Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

OTOMASI SISTEM PRODUKSI


PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER

Disusun oleh:
1.
2.
3.
4.
5.

Nuraini
Mukti Lestari
Cut Gebrina Hisbach
Desy Sulistyani
Yesica

(3333120124)
(3333120978)
(3333121162)
(3333122258)
(333312
)

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON BANTEN
2014
A. Pengertian PLC

Menurut NEMA (National Electrical Manufactures Association) ICS31978 Part ICS3-304 : PLC adalah suatu peralatan elektronik yang bekerja
secara digital, memiliki memori yang dapat diprogram, menyimpan perintahperintah untuk melakukan fungsi-fungsi khusus, seperti logic, sequencing,
timing, counting dan arithmatic untuk mengontrol berbagai jenis mesin atau
proses melalui modul input / output analog atau digital.
PLC ( Programmable Logic Controller), yaitu :
Programmable : menunjukkan kemampuan dalam hal memori untuk
menyimpan program dan program tersebut dapat diubah-ubah apabila
diperlukan
Logic : menunjukkan kemampuan dalam memproses input secara aritmatik
dan logic (ALU) seperti penjualan, pembandingan, AND, OR, dan lain-lain
Controller : menunjukkan kemampuan dalam mengontrol dan mengatur
proses sehingga menghasilkan output yang diinginkan
PLC merupakan aplikasi sebuah sistem mikroprosesor (mikrokomputer)
digunakan sebagai kontroler standar dalam industri yang bersifat dapat
diprogram berdasarkan fungsi-fungsi logika. PLC secara standar, memproses
program berdasarkan fungsi-fungsi logika yang ditanamkan (diprogram)
dalam PLC. Fungsi-fungsi logika didasarkan pada logika-logika yang ada
pada saluran masukan dan saluran keluaran PLC. Jadi PLC memiliki
sejumlah saluran masukan dan saluran keluaran. Secara standar PLC
memiliki saluran masukan dan keluaran berupa logika 0 atau logika 1.
B. Fungsi PLC
Secara umum fungsi PLC adalah sebagi berikut :
1. Sekuensial Control, PLC memproses input sinyal biner menjadi output
yang digunakan untuk keperluan pemrosesan teknik secara berurutan
(sekuensial) , disini PLC menjaga agar semua step atau langkah dalam
proses sekuensial berlangsung dalam urutan yang tepat
2. Monitoring Plant, PLC secara terus menerus memonitor status suatu
sistem (misalnya temperatur, tekanan, tingkat ketinggian) dan
mengambil tindakan yang diperlukan sehubungan dengan proses yang
dikontrol (misalnya nilai sudah melebihi batas) atau menampilkan
pesan tersebut pada operator.

PLC memang merupakan pengendali yang umum dipakai saat ini , namun
PLC dalam bekerja tidak bisa lepas dari Relay dan juga kontraktor. Hal ini
dikarenakan keluaran PLC tidak cukup besar untuk men-drive peralatanperalatan besar seperti : motor tegangan tinggi, maupun peralatan listrik lain
yang menggunakan daya 3 fase. Sehingga untuk menciptkan suatu control
yang

baik

umumnya

menggunakan

gabungan

antara

PLC

dan

relay/kontraktor.
Keuntungan menggunakan kontrol konvensional relay atau kontraktor,
yaitu :
Mudah diadaptasikan untuk tegangan yang berbeda.
Tidak banyak dipengaruhi oleh temperature sekitarnya. Relay terus beroperasi
pada temperatur 353 K (80C) sampai 240 K (-33C).
Tahanan yang relatif tinggi antara kontak kerja pada saat terbuka.
Beberapa rangkaian terpisah dapat dihidupkan.
Rangkaian yang mengontrol relay dan rangkaian yang membawa arus yang
terhubung secara fisik terpisah satu sama lainnya
Kerugian menggunakan kontrol konvensional relay atau kontraktor, yaitu :
Kontak dibatasi pada keausan dari bunga api atau dari oksidasi (material
kontak yang terbaik adalah platina, emas, dan perak)
Menghabiskan banyak tempat dibandingkan dengan transistor.
Menimbulkan bunyi selama proses kontak
Kecepatan kontak terbatas 3 ms sampai 17 ms
Kontaminasi (debu) dapat memengaruhi umur kontak.

