Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

LEUKORRHEA

Disusun oleh :
Diki Apriwan
Avisena Pratama
Karina Jurnalis
Fitria Indriyani
Anggita Angelina Pratamilangsa
Andini Kharistiananda
Andina Tila Fajrina
Risyad Alamsyah H
Juhartatik
Husin Alatas

1102008076
1102008049
1102008129
1102008106
1102006037
1102006032
1102004019
1102008220
1102006139
1102006115

Pembimbing:
Dr.Mayor M Birza Rizaldi,SpOG
Dr.Mathius S Gasong,SpOG

Rumah Sakit M Ridwan Meuraksa


Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Jakarta
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Keputihan sudah menjadi penyakit umum yang diderita kaum perempuan .
Normalnya, seorang perempuan memang mengeluarkan lendir pada organ
reproduksinya sebagai pembersih bagian tersebut. Seperti halnya lendir pada
bagian organ lain seperti mulut, hidung dan lainnya, lendir pada organ reproduksi
juga menjadi penyeimbang suhu tubuh, Namun, apabila lendir di vagina
jumlahnya banyak, berwarna putih seperti susu basi atau kuning kehijauan,
bahkan berbau, baik disertai gatal atau tidak, maka keadaan ini disebut vaginitis
(keputihan). Penyakit keputihan sangat sering dijumpai dan menjadi problem pada
wanita. Sekitar 75 persen wanita di dunia pernah mengalaminya.(1)
Banyak orang menyangka bahwa keputihan yang punya istilah medis
leukorea atau fluor albus ini hanya kondisi yang normal saja. Namun, sewaktuwaktu, lendir itu pun dapat jadi pertanda adanya penyakit yang perlu diwaspadai.
Lendir dalam vagina itu pun sangat dipengaruhi dengan kondisi hormon. Karena,
lendir ini terdiri dari epitel dan leukosit. Leukosit penting untuk membunuh
kuman. Bila kandungan leukositnya meningkat pada lendir tersebut dan warnanya
berubah, patut dicurigai adanya sifat patologis. Ada beberapa penyebab keputihan,
di antaranya infeksi oleh kuman (bakteri), jamur, parasit, dan virus. Keputihan
juga bisa disebabkan oleh gangguan hormonal akibat mati haid (menapouse),
adanya keganasan atau kanker pada alat kelamin terutama di leher rahim.(1)

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Batasan
Leukorrhea (white discharge, fluor albus, keputihan) adalah nama gejala
yang diberikan kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital yang tidak
berupa darah.(7) Menurut kamus kedokteran Dorland, lekorrhea adalah secret putih
dan kental dari vagina dan rongga uterus. Leukorrhea bukan penyakit melainkan
suatu gejala dan merupakan gejala yang sering dijumpai dalam ginekologi. Secara
normal selalu seorang wanita mengeluarkan cairan dari alat kemaluannya yang
berasal dari:

Transudat dinding vagina

Lendir servix

Lendir kelenjar-kelenjar Bartholini dan Skene(5)

2.2 Patofisiologi
A. Asal Cairan/Fluor
- Vulva
Sekret dalam vulva dihasilkan oleh kelenjar kelenjar bartholini dan
skene. Sekret ini bertambah pada perangsangan, misalnya suatu coitus.
Kalau kelenjar-kelenjar tersebut meradang misalnya karena infeksi dengan
gonokokus, maka secret berubah menjadi fluor.
- Vagina
Vagina tidak mempunyai kelenjar dan dibasahi dengan cairan transudat
dan oleh lendir dari servik. PH dalam vagina 5, disebabkan karena
kegiatan basil doderlein yang mengubah glikogen yang terdapat dalam
epitel vagina menjadi acidum lacticum. Dalam kehamilan, cairan vagina
bertambah secara fisiologis.
- Serviks

Sekret serviks yang normal bersifat jernih, liat dan alkalis. Secret ini
dipengaruhi hormon-hormon ovarium baik kuantitas maupun kualitasnya.
Sekret bertambah juga pada infeksi (servisitis) yang dipermudah
kejadiannya oleh robekan serviks dan tumor serviks.
- Corpus uteri
Hanya menghasilkan secret pada fase post ovulatoar. Secret bertambah
pada endometritis akut, kalau ada sisa plasenta, polyp, mioma submukosa,
dan carcinoma.
- Tuba
Walaupun jarang mengeluarkan fluor albus, kadang-kadang terjadi pada
hydrosalpinx profluens.(5)
B. Komponen Sekret Vagina yang Normal
Sekret vagina terdiri dari beberapa komponen yang meliputi air, elektrolit,
mikroorganisme, sel-sel epitel dan senyawa organik seperti asam lemak,
protein dan karbohidrat. Komponen-komponen ini bergabung untuk
menghasilkan sekret vagina dengan pH kurang dari 4,5. Sel epitel berasal
dari epitel toraks serviks dan epitel gepeng vagina. Flora vagina yang
normal terdiri dari mikroorganisme yang mengkolonisasi cairan vagina
dan sel epitel. Leukosit, meskipun normalnya terdapat pada fase sekresi
siklus menstruasi, biasanya hanya ditemukan dalam jumlah kecil.(2)
C. Pengaruh Hormon Seks
Cairan vagina dan flora mikroba dipengaruhi oleh hormon-hormon seks.
Peningkatan volume dan penurunan viskositas cairan vagina terjadi setelah
ovulasi, dalam hal ini hormon progesteron memegang peranan. Estrogen
meningkatkan kadar glukosa dalam cairan vagina. Tidak jelas apakah
estrogen meningkatkan pergantian glikogen atau kandungan glikogen selsel epitel, yang kemudian dapat mempengaruhi jenis organisme yang
mengkolonisasi

epitel.

