Anda di halaman 1dari 7

Fase-Fase Kepailitan

I.

FASE CONSERVATOIR & FASE EXECUTOIR

Fase-Fase dalam kepailitan terdiri dari 2 (dua) fase, yaitu fase conservatoir/sekestrasi dan
fase executoir/insolvensi. Secara jelasnya dipaparkan di bawah ini sebagai berikut :
1. Fase conservatoir/sekestrasi
Fase ini disebut conservatoir karena muncul sejak ada vonis pengadilan debitur
diputus pailit. Dalam fase ini harta kekayaan debitur, diinventarisasi, kemudian diurus
dan dikuasai oleh kurator, tidak boleh dialihkan, seperti adanya penitipan harta debitur
kepada kurator (sekestrasi), dan kurator tersebut dibayar.
Yang dilakukan adalah antara lain :
a. Menginventaris seluruh harta debitur, baik yang ada pada dirinya maupuun pada pihak
lain. Disini terjadi penyegelan-penyegelan.
b. Menginventarisasi utang-utangnya, kepada siapa, dan kelas utang-utangnya (apakah dia
kreditor konkuren atau preference atau yang lainnya).
c. Piutang-piutangnya juga diinventarisasi.
d. Diumumkan kepada masyarakat bahwa yang akan berurusan harus berhubungan
kepada kurator. Surat-surat dialamatkan kepada kurator.
Di Fase Pertama ini ada Perdamaian dan Rapat Verifikasi. Rapat Verifikasi
Merupakan rapat pencocokkan hutang-hutang. Dipimpin oleh hakim komisaris, dihadiri
kurator dan debitur, kreditur tidak diharuskan untuk hadir. Pada rapat ini kurator akan
menginventarisasi kreditur dan daftar-daftar piutangnya terhadap debitur.
2. Fase executoir/Insolvensi
Dalam fase ini terjadi jika : perdamaian, kasasi, peninjauan kembali (PK) sudah tidak
berhasil. Barang-barang debitur dilelang, hasilnya dibagi-bagikan kepada kreditur sesuai
dengan haknya. (Sesuai Pasal 1362 BW).
Pada keputusan Hakim Pengadilan Niaga akan dilakukan vonis kepailitan. Ada 2
(dua) pendapat yang saling bertentangan yaitu pernyataan pailit dengan vonis, atau tidak
dengan vonis tetapi dengan penetapan/beschikking. Pernyataan pailit yang paling tepat
dalam kepailitan adalah dengan vonis. Karena status pailit menimbulkan status hukum
yang baru, sedangkan suatu beschikking tidak akan menimbulkan akibat hukum yang baru
(sudah ada sebelumnya). Dalam kepailitan ada akibat hukum yang baru, yaitu akibat
hukum yang lama adalah debitur tadinya berhak mengurus dan menguasai harta, menjadi
tidak berhak mengurus dan menguasai harta (timbul akibat hukum yang baru).

II.

Fase2 dalam Kepailitan yaitu :

1). PERMOHONAN

Menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan, prosedur


permohonan Pailit adalah sebagai berikut:
1. Permohonan pernyataan pailit diajukan kepada Ketua Pengadilan melalui
Panitera. (Pasal 6 ayat 2).
2. Panitera menyampaikan permohonan pernyataan pailit kepada Ketua
Pengadilan paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan.
Dalam jangka waktu 3 (tiga) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan,
pengadilan menetapkan hari sidang.
3. Sidang pemeriksaan dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua
puluh) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan (pasal 6).
4. Pengadilan wajib memanggil Debitor jika permohonan pailit diajukan oleh
Kreditor, Kejaksaan, Bank Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal atau
Menteri Keuangan (Pasal 8).
5. Pengadilan dapat memanggil Kreditor jika pernyataan pailit diajukan oleh
Debitor dan terdapat keraguan bahwa persyaratan pailit telah dipenuhi (Pasal
8).
6. Pemanggilan tersebut dilakukan oleh juru sita dengan surat kilat tercatat paling
lama 7 hari sebelum persidangan pertama diselenggarakan (Pasal 8 ayat 2).
7. Putusan Pengadilan atas permohonan pailit harus dikabulkan apabila terdapat
fakta terbukti bahwa persyaratan pailit telah terpenuhi dan putusan tersebut
harus diucapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah didaftarkan (Pasal
8).
8. Putusan atas permohonan pernyataan pailit tersebut harus memuat secara
lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut berikut
pendapat dari majelis hakim dan harus diucapkan dalam sidang yang terbuka
untuk umum dan dapat dilaksanakan terlebih dahulu, sekalipun terhadap
putusan tersebut ada upaya hukum (Pasal 8 ayat 7).
Jika permohonan dilakukan oleh kreditor, maka pihak kreditor harus melengkapi dokumen-dokumen
sebagai berikut:
1. Surat permohonan bermaterai yang ditujukan kepada ketua pengadilan negeri/niaga yang
bersangkutan;
2. Izin pengacara yang dilegalisasi/kartu pengacara;
3. Surat kuasa khusus;
4. Akta pendaftaran/yayasan/asosiasi yang dilegalisasi oleh kantor perdagangan paling lambat satu
minggu sebelum permohonan didaftarkan;
5. Surat perjanjian utang;

