Anda di halaman 1dari 10

Keynote Speaker pada Seminar Nasional

Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan


Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014

MENCIPTAKAN NILAI TAMBAH


DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN:
PERAN INALUM DALAM INDUSTRI ALUMINIUM DALAM NEGERI
Winardi1, Ivan Eko Yudho G.2

1
Direktur Utama
Manajer Seksi Proyek Smelting
PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) (INALUM)
PO. BOX 1, Kuala Tanjung, Batubara - 21257, Sumatera Utara
Telp. (0622) 31311, Fax (0622) 31001
2

Email: ipr-isp@inalum.co.id

ABSTRAK
INALUM, satu-satunya pabrik peleburan aluminium di Indonesia, memiliki kapasitas produksi
250.000 ton per tahun dengan sumber energi dari Sungai Asahan yang menggerakkan
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas terpasang 603 MW. Kebutuhan
akan aluminium dalam negeri masih sangat terbuka sehingga INALUM berpeluang untuk
meningkatkan kapasitas produksinya. Sejalan dengan perubahan status perusahaan
menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), maka INALUM berencana mengembangkan
usaha dengan membangun Pabrik Kalsinasi Kokas, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
dan Pelabuhan serta Ekspansi Pabrik Peleburan Aluminium dan Diversifikasi Produk.
Dengan penerapan UU Minerba, INALUM siap turut serta dalam industri hulu untuk
membangun Pabrik Smelter Grade Alumina dengan melakukan joint venture dengan
perusahaan lain.
Kata kunci : UU Minerba, integrasi industri aluminium, peningkatan kapasitas, program
pengembangan
I.

PENDAHULUAN
1.1 Profil PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero)
PT Indonesia Asahan Aluminium didirikan pada tanggal 6 Januari 1976
sebagai perusahaan joint-venture antara Pemerintah Republik Indonesia (RI)
dengan 12 perusahaan investor dari Jepang yang tergabung dalam Nippon Asahan
Aluminium Co., Ltd (NAA) untuk melaksanakan pembangunan dan pengoperasian
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Paritohan dan Tangga (Kab. Toba
Samosir) dan Pabrik Peleburan Aluminium di Kuala Tanjung (Kab. Batubara),
Provinsi Sumatera Utara.
INALUM telah membangun dan mengoperasikan Pabrik Peleburan Aluminium
untuk memproduksi aluminium primer ingot di Kuala Tanjung dan Pembangkit
Listrik Tenaga Air di Sungai Asahan. Pada tanggal 20 Januari 1982 Presiden
Suharto meresmikan operasi tahap pertama Pabrik Peleburan Aluminium di Kuala
Tanjung, dan menyebut proyek ini sebagai Impian yang menjadi kenyataan.
Setelah beroperasi selama 31 tahun, perjanjian kerjasama antara Pemerintah
RI dengan NAA berakhir pada 31 Oktober 2013. Pengakhiran Persetujuan Induk