Sehingga

wanita

premenarche

dan

pasca

menopause lebih banyak mempunyai bakteri anaerob daripada wanita


menstruasi. Wanita dalam masa reproduksi mempunyai lebih banyak
bakteri fakultatif yang sebanding termasuk laktobasilus daripada wanita
dengan kadar estrogen rendah.(2)
D. Pengaruh pH dan Glukosa atas Flora Vagina

Dua faktor lain yang mempengaruhi jenis organisme yang terdapat dalam
flora vagina adalah pH dan terdapatnya glukosa. Kandungan glikogen
epitel vagina pasti meningkat pada wanita yang menstruasi (dalam masa
reproduksi) dibandingkan wanita yang tidak dalam masa reproduksi.
Kandungan asam laktat dalam vagina menimbulkan pH yang sangat asam
(kurang dari 4,5). Asam laktat diproduksi tidak hanya oleh metabolisme
laktobasilus yang menggunakan glukosa sebagai substrat tetapi juga oleh
metabolisme bakteri lain yang menggunakan glikogen sebagai substrat dan
oleh metabolisme sel-sel epitel vagina yang juga menggunakan glikogen
sebagai substrat. Kemudian pH rendah ini menyokong pertumbuhan
organisme asidofilik seperti laktobasilus. Terdapatnya laktobasilus
mungkin menjadi pusat pembatasan pertumbuhan bakteri lainnya.
Kolonisasi laktobasilus vagina yang berat menghambat pertumbuhan
organisme lain melalui metabolisme sendiri dengan mempertahankan pH
yang rendah dengan menggunakan glukosa untuk menghasilkan asam
laktat, dengan memproduksi hidrogen peroksida yang menghambat
pertumbuhan bakteri anaerob, dan dengan menggunakan glukosa tersebut
memusnahkan organisme lain karena substrat untuk metabolismenya telah
dipergunakan. Di antara wanita pasca menopause, kandungan glikogen sel
yang rendah karena pengurangan kadar estrogen diperkirakan bertanggung
jawab terhadap peningkatan pH vagina. Pada lingkungan pH yang tinggi
ini efek penghambatan dan persaingan laktobasilus dihilangkan dengan
demikian organisme-organisme lain terutama yang anaerob akan
berproliferasi.(2)
E. Mikro-Ekosistem Epitel Vagina
Sel-sel epitel mempunyai tempat bagi perlekatan bakteri dan kemampuan
bakteri tertentu untuk menempati tempat tersebut berbeda-beda di antara
pasien yang satu dengan lainnya. Beberapa wanita sangat rentan terhadap
infeksi karena selnya mengandung tempat yang mudah dilekati bakteri.
Flora normal yang menempel pada sel-sel epitel vagina dan merupakan
mikro-ekosistem epitel vagina akan menghambat pertumbuhan organisme
patologik yang berlebihan dengan paling sedikit dua mekanisme. Pertama

flora normal pasti menggunakan kedua zat gizi substrat yaitu glukosa dan
glikogen.

Kedua

dengan

menghasilkan

produk

metabolik

yang

menghambat penempelan dan proliferasi organisme yang berpotensi


patogen. Analog dengan mikro flora oral, vagina mungkin mengandung
banyak ekosistem mikroba tersendiri, yang bervariasi dalam jarak
beberapa milimeter di dalam epitel vagina.(2)
F. Mikroorganisme yang Terdapat dalam Sekret Vagina yang Normal
Organisme yang ditemukan pada sekret vagina dalam konsentrasi setinggi
10 satuan pembentuk-koloni/mm3 cairan. Konsentrasi organisme anaerob
biasanya kira-kira 5 kali konsentrasi organisme aerob. Rata-rata 5-10
organisme ditemukan dari vagina, meskipun pengambilan bahan contoh
ulangan dapat menemukan lebih banyak bakteri. Organisme fakultatif
yang paling menonjol adalah spesies laktobasilus, korinebakteria,
streptokokus,

stafilokokus

epidermis

dan

Gardnerella

vaginalis.

