Anda di halaman 1dari 809

PEDOMAN-PEDOMAN TEKNIS

DI BIDANG BANGUNAN
DAN SARANA RUMAH SAKIT

PEDOMAN-PEDOMAN TEKNIS

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
DIREKTORAT JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN
DIREKTORAT BINA PELAYANAN PENUNJANG MEDIK
DAN SARANA KESEHATAN
TAHUN 2012

DI BIDANG BANGUNAN
DAN SARANA RUMAH SAKIT

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
DIREKTORAT JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN
DIREKTORAT BINA PELAYANAN PENUNJANG MEDIK
DAN SARANA KESEHATAN
TAHUN 2012

PEDOMAN-PEDOMAN TEKNIS
DIBIDANG BANGUNAN DAN
SARANA RUMAH SAKIT

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
DIREKTORAT JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN
DIREKTORAT BINA PELAYANAN PENUNJANG MEDIK
DAN SARANA KESEHATAN
TAHUN 2012

DAFTAR ISI

PEDOMAN PENYUSUNAN STUDI KELAYAKAN (FEASIBILITY STUDY) RUMAH SAKIT


PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA INDUK (MASTER PLAN) RUMAH SAKIT
PEDOMAN BANGUNAN SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT KELAS B
PEDOMAN BANGUNAN RS : RUANG OPERASI RUMAH SAKIT
RUANG PERAWATAN INTENSIF RUMAH SAKIT
RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 2306/MENKES/PER/XI/2011 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA
INSTALASI ELEKTRIKAL RUMAH SAKIT
PEDOMAN TEKNIS PRASARANA RS : SISTEM INSTALASI GAS MEDIK DAN
VAKUM MEDIK RUMAH SAKIT
INSTALASI TATA UDARA PADA
BANGUNAN RUMAH SAKIT
BANGUNAN RUMAH SAKIT YANG
AMAN DALAM SITUASI DARURAT DAN
BENCANA
SARANA KESELAMATAN JIWA PADA
BANGUNAN RUMAH SAKIT
SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN AKTIF
RUMAH SAKIT

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

iii

PEDOMAN PENYUSUNAN
STUDI KELAYAKAN (FEASIBILITY STUDY)
RUMAH SAKIT

DIREKTORAT BINA PELAYANAN PENUNJANG MEDIK DAN SARANA KESEHATAN


SUB DIREKTORAT BINA SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN
TAHUN 2012

DAFTAR ISI

BAB - I
1.1
1.2
1.3
1.4

PENDAHULUAN
Umum
Dijelaskan mengenai hasil-hasil survey (kesimpulan)
Maksud dan Tujuan
Ruang Lingkup
Pengertian

BAB - II
2.1.
2.2.

PERSIAPAN
Pengumpulan Data Primer
Pengumpulan Data Sekunder

BAB - III
3.1.
3.2.

ANALISIS SITUASI
Aspek Eksternal
Aspek Internal

BAB - IV
4.1.
4.2.

ANALISIS PERMINTAAN
Lahan dan Lokasi
Klasifikasi Kelas RS

BAB - V

ANALISIS KEBUTUHAN

BAB - VI

ANALISIS KEUANGAN

BAB - VII

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KELAYAKAN

BAB - VIII

PENUTUP

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

UMUM

Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 28 Bagian H ayat
(1) telah menegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan, kemudian
dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Undang Undang nomor 36 tahun
2009 tentang Kesehatan pada pasal 19 menyebutkan bahwa Pemerintah bertanggung jawab atas
ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien dan terjangkau.
Dalam Undang-Undang nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 7 ayat (1) menyebutkan
Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, sumber daya manusia,
kefarmasian, dan peralatan. Pada pasal 8 ayat (1) disebutkan bahwa persyaratan lokasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus memenuhi ketentuan mengenai kesehatan,
keselamatan lingkungan, dan tata ruang, serta sesuai dengan hasil kajian kebutuhan dan
kelayakan penyelenggaraan Rumah Sakit, demikian juga pada ayat (3) disebutkan bahwa
ketentuan mengenai tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan
peruntukan lokasi yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota, Rencana
Tata Ruang Kawasan Perkotaan dan/atau Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. Kemudian
dalam Bagian Ketiga tentang Bangunan, pasal 9 butir (b) menyebutkan bahwa persyaratan teknis
bangunan Rumah Sakit, sesuai dengan fungsi, kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian
pelayanan serta perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat,
anak-anak, dan orang usia lanjut. Hal ini sejalan dengan Undang Undang nomor 28 tahun 2002
tentang Bangunan Gedung dimana pada pasal 7 ayat (3) disebutkan bahwa persyaratan teknis
bangunan gedung meliputi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan yang
meliputi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan.
Rencana membangun atau mengembangkan suatu Rumah Sakit akan dilakukan setelah
mengetahui Jenis layanan Kesehatan Rumah Sakit serta kapasitas Tempat Tidur (TT) yang akan
dilakukan dan disediakan untuk masyarakat sesuai dengan Hasil Kajian Studi Kelayakan
(Feasibility Study).
Dalam mendirikan atau mengembangkan rumah sakit diperlukan suatu proses atau langkahlangkah yang sistematis dengan melakukan suatu penelitian atau studi yang benar, karena setiap
proses saling berkaitan satu sama lainnya dan dilakukan secara bertahap.
Studi Kelayakan (Feasibility Study) adalah Hasil Analisis dan Penjelasan Kelayakan dari segala
aspek yang akan mendasari pendirian atau pengembangan suatu Rumah Sakit, terkait dengan
penentuan Rencana Kerja Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit yang baru akan dilakukan maupun
lanjutan dari yang sudah ada dalam melakukan rencana pengembangan atau peningkatan kelas
dari suatu Rumah Sakit.
Dari kondisi Laju Pertumbuhan Demografi, Pengembangan Pembangunan dan Peningkatan
Kehidupan di suatu wilayah, Pola Penyakit dan Epidemiologi, dan lain-lain, dapat dipahami bahwa
suatu Rumah Sakit itu secara relatif akan berada di daerah Urban atau Semi-Urban. Dimana hal ini
pula yang dapat menentukan bahwa Sarana dan Prasarana suatu Rumah Sakit akan berbeda
sesuai dengan Layanan Kesehatan Rumah Sakit yang akan diberikannya kepada masyarakat
dimana Rumah Sakit tersebut berada.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

1.2.

MAKSUD DAN TUJUAN

Pedoman Studi Kelayakan (Feasibility Study) Rumah Sakit ini dimaksudkan agar dalam
mendirikan atau mengembangkan rumah sakit dapat mendeterminasi fungsi layanan yang tepat
dan terintegrasi sehingga sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang diinginkan (;health
needs), kebudayaan daerah setempat (;cultures), kondisi alam daerah setempat (;climate), lahan
yang tersedia (;sites) dan kondisi keuangan manajemen RS (;budget).
Pedoman Studi Kelayakan (Feasibility Study) Rumah Sakit ini akan dijadikan dasar acuan dalam
mewujudkan Rencana Pembangunan dan Pengembangan suatu Rumah Sakit agar baik dan
benar yang akan menjadi acuan bagi pengelola rumah sakit maupun bagi konsultan perencana
sehingga masing-masing pihak dapat memiliki persepsi yang sama. Pedoman ini akan
menjelaskan langkah-langkah atau proses yang perlu dilakukan dalam menyusun suatu Studi
Kelayakan (Feasibility Study) Rumah Sakit.

1.3.

RUANG LINGKUP

Ruang Lingkup Studi Kelayakan (Feasibility Study) suatu Rumah Sakit meliputi pembahasan
Analisis Lingkungan/ Situasi Kecenderungan Aspek Internal dan Eksternal, Analisis Permintaan
terkait Kelayakan dari Aspek-aspek yang dapat mempengaruhinya, Analisis Kebutuhan dan
Analisis Keuangan serta Rekomendasi Kelayakan dari Rencana Pendirian atau Pengembangan
Rumah Sakit tersebut.
Pelaksanaan Penyusunan Studi Kelayakan (Feasibility Study) sesuai lingkupnya akan dilakukan
dalam suatu proses atau langkah-langkah secara bertahap yang akan diuraikan selanjutnya sesuai
Tahapannya dan dapat dilihat pada bagan sebagai berikut:

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

PROSES PENYUSUN
NAN STUDI KELAYAKA
AN

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

1.4

PENGERTIAN

1.4.1

Rumah sakit
adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan
gawat darurat.
mengembangkan Rumah Sakit.

1.4.2. Rencana Bisnis/ Rencana Strategi


Sebuah alat manajemen yang digunakan untuk mengelola kondisi saat ini untuk melakukan
proyeksi kondisi pada masa depan, sehingga rencana strategis adalah sebuah petunjuk
yang dapat digunakan organisasi dari kondisi saat ini untuk menuju tahun-tahun tertentu di
masa mendatang. Untuk mencapai strategi ini. Berbagai teknik analisis bisnis dapat
digunakan, termasuk analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).
1.4.3. Zonasi
Membagi wilayah/area, gedung-gedung maupun ruangan-ruangan yang ada di Rumah
Sakit kedalam area yang memiliki kesamaan sifat dan fungsi kedalam satu wilayah/area
yang berdekatan dan saling berhubungan. Tujuan nya adalah untuk memudahkan kendali
pencegahan infeksi nasokomial di rumah sakit, memudahkan identifikasi serta klasifikasi
wilayah/area, gedung, lantai-lantai dan ruangan serta memudahkan operasional dan
pemeliharaan.
1.4.4. Studi Kelayakan
Hasil Analisis dan Penjelasan Kelayakan dari segala aspek yang akan mendasari pendirian
atau pengembangan suatu Rumah Sakit, terkait dengan penentuan Rencana Kerja
Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit yang baru akan dilakukan maupun lanjutan dari yang
sudah ada dalam melakukan rencana pengembangan atau peningkatan kelas dari suatu
Rumah Sakit.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB II
PERSIAPAN
Persiapan pada Penyusunan Studi Kelayakan (Feasibility Study) adalah Tahapan melakukan
Kompilasi Data dari seluruh Data yang didapat dari hasil Pengumpulan Data yang terdiri dari Data
Primer dan Data Sekunder.

2.1.

PENGUMPULAN DATA PRIMER

Pengumpulan Data Primer, dapat dilakukan dengan melalui proses Pengamatan atau Observasi
langsung / Pengamatan atau Observasi Lapangan sehingga akan didapat seluruh Informasi atau
Data secara visual pada wilayah Perencanaan. Pengumpulan Data Primer dapat pula dilakukan
dengan cara Wawancara atau Tanya Jawab kepada Instansi-instansi dan pihak-pihak lain yang
berkaitan dengan pekerjaan penyusunan ini dan atau dengan langsung kepada masyarakat umum
selaku salah satu Pelanggan dari Rumah Sakit. Sifat wawancara bersifat terbuka artinya
pengambilan data tidak terpatok pada kuesioner namun dapat dikembangkan secara lisan dengan
responden.
Secara garis besar Data yang didapat dari Pengumpulan Data Primer adalah :
1.

Kondisi Potensi Lahan/ Lokasi

2.

Informasi langsung lainnya yang terkait dengan Kondisi dan Potensi yang ada terkait dengan
Standar/ Pedoman dan Ketentuan yang berlaku serta Sasaran dari Rencana Pembangunan/
Pengembangan Rumah Sakit serta informasi keinginan yang ada

2.2.

PENGUMPULAN DATA SEKUNDER

Pengambilan Data Sekunder, dapat dilakukan dengan mendatangi pula masing-masing Instansi
lainnya yang berkaitan sesuai dengan data yang dibutuhkan dalam pekerjaan penyusunan ini. Jika
pada salah satu Instansi ternyata Data tidak dipunyai, atau sedang dalam proses pembuatan, atau
sedang digunakan untuk keperluan lain maka konsultan dapat mencari pada Instansi lain yang
terkait sesuai dengan kebutuhan data atau mencarinya pada Literatur mengenai KeRumah Sakitan
lainnya.
Untuk melaksanakan pekerjaan ini diperlukan Data Internal/ Data Dalam dari rumah sakit yang ada
dan atau rumah sakit di wilayah sekitarnya, yang terdiri dari :
1.

Data Kesehatan pada Rumah Sakit yang ada, meliputi :


-

Angka Kesakitan (Morbiditas) Utama Rawat Inap Angka Kematian (Mortalitas)

Angka Kelahiran

Angka Pasien Rujukan

Data Asal Pasien Rawat Jalan, Rawat Gawat Darurat dan Rawat Inap

Jumlah Pasien Rawat Jalan

Jumlah Pasien Rawat Inap

Jumlah Hari Rawat

Angka Rata-rata Hari Rawat secara keseluruhan

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

2.

3.

4.

Jumlah dan Jenis Pelayanan Kesehatan

Jumlah dan jenis Tenaga Kesehatan

Jumlah dan Jenis Layanan Spesialistik Rumah Sakit

Jumlah dan Jenis Layanan Penunjang Medik Rumah Sakit

Struktur Organisasi Manajemen Rumah Sakit

Data Lokasi
-

Data Kondisi Lahan Rumah Sakit yang ada dan pengembangannya

Bentuk dan Luas Lahan serta Lantai Bangunan yang ada serta rencana perluasannya

Kondisi Lingkungan menurut ketentuan daerah setempat.

Batas lokasi lahan sekelilingnya

Jaringan Listrik, Air Minum, Telkom, Air Kotor/Limbah, Pemadam Kebakaran, Jaringan
Gas dan Pembuangan Sampah

Data Penggunaan dan ketinggian Bangunan serta Dokumen Perencanaan Bangunan


yang ada (Arsitektur, Struktur, Elektrikal dan Mekanikal Bangunan).

Data Finansial/Keuangan
-

Data Tarif Perawatan yang ada di Rumah Sakit

Cash Flow Rumah Sakit yang ada

Data Kinerja Tahunan Rumah Sakit yang ada

Data Luar/ Data Eksternal Rumah Sakit dan Lingkungan


a.

b.

Data Kesehatan
-

Angka Kesehatan (Morbiditas), Penyakit Utama Rawat Jalan di Puskesmas dan


Rumah Sakit

Angka Kesakitan (Mortalitas), Penyakit Utama


Rumah Sakit

Jumlah Posyandu, Puskesmas Pembantu, Puskesmas dengan Tempat Tidur dan


Puskesmas Keliling

Jumlah dan Jarak merata Puskesmas Pembantu, Puskesmas DTP dan


Puskesmas Keliling dengan Rumah Sakit di wilayah kerja.

Jumlah Rumah Sakit di wilayah kerja termasuk Rumah Sakit Swasta.

Jarak Antar Rumah Sakit di wilayah Kerja

Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit di Wilayah Jangkauan Rumah Sakit.

Jumlah dan Jenis tenaga dokter umum dan Spesialis di wilayah kerja.

Jumlah tenaga kesehatan lainnya diwilayah kerja

Data Keadaan Lingkungan Sekitar


-

Rawat Inap di Puskesmas dan

Jalan Pencapaian dan Kondisinya serta Klasifikasi Jalan Lingkungan berupa Jalan
Utama maupun Jalan Penghubung lainnya.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

5.

6.

Utilitas bangunan sesuai yang ada apakah wilayah ini sudah memiliki jaringan
telepon, listrik, air bersih dan saluran pembuangan serta data kondisinya.

Kondisi Topografi wilayah perencanaan.

Rencana peruntukkan tanah di sekitar wilayah perencanaan yang terkait dengan


Rencana Tata Ruang Kota yang ada (RTBL, RUTR, RDTR, RTRW).

Iklim dan cuaca setempat diwilayah ini.

Data Kesehatan Kota/ Kabupaten


-

Data Tarif Perawatan di Rumah Sakit lain sekitar lokasi

Sebaran Rumah Sakit sekitar wilayah

Pola penyakit daerah setempat.

Data Kebijakan, Pedoman dan Peraturan Pemerintah


-

Kebijakan dan pedoman terkait layanan Kesehatan Rumah Sakit.

Peruntukan Tanah diwilayah setempat.

Rencana Detail Tata Ruang.

Peraturan Teknis yang berlaku setempat , antara lain:


1) Garis Sempadan Bangunan (;GSB)
2) Jarak bebas Bangunan
3) Koefisien Lantai Bangunan (;KLB)
4) Tinggi maksimal lantai bangunan
5) Koefisien Dasar Bangunan (;KDB)
6) Koefisien Daerah Hijau (;KDH)

7.

8.

9.

Data Demografi
-

Luas Wilayah

Jumlah Penduduk

Angka Kepadatan

Laju Pertumbuhan Penduduk

Data Sosial Dan Budaya


-

Agama

Peranan Masyarakat

Suku Bangsa

Data Ekonomi
-

Mata Pencarian

Tingkat Pendapatan

Penghasilan setempat berupa Pendapatan Asli Daerah (;PAD)

Produk Domestik Regional Bruto (;PDRB) daerah setempat.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

BAB III
ANALISIS SITUASI
Analisis Situasi dalam Studi Kelayakan (Feasibility Study) dilakukan suatu analisis dari seluruh
aspek-aspek baik dari aspek Eksternal sebagai peluang ataupun ancaman maupun aspek Internal
yang dapat menjadi kekuatan ataupun kelemahan sehingga aspek-aspek tersebut dapat
menjadikan Kecenderungan suatu Rumah Sakit dalam melakukan pembangunan baru atau
melakukan pengembangan berupa peningkatan status layanan Rumah Sakit tersebut.
Untuk menganalisis aspek Ekternal dan aspek Internal perlu dilakukan proyeksi berupa forcasting,
kecuali data-data yang tidak memungkinkan tetap disajikan dalam bentuk tabel, diagram batang
atau pun diagram pie untuk melihat kecenderungannya.
Aspek-aspek yang dikaji sebagai analisis situasi diharapkan mendapatkan suatu kecenderungan
Rumah Sakit setelah melakukan segmentasi dan posisioning, aspek-aspek tersebut antara lain:

3.1.

Aspek Esternal

Aspek Eksternal yang akan dianalisis guna melihat peluang yang dapat menjadikan Rumah Sakit
untuk terus berkembang di masa mendatang serta melihat ancaman yang perlu diantisipasi oleh
Rumah Sakit agar tidak menjadi suatu hambatan di dalam operasional Rumah Sakit kedepannya.
1.

Kebijakan
Melakukan kajian berupa menganalisis kebijakan dan Pedoman serta Peraturan baik
kebijakan dan pedoman yang terkait dengan pendirian atau pengembangan suatu Rumah
Sakit dari berbagai aspek Ekternal maupun Peraturan - peraturan Daerah setempat dimana
lokasi Rumah Sakit tersebut berada.

2.

Demografi
Pertumbuhan Demografi suatu wilayah dimana lokasi Rumah Sakit tersebut berada dapat
merupakan segmentasi pasar dari layanan kesehatan yang akan diberikan oleh Rumah Sakit
tersebut. Untuk melihat kecenderungan demografi perlu diproyeksikan hingga maksimum 20
tahun mendatang dengan dasar data series minimal 3 tahun sebelumnya. Proyeksi demografi
yang dimaksud berupa proyeksi :

3.

a.

Jumlah penduduk secara kesuluruhan pada wilayah tertentu berdasarkan kecamatan.

b.

Jumlah penduduk secara kesuluruhan pada wilayah tertentu berdasarkan jenis kelamin.

c.

Jumlah penduduk secara kesuluruhan pada wilayah tertentu berdasarkan usia.

Geografi
Letak Rumah Sakit secara Geografis sangat berpengaruh tehadap posisioning suatu Rumah
Sakit. Posisi lahan Rumah Sakit terhadap Kondisi Wilayah disebelah Utara, Selatan, Barat
dan Timur beserta Kondisi Sarana Prasarananya baik sarana kesehatan, perumahan,
pendidikan, aksesibilitas dll, yang merupakan penentu posisioning Rumah Sakit yang akan
dibangun maupun dalam melakukan pengembangan peningkatan layanan kesehatan.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4.

Sosial Ekonomi dan Budaya


a.

Sosial Ekonomi
Pada kajian ini melihat proyeksi Sosial Ekonomi pada wilayah dimana lokasi Rumah Sakit
berada dengan memproyeksikan hingga maksimal 20 tahun mendatang dengan dasar
data series minimal 3 tahun sebelumnya terkait dengan kondisi perekonomian penduduk
dan perekonomian daerah setempat, berupa proyeksi :

b.

1)

Jumlah penduduk secara kesuluruhan pada wilayah tertentu berdasarkan mata


pencaharian

2)

Jumlah penduduk secara kesuluruhan pada wilayah tertentu berdasarkan pendidikan

3)

Jumlah sarana pendidikan di wilayah tertentu dimana lokasi Rumah Sakit berada.

4)

Laju pertumbuhan ekonomi daerah setempat.

Sosial Budaya
Kajian ini melihat proyeksi Sosial Budaya pada wilayah dimana lokasi Rumah Sakit
berada dengan memproyeksikan hingga maksimal 20 tahun mendatang dengan dasar
data series minimal 3 tahun sebelumnya terkait, berupa proyeksi Jumlah penduduk
secara keseluruhan pada wilayah tertentu berdasarkan agama, serta kajian terhadap
kebiasaan atau budaya wilayah terkait dengan pola hidup masyarakat sekitar.

5.

Sumber Daya Manusia/ Ketenaga Kerjaan Kesehatan


Kajian terhadap ketersediaan SDM/ Ketenagakerjaan di bidang kesehatan pada wilayah
dimana Rumah Sakit tersebut berada merupakan pertimbangan yang harus diperhatikan
dalam membuat suatu layanan kesehatan Rumah Sakit terutama dikaitkan dengan layanan
unggulan. Ketersediaan Sumber Daya Manusia/ Ketenagakerjaan di Bidang Kesehatan antara
lain :

6.

a.

Tenaga medis dan penunjang medis

b.

Tenaga keperawatan

c.

Tenaga kefarmasian

d.

Tenaga manajemen Rumah Sakit

e.

Tenaga nonkesehatan

Derajat Kesehatan
Derajat Kesehatan dalam Penyusunan Studi Kelayakan (Feasibility Study) perlu dilakukan
kajian dengan tujuan melihat kecenderungan derajat kesehatan pada wilayah tertentu
sehingga dalam menyiapkan fasilitas kesehatan Rumah Sakit sesuai dengan kecenderungan
di wilayah dimana lokasi Rumah Sakit berada. Kajian derajat kesehatan yang dimaksud
adalah sebagai berikut :
a.

Angka Kematian

b.

Angka Kelahiran

c.

Angka Kesakitan

d.

Jumlah Sarana Kesehatan di wilayah tertentu

e.

Jumlah Tempat Tidur tersedia di wilayah tertentu

f.

Indikator Kinerja Rumah Sakit di wilayah tertentu

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

3.2.

Aspek Internal

Aspek Internal yang akan dianalisis guna melihat kekuatan bagi Rumah Sakit untuk dapat survive
dalam melaksanakan operasional yang akan mengurangi ancaman yang terjadi, serta melihat
kelemahan yang perlu diantisipasi oleh Rumah Sakit agar tidak menjadi suatu hambatan di dalam
operasional Rumah Sakit kedepannya.
1.

Sarana Kesehatan
Kajian Sarana Kesehatan di sekitar wilayah jangkauan pelayanan Rumah Sakit yang akan
dibangun atau pengembangan dimaksud untuk mendapatkan kecenderungan dalam hal
pangsa pasar serta pola penentuan Sistim Tarif di wilayah tertentu.

2.

Pola Penyakit dan Epidemiologi


Kajian Pola Penyakit di Rumah Sakit dimaksudkan untuk melihat kecederungan Pola Penyakit
yang banyak terjadi pada Rumah Sakit tersebut dengan memproyeksikan kencenderungan
Pola Penyakit guna menentukan unggulan Rumah Sakit.

3.

Teknologi
Kajian terhadap Kemajuan Teknologi berupa peralatan kesehatan yang terus menerus
mengalami perkembangan tentunya sangat berpengaruh terhadap Layanan Kesehatan serta
kesiapan SDM Rumah Sakit tersebut.

4.

SDM/ Ketenaga Kerjaan Rumah Sakit


Kajian terhadap SDM di Rumah Sakit dimaksudkan mengkaji kesiapan SDM di Rumah Sakit
terhadap Jenis Layanan Kesehatan yang akan diberikan kepada masyarakat sesuai dengan
segmentasi dan posisioning dari Rumah Sakit tersebut.

5.

Organisasi
Organisasi di Rumah Sakit tentunya akan berpengaruh terhadap Kegiatan Operasional
Rumah Sakit yang berdampak kepada Kinerja suatu Rumah Sakit. Bentuk Organisasi akan
disesuaikan dengan Jenis Layanan dan Klasifikasi Rumah Sakit.

6.

Kinerja dan Keuangan


Kondisi Kinerja Rumah Sakit dan Kondisi Keuangan Rumah Sakit berupa Pendapatan dan
Pengeluaran Rumah Sakit akan dikaji dan diproyeksikan yang diharapkan dapat melihat
kecenderungan dan potensi perkembangan kinerja dan pendapatan Rumah Sakit dimasa
mendatang sehingga mendapatkan gambaran kekuatan atau kelemahan rencana
pengembangan Rumah Sakit tersebut.

10

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB IV
ANALISIS PERMINTAAN
Analisis Permintaan dalam Penyusunan Studi Kelayakan (Feasibility Study) akan membahas
tentang Analisis Posisi Kelayakan Rumah Sakit dari 5 (lima) aspek. Berdasarkan Analisis Aspek
Eksternal dan Aspek Internal yang telah dilakukan pada Analisis Situasi maka dilakukan analisis
yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan serta
peluang dan ancaman yang secara sistematis akan menjadi pertimbangan tehadap kelayakan
pembangunan Rumah Sakit tersebut. Hasil analisis tersebut selanjutnya digunakan sebagai acuan
untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam upaya memaksimalkan Kekuatan (strength)
dan memanfaatkan Peluang (opportunity) serta secara bersamaan berusaha untuk meminimalkan
Kelemahan (weakness) dan mengatasi Ancaman (threat).
Aspek-aspek Kelayakan pada Analisis Permintaan ini akan diuraikan berikut ini.

4.1.

LAHAN DAN LOKASI

Kelayakan lahan dan lokasi tentunya terkait dengan kecenderungan Letak Geografis yang terletak
pada wilayah dimana kondisi wilayah disekitarnya sangat mendukung dari aspek penggunaan
lahan, infrastruktur dan aksesibilitas serta kecenderungan demografi di wilayah dimana Rumah
Sakit berada.

4.2.

KLASIFIKASI KELAS RS

Kelayakan Klasifikasi Kelas Rumah Sakit akan ditinjau dari kecenderungan data penyakit sehingga
dapat memperoleh gambaran Klasifikasi Kelas Rumah Sakit sesuai dengan jenis layanannya serta
kesiapan SDM yang dimiliki.
1.

Kapasitas Tempat Tidur (TT)


Perhitungan Kapasitas Tempat Tidur/ TT, berupa jumlah TT yang harus disiapkan oleh
Rumah Sakit tersebut. Prakiraan kebutuhan jumlah TT dapat menggunakan rasio minimal
1/1.000 artinya dari jumlah penduduk pada wilayah jangkauan Rumah Sakit sejumlah 1.000
orang akan dibutuhkan 1 TT. Kecenderungan fasilitas pelayanan kesehatan berupa jumlah
total TT pada fasyankes di wilayah tersebut dapat menjadikan dasar sebagai perhitungan
kebutuhan kapasitas TT yang selanjutnya akan dibagi berdasarkan klasifikasi kelas
perawatan sesuai dengan Analisis Daya Beli masyarakat sekitar sebagai Pangsa Pasar
Rumah Sakit serta pemenuhan Pedoman dan Ketentuan yang berlaku.

2.

Jenis Layanan
Jenis layanan yang akan diberikan kepada masyarakat tentunya akan disesuaikan dengan
klasifikasi kelas Rumah Sakit yang akan disiapkan. Jenis layanan tersebut berupa pelayanan
medik, penunjang medik, administrasi dan servis.

3.

Layanan Unggulan
Dari jenis layanan yang akan diberikan tentunya perlu adanya suatu layanan unggulan yang
akan disiapkan atas dasar kecenderungan pola penyakit yang terjadi di Rumah Sakit dan di
wilayah tempat Rumah Sakit tersebut berada.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

11

BAB V
ANALISIS KEBUTUHAN
Analisis kebutuhan merupakan analisis mengenai kebutuhan yang harus disediakan oleh Rumah
Sakit secara keseluruhan yang disesuaikan berdasar analisis permintaan yang telah dilakukan.
Analisis kebutuhan ini dapat memberikan gambaran mengenai rencana pengembangan dari
Rumah Sakit tersebut dilihat dari aspek :

1. KEBUTUHAN LAHAN
Kebutuhan lahan Rumah Sakit dapat dihitung berdasarkan Program Ruang Rumah Sakit serta
kebijakan Pemerintah Daerah setempat mengenai Intensitas Bangunan berupa Koefisien
Dasar bangunan (KDB), Koefisien Lantai bangunan (KLB), Garis Sempadan Bangunan (GSB)
dan Koefisien Dasar Bangunan (KDH), serta Peruntukan Lahan yang mengizinkan digunakan
sebagai Lahan yang dapat dibangun Rumah Sakit.

2. KEBUTUHAN RUANG
Kebutuhan Ruang secara keseluruhan dari Rumah Sakit dapat dihitung 1TT sebesar 80 m2
110 m2 disesuaikan dengan Bentuk dan Klasifikasi Rumah Sakitnya.

3. PERALATAN MEDIS & NON MEDIS


Peralatan Medis dan Non Medis akan disesuaikan dengan Kapasitas dan Jenis Layanan dari
Rumah Sakit tersebut.

4. SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)


Dalam hal pemenuhan ketenagaan atau Sumber Daya Manusia (SDM) perlu
mempertimbangkan/ memperhitungkan tenaga seefisien dan seefektif mungkin agar
menjadikan suatu Manajemen Pengelolaan Rumah Sakit yang optimal.

5. ORGANISASI & URAIAN TUGAS


Organisasi dan Uraian Tugas akan disusun sesuai dengan Bentuk dan Klasifikasi Rumah
Sakit.

12

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB VI
ANALISIS KEUANGAN
Analisis Keuangan memberikan gambaran tentang rencana penggunaan sumber anggaran yang
dimiliki, sehingga dapat diketahui tingkat pengembalian biaya yang akan diinvestasikan. Dengan
demikian maka pihak pemilik/ investor dapat melihat tingkat keuntungan yang mungkin akan
diperoleh.
Adapun aspek keuangan yang akan dianalisis terdiri dari:
1.

Rencana Investasi dan Sumber Dana

2.

Proyeksi Pendapatan dan Biaya

3.

Proyeksi Cash Flow

4.

Analisis Keuangan : Break Event Point (BEP), Internal Rate of Return (IRR), dan Net Present
Value (NPV)

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

13

BAB VII
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KELAYAKAN
7.1.
KESIMPULAN
Bagian kesimpulan dari studi kelayakan (;feasibility study) akan memberikan perspektif dari 4
sudut pandang, yaitu analisis situasi, analisis permintaan, analisis kebutuhan dan analisis
keuangan.
1.

Analisis Situasi
Analisis situasi memberikan informasi tentang aspek eksternal dan aspek internal sebagai
suatu kecenderungan Rumah Sakit. Aspek eksternal terdiri dari Kebijakan, Demografi,
Geografi, Sosial Ekonomi dan Budaya, SDM Kesehatan, Derajat Kesehatan sedangkan
aspek internal terdiri dari Sarana kesehatan, Pola penyakit dan Epidemiologi, Teknologi,
SDM Kesehatan di RS, Organisasi, Kinerja dan keuangan

2.

Analisis Permintaan
Analisis permintaan menggambarkan posisi kelayakan rumah sakit dari berbagai aspek
berdasarkan analisis aspek eksternal dan aspek internal yang telah dilakukan pada analisis
situasi maka dilakukan analisis yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang
menjadi kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang secara sistematis akan
menjadi pertimbangan tehadap kelayakan pembangunan Rumah Sakit tersebut. Hasil
analisis tersebut selanjutnya digunakan sebagai acuan untuk menentukan langkah-langkah
selanjutnya dalam upaya memaksimalkan kekuatan (strength) dan memanfaatkan peluang
(opportunity) serta secara bersamaan berusaha untuk meminimalkan kelemahan (weakness)
dan mengatasi ancaman (threat).

3.

Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan menggambarkan mengenai kebutuhan yang harus disediakan oleh
Rumah Sakit secara keseluruhan yang disesuaikan berdasar analisis permintaan yang telah
dilakukan.
Analisis kebutuhan ini dapat memberikan gambaran mengenai rencana pengembangan dari
rumah sakit tersebut dilihat dari aspek kebutuhan lahan, kebutuhan ruang, peralatan medis &
non medis, SDM, organisasi & uraian tugas.

4.

Analisis Keuangan
Mengetahui secara keseluruhan analisis keuangan dari segi :

7.2.

a.

Rencana Investasi dan Sumber Dana

b.

Proyeksi Pendapatan dan Biaya

c.

Proyeksi Cash Flow

d.

Analisis Keuangan : BEP, Internal Rate of Return, dan Net Present Value

REKOMENDASI

Memberikan gambaran berupa rekomendasi langkah-langkah yang harus ditempuh berdasarkan


hasil dari 4 analisis dan dapat pula dijadikan rencana strategi dari manajemen Rumah Sakit
tersebut.

14

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB VIII
PENUTUP
8.1

Pedoman Studi Kelayakan (Feasibility Study) Rumah Sakit ini diharapkan dapat digunakan
sebagai rujukan oleh pengelola fasilitas pelayanan kesehatan, penyedia jasa perencanaan,
Pemerintah Daerah, dan instansi yang terkait dengan kegiatan pengaturan dan
pengendalian penyelenggaraan pembangunan bangunan fasilitas pelayanan kesehatan,
guna menjamin kesehatan penghuni bangunan dan lingkungan terhadap bahaya penyakit.

8.2

Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif, serta
penyesuaian Pedoman Studi Kelayakan (Feasibility Study) Rumah Sakit ini oleh masingmasing daerah disesuaikan dengan kondisi daerah.

8.3. Dalam penyusunan Studi Kelayakan (Feasibility Study) Rumah Sakit dapat berkoordinasi
dan berkonsultansi dengan Sub Direktorat Bina Sarana dan Prasarana Kesehatan Direktorat
Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

15

16

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

PEDOMAN PENYUSUNAN
RENCANA INDUK (MASTER PLAN)
RUMAH SAKIT

DIREKTORAT BINA PELAYANAN PENUNJANG MEDIK DAN SARANA KESEHATAN


SUB DIREKTORAT BINA SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN
TAHUN 2012

DAFTAR ISI
BAB - I

BAB - II

PENDAHULUAN
1.1 Umum
Dijelaskan mengenai hasil-hasil survey (kesimpulan)
1.2 Maksud dan Tujuan
1.3 Ruang Lingkup
1.4 Pengertian

1
1
2
2
4

PERSIAPAN
2.1. Pengumpulan Data Primer
2.2. Pengumpulan Data Sekunder

5
5
5

BAB - III ANALISIS KONDISI UMUM


3.1. Aspek Eksternal
3.2. Aspek Internal

9
9
11

BAB - IV MASTER PROGRAM

12

BAB - V

14
14
15
16
16
19

PROGRAM FUNGSI
5.1. Aktivitas Kerja
5.2. Hubungan Fungsional
5.3. Pengelompokan/ Zonasi
5.4. Pola Sirkulasi Kegiatan Rumah Sakit
5.5. Kebutuhan Pembiayaan

BAB - VI RENCANA BLOK BANGUNAN DAN KONSEP UTILITAS RUMAH SAKIT


6.1. Perencanaan Blok Plan
6.2. Perencanaan Konsep Utilitas

20
20
20

BAB - VII RENCANA INDUK/ MASTER PLAN RS

21

BAB - VIII PENUTUP

22

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

UMUM

Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 28 Bagian H ayat
(1) telah menegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan, kemudian
dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Undang Undang nomor 36 tahun
2009 tentang Kesehatan pada pasal 19 menyebutkan bahwa Pemerintah bertanggung jawab atas
ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien dan terjangkau.
Dalam Undang-Undang nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 7 ayat (1) menyebutkan
Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, sumber daya manusia,
kefarmasian, dan peralatan. Pada pasal 8 ayat (1) disebutkan bahwa persyaratan lokasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus memenuhi ketentuan mengenai kesehatan,
keselamatan lingkungan, dan tata ruang, serta sesuai dengan hasil kajian kebutuhan dan
kelayakan penyelenggaraan Rumah Sakit, demikian juga pada ayat (3) disebutkan bahwa
ketentuan mengenai tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan
peruntukan lokasi yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota, Rencana
Tata Ruang Kawasan Perkotaan dan/atau Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. Kemudian
dalam Bagian Ketiga tentang Bangunan, pasal 9 butir (b) menyebutkan bahwa persyaratan teknis
bangunan Rumah Sakit, sesuai dengan fungsi, kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian
pelayanan serta perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat,
anak-anak, dan orang usia lanjut. Hal ini sejalan dengan Undang Undang nomor 28 tahun 2002
tentang Bangunan Gedung dimana pada pasal 7 ayat (3) disebutkan bahwa persyaratan teknis
bangunan gedung meliputi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan yang
meliputi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan.
Rencana membangun atau mengembangkan suatu Rumah Sakit akan dilakukan setelah
mengetahui Jenis layanan Kesehatan Rumah Sakit serta kapasitas Tempat Tidur (TT) yang akan
dilakukan dan disediakan untuk masyarakat sesuai dengan Hasil Kajian Studi Kelayakan/
Feasibility Study.
Rencana ini selanjutnya akan disusun dalam suatu Kajian berupa Penyusunan Rencana Induk/
Master Plan yang menggambarkan Rencana Pembangunan dan atau Pengembangan serta
Rencana Pentahapan Pelaksanaannya yang dilihat dari semua aspek secara komprehensif dan
berkesinambungan serta utuh sebagai satu kesatuan Fasilitas Sarana dan Prasarana Rumah
Sakit.
Pembangunan Fasilitas Sarana Prasarana Rumah Sakit diperlukan adanya suatu perencanaan
yang terpadu secara keseluruhan dalam jangka waktu maksimal 20 tahun mendatang dan dapat
dilakukan pengkajian ulang sesuai kebutuhan, yang walaupun dilaksanakan secara bertahap
perencanaan ini akan menjadi dasar acuan penyusunan perencanaan detail desain bangunan
Rumah Sakit tersebut, yang selanjutnya akan digunakan dalam pelaksanaan pembangunan
konstruksi fisik guna memperoleh hasil yang maksimal nantinya dalam satu kesatuan yang terpadu
dan berkesinambungan.
Pekerjaan Penyusunan Rencana Induk/ Master Plan adalah salah satu tahapan atau bagian dari
pekerjaan yang dilakukan pada Tahap Awal Pekerjaan Perencanaan dan Perijinan, yang disusun

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

dengan berdasarkan hasil Studi Analisis terhadap Kondisi Potensi, Kebijakan dan Batasan yang
ada sehingga dapat dihasilkan suatu perencanaan Rencana Induk/ Master Plan yang terintegrasi.

1.2.

MAKSUD DAN TUJUAN

Pedoman Master Plan Rumah Sakit ini dimaksudkan agar dalam menyusun rencana secara
keseluruhan yang berkesinambungan dan terpadu untuk melaksanakan fungsi sepenuhnya
sebagai Rumah Sakit yang terus berkembang dalam peningkatan layanannya secara terinci dalam
tahapan-tahapan pengadaan sumber daya manusia, pembiayaan, maupun prasarana dan sarana
fisik bangunannya, yang tersusun dalam suatu Rencana Induk/ Master Plan Rumah Sakit.
Pedoman Master Plan Rumah Sakit ini akan dijadikan dasar acuan dalam mewujudkan Rencana
Pembangunan dan Pengembangan suatu Rumah Sakit agar baik dan benar yang akan menjadi
acuan bagi pengelola rumah sakit maupun bagi konsultan perencana sehingga masing-masing
pihak dapat memiliki persepsi yang sama. Pedoman ini akan menjelaskan langkah-langkah atau
proses yang perlu dilakukan dalam menyusun suatu Rencana Induk/ Master Plan Rumah Sakit.

1.3.

RUANG LINGKUP

Ruang lingkup Penyusunan Rencana Induk/ Master Plan ini meliputi Pembahasan Kecenderungan
Eksternal dan Internal, Master Program, Program Fungsi, Rencana Block Plan dan Konsep Utilitas
serta Rencana Pentahapan Pelaksanaan Pembangunan Fisik Sarana dan Prasarana Rumah
Sakit dari semua aspek secara komprehensif dan berkesinambungan, yang Tahapan prosesnya
dapat dilihat pada bagan dibawah ini:

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

PROSES PENYUSUNAN MASTER PLAN

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

1.4.

PENGERTIAN

1.4.1

Rumah sakit
adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan
gawat darurat.

1.4.2. Rencana Induk/ Master Plan


Rencana dan langkah-langkah dari tahapan yang harus dilakukan oleh pihak Penentu
(Pemilik/Penyandang Dana ataupun Pengelola Rumah Sakit) dalam rangka mewujudkan
target dan sasarannya dalam membangun dan mengembangkan Rumah Sakit.
1.4.3. Rencana Blok (Block Plan)
Peletakan massa-massa bangunan dengan bentuk rencana atapnya yang ditempatkan
pada permukaan suatu tapak, dimana konsep tata letak memperhatikan hubungan (pola
aktifitas) antar massa bangunan tersebut.
1.4.4. Rencana Bisnis/ Rencana Strategi
Sebuah alat manajemen yang digunakan untuk mengelola kondisi saat ini untuk melakukan
proyeksi kondisi pada masa depan, sehingga rencana strategis adalah sebuah petunjuk
yang dapat digunakan organisasi dari kondisi saat ini untuk menuju tahun-tahun tertentu di
masa mendatang. Untuk mencapai strategi ini. Berbagai teknik analisis bisnis dapat
digunakan, termasuk analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).
1.4.5. Zonasi
Membagi wilayah/area , gedung-gedung maupun ruangan-ruangan yang ada di Rumah
Sakit kedalam area yang memiliki kesamaan sifat dan fungsi kedalam satu wilayah/area
yang berdekatan dan saling berhubungan. Tujuan nya adalah untuk memudahkan kendali
pencegahan infeksi nasokomial di rumah sakit, memudahkan identifikasi serta klasifikasi
wilayah/area, gedung, lantai-lantai dan ruangan serta memudahkan operasional dan
pemeliharaan.
1.4.6. Studi Kelayakan
Hasil Analisis dan Penjelasan Kelayakan dari segala aspek yang akan mendasari pendirian
atau pengembangan suatu Rumah Sakit, terkait dengan penentuan Rencana Kerja
Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit yang baru akan dilakukan maupun lanjutan dari yang
sudah ada dalam melakukan rencana pengembangan atau peningkatan kelas dari suatu
Rumah Sakit.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB II
PERSIAPAN
Persiapan pada Penyusunan Rencana Induk/ Master Plan adalah suatu Tahapan pekerjaan
dimana dilakukan Kompilasi Data yang didapat dari hasil Pengumpulan Data, yang terdiri dari Data
Primer maupun Data Sekunder. Pengumpulan Data untuk penyusunan Rencana Induk
Pembangunan Rumah Sakit Baru dan Rencana Induk Pengembangan Rumah Sakit disesuaikan
dengan kebutuhan dan kondisi.

2.1.

PENGUMPULAN DATA PRIMER

Pengumpulan Data Primer, dilakukan dengan pengamatan atau observasi langsung/ pengamatan
lapangan sehingga akan didapat informasi atau data secara visual pada wilayah perencanaan.
Pengumpulan Data Primer dapat pula dilakukan dengan cara Wawancara atau Tanya Jawab
kepada Instansi terkait, Pihak yang berkaitan dengan pekerjaan penyusunan ini dan atau dengan
Masyarakat Umum selaku Pelanggan dari Rumah Sakit. Sifat wawancara yang dilakukan terbuka,
dimana pengambilan data tidak terpatok hanya pada kuesioner saja namun dapat dikembangkan
secara lisan dengan responden.
Secara garis besar data yang didapat dari Data Primer adalah :
1.

Kondisi Lahan/ Lokasi yang akan dibangun atau dikembangkan sebagai Fasilitas Sarana dan
Prasarana Rumah Sakit.

2.

Informasi lainnya yang terkait dengan rencana dari Manajemen Rumah Sakit.

3.

Informasi keinginan masyarakat sekitar terkait Layanan Kesehatan Rumah Sakit

2.2.

PENGUMPULAN DATA SEKUNDER

Pengumpulan Data Sekunder, dilakukan dengan mendatangi masing-masing Instansi terkait


sesuai dengan Data yang dibutuhkan dalam pekerjaan penyusunan ini. Jika pada salah satu
Instansi ternyata Data tidak dipunyai, atau sedang dalam proses pembuatan, atau sedang
digunakan untuk keperluan lain maka Data dapat mencari pada instansi lain yang terkait sesuai
dengan kebutuhan data tersebut.
Untuk melaksanakan pekerjaan ini diperlukan data-data:
2.2.1. Data Dalam/Internal dari Rumah Sakit
1. Data Kesehatan
-

Angka Kesakitan (Morbiditas) Utama Rawat Inap Rumah Sakit

Angka Kematian (Mortalitas) pada Rumah Sakit.

Angka Kelahiran

Angka Pasien Rujukan

Data Asal Pasien Rawat Jalan, Rawat Gawat Darurat dan Rawat Inap di Rumah
Sakit

Jumlah Pasien Rawat Jalan pada Rumah Sakit

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

Jumlah Pasien Rawat Inap pada Rumah Sakit

Jumlah Hari Rawat pada Rumah Sakit

Angka Rata-rata Hari Rawat di Rumah Sakit secara keseluruhan

Jumlah dan Jenis Pelayanan Kesehatan pada Rumah Sakit

Jumlah dan jenis Tenaga Dokter pada Rumah Sakit

Jumlah Tenaga Paramedik Perawatan di Rumah Sakit

Jumlah Tenaga Peramedik Non Perawatan di Rumah Sakit

Jumlah Tenaga Non medik di Rumah Sakit

Jumlah dan Jenis Layanan Spesialistik di Rumah Sakit

Jumlah dan Jenis Layanan Penunjang Medik di Rumah Sakit

Struktur Organisasi Manajemen Rumah Sakit

2. Data Lokasi
-

Data Kondisi Lahan Rumah Sakit yang ada dan rencana pengembangannya

Bentuk dan Luas Lahan dan Lantai Bangunan yang ada serta rencana
perluasannya

Kondisi Lingkungan menurut ketentuan Pemerintah Daerah setempat pada Lahan


yang ada dan sekitarnya

Batas lokasi lahan sebelah Utara/ Selatan/ Timur/ Barat atau Depan/ Belakang/ Kiri/
Kanan lokasi Lahan

Jaringan Listrik, Air Minum, Telepon, Air Kotor / Limbah, Pemadam Kebakaran,
Jaringan Gas dan Pembuangan Sampah

Data Penggunaan dan Ketinggian Bangunan serta Dokumen Perencanaan


Bangunan yang ada (Arsitektur, Struktur, Elektrikal dan Mekanikal Bangunan)

3. Data Studi Terdahulu


-

Studi Kelayakan Rumah Sakit terdahulu yang masih berlaku

Rencana Bisnis atau Rencana Strategi Rumah Sakit

2.2.2. Data Eksternal Rumah Sakit dan Lingkungan


1. Data Kesehatan
a. Angka Kesehatan (Morbiditas) penyakit utama Rawat Jalan di Puskesmas dan
Rumah Sakit
b. Angka Kesakitan (Morbilitas) penyakit utama
Rumah Sakit
c.

Rawat Inap di Puskesmas dan

Jumlah Posyandu, Puskesmas Pembantu, Puskesmas dengan tempat tidur dan


Puskesmas Keliling

d. Jumlah dan Jarak merata Puskesmas Pembantu, Puskesmas DTP dan Puskesmas
Keliling dengan Rumah Sakit di wilayah kerja
e. Jumlah Rumah Sakit di wilayah kerja termasuk Rumah Sakit Swasta
f.

Jarak Antar Rumah Sakit di wilayah Kerja

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

g. Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit di Wilayah Jangkauan Rumah Sakit


h. Jumlah dan Jenis Tenaga Dokter Umum dan Spesialis di wilayah kerja
i.

Jumlah Tenaga Para Medik Perawatan, Para Medik Non Perawatan dan Tenaga
Non Medik diwilayah kerja

2. Data Keadaan Lingkungan Sekitar


a. Jalan Pencapaian dan Kondisinya serta Klasifikasi Jalan Lingkungan berupa Jalan
Utama maupun Jalan Penghubung lainnya.
b. Utilitas Bangunan sesuai yang ada apakah wilayah ini sudah memiliki Jaringan
Telepon, Listrik, Air Bersih dan Saluran Pembuangan serta data kondisinya.
c.

Kondisi Topografi wilayah perencanaan.

d. Rencana peruntukkan tanah di sekitar wilayah perencanaan yang terkait dengan


Rencana Tata Ruang Kota yang ada (RTBL, RUTR, RDTR, RTRW).
e. Iklim dan Cuaca setempat diwilayah ini.
3. Data Kesehatan Kota/Kabupaten
a. Data Tarif Perawatan di Rumah Sakit lain sekitar lokasi
b. Sebaran Rumah Sakit sekitar wilayah
c.

Pola penyakit Kota/ Kabupaten

4. Data Kebijakan dan Pedoman serta Peraturan Pemerintah Setempat


a. Kebijakan dan Pedoman terkait Layanan Kesehatan Rumah Sakit
b. Peruntukan Tanah diwilayah setempat
c.

Peraturan Teknis yang berlaku setempat , antara lain:


1)

Garis Sempadan Bangunan (;GSB)

2)

Jarak bebas Bangunan

3)

Koefisien Lantai Bangunan (;KLB)

4)

Tinggi maksimal lantai bangunan

5)

Koefisien Dasar Bangunan (;KDB)

6)

Koefisien Daerah Hijau (;KDH)

5. Data Demografi
a. Luas Wilayah
b. Jumlah Penduduk berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, dll
c.

Angka Kepadatan

d. Laju Pertumbuhan Penduduk


6. Data Sosial Dan Budaya
a. Agama
b. Peranan Masyarakat
c.

Suku Bangsa

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

7. Data Ekonomi
a. Mata Pencarian
b. Tingkat Pendapatan
c.

Penghasilan setempat berupa Pendapatan Asli Daerah (;PAD)

d. Produk Domestik Regional Bruto (;PDRB) daerah setempat.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB III
ANALISIS KONDISI UMUM
Analisis Kondisi Umum dalam Pekerjaan Penyusunan Rencana Induk/ Master Plan adalah
melakukan analisiis dari seluruh aspek-aspek baik dari aspek Eksternal maupun aspek Internal
sehingga aspek-aspek tersebut dapat menjadikan rumusan Kecenderungan suatu Rumah Sakit
dalam melakukan pembangunan baru atau melakukan pengembangan berupa peningkatan status
layanan Rumah Sakit, yang disebut Perumusan Kecenderungan atau Master Program.
Analisis ini dilakukan untuk mengkaji ulang Data yang ada walaupun di dalam Analisis Situasi
pada Studi Kelayakan telah dilakukan, dan hasil dari Analisis Kondisi Umum pada penyusunan
Rencana Induk/ Master Plan adalah untuk perumusan Master Program.
Untuk menganalisis Aspek Ekternal dan Aspek Internal perlu dilakukan proyeksi berupa forcasting,
kecuali data yang tidak memungkinkan tetap disajikan dalam bentuk tabel, diagram batang atau
pun diagram pie untuk melihat kecenderungannya.
Aspek-aspek yang dikaji sebagai Analisis Kondisi Umum diharapkan mendapatkan suatu
kecenderungan Rumah Sakit, aspek-aspek tersebut antara lain:

3.1.

ASPEK EKSTERNAL

Aspek Eksternal yang akan dianalisis guna melihat peluang yang dapat menjadikan Rumah Sakit
untuk terus berkembang di masa mendatang serta melihat ancaman yang perlu diantisipasi oleh
Rumah Sakit agar tidak menjadi suatu hambatan di dalam operasional Rumah Sakit kedepannya.
1.

Kebijakan
Melakukan Kajian berupa menganalisis Kebijakan dan Pedoman serta Peraturan, baik
Kebijakan dan Pedoman yang terkait dengan pembangunan baru atau pengembangan suatu
Rumah Sakit dari berbagai aspek ekternal maupun peraturan-peraturan Pemerintah Daerah
setempat dimana lokasi Rumah Sakit tersebut berada.

2.

Geografi
Letak Rumah Sakit secara geografis sangat berpengaruh tehadap posisioning suatu Rumah
Sakit. Posisi lahan Rumah Sakit terhadap kondisi wilayah disebelah utara, selatan, barat dan
timur beserta kondisi sarana prasarananya baik sarana kesehatan, perumahan, pendidikan,
aksesibilitas dll, merupakan penentu posisioning Rumah Sakit yang akan dibangun maupun
melakukan pengembangan peningkatan Layanan Kesehatan Rumah Sakit.

3.

Demografi
Pertumbuhan Demografi suatu wilayah dimana lokasi Rumah Sakit tersebut berada dapat
merupakan segmentasi pasar dari layanan kesehatan yang akan diberikan oleh Rumah Sakit
tersebut. Untuk melihat kecenderungan Demografi perlu diproyeksikan hingga maksimal 20
tahun mendatang dengan dasar data series minimal 3 tahun sebelumnya. Proyeksi
Demografi yang dimaksud berupa proyeksi:
a. Jumlah penduduk secara kesuluruhan pada wilayah tertentu berdasarkan kecamatan.
b. Jumlah penduduk secara kesuluruhan pada wilayah tertentu berdasarkan jenis kelamin.
c. Jumlah penduduk secara kesuluruhan pada wilayah tertentu berdasarkan usia.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

4.

Sosial Ekonomi dan Budaya


a. Sosial Ekonomi
Pada Kajian ini melihat proyeksi Sosial Ekonomi pada wilayah dimana lokasi Rumah
Sakit berada dengan memproyeksikan hingga maksimal 20 tahun mendatang dengan
dasar data series minimal 3 tahun sebelumnya terkait dengan kondisi perekonomian
penduduk dan perekonomian daerah terkait, berupa proyeksi:
1)

Jumlah penduduk secara kesuluruhan pada wilayah tertentu berdasarkan mata


pencaharian

2)

Jumlah penduduk secara keseluruhan pada wilayah tertentu berdasarkan pendidikan

3)

Jumlah sarana pendidikan di wilayah tertentu dimana lokasi Rumah Sakit berada.

4)

Laju pertumbuhan ekonomi daerah setempat.

b. Sosial Budaya
Kajian ini melihat proyeksi Sosial Budaya pada wilayah dimana lokasi Rumah Sakit
berada dengan memproyeksikan hingga maksimal 20 tahun mendatang dengan dasar
data series minimal 3 tahun sebelumnya terkait, berupa proyeksi Jumlah penduduk
secara kesuluruhan pada wilayah tertentu berdasarkan agama, serta kajian terhadap
kebiasaan atau budaya wilayah terkait dengan pola hidup masyarakat sekitar.
5.

Sumber Daya Manusia/Tenaga Kesehatan


Kajian terhadap ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM)/ Ketenagakerjaan di Bidang
Kesehatan pada wilayah dimana Rumah Sakit tersebut berada merupakan pertimbangan
yang harus diperhatikan dalam membuat suatu Layanan Kesehatan Rumah Sakit terutama
dikaitkan dengan Layanan Unggulan.
Ketersediaan SDM/ Ketenagakerjaan di bidang Kesehatan antara lain :
a. Tenaga medis dan penunjang medis
b. Tenaga keperawatan
c. Tenaga kefarmasian
d. Tenaga manajemen Rumah Sakit
e. Tenaga nonkesehatan

6.

Derajat Kesehatan
Derajat kesehatan dalam penyusunan Rencana Induk/ Master Plan perlu dilakukan Kajian,
dengan tujuan melihat kecenderungan derajat kesehatan pada wilayah tertentu sehingga
dalam menyiapkan Fasilitas Kesehatan Rumah Sakit sesuai dengan kecenderungan di
wilayah dimana lokasi Rumah Sakit tersebut berada.
Kajian Derajat Kesehatan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Angka Kematian
b. Angka Kelahiran
c. Angka Kesakitan
d. Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan
e. Jumlah Tempat Tidur tersedia
f.

10

Indikator Kinerja Rumah Sakit

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3.2.

ASPEK INTERNAL

Aspek Internal yang akan dianalisis guna melihat kekuatan bagi Rumah Sakit untuk dapat
melaksanakan operasional secara berkesinambungan dengan mengantisipasi ancaman yang
kemungkinan terjadi, serta melihat kelemahan yang perlu diantisipasi oleh Rumah Sakit agar tidak
menjadi suatu hambatan di dalam operasional Rumah Sakit kedepannya.
1.

Bangunan Kesehatan
Kajian bangunan kesehatan di sekitar wilayah jangkauan pelayanan Rumah Sakit yang akan
dibangun atau pengembangan dimaksud untuk mendapatkan kecenderungan dalam hal
pangsa pasar serta pola tarif di wilayah tertentu.

2.

Pola Penyakit Di Rumah Sakit


Kajian Pola Penyakit di Rumah Sakit dimaksudkan untuk melihat kecederunagn Pola
Penyakit yang banyak terjadi pada Rumah Sakit tersebut dengan memproyeksikan
kencenderungan Pola Penyakit guna menentukan Unggulan Layanan Kesehatan Rumah
Sakit serta penyiapan Fasilitas Sarana dan Prasarananya.

3.

Teknologi
Kajian terhadap kemajuan Teknologi berupa Peralatan Kesehatan/ Sumber Daya Alat (SDA)
yang terus menerus mengalami perkembangan tentunya sangat berpengaruh terhadap
Layanan Kesehatan serta kesiapan SDM Rumah Sakit tersebut.

4.

Sumber Daya Manusia/Tenaga Kesehatan Di Rumah Sakit


Kajian terhadap Sumber Daya Manusia (SDM)/ Ketenagakerjaan di Rumah Sakit
dimaksudkan mengkaji kesiapan SDM di Rumah Sakit terhadap Jenis Layanan Kesehatan
Rumah Sakit yang akan diberikan kepada masyarakat sesuai dengan segmentasi dan
posisioning dari Rumah Sakit tersebut.

5.

Organisasi
Organisasi di Rumah Sakit tentunya akan berpengaruh terhadap kegiatan operasional
Rumah Sakit yang berdampak kepada kinerja suatu Rumah Sakit. Bentuk organisasi akan
disesuaikan dengan jenis layanan dan tipe Rumah Sakit.

6.

Kinerja dan Keuangan


Kondisi kinerja Rumah Sakit dan kondisi keuangan Rumah Sakit berupa pendapatan dan
pengeluaran Rumah Sakit akan dikaji dan diproyeksikan yang diharapkan dapat melihat
kecenderungan dan potensi perkembangan kinerja dan pendapatan Rumah Sakit dimasa
mendatang sehingga mendapatkan gambaran kekuatan atau kelemahan rencana
pengembangan Rumah Sakit tersebut.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

11

BAB IV
MASTER PROGRAM
Dalam melaksanakan pembangunan baru atau pengembangan suatu Layanan Kesehatan Rumah
Sakit, tentunya dilakukan dengan melalui berbagai macam tahapan baik mulai dari Studi
Kelayakan, Studi Lingkungan, Penyusunan Master Plan, Perencanaan Fisik hingga Pelaksanaan
Pembangunan Fisik. Pada Tahap Awal Studi yang telah dilakukan adalah Penyusunan Studi
Kelayakan (;Feasibility Study) Rumah Sakit, dimana pada tahap ini telah dapat menentukan
Master Program Rumah Sakit. Namun Master Program juga dapat ditentukan melaui Analisis
Kondisi Umum yang dilakukan pada Analisis Rencana Induk/ Master Plan ini.
Master Program merupakan perumusan kecenderungan Rumah Sakit yang menggambarkan
secara umum Layanan Kesehatan Rumah Sakit yang akan dapat diberikan kepada masyarakat.
Hasil Studi Kelayakan ataupun Analisis Kondisi Umum pada Analisis Rencana Induk/ Master Plan
ini sangat menentukan Master Program berupa perumusan kecederungan karena telah mengkaji
seluruh aspek baik Aspek Eksternal yaitu yang telah memberi gambaran mengenai segmentasi
baik dari aspek geografi, demografi, sosesbud, derajat kesehatan dan ketenagakerjaan serta
Aspek Internal yang memberikan gambaran mengenai kondisi Rumah Sakit dilihat dari aspek
lahan, lokasi, SDM dan organisasi, Teknologi hingga kemampuan dari Pendanaan/ Pembiayaan.
Master Program dalam Rencana Induk/ Master Plan, dapat terdiri dari:
1.

Jenis Layanan dan Unggulan Rumah Sakit


Jenis layanan yang akan diberikan kepada masyarakat tentunya akan disesuaikan dengan
klasifikasi kelas Rumah Sakit yang akan disiapkan. Jenis layanan tersebut berupa Pelayanan
Medik dan Perawatan, Penunjang Medik dan Operasional, Penunjang Umum dan
Administrasi. Dari jenis layanan yang akan diberikan tentunya perlu adanya suatu Layanan
Unggulan yang akan disiapkan atas dasar kecenderungan pola penyakit yang terjadi di
Rumah Sakit dan di wilayah tempat Rumah Sakit tersebut berada.

2.

Penetapan Kelas Rumah Sakit


Penetapan Kelas Rumah Sakit akan ditinjau dari kecenderungan data penyakit sehingga
dapat memperoleh gambaran Kapasitas Kualitas dan Kuantitas Layanan Kesehatan yang
akan dilakukan, atau klasifikasi kelas Rumah Sakit sesuai dengan Jenis layanannya serta
kesiapan SDM yang dimiliki dan Fasilitas Sarana dan Prasarana yang akan disediakan (al.
Bangunan, Peralatan dan Jumlah Tempat Tidur/ TT).

3.

Kapasitas Tempat Tidur/ TT dan Klasikfikasi Kelas Perawatan


Perhitungan Kapasitas Tempat Tidur/ TT, berupa jumlah TT yang harus disiapkan oleh
Rumah Sakit tersebut. Perkiraan kebutuhan jumlah TT dapat menggunakan rasio minimal
1/1.000 artinya dari jumlah penduduk pada wilayah jangkauan Rumah Sakit sejumlah 1.000
orang akan dibutuhkan 1 TT. Kecenderungan fasilitas pelayanan kesehatan berupa jumlah
total TT pada fasyankes di wilayah tersebut dapat menjadikan dasar sebagai perhitungan
kebutuhan kapasitas TT yang selanjutnya akan dibagi berdasarkan klasifikasi kelas
perawatan sesuai dengan Analisis Daya Beli masyarakat sekitar sebagai Pangsa Pasar
Rumah Sakit serta pemenuhan Pedoman dan Ketentuan yang berlaku.

12

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4.

Perhitungan SDM dan Struktur Organisasi


Dalam hal pemenuhan ketenagaan atau Sumber Daya Manusia (SDM) perlu
mempertimbangkan/ memperhitungkan tenaga seefektif mungkin agar menjadikan suatu
Manajemen Rumah Sakit yang baik. Dalam membentuk suatu Struktur Organisasi dan uraian
tugas akan disusun sesuai dengan klasifikasi kelas Rumah Sakit dan Standar atau Ketentuan
yang berlaku.

5.

Kebutuhan Ruang Bangunan Rumah Sakit


Kebutuhan Ruang Bangunan Rumah Sakit akan desesuaikan dengan Jenis dan Kapasitas
Layanan serta Aktifitas yang akan diberikan oleh Rumah Sakit kepada masyarakat.
Perhitungan besaran ruangan masing-masing ruangan pada bangunan berdasarkan fungsi
akan dihitung sesuai dengan standar Arsitektur serta Pedoman Teknis di Bidang Sarana dan
Prasarana Rumah Sakit. Secara perhitungan kasar Standar Luas Lantai Bangunan total
Rumah Sakit dapat dihitung sebesar 80 110 m2 / TT.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

13

BAB V
PROGRAM FUNGSI
Program Fungsi merupakan suatu penjelasan secara rinci dari Master Program atau Perumusan
Kecenderungan Rumah Sakit dalam bentuk-bentuk kegiatan pada Rumah Sakit, berupa :

5.1.

AKTIVITAS KERJA

Aktivitas Rumah Sakit sangat dipengaruhi oleh Kinerja Rumah Sakit. Aktivitas Rumah Sakit dapat
dipengaruhi oleh penempatan fungsi-fungsi ruangan yang harus berkaitan atau berhubungan
dengan akses yang mudah dan cepat antara fungsi-fungsi yang berkaitan.
Secara umum Pola akitifitas di Rumah Sakit terdiri dari aktivitas-aktivitas:
1.

Dalam Bangunan Rumah Sakit


Pola aktivitas dan sirkulasi yang terbentuk dari adanya pergerakan yang timbul dari kegiatan kegiatan yang berlangsung di dalam bangunan Rumah Sakit, yang terdiri atas kegiatan
perawatan medik, pelayanan penunjang medik dan non medik, Administrasi dan rekam
medik, servis dan utilitas, serta pelayanan perawatan gawat darurat, dapat diuraikan sebagai
berikut :
a. Pola yang terbentuk dari adanya kegiatan Pelayanan Medis baik alur pasien, Tenaga
Medis dan Penunjang Medis, Tenaga Non Medis serta Pengunjung atau Pengantar/
Keluarga pasien serta alur peralatan.
b. Pola sirkulasi aktivitas seluruh kegiatan Rumah Sakit dengan pengaturan alur tersebut
diatas memenuhi ketentuan dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi di Rumah
Sakit.
c.

Pelayanan Penunjang Medis dan Non Medis yang terbentuk akibat adanya kegiatan
Medis dan penunjangnya.

d. Pelayanan dan Asuhan Keperawatan yang terbentuk adanya kegiatan Tenaga, Peralatan
Medis dan Non Medis, Pasien dan keluarganya serta pengunjung lainnya pada rawat
Jalan dan Rawat Inap.
e. Pelayanan Rujukan yang terbentuk akibat adanya persyaratan dari yang melakukan
perujukan terhadap Rumah Sakit dalam pelayanan Medis dan Non Medis
f.

2.

Pelaksanaan Administrasi Umum dan Keuangan terjadi dengan adanya kegiatan


Administrasi Umum dan Keuangan guna tercapainya Tertib Administrasi dan percepatan
pelayanan, dimana terjadi kegiatan petugas, pasien dan keluarganya serta berkas/ file.

Luar Bangunan Rumah Sakit


Pola aktifitas yang terbentuk dari adanya kegiatan-kegiatan yang terjadi di luar bangunan
Rumah Sakit, yang terdiri atas pergerakan kendaraan: pengunjung, pasien rawat jalan dan
rawat inap, dokter/ staf Rumah Sakit, servis dan gawat darurat. Selain itu faktor yang
mempengaruhi aktifitas di luar bangunan adalah ketersediaan sarana parkir untuk Pasien,
pengunjung, dokter/ staf Rumah Sakit dan Servis, pola pengiriman barang dan servis, dan
aktifitas unit gawat darurat terutama yang dikaitkan dengan pola sirkulasi dan perletakan titik
pencapaian/ pintu keluar masuk agar tidak saling silang menggangu antar kegiatan dan jelas
serta mudah pencapaiannya, dapat diuraikan sebagai berikut:

14

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

a. Pola yang terbentuk dari adanya arus bolak-balik pasien baik yang menggunakan
kendaraan pribadi maupun ambulans.
b. Pola yang terbentuk dari adanya arus bolak-balik pasien yang berjalan kaki.
c.

Pola yang terbentuk dari jumlah pengunjung yang harus setara dengan penyediaan
fasilitas parkir.

d. Pola yang terbentuk dari adanya aktifitas staf/karyawan Rumah Sakit yang dalam
pelaksanaannya membutuhkan fasilitas parkir.
e. Menyediakan fasilitas yang aksesibel.
f.

Mengendalikan pertambahan dan penurunan jumlah pegawai berkaitan dengan


ketersediaan parkir.

g. Pengiriman barang kebutuhan operasional Rumah Sakit.


h. Pola aktifitas pasien rawat jalan.
Rencana Pola Aktifitas Dalam Bangunan di Rumah Sakit dikelompokan dengan kegiatan dari
masing-masing pihak dan persyaratan bangunan dan prasarananya. Konsep dasar untuk
pengelompokkan dan pola aktifitas di Rumah Sakit adalah dengan cara menyusun sistem
Zonasi berdasarkan tingkat resiko terjadinya penularan penyakit, zonasi berdasarkan privasi,
zonasi berdasarkan pelayanan yang saling berkaitan dan saling mendukung untuk
menghasilkan Pelayanan Kesehatan yang memenuhi persyaratan Medis dan Lingkungan
serta aman, nyaman dan mudah bagi pengguna Rumah Sakit.
Masalah yang dapat terjadi dari pola aktifitas ini adalah kejelasan Pintu Utama, Pintu IGD dan
Pintu Servis Rumah Sakit yang dibuat secara terpisah dengan mengutamakan keamanan dan
fungsinya. Selain itu pengelompokan aktifitas tetap harus memperhatikan perletakannya agar
kegiatan dapat dilakukan dengan cepat dan nyaman bagi pelaku dan penerima layanan,
disamping persyaratan dari lokasi dan lingkungan lokasinya.
Rencana Pola Aktifitas Luar Bangunan di Rumah Sakit dikelompokan dengan kegiatan dari
masing-masing pihak dan persyaratan sarana dan prasarananya serta lingkungan sekitar
lokasi/lahan. Pengelompokan kegiatan dari masing-masing pihak dan persyaratan sarana dan
prasarananya serta lingkungan pada lokasi lahan dikelompokan atas: Bangunan Utama
Rumah Sakit, Bangunan Sarana Prasarana Penunjang dan Pelayanan Rumah Sakit serta
Jalan, Parkir dan Taman. Perletakannya perlu mendapat perhatian terhadap Jalan Raya dan
kondisi lingkungan sekitarnya di sekeliling lokasi dari faktor keamanan dan kemudahan serta
pencemaran lingkungan.

5.2.

HUBUNGAN FUNGSIONAL

Hubungan Fungsional Rumah Sakit adalah hubungan antar Fungsi kegiatan dalam memberikan
pelayanan kesehatan yang saling berkaitan satu sama lain guna menghasilkan pelayanan yang
sesuai dengan standar dan dengan memperhatikan faktor efisiensi dan efektifitas dalam segala
bidang. Rencana Fisik Bangunan dari sebuah Rumah Sakit pada dasarnya menjelaskan segala
hal yang terkait dengan upaya penetapan lokasi kerja setiap unit pekerjaan dalam bentuk Rencana
Zonasi / Rencana Kelompok Peruntukan Ruang dan atau Rencana Blok Bangunan Rumah Sakit
sesuai dengan luasan lantai dan fungsinya bangunan guna memenuhi kebutuhan utama dan
penunjangnya.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

15

5.3.

PENGELOMPOKKAN/ ZONASI

Pengelompokkan/ zonasi rumah sakit pengkategoriannya yaitu zonasi berdasarkan tingkat risiko
terjadinya penularan penyakit, zonasi berdasarkan privasi dan zonasi berdasarkan pelayanan.
(1) Zonasi berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit terdiri dari:

area dengan risiko rendah, yaitu ruang kesekretariatan dan administrasi, ruang komputer,
ruang pertemuan, ruang arsip/rekam medis.

area dengan risiko sedang, yaitu ruang rawat inap non-penyakit menular, rawat jalan.

area dengan risiko tinggi, yaitu ruang isolasi, ruang ICU/ICCU, laboratorium,
pemulasaraan jenazah dan ruang bedah mayat, ruang radiodiagnostik.

area dengan risiko sangat tinggi, yaitu ruang bedah, IGD, ruang bersalin, ruang patologi.

(2) Zonasi berdasarkan privasi kegiatan terdiri dari :

area publik, yaitu area yang mempunyai akses langsung dengan lingkungan luar rumah
sakit, misalkan poliklinik, IGD, apotek).

area semi publik, yaitu area yang menerima tidak berhubungan langsung dengan
lingkungan luar rumah sakit, umumnya merupakan area yang menerima beban kerja dari
area publik, misalnya laboratorium, radiologi, rehabilitasi medik.

area privat, yaitu area yang dibatasi bagi pengunjung rumah sakit, umumnya area
tertutup, misalnya seperti ICU/ICCU, instalasi bedah, instalasi kebidanan dan penyakit
kandungan, ruang rawat inap.

(3) Zonasi berdasarkan pelayanan terdiri dari :

5.4.

Zona Pelayanan Medik dan Perawatan yang terdiri dari : Instalasi Rawat Jalan (IRJ),
Instalasi Gawat Darurat (IGD), Instalasi Rawat Inap (IRNA), Instalasi Perawatan Intensif
(ICU/ICCU/PICU/NICU), Instalasi Bedah, Instalasi Rehabilitasi Medik (IRM), Instalasi
Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Unit Hemodialisa, Instalasi Radioterapi, Instalasi
Kedokteran Nuklir, Unit Transfusi Darah (Bank Darah).

Zona Penunjang dan Operasional yang terdiri dari : Instalasi Farmasi, Instalasi
Radiodiagnostik, Laboratorium, Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT), Instalasi Sterilisasi
Pusat (;Central Sterilization Supply Dept./CSSD), Dapur Utama, Laundri, Pemulasaraan
Jenazah dan Forensik, Instalasi Sanitasi, Instalasi Pemeliharaan Sarana (IPS).

Zona Penunjang Umum dan Administrasi yang terdiri dari : Bagian Kesekretariatan dan
Akuntansi, Bagian Rekam Medik, Bagian Logistik/ Gudang, Bagian Perencanaan dan
Pengembangan (Renbang), Sistem Pengawasan Internal (SPI), Bagian Pendidikan dan
Penelitian (Diklit), Bagian Sumber Daya Manusia (SDM), Bagian Pengadaan, Bagian
Informasi dan Teknologi (IT).

POLA SIRKULASI KEGIATAN RUMAH SAKIT

Pada dasarnya jalur sirkulasi adalah jalur yang menjadi titik hubung antara satu pola aktifitas
dengan aktifitas lainnya, baik itu kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan medis, penunjang
medis dan administrasi.
Sirkulasi dalam Bangunan, kemudahan dalam mencapai lokasi layanan perlu mendapatkan
perhatian sepenuhnya baik secara horizontal maupun vertikal secara langsung maupun tidak
langsung dengan pemakaian petunjuk arah yang dapat membantu. Terjadi sirkulasi silang antara

16

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

fungsi-fungsi di dalam bangunan tidak terjadi dengan baik, untuk pemecahan masalah sirkulasi di
dalam bangunan dapat diatasi dengan cara pengelompokan fungsi secara baik dan teratur.
Kondisi sirkulasi di luar bangunan dilihat dari besaran, kenyamanan, dan pencapaian serta jarak
pencapaian antar fungsi perlu diatur dengan baik untuk pejalan kaki, maupun untuk kendaraan.
Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya konflik sirkulasi pencapaian ke dalam fungsi
layanan.
Fungsi-fungsi layanan tertentu memerlukan akses cepat dan mudah ditemukan sehingga perlu
dipertimbangkan :
-

Peletakkan pintu dan besarannya.

Tata letak fungsi bangunan, jarak antar massa bangunan dan luasannya.

Pengaturan sirkulasi, jarak, dan besaran baik untuk pejalan kaki dan kendaraaan.

Jarak Pencapaian dari halte kendaraan umum menuju ke pintu utama lokasi Rumah Sakit
harus dekat dan aman bagi pejalan kaki.

Perencanaan jalur sirkulasi dari dan menuju bangunan harus memperhatikan hal sebagai berikut:
-

Mencegah terjadinya sirkulasi silang

Pintu Masuk Utama harus mudah terlihat dan dicapai.

Tersedia fasilitas parkir yang memadai dan parkir khusus bagi penyandang cacat.

Pintu Masuk RS minimal 3 pintu, yaitu pintu utama, pintu khusus ke Instalasi Gawat Darurat
dan pintu ke area servis.

Komponen-komponen yang membentuk jalur sirkulasi dalam dan luar bangunan, yaitu:
1.

Akses Horisontal yaitu Koridor/Selasar, terdiri dari koridor/Selasar yang beratap dan tidak
yang harus dapat memberikan kenyamanan bagi penggunanya, khusus untuk lantainya
digunakan material bangunan yang tidak licin. Koridor/ Selasar juga harus
mempertimbangkan aksesibilitas untuk evakuasi, orang yang berkebutuhan khusus,
termasuk penyandang cacat. Ukuran koridor/selasar yang aksesibilitas minimal 2,4 meter.

2.

Akses Vertikal
a.

Tangga
Tangga merupakan fasilitas bagi pergerakan vertikal yang dirancang dengan
mempertimbangkan ukuran dan kemiringan pijakan dan tanjakan dengan lebar yang
memadai.
Persyaratan tangga adalah sebagai berikut :
(1)

Harus memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang berukuran seragam Tinggi
masing-masing pijakan/tanjakan adalah 15 17 cm.

(2)

Harus memiliki kemiringan tangga kurang dari 600.

(3)

Lebar tangga minimal 120 cm untuk membawa usungan dalam keadaan darurat,
untuk mengevakuasi pasien dalam kasus terjadinya kebakaran atau ancaman bom

(3)

Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan pengguna


tangga.

(4)

Harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail).

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

17

b.

(5)

Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65 cm ~ 80 cm dari


lantai, bebas dari elemen konstruksi yang mengganggu, dan bagian ujungnya
harus bulat atau dibelokkan dengan baik ke arah lantai, dinding atau tiang.

(6)

Pegangan rambat harus ditambah panjangnya pada bagian ujung-ujungnya


(puncak dan bagian bawah) dengan 30 cm.

(7)

Untuk tangga yang terletak di luar bangunan, harus dirancang sehingga tidak ada
air hujan yang menggenang pada lantainya.

Ramp
Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu, sebagai
alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga. Fungsi dapat digantikan
dengan lift (fire lift). Persyaratan ramp adalah sebagai berikut :

c.

(1)

Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 70, perhitungan
kemiringan tersebut tidak termasuk awalan dan akhiran ramp (curb ramps/landing).

(2)

Panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 70) tidak boleh lebih dari
900 cm. Panjang ramp dengan kemiringan yang lebih rendah dapat lebih panjang.

(3)

Lebar minimum dari ramp adalah 120 cm dengan tepi pengaman.

(4)

Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus bebas dan
datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk memutar kursi roda/
stretcher, dengan ukuran minimum 160 cm.

(5)

Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur sehingga
tidak licin baik diwaktu hujan.

(6)

Lebar tepi pengaman ramp (low curb) 10 cm, dirancang untuk menghalangi roda
dari kursi roda atau stretcher agar tidak terperosok atau ke luar dari jalur ramp.

(7)

Ramp harus diterangi dengan pencahayaan yang cukup sehingga membantu


penggunaan ramp saat malam hari. Pencahayaan disediakan pada bagian ramp
yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian-bagian yang
membahayakan.

(8)

Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang dijamin


kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai.

Lift (;elevator)
Lift merupakan fasilitas lalu lintas vertikal baik bagi petugas RS maupun untuk pasien.
Oleh karena itu harus direncanakan dapat menampung tempat tidur pasien. Persyaratan
lift adalah sebagai berikut :

18

(1)

Ukuran lift rumah sakit minimal 1,50 m x 2,30 m dan lebar pintunya tidak kurang
dari 1,20 m untuk memungkinkan lewatnya tempat tidur dan stretcher bersamasama dengan pengantarnya.

(2)

Lift penumpang dan lift service dipisah bila dimungkinkan.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

5.5.

(3)

Jumlah, kapasitas, dan spesifikasi lif sebagai sarana hubungan vertikal dalam
bangunan gedung harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untuk
sirkulasi vertikal pada bangunan, sesuai dengan fungsi dan jumlah pengguna
bangunan RS.

(4)

Setiap bangunan RS yang menggunakan lift harus tersedia lift kebakaran yang
dimulai dari lantai dasar bangunan (ground floor).

(5)

Lift kebakaran dapat berupa lift khusus kebakaran/lift penumpang biasa/lift barang
yang dapat diatur pengoperasiannya sehingga dalam keadaan darurat dapat
digunakan khusus oleh petugas kebakaran.

KEBUTUHAN PEMBIAYAAN

Perhitungan Kebutuhan Pembiayaan pembangunan Rumah Sakit diperhitungkan dengan rincian


item pembiayaan sebagai berikut:
1.

2.

Biaya Jasa Konsultansi


-

Biaya Penyusunan Studi Kelayakan, Rencana Induk dan UPL/UKL

Biaya Perencanaan Konstruksi Bangunan (DED)

Biaya Pengawasan/Manajemen Konstruksi Pembangunan Konstruksi Fisik

Biaya Pembangunan/Renovasi Bangunan


-

Persiapan

Pekerjaan Standar

Pekerjaan Non Standar

3.

Biaya Furnitur dan Peralatan Kesehatan

4.

Biaya Manajemen Proyek, Perizinan dan Pra Operasional


-

Pengadaan dan Penyiapan SDM

Operasional Awal

Perijinan-perijinan

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

19

BAB VI
RENCANA BLOK BANGUNAN
DAN KONSEP UTILITAS RUMAH SAKIT
6.1.

PERENCANAAN BLOK PLAN

Perencanaan Blok Plan Rumah Sakit di rencanakan secara keseluruhan sesuai dengan kebutuhan
Rumah Sakit mendatang atas dasar jenis layanan, jumlah SDM, Struktur Organisasi, Kapasitas
TT, kelas Rumah Sakit yang telah dihitung dalam peritungan kebutuhan luas ruang bangunan
Rumah Sakit dengan mempertimbangkan pedoman serta kebijakan Daerah setempat.
Perencanaan Blok Plan secara keseluruhan ini dapat dibangun secara bertahap sesuai dengan
kebutuhan berdasarkan kemampuan Sumber Daya (Keuangan, Manusia dan Peralatan) yang
tersedia.

6.2.

PERENCANAAN KONSEP UTILITAS

Kebutuhan Pelayanan Jaringan Utilitas bagi kawasan Rumah Sakit merupakan suatu keharusan,
karena keberadaannya akan sangat mempengaruhi kelancaran kegiatan Rumah Sakit. Kebutuhan
Jaringan Utilitas di kawasan Rumah Sakit ini meliputi:
-

Air bersih

Telepon/Komunikasi

Listrik

Gas

Saluran drainase

Saluran pembuangan air kotor dan limbah

Tempat pembuangan sampah

Pemadam kebakaran

Rencana penataan jaringan utilitas di kawasan Rumah Sakit pada dasarnya mengikuti pola
jaringan yang telah ada. Penyediaan ini akan berkaitan langsung dengan beberapa instansi yang
berwenang menangani permasalahan ini. Secara teknis, pembangunan jaringan utilitas tersebut
dilakukan secara hirarkis sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

20

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB VII
RENCANA INDUK/ MASTER PLAN
RUMAH SAKIT
Pentahapan pembangunan Rumah Sakit ini adalah bagian utama dari Rencana Induk/ Master Plan
Rumah Sakit, karena pada bagian ini akan didapat bagaimana rencana dan langkah-langkah dari
tahapan yang harus dilakukan oleh pihak Penentu (Pemilik/Penyandang Dana ataupun Pengelola
Rumah Sakit) dalam rangka mewujudkan target dan sasarannya dalam membangun dan
mengembangkan Rumah Sakit dari aspek-aspek penentunya.
Perencanaan dan Pentahapan pembangunan Rumah Sakit ini diuraikan dalam suatu Rencana
Induk/ Master Plan Rumah Sakit yang mencakup aspek-aspek penentunya, yaitu:
1. Rencana Pentahapan Penyediaan Fisik Rumah Sakit
2. Rencana Pentahapan Penyediaan Sumber Daya Manusia/ SDM Rumah Sakit
3. Rencana Pentahapan Penyediaan Sumber Daya Alat/ SDA Rumah Sakit
4. Rencana Pentahapan Penyediaan Pembiayaan Pembangunan Rumah Sakit
Yang disusun dengan mengkaitkannya kepada kesiapan dana/ keuangan/ pembiayaan dan target
waktu serta sasaran Rencana Strategi dan Rencana Bisnis yang akan dicapai.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

21

BAB VIII
PENUTUP

8.1

Pedoman ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan oleh pengelola fasilitas pelayanan
kesehatan, penyedia jasa perencanaan, Pemerintah Daerah, dan instansi yang terkait
dengan kegiatan pengaturan dan pengendalian penyelenggaraan pembangunan bangunan
fasilitas pelayanan kesehatan, guna menjamin kesehatan penghuni bangunan dan
lingkungan terhadap bahaya penyakit.

8.2

Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif, serta
penyesuaian Pedoman Master Plan Rumah Sakit oleh masing-masing daerah disesuaikan
dengan kondisi dan kesiapan kelembagaan daerah.

8.3

Dalam penyusunan Master Plan Rumah Sakit dapat berkoordinasi dan berkonsultansi
dengan Sub Direktorat Bina Sarana dan Prasarana Kesehatan Direktorat Bina Pelayanan
Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan.

22

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

PEDOMAN BANGUNAN DAN PRASARANA


RUMAH SAKIT KELAS B

DIREKTORAT BINA PELAYANAN PENUNJANG MEDIK DAN SARANA KESEHATAN


SUB DIREKTORAT BINA SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN
TAHUN 2012

Kata Pengantar
Rumah sakit umum (RSU) diklasifikasikan menjadi 4 kelas yang didasari oleh beban kerja dan
fungsi rumah sakit yaitu rumah sakit kelas A, kelas B, Kelas C dan Kelas D. Dari ke 4 kelas
tersebut yang akan dibahas dalam pedoman ini adalah rumah sakit kelas B yang mempunyai
fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan sub spesialistik
terbatas. Dalam rangka mencapai kualitas dan kemampuan pelayanan medis pada Rumah Sakit
Kelas B ini, maka harus didukung dengan sarana dan prasarana rumah sakit yang terencana, baik
dan benar. Oleh karena itu lingkup dari pedoman teknis ini meliputi sarana (gedung),dan
prasarana rumah sakit kelas B.
Rumah sakit harus memenuhi, persyaratan teknis sarana dan prasarana rumah sakit yang
menunjang pelayanan kesehatan secara paripurna. Keseluruhan persyaratan tersebut harus
direncanakan sesuai dengan standard dan kaidah-kaidah yang berlaku. Adapun secara umum
yang dimaksud dengan sarana adalah segala sesuatu hal yang menyangkut fisik gedung/
bangunan serta ruangan. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang membuat sarana
tersebut dapat berfungsi seperti pengadaan air bersih, listrik, instalasi air limbah dan lain-lain.
Persyaratan rumah sakit disarankan memenuhi kriteria pemilihan lokasi rumah sakit dengan
mempertimbangkan aspek sosio-ekonomi masyarakat, aksesibilitas dan luas lahan untuk
bangunan rumah sakit; serta persyaratan teknis lainnya.
Persyaratan teknis sarana rumah sakit meliputi persyaratan atap, langit-langit, dinding, lantai,
struktur dan konstruksi, pintu dan toilet.
Persyaratan teknis prasarana rumah sakit meliputi persyaratan, ventilasi, listrik, air bersih,
drainase, pengolahan limbah, sistem proteksi terhadap bahaya kebakaran, sistem komunikasi,
sistem tata suara, pencahayaan, sistem gas medis, sarana transportasi vertikal (ramp dan tangga
serta lift),dan sebagainya.
Penyusunan Pedoman Teknis Fasilitas Rumah Sakit Kelas B ini diharapkan dapat digunakan
sebagai rujukan oleh pengelola fasilitas pelayanan kesehatan setingkat rumah sakit kelas B, para
pengelola rumah sakit, para pengembang rumah sakit (Yayasan, Badan Usaha maupun Konsultan
Perencanaan dan Perancangan) yang akan merencanakan, sehingga masing-masing pihak dapat
mempunyai kesamaan persepsi mengenai fasilitas rumah sakit.
Kami mengucapkan terima kasih kepada tim penyusun dan semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan pedoman ini.
Jakarta,

Desember 2010

KEPALA PUSAT SARANA, PRASARANA DAN


PERALATAN KESEHATAN

Sukendar Adam DIM. M.Kes


NIP. 195706191981031003

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

iii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Pendahuluan
BAGIAN - I

BAGIAN - II

iii
xi

KETENTUAN UMUM
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Pengertian

1
2
2

PENGERTIAN DAN KLASIFIKASI RUMAH SAKIT KELAS B


2.1 Umum
2.2 Pengelompokan Area Fasilitas RS Kelas B
2.3 Alur Sirkulasi Pasien
2.4 Uraian Fasilitas Rumah Sakit

5
7
8
9

BAGIAN - III PERSYARATAN UMUM BANGUNAN RUMAH SAKIT


3.1 Lokasi Rumah Sakit
3.2 Perencanaan bangunan rumah sakit

66
71

BAGIAN - IV PERSYARATAN TEKNIS SARANA RUMAH SAKIT


4.1 Atap
4.2 Langit-langit
4.3 Dinding dan Partisi
4.4 Lantai
4.5 Struktur Bangunan
4.6 Pintu
4.7 Toilet (Kamar Kecil)

74
74
74
75
76
81
82

BAGIAN - V

PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA RUMAH SAKIT


5.1 Sistem Proteksi Kebakaran
5.2 Sistem Komunikasi Dalam Rumah Sakit
5.3 Sistem Proteksi Petir
5.4 Sistem Kelistrikan
5.5 Sistem Penghawaan (Ventilasi) dan Pengkondisian Udara (;HVAC)
5.6 Sistem Pencahayaan
5.7 Sistem Fasilitas Sanitasi
5.8 Sistem Instalasi Gas Medik
5.9 Sistem Pengendalian Terhadap Kebisingan dan Getaran
5.10 Sistem Hubungan Horisontal dalam rumah sakit
5.11 Sistem Hubungan (Transportasi) Vertikal dalam rumah sakit
5.12 Sarana Evakuasi
5.13 Aksesibilitas Penyandang Cacat
5.14 Sarana/Prasarana Umum

BAGIAN - VI PENUTUP
KEPUSTAKAAN
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
Lampiran Gambar

84
85
94
95
98
100
101
103
105
107
107
113
113
114
115
116

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

DAFTAR GAMBAR
1

Gambar 2.3

Alur sirkulasi pasien di dalam rumah sakit umum

Gambar 2.4.1.1

Alur Kegiatan pada Instalasi Rawat Jalan

Gambar 2.4.1.2

Alur Kegiatan pada Instalasi Gawat Darurat

Gambar 2.4.1.3

Alur Kegiatan pada Instalasi Rawat Inap

Gambar 2.4.1.4

Alur Kegiatan pada Instalasi Perawatan Intensif (ICU)

Gambar 2.4.1.5

Alur Kegiatan pada Instalasi Bedah Sentral (COT)

Gambar 2.4.1.6

Alur Kegiatan pada Instalasi Kebidanan dan Penyakit


Kandungan (Obstetri dan Ginekologi)

Gambar 2.4.1.7

Alur Kegiatan pada Instalasi Rehabilitasi Medik

Gambar 2.4.1.8

Alur Kegiatan pada Unit Hemodialisa

10

Gambar 2.4.2.1

Alur Kegiatan pada Instalasi Farmasi

11

Gambar 2.4.2.2

Alur Kegiatan pada Instalasi Radiodiagnostik

12

Gambar 2.4.2.3

Alur Kegiatan pada Instalasi Laboratorium

13

Gambar 2.4.2.4

Alur Kegiatan pada Bank Darah/UTDRS

14

Gambar 2.4.2.5

Alur Kegiatan pada Instalasi Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT)

15

Gambar 2.4.2.6

Alur Kegiatan pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah dan


Forensik.

16

Gambar 2.4.2.7

Alur Kegiatan pada Instalasi Sterilisasi Pusat (;CSSD)

17

Gambar 2.4.2.8

Alur Kegiatan pada Instalasi Dapur Utama dan Gizi Klinik

18

Gambar 2.4.2.9

Alur Kegiatan pada Instalasi Pencucian Linen (;Laundry).

19

Gambar 2.4.2.10

Alur Kegiatan pada Instalasi Sanitasi

20

Gambar 2.4.2.11

Alur Kegiatan pada Instalasi Pemeliharaan Sarana

21

Gambar 2.4.3

Alur Kegiatan pada Area Penunjang Umum & Administrasi RS

22

Gambar 3.1.3.a

Zoning Rumah Sakit Berdasarkan Pelayanan Pada RS Pola


Pembangunan Horisontal

23

Gambar 3.1.3.b

Zoning Rumah Sakit Berdasarkan Pelayanan Pada RS Pola


Pembangunan Vertikal

24

Gambar 3.2.3-a

Contoh gambar akses pintu masuk RS.

25

Gambar 3.2.3-b

Contoh Model Aliran Lalu Lintas dalam RS.

26

Gambar 3.2.3-c

Contoh Model Perletakan Instalasi-instalasi pada Site RS


(Rencana Blok).

27

Gambar 4.6.1

Pintu kamar mandi pada ruang rawat inap harus terbuka ke luar.

28

Gambar 4.7.2

Ruang gerak dalam Toilet untuk Aksesibel.

29

Gambar 5.11.1.a

Tipikal ramp

30

Gambar 5.11.1.b

Bentuk-bentuk ramp

31

Gambar 5.11.1.c

Kemiringan ramp

32

Gambar 5.11.1.d

Pegangan rambat pada ramp

33

Gambar 5.11.1.e

Kemiringan sisi lebar ramp

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

vii

34

Gambar 5.11.1.f

Pintu di ujung ramp

35

Gambar 5.11.2.a

Tipikal tangga

36

Gambar 5.11.2.b

Pegangan rambat pada tangga

37

Gambar 5.11.2.c

Desain profil tangga

38

Gambar 5.11.2.d

Detail pegangan rambat tangga

39

Gambar 5.11.2.e

Detail pegangan rambat pada dinding

viii

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

DAFTAR TABEL
1

Tabel 2.4.1.1

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Rawat Jalan.

Tabel 2.4.1.2

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Gawat Darurat.

Tabel 2.4.1.3

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Rawat Inap.

Tabel 2.4.1.4

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Perawatan Intensif (ICU).

Tabel 2.4.1.5

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Bedah Sentral (COT).

Tabel 2.4.1.6

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan.

Tabel 2.4.1.7

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Rehabilitasi Medik.

Tabel 2.4.1.8

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Unit Hemodialisa.

Tabel 2.4.1.9

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Radioterapi.

10

Tabel 2.4.1.10

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Kedokteran Nuklir.

11

Tabel 2.4.2.1

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Farmasi.

12

Tabel 2.4.2.2

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Radiodiagnostik.

13

Tabel 2.4.2.3

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Laboratorium.

14

Tabel 2.4.2.4

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Bank Darah/Unit Transfusi Darah Rumah Sakit.

15

Tabel 2.4.2.5

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT).

16

Tabel 2.4.2.6

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas Instalasi Pemulasaraan Jenazah dan Forensik.

17

Tabel 2.4.2.7

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Sterilisasi Pusat (;CSSD)

18

Tabel 2.4.2.8

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Dapur Utama dan Gizi Klinik.

19

Tabel 2.4.2.9

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Pencucian Linen (;Laundry).

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

ix

20

Tabel 2.4.2.10

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Sanitasi.

21

Tabel 2.4.2.11

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Instalasi Pemeliharaan Sarana.

22

Tabel 2.4.3

Kebutuhan Ruang, Fungsi, dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Fasilitas pada Area Penunjang Umum dan Administrasi RS.

23

Tabel 3.1.4

Kebutuhan ruang minimal untuk rumah sakit umum.

24

Tabel 5.5.2

Tabel Standar Suhu, Kelembaban, dan Tekanan Udara Menurut


Fungsi Ruang atau Unit.

25

Tabel 5.6

Tabel Indeks Pencahayaan Menurut Jenis Ruang atau Unit.

26

Tabel 5.9

Tabel Indeks Kebisingan Menurut Jenis Ruang atau Unit.

27

Tabel 5.6

Tabel Indeks Pencahayaan Menurut Jenis Ruang atau Unit.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Pendahuluan
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan
karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan,
kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang tetap mampu
meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakt agar terwujud
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Rumah sakit adalah bangunan gedung atau sarana kesehatan yang memerlukan perhatian
khusus dari segi keamanan, keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan,
dimana berdasarkan Undang-undang RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal
3 menyebutkan bahwa pengaturan penyelenggaraan Rumah Sakit bertujuan :
a. mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan;
b. memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan
rumha sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit;
c. meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit;
Mengingat hal tersebut diatas, maka suatu pelayanan yang diselenggarakan rumah sakit
harus memiliki suatu standar acuan ditinjau dari segi sarana fisik bangunan, serta
prasarana atau infrastruktur jaringan penunjang yang memadai.
Dalam rangka memenuhi suatu standar acuan tersebut diperlukan suatu pedoman
perencanaan rumah sakit yang memadai, salah satunya adalah Pedoman Teknis Fasilitas
Rumah Sakit Kelas B , agar dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pengembangan dan
perencanaan bangunan rumah sakit kelas B.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

xi

BAGIAN I
KETENTUAN UMUM
1.1

Latar Belakang
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan
karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan
kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang
tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh
masyarakt agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Rumah sakit adalah bangunan gedung atau sarana kesehatan yang memerlukan
perhatian khusus dari segi keamanan, keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan
kemudahan, dimana berdasarkan Undang-undang RI Nomor 44 Tahun 2009
tentang Rumah Sakit pasal 3 menyebutkan bahwa pengaturan penyelenggaraan
Rumah Sakit bertujuan :
a. mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan;
b. memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat,
lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit;
c. meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit;
Undang-undang tentang bangunan gedung nomor 28 tahun 2002 juga
menyebutkan bahwa bangunan gedung penting sebagai tempat manusia
melakukan kegiatan, maka perlu diperhatikan keamanan, keselamatan,
kesehatan, kenyamanan dan kemudahan.
Pengkategorian rumah sakit dibedakan berdasarkan jenis penyelenggaraan
pelayanan, yang terdiri dari rumah sakit umum (RSU) yaitu rumah sakit yang
memberikan pelayanan kesehatan semua jenis penyakit, sedangkan rumah sakit
khusus (RSK), yaitu rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada suatu
jenis penyakit tertentu berdasarkan ke khususannya.
Rumah sakit umum (RSU) diklasifikasikan menjadi 4 kelas yang didasari oleh
beban kerja dan fungsi rumah sakit yaitu rumah sakit kelas A, kelas B, Kelas C
dan Kelas D. dari ke 4 kelas tersebut yang akan dibahas dalam pedoman ini
adalah rumah sakit kelas B yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan
medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan sub spesialistik terbatas, lingkup
dari pedoman teknis ini meliputi sarana (bangunan) dan prasarana (utilitas) rumah
sakit kelas B.
Pedoman ini di susun sebagai panduan teknis penyelenggaraan bangunan
gedung rumah sakit kelas B yang merupakan perkembangan dari pedoman teknis
bangunan gedung rumah sakit kelas C, ini membahas tentang persyaratan umum
bangunan rumah sakit kelas B, persyaratan teknis sarana rumah sakit kelas B,
persyaratan teknis prasarana rumah sakit kelas B, dan uraian bangunan rumah
sakit kelas B.
Dari pembahasan pedoman ini diharapkan dapat memberikan arahan, referensi
cara-cara pengembangan dan perencanaan bangunan rumah sakit kelas B, yang
diperlukan oleh investor, pemilik rumah sakit, pemberi ijin rumah sakit.
Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

1.2

Tujuan
Tujuan umum dari diterbitkannya buku pedoman ini adalah :
Sebagai pedoman dalam pengembangan dan perencanaan bangunan rumah sakit
kelas B
Tujuan khusus dari diterbitkannya buku pedoman ini adalah :
1. Menjadi pedoman dalam pengembangan dan perencanaan bangunan gedung
rumah sakit kelas B.
2. Meningkatkan pengetahuan tentang tata cara pengembangan dan
perencanaan bangunan gedung rumah sakit kelas B
3. Meningkatkan pengetahuan bagi manajemen RS dalam pengambilan
keputusan pada pemilihan tata letak pengembangan dan perencanaan
pengembangan dan perencanaan bangunan gedung rumah sakit kelas B.

1.3

Pengertian.

1.3.1

Bangunan gedung.
Wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat dan
kedudukannya, sebagian atau seluruhnya yang berada di atas tanah/perairan,
ataupun di bawah tanah/perairan, tempat manusia melakukan kegiatannya, baik
untuk hunian maupun tempat tinggal, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya
maupun kegiatan khusus.

1.3.2

Rumah sakit.
Institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat
jalan, dan gawat darurat

1.3.3

Rumah sakit umum.


Rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan semua jenis penyakit dari
yang bersifat dasar sampai dengan sub spesialistik.

1.3.4

Pembangunan rumah sakit pola horisontal.


Zonasi rumah sakit diatur/ disusun pada massa-massa bangunan yang saling
berhubungan satu dengan yang lainnya secara lateral, sehingga pola pergerakan
aktifitas umumnya adalah secara horisontal. Pengembangan rumah sakit pola
horisontal membutuhkan luas lahan yang besar.

1.3.5

Pembangunan rumah sakit pola vertikal.


Zonasi rumah sakit diatur/ disusun pada massa bangunan bertingkat, sehingga
pola pergerakan aktifitas umumnya adalah secara vertikal. Pengembangan rumah
sakit pola vertikal umumnya dilaksanakan pada daerah dengan lahan yang
terbatas dan/ harga tanahnya relatif mahal.

1.3.6

Rumah sakit umum kelas B.


rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan sekurangkurangnya 4 (empat) pelayanan medik spesialis dasar, 4 (empat) pelayanan
spesialis penunjang medik, 8 (delapan) pelayanan medik spesialis lainnya dan 2
(dua) pelayanan medik subspesialis dasar serta dapat menjadi RS pendidikan
apabila telah memenuhi persyaratan dan standar.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

1.3.7

Rumah sakit umum kelas B Non Pendidikan.


Rumah sakit umum kelas B yang tidak menyelenggarakan pendidikan formal di
bidang kesehatan.

1.3.8

Rumah sakit umum kelas B Pendidikan.


Rumah sakit umum kelas B yang menyelenggarakan pendidikan formal di bidang
kesehatan.

1.3.9

Fasilitas.
Fasilitas adalah segala sesuatu hal yang menyangkut Sarana, Prasarana maupun
Alat (baik alat medik maupun alat non medik) yang dibutuhkan oleh rumah sakit
dalam memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi pasien.

