0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
548 tayangan25 halaman

Analisis Global Developmental Delay Anak

Dokumen tersebut membahas tentang global developmental delay pada anak, yang merupakan ketertinggalan signifikan dalam perkembangan fisik, kognitif, perilaku, emosi, atau sosial dibandingkan anak normal seusianya. Dokumen juga membahas tentang epidemiologi, gejala klinis, evaluasi, dan faktor risiko gangguan perkembangan bicara dan bahasa pada anak.

Diunggah oleh

poppy_thahir
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
548 tayangan25 halaman

Analisis Global Developmental Delay Anak

Dokumen tersebut membahas tentang global developmental delay pada anak, yang merupakan ketertinggalan signifikan dalam perkembangan fisik, kognitif, perilaku, emosi, atau sosial dibandingkan anak normal seusianya. Dokumen juga membahas tentang epidemiologi, gejala klinis, evaluasi, dan faktor risiko gangguan perkembangan bicara dan bahasa pada anak.

Diunggah oleh

poppy_thahir
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

ANALISA KASUS
Global Developmental Delay
Global developmental delay adalah ketertinggalan secara signifikan pada
fisik, kemampuan kognitif, perilaku, emosi, atau perkembangan sosial seorang
anak bila dibandingkan dengan anak normal seusianya. Seorang anak dengan
developmental delay akan tertunda dalam mencapai satu atau lebih perkembangan
kemampuannya.Global developmental delay merupakan keadaan yang terjadi
pada masa perkembangan dalam kehidupan anak (lahir hingga usia 18 bulan).12
Ciri khas GDD biasanya adalah fungsi intelektual yang lebih rendah
daripada anak seusianya disertai hambatan dalam berkomunikasi yang cukup
berarti, keterbatasan kepedulian terhadap diri sendiri, keterbatasan kemampuan
dalam pekerjaan, akademik, kesehatan dan keamanan dirinya.Sekitar 8 persen dari
seluruh anak usia lahir hingga 6 tahun di dunia memiliki masalah perkembangan
dan keterlambatan pada satu atau lebih area perkembangan. Sekitar 1-3 % anak
usia 0-5 tahun di dunia mengalami GDD.12
Dalam pemantauan perkembangan anak, skrining dan deteksi dini
penyimpangan perkembangan sangat diperlukan. Karena deteksi dini ini dapat
membantu diagnosis sehingga pemulihannya dapat dilakukan lebih awal yang
nantinya dapat menjadikan perkembangan anak dapat berlangsung seoptimal
mungkin.
Deteksi dini pada anak penting dan bermanfaat karena :
1. Awal kehidupan merupakan periode kritis atau golden periode yang dapat
mempengaruhi keberhasilan anak disekolah nantinya
2. Awal kehidupan merupakan window of opportunity. Kalau tidak
dimanfaatkan, kita akan kehilangan masa tersebut.
3. Awal kehidupan, lastisitas otak anak tinggi, sehingga merupakan waktu
yang tepat untuk melakukan intervensi
Angka kejadian penyimpangan pada anak adalah sekitar 10-17 persen. Hal
ini terkendala pada deteksi dini yang sulit, padahal deteksi dini inilah yang sangat
penting untuk mencari etiologi, merencanakan program penatalaksanaan dan

24

menentukan prognosis. Salah satu cara ukur adalah dengan observasi, alat ukur
menggunakan formulir Kuesioner Pra Skrining Perkembangan(KPSP).
Pada kasus ini, pasien berusia 8 bulan namun belum menggerakkan kepala
secara mandiri, belum dapat merangkak dan mengoceh. Seharusnya jika sesuai
dengan usia perkembangannya diharapkan pasien sudah mampu:
-

Tersenyum spontan, membalas senyuman

Mengangkat kepala secara mandiri dengan gerakan seimbang

Duduk dengan kepala tegak dan tengkurap sendiri

Tertawa, berteriak, mengoceh kepada bunyi, serta mengoceh kea rah suara.
Komponen perkembangan yang diperiksa pada anak dengan GDD:12
Komponen motorik (kemampuan motorik kasar seperti bangkit berdiri,

berguling, dan motorik halus seperti memilih benda kecil)


a) Kemampuan berbicara dan bahasa (berbisik, meniru kata, menebak suara
yang didengar, berkomunikasi non verbal misalnya gesture, ekspresi
wajah, kontak mata)
b) Kemampuan kognitif (kemampuan untuk mempelajari hal baru, menyaring
dan mengolah informasi, mengingat dan menyebutkan kembali, serta
memberikan alasan)
c) Kemampuan sosial dan emosi (interaksi dengan orang lain dan
perkembangan sifat dan perasaan seseorang).

Gejala Klinis
Sebagian besar pemeriksaan pada anak dengan developmental delay
difokuskan pada keterlambatan perkembangan kemampuan kognitif, motorik, atau
bahasa.Gejala yang terdapat biasanya:2

Keterlambatan perkembangan sesuai tahap perkembangan pada usianya:


anak terlambat untuk bisa duduk, berdiri, berjalan

Keterlambatan kemampuan motorik halus/kasar

Rendahnya kemampuan sosial

Perilaku agresif

25

Masalah dalam berkomunikasi


Untuk evaluasi GDD pada anak:1

Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan


perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Keterlambatan bicara
adalah keluhan utama yang sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada
dokter. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan
bahasa berkisar 5 10% pada anak sekolah.12

26

Definisi
American Speech-Language Hearing Association Committee on Language
mendefinisikan bahasa adalah suatu sistem lambang konvensional yang kompleks
dan dinamis yang dipakai dalam berbagai cara berpikir dan berkomunikasi.
Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari masalah artikulasi, suara, kelancaran
bicara (gagap), afasia (kesulitan dalam menggunakan kata-kata, biasanya akibat
cedera otak) serta keterlambatan dalam bicara atau bahasa.
Keterlambatan bicara dan bahasa dapat disebabkan oleh berbagai faktor
termasuk faktor lingkungan atau hilangnya pendengaran. Gangguan bicara dan
bahasa juga berhubungan erat dengan area lain yang mendukung proses tersebut
seperti fungsi otot mulut dan fungsi pendengaran. Keterlambatan dan gangguan
bisa mulai dari bentuk yang sederhana seperti bunyi suara yang tidak normal
(sengau,

serak)