Sebenarnya semua wanita paling sedikit mempunyai satu organisme


fakultatif dan salah satu organisme fakultatif ini dapat ditemukan pada 4080% wanita. E. coli, merupakan organisme koliformis virulen yang
tersering ditemukan, dapat ditemukan dari hanya kira-kira 20% wanita dan
pada wanita inipun hanya terdapat secara sepintas. Organisme anaerob
yang paling menonjol adalah peptostreptokokus, peptokokus, laktobasilus
anaerob, eubakteria; Bacteroides sp., yang ditemukan secara keseluruhan
atau sendiri-sendiri pada 20-60% wanita. Candida albicans, organisme
jamur tersering ditemukan, terdapat 5-10% wanita. Mycoplasma hominis
terdapat pada 20-50% dan Ureaplasma urealyticum terdapat pada 50-70%
wanita asimtomatik yang aktif berhubungan seksual. Jadi sulit sekali
menentukan kapan keadaan disebut patologis bila hanya berdasarkan
ditemukannya suatu jenis kuman tertentu.(2)
G. Mekanisme Infeksi Vagina
Jika keseimbangan kompleks mikroorganisme berubah, maka organisme
yang berpotensi patogen, yang merupakan bagian flora normal misalnya
C. albicans pada kasus monilia serta G. vaginalis dan bakteri anaerob pada
kasus vaginitis nonspesifik, berproloferasi sampai suatu konsentrasi yang

berhubungan dengan gejala. Pada mekanisme infeksi lainnya, organisme


yang ditularkan melalui hubungan seksual dan bukan merupakan bagian
flora normal seperti Trichomonas vaginalis dan Neisseria gonorrhoeae
dapat menimbulkan gejala. Gejala yang timbul bila hospes meningkatkan
respon peradangan terhadap organisme yang menginfeksi dengan menarik
leukosit serta melepas prostaglandin dan komponen respon peradangan
lainnya. Gejala ketidaknyamanan dan pruritus vagina berasal dari respon
peradangan vagina lokal terhadap infeksi T. vaginalis dan C. albicans.
Organisme tertentu yang menarik leukosit termasuk T. vaginalis,
menghasilkan sekret purulen. Di antara wanita dengan vaginitis
nonspesifik, baunya disebabkan oleh terdapatnya amina yang dibentuk
sebagai hasil metabolisme bakteri anaerob. Amina tertentu, khususnya
putresin dan kadaverin, sangat berbau busuk. Lainnya seperti histamin
dapat menimbulkan ketidaknyamanan oleh karena efek vasodilatasi lokal.
Produk metabolisme lain yang dihasilkan pada wanita dengan non spesifik
vaginitis seperti propionat dan butirat dapat merusak sel-sel epitel dengan
cara yang sama seperti infeksi ginggiva. Eksudat serviks purulenta
tersering disebabkan oleh N. Gonorrhoeae, C. Trachomatis atau
Herpesvirus hominis, karena organisme penginfeksi ini menarik leukosit.
Adanya AKDR dapat menimbulkan endometritis ringan dan atau servisitis,
tempat leukosit dikeluarkan ke dalam vagina melalui serviks.(2)

2.2 Etiologi Leukorrhea


Lekorrhea dibagi menjadi dua, yaitu:
2.2.1 Leukorrhea Fisiologis
Leukorea yang fisiologik terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa
mucus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang.

Leukorrhea fisiologis terdapat pada keadaan sebagai berikut:


a.

b.

Bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari: disini sebabnya ialah
pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin.
Waktu disekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen.
Leukore disini hilang sendiri akan tetapi dapat menimbulkan keresahan

c.

d.

e.

pada orang tuanya.


Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus,
disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina.
Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri
menjadi lebih encer.
Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah
pada wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita
dengan ektropion porsionis uteri.(7)

2.2.2 Leukorrhea Patologis


Leukorea patologis disebabkan paling banyak oleh infeksi. Radang vulva,
vagina, serviks dan kavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik; pada
adneksitis gejala tersebut dapat pula timbul. Selanjutnya leukorea ditemukan pada
neoplasma jinak atau ganas, apabila tumor itu dengan permukaannya untuk
sebagian atau seluruhnya memasuki lumen saluran alat-alat genital.(7)
Penyebab leukorrhea patologis :
1.

Kondisi tubuh/Fisiologi(6,8)
Akibat penyakit kronis yang menahun yang dapat melemahkan daya tahan
tubuh orang tersebut sehingga menyebabkan keluarnya cairan keputihan
secara berlebihan dan juga bisa terjadi pada wanita yang senantiasa tegang
atau stress.(8)

2.

Kelainan endokrin atau hormon(6,8)


Disini sebagai contoh pada saat hamil atau terjadi perubahan hormonal,
terjadi suasana asam menjadi basa sehingga mengakibatkan banyak ibu
hamil mendapat jamur. Apabila ini tidak segera diobati maka akan
menyebabkan ketuban pecah dini.(8)

3.

Infeksi(6,8)
Penyebab paling penting dari leukorrhea patologik ialah infeksi. Disini
cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuningkuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dam berbau. Radang vulva,
vagina, serviks dan kavum uteri dapat menyebabkan leucorrhea
patologik(8)

4.

Benda asing(6,8)
Benda asing ini bermacam-macam seperti kondom, benang IUD yang
tertinggal didalam vagina, kelainan fistula akibat persalinan atau tindakan
operasi, hubungan antara rektum dengan vagina atau antara kandung
kencing dengan vagina, serta tissue pembasuh.(8)

5.

