Anda di halaman 1dari 29

REFERAT

Penatalaksanaan Leukorea

Pembimbing :
dr. Indrawan Ekomurtomo, Sp.OG

Penyusun:
Mohammad Evan Ewaldo
NIM : 030.09.138

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN & PENYAKIT


KANDUNGAN RSUD KARDINAH TEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
PERIODE 18 AGUSTUS 2014 - 25 OKTOBER 2014

LEMBAR PERSETUJUAN REFERAT


1

JUDUL REFERAT: PENATALAKSANAAN LEUKOREA

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing dr. Indrawan Ekomurtomo, Sp.OG pada:

HARI:

TANGGAL:

Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu
Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUD Kardinah Kota Tegal

Tegal, 27 September 2014

Dr. Indrawan EM, Sp.OG

KATA PENGANTAR
2

Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
karuniaNya

penulis

dapat

menyelesaikan

tugas

referat

PENATALAKSANAAN

LEUKOREA. Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman tentang salah
satu penyakit dalam ilmu kebidanan dan penyakit kandungan yaitu leukorea.
Pembahasan referat ini disusun sebagai salah satu tugas dalam pelaksanaan
kepaniteraan klinik bagian Ilmu kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUD Kardinah Kota
Tegal periode 18 Agustus 2014 25 Oktober 2014.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Indrawan,Sp.OG selaku pembimbing
dalam penyusunan tugas ini serta seluruh pihak yang telah membantu, termasuk teman-teman
mahasiswa yang telah memberi banyak masukan untuk makalah ini sehingga makalah ini
dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Penulis menyadari bahawa tulisan ini jauh dari sempurna, karena itu kritik dan saran
yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan referat ini.

Tegal, 27 September 2014

DAFTAR ISI
3

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

Lembar persetujuan referat1


Kata pengantar...2
Daftar isi.3
Daftar tabel dan gambar.4
Bab I: Pendahuluan......5
Bab II: Pembahasan..............6
Bab II.1: Definisi....6
Bab II.2: Epidemiologi .............7
Bab II.3: Etiologi.......................7
Bab II.4: Klasifikasi...8
Bab II.5: Infeksi pada vagina...11
Bab II.6: Infeksi pada cervix....21
Bab II.7: Patogenesis23
Bab II.8: Penatalaksanaan....25
Bab III: Kesimpulan....28
Daftar Pustaka..29

DAFTAR TABEL DAN GAMBAR

1.
2.
3.
4.
5.

Gambar pewarnaan gram pada sekret vagina.11


Gambar mikroskopis Candida albicans.12
Gambar Vulvovaginal candidiasis........................12
Gambaran mikroskopis Trichomoniasis....14
Gambar fluor albus pada Trichomonas vaginalis...14
4

6. Gambar fluor albus pada Vaginosis bakterial....16


7. Tabel penyebab, gejala klinis, diagnosis infeksi vagina....19
8. Tabel terapi infeksi vagina.20
9. Gambaran mikroskopis Clamydia trachomatis..22
10. Gambar pemeriksaan inspekulo pada infeksi Clamydia trachomatis22

BAB I
PENDAHULUAN

Istilah keputihan sering kali digunakan sebagai referensi umum untuk menjelaskan
sekresi vaginal, baik yang normal maupun abnormal. Karena tidak ada istilah lain dalam
bahasa Indonesia yang umum dipakai untuk sekresi vaginal. Dalam istilah medis, keputihan
ini biasa disebut dengan fluor albus, atau bisa juga disebut dengan leukorhea.

Namun banyak sekali hal-hal yang merupakan penyebab dari keputihan ini.
Keputihan atau fluor albus bisa terjadi pada saat tubuh dalam keadaan sehat atau saat tubuh
dalam keadaan terinfeksi oleh mikroorganisme tertentu. Leukorea merupakan salah satu
masalah yang banyak dikeluhkan wanita mulai dari usia muda sampai usia tua.
Masalah leukorea ini bagi wanita terasa sangat mengganggu baik dalam kehidupannya
sehari-hari maupun dalam hubungan dengan suami. Lebih dari sepertiga penderita yang
berobat ke klinik-klinik ginekologi di Indonesia mengeluh adanya leukorea (fluor albus) dan
lebih dari 80% diantaranya adalah yang merupakan keputihan patologis.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Definisi
Leukorea (white discharge, fluor albus, keputihan) adalah nama gejala yang diberikan
kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital yang tidak berupa darah. Dalam kondisi
normal, kelenjar pada serviks menghasilkan suatu cairan jernih yang keluar, bercampur
dengan bakteri, sel-sel vagina yang terlepas dan sekresi dari kelenjar Bartolini. Selain itu
sekret vagina juga disebabkan karena aktivitas bakteri yang hidup pada vagina yang normal.
6