sampai

dengan

ketidakmampuan

untuk

mengerti

atau

menggunakan bahasa, atau ketidakmampuan mekanisme motorik oral dalam


fungsinya untuk bicara dan makan. 6
Epidemiologi9,10
Gangguan bicara dan bahasa dialami oleh 8% anak usia prasekolah.
Hampir sebanyak 20% dari anak berumur 2 tahun mempunyai gangguan
keterlambatan bicara. Keterlambatan bicara paling sering terjadi pada usia 3-16
tahun.
Pada anak-anak usia 5 tahun, 19% diidentifikasi memiliki gangguan bicara
dan bahasa (6,4% keterlambatan berbicara, 4,6% keterlambatan bicara dan bahasa,
dan 6% keterlambatan bahasa). Gagap terjadi 4-5% pada usia 3-5 tahun dan 1%
pada usia remaja. Laki-laki diidentifikasi memiliki gangguan bicara dan bahasa
hampir dua kali lebih banyak daripada wanita. Sekitar 3-6% anak usia sekolah
memiliki gangguan bicara dan bahasa tanpa gejala neurologi, sedangkan pada usia
prasekolah prevalensinya lebih tinggi yaitu sekitar 15%. Menurut penelitian anak
dengan riwayat sosial ekonomi yang lemah memiliki insiden gangguan bicara dan

27

bahasa yang lebih tinggi daripada anak dengan riwayat sosial ekonomi menengah
ke atas.
Prevalensi keterlambatan perkembangan berbahasa di Indonesia belum
pernah diteliti secara luas. Kendalanya dalam menentukan kriteria keterlambatan
perkembangan berbahasa. Data di Departemen Rehabilitasi Medik RSCM tahun
2006, dari 1125 jumlah kunjungan pasien anak terdapat 10,13% anak terdiagnosis
keterlambatan bicara dan bahasa.25
Menurut Bzoch yang membagi perkembangan bahasa anak dari lahir
sampai usia 3 tahun dalam empat stadium.
1. Perkembangan bahasa bayi sebagai komunikasi prelinguistik. 0-3 bulan.
Periode lahir sampai akhir tahun pertama. Bayi baru lahir belum bisa
menggabungkan elemen bahasa baik isi, bentuk dan pemakaian bahasa.
Selain belum berkembangnya bentuk bahasa konvensional, kemampuan
kognitif bayi juga belum berkembang. Komunikasi lebih bersifat reflektif
daripada terencana. Periode ini disebut prelinguistik. Meskipun bayi belum
mengerti dan belum bisa mengungkapkan bentuk bahasa konvensional,
mereka mengamati dan memproduksi suara dengan cara yang unik. Klinisi
harus menentukan apakah bayi mengamati atau bereaksi terhadap suara. Bila
tidak, ini merupakan indikasi untuk evaluasi fisik dan audiologi. Selanjutnya
intervensi direncanakan untuk membangun lingkungan yang menyediakan
banyak kesempatan untuk mengamati dan bereaksi terhadap suara.
2. Kata-kata pertama : transisi ke bahasa anak. 3-9 bulan. Salah satu
perkembangan bahasa utama milestone adalah pengucapan kata-kata pertama
yang terjadi pada akhir tahun pertama, berlanjut sampai satu setengah tahun
saat pertumbuhan kosa kata berlangsung cepat, juga tanda dimulainya
pembetukan kalimat awal. Berkembangnya kemampuan kognitif, adanya
kontrol dan interpretasi emosional di periode ini akan memberi arti pada katakata pertama anak. Arti kata-kata pertama mereka dapat merujuk ke benda,
orang, tempat, dan kejadian-kejadian di seputar lingkungan awal anak.
3. Perkembangan kosa kata yang cepat-Pembentukan kalimat awal. 9-18 bulan.
Bentuk kata-kata pertama menjadi banyak, dan dimulainya produksi kalimat.

28

Perkembangan komprehensif dan produksi kata-kata berlangsung cepat pada


sekitar 18 bulan. Anak mulai bisa menggabungkan kata benda dengan kata
kerja yang kemudian menghasilkan sintaks. Melalui interaksinya dengan
orang dewasa, anak mulai belajar mengkonsolidasikan isi, bentuk dan
pemakaian bahasa dalam percakapannya. Dengan semakin berkembangnya
kognisi dan pengalaman afektif, anak mulai bisa berbicara memakai kata-kata
yang tersimpan dalam memorinya. Terjadi pergeseran dari pemakaian
kalimat satu kata menjadi bentuk kata benda dan kata kerja.
4. Dari percakapan bayi menjadi registrasi anak pra sekolah yang menyerupai
orang dewasa. 18-36 bulan. Anak dengan mobilitas yang mulai meningkat
memiliki akses ke jaringan sosial yang lebih luas dan perkembangan kognitif
menjadi semakin dalam. Anak mulai berpikir konseptual, mengkategorikan
benda, orang dan peristiwa serta dapat menyelesaikan masalah fisik Anak
terus mengembangkan pemakaian bentuk fonem dewasa.
Faktor Resiko Gangguan Perkembangan Bicara dan Bahasa1,2,13
Penyebab gangguan perkembangan bahasa sangat banyak dan luas, semua
gangguan mulai dari proses pendengaran, penerusan impuls ke otot atau organ
pembuat suara. Adapun beberapa penyebab gangguan atau keterlambatan bicara
adalah gangguan pendengaran, kelainan organ bicara, retardasi mental, kelainan
genetik atau kromosom, autis, mutism selektif, keterlambatan fungsional, afasia
reseptif dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan terdiri dari lingkungan
sepi, status ekonomi sosial, tehnik pengajaran salah, sikap orangtua. Gangguan
bicara pada anak dapat disebabkan karena kelainan organik yang mengganggu
beberapa sistem tubuh seperti otak, pendengaran dan fungsi motorik lainnya.
Beberapa penelitian menunjukkan penyebab ganguan bicara adalah adanya
gangguan hemisfer dominan. Penyimpangan ini biasanya merujuk ke otak kiri.
Beberapa anak juga ditemukan penyimpangan belahan otak kanan, korpus
kalosum dan lintasan pendengaran yang saling berhubungan. Hal lain dapat juga
di sebabkan karena diluar organ tubuh seperti lingkungan yang kurang
mendapatkan stimulasi yang cukup atau pemakaian dua bahasa. Bila penyebabnya
karena lingkungan biasanya keterlambatan yang terjadi tidak terlalu berat.