Keynote Speaker pada Seminar Nasional


Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014

antara para Investor Jepang dengan Pemerintah RI sebagai masing-masing


Pemegang Saham di INALUM telah ditandatangani pada tanggal 9 Desember 2013
yang kemudian dilanjutkan dengan penyerahan saham dari Pemegang saham
Jepang ke Pemerintah Indonesia pada 19 Desember 2013. Dengan demikian kini
saham INALUM dimiliki 100% oleh Pemerintah RI dan menjadi Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) yang ke-141 sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2014
yang disahkan tanggal 21 April 2014 dan mulai berlaku tanggal 19 Desember 2013,
dan nama perusahaan berubah menjadi PT Indonesia Asahan Aluminium
(Persero).
1.2 Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) INALUM
Danau Toba, yang memiliki luas 1.100 km2 dan curah air 2.000 mm/tahun,
adalah sumber air bagi Sungai Asahan dengan panjang 150 km yang memiliki
potensi debit pada musim kemarau 60 m3/detik dan pada musim hujan 100
m3/detik. Potensi tersebut dimanfaatkan untuk menggerakkan 2 (dua) stasiun PLTA
dengan kapasitas total 603 MW, yaitu PLTA Sigura-gura dan PLTA Tangga.
PLTA Sigura-gura berada 200 m di dalam perut bumi dengan 4 generator
masing-masing berkapasitas 71,5 MW dan merupakan PLTA bawah tanah pertama
di Indonesia. Air yang telah dipakai PLTA Sigura-gura dibendung oleh Bendungan
Penadah Air Tangga, yang merupakan bendungan busur pertama di Indonesia.
Selanjutnya air tesebut disalurkan melalui terowongan bawah tanah yang
panjangnya 3.150 m. Di PLTA Tangga terpasang 4 unit generator masing-masing
berkapasitas 79,2 MW dan berada di atas permukaan tanah.
Tenaga listrik yang dihasilkan disalurkan melalui jaringan transmisi 275 kV
sepanjang 120 km ke Pabrik Peleburan Aluminium di Kuala Tanjung.
1.3 Pabrik Peleburan Aluminium INALUM
Pabrik Peleburan Aluminium di INALUM didesain oleh Sumitomo Chemical.
Kapasitas desain produksi aluminium ingot adalah 225.000 ton per tahun dengan
arus listrik searah 175 kA, efisiensi arus 87,6% dan konsumsi energi listrik searah
14.500 kWh/ton-Al. Pabrik peleburan aluminium tersebut terdiri atas 3 jalur tungku
reduksi (potline), setiap potline memiliki 170 tungku reduksi bertipe pemanggangan
anoda di luar (prebaked cell) dan busbar anoda di sisi luar (end riser), yang disusun
bersisian (side by side). Dengan melakukan pengembangan teknologi, saat ini
INALUM telah mencapai kapasitas produksi aluminium ingot lebih dari 250.000 ton
per tahun dengan arus listrik searah 200 kA, efisiensi arus 92,3% dan konsumsi
energi listrik searah 14.150 kWh/ton-Al.
Pabrik Peleburan Aluminium adalah bisnis inti INALUM yang terdiri atas tiga
pabrik utama yaitu Pabrik Karbon, Pabrik Reduksi dan Pabrik Pencetakan. Pada

Keynote Speaker pada Seminar Nasional


Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014

Pabrik Karbon, anoda karbon diproduksi dari kokas dan coal tar pitch (CTP) untuk
digunakan sebagai elektroda positif pada proses elektrolisis dalam tungku reduksi.
Pada Pabrik Reduksi, alumina (Al2O3) direduksi menjadi aluminium cair yang
selanjutnya dicetak menjadi batangan aluminium (ingot) di Pabrik Pencetakan.
Selain itu terdapat juga beberapa fasilitas pendukung lain seperti stasiun
distribusi listrik, sistem pembersih gas, dan pelabuhan untuk menerima bahan baku
utama dan mengirim ingot.
II.

UU MINERBA SEBAGAI FAKTOR PENDUKUNG PENINGKATAN TEKNOLOGI DAN


PENGEMBANGAN KAPASITAS INALUM
Undang-Undang Republik Indonesia (UU) Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba) telah disahkan pada tanggal 12
Januari 2009. Dengan asas keberpihakan kepada kepentingan bangsa maka UU
Minerba bertujuan untuk :

menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian kegiatan usaha pertambangan


secara berdaya guna, berhasil guna, dan berdaya saing;

menjamin manfaat pertambangan mineral dan batubara secara berkelanjutan dan


berwawasan lingkungan hidup;

menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan baku dan/atau sebagai
sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri;

mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional agar lebih mampu


bersaing di tingkat nasional, regional, dan internasional;

