Anda di halaman 1dari 32

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas ridho dan limpahan rahmat-Nya Tugas
Makalah ini dapat tersusun tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan salah satu prasyarat
dalam rangka menyelesaikan Kepaniteraan Klinik di SMF Ilmu Kedokteran Forensik. Makalah
ini berjudul Penyalahgunaan Psikotropika.
Makalah ini akan membahas mengenai jenis-jenis psikotropika yang sering
disalahgunakan di masyarakat, beserta ciri-ciri keracunan yang ditimbulkan dan pemeriksaan
forensiknya secara umum sesuai dengan tanda-tanda keracunan pada secara umum
Kami mohon maaf jika dalam penulisan referat ini terdapat kesalahan. Kritik dan saran
yang membangun sangat diharapkan untuk dapat memperbaikinya pada kesempatan mendatang.
Semoga tulisan ini dapat memberikan sumbangan ilmiah dalam masalah kesehatan dan
memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam kaitannya dengan ilmu forensik terkait
narkotika.

Mataram, 19 Februari 2014


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyalahgunaan psikotropika di Indonesia, sekarang ini sudah sangat memprihatinkan,
hal ini disebabkan beberapa hal antara lain karena mengingat perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, pengaruh globalisasi, arus transportasi yang sangat maju. Pengaruh globalisasi
terhadap suatu bangsa baik secara langsung maupun tak langsung telah banyak menimbulkan
perubahan-perubahan pada berbagai sektor kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut tidak
hanya terbatas pada kemajuan IPTEK dan pendapatan ekonomi semata, tetapi berpengaruh juga
pada perilaku meyimpang dalam masyarakat. Trend perkembangan kejahatan Psikotropika di
Indonesia dalam 5 tahun terakhir ini menunjukkan peningkatan yang sangat tajam.
Psikotropika merupakan suatu zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan
narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika apabila
digunakan secara tidak teratur menurut takaran/dosis akan dapat menimbulkan bahaya fisik2 dan
mental3 bagi yang menggunakannya serta dapat menimbulkan ketergantungan pada pengguna itu
sendiri. Psikotropika merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan atau
pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi zat yang
berbahaya bagi penggunanya apabila disalahgunakan.
Berdasarkan hasil survei Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Pusat
Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) memperkirakan prevalensi penyalahgunaan
NAPZA pada tahun 2009 adalah 1,99% dari penduduk Indonesia berumur 10-59 tahun. Pada
tahun 2010, prevalensi penyalahgunaan NAPZA meningkat menjadi 2,21%. Jika tidak dilakukan
upaya penanggulangan diproyeksikan kenaikan penyalahgunaan NAPZA dengan prevalensi
2,8% pada tahun 2015 (BNN, 2011).

Berdasarkan laporan Direktorat IV Narkoba dan KT BARESKRIM POLRI pada tahun


2007 diketahui kasus narkotika, psikotropika, dan bahan berbahaya sebanyak 22.630 kasus yaitu
proporsi kasus narkotika 50,28%, proporsi kasus psikotropika 43,43% dan proporsi kasus bahan
berbahaya 6,29%. Sumatera Utara merupakan peringkat ketiga kasus terbanyak setelah Jawa
Timur dan Metro Jaya (BNN, 2008). Berdasarkan data BNN jumlah pengguna NAPZA di
Provinsi Sumatera Utara tahun 2010 sebanyak 2.065 kasus dan tahun 2011 sebanyak 2.068 kasus
(BNN, 2011).
Penyalahgunaan psikotropika merupakan penggunaan salah satu atau beberapa jenis
psikotropika secara berkala atau teratur diluar indikasi medis, sehingga menimbulkan gangguan
kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Psikotropika
Penyalahgunaan zat adalah pemakaian zat atau obat diluar indikasi medik tanpa petunjuk
atau resep dokter, digunakan untuk pemakaian sendiri secara teratur atau berkala, sekurangkurangnya selama satu bulan dan dapat menciptakan keadaan yang tidak terkuasai oleh individu.
Obat psikotropika ialah bahan atau zat (substansi) yang bekerja pada atau mempengaruhi
fungsi fisik psikis, kelakuan atau pengalaman ( WHO, 1966).

Menurut Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika, Psikotropika adalah zat atau
obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan
perilaku. Ketentuan peresepan berdasarkan Undang - undang No. 5 Tahun 1997 yang mengatur
kegiatan yang berhubungan dengan psikotropika yang berada dibawah pengawasan internasional,
yaitu yang mempunyai potensi mengakibatkan sindrom ketergantungan. Psikotropika
digolongkan menjadi :
a. Psikotropika golongan I
Adalah psikotropika yang hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan
tidak digunakan dalam terapi, hanya diberikan khusus untuk penelitian serta potensinya
amat kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan. Termasuk obat psikotropika golongan
I adalah 3-4 methylenedioxymethamphetamine (MDMA) (Ectacy), Psilosibin dan
psilosin, LSD (Lysergic Diethylamide), Mescaline. Berikut penjelasan golongan ekstasi
sebagai psikotropika yang sering disalahgunakan.

Ekstasi
Ekstasi

atau

nama

lainnya

3,4-metilenedioksimetamfetamin

(MDMA)

didefinisikan sebagai suatu zat bersifat stimulan yang merupakan analogis dari
amfetamin. Jika ditinjau dari definisi secara kimia, ekstasi merupakan suatu sintetik
yang analogis dengan amfetamin C11H15NO2 yang digunakan untuk meningkatkan
mood seseorang dan agen hallusinasi (Merriam-WebsterDictionary).
Cara kerja ekstasi
Ekstasi

merupakan

derivat

amfetamin

yang

dikenal

sebagai

3,4-

methylenedioxymethamphetamine (MDA). Seperti amfetamin yang lain, ekstasi


merangsang pelepasan katekolamin dari presinaps. Ekstasi bersifat selektif terhadap
neuron serotonin yang menyebabkan pelepasan serotonin yang banyak dan
menghambat reuptake serotonin pada presinaps dengan reversal dari fungsi serotonin
transporter (SERT). Maka, lebih banyak serotonin yang berkumpul di ruang sinaps.
Peningkatan level serotonin menyebabkan peningkatan rasa senang seperti empati,
euforia, disinhibisi.
Efek penggunaan ekstasi
Ekstasi dapat menimbulkan berbagai keburukan terhadap sistem tubuh. Antaranya
ialah efek pada sistem kardiovaskuler. Dengan penggunaan yang sedang, tetap dapat
menyebabkan perubahan di mana penggunaan ekstasi menyebabkan peningkatan sistol
dan diastol tekanan darah yang dibuat penelitiannya antara pengguna ekstasi dengan
sampel yang diberi placebo. Pada gangguan yang berkaitan dengan psikologi, hal
yang dapat terjadi adalah seperti depresi, ansietas dan psikosis. Selain itu, terdapat
juga beberapa efek samping yang didapati dari penggunaan ekstasi yaitu penurunan
selera makan, peningkatan keringat, sensitif terhadap suhu yang dingin, mulut menjadi
kering, sering dahaga, palpitasi dan sulit untuk konsentrasi.
Terdapat juga beberapa efek samping yang bersifat akut seperti hipertermia.
Akibatnya, mereka akan coba kompensasi keadaan ini dengan meminum air yang
banyak. Namun, hal ini lebih membahayakan karena akan menyebabkan intoksikasi

air seterusnya memicu kepada hiponatremia yang berat, kejang dan dapat berakibat
fatal. Komplikasi lain seperti sindrom serotonin yaitu perubahan status mental,
hiperaktivitas autonomik, dan abnormalitas neuromuskular . Penghentian ekstasi
secara tiba-tiba pula dapat menimbulkan withdrawal syndrome yang ditandai dengan
depresi yang terjadi sehingga beberapa minggu. Selain itu, dilaporkan juga terjadinya
aggresifitas pada mereka yang berpuasa dari mengambil ekstasi (Katzung, 2007).
Hubungan Ekstasi dan otak
-

