Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
PADA TRAUMA KEPALA

Dosen Pembimbing :

dr.Yvonne N. Y. Palijama, SpRad. MARS

Disusun oleh :

Adipta Kurniawan (11-262)

KEPANITERAAN ILMU RADIOLOGI


PERIODE 27 JULI 29 AGUSTUS 2015
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
1

BAB I
PENDAHULUAN
Cedera kepala traumatis adalah masalah medis dan sosial - ekonomi utama. 1 Cedera
kepala

traumatis umumnya didefinisikan sebagai gangguan

terhadap otak dari kekuatan

eksternal yang menyebabkan kerusakan sementara atau permanen terhadap fungsional ,


psikososial , atau kemampuan fisik. Ini adalah penyebab signifikan morbiditas dan mortalitas ,
dan penyebab utama kematian dan cacat pada anak-anak dan orang dewasa muda .1
Menurut Brain Injury Assosiation of America, trauma kepala adalah suatu kerusakan
pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh
serangan/benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang
menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik.2
Trauma kepala menyumbang sekitar 40 % dari semua kematian akibat cedera akut di
Amerika Serikat. Setiap tahun, 200.000 korban trauma kepala perlu rawat inap. Sekitar 52.000
kematian AS per tahun dari trauma kepala. Dalam sebuah studi cedera kepala berat, angka
kematian di cedera kepala berat sekitar 33 %. Dalam penelitian lain, di Virginia Tengah, angka
kematian di cedera kepala sedang ditemukan 2,5 %.3
Angka kematian pria-wanita untuk trauma kepala adalah 3,4 : 1. Risiko puncak trauma
kepala ketika individu berusia 15-30 tahun . Risiko tertinggi untuk individu berusia 15-24
tahun . Usia puncak adalah sama untuk pria dan wanita. Angka kematian tertinggi ( 32,8 kasus
per 100.000 orang ) ditemukan pada orang berusia 15-24 tahun. Angka kematian pada pasien
yang sudah lanjut usia ( 65 tahun atau lebih tua ) adalah sekitar 31,4 individu per 100.000 orang .
Dua puluh persen dari trauma kepala terjadi pada kelompok usia anak . Angka yang lebih tinggi
pada anak-anak usia 0-4 tahun.3
Berdasarkan latar belakang di atas terlihat bahwa pemeriksaan penunjang sangat penting
dalam mendiagnosa, mengidentifikasi dan mengetahui karakteristik pada trauma kepala. Pasien
dengan trauma kepala memerlukan penegakan diagnosis sedini mungkin agar tindakan terapi
dapat segera dilakukan untuk menghasilkan prognosa yang baik. Peranan diagnosa radiologis
juga diperlukan terutama pada pasien dengan tingkat resiko sedang-berat. Tujuan utama dari

pemeriksaan radiologis pada pasien trauma kepala adalah untuk mengkonfirmasi adakah cedera
intrakranial yang berpotensi mengancam jiwa pasien bila tidak segera dilakukan tindakan.

BAB II
TRAUMA KEPALA

II.1. Anatomi Fisiologi Kepala dan Bagiannya


II.1.1 Kulit Kepala
Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu; skin atau kulit, connective
tissue atau jaringan penyambung, aponeurosis atau galea aponeurotika, loose connective tissue
atau jaringan penunjang longgar, dan pericranium.4
II.1.2 Tulang Tengkorak
Anatomi normal tengkorak ditunjukkan pada Gambar 1 dan Gambar 2. Tulang tengkorak
terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii. Khusus di region temporal, kalvaria tipis tetapi
dilapisi oleh otot temporalis. Basis kranii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian
dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi. Dasar rogga tengkorak dibagi
atas 3 fosa yaitu: fosa anterior, fosa media dan fosa posterior. Fosa anterior tempat lobus
frontalis, fosa media tempat
lobus

temporalis

dan

fosa

posterior adalah ruang untuk


bagian bawah batang otak dan
otak kecil (cerebellum).4

Gambar 1.a Foto Polos Kepala


dari Proyeksi Lateral

Gambar 1.b. Skematik Foto Polos Kepala Proyeksi


Lateral (A) dan AP (B)