Pada perempuan, sekret vagina ini merupakan suatu hal yang alami dari tubuh untuk
membersihkan diri, sebagai pelicin dan pertahanan dari berbagai infeksi. Dalam kondisi
normal, sekret vagina tersebut tampak jernih, putih keruh atau berwarna kekuningan ketika
mengering pada pakaian. Sekret ini non-iritan, tidak mengganggu, tidak terdapat darah, dan
memiliki pH 3,5-4,5. Flora normal vagina meliputi Corinebacterium, Bacteroides,
Peptostreptococcus, Gardnerella, Mycoplasma dan Candida spp. Lingkungan dengan pH
asam memberikan fungsi perlindungan yang dihasilkan oleh lactobacilli.(1)
Leukorea merupakan gejala yang paling sering dijumpai pada penderita ginekologik,
adanya gejala ini diketahui penderita karena mengotori celananya. Dapat dibedakan antara
leukorea yang fisiologik dan yang patologik. Leukorea fisiologik terdiri atas cairan yang
kadang-kadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang
sedang pada leukorea patologik terdapat banyak leukosit.(1)
Penyebab paling penting dari leukorea patologik ialah infeksi. Disini cairan
mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau, seringkali
lebih kental dan berbau. Radang vulva, vagina, serviks dan kavum uteri dapat menyebabkan
leukorea patologik; pada adneksitis gejala tersebut dapat pula timbul. Selanjutnya leukorea
ditemukan pada neoplasma jinak atau ganas, apabila tumor itu dengan permukaannya untuk
sebagian atau seluruhnya memasuki lumen saluran alat-alat genital.(1)

II.2 Epidemiologi
Sekret vagina sering tampak sebagai suatu gejala genital. Proporsi perempuan yang
mengalami flour albus bervariasi antara 1 -15% dan hampir seluruhnya memiliki aktifitas
seksual yang aktif, tetapi jika merupakan suatu gejala penyakit dapat terjadi pada semua
umur. Seringkali fluor albus merupakan indikasi suatu vaginitis, lebih jarang merupakan
indikasi dari servisitis tetapi kadang kedua-duanya muncul bersamaan. Infeksi yang sering
menyebabkan vaginitis adalah Trikomoniasis, Vaginosis bakterial, dan Kandidiasis.
Vaginitis sering terjadi pada wanita dewasa dan jarang terjadi pada anak perempuan
prapubertas. Vaginosis bakterial menyumbang 40-50% kasus vaginitis sedangkan kandidiasis
7

vagina prevalensinya sekitar 20-25%. 15-20% kasus vaginitis disebabkan oleh trikomoniasis.
(2)

II.3 Etiologi
Fluor albus atau leukorea merupakan gejala yang paling sering dijumpai pada
penderita ginekologik, adanya gejala ini diketahui penderita karena mengotori celananya.
Sumber cairan ini dapat berasal dari sekresi vulva, cairan vagina, sekresi serviks,
sekresi uterus, atau sekresi tuba falopii, yang dipengaruhi fungsi ovarium. Dapat dibedakan
antara leukorea yang fisiologik dan yang patologik. Leukorea fisiologik terdiri atas cairan
yang kadang-kadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang
jarang sedang pada leukorea patologik terdapat banyak leukosit.
Penyebab paling penting dari leukorea patologik ialah infeksi. Di sini cairan
mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau, seringkali
lebih kental dan berbau. Radang vulva, vagina, serviks dan kavum uteri dapat menyebabkan
leukorea patologik; pada adneksitis gejala tersebut dapat pula timbul. Selanjutnya leukorea
ditemukan pada neoplasma jinak atau ganas, apabila tumor itu dengan permukaannya untuk
sebagian atau seluruhnya memasuki lumen saluran alat-alat genital.
Fluor albus dapat disebabkan karena:
1. Infeksi yang biasanya menimbulkan fluor yang berwarna kuning atau hijau.
2. Bertambahnya sekret yang normal.
Cairan tersebut di atas disebut luar biasa jika:
1. Menimbulkan bercak-bercak pada celana (berwarna kuning atau hijau).
2. Berbau.
3. Menyebabkan keluhan-keluhan seperti gatal dan panas pada vulva.

II.4 Klasifikasi

Berdasarkan klasifikasi, leukorea dibagi menjadi 2 yaitu leukorea fisiologis dan


leukorea patologis. Leukorea fisiologis pada perempuan normalnya hanya ditemukan pada
daerah porsio vagina. Sekret patologik biasanya terdapat pada dinding lateral dan anterior
vagina.
I.

Leukorrhea Fisiologis
Yaitu sekret dari vagina normal yang berwarna jernih atau putih, menjadi kekuningan

bila kontak dengan udara yang disebabkan oleh proses oksidasi. Secara mikroskopik terdiri
dari sel-sel epitel vagina yang terdeskuamasi, cairan transudasi dari dinding vagina, sekresi
dari endoserviks berupa mukus, sekresi dari saluran yang lebih atas dalam jumlah bervariasi
serta mengandung berbagai mikroorganisme terutama Lactobacillus doderlein. Memiliki pH
< 4,5 yang terjadi karena produksi asam laktat oleh Lactobacillus dari metabolisme glikogen
pada sel epitel vagina.
Leukorrhea fisiologis terdapat pada keadaan sebagai berikut :
1. Bayi baru lahir sampai dengan usia 10 hari, hal ini disebabkan pengaruh estrogen
di plasenta terhadap uterus dan vagina bayi.
2. Premenarche, mulai timbul pengaruh estrogen
3. Saat sebelum dan sesudah haid
4. Saat atau sekitar ovulasi, keadaan sekret dari kelenjar pada serviks uteri menjadi
lebih encer
5. Adanya rangsangan seksual pada wanita dewasa karena pengeluaran transudasi
dinding vagina
6. Pada kehamilan, karena pengaruh peningkatan vaskularisasi dan bendungan di
vagina dan di daerah pelvis
7. Stress emosional
8. Penyakit kronis, penyakit saraf, karena pengeluaran sekret dari kelenjar serviks
uteri juga bertambah
9. Pakaian (celana dalam ketat, pemakaian celana yang jarang ganti, pembalut)
10. Leukorrhea yang disebabkan oleh gangguan kondisi tubuh, seperti keadaan
anemia, kekurangan gizi, kelelahan, kegemukan, dan usia tua > 45 tahun

II.

