Anda di halaman 1dari 48

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil
menyelesaikan makalah laporan kunjungan ini dengan judul Walk Through
Survey di Perusahaan PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk. Aspek
Kesehatan dan Ergonomi dengan tepat waktu.
Penyusunan laporan ini dibuat dalam rangka memenuhi persyaratan
kelulusan pelatihan Hiperkes dan sebagai implementasi hasil pelatihan Hiperkes
dan Keselamatan Kerja di Balai K3 Bandung.
Dalam penyusunan laporan ini, kami banyak mendapatkan semangat,
bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini
perkenankan kami meyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1.

Kepala Balai K3 Bandung


Ir. Iyus Hidayat, M.Kes.

2.

Seluruh
Pengajar

Pelatihan

Hiperkes

dan

Panitia

Keselamatan

Kerja

dan
bagi

Dokter/Dokter Perusahaan.
3.

Pimpinan, Manajemen dan


seluruh karyawan PT Primarindo Asia Infrastruktur Tbk.

4.

Rekan-rekan
pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja.

peserta

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak


terdapat berbagai kekurangan. Oleh sebab itu kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat diharapkan demi menyempurnakan laporan ini. Akhirnya
kami berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.

Bandung, 16 Februari 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................
DAFTAR GAMBAR.................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................
1.1

Latar Belakang....................................................................................................

1.2

Dasar Hukum......................................................................................................

1.3

Profil Perusahaan................................................................................................

1.4

Alur Produksi......................................................................................................

1.5

Landasan Teori...................................................................................................

1.5.1

Kesehatan Kerja..........................................................................................

1.5.2

Ergonomi...................................................................................................

BAB II PELAKSANAAN........................................................................................
2.1.

Tanggal dan Waktu Pelaksanaan......................................................................

2.2.

Lokasi Pengamatan...........................................................................................

2.3.

Dokumen Pengamatan......................................................................................

BAB III HASIL PENGAMATAN............................................................................


3.1.

Hasil Pengamatan di Perusahaan......................................................................

3.1.1

Fasilitas Pelayanan Kesehatan..................................................................

3.2.2

Program Kesehatan...................................................................................

3.2.3

Program Pencegahan HIV/AIDS..............................................................

3.2.4

Pemeriksaan Kesehatan.............................................................................

3.2.5

Program Gizi Kerja...................................................................................

3.2.6

Data Penyakit Yang Ada............................................................................

3.2.7

Penyakit Akibat Kerja...............................................................................

3.2.8

Sarana P3K................................................................................................

3.2.9

Personil KesehatanS..................................................................................

3.2.10

Program Pencegahan HIV/AIDS..............................................................

BAB IV PEMECAHAN MASALAH.......................................................................


4.1.

Pemecahan Masalah Aspek Ergonomi.............................................................

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................................


5.1.

Kesimpulan.......................................................................................................

5.2.

Saran.................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA9

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Posisi Pekerja pada Proses Preparation4


Gambar 4.2 Posisi Pekerja pada Proses Printing5
Gambar 4.3 Posisi Pekerja pada Proses Sewing5

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menghadapi era globalisasi, ketenagakerjaan semakin diharapkan
konstribusinya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang
akan tercermin dengan meningkatnya profesionalisme, kemandirian, etos
kerja dan produktivitas kerja. Untuk mendukung itu semua diperlukan
tenaga kerja dan lingkungan kerja yang sehat, selamat, nyaman dan
menjamin peningkatan produktivitas kerja. 1
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala kegiatan
untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja
melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
(PAK). K3 adalah kepentingan pengusaha, pekerja dan pemerintah di seluruh
dunia. Menurut International Labour Organization (ILO), setiap tahun terjadi 1,1
juta kematian yang disebabkan oleh karena penyakit atau kecelakaan kerja.
Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan dan sisanya adalah

kematian karena penyakit akibat kerja, dimana diperkirakan terjadi 160 juta
penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya.1
Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran
beserta praktiknya yang bertujuan agar pekerja atau masyarakat pekerja
memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, atau mental,
maupun sosial, dengan usaha-usaha promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif
terhadap

penyakit-penyakit

atau

gangguan-gangguan

kesehatan

yang

diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap


penyakit-penyakit umum.1
Tujuan kesehatan kerja adalah berusaha meningkatkan daya guna dan hasil
guna tenaga kerja dengan mengusahakan pekerjaan dan lingkungan kerja yang
lebih serasi dan manusiawi. Lingkungan kerja adalah sesuatu yang berada
disekitar tenaga kerja dengan pekerjaannya. Lingkungan kerja dapat menyebabkan
pengaruh positif kepada tenaga kerja atau efek yang sebaliknya.2
Ergonomi juga tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi dan
kemajuan industrialisasi. Alat-alat yang diciptakan manusia dengan maksud
mengurangi beban kerja baik di pabrik maupun di rumah hampir selalu disertai
tidak selalu sesuai dengan prinsip ergonomi.2 Ergonomi adalah ilmu serta
penerapannya yang berusaha menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap
orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktifitas dan efisiensi yang
setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal mungkin. Saat ini,
ergonomi merupakan salah satu penyebab penyakit yang berhubungan dengan
pekerjaan yang penting.1

Pengaruh utama ergonomi kepada manusia adalah dapat munculnya


berbagai penyakit yang berhubungan dengan sikap kerja. Hubungan antara
ergonomi dengan kemungkinan timbulnya gangguan terhadap kesehatan sangat
dipengarui oleh beberapa faktor yaitu faktor manusia sebagai tenaga kerja, sarana
kerja yang tidak memadai, tidak adanya keserasian ukuran dan bentuk sarana
kerja terhadap tenaga kerja.1
PT. Primarindo Infrastructure Asia, Tbk., yang merupakan perusahaan
yang bergerak dalam bidang industri sepatu memiliki berbagai bentuk ergonomi
sebagai faktor risiko penyakit akibat kerja bagi karyawannya. Faktor ergonomi ini
dapat disebabkan karena sarana yang tidak memadai, tidak adanya keserasian
ukuran dan bentuk sarana kerja terhadap tenaga kerja yang digunakan dalam
proses produksi itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan tindakan pencegahan dan
pengendalian terhadap bentuk ergonomi dari pihak PT. Primarindo Infrastructure
Asia, Tbk., baik dari segi manajerial, operasional dan juga sarana bagi
karyawannya untuk mengurangi risiko penyakit akibat kerja karena faktor
ergonomi.
Atas dasar tersebut, kami akan melakukan penelitian mengenai bentuk
ergonomi yang diduga berpengaruh terhadap kesehatan tenaga kerja di PT.
Primarindo Infrastructure Asia, Tbk.