1.3.10 Sarana.
Segala sesuatu benda fisik yang dapat tervisualisasi mata maupun teraba oleh
panca indra dan dengan mudah dapat dikenali oleh pasien dan (umumnya)
merupakan bagian dari suatu gedung ataupun bangunan gedung itu sendiri.
1.3.11 Prasarana.
Benda maupun jaringan / instalasi yang membuat suatu sarana yang ada bisa
berfungsi sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
1.3.12 Instalasi Rawat Jalan.
Fasilitas yang digunakan sebagai tempat konsultasi, penyelidikan, pemeriksaan
dan pengobatan pasien oleh dokter ahli di bidang masing-masing yang disediakan
untuk pasien yang membutuhkan waktu singkat untuk penyembuhannya atau tidak
memerlukan pelayanan perawatan.
1.3.13 Instalasi Gawat Darurat.
Fasilitas yang melayani pasien yang berada dalam keadaan gawat dan terancam
nyawanya yang membutuhkan pertolongan secepatnya.
1.3.14 Instalasi Rawat Inap.
Fasilitas yang digunakan merawat pasien yang harus di rawat lebih dari 24 jam
(pasien menginap di rumah sakit).
1.3.15 Instalasi Perawatan Intensif (Intensive Care Unit = ICU).
Fasilitas untuk merawat pasien yang dalam keadaan sakit berat sesudah operasi
berat atau bukan karena operasi berat yang memerlukan pemantauan secara
intensif dan tindakan segera.
1.3.16 Instalasi Kebidanan dan penyakit kandungan.
Fasilitas menyelenggarakan kegiatan persalinan, perinatal, nifas dan gangguan
kesehatan reproduksi.
1.3.17 Instalasi Bedah.
Suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan
tindakan pembedahan/operasi secara elektif maupun akut, yang membutuhkan
kondisi steril dan kondisi khusus lainnya.
1.3.18 Instalasi Farmasi.
Fasilitas untuk penyediaan dan membuat obat racikan, penyediaan obat paten,
serta memberikan informasi dan konsultasi perihal obat.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

1.3.19 Instalasi Radiodiagnostik.


Fasilitas untuk melakukan pemeriksaan terhadap pasien dengan menggunakan
energi radioaktif dalam diagnosis dan pengobatan penyakit.
1.3.20 Instalasi Radioterapi.
Fasilitas pelayanan pengobatan pasien dengan penggunaan partikel atau
gelombang berenergi tinggi seperti sinar gamma, berkas elektron, foton, proton
dan neutron untuk menghancurkan sel kanker.
1.3.21 Instalasi Kedokteran Nuklir.
Fasilitas yang digunakan untuk menegakkan diagnosis, terapi penyakit serta
penelitian dengan memanfaatkan materi radioaktif yaitu menggunakan sumber
radiasi terbuka (unsealed).
1.3.22 Unit Hemodialisa
Fasilitas tempat pasien cuci darah akibat terjadinya gangguan pada ginjal.
1.3.23 Instalasi Sterilisasi Pusat (;CSSD/ Central Supply Sterilization Departement)
Instalasi Sterilisasi Pusat (;Central Sterile Supply Department = CSSD). Fasilitas
untuk mensterilkan instrumen, linen, bahan perbekalan.
1.3.24 Instalasi Laboratorium.
Fasilitas kerja khususnya untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan ilmiah
(misalnya fisika, kimia, higiene, dan sebagainya)
1.3.25 Instalasi Rehabilitasi Medik.
Fasilitas pelayanan untuk memberikan tingkat pengembalian fungsi tubuh dan
mental pasien setinggi mungkin sesudah kehilangan/ berkurangnya fungsi
tersebut.
1.3.26 Instalasi Diagnostik Terpadu.
Fasilitas diagnostik kondisi medis organ tubuh pasien.
1.3.27 Bagian Administrasi dan Manajemen
Suatu unit dalam rumah sakit tempat melaksanakan kegiatan administrasi
pengelolaan/ manajemen rumah sakit serta tempat melaksanakan kegiatan
merekam dan menyimpan berkas-berkas jati diri, riwayat penyakit, hasil
pemeriksaan dan pengobatan pasien yang diterapkan secara terpusat/sentral.
1.3.28 Instalasi Pemulasaran Jenazah dan Forensik.
Fasilitas untuk meletakkan/menyimpan sementara jenazah sebelum diambil oleh
keluarganya, memandikan jenazah, pemulasaraan dan pelayanan forensik.
1.3.29 Instalasi Gizi/Dapur.
Fasilitas melakukan proses penanganan makanan dan minuman meliputi
kegiatan; pengadaan bahan mentah, penyimpanan, pengolahan, dan penyajian
makanan-minuman.
1.3.30 Instalasi Cuci (Laundry).
Fasilitas untuk melakukan pencucian linen rumah sakit.
1.3.31 Bengkel Mekanikal dan Elektrikal (;Workshop)
Fasilitas untuk melakukan pemeliharaan dan perbaikan ringan terhadap
komponen-komponen Sarana, Prasarana dan Peralatan Medik.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAGIAN II
PENGERTIAN DAN KLASIFIKASI
RUMAH SAKIT KELAS B
2.1

Umum
Pengklasifikasian rumah sakit dibedakan berdasarkan jenis penyelenggaraan
pelayanan, yang terdiri dari rumah sakit umum (RSU), yaitu rumah sakit yang
memberikan pelayanan kesehatan semua bidang dan jenis penyakit dan rumah
sakit khusus (RSK), yaitu rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada
suatu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan kekhususannya.
Klasifikasi Rumah Sakit Umum adalah pengelompokan Rumah Sakit Umum
berdasarkan perbedaan tingkatan menurut kemampuan pelayanan kesehatan,
ketenagaan, fisik dan peralatan yang dapat disediakan dan berpengaruh
terhadap beban kerja, yaitu rumah sakit kelas A, B, C dan D.
Rumah Sakit Umum Kelas D adalah rumah sakit umum yang mempunyai
fasilitas dan kemampuan sekurang-kurangnya pelayanan umum dan 2 (dua)
pelayanan medik spesialis dasar.
Rumah Sakit Umum Kelas C adalah rumah sakit umum yang mempunyai
fasilitas dan kemampuan sekurang-kurangnya pelayanan medik 4 (empat)
spesialis dasar dan 4 (empat) pelayanan penunjang medik.
Rumah Sakit Umum Kelas B adalah rumah sakit umum yang mempunyai
fasilitas dan kemampuan pelayanan medik sekurang-kurangnya 4 (empat)
spesialis dasar, 4 (empat) spesialis penunjang medik, 8 (delapan) spesialis
lainnya dan 2 (dua) subspesialis dasar serta dapat menjadi RS pendidikan
apabila telah memenuhi persyaratan dan standar.
Rumah Sakit Umum Kelas A adalah rumah sakit umum yang mempunyai
fasilitas dan kemampuan pelayanan medik sekurang-kurangnya 4 (empat)
spesialis dasar, 5 (lima) spesialis penunjang medik, 12 (dua belas) spesialis
lainnya dan 13 (tiga belas) subspesialis serta dapat menjadi RS pendidikan
apabila telah memenuhi persyaratan dan standar.
Pelayanan Medik Spesialis Dasar adalah pelayanan medik spesialis Penyakit
Dalam, Obstetri dan ginekologi, Bedah dan Kesehatan Anak. Pelayanan
Spesialis Penunjang adalah pelayanan medik Radiologi, Patologi Klinik,
Patologi Anatomi, Anaestesi dan Reanimasi, Rehabilitasi Medik. Pelayanan
Medik Spesialis lain adalah pelayanan medik spesialis Telinga Hidung dan
Tenggorokan, Mata, Kulit dan Kelamin, Kedokteran Jiwa, Syaraf, Gigi dan Mulut,
Jantung, Paru, Bedah Syaraf, Ortopedi. Pelayanan Medik Sub Spesialis adalah
satu atau lebih pelayanan yang berkembang dari setiap cabang medik spesialis.
Pelayanan Medik Sub Spesialis dasar adalah pelayanan subspesialis yang
berkembang dari setiap cabang medik spesialis 4 dasar. Dan Pelayanan Medik

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

Sub Spesialis lain adalah pelayanan subspesialis yang berkembang dari setiap
cabang medik spesialis lainnya.
Kriteria, fasilitas dan kemampuan RSU Kelas B meliputi pelayanan medik umum,
pelayanan gawat darurat, Pelayanan Medik Spesialis dasar, Pelayanan Spesialis
Penunjang Medik, Pelayanan Medik Spesialis Lain, Pelayanan Medik Spesialis
Gigi Mulut, Pelayanan medik subspesialis, Pelayanan Keperawatan dan
Kebidanan, Pelayanan Penunjang Klinik dan Pelayanan Penunjang Non Klinik.
Pelayanan Medik Umum terdiri dari Pelayanan Medik Dasar, Pelayanan Medik
Gigi Mulut dan Pelayanan Kesehatan Ibu Anak /Keluarga Berencana.
Pelayanan gawat darurat harus dapat memberikan pelayanan gawat darurat 24
jam dan 7 hari seminggu dengan kemampuan melakukan pemeriksaan awal
kasus-kasus gawat darurat, melakukan resusitasi dan stabilisasi sesuai dengan
standar.
Pelayanan Medik Spesialis Dasar terdiri dari Pelayanan Penyakit Dalam,
Kesehatan Anak, Bedah, Obstetri dan Ginekologi.
Pelayanan spesialis penunjang Medik terdiri dari Pelayanan Anestesiologi,
Radiologi, Rehabilitasi Medik dan Patologi Klinik.
Pelayanan medik spesialis lain sekurang-kurangnya 8 (delapan) dari 13 (tiga
belas) pelayanan meliputi: mata, telinga hidung tenggorokan, syaraf, jantung dan
pembuluh darah, kulit dan kelamin, kedokteran jiwa, paru, orthopedi, urologi,
bedah syaraf, bedah plastik dan kedokteran forensik.
Pelayanan medik spesialis gigi mulut terdiri dari pelayanan bedah mulut,
konservasi / endodonsi, dan periodonti.
Pelayanan medik subspesialis 2 (dua) dari 4 (empat) subspesialis dasar yang
meliputi: bedah, penyakit dalam, kesehatan anak, obstetri dan ginekologi
Pelayanan Penunjang Klinik terdiri dari Perawatan intensif, Pelayanan Darah,
Gizi, Farmasi, Sterilisasi Instrumen dan Rekam Medik
Pelayanan Penunjang Non Klinik terdiri dari pelayanan Laundry/linen, Dapur
Utama, Pemulasaraan Jenazah, Instalasi Pemeliharaan Fasilitas, Sistem
Fasilitas Sanitasi (Pengadaan Air Bersih, Pengelolaan Limbah, Pengendalian
Vektor, dll), Sistem Kelistrikan, Boiler, Sistem Penghawaan dan Pengkondisian
Udara, Sistem Pencahayaan, Sistem Komunikasi, Sistem Proteksi Kebakaran,
Sistem Instalasi Gas Medik, Sistem Pengendalian terhadap Kebisingan dan
Getaran, Sistem Transportasi Vertikal dan Horizontal, Sarana Evakuasi,
Aksesibilitas Penyandang Cacat, dan Sarana/ Prasarana Umum.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

2.2

Pengelompokan Area Fasilitas Rumah Sakit Kelas B


Area Fasilitas Rumah
Sakit Kelas B

Area Pelayanan Medik


dan Perawatan
1.

Instalasi Rawat Jalan


(IRJ)

2.

Instalasi Gawat Darurat


(IGD)

3.

Instalasi Rawat Inap


(IRNA)

4.

Instalasi Perawatan
Intensif
(ICU/ICCU/PICU/NICU)

Area Penunjang dan


Operasional
A. Penunjang Medik
1.

Instalasi Farmasi

1. Unsur pimpinan rumah


sakit

2.

Instalasi Radiodiagnostik

2. Unsur pelayanan medik

3.

Laboratorium

4.

Bank Darah / Unit


Transfusi Darah
(BDRS/UTDRS)

3. Unsur pelayanan
penunjang medik

5.

Instalasi Diagnostik
Terpadu (IDT)
Pemulasaraan Jenazah
dan Forensik

5.

Instalasi Bedah

6.

Instalasi Kebidanan dan


Penyakit Kandungan

6.

7.

Instalasi Rehabilitasi
Medik (IRM)

B. Penunjang Non-Medik

8.

Unit Hemodialisa

9.

Instalasi Radioterapi

10. Instalasi Kedokteran


Nuklir

Area Administrasi dan


Manajemen

4. Pelayanan keperawatan
5. Unsur pendidikan dan
pelatihan
6. Administrasi umum dan
keuangan

Instalasi Sterilisasi Pusat


(;Central Sterilization
Supply Dept./CSSD)

7. SDM

8.

Instalasi Dapur Utama


dan Gizi Klinik

9. Komite etik dan hukum.

9.

Laundri

7.

8. Komite medik

10. Instalasi Sanitasi


11. Instalasi Pemeliharaan
Sarana (IPS).

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

2.3

Alur Sirkulasi Pasien


PASIEN SAKIT MASUK

DAERAH PELAYANAN PASIEN

PENDAFTARAN/ADMINISTRASI

INSTALASI RAWAT JALAN

INSTALASI LABORATORIUM

INSTALASI RADIOLOGI

DAERAH PELAYANAN UMUM

DAERAH PELAYANAN KRITIS

INSTALASI
GAWAT
DARURAT

INSTALASI
KEBIDANAN DAN
KANDUNGAN

INSTALASI BEDAH

INSTALASI PERAWATAN INTENSIF

INSTALASI RAWAT INAP


PULANG
SEHAT
KELUAR

INSTALASI RAWAT INAP


KEBIDANAN

INSTALASI PEMULASARAAN JENAZAH

Gambar 2.3 Alur sirkulasi pasien di dalam rumah sakit umum

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Alur Sirkulasi Pasien dalam Rumah Sakit adalah sebagai berikut:


1. Pasien masuk rumah sakit melakukan pendaftaran/ admisi pada instalasi rawat
jalan (poliklinik) atau pada instalasi gawat darurat apabila pasien dalam kondisi
gawat darurat yang membutuhkan pertolongan medis segera/ cito.
2. Pasien yang mendaftar pada instalasi rawat jalan akan diberikan pelayanan medis
pada klinik-klinik tertentu sesuai dengan penyakit/ kondisi pasien.
-

Pasien dengan diagnosa penyakit ringan setelah diberikan pelayanan medis


selanjutnya dapat langsung pulang.

Pasien dengan kondisi harus didiagnosa lebih mendetail akan dirujuk ke


instalasi radiologi dan atau laboratorium. Setelah mendapatkan hasil foto
radiologi dan atau laboratorium, pasien mendaftar kembali ke instalasi rawat
jalan sebagai pasien lama.

Selanjutnya apabila harus dirawat inap akan dikirim ke ruang rawat inap.
Selanjutnya akan didiagnosa lebih mendetail ke instalasi radiologi dan atau
laboratorium. Kemudian jika pasien harus ditindak bedah, maka pasien akan
dijadwalkan ke ruang bedah. Pasca bedah, untuk pasien yang kondisinya
belum stabil akan dikirim ke ruang Perawatan Intensif, pasien yang kondisinya
stabil akan dikirim ke ruang rawat inap. Selanjutnya pasien meninggal akan
dikirim ke instalasi pemulasaraan jenazah. Setelah pasien sehat dapat pulang

Pasien kebidanan dan penyakit kandungan tingkat lanjut akan dirujuk ke


instalasi kebidanan dan penyakit kandungan. Apabila harus ditindak bedah,
maka pasien akan dikirim ke ruang bedah. Pasca bedah, untuk pasien yang
kondisinya belum stabil akan dikirim ke ruang Perawatan Intensif, pasien yang
kondisinya stabil akan dikirim ke ruang rawat inap kebidanan. Selanjutnya
pasien meninggal akan dikirim ke instalasi pemulasaraan jenazah. Setelah
pasien sehat dapat pulang.

3. Pasien melalui instalasi gawat darurat akan diberikan pelayanan medis sesuai
dengan kondisi kegawat daruratan pasien.
-

Pasien dengan tingkat kegawatdaruratan ringan setelah diberikan pelayanan


medis dapat langsung pulang.

Pasien dengan kondisi harus didiagnosa lebih mendetail akan dirujuk ke


instalasi radiologi dan atau laboratorium. Selanjutnya apabila harus ditindak
bedah, maka pasien akan dikirim ke ruang bedah. Pasca bedah, untuk pasien
yang kondisinya belum stabil akan dikirim ke ruang Perawatan Intensif, pasien
yang kondisinya stabil akan dikirim ke ruang rawat inap. Selanjutnya pasien
meninggal akan dikirim ke instalasi pemulasaraan jenazah, pasien sehat dapat
pulang.

2.4

Uraian Fasilitas Rumah Sakit

2.4.1

Fasilitas Pada Area Pelayanan Medik dan Perawatan

2.4.1.1

Instalasi Rawat Jalan


Fungsi Instalasi Rawat Jalan adalah sebagai tempat konsultasi, penyelidikan,
pemeriksaan dan pengobatan pasien oleh dokter ahli di bidang masing-masing
yang disediakan untuk pasien yang membutuhkan waktu singkat untuk
penyembuhannya atau tidak memerlukan pelayanan perawatan. Poliklinik juga
berfungsi sebagai tempat untuk penemuan diagnosa dini, yaitu tempat
Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

pemeriksaan pasien pertama dalam rangka pemeriksaan lebih lanjut di dalam


tahap pengobatan penyakit.
1. Lingkup Sarana Pelayanan
Kebutuhan sarana pelayanan Rumah Sakit Kelas B terdiri dari:
1) Poli/ klinik terdiri dari 4 klinik spesialistik dasar yaitu :
Klinik Penyakit Dalam
Klinik Anak
Klinik Bedah
Klinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan
2) Dipilih 8 klinik spesialistik lain terdiri dari :
Klinik Penyakit Mata
Klinik Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT)
Klinik Gigi dan Mulut
Klinik Penyakit Kulit dan Kelamin
Klinik Penyakit Syaraf
Klinik Kesehatan Jiwa
Klinik Rehabilitasi Medik
Klinik Jantung
Klinik Paru
Klinik Bedah Syaraf
Klinik Ortopedi
Klinik Kanker
Klinik Nyeri
Klinik Geriatri
Klinik Fertilisasi
Gizi Klinik
3) Dan dipilih 2 dari sub spesialistik, antara lain :
Klinik Penyakit Dalam (antara lain klinik sub spesialis ginjal
hipertensi, endokrin, infeksi tropis, dll)
Klinik Anak (antara lain klinik sub spesialis neonatal dan tumbuh
kembang, gizi anak, jantung anak, infeksi tropis anak, haematologi
anak, endokrinologi anak, ginjal anak, neurologi anak, dll)
Klinik Bedah (antara lain klinik sub spesialis bedah digestive, bedah
onkologi, bedah anak, bedah jantung dan pembuluh darah, bedah
plastik dan rekonstruksi, bedah orthopedic, dll)
Klinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan (antara lain klinik sub
spesialis infertilitas, onkologi kebidanan, fetomaternal, endokrin, dll)
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel 2.4.1.1
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Instalasi Rawat Jalan
Nama Ruangan

Ruang Administrasi :
x Area Informasi
x Area Pendaftaran
Pasien.
x Area Pembayaran/Kasir

Ruang ini digunakan untuk


menyelenggarakan kegiatan
administrasi, meliputi :
1. Pendataan pasien rawat jalan
2. Pembayaran biaya pelayanan medik.

3~5 m2/ petugas


(luas ruangan
disesuaikan dengan
jumlah petugas)

Meja, kursi, lemari berkas/arsip,


intercom/telepon, safety box

Ruang Pengendali
ASKES

Tempat kegiatan administratif ASKES


Rumah Sakit dilaksanakan.

3~5 m2/ petugas


(luas ruangan
disesuaikan dengan
jumlah petugas)

Meja & kursi kerja, lemari arsip,


telepon & intercom, komputer personal,
serta perangkat kerja lainnya.

Ruang Rekam Medis

Tempat menyimpan informasi tentang


identitas pasien, diagnosis, perjalanan
penyakit, proses pengobatan dan
tindakan medis serta dokumentasi hasil
pelayanan. Biasanya langsung
berhubungan dengan loket pendaftaran.

+ 12~16 m2/ 1000


kunjungan pasien /
hari
( untuk 5 tahun)

Meja, kursi, lemari arsip, komputer

10

Fungsi

Kebutuhan

No.

Ruang/Luas

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Kebutuhan Fasilitas

1~1,5 m2/ orang


(luas area
disesuaikan dengan
jumlah kunjungan
pasien/ hari)
12~24 m2/ poli
(khusus klinik mata
salah satu sisi
ruang harus
mempunyai
panjang > 4m)

Ruang Tunggu Poli

Ruang di mana keluarga atau pengantar


pasien menunggu panggilan di depan
ruang poliklinik.

Ruang Periksa &


Konsultasi (Klinik)

Ruang tempat dokter spesialis


melakukan pemeriksaan dan konsultasi
dengan pasien

Ruang Tindakan Bedah


Umum

Ruang tempat melakukan tindakan


pembedahan kecil/ ringan.

12~24 m2/ poli

Ruang Tindakan Bedah


Tulang

Ruang tempat melakukan tindakan


ringan pada tulang.

12~25 m2/ poli

Ruang Tindakan
Kebidanan dan Penyakit
Kandungan

Ruang tempat melakukan tindakan atau


diagnostic kebidanan dan penyakit
kandungan terhadap pasien.

Klinik Mata :
- 1 Ruang Tindakan Poli
Mata
- 3 ruang konsultasi/
periksa

Ruang tempat konsultasi, penyelidikan,


pemeriksaan, dan pengobatan pasien
penyakit mata.

10

Klinik THT

Ruang tempat konsultasi, penyelidikan,


pemeriksaan, dan pengobatan pasien
penyakit THT.

11

Klinik Gigi dan Mulut


Add :
Klinik gigi minimal
memiliki 2 dental unit +
laboratorium teknik gigi
(24-30 m2)

Ruang tempat konsultasi, penyelidikan,


pemeriksaan, dan pengobatan pasien
penyakit gigi dan mulut.

12

Klinik Kulit dan Penyakit


Kelamin

Ruang tempat konsultasi, penyelidikan,


pemeriksaan, dan pengobatan pasien
penyakit kulit dan kelamin.

13

Klinik Syaraf

Ruang tempat konsultasi, penyelidikan,


pemeriksaan, dan pengobatan pasien
penyakit syaraf

14

Ruang Medical Check-up


1. Ruang pendaftaran
2. Ruang loker
3. Ruang tunggu
4. Pantri
5. Ruang pemeriksaan
dasar
6. Ruang konsultasi

Ruang tempat pemeriksaan kondisi


medis pasien rawat jalan

15

Ruang Laktasi

16

Ruang Penyuluhan (KIE)

Ruang khusus bagi ibu menyusui


anaknya.
Ruang tempat penyuluhan pasien dan
pengunjung RS selama menunggu
diberikan pelayanan medis.

24 m2/ poli

Pada ruang periksa


mata, salah satu
sisi ruang harus
mempunyai
panjang > 4m

12~25 m2/ poli

24 m2/ poli

12 m2

12 m2

Sesuai kebutuhan

Kursi, Televisi & AC

Kursi Dokter, Meja Konsultasi, 2 (dua)


kursi hadap, lemari alat periksa & obat,
tempat tidur periksa, tangga roolstool,
dan kelengkapan lain disesuaikan
dengan kebutuhan tiap-tiap kliniknya.
Lemari alat periksa & obat, tempat tidur
periksa, tangga roolstool, dan
kelengkapan lain disesuaikan dengan
kebutuhan tindakan bedah.
Lemari alat periksa & obat, tempat tidur
periksa, tangga roolstool, dan
kelengkapan lain disesuaikan dengan
kebutuhan tindakan bedah tulang.
meja ginekologi, USG, tensimeter,
stetoskop, timbangan ibu, stetoskop
linen, lampu periksa, Doppler, set
pemeriksaan ginekologi, pap smear kit,
IUD kit & injeksi KB, implant kit,
Kolposkopi, Poforceps biopsy,
Stetoskop laenec.
Slitlamp, lensa & kacamata coba tes,
kartu snellen, kartu jager, flash light &
penggaris, streak retinoskopi,
lensmeter, lup, tonometer schiotz,
opthalmoskop, indirect/binocular
opthalmoskop, sterilisator table model,
buku ishihara 14 plate, Kampimeter,
placido test, dilator pungtum & jarum
anel, tangenscreen & bjerrum, gunting
perban, korentang, lid retractor, hertel
exopthalmometer, flourscein strips,
kursi periksa, kursi & meja dokter,
spatula kimura, gelas objek & cover
set,. Mikroskop binocular, incubator.
gunting perban, gelas objek dan gelas
cover set.
ENT unit, ENT diagnostik instrument
set, head light, suction pump,
laringoskop, audiometer.
Dental unit, dental chair, Instrumen
bedah gigi dan mulut (dental operating
instrument), sterilisator, diagnostic set,
scaler set, cotton roll holder, glass
lonometer lengkap, composite resin
lengkap khusus fissure sealent,
anastesi local set, exodontia set, alat
sinar, amalgam set, preparation cavitas
set, tambalan sewarna gigi dan set
bedah mulut dengan sinar laser, dental
row standar, peralatan laboratorium
teknik gigi dasar, set aktivar, set
orthodonsi piranti lepas, set
penyemenan, set preparasi mahkota
dan jembatan, Set cetak GTS/GTP &
mahkota/ jembatan,set insersi
GTS/GTP, indirect inlay set
Timbangan badan, tensimeter,
stetoskop, loupe, tongspatel, senter,
sterilisator basah, peralatan diagnostic
kulit dan kelamin, instrument set
tindakan dan operasi kulit dan kelamin.
Ophtalmoskop, palu reflek, alat tes
sensasi, stetoskop, tensimeter, set
diagnostic syaraf, flash light, garpu tala,
termometer, spatel lidah, licht kaas.
Ophtalmoskop, palu reflek, alat tes
sensasi, stetoskop, tensimeter, set
diagnostic syaraf, flash light, garpu tala,
termometer, spatel lidah, licht kaas.

6~12 m2

Kursi, meja, wastafel/sink, water


dispenser

Sesuai kebutuhan

Meja, kursi, Papan pengumuman

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

11

18

19

Ruang tempat konsultasi, penyelidikan,


pemeriksaan, dan pengobatan pasien
kejiwaan.

Klinik Jiwa

Toilet (petugas,
pengunjung)

Set diagnostik dan stimulator syaraf


dan jiwa, palu reflek, funduskopi,
defibrillator, suction pump, tensimeter,
timbangan, ECG, meja periksa, lampu
periksa, resusitasi set.

12 m2

@ KM/WC pria/
wanita luas +2 3
m2 (min.untuk
pasien dapat
berjalan & maks.
untuk pasien
berkursi roda)

KM/WC

Kloset, wastafel, bak air

3.

Persyaratan Khusus
Konsep dasar poliklinik pada prinsipnya ditetapkan sebagai berikut :
1. Letak Poliklinik berdekatan dengan jalan utama, mudah dicapai dari
bagian administrasi, terutama oleh bagian rekam medis, berhubungan
dekat dengan apotek, bagian radiologi dan laboratorium.
2. Ruang tunggu di poliklinik, harus cukup luas. Ada pemisahan ruang
tunggu pasien untuk penyakit infeksi dan non infeksi.
3. Sistem sirkulasi pasien dilakukan dengan satu pintu (sirkulasi masuk
dan keluar pasien pada pintu yang sama).
4. Klinik-klinik yang ramai sebaiknya tidak saling berdekatan.
5. Klinik anak tidak diletakkan berdekatan dengan Klinik Paru, sebaiknya
Klinik Anak dekat dengan Kllinik Kebidanan.
6. Sirkulasi petugas dan sirkulasi pasien dipisahkan.
7. Pada tiap ruangan harus ada wastafel (air mengalir).
8. Letak klinik jauh dari ruang incenerator, IPAL dan bengkel ME.
9. Memperhatikan aspek gender dalam persyaratan fasilitas IRJ.

4.

Alur Kegiatan
Alur kegiatan pada instalasi rawat jalan dapat dilihat pada bagan alir
berikut :

Pasien Datang tanpa Rujukan


Pasien Datang dengan Rujukan

Penunjang Medik:
- Laboratorium
- Radiologi dll

Pendaftaran
Pasien baru / Ulang
Rekam Medik
Kasir

R. Periksa
Poliklinik

Dirujuk ke klinik
spesialis lain

Dirawat di
Inst. Rawat
Inap

Pendaftaran
Rawat Inap

Ruang Tindakan

Rehab. Medik

Pulang

Gambar 2.4.1.1 Alur Kegiatan Pada Instalasi Rawat Jalan

12

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Apotik

2.4.1.2

Instalasi Gawat Darurat


Setiap Rumah Sakit wajib memiliki pelayanan gawat darurat yang memiliki
kemampuan :
x Melakukan pemeriksaan awal kasus kasus gawat darurat
x Melakukan resusitasi dan stabilisasi.
Pelayanan di Unit Gawat Darurat rumah sakit harus dapat memberikan
pelayanan 24 jam secara terus menerus 7 hari dalam seminggu.
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Kelas B setara dengan unit pelayanan
gawat darurat Bintang III. Yaitu memiliki dokter spesialis empat besar (dokter
spesialis bedah, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis anak, dokter
spesialis kebidanan) yang siaga di tempat (on-site) dalam 24 jam, dokter umum
siaga ditempat (on-site) 24 jam yang memiliki kualifikasi medik untuk pelayanan
GELS (General Emergency Life Support) dan atau ATLS + ACLS dan mampu
memberikan resusitasi dan stabilisasi Kasus dengan masalah ABC (Airway,
Breathing, Circulation) untuk terapi definitif serta memiliki alat transportasi untuk
rujukan dan komunikasi yang siaga 24 jam.
1. Lingkup Sarana Pelayanan
A. Program Pelayanan pada IGD :
True Emergency (Kegawatan darurat)
1. False Emergency (Kegawatan tidak darurat)
2. Cito Operation.
3. Cito/ Emergency High Care Unit (HCU).
4. Cito Lab.
5. Cito Radiodiagnostik.
6. Cito Darah.
7. Cito Depo Farmasi.
B. Pelayanan Kegawatdaruratan pada IGD :
1. Pelayanan Kegawatdaruratan Kardiovaskuler
2. Pelayanan Kegawatdaruratan Sistem Pernafasan / Respiratory
3. Pelayanan Kegawatdaruratan Saraf Sentral / Otak
4. Pelayanan Kegawatdaruratan Lain antara lain : saluran
kemih/prostat, pencernaan, dll.
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel 2.4.1.2
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Instalasi Gawat Darurat

No.
A.

Nama Ruangan

Fungsi

Luas

Kebutuhan Fasilitas

RUANG PENERIMAAN

Ruang Administrasi dan


pendaftaran

Ruang ini digunakan untuk


menyelenggarakan kegiatan
administrasi, meliputi :
1. Pendataan pasien IGD
2. Penandatanganan surat pernyataan
dari keluarga pasien IGD.
3. Pembayaran biaya pelayanan medik.

Ruang Tunggu
Pengantar Pasien

Ruang di mana keluarga/ pengantar


pasien menunggu. Ruang ini perlu
disediakan tempat duduk dengan jumlah
yang sesuai aktivitas pelayanan.

Besaran Ruang /

Ruang Rekam Medis

Tempat menyimpan informasi tentang


identitas pasien, diagnosis, perjalanan
penyakit, proses pengobatan dan
tindakan medis serta dokumentasi hasil
pelayanan. Biasanya langsung
berhubungan dengan loket pendaftaran.

3~5 m2/ petugas


(luas area
disesuaikan dengan
jumlah petugas)

Meja, kursi, lemari berkas/arsip,


intercom/telepon, safety box, dan
peralatan kantor lainnya.

1~1,5 m2/ orang


(luas area
disesuaikan dengan
jumlah kunjungan
pasien/ hari)

Kursi, Meja, Televisi & Alat Pengkondisi


Udara (AC / Air Condition)

Sesuai kebutuhan

Meja, kursi, filing cabinet/lemari arsip,


komputer

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

13

14

Ruang Informasi dan


Komunikasi
(Ket : boleh ada/tidak)

Ruang Triase

Ruang Persiapan
Bencana Massal

B.

RUANG TINDAKAN

Ruang tempat memberikan pelayanan


informasi kepada pasien
Ruang tempat memilah-milah tingkat
kegawatdaruratan pasien dalam rangka
menentukan
tindakan
selanjutnya
terhadap pasien, dapat berfungsi
sekaligus sebagai ruang tindakan.
Ruang tempat persiapan penanganan
pasien korban bencana massal.

Sesuai kebutuhan

Min. 25 m2

Tt periksa, wastafel, kit pemeriksaan


sederhana, label

Min. 3 m2/ pasien


bencana

Area terbuka dengan/ tanpa penutup,


fasilitas air bersih dan drainase

R. Resusitasi Bedah

Ruangan yang dipergunakan untuk


melakukan
tindakan
penyelamatan
penderita gawat darurat akibat gangguan
ABC.

Min. 36 m2

R. Resusitasi Non Bedah

Ruangan yang dipergunakan untuk


melakukan
tindakan
penyelamatan
penderita gawat darurat akibat gangguan
ABC.

Min. 36 m2

R. Tindakan Bedah

Ruang untuk melakukan tindakan bedah


ringan pada pasien.

Min. 7,2 m2/ meja


tindakan

10

R. Tindakan Non Bedah

Ruang untuk melakukan tindakan non


bedah pada pasien.

Min. 7,2 m2/ meja


tindakan

11

R.Dekontaminasi

12

R.Khusus / Isolasi

C.

RUANG OBSERVASI

13

R. Observasi

D.

RUANG KHUSUS

14

Ruang Plester

E.

RUANG PENUNJANG MEDIS

15

Ruang Farmasi/ Obat

16

Ruang Linen Steril

17

Ruang Alat Medis

18

R. Radiologi Cito
(Jika diperlukan)

Ruang
untuk
membersihkan/
dekontaminasi pasien setelah drop off
dari ambulan dan sebelum memasuki
area triase.
Ruang untuk khusus untuk perawatan
isolasi pasien

Ruangan yang dipergunakan untuk


melakukan observasi terhadap pasien
setelah diberikan tindakan medis.

Ruang untuk melakukan tindakan gips.

Ruang tempat menyimpan obat untuk


keperluan pasien gawat darurat.
Tempat penyimpanan bahan-bahan linen
steril.
Ruangan tempat penyimpanan peralatan
medik yang setiap saat diperlukan.
Peralatan yang disimpan diruangan ini
harus dalam kondisi siap pakai dan
dalam kondisi yang sudah disterilisasi.
Tempat untuk melaksanakan kegiatan
diagnostik cito.

Kursi, Meja informasi, Televisi & Alat


Pengkondisi Udara (AC / Air Condition)

Min. 6 m2

Nasoparingeal, orofaringeal, laringoskop


set anak, laringoskop set dewasa,
nasotrakeal, orotrakeal, suction,
trakeostomi set, bag valve Mask
(dewasa,anak), kanul oksigen, oksigen
mask (dewasa/anak), chest tube,
crico/trakeostomi, ventilator transport,
monitor, infussion pump, syringe pump,
ECG, vena section, defibrilator, gluko
stick, stetoskop, termometer, nebulizer,
oksigen medis, warmer. Imobilization set
(neck collar, splint, long spine board,
scoop strechter, kndrik extrication device,
urine bag, NGT, wound toilet set, Film
viewer, USG (boleh ada/tidak).
Nasoparingeal, orofaringeal, laringoskop
set anak, laringoskop set dewasa,
nasotrakeal, orotrakeal, suction,
trakeostomi set, bag valve Mask
(dewasa,anak), kanul oksigen, oksigen
mask (dewasa/anak), chest tube,
crico/trakeostomi, ventilator transport,
monitor, infussion pump, syringe pump,
ECG, vena section, defibrilator, gluko
stick, stetoskop, termometer, nebulizer,
oksigen medis, warmer. Imobilization set
(neck collar, splint, long spine board,
scoop strechter, kndrik extrication device,
urine bag, NGT, wound toilet set, Film
viewer, USG (boleh ada/tidak).
Meja periksa, dressing set, infusion set,
vena section set, torakosintetis set, metal
kauter, tempat tidur, tiang infus, film
viewer
Kumbah lambung set, EKG, irigator,
nebulizer, suction, oksigen medis, NGT,
(syrine pump, infusion pump, jarum
spinal, lampu kepala, otoscope set, tiang
infus, tempat tidur, film viewer,
ophtalmoscopy, bronchoscopy (boleh
ada/tidak), slip lamp (boleh ada/tidak)
Shower dan sink, lemari/rak alat
dekontaminasi

Min. 9 m2

Tt pasien, monitor set, tiang infus,


infusion set, oksigen

Min. 7,2 m2/ tempat


tidur periksa

Tempat tidur periksa, poliklinik set,


tensimeter, stetoskop, termometer

Min. 12 m2

Tt pasien, monitor set, tiang infus,


infusion set, oksigen

Min. 3 m2

Lemari obat

Min. 4 m2

Lemari

Min. 8 m2

Lemari instrument

Min. 6 m2

Mobile X-Ray, mobile ECG, apron timbal,


automatic film processor, dan film viewer,
(mobile USG dan CT-Scan boleh
ada/tidak)

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

19

Laboratorium Standar &/


Khusus
(Jika diperlukan)

Ruang pemeriksaan laboratorium yang


bersifat segera/cito untuk beberapa jenis
pemeriksaan tertentu.
Ruang Dokter terdiri dari 2 bagian :
1. Ruang kerja.
2. Ruang istirahat/kamar jaga.

20

R. Dokter Konsulen

22

R. Diskusi

Ruang diskusi petugas medik

23

Ruang Pos Perawat


(;Nurse Station)

R. untuk melakukan perencanaan,


pengorganisasian,
asuhan
dan
pelayanan keperawatan (pre dan post
conference,
pengaturan
jadwal),
dokumentasi s/d evaluasi pasien. Pos
perawat harus terletak di pusat blok yang
dilayani agar perawat dpt mengawasi
pasiennya secara efektif.

24

Ruang Perawat

Ruang istirahat perawat


Ruang tempat Kepala IGD melakukan
manajemen instalasinya, diantaranya
pembuatan
program
kerja
dan
pembinaan.
Fasilitas untuk membuang kotoran bekas
pelayanan pasien khususnya yang
berupa cairan. Spoolhoek berupa bak
atau kloset yang dilengkapi dengan leher
angsa (water seal).

Min. 4 m2

Lab rutin, elektrolit, kimia darah, analisa


gas darah, (CKMB (jantung) dan lab
khusus boleh ada/tidak)

Sesuai kebutuhan

Tempat tidur, sofa, lemari, meja/kursi,


wastafel.

Sesuai kebutuhan

Set meja dan kursi rapat

3~5 m2/ perawat


(luas ruangan
disesuaikan dengan
jumlah perawat jaga
pada satu waktu)

Meja, kursi, wastafel.

Sesuai kebutuhan

Sofa, lemari, meja/kursi, wastafel

Sesuai kebutuhan

Lemari, meja/kursi, sofa, komputer,


printer dan peralatan kantor lainnya.

Sesuai kebutuhan

Kloset leher angsa, keran air bersih (Sink)


Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari
permukaan lantai

25

Ruang Kepala IGD

26

Gudang Kotor
(Spoolhoek/Dirty Utility).

27

Toilet (petugas,
pengunjung)

KM/WC

28

R. Sterilisasi
(jika diperlukan)

Tempat pelaksanaan sterilisasi


instrumen dan barang lain yang
diperlukanan di Instalasi Gawat Darurat.

Min. 4 m2

Workbench, 1 sink/ 2 sink lengkap


dengan instalasi air bersih & air buangan.
Lemari instrumen sebagai penyimpanan
instrumen yang belum disterilkan dan
berada dalam tromol/pak.

29

R. Gas Medis

R. Tempat menyimpan gas medis.

Min. 3 m2

Gas Medis, Sentral gas medis

30

R. Loker

Ruang tempat menyimpan barangbarang milik petugas.

Sesuai kebutuhan

Loker

31

Pantri

Ruang istirahat dan makan petugas

Sesuai kebutuhan

Meja pantry, sink, kulkas, dll

32

R. Parkir Troli

33

R. Brankar

Tempat parkir troli selama tidak


diperlukan
Tempat meletakkan tempat tidur pasien
selama tidak diperlukan.

@ 2 m2 3m2

Min. 2 m2

Troli

Min. 3 m2

Tt pasien

3. Persyaratan Khusus
1. Area IGD harus terletak pada area depan atau muka dari tapak RS.
2. Area IGD harus mudah dilihat serta mudah dicapai dari luar tapak rumah
sakit (jalan raya) dengan tanda-tanda yang sangat jelas dan mudah
dimengerti masyarakat umum.
3. Area IGD harus memiliki pintu masuk kendaraan yang berbeda dengan
pintu masuk kendaraan ke area Instalasi Rawat Jalan/Poliklinik, Instalasi
rawat Inap serta Area Zona Servis dari rumah sakit.
4. Untuk tapak RS yang berbentuk memanjang mengikuti panjang jalan
raya maka pintu masuk kearea IGD harus terletak pada pintu masuk
yang pertama kali ditemui oleh pengguna kendaraan untuk masuk kearea
RS.
5. Untuk bangunan RS yang berbentuk bangunan bertingkat banyak
(Super Block Multi Storey Hospital Building) yang memiliki ataupun tidak
memiliki lantai bawah tanah (Basement Floor) maka perletakan IGD
harus berada pada lantai dasar (Ground Floor) atau area yang memiliki
akses langsung.
6. IGD disarankan untuk memiliki Area yang dapat digunakan untuk
penanganan korban bencana massal (Mass Disaster Cassualities
Preparedness Area).
7. Disarankan pada area untuk menurunkan atau menaikan pasien
(Ambulance Drop-In Area) memiliki sistem sirkulasi yang memungkinkan
ambulan bergerak 1 arah (One Way Drive / Pass Thru Patient System).
Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

15

8. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Inst. Bedah Sentral.


9. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Unit Rawat Inap
Intensif (ICU (Intensive Care Unit)/ ICCU (Intensive Cardiac Care Unit)/
HCU (High Care Unit)).
10. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Unit Kebidanan.
11. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Inst. Laboratorium.
12. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan Instalasi Radiologi.
13. Letak bangunan IGD disarankan berdekatan dengan BDRS (Bank Darah
Rumah Sakit) atau UTDRS (Unit Transfusi Darah Rumah Sakit) 24 jam.
4. Alur Kegiatan
Alur kegiatan Pada Instalasi Gawat Darurat dapat dilihat pada bagan alir
berikut:
PASIEN

Pintu Masuk IGD


VISUAL TRIAGE

TIDAK GAWAT

GAWAT DARURAT

REGULAR TRIAGE

Resusitasi &
Stabilisasi

Triase Obyektif

Tidak Gawat Tidak


Darurat

Darurat

Observasi
Maks 24 jam

OK

PULANG

ICU

Rawat Inap

Meninggal

Gambar 2.4.1.2 Alur Kegiatan Pada Instalasi Gawat Darurat.


2.4.1.3

Instalasi Rawat Inap


1. Lingkup Sarana Pelayanan
Lingkup kegiatan di Ruang Rawat Inap rumah sakit meliputi kegiatan asuhan
dan pelayanan keperawatan, pelayanan medis, gizi, administrasi pasien,
rekam medis, pelayanan kebutuhan keluarga pasien (berdoa, menunggu
pasien, mandi, dapur kecil/pantry, konsultasi medis).

16

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Pelayanan kesehatan di Instalasi Rawat Inap mencakup antara lain :


1). Pelayanan keperawatan.
2). Pelayanan medik (Pra dan Pasca Tindakan Medik).
3). Pelayanan penunjang medik :
x Konsultasi Radiologi.
x Pengambilan Sample Laboratorium.
x Konsultasi Anestesi.
x Gizi (Diet dan Konsultasi).
x Farmasi (Depo dan Klinik).
x Rehab Medik (Pelayanan Fisioterapi dan Konsultasi).
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel 2.4.1.3
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Instalasi Rawat Inap
No.

Nama Ruangan

1.

Ruang Perawatan

2.

Ruang Stasi Perawat


(;Nurse Station)

3.

Ruang Konsultasi

4.

Ruang Tindakan

5.

Fungsi
Ruang
untuk
pasien
yang
memerlukan asuhan dan pelayanan
keperawatan dan pengobatan secara
berkesinambungan lebih dari 24 jam.
Ruang utk melakukan perencanaan,
pengorganisasian
asuhan
dan
pelayanan keperawatan (pre dan
post-confrence, pengaturan jadwal),
dokumentasi
sampai
dengan
evaluasi pasien.
Ruang untuk melakukan konsultasi
oleh profesi kesehatan kepada
pasien dan keluarganya.

Besaran Ruang /

Kebutuhan Fasilitas

Luas
Tergantung Kelas &
keinginan desain,
kebutuhan ruang 1
tt min. 7.2 m2
3~5 m2/ perawat
(Ket : perhitungan
1 stasi perawat
untuk melayani
maksimum 25
tempat tidur)

Tempat tidur pasien, lemari, nurse call,


meja, kursi, televisi, tirai pemisah bila
ada, (sofa untuk ruang perawatan VIP).
Meja, Kursi, lemari arsip, lemari obat,
telepon/intercom
alat monitoring untuk pemantauan terus
menerus fungsi2 vital pasien.

Sesuai kebutuhan

Meja, Kursi, lemari arsip,


telepon/intercom, peralatan kantor lainnya

Ruangan untuk melakukan tindakan


pada pasien baik berupa tindakan
invasive ringan maupun non-invasive

12-20 m2

Lemari alat periksa & obat, tempat tidur


periksa, tangga roolstool, wastafel, lampu
periksa, tiang infus dan kelengkapan
lainnya.

R. Administrasi/ Kantor

Ruang untuk menyelenggarakan


kegiatan administrasi khususnya
pelayanan pasien di Ruang Rawat
Inap, yaitu berupa registrasi &
pendataan pasien, penandatanganan surat pernyataan keluarga pasien
apabila diperlukan tindakan operasi.

3~5 m2/ petugas


(min.9 m2)

Meja, Kursi, lemari arsip, telepon/


intercom, komputer, printer dan peralatan
kantor lainnya

6.

R. Dokter Jaga

Ruang kerja dan kamar jaga dokter.

Sesuai kebutuhan

Tempat tidur, sofa, lemari, meja/kursi,


wastafel.

7.

Ruang pendidikan/
diskusi

Ruang tempat melaksanakan


kegiatan pendidikan/diskusi

Sesuai kebutuhan

Meja, kursi, perangkat audio visual, dll

8.

Ruang Perawat

Ruang istirahat perawat

Sesuai kebutuhan

Sofa, lemari, meja/kursi, wastafel

9.

Ruang kepala instalasi


rawat inap

Ruang tempat kepala ruangan


melakukan manajemen asuhan dan
pelayanan keperawatan diantaranya
pembuatan program kerja dan
pembinaan.

Sesuai kebutuhan

Lemari, meja/kursi, sofa, komputer,


printer dan peralatan kantor lainnya.

10.

Ruang Loker

Ruang ganti pakaian bagi petugas


instalasi rawat inap.

Sesuai kebutuhan

Loker, dilengkapi toilet (KM/WC)

11.

Ruang Linen Bersih

12.

Ruang Linen Kotor

13.

Gudang Kotor
(Spoolhoek/Dirty Utility).

14.

KM/WC (pasien,
petugas, pengunjung)

15.

Dapur Kecil (;Pantry)

Tempat penyimpanan bahan-bahan


linen steril/ bersih.
Ruangan untuk menyimpan bahanbahan linen kotor yang telah
digunakan di r. perawatan sebelum
dibawa ke r. cuci (;Laundry).
Fasilitas untuk membuang kotoran
bekas pelayanan pasien khususnya
yang berupa cairan. Spoolhoek
berupa bak/ kloset yang dilengkapi
dengan leher angsa (water seal).
KM/WC
Sebagai tempat untuk menyiapkan
makanan dan minuman bagi petugas
di Ruang Rawat Inap RS.

Min. 4 m2

Lemari

Min. 4 m2

Bak penampungan linen kotor

4-6 m2

Kloset leher angsa, keran air bersih (Sink)


Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari
permukaan lantai

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

Sesuai kebutuhan

Kursi+meja untuk makan, sink, dan


perlengkapan dapur lainnya.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

17

16.

Gudang Bersih

17.

Janitor/ Ruang Petugas


Kebersihan

18.

High Care Unit (HCU)

19.

Ruang Perawatan Isolasi

Ruangan tempat penyimpanan alatalat medis dan bahan-bahan habis


pakai yang diperlukan.
Ruang untuk menyimpan alat-alat
kebersihan/cleaning service. Pada
ruang ini terdapat area basah.
Ruang perawatan yang diletakkan
didepan atau bersebelahan dengan
nurse station, untuk pasien dalam
kondisi stabil yang memerlukan
pelayanan keperawatan lebih intensif
dibandingkan
ruang
perawatan
biasa.
Ruang perawatan untuk pasien yang
berpotensi menular, mengeluarkan
bau dan pasien yang gaduh gelisah.

Sesuai kebutuhan

Lemari

Min. 4-6 m2

Lemari/rak

Min. 9 m2 /tt

Tempat tidur pasien, lemari, nurse call

Min. 12 m2/tt

Tempat tidur pasien, lemari, nurse call

3. Persyaratan Khusus
Perletakan ruangannya secara keseluruhan perlu adanya hubungan
antar ruang dengan skala prioritas yang diharuskan dekat dan sangat
berhubungan/ membutuhkan.
Kecepatan bergerak merupakan salah satu kunci keberhasilan
perancangan, sehingga blok unit sebaiknya sirkulasinya dibuat secara
linier/lurus (memanjang).
Konsep Rawat Inap yang disarankan Rawat Inap Terpadu (Integrated
Care) untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang.
Apabila Ruang Rawat Inap tidak berada pada lantai dasar, maka harus
ada tangga landai (;Ramp) atau Lift Khusus untuk mencapai ruangan
tersebut.
Bangunan Ruang Rawat Inap harus terletak pada tempat yang tenang
(tidak bising), aman dan nyaman tetapi tetap memiliki kemudahan
aksesibilitas dari sarana penunjang rawat inap.
Sinar matahari pagi sedapat mungkin masuk ruangan.
Alur petugas dan pengunjung dipisah.
Masing-masing ruang Rawat Inap 4 spesialis dasar mempunyai ruang
isolasi.
Ruang Rawat Inap anak disiapkan 1 ruangan neonatus.
Lantai harus kuat dan rata tidak berongga, bahan penutup lantai, mudah
dibersihkan, bahan tidak mudah terbakar.
Pertemuan dinding dengan lantai disarankan berbentuk lengkung agar
memudahkan pembersihan dan tidak menjadi tempat sarang
debu/kotoran.
Plafon harus rapat dan kuat, tidak rontok dan tidak menghasilkan
debu/kotoran lain.
Tipe R. Rawat Inap adalah Super VIP, VIP, Kelas I, Kelas II dan Kelas III
Khusus untuk pasien-pasien tertentu harus dipisahkan seperti :
- Pasien yang menderita penyakit menular.
- Pasien dengan pengobatan yang menimbulkan bau (seperti penyakit
tumor, ganggrein, diabetes, dsb).
- Pasien yang gaduh gelisah (mengeluarkan suara dalam ruangan)
Stasi perawat harus terletak di pusat blok yang dilayani agar perawat
dapat mengawasi pesiennya secara efektif, maksimum melayani 25
tempat tidur.

18

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4. Alur Kegiatan
Alur kegiatan pada instalasi rawat inap dapat dilihat pada bagan alir berikut :

Gambar 2.4.1.3 Alur Kegiatan Pasien, Petugas dan Alat Pada Instalasi
Rawat Inap.
2.4.1.4

Instalasi Perawatan Intensif (;ICU)


1. Lingkup Sarana Pelayanan
Merupakan instalasi untuk perawatan pasien yang dalam keadaan belum
stabil sehingga memerlukan pemantauan ketat secara intensif dan tindakan
segera. Instalasi ICU (Intensive Care Unit (ICU) merupakan unit pelayanan
khusus di rumah sakit yang menyediakan pelayanan yang komprehensif dan
berkesinambungan selama 24 jam.
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel 2.4.1.4
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Instalasi Perawatan Intensif

No.

Nama Ruangan

Fungsi

Besaran Ruang

Kebutuhan Fasilitas

/ Luas (+)

1.

Loker (Ruang ganti).

Tempat ganti pakaian, meletakkan


sepatu/alas kaki sebelum masuk daerah
rawat pasien dan sebaliknya setelah
keluar dari daerah rawat pasien, yang
diperuntukan bagi petuga. Disediakan
juga ruang ganti pengunjung.

2.

Ruang Perawat

Ruang istirahat perawat.

Sesuai kebutuhan

sofa, lemari, meja/kursi

3.

Ruang Kepala Perawat

Ruang kerja dan istirahat kepala perawat.

Sesuai kebutuhan

sofa, lemari, meja/kursi

R. Dokter

Ruang Dokter terdiri dari 2 bagian :


1. Ruang kerja.
2. Ruang istirahat/ kamar jaga.

Sesuai kebutuhan

sofa, lemari, meja/kursi, wastafel,


dilengkapi toilet

4.

Sesuai kebutuhan

Loker

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

19

5.

Daerah rawat Pasien


ICU :
(a) Daerah rawat pasien
non isolasi

(b) Daerah rawat pasien


isolasi

20

6.

Sentral monitoring/nurse
station.

7.

Gudang alat medik

8.

Gudang bersih (Clean


Utility)

9.

Gudang Kotor
(Spoolhoek/Dirty Utility).

10.

Ruang tunggu keluarga


pasien.

Ruang tempat tidur berfungsi untuk


merawat pasien lebih dari 24 jam, dalam
keadaan yang membutuhkan pemantauan
khusus dan terus menerus.
Kamar yang mempunyai kekhususan
teknis sebagai ruang perawatan intensif
yang memiliki batas fisik modular per
pasien, dinding serta bukaan pintu dan
jendela dengan ruangan ICU lainnya, dan
harus memiliki ruang antara (;anteroom)

Ruang untuk melakukan perencanaan,


pengorganisasian, asuhan dan pelayanan
keperawatan selama 24 jam (pre dan post
conference,
pengaturan
jadwal),
dokumentasi s/d evaluasi pasien. Pos
perawat harus terletak di pusat blok yang
dilayani agar perawat dpt mengawasi
pasiennya secara efektif. (Disarankan
ruang ini menggunakan pembatas fisik
tembus pandang untuk mengurangi
kontaminasi terhadap perawat)
Ruang penyimpanan alat medik yang
setiap saat diperlukan. Peralatan yang
disimpan diruangan ini harus dalam
kondisi siap pakai dan dalam kondisi yang
sudah disterilisasi.
Tempat penyimpanan instrumen dan
barang habis pakai yang diperlukan untuk
kegiatan di ruang ICU, termasuk untuk
barang-barang steril.
Fasilitas untuk membuang kotoran bekas
pelayanan pasien khususnya yang berupa
cairan. Spoolhoek berupa bak atau kloset
yang dilengkapi dengan leher angsa
(water seal).
Tempat keluarga/
menunggu.

pengantar

pasien

Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan


administrasi khususnya pelayanan
pendaftaran dan rekam medik internal
pasien di instalasi ICU. Ruang ini berada
pada bagian depan instalasi ICU dengan
dilengkapi loket atau Counter.
Ruangan tempat penyimpanan barangbarang dan peralatan untuk kebersihan
ruangan. Pada ruangan ini terdapat area
basah

11.

Ruang Administrasi

12.

Janitor/ Ruang cleaning


service

13.

Toilet (petugas,
pengunjung)

KM/WC

14.

R. Penyimpanan Silinder
Gas Medik

R. Tempat menyimpan tabung-tabung gas


medis cadangan.

15.

R. Parkir Brankar

Tempat parkir brankar selama tidak ada


kegiatan pembedahan atau selama tidak
diperlukan.

Min. 12 m2 /tt

Ruang isolasi
min. 16 m2 /tt
(belum termasuk
ruang antara)

Peralatan ICU di RS Kelas C terdiri dari


:
Ventilator sederhana; 1 set alat resusitasi;
alat/sistem pemberian oksigen (nasal
canule; simple face mask; nonrebreathing
face mask); 1 set laringoskop dengan
berbagai ukuran bilahnya; berbagai ukuran
pipa endotrakeal dan konektor; berbagai
ukuran orofaring, pipa nasofaring, sungkup
laring dan alat bantu jalan nafas lainnya;
berbagai ukuran introduser untuk pipa
endotrakeal dan bougies; syringe untuk
mengembangkan balon endotrakeal dan
klem; forsep magill; beberapa ukuran
plester/pita perekat medik; gunting; suction
yang setara dengan ruang operasi;
tournique untuk pemasangan akses vena;
peralatan infus intravena dengan berbagai
ukuran kanul intravena dan berbagai
macam cairan infus yang sesuai; pompa
infus dan pompa syringe; alat pemantauan
untuk tekanan darah non-invasive,
elektrokardiografi reader, oksimeter nadi,
kapnografi, temperatur; alat kateterisasi
vena sentral dan manometernya,
defebrilator monovasik; tempat tidur
khusus ICU; bedside monitor; peralatan
drainase thoraks, peralatan portable untuk
transportasi; lampu tindakan; unit/alat foto
rontgen mobile, Elektrokardiograf monitor;
defibrilator bivasik; sterilisator; anastesi
apparatus; oxygen tent;
sphigmomanometer; central gas; central
suction; suction thorax; mobile X-Ray unit;
heart rate monitor; respiration monitor,
blood pressure monitor; temperatur
monitor; haemodialisis unit; blood gas
analyzer; Electrolite analyzer.

4-16 m2 (dengan
memperhatikan
sirkulasi tempat
tidur pasien
didepannya)

Kursi, meja, lemari obat, lemari barang


habis pakai, komputer, printer, ECG
monitoring system, central patient vital
sign.

Sesuai kebutuhan

Respirator/ventilator, alat HD, Mobile XRay, dan lain lain.

Sesuai kebutuhan

Lemari/kabinet alat

4-6 m2

Kloset leher angsa, keran air bersih (Sink)


Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari
permukaan lantai

Sesuai kebutuhan

Tempat duduk, televisi & Telp umum (bila


RS mampu),

3~5 m2/ petugas

Meja kerja, lemari berkas/arsip dan


telepon/interkom, komputer, printer dan
perlengkapan kantor lainnya.

4-6 m2

Lemari/rak

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3m2
4 8 m2

2-6 m2

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Tabung Gas Medis


Brankar (stretcher)

3. Persyaratan Khusus
1. Letak bangunan instalasi ICU harus berdekatan dengan instalasi bedah
sentral, instalasi gawat darurat, laboratorium dan instalasi radiologi.
2. Harus bebas dari gelombang elektromagnetik dan tahan terhadap
getaran.
3. Gedung harus terletak pada daerah yang tenang.
4. Temperatur ruangan harus terjaga tetap dingin.
5. Aliran listrik tidak boleh terputus.
6. Harus tersedia pengatur kelembaban udara.
7. Sirkulasi udara yang dikondisikan seluruhnya udara segar (;fresh air).
8. Ruang pos perawat (;Nurse station) disarankan menggunakan pembatas
fisik transparan/ tembus pandang (antara lain kaca tahan pecah, flexi
glass) untuk mengurangi kontaminasi terhadap perawat.
9. Perlu disiapkan titik grounding untuk peralatan elektrostatik.
10. Tersedia aliran Gas Medis (O2, udara bertekanan dan suction).
11. Pintu kedap asap & tidak mudah terbakar, terdapat penyedot asap bila
terjadi kebakaran.
12. Terdapat pintu evakuasi yang luas dengan fasilitas ramp apabila letak
instalasi ICU tidak pada lantai dasar.
13. Ruang ICU/ICCU sebaiknya kedap api (tidak mudah terbakar baik dari
dalam/dari luar).
14. Pertemuan dinding dengan lantai dan pertemuan dinding dengan dinding
tidak boleh berbentuk sudut/ harus melengkung agar memudahkan
pembersihan dan tidak menjadi tempat sarang debu dan kotoran.
4. Alur kegiatan.
Alur Kegiatan di Instalasi ICU ditunjukkan pada bagan alir berikut :

Gambar 2.4.1.4 Alur Kegiatan Pada Instalasi ICU.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

21

2.4.1.5

Instalasi Bedah Sentral (;COT/Central Operation Theatre)


1. Lingkup Sarana Pelayanan
Instalasi bedah, adalah suatu unit di rumah sakit yang berfungsi sebagai
tempat untuk melakukan tindakan pembedahan secara elektif maupun akut,
yang membutuhkan kondisi steril dan kondisi khusus lainnya. Luas ruangan
harus cukup untuk memungkinkan petugas bergerak sekeliling peralatan
bedah. Ruang bedah harus dirancang dengan faktor keselamatan yang
tinggi.
Pelayanan bedah pada rumah sakit kelas B meliputi :
1. Bedah minor (antara lain : bedah insisi abses, ekstirpasi, tumor kecil jinak
pada kulit, ekstraksi kuku / benda asing, sirkumsisi).
2. Bedah umum/ mayor dan bedah digestif.
3. Bedah spesialistik (antara lain: kebidanan, onkologi/tumor, urologi,
orthopedik, bedah plastik dan reanimasi, bedah anak, kardiotorasik dan
vaskuler).
4. Bedah sub spesialistik (antara lain: transplantasi ginjal, mata, sumsum
tulang belakang; kateterisasi Jantung (;Cathlab); dll)
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel. 2.4.1.5
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Instalasi Bedah Sentral

No.

Nama Ruangan

R. Pendaftaran

Ruang Tunggu

Ruang transfer (Ganti


Brankar)

Ruang persiapan
(;Preparation room)

Ruang Induksi/anaestesi
(;Induction room)
5

Ket : Apabila luasan area


instalasi bedah RS tidak
memungkinkan, kegiatan
anastesi dapat di
laksanakan di Ruang
Operasi
Ruang untuk cuci tangan
(scrub station)

Fungsi
Ruang untuk menyelenggarakan
kegiatan administrasi khususnya
pelayanan
bedah.
Ruang
ini
dilengkapi loket pendaftaran.
Ruang untuk pengantar pasien
menunggu selama pasien menjalani
proses bedah.
Ruang tempat mengganti brankar
pasien dengan brankar instalasi
bedah
Ruang yang digunakan untuk
mempersiapkan pasien sebelum
memasuki kamar bedah. Kegiatan
dalam ruang ini yaitu :
Penggantian pakaian penderita,
Membersihkan/mencukur
bagian
tubuh yg perlu dicukur,
Melepas semua perhiasan dan
menyerahkan ke keluarga pasien
Ruang yang digunakan untuk
persiapan
anaestesi/pembiusan.
Kegiatan yang dilakukan di kamar
ini adalah sebagai berikut :
x Mengukur tekanan darah pasien,
x Pemasangan infus,
x Memberikan kesempatan kepada
pasien untuk menenangkan diri,
x Memberikan penjelasan kepada
pasien mengenai tindakan yang
akan dilaksanakan,
Ruang untuk cuci tangan dokter ahli
bedah, asisten dan semua petugas
yang akan mengikuti kegiatan dalam
kamar bedah.

Besaran Ruang

Kebutuhan Fasilitas

/ Luas
3~5 m2/ petugas
(min.9 m2)
1~1,5 m2/ orang
(min. 12 m2)
Sesuai kebutuhan

Min. 9 m2

Min. 9 m2

Min. 3 m2

Meja, Kursi, lemari arsip,


telepon/intercom, komputer, printer dan
peralatan kantor lainnya
Kursi, Meja, Televisi & Alat Pengkondisi
Udara (AC / Air Condition)
Brankar

Alat cukur, oksigen, linen, brankar


sphygmomanometer, thermometer,
instrumen troli tiang infus

Suction Unit
Sphygmomanometer
Thermometer
Trolley Instrument
Infusion stand

Wastafel dengan 2 keran, perlengkapan


cuci tangan (sikat kuku, sabun, dll), skort
plastik/karet, handuk
Peralatan utama pada kamar bedah
minor ini adalah :

22

Ruang bedah minor

Kamar bedah untuk bedah minor


atau tindakan endoskopi

+ 36 m2

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Meja Operasi, Lampu operasi tunggal,


Mesin Anestesi dengan saluran gas
medik dan listrik menggunakan pendan
anestesi atau cara lain, peralatan
monitor bedah, dengan diletakkan pada
pendan bedah atau cara lain, Film
Viewer, Jam dinding, Instrument Trolley

untuk peralatan bedah, Tempat sampah


klinis, Tempat linen kotor, dll (seperti
lemari obat/ peralatan)
Peralatan kesehatan utama minimal
yang berada di kamar ini antara lain :

Ruang bedah umum

Ruang untuk melakukan kegiatan


pembedahan umum/general. Kamar
operasi umum dapat dipakai untuk
pembedahan umum dan spesialistik
termasuk untuk ENT, Urology,
Ginekolog, Opthtamologi

1)
2)
3)
Min. 42 m2
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Ruang bedah besar


(mayor)

Ruang
pembedahan
yang
digunakan
untuk
tindakan
pembedahan yang membutuhkan
peralatan besar dan memerlukan
tempat
banyak,
termasuk
diantaranya untuk bedah Neuro,
bedah orthopedi dan bedah jantung.

1 meja operasi,
1 set lampu operasi, terdiri dari
lampu utama dan lampu satelit.
2 set Peralatan Pendant, masingmasing untuk pendan anestesi dan
pendan bedah.
1 mesin anestesi,
Film Viewer.
Jam dinding.
Instrument Trolley untuk peralatan
bedah.
Tempat sampah klinis.
Tempat linen kotor, dll

Min. 50 m2

Peralatan
kesehatan
utama
yang
diperlukan, antara lain 1 (meja operasi
khusus), 1 (satu) lampu operasi, 1 (satu)
ceiling pendant untuk outlet gas medik
dan outlet listrik, 1 (satu) ceiling pendant
untuk monitor, mesin anestesi, dll

Min. 36 m2

Mesin C-arm cathlab, meja operasi


khusus cathlab, monitor-monitor cathlab,
set operasi minor, set operasi mayor,
lampu operasi, head lamp unit, electro
surgery unit, suction pump, laser
coagulator, serta lemari pendingin dan
lemari simpan hangat, defibrillator,
respirator, perlengkapan dan mesin
Anaestesi (bila diperlukan), jam operasi,
lampu petunjuk operasi, oksigen,
scavenging unit.

Ruang Kateterisasi Jantung (;Cathlab)

R. Tindakan Kateterisasi
Jantung

Ruang untuk melakukan tindakan


kateterisasi jantung.

9
Ruang Monitor (Ruang
Kontrol)
Ruang Mesin
Ruang Perlengkapan
(;Equipment Room)

10

Ruang Resusitasi
Neonatus

11

Ruang Pemulihan/ PACU


(;Post Anesthetic Care
Unit)

Ruang tempat memonitor kinerja


mesin C-arm cathlab dan ruang
tindakan kateterisasi jantung.
Ruang tempat meletakkan mesinmesin cathlab ( generator, system
control, cooling unit)
Ruang
tempat
meletakkan/
menyimpan
perlengkapan
katerisasi.
Ruangan yang dipergunakan untuk
menempatkan bayi baru lahir
melalui operasi caesar, untuk
dilakukan
tindakan
resusitasi
terhadap bayi.
Ruang pemulihan pasien pasca
operasi yang memerlukan perawatan
kualitas tinggi dan pemantauan terus
menerus. Kapasitas ruangan ini
harus menampung tt 1,5 x jumlah
ruang bedah.

tergantung meja
monitor yang ada.

Meja kontrol, printer laser, monitormonitor kontrol, kursi operator

tergantung mesin
prosesor yang ada.

Mesin-mesin prosesor

Tergantung
kebutuhan

Sesuai kebutuhan

Perlengkapan katerisasi

Tempat tidur bayi, incubator perawatan


bayi, alat resusitasi bayi

Min. 7,2 m2/ tempat


tidur

Tt pasien, monitor set, tiang infus,


infusion set, oksigen

Min. 9 m2/tt

Tt pasien, monitor set, tiang infus,


infusion set, oksigen

Ruang Pasca Bedah One


Day Care
12

13

14

Ket : boleh ada/tdk, atau


pasien pasca bedah
dapat dirawat ke
ICU/HCU apabila kondisi
pasien belum stabil.

Gudang Steril
(;clean utility)

Ruang Sterilisasi
(TSU = Theatre
Sterilization Unit)
Ket : boleh ada/tdk

Ruang untuk
pasca bedah

perawatan

singkat

Ruang
tempat
penyimpanan
instrumen yang telah disterilkan.
Instumen berada dalam Tromol
tertutup dan disimpan di dalam
lemari instrument.
Bahan-bahan lain seperti linen, kasa
steril dan kapas yang telah
disterilkan juga dapat disimpan di
ruangan ini.
Tempat
pelaksanaan
sterilisasi
instrumen dan barang lain yang
diperlukan untuk pembedahan.
Di kamar sterilisasi harus terdapat
lemari instrumen untuk menyimpan
instrumen yang belum disterilkan.

Sesuai kebutuhan

Lemari instrumen, Tromol

Sesuai kebutuhan

Autoklaf, Model meja strilisasi, Tromol,


meja sink, troli instrumet, lemari
instrument

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

23

ganti

pakaian/

Ruang untuk ganti pakaian, sebelum


petugas masuk ke area r. bedah.
Pada
kamar
ganti
sebaiknya
disediakan
lemari
pakaian/loker
dengan kunci dipegang oleh masingmasing petugas.
Ruang/ tempat menyimpan obatobatan untuk keperluan pasien.
Ruang tempat istirahat dokter
dilengkapi dengan KM/WC.
Ruang untuk istirahat perawat/
petugas lainnya setelah melakukan
kegiatan pembedahan atau tugas
jaga. Ruang jaga harus berada di
bagian depan shg mempermudah
semua pihak yang memerlukan
pelayanan bedah.
Ruang untuk diskusi para operator
kamar operasi sebelum melakukan
tindakan pembedahan.
Ruang
tempat
penyimpanan
sementara barang dan bahan
setelah digunakan untuk keperluan
operasi sebelum dimusnahkan ke
insenerator, atau dicuci di londri dan
disterilkan di CSSD.
Fasilitas untuk membuang kotoran
bekas pelayanan pasien khususnya
yang berupa cairan. Spoolhoek
berupa bak/ kloset yang dilengkapi
dengan leher angsa (water seal).

15

Ruang
loker

16

Depo Farmasi

17

Ruang dokter

18

Ruang perawat

19

Ruang Diskusi Medis

20

Gudang Kotor (Dirty


Utility).

21

Spoolhoek

22

KM/WC (petugas,
pengunjung)

KM/WC

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

23

Parkir brankar

Tempat parkir brankar selama tidak


ada kegiatan pembedahan atau
selama tidak diperlukan.

Sesuai kebutuhan

Brankar/ stetcher

Sesuai kebutuhan

Loker, toilet didalamnya

Sesuai kebutuhan

Lemari obat

Sesuai kebutuhan

Tempat tidur, sofa, meja, wastafel.

Sesuai kebutuhan

Tempat tidur, sofa, meja, wastafel.

Sesuai kebutuhan

Meja + kursi diskusi, dll

Sesuai kebutuhan

Container

4-6 m2

Kloset leher angsa, keran air bersih (Sink)


Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari
permukaan lantai

3. Persyaratan Khusus
1.

Jalan masuk barang-barang steril harus terpisah dari jalan keluar


barang-barang & pakaian kotor.

2.

Koridor steril (;steril corridor) dipisahkan/ tidak boleh bersilangan


alurnya dengan koridor kotor (;dirty corridor)

3.

Pembagian daerah sekitar kamar bedah:


(1) Zona 1, Tingkat Resiko Rendah (Normal)
Zona ini terdiri dari area resepsionis (ruang administrasi dan
pendaftaran), ruang tunggu keluarga pasien, janitor dan ruang
utilitas kotor.
Zone ini mempunyai jumlah partikel debu per m3>3.520.000
partikel dengan dia. 0,5 m (ISO 8 - ISO 14644-1 cleanroom
standards Tahun 1999).
(2) Zona 2, Tingkat Resiko Sedang (Normal dengan Pre Filter)
Zona ini terdiri dari ruang istirahat dokter dan perawat, ruang
plester, pantri petugas. Ruang Tunggu Pasien (;holding)/ ruang
transfer dan ruang loker (ruang ganti pakaian dokter dan perawat)
merupakan area transisi antara zona 1 dengan zone 2.
Zone ini mempunyai jumlah maksimal partikel debu per m3
3.520.000 partikel dengan dia. 0,5 m (ISO 8 - ISO 14644-1
cleanroom standards Tahun 1999).

(3) Zona 3, Tingkat Resiko Tinggi (Semi Steril dengan Medium


Filter)
Zona ini meliputi kompleks ruang operasi, yang terdiri dari ruang
persiapan (preparation), peralatan/instrument steril, ruang induksi,

24

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

area scrub up, ruang pemulihan (recovery), ruang resusitasi


neonates, ruang linen, ruang pelaporan bedah, ruang
penyimpanan perlengkapan bedah, ruang penyimpanan peralatan
anastesi, implant orthopedi dan emergensi serta koridor-koridor di
dalam kompleks ruang operasi.
Zone ini mempunyai jumlah maksimal partikel debu per m3 adalah
352.000 partikel dengan dia. 0,5 m (ISO 8 - ISO 14644-1 cleanroom

standards Tahun 1999).

(4) Zona 4, Tingkat Resiko Sangat Tinggi (Steril dengan Pre Filter,
Medium Filter, Hepa Filter)
Zona ini adalah ruang operasi, dengan tekanan udara positif. Zone
ini mempunyai jumlah maksimal partikel debu per m3 adalah
35.200 partikel dengan dia. 0,5 m (ISO 7 - ISO 14644-1 cleanroom
standards Tahun 1999).

(5) Area Nuklei Steril


Area ini terletak dibawah area aliran udara kebawah (;laminair air
flow) dimana pembedahan dilakukan. Area ini mempunyai jumlah
maksimal partikel debu per m3 adalah 3.520 partikel dengan dia.
0,5 m (ISO 5 s/d ISO 6 - ISO 14644-1 cleanroom standards Tahun
1999).

4.

Setiap 2 kamar operasi harus dilayani oleh setidaknya 1 ruang scrub


station.

5.

Harus disediakan pintu ke luar tersendiri untuk jenazah dan bahan kotor
yang tidak terlihat oleh pasien dan pengunjung.

6.

Persyaratan ruang operasi :


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Pintu kamar operasi yang ideal harus selalu tertutup selama


operasi.
Pergantian udara yang dianjurkan sekitar 18-25 kali/jam.
Tekanan udara yang positif di dalam kamar pembedahan, dengan
demikian akan mencegah terjadinya infeksi airborne.
Sistem AC Sentral, suhu kamar operasi yang ideal 26 280C yang
harus terjaga kestabilannya dan harus menggunakan filter absolut
untuk menjaring mikroorganisme.
Kelembaban ruang yang dianjurkan 70% (jika menggunakan bahan
anaestesi yang mudah terbakar, maka kelembaban maksimum
50%).
Penerangan alam menggunakan jendela mati, yang diletakkan
dengan ketinggian diatas 2 m.
Lantai harus kuat dan rata atau ditutup dengan vinyl yang rata atau
teras sehingga debu dari kotoran-kotoran tidak tertumpuk, mudah
dibersihkan, bahan tidak mudah terbakar.
Pertemuan dinding dengan lantai dan dinding dengan dinding harus
melengkung agar mudah dibersihkan dan tidak menjadi tempat
sarang abu dan kotoran.
Plafon harus rapat dan kuat, tidak rontok dan tidak menghasilkan
debu/kotoran lain.
Pintu harus yang mudah dibuka dengan sikut, untuk mencegah
terjadinya nosokomial, disarankan menggunakan pintu geser
dengan sistem membuka dan menutup otomatis.
Harus ada kaca tembus pandang di dinding ruang operasi yang
menghadap pada sisi dinding tempat ahli bedah mencuci tangan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

25

4. Alur kegiatan.
Alur Kegiatan Pada Instalasi Bedah Sentral ditunjukkan pada bagan alir
berikut :

Gambar 2.4.1.5 Alur Kegiatan Pada Instalasi Bedah Sentral.


2.4.1.6

Instalasi Kebidanan Dan Penyakit Kandungan (Obstetri Dan Ginekologi)


1. Lingkup Sarana Pelayanan
Pelayanan di Fasilitas Kebidanan Rumah Sakit Kelas B meliputi :
1.

2.
3.

4.

5.

26

Pelayanan persalinan.
Pelayanan persalinan meliputi : pemeriksaan pasien baru, asuhan
persalinan kala I, asuhan persalinan kala II (pertolongan persalinan),
dan asuhan bayi baru lahir.
Pelayanan nifas.
Pelayanan nifas meliputi : pelayanan nifas normal dan pelayanan nifas
bermasalah (post sectio caesaria, infeksi, pre eklampsi/eklampsi).
Pelayanan KB (Keluarga Berencana).
Pelayanan gangguan kesehatan reproduksi/penyakit kandungan,
Fetomaternal, Onkologi Ginekologi, Imunoendokrinologi, Uroginekologi
Rekonstruksi, Obgyn Sosial.
Pelayanan tindakan/operasi kebidanan
Pelayanan tindakan/operasi kebidanan adalah untuk memberikan
tindakan, misalnya ekserpasi polip vagina, operasi sectio caesaria,
operasi myoma uteri, dll.
Dan pelayanan sub spesilistik lainnya di bidang kebidanan dan
penyakit kandungan.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas


Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan
Tabel 2.4.1.6
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan
Nama Ruangan

Fungsi

No.

1.

R. Administrasi dan
pendaftaran

2.

Ruang Tunggu Pengantar


Pasien

3.

4.

Ruang untuk cuci tangan


(scrub station)

Ruang Persiapan Bersalin


Tanpa Komplikasi/ Kala II-III
(labour)

Ruang untuk menyelenggarakan


kegiatan administrasi khususnya
pelayanan pasien di ruang kebidanan
dan kandungan. Ruang ini berada
pada bagian depan instalasi/r.
kebidanan & kandungan dengan
dilengkapi loket, meja kerja, lemari
berkas/arsip dan telepon/ interkom.
Kegiatan administrasi meliputi :
Pendataan pasien.
Penandatanganan surat
pernyataan keluarga pasien (jika
diperlukan tindakan operasi).
Pembayaran (Kasir).
Ruang untuk pengantar pasien
menunggu selama pasien menjalani
proses persalinan/ tindakah bedah.
Ruang untuk cuci tangan semua
petugas yang akan mengikuti
kegiatan
persalinan/tindakan
kebidanan dan penyakit kandungan.

Besaran
Ruang / Luas

3~5 m2/ petugas

Meja, Kursi, lemari arsip,


telepon/intercom, komputer, printer dan
peralatan kantor lainnya

1~1,5 m2/ orang

Kursi, Meja, Televisi & Alat Pengkondisi


Udara (AC/ Air Condition)

Min. 3 m2

Wastafel dengan 2 keran, perlengkapan


cuci tangan (sikat kuku, sabun, dll), skort
plastik/karet, handuk

Ruang tempat persiapan bersalin


tanpa komplikasi.

Min. 7,2 m2/


tempat tidur

Ruang tempat persiapan bersalin


dengan komplikasi yang diawasi
secara intensif.

Min. 7,2 m2/


tempat tidur

Ruang tempat persiapan bersalin


tanpa komplikasi.

Min. 7,2 m2/


tempat tidur

Ruang sebagai tempat dimana


pasien melahirkan bayinya tanpa
komplikasi
termasuk
kegiatankegiatan
untuk
tindakan
saat
persalinan.

Min. 12 m2/
tempat tidur
bersalin

Ruang sebagai tempat dimana


pasien melahirkan bayinya dengan
komplikasi
termasuk kegiatankegiatan
untuk
tindakan
saat
persalinan.

Min. 12 m2/
tempat tidur
bersalin

(Minimal 2 tempat tidur,


harus mempunyai KM/WC)

5.

Ruang Persiapan Bersalin


dengan Komplikasi (preeclamsy labour)
(Minimal 1 tempat tidur,
harus mempunyai KM/WC)

Ruang Persiapan Bersalin


Tanpa Komplikasi/ Kala II-III
(labour)
6.
(Minimal 2 tempat tidur,
harus mempunyai 1
KM/WC)

Ruang Bersalin Tanpa


Komplikasi (;delivery)

7.

(memiliki area
membersihkan/
memandikan bayi)
(Minimal RS yg memiliki 3
tempat tidur, harus memiliki
1 KM/WC)
Ruang Bersalin dengan
Komplikasi

8.

(memiliki area
membersihkan/
memandikan bayi)

Kebutuhan Fasilitas

Set partus, set minor surgery, doppler,


USG, tensimeter, timbangan bayi,
suction apparatus, lampu periksa, stand
infuse, O2 set, emergency light, infuse
set, set kebidanan (minimal : forceps,
vakum ekstraktor, klem hemostasis
arteri, gunting tali pusar, klem tali pusar),
sarung tangan, celemek plastik, kasa dan
kapas, doek, cardiotocograph (CTG),
stetoskop, resusitasi set dewasa,
resusitasi set bayi.
Set partus, set minor surgery, doppler,
USG, tensimeter, timbangan bayi,
suction apparatus, lampu periksa, stand
infuse, O2 set, emergency light, infuse
set, set kebidanan (minimal : forceps,
vakum ekstraktor, klem hemostasis
arteri, gunting tali pusar, klem tali pusar),
sarung tangan, celemek plastik, kasa dan
kapas, doek, cardiotocograph (CTG),
stetoskop, resusitasi set dewasa,
resusitasi set bayi.
Set partus, set minor surgery, doppler,
USG, tensimeter, timbangan bayi,
suction apparatus, lampu periksa, stand
infuse, O2 set, emergency light, infuse
set, set kebidanan (minimal : forceps,
vakum ekstraktor, klem hemostasis
arteri, gunting tali pusar, klem tali pusar),
sarung tangan, celemek plastik, kasa dan
kapas, doek, cardiotocograph (CTG),
stetoskop, resusitasi set dewasa,
resusitasi set bayi.
Set partus, set minor surgery, doppler,
USG, tensimeter, timbangan bayi,
suction apparatus, lampu periksa, stand
infuse, O2 set, emergency light, infuse
set, set kebidanan (minimal : forceps,
vakum ekstraktor, klem hemostasis
arteri, gunting tali pusar, klem tali pusar),
sarung tangan, celemek plastik, kasa dan
kapas, doek, cardiotocograph (CTG),
stetoskop, resusitasi set dewasa,
resusitasi set bayi.
Set partus, set minor surgery, doppler,
USG, tensimeter, timbangan bayi,
suction apparatus, lampu periksa, stand
infuse, O2 set, emergency light, infuse
set, set kebidanan (minimal : forceps,
vakum ekstraktor, klem hemostasis
arteri, gunting tali pusar, klem tali pusar),

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

27

(Minimal RS yg memiliki 1
tempat tidur, harus memiliki
KM/WC)

9.

Ruang Bersalin Privat


(labour, delivery, recovery,
post partum/ LDRP)

Ruang tempat dimana pasien mulai


persiapan melahirkan sampai dengan
pemulihan.

Min. 20 m2/
tempat tidur

Ruang sebagai tempat dimana


pasien melahirkan bayinya dalam air
tanpa komplikasi.

Sesuai
kebutuhan

Ruang tempat melakukan tindakan


kebidanan dan penyakit kandungan

Min. 12 m2/
tempat tidur

Ruang pemulihan pasien pasca


melahirkan
yang
memerlukan
perawatan
kualitas
tinggi
dan
pemantauan terus menerus.

Min. 7,2 m2/


tempat tidur

(jika diperlukan)

10.

Ruang Bersalin dalam Air


(;Water Birth)
(jika diperlukan)

11.

Ruang Tindakan

Ruang Pemulihan
(;Recovery)
12.
(Minimal 4 tempat tidur,
harus memiliki KM/WC)

Tt pasien, monitor pasien, tiang infus,


infusion set, oksigen
Tempat tidur bayi, inkubator, timbangan
dan pengukur panjang bayi, tensimeter,
alat resusitasi bayi, blue lamp therapy,
tempat ganti popok bayi, sink mandi bayi
Tempat tidur bayi, inkubator, timbangan
dan pengukur panjang bayi, tensimeter,
alat resusitasi bayi, blue lamp therapy,
tempat ganti popok bayi, sink mandi bayi
Tempat tidur bayi, inkubator, timbangan
dan pengukur panjang bayi, tensimeter,
alat resusitasi bayi, blue lamp therapy,
tempat ganti popok bayi, sink mandi bayi
Tempat tidur bayi, inkubator, timbangan
dan pengukur panjang bayi, tensimeter,
alat resusitasi bayi, blue lamp therapy,
tempat ganti popok bayi, sink mandi bayi

13.

Ruang Bayi Normal


(termasuk didalamnya
ruang mandi bayi)

Ruang tempat bayi setelah dilahirkan

Sesuai
kebutuhan

14.

Ruang Bayi Patologis


(termasuk didalamnya
ruang mandi bayi)

Ruang tempat bayi yang infeksius


atau mengalami cacat bawaan atau
kelainan patologis lainnya

Sesuai
kebutuhan

15.

Ruang Rawat Intensif Bayi


Neonatal (;NICU)

Ruang tempat bayi yang memerlukan


perawatan intensif.

Sesuai
kebutuhan

16.

Ruang Perinatologi : High


Care

Ruang tempat bayi yang memerlukan


perawatan tingkat tinggi

Sesuai
kebutuhan

17.

Ruang Laktasi

Sesuai
kebutuhan

Tt pasien, tiang infus, infusion set

18.

Ruang Perawatan (Post


Partum)

Min. 7,2 m2/


tempat tidur

Tt pasien, tiang infus, infusion set

19.

Ruang Perawatan Isolasi


(Minimal 1 ruang/tempat
tidur)

Min. 12 m2/
tempat tidur

Tt pasien, tiang infus, infusion set

20.

Gudang Steril
(;clean utility)

Ruang untuk inisiasi ASI dini


(menyusui)
Ruang untuk perawatan pasien
melahirkan dan juga pasien penyakit
kandungan yang tidak memaparkan
penyakit ke pasien lain, dilengkapi
dengan toilet.
Ruang untuk perawatan isolasi
pasien penyakit kandungan yang
memaparkan penyakit ke pasien lain,
dilengkapi dengan toilet.
Ruang
tempat
penyimpanan
instrumen yang telah disterilkan.
Instumen berada dalam Tromol
tertutup dan disimpan di dalam
lemari instrument.
Bahan-bahan lain seperti linen, kasa
steril dan kapas yang telah
disterilkan juga dapat disimpan di
ruangan ini.

Sesuai
kebutuhan

Lemari instrumen, Tromol

Ruang Sterilisasi
21.

22.

28

sarung tangan, celemek plastik, kasa dan


kapas, doek, cardiotocograph (CTG),
stetoskop, resusitasi set dewasa,
resusitasi set bayi.
Set partus, set minor surgery, doppler,
USG, tensimeter, timbangan bayi,
suction apparatus, lampu periksa, stand
infuse, O2 set, emergency light, infuse
set, set kebidanan (minimal : forceps,
vakum ekstraktor, klem hemostasis
arteri, gunting tali pusar, klem tali pusar),
sarung tangan, celemek plastik, kasa dan
kapas, doek, cardiotocograph (CTG),
stetoskop, resusitasi set dewasa,
resusitasi set bayi.
Set partus, set minor surgery, doppler,
USG, tensimeter, timbangan bayi,
suction apparatus, lampu periksa, stand
infuse, O2 set, emergency light, infuse
set, set kebidanan (minimal : forceps,
vakum ekstraktor, klem hemostasis
arteri, gunting tali pusar, klem tali pusar),
sarung tangan, celemek plastik, kasa dan
kapas, doek, cardiotocograph (CTG),
stetoskop, resusitasi set dewasa,
resusitasi set bayi.
Set partus, set AVM/kuretase, set minor
surgery, tensimeter, suction apparatus,
lampu periksa, stand infuse, O2 set,
emergency light, sarung tangan, celemek
plastik, kasa dan kapas, doek, stetoskop,
resusitasi set dewasa.

(jika diperlukan atau


sterilisasi bisa dilaksanakan
di CSSD RS)

Ruang ganti pakaian/ loker

Tempat
pelaksanaan
sterilisasi
instrumen dan barang lain yang
diperlukan untuk kegiatan di ruang
kebidanan dan penyakit kandungan.
Tempat ganti pakaian, sepatu/alat
kaki sebelum masuk ke- dan
sebaliknya setelah keluar dari ruang
kebidanan dan kandungan,/ suatu
ruangan yang diperuntukkan bagi

Min. 6 m2

Sesuai
kebutuhan

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Workbench, 1 sink/2 sink dilengkapi


instalasi air bersih dan air buangan.
Lemari penyimpanan instrumen yang
belum disterilkan tetapi sudah dicuci
dan berada dalam tromol/pak.
Autoklaf
Loker, rak sepatu bersih, wastafel

23.

Ruang Penyimpanan Linen

24.

Ruang dokter

25.

Ruang perawat/ Petugas

26.

Ruang Diskusi Medis

27.

Pantri

28.

Gudang Kotor
(Spoolhoek/Dirty Utility).

29.

KM/WC (petugas, pasien,


pengunjung)

30.

Janitor

31.

Parkir Brankar

para pengunjung, staf medis/ non


medis untuk berganti pakaian atau
alas kaki sebelum masuk ke r.
kebidanan & kandungan.
Ruang/ tempat menyimpan linen
bersih
Ruang tempat kerja dan istirahat
dokter dilengkapi dengan KM/WC.
Ruang untuk istirahat perawat/
petugas
lainnya
setelah
melaksanakan kegiatan pelayanan
atau tugas jaga. Kamar jaga harus
berada di bagian depan sehingga
mempermudah semua pihak yang
memerlukan pelayanan pasien.
Ruang untuk diskusi medis para
petugas
inst.
kebidanan
&
kandungan.
Ruang untuk menyiapkan makanan
bagi pasien dan para petugas
instalasi kebidanan dan kandungan.
Fasilitas untuk membuang kotoran
bekas pelayanan pasien khususnya
yang berupa cairan. Spoolhoek
berupa bak atau kloset yang
dilengkapi dengan leher angsa (water
seal).
KM/WC
Ruang tempat penyimpanan
peralatan kebersihan/cleaning
service.
Tempat untuk parkir brankar selama
tidak ada kegiatan pelayanan pasien
atau selama tidak diperlukan.

Min. 3 m2

Lemari/rak

Sesuai
kebutuhan

Tempat tidur, sofa, meja, wastafel.

Sesuai
kebutuhan

Tempat tidur, sofa, meja, wastafel.

Sesuai
kebutuhan

Meja + kursi diskusi, dll

Sesuai
kebutuhan

Meja, kursi, microwave, kompor,


penghangat, kulkas, sink

4-6 m2

Kloset leher angsa, keran air bersih (Sink)


Ket : tinggi bibir kloset + 80-100 m dari
permukaan lantai

@ KM/WC
pria/wanita luas
2 m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

Min. 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

Min. 2 m2

Brankar

3. Persyaratan Khusus
1.

Letak bangunan instalasi kebidanan dan penyakit kandungan harus


mudah dicapai, disarankan berdekatan dengan instalasi gawat darurat,
ICU dan Instalasi Bedah Sentral, apabila tidak memiliki ruang operasi
atau ruang tindakan yang memadai.

2.

Bagunan harus terletak pada daerah yang tenang/ tidak bising.

3.

Ruang bayi dan ruang pemulihan ibu disarankan berdekatan untuk


memudahkan ibu melihat bayinya, tapi sebaiknya dilakukan dengan
sistem rawat gabung.

4.

Memiliki sistem sirkulasi udara yang memadai dan tersedia pengatur


kelembaban udara untuk kenyamanan termal.

5.

Memiliki sistem proteksi dan penanggulangan terhadap bahaya


kebakaran.

6.

Terdapat pintu evakuasi yang luas dengan fasilitas ramp apabila letak
instalasi kebidanan dan penyakit kandungan tidak pada lantai dasar.

7.

Harus disediakan pintu ke luar tersendiri untuk jenazah dan bahan kotor
yang tidak terlihat oleh pasien dan pengunjung.

8.

Limbah padat medis yang dihasilkan dari kegiatan kebidanan dan


penyakit kandungan ditempatkan pada wadah khusus berwarna kuning
bertuliskan limbah padat medis infeksius kemudian dimusnahkan di
incenerator.

9.

Untuk persyaratan ruang operasi kebidanan dapat dilihat pada poin


2.4.1.5

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

29

4. Alur kegiatan.
Alur Kegiatan Pada Instalasi Kebidanan
ditunjukkan pada bagan alir berikut :
Dokter, Bidan
& Perawat

Ruang Ganti &


Loker

dan

Penyakit

Kandungan

Pasien & Pengantar


Pasien

Administrasi & Pendaftaran

Pengantar
Pasien

Ruang Tunggu

Pasien

Ruang Tindakan

Ruang Persiapan

Ruang Bersalin

Ruang Operasi

Ruang Pemulihan
Ruang Rawat Inap

Ruang Bayi

Pulang

Gambar 2.4.1.6 Alur Kegiatan Pada Instalasi Kebidanan dan Penyakit


Kandungan.
2.4.1.7

Instalasi Rehabilitasi Medik


Pelayanan Rehabilitasi Medik bertujuan memberikan tingkat pengembalian
fungsi tubuh semaksimal mungkin kepada penderita sesudah kehilangan/
berkurangnya fungsi dan kemampuan yang meliputi, upaya pencegahan/
penanggulangan, pengembalian fungsi dan mental pasien.
1. Lingkup Sarana Pelayanan
Lingkup pelayanan Instalasi Rehabilitasi Medik mencakup :
1. Fisioterapi
2. Terapi Okupasi (;OT-Occupation Therapy)
3. Terapi Wicara (TW) / Terapi Vokasional (;Speech Therapy)
4. Orthotik dan Prostetik/ OP
5. Pelayanan Sosio Medik/ Pekerja Sosial Masyarakat/PSM
6. Pelayanan Psikologi
7. Rehabilitasi Medik Spesialistik Terpadu, berada pada unit pelayanan
terpadu rumah sakit (UPT-RS), meliputi : Muskuloskeletal,
Neuromuskuler, Kardiovaskuler, Respirasi, Pediatri, Geriatri
8. Pelayanan cidera olahraga

30

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas


Tabel. 2.4.1.7
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Instalasi Rehabilitasi Medik
Nama Ruangan

Fungsi Ruangan

No.
1.

Loket Pendaftaran dan


Pendataan

2.

Ruang Administrasi,
Keuangan dan Personalia

3.

Ruang Tunggu Pasien


& Pengantar Pasien

4.

Ruang Pemeriksaan/
Penilaian Dokter

5.

RUANG TERAPI
PSIKOLOGI

Ruangan tempat pasien melakukan


pendaftaran, pendataan awal dan
ulang untuk segera mendapat suatu
tindakan.
Ruang kerja para Petugas Instalasi RM
yaitu melaksanakan kegiatan
administrasi, keuangan dan personalia
di unit Pelayanan Rehabilitasi Medik
Ruangan pasien & pengantar pasien
menunggu diberikannya pelayanan RM
Ruangan tempat Dokter melakukan
pemeriksaan
(seperti:
anamesa,
pemeriksaan dan asesmen fisik),
diagnosis maupun prognosis terhadap
pasiennya & tempat pasien melakukan
konsultasi medis dengan Dokter
Ruang tempat melaksanakan kegiatan
terapi psikologi bagi pasien.

Besaran Ruang /
Luas

3~5 m2/ petugas

3~5 m2/ petugas

1~1,5 m2/ orang

12~25 m2

12~25 m2

Kebutuhan Fasilitas

Meja, kursi, computer, printer, lemari,


lemari arsip, dan peralatan kantor
lainnya.
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
intercom/telepon, safety box
Tempat duduk, televisi & Telp umum
(bila RS mampu),
Kursi Dokter, Meja Konsultasi, 2
(dua) kursi hadap, lemari alat periksa
& obat, tempat tidur periksa, tangga
roolstool, dan kelengkapan lainnya.
Kursi Dokter, Meja Konsultasi, 2
(dua) kursi hadap, lemari alat, kursi
terapi, dll

FISIOTERAPI

6.

Miin. 12 m2/
tempat tidur traksi

1. Ruang Fisioterapi Pasif

Ruang untuk memberikan pelayanan


berupa suatu intervensi radiasi/
gelombang elektromagnet dan traksi,
maupun latihan manipulasi yang
diberikan pada pasien yang bersifat
individu.

2. Ruang Fisioterapi Aktif


a. Ruang Senam
(Gymnasium)

Ruang tempat pasien melakukan


kegiatan senam (misalnya senam
stroke, senam jantung, senam diabetes,
senam pernafasan, senam asma,
senam osteoporosis, dll.

Min. 50 m2

Ruangan yang didalamnya terdapat


satu (atau lebih) kolam renang / bak
rendam hidroterapi yang dilengkapi
dengan fasilitas penghangat air (Water
Heater Swimming Pool) dan pemutar
arus ( Whirpool System) bila ada.

Min. 25 m2/kolam
4-12 m2 (untuk
ruang ganti
pakaian)

b. Ruang Hidroterapi
(Dilengkapi ruang
ganti pakaian,
KM/WC, terpisah
antara pasien wanita
& pria)

Tempat tidur periksa, unit traksi, alat


stimulasi elektrik, micro wave
diathermy, ultraviolet quartz, dan
peralatan fisioterapi lainnya

Treadmill, parallel bars, ergocycle,


exercise bicycle, dan peralatan
senam lainnya.

Perlengkapan hidroterapi

TERAPI OKUPASI

7.

Ruang Terapi Okupasi

Ruang
tempat
terapis
okupasi
melakukan terapi kepada pasien

Ruang Sensori Integrasi


(SI) Anak.

Ruangan tempat Terapis Okupasi


melakukan terapi secara (umumnya)
kelompok kepada pasien anak untuk
merangsang panca-indera serta gerak
motorik halus dan kasar.

Ruang Relaksasi /
Perangsangan AudioVisual

Daerah Okupasi Terapi


Terbuka/ Taman Terapetik
Ket : Boleh ada/tidak

Ruangan tempat Terapis Okupasi


melakukan terapi perangsangan audiovisual (umumnya pada anak) dalam
suatu ruangan tertutup yang dilengkapi
dengan sarana audio-visual maupun
benda-benda bercahaya. Ruangan ini
juga merupakan ruangan relaksasi bagi
pasien.
Suatu daerah terbuka hijau/taman yang
juga digunakan sebagai daerah Latihan
Terapi Okupasi Dewasa (dan Anak)
berupa suatu jalur jalan (Walking Track)

@ jenis okupasi
6-30 m2

Tergantung
peralatan SI yang
disediakan

Fasilitas tergantung dari jenis


okupasi yang akan diselenggarakan,
Misalnya :
ruangan dalam rumah (dapur,
kamar mandi, ruang makan, ruang
tamu, ruang tidur),
kantor (ruang kerja, bengkel, ruang
studio),
tempat Ibadah, kasir,
model ruangan kendaraan
(misalnya : tempat naik dan duduk
pada bis umum, ruang mengemudi
mobil dan motor), dll
area bermain yang dilengkapi
pelindung-pelindung khusus
(misalnya : busa dilapis kulit sintetis)
pada daerah-daerah yang keras
(misalnya: tiang, dinding & lantai)
serta daerah bersudut yang cukup
tajam (misalnya: tepi meja, tepi
ayunan, sudut - sudut dinding).

Sesuai kebutuhan

lampu fiberoptik berpelindung dan


akuarium Flexyglass yang mampu
mengeluarkan cahaya multi warna
secara bergantian, televisi, bantal,
tempat duduk, bola keseimbangan,
dll

Tergantung
peralatan yang
disediakan

Pararell Bars dengan variasi


permukaan pijakan yang berbedabeda, seperti batu-batuan, semen,
pasir dan ubin keramik untuk

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

31

dengan benda-benda Fasilitas Terapi.

memberi rangsangan yang berbeda


pada telapak kaki, ramp untuk latihan
pengguna kursi roda dan perancah
bantu jalan (Walker)

TERAPI WICARA
Ruang Terapi Wicara
/Vokasional
9.
Ruang Terapi Wicara
Audiometer.

Ruang
tempat
terapis
wicara
melakukan terapi kepada pasien
Ruangan tempat Terapis Wicara
melakukan pengujian kemampuan
pendengaran kepada pasiennya secara
individual (dengan operator Audiometer
sebagai asisten terapis). Terdiri dari 2
ruang : ruang operator & ruang pasien.

12-30 m2
Min. 3 m2/ ruang
pasien
Min. 4 m2 / ruang
operator

Cermin, meja, kursi pasien & petugas

Alat uji audiometer, kursi pasien,


meja operator, headphone pasien,
speaker monitor operator

RUANG ORTHOTIK DAN PROSTETIK/ OP

10.

Loker Petugas Bengkel OP

Ruang ganti pakaian dan menyimpan


barang-barang milik petugas.

@ 4-12 m2

Bengkel Halus

Ruang
tempat
menghaluskan,
merangkai, menyetel barang yang akan
diserahkan kepada pasien.

Min. 9 m2

Bengkel Kasar

Ruang tempat pengolahan bahan baku


menjadi protese.

Min. 36 m2

Ruang Jahit/Kulit

Ruang Bionik (Biologi


Elektronik)
Ruang Penyimpanan
Barang Jadi
Gudang Bahan Baku
Ruang Penyetelan (;Fitting
Room)

Ruang tempat mempola, membuat,


menjahit dan merakit selubung OP dari
kulit, termasuk membuat sepatu untuk
kaki palsu.
Ruang tempat melakukan perakitan
serta penyetelan komponen elektronik
yang akan ditambahkan pada barang
OP.
Ruang tempat menyimpan sementara
barang OP yang sudah jadi.
Tempat penyimpanan bahan
untuk pembuatan barang OP

baku

Ruang tempat pasien mengepas


barang OP yang telah jadi.
Ruang tempat petugas PSM bekerja
sebelum dan sesudah melaksanakan
tugas di luar RS. Pada ruangan ini
dapat juga dilakukan pendaftaran
pasien pelayanan sosio medik diluar RS
(;home care service)
Ruang tempat penyimpanan peralatan
RM yang belum terpakai atau sedang
tidak digunakan.
Ruang penyimpanan linen bersih
(misalnya : handuk, tirai & sprei) dan
juga perbekalan farmasi untuk terapi
(misalnya : parafin, alkohol, kapas,
tissue, jelly).
Ruang penyimpanan alat-alat, juga
perabot RM yang sudah tidak dapat
digunakan lagi tetapi belum dapat
dihapuskan dengan segera.
Ruang tempat kepala IRM bekerja dan
melakukan kegiatan perencanaan dan
manajemen.

Loker/ lemari, tempat duduk (bench),


dll
Peralatan bengkel mekanik halus
(seperti gerinda halus, bor halus,
ampelas halus, tang, sekrup, baut,
set obeng dan kunci-kunci, dll)
Mesin potong besi, mesin potong
fiber glass, mesin pencetak fiber
glass, mesin cetak kulit lateks,
gerinda kasar, dan mesin-mesin
mekanis produksi lainnya

Min. 12 m2

Meja pola, alat penggunting kulit,


mesin jahit kulit, alat pelubang kulit,
dll

Min. 9 m2

Set obeng dan kunci-kunci, solder,


mesin pembuat pcb, osciloskop,
avometer, serta alat-alat ukur
elektronik lainnya.

Sesuai Kebutuhan

Lemari

Sesuai Kebutuhan

Lemari, rak

Sesuai Kebutuhan

Cermin, tempat duduk pasien, dll

Min. 4 m2/ orang


(luas disesuaikan
dengan jumlah
petugas PSM)

Meja, kursi, computer, printer, lemari,


lemari arsip, dan peralatan kantor
lainnya.

Sesuai Kebutuhan

Lemari/rak

Sesuai Kebutuhan

Lemari/rak

Sesuai Kebutuhan

Lemari/rak

Sesuai Kebutuhan

Kursi, meja, computer, printer, dan


peralatan kantor lainnya.

11.

RUANG PSM

12.

Gudang Peralatan RM

13.

Gudang Linen dan


Farmasi

14.

Gudang Kotor

15.

Ruang Kepala IRM

16.

Ruang Petugas RM

Ruang tempat istirahat petugas IRM

Sesuai Kebutuhan

Kursi, meja, sofa, lemari

17.

Dapur Kecil (;Pantry)

Sebagai tempat untuk menyiapkan


makanan dan minuman bagi mereka
yang ada di IRM dan sebagai tempat
istirahat petugas.

Sesuai Kebutuhan

Perlengkapan dapur, kursi, meja,


sink

18.

KM/WC petugas/pasien

KM/WC

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

3. Persyaratan Khusus
Pada dasarnya tata ruang Unit Rehabilitasi Medik ditetapkan atas dasar:
1. Lokasi mudah dicapai oleh pasien, disarankan letaknya dekat dengan
instalasi rawat jalan/ poliklinik dan rawat inap.
2. Ruang tunggu dapat dicapai dari koridor umum dan dekat pada loket
pendaftaran, pembayaran dan administrasi.

32

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3. Disarankan akses masuk untuk pasien terpisah dari akses masuk staf.
4. Disarankan menggunakan sistem sirkulasi udara/ ventilasi udara alami.
5. Apabila ada ramp (tanjakan landai), maka harus diperhatikan
penempatan ramp, lebar dan arah bukaan pintu dan lebar pintu untuk
para pemakai kursi roda serta derajat kemiringan ramp yaitu maksimal
70.
6. Untuk pasien yang menggunakan kursi roda disediakan toilet khusus
yang memiliki luasan cukup untuk bergeraknya kursi roda.
4. Alur kegiatan.

Gambar 2.4.1.7 Alur Kegiatan Pada Instalasi Rehabilitasi Medik.


2.4.1.8

Unit Hemodialisa
1. Lingkup Sarana Pelayanan
Pelayanan bagi pasien yang membutuhkan fasilitas cuci darah akibat
terjadinya gangguan pada ginjal.
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel. 2.4.1.8
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Unit Hemodialisa
Nama Ruangan

Fungsi Ruangan

No.

1.

Ruang Administrasi dan


Rekam Medik

2.

Ruang Tunggu

Ruang untuk menyelenggarakan


kegiatan administrasi di unit HD,
yaitu berupa registrasi & pendataan
pasien, dan tempat penyimpanan
berkas medik pasien.
Ruang di mana keluarga/ pengantar
pasien menunggu. Ruang ini perlu
disediakan tempat duduk dengan

Besaran Ruang /
Luas

Kebutuhan Fasilitas

3~5 m2/ petugas

Meja, Kursi, lemari arsip, telepon/


intercom, komputer, printer dan
peralatan kantor lainnya

1~1,5 m2/ orang

Kursi, Meja, Televisi & Alat


Pengkondisi Udara (AC / Air
Condition)

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

33

jumlah yang sesuai aktivitas


pelayanan.
3.

Ruang Cuci Darah

Ruang tempat pasien mendapatkan


tindakan cuci darah.

Min. 7,2 m2/


tempat tidur

Tt pasien, mesin HD

4.

Ruang Isolasi Cuci Darah

Ruang isolasi tempat pasien


mendapatkan tindakan cuci darah.

Min. 9 m2/
tempat tidur

Tt pasien, mesin HD

5.

Ruang Stasi Perawat


(Nurse Station)

Ruang
utk
melakukan
perencanaan,
pengorganisasian
asuhan
dan
pelayanan
keperawatan
(pre
dan
postconfrence, pengaturan jadwal),
dokumentasi
sampai
dengan
evaluasi pasien.

6.

Ruang Konsultasi

7.

Ruang Reverse Osmosis


(RO) dan Sterilisasi UV

8.

Ruang Tanki Air Harian


(Ready To Use Tank)

9.

Ruang Pencucian Filter


(Reuse Filter Cleaning)

10.

Gudang

11.

Ruang Kepala Unit HD

12.

Ruang Utilitas Kotor/


Spoelhoek dan tempat cuci

13.

Dapur Kecil (;Pantry)

14.

KM/WC petugas/pasien

Ruang untuk melakukan konsultasi


oleh dokter spesialis penyakit
dalam/ sub spesialis ginjal/ kepada
pasien dan keluarganya.
Ruang tempat meletakkan mesin
RO dan filter UV sebelum air
ditampung dalam tanki air harian.
Ruang ini dapat digabung dengan
ruang tanki air harian.
Ruang tempat meletakkan tanki
yang menampung air yang telah
disterilisasi untuk dapat langsung
digunakan oleh mesin hemodialisa
atau mesin pembersih filter.
Ruang tempat membersihkan filter
agar dapat dipergunakan kembali.
Kegiatan ini dapat dilaksanakan di
CSSD.
Ruang
penyimpanan
alat-alat
hemodialisa.
Ruang tempat kepala Unit HD
bekerja dan melakukan kegiatan
perencanaan dan manajemen.
Fasilitas untuk membuang kotoran
bekas pelayanan pasien khususnya
yang berupa cairan. Spoolhoek
berupa bak atau kloset yang
dilengkapi dengan leher angsa
(water seal).
Sebagai tempat untuk menyiapkan
makanan dan minuman bagi
mereka yang ada di Unit HD dan
sebagai tempat istirahat petugas.
KM/WC

Sesuai kebutuhan

Meja, Kursi, lemari arsip, lemari


obat, telepon/intercom, komputer
Peralatan penyelamatan hidup
(live saving equipment),
defibrilator, alat resusitasi pasien,
obat-obatan penyelamatam
hidup, tensimeter/
spygmomanometer, termometer,
peralatan kesehatan perbekalan
HD, stetoskop, dll

Sesuai kebutuhan

Meja, Kursi/ sofa,


telepon/intercom, peralatan
kantor lainnya

1 mesin RO
memiliki dimensi +
1,5 x 0,6 m2

Mesin RO dan lampu UVGI

Tergantung
kapasitas tanki air.

Tanki air dan pompa

Min. 4-6 m2

Bak cuci filter (sink),


pembersih
filter,
dekontaminasi filter

alat
alat

Sesuai kebutuhan

Lemari/rak

Sesuai kebutuhan

Kursi, meja, computer, printer,


dan peralatan kantor lainnya.

