Askep Tga Fix
Askep Tga Fix
PENDAHULUAN
A.
DEFINISI
Penyakit jantung bawaan adalah penyakit struktural jantung dan pembuluh darah besar yang
sudah terdapat sejak lahir. Perlu diingatkan bahwa tidak semua penyakit jantung bawaan tersebut dapat
dideteksi segera setelah lahir, tidak jarang penyakit jantung bawaaan baru bermanifestasi secara klinis
setelah pasien berusia beberapa minggu, beberapa bulan, bahkan beberapa tahun ( Markum, 1996).
Penyakit jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak-anak. Apabila
tidak dioperasi, kebanyakan akan meninggal pada waktu bayi. Oleh karena itu, penyakit jantung bawaan
yang ditemukan pada orang dewasa menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu melalui seleksi alam,
atau telah mengalami tindakan operasi dini pada usia muda. Hal ini pulalah yang menyebabkan perbedaan
pola penyakit jantung bawaan pada anak dan pada orang dewasa (Panggabean & Harun, 1999).
Kelainan jantung bawaan TGA ( Transposition Of The Great Arteries ) merupakan kelainan pada
jantung berupa adanya pemindahan asl dari aorta dan arteri pulmonalis; aorta keluar dari ventrikel kanan
dan arteri pulmonalis dari ventrikel kiri. Selain kelainan asal aorta dan arteri pulmonalis pada TGA
terdapat kelainan pada jantung yang menyertai TGA seperti letak katup aorta, katup pulmonal, dan
sebagainya. Pada PJB yang disebut TGA komplek ialah adanya letak katup aorta di kanan pada lengkung
aorta ke kanan. ( Ngastiah, hal 110 )
Ada 2 macam TGA, yaitu (1) dengan Intact Ventricular Septum (IVS) atau tanpa VSD, dan (2)
dengan VSD. Masing-masing mempunyai spektrum presentasi klinis yang berbeda dari ringan sampai
berat tergantung pada jenis dan beratnya kelainan serta tahanan vaskuler paru.
Penampilan klinis yang paling utama pada TGA dengan IVS adalah sianosis sejak lahir dan
kelangsungan hidupnya sangat tergantung pada terbukanya PDA. Sianosis akan makin nyata saat PDA
mulai menutup pada minggu pertama kehidupan dan bila tidak ada ASD akan timbul hipoksia berat dan
asidosis metabolik. Sedangkan pada TGA dengan VSD akan timbul tanda dan gejala akibat aliran ke
paru yang berlebih dan selanjutnya gagal jantung kongestif pada usia 23 bulan saat tahanan vaskuler
paru turun. Karena pada TGA posisi aorta berada di anterior dari arteri pulmonalis maka pada auskultasi
akan terdengar bunyi jantung dua yang tunggal dan keras, sedangkan bising jantung umumnya tidak ada
kecuali bila ada PDA yang besar, VSD atau obstruksi pada alur keluar ventrikel kiri.
Neonatus dengan TGA dan sianosis berat harus segera diberikan infus PGE1 untuk
mempertahankan terbukanya PDA sehingga terjadi pencampuran yang baik antara vena sistemik dan vena
pulmonal. Selanjutnya bila ternyata tidak ada ASD atau defeknya kecil, maka harus secepatnya dilakukan
Balloon Atrial Septostomy (BAS), yaitu membuat lubang di septum atrium dengan kateter balon untuk
memperbaiki percampuran darah di tingkat atrium. Biasanya dengan kedua tindakan tersebut diatas,
keadaan umum akan membaik dan operasi koreksi dapat dilakukan secara elektif. Operasi koreksi yang
dilakukan adalah arterial switch, yaitu menukar ke dua arteri utama ketempat yang seharusnya yang harus
dilakukan pada usia 24 minggu sebelum ventrikel kiri menjadi terbiasa memompa darah ke paru-paru
dengan tekanan rendah.
Operasi arterial switch dan penutupan VSD pada TGA dengan VSD, tidak perlu dilakukan pada
usia neonatus dan tergantung pada kondisi penderita dapat ditunda sampai usia 36 bulan dimana berat
badan penderita lebih baik dan belum terjadi penyakit obstruktif vaskuler paru akibat hipertensi pulmonal
yang ada. ( Rudolph, 2001)
B.