Ekstasi dan neurotoksisitas


Ekstasi merupakan monoaminergik agonis yang dapat menghambat reuptake dan

merangsang pelepasan serotonin, dan juga menyebabkan penurunan dopamin. Pada


manusia, hasil yang didapati adalah terjadinya kerusakan pada akson terminal. Namun,
bagaimana proses ini terjadi masih tidak diketahui. Penyalahgunaan ekstasi
menyebabkan kerusakan pada akson terminal pada neuron serotonin tetapi badan sel
pada neuron ini masih utuh .
-

Ekstasi dan penurunan fungsi kognitif


Efek ekstasi terhadap penurunan fungsi kognitif dapat terjadi secara direk dan

indirek. Terjadinya secara direk adalah akibat dari sifat neurotoksin ekstasi yang
mengakibatkan kerusakan pada akson terminal neuron serotonin. Terjadinya secara
indirek adalah ekstasi menyebabkan penurunan sirkulasi serebral. Ekstasi juga
menyebabkan penurunan memori di mana ia menyebabkan defek pada hipokampus,
bagian otak yang berfungsi untuk konsolidasi memori jangka pendek kepada memori
jangka panjang.
-

Ekstasi dan gangguan tidur


Salah satu fungsi dari serotonin adalah mengontrol jam biologi badan
(circadian rhytms) seperti rangsangan untuk tidur. Oleh karena itu, berkurangnya
serotonin menyebabkan defek pada pola tidur seseorang . Hormon yang
merangsang tidur adalah melatonin dalam proses circadian rhythm. Bahan baku
untuk sintesa melatonin ini adalah serotonin. Maka, apabila serotonin berkurang,
penghasilan melatonin turut berkurang lalu menyebabkan gangguan tidur.

Ekstasi dan hipertermia


Hiperaktivitas autonomik merupakan gejala utama toksisitas ekstasi dan hal ini

berkait langsung dengan dosis yang digunakan. Mekanisme terjadinya hipertermia ini
dimulai apabila amfetamin merangsang pelepasan katekolamin dan serotonin
b. Psikotropika golongan II
Adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam
terapi dan atau tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat menimbulkan
sindrom ketergantungan apalagi diberikan dalam jangka waktu yang lama. Contoh antara
lain Amfetamin, Fenobilina, Metakualin, Zipepprol, Secobarbital.
c. Psikotropika golongan III
Adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam
terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mengakibatkan sindrom
ketergantungan. Contoh Butalbital, Pentazosina, Amobarbital, Pentobarbital, Glutetimide.
d. Psikotropika golongan IV
Adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dala terapi
dan atau tujuan ilmu pengetahuan, serta mempunyai potensi ringan yang mengakibatka
sindrom ketergantungan. Obat Golongan IV ini sering diresepkan oleh dokter umum
maupun oleh dokter spesialis. Sebagian besar obat ini adalah depresan sistem saraf pusat
(SSP) Contoh antara lain Alprazolom, aminorex, Brotizolam, Etinomat, Bromazepam,
diazepam, Meprobamate. Peresepannya hanya untuk short term therapy misalnya tidak
boleh digunakan lebih dari satu minggu untuk tiap resep. Bila sesudah satu rninggu ada
indikasi untuk meneruskan maka dapat diberikan resep untuk satu minggu. Jadi setiap
kali resep jumlah obat yang diberikan hendaknya tidak boleh diberikan satu minggu
pemakaian.
Apabila dilihat dari pengaruh penggunaannya terhadap susunan saraf pusat
manusia obat psikotropika dapat dikelompokkan menjadi :
1. Depresant

Yaitu yang bekerja mengendorkan atau mengurangi aktifitas susunan sarafpusat


(Psikotropika Go1 4), contohnya antara lain :. Sedatin 1 Pil BK, Rohypnol, Magadon,
Valium, Mandrak (MX).
2. Stimulant
Yaitu yang bekerja mengaktikan kerja susunan sad pusat, contohnya amphetamine, yang
terdapat dalam kandungan Ecstasi.
3. Hallusinogen
Yaitu yang bekerja menimbulkan rasa perasaan halusinasi atau khayalan contohnya
licercik acid dhietilamide (LSD), psylocibine, rnicraline. Disamping itu psikotropika
dipergunakan karena sulitnya mencariNarkotika dan mahal harganya. Penggunaan
psikotropika biasanya dicampur dengan alkohol atau minuman lain seperti air mineral,
sehingga menimbulkan efek yang sama dengan Narkotika.
Berdasarkan penggunaan klinik psikotropik dibagi menjadi 4 golongan, yaitu (1)
antipsikosis (major trankuilizer, neuroleptik); (2) antimietas (antineurosis, minor tranquilizer) (3)
antidepresan, dan (4) psikotogenik (psikotornimetik, psikodisleptik, halusinogenik)

2.2 Efek Pemakaian Psikotropika


Pemakaian psikotropika yang tidak sesuai dengan aturan dapat menimbulkan efek yang
membahayakan tubuh dibedakan menjadi 3, yaitu:
1. Depresan
Dalam ilmu medis Obat-obatan ini biasa nya digunakan membuat pasien merasa tenang
karena mengurangi cemas (gelisah) dan meredakan ketegangan emosi dan jiwa,
membantu pasien memudahkan tidur, membantu dalam proses penyembuhan darah
tinggi, pengobatan pasien dalam kasus epilepsi.
Depesan yaitu menekan sistem sistem syaraf pusat dan mengurangi aktifitas fungsional
tubuh sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tak
sadarkan diri. Bila kelebihan dosis bisa mengakibatkan kematian.
Contoh psikotropika yang termasuk depresan adalah barbiturate, benzodiazepine dan
metakualon.
2. Stimulan

Stimulant merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan serta kesadaran. Jenis
stimulan: Amphetamin. Contoh yang sekarang sering dipakai adalah Shabu-shabu dan
Ekstasi.
a. Amphetamin : memiliki efek menghilangkan rasa mengantuk, menambah tenaga atau
kewaspadaan dan mengurangi nafsu makan sehingga obat-obatan ini tidak diberikan
kepada pasien dengan anoreksia (kehilangan nafsu makan), insomnia (sulit tidur) dan
kepribadian psikopat atau labil.
b. Ecstasy : mulut kering, kejang, jantung berdenyut lebih cepat dan keringat keluar
lebih banyak, kemudian efek selanjutnya adalah penderita merasakan mata kabur,
Demam tinggi, paranoid, sulit berkonsentrasi dan seluruh otot tubuh terasa nyeri yang
berlangsung seminggu atau lebih.
c. Shabu : merasa bersemangat karena kekuatan fisiknya meningkat, kemampuan
bekerja juga meningkat dan rasa lelah berkurang, kewaspadaan yang meningkat,
menambah daya konsentrasi, menyebabkan rasa gembira luar biasa dan kemampuan
besosialisasi meningkat, kuat jaga semalaman menyebabkan insomnia, mengurangi
nafsu makan, malas makan dan diikuti rasa haus, peningkatan gairah seksual, hal ini
berkebalikan dengan opiate menurunkan libido, namun penggunaan jangka panjang
justru menurunkan fungsi seksual, penggunaan pada saat hamil, bisa menyebabkan
komplikasi pralahir, meningkatkan kelahiran premature atau menyebabkan perilaku
bayi yang tidak normal.
3. Halusinogen
Efek utama halusinogen adalah mengubah daya persepsi atau mengakibatkan halusinasi.
Efek lain yang bisa ditimbulkan adalah rasa khawatir yang akut, gelisah dan tidak bisa
tidur, biji mata yang melebar, suhu badan yang meningkat, tekanan darah yang meningkat
dan gangguan jiwa yang berat.
Halusinogen kebanyakan berasal dari tanaman seperti mescaline dari kaktus dan
psilocybin dari jamur-jamuran. Selain itu ada juga yang diramu di laboratorium seperti
LSD. Yang paling banyak dipakai adalah marijuana atau ganja.