4-6 m2

Kloset leher angsa, keran air


bersih (Sink)
Ket : tinggi bibir kloset + 80-100
m dari permukaan lantai

Sesuai kebutuhan

Perlengkapan dapur, kursi, meja,


sink

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

3. Persyaratan Khusus
1. Setiap tempat tidur/ tempat duduk pasien dilengkapi dengan minimal inlet
air steril dan outlet pembuangan air dari mesin dialisis.
2. Setiap tempat tidur/ tempat duduk pasien juga dilengkapi dengan bed
head unit, minimal terdiri dari outlet suction, Oksigen, stop kontak listrik
dengan suplai Catu Daya Pengganti Khusus(CDPK = UPS) dan 2 buah
stop kontak biasa, tombol panggil perawat (nurse call).
3. Ruangan harus mudah dibersihkan, tidak menggunakan warna-warna
yang menyilaukan.
4. Memiliki sistem pembuangan air yang baik.

34

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4. Alur kegiatan.
Pasien & Pengantar
Pasien

Pengantar
Pasien

Administrasi dan
Pendaftaran

Ruang Tunggu

Pasien

Ruang Konsultasi

Ruang (/Isolasi) Cuci Darah

Pulang

Gambar 2.4.1.8 Alur Kegiatan Pada Unit Hemodialisa

2.4.1.9

Instalasi Radioterapi
1. Lingkup Sarana Pelayanan
Pelayanan radioterapi meliputi :
1. Pelayanan radioterapi eksternal, yaitu pelayanan radioterapi dengan
menggunakan sumber radiasi yang berada di luar tubuh atau ada jarak
antara pasien dengan alat penyinaran.
2. Pelayanan brakiterapi, yaitu pelayanan radioterapi dengan menggunakan
sumber yang didekatkan pada tumor.
3. Pelayanan radioterapi interstisial adalah pelayanan radioterapi dengan
menggunakan sumber yang dimasukkan dalam tumor.
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelayanan radioterapi mengacu pada
Permenkes No. 1427/MENKES/SK/XII/2006 tentang Standar Pelayanan
Radioterapi di Rumah Sakit.
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel. 2.4.1.9
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Instalasi Radioterapi

No.

Nama Ruangan

1.

Ruang Penerimaan,
Pendaftaran, pembayaran
dan pengambilan hasil

2.

Ruang Administrasi dan


Rekam Medis.

3.

Ruang Pemeriksaan dan


Konsultasi

Fungsi Ruangan
Ruang tempat pasien melakukan
pendaftaran, tempat pembayaran dan
sebagai tempat mengambil hasil
pemeriksaan
Ruangan untuk staf melaksanakan tugas
administrasi dan personalia dan ruangan
untuk penyimpanan sementara berkas film
pasien yang sudah dievaluasi.
Ruangan pemeriksaan klinis, baca film dan
konsultasi pasien oleh dokter spesialis
Radiologi.

Besaran Ruang /
Luas

Kebutuhan Fasilitas

3~5 m2/ petugas

Rak/lemari berkas, meja, kursi,


komputer, printer, dan alat
perkantoran lainnya.

3~5 m2/ petugas

Alat tulis kantor, meja+kursi, loket,


lemari, telepon, faksimili, komputer,
printer, dan alat perkantoran lainnya.

Sesuai Kebutuhan

Meja, kursi, meja periksa, film viewer.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

35

4.

Ruangan Tunggu Pasien

5.

Ruang Tunggu Pasien


Tirah Baring

3.

Ruang Moulding

4.

Ruang Kemoterapi

5.

Ruang Simulator

6.

Ruang Terapi Penyinaran


(;Treatment Room)

7.

Ruang Kontrol Kualitas


(Quality Control)

Ruangan pasien menunggu diberikannya


pelayanan radioterapi.
Ruangan pasien dengan tempat tidur (tirah
baring) menunggu diberikannya pelayanan
radioterapi.
Ruang untuk membuat cetakan bagian
tubuh yang akan dilakukan penyinaran
dengan pesawat radioterapi
Ruang untuk mengakomodasi sejumlah
pasien yang sedang dilakukan tindakan
medis kemoterapi.
Ruang tempat mensimulasi tubuh pasien
sebelum dilakukan penyinaran/radiasi.
Ruang tempat dilakukan terapi sinar
radiasi . Ruangan ini dilengkapi dengan
ruang control dan ruang untuk mesin.
Jelas, sesuai nama ruangan

1~1,5 m2/ orang


Min. 7.2 m2/ tt

Tempat duduk, televisi & Telp umum


(bila RS mampu),
Brankar/tt pasien

Sesuai kebutuhan

Set Perlengkapan Moulding/ Cetakan

Sesuai kebutuhan

Sofa, kursi, meja, tiang infus, dll

Sesuai kebutuhan

Set peralatan simulator

Tergantung
peralatan terapi
yang digunakan.
Sesuai Kebutuhan

8.

Ruang Fisikawan Medik

Ruang kerja dan istirahat fisikawan medik.

3~5 m2/ petugas

9.

Ruang Petugas

Ruang kerja dan istirahat petugas.

3~5 m2/ petugas

10.

Pantri

11.

Ruang Ganti Petugas

12.

Ruang Diskusi

Sebagai
tempat
untuk
menyiapkan
makanan dan minuman bagi mereka yang
ada di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit.
Ruang untuk ganti pakaian petugas
sebelum petugas masuk ke area tindakan.
Ruang ganti petugas pria dan wanita
dipisah.
Jelas, sesuai nama ruangan

13.

KM/WC petugas & pasien

KM/WC

Set peralatan radioterapi


Sesuai Kebutuhan
Alat tulis kantor, meja+kursi, lemari,
telepon, komputer, printer, dan alat
perkantoran lainnya.
Alat tulis kantor, meja+kursi, lemari,
telepon, komputer, printer, dan alat
perkantoran lainnya.

Sesuai Kebutuhan

Sofa, kursi, meja, pantri

Sesuai Kebutuhan

Loker, dilengkapi toilet.

Sesuai Kebutuhan
@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Sofa, kursi, meja, display, dll


Kloset, wastafel, bak air

3. Persyaratan Khusus
Persyaratan teknis mengenai bangunan untuk menyelenggarakan pelayanan
radioterapi harus mengacu pada persyaratan yang ditetapkan oleh
BAPETEN.
2.4.1.10 Instalasi Kedokteran Nuklir
Pelayanan Kedokteran Nuklir adalah pelayanan penunjang dan/atau terapi
yang memanfaatkan sumber radiasi terbuka dari disinegrasi inti radionuklida
yang meliputi pelayanan diagnostik in-vivo dan in-vitro melalui pemantauan
proses fisiologi, metabolisme dan terapi radiasi internal.
2. Lingkup Sarana Pelayanan
1. Pelayanan diagnostic in-vivo adalah pemeriksaan yang dilakukan
terhadap pasien dengan cara pemberian radionuklida dan/atau
radiofarmaka, kemudian dengan menggunakan alat pencacah atau
kamera gamma dilakukan pengamatan terhadap radionuklida dan/atau
radiofarmaka tersebut selama berada dalam tubuh. Hasil yang diperoleh
dari pengamatan tersebut dapat berupa citra atau non-citra.
2. Pelayanan diagnostik in-vitro adalah pemeriksaan yang dilakukan
terhadap specimen yang diperoleh dari pasien menggunakan teknik
Radio Immuno Assay (RIA) atau Immuno Radiometric Assay (IRA).
3. Pelayanan pemeriksaan in-vivtro adalah gabungan antara pemeriksaan
in-vivo dan in-vitro.
4. Pelayanan terapi radiasi internal adalah suatu cara pengobatan dengan
menggunakan radionuklida dan/atau radiofarmaka.

36

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Ketentuan lebih lanjut mengenai pelayanan Kedokteran Nuklir mengacu


pada KEPMENKES-RI No. 008/MENKES/SK/I/2009 tentang Standar
Pelayanan Kedokteran Nuklir Di Sarana Pelayanan Kesehatan.
Uraian Fasilitas Instalasi Kedokteran Nuklir berdasarkan pelayanan diatas pada
rumah sakit kelas B dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Kedokteran Nuklir Pratama, meliputi pelayanan diagnostik in-vivo dengan
gamma probe.
2. Kedokteran Nuklir Madya, meliputi pelayanan diagnostik in-vitro dan in-vivo
dengan kamera gamma yang dilengkapi Kollimator High Energy, Kollimator
LEHR/LEGP.
3. Kedokteran Nuklir Utama, meliputi pelayanan diagnostik in-vivo dengan
peralatan gamma probe dan kamera gamma yang telah dilengkapi Kollimator
High Energy, Kollimator LEHR, Kollimator LEHS/LEGP dan Kollimator Pin
Hole.
4. Kedokteran Nuklir dengan teknologi PET-CT, meliputi pelayanan diagnostik
in-vivo dengan teknologi PET-CT
3. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel. 2.4.1.10
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Instalasi Kedokteran Nuklir
No.

Nama Ruangan

Fungsi Ruangan

Besaran Ruang /
Luas

Kebutuhan Fasilitas

1~1,5 m2/ orang

Tempat duduk, televisi & Telp umum


(bila RS mampu),

3~5 m2/ petugas

Alat tulis kantor, meja+kursi, loket,


lemari, telepon, faksimili, komputer,
printer, dan alat perkantoran lainnya.

3~5 m2/ petugas

Rak/lemari berkas, meja, kursi,


 elevise, printer, dan alat
perkantoran lainnya.

I.

Kedokteran Nuklir Pratama

1.

Ruangan Tunggu Pasien


& Pengantar Pasien

2.

Ruang Administrasi dan


Rekam Medis.

3.

Loket Pendaftaran,
pembayaran dan
pengambilan hasil

Ruang tempat pasien melakukan


pendaftaran, tempat pembayaran dan
sebagai tempat mengambil hasil
pemeriksaan

4.

Ruang Konsultasi Dokter

Ruangan pemeriksaan klinis, baca film dan


konsultasi pasien oleh dokter spesialis
Kedokteran Nuklir.

Sesuai Kebutuhan

Meja, kursi, meja periksa, film viewer.

5.

Ruang Pemberian Dosis

Ruang tempat penyuntikan/ pemberian


dosis radiofarmaka ke tubuh pasien.

Sesuai Kebutuhan

Sink, meja, kursi pasien dan kursi


petugas.

6.

Ruang Tunggu Pasien

Ruang tempat pasien menunggu setelah


pemberian dosis radiofarmaka.

Sesuai Kebutuhan

Sofa, washtafel

7.

Ruang Probe & Counting


System

8.

Ruang Penyiapan dan


Penyimpanan
Radiofarmaka

9.

Ruang Dekontaminasi

10.

Ruang Istirahat Dokter &


Petugas

Ruangan pasien & pengantar pasien


menunggu diberikannya pelayanan medik.
Ruangan untuk staf melaksanakan tugas
administrasi dan personalia dan ruangan
untuk penyimpanan sementara berkas film
pasien yang sudah dievaluasi.

Ruang tempat melakukan tindakan dengan


probe.
Ruang tempat menyiapkan dosis
radiofarmaka untuk pasien, dilengkapi juga
dengan tempat penyimpanan radioisotope
dan ruang generator Tc-99m
Ruang tempat dekontaminasi petugas
setelah menyiapkan radiofarmaka.

Min. 12 m2

Probe & Counting System

Sesuai Kebutuhan

Sink, banker/lemari khusus simpan


radioisotop, glass box untuk
penyiapan dosis radiofarmaka.

Sesuai Kebutuhan

Sink, shower, dll

Ruang tempat istirahat dokter dan petugas

Sesuai Kebutuhan

Sofa, kursi, meja, pantri


Kloset, wastafel, bak air
Kontainer khusus

11.

KM/WC petugas & pasien

KM/WC

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

12.

Ruang penyimpanan
sementara limbah
radioaktif padat

Jelas, sesuai nama ruangan

Sesuai Kebutuhan

II.

Kedokteran Nuklir Madya


Adalah kedokteran nuklir Pratama ditambah ruangan-ruangan dibawah ini :

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

37

1.

2.

Ruang tempat pencacahan(non-imaging)


sampel cairan dari tubuh pasien.

Sesuai Kebutuhan

Meja kerja, Alat pencacah In Vivo

Jelas, sesuai nama ruangan

Sesuai Kebutuhan

Kontainer khusus

Sesuai Kebutuhan

Set laboratorium RIA

Sesuai Kebutuhan

Set pengambilan sampel

Sesuai Kebutuhan

Treadmill

Sesuai Kebutuhan

Set Gamma Kamera yang dilengkapi


Kollimator High Energy, Kollimator
LEHR(Low Energy High Resolution)/
LEGP(Low Energy General Purpose)

Ruang tempat pemeriksaan sampel cairan


tubuh pasien yang telah direaksikan
dengan  elevise ope.
Ruang
tempat
pengambilan
dan
penanganan sampel dari tubuh pasien
Ruang tempat latihan/exercise dengan alat
pacu jantung.

3.

Laboratorium RIA

4.

Ruang Sampling

5.

Ruang Cardiac Stress Test

6.

Ruang Gamma Kamera


(dilengkapi ruang operator)

III.

Kedokteran Nuklir Utama


Adalah kedokteran nuklir Madya ditambah ruangan dibawah ini :

1.

Ruang Probe & Counting


System

2.

Kekhususan untuk ruang


kamera gamma pada KN
Utama dibandingkan
dengan KN Madya dapat
dilihat pada kolom
kebutuhan fasilitas di
sebelah kanan kolom ini.

Ruang tempat melakukan


dengan gamma kamera.

Ruang tempat melakukan


dengan gamma kamera.

Kedokteran Nuklir dengan teknologi PET-CT

1.

Ruangan Tunggu Pasien


& Pengantar Pasien

2.

Ruang Administrasi dan


Rekam Medis.

3.

Ruang Konsultasi Dokter

4.

Ruang Ganti Petugas

5.

Ruang Pemberian Dosis

7.

Ruang Penyiapan
Radiofarmaka
Ruang Hot Lab.
(dilengkapi dengan ruang
dekontaminasi petugas)

8.

Ruang Cyclotron

9.

Ruang PET-CT (dilengkapi


ruang  elevis dan ruang
mesin)

10.

Ruang Up-Take

11.

Ruang Pemulihan

12.

Ruang Isolasi Terapi

13.
14.
15.
16.

Ruang penyimpanan
sementara limbah
radioaktif padat
Ruang Istirahat dan
Diskusi Dokter dan
Petugas
Ruang Kontrol Kualitas
(Quality Control)
Ruang pengolahan
/penanganan limbah cair

pencitraan

Ruang tempat melakukan tindakan dengan


probe.

IV.

6.

38

Ruang Pencacahan In
Vivo
Ruang penyimpanan
sementara limbah
radioaktif padat

pencitraan

Ruangan pasien & pengantar pasien


menunggu diberikannya pelayanan medik.
Ruangan untuk staf melaksanakan tugas
administrasi dan personalia dan ruangan
untuk penyimpanan sementara berkas film
pasien yang sudah dievaluasi.
Ruangan pemeriksaan klinis, baca film dan
konsultasi pasien oleh dokter spesialis
Kedokteran Nuklir.
Ruang untuk ganti pakaian, sebelum
petugas masuk ke area tindakan. Pada
kamar ganti sebaiknya disediakan lemari
pakaian/loker dengan kunci dipegang oleh
masing-masing petugas.
Ruang tempat penyuntikan/ pemberian
dosis  elevise ope ke tubuh pasien.
Ruang tempat menyiapkan dosis
radiofarmaka untuk pasien
Laboratorium dengan tingkat paparan
radiasi nuklir yang cukup tinggi, tempat
memformulasikan  elevise ope.
Ruang
tempat
penanganan
dan
penyimpanan
bahan
 elevise ope
sebagai bahan radiofarmaka.
Ruang tempat melakukan tindakan
penelusuran radioaktif terhadap pasien
pasca pemberian dosis dengan alat PETCT (Computed Tomograpy)
Ruang tempat memonitor pasien setelah
diberikan dosis tapi sebelum pencitraan.
Ruang tempat pemulihan kondisi pasien
setelah dilakukan radiasi dan pencitraan

Min. 12 m2

Sesuai Kebutuhan

Probe & Counting System


Set Gamma Kamera yang dilengkapi
Kollimator High Energy, Kollimator
LEHR(Low Energy High Resolution),
Kollimator LEHS (Low Energy High
Sensitivity)/ LEGP(Low Energy
General Purpose) dan Kollimator Pin
Hole.

1~1,5 m2/ orang

Tempat duduk, televisi dll

3~5 m2/ petugas

Alat tulis kantor, meja+kursi, loket,


lemari, telepon, faksimili, komputer,
printer, dan alat perkantoran lainnya.

Sesuai Kebutuhan

Meja, kursi, meja periksa, film viewer.

Sesuai Kebutuhan

Loker,
 elevise
baju
bersih
baju kotor
petugas,  elevise
petugas, dilengkapi toilet.

Sesuai Kebutuhan

Sink, brankar, meja, kursi pasien dan


kursi petugas.

Sesuai Kebutuhan

Sink, processing glass box untuk


penyiapan dosis radiofarmaka.

Sesuai Kebutuhan

Perlengkapan Hot lab.

Sesuai Kebutuhan

Cyclotron dengan perlakuan ruangan


khusus.

Sesuai Kebutuhan

PET-CT,
Mesin,
Perlengkapan
monitor dan  elevise operator, dll

Sesuai Kebutuhan
Sesuai Kebutuhan

Tt pasien,  elevise, monitor


pemantau radiasi, bedhead, dll
Tt pasien, bedhead, nurse stasion,
dll
Tt
pasien,
 elevise,
monitor
pemantau radiasi, meja, lemari,
bedhead, dilengkapi washtafel dan
toilet tersendiri.

Ruang tempat memonitor pasien setelah di


radiasi.

Sesuai Kebutuhan

Jelas, sesuai nama ruangan

Sesuai Kebutuhan

Kontainer khusus

Jelas, sesuai nama ruangan

Sesuai Kebutuhan

Sofa, kursi, meja, display, dll

Jelas, sesuai nama ruangan

Sesuai Kebutuhan

Sesuai Kebutuhan

Jelas, sesuai nama ruangan

Sesuai Kebutuhan

Sesuai Kebutuhan

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3. Persyaratan Khusus
Dinding/pintu mengikuti persyaratan khusus sistem labirin proteksi
radiasi.
Persyaratan teknis mengenai bangunan untuk menyelenggarakan
pelayanan radioterapi harus mengacu pada persyaratan yang ditetapkan
oleh BAPETEN.
Persyaratan pengkondisian udara :
a. Suhu sejuk dan nyaman lingkungan ialah pada 22 ~ 26 OC dengan
tekanan seimbang.
b. Kelembaban udara pada ruang radiasi/pemeriksaan/penyinaran ialah
antara 45~60%.
Tersedia penanganan/ pengelolaan limbah radioaktif khusus.
2.4.2

Fasilitas Pada Area Penunjang dan Operasional

2.4.2.1

Instalasi Farmasi (;Pharmacy)


1. Lingkup Sarana Pelayanan
Unit Farmasi direncanakan mampu untuk melakukan pelayanan :
1. Melakukan perencanaan, pengadaan dan penyimpanan obat, alat
kesehatan reagensia, radio farmasi, gas medik sesuai formularium RS.
2. Melakukan kegiatan peracikan obat sesuai permintaan dokter baik untuk
pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan
3. Pendistribusian obat, alat kesehatan, regensia radio farmasi & gas
medis.
4. Memberikan pelayanan informasi obat dan melayani konsultasi obat.
5. Mampu mendukung kegiatan pelayanan unit kesehatan lainnya selama
24 jam.
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel. 2.4.2.1
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Instalasi Farmasi

No.

Nama Ruangan

Ruang Peracikan Obat

Depo Bahan Baku Obat

Depo Obat Jadi


Gudang Perbekalan dan
Alat Kesehatan

4
5

Depo Obat Khusus


Ruang Administrasi
(Penerimaan dan
Distribusi Obat)

Fungsi
Ruang
tempat
melaksanakan
peracikan obat oleh asisten apoteker.
Ruang tempat penyimpanan bahan
baku obat.
Ruang tempat penyimpanan obat jadi
Ruang tempat penyimpanan
perbekalan dan alat kesehatan
Ruang tempat penyimpanan obat
khusus seperti untuk obat yang
termolabil, narkotika dan obat
psikotropika, dan obat berbahaya.
Ruang untuk melaksanakan kegiatan
administrasi kefarmasian RS, meliputi
kegiatan pencatatan keluar masuknya
obat, penerimaan dan distribusi obat.

Besaran Ruang
/ Luas
Min. 6 m2/ asisten
apoteker
(min. 36 m2)

Kebutuhan Fasilitas
Peralatan farmasi untuk persediaan,
peracikan dan pembuatan obat, baik
steril maupun non steril.

Sesuai kebutuhan

Lemari/rak

Sesuai kebutuhan

Lemari/rak

Sesuai kebutuhan

Lemari/rak

Sesuai kebutuhan

Lemari khusus , lemari pendingin


dan AC, kontainer khusus untuk
limbah sitotoksis, dll

Sesuai kebutuhan

Alat tulis kantor, meja+kursi, loket,


lemari, telepon, faksimili, komputer,
printer, dan alat perkantoran
lainnya.

Konter Apotik Utama


(Loket penerimaan
resep, loket pembayaran
dan loket pengambilan
obat)

Ruang
untuk
menyelenggarakan
kegiatan penerimaan resep pasien,
penyiapan obat, pembayaran, dan
pengambilan obat

3~5 m2/ petugas

Rak/lemari obat, meja, kursi,


komputer, printer, dan alat
perkantoran lainnya.

Ruang Loker Petugas


(Pria dan Wanita dipisah)

Tempat ganti pakaian, sebelum


melaksanakan tugas medik yang
diperuntukan khusus bagi staf medis.

Sesuai kebutuhan

Lemari loker

Ruang Rapat/Diskusi

Sesuai kebutuhan

Meja, kursi, peralatan meeting


lainnya.

10

Ruang Arsip Dokumen &


Perpustakaan

Sesuai kebutuhan

Lemari arsip, kartu arsip

Ruang
tempat
melaksanakan
kegiatan pertemuan dan diskusi
farmasi.
Ruang menyimpan dokumen resep
dan buku-buku kefarmasian.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

39

11

Ruang Kepala Instalasi


Farmasi

Ruang kerja dan istirahat kepala


Instalasi Farmasi.

Sesuai kebutuhan

Tempat tidur, sofa, lemari,


meja/kursi

12

Ruang Staf

Ruang kerja dan istirahat staf.

Sesuai kebutuhan

Tempat tidur, sofa, lemari,


meja/kursi

13

Ruang Tunggu

14

Dapur Kecil (;Pantry)

15

KM/WC (pasien,
petugas, pengunjung)

Ruang tempat pasien dan


pengantarnya menunggu menerima
pelayanan dari konter apotek.
Sebagai tempat untuk menyiapkan
makanan dan minuman bagi petugas
di Instalasi Farmasi RS.

1~1,5 m2/ orang

Tempat duduk, televisi & Telp umum


(bila RS mampu),

Sesuai kebutuhan

Kursi+meja untuk makan, sink, dan


perlengkapan dapur lainnya.

KM/WC

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

Ruang
tempat
melaksanakan
peracikan obat oleh asisten apoteker.

Min. 6 m2/ asisten


apoteker
(min. 36 m2)

Peralatan farmasi untuk persediaan,


peracikan dan pembuatan obat, baik
steril maupun non steril.

Ruang tempat penyimpanan bahan


baku obat.
Ruang tempat penyimpanan obat jadi
Ruang tempat penyimpanan bahan
perbekalan.

Sesuai kebutuhan

Lemari/rak

Sesuai kebutuhan

Lemari/rak

Sesuai kebutuhan

Lemari/rak

Ruang Apoteker

Ruang kerja dan istirahat Apoteker.

Sesuai kebutuhan

Tempat tidur, sofa, lemari,


meja/kursi

Ruang Loker Petugas


(Pria dan Wanita dipisah)

Tempat ganti pakaian, sebelum


melaksanakan tugas medik yang
diperuntukan khusus bagi staf medis.

Sesuai kebutuhan

Lemari loker

Unit Apotik Satelit


Ruang Racik Obat
Depo Bahan Baku
Depo Obat jadi
Gudang Perbekalan

16
Ruang Tunggu

Konter Apotek
Ruang Administrasi
(Penerimaan dan
Distribusi Obat)

Ruang tempat pasien dan


pengantarnya menunggu menerima
pelayanan dari konter apotek.
Ruang
untuk
menyelenggarakan
kegiatan penerimaan resep pasien,
penyiapan obat, pembayaran, dan
pengambilan obat
Ruang untuk melaksanakan kegiatan
administrasi kefarmasian RS, meliputi
kegiatan pencatatan keluar masuknya
obat, penerimaan dan distribusi obat.

1~1,5 m2/ orang


(min. 36 m2)
3~5 m2/ petugas

3~5 m2/ petugas

Ruang Staf

Ruang kerja dan istirahat staf.

Sesuai kebutuhan

Dapur Kecil (;Pantry)

Sebagai tempat untuk menyiapkan


makanan dan minuman bagi petugas
di Instalasi Farmasi RS.

Sesuai kebutuhan

Tempat duduk, televisi & Telp umum


(bila RS mampu),
Rak/lemari obat, meja, kursi,
komputer, printer, dan alat
perkantoran lainnya.
Alat tulis kantor, meja+kursi, loket,
lemari, telepon, faksimili, komputer,
printer, dan alat perkantoran
lainnya.
Tempat tidur, sofa, lemari,
meja/kursi
Kursi+meja untuk makan, sink, dan
perlengkapan dapur lainnya.

3. Persyaratan Khusus
x Lokasi instalasi farmasi harus menyatu dengan sistem pelayanan RS.
x Antara fasilitas untuk penyelenggaraan pelayanan langsung kepada
pasien, distribusi obat dan alat kesehatan dan manajemen dipisahkan.
x Harus disediakan penanganan mengenai pengelolaan limbah khusus
sitotoksis dan obat berbahaya untuk menjamin keamanan petugas,
pasien dan pengunjung.
x Harus disediakan tempat penyimpanan untuk obat-obatan khusus seperti
Ruang untuk obat yang termolabil, narkotika dan obat psikotropika serta
obat/ bahan berbahaya.
x Gudang penyimpanan tabung gas medis (Oksigen dan Nitrogen) Rumah
Sakit diletakkan pada gudang tersendiri (di luar bangunan instalasi
farmasi).
x Tersedia ruang khusus yang memadai dan aman untuk menyimpan
dokumen dan arsip resep.
x Mengingat luasnya area RS kelas B, maka untuk memudahkan
pengunjung RS mendapatkan pelayanan kefarmasian, disarankan
memiliki apotek-apotek satelit dengan fasilitas yang sama dengan apotek
utama.

40

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4. Alur kegiatan.
1. Alur Pasien dan pengunjung
Pasien/
Pengunjung

Pulang

Loket Penerimaan
Resep

Loket Pembayaran

Pengambilan Obat

Ruang Tunggu

2. Alur Petugas Instalasi Farmasi


Konter
Apotek
Petugas/
staf

Loker

Ruang
Peracikan
Ruang Administrasi,
Penerimaan & Distribusi Obat

3. Alur Barang

Obat / Barang
Perbekalan Masuk

Depo Bahan
Baku

Ruang
Peracikan

Konter
Apotek

Depo Obat Jadi


Ruang Administrasi,
(Penerimaan Obat &
Barang Perbekalan)

Gudang Perbekalan dan Alat


Medis

R. Administrasi,
(Distribusi Obat
dan Barang
Perbekalan)

Depo Obat Khusus

Gudang Penyimpanan
Tabung gas medis

Obat / Barang
Perbekalan Keluar

Gambar 2.4.2.1 Alur Kegiatan Pada Instalasi Farmasi.


2.4.2.2. Instalasi Radiodiagnostik
Radiologi adalah Ilmu kedokteran yang menggunakan teknologi pencitraan/
imejing (;imaging technologies) untuk mendiagnosa dan pengobatan penyakit.
Merupakan cabang ilmu kedokteran yang berkaitan dengan penggunaan sinar-X
(;X-Ray) yang dipancarkan oleh pesawat sinar-X atau peralatan-peralatan
radiasi lainnya dalam rangka memperoleh informasi visual sebagai bagian dari
pencitraan/imejing kedokteran (;medical imaging).
Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

41

1. Lingkup Sarana Pelayanan


Instalasi Radiologi melakukan pelayanan sesuai kebutuhan dan permintaan
dari unit-unit kesehatan lain di RSU tersebut. Unit Radiologi dapat pula
melayani permintaan dari luar.
Pelayanan Radiologi pada Rumah Sakit Kelas B yaitu :
1. Radiodiagnostik, terdiri dari pemeriksaan general X-Ray, fluoroskopi,
Tomografi, Angiografi, Ultrasonografi, CT-Scan, MRI.
2. Radioterapi,
3. Kedokteran Nuklir pada RS Kelas B memberikan pelayanan tergantung
dari kemampuan RS. Pilihannya adalah :
- Kedokteran nuklir tingkat pratama (diagnostik in-vivo)
- Kedokteran nuklir tingkat madya (diagnostik in-vivo dan in-vitro)
- Kedokteran nuklir tingkat madya+ (diagnostik in-vivo, in-vitro dan
kamera gamma)
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel. 2.4.2.2
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Instalasi Radiodiagnostik
No.

Nama Ruangan

Fungsi Ruangan

Besaran Ruang /
Luas

Kebutuhan Fasilitas

1.

Ruangan Tunggu Pasien


& Pengantar Pasien

Ruangan pasien & pengantar pasien


menunggu diberikannya pelayanan medik.

1~1,5 m2/ orang

Tempat duduk, televisi & Telp umum


(bila RS mampu),

2.

Ruang Administrasi dan


Rekam Medis.

Ruangan untuk staf melaksanakan tugas


administrasi dan personalia dan ruangan
untuk penyimpanan sementara berkas film
pasien yang sudah dievaluasi.

3~5 m2/ petugas

Alat tulis kantor, meja+kursi, loket,


lemari, telepon, faksimili, komputer,
printer, dan alat perkantoran lainnya.

3.

Loket Pendaftaran,
pembayaran dan
pengambilan hasil

Ruang tempat pasien melakukan


pendaftaran, tempat pembayaran dan
sebagai tempat mengambil hasil
pemeriksaan

3~5 m2/ petugas

Rak/lemari berkas, meja, kursi,


komputer, printer, dan alat
perkantoran lainnya.

4.

Ruang Konsultasi Dokter

5.

Ruang ahli fisika medis


Ruang Pemeriksaan
a. General

6.

Ruangan tempat membaca film hasil


diagnosa pasien dan tempat pasien
konsultasi medis dengan Dokter spesialis
radiologi.
Ruangan kerja dan penyimpanan alat ahli
fisika medis

Sesuai Kebutuhan

Meja, kursi, film viewer.

Sesuai Kebutuhan

Lemari alat monitor radiologi, kursi,


meja, wastafel.

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


diagnostik umum

Min. 12 m2

General X-Ray unit (bed dan


standing unit dengan bucky)

b. Tomografi

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


diagnostik tomografi (jaringan lunak)

Min. 12 m2

X-Ray Tomografi unit (bed dan/


standing unit dengan bucky)

c.

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


diagnostik fluoroskopi

Min. 12 m2

X-Ray Fluoroskopi unit, bed unit


dengan bucky

d. Ultra SonoGrafi (USG)

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


diagnostik jaringan lunak menggunakan
USG

Min. 9 m2

General USG unit dengan multi


probe sesuai kebutuhan pelayanan
RS.

e. Angiografi

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


diagnostik angiografi

Min. 9 m2/bed unit

f.

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


komputer tomografi

Min. 12 m2

CT-Scan, meja pasien (;automatic


adjustable patient table)

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


diagnostik dengan menggunakan alat MRI

Min. 18 m2

MRI, meja pasien (;automatic


adjustable patient table)

Min. 4 m2

Meja kontrol, Komputer

Fluoroskopi

CT-Scan

g. MRI (; Magnetic
Resonance Imaging)

X-Ray angiografi unit, bed unit


dengan bucky, Monitor

Ruang-ruang Penunjang (Pada tiap-tiap ruang pemeriksaan diatas kecuali USG)


Ruang operator/ panel
kontrol
Ruang Mesin
Ruang ganti pasien
KM/WC pasien

42

Ruang tempat mengendalikan/


mengkontrol pesawat X-Ray
Ruang tempat meletakkan
transformator/genetaor/CPU
Ruang tempat pasien berganti pakaian
dan menyimpan barang milik pribadi.
KM/WC

Min. 4 m2
Min. 4 m2
@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Transformator/genetaor/CPU
tomografi unit
Lemari baju bersih, kontainer baju
kotor, kaca, hanger
Kloset, wastafel, bak air

7.

Kamar gelap (Bila tidak


menggunakan AFP
(;Automatic Film
Processor) digital ataupun
AFP kering)

Ruang tempat memproses film, terdiri dari


2 area; daerah basah dan daerah kering.

Sesuai Kebutuhan

Automatic film processor (AFP), sink


& waste liquid container

Sesuai Kebutuhan

Tempat tidur, Kursi, meja, wastafel.

Sesuai Kebutuhan

Lemari arsip

Sesuai Kebutuhan

Perlengkapan dapur

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

8.

Ruang Jaga Radiografer

Ruang tempat istirahat radiografer cito

9.

Gudang penyimpanan
berkas

10.

Dapur Kecil (;Pantry)

Ruang tempat penyimpanan berkas hasil


pemeriksaan.
Sebagai
tempat
untuk
menyiapkan
makanan dan minuman bagi mereka yang
ada di Ruang Radiologi Rumah Sakit dan
sebagai tempat istirahat petugas.

11.

KM/WC petugas

KM/WC

3. Persyaratan Khusus
Lokasi ruang radiologi mudah dicapai, berdekatan dengan instalasi gawat
darurat, laboratorium, ICU, dan instalasi bedah sentral.
Sirkulasi bagi pasien dan pengantar pasien disarankan terpisah dengan
sirkulasi staf.
Ruang konsultasi dilengkapi dengan fasilitas untuk membaca film.
Dinding/pintu mengikuti persyaratan khusus sistem labirin proteksi
radiasi.
Ruangan gelap dilengkapi exhauster.
Persyaratan pengkondisian udara :
a. Suhu sejuk dan nyaman lingkungan ialah pada 22 ~ 26 OC dengan
tekanan seimbang.
b. Kelembaban udara pada ruang radiasi/pemeriksaan/penyinaran ialah
antara 45~60%.
Tersedia pengelolaan limbah radiologi khusus.
4. Alur kegiatan.
1. Alur Pasien
PASIEN
-

Poliklinik
Bagian/Inst. Lain
Dr. Praktek
Puskesmas

Umum

ASKES/
Jamsostek/JPS

Loket Pendaftaran
Pasien Umum

Loket Pendaftaran
Pasien ASKES

Loket Pembayaran
Pasien Umum

Loket Pembayaran
Pasien ASKES

Ruang Tunggu

Loket
Pengambilan
Hasil

Ruang Pemeriksaan
Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

43

2. Alur Film
Pengambilan Foto
(R. Pemeriksaan)

Processing Film
(Kamar Gelap/ AFP)

Identifikasi Foto

Hasil

Interpretasi
(R. Konsultasi Dokter)

Gambar 2.4.2.2 Alur Kegiatan Pada Instalasi Radiologi Radiodiagnostik.


2.4.2.3

Instalasi Laboratorium
1. Lingkup Sarana Pelayanan
Laboratorium direncanakan mampu melayani tiga bidang keahlian yaitu
patologi klinik, patologi anatomi dan forensik sampai batas tertentu dari
pasien rawat inap, rawat jalan serta rujukan dari rumah sakit umum lain,
Puskesmas atau Dokter Praktek Swasta.
Pemeriksaan laboratorium pada Rumah Sakit Kelas B adalah :
1. Patologi klinik dengan pemeriksaan :
- Hematologi sederhana
- Hematologi lengkap
- Hemostasis penyaring dan bank darah
- Analisis urin dan tinja dan cairan tubuh lain
- Serologi sederhana/ immunologi
- Parasitologi dan mikologi
- Mikrobiologi
- Bakteriologis air
- Kimia Klinik
2. Patologi Anatomi
- Histopatologi lengkap
- Sitologi lengkap
- Histokimia
- Imunopatologi
- Patologi Molekuler
3. Forensik, yaitu melakukan pelayanan kamar mayat dan bedah mayat
forensik
- Otopsi forensik
- Perawatan/pengawetan mayat
- Visum et repertum mayat
- Visum et repertum korban hidup
- Medikolegal
- Pemeriksaan histopatologi forensik
- Pemertiksaan serologi forensik
- Pemeriksaan forensik lain
- Toksikologi forensik
Pelayanan laboratorium tersebut dilengkapi pula oleh fasilitas berikut :
x Blood Sampling
x Administrasi penerimaan spesimen
x Gudang regensia & bahan kimia
x Fasilitas pembuangan limbah
x Perpustakaan, atau setidaknya rak-rak buku

44

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas


Tabel. 2.4.2.3
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Instalasi Laboratorium
No.

Nama Ruangan

Fungsi Ruangan

Besaran Ruang /
Luas

Kebutuhan Fasilitas

3~5 m2/ petugas

Meja, kursi, computer, printer, lemari,


lemari arsip, dan peralatan kantor
lainnya.

1~1,5 m2/ orang


(min. 25 m2)

Tempat duduk, televisi & Telp umum


(bila RS mampu),

Sesuai Kebutuhan

Meja. Kursi, jarum suntik dan


pipetnya, container urin, timbangan,
tensimeter.

A.

LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK

1.

Ruang Administrasi dan


Rekam Medis
(Terdapat loket
pendaftaran, loket
pembayaran, dan loket
pengambilan hasil)

2.

Ruang Tunggu Pasien


& Pengantar Pasien

3.

Ruang Pengambilan/
Penerimaan Bahan/
Sample

4.

Bank Darah

Ruang tempat pengambilan dan


penyimpanan persediaan darah.

Sesuai Kebutuhan

Meja, kursi, refrigerator, freezer,


blood pack transporter, blood bank,
thermosealer, dll

5.

Ruang Konsultasi

Ruang tempat konsultasi pasien


dengan dokter spesialis Patologi
klinik.

Sesuai Kebutuhan

Meja, kursi, dan peralatan kantor


lainnya.

Ruangan untuk staf melaksanakan


tugas administrasi, pendaftaran,
pembayaran dan pengambilan
hasil serta ruangan untuk
penyimpanan sementara berkas
film pasien yang sudah dievaluasi.
Ruangan pasien & pengantar
pasien menunggu diberikannya
pelayanan lab.
Ruang tempat pengambilan
sample darah, pengumpulan
sample urin, feses.
Ruangan ini dilengkapi dengan
toilet untuk pengambilan sampel
urin dan feses

6.

Laboratorium Sero
Imunologi

Ruang pemeriksaan/ analilsis sero


imunologi

Sesuai Kebutuhan
dan jenis alat yang
dipergunakan

7.

Laboratorium Kimia Klinik

Ruang pemeriksaan/ analilsis kimia


klinik.

Sesuai Kebutuhan
dan jenis alat yang
dipergunakan

8.

Laboratorium Hematologi

Ruang pemeriksaan/ analilsis


hematologi dan hemostasis, dll

Sesuai Kebutuhan
dan jenis alat yang
dipergunakan

9.

Laboratorium Mikrobiologi

Ruang pemeriksaan/ analilsis


mikrobiologi

Sesuai Kebutuhan
dan jenis alat yang
dipergunakan

Ruang pemeriksaan/ analilsis urin

Sesuai Kebutuhan
dan jenis alat yang
dipergunakan

Laboratorium Urinalis
10.

Ket : Lab. Ini dapat


digabungkan dengan lab.
Lain.

Mikroskop fluorescence, sentrifuge,


waterbath, autoanalyzer imunologi,
rotator shaker, refrigerator, freezer,
incubator, pipet otomatis dengan
berbagai ukuran, pipet volume
dengan berbagai ukuran, washing
sink.
Meja lab, spektrofotometer, sentrifus,
water bath, electrophoresis protein,
autoanalyzer kimia, electrolyte
analyzer, incubator, timbangan
analitik, blood gas analyzer, pipet
otomatis dengan berbagai ukuran,
pipet volume dengan berbagai
ukuran, washing sink
Meja lab, spektrofotometer,
autoanalyzer untuk hemostasis,
autoanalyzer untuk hematologi,
hematologi elektrophoresis,
mikroskop binokuler, mikroskop
binokuler dengan digital recorder,
sentrifus, sentrifus hematokrit, water
bath, Dift counter digital dan manual,
rolling mixer/ rotator, incubator,
haemocitometer, refractometer,
refrigerator, pipet otomatis dengan
berbagai ukuran, pipet volume
dengan berbagai ukuran, washing
sink, timer, stopwatch
Analytical balance, autoclave,
automatic analyzer microbiologi,
sterilisator kering dan basah,
incubator, loop/kaca pembesar,
mikropscope fluorescence,
microscope binocular dengan digital
reader, microscope binocular,
microtitation plate incubator, petri
dish, reader antibiotic, reader patri
dish, rotator shaker, automatic reader
analyzer untuk identifikasi dan
resistensi kuman, pipet otomatis
dengan berbagai ukuran, Bunsen,
densimat, bio safety cabinet (BSC),
anaerobic jar, washing sink
Automatic urin analyzer, sentrifus,
laboratory refrigerator, microscope
binocular, refractometer, water bath,
washing sink

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

45

11.

Ruang Penyimpanan Bio


Material

Ruang tempat penyimpanan bio


material

Sesuai Kebutuhan
dan jenis alat yang
dipergunakan

Rak, refrigerator, freezer, dll

12.

Ruang Sputum/ Dahak

Ruang tempat pengambilan


specimen dahak

Sesuai Kebutuhan
dan jenis alat yang
dipergunakan

Ruangan dengan resiko pajanan


tinggi, dilengkapi fasilitas
penggantian/pertukaran udara
(exhause fan)

13.

Gudang Regensia dan


Bahan Habis Pakai

Sesuai Kebutuhan

Rak/Lemari

14.

Ruang Cuci Peralatan

Sesuai Kebutuhan

Lemari, sink

15.

Ruang Diskusi dan


Istirahat Personil.

Sesuai Kebutuhan

Meja, kursi, lemari, dll

16.

Ruang Kepala
Laboratorium

Sesuai Kebutuhan

Kursi, meja, computer, printer, dan


peralatan kantor lainnya.

17.

Ruang Petugas
Laboratorium

Sesuai Kebutuhan

Kursi, meja, sofa, lemari

18.

Ruang Ganti/ Loker

Sesuai Kebutuhan

loker

19.

Dapur Kecil (;Pantry)

Sesuai Kebutuhan

Perlengkapan dapur, kursi, meja,


sink

20.

KM/WC pasien

KM/WC dan pengambilan sample


urin

21.

KM/WC petugas

KM/WC

B.

LABORATORIUM PATOLOGI ANATOMI

C.

LABORATORIUM KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

Ruang tempat penyimpanan


regensia bersih dan bahan habis
pakai.
Ruang tempat pencucian regensia
bekas pakai.
Ruang tempat diskusi dan istirahat
personil/ petugas lab.
Ruang tempat kepala laboratorium
bekerja dan melakukan kegiatan
perencanaan dan manajemen.
Ruang tempat istirahat petugas
laboratorium.
Ruang tempat ganti pakaian
petugas laboratorium.
Sebagai tempat untuk menyiapkan
makanan dan minuman bagi
mereka yang ada di Instalasi
CSSD dan sebagai tempat istirahat
petugas.

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2
@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air


Kloset, wastafel, bak air

3. Persyaratan Khusus
Letak laboratorium/sub laboratorium mudah dijangkau, disarankan untuk
gedung RS bertingkat, laboratorium terletak pada lantai dasar, dan dekat
dengan instalasi rawat jalan, instalasi bedah, ICU, Radiologi dan
Kebidanan. Untuk laboratorium forensik letaknya di daerah non publik
(bukan area umum).
Dinding dilapisi oleh bahan yang mudah dibersihkan, tidak licin dan
kedap air setinggi 1,5 m dari lantai (misalnya dari bahan keramik atau
porselen).
Lantai dan meja kerja laboratorium dilapisi bahan yang tahan terhadap
bahan kimia dan getaran serta tidak mudah retak.
Akses masuk petugas dengan pasien/pengunjung disarankan terpisah.
Pada tiap-tiang ruang laboratorium dilengkapi sink (wastafel) untuk cuci
tangan dan tempat cuci alat
Harus mempunyai instalasi pengolahan limbah khusus.

46

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4. Alur kegiatan.
Alur kegiatan pada Instalasi laboratorium adalah sebagai berikut :
Pasien Rawat Inap

Pasien dan/ pengantar


pasien

Pendaftaran

Pasien Umum

Loket Pembayaran

ASKES/ Jaminan

Lengkapi Berkas

Tim Pengendali
Pengambilan Sample/
Pemeriksaan

Nota Persetujuan

Ruang Tunggu

Hasil

Gambar 2.4.2.3. Alur Kegiatan Pada Instalasi Laboratorium Patologi Klinik.


2.4.2.4

Bank Darah / Unit Transfusi darah (BDRS / UTDRS)


Unit Transfusi Darah Rumah Sakit (UTDRS) adalah unit yang berfungsi sebagai
pengelola penyediaan darah transfusi yang aman, berkualitas dan efektif, mulai
dari pengerahan pendonor sukarela resiko rendah sampai dengan ketersediaan
darah aman serta pendistribusiannya kepada rumah sakit.
Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) merupakan suatu unit pelayanan di rumah
sakit yang bertanggung jawab atas tersedianya darah untuk transfusi yang
aman, berkualitas dan dalam jumlah yang cukup untuk mendukung pelayanan
kesehatan di rumah sakit.
1. Lingkup Sarana Pelayanan
Peran UTDRS adalah sebagai berikut :
a. Mengerahkan dan melestarikan donor darah sukarela tanpa pamrih dari
masyarakat resiko rendah
b. Melakukan seleksi donor darah
c. Melaksanakan pemeriksaan golongan darah dan rhesus donor
d. Melakukan pengambilan darah donor
e. Melakukan uji saring darah donor terhadap penyakit infeksi menular (HIV,
Hepatitis B, Hepatitis C dan sifilis)
f. Melakukan pemisahan darah menjadi komponen-komponennya
g. Melaksanakan penyimpanan darah sementara
Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

47

h. Melakukan distribusi darah


i. Melakukan penyelidikan kejadian reaksi transfusi darah dan kasus
inkompatibilitas.
Peran BDRS adalah sebagai berikut :
a. Menerima darah dari UTD yang telah memenuhi syarat uji saring (non
reaktif) dan telah dikonfirmasi golongan darah.
b. Menyimpan darah dan memantau suhu simpan darah.
c. Memantau persediaan darah harian/ mingguan.
d. Melakukan pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus pada kantong
darah donor dan darah resipien.
e. Melakukan uji silang serasi antara darah donor dan darah resipien.
f. Menyerahkan darah yang cocok untuk pasien kepada petugas rumah
sakit yang diberi kewenangan.
g. Melacak penyebab terjadinya reaksi transfusi.
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel. 2.4.2.4
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Bank darah / Unit Transfusi Darah (BDRS/UTDRS)
Nama Ruangan

Besaran Ruang /

Fungsi Ruangan

Luas

No.
Ruang ini digunakan untuk
menyelenggarakan kegiatan :
1. Pendataan persediaan darah,
permintaan dan pengambilan
darah untuk pasien.
2. Loket tempat pengisian formulir
permintaan darah oleh keluarga
pasien.
3. Loket tempat pengambilan darah
4. Loket tempat pembayaran.
Ruang di mana keluarga pasien/
pendonor menunggu. Ruang ini perlu
disediakan tempat duduk dengan
jumlah yang sesuai aktivitas
pelayanan.
Ruang tempat meletakkan lemari
pendingin
untuk
penyimpanan
kantong darah.

1.

Ruang Administrasi
x Loket Permintaan
Darah
x Loket Pengambilan
Darah
x Loket Pembayaran

2.

Ruang Tunggu

3.

Ruang Penyimpanan
Darah (Blood Bank Room)

4.

Laboratorium Skrining
Darah (Blood Screening
Lab.)

Ruang
tempat
penyaringan/
penapisan/ penyeleksian kualitas dan
keamanan darah.

5.

Ruang Donor Darah

Ruang tempat
darahnya.

6.

Ruang Pemberian
Makanan Pasca Donor

7.

Ruang Kepala dan Staf


BDRS/UTDR

8.

Gudang

9.

KM/WC petugas

KM/WC

10.

KM/WC pendonor

KM/WC

pendonor

diambil

Ruang tempat pemberian makanan


dan suplemen kepada pendonor
pasca donor.
Ruang tempat kepala dan staf
BDRS/UTDRS
bekerja
dan
melakukan kegiatan perencanaan dan
manajemen.
Ruang tempat penyimpanan
perlengkapan dan perbekalan BDRS/
UTDRS

3~5 m2/ petugas


(min. 30 m2)

1~1,5 m2/ orang


(min. 30 m2)

Kebutuhan Fasilitas

Meja, kursi, lemari berkas/arsip,


intercom/telepon, safety box

Kursi, Meja, Televisi & Alat


Pengkondisi Udara (AC / Air
Condition)

Tergantung
Kebutuhan

Kulkas/ lemari pendingin


penyimpanan darah.

Tergantung jenis
dan jumlah
parameter alat
screening darah

Alat-alat screening darah

Tergantung tempat
tidur pendonor
yang disediakan.

Tt pendonor dilengkapi dengan


kantung darah (Blood pack),
tensimeter, stetoskop, kursi
petugas

Tergantung
kebutuhan

Meja, Kursi, dispenser, kulkas


makanan, kompor pemanas

Min. 1,5 m2/


petugas

Kursi, meja, computer, printer,


dan peralatan kantor lainnya.

Tergantung
kebutuhan

Lemari penyimpanan

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2
@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air


Kloset, wastafel, bak air

3. Persyaratan Khusus
1. Laboratorium skrining darah dilengkapi bak pencuci (sink) untuk
membersihkan peralatan laboratorium.

48

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

2. Ruangan harus mudah dibersihkan, tidak menggunakan warna-warna


yang menyilaukan.
3. Suhu ruangan harus dijaga antara 220- 270 C dengan kelembaban 50
70 %.
4. Stop kontak pada ruang penyimpanan darah dilengkapi dengan Catu
Daya Pengganti Khusus (CDPK/UPS)
5. Memiliki sistem pembuangan air yang baik.
4. Alur kegiatan.
Keluarga Pasien/ Petugas
RS yang diberi
kewenangan

Loket Permintaan Darah


Keluarga cari
pendonor

Persediaan
Darah ada/
tidak

Ya

Tidak

Pemeriksaan Darah
Pendonor

Pengambilan Darah
dari Pendonor

Loket Pembayaran

Proses Skrining Darah

Loket Pengambilan Darah

Penyimpanan Darah
(Blood Bank)

Gambar 2.4.2.4 Alur Kegiatan Pada BDRS/ UTDRS


2.4.2.5

Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT)


IDT adalah instalasi yang mempunyai peranan penting dalam mendukung
pelayanan internalisasi diagnostik pencitraan di rumah sakit. Umumnya, IDT
merupakan instalasi unggulan dalam pelayanan di rumah sakit.
1. Lingkup Sarana Pelayanan
Pelayanan dalam IDT disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan rumah
sakit, jenis pemeriksaan dengan peralatan pencitraan diantaranya adalah :
1. Pemeriksaan dengan Ultra SonoGrafi (USG)
2. Pemeriksaan dengan Ultra SonoGrafi (USG) 3 Dimensi
3. Pemeriksaan dengan Ultra SonoGrafi (USG) 4 Dimensi
4. Pemeriksaan dengan Elektro Kardiogram (EKG)
5. Pemeriksaan dengan Endoscopy
6. Pemeriksaan dengan Electro EEG
7. Pemeriksaan dengan Echo jantung sonografi
8. Treadmil, dll
Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

49

2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas


Tabel. 2.4.2.5
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Instalasi Radiodiagnostik
No.

Nama Ruangan

1.

Ruangan Tunggu Pasien


& Pengantar Pasien

2.

Ruang Administrasi dan


Rekam Medis.

3.

Loket Pendaftaran,
pembayaran dan
pengambilan hasil

4.

Ruang Konsultasi Dokter

5.

Ruang Kepala IDT


Ruang Pemeriksaan
a. Ultra SonoGrafi (USG)
b. Ultra SonoGrafi (USG) 3D

c. Ultra SonoGrafi (USG) 4D

Ruangan pasien & pengantar pasien


menunggu diberikannya pelayanan medik.
Ruangan untuk staf melaksanakan tugas
administrasi dan personalia dan ruangan
untuk penyimpanan sementara berkas film
pasien yang sudah dievaluasi.
Ruang tempat pasien melakukan
pendaftaran, tempat pembayaran dan
sebagai tempat mengambil hasil
pemeriksaan

Besaran Ruang /
Luas

Kebutuhan Fasilitas

1~1,5 m2/ orang

Tempat duduk, televisi & Telp umum


(bila RS mampu),

3~5 m2/ petugas

Alat tulis kantor, meja+kursi, loket,


lemari, telepon, faksimili, komputer,
printer, dan alat perkantoran lainnya.

3~5 m2/ petugas

Rak/lemari berkas, meja, kursi,


komputer, printer, dan alat
perkantoran lainnya.

Ruangan tempat membaca film hasil


diagnosa pasien dan tempat pasien
konsultasi medis dengan Dokter spesialis
radiologi.

Sesuai Kebutuhan

Meja, kursi, film viewer.

Ruangan kerja kepala IDT

Sesuai Kebutuhan

Lemari, meja, kursi dll

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


diagnostik jaringan lunak menggunakan
USG

Min. 9 m2/ bed unit

General USG unit dengan multi


probe sesuai kebutuhan pelayanan
RS.

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


diagnostik jaringan lunak menggunakan
USG 3D

Min. 9 m2/bed unit

USG 3 Dimensi unit.

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


diagnostik jaringan lunak menggunakan
USG 4D

Min. 9 m2/bed unit

USG 4 Dimensi unit.

d. Electro Cardiograph (EKG)

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


diagnostik jaringan lunak menggunakan
Electro Cardiograph (EKG)

Min. 9 m2/bed unit

EKG Unit, bed, dll

e. Endoscopy
(Dilengkapi ruang kontrol
dan ruang mesin)

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


menegakkan diagnosis dan mengobati
kelainan atau penyakit saluran cerna atas
maupun saluran cerna bawah

Sesuai Kebutuhan

Endoscopy unit

f. Electroenchepalograph
(EEG)

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


diagnostik jaringan lunak menggunakan
Electroenchepalograph (EEG)

Min. 9 m2/bed unit

EEG unit

g. Echo Cardio Sonografi

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


diagnostik jaringan lunak menggunakan
Echo Cardio Sonografi

Sesuai Kebutuhan

Echo Cardio Sonografi unit

h. Treadmil

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


diagnostik kondisi jantung

Sesuai Kebutuhan

treadmil

Ruang Petugas

Ruang tempat istirahat petugas

Sesuai Kebutuhan

Tempat tidur, Kursi, meja, wastafel.

Sesuai Kebutuhan

Lemari arsip

Sesuai Kebutuhan

Perlengkapan dapur

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

6.

7.

Fungsi Ruangan

9.

Ruang Arsip

10.

Dapur Kecil (;Pantry)

11.

KM/WC petugas

Ruang tempat penyimpanan berkas hasil


pemeriksaan.
Sebagai
tempat
untuk
menyiapkan
makanan dan minuman bagi petugas dan
sebagai tempat istirahat petugas.
KM/WC

3. Persyaratan Khusus
Lokasi IDT mudah dicapai, berdekatan dengan instalasi rawat jalan.
Ruang konsultasi dilengkapi dengan fasilitas untuk membaca film.
Persyaratan pengkondisian udara :
a. Suhu sejuk dan nyaman lingkungan ialah pada 22 ~ 26 OC dengan
tekanan seimbang.
b. Kelembaban udara pada ruang radiasi/pemeriksaan/penyinaran ialah
antara 45~60%.

50

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4. Alur kegiatan.
1. Alur Pasien
PASIEN
-

Pasien Rawat Jalan


Bagian/Inst. Lain
Dr. Praktek
Puskesmas

Umum

ASKES/
Jamsostek/JPS

Loket Pendaftaran Pasien


Umum

Loket Pendaftaran Pasien


ASKES

Loket Pembayaran Pasien


Umum

Loket Pembayaran Pasien


ASKES

Loket
Pengambilan
Hasil

Ruang Tunggu

Ruang Pemeriksaan

Gambar 2.4.2.5 Alur Kegiatan Pada Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT)


2.4.2.6

Instalasi Pemulasaraan Jenazah dan Forensik


1. Lingkup Sarana Pelayanan
Fungsi Ruang Jenazah adalah :
1. Tempat meletakkan/penyimpanan sementara jenazah sebelum diambil
keluarganya.
2. Tempat memandikan/dekontaminasi jenazah.
3. Tempat mengeringkan jenazah setelah dimandikan
4. Otopsi jenazah.
5. Ruang duka dan pemulasaraan.
6. Laboratorium patologi anatomi
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel. 2.4.2.6
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Instalasi Pemulasaraan Jenazah

No.

1.
2.

3.

4.

Nama Ruangan

Ruang Administrasi
Ruang Tunggu Keluarga
Jenazah
Ruang Duka
(dilengkapi toilet)

Fungsi Ruangan

Besaran Ruang /
Luas

Kebutuhan Fasilitas

Ruang para Petugas melaksanakan


kegiatan administrasi, keuangan dan
personalia.

3~5 m2/ petugas


(min. 6 m2)

Meja, kursi, lemari berkas/arsip,


intercom/telepon, safety box

Ruangan keluarga jenazah menunggu

1~1,5 m2/ orang


(min. 12 m2)

Tempat duduk, televisi & Telp umum

Ket : Min. 3 ruang duka

Ruang
tempat
menyemayamkan
jenazah sementara sebelum dibawa
pulang. Dilengkapi dengan ruang hias,
ruang tidur penunggu keluarga.

Gudang perlengkapan
Ruang Duka

Ruang penyimpanan perlengkapan


yang diperlukan pada ruang duka.

Min. 45 m2/ ruang


duka

Min. 9 m2

Kursi, perlengkapan ruang tidur, toilet


beserta fasilitasnya.
Lemari/rak, kursi, meja, penyangga
jenazah, peti mati, mimbar, alat2
upacara keagamaan, dll

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

51

5.

Ruang Dekontaminasi dan


Pemulasaraan Jenazah

Ruang
tempat
memandikan/
dekontaminasi serta pemulasaraan
jenazah (pengkafanan untuk jenazah
muslim/ pembalseman & pemulasaraan
lainnya untuk jenazah non-muslim) .

6.

Laboratorium Otopsi

Ruang
tempat
dokter
forensik
melakukan kegiatan otopsi jenazah

7.

Ruang Pendingin Jenazah

Ruang Pendingin Jenazah

8.

Ruang Ganti Pakaian APD


(dilengkapi dengan toilet)

9.

Ruang Kepala Instalasi


Pemulasaraan Jenazah

10.

Ruang Jemur Alat

11.

Gudang instalasi forensik

12.

KM/WC petugas/
pengunjung

Ruang Ganti pakaian petugas sebelum


dan sesudah melakukan kegiatan
otopsi.
Ruang tempat kepala Instalasi bekerja
dan melakukan kegiatan perencanaan
dan manajemen.
Ruang pengeringan/ jemur alat-alat/
perabot yang telah digunakan.
Ruang penyimpanan alat-alat serta
perabot yang diperlukan pada instalasi
pemulasaraan jenazah.

Min. 18 m2

Min. 24 m2
1 lemari pendingin
min. 21 m2
Sesuai Kebutuhan
Min. 6 m2
12 m2
Min. 9 m2
@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

KM/WC

Shower dan sink, brankar, lemari/rak


alat dekontaminasi, lemari
perlengkapan pemulasaraan dll
Lemari alat, lemari barang bukti,
meja periksa organ, timbangan
organ, shower dan sink, brankar,
lemari/rak alat dekontaminasi, dll
Lemari pendingin jenazah, washtafel,
brankar
Toilet, Loker/ lemari pakaian bersih
dan kontainer pakaian kotor
Kursi, meja, computer, printer, dan
peralatan kantor lainnya.
Rak, wastafel
Lemari/rak
Kloset, wastafel, bak air

3. Persyaratan Khusus
1. Kapasitas ruang jenazah minimal memiliki jumlah lemari pendingin 1%
dari jumlah tempat tidur (pada umumnya 1 lemari pendingin dapat
menampung r4 jenazah)/ tergantung kebutuhan.
2. Ruang jenazah disarankan mempunyai akses langsung dengan
beberapa instalasi lain yaitu instalasi gawat darurat, Instalasi Kebidanan
dan Penyakit Kandungan, Instalasi Rawat Inap, Instalasi Bedah Sentral,
dan Instalasi ICU/ICCU.
3. Area tertutup, tidak dapat diakses oleh orang yang tidak berkepentingan.
4. Area yang merupakan jalur jenazah disarankan berdinding keramik,
lantai kedap air, tidak berpori, mudah dibersihkan.
5. Akses masuk-keluar jenazah menggunakan daun pintu ganda/ double.
6. Disediakan garasi ambulan koroner/ mobil jenazah.
7. Disarankan disediakan lahan parkir khusus untuk pengunjung rumah
duka, jumlah disesuaikan dengan kebutuhan.
4. Alur kegiatan.
Alur kegiatan pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah adalah sebagai berikut :
Keluarga
Pasien

Administrasi

Ruang
Tunggu

Non-Infeksius

Jenazah RS
Infeksius

Jenazah yang
Dirujuk untuk di
Otopsi

Area
Dekontaminasi

Laboratorium
Otopsi

Area
Pemulasaraan

Ruang
Duka

R. Pendingin
Jenazah

Gambar 2.4.2.6 Alur Kegiatan Pada Instalasi Pemulasaraan Jenazah.

52

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Jenazah
Keluar

2.4.2.7

Instalasi Sterilisasi Pusat (;CSSD/Central Supply Sterilization Departement)


Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) mempunyai fungsi menerima, memproses,
memproduksi, mensterilkan menyimpan serta mendistribusikan instrumen medis
yang telah disterilkan ke berbagai ruangan di rumah sakit untuk kepentingan
perawatan dan pengobatan pasien.
Kegiatan utama dalam Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) adalah dekontaminasi
instrumen dan linen baik yang bekas pakai maupun yang baru serta bahan
perbekalan baru. Dekontaminasi merupakan proses mengurangi jumlah
pencemar mikroorgsanisme atau substansi lain yang berbahaya baik secara fisik
atau kimia sehingga aman untuk penanganan lebih lanjut. Proses dekontaminasi
meliputi proses perendaman, pencucian, pengeringan sampai dengan proses
sterilisasi itu sendiri. Barang/ bahan yang didekontaminasi di CSSD seperti
Instrumen kedokteran, sarung tangan, kasa/ pembalut, linen, kapas.
Sistem ini merupakan salah satu upaya atau program pengendalian infeksi di
rumah sakit, dimana merupakan suatu keharusan untuk melindungi pasien dari
kejangkitan infeksi.
1. Lingkup Sarana Pelayanan
Kegiatan dalam instalasi CSSD adalah sebagai berikut:
1. Menerima bahan, terdiri dari
a. Barang/linen/bahan perbekalan baru dari instalasi farmasi yang perlu
disterilisasi.
b. Instrumen dan linen yang akan digunakan ulang (;reuse).
2. Mensortir, menghitung dan mencatat volume serta jenis bahan, barang
dan instrumen yang diserahkan oleh ruang/unit Instalasi Rumah Sakit
Umum.
3. Melaksanakan proses Dekontaminasi meliputi :
Perendaman
Pencucian
Pengeringan
Pengemasan
Membungkus, mengemas dan menampung alat-alat yang dipakai
untuk sterilisasi, penyimpanan dan pemakaian. Tujuan pengemasan
adalah mnjaga keamanan bahan agar tetap dalam kondisi steril.
STERILISASI
4. Distribusi; menyerahkan dan mencatat pengambilan barang steril oleh
ruang/unit /Instalasi Rumah Sakit Umum yang membutuhkan.
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel. 2.4.2.7
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD)

No.

Nama Ruangan

1.

Ruang Administrasi, Loket


Penerimaan & Pencatatan

Ruangan tempat melakukan kegiatan


Adminstrasi dan pencatatan,
penerimaan, penyortiran barang/bahan/
linen yang akan disterilkan.

Ruang Dekontaminasi

Ruang tempat perendaman, pencucian


dan pengeringan instrumen atau linen
bekas pakai.

2.

Fungsi Ruangan

Besaran Ruang /
Luas

Kebutuhan Fasilitas

8-25 m2

Meja, kursi, computer, printer, lemari


dan peralatan kantor lainnya.

Min. 30 m2

Meja cuci, mesin cuci, meja bilas,


meja setrika, Perlengkapan
dekontaminasi lainnya (ultrasonic
washer dengan volume chamber 4060 lt, Mesin pengering slang, ett,
Mesin cuci handschoen,

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

53

Ruang Pengemasan Alat

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


membungkus, mengemas dan
menampung alat-alat yang akan
disterilisasi.

Min. 9 m2

Container, alat wrapping, Automatic


washer disinfector,

Ruang Prosesing /
Produksi

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


pemeriksaan linen, dilipat dan dikemas
untuk persiapan sterilisasi. Selain itu di
ruang ini jg dilaksanakan kegiatan
persiapan bahan seperti kassa, kapas,
cotton swabs, dll.

Min. 16 m2

Container, alat wrapping, dll

5.

Ruang Sterilisasi

Ruang tempat melaksanakan kegiatan


sterilisasi instrumen, linen dan bahan
perbekalan baru.

6.

Gudang Steril

7.

Gudang Barang/Linen/
Bahan Perbekalan Baru

3.

4.

8.
9.

Ruang Dekontaminasi
Kereta/Troli :
a. Area Cuci
b. Area Pengeringan
Ruang pencucian
perlengkapan

10.

Ruang Distribusi Instrumen


dan Barang Steril

11.

Ruang Kepala Instalasi


CSSD

12.

Ruang Ganti Petugas


(Loker)

13.

Ruang Staf/ Petugas

14.

Dapur Kecil (;Pantry)

15.

KM/WC petugas

Ruang tempat penyimpanan Instrumen,


linen dan bahan perbekalan baru yang
telah disterilisasi.
Ruang tempat penyimpanan (depo)
sementara Barang, linen dan bahan
perbekalan baru sebelum disterilisasi.
Ruang tempat mendekontaminasi
kereta/troli untuk mengangkut barangbarang dari dan ke CSSD.
Ruang tempat pencucian perlengkapan
penunjang yang tidak perlu disterilkan.
Ruang tempat pengaturan instrumen dan
barang-barang yang sudah steril untuk
didistribusikan ke Instalasi Bedah, ICU,
Ruang Isolasi, dll
Ruang tempat kepala instalasi CSSD
bekerja
dan
melakukan
kegiatan
perencanaan dan manajemen.
Tempat mengganti/mengenakan pakaian
instalasi CSSD (dilengkapi toilet)
Ruang tempat istirahat staf/ petugas
CSSD.
Sebagai tempat untuk menyiapkan
makanan dan minuman bagi mereka
yang ada di Instalasi CSSD dan sebagai
tempat istirahat petugas.
KM/WC

Sesuai kebutuhan

12-25 m2
4-16 m2

Autoklaf table, horizontal sterilizer,


container for sterilizer, autoklaf unit
(steam sterilizer), sterilizer kerosene,
(atau jika memungkinkan ada pulse
vacuum sterilizer, plasma sterilizer)
Lemari/Rak linen, lemari instrumen,
Lemari sarung tangan, lemari kasa/
kain pembalut, dan kontainer
Rak/Lemari

Min. 6 m2

Perlengkapan cuci troli

Min. 6 m2

Meja bilas, sink, dll

9-25 m2

Kontainer, rak/lemari, meja, kursi,


komputer, printer dan alat perkantoran
lainnya.

Min. 6 m2

Kursi, meja, computer, printer, dan


peralatan kantor lainnya.

Min. 9 m2

Loker

Min. 9-16 m2
Min. 6 m2
@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kursi, meja, lemari


Perlengkapan dapur, kursi, meja, sink

Kloset, wastafel, bak air

3. Persyaratan Khusus

54

Lokasi Instalasi CSSD memiliki akesibilitas pencapaian langsung dari


Instalasi Bedah Sentral, ICU, Ruang Isolasi, Laboratorium dan Instalasi
Pencucian Linen) dan terpisah dari sirkulasi pasien.

Sirkulasi udara/ventilasi pada bangunan instalasi CSSD dibuat


sedemikian rupa agar tidak terjadi kontaminasi dari tempat penampungan
bahan dan instrumen kotor ke tempat penyimpanan bahan dan instrumen
bersih/steril.

Persyaratan ruang dekontaminasi adalah sebagai berikut :


Tekanan udara pada ruang dekontaminasi adalah harus negatif
supaya udara dalam ruangan tidak mengkotaminasi udara pada
ruangan lainnya, pengantian udara 10 kali per jam (Air Change HourACH : 10 times)
Suhu dan kelembaban ruangan yang direkomendasikan adalah :
suhu 180C 220C, Kelembaban udara : 35% -75%.

Persyaratan gudang steril adalah sebagai berikut :


Tekanan udara positif dengan efisiensi filtrasi partikular antara 90%
95% (untuk partikular berukuran 0,5 mikron)
Suhu dan kelembaban ruangan yang direkomendasikan adalah :
suhu 180C 220C, Kelembaban udara : 35% -75%.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Permukaan dinding dan lantai ruangan mudah dibersihkan, tidak


mudah menyerap kotoran atau debu.

Area barang kotor dan barang bersih dipisahkan (sebaiknya memiliki


akses masuk dan keluar yang berlawanan)

Lantai tidak licin, mudah dibersihkan dan tidak mudah menyerap kotoran
atau debu.

Pada area pembilasan disarankan untuk menggunakan sink pada meja


bilas kedap air dengan ketinggian 0.80 1,00 m dari permukaan lantai,
dan apabila terdapat stop kontak dan saklar, maka harus menggunakan
jenis yang tahan percikan air dan dipasang pada ketinggian minimal 1.40
m dari permukaan lantai.

Dinding menggunakan bahan yang tidak berpori.

4. Alur kegiatan.
Alur kegiatan pada Instalasi Sterilisasi Pusat (CSSD) adalah sebagai berikut:
Instrumen dan Linen
Bekas Pakai (;Reuse)

Barang/Linen/Bahan
perbekalan baru Masuk

Penerimaan
Dan
Pencatatan

Penerimaan &
Pencatatan
Barang Baru

Sortir (pencatatan
volume dan jenis barang)

Pengemasan &
Pelabelan

Perendaman
STERILISASI
Pencucian
Pengeringan
Kontrol Indikator
Sortir (Layak
disterilkan/ tidak)

Tidak
Kembalikan ke unit
pengiriman instrument/linen

Ya

Tidak

Ya
Gudang
Steril

Distribusi
Barang Keluar

Gambar 2.4.2.7 Alur Kegiatan Pada Instalasi Sterilisasi Pusat.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

55

2.4.2.8

Instalasi Dapur Utama Dan Gizi Klinik


1. Lingkup Sarana Pelayanan
Sistem pelayanan dapur yang diterapkan di rumah sakit adalah sentralisasi
kecuali untuk pengolahan formula bayi. Instalasi Dapur Utama dan Gizi Klinik
RS mempunyai fungsi untuk mengolah, mengatur makanan pasien setiap
harinya, serta konsultasi gizi.
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel. 2.4.2.8
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Instalasi Dapur Utama dan Gizi Klinik

No.

56

Nama Ruangan

Fungsi Ruangan

Besaran Ruang /

Kebutuhan Fasilitas

Luas

1.

Ruang Penerimaan dan


Penimbangan Bahan
Makanan

Ruang tempat melaksanakan


kegiatan
penerimaan
dan
penimbangan bahan makanan.

+ 16 m2

Rak bahan-bahan makanan, timbangan


kap. 20-300 kg, kereta angkut, pembuka
botol, penusuk beras, pisau, kontainer,
troli, alat penguji kualitas telur, lemari arsip,
APAR

2.

Ruang Penyimpanan Bahan


Makanan Basah

Ruang tempat menyimpan


bahan makanan basah yang
harus dimasukkan kedalam
lemari pendingin.

Min. 6 m2

Freezer, lemari pendingin, container bahan


makanan, timbangan kapasitas 20-100 kg,
kereta angkut, pengusir tikus elektrik

3.

Ruang Penyimpanan Bahan


Makanan Kering

Ruang tempat menyimpan


bahan makanan kering.

Min. 9 m2

4.

Ruang/Area Persiapan

Ruang tempat mempersiapkan


bahan makanan, misalkan
menyiangi, memotong-motong,
area pencucian bahan
makanan dapat dilaksanakan
pada ruang ini.

Min. 18 m2

5.

Ruang Pengolahan/
Memasak dan
Penghangatan Makanan

Ruang tempat mengolah


bahan makanan.

Min. 18 m2

6.

Ruang Pembagian/
Penyajian Makanan

Ruang menyajikan/
mempersiapkan makanan
matang pada plato (piring
pasien) yang akan dikirimkan
dengan troli gizi

Min. 9 m2

7.

Dapur Susu/ Laktasi Bayi

Ruang menyajikan/
mempersiapkan susu ke dalam
botol susu.

Min. 4 m2

8.

Ruang Cuci

Ruang cuci plato serta


perlengkapan makan dan
minum lainnya

@ min. 9 m2

Lemari beras, rak/palet/lemari


penyimpanan bahan makanan, timbangan
kapasitas 20-100 kg, kereta angkut,
pengusir tikus elektrik
Meja kerja/persiapan, bangku kerja, meja
daging, mesin sayuran, bak cuci persegi,
bak cuci dua bergandengan, pisau, mesin
pemarut kelapa berdinamo, saringan
kelapa, mesin pemotong dan penggiling
daging kapasitas 20 kg, blender, bak cuci,
cobek/ulekan, mixer, timbangan meja,
talenan
Kompor gas elpiji, kompor minyak tanah
bertekanan, kompor minyak tanah sumbu,
kompor listrik, kompor uap (Steam
Cooker), panci besar, penggorengan, rice
cooker, rak-rak makanan, rice cooker
kapasitas 30 kg, oven, mixer, blender,
pisau, dapur, sendok, sayur, sodet,
pembuka botol/kaleng, serikan, talenan,
saringan teh, wajan datar 2 ukuran
(diameter 16 cm dan 18 cm), timbangan
kapasitas 2 kg, mesin penggiling tangan,
serbet, cempal, cetakan nasi, lemari es,
meja pemanas, pemanggang sate, toaster,
meja kerja, bangku, bak cuci, kereta
dorong, kereta warmer
Meja pembagi, bangku, sendok, sendok
garpu, penjepit makanan, sarung tangan
plastik sekali pakai, garpu, piring makan,
gelas minum, mangkuk sayur, piring kue
cekung, cangkir tertutup, tutup dan tatanan
gelas, nampan, tempat telur (sebaiknya
terbuat
dari
bahan
yang
mudah
dibersihkan/plastik,
stainless
steel,
keramik), troli untuk makanan 3 susun, rakrak piring kapasitas 3 susun, kertas label,
alat tulis
Peralatan besar : Lemari pendingin, panci
aluminium, tungku uap, meja pemanas,
rak-rak penyimpanan botol 3 susun, bak
pencuci
Peralatan kecil : thermos, blender, gelas
ukur, sendok makan, sendok teh, panci
kecil bertangkai diameter 15 cm, piring dan
gelas, mangkok, waskom plastik, kocokan
susu, serbet, cempal, sikat botol,
timbangan susu kapasitas 2 kg, sterilisator,
mixer, blender
Pencucian secara mekanik memerlukan :
mesin cuci kapasitas 100 piring, rak
pengering alat kebersihan
Pencucian manual memerlukan : ember
plastik kapasitas 30 liter, baskom plastik
kapasitas
30
liter,
perlengkapan

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

kebersihan (sapu, sikat, lap, alat/kain untuk


pel, vacuum cleaner
Tambahan untuk ruang pencucian : alat
pengukur desinfektan pencucian, sabun
cuci, karbol, pencuci dinding keramik,
tempat sampah tertutup (basah dan
kering), serok air
9.

Ruang Penyimpanan Troli


Gizi

Ruang penyimpanan troli gizi


sebelum dibersihkan

Min. 6 m2

Sabun cuci colek, sikat, alat/kain untuk


mengelap, serok air

10.

Ruang Penyimpanan
Peralatan Dapur

Ruang penyimpanan
perlengkapan dapur bersih

Min. 9 m2

Lemari perkakas dapur khusus,


perkakas dapur, meja, kursi

11.

Ruang Ganti Alat Pelindung


Diri (APD) dan loker.

Min. 6 m2

Sarung tangan, sepatu dapur / sepatu


boot, baju khusus, loker, tutup rambut,
masker (tutup hidung dan mulut),
celemek/apron

12.

Ruang Administrasi

13.

Ruang Kepala Instalasi Gizi

14.

Ruang Pertemuan Gizi


Klinik

Ruang Pengaturan/
Manifold Gas Elpiji
Ruang Penyimpanan
Tabung Gas Elpiji

Ruang
petugas
dapur
mengenakan APD (Sarung
tangan, celemek, sepatu, tutup
kepala, masker, dll)
Ruang
para
Petugas
melaksanakan kegiatan teknis
medis
gizi
klinik
serta
administrasi, keuangan dan
personalia
pada
instalasi
dapur.
Ruang tempat kepala lnstalasi
bekerja
dan
melakukan
kegiatan perencanaan dan
manajemen.
Ruang
tempat
diskusi/pertemuan
Ruang
penyimpanan
perlengkapan kebersihan
Ruang untuk pengendalian dan
pendistribusian uap
Ruang sentral pengendalian
listrik
Ruang untuk pengaturan
pemakaian gas elpiji
Untuk menyimpan tabung gas
elpiji

20.

Gudang Alat

Untuk memyimpan alat makan

21.

Ruang PKL

22.

Ruang Petugas Jaga Dapur

23.

Ruang Nutrisionis

15.

Janitor

16.

Ruang Pengaturan/
Manifold Uap

17.
18.
19.

24.

Ruang Panel Listrik

KM/WC petugas

Untuk kegiatan pendidikan dan


pelatihan mahasiswa
Untuk pelaksanaan
pengawasan produksi
makanan
Tempat nutrisionis
KM/WC

3~5 m2/ petugas


(min. 6 m2)

Meja, kursi, lemari berkas/arsip,


intercom/telepon, safety box

Min. 6 m2

Meja, kursi, lemari berkas/arsip,


intercom/telepon, safety box

Min. 9 m2

Meja, kursi, lemari berkas/arsip,


intercom/telepon, safety box

Min. 3 m2
3 m2 (sesuai
kebutuhan)
3 m2 (sesuai
kebutuhan)
4 m2 (tergantung
kebutuhan)
3 m2
Min. 16 m2

rak

Rak/lemari, perlengkapan kebersihan


Keran pengatur uap, Manometer uap,
Header Uap
Panel daya penerangan, panel daya stop
kontak, panel daya listrik
Keran pengatur gas, Manometer tekanan
gas elpiji, Header gas elpiji
Penjepit Tabung, Kedudukan Tabung, Troli
Tabung
Rak-rak

+ 32 m2

Meja, kursi, white board, Laptop, LCD dll

+ 12 m2

Meja, kursi dan peralatan administrasi dll

+ 10 m2

Meja, kursi, komputer, rak buku

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

3. Persyaratan Khusus
1. Mudah dicapai, dekat dengan Instalasi Rawat Inap sehingga waktu
pendistribusian makanan bisa merata untuk semua pasien.
2. Letak dapur diatur sedemikian rupa sehingga kegaduhan (suara) dari
dapur tidak mengganggu ruangan disekitarnya.
3. Tidak dekat dengan tempat pembuangan sampah dan kamar jenazah.
4. Lantai harus dari bahan yang tidak berpori dan tidak licin.
5. Mempunyai area masuk bahan makanan mentah yang tidak bersilangan
dengan alur makanan jadi.
6. Harus mempunyai pasokan air bersih yang cukup dan memenuhi
persyaratan baku mutu air minum.
7. Pada area pengolahan makanan harus mempunyai langit-langit yang
tinggi dilengkapi ventilasi untuk pembuangan udara panas selama proses
pengolahan.
8. Pada dapur bangunan bertingkat harus disediakan fan pembuangan
(exhaust fan) dengan kapasitas ekstraksi minimal 60 Liter/detik yang
hanya boleh dioperasikan pada waktu memasak.
9. Harus dilengkapi dengan sistem proteksi kebakaran.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

57

4. Alur kegiatan.
Alur kegiatan pengelolaan makanan pada Instalasi Dapur Utama dan Gizi
Klinik RS adalah sebagai berikut :
Ruang Penerimaan Bahan
Makanan

R. Penyimpanan
Bahan Makanan
Kering

Area Cuci Bahan


Makanan
R. Penyimpanan Bahan
Makanan Basah

Ruang Persiapan

Ruang Pengolahan
dan Penghangatan
Bahan Makanan

R. Penyajian Makanan

R. Penyimpanan
Perlengkapan
Ruang Pencucian
Peralatan

Distribusi Makanan,
Dan Minuman
Area untuk Wadah
Pembuangan Sementara
Sampah Dapur

Alur Peralatan

Alur Limbah Padat Domestik

Alur Makanan

Gambar 2.4.2.8 Alur kegiatan pengolahan, penyimpanan dan pendistribusian


makanan rumah sakit.
2.4.2.9

Instalasi Pencucian Linen/ Londri (;Laundry)


Londri RS adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana
penunjangnya berupa mesin cuci, alat dan desinfektan, mesin uap (;steam
boiler), pengering, meja, dan mesin setrika.
1. Lingkup Sarana Pelayanan
Kegiatan pencucian linen terdiri dari :
1. Pengumpulan
a. Pemilahan antara linen infeksius dan non-infeksius dimulai dari
sumber dan memasukkan linen ke dalam kantong plastic sesuai
jenisnya serta diberi label.
b. Menghitung dan mencatat linen di ruangan.
2. Penerimaan
a. Mencatat linen yang diterima dan telah terpilah antara infeksius dan
non-infeksius.
b. Linen dipilah berdasarkan tingkat kekotorannya.
3. Pencucian
a. Menimbang berat linen untuk menyesuaikan dengan kapasitas mesin
cuci dan kebutuhan deterjen dan desinfektan.

58

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4.
5.
6.

7.
8.

b. Membersihkan linen kotor dari tinja, urin, darah, dan muntahan


kemudian merendamnya dengan menggunakan desinfektan.
c. Mencuci dikelompokkan berdasarkan tingkat kekotorannya.
Pengeringan
Penyetrikaan
Penyimpanan
a. Linen harus dipisahkan sesuai dengan jenisnya.
b. Linen baru yang diterima ditempatkan di lemari bagian bawah.
c. Pintu lemari selalu tertutup.
Distribusi dilakukan berdasarkan kartu tanda terima dari petugas
penerima, kemudian petugas menyerahkan linen bersih kepada petugas
ruangan sesuai kartu tanda terima.
Pengangkutan
a. Kantong untuk membungkus linen bersih harus dibedakan dengan
kantong untuk membungkus linen kotor.
b. Menggunakan kereta dorong yang berbeda warna dan tertutup antara
linen bersih dan linen kotor. Kereta dorong harus dicuci dengan
desinfektan setelah digunakan mengangkut linen kotor.
c. Waktu pengangkutan linen bersih dan kotor tidak boleh dilakukan
bersamaan.
d. Linen bersih diangkut dengan kereta dorong yang berbeda warna.
e. RS yang tidak mempunyai laundry tersendiri, pengangutannya dari
dan ke tempat laundry harus menggunakan mobil khusus.

2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas


Tabel. 2.4.2.9
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Instalasi Pencucian Linen/ Loundri
No.

Nama Ruangan

Fungsi Ruangan

1.

Ruang Administrasi dan


Pencatatan

2.

Ruang Kepala Londri

3.

Ruang Penerimaan dan


Sortir

4.

Ruang Dekontaminasi/
perendamani Linen

5.

Ruang Cuci dan


Pengeringan Linen

Ruang para Petugas melaksanakan


kegiatan administrasi, keuangan dan
personalia.
Ruang tempat kepala londri bekerja dan
melakukan kegiatan perencanaan dan
manajemen.
Ruang tempat penerimaan linen kotor
dari unit-unit di RS kemudian disortir.
Ruang
tempat
melaksanakan
dekontaminasi linen, meliputi urutan
kegiatan pembilasan awal, perendaman
dan pembilasan akhir.
Ruang
tempat
mencuci
dan
mengeringkan linen

6.

Ruang Setrika dan Lipat


Linen

Ruang tempat penyetrikaan dan melipat


linen.

7.

Ruang Perbaikan Linen

Ruang tempat memperbaiki/ menjahit


linen setelah dicuci dan keringkan.

8.

Ruang Penyimpanan Linen

9.

Ruang Dekontaminasi Troli

10.

Ruang Penyimpanan Troli

11.

Gudang Bahan Kimia

12.

KM/WC petugas

Ruang tempat penyimpanan linen


bersih setelah dicuci, setrika dan dilipat.
Ruang
tempat
melaksanakan
dekontaminasi dan pengeringan troli.
Ruang tempat penyimpanan troli bersih
setelah didekontaminasi & dikeringkan.
Tempat menyimpan bahan-bahan kimia
seperti deterjen dll
KM/WC

Besaran Ruang /
Luas
3~5 m2/ petugas
(min. 9 m2)
9-12 m2

Kebutuhan Fasilitas
Meja, kursi, lemari
berkas/arsip,
intercom/telepon, safety box
Meja, kursi, lemari
berkas/arsip,
intercom/telepon, safety box

Min. 12 m2

Meja, kursi, rak, kontainer

Min. 20 m2

Bak pembilasan awal, bak


perendaman dan bak
pembilasan akhir, keran, sink

Min. 16 m2

Mesin cuci dan pengering


linen

Min. 30 m2

Min. 8 m2

Setrika, meja setrika, meja


lipat, handpress
Mesin jahit, jarum, benang
dan perlengkapan perbaikan
linen lainnya

Min. 20 m2

Rak/lemari

Min. 6 m2

Keran,
pengering

selang,

alat

Min. 8 m2
Min. 8 m2
@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

lemari
Kloset, wastafel, bak air

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

59

3. Persyaratan Khusus
1. Tersedia keran air bersih dengan kualitas dan tekanan aliran yang
memadai, air panas untuk desinfeksi dengan desinfektan yang ramah
terhadap lingkungan. Suhu air panas mencapai 700C dalam waktu 25
menit (/ 950C dalam waktu 10 menit) untuk pencucian pada mesin cuci.
2. Peralatan cuci dipasang permanen dan diletakkan dekat dengan saluran
pembuangan air limbah serta tersedia mesin cuci yang dapat mencuci
jenis-jenis linen yang berbeda.
3. Tersedia saluran air limbah tertutup yang dilengkapi dengan pengolahan
awal (; pre-treatment) khusus laundry sebelum dialirkan ke IPAL RS.
4. Untuk linen non-infeksius (misalnya dari ruang-ruang administrasi
perkantoran) dibuatkan akses ke ruang pencucian tanpa melalui ruang
dekontaminasi.
5. Tidak disarankan untuk mempunyai tempat penyimpanan linen kotor.
6. Standar kuman bagi linen bersih setelah keluar dari proses tidak
mengandung 6 x 103 spora spesies Bacillus per inci persegi.
4. Alur kegiatan.
Alur kegiatan pada Instalasi Pencucian Linen adalah sebagai berikut :
Troli Kotor

Linen Kotor

Penerimaan & Pencatatan


Perbaikan Linen

Ruang Dekontaminasi
Pencucian
Linen

Bak Pembilasan
Awal

Pengeringan
Linen

Bak Desinfeksi
(Perendaman)

Melipat Linen

Bak Pembilasan
Akhir

R. Dekontaminasi Troli
& Pengeringan

Penyetrikaan
Linen

R.Penyimpanan
Linen Bersih

R. Penyimpanan Troli
Bersih

Distribusi Linen Bersih

CSSD
(Resterilisasi)

Tanpa Sterilisasi

Gambar 2.4.2.9 Alur Kegiatan Pada Instalasi Pencucian Linen/Laundry.


2.4.2.10 Instalasi Sanitasi
1. Lingkup Sarana Pelayanan
Kegiatan pada instalasi sanitasi meliputi :
1. Pengolahan air limbah rumah sakit dan pemeriksaan kualitas air limbah
yang dilakukan 3-4 kali dalam setahun.
2. Pemeriksaan sanitasi di ruang instalasi dapur utama yang dilakukan 3-4
kali dalam setahun.
3. Pemeriksaan kualitas air bersih yang dilakukan 2-3 kali dalam setahun.

60

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4. Pemeriksaan kualitas/ kondisi udara di ruang-ruang khusus yang


dilakukan 2 kali dalam setahun.
5. Pemeriksaan emisi incenerator dan generator set yang dilakukan 2 kali
dalam setahun.
6. Pembuatan dokumen Implementasi Rencana Pengelolaan Lingkungan
dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL/RPL) setiap 6 bulan sekali.
7. Pemantauan, pengawasan dan pengelolaan limbah padat medis
(Pewadahan, pengangkutan dan pembuangan/ pemusnahan limbah
padat medis).
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel. 2.4.2.10
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Instalasi Sanitasi
No.

Nama Ruangan

Fungsi Ruangan

Besaran Ruang /
Luas

1.

Ruang Kerja dan Arsip

Ruang para Petugas melaksanakan


kegiatan
dokumentasi
hasil
pemantauan dan ruang simpan arsip

3~5 m2/ petugas


(min. 6 m2)

2.

Ruang Laboratorium
Kesehatan Lingkungan

Ruang tempat pemeriksaan kesehatan


lingkungan rumah sakit

1~1,5 m2/ orang


(min. 12 m2)

3.

Area Pengolahan Air


Limbah

Area tempat mengolah air limbah

Sesuai kebutuhan

4.

Area Incenerator

Sesuai kebutuhan

5.

Area TPS

Area tempat pembakaran limbah padat


medis.
Area penampungan sementara limbah
padat non-medis

6.

KM/WC petugas

KM/WC

Sesuai kebutuhan
@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kebutuhan Fasilitas
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
intercom/telepon, safety box
Bak cuci peralatan lab., gelas
ukur, ph meter, DO meter,
spektrofotometer, reagen,
bahan-bahan kimia, pipet, dll
Pompa, Bak ekualisasi, kolam
aerasi, bak pengendap, bak
desinfeksi, blower, kolam ikan,
dll
Alat pengeruk sampah, troli
sampah, sapu, incenerator
Alat pengeruk sampah, troli
sampah, sapu
Kloset, wastafel, bak air

3. Persyaratan Khusus
1. Lokasi incenerator dan IPAL jauh dari area pelayanan pasien dan
instalasi dapur rumah sakit.
2. Lingkungan sekitar incenerator dan IPAL harus dijaga jangan sampai
orang yang tidak berkepentingan memasuki area tersebut.
3. Segera dilakukan pembakaran limbah padat medis.
4. Pembuangan abu hasil pembakaran incenerator harus dilakukan secara
periodik.
5. Area Penampungan sementara limbah padat non-medis harus dijaga
kebersihan dan kerapihannya.
6. Bagi rumah sakit yang pemusnahan limbah padat medisnya di luar
rumah sakit, harus mengikuti persyaratan sebagai berikut :
a. Menyediakan tempat penampungan sementara limbah padat medis
dan limbah tersebut harus setiap hari diangkut dan dibuang keluar
rumah sakit.
b. Bila pengangkutan dan pembuangan limbah padat medis dilakukan
lebih dari 1 hari maka pewadahan dan area penampungan
sementaranya harus tertutup/ terisolasi. Waktu toleransi limbah padat
medis dengan kondisi tersebut maksimal 3 hari.
c. Area penampungan sementara limbah padat medis harus senantiasa
dijaga kebersihan dan kerapihannya.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

61

4. Alur kegiatan.
Alur kegiatan pada Instalasi Sanitasi adalah sebagai berikut :
Instalasi Pengolahan
Air Limbah

Ruang Bedah

Ruang ICU

Laboratorium
KesLing

Instalasi Sanitasi
Instalasi Rawat Inap

Incenerator

Inst. Pemeliharaan
Sarana

Instalasi Dapur
Utama

Gambar 2.4.2.10 Alur Kegiatan Pada Instalasi Sanitasi.


2.4.2.11 Instalasi Pemeliharaan Sarana (Bengkel Mekanikal & Elektrikal /;Workshop)
1. Lingkup Sarana Pelayanan
Tugas pokok dan fungsi yang harus dirangkum unit workshop adalah,
sebagai berikut :
1. Pemeliharaan dan perbaikan ringan pada :
x Peralatan medik (Optik, elektromedik, mekanis dll)
x Peralatan penunjang medik
x Peralatan rumah tangga dari metal/ logam (termasuk tempat tidur)
x Peralatan rumah tangga dari kayu
x Saluran dan perpipaan
x Listrik dan elektronik.
2. Kegiatan perbaikan-perbaikan dilaksanakan dengan prosedur sebagai
berikut :
x Laporan dari setiap unit yang mengalami kerusakan alat
x Peralatan diteliti tingkat kerusakannya untuk mengetahui tingkat
perbaikan yang diperlukan kepraktisan teknis pelaksanaan
perbaikannya (apakah cukup diperbaiki ditempatnya, atau harus
dibawa ke ruang workshop)
x Analisa kerusakan
x Proses pengadaan komponen/suku cadang
x Pelaksanaan perbaikan/pemasangan komponen
x Perbaikan bangunan ringan
x Listrik/ Elektronik
x Telpon / Aiphone / Audio Visual.
2.

Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan


Tabel. 2.4.2.10
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Instalasi Pemeliharaan Sarana (Workshop)

No.

1.

62

Nama Ruangan

Ruang Kepala IPSRS

Fungsi Ruangan
Ruang tempat kepala Instalasi bekerja dan
melakukan
kegiatan
perencanaan
dan
manajemen.

Besaran Ruang /
Luas
Min. 8 m2

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Kebutuhan Fasilitas
Meja, kursi, lemari
berkas/arsip,
intercom/telepon, safety box

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ruang
Administrasi
(pencatatan) dan Ruang
Kerja Staf
Ruang Rapat/ Pertemuan
Teknis
Ruang Studio Gambar dan
Arsip Teknis
Bengkel/ Workshop
Bangunan/Kayu
Bengkel/ Workshop metal/
logam

9.

Bengkel/
Workshop
Peralatan Medik (Optik,
Elektromedik, Mekanik)
Bengkel/
Workshop
penunjang medik.
Ruang Panel Listrik

10.

Gudang spare part

11.

Gudang

8.

12.

KM/WC petugas/
pengunjung

Ruang tempat pencatatan masuk dan keluar


peralatan/ perabot rusak dan ruang tempat staf
bekerja.
Ruang tempat melaksanakan diskusi/ pertemuan
teknis.
Ruang tempat menggam
bar dan menyimpan arsip-arsip teknis.
Ruang tempat memperbaiki kerusakan sarana,
prasarana dan peralatan yang terbuat dari kayu.
Ruang tempat memperbaiki kerusakan sarana,
prasarana dan peralatan yang terbuat dari metal/
logam.
Ruang tempat memperbaiki kerusakan peralatan
medik, yaitu peralatan optik, elektromedik, dan
mesin mekanik.
Ruang tempat memperbaiki kerusakan sarana,
prasarana dan peralatan penunjang medik.
Ruang tempat pengaturan distribusi listrik RS
untuk kegiatan di IPSRS.
Ruang penyimpanan suku cadang (sparepart).
Ruang penyimpanan sarana, prasarana dan
peralatan yang sudah tidak terpakai, telah
diperbaiki (belum diserahkan kembali) atau yang
akan diperbaiki.
KM/WC

3~5 m2/ petugas


(min. 12 m2)
Min. 9 m2
Min. 9 m2
Min. 9 m2

Kursi, meja, computer,


printer, dan peralatan kantor
lainnya.
Kursi, meja, screen, dll.
Meja gambar, komputer dan
printer, lemari arsip.
Perlengkapan
bengkel
bangunan/ kayu

Min. 9 m2

Perlengkapan
metal/ logam

bengkel

Min. 16 m2

Perlengkapan
bengkel
peralatan elektromedik

Min. 9 m2

Perlengkapan
bengkel
peralatan mekanikal
Perlengkapan listrik, panel,
dll
Lemari/rak

Min. 9 m2

Lemari/rak

Min. 16 m2
Min. 8 m2

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

3. Persyaratan Khusus
Terletak jauh dari daerah perawatan dan gedung penunjang medik,
sebaiknya diletakan di daerah servis karena banyak menimbulkan
kebisingan.
4. Alur kegiatan.
Alur kegiatan pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal adalah sebagai berikut :
Gudang Spare Part
Spare Part
Ruang Pencatatan
Barang Masuk

Bengkel/ Workshop

Ruang
Pencatatan
Barang Keluar

Barang Rusak
Gudang

Barang Keluar

Gambar 2.4.2.10 Alur Kegiatan Pada Bengkel Mekanikal dan Elektrikal


(;Workshop).

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

63

2.4.3

Fasilitas Pada Area Penunjang Umum dan Administrasi

2.4.3.1

Bagian Kesekretariatan dan Akuntansi


1. Lingkup Sarana Pelayanan
Suatu bagian dari rumah sakit tempat dilaksanakannya manajemen rumah
sakit. Terdiri dari :
x Unsur direksi/ pimpinan rumah sakit
x Unsur pelayanan medik
x Unsur pelayanan penunjang medik
x Pelayanan keperawatan
x Unsur pendidikan dan pelatihan
x Administrasi umum dan keuangan
x SDM
x Komite medik
x Komite etik dan hukum.
2. Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Tabel. 2.4.3
Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas
Pada Area Penunjang Umum dan Administrasi RS

No.

64

Nama Ruangan

Fungsi Ruangan

Besaran Ruang /
Luas

1.

Ruang Direksi

Ruang kerja direktur RS, tempat


melaksanakan perencanaan program
dan manajemen RS.

Sesuai Kebutuhan

2.

Ruang Sekretaris Direktur

Ruang kerja sekretaris direktur.

Sesuai Kebutuhan

3.

Ruang Rapat dan Diskusi

Ruang pertemuan/ rapat/ diskusi.

Sesuai Kebutuhan

4.

Ruang Kepala Komite Medis

Ruang kerja kepala komite medis

Sesuai Kebutuhan

5.

Ruang Komite Medis

Ruang kerja staf komite medis

Sesuai Kebutuhan

6.

Ruang Kepala Bagian


Keperawatan

Ruang kerja kepala bagian


keperawatan

Sesuai Kebutuhan

7.

Ruang Bagian Keperawatan

Ruang kerja staf bagian keperawatan

Sesuai Kebutuhan

8.

Ruang Kepala Bagian


Pelayanan

Ruang kerja kepala bagian


Pelayanan

Sesuai Kebutuhan

9.

Ruang Bagian Pelayanan

Ruang kerja staf bagian pelayanan

Sesuai Kebutuhan

10.

Ruang Kepala Bagian


Keuangan dan Program

Ruang kerja kepala bagian keuangan


dan program

Sesuai Kebutuhan

11.

Ruang Bagian Keuangan dan


Program

Ruang kerja staf bagian keuangan


dan program

Sesuai Kebutuhan

12.

Ruang Kepala Bagian


pelayanan penunjang medik

Ruang kerja kepala bagian


pelayanan penunjang medik

Sesuai Kebutuhan

13.

Ruang Bagian Pelayanan


Penunjang Medik

Ruang kerja staf bagian pelayanan


penunjang medik

Sesuai Kebutuhan

14.

Ruang Kepala Bagian


Pendidikan dan Pelatihan

Ruang kerja kepala bagian


pendidikan dan pelatihan

Sesuai Kebutuhan

15.

Ruang Bagian Pendidikan


dan Pelatihan

Ruang kerja staf bagian pendidikan


dan pelatihan

Sesuai Kebutuhan

16.

Ruang Kepala Bagian SDM

Ruang kerja kepala bagian SDM

Sesuai Kebutuhan

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Kebutuhan Fasilitas
Meja, kursi, sofa, computer,
printer, lemari, lemari arsip, dan
peralatan kantor lainnya.
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja rapat, kursi, LCD projector,
layar, dll
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon, safety box
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon

17.

Ruang Bagian SDM

Ruang kerja bagian SDM

Sesuai Kebutuhan

18.

Ruang Kepala Bagian


Kesekretariatan dan Rekam
Medis

Ruang kerja kepala bagian


kesekretariatan dan rekam medis

Sesuai Kebutuhan

19.

Bagian Rekam Medis

Ruang kerja staf bagian


Kesekretariatan dan Rekam Medis

Sesuai Kebutuhan

20.

Ruang SPI (Satuan


Pengawasan Internal)

Ruang kerja Satuan Pengawasan


Internal

Sesuai Kebutuhan

21.

Ruang Arsip/ file

22.

Ruang Tunggu

23.

Janitor

24.

Dapur Kecil (;Pantry)

25.

KM/WC

Ruang tempat penyimpanan Arsip


RS.
Ruang tempat pengunjung/ tamu
bagian administrasi dan
kesekretariatan menunggu.
Ruang tempat penyimpanan alat-alat
kebersihan (cleaning service)
Sebagai tempat untuk menyiapkan
makanan dan minuman.
KM/WC

Sesuai Kebutuhan

Meja, kursi, lemari berkas/arsip,


komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Meja, kursi, lemari berkas/arsip,
komputer, printer,
intercom/telepon
Lemari berkas/arsip, komputer,
printer, dll

Sesuai Kebutuhan

Tempat duduk, televisi & Telp


umum (bila RS mampu),

Sesuai Kebutuhan

Lemari/rak

Sesuai Kebutuhan

Perlengkapan
meja, sink

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

dapur,

kursi,

3. Persyaratan Khusus
Penempatan area penunjang umum dan administrasi sedapat mungkin
mudah dicapai.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

65

BAGIAN III
PERSYARATAN UMUM BANGUNAN RUMAH SAKIT
3.1

Lokasi Rumah Sakit.

3.1.1

Pemilihan lokasi.
(1)

Aksesibilitas untuk jalur transportasi dan komunikasi,


Lokasi harus mudah dijangkau oleh masyarakat atau dekat ke jalan raya
dan tersedia infrastruktur dan fasilitas dengan mudah, misalnya tersedia
pedestrian, Aksesibel untuk penyandang cacat

(2)

Kontur Tanah
kontur tanah mempunyai pengaruh penting pada perencanaan struktur,
dan harus dipilih sebelum perencanaan awal dapat dimulai. Selain itu
kontur tanah juga berpengaruh terhadap perencanaan sistem drainase,
kondisi jalan terhadap tapak bangunan dan lain-lain.

(3)

Fasilitas parkir.
Perancangan dan perencanaan prasarana parkir di RS sangat penting,
karena prasarana parkir dan jalan masuk kendaraan akan menyita banyak
lahan. Perhitungan kebutuhan lahan parkir pada RS idealnya adalah 1,5
s/d 2 kendaraan/tempat tidur (37,5m2 s/d 50m2 per tempat tidur)1 atau
menyesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi daerah setempat. Tempat
parkir harus dilengkapi dengan rambu parkir.

(4)

Tersedianya utilitas publik.


Rumah sakit membutuhkan air bersih, pembuangan air kotor/limbah, listrik,
dan jalur telepon. Pengembang harus membuat utilitas tersebut selalu
tersedia.

(5)

Pengelolaan Kesehatan Lingkungan


Setiap RS harus dilengkapi dengan persyaratan pengendalian dampak
lingkungan antara lain :
Studi Kelayakan Dampak Lingkungan yang ditimbulkan oleh RS
terhadap lingkungan disekitarnya, hendaknya dibuat dalam bentuk
implementasi Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan
Lingkungan (UKL-UPL), yang selanjutnya dilaporkan setiap 6 (enam)
bulan (KepmenKLH/08/2006).
Fasilitas pengelolaan limbah padat infeksius dan noninfeksius
(sampah domestik).
Fasilitas pengolahan limbah cair (Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL); Sewage Treatment Plan (STP); Hospital Waste Water
Treatment Plant (HWWTP)). Untuk limbah cair yang mengandung
logam berat dan radioaktif disimpan dalam kontainer khusus kemudian
dikirim ke tempat pembuangan limbah khusus daerah setempat yang
telah mendapatkan izin dari pemerintah.
Fasilitas Pengelolaan Limbah Cair ataupun Padat dari Instalasi
Radiologi.

66

Ernst Neufert, Data Arsitek Edisi Kedua, Penerbit Erlangga, 1995

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Fasilitas Pengolahan Air Bersih (;Water Treatment Plant) yang


menjamin keamanan konsumsi air bersih rumah sakit, terutama pada
daerah yang kesulitan dalam menyediakan air bersih.

(6)

Bebas dari kebisingan, asap, uap dan gangguan lain.


Pasien dan petugas membutuhkan udara bersih dan lingkungan yang
tenang.
Pemilihan lokasi sebaiknya bebas dari kebisingan yang tidak
semestinya dan polusi atmosfer yang datang dari berbagai sumber.

(7)

Master Plan dan Pengembangannya.


Setiap rumah sakit harus menyusun master plan pengembangan kedepan.
Hal ini sebaiknya dipertimbangkan apabila ada rencana pembangunan
bangunan baru. Review master plan dilaksanakan setiap 5 tahun.

3.1.2

Massa Bangunan.
(1) Intensitas antar Bangunan Gedung di RS harus memperhitungkan jarak
antara massa bangunan dalam RS dengan mempertimbangkan hal-hal
berikut ini :
a. Keselamatan terhadap bahaya kebakaran;
b. Kesehatan termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan;
c. Kenyamanan;
d. Keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan;
(2)

Perencanaan RS harus mengikuti Rencana Tata Bangunan & Lingkungan


(RTBL), yaitu :
a. Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
Ketentuan besarnya KDB mengikuti peraturan daerah setempat.
Misalkan Ketentuan KDB suatu daerah adalah maksimum 60% maka
area yang dapat didirikan bangunan adalah 60% dari luas total area/
tanah.
b. Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
Ketentuan besarnya KLB mengikuti peraturan daerah setempat. KLB
menentukan luas total lantai bangunan yang boleh dibangun. Misalkan
Ketentuan KLB suatu daerah adalah maksimum 3 dengan KDB
maksimum 60% maka luas total lantai yang dapat dibangun adalah 3
kali luas total area area/tanah dengan luas lantai dasar adalah 60%.
c. Koefisien Daerah Hijau (KDH)
Perbandingan antara luas area hijau dengan luas persil bangunan
gedung negara, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan
daerah setempat tentang bangunan gedung, harus diperhitungkan
dengan mempertimbangkan
1. daerah resapan air
2. ruang terbuka hijau kabupaten/kota
Untuk bangunan gedung yang mempunyai KDB kurang dari 40%,
harus mempunyai KDH minimum sebesar 15%.
d. Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Garis Sepadan Pagar (GSP)
Ketentuan besarnya GSB dan GSP harus mengikuti ketentuan yang
diatur dalam RTBL atau peraturan daerah setempat.