Leukorrhea Patologis
9

Leukorrhea dikatakan tidak normal jika terjadi peningkatan volume (khususnya


membasahi pakaian), bau yang khas dan perubahan konsistensi atau warna. Penyebab
terjadinya leukorrhea patologis bermacam-macam, dapat disebabkan oleh adanya infeksi
(oleh bakteri, jamur, protozoa, virus) adanya benda asing dalam vagina, gangguan hormonal
akibat menopause dan adanya kanker atau keganasan dari alat kelamin, terutama pada
serviks.
Penyebab leukorrhea patologis :
a. Infeksi
Penyebab leukorrhea terbanyak adalah infeksi pada vagina (vaginitis) dan serviks (servisitis).
Ada atau tidaknya bau, gatal dan warna dapat membantu menemukan etiologinya. Sekret
yang disebabkan oeh infeksi biasanya mukopurulen, warnanya bervariasi dari putih
kekuningan hingga berwarna kehijauan. Vaginitis paling sering disebabkan oleh Candida
spp., Trichomonas vaginalis, Vaginalis bakterialis. Sedangkan servisitis paling sering
disebabkan oleh Chlamidia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae. Selain itu penyebab
infeksi yang lain adalah infeksi sekunder pada luka, abrasi (termasuk yang disebabkan oleh
benda asing), ataupun terbakar.

b. Non infeksi
Dapat disebabkan oleh :

Kelainan alat kelamin didapat atau bawaan

Kadang-kadang pada wanita ditemukan cairan dari vagina yang tercampur dengan urine atau
feses. Hal ini dapat terjadi akibat adanya fistel uterovagina, fistel rektovagina yang
disebabkan kelainan kongenital, cedera persalinan, radiasi pada kanker alat kandungan atau
akibat kanker itu sendiri.

Benda asing

Adanya benda asing seperti kotoran tanah atau biji-bijian pada anak-anak ataupun
tertinggalnya tampon maupun kondom pada wanita dewasa, adanya cincin pesarium pada
wanita yang menderita prolaps uteri serta pemakaian alat kontrasepsi seperti IUD dapat
merangsang pengeluaran sekret secara berlebihan.
10

Hormonal

Perubahan hormonal estrogen dan progesteron yang terjadi dapat dikarenakan adanya
perubahan konstitusi dalam tubuh wanita itu sendiri atau karena pengaruh dari luar misalnya
karena obat/cara kontrasepsi, dapat juga karena penderita sedang dalam pengobatan
hormonal.

Kanker

Pada kanker terdapat gangguan dari pertumbuhan sel normal yang berlebihan sehingga
mengakibatkan sel bertumbuh sangat cepat secara abnormal dan mudah rusak, akibatnya
terjadi pembusukan dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah yang bertambah untuk
memberikan makanan dan oksigen pada sel kanker tersebut. Pada Ca cerviks terjadi
pengeluaran cairan yang banyak disertai bau busuk akibat terjadinya proses pembusukan tadi,
dan acapkali disertai adanya darah yang tidak segar.

Vaginitis atrofi

Usia pra pubertas, masa laktasi, pasca menopause dan beberapa keadan yang menyebabkan
kurangnya estrogen, akan menyebabkan meningkatnya pH vagina. Naiknya pH akan
menyebabkan pertumbuhan bakteri normal dalam vagina menjadi berkurang, tetapi
sebaliknya pH yang meningkat akan memicu pertumbuhan bakteri patogen di vagina.
Kurangnya estrogen akan menyebabkan penipisan mukosa vagina sehingga mudah terluka
dan terinfeksi.

II.5 Infeksi pada Vagina


Pada pemeriksaan sekret vagina pada pasien normal, dapat ditemukan batang gram positif,
yaitu Lactobacillus acidophillus. Bakteri ini dapat mempertahankan ekosistem vagina dengan
3 cara:
a. Memproduksi asam laktat yang mempertahankan pH vagina normal, yaitu 4 (ratarata 3,8-4,2) , sehingga dapat menghambat patogen
b. Memproduksi Hidrogen Peroksida yang toksis terhadap mikroflora anaerob
c. Memiliki mikrovili yang menempel pada reseptor di sel-sel epitel vagina,
sehingga menghalangi penempelan patogen.

11

Gambar 1. Pewarnaan gram pada sekret vagina normal

II.5.1 Infeksi Jamur


Kandidiosis vulvovaginal (KV)
Kandidiosis vulvovaginal merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh Candida
spp terutama Candida albicans. Diperkirakan sekitar 50% wanita pernah mengalami
kandidiosis vulvovaginitis paling sedikit dua kali dalam hidupnya. Jamur ini hidup dalam
suasana asam yang mengandung glikogen. Keadaan-keadaan yang mendukung timbulnya
infeksi adalah kehamilan, pemakaian pil kontrasepsi, pemakaian kortikosteroid dan pada
penderita Diabetes Melitus.