ETIOLOGI
Penyakit jantung bawaan diduga terjadi dimasa embrional. Disebabkan :
a.
Factor genetic.
1. Adanya gen gen mutan tunggal ( dominan autosomal, resesif autosomal, atau terkait X ) yang
biasanya menyebabkan penyakit jantung bawaan sebagai bagian dari suatu kompleks kelainan.
2. Kelainan kromosom juga menyebabkan penyakit jantung kongenital sebagai bagian suatu kompleks
lesi.
3. Factor gen multifaktorial, dipercaya merupakan dasar terjadinya duktus anterious paten dan dasar
penyakit congenital lainnya.
b.
Factor lingkungan.
1. Lingkungan janin, ibu yang diabetic atau ibu yang meminum progesterone saat hamil mungkin akan
mengalami peningkatan resiko untuk mempunyai anak dengan penyakit jantung congenital.
2. Lesi viral. Emriopati rubella sering menyebabkan stenosis pulmonal perifer, duktus arteosus paten
dan kadang kadang stenosis katup pulmonal. ( Rudolph Vol 1, hal 1603 )
C.
PATOFISIOLOGI
Kelainan jantung congenital dua perubahan hemodinamik utama. Shunting atau percampuran
darah arteri dan vena serta perubahan aliran darah pulmonal dan tekanan darah. Normalnya, tekanan pada
jantung kanan lebih besar daripada sirkulasi pulmonal. Shunting terjadi apabila darah mengalir melalui
lubang abnormal pada jantung sehat dari daerah yang bertekanan lebih tinggi kedaerah yang bertekanan
rendah, menyebabkan darah yang teroksigenasi mengalir ke dalam sirkulasi sistemik. Aliran darah
pulmonal dan tekanan darah meningkat bila ada keterlambatan penipisan normal serabut otot lunak pada
arteriola pulmonal sewaktu lahir. Penebalan vascular meningkat resistensi sirkulasi pulmonal, aliran
darah pulmonal dapat melampaui sirkulasi sis dan aliran darah bergerak dari kanan ke kiri.
Perubahan pada aliran darah, percampuran darah vena dan arteri, serta kenaikan tekanan
pulmonal akan meningkatkan kerja jantung. Menifestasi dari penyakit jantung congenital yaitu adanya
gagal jantung, perfusi tidak adekuat dan kongesti pulmonal.
D.
MANIFESTASI KLINIS
a. Bayi lahir dalam keadaan sianosis, pucat kebiru biruan yang disebut Picasso Blue. Sianosis merata
keseluruh tubuh kecuali jika resistensi vascular paru sangat tinggi, dibagian tubuh sebelah atas akan
lebih sianotik dibanding bagian bawah.
b. Pada foto thorax terlihat jelas gambaran pembuluh darah abnormal.
c. Pada umur tiga bulan, terjadi kelambatan penambahan berat badan dan panjang badan serta
perkembangan otak terganggu.
d. Disertai pulmonal stenosis sering timbul serangan anoksia, yang menandakan bahaya kematian.
e. Bila terdapat gejala takipnea, maka tanda adanya gejala gagal jantung.
f.
Pada aliran darah paru yang meningkat menunjukkan penampangan anterior posterior dada
bertambah.
E.
KOMPLIKASI
Pasien dengan penyakit jantung congenital terancam mengalami berbagai komplikasi antara lain :
1.
2.
3.
Aritmia.
4.
Endokarditis bakterialiastis.
5.
Hipertensi.
6.
Hipertensi pulmonal.
7.
Tromboemboli.
8.
Abses otak.
F.
PANATALAKSANAAN
a.
Penatalaksanaan Medik
Dengan operasi, memungkinkan pasien dapat bertahan hidup setelah klien berumur 2 tahun. Jika
sering mengalami spell, segera operasi paliatif ( BT shunt membuat saluran dari arteri subklavia ke
arteri pulmonal.).