2.3 Penyalahgunaan Napza (Psikotropika) Dan Hukum


Pembangunan kesehatan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional diarah-kan
guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk

agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, yang di-lakukan melalui berbagai upaya
kesehatan, diantaranya penyelenggaraan pelayan-an kesehatan kepada masyarakat.
Dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan tersebut, psikotropika memegang peranan
penting. Disamping itu, psikotropika juga digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan
meliputi penelitian, pengembangan, pendidikan, dan pengajaran sehingga ketersediaannya perlu
dijamin melalui kegiatan produksi dan impor.
Penyalahgunaan psikotropika dapat mengakibatkan sindroma ketergantungan apabila
penggunaannya tidak di bawah pengawasan dan petunjuk tenaga kesehatan yang mempunyai
keahlian dan kewenangan untuk itu. Hal ini tidak saja merugikan bagi penyalahguna, tetapi juga
berdampak sosial, ekonomi, dan keamanan nasional, sehingga hal ini merupakan ancaman bagi
kehidupan bangsa dan negara.
Narkotika dan zat psikotropika merupakan jenis zat yang diperlukan dalam ilmu
pengetahuan dan pengobatan. Pengggunaan narkotika diatur dalam UU No.22/1997 tentang
Narkotika yang dapat menimbulkan ketergantungan Fisik dan psikis dan merugikan apabila
digunakan oleh seseorang tanpa pembatasan dan pengawasan seksama. Sedangkan psikotropika
diatur dalam UU No.5/1997 tentang Psikotropika merupakan obat yang diperlukan dalam dunia
kedokteran untuk pengobatan dan ilmu pengetahuan. Penggunaannya dapat menimbulkan
ketergantungan fisik dan psikis. Narkotika dan psikotropika keduanya termasuk dalam zat
berbahaya.
Dalam Undang-Undang Psikotropika telah diatur secara khusus ketentuan pidana
sebagaimana ditetapkan pada BAB XIV pasal 59 sampai dengan Pasal 72, seluruhnya
merupakan delik kejahatan. Tindak pidana di bidang psikotropika, antara lain berupa perbuatanperbuatan seperti memproduksi dan/atau mengedarkan secara gelap, maupunmenyalahgunakan
psikotropika merupakan perbuatan yang merugikan masyarakat dan negara. Di antara ketentuan
pidana yang diatur dalam UU Psikotropika terdapat ancaman pidana yang dibatasi maksimal dan
minimalnya sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 ayat (1), yaitu minimal pidana penjara 4
tahun dan maksimal 15 Tahun serta pidana denda minimal Rp.10 juta dan maksimal Rp.750 juta.
Sementara dalam pasal 59 ayat (2) dan (3), yaitu maksimal pidana mati dan ditambah pidana
denda paling banyak Rp. 5 milyar.
2.4 Resiko Penyalahgunaan Obat Psikotropika

Obat psikotropik, sebagai salah satu zat psikoaktif , bila digunakan secara salah (misuses)
atau disalah-gunakan (abuse) beresiko menyebabkan timbulnya gangguan jiwa menurut PPDGJIII termasuk kategori diagnosis F10-F19 Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan at
Psikoaktif.
Gangguan mental dan perilaku tersebut dapat bermanifestasi dalam bentuk sebagai berikut :
a) Intoksikasi Akut (tanpa atau dengan komplikasi)
Berkaitan dengan dosis yang digunakan (efek yang berbeda oada dosis yang

berbeda)
Gejala intoksikasi tidak selalu mencerminkan efek primer dari zat (dapat terjadi

efek paradoksa)
b) Penggunaan yang merugikan (Harmful use)
Pola penggunaan zat psikoaktifyang merusak kesehatan (dapat berupa fisik atau
mental)
Belum menunjukkan adanya sindrom ketergantungan
Sudah ada hendaya psikososial sebagai dampaknya
c) Sindrom Ketergantungan (Dependence syndrome)
Adanya keinginan yang amat kuat (dorongan kompulsif) untuk menggunakan zat
psikoaktif secara terus-menerus dengan tujuan memperoleh efek psikoaktif dari

zat tersebut.
Terdapat kesulitan untuk menguasai perilaku menggunakan zat, baik mengenai

mulainya, menghentikannya, ataupun membatasi jumlahnya (loss of control)


Penghentian atau pengurangan penggunaan zat menimbulkan keadaan putus zat,
dengan perubahan fisiologis tubuh yang sangat tidak menyenangkan, sehingga
memaksa orang tersebut menggunakan zat tersebut lagi atau yang sejenis untuk

menghilangkan gejala putus zat tersebut.


Terjadi peningkatan dosis zat psikoaktif yang diperlukan untuk memperoleh efek

yang sama (gejala toleransi)


Terus menggunakan zat meskipun individu menyadari adanya akibat yang
merugikan kesehatannya.

d) Keadaan Putus Zat (Withdrawal state)


Gejala-gejala fisik dan mental yang terjadi pada penghentian pemberian zat
sesudah suatu penggunaan zat yang terus menerus dalam jangka waktu panjang
dan/atau dosis tinggi.

Bentuk dan keparahan gejala tersebut tergantung pada jenis dan dosis zat yang

digunakan sebelumnya.
Gejala putus zat tersebut mereda dengan meneruskan penggunaan zat tersebut
Salah satu indikator dari sindrom ketergantungan.
e) Gangguan Psikotik (Psychotic Disorder)
Sekelompok gejala-gejala psikotik yang terjadi selama atau segera sesudah

penggunaan zat psikoaktif


Ditandai oleh halusinasi, kekeliruan identifikasi, waham dan/atau ideas of
reference (gagasan yang menyangkut diri sendiri sebagai acuan) yang seringkali
bersifat kecurigaan atau kejaran, gangguan psikomotor (excitement atau stupor)
dan efek yang abnormal yang terentang antara ketakutan yang mencekam sampai

kegembiraan yang berlebihan.


Pada umumnya keadaan kesadaran jernih
Variasi pola gejala dipengaruhi oleh jenis zat yang digunakan dan kepribadian

pengguna zat.
f) Sindrom Amnesik (Amnesic Syndrom)
Terjadi hendaya atau gangguan daya ingat jangka pendek (recent memory) yang
menonjol, kadang-kadang terdapat gangguan daya ingat jangka panjang (remote
memory), sedangkan daya ingat segera (immediate recall) masih baik. Fungsi

kognitif lainnya biasanya relatif masih baik.


Adanyagangguan sensasi waktu (menyusun kembali urutan kronologis, meninjau

kejadian berulangkali menjadi satu peristiwa, dll)


Keadaan kesadaran jernih
Perubahan kepribadian, yang sering disertai keadaan apatis dan hilangnya
inisiatif, serta kecendrungan mengabaikan keadaan.