6. Perincian utang yang tidak dibayar;


7. Nama serta alamat masing-masing debitor;
8. Tanda kenal debitor;
9. Nama serta alamat mitra usaha;

2). SIDANG

Putusan atas permohonan pernyataan pailit diputuskan oleh Pengadilan Niagayang daerah
hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum Debitor.
Jika Debitor telah meninggalkan Wilayah Negara RI, Pengadilan yang berwenang
menjatuhkan putusan atas permohonan pailit adalah Pengadilan yang daerah hukumnya
meliputi tempat kedudukan hukum terakhir Debitor.
Dalam hal Debitor adalah persero suatu firma, Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi
tempat kedudukan hukum firma/perserotersebut juga berwenang memutuskan.
Dalam hal debitur tidak berkedudukan di wilayah negara RItetapi menjalankan
profesi/usahanya di wilayah negara Pengadilanyang berwenang memutuskan adalah
Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan atau kantor pusat Debitor
menjalankan usahanya di wilayah negara Republik Indonesia.
Dalam hal Debitor merupakan badan hukum, tempat kedudukan hukumnya adalah
sebagaimana dimaksud dalam anggaran dasarnya.

3) PROSES KEPUTUSAN (Putusan Pailit)


Pengadilan wajib memanggil Debitor, dalam hal permohonan pernyataan pailit diajukan oleh Kreditor,
kejaksaan, Bank Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal, atau Menteri Keuangan;
Pengadilan dapat memanggil Kreditordalam hal permohonan pernyataan pailit diajukan oleh Debitor
dan terdapat keraguan persyaratan untuk dinyatakan pailit
Pemanggilan dilakukan oleh Juru sita dengan surat kilat tercatat paling lambat 7 hari sebelum sidang
pemeriksaan I diselenggarakan
Permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti
secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit telah dipenuhi
Putusan Pengadilan atas permohonan pernyataan pailit harus diucapkan paling lambat 60 hari setelah
tanggal permohonan didaftarkan

4) PEMBERITAHUAN KEPADA SELURUH KREDITUR


Dalam Pasal 114 UU No. 37 Tahun 2004 kurator paling lambat 5 (lima) hari
setelah penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 wajib memberitahukan
penetapan tersebut kepada semua Kreditor yang alamatnya diketahui dengan surat dan
mengumumkannya paling sedikit dalam 2 (dua) surat kabar harian sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 ayat
(4).
Semua Kreditor wajib menyerahkan piutangnya masing-masing kepada Kurator
disertai perhitungan atau keterangan tertulis lainnya yang menunjukkan sifat dan jumlah
piutang, disertai dengan surat bukti atau salinannya, dan suatu pernyataan ada atau
tidaknya Kreditor mempunyai suatu hak istimewa, hak gadai, jaminan fidusia, hak
tanggungan, hipotek, hak agunan atas kebendaan lainnya, atau hak untuk menahan
benda (pasal 115 ayat (1)). Atas penyerahan piutang sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), Kreditor berhak meminta suatu tanda terima dari Kurator.