Gambar 2. Vaskularisasi
pada Tulang Tengkorak

II.1.3 Meningen

Gambar 3. Potongan
Melintang Tulang Tengkorak
dan Meningens

Meningia merupakan selaput yang menutupi seluruh permukaan otak. Fungsi meningia
yaitu melindungi struktur saraf halus yang membawa pembuluh darah dan cairan sekresi (cairan
serebrospinal), dan memperkecil benturan atau getaran. Meningia terdiri atas 3 lapisan, yaitu: 4
a. Duramater (Lapisan sebelah luar)

Duramater adalah selaput keras pembungkus otak yang berasal dari jaringan ikat tebal
dan kuat, dibagian tengkorak terdiri dari selaput tulang tengkorak dan duramater
propia di bagian dalam. Duramater pada tempat tertentu mengandung rongga yang
mengalirkan darah vena dari otak, rongga ini dinamakan sinus longitudinal superior
yang terletak diantara kedua hemisfer otak.
b. Arachnoid (Lapisan tengah)
Arachnoid adalah membran impermeabel halus yang meliputi otak dan terletak
diantara piamater di sebelah dalam dan duramater di sebelah luar. Ruang sub
arachnoid pada bagian bawah serebelum merupakan ruangan yang agak besar disebut
sistermagna.
c. Piamater (Lapisan sebelah dalam)
Piamater merupakan selaput tipis yang terdapat pada permukaan jaringan otak.
Piameter berhubungan dengan arachnoid melalui struktur jaringan ikat.
II.1.4 Otak
Otak merupakan suatu organ tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat dari
semua organ tubuh, bagian dari saraf sentral yang terletak di dalam rongga tengkorak (kranium)
yang dibungkus oleh selaput otak yang kuat. Otak terdiri dari otak besar (cerebrum), otak kecil
(cerebellum), dan batang otak (Trunkus serebri).4

Gambar 4. Bagian Utama dari


Otak

a. Otak besar (cerebrum)


Otak besar adalah bagian terbesar dari otak dan terdiri dari dua hemispherium cerebri
yang dihubungkan oleh massa substansia alba yang disebut corpus callosum. Setiap
hemisfer terbentang dari os frontale sampai ke os occipitale, diatas fossa cranii
anterior, media, dan posterior, diatas tentorium cerebelli. Hemisfer dipisahkan oleh
sebuah celah dalam, yaitu fossa longitudinalis cerebri, tempat menonjolnya falx
cerebri.
Otak mempunyai 2 permukaan, permukaan atas dan permukaan bawah. Kedua
lapisan ini dilapisi oleh lapisan kelabu (substansia grisea) yaitu pada bagian korteks
serebral dan substansia alba yang terdapat pada bagian dalam yang mengandung
serabut saraf. Fungsi otak besar yaitu sebagai pusat berpikir (kepandaian), kecerdasan
dan kehendak. Selain itu otak besar juga mengendalikan semua kegiatan yang
disadari seperti bergerak, mendengar, melihat, berbicara, berpikir dan lain sebagainya.

b. Otak kecil (cerebellum)


Otak kecil terletak dibawah otak besar. Terdiri dari dua belahan yang dihubungkan
oleh jembatan varol, yang menyampaikan rangsangan pada kedua belahan dan

menyampaikan rangsangan dari bagian lain. Fungsi otak kecil adalah untuk mengatur
keseimbangan tubuh serta mengkoordinasikan kerja otot ketika bergerak.
c.