(3) Memenuhi persyaratan Peraturan Daerah setempat (tata kota yang berlaku).

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

67

(4) Pengembangan RS pola vertikal dan horizontal


Penentuan pola pembangunan RS baik secara vertikal maupun horisontal,
disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang diinginkan RS
(;health needs), kebudayaan daerah setempat (;cultures), kondisi alam
daerah setempat (;climate), lahan yang tersedia (;sites) dan kondisi
keuangan manajemen RS (;budget).

3.1.3

Zonasi.
Pengkategorian pembagian area atau zonasi rumah sakit adalah zonasi
berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit, zonasi berdasarkan
privasi dan zonasi berdasarkan pelayanan.
(1)

Zonasi berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit terdiri


dari :
area dengan risiko rendah, yaitu ruang kesekretariatan dan
administrasi, ruang komputer, ruang pertemuan, ruang arsip/rekam
medis.
area dengan risiko sedang, yaitu ruang rawat inap non-penyakit
menular, rawat jalan.
area dengan risiko tinggi, yaitu ruang isolasi, ruang ICU/ICCU,
laboratorium, pemulasaraan jenazah dan ruang bedah mayat, ruang
radiodiagnostik.
area dengan risiko sangat tinggi, yaitu ruang bedah, IGD, ruang
bersalin, ruang patolgi.

(2)

(3)

68

Zonasi berdasarkan privasi kegiatan terdiri dari :

area publik, yaitu area yang mempunyai akses langsung dengan


lingkungan luar rumah sakit, misalkan poliklinik, IGD, apotek).

area semi publik, yaitu area yang menerima tidak berhubungan


langsung dengan lingkungan luar rumah sakit, umumnya merupakan
area yang menerima beban kerja dari area publik, misalnya
laboratorium, radiologi, rehabilitasi medik.

area privat, yaitu area yang dibatasi bagi pengunjung rumah sakit,
umumnya area tertutup, misalnya seperti ICU/ICCU, instalasi bedah,
instalasi kebidanan dan penyakit kandungan, ruang rawat inap.

Zonasi berdasarkan pelayanan terdiri dari :

Zona Pelayanan Medik dan Perawatan yang terdiri dari : Instalasi


Rawat Jalan (IRJ), Instalasi Gawat Darurat (IGD), Instalasi Rawat
Inap (IRNA), Instalasi Perawatan Intensif (ICU/ICCU/PICU/NICU),
Instalasi Bedah, Instalasi Rehabilitasi Medik (IRM), Instalasi
Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Unit Hemodialisa, Instalasi
Radioterapi, Instalasi Kedokteran Nuklir, Unit Transfusi Darah (Bank
Darah).

Zona Penunjang dan Operasional yang terdiri dari : Instalasi Farmasi,


Instalasi Radiodiagnostik, Laboratorium, Instalasi Diagnostik Terpadu
(IDT), Instalasi Sterilisasi Pusat (;Central Sterilization Supply
Dept./CSSD), Dapur Utama, Laundri, Pemulasaraan Jenazah dan
Forensik, Instalasi Sanitasi, Instalasi Pemeliharaan Sarana (IPS).

Zona Penunjang Umum dan Administrasi yang terdiri dari : Bagian


Kesekretariatan dan Akuntansi, Bagian Rekam Medik, Bagian
Logistik/ Gudang, Bagian Perencanaan dan Pengembangan

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(Renbang), Sistem Pengawasan Internal (SPI), Bagian Pendidikan


dan Penelitian (Diklit), Bagian Sumber Daya Manusia (SDM), Bagian
Pengadaan, Bagian Informasi dan Teknologi (IT).

Gambar 3.1.3.a - Zoning Rumah Sakit Berdasarkan Pelayanan Pada RS Pola


Pembangunan Horisontal

Gambar 3.1.3.b - Zoning Rumah Sakit Berdasarkan Pelayanan Pada RS Pola


Pembangunan Vertikal

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

69

3.1.4

Kebutuhan luas lantai.


(1)

Kebutuhan luas lantai untuk rumah sakit umum ini disarankan + 80 m2.

(2)

Sebagai contoh, rumah sakit umum dengan kapasitas 300 tempat tidur,
kebutuhan luas lantainya adalah sebesar 80 (m2/tempat tidur) x 300 tempat
tidur = + 24.000 m2 .

(3)

Tabel 3.1.4 menunjukkan bagian-bagian dari rumah sakit umum dan


ruangan yang dibutuhkannya.

Tabel 3.1.4 Kebutuhan ruang minimal untuk rumah sakit umum.


Daerah

70

Luas (m2) per


tempat tidur

Administrasi

3 ~ 3,5

Unit Gawat Darurat

1 ~ 1,5

Poliklinik

1 ~ 1,5

Pelayanan social

0,1

Pendaftaran

0,2

Laboratorium Klinis, Pathologi

Kebidanan dan kandungan

Diagnostik dan Radiologi

Dapur makanan

2,5 ~ 3,0

10

Fasilitas petugas

0,5 ~ 0,8

11

Ruang pertemuan, pelatihan

12

Terapi Wicara dan pendengaran.

13

Rumah tangga/kebersihan

0,4 ~ 0,5

14

Manajemen material

0,4 ~ 0,5

15

Gudang pusat

2,5 ~ 3,5

16

Pembelian

17

Laundri

18

Rekam medis

0,5 ~ 0,8

19

Fasilitas staf medik

0,2 ~ 0,3

20

Teknik dan pemeliharaan

21

Pengobatan nuklir

0,4 ~ 0,5

22

Ruang anak

0,4 ~ 0,5

23

Petugas

0,3 ~ 0,4

24

Farmasi

0,4 ~ 0,6

25

Ruang public

26

Ruang pengobatan kulit

27

Therapi radiasi

0,8 ~ 1

28

Therapi fisik

1 ~ 1,2

29

Therapi okupasi

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

2,5 ~ 3
1,2 ~ 1,5
3~4

0,5 ~ 1
0,1

0,2
1 ~ 1,5

5~6

1 ~ 1,5
0,1 ~ 0,2

0,3 ~ 0,5

30

Ruang bedah

3,5 ~ 5

31

Sirkulasi

10 ~ 15

32

Unit rawat inap

25 ~ 35

3.2

Perencanaan bangunan rumah sakit.

3.2.1

Prinsip umum.
(1)

Perlindungan terhadap pasien merupakan hal yang harus diprioritaskan.


Terlalu banyak lalu lintas akan menggangu pasien, mengurangi efisiensi
pelayanan pasien dan meninggikan risiko infeksi, khususnya untuk pasien
bedah dimana kondisi bersih sangat penting. Jaminan perlindungan
terhadap infeksi merupakan persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam
kegiatan pelayanan terhadap pasien.

(2)

Merencanakan sependek mungkin jalur lalu lintas. Kondisi ini membantu


menjaga kebersihan (aseptic) dan mengamankan langkah setiap orang,
perawat, pasien dan petugas rumah sakit lainnya. RS adalah tempat
dimana sesuatunya berjalan cepat, mengingat jiwa pasien taruhannya,
oleh karena itu jalur lalu lintas harus direncanakan seefisien mungkin baik
dari segi waktu, biaya maupun tenaga.

(3)

Pemisahan aktivitas yang berbeda, pemisahan antara pekerjaan bersih


dan pekerjaan kotor, aktivitas tenang dan bising, perbedaan tipe layanan
pasien, dan tipe berbeda dari lalu lintas di dalam dan di luar bangunan.

(4)

Mengontrol aktifitas petugas terhadap pasien serta aktifitas pengunjung RS


yang datang, agar aktifitas pasien dan petugas tidak terganggu.
Tata letak Pos perawat harus mempertimbangkan kemudahan bagi
perawat untuk memonitor dan membantu pasien yang sedang berlatih di
koridor pasien, dan aktifitas pengunjung saat masuk dan ke luar unit. Bayi
harus dilindungi dari kemungkinan pencurian dan dari kuman penyakit
yang dibawa pengunjung dan petugas RS. Pasien di ruang ICU dan ruang
bedah harus dijaga terhadap infeksi.

3.2.3

Prinsip khusus.
(1)

Pencahayaan dan penghawaan yang nyaman untuk semua bagian


bangunan merupakan faktor yang penting. Ini khususnya untuk RS yang
tidak menggunakan AC.

(2)

RS minimal mempunyai 3 akses/pintu masuk/gerbang masuk, terdiri dari


pintu masuk utama, pintu masuk ke Unit Gawat Darurat dan Pintu Masuk
ke area layanan Servis.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

71

GEDUNG
E

GEDUNG
C

GEDUNG B
GEDUNG
D
GEDUNG A

Gambar 3.2.3-a - Contoh gambar akses pintu masuk RS


(3)

Pintu masuk untuk service sebaiknya berdekatan dengan dapur dan


daerah penyimpanan persediaan (gudang) yang menerima barang-barang
dalam bentuk curah, dan bila mungkin berdekatan dengan lif service.
Bordes dan timbangan tersedia di daerah itu. Sampah padat dan sampah
lainnya dibuang dari tempat ini, juga benda-benda yang tidak terpakai.
Akses ke kamar mayat sebaiknya diproteksi terhadap pandangan pasien
dan pengunjung untuk alasan psikologis.

(4)

Pintu masuk dan lobi disarankan dibuat cukup menarik, sehingga pasien
dan pengantar pasien mudah mengenali pintu masuk utama.

(5)

Jendela sebaiknya dilengkapi dengan kawat kasa untuk mencegah


serangga lainnya yang berada di sekitar RS, dan dilengkapi pengaman.

(6)

Alur lalu lintas pasien dan petugas RS harus direncanakan seefisien


mungkin.

(7)

Koridor publik dipisah dengan koridor untuk pasien dan petugas medik,
dimaksudkan untuk mengurangi waktu kemacetan. Bahan-bahan, material
dan pembuangan sampah sebaiknya tidak memotong pergerakan orang.
Rumah sakit perlu dirancang agar petugas, pasien dan pengunjung mudah
orientasinya jika berada di dalam bangunan.

(8)

Lebar koridor 2,40 m dengan tinggi langit-kangit minimal 2,40 m. Koridor


sebaiknya lurus. Apabila ramp digunakan, kemiringannya sebaiknya tidak
melebihi 1 : 10 ( membuat sudut maksimal 70)

(9)

Alur pasien rawat jalan yang ingin ke laboratorium, radiologi, farmasi, terapi
khusus dan ke pelayanan medis lain, tidak melalui daerah pasien rawat
inap.

(10) Alur pasien rawat inap jika ingin ke laboratorium, radiologi dan bagian lain,
harus mengikuti prosedur yang telah ditentukan.

72

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

IPAL

SERVICE
UTILITAS

MASJID

Gambar 3.3.2-c Contoh Model Aliran lalu lintas dalam RS


(11) Site Plan atau Tata letak instalasi-instalasi berdasarkan zoning dan
peruntukan bangunan yang telah direncanakan. Contoh dapat dilihat pada
gambar 2.3.2-d.

Gambar 3.3.2-d Contoh Model Perletakan Instalasi-instalasi pada Site Rumah


Sakit (Rencana Blok)
Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

73

BAGIAN IV
PERSYARATAN TEKNIS SARANA RUMAH SAKIT
4.1.

Atap.

4.1.1

Umum.
Atap harus kuat, tidak bocor, tahan lama dan tidak menjadi tempat perindukan
serangga, tikus, dan binatang pengganggu lainnya.

4.1.2

Persyaratan atap.
(1)

(2)

4.2.

Penutup atap.
(a)

Apabila menggunakan penutup atap dari bahan beton harus dilapisi


dengan lapisan tahan air.

(b)

Penutup atap bila menggunakan genteng keramik, atau genteng


beton, atau genteng tanah liat (plentong), pemasangannya harus
dengan sudut kemiringan sesuai ketentuan yang berlaku.

(c)

Mengingat pemeliharaannya yang sulit khususnya bila terjadi


kebocoran, penggunaan genteng metal sebaiknya dihindari.

Rangka atap.
(a)

Rangka atap harus kuat memikul beban penutup atap.

(b)

Apabila rangka atap dari bahan kayu, harus dari kualitas yang baik
dan kering, dan dilapisi dengan cat anti rayap.

(c)

Apabila rangka atap dari bahan metal, harus dari metal yang tidak
mudah berkarat, atau di cat dengan cat dasar anti karat.

Langit-langit.
(1)

Umum.
Langit-langit harus kuat, berwarna terang, dan mudah dibersihkan.

(2)

Persyaratan langit-langit.
(a)

Tinggi langit-langit di ruangan, minimal 2,80 m, dan tinggi di selasar


(koridor) minimal 2,40 m.

(b)

Rangka langit-langit harus kuat.

(c)

Bahan langit-langit antara lain gipsum, acoustic tile, GRC (Grid


Reinforce Concrete), bahan logam/metal.

4.3.

Dinding dan Partisi.

4.3.1

Umum.
Dinding harus keras, rata, tidak berpori, tidak menyebabkan silau, tahan api,
kedap air, tahan karat, tidak punya sambungan (utuh), dan mudah dibersihkan.

74

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4.3.2

Persyaratan dinding.
Komponen dinding memiliki persyaratan sebagai berikut :
(a)

dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca dan tidak berjamur.

(b)

lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung poripori) sehingga dinding tidak dapat menyimpan debu.

(c)

warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.

(d)

khusus pada ruangan-ruangan yang berkaitan dengan aktivitas anak,


pelapis dinding warna-warni dapat diterapkan untuk merangsang aktivitas
anak.

(e)

pada daerah tertentu, dindingnya harus dilengkapi pegangan tangan


(handrail) yang menerus dengan ketinggian berkisar 80 ~ 100 cm dari
permukaan lantai. Pegangan harus mampu menahan beban orang dengan
berat minimal 75 kg yang berpegangan dengan satu tangan pada
pegangan tangan yang ada.
Bahan pegangan tangan harus terbuat dari bahan yang tahan api, mudah
dibersihkan dan memiliki lapisan permukaan yang bersifat non-porosif
(tidak mengandung pori-pori).

(f)

khusus untuk daerah yang sering berkaitan dengan bahan kimia, daerah
yang mudah terpicu api, maka dinding harus dari bahan yang tahan api,
cairan kimia dan benturan.

(g)

pada ruang yang menggunakan peralatan yang menggunakan gelombang


elektromagnit (EM), seperti Short Wave Diathermy atau Micro Wave
Diathermy, penggunaan penutup dinding yang mengandung unsur metal
atau baja sedapat mungkin dihindarkan.

(h)

khusus untuk daerah tenang (misalkan daerah perawatan pasien), maka


bahan dinding menggunakan bahan yang kedap suara atau area/ruang
yang bising (misalkan ruang mesin genset, ruang pompa, dll)
menggunakan bahan yang dapat menyerap bunyi.

4.4.

Lantai.

4.4.1

Umum.
Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin,
warna terang, dan mudah dibersihkan.

4.4.2

Persyaratan lantai.
Komponen penutup lantai memiliki persyaratan sebagai berikut :
(a)

tidak terbuat dari bahan yang memiliki lapisan permukaan dengan


porositas yang tinggi yang dapat menyimpan debu.

(b)

mudah dibersihkan dan tahan terhadap gesekan.

(c)

penutup lantai harus berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata.

(d)

memiliki pola lantai dengan garis alur yang menerus keseluruh ruangan
pelayanan.

(e)

pada daerah dengan kemiringan kurang dari 70, penutup lantai harus dari
lapisan permukaan yang tidak licin (walaupun dalam kondisi basah).

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

75

(f)

khusus untuk daerah yang sering berkaitan dengan bahan kimia, daerah
yang mudah terbakar, maka bahan penutup lantai harus dari bahan yang
tahan api, cairan kimia dan benturan.

(g)

khusus untuk daerah perawatan pasien (daerah tenang) bahan lantai


menggunakan bahan yang tidak menimbulkan bunyi atau area/ruang yang
bising menggunakan bahan yang dapat menyerap bunyi.

(h)

Pada ruang-ruang khusus yang menggunakan peralatan (misalkan ruang


bedah), maka lantai harus cukup konduktif, sehingga mudah untuk
menghilangkan muatan listrik statik dari peralatan dan petugas, tetapi
bukan sedemikian konduktifnya sehingga membahayakan petugas dari
sengatan listrik.

4.5.

Struktur Bangunan.

4.5.1

Persyaratan pembebanan Bangunan Rumah Sakit.


(1)

76

Umum.
(a)

Setiap bangunan rumah sakit, strukturnya harus direncanakan dan


dilaksanakan agar kuat, kokoh, dan stabil dalam memikul
beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan
(safety), serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability)
selama
umur
layanan
yang
direncanakan
dengan
mempertimbangkan fungsi bangunan rumah sakit, lokasi, keawetan,
dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya.

(b)

Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruhpengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin
bekerja selama umur layanan struktur, baik beban muatan tetap
maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa, angin,
pengaruh korosi, jamur, dan serangga perusak.

(c)

Dalam perencanaan struktur bangunan rumah sakit terhadap


pengaruh gempa, semua unsur struktur bangunan rumah sakit, baik
bagian dari sub struktur maupun struktur gedung, harus
diperhitungkan memikul pengaruh gempa rencana sesuai dengan
zona gempanya.

(d)

Struktur bangunan rumah sakit harus direncanakan secara detail


sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan,
apabila terjadi keruntuhan, kondisi strukturnya masih dapat
memungkinkan pengguna bangunan rumah sakit menyelamatkan diri.

(e)

Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan, harus


dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai
dengan Pedoman Teknis atau standar yang berlaku.

(f)

Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan


sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan rumah
sakit, sehingga bangunan rumah sakit selalu memenuhi persyaratan
keselamatan struktur.

(g)

Pemeriksaan keandalan bangunan rumah sakit dilaksanakan secara


berkala sesuai dengan pedoman teknis atau standar teknis yang
berlaku, dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki
sertifikasi sesuai.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(2)

4.5.2

Persyaratan Teknis.
(a)

Analisis struktur harus dilakukan untuk memeriksa respon struktur


terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur
kelayanan struktur, termasuk beban tetap, beban sementara (angin,
gempa) dan beban khusus.

(b)

Penentuan mengenai jenis, intensitas dan cara bekerjanya beban


harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku, seperti :
1)

SNI 031726-1989 atau edisi terbaru; Tata cara perencana an


ketahanan gempa untuk rumah dan gedung.

2)

SNI 03-1727-1989 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan


pembebanan untuk rumah dan gedung.

Struktur Atas
(1)

Umum.
Konstruksi atas bangunan rumah sakit dapat terbuat dari konstruksi beton,
konstruksi baja, konstruksi kayu atau konstruksi dengan bahan dan
teknologi khusus

(2)

Persyaratan Teknis,
(a)

Konstruksi beton
Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar teknis yang
berlaku, seperti :

(b)

1)

SNI 032847-1992 atau edisi terbaru; Tata cara perhitungan


struktur beton untuk bangunan gedung.

2)

SNI 033430-1994 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan


dinding struktur pasangan blok beton berongga bertulang untuk
bangunan rumah dan gedung.

3)

SNI 03-1734-1989 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan


beton dan struktur dinding bertulang untuk rumah dan gedung.

4)

SNI 032834 -1992 atau edisi terbaru; Tata cara pembuatan


rencana campuran beton normal.

5)

SNI 033976-1995 atau edisi terbaru; Tata cara pengadukan


dan pengecoran beton.

6)

SNI 033449-1994 atau edisi terbaru; Tata cara rencana


pembuatan campuran beton ringan dengan agregat ringan.

Konstruksi Baja
Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar yang berlaku
seperti :
1)

SNI 03-1729-1989 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan


bangunan baja untuk gedung.

2)

Tata Cara dan/atau pedoman lain yang masih terkait dalam


perencanaan konstruksi baja .

3)

Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

77

4)
(c)

Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan


Konstruksi.

Konstruksi Kayu
Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar teknis yang
berlaku, seperti:

(d)

(e)

1)

Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan


Gedung.

2)

Tata cara/pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan


konstruksi kayu.

3)

Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu

4)

SNI 03 2407 1991 atau edisi terbaru; Tata cara pengecatan


kayu untuk rumah dan gedung.

Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus


1)

Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus


harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang
bahan dan teknologi khusus tersebut.

2)

Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar teknis


padanan untuk spesifikasi teknis, tata cara, dan metoda uji
bahan dan teknologi khusus tersebut.

Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi


Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi,
standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanaan suatu
bangunan yang harus dipenuhi, antara lain:

78

1)

SNI 03-1735-2000 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan


bangunan dan lingkungan untuk pencegahan bahaya
kebakaran pada bangunan rumah dan gedung.

2)

SNI 03-1736-1989 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan


struktur bangunan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada
bangunan rumah dan gedung.

3)

SNI 03-1963-1990 atau edisi terbaru; Tata cara dasar


koordinasi modular untuk perancangan bangunan rumah dan
gedung.

4)

SNI 032395-1991 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan


dan perancangan bangunan radiologi di rumah sakit.

5)

SNI 032394-1991 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan


dan perancangan bangunan kedokteran nuklir di rumah sakit.

6)

SNI 032404-1991 atau edisi terbaru; Tata cara pencegahan


rayap pada pembuatan bangunan rumah dan gedung.

7)

SNI 032405-1991 atau edisi terbaru; Tata cara


penanggulangan rayap pada bangunan rumah dan gedung
dengan termitisida.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4.5.3

Struktur Bawah
(1)

Umum.
Struktur bawah bangunan rumah sakit dapat berupa pondasi langsung
atau pondasi dalam, disesuaikan dengan kondisi tanah di lokasi
didirikannya rumah sakit.

(2)

Persyaratan Teknis.
(a)

(b)

Pondasi Langsung
1)

Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian


rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang
mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan
selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan
yang melampaui batas.

2)

Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan


sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam
praktek, berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari
penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan
korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain.

3)

Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari


rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan
oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai.

4)

Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau


konstruksi beton bertulang.

Pondasi Dalam
1)

Dalam hal penggunaan tiang pancang beton bertulang harus


mengacu pedoman teknis dan standar yang berlaku.

2)

Dalam hal lokasi pemasangan tiang pancang terletak di daerah


tepi laut yang dapat mengakibatkan korosif harus
memperhatikan pengamanan baja terhadap korosi memenuhi
pedoman teknis dan standar yang berlaku.

3)

Dalam hal perencanaan atau metode


pelaksanaan
menggunakan pondasi yang belum diatur dalam SNI dan/atau
mempunyai paten dengan metode konstruksi yang belum
dikenal, harus mempunyai sertifikat yang dikeluarkan instansi
yang berwenang.

4)

Dalam hal perhitungan struktur menggunakan perangkat lunak,


harus menggunakan perangkat lunak yang diakui oleh asosiasi
terkait)

5)

Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan


tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah
permukaan tanah, sehingga penggunaan pondasi langsung
dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau
ketidakstabilan konstruksi.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

79

(c)

(d)

6)

Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan


sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam
praktek, berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari
penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan
korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain.

7)

Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus


diverifikasi dengan percobaan pembebanan, kecuali jika jumlah
pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang
jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim.

8)

Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan


dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus
dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

9)

Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah


1% dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan
penentuan titik secara random, kecuali ditentukan lain oleh
perencana ahli serta disetujui oleh instansi yang bersangkutan.

Keselamatan Struktur
1)

Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan, harus


dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala
sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman Teknis Tata Cara
Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung.

2)

Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera


dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan
bangunan rumah salikit, sehingga rumah sakit selalu memenuhi
persyaratan keselamatan struktur.

3)

Pemeriksaan keandalan bangunan rumah sakit dilaksanakan


secara berkala sesuai klasifikasi bangunan, dan harus
dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi
sesuai.

Keruntuhan Struktur
Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak
diharapkan, pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan
secara berkala sesuai dengan pedoman/petunjuk teknis yang
berlaku.

(e)

80

Persyaratan Bahan
1)

Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua


persyaratan keamanan, termasuk keselamatan terhadap
lingkungan dan pengguna bangunan, serta sesuai pedoman
teknis atau standar teknis yang berlaku.

2)

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum


mempunyai SNI, dapat digunakan standar baku dan pedoman
teknis yang diberlakukan oleh instansi yang berwenang.

3)

Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan, harus


diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk
keperluan yang dimaksud.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4)

4.6.

Pintu.

4.6.1

Umum.

Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga


memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu
mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan,
serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat
pemasangan/pelaksanaan.

Pintu adalah bagian dari suatu tapak, bangunan atau ruang yang merupakan
tempat untuk masuk dan ke luar dan pada umumnnya dilengkapi dengan
penutup (daun pintu).
4.6.2

Persyaratan.
(1)

Pintu ke luar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 120 cm atau


dapat dilalui brankar pasien, dan pintu-pintu yang tidak menjadi akses
pasien tirah baring memiliki lebar bukaan minimal 90 cm.

(2)

Di daerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp


atau perbedaan ketinggian lantai.

(3)

Pintu Darurat

(4)

Setiap bangunan RS yang bertingkat lebih dari 3 lantai harus dilengkapi


dengan pintu darurat.
Lebar pintu darurat minimal 100 cm membuka kearah ruang tangga
penyelamatan (darurat) kecuali pada lantai dasar membuka ke arah
luar (halaman).
Jarak antar pintu darurat dalam satu blok bangunan gedung maksimal
25 m dari segala arah.

Pintu khusus untuk kamar mandi di rawat inap dan pintu toilet untuk
aksesibel, harus terbuka ke luar (lihat gambar 3.9.1), dan lebar daun pintu
minimal 85 cm.

Gambar 4.6.1 - Pintu kamar mandi pada ruang rawat inap


harus terbuka ke luar

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

81

4.7.

Toilet (Kamar kecil).

4.7.1

Umum.
Fasilitas sanitasi yang aksesibel untuk semua orang (tanpa terkecuali
penyandang cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil) pada bangunan atau fasilitas
umum lainnya

4.7.2

Persyaratan.
(1)

Toilet umum.
(a)

Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup
untuk masuk dan keluar oleh pengguna.

(b)

Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian


pengguna ( 36 ~ 38 cm).

(c)

Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin. Lantai tidak boleh
menggenangkan air buangan.

(d)

Pintu harus mudah dibuka dan ditutup.

(e)

Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa


dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat

(2) Toilet untuk aksesibilitas.


(a) Toilet atau kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi
dengan tampilan rambu/simbol "penyandang cacat" pada bagian
luarnya.

82

(b)

Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup
untuk masuk dan keluar pengguna kursi roda.

(c)

Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian


pengguna kursi roda sekitar (45 ~ 50 cm)

(d)

Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan


rambat (handrail) yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan
dengan pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain.
Pegangan disarankan memiliki bentuk siku-siku mengarah ke atas
untuk membantu pergerakan pengguna kursi roda.

(e)

Letak kertas tissu, air, kran air atau pancuran (shower) dan
perlengkapan-perlengkapan seperti tempat sabun dan pengering
tangan harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh
orang yang memiliki keterbatasan keterbatasan fisik dan bisa
dijangkau pengguna kursi roda.

(f)

Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin. Lantai tidak boleh
menggenangkan air buangan.

(g)

Pintu harus mudah dibuka dan ditutup untuk memudahkan pengguna


kursi roda.

(h)

Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa


dibuka dari luar jika terjadi kondisi darurat.

(j)

Pada tempat-tempat yang mudah dicapai, seperti pada daerah pintu


masuk, dianjurkan untuk menyediakan tombol bunyi darurat
(emergency sound button) bila sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang
tidak diharapkan.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Gambar 4.7.2 - Ruang gerak dalam Toilet untuk Aksesibel.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

83

BAGIAN V
PERSYARATAN TEKNIS
PRASARANA RUMAH SAKIT
5.1

Sistem Proteksi Kebakaran

5.1.1

Sistem Proteksi Pasif


Setiap bangunan rumah sakit harus mempunyai sistem proteksi pasif terhadap
bahaya kebakaran yang berbasis pada desain atau pengaturan terhadap
komponen arsitektur dan struktur rumah sakit sehingga dapat melindungi
penghuni dan benda dari kerusakan fisik saat terjadi kebakaran.
Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi resiko
kebakaran, geometri ruang, bahan bangunan terpasang, dan/atau jumlah dan
kondisi penghuni dalam rumah sakit.
(1)

Rumah sakit harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran.

(2)

Kompartemenisasi dan konstruksi pemisah untuk membatasi kobaran api


yang potensial, perambatan api dan asap, agar dapat:

(3)

(a)

melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan


terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam
bangunan.

(b)

mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke bangunan lain


yang berdekatan.

(c)

menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran

Proteksi Bukaan
Seluruh bukaan harus dilindungi, dan lubang utilitas harus diberi penyetop
api (fire stop) untuk mencegah merambatnya api serta menjamin
pemisahan dan kompartemenisasi bangunan.

5.1.2

Sistem Proteksi Aktif


Sistem proteksi aktif adalah peralatan deteksi dan pemadam yang dipasang
tetap atau tidak tetap, berbasis air, bahan kimia atau gas, yang digunakan untuk
mendeteksi dan memadamkan kebakaran pada bangunan rumah sakit.
(1)

Pipa tegak dan slang Kebakaran


Sistem pipa tegak ditentukan oleh ketinggian gedung, luas per lantai,
klasifikasi hunian, sistem sarana jalan ke luar, jumlah aliran yang
dipersyaratkan dan sisa tekanan, serta jarak sambungan selang dari
sumber pasokan air.

(2)

Hidran Halaman
Hidran halaman diperlukan untuk pemadaman api dari luar bangunan
gedung. Sambungan slang ke hidran halaman harus memenuhi
persyaratan yang ditentukan oleh instansi kebakaran setempat.

84

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(3)

Sistem Springkler Otomatis.


Sistem springkler otomatis harus dirancang untuk memadamkan
kebakaran atau sekurang-kurangnya mempu mempertahankan kebakaran
untuk tetap, tidak berkembang, untuk sekurang-kurangnya 30 menit sejak
kepada springkler pecah.

(4)

Pemadam Api Ringan (PAR)


Alat pemadam api ringan kimia (APAR) harus ditujukan untuk
menyediakan sarana bagi pemadaman api pada tahap awal. Konstruksi
APAR dapat dari jenis portabel (jinjing) atau beroda,

(5)

Sistem Pemadam Kebakaran Khusus.


Sistem pemadaman khusus yang dimaksud adalah sistem pemadaman
bukan portable (jinjing) dan beroperasi secara otomatis untuk perlindungan
dalam ruang-ruang dan atau penggunaan khusus.
Sistem pemadam khusus meliputi sistem gas dan sistem busa.

(6)

Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran


Sistem deteksi dan alarm kebakaran berfungsi untuk mendeteksi secara
dini terjadinya kebakaran, baik secara otomatis maupun manual.

(7)

Sistem Pencahayaan Darurat


Pencahayaan darurat di dalam rumah sakit diperlukan khususmya pada
keadaan darurat, misalnya tidak berfungsinya pencahayaan normal dari
PLN atau tidak dapat beroperasinya dengan segera daya siaga dari diesel
generator.

(8)

Tanda Arah.
Bila suatu eksit tidak dapat terlihat secara langsung dengan jelas oleh
pengunjung atau pengguna bangunan, maka harus dipasang tanda
penunjuk dengan tanda panah menunjukkan arah, dan dipasang di koridor,
jalan menuju ruang besar (hal), lobi dan semacamnya yang memberikan
indikasi penunjukkan arah ke eksit yang disyaratkan.

(9)

Sistem Peringatan Bahaya


Sistem peringatan bahaya dapat juga difungsikan sebagai sistem penguat
suara (public address), diperlukan guna memberikan panduan kepada
penghuni dan tamu sebagai tindakan evakuasi atau penyelamatan dalam
keadaan darurat. Ini dimaksudkan agar penghuni bangunan memperoleh
informasi panduan yang tepat dan jelas.

5.2

Sistem Komunikasi Dalam Rumah sakit


Persyaratan komunikasi dalam rumah sakit dimaksudkan sebagai penyediaan
sistem komunikasi baik untuk keperluan internal bangunan maupun untuk
hubungan ke luar, pada saat terjadi kebakaran dan/atau kondisi darurat lainnya.
Termasuk antara lain: sistem telepon, sistem tata suara, sistem voice
evacuation, dan sistem panggil perawat.
Penggunaan instalasi tata suara pada waktu keadaan darurat dimungkinkan
asal memenuhi pedoman dan standar teknis yang berlaku.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

85

5.2.1

Sistem Telepon dan Tata Suara.


(1)

(2)

Umum.
(a)

Sistem instalasi komunikasi telepon dan sistem tata komukasi


gedung, penempatannya harus mudah diamati, dioperasikan,
dipelihara, tidak membahayakan, mengganggu dan merugikan
lingkungan dan bagian bangunan serta sistem instalasi lainnya, serta
direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan standar, normalisasi
teknik dan peraturan yang berlaku.

(b)

Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi


dampak, dan harus diamankan terhadap gangguan seperti
interferensi gelombang elektro magnetik, dan lain-lain.

(c)

Secara berkala dilakukan pengukuran/pengujian terhadap EMC


(Electro Magnetic Campatibility). Apabila hasil pengukuran terhadap
EMC melampaui ambang batas yang ditentukan, maka langka
penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan.

(d)

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum mempunyai


SNI, dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang
diberlakukan oleh instansi yang berwenang

Persyaratan Teknis Instalasi Telepon.


(a)

Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang, tidak ada


genangan air, aman dan mudah dikerjakan.

2)

Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk


ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran
1,50 m x 0,80 m dan harus diamankan agar tidak menjadi jalan
air masuk ke rumah sakit pada saat hujan dll.

3)

Diupayakan dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan


dekat dengan jalan besar.

Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik, minimal


berjarak 0,10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku.

(c)

Ruang PABX/TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan:


1)

Ruang yang bersih, terang, kedap debu, sirkulasi udaranya


cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung, serta
memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan.

2)

Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas.

3)

Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon.

Ruang batere sistem telepon harus bersih, terang, mempunyai


dinding dan lantai tahan asam, sirkulasi udara cukup dan udara
buangnya harus dibuang ke udara terbuka dan tidak ke ruang publik,
serta tidak boleh kena sinar matahari langsung.

Persyaratan Teknis Instalasi Tata Suara


(a)

86

1)

(b)

(d)

(3)

Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi persyaratan :

Setiap bangunan rumah sakit dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m


keatas, harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan
untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi
kebakaran atau keadaan darurat lainnya.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

5.2.2

(b)

Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada


butir 1) di atas harus menggunakan sistem khusus, sehingga apabila
sistem tata suara umum rusak, maka sistem telepon darurat tetap
dapat bekerja.

(c)

Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi


lainnya, dan dilindungin terhadap bahaya kebakaran, atau terdiri dari
kabel tahan api.

(d)

Harus dilengkapi dengan sumber/pasokan daya listrik untuk kondisi


normal maupun pada kondisi daya listrik utama mengalami
gangguan, dengan kapasitas dan dapat melayani dalam waktu yang
cukup sesuai ketentuan yang berlaku.

(e)

Persyaratan sistem komunikasi dalam gedung harus memenuhi:


1)

UU No. 32 tahun 1999, tentang Telekomunikasi.

2)

PP No. 52/2000, tentang Telekomunikasi Indonesia.

Sistem Panggil Perawat (Nurse Call)

5.2.2.1 Umum
(1)

Peralatan sistem panggil perawat dimaksudkan untuk memberikan


pelayanan kepada pasien yang memerlukan bantuan perawat, baik dalam
kondisi rutin atau darurat.

(2)

Sistem panggil perawat bertujuan menjadi alat komunikasi antara perawat


dan pasien dalam bentuk visual dan audible (suara), dan memberikan
sinyal pada kejadian darurat pasien.

5.2.2.2 Persyaratan Teknis


(1)

Peralatan Sistem Panggil Perawat (SPP).


(a)

Panel Kontrol SPP.


Panel kontrol SPP harus :
1) jenis audio dan visual.
2) penempatannya diatas meja.
3) perlengkapan yang ada pada panel kontrol SPP sebagai berikut :
a) mempunyai mikrofon. speaker dan handset. Handset
dilengkapi kabel dengan panjang 910 mm (3 ft). Handset
harus mampu menghubungkan dua arah komunikasi antara
perawat dan pos pemanggil yang dipilih. Mengangkat handset
akan mematikan mikrofon/speaker.
b) Tombol penunjuk atau layar sentuh dengan bacaan digital
secara
visual
memberitahu
lokasi
panggilan
dan
menempatkannya dalam sistem, meliputi:
(i)

Nomor ruang.

(ii)

Kamar.

(iii)

Tempat tidur.

(iv)

Prioritas panggilan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

87

c) Panggilan dari pos darurat yang ditempatkan di dalam toilet


atau kamar mandi.
d) Mampu menampilkan sedikitnya 4 (empat) panggilan yang
datang.
e) Modul mengikuti perawat.
Apabila modul mengikuti perawat ditempatkan di bedside
ruang rawat inap pasien diaktifkan, semua panggilan yang
ditempatkan dalam sistem secara visual atau audible
diteruskan ke bedside yang dikunjungi.
f)

Berfungsi menjawab secara otomatis atau selektif.

g) Fungsi prioritas panggilan yang datang.


Sinyal visual atau audible akan menandai adanya suatu
panggilan rutin atau darurat dan akan menerus sampai
panggilan itu dibatalkan. Panggilan darurat harus dibatalkan
hanya di pos darurat setempat.
h) Fungsi pengingat (memory).
Dapat menyimpan sementara suatu panggilan yang
ditempatkan dan menghasilkan sinyal visual berupa nyala
lampu dome di koridor yang dihubungkan dengan bedside
dengan cara mengaktifkan fungsi/sirkit pengingat. Sinyal
visual ini akan mati dan panggilan yang tersimpan terhapus
dari memory ketika panggilan itu dibatalkan di pos setempat.
i)

Kemampuan menghasilkan sinyal audible dan visual untuk


menandai adanya panggilan yang datang dari pos yang
terhubung :
(i) dapat menghentikan atau melemahkan sinyal audible
melalui rangkaian rangkaian mematikan/melemahkan
saat panel kontrol sedang digunakan untuk menjawab
atau menempatkan suatu panggilan. Sinyal audible untuk
panggilan yang datang dan tidak terjawab harus secara
otomatis disambungkan kembali ketika panel kontrol SPP
dikembalikan ke modus siaga.
(ii) Sinyal visual untuk panggilan yang datang harus tetap
ditampilkan pada setiap saat sampai panggilan terjawab
atau dibatalkan pada pos pemanggilan.
(iii) Sinyal audible dan sinyal visual untuk panggilan rutin dan
darurat harus jelas berbeda.
(iv) Tampilan visual untuk menunjukkan lokasi pos panggilan
harus muncul pada panel kontrol SPP.

j)

Tombol sentuh, atau serupa membolehkan perawat memilih


pos panggilan dan melakukan komunikasi suara dua arah.
Tombol sentuh juga harus memberikan program status
prioritas dan kemampuan fungsi lain yang ada, yaitu :
(i) Kemampuan memonitor bedside.

88

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(ii) Kemampuan berhubungan minimum 10 pos beside secara


serempak.
(iii) Mampu menerima panggilan dari 10 pos panggilan terkait
secara serempak.
(iv) Kemampuan untuk menjawab dengan cara :
k) Dengan mengangkat handset atau mengaktifkan satu fungsi
panggilan untuk menjawab, berikutnya akan secara otomatis
mengizinkan perawat untuk berkomunikasi dengan pos
berikutnya di dalam urutan prioritas panggilan, atau
l)

Dengan memilih jawaban dari setiap pos panggilan yang


ditempatkan di dalam urutan.

m) Sedikitnya ditambahkan 10% untuk mengakomodasi


tambahan pasien, dan pos darurat didalam setiap panel
kontrol SPP.
n) Panel Kontrol SPP yang menggunakan daya listrik arus bolak
balik haruslah disambungkan ke panel daya listrik darurat
arus bolak balik. Suatu UPS harus disediakan di lokasi panel
kontrol SPP untuk menyediakan daya darurat.
(b)

Peralatan
Komunikasi
pada
Communication Equipment).
1)

(c)

Kabinet

Bedside

(;Beside

Setiap bedside harus menyediakan :


a)

microphone/speaker.

b)

lampu pos pemanggil.

c)

tombol reser

d)

kotak kontrol untuk cordset.

2)

Setiap microphone/speaker harus mati jika handset disambungkan


ke bedside.

3)

Panggilan dari bedside harus menghasilkan sinyal panggilan


visual rutin pada lampu dome di koridor.

Pos darurat.
1)

Pos darurat dengan kabel tarik harus disediakan dalam setiap


kloset dan setiap pancuran (shower) kamar mandi. Pos darurat ini
harus dipasang kurang lebih 50 cm (18 inci) dari kepala
pancurannya (shower head) dan/atau 180 cm (72 inci) di atas
lantai jadi. Setiap pos darurat yang di area pancuran atau toilet
harus kedap air.

2)

Pos darurat harus disediakan dengan :


a)

kabel tarikan yang diuji tarik dengan gaya sebesar 5 kg ( 10


lbs) dan pendant dihubungkan ke gerakan sakelar ON/OFF
pada pos darurat. Kabel tarikan yang gantung yang
terbawah harus dipasang 15 cm ( 6 inci) dari lantai jadi.

b)

Gaya tarikan untuk mengaktifkan sakelar minimum 0,4 kg.

c)

Pada pos darurat dilengkapi fungsi "reset/cancel".

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

89

(d)

(e)

d)

Lampu darurat merah dengan nyala mati-hidup secara


bergantian dengan interval waktu 1 detik ditempatkan pada
bagian luar dari kamar mandi atau toilet, dipasang pada
ketinggian 2 meter dari lantai jadi.

e)

Pada pos darurat , ditempel atau ditempatkan secara


permanen dengan plat kalimat "Panggilan Darurat Perawat".
Tinggi huruf minimal 4 mm (1/8 inci).

Armatur Lampu Dome di Koridor.


1)

Tutup lampu harus tembus cahaya, tidak berubah warna atau


berubah bentuk karena panas, atau rusak karena penggunaan zat
pembersih.

2)

Lampu dome harus berisi lampu yang cukup membedakan :


a)

panggilan rutin dari bedside.

b)

panggilan darurat dari pos perawat kamar mandi atau toilet.

c)

Sinyal visual untuk panggilan rutin dan panggilan darurat


harus dibedakan.

Armatur Lampu Dome dengan isi dua lampu di Koridor.


Dua lampu dalam satu armatur lampu dome berisi minimum dua lampu
untuk mengidentifikasikan panggilan setempat dalam sistem. Sinyal
visual untuk panggilan rutin dan panggilan darurat harus jelas
perbedaannya.

(f)

Cordset.
1)

Umum.
Setiap cordset, harus :
a) panjangnya 1,8 meter atau 2,4 meter, jenis kabel fleksibel.
b) tidak korosif.
c) apabila cordset dilepas, panggilan darurat harus secara
otomatis memberitahukan panel kontrol SPP. Sinyal audible
dan visual harus tetap diaktifkan sampai cordset disisipkan
kembali, atau alat lain disisipkan yang secara teknis dapat
mematikan fitur panggilan otomatis.
d) gaya tarikan untuk mengaktifkan cordset sebesar 0,5 kg (1 lb).
e) tidak berubah warna.

2)

Cordset dengan aksi tombol tekan.


Setiap cordset harus disediakan :
a) sambungan ke kotak kontak bedside cordset.
b) berisi tombol tekan untuk panggilan pada ujung cordsetnya.

(g)

Sistem distribusi.
Setiap kabel yang digunakan dalam SPP harus asli dan bersertifikat,
diberi label pada setiap rel dan disetujui oleh instansi terkait.

90

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(h)

Perlengkapan Instalasi.
1) Kabel.
Kabel harus termasuk semua penyambung, tali pengikat,
penggantung, klem dan sebaginya yang dibutuhkan untuk
melengkapi kerapihan instalasi.
2) Konduit.
Perlengkapan harus termasuk konduit, duct (saluran) kabel, rak
kabel, kotak penyambung, roset, plat penutup dan perangkat keras
lain yang diperlukan untuk melengkapi kerapihan dan keamanan,
dan memenuhi SNI 04-0225-2000, tentang Persyaratan Umum
Instalasi Listrik (PUIL 2000).
(3) Label.
Setiap komponen dari sub sistem harus diberi label.

(2).

Pemasangan peralatan dan instalasi sistem panggil perawat.


(a)

Pengiriman.
Pengiriman bahan-bahan ke lokasi harus dalam kontainer asli tertutup,
jelas terlabel nama pengirim, model peralatan dan nomor erie
identifikasi, dan logo standar. Pengawas akan meneliti peralatan SPP
pada saat itu dan akan menolak terhadap item yang tidak memenuhi
syarat.

(b)

Penyimpanan.
Peralatan SPP harus disimpan dengan benar sebelum dipasang,
terlindung terhadap kerusakan.

(c)

Pemasangan.
1)

Umum.
a)

SPP dan sistem alarm kebakaran tidak boleh diletakkan


dalam satu konduit, satu rak kabel atau jalur yang sama.

b)

Kontraktor harus menyediakan filter, trap dan pad yang


sesuai untuk meminimalkan interferensi dan untuk balansing
amplifier dan sitem distribusi. Item yang digunakan untuk
balansing dan meminimalkan interferensi harus mampu
menyalurkan bunyi, sinyal data dan kontrol dalam kecepatan
dan frekuensi yang dipilih, dalam arah yang ditentukan,
dengan kerugian gesek yang kecil, isolasi tinggi dan dengan
perlambatan minimum dari sistem poling atau subcarrier
frequency.

c)

Pasokan daya listrik darurat (contoh : batere, UPS) harus


dipasang dalam kabinet/lemari terpisah. Kabinet/lemari ini
harus disediakan dekat dengan panel kontrol SPP.

d)

Apabila bedside unit buatan pabrik yang digunakan,


kontraktor harus meminta izin pada pengawas untuk
melakukan pemasangan instalasi SPP.

e)

Semua peralatan harus dihubungkan sesuai spesifikasi


untuk memastikan terminasi, isolasi, dan impedansinya
sesuai dan terpasang dengan benar.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

91

2)

f)

Pemasangan semua peralatan untuk


diidentifikasi sesuai dengan gambar.

g)

Semua saluran utama, distribusi dan interkoneksi harus


diterminasi pada kondisi dapat memfasilitasi fitur perluasan
sistem.

h)

Semua jalur vertikal dan horizontal harus diterminasi


sehingga memudahkan perluasan sistem.

i)

Terminasi resistor harus digunakan untuk terminasi semua


cabang yang tidak digunakan.

lokasi

Saluran (duct) Konduit dan Sinyal.


a)

b)

92

setiap

Konduit.
(i)

Instalasi harus dipasang dengan cara yang benar.


Ukuran diameter minimum konduit 25 mm ( 1 inci)
untuk distribusi primer sinyal dan 19 mm ( 3/4 inci)
untuk sambungan jauh (contoh lampu dome, tombol
darurat, dan sebaginya).

(ii)

Semua kabel harus dipasang dalam konduit terpisah.


Campuran kabel SPP dan kabel alarm kebakaran tidak
dibolehkan.

(iii)

Isi konduit harus tidak melebihi 40%.

(iv)

Jalur kabel harus bebas tersambung antara


sambungan konduit dan kotak interface dan lokasi
peralatan.

Saluran (duct) sinyal, saluran (duct) kabel dan rak kabel.


(i)

Harus dapat menggunakan saluran (duct) sinyal,


saluran (duct) kabel dan/atau rak kabel.

(ii)

Saluran (duct) sinyal dan/atau saluran (duct) kabel


harus berukuran minimal 10 cm x 10 cm ( 4 inci x 4
inci) yang dapat dilepas tutup atas atau sampingnya.
Pada sudut-sudut yang tajam harus diberi proteksi.

(iii)

Rak kabel sepenuhnya harus tertutup, apabila rak


kabel juga digunakan untuk sirkit elektronik lainnya,
harus biberi partisi.

(iv)

Tidak diperbolehkan menarik kabel melalui kotak. fiting


atau selubung jika terjadi perubahan ukuran konduit.
Radius bengkokan harus tepat.

(v)

Selubung kabel yang tergores tidak dapat diterima.


Ujung tutup kabel yang keluar melalu lubang rangka
dari lemari/kabinet, atau rak, selubung, kotak tarikan
atau kotak persimpangan harus menggunakan plastik
atau bahan nylon grommeting.

(vi)

Semua persimpangan kabel harus mudah dijangkau.


Digunakan tutup kotak persimpangan dengan ukuran
minimum 15 cm x 15 cm x 10 cm (6 inci x 6 inci x 4
inci) diletakkan pada saluran (duct) sinyal.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3)

4)

Kabel distribusi sinyal dari sistem.


a)

Kabel harus dipasang dengan cara yang praktis seperti


pemasangan kabel untuk proteksi kebakaran atau sistem
darurat yang teridentifikasi. Kabel harus mampu menahan
kondisi lingkungan yang merugikan tanpa perubahan bentuk.
Apabila pintu konsol, kabinet/lemari atau rak, dibuka atau
ditutup, tidak mengganggu pemasangan kabel.

b)

Jalannya kabel antara peralatan SPP ke lemari/kabinet, rak ,


saluran (duct) kabel, saluran (duct) sinyal atau rak kabel
harus dipasang dengan konduit yang terpasang pada
struktur bangunan.

c)

Semua kabel harus terinsulasi untuk mencegah induksi


sinyal atau arus yang dibawa oleh konduktor dan 100%
terlindung. Pemasangan kabel harus lurus, dibentuk dan
dipasang dengan ikatan yang kuat, disesuaikan dalam
hubungan horizontal atau vertikal ke peralatan, kontrol,
komponen atau terminator.

d)

Penggunaan kabel yang dipilin tidak dibolehkan. Setiap


penyambungan kabel harus menggunakan terminator.

e)

Kabel harus dikelompokkan sesuai pelayanannya. Kabel


kontrool dan kabel sinyal boleh dijadikan satu kelompok.
Kabel harus dibentuk rapih dan posisinya harus tidak
berubah dalam kelompok. Kabel yang menggantung tidak
diperkenankan. Kabel yang ditempatkan di saluran (duct)
sinyal, konduit, saluran (duct) kabel atau rak harus dibentuk
rapih, diikat pada jarak antara 60 cm sampai 90 cm (24 inci
sampai 36 inci), dan harus tidak berubah posisinya dalam
kelompok.

f)

Kabel distribusi harus dipasang dan dikencangkan tanpa


menyebabkn bengkokan yang tajam dari kabel terhadap
ujung yang tajam. Kabel harus dikencangkan dengan
perangkat keras yang tidak akan mengganggu.

g)

Kabel harus diberi label dengan tanda permanen pada


terminal dari elektronik dan peralatan pasif dan pada setiap
persimpangan dengan huruf pada diagram rekaman.

h)

Pengujian lengkap kabel setelah semua instalasi dan


penggantian kabel yang rusak.

i)

Polaritas input dan output sistem seperti direkomendasi


pabrik.

Kotak outlet, kotak belakang dan plat muka.


a)

Kotak outlet.
Kotak sinyal, kotak daya, kotak interface, kotak sambungan,
kotak distribusi, kotak persimpangan harus disediakan
seperti dipersyaratkan oleh rancangan sistem.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

93

b)

Kotak belakang.
Kotak belakan harus disediakan langsung dari manufaktur
seperti dipersyaratkan oleh rancangan sistem yang disetujui.

c)

Plat muka (atau plat penutup).


Plat muka harus dari jenis standar. Konektor dan jack yang
muncul pada plat muka harus jelas dan ditandai permanen.

5)

Konektor.
Setiap konektor haru dirancang untuk ukuran kabel khusus yang
digunakan dan dipasang dengan perkakas yang disetujui
manufaktur.

6)

Daya listrik arus bolak balik.


Kabel daya listrik arus bolak balik harus berjalan terpisah dengan
kabel sinyal.

7)

Pembumian.
a)

Umum.
Semua peralatan yang dipasang harus dibumikan untuk
mengurangi bahaya kejutan. Total tahanan pembumian
maksimal harus 0,1 Ohm.

b)

(i)

Jika tidak ada netral arus bolak balik, salah satu panel
daya atau kotak kontak outlet, digunakan untuk kontrol
sistem, atau acuan pembumian.

(ii)

Menggunakan konduit, saluran (duct) sinyal atau rak


kabel sebagai sistem pembumian listrik tidak
dibolehkan. Item ini dapat dipakai hanya untuk
pelepasan internal statik yang dibangkitkan.

Kabinet/lemari.
Pembumian yang umum menggunakan kabel tembaga solid
berukuran #10 AWG harus digunakan pada seluruh
kabinet/lemari peralatan dan dihubungkan ke sitem
pembumian. Perlu disediakan sambungan pembumian yang
terpisah dan terisolasi dari setiap pembumian kabinet/lemari
peralatan ke sistem pembumian. Jangan mengikat kabel
pembumian peralatan bersama-sama.

5.3

5.3.1

Sistem Proteksi Petir.


(1)

Suatu instalasi proteksi petir dapat melindungi semua bagian dari


bangunan rumah sakit, termasuk manusia yang ada di dalamnya, dan
instalasi serta peralatan lainnya terhadap bahaya sambaran petir.

(2)

Instalasi proteksi petir disesuaikan dengan adanya perluasan atau


penambahan bangunan rumah sakit

Protektor Head
Protektor Head ada 2 macam :
1. Franklin
2. Elektrostatik

94

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

5.3.2

Konduktor
1. Konduktor biasa (menggunakan kabel DC)
2. Menggunakan kabel tri aksial

5.3.3

Pembumian
Impedansi pembumian RS yang menggunakan peralatan elektronik minimum 0,2
ohm.
Pembumian untuk peralatan medik dipisahkan dari pembumian instalasi
bangunan.
Jenis pembumian :
1. Pembumian langsung
2. Pembumian tidak langsung

5.4

Sistem Kelistrikan
Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah dioperasikan, diamati,
dipelihara, tidak membahayakan, tidak mengganggu dan tidak merugikan
lingkungan, bagian bangunan dan instalasi lain, serta perancangan dan
pelaksanaannya harus berdasarkan PUIL/SNI.04-0225 edisi terakhir dan
peraturan yang berlaku

5.4.1

Sumber Daya Listrik


Sumber daya listrik dibagi 3 :
(1)

Sumber Daya Listrik Normal


Sumber daya listrik utama gedung harus diusahakan untuk menggunakan
tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara.

(2)

(3)

Sumber Daya Listrik Siaga


1)

Bangunan, ruang atau peralatan khusus yang pelayanan daya


listriknya disyaratkan tidak boleh terputus putus, harus memiliki
pembangkit/
pasokan daya listrik siaga yang dayanya dapat
memenuhi kelangsungan pelayanan dengan persyaratan tersebut.

2)

Sumber listrik cadangan berupa diesel generator (Genset). Genset


harus disediakan 2 (dua) unit dengan kapasitas minimal 40% dari
jumlah daya terpasang pada masing-masing unit. Genset dilengkapi
sistem AMF dan ATS.

Sumber Daya Listrik Darurat


1)

Sistem instalasi listrik pada rumah sakit harus memiliki sumber daya
listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan
seluruh atau sebagian beban pada bangunan rumah sakit apabila
terjadi gangguan sumber utama.

2)

Sumber/Pasokan daya listrik darurat yang digunakan harus mampu


melayani semua beban penting termasuk untuk perlengkapan
pengendali kebakaran, secara otomatis.

3)

Pasokan Daya Listrik Darurat berasal dari Peralatan UPS


(;Uninterruptable Power Supply) untuk melayani Kamar Operasi
(;Central Operation Theater), Ruang Perawatan Intensif (;Intensive

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

95

Care Unit), Ruang Perawatan Intensif Khusus Jantung (;Intensive


Cardiac Care Unit). Persyaratan :
a.
Harus tersedia Ruang UPS minimal 2 X 3 m2 (sesuai
kebutuhan) terletak di Ruang Operasi Rumah Sakit, Ruang
Perawatan Intensif dan diberi pendingin ruangan.
b.
Kapasitas UPS setidaknya 50 KVA.
5.4.2

Jaringan Distribusi Listrik


1)

Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak
dan/atau busduct dari berbagai tipe, ukuran dan kemampuan.
Tipe dari penghantar listrik harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani.

5.4.3
5.4.4

2)

Peralatan pada papan hubung bagi seperti pemutus arus, sakelar, tombol,
alat ukur dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga
memudahkan pengoperasian dan pemeliharaan oleh petugas.

3)

Jaringan yang melayani beban penting, seperti pompa kebakaran, lif


kebakaran, peralatan pengendali asap, sistem deteksi dan alarm
kebakaran, sistem komunikasi darurat, dan beban penting lainnya harus
terpisah dari instalasi beban lainnya, dan dilindungi terhadap kebakaran
atau penggunaan penghantar tahan api, dan mengikuti ketentuan yang
berlaku.

4)

Bagian jaringan yang disebut pada butir (3) di atas, pasokan daya listriknya
harus dijamin dan mempunyai sumber/pasokan daya listrik darurat sesuai
ketentuan yang berlaku.

Panel-panel listrik
Instalasi Listrik
(1)

Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya listrik, jaringan distribusi,
papan hubung bagi dan beban listrik.
Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati, dilakukan
peliharaan dan perbaikan, tidak membahayakan, mengganggu atau
merugikan bagi manusia, lingkungan, bagian bangunan dan instalasi
lainnya.

(2)

Sistem tegangan rendah (TR) dalam gedung adalah 3 fase 220/380 Volt,
dengan frekuensi 50 Hertz. Sistem tegangan menengah (TM) dalam
gedung adalah 20 KV, dengan frekuensi 50 Hertz, mengikuti ketentuan
yang berlaku.
Untuk Rumah Sakit yang memiliki kapasitas daya listrik tersambung dari
PLN minimal 200 KVA disarankan agar sudah memiliki sistem jaringan
listrik Tegangan Menengah 20 KV (jaringan listrik TM 20 KV), sesuai
pedoman bahwa Rumah Sakit Kelas B mempunyai Kapasitas daya listrik r
1000 KVA, dengan perhitungan 2,75 KVA per Tempat Tidur (TT).

(3)

96

Instalasi listrik tegangan menengah tersebut antara lain :


a. Penyediaan bangunan gardu listrik rumah sakit (ukuran sesuai standar
gardu PLN).
b. Peralatan Transformator (kapasitas sesuai daya terpasang).
c. Peralatan panel TM 20 KV dan aksesorisnya.
d. Peralatan pembantu dan sistem pengamanan (;grounding).

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(4)

Semua perlengkapan listrik, diantaranya penghantar, papan hubung bagi


dan isinya, transformator dan lain-lainnya, tidak boleh dibebani melebihi
batas kemampuannya.
Masalah harmonisa dalam sistem kelistrikan harus ikut diperhatikan.

(5)

Sistem Penerangan Darurat (;emergency lighting) harus


ruang-ruang tertentu.

tersedia pada

(6)

Sistem kelistrikan RS Kelas B harus dilengkapi dengan transformator


isolator dan kelengkapan monitoring sistem IT kelompok 2E minimal
berkapasitas 5 KVA untuk titik-titik stop kontak yang mensuplai peralatanperalatan medis penting (;life support medical equipment, seperti ruang
anastesi, ruang bedah, ruang katerisasi jantung, ruang ICU dan ICCU,
ruang angiografi, dan ruang inkubator bayi).

(7)

Sistem Pembumian (;grounding system) harus terpisah antara grounding


panel gedung dan panel alat. Nilai grounding peralatan tidak boleh kurang
dari 0,2 Ohm.

(8)

Transformator Distribusi
1) Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan
dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding, atap dan
lantai yang kokoh, dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh
petugas.
2) Ruangan transformator harus diberi ventilasi yang cukup, serta
mempunyai luas ruangan yang cukup untuk perawatan dan perbaikan.
3) Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran,
maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering.

(9)
5.4.5

5.4.6

Penghematan energi harus sangat diperhatikan.

Pemeliharaan
1)

Pada ruang panel hubung bagi, harus terdapat ruang yang cukup untuk
memudahkan pemeriksaan, perbaikan dan pelayanan, serta diberi ventilasi
cukup.

2)

Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima


tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang.

3)

Pembangkit/sumber daya listrik darurat secara periodik harus dihidupkan


untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila
diperlukan.

Persyaratan Teknis
Persyaratan sistem kelistrikan harus memenuhi:
1)

SNI 04-0227-1994 atau edisi terbaru; Tegangan standard.

2)

SNI 04-0225-2000 atau edisi terbaru; Persyaratan Umum Instalasi Listrik


(PUIL edisi terakhir).

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

97

3)

SNI 04-7018-2004 atau edisi terbaru; Sistem pasokan daya listrik darurat
dan siaga.

4)

SNI 04-7019-2004 atau edisi terbaru; Sistem pasokan daya listrik darurat
menggunakan energi tersimpan.

5)

Dalam hal masih persyaratan lainnya, atau yang belum mempunyai SNI,
dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh
instansi yang berwenang.

5.5

Sistem Penghawaan (Ventilasi) dan Pengkondisian Udara (;HVAC)

5.5.1

Sistem Penghawaan (Ventilasi)


(1)

(2)

98

Umum.
(a)

Setiap bangunan rumah sakit harus mempunyai ventilasi alami


dan/atau ventilasi mekanik/buatan sesuai dengan fungsinya.

(b)

Bangunan rumah sakit harus mempunyai bukaan permanen, kisi-kisi


pada pintu dan jendela dan/atau bukaan permanen yang dapat
dibuka untuk kepentingan ventilasi alami.

Persyaratan Teknis
(a)

Jika ventilasi alami tidak mungkin dilaksanakan, maka diperlukan


ventilasi mekanis seperti pada bangunan fasilitas tertentu yang
memerlukan perlindungan dari udara luar dan pencemaran.

(b)

Pada ruangruang khusus seperti Ruang Isolasi, Ruang


Laboratorium maupun Ruang Farmasi, diperlukan Fasilitas
Pengelolaan Limbah Udara Infeksius Paparan Udara.

(c)

Sistem Tata Udara harus ditempatkan agar memudahkan dalam


pemeriksaan dan pemeliharaan.

(d)

Sebagai ventilasi, udara segar harus dimasukkan ke dalam ruangan


untuk menjaga kesegaran dan kesehatan ruangan, sesuai ketentuan
dalam standar ASHRAE tentang Indoor Air Quality.

(e)

Udara segar harus dimasukkan langsung dari luar dan bukan udara
yang berasal dari lobi atau koridor tertutup.

(f)

Untuk instalasi tata udara sentral, udara segar harus dimasukkan


melalui mesin pengolah udara sentral.

(g)

Untuk sistem tata udara individu, seperti unit jendela dan unit split,
udara segar boleh dimasukkan langsung ke dalam ruangan.

(h)

Kebutuhan udara segar untuk penggunaan umum pada ruangan


yang dikondisikan dengan sistem tata udara dapat digunakan nilai
minimum 280 Liter/menit untuk setiap penghuni, atau minimum 160
Liter/menit per m2 luas lantai, dipilih mana yang memeberikan nilai
lebih besar.

(i)

Ruangan yang dilengkapi dengan ventilasi mekanik harus diberikan


pertukaran udara minimal 6 (enam) kali per jam.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(j)

Tata udara untuk ruangan yang dapat menimbulkan pencemaran


atau penularan penyakit ke ruangan lainnya, harus langsung dibuang
ke luar.

(k)

Ruang bedah dan ruang perawatan penyakit menular yang


berbahaya, pembuangan udaranya harus ke tempat yang tidak
membahayakan lingkungan rumah sakit.

(l)

Ruang pengolahan bahan obat, proses foto, dan proses kimia lainnya
yang dapat mencemari lingkungan, pembuangan udaranya harus
melalui penyaring dan pemroses untuk menetralisir bahan yang
terkandung di dalam udara buangan tsb sesuai ketentuan yang
berlaku.

(m) Persyaratan teknis sistem ventilasi, kebutuhan ventilasi, mengikuti


Persyaratan Teknis berikut:

5.5.2.

1)

SNI 03 6572 - 2000 atau edisi terbaru; Tata cara perancangan


sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan
gedung.

2)

SNI 03 6390 - 2000 atau edisi terbaru; Konservasi energi


sistem tata udara pada bangunan gedung.

Sistem Pengkondisian Udara


(1)

Umum.
(a)

Untuk kenyamanan termal dalam ruang di dalam bangunan rumah


sakit harus mempertimbangkan temperatur dan kelembaban udara.

Tabel 5.5.2 Tabel Standar Suhu, Kelembaban, dan Tekanan Udara


Menurut Fungsi Ruang atau Unit.

Operasi

Suhu
(0C)
19 24

Kelembaban
(%)
45 60

Positif

Bersalin

24 26

45 60

Positif

Pemulihan/perawatan

22 24

45 60

Seimbang

Observasi bayi

21 24

45 60

Seimbang

Perawatan bayi

22 26

35 - 60

Seimbang

Perawatan premature

24 26

35 - 60

Positif

ICU

22 23

35 - 60

Positif

Jenazah/Otopsi

21 24

Negative

Penginderaan medis

19 24

45 60

Seimbang

No.
1

Ruang atau Unit

Tekanan

10

Laboratorium

22 26

35 - 60

Positif

11

Radiologi

22 26

45 60

Seimbang

12

Sterilisasi

22 30

35 - 60

Positif

13

Dapur

22 30

35 - 60

Seimbang

14

Gawat Darurat

19 24

45 60

15

Administrasi, pertemuan

21 24

16.

Ruang luka baker

24 26

35 - 60

Positif
Seimbang
Positif

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

99

(b)

(2)

Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara di


dalam ruangan dapat dilakukan dengan alat pengkondisian udara
yang mempertimbangkan :
1)

fungsi bangunan rumah sakit/ruang, jumlah pengguna, letak


geografis, orientasi bangunan, volume ruang, jenis peralatan,
dan penggunaan bahan bangunan;

2)

kemudahan pemeliharaan dan perawatan; dan

3)

prinsip-prinsip penghematan energi dan ramah lingkungan

Persyaratan Teknis.
Untuk kenyamanan termal pada bangunan gedung harus memenuhi SNI
03-6572-2001 atau edisi terbaru; Tata cara perancangan sistem ventilasi
dan pengkondisian udara pada bangunan gedung.

5.6

Sistem Pencahayaan
(1)

Umum.
Setiap rumah sakit untuk memenuhi persyaratan sistem pencahayaan
harus mempunyai pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan/
mekanik, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya.

(2)

Persyaratan Teknis.
(a)

Rumah sakit tempat tinggal, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan


bangunan pelayanan umum harus mempunyai bukaan untuk
pencahayaan alami.

(b)

Pencahayaan alami harus optimal, disesuaikan dengan fungsi rumah


sakit dan fungsi masing-masing ruang di dalam rumah sakit.

(c)

Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat


iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam rumah sakit
dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi yang
digunakan, dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau
pantulan.

(d)

Pencahayaan di RS harus memenuhi standar kesehatan dalam


melaksanakan pekerjaannya sesuai standar intensitas cahaya
sebagai berikut :

Tabel 5.6 Tabel Indeks Pencahayaan Menurut Jenis Ruang atau Unit
N
o.

Ruang
atau Unit
Ruang

Intensitas Cahaya
(lux)

Warna

pasien
1

Ketera
ngan

- saat tidak

100 200

cahaya

tidur

maks. 50

sedang

- saat tidur
2

100

R. Operasi
umum
Meja
operasi

300 500
Warna
10.000 20.000

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

cahaya
sejuk

atau
sedang
tanpa
bayang
an
4
5

Anastesi,
pemulihan
Endoscopy,
lab

300 500
75 100

Sinar X

minimal 60

Koridor

Minimal 100

Tangga

Minimal 100

Administrasi
/kantor

Ruang

alat/gudang

1
1
1
2
1
3
1
4

Malam
hari

Minimal 100
Minimal 200

Farmasi

Minimal 200

Dapur

Minimal 200

Ruang cuci

Minimal 100

Toilet

Minimal 100

R. Isolasi
1

khusus

penyakit

Warna
0,1 0,5

cahaya
biru

Tetanus
1

Ruang luka

baker

100 200

5.7

Sistem Fasilitas Sanitasi

5.7.1

Persyaratan Sanitasi
Persyaratan Sanitasi Rumah Sakit dapat dilihat pada Keputusan Menteri
Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004, tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.

5.7.2

Persyaratan Air Bersih


(1) Harus tersedia air bersih yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan,
atau dapat mengadakan pengolahan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
(2) Tersedia air bersih minimal 500 lt/tempat tidur/hari.
(3) Air minum dan air bersih tersedia pada setiap tempat kegiatan yang
membutuhkan secara berkesinambungan.
(4) Tersedia penampungan air (;reservoir) bawah atau atas.
(5) Distribusi air minum dan air bersih di setipa ruangan/kamar harus
menggunakan jaringan perpipaan yang mengalir dengan tekanan positif.
Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

101

(6)
(7)
(8)

(9)
(10)

(11)
(12)
(13)

Penyediaan Fasilitas air panas dan uap terdiri atas Unit Boiler, sistem
perpipaan dan kelengkapannya untuk distribusi ke daerah pelayanan.
Dalam rangka pengawasan kualitas air maka RS harus melakukan
inspeksi terhadap sarana air minum dan air bersih minimal 1 (satu) tahun
sekali.
Pemeriksaan kimia air minum dan atau air bersih dilakukan minimal 2 (dua)
kali setahun (sekali pada musim kemarau dan sekali pada musim hujan),
titik sampel yaitu pada penampungan air (;reservoir) dan keran terjauh dari
reservoir.
Kualitas air yang digunakan di ruang khusus, seperti ruang operasi.
RS yang telah menggunakan air yang sudam diolah seperti dari PDAM,
sumur bor dan sumber lain untuk keperluan operasi dapat melakukan
pengolahan tambahan dengan cartridge filter dan dilengkapi dengan
desinfeksi menggunakan ultra violet.
Ruang Farmasi dan Hemodialisis : yaitu terdiri dari air yang dimurnikan
untuk penyiapan obat, penyiapan injeksi dan pengenceran dalam
hemodialisis.
Tersedia air bersih untuk keperluan pemadaman kebakaran dengan
mengikuti ketentuan yang berlaku.
Sistem Plambing air bersih/minum dan air buangan/kotor mengikuti
persyaratan teknis sesuai SNI 03-6481-2000 atau edisi terbaru, Sistem
Plambing 2000.

5.7.3

Sistem Pengolahan dan Pembuangan Limbah


Persyaratan Pengolahan dan Pembuangan Limbah Rumah Sakit dalam bentuk
padat, cair dan gas, baik limbah medis maupun non-medis dapat dilihat pada
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004, tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.

5.7.4

Persyaratan Penyaluran Air Hujan


(1)

Umum
Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan
mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah, permeabilitas tanah,
dan ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota.

(2)

102

Persyaratan Teknis.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

5.8

(a)

Setiap bangunan gedung dan pekarangannya harus dilengkapi


dengan sistem penyaluran air hujan.

(b)

Kecuali untuk daerah tertentu, air hujan harus diresapkan ke dalam


tanah pekarangan dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum
dialirkan ke jaringan drainase lingkungan/kota sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.

(c)

Pemanfaatan air hujan diperbolehkan dengan mengikuti ketentuan


yang berlaku.

(d)

Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang
dapat diterima, maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan
cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang.

(e)

Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah


terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran.

(f)

Pengolahan dan penyaluran air hujan mengikuti persyaratan teknis


berikut:
1)

SNI 03-2453-2002 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan


sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan.

2)

SNI 03-2459-2002 atau edisi terbaru; Spesifikasi sumur resapan


air hujan untuk lahan pekarangan.

3)

Tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem


penyaluran air hujan pada bangunan gedung.

Sistem Instalasi Gas Medik


(1)

Umum.
Sistem gas medik yang dimaksud meliputi O2, N2O, Udara tekan Medik,
CO2, dan vakum medik. Sistem Instalasi Gas Medik harus direncanakan
dan dipasang dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya.
Sistem Instalasi Gas Medik :
1. Sistem Sentral Gas Medik
a)

Sumber Gas Medis

b)

Instalasi Gas Medis

c)

Outlet dan Inlet

2. Sistem gas medik stand alone


3. Sistem portable/moveable
(2) Persyaratan Teknis.
(a)

Persyaratan ini berlaku wajib untuk fasilitas pelayanan kesehatan di


rumah sakit, rumah perawatan, fasilitas hiperbarik, klinik bersalin. dan
fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

(b)

Bila terdapat istilah gas medik atau vakum, ketentuan tersebut


berlaku wajib bagi semua sistem perpipaan untuk oksigen, nitrous
oksida, udara tekan medik, karbon dioksida, helium, nitrogen, vakum
medik untuk pembedahan, pembuangan sisa gas anestesi, dan
campuran dari gas-gas tersebut. Bila terdapat nama layanan gas

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

103

khusus atau vakum, maka ketentuan tersebut hanya berlaku bagi gas
tersebut.
(c)

Sistem yang sudah ada yang tidak sepenuhnya memenuhi ketentuan


ini boleh tetap digunakan sepanjang pihak yang berwenang telah
memastikan bahwa penggunaannya tidak membahayakan jiwa.

(d)

Potensi bahaya kebakaran dan ledakan yang berkaitan dengan


sistem perpipaan sentral gas medik dan sistem vakum medik harus
dipertimbangkan dalam perancangan, pemasangan, pengujian,
pengoperasian dan pemeliharaan sistem ini.

(j)

Pengoperasian sistem pasokan sentral.


1) Tidak dibenarkan menggunakan adaptor atau fiting konversi untuk
menyesuaikan fiting khusus suatu gas ke fiting gas lainnya.
2) Tidak dibenarkan merubah fiting/soket/adaptor yang telah sesuai
dengan spesifikasi gas medik.
3) Tidak dibenarkan penggunaan
penandaan yang disyaratkan.

silinder

tanpa

warna

dan

4) Hanya silinder gas medik dan perlengkapannya yang boleh


disimpan dalam ruangan tempat sistem pasokan sentral atau
silinder gas medik.
5) Tidak dibenarkan menyimpan bahan mudah menyala, silinder
berisi gas mudah menyala atau yang berisi cairan mudah
menyala, di dalam ruang penyimpanan gas medik.
6) Bila silinder terbungkus pada saat diterima, pembungkus tersebut
harus dibuang sebelum disimpan.
7) Tutup pelindung katup harus dipasang erat pada tempatnya bila
silinder sedang tidak digunakan.

104

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(k)

Perancangan dan pelaksanaan.


Lokasi untuk sistem pasokan sentral dan penyimpanan gas-gas
medik harus memenuhi persyaratan berikut :

(l)

5.9

1)

Dibangun dengan akses ke luar dan masuk lokasi untuk


memindahkan silinder, peralatan, dan sebagainya.

2)

Dijaga keamanannya dengan pintu atau gerbang yang dapat


dikunci, atau diamankan dengan cara lain.

3)

Jika di luar ruangan/bangunan, harus dilindungi dengan dinding


atau pagar dari bahan yang tidak dapat terbakar.

4)

Jika di dalam ruangan/bangunan, harus dibangun dengan


menggunakan bahan interior yang tidak dapat terbakar/ sulit
terbakar, sehingga semua dinding, lantai, langit-langit dan pintu
sekurang-kurangnya mempunyai tingkat ketahanan api 1 jam.

5)

Dilengkapi lampu atau indikator pada bagian luar ruang


penyimpanan yang menunjukkan kondisi kapasitas gas medis
yang masih tersedia.

6)

Dilengkapi dengan rak, rantai, atau pengikat lainnya untuk


mengamankan masing-masing silinder, baik yang terhubung
maupun tidak terhubung, penuh atau kosong, agar tidak roboh.

7)

Dipasok dengan daya listrik yang memenuhi persyaratan sistem


kelistrikan esensial.

8)

Apabila disediakan rak, lemari, dan penyangga, harus dibuat


dari bahan tidak dapat terbakar atau bahan sulit terbakar.

Standar dan pedoman teknis.


1)

Untuk sistem gas medik pada bangunan gedung, harus


dipenuhi SNI 03-7011-2004, tentang ; Keselamatan pada
bangunan fasilitas pelayanan kesehatan, atau edisi terakhir.

2)

Dalam hal persyaratan diatas belum ada SNI-nya, dipakai


Standar baku dan ketentuan teknis yang berlaku.

Sistem Pengendalian Terhadap Kebisingan dan Getaran


(1) Kenyamanan terhadap Kebisingan
(a)

Kenyamanan terhadap kebisingan adalah keadaan dengan tingkat


kebisingan yang tidak menimbulkan gangguan pendengaran,
kesehatan, dan kenyamanan bagi seseorang dalam melakukan
kegiatan.

(b)

Gangguan kebisingan pada bangunan gedung dapat berisiko cacat


pendengaran. Untuk memproteksi gangguan tersebut perlu dirancang
lingkungan akustik di tempat kegiatan dalam bangunan yang sudah
ada dan bangunan baru.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

105

(c)

Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan pada


bangunan rumah sakit harus mempertimbangkan jenis kegiatan,
penggunaan peralatan, dan/atau sumber bising lainnya baik yang
berada pada bangunan gedung maupun di luar bangunan rumah sakit.

(d)

Setiap bangunan rumah sakit dan/atau kegiatan yang karena fungsinya


menimbulkan dampak kebisingan terhadap lingkungannya dan/atau
terhadap bangunan rumah sakit yang telah ada, harus meminimalkan
kebisingan yang ditimbulkan sampai dengan tingkat yang diizinkan.

(e)

Untuk kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan rumah sakit


harus dipenuhi standar tata cara perencanaan kenyamanan terhadap
kebisingan pada bangunan gedung.

(f)

Persyaratan kebisingan untuk masing-masing ruangan/ unit dalam RS


adalah sebagai berikut :
Tabel 5.9 Tabel Indeks Kebisingan Menurut Jenis Ruang atau Unit2

No.

Ruang atau Unit

Maksimum Kebisingan (Waktu pemaparan 8 jam dan


satuan dBA)

Ruang pasien
1

- saat tidak tidur

45

- saat tidur

40

R. Operasi umum

45

Anastesi, pemulihan

45

Endoscopy, lab

65

Sinar X

40

Koridor

40

Tangga

45

Kantor/Lobi

45

Ruang Alat/ Gudang

45

10

Farmasi

45

11

Dapur

78

12

Ruang Cuci

78

13

Ruang Isolasi

40

14

Ruang Poli Gigi

80

(2) Kenyamanan terhadap Getaran


Kenyamanan terhadap getaran adalah suatu keadaan dengan tingkat
getaran yang tidak menimbulkan gangguan bagi kesehatan dan kenyamanan
seseorang dalam melakukan kegiatannya.
Getaran dapat berupa getaran kejut, getaran mekanik atau seismik baik yang
berasal dari penggunaan peralatan atau sumber getar lainnya baik dari
dalam bangunan maupun dari luar bangunan.
Tingkat kebisingan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup No. 48 Tahun 1996, untuk lingkungan kegiatan rumah sakit adalah 55
dB(A)

106

Kepmenkes RI No. 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan RS.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

5.10

Sistem Hubungan Horisontal dalam rumah sakit.


(1)

(2)

Umum.
(a)

Kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan RS meliputi


tersedianya fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan
nyaman bagi orang yang berkebutuhan khusus, termasuk
penyandang cacat.

(b)

Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas harus mempertimbangkan


tersedianya hubungan horizontal antarruang dalam bangunan RS,
akses evakuasi, termasuk bagi orang yang berkebutuhan khusus,
termasuk penyandang cacat.

(c)

Kelengkapan prasarana disesuaikan dengan fungsi RS.

Persyaratan Teknis.
(a)
(b)

5.11

Setiap bangunan RS harus memenuhi persyaratan kemudahan


hubungan horizontal berupa tersedianya pintu dan/atau koridor yang
memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan RS tersebut
Jumlah, ukuran, dan jenis pintu, dalam suatu ruangan
dipertimbangkan berdasarkan besaran ruang, fungsi ruang, dan
jumlah pengguna ruang.

(c)

Arah bukaan daun pintu dalam suatu ruangan dipertimbangkan


berdasarkan fungsi ruang dan aspek keselamatan.

(d)

Ukuran koridor sebagai akses horizontal antarruang dipertimbangkan


berdasarkan fungsi koridor, fungsi ruang, dan jumlah pengguna.
Ukuran koridor yang aksesibilitas brankar pasien minimal 2,4 m.

Sistem Hubungan (Transportasi) Vertikal dalam Rumah Sakit.


(1)

Umum.
Setiap bangunan RS bertingkat harus menyediakan sarana hubungan
vertikal antar lantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi
bangunan RS tersebut berupa tersedianya tangga, ram, lif, tangga
berjalan/eskalator, dan/atau lantai berjalan/travelator.

(2)

Persyaratan Teknis.
(a)

Jumlah, ukuran, dan konstruksi sarana hubungan vertikal harus


berdasarkan fungsi bangunan RS, luas bangunan, dan jumlah
pengguna ruang, serta keselamatan pengguna gedung.

(b)

Setiap bangunan RS dengan ketinggian di atas lima lantai harus


menyediakan sarana hubungan vertikal berupa lif.

(c)

Bangunan RS umum yang fungsinya untuk kepentingan publik, baik


berupa fungsi keagamaan, fungsi usaha, maupun fungsi sosial dan
budaya harus menyediakan fasilitas dan kelengkapan sarana
hubungan vertikal bagi orang yang berkebutuhan khusus, termasuk
penyandang cacat.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

107

5.11.1

Ramp.
(1)

Umum.
Ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan
tertentu, sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan
tangga. Fungsi dapat digantikan dengan lift (fire lift)
UU RI No. 28 tahun 2002 tentang bangunan gedung bagian ketiga pasal 18 perihal persyaratan keselamatan

(2)

Persyaratan Ramp.
(1)

Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi 70,


perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan dan akhiran
ramp (curb ramps/landing).

(2)

Panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 70) tidak boleh
lebih dari 900 cm. Panjang ramp dengan kemiringan yang lebih
rendah dapat lebih panjang.

(3)

Lebar minimum dari ramp adalah 120 cm dengan tepi pengaman.

(4)

Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ramp harus
bebas dan datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk
memutar kursi roda dan stretcher, dengan ukuran minimum 160 cm.

Gambar 5.11.1.a Tipikal ramp

108

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Gambar 5.11.1.b Bentuk-bentuk ramp

Gambar 5.11.1.c Kemiringan ramp.

Gambar 5.11.1.d Pegangan rambat pada ramp.


Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

109

Gambar 5.11.1.e Kemiringan sisi lebar ramp.

Gambar 5.11.1.f Pintu di ujung ramp.


(5)

Permukaan datar awalan atau akhiran suatu ramp harus memiliki tekstur
sehingga tidak licin baik diwaktu hujan.

(6)

Lebar tepi pengaman ramp (low curb) 10 cm, dirancang untuk menghalangi
roda dari kursi roda atau stretcher agar tidak terperosok atau ke luar dari
jalur ramp.
Apabila berbatasan langsung dengan lalu lintas jalan umum atau
persimpangan, harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan
umum.

4.11.2

(7)

Ramp harus diterangi dengan pencahayaan yang cukup sehingga


membantu penggunaan ramp saat malam hari. Pencahayaan disediakan
pada bagian ramp yang memiliki ketinggian terhadap muka tanah
sekitarnya dan bagian-bagian yang membahayakan.

(8)

Ramp harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang


dijamin kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai.

Tangga.
(1)

Umum.
Tangga merupakan fasilitas bagi pergerakan vertikal yang dirancang
dengan mempertimbangkan ukuran dan kemiringan pijakan dan tanjakan
dengan lebar yang memadai.

110

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(2)

Persyaratan.
(1)

Harus memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang berukuran


seragam Tinggi masing-masing pijakan/tanjakan adalah 15 17 cm.

(2)

Harus memiliki kemiringan tangga kurang dari 600.

(3)

Lebar tangga minimal 120 cm untuk membawa usungan dalam


keadaan darurat, untuk mengevakuasi pasien dalam kasus terjadinya
kebakaran atau ancaman bom

(3)

Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan


pengguna tangga.

(4)

Harus dilengkapi dengan pegangan rambat (handrail).

Gambar 5.11.2.a Tipikal tangga

Gambar 5.11.2.b Pegangan rambat pada tangga

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

111

(5)

Pegangan rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65 cm ~


80 cm dari lantai, bebas dari elemen konstruksi yang mengganggu,
dan bagian ujungnya harus bulat atau dibelokkan dengan baik ke
arah lantai, dinding atau tiang.

(6)

Pegangan rambat harus ditambah panjangnya pada bagian ujungujungnya (puncak dan bagian bawah) dengan 30 cm.

(7)

Untuk tangga yang terletak di luar bangunan, harus dirancang


sehingga tidak ada air hujan yang menggenang pada lantainya.

Gambar 5.11.2.c Desain profil tangga.

Gambar 5.11.2.d Detail pegangan rambat tangga

Gambar 5.11.2.e Detail pegangan rambat pada dinding.

112

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

5.11.3 Lift (Elevator)


(1)

Umum.
Lift merupakan fasilitas lalu lintas vertikal baik bagi petugas RS maupun
untuk pasien. Oleh karena itu harus direncanakan dapat menampung
tempat tidur pasien.

(2)

5.12

Persyaratan.
(1)

Ukuran lift rumah sakit minimal 1,50 m x 2,30 m dan lebar pintunya
tidak kurang dari 1,20 m untuk memungkinkan lewatnya tempat tidur
dan stretcher bersama-sama dengan pengantarnya.

(2)

Lif penumpang dan lift service dipisah bila dimungkinkan.

(3)

Jumlah, kapasitas, dan spesifikasi lif sebagai sarana hubungan


vertikal dalam bangunan gedung harus mampu melakukan pelayanan
yang optimal untuk sirkulasi vertikal pada bangunan, sesuai dengan
fungsi dan jumlah pengguna bangunan RS.

(4)

Setiap bangunan RS yang menggunakan lif harus tersedia lif


kebakaran yang dimulai dari lantai dasar bangunan (ground floor).

(5)

Lif kebakaran dapat berupa lif khusus kebakaran/lif penumpang


biasa/lif barang yang dapat diatur pengoperasiannya sehingga dalam
keadaan darurat dapat digunakan khusus oleh petugas kebakaran.

Sarana Evakuasi
(1)

Umum.
Setiap bangunan RS harus menyediakan sarana evakuasi bagi orang yang
berkebutuhan khusus termasuk penyandang cacat yang meliputi :

(2)

5.13

(a)

sistem peringatan bahaya bagi pengguna,

(b)

pintu keluar darurat, dan

(c)

jalur evakuasi yang dapat menjamin pengguna bangunan RS untuk


melakukan evakuasi dari dalam bangunan RS secara aman apabila
terjadi bencana atau keadaan darurat.

Persyaratan Teknis.
(a)

Untuk persyaratan sarana evakuasi pada bangunan RS harus


dipenuhi standar tata cara perencanaan sarana evakuasi pada
bangunan gedung.

(b)

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum mempunyai


SNI, dapat digunakan standar baku dan pedoman teknis yang
diberlakukan oleh instansi yang berwenang.

Aksesibilitas Penyandang Cacat


(1)

Umum.
Setiap bangunan RS, harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk
menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lanjut usia
masuk dan keluar ke dan dari bangunan RS serta beraktivitas dalam
bangunan RS secara mudah, aman, nyaman dan mandiri.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

113

(2)

5.14

Persyaratan Teknis.
(a)

Fasilitas dan aksesibilitas meliputi toilet, tempat parkir, telepon


umum, jalur pemandu, rambu dan marka, pintu, ramp, tangga, dan lif
bagi penyandang cacat dan lanjut usia.

(b)

Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas disesuaikan dengan fungsi,


luas, dan ketinggian bangunan RS.

Prasarana/Sarana Umum.
(1)

(2)

Umum.
(a)

Guna memberikan kemudahan bagi pengguna bangunan RS untuk


beraktivitas di dalamnya, setiap bangunan RS untuk kepentingan
umum harus menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana
pemanfaatan bangunan RS, meliputi: ruang ibadah, toilet, tempat
parkir, tempat sampah, serta fasilitas komunikasi dan informasi.

(b)

Penyediaan prasarana dan sarana disesuaikan dengan fungsi dan


luas bangunan RS, serta jumlah pengguna bangunan RS.

Persyaratan Teknis.
Perencanaan sarana dan prasarana dalam bangunan RS mengikuti:

114

(a)

SNI 03-1735-2000 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan akses


bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya
kebakaran pada bangunan gedung.

(b)

SNI 03-1746-2000 atau edisi terbaru; Tata cara perencanaan dan


pemasangan sarana jalan keluar untuk penyelamatan terhadap
bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

(c)

SNI 03-6573-2001 atau edisi terbaru; Tata cara perancangan sistem


transportasi vertikal dalam gedung (lif).

(d)

Ketentuan teknis Kelengkapan Prasarana dan Sarana bangunan RS.

(e)

Ketentuan teknis Prasarana dan Sarana pemanfaatan Bangunan RS


dan Kelengkapannya.

(f)

Ketentuan teknis Ukuran, Konstruksi,


Aksesibilitas bagi Penyandang Cacat.

(g)

Dalam hal persyaratan di atas belum mempunyai SNI, dapat


digunakan standar baku dan pedoman teknis yang diberlakukan oleh
instansi yang berwenang.

Jumlah

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Fasilitas

dan

BAGIAN VI
PENUTUP
6.1

Pedoman teknis ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan oleh pengelola
fasilitas pelayanan kesehatan, penyedia jasa konstruksi, Pemerintah Daerah, dan
instansi yang terkait dengan kegiatan pengaturan dan pengendalian
penyelenggaraan pembangunan bangunan fasilitas pelayanan kesehatan, guna
menjamin kesehatan penghuni bangunan dan lingkungan terhadap bahaya
penyakit.

6.2

Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatip, serta
penyesuaian Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas B oleh
masing-masing daerah disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan kelembagaan
daerah.

6.3

Sebagai pedoman/ petunjuk pelengkap, dapat digunakan Standar Nasional


Indonesia (SNI) terkait lainnya.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

115

KEPUSTAKAAN
1.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

2.

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

3.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 36 Tahun 2005, tentang Peraturan


Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung.

4.

Peraturan Kementerian Kesehatan RI Nomor 340/MENKES/PER/III/2010 tentang


Klasifikasi Rumah Sakit.

5.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No : 1204/Menkes/SK/X/2004


tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.

6.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No : 1197/Menkes/SK/X/2004


tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit.

7.

Joanna R. Fuller, Surgical Technology, Principles and Practice, Saunders.

8.

American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditionign Engineers,


Handbook, Applications, 1974 Edition, ASHRAE.

9.

American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditioning Engineers, HVAC


Design Manual for Hospitals and Clinics, 2003 edition, ASHRAE.

10.

G.D. Kunders, Hospitals, Facilities Planning and Management, Tata McGraw-Hill


Publishing Company Limited, 2004.

11.

Ernst Neufert (Alih Bahasa : Sjamsu Amril), Data Arsitek, Edisi kedua, Jilid 1,
Penerbit Erlangga, 1995.

12.

Departemen

Kesehatan

RI,

Ditjen

Bina

Pelayanan

Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit, 2007.

116

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Medik,

Pedoman

PEDOMAN BANGUNAN RS :
RUANG OPERASI RUMAH SAKIT

DIREKTORAT BINA PELAYANAN PENUNJANG MEDIK DAN SARANA KESEHATAN


SUB DIREKTORAT BINA SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN
TAHUN 2012

DAFTAR ISI
Daftar Isi
BAB - I

iii
Ketentuan Umum
1.1 Latar Belakang
1.2 Maksud Dan Tujuan
1.3 Sasaran
1.4 Pengertian
1.5 Lingkup Materi Pedoman

1
1
2
2
11

BAB- II

Pedoman Teknis Arsitektur Dan Struktur Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit
2.1 Umum
12
2.2 Alur Sirkulasi Kegiatan Ruangan Operasi
12
2.3 Pembagian Zona Pada Sarana Ruang Operasi Rumah Sakit
15
2.4 Aksesibilitas Dan Hubungan Antar Ruang
17
2.5 Kebutuhan Ruang
18
2.6 Sarana Evakuasi Dan Aksesibilitas Penyandang Cacat
31
2.7 Persyaratan Struktur Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit
32

BAB - III

Pedoman Teknis Prasarana Ruang Operasi Rumah Sakit


3.1 Umum
3.2 Prasarana
3.3 Instalasi Mekanikal
3.4 Instalasi Elektrikal
3.5 Instalasi Proteksi Kebakaran

33
33
33
41
47

Penutup
Kepustakaan

51
52

BAB - IV

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

iii

BAB I
KETENTUAN UMUM
1.1

Latar belakang.

Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 28 Bagian H,
ayat (1) telah menegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan,
kemudian dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan merupakan bagian dari
sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan upaya
kesehatan. Pada hakekatnya rumah sakit berfungsi sebagai tempat penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan. Fungsi dimaksud memiliki makna tanggung jawab yang seyogyanya
merupakan tanggung jawab pemerintah dalam meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat.
Untuk optimalisasi hasil serta kontribusi positif tersebut, harus dapat diupayakan masuknya upaya
kesehatan sebagai asas pokok program pembangunan nasional.
Dalam Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 10 ayat (2) menyebutkan,
bangunan rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri atas ruang: .
d. ruang operasi; . .
Dalam Bagian Ketiga tentang Bangunan, pasal 9 butir (b) menyebutkan bahwa Persyaratan teknis
bangunan Rumah Sakit, sesuai dengan fungsi, kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian
pelayanan serta perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat,
anak-anak, dan orang usia lanjut.
Dalam rangka mendukung Undang-Undang No. 44 tersebut, maka perlu disusun pedoman teknis
bangunan rumah sakit ruang operasi yang memenuhi standar pelayanan,
keselamatan,
kesehatan, kenyamanan dan kemudahan.
Disamping itu pula, ruang operasimerupakan tempat diselenggarakannya tindakan pembedahan
secara elektif maupun akut, hal mana membutuhkan kondisi steril dan kondisi khusus lainnya yang
harus dicapai sesuai pedoman teknis ini.

1.2

Maksud dan tujuan.

PedomanTeknis Bangunan Rumah Sakit Ruang Operasi ini, dimaksudkan sebagai acuan teknis
penyediaan fasilitas fisikbangunan dan utilitasnya agar rumah sakit dapat memberikan pelayanan
kesehatan bagi masyarakat yang memadai sesuai kebutuhan.
PedomanTeknis Bangunan Rumah Sakit Ruang Operasi bertujuan memberikan petunjuk agar
suatu perencanaan, perancangan dan pengelolaan bangunan ruang operasi di rumah sakit
memperhatikan kaidah-kaidah pelayanan kesehatan, sehingga bangunan ruang operasi yang akan
dibuat memenuhi standar keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan bagi pasien dan
pengguna bangunan lainnya serta tidak berakibat buruk bagi keduanya.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

1.3

Sasaran.

PedomanTeknis Bangunan Rumah Sakit Ruang Operasi iniakan menjadi acuan bagi pengelola
rumah sakit, khususnya pengelola ruang operasi dan dapat menjadi acuan bagi konsultan
perencana dalam membuat perencanaan bangunan ruang operasi, sehingga masing-masing pihak
dapat memiliki persepsi yang sama.

1.4

Pengertian.

1.4.1

Bangunan gedung.

konstruksi bangunan yang diletakkan secara tetap dalam suatu lingkungan, di atas tanah/perairan,
ataupun di bawah tanah/perairan, tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk tempat
tinggal, berusaha, maupun kegiatan sosial dan budaya.

1.4.2

Ruangan di rumah sakit.

gabungan/kumpulan dari ruang-ruang/kamar-kamar di unit rumah sakit yang saling berhubungan


dan terkait satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan pelayanan kesehatan.

1.4.3

Prasarana

Benda maupun jaringan/instalasi yang membuat suatu bangunan yang ada bisa berfungsi sesuai
dengan tujuan yang diharapkan.

1.4.4

Ruang Operasi Rumah Sakit.

suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan tindakan
pembedahan secara elektif maupun akut, yang membutuhkan kondisi steril dan kondisi khusus
lainnya.

1.4.5

Ruang Pendaftaran.

(1)

Ruang ini digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi, khususnya pelayanan


bedah.

(2)

Ruang ini berada pada bagian depan Ruang OperasiRumah Sakit dengan dilengkapi loket,
meja kerja, lemari berkas/arsip, telepon/interkom.

(3)

Pasien bedah dan Pengantar (Keluarga atau Perawat) datang ke ruang pendaftaran.

(4)

Pengantar (Keluarga atau Perawat), melakukan pendaftaran di Loket pendaftaran, petugas


pendaftaran Ruang Operasi Rumah Sakit melakukan pendataan pasien bedah dan
penandatanganan surat pernyataan dari keluarga pasien bedah, selanjutnya pengantar
menunggu di ruang tunggu.

(5)

Kegiatan administrasi meliputi :

(a)

Pendataan pasien bedah.

(b)

Penandatanganan surat pernyataan dari keluarga pasien bedah.

(c)

Rincian biaya pembedahan.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

1.4.6

Ruang tunggu Pengantar.

Ruang di mana keluarga atau pengantar pasien menunggu. Di ruang ini perlu disediakan tempat
duduk dengan jumlah yang sesuai aktivitas pelayanan bedah. Bila memungkinkan, sebaiknya
disediakan pesawat televisi dan ruangan yang dilengkapi sistem pengkondisian udara.

1.4.7
(1)

Ruang Transfer (Transfer Room).


Pasien bedah dibaringkan di stretcher khusus ruang operasi. Untuk pasien bedah yang
datang menggunakan stretcher dari ruang lain, pasien tersebut dipindahkan ke stretcher
khusus Ruang Operasi Rumah Sakit.

Gambar 1.4.7 - Contoh Transfer bed ruang operasi.


(2)

Pasien melepaskan semua perhiasan dan diserahkan kepada keluarga pasien.

(3)

Selanjutnya Pasien dibawa ke ruang persiapan (preperation room)

1.4.8

Ruang Tunggu Pasien (Holding Room).

Ruang tunggu pasien dimaksudkan untuk tempat menunggu pasien sebelum dilakukan pekerjaan
persiapan (preparation) oleh petugas Ruang Operasi Rumah Sakit dan menunggu sebelum masuk
ke kompleks ruang operasi. Apabila luasan area Ruang Operasi Rumah Sakit tidak
memungkinkan, kegiatan pada ruangan ini dapat di laksanakan di Ruang Transfer.

1.4.9

Ruang Persiapan Pasien.

(1)

Ruang yang digunakan untuk mempersiapkan pasien bedah sebelum memasuki ruang
operasi.

(2)

Di ruang persiapan, petugas Ruang Operasi Rumah Sakit membersihkan tubuh


pasienbedah, dan mencukur bagian tubuh yang perlu dicukur.

(3)

Petugas Ruang Operasi Rumah Sakit mengganti pakaian pasien bedah dengan pakaian
khusus pasien bedah.

(4)

Selanjutnya pasien bedah dibawa ke ruang induksi atau langsung ke ruang operasi.

1.4.10 Ruang Induksi.


Di ruang induksi, petugas Ruang Operasi Rumah Sakit mengukur tekanan darah pasien bedah,
memasang infus, memberikan kesempatan pada pasien untuk beristirahat/ menenangkan diri, dan
memberikan penjelasan pada pasien bedah mengenai tindakan yang akan dilaksanakan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

Anastesi dapat dilakukan pada ruangan ini.Apabila luasan area Ruang Operasi Rumah Sakit tidak
memungkinkan, kegiatan anastesi dapat di laksanakan di kamar bedah.

1.4.11 Ruang Penyiapan Peralatan/Instrumen Bedah.


Peralatan/Instrumen dan bahan-bahan yang akan digunakan untuk pembedahan dipersiapkan
pada ruang ini.

1.4.12 Kamarbedah.
(1)

Kamarbedah digunakan sebagai ruang untuk melakukan tindakan operasi dan atau
pembedahan. Luas ruangan harus cukup untuk memungkinkan petugas bergerak sekeliling
peralatanbedah.Kamarbedah harus dirancang dengan faktor keselamatan yang tinggi.

(2)

Di kamarbedah, pasien dipindahkan dari stretcher khusus Ruang Operasi ke meja


operasi/bedah.

(3)

Di kamar ini pasien bedah dilakukan pembiusan (anestesi).

(4)

Setelah pasien bedah tidak sadar, selanjutnya proses bedah dimulai oleh Dokter Ahli Bedah
dibantu petugas medik lainnya.

1.4.13 Ruang Pemulihan (Recovery).


(1)

Ruang pemulihan ditempatkan berdekatan dengan kamarbedah dan diawasi oleh perawat.
Pasien bedah yang ditempatkan di ruang pemulihan secara terus menerus dipantau karena
pasien masih dalam kondisi pembiusan normal atau ringan. Daerah ini memerlukan
perawatan berkualitas tinggi yang dapat secara cepat menilai pasien tentang status :
jantung, pernapasan dan physiologis, dan bila diperlukan melakukan tindakan dengan
memberikan pertolongan yang tepat.

(2)

Setiap tempat tidur pasien pasca bedah dilengkapi dengan minimum satu outlet Oksigen,
suction, udara tekan medis, peralatan monitor dan 6 (enam) kotak kontak listrik,

(3)

Kereta darurat (emergency cart) secara terpusat disediakan dan dilengkapi dengan
defibrillator, saluran napas (airway), obat-obatan darurat, dan persediaan lainnya.

(4)

Di beberapa rumah sakit, ruang pemulihan sering juga dinamakan ruang PACU(Post
Anaesthetic Care Unit).Komunikasi ruang pemulihan atau ruang PACUlangsung ke ruang
dokter bedah dan perawat bedah dengan perangkat interkom.Tombol panggil darurat
ditempatkan diseluruh Ruang Operasi Rumah Sakit.

1.4.16 Ruang ganti pakaian (Loker).


(1)

Loker atau ruang ganti pakaian, digunakan untuk Dokter dan petugas medik mengganti
pakaian sebelum masuk ke lingkungan ruang operasi.

(2)

Pada loker ini disediakan lemari pakaian/loker dengan kunci yang dipegang oleh masingmasing petugas dan disediakan juga lemari/tempat menyimpan pakaian ganti dokter dan
perawat yang sudah disteril. Loker dipisah antara pria dan wanita.Loker juga dilengkapi
dengan toilet.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

1.4.17 Ruang Dokter.


Ruang Dokter terdiri dari 2 bagian :
(1)

Ruang kerja.

(2)

Ruang istirahat/kamar jaga.


Pada ruang kerja harus dilengkapi dengan beberapa peralatan dan furnitur.Sedangkan pada
ruang istirahat diperlukan sofa.Ruang Dokter perlu dilengkapi dengan bak cuci tangan
(wastafel) dan toilet.

1.4.18 ScrubStation.
(1)

Scrub station atau scrub up, adalah bak cuci tangan bagi Dokter ahli bedah dan petugas
medik yang akan mengikuti langsung pembedahan di dalam ruang operasi.

(2)

Bagi petugas medik yang tidak terlibat tidak perlu mencuci tangannya di scrub station.

(3)

Scrub station sebaiknya berada disamping atau di depanruang operasi.

Gambar 1.4.18 Scrub station untuk 3 orang

(4)

Beberapa persyaratan dari scrub station yang harus dipenuhi, antara lain :
(a)

Terdapat kran siku atau kran dengkul, minimal untuk 2 (dua) orang.

(b)

Aliran air pada setiap kran cukup.

(c)

Dilengkapi dengan ultra violet (UV), water sterilizer.

(d)

Dilengkapi dengan tempat cairan desinfektan.

(e)

Dilengkapi sikat kuku.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

1.4.19 Ruang Utilitas Kotor (Spoel Hoek, Disposal).


(1)

Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan.
Spoolhoek terdiri dari :
(a)

Sloop sink (lihat gambar 1.4.19.a& b).

(b)

Service Sink (lihat gambar 1.4.19.a & c)

(2)

Peralatan/Instrumen/Material kotor dikeluarkan dari ruang operasi ke ruang kotor (disposal,


spoel Hoek).

(3)

Barang-barang kotor ini selanjutnya dikirim ke ruang Laundri dan CSSD (Central Sterilized
Support Departement).untuk dibersihkan dan disterilkan.

(4)

Ruang Laundri dan CSSD berada diluar Ruang Operasi Rumah Sakit.

Slop Sink

Service Sink

Gambar 1.4.19.a - Slop Sink dan Service Sink

Gambar 1.4.19.b- Sloop Sink

Gambar1.4.19.c - Service Sink

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

1.4.20 Ruang Linen.


Ruang linen berfungsi menyimpan linen, antara lain duk operasi dan pakaian bedah
petugas/dokter pada Ruang Operasi Rumah Sakit.

Gambar 1.4 - Kompleks ruang operasi

1.4.21 Ruang Penyimpanan Perlengkapan Bedah


(1)

Ruang tempat penyimpanan instrumen yang telah disterilkan. Instrumen berada dalam
Tromol tertutup dan disimpan di dalam lemari instrumen. Bahan-bahan lain seperti kasa steril
dan kapas yang telah disterilkan juga dapat disimpan di ruangan ini.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

(2)

Persediaan harus disusun rapih pada rak-rak yang titik terendahnya tidak lebih dari 8 inci (20
cm) dari lantai dan titik tertingginya tidak kurang dari 18 inci (45 cm) dari langit-langit.
Persediaan rutin diperiksa tanggal kadaluarsanya dan di bungkus secara terpadu.

(3)

Ruang Penyimpanan peralatan anastesi, peralatan implant orthopedic, dan perlengkapan


emergensi diletakkan pada ruang yang berbeda dengan ruang penyimpanan perlengkapan
bedah.

1.4.22 Ruang Penyimpanan Peralatan Kebersihan (Janitor).


Ruang untuk menyimpan peralatan kebersihan dan ruang tempat menempatkan barang-barang
kotor di dalam kontainer tertutup yang berasal dari ruang-ruang di dalam bangunan (sarana)
Ruang Operasi Rumah Sakit untuk selanjutnya dibuang ke tempat pembuangan di luar bangunan
Ruang Operasi Rumah Sakit.