2.5 Tatalaksana Terapi Dan Rehabilitasi Psikotropika


- Outpatient (rawat jalan)
- Inpatient (rawat inap)
- Residency (Panti/Pusat Rehabilitasi)
2.5.1 Tujuan terapi dan rehabilitasi
1. Abstinensia

Absitensia atau Menghentikan sama sekali penggunaan Psikotropika. Tujuan ini


tergolong sangat ideal, namun banyak orang tidak mampu atau mempunyai motivasi
untuk mencapai tujuan ini, terutama kalau ia baru menggunakan Psikotropika pada
fase- fase awal. Pasien tersebut dapat ditolong dengan meminimalisasi efek- efek
yang langsung atau tidak langsung dari Psikotropika. Sebagian pasien memang telah
abstinesia terhadap salah satu Psikotropika tetapi kemudian beralih untuk
menggunakan jenis Psikotropika yang lain.
2. Pengurangan frekuensi dan keparahan relaps
Sasaran utamanya adalah pencegahan relaps. Bila pasien pernah menggunakan satu
kali saja setelah clean maka ia disebut slip. Bila ia menyadari kekeliruannya, dan
ia memang telah dibekali keterampilan untuk mencegah pengulangan penggunaan
kembali, pasien akan tetap mencoba bertahan untuk selalu abstinensia. Pelatihan
relapse prevention programe, Program terapi kognitif, Opiate antagonist maintenance
therapy dengan naltreson merupakan beberapa alternatif untuk mencegah relaps.
3. Memperbaiki fungsi psikologi dan fungsi adaptasi sosial.
Dalam kelompok ini, abstinensia bukan merupakan sasaran utama. Terapi rumatan
(maintence) metadon merupakan pilihan untuk mencapai sasaran terapi golongan ini.
Metadon adalah opiat sintetik yang bisa dipakai untuk menggantikan heroin yang
dapat diberikan secara oral sehingga mengurangi komplikasi medik. Program ini
masih kontroversial, di Indonesia program ini masih berupa uji coba di RSKO
2.5.2 Terapi dan rehabilitasi
Gawat darurat medik akibat penggunaan psikotropika merupakan tanggung

jawab

profesi medis. Profesi medis memegang teguh dan patuh kepada etika medis, karena itu
diperlukan keterampilan medis yang cukup ketat dan tidak dapat didelegasikan kepada
kelompok profesi lain. Salah satu komponen penting dalam keterampilan medis yang erat
kaitannya dengan gawat darurat medik adalah keterampilan membuat diagnosis.
Dalam rehabilitasi pasien ketergantungan psikotropika, profesi medis (dokter) mempunyai
peranan terbatas. Proses rehabilitasi pasien ketergantungan psikotropika melibatkan berbagai
profesi dan disiplin ilmu. Namun dalam kondisi emergency, dokter merupakan pilihan yang
harus diperhitungkan.
Gawat Darurat yang terjadi meliputi berbagai gejala klinis berikut :
a. Intoksikasi
b. Overdosis
c. Sindrom putus NALZA

d. Berbagai macam komplikasi medik (fisik dan psikiatrik)


Penting dalam kondisi Gawat Darurat adalah ketrampilan menentukan diagnosis, sehingga
dengan cepat dan akurat dapat dilakukan intervensi medik.
2.5.2.1 Terapi Medis ( Terapi Organo -Biologi)
a. Terapi intoksikasi
Pada intoksikasi amphetamine berikan Diazepam 10- 30 mg oral atau pareteral,atau
Klordiazepoksid 10-25 mg oral atau Clobazam 3x10 mg. Dapat diulang setelah 30 menit sampai
60 menit. Untuk mengatasi palpitasi beri propanolol 3x10- 40 mg oral.
b. Terapi Terhadap Keadaan Over Dosis
1. Usahakan agar pernapasan berjalan lancar, yaitu :

Lurus dan tengadahkan (ekstenikan) leher kepada pasien (jika diperlukan dapat
memberikan bantalan dibawah bahu)

Kendurkan pakaian yang terlalu ketat

Hilangkan obstruksi pada saluran napas

Bila perlu berikan oksigen


2. Usahakan agar peredaran darah berjalan lancar
Bila jantung berhenti, lakukan masase jantung eksternal, injeksi adrenalin 0.1- 0.2
cc I.M
Bila timbul asidosis (misalnya bibir dan ujung jari biru,hiperventilasi) karena
sirkulasi darah yang tidak memadai, beri infus 50 ml sodium bi karbonas
3. Pasang infus dan berikan cairan (misalnya : RL atau NaC1 0.9 %) dengan kecepatan
rendah (10- 12 tetes permenit) terlebih dahulu sampai ada indikasi untuk memberikan
cairan. Tambahkan kecepatan sesuai kebutuhan,jika didapatkan tanda- tanda kemungki
nan dehidrasi.
4. Lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat kemungkinan adanya perdarahan atau
trauma yang membahayakan.
5. Observasi terhadap kemungkinan kejang. Bila timbul kejang berikan diazepam 10 mg
melalui IV atau perinfus dan dapat diulang sesudah 20menit jika kejang belum teratasi.
6. Bila ada hipoglikemi, beri 50 ml glukosa 50% IV
c. Terapi pada sindrom putus zat
- Terapi putus Kokain atau Amfetamin : Rawat inap perlu dipertimbangkan karena
kemungkinan melakukan percobaan bunuh diri. Untuk mengatasi gejala depresi
berikan anti depresi.

Terapi untuk waham dan delirium pada putus amphetamine : Pada gangguan waham
karena amfetamin atau kokain berikan inj. Haloperidol 2.5- 5 mg IM dan dilanjutkan
peroral 3x2,5- 5 mg/hari.

d. Terapi terhadap komorbid (co- morbid psychopathology)


Setelah keadaan intoksikasi dan sindroma putus psikotropika dapat teratasi, maka perlu
dilanjutkan dengan terapi terhadap gangguan jiwa lain yang terdapat bersama - sama dengan
gangguan

mental

dan

perilaku

akibat

penggunaan

zat

psikoaktif

(co-

morbid

psychopathology), sebagai berikut :


Psikofarmakologis yang sesuai dengan diagnosis
Psikoterapi individual
- Konseling : bila dijumpai masalah dalam komonikasi interpersonal
- Psikoterapi asertif : bila pasien mudah terpengaruh dan mengalami kesulitan dalam

mengambil keputusan yang bijaksan


- Psikoterapi kognitif : bila dijumpai depresi psikogen
Psikoterapi kelompok
Terapi keluarga bila dijumpai keluarga yang patologik
Terapi marital bila dijumpai masalah marital
Terapi relaksasi untuk mengatasi ketegangan
Dirujuk atau konsultasi ke RS Umum atau RS Jiwa

e. Terapi terhadap komplikasi medis


Terapi disesuaikan dengan besaran masalah dan dilaksanakan secara terpadu me libatkan
berbagai disiplin ilmu kedokteran. Misalnya :
Komplikasi Paru dirujuk ke Bagian Penyakit Paru
Komplikasi Jantung di rujuk ke Bagian Penyakit Jantung atau Interna/Penyakit Dalam
Komplikasi Hepatitis di rujuk ke Bagian Interna/Penyakit Dalam
HIV/AIDS dirujuk ke Bagian Interna atau Pokdisus AIDS Dan lain- lain.
f. Terapi Maintenance (Rumatan)
Terapi maintenance/rumatan ini dijalankan pasca detoksifikasi dengan tujuan untuk
mencegah terjadinya komplikasi medis serta tidak kriminal. Secara medis terapi ini
dijalankan dengan menggunakan :
- Terapi psikofarmaka,menggunakan Naltrekson (Opiat antagonis), atau Metadon
- Terapi perilaku, diselenggarakan berdasarkan pemberian hadiah dan Hukum, Selfhelp group
2.5.2.2 Rehabilitasi

Setelah selesai detoksifikasi, penyalahguna psikotropika perlu menjalani Rehabilitasi.


Kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang telah selesai menjalani detoksifikasi sebagian
besar akan mengulangi kebiasaan menggunakan psikotropika, oleh karena rasa rindu
(craving) terhadap psikotropika yang selalu terjadi. Dengan Rehabilitasi diharapkan
pengguna psikotropika dapat :
Mempunyai motivasi untuk tidak menyalahgunakan psikotropika lagi
Mampu menolak tawaran penyalahgunakan psikotropika
Pulih kepercayaan dirinya, hilang rasa rendah dirinya;
Mampu mengelola waktu dan berubah perilaku sehari - hari dengan baik;
Dapat berkonsentrasi untuk belajar atau bekerja;
Dapat diterima dan dapat membawa diri dengan baik dalam pergaulan di
lingkungannya.
2.6 Pemeriksaan Toksikologi
2.6.1 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang cepat harus dilakukan dengan penekanan pada daerah yang paling
mungkin memberikan petunjuk ke arah diagnosis toksikologi, termasuk tanda vital, mata dan
mutut, kulit, abdomen dan sistem saraf.
1. Tanda-tanda vital
Evaluasi dengan teliti tanda-tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, pernapasan dan suhu
tubuh) merupakan hal yang esensial dalam kedaruratan toksikologi. Hipertensi dan
takikardia adalah khas pada obat-obat amfetamin, kokain, fensiklidin, nikotin dan
antimuskarinik. Hipotensi dan bradikardia, merupakan gambaran karakteristik dari
narkotika, kionidin, sedatif-hipnotik dan beta bloker. Takikardia dan hipotensi sering
terjadi dengan antidepresan trisiklik, fenotiazin dan teofihin. Pernapasan yang cepat
adalah khas pada amfetamin dan simpatomimetik lainnya, salisilat, karbon monoksida
dan toksin lain yang menghasilkan asidosis metabolik. Hipertermia dapat disebabkan
karena obat-obat simpatomimetik, antimuskarinik. salisilat dan obat-obat yang
menimbulkan kejang atau kekakuan otot. Hipotermia dapat disebabkan oleh obat
narkotik, fenotiazin dan obat sedatif, terutama jika disertai dengan pemaparan pada
lingkungan yang dingin atau infus intravena pada suhu kamar.1
2. Mata
Konstriksi pupil (miosis) adalah khas untuk keracunan narkotika, klonidin, fenotiazin,
insektisida organofosfat dan penghambat kolinesterase lainnya, Dilatasi pupil (midriasis)

umumnya terdapat pada amfetamin, kokain, LSD, atropin dan obat antirnuskarinik lain.
Nistagmus horizontal dicirikan pada keracunan dengan fenitoin, alkohol, barbiturat dan
obat seclatit lain. Adanya nistagmus horizontal dan vertikal memberi kesan yang kuat
keracunan fensiklidin.1
3. Sistem saraf
Pemeriksaan neurologik yang teliti adalah esensial. Kejang fokal atau defisit
motorik lebih menggambarkan lesi struktural (seperti perdarahan intrakranial akibat
trauma) daripada ensefalopati toksik atau metabolik. Nistagmus, disartria dan ataksia
adalah khas pada keracunan fenitoin, alkohol, barbiturat dan keracunan sedatif lainnya.
Kekakuan dan hiperaktivitas otot umum ditemukan pada metakualon, haloperidol,
fensiklidin (PCP) dan obat-obat simpatomimetik. Kejang sering disebabkan oleh
antidepresan trisiktik, teotilin, isoniazid dan fenotiazin. Koma ringan tanpa refleks dan
bahkan EEG isoelektrik mungkin terlihat pada koma yang dalam karena obat narkotika
dan sedatif-hipnotik dan mungkin menyerupai kematian otak.1
2.6.2 Langkah-Langkah Analisis Toksikologi Forensik
Secara umum tugas analisis toksikolog forensik dalam melakukan analisis dapat
dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu:
1) Penyiapan sampel sample preparation,
2) Analisis meliputi uji penapisan screening test atau dikenal juga dengan general
unknown test dan uji konfirmasi yang meliputi uji identifikasi dan kuantifikasi,
3) Langkah terakhir adalah interpretasi temuan analisis dan penulisan laporan analisis.
Berbeda dengan kimia analisis lainnya (seperti: analisis senyawa obat dan makanan,
analisis kimia klinis) pada analisis toksikologi forensik pada umumnya analit (racun) yang
menjadi target analisis, tidak diketahui dengan pasti sebelum dilakukan analisis. Tidak sering hal
ini menjadi hambatan dalam penyelenggaraan analisis toksikologi forensik, karena seperti
diketahui saat ini terdapat ribuan atau bahkan jutaan senyawa kimia yang mungkin menjadi
target analisis. Untuk mempersempit peluang dari target analisis, biasanya target dapat digali dari
informasi penyebab kasus forensik (keracunan, kematian tidak wajar akibat keracunan, tindak
kekerasan dibawah pengaruh obat-obatan), yang dapat diperoleh dari laporan pemeriksaan di
tempat kejadian perkara (TKP), atau dari berita acara penyidikan oleh polisi penyidik. Sangat

sering dalam analisis toksikologi forensik tidak diketemukan senyawa induk, melainkan
metabolitnya. Sehingga dalam melakukan analisis toksikologi forensik, senyawa matabolit juga
merupakan target analisis.
Sampel dari toksikologi forensik pada umumnya adalah spesimen biologi seperti: cairan
biologis (darah, urin, air ludah), jaringan biologis atau organ tubuh. Berbeda dengan analisis
kimia lainnya, hasil indentifikasi dan kuantifikasi dari analit bukan merupakan tujuan akhir dari
analisis toksikologi forensik. Seorang toksikolog forensik dituntut harus mampu menerjemahkan
apakah analit (toksikan) yang diketemukan dengan kadar tertentu dapat dikatakan sebagai
penyebab keracunan (pada kasus kematian).
2.6.3 Penyiapan Sampel
Spesimen untuk analisis toksikologi forensik dapat berupa cairan biologis, jaringan,
organ tubuh. Dalam pengumpulan spesimen dokter forensik memberikan label pada masingmasing bungkus/wadah dan menyegelnya. Label seharusnya dilengkapi dengan informasi: nomer
indentitas, nama korban, tanggal/waktu otopsi, nama spesimen beserta jumlahnya. Pengiriman
dan penyerahan spesimen harus dilengkapi dengan surat berita acara menyeran spesimen, yang
ditandatangani oleh dokter forensik. Toksikolog forensik yang menerima spesimen kemudian
memberikan dokter forensik surat tanda terima, kemudian menyimpan sampel/spesimen dalam
lemari pendingin freezer dan menguncinya sampai analisis dilakukan. Prosedur ini dilakukan
bertujuan untuk memberikan rantai perlindungan/pengamanan spesimen (chain of custody).
Beberapa hal yang perlu diperhitungkan dalam tahapan penyiapan sampel adalah: jenis
dan sifat biologis spesimen, fisikokimia dari spesimen, serta tujuan analisis. Dengan demikian
akan dapat merancang atau memilih metode penanganan sampel, jumlah sampel yang akan
digunakan, serta memilih metode analisis yang tepat. Penanganan sampel perlu mendapat
perhatian khusus, karena sebagian besar sampel adalah materi biologis, sehingga sedapat
mungkin mencegah terjadinya penguraian dari analit. Penyiapan sampel umumnya meliputi
hidrolisis, ekstraski, dan pemurnian analit. Prosedur ini haruslah mempunyai efesiensi dan
selektifitas yang tinggi. Perolehan kembali yang tinggi pada ekstraksi adalah sangat penting
untuk menyari semua analit, sedangkan selektifitas yang tinggi diperlukan untuk menjamin
pengotor atau senyawa penggangu terpisahkan dari analit. Pada analisis menggunakan GC/MS,
penyiapan sampel termasuk derivatisasi analit secara kimia, seperi salilisasi, metilisasi, dll.

