Anda di halaman 1dari 26

Hidrodinamika Reaktor

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Reaktor merupakan alat utama pada industri yang digunakan untuk proses
kimia yaitu untuk mengubah bahan baku menjadi produk. Reaktor dapat
diklasifikasikan atas dasar cara operasi, fase maupun geometrinya. Berdasarkan
cara operasinya dikenal reaktor batch, semi batch, dan kontinyu. Berdasarkan
fase reaksi yang terjadi didalamnya reaktor diklasifikasikan menjadi reaktor
homogen dan reaktor heterogen, sedangkan ditinjau dari geometrinya dibedakan
reaktor tangki berpengaduk, reaktor kolom, reaktor fluidisasi dan lain lain.
Dari berbagai macam reaktor yang digunakan untuk kontak fase gas-cair,
diantaranya dikenal reaktor kolom gelembung (bubble column reaktor) dan
reaktor air-lift. Reaktor jenis ini banyak digunakan pada proses industri kimia
dengan reaksi yang sangat lambat, proses produksi yang menggunakan mikroba
(biorektor) dan juga pada unit pengolahan limbah secara biologis menggunakan
lumpur aktif.
Pada perancangan reaktor, fenomena hidrodinamika yang meliputi hold
up gas dan cairan, laju sirkulasi merupakan faktor yang penting yang berkaitan
dengan laju perpindahan massa. Pada percobaan ini akan mempelajari
hidrodinamika pada reaktor kolom gelembung dan reaktor air-lift, terutama
berkaitan dengan pengaruh laju alir udara, viskositas dan densitas terhadap hold
up dan laju sirkulasi pada sistem sequencial batch.

1.2 Perumusan Masalah


1. Bagaimana hubungan antara konsentrasi terhadap hold up gas?
2. Bagaimana hubungan antara konsentrasi terhadap laju sirkulasi?
3. Bagaimana hubungan antara konsentrasi terhadap koefisien transfer
massa gas-cair?

Laboratorium Proses Kimia 2012

Hidrodinamika Reaktor

4. Bagaimanana hubungan antara waktu terhadap koefisien transfer massa


gas-cair?

1.3 Tujuan Percobaan


1. Menentukan pengaruh konsentrasi terhadap hold up gas
2. Menentukan pengaruh konsentrasi terhadap laju sirkulasi
3. Menentukan pengaruh konsentrasi terhadap koefisien transfer massa gascair

1.4 Manfaat Percobaan


1. Mahasiswa dapat menentukan pengaruh konsentrasi terhadap hold up gas,
laju sirkulasi, dan koefisien transfer massa gas-cair.
2. Mahasiswa dapat mengetahui peran hidrodinamika reaktor pada industri
kimia

Laboratorium Proses Kimia 2012

Hidrodinamika Reaktor

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Reaktor Kolom Gelembung dan Air-Lift


Reaktor adalah suatu alat tempat terjadinya suatu reaksi kimia untuk
mengubah suatu bahan menjadi bahan lain yang mempunyai nilai ekonomis lebih
tinggi. Rector air lift yang berbentuk kolom dengan sirkulasi aliran merupakan
kolom yang berisi cairan atau slurry yang terbagi menjadi dua bagian dan pada
salah satu dari kedua daerah tersebut selalu disemprotkan lagi. Perbedaan hold up
gas () pada daerah yang dialiri gas maupun tidak dialiri gas merupakan akibat dari
perbedaan viskositas fluida pada kedua daerah tersebut. Perbedaan itu
mengakibatkan terjadinya sirkulasi fluida pada reaktor. Bagian reaktor yang
mengandung cairan dengan aliran ke atas disebut zona riser dan bagian reaktor
yang mengandung aliran fluida turun adalah zona downcomer. Pada zona
downcomer atau riser memungkinkan terdapat plate penyaringan dan baffle pada
dinding. Jadi banyak sekali kemungkinan bentuk reaktor dengan keuntungan
penggunaan dan tujuan yang berbeda-beda.
Secara teoritis reaktot air lift digunakan untuk beberapa proses kontak gascairan atau slurry. Reaktor ini sering digunakan untuk beberapa fermentasi aerob,
pengolahan limbah, dan operasi-operasi sejenis. Secara umum reaktor air lift
dikelompokkan menjadi dua, yaitu reaktor air lift dengan internal loop dan
eksternal loop (Christi. And Mooyoung, 1988). Ractor air lift dengan internal
loop merupakan kolom bergelemubung yang dibagi menjadi dua bagian, riser
dan downcomer dengan internal baffle. Reaktor air lift dengan eksternal loop
merupakan kolom bergelembung dimana riser dan downcomer merupakan dua
tabung yang terpisah dan dihubungkan secara horizontal antara bagian atas dan
bawah reaktor. Selain itu reaktor air lift juga dikelompokkan berdasarkan sparger
yang dipakai, yaitu statis dan dinamis. Pada reaktor air lift dengan sparger