Batang Otak (Trunkus serebri)


Batang otak terdiri dari :
1. Diensefalon
Bagian batang otak paling atas terdapat diantara serebellum dengan mesensefalon,
kumpulan dari sel saraf yang terdapat dibagian depan lobus temporalis terdapat
kapsula interna dengan sudut menghadap kesamping. Diensefalon ini berperan dalam
proses vasokonstriksi (memperkecil pembuluh darah), respiratorik (membantu proses
pernafasan), mengontrol kegiatan refleks, dan membantu pekerjaan jantung.
2. Mesensefalon
Atap dari mesensefalon terdiri dari empat bagian yang menonjol ke atas, dua di
sebelah atas disebut korpus kuadrigeminus superior dan dua disebelah bawah disebut
korpus kuadrigeminus inferior. Mesensefalon ini berfungsi sebagai pusat pergerakan
mata, mengangkat kelopak mata, dan memutar mata.
3. Pons varoli
Pons varoli merupakan bagian tengah batang otak dan arena itu memiliki jalur lintas
naik dan turun seperti otak tengah. Selain itu terdapat banyak serabut yang berjalan
menyilang menghubungkan kedua lobus cerebellum dan menghubungkan cerebellum
dengan korteks serebri.
4. Medula Oblongata
Medula oblongata merupakan bagian dari batang otak yang paling bawah yang
menghubungkan pons varoli dengan medulla spinalis. Medulla oblongata memiliki
fungsi yang sama dengan diensefalon.

II.2

Trauma Kepala

II.2.1 Definisi
Trauma kepala atau trauma kepala adalah suatu ruda paksa (trauma) yang menimpa
struktur kepala sehingga dapat menimbulkan kelainan struktural dan atau gangguan fungsional
jaringan otak. Menurut Brain Injury Association of America, trauma kepala adalah suatu
kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh
serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang
mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik.2
II.2.2 Patofisiologi
Trauma pada kepala dapat menimbulkan cedera primer dan sekunder. Cedera primer
merupakan kerusakan pada otak yang diakibatkan langsung oleh benturan pada kepala dan
tekanan akselerasi-deselerasi yang ditimbulkannya, sehingga menyebabkan fraktur tulang
tengkorak dan lesi intrakranial. Lesi intrakranial yang terjadi dapat berupa cedera difus maupun
cedera fokal (kontusio serebri, hematoma epidural, hematoma subdural, dan hematoma intra
serebral, perdarahan subarakhnoid). Beberapa saat, jam, atau beberapa hari setelah kejadian,
dapat timbul cedera sekunder, yang mungkin merupakan penentu prognosis neurologik pasien.
Cedera sekunder terutama timbul akibat hipoksia dan iskemia serebral. Penyebabnya antara lain
gangguan respirasi, instabilitas kardiovaskular, dan peningkatan tekanan intrakranial (TIK).3
II.2.4 Fraktur Tulang Kepala
Fraktur tulang kepala atau tengkorak dapat terjadi pada atap maupun dasar tengkorak,
dapat berbentuk garis atau bintang, dan dapat pula terbuka ataupun tertutup. Adanya tanda-tanda
klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan petunjuk kecurigaan kita untuk melakukan
pemeriksaan lebih rinci. Tanda-tanda tersebut antara lain ekimosis periorbital (raccoon eyes
sign), ekimosis retroaurikular (battles sign), kebocoran cairan serebrospinal dari hidung
(rhinorrhea) atau dari telinga (otorrhea) dan gangguan fungsi saraf kranialis VII (fasialis) dan
VII (gangguan pendengaran) yang mungkin timbul segera atau beberapa hari paska trauma
kepala.4

II.2.5 Perdarahan Intrakranial


II.2.5.1 Perdarahan Epidural (Extradural Hematoma)
Perdarahan epidural adalah perdarahan antara tulang kranial dan duramater, yang
biasanya disebabkan oleh robeknya arteri meningea media. Hampir semua kasus pada
perdarahan epidural berhubungan dengan adanya fraktur kranial bagian temporal sebanyak 95%.
Perdarahan epidural juga bisa disebabkan oleh robeknya sinus venousus duramater.7
II.2.5.2 Perdarahan Subdural
Perdarahan subdural adalah perdarahan yang terletak diantara duramater dan arakhnoid.
Perdarahan subdural merupakan perdarahan intrakranial yang paling sering terjadi. Karakteristik
perdarahan subdural biasanya dibagi berdasarkan ukuran, lokasi dan lama kejadian.6
a.