Derivatisasi ini pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan volatilitas analit atau
meningkatkan kepekaan analisis.
2.6.4 Uji Penapisan Screening test
Uji skrinning adalah pemeriksaan pendahuluan laboratorium sebagai upaya penyaring
untuk mengetahui ada atau tidaknya dan jenis obat yang menimbulkan efek toksis atau efek
gangguan kesehatan. Dalam deteksi penyalahgunaan narkotika dan psikotropika, uji skrining
dilakukan untuk menentukan golongan analit (narkotika dan psikotropika) yang digunakan.1,2
Hasil dari uji skrining dapat dijadikan dasar dugaan atau hanya sebagai petunjuk dan
bukan merupakan bukti yang kuat bahwa seseorang telah mengkonsumsi narkotika dan
psikotropika karena uji skrining belum mampu mendeteksi jenis zat narkotika dan psikotropika
spesifik yang terkandung di dalam sampel .Pemeriksaan skrining positif berarti suatu obat atau
metabolitnya terdapat dalam darah sebanyak atau lebih banyak dari batas deteksi alat.2,3
Uji penapisan untuk menapis dan mengenali golongan senyawa (analit) dalam sampel.
Disini analit digolongkan berdasarkan baik sifat fisikokimia, sifat kimia maupun efek
farmakologi yang ditimbulkan. Obat narkotika dan psikotropika secara umum dalam uji
penapisan dikelompokkan menjadi golongan opiat, kokain, kannabinoid, turunan amfetamin,
turunan benzodiazepin, golongan senyawa anti dipresan tri-siklik, turunan asam barbiturat, dan
turunan metadon.
a. Teknik immunoassay
Teknik immunoassay adalah teknik yang sangat umum digunakan dalam analisis
obat terlarang dalam materi biologi. Teknik ini menggunakan anti-drug antibody untuk
mengidentifikasi obat dan metabolitnya di dalam sampel (materi biologik). Jika di dalam
matrik terdapat obat dan metabolitnya (antigen-target) maka dia akan berikatan dengan
anti-drug antibody, namun jika tidak ada antigentarget maka anti-drug antibody akan
berikatan dengan antigen-penanda. Terdapat berbagai metode / teknik untuk
mendeteksi ikatan antigenantibodi ini, seperti enzyme linked immunoassay (ELISA),
enzyme

multiplied

immunoassay

technique

(EMIT),

fluorescence

polarization

immunoassay (FPIA), cloned enzyme-donor immunoassay (CEDIA), dan radio


immunoassay (RIA).2

Hasil dari immunoassay test ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan,
bukan untuk menarik kesimpulan, karena kemungkinan antibodi yang digunakan dapat
bereaksi dengan berbagai senyawa yang memiliki baik bentuk struktur molekul maupun
bangun yang hampir sama. Reaksi silang ini tentunya memberikan hasil positif palsu.
hasil reaksi immunoassay (screening test) harus dilakukan uji pemastian (confirmatori
test).2
Alat yang dapat digunakan untuk melakukan uji skrinning dan hanya memerlukan
waktu sesaat untuk membaca hasilnya secara manual adalah strip test. Strip test
merupakan teknik immunoassay dengan menggunakan dasar reaksi imunologi antara
antigen dan antibodi. Selanjutnya dilakukan uji konfirmasi untuk memastikan jenis zat
narkotika dan psikotropika yang terkandung di dalam sampel tersebut.2
b. Kromatografi lapis tipis (KLT)
KLT adalah metode analitik yang relatif murah dan mudah pengerjaannya, namun
KLT kurang sensitif jika dibandungkan dengan teknik immunoassay. Kombinasi KLT
dengan spektrofotodensitometri, analit yang telah terpisah dapat dideteksi spektrumnya
(UV atau fluoresensi). Kombinasi ini tentunya akan meningkatkan derajat sensitifitas dan
spesifisitas dari uji penapisan dengan metode KLT. Secara simultan kombinasi ini dapat
digunakan untuk uji pemastian.2

2.6.5 Uji konfirmasi


Analisis penyalahgunaan obat diawali dengan pemeriksaan pendahuluan (screening test),
yang kemudian dilanjutkan dengan uji konfirmasi. Uji konfirmasi dalam analisis obat melibatkan
metode kromatografi (umumnya dengan deteksi secara spektroskopik) untuk menentukan satu
atau lebih senyawa tunggal dan digunakan sebagai analisis lanjutan untuk memastikan hasil dari
uji imunokimia. High Performance Liquid Chromatography-Diode Array Detector (HPLCDAD)
merupakan salah satu metode kromatografi yang dapat digunakan dalam uji konfirmasi.2
Pemeriksaan konfirmasi adalah suatu pemeriksaan lanjutan yang lebih akurat karena hasil
yang dikeluarkan sudah definitif menunjukkan jenis zat narkotika psikotropika yang terkandung
di dalam sampel tersebut. Pemeriksaan dilakukan apabila hasil pemeriksaan pendahuluan

(screening test) memberi hasil positif (BNN, 2008). Dari hasil uji konfirmasi ini akan diketahui
jenis zat golongan yang terdapat pada sampel, contohnya pada sampel darah diketahui positif
mengandung diazepam. Untuk mengetahui apakah pada saat kejadian korban berada di bawah
pengaruh obat tersebut, maka perlu dilakukan penetapan kadar.2
Bila uji skrining pada sampel menggunakan teknik immonoassay test (EMIT) terdeteksi
positif golongan opiat dan benzodiazepine, maka perlu dilakukan uji konfirmasi untuk
menentukadar kadar zat tersebut. Dari penetapan kadar alkohol di darah dan urin terdapat
alkohol 0,1 promil dan 0,1 promil.
Pada uji konfirmasi dengan menggunakan alat GC-MS diperoleh hasil:
- darah sebelum di hidrolisis: - morfin: 0,200 g/ml, - kodein: 0,026 g/ml
- darah setelah hidrolisis: - morfin: 0,665 g/ml, - kodein: 0,044 g/ml
- urin sebelum hidrolisis: - 6-asetilmorfin: 0,060 g/ml, - morfin: 0,170 g/ml, - kodein:
0,040 gml
- urin setelah hidrolisis : - morfin: 0,800 g/ml, - kodein: 0,170 g/ml
Golongan benzodiazepin yang terdeteksi di darah adalah: diazepam: 1,400 g/ml;
nordazepam: 0,086 g/ml; oxazepam: 0,730 g/ml; temazepam: 0,460 g/ml
Dalam menginterpretasikan hasil temuannya seorang toksikolog forensik harus mengulas
kembali efek toksik dan farmakologi yang ditimbulkan oleh analit, baik efek tunggal dari opiate
dan benzodiazepin maupun efek kombinasi yang ditimbulkan dalam pemakaian bersama antara
opiat dan benzodiazepin. Menyacu informasi konsentrasi toksik (lethal concentration) dapat
diduga penyebab kematian dari korban. Efek toksik yang ditimbulkan oleh pemakaian heroin
adalah dipresi saluran pernafasan. Keracunan oleh heroin ditandai dengan adanya udema paruparu. Sedangkan pemakaian diazepam secara bersamaan akan meningkatkan efek heroin dalam
penekanan sistem pernafasan. Hal ini akan mempercepat kematian.

Berikut tabel jenis pemeriksaan


terdeteksi.

penunjang psikotropika beserta jenis analit yang dapat

2.7 Pemeriksaan pada Kematian Akibat Pemakaian Psikotropika


Kematian dapat terjadi melalui mekanisme depresi pusat pernafasan yang menimbulkan
henti nafas. Komplikasi berupa atelektasis, pneumonia hipostatik, pneumonia aspirasi dan edema
paru. Diagnosis keracunan barbiturat dapat sukar ditegakkan. Bunuh diri sering diikuti dengan
meminum alkohol jumlah banyak, sehingga bau alkohol pada pernafasan akan mengacaukan
diagnosis. Pada penderita yang segera meninggal atau yang ditemukan setelah meninggal,
pemeriksaan pada tempat kejadian perlu dilakukan. Ditemukannya botol obat yang kososng,

sisa-sisa tablet/kapsul pada tempat kejadian, sisa-sisa tablet dengan warna khas pada mulut atau
dalam lambung akan sangat membantu diagnosis.1,2,3
Diagnosis banding tergantung dari hasil pemeriksaan toksikologi jenis zat yang terdapat
dalam tubuh korban. Untuk ini diperlukan tersedianya pemeriksaan kromatografi yang dengan
cepat dapat menentukan jenis dan jumlah obat depresi SSP dalam tubuh. Pada barbiturat tidak
terjadi deposit masif dalam organ tertentu, meskipun dalam hati kadarnya lebih banyak dari
darah.2
Jika obat dihirup, dapat ditemukan sejumlah kecil bubuk pada saat hidung dibuka atau
melalui swab methanol pada septum hidung. Pada injeksi biasanya digunakan jarum insulin, dan
bekas suntikan biasanya agak sulit dilihat. Kaca pembesar dapat digunakan untuk melihat bekas
suntikan tersebut, bekas suntikan tersebut kemungkinan tidak terdapat perdarahan. Ketika
pengguna cenderung untuk menggunakan berulang kali untuk meningkatkan efek, bekas tusukan
cenderung banyak dan berkumpul disekitar vena yang sering digunakan. Terkadang bekas tato di
atas vena menyembunyikan bekas tusukan.
Jika obat dihisap atau dikonsumsi secara oral, mungkin tidak ada manifestasi eksternal
yang ditemukan. Disamping informasi lain, terdapat tanda terbakar pada jari telunjuk bagian
palmar

yang

digunakan

untuk

memegang

pipa

panas

pada

penggunaan

oral.