29

Terdapat tiga penyebab keterlambatan bicara terbanyak diantaranya adalah


retardasi

mental,

gangguan

pendengaran

dan

keterlambatan

maturasi.

Keterlambatan maturasi ini sering juga disebut keterlambatan bicara fungsional.


Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang cukup sering
dialami oleh sebagian anak. Keterlambatan bicara fungsional sering juga
diistilahkan keterlambatan maturasi atau keterlambatan perkembangan bahasa.
Keterlambatan bicara golongan ini disebabkan karena keterlambatan maturitas
(kematangan) dari proses saraf pusat yang dibutuhkan untuk memproduksi
kemampuan bicara pada anak. Gangguan seperti ini sering dialami oleh laki-laki
dan sering terdapat riwayat keterlambatan bicara pada keluarga. Biasanya hal ini
merupakan keterlambatan bicara yang ringan dan prognosisnya baik. Pada
umumnya kemampuan bicara akan tampak membaik setelah memasuki usia 2
tahun. Terdapat penelitian yang melaporkan penderita dengan keterlambatan ini,
kemampuan bicara saat masuk usia sekolah akan normal seperti anak lainnya.
Penyebab Gangguan Bicara dan Bahasa menurut Blager BF12

Lingkungan

Penyebab

Efek pada perkembangan bicara

Sosial ekonomi kurang

Terlambat

Tekanan keluarga

Gagap

Keluarga bisu

Terlambat memperoleh bahasa

Dirumah menggunakan

Terlambat memperoleh struktur bahasa

bahasa bilingual
Emosi

Ibu yang tertekan

Terlambat memperoleh bahasa

Gangguan serius pada

Terlambat atau gangguan perkembangan

orang tua

bahasa

Gangguan serius pada

Terlambat atau gangguan perkembangan

anak

bahasa

Masalah

Kongenital

Terlambat/gangguan bicara yang permanen

pendengaran

Didapat

Terlambat/gangguan bicara yang permanen

Perkembangan

Perkembangan lambat

Terlambat bicara

30

terlambat
Perkembangan lambat,

Terlambat bicara

tetapi masih dalam batas


rata-rata

Cacat bawaan

Retardasi mental

Pasti terlambat bicara

Palatoschizis

Terlambat dan gangguan kemampuan


bicaranya

Kerusakan otak

Sindrom Down

Kemampuan bicaraya lebih rendah

Kelainan neurouskular

Mempengaruhi kemampuan mengisap,


menelan, mengunyah, dan akhirnya timbul
gangguan bicara dan artikulasi seperti
disartria

Kelainan sensorimotor

Mempengaruhi kemampuan mengisap dan


menelan, akhirnya timbul gangguan
artikulasi seperti dispraksia

Palsi serebral

Berpengaruh pada pernapasan, makan dan


timbul juga masalah artikulasi yang dapat
mengakibatkan disartria dan dispraksia

Kelainan persepsi

Kesulitan membedakan suara, mengerti


bahasa, simbolisasi, mengenai konsep,
akhirnya menimbulkan kesulitan belajar di
sekolah

Sedangkan Adam DM (1987), mengatakan bahwa gangguan bicara pada


anak dapat disebabkan oleh kelainan dibawah ini: 12
Lingkungan sosial anak

31

Interaksi antar personal merupakan dasar dari semua komunikasi dan


perkembangan bahasa. Lingkungan yang tidak mendukung akan menyebabkan
gangguan bicara dan bahasa pada anak.
Sistem masukan/input
Adalah sistem pendengaran, penglihatan dan integritas taktil-kinestik dari
anak. Pendengaran merupakan alat yang penting dalam perkembangan bicara.
Anak dengan otitis media kronis dengan penuruanan daya pendengaran akan
mengalami keterlambatan kemampuan menerima ataupun mengugkapkan bahasa.
Gangguan bicara juga terdapat pada tuli oleh karena kelainan genetik dan
metabolik (tuli primer), tuli neurosensorial (infeksi intrauterin : sifilis, rubella,
toksoplasmosis, sitomegalovirus), tuli konduksi seperti akibat malformasi telinga
luar, tuli sentral (sama sekali tidak dapat mendengar), tuli persepsi/afasia sensorik
(terjadi kegagalan integrasi arti bicara yang didengar menjadi suatu pengertian
yang menyeluruh), dan tuli psikis seperti pada skizofrenia, autisme infantil,
keadaan cemas dan reaksi psikologis lainnya.
Sistem pusat bicara dan bahasa
Kelainan

sususan

saraf

pusat

akan

mempengaruhi

pemahaman,

interpretasi, formulasi dan perencanaan bahasa, juga pada aktivitas dan


kemampuan intelektual dari anak. Gangguan komunikasi biasanya merupakan
bagian dari retardasi mental, misalnya pada Sindrom Down.
Sistem produksi
Sistem produksi suara seperti laring, faring, hidung, struktur mulut dan
mekanisme neuromuskular yang berpengaruh terhadap pengaturan nafas untuk
berbicara, bunyi laring, pembentukan bunyi untuk artikulasi bicara melalui aliran
udara lewat laring, faring dan rongga mulut.
Klasifikasi dan Gejala
Terdapat bermacam-macam klasifikasi disfasia, tergantung dari cara
mereka memandang. Kebanyakan sistem klasifikasi berdasarkan atas model input-

32

output. Beberapa telah didefinisikan dengan menggunakan tes yang telah


distandarisasi. Ada yang menggunakan model yang didasari pendengaran ada ada
pula yang berdasarkan patofisiologi terjadinya disfasia.12
Klasifikasi kelainan bahasa pada anak menurut Rutter (dikutip dari Toback
C), berdasarkan atas berat ringannya kelainan bahasa sebagai berikut: 12
Ringan