Gambar 1.4.22 Janitor

1.4.23 Meja Operasi/bedah.


Meja operasi/bedah adalah meja yang digunakan untuk membaringkan pasien bedah, sesuai
dengan posisi yang sesuai, dimana Dokter bedah akan melakukan operasi pembedahan.
Secara umum, ada 2 jenis meja operasi, yaitu : meja operasi yang digerakkan secara hidarolik,
dan meja operasi yang digerakkan dengan elektrohidraulik (sebelumnya ada meja operasi yang
digerakkan secara mekanik).

1.4.24 Lampu Operasi/bedah.


Lampu operasi umumnya diletakkan menggantung di langit-langit ruang operasi, dan berada di
posisi diatas meja operasi (Operating Table). Namun demikian untuk keperluan lainnya, lampu
operasi juga ada dari jenis diletakkan di lantai (floor mounted) atau jenis pemasangan di dinding
(wall mounted).

1.4.25 Mesin Anesthesi.


Mesin anestesi adalah peralatan medik yang berfungsi untuk pembiusan pada pasien yang
dilakukan oleh dokter spesialis anestesi sebelum dilakukan pembedahan oleh dokter spesialis
bedah.Lokasi peralatan anestesi ini ada di kamar bedah.Untuk mengoperasikan mesin anestesi ini
diperlukan gas oksigen (O2), gas nitrous oksida (N2O), dan zat anestesi.Disamping gas dan zat
tersebut di atas, idealnya juga dilengkapi dengan vakum medik, udara tekan dan sistem buangan
gas anestesi.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Gam
mbar 1.4.25 Mesin an
nesthesi den
ngan 3 vapo
orizer dileng
gkapi ventila
ator dan mo
onitor

1.4.26 Ventilator.
Ventilator umumnya digunakan di ruang operasi
o
dan
n di ruang ICU untuk mengalirka
an ventilasii
mekanis ke
e paru-paru
u.
Ventilator berfungsi sebagai
s
alat bantu perrnapasan pada
p
pasien
n yang dala
am kondisi fisik cukup
p
lemah. Pe
enggunaannya di ka
amar bedah
h bersama
a sama de
engan mesin aneste
esi, sepertii
ditunjukkan
n pada gam
mbar 1.4.26..
Ventilator dioperasika
an dengan pemipaan sentral gas (oksigen atau udara
a tekan) attau silinderr
oksigen, atau dengan
n kompreso
or udara listrik yang diletakkan di mana saja, jika tersed
dia tekanan
n
sebesar 3,,5 bar samp
pai 4 bar. Sistem
S
ini cukup
c
aman
n di mana sirkit
s
aliran gas dan sirkit gas ke
e
pasien sep
penuhnya te
erpisah, dan tidak ada
a aliran gas bertekanan
n tinggi diallirkan ke pa
asien. Jeniss
alat ini sep
perti ditunjukkkan pada gambar
g
1.4
4.26

Gamb
bar 1.4.26 : Ventilator dengan
d
sum
mber pengg
gerak sentra
al gas.

1.4.27 Ceiling Pen


ndant.
Ceiling pen
ndant adala
ah rak yang
g dipasang di
d langit-lan
ngit, umumn
nya di kama
ar bedah ata
au di ruang
g
ICU, dapatt digerakkan ke segala
a arah.Ceilin
ng pendantt umumnya terdiri dari 2 jenis.Jenis pertama,,
ceiling pen
ndant yang
g digunakan
n untuk me
eletakkan peralatan
p
m
monitor,
dan jenis ke dua untukk
menempattkan outlet/inlet gas me
edik dan ou
utlet listrik.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

Penempata
an ceiling pendant untuk memo
onitor kond
disi pasien diletakkan berhadapa
an dengan
n
Dokter bed
dah dan yan
ng lainnya ditempatkan
d
n dekat den
ngan mesin anestesi,

1.4.28 Alat
A Monito
or
Alat monittor yang umum terda
apat di rua
ang operasi berfungsi untuk me
erekam aktiivitas listrikk
jantung. Selain
S
itu alat
a
ini juga
a dilengkap
pi dengan perlengkapa
p
an untuk m
memonitor parameter-parameter tubuh lainn
nya.

1.4.29 Fiilm Viewer.


Film Viewe
er adalah alat untuk me
elihat, mem
mbaca dan mengartikan
m
n hasil foto rrontgen.

1.4.30 Aspirator.
A
Aspirator yang
y
digunakan dalam
m kamar be
edah dapatt dibagi dallam 2 jeniss, yaitu asp
pirator yang
g
digunakan oleh dokte
er bedah untuk
u
meng
ghisap dara
ah, atau za
at lain dari tubuh pasien selama
a
han disebut aspirator bedah
b
(lihatt gambar 1..4.30), dan aspirator yyang diguna
akan dokterr
pembedah
anestesi untuk
u
menghisap lendir di tenggo
orokan pasie
en disebut aspirator te
enggorokan
n. Aspiratorr
tenggoroka
an selain digunakan di
d kamar be
edah, juga digunakan
d
di ruang IC
CU/ICCU da
an di ruang
g
rawat inap.

Gambar 1.4.30 - Aspirator bedah


h

1.4.31 Suction Un
nit.
Suction Un
nit adalah alat
a yang digunakan
d
u
untuk
memperoleh daya hisap dengan mela
alui pompa
a
suction/vakkum, yang menyatu dengan un
nit aspirato
ornya. Peng
ggunaannya
a terutama
a di kamarr
bedah, ata
au dilokasi la
ain, seperti ICU/ICCU dan ruang perawatan.
p

10

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Gambar 1.4.31. Suc


ction Unit

1.5

Lingkup Materi
M
Pe
edoman.

Lingkup materi
m
Pedo
oman Teknis Banguna
an Ruang Operasi Ru
umah Sakit ini melipu
uti sebagaii
berikut :
(1)

uan Umum..
Bab I : Ketentu
mem
mberikan ga
ambaran umum yang
g meliputi latar
l
belaka
ang, maksud dan tujjuan, serta
a
lingkkup materi pedoman.
p

(2)

Bab II :Pedom
man Teknis
s Arsitektu
ur dan Stru
uktur Bang
gunan Rua
ang Opera
asi Rumah
h
Sakit.
mberikan ga
ambaran m
mengenai alur kegiatan pada ba
angunan Ru
uang Opera
asi Rumah
h
mem
Sakitt, kebutuhan ruang, zo
oning dan persyaratan umum kom
mponen ban
ngunan insta
alasi bedah
h
.

(3)

R
Ope
erasi Ruma
ah Sakit.
Bab III :Pedoman Teknis Prasarana (Utilitas) Ruang
mberikan gambaran
g
an yang memenuhii
mem
mengenai persyarattan utilitass banguna
persyyaratan kesselamatan bangunan,
b
k
kesehatan
bangunan,
b
k
kenyamana
an dan kemudahan.

(4)

Bab IV : Penutu
up.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

11

BAB II
PEDOMAN TEKNIS
ARSITEKTUR DAN STRUKTUR
BANGUNAN RUANG OPERASI RUMAH SAKIT
2.1

Umum.

(1)

Setiap bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit merupakan tempat untuk melakukan kegiatan
tindakan pembedahan secara elektif maupun akut, yang membutuhkan kondisi steril dan
kondisi khusus lainnya.

(2)

Fungsi bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit dikualifikasikan berdasarkan tingkat sterilitas
dan tingkat aksesibilitas.

2.2

Alur Sirkulasi kegiatan Ruangan Operasi.

Gambar - 2.2 : Alur kegiatan di Ruang Operasi Rumah Sakit.

12

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Alur sirkulasi (pergerakan) ruang pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit ditunjukkan pada
gambar 2.2, dan dijelaskan sebagai berikut :
(1)

(2)

Pasien.
(a)

Pasien, umumnya dibawa dari ruang rawat inap menuju ruang operasi menggunakan
transfer bed.

(b)

Perawat ruang rawat inap atau perawat ruang operasi, sesuai jadwal operasi,
membawa pasien ke ruang pendaftaran untuk dicocokkan identitasnya, apakah sudah
sesuai dengan data yang sebelumnya dikirim ke ruang administrasi ruang operasi dan
sudah dipelajari oleh dokter bedah bersangkutan.Pengantar pasien dipersilahkan untuk
menunggu di ruang tunggu pengantar.

(c)

Dari ruang pendaftaran, pasien dibawa ke ruang transfer, di ruang ini, pasien
dipindahkan dari transfer bed ke transfer bed ruang bedah menuju ruang persiapan.

(d)

Di ruang persiapan pasien dibersihkan, misalnya dicukur pada bagian rambut yang
akan dioperasi, atau dibersihkan bagian-bagian tubuh lain yang dianggap perlu,

(e)

Apabila, pada saat pasien selesai dibersihkan ruang operasi masih digunakan untuk
operasi pasien lain, pasien ditempatkan di ruang tunggu pasien yang berada di
lingkungan ruang operasi.

(f)

Setelah tiba waktunya, pasien dibawa masuk ke ruang induksi (bila ada), yang mana,
pasien diperiksa kembali kondisi tubuhnya, menyangkut tekanan darah, detak jantung,
temperatur tubuh, dan sebagainya.

(g)

Apabila kondisi tubuh pasien cukup layak untuk dioperasi, pasien selanjutnya masuk
ke ruang bedah, untuk dilakukan operasi pembedahan.

(h)

Selesai dilakukan pembedahan, pasien yang masih dipengaruhi oleh bius dari zat
anestesi, selanjutnya dibawa ke ruang pemulihan (recovery room). Ruang ini sering
juga dinamakan ruang PACU (Post Anesthesi Care Unit).Bila dianggap perlu, pasien
bedah dapat juga langsung dibawa ke ruang perawatan intensif (ICU).

(i)

Apabila bayi yang dioperasi, setelah dioperasi bayi tersebut selanjutnya dibawa masuk
ke ruang resusisitasi neonatal (dibeberapa rumah sakit, jarang ruang resisutasi
neonatal ini berada di ruang operasi, biasanya langsung dibawa ke ruang perawatan
intensif bayi (NICU), yang berada di bagian melahirkan (Ginekologi).

(j)

Apabila pasien bedah kondisinya cukup sadar, pasien dibawa ke ruang rawat inap,

Paramedis dan Dokter Bedah/Anestesi.


(a)

Paramedis.
1)

Dokter dan paramedis, mengganti baju dan sepatu/sandalnya di ruang loker,


yang mana dokter/paramedis selanjutnya mengenakan baju, penutupkepala dan
penutup hidung/mulut yang sebelumnya sudah disterilkan.

2)

Paramedis selanjutnya melakukan kegiatan persiapan perlengkapan operasi,


meliputi penyiapan peralatan bedah, pembersihan ruang bedah, mensterilkan
ruang bedah dengan penyemprotan fogging, menyeka (mengelap) meja bedah,
lampu bedah, mesin anestesi, pendant, dengan cairan atau lap yang sesuai.
Memeriksa seluruh utilitas ruang operasi (tekanan gas medis, vakum, udara
tekan medis, kotak kontak listrik, jam dinding, tempat sampah medis, dan
sebagainya).

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

13

(b)

(3)

3)

Untuk penyiapan peralatan bedah, dilakukan di ruang peralatan bedah yang


letaknya dekat dengan kamar bedah. Set peralatan bedah diambil dari ruang
penyimpanan steril, dan disiapkan di atas troli bedah,

4)

Setelah siap, Dokter bedah akan memeriksa kembali seluruh peralatan bedah
yang diperlukan, dan mengujinya bila diperlukan.

5)

Selanjutnya peralatan bedah ini dimasukkan ke kamar bedah.Apabila pengadaan


ruang persiapan peralatan bedah ini karena sesuatu hal tidak dimungkinkan,
maka persiapan peralatan bedah dapat dilakukan di kamar bedah.

Dokter.
1)

Di ruang Dokter, Dokter beserta stafnya, termasuk dokter anestesi, melakukan


koordinasi tindakan bedah yang akan dilakukan terhadap pasien, termasuk
kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.

2)

Selesai melakukan koordinasi, Dokter bedah menuju ruang persiapan peralatan


bedah, memeriksa dan menguji apakah seluruh peralatan sudah sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan untuk pembedahan.

3)

Dokter selanjutnya ke ruang induksi, memeriksa kondisi pasien apakah sudah


cukup siap untuk operasi.

4)

Dokter anestesi, memeriksa peralatan mesin anestesi apakah sudah berfungsi


dengan baik, termasuk zat anestesi yang akan digunakan.

5)

Dokter bedah dan staf yang membantu operasi, sebelum melakukan


pembedahan, mencuci tangan terlebih dahulu di tempat cuci tangan yang disebut
dengan Scrub Up. Tempat cuci tangan ini terdiri dari air biasa, sabun dan zat
anti septik (biasa digunakan betadine).Selanjutnya dokter dan staf yang terlibat
pengoperasian menggunakan sarung tangan yang telah disterilkan.

6)

Dokter, staf yang membantu operasi selanjutnya masuk ke ruang operasi untuk
melakukan pembedahan. Sebelum melakukan operasi, Dokter biasanya
melakukan penyesuaian posisi meja operasi dan lampu operasi yang lebih
nyaman, demikian pula dengan posisi troli peralatan operasi.

7)

Selesai melakukan operasi, Dokter beserta stafnya kembali mencuci tangan di


scrub up, dan Dokter kembali ke ruang Dokter untuk membuat laporan.

Alur Material/bahan.
(a)

Material/bahan bersih/steril.
Material/bahan bersih untuk kebutuhan kamar bedah diambil dari :

14

1)

ruang penyimpanan bersih/steril, seperti linen, peralatan kebutuhan bedah, dan


sebagainya.

2)

Untuk kebutuhan farmasi (obat-obatan), diambil dari ruang penyimpanan farmasi,


termasuk bahan/material yang sekali pakai. Bila ruang farmasi tidak tersedia,
dapat digunakan ruang persiapan peralatan.

3)

Zat anestesi, umumnya disimpan di ruang penyimpanan anestesi.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(b)

Material kotor/bekas.
1)

2.3

Material kotor, terdiri dari :


a)

Material kotor/bekas yang digunakan dan sifatnya habis pakai, dimasukkan


ke dalam tempat sampah berupa kontainer kotor, selanjutnya ditutup rapat,
dan dibawa ke area kotor untuk selanjutnya dibawa ke tempat
pembuangan yang khusus digunakan untuk ini.

b)

Material kotor/bekas yang masih dapat digunakan kembali, seperti linen,


peralatan kedokteran dan sebagainya dibawa ke ruang spool hook, setelah
dibersihkan dan dikemas dikirim ke ruang laundri atau CSSD.

Pembagian Zona pada Sarana Ruang Operasi Rumah Sakit.

2.3.1
Ruangan-ruangan pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit dapat dibagi kedalam
beberapa 5 zona (lihat gambar 2.3.1).

Gambar 2.3.1Pembagian zona pada bangunan (sarana) Ruang Operasi Rumah Sakit
Keterangan :
1=
2=
3=
4=
5=

Zona Tingkat Resiko Rendah (Normal)


Zona Tingkat Resiko Sedang (Normal dengan Pre Filter)
Zona Resiko Tinggi (Semi Steril dengan Medium Filter)
Zona Resiko Sangat Tinggi (Steril dengan prefilter, medium filter dan hepa filter, Tekanan Positif)
Area Nuklei Steril (Meja Operasi)

(1)

Zona 1, Tingkat Resiko Rendah (Normal)


Zona ini terdiri dari area resepsionis(ruang administrasi dan pendaftaran), ruang tunggu
keluarga pasien, janitor danruang utilitas kotor.
Zone ini mempunyai jumlah partikel debu per m3> 3.520.000 partikel dengan diameter 0,5
m (ISO 8 - ISO 14644-1 cleanroom standards Tahun 1999).

(2)

Zona 2, Tingkat Resiko Sedang (Normal dengan Pre Filter)


Zona ini terdiri dari ruang istirahat dokter dan perawat, ruang plester, pantri petugas,ruang
tunggu pasien (holding), ruang transfer dan ruang loker (ruang ganti pakaian dokter dan
perawat) merupakan area transisi antara zona 1 dengan zone 2.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

15

Zone ini mempunyai jumlah maksimal partikel debu per m3 3.520.000 partikel dengan dia.
0,5 m (ISO 8 - ISO 14644-1 cleanroom standards Tahun 1999).
(3)

Zona 3, Tingkat Resiko Tinggi (Semi Steril dengan Medium Filter)


Zona ini meliputi kompleks ruang operasi, yang terdiri dari ruang persiapan
(preparation),peralatan/instrument steril, ruang induksi, area scrub up, ruang pemulihan
(recovery),ruang linen, ruang pelaporan bedah, ruang penyimpanan perlengkapan bedah,
ruang penyimpanan peralatan anastesi, implant orthopedi dan emergensi serta koridorkoridor di dalam kompleks ruang operasi.
Zone ini mempunyai jumlah maksimal partikel debu per m3 adalah 352.000 partikel dengan
dia. 0,5 m (ISO 8 - ISO 14644-1 cleanroom standards Tahun 1999).

(4)

Zona 4, Tingkat Resiko Sangat Tinggi (Steril dengan Pre Filter, Medium Filter, Hepa
Filter)
Zona ini adalah ruang operasi, dengan tekanan udara positif. Zone ini mempunyai jumlah
maksimal partikel debu per m3 adalah 35.200 partikel dengan dia. 0,5 m (ISO 7 - ISO
14644-1 cleanroom standards Tahun 1999).

(5)

Area Nuklei Steril


Area ini terletak dibawah area aliran udara kebawah (;laminair air flow) dimana bedah
dilakukan. Area ini mempunyai jumlah maksimal partikel debu per m3 adalah 3.520 partikel
dengan dia. 0,5 m (ISO 5 s/d ISO 6 - ISO 14644-1 cleanroom standards Tahun 1999).

2.3.2
Alasan mempunyai sistem zona pada bangunan ruang operasi rumah sakit adalah untuk
meminimalisir risiko penyebaran infeksi (infection control) oleh micro-organisme dari rumah sakit
(area kotor) sampai pada kompleks ruang operasi.
2.3.3
Konsep zona dapat menimbulkan perbedaan solusi sistem air conditioning pada setiap
zona, Ini berarti bahwa staf dan pengunjung datang dari koridor kotor mengikuti ketentuan pakaian
dan ketentuan tingkah laku yang diterapkan pada zona.
2.3.4
Aliran bahan-bahan yang masuk dan keluar Ruang Operasi Rumah Sakit juga harus
memenuhi ketentuan yang spesifik.
2.3.5
Aspek esensial/penting dari zoning ini dan layuot/denah bangunan Ruang Operasi Rumah
Sakit adalah mengatur arah dari tim bedah, tim anestesi, pasien dan setiap pengunjung dan aliran
bahan steril dan kotor.
2.3.6
Dengan sistem zoning ini menunjukkan diterapkannya minimal risiko infeksi pada paska
bedah. Kontaminasi mikrobiologi dapat disebabkan oleh :
(1)

(2)

Phenomena yang tidak terkait komponen bangunan, seperti :


(a)

mikroorganisme (pada kulit) dari pasien atau infeksi yang mana pasien mempunyai
kelainan dari apa yang akan dibedah.

(b)

stafruang operasi, terkontaminasi pada sarung tangan dan pakaian.

(c)

kontaminasi dari instrumen, kontaminasi cairan.

Persyaratan teknis bangunan, seperti :


(a)

16

Denah (layout) sarana Ruang Operasi Rumah Sakit. Jalur yang salah dari aliran
barang bersih dan kotor dan lalu lintas orang dapat dengan mudah terjadi infeksi
silang.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(b)

Sebagai upaya pencegahan dan pengendalian infeksi silang yang disebabkan oleh alur
sirkulasi barang bersih dan kotor dan alur sirkulasi orang, maka harus dilengkapi
dengan standar-standar prosedur operasional.

(c)

Area-area dimana pelapis struktural dan peralatan yang terkontaminasi.

(d)

Aliran udara. Udara dapat langsung (melalui partikel debu pathogenic) dan tidak
langsung (melalui kontaminasi pakaian, sarung tangan dan instrumen) dapat
menyebabkan kontaminasi.Oleh karena itu, sistem pengkondisian udara mempunyai
peranan yang sangat penting untuk mencegah kondisi potensial dari kotaminasi yang
terakhir.

2.4

Aksesibilitas dan Hubungan Antar Ruang

2.4.1

Aksesibiltas.

Umumnya, sarana Ruang Operasi Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan aksesibilitas tempat
tidur.Ini berarti bahwa ruang operasi, area persiapan dan lain-lain, dan area lalu lintas yang
bersebelahan dengannya harus aksesibel untuk tempat tidur.
Selanjutnya, kebutuhan tempat tidur harus dapat melalui area jalur lalu lintas.
Tabel 2.4.1 menunjukkan kesimpulan persyaratan dasar yang berhubungan dengan aksesibilitas
dari sarana Ruang Operasi Rumah Sakit, dimana sejauh ini mempunyai konsekuensi terhadap
lebar ruang/area atau lorong ke ruangan/area.
Tabel 2.4.1 - Persyaratan dasar aksesibilitas
Keterangan area

Persyaratan minimum

Area bebas lalu lintas (antara rel pegangan tangan)

2,30 m

Sama diatas, apabila tempat tidur harus mampu


berputar.

2,40 m

Lebar bebas dari lorong ke akses area tempat tidur


(ruang operasi, area persiapan, dan lain-lain)

1,10 m

2.4.2

Hubungan antar ruang.

Persyaratan dasar berikut diterapkan untuk hubungan antar ruang dalam bangunan (sarana)
instalasi bedah.
(1)

Bangunan (sarana) Ruang Operasi Rumah Sakit harus bebas dari lalu lintas dalam lokasi
rumah sakit, dalam hal ini lalu lintas melalui bagian Ruang Operasi Rumah Sakit tidak
diperbolehkan.

(2)

Bangunan (sarana) Ruang Operasi Rumah Sakit secara fisik disekat rapat oleh sarana airlock di lokasi rumah sakit.

(3)

Kompleks ruang operasi adalah zone terpisah dari ruang-ruang lain pada bangunan (sarana)
Ruang Operasi Rumah Sakit.

(4)

Petugas yang bekerja dalam kompleks ruang operasi harus diatur agar jalur yang
dilewatinya dari satu area steril ke lainnya dengan tidak melewati area infeksius.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

17

2.5

Kebutuhan Ruang

2.5.1

Zona Resiko Sangat Tinggi (Ruang operasi= Zone 4)

2.5.1.1 Ruang operasi Minor.

Gambar 2.5.1.1A : Contoh Denah Ruang operasi minor

Gambar - 2.5.1.1B : Contoh Ruang operasi Minor


(a)

Denah (Layout).
Ruang operasi untuk bedah minor atau tindakan endoskopi dengan pembiusan lokal,
regional atau total dilakukan pada ruangan steril.
Ruang Induksi dan ruang penyiapan alat untuk bedah minor dapat dilakukan di ruang
operasi dan bak cuci tangan (scrub-up) ditempatkan berdekatan dengan bagian luar ruangan
ruang operasi ini.
Area yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pembedahan minor, 36 m2, dengan
ukuran ruangan panjang x lebar x tinggi adalah 6m x 6m x 3 m.

18

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(b)

Peralatan utama pada ruang operasi minor ini adalah :


(1)

Meja Operasi.

(2)

Lampu operasi tunggal.

(3)

Mesin Anestesi dengan saluran gas medik dan listrik menggunakan pendan anestesi
atau cara lain.

(4)

Peralatan monitor bedah, dengan diletakkan pada pendan bedah atau cara lain.

(5)

Film Viewer.

(6)

Jam dinding.

(7)

Instrument Trolley untuk peralatan bedah.

(8)

Tempat sampah klinis.

(9)

Tempat linen kotor.

(10) lemari obat/ peralatan dan lain-lain.


2.5.1.2 Ruang operasi Umum (General Surgery Room).
(a)

Denah (Layout)
Kamar operasi umum menyediakan lingkungan yang sterile untuk melakukan tindakan
bedah dengan pembiusan lokal, regional atau total.
Kamar operasi umum dapat dipakai untuk pembedahan umum dan spesialistik termasuk
untuk ENT, Urology, Ginekolog, Opthtamologi, bedah plastik dan setiap tindakan yang tidak
membutuhkan peralatan yang mengambil tempat banyak.

Gambar 2.5.1.2.A Contoh denah/layout ruang operasi umum

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

19

Gambar 2.5.1.2.B Contoh suasana ruang operasi umum (general) (42 m2)

Contoh denah (layout) dari ruang operasi umum ini seperti ditunjukkan pada gambar
2.5.1.2.A, dan suasananya seperti ditunjukkan pada gambar 2.5.1.2.B.
Area yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pembedahan umum minimal 42 m2,
dengan ukuran panjang x lebar x tinggi adalah 7mx6mx3m.
(b)

(3)

Peralatan kesehatan utama minimal yang berada di kamar ini antara lain :
1)

1 (satu) meja operasi (operation table),

2)

1 (satu) set lampu operasi (Operation Lamp), terdiri dari lampu utama dan lampu
satelit.

3)

2 (dua) set Peralatan Pendant (digantung), masing-masing untuk pendan anestesi dan
pendan bedah.

4)

1 (satu) mesin anestesi,

5)

Film Viewer.

6)

Jam dinding.

7)

Instrument Trolley untuk peralatan bedah.

8)

Tempat sampah klinis.

9)

Tempat linen kotor.

10)

dan lain-lain.

Ruang Operasi Besar (Mayor).


(a)

Denah (layout).
Kamar Besar menyediakan lingkungan yang steril untuk melakukan tindakan bedah
dengan pembiusan lokal, regional atau total.
Ruang operasi besar dapat digunakan untuk tindakan pembedahan yang
membutuhkan peralatan besar dan memerlukan tempat banyak, termasuk diantaranya
untuk bedah Neuro, bedah orthopedi dan bedah jantung.

20

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Kebutuhan area ruang operasi besar minimal 50 m2, dengan ukuran panjang x lebar x
tinggi adalah 7.2m x 7m x 3m.
(b)

(4)

Peralatan kesehatan utama yang diperlukan, antara lain


1)

1 (meja operasi khusus),

2)

1 (satu) lampu operasi,

3)

1 (satu) ceiling pendant untuk outlet gas medik dan outlet listrik,

4)

1 (satu) ceiling pendant untuk monitor, mesin anestesi,

5)

dan sebagainya.

Persyaratan Umum Ruang.


Sebagai bagian penting dari Rumah Sakit, beberapa komponen yang digunakan pada ruang
operasi memerlukan beberapa persyaratan khusus, antara lain :
(a)

Komponen penutup lantai.


1)

Lantai tidak boleh licin, tahan terhadap goresan/ gesekan peralatan dan tahan
terhadap api.

2)

Lantai mudah dibersihkan, tidak menyerap, tahan terhadap bahan kimia dan anti
bakteri.

3)

Penutup lantai harus dari bahan anti statik, yaitu vinil anti statik.

Gambar 2.5.1.3A : Contoh denah (layout) Ruang Operasi Besar

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

21

Gambar 2.5.1.3.B Contoh Ruang Operasi Besar (50 m2)

Gambar 2.5.1.3C Contoh ruang operasi jantung (lebih dari 60 m2)

22

4)

Tahanan listrik dari bahan penutup lantai ini bisa berubah dengan bertambahnya
umur pemakaian dan akibat pembersihan, oleh karena itu tingkat tahanan listrik
lantai ruang operasi harus diukur tiap bulan, dan harus memenuhi persyaratan
yang berlaku.

5)

Permukaan dari semua lantai tidak boleh porous, tetapi cukup keras untuk
pembersihan dengan penggelontoran (flooding), dan pem-vakuman basah.

6)

Penutup lantai harus berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata.

7)

Hubungan/ pertemuan antara lantai dengan dinding harus menggunakan bahan


yang tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan lantai
(Hospital plint).

8)

Tinggi plint, maksimum 15 cm.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(b)

Komponen dinding.
Komponen dinding memiliki persyaratan sebagai berikut :

(c)

1)

Dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca, tahan bahan kimia,tidak


berjamur dan anti bakteri.

2)

Lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung pori-pori)
sehingga dinding tidak menyimpan debu.

3)

Warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.

4)

Hubungan/ pertemuan antara dinding dengan dinding harus tidak siku, tetapi
melengkung untuk memudahkan pembersihan dan juga untuk melancarkan arus
aliran udara.

5)

Bahan dinding harus keras, tahan api, kedap air, tahan karat, tidak punya
sambungan (utuh), dan mudah dibersihkan.

6)

Apabila dinding punya sambungan, seperti panel dengan bahan melamin


(merupakan bahan anti bakteri dan tahan gores) atau insulated panel system
maka sambungan antaranya harus di-seal dengan silicon anti bakteri sehingga
memberikan dinding tanpa sambungan (;seamless), mudah dibersihkan dan
dipelihara.

7)

Alternatif lain bahan dinding yaitu dinding sandwich galvanis, 2 (dua) sisinya dicat
dengan cat anti bakteri dan tahan terhadap bahan kimia, dengan sambungan
antaranya harus di-seal dengan silicon anti bakteri sehingga memberikan dinding
tanpa sambungan (;seamless).

8)

Cat epoksi pada dasarnya mempunyai kecenderungan untuk mengelupas atau


membentuk serpihan.

Komponen langit-langit.
Komponen langit-langit memiliki persyaratan sebagai berikut :

(d)

1)

harus mudah dibersihkan, tahan terhadap segala cuaca, tahan terhadap air, tidak
mengandung unsur yang dapat membahayakan pasien, tidak berjamur serta anti
bakteri.

2)

memiliki lapisan penutup yang bersifat non porosif (tidak berpori) sehingga tidak
menyimpan debu.

3)

berwarna cerah, tetapi tidak menyilaukan pengguna ruangan.

4)

Selain lampu operasi yang menggantung, langit-langit juga bisa dipergunakan


untuk tempat pemasangan pendan bedah, dan bermacam gantungan seperti
diffuser air conditioning dan lampu fluorescent.

5)

Kebutuhan peralatan yang dipasang dilangit-langit, sangat beragam.


Bagaimanapun peralatan yang digantung tidak boleh sistem geser, kerena
menyebabkan jatuhnya debu pengangkut mikro-organisme setiap kali
digerakkan.

Pintu Ruang operasi.


1)

Pintu masuk ruang operasi atau pintu yang menghubungkan ruang induksi dan
ruang operasi.
a)

disarankan pintu geser (sliding door) dengan rel diatas, yang dapat dibuka
tutup secara otomatis.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

23

2)

3)

4)

24

b)

Pintu harus dibuat sedemikian rupa sehingga pintu dibuka dan ditutup
dengan menggunakan sakelar injakan kaki atau siku tangan atau
menggunakan sensor, namun dalam keadaan listrikpenggerak pintu rusak,
pintu dapat dibuka secara manual.

c)

Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun


diantara pembedahan-pembedahan.

d)

Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (observation glass :double


glass fixed windows).

e)

Lebar pintu 1200 - 1500 mm, dari bahan panil dan dicat jeniscat anti bakteri
& jamur dengan warna terang.

f)

Apabila menggunakan pintu swing, maka pintu harus membuka ke arah


dalam dan alat penutup pintu otomatis (;automatic doorcloser) harus
dibersihkan setiap selesai pembedahan.

Pintu yang menghubungkan ruang operasi dengan ruang scrub-up.


a)

sebaiknya pintu/jendela ayun (swing), dan mengayun kedalamruang


operasi.

b)

Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun


diantara pembedahan-pembedahan, untuk itu pintu dilengkapi dengan alat
penutup pintu (door closer). Disarankan menggunakan door seal and
interlock system.

c)

Lebar pintu 1100 mm, dari bahan panil (;insulated panel system) dan dicat
jenis cat anti bakteri/ jamur dengan warna terang.

d)

Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (;observation glass : double


glass fixed windows).

Pintu/jendela yang menghubungkan ruang operasi dengan ruang spoel Hoek


(disposal). (catatan ; jika menggunakan selasar kotor maka disposal material /
barang bekas pakai langsung dibawa keruang CSSD atau untuk peralatan bisa
dibawa keruang sterilisasi di area operasi dan linen ke CSSD)
a)

sebaiknya pintu/jendela ayun (swing), dilengkapi dengan doorseal and


interlock systemdan mengayun keluar dari ruang operasi.

b)

Pintu/jendela tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan


maupun diantara pembedahan-pembedahan, untuk itu pintu dilengkapi
dengan engsel yang dapat menutup sendiri (auto hinge) atau alat penutup
pintu (doorcloser).

c)

Lebar pintu/jendela 1100 mm, dari bahan panil (;insulated panel system)
dan dicat jenis duco dengan cat anti bakteri/ jamur dengan warna
terangdan dicat jenis duco dengan warna terang.

d)

Pintu/jendela dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (observation glass


:double glass fixed windows).

Pintu yang menghubungkan ruang operasi dengan ruang penyiapan peralatan/


instrumen (jika ada).
a)

sebaiknya pintu/jendela ayun (swing), dan mengayun kedalam ruang


operasi.

b)

Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun


diantara pembedahan-pembedahan, untuk itu pintu dilengkapi dengan alat
penutup pintu (door closer).

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

2.5.2.

c)

Lebar pintu 1100 mm, dari bahan panil dan dicat jenis duco dengan cat anti
bakteri/ jamur dengan warna terang.

d)

Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (observation glass :double


glass fixed windows).

Zona Resiko Tinggi (Kompleks Ruang operasi = Zone 3)

2.5.2.1 Ruang Induksi


(1)

Denah (layout).
Contoh denah (layout) ruang induksi atau sering juga disebut sebagai ruang anastesi
ditunjukkan pada gambar 2.5.2.1.
Pasien bedah menunggu di ruangan ini, apabila belum siap. Pembiusan lokal, regional dan
total dapat dilakukan diruangan ini. Ruangan harus tenang, dan ruangan ini terbebas dari
bahaya listrik.
Area ruang induksi (preoperatif) yang dibutuhkan sekurang-kurangnya 15 m2.

(2)

Persyaratan Umum ruang.


(a)

Komponen penutup lantai.


1)

Lantai tidak boleh licin, tahan terhadap goresan/gesekan peralatan dan tahan
terhadap api (vinil anti gores).

2)

Lantai mudah dibersihkan, tidak menyerap, tahan terhadap bahan kimia.

3)

Penutup lantai harus dari bahan anti statik, yaitu vinil anti statik.

4)

Tahanan listrik dari bahan penutup lantai ini bisa berubah dengan bertambahnya
umur pemakaian dan akibat pembersihan, oleh karena itu tingkat tahanan listrik
lantai ruang operasi harus diukur tiap bulan, dan harus memenuhi persyaratan
yang berlaku.

Gambar 2.5.2.1 : Contoh denah (layout) Ruang Induksi/ Persiapan

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

25

(b)

5)

Permukaan dari semua lantai tidak boleh porous, tetapi cukup keras untuk
pembersihan dengan penggelontoran (flooding), dan pem-vakuman basah.

6)

Penutup lantai harus berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata.

7)

Hubungan/pertemuan antara lantai dengan dinding disarankan menggunakan


bahan yang tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan
lantai (Hospital plint).

8)

Tinggi plint, maksimum 15 cm.

Komponen dinding.
Komponen dinding memiliki persyaratan sebagai berikut :

(c)

1)

Dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca, tahan bahan kimia, tidak
berjamur.

2)

Lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung pori-pori)
sehingga dinding tidak menyimpan debu.

3)

Warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.

4)

Hubungan/ pertemuan antara dinding dengan dinding disarankan tidak siku,


tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan dan juga untuk
melancarkan arus aliran udara.

5)

Bahan dinding harus keras, tahan api, kedap air, tahan karat, disarankan tidak
punya sambungan (utuh), dan mudah dibersihkan.

Komponen langit-langit.
Komponen langit-langit memiliki persyaratan sebagai berikut :

(d)

1)

harus mudah dibersihkan, tahan terhadap segala cuaca, tahan terhadap air, tidak
mengandung unsur yang dapat membahayakan pasien, tidak berjamur serta anti
bakteri.

2)

memiliki lapisan penutup yang bersifat non porosif (tidak berpori) sehingga tidak
menyimpan debu.

3)

berwarna cerah, tetapi tidak menyilaukan pengguna ruangan.

Pintu ke Ruang Induksi/Persiapan.


1)

26

Pintu yang menghubungkan ruang induksi dan ruang operasi.


a)

disarankan pintu geser (sliding door) dengan rel diatas, yang dapat dibuka
tutup secara otomatis.

b)

Pintu harus dibuat sedemikian rupa sehingga pintu dibuka dan ditutup
dengan menggunakan sakelar injakan kaki atau siku tangan atau
menggunakan sensor, namun dalam keadaan listrik penggerak pintu rusak,
pintu dapat dibuka secara manual.

c)

Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun


diantara pembedahan-pembedahan.

d)

Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (observation glass :double


glass fixed windows).

e)

Lebar pintu 1200 - 1500 mm, dari bahan panil dan dicat jenis cat anti
bakteri & jamur dengan warna terang.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

f)

2)

Apabila menggunakan pintu swing, maka pintu harus membuka ke arah


dalam dan alat penutup pintu otomatis (;automatic doorcloser) harus
dibersihkan setiap selesai pembedahan.

Pintu yang menghubungkan ruang induksi dengan koridor komplek bedah.


a)

sebaiknya pintu/jendela ayun (swing), dan mengayun kedalam ruang


induksi/ persiapan.

b)

Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun


diantara pembedahan-pembedahan, untuk itu pintu dilengkapi dengan alat
penutup pintu (door closer). Disarankan menggunakan door seal and
interlock system.

c)

Lebar pintu 1100 mm, dari bahan panil (;insulated panel system) dan dicat
jenis cat anti bakteri/ jamur dengan warna terang.

d)

Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (;observation glass : double


glass fixed windows).

2.5.2.2Ruang Penyiapan Peralatan (Preparation Room).


(1)

Denah (layout).
Denah ruang penyiapan peralatan/instrumen untuk kebutuhan pembedahan pasien
ditunjukkan pada gambar 2.5.2.2.
Ruangan ini digunakan untuk menyimpan dan menyiapkan bahan-bahan bersih dan steril
yang dipakai serta peralatan/instrumen untuk pembedahan pasien, penyimpanan dan
penyiapan obat terjamin keamanannya, termasuk cairan suntik.

Gambar 2.5.2.2 : Denah ruang penyiapan peralatan/bahan untuk pembedahan

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

27

Ruangan ini juga berfungsi sebagai area penyimpanan alternatif trolley obat.Ruangan
menyediakan tempat penyimpanan obat-obat berbahaya, sesuai ketentuan yang berlaku.
Hanya petugas yang berkepentingan boleh masuk ke dalam ruaangan ini.Luas area ruangan
ini sebaiknya 14 m2.
(2)

Persyaratan Umum Ruang.


(a)

(b)

Komponen penutup lantai.


1)

Lantai tidak boleh licin, tahan terhadap goresan/ gesekan peralatan dan tahan
terhadap api (vinil anti gores).

2)

Lantai mudah dibersihkan, tidak menyerap, tahan terhadap bahan kimia.

3)

Tahanan listrik dari bahan penutup lantai ini bisa berubah dengan bertambahnya
umur pemakaian dan akibat pembersihan, oleh karena itu tingkat tahanan listrik
lantai ruang operasi harus diukur tiap bulan, dan harus memenuhi persyaratan
yang berlaku.

4)

Permukaan dari semua lantai tidak boleh porous, tetapi cukup keras untuk
pembersihan dengan penggelontoran (flooding), dan pem-vakuman basah.

5)

Penutup lantai harus berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata.

Komponen dinding.
Komponen dinding memiliki persyaratan sebagai berikut :

(c)

1)

Dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca, tahan bahan kimia, tidak
berjamur.

2)

Lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung pori-pori)
sehingga dinding tidak menyimpan debu.

3)

Warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.

4)

Bahan dinding harus keras, tahan api, kedap air, tahan karat dan mudah
dibersihkan.

Komponen langit-langit.
Komponen langit-langit memiliki persyaratan sebagai berikut :

(d)

1)

harus mudah dibersihkan, tahan terhadap segala cuaca, tahan terhadap air, tidak
mengandung unsur yang dapat membahayakan pasien, tidak berjamur.

2)

memiliki lapisan penutup yang bersifat non porosif (tidak berpori) sehingga tidak
menyimpan debu.

3)

berwarna cerah, tetapi tidak menyilaukan pengguna ruangan.

Pintu.
1)

28

Pintu yang menghubungkan ruang persiapan peralatan/instrumen dan ruang


operasi.
a)

sebaiknya pintu/jendela ayun (swing), dan mengayun kedalam ruang


operasi.

b)

Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun


diantara pembedahan-pembedahan, untuk itu pintu dilengkapi dengan alat
penutup pintu (door closer).

c)

Lebar pintu 1100 mm, dari bahan panil dan dicat jenis duco dengan cat anti
bakteri/ jamur dengan warna terang.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

d)
2)

Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (observation glass :double


glass fixed windows).

Pintu yang menghubungkan ruang persiapan peralatan/instrumen dengan koridor


komplek bedah.
a)

sebaiknya pintu/jendela ayun (swing), dan mengayun kedalam ruang


persiapan peralatan/instrumen.

b)

Pintu tidak boleh dibiarkan sering terbuka, untuk itu pintu dilengkapi
dengan alat penutup pintu (door closer).

2.5.2.3 Airlock.
Jika dibuat menggunakan airlock yang menyediakan akses ke ruang operasi, area yang
digunakan sekurang-kurangnya 20 m2.
2.5.2.4 Ruang Pemulihan
Ruang pemulihan minimal mempunyai kapasitas tempat tidur 1,5 kali jumlah ruang operasi. Area
yang digunakan per tempat tidur sekurang-kurangnya 15 m2. Jarak antara tempat tidur pemulihan
sekurang-kurangnya 1,50 m.
2.5.2.5 Ruang Scrub Up
Ruang/area scrub stationminimal membutuhkan luas + 6 m2.
2.5.2.6 Ruang Resusitasi Bayi/ Neonatus
Ruang ini minimal mempunyai luas yang dapat menampung minimal 2 inkubator bayi beserta
perlengkapan resusitasi bayi, yaitu + 12m2.
2.5.2.7 Ruang Linen
Ruang ini mempunyai luas + 6 m2.
2.5.2.8 Ruang Penyimpanan Perlengkapan Bedah
Ruang ini terdiridari :
(1)

Ruang penyimpanan instrumen dan bahan perbekalan.

(2)

Ruang Penyimpanan peralatan anastesi, peralatan implant orthopedic, dan perlengkapan


emergensi.

(3)

danRuang penyimpanan bahan radiologi.

Masing-masing ruangan tersebut mempunyai luas minimal +9 m2.


2.5.2.9 Ruang Pelaporan Bedah
Ruang ini berfungsi sebagai tempat pelaporan seluruh proses/kegiatan/tindakan bedah oleh
petugas pencatat, pelaporan ini dilaksanakan saat berlangsungnya bedah dan paska bedah.
Ruang ini mempunyai luas +9 m2.

2.5.3.

ZonaTingkat Resiko Sedang(Zone 2)

2.5.3.1 Ruang Transfer (Transfer Room)


Ruang ini mempunyai luas +16 m2.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

29

2.5.3.2 Ruang Tunggu Pasien (Holding Room)


Ruang tunggu pasien minimal mempunyai kapasitas brankarsama dengan jumlah ruang operasi.
Area yang digunakan per tempat tidur sekurang-kurangnya 4.8 m2.Luas ruangan ini sekurangkurangnya 19.2m2.
2.5.3.3 Ruang Ganti Petugas (Ruang Loker)
Ruang loker dipisah antara petugas pria dengan petugas wanita.Masing-masing ruang loker
dilengkapi dengan toilet.Luas masing-masing ruang loker+20 m2.
2.5.3.4 Ruang Dokter
Ruang ini mempunyai luas minimal 16 m2.
2.5.3.5 Ruang Perawat
Ruang ini mempunyai luas minimal 16 m2.
2.5.3.6 Ruang Plester
Ruang ini mempunyai luas minimal9 m2.
2.5.3.7 Ruang Diskusi
Luas ruang ini tergantung pada jumlah kapasitas tempat duduk yang dibutuhkan dan jumlah
mahasiswa yang belajar. Satupetugas membutuhkan area untuk tempat duduk beserta
sirkulasinya dan area untuk meja rapat, sehingga luas yang dibutuhkan adalah+2,5 m2.
2.5.3.8 Pantri
Ruang ini mempunyai luasminimal 9 m2.

2.5.4.

Zona Tingkat Resiko Rendah (Zone 1)

2.5.4.1 Ruang Tunggu Keluarga Pasien


Luas ruang ini tergantung pada jumlah tempat duduk keluarga pasien yang akan disediakan. Satu
tempat duduk beserta sirkulasinya membutuhkan luas +2 m2.
2.5.4.2 Ruang Pendaftaran dan Administrasi
Luas yang diperlukan per petugas adalah 3 5 m2.Fasilitas yang ada didalam ruangan ini adalah
meja, kursi, komputer, lemari-lemari arsip dan konter pendaftaran.
2.5.4.3 Ruang Utilitas Kotor (Spoelhoek, Disposal)
Ruang ini mempunyai luas minimal6 m2.
2.5.4.4 Ruang Penyimpanan Peralatan Kebersihan (Janitor)
Ruang ini mempunyai luas minimal6 m2.

30

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

2.6

Sarana evakuasi dan aksesibilitas penyandang cacat.

2.6.1

Sarana evakuasi.
(1)

Setiap bangunan rumah sakit, harus menyediakan sarana evakuasi yang meliputi
sistem peringatan bahaya bagi pengguna, pintu eksit, dan jalur evakuasi yang dapat
dijamin kemudahan pengguna bangunan rumah sakit untuk melakukan evakuasi dari
dalam bangunan rumah sakit secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan
darurat.

(2)

Penyediaan sistem peringatan bahaya bagi pengguna, pintu eksit, dan jalur evakuasi
disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi bangunan gedung, jumlah dan kondisi
pengguna bangunan rumah sakit, serta jarak pencapaian ke tempat yang aman.

(3)

Sarana pintu eksit dan jalur evakuasi harus dilengkapi dengan tanda arah yang mudah
dibaca dan jelas.

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan sarana evakuasi mengikuti
pedoman dan standar teknis yang berlaku.

2.6.2

2.7.

Aksesibilitas penyandang cacat.


(1)

Setiap bangunan rumah sakit harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk
menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lanjut usia masuk ke
dan ke luar dari bangunan rumah sakit serta beraktivitas dalam bangunan rumah sakit
secara mudah, aman nyaman dan mandiri.

(2)

Fasilitas dan aksesibilitas sebagaimana dimaksud meliputi toilet, telepon umum, jalur
pemandu, rambu dan marka, pintu, ram, tangga, dan lif bagi penyandang cacat dan
lanjut usia.

(3)

Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas disesuaikan dengan fungsi, luas dan ketinggian
bangunan rumah sakit.

(4)

Ketentuan tentang ukuran, konstruksi, jumlah fasilitas dan aksesibilitas bagi


penyandang cacat mengikuti ketentuan dalam pedoman dan standar teknis yang
berlaku.

Persyaratan Struktur Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit.

(1)

Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, strukturnya harus direncanakan kuat/kokoh, dan
stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan kelayanan
(serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi
bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, lokasi, keawetan, dan kemungkinan pelaksanaan
konstruksinya.

(2)

Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi sebagai


akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur, baik beban
muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa dan angin.

(3)

Dalam perencanaan struktur bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit terhadap pengaruh
gempa, semua unsur struktur bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, baik bagian dari sub
struktur maupun struktur bangunan, harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa
rancangan sesuai dengan zona gempanya.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

31

(4)

Struktur bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus direncanakan secara detail sehingga
pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan, apabila terjadi keruntuhan,
kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna bangunan Ruang Operasi Rumah
Sakit menyelamatkan diri.

(5)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pembebanan, ketahanan terhadap gempa dan/atau angin,
dan perhitungan strukturnya mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.

32

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB III
PEDOMAN TEKNIS
PRASARANARUANG OPERASI RUMAH SAKIT
3.1.

Umum.

(1)

Setiap prasarana Ruang Operasi Rumah Sakit merupakan pekerjaan instalasi dan jaringan
yang menyatu dengan bangunan dan lingkungannya, sebagian atau seluruhnya berada di
atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang bertujuan memfungsikan bangunan sebagai
tempat perawatan pasien.

(2)

Keandalan operasional dari prasarana di dalam ruang operasi bangunan rumah sakit
menjadi dasar perancangan dan pemeliharaan dari instalasi utilitas rumah sakit.

3.2

Prasarana.

3.2.1

Prasarana yang dibutuhkan pada ruang operasi bangunan rumah sakit, meliputi :

(1)

Instalasi Mekanikal;

(2)

Instalasi Elektrikal;

(3)

Instalasi proteksi kebakaran.

3.3

Instalasi Mekanikal.

Instalasi mekanikal pada bangunan ruang operasi rumah sakit meliputi :


(1)

Instalasiair bersih dansanitasi.

(2)

Instalasi gas medik, vakum medik.

(3)

Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara (VAC).

(4)

Kebisingan dan getaran.

3.3.1

Instalasi Air bersih, Sanitasi dan pembuangankotoran dan sampah.

Setiap bangunan ruang operasi rumah sakit harus dilengkapi dengan :


(1)

Instalasi air bersih,

(2)

Instalasisanitasi; dan

(3)

pembuangan kotoran dan sampah.

3.3.1.1 Instalasi air bersih.


(1)

Sistem air bersih harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan sumber air
bersih dan sistem distribusinya.

(2)

Sumber air bersih dapat diperoleh dari sumber air berlangganan dan/atau sumber air lainnya
yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(3)

Air bersih yang akan digunakan untuk cuci tangan di scrub up (scrub station), harus di filter,
dengan menggunakan 3 jenis filter :
(a)

prefilter;

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

33

(4)

(b)

medium filter yang menyaring air bersih sampai dengan 5 micron; dan

(c)

micro filter (fine) filter yang menyaring air bersih sampai dengan 2 micron.

Perencanaan sistem distribusi air bersih pada bangunan ruang operasi harus memenuhi
debit air dan tekanan minimal yang disyaratkan.

3.3.1.2 Instalasi Sanitasi.


(1)

Instalasi pembuangan air kotor dan/atau air limbah harus direncanakan dan dipasang
dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya.

(2)

Pertimbangan jenis air kotor dan/atau air limbah diwujudkan dalam bentuk pemilihan sistem
pengaliran/pembuangan dan penggunaan peralatan yang dibutuhkan.

(3)

Pertimbangan tingkat bahaya air kotor dan/atau air limbah diwujudkan dalam bentuk sistem
pengolahan dan pembuangannya. Air kotor dan/atau air limbah yang berasal dari buangan
kamar bedah dan dibuang melalui slope sink atau service sink, diproses terlebih dahulu
sebelum dialirkan ke instalasi pengolahan air limbah.

(4)

Air kotor berasal dari toilet, dapat langsung di salurkan ke instalasi pengolahan air limbah.

3.3.1.3 Pembuangan kotoran dan sampah.


(1)

Sistem pembuangan kotoran dan sampah harus direncanakan dan dipasang dengan
mempertimbangkan fasilitas penampungan dan jenisnya.

(2)

Pertimbangan fasilitas penampungan diwujudkan dalam bentuk penyediaan tempat


penampungan kotoran dan sampah pada bangunan ruang operasi.

(3)

Pertimbangan jenis kotoran dan sampah diwujudkan dalam bentuk penempatan pewadahan
dan/atau pengolahannya yang tidak mengganggu kesehatan penghuni, masyarakat dan
lingkungannya.

(4)

Kotoran kamar bedah ditempatkan dalam bentuk wadah kontainer, ditutup rapat, dan di
bakar di tempat pembakaran (incinerator).

3.3.1.4. Ketentuan dan Standar.


Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan, instalasi
air bersih dan instalasi sanitasi pada ruang operasi mengikuti SNI 03 6481 2000 atau edisi
terakhir, Sistem Plambing 2000, atau standar teknis lain yang berlaku.

3.3.2
(1)

(2)

Instalasi Gas Madik, Vakum Medik,


Instalasi gas medik dan vakum medik, meliputi :
(a)

Gas Oksigen;

(b)

Gas Nitrous Oksida;

(c)

Gas Carbon dioksida;

(d)

Udara tekan medis dan udara tekan instrumen;

(c)

Vakum bedah medik dan vakum medik.

Dalam sentral gas medik, Oksigen, Nitrous Oksida, Carbon dioksida, udara tekan medik dan
udara tekan instrumen disalurkan dengan pemipaan ke ruang operasi.
Outlet-outletnya bisa dipasang di dinding, pada langit-langit, atau digantung di langit-langit
(ceiling pendant).

34

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(3)

Bilamana terjadi gangguan pada suatu jalur, untuk keamanan ruang-ruang lain, sebuah
lampu indikator pada panel akan menyala dan alarm bel berbunyi, pasokan oksigen dan
nitrous oksida dapat ditutup alirannya dari panel-panel yang berada di koridor-koridor,Bel
dapat dimatikan, tetapi lampu indikator yang memonitor gangguan/kerusakan yang terjadi
tetap menyala sampai gangguan/kerusakan teratasi.

(4)

Selama terjadi gangguan, dokter anestesi dapat memindahkan sambungan gas medisnya
yang semula secara sentral ke silinder-silinder gas cadangan pada mesin anestesi.

3.3.3

Sistem Ventilasi

(1)

Ventilasi di ruang operasi harus pasti merupakan ventilasi tersaring dan terkontrol.
Pertukaran udara dan sirkulasi memberikan udara segar dan mencegah pengumpulan gasgas anestesi dalam ruangan.

(2)

disarankanpertukaran udara di ruang bedah dua puluh lima kali per jam.

(3)

Filter microbial dalam saluran udara pada ruang bedah tidak menghilangkan limbah gas-gas
anestesi. Filter penyaring udara praktis hanya menghilangkan partikel-partikel debu.

(4)

Jika udara pada ruang bedah disirkulasikan, kebutuhan sistem buangan gas anestesi
(scavenging) untuk gas (penghisapan gas) adalah mutlak, terutama untuk menghindari
pengumpulan gas anestesi yang merupakan risiko berbahaya untuk kesehatan anggota tim
bedah.

(5)

Ruang bedah menggunakan aliran udara laminair.

(6)

Sistem pengaliran udara searah dibuat dalam satu kotak dalam kamar operasi. Udara
disaring dengan menggunak high efficiency particulate filter (HEPA Filter).

(7)

Sistem ventilasi dalam ruang operasi harus terpisah dari sistem ventilasi lain di rumah sakit.

(8)

Tekanan dalam setiap ruang operasi harus lebih besar dari yang berada di koridor-koridor,
ruang sub steril dan ruang pembersih (daerah scrub) (tekanan positip).

(9)

Tekanan positip diperoleh dengan memasok udara dari diffuser yang terdapat pada langitlangit ke dalam ruangan. Udara dikeluarkan melalui return grille yang berada pada + 20 cm
diatas permukaan lantai.

(10) Organisme-organisme mikro dalam udara bisa masuk ke dalam ruangan, kecuali tekanan
positip dalam ruangan dipertahankan.
(11) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan
sistem ventilasi alami dan mekanik/buatan pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit
mengikuti SNI 03 6572 2001, Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian
udara pada bangunan gedung, atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

35

3.3.4

Sistem pengkondisian udara.

3.3.4.1 Ketentuan Kamar Operasi.


(1)

Studi sistem distribusi udara ruang operasi menunjukkan bahwa penyaluran udara dari
langit-langit, dengan gerakan ke bawah menuju inlet pembuangan yang terletak di dinding
yang berlawanan, merupakan aliran udara yang paling efektif untuk menjaga pola gerakan
konsentrasi kontaminasi pada tingkat yang dapat diterima.
Langit-langit yang sepenuhnya berlubang, langit-langit sebagian berlubang dan diffuser yang
dipasang di langit-langit telah diterapkan dengan sukses.

Gambar 3.3.4.1.(1) Kamar bedah

(2)

Penggunaan rata-rata kamar operasi di rumah sakit tidak lebih dari 8 sampai 12 jam per hari
(kecuali kondisi darurat). Untuk alasan ini dan untuk penghematan energi, sistem
pengkondisian udara harus memungkinkan pengurangan pasokan udara ke beberapa atau
ke semua ruang operasi.

(3)

Tekanan positif pada ruang harus tetap dipertahankan pada saat volume berkurang untuk
memastikan kondisi steril tetap terjaga. Konsultasi dengan staf bedah rumah sakit akan
menentukan kelayakan penyediaan fasilitas ini.

(4)

Sebuah sistem pembuangan udara atau sistem vakum khusus harus dipasang untuk
menghilangkan buangan gas anestesi.
Sistem vakum medis telah digunakan untuk menghilangkan gas anestesi yang tidak mudah
terbakar. Satu atau lebih outlet mungkin diletakkan di setiap ruang operasi untuk
memungkinkan penyambungan ke slang buangan gas anestesi dari mesin anestesi.

36

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Gambar 3.3
3.4.1.(4) Scavenging
S
g

(5)

ode disinfekksi udara dengan


d
pen
nyinaran (irrradiation) di
d ruang operasi telah dilaporkan
n
Meto
deng
gan hasil ba
aik, namun ini
i jarang diigunakan.
Keen
ngganan un
ntuk menggunakan irra
adiasi diseb
babkan: insttalasinya m
memerlukan rancangan
n
khussus, diperlukkan protekssi bagi pasiien dan pettugas, perlu
u memonito
or effisiensi lampu dan
n
peme
eliharaan.

(6)

Kond
disi berikut direkomend
dasikan untuk ruang operasi,
o
cattherisasi, cyystoscopy, dan bedah
h
tulan
ng:
(1)

mpu menca
apai temperratur 200 sam
mpai 240C;
harus mam

(2)

kelembaban relatif ud
dara harus dijaga
d
antara 50% ~ 60
0%;

(3)

u
harus dijaga po
ositif yang berhubung
gan dengan
n ruang dis
sebelahnya
a
tekanan udara
dengan memasok
m
ud
dara lebih da
ari 15%;

(4)

pembacaa
an perbeda
aan tekana
an di ruan
ng harus dipasang u
untuk mem
mungkinkan
n
pembacaa
an tekanan udara dala
am ruang. Menyekat seluruh
s
dinding, langitt-langit dan
n
tembusan (penetrasi) pada lan
ntai dan pintu untuk menjaga kkondisi tekanan yang
g
terbaca.

(5)

an thermom
meter haruss ditempatkkan pada lokasi yang
g
Indikator kelembaban udara da
mudah observasi (pengamatan).
memperm

(6)

effisiensi filter harus sesuai dengan tabel 1.

(7)

menuhi kete
entuan yang
g berlaku.
selurruh instalasi harus mem

(8)

semu
ua udara harus di suplai
s
dari langit-lang
git dan dib
buang atau
u dikembalikan pada
a
seku
urang-kurangnya 2 loka
asi dekat de
engan lanta
ai (lihat tabe
el 3 untuk la
aju ventilasi minimum)..
Bagian bawah dari
d outlet pembuanga
p
n harus settidaknya 75
5 mm di atas lantai.Sup
plai diffuserr
haruss dari jeniss tidak lang
gsung.Induksi yang tinggi pada difuser lan
ngit-langit atau
a
difuserr
dindiing harus diihindari.

(9)

baha
an akustik tiidak boleh digunakan sebagai lap
pisan ductin
ng kecuali d
dipasang filtter terminall
deng
gan effisienssi minimum 90% arah hilir dari lap
pisan.
Bagian dalam isolasi
i
unit terminal dapat
d
dikem
mas dengan
n bahan ya
ang disetuju
ui.Peredam
m
suara
a yang dipa
asang pada
a ducting harus
h
dari je
enis tidak terbungkus
t
atau memiliki lapisan
n
film polyester
p
ya
ang diisi den
ngan bahan
n akustik.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

37

(10) Setiap penyemprotan yang diterapkan pada insulasi dan kedap api harus ditangani dengan
zat penghambat pertumbuhan jamur.
(11) Panjang kedap air dibuat secukupnya, ducting pengering udara dari bahan baja tahan karat
harus dipasang arah hilir dari peralatan humidifier untuk menjamin seluruh uap air menguap
sebelum udara masuk ke dalam ruangan.
Pusat kontrol yang memantau dan memungkinkan penyesuaian tekanan, temperatur dan
kelembaban udara, berada dilokasi meja pengawas ruang bedah.
Tabel 3.3.4.1.(6) Effisiensi Filter
Effisiensi filter untuk Ventilasi sentral dan Sistem Pengkondisian Udara di Rumah Sakit Umum.
Jumlah
minimum
dudukan
filter.

Tujuan Area
Ruang operasi Orthopedic.
Ruang operasi transplantasi tulang belakang.
Ruang operasi transplantasi Organ
Ruang operasi prosedur umum.
Ruang melahirkan.
Ruang anak.
Unit Perawatan Intensif.
Ruang Perawatan Pasien.
Ruang Tindakan.
Diagnostik dan area terkait.
Laboratorium.
Penyimpanan Sterile.
Area Persiapan Makanan.
Laundri.
Area Administrasi.
Penyimpanan besar
Area Kotor.

aDidasarkan

pada ASHRAE Standard 52.1-1992.

bDidasarkan

pada tes DOP.

cHEPA

38

Filter Efficiencies, %
Dudukan filter
No. 1a

No. 2a

No. 3b

25

90

99.97c

25

90

80

25

filter pada outlet.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

39

PERAWATAN BEDAH DAN KRITIS


Ruang Operasi:
Sistem seluruhnya udara luar
Sistem udara di resirkulasi
Ruang Melahirkan
Sistem seluruhnya udara luar
Sistem udara di resirkulasi
Ruang Pemulihan
Ruang bayi
Ruang Traumad
Gudang anestesi

Fungsi Ruang

15c
5
15
5
2
5
5
Pilihan

P
P
E
P
P

Pertukaran
udara dari luar
per jam
minimuma

P
P

Hubungan tekanan
terhadap area
bersebelahan

15
25
6
12
12
8

15
25

Total
pertukaran
udara per jam
minimumb

Pilihan
Pilihan
Pilihan
Pilihan
Pilihan
Ya

Ya
Pilihan

Seluruh udara di
buang langsung
ke luar
bangunan

Tabel 3.3.4.1 Hubungan Tekanan dan Ventilasi secara umum dari area tertentu di rumah sakit

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak

Resirkulasi
udara di dalam
unit ruangan

3.3.4.2 Instalasi Tata Udara Ruang Operasi


(1)

Untuk mendapatkan kenyamanan kondisi udara ruang di dalam ruang operas, harus
dipertimbangkan temperatur dan kelembaban udara.

(2)

Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara di dalam ruangan dapat
dilakukan dengan pengkondisian udara dengan mempertimbangkan :
(a)

fungsi ruang, jumlah pengguna, letak, volume ruang, jenis peralatan, dan penggunaan
bahan bangunan.

(b)

kemudahan pemeliharaan dan perawatan, dan

(c)

prinsip-prinsip penghematan energi dan kelestarian lingkungan.

(3)

Sistem ini mengontrol kelembaban yang dapat menyebabkan terjadinya ledakan.


Kelembaban relatip yang harus dipertahankan adalah 45% sampai dengan 60%, dengan
tekanan udara positif pada ruang operasi.

(4)

Uap air memberikan suatu medium yang relatip konduktif, yang menyebabkan muatan listrik
statik bisa mengalir ke tanah secapat pembangkitannya. Loncatan bunga api dapat terjadi
pada kelembaban relatip yang rendah.

(5)

Temperatur ruangan dipertahankan sekitar 190C sampai 240C.

(6)

Sekalipun sudah dilengkapi dengan kontrol kelembaban dan temperatur, unit pengkondisian
udara bisa menjadi sumber micro-organisme yang datang melalui filter-filternya. Filter-filter
ini harus diganti pada jangka waktu yang tertentu.

(7)

Saluran udara (ducting) harus dibersihkan secara teratur.

(8)

Ruang operasi dilengkapi dengan sistem aliran laminar ke bawah dengan hembusan udara
dari plenum (8 sampai 9 m2). Pada kondisi kerja dengan lampu operasi dinyalakan dan
adanya tim bedah, suplai udara dan profil hembusan udara dipilih sedemikian rupa sehingga
aliran udara tidak lewat melalui setiap sumber kontaminasi sebelum mengalir kedalam area
bedah atau diatas meja instrumen.

(9)

Jika pada area penyiapan instrumen/ peralatan steril tidak dilakukan di bawah aliran udara
aliran udara ke bawah dari langit-langit, preparasi steril dengan sistem aliran laminar
kebawah harus dibuat sendiri dalam area preparasi steril atau tempat dimana preparasi steril
dilakukan (contoh di koridor kompleks bedah).

(10) Sebaiknya dipastikan bahwa tidak ada emisi debu dari bagian bawah langit-langit pada area
preparasi dan ruang operasi ke dalam ruangan. Langit-langit dengan bagian bawah yang
rapat sebaiknya digunakan atau ruangan di bagian bawah langit-langit sebaiknya dapat
menahan tekanan khususnya di area preparasi dan ruang operasi.
(11) Penting untuk memilih perletakan lubang ducting udara masuk dan keluar dari sistem
ventilasi guna mencegah terkontaminasinya udara buang terisap kembali jika angin meniup
dalam arah tertentu.
(12) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan
kenyamanan kondisi udara pada bangunan rehabilitasi medik mengikuti SNI 03 6572
2001, atau edisi terakhir, Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara
pada bangunan gedung, atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku.

3.3.5

40

Kebisingan

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(1)

Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan Ruang


Operasi Rumah Sakit, pengelola bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus
mempertimbangkan jenis kegiatan, penggunaan peralatan, dan/ atau sumber bising lainnya
baik yang berada pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit maupun di luar bangunan
Ruang Operasi Rumah Sakit

(2)

Indeks kebisingan maksimum pada ruang operasi adalah 45 dBA dengan waktu pemaparan
8 jam.

(3)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan tingkat kenyamanan terhadap
kebisingan pada bangunan instalasibedah mengikuti pedoman dan standar teknis yang
berlaku.

3.3.5

Getaran.

(1)

Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap getaran pada bangunan Ruang Operasi
Rumah Sakit, pengelola bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus mempertimbangkan
jenis kegiatan, penggunaan peralatan, dan/ atau sumber getar lainnya baik yang berada
pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit maupun di luar bangunan Ruang Operasi
Rumah Sakit.

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan tingkat kenyamanan terhadap
getaran pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit mengikuti pedoman dan standar teknis
yang berlaku.

3.4

Instalasi Elektrikal.

Instalasi Elektrikal pada bangunan ruang operasi rumah sakit, meliputi :


(1)

Sistem proteksi petir;

(2)

Sistem kelistrikan;

(3)

Sistem pencahayaan; dan

(4)

Sistem komunikasi.

3.4.1

Sistem Proteksi Petir.

(1)

Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit yang berdasarkan letak, sifat geografis, bentuk,
ketinggian dan penggunaannya berisiko terkena sambaran petir, harus dilengkapi dengan
instalasi proteksi petir.

(2)

Sistem proteksi petir yang dirancang dan dipasang harus dapat mengurangi secara nyata
risiko kerusakan yang disebabkan sambaran petir terhadap bangunan Ruang Operasi
Rumah Sakit dan peralatan yang diproteksinya, serta melindungi manusia di dalamnya.

(3)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, pemeliharaan


instalasi sistem proteksi petir mengikuti SNI 03 7015 2004, Sistem proteksi petir pada
bangunan gedung, atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

41

3.4.2

Sistem Kelistrikan.

3.4.2.1 Sumber daya listrik.


Sumber daya listrik pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, termasuk katagori sistem
kelistrikan esensial 3, di mana sumber daya listrik normal dilengkapi dengan sumber daya listrik
darurat untuk menggantikannya, bila terjadi gangguan pada sumber daya listrik normal.
3.4.2.2 Jaringan.
(1)

Kabel listrik dari peralatan yang dipasang di langit-langit tetapi yang bisa digerakkan, harus
dilindungi terhadap belokan yang berulang-ulang sepanjang rak kabel, untuk mencegah
terjadinya retakan-retakan dan kerusakan-kerusakan pada kabel.

(2)

Kolom yang bisa diperpanjang dengan ditarik, menghindari bahaya-bahaya tersebut.

(3)

Sambungan listrik pada outlet-outlet harus diperoleh dari sirkit-sirkit yang terpisah. Ini
menghindari akibat dari terputusnya arus karena bekerjanya pengaman lebur atau suatu
sirkit yang gagal yang menyebabkan terputusnya semua arus listrik pada saat kritis.

3.4.2.3 Terminal.
(1)

(2)

Kotak kontak (stop kontak)


(a)

Setiap kotak kontak daya harus menyediakan sedikitnya satu kutub pembumian
terpisah yang mampu menjaga resistans yang rendah dengan kontak tusuk
pasangannya.

(b)

Karena gas-gas yang mudah terbakar dan uap-uap lebih berat dari udara dan akan
menyelimuti permukaan lantai bila dibuka, Kotak kontak listrik harus dipasang 5 ft ( 1,5
m) di atas permukaan lantai, dan harus dari jenis tahan ledakan.

Sakelar.
Sakelar yang dipasang dalam sirkit pencahayaan harus memenuhi SNI 04 0225 2000,
Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000), atau pedoman dan standar teknis yang
berlaku.

3.4.2.4 Pembumian.
Kabel yang menyentuh lantai, dapat membahayakan petugas.Sistem harus memastikan bahwa
tidak ada bagian peralatan yang dibumikan melalui tahanan yang lebih tinggi dari pada bagian lain
peralatan yang disebut dengan sistem penyamaan potensial pembumian(Equal potential
grounding system).Sistem ini memastikan bahwa hubung singkat ke bumi tidak melalui pasien.
3.4.2.5 Peringatan.
Semua petugas harus menyadari bahwa kesalahan dalam pemakaian listrik membawa akibat
bahaya sengatan listrik, padamnya tenaga listrik, dan bahaya kebakaran.Kesalahan dalam
instalasi listrik bisa menyebabkan arus hubung singkat, tersengatnya pasien, atau petugas.
Bahaya ini dapat dicegah dengan :
(1)

Memakai peralatan listrik yang dibuat khusus untuk kamar operasi. Peralatan harus
mempunyai kabel yang cukup panjang dan harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk
menghindari beban lebih.

(2)

Peralatan jinjing (portabel), harus segera diuji dan dilengkapi dengan sistem pembumian
yang benar sebelum digunakan.

42

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(3)

Segera menghentikan pemakaian dan melaporkan apabila ada peralatan listrik yang tidak
benar.

3.4.2.6 Ketentuan dan Standar.


Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem
kelistrikan pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit mengikuti:
(1)

SNI 03 7011 2004, atau edisi terakhir, Keselamatan pada bangunan fasilitas kesehatan.

(2)

SNI 04 7018 2004, atau edisi terakhir, Sistem pasokan daya listrik darurat dan siaga.

(3)

SNI 04 7019 2004, atau edisi terakhir, Sistem pasokan daya listrik darurat menggunakan
energi tersimpan.

(4)

atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku

3.4.3

Sistem pencahayaan.

3.4.3.1 Pencahayaan Umum.


(1)

Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus mempunyai pencahayaan alami dan/atau
pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya.

(2)

Ruang fasilitas/akomodasi petugas dan ruang pemulihan sebaiknya dibuat untuk


memungkinkan tembusnya (penetrasi) cahaya siang langsung/tidak langsung.

(3)

Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan


sesuai fungsi ruang dalam bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit perlu mempertimbangkan
efisiensi, penghematan energi, dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau
pantulan.

(4)

Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan darurat harus dipasang pada
bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit dengan fungsi tertentu, serta dapat bekerja secara
otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman.

(5)

Semua sistem pecahayaan buatan, kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat,
harus dilengkapi dengan pengendali manual, dan/atau otomatis, serta ditempatkan pada
tempat yang mudah dibaca dan dicapai, oleh pengguna ruang.

(6)

Pencahayaan umum disediakan dengan lampu yang dipasang di langit-langit.

(7)

Disarankan pencahayaan ruangan menggunakan lampu fluorecent, dengan pemasangan


sistem lampu recessed karena tidak mengumpulkan debu.

(8)

Pencahayaan harus didistribusikan rata dalam ruangan.

(9)

Dokter anestesi harus mendapat cukup pencahayaan, sekurang-kurangnya 200 footcandle(


= 2.000 Lux), untuk melihat wajah pasiennya dengan jelas.

(10) Untuk mengurangi kelelahan mata (fatique), perbandingan intensitas pencahayaan ruangan
umum dan di ruang operasi, jangan sampai melebihi satu dibanding lima, disarankan satu
berbanding tiga.
(11) Perbedaan intensitas pencahayaan ini harus dipertahankan di koridor, tempat pembersihan
dan di ruangannya sendiri, sehingga dokter bedah menjadi terbiasa dengan pencahayaan
tersebut sebelummasuk ke dalam daerah steril. Warna warni cahaya harus konsisten.
3.4.3.2 Pencahayaan tempat operasi/bedah.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

43

(1)

Pencahayaan tempat operasi/bedah tergantung dari kualitas pencahayaan dari sumber sinar
lampu operasi/bedah yang menggantung (overhead) dan refleksi dari tirai.

(2)

Cahaya atau penyinaran haruslah sedemikian sehingga kondisi patologis bisa dikenal.
Lampu operasi/bedah yang menggantung (overhead), haruslah :
(a)

Membangkitkan cahaya yang intensif dengan rentang dari 10.000 Lux hingga 20.000
Lux yang disinarkan ke luka pemotongan tanpa permukaan pemotongan menjadi silau.
Harus memberikan kontras terhadap kedalaman dan hubungan struktur anatomis.
Lampu sebaiknya dilengkapi dengan kontrol intensitas. Dokter bedah akan meminta
cahaya agar lebih terang jika diperlukan. Lampu cadangan harus tersedia.

(b)

Menyediakan berkas cahaya yang memberikan pencahayaan diametral (lingkaran) dan


mempunyai fokus yang tepat untuk ukuran luka pembedahan. Ini dilakukan dengan
menyesuaikan tombol-tombol pengontrol yang terpasang di armatur/fixture lampu.
Hal terpenting adalah menghindari terjadinya bagian yang gelap di daerah yang
dibedah.
Suatu fokus dengan ke dalaman 10 sampai 12 inci (25 sampai 30 cm) memberikan
intensitas yang relatif sama pada permukaan dan kedalaman luka potong.
Untuk menghindari kesilauan, suatu bagian berupa lingkaran dengan diameter 25 cm
memberikan zona intensitas maksimum sebesar 5 cm di tengah bagian dan dengan
1/5 (seperlima) intensitas disekelilingnya.

(c)

Hilangkan bayangan. Sumber cahaya yang majemuk (banyak) atau reflektor yang
majemuk (banyak) mengurangi terjadinya bayangan. Pada beberapa unit
hubungannya tetap; yang lain mempunyai sumber sumber cahaya yang terpisah yang
bisa diatur untuk mengarahkan cahaya dari sudut pemusatan.

(d)

Pilihlah cahaya yang mendekati biru/putih (daylight). Kualitas cahaya dari tissue yang
normal diperoleh dengan energi spektral dari 1800 hingga 6500 Kelvin (K).Disarankan
menggunakan warna cahaya yang mendekati warna terang (putih) dari langit tak
berawan di siang hari, dengan temperatur kurang lebih 5000 K.

(e)

Kedudukan lampu operasi/bedah harus bisa diatur menurut suatu posisi atau sudut.
Pergerakan ke bawah dibatasi sampai 1,5 m di atas lantai kalau dipergunakan bahan
anestesi mudah terbakar.
Jika hanya dipergunakan bahan tidak mudah terbakar, lampu bisa diturunkan seperti
yang dikehendaki.
Umumnya lampu operasi/bedah digantung pada langit-langit dan armatur/fixturenya
bisa digerakkan/digeser-geser.
Beberapa jenis lampu operasi/bedah mempunyai lampu ganda atau track ganda
dengan sumber pada tiap track .
Lampu operasi direncanakan untuk dipergunakan guna memperoleh intensitas cahaya
yang cukup dan bayangan yang sekecil mungkin pada luka pembedahan.
Armatur/fixture disesuaikan sedemikian hingga dokter bedah bisa mengarahkan sinar
dengan perantaraan pegangan-pegangan yang steril pada armatur/fixture tersebut.
Fixture/armature harus digerakkan seperlunya untuk mengurangi tersebarnya debu.

44

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(f)

Lampu operasi/bedah harus menghasilkan panas yang serendah rendahnya untuk


menghindari luka pada jaringan (;tissue) yang terekspos, untuk membuat ketenangan
kerja tim, dan untuk mengurangi mikro organisme di udara.
Ketika lampu memanas, aliran-aliran konveksi mengganggu mikro organisme yang
telah mapan dan menyebabkannya terbang mengudara.
Panas yang dihasilkan beberapa armatur/fixture di keluarkan oleh fan-fan ke luar
ruangan.
Panas yang dikeluarkan ke dalam ruangan oleh lampu operasi/bedah yang digantung,
harus dapat didinginkan oleh sistem pengkondisian udara.
Disarankan menggunakan lampu operasi jenis LED (;Light EmmittedDiode) dengan
temperatur lampu yang memenuhi sehingga dihasilkan lampu yang lebih fokus dan
efek panas kecil.

(g)

Lampu operasi/bedah menghasilkan kurang dari 25.000 microwatt per cm2 energi
penyinaran (radiant energy).
Jika mempergunakan banyak lampu (multi bulb), secara kolektip penyinaran tidak
boleh melebihi limit tersebut pada satu tempat.
Diluar jangkauan tersebut, energi penyinaran yang dihasilkan oleh sinar infra merah
berubah menjadi panas di dekat permukaan jaringan yang terbuka.
Sebagian gelombang infra merah dan gelombang panas diserap oleh mangkok filter
yang menutupi bola lampu pijar.

(3)

(h)

Lampu operasi harus mudah dibersihkan. Track (jalur) yang masuk ke dalam langitlangit dapat mengurangi akumulasi debu. Track yang tergantung atau suatu
fixture/armatur yang terpasang terpusat, harus mempunyai permukaan-permukaan
yang halus yang mudah dicapai untuk pembersihan.

(i)

Ikuti peraturan keselamatan instalasi listrik untuk lokasi anestesi.

Suatu lampu tambahan mungkin diperlukan untuk lokasi kedua di tempat operasi/bedah.
Beberapa rumah sakit memiliki unit lampu satelit yang menjadi bagian dari armature lampu
gantung.
Lampu ini hanya bisa dipakai untuk lokasi kedua kalau pembuatnya menyatakan bahwa
intensitas tambahannya masih dalam batas radiant energi yang aman jika digunakan
bersamaan dengan sumber cahaya utama.

(4)

Suatu sumber cahaya yang berasal dari sirkit yang berlainan harus ada yang dapat
dipergunakan pada saat sumber listrik utama terganggu.
Ini memerlukan sumber daya listrik darurat yang terpisah.Terbaik jika lampu operasi
dilengkapi sedemikian rupa sehingga suatu sakelar otomatik dipasang untuk sumber daya
lampu darurat tersebut, jika sumber listrik yang normal terganggu.

(5)

Umumnya dokter bedah menyukai bekerja dalam kamar yang digelapkan dengan hanya
pencahayaan yang kuat di tempat operasi/bedah.
Kondisi ini terutama untuk dokter bedah dengan instrumen endoscopy dan mikroskop
operasi.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

45

(6)

Jika ruangannya berjendela, tirai yang tidak tembus cahaya boleh ditutup untuk
menggelapkan ruangan jika peralatan tersebut sedang dipergunakan. Kemungkinan
jatuhnya debu bisa terjadi pada rumah sakit yang mempunyai jendela dengan tirai-tirai
tersebut.

(7)

Meskipun kondisi ruang operasi digelapkan, perawat atau dokter anestesi harus dapat
dengan baik mengenali warna kulit pasien dan memonitor kondisinya. Jika pembiusan hanya
menggunakan zat anestesi yang tidak mudah terbakar, semacam lampu tambahan bisa
dipasang di lantai.

3.4.3.3 Ketentuan dan Standar.


Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem
pencahayaan pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit mengikuti:
(1)

SNI 03 2396 2001, Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan
gedung,

(2)

SNI 03 6575 2001, Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan pada bangunan
gedung,

(3)

SNI 03 6574 2001, Tata cara perancangan sistem pencahayaan darurat, tanda arah dan
tanda peringatan,

(4)

atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku.


Tabel 3.4.3.2
Tingkat pencahayaan rata-rata, renderansi, dan temperatur warna yang direkomendasikan
Temperatur Warna
Fungsi ruangan

Tingkat
pencahayaan
(Lux)

Kelompok
renderasi
warna

Warm <
3300
Kelvin

Warm
White 3300
Kelvin ~
5300Kelvin

Ruang tunggu
Ruang rawat inap
Ruang Operasi &
Ruang bersalin
Laboratorium
Ruang Rehabilitasi
Medik
Koridor siang hari
Koridor malam hari
Kantor Staf
Kamar mandi & toilet
pasien

46

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Cool Day
light > 5300
Kelvin

3.4.4

Instalasi Komunikasi.

Instalasi komunikasi di bangunan rumah sakit, ruang operasi, meliputi :


3.4.4.1 Telepon.
Telepon, terutama digunakan untuk komunikasi antara ruang operasi dengan instansi atau
perseorangan yang berada di luar bangunan rumah sakit.
3.4.4.2 Interpon.
Interpon, terutama digunakan untuk hubungan antara ruang di ruang operasi, maupun di luar
ruang operasi, tetapi masih dalam lingkungan rumah sakit.
3.4.4.3 CCTV.
Kamera CCTV diletakkan melekat dengan lampu operasi, dimaksudkan untuk pengambilan video
langsung atau terekam, terhadap kegiatan selama operasi pembedahan.Rekaman dapat dilihat
langsung atau tidak langsung dengan televisi yang diletakkan di ruang rapat, atau ruang-ruang lain
yang dianggap perlu.
3.4.4.4 Alat panggil perawat (nurse call)
Alat panggil perawat, terutama digunakan untuk komunikasi antara ruang pemulihan, dan pos
perawat ruang operasi.

3.5

Instalasi Proteksi Kebakaran.

Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran, meliputi :
(1)

Sistem Proteksi Pasif; dan

(2)

Sistem Proteksi Aktif.

3.5.1

Sistem Proteksi Pasif,

3.5.1.1 Umum.
(1)

(2)

Proteksi pasif meliputi elemen konstruksi bangunan, seperti :


(a)

proteksi struktur bangunan yang dinyatakan dengan Tingkat Ketahanan Api (TKA); dan

(b)

kompartemenisasi yang membatasi kebakaran dan asap.

Proteksi pasif terutama untuk menahan dan membatasi penjalaran api, asap dan panas,
dengan demikian akan memberikan lingkungan yang aman untuk evakuasi dan
penyelamatan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

47

G
Gambar
3.5.1.1.(2) Pe
enjalaran ap
pi internal dalam
d
gedun
ng

(3)

Ketentuan komp
partemen api dengan periode
p
ting
gkat ketahan
nan api (TK
KA), untuk memastikan
m
n
bahw
wa kebakarran tidak akan
a
menja
alar ke kom
mpartemen lain di da
alam period
de tertentu,,
artinyya membole
ehkan peng
ghuni untuk meninggalkan bangun
nan yang te
erbakar.

Gambar 3.5.1.1.(3) Kemampuan memikul beban struktur


s
ban
ngunan, kem
mampuan menahan
m
penjalaran api dan
n kemampua
an menahan panas

Pada
a sisi lain tingkat keta
ahanan api terhadap struktur
s
ban
ngunan aka
an memastikan bahwa
a
strukktur stabil jika terpapa
ar ke api, dan pengh
huni serta regu
r
pema
adam kebak
karan tidakk
terpa
apar ke risikko akibat ke
eruntuhan sttruktur bang
gunan.

48

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(4)

Siste
em pengend
dalian asap
ppada suatu
u komparte
emen akan memaksa a
asap meng
galir ke luarr
bang
gunan baik secara
s
alam
miah atau mekanis.
m

Gambar 3.5.1.1.(4) Efek cerob


bong dan ge
erakan asap
p, Lantai 4 b
bebas asap
(5)

Siste
em presurisasi udara diterapkan
d
p
pada
tangga
a eksit untu
uk menahan
n asap tidak
k masuk ke
e
jalur utama pe
enyelamatan
n, dan jug
ga memberrikan waktu
u lebih ban
nyak untuk
k penghunii
meniinggalkan bangunan.
b

Gambar 3.5.1.1.(5) - Pres


surisasi tangga
3.5.1.2. Prroteksi pas
sif pada ko
omplek ruan
ng operasii.
(1)

Pada
a komplekss ruang ope
erasi, banya
ak terdapatt peralatan--peralatan m
medik (lamp
pu operasi,,
mesiin anestesi, ceiling pen
ndant, meja operasi, instrumen-insstrumen bedah, monito
or, mobile x
ray, dan
d sebaga
ainya, yang tidak diinginkan untuk
k disiram airr pada saat terjadinya kebakaran.
k

(2)

Sesu
uai ketentua
an yang be
erlaku, siste
em springkle
er otomatikk, boleh tida
ak digunaka
an, asalkan
n
selurruh dinding
g, lantai, la
angit-langit dan bukaa
an-bukaan (pintu, jend
dela dan sebagainya))
meng
ggunakan bahan/mate
b
erial yang mempunyai
m
Tingkat
T
Ketahanan Api minimal 2 (dua) jam.

(3)

Apab
bila komple
eks ruang operasi
o
berrada menya
atu dengan ruang lain
n di dalam bangunan,,
maka
a komplekss ruang ope
erasi harus dianggap sebagai satu
u kompartemen, sehingga segala
a
keten
ntuan yang menyangku
ut tingkat ke
etahanan apistrukturnyya harus dip
penuhi.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

49

3.5.1.6 Ketentuan dan Standar.


Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem
proteksi pasif pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit mengikuti:
(1)

SNI 03 1736 2000, atau edisi terakhir, Tata cara perancangan sistem proteksi pasif untuk
pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung,

3.5.2

Sistem Proteksi Aktif.

3.5.2.1 Proteksi kebakaran aktif di kompleks ruang operasi.


(1)

Di seluruh komplek ruang operasi yang merupakan satu kompartemen, harus dilengkapi
dengan detektor asap pada seluruh ruangannya.

(2)

Bilamana terjadi kebakaran di ruang operasi, peralatan yang terbakar harus segera
disingkirkan dari sekitar sumber oksigen dan mesin anestesi atau outlet pipa yang
dimasukkan ke ruang operasi. Hal ini untuk mencegah terjadinya ledakan.

(3)

Bilamana terjadi kebakaran, semua pasien harus segera dipindahkan dari tempat
berbahaya, semua petugas harus memahami ketentuan tentang cara-cara melakukan
pemadaman kebakaran, mereka harus mengetahui secara tepat tata letak kotak alarm
kebakaran dan mampu menggunakan alat pemadam kebakaran yang disediakan untuk itu.

(4)

Alat pemadam kebakaran jenis APAR dengan isi gas netral yang ramah lingkungan di
gunakan untuk pemadaman api bila terjadi kebakaran, dan diletakkan di lokasi yang tepat di
luar kamar bedah.

3.5.2.2 Ketentuan dan Standar.


Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem
proteksi aktif pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit mengikuti:
(1)

SNI 03 3988 1990, atau edisi terakhir, Pengujian kemampuan pemadaman dan penilaian
alat pemadam api ringan.

(2)

SNI 03 1745 2000, atau edisi terakhir,Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem
pipa tegak dan slang untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

(3)

SNI 03 3985 2000, atau edisi terakhir,Tata cara perencanaan, pemasangan dan
pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada
bangunan gedung.

(4)

SNI 03 3989 2000, atau edisi terakhir, Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem
springkler otomatik untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

50

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB IV
PENUTUP
4.1
Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit, Ruang Operasi ini diharapkan dapat digunakan
sebagai rujukan oleh pengelola bangunan rumah sakit, penyedia jasa konstruksi, instansi Dinas
Kesehatan, Pemerintah Daerah, dan instansi terkait dengan kegiatan pengaturan dan
pengendalian penyelenggaraan pembangunan bangunan rumah sakit dalam pencegahan dan
penanggulangan serta menjamin keamanan dan keselamatan bangunan rumah sakit dan
lingkungan terhadap bahaya penyakit.
4.2
Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau bersifat alternatif serta penyesuaian
Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit, Ruang Operasi oleh masing-masing daerah
disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan kelembagaan di daerah.
4.3
Sebagai pedoman/petunjuk pelengkap dapat digunakan pedoman dan standar teknis
terkait lainnya.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

51

KEPUSTAKAAN

1.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 36 Tahun 2005, tentang Peraturan


Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung.

2.

Joanna R. Fuller, Surgical Technology, Principles and Practice, Saunders.

3.

American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditionign Engineers, Handbook,


Applications, 1974 Edition, ASHRAE.

4.

American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditionign Engineers, HVAC Design
Manual for Hospitals and Clinics, 2003 edition, ASHRAE.

5.

G.D. Kunders, Hospitals, Facilities Planning and Management, Tata McGraw-Hill Publishing
Company Limited, 2004.

52

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

PEDOMAN BANGUNAN RS :
RUANG PERAWATAN INTENSIF
RUMAH SAKIT

DIREKTORAT BINA PELAYANAN PENUNJANG MEDIK DAN SARANA KESEHATAN


SUB DIREKTORAT BINA SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN
TAHUN 2012

SAMBUTAN
DIREKTUR JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN
Dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat
dan hidayah-Nya kita dapat menyusun Pedoman Teknis Ruang Perawatan Intensif Rumah Sakit.
Ruang Perawatan Intensif (ICU=Intensive Care Unit) adalah bagian dari bangunan rumah
sakit dengan kategori pelayanan kritis, selain instalasi bedah dan instalasi gawat darurat, sehingga
perlu dilakukan pengelolaan bangunan Ruang Perawatan Intensif dengan baik, terpadu dan
memenuhi persyaratan teknis bangunan. Pedoman teknis ini, dimaksudkan sebagai upaya
menetapkan acuan mengenai perencanaan untuk pembangunan dan pengembangan fasilitas fisik
Ruang Perawatan Intensif yang dapat menampung kebutuhan pelayanan dengan memperhatikan
aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan dan kemudahan baik bagi pasien maupun pengguna
rumah sakit lainnya.
Sesuai dengan Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, pasal 9(b)
menyatakan bahwa persyaratan teknis bangunan Rumah Sakit, sesuai dengan fungsi,
kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian pelayanan serta perlindungan dan keselamatan
bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak, dan usia lanjut.
Dengan demikian kami sangat mengharapkan peran bersama dari stake holder terkait, yaitu
asosiasi profesi, pengelola rumah sakit, konsultan perencanaan rumah sakit dan pihak lainnya
dalam membantu Kementerian Kesehatan mendukung amanat Undang-Undang tersebut.
Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua
pihak yang telah membantu diterbitkannya Pedoman Teknis Ruang Perawatan Intensif Rumah
Sakit. Diharapkan Pedoman Teknis ini dapat menjadi petunjuk agar suatu perencanaan
pembangunan atau pengembangan Ruang Perawatan Intensif di rumah sakit dapat menampung
kebutuhan pelayanan yang memperhatikan aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan dan
kemudahan baik bagi pasien maupun pengguna rumah sakit lainnya.
Demikian sambutan kami, selamat dengan telah diterbitkannya Pedoman Teknis Ruang
Perawatan Intensif Rumah Sakit ini, dan semoga dapat meningkatkan mutu fasilitas rumah sakit di
Indonesia.

Jakarta,

Maret 2012

Direktur Jederal Bina Upaya Kesehatan

dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas Rahmat dan
KaruniaNya buku Pedoman Teknis Ruang Perawatan Intensif Rumah Sakit dapat diselesaikan
dengan baik.
Ruang Perawatan Intensif (ICU = Intensive Care Unit) di rumah sakit merupakan salah satu
fungsi yang sangat penting dalam penyelenggaraan pelayanan medik di fasilitas pelayanan
kesehatan. Fungsi bangunan Ruang Perawatan Intensif dikualifikasikan berdasarkan tingkat
privasi, tingkat kebersihan ruangan serta tingkat aksesibilitas, sehingga perlu dilakukan
pengelolaan bangunan Ruang Perawatan Intensif dengan baik, terpadu dan memenuhi
persyaratan teknis bangunan.
Penyusunan Persyaratan Teknis Ruang Perawatan Intensif Rumah Sakit ini merupakan
salah satu upaya untuk mendukung Undang-Undang No. 44 tahu 2009 tentang Rumah Sakit, yaitu
dalam rangka memenuhi standar pelayanan dan persyaratan mutu, keamanan dan keselamatan
(life safety) bagi pengguna Ruang Perawatan Intensif Rumah Sakit.
Persyaratan ini disusun dengan partisipasi berbagai pihak termasuk rumah sakit, organisasi
profesi serta instansi terkait baik Pembina maupun pengelola bangunan Ruang Perawatan Intensif
di rumah sakit. Pedoman teknis ini merupakan acuan bagi para pengelola rumah sakit, praktisi
pengelola Ruang Perawatan Intensif di rumah sakit, para perencana atau pengembang rumah
sakit dan pihak lain untuk dapat mengembangkan Ruang Perawatan Intensif di rumah sakit yang
bermutu.
Pedoman teknis ini dimungkinkan untuk dievaluasi dan dilakukan penyempurnaanpenyempurnaan terkait dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta hal-hal lainnya yang tidak
sesuai lagi dengan kondisi di rumah sakit.
Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua
pihak yang telah membantu diterbitkannya Pedoman Teknis Ruang Perawatan Intensif Rumah
Sakit. Diharapkan Pedoman Teknis Ruang Perawatan Intensif Rumah Sakit ini dapat menjadi
petunjuk agar suatu perencanaan pembangunan atau pengembangan Ruang Perawatan Intensif
di rumah sakit dapat menampung kebutuhan pelayanan yang memperhatikan aspek keselamatan,
keamanan, kenyamanan dan kemudahan baik bagi pasien maupun pengguna rumah sakit lainnya.
Jakarta,

Maret 2012

Direktur Bina Pelayanan Penunjang Medik


dan Sarana Kesehatan

dr. Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes


NIP. 195501171981111001

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

DAFTAR ISI
SAMBUTAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
TIM PENYUSUN
BAB I

KETENTUAN UMUM
A. Latar belakang
B. Maksud dan tujuan
C. Sasaran
D. Pengertian

BAB II PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN RUANG PERAWATAN INTENSIF


RUMAH SAKIT
A. Persyaratan Arsitektur
1. Kebutuhan Ruang
2. Hubungan Antar Ruang
3. Komponen dan Bahan Bangunan
B. Persyaratan Struktur
BAB III PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA RUANG PERAWATAN INTENSIF
RUMAH SAKIT
A. Umum
B. Persyaratan Prasarana yang Menunjang Faktor Keselamatan
a. Sistem proteksi petir
b. Sistem proteksi Kebakaran
c. Sistem kelistrikan.
d. Sistem gas medik dan vakum medik
C. Persyaratan Prasarana yang Menunjang Faktor Kesehatan Lingkungan
a. Sistem ventilasi.
b. Sistem pencahayaan.
c. Sistem Sanitasi.
D. Persyaratan Prasarana yang Menunjang Faktor Kenyamanan
a. Sistem pengkondisian udara.
b. Kebisingan
c. Getaran.
E. Persyaratan Prasarana yang Menunjang Faktor Kemudahan
a. Kemudahan hubungan horizontal.
b. Kemudahan hubungan vertikal.
c. Sarana evakuasi.
d. Aksesibilitas.
BAB IV PENUTUP

iii
v
vii
viii
1
1
2
2
2
3
3

11
12
12
12

17

21

22

23

LAMPIRAN

24

DAFTAR PUSTAKA

30

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

vii

TIM PENYUSUN
Penanggung Jawab :

Direktur Bina Pelayanan Penunjang


Medik dan sarana Kesehatan

Ketua

Ir. Azizah

Wakil Ketua

Ir. Hanafi, MT

Penyusun :
1.

dr. Rudyanto Sedono, Sp.An

Kepala ICU RSCM

2.

dr. Hermansyur, Sp.B

Direksi RS Pondok Indah

3.

Lina Haida, SKM, MM

RSUD Tangerang

4.

Ir. Handoyo Tanjung

Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI).

5.

Ir. Arie Soeharto, IAI

Ikatan Arsitek Indonesia

6.

dr. Anwarul

Dit. Bina Yanmed Spesialistik

7.

dr. Suhartono, Sp.B(K)Vas

Sekjen IKABI

8.

drg. Hendro Harry Tjahjono, M.Sc

Direksi RS Kanker Dharmais

9.

dr. Priyono PH, Sp.An

RSPAD Gatot Subroto

10.

dr. Aries Perdana, Sp.An

RSUP dr. Cipto Mangunkusumo

11.

Ir. Soekartono Suwarno, PII

Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

12.

Jusuf Umar, Dipl. Ing

Konsultan / PT. Aneka Gas

13.

Tommy Pagaribuan, ST.,MT

Dinas P2B DKI Jaya

14.

Ir. Rakhmat Nugroho, MBAT

Kepala BPFK Surabaya

15.

Dr. Henry Tjandra

Direksi Eka Hospital

16.

R. Aryo Seto Isa, ST

KEMKES

17.

Erwin Burhanuddin, ST

KEMKES

18.

Siti Ulfa Chanifah, ST

KEMKES

19.

Romadona, ST

KEMKES

viii

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB I
PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG
Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 28
Bagian H, ayat (1) telah menegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan
kesehatan, kemudian dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan negara bertanggung jawab atas
penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
Berdasarkan Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, menyebutkan
bahwa salah satu sumber daya di bidang kesehatan adalah fasilitas pelayanan kesehatan,
dimana pasal 1 poin 7 mendefinisikan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan suatu alat dan/
atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik
promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitative yang dilaukan oleh pemerintah, pemerintah
daerah, dan/atau masyarakat.
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan
merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung
penyelenggaraan upaya kesehatan. Sesuai dengan Undang-Undang No. 44 tahun 2009
tentang Rumah Sakit pasal 5 menyebutkan bahwa rumah sakit mempunyai fungsi
penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar
pelayanan rumah sakit.
Fungsi dimaksud memiliki makna tanggung jawab yang merupakan tugas
pemerintah dalam meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Untuk optimalisasi hasil
serta kontribusi positif tersebut, harus dapat diupayakan masuknya upaya kesehatan
sebagai asas pokok program pembangunan nasional.
Selanjutnya undang-Undang No. 44 tahun 2009 pasal 7 menyebutkan bahwa
rumah sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, sumber daya
manusia, kefarmasian dan peralatan.
Ruang Perawatan Intensif (;ICU=Intensive Care Unit) adalah bagian dari bangunan
rumah sakit dengan kategori pelayanan kritis, selain instalasi bedah dan instalasi gawat
darurat. Ruang Perawatan Intensif merupakan instalasi pelayanan khusus di rumah sakit
yang menyediakan pelayanan yang komprehensif dan berkesinambungan selama 24 jam.
Dalam rangka mewujudkan Ruang Perawatan Intensif yang memenuhi standar pelayanan
dan persyaratan mutu, keamanan dan keselamatan perlu didukung oleh bangunan dan
prasarana (utilitas) yang memenuhi persyaratan teknis.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

B.

MAKSUD DAN TUJUAN


Pedoman teknis bangunan Ruang Perawatan Intensif ini, dimaksudkan sebagai
upaya menetapkan acuan atau referensi teknis fasilitas fisik agar RS memiliki fasilitas
pelayanan kesehatan bagi masyarakat sesuai dengan kebutuhan.
Pedoman teknis bangunan Ruang Perawatan Intensif ini bertujuan memberikan
petunjuk agar suatu perencanaan dan pengelolaan bangunan Ruang Perawatan Intensif di
rumah sakit memperhatikan kaidah-kaidah pelayanan kesehatan, sehingga bangunan
Ruang Perawatan Intensif yang akan dibuat dapat menampung kebutuhan pelayanan dan
dapat digunakan oleh pasien dan, pengelola serta tidak berakibat buruk bagi keduanya.

C.

SASARAN
Pedoman teknis ini diharapkan menjadi acuan bagi pengelola, pelaksana dan
konsultan perencana rumah sakit dalam membuat perencanaan Ruang Perawatan Intensif
sehingga masing-masing pihak dapat mempunyai persepsi yang sama.

D.

PENGERTIAN
1. Sarana/bangunan
Wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat dan
kedudukannya, sebagian atau seluruhnya yang berada di atas tanah/perairan, ataupun
di bawah tanah/perairan, tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian
maupun tempat tinggal, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya maupun kegiatan
khusus.

2.

Prasarana
Benda maupun jaringan/instalasi yang membuat suatu sarana yang ada bisa berfungsi
sesuai dengan tujuan yang diharapkan

3.

Ruang Perawatan Intensif (Intensive Care Unit = ICU)


Fasilitas untuk merawat pasien yang dalam keadaan belum stabil sesudah operasi
berat atau bukan karena operasi berat yang memerlukan secara intensif pemantauan
ketat atau tindakan segera.

4.

Bangunan instalasi.
Gabungan/kumpulan dari ruang-ruang/kamar-kamar di unit rumah sakit yang saling
berhubungan dan terkait satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan pelayanan
kesehatan.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB II
PERSYARATAN TEKNIS
BANGUNAN RUANG PERAWATAN INTENSIF
RUMAH SAKIT

A.

PERSYARATAN ARSITEKTUR .
1.

KEBUTUHAN RUANG
Kebutuhan ruang pada daerah rawat pasien, terdiri dari :
a.

Ruang administrasi.
Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan
pendaftaran dan rekam medik internal pasien di Ruang Perawatan Intensif.
Ruang ini berada pada bagian depan Ruang Perawatan Intensif dengan
dilengkapi loket atau Counter, meja kerja, lemari berkas/arsip dan
telepon/interkom.

b.

Ruang untuk tempat tidur pasien.

Gambar 2.A.1b Ruang Rawat Pasien ICU

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

(1)

Ruang tempat tidur berfungsi untuk merawat pasien lebih dari 24 jam,
dalam keadaan yang sangat membutuhkan pemantauan khusus dan terusmenerus.

(2)

Ruang pasien harus dirancang untuk menunjang semua fungsi perawatan


yang penting.

(3)

Luas lantai yang digunakan untuk setiap tempat tidur pasien dapat
mengakomodasi kebutuhan ruang dari semua peralatan dan petugas yang
berhubungan dengan pasien untuk kebutuhan perawatan.

(4)

Ruang rawat pasien disarankan mempunyai luas lantai bersih antara 12


m2- 16 m2 per tempat tidur.

(5)

Tombol alarm harus ada pada setiap bedside di dalam ruang rawat pasien.
Sistem alarm sebaiknya terhubung secara otomatis ke pusat
telekomunikasi rumah sakit, pos sentral perawat, ruang pertemuan ICU,
ruang istirahat petugas ICU, dan setiap ruang panggil. Perletakan alarm ini
harus dapat terlihat.

(6)

Pencahayaan alami harus optimal.

(7)

Sebaiknya memaksimalkan jumlah jendela sebagai sarana visual untuk


menguatkan orientasi pada siang dan malam hari. Jendela sebaiknya tahan
lama, tidak menyimpan debu dan mudah dibersihkan dan harus dibersihkan
secara rutin.

(8)

Daerah rawat pasien harus teduh, dan tidak silau, harus mudah
dibersihkan, tahan api, bersih debu dan kuman, dan dapat digunakan
sebagai peredam suara dan dapat mengontrol tingkat pencahayaan.

(9)

Rasio kebutuhan tempat tidur di Ruang Perawatan Intensif dipengaruhi oleh


:
(a)

Jumlah total tempat tidur pasien di rumah sakit.

(b)

Jumlah kasus yang memerlukan pelayanan perawatan intensif.


Untuk rumah sakit, diasumsikan jumlah tempat tidur pasien di Ruang
Perawatan Intensif berkisar + 2 % dari total tempat tidur pasien.

c.

Ruang isolasi pasien.


(1)

Ruang yang mempunyai kekhususan teknis sebagai ruang perawatan


intensif dan memiliki batasan fisik modular per pasien, dinding serta bukaan
pintu dan jendela dengan ruangan ICU lain.

(2)

Ruang yang diperuntukkan bagi pasien menderita penyakit yang menular,


pasien yang rentan terkena penularan dari orang lain, pasien menderita
penyakit yang menimbulkan bau (seperti penyakit tumor, ganggrein,
diabetes) dan untuk pasien menderita penyakit yang mengeluarkan suara
dalam ruangan.

(3)

Pintu dan partisi pada ruang isolasi terbuat dari kaca minimal setinggi 100
cm dari permukaan lantai agar pasien terlihat dari pos perawat.

(4)

Ruang Perawatan Intensif dengan modul kamar individual/ kamar isolasi


luas lantainya 16 m2- 20 m2 per kamar.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Gambar 2.A.1c Ruang Perawatan Intensif - Isolasi


d.

e.

f.

Pos sentral perawat/ ruang stasi perawat (;Nurse central station)


(1)

Pos sentral perawat adalah tempat untuk memonitor perkembangan pasien


ICU selama 24 jam sehingga apabila terjadi keadaan darurat pada pasien
segera diketahui dan dapat diambil tindakan seperlunya terhadap pasien.

(2)

Letak pos perawat harus dapat menjangkau seluruh pasien

(3)

Pos stasiun perawat sebaiknya memberikan ruangan yang nyaman dan


berukuran cukup untuk mengakomodasi seluruh fungsi yang penting.

(4)

Pos stasiun perawat harus mempunyai pencahayaan cukup, dan dilengkapi


jam dinding.

(5)

Kepala perawat sebaiknya mempunyai ruang kerja tersendiri. Pos perawat


(Nurse Station) dilengkapi dengan lemari penyimpanan barang habis pakai
dan obat.

Ruang dokter jaga


(1)

Ruang kerja dan istirahat Dokter dilengkapi dengan sofa, wastafel, dan
toilet

(2)

Ruangan ini dilengkapi sistem komunikasi internal dan sistem alarm.

Ruang istirahat petugas.


(1)

Ruang istirahat petugas medik dilengkapi dengan sofa, wastafel, dan toilet.

(2)

Ruang istirahat petugas medik harus berada dekat dengan ruang rawat
pasien ICU.

(3)

Ruang ini sebaiknya


lingkungan yang santai.

(4)

Ruangan ini dilengkapi sistem komunikasi internal dan sistem alarm.

memberikan

keleluasaan,

kenyamanan,

dan

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

g.