Laboratorium Proses Kimia 2012

Hidrodinamika Reaktor

dinamis, sparger ditempatkan padariser dan atau downcomer yang dapat diubahubah letaknya.
Parameter yang penting dalam perancangan reaktor air lift adalah hold up gas.
Hold up gas pada bagian riser dan downcomer yang besarnya dipengaruhi oleh
laju sirkulasi cairan dan koefisien disperse cairan dalam berbagai dareah. Dalam
aplikasi reaktor air lift terdapat dua hal yang mendasari mekanisme kerja dari
reaktor tersebut, yaitu hidrodinamika dan transfer gas-cair.
Hidrodinamika reaktor mempelajari perubahan dinamika cairan dalam reaktor
sebagai akibat laju alir yang masuk reaktor dan karakterisik cairannya.
Hidrodinamika reaktor meliputi hold up gas (rasio volume gas terhadap volume
gas cairan dalam reaktor) dan laju sirkulasi cairan disperse dalam fase tersebut.

Internal Loop

Eksternal Loop
Gambar 2.1 Tipe reaktor air lift

Keuntungan penggunaan reaktor air lift disbanding reaktor konvensional lainnya,


diantaranya:
1. Perancangannya sederhana, tanpa ada bagian yang bergerak.
2. Aliran dan pengadukan mudah dikendalikan.
3. Wakti tinggal dalam reaktor seragam.
4. Kontak area lebig luas dengan energy input yang rendah.
5. Meningkatkan perpindahan massa.
Laboratorium Proses Kimia 2012

Hidrodinamika Reaktor

6. Memungkinkan tangki yang besar sehingga meningkatkan produk.

Kelemahan reaktor air lift antara lain:


1. Biaya investasi awal mahal terutama skala besar.
2. Membutuhkan tekanan tinggi untuk skala proses yang besar.
3. Efisiensi kompresi gas rendah.
4. Pemisahan gas dan cairan tidak efisien ketika timbul busa (foaming)
2.2 Hidrodinamika Reaktor
Di dalam perancangan bioreaktor, faktor yang sangat berpengaruh adalah
hidrodinamika reaktor, transfer massa gas-cair, rheologi proses dan morfologi
produktifitas organisme. Hidrodinamika reaktor meliputi hold up gas (fraksi gas
saat penghaburan) dan laju sirkulasi cairan. Kecepatan sirkulasi cairan dikontrol
oleh hold up gas, sedangkan hold up gas dipengaruhi oleh kecepatan kenaikan
gelembung. Sirkulasi juga mempengaruhi turbulensi, koefisien perpindahan
massa dan panas serta tenaga yang dihasilkan.
Hold up gas atau fraksi kekosongan gas adalah fraksi volume fase gas pada
disperse gas-cair atau slurry. Hold up gas keseluruhan ().

=
Dimana

= hold up gas

=volume gas (m3)

VL

= volume cairan (m3)

....(1)

Hold up gas digunakan untuk menentukan waktu tinggal gas dalam cairan. Hold
up gas dan ukuran gelembung mempengaruhi luas permukaan gas cair yang
dierlukan untuk perpindahan massa. Hold up gas tergantung pada kecepatan
kenaikan gelembung, luas gelembung dan pola aliran, inverted manometer adalah
manometer yang digunakan untuk mengetahui beda tinggi cairan akibat aliran
gas, yang selanjutnya dipakai pada perhitungan hold up gas () pada riser dan

Laboratorium Proses Kimia 2012

Hidrodinamika Reaktor

downcomer. Besarnya hold up gas pada riser dan downcomer dapat dihitung
dengan perdamaan :

Dimana :

....(2)

....(3)
....(4)

= hol up gas

= hold up gas riser

= hol up gas downcomer

= densitas cairan (kg/m3)

= densitas gas (kg/m3)

= perbedaan tinggi manometer riser (m)

= perbedaan tinggi manometer downcomer (m)

=perbedaan antara taps tekanan (m)

Hold up gas total dalam reaktor dapat dihitung dari keadaan tinggi dispersi pada
saat aliran gas masuk reaktor sudah mencapai keadaan tunak (steady state).
Persamaan untuk menghitung hol up gas total adalah sebagai berikut:
=
Dimana