Neoplasma(6)
Pada kanker, sel bertumbuh sangat cepat secara abnormal dan mudah
terjadi kerusakan sel. Pada carcinoma cervix terjadi pengeluaran cairan
yang banyak disertai bau busuk akibat terjadinya proses pembusukan dari
sel yang rusak dan seringkali disertai darah yang tidak segar akibat
pecahnya pembuluh darah yang bertambah untuk memberikan makanan
dan oksigen pada sel kanker tersebut.

6.

Vaginitis atrofikans(6,8)
Sesudah menopause (atau sesudah fungsi ovarium ditiadakan dengan jalan
pembedahan atau penyinaran) epitel vagina menjadi atrofis dengan hanya
tertinggal lapisan sel basal. Epitel demikian itu mudah kena infeksi, dan
radang dapat menjalar ke jaringan di bawah epitel. Penyakit ini
menyebabkan leukorea dan rasa gatal dan pedih.(7)

2.3 Gejala Klinis


Segala perubahan yang menyangkut warna dan jumlah dari sekret vagina
merupakan suatu tanda infeksi vagina. Infeksi vagina adalah sesuatu yang sering
kali muncul dan sebagian besar perempuan pernah mengalaminya dan akan
memberikan beberapa gejala fluor albus:
-

Keputihan yang disertai rasa gatal, ruam kulit dan nyeri.


Sekret vagina yang bertambah banyak

Rasa panas saat kencing


Sekret vagina berwarna putih dan menggumpal
Berwarna putih kerabu-abuan atau kuning dengan bau yang menusuk
Vaginosis bacterial Sekret vagina yang keruh, encer, putih abu-abu hingga

kekuning-kuningan dengan bau busuk atau amis. Bau semakin bertambah setelah
hubungan seksual
Trikomoniasis Sekret vagina biasanya sangat banyak kuning kehijauan,
berbusa dan berbau amis.
Kandidiasis Sekret vagina menggumpal putih kental. Gatal dari sedang
hingga berat dan rasa terbakar kemerahan dan bengkak didaerah genital. Tidak
ada komplikasi yang serius
Infeksi klamidia Biasanya tidak bergejala. Sekret vagina yang berwarna
kuning seperti pus. Sering kencing dan terdapat perdarahan vagina yang
abnormal.(3,4)

2.4 Diagnosa
Diagnosa ditegakkan berdasarkan :
1. Anamnesa :
-

Riwayat hubungan seksual dengan gejala tertentu

Umur, jika > 45 tahun, kemungkinan masalah hormonal yang disebabkan


oleh menopause

Pekerjaan

2. Pemeriksaan :

a.

Dari introitus vagina :


- Mungkin eritema vulva
- Oedem labia
- Keputihan, pasti ada infeksi
- Kemerahan, dapat infeksi, tumor, atau gangguan hormonal dan
kehamilan

b. Spekulum :
- Mungkin ada warna kemerahan difus, radang mukosa vagina dengan
sekret vagina kental atau encer dan berbau
- Atau mungkin terdapat sekret kental, putih dan chessy serta rasa yang
sangat gatal pada vulva : khas candidiasis.
c. Preparat langsung : Swab vagina yang langsung dipoleskan pada objek
glass.
-

Terlihat gambaran hifa tipis : candida

Terlihat gambaran flagel : trikomonas


Swab cervix atau uretra : untuk kultur N. gonorrhoe.
Swab endocervix : untuk chlamydia.

d. Kertas indikator Ph
e. Pemeriksaan bimanual
f. Pemeriksaan urine(8)

2.5 Infeksi Pada Vagina(3)


Pada pemeriksaan sekret vagina pada pasien normal, dapat ditemukan
batang gram positif, yaitu Lactobacillus acidophillus. Bakteri ini dapat
mempertahankan ekosistem vagina dengan 3 cara:
a. Memproduksi asam laktat yang mempertahankan pH vagina normal,
yaitu 4 (rata-rata 3,8-4,2) , sehingga dapat menghambat patogen
b. Memproduksi Hidrogen Peroksida yang toksis terhadap mikroflora
anaerob

10

c. Memiliki mikrovili yang menempel pada reseptor di sel-sel epitel


vagina, sehingga menghalangi penempelan patogen.

Gambar 1. Pewarnaan gram pada sekret vagina normal


2.6 Infeksi Jamur(3,4,7,9)
Kandidiosis vulvovaginal (KV)
Kandidiosis vulvovaginal merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh
Candida spp terutama Candida albicans. Diperkirakan hampir 45% wanita pernah
mengalami kandidiosis vulvovaginitis paling sedikit dua kali dalam hidupnya.
Jamur ini hidup dalam suasana asam yang mengandung glikogen. Keadaankeadaan yang mendukung timbulnya infeksi adalah kehamilan, pemakaian pil
kontrasepsi, pemakaian kortikosteroid dan pada penderita Diabetes Melitus.