Gambar 2. Mikroskopis Candida albicans

Gejala klinis Kandidiosis Vulvovaginal (KV)


12

Duh tubuh vagina disertai gatal pada vulva. Dapat disertai disuria eksternal dan
dipareunia superfisial. Pada pemeriksaan tampak hiperemia di labia minora, introitus vagina
dan 1/3 vagina bagian bawah
Kelainan yang khas adalah gumpalan-gumpalan sebagai kepala susu berwarna putih
kekuningan. Gumpalan tersebut berasal dari massa yang terlepas dari dinding vulva atau
vagina terdiri atas bahan nekrotik, sel-sel epitel dan jamur. Pada pemeriksaan pH vagina
berkisar 4-4,5

Gambar 3. Vulvovaginal candidiasis

Diagnosis
-

Leukorrhea yang bervariasi mulai dari cair sampai kental dan sangat gatal (pruritus vulva)

Dapat ditemukan rasa nyeri pada vagina, dispareunia, rasa terbakar pada vulva dan iritasi
vulva

Tanda inflamasi : dapat ditemukan eritem (+), edem (+) pada vulva dan labia, lesi diskret
pustulopapular (+), dermatitis vulva

Laboratorium : pH vagina < 4,5, Whiff test (-). Pada sediaan gram : bentuk ragi (+) dan
pseudohifa (+)

Mikroskopik : leukosit, sel epitel, 80% pasien dengan gejala terlihat : ragi (yeast) mycelia
atau pseudomycelia

Saran: kultur jamur untuk menegakkan diagnosis. (kultur merupakan jenis pemeriksaan
yang paling sensitif untuk mendeteksi adanya candida)(3)

Pengobatan
-

Klotrimazol 500 mg intravagina dosis tunggal atau

Klotrimazol 200 mg intravagina selama 3 hari atau

Nistatin 100.000 unit intravagina selama 14 hari atau


13

Fluconazole 150 mg peroral dosis tunggal atau

Itraconazole 200 mg 2 x 1 tablet selama 1 hari atau

Imidazole vagina krem, 1 tablet setiap hari selama3-7 hari

Wanita hamil sebaiknya hanya menggunakan penggunaan topikal dengan tablet vagina(4)

II.5.2 Infeksi Protozoa


Trichomoniasis
Trichomoniasis adalah infeksi traktus urogenitalis yang disebabkan oleh protozoa
yaitu T. vaginalis. Masa inkubasi berkisar antara 5-28 hari. Pada wanita T. vaginalis paling
sering menyebabkan infeksi pada epitel vagina, selain pada uretra, serviks, kelenjar
Bartholini dan kelenjar skene.

Gambar 4. Gambaran mikroskopis Trichomoniasis


Trichomoniasis biasanya ditularkan melalui hubungan seksual tanpa menggunakan
pelindung (kondom) dengan seseorang yang mengidap trichomoniasis atau dapat juga
ditularkan melalui perlengkapan mandi seperti handuk. (5)

Gejala klinis
Pada trikomoniasis terlihat sekret vagina seropurulen berwarna kekuning-kuningan,
kuning hijau, berbau tidak enak dan berbusa. Disertai dinding vagina tampak kemerahan dan
sembab. Kadang-kadang terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang tampak
sebagai granulasi berwarna merah (strawberry appearance). Juga disertai gejala dispareunia,
perdarahan pasca koitus dan perdarahan intramenstrual. Hasil pemeriksaan pH vagina >4,5
14

Gambar 5. Fluor albus pada Trichomonas vaginalis

Diagnosis
-

Jumlah leukorrhea banyak, sering disertai bau yang tidak enak, pruritus vulva, external
dysuria dan iritasi genital sering ada

Warna sekret : putih, kuning atau purulen

Konsistensi : homogen, basah, sering frothy atau berbusa (foamy)

Tanda-tanda inflamasi: eritem pada mukosa vagina dan introitus vagina, kadang-kadang
petechie pada serviks, dermatitis vulva

Sekitar 2-5% serviks penderita tampak strawberry serviks

Laboratorium : pH vagina 5,0, whiff test biasanya (+)

Mikroskopik : dengan pembesaran 400 kali dapat terlihat pergerakan trichomonas.


Bentuknya ovoid, ukuran lebih besar dari sel PMN dan mempunyai flagel. Pada 80-90%
penderita symtomatic leucocyte (+), clue cell dapat (+)

Pengobatan
-

Metronidazole 2 gram peroral dosis tunggal atau

Metronidazole 2x500 mg peroral selama 7 hari

Pada wanita hamil trimester pertama dapat diberikan pengobatan topikal klotrimazol 100
mg intravagina selama 6 hari

Metronidazole tidak boleh diberikan pada kehamilan trimester pertama namun dapat
diberikan pada trimester kedua dan ketiga

15

Penanganan pada partner Seksual


Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual penting dilakukan untuk
mencegah terjadinya infeksi pingpong. Perlu dilakukan pemeriksaan rutin traktus
genitourinarius, pengobatan dengan tablet metronidazole 2 gram peroral dosis tunggal pada
partner seksual penderita trichominiasis. (6)

II.5.3 Infeksi Bakteri


Vaginosis Bakterial (VB)
Vaginosis bakterial merupakan sindroma atau kumpulan gejala klinis akibat
pergeseran lactobacilli yang merupakan flora normal vagina yang dominan oleh bakteri lain,
seperti Gardnerella vaginalis, Prevotella spp, Mobilancus spp, Mycoplasma spp dan
Bacteroides spp. Vaginosis bakterial merupakan penyebab vaginitis yang sering ditemukan
terutama pada wanita yang masih aktif secara seksual, namun demikian Vaginosis bakterial
tidak ditularkan melalui hubungan seksual.