meningkatkan

pendapatan

masyarakat

lokal,

daerah,

dan

negara,

serta

menciptakan lapangan kerja untuk sebesarbesar kesejahteraan rakyat; dan

menjamin kepastian hukum dalam penyelenggaraan kegiatan usaha pertambangan


mineral dan batubara
Penerapan UU Minerba ini akan mengubah cara pengelolaan hasil tambang mineral

di negeri ini. Para pemegang Izin Usaha Pertambangan diwajibkan untuk memberikan
nilai tambah yaitu dengan melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangan di
dalam negeri dan akan secara bertahap mengurangi penjualan bahan mentah hasil
tambang ke luar negeri. Dengan demikian dapat mengurangi ketergantungan terhadap
impor bahan baku untuk industri dalam negeri. Maka, Pemerintah pun mewajibkan
semua perusahaan tambang untuk membangun smelter.
Sejalan dengan itu suatu strategi pengembangan teknologi dan bisnis ditetapkan
berdasarkan konsep yang terintegrasi antara pengetahuan teoretis dan pengalaman
operasional.

Keynote Speaker pada Seminar Nasional


Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014

III. PENINGKATAN KAPASITAS INALUM


Sebagai tindak lanjut pasca pengambilalihan INALUM menjadi BUMN, maka untuk
mempertahankan keunggulan operasional dan daya saing INALUM ke depan disusunlah
rencana peningkatan kapasitas produksi INALUM dan pengembangannya yang
tercantum dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan.
INALUM membuat rencana untuk menambah kapasitas aluminium primer menjadi
500.000 ton per tahun pada tahun 2019 serta melakukan diversifikasi dengan
memproduksi aluminium alloy. Untuk mencapai kapasitas tersebut dibutuhkan ekspansi
Pabrik Peleburan Aluminium dan Pabrik Pencetakan dalam rangka diversifikasi. Dengan
dilaksanakannya program pengembangan ini diharapkan INALUM dapat meningkatkan
pasokan kebutuhan aluminium primer dan aluminium alloy nasional.
Selanjutnya rencana INALUM sesuai harapan pemegang saham adalah:
Dapat terintegrasi ke hulu dengan industri pengolahan bauksit nasional.
Dapat terintegrasi ke hilir dengan rantai suplai industri aluminium hilir nasional.
Menjadi mesin pertumbuhan industri di sekitar Kawasan Kuala Tanjung.
Dengan kapasitas saat ini, INALUM membutuhkan alumina sebanyak 500.000 ton
per tahun. Dengan program ekspansi maka kebutuhannya akan meningkat menjadi 1
juta ton per tahun pada tahun 2019. Dengan demikian hal ini akan menciptakan nilai
tambah hasil tambang bijih bauksit menjadi aluminium.
Maka INALUM siap mengambil peran untuk mengintegrasikan industri aluminium
nasional mulai dari pengolahan bauksit menjadi Smelter Grade Alumina (SGA), sebagai
bahan baku untuk Pabrik Peleburan Aluminium, hingga aluminium alloy.
Untuk itu INALUM berminat untuk membangun Pabrik SGA dengan melakukan joint
venture dengan perusahaan lain agar bisa menjamin pasokan alumina sebagai bahan
baku utama dalam proses elektrolisis Aluminium.
Untuk mensuplai kebutuhan listrik dalam program ekspansi, maka akan dibangun
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 700 MW dengan konsumsi bahan bakar
batubara low rank sekitar 3 juta ton per tahun. Dengan demikian hal ini akan
menciptakan nilai tambah hasil tambang batubara menjadi energi listrik kemudian
aluminium.
IV. PROSPEK INDUSTRI ALUMINIUM
4.1 Proses Produksi Aluminium : Dari Hulu Ke Hilir
Secara umum untuk menghasilkan aluminium, hasil tambang bijih bauksit
dimurnikan menjadi alumina, lalu dielektrolisis menjadi logam aluminium, kemudian
dicetak atau dicampur dengan bahan lain untuk menghasilkan logam alloy dengan