Keterlambatan akuisisi dari bunyi kata-

Dislalia

kata, bahasa normal


Sedang

Keterlambatan lebih berat dari akuisisi

Disfasia ekspresif

bunyi kata-kata dan perkembangan


bahasa terlambat
Berat

Keterlambatan lebih berat dari akuisisi

Disfasia reseptif dan tuli

dan bahasa, gangguan pemahaman

persepsi

bahasa
Sangat berat

Gangguan pada seluruh kemampuan

Tuli persepsi dan tuli sentral

bahasa

Aram DM (1987) dan Towne (1983), mengatakan bahwa dicurigai adanya


gangguan perkembangan kemampuan bahasa pada anak, kalau ditemukan gejalagejala sebagai berikut: 2
1. Pada usia 6 bulan anak tidak mampu memalingkan mata serta kepalanya
terhadap suara yang datang dari belakang atau samping
2. pada usia 10 bulan anak tidak memberi reaksi terhadap panggilan namanya
sendiri
3. pada usia 15 bulan tidak mengerti dan memberi reaksi terhadap kata-kata
jangan, da-da, dan sebagainya
4. pada usia 18 bulan tidak dapat menyebut sepuluh kata tunggal
5. pada usia 21 bulan tidak memberi reaksi terhadap perintah (misalnya
duduk, kemari, berdiri)
6. pada usia 24 bulan tidak bisa menyebut bagian-bagian tubuh
7. pada usia 24 bulan belum mampu mengetengahkan ungkapan yang terdiri
dari 2 buat kata

33

8. setelah usia 24 bulan hanya mempunyai pembendaharaan kata yang sangat


sedikit/tidak mempunyai kata-kata huruf z pada frase
9. pada usia 30 bulan ucapannya tidak dapat dimengerti oleh anggota
keluarga
10. pada usia 36 bulan belum dapat mempergunakan kalimat-kalimat
sederhana
11. pada usia 36 bulan tidak bisa bertanya dengan menggunakan kalimat tanya
yang sederhana
12. pada usia 36 bulan ucapannya tidak dimengerti oleh orang di luar
keluarganya
13. pada usia 3,5 tahun selalu gagal untuk menyebutkan kata akhir (ca untk
cat, ba untuk ban, dan lain-lain)
14. setelah usia 4 tahun tidak lanca berbicarra/gagap
Anamnesis
Pengambilan anamnesis harus mencakup uraian mengenai perkembangan
bahasa anak. Autisme setelah berumur 18 bulan dan bicara yang sulit dimengerti
setelah berumur 3 tahun, paling sering ditemukan. Dokter anak harus curiga bila
orang tua melaporkan bahwa anaknya tidak dapat menggunakan kata-kata yang
berarti pada umur 18 bulan atau belum mengucapkan frase pada umur 2 tahun.
Atau anak memakai bahasa yang singkat untuk menyampaikan. 2
Kecurigaan adanya gangguan tingkah laku perlu dipertimbangkan kalau
dijumpai gangguan bicara dan tingkah laku yang bersamaan. Kesulitan tidur dan
makan sering dikeluhkan orang tua pada awal gangguan autisme. Pertanyaan
bagaimana anak bermain dengan temannya dapat membantu mengungkap tabir
tingkah laku. Anak dengan autisme lebih senang bermain dengan huruf balok atau
magnetik dalam waktu yang lama. Mereka dapat saja bermain dengan anak
sebaya, tetapi dalam waktu singkat menarik diri. 2
Anamnesis pada gangguan bahasa dan bicara mencakup perkembangan ba
hasa anak. Beberapa pertanyaan yang dapat ditanyakan antara lain:
Pada usia berapa bayi mulai mengetahui adanya suara, misalnya dengan
respon berkedip, terkejut atau mengerakkan bagian tubuh

34

Pada usia berapa bayi mulai tersenyum (senyum komunikatif), misalnya


diajak berbicara.
Kapan bayi mulai mengeluarkan suara aaaggh.
Orientasi terhadap suara, misalnya bila ada suara apakah bayi
memalingkan atau mencari arah suara.
Kapan bayi memberi isyarat daag dan bermain cikkebum.
Mengikuti perintah satu langkah, seperti beri ayah sepatu atau ambil ko
ran.
Berapa banyak bagian tubuh yang dapat ditunjukan oleh anak, seperti
mata, hidung, kuping dan sebagainya.
American Psychiatric associations Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorder (DSM IV) membagi gangguan bahasa dalam 4 tipe.12
1. Gangguan bahasa ekspresif
2. Gangguan bahasa reseptifekspresif
3. Gangguan phonological
4. Gagap
Instrumen penyaring
Selain anamnesis yang teliti, disarankan digunakan instrumen penyaring
untuk menilai gangguan perkembangan bahasa. Misalnya Early Language
Milestone Scale (Coplan dan Gleason), atau DDST (pada Denver II penilaian pada
sektor bahasa lebih banyak dari pada DDST yang lama) atau Reseptive-Expresive
Emergent Language Scale. Early Language Milestone Scale cukup sentitif dan
spesifik untuk mengidentifikasi gangguan bicara pada anak kurang dari 3 tahun.2
Pemeriksaan laboratorium

35

Semua anak dengan gangguan bahasa harus dilakukan tes pendengaran.


Jika anak tidak kooperatif terhadap audiogram atau hasilnya mencurigakan, maka
perlu dilakukan pemeriksaan auditory brainstem responses. 2
Pemeriksan laboratorium lainnya dimaksudkan untuk membuat diagnosis
banding. Bila terdapat gangguan pertubuhan, mikrosefali, makrosefali, terdapat
gejala-gejala dari suatu sindrom perlu dilakukan CT scan atau MRI, untuk
mengetahui adanya malformasi. Pada anak laki-laki dengan autisme dan
perkembangan yang sangat lambat, skrining kromosom untuk fragil-X mungkin
diperluka. Skrining terhadap penyakit-penyakit metabolik baru dilakukan kalau
terdapat kecurigaan ke arah itu, karena pemeriksaan itu sangat mahal. 2
Konsultasi
Pemeriksaan dari psikolog/neuropsikiater anak diperlukan jika ada
gangguan bahasa dan tingkah laku. Pemeriksaan ini meliputi riwayat dan tes
bahasa, kemampuan kognitif dan tingkah laku. Tes intelegensia dapat dipakai
sebagai perbandingan fungsi kognitif anak tersebut. Masalah tingkah laku dapat
diperiksa lebih lanjut dengan menggunakan instrumen seperti Vineland Social
Adaptive Scale Revised, Child Behavior Checklist, atau Childhood Autism Rating
Scale. Konsultasi ke psikiater anak dilakukan bila ada gangguan tingkah laku
yang berat. 2
Ahli patologi wicara akan mengevaluasi cara pengobatan anak dengan
gangguan bicara. Anak akan diperiksa apakah ada masalah anatomi yang
mempengaruhi produksi suara. 2

Pemeriksaan Penunjang4
BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) merupakan cara
pengukuran evoked potensial (aktivitas listrik yang dihasilkan saraf VIII, pusatpusat neural dan traktus di dalam batang otak) sebagai respon terhadap stimulus
auditorik.