Pembedahan paliatif dilakukan agar terjadi pencampuran darah. Tindakan BAS (Ballon Atrial
Septotomy) juga dapat dilakukan. Pada saat prosedur, suatu kateter balon dimasukan untuk membesar
kelainan septum intra arterial. Pada cara Blalock Halen dibuat suatu kelainan septum atrium. Pada
Edward vena pulmonale kanan. Cara Mustard digunakan untuk koreksi yang permanent. Septum
dihilangkan, dibuatkan sambungan sehingga darah yang teroksigenasi dari vena pulmonal kembali ke
ventrikel kanan untuk sirkulasi tubuh dan darah tidak teroksigenasi kembali dari vena pulmonal kembali
ke ventrikel kanan untuk sirkulasi tubuh dan darah tidak teroksigenasi kembali dari vena cava ke arteri
pulmonal untuk keperluan sirkulasi paru-paru. Kemudian akibat kelainan ini telah berkurang secara nyata
dengan adanya koreksi dan paliatif. ( Pediatrica, hal III.29 )
b.
Penatalaksanaan Keperawatan
Sama dengan pasien TF dan penyakit jantung lainnya. Bedanya tidak perlu tindakan memberikan
sikap knee-chest karena sianosis selalu terdapat, maka O2 harus diberikan terus menerus secara rumat.
Selain itu juga mengetahui bagaimana persiapan pasien untuk suatu tindakan seperti:
1)
2)
3)
4)
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
I.
A.
1)
MANAJEMEN KEPERAWATAN
Pengkajian
Identitas Pasien: nama, umur, jenis kelamin, berat dan panjang badan lahir, berat dan tinggi badan
sekarang.
2)
Riwayat Kesehatan:
a. Riwayat penyakit sekarang, dan faktor pencetus.
b. Riwayat kehamilan ibu.
c. Riwayat penyakit dulu: Data fokus, kaji:
1. Riwayat batuk panas sering (infeksi saluran nafas), cepat lelah/ sering berhenti saat
menghisap ASI/ susu/ makan (FD), banyak keringat, BB sulit naik, dan perkembangan
motorik terlamba (FTT).
2. Bila pasien biru (sianosis): kaji riwayat bertambahnya sianosis saat beraktifitas; saat
menghisap ASI/ susu/ menangis/ mandi pagi atau BAB, dengan suara nafas yang
memburu. Kemudian lemas/ pingsan/ kejang, serta riwayat squatting.
3. Bila edema: kaji daerah edema, skala edema, intake cairan dan output 24 jam.
II.
PEMERIKSAAN FISIK
1.
Kepala: ukuran diameter kepala bayi/ anak, bentuk kepala bayi/ anak.
2.
Wajah:
a. Mata: konjungtiva, sklera, palpebra, pupil.
b. Hidung: terdapat masa/ tidak, sekret, kembang kempis cuping, epistaksis (mimisan).
c. Telinga: serumen, simetris.
d. Mulut: bibir ( sianosis, kering), tonsil, gusi, gigi (pada anak ukup usia), somatitis.
3.
Leher: JVP.
4.
Dada:
a. Inspeksi: kemerahan, kebiruan, bentuk dada, simetris, retraksi dada.
b. Palpasi: nyeri tekan (diindikasi dengan menangis pada bayi), ekspansi dada.
c. Perkusi: kaji suara perkusi dari setiap ICS
d. Auskultasi: kaji suara jantung dan paru.
5.
Abdomen: asites, bising usus, lingkar perut, pemeriksaan kuadran 1 (hepar, limpa, ginjal), kuadran 2
(lambung, ginjal), kuadran 3 (kolon), kuadran 4 (kolon, appendiks).
6.
Ekstremitas: kehangatan (suhu), kelembaban, edema, kekuatan pulsasi, pengisian kapiler, warna kuku.
III.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Ultra sono grafi (USG) untuk menentukan besar jantung, sis bentuk vaskularisasi paru, sera untuk
mengetahui keadaan thymus, trachea, dan esophagus.
2. Electro Cardiografi ( ECG ), untuk menetahui adanya aritmia atau hipertropi.
3. Echo Cardiografi, untuk mengetahui hemodinamik dan anatomi jantung.
4. Kateterisasi dan Angigrafi, untuk mengetahui gangguan anatomi jantung yang dilakukan dengan tindakan
pembedahan.
5. Pemeriksaan laboratorium, berupa pemeriksaan darah untuk serum elektrolit, Hb, packet cell volume (
PCV ) dan kadar gula.