Keynote Speaker pada Seminar Nasional


Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014

jenis dan sifat yang berbeda. Dua ton bauksit dibutuhkan untuk menghasilkan satu
ton alumina dan dua ton alumina dibutuhkan untuk menghasilkan satu ton logam
aluminium.
4 ton Bauksit

2 ton Alumina (SGA)

1 ton Aluminium

US$ 39,5/ton
(ANTAM (2013))

US$ 328,8/ton

US$ 2.023,5/ton

(INALUM (2014))

(INALUM (2014))

Gambar 1. Nilai Tambah Proses Produksi Aluminium Dari Bauksit Sampai Pencetakan

4.1.1 Pertambangan Bauksit


Aluminium adalah logam yang paling berlimpah di dalam kerak bumi, dan
merupakan unsur ketiga terbanyak setelah oksigen dan silikon (sekitar 8%
dari permukaan padat bumi). Karena sifatnya yang sangat reaktif, aluminium
tidak ditemukan sebagai logam bebas tetapi berikatan dengan lebih dari 270
mineral yang berbeda (Bassam Z. Shakhashiri, 2007).
Sumber utama aluminium adalah hasil tambang bijih bauksit yang banyak
ditemukan di daerah tropis dan sub tropis.

Gambar 2. Proses Produksi Aluminium Secara Umum Dari Bauksit Sampai Pencetakan

4.1.2 Proses Pemurnian Alumina


Metoda yang ekonomis untuk memproduksi alumina adalah Proses
Bayer.

Proses

ini

ditemukan

oleh

Karl

Joseph

Bayer,

ahli

berkebangsaan Austria, pada tahun 1888.


Proses utama dalam pemurnian alumina adalah sebagai berikut:
1. Penyerapan Pelarutan kandungan alumina dalam bauksit.

kimia

Keynote Speaker pada Seminar Nasional


Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014

Bauksit digiling sampai halus kemudian dicampur dengan larutan daur


ulang kaustik soda dan uap di dalam bejana penyerap (digester) yang
beroperasi pada suhu dan tekanan tinggi. Kandungan alumina dalam
bauksit akan larut dan larutannya kemudian didinginkan didalam
rangkaian tangki pemisah (flash tanks).
2. Penjernihan (Klarifikasi) Pengolahan unsur pengotor yang tidak larut.
Unsur pengotor, sebagai sisa-sisa yang tidak larut, dapat diolah
sebagai lumpur halus di tangki pengental. Setelah beberapa tahap
pencucian untuk memulihkan kaustik soda, residunya dipompa ke wadah
penampung. Selanjutnya larutan alumina dalam kaustik soda dijernihkan
dengan penyaringan (filtrasi).
3. Pengendapan (Precipitation) Pembentukan kristal alumina.
Tahapan selanjutnya meliputi pemulihan kristal alumina dari larutan
kaustik. Dalam tangki terbuka, larutan diaduk secara mekanis dan ditaburi
dengan alumina yang telah diendapkan sebelumnya untuk mendukung
perkembangan kristal.
4. Kalsinasi Pengeringan alumina pada suhu tinggi.
Bahan yang terendap (disebut hidrat) dicuci dan dikalsinasi pada
suhu lebih dari 1000 oC. Dari proses ini terbentuk tepung alumina kering
berwarna putih (anhydrous aluminium oxide), yang kemudian didinginkan
dan dibawa ke tempat penyimpanan.
4.1.3 Proses Elektrolisis Aluminium
Pada seluruh pabrik peleburan aluminium modern saat ini metoda yang
digunakan Proses Hall-Heroult yang ditemukan secara terpisah oleh Charles
Martin Hall di Amerika Serikat dan Paul L.T. Heroult di Perancis pada tahun
1886.
Pada proses ini, alumina dilarutkan ke dalam larutan elektrolit yaitu kriolit
(sodium aluminium fluoride, Na3AlF6) pada suhu 960OC di dalam suatu
tungku reduksi. Kemudian arus listrik searah yang sangat tinggi dialirkan
melalui larutan elektrolit tadi pada tegangan rendah dan selanjutnya mengalir
dari anoda karbon ke katoda karbon. Tungku reduksi aluminium adalah suatu
kotak baja yang terdiri atas batu insulasi dan karbon sebagai bahan penyusun
pada dinding samping dan dasar. Di atas dinding dasar, diletakkan katoda
karbon yang dirangkai dengan batang pengumpul yang terbuat dari baja
ringan (mild steel) yang berfungsi sebagai penghantar listrik. Secara
sederhana reaksinya adalah sebagai berikut:
2Al2O3 (solution) + 3C (s)  4 Al (liq) + 3 CO2 (g)