11

Gambar 2. Gambaran Mikroskopis Candida albicans


Gejala klinis Kandidiosis Vulvovaginal (KV) adalah:
-

Duh tubuh vagina disertai gatal pada vulva

Disuria eksternal dan dispareunia superfisial

Pada pemeriksaan tampak vulva eritem, edem dan lecet

Gambar 3. Vagina dengan Fluor albus


-

Pada pemeriksaan spekulum tampak duh tubuh vagina dengan jumlah


yang bervariasi, konsistensi dapat cair atau seperti susu pecah

Gambar 4. Pemeriksaan vagina dengan spekulum


-

Pada kasus yang lebih berat pemeriksaan inspekulo menimbulkan rasa


nyeri pada penderita. Mukosa vagina dan ektoserviks tampak eritem,
serta pada dinding vagina tampak gumpalan putih seperti keju.

Pemeriksaan pH vagina berkisar 4-4,5

2.7 Infeksi Protozoa(3,4,7,8,11)

12

Trichomoniasis
Trichomoniasis adalah infeksi traktus urogenitalis yang disebabkan oleh
protozoa yaitu T. vaginalis. Masa inkubasi berkisar antara 4 - 21 hari. Pada wanita
T. vaginalis paling sering menyebabkan infeksi pada epitel vagina, selain pada
uretra, serviks, kelenjar Bartholini dan kelenjar skene.

Gambar 5. Gambaran mikroskopis Trichomoniasis


Trichomoniasis biasanya ditularkan melalui hubungan seksual tanpa
menggunakan

pelindung

(kondom)

dengan

seseorang

yang

mengidap

trichomoniasis atau dapat juga ditularkan melalui perlengkapan mandi (handuk).


Gejala klinis :
-

Asimtomatis pada sebagian wanita penderita trichomoniasis

Bila ada keluhan, biasanya berupa cairan vagina yang banyak, sekitar
50% penderita mengeluh bau yang tidak enak disertai gatal pada vulva
dan dispareunia.

Pada pemeriksaan, sekitar 75% penderita dapat ditemukan kelainan


pada vulva dan vagina. Vulva tampak eritem, lecet dan sembab. Pada
pemasangan spekulum terasa nyeri, dan dinding vagina tampak eritem

Sekitar 2-5% serviks penderita tampak gambaran khas untuk


trichomoniasis, yaitu berwarna kuning, bergelembung, biasanya
banyak dan berbau tidak enak

Pemeriksaan pH vagina >4,5

13

Gambar 6. Gambaran fluor albus pada Trichomonas vaginalis


2.8 Infeksi Bakteri(3,4,7,8,10)
Vaginosis Bakterial (VB)
Vaginosis bakterial merupakan sindroma atau kumpulan gejala klinis
akibat pergeseran lactobacilli yang merupakan flora normal vagina yang dominan
oleh bakteri lain, seperti Gardnerella vaginalis, Prevotella spp, Mobilancus spp,
Mycoplasma spp dan Bacteroides spp. Vaginosis bakterial merupakan penyebab
vaginitis yang sering ditemukan terutama pada wanita yang masih aktif secara
seksual, namun demikian Vaginosis bakterial tidak ditularkan melalui hubungan
seksual.
Gejala klinis:
-

Asimtomatik pada sebagian penderita vaginosis bakterialis

Bila ada keluhan umumnya berupa cairan yang berbau amis seperti
ikan terutama setelah melakukan hubungan seksual

Pada pemeriksaan didapatkan jumlah duh tubuh vagina tidak banyak,


berwarna putih, keabu-abuan, homogen, cair, dan biasanya melekat
pada dinding vagina

Gambar 7. Gambaran Fluor albus akibat Vaginosis bakterial

14

Pada vulva atau vagina jarang atau tidak ditemukan inflamasi

Pemeriksaan pH vagina > 4,5 , penambahan KOH 10% pada duh tubuh
vagina tercium bau amis (whiff test)

Pada sediaan apus vagina yang diwarnai dengan pewarnaan gram


ditemukan sel epitel vagina yang ditutupi bakteri batang sehingga
batas sel menjadi kabur (clue cells)

2.9 Infeksi pada Serviks(3,4,7)


Servisitis Gonore
Gonore merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh Neisseria
gonnorrheae pada traktus genitalis dan organ tubuh lainnya seperti konjungtiva,
faring, rektum, kulit, persendian, serta organ dalam. Ditularkan melalui hubungan
seksual. Pada wanita, N. gonnorrhoeae pertama kali mengenai kanalis servikalis.
Selain itu dapat mengenai uretra, kelenjar skene, dan kelenjar bartholini. Masa
inkubasi bervariasi, umumnya 10 hari.
Gejala klinis:
-

Asimtomatik pada lebih dari sebagian penderita gonore

Bila ada keluhan umumnya cairan vagina jumlahnya meningkat,


menoragi atau perdarahan intermenstrual

Pada penderita yang menunjukkan gejala biasanya ditemukan duh


tubuh serviks yang mukopurulen. Serviks tampak eritem, edema,
ektopi dan mudah berdarah saat pengambilan bahan pemeriksaan

Servisitis yang disebabkan Chlamidia trachomatis


Penyakit yang disebabkan oleh Chlamidia trachomatis sebagian besar
serupa dengan gonore. Pada wanita, traktus genitalis yang paling sering terinfeksi
oleh C. trachomatis adalah endoserviks. Pada 60 % penderita biasanya
asimtomatik (silent sexually transmitted disease).