= hold up gas

ho

= tinggi campuran gas setelah kondisi tunak (m)

hi

= tinggi cairan mula-mula dalam reaktor (m)

....(5)

Hubungan antara hol up gas riser (r) dan donwcomer (d)dapat dinyatakan
dengan persamaan 6 :
=

Laboratorium Proses Kimia 2012

....(6)

Hidrodinamika Reaktor

Dimana : Ar
Ad

= luas bidang zona riser (m2)


= luas bidang zona downcomer (m2)

Sirkulasi cairan dalam reaktorair lift disebabkan oleh perbedaan bulk densitas
fluida, riser dan downcomer. Sirkulasi fluida ini dapat dilihat dari perubahan
fluida, yaitu naiknya aliran fluida pada riser dan menurunnya aliran pada
downcomer. Besarnya laju sirkulasi cairan (Uld) dapat dihitung dengan
persamaan 7 (Blanke, 1979):
=
Dimana : ULd

....(7)

= laju sirkulasi cairan downcomer (m/jam)

Lc

= panjang lintasan dalam reaktor (m)

tc

= waktu (jam)

Laju sirkulasi tidak dihitung pada semua bagian, rata-rata laju sirkulasi cairan
dihitung hanya pada satu daerah. Sedang hubungan antara laju aliran cairan pada
riser dan downcomer ditunjukan pada persamaan 8 (Coulson and Richardson,
1997) :
ULr.Ar = ULd.Ad
Dimana : ULr

....(8)

= laju sirkulasi cairan riser (m/jam)

ULd

= laju sirkulasi cairan downcomer (m/jam)

Ar

= luas bidang zona riser (m2)

Ad

= luas bidang zona downcomer (m2)

Kecepatan permukaan harus dibedakan dari kecepatan linear cairan yang


sesungguhnya dengan kecepatan interstifial sebab dalam kenyataannya cairan
hanya menempati sebagian aliran air, sedangkan lainnya ditempati oleh gas.
Hubungan kecepatan interstafial (VL) dan kecepatan permukaan (UL) dapat
ditunjukan pada persamaan 9 dan 10 :

Laboratorium Proses Kimia 2012

....(9)

....(10)

Hidrodinamika Reaktor

Dimana : VLr
VLd

= kecepatan intersial cairan riser ( m/jam)


= kecepatan intersial cairan downcomer (m/jam)

2..3 Perpindahan Massa


Perpindahan massa antar fasa gas-cair terjadi karena adanya beda konsentrasi
antara kedua fasa. Perpindahan massa yang terjadi yaitu oksigen dari fase gas ke
fase cair. Kecepatan perpindahan massa ini dapat ditentukan dengan koefisien
perpindahan massa. Koefisien perpindahan masssa volumetric (kLa) adalah
kecepatan spesifik dari perpindahan massa (gas teradsobsi per unit waktu, per
unit luas kontak, per beda konsentrasi). kLa tergantung pada sifat fisik dari
system dan dinamika fluida. Terdapat dua istilah tentang koefisien transfer massa
volumetric, yaitu:
1. Koefisien transfer massa kL, dimana tergantung pada sifat fisik dan cairan
dari dinamika fluida yang dekat dengan permukaan cairan.
2. Luas dari gelembung per unit volum dari reaktor
Ketergantungan kL pada energy masuk adalah kecil, dimana luas kontak
adalah fungsi dari sifat fisik desain geometrid an hidrodinamika. Luas kontak
adalah parameter gelembung dan tidak bias ditetapkan. Di sisi lain koefisien
transfer massa pada kenyataannya merupakan faktor yang proposional antara
fluks massa dan substrat (atau bahan kimia yang ditransfer), Ns, dan gradient
ynag mempengaruhi fenomena beda konsentrasi. Hal ini dapat dirumuskan
dengan persamaan 11:
N = kL (C1-C2)
Dimana : N

....(11)

= fluks massa

kLa

= koefisien transfer massa gas-cair (L/s)

C1

= konsentrasi O2 masuk (mol/L)

C2

= konsentasi O2 keluar (mol/L)

Untuk perpindahan massa oksigen ke dalam cairan dapat dirumuskan sebagai


kinetika proses, seperti di dalam persamaan10 :

Laboratorium Proses Kimia 2012

Hidrodinamika Reaktor

=
Dimana: C

....(12)

= konsentrasi udara (gr/L)