Pantri.
Daerah untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk petugas, dilengkapi
meja untuk menyiapkan makanan, freezer, bak cuci dengan kran air dingin dan
air panas, microwave dan atau kompor, dan lemari pendingin.

h.

Ruang penyimpanan alat medik.


(1) Ruang penyimpanan alat medik berfungsi sebagai penyimpanan peralatan
medik yang setiap saat diperlukan dan belum digunakan.
(2) Peralatan yang disimpan diruangan ini harus dalam kondisi siap pakai dan
dalam kondisi yang sudah disterilisasi.
(3) Alat-alat yang disimpan dalam ruangan ini antara lain respirator/ventilator,
alat/mesin hemodialisa (HD), mobile X-ray, monitor pasien, syringe pump,
infusion pump, defibrillator dan lain-lain.
(4) Ruang sebaiknya cukup besar untuk memudahkan akses, lokasinya mudah
untuk mengeluarkan peralatan .
(5) Kotak kontak pembumian listrik sebaiknya tersedia di dalam ruang dengan
kapasitas yang cukup untuk membuang arus batere dari peralatan yang
menggunakan batere.

i.

Ruang utilitas bersih.


(1) Ruang utilitas bersih dan kotor harus ruang terpisah yang tidak saling
berhubungan.
(2) Lantai sebaiknya ditutup
memudahkan pembersihan.

dengan

bahan

tanpa

sambungan

untuk

(3) Ruang utilitas bersih sebaiknya digunakan untuk menyimpan obat-obatan,


semua barang-barang yang bersih dan steril, dan boleh juga digunakan
untuk menyimpan linen bersih.
(4) Rak dan lemari untuk penyimpanan harus diletakkan cukup tinggi dari lantai
untuk memudahkan akses pembersihan lantai yang ada di bawah rak dan
lemari tersebut.
(5) Tempat/kabinet/lemari penyimpanan instrumen dan bahan perbekalan yang
diperlukan, termasuk untuk barang-barang steril.
j.

Ruang utilitas kotor


(1) Ruang utilitas bersih dan kotor harus ruang terpisah yang tidak saling
berhubungan.
(2) Ruang utilitas kotor harus menghadap ke luar/berada di luar ruang rawat
pasien ICU ke arah koridor kotor.
(3) Ruang utilitas kotor tempat membuang kotoran bekas pelayanan pasien
khususnya yang berupa cairan.
(4) Ruang ini temperaturnya harus terkontrol, dan pasokan udara dari ruang
utilitas kotor harus dibuang ke luar.
(5) Ruang utilitas kotor harus dilengkapi dengan spoelhoek dan slang pembilas
serta pembuangan air limbahnya disalurkan instalasi pengolahan air limbah
RS.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(6) Spoelhoek adalah fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan


pasien khususnya yang berupa cairan. Spoelhoek berupa bak atau kloset
yang dilengkapi dengan leher angsa (water seal).
(7) Pada ruang Spoolhoek juga harus disediakan kran air bersih untuk mencuci
wadah kotoran pasien. Ruang spoolhoek ini harus menghadap
keluar/berada di luar ruang rawat pasien ICU ke arah koridor kotor.
(8) Saluran air kotor/limbah dari Spoolhoek dihubungkan ke tangki septik
khusus atau jaringan IPAL.
(9) Kontainer tertutup yang terpisah harus disediakan untuk linen kotor dan
limbah padat.
(10) Kontainer khusus sebaiknya disediakan untuk buangan jarum suntik dan
barang-barang tajam lainnya.
k.

Ruang Kepala Ruangan ICU.


Ruang kerja dan isitirahat Kepala perawat dilengkapi sofa, meja dan kursi kerja.

l.

Parkir troli.
Tempat untuk parkir trolley selama tidak ada kegiatan pelayanan pasien atau
selama tidak diperlukan.

m. Ruang Ganti Penunggu Pasien dan Ruang Ganti Petugas (pisah pria
wanita) (termasuk di dalamnya Loker).
(1) Tempat ganti pakaian, meletakkan sepatu/alas kaki sebelum masuk daerah
rawat pasien dan sebaliknya setelah keluar dari ruang rawat pasien, yang
diperuntukkan bagi staf medis maupun non medis dan pengunjung.
(2) Fasilitas mencuci tangan untuk pengunjung pasien dan untuk petugas harus
disediakan, lengkap dengan sabun antiseptik (;general prequotion).
(3) Kontainer/wadah khusus baju pelindung bekas pakai harus disediakan,
karena baju pelindung tidak boleh digunakan lebih dari sekali.
n.

Ruang tunggu keluarga pasien (berada di luar wilayah ICU).


(1) Tempat keluarga atau pengantar pasien menunggu. Tempat ini perlu
disediakan tempat duduk dengan jumlah sesuai dengan aktivitas pelayanan
pasien yang dilaksanakan di Ruang Perawatan Intensif. Disarankan untuk
menyediakan pesawat televisi dan fasilitas telepon umum.
(2) Letak ruang tunggu pengunjung dekat dengan Ruang Perawatan Intensif
dan di luar ruang rawat pasien.
(3) Akses pengunjung sebaiknya di kontrol dari ruang resepsionis.
(4) Rasio kebutuhan jumlah tempat duduk keluarga pasien adalah 1 tempat
tidur pasien ICU berbanding 1 2 tempat duduk.
(5) Dilengkapi dengan fasilitas toilet pengunjung
(6) Disarankan menyediakan ruang konsultasi untuk keluarga.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

o.

Koridor untuk kebutuhan pelayanan.


(1) Koridor disarankan mempunyai lebar minimal 2,4 m.
(2) Pintu masuk ke Ruang Perawatan Intensif, ke daerah rawat pasien dan
pintu-pintu yang dilalui tempat tidur pasien dan alat medik harus lebarnya
minimum 36 inci (1,2 m), yang terdiri dari 2 daun pintu (dimensi 80 cm dan
40 cm) untuk memudahkan pergerakan tanpa hambatan.
(3) Lantai harus kuat sehingga dapat menahan beban peralatan yang berat.

p.

Janitor/ Ruang Cleaning Service.


Ruangan tempat penyimpanan barang-barang/bahan-bahan dan peralatan untuk
keperluan kebersihan ruangan, tetapi bukan peralatan medik.

q.

Toilet petugas medik.


Toilet petugas medik terdiri dari closet yang dilengkapi hand shower dan
wastafel/ lavatory.

r.

Ruang penyimpanan silinder gas medik.


(1) Ruang yang digunakan untuk menyimpan tabung-tabung gas medis
cadangan yang digunakan di Ruang Perawatan Intensif.
(2) Penyimpanan silinder gas medik ini berlaku bagi RS yang tidak memiliki
central gas. O2, vacuum dan compress air (udara tekan medik).

s.

Toilet pengunjung/penunggu pasien.


Toilet pengunjung/penunggu pasien terdiri dari closet dan wastafel/ lavatory.

t.

Ruang diskusi medis (terutama bagi RS A dan B).


(1) Ruang diskusi ditempatkan di ICU atau dekat dengan ICU untuk digunakan
sebagai tempat kegiatan pendidikan dan diskusi medis.
(2) Ruangan ini dilengkapi dengan telepon atau sistem komunikasi internal dan
sistem alarm yang tersambung langsung ke ICU.
(3) Ruang diskusi dilengkapi dengan tempat/ lemari untuk menyimpan bukubuku kedokteran/ medik dan perawatan, VCR, dan peralatan belajar.

2.

HUBUNGAN ANTAR RUANG.


Hubungan antar ruang di dalam bangunan Ruang Perawatan Intensif, ditunjukkan
pada gambar sebagai berikut :

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Gambar 2.A.2 - Hubungan antar ruang dalam bangunan


Ruang Perawatan Intensif
a.

b.

c.

Alur Petugas (Dokter/Perawat/Staf) :


(1)

Ganti pakaian di ruang ganti (Loker).

(2)

Masuk daerah rawat pasien

(3)

Keluar melalui alur yang sama.

Alur Pasien :
(1)

Pasien masuk ICU berasal dari Instalasi Rawat Inap, Instalasi Gawat
Darurat, Instalasi Bedah.

(2)

Pasien ke luar dari daerah rawat pasien menuju :


(a)

ruang rawat inap bila memerlukan perawatan lanjut, atau

(b)

pulang ke rumah, bila dianggap sudah sehat.

(c)

ke ruang jenazah bila pasien meninggal dunia.

Alur Alat/Material :
(1)

Alat/Material kotor dikeluarkan dari ruang rawat pasien ke ruang utilitas


kotor.

(2)

Sampah/limbah padat medis dikirim ke Incinerator. Sampah/limbah padat


non medis domestik dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS)
rumah sakit.

(3)

Linen kotor dikirim ke ruang cuci/ laundry dan kemudian dikirim ke CSSD
(Central Sterilized Support Departement).

(4)

Instrumen/peralatan bekas pakai dari ruang rawat dibersihkan dan


disterilkan di Instalasi CSSD.

(5)

Instrumen/linen/bahan perbekalan yang telah steril disimpan di ruang


utilitas bersih.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

3.

KOMPONEN DAN BAHAN BANGUNAN.


Sebagai bagian dari Rumah Sakit, beberapa komponen sarana yang ada di Ruang
Perawatan Intensif memerlukan beberapa persyaratan, antara lain :
a.

Komponen penutup lantai.


Komponen penutup lantai memiliki persyaratan sebagai berikut :
(1) tidak terbuat dari bahan yang memiliki lapisan permukaan dengan porositas
yang tinggi yang dapat menyimpan debu.
(2) mudah dibersihkan dan tahan terhadap gesekan.
(3) penutup lantai harus berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata.
(4) memiliki pola lantai dengan garis alur yang menerus keseluruh ruangan
pelayanan.
(5) pada daerah dengan kemiringan kurang dari 70, penutup lantai harus dari
lapisan permukaan yang tidak licin (walaupun dalam kondisi basah).
(6) Hubungan/pertemuan antara lantai dengan dinding harus menggunakan
bahan yang tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan
lantai (Hospital plint).
(7) Disarankan menggunakan bahan vinil khusus yang dipakai untuk lantai
Ruang Rawat Pasien ICU.

b.

Komponen dinding.
Komponen dinding memiliki persyaratan sebagai berikut :
(1) dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca dan tidak berjamur.
(2) lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung poripori) sehingga dinding tidak menyimpan debu.
(3) warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.
(4) Hubungan/pertemuan antara dinding dengan dinding harus tidak siku, tetapi
melengkung untuk memudahkan pembersihan.

c.

Komponen langit-langit.
Komponen langit-langit memiliki persyaratan sebagai berikut :
(1) harus mudah dibersihkan, tahan terhadap segala cuaca, tahan terhadap air,
tidak mengandung unsur yang dapat membahayakan pasien, serta tidak
berjamur.
(2) memiliki lapisan penutup yang bersifat non porosif (tidak berpori) sehingga
tidak menyimpan debu.
(3) berwarna cerah, tetapi tidak menyilaukan pengguna ruangan.

10

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

B.

PERSYARATAN STRUKTUR BANGUNAN.


1.

UMUM
(1) Setiap sarana Ruang Perawatan Intensif merupakan pekerjaan konstruksi yang
menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di
atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat
perawatan pasien dalam kondisi kritis/belum stabil yang memerlukan
pemantauan khusus dan terus menerus (intensif).
(2) Fungsi sarana bangunan Ruang Perawatan Intensif dikualifikasikan berdasarkan
tingkat privasi, tingkat sterilitas serta tingkat aksesibilitas.

2.

PERSYARATAN STRUKTUR SARANA BANGUNAN RUANG PERAWATAN


INTENSIF.
(1) Bangunan Ruang Perawatan Intensif, strukturnya harus direncanakan
kuat/kokoh, dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi
persyaratan kelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan
dengan mempertimbangkan fungsi bangunan Ruang Perawatan Intensif, lokasi,
keawetan, dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya.
(2) Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi
sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan
struktur, baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul
akibat gempa dan angin.
(3) Dalam perencanaan struktur bangunan Ruang Perawatan Intensif terhadap
pengaruh gempa, semua unsur struktur bangunan Ruang Perawatan Intensif,
baik bagian dari sub struktur maupun struktur bangunan, harus diperhitungkan
memikul pengaruh gempa rancangan sesuai dengan zona gempanya.
(4) Struktur bangunan Ruang Perawatan Intensif harus direncanakan secara detail
sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan, apabila
terjadi keruntuhan, kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna
bangunan Ruang Perawatan Intensif menyelamatkan diri.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembebanan, ketahanan terhadap gempa
dan/atau angin, dan perhitungan strukturnya mengikuti pedoman dan standar
teknis yang berlaku.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

11

BAB III
PERSYARATAN TEKNIS
PRASARANA RUANG PERAWATAN INTENSIF
RUMAH SAKIT

A.

B.

UMUM
(1)

Setiap prasarana bangunan Ruang Perawatan Intensif merupakan pekerjaan


instalasi dan jaringan yang menyatu dengan bangunan dan lingkungannya, sebagian
atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang bertujuan
memfungsikan sarana bangunan sebagai tempat perawatan pasien dalam kondisi
kritis/belum stabil yang memerlukan pemantauan khusus dan terus menerus
(intensif).

(2)

Fungsi prasarana bangunan Ruang Perawatan Intensif dikualifikasikan berdasarkan


tingkat privasi, tingkat sterilitas serta tingkat aksesibilitas.

PERSYARATAN PRASARANA YANG MENUNJANG FAKTOR KESELAMATAN.


Pelayanan pada bangunan Ruang Perawatan Intensif, termasuk daerah pelayanan kritis,
sesuai SNI 03 7011 2004, Keselamatan pada bangunan fasilitas kesehatan.
a.

b.

12

Sistem proteksi petir.


(1)

Bangunan Ruang Perawatan Intensif yang berdasarkan letak, sifat geografis,


bentuk, ketinggian dan penggunaannya berisiko terkena sambaran petir, harus
dilengkapi dengan instalasi proteksi petir.

(2)

Sistem proteksi petir yang dirancang dan dipasang harus dapat mengurangi
secara nyata risiko kerusakan yang disebabkan sambaran petir terhadap
bangunan Ruang Perawatan Intensif dan peralatan yang diproteksinya, serta
melindungi manusia di dalamnya.

(3)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan,


pemeliharaan instalasi sistem proteksi petir mengikuti SNI 03 7015 2004,
atau edisi terakhir, Sistem proteksi petir pada bangunan gedung, atau
pedoman dan standar teknis lain yang berlaku.

Sistem proteksi Kebakaran.


(1)

Bangunan Ruang Perawatan Intensif, harus dilindungi terhadap bahaya


kebakaran dengan sistem proteksi pasif dan proteksi aktif.

(2)

Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi risiko


kebakaran, geometri ruang, bahan bangunan terpasang, dan/ atau jumlah dan
kondisi penghuni dalam bangunan Ruang Perawatan Intensif.

(3)

Penerapan sistem proteksi aktif didasarkan pada fungsi, klasifikasi, luas,


ketinggian, volume bangunan, dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam
bangunan Ruang Perawatan Intensif.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

c.

(4)

Bilamana terjadi kebakaran di Ruang Perawatan Intensif, peralatan yang


terbakar harus segera disingkirkan dari sekitar sumber oksigen atau outlet pipa
yang dimasukkan ke Ruang Perawatan Intensif untuk mencegah terjadinya
ledakan.

(5)

Api harus dipadamkan di Ruang Perawatan Intensif, jika dimungkinkan, dan


pasien harus segera dipindahkan dari tempat berbahaya. Peralatan pemadam
kebakaran harus dipasang diseluruh rumah sakit. Semua petugas harus tahu
peraturan tentang cara-cara proteksi kebakaran. Mereka harus tahu persis tata
letak kotak alarm kebakaran dan tahu menggunakan alat pemadam kebakaran.

(6)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan


pemeliharaan sistem proteksi pasif dan proteksi aktif mengikuti pedoman dan
standar teknis lain yang berlaku.

Sistem kelistrikan.
1)

Sumber daya listrik.


Sumber daya listrik pada bangunan Ruang Perawatan Intensif, termasuk
katagori sistem kelistrikan esensial 3, di mana sumber daya listrik
normal (PLN) dilengkapi dengan sumber daya listrik siaga dan darurat
untuk menggantikannya, bila terjadi gangguan pada sumber daya listrik normal.

2)

Jaringan.
(1) Kabel listrik dari peralatan yang dipasang di langit-langit tetapi yang bisa
digerakkan, harus dilindungi terhadap belokan yang berulang-ulang
sepanjang track, untuk mencegah terjadinya retakan-retakan dan
kerusakan-kerusakan pada kabel.
(2) Kolom yang bisa diperpanjang dengan ditarik, menghindari bahayabahaya tersebut.
(3) Sambungan listrik pada kotak kontak harus diperoleh dari sirkit-sirkit yang
terpisah. Ini menghindari akibat dari terputusnya arus karena bekerjanya
pengaman lebur atau suatu sirkit yang gagal yang menyebabkan
terputusnya semua arus listrik pada saat kritis.

3)

Terminal.
(1) Kotak Kontak (stop kontak)
(a)

Setiap kotak kontak daya harus menyediakan sedikitnya satu kutub


pembumian terpisah yang mampu menjaga resistans yang rendah
dengan kontak tusuk pasangannya.

(b)

Karena gas-gas yang mudah terbakar dan uap-uap lebih berat dari
udara dan akan menyelimuti permukaan lantai bila dibuka, Kotak
kontak listrik harus dipasang + 1,25 m di atas permukaan lantai, dan
harus dari jenis tahan ledakan.

(c)

Jumlah kotak kontak untuk setiap tempat tidur di daerah pelayanan


kritis, minimal 6 buah khusus untuk peralatan medik yang
membutuhkan daya listrik besar (diluar ventilator, suction, monitor)
misalnya Syringe pump.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

13

(2) Sakelar.
Sakelar yang dipasang dalam sirkit pencahayaan harus memenuhi SNI 04
0225 2000, Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000), atau
pedoman dan standar teknis yang berlaku.
4)

Pembumian.
Kabel yang menyentuh lantai, dapat membahayakan petugas. Sistem harus
memastikan bahwa tidak ada bagian peralatan yang dibumikan melalui
tahanan yang lebih tinggi dari pada bagian lain peralatan yang disebut dengan
sistem penyamaan potensial pembumian (Equal potential grounding system).
Sistem ini memastikan bahwa hubung singkat ke bumi tidak melalui pasien.

5)

Peringatan.
Semua petugas harus menyadari bahwa kesalahan dalam pemakaian listrik
membawa akibat bahaya sengatan listrik, padamnya tenaga listrik, dan bahaya
kebakaran. Kesalahan dalam instalasi listrik bisa menyebabkan arus hubung
singkat, tersengatnya pasien, atau petugas.
Bahaya ini dapat dicegah dengan :

6)

d.

(a)

Memakai peralatan listrik yang dibuat khusus untuk bangunan Ruang


Perawatan Intensif. Peralatan harus mempunyai kabel yang cukup
panjang dan harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk menghindari
beban lebih.

(b)

Peralatan jinjing (portabel), harus segera diuji dan dilengkapi dengan


sistem pembumian yang benar sebelum digunakan.

(c)

Segera menghentikan pemakaian dan melaporkan apabila ada peralatan


listrik yang tidak benar.

Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem kelistrikan pada bangunan Ruang


Perawatan Intensif mengikuti Permenkes 2306/Menkes/per/XI/2011 tentang
Persyaratan Teknis Prasarana Instalasi Elektrikal RS.

Sistem gas medik dan vakum medik.


Sistem gas medik harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan
tingkat keselamatan bagi penggunanya. Ketentuan mengenai sistem gas medik dan
vakum medik di RS Pratama mengikuti Pedoman Teknis Instalasi Gas Medik dan
Vakum Medik di RS yang disusun oleh Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik
dan Sarana Kesehatan, Direktorat Jendeal Bina Upaya Kesehan, Kenterian
Kesehatan RI, Tahun 2011.
1)

14

Outlet dan inlet.


(a)

Outlet dan inlet untuk gas medik atau vakum harus untuk jenis gas
tertentu, yaitu outlet dan inlet dengan sambungan ulir atau kopel cepat
yang tidak dapat dipertukarkan.

(b)

Setiap outlet harus terdiri dari satu katup primer dan sekunder.

(c)

Setiap inlet, hanya terdiri dari satu katup primer.

(d)

Katup sekunder (atau katup unit) harus menutup secara otomatik untuk
menghentikan aliran gas medik bila katup primer dilepaskan.

(e)

Katup primer (atau katup unit) harus menutup secara otomatik untuk
menghasilkan aliran vakum bila katup primer (atau katup unit) dilepaskan.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

2)

3)

(f)

Setiap outlet/inlet harus diberi identitas yang mudah dibaca dengan nama
atau simbol kimia untuk gas medik atau vakum tertentu yang
disediakannya.

(g)

Setiap Outlet dan inlet berulir harus dari jenis sambungan yang tidak
dapat dipertukarkan, sesuai ketentuan yang berlaku.

(h)

Setiap outlet/inlet, termasuk yang dipasang pada kolom, gulungan selang


(wall mounted), saluran langit-langit (ceiling mounted), atau instalasi
khusus lainnya, harus dirancang sedemikian sehingga bagian atau
komponen yang dipersyaratkan untuk jenis gas tertentu tidak dapat
dipertukarkan antara outlet/inlet untuk jenis gas yang berbeda.

(i)

Penggunaan komponen sebagai bagian dari outlet/inlet, seperti pegas,


ring cincin, baut pengencang, penyekat, dan sumbat penutup
diperbolehkan.

(j)

Komponen inlet vakum yang diperlukan untuk pemeliharaan dan


kekhususan vakum, harus diberi tanda yang mudah dibaca untuk
mengidentifikasinya sebagai suatu komponen atau bagian dari sistem
vakum atau sistem pengisapan.

(k)

Komponen inlet yang tidak khusus untuk vakum tidak harus ditandai.

(l)

Bila terpasang banyak outlet/inlet pada dinding, outlet/inlet tersebut harus


diberi jarak untuk mengijinkan penggunaan secara serempak berbagai
jenis peralatan terapi.

Rel gas medik (RGM).


(a)

RGM boleh dipasang bila diperkirakan dan diperlukan ada banyak


pemakaian gas medik dan vakum pada satu lokasi pasien.

(b)

RGM harus sepenuhnya terlihat dalam ruangan, tidak menembus atau


melewati dinding, partisi, dan sejenisnya.

(c)

RGM harus dibuat dari bahan dengan temperatur leleh sekurangnya


5380C (10000F).

(d)

RGM harus selalu dibersihkan.

(e)

Outlet/inlet tidak boleh ditempatkan pada ujung-ujung RGM.

(f)

RGM harus dihubungkan ke pipa saluran melalui fiting yang dipatri ke


pipa saluran tersebut.

Pemipaan gas medik.


Bahan pipa untuk sistem gas medik bertekanan positip di lokasi :
(a)

Pipa, katup, fiting, outlet, dan komponen pemipaan lainnya dalam sistem
gas medik harus telah dibersihkan untuk layanan oksigen oleh pabrik
pembuat sebelum dilakukan pemasangan sesuai ketentuan yang
berlaku.

(b)

Masing-masing panjang pipa harus diangkut dengan ujung-ujungnya


ditutup atau disumbat oleh pabrik pembuat dan tetap tersegel hingga
siap untuk pemasangan.

(c)

Fiting, katup, dan komponen lainnya harus diangkut dalam keadaan


tersegel, diberi label, dan tetap tersegel hingga disiapkan untuk
pemasangan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

15

(d)

Pipa harus dari jenis hard-drawn seamless copper, SNI 03-7011 tahun
2004 atau pipa yang setara untuk medical gas.
Pipa gas medik dari tipe L, kecuali jika tekanan kerja di atas tekanan
relatif 1275 kPa (185 psig), maka jenis K harus digunakan untuk ukuran
yang lebih besar dari DN 80 (NPS 3) (diameter luar = 3 18 inci)

(e)

Pipa gas medik yang memenuhi syarat harus diidentifikasikan oleh


pabrik pembuat dengan tanda OXY, MED, OXY/MED, OXY/ARC
atau ARC/MED dengan warna biru (tipe L) atau hijau (tipe K).

(f)

Pemasang harus menyerahkan dokumen yang resmi menyatakan


bahwa semua bahan pipa yang terpasang memenuhi persyaratan.

Bahan pipa untuk sistem vakum medik yang dipasang di lokasi :


Pipa vakum harus dari jenis hard-drawn seamless copper, ASTM B 819, tipe
K, L dan M.
4)

5)

Fiting.
(a)

Belokan, pergeseran atau perubahan arah lainnya pada pemipaan gas


medik dan vakum harus dibuat dengan fiting kapiler tembaga tempa
dipatri, yang memenuhi ANSInB16.22 Wrought copper and Copper alloy
patri-Joint fitting atau fiting patri yang memenuhi MSS SP-73 Brazed
Joints for Wrought and Cast Copper Alloy Patri-Joint pressure fittings.

(b)

Fiting paduan tembaga tuang tidak boleh digunakan.

(c)

Hubungan pencabangan pada sistem pemipaan boleh dilakukan dengan


menggunakan sambungan Tee yang dibuat secara mekanik, di bor, dan
dikempa (extruded) yang dibentuk sesuai dengan instruksi pabrik
pembuat peralatan, dan di patri.

Penamaan dan identifikasi.


Penamaan dan identifikasi gas medik dan vakum ditunjukkan pada tabel-1.

Tabel- 1
Standar penandaan warna dan tekanan kerja untuk sistem gas medik dan vakum
(Sumber: Pedoman Instalasi Gas Medis Rumah Sakit, DEPKES-RI, Ditjen Yanmed, Dit. Instalmed, 1994)

Layanan gas
Udara tekan medik
Karbon dioksida
Nitrogen
Nitrous Oksida
Oksigen
Oksigen/campuran
karbon dioksida
Vakum medik/
Suction
Buangan Sisa Gas
Anestesi

16

Singkatan
nama
Udara tekan
medik
CO2
N2
N2O
O2
O2/CO2n% ( n
adalah % dari
CO2)
Med Vac
BSGA

Warna tabung
Hijau
Hitam
Abu-abu
Biru
Putih
Hijau/putih

Kuning
Violet (warna
lembayung)/putih.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Standar ukuran
tekanan
345 ~ 380 kPa
(50~55 psi)
345 ~ 380 kPa
(50~55 psi)
1100 ~ 1275 kPa
(160 ~ 185 psi).
345 ~ 380 kPa
(50~55 psi)
345 ~ 380 kPa
(50~55 psi)
345 ~ 380 kPa
(50~55 psi)
380 mm sampai
760 mm ( 15 in
sampai 30 in) HgV.
Bervariasi sesuai
tipe sistem.

(a)

Pemipaan harus dinamai dengan menggunakan penandaan yang


dicetakkan atau penandaan yang ditempelkan guna menunjukkan sistem
gas medik atau vakum.

(b)

Label pipa harus menunjukkan nama gas/sistem vakum atau simbol


kimia.

(c)

Label pipa harus ditempatkan pada lokasi seperti berikut :


(1) Pada interval jarak tidak lebih dari 6 m (20 ft).
(2) Setidaknya sekali dalam atau di atas setiap ruangan.
(3) Pada kedua sisi dinding atau partisi yang ditembus pipa.
(4) Setidaknya sekali dalam setiap tingkat ketinggian yang dilewati oleh
pipa tegak (riser).

6)

7)

Penerapan.
(a)

Bila terdapat istilah gas medik atau vakum, ketentuan tersebut berlaku
wajib bagi semua sistem perpipaan untuk oksigen, udara tekan medik
dan vakum medik.

(b)

Suatu sistem yang sudah ada yang tidak sepenuhnya memenuhi


ketentuan standar ini, harus boleh tetap digunakan sepanjang pihak
yang
berwenang
telah
memastikan
penggunaannya
tidak
membahayakan jiwa.

Potensi bahaya sistem gas dan vakum.


Potensi bahaya kebakaran dan ledakan yang berkaitan dengan sistem
perpipaan sentral gas medik dan vakum harus dipertimbangkan dalam
perancangan, pemasangan, pengujian, pengoperasian dan pemeliharaan
sistem ini.

8)

C.

Identifikasi dan pelabelan sistem pasokan terpusat (sentral).


(a)

Silinder dan kontainer yang boleh digunakan hanya yang telah dibuat,
diuji dan dipelihara sesuai spesifikasi dan ketentuan dari pihak
berwenang.

(b)

Isi silinder harus diidentifikasi dengan suatu label atau cetakan yang
ditempel, menyebut isi tabung sesuai ketentuan yang berlaku.

(c)

Label tidak boleh dirusak, diubah atau dilepas, dan fiting penyambung
tidak boleh dimodifikasi.

PERSYARATAN PRASARANA YANG MENUNJANG FAKTOR KESEHATAN


LINGKUNGAN.
1.

Sistem ventilasi.
(a) Untuk memenuhi persyaratan sistem ventilasi, bangunan Ruang Perawatan
Intensif harus mempunyai ventilasi alami dan/atau ventilasi mekanik/ buatan
sesuai dengan fungsinya dan tingkat kontaminasi oleh lingkungan sekitar
bangunan Ruang Perawatan Intensif.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

17

(b) Ventilasi mekanik/buatan harus disediakan jika ventilasi alami tidak dapat
memenuhi syarat. Misalkan tingkat kontaminasi oleh lingkungan sekitar
bangunan Ruang Perawatan Intensif tinggi, jarak antar bangunan tidak
memungkinkan udara bersih untuk masuk.
(c)

Bila memakai sistem ventilasi mekanik/buatan maka instalasinya harus


dilakukan pembersihan/penggantian filter secara berkala untuk mengurangi
kandungan debu dan bakteri/kuman.

(d) Penerapan sistem ventilasi harus dilakukan dengan mempertimbangkan


prinsip-prinsip penghematan energi dalam bangunan Ruang Perawatan
Intensif.
(e) Ventilasi di daerah pelayanan kritis pasien harus pasti merupakan ventilasi
tersaring dan terkontrol. Pertukaran udara dan sirkulasi memberikan udara
segar dan mencegah pengumpulan gas-gas anestesi dalam ruangan.
(f)

Minimal enam kali pertukaran udara per jam di bangunan Ruang Perawatan
Intensif yang disarankan.

(g) Sistem ventilasi dalam Ruang Perawatan Intensif harus terpisah dari sistem
ventilasi lain di rumah sakit.
(h) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan
pemeliharaan sistem ventilasi alami dan mekanik/buatan pada bangunan
Ruang Perawatan Intensif mengikuti SNI 03 6572 2001, Tata cara
perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan
gedung, atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku.
2.

Sistem pencahayaan.
(a) Bangunan Ruang Perawatan Intensif harus mempunyai pencahayaan alami
dan/atau pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan
fungsinya.
(b) Pencahayaan alami harus optimal, disesuaikan dengan fungsi bangunan dan
fungsi masing-masing ruang di dalam bangunan Ruang Perawatan Intensif.
(c)

Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang


dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam bangunan Ruang Perawatan
Intensif dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi, dan
penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan.

(d) Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan darurat harus


dipasang pada bangunan Ruang Perawatan Intensif dengan fungsi tertentu,
serta dapat bekerja secara otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan
yang cukup untuk evakuasi yang aman.
(e) Semua sistem pecahayaan buatan, kecuali yang diperlukan untuk
pencahayaan darurat, harus dilengkapi dengan pengendali manual, dan/atau
otomatis, serta ditempatkan pada tempat yang mudah dibaca dan dicapai,
oleh pengguna ruang.
(f)

Pencahayaan umum disediakan dengan lampu yang dipasang di langit-langit.

(g) Pencahayaan ruangan dapat menggunakan lampu fluorescent, penggunaan


lampu-lampu recessed disarankan karena tidak mengumpulkan debu.
(h) Pencahayaan harus didistribusikan rata dalam ruangan.

18

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Tabel-2
Tingkat pencahayaan rata-rata, renderasi dan temperatur warna yang direkomendasikan.
Temperatur warna
Cool
Warm
white
white
3300 K
<3300
~ 5300
K
K

Fungsi ruangan

Tingkat
pencahaya
an (lux)

Kelomp
ok
rendera
si warna

Ruang rawat pasien.

250

1 atau 2

Ruang istirahat
Dokter dan perawat

250

Ruang administrasi

350

1 atau 2

Ruang Sterilisasi

250

1 atau 2

Gudang

150

1 atau 2

Pantri

200

Toilet

250

1 atau 2

Ruang pertemuan

250

1 atau 2

Ruang tunggu

200

Spoelhok

250

1 atau 2

Dayli
ght
>530
0K

X
X

Ruang ganti pakaian


X

Tabel-3
Daya listrik maksimum untuk pencahayaan
Lokasi

Daya pencahayaan maksimum


(W/m2) (termasuk rugi-rugi balast)

Daerah rawat pasien

15

Daerah penunjang

15

(i)

Penggunaan lampu yang mempunyai efikasi lebih tinggi dan menghindari


pemakaian lampu dengan efikasi rendah. Disarankan menggunakan lampu
fluoresent dan lampu pelepas gas lainnya.

(j)

Pemilihan armature/fixture yang mempunyai karakteristik distribusi


pencahayaan sesuai dengan penggunaannya, mempunyai efisiensi yang
tinggi dan tidak mengakibatkan silau atau refleksi yang mengganggu.

(k) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan
pemeliharaan sistem pencahayaan pada bangunan Ruang Perawatan Intensif
mengikuti pedoman dan standar teknis lain yang berlaku.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

19

3.

Sistem Sanitasi.
Untuk memenuhi persyaratan sistem sanitasi, setiap bangunan Ruang Perawatan
Intensif harus dilengkapi dengan sistem air bersih, sistem pembuangan air kotor
dan/atau air limbah, kotoran dan sampah, serta penyaluran air hujan.
a.

b.

c.

Sistem air bersih.


(1)

Sistem air bersih harus direncanakan dan dipasang dengan


mempertimbangkan sumber air bersih dan sistem distribusi air rumah
sakit.

(2)

Perencanaan sistem distribusi air bersih dalam bangunan Ruang


Perawatan Intensif harus memenuhi debit air dan tekanan minimal yang
disyaratkan.

(3)

Penjelasan lebih lanjut mengenai sistem perpipaan air bersih rumah


sakit dapat dilihat pada Pedoman Sarana Dan Prasarana Rumah Sakit
Kelas C Tahun 2009, Pedoman Fasilitas Rumah Sakit Kelas B Tahun
2010.

Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah.


(1)

Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah dialirkan ke Instalasi


pengolahan Air Limbah (IPAL).

(2)

Penjelasan lebih lanjut mengenai sistem pembuangan air kotor / air


limbah rumah sakit dapat dilihat pada Pedoman Sarana Dan Prasarana
Rumah Sakit Kelas C Tahun 2009, Pedoman Fasilitas Rumah Sakit
Kelas B Tahun 2010.

Sistem pembuangan limbah padat medis dan non medis.


(1)

d.

Sistem pembuangan limbah padat medis dan non medis harus terpisah
pewadahannya dan tertutup sesuai jenis limbahnya mengacu pada
Keputusan Menteri Kesehatan No. 1204 /MENKES/SK/X/ Tahun 2004
tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.

Sistem penyaluran air hujan.


(1) Sistempenyaluranairhujanpadabangunandidaerahresapanairhujanharus
diserapkankedalamtanahpekarangandan/ataudialirkankesumurresapan.
Untukdaerahyangbukandaerahresapanmakaairhujandialirkankejaringan
drainaselingkungan/kotasesuaidenganketentuanyangberlaku.
(2) Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat
diterima, maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang
dibenarkanolehinstansiyangberwenang.
(3) Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya
endapandanpenyumbatanpadasaluran.

20

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

D.

PERSYARATAN PRASARANA YANG MENUNJANG FAKTOR KENYAMANAN.


1.

Sistem pengkondisian udara.


(a) Sistem pengkondisian udara harus mempertimbangkan :
(1)

fungsi ruang, jumlah pengguna, letak, volume ruang, jenis peralatan, dan
penggunaan bahan bangunan.

(2)

kemudahan pemeliharaan dan perawatan, dan

(3)

prinsip-prinsip penghematan energi dan kelestarian lingkungan.

(b) Kelembaban relatif yang dianjurkan adalah 60%, untuk lokasi anestesi yang
mudah terbakar tidak kurang dari 50%.
(c) Temperatur ruangan dipertahankan sekitar 680F sampai 800F (220C sampai
260C) di buku hijau.
(d) Meskipun sudah dilengkapi dengan kontrol kelembaban dan temperatur, unit
pengkondisian udara bisa menjadi sumber mikro-organisme yang datang
melalui filter-filternya. Filter-filter ini harus dibersihkan dan/atau diganti secara
berkala.
(e) Saluran udara (ducting) harus dibersihkan secara teratur.
(f)

2.

Penjelasan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan


pemeliharaan kenyamanan kondisi udara pada bangunan Ruang Perawatan
Intensif mengikuti SNI 03 6572 2001, atau edisi terakhir, Tata cara
perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan
gedung, atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku.

Kebisingan
(a) Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan
Ruang Perawatan Intensif, pengelola bangunan Ruang Perawatan Intensif
harus mempertimbangkan jenis kegiatan, penggunaan peralatan, dan/atau
sumber bising lainnya baik yang berada pada bangunan Ruang Perawatan
Intensif maupun di luar bangunan Ruang Perawatan Intensif.
(b) Penjelasan lebih lanjut mengenai tingkat kenyamanan terhadap kebisingan
pada bangunan rumah sakit dapat dilihat pada Pedoman Sarana Dan
Prasarana Rumah Sakit Kelas C Tahun 2009, Pedoman Fasilitas Rumah Sakit
Kelas B Tahun 2010.

3.

Getaran.
(a) Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap getaran pada bangunan
Ruang Perawatan Intensif, pengelola bangunan Ruang Perawatan Intensif
harus mempertimbangkan jenis kegiatan, penggunaan peralatan, dan/atau
sumber getar lainnya baik yang berada pada bangunan Ruang Perawatan
Intensif maupun di luar bangunan Ruang Perawatan Intensif.
(b) Penjelasan lebih lanjut mengenai tingkat kenyamanan terhadap getaran pada
bangunan rumah sakit dapat dilihat pada Pedoman Sarana Dan Prasarana
Rumah Sakit Kelas C Tahun 2009, Pedoman Fasilitas Rumah Sakit Kelas B
Tahun 2010.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

21

E.

PERSYARATAN PRASARANA YANG MENUNJANG FAKTOR KEMUDAHAN.


1.

Kemudahan hubungan horizontal.


(a) Arah bukaan daun pintu ke daerah rawat pasien dianjurkan mengarah ke luar
agar memudahkan evakuasi pasien pada saat terjadi bencana internal dalam
RS (Aspek keselamatan).
(b) Ukuran koridor sebagai akses horizontal antar ruang dipertimbangkan
berdasarkan fungsi koridor, fungsi ruang dan jumlah pengguna.
(c)

2.

Penjelasan lebih lanjut mengenai kemudahan hubungan horisontal dapat dilihat


pada Pedoman Sarana Dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C Tahun 2009,
Pedoman Fasilitas Rumah Sakit Kelas B Tahun 2010

Kemudahan hubungan vertikal.


(a) Apabila akses menuju Ruang Perawatan Intensif dengan lift, maka disarankan
disediakan lift terpisah antara pasien dan umum
(b) Penjelasan lebih lanjut mengenai kemudahan hubungan vertikal dapat dilihat
pada Pedoman Sarana Dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C Tahun 2009,
Pedoman Fasilitas Rumah Sakit Kelas B Tahun 2010.

3.

Sarana evakuasi.
(a) Penjelasan mengenai sarana evakuasi dapat dilihat pada Pedoman Sarana
Dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C Tahun 2009, Pedoman Fasilitas Rumah
Sakit Kelas B Tahun 2010.

4.

Aksesibilitas.
(a) Penjelasan mengenai aksesibilitas bagi penyandang cacat dapat dilihat pada
Pedoman Sarana Dan Prasarana Rumah Sakit Kelas C Tahun 2009, Pedoman
Fasilitas Rumah Sakit Kelas B Tahun 2010.

22

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB IV
PENUTUP
(1)

Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Bangunan Instalasi ICU ini diharapkan dapat
digunakan sebagai rujukan oleh pengelola bangunan rumah sakit, penyedia jasa konstruksi,
instansi Dinas Kesehatan, Pemerintah Daerah, dan instansi terkait dengan kegiatan
pengaturan dan pengendalian penyelenggaraan pembangunan bangunan rumah sakit dalam
pencegahan dan penanggulangan dan guna menjamin keamanan dan keselamatan
bangunan rumah sakit dan lingkungan terhadap bahaya penyakit.

(2)

Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau bersifat alternatif serta penyesuaian
Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Bangunan Instalasi ICU pada bangunan rumah
sakit oleh masing-masing daerah disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan kelembagaan di
daerah.

(3)

Sebagai pedoman/petunjuk pelengkap dapat digunakan pedoman dan standar teknis terkait
lainnya.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

23

LAMPIRAN 1
CONTOH MODEL DENAH RUANG ICU

24


| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

25

26


| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

LAMPIRAN 2
Matriks Kebutuhan Ruang, Fungsi, Besaran Ruang dan Peralatan
Dalam Bangunan ICU
Besaran
No.

Nama Ruangan

Fungsi

Ruang /

Kebutuhan Alat

Luas (+)
Daerah rawat Pasien
ICU.
(a) Ruang untuk tempat
tidur pasien

(b) Ruang isolasi pasien

Ruang tempat tidur berfungsi


untuk merawat pasien lebih dari 24
jam, dalam keadaan yang
membutuhkan pemantauan khusus
dan terus menerus.
Kamar yang mempunyai
kekhususan teknis sebagai ruang
perawatan intensif yang memiliki
batas fisik modular per pasien,
dinding serta bukaan pintu dan
jendela dengan ruangan ICU
lainnya.

Peralatan ICU di RS Kelas C terdiri


dari :
12 - 16 m2 /tt

16 20 m2 /tt

Ventilator sederhana; 1 set alat


resusitasi;
alat/sistem
pemberian
oksigen (nasal canule; simple face
mask; nonrebreathing face mask); 1 set
laringoskop dengan berbagai ukuran
bilahnya;
berbagai
ukuran
pipa
endotrakeal dan konektor; berbagai
ukuran orofaring, pipa nasofaring,
sungkup laring dan alat bantu jalan
nafas
lainnya;
berbagai
ukuran
introduser untuk pipa endotrakeal dan
bougies;
syringe
untuk
mengembangkan balon endotrakeal dan
klem; forsep magill; beberapa ukuran
plester/pita perekat medik; gunting;
suction yang setara dengan ruang
operasi; tournique untuk pemasangan
akses vena; peralatan infus intravena
dengan
berbagai
ukuran
kanul
intravena dan berbagai macam cairan
infus yang sesuai; pompa infus dan
pompa syringe; alat pemantauan untuk
tekanan
darah
non-invasive,
elektrokardiografi reader, oksimeter
nadi, kapnografi, temperatur; alat
kateterisasi
vena
sentral
dan
manometernya, defebrilator monovasik;
tempat tidur khusus ICU; bedside
monitor; peralatan drainase thoraks,
peralatan portable untuk transportasi;
lampu tindakan; unit/alat foto rontgen
mobile.
Peralatan ICU di RS Kelas B terdiri
dari :
Peralatan seperti di RS kelas
ditambah dengan sebagai berikut :

Elektrokardiograf monitor; defibrilator


bivasik; sterilisator; anastesi apparatus;
oxygen
tent;
sphigmomanometer;
central gas; central suction; suction
thorax; mobile X-Ray unit; heart rate
monitor; respiration monitor, blood
pressure monitor; temperatur monitor;
haemodialisis unit; blood gas analyzer;
Electrolite analyzer.
Pos Sentral Perawat/
stasi perawat/ nurse

Ruang
untuk
melakukan
perencanaan,
pengorganisasian,
asuhan
dan
pelayanan
keperawatan selama 24 jam (pre
dan post conference, pengaturan
jadwal), dokumentasi s/d evaluasi
pasien. Pos perawat harus terletak
di pusat blok yang dilayani agar
perawat dpt mengawasi pasiennya
secara efektif.
Ruang Dokter terdiri dari 2 bagian :

R. Dokter Jaga

1. Ruang kerja.
2. Ruang istirahat/ kamar jaga.

Ruang Istirahat Petugas

Ruang istirahat petugas medik.

station.
2

8 - 16 m2 (dengan
memperhatikan
sirkulasi tempat
tidur pasien
didepannya)

8 - 16 m2

2.5 m2/ petugas

Kursi, meja, lemari obat, lemari barang


habis pakai.

Sofa, lemari, meja/kursi,


dilengkapi toilet

wastafel,

Sofa, lemari, meja/kursi

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

27

Pantri

Ruang penyimpanan alat


medik

Ruang penyimpanan alat medik


yang setiap saat diperlukan.
Peralatan yang disimpan diruangan
ini harus dalam kondisi siap pakai
dan dalam kondisi yang sudah
disterilisasi.

9 - 25 m2

Ruang utilitas bersih

untuk menyimpan obat-obatan,


semua barang-barang yang bersih
dan steril, dan boleh juga
digunakan untuk menyimpan linen
bersih, juga untuk menyimpan
instrumen dan bahan perbekalan
yang diperlukan, termasuk untuk
barang-barang steril.

Tergantung
kebutuhan

Ruang utilitas kotor

Fasilitas untuk membuang kotoran


bekas pelayanan pasien khususnya
yang berupa cairan. Spoolhoek
berupa bak atau kloset yang
dilengkapi dengan leher angsa
(water seal).

6 - 16 m2

Ruang Kepala ICU

Ruang kerja dan istirahat kepala


perawat.

6 - 12 m2

Sofa, lemari, meja/kursi

10

Ruang Administrasi

Ruang untuk menyelenggarakan


kegiatan administrasi khususnya
pelayanan pendaftaran dan rekam
medik internal pasien di instalasi
ICU. Ruang ini berada pada bagian
depan
instalasi
ICU
dengan
dilengkapi loket atau Counter.

Min. 2 m2/
petugas

Meja kerja, lemari


telepon/interkom.

11

Parkir Troli

Tempat parkir troli selama tidak


ada kegiatan pembedahan atau
selama tidak diperlukan.

12

Ruang ganti pakaian


(termasuk
didalamnya
Loker)

Tempat ganti pakaian, meletakkan


sepatu/alas kaki sebelum masuk
daerah rawat pasien dan
sebaliknya setelah keluar dari
daerah rawat pasien, yang
diperuntukan bagi staf medis
maupun non medis dan
pengunjung, dipisah antara pria
dan wanita

4 - 16 m2/ ruang
ganti
(tergantung
kebutuhan)

Lemari loker, kontainer


pelindung bekas pakai

13

Ruang Diskusi Medis

Ruang tempat diskusi medis,


pendidikan dan pembahasan kasus
multi disiplin.

Min. 1.5 m2/ org


(misal. Kapasitas
10 org maka
butuh luas 15m2)

Lemari/Rak penyimpanan bahan-bahan


bacaan medik dan perawatan, VCR, dan
peralatan belajar, meja, kursi, komputer,
LCD, dll

14

Ruang tunggu keluarga


pasien.

Tempat
keluarga/
pasien menunggu.

Min. 5 m2/ pasien

Tempat duduk, televisi & Telp umum


(bila RS mampu),

15

Janitor/ Ruang cleaning


service

Ruangan tempat penyimpanan


barang-barang/bahan-bahan dan
peralatan
untuk
keperluan
kebersihan ruangan, tetapi bukan
peralatan medik.

16

Toilet
pengunjung)

KM/WC

17

R. Penyimpanan Silinder
Gas Medik

28


Meja untuk menyiapkan makanan,


freezer, bak cuci dengan kran air dingin
dan air panas, microwave dan atau
kompor, dan lemari pendingin.

Daerah untuk menyiapkan


makanan dan minuman untuk pe

(petugas,

pengantar

R. Tempat menyimpan tabungtabung gas medis cadangan.

Tergantung
kebutuhan

2 - 6 m2

4 - 6 m2

Respirator/ventilator, alat HD, Mobile XRay, dan lain lain.

Lemari/kabinet/ rak

Kloset leher angsa, keran air bersih


(Sink)

dan

troli

Lemari/rak

@ KM/WC
pria/wanita luas 2
m2 3m2
4 8 m2

berkas/arsip

Gas Medis

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

untuk

baju

LAMPIRAN 7
CONTOH RUANG PERAWATAN INTENSIF DAN PERALATANNYA

Gambar L5A
Peralatan di ruang rawat pasien ICU,
menggunakan ceiling pendant

Gambar L5B
Peralatan di ruang rawat pasien ICU
menggunakan bedhead

Gambar L5C
Contoh Model Peralatan di ruang ICU Neonatal menggunakan bedhead

Gambar L1 Contoh Model Ruang Rawat Pasien ICU dengan ceiling pendant

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

29

DAFTAR PUSTAKA
1.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

2.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

3.

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/Menkes/SK/XII/2004 tentang Persyaratan


Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.

4.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 36 Tahun 2005, tentang Peraturan


Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung.

5.

Joanna R. Fuller, Surgical Technology, Principles and Practice, Saunders.

6.

American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditionign Engineers, Handbook,


Applications, 1974 Edition, ASHRAE.

7.

American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditioning Engineers, HVAC Design
Manual for Hospitals and Clinics, 2003 edition, ASHRAE.

8.

30


G.D. Kunders, Hospitals, Facilities Planning and Management, Tata McGraw-Hill


Publishing Company Limited, 2004.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

PEDOMAN BANGUNAN RS :
RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT

DIREKTORAT BINA PELAYANAN PENUNJANG MEDIK DAN SARANA KESEHATAN


SUB DIREKTORAT BINA SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN
TAHUN 2012

KATA PENGANTAR
Bangunan ruang rawat inap di rumah sakit merupakan salah satu faktor yang sangat penting
dalam penyelenggaraan pelayanan medik di sarana pelayanan kesehatan, sehingga perlu
dilakukan pengelolaan bangunan instalasi rawat inap dengan baik dan terpadu.
Penyusunan buku Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit : Ruang Rawat Inap ini
merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan manajerial dan profesional pengelola
instalasi rawat inap di rumah sakit.
Dengan dibakukanya buku Pedoman Teknis ini, maka saat ini tersedia pedoman sebagai
bahan acuan pelaksanaan bagi mereka yang menyelenggarakan pengelolaan dan
perencanaan bangunan instalasi rawat inap di rumah sakit.
Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu diterbitkannya buku Pedoman Teknis
ini, kami ucapkan terima kasih.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

iii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi

iii
v

BAGIAN - I

1
1
2
2
2

Pendahuluan
1.1. Latar belakang
1.2. Maksud dan tujuan
1.3 Sasaran
1.4 Batasan dan pengertian

BAGIAN - II Kegiatan di instalasi rawat inap


2.1 Alur kegiatan
2.2. Alur Dokter, Perawat, Staf
2.3. Alur Pasien

5
5
6
6

BAGIAN - III Persyaratan teknis Sarana Bangunan Instalasi rawat inap


2.1 Lokasi
2.2 Denah
2.3. Lantai.
2.4. Langit-langit.
2.5 Pintu.
2.6 Kamar mandi.
2.7 Jendela.

7
7
7
9
9
9
9
10

BAGIAN - IV Persyaratan Teknis Prasarana Bangunan Instalasi rawat inap


4.1 Persyaratan keselamatan bangunan.
4.2 Persyaratan kesehatan bangunan.
4.3 Persyaratan kenyamanan.
4.4 Persyaratan kemudahan.

11
11
14
17
18

BAGIAN - V Penutup
Lampiran
Kepustakaan

21
22
26

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

BAB - I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang.
Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil kerja
keras dari sektor kesehatan, tetapi sangat dipengaruhi oleh hasil kerja keras serta
konstribusi positif dari berbagai sektor pembangunan lainnya.
Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 28
Bagian H, ayat (1) telah menegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan
kesehatan, kemudian dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan negara bertanggung jawab
atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan merupakan
bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung
penyelenggaraan upaya kesehatan. Pada hakekatnya rumah sakit berfungsi sebagai
tempat penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Fungsi dimaksud memiliki
makna tanggung jawab yang seyogyanya merupakan tanggung jawab pemerintah dalam
meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Untuk optimalisasi hasil serta kontribusi
positif tersebut, harus dapat diupayakan masuknya upaya kesehatan sebagai asas pokok
program pembangunan nasional.
Dalam Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 10 ayat (2)
menyebutkan, bangunan rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit
terdiri atas ruang: b. ruang rawat inap; Dalam Bagian Ketiga tentang Bangunan, pasal 9
butir (b) menyebutkan bahwa Persyaratan teknis bangunan Rumah Sakit, sesuai
dengan fungsi, kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian pelayanan serta
perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat,
anak-anak, dan orang usia lanjut.
Dalam rangka mendukung Undang-Undang No. 44 tersebut, maka harus disusun
pedoman teknis fasilitas ruang rawat inap rumah sakit yang memenuhi standar
pelayanan, keamanan, keselamatan, kemudahan dan kenyamanan. Ruang rawat inap
yang aman dan nyaman merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi proses
penyembuhan pasien, oleh karena itu dalam merancang ruang rawat inap harus
memenuhi persyaratan tertentu yang mendukung terciptanya ruang rawat inap yang
sehat, aman dan nyaman.
Perencanaan dan pengelolaan bangunan instalasi rawat inap rumah sakit pada dasarnya
adalah suatu upaya dalam menetapkan fasilitas fisik, tenaga dan peralatan yang
diperlukan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat sesuai dengan
kebutuhan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

1.2.

Maksud dan tujuan.


Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Bangunan Instalasi Rawat Inap ini bertujuan
untuk memberikan petunjuk agar dalam perencanaan dan pengelolaan suatu bangunan
instalasi rawat inap di rumah sakit memperhatikan kaidah-kaidah pelayanan kesehatan,
sehingga bagunan instalasi rawat inap yang akan dibuat dapat menampung kebutuhankebutuhan pelayanan dan dapat digunakan oleh pemakai, pengelola serta tidak berakibat
buruk bagi keduanya.

1.3

Sasaran.
Pedoman Teknis ini diharapkan dapat digunakan sebagai pegangan dan acuan bagi
Pengelola Rumah Sakit, Dinas Kesehatan dan perencana dan pengembang bangunan
rumah sakit sehingga masing-maing pihak dapat mempunyai persepsi yang sama.

1.4

Batasan dan pengertian.

1.4.1

Ruang pasien rawat inap.


Ruang untuk pasien yang memerlukan asuhan dan pelayanan keperawatan dan
pengobatan secara berkesinambungan lebih dari 24 jam.
Untuk tiap-tiap rumah sakit akan mempunyai ruang perawatan dengan nama sendirisendiri sesuai dengan tingkat pelayanan dan fasilitas yang diberikan oleh pihak rumah
sakit kepada pasiennya.

1.4.2

Ruang Pos Perawat.


Ruang untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian asuhan dan pelayanan
keperawatan (pre dan post conference, pengaturan jadwal), dokumentasi sampai dengan
evaluasi pasien.

1.4.3

Ruang Konsultasi.
Ruang untuk melakukan konsultasi oleh profesi kesehatan kepada pasien dan
keluarganya.

1.4.4

Ruang Tindakan.
Ruangan untuk melakukan tindakan pada pasien baik berupa tindakan invasive ringan
maupun non-invasive.

1.4.5

Ruang administrasi.
Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan pasien di
ruang rawat inap. Ruang ini berada pada bagian depan ruang rawat inap dengan
dilengkapi loket/counter, meja kerja, lemari berkas/arsip, dan telepon/interkom.
Kegiatan administrasi meliputi :

(a).

Pendataan pasien.

(b).

Penandatanganan surat pernyataan keluarga pasien (apabila diperlukan tindakan


bedah).

(c)

Rekam medis pasien.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

1.4.6

Ruang Dokter.
Ruang Dokter terdiri dari 2 ruangan, yaitu kamar kerja dan kamar istirahat/kamar jaga.
Pada kamar kerja harus dilengkapi dengan beberapa peralatan dan furnitur. Sedangkan
pada kamar istirahat hanya diperlukan sofa dan tempat tidur. Ruang Dokter dilengkapi
dengan bak cuci tangan (wastafel) dan toilet.

1.4.7

Ruang perawat.
Ruang untuk istirahat perawat/petugas lainnya setelah melaksanakan kegiatan pelayanan
pasien atau tugas jaga.
Ruang perawat harus diatur sedemikian rupa untuk mempermudah semua pihak yang
memerlukan pelayanan pasien sehingga apabila ada keadaan darurat dapat segera
diketahui untuk diambil tindakan terhadap pasien.

1.4.8

Ruang Loker.
Ruang ganti pakaian Dokter, perawat dan petugas rawat inap.

1.4.9

Ruang kepala rawat inap.


Ruang tempat kepala rawat inap melakukan manajemen asuhan dan pelayanan
keperawatan, diantaranya pembuatan program kerja dan pembinaan.

1.4.10

Ruang linen bersih.


Ruang untuk menyimpan bahan-bahan linen bersih yang akan digunakan di ruang rawat.

1.4.11

Ruang linen kotor.


Ruangan untuk menyimpan bahan-bahan linen kotor yang telah digunakan di ruang rawat
inap sebelum di bawa ke ruang cuci (laundri).

1.4.12

Spoolhoek.
Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khusnya yang berupa cairan.
Spoelhoek dala, bentuk bak atau kloset dengan leher angsa (water seal). Pada ruang
spoehoek juga harus disediakan kran air bersih untuk mencuci tempat cairan atau cuci
tangan. Ruang tempat spoelhoek ini harus menghadap keluar/berada di luar area rawat
inap ke arahj koridor kotor. Spoelhoek dihubungkan ke septic tank khusus atau jaringan
IPAL.

1.4.13

Kamar mandi/Toilet.
Fasilitas diatur sesuai kebutuhan, dan harus dijaga kebersihannya karena dengan kamar
mandi/toilet yang bersih citra rumah sakit khususnya ruang rawat inap akan baik. Terdiri
dari toilet pasien dan toilet staf.

1.4.14

Pantri.
Tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di ruang rawat
inap rumah sakit.

1.4.15

Ruang Janitor.
Ruang tempat menyimpan dan mencuci alat-alat pembersih ruangan rawat inap.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

1.4.16

Gudang bersih.
Gudang adalah ruangan tempat penyimpanan barang-barang/bahan-bahan dan peralatan
untuk keperluan ruang rawat inap.

1.4.17

Gudang kotor.
Gudang adalah ruangan tempat penyimpanan barang-barang/bahan-bahan bekas pakai.

1.4.18

Bangunan gedung.
adalah konstruksi bangunan yang diletakkan secara tetap dalam suatu lingkungan, di atas
tanah/perairan, ataupun di bawah tanah/perairan, tempat manusia melakukan
kegiatannya, baik untuk tempat tinggal, berusaha, maupun kegiatan sosial dan budaya.

1.4.19

Banguan instalasi di rumah sakit.


adalah gabungan/kumpulan dari ruang-ruang/kamar-kamar di unit rumah sakit yang saling
berhubungan dan terkait satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan pelayanan
kesehatan.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB II
KEGIATAN DI BANGUNAN RUANG RAWAT INAP
2.1

Alur kegiatan
Alur kegiatan di bangunan rawat inap seperti ditunjukkan pada gambar 2.1.
Kamar
Mayat

Laundri
Dokter

Perawat

Ruang Linen
Bersih

Ruang Ganti (Loker)

Meninggal
Dunia

Gudang
Bersih

Ruang
Dokter

Ruang
Perawat

Ruang
Konsultasi

Pos Perawat

Ruang
Linen
Kotor

Ruang Rawat Inap


Spoolhoek &
Gudang Kotor
Pasien
Pulang
Sehat

Ruang Tunggu
Pengantar

Ruang Administrasi &


Pendaftaran

INSTALASI RAWAT INAP

Instalasi
Gawat
Darurat

Instalasi
Bedah

Instalasi
Rawat
Jalan

Instalasi ICU

Pasien+Pengantar

Pasien+Pengantar

Pasien+Pengantar

Pasien+Pengantar

Gambar 2.1 Skema alur kegiatan di ruang rawat inap

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

2.2.

Alur Dokter, Perawat, Staf.


(a).

(b).

Akan bertugas.
(1).

Dokter masuk ke ruang dokter untuk ganti pakaian.

(2).

Perawat, masuk ke ruang perawat untuk ganti pakaian.

(3).

Staf, masuk ke ruang staf untuk ganti pakaian.

Setelah selesai tugas.


Dokter, Perawat , staf ke luar melalui alur yang sama.

2.3.

Alur Pasien.
(a).

(b).

Pasien masuk ruang rawat inap.


(1).

Pasien masuk ruang rawat inap dari IGD/COT/Rawat jalan melalui admisi.

(2).

Pasien mendapatkan Nomor Rekam Medis.

(3).

Serah terima & orientasi di pos perawat (Nurse Station).

(4).

Pasien ganti pakaian.

(5).

Pasien selanjutnya dirawat lebih lanjut di ruang rawat inap.

Pasien meninggalkan ruang rawat inap.


(1)

Pasien pulang ke rumah setelah sehat, atau

(2)

Pasien meninggal dikirim ke kamar janazah.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB - III
PERSYARATAN TEKNIS
BANGUNAN RUANG RAWAT INAP
2.1

2. 2

Lokasi.
(a)

Bangunan rawat inap harus terletak pada lokasi yang tenang, aman dan nyaman,
tetapi tetap memiliki kemudahan aksesibiltas atau pencapaian dari sarana
penunjang rawat inap.

(b)

Bangunan rawat inap terletak jauh dari tempat-tempat pembuangan kotoran, dan
bising dari mesin/generator.

Denah.
(a).

Persyaratan umum.
(1).

Pengelompokan ruang berdasarkan kelompok aktivitas yang sejenis hingga


tiap kegiatan tidak bercampur dan tidak membingungkan pemakai bangunan.

(2)

Perletakan ruangannya terutama secara keseluruhan perlu adanya hubungan


antar ruang dengan skala prioritas yang diharuskan dekat dan sangat
berhubungan/membutuhkan.

(3)

Akses pencapaian ke setiap blok/ruangan harus dapat dicapai dengan mudah.

(4).

Kecepatan bergerak merupakan salah satu kunci keberhasilan perancangan,


sehingga blok unit sebaiknya sirkulasinya dibuat secara linier/lurus
(memanjang)

(5)

Jumlah kebutuhan ruang harus disesuaikan dengan kebutuhan jumlah pasien


yang akan ditampung.

(6)

Sinar matahari pagi sedapat mungkin masuk ke dalam ruangan.

(7).

Alur petugas dan pengunjung dipisah.

(8)

Besaran ruang dan kapasitas ruang harus dapat memenuhi persyaratan


minimal seperti ditunjukkan dalam tabel 2.2.a.8

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

Tabel 2.2.a.8
Kebutuhan minimal luas ruangan pada bangunan rawat inap
Nama ruang

Luas (+)

Satuan

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Ruang Perawatan :
VIP
Kelas I
Kelas II
Kelas III
Ruang Pos perawat
Ruang Konsultasi.
Ruang Tindakan.
Ruang administrasi
Ruang Dokter.
Ruang perawat.
Ruang ganti/Locker
Ruang kepala rawat inap.
Ruang linen bersih.
Ruang linen kotor.

18
12
10
7.2
20
12
24
9
20
20
9
12
18
9

m2/tempat tidur
m2/tempat tidur
m2/tempat tidur
m2/tempat tidur
m2
m2
m2
m2
m2
m2
m2
m2
m2
m2

12
13
14
15
16
17

Spoelhoek
Kamar mandi/Toilet
Pantri.
Ruang Janitor/service
Gudang bersih
Gudang kotor

9
25
9
9
18
18

m2
m2
m2
m2
m2
m2

(b).

Persyaratan khusus.
(1)

(2).

Tipe ruang rawat inap, terdiri dari :


a)

Ruang rawat inap 1 tempat tidur setiap kamar (VIP).

b)

Ruang rawat inap 2 tempat tidur setiap kamar (Kelas 1)

c)

Ruang rawat inap 4 tempat tidur setiap kamar (Kelas 2)

d)

Ruang rawat inap 6 tempat tidur atau lebih setiap kamar (kelas 3).

Khusus untuk pasien-pasien tertentu harus dipisahkan (Ruang Isolasi), seperti


:
a)

Pasien yang menderita penyakit menular.

b)

Pasien dengan pengobatan yang menimbulkan bau (seperti penyakit


tumor, ganggrein, diabetes, dan sebagainya).

c)

Pasien yang gaduh gelisah (mengeluarkan suara dalam ruangan).


Keseluruhan ruang-ruang ini harus terlihat jelas dalam kebutuhan jumlah
dan jenis pasien yang akan dirawat.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(c)

Pos Perawat (Nurse Station).


Lokasi Pos perawat sebaiknya tidak jauh dari ruang rawat inap yang dilayaninya,
sehingga pengawasan terhadap pasien menjadi lebih efektif dan efisien.

2.3.

2.4.

Lantai.
(a).

Lantai harus kuat dan rata, tidak berongga.

(b).

Bahan penutup lantai dapat terdiri dari bahan tidak berpori, seperti vinyl yang rata
atau keramik dengan nat yang rapat sehingga debu dari kotoran-kotoran tidak
mengumpul, mudah dibersihkan, tidak mudah terbakar.

(c)

Pertemuan dinding dengan lantai disarankan melengkung (hospital plint), agar


memudahkan pembersihan dan tidak menjadi tempat sarang debu dan kotoran.

Langit-langit.
Langit-langit harus rapat dan kuat, tidak rontok dan tidak menghasilkan debu atau kotoran
lain.

2.5

2.6

Pintu.
(a)

Pintu masuk ke ruang rawat inap, terdiri dari pintu ganda, masing-masing dengan
lebar 90 cm dan 40 cm. Pada sisi pintu dengan lebar 90 cm, dilengkapi dengan
kaca jendela pengintai (observation glass).

(b)

Pintu masuk ke kamar mandi umum, minimal lebarnya 85 cm.

(c)

Pintu masuk ke kamar mandi pasien, untuk setiap kelas, minimal harus ada 1 kamar
mandi berukuran lebar 90 cm, diperuntukkan bagi penyandang cacat.

(d)

Pintu kamar mandi pasien, harus membuka ke luar kamar mandi.

(e)

Pintu toilet umum untuk penyandang cacat harus terbuka ke luar.

Kamar mandi.
(a)

Kamar mandi pasien, terdiri dari kloset, shower (pancuran air) dan bak cuci tangan
(wastafel).

(b)

Khusus untuk kamar mandi bagi penyandang cacat mengikuti pedoman atau
standar teknis yang berlaku.

(d)

Jumlah kamar mandi untuk penyandang cacat, 1 (satu) buah untuk setiap kelas.

(e)

Toilet umum, terdiri dari kloset dan bak cuci tangan (wastafel).

(f)

Disediakan 1 (satu) toilet umum untuk penyandang cacat di lantai dasar, dengan
persyaratan sebagai berikut :
(a)

Toilet umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan rambu/simbol


"penyandang cacat" pada bagian luarnya.

(b)

Toilet atau kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk
masuk dan keluar pengguna kursi roda.

(c)

Ketinggian tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna


kursi roda sekitar (45 ~ 50 cm).

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

(d)

Toilet atau kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan rambat
(handrail) yang memiliki posisi dan ketinggian disesuaikan dengan pengguna
kursi roda dan penyandang cacat yang lain. Pegangan disarankan memiliki
bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan pengguna
kursi roda.

(e)

Letak kertas tissu, air, kran air atau pancuran (shower) dan perlengkapanperlengkapan seperti tempat sabun dan pengering tangan harus dipasang
sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasan
keterbatasan fisik dan bisa dijangkau pengguna kursi roda.

(f)

Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin. Lantai tidak boleh
menggenangkan air buangan.

(g)

Pintu harus mudah dibuka dan ditutup untuk memudahkan pengguna kursi
roda.

(h)

Kunci-kunci toilet atau grendel dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari
luar jika terjadi kondisi darurat.

(j)

Pada tempat-tempat yang mudah dicapai, seperti pada daerah pintu masuk,
disarankan untuk menyediakan tombol bunyi darurat (emergency sound
button) bila sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.

Gambar 2.6 - Ruang gerak dalam Toilet untuk Aksesibel.

2.7

Jendela.
Disarankan menggunakan jendela kaca sorong, yang mudah pemeliharaannya, dan
cukup rapat.

10

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB IV
PERSYARATAN TEKNIS
PRASARANA BANGUNAN RUANG RAWAT INAP
4.1

Persyaratan keselamatan bangunan.


Pelayanan pada bangunan instalasi rawat inap, termasuk daerah pelayanan kritis,
sesuai SNI 03 7011 2004, Keselamatan pada bangunan fasilitas kesehatan.

4.1.1

4.1.2

Struktur bangunan.
(a)

Bangunan instalasi bedah, strukturnya harus direncanakan kuat/kokoh, dan stabil


dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan kelayanan
(serviceability)
selama
umur
layanan
yang
direncanakan
dengan
mempertimbangkan fungsi bangunan instalasi rawat inap, lokasi, keawetan, dan
kemungkinan pelaksanaan konstruksinya.

(b)

Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi


sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan
struktur, baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul
akibat gempa dan angin.

(c)

Dalam perencanaan struktur bangunan instalasi rawat inap terhadap pengaruh


gempa, semua unsur struktur bangunan instalasi bedah, baik bagian dari sub
struktur maupun struktur bangunan, harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa
rencana sesuai dengan zona gempanya.

(d)

Struktur bangunan instalasi bedah harus direncanakan secara detail sehingga pada
kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan, apabila terjai keruntuhan,
kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna bangunan instalasi rawat
inap menyelamatankan diri.

(e)

Ketentuan lebih lanjut mengenai pembebanan, ketahanan terhadap gempa dan/atau


angin, dan perhitungan strukturnya mengikuti pedoman dan standar teknis yang
berlaku.

Sistem proteksi petir.


(a)

Bangunan instalasi rawat inap yang berdasarkan letak, sifat geografis, bentuk,
ketinggian dan penggunaannya berisiko terkena sambaran petir, harus dilengkapi
dengan instalasi proteksi petir.

(b)

Sistem proteksi petir yang dirancang dan dipasang harus dapat mengurangi secara
nyata risiko kerusakan yang disebabkan sambaran petir terhadap bangunan
instalasi rawat inap dan peralatan yang diproteksinya, serta melindungi manusia di
dalamnya.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

11

(c)

4.1.3

4.1.4

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan,


pemeliharaan instalasi sistem proteksi petir mengikuti SNI 03 7015 2004, Sistem
proteksi petir pada bangunan gedung, atau pedoman dan standar teknis lain yang
berlaku.

Sistem proteksi Kebakaran.


(a)

Bangunan instalasi rawat inap, harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran dengan
sistem proteksi pasif dan proteksi aktif.

(b)

Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi risiko kebakaran,


geometri ruang, bahan bangunan terpasang, dan/ atau jumlah dan kondisi penghuni
dalam bangunan instalasi rawat inap..

(c)

Penerapan sistem proteksi aktif didasarkan pada fungsi, klasifikasi, luas, ketinggian,
volume bangunan, dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan instalasi
rawat inap.

(d)

Bilamana terjadi kebakaran di ruang rawat inap, peralatan yang terbakar harus
segera disingkirkan dari sekitar sumber oksigen atau outlet pipa yang dimasukkan
ke ruang rawat inap untuk mencegah terjadinya ledakan.

(e)

Api harus dipadamkan di ruang rawat inap, jika dimungkinkan, dan pasien harus
segera dipindahkan dari tempat berbahaya. Peralatan pemadam kebakaran harus
dipasang diseluruh rumah sakit . Semua petugas harus tahu peraturan tentang
cara-cara proteksi kebakaran. Mereka harus tahu persis tata letak kotak alarm
kebakaran dan tahu menggunakan alat pemadam kebakaran.

(f)

Ketentuan lebih lanjut mengenai perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan


sistem proteksi kebakaran aktif mengikuti Pedoman Teknis Prasarana Rumah Sakit
: Sistem Proteksi Kebakaran Aktif, Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan,
Kementerian Kesehatan Tahun 2012.

Sistem kelistrikan.
(a)

Sumber daya listrik.


Sumber daya listrik pada ruang perawatan pasien di ruang rawat inap termasuk
katagori sistem kelistrikan esensial 1, di mana sumber daya listrik normal
dilengkapi dengan sumber daya listrik diesel generator untuk menggantikannya, bila
terjadi gangguan pada sumber daya listrik normal.
Tapi pada ruang tindakan pasien termasuk katagori sistem kelistrikan esensial 2 di
mana pasokan listrik tidak boleh terputus apabila terjadi gangguan.

(b)

12

Jaringan.
(1)

Kabel listrik dari peralatan yang dipasang di langit-langit tetapi yang bisa
digerakkan, harus dilindungi terhadap belokan yang berulang-ulang sepanjang
track, untuk mencegah terjadinya retakan-retakan dan kerusakan-kerusakan
pada kabel.

(2)

Kolom yang bisa diperpanjang dengan ditarik, menghindari bahaya-bahaya


tersebut.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(3)

(c)

Sambungan listrik pada kotak hubung singkat harus diperoleh dari sirkit-sirkit
yang terpisah. Ini menghindari akibat dari terputusnya arus karena bekerjanya
pengaman lebur atau suatu sirkit yang gagal yang menyebabkan terputusnya
semua arus listrik pada saat kritis.

Terminal.
(1)

(2)

Kotak Kontak (stop kontak)


a)

Setiap kotak kontak daya harus menyediakan sedikitnya satu kutub


pembumian terpisah yang mampu menjaga resistans yang rendah
dengan kontak tusuk pasangannya.

b)

Karena gas-gas yang mudah terbakar dan uap-uap lebih berat dari
udara dan akan menyelimuti permukaan lantai bila dibuka, Kotak kontak
listrik harus dipasang 5 ft ( 1,5 m) di atas permukaan lantai, dan harus
dari jenis tahan ledakan.

c)

Jumlah kotak kontak untuk setiap tempat tidur minimal 2 titik untuk
melayani peralatan kesehatan yang membutuhkan suplai listrik. Pada
ruang tindakan yang merupakan ruang pelayanan kritis minimal harus
dilengkapi 5 titik kotak kontak.

Sakelar.
Sajekar yang dipasang dalam sirkit pencahayaan harus memenuhi SNI 04
0225 2000, Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000), atau
Permenkes 2306/Menkes/per/XI/2011 tentang Persyaratan Teknis Prasarana
Instalasi Elektrikal RS.

(d)

Pembumian.
Kabel yang menyentuh lantai, dapat membahayakan petugas. Sistem harus
memastikan bahwa tidak ada bagian peralatan yang dibumikan melalui tahanan
yang lebih tinggi dari pada bagian lain peralatan yang disebut dengan sistem
penyamaan potensial pembumian (Equal potential grounding system). Sistem ini
memastikan bahwa hubung singkat ke bumi tidak melalui pasien.

(e)

Peringatan.
Semua petugas harus menyadari bahwa kesalahan dalam pemakaian listrik
membawa akibat bahaya sengatan listrik, padamnya tenaga listrik, dan bahaya
kebakaran.
Kesalahan dalam instalasi listrik bisa menyebabkan arus hubung singkat,
tersengatnya pasien, atau petugas.
Bahaya ini dapat dicegah dengan :
(1)

Memakai peralatan listrik yang dibuat khusus untuk instalasi rawat inap.
Peralatan harus mempunyai kabel yang cukup panjang dan harus mempunyai
kapasitas yang cukup untuk menghindari beban lebih.

(2)

Peralatan jinjing (portabel), harus segera diuji dan dilengkapi dengan sistem
pembumian yang benar sebelum digunakan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

13

(3)
(f)

Segera menghentikan pemakaian dan melaporkan apabila ada peralatan


listrik yang tidak benar.

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan


pemeliharaan sistem kelistrikan pada bangunan instalasi rawat inap mengikuti
Permenkes 2306/Menkes/per/XI/2011 tentang Persyaratan Teknis Prasarana
Instalasi Elektrikal RS.

4.1.5

Sistem gas medik dan vakum medik.


(a)

Vakum, udara tekan medik dan oksigen disalurkan dengan pemipaan ke ruang
instalasi rawat inap. Outlet-outletnya dipasang pada bed-head pasien. Pada ruang
perawatan minimal dilengkapi 1 (satu) outlet oksigen tiap tempat tidur pasien,
sedangkan pada ruang tindakan dilengkapi minimal 1 (satu) outlet oksigen, 1 (satu)
outlet vakum dan 1 (satu) outlet udara tekan medik pada bed-head tempat tidur
tindakan.

(d)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan


pemeliharaan sistem gas medik dan vakum medik pada bangunan Ruang rawat
inap Rumah Sakit mengikuti Pedoman Teknis Instalasi Gas Medik dan Vakum
Medik di RS yang disusun oleh Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan
Sarana Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Kementerian
Kesehatan RI, Tahun 2011.

4.2

Persyaratan kesehatan bangunan.

4.2.1

Sistem ventilasi.

14

(a)

Untuk memenuhi persyaratan sistem ventilasi, bangunan instalasi rawat inap harus
mempunyai ventilasi alami dan/atau ventilasi mekanik/ buatan sesuai dengan
fungsinya.

(b)

Bangunan instalasi rawat inap harus mempunyai bukaan permanen, kisi-kisi pada
pintu dan jendela dan/atau bukaan permanen yang dapat dibuka untuk kepentingan
ventilasi alami.

(c)

Ventilasi mekanik/buatan harus disediakan jika ventilasi alami tidak dapat


memenuhi syarat.

(d)

Penerapan sistem ventilasi harus dilakukan dengan mempertimbangkan prinsipprinsip penghematan energi dalam bangunan ruang rawat inap.

(e)

Pada ruang perawatan pasien dan koridor di ruang rawat inap, minimal 4 (empat)
kali pertukaran udara per jam, untuk ruang perawatan isolasi infeksius, minimal 6
(enam) kali pertukaran udara per jam.

(f)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan


pemeliharaan sistem ventilasi alami dan mekanik/buatan pada bangunan ruang
rawat inap mengikuti Pedoman Teknis Prasarana Sistem Tata Udara Pada
Bangunan Rumah Sakit, yang disusun oleh Direktorat Bina Pelayanan Penunjang
Medik dan Sarana Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan,
Kementerian Kesehatan RI, Tahun 2011.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4.2.2

4.2.3

Sistem pencahayaan.
(a)

Bangunan instalasi rawat inap harus mempunyai pencahayaan alami dan/atau


pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya.

(b)

Bangunan instalasi rawat inap harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan alami.

(c)

Pencahayaan alami harus optimal, disesuaikan dengan fungsi bangunan instalasi


rawat inap dan fungsi masing-masing ruang di dalam bangunan instalasi rawat inap.

(d)

Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang


dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam bangunan instalasi rawat inap dengan
mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi, dan penempatannya tidak
menimbulkan efek silau atau pantulan.

(e)

Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan darurat harus dipasang


pada bangunan instalasi rawat inap dengan fungsi tertentu, serta dapat bekerja
secara otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi
yang aman.

(f)

Pencahayaan umum disediakan dengan lampu yang dipasang di langit-langit.

(g)

Disarankan menggunakan lampu-lampu yang dipasang dibenamkan pada plafon


(recessed) karena tidak mengumpulkan debu.

(i)

Pencahayaan harus didistribusikan rata dalam ruangan.

(j)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan


pemeliharaan sistem pencahayaan pada bangunan instalasi rawat inap mengikuti :
(1)

SNI 03 2396 2001, Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami


pada bangunan gedung,

(2)

SNI 03 6575 2001, Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan


pada bangunan gedung,

(3)

SNI 03 6574 2001, Tata cara perancangan sistem pencahayaan darurat,


tanda arah dan tanda peringatan,

(4)

atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku.

Sistem Sanitasi.
Untuk memenuhi persyaratan sistem sanitasi, setiap bangunan instalasi rawat inap harus
dilengkapi dengan sistem air bersih, sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah,
kotoran dan sampah, serta penyaluran air hujan.
(a)

Sistem air bersih.


(1)

Sistem air bersih harus direncanakan dan dipasang


mempertimbangkan sumber air bersih dan sistem distribusinya.

dengan

(2)

Sumber air bersih dapat diperoleh dari sumber air berlangganan dan/atau
sumber air lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

15

(b)

(c)

16

(3)

Perencanaan sistem distribusi air bersih dalam bangunan instalasi rawat inap
harus memenuhi debit air dan tekanan minimal yang disyaratkan.

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan


pemeliharaan, sistem air bersih pada bangunan instalasi rawat inap mengikuti
SNI 03 6481 2000 atau edisi terakhir, Sistem Plambing 2000, atau
pedoman dan standar teknis lain yang berlaku.

Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah.


(1)

Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah harus direncanakan dan
dipasang dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya.

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan


pemeliharaan, sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah pada
bangunan instalasi rawat inap mengikuti SNI 03 6481 2000 atau edisi
terakhir, Sistem Plambing 2000, atau pedoman dan standar teknis lain yang
berlaku.

Sistem pembuangan kotoran dan sampah.


(1)

Sistem pembuangan kotoran dan sampah harus direncanakan dan dipasang


dengan mempertimbangkan fasilitas penampungan dan jenisnya.

(2)

Pertimbangan fasilitas penampungan diwujudkan dalam bentuk penyediaan


tempat penampungan kotoran dan sampah pada bangunan ruang rawat inap,
yang diperhitungkan berdasarkan fungsi bangunan, jumlah penghuni, dan
volume kotoran dan sampah.

(3)

Pertimbangan jenis kotoran dan sampah diwujudkan dalam bentuk


penempatan pewadahan dan/atau pengolahannya yang tidak mengganggu
kesehatan penghuni, masyarakat dan lingkungannya.

(4)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan


pengolahan fasilitas pembuangan kotoran dan sampah pada bangunan ruang
rawat inap mengikuti Persyaratan Pengolahan dan Pembuangan Limbah
Rumah Sakit dalam bentuk padat, cair dan gas, baik limbah medis maupun
non-medis dapat dilihat pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1204/MENKES/SK/X/2004, tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Rumah Sakit.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(d)

Sistem penyaluran air hujan.


(1)

Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan


mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah, permeabilitas tanah, dan
ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota.

(2)

Setiap bangunan instalasi bedah dan pekarangannya harus dilengkapi


dengan sistem penyaluran air hujan.

(3)

Kecuali untuk daerah tertentu, air hujan harus diserapkan ke dalam tanah
pekarangan dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum dialirkan ke
jaringan drainase lingkungan/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(4)

Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat
diterima, maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang
dibenarkan oleh instansi yang berwenang.

(5)

Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya


endapan dan penyumbatan pada saluran.

(6)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan


pemeliharaan mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.

4.3

Persyaratan kenyamanan.

4.3.1

Sistem pengkondisian udara.


(a)

Untuk mendapatkan kenyamanan kondisi udara ruang di dalam bangunan ruang


rawat inap, pengelola bangunan ruang rawat inap harus mempertimbangkan
temperatur dan kelembaban udara.

(b)

Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara di dalam ruangan


dapat dilakukan dengan pengkondisian udara dengan mempertimbangkan :
(1)

fungsi ruang, jumlah pengguna, letak, volume ruang, jenis peralatan, dan
penggunaan bahan bangunan.

(2)

kemudahan pemeliharaan dan perawatan, dan

(3)

prinsip-prinsip penghematan energi dan kelestarian lingkungan.

(c)

Kelembaban relatif dipertahankan 30 - 60% .

(e)

Temperatur ruangan dipertahankan sekitar 680F sampai 800F (200C sampai 260C).

(f)

Apabila ruang rawat inap menggunakan alat pengkondisian udara, unit


pengkondisian udara tersebut bisa menjadi sumber micro-organisme yang datang
melalui filter-filternya. Filter-filter ini harus diganti pada jangka waktu yang tertentu.
Apabila menggunakan sistem pengkondisian udara sentral, maka saluran udara
(ducting) harus dibersihkan secara teratur.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

17

(h)

4.3.2

4.3.3

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan


pemeliharaan kenyamanan kondisi udara pada bangunan instalasi rawat inap
mengikuti Pedoman Teknis Prasarana Sistem Tata Udara Pada Bangunan Rumah
Sakit, yang disusun oleh Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana
Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI,
Tahun 2011.

Kebisingan
(a)

Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan


instalasi rawat inap, pengelola bangunan instalasi rawat inap harus
mempertimbangkan jenis kegiatan, penggunaan peralatan, dan/atau sumber bising
lainnya baik yang berada pada bangunan instalasi rawat inap maupun di luar
bangunan instalasi rawat inap

(b)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan tingkat kenyamanan


terhadap kebisingan pada bangunan instalasi rawat inap mengikuti pedoman dan
standar teknis yang berlaku.

Getaran.
(a)

Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap getaran pada bangunan instalasi


rawat inap, pengelola bangunan instalasi rawat inap harus mempertimbangkan jenis
kegiatan, penggunaan peralatan, dan/atau sumber getar lainnya baik yang berada
pada bangunan instalasi rawat inap maupun di luar bangunan instalasi rawat inap.

(b)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan tingkat kenyamanan


terhadap getaran pada bangunan instalasi rawat inap mengikuti pedoman dan
standar teknis yang berlaku.

4.4

Persyaratan kemudahan.

4.4.1

Kemudahan hubungan horizontal.

18

(a)

Setiap bangunan rumah sakit harus memenuhi persyaratan kemudahan hubungan


horizontal berupa tersedianya pintu dan/atau koridor yang memadai untuk
terselenggaranya fungsi bangunan instalasi rumah sakit tersebut.

(b)

Jumlah, ukuran, dan jenis pintu, dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan
besaran ruang, fungsi ruang, dan jumlah pengguna ruang.

(c)

Arah bukaan daun pintu dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan fungsi
ruang dan aspek keselamatan. Terkait dengan sarana keselamatan pada bangunan
rumah sakit, maka pintu ruang perawatan disarankan membuka keluar, dengan
tanpa mengganggu akses pengguna koridor.

(d)

Ukuran koridor sebagai akses horizontal antarruang dipertimbangkan berdasarkan


fungsi koridor, fungsi ruang dan jumlah pengguna.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4.4.2

4.4.3

Kemudahan hubungan vertikal.


(a)

Setiap bangunan rumah sakit bertingkat harus menyediakan sarana hubungan


vertikal antarlantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan rumah
sakit tersebut berupa tersedianya tangga, ram, lif, tangga berjalan/ eskalator,
dan/atau lantai berjalan/travelator.

(b)

Jumlah, ukuran dan konstruksi sarana hubungan vertikal harus berdasarkan fungsi
bangunan rumah sakit, luas bangunan, dan jumlah pengguna ruang, serta
keselamatan pengguna bangunan rumah sakit.

(c)

Setiap bangunan rumah sakit yang menggunakan lif, harus menyediakan lif
kebakaran.

(d)

Lif kebakaran dapat berupa lif khusus kebakaran atau lif penumpang biasa atau lif
barang yang dapat diatur pengoperasiannya sehingga dalam keadaan darurat dapat
digunakan secara khusus oleh petugas kebakaran.

(e)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan


pemeliharaan lif, mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.

Sarana Keselamatan Jiwa.


(a)

Setiap bangunan rumah sakit, harus menyediakan sarana keselamatan


meliputi:

yang

1.

Lingkungan fisik bangunan rumah sakit dirancang dan dikelola untuk


memenuhi Persyaratan Teknis Keselamatan Jiwa.

2.

Bangunan rumah sakit melindungi penghuni selama jangka waktu tertentu.

3.

Bangunan dan fitur proteksi kebakaran dirancang dan dipelihara untuk


meminimalkan pengaruh api, asap dan panas.

4.

Bangunan rumah sakit harus dapat menjamin bahwa jumlah eksit cukup, dan
eksit memiliki konfigurasi untuk memberikan perlindungan terhadap bahaya
kebakaran.

5.

Pintu jalan ke luar tidak boleh dikunci yang bisa menghalangi jalur
penyelamatan.

6.

Sarana jalan ke luar termasuk koridor, tangga kebakaran, dan pintu-pintu yang
memungkinkan setiap orang meninggalkan bangunan atau bergerak di antara
ruang-ruang khusus dalam bangunan.

7.

Sarana tersebut memungkinkan setiap orang mampu menyelamatkan dirinya


terhadap api dan asap kebakaran, dan oleh karena itu merupakan bagian dari
strategi proteksi kebakaran.

8.

Setiap bangunan rumah sakit menyediakan dan memelihara fitur bangunan


untuk melindungi orang-orang terhadap bahaya api dan asap kebakaran.

9.

Rumah Sakit menyediakan dan memelihara sistem alarm kebakaran.

10. Rumah sakit menyediakan dan memelihara sistem pemadaman kebakaran.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

19

11. Rumah sakit menyediakan dan memelihara peralatan khusus untuk


memproteksi seseorang terhadap ancaman bahaya kebakaran atau asap.

(b) Ketentuan lebih lanjut mengenai sarana keselamatn jiwa mengikuti Pedoman
Teknis Sarana Keselamatan Jiwa Pada Bangunan Rumah Sakit, yang disusun oleh
Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan, Direktorat
Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Tahun 2012.
4.4.3

20

Aksesibilitas.
(a)

Setiap bangunan rumah sakit harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk
menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lanjut usia masuk
ke dan ke luar dari bangunan rumah sakit serta beraktivitas dalam bangunan rumah
sakit secara mudah, aman nyaman dan mandiri.

(b)

Fasilitas dan aksesibilitas sebagaimana dimaksud meliputi toilet, telepon umum,


jalur pemandu, rambu dan marka, pintu, ram, tangga, dan lif bagi penyandang cacat
dan lanjut usia.

(c)

Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas disesuaikan dengan fungsi, luas dan


ketinggian bangunan rumah sakit.

(d)

Ketentuan tentang ukuran, konstruksi, jumlah fasilitas dan aksesibilitas bagi


penyandang cacat mengikuti ketentuan dalam pedoman dan standar teknis yang
berlak

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB V
PENUTUP
5.1

Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit : Ruang Rawat Inap ini diharapkan dapat
digunakan sebagai rujukan oleh pengelola bangunan rumah sakit, penyedia jasa
konstruksi, instansi Dinas Kesehatan, Pemerintah Daerah, dan instansi terkait dengan
kegiatan pengaturan dan pengendalian penyelenggaraan pembangunan bangunan rumah
sakit dalam pencegahan dan penanggulangan dan guna menjamin keamanan dan
keselamatan bangunan rumah sakit dan lingkungan terhadap bahaya penyakit.

5.2

Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau bersifat alternatif serta penyesuaian
Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit : Ruang Rawat Inap pada bangunan rumah
sakit oleh masing-masing daerah disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan kelembagaan
di daerah.

5.3

Sebagai pedoman/petunjuk pelengkap dapat digunakan pedoman dan standar teknis


terkait lainnya.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

21

LAMPIRAN

Gambar L1 Contoh ruang rawat inap VIP.

Gambar L2 Contoh ruang rawat inap 2 tempat tidur

22

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Gambar L3 Contoh ruang rawat inap 4 tempat tidur

Gambar L4 Contoh ruang rawat inap 6 tempat tidur

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

23

Gambar 5 Contoh detail ruang rawat inap

24

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Gambar 6 Contoh Instalasi Rawat Inap


1
2
3
4
5
6
7
8

Saf
Toilet
Ruang perawat
Ruang peralatan
Ruang perlengkapan
Pos Perawat
Ruang peralatan
Ruang panel listrik

9
10
11
12
13
14
15

Ruang Dokter
Ruang Pantri
Saf
Ruang tindakan
Gudang kotor.
Tangga darurat
Atrium

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

25

KEPUSTAKAAN
1.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 36 Tahun 2005, tentang Peraturan


Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung.

2.

Joanna R. Fuller, Surgical Technology, Principles and Practice, Saunders.

3.

American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditionign Engineers, Handbook,


Applications, 1974 Edition, ASHRAE.

4.

American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditionign Engineers, HVAC Design
Manual for Hospitals and Clinics, 2003 edition, ASHRAE.

5.

G.D. Kunders, Hospitals, Facilities Planning and Management, Tata McGraw-Hill


Publishing Company Limited, 2004.

26

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

PERATURAN MENTERI KESEHATAN


REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 2306/MENKES/PER/XI/2011
TENTANG
PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA
INSTALASI ELEKTRIKAL RUMAH SAKIT

DIREKTORAT BINA PELAYANAN PENUNJANG MEDIK DAN SARANA KESEHATAN


SUB DIREKTORAT BINA SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN
TAHUN 2012

PERATURAN MENTERI KESEHATAN


REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 2306/MENKES/PER/XI/2011
TENTANG
PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA
INSTALASI ELEKTRIKAL RUMAH SAKIT
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 11 ayat (6) UndangUndang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, perlu
menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Persyaratan
Teknis Prasarana Instalasi Elektrikal Rumah Sakit;

Mengingat

1.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan


Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970
Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 2918);

2.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002, tentang Bangunan


Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4532);

3.

Undang-Undang

Nomor

13

Tahun

2003

tentang

Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun


2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4729);

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

iii

4.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan


Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4437), sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4844);

5.

Undang-Undang

Nomor

30

Tahun

2009

tentang

Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun


2009 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5052);
6.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

7.

Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 Tentang Rumah Sakit


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
8.

Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 Tentang

Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 24, Tambahan
Lembaran

Negara

Republik

Indonesia

Nomor

3394)

sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26


Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan
Tenaga Listrik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2006 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4628);
9.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 Tahun


2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang Undang Nomor
28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.

iv

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

10. Peraturan

Menteri

Pertambangan

dan

Energi

Nomor

01.P/40/M.PE/1990 tentang Instalasi Ketenagalistrikan;


11. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29 /PRT/M/2006
tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung.
12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 363/Menkes/Per/IV/ 1998
tentang Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan pada Sarana
Pelayanan Kesehatan;
13. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor
KEP-75/MEN/2002 tentang Pemberlakuan (SNI) Nomor SNI04-0225-2000 mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik
2000 (PUIL 2000) di Tempat Kerja;
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 530/Menkes/Per/IV/2007
tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengamanan Fasilitas
Kesehatan;
15. Peraturan Menteri ESDM Nomor 08 Tahun 2007 tentang
pemberlakuan Standar Nasional Indonesia 04-0225-2000/Amd
1-2006 mengenai Amandemen 1 Persyaratan Umum Instalasi
Listrik 2000 (PUIL 2000, sebagai Standar Wajib)
16. Peraturan

Menteri

Kesehatan

Nomor

1144/Menkes/

PER/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian


Kesehatan;

MEMUTUSKAN:
Menetapkan

PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PERSYARATAN


TEKNIS PRASARANA INSTALASI ELEKTRIKAL RUMAH SAKIT.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

Pasal 1
Pengaturan persyaratan prasarana instalasi elektrikal rumah sakit bertujuan untuk
memberikan acuan kepada Rumah Sakit dalam mewujudkan instalasi listrik yang
berkualitas sesuai dengan fungsinya, andal, efisien, serasi dan selaras dengan
lingkungan.
Pasal 2
Persyaratan Teknis Prasarana Instalasi Elektrikal Rumah Sakit sebagaimana tercantum
dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.
Pasal 3
(1)

Pelaksanaan Persyaratan Teknis Instalasi Elektrikal Rumah Sakit di Daerah diatur


lebih lanjut dengan Peraturan Daerah yang berpedoman pada Peraturan ini.

(2)

Dalam hal Daerah belum mempunyai peraturan daerah sebagaimana pada ayat
(1) maka pelaksanaan persyaratan teknis prasarana Instalasi Elektrikal Rumah
Sakit berpedoman pada Peraturan ini.

(3)

Dalam hal Daerah Telah mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) sebelum Peraturan ini di berlakukan maka Peraturan daerah
tersebut harus menyesuaikan peraturan ini.
Pasal 4

(1)

Dalam melaksanakan pembinaan tentang Prasarana Instalasi Elektrikal Rumah


Sakit, Pemerintah melakukan Peningkatan Kemampuan aparat Pemerintah
Propinsi, Pemerintah kabupaten / kota maupun masyarakat dalam memenuhi
persyaratan Teknis sebagaimana dimaksud untuk terwujudnya Prasarana Instalasi
Elektrikal Rumah Sakit yang Andal.

(2)

Dalam

melaksanakan

pengendalian,

penyelenggaraan

prasarana

instalasi

elektrikal rumah sakit pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten / kota wajib


mengikuti persyaratan teknis ini.
(3)

Terhadap aparat Pemenrintah, pemerintah Propinsi, dan kabupaten / kota yang


bertugas dalam penentuan dan pengendalian Prasarana Instalasi elektrikal yang,
melakukan pelanggaran dalam peraturan ini dikenakan sangsi sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

vi

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(4)

Terhadap penyedia jasa kontruksi yang terlibat dalam penyelenggaraan prasarana


instalasi elektrikal rumah sakit yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam
pasal (3) dan pasal (4) dikenakan sanksi dan atau ketentuan pidana sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 5

Semua peraturan pelaksanaan yang berkaitan dengan persyaratan teknis prasarana


instalasi elektrikal rumah sakit sepanjang tdak bertentangan dengan peraturan ini,
dinyatakan tetap berlaku.
Pasal 6
(1)

Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

(2)

Peraturan ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk


diketahui untuk dilaksanakan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal ...............................
MENTERI KESEHATAN,

ENDANG RAHAYU SEDYANINGSIH

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

vii

DAFTAR ISI
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 2306/MENKES/PER/XI/2011, TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA
INSTALASI ELEKTRIKAL RUMAH SAKIT
BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A Latar Belakang
B Pengertian
1 Lokasi Medik
2 Pasien
3 Perlengkapan Listrik Medik
4 Bagian Terapan
5 Kelompok Lokasi
6 Prosedur Intrakardiak
7 Sistem Listrik Medik
8 Lingkungan Pasien
9 Panel Distribusi Utama
10 Sistem IT Medik
C Maksud Dan Tujuan
D Ruang Lingkup
ASESMEN KARAKTERISTIK UMUM
A Asesmen Karakteristik Umum
B Kebutuhan, Suplai Dan Struktur
1 Kebutuhan Maksimum Dan Keragaman
2 Susunan Konduktor Dan Pembumian Sistem
3 Suplai
4 Pembagian Instalasi
C Kompabilitas
1 Kompabilitas Karakteristik
2 Kompatibilitas Elektromagnetik
D Kemampupeliharaan
E Pelayanan Keselamatan
1 Umum
2 Klasifikasi
F Kontinuitas Pelayanan
G Asesmen Pada Lokasi Medik
1 Jenis Sistem Pembumian
2 Suplai Daya

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

iii

1
1

4
5

6
6

28

29
29

30
31

ix

BAB III

BAB IV

BAB V

SUMBER DIESEL GENERATOR


A Pertimbangan Rancangan
B Perlengkapan Pengindera
C Sirkit Pelindung
D Sumber Listrik Esensial
E Batere Untuk Generator
F Generator Sebagai Sumber Daya Normal
G Generator Sebagai Sumber Daya Pengganti
H Penggunaan Sistem Elektrikal Esensial
I Ruang Pembangkit
J Kapasitas Dan Nilai Normal
K Pengangkatan Beban
L Menjaga Temperatur
M Ventilasi Udara
N Batere Untuk Memutar Engkol
O Peralatan Pengasut Udara Tekan
P Pasokan Bahan Bakar
Q Persyaratan Alat Keselamatan
1 Motor Bakar
2 Penggerak Mula Jenis Lain
Pasokan Bahan Bakar Cair
R Anunsiator (annunciator) Alarm
S Batere
PROTEKSI UNTUK KESELAMATAN
A Proteksi Terhadap Kejut Listrik
1 Proteksi Terhadap Sentuh Langsung Maupun Tidak Langsung
2 Proteksi Kebakaran
PEMILIHAN DAN PEMASANGANPERLENGKAPAN LISTRIK
A Kondisi Operasi Dan Pengaruh Eksternal
1 Kondisi Operasi
2 Pengaruh Eksternal
B Diagram, Dokumentasi Dan Petunjuk Operasi
C Sistem Pengkawatan
D Perangkat Hubung Bagi Dan Kendali (PHBK)
1 Proteksi Untuk Sistem Pengkawatan Pada Lokasi Medik
E Perlengkapan Lain
1 Sirkit Pencahayaan
2 Sirkit Kotak Kontak Pada Sistem IT Medik Untuk Lokasi Medik Kelompok 2
F Pelayanan Keselamatan
1 Sumber
G Alokasi Nomor Kelompok Dan Klasifikasi Untuk Pelayanan Keselamatan
Lokasi Medik
H Sirkit Pencahayaan Keselamatan
1 Pencahayaan Keselamatan
I Pelayanan Lain

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

32
33
34
33
33
33
33
34
35
35
35
35
35
36
36
36
36

37
38

39

44

45
46
46
46

47

47
53
53

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

BAB IX

VERIFIKASI
A Verifikasi
B Verifikasi Awal
C Verifikasi Periodik
CARA PENGKAWATAN DAN PERLENGKAPAN
A Cara Pengkawatan Dan Perlengkapan
B Kabel Yang Dicabang
C Tindakan Proteksi
D Tindakan Proteksi Terhadap Bahaya Ledakan Dan Kebakaran
1 Proteksi Terhadap Ledakan
2 Proteksi Terhadap Kebakaran
E Catu Daya Pengganti Khusus (CDPK)
F Menguji Instalasi

55
55
55

57
58
59
70

71
74

KETENTUAN UNTUK PROTEKSI DASAR


A Insulasi Dasar Bagian Aktif
B Penghalang Atau Selungkup

77
77

PENUTUP
PENYUSUN PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

79
81

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

xi

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Dengan

semakin

berkembangnya

teknologi

peralatan

kesehatan

yang

berhubungan dengan elektrikal, dituntut adanya pengelolaan dan pengawasan


yang baik terhadap prasarana elektrikal Rumah Sakit, di mulai dari perencanaan,
pemasangan, pengujian, pengoperasian, sampai pemeliharaan, sehingga listrik
yang digunakan pada peralatan kesehatan tersebut aman, dan efisien.
Dalam rangka memenuhi amanat Pasal 11 Ayat (1) huruf b Undang-Undang
Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, perlu disusun Peraturan Menteri
Kesehatan tentang Persyaratan Prasarana Instalasi Elektrikal Rumah Sakit.

B.

Pengertian
1.

Lokasi medik,
adalah lokasi yang dimaksudkan untuk keperluan diagnosis, perawatan
(termasuk perawatan kosmetik), pemantauan dan perawatan pasien.
Untuk memastikan proteksi pada pasien terhadap kemungkinan bahaya
listrik, tindakan proteksi tambahan perlu diterapkan dalam lokasi medik. Jenis
dan

uraian

bahaya

ini

dapat

bervariasi

menurut

perawatan

yang

dilaksanakan. Cara dalam penggunaan ruangan memerlukan beberapa


pembagian dalam area yang berbeda untuk membedakan prosedur medik.
2.

Pasien,
adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya
untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan, baik secara
langsung maupun tidak langsung di rumah sakit.
Orang yang dirawat untuk keperluan kosmetik dapat dianggap sebagai
pasien, sepanjang berkaitan dengan standar ini.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

3.

Perlengkapan listrik medik,


adalah perlengkapan listrik yang dilengkapi dengan tidak lebih dari satu
hubungan ke jaringan suplai khusus dan dimaksudkan untuk mendiagnosis,
merawat atau memantau pasien di bawah supervisi medik dan yang :
a.

membuat kontak fisik atau listrik dengan pasien, dan/atau

b.

mentransfer energi ke atau dari pasien, dan/atau

c.

mendeteksi transfer energi tersebut ke dan dari pasien

Perlengkapan mencakup lengkapan yang ditentukan pabrikan yang dianggap


perlu untuk memungkinkan penggunaan normal dari perlengkapan.
4.

Bagian terapan,
adalah bagian perlengkapan listrik medik yang dalam penggunaan normal :
a.

Diperlukan kontak fisik dengan pasien agar perlengkapan dapat


melakukan fungsinya, atau

5.

b.

dapat dibuat agar kontak dengan pasien, atau

c.

perlu untuk disentuh oleh pasien.

Kelompok lokasi.
a.

Kelompok 0 adalah Lokasi medik dimana tidak ada bagian terapan


yang akan digunakan.

b.

Kelompok 1 adalah Lokasi medik dimana bagian terapan yang


dimaksudkan untuk digunakan secara eksternal atau masuk ke
sembarang bagian tubuh, kecuali berlaku pada kelompok 2 .

c.

Kelompok 2 adalah Lokasi medik dimana terdapat bagian terapan yang


dimaksudkan untuk digunakan dalam penerapan seperti prosedur
intrakardiak,

ruang

operasi/bedah

dan

perawatan

vital

diskontinuitas (kegagalan) suplai dapat menyebabkan kematian

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

jika

6.

Prosedur intrakardiak,
adalah prosedur dengan konduktor listrik ditempatkan di dalam jantung
pasien atau mungkin kontak dengan jantung, konduktor tersebut dapat
diakses di luar tubuh pasien. Dalam konteks ini, konduktor listrik mencakup
kawat berinsulasi seperti elektrode pemacu jantung atau elektrode
intrakardiak, EKG, atau tabung berinsulasi diisi dengan cairan konduktif.

7.

Sistem listrik medik,


adalah kombinasi beberapa perlengkapan, yang salah satunya sekurangkurangnya merupakan perlengkapan listrik medik dan diinterkoneksi dengan
hubungan fungsional atau menggunakan multi kotak kontak Portable.
Sistem mencakup lengkapan yang diperlukan untuk mengoperasikan sistem
dan ditentukan oleh pabrikan.

8.

Lingkungan pasien,
adalah setiap ruang dimana dapat terjadi sentuh sengaja atau tak sengaja
antara pasien dan bagian sistem atau antara pasien dan orang lain yang
menyentuh bagian sistem. [untuk ilustrasi lihat gambar I.B.8]
CATATAN Hal ini berlaku jika posisi pasien ditentukan sebelumnya, jika tidak, semua posisi
pasien sebaiknya dipertimbangkan.
CATATAN Dimensi yang terlihat tidak sebenarnya

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

G
Gamb
barr I.B
B.8
8 Co
onttoh lin
ngk
kun
nga
an pas
p sien
9..

Pan
P nel dis
strribu
usii uttam
ma,
adalah
h panel da
alam
m ged
g dun
ng yan
y g me
meme
enu
uhi se
em
mua
a fu
ung
gsi disstribusi listtrikk
utam
ma un
ntu
uk are
a ea ba
ang
gun
nan
n, sup
s plaii ya
ang
g dig
d unaka
an un
ntu
uk itu
i da
an dim
ma
ana
a
drop
p volta
ase
e diuk
d kurr un
ntuk me
m ngo
ope
era
asik
kan
n la
aya
ana
an kesselam
mattan.