Keynote Speaker pada Seminar Nasional


Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014

Pabrik untuk membuat aluminium primer banyak dibangun di tempat yang


memiliki ketersediaan energi berlimpah, seperti pembangkit listrik tenaga air.
4.1.4 Pengolahan Aluminium
Aluminium primer dapat dicampur dengan bahan lain untuk menghasilkan
logam alloy dengan jenis dan sifat yang berbeda. Komposisi utama dalam
aluminium alloy adalah besi, silikon, tembaga dan magnesium. Ada beberapa
cara pengolahan aluminium primer menjadi produk-produk yang dapat
dimanfaatkan, umumnya adalah:
1. Pencetakan (casting), menjadi bentuk yang beragam hingga tak terbatas.
2. Penipisan (rolling), menjadi bentuk piringan (plate), lembaran (sheets)
atau lapisan wafer yang sangat tipis. Proses rolling mengubah
karakteristik logam menjadi lebih liat.
3. Ekstrusi (extrusion) dalam berbagai bentuk.
Produk yang terbuat dari aluminium dapat didaur ulang berkali-kali.
Energi yang dibutuhkan untuk mendaur ulang aluminium dan emisi gas rumah
kaca yang timbul hanya 5 persen dari produksi aluminium primer.
4.2 Kegunaan dan Aplikasi Aluminium
Karena sifat dan karakteristiknya seperti: ringan, kuat, mudah dibentuk, tahan
korosi, mempunyai konduktivitas listrik tinggi, menahan panas dan dingin dan lainlain, aluminium memiliki kegunaan dan aplikasi meliputi area konstruksi,
transportasi, alat-alat listrik dan bahan untuk kemasan.
Aluminium murni bersifat cukup lunak namun dengan mencampurkannya
dengan sejumlah kecil logam lain, alloy yang dihasilkan dapat memiliki kekuatan
seperti baja dengan massa yang hanya setengahnya. Laju korosi aluminium 1/25
kali baja bertahanan tinggi, massa aluminium setara dengan 1/3 dari massa
tembaga sedangkan konduktivitas listrik aluminium dua kali lebih tinggi dari
tembaga. Sifat-sifat tersebut sangat menguntungkan untuk aplikasi aluminium
dalam bidang konstruksi bangunan sebagai pengganti kayu, otomotif dan transmisi
listrik.
Semua jenis produk aluminium dapat digunakan pada konstruksi dan renovasi
bangunan, seperti rangka, siku, jendela, kaca atap, pintu, layar, penadah hujan,
kanopi, dan lain-lain. Mesin otomotif yang ringan memberi manfaat dalam upaya
menghemat bahan bakar dan juga ramah lingkungan selama masa pakai
kendaraan tersebut. Kabel transmisi yang lebih ringan membutuhkan struktur
pendukung yang lebih sedikit dan ringan juga.
Produk aluminium juga digunakan secara luas untuk proteksi, kemasan, dan
penyajian makanan dan minuman. Aluminium dapat dibentuk menjadi lembaran

Keynote Speaker pada Seminar Nasional


Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014

yang sangat tipis dengan sifat yang ringan, kuat dan kualitas insulasi yang baik
dalam mempertahankan makanan, kosmetik, produk farmasi dan melindunginya
dari ultra violet, bau dan bakteri. Kemasan aluminium aman, tahan rusak, higienis,
mudah dibuka dan dapat didaur ulang. Aluminium meneruskan kalor konduksi dan
memantulkan kalor radiasi. Sekitar separuh dari alat-alat masak yang ada di
pasaran

terbuat

dari

aluminium.