Gejala klinis
Asimtomatik pada sebagian penderita vaginosis bakterialis. Bila ada keluhan umumnya
berupa cairan yang berbau amis seperti ikan terutama setelah melakukan hubungan seksual.
Pada pemeriksaan didapatkan jumlah duh tubuh vagina tidak banyak, berwarna putih, keabuabuan, homogen, cair, dan biasanya melekat pada dinding vagina

16

Gambar 6. Fluor albus akibat Vaginosis bakterial

Pada vulva atau vagina jarang atau tidak ditemukan inflamasi. Pemeriksaan pH vagina
>4,5 , penambahan KOH 10% pada duh tubuh vagina tercium bau amis (whiff test). Pada
sediaan apus vagina yang diwarnai dengan pewarnaan gram ditemkan sel epitel vagina
granular yang diliputi oleh bakteri kokobasil sehingga batas sel menjadi kabur (clue cells)(7)

Diagnosis vaginosis bakterial dapat ditegakkan bila ditemukan tiga dari empat gejala berikut
(Kriteria Amsell) :
1. Cairan vagina homogen, putih keabu-abuan, melekat pada dinding vagina
2. pH vagina > 4,5
3. Whiff test (+)
4. Ditemukan clue cell pada pemeriksaan mikroskopik
Diagnosis
-

Keputihan yang berbau tidak enak/bau seperti ikan, terutama setelah berhubungan seksual

Sekret berlebihan, banyaknya sedang sampai banyak, warna sekret : putih atau abu-abu
dan melekat pada dinding vagina terutama forniks posterior

Tanda-tanda inflamasi tidak ada

Laboraorium : whiff test (+), pH 4,5 (biasanya 4,7-5,7)

Mikroskopik : clue cell (+), jarang lekukosit, banyaknya lactobacilli berlebihan karena
bercampur dengan flora, meliputi coccus gram (+) dan coccobacilli

17

Pengobatan
-

Metronidazole 2 gram, peroral dosis tunggal atau

Metronidazole 500 mg peroral, 2x1 hari selama 7 hari atau

Ampisilin 500 mg peroral 4x1 hari selama 7 hari

Pengobatan lain dapat diberikan


-

Krim klindamisin vagina 2% intravagina selama 7 hari atau

Gel metronidazole 0,75% intravagina sehari 2 kali selama 5 hari

Metronidazole tidak boleh diberikan pada kehamilan trimester pertama.(1)

18

Kandidosis

Trichomoniasis

Vulvovaginalis
PENYEBAB

C.albicans

Vaginosis
Bakterial

T.vaginalis

G.vaginalis
Bakteri
anaerob
Mycoplasma

KELUHAN
-

Bau

duh

tubuh

vagina
-

Lecet pada vulva

Iritasi pada vulva

Dispareunia

Bau asam

Bau

Bau amis

Jarang

Jarang

Jarang

Jarang

GEJALA
-

Vulvitis/vaginitis

Duh tubuh vagina

Jumlah

Sedikit-sedang

Banyak

Sedang

Warna

Putih

Kuning

Putih Keabuan

Konsistensi

Encer/menggumpal/cheesy

Encer/berbusa

Encer/berbusa.

plaques

purulen

Homogen,
tipis, melekat
pada dinding
vagina

DIAGNOSIS
-

pH vagina

Whiff test

Mikroskopis

KOH 10%

4,5

> 4,5

> 4,5

(-)

seringkali (+)

(+)

Gerakan

Clue

Trichomonas

PMN sedikit,

(+)

lactobacilli

Bentuk ragi/sel tunas


Pseudohifa bentuk ragi
(+)

Gram

Banyak
NaCl

PMN

sel

sedikit (-)

cells,

19

Tabel 1. Penyebab, Gejala Klinis, Diagnosis Infeksi Vagina

Tabel 2. Terapi Infeksi Vagina


Kandidosis

Trichomoniasis

Vaginosis

Vulvovaginalis
TERAPI

Klotrimazol
mg

500

Bakterial
-

intravagina,

dosis tunggal atau


-

Klotrimazol

200

Metronidazole 2

Metronidazole

gr peroral, dosis

2 gr peroral,

tunggal atau

dosis

Metronidazole

atau
-

mg / intravagina

2x500

selama 3 hari atau

peroral, selama 7

2x500

Nistatin

hari

peroral, 2 kali

100.000

mg

tunggal

Metronidazole
mg

unit / intravagina

selama 2 hari

selama 14 hari atau

atau
20

Flukonazole

Ampisilin 500

mg / peroral dosis

mg

tunggal atau

4xsehari

Ketokonazole 200

selama 7 hari

mg
-

150

2x1

tablet

peroral

Krim

selama 5 hari atau

klindamisin

Itrakonazole

vagina

mg

2x1

200
tablet

2%,

intravagina

selama 1 hari

selama 7 hari
atau
-

Gel
metronidazole
0,75%
intravagina
2xsehari
selama 5 hari

II.6 Infeksi pada Cervix


II.6.1 Servisitis Gonore
Gonore merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh N. gonnorrheae pada traktus
genitalis dan organ tubuh lainnya seperti konjungtiva, faring, rektum, kulit, persendian, serta
organ dalam. Ditularkan melalui hubungan seksual. Pada wanita, N. gonnorrhoeae pertama
kali mengenai kanalis servikalis. Selain itu dapat mengenai uretra, kelenjar skene, dan
kelenjar bartholini. Masa inkubasi bervariasi, umumnya 10 hari.