Koefisien perpindahan massa dinyatakan sebagai bilangan Sherwood mengikuti


persamaan 13:
,

= 12
Dimana : Nsh

1,07

....(13)

= bilangan Sherwood

Sc

= bilangan schmid

Reg

= bilangan Reynold

Fr

= bilangan Frandh

Bo

= bilangan Bodenstein

Hubungan kLa dapat ditentukan setelah melakukan penelitian dalam bioreaktor


air lift dengan eksernal loop dengan larutan CMC (Carboxyl Methyl Cellulosa)
seperti disajikan dalam persamaan 14 (Propovic dan Robinson,1989):
= 1,911 10 ( )
Dimana : Jg

(1 +

....(14)

= laju alir udara atau kecepatan superficial gas (m/jam)


= viskosotas (Ns/m2)

Koefisien perpindahan gas-cair merupakan fungsi dari laju alir udara atau
kecepatan

superficial

gas,

viskositas,

dan

luas

area

riser

dan

downcomer/geometric alat. Pengukuran konstanta perpindahan massa gas-cair


dapat dlakukan dengan metode sebagai berikut:
1. Metode OTR-Cd
Dasar dari metode ini adalah persamaan perpindahan massa
(persamaan 12) semua variable kecuali koA dapat terukur. Ini berarti bahwa
dapat digunakan dalam system kebutuhan oksigen, konsentrasi oksigen,
konsentrasi oksigen dari fase gas yang masuk dan meninggalkan bioreaktor
dapat dianalisa. Dengan data ini OTR (oxygen transfer rate) dapat dihitung
dengan neraca bioreaktor:
Vi OTR = Fg (Cogi Cogo) = Vi koi A [

Laboratorium Proses Kimia 2012

] (mol s-1)

....(15)

Hidrodinamika Reaktor

10

OTR = laju perpindahan oksigen (mol/m3s)

Dimana :

Vi

= koefisien transfer massa

Fg

= laju alir volumetric fluida gas (m3/s)

koi

= konstanta transfer massa oksigen

= luas perpindahan massa (m2)

Coi

= konsentrasi oksigen masuk (mol/m3)

Cogo = konsentrasi oksigen udara keluar (mol/m3)


2. Metode Dinamik
Metode ini berdasarkan pengukuran Coi dari cairan, deoksigenasi
sebagai fungsi waktu, setelah aliran udara masuk. Deoksigenasi dapat
diperoleh dengan mengalirkan oksogen melalui cairan atau menghentikan
aliran udara, dalam hal ini kebutuhan oksigen dalam fermentasi. Hal ini dapat
dilihat dari neraca massa dibawah ini:
( )

Dimana:

( )

) ....(16)

C*oi

= konsentrasi oksigen sisa fungsi t (mol)

koi

=konstanta transfer massa oksigen (mol)

OUR = laju perpindahan oksigen (mol/m3s)


t

= waktu (jam)

Dengan asumsi bahwa koi A dan Coi konstan, tidak terpengaruh waktu. Hal
ini juga berlaku :
Coi () = konsentrasi keseimbangan pada kondisi tetap.
OUR = koi A (Coi Coi ()) (

....(17)

Persamaan 16 dan 17 dapat dikombinasikan menjadi persamaan18.


=
Dimana :

t1

= waktu (jam)

t2

= waktu (jam)

()
()

(
(

)
)

....(18)

Persamaan ini dapat diaplikasikan dalam model system tanpa konsumsi


oksigen dimana

Laboratorium Proses Kimia 2012

Hidrodinamika Reaktor

Coi ()= Coi (OUR=0) sama baiknya dengan konsumsi oksigen pada
fermentasi.
3. Metode Serapan Kimia
Metode ini berdasarkan reaksi kimia dari absorpsi gas (O2, CO2)
dengan penambahan bahan kimia pada fase cair (Na2SO3, KOH). Reaksi ini
sering digunakan pada reaksi bagian dimana konsentrasi bulk cairan dalam
komponen gas sama dengan nol dan absorpsi dapat mempertinggi
perpindahan kimia.
4. Metode Kimia OTR-Coi
Metode ini pada dasarnya sama dengan metode OTR-Cd. Namun,
seperti diketahui beberapa sulfit secara terus-menerus ditambahkan pada
cairan selama kondisi reaksi tetap dijaga pada daerah dimana nilai Coi dapat
dideteksi. Coi dapat diukur dikalkulasi dari penambahan sulfit. Juga reaksi
konsumsi oksigen yang lain dapat digunakan.
5. Metode Sulfit
Metode ini berdasarkan pada reaksi reduksi natrium sulfit. Mekanisme
reaksi yang terjadi :
Reaksi dalam reaktor