C. Prinsip Kerja PLC


Prinsip kerja relay, jika coil diberi sumber tegangan kerja maka semua
kontak-kontaknya akan berubah status. Prinsip kerja PLC, kontak NO
menjadi Close dan kontak NC menjadi Open.
Signal dari device input (on/off) akan mengaktifkan coil semua (input)
yang mencerminkan masing masing device input ( dalam hal ini disimpan
dalam sebuah memory data input). Coil semua ini akan mengontrol kondisi

on/off dari internal kontak yang tersusun dalam sebuah program PLC/Ladder
Diagram (Programming & Processing).
Sesuai prinsip logika relay, PLC akan mengolah program secara urut dan
kontinyu (loop) sehingga menghasilkan sebuah hasil program berupa kondisi
On/Off internal coil output-an yang disimpan dalam memory data output-an
dan latch memory. Internal coil output-an ini yang sudah tersimpan dalam
memory ini akan mengontrol kontak output semu yang menghubungkan
device output dan sumber tegangan. Berikut ini skema diagram prinsip kerja
PLC.

Gambar 1 Skema prinsip kerja PLC

Berikut ini contoh gambar dari pemograman PLC :

Gambar 2 Contoh Pemograman PLC

Penjelasan pada gambar 2 diatas adalah sebagai berikut :


1. Di dalam PLC diassosiasikan memiliki coil bayangan/semu MX...dan
kontak semu MY...(masing-masing adalah memori data input dan
output)
2. Coil MX...mendapat suplai tegangan 24Vdc melalui input PLC yaitu
tombol X0 dan tombol X1
3. Kontak MY... mendapat suplai tegangan misal 220 Volt yang memikul
beban lampu Y0 dan Y1 melalui kontak bayangan MY.......
4. Jika tombol X0 ditekan (walaupun sebentar), maka coil bayangan
MX0 akan bekerja sehingga kontak-kontaknya akan berubah status.
Coil bayangan MX0 ini akan merubah status kontak yang berada
dalam bahasa pemrograman PLC. Dalam hal ini kontak X0 akan
menjadi close (tertutup) walaupun tombol X0 dilepas, kontak Y0 akan
mengunci sampai tombol X1 dilepas.
5. Karena kontak X) tertutup, maka coil Y0 akan bekerja dan merubah
status kontak MY0 menjadi tertutup, dalam hal ini lampu L1 akan
mendapat suplai tegangan dan menyala.
6. Jika tombol X1 ditekan, maka coil bayangan MX1 akan bekerja dan
mengubah status kontak NC dalam bahasa pemrograman menjadi
terbuka, dalam hal ini coil Y0 menjadi tidak aktif.

7. Karena coil Y0 non aktif, maka kontak bayangan MY0 terbuka dan
lampu L1 mati.

D. Sejarah PLC
Pada awal perkembangannya PLC hanya dapat digunakan untuk proses
logic saja (on/off) akan tetapi saat ini PLC tidak hanya dapat memproses
bilangan analog, perhitungan algoritma, pembanding (comparator), bahkan
perhitungan rumit seperti rumusan PID

Sebelum tahun 1960


Sistem kontrol masih menggunakan relay logic, relay-relay
tersebut dikendalikan oleh kontraktor

Gambar 3 Contoh PLC tahun 1960

Tahun 1960-an
GM Hydramatic (divisi automatic transmission dari general
motors) mengajukan sayembara untuk mencari alat yang nantinya
digunakan untuk menggantikan sistem kontrol relay logic
Tahun 1968
Bedford Associates Inc mengajukan prototipe yang diberi nama
MODICON 084 (cikal bakal PLC)

Gambar 4 Contoh PLC tahun 1968

Tahun 1971-an
PLC mulai banyak digunakan dikalangan industri makanan,
pengolahan metal, manufaktur, dan sebagainya. Pemograman PLC
kala itu masih menggunakan handheld.

