Anda di halaman 1dari 4

KLASIFIKASI TANAH

Sifat tanah berbeda-beda, ada yang berwarna hitam, kelabu, bertekstur pasir, debu,
liat,dsb. Untuk membedakan tanah tersebut diperlukan klasifikasi tanah meskipun dengan cara
yang sangat sederhana. Klasifikasi tanah itu sendiri berarti usaha untuk membeda-bedakan tanah
berdasarkan atas sifat-sifat yang dimilikinya. Tujuan dari klasifikasi tanah yaitu:

1. Mengorganisasi atau menata tanah


2. Mengetahui hubungan individu tanah
3. Memudahkan mengingat sifat-sifat tanah
4. Mengelompokkan tanah untuk :
• Menaksir sifat-sifatnya
• Mengetahui lahan-lahan terbaik
• Menaksir produktivitas
• Penelitian eksplorasi
1. Mempelajari hubungan-hubungan dan sifat-sifat tanah yang baru

Tanah dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu klasifikasi alami dan klasifikasi teknis.
Klasifikasi alami adalah klasifikasi tanah yang didasarkan atas sifat tanah yang dimilikinya tanpa
menghubungkan dengan tujuan penggunaan tanah tersebut. Klasifikasi ini memberikan
gambaran dasar terhadap sifat fisik,kimia, dan mineralogy tanah yang dimiliki masing-masing
kelas yang selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar untuk pengelolaan berbagai penggunaan
tanah.

Sedangkan klasifikasi teknis adalah klasifikasi tanah yang didasarkan sifat-sifat tanah
yang mempengaruh kemampuan tanah untuk penggunaan-penggunaan tertentu. Misalnya
klasifikasi kesesuaian lahan untuk tanaman perkebunan, maka tanah akan diklasifikasikan atas
dasar sifat-sifatr tanah yang mempengaruhi tanaman perkebunan tersebut seperti keadaan
drainase tanah, lereng, tekstur tanah, dan lainnya.

Dalam pengertian sehari-hari pengklasifikasian tanah sering diartikan sebagai klasifikasi


alami. Banyak negara yang menggunakan sistem klasifikasi tanah secara alami bahkan di
Indonesia dikenal tiga sistem pengklasifikasian tanah yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian
Tanah Bogor, FAO/UNESCO, dan USDA (Amerika Serikat).
Seperti halnya sistem klasifikasi hewan atau tanaman, klasifikasi tanah juga mengenal
berbagai kategori klasifikasi. Sifat-sifat tanah yang digunakan untuk membedakan tanah pada
kategori tinggi juga merupakan pembeda pada kategori rendah, sehingga jumlah faktor pembeda
semakin meningkat dengan semakin rendahnya kategori.

Taksonomi Tanah (USDA)

Sistem ini menggunakan enam kategori yaitu ordo, subordo, great group, subgroup,
family, dan seri. Sistem ini merupakan sistem yang benar-benar baru baik mengenai cara-cara
penamaan (tata nama) maupun definisi-definisi mengenai horison-horison penciri ataupun sifat-
sifat penciri lain yang digunakan untuk menentukan jenis-jenis tanah (seperti horison penciri,
horison bawah penciri, horison penciri untuk tanah organik, penciri khusus, regim temperatur
ataupun regim kelembapan).
Dalam sistem ini nama-nama tanah selalu mempunyai arti, yang umumnya menunjukkan
sifat utama dari tanah tersebut. Dalam kategori ordo nama tanah selalu diberi akhiran sol ( solum
= tanah ), sedangkan suku kata sebelumnya menunjukkan sifat utama dari tanah tersebut. Nama
pada kategori subordo terdiri dari dua suku kata. Sedangkan great group terdiri dari tiga suku
kata yang masing-masing menunjukkan sifat-sifat utama dari tanah tersebut. Suku kata terakhir
menunjukkan nama dari ordo tanah.
Untuk nama subgroup digunakan dua patah kata dimana kata kedua merupakan nama
great group dan kata pertama menunjukkan sifat utama dari subgroup tersebut pada tingkat
family, tanah diberi nama secara deskriptif yang umumnya menerangkan susunan besar butir,
susunan mineral liat, regim suhu tanah atau sifat-sifat lain yang spesifik dan mempengaruhi
pertumbuhan tanaman. Pada tingkat seri, tanah diberi nama menurut nama tempat dimana tanah
tersebut pertama kali ditemukan.

Arti nama-nama tanah dalam tingkat ordo dan akhiran untuk kategori yang lebih rendah
Akhiran Untuk Kategori
Nama Ordo Arti Asal Kata
Lain

Alfisol ALF Dari Al-Fe


Andisol AND Ando, tanah hitam
Aridisol ID Aridus, sangat kering
Entisol ENT Dari Recent
Gelisol EL Gelare, membeku
Histosol IST Histos, jaringan
Inceptisol EPT Inceptum, permulaan
Mollisol OLL Mollis, lunak
Oxisol OX Oxide, oksida
Spodosol OD Spodos, abu
Ultisol ULT Ultimus, akhir
Vertisol ERT Verto, berubah

Dibawah ini adalah sebuah contoh:


• Ordo : Ultisol ( ultus = akhir, perkembangan tanah pada tingkat akhir )
• Subordo : Udult ( udus = humida, lembab, tidak pernah kering )
• Great group : Fragiudult ( fragipan = padas rapuh, ditemukan fragipan )
• Subgroup : Aquic Fragiudult ( aqua = air, kadang-kadang jenuh air )
• Family : Aquic Fragiudult, halus, kaolinitik, isohipertermik ( halus = besar butir
tanah halus atau berliat halus ; kaolinitik = mineral liat yang dominan ;
adalah kaolinit ; isohipertermik = suhu tanah lebih dari 22oC, perbedaan
suhu musim panas dan musim dingin kurang dari 5oC )
• Seri : Granada ( pertama kali ditemukan di daerah Granada )

Berdasarkan atas horison-horison penciri dan sifat-sifat penciri lain maka tanah di dunia
ini dapat dikelompokkan ke dalam dua belas ordo seperti tertera pada tabel dibawah ini.
Ordo Tanah dan Penciri Utama Menurut Sistem Taksonomi Tanah

Penciri Utama
Ordo
Horison penciri Sifat-sifat penciri lain
Kejenuhan basa ( jumlah
Alfisol Horison argilik kation ) tinggi ( lebih dari 35%
), pada kedalaman 180 cm.
Andisol - Mempunyai sifat tanah andik
Regim kelembaban tanah
Aridisol Horison oksik
aridik (sangat kering )
Hanya ada epipedon ochrik,
Entisol -
albik atau histik
Mempunyai sifat gelik
Gelisol -
(membeku sepanjang tahun)
Epipedon histik tebalnya lebih
Histosol -
dari 40 cm
Inceptisol Horison kambik -
Kejenuhan basah (NH4OAC
Mollisol Epipedoin mollik P H 7) seluruh solum lebih dari
50%
Oxisol Horison oksik -
Spodosol Horison spodik -
Kejenuhan basa ( jumlah
Ultisol Horison argillik kation ) rendah (kurang dari
35%), pada kedalaman 180 cm
Bersifat vertik ( musim kering
mengerut, tanah pecah-pecah;
Vertisol - musim hujan tanah
mengembang sangat lekat)
lebih dari 30% liat.