10
0. Sist
S tem
m IT
Tm
medik
k,
adalah
h sis
s tem
m lisstrik
k IT yyang mem
mpu
unyyai per
p sya
ara
atan
n sp
pes
sifikk unt
u tukk
penera
apa
an me
edik.

C.

M ksud
Mak
dd
dan
nT
Tujjua
an
n
1..

Pers
P sya
ara
atan
n
dima
akssud
dka
an

Te
ekn
nis

P
Pra
asa
aran
na

sseb
bag
gai

acu
a uan
n

Insttala
asii
da
alam
m

Ele
ektrika
al

pe
em
men
nuh
han
n

R
Rum
mah
h

Sa
akit

pe
ersy
yarrata
an

inii

niss
tekn

prassarrana insttala
asi ele
ekttrik
kal untukk mew
m wujjud
dkan pra
p asaran
na ins
stalas
si e
elekktrikall
Rum
R mah
h Sa
S kit ya
ang
g berku
ualiitass, se
esuai de
eng
gan
n ffungsinyya, anda
al, se
era
asi,,
se
ela
arass den
d nga
an ling
gku
ung
gan
nnyya.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

2.

Persyaratan Teknis Prasarana Instalasi Elektrikal ini bertujuan untuk


terselenggaranya fungsi prasarana instalasi elektrikal Rumah Sakit yang
selamat, sehat, nyaman dan memberikan kemudahan bagi pengguna
instalasi elektrikal di Rumah Sakit.

D.

Ruang Lingkup
1.

Persyaratan prasarana instalasi elektrikal Rumah Sakit ini berlaku untuk


instalasi listrik dalam lokasi medik sedemikian sehingga memastikan
keselamatan pasien dan staf medik.

2.

Persyaratan ini secara keseluruhan mengacu pada Rumah Sakit, klinik


pribadi, praktek medik dan kedokteran gigi, pusat perawatan kesehatan dan
ruang medik khusus di tempat kerja.
Catatan:
Mungkin perlu untuk memodifikasi instalasi listrik yang ada, sesuai dengan persyaratan ini,
apabila terjadi pergantian pemanfaatan lokasi. Sebaiknya diambil tindakan khusus jika
dilaksanakan prosedur intrakardiak dalam instalasi yang ada.

3.

Ruang lingkup ini terdiri dari :


a.

Bab I

: Pendahuluan;

b.

Bab II

: Asesmen Karakteristik Umum;

c.

Bab III : Sumber Diesel Generator;

d.

Bab IV : Proteksi Untuk Keselamatan;

d.

Bab V

e.

Bab VI : Verifikasi;

f.

Bab VII : Cara Perkawatan dan Perlengkapan;

g.

Bab VIII : Ketentuan Untuk Proteksi Dasar; dan

h.

Bab IX : Penutup.

: Pemilihan dan Pemasangan Perlengkapan Listrik;

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

BAB II
ASESMEN KARAKTERISTIK UMUM
A.

Asesmen Karakteristik Umum


Klasifikasi lokasi medik harus dibuat dengan kesepakatan dari staf medik,
organisasi kesehatan terkait atau badan yang bertanggung jawab untuk
keselamatan karyawan sesuai dengan peraturan. Untuk menentukan klasifikasi
lokasi medik, perlu agar staf medis menyatakan prosedur medik apa yang akan
berada di dalam lokasi. Berdasarkan pada penggunaan yang dimaksudkan,
klasifikasi yang sesuai untuk lokasi harus ditentukan (kemungkinan bahwa lokasi
medik tertentu digunakan untuk tujuan yang berbeda yang memerlukan kelompok
yang lebih tinggi yang harus ditetapkan oleh manajemen risiko).
CATATAN 1 Klasifikasi lokasi medis sebaiknya berkaitan pada jenis kontak antara bagian terapan
dan pasien, maupun untuk tujuan apa lokasi tersebut digunakan.
CATATAN 2 Bagian terapan ditentukan oleh standar tertentu untuk perlengkapan listrik medik.

B.

Kebutuhan, suplai dan struktur


1.

Kebutuhan maksimum dan keragaman


Untuk desain yang ekonomis dan andal dari instalasi dalam batas termal dan
batas penurunan tegangan (drop voltage), penentuan kebutuhan maksimum
adalah penting. Pada penentuan kebutuhan maksimum instalasi atau bagian
instalasi, dapat diperhitungkan keragaman.

2.

Susunan konduktor dan pembumian sistem


Karakteristik berikut harus diakses:
a.

susunan konduktor penghantar arus pada kondisi operasi normal;


Susunan konduktor penghantar arus tergantung pada jenis arus.
Susunan konduktor yang diuraikan dalam bagian ini tidak menyeluruh.
Hal ini termasuk sebagai contoh susunan tipikal.
Susunan berikut dari konduktor penghantar arus pada kondisi operasi
normal diperhitungkan dalam persyaratan ini.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

1).

Susunan konduktor penghantar arus pada sirkit a.b.

*Penomoran konduktor opsional


Gambar II.B.2.a.1) - 1 Fase tunggal 2-kawat

*Penomoran konduktor opsional


Gambar II.B.2.a.1) - 2 Fase tunggal 3-kawat

*Penomoran konduktor opsional


Gambar II.B.2.a.1) - 3 Dwifase 3-kawat

Gambar II.B.2.a.1) - 4 Trifase 3-kawat

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

Gambar II.B.2.a.1) - 5 Trifase 4-kawat


Trifase 4-kawat dengan konduktor netral atau konduktor PEN.
Sebagai definisi, PEN bukan merupakan konduktor aktif tetapi
konduktor yang menghantarkan arus operasi.
Catatan:

2)

a)

Dalam hal susunan fase tunggal 2-kawat yang didapat dari susunan
trifase 4-kawat, dua konduktor adalah dua konduktor lin atau konduktor
lin dan konduktor netral atau konduktor lin dan konduktor PEN.

b)

Pada instalasi dengan semua beban dihubungkan antara fase,


pemasangan konduktor netral mungkin tidak diperlukan.

Susunan konduktor penghantar arus pada sirkit a.s.

Gambar II.B.2.a.2) - 1 - 2-kawat

Gambar II.B.2.a.2) - 2 3-kawat


Catatan :

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Konduktor PEL dan PEM bukan konduktor aktif, walaupun konduktor tersebut
menghantarkan arus operasi. Oleh karena itu, berlaku penamaan susunan 2kawat atau 3-kawat.

b.

Jenis Sistem Pembumian


Jenis pembumian sistem berikut diperhitungkan dalam standar ini.
Catatan :
1)

Gambar II.B.2.b.1).a).(1) 1 hingga gambar II.B.2.b.3) 2 memperlihatkan


contoh sistem trifase yang umum digunakan. Gambar II.B.2.b.4).a) - A hingga
gambar II.B.2.b.4).e) B memperlihatkan contoh sistem a.s. yang umum
digunakan.

2)

Garis titik-titik menunjukkan bagian sistem yang tidak dicakup dalam ruang
lingkup persyaratan, sedang garis menunjukkan bagian yang dicakup
persyaratan.

3)

Untuk sistem privat, sumber dan/atau sistem distribusi dapat dianggap sebagai
bagian instalasi dalam cakupan pengertian persyaratan ini. Untuk hal ini,
gambar tersebut dapat lengkap digambarkan dengan garis.

4)

Kode yang digunakan mempunyai arti berikut:


Huruf pertama berkaitan dengan sistem daya ke bumi:
T = hubungan langsung sebuah titik ke bumi;
I

= semua bagian aktif diisolasi dari bumi; atau satu titik dihubungkan ke
bumi melalui impedans tinggi.

Huruf kedua Berkaitan dengan bagian konduktif terbuka (BKT) instalasi ke


bumi.
T = hubungan listrik langsung dari BKT ke bumi, tidak tergantung pada
pembumian sembarang titik sistem daya.
N = hubungan listrik langsung BKT ke titik sistem daya yang dibumikan
(dalam sistem a.b., titik yang dibumikan dari sistem daya secara normal
adalah titik netral atau, jika titik netral tidak ada, konduktor lin).
Huruf berikutnya (jika ada) Susunan konduktor netral dan konduktor proteksi.
S = fungsi proteksi diberikan oleh konduktor yang terpisah dari konduktor
netral atau dari konduktor lin yang dibumikan (atau dalam sistem a.b.
fase yang dibumikan).
C = fungsi netral dan proteksi digabung dalam konduktor tunggal (konduktor
PEN).

Penjelasan simbol pada Gambar II.B.2.b.1).a).(1) 1 hingga gambar


II.B.2.b.4).e) - B
Konduktor netral (N), konduktor titik tengah (M)
Konduktor proteksi (PE)
Gabungan konduktor proteksi dan konduktor netral
(PEN)

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

1)

S
Sis
stem
m TN
TN
a
a)

S
Sis
stem sumb
berr tu
ung
gga
al
S
Sisstem
m da
aya
a TN
T me
m mp
pun
nya
ai sattu tittik ya
ang
g dib
bum
mik
kan
n
langsung
g pad
p da su
umber, BK
KT ins
stalassi dih
d ubungka
an ke
e titikk
ttersseb
butt mel
m alu
ui kon
k ndu
ukttor prrote
ekssi. Tig
ga je
eniss sist
s tem
m TN
TN
d
diperttimbangkan
n se
esu
uai sus
s unan kon
k ndu
ukto
or netrral dan
d n
p
pro
otek
ksi, se
eba
aga
ai ber
b riku
ut:
((1)

Sis
S stem
m TN-S
S, digu
d una
aka
an ko
ond
duk
kto
or prrote
ekssi ya
ang
g
ter
t pis
sah
h

pa
ada
a

sselu
uruh

ssisttem
m.

Lih
L at

ga
amb
barr

B.2.b.1)a
a).((1) 1.
II.B
Cat
C tata
an :
Unt
U tuk sim
mbo
ol, lihatt pe
enje
elasan yan
ng d
dibe
erik
kan pad
da b
butir II.B.2
2.b.

G mb
Gam
bar II.B
B.2
2.b.1).a).(1) - 1
Sist
S tem
m TNT -S den
d nga
an ko
ond
dukktorr ne
etra
al d
dan
n kondukto
or pro
p tek
ksi terrpis
sah
h pada selu
s uru
uh
ssisttem
m.
CA
ATA
ATA
AN gam
mbar II.B
I B.2.b
b.1)).a)).(1)) 1 : Pem
mbum
mia
an ta
amb
bah
han da
ari PE
P pad
p da in
nsta
alassi dapa
at dibe
d erika
an.

10

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Gambar II.B.2.b.1).a).(1) - 2
Sistem TN-S dengan konduktor lin dibumikan dan konduktor proteksi terpisah pada
seluruh sistem
CATATAN gambar II.B.2.b.1).a).(1) 2 : Pembumian tambahan dari PE pada distribusi dan pada instalasi
dapat diberikan.

Gambar II.B.2.b.1).a).(1) - 3
Sistem TN-S dengan konduktor proteksi dibumikan dan tanpa konduktor netral
didistribusikan, di seluruh sistem
CATATAN gambar II.B.2.b.1).a).(1) 3 : Pembumian tambahan dari PE pada instalasi dapat diberikan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

11

(2)

Pada sistem TNC-S, fungsi konduktor netral dan


konduktor
tunggal

proteksi
pada

digabungkan

sebagian

sistem.

dalam
Lihat

konduktor
gambar

II.B.2.b.1).a).(2) - 1, gambar II.B.2.b.1).a).(2) - 2 dan


gambar II.B.2.b.1).a).(2) - 3.
CATATAN

Untuk simbol lihat penjelasan yang diberikan pada butir

II.B.2.b.

Gambar II.B.2.b.1).a).(2) - 1
Sistem TN-C-S trifase, 4-kawat, dengan PEN terpisah menjadi PE dan N di tempat lain
pada instalasi
CATATAN gambar II.B.2.b.1).a).(2) 1 : Pembumian tambahan dari PEN atau PE pada instalasi dapat
diberikan.
Konduktor netral dan konduktor proteksi digabungkan dalam konduktor tunggal pada sebagian sistem.

12

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Gambar II.B.2.b.1).a).(2) - 2
Sistem TN-C-S trifase, 4-kawat dengan PEN terpisah menjadi PE dan N di awal instalasi
(lazim di Indonesia)
CATATAN gambar II.B.2.b.1).a).(2) - 2 : Pembumian tambahan dari PEN pada distribusi dan PE pada
instalasi dapat diberikan.

Gambar II.B.2.b.1).a).(2) - 3
Sistem TN-C-S fase tunggal, 2-kawat dengan PEN terpisah menjadi PE dan N
di awal instalasi
CATATAN gambar II.B.2.b.1).a).(2) 3 : Pembumian tambahan dari PEN pada distribusi dan PE pada
instalasi dapat diberikan.

Fungsi netral dan konduktor proteksi digabungkan dalam konduktor tunggal di sebagian
sistem.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

13

(3)

Sistem TN-C dengan fungsi konduktor netral dan


konduktor proteksi digabungkan dalam satu konduktor
tunggal di seluruh sistem. Lihat gambar II.B.2.b.1).a).(3)
- 1.

CATATAN Untuk simbol lihat penjelasan yang diberikan dalam butir


II.B.2.b.

Gambar II.B.2.b.1).a).(3) - 1
Sistem TN-C dengan fungsi konduktor netral dan konduktor proteksi digabungkan dalam
konduktor tunggal di seluruh sistem
CATATAN gambar II.B.2.b.1).a).(3) 1 : Pembumian tambahan dari PEN dalam instalasi dapat diberikan.

b)

Sistem multisumber
Catatan:
Sistem multisumber diperlihatkan pada sistem TN dengan tujuan unik
untuk memberikan EMC (electromagnetic compatibility kesesuaian
elektromagnetik KEM).
Sistem multisumber tidak diperlihatkan dalam sistem TT dan IT karena
sistem tersebut biasanya kompatibel berkaitan dengan EMC.

14

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Dalam hal desain tidak sesuai pada instalasi yang


merupakan

bagian

sistem

TN

dengan

multisumber,

beberapa arus operasi dapat mengalir melalui jalur yang tak


dikehendaki. Arus tersebut dapat menyebabkan:
(1)

kebakaran;

(2)

korosi;

(3)

interferens elektromagnetik.

Sistem yang diperlihatkan dalam gambar II.B.2.b.1).b) - 1


adalah sistem dengan arus operasi parsial minor yang
mengalir sebagai arus melalui jalur yang tak dikehendaki.
Persyaratan desain esensial yang diperlihatkan dalam
gambar II.B.2.b.1).b) 1 dari (1) hingga (4) diberikan dalam
catatan di bawah gambar II.B.2.b.1).b) - 1.
Penandaan konduktor PE harus sesuai dengan IEC
60446/PUIL.
Setiap perluasan sistem harus diperhitungkan berkaitan
dengan berfungsinya tindakan proteksi dengan baik.

Gambar II.B.2.b.1).b) - 1
Sistem multisumber TN-C-S dengan konduktor proteksi dan konduktor netral terpisah ke
perlengkapan pemanfaat listrik
Catatan gambar II.B.2.b.1).b) - 1 :
(1)

Tidak diizinkan adanya hubungan langsung dari titik netral


transformator atau titik bintang generator ke bumi.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

15

(2)

Konduktor interkoneksi antara titik-titik netral transformator atau


titik-titik bintang generator harus diinsulasi. Fungsi konduktor ini
adalah seperti PEN; namun titik ini tidak boleh dihubungkan ke
perlengkapan pemanfaat listrik.

(3)

Hanya satu hubungan antara titik-titik netral interkoneksi dari


sumber dan PE harus disediakan. Hubungan ini harus terletak di
dalam rakitan PHBK utama.

(4)

Pembumian tambahan dari PE pada instalasi dapat disediakan.

Pada bangunan industri dengan hanya beban 2-fase dan beban 3-fase antara konduktor
fase, tidak perlu dilengkapi dengan konduktor netral. Lihat gambar II.B.2.b.1).b) - 2. Dalam
hal ini, konduktor proteksi sebaiknya mempunyai multi hubungan ke bumi.

Gambar II.B.2.b.1).b) - 2
Sistem multisumber TN dengan konduktor proteksi dan tanpa konduktor netral di seluruh
sistem untuk beban 2- atau 3-fase.
Catatan gambar II.B.2.b.1).b) 2 :

16

(1)

Tidak diizinkan adanya hubungan dari titik netral transformator


atau titik bintang generator ke bumi.

(2)

Konduktor interkoneksi antara titik-titik netral trnsformator atau titiktitik bintang generator harus diinsulasi. Fungsi konduktor ini adalah
seperti PEN, namun konduktor tersebut tidak boleh dihubungkan
ke perlengkapan pemanfaat listrik.

(3)

Hanya satu hubungan antara titik-titik netral interkoneksi dari


sumber dan PE harus disediakan. Hubungan ini harus terletak di
dalam rakitan PHBK utama.

(4)

Pembumian tambahan dari PE pada instalasi dapat disediakan.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

2)

Sistem TT
Sistem TT hanya mempunyai satu titik yang dibumikan langsung
dan

BKT

instalasi

dihubungkan

ke

elektrode

bumi

yang

independen secara listrik dari elektrode bumi sistem suplai. Lihat


gambar II.B.2.b.2) 1 dan gambar II.B.2.b.2) - 2.

Gambar II.B.2.b.2) - 1
Sistem TT dengan konduktor netral dan konduktor proteksi terpisah di seluruh instalasi
CATATAN gambar II.B.2.b.2) - 1 : Pembumian tambahan dari PE pada instalasi dapat diberikan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

17

Gambar II.B.2.b.2) - 2
Sistem TT dengan konduktor proteksi dibumikan dan tanpa konduktor netral
didistribusikan, di seluruh instalasi
CATATAN gambar II.B.2.b.2) 2 : Pembumian tambahan dari PE pada instalasi dapat diberikan.

3)

Sistem IT
Sistem daya IT mempunyai semua bagian aktif diisolasi dari bumi
atau satu titik dihubungkan ke bumi melalui impedans. BKT
instalasi listrik dibumikan secara independen atau secara kolektif
atau ke pembumian sistem. Lihat gambar II.B.2.b.3) - 1 dan
gambar II.B.2.b.3) - 2.

18

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Gambar II.B.2.b.3) - 1
Sistem IT dengan semua BKT diinterkoneksi dengan konduktor proteksi yang secara
kolektif dibumikan
CATATAN gambar II.B.2.b.3) 1 : Pembumian tambahan dari PE pada
instalasi dapat diberikan.
(1)

Sistem dapat dihubungkan ke bumi melalui impedans yang cukup


tinggi. Hubungan ini dapat dilakukan misalnya pada titik netral, titik
netral buatan, atau konduktor lin.

(2)

Konduktor netral dapat didistribusikan atau tidak didistribusikan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

19

Gambar II.B.2.b.3) - 2
Sistem IT dengan BKT dibumikan dalam kelompok atau secara individual
CATATAN gambar II.B.2.b.3) 2 : Pembumian tambahan dari PE pada
instalasi dapat diberikan.

4)

(1)

Sistem dapat dihubungkan ke bumi melalui impedans yang cukup


tinggi.

(2)

Konduktor netral dapat didistribusikan atau tidak didistribusikan.

Sistem a.s.
Jenis pembumian sistem untuk sistem arus searah (a.s.).
Jika gambar II.B.2.b.4).a) - A hingga gambar II.B.2.b.4).a) - B
berikut memperlihatkan pembumian kutub spesifik dari sistem a.s.
2-kawat, keputusan apakah membumikan kutub positif atau
negatif harus didasarkan pada keadaan operasional atau
pertimbangan lain, misalnya menghindari efek korosi pada
konduktor lin dan susunan pembumian.
a)

Sistem TN-S

Konduktor lin dibumikan misalnya L pada jenis (A) atau


konduktor titik tengah dibumikan M pada jenis (B), dipisahkan dari
konduktor proteksi di seluruh instalasi.

20

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Jenis (A)

Gambar II.B.2.b.4).a) - A
CATATAN 1 Pembumian tambahan dari PE pada instalasi dapat diberikan.

Jenis (B)

Gambar II.B.2.b.4).a) - B Sistem a.s. TN-S


CATATAN 2 Pembumian tambahan dari PE pada instalasi dapat diberikan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

21

b)

Sistem TN-C
Fungsi konduktor lin dibumikan misalnya L dan konduktor
proteksi pada jenis (A) digabungkan dalam satu konduktor
tunggal PEL di seluruh instalasi, atau konduktor titik tengah
dibumikan M dan konduktor proteksi digabungkan pada jenis
(B) dalam satu konduktor tunggal PEM di seluruh instalasi.

Jenis (A)

Gambar II.B.2.b.4).b) - A
CATATAN 3 Pembumian tambahan dari PEL pada instalasi dapat diberikan.

Jenis (B)

Gambar II.B.2.b.4).b) - B Sistem a.s. TN-C


CATATAN 4 Pembumian tambahan dari PEM pada instalasi dapat diberikan.

22

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

c)

Sistem TN-C-S
Fungsi konduktor lin dibumikan misalnya L pada jenis (A)
dan fungsi konduktor proteksi digabungkan dalam satu
konduktor tunggal PEL di sebagian instalasi, atau konduktor
kawat-tengah dibumikan M pada jenis (B) dan konduktor
proteksi digabungkan dalam satu konduktor tunggal PEM di
sebagian instalasi.

Jenis A

Gambar II.B.2.b.4).c) - A Sistem a.s. TN-C-S


CATATAN 1 Pembumian tambahan dari PE pada instalasi dapat diberikan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

23

Jenis B)

Gambar II.B.2.b.4).c) - B Sistem a.s. TN-C-S


CATATAN 2 Pembumian tambahan dari PE pada instalasi dapat diberikan.

d)

Sistem TT

Jenis (A)

Gambar II.B.2.b.4).d) - A - Sistem a.s T.T


CATATAN 1 Pembumian tambahan dari PE pada instalasi dapat diberikan.

24

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Jenis (B)

Gambar II.B.2.b.4).d) - B - Sistem a.s. TT


CATATAN 2 Pembumian tambahan dari PE pada instalasi dapat diberikan.

e)

Sistem IT
(1)

Sistem dapat dihubungkan ke bumi melalui lmpedans


yang cukup tinggi.
CATATAN : Pembumian tambahan dari PE pada instalasi dapat
diberikan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

25

Jenis (A)

Gambar II.B.2.b.4).e) - A Sistem a.s IT


Jenis B)
(2)

Sistem boleh dihubungkan ke bumi melalui impedans


yang cukup tinggi.
CATATAN : Pembumian tambahan dari PE pada instalasi dapat
diberikan.

Gambar II.B.2.b.4).e) - B - Sistem a.s IT

26

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3.

Suplai
a.

Umum
Karakteristik berikut dari suplai, dari sumber mana saja, dan julat
normal dari karakteristik tersebut jika sesuai, harus ditentukan dengan
perhitungan, pengukuran, investigasi atau inspeksi:
1)

voltase nominal

2)

sifat arus dan frekuensi;

3)

arus hubung pendek prospektif di awal instalasi;

4)

impedans lingkar gangguan bumi dari bagian sistem yang


eksternal terhadap instalasi;

5)

kesesuaian untuk persyaratan instalasi, termasuk kebutuhan


maksimum, dan

6)

jenis dan peringkat gawai proteksi arus lebih yang beroperasi di


awal instalasi.

Karakteristik ini harus dipastikan untuk suplai eksternal dan harus


ditentukan untuk sumber privat. Persyaratan ini dapat diterapkan sama
terhadap suplai utama dan terhadap pelayanan keselamatan dan suplai
siaga.
b.

Suplai untuk pelayanan keselamatan dan sistem siaga.


Jika ketentuan pelayanan keselamatan disyaratkan, misalnya oleh yang
berwenang

terkait dengan tindakan pencegahan kebakaran dan

kondisi lain untuk evakuasi darurat bangunan, dan/atau jika ketentuan


suplai siaga disyaratkan oleh personel yang menspesifikasikan
instalasi, karakteristik sumber suplai untuk pelayanan keselamatan
dan/atau sistem siaga harus diases secara terpisah. Suplai tersebut
harus mempunyai kapasitas, keandalan dan peringkat yang memadai
dan waktu tukar alih yang sesuai untuk operasi yang ditentukan.
Untuk persyaratan lebih lanjut bagi suplai pelayanan keselamatan, lihat
PUIL. Untuk sistem siaga, tidak ada persyaratan tertentu dalam standar
ini.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

27

4.

Pembagian instalasi
a.

Setiap instalasi harus dibagi dalam sirkit, jika diperlukan, untuk:


1)

mencegah bahaya dan meminimalkan kesulitan jika terjadi


gangguan;

2)

memfasilitasi inspeksi, pengujian dan pemeliharan yang aman;

3)

memperhitungkan bahaya yang mungkin timbul dari kegagalan


sirkit tunggal seperti sirkit pencahayaan;

4)

mengurangi kemungkinan trip yang tak diinginkan dari GPAS


karena arus konduktor PE yang berlebihan yang tidak disebabkan
gangguan;

5)

mengurangi efek EMI;

6)

mencegah energisasi tak langsung pada sirkit yang dimaksudkan


akan diisolasi.

b.

Sirkit distribusi terpisah harus disediakan untuk bagian instalasi yang


perlu dikendalikan secara terpisah, sedemikian sehingga sirkit tersebut
tidak dipengaruhi oleh kegagalan sirkit lain.

C.

Kompabilitas
1.

Kompabilitas karakteristik
Asesmen harus dilakukan pada setiap karakteristik perlengkapan yang
mungkin mempunyai efek merusak terhadap perlengkapan listrik lain atau
pelayanan lain atau mungkin mengganggu suplai, misalnya untuk koordinasi
dengan fihak terkait. Karakteristik tersebut mencakup, misalnya:

28

a.

voltase lebih transien;

b.

voltase kurang;

c.

beban tak seimbang;

d.

beban berfluktuasi cepat;

e.

arus asut;

f.

arus harmonik;

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

2.

g.

umpan balik a.s.;

h.

osilasi frekuensi tinggi;

i.

arus bocor bumi;

j.

keperluan hubungan tambahan ke bumi;

k.

arus konduktor PE berlebihan yang tidak disebabkan gangguan.

Kompatibilitas elektromagnetik
Semua perlengkapan listrik harus memenuhi persyaratan EMC yang sesuai,
dan harus sesuai dengan standar EMC yang relevan.
Harus dipertimbangkan oleh perencana dan desainer instalasi listrik untuk
tindakan mengurangi efek gangguan voltase yang diinduksikan dan
interferens elektromagnetik (electromagnetic interference - EMI).
Tindakan diberikan pada PUIL.

D.

Kemampupeliharaan
Asesmen harus dilakukan dari seringnya dan mutu pemeliharaan instalasi yang
diharapkan dapat diterima selama usia instalasi yang dimaksudkan. Jika ada yang
berwenang bertanggung jawab terhadap operasi instalasi, maka yang berwenang
tersebut harus dikonsultasi. Karakteristik tersebut harus diperhitungkan dalam
menerapkan persyaratan Bab IV hingga Bab VI sedemikian sehingga berkaitan
dengan seringnya dan mutu pemeliharaan yang diharapkan:
1.

setiap inspeksi dan pengujian periodik, pemeliharaan dan perbaikan yang


mungkin perlu selama umur yang dimaksudkan dapat siap dan aman
dilaksanakan, dan

2.

keefektifan dari tindakan proteksi untuk keselamatan selama umur yang


dimaksudkan harus dipertahankan, dan

3.

keandalan perlengkapan untuk berfungsi dengan benar dari instalasi sesuai


dengan umur yang dimaksudkan.

E.

Pelayanan keselamatan

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

29

1.

Umum
CATATAN 1 Keperluan pelayanan keselamatan dan sifatnya sering diatur oleh otoritas
pemerintah yang persyaratannya harus diobservasi.
CATATAN 2 Contoh pelayanan keselamatan adalah: lampu keluar darurat, sistem alarm
kebakaran, instalasi untuk pompa kebakaran, lift pemadam kebakaran, perlengkapan
pengeluaran asap dan bahang.

Sumber untuk pelayanan keselamatan dikenal sebagai berikut:


a.

batere

b.

sel primer;

c.

set generator yang independen dari suplai normal;

d.

penyulang terpisah jaringan suplai yang independen dari suplai normal


(lihat PUIL).

2.

Klasifikasi
a.

b.

Pelayanan keselamatan adalah:


1)

suplai nonotomatis; pengasutannya dilakukan oleh operator; atau

2)

suplai otomatis, pengasutannya independen dari operator.

Suplai otomatis diklasifikasikan seperti berikut sesuai dengan waktu


tukar alih:
1)

tanpa putus: suplai otomatis yang dapat memastikan suplai


kontinu dalam kondisi yang ditentukan selama periode transisi,
misalnya berkaitan dengan variasi voltase dan frekuensi;

F.

2)

putus sangat singkat: suplai otomatis tersedia dalam 0,15 detik;

3)

putus singkat: suplai automatis tersedia dalam 0,5 detik;

4)

putus medium: suplai otomatis tersedia dalam 15 detik;

5)

putus lama: suplai otomatis tersedia lebih dari 15 detik.

Kontinuitas pelayanan
Asesmen harus dilakukan pada setiap sirkit untuk setiap keperluan kontinuitas
pelayanan yang dianggap perlu selama umur instalasi yang dimaksudkan.
Karakteristik berikut sebaiknya dipertimbangkan:

30

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

G.

1.

pemilihan pembumian sistem,

2.

pemilihan gawai proteksi untuk mencapai selektifitas;

3.

jumlah sirkit;

4.

multisuplai daya;

5.

penggunaan gawai monitor.

Asesmen pada lokasi Medik.


Klasifikasi lokasi medik harus dibuat berdasarkan kesepakatan dengan staf medik,
organisasi kesehatan terkait atau badan yang bertanggung jawab untuk
keselamatan karyawan sesuai dengan peraturan nasional. Untuk menentukan
klasifikasi lokasi medik, perlu untuk staf medik menunjukkan prosedur medik apa
yang akan berada di dalam lokasi.
Berdasarkan pada penggunaan yang dimaksudkan, klasifikasi yang sesuai untuk
lokasi harus ditentukan (kemungkinan bahwa lokasi medik tertentu dapat
digunakan untuk keperluan berbeda yang memerlukan kelompok yang lebih tinggi,
sebaiknya ditetapkan oleh manajemen risiko).
1.

Jenis Sistem Pembumian.


Sistem TN-C tidak diizinkan dalam lokasi medik dan bangunan medik setelah
panel distribusi utama.

2.

Suplai Daya.
Dalam lokasi medik, sistem distribusi sebaiknya didesain dan dipasang untuk
memfasilitasi tukar alih otomatis dari jaringan distribusi utama ke sumber
keselamatan listrik yang menyuplai beban esensial (lihat PUIL

atau IEC

710.3131.1).
CATATAN 1 Klasifikasi lokasi medik sebaiknya berkaitan pada jenis kontak antara bagian
terapan dan pasien, maupun untuk keperluan apa lokasi tersebut digunakan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

31

BAB III
SUMBER DIESEL GENERATOR
A.

Pertimbangan Rancangan
Dua sumber untuk daya normal harus dipertimbangkan tetapi bukan merupakan
sumber daya pengganti seperti dijelaskan dalam pasal ini.
1.

Susunan sistem distribusi harus dirancang untuk meminimalkan interupsi ke


sistem kelistrikan karena gangguan internal oleh penggunaan peralatan.

2.

Faktor berikut harus dipertimbangkan dalam merancang sistem distribusi :


a.

Tegangan abnormal seperti fasa tunggal dari peralatan utilitas 3 fasa,


pengubahan dan atau / surja petir, penurunan tegangan dan
sebagainya.

b.

Kemampuan tercepat perbaikan yang mungkin tercapai dari sirkit yang


ditunjukkan setelah bebas dari gangguan.

c.

Pengaruh perubahan mendatang, seperti penambahan beban dan/atau


kapasitas pasokan.

d.

Stabilitas dan kemampuan daya dari penggerak mula selama dan


setelah kondisi abnormal.

e.

Urutan dan penyambungan kembali beban untuk mencegah arus


sesaat (inrush) yang besar yang menjatuhkan (trip) alat pengaman arus
lebih atau beban lebih generator.

f.

Susunan

pintas

(bypass)

untuk

mengijinkan

pengujian

dan

pemeliharaan komponen sistem yang sebaliknya tidak dapat dipelihara


tanpa mengganggu fungsi rumah sakit yang penting.
g.

Pengaruh dari setiap arus harmonik pada konduktor netral dan


peralatan.

32

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

B.

Perlengkapan Pengindera.
Perlengkapan pengindera arus, fasa dan bumi, harus dipilih untuk meminimalkan
perluasan interupsi ke sistem kelistrikan karena arus abnormal yang disebabkan
oleh beban lebih dan / atau sirkit hubung singkat.

C.

Sirkit Pelindung.
Sirkit pelindung beban generator dirancang untuk tujuan mengurangi beban atau
sistem prioritas beban, tidak harus memelindungi keselamatan jiwa beban
cabang/, beban cabang kritis yang melayani daerah pelayanan kritis, kompresor
udara medik, pompa vakum bedah medik, pompa menjaga tekanan (jockey) untuk
sistem proteksi kebakaran yang berbasis air, pompa bahan bakar generator, atau
perlengkapan generator lainnya.

D.

Sumber Listrik Esensial.


Sistem kelistrikan esensial harus mempunyai minimum dua sumber daya yang
berdiri sendiri : sumber normal biasanya memasok seluruh sistem kelistrikan dan
satu atau lebih sumber pengganti untuk digunakan bila sumber

normal

terinterupsi.

E.

Batere untuk Generator


Batere untuk generator di lokasi harus dipelihara sesuai ketentuan yang berlaku
atau seperti SNI 04-7018-2004, tentang Sistem pasokan daya listrik darurat dan
siaga.

F.

Generator Sebagai Sumber Daya Normal.


Apabila sebagai dasar pemikiran sumber normal terdiri dari unit generator, sumber
pengganti harus salah satu generator lain atau pelayanan utilitas eksternal.

G.

Generator Sebagai Sumber Daya Pengganti.


Generator set yang dipasang sebagai sumber daya pengganti dari sistem
kelistrikan penting harus dirancang memenuhi persyaratan layanan.
1.

Sumber daya elektrikal yang penting Kelompok 0 dan 1 harus diklasifikasi


sesuai ketentuan yang berlaku seperti pada SNI 04-7018-2004, Sistem
pasokan daya listrik darurat dan siaga.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

33

2.

Sumber daya elektikal yang penting kelompok 2 harus diklasifikasikan sesuai


standar yang berlaku seperti pada SNI 04-7018-2004, tentang Sistem
pasokan daya listrik darurat dan siaga.

H.

Penggunaan Sistem Elektrikal Esensial.


1.

Peralatan pembangkit yang digunakan harus secara eksklusif mempunyai


cadangan untuk pelayanan atau penggunaan normal yang dipakai untuk
maksud : mengontrol pada kebutuhan puncak, mengontrol tegangan internal,
melepas beban utilitas eksternal, atau pembangkit.
Jika penggunaan normal untuk maksud lain seperti tersebut di atas, maka
dua set atau lebih pembangkit harus dipasang, sehingga kebutuhan aktual
maksimum yang diperoleh dari beban tersambung sistem darurat, seperti
kompresor udara medik, pompa vakum bedah medik, pompa kebakaran
yang dioperasikan dengan listrik, pompa jockey, pompa bahan bakar dan
perlengkapan generator, harus terpenuhi dengan satu generator set terbesar
tidak dioperasikan.
Sumber pengganti daya darurat untuk iluminasi dan identifikasi sarana jalan
ke luar harus dari sistem kelistrikan esensial.
Sistem daya pengganti untuk sistem sinyal proteksi kebakaran harus dari
sistem kelistrikan esensial.

2.

Satu generator set yang mengoperasikan sistem kelistrikan esensial harus


boleh menjadi bagian dari sistem yang memasok untuk tujuan lain seperti
ditunjukkan pada butir III.A, untuk penggunaan tersebut tidak akan
mengurangi perioda rata-rata antara jadwal waktu perawatan overhaul
sampai kurang dari tiga tahun.

3.

Beban pilihan harus boleh dilayani oleh peralatan pembangkit sistem


kelistrikan esensial.
Beban pilihan, harus dilayani oleh sarana pemindah yang semestinya dan
beban ini tidak boleh dipindahkan ke peralatan pembangkit apabila
pemindahan dapat berakibat beban lebih pada peralatan pembangkit, dan
harus terlindung dari beban lebih peralatan pembangkit itu sendiri.

34

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Penggunaan peralatan pembangkit untuk melayani beban pilihan tidak boleh


membentuk tujuan lain seperti yang dijelaskan dalam butir III.H.1 dan untuk
itu tidak mempersyaratkan generator lebih dari satu.

I.

Ruang pembangkit.
1.

Konvertor energi harus ditempatkan dalam kamar layanan yang terpisah


yang terlihat dari peralatan pembangkit, pemisahan dari sisa bangunan
dengan bahan yang memiliki tingkat ketahanan api 2 jam, atau ditempatkan
di bangunan tertutup di luar bangunan utama yang mampu menahan
masuknya air hujan dan menahan kecepatan angin maksimum seperti
ditentukan dalam persyaratan teknis bangunan gedung setempat. Kamar
untuk peralatan seperti itu tidak boleh digabung dengan peralatan lain atau
melayani peralatan listrik yang bukan sistem kelistrikan esensial.

2.

Peralatan pembangkit harus dipasang di lokasi yang mudah dijangkau dan


ruang kerja yang cukup (minimum 30 inci atau 76 cm) sekeliling unit untuk
pemeriksaan, perbaikan, pemeliharaan, pembersihan dan penggantian.

J.

Kapasitas dan nilai nominal


Generator set harus mempunyai kapasitas yang cukup dan nilai nominal yang
tepat untuk memenuhi kebutuhan aktual maksimum untuk melayani beban
tersambung dari sistem kelistrikan esensial pada setiap saat.

K.

Pengangkatan beban.
Generator set harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk mengangkat beban
dan memenuhi persyaratan frekuensi dan tegangan yang stabil dari sistem darurat
di dalam waktu 10 detik setelah hilangnya daya normal.

L.

Menjaga temperatur
Ketentuan harus dibuat untuk menjaga ruang generator tidak kurang dari 10 oC
(50 oF) atau temperatur selimut air mesin tidak kurang dari 32 oC (90 oF).

M.

Ventilasi udara
Ketentuan harus dibuat untuk menyediakan udara yang cukup untuk pendinginan
dan untuk melengkapi lagi udara pembakaran mesin.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

35

N.

Batere untuk memutar engkol


Batere untuk memutar motor bakar harus sesuai dengan persyaratan batere yang
berlaku atau seperti SNI 04-7018-2004, tentang Sistem pasokan daya listrik
darurat dan siaga.

O.

Peralatan pengasut udara tekan


Alat pengasut disel generator untuk harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk
usaha memasok sebanyak 5 kali, dan 10 detik untuk setiap kalinya, serta tidak
lebih 10 detik berhenti antara setiap usaha.

P.

Pasokan bahan bakar


Pasokan bahan bakar untuk generator set harus memenuhi ketentuan yang
berlaku atau seperti SNI 04-7018-2004, tentang Sistem pasokan daya listrik
darurat dan siaga.

Q.

Persyaratan alat keselamatan


1.

Motor bakar
Motor bakar yang melayani generator set harus dilengkapi dengan :
a.

Alat sensor ditambah alat peringatan visual untuk menunjukkan


temperatur selubung air di bawah yang dipersyaratkan pada butir III.B.

b.

Alat sensor ditambah alat peringatan visual alarm awal untuk


menunjukkan :
1)

Temperatur mesin tinggi (di atas rentang operasi aman yang di


rekomendasikan manufaktur).

2)

Tekanan pelumasan minyak pelumas rendah (di bawah rentang


operasi aman yang direkomendasikan manufaktur).

3)
c.

Permukaan air pendingin rendah.

Alat mematikan mesin secara otomatik ditambah alat visual untuk


menunjukkan matinya mesin terjadi dikarenakan :

36

1)

putaran engkol lebih (gangguan pengasutan).

2)

kecepatan lebih.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

d.

3)

tekanan minyak pelumas rendah.

4)

temperatur mesin berlebihan.

Alarm bunyi untuk memberi peringatan adanya kondisi satu atau lebih
alarm awal atau alarm.

2.

Penggerak mula jenis lain


Penggerak mula, selain motor bakar yang melayani generator set, harus
mempunyai alat pengaman yang cocok ditambah alarm visual dan alarm
bunyi untuk memperingatkan kondisi alarm atau mendekati alarm.

3.

Pasokan bahan bakar cair


Pasokan bahan bakar cair untuk sumber daya darurat dan pembantunya
harus dilengkapi dengan alat sensor untuk memperingatkan bahwa isi tangki
bahan bakar utama kurang dari 4 jam untuk memasok operasi.

Anunsiator (annunciator) alarm


1.

Anunsiator yang jauh, batere penyimpan tenaga, harus tersedia untuk


beroperasi di luar ruang pembangkit dalam lokasi yang mudah terlihat oleh
petugas operasi dari tempat kerjanya regular (lihat ketentuan yang berlaku,
SNI 04-0225-2000 tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik Anunsiator
dari sumber daya darurat atau sumber daya tambahan harus menunjukkan
kondisi alarm sebagai berikut :
a.

Sinyal visual individu akan menunjukkan sebagai berikut :


1)

Apabila sumber daya darurat atau pembantunya beroperasi


memasok daya ke beban.

2)
b.

Apabila pengisi batere gagal berfungsi.

Sinyal

visual

individu

ditambah

sinyal

visual

biasa

yang

memperingatkan kondisi alarm mesin - generator harus menunjukkan :


1)

Tekanan minyak pelumas rendah.

2)

Temperatur air rendah (di bawah yang dipersyaratkan pada butir


III.L).

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

37

3)

Temperatur air yang berlebihan.

4)

Bahan bakar rendah apabila tangki penyimpan bahan bakar


utama berisi kurang dari 4 jam memasok untuk operasi.

2.

5)

Putaran engkol lebih (kegagalan pengasutan).

6)

Kecepatan lebih.

Apabila tempat kerja regular tidak selalu terjaga, sinyal bunyi dan visual yang
menunjukkan kekacauan, yang terlabel dengan tepat, harus ditentukan pada
lokasi yang terus menerus termonitor.
Sinyal yang menunjukkan kekacauan ini harus bekerja apabila setiap kondisi
pada butir III.R.1 dan butir III.R.2 terjadi, tetapi kondisi ini tidak ditunjukkan
secara individu.

S.

Batere.
Sistem batere harus memenuhi seluruh persyaratan yang berlaku SNI 04-02252000 tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik.

38

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB IV
PROTEKSI UNTUK KESELAMATAN
A.

Proteksi terhadap kejut listrik


1.

Proteksi terhadap sentuh langsung maupun tidak langsung


a.

SELV dan PELV


Jika menggunakan sirkit SELV dan/atau PELV dalam lokasi medik
kelompok 1 dan kelompok 2, voltase nominal yang diterapkan pada
pemanfaat listrik tidak boleh melebihi 25 V a.b. efektif atau 60 V a.s.
bebas riak. Proteksi dengan insulasi dasar bagian aktif dan dengan
penghalang atau selungkup adalah esensial, lihat bab III.D.
Dalam lokasi medik kelompok 2, bagian konduktif terbuka (BKT)
perlengkapan

(misalnya

luminer

ruang

operasi/bedah),

harus

dihubungkan ke konduktor ikatan ekuipotensial.


b.

Proteksi terhadap sentuh langsung


1)

Rintangan
Proteksi dengan rintangan tidak diizinkan.

2)

Penempatan di luar jangkauan


Proteksi dengan penempatan di luar jangkauan tidak diizinkan.
Hanya proteksi dengan insulasi bagian aktif atau proteksi dengan
penghalang atau selungkup yang diizinkan.

c.

Proteksi terhadap sentuh tak langsung


1)

Diskoneksi otomatis suplai


a)

Umum
(1)

Diskoneksi suplai
Dalam lokasi medik dari kelompok 1 dan kelompok 2,
berlaku yang berikut:

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

39

(a)

untuk

sistem

IT, TN dan TT, voltase

sentuh

konvensional UL tidak boleh melampaui 25 V


(UL 25 V);
(b)

untuk

sistem

TN

dan

IT,

berlaku

Tabel

IV.A.1.c.1).a).(1).(b).
Tabel IV.A.1.c.1).a).(1).(b)
Sistem

50 V < Uo 120 V

120 V < Uo 230 V

230 V < Uo 400 V

Uo > 400 V

detik

detik

detik

detik

a.b.

a.s.

a.b.

a.s.

a.b.

a.s.

a.b.

a.s.

TN

0,8

Catatan 1

0,4

0,2

0,4

0,1

0,1

TT

0,3

Catatan 1

0,2

0,4

0,07

0,2

0,04

0,1

Jika dalam sistem TT, diskoneksi dilaksanakan oleh gawai proteksi arus lebih (GPAL) dan ikatan
ekuipotensial proteksi dihubungkan dengan semua BKE di dalam instalasi, dapat digunakan
waktu diskoneksi maksimum yang berlaku untuk sistem TN.
U0 adalah voltase lin ke bumi a.b. atau a.s. nominal.
CATATAN 1 Diskoneksi dapat disyaratkan untuk alasan selain proteksi terhadap kejut listrik.
CATATAN 2 Jika diskoneksi dilakukan dengan GPAS lihat butir IV.A.1.c.2) dan butir IV.A.1.c.3).
CATATAN Diskoneksi suplai ketika terjadi kondisi beban lebih
atau hubung pendek, dapat dicapai dengan metode desain yang
berbeda dalam prosedur aturan umum untuk memenuhi tingkat
keselamatan yang disyaratkan.

2)

Sistem TN
Pada sirkit akhir kelompok 1 dengan nilai pengenal hingga 32 A,
harus digunakan gawai proteksi arus sisa (GPAS) dengan arus
operasi sisa maksimum 30 mA (proteksi tambahan).
Pada lokasi medik kelompok 2, proteksi dengan diskoneksi
otomatis suplai dengan sarana GPAS dengan arus operasi sisa
tidak melebihi 30 mA hanya harus digunakan untuk sirkit berikut:
a)

sirkit untuk suplai meja bedah;

b)

sirkit untuk unit sinar X;

c)

sirkit untuk perlengkapan besar dengan daya pengenal lebih


besar dari 5 kVA;

d)

sirkit untuk perlengkapan listrik nonkritis (bukan penunjang


hidup).

40

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Harus diperhatikan untuk memastikan bahwa penggunaan secara


serentak banyak jenis perlengkapan tersebut yang dihubungkan
ke sirkit yang sama tidak dapat menyebabkan trip yang tidak
dikehendaki dari GPAS.
Pada lokasi medik kelompok 1 dan kelompok 2, jika disyaratkan
penggunaan GPAS oleh sub-ayat ini, harus dipilih hanya jenis (A)
atau jenis (B), tergantung pada kemungkinan arus gangguan yang
timbul.
CATATAN
Direkomendasikan bahwa sistem TN-S dipantau untuk
memastikan tingkat insulasi semua konduktor aktif.

3)

Sistem TT
Pada lokasi medik kelompok 1 dan kelompok 2, persyaratan
sistem TN berlaku dan dalam semua hal harus menggunakan
GPAS.

4)

Sistem IT medik
CATATAN 1 Di Amerika Serikat sistem tersebut dikenal sebagai Sistem Daya
Terisolasi

a)

Pada lokasi medik kelompok 2, sistem IT medik harus


digunakan untuk sirkit yang menyuplai perlengkapan listrik
medik dan sistem yang dimaksudkan untuk penunjang hidup,
penerapan bedah dan perlengkapan listrik lain yang terletak
di lingkungan pasien, tidak termasuk perlengkapan yang
tercantum dalam butir IV.A.1.c.2).

b)

Untuk setiap kelompok ruangan yang melayani fungsi sama,


sekurang-kurangnya diperlukan satu sistem IT medik yang
terpisah. Sistem IT medik harus dilengkapi dengan gawai
monitor insulasi (GMI) sesuai persyaratan spesifik berikut:
(1)

impedans internal a.b. harus sekurang-kurangnya 100


k,

(2)

voltase uji tidak boleh lebih besar dari 25 V a.s.;

(3)

arus yang diinjeksikan, bahkan pada kondisi gangguan,


tidak boleh lebih besar dari 1 mA puncak;

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

41

(4)

indikasi harus ada saat terakhir ketika resistans insulasi


telah berkurang hingga 50 k. Harus dilengkapi dengan
gawai uji.

c)

Untuk setiap sistem IT medik, sistem akustik dan alarm


visual yang terpadu dengan komponen berikut harus disusun
pada tempat yang sesuai sedemikian sehingga dapat
dipantau secara permanen (sinyal dapat terdengar dan
terlihat) oleh staf medik.
(1)

lampu sinyal hijau untuk menunjukkan operasi normal;

(2)

lampu sinyal kuning akan menyala bila dicapai setelan


nilai minimum untuk resistans insulasi. Tidak boleh
dimungkinkan lampu ini dibatalkan atau didiskoneksi.

(3)

alarm dapat terdengar yang berbunyi bila dicapai


setelan nilai minimum untuk resistans insulasi. Alarm
dapat terdengar ini boleh dimatikan.

(4)

sinyal kuning harus padam ketika gangguan telah


hilang dan jika kondisi normal pulih.
Jika hanya satu perlengkapan saja yang disuplai dari
satu transformator IT terdedikasi, maka dapat dipasang
tanpa GMI.
Disyaratkan untuk memantau beban lebih dan suhu
tinggi pada transformator IT medik.

5)

Ikatan ekuipotensial suplemen


a)

Pada setiap lokasi medik kelompok 1 dan kelompok 2,


konduktor ikatan ekuipotensial suplemen harus dipasang dan
dihubungkan ke busbar ikatan ekuipotensial untuk keperluan
menyamakan beda potensial antara bagian berikut, yang
terletak dalam lingkungan pasien:

42

(1)

konduktor proteksi;

(2)

bagian konduktif ekstra (BKE);

(3)

skrin terhadap medan interferens listrik, jika dipasang;

(4)

hubungan ke grid lantai konduktif, jika dipasang;

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(5)

skrin logam transformator isolasi, jika ada.

CATATAN Penunjang pasien nonlistrik konduktif magun (terpasang


tetap) seperti meja bedah, dipan fisioterapi dan kursi dokter gigi
sebaiknya dihubungkan ke konduktor ikatan ekuipotensial kecuali
dimaksudkan untuk diisolasi dari bumi.

b)

Pada lokasi medik kelompok 2, resistans konduktor,


termasuk resistans hubungannya, antara terminal untuk
konduktor proteksi dari kotak kontak dan dari perlengkapan
magun atau setiap BKE dan busbar ikatan ekuipotensial
tidak boleh melebihi 0,2 .
CATATAN Nilai resistans dapat juga ditentukan dengan penggunaan
luas penampang yang sesuai dari konduktor.

c)

Busbar ikatan ekuipotensial harus terletak di dalam atau


dekat lokasi medik. Pada setiap panel distribusi atau di
dekatnya,

harus

ekuipotensial

dilengkapi

tambahan

yang

dengan
harus

busbar

ikatan

dihubungkan

ke

konduktor ikatan suplemen dan konduktor bumi proteksi.


Hubungan harus disusun sedemikian sehingga terlihat
dengan jelas dan masing-masing dapat didiskoneksi dengan
mudah.
2.

Proteksi kebakaran
Peraturan nasional atau SNI yang memberikan persyaratan tambahan dapat
berlaku.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

43

BAB V
PEMILIHAN DAN PEMASANGAN PERLENGKAPAN LISTRIK
A.

Kondisi operasi dan pengaruh eksternal


1.

Kondisi operasi
a.

Transformator untuk sistem IT medik


Transformator harus dipasang di dekat, di dalam atau di luar lokasi
medik dan ditempatkan dalam lemari atau selungkup untuk mencegah
kontak yang tidak disengaja dengan bagian aktif.
Voltase pengenal Un pada sisi sekunder transformator tidak boleh
melebihi 250 V a.b.

b.

Sistem IT medik untuk lokasi medik kelompok 2


Transformator harus sesuai dengan SNI 04-0225-edisi terakhir, dengan
persyaratan tambahan berikut:
Arus bocor belitan keluaran ke bumi dan arus bocor selungkup jika
diukur dalam kondisi tanpa beban dan transformator disuplai pada
voltase pengenal dan frekuensi pengenal tidak boleh melebihi 0,5 mA.
Transformator fase tunggal harus digunakan untuk membentuk sistem
IT medik untuk perlengkapan portabel dan magun dan keluaran
pengenalnya tidak boleh kurang dari 0,5 kVA dan tidak boleh melebihi
10 kVA.
Jika suplai beban trifase melalui sistem IT juga disyaratkan,
transformator trifase terpisah harus disediakan untuk keperluan ini
dengan voltase keluaran lin ke lin tidak melebihi 250 V.

2.

Pengaruh eksternal
CATATAN Jika sesuai, sebaiknya diberikan perhatian untuk pencegahan interferens
elektromagnetik.

a.

44

Risiko ledakan

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

CATATAN 1 Persyaratan untuk perlengkapan listrik medik yang dihubungkan ke gas


dan uap mudah terbakar tercantum dalam SNI 04-0225-edisi terakhir.
CATATAN 2 Jika kondisi berbahaya mungkin terjadi (yaitu adanya gas dan uap
mudah terbakar) dapat disyaratkan tindakan pencegahan khusus.
CATATAN 3 Pencegahan terhadap timbulnya listrik statik direkomendasikan.

Gawai listrik (misalnya kotak kontak dan sakelar) harus dipasang pada
jarak horizontal sekurang-kurangnya 0,2 m (titik tengah ke titik tengah)
dari setiap outlet gas medik, sedemikian sehingga meminimalkan risiko
penyulutan gas mudah terbakar.

B.

Diagram, dokumentasi dan petunjuk operasi


Rencana instalasi listrik bersama-sama dengan catatan, gambar, diagram
perkawatan dan tambahan modifikasi, dan juga petunjuk untuk operasi dan
pemeliharaan, harus disediakan untuk pengguna.
CATATAN
terakhir.

Gambar dan diagram perkawatan sebaiknya sesuai dengan SNI 04-0225-edisi

Dokumen relevan terutama adalah:


1.

diagram blok yang memperlihatkan sistem distribusi suplai daya normal dan
suplai daya untuk pelayanan keselamatan dalam gambar lin tunggal.
Diagram ini harus memuat informasi mengenai lokasi dari panel subdistribusi
di dalam bangunan;

2.

diagram blok panel utama dan panel subdistribusi yang memperlihatkan


perangkat hubung bagi dan kendali (PHBK) dalam gambar lin tunggal;

3.

gambar arsitektur;

4.

diagram skema kendali;

5.

petunjuk untuk operasi, inspeksi, pengujian dan pemeliharaan aki dan


sumber daya untuk pelayanan keselamatan;

6.

verifikasi komputational kesesuaian dengan persyaratan ini;

7.

daftar beban yang secara permanen dihubungkan ke suplai daya untuk


pelayanan keselamatan dengan menunjukkan arus normal dan dalam hal
beban dioperasikan motor, arus asutnya;

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

45

8.

buku catatan yang berisi rekaman semua pengujian dan inspeksi yang perlu
dilengkapi sebelum komisioning.

C.

Sistem perkawatan
Setiap sistem perkawatan dalam lokasi medik kelompok 2 harus khusus untuk
penggunaan perlengkapan dan fiting di lokasi tersebut.

D.

Perangkat hubung bagi dan kendali (PHBK)


1.

Proteksi untuk sistem perkawatan pada lokasi medik kelompok 2.


Proteksi arus lebih terhadap arus hubung pendek dan beban lebih perlu
untuk setiap sirkit akhir. Proteksi arus beban lebih tidak diizinkan pada sirkit
penyulang di hulu dan hilir dari transformator sistem IT medik. Sekering
boleh digunakan untuk proteksi hubung pendek.

E.

Perlengkapan lain
1.

Sirkit pencahayaan
Pada lokasi medik kelompok 1 dan kelompok 2, sekurang-kurangnya harus
dilengkapi dengan dua sumber suplai berbeda untuk beberapa luminer
dengan 2 sirkit. Salah satu dari dua sirkit harus dihubungkan ke pelayanan
keselamatan.
Untuk rute penyelamatan, luminer selang-seling harus dihubungkan untuk
pelayanan keselamatan.

2.

Sirkit kotak kontak pada sistem IT medik untuk lokasi medik kelompok
2.
a.

Pada setiap tempat perawatan pasien, misalnya kepala tempat tidur,


konfigurasi kotak kontak harus sebagai berikut:
1).

harus dipasang minimum dua sirkit terpisah yang menyulang


kotak kontak; atau

2).

setiap kotak kontak harus secara individu diproteksi terhadap arus


lebih.

46

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

b.

Jika sirkit disuplai dari sistem lain (sistem TN-S atau TT) pada lokasi
medik yang sama, kotak kontak yang dihubungkan ke sistem IT medik
harus:
1).

konstruksinya sedemikian sehingga mencegah digunakan dalam


sistem lain, atau

2).

F.

ditandai dengan jelas dan permanen.

Pelayanan keselamatan
1.

Sumber
Klasifikasi pelayanan keselamatan diberikan dalam Tabel V.F.1.

Kelas 0
(tanpa pemutusan)

Suplai otomatis tersedia tanpa pemutusan

Kelas 0,15
(pemutusan sangat singkat

Suplai otomatis tersedia dalam 0,15 detik

Kelas 0,5
(pemutusan singkat)

Suplai otomatis tersedia dalam 0,5 detik

Kelas 15
(pemutusan menengah)

Suplai otomatis tersedia dalam 15 detik

Kelas >15
(pemutusan lama)

Suplai otomatis tersedia dalam lebih dari 15 detik

CATATAN 1 : Biasanya tidak diperlukan untuk menyediakan suplai daya tanpa pemutusan
untuk perlengkapan listrik medik. Namun perlengkapan dikendalikan mikroprosesor dapat
mensyaratkan suplai tersebut.
CATATAN 2 : Pelayanan keselamatan disediakan untuk lokasi yang mempunyai klasifikasi
berbeda sebaiknya memenuhi klasifikasi yang memberikan keamanan suplai tertinggi.
Mengacu ke Tabel V.G untuk pedoman keterkaitan klasifikasi pelayanan keselamatan dengan
lokasi medik
CATATAN 3 : Pengertian di dalam berarti

G.

Alokasi nomor kelompok dan klasifikasi untuk pelayanan


keselamatan lokasi medik
Daftar definitif lokasi medik yang memperlihatkan kelompok peruntukannya tidak
praktis, karena penggunaan lokasi (ruangan) tersebut akan digunakan berbeda
antara negara dan bahkan di dalam suatu negara. Tabel V.G berikut adalah
contoh yang diberikan hanya sebagai pedoman.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

47

Tabel V.G Kelompok dan Klasifikasi untuk pelayanan keselamatan di lokasi medik.
Fungsi ruang

Kelompok
0

1
2
3
4

Ruang Triage
Ruang Observasi
Ruang Resusitasi
Ruang Tindakan

5
6
7
8

Ruang Pendaftaran
Ruang Tunggu
Ruang Periksa
Ruang Tindakan

9
1
0
1
1

Kamar Pasien

0,5 detik

INSTALASI GAWAT DARURAT


X
X
X
X
INSTALASI RAWAT JALAN
X
X
X
X
INSTALASI RAWAT INAP
X
X

Ruang Tindakan
Ruang Isolasi

Kelas
> 0,5 detik 15
detik

X
INSTALASI KEBIDANAN DAN KANDUNGAN

1
2
1
3
1
4
1
5
1
6

Ruang Periksa

Ruang Kala (Labor)

Ruang Melahirkan (Delivery)


Ruang Pemulihan Melahirkan

Ruang Bayi Lahir

INSTALASI BEDAH SENTRAL


1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
2
5
2
6
2
7
2
8
2

48

Ruang Pendaftaran

Ruang Persiapan

Ruang Induksi/Anestesi

Scrubstation

Ruang Utilitas Bersih

Ruang Utilitas Kotor

Ruang Persiapan Peralatan

X
X

Kamar Bedah
Ruang Spoolhuok
Gudang Anestesi

X
X

Ruang Pemulihan Bedah

Gudang Peralatan

Gudang Obat

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

9
3
0
3
1
3
2
3
3
3
4
3
5
3
6
3
7
3
8

Gudang Linen
Ruang Rawat Intensif

X
INSTALASI PERAWATAN INTENSIF (ICU)
a
X
X

Ruang Isolasi Infeksi


Ruang Isolasi
Ruang Linen

Gudang Obat

Ruang Darurat Bayi Lahir (NICU)


Ruang Darurat Anak-anak (PICU)
Ruang Luka Bakar

LABORATORIUM
3
9
4
0
4
1
4
2
4
3
4
4
4
5
4
6
4
7
4
8
4
9
5
0
5
1

Laboratorium, umum (darah, urine,


vishes)

Laboratorium, bacteriology

Laboratorium, biochemistry

Laboratorium, cytology

Laboratorium, hematologi

Laboratorium, histology

Laboratorium, Microbiology

Laboratorium, pengobatan nuklir

Laboratorium, pathology

Laboratorium, serology

X
X

Bank darah
Ruang otopsy

Farmasi

INSTALASI DIAGNOSTIK
5
2
5
3
5
4
5
5
5
6
5

Ruang Pemeriksaan

Ruang ECG / EEG / EMG

Ruang Treat Mill

Ruang Kedap Suara

Ruang Laparascopy

Ruang Endoscopy

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

49

7
5
8

Ruang Bronchoscopy

X
INSTALASI RADIOLOGI

5
9
6
0
6
1
6
2
6
3
6
4

Radiologi Diagnostik

Ruang CT Scan

Ruang MRI

Ruang Angiografi

Ruang Panoramik

Ruang Radioterapi

X
INSTALASI REHABILITASI MEDIK

6
5
6
6
6
7
6
8

Gymnasium Mats

Treatment

Ruang Hidroterapi

Ruang Pemeriksaan

X
INSTALASI LAUNDRY

6
9
7
0
7
1
7
2
7
3

Laundri, umum

Sortir linen kotor dan gudang.

Gudang linen bersih

Linen and trash chute room

Ruang Setrika

X
STERILISASI DAN SUPLAI

7
4
7
5
7
6
7
7

Ruang Disassembly

Ruang Cuci Alat

Ruang Assembly

Gudang Steril

X
DAPUR

7
8
7
9
8
0
8
1
8
2

Ruang Penerimaan

Ruang Proses Memasak

Walk in Freezer

Walk in Refrigerator

Gudang

a
b

50

Luminer dan perlengkapan listrik medik penunjang hidup yang memerlukan suplai daya
dalam 0,5 detik atau kurang.
Bukan merupakan ruang bedah.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

a.

Persyaratan umum untuk sumber suplai daya keselamatan dari


kelompok 1 dan kelompok 2
1)

Pada lokasi medik, suplai daya untuk pelayanan keselamatan


disyaratkan yang dalam kasus kegagalan sumber suplai daya
normal, harus dienergisasi untuk menyulang perlengkapan yang
dinyatakan dalam butir V.F.1.b.1), butir V.F.1.b.2), dan butir
V.F.1.b.3) dengan energi listrik untuk periode waktu yang
ditentukan dan di dalam dalam periode tukar alih yang ditentukan
sebelumnya.

2)

Jika voltase di panel distribusi utama drop pada satu atau


beberapa konduktor lebih dari 10% dari voltase nominal, suplai
daya keselamatan harus menggantikan suplai secara otomatis.
Pengalihan suplai sebaiknya dicapai dengan penundaan untuk
melayani

penutupan balik otomatis dari pemutus sirkit suplai

masuk (pemutusan waktu singkat).


3)

Untuk kabel interkoneksi antara komponen individu dan subrakitan


sumber suplai daya keselamatan, lihat butir V.C.
CATATAN Sirkit yang menghubungkan sumber suplai daya untuk pelayanan
keselamatan ke panel distribusi utama sebaiknya dianggap sebagai sirkit
keselamatan.

4)

Bila kontak tusuk disuplai dari sumber suplai daya keselamatan


maka harus siap diidentifikasi.

b.

Persyaratan rinci untuk pelayanan suplai daya keselamatan


1)

Sumber suplai daya dengan periode tukar alih kurang dari


atau sama dengan 0,5 detik
Saat terjadi kegagalan voltase pada satu atau lebih konduktor lin
di panel distribusi, sumber suplai daya keselamatan khusus harus
mempertahankan luminer meja ruang bedah dan luminer esensial
lain, misalnya endoskopi, untuk periode minimum 3 jam. Sumber
ini harus memulihkan suplai dalam periode tukar alih tidak
melebihi 0,5 detik.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

51

2)

Sumber suplai daya dengan periode tukar alih kurang dari


atau sama dengan 15 detik.
Perlengkapan sesuai menurut butir V.H.1 dan butir V.I harus
dihubungkan dalam 15 detik ke sumber suplai daya keselamatan
yang mampu mempertahankannya untuk periode minimum 24
jam, jika voltase satu atau lebih konduktor lin pada panel distribusi
utama untuk pelayanan keselamatan telah berkurang lebih dari
10% nilai nominal voltase suplai dan dengan durasi lebih besar
dari 3 detik.
CATATAN Durasi selama 24 jam dapat dikurangi hingga minimum 3 jam jika
persyaratan medik dan penggunaan lokasi, termasuk setiap perawatan, dapat
ditutup dan jika gedung dapat dikosongkan dengan baik dalam waktu yang
kurang dari 24 jam.

3)

Sumber suplai daya dengan periode tukar alih lebih lama dari
15 detik.
Perlengkapan selain dari yang dicakup dalam butir V.F.1.b.1) dan
butir V.F.1.b.2) , yang disyaratkan untuk pemeliharaan pelayanan
rumah sakit, dapat dihubungkan secara otomatis atau manual ke
sumber

suplai

daya

mempertahankannya

ke

selama

selamatan
periode

yang

minimum

mampu
24

jam.

Perlengkapan ini dapat mencakup, misalnya:


a)

perlengkapan sterilisasi;

b)

instalasi bangunan teknik, khususnya sistem pengondisi


udara, pemanas dan ventilasi, pelayanan bangunan dan
sistem pembuangan limbah;

52

c)

perlengkapan pendingin;

d)

perlengkapan masak;

e)

pengisi aki.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

H.

Sirkit pencahayaan keselamatan


1.

Pencahayaan keselamatan
Saat kegagalan daya jaringan, iluminans minimum yang diperlukan harus
disediakan dari sumber pelayanan keselamatan untuk lokasi berikut. Periode
tukar alih ke sumber keselamatan tidak boleh melebihi 15 detik:
a.

rute penyelamatan;

b.

pencahayaan tanda keluar;

c.

lokasi PHBK untuk set generator darurat dan untuk panel distribusi
utama suplai daya normal dan untuk sumber daya untuk pelayanan
keselamatan;

d.

ruangan yang dimaksudkan untuk pelayanan esensial. Dalam setiap


ruangan sekurang-kurangnya satu luminer harus disuplai dari sumber
daya untuk pelayanan keselamatan;

e.

ruangan lokasi medik kelompok 1. Dalam setiap ruangan sekurangkurangnya satu luminer harus disuplai dari sumber suplai daya untuk
pelayanan keselamatan;

f.

ruangan lokasi medik kelompok 2. Minimum 50 % pencahayaan harus


disuplai dari sumber daya untuk pelayanan keselamatan.

CATATAN Nilai untuk iluminans minimum dapat diberikan dalam peraturan nasional atau
daerah.

I.

Pelayanan lain
Pelayanan

selain

pencahayaan

yang

mensyaratkan

suplai

pelayanan

keselamatan dengan periode tukar alih tidak melebihi 15 detik dapat mencakup,
misalnya yang berikut:
1.

lif terpilih untuk personel pemadam kebakaran

2.

sistem ventilasi untuk penghisap asap

3.

sistem pemanggilan;

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

53

4.

perlengkapan listrik medik yang digunakan dalam lokasi medik kelompok 2


yang melayani pembedahan atau tindakan lain yang sangat vital.
Perlengkapan tersebut akan ditentukan oleh staf medik yang bertanggung
jawab;

5.

perlengkapan listrik untuk suplai gas medik termasuk udara bertekanan,


suplai vakum dan pembiusan (anestetik) pernafasan maupun gawai
pemantaunya;

6.

54

sistem deteksi kebakaran, alarm kebakaran dan pemadaman kebakaran.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB VI
VERIFIKASI
A.

Verifikasi
Tanggal dan hasil setiap verifikasi harus direkam.

B.

Verifikasi awal
Pengujian yang ditentukan di bawah pada butir 1 hingga butir 5 sebagai tambahan
pada persyaratan PUIL, kedua-duanya harus dilakukan sebelum komisioning dan
setelah perubahan atau perbaikan dan sebelum komisioning ulang.
1.

Uji fungsional GMI dari sistem IT medik dan sistem alarm akustik/visual.

2.

Pengukuran untuk memverifikasi bahwa ikatan ekuipotensial suplemen


sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

3.

Verifikasi keterpaduan fasilitas yang disyaratkan sesuai dengan ketentuan


yang berlaku untuk ikatan ekuipotensial.

4.

Verifikasi keterpaduan persyaratan bab IV.F untuk pelayanan keselamatan.

5.

Pengukuran arus bocor sirkuit keluaran dan selungkup transformator IT


medik dalam kondisi tanpa beban.

C.

Verifikasi periodik
Verifikasi periodik butir 1 hingga butir 5 dari bab V.B harus dilakukan sesuai
dengan peraturan daerah/nasional. Jika tidak terdapat peraturan daerah/nasional,
direkomendasikan interval berikut:
1.

uji fungsional gawai tukar alih: 12 bulan;

2.

uji fungsional GMI: 12 bulan;

3.

pemeriksaan, dengan inspeksi visual, setelan gawai proteksi: 12 bulan;

4.

pengukuran untuk memverifikasi ikatan ekuipotensial suplemen: 36 bulan

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

55

5.

verifikasi keterpaduan fasilitas yang disyaratkan untuk ikatan ekuipotensial:


36 bulan;

6.

uji fungsional bulanan dari:


a.

pelayanan keselamatan dengan aki: 15 menit;

b.

pelayanan keselamatan dengan mesin bakar: hingga suhu berjalan


pengenal tercapai; 12 bulan untuk jalan daya tahan;

7.

c.

pelayanan keselamatan dengan aki: uji kapasitas;

d.

pelayanan keselamatan dengan mesin bakar: 60 menit;

Dalam semua hal sekurang-kurangnya 50 % hingga 100 % daya pengenal


harus diambil alih;

56

a.

pengukuran arus bocor transformator IT: 36 bulan;

b.

pemeriksaan trip GPAS pada IN: tidak kurang dari 12 bulan.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB VII
CARA PERKAWATAN DAN PERLENGKAPAN

Cara perkawatan dan perlengkapan


1.

Perlengkapan listrik, termasuk perlengkapan elektromedik atau yang


digunakan dalam ruang fasilitas pelayanan kesehatan, harus memenuhi
syarat dalam beberapa subayat di bawah ini.

2.

Perlengkapan yang harus dihubungkan secara khusus hanya boleh dipasang


jika semua prasarananya telah disiapkan. Syarat khusus untuk itu tercantum
dalam rincian teknis dan gambar instalasi yang disediakan oleh pabrikan.

3.

Perlengkapan dalam ruang fasilitas pelayanan kesehatan harus dipasang


sedemikian rupa sehingga tidak dipengaruhi oleh perlengkapan non medik
(misalnya komputer, pemancar, dan pesawat panggil) yang secara fungsi
berhubungan, atau memperoleh listrik dari konduktor yang sama tetapi
terdapat di luar ruang tersebut.

4.

Bila voltase, arus, atau frekuensi yang digunakan berbeda-beda, kontak


tusuk yang digunakan harus tidak dapat dipertukarkan.

5.

Dalam ruang kelompok 2, di atas plafonnya hanya boleh dipasang konduktor


untuk perlengkapan dalam ruang itu saja.

6.

Hanya inti dari sirkit utama yang boleh dipasangkan pada kabel berinti
banyak, atau dalam satu pipa untuk kabel berinti tunggal. Berbagai sirkit
bantu hanya boleh dipasangkan pada sirkit utamanya dalam satu jalur
konduktor (misalnya pipa), jika semuanya terhubung pada satu perlengkapan
dan disuplai dari sumber yang sama.

7.

Pada setiap sirkit dalam ruang pelayanan kesehatan, yang menggunakan


gawai proteksi arus sisa yang memenuhi butir VII.C.6 tersebut di atas, harus
dipasang satu konduktor proteksi. Hal yang sama bagi sirkit arus fase tiga
yang betul-betul simetris.
CATATAN : Pencegah gangguan frekuensi sering kali dipasang antara konduktor netral dan
konduktor fase, supaya arus sisa yang melalui konduktor proteksi tidak menjadi lebih
tinggi dari yang dibolehkan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

57

B.

Kabel yang dicabang


Kabel yang dicabangkan tidak boleh dipasang dalam ruang Kelompok 2
1.

PHBK harus dipasang di luar ruang pelayanan kesehatan dan harus mudah
dicapai.
CATATAN : Kotak hubung dan terminal yang menjadi satu dengan perlengkapan (misalnya
pipa pesawat sinar X), tidak termasuk PHBK seperti yang dimaksud di sini.

2.

Tiap ruang pelayanan kesehatan dan ruang bukan pelayanan kesehatan


harus mempunyai PHBK tersendiri (lihat butir VII.B.3).
a.

PHBK untuk ruang kelompok 2 harus langsung dihubungkan ke


PHBK utama bangunan. Bila instalasi diperluas, PHBK tersebut boleh
dihubungkan ke PHBK cabang yang digunakan untuk ruang kelompok
ini.

b.

Daya untuk PHBK ruang Kelompok 0 dan 1 boleh disalurkan ke PHBK


cabang yang digunakan untuk ruang bukan pelayanan kesehatan.

Dalam hal ini harus dipasang konduktor proteksi tersendiri pada konduktor
yang menyalurkan daya pada PHBK cabang.
3.

PHBK untuk ruang pelayanan kesehatan dan ruang bukan pelayanan


kesehatan boleh berada dalam satu lemari, jika ketentuan tersebut di bawah
ini dipenuhi :
a.

PHBK untuk kedua ruang itu dipisahkan oleh dinding dan mempunyai
tutup masing-masing;

b.

PHBK berinsulasi pengaman. Lemari terbuat dari bahan konduktor,


hanya diizinkan jika konduktor proteksi dipasang juga pada konduktor
yang menyalurkan daya ke PHBK ruang bukan pelayanan kesehatan.

4.

Bagian PHBK yang terhubung pada aparat catu daya pengganti dan segala
konduktornya dipisahkan oleh dinding dengan tutup tersendiri.

5.

Pengujian insulasi untuk tiap sirkit harus dapat dilaksanakan tanpa membuka
terminal konduktor netral, misalnya dengan memasang terminal pemisah
pada PHBK tersebut.

58

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

6.

Penampang rel konduktor proteksi harus sama dengan penampang rel


konduktor fase, tetapi sekurang-kurangnya 16 mm2 Cu.

C.

Tindakan proteksi
Untuk menghindari bahaya sentuh tak langsung harus dilakukan dengan cara
yang cocok tiap kelompok ruang pelayanan kesehatan. Ruang yang pada saat
yang sama, atau untuk sementara, dapat digolongkan dalam berbagai kelompok,
izin proteksinya hanya diberikan untuk satu kelompok saja.
1

Tindakan proteksi berlaku bagi semua perlengkapan yang bervoltase di atas


25 V antar fase atau antara fase dan bumi.

Cara proteksi tersebut dalam butir VII.C.1 di atas harus dipilih yang cocok
dengan ruang, ditambah syarat untuk tiap kelompok sebagai berikut :
a

Jenis proteksi yang diizinkan untuk ruang Kelompok 0 dan 1 ialah:


1)

insulasi proteksi dengan memperhatikan butir VII.C.3 ;

2)

voltase ekstra rendah dengan memperhatikan butir VII.C.4 ;

3)

sistem IT dengan memperhatikan butir VII.C.5 ;

4)

gawai proteksi arus sisa dengan memperhatikan butir VII.C.6.

Macam proteksi yang diperkenankan untuk ruang Kelompok 2 ialah :


1)

insulasi proteksi dengan memperhatikan butir VII.C.3 ;

2)

voltase ekstra rendah proteksi dengan memperhatikan butir


VII.C.4;

3)

sistem IT dengan memperhatikan butir VII.C.5, untuk aparat


penyambung dan kontak tusuk melebihi 25 V;

4)

gawai proteksi arus sisa dengan memperhatikan butir VII.C.6


untuk:
a)

peranti dengan daya sambung lebih dari 5 kVA, jika


terputusnya aliran listrik karena hubungan bumi pertama
tidak menimbulkan bahaya, baik bagi penderita maupun bagi
operator;

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

59

b)

pesawat rontgen, walaupun dengan daya lebih kecil dari 5


kVA;

c)

perlengkapan listrik lain dengan sambungan magun dan


tidak digunakan untuk pelayanan medik;

d)
3

pencahayaan umum ruang.

Insulasi di tempat kaki berpijak saja tidak diizinkan sebagai insulasi proteksi
(lokasi nonkonduktif).

Voltase nominal dari voltase rendah proteksi tidak boleh melebihi 25 V

Sistem IT
Untuk sistem IT harus diperhatikan hal-hal berikut :
a.

Harus menggunakan transformator pasangan tetap yang dipasang di


luar ruang fasilitas pelayanan kesehatan.

b.

Setiap ruang atau setiap kumpulan ruang Kelompok 2 beserta semua


ruang yang bersebelahan tetapi berfungsi sebagai bagian dari ruang
Kelompok 2 harus tersedia paling sedikit satu transformator. Lebih dari
satu transformator dapat dihubungkan paralel jika semuanya melayani
satu ruang atau kumpulan ruang.

c.

1)

Mengingat syarat yang ketat bagi keandalan catu daya listrik,


maka gawai proteksi transformator tersebut pada butir VII.C.5.b)
harus sedemikian rupa sehingga pada hubung bumi pertama
aliran listrik tidak terputus (misalnya transfomator ditempatkan di
atas insulasi)

2)

Setiap ruang yang termasuk Kelompok 2 harus disediakan paling


sedikit 2 (dua) buah kotak kontak. Khusus dalam ruang operasi
harus disediakan paling sedikit 5 buah kotak kontak yang
tersambung pada sekurang-kurangnya tiga sirkit akhir (jika
mungkin tiga fase yang berlainan) dan dipasang paling sedikit
1,25 m dari lantai.

60

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

d.

Sebagai proteksi hubung pendek dan beban lebih dari sirkit beban
hanya boleh digunakan pemutus sirkit arus lebih. Pemutus sirkit ini
harus bekerja secara selektif dengan gawai proteksi yang dipasang di
depannya.

e.

Transformator tersebut di atas harus mempunyai kumparan yang


terpisah, dan berinsulasi ganda yang diperkuat. Beberapa syarat
tambahan :
1)

Voltase nominal pada sisi sekunder tidak boleh lebih dari 230 V;
hal itu berlaku juga untuk voltase antara fase pada voltase fase
tiga.

2)

Transformator harus dilengkapi dengan pelindung statis antara


lilitan primer dan lilitan sekunder. Pelindung ini harus dapat
disambungkan pada ekuipotensial khusus atau konduktor proteksi
dengan konduktor berinsulasi.
CATATAN : Mengingat pemakaian, pengaruh kegagalan listrik, dan arus bocor
maka

a)

daya pengenal transformator harus antara 3,15 kVA, dan 8


kVA;

b)
f.

gawai proteksi insulasi harus dipasang secara sistematis.

Setiap sistem IT harus dilengkapi dengan gawai monitor insulasi yang


memenuhi syarat berikut:
1)

Impedans arus bolak-balik (Zi) dari monitor tersebut paling sedikit


100 k:. Voltase ukurnya harus 24 V a.s.; arus ukur tidak boleh
melebihi 1 mA, juga pada keadaan hubung pendek ke bumi yang
sempurna dari salah satu fase.

2)

Harus ada isyarat bila resistans insulasi turun sampai 50 k:.

3)

Setiap ruang atau kumpulan ruang, di tempat yang mudah terlihat


atau terdengar, harus dipasang aparat pemberi isyarat dan dalam
ruang itu harus selalu ada petugas.
Aparat pemberi isyarat tersebut berupa:

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

61

a)

lampu berwarna hijau yang menyala sebagai isyarat bahwa


aparat pemberi isyarat sedang digunakan;

b)

lampu berwarna kuning yang menyala jika nilai insulasi


berada di bawah nilai yang sudah ditentukan. Lampu ini tidak
dapat dipadamkan atau dinyalakan lewat sakelar.

c)

isyarat bunyi dipasang paralel dengan lampu berwarna


kuning yang dapat dihentikan, tetapi tidak dapat diputuskan.

d)
4)

tombol tekan untuk uji coba.

Untuk setiap konduktor proteksi harus dipasang sebuah resistans


coba 42 k: melalui tombol tekan untuk uji coba sesuai dengan
butir VII.C.5.f.3) antara konduktor fase dan konduktor proteksi.

Gawai Proteksi Arus Sisa (GPAS)


a.

Resistans pembumian RE haruslah :

dengan :
I'N

arus operasi sisa pengenal yang mentripkan (membidaskan)


GPAS.

b.

GPAS harus mempunyai proteksi arus operasi sisa pengenal tidak lebih
dari 30 mA.

7.

Konduktor proteksi
a.

Konduktor proteksi di PHBK


1).

Untuk setiap sirkit beban harus dipasang satu konduktor proteksi


tersendiri, mulai dari PHBK utama bangunan atau sambungan
rumah. Untuk ruang praktek dokter dari ruang Kelompok 1,
konduktor proteksi ini dipasang mulai dari PHBK cabang untuk
ruang praktek dokter tersebut.

62

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Bila menggunakan sistem TN, konduktor proteksi dan konduktor


fase harus berada dalam satu pipa atau merupakan salah satu
konduktor dari kabel berinti banyak.
2)

Penampang konduktor proteksi harus sekurang-kurangnya sesuai


dengan PUIL.

b.

Konduktor proteksi pada sirkit beban


1)

Tidak diizinkan menggunakan sebuah konduktor bersama untuk


lebih dari satu sirkit beban, kecuali bila digunakan konduktor
bersama menurut catatan butir VII.7.b.2) di bawah ini.
Kontak proteksi dari kotak kontak yang berdekatan dari berbagai
sirkit beban boleh dihubungkan yang satu dengan yang lain. Pada
unit instalasi yang sudah berupa barang jadi dari pabrik (seperti rel
untuk pencahayaan), konduktor proteksi, dan ekuipotensial yang
sudah terpasang pada perlengkapan pakai dapat dihubungkan
melalui rel yang disambungkan dengan konduktor berpenampang
paling sedikit 16 mm2 Cu, kepada rel konduktor proteksi dari
PHBK yang bersangkutan atau rel ekuipotensial sesuai .

2).

Resistans antara rel konduktor proteksi yang terakhir dengan


kontak proteksi dari kotak kontak atau dengan kontak konduktor
proteksi pada perlengkapan pakai, tidak boleh lebih dari 0,2 :
untuk ruang Kelompok 2.
CATATAN Dengan memperhitungkan resistans kontak, syarat ini berarti,
2
bahwa untuk penampang minimum 2,5 mm
Cu, panjangnya hanya
maksimum 20 m; keterbatasan itu dapat di atasi, dengan cara:

c.

1)

memperbanyak PHBK cabang; atau

2)

memasang sejumlah rel konduktor proteksi yang saling dihubungkan


2
dengan penampang minimum 16 mm Cu dan tersambung terus sampai
dengan PHBK.

Dalam PHBK dan pada rel konduktor proteksi, setiap konduktor proteksi
harus diberi tanda yang jelas sesuai dengan gambar instalasi.

d.

Konduktor proteksi harus ditandai sesuai dengan PUIL dan berinsulasi


untuk voltase nominal 500 V.

8.

Ekuipotensial khusus.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

63

Dalam ruang fasilitas pelayanan kesehatan harus terpasang ekuipotensial.


Semua bagian yang bersifat konduktor harus dihubungkan ke ekuipotensial
itu jika resistansnya terhadap konduktor proteksi lebih kecil dari 7 k:.
Selain itu dalam ruang Kelompok 2, semua bagian yang bersifat konduktor di
dalam daerah 2,5 m dari tempat penderita harus dihubungkan ke
ekuipotensial jika resistannya terhadap konduktor proteksi lebih kecil dari 2,4
k:. Pengujian dilakukan dengan voltase searah paling sedikit 100 V. Syarat
ini tidak berlaku untuk bagian konduktif yang diinsulasi sehingga sentuhan
tidak langsung dapat dihindarkan.
a.

Barang berikut harus selalu dihubungkan dengan konduktor


ekuipotensial khusus:
1)

semua pipa logam;

2)

pelindung terhadap medan listrik yang mengganggu dan lantai


yang bersifat konduktor;

3)

rel penahan perlengkapan dan sistem kanal;

4)

BKT perlengkapan magun berinsulasi proteksi yang mungkin


tersentuh, dan BKT perlengkapan dengan voltase ekstra rendah;

5)

perlengkapan yang bersifat konduktor yang mungkin tersentuh


atau biasa disentuh (misalnya meja operasi, pipa gas, bak mandi
kecuali bak untuk elektrogalvanisasi).

b.

Konduktor ekuipotensial dan rel ekuipotensial


1)

Konduktor ekuipotensial yang disebut dalam butir VII.C.8.a harus


dihubungkan pada rel ekuipotensial.
Rel konduktor proteksi tersebut dalam butir VII.C.7 dan rel
ekuipotensial harus berada dalam satu kotak.

64

2)

Kedua rel di atas harus dihubungkan ke konduktor yang


berpenampang minimum 16 mm2 Cu, dan harus dapat dilepas.

3)

Konduktor ekuipotensial dengan penampang minimum 4 mm2 Cu


harus berinsulasi untuk voltase nominal minimum 500 V dan diberi
warna loreng hijau-kuning.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4)

Antar rel ekuipotensial dari ruang atau kelompok ruang yang


dilengkapi aparat ukur atau aparat pengamat yang sama
fungsinya (misalnya perlengkapan untuk fungsi voltase aksi organ
tubuh), harus dipasang konduktor ekuipotensial khusus dengan
penampang minimum 16 mm2 Cu.

5)

Pada rel ekuipotensial harus tersambung konduktor ekuipotensial


secara teratur dan jelas, mudah dilepas dan disambungkan,
ditandai dengan jelas dan permanen menurut fungsinya.

6)

Bagian konduktif yang termasuk dalam ekuipotensial yang sama,


semuanya harus secara langsung tersambung ke rel
ekuipotensial.
Bagian konduktif, seperti pipa gas dalam satu ruang boleh
disambungkan ke rel ekuipotensial.

7)

Dalam ruang Kelompok 2 harus disediakan alat penghubung satu


kutub yang sudah diamankan terhadap kemungkinan terlepas
tanpa sengaja, untuk memungkinkan penyambungan konduktor
ekuipotensial bagi perlengkapan pasangan tidak tetap yang
digunakan dalam ruang itu.
CATATAN : Dianjurkan agar alat penghubung ini disediakan juga dalam ruang
pelayanan kesehatan lainnya.

8)

Untuk ruang Kelompok 2 berlaku juga hal berikut :


Resistans antara rel ekuipotensial di satu pihak, dan semua
bagian yang terhubung pada ekuipotensial itu termasuk juga alat
penghubungnya dipihak lain, tidak boleh lebih dari 0,2 :. Antara
rel ekuipotensial disatu pihak dan perlengkapan atau bagiannya
yang terpasang magun dan terhubung pada konduktor proteksi
atau konduktor ekuipotensial dipihak lain, dalam jarak 2,5 m dari
tempat penderita, tidak boleh ada voltase lebih besar dari 10 mV
dalam keadaan gangguan.
CATATAN : Bila setelah dilakukan tindakan penyamaan voltase dan dalam
keadaan tanpa gangguan, pada BKT yang menuju ke daerah aman yang masih
terdapat voltase 10 mV, maka harus:
a)

dipasang sekat insulasi;

b)

dilapisi atau diselubungi dengan insulasi.

CONTOH :
Sebagai contoh pelaksanaan ekuipotensial dengan rel penyama voltase lihat
Gambar VII.C.8.a.8) - 1 dan gambar VII.C.8.a.8) - 2 .

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

65

Gambar VII.C.8.a.8) - 1 Contoh instalasi ruang operasi dengan ekuipotensial


Catatan keterangan gambar VII.C.8.a.8) - 1:
1.

66

Perlengkapan yang terpasang permanen dengan voltase ! 5 kV

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

2.

Aparat rontgen

3.

Aparat elektromedik

4.

Lampu operasi

5.

Pencahayaan ruang

6.

Perlengkapan dengan insulasi pelindung

7.

Perlengkapan untuk tindakan proteksi, dengan konduktor proteksi

8.

Panel dengan tanda-tanda akustis dan optis, tombol uji coba, dan tombol PE

9.

Kemungkinan penyambungan untuk pemberitahuan keadaan insulasi jarak


jauh

10. Meja operasi


11. Instalasi gas, air dan pemanas ruang
12. Tusuk kontak 5 kutub
13. Jaring pembuang dari lantai yang bersifat konduktor
14. Aparat penjaga nilai insulasi
15. Catu daya pengganti khusus (CDPK)
16. Ekuipotensial dan rel konduktor proteksi
17. Gawai proteksi arus bocor dengan I'N d 30 mA.
16. Gawai proteksi arus bocor dengan I'N d 30 mA.
19. Gawai proteksi arus bocor dengan I'N d 30 mA.
20. Penjaga nilai voltase dan perlengkapan pindah sambung
21. Perlengkapan penyambung untuk ekuipotensial
23. Monitor Gantung
24. Unit 220 V dan 240 V untuk lampu operasi
25. Lampu pemberitahuan bagi CDPK
26. Dinding penyekat

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

67

Gambar VII.C.8.a.8) - 2 Contoh ekuipotensial di ruang operasi


Catatan keterangan gambar VII.C.8.a.8) - 2:

68

1.

Gawai rontgen atau alat lain dengan daya t 5 kVA

2.

Perlengkapan penyambungan untuk ekuipotensial

3.

Lemari instrumen pada resistan 24 mili: terhadap rel konduktor proteksi PE

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4.

Lampu operasi

5.

Meja operasi

6.

Pelindung konduktor

7.

Transformator untuk sistem konduktor pelindung dengan pelindung statis

8.

Perlengkapan pengukur insulasi

9.

PHBK untuk ruang operasi

10. Instalasi gas, air dan pemanas ruang


11. Dinding penyekat

Gambar VII.C.8.a.8) - 3
Daerah (zone) rawan di ruang operasi yang menggunakan anastetik mampu bakar berupa
campuran gas anastetik dan bahan pembersih
Catatan keterangan gambar VII.C.8.a.8) 3 :
1.

Masukan sistem tata udara

2.

Kolom gas anastetik

3.

Perlengkapan medik

4.

Lampu operasi

5.

Penderita

6.

Sakelar injak

7.

Zone M

8+9 Perlengkapan gas anastetik


10. Keluaran sistem tata udara
11. Zone G.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

69

Tindakan proteksi terhadap bahaya ledakan dan kebakaran


1.

Proteksi terhadap ledakan


a. . Di dalam daerah bahaya ledakan, ruang fasilitas pelayanan kesehatan,
hanya boleh dipasang perlengkapan berikut :
1)

Perlengkapan elektromedik jenis G dan M (perlengkapan


dengan uji anastesi);

2)

(dalam Zone M) juga perlengkapan listrik lainnya yang sesuai


dengan butir VII.D.1.a.1).

CATATAN : Yang dimaksud dengan daerah bahaya ledakan ialah:


Zone G, juga disebut sistem gas medis tertutup, mencakup seluruh rongga (tidak
selalu harus tertutup) yang secara terus menerus ataupun tidak, membuat,
menggunakan, dan dialiri campuran gas yang mudah meledak dalam jumlah sedikit
(tidak termasuk udara yang mudah meledak).
Zone M, juga disebut daerah sekitar kegiatan medis, mencakup bagian dari ruang
tempat udara yang mudah meledak dapat terbentuk sebagai akibat penggunaan
bahan analgetik pembersih kulit, atau disinfektan dalam jumlah sedikit dan dalam
waktu yang singkat.

b.

Bila dalam hal luar biasa di ruang fasilitas pelayanan kesehatan sesuai
dengan fungsinya dapat timbul zone bahaya ledakan yang lain dari
zone G dan M, di zone tersebut berlaku ketentuan dalam PUIL, butir
VII.D.1.a.1) tentang Ruang dengan bahaya kebakaran dan ledakan.

c.

Perlengkapan listrik yang dapat menimbulkan percikan api, baik dalam


keadaan biasa maupun saat ada gangguan, harus sekurang-kurangnya
berada 20 cm dari tempat gas keluar (misal, gas anastesi) dan tidak
boleh berada pada arah arus gas.

2.

Proteksi dari kebakaran


Bila bagian perlengkapan mencakup pipa yang berisi gas yang memudahkan
terjadinya kebakaran, misalnya zat asam atau gas gelak (N20), untuk bagian
ini berlaku hal berikut :
a.

Tempat ke luar gas harus berjarak minimum 20 cm dari bagian


perlengkapan listrik yang dapat menimbulkan percikan api yang dapat
menyulut gas, baik dalam keadaan biasa maupun bila ada gangguan.

70

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Perlengkapan listrik tadi tidak boleh ditempatkan pada arah gas


mengalir.
b.

Bila konduktor listrik dan pipa untuk gas yang memudahkan terjadinya
kebakaran dipasang bersama-sama dalam satu jalur, pipa, atau kotak,
maka konduktor listrik harus minimum memenuhi syarat untuk jenis
NYM.
Untuk kabel telepon hanya diperlukan tindakan pencegahan, bila hasil
perkalian dari voltase tanpa beban dan arus hubung pendek melebihi
10 VA.

Catu Daya Pengganti Khusus (CDPK)


1.

Bila aliran listrik terputus dalam ruang pelayanan kesehatan Kelompok 1 dan
2, perlengkapan seperti yang disebutkan dalam butir VII.E.2 harus dapat
bekerja terus dengan daya dari suatu CDPK, dengan mengindahkan
ketentuan di bawah ini:
CDPK tidak dapat mengganti CDP seperti yang disyaratkan, sebaliknya CDP
yang sesuai tidak dapat menggantikan CDPK.
CONTOH :
CDPK dalam sistem distribusi instalasi listrik pada fasilitas pelayanan
kesehatan diberikan dalam butir VII.E.1.
CATATAN : Dalam hal ini masing-masing ketentuan yang berlaku dalam persyaratan
pembangunan rumah sakit harus dipenuhi.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

71

Gambar VII.C.4
Contoh sistem distribusi instalasi listrik pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan
2

Menghubungkan perlengkapan
a

Dalam setiap ruang bedah atau ruang kegiatan medis lain yang dapat
digolongkan pada Kelompok 1 dan 2, sekurang-kurangnya harus ada
seperangkat lampu bedah yang dapat dinyalakan dengan tenaga dari
CDPK, misalnya dari baterai.
Waktu pindah beban paling lambat 0,5 detik.
Padamnya

satu

lampu

dari

seperangkat

lampu

tidak

boleh

menghentikan kegiatan pembedahan.


b

Pada CDPK harus juga terhubung lampu pencahayaan khusus bila


padamnya pencahayaan umum akan membahayakan penderita.

Perlengkapan medis yang digunakan untuk menjamin kesinambungan


fungsi bagian badan manusia yang penting, harus dapat berjalan
normal kembali selambat-lambatnya dalam waktu 10 detik.

72

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

CDPK dapat juga dihubungkan dengan sirkit lain dari sistem konduktor
proteksi dari ruang Kelompok 2 sesuai dengan butir VII.C.5, bila CDPK
tersebut memang sudah direncanakan untuk itu. Jika tidak semua kotak
kontak tersambung pada CDPK, kotak kontak yang tersambung
padanya harus diberi tanda yang jelas dan permanen.

Persyaratan umum
a.

CDPK harus terjamin kerjanya sekurang-kurangnya selama 3 jam.

b.

CDPK harus secara otomatis mengambil alih beban bila:


1)

voltase jaringan umum turun lebih dari 10 %

2)

voltase pada PHBK hilang, paling sedikit pada satu konduktor


fase.

Penghubungan kembali pemanfaatan listrik pada jaringan umum atau


CDP harus dilaksanakan dengan penangguhan waktu secukupnya.
c.

Tindakan

proteksi

terhadap

sentuh

tak

langsung

harus

tetap

dilaksanakan, bila menggunakan CDPK. Syarat menurut butir VII.C.5


tidak perlu dipenuhi bila tindakan proteksi dengan konduktor proteksi
menurut butir VII.C tetap dipertahankan.
CATATAN : Dengan pengecualian ini maka pada beban yang kecil sumber daya
bekerja lebih ringan karena arus mula dari transformator untuk sistem konduktor
proteksi tidak ada.

d.

Bekerjanya CDPK dalam setiap ruang atau kelompok ruang harus


disertai isyarat yang mudah terlibat.
CATATAN : Untuk mengamankan pemberian daya, sebaiknya ditambah juga alat
ukur beban dengan penunjukan beban tertinggi yang dapat diberikannya.

e.

Pembangkit tenaga listrik harus dipasang di luar ruang pelayanan


kesehatan, kecuali pembangkit tenaga listrik pengganti rendah.
Semua kabel dan konduktornya harus terpisah dan berjarak minimum 5
cm dari kabel konduktor listrik lainnya atau dipisahkan dengan sekat
yang tidak mudah terbakar. Kabel dan konduktor ini tidak boleh ditarik
melintasi ruang dengan bahaya kebakaran, dan harus dilindungi dari
kemungkinan kerusakan mekanik.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

73

f.

Untuk gambar instalasi listrik, PHBK, dan konduktor berlaku ketentuan


dalam PUIL.

g.

Bila CDPK harus melayani lebih dari satu sirkit, selektivitas proteksi
arus lebih harus terjamin bila terjadi hubung pendek.

h.

Bila menggunakan CDPK, perubahan voltase yang lebih besar dari r


10% voltase nominal pada titik sambung dengan perlengkapan pakai,
hanya diizinkan bila berlangsung tidak lebih dari waktu alih beban
seperti dimaksud pada butir VII.C.2.a.

Pembangkit Tenaga Listrik (PTL)


a.

PTL dengan mesin penggerak harus memenuhi syarat dalam PUIL,


sejauh tidak ditentukan lain dalam bab VII.

b.

Batere yang diperkenankan untuk digunakan sebagai CDPK

hanya

jenis Ni-Cd atau batere Pb dengan permukaan kutub positif yang luas.
Batere kendaraan bermotor tidak boleh digunakan.
c.

Memelihara muatan baterai


1)

Keadaan muatan batere harus terjamin dengan sistem otomat


pengisian muatan.

2)

Perlengkapan pengisian harus dibuat sedemikian rupa sehingga


batere yang telah bekerja selama 3 jam terus menerus dengan
beban nominal pada cos M = 0,8, dapat diisi penuh kembali dalam
waktu 6 jam.

3)

Bila suatu CDP yang sesuai dengan butir VII.H.2.a tersedia,


batere dari CDPK harus juga terhubung pada CDP ini agar
muatannya terjamin bila jaringannya terganggu.

Menguji instalasi
1

Agar instalasi listrik dapat digunakan dengan baik, instalasi itu perlu diulang
uji secara berkala dan pengguna instalasi harus mempunyai dokumen
berikut:

74

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

a)

diagram umum (diagram listrik dalam bentuk sederhana) PHBK,


termasuk catu daya pengganti umum dan catu daya pengganti khusus;

b)

gambar instalasi listrik sesuai dengan PUIL;

c)

petunjuk penggunaan dan pemeliharaan;

d)

buku uji atau berita acara pengujian mengenai hasil semua pengujian
sesuai dengan peraturan yang berlaku.

2.

Pengujian sebelum penggunaan yang pertama dilakukan sesuai dengan


PUIL.

3.

Pengujian tambahan pada penggunaan pertama


a.

Resistans konduktor proteksi dan konduktor ekuipotensial harus diuji.

b.

Pengujian menurut PUIL harus dilakukan sedapat mungkin pada saat


instalasi seluruh bangunan mengalami pembebanan penuh; semua
perlengkapan elektromedik baik yang tetap maupun yang randah,
dihidupkan atau dinyalakan.
Pengukuran harus dilakukan dengan voltmeter voltase efektif dengan
resistan dalam sekitar 1 k:.
Daerah frekuensi voltmeter tersebut hendaknya tidak melampaui terlalu
jauh dari 1 kHz.

c.
4.

CDPK harus diuji menurut bab VII.E.

Pengujian setelah instalasi diubah dan atau ditambah


a.

Instalasi listrik dalam ruang fasilitas pelayanan kesehatan yang


dipasang sesuai dengan ketentuan ini, setelah mengalami perubahan
atau penambahan harus tetap memenuhi syarat dalam ketentuan ini.

b.

Untuk itu, instalasi harus diuji sesuai dengan butir VII.F.2 dan butir
VII.F.2.b. Gambar instalasi listrik dan diagram PHBK harus diperbaiki
jika terjadi perubahan atau penambahan pada instalasi.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

75

5.

Pengujian berkala
a

Untuk mempertahankan tingkat keamanan yang tinggi dari seluruh


instalasi haruslah dilakukan pengujian berkala terhadap instalasi yang
digunakan.

Hasil pengujian harus dicatat dalam buku uji sesuai dengan butir
VII.F.1.

Pengujian berkala dilaksanakan sebagai berikut:


1).

Pengujian sesuai dengan bab VII.F harus dilakukan oleh orang


juru sekurang-kurangnya setahun sekali.

2).

Pengujian monitor insulasi dan sakelar proteksi arus sisa harus


dilakukan oleh petugas yang ditunjuk dengan menekan tombol uji
sekurang-kurangnya setengah tahun sekali.

3).

Uji coba CDPK harus dilakukan dengan pembebanan sekurangkurangnya 50 % daya nominal : selama 15 menit untuk catu daya
statis dan konverter berputar dan 60 menit untuk catu daya
dinamis, dilaksanakan oleh petugas sekurang-kurangnya sebulan
sekali sesuai dengan petunjuk pembuat perlengkapan catu daya.

76

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB VIII
KETENTUAN UNTUK PROTEKSI DASAR
CATATAN Ketentuan untuk proteksi dasar memberikan proteksi pada kondisi normal dan diterapkan jika
ditentukan sebagai bagian tindakan proteksi yang dipilih

Insulasi dasar bagian aktif

CATATAN Insulasi dimaksudkan untuk mencegah sentuh dengan bagian aktif

Bagian Aktif harus tertutup seluruhnya dengan insulasi yang hanya dapat dilepas dengan
merusaknya.
Untuk perlengkapan, insulasi harus memiliki standar relevan untuk perlengkapan listrik

Penghalang atau Selungkup

CATATAN Penghalang atau selungkup dimaksudkan untuk mencegah sentuh dengan bagian aktif

Bagian aktif harus berada di dalam selungkup atau di belakang penghalang


yang memberikan tingkat proteksi sekurang-kurangnya IPXXB atau IP2X,
kecuali jika terjadi lubang yang lebih besar selama penggantian bagian,
misalnya fiting lampu atau sekering tertentu, atau jika diperlukan lubang yang
lebih besar agar perlengkapan dapat berfungsi dengan baik menurut
persyaratan relevan untuk perlengkapan tersebut, maka :
a

harus diambil tindakan pencegahan yang sesuai untuk mencegah


manusia atau ternak menyentuh bagian aktif secara tidak sengaja, dan

harus dapat dipastikan sejauh dapat dipraktikkan, supaya manusia


peduli bahwa bagian aktif dapat tersentuh melalui lubang dan
sebaiknya tidak disentuh dengan sengaja , dan

lubang harus sekecil mungkin, konsisten dengan persyaratan untuk


berfungsinya secara baik dan untuk penggantian bagian.

Permukaan bagian atas horizontal penghalang atau selungkup yang mudah


di akses harus memberikan tinggkat proteksi sekurang-kurangnya IPXXD
atau IP4X.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

77

Penghalang dan selungkup harus terpasang dengan kokoh di tempatnya dan


mempunyai

kestabilan

dan

daya

tahan

yang

memadai

untuk

mempertahankan tingkat proteksi yang disyaratkan dan pemisahan yang


memadai dari bagian aktif dalam kondisi pelayanan normal yang dikenal,
dengan memperhitungkan pengaruh eksternal yang relevan.
4

Jika diperlukan untuk melepaskan penghalang atau membuka selungkup


atau melepas bagian selungkup, hal ini hanya mungkin :
a

dengan menggunakan kunci atau perkakas menggunakan kunci atau


perkakas, atau

setelah diskoneksi suplai ke bagian aktif yang diberi proteksi oleh


penghalang

atau

selengkup

tersebut,

pemulihan

suplai

hanya

dimungkinkan setelah penggantian atau penutupan balik penghalang


atau selungkup, atau
c

jika ada penghalang antara yang memberikan tingkat proteksi


sekurang-kurangnya IPXXB atau IP2X untuk mencegah sentuh dengan
bagian aktif, maka penghalang antara tersebut hanya dapat dilepas
dengan mengunakan kunci atau perkakas

Jika dibelakang penghalang atau di dalam selungkup, perlengkapannya


terpasang dapat menyimpan muatan listrik berbahaya setelah disakelar off
(Kapasitor, dan sebagainya), diperluakan label peringatan. Kapasitor kecil
misalnya yang digunakan untuk pemadaman busur, untuk penundaan
respons relai, dan sebagai. Tidak dianggab berbahaya.
CATATAN Sentuh tidak sengaja tidak dianggap berbahaya jika voltase yang yang dihasilkan
dari muatan satik turun di bawah 120 V a.s dalam waktu kurang dari 5 detik setelah
dikoneksi dari suplai daya

78

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

BAB IX
PENUTUP
Persyaratan teknis prasarana instalasi elektikal rumah sakit ini diharapkan dapat
digunakan sebagai rujukan oleh pengelola rumah sakit, penyedia jasa kontruksi,
pemerintah daerah, dan instansi yang terkait dengan kegiatan pengaturan dan
pengendalian penyelenggaraan pembangunan prasarana instalasi elektrikal guna
menjamin keselamatan rumah sakit dan lingkungan terhadap bahaya elektrikal.
Persyaratan teknis yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif serta penyesuaian
persyaratan prasarana instalasi elektikal pada rumah sakit oleh masing-masing daerah
disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan kelembagaan di daerah.
Sebagai pedoman/petunjuk kelengkapan dapat digunakan Standar Nasional Indonesia
(SNI) terkait lainnya.