Gambar 5 Perkembangan PLC pada industri

Tahun 1980-an
Ukuran PLC mulai mengecil dan munculnya software pemograman
PLC untuk menggantikan handheld

Gambar 6 Perkembangan PLC pada tahun 1980-an

Tahun 1990

Penggunaan PLC makin vital dalam automation industries, proses


dengan mudah dikontrol dan dimonitor dengan PLC dan jaringan
seperti DCS dan SCADA

Gambar 7 Perkembangan PLC tahun 1990

E. Gerbang Logika
Pada prinsipnya pengertian PLC adalah:
1. Perangkat kontroler merupakan aplikasi sebuah sistem mikroprosesor
dirancang khusus untuk keperluan kontroler di Industri.
2. Dapat diprogram berdasarkan fungsi-fungsi logika didasarkan pada
intruksi-intruksi yang dimengerti PLC.
3. Memiliki sejumlah saluran masukan dan keluaran.
4. Agar lebih mudah dimengerti berikut ini diberikan contoh kasus sebuah
fungsi logika yang akan direalisasikan menggunakan gerbang logika,
logika kontak dan PLC.
Sebuah fungsi logika: F = (A. B) + C
Pernyataan fungsi logika di atas dapat diimplementasikan dengan
menggunakan beberapa cara yaitu:
1. Gerbang Logika
Jika

diimplementasikan

dengan

digambarkan dalam Gambar 1 berikut:

gerbang-gerbang

logika

dapat

Gambar 8
Fungsi F = (A.B)+C diwujudkan dengan gerbang logika
Keluaran F akan berlogika 0 atau 1 sesuai dengan kombinasi logika pada
saluran masukan A, B dan C berdasarkan fungsi logika (A . B) + C.
Terdapat 8 kombinasi logika masukan pada rangkaian ini, karena terdapat
3bit masukan. Secara tabel kebenaran keluaran F diperlihatkan dalam tabel
berikut ini:</p
M
a
s
u
k
a
n

No.

Keluar
an

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Bila diamati dari tabelkebenaran di atas keluaran F akan berlogika 1 hanya


jika C = 1 atau A = 0 dan B = 1. Dengan menggunakan komponen
gerbang-gerbang logika, jika dibutuhkan perubahan-perubahan fungsi
logikanya

maka

diperlukan

perubahan-perubahan

pada

rangkaian

logikanya. Gerbang NOT menggunakan komponen IC jenis 7406, AND IC


jenis 7408 dan OR IC jenis 7432. Rangkaian di atas merupakan rangkaian
kombinasi, karena keluaran hanya tergantung pada kombinasi logika
saluran masukannya.
2. Logika Kontak
Sebuah kontak dapat digunakan untuk mengimplementasikan sebuah
rangkaian logika. Jika menggunakan gerbang logika, idealnya logika 0
berupa tegangan 0 Volt dan logika 1 berupa tegangan 5 Volt pada saluran
masukan dan keluarannya.
Jika menggunakan sebuah kontaktor (tombol tekan), penekanan tombol
berupa masukan dan kontaktornya berupa keluaran. Sebuah tombol jika
ditekan memiliki arti masukan sebagai logika 1 dan sebaliknya jika tidak
ditekan memiliki arti masukan sebagai logika 0. Kondisi kontaktor sebuah
tombol dalam keadaan terhubung memiliki arti keluaran sebagai logika 1
dan jika kontaktornya terbuka memiliki arti keluaran berlogika 0.
Berikut ini diperlihatkan hubungan kontaktor untuk mewujudkan gerbanggerbang logika AND, OR, NOR, NAND, dan NOT.