Dalam Pasal 116 disebutkan bahwa :


1. Kurator wajib:
a) mencocokkan perhitungan piutang yang diserahkan oleh Kreditor dengan
catatan yang telah dibuat sebelumnya dan keterangan Debitor Pailit; atau
b) berunding dengan Kreditor jika terdapat keberatan terhadap penagihan yang
diterima.
2. Kurator sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhak meminta kepada Kreditor
agar memasukkan surat yang belum diserahkan, termasuk memperlihatkan
catatan dan surat bukti asli.
Dalam Pasal 117 menyatakan bahwa kurator wajib memasukkan piutang yang
disetujuinya ke dalam suatu daftar piutang yang sementara diakui, sedangkan piutang
yang dibantah termasuk alasannya dimasukkan ke dalam daftar tersendiri.

5) VERIFIKASI TAGIHAN-TAGIHAN
Menurut Pasal 26 & Pasal 27 UU Kepailitan, suatu tuntuntan mengenai hak dan
kewajiban yang menyangkut harta pailit harus diajukan oleh atau terhadap Kurator, jadi tidak
dapat langsung terhadap Debitor.
Tuntutan untuk memperoleh pemenuhan suatu perikatan dari harta pailit, hanya
dapat diajukan dengan mendaftarkannya untuk dicocokkan atau verifikasi. Verifikasi
diatur dalam Pasal 113 sampai dengan Pasal 143 UU Kepailitan.
Proses verifikasi tidak sederhana karena ada piutang yang diakui dan ada yang dibantah
oleh Kurator. Dalam hal ada bantahan, dan Hakim Pengawas tidak dapat mendamaikan Kreditor
yang piutangnya dibantah oleh Kurator, maka Hakim Pengawas dapat memerintahkan agar
kedua belah pihak menyelesaikan sengketa tersebut di Pengadilan Negeri (proses renvooi).
Kalau memang diajukan kepada Pengadilan Negeri, dan diputuskan oleh Pengadilan
Negeri, maka terhadap Putusan Pengadilan Negeri dalam perkara tersebut, masih ada upaya
hukum banding, kasasi, dan peninjauan kembali yang dapat dilakukan sehingga prosesnya
makin lama (Pasal 127 UU Kepailitan).
Jadi, proses verifikasi piutang dapat memerlukan waktu yang lama.

Verifikasi tagihan prosedur untuk menetapkan hak menagih , Para kreditur memasukkan
tagihannya dengan bukti TTT Oleh kurator diadakan pencocokan hutang dan tagihan : diakui atau
dibantah.
Beberapa Jenis Tagihan :
a. Sementara Diakui
b. Yg dibantah
c. Yg diterima dng syarat
d. Yg diverifikasi pro memori
Ada 3 gol/sifat kreditur :
1. Gol khusus (hak preferen) : gadai, hipotik, hak tanggungan, FEO dpt bertindak sendiri atas obyeknya
2. Gol istimewa hak unt dpt pelunasan terlebih dulu dr hasil penjuaan (psl 1139, 1149 BW), hak retensi
3. Gol konkuren (kreditur biasa
Cat : selambatnya 14 hr stlah putusan pailit hakim pengawas mentapkan : hari dan tgl terakhir masuknya
tagihan, hari dan tgl terakhir Rapat Verifikasi akan diadakan HASIL RAPAT VERIFIKASI DIHADIRI OLEH
KURATOR, SI PAILIT DAN KREDITUR
BERACARA POKOK VERIFIKASI TAGIHAN YG DIAJUKAN STLAH MELLUI BANTAHAN, HASILNYA :

TAGIHAN YG TDK DIBANTAH DIAKUI PASTI


TIDAK DIBANTAH TP OLEH KURATOR DITUNTUT DENGAN MENGUCAP SUMPAH
TAGIHAN YANG DIBANTAH OLEH KURATOR DAN KREDITUR ---DIKEMBALIKAN PD HAKIM YG
MENJATUHKAN PUTUSAN PAILIT DENGAN MELALUI LEMBAGA RENVOOI PROCEDURE

6) RAPAT VERIFIKASI (PENCOCOKAN UTANG)