Perdarahan subdural akut


Secara umum perdarahan subdural akut terjadi dibawah 72 jam dan gambaran

bulan sabit hiperdens yang ditemukan pada otak dan pada pemeriksaan CT Scan.6,8
b.

Perdarahan subdural subakut


Perdarahan subdural subakut, biasanya terjadi pada hari 3-7 setelah terjadinya

cedera akut.6
c.

Perdarahan subdural kronis


Perdarahan subdural kronis biasanya terjadi setelah 21 hari atau lebih. Pada kronik

subdural gambaran menjadi hipodens dan sangat mudah dilihat pada gambaran CT
tanpa kontras.6.8
II.2.5.3 Perdarahan Subarachnoid
Perdarahan subarachnoid adalah ekstravasasi darah ke dalam rongga subaraknoid yang
terdapat di antara lapisan piamater dan membran araknoid. Etiologi yang paling sering dari
perdarahan subaraknoid non traumatik adalah

pecahnya aneurisma intrakranial (berry

aneurism). Gejala yang paling sering berupa sakit kepala, pusing, nyeri daerah orbital, diplopia,
dan gangguan penglihatan.7

10

II.2.5.5 Perdarahan Intraserebral


Perdarahan intraserebral merupakan penumpukan darah pada jaringan otak yang semakin
lama semakin banyak dan menimbulkan tekanan pada jaringan otak sekitar. Hal ini
menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial yang dapat menyebabkan konfusi dan letargi.
Gejala klinis biasanya timbul dengan cepat bergantung pada lokasi perdarahan. Gejala yang
paling sering adalah sakit kepala, nausea, muntah, letargi atau konfusi, kelemahan mendadak
atau kebas pada wajah, tangan atau kaki yang biasanya pada satu sisi, hilangnya kesadaran,
hilang penglihatan sementara, dan kejang.9

11

BAB III
INTERPRETASI RADIOLOGIS PADA TRAUMA KEPALA
1.Foto Polos Kepala
Foto polos kepala hanya menunjukkan ada tidaknya patah tulang, dan tidak mampu
menghasilkan visibilitas yang baik pada otak atau adanya darah untuk menunjukkan cedera
intrakranial. Foto polos kepala sangat membantu pada pasien yang patah tulang tengkorak
depresi, cedera kepala akibat penetrasi oleh benda asing, pneumocephalus ( udara masuk ke
rongga tengkorak) dan adanya brain shift, terdapatnya kalsifikasi di kelenjar pineal.13

1.1 Fraktur pada Tulang Tengkorak


Pemeriksaan foto polos kepala untuk melihat pergeseran (displacement) fraktur tulang
tengkorak, tetapi tidak dapat menentukan ada tidaknya perdarahan intrakranial. Fraktur pada
tengkorak dapat berupa fraktur impresi (depressed fracture), fraktur linear, dan fraktur diastasis
(traumatic suture separation). Fraktur impresi biasanya disertai kerusakan jaringan otak dan
pada foto terlihat sebagai garis atau dua garis sejajar dengan densitas tinggi pada tulang
tengkorak (Gambar 9.a). Fraktur linear harus dibedakan dari gambaran pembuluh darah normal
atau dengan garis sutura interna, yang tidak bergerigi seperti sutura eksterna. Garis sutura interna
bersifat superimposisi pada sutura yang bergerigi, sedangkan fraktur akan menyimpang dari itu
di beberapa titik. Selain itu, pada foto polos kepala, fraktur ini terlihat sebagai garis radiolusen,
paling sering di daerah parietal (Gambar 9.a). Garis fraktur biasanya lebih radiolusen daripada
pembuluh darah dan arahnya tidak teratur. Fraktur diastasis lebih sering pada anak-anak dan
terkihat sebagai pelebaran sutura (Gambar 9.a).5

12

Gambar 9.a Gambaran Fraktur Impresi (kiri), Fraktur Linear (tengah), dan Fraktur Diastasis
(kanan) pada Foto Polos Kepala

