Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISIS OBAT KOSMETIK DAN MAKANAN

PENETAPAN KADAR THIAMIN HCl DALAM SEDIAAN


INJEKSI THIAMIN HCl

Disusun oleh :
1. Nisa Nur Laksmi

12/331141/FA/09221

2. Stefiani Mulia Ekaputri

12/331145/FA/09224

3. Endah Rosyidiah

12/331150/FA/09227

4. Gunawan Aji P

12/331156/FA/09230

5. Marfuatul Muzayyanah

12/331164/FA/09233

Tanggal praktikum

: 20 Maret 2014

Golongan / kel

: III / A

Asisten

: Dini Cahyaningtyas dan Haryono Wibowo

LABORATORIUM ANALISIS OBAT DAN MAKANAN


BAGIAN KIMIA FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014

PENETAPAN KADAR THIAMIN HCl DALAM SEDIAAN


INJEKSI VITAMIN B-1
I. TUJUAN
Untuk menetapkan kadar Thiamin HCl dalam sediaan injeksi Vitamin B1.

II. DASAR TEORI


Suatu sediaan farmasi sebelum dipasarkan terlebih dahulu dilakukan uji jaminan kualitas
(Quality Assurance = QA) dan kontrol kualitas (Quality Control = QC). Jaminan kualitas
berhubungan dengan studi tentang proses pembuatan dan rencana pengembangan untuk menjamin
kualitas produk, agar layak dan aman digunakan oleh konsumen (pasien). Pada kontrol kualitas
rencana tersebut dilakukan selama proses produksi dan termasuk semua uji dan evaluasi yang
diperlukan untuk menjamin kualitas produk tersebut. Manfaat analisis farmasi adalah sebagai
kontrol kualitas sediaan farmasi. Sediaan farmasi, dapat berupa sediaan obat maupun sediaan
lainnya seperti kosmetik. Analisis farmasi meliputi identifikasi sediaan secara menyeluruh antara
lain identifikasi kemasan, organoleptis, keseragaman bobot, penetapan kadar, serta uji lainnya
yang terkait dengan sediaan farmasi tersebut. Pada praktikum ini dilakukan penetapan kadar
Thiamin HCl dalam sediaan injeksi vitamin B1.
Thiamin HCl dalam keadaan kering cukup stabil dan pada pemanasan 100 selama 1 jam
tidak berkurang potensinya. Larutan Thiamin HCl dalam air dapat distrilisasi pada 110, tetapi
jika pH larutan diatas 5,5 akan cepat terhidrolisa. Satu gram Thiamin HCl kristal setara dengan
333,000 SI. (Sudjadi, 1979)
Ada beberapa macam metode analisis untuk menetapkan kadar thiamin HCl yaitu:
1.

Metode Titrasi Bebas Air


Prinsip

: Metode melibatkan titrasi langsung terhadap garam thiamin dengan

asam

perklorat berdasarkan sifat basa lemah dari thiamin pada asam asetat glasial.
2.

Metode Kolorimetri
Prinsip : reaksi antara thiamin dengan 6 aminotimol yang telah didiazotasi sehingga
menghasilkan warna kuning yang intens. Warna kuning yang terjadi disebabkan adanya

perpanjangan kromofor dari 6- aminothymol . Absorbansi dibaca dengan spektrofotometer


pada daerah visible ( = 400 800 nm ).
3.

Metode asidi alkalimetri


Prinsip

: hidroklorida pada thiamin HCl dititrasi dengan natrium hidroksida 0,1 N dengan

menggunakan indikator biru brom timol.


4.

Metode Gravimetri
Prinsip

: terjadinya reaksi antara larutan asam silikowolframat

[ H4( W12SiO40) ] dengan thiamin membentuk endapan yang tidak larut, kemudian
dikeringkan dan ditimbang untuk penetapan kadar vitamin B1 secara gravimetric.
5.

Metode Spektrofluorometri
Prinsip

: terjadinya reaksi oksidasi thiamin oleh K 3Fe ( CN )6 dalam larutan alkali

menjadi thiokrom yang mempunyai struktur rigid dan kaku serta berfluoresensi biru.
6.

Metode Spektrofotometri UV
Prinsip : thiamin Hcl memberikan serapan pada daerah UV yang tergantung pH larutan. PH
yang digunakan adalah pH 2 atau 7.

7.

Metode argentometri
Prinsip

berdasarkan metode volhard yang suasananya harus asam sebab jika dalam

suasana basa maka akan terjadi reaksi antara perak nitrat dengan basa membentuk Ag (OH)
yang pada tahap selanjutnya akan membentuk endapan putih Ag 2O akibatnya perak nitrat
tidak hanya bereaksi dengan sampel tetapi juga bereaksi dengan basa.

