Anda di halaman 1dari 17

I.

JUDUL : ANALISA PENGARUH PENAMBAHAN LIMBAH SERBUK


MERMER TERHADAP KUAT TEKAN BATAKO
II. PENDAHULUAN
2.1

Latar Belakang
Dewasa ini perkembangan teknologi semakin berkembang pesat dalam

berbagai bidang, tak hanya di bidang ilmu dan informasi, bidang kontruksi juga
telah berkembang pesat. Sejumlah penelitian teknologi kontruksi terus
dikembangkan dengan tujuan dapat menghasilkan teknologi konstruksi yang tepat
guna, mudah dalam pengerjaan, serta efisien dalam pembiayaan. Penelitian bahan
material alternatif merupakan sesuatu yang sering dijadikan obyek penelitian,
sebab dengan ditemukan bahan alternatif yang tepat, maka akan dapat
berpengaruh pada kekuatan dan efisiensi biaya.
Batako merupakan bahan bangunan yang terususun dari komposisi antara
pasir, semen portland dan air yang pengerasannya tanpa melalui pembakaran dan
pemeliharaannya di tempakan di tempat yang lembab atau tidak langsung tekena
sinar matahari atau air hujan, tetapi dalam proses pembuatannya, batako dibuat
dengan komposisi tertentu agar memperoleh hasil yang sesuai yang selajutnya
dipergunakan untuk pasangan dinding. Batako menjadi pilihan masyarakat karena
cepat dalam pemasangan, kedap terhadap air, selain itu dilihat dari segi biaya,
batako juga cukup ekonomis.
Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu kabupaten yang memiliki
sumber daya alam batuan yang melimpah. Potensi tersebut sangat besar yang
dihasilkan dari olahan dan bahan galian, sehingga perlu dimanfaatkan seoptimal
mungkin. Saat ini sumber daya alam yang berkembang di Kabupaten
Tulungagung adalah batu marmer. Batu-batu marmer tersebut diolah menjadi
berbagai macam kerajinan, seperti patung, hiasan rumah, guci, dll. Selama proses
pengolahan dengan menggunakan gergaji, ada bagian yang terbuang yang
menghasilkan limbah. Limbah tersebut berupa serbuk halus berwarna putih. Jika
di campurkan dengan air maka akan bereaksi dan lama kelamaan mengeras.
Limbah serbuk marmer bisa dimanfaatkan sebagai bahan pendukung agar tidak

mencemari lingkungan dan bernilai ekonomis. Diduga limbah serbuk marmer


tersebut begitu banyak, sehingga dapat digunakan sebagai bahan tambahan
campuran batako yang dapat sekaligus memperbaiki sifat batako tersebut, ataupun
mengurangi

komposisi jumlah semen dalam pembuatan batako agar lebih

ekonomis.
Hasil penelitian PT Sucofindo Jakarta menyebutkan bahwa komposisi
yang terkandung dalam limbah marmer adalah senyawa CaO dengan kadar
52.69%, CaCO3 41.92% , MgO 0.84% , MgCO3 1.76% , SiO2 1.62%, Al2O3 +
Fe2O3 0.37% dari hasil ini terlihat komposisi utama limbah marmer adalah zat
kapur ( Skripsi Priyo Subekti 2007 ). Sebagian senyawa tersebut juga terdapat
dalam semen, bahkan kadar senyawa CaO dalam limbah marmer hampir sama
dengan semen, yaitu 52.29% pada limbah marmer dan 60-65% pada semen.
2.2 Rumusan Masalah
Bedasarakan uraian pada latar belakang maka permasalahan yang dirumuskan
sebagai berikut :
1. Seberapa penyimpangan ukuran rata-rata pada 5 macam formula batako
dengan bahan tambah limbah serbuk marmer?
2. Seberapa besar pengaruh limbah serbuk marmer yang digunakan sebagai bahan
pengikat pada 5 macam formula batako terhadap kuat tekan ?
3. Seberapa besar penyerapan air pada 5 macam formula batako dengan bahan
tambah limbah serbuk marmer ?
4. Benda uji mana yang memiliki nilai pengujian yang baik ?
2.3