6. Photo thorax untuk melihat atau evaluasi adanya cardiomegali dan infiltrate paru. ( Asuhan Keperawatan
Bayi dan Anak, hal. 120 )
IV.
No.
Data Pendukung
1.
DS : DO
pasien
Etiologi
Masalah
Peningkatan resistensi
terlihat
2.
DS : DO
pasien
terlihat
vaskular paru
3.
DS :
Ketidakmampuan menyusui
DO:
pasien
selalu
Perubahan nutrisi
dan makan
4.
DS : DO
Perfusi jaringan
:
pasien
terlihat
perifer
V.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
2.
Tidak efektifitas pola nafas berhubungan dengan peningkatan resistensi vaskular paru
3.
4.
VI.
Hari/ Tgl
No.
Tujuan
Tindakan
Rasional
dapat
1.
gejala2.
Dx
Senin/
12/12/11
pasien
mentoleransi
gejala
ditimbulkan
penurunan
curah
3.
dilakukan
keperawatan
terjadi
4.
peningkatan
jantung
sehingga
5.
kekeadaan normal.
lanjut.
2.
dandapat mempertahankan
digitalis; digoxin
3.
3. meningkatkan sediaan
oksigen untuk kebutuhan
miokord untukmelawan efek
hipoksia/iskemia.
4.
5.
5. mempengaruhi reabsorbsi
natrium dan air, dan digoksin
meningkatkankekuatan kontraksi
miokard dan memperlambat
frekuensi jantung dengan
menurunkan konduksi dan
memperlama periode refraktori
pada hubungan AV untuk
meningkatkan efisiensi curah
jantung.
Senin/
12/12/11
tidak terjadi
1.
ketidakefektitan pola
nafas.
1.Evaluasi
frekuensi
1.
selidiki
ekspansi
penurunan
2.
paru
dan
pemeriksaan
3.
terjadinya komplikasi.
4.menangis akan menyebabkan
pernafasan anak akan
meningkatkan.
Senin/
3.
12/12/11
1.Anjurkan
ibu
susu,
badanselama terjadi
tetapi sering.
2.Jika
tersebut
kelemahan
walaupun
anak
adekuatannya
untuk
1.
sedikit
2.
2.infuse
akan
menambah
akibat
ketidak
3.
nutrisi
3.meningkatan
intake,
dan
4.
Senin/
12/12/11
4.
Setelah diberikan
1.
1.Perfusi
serebral
secara
asuhan keperawatan
selama 3x 24 jam
(cemas, bingung,letargi,
perfusi jaringan
pinsan).
elektrolit/variasi
adekuat.
2.
3.
basa,
Vasokonstriksi sistemik
dingin/lembab, catat
kekuatannadi perifer.
curah
dibuktikan
asam
5.
5. Pantau pernafasan.
6.
distensiabdomen, konstipasi.
oleh
penurunan
4.
3.Menurunkan
stasis
vena,
jantungmungkin
resiko
tromboplebitis.
5.
7.
Namundispnea tiba-tiba/berlanjut
menunjukkan
komplikasi
tromboemboli paru.
6. 5. Penurunan aliran darah ke
mesentrika dapat mengakibatkan
disfungsi GI, contoh kehilangan
peristaltik.
7. 6. Penurunan pemasukan/mual
terus-menerus
dapat
mengakibatkanpenurunan
volume
sirkulasi,
yang
BAB III
PENUTUP
1)
KESIMPULAN
Penyakit jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak-anak. Apabila
tidak dioperasi, kebanyakan akan meniinggal pada waktu bayi. Oleh karena itu, penyakit jantung bawaan
yang ditemukan pada orang dewasa menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu melalui seleksi alam,
atau telah mengalami tindakan operasi dini pada usia muda. Hal ini pulalah yang menyebabkan perbedaan
pola penyakit jantung bawaan pada anak dan pada orang dewasa (Panggabean & Harun, 1999).