15

Gambar 8. Gambaran Mikroskopis Chlamidia trachomatis


Gejala klinis:
-

Bila penderita yang mempunyai keluhan, biasanya tidak khas dan


serupa dengan keluhan servisitis gonore, yaitu adanya duh tubuh
vagina

Pada pemeriksaan inspekulo sekitar 1/3 penderita dijumpai duh tubuh


servks yang mukopurulen, serviks tampak eritem, ektopi dan mudah
berdarah pada saat pengambilan bahan pemeriksaan dari mukosa
endoserviks

Gambar 9. Gambaran pemeriksaan spekulum pada infeksi Chlamidia trachomatis

16

BAB III
PEMBAHASAN
Ketepatan dalam mendiagnosis penyebab leukorrhea merupakan kunci
utama dalam keberhasilan pengobatan, sehingga sangat perlu mengidentifikasi
mikroorganisme penyebabnya secara pasti.

Anamnesis
Dalam anamnesis harus terungkap apakah lekore ini fisiologis atau
patologis. Selain disebabkan karena infeksi harus dipikirkan juga
kemungkinan ada benda asing atau neoplasma

Pemeriksaan klinis
Pada pemeriksaan spekulum harus diperhatikan sifat cairannya seperti
kekentalan, warna, bau serta kemungkinan adanya benda asing, ulkus dan
neoplasma (kelompok khusus). Pemeriksaan dalam dilakukan setelah
pengambilan sediaan untuk pemeriksaan laboratorium

Laboratorium

17

Dibuat sediaan basah NaCl 0,9% fisiologis untuk trikomoniasis, KOH


10% untuk kandidias, pengecatan gram untuk bakteri penyebab gonore.
Pemeriksaan tambahan dilakukan bila ada kecurigaan keganasan. Kultur
dilakukan pada keadaan klinis ke arah gonore tetapi hasil pemeriksaan
gram negatif. Pemeriksaan serologis dilakukan bila kecurigaan ke arah
klamidia.

Pengobatan
Pengobatan terapi jangan semata-mata bertumpu pada hasil-hasil
pemeriksaan laboratorium. Pada pengalaman klinik, ternyata kebanyakan
lekore disebabkan oleh infeksi campuran sehingga harus diberikan terapi
kombinasi. Selain terapi untuk pasien dan pasangannya pada waktu
bersamaan harus juga diberikan penyuluhan/konseling bahwa obat harus
dimakan sesuai anjuran dan tidak melakukan hubungan selama pengobatan
dan harus melalukan pemeriksaan ulang sesuai anjuran

Pengawasan
Pada kunjungan ulang dilakukan pemeriksaan klinis dan laboratorium
untuk menilai keberhasilan terapi dan menentukan langkah selanjutnya.
Bila lekore masih ada, sedangkan tanda klinis sudah hilang, perlu
dipikirkan sebab lain misalnya hormon. Bila keadaan memburuk dan
timbul reinfeksi harus dicari penyebabnya, bila perlu dilakukan
pemeriksaan kultur dan resistensi serta diulangi sesuai protokol.(5)

3.1 Infeksi Pada Vagina(3,4,6,7,8)


3.1.1 Infeksi Jamur
Candidosis vulvovaginal
Diagnosis
-

Leukorrhea yang bervariasi mulai dari cair sampai kental dan sangat
gatal (pruritus vulva)

Dapat ditemukan rasa nyeri pada vagina, dispareunia, rasa terbakar


pada vulva dan iritasi vulva

18

Tanda inflamasi : dapat ditemukan eritem (+), edem (+) pada vulva dan
labia, lesi diskret pustulopapular (+), dermatitis vulva

Laboratorium: pH vagina < 4,5, Whiff test (-). Pada sediaan gram :
bentuk ragi (+) dan pseudohifa (+)

Mikroskopik : leukosit, sel epitel, 80% pasien dengan gejala terlihat :


ragi (yeast) mycelia atau pseudomycelia

Saran: kultur jamur untuk menegakkan diagnosis. (kultur merupakan


jenis pemeriksaan yang paling sensitif untuk mendeteksi adanya
candida)

Pengobatan
-

Klotrimazol 500 mg intravagina dosis tunggal atau

Klotrimazol 200 mg intravagina selama 3 hari atau

Nistatin 100.000 unit intravagina selama 14 hari atau

Fluconazole 150 mg peroral dosis tunggal atau

Itraconazole 200 mg 2 x 1 tablet selama 1 hari atau

Imidazole vagina krem, 1 tablet setiap hari selama 3-7 hari

Wanita hamil sebaiknya hanya menggunakan penggunaan topikal dengan


tablet vagina.
3.1.2 Infeksi Protozoa
Trichomoniasis
Diagnosis
-

Jumlah leukorrhea banyak, sering disertai bau yang tidak enak,


pruritus vulva, external dysuria dan iritasi genital sering ada

Warna sekret : putih, kuning atau purulen

Konsistensi : homogen, basah, sering frothy atau berbusa (foamy)