Batasan Masalah
Agar tidak menyimpang dari latar belakang dan pokok permasalahan,

maka dalam penelitian ini dibuat batasan masalah sebagai berikut :


1. Menggunakan perbandingan campuran normal batako konvensional
1 pc : 8 Ps, diantaranya sebagai berikut :
a. 1 Pc : 8 Ps : 10% LSM dari berat semen
b. 1 Pc : 8 Ps : 20% LSM dari berat semen
c. 1 Pc : 8 Ps : 30% LSM dari berat semen

d. 1 Pc : 8 Ps : 40% LSM dari berat semen


e. 1 Pc : 8 Ps : 50% LSM dari berat semen
2. Pengujian yang dilakukan hanya meliputi :
a. Pengujian tampak luar/penyimpangan ukuran
b. Pengujian kuat tekan
c. Pengujian daya serap air
3. Pembuatan dan pengujian benda uji tidak dilakukan pada ruangan
kedap suara.

2.4.1

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui seberapa penyimpangan ukuran rata-rata pada 5
macam formula batako dengan bahan tambah limbah serbuk
marmer ?
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh limbah serbuk marmer
yang digunakan sebagai bahan pengikat pada 5 macam formula
batako terhadap kuat tekan ?
3. Untuk mengetahui seberapa besar penyerapan air pada 5 macam
formula batako dengan bahan tambah limbah serbuk marmer ?
4. Untuk mengetahui benda uji mana yang memiliki nilai pengujian
yang baik ?

2.5 Manfaat penelitian


Dari Tujuan diatas dapat digambarkan manfaat penelitian sebagai berikut :
1. Mengubah limbah serbuk marmer menjadi limbah yang mempunyai
nilai guna dan ekonomis sebagai salah satu komponen bahan
bangunan.
2. Secara tidak dapat mengurangi dampak lingkungan yang berasal dari
limbah marmer tersebut.
3. Sebagai sumbangan informasi dan pengetahuan tentang limbah
marmer untuk industri pembuatan batako.

III. TINJAUAN PUSTAKA


3.1

Pengertian Batako
Batako menurut SNI 03-0349-1989 adalah komponen bangunan yang

dibuat dari campuran semen portland atau pozolan, pasir, air dan atau tanpa bahan
tambahan lainnya (additive), dicetak sedemikian rupa hingga memenuhu syarat
dan dapat digunakan sebagai bahan unutk pasangan dinding.
Batako menurut PUBI 1982 adalah bata yang dibuat dengan mencetak dan
memlihara dalam kondisi lembab.
Batako menurut Supriyadi adalah semacam batu cetak yang dibuat dari
campuran tras, kapur, dan air atau dapat dibuat dengan campuran semen, kampur,
pasir dan ditambah air yang dalam keadaan pollen (lekat) dicetak menjadi bolakbalik dengan ukuran tertentu.
Frick Heinz dan Koesmartadi berpendapat bahwa batako adalah batubatuan yang tidak dibakar (bata yang dibuat secara pemadatan dari trass, kapur,
air).
Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan pengertian
batako adalah salah satu bahan bangunan yang berupa batu-batuan yang
pengerasannya tidak dibakar dengan bahan pembentuk yang berupa campuran
pasir, semen, air dan dalam pembuatannya dapat ditambahkan dengan abu ampas
tebu sebagai bahan pengisi antara campuran tersebut atau bahan tambah lainnya
(additive). Kemudian dicetak melalui proses pemadatan sehingga menjadi bentuk
balok-balok dengan ukuran tertentu dan dimana proses pengerasannya tanpa
melalui pembakaran serta dalam pemeliharaannya ditempatkan pada tempat yang
lembab atau tidak tekena sinar matahari langsung atau hujan, tetapi dalam
pembuatannya dicetak sedemikian rupa hingga memenuhi syarat dan dapat
digunakan sebagai bahan untuk pasangan dinding. Berdasrakan SNI 03-03491989 tentang bata beton (batako), persyaratan nilai penyerapan air maksimum
adalah 25%