Pada saat dan tempat yang telah ditetapkan, rapat verifikasi diselenggarakan dengan dipimpin oleh
Hakim Pengawas. Rapat verifikasi utang adalah rapat untuk mencocokkan utang-utang si pailit sebagai
penentuan klasifikasi tentang tagihan-tagihan yang masuk terhadap harta pailit, guna memerinci tentang berapa
besarnya piutang-piutang yang dapat dibayarkan kepada masing-masing kreditor, yang diklasifikasikan menjadi
daftar piutang yang diakui, piutang yang diragukan (sementara diakui), maupun piutang yang dibantah, yang
akan menentukan pertimbangan dan urutan hak dari masing-masing kreditor. Dalam rapat verifikasi tersebut
hadir kreditor baik yang menghadiri sendiri atau mewakilkan kepada kuasanya dan juga kurator. Debitor wajib
hadir dalam rapat-rapat kreditor, lebih-lebih dalam rapat verifikasi. Jika debitor adalah badan hukum maka yang
menghadirinya adalah direksinya.
Dalam kaitannya dengan rapat verifikasi tersebut, dalam prakteknya Hakim Pengawas meminta kepada
kurator untuk menyelenggarakan mekanisme pra-verifikasi di suatu tempat di luar gedung Pengadilan Niaga
tanpa dihadiri oleh Hakim Pengawas. Hal demikian sangat efektif untuk menunjang proses verifikasi karena pada
saat pra-verifikasi yang dimotori oleh kurator, baik debitor maupun kreditor dapat saling mencocokkan supporting
document masing-masing dan pada saat terdapat titik temu, maka angka-angka yang telah disepakati dalam
rapat pra-verifikasi dalam kesempatan rapat verifikasi tinggal disahkan saja. Mengapa hal demikian terjadi?
Karena Hakim Pengawas mempunyai keterbatasan ruang gerak terkait dengan tempat dan waktu, terlebih lagi
sarana dan prasarana pengadilan juga terbatas.
Ada kalanya dalam proses verifikasi tersebut baik debitor maupun kreditor tetap mempertahankan
pendirian masing-masing atas jumlah utang-piutangnya atau bahkan bantahannya. Dalam keadaan demikian,
Hakim Pengawas berupaya sedemikian rupa untuk mendamaikan kedua belah pihak, namun bila ternyata tetap
tidak berhasil maka persoalan tersebut oleh Hakim Pengawas diserahkan kepada Majelis Hakim untuk diperiksa
dan diputus. Untuk itulah, Hakim pengawas menetapkan hari persidangannya dengan agenda yang dikenal
istilah Renvooi Procedure atau prosedur renvooi. Tujuan dari prosedur renvooi ini adalah untuk menyelesaikan
sengketa-sengketa yang timbul dalam rapat verifikasi, yang pemeriksaannya dilakukan secara sederhana.
Apakah arti pentingnya rapat verifikasi? Filosofi diselenggarakannya rapat verifikasi adalah bahwa harta
pailit akan dibagi secara proporsional (pari passu pro rata parte) di antara kreditor konkuren. Oleh sebab itulah,
maka perlu disediakan lembaga untuk melakukan pengujian yang disebut rapat verifikasi, dimaksudkan untuk
meneliti dan mengkaji atas klaim-klaim piutang yang diajukan oleh para kreditor. Dalam rapat verifikasi tersebut,
Hakim Pengawas akan membacakan daftar piutang yag dibuat oleh kurator, baik yang diakui, dibantah ataupun
diragukan. Langkah demikian memang teramat penting artinya untuk menghindari hadirnya kreditor-kreditor fiktif
yang sengaja ditampilkan oleh debitor yang beritikad tidak baik. Debitor berkepentingan untuk menampilkan
kreditor fiktif, karena ia berkepentingan untuk membagi habis harta pailit sehingga kreditor lain hanya akan
mendapatkan sedikit bagian proporsionalnya mengingat demikian banyak munculnya kreditor fiktif. Lebih dari hal
tersebut, dimunculkannya banyak kreditor fiktif terkait dengan pengambilan suara dalam rangka perdamaian.
Dalam hal rapat verifikasi piutang telah selesai, adalah kewajiban kurator untuk memberikan laporan
mengenai keadaan harta pailit dengan memberikan keterangan kepada kreditor tentang segala apa yang
dipandang perlu. Lebih dari hal itu, berita acara rapat verifikasi harus ditempatkan di kepaniteraan Pengadilan
Niaga, sementara itu salinannya diletakkan di kantor kurator, dengan tujuan agar hal tersebut dapat dilihat dan
dibaca secara cuma-cuma bagi siapa saja yang berkepentingan.
7) PERDAMAIAN (AKOORD)

Tujuan : menguntungkan debitur (sisa utang dianggap lunas),sedangkan bagi kreditur : memperoleh
pembayaran lebih besar)

Sifat akur : mrpkan perjanjian timbal balik ant debitur dengan krediturnya mengikat juga kreditur yang
tdk ikut menyetujui.