Sampel autopsi harus menyertakan darah perifer, urin, jaringan hepar, empedu, isi lambung dan
rambut. Urin, cairan spinal dan jaringan dapat positif untuk beberapa hari setelah penggunaan
pertama, dan positif untuk waktu yang lebih lama pada penggunaan kronis. Rambut juga dapat
dianalisis untuk melihat positif tidaknya penggunaan MDMA. Beberapa pemeriksaan juga
menyertakan paru paru dan otak sebagai sampel tambahan
Penemuan Post Mortem pada Korban dengan Penyalahgunaan Psikotropika
Gambaran post mortem pada keracunan psikotropika

biasanya tidak khas.Pada

pemeriksaan luar hanya tampak gambaran asfiksia. Keracunan psikotropika

menimbulkan

depresi pusat pernapasan ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernapasan,
mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbon dioksida
(hiperkapnea). Dengan demikian organ tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia

hipoksik) dan terjadi kematian. Gangguan terjadi di dalam jaringan sendiri, sehingga jaringan
atau tubuh tidak dapat menggunakan oksigen secara efektif.

Anoksia dapat terjadi pada

ekstraselular dan intraselular. Pada keracunan Barbiturat dan hipnotik lainnya, yang terjadi
adalah anoksia ekstraselular, dimana enzim sitokrom dihambat secara parsial sehingga kematian
berlangsung perlahan.
Selama beberapa tahun dilakukan autopsi untuk mendiagnosis kematian akibat asfiksia,
telah ditetapkan beberapa tanda klasik,yaitu:
a. Tardieus spot (Petechial hemorrages). Tardieus spot terjadi karena peningkatan
tekanan vena secara akut yang menyebabkan overdistensi dan rupturnya dinding
perifer vena, terutama pada jaringan longgar, seperti kelopak mata, dibawah kulit
dahi, kulit dibagian belakang telinga, circumoral skin, konjungtiva dan sklera
mata. Selain itu juga bisa terdapat dipermukaan jantung, paru dan otak. Bisa juga
terdapat pada lapisan viseral dari pleura, perikardium, peritoneum, timus, mukosa
laring dan faring, jarang pada mesentrium dan intestinum.
b. Kongesti dan Oedema. Ini merupakan tanda yang lebih tidak spesifik
dibandingkan dengan ptekie. Kongesti adalah terbendungnya pembuluh darah,
sehingga terjadi akumulasi darah dalam organ yang diakibatkan adanya gangguan
sirkulasi pada pembuluh darah. Pada kondisi vena yang terbendung, terjadi
peningkatan tekanan hidrostatik intravaskular (tekanan yang mendorong darah
mengalir di dalam vaskular oleh kerja pompa jantung) menimbulkan perembesan
cairan plasma ke dalam ruang interstitium. Cairan plasma ini akan mengisi pada
sela-sela jaringan ikat longgar dan rongga badan (terjadi oedema).
c. Sianosis. Merupakan warna kebiru-biruan yang terdapat pada kulit dan selaput
lendir yang terjadi akibat peningkatan jumlah absolut Hb tereduksi (Hb yang
tidak berikatan dengan O2).
d. Tetap cairnya darah. Terjadi karena peningkatan fibrinolisin paska kematian.
Pada pemeriksaan luar jenazah dengan asfiksia dapat ditemukan:
a. Sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan kuku.

b. Warna lebam mayat merah-kebiruan gelap dan terbentuk lebih cepat. Distribusi
lebam mayat lebih luas akibat kadar karbondioksida yang tinggi dan aktivitas
fibrinolisin dalam darah sehingga darah sukar membeku dan mudah mengalir.
c. Terdapat busa halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat peningkatan
aktivitas pernapasan pada fase 1 (dispneu) yang disertai sekresi selaput lendir
saluran napas bagian atas. Keluar masuknya udara yang cepat dalam saluran
sempit akan menimbulkan busa yang kadang-kadang bercampur darah akibat
pecahnya kapiler.
d. Gambaran pembendungan pada mata berupa pelebaran pembuluh darah
konjungtiva bulbi dan palpebra yang terjadi pada fase 2 (konvulsi) . Akibatnya
tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah meningkat terutama dalam vena,
venula dan kapiler. Selain itu, hipoksia dapat merusak endotel kapiler sehingga
dinding kapiler yang terdiri dari selapis sel akan pecah dan timbul bintik-bintik
perdarahan yang dinamakan sebagai Tardieus spot.
Pada pemeriksaan dalam jenazah dapat ditemukan:
a. Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer, karena fibrinolisin darah yang
meningkat paska kematian.
b. Busa halus di dalam saluran pernapasan.
c. Pembendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh sehingga menjadi
lebih berat, berwarna lebih gelap dan pada pengirisan banyak mengeluarkan
darah.
d. Petekie dapat ditemukan pada mukosa usus halus, epikardium pada bagian
belakang jantung belakang daerah aurikuloventrikular, subpleura viseralis
paru terutama di lobus bawah pars diafragmatika dan fisura interlobaris, kulit
kepala sebelah dalam terutama daerah otot temporal, mukosa epiglotis dan
daerah sub-glotis.
e. Edema paru sering terjadi pada kematian yang berhubungan dengan hipoksia.
Obat-obat psikotropika yang sering disalahgunakan adalah amfetamin dan barbiturat.
Berikut temuan post mortem obat-obat tersebut :
1. Keracunan Amfetamin

Penemuan pada otak. Studi post mortem memperlihatkan perubahan level serotonin dan
metabolit utamanya pada otak pada pengguna jangka panjang amfetamine. Level
serotonin berkurang 50%80% pada regio yang berbeda pada otak, pada perbandingan
dengan yang tidak menggunakan amfetamine. Dapat memperlihatkan gambaran
disseminated intravaskular coagulation (DIC), edema dan degenerasi neuron nampak
pada lokus ceruleus. Sebuah studi postmortem terhadap 6 orang pengguna amfetamine, 2
orang memperlihatkan fokal hemoragi pada otak. Pada salah satu kasus terdapat nekrosis

glandula hipofisis, hal ini kemungkinan karena kurangnya suplai darah.