Dengan logika kontak dapat direalisasikan sebuah gerbang-gerbang logika


seperti halnya gerbang-gerbang logika AND, OR, NOR, NAND dan NOT,
dengan cara menghubungkan secara seri atau paralel.
Sebuah gerbang AND dapat diwujudkan dengan dua buah kontak masingmasing jenis NO (Normally Open) yang dihubungkan secara seri. Dengan
demikian keluaran merupakan kondisi antara kedua ujung kontak, jika
terhubung menunjukkan keluaran berlogika 1, jika terbuka keluaran
berlogika 0. Pada gerbang AND ini keluaran akan berlogika 1 (terhubung)
jika kedua kontak A dan B masing-masing ditekan atau berlogika 1.
Sebuah gerbang OR diwujudkan dengan dua buah kontak masing-masing
jenis NO yang dihubungkan secara paralel. Dengan demikian keluaran
akan berlogika 0 jika kedua kontaknya berlogika 0.
Sebuah gerbang NOR (NOT OR), dapat diwujudkan dengan mengubah
menjadi AND dengan menggunakan kontak jenis NC (Normally Closed)
pada masing-masing masukannya. Sehingga keluarannya akan berlogika 1
jika kedua kontaknya berlogika 0. Karena masing-masing kontak A dan B
menggunakan jenis NC, jika kedua kontak berlogika 0 membuat
keluarannya berlogika 1.
Sebuah gerbang NAND (NOT AND), dapat diwujudkan dengan mengubah
menjadi OR dengan menggunakan kontak jenis NC pada masing-masing

masukannya. Sehingga keluarannya akan berlogika 0, jika kedua


masukannya berlogika 1. Karena kedua kontak menggunakan jenis NC,
jika kedua kontak tersebut berlogika 1 akan menyebabkan keluaran tidak
terhubung atau berlogika 0.
Sebuah gerbang NOT dapat diwujudkan denan sebuah kontak jenis NC,
sehingga logika keluarannya

akan selalu

kebalikan dari

logika

masukannya.
Rangkaian gerbang logika seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 1 di
atas dari sebuah fungsi F=(A.B)+C, dapat diwujudkan dengan
menggunakan rangkaian logika kontak dengan menggunakan gerbang
logika AND, OR dan NOT, seperti yang diperlihatkan dalam Gambar 2
berikut ini.

Gambar 9
Fungsi F = (A . B) + C dengan menggunakan rangkaian logika kontak
Jika digambarkan dalam bentuk diagram relay diperlihatkan dalam
Gambar 3 berikut ini.

Gambar 10
Diagram relay
PLC (Programmable Logic Controller)
Sebelum dijelaskan bagaimana contoh di atas jika direalisasikan dengan
menggunakan PLC, perlu dijelaskan terlebih dahulu tentang saluran
masukan dan keluaran secara standar yang dimiliki oleh sebuah PLC. PLC
secara standar (dasar) memiliki sejumlah saluran masukan dan keluaran
dalam bentuk logika 0 atau 1.
Saluran masukannya berupa tegangan sebesar 24VDC, jika diberi
tegangan 24VDC berarti saluran masukan tersebut berlogika 1, jika tidak
diberi tegangan (terbuka) atau 0 VDC saluran masukan tersebut berlogika
0. Sedangkan saluran keluarannya secara standar berupa kontaktor rele
yang ada didalam PLC (IR- Internal Relay), jika kontaknya tertutup berarti
logika saluran keluarannya adalah logika 1, jika terbuka logika saluran
keluarannya adalah 0. Setiap PLC memiliki sejumlah saluran masukan dan
keluaran tertentu tergantung tipe dari PLC yang digunakan. Setiap
kelompok saluran masukan dan keluaran dibagi menjadi kelompok alamat

yang terdiri dari 8 bit, 16 bit atau 32 bit tergantung jenis PLC yang
digunakan. Setiap kelompok memiliki alamat-alamat tertentu pada PLC
agar dapat diakses melalui instruksi PLC.
Berikut ini contoh pengawatan PLC untuk mewujudkan sebuah fungsi F =
(A.B) + C, diperlihatkan dalam Gambar 4.

