluida yang lain mengalir
9




di luar pipa pada arah yang sama, berlawanan, atau bersilangan. Kedua ujung pipa
tersebut dilas pada penunjang pipa yang menempel pada mantel (Hartono, 2008).
Untuk meningkatkan efisiensi pertukaran panas, biasanya pada alat penukar
panas selongsong dan tabung dipasang sekat (baffle). Ini bertujuan untuk membuat
turbulensi aliran fluida dan menambah waktu tinggal (residence time), namun
pemasangan sekat akan memperbesar pressure drop operasi dan menambah beban
kerja pompa, sehingga laju alir fluida yang dipertukarkan panasnya harus diatur
(Hartono, 2008). Baffle pitch atau jarak antara baffle biasanya adalah 0,2-1,0 kali
diameter dalam shell (ID). Koefisien perpindahan panas dan penurunan tekanan
tergantung pada jarak baffle, sehingga yang menentukan adalah bagian dari
optimalisasi penukar panas. Lebar segmen baffle umumnya adalah sekitar 25%,
tetapi hal itu juga merupakan parameter dalam mendesain peralatan termal hidrolik.
Keuntungan shell and tube heat exchanger antara lain :
1. Konfigurasinya memberikan luas permukaan besar dengan volum yang kecil.
2. Rentang tekanan dan penurunan tekanan yang hampir tak terbatas, dan dapat
disesuaikan secara bebas untuk kedua cairan.
3. Sejumlah besar bahan konstruksi dapat digunakan dan mungkin berbeda untuk
shell dan tabung.
4. Permukaan kontak diperpanjang untuk meningkatkan perpindahan panas, dapat
digunakan pada kedua sisi.
5. Berbagai besar kapasitas termal dapat diperoleh.
6. Peralatan tersebut mudah dibongkar untuk pembersihan atau perbaikan.
(Walas, 1990).









10






Gambar 2.8 Penukar Panas Selongsong dan Tabung
(Shell And Tube Heat Exchanger)
(Walas, 1990)

2.4.3 Penukar Panas Pelat dan Bingkai (Plate And Frame Heat Exchanger)
Alat penukar panas pelat dan bingkai terdiri dari pelat-pelat tegak lurus,
bergelombang, atau profil lain. Pemisah antara pelat tegak lurus dipasang penyekat
lunak (biasanya terbuat dari karet). Pelat-pelat dan sekat disatukan oleh suatu
perangkat penekan yang pada setiap sudut pelat (kebanyakan segi empat) terdapat
lubang pengalir fluida. Melalui dua dari lubang ini, fluida dialirkan masuk dan keluar
pada sisi yang lain, sedangkan fluida yang lain mengalir melalui lubang dan ruang
pada sisi sebelahnya karena ada sekat (Hartono, 2008).
11




Rentang jarak dan adanya lipatan menghasilkan koefisien tinggi di kedua sisi,
beberapa kali lipat dari shell and tube. Faktor kesalahan pun rendah, dari urutan
sekitar 1-5x10
-5
Btu/(hr)(sqft)(
o
F). Aksesibilitas permukaan kontak pertukaran panas
untuk membersihkan membuat alat ini sangat cocok untuk mengurangi faktor
kesalahan dan dimana tingkat tinggi sanitasi diperlukan, seperti dalam pengolahan
makanan dan farmasi. Tekanan operasi dan suhu dibatasi oleh bahan yang tersedia
dengan maksimum 300 psig dan 400
o
F. Faktor gesekan dan koefisien perpindahan
panas bervariasi dengan jarak pelat dan jenis lipatan (Walas, 1990).
Kelebihan plate and frame heat exchanger dibandingkan shell and tube heat
exchanger antara lain :
1. Kompak.
2. Biaya total murah.
3. Fouling kurang.
4. Mudah dicapai.
5. Fleksibel dalam hal jumlah plat di dalam alat penukar panas.
6. Beban panas dan efektivitas tinggi.
7. Waktu tinggal fluida tinggi.
Kekurangan plate and frame heat exchanger yaitu keterbatasan dalam hal
tekanan dan suhu operasi yang disebabkan oleh gasketnya. Penggantian gasket yang
terdapat di salah satu sisi atau kedua sisi plat dengan pengelasan laser dapat
meningkatkan tekanan dan suhu operasi, modifikasi ini mengijinkan plate and frame
heat exchanger dapat menangani fluida korosif (Walas, 1990).