Penemuan pada paru paru. Pada pemeriksaan internal, paru paru berat, biasanya berat
masing masing 400 hingga 500 gram, tapi berat paru paru yang sampai 1000 gram
atau lebih juga terkadang ditemukan. Jika digunakan secara intravena, dapat ditemukan
benda asing pada paru. Sebuah studi postmortem terhadap 6 orang pengguna amfetamine,
ditemukan infark pulmonar pada salah seorang pengguna. Pada dua orang lainnya

ditemukan hemoragi intra alveolar. Pada salah satu kasus terdapat inhalasi isi gaster.
Penemuan pada jantung. Jantung adalah target organ, terkadang terjadi penambahan
berat, terutama pada hipertrofi ventrikel kiri dan pembesaran jantung bagian kanan. Pada
pemeriksaan mikroskopik ditemukan kongesti dari organ dengan edema. Juga dapat
ditemukan peningkatan sejumlah partikel karbon. Bisa juga terlihat nekrosis myofibril.
Sejak diketahui bahwa obat ini merupakan stimulator katekolamin, dan menyebabkan
terjadinya peningkatan katekol dalam darah, jantung sering terdapat area iskemi dan

mionekrosis yang dikelilingi oleh neutrofil dan makrofag


Penemuan pada hepar. Dapat terdapat pembesaran hepatosit dan pada sitoplasma bisa
mengandung banyak vakuola. Kasus intoksikasi yang menyebabkan hipertermia dengan
kegagalan fungsi hati sering terdapat nekrosis hepatis massif., Perlemakan, dilatasi

sinusoidal dan inflamasi juga ditemukan.


Penemuan pada ginjal.
o Pada ginjal Amfetamine mengakibatkan myoglobinuric tubular necrosis,
sedangkan metamfetamine dapat menyebabkan Proliferatif Glomerulonephritis
akibat dari suatu systemic necrotizing vasculitis. Biasanya terjadi bila amfetamine
digunakan secara intravena, Merupakan keadaan yang jarang terjadi, dan timbul
bila terjadi overdosis. Yang paling sering adalah derivat metamfetamin

Pemeriksaan darah.

o Waktu paruh yang cukup lama menyebabkan obat dapat dideteksi pada darah
dalam waktu beberapa jam, bergantung dari dosisnya. Metabolisme menghasilkan
amfetamin sebagai metabolit pertama dari metamfetamin, dan rasio pada darah
dan urin dapat membantu menentukan penggunaan akut atau kronis. Kebanyakan
tes skrining darah untuk amfetamin adalah menggunakan teknik imunoassay.
Dapat juga dengan menggunakan gas kromatografi dan analisis spektroskopi.
Identifikasi amfetamine dengan menggunakan saliva telah ada dan dapat
digunakan untuk tes simpel yang non-invasif.

Tes Urin.
o Pengguna MDMA akan memperlihatkan hasil positif pada amfetamin (metode
umum) dan metamfetamin (metode tes yang baru dan lebih jarang digunakan).
Periode deteksi amfetamin pada urin adalah 24-96 jam setelah penggunaan (rata
rata 72 jam). Periode deteksi amfetamin dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
pH dan status hidrasi.

2. Keracunan Barbiturat
Pada otopsi, diagnosis kematian akibat keracunan barbiturat akut terkadang tidak dapat
ditentukan oleh karena tertutupi oleh sebab kematian yang lain seperti perdarahan subarakhnoid
spontan, ruptur aneurisma aorta. Gambaran post mortem padakeracunan barbiturat biasanya tidak
khas.Pada pemeriksaan luar hanya tampak gambaran asfiksia berupa sianosis, keluarnya busa
halus dari mulut atau paru, tardieau spot, dapat ditemukan vesikel atau bula pada kulit daerah
yang tidak tertekan. Pada pembedahan jenazah, mukosa saluran cerna dan seluruh organ
menunjukkan tanda-tanda perbendungan. Esofagus menebal, berwarna merah coklat gelap dan
kongestif.1,2

Bercak perdarahan pada mukosa konjungtiva bulbi dan konjungtiva palpebra


Penemuan lain adanya perubahan warna mukosa esofagus dan lambung dengan lendir
yang berwarna merah muda pada keracunan seconal, kuning pada nembutal, hijau kebiruan pada
amytal. Tapat pula ditemukan sisa tablet di lambung. Oleh karena barbiturat bersifat iritatif ,
mukosa lambung dapat menunjukkan tanda-tanda korosif dengan atau tanpa perdarahan. Paruparu dapat menunjukkan tanda-tanda edema paru dan kongesti hebat, daerah basal paru dapat
mengalami deaerasi progresif yang menimbulkan atelektasis. Pada pleura dapat ditemukan
bercak perdarahan. Dalam saluran nafas terdapat cairan yang berbusa bercampur sedikit darah.
Otak menunjukkan tanda-tanda perbendungan, selain itu terdapat lesi di korteks dan basal
ganglia otak berupa infiltrasi sel-sel bulat perivaskular, degenerasi neuron terutama di talamus
dan putamen, small ring hemorrhages, nekrosis globus palidus yang simetris dan bilateral.1,2

Pada paru-paru kanan ditemukan adanya buih.


Untuk pemeriksaan toksikologi, bahan yang harus dikirim ialah isi lambung, darah hati,
urin, ginjal. Interpretasi kadar barbiturat. Kadar obat ini dalam serum kurang lebih sama dengan
kadar dalam darah. Kadar dalam hati 4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kadar dalam darah.
Bila kadar lebih dari 4 kali berarti penelanan dalam waktu kurang drai 5 jam sebelum orang

tersebut mati. Untuk menentukan barbiturat dalam organ tubuh perlu dilakukan ekstraksi lebih
dahulu. Ada 5 macam metode ekstraksi dan yang memberikan hasil terbaik ialah ekstraksi
langsung dengan kloroform. Dapat pula dilakuakan dengan metode Kopanyi yaitu memasukkan
50 ml urin atau isi lambung dalam sebuah corong. Diperiksa dengan kertas lakmus, jika bersifat
alkali tambahkan HCl sampai bersifat asam. Tambahkan 100 ml eter, kocok selama beberapa
menit. Diamkan sebentar, tampak air terpisah dari eter, lapisan air dibuang, barbiturat terdapat
dalam lapisan eter. Saring eter ke dalam beaker glass dan uapkan sampai kering. Kemudian
tambahkan 10 tetes kloroform. Ambil beberapa tetes larutan letakkan pada white pocelain spot
plate. Tambahkan 1 tetes kobalt asetatdan 2 tetes isopropilamin. Barbiturat akan memberi warna
merah muda sampai ungu. Pemeriksaan semikuantitatif dan kuantitatif dapat dilakukan dengan
kromatografi lapis tipis, kromatografi gas cair, dan spektrofotometri ultra violet.1,2

Bab 3
Simpulan
1
3.1

Simpulan
Dari penjabaran yang telah disebutkan sebelumnya, dapat kami simpulkan bahwa

psikotropika dibagi menjadi 4 golongan menurut undang-undang Undang - undang No. 5 Tahun
1997 , yaitu dibagi menurut potensinya menimbulkan ketergantungan pada korban serta dalam
penggunaannya. Penyalahgunaan psikotropika dapat mengakibatkan sindroma ketergantungan
apabila penggunaannya tidak di bawah pengawasan . Keracunan pada psikotropika memiliki ciri
tertentu dan dengan pemeriksaan forensik serta pemeriksaan penunjang dapat dibedakan dari
keracunan pada zat atau obat-obatan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rukiman, HM. 2005. Penyalahgunaan Psikotropika Dikalangan Remaja dan Penanggulangannya


Di Jawa Tengah. Tersedia dalam http://eprints.undip.ac.id/14589/1/2005MH5422.pdf ,
diakses pada 12 Februari 2014.
2. Wirasuta et all, 2007. Validasi Metode Uji Konfirmasi Senyawa Golongan Benzodiazepin
Dengan

HPLC-DAD.

Universitas

Udayana.

Tersedia

dalam

http://ojs.unud.ac.id/index.php/jfu/article/download/5652/4293 , diakses pada 12 Februari


2014.
3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 422/MENKES/SK/III/2010, Pedoman
Penatalaksanaan

Medik

Gangguan

Penggunaan

NAPZA.

Tersedia

dalam

http://buk.depkes.go.id/index.php?
option=com_docman&task=doc_download&gid=699&Itemid=142 , diakses
Februari 2014.

pada 12