3.2

Macam-macam

batako

berdasarkan

bahan

bakunya

serta

klasifikasinya.
Batako merupakan batu cetak yang tidak dibakar, berdasarkan bahan
bakunya batako dibedakan menjadi tiga, yaitu :

Batako trass/putih, batako terbuat dari campuran trass, batu kapur, dan air
sehingga sring juga disebut batu vetak kapur trass. Trass meupakan jenis
tanah yang berasal dari lapukan batu-batu yang berasal dari gunung berapi,
warnanya ada yang putih dan ada juga yang putih kecoklatan. Ukuran
batako trass yang biasa beredar dipasaran memiliki panjang 20 cm - 39
cm, tebal 8 cm 10 cm, dan tinggi 14 cm 18 cm.

Batako semen, dibuat dari campuran dan pasir. Ukuran dan model lebih
beragam dibandingkan dengan batako putih. Batako ini biasanya
menggunakan dua lubang atau tiga lubang disisinya untuk diisi oleh
adukan pengikat. Nama lain dari batako semen adalah

press, yang

dibedakan menjadi dua bagian, yaitu press mesin dan press tangan. Secara
kasar mata perbedaan press mesin dan tangan dapat dilihat pada kepadatan
permukaan batakonya. Dipasaran ukuran batako semen yang biasa ditemui
memiliki panjang 36 cm 40 cm, tinggi 18 cm 20 cm, dan teba 8 cm
10 cm.

Bata ringan dibuat dari bahan baku pasri kuarsa, kapur, semen dan bahan
yang lain yand dikategorikan sebagai bahan-bahan untuk beton ringan.
Berat jenis sebesar 1850 kg/m3 dapat dianggap sebagai batasan atas dari
beton tingan yang sebenarnya, meskipun nilai kadang-kadang melebihi.
Dimensinya yang lebih besar dari bata konvensional yaitu 60 cm x 20 cm
dengan tebal 7 cm 10 cm menjadikan pekerjaan lebih cepat selesai
dibandingkan bata konvensional.

3.3

Klasifikasi Batako berdasarkan PUBI 1982

Batako dengan mutu A1, adalah batako yang digunakan untuk


konstruksi yang tidak memikul beban, dinding menyekat serta
konstruksi lainnya yang selalu tidak terlindungi dari cuaca.

Batako dengan mutu A2, adalah batako yang hanya digunakan untuk
hal-hal seperti jenis A1, tetapi hanyan permukaan konstruksi dari
batako tersebut boleh tidak diplester.

Batako dengan mutu B1, adalah batako yang digunakan untuk


konstruksi yang memikul beban, tetapi penggunakannya hanya untuk
konstruksi yang terlindung dari cuaca luar (untuk konstruksi di bawah
atap).

Batako dngan mutu B2, adalah batako untuk konstruksi yang memikul
beban dan dapat digunakan untuk konstruksi yang tidak terlindungi
(untuk konstruksi luar atap).

Syarat mutu batako atau beton disajikan dalam tabel berikut :


Tabel Pesyaratan Fisik Beton Pejal (PUBI 1982 hal 29)
Kuat tekan minimum
(kg/cm3)

Bata Beton
Pejal

Rata-rata
dari 5 buah

Persyaratan

masing-

air maksimal

masing

(% berat)

batako

A1

25

21

A2

40

35

B1

70

65

35

B2

100

90

25

Keterangan : Kuat tekan adalah beban tekan (kg) pada waktu benda
uji pecah dibagi dengan luas bidang tekan bata beton
(diukur dalam cm2)

3.4 Dimensi dan Toleransi


Dalam pembuatan batako terdapat tiga macam ukuran yaitu seperti yang
terdapat dalam tabel Sebagai berikut :
Jenis

Ukuran nominal toleransi (mm)

batako

Panjang

Lebar

Tebal

Besar

4003

2003

1002

Sedang

3003

1503

1002

Kecil

2003

1002

802

Keterangan : Ukuran nominal = ukuran bata ditambah 10 mm tebal


siar.
3.5 Bahan-bahan penyusun Batako
1.