Gambar 11
Contoh Aplikasi PLC
Dari Gambar 4 di atas, variabel masukan A, B dan C dimasukkan melalui
saluran masukan PLC masing-masing pada bit 0, 1 dan 2. Untuk
memberikan logika 0 atau 1 masing-masing dihubungkan seri dengan
sebuah saklar (kontak) dan sumber tegangan 24VDC. COM merupakan
saluran bersama, sehingga masing-masing saluran diberi logika 1 berupa
tegangan 24VDC terhadap COM (COMmon). Jika saluran ini dibiarkan
terbuka berarti saluran masukan diberi logika 0.
Demikian pula dengan saluran keluarannya, dalam contoh ini digunakan
bit 0, jika berlogika 1 maka antara keluaran bit 0 dan COM akan terhubung
singkat melalui kontaktor Internal Relay. Seperti halnya saluran masukan,
saluran keluaran menggunakan saluran bersama (COMmon). Untuk

mengetahui keluaran bit 0 berlogika 1 atau 0, dihubungkan dengan sebuah


beban lampu pijar dan di seri dengan sumber tegangan AC 220V.
Selanjutnya PLC diprogram berupa fungsi (A.B)+C dengan menggunakan
diagram ladder. Program dalam bentuk diagram ladder diperlihatkan dalam
Gambar 5 berikut ini.

Gambar 12
Program ladder contoh aplikasi
Dalam program ladder Gambar 5 di atas, digunakan PLC OMRON jenis
CQM1 CPU41-V1. Saluran masukan memiliki alamat 000, saluran
keluaran memiliki alamat 100. Variabel masukan A, B dan C masingmasing menggunakan bit 0, 1 dan 2, sehingga alamatnya dapat dituliskan
masing-masing dengan 000.00 (A), 000.01 (B) dan 000.02 (C). Sedangkan
keluarannya menggunakan bit 0 dan ditulis dengan alamat 100.00.
Penulisan program secara ladder mudah dipahami karena secara langsung
dapat menunjukkan fungsi logika-logikanya. Selanjutnya ladder tersebut
harus diubah menjadi instruksi-instruksi PLC OMRON CQM1, dengan
menggunakan program SYSWIN secara otomatis akan diubah menjadi
instruksi PLC. Instruksi tersebut adalah:

LD

NOT

000.01

AND

000.01

OR

000.02

OUT

100.00

END
Instruksi PLC OMRON CQM1 dari contoh aplikasi

Komponen-Komponen

untuk

mengoperasikan

PLC

Untuk mengoperasikan PLC dibutuhkan 3 buah kelompok komponen


utama, yaitu :
1. Komponen Peralatan Input (Input Device)
Adalah komponen-komponen yang akan memberikan masukan logika
kepada CPU PLC, yang biasanya berupa saklar-saklar ON (ON Switch),
misalnya Pushbutton ON, Limit Switch ON, Level Switch ON, Flow
Switch ON, Elektronic Swtch ON, dan lain-lain. Disamping itu juga
dibutuhkan input sumber daya listrik.
2. Komponen Programable Controller
Adalah merupakan peralatan untuk membuat program dan sekaligus
mengolah masukan (input) logika dan program tersebut menjadi sebuah
sistem kontrol yang terarah dan sistematis. Peralatan ini dapat berupa CPU
PLC, Programming Console, Software Circuit (Ladder Diagram dan/atau
Mnemonic Code), serta software support program lainnya juka diperlukan.
3. Komponen Peralatan Output (Output Device)
Adalah peralatan yang akan dihubungkan ke bagian output PLC, yaitu
peralatan-peralatan yang akan dikendalikan atau dikontrol dengan PLC.
Peralatan ini dapat berupa Motor listrik, Solenoide, Pemanas (Heater),
Lampu-lampu, Mesin-mesin pabrik, Lift, Konveyor ban berjalan, dan lainlain.

DAFTAR PUSTAKA
Asisten laboratorium, 2014. Modul Praktikum Programmable Logic
Controller. Laboratorium Konversi Energi Listrik Jusrusan Elektro
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa : Cilegon.
http://trikueni-desain-sistem.blogspot.com/2013/08/Memahami-KerjaPLC.html
http://bsiswoyo.lecture.ub.ac.id/2012/06/tutorial-plc-pengertian-plc/
http://rokhmad.blogspot.com/2013/09/komponen-komponenpengoperasian-plc.html