III. ALAT DAN BAHAN


Alat
1.

Neraca
analitik

2.

5.
6.

Pipet tetes

7.

Beker gelas

Labu takar 10
mL, 50 mL, 100 mL,
250mL,500mL

250 ml

3.

Mikropipet

4.

Yellow tip

8.

Buret 10 mL,
50 mL

9.

Suntikan

10.

Erlenmeyer

11.

250 mL
12.

Bahan

1. 1. Injeksi Thiamin HCl


13.
2. 2. Aquadest

3.
4.
5.
6.

NaOH
Kalium biftalat
Biru bromfenol
Phenoftalein

14.

15.

IV. CARA KERJA


1. Pembuatan Larutan NaOH 0,1 N
16.

Ditimbang seksama 2g NaOH, masukkan dalam labu takar 500 mL


17.
18.

Dilarutkan dengan aquades ad 500 mL sampai tanda batas


19.

2. Pembakuan Larutan NaOH 0,1 N


20.

Lebih kurang 400 mg Kalium biftalat ditimbang secara seksama


21.
22.

Dimasukkan dalam erlenmeyer, ditambah aquades secukupnya


23.
24.

Ditutup erlenmeyer, dikocok- kocok sampai larut


25.
26.

Ditambah indikator phenoftalein


27.

28.

Dititrasi dengan larutan NaOH sampai phenolftalein berubah


menjadi merah
29.

3. Penetapan Kadar Sampel injeksi Thiamin HCl (kadar 100 mg/ml)


1 mL sampel injeksi Thiamin HCl

30.
31.
32.

Dimasukkan dalam erlenmeyer

33.
34.

Ditambahkan sedikit Aquades 75 mL


35.

36.

Ditambah indikator biru brom timol


37.

38.

Dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai warnanya berubah menjadi


biru

39.

40.

41.
1.

Direplikasi 2 kali

V. DATA PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN


Analisis Pendahuluan
42.

Vitamin B-1 produksi PT. Ethica Jakarta Indonesia

43.

No. batch

: 11L085

44.

Kadaluarsa

: Desember 2016

45.

Volume

: 1 ml

46.

Kadar : Thiamin HCl 100 mg/mL

47.

Organoleptis : warna bening transparan


48.

2.

Analisis Kuantitatif
Pembuatan NaOH 0,1 N (BM NaOH = 40)
49.
Dilarutkan 2 g NaOH dalam 500 ml aquades
2 gram
40
50.
N=
= 0,1 N
0,5 L
Pembakuan NaOH 0,1 N
51.
Berat Kalium biftalat : I = 386 mg
52.
II = 366,2 mg
53.
III = 437,2 mg
54.
Volume titran NaOH : I = 27,4 ml
55.
II = 24,0 ml
56.
III = 26,1 ml
57.
Normalitas NaOH dari hasil pembakuan
58.
59.

I.

mg kaliumbiftalat
ml NaOH x BM kalium biftalat
386 mg
27,4 ml x 204,2

= 0,069 N

Rata-rata =
0,069 N + 0,075 N +0,082 N
3

60.
61.

II.

62.

III.

366,2 mg
24,0 ml x 204,2
437,2 mg
26,1 ml x 204,2

= 0,075 N = 0,0753 N
= 0,082 N

Penetapan kadar injeksi vitamin B1


63.
Sampel : Vitamin B1 100 mg/ml
Volume NaOH = 3,25 ml

I.

64.

Kadar

Thiamin

HCl

V NaOH x N NaOH x BE
ml sampel

3,25 ml x 0,075 N x 337,29


1 ml
65.

II.

82,2144 mg/ml
66.
Volume NaOH = 3,45 ml

67.

Kadar

Thiamin

HCl

V NaOH x N NaOH x BE
ml sampel

3,45 ml x 0,075 N x 337,29


1 ml
68.

III.

87,2738 mg/ml
69.
Volume NaOH = 3,70 ml

70.

Kadar

Thiamin

HCl

V NaOH x N NaOH x BE
ml sampel

3,70 ml x 0,075 N x 337,29


1 ml
71.

93,5980 mg/ml
72.

73.

82,2144
Kadar rata-rata =

87,6954 mg/ml
74.

SD = 5,7035

mg
mg
mg
+87,2738
+93,5980
ml
ml
ml
3

75.

CV

SD
x 100
ratarata

76.

SE=

77.

= 6,5038 %

SD
N

5,7035
=3,2929
3

=t SE

78.

2,353 3,2929=7,7482

79.
80.

t = 2,353 untuk N = 3

81.

Rentang kadar = x LE < < x + LE

82.

= 87,6954 7,7482 < < 87,6954 + 7,7482

83.

= 79,9472 mg/mL < < 95,4436 mg/mL


84.