Syarat putusan akur : diterima jumlah kreditur konkuren yang diakui/diakui sementara yg hadir, yg
mewakili 2/3 dr jumlah utang yg tdk dibebani hak tanggungan, gadai, fidusia.

Putusan akur perlu adanya homologasi akur dari Hakim Pengadilan Niaga agar berkekuatan hokum
INSOLVENSI

Selanjutnya ada proses perdamaian (accoord). Sebagaimana diatur di dalam Pasal 144
sampai dengan pasal 177 UU Kepailitan, Debitor berhak untuk menawarkan suatu perdamaian
kepada semua Kreditor.
Rencana perdamaian dibicarakan dalam Rapat Kreditor untuk dapat diterima atau ditolak
oleh Rapat Kreditor.
Kemudian usul perdamaian yang diterima baik oleh Rapat Kreditor tersebut diajukan ke
Pengadilan Niaga untuk disahkan (homologatie). Pengadilan Niaga dapat menolak atau
mengesahkan usul perdamaian tersebut.
Jika Pengadilan Niaga menolak mengesahkan perdamaian, baik Kreditor yang menyetujui
perdamaian maupun Debitor pailit dalam waktu 8 (delapan) hari setelah tanggal putusan
Pengadilan diucapkan, dapat mengajukan kasasi terhadap Putusan Pengadilan Niaga tersebut
ke Mahkamah Agung (Pasal 160 ayat (1) UU Kepailitan).
Jika Pengadilan Niaga mengabulkan pengesahan perdamaian, maka terhadap putusan
tersebut dalam waktu 8 (delapan) hari setelah tanggal putusan Pengadilan diucapkan, dapat
diajukan kasasi oleh Kreditor yang menolak perdamaian atau yang semula menyetujui
perdamaian namun kemudian mengetahui bahwa perdamaian dicapai karena penipuan (Pasal
160 ayat (2) UU Kepailitan).

8 HIR SBLUM RV: AKUR DPT DIAJUKAN KE KURATOR


8) INSOLVENSI
Proses pemberesan harta pailit (vereffening) diatur dalam Pasal 178 sampai dengan
Pasal 203 UU Kepailitan. Menurut Pasal 178 ayat (1), jika dalam Rapat Pencocokan Piutang
tidak ditawarkan rencana perdamaian atau rencana perdamaian yang ditawarkan tidak diterima
atau pengesahan perdamaian ditolak berdasarkan Putusan yang telah berkekuatan hukum
tetap, maka demi hukum harta pailit dalam keadaan insolven.
Lantas Hakim Pengawas mengadakan Rapat Kreditor untuk mengatur cara pemberesan
harta pailit (Pasal 187 UU Kepailitan). Kurator wajib menyusun dan menyerahkan daftar
pembagian harta pailit kepada Kreditor yang piutangnya sudah dicocokkan. Daftar Pembagian
tersebut harus disetujui oleh Hakim Pengawas (Pasal 189 UU Kepailitan).
Terhadap Daftar Pembagian tersebut, Kreditor dapat mengajukan perlawanan ke
Pengadilan Niaga (Pasal 193 UU Kepailitan). Terhadap Putusan Pengadilan Niaga atas
perlawanan tersebut Kreditor/Kurator berhak mengajukan kasasi (Pasal 196 UU Kepailitan).
Kepailitan baru berakhir setelah kepada Kreditor yang telah dicocokkan dibayarkan
penuh piutang mereka atau segera setelah daftar pembagian penutup menjadi mengikat (Pasal
202 UU Kepailitan).

Insolvensi terjadi krn :


1.

Tidak ditawarkan akur.

2.