12




Tabel 2.2 Karakteristik Kondisi Operasi dan Geometri Plate and Frame Heat
Exchanger
Unit Operasi
Luas permukaan
maksimum
2500 m
2
Tekanan 0,1-3 MPa
Jumlah plat 3-700 Suhu -40-260
o
C
Ukuran port
Hingga 400 mm
(untuk cairan)
Kecepatan port
maksimum
6 m/s (cairan)
Laju alir channel 0,05-12,5 m
3
/jam
Laju alir unit maks 2500 m
3
/jam
Plat Unjuk Kerja
Ketebalan 0,5-1,2 mm Pencapaian suhu Serendah 1
o
C
Ukuran 0,03-3,6 m
2
Efisiensi HE Hingga 93%
Spacing 1,5-7 mm
Koefisien
perpindahan panas
untuk air-air
3000-8000 W/m
2
K
Lebar 70-1200 mm
Panjang 0,4-5 m
Luas permukaan/
plat
0,02-5 m
2

(Hartono, 2008)


Gambar 2.9 Penukar Panas Pelat dan Bingkai (Plate And Frame Heat Exchanger)
(Walas, 1990)






13





Gambar 2.10 Pola-Pola Plat
(Walas, 1990)


Gambar 2.11 Kombinasi Arus Aliran Fluida pada Plate and Frame Heat Exchangers
(Walas, 1990)

2.4.4 Penukar Panas Spiral (Spiral Heat Exchanger)
Fluida panas masuk pada pusat elemen spiral dan mengalir mengelilingi dari
batas luar ke pusat sedangkan aliran fluida dingin mengalir berlawanan, masuk dari
pusat mengelilingi dan meninggalkan pusat. Koefisien perpindahan panas tinggi pada
kedua sisi, dan tidak ada koreksi log mean temperature difference (LMTD) karena
perpindahan panas yang terjadi dengan arus counter-current. Jenis spiral umumnya
14




bisa menjadi lebih unggul dengan fluida yang sangat kental pada tekanan sedang
(Walas, 1990).

Gambar 2.12 Penukar Panas Spiral (Spiral Heat Exchanger)
(Walas, 1990)

2.5 Analisa Kinerja Alat Penukar Panas
2.5.1 Koefisien Overall Perpindahan Panas (U)
Menyatakan mudah atau tidaknya panas berpindah dari fluida panas ke fluida
dingin dan juga menyatakan aliran panas menyeluruh sebagai gabungan proses
konduksi dan konveksi.
U =

A

Keterangan :
Q = panas yang dipindahkan per satuan waktu (m
3
/s)
U = koefisien perpindahan panas (J/sm
2
K)
A = luas permukaan perpindahan panas (m
2
)
LMTD = perbedaan T rata-rata (K)
(Dwi, 2012).

2.5.2 Fouling Factor (Rd)
Fouling adalah peristiwa terakumulasinya padatan yang tidak dikehendaki di
permukaan alat penukar panas yang berkontak dengan fluida kerja, termasuk
permukaan perpindahan panas. Peristiwa tersebut adalah pengendapan, pengerakan,
korosi, polimerisasi dan proses biologi. Fouling factor (Rd) merupakan angka yang
15




menunjukkan hambatan akibat adanya kotoran yang terbawa fluida yang mengalir di
dalam alat penukar panas.
Penyebab terjadinya fouling antara lain :
1. Adanya pengotor berat yaitu kerak keras yang berasal dari hasil korosi atau coke
keras.
2. Adanya pengotor berpori yaitu kerak lunak yang berasal dari dekomposisi kerak
keras.
Akibat terjadinya fouling antara lain :
1. Mengakibatkan kenaikan tahanan perpindahan panas sehingga meningkatkan
biaya, baik investasi, operasi maupun perawatan.
2. Ukuran alat penukar panas menjadi lebih besar, kehilangan energi meningkat,
waktu shutdown lebih panjang dan biaya perawatan meningkat (Dwi, 2012).

