Anda di halaman 1dari 2

Laju Endap Darah (LED)

Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) merupakan salah satu pemeriksaan darah rutin yang sering dilakukan di laboratorium. Pemeriksaan darah rutin lainnya adalah : kadar Hemoglobin (Hb), jumlah Leukosit, hitung jenis Leukosit (Differensial Caunting). Sedangkan pemeriksaan penyaring (screening) adalah : Gambaran Darah Tepi, Jumlah Eritrosit, Hematokrit, Index Eritrosit, Hitung Trombosit. Laju Endap Darah (LED) sering diistilahkan dalam bahasa asing yaitu : Blood Basenking Sneilheid (BBS), Blood Sedimentation Rate (BSR), Blood Sedimentation Eritrocyt (BSE), Eritrocyte Sedimentation Rate (ESR). Dalam Bahasa Indonesia sering disebut dengan istilah Kecepatan Pengendapan Darah (Riyantiningsih, 2010). LED adalah kecepatan pengendapan eritrosit dari suatu sampel darah yang diperiksa dalam suatu alat tertentu yang dinyatakan dalam mm per jam. Tujuan pemeriksaan adalah untuk mengetahui kecepatan pengendapan darah dalam 1 jam. Kecepatan Laju Endap Darah (LED) seseorang dapat bervariasi antara yang satu dengan lainnya (Riyantiningsih, 2010). Laju endap darah ditujukan untuk melihat kecepatan darah dalam membentuk endapan. Laju endap darah akan meningkat atau naik apabila mengalami cidera, peradangan, atau kehamilan. Laju endap darah juga akan meningkat apabila terkena infeksi yang kronis atau kasus-kasus dimana peradangan menjadi kambuh, misalanya TBC atau rematik. Adanya tumor, keracunan logam, radang ginjal maupun liver juga kadang memberikan nilai yang tinggi untuk laju endap darah seseorang. Laju endap darah pun dapat menurun akibat kelainan sel-sel darah merah seperti polisitemia vera yaitu suatu penyakit dimana sel darah merah sangat banyak sehingga darah menjadi sangat kental. Jika dilakukan pemeriksaan laju endap darah, maka kecepatan timbulnya pengendapan menjadi sangat lambat karena volume sel darah merah hampir sama dengan darah keseluruhan. Pemeriksaan laju endap darah sangat berguna untuk mendeteksi adanya suatu peradangan dan bahkan perjalanan atau aktivitas suatu penyakit. Jika seseorang sering didiagnosa penyakit tifus oleh dokter, biasanya akan ditemui laju endap darah yang tinggi (Bastiansyah, 2008). Pada penderita anemia aplastik, laju endap darah selalu meningkat. Dalam buku Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi V menyebutkan bahwa 62 dari 70 kasus (89%) mempunyai laju

endap darah lebih dari 100 mm dalam jam pertama (Sudoyo, Setiyohadi, Alwi, K, & Setiati, 2009). Proses LED dapat dibagi dalam 3 tingkatan yaitu: pertama ialah tingkatan penggumpalan yang menggambarkan periode eritrosit membentuk gulungan (rouleaux) dan sedikit sedimentasi. Kedua ialah tingkatan pengendapan cepat, yaitu eritrosit mengendap secara tetap dan lebih cepat. Ketiga ialah tingkatan pemadatan, pengendapan gumpalan eritrosit mulai melambat karena terjadi pemadatan eritrosit yang mengendap. Nilai rujukan LED di laki-laki 010 mm/jam dan perempuan 015 mm/jam (Ibrahim, Aprianti, Arif, & Hardjoeno, 2006). Laju endap darah adalah tes laboratorium penting dalam hematologi. Tubuh Inklusi merupakan tambahan yang abnormal dalam sel darah merah yang dapat terjadi dalam banyak kasus-kasus kelainan. Inklusi tubuh adalah obyek dan telah massa karena itu, pose berat spesifik yang dapat memodifikasi sedimentasi normal sel darah merah (Wiwanitkit, 2008).

Daftar Pustaka
Bastiansyah, E. (2008). Panduan Lengkap: membaca hasil tes kesehatan. Jakarta: Penebar Plus. Ibrahim, N., Aprianti, S., Arif, M., & Hardjoeno. (2006). HASIL TES LAJU ENDAP DARAH CARA MANUAL DAN AUTOMATIK. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Vol. 12, No. 2, 45-48. Riyantiningsih. (2010). PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN LAJU ENDAP DARAH (LED) DENGAN MENGGUNAKAN METODE WESTERGREN MANUAL DAN AUTOMATIK. Undergraduate Theses from JTPTUNIMUS. Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, I., K, M. S., & Setiati, S. (2009). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi V. Jakarta: InternaPublishing. Wiwanitkit, V. (2008). Red blood cell inclusion will increase of erythrocyte sedimentation rate. Iranian Journal of Medical Hypotheses and Ideas, 1-3.