Semen Portland
Menurut PUBI 1982, semen Portland didefinisikan semen hidrolis yang

dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari silikatsilikat kalsium yang bersifat hidrolis dengan gips sebagai bahan tambahan.
Karena bahan dasarnya terdiri dari bahan-bahan yang terutama mengandung
kapur, silikat, Alumindo, dan oksida besi, maka bahan-bahan ini menjadi unsurunsur pokok semenya. Di dalam semen terdapat senyawa yang kompleks yang
lazim disebut sebagai senyawa semen atau mineral kliner, seperti berikut :
Tabel Susunan unsur semen biasa
Oksida

Persen

Kapur,CaO

60 - 65

Silikat, SiO2

17 - 25

Alumina, Al2O2

38

Besi, Fe2O3

0,5 - 6

Magnesia, MgO

0,5 - 4

Sulfur, SO3

0,5 1

Soda/potash Na2O + K2O

0,5 - 1

a. Hidrasi semen
Bilamana semen bersentuhan dengan air maka proses hidrasi
berlangsung, dalam arah ke luar dan ke dalam, maksudnya hasil hidrasi
mengendap di bagian luar dan ini semen yang belum dehidrasi di
bagian dalam secara bertahap dehidrasi sehingga volumenya mengecil.
Reaksi tersebut berlangsung lambat, antara 2 - 5 jam (yang disebut
induksi atau tidak aktif) sebelum mengalami percepatan setelah kulit
permukaan pecah.
Pada tahap berikutnya proses hidrasi semen sangatlah kompleks, tidak
semua reaksi diketahui secara rinci. Hasil utama dari proses hidrasi
semen ialah C3S2H3 yang biasa disebut tobermorite, yang berbentuk
gel. Selain itu semen mengasilkan panas yang keluar selama proses
hidrasi.
b. Waktu ikat
Semen jika dicampur dengan air membentuk bubur yang secara
bertahap menjadi kurang plastis, dan akhirnya menjadi keras. Pada
proses ini, tahap pertama dicapai ketika pesta semen cukup kaku untuk
menahan suatu tekanan. Waktu untuk mencapai tahap ini disebut
sebagai waktu ikatan. Waktu tersebut dihitung sejak air dicampur
dengan semen. Waktu ikatan dibagi menjadi dua bagian, yaitu ikatan
awal (initial time) dan ikatan akhir (final setting time). Waktu dari
pencampuran

semen

dan

air

sampai

saat

kehilangan

sifat

keplastisannya disebut waktu ikatan awal, dan waktu sampai mencapai


pastanya menjadi massa yang keras disebut waktu ikatan akhir. Pada
semen Portland biasa, waktu ikan awal tidak boleh kurang dari 60
menit, dan waktu ikatan akhir tidak boleh lebih dari 480 menit (8 jam).
Pengertian waktu ikatan awal adalah penting pada pekeraan beton.
Waktu ikatan awal yang cukup lama diperlukan untuk pekerjaan beton,
yaitu waktu transportasi, penuangan, pemadatan, dan perataan
permukaan.

Proses

ikatan

ini

disertai

perubahan

temperatur.

Temperatur naik dengan cepat dari ikatan awal dan mencapai


puncaknya pada waktu berakhirnya ikatan akhir. Waktu ikatan yang
pendek kenaikan temperatur dampar sampai 30 derajat celcius. Dalam
prakteknya lama waktu ikatan ini dipengaruhi oleh jumlah air
campuran yang digunakan dan suhu udara di sekitarnya.
c. Kehalusan butir
Reaksi antara semen dan air dimulai dari permukaan butir-butir semen,
sehingga makin luar permukaan butir-butir semen (dari berat semen
yang sama) makin cepat proses hidrasinya. Hasil ini berarti bahwa,
butir-butir semen yang halus akan menjadi kuat dan menghasilkan
panas hidrasi yang lebih capet dari pada semen dengan butir-butir yang
lebih kasar. Secara umum, semen berbutir halus meningkatkan kohesi
pada beton segar (fresh concrete) dan dapat pula mengurangi bleeding,
akan tetapi menambah kecenderungan beton untuk menyusut lebih
banyak dan mempermudah terjadinya retak susut. Menutur SII 001381, paling sedikit 90% berat semen harus dapat lewat ayakan lubang
0,09 mm. Namun perlu dicatat, bahwa jika butir-butir semen terlalu
halus, sifat semen akan menjadi kebalikannya, karena terjadi hidrasi
awal oleh kelembaban udara.
d. Berat jenis
Berat jenis semen bekisar pada 3,15. Berat jenis digunakan dalam
perhitungan perbandingan campuran.
2.