2. CT scan (Computerized Tomography, CT) Kepala


2.1

Indikasi CT scan pada Trauma Kepala


Dengan CT scan isi kepala secara anatomis akan tampak dengan jelas. Pada trauma

kepala, fraktur, perdarahan dan edema akan tampak dengan jelas baik bentuk maupun ukurannya.
Menurut Canadian CT Head Rule (CATCH) indikasi pemeriksaan CT scan pada kasus trauma
kepala adalah seperti berikut:10
1. Pemeriksaan GCS <15 dalam 2 jam setelah adanya trauma.
2. Trauma kepala ringan yang disertai fraktur tengkorak.
3. Adanya kecurigaan dan tanda terjadinya fraktur basis kranii.
4. Mual & muntah lebih dari 2 kali
5. Penderita lansia (>65 tahun) dengan adanya amnesia dan penurunan kesadaran
6. Mechanism Dangerous (tertabrak oleh kendaraan, terlempar dari kendaraan
atau jatuh dari ketinggian).
Melalui pemeriksaan ini dapat dilihat seluruh struktur anatomis kepala, dan merupakan
alat yang paling baik untuk mengetahui, menentukan lokasi dan ukuran dari perdarahan
intrakranial. CT Scan kepala merupakan gold srandard untuk mendeteksi perdarahan
intrakranial. Semua pasien dengan GCS < 15 sebaiknya menjalani pemeriksaaan CT Scan.10,13

13

2.2

Interpretasi Gambaran CT Scan pada Trauma Kepala

2.2.1 Perdarahan Epidural


Hematoma epidural biasanya dapat dibedakan dari hematoma subdural dengan bentuk
bikonveks dibandingkan dengan crescent-shape dari hematoma subdural. Selain itu, tidak seperti
hematoma subdural, hematoma epidural biasanya tidak melewati sutura. Hematoma epidural
sangat sulit dibedakan dengan hematoma subdural jika ukurannya kecil. Dengan bentuk
bikonveks yang khas, densitas yang tinggi, extraaxial , dan gambaran CT scan pada hematoma
epidural dengan adanya fraktur.8
Pada Gambar 11, terlihat peningkatan kepadatan (hiperdens) pada CT Scan aksial non
kontras di wilayah parietalis kanan.

Gambar 11. Gambaran Perdarahan Epidural pada


CT Scan Kepala Non-kontras

2.2.2 Perdarahan Subdural


Pada fase akut, hematoma subdural muncul berbentuk bulan sabit berbentuk konkaf.
Hematoma subdural melewati sutura dan menekan sampai fissura interhemisfer yang merupakan
tanda penting adanya lesi dan penekanan.8

14

Gambar 13. Gambaran Perdarahan akut Subdural pada CT Scan


Jika ditemukan hematoma subdural pada CT scan, penting untuk memeriksa adanya
cedera terkait lainnya, seperti patah tulang tengkorak, kontusio intra parenkimal, dan darah pada
subaraknoid. Pada subakut densitas pada CT Scan menjadi isodens yang mulai menutupi sulcus
otak dan fase kronis yang sudah berlangsung lama membuat densitas pada CT Scan berkurang.8

Gambar 14. Gambaran Perdarahan Subdural subakut dan Perdarahan Subdural kronis (kanan)

2.2.3 Perdarahan Subaraknoid


Pada CT scan, perdarahan subaraknoid (SAH) terlihat mengisi ruangan subaraknoid yang
biasanya terlihat gelap dan terisi CSF di sekitar otak. Rongga subaraknoid yang biasanya hitam
mungkin tampak putih di perdarahan akut. Temuan ini paling jelas terlihat dalam rongga
subaraknoid yang besar.11
15

Gambar 15. Gambaran Perdarahan Subarakhnoid


pada CT Scan Kepala
2.2.4 Perdarahan Intraserebral
Perdarahan intraserebral biasanya disebabkan oleh trauma terhadap pembuluh darah,
timbul hematoma intraparenkim setelah terjadinya trauma. Hematoma ini bisa timbul pada area
kontralateral trauma. Pada CT scan akan tampak daerah hematoma (hiperdens), dengan tepi yang
tidak rata, densitas yang rendah di bagian pinggir dari darah dapat disebut adanya edema cerebral
dan ada pergeserah di bagian tengah.12

Gambar 17. Gambaran Perdarahan Intraserebral pada CT Scan Kepala

16

Perdarahan intraserebral juga bisa disebabkan adanya komplikasi dari infark cerebral
dinamakan sebagai Hemorrhagic Transformation dan juga bisa mengakibatkan adanya
perdarahan intraventricular.