36

Pemeriksaan audiometrik
Pemeriksaan audiometrik diindikasikan untuk anak-anak yang sangat kecil
dan untuk anak-anak yang ketajaman pendengarannya tampak terganggu. Ada 4
kategori pengukuran dengan audiometrik:
a)

Audiometrik tingkah laku, merupakan pemeriksaan pada anak yang

dilakukan dengan melihat respon dari anak jika diberi stimulus bunyi. Respon
yang diberikan dapat berupa menoleh ke arah sumber bunyi atau mencari sumber
bunyi. Pemeriksaan dilakukan di ruangan yang tenang atu kedap suara dan
menggunakan mainan yang berfrekuensi tinggi. Penilaian dilakukan terhadap
respon yang diperlihatkan anak.
b)

Audiometrik bermain, merupakna pemeriksaan pada anak yang dilakukan

sambil bermain, misalnya anak diajarkan untuk meletakkan suatu objek pada
tempat tertentu bila dia mendengar bunyi. Dapat dimulai pada usia 3-4 tahun bila
anak cukup kooperatif.
c)

Audiometrik bicara. Pada tes ini dipakai kata-kata yang sudah disusun

dalam silabus pada daftar yang disebut: phonetically balance word LBT (PB List).
Anak diminta untuk mengulangi kata-kata yang didengar melalui kaset tape
recorder. Pada tes ini dilihat apakah anak dapat membedakan bunyi s, r, n, c, h, ch.
Guna pemeriksaan ini adalah untuk menilai kemampuan anak dalam berbicara
sehari-hari dan untuk menilai pemberian alat bantu dengar (hearing aid).
d)

Audiometri objektif, biasanya memerlukan teknologi khusus.


CT scan kepala untuk mengetahui struktur jaringan otak, sehingga

didapatkan gambaran area otak yanga abnormal.Timpanometri digunakan untuk


mengukur kelenturan membrane timpani dan system osikuler. Selain tes
audiometrik, bisa juga digunakan tes intelegensi. Paling dikenal yaitu skala
Wechsler, yang menyajikan 3 skor intelegen, yaitu IQ verbal, IQ performance, IQ
gabungan:
Skala intelegensi Wechsler untuk anak III: penyelesaian susunan gambar.
Tes ini terdiri dari satu set gambar-gambar objek yang umum, seperti gambar

37

pemandangan. Salah satu bagian yang penting dihilangkan dan anak diminta
untuk mengidentifikasinya. Respon dinilai sebagai salah atau benar.
Penalaksanaan
Gangguan bicara dan bahasa pada anak cenderung membaik seiring
pertambahan usia, dan pada dasarnya perkembangan bahasa dilatarbelakangi
perawatan primer orang tua dan keluarga terhadap anak. Usaha preventif pada
masa neonatus, bayi dan balita dapat dilakukan dengan memberi pujian dan
respon terhadap segala usaha anak untuk mengeluarkan suara, serta member tanda
terhadap semua benda dan kata yang menggambarkan kehidupan sehari-hari. Pola
intonasi suara dapat diperbaiki sejalan dengan respon anak yang semakin
mendekati pola orang dewasa. 9
Secara umum, anak akan berusaha untuk lebih baik saat orang dewasa
merespon apa yang diucapkannya tanpa menekan anak untuk mengucapkan suara
atau kata tertentu. Sebagai motivasi ketika seorang anak berbicara satu kata secara
jelas, pendengan sebaiknya merespon tanpa paksaan dengan memperluas hingga
dua kata. 9
Tindakan kuratif penatalaksanaan gangguan bicara dan bahasa pada anak
disesuaikan

dengan

penyebab

kelainan

tersebut.

Penatalaksanaan

dapat

melibatkan multi disiplin ilmu dan terapi ini dilakukan oleh suatu tim khusus yang
terdiri dari fisioterapis, dokter, guru dan orang tua pasien. Beberapa jenis
gangguan bicara dapat diterapi dengan terapi wicara, tetapi hal ini membutuhkan
perhatian medis seorang dokter. Anak-anak usia sekolah yang memiliki gangguan
bicara dapat diberikan pendidikan program khusus. Beberapa sekolah tertentu
menyediakan terapi wicara kepada para murid selama jam sekolah, meskipun
menambah hari belajar. Konsultasi dengan psikoterapis anak diperlukan jika
gangguan bicara dan bahasa diikuti oleh gangguan tingkah laku, sedangkan
gangguan bicaranya dievaluasi oleh ahli terapi wicara. 9
Prognosis

38

Prognosis gangguan bicara pada anak tergantung pada penyebabnya.


Dengan perbaikan masalah medis seperti tuli konduksi dapat menghasilkan
perkembangan bahasa yang normal pada anak yang tidak retardasi mental.
Sedangkan perkembangan bahasa dan kognitif pada anak dengan gengguan
pendengaran sensoris bervariasi. Dikatakan bahwa anak dengan gangguan
fonologi biasanya prognosisnya lebih baik. Sedangkan ganggan bicara pada anak
yang intelegensianya normal perkembangan bahasanya lebih baik daripada anak
yang retardasi mental. Tetapi pada anak dengan gagguan yang multipel, terutama
dengan gangguan pemahaman, gangguan bicara ekspresif, atau kemampuan
naratif yang tidak berkembang pada usia 4 tahun, mempunyai gangguan bahasa
yang menetap pada umur 5,5 tahun.9
KONSTIPASI
Konstipasi tidak dipahami sebagai sebuah penyakit, namun suatu keluhan
yang muncul akibat masalah dari ungsi kolon dan anorektal. Konstipasi
merupakan terhambatnya defekasi dari kebiasaan normal. Definisi dapat memiliki
arti yang luas, seperti frekuensi buang air besar yang jarang, volume feses yang
kurang, konstipasi feses yang keras dan kering.7
Definisi konstipasi juga bersifat relatif, bergantung pada konsistensi tinja,
frekuensi buang air besar dan sulitnya pengeluaran tinja. Pada orang yang buang
air besar tiap 2-3 hari dengan tinja yang lunak dan tanpa kesulitan tidak dapat
digolongkan menajdi konstipasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konstipasi
adalah persepsi gangguan buang air besar yang berupa berkurangnya frekuensi
buang air besar, sensasi yang tidak puas saat buang air besar, adanya rasa sakit,
harus mengejan atau feses yang keras.7
Ada pula penyedia pelanan medic yang menyebutkan bahwa konstipasi
merupakan berkurangnya frekuensi buang air besar hingga kurang dari 3 kali per
minggu. Berdasarkan kriteria Roma III tentang konstipasi, pasien harus
mengalami paling tidak 2 gejala di bawah ini setidaknya selama 3 bulan, seperti :
(1) frekeunsi buang air besar kurang dari 3x per minggu, (2) mengejan saat buang