Agregat (pasir)
Agregat adalah butiran mineral alami yang befungsi sebagai bahan pengisi

dalam campuran mortar atau beton. Agregat ini kira-kira menempati sebanyak
70% volume mortar atau beton. Walaupun fungsi agregat sebagai bahan pengisi
akan tetatpi agregat sangatlah berpengaruh terdahap sifat-sifat mortar atau beton,
sehingga pemilihan agregat merupakan satu bagian penting dalam pembuatan
mortal atau beton.
Dalam prakteknya agregat umumnya digolongkan menjadi tiga kelompok
berdasarkan ukuran, yaitu batu untuk besar butiran lebih dari 40 mm, kerikil untuk

butiran antara 5 mm dan 40 mm, dan pasir untuk butiran antara 0,15 mm dan 5
mm. Dari ketiga golongan tersebut agregat bisa berasal dari alam dan buatan.
Pasir adalah agregat langsung dari alam yang berupa butiran-butiran
mineral yang bentuknya mendekati bulat dan ukuran butirannya sebagian besar
terletak antara 0,075-5 mm, dan kadar bagian yang ukurannya lebih kecil dari
0,063 mm tidak lebih dari 5%, (PUBI 1982).
Pasir atau agregat halus dengan ukuran butir yang melewati saringan no.4
(butir 5 mm) berfungsi sebagai bahan pengisi dalam pembuatan bata beton.
Kekuatan beton dipengaruhi oleh kualitas pasir yang digunakan, sehingga pasir
yang digunakan harus memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam PUBI 1982
sebagai berikut :
Pasir harus bersih, bila diuji memakai larutan pencuci khusus, tinggi
endapan pasti yang terlihat disebanding dengan tinggi seluruh endapan lebih besar
atau tidak boleh kurang dari 70%.
a. Kadar lumpur atau bagian yang lewat ayakan 0,063 tidak lebih besar dari
5% berat.
b. Angka kehalusan fineness nodulus terletak antara 2,2 3,2 bila diuji
memakai ayakan rangkaian dengan ukuran berturut turut 0,16 0,315 0,63 1,25 2,5 5,00 1,00, fraksi yang lewat 0,3 mm minimal 15%.
c. Pasir tidak boleh mengandung unsur zat organik yang dapat mengurangi
mutu. Untuk itu direndam dalam larutan 3% NaOH cairan diatas endapan
tidak gelap dari larutan pembanding.
2.

Air
Air merupakan bahan yang sangat penting dalam proses pengadukan untuk

melarutkan semen sehingga membentuk pasta (bereaksi dengan semen) yang


kemudian mengikat semua agregat dari paling besar sampai paling halus dan
menjadi bahan pelumas antara butiran-butiran agregat agar dapat mudah
dikerjakan dalam proses pengadukan, penuangan, maupun pemadatan. Pada
dasaranya jumlah air yang diperlukan untuk proses hidrasi hanya kira-kira 25%
dari berat semennya, penambahan jumlah air akan mengurangi kekuatan setelah

mengeras. Semakin banyak air yang digunakan, maka beton yang dihasilkan
semakin jelek. Walaupun di dalam pengerjaannya akan mempermudah dan lebih
ringan.
Banyak jenis air di muka bumi, namun biasanya dalam pembuatan beton
air yang dipergunakan biasanya terbebas dari zat-zat yang mengandung minyak,
asam, alkali, zat organis atau bahan lainnya yang dapat merusak beton. Air tawar
yang biasa dipergunakan dalam campuran beton diantaranya adalah air sungai,
danau, telaga, kolam dan lainnya.
3. Serbuk Limbah Marmer
Marmer adalah batuan kristalin kasar bersalah dari batu gamping yang
telah mengalami proses metamorfosa, yaitu proses yang diakibatkan oleh adanya
kenaikan temperatur dan tekanan atau keduanya yang menjadi dalam tubuh bumi.
Pengaruh suhu dan tekanan yang dihasilkan oleh gaya endogen menyebabkan
terjadinya rekristalisasi pada batuan tersebut membentuk berbagai foiasi maupun
non foliasi (http://id.wikipedia.com).
Hasil penelitian PT. Sucofindo Jakarta menyebutkan kandungan limbah marmer
sebagai berikut :
No Unsur Kimia