Gejala klinis
Asimtomatik pada lebih dari sebagian penderita gonore. Bila ada keluhan umunya cairan
vagina jumlahnya meningkat, menoragi atau perdarahan intermenstrual. Pada penderita yang
menunjukan gejala biasanya ditemukan duh tubuh serviks yang mukopurulen. Serviks
tampak eritem, edem, ektopi dan mudah berdarah saat pengambilan bahan pemeriksaan
21

Diagnosis
Ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan langsung
sediaan apus endoserviks dengan pengecatan gram akan ditemukan gonokokus gram negatif
yang tampak di dalam sel PMN (intraselular) dan di luar sel PMN (ekstraselular).(8)
Pengobatan:
-

Siprofloksasin 500 mg peroral, dosis tunggal atau

Ofloksasin 400 mg peroral, dosis tunggal atau

Tiamfenikol 3,5 gr peroral, dosis tunggal atau

Seftriakson 250 mg, intramuskuler, dosis tunggal atau

Spektinomisin 2 gr, intra muskuler, dosis tunggal

Siprofloksasin, Ofloksasin dan Tiamfenikol tidak boleh diberikan pada wanita hamil atau
sedang menyusui dan anak-anak.

II.6.2 Servisitis yang disebabkan Chlamidia trachomatis


Penyakit yang disebabkan oleh Chlamidia trachomatis sebagian besar serupa dengan
gonore. Pada wanita, traktus genitalis yang paling sering terinfeksi oleh C. trachomatis
adalah endoserviks. Pada 60 % penderita biasanya asimtomatik (silent sexually transmitted
disease).

Gambar 7. Gambaran Mikroskopis Chlamidia trachomatis


Gejala klinis
22

Bila penderita yang mempunyai keluhan, biasanya tidak khas dan serupa dengan keluhan
servisitis gonore, yaitu adanya duh tubuh vagina. Pada pemeriksaan inspekulo sekitar 1/3
penderita dijumpai duh tubuh servks yang mukopurulen, serviks tampak eritem, ektopi dan
mudah berdarah pada saat pengambilan bahan pemeriksaan dari mukosa endoserviks.(9)

Gambar 8. Gambaran pemeriksaan spekulum pada infeksi Chlamidia trachomatis

Diagnosis
-

Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan sitologi,


identifikasi antigen C.trachomatis, PCR dan isolasi C.trachomatis pada biakan sel

Pengobatan
-

Doksisiklin 2x100 mg peroral, selama 7 hari atau

Azitromisisn 1 gr peroral, dosis tunggal atau

Eritromisin 4x500 mg peroral, selama 7 hari atau

Ofloksasin 300 mg per oral 2x sehari selama 7 hari

Doksisiklin, Tetrasiklin dan Azitromisin tidak boleh diberikan pada wanita hamil atau
sedang menyusui dan anak-anak.(1)

II.7 Patogenesis
Meskipun banyak variasi warna, konsistensi, dan jumlah dari sekret vagina bisa
dikatakan suatu yang normal, tetapi perubahan itu selalu diinterpretasikan penderita sebagai
23

suatu infeksi, khususnya disebabkan oleh jamur. Beberapa perempuan pun mempunyai sekret
vagina yang banyak sekali. Dalam kondisi normal, cairan yang keluar dari vagina
mengandung sekret vagina, sel-sel vagina yang terlepas dan mukus serviks yang akan
bervariasi karena umur, siklus menstruasi, kehamilan, penggunaan pil KB.
Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan yang dinamis antara
Lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen, glikogen, pH vagina dan hasil
metabolit lain. Lactobacillus acidophilus menghasilkan endogen peroksida yang toksik
terhadap bakteri patogen. Karena aksi dari estrogen pada epitel vagina, produksi glikogen,
lactobacillus (Doderlein) dan produksi asam laktat yang menghasilkan pH vagina yang
rendah sampai 3,8-4,5 dan pada level ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain.