Tanda-tanda inflamasi: eritem pada mukosa vagina dan introitus


vagina, kadang-kadang petechie pada serviks, dermatitis vulva

Sekitar 2-5% serviks penderita tampak strawberry serviks

Laboratorium : pH vagina 5,0, whiff test biasanya (+)

19

Mikroskopik : dengan pembesaran 400 kali dapat terlihat pergerakan


trichomonas. Bentuknya ovoid, ukuran lebih besar dari sel PMN dan
mempunyai flagel. Pada 80-90% penderita symtomatic leucocyte (+),
clue cell dapat (+)

Pengobatan
-

Metronidazole 2 gram peroral dosis tunggal atau

Metronidazole 2x500 mg peroral selama 7 hari

Pada wanita hamil trimester pertama dapat diberikan pengobatan


topikal klotrimazol 100 mg intravagina selama 6 hari

Metronidazole tidak boleh diberikan pada kehamilan trimester pertama


namun dapat diberikan pada trimester kedua dan ketiga

Penanganan pada partner seksual


-

Partner tetap atau sumber kontak : pemeriksaan rutin traktus


genitourinarius, pengobatan dengan tablet metronidazole 2 gram
peroral dosis tunggal

3.1.3 Infeksi Bakteri


Vaginosis Bakterial
Diagnosis vaginosis bakterial dapat ditegakkan bila ditemukan tiga dari
empat gejala berikut (Kriteria Amsell) :
1. Cairan vagina homogen, putih keabu-abuan, melekat pada dinding
vagina
2. pH vagina > 4,5
3. Whiff test (+)
4. Ditemukan clue cell pada pemeriksaan mikroskopik
Diagnosis
-

Keputihan yang berbau tidak enak/bau seperti ikan, terutama setelah


berhubungan seksual

20

Sekret berlebihan, banyaknya sedang sampai banyak, warna sekret :


putih atau abu-abu dan melekat pada dinding vagina terutama forniks
posterior

Tanda-tanda inflamasi tidak ada

Laboratorium : whiff test (+), pH 4,5 (biasanya 4,7-5,7)

Mikroskopik : clue cell (+), jarang leukosit, banyaknya lactobacilli


berlebihan karena bercampur dengan flora, meliputi coccus gram (+)
dan coccobacilli

Pengobatan
-

Metronidazole 2 gram, peroral dosis tunggal atau

Metronidazole 500 mg peroral, 2x1 hari selama 7 hari atau

Ampisilin 500 mg peroral 4x1 hari selama 7 hari

Pengobatan lain dapat diberikan :


-

Krim klindamisin vagina 2% intravagina selama 7 hari atau

Gel metronidazole 0,75% intravagina sehari 2 kali selama 5 hari

Metronidazole tidak boleh diberikan pada kehamilan trimester pertama

Penanganan pada partner seksual


-

Partner tetap atau sumber kontak : pemeriksaan rutin penyakit menular


seksual (sexual transmitted disease)

Biasanya tidak diindikasikan untuk pengobatan

Tabel 1 Penyebab, Gejala Klinis, Diagnosis Infeksi Vagina


Kandidosis Vulvovaginalis

21

Trichomoniasis

Vaginosis
Bakterial

PENYEBAB

C.albicans

T.vaginalis

G.vaginalis
Bakteri anaerob
Mycoplasma

Bau asam

Bau

Bau amis

+
+
+

+
+
+

Jarang
Jarang
Jarang

Jarang

Sedikit-sedang
Putih
Encer/menggumpal/cheesy
plaques

Banyak
Kuning
Encer/berbusa
purulen

Sedang
Putih Keabuan
Encer/berbusa.
Homogen, tipis,
melekat pada
dinding vagina

KELUHAN
bau duh tubuh vagina
lecet pada vulva
iritasi pada vulva
dispareunia

GEJALA
- Vulvitis/vaginitis
- Duh tubuh vagina
Jumlah
Warna
konsistensi

DIAGNOSIS
- pH vagina
- Whiff test
- Mikroskopis
KOH 10%

Gram

4,5
(-)

> 4,5
seringkali (+)

> 4,5
(+)

Bentuk ragi/sel tunas


Pseudohifa bentuk ragi
Clue cells, PMN
sedikit, lactobacilli
sedikit (-)

(+)
Gerakan
Trichomonas (+)
Banyak sel PMN

NaCl

Tabel 2 Terapi Infeksi Vagina


TERAPI

Kandidosis Vulvovaginalis
- Klotrimazol 500 mg
intravagina, dosis tunggal
atau
- Klotrimazol 200 mg /
intravagina selama 3 hari
atau
- Nistatin 100.000 unit /
intravagina selama 14
hari atau

Trichomoniasis
- Metronidazole 2 gr
peroral, dosis tunggal
atau
- Metronidazole 2x500
mg peroral, selama 7
hari

22

Vaginosis Bakterial
- Metronidazole 2 gr
peroral,
dosis
tunggal atau
- Metronidazole
2x500 mg peroral, 2
kali selama 2 hari
atau
- Ampisilin 500 mg
peroral
4xsehari