Na2SO3 + 0,5 O2 Na2SO4 + Na2SO3(sisa)


Reaksi saat analisa

Na2SO3(sisa) + KI + KIO3 Na2SO4 + 2KIO2 + I2(sisa)


I2 (sisa) + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2NaI
Perubahan konsentrasi Na2SO3 dengan waktu + menit = ro r mmol/L
O2 yang bereaksi

= (ro-rn) mmol/L
= 13 mmol/L

O2 yang masuk reaktor

= 13 mmol/L x 32 gr O2 1 mol (gr/L.s)

Data kelarutan pada t tertentu (henry) = 1 t =


Dengan PO2 = tekanan parsial oksigen
Kelarutan O2 = C* . q

Laboratorium Proses Kimia 2012

/
.

11

Hidrodinamika Reaktor

= C*q
kLa

=
=

= E s-1
(

( .

2.4 Kegunaan Hidrodinamika Reaktor


Beberapa alat yang dasar perancangannya dan operasinya memerlukan prinsip
hidrodinamika reaktor.
a. Air lift Reactor
Jenis Ai-Lift Reactor sangat banyak, hal ini karena disesuaikan dengan
operasi yang diinginkan, akan tetapi konsepnya tetaplah sama. Contoh
aplikasi air lift reactor
-

Pada pengolahan limbah secara biologi

Water treatment pada air minum

Proses produksi glukan (polisakarida yang tersusun dari monomer glukosa


dengan ikatan 1,3 yang digunakan sebagai bahan baku obat kanker dan
tumor) menggunakan mikroba

Proses produksi laktase (enzim ligninolitik yang dapat mendegradasi


lignin) dengan mikroba

b. Bubble Column Reactor


Jenis bubble column reactor juga sangat banyak, tapi seperti halnya air lift
reactor satu dengan yang lain adalah sama. Aplikasi dari bubble column
reactor antara lain
-

Untuk bioreaktor

Absorpsi polutan dengan zat tertentu (misal CO2 dengan KOH.

Laboratorium Proses Kimia 2012

12

Hidrodinamika Reaktor

BAB III
PELAKSANAAN PERCOBAAN

3.1 Bahan dan Alat yang Digunakan


1. Bahan yang digunakan
a. Na2S2O3.5H2O 0,1 N
b. KI 0,1 N
c. Na2SO3
d. Larutan amylum
e. Zat Warna
f. Aquadest

2. Alat yang digunakan Statif dan klem


a. Beaker glass
b. Buret
c. Kompresor
d.

Pipet tetes

e. Gelas ukur
f. Sendok reagen
g. Gelas arloji
h. Rotameter
i.

Inverted manometer

j.

Erlenmeyer

k. Sparger
l.

Tangki cairan

m. Reaktor
n. Picnometer

Laboratorium Proses Kimia 2012

13

Hidrodinamika Reaktor

3.2 Gambar Alat

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Hidrodinamika Reaktor


Keterangan :
A. Kompresor
B. Sparger
C. Rotameter
D. Tangki Cairan
E. Pompa
F. Reaktor
G. Inverted manometer daerah riser
H. Inverted manometer daerah downcomer

3.3 Variabel Operasi


a. Variabel tetap
-

Tinggi cairan

= 95 cm

Panjang lintasan = 40 cm

Laju alir udara

= 4L/m

b. Variabel berubah

Laboratorium Proses Kimia 2012

14

Hidrodinamika Reaktor

Konsentrasi Na2SO3 (0,02N; 0.03N; 0.04N)

3.4 Respon Uji Hasil


1. Tinggi riser dan down comer
2. Volume titran Na2S2O3.5H2O
3. Densitas cairan
4. Kecepatan Sirkulasi

3.5 Prosedur Percobaan


1. Menetukan hold-up pada riser dan downcomer
a. Merangkai alat
Menghubungkan reaktor dengan kompresor melalui venturimeter
dan manometer yang telah berisi air raksa seperti yang digunakan
pada saat kalibras laju alir udara. Memasang inverted manometer
pada riser dan downcomer yang dihubungkan dengan perbedaan
tinggi bagian bawah dan atas dari inverted manometer.
b. Mengisi reaktor dengan cairan
c. Melihat ketinggian inverted manometer
d. Menghidupkan kompresor kemudian menambahkan Na2SO3
e. Menghitung besarnya hold-up
2. Menentukan konstanta perpindahan massa gas-cair
a. Mengambil sampel sebanyak 10 mL
b. Menambah KI sebanyak 5 mL ke dalam sampel
c. Menitrasi dengan Na2S2O3.5H2O sampai terjadi perubahan warna dari
coklat tua menjadi kuning jernih
d. Menambahkan 3 tetes amilum
e. Menitrasi sampel kembali dengan larutan Na2S2O3.5H2O
f. TAT didapat setelah warna biru hampir hilang
g. Mencatat kebutuhan titran
h. Mengulangi sampai volume titran tiap 5 menit konstan

Laboratorium Proses Kimia 2012

15

Hidrodinamika Reaktor

i.