Kandidiasis vaginalis merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh Candida sp.
terutama C. albicans. Infeksi Candida terjadi karena perubahan kondisi vagina. Sel ragi akan
berkompetisi dengan flora normal sehingga terjadi kandidiasis. Hal-hal yang mempermudah
pertumbuhan ragi adalah penggunaan antibiotik yang berspektrum luas, penggunaan
kontrasepsi, kadar estrogen yang tinggi, kehamilan, diabetes yang tidak terkontrol, pemakaian
pakaian ketat, pasangan seksual baru dan frekuensi seksual yang tinggi.
Perubahan lingkungan vagina seperti peningkatan produksi glikogen saat kehamilan
atau peningkatan hormon esterogen dan progesteron karena kontrasepsi oral menyebabkan
perlekatan Candida albicans pada sel epitel vagina dan merupakan media bagi pertumbuhan
jamur.
Candida albicans berkembang dengan baik pada lingkungan pH 5-6,5. Perubahan ini
bisa asimtomatis atau sampai sampai menimbulkan gejala infeksi. Penggunaan obat
immunosupresan juga menjadi faktor predisposisi kandidiasis vaginalis.
Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar estrogen dan progesterone
menyebabkan peningkatan pH vagina dan kadar glikogen sehingga berpotensi bagi
pertumbuhan dan virulensi dari Trichomonas vaginalis.
24

Sedangkan vaginitis sering disebabkan karena flora normal vagina berubah karena
pengaruh bakteri patogen atau adanya perubahan dari lingkungan vagina sehingga bakteri
patogen itu mengalami proliferasi. Antibiotik kontrasepsi, hubungan seksual, stress dan
hormon dapat merubah lingkungan vagina tersebut dan memacu pertumbuhan bakteri
patogen. Pada vaginosis bakterial, diyakini bahwa faktor-faktor itu dapat menurunkan jumlah
hidrogen peroksida yang dihasilkan oleh Lactobacillus acidophilus sehingga terjadi
perubahan pH dan memacu pertumbuhan Gardnerella vaginalis, Mycoplasma hominis dan
Mobiluncus yang normalnya dapat dihambat. Organisme ini menghasilkan produk metabolit
misalnya amin, yang menaikkan pH vagina dan menyebabkan pelepasan sel-sel vagina. Amin
juga merupakan penyebab timbulnya bau pada flour albus pada vaginosis bakterial.
Flour albus mungkin juga didapati pada perempuan yang menderita tuberculosis,
anemia, menstruasi, infestasi cacing yang berulang, juga pada perempuan dengan keadaan
umum yang jelek , higiene yang buruk dan pada perempuan yang sering menggunakan
pembersih vagina, disinfektan yang kuat.

II.8 Penatalaksanaan
II.8.1 Preventif
Pencegahan dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:
a. Memakai alat pelindung. Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan tertularnya
penyakit karena hubungan seksual, salah satunya dengan menggunakan kondom.
Kondom dinilai cukup efektif dalam mencegah penularan PHS.
b. Pemakaian obat atau cara profilaksis. Pemakaian antiseptik cair untuk membersihkan
vagina pada hubungan yang dicurigai menularkan penyakit kelamin relatif tidak ada
manfaatnya jika tidak disertai dengan pengobatan terhadap mikroorganisme
penyebab penyakitnya. Pemakaian obat antibiotik dengan dosis profilaksis atau dosis
yang tidak tepat juga akan merugikan karena selain kuman tidak terbunuh juga
terdapat kemungkinan kebal terhadap obat jenis tersebut. Pemakain obat
mengandung estriol baik krem maupun obat minum bermanfaat pada pasien
menopause dengan gejala yang berat.
c. Pemeriksaan dini. Kanker serviks dapat dicegah secara dini dengan melakukan
pemeriksaan pap smear secara berkala. Dengan pemeriksaan pap smear dapat diamati
adanya perubahan sel-sel normal menjadi kanker yang terjadi secara berangsurangsur, bukan secara mendadak.
II.8.2 Kuratif
25

Terapi leukorea harus disesuaikan dengan etiologinya


a. Parasit. Pada infeksi Trichomonas vaginalis diberikan metronidazol 3x250 mg peroral
selama 10 hari. Karena sering timbul rekurens, maka dalam terapi harus diperhatikan
adanya infeksi kronis yang menyertainya, pemakaian kondom dan pengobatan
pasangannya. Selain itu dapat juga digunakan sediaan klotrimazol 1x100 mg
intravaginal selama 7 hari.
b. Jamur. Pada infeksi Candida albicans dapat diberikan mikostatin 10.000 unit
intravaginal selama 14 hari. Untuk mencegah timbulnya residif tablet vaginal
mikostatin ini dapat diberikan seminggu sebelum haid selama beberapa bulan. Obat
lainnya adalah itrakonazol 2x200 mg peroral dosis sehari.
c. Bakteri.
1. Untuk gonokokkus dapat diberikan: tetrasiklin 4x250 mg peroral/hari selama
10 hari atau dengan kanamisin dosis 2 gram IM. Obat lainnya adalah
sefalosporin dengan dosis awal 1 gram selanjutnya 2x500 mg/hari selama 2
hari. Sedangkan pada wanita hamil dapat diberikan eritromisin 4x250 mg
peroral/hari selama 10 hari atau spektinomisin dosis 4 gram IM.
2. Gardnerella vaginalis dapat diberikan clindamycin 2x300 mg peroral/ hari
selama 7 hari. Obat lainnya metronidazole 3x250 mg peroral/hari selama 7
hari (untuk pasien dan suaminya).
3. Chlamidia trachomatis diberikan tetrasiklin 4x500 mg peroral/hari selama 7
10 hari.
4. Treponema pallidum diberikan Benzatin Penisilin G 2,4 juta unit IM dosis
tunggal atau Doksisiklin 2x200 mg peroral selama 2 minggu.
d. Virus.
1. Virus Herpes tipe 2: dapat diberikan obat anti virus dan simtomatis untuk
mengurangi rasa nyeri dan gatal, serta pemberian obat topikal larutan neutral
red 1% atau larutan proflavin 0,1%.
2. Human papiloma virus: pemberian vaksinasi mungkin cara pengobatan yang
rasional untuk virus ini, tetapi vaksin ini masih dalam penelitian.
3. Condyloma akuminata dapat diobati dengan menggunakan suntikan
interferon suatu pengatur kekebalan. Dapat diberikan obat topikal podofilin
25% atau podofilotoksin 0,5% di tempat dimana kutil berada. Bila kondiloma
berukuran besar dilakukan kauterisasi.
e. Vaginitis lainnya.
1. Vaginitis atropika. Pengobatan yang diberikan adalah pemberian krem
estrogen dan obat peroral yaitu stilbestrol 0,5 mg/hari selama 25 hari
persiklus atau etinil estradiol 0,01 mg/hari selama 21 hari persiklus.
26