Kandungan
(%)

Senyawa CaO

52,69

CaCO3

41,92

MgO

0,84

MgCO3

1,76

SiO2

1,62

AI2O3 + Fe2O3

0,37

Sebanyak 52,69 % limbah marmer tersusun dari Kalsium Oksida (CaO) yang
sama seperti bahan dasar penyusun semen Portland, sehingga limbah marmer
dapat berfungsi untuk menambah pengikatan dalam campuran batako.

4.

Cara uji Batako


Cara pengujian batako ini berdasarkan dari ketentuan SNI 03-0349-1989.

Berdasarkan SNI 03-0349-1989 pengujian menggunakan langkah-langkah sebagai


berikut :
1. Pengukuran benda uji
Untuk mengetahui ukuran contoh, dipakai 5 (lima) buah benda uji
yang utuh. Sebagai alat pengukur dipakai kaliper/mistar sorong
yang dapat mengukur teliti sampai 1 mm, setiap pengukuran
panjang, lebar, tebal bata atau tebal dingin bata berlubang,
dilakukan paling sedikit 3 kali pada tempat yang berbeda-beda,
kemudian dihitung harga rata-rata dari ketiga pengukuran tersebut.
Harga pengukuran dari 5 (lima) buah benda uji, dilapokan
mengenai ukuran rata-rata dan penyimpangan.
2. Untuk pengujian kuat tekan dipakai 5 (lima) buat benda uji yang
sudah di uji ukuran dan penyimpangan. Pengujian kuat tekan
melalu langkah-langkah sebagi berikut :

a. Meratakan /menerap bidang tekan


Bahan penerapan dibuat dari adukan 1 (satu) bagian semen
Portland ditambah 1 atau 2 (satu atau dua) bagian pasir halus
tembus ayakan 0,3 mm. Pemakaian bahan penerap lain,
diperbolehkan asalkan kekuatan sama atau lebih tinggi dari
kuat tekan batanya. Bidang tekan uji (2 bagian) diterap dengan
aduk semen sedemikian rupa sehingga kurang lebih 3 mm.
Benda coba ditentukan kuat tekannya apabila pengerasan
lapisan penerap sedikitnya telah berumur 3 hari.

b. Penentuan kuat tekan


Arah tekanan pada bidang tekan benda uji disesuaikan dengan
arah tekanan beban di dalam pemakaian. Benda uji yang telah
siap, ditentukan kuat tekannya dengan mesin tekan yang dapat
diatur kecepatan penekanannya. Kecepatan penekanan dari
mulai pemberian badan sampai benda uji hancur diatur
sehingga tidak kurang dari 1 menit dan tidak lebih dari 2 menit.
Kuat tekan benda uji dihitung dengan membagi beban
maksimum pada waktu benda uji hancur, dengan luar bidang
tekan bruto, dinyatakan dalam kg/cm2. Kuat tekan tadi
dilaporkan masing-masing untuk setiap benda uji dan juga nilai
rata-rata dari 5 (lima) benda uji.