39

air besar, (3) perasaan adanya sumbatan oada anorektal, (4) perasaan tidak puas
setelah buang air besar, (5) penggunaan jari adalah usaha pengeluaran tinja.
Pada kriteria Roma III, pasien juga tidak memenuhi kriteria dalam
Irritable Bowel Syndrome dan serta penggunaan obat-obatan laksatif.
Etiologi
Banyak hal yang mencetuskan terjadinya gangguan konstipasi. Etiologi
konstipasi dapat dibagi dalam beberapa golongan besar, yaitu:
1. Kelainan Fungsional.
Kelainan fungsional seperti retensi tinja, depresi, latihan defekasi yang salah, serta
fobia toilet dapat menyebabkan konstipasi.
2. Nyeri saat defekasi
Nyeri saat defekasi dapat disebabkan oleh fissura ani, benda asing, pemakaian
pencahar yang berlebihan, proktitis, dan prolaps rectum.
3. Obstruksi Mekanis
Obstruksi atau penyumbatan dapat disebabkan oleh penyakit Hirschprung, massa
di pelvis, obstruksi usus bagian atas, stenosis rectum, atresia ani, dan ileus
mekonikum.
4. Menurunya motilitas dan sensasi
Turunnya motilitas dan sensasi diakibatkan karena adanya penggunaan obatobatan, ileus karena penyakt virus, penyakit neuromuscular (serebral palsi,
hipotoni), kelainan endokrin (Hiperparatiroid, hiperkalsemi), Botulisme infantile,
dan tumor medulla spinalis.
5. Kelainan feses
Konstipasi juga dapat disebabkan oleh dehidrasi, diet serat yang kurang dan
malnutrisi.10

40

Selain pembagian etiologi di atas, terdapat pembagian etiologi konstipasi lainnya


sebagai berikut :
1. Konstipasi primer
Konstipasi primer adalah konstipasi fungsional yang tidak ditemukan kelainan
organic maupun biokimia didalam tubuh. Konstipasi primer (idiopatik,
fungsional) dibagi menjadi 3 jenis yaitu:
a)

Normal-Transit Constipation atau NTC adalah jenis dari konstipasi primer


yang paling sering. Walaupun feses melewati kolon pada jumlah yang
normal, pasien merasa kesulitan mengeluarkan feses tersebut dari anus.
Pasien jenis ini kadang-kadang memenuhi kriteria Irritable Bowel
Syndrome dengan konstipasi (IBS-C). Perbedaan utama antara IBS dengan
konstipasi adalah adanya nyeri abdomen pada IBS-C.

b)

Slow-Transit Constipation atau (STC) dan Pelvic Floor Dyssynergia (PFD)


adalah 2 faktor intrinsic yang menyebabkan konstipasi kronik terutama
pada orang lajut usia. STC ini ditandai dengan frekuensi defekasi yang
jarang, berkurangnya urgency atau keinginan untuk buang air besar dengan
segera, atau adanya paksaan untuk buang air besar atau mengejan. Pasien
dengan STC memiliki aktifitas motorik pada kolon yang tertanggu. Pada
pemeriksaan biasanya ditemukan distensi atau feses yang teraba pada
kolon sigmoid.

c)

Pelvic Floor Dysfunction ditandai dengan gangguan pada otot levator ani
pada dasar panggul atau spingster anal. Pasien sering mengeluhkan rasa
mengejan yang berlebihan atau lama, rasa tidak puas atau ada feses yg
tertinggal setelah defekasi, ada penggunaan tekanan perineal atau vagina
selama proses defekasi, atau penggunaan jari saat proses defekasi.10

2. Konstipasi Sekunder
A. Pola hidup: diet rendah serat, kurang minum atau dehidrasi, kebiasaan
minum kopi, the atau alcohol yang berlebihan, kebiasaan pola makan yang

41

tidak teratur, kebiasaan untuk menunda buang air besar, dan kurang olah
raga.
B. Kelainan anatomi (struktur): fissure ani, hemoroid, struktur kolon, tumor,
abses perineum, megakolon.
C. Kelainan endokrin dan metabolic:

hiperkalsemia,

hiperparatiroid,

hipokalemia, hipotiroid, Diabetes Melitus, dan kehamilan.


D. Kelainan syaraf: stroke, penyakit Hirscprung, penyakit Parkinson,
sklerosis multiple, diabetic neuropati, lesi sumsum tulang belakang,
trauma kepala, penyakit Chagas, disotonomia familier.
E. Kelainan jaringan ikat : scleroderma, amiloidosis, mixed connectivetissue disease.
F. Obat: anti depresan (antidepresan siklik, inhibitor MAO), logam (besi,
bismuth)

anti

kholinergik,

opioid

(kodein,

morfin),

antasida

(alumunium,senyawa kalsium), calcium channel blocker (verapamil),


Obat Anti Inflamasi Non-Steroid (ibuprofen, diclofenac), simpatomimerik
(pseudoephedrine), cholestyramine dan laksan stimulans jangka panjang.
G. Gangguan psikologi (depresi, cemas, smomatisasi, gangguan makan).10

Patofisiologi Konstipasi
Fungsi kolon atau usus besar adalah menerima zat sisa pencernaan dari
ileum, kemudian mencampur, melakukan fermentasi, dan memilah karbohidrat
yang tidak diserap, serta memadatkannya menjadi tinja.9
Defekasi berlangsung melalui mekanisme yang kompleks. Kolon
normalnya dikosongkan tiap 24 jam. Proses pergerakan tinja dari bagian
proksimal kolon ke daerah retrosigmoid dilakukan tiap beberapa hari sekali,
melalui gelombang yang memiliki amplitude tinggi dan berlangsung lama.
Gerakan ini dikontrol oleh batang otak dan sudah terlatih sejak masa kanak-kanak.
Saat teradi hambatan pasase blous di kolon rectum, dapat terjadi konstipasi
bahkan obstipasi atau kegagalan total mengeluarkan feses dari rectum.9
Konstipasi dapat diakibatkan oleh suatu penyakit maupun gangguan
psikoneurosis. Misalnya gangguan pasase bolus karena infeksi (parasit, bakteri,
virus), kelainan organ, tumor jinak maupun ganas yang dapat menyebabkan