2. Vaginitis kronis/rekurens. Perlu diperhatikan semua faktor predisposisi


timbulnya keluhan leukorea serta pengobatan pada pasangannya. Bila pada
kultur ditemukan hasil positif sebaiknya diberikan pengobatan sebelum
menstruasi selama 3 bulan berturut-turut dengan clotrimazole 1x100 mg
intravaginal selama 5 hari atau ketokonazole 2x200 mg dimulai hari pertama
haid.
3. Vaginitis alergika. Pengobatan pada kasus ini adalah dengan menghindari
alergen penyebabnya, misalnya terhadap tissue, sabun, tampon, pembalut
wanita. Pada kasus yang dicurigai vaginitis alergika tetapi tidak diketahui
penyebabnya dapat diberikan antihistamin.
4. Vaginitis psikosomatis. Untuk mengobati pasien ini perlu pendekatan
psikologis bahwa ia sebenarnya tidak menderita kelainan yang berarti dan hal
tersebut timbul akibat konflik emosional. Pendekatan yang memandang pasien
sebagai manusia seutuhnya yang tidak terlepas dari lingkungannya harus
dipikirkan.

II.9 Prognosis
-

Vaginosis bakterial mengalami kesembuhan rata-rata 70 80% dengan regimen

pengobatan yang telah dibahas sebelumnya.


Kandidiasis mengalami kesembuhan rata-rata 80 - 95%.
Trikomoniasis mengalami kesembuhan rata-rata 95%.

27

BAB III
KESIMPULAN
Leukorea (white discharge, fluor albus, keputihan) adalah nama gejala yang diberikan
kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital yang tidak berupa darah. Dalam kondisi
normal, kelenjar pada serviks menghasilkan suatu cairan jernih yang keluar, bercampur
dengan bakteri, sel-sel vagina yang terlepas dan sekresi dari kelenjar Bartolini.

Fluor albus atau leukorea merupakan gejala yang paling sering dijumpai pada
penderita ginekologik, adanya gejala ini diketahui penderita karena mengotori celananya.
Sumber cairan ini dapat berasal dari sekresi vulva, cairan vagina, sekresi serviks, sekresi
uterus, atau sekresi tuba falopii, yang dipengaruhi fungsi ovarium. Dapat dibedakan antara
leukorea yang fisiologik dan yang patologik. Leukorea fisiologik terdiri atas cairan yang
kadang-kadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang
sedang pada leukorea patologik terdapat banyak leukosit.

Penyebab paling penting dari leukorea patologik ialah infeksi. Di sini cairan
mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau, seringkali
lebih kental dan berbau. Radang vulva, vagina, serviks dan kavum uteri dapat menyebabkan
leukorea patologik; pada adneksitis gejala tersebut dapat pula timbul. Selanjutnya leukorea
ditemukan pada neoplasma jinak atau ganas, apabila tumor itu dengan permukaannya untuk
sebagian atau seluruhnya memasuki lumen saluran alat-alat genital.
Terdapat dua penatalaksanaan leukorea yaitu preventif dan kuratif. Penatalaksanaan
preventif seperti menggunakan kondom saat berhubungan seksual, menggunakan obat
profilaksis dan pemeriksaan berkala untuk mencegah Ca cervix. Sedangkan penatalaksanaan
kuratif harus disesuaikan dengan etiologinya.

28

DAFTAR PUSTAKA
1. Hakimi M. Radang dan Beberapa Penyakit Lain Pada Alat Genital. Ilmu Kandungan.
ed.3. Editor: Anwar M, Baziad A, Prabowo RP. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2011. 219-36
2. Gor HB. Vaginitis. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/257141overview#a0101. Last update September, 17th 2014. Accessed September, 28th 2014
3. Kuswadji. Kandidosis. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A,
Hamzah M, Aisah S. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p.106-9
4. Samra-Latif OM. Vulvovaginitis. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/2188931-overview. Last update: March, 27th
2014. Accessed September, 29th 2014
5. Smith DS. Trichomoniasis. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/230617-overview. Last update: September,
17th 2014. Accessed September, 29th 2014
6. Daili SF. Trikomoniasis. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A,
Hamzah M, Aisah S. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p.384-5
7. Judanarso J. Vaginosis Bakterial. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor:
Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p.386-92
8. Daili SF. Gonore. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A,
Hamzah M, Aisah S. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p.369-80
9. Struble K. Chlamydial Genitourinary Infections. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/214823-overview. Last update: August, 22nd
2014. Accessed September, 29th 2014

29