- Flukonazole 150 mg /
peroral dosis tunggal
atau
- Ketokonazole 200 mg
2x1 tablet selama 5 hari
atau
- Itrakonazole 200 mg 2x1
tablet selama 1 hari

selama 7 hari
- Krim
klindamisin
vagina
2%,
intravagina selama 7
hari atau
- Gel metronidazole
0,75% intravagina
2xsehari selama 5
hari

3.2 Infeksi pada Serviks


Gonore
Diagnosis:
-

Ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan


langsung sediaan apus endoserviks dengan pengecatan gram akan
ditemukan diplokokus gram negatif yang tampak di dalam sel PMN
dan di luar sel PMN

Pengobatan:
-

Siprofloksasin 500 mg peroral, dosis tunggal atau

Ofloksasin 400 mg peroral, dosis tunggal atau

Tiamfenikol 3,5 gr peroral, dosis tunggal atau

Seftriakson 250 mg, intramuskuler, dosis tunggal atau

Spektinomisin 2 gr, intra muskuler, dosis tunggal

Siprofloksasin, Ofloksasin dan Tiamfenikol tidak boleh diberikan pada


wanita hamil atau sedang menyusui dan anak-anak.

Servisitis akibat Chlamidia trachomatis


Diagnosis:
-

Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium, yaitu


pemeriksaan sitologi, identifikasi antigen C.trachomatis, PCR dan
isolasi C.trachomatis pada biakan sel

Pengobatan:
-

Doksisiklin 2x200 mg peroral, selama 7 hari atau

Azitromisisn 1 gr peroral, dosis tunggal atau

23

Eritromisin 4x500 mg peroral, selama 7 hari atau

Tetrasiklin 4x500 mg peroral, selama 7 hari

Doksisiklin, Tetrasiklin dan Azitromisin tidak boleh diberikan pada wanita


hamil atau sedang menyusui dan anak-anak.
Protokol Penanganan Leukorrhea di Bagian Obgyn RSHS/FKUP
LEKORE
ANAMNESIS
PEMERIKSAAN SPEKULUM DAN
PEMERIKSAAN DALAM

ENCER,
BERBUSA,
BERBAU,
KUNING
KEHIJAUAN
SUSPEK:
TRIKOMONIASI
S
VAGINOSIS

PUTIH
KENTAL,
SUSU BASI,
YOGHURT

BERNANAH,
SERVIKS
PURULENT

KELOMPOK
KHUSUS
PUTIH-ABU

SUSPEK:
GONORE
KLAMIDIASI
S

SUSPEK:
KANDIDIASIS

BAKTERI
LABORATORIUM: MIKROSKOPIK PREPARAT BASAH
NaCl 0,9%-----KOH-----PENGECATAN GRAM
PEMERIKSAAN TAMBAHAN: TES PAP, BIAKAN, SEROLOGIS
PENGOBATAN: -PASIEN DAN PASANGANNYA
-PENYULUHAN DAN KONSELING

KUNJUNGAN ULANG 7-14 HARI KEMUDIAN

DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.indonesiaindonesia.com/f/17771_keputihan_wanita/
LEKORE MASIH ADA

Pikirkan:
cara
2. http://karyatulisilmiahkeperawatan.blogspot.com/2008/11/mengenalLEKORE TIDAK ADA
pengobatan reinfeksi,
keputihan-leukorrhea.html
sebab lain
3. Berek, Jonathan S, et all. Genitourinary Infections and Sexually

Transmitted Diseases in Novaks Gynaecology, Twelfth Edition. Lippincott


Williams & Wilkins. 2002. Page. 23.

24

4. Djuanda Adhi, Prof. DR. Hamzah Mochtar, Dr. Aisah Siti, DR. Penyakit
Kulit Dan Penyakit Kelamin pada Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi
Ketiga, Cetakan Pertama. FKUI Jakarta. 1999. Hal. 103-106, 347-358,
359-364.
5. Sastrawinata S. Infeksi pada Ginekologi Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Elstar. Bandung. 1981.
Hal. 109-112.
6. Wijayanegara, dkk. Lekore pada Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri
dan Ginekologi RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bagian ke II. Bagian/SMF
Obstetri dan Ginekologi FKUP/RSUP Dr. Hasan Sadikin. Bandung. 2005.
Hal. 65-68.
7. Wiknjosastro, dkk. Radang dan Beberapa Penyakit Lain Pada Alat
Genital Wanita pada Ilmu Kandungan, Edisi kedua, Cetakan Keempat.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirodihardjo. Jakarta. 2005. Hal. 271312.
8. Indoskripsi

2009.

leukorrea.

Dikutip

dari

http://one.indoskripsi.com/node/8486 (diakses tanggal 17 Juni 2009)


9. http://www.indonesiaindonesia.com/f/48473_bermain_main_keputihan/
10. DeCherney, Alan H, M.D. Sexually Transmitted Diseases in Current
Obstetric dan Gynaecology, Tenth Edition. McGraw-Hill. New York.
2003. Page 670-2
11. Cunningham, F Gary, et all. Asuhan Prenatal pada Obstetri Williams, Vol
1, Edisi 21. EGC. Jakarta. Hal. 267.

25