Keterangan :
P = beban maksimum (kg)
A = luas penampang (cm2)

c. Penyerapan air
Untuk pengujian penyerapan air, dipakai 5 (lima) buah benda
uji dalam keadaan utuh dengan peralatan sebagi berikut :
1. Timbangan yang dapat menimbang teliti sampai 0,5% dari
berat contoh uji.
2. Dapur pengeringan yang dapat mencapai suhu 1055 oC.
Benda uji seutuhnya direndam dalam air bersih yang
bersuhu ruangan, selama 24 (dua puluh empat) jam.
Kemudian benda uji diangkat dari rendaman, dan air
sisanya dibiarkan meniris kurang lebih 1 (satu) menit, lalu
permukaan bidan benda uji diseka dengan kain lembab,
agar air tidak berlebihan yang masih melekat dibidang
benda uji terserap kain lembab itu. Benda uji kemudian
ditimbang (A). Setelah itu benda uji dikeringkan di dalam

dapur pengeringan pada suhu 1055 oC, sampai beratnya


pada 2 (dua) kali penimbangan tidak berbeda lebih dari 2%
dari penimbangan yang terdahulu (B). Penyerapan air, dan
harus dihitung berdasarkan persen berat benda uji kering
dan laporkan rata-rata dari lima buah benda uji.
IV. METODOLOGI PENELITIAN

4.1

Lokasi dan Bagan Alir Penelitian


Penelitian dilakukan di Laboratorium Beton Teknik Sipil Universitas

Muhammadiyah Malang.
4.2

Pengumpulan Data
Data primer adalah yang diambil langsung dari lapangan berupa observasi,

wawancara dan angket. Sedangkan data sekunder merupakan cara bagaimana


memperoleh informasi, pendapat-pendapat pakar, prinsip-prinsip dan teori atau
rumus dan dari karya ilmiah mana.
Untuk penelitian ini, memakai data primer yang langsung diambil dari
observasi lapangan, berupa pengambilan bahan-bahan yang akan diteliti.
Adapun bahan-bahan pembuat batako yang akan diteliti sebagai berikut :
1. Semen Portland (tiga roda/gresik)
2. Agregat halus (pasir)
3. Serbuk Limbah Marmer

4.3

Diagram Alir Penelitian atau Flow Chart

Latar Belakang /
Identifikasi masalah

Rumusan Masalah

Pengumpulan Data

Pelaksanaan Penelitian

Persiapan dan pemeriksaan bahan

Agregat Halus (Pasir)


Semen
Tidak dilakukan

1.
2.
3.
4.

Analisa Saringan
Berat isi
Kadar air
Kadar Lumpur

Limbah Sebuk Marmer


Tidak dilakukan

Air
Tidak dilakukan

Rancangan Campuran
1.
2.
3.
4.
5.

1 Pc : 8 Ps : 10% Dolosit dari berat semen


1 Pc : 8 Ps : 20% Dolosit dari berat semen
1 Pc : 8 Ps : 30% Dolosit dari berat semen
1 Pc : 8 Ps : 40% Dolosit dari berat semen
1 Pc : 8 Ps : 50% Dolosit dari berat semen

Pembuatan Benda Uji

Perawatan Benda Uji (28 Hari)

Pengujian Kuat Tekan


Benda Uji
Hasil dan Analisa Pembahasan

V.

DAFTAR PUSTAKA

SNI 03-1974-1990, tentang Metode


Pengujian
Kesimpulan
dan Kuat
saran Tekan Beton.
SNI 03-0349-1989, tentang Bata Beton untuk Pasangan Dinding.
Anonimous, 1982. Persyaratan Umun Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI
1982), Pusat Penelitian dan Pengembangan Pekerjaan Umum, Bandung.
Tjokrodimulyo, Kardiyono. 1996. Teknologi Beton. Nafiri: Yogyakarta.
Muji Utomo, Hendratmo. Analisa Kuat Tekan Batako dengan Limbah Karbit
sebgai Bahan tambah, Proyek Akhir, Fakultas Teknik, Universitas Negeri,
Yogyakarta.
Mallisa, Harum. Studi Kelayakan Kualitas Batako Hasil Produksi Industri Kecil
di Kota Palu, Media Litbang Sulteng IV, ISSN 1979-5971.
Utami, Sri. Pemanfaatan Limbah Marmer untuk Pembuatan Paving Stone,
Neutron, volume 10, 2010.
_____, 2013. Batu Cetak Beton, (http://sukatekniksipil.blogspot.com/2013/03/batucetak-beton-batako.html, diakses pada 1 Desember 2014)