Akur dipecahkan

Fase insolvensi :

Fase penjualan barang/aset yg ada utk dibagi pd kreditur

Likuidasi (pemberesan berangusur-angsur bisa dilanjutkan perusahaan jika menguntungkan

Jika setelah verifikasi dilakukan ternyata debitor pailit tidak menawarkan perdamaian, atau debitor pailit
telah menawarkan perdamaian akan tetapi ternyata ditolak oleh para kreditornya, atau tawaran perdamaian yang
dikemukakan oleh debitor pailit disetujui oleh para kreditornya, namun ternyata Pengadilan Niaga tidak
mengesahkannya (homologasi), maka saat itu telah terjadi insolvensi.
Apakah yang dimaksudkan dengan insolvensi tersebut? Yang dimaksudkan dengan insolvensi dalam
kepailitan ini adalah suatu tahap dimana akan terjadi jika ternyata tidak dapat diwujudkannya suatu perdamaian
sampai dihomologasi, dan dalam tahapan ini akan dilakukan suatu pemberesan terhadap harta pailit.
Adapun konsekwensi yuridis atas insolvensi tersebut ialah terhadap harta pailit akan dilakukan
pemberesan. Dalam hubungannya dengan hal ini, kurator akan mengadakan pemberesan dengan jalan menjual
harta pailit di muka umum ataupun di bawah tangan serta menyusun daftar pembagian dengan izin hakim
pengawas, pada sisi yang lain hakim pengawas menyelenggarakan rapat kreditor dengan agenda menentukan
cara pemberesan.
9) REHABILITASI
Setelah dilakukan pemberesan ternyata harta pailit mencukupi untuk membayar keseluruhan utang
debitor pailit, maka langkah berikutnya yang ditempuh adalah rehabilitasi sebagaimana diatur dalam ketentuan
Pasal 215 UUK dan PKPU. Dalam fase ini, status debitor pailit dipulihkan, ia menjadi subyek hukum penuh atas
harta kekayaannya. Untuk mengajukan permohonan rehabilitasi, syarat yang harus dipenuhi adalah si pailit telah
membayar semua utangnya kepada para kreditor yang dibuktikan dengan surat tanda bukti pelunasan dari para
kreditor bahwa utang debitor pailit telah dibayar lunas semuanya. Selain hal itu, syarat lain yang harus dipenuhi
adalah permohonan rehabilitasi tersebut diumumkan dalam 2 (dua) surat kabar harian yang ditunjuk oleh
Pengadilan Niaga. Setelah selang 2 (dua) dua bulan kemudian dari masa pengumuman tersebut, Pengadilan
Niaga harus memutus permohonan rehabilitasi tersebut. Putusan menerima atau menolak permohonan
rehabilitasi dari Pengadilan Niaga tersebut bersifat final, dalam arti kata tidak ada upaya hukum apapun atas
putusan Pengadilan Niaga yang menyatakan mengabulkan ataupun menolak permohonan rehabilitasi tersebut.
Sebaliknya, jika ternyata harta pailit tidak mencukupi untuk melunasi utang-utangnya kepada para
kreditor, maka:

jika debitor pailit merupakan suatu badan hukum, maka demi hukum badan hukum tersebut
menjadi bubar. Seiring dengan bubarnya badan hukum tersebut, maka utang-utang badan
hukum yang belum terbayarkan menjadi utang di atas kertas saja. Berarti atas utang tersebut
tidak dapat dimintakan pembayarannya, mengingat badan hukum yang mempunyai utang
tersebut telah bubar;
badan hukum (pailit) juga tidak dapat mengajukan permohonan pencabutan kepailitan,
mengingat badan hukum tersebut telah bubar;
jika debitor pailit tersebut adalah perseorangan, maka kepailitan akan dicabut oleh pengadilan.
Setelah kepailitan dicabut, debitor pailit menjelma menjadi subyek hukum yang sempurna,
tanpa status pailit. Mengenai sisa utang yang belum dibayar tetap mengikuti yang
bersangkutan, yang konsekwensi hukumnya debitor dapat dimohonkan pailit lagi, mengingat
menurut sistem hukum kepailitan di Indonesia ternyata tidak mengenal lembaga pengampunan
utang terhadap debitor pailit.