Alat-alat

masak

dari

aluminium

hanya

membutuhkan seperempat dari energi yang dibutuhkan untuk memanaskan baja


atau besi tuang. Aluminium hanya kehilangan panas sekitar 7 persen dari yang
diterimanya dan memanfaatkan 93 persennya untuk memasak.
4.3 Prospek Bisnis Aluminium
Aluminium merupakan komoditas yang penting di masa depan. Sebagai
bahan pengganti terhadap baja, tembaga dan kayu, kebutuhan akan aluminium
akan meningkat dari waktu ke waktu, sementara efisiensi dalam memproduksinya
akan meningkat secara berkesinambungan. Tentunya peningkatan kebutuhan ini
akan sebanding dengan kebutuhan bahan baku, terutama alumina.

a)

b)

Gambar 3. Trend Aluminium Primer Dunia


a) Neraca Pasar (sumber: CRU Aluminium Monitor (Edisi 10 April 2014))
b) Proyeksi Kebutuhan (sumber: CRU Group, 2006)

Dari Gambar 3, kebutuhan aluminium dunia saat ini sekitar 12,5 juta ton per
kuarter atau 50 juta ton per tahun. Kebutuhan aluminium dunia akan meningkat dan
akan mencapai sekitar 70 juta ton per tahun pada tahun 2025. Diharapkan suplai
dapat mengikuti kebutuhan pasar tersebut.
Dari Gambar 4, kebutuhan aluminium dalam negeri saat ini sekitar 540.000 ton
per tahun. Kebutuhan ini masih belum terpenuhi dengan kapasitas produksi
INALUM saat ini yang sekitar 250.000 ton per tahun atau hanya mencukupi 46%
dari kebutuhan tersebut. Terlihat bahwa pertumbuhan aluminium dalam negeri
dalam 5 (lima) tahun terakhir mencapai 24% per tahun. Dengan demikian, maka
peluang untuk industri aluminium dalam negeri masih akan sangat terbuka.
Hal ini mendorong INALUM untuk meningkatkan kapasitas dan melakukan
diversifikasi produk dan ekspansi usaha dalam industri aluminium dalam negeri.

Keynote Speaker pada Seminar Nasional


Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014

Gambar 4. Kebutuhan Pasar Aluminium Dalam Negeri (sumber: diolah dari data BPS dan INALUM)

V.