1.2 Dasar Hukum1,2


1. Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, memberikan
ketentuan mengenai kesehatan kerja dalam Pasal 23 yang menyebutkan

bahwa kesehatan kerja dilaksanakan supaya semua pekerja dapat bekerja


dalam kondisi kesehatan yang baik tanpa membahayakan diri mereka
sendiri atau masyarakat, dan supaya mereka dapat mengoptimalkan
produktivitas kerja mereka sesuai dengan program perlindungan tenaga
kerja.
2. UU no. 13 tahun 2003 tentang tenaga kerja, yang salah satunya adalah
bahwa setiap perkerja mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas
keselamatan dan kesehatan kerja, moral dan kesusilaan, dan perlakuan yang
sesuai dengan harkat martabat manusia serta nilai-nilai agama. Selain itu,
untuk melindungi keselamatan pekerja guna meningkatkan produktivitas
kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja.
Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen kerja yang
terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.
3. Undang Undang No 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja. Oleh karena
undang-undang keselamatan kerja ini lebih bersifat pencegahan (preventif),
maka sangat diperlukan usaha-usaha pengendalian lingkungan kerja, supaya
semua faktor-faktor lingkungan kerja yang mungkin membahayakan atau
dapat menimbulkan gangguan kesehatan tenaga kerja dapat dihilangkan.

1.3 Profil Perusahaan 6


Nama perusahaan

: PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk

Alamat Kantor: Jl. Tanjungkarang No. 3-4A Jakarta Pusat


Alamat Pabrik : Jl. Raya Rancabolang No. 98 Gedebage Bandung 40295

Visi

: Visi dari perusahaan PT. Primarindo Asia Infrastucture, Tbk adalah

menjadi yang terdepan dalam industri sepatu di Indonesia


Misi

: Misi dari perusahaan PT. Primarindo Asia Infrastucture, Tbk adalah

sebagai berikut :
1. Memiliki proses produksi yang efisien.
2. Menghasilkan produk kualitas tinggi untuk memuaskan pelanggan.
3. Menjadi mitra usaha terpercaya dalam menghadapi tantangan saat ini dan
masa depan.
4. Mempunyai sepatu merek sendiri yang menjadi produk nomor satu di
dalam negeri
Jumlah tenaga kerja: 1600 orang
Jenis industri

: Industri sepatu

PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk didirikan tanggal 1 Juli 1989


dengan nama PT. Bintang Kharisma dengan status Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMDN) dan bergerak dalam bidang industri sepatu. Pada tahun 1994
telah mencatatkan dan menjual sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan menjadi PT.
Bintang Kharisma. Pada thun 1997 perusahaan merencanakan untuk melakukan
diversivikasi usaha ke bidang lain yang juga mempunyai prospek cerah. Untuk
itu, perusahaan mengganti nama menjadi PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk.
Sebelum direncanakan diversivikasi dapat terealisasi, kondisi ekonomi di
Indonesia mulai memburuk sehingga perusahaan memutuskan untuk menunda
rencana tersebut.

Pada tahun 2001, perseroan memproduksi hanya satu branded buyer yaitu
merek Reebok. Untuk mengantisipasi risiko pemutusan kerjasama oleh Reebok,
perseroan memutuskan untuk menjadikan tahun 2001 sebagi tahun konsolidasi
dan mulai mempersiapkan usaha pengembangan pasar domestik.
Pada bulan April 2002, perseroan menerima pemberitahuan dari Reebok
International Limited sebagai buyer dari perseroan bahwa pesanan sepatu yang
diberikan kepada perseroan hanya sampai dengan bulan Juli 2002, sehingga sejak
bulan Juli 2002 perseroan tidak lagi memproduksi sepatu merek Reebok.
PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk. Bergerak dalam bidang industri
sepatu, khususnya sepatu olah raga dan memproduksi dalam berbagai fungsi dan
ukuran. Selama ini produksi PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk. Didasarkan
atas pesanan dari pelanggan yang berasal dari luar negeri. Dengan demikian
hampir seluruh sepatu olah raga hasil produksi perseroan adalah untuk diekspor
dan harus memnuhi standar mutu yang telah ditetapkan oleh pembeli dengan
desain yang dibuat perusahaan atau pelanggan yang merupakan pemegang merek
atau pemegang lisensi dari merek terkemuka.
PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk., telah dipercaya memproduksi
merek terkenal seperti OsKhos BGosh, Cheasepeaks, Body Glove, US Atheletic,
Puma dan Avia. Tahun 1996 dari dua buyer besar yaitu Reebok dan Fila. Pada
tahun 2000 dalam pengembangan pasar domestik telah memproduksi merek
Tomkins.
Lokasi kantor pusat ada di Jakarta dan pabrik terletak di Gedebage
Bandung, di atas tanah 9,7 ha dengan luas bangunan 4,1 ha. Bangunan utama

berupa pabrik untuk unit cutting, laminating, preparation, rubber, sewing,


assembling, gudang bahan baku, gudang jadi, dan bangunan penunjang seperti
kantor, kantin pujasera, poliklinik, dan mini market yang dikelola oleh koperasi
karyawan.

1.4 Alur Produksi 6


Alur produksi yang terdapat di perusahaan PT. Primarindo Asia
Infrastructure, Tbk., adalah sebagai berikut :
1. Bagian atas sepatu :
Pemotongan bahan baku pembentukan pola sablon dan logo
penjahitan
2. Bagian bawah sepatu :
Pencampuran bahan baku (karet) dibentuk menjadi setengah matang
pembentukan pola bagian bawah pressing bahan jadi menjadi bahan jadi
proses penempelan outsole dan midsole
3. Penggabungan bagian atas dan bawah sepatu :
Perakitan bagian atas dan bawah melalui proses lesting, buffing, dan
cementingbondingpressing dibersihkan diberi label dimasukan
dalam kotak
4. Penyimpanan dalam gudang stok sepatu

SEPATU TOMKINS

UPPER

BOTTOM

1. CUTTING

1. COMPOUND

2. PREPARATION

2. KNEADER ROLLING

3. SEWING

3.PRESS-OUT SOLE
4. STOCK FITT

ASSEMBLING

FINISH GOOD

DELIVERY
UPPER (bagian atas sepatu dengan bahan : kulit, kulit sintetis, textile, aksesoris)
1. Cutting

: proses pemotongan bahan baku menjadi komponen upper


sesuai model.

2. Preparation

: proses persiapan untuk komponen penjahitan yang terdiri


dari printing, embossing logo, skiving, pre buffing kulit

3. Sewing

: proses penjahitan berbagai komponen untuk menjadi


upper.

BOTTOM (bagian bawah sepatu yang terbagi dalam 2 komponen yaitu outsole
dan midsole)
1. Compound

: proses preamuan bahan kimia sesuai formula

2. Kneader rolling

: proses pencampuran bahan kimia dalam satu formula


menjadi bahan setengah jadi

3. Press out sole

: proses pengepresan bahan setengah jadi menjadi bahan


jadi.

4. Stock fit

: proses penempelan outsole dan midsole

ASSEMBLING

: proses perakitan antara upper dan bottom

FINISH GOOD

: gudang penyetokan sepatu

DELIVERY

: pengiriman ke seluruh counter

1.5 Landasan Teori


1.5.1

Kesehatan Kerja1
Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran

beserta praktiknya yang bertujuan agar pekerja atau masyarakat pekerja


memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, atau mental,
maupun sosial, dengan usaha-usaha promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif
terhadap penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan

10

faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit


umum.