85.VI. PEMBAHASAN
86.
87.
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui kadar Vitamin B1
injeksi dengan metode analisis kualitatif yang tepat. Pemerian dari vitamin B1 Injeksi
(Thiamin HCL) diantaranya :
88.
89.
Pemerian : kristal putih dengan bau yang spesifik. Bersifat
higroskopis dan bentuk anhidratnya dapat menyerap 4 % air. Meleh dan
mengalami dekomposisi pada 248C.

90.

Kelarutan : 1 gram larut dalam 1 mL air, 18 mL gliserol, 100 mL


alkohol 95 %, dan 315 mL alkohol absolut. Praktis tidak larut dalam eter,
benzena, heksan, kloroform.

91.

Thiamin HCl dalam keadaan kering cukup stabil dan pada

pemanasan 100C selama 1 jam tidak kurang potensinya. Larutan Thiamin HCl
dalam air disterilisasi pada 110C tetapi jika pH larutan diatas 5,5 akan cepat
terhidrolisis. Satu gram thiamin HCl kristal setara dengan 333.000 SI.
92.

( Higuchi, 1961 p.656 )

93.

Injeksi Thiamin HCl

94.

Larutan steril Thiamin HCl dalam air untuk sediaan injeksi.

Mengandung Thiamin HCl (C12H18ClN4OS) tidak kurang dari 90 % dan tidak lebih dari 110
% dari jumlah yang tertera pada etiket.
95.

( FI edisi IV, 1995 hal.786 )


96.

97.
vitamin B1 Injeksi (Thiamin HCL)merupakan vitamin yang mudah
larut pada pelarut anorganik seperti air. Vitamin B1 memiliki struktur kimia seperti ini :
98.
99.
Dari berbagai metode analisis kami memilih metode asidialkalimetri, yaitu metode alkalimetri. Alkalimetri merupakan suatu metode penetapan kadar
asam dalam suatu sampel dengan larutan baku basa yang sesuai. Metode alkalimetri ini
dilakukan dengan menitrasi sampel yang berupa asam dengan suatu senyawa yang bersifat
basa. Pada metode alkalimetri, suatu asam merupakan molekul yang dapat memberikan
proton dan suatu basa merupakan penerima proton. Titrasi dilakukan hingga tercapainya titik
ekivalen. Titik ekivalen adalah titik dimana molekul asam tepat habis bereaksi dengan
molekul basa. Untuk mengetahui apakah sudah tercapai titik akhir titrasi atau belum,
digunakanlah suatu indikator. Suatu indikator dapat berupa asam atau basa lemah yang dapat
berubah warna diantara bentuk terionisasinya dan bentuk tidak terionisasinya
100.

Dasar analisis vitamin B1 dengan alkalimetri ini adalah

terdapatnya HCl pada struktur thiamin HCl yang mana HCl inilah yang bereaksi dengan
basa yang dijadikan sebagai titran pada tirasi alkalimetri ini. HCl yang terkandung dalam
vitamin B1 injeksi bila bereaksi dengan suatu basa akan membentuk garam (NaCl) dan air.
Kelompok kami memilih metode alkalimetri ini karena persen kesalahannya hanya 5%
sedangkan jika menggunakan spektrofotometri kesalahannya lebih besar yaitu 10%.
101.

Untuk memulai percobaan ini, terlebih dahulu dilakukan

pembuatan larutan NaOH. Larutan NaOH dibuat dengan melarutkan sejumlah NaOH

sebanyak 2 gram ke dalam 500 ml aquades. Sehingga didapatkan normalitas teoritis 0,1 N.
Namun, NaOH tidak bisa langsung digunakan untuk menitrasi, namun harus dilakukan
pembakuan terlebih dahulu terhadap NaOH dengan kalium biftalat sebagai larutan
pembakunya, untuk mengetahui normalitas sesungguhnya dari larutan NaOH yang telah
dibuat. NaOH perlu dibakukan karena belum tentu normalitas yang didapat sebesar 0,1 N,
karena NaOH termasuk larutan baku sekunder yang memiliki kemurnian yang bervariasi.
Kalium biftalat memiliki kemurnian yang tinggi sehingga cocok untuk dijadikan larutan
baku primer untuk membakukan NaOH. Pada pembakuan nantinya, kalium biftalat dititrasi
dengan NaOH. Indikator titik akhir titrasi pada pembakuan menggunakan penophtalein
dengan rentang pH (8-10) yang nantinya larutan yang tidak berwarna (menunjukkan suasana
asam) berubah menjadi merah (menunjukkan suasana basa). Pembakuan direplikasi
sebanyak 2 kali dan didapatkan normalitas rata-rata sebesar 0,0753 N. Normalitas yang
didapatkan tersebut nantinya digunakan untuk menghitung besarnya kadar Thiamin HCl.
102.