Menghitung densitas setelah 3 kali konstan

3. Menentukan kecepatan sirkulasi


a. Merangkai alat yang digunakan
b. Mengisi reaktor dengan air dan Na2SO3
c. Menghidupkan kompresor
d. Memasukkan zat warna pada reaktor downcomer
e. Mengukur waktu yang dibutuhkan oleh cairan dengan indikator zat
warna tertentu untuk mencapai lintasan yang telah digunakan
f. Menghitung besarnya kecepatan sirkulasi

Laboratorium Proses Kimia 2012

16

Hidrodinamika Reaktor

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


a. Hold up gas
Tabel 4.1 Pengaruh Konsentrasi terhadap Hold Up Gas
Konsentrasi

cairan

Na2SO3(N)

(gr/ml)

total

0,02

0,953

0,0038

0,063

0,0048

0,03

0,956

0,0051

0,076

0,0061

0,04

0,982

0,01

0,013

0,011

Hold Up Gas

b. Laju sirkulasi
Tabel 4.2 Pengaruh Konsentrasi terhadap Laju Sirkulasi

c.

Konsentrasi

Ulr

Uld

Na2SO3(N)

(cm/s)

(cm/s)

0,02

16,16

23,67

0,03

13,92

20,83

0,04

11,58

16,93

kLa rata-rata
Tabel 4.3 Pengaruh Konsentrasi terhadap kLa rata-rata
Konsentrasi

kLa rata-rata (L/s)

Na2SO3(N)
0,02

0,636

0,03

0,837

0,04

0,998

Laboratorium Proses Kimia 2012

17

Hidrodinamika Reaktor

18

d. Hubungan waktu terhadap kLa


Tabel 4.4 Hubungan Waktu terhadap kLa
T (menit)

kLa (L/s)
Konsentrasi

Konsentrasi

Konsentrasi

Na2SO3(0,02N)

Na2SO3(0,03N)

Na2SO3(0,04N)

1,221

1,833

2,444

10

0,610

0,916

1,222

15

0,407

0,611

0,814

20

0,305

0,0,458

0,611

0,367

0,489

25
30

0,407

4.2 Pembahasan

Hold
Up Gas

1.

Pengaruh konsentrasi terhadap hold up gas

0.015
0.01

0.005

d
total

0
0.02

0.03

0.04

Konsentrasi Na2SO3 (N)


Gambar 4.1 Pengaruh Konsentrasi terhadap Hold Up Gas
Dari grafik dapat dilihat bahwa hold up gas naik seiring dengan
bertambahnya

konsentrasi.

Hal

tersebut

karena

semakin

besar

konsentrasi,maka semakin tinggi gram NaSO3 yang terlarut dan menyebabkan


Laboratorium Proses Kimia 2012

Hidrodinamika Reaktor

19

densitas semakin besar. Dengan densitas yang semakin besar, maka hold up
gas akan meningkat. Hal tersebut sesuai dengan rumus:
N =
=

valensi (1)

.(2)

...(3)

Penjelasan mengenai d lebih besar dibandingkan dengan

dan r

karena perbedaan tekanan yang menyebabkan adanya turbulensi yang


mempengaruhi arus alir pada downcomer dan mengakibatkan banyak udara
yang terjebak di zona downcomer. Hal ini menyebabkan fraksi udara
bertambah besar sehingga tinggi cairan pada inverted manometer downcomer
menjadi lebih tinggi sehingga hold up gasnya pun tinggi.
Untuk hold up gas total itu lebih besar daripada r dan lebih kecil
daripada d dikarenakan h total lebih besar daripada hr dan lebih kecil
dibanding hd. Sebagai contoh, pada konsentrasi 0,02N Nilai h total =
0,4cm, sedangkan hr dan hd masing masing bernilai 0,3cm dan 0,5cm.
Dengan h total yang lebih tinggi daripada hr maka fraksi udara bertambah
pun akan lebih besar. Sebaliknya, hd lebih besar

besar sehingga

daripada h total maka fraksi udara akan bertambah besar pada downcomer
sehingga d akan lebih besar. Hal tersebut sesuai dengan persamaan :
=

..(5)
.(6)

.(7)

(Hendri, 2010; Laboratorium Proses kimia, 2012)

Laboratorium Proses Kimia 2012

Hidrodinamika Reaktor

Pengaruh konsentrasi terhadap laju sirkulasi

Laju Sirkulasi
(cm/s)

2.