1.5.1.1 USAHA-USAHA KESEHATAN KERJA


1. Upaya peningkatan (promotif)
Bertujuan untuk meningkatkan derajat dan kapasitas kerja melalui
penerapan pola hidup sehat, diantaranya:
-

Pendidikan dan penerangan

Perbaikan gizi

Perkembangan kejiwaan yang sehat

Perumahan sehat

Rekreasi

Tempat, cara, lingkungan yang sehat

Nasihat perkawinan termasuk KB

2. Upaya pencegahan (preventif)


Bertujuan memberi perlindungan kepada pekerja sebelum adanya
gangguan akibat kerja:
-

Pemeriksaan kesehatan awal

Imunisasi

Penerapan ergonomi

Hygiene lingkungan

Perlindungan diri terhadap bahaya bahaya

11

Pengendalian lingkungan kerja (agar dalam batas aman)

Latihan fisik (relaksasi secara rutin)

Pemberian suplemen gizi untuk sistem kekebalan pekerja

Rotasi kerja (mencegah kejenuhan)

3. Upaya penyembuhan (kuratif)


Diberikan kepada pekerja yang sudah memperlihatkan gangguan
kesehatan atau gejala dini dengan cara :
-

Mengobati penyakit

Mencegah terjadinya komplikasi dan penularan terhadap keluarganya


atau teman sekerja

yang bertujuan untuk menghentikan proses penyakit, mempercepat


masa istirahat, mencegah terjadinya cacat, bahkan kematian

4. Upaya pemulihan (rehabilitatif)


Diberikan kepada pekerja yang karena penyakit atau kecelakaan
telah mengakibatkan cacat, sehingga pekerja tidak mampu bekerja secara
permanen.
Kegiatannya meliputi :
-

Latihan dan pendidikan pekerja untuk dapat menggunakan kemampuan


yang masih ada secara optimal

12

Penempatan kembali pekerja yang cacat secara selektif sesuai dengan


kemampuan

Penyuluhan kepada masyarakat serta pengusaha agar mau menggunakan


pekerja yang cacat

1.5.1.2 PENYAKIT-PENYAKIT AKIBAT KERJA1,3


Adanya hazard pada pekerjaan/lingkungan kerja dapat menimbulkan
gangguan kesehatan pada tenaga kerja yang dikenal sebagai penyakit akibat kerja.
Penyakit akibat kerja (PAK) biasanya terjadi akibat pajanan kumulatif-yaitu
setelah bekerja bertahun-tahun pada lingkungan kerja atau mengerjakan
pekerjaannya pada kondisi yang tidak memenuhi standar. Penyakit akibat kerja
(PAK) biasanya bersifat kronis ysulit/tidak bisa disembuhkan dan menyebabkan
kecacatan dan atau kematian.
Berbagai istilah yang berhubungan :
-

Penyakit akibat kerja (Occupational disease) : penyakit yang mempunyai


penyebab yang spesifik atau asosiasi kuat dengan pekerjaan, yang pada
umumnya terdiri dari satu agent penyebab yang sudah diakui.

Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan (Work related disesase) :


penyakit yang mempunyai beberpa agent penyebab, dimana factor pada
pekerjaan memegang peranan bersama dengan faktor resiko lainnya dalam
berkembangnya penyakit yang mempunyai etiologi yang kompleks.

Penyakit yang mengenai populasi pekerja (Disease affecting working


populations) : penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya

13

agent penyebab di tempat kerja, namun dapat diperberat oleh kondisi


pekerjaan yang buruk bagi kesehatan.
-

Penyakit yang timbul karena hubungan kerja : penyakit yang timbul


karena
hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan ataau
lingkungan kerja.
Ada 31 kelompok penyakit akibat kerja / hubungan kerja (Kep Pres RI
No. 22 tahun 1993 ) :
1. Pnemokoniosis oleh debu mineral (silikosis, antara kosilokosis, asbestosis)
2. Bronkhopulmoner oleh debu logam keras
3. Bronkhopulmoner oleh debu kapas (bissinosis)
4. Asma akibat kerja oleh sensitisasi dan zat perangsang dalam proses
pekerjaan
5. Alveolitis : alergi oleh menghirup debu organik
6. Penyakit yang disebabkan oleh berilium atau persenyawaan
7. Penyakit yang disebabkan oleh kadmium
8. Penyakit yang disebabkan oleh fosfor
9. Penyakit yang disebabkan oleh krom
10. Penyakit yang disebabkan oleh mangan
11. Penyakit yang disebabkan oleh arsen
12. Penyakit yang disebabkan oleh air raksa
13. Penyakit yang disebabkan oleh timbal
14. Penyakit yang disebabkan oleh fluor

14

15. Penyakit yang disebabkan oleh karbondisulfida


16. Penyakit yang disebabkan oleh derivat halogen atau hidrokarbon halivatik
17. Penyakit yang disebabkan oleh benzena
18. Penyakit yang disebabkan oleh derivat nitro dan amina
19. Penyakit yang disebabkan oleh nitro gliserin atau ester asam nitrat
20. Penyakit yang disebabkan oleh gas/uap beracun seperti karbon
monoksida, hidrogen sulfida
21. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan
22. Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol atau latek
23. Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik
24. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan
tinggi
25. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetik
26. Dermatosis yang disebabkan oleh fisik, kimia, biologis
27. Kanker kulit oleh karena teer, minyak mineral
28. Kanker paru / mesoteliopma oleh abses
29. Penyakit infeksi oleh virus, bakteri, parasit (pekerjaan yang memiliki
resiko kontaminasi tinggi)
30. Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi, rendah, panas radiasi /
kelembaban udara tinggi
31. Penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia termasuk bahan obat

15

Penyakit akibat kerja dapat mempengaruhi fisik maupun mental dan


berakibat sementara maupun permanen. Penyakit akibat kerja dapat terjadi
karena ketidak serasian antara pekerja / tenaga kerja dengan :
-

sesama tenaga kerja

pimpinan unit kerja

peralatan yang digunakan

proses produksi yang dikerjakan

lingkungan kerja dan bahan produksi

peraturan kerja yang diterapkan sarana yang disediakan

1.5.1.3 FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PENYAKIT DAN PENYAKIT YANG


DITIMBULKAN 4
Faktor faktor penyebab penyakit akibat kerja :
Dari pekerja :
a. Kekurangan gizi
b. Pola hidup tidak sehat (minum alkohol, merokok, kurang
berolahraga)
c. Faktor psikososial seperti lingkungan kerja yang tidak kondusif,
stress
Dari lingkungan kerja :
a. Terpajan bahan kimia, biologi
b. Golongan fisik : suara, radiasi, suhu, tekanan tinggi, penerangan
c. Golongan chemist : debu, uap,gas, larutan awan / kabut

16

d. Golongan fisiologi : kontribusi alat / mesin


Dampak / akibat dari terjadinya penyakit akibat kerja adalah :
a. Menurunnya derajat kesehatan dan kebugaran pekerja
b. Hilangnya waktu produktivitas pekerja
c. Menurunnya produktivitas kerja
Faktor penyebab Penyakit Akibat Kerja sangat banyak, tergantung pada
bahan yang digunakan dalam proses kerja, lingkungan kerja ataupun cara kerja,
sehingga tidak mungkin disebutkan satu per satu. Pada umumnya faktor penyebab
dapat dikelompokkan dalam 5 golongan:
1. GOLONGAN FISIKA
-

Bunyi Bising

Suhu Tinggi : dehidrasi dan pengeluaran elektrolit tubuh yang banyak


Hyperpirexia,Heat Cramp,Heat Exhaustion,Heat Stroke

Radiasi Sinar Elektromagnetik :