MENTERI KESEHATAN,

ENDANG RAHAYU SEDYANINGSIH

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

79

80

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

PENYUSUN PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


Pembina

dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH

Pengarah

dr. Supriyantoro, Sp.P,MARS

- dr. Zamrud Ewita Aldy, Sp.PK,MM


- Sukendar Adam, DIM, M.Kes
- Ir. Azizah
- Ir. Hanafi. MT
- Erwin Burhanuddin. ST
- R. Aryo Seto, ST
Pelaksana

Elizabeth S. Sampelino, ST, MM

- Irvan, ST, MBAT


Nara Sumber
Wakil-wakil instansi Pemerintah, Asosiasi, Akademisi, Pemeritah
Kelompok Kerja
Ir. Sukartono Soewarno

Persatuan Insinyur Indonesia

Ir Bartien Sayogo

Yayasan Peraturan Umum Instalasi Listrik

Ir. Sukarno

Yayasan Peraturan Umum Instalasi Listrik

Ir. Taufik Izwan , MT, MM

Pusat Sarana Prasarana dan Peralatan


Kesehatan

Ir. Sodikin Sodek, M.Kes

RSUP Fatmawati Jakarta

Tommy I Pangaribuan, ST, MT

Dinas P2B Prop.DKI Jakarta

Ir. Handoyo Tanjung

Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia

Ir. Rachmat Nugroho, MBAT

Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan


Surabaya

Ir. Daniel Mangindaan

Himpunan Ahli Elektro Indonesia

Yohanes Kho, Dipl. Ing

Konsultan Listrik

Ir. Hilman Hamid

Konsultan Perencana

Ir. Nurfulela, MT

Akademisi

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

81

PEDOMAN TEKNIS PRASARANA RS :


SISTEM INSTALASI GAS MEDIK DAN
VAKUM MEDIK

DIREKTORAT BINA PELAYANAN PENUNJANG MEDIK DAN SARANA KESEHATAN


SUB DIREKTORAT BINA SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN
TAHUN 2012

DAFTAR ISI

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Penggunaan
Sifat bahaya dari sistem gas dan vakum
Sumber
Katup
Stasiun outlet I inlet
Rakitan buatan pabrik
Rel gas medik (RGM) yang terpasang pada permukaan
Indikator tekanan dan vakum
Sistem peringatan
Distribusi
Penamaan dan identifikasi
Kriteria dan uji kinerja (gas, vakum medik-bedah, dan BSGA)
Pengoperasian dan manajemen

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

1
1
1
37
41
42
44
45
45
50
60
63
75

iii

Persyaratan Teknis Sistem Instalasi Gas Medik dan Vakum


Medik Rumah Sakit

Penggunaan.

1.1

Ketentuan ini berlaku wajib untuk Rumah sakit yang menggunakan sistem instalasi gas

medik dan vakum medik.


1.2

Bila terdapat istilah gas medik atau vakum, ketentuan tersebut berlaku bagi semua sistem

perpipaan untuk oksigen, nitrous oksida, udara medik, karbon dioksida, helium, nitrogen, vakum
medik untuk pembedahan, pembuangan sisa gas anestesi, dan campuran dari gas-gas tersebut.
Bila terdapat nama layanan gas khusus atau vakum, maka ketentuan tersebut hanya berlaku bagi
gas tersebut.
1.3

Suatu sistem yang sudah ada yang tidak sepenuhnya memenuhi ketentuan ini boleh tetap

digunakan sepanjang pihak yang berwenang telah memastikan bahwa penggunaannya tidak
membahayakan jiwa.

Sifat bahaya dari sistem gas dan vakum.


Potensi bahaya kebakaran, ledakan dan lainnya yang berkaitan dengan sistem perpipaan sentral

gas medik dan sistem vakum bedah-medik harus dipertimbangkan dalam perancangan, pemasangan,
pengujian, pengoperasian dan pemeliharaan dari sistem ini.

Sumber.

3.1

Identifikasi dan pelabelan sistem pasokan sentral.

3.1.1

Silinder dan kontainer yang boleh digunakan hanya yang dibuat, diuji, dan dipelihara

sesuai spesifikasi dan peraturan atau standar yang berlaku.


3.1.2

Isi silinder harus diidentifikasi dengan suatu label atau cetakan yang ditempelkan pada

silinder dan kontainer yang menyebutkan isi silinder sesuai ketentuan yang berlaku.
3.1.3

Sebelum digunakan isi silinder dan kontainer harus dipastikan.

3.1.4

Label tidak boleh dirusak, diubah, atau dilepas, dan fiting penyambung tidak boleh

dimodifikasi.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

3.1.5

Pintu ruangan yang berisi gas medik selain dari oksigen dan udara medik harus berlabel

sebagai berikut:
AWAS
Gas Medik
Dilarang Merokok atau Menyalakan Api
Oksigen Dalam Ruangan Mungkin Tidak Cukup
Buka Pintu dan Biarkan Ruangan Terventilasi Sebelum Masuk
3.1.6

Pintu ruangan yang berisi sistem pasokan sentral atau silinder yang hanya berisi oksigen

atau udara medik harus berlabel sebagai berikut:


AWAS
Gas Medik
Dilarang Merokok atau Menyalakan Api

3.2

Pengoperasian sistem pasokan sentral.

3.2.1

Dilarang penggunaan adaptor atau fiting konversi untuk menyesuaikan fiting khusus suatu

gas ke fiting gas lainnya.


3.2.2

Silinder dan kontainer harus ditangani sesuai bab 13 secara ketat.

3.2.3

Hanya silinder gas medik dan kontainer yang dapat diisi ulang, serta kelengkapannya

yang boleh disimpan dalam ruangan tempat sistem pasokan sentral.


3.2.4

Dilarang menyimpan bahan mudah menyala, silinder berisi gas mudah menyala atau

kontainer berisi cairan mudah menyala, dalam ruangan bersama silinder gas medik.
3.2.5

Dibolehkan pemasangan rak kayu untuk menyimpan silinder gas medik.

3.2.6

Bila silinder dibungkus pada saat diterima, pembungkus tersebut harus dibuang sebelum

disimpan.
3.2.7

Tutup pelindung katup harus dipasang erat pada tempatnya bila silinder sedang tidak

digunakan.
3.2.8

Dilarang menggunakan silinder tanpa penandaan yang benar, atau yang tanda dan fiting

untuk gas spesifik tidak sesuai.


3.2.9

Unit penyimpan cairan kriogenik yang dimaksudkan memasok gas ke fasilitas dilarang

digunakan untuk mengisi ulang bejana lain.


3.2.10

Tidak diperkenankan memindahkan oksigen dari satu silinder ke silinder lain.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3.3.

Penempatan sistem pasokan sentral.

3.3.1

Penempatan sistem pasokan sentral harus memenuhi kriteria dalam butir 3.3.1.1 sampai

3.3.1.10.
3.3.1.1 Setiap sistem berikut boleh ditempatkan bersama dalam satu konstruksi pelindung di luar
bangunan (outdoor) :
(1)

manifol untuk silinder gas tanpa sumber cadangan. (lihat butir 3.4.9);

(2)

manifol untuk silinder gas dengan sumber cadangan;

(3)

manifol untuk silinder cairan kriogenik (lihat butir 3.4.10);

(4)

sistem cairan kriogenik curah (lihat butir 3.4.11).

3.3.1.2 Setiap sistem berikut ini boleh ditempatkan bersama dalam satu konstruksi pelindung di
dalam bangunan (indoor) :
(1)

manifol untuk silinder gas tanpa sumber cadangan. (lihat butir 3.4.9);

(2)

manifol untuk gas dengan sumber cadangan;

(3)

manifol untuk silinder cairan kriogenik (lihat butir 3.4.10);

(4)

cadangan darurat dalam bangunan (lihat butir 3.4.13);

(5)

header siaga untuk udara instrumen (lihat butir 3.8.5).

3.3.1.3 Setiap sistem berikut ini boleh ditempatkan bersama dalam satu ruangan :
(1)

sumber pasokan sentral kompresor udara medik (lihat butir 3.5.3);

(2)

sumber vakum sentral bedah-medik (lihat butir 3.6);

(3)

sumber pembuangan sentral sisa gas anestesi (lihat butir 3.7);

(4)

sumber udara sentral instrumen (lihat butir 3.8).

3.3.1.4 Setiap sistem dalam butir 3.3.1.3 dilarang ditempatkan dalam satu ruangan yang sama
dengan setiap sistem dalam butir 3.3.1.1 atau 3.3.1.2, kecuali bila header cadangan untuk udara
medik atau udara instrumen memenuhi butir 3.4.13
3.3.1.5 Lokasi sistem pasokan sentral harus dipilih untuk memudahkan akses kendaraan
pengantar dan pengelolaan silinder (sebagai contoh: kedekatan dengan landasan bongkar-muat,
akses ke lif, pengangkutan silinder melalui daerah umum).
3.3.1.6 Lokasi dalam bangunan untuk gas oksigen, nitrous oksida, dan campuran dari gas-gas ini
tidak boleh berhubungan dengan yang berikut ini :
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

daerah yang berhubungan dengan pelayanan pasien kritis;


lokasi pelaksanaan anestesi;
lokasi penyimpanan bahan mudah menyala;
ruang yang berisi kontak listrik terbuka atau trafo;
tangki penyimpan cairan mudah terbakar atau mudah menyala;
mesin;
dapur;
daerah dengan nyala api terbuka.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

3.3.1.7 Silinder yang sedang digunakan dan yang tersimpan harus dicegah agar tidak mencapai
temperatur melampui 54oC (130oF).
3.3.1.8 Sistem pasokan sentral untuk nitrous oksida dan karbon dioksida harus dicegah agar
tidak mencapai temperatur yang lebih rendah dari rekomendasi pabrik pembuat sistem pasokan
sentral, tetapi sama sekali tidak boleh lebih rendah dari 7oC (20oF) atau lebih tinggi dari 54 oC
(130oF).
3.3.1.9 Sistem pasokan sentral untuk oksigen dengan kapasitas terpasang dan tersimpan
seluruhnya 566 kiloliter (20 000 ft3) atau lebih, pada temperatur dan tekanan standar, harus
memenuhi ketentuan yang berlaku.
3.3.1.10 Sistem pasokan sentral untuk nitrous oksida dengan kapasitas terpasang dan tersimpan
seluruhnya 1451 kg (3200 lb) atau lebih pada temperatur dan tekanan standar harus memenuhi
ketentuan yang berlaku.

3.3.2

Perancangan dan pemasangan.

Lokasi sistem pasokan sentral dan penyimpanan gas-gas medik harus memenuhi persyaratan
berikut:
(1)

Dipasang dengan akses yang mudah untuk memindahkan silinder, peralatan, dan
sebagainya, keluar dan masuk lokasi.

(2)

Dijaga keamanannya dengan pintu atau gerbang yang dapat dikunci atau diamankan
dengan cara lain.

(3)

Jika di luar bangunan, ruangan harus dilindungi dengan dinding atau pagar dari bahan
yang tidak mudah terbakar.

(4)

Jika di dalam bangunan, harus dibangun dan menggunakan bahan interior yang tidak
mudah terbakar atau sulit terbakar sehingga semua dinding, lantai, langit-langit, dan
pintu sekurang-kurangnya mempunyai tingkat ketahanan api 1 jam.

(5)

Jika peralatan listrik ditempatkan pada atau lebih tinggi dari 150 cm (5 ft) di atas lantai
untuk menghindari kerusakan fisik, harus memenuhi ketentuan atau standar yang
berlaku.

(6)

Jika diperlukan pemanasan, harus dipanaskan dengan cara tidak langsung, (misalnya
dengan uap air atau air panas).

(7)

Dilengkapi dengan rak, rantai, atau pengikat lainnya untuk mengamankan masingmasing silinder, baik yang terhubung maupun yang tidak terhubung, penuh atau
kosong, agar tidak roboh.

(8)

Dipasok dengan daya listrik yang memenuhi persyaratan sistem kelistrikan esensial.

(9)

Apabila disediakan rak, lemari, dan penyangga, harus dibuat dari bahan tidak mudah
terbakar atau bahan sulit terbakar.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3.3.3

Ventilasi

3.3.3.1 Ventilasi di lokasi manifol


Lokasi yang berisi sistem pasokan sentral atau yang digunakan untuk menyimpan kontainer gas
medik, harus diberi ventilasi untuk mencegah akumulasi gas medik akibat kebocoran dan
pengoperasian alat keselamatan tekanan lebih dari silinder atau pipa manifol sesuai butir 3.3.3.1
(a) sampai 3.3.3.1 (g).
(a)

Sistem pasokan sentral dalam bangunan harus mempunyai katup relief tekanan
(pressure release valve) yang melepaskan tekanan menurut butir 3.4.5.1 (5) hingga
(9).

(b)

Bila volume total dari gas medik yang terhubung dan tersimpan lebih besar dari 85
kiloliter (3000 ft3), pada tekanan dan temperatur standar, lokasi pasokan sentral dalam
bangunan harus dilengkapi dengan sistem ventilasi mekanik khusus yang menyedot
udara pada ketinggian 300 mm (1 ft) dari lantai finis dan bekerja secara terus menerus.

(c)

Sumber daya listrik untuk fan ventilasi mekanik harus memenuhi persyaratan sistem
kelistrikan esensial.

(d)

Ventilasi alami dapat digunakan bila volume total dari gas medik yang tersambung dan
tersimpan lebih kecil dari 85 kiloliter (3000 ft3), pada tekanan dan temperatur standar,
atau gas bertekanan dalam ruang hanya udara medik.

(e)

Bila ventilasi alami diperbolehkan, ventilasi tersebut harus terdiri dari dua bukaan
dengan kisi-kisi (louver), masing-masing mempunyai luas bebas minimum 465 cm2 (72
in2), satu ditempatkan dalam jarak 300 mm (1 ft) dari lantai finis dan yang lainnya lagi
dalam jarak 300 mm (1 ft) dari langit-langit.

(f)

Bukaan dengan kisi-kisi untuk ventilasi alami tidak boleh diletakkan pada koridor akses
menuju eksit.

(g)

Ventilasi mekanik harus disediakan jika persyaratan butir 3.3.3.1.(f) tidak dapat
dipenuhi.

3.3.3.2 Ventilasi untuk peralatan yang digerakkan motor


Lokasi sumber berikut harus diventilasikan dengan cukup untuk mencegah akumulasi panas:
(1)

sumber udara medik (lihat butir 3.5);

(2)

sumber vakum bedah-medik (lihat butir 3.6);

(3)

sumber pembuangan limbah gas anestesi (lihat butir 3.7.1);

(4)

sumber udara instrumen.

3.3.3.3 Ventilasi untuk lokasi di luar bangunan


Lokasi di luar bangunan yang dikelilingi oleh dinding yang tidak permanen harus mempunyai
bukaan ventilasi terlindung yang ditempatkan pada dasar tiap dinding untuk memungkinkan
sirkulasi udara secara bebas.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

3.3.4

Penyimpanan

3.3.4.1 Silinder gas medik penuh atau kosong yang tidak tersambung dengan sistem distribusi
harus disimpan di tempat yang memenuhi butir 3.3.2 sampai 3.3.3 dan boleh berada dalam
ruangan bersama dengan sistem pasokan sentralnya.

3.4

Sistem pasokan sentral.

Sistem pasokan sentral boleh terdiri dari :


(1)

manifol silinder untuk silinder gas sesuai butir 3.4.9;

(2)

manifol untuk silinder cairan kriogenik sesuai butir 3.4.10;

(3)

sistem cairan kriogenik curah sesuai butir 3.4.11;

(4)

sistem kompresor udara medik sesuai butir 3.5;

(5)

pembangkit vakum bedah-medik sesuai butir 3.6;

(6)

penghisap limbah gas anestesi sesuai butir 3.7;

(7)

sistem kompresor udara instrumen sesuai butir 3.8;

3.4.1

Sistem pasokan sentral dibolehkan dipasang sesuai petunjuk suplier yang memahami

pemasangan dan penggunaannya yang tepat.


3.4.2*

Sistem pasokan sentral untuk oksigen, udara medik, nitrous oksida, karbon dioksida,

nitrogen dan semua gas medik lainnya tidak boleh disalurkan ke, atau digunakan untuk keperluan
apapun, selain untuk pelayanan pasien.
3.4.3

Bahan yang digunakan pada sistem pasokan sentral harus memenuhi persyaratan

berikut:
(1)

slang penghubung pada bagian sistem yang dimaksudkan untuk menangani oksigen
pada tekanan relatif lebih besar dari 2070 kPa (300 psig), tidak boleh mengandung
bahan polimer;

(2)

pada bagian sistem yang dimaksudkan untuk menangani oksigen atau nitrous oksida
pada tekanan relatif kurang dari 2070 kPa (300 psig), bahan konstruksi harus cocok
dengan oksigen pada tekanan dan temperatur terhadap mana komponen-komponen
tersebut terekspos dalam pewadahan dan penggunaan oksigen, nitrous oksida,
campuran gas-gas tersebut, atau campuran gas yang mengandung oksigen lebih dari
23,5 persen;

(3)

bahan yang berpotensi terekspos temperatur kriogenik, harus dirancang untuk


pemakaian pada temperatur rendah;

(4)

bahan yang dimaksudkan untuk pemakaian di luar bangunan, harus dipasang menurut
persyaratan pabrik pembuat.

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3.4.4

Regulator tekanan pada saluran akhir

3.4.4.1 Semua sistem pasokan sentral bertekanan positip harus dilengkapi dengan regulator
tekanan saluran akhir jenis ganda (dupleks), yang dipasang paralel dengan katup isolasi/penutup
sebelum regulator tekanan, untuk memungkinkan perbaikan pada salah satu regulator tekanan
tanpa mengganggu pasokan. (gambar 3.4.4.1)

Gambar 3.4.4.1 Tipikal Regulator tekanan pada saluran akhir.


3.4.4.2 Alat indikator tekanan harus ditempatkan di bagian hilir setiap regulator tekanan.

3.4.5

Katup relief tekanan

3.4.5.1 Semua sistem pasokan sentral bertekanan positip harus dilengkapi dengan sekurangkurangnya satu katup relief tekanan yang memenuhi persyaratan berikut :
(1)

dibuat dari bahan kuningan, perunggu, atau baja tahan karat;

(2)

dirancang untuk pelayanan gas;

(3)

ditempatkan antara katup outlet regulator saluran akhir dan katup sumber;

(4)

di set pada 50 % di atas tekanan operasional normal sistem (lihat tabel 2); (hal.70)

(5)

disalurkan ke bagian luar bangunan gedung, kecuali katup relief tekanan untuk sistem
udara tekan yang kurang dari 85 kiloliter ( 3000 ft3), pada tekanan dan temperatur
standar, boleh dilepas setempat;

(6)

bila disalurkan ke luar, disambung ke pipa pelepasan berukuran sekurang-kurangnya


sama dengan outlet katup relief tekanan;

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

(7)

bila banyak katup relief tekanan disalurkan ke dalam pipa ven bersama, pipa tersebut
harus mempunyai luas penampang dalam sama atau lebih besar dari jumlah luas
penampang dalam dari semua katup relief tekanan yang dilayani;

(8)

bila disalurkan ke luar bangunan, dilepas ke daerah yang jauh dari bahan mudah
menyala dan bukan ke tempat mungkin membahayakan orang lewat;

(9)

bila disalurkan ke luar bangunan, diarahkan ke bawah dan ujungnya dipasang saringan
untuk mencegah masuknya air atau binatang kecil yang mengganggu.

3.4.5.2 Bila dibuang keluar bangunan, bahan untuk pipa ven katup relief tekanan harus mengikuti
butir 10.1.

3.4.6

Tekanan berbeda

Bila sistem pasokan sentral tunggal memasok dua jaringan pipa distribusi yang bekerja pada
tekanan yang berbeda, maka setiap jaringan pipa distribusi harus dilengkapi dengan semua
elemen dalam butir 3.4.

3.4.7

Sinyal lokal

3.4.7.1 Sistem berikut harus mempunyai sinyal lokal pada peralatan sumbernya :
(1)

untuk silinder gas tanpa pasokan cadangan (lihat butir 3.4.9);

(2)

manifol untuk silinder gas dengan pasokan cadangan;

(3)

manifol untuk silinder cairan kriogenik (lihat butir 3.4.10);

(4)

sistem cairan kriogenik curah (lihat butir 3.4.11);

(5)

cadangan darurat dalam bangunan (lihat butir 3.4.13);

(6)

header udara instrumen (lihat butir 3.4.8);

3.4.7.2 Sinyal lokal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :


(1)

memberikan hanya indikasi visual;

(2)

diberi label agar perawatan dan pengkondisian termonitor;

(3)

jika dimaksud untuk pemasangan di luar bangunan gedung, dipasang sesuai


persyaratan pabrik pembuat.

3.4.8

Header

Setiap header yang dipasang pada sistem pasokan sentral menggunakan silinder yang berisi gas
atau cairan, harus mencakup:
(1)

jumlah sambungan silinder yang dibutuhkan header;

(2)

satu slang penghubung (cylinder lead) untuk setiap silinder sesuai butir 3.4.3. dan
dilengkapi dengan fiting ujung yang dipasang permanen mengikuti ketentuan yang
berlaku;

(3)

suatu filter dari bahan sesuai butir 3.4.3 untuk mencegah masuknya kotoran ke dalam
pengendali manifol;

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(4)

katup penutup header yang dipasang di bagian hilir dari sambungan silinder terdekat,
tetapi dipasang di bagian hulu titik sambungan header ke sistem pasokan sentral;

(5)

suatu indikator tekanan header;

(6)

katup penahan balik untuk mencegah aliran balik ke dalam header dan untuk
memungkinkan pemeliharaan header;

(7)

katup penahan balik pada setiap sambungan slang penghubung silinder dalam butir
3.4.8.(2), dimaksudkan untuk pemeliharaan silinder gas, untuk mencegah kehilangan
gas jika terjadi kerusakan pada slang penghubung silinder atau bekerjanya satu katup
relief tekanan;

(8)

regulator tekanan, dimaksudkan untuk mengurangi tekanan silinder ke tekanan relatif


di bawah 2070 Kpa (300 Psi);

(9)

katup relief tekanan dimaksudkan untuk pelayanan silinder cairan kriogenik.

.
Gambar 3.4.8(a) Header untuk Silinder Gas.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

Gambar 3.4.8(b) Header untuk Gas Kriogenik dalam Kontainer.


3.4.9

Manifol untuk silinder gas tanpa pasokan cadangan

3.4.9.1 Manifol dalam katagori ini harus ditempatkan sesuai butir 3.3.1 dan ketentuan berikut :
(1)

jika ditempatkan di luar bangunan, harus dipasang dalam konstruksi pelindung dan
ditempatkan mengikuti ketentuan yang berlaku;

(2)

jika ditempatkan di dalam bangunan, harus dipasang di dalam ruangan khusus;

3.4.9.2 Tempat manifol dalam katagori ini harus sesuai butir 3.3.2
3.4.9.3 Tempat manifol dalam katagori ini harus diberi ventilasi sesuai butir 3.3.3
3.4.9.4 Manifol dalam katagori ini harus terdiri dari:
(1)

Dua header yang sama sesuai butir 3.4.8, masing-masing dilengkapi dengan
sambungan silinder gas dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan rata-rata harian
tetapi tidak kurang dari dua, dan dengan header disambungkan ke regulator tekanan
pipa akhir sedemikian hingga salah satu header dapat memasok sistem.

(2)

Sebuah Katup relief tekanan antara disambungkan ke luar sesuai butir 3.4.5.1 (5)
sampai (9), yang melindungi pemipaan antara regulator tekanan header dan regulator
tekanan pipa, dan melindungi regulator tekanan pipa

dari tekanan berlebihan bila

terjadi kegagalan regulator tekanan header.


3.4.9.5 Manifol dalam katagori ini harus mencakup sarana otomatik pertukaran dua header untuk
menyempurnakan pengoperasian normal sebagai berikut :

10

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(1)

satu header sebagai header primer, dan lainnya sebagai header sekunder, dan
keduanya dapat bertukar peran;

(2)

bila header primer sedang memasok sistem, header sekunder dicegah memasok
sistem;

(3)

bila header primer menipis, header sekunder harus otomatik mulai memasok sistem.

3.4.9.6 Manifol dalam katagori ini harus membangkitkan sinyal lokal dan harus mengaktifkan
suatu indikator pada semua panel utama alarm, sebelum header sekunder mulai memasok sistem,
yang menunjukkan peralihan telah atau akan terjadi.
3.4.9.7 Jika manifol ditempatkan di luar bangunan, maka harus dipasang mengikuti persyaratan
pabrik pembuatnya.

Gambar 3.4.9 - Manifol Untuk Silinder-Silinder Gas.

3.4.10. Manifol untuk silinder cairan kriogenik


3.4.10.1 Manifol dalam katagori ini harus ditempatkan sesuai dengan butir 3.3.1 dan ketentuan
berikut :
(1)

jika ditempatkan di luar bangunan, harus dipasang dalam konstruksi pelindung dan
ditempatkan mengikuti ketentuan yang berlaku;

(2)

jika ditempatkan di dalam bangunan, harus dipasang di dalam ruangan khusus.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

11

3.4.10.2 Header primer dan sekunder dalam katagori ini harus ditempatkan dalam konstruksi
pelindung yang sama.
3.4.10.3 Header cadangan ditempatkan dalam konstruksi pelindung yang sama seperti header
primer dan sekunder atau dalam konstruksi pelindung lain mengikuti butir 3.4.10.1.

Gambar 3.4.10 Sumber Pasokan Tipikal untuk Kontainer Kriogenik Cair-gas.

12

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3.4.10.4 Manifol dalam katagori ini harus terdiri dari:


(1)

Dua header yang sama sesuai butir 3.4.8, masing-masing dilengkapi dengan
sambungan silinder gas dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan rata-rata harian
tetapi tidak kurang dari dua, dan dengan header disambungkan ke regulator tekanan
pipa akhir sedemikian hingga salah satu header dapat memasok sistem.

(2)

Suatu header cadangan, tersebut di butir 3.4.8 mempunyai cukup sambungan silinder
gas untuk kebutuhan rata-rata harian tetapi tidak kurang dari tiga sambungan,
dihubungkan di bagian hilir header primer/sekunder dan di bagian hulu dari regulator
tekanan pipa akhir.

(3)

Katup pelepas tekanan dipasang di bagian hilir dari sambungan header cadangan dan
di bagian hulu regulator tekanan pipa akhir dan tekanannya di set pada 50 % di atas
tekanan masukan maksimum yang diperkirakan.

3.4.10.5 Manifol dalam katagori ini harus dilengkapi sarana otomatik pengendalian tiga header
agar dalam operasi normal dapat dicapai hal berikut:
(1)

Satu header untuk cairan kriogenik, header primer dan lainnya sebagai header
sekunder, dan keduanya dapat saling tukar fungsinya.

(2)

Bila header primer sedang memasok sistem, header sekunder dicegah memasok
sistem.

(3)

Bila header primer menipis, header sekunder harus otomatik mulai memasok sistem .

3.4.10.6 Manifol dalam katagori ini harus dilengkapi dengan sarana untuk konservasi gas yang
dihasilkan dari penguapan cairan kriogenik dalam header sekunder. Mekanisme ini harus melepas
gas tersebut ke dalam sistem di bagian hulu regulator tekanan pipa akhir.
3.4.10.7 Manifol dalam katagori ini harus dilengkapi pula dengan sarana manual dan otomatik
untuk memfungsikan satu header sebagai header primer dan lainnya sebagai header sekunder.
3.4.10.8 Manifol dalam katagori ini harus dilengkapi dengan sarana otomatik untuk mengaktifkan
header cadangan bila header primer dan sekunder tidak berfungsi memasok sistem oleh sebab
apapun.
3.4.10.9 Manifol dalam katagori ini harus membangkitkan sinyal lokal dan harus mengaktifkan
suatu indikator pada semua alarm dengan persyaratan berikut :
(1)

bila pada titik set tertentu, sebelum header sekunder mulai memasok sistem, yang
menunjukkan peralihan fungsi.

(2)

bila pada titik set tertentu, sebelum header cadangan mulai memasok sistem, yang
menunjukkan cadangan sedang berfungsi.

(3)

bila pada titik set tertentu, sebelum isi header cadangan tinggal untuk kebutuhan ratarata satu hari, yang menunjukkan cadangan rendah.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

13

3.4.11 Sistem cairan kriogenik curah.

Gambar 3.4.11 Sumber Pasokan Tipikal untuk Cairan Kriogenik dalam Bentuk Curah.

14

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3.4.11.1 Sistem cairan kriogenik curah harus ditempatkan diluar bangunan dengan ketentuan
sebagai berikut :
(1)

dalam suatu konstruksi pelindung yang ditempatkan memenuhi persyaratan jarak


minimum yang berlaku;

(2)

dalam konstruksi pelindung yang dibuat tersebut di butir 3.3.2 (1) sampai (3) dan (5),
(8) dan (9);

(3)

dalam konstruksi pelindung diberi ventilasi tersebut di butir 3.3.3.3;

(4)

mengikuti ketentuan yang berlaku.

3.4.11.2 Sistem cairan kriogenik curah harus ditempatkan sesuai butir 3.4.11.2 (a) sampai (f).
(a)

sistem pasokan harus diangker dengan kuat pada plat beton, yang sesuai dengan
beratnya, beban permukaan, dan persyaratan gempa setempat;

(b)

lokasi harus tertutup rapat tersebut pada butir 3.3.2. (3) dengan pelat beton mengisi
seluruh lantai ruangan diantara dinding pembatas;

(c)

lokasi yang dimaksudkan untuk kendaraan pengantar (landasan kendaraan) harus


sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

(d)

lokasi yang dimaksudkan untuk penyambungan dengan kendaraan pengiriman harus


di beton;

(e)

drainase landasan peralatan dan landasan kendaraan harus jauh dari bangunan,
kendaraan yang di parkir atau sumber berpotensi menyala lain;

(f)

drainase tidak boleh ditempatkan di dalam batas landasan atau lebih dekat dari 2,45 m
(8 ft) terhadap tepi landasan.

3.4.11.3 Sumber cairan kriogenik curah harus terdiri dari:


(1)

satu atau lebih bejana pasokan utama, yang kapasitasnya harus ditentukan setelah
mempertimbangkan jadwal pengiriman, kedekatan fasilitas dari sumber pasokan
pengganti, dan rencana penanggulangan keadaan darurat;

(2)

pengukur isi pada setiap bejana utama;

(3)

pasokan cadangan yang ditentukan ukurannya lebih besar dari rata-rata pemakaian
harian, dengan ukuran yang tepat dari bejana atau jumlah ditentukan setelah
mempertimbangkan jadwal pengiriman, kedekatan fasilitas dari sumber pasokan
pengganti, dan rencana penanggulangan keadaan darurat untuk fasilitas tersebut.

3.4.11.4 Sumber cairan kriogenik curah harus termasuk suatu pasokan cadangan meliputi salah
satu atau keduanya sebagai berikut :
(1)

bejana cairan kriogenik kedua, termasuk sakelar penggerak/sensor yang memonitor


tekanan internal, pengukur isi, dan katup penahan balik untuk mencegah aliran balik ke
dalam sisitem cadangan;

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

15

(2)

sebuah header silinder sesuai butir 3.4.8 yang mempunyai sambungan silinder gas
yang cukup untuk pasokan rata-rata harian tetapi tidak kurang dari tiga dan termasuk
sakelar tekanan isi.

3.4.11.5 Sumber cairan kriogenik curah harus beroperasi untuk terlaksananya fungsi-fungsi berikut
:
(1)

apabila pasokan utama sedang memasok sistem, pasokan cadangan harus dicegah
agar tidak memasok sistem sampai pasokan utama gagal atau habis, pada saat itu
pasokan cadangan harus secara otomatik mulai memasok sistem;

(2)

apabila terdapat lebih dari satu bejana pasokan utama, sistem harus beroperasi seperti
diuraikan dalam butir 3.4.10 untuk operasi primer, sekunder atau cadangan;

(3)

dua bejana kriogenik atau lebih boleh bergantian fungsi primer, sekunder, dan
cadangan, dengan ketentuan urutan operasi (primer sekunder cadangan) seperti
dipersyaratan dalam butir 3.4.10.4 dan dipertahankan setiap waktu;

(4)

dalam hal bejana kriogenik digunakan sebagai cadangan, bejana cadangan tersebut
harus dilengkapi sarana konservasi gas yang dihasilkan oleh penguapan cairan
kriogenik dalam bejana cadangan dan untuk melepas gas ke dalam pipa di bagian hulu
dari regulator tekanan pipa akhir seperti dipersyaratan dalam butir 3.4.10.6.

3.4.11.6 Sistem curah harus membangkitkan sinyal lokal dan alarm pada alarm utama yang
dipersyaratakan dengan ketentuan sebagai berikut :
(1)

bila atau pada titik set tertentu sebelum pasokan utama mencapai pasokan rata-rata
harian, yang menunjukkan isi sedikit;

(2)

bila atau pada titik set tertentu sebelum pasokan cadangan mulai memasok sistem,
menunjukkan cadangan sedang digunakan;

(3)

bila atau pada titik set tertentu sebelum isi pasokan cadangan turun sampai pasokan
rata-rata sehari, menunjukkan isi cadangan sedikit;

(4)

bila cadangan adalah bejana kriogenik, bila atau pada titik set tertentu sebelum
tekanan internal cadangan menurun terlalu rendah untuk pengoperasian yang tepat,
yang menunjukkan kegagalan cadangan;

(5)

bila terdapat lebih dari satu bejana pasokan utama, bila atau pada titik set tertentu
sebelum bejana sekunder mulai memasok sistem, menunjukkan pergantian.

3.4.12* Sambungan Pasokan Oksigen Darurat ( SPOD)


POD harus dipasang untuk memungkinkan penyambungan ke sumber sementara pasokan untuk
keadaan darurat atau pemeliharaan dengan kondisi sebagai berikut:
(1)

apabila sistem pasokan sentral cairan kriogenik curah diluar dan jauh dari bangunan
yang dilayani pasokan oksigen;

16

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(2)

apabila tidak ada dalam bangunan suatu cadangan oksigen yang tersambung cukup
untuk memasok rata-rata harian (lihat butir 3.4.13 untuk cadangan seperti itu);

(3)

apabila bangunan mandiri dilayani dari sumber oksigen tunggal sedemikian sehingga
kerusakan pada pipa interkoneksi oksigen dapat menyebabkan hilangnya pasokan
oksigen pada satu atau lebih bangunan. Dalam situasi ini setiap bangunan harus
dilengkapi dengan suatu sambungan darurat terpisah.

Gambar 3.4.12(a) : Jaringan Pasokan Oksigen Darurat


3.4.12.1 SPOD harus ditempatkan sebagai berikut :
(1)

pada bagian luar bangunan yang dilayani di lokasi yang dapat dijangkau oleh
kendaraan pasokan darurat pada setiap waktu dan kondisi cuaca;

(2)

disambungkan ke pasokan utama langsung di bagian hilir dari katup penutup utama.

3.4.12.2 Sambungan Pasokan Oksigen Darurat (SPOD) harus terdiri dari:


(1)

proteksi fisik untuk mencegah pengrusakan dari orang yang tidak berwenang;

(2)

lubang inlet betina DN (NPS) untuk penyambungan sumber oksigen darurat yang
kapasitasnya 100 % dari kebutuhan sistem pada tekanan gas sumber darurat;

(3)

katup penutup manual untuk mengisolasi SPODjika tidak digunakan;

(4)

dua katup penahan balik, satu di bagian hilir dari SPOD dan satu di bagian hilir dari
katup penutup jalur utama, dan keduanya di bagian hulu dari sambungan T untuk
kedua pipa;

(5)

sebuah katup relief tekanan yang ukurannya ditentukan untuk memproteksi sistem
pemipaan dan peralatannya di bagian hilir, terhadap tekanan melebihi 50% di atas
tekanan normal pipa;

(6)

setiap katup yang dibutuhkan untuk memungkinkan penyambungan dari suplai


pasokan darurat oksigen dan pengisolasian pemipaan ke sumber normal suplai
pasokan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

17

3.4.13 Cadangan darurat dalam bangunan


3.4.13.1 Cadangan darurat dalam bangunan tidak boleh digunakan sebagai pengganti untuk
cadangan gas curah yang dipersyaratkan dalam butir 3.4.11.4.
3.4.13.2 Jika suatu cadangan disediakan di dalam bangunan sebagai pengganti SSOD SPOD,
cadangan ini harus ditempatkan sesuai butir 3.3 sebagai berikut :
(1)

di dalam suatu ruangan atau konstruksi pelindung yang dibuat sesuai butir 3.3.2;

(2)

di dalam suatu ruangan atau konstruksi pelindung yang diberi ventilasi sesuai butir
3.3.3

3.4.13.3 Cadangan darurat di dalam bangunan harus terdiri dari salah satu sebagai berikut :
(1)

header silinder gas sesuai butir 3.4.8 dengan sambungan silinder yang cukup untuk
menyediakan sekurang-kurangnya pasokan rata-rata harian;

(2)

suatu manifol untuk silinder gas memenuhi butir 3.4.9.

3.4.13.4 Cadangan darurat dalam bangunan harus dilengkapi katup penahan balik pada jalur
utama yang ditempatkan pada sisi sistem distribusi dari katup jalur utama sumber yang biasa,
untuk mencegah aliran gas cadangan darurat dari sumber yang biasa.
3.4.13.5 Cadangan darurat dalam bangunan harus membangkitkan sinyal lokal dan alarm pada
semua alarm utama bila atau sesaat sebelum mulai melayani sistem.

3.5

Sistem pasokan udara medik.

3.5.1

Kualitas udara medik

Udara medik harus mempunyai karakteristik sebagai berikut :


(1)

Dipasok dari silinder, kontainer curah, sumber kompresor udara medik, atau diperoleh
dari rekonstitusi oksigen dan nitrogen kering, bebas minyak;

(2)

memenuhi persyaratan udara medik ;

(3)

kadar hidrokarbon cair tidak terdeteksi;

(4)

kadar gas hidrokarbon kurang dari 25 ppm;

(5)

kadar partikulat permanen, yang berukuran 1 mikron atau lebih, sama atau kurang dari
5 mg/m3

3.5.2

Sumber udara medik harus dihubungkan hanya ke sistem distribusi udara medik, dan

harus digunakan hanya untuk respirasi pasien, dan kalibrasi dari alat medik untuk respirator.

3.5.3

Sumber kompresor udara medik

3.5.3.1 Sistem kompresor udara medik harus ditempatkan sesuai butir 3.3 sebagai berikut :
(1)

Di dalam bangunan, dalam daerah khusus peralatan mekanikal, berventilasi cukup,


dan dilengkapi dengan utilitas yang dibutuhkan (contoh, listrik, drainase, pencahayaan,
dan lain-lain).

18

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(2)

Dalam ruangan yang dibangun sesuai butir 3.3.2.

(3)

Dalam ruangan yang diberi ventilasi sesuai butir 3.3.3.2.

(4)

Untuk peralatan yang didinginkan dengan udara, dalam ruangan yang dirancang untuk
mempertahankan rentang temperatur ambien seperti yang direkomendasikan oleh
pabrik pembuat.

3.5.3.2 Sistem kompresor udara medik harus terdiri dari:


(1)

komponen yang mengikuti butir 3.5.4 sampai 3.5.10, dirangkai sesuai butir 3.5.11;

(2)

sarana otomatik untuk mencegah aliran balik dari semua kompresor yang bekerja
terhadap semua kompresor yang berhenti;

(3)

katup penutup manual untuk mengisolasi setiap kompresor dari sistem

pemipaan

sentral dan dari kompresor lain untuk pemeliharaan atau perbaikan tanpa kehilangan
tekanan dalam sistem;
(4)

lubang masuk filter tipe kering;

(5)

katup relief tekanan yang di set pada 50 % di atas tekanan pipa.

3.5.3.3 Sistem kompresor udara medik harus mencegah kondensasi uap air dalam sistem
distribusi dengan memasang peralatan pengering udara.

3.5.4

Kompresor udara medik

3.5.4.1* Kompresor udara medik harus dirancang untuk mencegah masuknya pencemar atau
cairan ke dalam pipa dengan salah satu dari metoda berikut :
(1)

menghilangkan

minyak

di

mana

saja

dalam

kompresor;

direkomendasikan

menggunakan kompresor bebas minyak (oil free atau oil less).


(2)

memisahkan bagian yang mengandung minyak dari rongga kompresi dengan


sekurang-kurangnya dua penyekat yang membentuk suatu daerah terbuka ke atmosfir
yang memungkinkan:
(a)

pemeriksaan visual langsung dan tidak terhalangi terhadap poros interkoneksi


melalui lubang ven dan pemeriksaan tidak lebih kecil dari 1,5 diameter poros;

(b)

Konfirmasi berfungsinya sekat dengan benar oleh petugas, dengan pemeriksaan


visual langsung melalui bukaan di atas poros, tanpa membongkar kompresor.

3.5.4.2 Untuk kompresor dengan cincin cairan, kualitas air dan sekat air harus yang
direkomendasikan oleh pabrik pembuat kompresor.
3.5.4.3 Kompresor dibuat dari bahan mengandung feros dan/atau non-feros.
3.5.4.4 Dudukan anti getaran harus dipasang pada kompresor yang diperlukan oleh dinamika
kompresor atau lokasi peralatan dan sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuat.
3.5.4.5 Sambungan fleksibel harus dipasang pada intake dan outlet kompresor ke sistem
pemipaan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

19

3.5.11.6

Gambar 3.5 - Elemen Tipikal Sistem Sumber Udara Medik Duplek dengan Kompresor.

3.5.5

Alat pendingin akhir

Alat pendingin akhir apabila diperlukan, harus dilengkapi perangkap kondensat (condensate traps)
individual. Penampung (receiver) tidak boleh digunakan sebagai alat pendingin akhir (aftercooler)
atau perangkap alat pendingin akhir (aftercooler trap).
3.5.5.1

Alat pendingin akhir dibuat dari bahan feros (mengandung Fe) dan / atau non-feros.

3.5.5.2 Dudukan anti getaran harus dipasang pada alat pendingin akhir yang diperlukan oleh
dinamika atau lokasi peralatan dan sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuatnya.

20

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3.5.6

Penampung (receiver) udara medik

Penampung udara medik harus memenuhi persyaratan berikut :


(1)

Dibuat dari bahan tahan korosi atau dibuat tahan korosi.

(2)

Memenuhi ketentuan yang berlaku tentang bejana bertekanan.

(3)

Dilengkapi dengan katup relief tekanan, pengering otomatik (otomatik drain), pengering
manual (manual drain), manhole, dan penunjuk tekanan.

(4)

3.5.7

Kapasitasnya cukup untuk mencegah kompresor dari siklus pendek.

Pengering udara medik

Pengering udara medik harus memenuhi persyaratan berikut :


(1)

Dirancang untuk menyediakan udara pada titik embun maksimum di bawah titik beku
00C (32 0F) pada setiap tingkat kebutuhan.

(2)

Kapasitasnya 100 % dari kebutuhan puncak sistem yang dihitung pada kondisi
perancangan.

(3)

Dibuat dari bahan feros (Mengandung Fe) dan/atau non-feros.

(4)

Dipasang dengan dudukan anti getaran sesuai yang diperlukan oleh dinamika atau
lokasi peralatan dan sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuatnya.

3.5.8

Filter udara medik

Filter udara medik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :


(1)

Cocok untuk kondisi udara masuk.

(2)

Ditempatkan di bagian hulu dari regulator tekanan pipa ujung.

(3)

Kapasitasnya 100 % dari kebutuhan puncak sistem yang dihitung pada kondisi
perancangan, dan dengan efisiensi minimum 98% pada 1 mikron atau lebih besar.

(4)

Dilengkapi dengan indikator visual yang terus menerus menunjukkan status umur
elemen filter.

(5)

Dibuat dari bahan feros dan/ atau non-feros.

3.5.8.1 Kompresor yang mengikuti butir 3.5.4.1 (2) harus dilengkapi dengan:
(1)

Filter coalescing dengan indikator pengganti elemen.

(2)

Penyerap dari arang dengan indikator kolorimetrik untuk hidrokarbon.

3.5.9

Regulator tekanan udara medik

Regulator tekanan udara medik harus memenuhi persyaratan berikut :


(1)

Kapasitasnya 100 % dari kebutuhan puncak sistem yang dihitung pada kondisi
perancangan.

(2)

Dibuat dari bahan feros dan / atau non-feros.

(3)

Dilengkapi indikator tekanan yang menunjukkan tekanan keluar.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

21

3.5.10 Alarm lokal udara medik


Suatu alarm lokal mengikuti butir 9.4 harus disediakan untuk sumber kompresor udara medik.

3.5.11 Susunan pemipaan dan redundansi


3.5.11.1 Penyusunan komponen harus sebagai berikut :
(1)

Komponen harus disusun untuk memungkinkan pelayanan dan pasokan udara medik
yang terus menerus jika terjadi kegagalan akibat satu kesalahan.

(2)

Susunan komponen boleh berubah sesuai kebutuhan teknologi yang digunakan,


dengan ketentuan tingkat redundansi pengoperasian dan kualitas udara medik tetap
dipertahankan.

Gambar.3.5.11.6 Alternatif Pemasangan Deretan Katup untuk Pengontrolan Saluran dalam Udara
Medik.
3.5.11.2 Kompresor udara medik harus berkapasitas cukup untuk melayani kebutuhan puncak
yang dihitung dengan satu kompresor terbesar tidak bekerja. Dalam keadaan apapun jumlah
kompresor tidak boleh kurang dari dua.

22

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3.5.11.3 Bila dilengkapi alat pendingin akhir, kapasitasnya harus cukup untuk melayani
kebutuhan puncak yang dihitung dengan sebuah alat pendingin akhir terbesar tidak bekerja dan
dilengkapi katup yang memadai untuk memindahkan sistem tanpa menutup pasokan udara tekan
medik.
3.5.11.4 Penampung udara medik harus dilengkapi dengan bypass tiga katup untuk
memungkinkan pemeliharaan penampung tanpa mematikan sistem udara medik.
3.5.11.5 Pengering, filter dan regulator sekurang-kurangnya dibuat ganda dengan setiap
komponen berkapasitas untuk melayani kebutuhan puncak yang dihitung dengan salah satu
komponen terbesar tidak bekerja.
3.5.11.6 Pengering, filter dan regulator harus dilengkapi dengan katup manual di bagian hulu,
dan dengan katup manual atau katup penahan balik di bagian hilir untuk memudahkan
pemeliharaan komponen tanpa menghentikan sistem dengan salah satu cara berikut :
(1)

dipasang untuk setiap komponen di bagian hulu dan hilir dari setiap komponen untuk
memudahkan setiap komponen diisolasi secara individual, atau,

(2)

dipasang di bagian hulu dan hilir dari komponen yang dipasang seri sehingga
membuat redundansi cabang paralel dari komponen.

3.5.11.7 Katup dengan lubang penuh, tiga arah, berindeks aliran, boleh dipakai untuk
mengisolasi satu cabang atau komponen untuk tujuan 3.5.11.6.
3.5.11.8 Dalam pengoperasian normal hanya satu alat pendingin akhir harus dibuka untuk
mengalirkan udara dengan menutup katup alat pendingin akhir lainnya.
3.5.11.9 Dalam pengoperasian normal hanya satu urutan alat pengering-filter-regulator

dibuka

untuk mengalirkan udara dengan katup urutan lainnya tertutup.


3.5.11.10 Jika katup relief tekanan dipersyaratkan pada butir 3.5.3.2 (5) dan 3.5.6.(3) dapat
diisolasi dari sistem dengan susunan katup yang digunakan untuk memenuhi butuir 3.5.11.6, maka
katup relief tekanan redundansi harus dipasang dalam urutan paralel.
3.5.11.11 Lubang sampel untuk mengambil contoh dengan katup DN 8 (NPS ) harus dipasang di
bagian hilir dari regulator tekanan pipa ujung, monitor titik embun dan monitor karbon monoksida
dan di bagian hulu dari katup penutup sumber untuk memudahkan mengambil sampel udara
medik.
3.5.11.12 Sistem sumber udara medik harus disediakan dengan sebuah katup sumber sesuai butir
4.4.
3.5.11.13 Apabila diperlukan sistem pemipaan udara medik pada beberapa tekanan kerja yang
berbeda, pemipaan harus terpisah setelah filter, tetapi harus dilengkapi dengan regulator, monitor
titik embun, katup relief tekanan dan katup penutup sumber yang terpisah.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

23

3.5.12 Daya listrik dan kontrol


3.5.12.1 Kompresor tambahan harus secara otomatik bekerja bila kompresor yang sedang
beroperasi tidak mampu mempertahankan tekanan yang dibutuhkan.
3.5.12.2 Pergantian kompresor secara otomatik atau manual harus memungkinkan pembagian
waktu operasi. Jika pergantian otomatik kompresor tidak disediakan, petugas fasilitas harus
menyusun jadwal pergantian secara manual.
3.5.12.3 Setiap motor kompresor harus dilengkapi dengan komponen listrik, termasuk tetapi tidak
terbatas pada:
(1)

Sakelar pemutus arus khusus yang dipasang di sirkuit listrik sebelum setiap starter
motor listrik.

(2)

Alat start motor.

(3)

Proteksi beban lebih.

(4)

Apabila sistem kompresor mempunyai dua atau lebih kompresor yang, menggunakan
trafo pengendali atau pengendali tegangan daya, sekurang-kurangnya dipasang dua
alat seperti itu.

(5)

Sirkuit pengendali disusun sedemikian agar bila satu kompresor dihentikan tidak
mengganggu operasi kompresor lainnya.

3.5.12.4 Instalasi listrik dan pengawatan harus sesuai persyaratan SNI 0225-edisi terakhir
tentang Persyaratan umum instalasi listrik (PUIL).
3.5.12.5 Layanan listrik darurat untuk kompresor harus memenuhi persyaratan sistem kelistrikan
esensial.

3.5.13 Intake kompresor


3.5.13.1 Kompresor udara medik harus mengambil udara dari suatu sumber udara bersih di
lokasi yang diperkirakan tidak ada kontaminasi yang berasal dari buangan mesin penggerak,
ventilasi tempat penyimpanan bahan bakar, pembuangan sistem vakum bedah-medik, bahan
partikel, atau setiap jenis bau-bauan.
3.5.13.2 Intake udara dari kompresor udara harus ditempatkan di luar, di atas atap bangunan,
sekurangnya 31 cm (10 ft) dari setiap pintu, jendela, lubang buangan, lubang intake lain, atau
bukaan pada bangunan, dan minimum 61 cm (20 ft) di atas tanah.
3.5.13.3 Jika terdapat suatu sumber udara yang setara atau lebih baik dari udara luar (misal:
udara yang telah disaring untuk pemakaian dalam sistem ventilasi ruang operasi), sumber tersebut
boleh digunakan untuk kompresor udara medik dengan ketentuan sebagai berikut :
(1)

Sumber pengganti pasokan udara ini harus tersedia terus-menerus 24 jam per hari, 7
hari per minggu.

24

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(2)

Harus dilarang penggunaan sistem ventilasi yang mempunyai fan dengan penggerak
motor atau belt (sabuk karet) yang ditempatkan pada aliran udara sebagai sumber
intake udara medik.

3.5.13.4 Pemipaan intake kompresor harus dari bahan yang disetujui untuk pemipaan vakum
menurut butir 10.2.1, yang tidak akan menambah bahan kontaminan yang berbentuk partikel kecil,
bau, atau gas-gas lain.
3.5.13.5 Intake udara untuk beberapa kompresor terpisah boleh digabungkan menjadi satu intake
gabungan bila dipenuhi kondisi berikut:
(1)

Ukuran intake gabungan dirancang untuk meminimalkan tekanan balik sesuai dengan
rekomendasi pabrik pembuat.

(2)

Masing-masing kompresor dapat diisolasi oleh katup manual atau katup penahan balik,
flens penutup, atau penutup lubang, untuk mencegah inlet pemipaan yang terbuka jika
kompresor dilepas untuk perawatan dan pengaruh aliran balik dari udara ruangan ke
dalam kompresor lainnya.

3.5.14 Alarm pengoperasian dan sinyal lokal


Sistem udara medik harus di monitor untuk kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi kualitas
udara selama penggunaan atau ketika terjadi kegagalan, berdasarkan pada tipe kompresor yang
digunakan dalam sistem.
3.5.14.1 Bila digunakan kompresor udara cincin cairan (liquid ring air compresor), kompresor
dengan kepala silinder berpendingin air (water-cooled heads), atau kompresor dengan unit
pendinginan akhir berpendingin air (water-cooled aftercooler), maka alat penampung udara harus
dilengkapi dengan sensor permukaan air tinggi yang menghentikan sistem kompresor dan
mengaktifkan indikator lokal (lihat butir 9.4.4. (7))
3.5.14.2 Bila digunakan kompresor cincin cairan, maka setiap kompresor harus mempunyai
sensor level cairan pada setiap unit pemisah air-udara, yang bila level cairan ada diatas level
rancangan, akan menghentikan kompresor dan mengaktifkan indikator lokal [lihat butir 9.4.4. (8)].
3.5.14.3 Bila digunakan kompresor cincin bukan cairan yang mengikuti butir 3.5.4.1(1), maka
temperatur udara pada lubang keluaran terdekat dari setiap silinder kompresor harus dimonitor
dengan suatu sensor temperatur tinggi yang akan menghentikan kompresor dan mengaktifkan
indikator alarm lokal [lihat butir 9.4.4 (9)]. Pengaturan temperatur kerja sensor harus sesuai
dengan rekomendasi pabrik pembuat.
3.5.14.4 Bila digunakan kompresor yang memenuhi butir 3.5.4.1 (2), persyaratan berikut harus
diterapkan:

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

25

(1)

temperatur pada lubang keluaran terdekat dari setiap silinder kompresor harus
dimonitor oleh sensor temperatur tinggi yang akan menghentikan kompresor dan
mengaktifkan indikator alarm lokal [lihat butir 9.4.4 (9)]. Pengaturan temperatur kerja
sensor harus sesuai rekomendasi pabrik pembuat kompresor;

(2)

harus dilengkapi filter koalesi (coalescing) dengan indikator penggantian elemen;

(3)

harus dilengkapi filter arang dengan indikator kolorimetri hidrokarbon;

(4)

hidrokarbon cair harus dimonitor secara terus menerus dengan indikator pigmen atau
instrumen permanen jenis lainnya yang dipasang di bagian hilir dari setiap kompresor
dan harus diperiksa dan didokumentasikan setiap hari;

(5)

gas hidrokarbon harus dimonitor setiap 3 bulanan.

3.5.14.5 Bila kompresor cadangan tidak bekerja, suatu alarm lokal harus diaktifkan.

3.5.15 Pemonitoran kualitas udara medik


Kualitas udara medik harus dimonitor di bagian hilir regulator udara medik dan di bagian hulu dari
sistem pemipaan sebagai berikut :
(1)

titik embun harus dimonitor dan mengaktifkan alarm lokal dan semua panel alarm
utama jika titik embun pada sistem melebihi + 40C (+ 39 0F);

(2)

karbon monosikda harus dimonitor dan mengaktifkan alarm lokal jika level CO melebihi
10 ppm [ lihat butir 9.4.4. (2)]

3.6

Sistem sentral vakum bedah - medik

3.6.1

Sentral vakum bedah - medik

3.6.1.1 Sentral vakum bedah-medik harus ditempatkan sesuai butir 3.3 sebagai berikut :
(1)

di dalam gedung di daerah khusus peralatan mekanikal, berventilasi cukup dengan


setiap utilitas yang diperlukan;

(2)

dalam ruangan yang dibuat sesuai butir 3.3.2;

(3)

dalam ruangan yang berventilasi sesuai butir 3.3.3.2;

(4)

untuk peralatan yang didinginkan dengan udara, dalam ruangan yang dirancang untuk
mempertahankan rentang temperatur ambien seperti direkomendasikan oleh pabrik
pembuat peralatan.

3.6.1.2 Sentral vakum bedah-medik harus terdiri dari sebagai berikut :


(1)

dua atau lebih pompa vakum yang cukup untuk melayani perhitungan kebutuhan
puncak dengan satu pompa vakum tunggal terbesar tidak bekerja;

(2)

sarana otomatik untuk mencegah aliran balik dari setiap pompa vakum yang sedang
bekerja terhadap pompa vakum yang sedang berhenti;

26

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(3)

katup penyetop atau sarana isolasi lainnya untuk mengisolasi setiap pompa vakum dari
sistem pemipaan sentral dan pompa vakum lain guna pemeliharaan atau perbaikan
tanpa kehilangan vakum di dalam sistem;

(4)

alat penampung vakum;

(5)

pemipaan antara pompa vakum dan katup penyetop sumber yang memenuhi butir 10.2
kecuali bahwa baja tahan karat boleh digunakan sebagai bahan pemipaan.

(6)

Filter steril (bakteri) dupleks

Gambar 3.6 Elemen-Elemen Tipikal Sistem Sentral Vakum Duplek

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

27

3.6.2

Pompa vakum

3.6.2.1 Pompa vakum boleh dibuat dari bahan feros atau non-feros
3.6.2.2 Dudukan anti getaran harus dipasang untuk pompa vakum seperti yang dipersyaratkan
oleh dinamika peralatan atau lokasinya dan sesuai rekomendasi pabrik pembuat.
3.6.2.3 Hubungan pompa vakum dengan pipa masukan dan pipa keluaran harus menggunakan
sambungan fleksibel.
3.6.3

Alat Penampung vakum receiver harus memenuhi persyaratan berikut :


(1)

dibuat dari bahan feros atau non-feros;

(2)

memenuhi ketentuan yang berlaku untuk bejana bertekanan;

(3)

mampu menahan tekanan relatif 415 kPa (60 psi) dan 760 mm (29,9 inci) HgV;

(4)

dilengkapi dengan pembuangan cairan manual (manual drain);

(5)

mempunyai kapasitas yang sesuai dengan kapasitas pompanya.

3.6.4

Alarm pompa vakum

Alarm lokal yang memenuhi butir 9.4 harus disediakan untuk sumber vakum.

3.6.5

Susunan pemipaan dan redundansi

3.6.5.1 Susunan pemipaan harus sebagai berikut :


(1)

pemipaan harus disusun untuk memungkinkan pelayanan dan pasokan vakum bedahmedik yang terus menerus bila terjadi satu kegagalan;

(2)

susunan pemipaan boleh dirubah berdasar pada perkembangan teknologi, asalkan


tingkat redundansi pengoperasiannya yang setara dapat dipertahankan;

(3)

bila hanya tersedia satu set pompa vakum untuk melayani kombinasi antara sistem
vakum bedah-medik, laboratorium analisa, riset, atau pendidikan, maka laboratoriumlaboratorium seperti itu harus disambungkan secara terpisah dari sistem bedah-medik,
langsung ke tangki alat penampung melalui katup isolasi tersendiri dan unit perangkap
cairan yang ditempatkan pada alat penampung. Antara katup isolasi dan unit
perangkap cairan, boleh dipasang alat pembersih.

3.6.5.2 Penampung vakum bedah-medik harus dapat dirawat tanpa mematikan sistem vakum
bedah-medik dengan cara sebagai berikut :
(1)

dengan menyediakan katup isolasi bila penampung disambungkan ke pipa saluran


utama melalui sambungan T ;

(2)

dengan menghubungkan pipa penampung pada ujung katup isolasi saluran.

3.6.5.3 Sumber sistem vakum bedah-medik harus dilengkapi dengan katup penutup sumber
sesuai butir 4.4.

28

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3.6.6

Pengendali dan daya listrik

3.6.6.1 Pompa tambahan harus secara otomatik diaktifkan bila pompa yang sedang beroperasi
tidak cukup mampu mempertahankan vakum yang dibutuhkan.
3.6.6.2 Pergantian pompa secara otomatik atau manual harus memungkinkan pengaturan waktu
operasi. Jika tidak disediakan pergantian otomatik dari pompa, petugas fasilitas harus menyusun
jadwal pergantian secara manual.
3.6.6.3 Setiap motor pompa harus disediakan dengan komponen listrik, tetapi tidak dibatasi,
sebagai berikut :
(1)

sakelar pemisah khusus yang dipasang pada sirkuit listrik di depan setiap alat/panel
start motor listrik ;

(2)

alat/panel start motor;

(3)

proteksi beban lebih;

(4)

bila sistem pompa mempunyai dua atau lebih pompa yang dioperasikan dengan suatu
trafo pengendali atau alat pengendali tegangan listrik lainnya, sekurangnya diperlukan
dua alat jenis tersebut ;

(5)

sirkuit pengendali disusun sedemikian sehingga bila mematikan (OFF) satu pompa
tidak akan mengganggu pengoperasian pompa lainnya.

3.6.6.4 Instalasi listrik dan pengawatan harus memenuhi persyaratan SNI 0225-edisi terakhir
tentang Persyaratan umum instalasi listrik (PUIL).
3.6.6.5 Layanan listrik darurat untuk pompa harus memenuhi persyaratan sistem kelistrikan
esensial.

3.6.7

Pembuangan sumber vakum bedah medik

3.6.7.1 Pompa vakum bedah-medik harus membuang sumber vakum medik dengan cara
membuangnya ke lokasi yang akan meminimalkan bahaya kebisingan, kontaminasi dan
lingkungannya.
3.6.7.2 Pembuangan harus berada di lokasi sebagai berikut:
(1)

di luar ruangan;

(2)

sekurangnya 3 m (10 ft) dari setiap pintu, jendela, intake udara, atau bukaan lainnya
pada bangunan;

(3)

pada ketinggian yang berbeda dengan intake udara;

(4)

lokasi di mana angin, bangunan di sebelahnya, kontur permukaan tanah (topografi)


atau pengaruh lain yang ada tidak akan menyimpangkan buangan ke daerah yang
dihuni atau mencegah pembauran dari bahan buangan.

3.6.7.3 Ujung saluran buangan harus dibengkokkan ke bawah dan dilengkapi kisi atau dilindungi
terhadap masuknya binatang kecil, benda kecil, atau tetesan hujan dengan kisi yang dibuat atau
disusun dari bahan yang tidak berkarat.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

29

3.6.7.4 Pipa saluran buangan harus dari bahan yang dibolehkan untuk pemipaan pompa vakum
bedah-medik menurut butir 10.2
3.6.7.5

Pipa saluran buangan harus bebas dari lekukan atau lengkungan yang akan menjebak

kondensat atau minyak. Bila titik rendah seperti itu tidak dapat dihindarkan, harus dipasang suatu
pipa tetes dan pipa yang dilengkapi katup pengering.
3.6.7.6

Pipa pembuangan vakum dari banyak pompa boleh digabungkan ke dalam satu pipa

buang gabungan bila kondisi berikut ini dipenuhi:


(1)

ukuran pipa buang gabungan ditentukan untuk meminimisasikan tekanan balik sesuai
dengan rekomendasi pabrik pembuat pompa;

(2)

masing-masing pompa dapat diisolasi dengan katup manual atau katup penahan balik,
flens buntu atau penutup pipa untuk mencegah pipa buang yang terbuka bila pompa
dilepaskan guna perbaikan dan selanjutnya mencegah mengalirnya udara buangan ke
dalam ruangan.

3.6.8

Alarm pengoperasian

Sistem vakum bedah-medik harus mengaktifkan suatu alarm lokal apabila pompa cadangan atau
pompa utama tidak dapat beroperasi menurut 9.4

3.7*

Buangan sisa gas anestesi (BSGA)

3.7.1* Sistem
Sistem BSGA ditentukan bersama dengan petugas medik yang memahami persyaratan untuk
menentukan; jenis sistem, jumlah, penempatan terminal, alat-alat pengoperasian dan keselamatan
lain yang diperlukan.
3.7.1.1

BSGA dihasilkan oleh suatu peralatan khusus, dialirkan melalui sistem vakum bedah-

medik, blower atau dengan pipa venturi .


3.7.1.2

Bila BSGA dialirkan melalui sistem vakum bedah-medik, berlaku ketentuan berikut:

(1)

sistem vakum bedah-medik harus memenuhi butir 3.6;

(2)

bahan anesthesi mudah terbakar atau uap mudah terbakar lainnya harus diencerkan
terlebih dahulu sampai di bawah batas penyalaannya sebelum dibuang ke dalam
sistem vakum bedah-medik tersebut;

(3)

ukuran sistem vakum bedah-medik harus ditentukan untuk mengakomodasikan


tambahan volume tersebut.

3.7.1.3 Bila BSGA dihasilkan oleh suatu peralatan khusus, berlaku ketentuan berikut:
(1)

sistem BSGA harus ditempatkan pada lokasi sesuai dengan butir 3.3.3;

(2)

sistem BSGA harus berada dalam bangunan, dalam suatu daerah yang dikhususkan
untuk peralatan mekanik;

30

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(3)

sistem BSGA harus dalam ruang yang dibangun dengan mengikuti butir 3.3.2;

(4)

sistem BSGA harus dilengkapi dengan ventilasi menurut 3.3.3.2;

(5)

untuk peralatan berpendingin udara, sistem BSGA harus ditempatkan pada lokasi
sedemikian

rupa

guna

menjaga

rentang

temperatur

udara

ambien

yang

direkomendasikan oleh pabrik pembuat.


3.7.1.5 Sistem BSGA harus terdiri dari:
(1)

dua atau lebih peralatan BSGA yang cukup untuk melayani kebutuhan puncak dengan
peralatan BSGA tunggal terbesar tidak beroperasi;

(2)

suatu sarana untuk mencegah aliran balik dari setiap peralatan BSGA yang sedang
bekerja terhadap peralatan BSGA yang sedang tidak bekerja;

(3)

suatu katup penyetop untuk mengisolasi masing-masing peralatan BSGA dari sistem
pipa terpusat dan dari peralatan BSGA lainnya guna pemeliharaan atau perbaikan
dengan tanpa hilangnya tekanan vakum bedah-medik dalam sistem;

(4)

pemipaan antara peralatan BSGA dan katup penyetop sistem yang memenuhi butir
10.2, selain itu bahan tahan karat boleh dipakai sebagai bahan pipa;

(5)

dudukan anti getaran harus dipasang pada peralatan BSGA seperti yang disyaratkan
dinamika peralatan atau lokasinya, dan sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuat;

(6)

sambungan fleksibel yang menghubungkan peralatan dengan pipa intake dan pipa
outlet seperti yang disyaratkan oleh dinamika peralatan atau lokasinya, sesuai dengan
rekomendasi pabrik pembuat penghasil BSGA.

3.7.1.6 Bila BSGA dihasilkan oleh suatu pipa venturi, berlaku ketentuan berikut:
(1)

pipa venturi bukan dari jenis yang mudah diubah-ubah oleh pengguna (misal harus
memerlukan suatu alat khusus);

(2)

pipa venturi harus memperoleh sumber daya dari gas mulia, udara instrumentasi, atau
sumber udara khusus lainnya;

(3)

3.7.2

udara medik tidak boleh digunakan untuk memberikan daya tabung venturi.

Peralatan BSGA khusus

Peralatan BSGA khusus harus dirancang dengan menggunakan bahan dan pelumas, yang tidak
mengikat oksigen, nitrous oksida, dan bahan anestesi halogen.

3.7.3

Alarm BSGA

Bila sistem BSGA dilayani oleh suatu sumber terpusat, suatu alarm lokal yang memenuhi.9.4
harus disediakan untuk sistem BSGA.
3.7.3.1 Suatu sistem BSGA harus mengakifkan suatu alarm lokal bila peralatan BSGA cadangan
atau peralatan BSGA lambat bekerja.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

31

3.7.4

Pengendalian dan daya listrik

3.7.4.1 Bila peralatan BSGA yang sedang beroperasi tidak mampu mempertahankan tekanan
vakum yang diperlukan, peralatan BSGA tambahan secara otomatik aktif.
3.7.4.2 Pergantian peralatan BSGA secara manual atau secara otomatik harus diatur dengan
adanya pembagian waktu kerja. Bila pergantian otomatik dari peralatan BSGA tidak disediakan,
petugas kesehatan tersebut harus mengatur jadwal untuk pergantian secara manual.
3.7.4.3 Dengan tidak bertujuan untuk membatasi, setiap motor dari peralatan BSGA harus
dilengkapi dengan komponen listrik yang meliputi:
(1)

suatu sakelar pemutus hubungan khusus yang dipasang pada jaringan listrik didepan
alat/panel start dari setiap motor;

(2)

alat untuk start motor;

(3)

alat proteksi beban lebih;

(4)

bila sistem BSGA mempunyai dua atau lebih peralatan BSGA yang dioperasikan oleh
suatu trafo pengendali atau alat pengontrol tegangan listrik, sekurangnya diperlukan
dua buah alat jenis tersebut;

(5)

Jaringan pengendali harus ditata sedemikian sehingga penghentian satu dari peralatan
BSGA tidak akan memutuskan pengoperasian peralatan lainnya.

3.7.4.4 Instalasi dan pengawatan listrik harus memenuhi

persyaratan dalam SNI 0225-edisi

terakhir, tentang Persyaratan umum instalasi listrik (PUIL).


3.7.4.5 Layanan listrik darurat untuk peralatan BSGA harus mengikuti persyaratan dari sistem
kelistrikan esensial.

3.7.5

Pengeluaran Buangan sisa gas anestesi (BSGA)

Pompa BSGA harus membuang sesuai dengan butir 3.6.7

3.8

Sistem pasokan udara instrumen

3.8.1

Kualitas udara instrumen harus seperti berikut:

3.8.2

(1)

memenuhi persyaratan yang berlaku untuk udara instrumentasi atau standar lain;

(2)

disaring hingga 0,01 mikron;

(3)

bebas dari cairan (misal udara, hidrokarbon, bahan pelarut dan sebagainya);

(4)

bebas dari uap hidrokarbon;

(5)

kering hingga suatu titik embun 40oC (- 40oF).

Umum

3.8.2.1 Udara

instrumen

boleh

digunakan

untuk

dukungan

medik

(misalnya

untuk

mengoperasikan peralatan, batang (boom) penopang yang digerakkan udara, alat penggantung,
dan pemakaian sejenis lainnya) dan untuk digunakan dalam laboratorium.

32

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3.8.2.2 Sesuai dengan 3.3, sistem pasokan udara instrumen harus ditempatkan pada lokasi
sebagai berikut:
(1)

dalam bangunan, pada suatu ruang khusus peralatan mekanik, yang berventilasi
cukup dan dilengkapi utilitas yang diperlukan;

(2)

dalam suatu ruangan yang dibangun mengikuti 3.3.2;

(3)

dalam ruangan berventilasi mengikuti 3.3.3.2;

(4)

untuk instrumen berpendingin udara, dalam suatu ruangan yang dirancang untuk
mempertahankan rentang temperatur udara lingkungan seperti yang direkomendasikan
oleh pabrik pembuat peralatan.

3.8.2.3 Sistem udara instrumen disarankan untuk tidak yang berikut ini:
(1)

saling terhubung dengan sistem udara medik;

(2)

penggunaan untuk setiap maksud dimana udara tidak sengaja dapat terisap oleh
pasien atau staf.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

33

Gambar 3.8 Elemen-elemen Sumber Udara Tipikal.

3.8.3

Sumber udara instrumen

3.8.3.1 Sumber udara instrumen harus menghasilkan udara pada tekanan relatif keluaran tidak
kurang dari 1380 kPa (200 psig).
3.8.3.2 Sumber udara instrumen harus menyediakan udara yang memenuhi definisi Udara
instrumentasi.
3.8.3.3 Sumber udara instrumen diperbolehkan terdiri dari sekurangnya dua kompresor, atau satu
kompresor dengan header siaga yang memenuhi 3.8

34

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

3.8.3.4 Sumber udara instrumen harus memenuhi 3.5.3 dengan perkecualian seperti yang
ditentukan dalam 3.8

3.8.4

Kompresor udara instrumen

Kompresor udara instrumen boleh dari jenis yang mampu memberikan tekanan udara keluaran
sekurangnya 1380 kPa (200 psig) dan mampu menyediakan udara yang memenuhi definisi udara
instrumen.

3.8.5

Header siaga udara instrumen

3.8.5.1 Bila sistem udara instrumen disediakan dengan suatu header siaga, header tersebut
harus memenuhi persyaratan berikut;
(1)

memenuhi 3.4.8, kecuali bahwa jumlah tabung silinder yang tersambung harus cukup
untuk pengoperasian selama satu jam;

(2)

menggunakan konektor seperti untuk udara medik sesuai ketentuan yang berlaku;

(3)

memasuki sistem di bagian hulu dari regulator pada saluran akhir (final-line);

(4)

secara otomatik melayani sistem bila terjadi kegagalan kompresor.

3.8.6

Udara intake

Udara intake untuk kompresor udara instrumen boleh diambil dari lokasi peralatan.

3.8.7

Filter saringan udara instrumen

3.8.7.1 Sumber udara instrumen harus disaring dengan filter karbon aktif yang memenuhi
persyaratan berikut:
(1)

ditempatkan pada hulu dari filter saluran akhir;

(2)

ukurannya ditentukan untuk 100 persen beban puncak sistem terhitung pada kondisi
perancangan;

(3)

dibuat dari bahan ferrous atau non-ferrous.

3.8.7.2 Filter saluran akhir harus memenuhi persyaratan berikut:


(1)

ditempatkan di hulu dari regulator tekanan saluran akhir dan di hilir dari filter karbon;

(2)

ukurannya ditentukan untuk 100 persen beban puncak sistem terhitung pada kondisi
perancangan;

(3)

mempunyai tingkat efisiensi minimum 98 persen pada 0,01 mikron;

(4)

dilengkapi dengan indikator visual kontinyu yang memperlihatkan status dari umur
elemen filter;

(5)

dibuat dari bahan ferrous dan/atau non ferrous.

3.8.7.3 Filter yang mengkombinasikan fungsi dari 3.8.7.1 dan 3.8.7.2 boleh digunakan.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

35

3.8.8

Kelengkapan udara instrumen

Kelengkapan yang digunakan untuk sumber udara instrumen harus memenuhi butir sebagai
berikut:
(1)

3.5.5 untuk pendingin akhir;

(2)

3.5.6 untuk penampung udara;

(3)

3.5.7 untuk pengering udara;

(4)

3.5.9 untuk regulator udara.

3.8.9

Susunan pemipaan udara instrumen dan redundansi

Sumber udara instrumen harus memenuhi 3.5.11, kecuali untuk yang berikut ini:
(1)

sistem yang menggunakan header siaga dapat mempunyai pendingin akhir dan
pengering udara jenis simpleks;

(2)

sistem yang menggunakan header siaga tidak memerlukan suatu katup bypas
penampung jenis three-valve;

(3

Header siaga, bilamana disediakan, harus diisolasi dari kompresor dengan suatu katup
penahan balik untuk mencegah aliran balik melalui kompresor.

3.8.10 Pemonitor dan alarm udara instrumen


3.8.10.1 Sumber udara instrumen harus meliputi alarm berikut ini:
(1)

alarm lokal yang aktif pada atau sesaat sebelum kompresor cadangan (bila disediakan)
aktif, menandakan bahwa kompresor lag sedang beroperasi;

(2)

alarm lokal dan alarm pada semua panel alarm utama yang aktif bila titik embun pada
sistem tekanan melampaui -30 oC (-22 oF), yang menandakan titik embun tinggi.

3.8.10.2 Untuk sumber dengan header siaga, kondisi tambahan berikut ini harus mengaktifkan
suatu alarm lokal di ruang kompresor, suatu sinyal lokal pada lokasi header, dan alarm pada
semua panel alarm utama:
(1)

suatu alarm yang aktif pada atau sesaat sebelum cadangan memasok sistem,
menandakan cadangan sedang digunakan;

(2)

suatu alarm yang aktif pada atau sesaat sebelum sumber cadangan turun di bawah
suatu pasokan rata-rata jam, menandakan sumber cadangan rendah.

36

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

Katup

4.1

Katup penyetop gas dan tekanan vakum

Katup penyetop harus disediakan untuk mengisolasi bagian dari sistem pemipaan guna
pemeliharaan, perbaikan, atau kebutuhan ekspansi yang direncanakan kelak, dan untuk
memudahkan pengujian fasilitas.

Gambar 4.2 - Penataan Komponen-komponen Saluran Pemipaan.

4.2

Aksesibilitas

Semua katup, kecuali katup dalam rakitan kotak katup zona, harus ditempatkan pada lokasi yang
aman, seperti misalnya dikunci terhadap pipa locked piped chases , dikunci atau digrendel pada
posisi pengoperasian, dan ditandai dengan label berisi jenis pasokan gas dan ruangan yang
dikendalikan oleh katup tersebut.
4.2.1

Katup penyetop yang dapat diakses oleh selain petugas berwenang harus dipasang

dalam suatu lemari katup dengan pintu yang dapat dibuka atau dipecahkan yang cukup lebar
untuk mengijinkan pengoperasian katup secara manual.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

37

4.2.2

Katup penyetop yang digunakan pada daerah tertentu, seperti pada ruang psikiatrik atau

pediatrik, boleh diamankan dengan persetujuan dari pihak yang berwenang untuk mencegah
akses yang tidak sesuai.
4.2.3

Katup untuk gas medik yang tidak mudah terbakar dan katup gas mudah terbakar tidak

boleh dipasang dalam rakitan lemari katup zona yang sama.

4.3

Jenis katup

Katup penyetop baru atau pengganti harus dari jenis berikut:

4.3.1

(1)

jenis bola, seperempat putaran lubang penuh;

(2)

dibuat dari kuningan atau perunggu;

(3)

mempunyai lengan tambahan untuk pematrian;

(4)

mempunyai tuas yang menandakan terbuka atau tertutup;

(5)

terdiri dari 3 bagian untuk memudahkan pemeliharaan setempat.

Katup untuk gas bertekanan positif untuk layanan oksigen harus dibersihkan oleh pabrik

pembuat.
4.3.2

Katup untuk layanan tekanan vakum atau BSGA boleh dari jenis katup bola atau katup

kupu-kupu dan tidak harus dibersihkan untuk layanan oksigen

4.4

Katup sumber

Suatu katup penyetop harus dipasang pada hubungan antara masing-masing sistem sumber ke
pipa - pipa distribusi untuk dibolehkan mengisolasi keseluruhan sumber, termasuk semua
kelengkapannya (misal pengering udara, regulator tekanan saluran akhir, dan sebagainya) dari
fasilitas tersebut.
4.4.1

Katup sumber harus ditempatkan pada lokasi yang cukup dekat dari peralatan sumber.

4.4.2

Katup sumber harus diberi label sesuai dengan 11.2

4.5.

Katup saluran utama

Suatu katup penyetop harus disediakan pada saluran utama pasokan di dalam bangunan bila
katup penyetop sumber tidak dapat diakses dari dalam bangunan.
4.5.1

Katup saluran utama harus ditempatkan pada lokasi yang mengijinkan akses hanya bagi

petugas berwenang (misal dengan menempatkannya di atas langit-langit atau dibelakang suatu
pintu akses yang terkunci).
4.5.2

Katup saluran utama harus ditempatkan pada lokasi pada sisi fasilitas dari katup sumber

dan diluar ruang sumber, konstruksi pelindung sumber atau di tempat di mana saluran utama
mula-mula menembus bangunan.
4.5.3

38

Katup saluran utama harus diberi label sesuai dengan 11.2

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4.5.4

Suatu katup saluran utama tidak diperlukan bila katup penyetop dapat diakses dari dalam

bangunan

4.6

Katup saluran tegak

Setiap saluran tegak yang dipasok dari saluran utama harus dilengkapi dengan sebuah katup
penyetop pada saluran tegak dekat dengan saluran utama
4.6.1

Katup saluran tegak boleh ditempatkan di atas langit-langit, tetapi tetap harus dapat

diakses dan tidak terhalang


4.6.2

Katup saluran tegak harus diberi label sesuai dengan 11.2

4.7

Katup pemeliharaan

Katup pemeliharaan harus dipasang untuk pemeliharaan atau pengubahan dari saluran cabang
dari suatu saluran utama atau dari saluran tegak tanpa mematikan keseluruhan saluran utama,
saluran tegak atau fasilitas.
4.7.1

Hanya satu katup pemeliharaan yang diperlukan untuk masing-masing pencabangan dari

suatu saluran tegak, tanpa memandang jumlah kotak katup zona yang terpasang pada cabang
tersebut.
4.7.2

Katup pemeliharaan harus ditempatkan pada pipa cabang sebelum kotak katup zona

pada cabang tersebut


4.7.3

Katup pemeliharaan harus ditempatkan menurut satu dari yang berikut ini:
(1)

dibelakang pintu akses yang terkunci;

(2)

terkunci pada posisi terbuka, di atas langit-langit;

(3)

terkunci pada posisi terbuka, dalam suatu ruang yang aman.

4.7.4

Katup pemeliharaan harus diberi label sesuai dengan 11.2

4.7.5

Sensor untuk panel alarm wilayah seperti yang dipersyaratkan dalam 9.3.4 boleh

ditempatkan dalam setiap hubungan dengan katup layanan (bila dipasang)

4.8

Katup zona

Semua stasiun outlet/inlet harus dipasok melalui suatu katup zona sebagai berikut:
(1)

katup zona harus dipasang sedemikian sehingga suatu dinding berada diantara katup
dan inlet/oulet yang dikontrolnya;

(2)
4.8.1

katup zona hanya boleh melayani inlet/outlet yang ditempatkan pada lantai yang sama
Katup zona harus segera dapat dioperasikan dari suatu posisi berdiri di koridor pada

lantai yang sama yang dilayaninya.


4.8.2

Katup zona harus ditata sedemikian sehingga penghentian pasokan gas medik atau

vakum ke satu zona tidak akan mempengaruhi pasokan gas medik atau vakum ke zona lainnya
atau bagian lainnya dari sistem.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

39

4.8.3

Suatu indikator tekanan/vakum harus disediakan pada sisi stasiun inlet/outlet dari setiap

katup zona.
4.8.4

Kotak katup zona harus dipasang ditempat yang terlihat dan dapat diakses setiap waktu

4.8.5

Panel katup zona tidak boleh dipasang di belakang pintu yang secara normal terbuka atau

secara normal tertutup, atau dengan kata lain terhalang dari pandangan biasa.
4.8.6

Panel katup zona tidak boleh ditempatkan dalam ruang, daerah, atau lemari yang tertutup

atau terkunci
4.8.7

Suatu katup zona harus ditempatkan, pada saluran gas medik dan/atau vakum, langsung

diluar setiap lokasi mesin vital life-support, perawatan pasien kritis, dan lokasi anestesi, dan
ditempatkan di lokasi sedemikian rupa sehingga dapat segera diakses untuk suatu keadaan
darurat.
4.8.7.1 Semua kolom penyaluran gas, gulungan slang, saluran langit-langit, panel kontrol,
penggantung (pendant), dan tiang (boom) atau instalasi khusus lainnya harus ditempatkan di
bagian hilir dari katup zona
4.8.7.2 Katup zona harus ditata sedemikian sehingga penutupan pasokan gas ke satu dari ruang
operasi atau lokasi anestesi tidak akan mempengaruhi lainnya
4.8.8

Katup zona harus diberi label sesuai dengan 11.2

4.9

Katup jalur

Katup jalur optional boleh dipasang untuk mengisolasikan atau menutup pipa guna pemeliharaan
ruang atau daerah individual.
4.9.1

Katup penyetop jalur yang ditujukan untuk mengisolasi pipa guna pemeliharaan atau

pengubahan harus memenuhi persyaratan berikut ini :


(1)

ditempatkan dalam daerah yang pengunjungnya dibatasi;

(2)

terkunci atau digrendel pada posisi terbuka;

(3)

diidentifikasikan sesuai dengan butir 11.2

4.9.2

Sensor untuk panel alarm wilayah seperti yang dipersyaratkan dalam 9.3.4 boleh

ditempatkan dalam setiap hubungan dengan katup jalur (bila dipasang)

4.10

Katup untuk sambungan mendatang

Katup penutup yang disediakan untuk sambungan dari pipa mendatang harus memenuhi
persyaratan berikut:
(1)

ditempatkan dalam daerah yang pengunjungnya dibatasi;

(2)

terkunci atau diselot pada posisi terbuka;

(3)

diidentifikasikan sesuai dengan 11.2

4.10.1

Katup sambungan mendatang harus diberi label dari isi kandungan gas yang boleh

dihubungkan

40

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

4.10.2

Pemipaan di bagian hilir harus ditutup dengan tutup yang dipatri dengan panjang pipa

yang cukup untuk pemotongan dan pematrian ulang

Stasiun outlet I inlet

5.1

Masing-masing stasiun inlet/outlet untuk gas medik atau vakum harus untuk jenis gas

tertentu, baik inlet/outlet tersebut berulir, atau berupa suatu kopel cepat yang tidak dapat
dipertukarkan.
5.2

Setiap stasiun outlet harus terdiri dari suatu katup (atau rakitan katup) primer dan

sekunder.
5.3

Setiap stasiun inlet hanya terdiri dari satu katup (atau rakitan katup) primer.

5.4

Katup sekunder (atau katup unit) harus menutup secara otomatik/manual untuk

menghentikan aliran gas medik atau vakum bila katup primer (atau katup unit) dilepaskan.
5.5

Setiap inlet/outlet harus diberi identitas yang mudah dibaca sesuai 11.3

5.6

Inlet/outlet berulir harus dari jenis sambungan yang tidak dapat dipertukarkan, sesuai

ketentuan yang berlaku.


5.7

Setiap stasiun inlet/outlet, termasuk yang dipasang pada kolom, gulungan slang, saluran

langit-langit, atau instalasi khusus lainnya, harus dirancang sedemikian sehingga bagian atau
komponen yang dipersyaratakan untuk jenis gas tertentu guna pemenuhan persyaratan 5.1 dan
5.9 tidak dapat dipertukarkan antara stasiun inlet/outlet untuk jenis gas yang berbeda.
5.8

Penggunaan komponen bagian bersama pada inlet/outlet, seperti pegas, ring cincin, baut

pengencang, penyekat, dan sumbat penutup diperbolehkan.


5.9

Komponen dari suatu stasiun inlet vakum yang diperlukan untuk pemeliharaan dari

kekhususan vakum harus diberi tanda yang mudah dibaca untuk mengidentifikasikannya sebagai
suatu komponen atau bagian dari sistem vakum atau sistem pengisapan.
5.10

Komponen inlet yang tidak khusus untuk vakum tidak harus ditandai

5.11

Pipa yang dipasang oleh pabrik pembuat pada stasiun outlet dan menonjol tidak lebih dari

21 cm (8 inci) dari badan terminal harus berukuran tidak kurang dari DN 8 (NPS ) ( 3/8 inci
diameter luar), dengan diameter dalam minimum 8 mm (0,3 inci)
5.12

Pipa yang dipasang oleh pabrik pembuat pada stasiun inlet dan menonjol tidak lebih dari

21 cm (8 inci) dari badan terminal berukuran tidak boleh kurang dari DN 10 (NPS 3/8) ( inci
diameter luar), dengan diameter dalam minimum 10 mm (0,4 inci)
5.13

Stasiun inlet/outlet boleh melekuk kedalam dinding atau dilindungi dari kerusakan dengan

cara lain.
5.14

Bila terpasang banyak inlet/outlet pada dinding, inlet/outlet tersebut harus diberi jarak

untuk mengijinkan penggunaan secara serempak dari inlet/outlet yang bersebelahan dengan
berbagai jenis peralatan terapi.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

41

5.15

Stasiun outlet dalam sistem yang mempunyai tekanan operasi tidak standar harus

memenuhi persyaratan berikut ini:


(1)

untuk gas tertentu;

(2)

untuk tekanan tertentu di mana satu gas tunggal dipipakan pada lebih dari satu
tekanan pengoperasian (misal suatu stasiun outlet untuk oksigen 550 kPa (80 psi)
tidak boleh menerima suatu adapter untuk oksigen 345 kPa (50 psi));

(3)

bila dioperasikan pada suatu tekanan di atas 550 kPa (80 psi), harus berupa
sambungan D.I.S.S (diameter index safety sistem)/SIS (Screw index sistem). atau
yang memenuhi butir 4;

(4)

bila dioperasikan pada tekanan relatif antara 1380 kPa (200 psig) dan 2070 kPa (300
psig), stasiun outlet tersebut harus dirancang sedemikan untuk mencegah pencopotan
adapter sampai tekanan telah dilepaskan, guna mencegah adapter mencelakakan
pengguna atau orang lain ketika dilepaskan dari outlet tersebut.

Perakitan pabrik

Gambar 6 Terminal-terminal perakitan Pabrik

42

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

6.1

Sebelum tiba di lokasi pemasangan, terminal-terminal perakitan pabrik harus diuji, oleh

pabrik pembuatnya, terdiri dari :


(1)

uji pembersihan awal sesuai 12.2.2;

(2)

uji tekanan awal sesuai 12.2.3 ;

(3)

uji kebersihan pipa sesuai 12.2.5;

(4)

uji daya tahan tekanan sesuai 12.2.6 atau 12.2.7, kecuali seperti yang diijinkan di
bawah 6.2.

6.2

Uji daya tahan tekanan menurut 6.1 (4) boleh dilaksanakan dengan setiap metoda

pengujian yang akan memastikan suatu penurunan tekanan kurang dari satu persen selama 24
jam.
6.3

Pabrik pembuat rakitan harus menyediakan dokumentasi yang resmi menyatakan kinerja

dan keberhasilan penyelesaian uji yang ditentukan dalam 6.1


6.4

Rakitan buatan pabrik yang menggunakan slang fleksibel harus menggunakan slang dan

konektor yang mempunyai tekanan ledak minimum sebesar 6895 kPa (1000 psig)
6.5

Rakitan buatan pabrik harus mempunyai peringkat penyebaran api tidak lebih dari 200

ketika diuji sesuai ketentuan yang berlaku.


6.6

Rakitan buatan pabrik yang menggunakan slang atau pipa fleksibel harus disambungkan

ke saluran pipa dengan menggunakan stasiun inlet/outlet.


6.7

Rakitan buatan pabrik yang menggunakan slang atau konektor fleksibel, di mana stasiun

inlet/outlet yang terhubung ke pemipaan tidak segera dan sepenuhnya dapat diakses (misal tidak
dapat dimanipulasi tanpa melepas panel, pintu dan sebagainya), harus mempunyai stasiun
inlet/outlet dengan karakteristik tambahan berikut ini:
(1)

merupakan konektor jenis D.I.S.S; (diameter index safety sistem)/SIS (crew index
sistem)/Screw

(2)

katup searah sekunder yang disyaratkan dalam 5.2 boleh ditiadakan;

(3)

dilengkapi dengan terminal kedua, dimana pengguna menyambung dan melepas


hubungan, yang memenuhi 5 kecuali 5.2,

6.8

Rakitan buatan pabrik yang disambungkan dengan saluran pemipaan dengan pematrian

harus mempunyai stasiun inlet/outlet yang memenuhi semua persyaratan 5


6.9

Instalasi rakitan buatan pabrik harus diuji menurut 12.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

43

Rel gas medik (RGM) yang terpasang pada permukaan

7.1

Rakitan RGM boleh dipasang bila diperkirakan dan diperlukan ada banyak pemakaian

gas medik dan vakum pada satu lokasi pasien


72

Rakitan RGM harus sepenuhnya terlihat dalam ruangan, tidak menembus atau melewati

dinding, partisi, dan sejenisnya.


Rakitan RGM harus dibuat dari bahan dengan temperatur leleh sekurangnya 538 oC

7.3

(1000 oF)
7.4

Rakitan RGM harus dibersihkan menurut 10.1.1

7.5

Stasiun inlet atau outlet tidak boleh ditempatkan pada ujung-ujung dari rakitan RGM

7.6

Bukaan untuk stasiun inlet/outlet dalam rakitan RGM harus untuk jenis gas tertentu

7.7

Bukaan pada RGM yang tidak digunakan oleh stasiun inlet/outlet (misal untuk

penggunaan mendatang) harus ditutup atau disumbat sedemikian sehingga diperlukan alat khusus
untuk melepasnya (misal tidak dapat dibuka dengan kunci pas, kunci inggris, obeng, atau alat
umum lainnya)
7.8

Rakitan RGM harus dihubungkan ke pipa saluran melalui fiting yang dipatri ke pipa

saluran tersebut
7.9*

Bila pipa saluran dan rakitan RGM terbuat dari metal yang tidak sama, penyambungan

harus digalvanis atau dilindungi dari interaksi dua metal dengan cara lainnya.
7.10

Instalasi RGM harus diuji sesuai dengan 12 dan 13.

Indikator tekanan dan vakum

8.1

Umum

8.1.1

Indikator tekanan dan relatif untuk sistem pemipaan gas medik harus dibersihkan untuk

layanan oksigen
8.1.2

Alat ukur tekanan harus memenuhi ketentuan yang berlaku.

8.1.3

Rentang skala tekanan positif dari indikator analog harus sedemikian sehingga

pembacaan normal berada pada tengah, 50 persen skala.


8.1.4

Rentang skala dari indikator digital tidak boleh lebih dari dua kali tekanan kerja dari sistem

pemipaan
8.1.5

Rentang skala indikator vakum harus berupa 0 ~ 760 mm (0 ~ 29,9 in) HgV relatif, kecuali

untuk indikator dengan rentang tampilan normal yang menunjukkan kondisi normal hanya di atas
300 mm (12 inci) HgV relatif.
8.1.6

Indikator yang ada di sebelah aktuator alarm utama dan alarm wilayah harus diberi label

untuk mengidentifikasikan nama atau simbol kimia dari sistem pemipaan khusus yang dimonitor.
8.1.7

Tingkat akurasi indikator yang digunakan dalam pengujian harus 1 persen (dari skala

penuh) atau yang lebih baik, pada titik pembacaan.

44

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

8.2

Lokasi penempatan

8.2.1

Indikator tekanan dan vakum harus dapat dibaca dari suatu posisi berdiri.

8.2.2

Indikator tekanan dan vakum sekurangnya harus disediakan pada lokasi berikut:
(1)

di sebelah alat penginisiasi alarm, untuk alarm tekanan dan vakum pipa saluran utama
pada sistem alarm utama;

(2)

pada atau dalam panel alarm wilayah guna mengindikasikan tekanan/vakum pada alat
pengaktivasi alarm untuk masing-masing sistem yang dimonitor oleh panel;

(3)
8.2.3

pada sisi stasiun inlet/outlet dari katup zona


Semua alat pengindera tekanan dan alat ukur tekanan saluran pipa utama di bagian hilir

dari katup sumber harus dilengkapi dengan suatu fiting pemeriksa kebutuhan gas tertentu guna
memudahkan penggantian dan pengujian layanan.
8.2.4

Fiting pemeriksaan kebutuhan harus disediakan untuk semua alat pemonitor.

Sistem peringatan.

9.1

Umum

Semua sistem alarm utama, wilayah, dan lokal yang digunakan untuk sistem gas medik dan
vakum harus meliputi yang berikut ini:
(1)

indikator visual yang terpisah untuk masing-masing kondisi yang dimonitor, kecuali
untuk alarm lokal dan yang ditampilkan pada panel alarm utama seperti yang diijinkan
dalam 9.4.2;

(2)

indikator visual yang tetap menandakan alarm hingga situasi yang menyebabkan alarm
telah diatasi;

(3)

suatu indikasi audio yang dapat dibatalkan (dimatikan) dari masing-masing kondisi
alarm, yang menghasilkan bunyi dengan level minimum 80 dBA pada jarak 92 cm (3
ft);

(4)

suatu sarana untuk mengindikasikan lampu atau LED kegagalan;

(5)

indikasi visual dan audial bahwa hubungan kabel ke suatu alat penginisiasi alarm
dilepaskan;

(6)

pemberian label pada setiap indikator, yang menandakan kondisi yang dimonitor;

(7)

pemberian label setiap panel alarm untuk setiap wilayah pengawasannya;

(8)

inisiasi ulang sinyal bunyi bila kondisi alarm lainnya terjadi sementara alarm bunyi
sedang dimatikan;

Direkomendasikan meliputi yang berikut ini :


(9)

daya dari cabang life safety sistem kelistrikan darurat seperti dijelaskan pada sistem
kelistrikan esensial;

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

45

(10) pengabelan dari berbagai sakelar atau sensor yang disupervisi atau diproteksi
sebagaimana dipersyaratkan atau sesuai dengan SNI 04-0225 edisi terakhir,
Persuaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL);
(11) jaminan dari pihak fasilitas yang berwenang memberikan label pada alarm, di mana
digunakan nomer ruang atau kegunaannya, adalah akurat dan mutakhir;
(12) kelengkapan untuk start ulang secara otomatik setelah matinya aliran daya, selama 10
detik (misal selama penyalaan generator) tanpa menghasilkan suatu alarm palsu atau
memerlukan reset secara manual.

9.2

Alarm utama

Suatu sistem alarm utama harus disediakan untuk memonitor pengoperasian dan kondisi dari
sumber pasokan, sumber cadangan (bila ada), dan tekanan dalam saluran utama dari masingmasing sistem pemipaan gas medik dan vakum.
9.2.1

Sistem alarm utama harus terdiri dari dua atau lebih panel alarm yang ditempatkan

sekurangnya pada dua lokasi yang terpisah:


(1)

satu panel alarm utama harus ditempatkan di ruang kantor atau ruang kerja dari
petugas yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan sistem pemipaan gas medik
dan vakum;

(2)

untuk memastikan pengawasan secara kontinyu terhadap sistem gas medik dan
vakum ketika fasilitas sedang dalam pengoperasian, panel alarm utama sekunder
harus ditempatkan dalam daerah yang diamati secara kontinyu (misal ruang telepon,
kantor Satpam, atau lokasi lainnya yang dijaga staf secara kontinyu);

9.2.2

Suatu komputer terpusat (misal sistem manajemen bangunan) tidak boleh menggantikan

setiap panel yang dipersyaratkan dalam 9.2.1, tetapi boleh digunakan sebagai suplemen dari
sistem alarm gas medik dan vakum.
9.2.3

Panel alarm utama yang dipersyaratkan dalam 9.2.1 harus berhubungan langsung

dengan alat penginisiasi alarm yang dimonitornya.


(a)

sinyal alarm utama tidak boleh direle dari satu panel alarm utama ke panel alarm
lainnya;

(b)

bila digunakan rele alarm banyak kutub untuk mengisolasi sinyal penginisiasi alarm ke
panel alarm utama, sumber daya untuk mengontrol rele harus tidak bergantung pada
salah satu dari panel-panel alarm utama.

9.2.4

Panel alarm utama untuk sistem gas medik dan vakum masing-masing harus meliputi

sinyal berikut ini:

46

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

(1)

suatu indikasi alarm pada atau sesaat sebelum pergantian terjadi dalam sistem gas
medik yang dipasok oleh suatu manifol, atau jenis pengganti sistem curah sebagai
suatu bagian dari pengoperasian normalnya, suatu pergantian dari satu bagian dari
pasokan kerja ke bagian lainnya;

(2)

suatu indikasi alarm untuk sistem cairan kriogenik curah ketika pasokan utama
mencapai pasokan rata-rata harian, yang mengindikasikan kandungan rendah;

(3)

suatu indikasi alarm pada atau sesaat sebelum pergantian ke pasokan cadangan
terjadi pada suatu sistem gas medik yang terdiri dari satu atau lebih unit yang secara
kontinyu memasok sistem pemipaan, sementara lainnya tetap sebagai pasokan
cadangan dan beroperasi hanya dalam kasus keadaan darurat ;

(4)

bila suatu penyimpan cairan kriogenik digunakan sebagai suatu cadangan untuk
sistem pasokan curah, suatu indikasi alarm ketika isi dari cadangan berkurang menjadi
satu kali pasokan rata-rata harian;

(5)

bila suatu penyimpan cairan kriogenik digunakan sebagai suatu cadangan untuk
sistem pasokan curah, suatu indikasi alarm ketika tekanan gas yang tersedia dalam
unit cadangan dibawah tekanan yang diperlukan agar suatu sistem gas medik
berfungsi;

(6)

suatu indikasi alarm ketika tekanan dalam saluran utama dari masing-masing sistem
gas medik yang terpisah meningkat 20 persen atau turun 20 persen dari tekanan kerja
normal;

(7)

suatu indikasi alarm ketika tekanan relatif vakum bedah-medik dalam saluran utama
dari masing-masing sistem vakum turun hingga atau di bawah 300 mm (12 inci) HgV ;

(8)

suatu indikasi dari panel alarm lokal seperti yang dijelaskan dalam 9.4.2 untuk
mengindikasikan satu atau lebih dari kondisi yang dimonitor di lokasi kerja memberikan
alarm;

(9)

suatu alarm titik pengembunan tinggi dari masing-masing lokasi kompresor untuk
memberikan indikasi ketika titik embun dalam saluran tekanan lebih besar dari + 4 oC
(39 oF)

(10) suatu alarm BSGA ketika tingkat vakum atau aliran BSGA di bawah batas efektif
pengoperasian;
(11) suatu alarm titik embun udara instrumen tinggi dari masing-masing lokasi kompresor
untuk mengindikasikan titik embun saluran tekanan lebih besar dari 30 oC (-22 oF).
9.2.5

Indikasi alarm yang dipersyaratkan dalam 9.2.4.(6) dan (7) harus berasal dari sensor yang

dipasang pada saluran utama dekat daerah hilir (pada sisi fasilitas) dari katup sumber. Bila perlu
memasang suatu katup saluran utama sebagai tambahan terhadap katup sumber (lihat 4.5 dan
4.5.4), sensor harus ditempatkan di bagian hilir (pada sisi fasilitas) dari katup utama.

Pedoman-Pedoman Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit |

47

9.3*

Alarm wilayah

Panel alarm wilayah harus disediakan untuk memonitor semua gas medik, vakum bedah-medik,
dan sistem BSGA yang dipipakan memasok lokasi tindakan anestesi, dan mesin/peralatan
keselamatan jiwa (life support) penting lainnya serta daerah kritis seperti ruang pemulihan paska
anesthesi, ruang ICU, bagian UGD, dan seterusnya.
9.3.1

Alarm wilayah harus ditempatkan pada pos perawat, atau lokasi lainnya yang akan

memberikan pengawasan yang bertanggung jawab secara kontinyu


9.3.2

Panel alarm wilayah untuk sistem gas medik harus memberikan indikasi jika tekanan

dalam saluran di wilayah yang sedang dimonitor meningkat atau turun hingga 20 persen dari
tekanan normal saluran.
9.3.3

Panel alarm untuk sistem vakum bedah-medik harus memberikan indikasi bila vakum

relatif dalam wilayah tersebut jatuh hingga atau di bawah 300 mm (12 in) HgV.
9.3.4

Sensor untuk alarm wilayah harus ditempatkan pada lokasi berikut:


(1)* daerah vital life-support dan daerah kritis harus mempunyai sensor alarm

yang

dipasang pada sisi keluaran dari setiap rakitan individual kotak katup zona
(2)* daerah untuk pemberian gas anesthesi harus mempunyai sensor yang dipasang pada
sisi sumber dari setiap rakitan kotak katup zona dari ruangan individual, sehingga
penutupan satu atau lebih dari katup zona ruang anestesi tidak akan menyebabkan
suatu alarm.
(3)

penempatan sensor tidak boleh dipengaruhi oleh katup yang ditempatkan di daerah
yang hanya dapat diakses oleh petugas yang berwenang, seperti katup layanan (lihat
4.7) atau katup dalam jalur (lihat 4.9)

9.4*

Alarm lokal

Alarm lokal harus dipasang untuk memonitor fungsi sistem kompresor udara, sistem pompa vakum
bedah-medik, sistem BSGA, dan sistem udara instrumen.
9.4.1

Sinyal yang dimaksud dalam 9.4.4 boleh ditempatkan sebagai berikut:


(1)

pada atau dalam panel kontrol untuk peralatan mesin yang dimonitor;

(2)

di dalam suatu alat pemonitor (misal pemonitor titik embun atau pemonitor karbon
dioksida);

(3)
9.4.2

pada suatu panel alarm terpisah


Sekurangnya satu sinyal dari masing-masing sistem alarm lokal harus dihubungkan

dengan panel alarm utama untuk mengindikasikan bahwa terdapat masalah dengan peralatan
sumber pada lokasi tersebut.

48

| Pedoman-Pedoman Teknis Dibidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit

9.4.3

Bila terdapat lebih dari satu sistem kompresor udara medik dan/atau lebih dari satu sistem

pompa vakum medik/bedah pada lokasi yang berbeda dalam fasilitas, atau bila kompresor udara
medik dan/atau pompa vakum medik/bedah terdapat pada lokasi yang berbeda dalam fasilitas,
masing-masing lokasi perlu mempunyai alarm yang terpisah pada panel alarm utama.
9.4.4

Fungsi berikut ini harus dimonitor pada masing-masing lokasi alarm lokal:
(1)

kompresor cadangan atau kompresor yang sedang beroperasi:


untuk mengindikasikan saat kompresor primer tidak dapat memenuhi persyaratan
kebutuhan sistem, kecuali bila sistem udara medik mempunyai tiga atau lebih
kompresor, maka sinyal cadangan dapat menyalakan alarm bila kompresor terakhir
telah diisyaratkan untuk strart;.

(2)

kadar karbon monoksida tinggi:


untuk mengindikasikan saat kadar karbon monoksida dalam sistem udara medik 10
ppm atau lebih;

(3)

Titik embun udara medik tinggi,


untuk mengindikasikan saat titik embun saluran tekanan lebih besar dari +4 C (+390 F);

(4)

Pompa vakum cadangan. :


untuk mengindikasikan ketika pompa vakum primer tidak dapat memenuhi persyaratan
kebutuhan sistem, kecuali bila sistem pompa vakum mempunyai tiga atau lebih
kompresor, maka sinyal cadangan boleh menyalakan alarm ketika kompresor terakhir
telah diisyaratkan untuk start.

(5)

Pompa BSGA sedang digunakan:


bila suatu penghasil (peralatan penghasil) BSGA disediakan sesuai 3.7.1.3,

(6)

Titik embun udara instrumen tinggi:,


untuk mengindikasikan titik embun saluran tekanan lebih dari 300 C (-220 F)

(7)

Untuk sistem kompresor yang menggunakan kompresor cincin cairan atau kompresor
dengan komponen berpendingin air, air dalam tangki penampung tinggi :
untuk mengindikasikan ketika permukaan air dalam tangki penampung telah mencapai
suatu tinggi permukaan yang ditetapkan dapat m