42

obstruksi maupun paska bedah pada gastrektomi atau kolesistektomi. Kolon


seharusnya menyerap air dan membentuk bahan buangan sisa makanan atau tinja
dan kontraksi otot pada kolon akan membawa kotoran ke arah rectum. Begitu
mencapai rectum, feses akan menjadi lebih padat karena adanya proses
penyerapan air pada kolon. Apabila kolon menyerap terlalu banyak air dapat
menyebabkan tinja yang menjadi terlalu keras dan kering. Hal itu terjadi karena
kontraksi terlalu lama sehingga tinja bergerak ke arah kolon terlalu lama sehingga
terjadinya obstruksi yang menyebabkkan konstipasi.9
Konstipasi juga dapat timbul dari gangguan pengisian dan pengosongan
rectum. Gangguan pengisian rectum dapat disebabkan bila gerakan peristaltic
kolon tidak efektif, otot otot intraabdomen yang sudah tidak adekuat pada usia tua
serta misalnya pada kasus hipotiroidisme, penggunaan opium, obstruksi usu besar
karena kelainan struktur atau penyakit Hirschprung. Pada penyakit Hirschprung,
tidak terdapat sel ganglion sehingga meningkatkan persarafan intrinsic dan
ekstrinsik. System adrenergic sebagai excitatory lebih dominan dari system
koligernik (inhibitory) sehingga meningkatkan tonus otot polos. Hal ini memicu
ketidakseimbangan dari kontraksi otot polos, gangguan peristaltis, sehingga
obstruksi secara fungsional.9
Kondisi tinja yang terlalu lama berada di kolon menyebabkan proses
pengeringan tinja yang berlebihan dan kegagalan untuk memulai reflek dari
rectum yang normal nya akan memicu evakuasi. Rectum dikosngkan melalui
evakuasi spontan tergantung pada reflek defekasi yang dipicu oleh perangsangan
reseptor tekanan pada otot-otot rectum, serabut-serabut aferen dari tulang
belakang bagian sacrum atau otot-otot perut dan dasar panggul. Kelainan pada
relaksasi sfinger ani juga bisa menyebabkan tinja tidak bisa dievakuasi.
Selain itu, distensi rectum dapat mengurangi sensitifitas reflex defekasi
dan aktifitas peristaltic. Konstipasi juga bisa dijelaskan melalui konsumsi serat
yang tidak adekuat. Padahal konsumsi serat yang cukup menyebabkan serat
menarik air dan menstimulasi otot pencernaan dan akhirnya tekanan yang
digunakan untuk pengeluaran feses menjadi berkurang.9

43

Pada kasus ini, pasien mengalami penurunan motilitas usus yang


disebabkan oleh adanya sangkaan hipotiroidisme yang didukung dari pemeriksaan
laboratorium Free T4 yang berada dibawah nilai normal yaitu 8, 60. Menurut
Franchini, hipotiroidisme dapat membuat motilitas

usus

menurun dan

menyebabkan terjadinya konstipasi pada pasien. Beberapa faktor molekuler dan


seluler dapat berperan untuk disfungsi gastrointestinal pada hipotiroidisme.
Dimana hormon tiroid merangsang aktivitas Na-K ATPase dan penyerapan
natrium di usus. Lambung merupakan daerah target yang penting untuk hormon
tiroid, sehingga hipogastrinemia sering ditemukan pada hipotiroidisme. Terdapat
sebuah sirkulasi enterohepatik dari hormon tiroid yang memiliki efek langsung
terhadap fungsi usus. Hormon tiroid dapat memberikan efek terhadap sekresi
hormone saluran pencernaan seperti polipeptida intestinal vasoaktif. Hal ini dapat
menyebabkan terjadinya malabsorpsi dan memburuknya motilitas usus.9

PALSI SEREBRAL
Palsi serebral adalah keadaan kerusakan jaringan otak yang permanen dan
tidak progresif yang terjadi pada waktu masih muda (sejak dilahirkan) dan
merintangi

perkembangan

otak

normal

dengan

gambaran

klinis

yang

menunjukkan kelainan dalam sikap dan pergerakan disertai kelainan neurologis


berupa kelumpuhan spastic dan kelainan mental. Istilah palsi serebral merupakan
istilah yang digunakan untuk menggambarkan sekelompok gangguan gerakan,
postur tubuh, dan tonus yang bersifat nonprogresif, berbeda-beda kronis dan
akibat cedera pada system saraf pusat selama awal masa perkembangan.8
Insidensi dari palsi serebral sebanyak 2 kasus per 1000 kelahiran hidup,
dimana 5 dari 1000 anak anak memperlihatkan deficit motorik yang sesuai dengan
palsi serebral. Sekitar 50% kasus termasuk ringan dan 10% termasuk berat 25%
memiliki intelegensia (IQ) rata-rata normal sementara 30% kasus menunjukkan
IQ dibawah 70,35% disertai kejang dan 50% menunjukkan gangguan bicara.8

44

Etiologi dari palsi serebral dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu prenatal,
perinatal, dan pascanatal.
1. Prenatal
Infeksi terjadi dalam masa kandungan, menyebabkan kelainan

pada janin,

misalnya oleh lues, toksoplasmosis, rubella dan penyakit inklusi sitomegalik.


Kelainan yang menonjol biasanya gangguan pergerakan dan retardasi mental.
Anoksia dalam kandunagn (misalnya: solusio plasenta, plasenta previa, anoksi
maternal, atau tali pusat yang abnormal), terkena radiasi sinar-X dan keracunan
kehamilan dapat menimbulkan palsi serebral.
2. Perinatal
a)Anoksia
Penyebab terbanyak ditemukan dalam masa perinatal ialah brain injury. Keadaan
inilah yang menyebabkan terjadinya anoksia. Hal ini terdapat pada keadaan
presentasi bayi abnormal, disproporsi sealo-pelvis, partus lama, plasenta previa,
infeksi plasenta, partus menggunakan bantuan instrument tertentu dan lahir
dengan seksio caesaria.
b)Perdarahan otak
Perdarahan otak dan anoksia dapat terjadi bersama-sama, sehingga sukar
membedakannya,

misalnya

perdarahan

yangmengelilingi

batang

otak,

mengganggu pusat pernapasan dan peredaran darah hingga terjadi anoksia.