Infra merah Katarak

Ultraviolet Konjungtivitis
Sinar , dan dan Bahan radioaktif lainnya
-

Tekanan Udara Penyakit Caisons

Pencahayaan Tajam penglihatan berkurang

Getaran

Penyempitan pembuluh darah (Raynaud disease)

2. GOLONGAN KIMIA

17

Perusahaan/ Perindustrian upuk, Pestisida, Kertas, Refinery, Pengolahan gas


bumi, obat-obatan banyak menggunakan bahan kimia sebagai bahan baku atau
pembantu
Penggunaan bahan kimia tadi bisa menyebabkan bahaya Kebakaran,
Peledakan, Iritasi dan Keracunan 70% PAK adalah disebabkan oleh bahan
kimia berbahaya yang masuk lewat mulut, pernafasan atau kulit
Bahan Kimia Berbahaya bisa berupa padat, gas, partikel maupun uap
Masuknya Bahan kimia tadi bisa menimbulkan gejalanya secara akut atau
kronik Keracunan Akut biasanya terjadi akibat masuknya bahan kimia dalam
jumlah besar pada waktu singkat, misalnya :
a. Keracunan gas CO
b. Keracunan asam Sianida (HCN)
c. Keracunan Kronik terjadi karena masuknya bahan kimia tadi dalam jumlah
sedikit tetapi dalam jangka panjang, misalnya :
d. Keracunan Benzena
e. Keracunan Uap Pb Leukemia
f. Keracunan bahan-bahan Karsinogen Kanker

3. GOLONGAN BIOLOGI :
Yang didapat dari :
-

Virus (Hepatitis)

Bakteri (Tuberkulosis pada petugas medis)

Parasit (Malaria)

18

Cacing

Jamur

4. GOLONGAN FISIOLOGI (ERGONOMI)


Terjadi akibat malposisi sewaktu bekerja (Myalgia, backache atau cedera
punggung)
5. GOLONGAN MENTAL PSIKOLOGI
Yang didapat dari :
-

Suasana Kerja monoton

Hubungan kerja yang kurang baik

Upah tidak sesuai

Tempat kerja yang terpencil Stress Perubahan tingkah laku, Tidak


bisa mengambil keputusan, TD naik Penyakit lain atau Kecelakaan

1.5.1.4 USAHA-USAHA

PENCEGAHAN

DAN

PEMBERANTASAN

PENYAKIT AKIBAT KERJA 2


Menurut Erna Tresnaningsih, menyebutkan usaha-usaha pencegahan dan
pembetasan penyakit akibat kerja, yaitu :
1. Subtitusi
Yaitu dengan mengganti bahan-bahan yang berbahaya dengan bahanbahan yang tidak berbahaya, tanpa mengurangi hasil pekerjaan maupun
mutunya.
2. Isolasi

19

Yaitu dengan mengisolir (menyendirikan) proses-proses yang berbahaya


dalam perusahaan. Misalnya mesin yang sangat gemuruh, atau prosesproses yang menghasilkan gas atau uap berbahaya.
3. Ventilasi umum
Yaitu dengan mengalirkan udara sebanyak perhitungan ruangan kerja, agar
kadar bahan-bahan yang berbahaya oleh pemasukan udara ini akan lebih
rendah dari nilai ambang batasnya.
4. Ventilasi keluar setempat
Yaitu dengan menghisap udara dari suatu ruangan kerja agar bahan-bahan
yang berbahaya dihisap dan dialirkan ke luar.
5. Mempergunakan alat pelindung perseorangan
Para karyawan diperlengkapi dengan alat-alat pelindung sesuai dengan
jenis pekerjaannya.
6. Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja
Sebelum bekerja para karyawan diperiksa kesehatannya (fisik dan
psikisnya) agar penempatannya sesuai dengan jenis jabatan sehingga lebih
optimal.
7. Penerangan/penjelasan sebelum kerja
Kepada para karyawan diberikan penjelasan sebelum bekerja agar mereka
mengetahui, mengerti dan mematuhi peraturan-peraturan serta agar lebih
berhati-hati.
8. Pemeriksaan kesehatan ulangan

20

Pada para karyawan secara berkala, pada waktu-waktu tetrtentu secara


berkala dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui adanya
penyakit-penyakit akibat kerja yang ditimbulkan.

1.5.2

Ergonomi

1.5.2.1 Definisi 3
Kata ergonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ergon yang artinya kerja,
nomos yang berarti peraturan/hukum. Jadi secara harfiah ergonomi diartikan
sebagai Ilmu aturan tentang Kerja. Pada mulanya di beberapa negara digunakan
istilah yang berbeda, seperti :

Arbeitswissenschaft (ilmu pengetahuan tentang kerja) di Jerman

Biotecgnology dari negara-negara Skandinavia

Human factor engineering atau Personal Research di Amerika Utara


Hasil lokakarya tentang penyusunan norma-norma Ergonomi di tempat

kerja pada tahun 1978 merumuskan ergonomi sebagai berikut :


Ilmu serta penerapannya yang berusaha menyerasikan pekerjaan dan
lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya
produktivitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia
seoptimal mungkin.
Didalam ergonomi terkandung makna penyerasian jenis pekerjaan dan
lingkungan kerja terhadap tenaga kerja atau sebaliknya. Hal ini terkait dengan
penggunaan teknologi yang tepat sesuai dengan jenis pekerjaan serta didukung

21

lingkungan kerja yang aman, nyaman dan sehat sehingga tercapai eisiensi
efektifitas dan produktivitas maksimal.

1.5.2.2 Aspek Ergonomi


Terdiri dari dua aspek :
-

Faktor Manusia
Manusia dalam suatu sistem kerja menjadi pelaku atau pengguna sebagai titik
sentral, sehingga perancangan berpusat pada manusia. Sebagai titik sentral
maka unsur keterbatasan manusia menjadi patokan dalam penataan produk
yang ergonomi. Ada beberapa faktor yang berlaku sebagai faktor pembatas
yang tidak boleh dilampaui agar dapat bekerja dengan aman, nyaman dan
sehat :
1. Faktor dari dalam
Yang termasuk faktor dalam berasal dari manusia seperti : umur, jenis
kelamin, kekuatan otot, bentuk dan ukuran tubuh dan lainnya.
2. Faktor dari luar
Faktor luar berasal dari luar manusia, seperti : penyakit, gizi, lingkungan
kerja, sosial ekonomi, adat istiadat dan lain sebagainya.
-

Sarana Kerja
Sarana kerja dibuat sesuai dengan penggunanya sehingga pekerja atau

pengguna menjadi nyaman, sehingga tercapai efektivitas dan efisiensi kerja yang
optimal, sehingga menghindari kelelahan kerja dan kecelakaan kerja.

22

1.5.2.3 Anthropometri 1,2


Antropometri merupakan suatu pengukuran yang sistematis terhadap
tubuh manusia, terutama mengenai dimensional ukuran dan bentuk tubuh
manusia. Antropometri digunakan untuk merancang atau menciptakan suatu
sarana kerja yang sesuai dengan ukuran tubuh pengguna. Antropometri digunakan
untuk mendapatkan suatu bentuk rancang bangun yang ergonomi dimana manusia
sebagai titik sentralnya. Ukuran alat kerja erat dengan tubuh pengguna, jika alat
kerja tersebut tidak sesuai dengan ukuran tubuh tenaga kerja, maka tenaga kerja
tersebut akan tidak nyaman dan akan lebih lamban dalam bekerja, sehingga timbul
kelelahan kerja atau gejala penyakit otot akibat melakukan pekerjaan dengan cara
yang tidak alamiah.