Kelainan jantung bawaan TGA ( Transposition Of The Great Arteries ) merupakan kelainan pada
jantung berupa adanya pemindahan asl dari aorta dan arteri pulmonalis; aorta keluar dari ventrikel kanan
dan arteri pulmonalis dari ventrikel kiri. Selain kelainan asal aorta dan arteri pulmonalis pada TGA
terdapat kelainan pada jantung yang menyertai TGA seperti letak katup aorta, katup pulmonal, dan
sebagainya. Pada PJB yang disebut TGA komplek ialah adanya letak katup aorta di kanan pada lengkung
aorta ke kanan. ( Ngastiah, hal 110 )
DAFTAR PUSTAKA
BAB III
TINJAUAN KASUS
: An.F
Tanggal lahir
: 16-Juli-2014
Jenis kelamin
: Perempuan
: 394.12.47
: 22-Juli-2014
: 38 minggu
5. Riwayat Kehamilan
Perawatan antenatal (ANC): teratur
Tempat Pemeriksaan ANC: RS Fatmawati
Komplikasi Kehamilan: Diabetes
8. Pemeriksaan Fisik
a. Kulit: sianotik di ujung jari tangan dan kaki, sianotik di bibir, turgor kulit elastic, Kepala: LP
33 cm, fontanel anterior lunak, sutura sagitalis tepat, gambaran wajah simetris, telinga, hidung,
mata normal, mulut lembab
b. Pernafasan
Bentuk dada simetris, Down score : Respirasi Rate 40-55 x/mnt, tidak ada retraksi dada, sianotik
menetap dengan pemberian oksigen gangguan pernafasan ringan (skor < 4), suara nafas sama
kanan dan kiri, respirasi spontan tanpa alat bantu.
c. Kardiovaskuler
Sirkulasi : sianosis (+), anemis (-) TD: 90/45 mmHg, Nadi: 120-140x/menit, RR: 50x/menit,S:
36,9oC, SaO2 82 % dengan room air. Bunyi jantung S1 dan S2 normal. Irama jantung reguler,
CRT 2 detik, murmur (-), gallop (-),
d. Gastrointestinal
Kondisi mulut klien tampak lembab, Tidak ada distensi abdomen,bising usus normal, ada reflek
menelan, LP 33 cm, umbilicus/tali pusat kering, BAB spontan 3 x/hari, BAK spontan 5-8 x/hari.
e. Ekstremitas
Gerakan bebas, ekstremitas atas dan bawah normal
f.
9. Pemeriksaan Penunjang
-
Pemeriksaan laboratorium
Jenis pemeriksaan
Tanggal
Tanggal
Nilai rujukan
16/07/2014
21/07/2014
Bilirubin Total
7,3
5,91
< 12
Bilirubin Direk
1,2
1,07
< 0,2
Bilirubin Indirek
6,1
4,84
0,1- 0,7
Kimia Klinik
Natrium
126
135-147
Kalium
3,78
3,78
Klorida
108
108
Ureum
13
13
Kreatinin
0,5
0,5
Darah Lengkap :
Hemoglobin
17,9
17,8
15-24
Hematokrit
54
52,7
44-70
Eritrosit
4,59
4,63
3-5,4
Trombosit
168
146
150-400
Leukosit
12,3
12,87
9,1-34
Hemostasis
PT
Pasien
11,7
Kontrol
11,7
APTT
Pasien
52,5
Kontrol
31,4
HIV Penyaring
Non reaktif
HBSAg
Non reaktif
HCV
Non reaktif
Pemeriksaan Echocardiografi
Pemeriksaan Echocardiografi pada tanggal 20/07/2014:
Kesan :
-
TGA-IVS
AV Concordance
VA discordance
RA RV dilatasi
Ao arising from RV
PA arising from LV
Ao anterior to PA
Inflat IVS
Jantung kanan membesar ke kanan dan ke kiri, jantung mengisi lebih 1/3 ruang retrosternal,
Ruang retrocardial tidak menyempit, aorta baik, Kesan: kardiomegali
ANALISA DATA
TANGGAL
22/07/2014
SYMPTOM
DS:
ETIOLOGI
PROBLEM
- Ibu pasien mengatakan anak nya biru (sianosis) saat : dimana PA keluar curah jantung
menangis
DO:
dan
aorta
Kesadaran : Composmentis
ventrikel kanan
dari
22/07/2014
DS:
nutrisi kurang
dari kebutuhan
17 cc/3 jam
tubuh
DO :
-
BB :3,48 Kg
TB :50 Cm
22/7/2014
DS :
Suplai dan
22/07/2014
mampuan/kelemaha