PROGRAM PENGEMBANGAN INALUM


Untuk meningkatkan kapasitas INALUM akan melaksanakan beberapa proyek
pengembangan antara lain pembangunan Pabrik Kalsinasi Kokas, ekspansi Pabrik
Peleburan Aluminium, dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) serta ekspansi
pelabuhan.
5.1 Pembangunan Pabrik Kalsinasi Kokas
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dalam pembuatan anoda dan
sekaligus menciptakan nilai tambah kokas mentah dari dalam negeri, maka
INALUM diharapkan untuk membangun Pabrik Kalsinasi Kokas dengan kapasitas
sampai 200.000 ton kokas per tahun secara bertahap dengan tahap pertama
kapasitas 100.000 ton kokas per tahun. Lokasi Pabrik Kalsinasi Kokas akan
berdampingan dengan lahan INALUM yang ada saat ini
5.2 Pembangunan Ekspansi Pabrik Peleburan Aluminium
Untuk memenuhi penambahan produk aluminium sampai 200.000~400.000 ton
per tahun pada tahun 2019~2023, jumlah tungku reduksi yang beroperasi perlu
ditambah dengan membangun gedung reduksi baru. Pembangunan tungku reduksi
moderen lengkap dengan pabrik karbon dan penangkaian anoda serta pembersih
gas dan utility direncanakan akan beroperasi dengan arus listrik searah sampai
sebesar 400 kA dan akan dimulai pada tahun 2014. Lokasi penambahan gedung
reduksi berdampingan dengan gedung reduksi yang ada saat ini yang berada di
dalam lahan milik INALUM.
5.3 Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Pelabuhan
Pembangunan PLTU dimaksudkan untuk mensuplai kebutuhan listrik pabrik
peleburan aluminium untuk menghasilkan aluminium sebanyak 500.000 ton per
tahun pada tahun 2019 dan 600.000 ton per tahun pada tahun 2023 dengan total
700 MW. Pembangunan tahap 1 akan dimulai tahun 2014 sebesar 5 x 100 MW

Keynote Speaker pada Seminar Nasional


Menciptakan Nilai Tambah Dalam Pembangunan Berkelanjutan
Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, 22 Mei 2014

diharapkan selesai pada pertengahan tahun 2018. Sedangkan pembangunan tahap


2 akan dimulai tahun 2020 sebesar 2 x 100 MW diharapkan selesai pada tahun
2022. Pelabuhan baru diperlukan untuk kebutuhan suplai batubara dan pabrik
kokas. Lokasi PLTU dan Pelabuhan akan berdampingan dengan lahan INALUM
yang ada saat ini.
VI. RINGKASAN
1. INALUM sebagai BUMN ke -141 menyambut penerapan UU Minerba dengan turut
serta dalam mengintegrasikan industri aluminium nasional mulai dari pengolahan
bauksit menjadi Smelter Grade Alumina (SGA), sebagai bahan baku untuk Pabrik
Peleburan Aluminium, hingga aluminium alloy.
2. INALUM berminat untuk membangun Pabrik SGA dengan melakukan joint venture
dengan perusahaan lain agar bisa menjamin pasokan alumina sebagai bahan baku
dalam proses elektrolisis Aluminium, sehingga dapat menciptakan nilai tambah
hasil tambang bijih bauksit.
3. Pasar aluminium dunia dan Indonesia masih sangat terbuka sehingga terbuka
peluang untuk INALUM meningkatkan kapasitas dan hilirisasi produk.
4. Untuk meningkatkan kapasitas INALUM akan melaksanakan beberapa proyek
pengembangan antara lain Pabrik Kalsinasi Kokas, ekspansi Pabrik Peleburan
Aluminium dan pembangunan PLTU serta pelabuhan yang sekaligus dapat
meningkatkan nilai tambah hasil tambang batubara.
VII. REFERENSI
A.R. Burkin (editor). Production of Aluminium and Alumina. John Willey & Sons, 1987.
Bassam Z. Shakhashiri. Chemical of the Week: Aluminum. Science is Fun. Retrieved
on 2007-08-28.
CRU Aluminium Monitor, CRU Group, Edisi 10 April 2014
Colin

Pratt,

The

Global

Aluminium

Market

An

Overview,

CRU

Group,

http://www.energy.tt/symposium/Colin Pratt.pdf, Retrieved on May 2, 2014


International Aluminium Institute Website. http://www.world-aluminium.org (retrieved on
February 25, 2005 and November 16-19, 2008).
K. Gjortheim and B.J. Welch. Aluminium Smelter Technology 2nd Edition. AluminiumVerlag, Dusseldorf, 1988.
Laporan

Tahunan

2013,

PT

Aneka

Tambang

(Persero)

Tbk,

http://www.antam.com/images/stories/joget/file/annual/2013/ar_antam_2013.pdf

10