20

25
20
15
10
5
0

Ulr (cm/s)
Uld (cm/s)
0.02

0.03

0.04

Konsentrasi Na2SO3 (N)

Gambar 4.2 Pengaruh Konsentrasi Udara terhadap Laju Sirkulasi


Berdasarkan grafik dapat disimpulkan semakin besar konsentrasi maka
laju sirkulasinya menurun. Hal ini dikarenakan oleh jumlah gram terlarut yang
semakin banyak menyebabkan densitas cairan juga bertambah. Bertambahnya
densitas menyebabkan volume semakin kecil sehingga luas penampang juga
semakin kecil (Ar maupun Ad). Dengan luas penampang yang kecil maka laju
sirkulasinya akan menurun. Hal ini sesuai dengan persamaan :
N =

valensi(1)

= .(2)
=
=

..(3)
(4)

Keterangan : A = Luas Penampang ( Ar maupun Ad) (cm2)


T = Tinggi (cm)
Penjelasan yang mengenai Uld lebih besar daripada Ulr dikarenakan
pada area downcomer ,gelembung udara yang turun searah dengan gaya

Laboratorium Proses Kimia 2012

Hidrodinamika Reaktor

21

gravitasinya sehingga memperbesar laju sirkulasi. Alasan lainnya karena laju


sirkulasi berbanding terbalik dengan luas bidang atas daerahnya . Berdasarkan
persamaan (4), Ar lebih besar daripada Ad , maka Ulr lebih kecil
dibandingkan Uld. (Listyono,2010; Laboratorium Proses kimia, 2012)

3.

Pengaruh konsentrasi terhadap koefisien transfer massa gas-cair

kLa(L/s)

(kLa).

1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0

kLa
0.02

0.03

0.04

Konsentrasi
Na2SO3 (N)

Gambar 4.2 Pengaruh Konsentrasi Udara terhadap kLa

Dari grafik dapat disimpulkan bahwa semakin besar konsentrasi maka harga
kLa juga semakin besar . Hal tersebut sesuai dengan percobaan yang dilakuakan.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan dengan menggunakan persamaan:
Mol Na2SO3 mula-mula(a)

Mol I2 excess(b)

Mol Na2SO3 sisa(c)

Mol O2 yang bereaksi(d)

O2 yang masuk reaktor(e)

kLa

Laboratorium Proses Kimia 2012

V. reaktor
V. KI
b
(a c)

.
,

V. Na S O

Hidrodinamika Reaktor

Berdasarkan persamaan tersebut, semakin tinggi konsentrasi Na2SO3 maka mol


Na2SO3 yang terbentuk semakin besar sehingga mol O2 yang bereaksi juga semakin
besar. Dengan besarnya mol O2 yang bereaksi maka mol O2 yang masuk reaktor
akan semakin besar pula, besarnya peningkatan mol O2 yang masuk reaktor
menyebabkan transfer massa gas-cair juga semakin besar yang artinya kLa-nya juga
semakin besar. Hubungan waktu tinggal akan berpengaruh pada nilai kLa-nya.
Semakin cepat waktu tinggal maka mol O2 yang masuk reaktor akan semakin besar
sehingga harga kLa akan semakin besar. (Levenspiel,1972)

4.

Pengaruh waktu tinggal larutan Na2SO3 terhadap kLa

3
Na2SO3
0.02 N

kLa (L/s)

2.5
2

Na2SO3
0.03 N

1.5
1

Na2SO3
0.04 N

0.5
0
0

10

15

20

25

30

t (menit)

Gambar 4.4 Hubungan Waktu terhadap kLa


Dari grafik dapat diperoleh bahwa semakin lama waktu tinggal maka
koefisien transfer massa makin kecil. Hal tersebut dapat dijelaskan melalui reaksi
: Na2SO3 + 0,5 O2 Na2SO4 + Na2SO3(sisa)
Na2SO3(sisa) + KI + KIO3 Na2SO4 + 2KIO2 + I2(sisa)
I2 (sisa) + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2NaI
Dari reaksi tersebut, semakin lama waktu tinggal maka Na2SO3 yang bereaksi
dengan O2 makin berkurang sehingga reaktan akan semakin jenuh oleh gas. Jenuh
ditandai dengan perpindahan massa gas-cair yang menurun. Dengan demikian, harga
kLa akan semakin kecil seiring bertambahnya waktu.