Selanjutnya dilakukan penitrasian terhadap Thiamin HCl

dengan NaOH yang telah dibakukan. Pada penitrasian ini, diambil 1 mL thiamin HCl dari
ampul dengan menggunakan spuit injeksi, kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer,
ditambahkan aquades secukupnya dan indikator bromtimol biru untuk mengetahui titik
akhir titrasi. Titik akhir tercapai bila terdapat perubahan warna dari kuning tipis menjadi
warna biru muda. Warna kuning tipis menunjukkan suasana asam dan warna biru muda
menunjukkan suasana basa akibat adanya pemberian NaOH yang berlebih saat tercapai titik
akhir titrasi. Aquades ditambahkan untuk mempermudah penglihatan selama titik akhir
titrasi, bukan untuk mengencerkan vitamin B1 agar diperoleh kadar yang kecil, karena
apabila diencerkan akan didapat volume titran yang sangat sedikit sehingga diputuskan
untuk menggunakan buret 10 ml dan sampel tidak diencerkan. Vitamin B1 juga sebelumnya
tidak diekstraksi karena merupakan zat tunggal dan di dalam sediannya tidak terdapat
eksipien, sehingga tidak perlu dilakukan ekstraksi. Kemudian dari titrasi yang dilakukan
beserta replikasinya (replikasi dilakukan sebanyak 2 kali), dicatat volume NaOH yang
diperlukan untuk mencapai titik akhir titrasi. NaOH yang dibutuhkan sebesar 3,25 mL; 3,45
mL; 3,70 mL. Jika dilihat dari volume titrannya, titrasi ini termasuk dalam golongan titrasi
semi mikro karena volume titran antara 1-10 mL. Dari perhitungan didapatkan kadar sebesar
82,2144 mg/mL; 87,2738 mg/mL; 93,5980 mg/mL, sehingga kadar rata-rata sebesar 87,6954

mg/mL. Dari kadar yang dihasilkan tersebut masih masuk dalam rentang kadar perhitungan,
yaitu: 79,9472 mg/mL < < 95,4436 mg/mL. CV yang dihasilkan lebih dari 5% yaitu
6,5038 %.
103.

Selama jalannya percobaan, terdapat beberapa kesulitan

diantaranya kesulitan untuk menentukan cara preparasi sampel dimana bila diencerkan maka
volume titran yang dibutuhkan sangat sedikit, sehingga sulit untuk menentukan volume
titrannya karena hanya beberapa tetes saja sudah memberikan perubahan warna yang sangat
nyata. Sehingga akhirnya kami memutuskan untuk tidak mengencerkan sampel namun
hanya menambahkan sedikit aquades untuk mempermudahkan pengamatan titik akhir titrasi.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan kurang cocok untuk penetapan
kadar vitamin B1 karena hal yang telah disebutkan di atas tadi.
104.
105.

VII. KESIMPULAN

1. Rentang kadar sampel yang diperoleh : 79,9472 mg/mL < < 95,4436 mg/mL
2. Penetepan kadar injeksi vitamin B1 dengan metode alkalimetri kurang cocok, karena
volume titran yang dibutuhkan terlalu sedikit untuk menitrasi 100 mg/ml sampel vitamin
B1
106.
107.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


108.

Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen


Kesehatan RI, Jakarta

109.

Anonim, 2001, British Pharmacopoeia, Volume II, p.2296, British


Pharmacopoeia Commision, London

110.

Fatah, A.M., 1982, Volumetri dan Gravimetri, Fakultas Farmasi


UGM, Yogyakarta.

111.

Day, R.A, Underwood, A.L., 1996, Analisis Kimia Kualitatif, Edisi


5, Penerbit Erlangga, Surabaya

112.

Cunnif, Patricia, 1995, Official Methods of Analysis of AOAC


International, 16th Edition, Volume II, AOAC International, USA

113.

Hashmi, M., Haque, 1973, Assay of Vitamin in Pharmaceutical


Preparation, John Wiley and Sons, New York.

114.

Moffat, A.C., 1986, Clarkes Isolation and Identification of Drugs,


The Pharmaceutical Press, London

115.

Strohecker, Rolf, Heinz, M. Henning, 1965, Vitamin Assay Tested


Method, Verlag Chemie, Germany

116.

Sudjadi,dkk. 2004, Analisa Obat dan Makanan, Fakultas Farmasi,


Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

117.
118.
119.

Yogyakarta,
120.
121.

Praktikan,

Nisa Nur Laksmi

(FA/09221)
122.

Stefiani Mulia Ekaputri

(FA/09224)
123.
Rosyidiah

Endah
(FA/09227)

124.
P

Gunawan Aji
(FA/09230)

125.
Muzayyanah (FA/09233)
126.
127.

128.
129.

Marfuatul