Gambar 1.1 Contoh Antropometri di Meja Kerja

1.5.2.4 Sikap Tubuh dalam Bekerja 4

23

Hubungan tenaga kerja dalam sikap dan interaksinya terhadap sarana


kerja, akan menentukan efisiensi, efektifitas dan produktifitas kerja, selain SOP
(standard operating procedures) yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan.
Semua sikap tubuh yang tidak alamiah dalam bekerja, misalnya sikap menjangkau
barang yang melebihi jangkauan tangan, harus dihindari.
Apabila hal ini tidak memungkinkan maka harus diupayakan agar beban
statiknya diperkecil. Penggunaan meja dan kursi kerja ukuran baku oleh orang
yang mempunyai ukuran tubuh yang lebih tinggi atau sikap duduk yang terlalu
tinggi sedikit banyak akan berpengaruh terhadap hasil kerjanya. Tanpa disadari,
tenaga kerja tersebut akan sedikit membungkuk saat melakukan pekerjaanya. Hal
ini akan menyebabkan terjadinya kelelahan lokal di daerah pinggang dan bahu,
yang pada akhirnya akan menimbulkan nyeri pinggang dan nyeri bahu, namun
karena penderitanya tidak mencolok maka biasanya keluhan tersenbut dianggap
bukan masalah, tetapi kerugian yang ditimbulkanya bias berwujud hilangnya
jam kerja, terhambatnya produksi dan lainnya. Pada waktu bekerja diusahakan
agar bersikap secara alamiah dan bergerak optimal.

24

Gambar 1.2 Sikap Tubuh yang Baik dan Tidak Baik


Dalam sistem kerja angkat dan angkut, sering dijumpai nyeri pinggang
sebagai akibat kesalahan dalam mengangkat maupun mengangkut, baik itu
mengenai teknik maupun berat / ukuran beban. Nyeri pinggang dapat pula terjadi
sebagai sikap paksa yang disebabkan karena penggunaan sarana kerja yang tidak
sesuai dengan ukuran tubuhnya. Kondisi demikian menggambarkan tidak adanya
keserasian antara ukuran tubuh pekerja dengan bentuk dan ukuran sarana kerja,
sehingga terjadi pembebanan setempat yang berlebihan di daerah pinggang dan
inilah yang menyebabkan nyeri pinggang akibat kerja.

25

Gambar 1.3 Pekerjaan Angkat dan Angkut


Untuk jenis pekerjaan angkat dan angkut, maka beban maksimum yang
diperkenankan, agar tidak menimbulkan kecelakaan kerja, sesuai dengan
peraturan menteri tenaga kerja, Transmigrasi dan Koperasi No.Per. 01/MEN/1978
tentang keselamatan dan kesehatan kerja dalam Penebangan dan Pengangkutan
kayu.

Gambar 1.4 Beban Maksimun dalam pekerjaan Angkat-angkut


Sikap tubuh dalam bekerja yang dikatakan secara ergonomis adalah yang
memberikan rasa nyaman, aman, sehat dan selamat dalam bekerja yang dapat
dilakukan antara lain dengan cara:
a. Menghindarkan sikap yang tidak alamiah dalam bekerja.
b. Diusahakan beban statis menjadi sekecil-kecilnya.
c. Perlu dibuat dan ditentukan criteria ukuran baku tentang peralatan kerja
yang sesuai dengan ukuran antopomentri tenaga kerja penggunanya.

26

d. Agar diupayakan bekerja dengan sikap duduk dan berdiri secara


bergantian.

1.5.2.5 Manusia Mesin 4


Penggunaan teknologi dalam pelaksanaan produksi akan menimbulkan
suatu hubungan timbale balik antara manusia sebagai pelaku dan mesin sebagai
sarana kejanya. Dalam proses produksi, hubungan ini menjadi sangat erat
sehingga merupakan satu kesatuan. Secara ergonomis, hubungan antara manusia
dengan mesin haruslah merupakan suatu hubungan yang selaras, serasi dan sesuai.
Fungsi manusia dalam hubungan manusia mesin dalam rangkaian
produksi ini adalah sebagai pengarah atau pengendali jalanya mesin tersebut.
Manusia menerima informasi dari mesin melalui indera mata untuk membuat
keputusan untuk menyesuaikan atau merubah kerja mesin melalui kendali yang
ada pada mesin itu. Pada umumnya setiap mesin sudah mempunyai prosedur
standar pengoperasiannya. Kemudian mesin menerima perintah tersebut untuk
kemudian untuk menjalankan tugasnya. Desain alat kendali yang baik pada mesin
merupakan salah satu faktor yang penting yang akan mempengaruhi manusia
sebagai operator.

1.5.2.6 Pengorganisasian Kerja 5


Pengorganisasian kerja menyangkut waktu kerja, waktu istirahat, kerja
lembur dan lainnya yang menentukan kesehatan dan efisiensi tenaga kerja.

27

Diperlukan pola pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat yang baik. Jam kerja
tidak lebih dari 8 jam per hari, apabila tidak dapat dihindarkan, perlu diusahakan
grup kerja baru atau kerja shif.
Kerja lembur sebaiknya ditiadakan karena dapat menurunkan efisiensi dan
produktifitas kerja dan meningkatkan angka kecelakaan kerja dan sakit.

1.5.2.7 Pengendalian Lingkungan Kerja 5


Lingkungan kerja yang lestari dan manusiawi merupakan factor pendorong
bagi kegairahan dan efisiensi kerja. Sedangkan lingkungan kerja yang buruk
(melampaui nilai ambang batas yang telah ditetapkan), yang melebihi toleransi
manusia untuk menghadapinya, tidak hanya akan menurunkan produktifitas kerja
tetapi juga akan menyebabkan penyakit akibat kerja, kecelakaan kerja,
pencemaran lingkungan sehingga tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaanya
tidak

mendapat

rasa

aman,

nyaman,

sehat

dan

selamat.

terdapat berbagai faktor lingkungan kerja yang berpengaruh terhadap


kesehatan, keselamatan dan efisiensi serta produktifitas kerja, yaitu faktor fisik
seperti: pengaruh kebisingan, penerangan, iklim kerja, getaran; faktor kimia
seperti pengaruh bahan kimia, gas, uap, debu; faktor fisiologis seperti: sikap dan
cara kerja, penentuan jam kerja dan istirahat, kerja gilir, kerja lembur; factor
psikologis seperti: suasana tempat kerja, hubungan antar pekerja dan factor
biologis seperti: infeksi karena bakteri, jamur, virus dan cacing.
Untuk pengendalian lingkungan kerja dapat dilakukan melalui beberapa
tahapan / cara, yaitu pengendalian secara teknik, pengendalian secara

28

administratife dan pengendalian dengan pemberian alat pelindung diri (APD).


Banyak dijumpai adanya tenaga kerja

yang enggan mengguanakan APD,

meskipun di tempat kerjanya terjadi pencemaran bahan kimia di udara tempat


kerja.