2.5.3 Pressure Drop
Pressure drop digunakan untuk mengetahui sejauh mana fluida dapat
mempertahankan tekanan yang dimilikinya selama fluida mengalir.
Penyebab terjadinya pressure drop antara lain :
1. Friksi aliran dengan dinding.
2. Pembelokan aliran.
Jika P terlalu besar :
1. Disebabkan jarak antar baffle yang terlalu dekat.
2. Aliran menjadi lambat.
3. Perlu tenaga pompa yang besar.
Jika P terlalu rendah :
1. Perpindahan panas tidak sempurna.
(Dwi, 2012).

2.6 Prosedur Perancangan Dasar Alat Penukar Panas
Tujuan utama perancangan alat penukar panas adalah untuk menentukan luas
permukaan yang diperlukan untuk sesuatu tugas tertentu menggunakan beda suhu
yang tersedia. Langkah-langkah perancangan antara lain :
1. Mendefinisikan tugas : laju perpindahan panas, laju alir fluida, temperatur.
16




2. Mengumpulkan sifat-sifat fisik fluida yang diperlukan : densitas, viskositas,
konduktivitas termal.
3. Memilih jenis alat penukar panas yang diperlukan.
4. Menebak harga U.
5. Menghitung LMTD.
6. Menghitung luas permukaan yang diperlukan.
7. Menentukan tata letak alat penukar panas.
8. Menghitung koefisien individu.
9. Menghitung koefisien menyeluruh dan membandingkan dengan harga yang
ditebak. Jika sangat jauh berbeda, kembali ke langkah 6 dengan menggunakan
harga U yang didapat dari perhitungan.
10. Menghitung P, jika tidak memenuhi kembali ke langkah 7 atau 4 atau 3.
11. Mengoptimasi rancangan : mengulangi langkah 4 hingga 10 untuk menentukan
alat penukar panas yang paling murah. Biasanya ini adalah alat penukar panas
dengan luas permukaan terkecil.

















17




BAB III
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat disampaikan yaitu :
1. Penukar kalor banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan di dalam
industri. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari sering dipergunakan pada
peralatan masak. Di dalam mobil maupun alat transportasi lainnya banyak
dijumpai radiator maupun alat pengkondisi udara kabin, yang keduanya juga
merupakan penukar kalor.
2. Jika ditinjau dari fungsinya, semua penukar kalor sebenarnya sama fungsinya
yaitu menukarkan energi yang dimiliki oleh suatu fluida atau zat ke fluida atau
zat lainnya.
3. Penukar kalor dapat digolongkan berdasarkan berbagai aspek antara lain :
a. Proses perpindahan kalor yang terjadi.
b. Tingkat kekompakan permukaan pemindah kalor.
c. Profil konstruksi permukaan.
d. Susunan aliran fluida.
e. Jumlah atau banyaknya fluida yang dipertukarkan energinya.
f. Mekanisme perpindahan kalor yang dominan.













18




DAFTAR PUSTAKA

Dwi, Indra Wibawa., Heat Exchanger, Fakultas Teknik, Universitas Lampung, 2012.
Hartono, Rudi., Penukar Panas, Fakultas Teknik, Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa, 2008.
Pejuang, Penukar Panas atau Heat Exchanger, www.senangnya-berbagi-
info.blogspot.com, diakses pada 20 Oktober 2014, 2014.
Wafi, Ahmad., Bani, Andhika., Budi, Ari., Putra, Dimas., Kusuma, Fauzy., Rancang
Bangun Heat Exchanger Shell and Tube Single Phase, Fakultas Teknik,
Universitas Diponegoro, 2011.
Walas, Stanley M., Chemical Process Equipment, United States of America : Reed
Publishing Inc, 1990.
Wikipedia, Penukar Panas, www.wikipedia.org, diakses pada 20 Oktober 2014,
2014.


19