BAB IV
KESIMPULAN

Trauma kepala adalah suatu ruda paksa (trauma) yang menimpa struktur kepala sehingga
dapat menimbulkan kelainan struktural dan atau gangguan fungsional jaringan otak.
Berdasarkan Skala Koma Glasgow, trauma kepala dibagi atas trauma kepala ringan (SKG 1415), sedang (SKG 9-13) dan berat (SKG 3-8). Trauma kepala dapat menimbulkan perdarahan
intrakranial berupa fraktur tulang kepala, perdarahan epidural, perdarahan subdural, perdarahan
17

subarakhnoid, dan perdarahan intraserebral. Pemeriksaan foto polos kepala digunakan untuk
melihat pergeseran (displacement) fraktur tulang tengkorak, tetapi tidak dapat menentukan ada
tidaknya perdarahan intrakranial.
Pemeriksaan tomografi computer (CT Scan) kepala sangat berguna pada trauma kepala
karena isi kepala secara anatomis akan tampak dengan jelas. Pada trauma kepala, fraktur,
perdarahan dan edema akan tampak dengan jelas baik bentuk maupun ukurannya.

DAFTAR PUSTAKA
1. H Haddad dan Yaseen M Arabi. Critical care management of severe traumatic brain
injury in adults. Samir. Haddad and Arabi Scandinavian Journal of Trauma, Resuscitation
and

Emergency

Medicine.

2012.

Available

from

http://www.sjtrem.com/content/pdf/1757-7241-20-12.pdf

18

2. Aaron Talsky, Laura R. Pacione, Tammy Shaw, Lori Wasserman,

Adam

Lenny, Amol Verma, et al . Pharmacological interventions for traumatic brain injury


Issue:

BCMJ,

Vol.

53,

No.

1.

2010.

Available

from

http://www.bcmj.org/articles/pharmacological-interventions-traumatic-brain-injury
3. Segun T Dawodu. Traumatic Brain Injury (TBI) - Definition, epidemiology,
pathophysiology. Mar 2013. Available from :
http://emedicine.medscape.com/article/326510-overview
4. John F. Advanced Trauma Life Support Student Course Manual. Edisi 8. 2008.
American College of Surgeon
5. Rasad S, Kartoleksono S, Ekayuda I. Radiologi Diagnostik. Edisi 2. 2013. Balai Penerbit
FKUI
6. Meagher

Richard

J.

Subdural

Hematoma.

Jan

http://emedicine.medscape.com/article/1137207-overview
7. Becske
T.
Subarachnoid
Hemorrage.
Apr

2015.
2014.

Available

from:

Avaible

from:

http://emedicine.medscape.com/article/1164341-overview
8. Herring William. Learning Radiology: Recongnizing The Basics. 2nd Edition. 2015.
Elsevier
9. Zucarello

Mario.

Intracerebral

Hemorrage.

Feb

2013.

Avaible

from:

http://www.mayfieldclinic.com/PE-ICH.HTM
10. Ebell Mark H. Computed Tomograpghy After Minor Injury. Jun 2006. Avaibale from:
http://www.aafp.org/afp/2006/0615/p2205.html
11. Geershen Abner. Imaging in Subarachnoid Haemorrage. Jul 2014. Avaible from:
http://emedicine.medscape.com/article/344342-overview
12. Imaging Radiology Masterclass. Access 15 Aug

2015.

Avaible

from:

http://www.radiologymasterclass.co.uk/gallery/ct_brain/ct_brain_images/intracerebral_ha
emorrhage_ich_ct_brain.html#top_3rd_img
13. Satyanegara. Ilmu Bedah Saraf. Edisi IV. 2010. Gramedia Pustaka

19