Perdarahan dapat terjadi di ruang subarachnoid akan menyebabkan penyumbatan
CSS sehingga mengakibatkan hidrosefalus. Perdarahan spatium subdural dapat
menekan korteks serebri sehingga timbul kelumpuhan spatis.
c)Prematuritas
Bayi kurang bulan mempunyai kemungkinan menderita perdarahan otak yang
lebih banyak dari pada bayi cukup bulan, karena pembuluh darah, enzim, faktor
pembekuan darah dan lain-lain masih belum sempurna.

45

d)Ikterus
Ikterus pada masa neonatus dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak yang
permanen akibat masuknya bilirubin ke ganglia basal, misal pada kelainan
inkompatibilitas golongan darah.
e)Meningitis Purulenta
Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak tepat
pengobatannya akan mengakibatkan gejala sisa berupa palsi serebral.
3. Pascanatal
Setiap kerusakan pada jaringa otak yang menggangu perkembangan dapat
menyebabkan palsi serebral antara lain:
a) Trauma kapitis dan luka parut pada otak pasca-operasi
b) Infeksi misalnya meningitis bacterial, abses serebri, trombopletis,
ensefalomielitis.
c) Kern icterus. Seperti kasus pada gejala sekuele neurogik dari
eritroblastosis fetal atau fefisiensi enxim hati.
Pada kasus ini, diagnosis palsi serebral ditegakkan berdasarkan anamnesis
(alloanamnesis) dan pemeriksaan fisik. Kemungkinan besar etiologi yang
menyebabkan terjadinya palsi serebral pada pasien ini adalah pascanatal. Hal ini
didukung oleh alloanamnesis yakni adanya masalah pada saat persalinan, ketika
pasien lahir ia tidak segera menangis dan baru menangis 8 jam pasca dilahirkan
secara pervaginam oleh ibunya, pasien mempunyai riwayat biru pada seluruh
tubuh. Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi hipoksi jaringan pada serebral
pasien. Pada fase pascanatal, pasien mengalami kejang pertama kali pada usia 2
bulan kemudian berulang pada waktu tertentu, hal ini dikarenakan adanya
ensefalitis yakni infeksi pada infeksi jaringan otak yang dapat disebabkan oleh
berbagai macam mikroorganisme (virus, bakteri, jamur dan protozoa). Ibu pasien
juga mengeluhkan pasien belum bisa berbicara dan menggerakkan kepala secara
mandiri, belum bisa merangkak atau menggenggam suatu benda, pasien hanya
mengeluarkan suara-suara dan menangis, pasien sulit diajak berkomunikasi.
Pasien hanya mampu mengeluarkan suara oooh-aaah dan sering kali
46

mengeluarkan saliva yang berlebihan dari mulutnya. Pasien dibantu berdiri oleh
ibunya namun leher pasien tidak sepenuhnya tegak dan tubuhnya terkesan lemah.8

HIPOTIROIDISME
Hipotiroidisme merupakan suatu sindroma klinis akibat penurunan
produksi dan sekresi hormone tiroid. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan
laju metabolisme tubuh dan penurunan glukosaminoglikan di interstisial terutama
dikulit dan otot. 11
Hipotiroidisme biasanya disebabkan oleh proses primer dimana jumlah
produksi hormone tiroid oleh kelenjar tiroid tidak mencukupi. Dapat juga
sekunder oleh karena gangguan sekresi hormone tiroid yang berhubungan dengan
gangguan sekresi Thyroid Stimulating Hormone (TSH) yang adekuat dari kelenjar
hipofisis atau karena gangguan pelepasan Thyrotropin Stimulating Hormone
(TRH) dari hipotalamus. Manifestasi klinis pada pasien akan bervariasi mulai dari
asimtomatis sampai keadaan koma dengan kegagalan multiorgan.11
Insidensi hipotiroidisme bervariasi tergantung kepada faktor geografik dan
lingkungan seperti kadar iodium dalam makanan dan asupan zat goitrogenik.
Selain itu juga berperan faktor genetik dan distribusi usia dalam populasi tersebut.
Diseluruh dunia penyebab hipotiroidisme terbanyak adalah akibat kekurangan
iodium. Sementara itu dinegara-negara dengan asupan iodium yang mencukupi,
penyebab tersering adalah tiroiditis autoimun. Di daerah endemik, prevalensi
hipotiroidisme adalah 5 per 1000, sedangkan prevalensi hipotiroidisme subklinis
sebesar 15 per 1000. Hipotiroidisme umumnya lebih sering dijumpai pada wanita,
dengan perbandingan angka kejadian hipotiroidisme primer di Amerika adalah 3,5
per 1000 penduduk untuk wanita dan 0,6 per 1000 penduduk untuk pria.11
Hipotiroidisme merupakan suatu penyakit kronik yang sering ditemukan di
masyarakat. Diperkirakan prevalensinya cukup tinggi di Indonesia mengingat
sebagian besar penduduk bermukim didaerah defesiensi iodium. Sebaliknya di
negara-negara Barat, penyebab tersering adalah tiroiditis autoimun. Gejala-gejala

47

klinis hipotiroidisme sering tidak khas, juga dapat ditemukan pada orang normal
atau penyakit-penyakit lain, maka untuk menegakkan diagnosisnya perlu diperiksa
fungsi tiroid. Pemeriksaan faal tiroid yang sudah tervalidasi adalah kadar TSH dan
FT4 (Free Thyroxine). Kesalahan dalam mendiagnosis hipotiroidisme dapat
berakibat berbagai efek yang tidak diinginkan oleh terapi hormon tiroid,
sementara penyakit dasar yang sebenarnya tidak terdiagnosis. Tindakan operasi
pada pasien dengan penyakit tiroid hampir semua bersifat elektif, mengingat
risiko kematian perioperatif meningkat pada pasien dengan penyakit tiroid yang
tidak terkontrol atau tidak terdiagnosis. Selain pengaruhnya yang dominan pada
sistem kardiovaskular, hipotiroidisme juga mempengaruhi pemberian obat-obat
anestesi akibat peningkatan atau penurunan bersihan dan volume distribusi obat
pada kondisi hipometabolisme.11

48

Anda mungkin juga menyukai