n sekunder terhadap
penurunan kardiak
DS :
aktifitas
seimbang/ketidak
spo2 70%
Intolerasi
output
Belum sempurnanya Resiko tinggi
Jatuh
2014
DO :
- Kesadaran : Composmentis
- Keadaan umum : sedang
- Ibu klien belum mengetahui cara untuk memasang
penghalang tempat tidur
- Ibu klien belum mengetahui arti segitiga kuning dan
gelang kuning yang dipakai klien
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan malformasi jantung : dimana PA keluar dari ventrikel
kiri, dan aorta dari ventrikel kanan
2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat
3. Intolerasi aktifitas berhubungan dengan suplai dan kebutuhan 02 tidak seimbang/ketidak
mampuan/kelemahan sekunder terhadap penurunan kardiak output
4. Resiko tinggi Jatuh berhubungan dengan belum sempurnanya koordinasi motorik
RENCANA INTRVENSI
NO
INTERVENSI KEPERAWATAN
DX
Dx.1
jantung,
dengan kriteria :
kehangatan kulit
2. Monitor
gelisah,
nadi
perifer,
tanda-tanda
takikardi,
warna
CHF
dan
(Pucat,
tachypnea,
sesak,
Nadi : 100-140x/menit
dan hepatomegali
Suhu 36,5-37,50 C
Pernafasan : 50-55x/menit
4.
- Sesak berkurang
- Akral hangat.
Dx2
sama
Dx3
3x24
jam
keluarga
pasien
dapat
memenuhi
kebutuhan pasien
dengan kriteria :
sesak/speel
3.libatkan keluarga dalam memenuhi
Dx4
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Pakaikan gelang resiko jatuh berwarna
3x24 jam jatuh tidak terjadi dengan kriteria :
- Klien tidak mengalami jatuh
kuning
2. Pasang tanda peringatan resiko jatuh,
berupa tanda kuning yang dipasang pada
bed dekat kaki klien
3. Lakukan penilaian ulang setiap shift
4. Tempat tidur klien di sesuaikan dengan
perkembangan tubuh klien
5. Libatkan keluarga klien dalam membantu
aktifitas klien sehari- hari
6. Pasang side rail saat klien tidur
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
TANGGAL&JAM
DX
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
22/07/2014
09.00-09.30
1,2,3,
09.30-09.45
1,2,3,
09.45-10.00
1,2
10.00-10.30
10.30-10.40
10.40-11.00
11.00-12.00
1,`2
12.00-12.30
1,2,3
(-)
Mengobservasi TTV :
12.30-12.45
12.45-13.00
13.00-13.30
Mengobservasi TTV
R/ kesadaran composmentis, TTV : TD: 96/58 mmHg, N: 140
23/07/2014
13.30-13.45
1,2,3
13.45-14.00
1,2,3
6% 150 cc/24jam
Mengobservasi intake dan output
R/ intake per oral 30 cc diberikan, distensi abdomen (-), muntah
14.00-14.30
1,2,3
14.30-14.45
14.45-15.00
1,3
15.00-15.30
1,3
16.00-16.30
1,2,3
16.30-16.45
1,2,3
16.45-17.00
Mengobservasi TTV
R/ kesadaran composmentis, TTV : TD: 101/60 mmHg, N: 135
x/menit0C, S: 36,9oC RR : 45 x/mnit, Sat : 80%
Mengkaji ulang status pernafasanya (kedalaman, suara nafas,
17.00-17.30
1,2,3
17.30-17.45
1,3
17.45-18.15
1,2,3
18.15-18.30
1,2,3
18.30-19.00
1,3
1,3
19.30-20.00
1,3
TANGGAL
22/07/2014
CATATAN PERKEMBANGAN
S : Ibu pasien mengatakan sudah bisa memberikan susu lewat botol kepada anaknya
O:
-
Terpasang vena dalam connect PG2 13 cc/jam, lipid 20% 1,1 cc/jam, aminosteril
6% 150 cc/24jam
Bernafas spontan room air, cuping hidung (-), tidak tampak retraksi dinding dada,
pernafasan perut (+), ronkhi (-)
Bernafas spontan room air, cuping hidung (-), tidak tampak retraksi dinding dada,
pernafasan perut (+)