1.5.2.8 Kelelahan Kerja 1


Penyebab kelelahan akibat tidak ergonomisnya kondisi sarana, prasarana,
dan lingkungan kerja merupakan faktor dominan bagi menurunnya atau
rendahnya produktivitas kerja seorang tenaga kerja. Suasana kerja yang tidak
ditunjang oleh kondisi lingkungan kerja yang sehat antara lain adalah sebagai
penyebab timbulnya kelelahan kerja. Kelelahan kerja dapat diakibatkan oleh
pembebanan kerja yang berlebihan antara lain irama kerja yang tidak serasi,
pekerjaan monoton, dan kondisi tempat kerja yang tidak menggairahkan.
Kelelahan (fatigue) merupakan kondisi melamahnya tenaga untuk
melakukan suatu kegiatan. Kelelahan dibagi menjadi 2 macam:
1. Kelelahan otot (muscular fatigue)
2. Kelelahan umum (general fatigue)
Kelelahan otot ditandai dengan nyeri, seperti ketegangan otot, dan sakit di
sekitar sendi. Kelelahan umum ditandai dengan kaluhan perasaan lamban dan
keengganan beraktivitas. Menurut para ahli, terdapat keterkaitan antara kelelahan
dengan tingkat stress. Hal ini dapat ditunjukkan melalui reaksi tubuh terhadap
jenis stress yang berbeda-beda.

29

Gambar 2.5 Pengaruh Faktor Lingkungan Kerja ditempat Kerja


BAB II
PELAKSANAAN

2.1 Tanggal dan Waktu Pelaksanaan


Pengamatan dilakukan pada hari Senin, 16 Februari 2015 pada pukul
14.30 sampai 17.40.

2.2 Lokasi Pengamatan


Pengamatan dilakukan di PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk. di
Bandung.

2.3 Dokumen Pengamatan


Secara umum, kewajiban perusahaan dalam meningkatkan keselamatan
kerja dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan
a. Berapa jumlah tenaga kerja?

30

b. Apakah ada fasilitas kesehatan berupa klinik?


c. Berapa kali dokter melakukan praktek di klinik dalam seminggu atau
sebulan? Berapa lama durasinya?
d. Apakah dokter mempunyai sertifikat Hiperkes?
e. Seberapa jauh tanggung jawab dokter klinik terhadap peningkatan
kesehatan pekerja?
f. Fasilitas apa saja yang di miliki klinik?
g. Apakah fasilitas sudah mencukupi kebutuhan seluruh pekerja?
2. Program Kesehatan
a. Apakah sudah terdapat program promotif yang dilakukan oleh dokter
maupun tenaga kerja lain kepada pekerja? Seperti apa programnya?
Apakah sudah terlaksana dengan baik?
b. Apakah sudah terdapat program pencegahan terjadinya penyakit
akibat kerja maupun yang berhubungan dengan pekerjaan? Seperti
apa pelaksanaan programnya?
c. Sudahkah perusahaan memiliki fasilitas program rehabilitasi (medik,
okupasional, sosial) bagi pekerja yang membutuhkan?
d. Apakah fasilitas klinik mempunyai pengadaan alat maupun obat
yang cukup? Apakah sudah digunakan secara maksimal?
e. Siapakah yang bertangggung jawab terhadap progam kesehatan yang
ada di perusahaan?
3. Program Pencegahan HIV/AIDS

31

a. Adakah program pencegahan HIV dan AIDS? Dalam bentuk apa?


Apakah sudah terlaksana?
b. Adakah kebijakan perusahaan khusus terhadap kejadian maupun
pencegahan HIV dan AIDS pada pekerja?
4. Pemeriksaan kesehatan
a. Adakah

pemeriksaan

kesehatan

awal

sebelum

penerimaan

karyawan? Pemeriksaan apa saja yang dilakukan?


b. Adakah

pemeriksaan

awal

khusus

kesehatan

berdasarkan

penempatan tempat kerja?


c. Adakah pemeriksaan kesehatan berkala (minimal 1 tahun sekali)?
Pemeriksaan apa saja yang dilakukan? Apakah sesuai dengan risiko
pekerjaan?
5. Program gizi kerja
a. Apakah sudah tersedia kantin atau tempat makan?
b. Berapa kali makanan disediakan untuk pekerja berdasarkan
kebijakan perusahaan?
c. Menu makanan apa saja yang disediakan? Apakah menu sudah
disesuaikan dengan kebutuhan gizi kalori pekerja?
d. Faktor apa saja yang mempengaruhi pemberian makanan (gizi)
pekerja?
e. Adakah tempat konsultasi gizi?
f. Siapakah yang bertanggung jawab dalam pengaturan gizi pekerja?
g. Bagaimana sanitasi dan higienitas kantin?

32

6. Data penyakit yang ada


a. Penyakit apa yang paling banyak menyebabkan pekerja datang ke
klinik?
b. Adakah data statistik kunjungan klinik?
7. Penyakit Akibat Kerja
a. Bagaimana kondisi ruang kerja untuk setiap pekerja? Apakah
sudah memenuhi kaidah ergonomis?
b. Berapa lama durasi kerja selama satu hari? Berapa kali istirahat
dalam satu hari? Berapa lama durasinya?
c. Adakah riwayat penyakit akibat kerja terutama berkaitan dengan
faktor resiko pekerjaan?
d. Bagaimana penanganannya?
e. Apakah perusahaan menanggung biaya bila terdapat penyakit
akibat kerja?
8. Sarana P3K
a. Adakah alat pertolongan pertama di perusahaan? Apa saja?
Diletakkan dimana saja?
b. Adakah pelatihan untuk pemakaian alat maupun pertolongan
pertama?
c. Sudahkah dilakukan perawatan dan pengecekan alat pertolongan
secara berkala?
d. Adakah laporan pemakaian alat pertolongan?
9. Personil Kesehatan

33

a. Siapa saja personil kesehatan di perusahaan? Berapa orang?


b. Apakah setiap personil kesehatan sudah bekerja sesuai dengan
kompetensinya?
c. Apa saja tugas atau tanggung jawab yang dimiliki oleh setiap
personil kesehatan?
10. Sistem Kerja Perusahaan
a. Bagaimana sistem K3 di perusahaan? Apakah sudah terlaksana
dengan baik? Apakah sudah pernah dilakukan audit ataupun
sertifikasi pada perusahaan?
b. Bagaimana tanggapan perusahaan terhadap faktor ergonomis
pekerja? Sudahkan kondisi ruang kerja disesuaikan dengan faktor
ergonomis?
c. Apakah terdapat masalah yang berhubungan dengan ergonomis?
Adakah pencegahan maupun penanganan terhadap masalah
tersebut?
d. Apakah perusahaan memberikan penyuluhan mengenai kesehatan
umum, gizi, dan penyakit PAK?
e. Apakah terdapat sistem rotasi pekerja ?
f. BAB III
g. HASIL PENGAMATAN
h.
3.1 Hasil Pengamatan di Perusahaan
3.1.1 Fasilitas Pelayanan Kesehatan
i. Jumlah tenaga kerja di PT.