Laboratorium Proses Kimia 2012

22

Hidrodinamika Reaktor

Dengan waktu yang sama dari grafik di atas menunjukkan harga kLa untuk masing
masing variabel berbeda. Hal ini dikarenakan konsentrasi Na2SO3 di dalam reaktor
yang menyebabkannya. Semakin besar konsentrasi Na2SO3 maka mol Na2SO3 yang
terbentuk juga semakin besar yang menyebabkan mol O2 yang bereaksi semakin
besar sehingga mol O2 yang masuk reaktor pada waktu yang sama untuk konsentrasi
yang lebih besar akan lebih banyak yang masuk sehingga kLa juga semakin besar.
(Levenspiel,1972; Laboratorium Proses kimia, 2012)

Laboratorium Proses Kimia 2012

23

Hidrodinamika Reaktor

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Semakin besar konsentrasi Na2SO3, maka hold up gas semakin besar.
2. Semakin besar konsentrasi Na2SO3, maka koefisien transfer massa gas-cair
makin besar.
3. Semakin besar konsentrasi Na2SO3, maka laju sirkulasi semakin kecil.
4. Semakin lama waktu Na2SO3 yang bereaksi dengan O2, maka koefisien
transfer massa gas-cair semakin kecil.
5.2 Saran
1. Pembuatan amilum harus sesuai prosedur dan disimpan pada tempat yang
gelap.
2. Teliti saat titrasi dalam menentukan TAT.
3. Menentuka panjang lintasan (Lc) ,jangan terlalu pendek..
4. Teliti saat melihat perubahan pada inverted manometer.

Laboratorium Proses Kimia 2012

24

Hidrodinamika Reaktor

DAFTAR PUSTAKA
Blenke,H.1979.Loop Reactor.Adv Biochem Eng 13:121-124
Christi, M.Y. 1989. Air Lift Bioreactor. El Sevier Applied Science, London.
Christi, M.Y., and Mooyoung, M. 1988. Prediction of Liquid Circulation Velocity in
Air-Lift Reactor with Biological Media. J. Chem. Technol Biotechnol.
Christi, M.Y., and Mooyoung, M. 1988. Relationship Between Riser and
Downcommer Gas Hold Up in Internal Loop Air-Lift reactor with Gas-Liquid
separators. Chem. Eng.
Coulson,J.M.,dan Richardson,J.I.1997.Chemical Engineering 3rd ed.Pergamon
press:Oxfrod.
Ground, G.A., Schumple, and W.D. Decker. 1992. Gas-Liquid Mass Transfer in
Bubble Column with Organic Liquids. Chemical Engineering Science page
3509-3516. Pergamon Press Ltd.
Hendri. 2010. Studi Hidrodinamika dan Kinetika Absorbsi CO2 Kolom
gelembung pancaran (Jet Bubble Column).Semarang.
Listyono, Reza. http://scribd.com/Rheza_Listyono/d/870559/Hidrodinamika_Reaktor
23 November 2012,, pukul 09.00.
Laboratorium Proses Kimia.2012.Hidrodinamika Reaktor.Jurusan Teknik Kimia
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Levenspiel, O.,1972, Chemical Reaction Engineering, 2nd ed. John Wiley and
Sons,Inc., New York, NY, USA,pp. 114-115

Laboratorium Proses Kimia 2012

25

Hidrodinamika Reaktor

Martinov, M., And S.D. Vlaev. 2002. Increasing Gas-Liquid Mass Transfer
Instirred Power Law Fluids by Using a New Energy Saving Impeller.
Chemical Biochemical Engineering.
Merchuk, U.C., and S. Ben Zui (yona). 1992. A Novel Approach to the Corelation
of Mass Transfer Rates in Bubble Column with Non Newtonian Liquids.
Chemical Engineering Science page 3517-3523. Pergamon Press Ltd.
Propovic,M.dan Robinson,C.W.1988. .xternal Circulation Loop Air Lift
Bioreactors:study of the liquid circulating velocity in highly viscous nonnewtonian liquids.Biotechnol.Bioeng.,32,301-312.
Wilson, J.M., and Richardson, J.F. 1997. Chemical Engineering. 3rd ed. Pergamon
Press : Oxford.

Laboratorium Proses Kimia 2012

26