PRIMARINDO

ASIA

INFRASTRUCTURE Tbk sebanyak 1600 orang dengan 75% wanita

31

dan 25% pria. Usia tenaga kerja mempunyai rentang 18 sampai 50


tahun dengan satu orang berusia 60 tahun. Fasilitas kesehtan yang
tersedia di perusahaan ini berupa klinik yang sudah tidak berfungsi.
Klinik diisi oleh petugas HRD yang sebelumnya telah mendapat
pengetahuan

medis

secara

informal

oleh

dokter

perusahaan

sebelumnya. Saat ini tidak terdapat tenaga kesehatan berupa dokter


maupun perawat. Klinik buka setiap hari dengan jam buka yang tidak
tentu. Fungsi klinik utamanya untuk tempat beristirahat apabila ada
pekerja yang mengeluhkan sakit kepala atau keluahn lainnya sebelum
dibawa berobat ke klinik atau rumah sakit terdekat. Fasilitas klinik
terdiri dari 4 buah tempat tidur, 2 buah stetoskop, 2 buah meja tulis, 2
buah kursi, data kesehatan dan kecelakaan kerja yang tercatat terakhir
3.1.2

pada tahun 2004, serta protokol pencegahan kebakaran tahun 2000.


Program Kesehatan
j.
Program kesehatan yang meliputi promotif, preventif,
kuratif,

dan

rehabilitatif

tidak

terdapat

di

perusahaan

ini.

Penanggungjawab kesehatan pekerja di perusahaan ini adalah petugas


HRD yang sudah diberikan pengetahuan medis oleh dokter. Apabila
terjadi kecelakaan kerja maupun penyakit pada pekerja, pihak
perusahaan akan memberikan pertolongan pertama seperti pemberian
perban dan betadin, kemudian diantar ke klinik atau rumah sakit
3.1.3

terdekat untuk mendapat tindakan selanjutnya.


Program Pencegahan HIV/AIDS
k.
Tidak terdapat program pencegahan

HIV/AIDS

di

perusahaan ini. Apabila terdapat pasien yang diketahui mempunyai

32

HIV/AIDS maka pihak perusahaan akan memfasilitasi pasien untuk


berobat ke klinik atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan
pengobatan. Pekerja tersebut dapat dipekerjakan kembali sesuai
3.1.4

dengan anjuran dokter.


Pemeriksaan Kesehatan
l.
Pemeriksaan kesehatan awal sebelum penemerimaan
pekerja dilakukan oleh dokter di luar perusahaan yang diajukan dalam
bentuk surat keterangan sehat. Tidak terdapat pemeriksaan kesehatan

3.1.5

berkala maupun pemeriksaan khusus penempatan kerja.


Program Gizi Kerja
m.
Pada perusahaan ini tidak terdapat kantin, namun pihak
perusahaan menyediakan tempat untuk makanan tetapi tidak
dimanfaatkan oleh pekerja dikarenakan keadaan tempat makan lembab
dan kotor serta tidak terawat. Pihak perusahaan tidak memiliki
program gizi kerja dan tidak menyediakan makanan untuk pekerja.
Pekerja lebih membawa makanan sendiri dari rumah dan dimakan di

3.1.6

sekitar maupun didalam tempat kerja pada waktu istirahat.


Data Penyakit yang Ada
n.
Tidak terdapat pencatatatan data penyakit pekerja yang
terbaru. Data terakhir yang terdapat pada pencatatatan klinik yaitu
pada tahun 2004 yang menyatakan bahwa penyakit terbanyak adalah
infeksi saluran napas. 9 penyakit terbanyak ispa, gangguan jalan napas
akibat paparan lingkungan kerja, pusing, maag atau mual, alergi dan

3.1.7

penyakit kulit, diare, nyeri punggung, nyeri sendi, nyeri haid.


Penyakit Akibat Kerja
o.
Tidak terdapat data penyakit akibat kerja pada perusahaan
ini. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan penyakit akibat kerja

33

pada perusahaan ini adalah kondisi ruang kerja yang tidak memenuhi
kaidah ergonomis. Durasi kerja selama 8 jam dari pukul 7.30 sampai
16.30 dengan waktu istirahat selama 1 jam pada pukul 12.00 sampai
13.00. Bila terdapat penyakit akibat kerja maka pekerja akan dikirim
ke klinik atau rumah sakit terdekat dan biaya akan ditanggung oleh
3.1.8

pihak ketiga yaitu BPJS Ketenagakerjaan.


Sarana P3K
p.
Tersedia kotak p3k minimalis dan tidak sesuai standar
dengan list yang ada di dalam otak box p3k. Adapun sebagian
penempatan kotak p3k ini mudah dijangkau oleh para karyawan,
namun sebagian lainna tidak diketahui keberadaannya. Disamping itu,
perusahaan tidak menyediakan pelatihan penggunaan kotak p3k dan

tidak adanya perawatan rutin dari kotak p3k tersebut.


Personil Kesehatan
q.
Tidak tersedia personil kesehatan di persahaan ini
3.1.10 Sistem Kerja Perusahaan
r.
Perusahaan mempunyai pengurus K3, namun kepengurusan ini
3.1.9

belum berjalan baik terlihat dengan tidak adanya program K3 di perusahaan


ini. Perusahaan sudah merasa memenuhi aspek ergonomis pada lingkungan
kerja tetapi pada kenyataannya banyak faktor ergonomis yang tidak
memenuhi syarat. Saat ditanyakan pada pihak perusahaan, mereka belum
memahami dengan baik tentang faktor ergonomis pada lingkungan kerja dan
bukan merupakan prioritas utama. Masalah ergonomis yang terlihat dari
perusahaan adalah banyaknya kursi pekerja yang tidak mempunyai sandaran,
tidak terdapat pijakan kaki pada beberapa ruang kerja, alat yang tidak sesuai

34

dengan kemampuan pekerja seperti gunting spons yang terlalu berat, lamanya
s.

durasi berdiri pekerja, dan postur tubuh pekerja saat bekerja.


Pada perusahaan ini tidak terdapat sistem rotasi pekerja, sehingga
memungkinkan terdapat adanya faktor psikologis berupa stres kerja yang
dapat mempengaruhi performa pekerja yang berakhir pada penurunan

produktifitas dari perusahaan tersebut.


t.
u.
v.
3.2 Pengendalian Potensi Bahaya yang Sudah Dilakukan oleh Perusahaan
w.
Terdapat beberapa usaha pengendalian potensi bahaya yang sudah
dilakukan oleh perusahaan yaitu pemberian alat proteksi diri pada pekerja,
rambu peringatan pemakaian alat proteksi diri, penempatan pekerja yang
hamil pada tempat kerja yang tidak mengancam janin, menjalin kerja sama
dengan rumah sakit terdekat dan mengikuti program BPJS Ketenagakerjaan.
x. BAB IV
y. PEMECAHAN MASALAH
z.
a.

Aspek Kesehatan

Menurut pertaturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No: Per.02/Men/


1980 dan Per.01/Men/1976 dimana pemeriksaan kesehatan tenaga kerja harus
dilakukan pada awal penerimaan dan secara berkala oleh dokter perusahaan yang
telah memenuhi persayaratan sehingga seharusnya terdapat tenaga kerja kesehatan
terutama dokter untuk perusahaan ini. Selain itu, dokter perusahaan juga
berkontribusi terhadap pembuatan dan pelaksanaan program kesehatan dan
keselamatan kerja. Dengan adanya dokter perusahaan faktor-faktor resiko yang
berpotensi mengurangi produktifitas perusahaan dapat diatasi dengan lebih baik.

36

Selain itu, pemakaian fasilitas BPJS menjadi lebih efektif dan mengontrol faktor
finansial perusahaan dalam masalah pembayaran kesehatan tenaga kerja.
Pengadaan fasilitas kesehatan seperti kotak P3K dapat lebih diawasi meliputi
kelengkapan isinya, pendapatan, pemakaian, dan perawatannya. Penempatan
kotak P3K harus disosialisasikan kepada tenaga kerja supaya dapat dimanfaatkan
dengan baik. Dengan didukung oleh adanya tenaga kerja kesehatan pula fasilitas
kesehatan seperti klinik dapat dimaksimalkan kembali sesuai dengan fungsinya.
Pengadaan kerja lembur juga merupakan suatu masalah yang terjadi di
perusahaan ini karena pihak perusahaan tidak memfasilitasi pekerja dengan
makanan sehingga gizi kerja tidak diperhatikan. Perusahaan harus menanggulangi
masalah gizi ini sebelum memberlakukan jam kerja lembur agar kesehatan para
pekerja tidak terganggu dan tidak menyebabkan menurunnya produktivitas
perusahaan.

b. Aspek Ergonomi
aa.

Dari sikap tubuh ditemukan beberapa posisi kerja yang


tidak sesuai dengan antropometri manusia. Pekerjaan yang
dilakukan oleh pekerja selama 8 jam dengan posisi antropometri
yang tidak mengikuti kaidah ergonomi dapat menyebabkan suatu
kelainan otot bahkan suatu yang lebih fatal yaitu gangguan trauma
kumulatif yang dapat menurunkan produktivitas pekerja.

37

ab.

Ketidaksesuaian kaidah ergonomik yang terjadi di perusahaan ini

terlihat pada posisi pekerja saat melakukan proses produksi. Posisi pekerja yang
dapat dilihat pada gambar 4.1, gambar 4.2, dan gambar 4.3.
ac.

ad.
ae.

Gambar 4.1 Posisi Pekerja pada Proses Preparation

af.
ag.

Gambar 4.2 Posisi Pekerja pada Proses Printing

38

ah.

ai.
aj.

Gambar 4.3 Posisi Pekerja pada Proses Sewing

ak.
al.
am.

Kesegaran jasmani tidak diperhatikan oleh pihak perusahaan

karena sebelum dan selama jam kerja berlangsung tidak ada pengorganisasian
kerja yang

membuat pekerja bergerak melakukan peregangan agar tidak

mengalami keram otot akibat posisi yang kaku. Selain itu pekerja berisiko
mengalami kebosanan kerja akibat pekerjaan yang monoton karena pihak
perusahaan tidak menyediakan alunan musik yang dapat didengarkan pekerja
selama proses bekerja maupun rotasi pekerja.
an.

Masalah ergonomis yang dialami perusahaan ini dapat diatasi salah

satunya dengan memberlakukan syarat penerimaan pekerja sesuai dengan


peralatan produksi yang digunakan di perusahaan. Selain itu, penempatan dan

39

penggunaan mesin kerja maupun tempat duduk yang digunakan pekerja


disesuaikan dengan standar ergonomis.
ao.
ap.
aq.
ar.
as.
at.
au.
av.
aw.
ax.
ay.

40

az. BAB V
ba.

KESIMPULAN DAN SARAN


bb.

5.1 Kesimpulan
bc.

Aspek kesehatan kerja dan ergonomis pada perusahaan ini


belum berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan aspek kesehatan
kerja dan ergonomis tersebut bukan merupakan prioritas utama
perusahaan yang terkait dengan krisis ekonomi yang sedang
dialami perusahaan sehingga pengadaan tenaga kerja kesehatan
maupun program-program kesehatan tidak begitu dipedulikan di
perusahaan ini.

bd.
5.2 Saran
5.2.1

Saran Untuk Perusahaan


be.

Untuk menanggulangi masalah aspek kesehatan kerja dan

ergonomis di perusahaan ini, dapat dilakukan beberapa cara seperti:


-

Merekrut tenaga kerja kesehatan meliputi dokter perusahaan dan paramedis


yang sudah mempunyai sertifikat hiperkes agar aspek kesehatan kerja
maupun program-program yang berkaitan dengan kesehatan para pekerja
seperti usaha pencegahan, promosi kesehatan, pengobatan, dan rehabilitatif di
perusahaan dapat lebih diperhatikan sehingga tidak mengurangi produktivitas
dari perusahaan.

41

Melakukan pemeriksaan kesehatan awal sebelum penempatan dan secara


berkala setiap minimal satu tahun sekali dan pemeriksaan khusus sesuai
dengan potensi bahaya di tempat kerjanya yang dilakukan oleh dokter
perusahaan.

Menghidupkan kembali kepengurusan P2K3 di perusahaan sehingga program


keselamatan dan kesehatan kerja termasuk faktor ergonomis pekerja maupun
lingkungan kerja dapat disesuaikan dengan standar.

Pihak perusahaan dapat membuat program pencegahan penyakit akibat kerja


yang dapat dimulai dengan mengidentifikasi potensi bahaya bagi pekerja
meliputi faktor biologi, kimia, fisika, psikologi, dan ergonomi.

Pengadaan dan sosialisasi P3K harus lebih diperhatikan.

Sosialisasi fungsi dan batasan program BPJS Ketenagakerjaan maupun BPJS


Kesehatan kepada perusahaan sehingga pemahaman pihak perusahaan lebih
mendalam tentang alur perawatan kesehetan pekerja dan penyakit seperti apa
yang dapat ditanggung oleh masing-masing program BPJS tersebut.

Pihak perusahaan juga dapat membuat program rotasi pekerja atau waktu
istirahat dimana pekerja dapat keluar dari ruangan produksi agar dapat
mengembalikan dan meningkatkan konsentrasi pekerja serta mengurangi
kelelahan dan kebosanan dari pekerja tersebut.

Pihak perusahaan dapat membuat program yang dapat meningkatkan


kesegaran jasmani dan rohani pekerja misalnya senam satu minggu sekali.

Menjalin kerjasama dengan Balai Keselamatan Kesehatan Kerja sebagai


acuan keselamatan dan kesehatan kerja.

42

bf.
bg.
5.2.2

Saran Untuk Penelitian


bh.

Untuk memaksimalkan pengamatan ini, diperlukan dukungan dari

perusahaan berupa koordinasi waktu dengan pihak-pihak terkait.


6. DAFTAR PUSTAKA
7.
1. Budiono Sugeng, Jusuf, Pusparini Adriana. 2009. Semarang: Bunga
Rampai.
2. Sumamur PK. PK. 2000. Ergonomi Untuk Produktivitas Kerja. Jakarta:
CV Haji Masagung
3. Permenakertrans. Per. 13/Men/X/2011.
4. Tarwaka, Solichul, Bakri, Lilik Sudiajeng. 2004. Ergonomi Untuk
Kesehatan Kerja Dan Produktivitas. Surakarta: UNIBA Pers
5. Hiperkes [online]. 2015 (cited 16 Maret 2015). Available from :
http://kesmasy.wordpress.com/2010/02/03/hiperkes-higiene-perusahaanergonomi-dan-kesehatan
6. Profil Perusahaan PT. Primarindo: 2015
8.